AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Vol. 3 No.2 Juli 2017 ANISAH, MARDIYAH HAYATI Program Studi Agribisnis, Universitas Trunojoyo Madura mardiyah@trunojoyo.ac.id Pengambilan Keputusan Petani untuk Tetap Berusahatani Cabe Jamu di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep h t t ps : / / doi .or g/ 10.18196/ agr .3251 ABSTRACT This research aims to determine the factors that influence farmer decision to keep his long pepper farming in Bluto District. This research was conducted in 5 villages of the long pepper production center. A samples of 86 farmers was analized by an analysis of binary logistic. The result showed that factor influencing the farmer decision to keep his long pepper farming was the ex- perience of farming. Increasing experience of farming will upgrade farmer knowledges in minimizing failure on long pepper farm- ing. Keywords: binary logistic analysis, decision making, district of Bluto, long pepper. INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Penelitian ini dilakukan di lima desa sentra produksi cabe jamu di Kecamatan Bluto, dengan jumlah sampel sebanyak 86 petani. Data dianalisis dengan metode analisis binary logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman usahatani menjadi faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto. Peningkatan pengalaman usahatani akan meningkatkan pengetahuan petani dalam mengurangi kegagalan dalam berusahatani cabe jamu. Kata kunci: analisis binary logistic, cabe jamu, kecamatan Bluto, pengambilan keputusan. PENDAHULUAN Indonesia termasuk salah satu negara yang kaya plasma nutfah tanaman obat. Tanaman obat yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku jamu dan obat tradisional berjumlah lebih dari 300 dari 1000 jenis tanaman obat di Indonesia (Rukmana, 2003). Pengembangan budidaya tanaman obat memiliki dampak positif bagi masyarakat yaitu meningkatkan produksi pendapatan petani, dan pelestarian sumber daya hayati (biodiversitas) dari tana- man obat itu sendiri (Djauhariya & Rosihan, 2009). Rata-rata ekspor tanaman obat Indonesia ke Hongkong setiap tahun sebesar 730 ton, disusul Singapura 528 ton, kemudian Jerman 155 ton, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Ma- laysia (Dinarwi, 2007). Salah satu tanaman obat yang saat ini sedang dikembangkan adalah cabe jamu (Piper retrofactum Vahl). Buah cabe jamu banyak dibutuhkan oleh industri obat herbal yaitu sekitar 5.920 ton per tahun (Herlina, 2008). Selain itu, cabe jamu menjadi salah satu komoditi ekspor tanaman obat yang cukup diminati di pasaran internasional (Arifiyanti, Melati, & Ghulamahdi, 2009). Indonesia telah mengekspor cabe jamu sejak penjajahan Belanda. Kebutuhan cabe jamu dunia saat ini sekitar 6 juta ton dan Indonesia baru bisa memenuhi sepertiganya (Taryono & Agus, 2004). mailto:mardiyah@trunojoyo.ac.id 113 Vol. 3 No. 2 Juli 2017 Cabe jamu banyak ditemukan di Indonesia terutama di Jawa, Lampung, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, dan Kali- mantan. Sentra produksi cabe jamu adalah Propinsi Jawa Timur dan Lampung. Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur (2013), mencatat pada tahun 2010 luas areal cabe jamu seluas 4.211 ha dengan produksi 1.329 ton buah kering dan produktivitas sebesar 481 kg/ha. Di Jawa Timur, daerah sentra produksi utamanya adalah di Madura. Areal perkebunan terbesar di semua kabupaten terutama yang terdapat di Pulau Madura yaitu di Kabupaten Sumenep (1.709 ha), Sampang (1.017 ha), Pamekasan (715 ha), dan Bangkalan (356 ha). Permasalahan umum dalam usahatani cabe jamu adalah belum banyaknya masyarakat yang membudidayakan tanaman ini secara intensif. Dengan demikian, tidak ada perencanaan produksi yang tepat yang mengakibatkan potensi produksinya tidak tercapai. Rata-rata produksi cabe jamu kering hanya sekitar 1,48 ton/ha/tahun, padahal potensi produksi seharusnya mencapai 2,5 ton/ha/tahun (Djauhariya & Rosihan, 2009). Selain itu, budidaya cabe jamu tidak didukung oleh teknik budidaya yang baik. K abup aten Sumenep ber p elua ng seba ga i tempa t pengembangan tanaman cabe jamu ditinjau dari sumber daya dan kondisi tanah yang sangat cocok dengan pertumbuhan tanaman cabe jamu. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumenep (2015), Kecamatan Bluto merupakan sentra penghasil cabe jamu di Kabupaten Sumenep. Produksi cabe jamu di Kecamatan Bluto menga- lami peningkatan dari tahun 2011-2015. Akan tetapi, produktivitas cabe jamu cenderung stagnan selama kurun waktu tersebut, bahkan mengalami penurunan pada tahun 2015 (Tabel 1). TABEL 1. LUAS LAHAN, PRODUKSI, DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN CABE JAMU TAHUN 2011-2015 DI KECAMATAN BLUTO No Tahun Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kg/Ha) 1 2011 568,57 2.095,40 5.131 2 2012 582,75 2.179,26 5.131,48 3 2013 613,83 2.179,63 5.131,56 4 2014 663,83 2.407,03 5.131,56 5 2015 667,83 2.455,17 4.798,54 Jumlah 3.096,81 11.316,49 25.324,14 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, 2015 Rendahnya produktivitas cabe jamu di Kecamatan Bluto disebabkan oleh banyak faktor, antara lain saluran irigasi yang kurang memadai, terserangnya hama dan penyakit serta kurangnya pengetahuan petani terhadap perkembangan teknologi terutama dalam teknik budidaya cabe jamu (Zuchri, 2008). Namun pada fakta di lapang, meskipun terdapat beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya produk- tivitas cabe jamu pada tahun 2015, petani tetap memasukkan komoditas cabe jamu dalam usahataninya. Padahal pada waktu yang bersamaan, masyarakat Kecamatan Bluto juga menanam komoditas jagung sebagai penambah pendapatan rumah tangga dan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Komoditas jagung di Kecamatan Bluto merupakan komoditas pangan yang memiliki produksi paling tinggi di antara komoditas pangan lainnya, yaitu sebesar 5,21 ton/ha pada tahun 2015 (BPP Kecamatan Bluto, 2015). Salah satu penyebab dari tingginya produksi tersebut adalah dengan adanya program penyuluhan dalam mendukung UPSUS PAJALE (Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai) pada tahun 2015 yang juga diterapkan oleh BPP Kecamatan Bluto kepada petani padi, jagung, dan kedelai. Namun, pendapatan petani cabe jamu sebesar Rp. 3.817.342/musim (Ningsih, 2012) lebih besar dibandingkan dengan pendapatan usaha- tani lain yang ditanam oleh masyarakat Kecamatan Bluto. Petani sebagai manajer harus memilih komoditas untuk diusahakan (Suratiyah, 2008). Keputusan petani untuk mengusahakan komoditas tertentu dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi. Beberapa studi kasus menunjukkan bahwa pendapatan usahatani dan harga jual komoditas merupakan faktor yang mempengaruhi kep utusan p etani untuk mengusahakan komoditas tertentu (Evayanti, Rusmadi, & Ratina, 2004); (Apriliana & Mustadjab, 2016); (Theresia, Fariyanti, & Tinaprilla, 2016). Faktor lainnya seperti luas lahan, tingkat pendidikan, keaktifan dalam kelompok tani, cenderung tidak signifikan dalam mempengaruhi keputusan dalam studi-studi kasus tersebut. Berbaga i studi sebelumnya menunjukkan ada nya perbedaan faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan petani dalam mengusahakan komoditas tertentu. Hal ini menunjukkan perlunya studi yang bertujuan mengetahui faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto, agar diperoleh masukan dalam upaya meningkatkan areal usahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian di Kecamatan Bluto, Kabupaaten Sumenep. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan produksi cabe jamu di Kecamatan Bluto pal- ing tinggi dibandingkan dengan kecamatan lain di Kabupaten Sumenep. Data yang digunakan adalah data primer yang 114 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan bantuan kuesioner. Data dari hasil observasi adalah data sosial ekonomi petani, sedangkan data hasil wawancara adalah pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani unruk tetap berusahatani cabe jamu. Responden dalam penelitian ini yaitu 43 petani cabe jamu yang memiliki tamanam berumur lima sampai tujuh tahun dan 43 petani jagung yang juga pernah atau sedang menanam cabe jamu serta aktif dalam kelompok tani di Kecamatan Bluto. Teknik pengam- bilan sampel menggunakan accidental sampling, dengan pertimbangan tidak ada kerangka sampel petani cabe jamu yang memiliki umur tanaman lima sampai tujuh tahun. Selanjutnya, analisis data yang digunakan adalah analisis regresi binary logistik. Secara matematis model penelitian yang digunakan sebagai berikut: Y = ln (Pi/1-Pi)= β0+β 1X1+β 2X2+β 3X3+ β 4X4 + β 5X5 + β 6X6 + β 7D7 + β 8D8 +e Y adalah keputusan petani (P i =1, tetap berusahatani cabe jamu, P i =0, tidak berusahatani cabe jamu), X 1 adalah umur (tahun), X 2 adalah tingkat pendidikan (tahun), X 3 adalah pendapatan usahatani (Rp), X 4 adalah pengalaman usahatani (tahun), X 5 adalah luas lahan (Ha), X 6 adalah frekuensi kontak dengan petani lain (kali/bulan), X 7 adalah tingkat kesulitan budidaya (1 = mudah, 0 = sulit), X 8 adalah keikutsertaan kelompok tani (1 = ikut serta, 0 = tidak ikut serta). HASIL DAN PEMBAHASAN KARAKTERISTIK RESPONDEN PETANI DI KECAMATAN BLUTO Tanaman cabe jamu merupakan tanaman yang saat ini banyak diusahakan oleh masyarakat Kecamatan Bluto. Kondisi tanah yang sangat cocok menjadi salah satu pendu- kung petani untuk tetap mengusahakan usahatani cabe jamu. Mengusa hakan cabe jam u sudah m enja di hobi dari kebanyakan petani di Kecamatan Bluto. Selain pendapatan yang dihasilkan tinggi, cabe jamu juga merupakan tanaman tahunan yang tahan terhadap serangan penyakit. Selain menanam cabe jamu, mayoritas masyarakat Bluto juga menanam jagung untuk memenuhi kebutuhan pangan dan juga dijual untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Jagung merupakan komoditas pangan dengan produksi tertinggi di Kecamatan Bluto (BPP Kecamatan Bluto, 2016). Tingginya produksi tersebut juga didukung oleh adanya pro- gram UPSUS PAJALE yang diadakan oleh BPP Kecamatan Bluto. Masyarakat Kecamatan Bluto tidak hanya menanam cabe jamu, melainkan juga menanam jagung karena kondisi tanah yang cocok ditanami oleh kedua komoditas tersebut. Menurut (Theresia, 2016), ciri spesifik dari seseorang seperti umur, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, dan luas lahan berpengaruh terhadap keterampilan petani dalam mengelola usahatani. Umur mayoritas petani di Kecamatan Bluto termasuk pada kategori umur produktif, yaitu sebanyak 99% petani berumur. Hal tersebut menunjukkan bahwa umur yang produktif akan lebih cepat menerima inovasi dan informasi untuk diaplikasikan pada usahataninya. Tingkat pendidikan formal sebagian besar petani adalah tingkat pendidikan SMA/sederajat, yaitu sebanyak 53,5% petani. Petani yang mempunyai tingkat pendidikan SMP/ sederajat sebanyak 24,4%, SD/sederajat sebanyak 16,3%, Diploma sebanyak 2,3%, dan Sarjana sebanyak 2,3%. Persentase terbesar adalah tingkat pendidikan SMA/ sederajat. Tingkat pendidikan ini sudah cukup, karena sesungguhnya petani sudah memiliki dasar dan pemikiran kearah pertanian yang berkelanjutan, hanya saja masih harus lebih diasah untuk menimbulkan kesadaran tersebut (Kurniati, 2005). Sedangkan tingkat pendidikan di atas SD akan