AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Vol. 5 No. 1 Januari-Juni 2019 Niken Lestari, Siti Amanah, Pudji Muljono, Djoko Susanto Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, FEMA, Institut Pertanian Bogor *) Email korespondensi: lestari_1079@apps.ipb.ac.id Pengaruh Profil Petani Pengelola Agrowisata terhadap Kapasitas Pemanfaatan Teknologi Komunikasi Digital di Kabupaten Bojonegoro dan Malang, Provinsi Jawa Timur Effect of Farmer Agritourism Management Profile on Capacity Utilizing Digital Communication Technology in Bojonegoro and Malang Districts, East Java Province DOI: http://dx.doi.org/10.18196/agr.5176 ABSTRACT Digital communication technology provides wider opportunities for agritourism farmers to reach local and national markets. Agritourism as a diversification of agricultural business encourages farmers to have the capacity to utilize digital communication technology. This study aims to (1) identify the profile of farmers who managing agritourism and (2) analyze the influence of farmer profiles on the level of capacity to use digital communication technology. The profile of agrotourism farmers influences their capacity to use digital communication technology in response to economic changes. The study was conducted in Bojonegoro and Malang Regencies, East Java in September and October 2018. Data collection was conducted through interviews using questionnaires on 215 farmers. Data analysis was analyzed using descriptive and inferential statistics. The result of the study showed that the farmer profile which includes age, the level of formal education and the assessment of digital technology functions were categorized as high. Business motivation was in medium category while nonformal education, length of business, types of agritourism products and cosmopolitan level were in low category. The types of agritourism services was in very low category. The result of analysis showed the profile of agritourism farmer that has a very significant effect to increase the capacity of farmers to utilize digital communication technology were age, formal education, assessment of digital communication technology functions, and business motivation, while having a significant effect are non -formal education, length of business, and agritourism products. Keywords: Agritourism, capacity of farmers, digital technology. INTISARI Teknologi komunikasi digital memberi peluang lebih luas bagi pengelola agrowisata untuk menjangkau pasar lokal dan nasional. Agrowisata sebagai diversifikasi usaha pertanian mendorong petani memiliki kapasitas memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi profil petani pengelola agrowisata dan (2) menganalisis pengaruh profil terhadap tingkat kapasitas petani memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Profil petani agrowisata berpengaruh terhadap peningkatan kapasitas memanfaatkan teknologi komunikasi digital dalam merespon perubahan ekonomi. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur pada bulan September-Oktober 2018. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terhadap 215 petani. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil petani yang mencakup usia, tingkat pendidikan formal dan penilaian fungsi teknologi digital dalam kategori tinggi. Motivasi bisnis berada dalam kategori sedang sedangkan pendidikan nonformal, lama usaha, ragam produk agrowisata dan tingkat http://dx.doi.org/10.18196/agr.4269 67 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 kosmopolitan berada dalam kategori rendah. Ragam layanan agrowisata termasuk dalam kategori sangat rendah. Hasil analisis menunjukkan bahwa profil petani agrowisata yang memiliki pengaruh sangat signifikan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memanfaatkan teknologi komunikasi digital yaitu: umur, pendidikan formal, penilaian fungsi teknologi komunikasi digital, dan motivasi usaha dengan pengaruh signifikan mencakup pendidikan nonformal, lama usaha, dan ragam produk agrowisata. Kata kunci: Agrowisata, kapasitas petani, teknologi digital. PENDAHULUAN Usaha petani dalam mengelola agrowisata semakin berkembang, termasuk di Kabupaten Malang dan Bojonegoro, Jawa Timur. Agrowisata menjadi nilai tambah penting dalam pertanian hortikultura. Usaha agrowisata membuka peluang sebagai sumber pendapatan alternatif bagi petani dan menjadi wujud dari konsep multifungsi pertanian (Budiasa & Ambarawati, 2014). Nilai tambah agrowisata merupakan aspek penting mengingat ada berbagai masalah yang dihadapi petani dalam mengelola usahatani yang terkait, yaitu: (a) aspek teknologi, umumnya petani kecil kesulitan menerima metode baru dan tidak memiliki modal dana yang besar untuk menguasai dan menerapkan teknologi baru; (b) perubahan harga; (c) meningkatnya jumlah produsen; (d) menurunnya harga; (e) menurunnya lahan pertanian; (f) meningkatnya kesadaran kesehatan; (g) perubahan iklim; (g) pembiayaan usahatani dan perubahan pola hidup (Soekartawi, 2003). Persoalan lain yang dihadapi adalah kesulitan mengakses sumber informasi dan pengetahuan baik dari pemerintah maupun non pemerintah (Oktavia, Muljono, Amanah, & Hubeis, 2017). Kesulitan ini berdampak terhadap kemampuan petani agrowisata merancang pariwisata berbasis pertanian, yang saat ini dikenal dengan agrowisata. Berbagai persoalan di atas juga dihadapi agrowisata yang dikelola oleh petani. Akibatnya, agrowisata yang dikelola swasta lebih cepat berkembang karena melibatkan profesional di bidang agrowisata daripada petani (Karampela, Kizos, & Spilanis, 2016). Para “profesional” ini dianggap lebih mumpuni dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk berkomunikasi, mengembangkan jasa/produk, membangun merek, dan memasarkan jasa sehingga dapat menjangkau calon kalayan yang lebih luas. Tanpa upaya terencana untuk mengadopsi teknologi informasi, kapasitas petani pengelola agrowisata akan semakin tertinggal jauh dari pengelola swasta sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dan penguasaan sumber daya terpusat. Agrowisata termasuk ke dalam usaha hortikultura yang dibedakan atas usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar. Kebijakan yang berkaitan dengan agrowisata adalah Undang- Undang No. 13 tahun 2010 tentang wisata agro berbasis hortikultura sebagai kegiatan pengembangan kawasan atau usaha hortikultura sebagai objek wisata, baik secara sendiri maupun sebagai bagian dari kawasan wisata yang lebih luas bersama objek wisata yang lain. Aspek yang perlu dilaksanakan untuk pengembangan wisata agro yaitu aspek pengembangan sumber daya manusia, aspek sumber daya alam, aspek promosi baik melalui media informasi atau dari mulut ke mulut, aspek sarana transportasi, dan aspek kelembagaan, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat (Astuti, 2014; Budiarti, Suwarto, & Muflikhati, 2013) Masalah sosial terkait teknologi informasi yang muncul adalah kesenjangan digital yang mencakup tidak saja kepemilikan perangkat digital tetapi juga penguasaan keterampilan dan dana untuk mengakses informasi. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (2015) memperlihatkan kepemilikan dan akses terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) petani dijelaskan dalam Tabel 1. TABEL 1. TINGKAT KEPEMILIKAN TIK PETANI DI INDONESIA Jenis TIK Persentase (%) Televisi 95,00 Telepon seluler 66,80 Radio 22,60 TIK lain 14,60 Internet 7,20 Sumber: (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2015) Komunikasi digital merupakan proses teknologi yang mereduksi teks menjadi sesuatu yang dapat dengan mudah difragmentasi, diolah, dihubungkan, dan didistribusikan, sehingga 68 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research memungkinkan untuk disampaikan melalui jaringan, multimedia, kolaborasi dan komunikasi interaktif (Kaul, 2012; Scolari, 2009). Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis menggunakan konsep 'komunikasi digital'. Perbedaan utama teknologi komunikasi digital dengan analog terletak pada kemampuan memadatkan sejumlah besar informasi pada perangkat kecil yang dapat dengan mudah disimpan, dibawa, dan dipertukarkan. Perangkat komunikasi digital yang menjadi obyek penelitian ini adalah telepon seluler (ponsel) pintar dan berbagai aplikasi komunikasi yang dapat dipasang di dalamnya menggunakan jaringan internet. Hal ini karena petani agrowisata lebih banyak menggunakan ponsel pintar dalam keseharian mereka. Sebaran pengguna internet di Indonesia berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa nelayan dan petani adalah dua profesi yang berada di urutan dua terbawah dalam pemanfaatan TIK (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2015). Berdasarkan kelompok usia, lebih dari seperempat pengguna berada di rentang usia 35-44 tahun disusul dengan rentang usia 24-34 tahun (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2016). Layanan teknologi komunikasi digital tepat guna berpotensi meningkatkan kapasitas dan mata pencaharian masyarakat yang bekerja di agrowisata. Manfaat dari teknologi informasi mencakup penyebaran informasi yang mudah antar pemain di rantai pasokan pertanian, penyimpanan data pertanian yang lebih baik dan penghematan waktu dan tenaga kerja (Tembo, Simbanegavi, & Owei, 2010). Pemanfaatan teknologi informasi di tingkat penyuluh pertanian ditentukan oleh jumlah pelatihan teknologi informasi, usia, dan tingkat pendidikan. Kurangnya literasi informasi membuat petani tidak mampu melakukan adopsi dari informasi yang mereka temukan (Mpiti & Harpe, 2015) . Petani belum memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi tentang produk mereka ke pasar. Penelitian lain menunjukkan bahwa keberadaan agrowisata berdampak terhadap munculnya industri rumah tangga pengolahan hasil pertanian, pengelolaan usahatani padi, dan pemanfaatan lahan pekarangan yang lebih intensif untuk menunjang kegiatan agrowisata, yang dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga (Sriyadi, 2016). Pemaparan di atas menunjukkan bahwa ada persoalan terkait kapasitas petani untuk memanfaatkan teknologi komunikasi digital dalam mengembangkan usaha agrowisata. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah: i) menggambarkan kapasitas petani agrowisata memanfaatkan teknologi komunikasi digital dan ii) menganalisis pengaruh profil petani pengelola terhadap kapasitas memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Profil petani pengelola agrowisata yang diteliti mencakup umur, tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non-formal, lama usaha, luas kepemilikan lahan, produk agrowisata, jasa agrowisata, tingkat motivasi usaha, tingkat kosmopolitan, dan penilaian tentang fungsi teknologi digital. Penelitian ini memodifikasi indikator yang dikembangkan Educational Testing Service (2007) untuk mengukur kapasitas memanfaatkan teknologi komunikasi digital yang mencakup tingkat kapasitas mengakses sumber informasi, mengelola, mengevaluasi, mencipta, dan mengkomunikasikan informasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode survei terhadap petani pengelola agrowisata di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara stratified yaitu mengidentifikasi kecamatan dan desa yang mengembangkan agrowisata berbasis masyarakat yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Sampel penelitian ditentukan secara proportional random sampling dengan kriteria (1) petani yang mengusahakan lahan hortikultura, (2) anggota Pokdarwis, dan (3) menggunakan ponsel pintar. Definisi operasional yang digunakan untuk kapasitas pemanfaatan teknologi komunikasi digital adalah kemampuan responden dalam memanfaatkan perangkat dan aplikasi komunikasi digital, baik yang terhubung maupun tidak terhubung dengan internet. Kapasitas tersebut diukur melalui lima sub-peubah yang terdiri dari (1) tingkat akses informasi: kemampuan responden mengumpulkan dan/atau 69 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 menemukan kembali informasi menggunakan perangkat dan aplikasi digital yang diukur dengan 7 pertanyaan skala Guttman, (2) tingkat pengelolaan informasi: kemampuan menyimpan dan mengelompokkan informasi dalam beberapa kategori yang diukur dengan 5 pertanyaan skala Guttman, (3) tingkat cipta informasi: