AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Vol. 3 No.2 Juli 2017 NUR RAHMAWATI, TRIYONO Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta rahma_wati_mf@umy.ac.id Keberanian dalam Mengambil Keputusan dan Risiko oleh Petani Padi Organik Di Kabupaten Bantul h t t ps : / / doi .or g/ 10.18196/ agr .3253 ABSTRACT Entrepreneurship on organic farming is of- ten faced with high risks. This study aims to determine the courage of farmer in deci- sion making and risk taking on organic rice farming and to know the factors that influ- ence it. The research was conducted by sur- vey method. Data were collected through interviews to 116 organic rice farmers in Bantul Regency, then analyzed descriptively and regression analysis. The results showed that the courage of farmers in decision making and risk taking on the organic rice farming is strong enough. Age, training, market orientation and cooperation net- work have a positive effect on the courage of farmer in decision making; while gov- ernment support has a negative effect. Meanwhile, the courage of farmer in risk taking on organic rice farming is influenced by market orientation. Keywords: decision making, entrepreneur- ship, organic rice farming, risk taking. INTISARI Kewirausahaan pada pertanian organik sering dihadapkan pada risiko usahatani yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberanian petani dalam mengambil keputusan dan mengambil risiko usahatani padi organik serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada 116 petani padi organik di Kabupaten Bantul, kemudian dianalisis secara deskriptif dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum keberanian petani dalam mengambil keputusan dan mengambil risiko pada kewirausahaan usahatani padi organik sudah cukup kuat. Umur, pelatihan, orientasi pasar dan jaringan kerjasama berpengaruh positif terhadap keberanian petani dalam pengambilan keputusan; sedangkan dukungan pemerintah berpengaruh negatif. Sementara itu, keberanian pengambilan risiko usahatani padi organik dipengaruhi orientasi pasar. Kata kunci: kewirausahaan, mengambil keputusan, mengambil risiko, usahatani padi organik. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Namun demikian, sebagian besar petani Indone- sia masih dalam kategori miskin dengan tingkat pendapatan yang rendah. Rendahnya pendapatan petani disebabkan oleh skala usahatani yang kecil, bahkan sebagian besar termasuk dalam skala usahatani rumah tangga yang masih bersifat subsisten, dengan pengelolaan usahatani sederhana. Hal demikian akan berdampak pada rendahnya kuantitas dan kualitas produksi yang dihasilkan. Peningkatan produktivitas dan kualitas produk pertanian antara lain dilakukan melalui pengembangan pertanian organik. Sistem pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian holistik yang bertujuan meningkatkan kesehatan agroekosistem termasuk keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan mailto:rahma_wati_mf@umy.ac.id 129 Vol. 3 No. 2 Juli 2017 aktivitas biologi tanah untuk mengoptimalkan produksi tanaman (Budiasa, 2014). Oleh karena itu produk pangan organik selayaknya dihasilkan dari suatu sistem pertanian yang mempertahankan kesehatan tanah, ekosistem dan manusia (USDA, 2010). Di samping itu, secara finansial produk organik memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding produk dari pertanian konvensional (Stone & Francis, 2008; Hidayat & Lesmana, 2011). Di Indonesia, penerapan metode bertani secara organik mulai dikenal pada pertengahan tahun 1980-an yang sebagian besar dipelopori oleh perseorangan dan lembaga non pemerintah (Sulaeman, 2006). Walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai kebijakan dalam pengembangan per tania n orga nik yaitu ‘Go Organi c 2010’, na mun perkembangan pertanian organik di Indonesia masih sangat lambat. Luas areal pertanian organik di Indonesia dari tahun 2007-2010 mengalami peningkatan, namun pada tahun 2011 kembali mengalami penurunan (Tabel 1). Kondisi demikian secara umum terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai wilayah dengan masyarakat petani yang responsif terhadap pembaharuan. Pada tahun 2009, baru sebanyak 3% dari total 58.000 hektar sawah di Daerah Istimewa Yogyakarta dikelola dengan menerapkan sistem organik. TABEL 1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA No Tahun Luas (Ha) 1. 2007 40.970 2. 2008 208.535 3. 2009 214.985 4. 2010 238.872 5. 