lebih mudah mengikuti pembinaan yang dilakukan dan mengolah informasi yang diterima dengan cepat. Sebanyak 46,5 % petani di Kecamatan Bluto memiliki lahan antara 0, 25- 0,50 ha, dan sebanyak 2,3 % petani yang mempunyai luas lahan >1 Ha. Pendapatan usahatani yang diperoleh petani di Kecamatan Bluto diperoleh dari hasil usahatani tembakau, kacang hijau, jagung, dan cabe jamu. Namun ada juga yang diperoleh dari hasil usahatani jagung dan cabe jamu saja. Sebanyak 20 orang petani cabe jamu dan 29 orang petani jagung di Kecamatan Bluto mempunyai pendapatan sebesar Rp 1.000.000-Rp 10.000.000. Petani yang berpendapatan kurang dari Rp1.000.000 ditemukan sebanyak 1% petani cabe jamu. Sedangkan petani yang memiliki pendapatan Rp. 10.100.000 – Rp 20.000.000 ditemukan sebanyak 18 orang petani cabe jamu dan 33% petani jagung. Pendapatan lebih dari Rp 20.000.000 diperoleh oleh petani cabe jamu dan jagung sebanyak 6%. Perbedaan pendapatan tersebut disebabkan oleh hasil produksi yang berbeda-berbeda di antara petani satu dan petani lainnya di Kecamatan Bluto. Pengalaman usahatani setiap orang berbeda-beda, begitu pun pengalaman usahatani petani cabe jamu dan jagung di Kecamatan Bluto. Mayoritas petani (67,4%) di Kecamatan Bluto melakukan usahatani cabe jamu dan jagung dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun, yaitu sebanyak 43 orang petani cabe jamu dan 15 orang petani jagung. Sebanyak 27 orang petani cabe jamu dan jagung yang melakukan usahatani dalam jangka waktu 10-30 tahun. Sedangkan yang lebih dari 30 tahun ditemukan sebanyak 1,2% petani cabe jamu dan 115 Vol.3 No.2 Juli 2017 jagung. Perbedaan lamanya berusahatani tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan agar tidak melakukan kesalahan yang sama sehingga dapat melakukan hal-hal yang baik untuk waktu-waktu berikutnya (Hasyim, 2006). Frekuensi kontak dengan petani lain sebanyak kurang dari 10 kali/bulan dilakukan oleh 64% petani. Usahatani jagung tidak membutuhkan pengawasan setiap hari, sehingga frekuensi kontak dengan petani lain kurang dari 10 kali/ bulan didominasi oleh petani jagung. Sedangkan 34 % petani melakukan kontak dengan petani lain dengan frekuensi 10- 20 kali/bulan yang didominasi oleh petani cabe jamu dengan jumlah 24 orang dan 5 orang petani jagung. Dapat dikatakan bahwa petani cabe jamu lebih sering berinteraksi dengan petani lain karena petani cabe jamu setiap hari mengontrol tanaman di tegalan dan bertemu dengan petani lain selain di rumah petani masing-masing. Mayoritas petani (72%) ikut serta dalam kegiatan kelom- pok tani dan sebesar 28% tidak ikut serta dalam kegiatan kelompok tani. Dalam kegiatan kelompok tersebut hadir pula PPL yang bertindak sebagai narasumber untuk memberikan penjelasan mengenai budidaya tanaman. Dalam kegiatan kelompok, kadangkala terjadi diskusi dengan petani lain yang pernah mengalami persoalan dalam usahatani. Dengan demikian keikutsertaan petani dalam kelompok tani memberikan manfaat memberikan informasi terkait dengan permasalahan pertanian atau informasi mengenai teknologi baru di bidang pertanian (Watemin & Sulistyani, 2015). Tingkat kerumitan budidaya cabe jamu dikategorikan mudah. Sebanyak 86% petani menyatakan bahwa tingkat kerumitan budidaya cabe jamu dikategorikan mudah. Mayoritas petani di Kecamatan Bluto tidak mengalami kesulitan untuk melakukan usahatani dan menerima informasi yang berkaitan dengan cabe jamu dan jagung. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI UNTUK TETAP BERUSAHATANI CABE JAMU Keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang diduga mempengaruhi keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu dalam penelitian ini adalah umur, tingkat pendidikan, pendapatan usahatani, pengalaman usahatani, luas lahan, frekuensi kontak dengan petani lain, tingkat kesulitan budidaya, dan keikutsertaan kelompok tani. Hasil analisis pengaruh faktor variabel tersebut terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu dengan menggunakan regresi binary logistic dapat dilihat pada Tabel 2. TABEL 2. HASIL ANALISIS REGRESI BINARY LOGISTIC FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI UNTUK TETAP BERUSAHATANI CABE JAMU DI KECAMATAN BLUTO TAHUN 2017 Variabel � Wald Sig Exp (�) Umur (X1) .049 .315 .575 1.050 Tingkat Pendidikan (X2 ) -.410 2.227 .136 .664 Pendapatan Usahatani (X3) .000 .248 .618 1.000 Pengalaman Usahatani (X4) -2.068 5.073 .024*) .126 Luas Lahan (X5) 7.385 2.536 .111 1.611E3 Frekuensi Kontak dengan Petani lain (X6) .158 1.304 .254 1.171 Tingkat Kerumitan Budidaya (X7) -18.687 .000 .998 .000 Keikutsertaan Kelompok Tani (X8) -20.288 .000 .998 .000 Konstanta 49.972 .000 .997 5.043E21 Chi Square Hitung = 98.642 Negelkerge R Square = .910 Overall Percentage =94.2 Sumber: Data Primer Diolah, 2017 Keterangan :*) Nyata pada á = 0.05 Variabel independen umur, tingkat pendidikan, penda- patan usahatani, pengalaman berusahatani, frekuensi kontak dengan petani lain, luas lahan, tingkat kesulitan budidaya cabe jamu, dan keikutsertaan dalam kelompok tani mampu mempengaruhi variabel dependen keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto. Keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto sebesar 91% mampu dijelaskan oleh faktor umur, tingkat pendidikan, pendapatan usahatani, pengalaman usahatani, frekuensi kontak dengan petani lain, luas lahan, tingkat kesulitan budidaya, dan keikutsertaan kelompok tani. Sedangkan sisanya, sebesar 9% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Tabel 2. menjelaskan bahwa nilai overall per- centage sebesar 94,2 yang menunjukkan bahwa model regresi binary logistic yang digunakan sudah baik karena mampu menduga dengan benar sebesar 94,2 %. Pengaruh secara parsial atau individu dari variabel independen terhadap variabel dependen dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil uji wald. Dari tabel 2. tersebut dapat dilihat bahwa umur, tingkat pendidikan, pendapatan usahatani, frekuensi kontak dengan petani lain, luas lahan, tingkat kesulitan budidaya, dan keikutsertaan kelompok tani tidak berpengaruh secara signifikan, sedangkan pengalaman usahatani berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Umur. Berdasarkan analisis logistik secara parsial, diketahui bahwa variabel umur (X 1 ) tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto. Berbagai kelompok usia petani, baik muda maupun tua tetap memiliki 116 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research kemampuan yang sama dalam mengadopsi inovasi dan menyerap informasi tentang usahatani cabe jamu. Bahkan dalam hal tanggung jawab, semakin tua usia tenaga kerja tidak akan berpengaruh karena justru semakin berpengalaman (Suratiyah, 2008). Hal ini sejalan dengan penelitian (Apriliana & Mustadjab, 2016) bahwa variabel umur tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam menggunakan benih jagung hibrida di Kabupaten Malang. Tingkat Pendidikan, Petani yang berpendidikan tinggi adalah relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi. Begitu pula sebaliknya petani yang berpendidikan rendah akan sedikit mengalami kesulitan untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat (Soekartawi, 1988). Namun secara statistik variabel tingkat pendidikan (X 2 ) tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Berusahatani cabe jamu tidak memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi, karena petani mendapatkan banyak ilmu tentang berusahatani cabe jamu di luar pendidikan formal, yaitu dengan