AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Develpoment Research Vol. 5 No. 1 Januari-Juni 2019 Sugiharti Mulya Handayani1*), Jamhari2), Lestari Rahayu Waluyati2), Jangkung Handoyo Mulyo2) 1)Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta 2)Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta *) Email korespondensi: sugihartimulya@staff.uns.ac.id Kontribusi Pendapatan Agrowisata Padi Sawah Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Pada Berbagai Kategori Desa Wisata Contribution of Wetland Rice Agro Tourism to Household Income at Various Categories of Tourism Villages DOI: http://dx.doi.org/10.18196/agr.5173 ABSTRACT Tourist village as a new trend of tourism that has been growing rapidly in Yogyakarta. Based on attractiveness, accessibility, facilities, community empowerment, marketing and promotion, institutional, and human resources, tourist villages are devided into growing, developing and developed categories. Wetland rice agrotourism offers attractions in tourist village that leads to increasing income of the perpetrators (main actors, supporting actors, and managers). This descriptive research aimed to compare agro-tourism perpetrators’s income contribution to household income in various categories of tourist village in Yogyakarta. This research was purposively conducted in Gabugan, Pancoh and Pentingsari Village as representation of grow, developed, and advanced tourism villages. The result depicted that the contribution of wetland rice agrotourism to household income of all agro-tourism actors was low in all tourism village categories. This indicates that the wetland rice agro-tourism has not contributed significantly in supporting the domestic economy of the perpetrators. The results of the study show that the advanced tourism villages have a higher contribution of income compared to developing and growing tourism villages. Keywords: categories; wetland rice agro-tourism; tourist village. INTISARI Desa wisata sebagai trend baru pariwisata berkembang pesat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan daya tarik, aksesbilitas, fasilitas, pemberdayaan masyarakat, pemasaran dan promosi serta kelembagaan dan sumber daya manusia, desa wisata dikatagorikan menjadi desa wisata tumbuh, berkembang dan maju. Sebagai salah satu multifungsi pertanian, agrowisata padi sawah merupakan salah satu atraksi yang ditawarkan di desa wisata dan dapat menambah pendapatan para pelakunya (pelaku utama, pelaku pendukung dan pengelola). Penelitian ini bersifat deskriptif bertujuan untuk membandingkan besarnya kontribusi pendapatan pelaku agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga pada berbagai kategori desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan metode purposive sampling penelitian dilakukan di Desa Wisata Gabugan, Pancoh dan Pentingsari sebagai desa wisata tumbuh, maju dan berkembang. Hasil analisis menunjukkan kontribusi pendapatan agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga semua pelaku agrowisata masuk dalam kategori rendah di semua kategori desa wisata. Hal ini menunjukkan bahwa agrowisata padi sawah belum memberikan kontribusi yang signifikan dalam menyokong perekonomian rumah tangga pelaku agrowisata padi sawah. Hasil kajian menunjukkan bahwa desa wisata kategori maju mempunyai kontribusi pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan desa wisata berkembang dan tumbuh. Kata kunci: agrowisata padi sawah, desa wisata, kategori 33 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 PENDAHULUAN Selama 10 tahun terakhir, jumlah penduduk Indonesia berumur 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian dan sektor industri berfluktuasi. Ada kecenderungan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian semakin menurun dan yang bekerja di sektor industri semakin meningkat. Beberapa kondisi diduga menjadi penyebab turunnnya jumlah penduduk yang menjadikan bidang pertanian sebagai lapangan pekerjaan utama. Di antara penyebab turunnya minat bekerja di sektor pertanian adalah semakin sempitnya kepemilikan lahan usahatani sehingga tidak cukup untuk menjamin kebutuhan hidup keluarga. Sejalan berkembangnya waktu mulai disadari bahwa pertanian tidak hanya berfungsi sebagai penghasil pangan namun mempunyai banyak peran atau multifungsi. Menurut Subejo (2012) secara tradisional pertanian dianggap sebagai sektor dasar yang memiliki beberapa fungsi, termasuk produksi pangan, akomodasi tenaga kerja, penyedia bahan baku untuk sektor industri dan dukungan untuk operasi perdagangan internasional. Sebuah pemahaman yang luas tentang peran pertanian menegaskan bahwa pertanian juga memiliki kemampuan dalam membentuk lingkungan, menjaga sistem sosial dan budaya, dan memberikan kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Istilah multifunctionality agriculture muncul pada tahun 1992 dalam The Rio Earth Summit. Munculnya konsep multifungsi pertanian merupakan respon atas kekhawatiran yang kuat terkait perubahan pertanian dan daerah pedesaan di seluruh dunia (Huylenbroeck, et al 2007). Dewasa ini pertanian mempunyai potensi yang prospektif untuk dikembangkan sebagai objek wisata, yang lebih dikenal dengan istilah agrowisata. Beberapa kajian menunjukkan bahwa agrowisata berkembang di berbagai negara dan dapat meningkatkan pendapatan, serta kesejahteraan pelakunya. Di Nigeria (Nnadi & Akwiru, 2005), sumberdaya pertanian yang melimpah berpotensi untuk dikembangkan sebagai agrowisata. Sementara di Kansas (Boadu, 2013), agrowisata menjadi pilihan dalam diversifikasi