2011 225.063 Sumber: SPOI, 2011 Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Bantul dikenal sebagai wilayah dengan perkembangan pertanian organik relatif lebih baik. Dari 16.000 hektar lahan padi, sudah 5% lahan dikelola dengan menerapkan sistem organik, bahkan produk yang dihasilkan beberapa sentra sudah tersertifikasi organik (http://www.trubus-online.co.id). Namun demikian, jika dilihat dari luasnya lahan sawah yang diusahakan untuk tanaman padi, baru sebagian kecil potensi dikembangkan untuk menangkap peluang pasar padi organik yang masih cukup terbuka. Hal ini disebabkan secara umum kemampuan kewirausahaan petani masih rendah, baik dalam kemampuan pemasaran maupun minat dan motivasi dalam mengembangkan pertanian organik. Pemanfaatan potensi sumberdaya alam pertanian, dalam hal ini lahan, sangat tergantung pada potensi sumberdaya manusia, khususnya petani. Selama ini peran petani sebagai pelaku utama yang memiliki kemampuan kreativitas dan daya cipta kurang dioptimalkan. Keberhasilan petani mencapai kinerja usahatani yang tinggi tidak hanya ditentukan oleh kegiatan teknik budidaya semata, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan manajerial petani baik sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang diaktualisasikan dalam menjalankan usahataninya, mulai dari persiapan tanam sampai pemasaran produk yang dihasilkan. Petani berperan sebagai manajer, juru tani dan manusia biasa yang hidup dalam masyarakat (Mosher, 1991). Sebagai manajer, petani akan berhadapan dengan berbagai alternatif pilihan dalam mengambil keputusan yang harus dipilih untuk diusahakan termasuk keputusan pilihan teknologi dan alokasi sumberdaya usahataninya. Keberanian dalam mengambil keputusan, merupakan pola pikir kewirausahaan yang akan terbentuk melalui interaksi dalam keluarga. Keberanian dalam mengambil keputusan akan tumbuh dengan baik, ketika petani mendapat dukungan dari lingkungan keluarga (Hisrich, Peters, & Shepherd, 2005). Keberanian dalam mengambil keputusan dan risiko merupakan bagian dari ciri kewirausahaan. Karakter kewirau- sahaan merupakan ciri yang melekat pada diri wirausahawan itu sendiri, antara lain motivasi, inovasi dan kreativitas, serta keberanian dalam mengambil keputusan dan mengambil risiko. Salah satu ciri watak wirausaha adalah kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan (Meredith, Nelson, & Neck, 1995). Orang yang memiliki karakter kewirausahaan digam- barkan sebagai orang yang mempunyai naluri (semangat, jiwa, nalar, intuisi, dan kompetensi) untuk berbisnis, pengambil resiko, berani memutuskan dengan cepat dan benar (Heflin, 2011); mempunyai ambisi dan motivasi yang kuat (Hendro, 2011); memiliki kemampuan mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan, keorisinilan inovatif dan kreatif, serta fleksibel (Abidin, 2007). Inovasi, pengambilan risiko, dan proaktif membentuk kontribusi unik terhadap karakter kewirausahaan (Lumpkin & Dess, 2001). Inovatif, kebutuhan berprestasi, berani mengambil risiko dan percaya diri merupakan beberapa karakter kewirausahaan (Koh, 1996). Kewirausahaan petani merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan usaha yang berori enta si pa sar (Saragi h, 1996). Kelompok yang berorientasi bisnis diharapkan mampu menumbuhkan dan mengembangkan petani inovator dan motivator yang berjiwa wirausaha (Hartono, 2003). Semakin tinggi karakter http://www.trubus-online.co.id). 130 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research kewirausahaan, maka semakin besar kemungkinan seorang individu berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Jiwa kewirausahaan petani perlu ditumbuhkan menghadapi tekanan lingkungan pasar yang tidak kondusif (Wibowo, 2005). Penguatan inovasi, keberanian mengambil risiko, kepemimpinan, motivasi berwirausaha, kekompakan, serta kebijaka n pemerintah dap at meningkatkan perilaku kewirausahaan (Nursiah, Kusnadi, & Burhanuddin, 2015). Keberanian dalam pengambilan keputusan merupakan hal kritis dalam tahap pengembangan usaha. Persiapan bagi keputusan yang efektif untuk waktu yang akan datang seharusnya didasarkan pada antisipasi terhadap perubahan lingkungan (Papalova & Andrea, 2016). Namun demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa para manajer tidak mengetahui faktor lingkungan yang harus dipahami, diuji dan diperkirakan. Penggabungan tiga pendekatan, yaitu faktor kepribadian (kebutuhan akan prestasi dan efikasi diri); faktor lingkungan (seperti akses terhadap modal, informasi dan jaringan sosial); dan faktor demografis (jender, umur, latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja) sebagai faktor penentu semangat kewirausahaan (Indarti, 2004). Umur dan gender wirausahawan signifikan