AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Vol. 3 No. 2 Juli 2017 SEVI OKTAFIANA FORTUNIKA1, ENI ISTIYANTI2, SRIYADI2 1Program Studi Magister Sains Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor 2Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sevioktafianafortunika@gmail.com Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Banjarnegara h t t ps : / / doi .or g/ 10.18196/ agr .3252 ABSTRACT The economics development in Banjarnegara regency have not maximum undertaken, therefore, the sector analysis is needed to formulate appropriate strate- gies. This study aims to know contribution, linkage and diffusion of agriculture sector to the other sectors, multiplier effect, and the priority sector in the economy of Banjarnegara regency. This research used input-output table of domestic transaction based on producer prices of Banjarnegara regency in 2013. The results showed that the agriculture sector which was dominated by subsector of food crop has high contri- bution to the economy of Banjarnegara re- gency. The agriculture sector has the high- est forward linkage value after the indus- trial sector, but the backward linkage value is very low. The agricultural sector has the high enough for diffusion sensitivity value but the diffusion coefficient is very low. The highest sensitivity and coefficient in agricultural sector are the food crop. Multiplier income and employment in agri- cultural sector have the highest value while multiplier output is the second rank after industrial sector. The priority sector is industrial sector, then followed by agricultural sector which has subsector priority in food crop. Keywords: agricultural sector, contribution, diffusion, input-output, priority sec- tor. INTISARI Pembangunan ekonomi di Kabupaten Banjarnegara belum dilakukan secara maksimal, oleh karena itu analisis sektor diperlukan untuk merumuskan strategi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi, keterkaitan dan penyebaran sektor pertanian dengan sektor lainnya, efek angka pengganda dan sektor prioritas dalam perekonomian Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan Tabel Input-Output Transaksi Domestik Atas Harga Dasar Produsen Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian yang didominasi oleh subsektor tanaman bahan makanan, memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Kabupaten Banjarnegara; memiliki nilai keterkaitan ke depan tertinggi setelah sektor industri namun nilai keterkaitan ke belakangnya sangat rendah; dan memiliki nilai kepekaan penyebaran cukup tinggi namun koefisien penyebarannya sangat rendah. Multiplier pendapatan dan tenaga kerja sektor pertanian memiliki nilai tertinggi, sedangkan multiplier output berada pada peringkat kedua setelah sektor industri. Sektor prioritas dalam perekonomian Kabupaten Banjarnegara adalah sektor industri, kemudian diikuti dengan sektor pertanian di mana subsektor prioritasnya adalah tanaman bahan makanan. Kata kunci: input-output, kontribusi, penyebaran, sektor pertanian, sektor prioritas. PENDAHULUAN Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris seharusnya mengandalkan mailto:sevioktafianafortunika@gmail.com 120 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research sektor pertanian sebagai sumber ekonomi maupun sebagai penopang pembangunan. Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting, karena sebagian besar anggota masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Jika para perencana dengan sungguh- sungguh memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, maka satu-satunya cara adalah dengan meningkatkan kesejahteraan sebagian besar anggota masyarakatnya yang hidup di sektor pertanian (Arsyad, 2010). Sektor pertanian masih merupakan bagian dari sumber daya pembangunan yang potensial untuk dijadikan sebagai sektor strategis perencanaan pembangunan saat ini dan ke depan, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah (Anugrah & Ma’mun, 2003). Struktur perekonomian Indonesia berdasarkan tinjauan makro-sektoral hingga tahun 1990-an masih agraris, namun sekarang sudah mulai berstruktur industri (Dumairy, 1996). Industrialisasi ini belum didukung oleh penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Hingga saat ini, sektor yang mampu menye- rap tenaga kerja yang tinggi adalah sektor pertanian (Khoya- nah, Bakce, & Yusri, 2015). Kabupaten Banjarnegara sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah merupakan daerah dengan pola perekonomian agraris. Sebagian besar masyarakat Banjar- negara menyandarkan hidupnya dari sektor pertanian. Berdasarkan data BPS Jawa Tengah