pertanian bagi petani. Agrowisata merupakan sarana yang telah banyak digunakan di seluruh dunia untuk tujuan mengintensifkan aspek sosial ekonomi masyarakat setempat (Hamzah, et al 2012). Agrowisata memberikan kesempatan kaum tani meningkatkan kualitas hidupnya dengan memanfaatkan sumber daya pertanian yang mereka miliki (Utama, 2015). Hal ini mendukung pernyataan bahwa pembangunan pariwisata dapat menjadi peluang bagi petani lokal dalam meningkatkan pendapatan untuk mempertahankan hidup keluarganya (Rilla, 1999). Agrowisata dapat memberikan pendapatan tambahan yang signifikan bagi pertanian kecil (Bagi and Reeder, 2012). Mengembangkan kewirausahaan pedesaan melalui agrowisata merupakan cara yang efisien untuk mengatasi rendahnya tingkat ekonomi di pedesaan dan dapat menciptakan kondisi sosial ekonomi yang menguntungkan (Kenebayeva, 2014). Orientasi lain dari pengembangan agrowisata adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Jenis wisata ini dipandang sebagai alternatif untuk meningkakan pendapatan dan menggali potensi ekonomi petani dan masyarakat pedesaan. Pendapatan rumah tangga merupakan pendapatan kepala rumah tangga dan anggota keluarga menurut mata pencahatian per satuan waktu (Yusria, 2010). Dari sektor pertanian, pendapatan yang diperoleh petani merupakan selisih antara penerimaan dengan semua biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usahatani (Soekartawi, 2006). Dengan luas lahan yang semakin sempit, pendapatan yang diperoleh petani juga semakian kecil. Peningkatan pendapatan rumah tangga dapat ditempuh melalui upaya memproduktifkan seluruh sumber daya yang ada dalam keluarga, antara lain melalui pengembangan agrowisata. Agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan dapat menjadi andalan bagi masyarakat pedesaan untuk meningkatkan pendapatan sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara cara budi daya maupun teknologi lokal yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alamnya (Nurhidayati, 2012; Printianto, 2014). Kajian tentang potensi agrowisata dari berbagai sektor pertanian telah banyak dilakukan oleh 34 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research peneliti sebelumnya. Potensi alam pedesaan sebagai agrowisata diteliti oleh Nnandi & Akwiru (2005) dan Zoto et al (2013); potensi perkebunan anggur sebagai agrowisata diteliti oleh Foltz (2007); potensi agrowisata nelayan diteliti oleh Hamzah (2012); potensi off-farm sebagai agrowisata diteliti oleh Boadu (2013); potensi subak sebagai agrowisata dikaji oleh Sanjaya et al (2013); potensi perkebunan sebagai agrowisata diteliti oleh Budiyasa dan Ambarawati (2014) dan potensi pertanian organik sebagai agrowisata diteliti oleh Preeyanan (2015). Di Indonesia, saat ini sedang berkembang agrowisata berbasis budaya lokal usahatani padi sawah secara tradisional (Handayani, 2016). Sejalan dengan konsep wisata pedesaan Zotto et al (2013) dalam agrowisata padi sawah wisatawan live-in di pedesaan, menikmati budaya setempat dan dilibatkan dalam berbagai proses aktivitas usahatani padi sawah secara langsung. Wisatawan dapat menikmati kehidupan masyarakat, berinteraksi secara aktif dalam berbagai aktivitas di lokasi desa wisata dan belajar kebudayaan lokal setempat dimana sebagian besar kebudayaan lokal ini merupakan aktivitas di bidang pertanian (Asyari, 2015). Agrowisata padi sawah adalah agrowisata yang menawarkan aktivitas budidaya padi sawah sebagai atraksinya, seperti membajak sawah secara tradisional menggunakan sapi atau kerbau, tandur (menanam padi) dan panen (bila kegiatan agrowisata bersamaan dengan masa panen). Hal ini sangat disukai oleh pelajar terutama pelajar dari kota besar, yang di wilayahnya keberadaan sawah sudah sangat langka, sehingga berbagai aktivitas budidaya padi sawah menjadi atraksi yang unik dan menarik. Bagi petani, agrowisata padi sawah dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarganya. Dalam pelaksanaannya, petani sebagai pelaku utama tidak bisa melakukan kegiatan secara personal karena dalam agrowisata padi sawah melibatkan banyak pihak seperti pengelola yang akan mengatur jalannya kegiatan dan pelaku pendukung yang akan menyediakan fasilitas bagi pengunjung. Agrowisata padi sawah merupakan atraksi wisata baru yang melibatkan petani sebagai subyeknya dan menjadi salah satu atraksi wisata yang banyak diminati wisatawan serta berpotensi untuk dikembangkan (Djamudin et al, 2012; Andini, 2013; Sanjaya et al, 2013; Handayani, 2016). Dalam agrowisata padi sawah petani sebagai inovator menawarkan berbagai jenis layanan dan produk agrowisata (Budiasa dan Ambarawati, 2014) yang dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarganya. Kegiatan agrowisata padi sawah yang dikemas sebagai salah satu atraksi ditawarkan oleh sebuah desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk melihat seberapa efektif kategori desa wisata berpengaruh dalam menyokong perekonomian rumah tangga perlu adanya kajian tentang kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga pada berbagai kategori desa wisata. Kajian ini membandingkan kontribusi pendapatan pelaku agrowisata padi sawah terhadap pendapatan total rumah tangga pada berbagai kategori desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif bertujuan untuk membuat gambaran mengenai suatu situasi (Nazir, 2011) terkait dengan agrowisata padi sawah. Berdasarkan fokus masalah yang dikaji, yaitu kontribusi pendapatan pelaku agrowisata padi sawah pada berbagai kategori desa wisata, penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposif berdasar pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai tujuan penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1995; Sumarsono, S., 2004). Dengan metode purposive sampling penelitian ini dilaksanakan di Desa Wisata Gabugan (desa wisata tumbuh) yang berada di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman , Desa Wisata Pancoh (desa wisata berkembang) yang berada di Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman dan Desa Wisata Pentingsari (desa wisata maju) yang berada di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Dalam setiap katagori desa wisata terdapat tiga pelaku agrowisata padi sawah, yaitu pelaku utama, pelaku pendukung dan pengelola. Pelaku utama adalah pelaku agrowisata yang terkait langsung dengan atraksi padi sawah yang terdiri dari: i) petani yang 35 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 sawahnya digunakan sebagai lokasi atraksi agrowisata padi sawah sekaligus menjadi pemandu atraksi; ii) petani yang sawahnya digunakan sebagai lokasi atraksi, tetapi tidak menjadi pemandu; dan iii) pemandu atraksi agrowisata padi sawah yang tidak memiliki sawah. Pelaku pendukung adalah pelaku agrowisata yang tidak terkait langsung dengan atraksi padi sawah namun berperan penting dalam menentukan keberhasilan agrowisata padi sawah, seperti pemilik homestay, kelompok kuliner (juru masak), kelompok petugas keamanan/juru parkir, kelompok pemandu atraksi non pertanian, kelompok kesenian dan kelompok cinderamata. Sementara yang dimaksud pengelola adalah mereka yang tertulis dalam struktur organisasi yang bertugas mengatur jalannya desa wisata agar berkembang dengan baik dan jumlah wisatawan yang berkunjung semakin banyak. Semua pelaku utama dijadikan responden (sensus), responden pelaku pendukung dipilih menggunakan teknik stratified random sampling, sedangkan responden pengelola dipilih secara purposif dengan pertimbangan aktivitas sebagai pengelola desa wisata lebih besar dibanding aktivitas lain. Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat dalam agrowisata padi sawah pengelola seringkali mempunyai multiperan. Jumlah responden berdasar status pelaku agrowisata padi sawah pada berbagai kategori desa wisata ditampilkan pada Tabel 1. TABEL 1. JUMLAH RESPONDEN BERDASARKAN STATUS PELAKU AGROWISATA PADI SAWAH PADA BERBAGAI KATEGORI DESA WISATA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Kategori Desa Wisata Status Pelaku Agrowisata Jumlah Pelaku Utama Pelaku Pendukung Pengelola Tumbuh 15 30 15 60 Berkembang 11 30 9 50 Maju 9 29 11 49 Jumlah 35 89 35 159 Sumber pendapatan rumah tangga dalam penelitian ini berasal usahatani padi sawah, usahatani non padi sawah (terdiri dari tanaman semusim dan tahunan), dari luar usahatani dan dari agrowisata padi sawah. Untuk mengetahui besarnya kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah terhadap pendapatan total rumah tangga digunakan persamaan sebagai berikut: Kontribusi Pendapatan Agrowisata Padi Sawah = (pendapatan dari agrowisata padi sawah)/(pendapatan total rumah tangga ) x 100 % Untuk melihat perbedaan kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga antar kategori desa wisata digunakan uji one way anova (Sulaiman dan Kusherdyana, 2013). HASIL DAN PEMBAHASAN KONTRIBUSI PENDAPATAN PELAKU AGROWISATA PADI SAWAH Berdasarkan Tourism Life Cycle, tingkat perkembangan suatu desa wisata dapat dikategorikan dalam tiga tahapan yaitu tumbuh, berkembang dan maju (Dinas Pariwisata, 2014). Pengelompokan desa wisata dalam beberapa kategori ini berdasarkan beberapa instrument, yaitu: daya tarik, aksesbilitas, fasilitas, pemberdayaan masyarakat, pemasaran dan promosi, serta kelembagaan dan sumber daya manusia. Setiap kategori desa wisata melibatkan tiga pelaku agrowisata, yaitu pelaku utama, pelaku pendukung dan pengelola. DESA WISATA KATEGORI TUMBUH Desa wisata kategori tumbuh, seringkali disebut desa wisata potensial, adalah sebuah desa yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata karena mempunyai beberapa keistimewaan yang layak dijual sebagai obyek wisata seperti adat budaya, keindahan alam, kesenian dan kerajinan. Ciri utama desa wisata kategori tumbuh adalah belum adanya upaya pengembangan kualitas dalam bidang kepariwisataan. Sebagai daerah wisata, potensi yang berkembang menjadi obyek wisata akan memberikan tambahan pendapatan bagi rumah tangga. Selain dari kegiatan agrowisata, pelaku agrowisata padi sawah memiliki sumber pendapatan lain, yaitu dari usahatani padi sawah, usahatani non padi sawah (tanaman semusim dan tanaman tahunan) dan luar usahatani seperti guru, ASN, karyawan swasta. Tanaman semusim yang banyak 36 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research dibudidayakan di desa wisata kategori tumbuh adalah cabe rawit, sedangkan tanaman tahunan yang banyak diusahakan adalah salak pondoh. Menarik untuk dicermati, bahwa pendapatan dan kontribusi pendapatan agrowisata pengelola sedikit lebih tinggi dari pada pelaku pendukung dan pelaku utama (Tabel 2). Secara umum, pendapatan agrowisata masih rendah, bahkan untuk pelaku utama tidak sampai 2 juta rupiah per tahun. TABEL 2. KONTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PELAKU AGROWISATA PADI SAWAH PER TAHUN BERDASARKAN STATUS DI DESA WISATA KATEGORI TUMBUH DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Jenis Sumber Pendapatan Rerata (Rp) dan Kontribusi Pendapatan (%) Pelaku Utama Pelaku Pendukung Pengelola Usahatani padi sawah 5.620.822 (13,09%) 783.333 (1,72%) 4.059.220 (6,76%) Usahatani non padi sawah 5.353.093 (12,47%) 