mempengaruhi kinerja bisnis (Ainin, Kamarulzaman, Farinda, & Azmi, 2010), kemauan seseorang memulai suatu usaha baru, setelah sebelumnya mengalami kegagalan, tergantung pada kemampuannya bela jar dari p engalama n (Minniti & Naude, 2010). Pendidika n berdampak posi tif terhadap kinerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan usaha (Mat & Razak, 2011). Bantuan finansial atau aksesibilitas kredit merupakan faktor lingkungan yang paling penting dalam aktivitas wirausaha (Mat & Razak, 2011). Bagi wirausaha kesenjangan akses terhadap pelatihan dan konsultasi merupakan alasan utama yang selalu digunakan untuk menjelaskan kinerja mereka yang rendah (Roomi & Harrison, 2008). Skala usaha menjadi salah satu faktor penting bagi proses organisasi dan kinerja (Baum, Locke, & Smith, 2001). Kurangnya jaringan merupakan hal yang banyak ditemukan sebagai permasalahan dalam kewirausahan (Itani, Hanifa, Sidani, & Imad, 2009). Sementara itu, beberapa kasus kebijakan pengembangan kelompok (cluster development policies) di Indonesia belum berjalan dengan sukses karena terbatasnya dukungan dari pemerintah lokal dan organisasi lainnya (Tambunan, 2005). Kajian terkait dengan keberanian dalam pengambilan keputusan dan risiko di bidang usaha pertanian, usahatani padi organik, masih belum banyak mendapat perhatian. Studi ini mengkaji keberanian petani dalam mengambil keputusan dan mengambil risiko usaha, dan menganalisis faktor yang menentukannya. Melalui informasi yang disajikan, berbagai pihak yang mempunyai perhatian terhadap pengembangan pertanian organik dapat mengambil langkah strategis untuk memperkuat karakter kewirausahaan, khususnya keberanian dalam mengambil keputusan dan mengambil risiko usaha. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan dengan metode survei pada petani padi organik di sentra pengembangan padi organik di Kabupaten Bantul, yang meliputi Kecamatan Bambanglipuro, Kecamatan Pandak, Kecamatan Imogiri, Kecamatan Pundong dan Kecamatan Srandakan. Dari lima kecamatan terdapat enam desa yang memiliki kelompok tani masih aktif dalam pengembangan usahatani padi organik. Dari masing-masing kelompok tani diambil 20 sampel petani secara acak. Namun, dari 120 petani yang dijadikan responden, hanya 116 responden yang datanya lengkap untuk dianalisis. Penelitian ini menggunakan sejumlah variabel gabungan, yakni: keberanian mengambil keputusan, keberanian mengambil resiko, akses mendapatkan kredit, pelatihan, orientasi pemasaran, jaringan kerjasama, dan dukungan pemerintah yang diukur dengan skor pada (Lampiran 1). Karakteristik kewirausahaan, yang dilihat dari keberanian mengambil keputusan dan keberanian menanggung risiko dianalisis secara deskriptif, dengan kriteria sebagai berikut. TABEL 2. KRITERIA DAN KISARAN SKOR KEBERANIAN MENGAMBIL KEPUTUSAN DAN RISIKO No Skor rata-rata Kriteria 1 1,00 - 2,33 Lemah 2 2,34 - 3,67 Cukup Kuat 3 3,68 - 5,00 Kuat Pengaruh faktor individu dan lingkungan usaha terhadap keberanian mengambil keputusan dan keberanian mengambil risiko dianalisis menggunakan regresi linier. Variabel terikat dalam penelitian ini merupakan data ordinal (skor), sehingga dalam regresi linier digunakan skor normal. Model regresi linier dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. ∗ = 0 + 1 1 + 2 2 + 3 3 + ⋯ + 9 9 adalah skor normal pengambilan keputusan/skor nor-- mal keberanian mengambil risiko, adalah akses mendapat- kan kredit (skor), adalah pelatihan (skor), adalah orientasi pemasaran (skor), adalah jaringan kerjasama (skor), adalah dukungan pemerintah (skor), adalah 131 Vol.3 No.2 Juli 2017 umur (tahun), adalah pendidikan (tahun), adalah tanggungan keluarga (orang), adalah pengalaman (tahun). HASIL DAN PEMBAHASAN KEBERANIAN MENGAMBIL KEPUTUSAN Salah satu karakter kewirausahaan petani padi organik adalah keberanian mengambilan keputusan. Keberanian petani dalam mengambil keputusan merupakan akumulasi dari dukungan pribadi dan dukungan orang di sekitarnya, yaitu istri, keluarga, petani lain dan ketua kelompok. Semakin besar dukungan pribadi dan dukungan lingkungan, maka keberanian petani dalam mengambil risiko semakin kuat; sebaliknya dalam kondisi kurangnya dukungan pribadi dan lingkungan, maka keberanian mengambil keputusan semakin lemah. Keberanian petani padi organik dalam mengambil keputusan termasuk dalam kategori cukup kuat, dengan rata- rata skor sebesar 3,36 dari kisaran skor 1-5 (Tabel 3). Namun jika dicermati setiap indikator, untuk indikator dukungan pribadi, istri dan keluarga termasuk dalam kategori sangat kuat; sedangkan dukungan petani lain dan kelompok termasuk dalam kategori lemah. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian petani organik dalam mengambil keputusan mendapat dukungan kuat dari istri dalam keluarga. Mayoritas pengambilan keputusan adopsi inovasi dilakukan oleh suami atau istri (Batoa, Amri, & Susanto, 2008). Lemahnya dukungan dari lingkungan sosial (petani lain dan kelompok tani) menyebabkan usahatani padi organik kurang berkembang, yang diindikasikan dari lambatnya peningkatan luas lahan usahatani organik dari tahun ke tahun. Berbagai studi mengungkapkan pentingnya peran kelompok tani dalam pengembangan usahatani padi organik mengingat fungsi kelompok sebagai agen perubahan, yang memudahkan petani yang tergabung dalam kelompok untuk mendapatkan akses informasi, teknologi dan dukungan kebijakan pemerintah (Kustiyah, Mustadjab, & Anindita, 2009; Nuryanti & Swastika 2011; Prihtanti 2013). Dengan demikian penting untuk mendapat perhatian pemerintah untuk meningkatkan peran kelompok dalam pengembangan usahatani padi organik. Ketika kelompok menjalankan fungsi fasilitasinya, baik dalam dalam pemasaran, pendampingan teknologi serta implementasi kebijakan, maka akan semakin kuat keberanian petani untuk mengambil keputusan mengusahakan padi organik. KEBERANIAN MENGAMBIL RESIKO Keberanian petani dalam mengambil risiko usahatani padi organik diukur dari tiga indikator, yakni keberanian menanggung risiko, kesiapan menanggung risiko dan kesukaan untuk mencoba. Secara keseluruhan keberanian petani dalam mengambil risiko termasuk dalam kategori kuat (Tabel 4). Namun, jika dilihat per indikator, skor kesukaan mencoba (3,19) jauh lebih rendah dari keberanian (4,05) dan kesiapan (4,11) petani menangung risiko. Dalam arti lain, petani berani dan siap menanggung risiko yang harus dihadapi dalam mengusahakan padi organik, tetapi petani kurang suka untuk mencoba hal baru. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian dan kesiapan petani untuk mengambil TABEL 3. SKOR KEBERANIAN PETANI PADI ORGANIK DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Dukungan Pribadi jumlah (orang) 1 3 0 97 15 4,04 % 0,86 2,59 0 82,76 12,93 Dukungan Istri jumlah (orang) 1 0 3 76 36 4,26 % 0,86 0 2,59 65,52 31,03 Dukungan keluarga jumlah (orang) 3 0 0 74 39 4,27 % 2,59 0 0 63,79 33,62 Dukungan petani lain jumlah (orang) 16 77 13 8 2 2,15 % 13,79 66,38 11,21 8 1,72 Dukungan ketua kelompok jumlah (orang) 16 81 12 7 0 2,08 % 13,79 69,93 10,34 6.03 0 Skor Keberanian Mengambil Keputusan 3,36 132 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research risiko belum didukung sikap kreatif dan inovatif petani dalam mengembangkan usahatani padi organik. GAMBARAN K ONDI SI K ARAK TERI ST I K P RI BADI DAN LINGKUNGAN BISNIS PETANI PADI ORGANIK Faktor yang mempengaruhi keberanian dalam mengambil keputusan dan keberanian menanggung risiko usahatani padi terdiri dari faktor individu petani dan faktor lingkungan bisnis. Faktor individu terdiri faktor dari dalam diri petani padi organik yaitu umur petani, pengalaman berusahatani padi organik dan pendidikan petani. Faktor lingkungan bisnis merupakan faktor di luar yang berpengaruh terhadap karakter kewirausahaan. Faktor lingkungan bisnis terdiri dari akses untuk mendapatkan modal, syarat mendapatkan modal, frekuensi pelatihan, orientasi pasar, network/kerjasama dan dukungan pemerintah. Umur. Petani padi organik rata-rata berumur 55 tahun. Lebih dari 75% petani berumur lebih dari 47 tahun, dengan komposisi umur yang terbanyak (52%) berkisar antara 47-60 tahun (Tabel 5). Artinya, petani organik termasuk dalam usia produktif. Dalam kondisi ini, petani memiliki kekuatan fisik dan kematangan mental untuk mengelola usahatani secara kreatif dan inovatif. Pengalaman. Petani padi organik rata-rata sudah memiliki pengalaman dalam mengelola usahatani padi selama 15 tahun, tetapi sebagian besar (42%) memiliki pengalaman 8- 10 tahun (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa petani yang mengelola usahatani organik memiliki pengalaman berusaha yang sudah cukup lama, sehingga kemampuannya dalam mengelola usahatani padi tidak diragukan lagi . Tingkat pendidikan petani padi organik bervariasi mulai dari SD, SMP dan SMA, bahkan perguruan tinggi. Sebagian besar petani (41,38 %) berpendidikan SMA, bahkan sudah terdapat 2,59 % petani yang berpendidikan tinggi atau sarjana (Tabel 5). Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani sudah sangat baik, sehingga memudahkan petani dalam menerima transfer teknologi baru dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. TABEL 5. DISTRIBUSI PETANI PADI ORGANIK BERDASARKAN KARAKTER PRIBADI No Komponen Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur (tahun) 19-32 2 1,72 33-46 25 21,55 47-60 61 52,59 61-74 25 21,55 >74 3 2,59 2 Pengalaman (tahun) 8-10 49 42,24 11-19 18 15,52 20-28 22 18,97 29-37 13 11,21 >37 14 12,07 3 Pendidikan SD 40 34,48 SMP 25 21,55 SMA 48 41,38 PT (Sarjana) 3 2,59 Akses mendapatkan modal. Berdasarkan hasil penelitian hanya 56 % petani yang memanfaatkan kredit atau pinjaman modal. Akses untuk mendapatkan modal yang terdiri dari jarak (skor = 2,08) dan waktu tempuh (skor = 1,92) untuk mendapatkan modal usaha menunjukkan keadaan yang kurang terbuka. Jarak yang harus ditempuh petani untuk mendapatkan kredit kurang lebih 2 km dengan waktu tempuh 15 menit. Oleh karena itu, masih banyak petani organik (44%) yang belum memanfaatkan kredit. TABEL 4. SKOR KEBERANIAN MENGAMBIL RISIKO Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Berani menanggung resiko jumlah (orang) 2 0 2 94 18 4,08 % 1,72 0 1,72 81,03 15,52 Siap menanggung resiko jumlah (orang) 2 0 1 93 20 4,11 % 1,72 0 0,86 80,17 17,24 Suka mencoba jumlah (orang) 12 30 7 53 13 3,19 % 10,34 25,86 6,03 45,69 11,21 Rata-rata Skor Keberanian Mengambil Risiko 3,76 133 Vol.3 No.2 Juli 2017 TABEL 6. SKOR AKSES MENDAPATKAN MODAL DARI LINGKUNGAN BISNIS Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Jarak mendapatkan kredit Jumlah (orang) 30 66 8 5 7 2.08 % 25,86 56,90 6,90 4,31 6,03 Waktu tempuh Jumlah (orang) 43 55 6 8 4 1.92 % 37,07 47,41 5,17 6,90 3,45 TABEL 7. SKOR FREKUENSI MENGIKUTI PELATIHAN Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Pelatihan pertanian organik Jumlah (orang) 23 33 44 3 13 3,21 % 19,8 28,45 37,9 2,59 11,21 Pelatihan padi organik Jumlah (orang) 21 41 12 37 5 2,69 % 18,1 35,3 10,3 31,9 4,3 Pelatihan membuat pupuk organik Jumlah (orang) 50 33 21 3 9 2,03 % 43,1 28,4 18,1 2,6 7,8 Pelatihan membuat obat organik Jumlah (orang) 32 43 29 8 4 2.22 % 27,59 37,07 25 6,90 3,45 Keterangan: Skor 1 (tidak ikut pelatihan), skor 2 (pelatihan 1-3 kali), skor 3 (pelatihan 4-6 kali), skor 4 (pelatihan 7-9 kali) dan skor 5(pelatihan >9 kali) TABEL 8. SKOR ORIENTASI PASAR Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Ditebas di lahan Jumlah (orang) 51 59 3 3 0 1.64 % 43,97 50,86 2,59 2,59 0 Dijual bentuk gabah basah Jumlah (orang) 33 64 3 15 1 2.03 % 28,45 55,17 2,59 12,93 0,86 Dijual bentuk gabah kering Jumlah (orang) 18 54 6 30 8 2.62 % 15,52 46,55 5,17 25,86 6,90 Dijual bentuk beras Jumlah (orang) 14 7 1 64 30 3.77 % 12,07 6,03 0,86 55,17 25,86 Dijual bentuk benih Jumlah (orang) 35 38 15 21 7 2.37 % 30,17 32,76 12,93 21 6,03 134 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Frekuensi mengikuti pelatihan. Frekuensi pelatihan yang diikuti petani organik berkisar antara 1-10 kali untuk pelatihan tentang pertanian organik secara umum; dan berkisar 1-6 kali untuk pelatihan padi organik, membuat pupuk organik dan membuat pestisida organik. Pelatihan pertanian organik paling sering diselenggarakan, sehingga petani pun lebih sering mengikuti pelatihan ini dibandingkan pelatihan yang lebih khusus. Hal ini ditunjukkan dari skor frekuensi petani mengikuti pelatihan pertanian organik (3,21) yang jauh lebih tinggi dari skor frekuensi mengikuti pelatihan padi organik, pembuatan pupuk dan obat-obatan (Tabel 7). Petani organik mengikuti pelatihan dengan frekuensi rata- rata sebanyak 4 kali untuk pertanian organik, 3 kali untuk pelatihan padi organik, dan masing-masing 2 kali untuk pelatihan pembuatan pupuk organik dan pestisida organik. Orientasi pasar bagi petani padi organik sudah cukup baik, artinya petani sudah berani membuka terobosan baru dalam pemasaran, yaitu menjual padi dalam bentuk beras TABEL 9. SKOR JARINGAN KERJASAMA Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Frek ketemu dengan penyedia input Jumlah (orang) 50 17 24 7 18 2,36 % 43,10 14,66 20,69 6,03 15,52 Frek pertemuan dengan kelompok tani jumlah (orang) 67 17 12 5 15 2,00 % 57,76 14,66 10,34 4,31 12,93 Frek pertemuan dengan produsen jumlah (orang) 70 6 12 10 18 2,14 % 60,34 5,17 10,34 8,62 15,52 Kedekatan emosional dengan kelompok tani jumlah (orang) 4 4 7 88 13 3,88 % 3,45 3,45 6,03 75,86 11,21 Kehangatan dan komitmen terhadap kelompok tani jumlah (orang) 6 9 18 71 12 3,64 % 5,17 7,76 15,52 61,21 10,34 TABEL 10. SKOR DUKUNGAN PEMERINTAH Indikator Skor Rerata Skor 1 2 3 4 5 Adanya bantuan modal Jumlah (orang) 87 0 0 0 29 2.00 % 75 0 0 0 25 Adanya pelatihan per tahun jumlah (orang) 100 8 2 2 4 1.29 % 86.21 6,9 1,72 1,72 3,45 Adanya perbaikan irigasi Jumlah (orang) 6 6 15 61 28 3.97 % 5,17 5,17 12,9 52,59 24,1 Adanya perbaikan jalan Jumlah (orang) 3 11 2 61 39 4.05 % 2,59 9,48 1,72 52,59 33,62 Kemudahan akses pasar Jumlah (orang) 11 30 10 28 37 3.43 % 9,48 25,86 8,62 24,14 31,90 Kemudahan sarana transportasi Jumlah (orang) 12 28 6 36 34 3.45 % 10,34 24,14 24,14 31,03 29,31 135 Vol. 3 No. 2 Juli 2017 sehingga harganya bisa lebih tinggi dibanding dijual dalam bentuk gabah kering atau basah apalagi ditebaskan di lahan. Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar petani tidak setuju (50,86%) bahkan sangat tidak setuju (43,97%) untuk memasarkan padi organik melalui sistem tebasan; tetapi setuju (55,17) bahkan sangat setuju (25,86%) untuk memasarkan dalam bentuk beras. Jaringan kerjasama. Indikator lingkungan bisnis yang lain adalah jaringan kerjasama bisnis. Sebagian besar petani mempunyai intensitas pertemuan yang relatif rendah, yang ditunjukkan dari rendahnya skor frekuensi pertemuan antara petani dengan penyedia input (2,36); kelompok tani (2,00); dan dengan produsen (2,14) (Tabel 9). Walaupun frekuensi pertemuan antara petani dengan kelompok mendapat skor yang paling rendah, namun petani memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan kelompok (skor 3,88); demikian juga dengan kehangatan dan komitmen terhadap kelompok (skor 3,64). Duk ungan pemerint ah. Adanya perbaik an jalan merupakan indikator dukungan pemerintah yang mendapat skor paling tinggi (4,05) diikuti dengan adanya perbaikan irigasi (3,97); sedangkan indikator adanya pelatihan (1,29) mendapat skor terendah diikuti indikator adanya bantuan modal (2,00) (Tabel 10). Artinya, dukungan pemerintah yang bersifat fisik, berupa prasarana irigasi, jalan dan pasar sudah banyak dira- sakan petani. Sementara dukungan finansial, berupa bantuan modal, hanya dirasakan 25% petani. Demikian juga dengan dukungan peningkatan keterampil, 87% petani hanya menapat pelatihan satu kali dalam satu tahun. PENGARUH FAKTOR INDIVIDU DAN LINGKUNGAN USAHA TERHADAP KEBERANIAN DALAM MENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN RISIKO Keberanian dalam pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kondisi individu petani dan lingkungan usaha. Koefisien regresi hasil estimasi faktor yang mempengaruhi keberanian dalam pengambilan keputusan disajikan dalam Tabel 11. Kondisi individu petani yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan usahatani padi organik adalah umur petani (Tabel 11). Umur petani berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan usahatani padi organik. Secara umum umur petani masih dalam kondisi produktif dengan rata-rata umur 55 tahun. Hal ini berarti makin tua umur petani dalam masa usia produktif semakin berani mengambil keputusan usahatani padi organik. Kondisi lingkungan usaha yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan usahatani padi organi adalah pelatihan, orientasi pasar, jaringan kerjasama dan dukungan pemerintah. Pelatihan, orientasi pasar dan jaringan kerjasama berpengaruh nyata secara positif terhadap keberanian pengambilan keputusan. Pelatihan memberikan bekal ketrampilan bagi petani sehingga akan mampu mengambil keputusan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa pelatihan dan refleksi diri dapat meningkatkan kinerja manajerial termasuk dalam penyelesaian masalah untuk suskes dalam usahanya (Donovan, Guss, & Naslund, 2015). TABEL 11. KOEFISIEN REGRESI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN Variabel Koefisien t-hit Sig Konstanta -1,408 -1,475 0,143 Umur 0,016 1,580** 0,117 Pendidikan -0,036 -1,035 0,303 Keluarga -0,083 -1,344 0,182 Pengalaman -0,012 -1,225 0,223 Akses kredit -0,038 -0,704 0,483 Pelatihan 0,069 2,473** 0,015 Orientasi pasar 0,073 2,754*** 0,007 Jaringan kerjasama 0,057 1,848* 0,067 Dukungan pemerintah -0,049 -1,772* 0,079 Keterangan: *** Signifikan pada tingkat kesalahan 1% ** Signifikan pada tingkat kesalahan 5% * Signifikan pada tingkat kesalahan 10% Orientasi pasar yang jelas bagi petani membuat petani lebih berani dalam pengambilan keputusan. Demikian juga jaringan kerjasama akan memperkuat keyakinan dalam pengambilan keputusan karena kepercayaan dari mitra usaha yang dijalin. Sementara itu dukungan pemerintah berpe- ngaruh sebaliknya, yakni berpengaruh negatif terhadap pengambilan keputusan usahatani padi organik. Hal ini menunjukkan keberanian petani organik yang kuat seakan tidak memerlukan dukungan pemerintah. Bagi wirausahawan dukungan pemerintah terkadang bisa menimbulkan kecu- rigaan, sehingga menurunkan keberanian dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu perlu komunikasi dan pening- katan hubungan antara petani organik dengan pemerintah, agar petani dan pemerintah dapat saling mendukung pro- gram pengembangan pertanian. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa dukungan pemerintah merupakan salah satu karakteristik sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap penentu keputusan investasi oleh in- vestor agribisnis di Nigeria Tenggara (Nwibo & Alinbo, 2013). Pengambilan risiko merupakan suatu unsur kewira- usahaan yang sangat penting bagi petani dalam menanggung risiko keuntungan atau kerugian. Manajer akan selalu menghadapi dan sulit menghindari risiko yang semakin 136 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research meningkat dalam penentuan alternatif pilihan usahanya (Naguchi &Thomas, 2016). Keberanian dalam pengambilan risiko dipengaruhi oleh lingkungan usaha dan kondisi individu petani. Besarnya elastisitas keberanian pengambilan risiko karena pengaruh lingkungan usaha dan kondisi individu dapat dilihat dari koefisien estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberanian pengambilan risiko disajikan dalam Tabel 12. TABEL 12. KOEFISIEN REGRESI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERANIAN MENGAMBIL RISIKO Variabel Koefisien t-hit Sig Konstanta -0,990 -1,058 0,292 Umur 0,007 0,698 0,486 Pendidikan 0,032 0,937 0,351 Keluarga -0,020 -0,327 0,744 Pengalaman 0,003 0,298 0,766 Akses kredit 0,009 0,164 0,870 Pelatihan -0,006 -0,218 0,828 Orintasi pasar 0,096 3,681*** 0,000 Jaringan kerjasama -0,037 -1,234 0,220 Dukungan pemerintah -0,019 -0,710 0,479 Keterangan: *** Signifikan pada tingkat kesalahan 1% Keberanian pengambilan risiko hanya dipengaruhi secara signifikan oleh lingkungan usaha, yaitu orientasi pasar. Orientasi pasar merupakan kebiasaan petani yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan selain itu mendapatkan harga padi organik yang terbaik sehingga bisa meningkatkan nilai tambah dibanding beras non organik. Orientasi pasar berpengaruh nyata secara positif terhadap keberanian pengambilan risiko, keberanian dan kesiapan petani untuk mengambil risiko yang didukung sikap kreatif dan inovatif petani dapat mengatasi risiko baik risiko produksi maupun risiko harga. Penjualan padi organik dalam bentuk beras curah atau dalam bentuk kemasan merupakan langkah yang berorientasi pasar dan lebih menjanjikan dalam meningkatkan karakter berwirausaha untuk mengembangkan usahatani padi organik dan meningkatkan pendapatan petani. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum keberanian petani dalam mengambil keputusan dan risiko sebagai karakter kewirausahaan pada pengelolaan usahatani padi organik cukup kuat. Namun, keberanian petani dalam m engam bi l keputusan kura ng m enda p at dukunga n kelompok, sehingga perkembangan usahatani padi organik tidak begitu pesat. Keberanian petani dalam mengambil resiko tidak disertai dengan kesukaan petani dalam mencoba sesuatu yang baru. Umur, pelatihan, orientasi pasar dan jaringan kerjasama berpengaruh positif terhadap keberanian petani dalam pengambilan keputusan; sedangkan dukungan pemerintah berpengaruh negatif. Sementara itu, keberanian pengambilan risiko usahatani padi organik hanya dipengaruhi orientasi pasar. Dalam rangka penguatan kewirausahaan petani padi organik maka pengembangan lingkungan usaha sangat diperlukan berupa pelatihan, kepastian pasar dan jaringan kerjasama dalam kelompok. Dukungan pemerintah dapat dilakukan dengan membangun kepercayaan petani pada pemerintah melalui komunikasi dan pendampingan yang terarah secara intensif dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA Abidin, M. (2007). Seri Wirausaha yang Tepat. Jakarta: Yayasan Bina Karya Mandiri. Ainin, S. Kamarulzaman, Y. Farinda, A. G., & Azmi, A. C. (2010). Business and Entrepreneur Characteristics influence on Business Performance of Professional Small Medium Enterprises. Proceedings of ECIE.The 5th European Conference on Entrepreneurship and Innovation (pp 31). Greece: University of Athens. Anonim. (2010). Padi Organik Tahan Gempa. http://www.trubus- online.co.id. available online April 2010. Batoa, H., Amri J. A., & Susanto, D. (2008) . Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kompetensi Petani Rumput Laut Di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Penyuluhan, 4(1): 30-38. Baum, J. R., Locke, E. A., & Smith, K. G. (2001). A Multidimenssional Model of Venture Growth. Academic Management Journal, 44(2): 292-303. Budiasa, I. W. (2014). Organic Farming as an Introduction Farmoing Sys- tem Development toward Sustainable Agriculture in Bali. Asia Jour- nal of Agriculture and Development, 11(1): 66-75. Donovan, S. J., Guss, C. D., & Naslund, D. (2015). Improving Dynamic Decision Making Through Training and Self-reflection. Judgment and Decision Making, 10(4): 284-295. Gatheya, J. W., Bwisa, H. M., & Kihoro, J. M. (2011). Interaction between Women Entrepreneurs’ Age and Education on Business Dynamic in Small and Medium Enterprises in Kenya. International Journal of Busi- ness and Social Science, 2(15): 265-272. Hartono, S. (2013). Pengembangan Bisnis Petani Kecil. dalam Widodo (ed). Peran Agribisnis Usaha Kecil dan Menengah untuk Memperkokoh Ekonomi Nasional. Liberty. Heflin, F. Z. (2011). Be Enterpreneur. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hendro. (2011). Dasar-Dasar Kewirausahaan. Jakarta: Erlangga. Hidayat, A. S., & Lesmana, T. (2011). The Development of rice Organic Farming in Indonesia. RIEBS, 2(1): 1-14. Hisrich, R. D., Peters, M. P., & Shepherd, D. A. (2005). Entrepreneurship. New York: McGraw-Hill. Indarti, N., (2004). Factors Affecting Entrepreneurial Intentions among http://www.trubus- 137 Vol.3 No.2 Juli 2017 Indonesian Students. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 19(1): 57-70. Itani, Hanifa, Sidani, Y. M. & Imad Baalbaki. (2011). United Arab Emirates Female Entrepreneurs: Motivations and Frustations. Equality, Diver- sity and Inclusion. An International Journal, 30(5). Koh, C., H. (1996). Testing Hypotheses of Entrepreneurial Characteristics : A study of Hong Kong MBA Students. Journal of Managerial Psychol- ogy, 11(3): 12-25. Kustiyah, F., Mustadjab, M., & Anindita, R. (2009). Analisis Kinerja Pro- gram Bantuan Pinjaman di Madura. Jurnal Agro Ekonomi, 27(2): 109– 134. Lumpkin, G.T., & Dess, G.G. (2001). Linking Two Dimensions of Entrepre- neurial Orientation to Firm Performance: The Moderating Role of En- vironment and Industry Life Cycle. Journal of Business Venturing, 16(5): 429-451. Mat, I. E. N., & Razak, R. C. (2011). Attributes, Environment Factors and Women Entrepreneurial Activity: A Literature Review. Asian Social Science, 7(9): 124 – 130. Meredith, G. G., Nelson, R. E., & Neck, P. A. (1995). Kewirausahaan: Teori dan Praktek (terjemahan). Jakarta: Binaman Pressindo. Minniti, M., & Naude, W. (2010). What Do We Know About The Patterns and Determinants of Female Entrepreneurship Across Countries. Eu- ropean Journal of Development Research, 22(3): 277-293. Mosher, A. T. (1991). Menggerakkan dan Membangun Pertanian: Syarat- syarat Mutlak Pembangunan dan Modernisasi (terjemahan). Jakarta: Yasaguna. Naguchi, T., & Hills, T. T. (2016). Experience Based Decision Favor Riskier Alternative in Large Setting. Journal of Behavioral Decision Making, 29(5): 489-498. Nursiah, T., Kusnadi, N., & Burhanuddin. (2015). Perilaku Kewirausahaan Pada Usaha Mikro Kecil (UMK) Tempe Di Bogor Jawa Barat. Jurnal Agribisnis Indonesia 3(2): 145-158. Nuryanti, S., & K. S. Swastika, D. (2011). Peran Kelompoktani dalam Penerapan Teknologi Pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 29(70): 115–128. Nwibo, S. U., & Alinbo, J. O. (2013). Determinant of Investment Decision Among Agribusiness Investor in South-East Nigeria. IOSR. Journal of Business and Management, 8(6): 60-67. Papalova, Z., & Andrea, G. (2016). Role of Strategic Analysis in Strategic Decision Making. In Procedia Economics and Finance 39 (pp 571- 579). Rome: 3rd Global Confrence on Business, economics and Fi- nance. Prihtanti, M.T. (2013). Kinerja dan Multifungsi Sistem Usahatani Padi Organik dan Konvensional. Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Roomi, M. A., & Harrison, P. (2008). Training Needs for Women-owned SMEs in England. Education and Training, 50(8/9): 687-696. Saragih, B. (1996). Peningkatan Keunggulan Daya Saing Agribisnis Memasuki Era Persaingan. Makalah disampaikan pada Seminar Nilai Tambah dalam Peningkatan Daya Saing Agribisnis di Tengah Era Globalisasi, diselenggarakan oleh CGL Communication dan DPP HKTI, Jakarta 25 Juli 1996. Statistik Pertanian Organik Indonesia. (2011). Aliansi Organis Indonesia. Jakarta Stone, P. B., Lieblein, G., & Francis, C. (2008). Potentials for Organik Agri- culture to Sustain Livelihoods in Tanzania. International Journal of Agricultural Sustainability, 6(1): 22-36. Tambunan, T. (2005). Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia: Beberapa Isu Penting. Jakarta: Salemba Empat. Wibowo, R. (2005). State of The Art Ilmu Ekonomi Pertanian Indonesia. Jurnal Agro Ekonomi, edisi Khusus Tahun XXXV, Oktober 2005.