Tahun 2015, bahwa dari 464.000 penduduk yang bekerja, 50% di antaranya bekerja di sektor pertanian (Tabel 1). TABEL 1. JUMLAH PENDUDUK KABUPATEN BANJARENGARA BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG BEKERJA MENURUT LAPANGAN KERJA UTAMA TAHUN 2015 Lapangan Pekerjaan Utama Tenaga Kerja Jumlah Laki-laki Perempuan 1. Pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan 135.506 96.964 232.470 2. Industri pengolahan 20.015 30.512 50.527 3. Perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel 46.022 43.112 89.134 4. Jasa masyarakat 14.686 17.445 32.131 5. Lainnya 57.866 1.916 59.782 Jumlah 274.095 189.949 464.044 Sumber: BPS Jawa Tengah 2016 (diolah) Pola perekonomian agraris Kabupaten Banjarnegara juga dapat dilihat dari tingginya kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pola seperti ini masih dominan selama kurun waktu 2009 sampai 2013 (Tabel 2). Rata-rata kontribusi sektor pertanian dari tahun 2009–2013 sebesar 35,07% dari total PDRB Kabupaten Banjarengara memberikan dasar yang kuat untuk menyatakan kondisi tersebut. TABEL 2. PERANAN SETIAP SEKTOR EKONOMI DALAM PEREKONOMIAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2009 - 2013 Lapangan Usaha Distribusi PDRB per Tahun (%) 2009 2010 2011 2012 2013 Pertanian 36,91 35,85 34,98 34,26 33,33 Pertambangan dan Penggalian 0,53 0,53 0,53 0,52 0,52 Industri 13,59 13,15 13,02 12,83 12,94 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,46 0,48 0,49 0,50 0,51 Bangunan 6,75 6,66 6,78 6,85 7,01 Perdagangan 12,70 12,68 12,65 12,67 12,90 Angkutan 4,31 4,51 4,62 4,78 4,81 Bank dan Lembaga Keu Lainnya 5,92 6,11 6,17 6,36 6,69 Jasa-Jasa 18,83 20,03 20,76 21,24 21,29 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 Pendapatan per kapita Kabupaten Banjarnegara sebesar Rp 3.773.323,- lebih rendah dibandingkan Provinsi Jawa Tengah, yaitu sebesar Rp 6.706.874,- pada Tahun 2015. Persentase penduduk miskin Kabupaten Banjarnegara Tahun 2012 sebesar 18,87%, lebih besar dibandingkan presentase penduduk miskin Provinsi Jawa Tengah, yaitu sebesar 14,98% dan persentase nasional yaitu sebesar 11,66% (BPS, 2013). Uraian tersebut membuktikan bahwa tujuan pembangunan ekonomi di Kabupaten Banjarnegara belum sesuai dengan yang diharapkan, sehingga dibutuhkan kebijakan pemba- ngunan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan secara sektoral atas perekonomian wilayah secara komprehensif mampu melihat keterkaitan antar sektor ekonomi di wilayah tersebut secara keseluruhan. Keterkaitan antar sektor tersebut memunculkan sektor pemimpin (lead- ing sector), sehingga dapat dilakukan kebijakan terhadap sektor tersebut (Tarigan, 2005). Dari hasil berbagai penelitian yang ada, sektor pertanian memegang peranan yang tinggi di antara sektor ekonomi lainnya sebagaimana terjadi di Kabupaten Rokan Hilir (Khoyanah, Bakce, & Yusri, 2015), Provinsi Riau (Isbah & Iyan, 2016), Provinsi Jawa Timur (Oktavia, Hanani, & Suhartini, 2016), dan Kabupaten Sarolangun (Syahroni, 2016). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa walaupun sektor pertanian berperan besar dalam pembanguan ekonomi suatu daerah, namun pembangunan ekonomi yang hanya bertumpu pada sektor pertanian belum cukup. Kajian 121 Vol.3 No.2 Juli 2017 mengenai peran sektor ekonomi dimana sektor pertanian sebagai fokus utama di Kabupaten Banjarnegara diperlukan mengingat peran sektor pertanian di Kabupaten Banjarnegara sebagai pembentuk terbesar PDRB dan penyerap tenaga kerja terbesar. Peran sektor pertanian yang perlu diketahui dalam permasalahan di atas mencakup keterkaitan antar sektor, dampak pengganda dan penyebaran dari sektor pertanian sehingga dapat dibentuk kebijakan pembangunan dalam sektor pertanian yang tepat untuk meningkatkan pertum- buhan ekonomi Kabupaten Banjarnegara. Beberapa penelitian hanya dibahas dari sudut pandang sektor ekonomi saja, namun dalam penelitian ini akan dibahas secara detail hingga sampai subsektor dalam sektor pertanian. Selain itu, Kabupaten Banjarnegara juga belum memiliki penelitian tentang analisis kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Banjarnegara. Kemudian dengan alat analisis yang terintegrasi secara urut dan lengkap diharapkan dapat dijadikan bahan pengambilan kebijakan oleh pemerintah daerah dalam membangun perekonomian Kabupaten Banjarnegara, khususnya pere- konomian berbasis pertanian. Berdasarkan uraian di atas, tujuan penelitian ini meliputi: i) menganalisis peran sektor pertanian terhadap pere- konomian Kabupaten Banjarnegara; ii) menganalisis keter- kaitan sektor pertanian dengan sektor-sektor lainnya di Kabu- paten Banjarnegara; iii) menganalisis