kemampuan menghasilkan informasi baru dengan memodifikasi dan mengemas ulang informasi yang diukur dengan 4 pertanyaan skala Guttman, (4) tingkat evaluasi informasi: kemampuan mengkaji informasi yang diperoleh terkait keandalan, relevansi, dan manfaat yang diukur dengan 5 pertanyaan skala Guttman, dan (5) tingkat mengkomunikasikan informasi: kemampuan menyampaikan informasi kepada beragam individu dan/atau kelompok menggunakan perangkat komunikasi yang dimiliki dan diukur melalui 6 pertanyaan skala Guttman. Seluruh jawaban dibuat dalam 4 kategori sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi. Pertanyaan terkait tingkat akses informasi meliputi kemampuan responden dalam mengunduh informasi (foto atau teks) tentang agrowisata dari mesin pencari, menemukan informasi tentang agrowisata, harga produk dan jasa agrowisata di tempat lain, Sapta Pesona, cara mengolah produk supaya tahan lama, cara daur ulang sampah, dan cara mendapatkan izin seperti PIRT atau BPOM. Pertanyaan terkait pengelolaan informasi meliputi kemampuan responden menemukan kembali dokumen (foto, teks) yang sudah disimpan di dalam ponsel, membuka taut yang dikirim melalui SMS atau Whatsapp, meneruskan pesan ke orang lain, menghapus dokumen dari ponsel, dan memindahkan dokumen dari ponsel ke ponsel lain. Pertanyaan tentang penciptaan informasi meliputi kemampuan responden merangkum informasi tentang agrowisata yang sudah diketahui, menulis ulang informasi tentang agrowisata dalam bahasa lokal, mengambil foto dan merekam suara menggunakan ponsel. Kemudian pertanyaan tentang evaluasi informasi meliputi kemampuan responden mengecek keakuratan informasi, kesesuaian informasi dengan kebutuhan, memilah antara informasi hiburan dan usaha, keandalan informasi yang ditemukan, dan mendapatkan umpan balik dari konsumen. Terkait kapasitas pengkomunikasian informasi, pertanyaan meliputi kemampuan responden mengirim video atau suara ke ponsel orang lain menggunakan aplikasi Whatsapp, menyampaikan pertanyaan ke orang lain di grup daring, berdiskusi dengan orang lain menggunakan WhatsApp, bernegosiasi harga dengan klien, dan mengunggah foto produk atau jasa agrowisata ke media sosial. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan syarat jumlah populasinya diketahui (Sujarweni, 2014). Jumlah populasi petani pengelola agrowisata di dua kabupaten adalah 460 orang. Batas toleransi kesalahan yang digunakan adalah 5% sehingga diperoleh responden berjumlah 215 orang dengan rincian di Tabel 2. TABEL 2. JUMLAH POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN DARI DUA KABUPATEN Nama Kabupaten Populasi Sampel Kabupaten Malang 190 92 Kabupaten Bojonegoro 270 123 Jumlah 460 215 Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional stratified random sampling. Tahapan pertama yang dilakukan adalah pemilihan dua kabupaten yaitu Bojonegoro dan Malang. Populasi petani pengelola agrowisata yang bergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berjumlah 460 orang. Tahapan kedua dalam penelitian ini adalah penentuan sampel menggunakan rumus Slovin dari populasi pengelola agrowisata di dua kabupaten tersebut sehingga diperoleh 215 sampel penelitian. Tahapan ketiga adalah melakukan penentuan sampel dengan memperhatikan kriteria petani pengelola agrowisata di empat desa. Penelitian ini menggunakan metode survei melalui pengisian kuesioner yang telah diuji kepada petani agrowisata di Kabupaten Malang sebanyak 30 orang. Hasil uji coba memperlihatkan bahwa kuesioner layak digunakan dengan nilai uji validitas 0,380– 0,824 dan nilai uji reliabilitas sebesar 0,855. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, pengamatan langsung, dan wawancara 70 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research mendalam selama bulan September-Oktober 2018. Sebagai pelengkap data, dilakukan juga wawancara mendalam dengan penyuluh dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Malang, Dinas Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, penyuluh dari Universitas Surabaya, dan ketua dari empat Pokdarwis di dua kabupaten. Data sekunder diperoleh melalui penelusuran dokumen-dokumen dari Dinas Pariwisata dan Dinas KUKM, Pokdarwis, dan website yang dikelola pemerintah desa di lokasi penelitian. Data sekunder berupa transkrip hasil wawancara mendalam, profil agrowisata, harga paket wisata, daftar anggota di setiap Pokdarwis, data jumlah pengunjung, jenis pelatihan yang pernah diterima Pokdarwis, jenis penghargaan yang pernah diterima Pokdarwis, dan sejarah dari setiap Pokdarwis. Melalui uji validitas menggunakan product moment Pearson, diperoleh nilai r hitung dari seluruh item pertanyaan lebih besar dari nilai r tabel (0,361), yang artinya seluruh item pernyataan dinyatakan valid. Uji reliabilitas Alpha Cronbach pada peubah profil petani menghasilkan skor 0,723 dan kapasitas petani sebesar 0,855 sehingga seluruh peubah penelitian dinyatakan reliabel. Data yang diperoleh di lapangan selanjutnya diolah dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mendapatkan profil responden berdasarkan atribut internal diri dan usaha agrowisata yang dilakukan. Cara ini dilakukan untuk mengetahui peran karakteristik pengelola agrowisata dalam pengembangan kapasitas memanfaatkan teknologi digital. Tujuan pertama penelitian dijawab menggunakan statistik deskriptif yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya. Tujuan kedua dijawab menggunakan uji regresi sederhana. Analisis regresi linier sederhana dilakukan untuk mengetahui arah hubungan antara peubah bebas (profil petani, ketersediaan teknologi komunikasi digital, dukungan kelompok, dan dukungan penyuluhan) dengan peubah terikat (kapasitas petani memanfaatkan teknologi digital dan pengembangan usaha agrowisata). Hal ini dilakukan untuk memprediksi jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai dari peubah bebas. HASIL DAN PEMBAHASAN PROFIL AGROWISATA DI KABUPATEN BOJONEGORO DAN KABUPATEN MALANG Daerah tujuan agrowisata yang cukup terkenal di Provinsi Jawa Timur dan kerap dipromosikan di media sosial adalah Kabupaten Malang dan Kabupaten Bojonegoro. Provinsi