mengamati usahatani petani lain, melakukan inovasi sendiri secara terus-menerus dan belajar kepada sesama petani. Hasil analisis ini sejalan dengan penelitian (Evayanti, Rusmadi, & Nita 2004) bahwa dalam pendidikan formal petani tidak diajari tentang tata cara menanam Nenas dengan baik dan benar. Pendapatan usahatani. Variabel pendapatan usahatani tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Petani di Keca- matan Bluto menganggap bahwa tinggi atau rendah pendapatan usahatani yang dimiliki petani tetap melakukan usahatani cabe jamu. Pemilihan petani atas hasil produksi berdasarkan pendapatan yang petani harapkan dan penjualan produksi yang diusahakan (Theresia, 2016). Sebelum memilih dan mengusahakan suatu komoditas, petani mempertim- bangkan besar kecilnya pendapatan yang diperoleh dari pengusahaan komoditi tersebut. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin cepat kemampuannya mengha- dapi inovasi (Hanafie, 2010). Komoditas cabe jamu di Kecamatan Bluto merupakan komoditas yang memiliki harga jual paling tinggi di antara komoditas lainnya yaitu sebesar Rp. 55.000/kg. Harga cabe jamu yang tinggi ini menjadi daya tarik petani. Oleh karena itu, pendapatan usahatani cabe jamu tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap beru- sahatani cabe jamu. Hal tersebut sejalan dengan penelitian (Santika, Arik, & Titin, 2014) yang menemukan variabel pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani berusahatani kacang panjang di Kabupaten Jember. Pengalaman B erusahat ani. Variabel pengala man berusahatani (X 4 ) berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto. Sejalan dengan penelitian (Santika, Arik, & Titin, 2014), yang menyatakan bahwa variabel pengalaman berusahatani merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani berusahatani benih kacang panjang di Desa Angdongsari K abupaten Jember. Variabel pengalaman berusahatani ini, memilik nilai exp (?) sebesar 0,126 yang artinya setiap peningkatan pengalaman usahatani mening- katkan peluang pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Semakin lama petani berusahatani cabe jamu maka semakin terampil dan cepat dalam menangani risiko usahataninya. Karena petani yang mempu- nyai penga la man lebi h lam a c enderung lebi h c ep at mengambil keputusan dengan keterampilan, kemampuan, inovasi, dan permasalahan usahatani yang pernah dialami tidak diulangi lagi (Becot, Jane, & Ernesto, 2014). Luas Lahan. Variabel luas lahan (X 5 ) tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto. Petani tetap menanam cabe jamu meskipun pada lahan yang sempit. Produksi cabe jamu yang tinggi dapat dilakukan dengan pemeliharaan dengan baik. Selain itu cabe jamu juga dapat ditanam dipekarangan rumah yang petani miliki. Suatu usahatani yang dijalankan dengan tertib dan administrasi yang baik serta teknologi yang tepat, tetap tercapai efisien meskipun dilakukan pada lahan yang sempit (Daniel, 2004). Tidak berpengaruhnya luas lahan terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu, sejalan dengan penelitian (Adeogun, Ajana, Ayinla, & Yahere, 2008), bahwa luas lahan tidak berpengaruh terhadap penggunaan benih lele hibrida di Nigeria. Frekuensi Kontak dengan Petani Lain. Variabel frekuensi kontak dengan petani lain tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Hal tersebut terjadi, karena petani lain belum tentu membahas tentang cabe jamu dalam setiap berinteraksi. Terkadang petani lain lebih banyak membahas usahatani lain dan permasalahan sosial ekonomi di luar pertanian. Oleh karena itu, frekuensi kontak dengan petani lain tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk tetap berusahatani cabe jamu. Hasil penelitian tersebut bertolak belakang dengan hasil penelitian (Adeogun, Ajana, Ayinla, & Yahere, 2008), yang menyatakan bahwa variabel frekuensi kontak dengan petani berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani dalam menggunakan benih lele hibrida di Nigeria. 