dampak penyebaran sektor pertanian dalam perekonomian Kabupaten Banjarne- gara; iv) menganalisis multiplier output, pendapatan, dan tenaga kerja sektor pertanian dalam perekonomian Kabupaten Banjarnegara; v) mengidentifikasi sektor kunci dalam perekonomian Kabupaten Banjarnegara. METODE PENELITIAN Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Pengambilan daerah penelitian dilakukan di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Banjarnegara merupakan daerah dengan perekonomian agraris serta kontribusi terbesar PDRB Kabupaten Banjarnegara berasal dari sektor pertanian. Data yang digunakan meliputi data transaksi total atas dasar harga produsen Kabupaten Banjar- negara Tahun 2013 klasifikasi 45 sektor yang diagregasikan menjadi 9 sektor, yaitu sektor pertanian; pertambangan dan penggalian; industri; listrik, gas dan air bersih; bangunan; perdagangan; angkutan; bank dan lembaga keuangan lainnya dan jasa-jasa. Dari 9 sektor tersebut, sektor pertanian didiagregasi menjadi 5 subsektor untuk mempertajam hasil analisis dalam sektor pertanian. Klasifikasi 5 subsektor sektor pertanian tersebut adalah subsektor tanaman bahan maka- nan, tanaman perkebuan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Alat analisis yang dipakai adalah analisis keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan, koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran, dampak angka pengganda dan analisis sektor pemimpin. Analisis keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan adalah alat analisis yang digunakan un- tuk mengetahui tingkat keterkaitan suatu sektor/subsektor terhadap sektor lain dalam perekonomian (Daryanto & Hafizryanda, 2012). Koefisien penyebaran digunakan untuk mengetahui distribusi manfaat pengembangan suatu sektor/ subsektor terhadap perkembangan sektor lainnya melalui mekanisme transaksi pasar input. Kepekaan penyebaran digunakan untuk mengetahui tingkat kepekaan suatu sektor/ subsektor terhadap sektor lainnya melalui mekanisme pasar output. Analisis dampak angka pengganda digunakan untuk melihat yang terjadi terhadap variabel endogen yang dinyatakan sebagai permintaan antara apabila terjadi peru- bahan variabel eksogen, seperti permintaan akhir, yang meliputi konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok dan ekspor dalam perekonomian. Analisis pengganda terdiri dari 3 jenis, yaitu pengganda produksi, pengganda pendapatan rumah tangga, dan pengganda jumlah tenaga kerja. Analisis sektor pemimpin digunakan untuk melihat sektor prioritas pembangunan yang seharusnya dilakukan untuk mening- katkan perekonomian suatu daerah. Sektor pemimpin dilakukan dengan meranking keterkaitan antar sektor dan nilai penggandanya, kemudian kedua ranking tersebut dijumlahkan. HASIL DAN PEMBAHASAN PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN BANJARNEGARA Berdasarkan analisis input–output, peran sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Banjarnegara dideskrip- sikan melalui struktur permintaan, struktur rumah tangga pemerintah, ekspor-impor, investasi dan nilai tambah bruto (NTB) baik dalam lingkup sektor ekonomi secara luas atau- pun sektor pertanian secara khusus. Pada aspek struktur permintaan, sektor pertanian berada pada peringkat kedua tertinggi setelah sektor industri baik untuk permintaan akhir maupun permintaan total (Tabel 3). Kedua sektor ini mendo- minasi lebih dari 50% permintaan total. Tingginya nilai permintaan akhir ini menunjukan bahwa output dari sektor 122 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research pertanian lebih banyak dikonsumsi langsung oleh konsumen daripada digunakan sebagai input oleh produsen. Pada aspek struktur rumah tangga pemerintah, konsumsi rumah tangga sektor pertanian menduduki peringkat ketiga setelah sektor industri dan perdagangan yaitu sebesar Rp 810,0 milyar atau 13,81%. Sektor industri mendominasi 47,84% dari total konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, konsumsi pemerintah hanya kepada sektor jasa. Pada aspek ekspor-impor, sektor pertanian merupakan sektor dengan nilai ekspor tertinggi, yaitu sebesar Rp 2.759,5 milyar atau 50,71% dari total ekspor sedangkan nilai impor sektor pertanian hanya sebesar Rp 831 milyar. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki nilai net ekspor cukup besar. Namun, ekspor-impor Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013 secara keseluruhan menunjukkan net ekpor bernilai negatif. Nilai impor tertinggi disumbang- kan oleh sektor industri, yaitu hampir 65% dari total impor. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada kemandirian dalam pengadaan bahan baku atau peralatan di sektor industri. Pada aspek investasi, investasi terbesar berada di sektor bangunan yaitu 68% dari total investasi. Sektor industri dan sektor pertanian berada di urutan kedua dan ketiga dengan proporsi yang relatif kecil, yaitu masing-masing sebesar 21% dan 6%. Keadaan ini berbeda dengan yang terjadi di Kabu- paten Rokan Hilir, investasi di sektor pertanian menduduki urutan pertama (Khoyanah, Bakce, & Yusri, 2015). Aspek yang terakhir yaitu nilai tambah bruto (NTB), meliputi upah dan gaji, surplus usaha, rasio W/S, penyu- sutan, pajak tak langsung. Komponen NTB yang memiliki kontribusi terbesar adalah surplus usaha, yaitu Rp 5.043,3 TABEL 3. STRUKTUR PERMINTAAN, STRUKTUR RUMAH TANGGA PEMERINTAH, EKSPOR-IMPOR, INVESTASI DAN NILAI TAMBAH BRUTO SEKTOR EKONOMI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 (DALAM MILYAR RUPIAH) Sektor Struktur Permintaan Struktur Rumah Tangga Pemerintah Ekspor Impor Investasi NTB Antara Akhir Total Konsumsi RT Pemerin-tah Ekspor Impor 1. Pertanian 296 3.724 4.019 810.015 0 2.760 831 154.236 3.430 2. Pertamba-ngan & penggalian 761 11 772 1.541 0 4 718 4.621 5 3. Industri 2.385 4.681 7.066 2.806.969 0 1.359 3.892 515.191 1.130 4. Listrik, gas dan air bersih 68 97 165 97.549 0 0 0 0 44 5. Bangunan 195 1.663 1.858 0 0 0 0 1.663.008 625 6. Perdaga-ngan 553 1.637 2.190 839.268 0 720 275 78.087 1.240 7. Angkutan 240 970 1.210 580.511 0 359 282 31.176 437 8. Bank & lembaga keuangan lainnya 359 456 815 216.718 0 240 38 4 614 9. Jasa-jasa 658 1.985 2.643 514.379 1.470.413 0 0 77 1.626 Total 5.515 15.228 20.738 5.866.949 1.470.413 5.441 6.035 2.446.400 9.190 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) TABEL 4. STRUKTUR PERMINTAAN, STRUKTUR RUMAH TANGGA PEMERINTAH, EKSPOR-IMPOR, INVESTASI DAN NILAI TAMBAH BRUTO SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 Subsektor Struktur Permintaan Struktur Rumah Tangga Pemerintah Ekspor Impor Investasi NTB Antara Akhir Total Konsumsi RT Pemerin-tah Ekspor Impor 1. Tanaman bahan makanan 222 2.910 3.132 325.763 0 2.444 350 140.106 2.955 2. Tanaman perkebunan 6 165 170 36.022 0 127 27 1.202 154 3. Peternakan 50 453 503 322.978 0 119 271 11.233 163 4. Kehutanan 1 39 41 2.217 0 30 24 6.298 79 5. Perikanan 16 39 173 123.036 0 38 159 -4.603 80 Total 295 3.724 4.019 810.015 0 2.760 831 154.236 3.430 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) 123 Vol.3 No.2 Juli 2017 milyar. Pajak tak langsung merupakan komponen yang memiliki kontribusi paling kecil diantara komponen- komponen lainnya, yakni sebesar Rp 214,8 milyar. Total NTB sektor pertanian menduduki pertama, yaitu Rp 3,430 milyar yang kontribusi terbesarnya adalah surplus usaha yaitu sebesar Rp 2,748 milyar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sangat besarnya peranan sektor pertanian dalam pembentukan NTB Kabupaten Banjarnegara dari sisi permintaan. Namun hasil analisis rasio surplus usaha dan upah gaji, diperoleh surplus usaha sektor pertanian lebih besar dari upah dan gaji, yang menunjukkan distribusi pendapatan petani di Kabupaten Banjarnegara belum merata antara pemilik modal dan pekerja sehingga terjadi ketimpangan pendapatan. Selain dapat diperbandingkan dengan sektor ekonomi yang lain, peran sektor pertanian juga dilihat secara rinci berdasarkan kontribusi subsektor dalam sektor pertanian (Tabel 4). Subsektor tanaman bahan makanan merupakan sektor yang memiliki permintaan total tertinggi, yaitu sebesar Rp 3.132,5 atau 77,94% dari total permintaan Kabupaten Banjarnegara. Tingginya permintaan akhir dibandingkan dengan permintaan antara pada semua sektor di sektor pertanian menunjukan bahwa output dari semua sektor di sektor pertanian lebih banyak dikonsumsi langsung oleh konsumen daripada digunakan sebagai input oleh produsen. Output subsektor dalam sektor pertanian yang paling banyak dikonsumsi langsung oleh rumah tangga adalah subsektor tanaman bahan makanan, yaitu sebesar Rp 325,76 milyar atau 40,22%, yang tidak jauh berbeda dengan sektor peternakan, yaitu sebesar Rp 322,98 milyar atau sebesar 39,87%. Total output sektor pertanian yang dikonsumsi langsung masyarakat adalah sebesar Rp 810.015 milyar. Sektor pertanian yang memiliki nilai net ekspor tertinggi adalah subsektor tanaman bahan makanan yaitu sebesar Rp 2.093,8 milyar dengan nilai ekspor dan impor tertinggi yaitu Rp 2.444,3 milyar atau 88,58% dan Rp 350,5 milyar atau 42,16%. Nilai net ekspor negatif pada sektor pertanian adalah subsektor peternakan dan perikanan. Net ekspor yang bernilai negatif pada subsektor peternakan dan perikanan tersebut menunjukkan bahwa subsektor tersebut