Jawa Timur secara serius mengembangkan agrowisata untuk mengimbangi berkurangnya luas lahan dan tingkat kesuburan lahan pertanian. Visi pariwisata Kabupaten Malang adalah "Terwujudnya Kepariwisataan Kabupaten Malang yang Berbasis Masyarakat". Visi pariwisata Kabupaten Bojonegoro agak berbeda yaitu "Mewujudkan Bojonegoro sebagai Daerah Tujuan Wisata dan Budaya". Pengelolaan agrowisata berbasis masyarakat dilakukan dengan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pembentukannya dapat diinisiasi oleh masyarakat sendiri atau dari Dinas Pariwisata setempat. Di Kabupaten Malang ada dua Pokdarwis yang menonjol yaitu Desa Wisata Gubugklakah di Kecamatan Poncokusumo yang ditetapkan sebagai juara III Desa Wisata Nasional dan juara I lomba Pokdarwis dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2014. Desa lainnya adalah Pujon Kidul yang meraih penghargaan sebagai desa wisata agro terbaik dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa) tahun 2017 dan penghargaan dari Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) kategori pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat tahun 2018. Produk pertanian yang menonjol di kedua desa tersebut adalah buah apel, sayuran, dan susu sapi. Jasa yang ditawarkan kedua desa mencakup wisata alam, budaya, edukasi, dan penginapan. Desa Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro pernah mendapatkan Anugerah Wisata dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun 2014. Desa ini terkenal dengan produk unggulan buah belimbing yang berkembang ke jambu kristal dan jambu merah. Desa lainnya yaitu Wedi baru membentuk Pokdarwis pada tahun 2017 dengan produk unggulan salak yang dirawat secara turun- temurun. Seiring dengan perkembangan zaman, pamor dan produktivitas salak Wedi menurun sehingga 71 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 beberapa warga tergerak untuk menggiatkan usahatani salak agar lebih menguntungkan melalui pariwisata. PROFIL PETANI PENGELOLA AGROWISATA Komposisi responden penelitian terdiri dari 32,09% perempuan dan 67,90% laki-laki. Kategori umur dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi Havighurst (1980). Lebih dari setengah jumlah responden berada pada kategori usia muda. Hal ini berpotensi meningkatkan penggunaan teknologi komunikasi digital bagi pengelolaan usaha. Penelitian (Triyono, Mulyo, Masyhuri, & Jamhari, 2016) menemukan bahwa faktor karakteristik umur berkorelasi positif signifikan dengan inefisiensi teknis usahatani padi. Besarnya jumlah pengelola berusia muda dan sangat muda juga berpotensi menjadi sumber daya yang cepat beradaptasi dengan industri pariwisata. Kendala utama adalah rendahnya tingkat pendidikan nonformal, luas lahan, produk, jasa agrowisata, lama usaha, dan tingkat kosmopolitan. Hal ini ditunjukkan di Tabel 3. TABEL 3. PROFIL PETANI PENGELOLA AGROWISATA DI DUA KABUPATEN Sub-peubah Terrendah Tertinggi Rata-rata (kategori) Umur (tahun) 17 66 37 (muda) Pendidikan formal (tahun) 5 16 11 (tinggi) Pendidikan nonformal (jumlah) 1 10 4,14 (rendah) Lama usaha (tahun) 1 8 3 (baru) Luas lahan (meter) 1.500 15.000 2.500 (sempit) Produk agrowisata (jenis) 1 7 3 (rendah) Jasa agrowisata (jenis) 1 4 1,5 (sangat rendah) Tingkat motivasi usaha (skor) 21 35 28,1 (sedang) Tingkat kosmopolitan (skor) 8 16 10,14 (rendah) Penilaian terhadap fungsi teknologi digital (skor) 6 12 10,75 (sangat tinggi) Tingkat pendidikan formal rata-rata petani agrowisata selama 11 tahun termasuk kategori tinggi. Hal ini karena kemudahan akses terhadap fasilitas pendidikan formal tingkat lanjut di Kabupaten Malang dan kedekatan lokasi Desa Wedi dengan pusat kota di Bojonegoro. Selain itu, masyarakat di Kabupaten Malang dan Bojonegoro secara umum memiliki kesadaran yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Tabel 3 menunjukkan bahwa pendidikan nonformal responden berada pada kategori rendah (4,14). Di Kabupaten Malang, kedua lokasi agrowisata memiliki tingkat kunjungan yang sangat tinggi dan sering menjadi rujukan bagi desa lain untuk belajar tentang desa wisata. Jadwal kunjungan yang padat menyebabkan pengurus dan anggota kesulitan mengalokasikan waktu untuk memberikan pelatihan yang terstruktur. Di Desa Pujon Kidul, tingginya pergantian anggota menjadi permasalahan karena pengurus Pokdarwis dituntut untuk membekali dan mendampingi anggota yang baru masuk. Sebagian besar anggota yang baru masuk belum mendapatkan materi pelatihan terkait Sapta Pesona dan manajemen usaha agrowisata secara menyeluruh. Materi Sapta Pesona biasanya diberikan secara tidak langsung dalam bentuk pelatihan terkait tata cara pelayanan tamu yang membahas tentang keramahan, keamanan, kebersihan, dan ketertiban. Umumnya pengurus Pokdarwis sudah mendapatkan pelatihan tentang Sapta Pesona, dasar pengelolaan agrowisata, pengembangan jasa dan produk olahan, pengurusan izin usaha, dan pemasaran menggunakan teknologi digital. Sumber pelatihan biasanya dari dinas kementerian di pemerintah kabupaten dan/atau pemerintah provinsi, selain juga dari perguruan tinggi. Beberapa dinas pemangku kepentingan yang memberikan pelatihan kepada pengelola agrowisata antara lain Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Peternakan, Dinas Komunikasi dan Informatika, dan Dinas Perindustrian. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengeluarkan Permendes Nomor 48 Tahun 2018 tentang Program Inovasi Desa yang salah satu fokusnya pengembangan agrowisata di desa. Secara berkala, program ini memberikan pelatihan ke desa-desa yang dianggap berpotensi mengembangkan usaha agrowisata. Salah satu narasumber pelatihan adalah kepala desa wisata atau pengelola agrowisata yang dianggap berhasil. 