980.000 (2,15%) 1.645.850 (2,74%) Luar Usahatani 30.251.467 (70,47%) 41.572.333 (91,36%) 51.470.000 (85,66%) Agrowisata 1.702.667 (3,97%) 2.167.167 (4,76%) 2.908.667 (4,84%) Pendapatan Rumah Tangga 42.928.048 45.502.833 60.083.737 Pengelola memiliki pendapatan tertinggi disebabkan karena besarnya tanggung jawab yang dipikul pengelola dan multiperan yang harus dilakukan. Kegiatan di desa wisata sangat menyita waktu karena kegiatan berlangsung sepanjang hari selama beberapa hari. Dalam keadaan tertentu beberapa pelaku agrowisata padi sawah tidak dapat menjalankan tugasnya karena ada kegiatan lain yang tidak dapat ditinggalkan. Pada situasi seperti ini, untuk kelancaran dan kenyamanan pengunjung atas kegiatan yang sudah direncanakan, pengelola harus mengambil alih peran tersebut. Banyaknya peran yang harus dimainkan pengelola secara tidak langsung memberikan pendapatan yang lebih banyak dibandingkan pelaku lain. Pelaku utama memiliki kontribusi terendah karena terbatasnya keterlibatan pelaku utama dalam kegiatan agrowisata. Sebagai desa wisata kategori tumbuh, dengan pemasaran yang masih sangat terbatas jumlah wisatawan yang berkunjung juga terbatas. Masih sedikitnya wisatawan yang berkunjung berdampak pada terbatasnya peran pelaku utama dalam aktivitas agrowisata padi sawah yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap besarnya kompensasi yang diterima. Dalam sebuah desa wisata, besar kecil kompensasi yang diterima pelakunya ditetukan oleh banyak sedikitnya keterlibatan dalam aktivitas agrowisata padi sawah. Hasil analisis menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan rumah tangga pelaku agrowisata padi sawah desa wisata kategori tumbuh masih sangat kecil (kurang dari 5 %). Ini berarti keberadaan agrowisata padi sawah di desa wisata kategori tumbuh belum memberikan manfaat yang signifikan dalam menyokong pendapatan rumah tangga. Hasil penelitian ini mendukung kajian Bagi and Redeer (2012) yang menyatakan bahwa pendapatan bersih petani dari agrowisata relatif kecil dibandingkan pendapatan total petani dari usahatani. DESA WISATA KATEGORI BERKEMBANG Desa wisata kategori berkembang adalah desa wisata yang sudah mulai berkembang baik, dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai. Sarana dan prasarana yang digunakan masih memanfaatkan fasilitas desa atau masyarakat yang digunakan secara spontan. Masyarakat mulai sadar potensi desanya sebagai desa wisata yang ditunjukkan adanya organisasi kepengurusan dan kegiatan ekonomi. Ciri utama desa wisata berkembang adalah perlunya pendampingan dari pihak luar, baik dari pemerintah atau pun swasta. Sebagaimana halnya di desa wisata kategori tumbuh, pengelola.desa wisata kategori berkembang memperoleh pendapatan agrowisata yang lebih tinggi dibandingkan pelaku agrowisata lainnya (Tabel 3). Bahkan, pendapatan pengelola dua kali lebih besar dari pendapatan pelaku lainnya. Di desa wisata kategori berkembang peran pengelola dalam kegiatan agrowisata padi sawah sangat besar. Peran yang besar karena harus selalu siap untuk mengambil alih tugas pelaku yang lain menyebabkan pendapatan pengelola dari agrowisata padi sawah paling besar. 37 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 TABEL 3. KONTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PELAKU AGROWISATA PADI SAWAH PER TAHUN BERDASARKAN STATUS DI DESA WISATA KATEGORI BERKEMBANG DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Jenis Sumber Pendapatan Rerata (Rp) dan Kontribusi Pendapatan (%) Pelaku Utama Pelaku Pendukung Pengelola Usahatani padi sawah 187.273 (0,59%) 9.002.617 (19,13%) 15.311.111 (28,21%) Usahatani non padi sawah 735.601 (2,32%) 0 (0%) 0 (0%) Luar Usahatani 29.049.091 (91,8%) 35.737.717 (75,93%) 33.313.333 (61,39%) Agrowisata 1.670.909 (5,28%) 2.324.033 (4,94%) 5.643.333 (10,40%) Pendapatan Rumah Tangga 31.642.874 47.064.367 54.267.778 Di desa wisata katagori berkembang, aktivitas agrowisata merupakan pekerjaan sampingan, sehingga apabila ada kegiatan lain yang dianggap lebih penting maka pelaku utama dan pelaku pendukung memilih untuk tidak terlibat dalam kegiatan agrowisata padi sawah. Kondisi yang demikian membuat beban yang harus dipikul pengelola menjadi lebih besar karena harus mengambil alih tugas pelaku utama dan pelaku pendukung. Namun demikian, tanggung jawab yang besar juga memberikan pendapatan yang lebih besar. Seperti yang berlaku di semua desa wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, kompensasi hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar terlibat dalam kegiatan agrowisata. Hal inilah yang menyebabkan pendapatan pengelola dari agrowisata lebih besar dibanding pendapatan pelaku utama dan pelaku pendukung. Sumber pendapatan pelaku agrowisata desa wisata kategori berkembang selain dari kegiatan agrowisata juga bersumber pada usahatani padi sawah, usahatani non padi sawah dan luar usahatani. Pendapatan dari usahatani non padi sawah didominasi usaha ikan air tawar, salak pondok dan tanaman hias. Selain itu beberapa orang pelaku agrowisata berprofesi sebagai guru maupun karyawan swasta. Beragamnya sumber pendapatan pelaku agrowisata di desa wisata berkembang menyebabkan kontribusi dari sektor agrowisata padi sawah masih relatif kecil (berkisar antara 4,94% sampai 10,40%). Ini berarti, agrowisata padi sawah belum memberikan manfaat yang signifikan dalam menyokong pendapatan rumah tangga. DESA WISATA KATEGORI MAJU Desa wisata maju/mandiri adalah desa wisata yang dikelola dengan baik. Di desa wisata maju masyarakat sudah sepenuhnya sadar akan potensi wisata termasuk