belum memiliki kemandirian ekonomi. Struktur total investasi yang terdiri dari pembentukan modal tetap dan perubahan stok di Kabupaten Banjarnegara adalah sebesar Rp 2.446,4 milyar. Sektor pertanian berkon- tribusi sebesar Rp 154,24 milyar. Sektor pertanian dalam pembentukan modal tetap menduduki peringkat terendah setelah sektor listrik, gas dan air kemudian sektor pertam- bangan dan penggalian, yaitu hanya sebesar Rp 1,94 milyar atau 0,09% dari total pembentukan modal tetap. Namun untuk perubahan stok, sektor pertanian menduduki peringkat kedua setelah sektor industri, yaitu sebesar Rp 152,29 milyar atau 38,45% dari total perubahan stok. Total investasi sektor pertanian ini didominasi dari sektor tanaman bahan makanan. Hal tersebut karena perubahan stok pada sektor bahan makanan berkontribusi 90,84% dari total investasi yaitu Rp 140,1 milyar. Subsektor tanaman bahan makanan juga memiliki upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung tertinggi dalam sektor pertanian. Namun tingginya sumba- ngan yang diberikan subsektor tanaman bahan makanan terhadap NTB Kabupaten Banjarnegara ini justru memiliki rasio terkecil antara upah dan gaji dengan surplus usaha, yaitu hanya sebesar 0,19. Walaupun 4 subsektor lainnya dalam sektor pertanian seperti subsektor tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan memiliki surplus usaha yang lebih besar daripada upah dan gaji namun jarak keduanya tidak terlalu jauh dibandingkan subsektor tanaman bahan makanan. Secara keseluruhan, subsektor yang memiliki kontribusi terbesar adalah subsektor tanaman bahan makanan baik dilihat dari struktur permintaan, struktur rumah tangga pemerintah, ekspor-impor, investasi atau nilai tambah bruto. KETERKAITAN SEKTOR PERTANIAN DENGAN SEKTOR EKONOMI LAINNYA Analisis keterkaitan terdiri dari analisis keterkaitan ke depa n dan keterk ai ta n ke belak ang. Ma si ng-ma si ng keterkaitan tersebut terdiri atas keterkaitan langsung serta langsung dan tidak langsung. Sektor pertanian memiliki nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 0,381899 yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir sebesar 1 satuan maka terjadi kenaikan output yang dialokasikan secara langsung ke sektor lain dan sektor itu sendiri sebesar 0,381899 satuan. Nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan pada sektor pertanian sebesar 1,629048, yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir sebesar 1 satuan maka akan terjadi kenaikan output yang dialokasikan secarang langsung ke sektor lain dan sektor itu sendiri sebesar 1,629048 sa tuan. Ni la i tersebut c uk up ti nggi ji k a dibandingkan sektor lainnya, seperti sektor bangunan, perdagangan, angkutan, bank dan lembaga keuangan serta listrik, gas dan air bersih. Hasil analisis ini menunjukkan sektor pertanian memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap produksi hilirnya. Di sisi lain, nilai keterkaitan langsung ke belakang sektor pertanian adalah sebesar 0,16500 dan nilai keterkaitan langsung dan tidak langsungnya adalah sebesar 1,10274. Nilai 124 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research tersebut termasuk rendah jika dibandingkan sektor lainnya. Artinya sektor pertanian memiliki keterkaitan yang rendah terhadap produksi hulunya. Keadaan yang berbeda terjadi di Kabupaten Pemalang, sektor yang mempunyai keterkaitan ke depan yaitu sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sedangkan sektor yang mempunyai keterkaitan ke belakang terbesar yaitu sektor keuangan. Sektor pertanian mempunyai keterkaitan ke depan terbesar kedua tetapi dalam keterkaitan ke belakang berada pada urutan kedelapan (Suryani, 2013) Selanjutnya, subsektor tanaman bahan makanan yang ditampilkan pada tabel 6 memiliki nilai tertinggi keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang baik secara langsung maupun langsung dan tidak langsung dalam sektor pertanian adalah subsektor tanaman bahan makanan. Nilai tersebut secara berturut-turut sebesar 0,096456; 1,008395; 0,085617; 1,007046, yang menunjukkan subsektor tanaman bahan makanan memiliki keterkaitan paling besar baik dengan produksi sektor hulu maupun sektor hilirnya di antara sektor pertanian lain, yaitu subsektor tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Berbeda dengan yang terjadi di Provinsi Jawa Timur, keterkaitan ke belakang nilai TABEL 5. KETERKAITAN KEDEPAN DAN KEBELAKANG SEKTOR EKONOMI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 Sektor Keterkaitan Ke depan Keterkaitan Ke belakang Langsung Langsung &Tidak Langsung Langsung Langsung &Tidak Langsung 1. Pertanian 0,381899 1,629048 0,16500 1,10274 