72 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Lama usaha pengelola agrowisata berkisar 3 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh perputaran tenaga kerja yang tinggi di dua lokasi penelitian di Kabupaten Malang. Beberapa alasan yang dikemukakan responden adalah karena sebagian orang memilih untuk fokus pada usahatani atau usaha ternak yang dianggap lebih menguntungkan daripada pariwisata. Selain itu, anggota Pokdarwis memiliki pekerjaan utama pada bidang non pertanian. Lokasi desa yang dekat dengan perkotaan menyebabkan sebagian pemuda/pemudi memilih untuk bekerja di pabrik atau swalayan. Kepemilikan lahan petani pengelola agrowisata pada kategori rendah dengan luas rata-rata di bawah 3.000-meter persegi. Sedikit sekali petani yang memiliki atau menggarap lahan yang sangat luas. Luas lahan yang sempit menuntut keterlibatan pemerintah desa untuk membangun satu visi yang kuat dari seluruh pengurus dan perangkat desa yang terlibat agar dapat menyusun penataan ruang yang baik dan mekanisme pembagian hasil yang adil. Hal ini masih menjadi kelemahan di dua desa di Kabupaten Bojonegoro dalam mengembangkan usaha agrowisata. Terdapat rata-rata 3 jenis produk agrowisata yang dikelola oleh petani sehingga termasuk kategori rendah. Produk yang paling banyak ditawarkan adalah petik buah atau sayur. Belum banyak anggota Pokdarwis yang terdorong untuk menekuni produk olahan seperti keripik buah, sari buah, dan stik susu. Produk olahan dari buah lebih berkembang di Desa Wedi dibandingkan Desa Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro dan Desa Gubugklakah, Kabupaten Malang karena di dua desa tersebut pengunjung lebih tertarik membeli buah atau sayur segar daripada hasil olahan. Hanya ada 2 jenis jasa agrowisata yang dilakukan petani agrowisata di dua kabupaten sehingga termasuk kategori sangat rendah. Hal ini karena dua desa di Kabupaten Bojonegoro belum mengembangkan jasa penginapan (homestay) dan sedikit petani yang terdorong untuk menambah jasa seperti pelatihan bertani di kebun, pelatihan mengolah hasil tani, dan membuat warung makan. Selain itu, tidak semua petani memiliki kemampuan menjadi pemandu tamu karena waktu yang lebih banyak tersita untuk merawat kebun dan ternak. Tingkat motivasi usaha tergolong kategori sedang. Hal ini karena dengan melakukan usaha agrowisata petani mampu menjual produk tani dengan harga yang lebih baik, lebih mudah memasarkan hasil panen, dan lebih cepat menghasilkan keuntungan. Namun, agrowisata tidak mengurangi biaya usahatani, bahkan memerlukan modal infrastruktur dan biaya perawatan yang besar. Masyarakat di lokasi penelitian memiliki semangat besar untuk bergerak dan bergabung dalam suatu organisasi. Hal ini membuat Pokdarwis banyak diminati oleh warga sebagai wadah untuk belajar mengembangkan usaha. Tingkat kosmopolitan petani pengelola agrowisata termasuk dalam kategori sangat rendah. Petani agrowisata mengalokasikan sebagian besar waktu untuk mengelola lahan dan agrowisata sehingga sedikit waktu dan minat untuk mencari informasi keluar desa. Petani mengandalkan informasi dari pengurus Pokdarwis dan penyuluh yang datang ke desa. Tingkat kekosmopolitan yang sangat rendah berpotensi mengurangi kemampuan mengelola usaha agrowisata. Penilaian petani terhadap fungsi teknologi digital tergolong kategori tinggi. Hal ini karena semakin banyak petani yang terpapar dengan beragam fungsi teknologi komunikasi digital, baik melalui pengamatan maupun pengalaman. Beberapa petani dan anggota keluarganya melakukan usaha dengan berjualan online sehingga cukup memahami tentang cara berpromosi dan transaksi jual beli menggunakan aplikasi digital. TABEL 4. JENIS PERANGKAT DAN APLIKASI KOMUNIKASI YANG DIGUNAKAN PENGELOLA AGROWISATA Jenis perangkat/aplikasi Frekuensi Persentase (%) Perangkat komunikasi a. Telepon seluler pintar 213 99,07 b. Telepon seluler biasa 71 33,02 c. Laptop dan komputer desktop 33 15,35 Aplikasi a. Telepon 134 62,33 b. SMS 53 24,65 c. WhatsApp 196 91,16 d. Media sosial (Facebook, Instagram, Twitter) 66 30,70 n=215 Tabel 4 menunjukkan hampir semua responden menggunakan ponsel pintar. Bagi yang tidak memakai ponsel pintar, ada anggota keluarga inti yang menggunakan ponsel pintar dan dapat diandalkan 73 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 untuk menjadi narahubung. Kurang dari setengah responden menggunakan ponsel biasa dengan alasan pengoperasian yang lebih mudah, komunikasi yang lebih cepat, daya tahan baterai lebih lama, dan lebih ringan untuk dibawa. Penggunaan aplikasi WhatsApp tidak terbatas pada orang muda tetapi juga petani yang berusia tua. Petani agrowisata juga menggunakan media sosial untuk melakukan jual beli. Pemanfaatan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan media sosial dapat menjadi dasar bagi upaya optimalisasi perangkat dan aplikasi komunikasi untuk memasarkan dan mengembangkan usaha agrowisata. Petani agrowisata menggunakan ponsel pintar untuk mengakses internet sehingga mengandalkan layanan broadband internet dari perusahaan telekomunikasi seluler. Namun kekuatan dan kualitas layanan internet perusahaan telekomunikasi di beberapa desa hanya memadai untuk mengirim pesan berupa teks dan foto. Oleh karena itu, aplikasi telepon masih dibutuhkan di beberapa tempat dengan jaringan internet yang kurang stabil. KAPASITAS PETANI MEMANFAATKAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DIGITAL Kapasitas merupakan kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan yang dipengaruhi oleh karakteristik diri. Di dalamnya terdapat ranah perilaku yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan pemahaman tersebut maka tingkat kapasitas petani akan menentukan cara pengelolaan usaha (Herawati, Hubeis, Amanah, & Fatchiya, 2017). Hal ini juga disampaikan oleh Sumardjo & Mulyandari (2010) bahwa kapasitas petani dalam menggunakan media digital dan multimedia dianggap penting untuk menangkap peluang dari berbagai sumber. Kapasitas tersebut dapat diperoleh melalui perantara sesama petani atau penyuluh dari pemerintah atau perguruan tinggi. Kapasitas pemanfaatan teknologi komunikasi digital responden diukur melalui lima aspek kemampuan yang merefleksikan literasi digital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan responden mengakses, mencipta informasi dan mengevaluasi informasi pada kategori sedang. Distribusi kemampuan responden untuk mengelola dan mengkomunikasikan informasi berada di kategori tinggi seperti yang disajikan di Tabel 5. TABEL 5. DISTRIBUSI KAPASITAS PETANI