117 Vol.3 No.2 Juli 2017 Tingkat Kesulitan Budidaya. Variabel tingkat kesulitan budidaya cabe jamu (D 7 ) secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Pelaksanaan usahatani dengan mudah dapat dimengerti oleh petani. Semakin mudah dipahami dan dimengerti petani maka semakin baik dalam meningkatkan produktivitas pertaniannya (Cepriadi & Roza, 2012). Cabe jamu merupakan tanaman yang tidak manja, mudah dijalani, bisa ditinggalkan dan tahan terhadap penyakit sehingga dalam memelihara cabe jamu hanya membutuhkan pengawasan saja. Dalam menjalankan usahatani cabe jamu, petani menganggap sebagai pengisi waktu luang dan hobi yang sedang dijalani, sehingga tingkat kesulitan dalam membudidayakan cabe jamu tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian (Rachman, Jani, & Sudarko, 2014), yang menya- takan bahwa tingkat kemudahan budidaya Kubis menjadi faktor penentu petani berusahatani Kubis di Kabupaten Bondowoso. Keikutsert aan dalam Kelompok Tani . Va ri a bel keikutsertaan dalam kelompok tani (D 8 ) secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani untuk tetap berusahatani cabe jamu. Hal tersebut sejalan dengan penelitian (Apriliana & Mustadjab, 2016) mengenai pengambilan keputusan petani terhadap penggunaan benih jagung hibrida di Kabupaten Malang. Penelitian tersebut menyatakan bahwa keikutsertaan petani dalam kelompok tani juga tidak berpengaruh terhadap penggunaan benih jagung hibrida di Kabupaten Malang. Berdasarkan fakta di lapang, untuk memperoleh informasi tentang cabe jamu tidak harus aktif dalam kelompok tani tetapi belajar pada petani lain dan mengamati petani lain. Selain itu, mayoritas kelompok tani di Kecamatan Bluto tidak membahas tentang perma- salahan yang terjadi pada usahatani cabe jamu melainkan lebih fokus pada pertanian pangan. KESIMPULAN Faktor ya ng ber p enga ruh terha da p pengam bi la n keputusan petani tetap berusahatani cabe jamu di Kecamatan Bluto adalah pengalaman berusahatani petani. Petani diharapkan tetap melakukan usahatani cabe jamu untuk meningkatkan pengalaman petani dalam berusahatani cabe jamu. Selain itu, stakeholder di Kecamatan Bluto perlu memberikan pelatihan dalam upaya peningkatan produksi cabe jamu. DAFTAR PUSTAKA Adeogun, O.A., Ajana, Ayinla, & Yarhere. (2008). Application of Logit Model in Adoption Decision: A Study of Hybrid Clarias in Lagos State, Nigeria. American-Eurasian J. Agric. And Environ Sci, 4(4): 468-472. Apriliana, M.A., & Mustadjab, M.M. (2016). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Petani dalam Menggunakan Benih Hibrida pada Usahatani Jagung (Studi Kasus di Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang). Jurnal Habitat, 27(1): 7-13. Arifiyanti, I. N., Melati, M., & Ghulamahdi, M. (2009). Studi Pertumbuhan Cabe Jawa Panjat (Piper retrofractum Vahl) di Pembibitan dari Tiga Sentra Produksi. Prosiding Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Bluto. (2015). Data Produktivitas Tanaman Pangan BBP Bluto. Becot, David, SC., Jane, M.K., & Ernesto, M. (2014). Measuring the Cost of Production and Pricing on Diversified Farms: Juggling Decisions Amidst Uncertainties. Journal of the ASFMRA, 2 (1): 174-191. Cepriadi, & Roza, Y. (2012). Persepsi Petani terhadap Usahatani Lahan Pekarangan (Studi Kasus Usahatani Lahan Pekarangan di Kecamatan Kerinci Kabupaten Pelalawan). Indonesian Journal of Agricultural Eco- nomics (IJAE), 3(2): 177-194. Daniel, M. (2004). Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: PT Bumi Aksara. Dinarwi. (2007). Meningkatkan Mutu Cabe Jamu Lamongan Melalui Perbaikan Teknologi Pengeringan. Cakrawala, 1(1): 87 – 96. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumenep. (2015). Luas Lahan, Produksi, dan Produktivitas Cabe Jamu Tahun 2011-2015 di Kecamatan Bluto. Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur. (2013). Perkebunan Rakyat di Jawa Timur Tahun 2010. http://www.disbun.jatimprov.go.id/publikasi. Diakses tanggal 15 September 2016. Djauhariya, E., & Rosihan, R. (2009). Status Teknologi Tanaman Cabe Jamu (Piper retrofractum Vahl). Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2(1): 75-90. Evayanti, N., Rusmadi, & Rita, R. (2004). Faktor-Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Keputusan Petani Mengusahakan Usahatani Nenas di Desa Sungai Merdeka. EPP, 1(1): 17-21. Hanafie, R. (2010). Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Hasyim, H. (2006). Analisis Hubungan Karakteristik Petani Kopi terhadap Pendapatan (Studi Kasus: Desa Dolok Saribu Kecamatan Paguruan Kabupaten Tapanuli Utara). Jurnal Komunikasi Penelitian, 2(1): 22- 27. Herlina. (2008). Tanaman Herbal di Indonesia. Seminar Terbuka Tanaman Herbal di Indonesia, Herbal Media Center Malang. Kurniati, E. (2005). Faktor Penentu Keputusan Tanam dalam Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan. Jurnal Teknologi Pertanian. 6(1).17-28 Ningsih, K. (2012). Analisis Titik Impas Cabe Jamu (Piper rectrofractum Vahl). 3(2).1-6. Rachman, N., Jani, J., & Sudarko. (2014). Faktor-Faktor yang Mendasari Pengambilan Keputusan Petani Berusahatani Kubis dan Strategi Pengembangan Usahatani Kubis. Berkala Ilmiah Pertanian, 1(2): 1- 11. Rukmana, R. (2003). Cabai Jawa Potensi dan Khasiatnya bagi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius. Santika, N., Arik, S., & Titin, A. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Petani untuk Melakukan Usahatani Benih Kacang Panjang di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember (Studi Kasus Kemitraan Usahatani Benih Kacang Panjang dengan PT. Benih Citra Asia, PT. Bisi, dan PT. Matahari). http://www.disbun.jatimprov.go.id/publikasi 118 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Berkala Ilmiah Pertanian, 10(10): 1-7. Santoso, S. (2014). Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elek Media Kompotindo Sarker, MA., Itohara., & Hoque. (2009). Determinants of Adoption Deci- sion: The Case of Organic Farming (OF) in Bangladesh. Extension Farm- ing Systems Journal, 5(2): 39-46. Shinta, A. (2011). Ilmu Usaha Tani. Malang: UB Press. Soekartawi. (1988). Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta: UI-Press. Soerjandono, N.B. (2008). Teknik Produksi Jagung Anjuran di Lokasi Prima Tani Kabupaten Sumenep. Buletin Teknik Pertanian, 13(1): 27-29. Sugiarti, T., & Mardiyah, H. (2009). Persepsi Petani Madura dalam Menolak Komoditas Jagung Varietas Baru. Embryo, 6(1): 35-46. Sugiarto, Tedy, H., Brastoro, Rachmat, S., & Said, K. (2005). Ekonomi Mikro Sebuah Kajian Komprehensif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Suratiyah, K. (2008). Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Theresia, V., Fariyanti, A., & Tinaprilla, N. (2016). Pengambilan Keputusan Petani Terhadap Penggunaan Benih Bawang Merah Lokal dan Impor di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research, 2(1): 50-60. Taryono, & Agus, R. (2004). Cabe Jawa. Jakarta: Penebar Swadaya. Watemin & Sulistyani, B. (2015). Pemberdayaan Petani Melalui Penguatan Modal Kelembagaan Petani di Kawasan Agropolitan Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang. Agriekonomika, 4 (1): 50-58. Zuchri, A. (2008). Habitus dan Pencirian Tnaman Cabe Jamu (Piper retrofractum Vahl) Spesifik Madura. Agrovigor, 1(1): 39-44.