2. Pertambangan dan penggalian 0,847583 1,461905 0,17698 1,13020 3. Industri 1,372973 1,822044 0,64418 1,34770 4. Listrik, gas dan air bersih 0,059805 1,025574 0,73475 1,35217 5. Bangunan 0,145496 1,096390 0,66350 1,52692 6. Perdagangan 0,268617 1,205768 0,35276 1,26778 7. Angkutan 0,123869 1,085790 0,52966 1,45874 8. Bank dan lembaga keuangan lainnya 0,218972 1,104241 0,20972 1,15748 9. Jasa-jasa 0,442088 1,197120 0,38476 1,28413 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) TABEL 6. KETERKAITAN KEDEPAN DAN KEBELAKANG SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 Sektor Keterkaitan Kedepan Keterkaitan Kebelakang Langsung Langsung &Tidak Langsung Langsung Langsung &Tidak Langsung 1. Tanaman bahan makanan 0,096456 1,008395 0,085617 1,007046 2. Tanaman perkebunan 0,033280 1,001150 0,034301 1,001252 3. Peternakan 0,031549 1,002377 0,032823 1,002380 4. Kehutanan 0,013404 1,000218 0,015037 1,000422 5. Perikanan 0,069982 1,005110 0,076892 1,006151 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) TABEL 7. HASIL ANALISIS PENYEBARAN DAN DAMPAK ANGKA PENGGANDA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 Sektor Analisis Penyebaran Pengganda Kepekaan Penyebaran Koefisien Penyebaran Keluaran Pendapatan Kesempatan kerja 1. Pertanian 1,1685 0,7366 2,1731 3,1493 3,5529 2. Pertambangan dan penggalian 1,3419 0,7595 0,5621 0,8030 0,0030 3. Industri 1,8565 1,1574 2,8987 1,7901 2,1715 4. Listrik, gas dan air bersih 0,6307 1,2126 0,0706 0,0325 0,0030 5. Bangunan 0,7216 1,2727 0,6702 0,3914 0,2420 6. Perdagangan 0,8567 0,9416 0,8693 0,9765 1,1948 7. Angkutan 0,7029 1,1554 0,4639 0,3787 0,1844 8. Bank dan lembaga keuangan lainnya 0,7689 0,7944 0,3250 0,4458 0,0806 9. Jasa-jasa 0,9525 0,9697 0,9670 1,0326 0,5708 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) 125 Vol.3 No.2 Juli 2017 terbesar berada pada komoditas ternak meskipun untuk keterkaitan ke depan nilai terbesar pada komoditas padi (Oktavia, Hanani, & Suhartini, 2016). KEPEKAAN PENYEBARAN, KOEFISIEN PENYEBARAN, DAN DAMPAK ANGKA PENGGANDA SEKTOR PERTANIAN Analisis kepekaan penyebaran dengan analisis dampak angka pengganda menjadi bahan untuk analisis sektor pemimpin. Ana lisis penyebara n terdiri dari anali sis penyebaran dan koefisien penyebaran. Sedangkan analisis dampak angka pengganda terdiri dari output, pendapatan dan penyerapan tenaga keja. Sektor pertanian merupakan sektor dengan nilai koefisien penyebaran terkecil yaitu dengan nilai 0,7366 (Tabel 7). Nilai koefisien penyebaran yang kurang dari satu, menunjukkan bahwa kemampuan sektor pertanian untuk meningkatkan pertumbuhan industri hulunya masih kecil. Sektor pertanian sebagian besar masih banyak menggunakan input produksi dari sektornya sendiri untuk meningkatkan outputnya, misalnya pupuk organik (terbuat dari kotoran hewan ternak dan sampah dedaunan), bibit, serta benih. Beberapa sektor perekonomian memiliki nilai koefisien penyebaran lebih dari satu, yaitu sektor listrik, gas, dan air minum, bangunan dan sektor industri, artinya sektor tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan industri hulunya. Sektor yang memiliki nilai tertinggi untuk analisis dampak angka pengganda terhadap keluaran adalah sektor industri, dampak angka pengganda terhadap pendapatan adalah sektor pertanian dan dampak angka pengganda terhadap kesempatan kerja adalah sektor pertanian. Angka tertinggi pada analisis angka pengganda keluaran pada sektor industri menunjukkan bahwa keluaran sektor industri digunakan oleh sebagian besar sektor lainnya dan berpengaruh besar untuk meningkatkan keluaran sektor lainnya. Analisis dampak angka pengganda terhadap pendapatan yang tertinggi terjadi pada sektor pertanian, hal tersebut menjelaskan bahwa keluaran sektor pertanian digunakan oleh sebagian besar sektor lainnya untuk meningkatkan pendapatan pada masing- masing sektor. Sedangkan analisis angka p engganda kesempatan kerja yang tertinggi juga diperoleh oleh sektor pertanian yang menyatakan bahwa keluaran yang dihasilkan oleh sektor pertanian digunakan oleh sektor lainnya dan nantinya akan mampu meningkatkan kesempatan kerja sektor tersebut. Keadaan ini berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Pemalang, angka pengganda terhadap output dan kesempatan kerja yang tertinggi berada pada sektor bangunan, TABEL 8. HASIL ANALISIS PENYEBARAN DAN DAMPAK ANGKA PENGGANDA KABUPATEN BANJARNEGARA DALAM SEKTOR PERTANIAN TAHUN 2013 Subsektor Analisis Penyebaran Multiplier Kepekaan Penyebaran Koefisien Penyebaran Output Income 1. Tanaman bahan makanan 1,04986 1,03827 3,8890 3,8474 2. Tanaman perkebunan 0,98294 0,98401 0,2121 