pengembangan dan terlibat langsung dalam pengelolaannya. Masyarakat sudah mandiri dan mampu mengelola usaha pariwisata secara swadaya (SDM, produk, organisasi dsb). Dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh dari sektor agrowisata padi sawah semua pelaku mempunyai pendapatan yang cukup besar. Sebagaimana halnya di desa wisata tumbuh dan berkembang, pengelola menerima pendapatan yang paling besar (Tabel 4). TABEL 4. KONTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PELAKU AGROWISATA PADI SAWAH PER TAHUN BERDASARKAN STATUS DI DESA WISATA KATEGORI MAJU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Jenis Sumber Pendapatan Rerata (Rp) dan Kontribusi Pendapatan (%) Pelaku Utama Pelaku Pendukung Pengelola Usahatani padi sawah 746.352 (1,30%) 0 (0%) 0 (0%) Usahatani non padi sawah 1.388.333 (2,41%) 1.698.345 (3,36) 580.909 (0,63%) Luar Usahatani 46.733.333 (81,15%) 33.503.221 (66,19%) 72.582.727 (78,38%) Agrowisata 8.957.778 (15,55%) 15.413.103 (30,45%) 19.438.182 (20,99%) Pendapatan Rumah Tangga 57.588.609 50.614.669 92.601.818 Besarnya pendapatan dari agrowisata yang dinikmati oleh pengelola disebabkan karena besarnya tanggung jawab dan peran pengelola dalam melayani pengunjung. Sumber pendapatan pelaku agrowisata padi sawah di desa wisata kategori maju lebih bervariatif dibandingkan desa wisata kategori tumbuh maupun berkembang. Desa wisata kategori maju merupakan desa wisata yang sudah bisa mandiri dalam pengelolaan maupun pengembangannya. Sumber pendapatan masyarakat selain dari agrowisata, juga dari usaha-usaha lain di luar usahatani padi sawah maupun tanaman semusim, seperti ternak, memelihara ikan, menanam kopi, durian dan manggis serta menjadi PNS atau karyawan swasta. Di banding 38 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research desa wisata kategori tumbuh dan berkembang, pendapatan masyarakat desa wisata kategori maju dari agrowisata cukup besar. Besarnya pendapatan dari agrowisata ini dikarenakan banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung maupun live-in di desa wisata. Sebagai desa wisata kategori maju, pengelolaan desa wisata lebih tertata dan maju. Di desa wisata kategori maju kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah tertinggi dimiliki pelaku pendukung (30,45%) diikuti pengelola agrowisata (20,99%) dan terendah adalah pelaku utama (15,55%). Walaupun pendapatan dari agrowisata padi sawah secara nominal cukup tinggi bukan berarti kontribusi pendapatan agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga masuk pada kategori tinggi. Kontribusi pendapatan pelaku utama agrowisata padi sawah di desa wisata kategori maju masuk dalam kategori rendah karena kompensasi yang mereka terima selaku pemandu atraksi maupun pemilik lahan untuk atraksi relatif kecil. Kompensasi untuk pemandu atraksi berkisar antara Rp. 50.000,00 – Rp. 100.000,00/kegiatan tergantung banyak sedikitnya jumlah pengunjung dan biaya sewa lahan untuk atraksi Rp. 100.000,00/kegiatan. Kontribusi pendapatan pelaku pendukung agrowisata padi sawah di desa wisata kategori maju relatif besar karena dengan banyaknya jumlah pengunjung menyebabkan keterlibatan mereka semakin banyak. Di semua desa wisata, besarnya kompensasi yang diberikan sesuai dengan banyak sedikitnya keterlibatan seseorang dalam akktivitas kunjungan. Sebagai ilustrasi, dalam sebuah aktivitas kunjungan pelajar dengan live-in selama tiga hari, pengunjung hanya satu kali menikmati atraksi padi sawah, sehingga kompensasi yang diterima pelaku utama hanya satu kali aktivitas. Sementara itu, pelaku pendukung mendapatkan kompensasi dan pendapatan yang lebih besar karena keterlibatan mereka diperlukan selama kunjungan beberapa hari tersebut. Pemilik homestay sebagai pelaku pendukung akan mendapatkan sewa homestay selama pengunjung live-in (tiga hari). Demikian juga untuk pelaku pendukung yang lain seperti petugas keamanan yang harus bertugas selama kunjungan dan kelompok kuliner yang harus menyediakan konsumsi selama kegiatan. Kompensasi yang diterima pelaku pendukung menjadi besar karena kompensasi dihitung per kegiatan atau harian. Di desa wisata kategori maju, kontribusi pendapatan pengelola tidak mendominasi karena di desa wisata kategori maju sebagian besar masyarakatnya sudah terlibat aktif dalam kegiatan wisata. Selain itu, dalam rangka memberi manfaat lebih kepada masyarakat dan menjaga partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa wisata, pengelola seringkali mengalah untuk tidak banyak mengambil peran selama masyarakat masih bisa diandalkan. Hal ini sejalan dengan kajian Arieta (2010) bahwa sasaran utama Community Based Tourism lebih diprioritaskan kepada masyarakat yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk menumbuhkan semangat dan partisipasi masyarakat. Di desa wisata kategori maju, beberapa pengelola tidak akan menggunakan rumahnya sebagai homestay selama masih ada rumah masyarakat yang belum terisi. Pengelola akan terlibat pada aktivitas lain yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat seperti mengurus transportasi atau instruktur atraksi. Selama masyarakat masih bisa diandalkan, keterlibatan masyarakat lebih diutamakan. Hasil analisis menunjukkan, dibanding desa wisata kategori tumbuh dan berkembang. agrowisata padi sawah di desa wisata kategori maju mempunyai kontribusi pendapatan rumah tangga lebih tinggi. Nilai kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah di desa wisata kategori maju berkisar 15,55 - 30,45 %. Hal ini menunjukkan agrowisata padi sawah memberikan manfaat yang signifikan bagi pelakunya. PERBANDINGAN KONTRIBUSI PENDAPATAN DARI AGROWISATA PADI SAWAH TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA ANTAR KATEGORI DESA WISATA Pendapatan yang diperoleh pelaku agrowisata padi sawah sangat ditentukan oleh banyak sedikitnya wisatawan yang berkunjung. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung dan semakin banyak atraksi padi sawah dimainkan akan semakin banyak pendapatan yang diperoleh dan semakin tinggi 39 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga. Rerata kontribusi pendapatan pelaku agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga di desa wisata maju lebih tinggi dibandingkan di desa wisata berkembang, dan lebih tinggi dibandingkan di desa wisata tumbuh (Tabel 5). TABEL 5 KONTRIBUSI PENDAPATAN (%) PENDAPATAN AGROWISATA PADI SAWAH TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PADA BERBAGAI KATEGORI DESA WISATA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Desa Wisata Pelaku Utama Pelaku Pendukung Pengelola Rerata Standar Deviasi Tumbuh 8,18 5,58 6,31 6,41 5,91 Berkembang 7,35 6,36 10,79 7,38 6,08 Maju 19,75 32,52 21,12 27,62 18,18 Untuk melihat perbedaan kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga antar kategori desa wisata digunakan uji one way anova. Hasil analisis menunjukkan varian antar ketiga desa wisata berbeda, maka digunakan uji lanjut Post Hoc test berupa uji lanjut Games-Howell. Dari ketiga desa wisata terlihat bahwa pelaku agrowisata padi sawah di desa wisata kategori maju dengan desa wisata kategori berkembang maupun tumbuh memiliki kontribusi pendapatan yang berbeda secara signifikan terlihat dari nilai sig. F (0,000) < α (0,05). Namun, di desa wisata berkembang tidak berbeda signifikan dengan desa wisata tumbuh (Tabel 6). TABEL 6. HASIL UJI PERBANDINGAN KONTRIBUSI PENDAPATAN AGROWISATA PADI SAWAH TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Desa Wisata Selisih Rerata Sig.F Berkembang - Tumbuh Maju - Tumbuh Maju – Berkembang 0,97ns*** 21,21**** 20,24**** 0,678 0,000 0,000 Sig. F 0,000*** Keterangan : *** : beda nyata pada tingkat kesalahan 1% ns : tidak ada beda nyata pada tingkat kesalahan 5% Pelaku agrowisata di desa wisata kategori maju memiliki kontribusi pendapatan lebih besar dibandingkan desa wisata kategori berkembang. Hal ini terlihat dari nilai selisih rerata kontribusi pendapatan kegiatan agrowisata terhadap pendapatan rumah tangga yang lebih besar yaitu 20,24% dibandingkan desa wisata kategori berkembang. Apalagi jika dibandingkan dengan desa wisata katagori tumbuh, terlihat dari nilai selisih rerata kontribusi pendapatan yang lebih besar besar yaitu 21,21% dibandingkan desa wisata kategori tumbuh. Pelaku agrowisata padi sawah desa wisata kategori berkembang mempunyai kontribusi pendapatan agrowisata lebih tinggi dibandingkan pelaku agrowisata padi sawah desa wisata kategori tumbuh. Pelaku agrowisata padi sawah desa wisata tumbuh mempunyai kontribusi pendapatan agrowisata paling rendah dibandingkan kategori desa wisata lainnya di DIY. Dari hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kategori desa wisata, semakin besar kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah. Semakin besarnya kontribusi pendapatan dari agrowisata padi sawah dalam menyumbang pendapatan rumah tangga menunjukkan semakin besar manfaat aktivitas agrowisata padi sawah bagi pelakunya. Besar kecilnya pendapatan yang bisa dinikmati oleh pelaku agrowisata padi sawah ditentukan oleh banyak sedikitnya tamu yang berkunjung. Semakin banyak tamu yang berkunjung, semakin besar pendapatan yang dapat dinikmati pelakunya. Desa wisata kategori maju mempunyai jumlah pengunjung yang jauh lebih banyak dibanding desa wisata kategori berkembang dan desa wisata kategori tumbuh (Tabel 7). Banyaknya tamu yang berkunjung di desa wisata maju disebabkan karena pemasaran yang sudah baik, kerjasama dengan biro perjalanan yang intensif dan loyalitas konsumen. TABEL 7. JUMLAH PENGUNJUNG DESA WISATA (ORANG) SELAMA 5 TAHUN TERAKHIR Tahun Kategori Desa Wisata Tumbuh Berkembang Maju 2013 745 105 26.249 2014 2.255 505 28.649 2015 1.084 865 22.429 2016 2017 850 1.628 2.784 7.384 32.528 20.417 Sumber: Administrasi Desa Wisata Pemasaran desa wisata kategori maju sudah berjalan dengan baik melalui media sosial, media massa (televisi lokal) maupun kerjasama intensif 40 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research dengan biro perjalanan. Di era digital saat ini pemasaran desa wisata melalui media sosial mutlak diperlukan (Hamzah, 2013). Media sosial merupakan alat komunikasi dengan konsumen yang hemat biaya (Sullins, et al, 2010). Seringkali sebelum menentukan lokasi desa wisata yang akan dikunjungi calon konsumen mencari informasi terlebih dahulu melalui internet dan membandingkannya dengan desa wisata lain. Beberapa responden menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai banyak informasi tentang desa wisata – desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta karena tidak banyak yang dipromosikan lewat media massa dan media sosial. Promosi harus ditingkatkan karena promosi merupakan sarana menarik wisatawan (Sugandini et al, 2018). Selain melakukan promosi dan pemasaran lewat media sosial maupun media massa, desa wisata maju sering mengikuti pameran dalam berbagai event kepariwisataan baik tingkat nasional maupun internasional. Keikutsertaan dalam pameran pada event kepariwisataan merupakan salah satu reward dari pemerintah atas prestasinya masuk dalam kategori desa wisata maju. Faktor lain yang mendukung banyaknya