AGROWISATA DALAM MEMANFAATKAN TEKNOLOGI Sub peubah Rentang skor Rata-rata skor Kategori Mengakses sumber informasi 8-16 13,60 Sedang Mengelola informasi 5-10 8,91 Tinggi Mencipta informasi 4-8 6,67 Sedang Mengevaluasi informasi 5-10 7,90 Sedang Mengkomunikasikan informasi 6-12 10,95 Tinggi Rata-rata kapasitas petani agrowisata dalam mengakses informasi termasuk dalam kategori sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa petani pengelola agrowisata cukup mampu mengakses sumber informasi menggunakan aplikasi dan perangkat komunikasi digital. Penelitian Witteveen, Lie, Goris, & Ingram (2017) menunjukkan hasil yang sama sehingga timnya mengembangkan aplikasi pembelajaran digital bagi petani berbasis kurikulum sekolah lapang di Sierra Leone. Kapasitas responden mengelola informasi diukur dari kemampuan menyimpan dan mengklasifikasikan informasi yang diperoleh melalui aplikasi digital. Kapasitas petani mengelola informasi termasuk kategori tinggi sehingga mampu menemukan kembali informasi ketika dibutuhkan. Dengan kondisi tersebut, petani menjadi lebih kompetitif dalam bekerja dan terus terdorong meningkatkan keterampilan (Garrido, Sullivan, & Gordon, 2012). Kapasitas petani mencipta informasi berada pada kategori sedang. Hal ini karena sebagian besar petani belum mampu merangkum dan mengolah informasi yang sudah diperoleh kepada orang lain. Petani sebatas mampu meneruskan informasi kepada orang lain atau grup daring Pokdarwis. Sebagian petani sudah mampu mengambil foto dan merekam suara terkait agrowisata untuk dibagikan kepada anggota Pokdarwis. Kapasitas petani mengevaluasi informasi termasuk kategori sedang. Petani masih perlu belajar untuk memilah antara informasi hiburan dan usaha. Selain itu, petani juga memerlukan kemampuan lebih baik untuk mendapatkan umpan balik atau masukan 74 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research dari konsumen terkait usaha agrowisata yang dilakukan. Kapasitas petani mengkomunikasikan informasi berada pada kategori tinggi. Sebagian besar petani dapat bertukar informasi, baik dalam bentuk dokumen, foto, maupun video, dengan sesama anggota Pokdarwis dan pengunjung di luar desa menggunakan aplikasi pesan instan. Aplikasi yang paling banyak digunakan adalah WhatsApp. Petani juga dapat mengunggah foto produk dan jasa agrowisata di akun media sosial, terutama Instagram. Hal ini menunjukkan kesadaran tentang promosi bagi peningkatan kunjungan wisata dan adanya dorongan yang kuat untuk menyebarkan informasi terkait jasa agrowisata yang dikelola setiap kelompok. KAPASITAS PETANI MENGAKSES INFORMASI Tabel 6 menunjukkan bahwa umur dan pendidikan formal berpengaruh sangat nyata terhadap kapasitas pemanfaatan teknologi komunikasi digital. Namun pengaruh umur bersifat negatif terhadap kapasitas seluruh aspek pemanfaatan teknologi komunikasi digital. Petani berusia tua dan sangat tua belum memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia di perangkat komunikasi digital yang dimiliki untuk kegiatan seperti pemasaran, penyusunan paket wisata, dan berjejaring dengan komunitas wisata. TABEL 6. NILAI KOEFISIEN REGRESI PROFIL PETANI AGROWISATA TERHADAP KAPASITAS PETANI MEMANFAATKAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DIGITAL Peubah bebas Nilai koefisien (β) terhadap kapasitas petani memanfaatkan teknologi komunikasi digital Profil petani agrowisata Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 1 Umur -0,313** -0,482** -0,365** -0,252** -0,257** 2 Pendidikan formal 0,525** 0,309** 0,587** 0,423** 0,318** 3 Pendidikan non-formal 0,026** -0,070** 0,054** 0,201** -0,030** 4 Lama usaha 0,068** 0,133** 0,093** 0,080** 0,051** 5 Luas lahan -0,108** 0,050** -0,035** 0,056** 0,022** 6 Produk agrowisata 0,134** 0,140** 0,061** 0,029** 0,187** 7 Jasa agrowisata -0,101** -0,073** 0,068** 0,090** 0,031** 8 Tingkat motivasi usaha 0,350** 0,148** 0,006** 0,007** 0,008** 9 Tingkat kosmopolitan -0,226** -0,147** -0,208** -0,025** -0,258** 10 Penilaian tentang fungsi teknologi digital 0,431** 0,194** 0,191** 0,229** 0,196** Keterangan: *berpengaruh nyata pada p ≤ 0,05, **berpengaruh sangat nyata pada p ≤ 0,01 Y1=mengakses, Y2=mengelola, Y3=mengevaluasi, Y4=mencipta, Y5=mengkomunikasikan Motivasi yang bersumber dari dalam dan dari luar diri seseorang berkontribusi terhadap kepuasan kerja yang berdampak pada peningkatan kinerja dan produktivitas (Kuranchie-Mensah & Amponsah- Tawiah, 2016). Motivasi dalam penelitian ini difokuskan pada dorongan dari dalam dan luar diri untuk melakukan kegiatan pengelolaan agrowisata, yang berpengaruh terhadap pemanfaatan teknologi komunikasi digital. Tingkat motivasi usaha dan penilaian tentang fungsi teknologi digital berpengaruh sangat nyata terhadap kapasitas memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Tingkat kosmopolitan menunjukkan pengaruh nyata secara negatif terhadap kapasitas mengakses informasi menggunakan teknologi komunikasi digital. Hal ini karena kedekatan yang sudah terbangun antara penyuluh dari dinas pemerintah tingkat kabupaten dan provinsi mempermudah pengurus kelompok untuk mengakses informasi tanpa harus keluar dari desa. Informasi ini kemudian disebarluaskan oleh pengurus melalui grup WhatsApp masing-masing. Hampir semua penyuluh dari dinas pemerintah dan perguruan tinggi juga aktif berhubungan dengan ketua atau pengurus Pokdarwis menggunakan ponsel pintar. KAPASITAS PETANI MENGELOLA INFORMASI Kapasitas mengelola informasi dipengaruhi secara nyata oleh lama usaha agrowisata. Rata-rata lama usaha responden adalah 3 tahun sehingga sudah mendapatkan cukup pelatihan untuk memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Lama usaha ditandai dengan keanggotaan di Pokdarwis. Pada setiap Pokdarwis yang diteliti, seluruhnya memiliki grup berbasis WhatsApp yang diikuti oleh pengurus dan anggota. Oleh karena itu, semakin lama responden mengelola agrowisata, semakin kuat juga dorongan untuk aktif mengikuti diskusi daring. Termasuk di dalamnya mengirim dokumen atau foto, membuka taut yang dikirim ke grup, menghapus dokumen dari ponsel, dan memindahkan dokumen menggunakan