0,2216 3. Peternakan 0,98246 0,98367 0,6273 0,6564 4. Kehutanan 0,96317 0,96491 0,0499 0,0532 5. Perikanan 1,02158 1,02913 0,2216 0,2214 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) TABEL 9. PERINGKAT SEKTOR PEREKONOMIAN KABUPATEN BANJARNEGARA BERDASARKAN ANALISIS KETERKAITAN DAN ANALISIS DAMPAK ANGKA PENGGANDA TAHUN 2013 Sektor Kepekaan Koefisien Multiplier Jumlah Rank Rank Sektor Output Income Employment 1. Pertanian 3 9 2 1 1 16 2 2. Pertambangan dan penggalian 2 8 6 5 8 29 6 3. Industri 1 3 1 2 2 9 1 4. Listrik, gas dan air bersih 9 2 9 9 8 37 9 5. Bangunan 7 1 5 7 5 25 5 6. Perdagangan 5 6 4 4 3 22 4 7. Angkutan 8 4 7 8 6 33 7 8. Bank dan lembaga keuangan lainnya 6 7 8 6 7 34 8 9. Jasa-jasa 4 5 3 3 4 19 3 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) 126 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research sedangkan angka pengganda terhadap pendapatan terdapat pada sektor jasa lainnya (Suryani, 2013). Pada sektor pertanian, subsektor tanaman bahan makanan memiliki nilai kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran tertinggi (Tabel 8). Tingginya nilai kepekaan dan koefisien penyebaran pada subsektor tanaman bahan maka- nan menunjukkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor unggulan. Selain memiliki nilai penyebaran yang tertinggi, subsektor tanaman bahan makanan juga memiliki nilai tertinggi untuk analisis angka pengganda keluaran dan peng- ganda pendapatan. Angka tertinggi analisis angka pengganda keluaran menunjukkan bahwa keluaran subsektor tanaman bahan makanan digunakan oleh sebagian besar subsektor lainnya dan berpengaruh besar untuk meningkatkan keluaran subsektor lainnya dalam sektor pertanian. Angka tertinggi analisis angka pengganda pendapatan dalam sektor pertanian menjelaskan bahwa keluaran subsektor tanaman bahan makanan digunakan oleh sebagian besar subsektor lainnya untuk meningkatkan pendapatan masing-masing subsektor. Keadaan ini berbeda dengan yang terjadi di Provinsi Jawa Timur, bahwa angka pengganda keluaran terbesar terdapat pada komoditas ternak, sedangkan angka pengganda penda- patan terbesar pada komoditas telur (Oktavia, Hanani, & Suhartini, 2016). ANALISIS SEKTOR KUNCI DALAM PEREKONOMIAN Sektor pemimpin Kabupaten Banjarnegara adalah sektor industri, sedangkan sektor pertanian berada pada peringkat kedua (Tabel 9). Peringkat pengganda pendapatan dan tenaga kerja sektor pertanian memimpin yang tertinggi, namun untuk peringkat pengganda keluaran dan kepekaan penye- baran sektor industrilah yang memimpin. Perbedaan yang signifikan antara sektor pertanian dengan sektor industri adalah pada koefisien penyebaran. Sektor industri mendu- duki peringkat ketiga, sedangkan sektor pertanian mendu- duki peringkat terakhir. Uraian tersebut menggambarkan bahwa walaupun sektor petanian bukan merupakan sektor prioritas, namun sektor pertanian dalam meningkatkan keluaran, pendapatan, dan tenaga kerja serta kemampuan mendorong pertumbuhan sektor industri hilirnya sangatlah tinggi. Dalam sektor pertanian, subsektor tanaman bahan makanan merupakan sektor kunci. Subsektor tanaman bahan makanan memiliki nilai kepekaan penyebaran, koefisien penyebaran, keluaran dan pendapatan yang paling tinggi dibandingkan subsektor lainnya dalam sektor pertanian. Hal tersebut berarti bahwa subsektor tanaman bahan makanan dalam meningkatkan keluaran dan pendapatan, serta kemampuan menorong pertumbuhan sektor industri hulu maupun hilirnya merupakan yang paling tinggi dibandingkan subsektor lainnya. Analisis sektor kunci baik sektor pertanian maupun seluruh sektor di Kabupaten Banjarnegara menunjukkan bahwa sektor industri sebagai sektor kunci harus dibangun dengan kebijakan yang juga mendukung pertumbuhan sektor pertanian, terutama sektor tanaman bahan makanan. Industri di Indonesia dan Kabupaten Banjarnegara memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor pertanian. Bila Indo- nesia mengembangkan sektor industri yang tidak berbasis pertanian, misalnya industri elektronik atau otomotif, maka Indonesia tidak mampu bersaing dengan industri elektronika dan otomotif negara lain yang sudah unggul di pasar internasional, dan bila industri tersebut menjadi unggulan nasional, maka manfaatnya tidak dinikmati rakyat yang tersebar di seluruh pelosok tanah air yang kehidupan ekonominya berada di sektor agribisnis (Saragih, 2010). Hasil penentuan sektor pemimpin perekonomian Kabupaten Banjarnegara juga harus melakukan perluasan sektor modern karena sektor kunci berdasarkan analisis adalah sektor industri. Sesuai dengan Kurva Kuznets yang menyatakan bahwa proses pertumbuhan berkesinambungan