tamu yang berkunjung ke desa wisata kategori maju adalah adanya loyalitas dari konsumen. Desa wisata maju mempunyai beberapa konsumen loyal yang melakukan kunjungan berulang hampir setiap tahun. Konsumen yang loyal disebabkan karena merasa puas atas pelayanan yang didapat dan fasilitas yang dinikmati pada kunjungan sebelumnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Valle et al (2006) kepuasan akan menentukan loyalitas wisatawan untuk melakukan kunjungan berulang dan kesediaan untuk merekomendasikan kepada orang lain. Hasil pengamatan lapang menunjukkan bahwa desa wisata kategori maju mempunyai fasilitas dan pelayanan yang lebih baik dibanding desa wisata kategori berkembang dan desa wisata kategori tumbuh. Hal ini sesuai dengan kajian Ababneh (2013) bahwa fasilitas, aksesibilitas dan atraksi menentukan kepuasan pengunjung. Fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh desa wisata kategori maju lebih lengkap dan lebih memadai dibanding desa wisata kategori berkembang dan tumbuh. Sebagai contoh keberadaan homestay di desa wisata kategori maju sudah mengikuti standar yang seharusnya yaitu ada dipan (bukan kasur yang digelar di lantai) dan kamar tersedia secara khusus (bukan memanfaatkan kamar anggota keluarga). Pemilik homestay selalu mengupayakan kenyamanan tamu yang menginap dengan menjaga kebersihan dan menyediakan fasilitas yang memadai. Demikian juga dengan atraksi-atraksi yang disajikan cukup memuaskan pengunjung baik dari peralatan maupun kemampuan pemandunya. Kepuasan konsumen agrowisata padi sawah tidak hanya ditentukan oleh atraksi padi sawah saja namun juga ditentukan oleh semua atraksi maupun pelayanan yang didapat. Neal and Gursoy (2008) menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan wisatawan pada fase yang berbeda dari pengalaman perjalanan akan mempengaruhi kepuasan atau ketidakpuasan secara keseluruhan. Karena itu untuk meningkatkan kepuasan wisatawan maka kepuasan wisatawan setiap tahap dan setiap aspek pariwisata harus diperhatikan. Hasil analisis kontribusi pendapatan agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga pada ketiga kategori desa wisata (tumbuh, berkembang dan maju) masih tergolong rendah (<50%). Namun demikian agrowisata padi sawah tetap berperan penting dalam meningkatkan pendapatan pelaku agrowisata baik pelaku utama, pelaku pendukung maupun pengelola. Oleh karena itu agrowisata padi sawah layak untuk dikembangkan sebagaimana hasil penelitian Hwang and Lee (2015) yang menunjukkan pariwisata pedesaan dapat diandalkan untuk menambah pendapatan petani ketika pendapatan dari sektor pertanian semakin menurun. KESIMPULAN Kontribusi pendapatan agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga semua pelaku agrowisata (pelaku utama, pelaku pendukung dan pengelola) masuk dalam kategori rendah di semua kategori desa wisata (<50%). Hal ini menunjukkan bahwa agrowisata padi sawah belum memberikan kontribusi yang signifikan dalam menyokong perekonomian rumah tangga pelaku agrowisata padi sawah di Daerah Istimewa Yogyakarta. 41 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 Kontribusi pendapatan agrowisata padi sawah terhadap pendapatan rumah tangga desa wisata kategori maju lebih tinggi dibanding desa wisata kategori berkembang dan tumbuh, sedangkan antara desa wisata berkembang dan tumbuh tidak ada perbedaan. Untuk meningkatkan kontribusi pendapatan pelaku agrowisata padi sawah, desa wisata ktegori tumbuh dan berkembang harus berbenah diri untuk menjadi desa wisata kategori maju melalui perbaikan sarana dan prasarana agrowisata. Pelayanan dan fasilitas agrowisata harus diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen. Selain itu pemasaran harus ditingkatkan dengan melakukan promosi yang efektif melalui media massa dan media sosial serta menjalin kerjasama yang lebih intensif dengan agen perjalanan. DAFTAR PUSTAKA Ababneh, A.M. (2013). Service Quality and its Impact of Tourist Satisfaction. Interdisclinary Journal of Contemporary Reasearch In Business, 4(12): 164-177. Andini, N. (2013). Pengorganisasian Komunitas Dalam Pengembangan Agrowisata Di Desa Wisata. Studi Kasus Desa Wisata Kembangarum Kabupaten Sleman. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 24(3): 173-188. Retrieved from etd.repository.ugm.ac.id/.../S1-2016-33 5098-bibliography.pdf Arieta, S. (2010). Community Based Tourism Pada Masyarakat Pesisir: Dampaknya Terhadapa Lingkungan Dan Pemberdayaan Ekonomi. Jurnal Dinamika Maritim, 2(1): 71-79. http:// riset.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/ 10/7-jurnal-revisi-ARIETA -FISIP-UMRAH.pdf Asyari, H. (2015). Buku Pegangan Desa Wisata Materi Bimbingan Teknis Untuk Desa Wisata. Yogyakarta: Pustaka Zeedny. Bagi, FS and Reeder, R J. (2012). Factors Affecting Farmer Participation in Agritourism. Agricultural and Resource Economics Review, 41(2):189–199. https://ideas.repec.org/a/ags/ arerjl/132529.html Boadu, V. A. (2013). Diversification Decisions In Agriculture: The Case Of Agritourism In Kansas. International Food and Agribusiness Management Review, 16(2): 57-77. www.ifa ma.org/resources/Documents/v16i2/Boadu.p df Budiasa, I.W & I.G.A.A. Ambarawati. (2014). Community Based Agro-Tourism as an Innovative Integrated Farming System Development Model Toward Sustainable Agriculture and Tourism in Bali. J ISSAAS, 20(1): 29-40. https://www.issaas.org/journal/ v20/01/journal-issaas-v20n1-03-budiasa.pdf Dinas Pariwisata. (2014). Laporan Akhir Kajian Peranan Desa/Kampung Wisata Terhadap Pengembangan Pariwisata DIY. Dinas Pariwisata, Yogyakarta. Retrieved from https:// visitingjogja.com/7675/laporan-akhir- kajian-pengembangan-desa-wisata-di-diy/ Djamudin, AM Fauzi, HS Arifin, Sukardi. (2012). Studi Pengembangan Agroindustri Dan Agrowisata Terpadu Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi Kabupaten Bogor. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 22(3): 151-163. http:// journal.ipb.ac.id/index.php/jurnaltin/article/vi ew/7094 Foltz,J.C, S Woodall, P.R. Wandschneider & R.G. Taylor. 2007. The Contribution of the Grape and Wine Industri to Idaho’s Economy : Agribusiness and Tourism Impacts. Journal of Agibusiness 25(1): 77 – 91. Hamzah A., S.M. Yassin, B.A. Samah, J.L D’ Silva, N Tiraiyaei, H.M. Shaffril& J. Uli. (2012). Socio- economic Impact Potential Of Agrotourism Activities On Desa Wawasan Nelayan community living in Peninsular Malaysia, African Journal of Agricultural Research. 7(32): 4581-4588. DOI: 10.5897/AJAR11 .295 Hamzah,Y. I. (2013). Potensi Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Interaktif Bagi Pariwisata Indonesia., Jurnal Kepariwisataan Indonesia. 8(3) Handayani, S.M.. (2016). Agrowisata Berbasis Usaha tani Padi Sawah Tradisional Sebagai Edukasi Pertanian (Studi Kasus Desa Wisata Pentingsari), Jurnal Habitat, 27(3): 133 – 138. https://doi.org/10.21776/ub.habitat.20 16.027.3.15 Huylenbroeck, VG, Vandermeulen, V. Mettepenningen , E. Verspecht , A. (2007). Multifunctionality of Agriculture: A Review of Definitions, Evidence and instruments, Living Reviews in Landscape Research, 1(3): 1 – 43. Retrieved from http://www.livingreviews.org/lrlr-2007- 3 Hwang, J. and Lee, S.. (2015). The Effect Of The Rural Tourism Policy On Non-Farm Income in South Korea. Tourism Management, 46: 501-513. http://dx.doi.org/10.1016/j.tourman.2014.07 .018 42 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Kenebayeva, A.S. (2014). A study of consumer preferencesregarding agritourism in Kazakhstan. A comparative study between urban and rural area consumers. Worldwide Hospitality and Tourism Themes, 6(1): 27-39. https://doi.org/10.1108/WHATT-10-2013- 0042 Nazir. (2011). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Neal, J.D & D. Gursoy. 2008. A Multifaceted Analysis of Tourism Satisfaction. Journal of Travel Research. 47: 53 – 62. DOI: 10.1177/0047 287507312434 Nnadi & Akwiru. (2005). Potentials Of Agro-Tourism For Rural Development In Nigeria. Journal Of Agriculture And Social Research (Jasr), 5(1): 96-100. http://dx.doi.org/10.4314/jasr.v5i1.2 835 Nurhidayati, SE. (2012). Pengembangan Agrowisata Berkelanjutan Berbasis Komunitas Di Kota Batu Jawa Timur, Disertasi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Retrieved from http:// etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=pe nelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=vie w&typ=html&buku_id=59214 Preeyanan, S, Pakkapong, P, Duanrung, B. 2015. Community Participation in Agro-tourism Development at Klongplu, Khaokitchakood, Chanthaburi Province. Journal of Agricultural Technology, Vol. 11 (8): 2071-2080. http:// www.ijat-aatsea.com Printianto, I. (2014). Kinerja karyawan Agrowisata Dalam Mendukung Pengembangan Agriwisata Kampoeng Kopi Banaran Kabupaten Semarang, Tesis, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Retrieved from http://etd.repo sitory.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_ detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ= html&buku_id=80579&obyek_id=4 Utama, R. (2015). Agrowisata Sebagai Pariwisata Alternatif Indonesia, Solusi Masif Pengentasan Kemiskinan. Unpublished. Rilla E. (1999). Bring the City & Country Together. California Coast and Ocean. 15(2): 26 – 32. Sanjaya IGA, CGA Semarajaya, ING Astawa. (2013). Studi Potensi Subak Renon Di Denpasar Selatan Untuk Pengembangan Agrowisata. E- Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 2(1): 62- 70. https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAT/article/vi ew/4580 Singarimbun dan Effendi. (1995). Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES. Soekartawi.(2006). Analisis Usahatani. Jakarta: UI- Press. Subejo. (2012). Understanding The Multifunctionality of Agriculture. Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Bunga Rampai. Jakarta : UI-Press. Sugandini, D., Effendi, M.I., Aribowo, A.S. & Utami, Y.S. (2018). Marketing Strategy on Community Based Tourism in Special Region of Yogyakarta. Journal of Environmental Management and Tourism, 9(4): 733-743, DOI: https://doi.org/10.14505//jemt.v9.4(28) .06 Sulaiman S dan Kusherdyana. (2013). Pengantar Statistika Pariwisata Aplikasinya dalam Bidang Pariwisata, Usaha Perjalanan dan Perhotelan. Bandung: Alfabeta. Sullins, M., Moxon, D & McFadden, D.T. (2010). Developing Effective Marketing Strategies for Agrotourism : Targeting Visitor Segments. Journal of Agribusiness 28(2): 111-130. http ://purl.umn.edu/131366 Sumarsono, S. (2004). Metode Riset Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu. Valle, P.O., J.A. Silva, J Mendes & M Guerreiro. (2006). Tourist Satisfaction and Destination Loyalty intention : A Structural and Categorical Analysis. Journal of Business Science and Applied Management, 1(1): 25-44 Yusria, WO. (2010). Keadaan Ekonomi Rumah Tangga Petani Jambu Mete di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Jurnal Agrisep, 9(2): 109 – 119. https://doi.org/10.31186/jagrisep.9.2. 109-119 Zoto,S, Qirici, E, Polena,S. (2013). Agrotourism – A Sustainable Development for Rural Area of Korca, Eurepean Academic Research, 1(2): 209 – 223. Retrieved from http://www.euaca demic.org