perangkat digital. Dari hasil analisis terlihat bahwa luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap kapasitas pemanfaatan teknologi digital. Hasil ini sesuai dengan 75 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 penelitian Aubert, Schroeder, & Grimaudo (2012) bahwa persepsi terhadap kegunaan teknologi, bukan luas lahan, yang berpengaruh pada adopsi inovasi teknologi. Hal ini berbeda dari temuan Gultom, Sumardjo, Sarwoprasodjo, & Muljono (2016) yang menunjukkan hubungan antara luas lahan dengan kapasitas memenuhi kebutuhan informasi. Tingkat penilaian terhadap fungsi teknologi digital berpengaruh secara nyata pada kemampuan mengelola informasi. Hal ini mengingat petani agrowisata sering menggunakan teknologi komunikasi digital untuk melakukan kegiatan usaha seperti menerima pesanan dari tamu, menghubungi penyuluh, mencari informasi agrowisata, dan menonton video tutorial. KAPASITAS PETANI MENGEVALUASI INFORMASI Kapasitas ini diwakili dengan kemampuan mengecek keakuratan, kesesuaian (relevansi), keandalan informasi, dan kemampuan memilah antara informasi hiburan dan usaha. Dengan seperangkat kemampuan tersebut, petani dapat mengetahui umpan balik dari tamu baik dengan membaca ulasan tempat wisata di media sosial. Kekosmopolitan merupakan derajat seseorang untuk berhubungan dengan sistem lingkungan luar sosialnya (Rogers, 2003) yang dicirikan oleh frekuensi dan jarak perjalanan yang dilakukan. Tingkat kosmopolitan petani agrowisata berpengaruh sangat nyata secara negatif terhadap kapasitas mengevaluasi informasi. Kedekatan dan dukungan penyuluhan masih dinilai penting karena responden masih mengandalkan penyuluh, baik dari pemerintah maupun dari sesama petani, untuk mendapatkan dan mengevaluasi informasi. Kemampuan mengevaluasi informasi tidak secara khusus diperoleh dari hubungan dengan lingkungan luar karena Pokdarwis dianggap sebagai sumber informasi yang terpercaya. Tingkat penilaian terhadap fungsi teknologi komunikasi digital berpengaruh secara nyata pada kapasitas mengevaluasi informasi. Responden menilai bahwa teknologi komunikasi digital dapat membantu proses komunikasi interpersonal, promosi usaha, mencetak dokumen, dan melakukan transaksi jual beli. Penilaian tersebut membantu responden menentukan tingkat keakuratan, kesesuaian, dan keandalan informasi yang diperoleh. Hal ini merefleksikan kemampuan menganalisis informasi yang cukup baik untuk menunjang kegiatan mengelola usaha agrowisata. Petani menilai penggunaan teknologi komunikasi digital yang tidak dikelola dengan baik berpotensi untuk mengganggu konsentrasi bekerja dan meningkatkan biaya pulsa. Petani belum memiliki dorongan untuk memperluas jaringan usaha menggunakan teknologi komunikasi digital karena sudah memiliki jaringan pemasaran yang mampu menampung hasil usahatani. KAPASITAS PETANI MENCIPTA INFORMASI Nilai sub-peubah pendidikan formal menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap seluruh aspek kapasitas pemanfaatan teknologi komunikasi digital. Hal ini sesuai dengan pendapat Slamet (2002) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penulis lain menyatakan bahwa tingkat pendidikan individu berpengaruh terhadap efisiensi kerja dan teknik bekerja yang lebih baik Menurut (Mardikanto, 1993). Tingkat pendidikan formal seseorang menunjukkan tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam melaksanakan tugas. Secara umum, individu yang memiliki tingkat pendidikan formal tinggi juga mempunyai wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang dengan tingkat pendidikan formal rendah. Rata-rata skor kapasitas ini tergolong kategori sedang (6,67) yang diukur dari kemampuan merangkum informasi yang sudah diperoleh sebelumnya, mengambil foto, merekam suara, dan menyampaikan informasi ke orang lain menggunakan teknologi komunikasi digital. Hal ini menunjukkan kemampuan petani yang baik dalam mencerna dan memaknai informasi sesuai dengan kebutuhan atau masalah yang sedang dihadapi. Pendidikan non-formal hanya berpengaruh sangat nyata terhadap kapasitas mencipta informasi karena memerlukan keterampilan untuk membuat 76 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research akun media sosial, mengambil dan mengedit foto, dan mencantumkan tagar. Oleh karena itu, perlu disediakan pendidikan non formal untuk meningkatkan kapasitas pemanfaatan teknologi komunikasi digital oleh petani (Oktavia, Muljono, Amanah, & Hubeis, 2017). KAPASITAS MENGKOMUNIKASIKAN INFORMASI Tingkat produk agrowisata berpengaruh nyata pada kapasitas ini sehingga produk agrowisata yang semakin beragam akan mendorong kapasitas petani mengkomunikasikan informasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan berpartisipasi di grup daring yang dikelola oleh Pokdarwis. Tingkat keragaman produk agrowisata merefleksikan kepentingan petani untuk mendapatkan informasi yang berguna bagi pengembangan usaha. Skor rata-rata kapasitas ini termasuk kategori sedang (10,95) dan menunjukkan kemampuan petani mengkomunikasikan informasi di dalam kelompok. Tingkat kosmopolitan berpengaruh sangat nyata secara negatif terhadap kapasitas mengkomunikasikan informasi. Hal ini karena responden sudah memiliki jaringan dan sumber informasi yang terpercaya dan dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan informasi. Oleh karena itu, responden tidak mencari sumber lain, terutama melalui teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Proses mengkomunikasikan informasi lebih banyak dilakukan melalui pertemuan kelompok atau melalui grup WhatsApp ke orang-orang yang sudah dikenal dengan baik. Selama ini penyebaran informasi tentang agrowisata dimulai dan dilakukan oleh pengunjung. Pokdarwis, dengan dukungan dari Dinas Pariwisata atau dana swadaya, menindaklanjuti dengan melakukan famtrip bagi blogger, vlogger, selebgram, dan agen perjalanan di tingkat provinsi untuk merasakan paket wisata yang ditawarkan. Kosmopolitan petani dilakukan untuk berhubungan dengan pihak luar yang diharapkan dapat menyebarluaskan informasi tentang wisata sehingga tidak berpengaruh positif terhadap kapasitas yang mereka