berasal dari perluasan sektor tradisional ke sektor modern. Selain itu, agroindustri mempunyai peranan yang sangat besar TABEL 10. PERINGKAT SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN BANJARNEGARA BERDASARKAN ANALISIS KETERKAITAN DAN ANALISIS DAMPAK ANGKA PENGGANDA TAHUN 2013 Subsektor Kepekaan Koefisien Pengganda Jumlah Rank Rank Sektor Keluaran Pendapatan 1. Tanaman bahan makanan 1 1 1 1 4 1 2. Tanaman perkebunan 3 3 4 3 13 4 3. Peternakan 4 4 2 2 12 3 4. Kehutanan 5 5 5 5 20 5 5. Perikanan 2 2 3 4 11 2 Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara 2014 (diolah) 127 Vol.3 No.2 Juli 2017 dalam pembangunan pertanian terutama dalam rangka transformasi struktur perekonomian dari dominasi sektor pertanian ke dominasi sektor agroindustri (Nasution, 2002). KESIMPULAN Peran sektor pertanian yang didominasi oleh subsektor tanaman bahan makanan, memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Kabupaten Banjarnegara, terutama nilai tambah bruto dan nilai net ekspor. Subsektor tanaman bahan makanan memiliki peran terbesar terhadap permintaan to- tal, konsumsi masyarakat, nilai net ekspor dan nilai tambah bruto dibandingkan subsektor pertanian lain. Berdasarkan analisis keterkaitan, sektor pertanian memiliki keterkaitan ke depan cukup tinggi, namun keterkaitan ke belakang yang terendah diantara sektor lainnya. Analisis penyebaran sektor pertanian berada pada peringkat ketiga untuk kepekaan penyeba ra n dan p eri ngka t terakhir untuk koefi si en penyebaran. Sektor pertanian memiliki nilai tertinggi untuk dampak angka pengganda pendapatan dan kesempatan kerja. Subsektor dalam sektor pertanian yang memiliki nilai dampak angka pengganda keluaran dan pendapatan tertinggi adalah subsektor tanaman bahan makanan. Sektor yang dapat dijadikan sebagai pemimpin adalah sektor industri dan sektor pertanian, sedangkan subsektor yang merupakan pemimpin adalah subsektor tanaman bahan makanan. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara perlu menyusun rencana strategis untuk mengembangkan sektor industri yang berbasis p ert a nia n menginga t seba gi an besa r p enduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Adanya perhatian yang lebih terhadap sektor pertanian diharapkan jumlah penduduk miskin dapat dikurangi dan kesejahteraan masyarakat meningkat. DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Jawa Tengah Dalam Angka 2013. Semarang: BPS Jawa Tengah. ___. 2014. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banjarnegara 2013. Banjarnegara: BPS Banjarnegara. ___. 2014. Tabel Input Output Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013. Banjarnegara: BPS Banjarnegara. ___. 2016. Keadaan Angkatan Kerja Jawa Tengah Agustus 2015. Semarang: BPS Jawa Tengah. ___. 2016. Pendapatan Nasional Indonesia 2011-2015. Jakarta: BPS. Anugrah, S.I. dan Ma’mun, D. (2003). Reorientasi Pembangunan Pertanian dalam Perspektif Pembangunan Wilayah dan Otonomi Daerah, Suatu Tinjauan Kritis untuk mencari Bentuk Perencanaan ke Depan. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 2(2): 29-99. Arsyad, L. (2010). Ekonomi Pembangunan Edisi ke-5. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Daryanto, A., & Hafizryanda, Y. (2012). Analisis Input-Output dan Social AccountingMatrix. Bogor: IPB Press. Isbah, U., & Iyan, R.Y. (2016). Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Perekonomian dan Kesempatan Kerja di Provinsi Riau. Jurnal Sosial Ekonomi Pembangunan, 7(19): 45-54. Khoyanah, S., Bakce, D., & Yusri, J. (2015). Peranan Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Rokan Hilir: Analisis Struktur In- put-Output. Jurnal Jom Faperta, 2(1): 2-10. Oktavia, H. F., Hanani, N., & Suhartini. (2016). Peran Sektor Pertanian dalam Pembangunan Ekonomi di Provinsi Jawa Timut (Pendekatan Input Output). Jurnal Habitat, 29(2): 72-84. Nasution, M. (2002). Pengembangan Kelembagaan Koperasi Pedesaan untuk Agroindustri. Bogor: IPB Press. Priyarsono, D.S. (2011). Dari Pertanian ke Industri: Analisis Pembangunan dalam Perspektif Ekonomi Regional. Bogor. IPB Press. Saragih, B. (2010). Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Bogor: IPB Press. Suryani T. (2013). Analisis Peranan Sektor Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pemalang (Analisis Tabel Input-Output Kabupaten Pemalang Tahun 2010).Semarang: Economic Development Analysis Journal, 2(1): 1-11. Syahroni. (2016). Analisis Peranan Sektor Pertanian dalam Perekonomian Kabupaten Sarolangun. Jurnal Perspektif Ekonomi dan Pembangunan Daerah, 5(1): 36-44 Tarigan R. (2005). Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.Bumi Aksara.