miliki untuk mengkomunikasikan informasi. Petani masih mengandalkan pihak luar yang memiliki kapasitas dan jaringan luas untuk mempublikasikan jasa agrowisata. Dua lokasi agrowisata di Kabupaten Malang memiliki akun media sosial, terutama di Instagram yang dikelola dengan baik. Akun media sosial tersebut terhubung dengan beberapa agen travel, komunitas wisata, komunitas mahasiswa, dan berbagai komunitas berbasis hobi yang memiliki anggota lebih besar. Dengan cara itu, informasi agrowisata diperbarui secara berkala. Pembaruan isi media sosial merupakan hal penting yang seringkali diabaikan pengelola pariwisata skala kecil dan menengah. Padahal isi media sosial yang tidak diperbarui dapat menurunkan antusias dan minat calon pengunjung (McGrath, 2006; Mpiti & Harpe, 2015). Teknologi komunikasi digital berfungsi membantu rantai distribusi dan intermediasi sebagai faktor penting bagi peningkatan daya saing dan keberhasilan industri pariwisata (Buhalis & Law, 2008). Oleh karena itu, peningkatan kapasitas memanfaatkan teknologi komunikasi digital diharapkan dapat mendorong pengelola agrowisata untuk merekayasa ulang proses bisnis sehingga meningkatkan keuntungan dan menjamin keberlanjutan usaha. Kebaruan penelitian ini ada pada pemahaman tingkat kosmopolitan yang berpengaruh secara negatif terhadap tiga bentuk kapasitas yaitu mengakses mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi. Tingkat kosmopolitan belum optimal meningkatkan kapasitas karena petani memiliki jadwal yang padat dalam mengelola agrowisata dan pertanian. Akibatnya pemanfaatan teknologi komunikasi digital lebih banyak diserahkan kepada petani muda, komunitas pariwisata, dan media elektronik. Saat ini ada beberapa akun media sosial seperti lingkarmalang, amazingmalang, Explore Malang, Visit Bojonegoro, dan Berita Bojonegoro yang membantu promosi wisata yang dilakukan Pokdarwis. Namun, pengelola akun media sosial tersebut tidak memberi pelatihan atau menyediakan pendampingan bagi Pokdarwis sehingga tidak berdampak pada kapasitas petani dalam memanfaatkan teknologi komunikasi digital. 77 Vol.5 No.1 Januari-Juni 2019 GAMBAR 1. AKUN MEDIA SOSIAL DARI DUA POKDARWIS DI KABUPATEN MALANG KESIMPULAN Profil petani pengelola agrowisata di dua kabupaten di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut: (i) tingkat pendidikan formal petani termasuk kategori tinggi, (ii) pendidikan nonformal responden termasuk kategori rendah, (iii) lama usaha agrowisata termasuk kategori baru, (iv) luas lahan petani agrowisata termasuk kategori sempit atau sangat rendah, (v) ragam produk agrowisata termasuk kategori rendah, (vi) ragam jasa agrowisata termasuk kategori sangat rendah, (vii) tingkat motivasi usaha pengelola agrowisata termasuk kategori sedang, (viii) tingkat kosmopolitan petani pengelola agrowisata termasuk kategori rendah, dan (ix) penilaian petani terhadap fungsi teknologi digital termasuk kategori tinggi. Profil petani pengelola agrowisata berpengaruh terhadap kapasitas diri memanfaatkan teknologi komunikasi digital, antara lain: (i) pendidikan formal dan penilaian terhadap fungsi teknologi komunikasi digital berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh aspek pemanfaatan teknologi komunikasi digital, sedangkan umur dan tingkat kosmopolitan berpengaruh sangat nyata secara negatif; (ii) pendidikan nonformal berpengaruh sangat nyata terhadap kemampuan mencipta informasi; (iii) lama usaha berpengaruh nyata pada kemampuan mengelola informasi; (iv) ragam produk agrowisata berpengaruh nyata pada kemampuan mengkomunikasikan informasi; dan (v) tingkat motivasi usaha berpengaruh sangat nyata terhadap kemampuan mengakses sumber informasi. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2016). Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia: Survei 2016. Retrieved from https://apjii.or.id/downfile/file/surveipenetrasii nternet2016.pdf Astuti, M. T. (2014). Potensi Agrowisata dalam Meningkatkan Pengembangan Pariwisata. Jurnal Destinasi Pariwisata, 1(1), 51–57. Aubert, B. A., Schroeder, A., & Grimaudo, J. (2012). IT as enabler of sustainable farming: An empirical analysis of farmers’ adoption decision of precision agriculture technology. Decision Support Systems, 54(1), 510–520. https://doi.org/10.1016/j.dss.2012.07.002 Budiarti, T., Suwarto, & Muflikhati, I. (2013). Pengembangan Agrowisata Berbasis Masyarakat pada Usahatani Terpadu guna Meningkatkan Kesejahteraan Petani dan Keberlanjutan Sistem Pertanian ( Community- Based Agritourism Development on Integrated Farming to Improve the Farmers ’ Welfare and the Sustastai. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), 18(3), 200–207. Budiasa, I. W., & Ambarawati, I. G. A. A. (2014). Community based agro-tourism as an innovative integrated farming system development model towards sustainable agriculture and tourism in Bali. Journal of the International Society for Southeast Asian Agricultural Sciences, 20(1), 29–40. Buhalis, D., & Law, R. (2008). Progress in information technology and tourism management: 20 years on and 10 years after the Internet-The state of eTourism research. Tourism Management, 29(4), 609–623. https://doi .org/10.1016/j.tourman.2008.01.005 Educational Testing Service. (2007). A Report of the International ICT Literacy Panel “Digital Transformation, ICT Literacy Framework.” Princeton. Garrido, M., Sullivan, J., & Gordon, A. (2012). Understanding the Links Between ICT Skills Training and Employability: An Analytical Framework. Information Technologies & International Development, 8(2), 17–32. Gultom, D. T., Sumardjo, Sarwoprasodjo, S., & Muljono, P. (2016). The Roles of Cyber Extension Communication Media in Strengthening Horticulture Farmers in Facing Globalization in Lampung Province , Indonesia. International 78 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Journal of Sciences: Basic and Applied Research, 26(2), 104–117. Havighurst, R. J. (1980). Life-span Developmental Psychology and Education. The Bulletin of the National Association of Secondary School Principals, 49(298), 61–66. https://doi.org/10 .1177/019263656504929805 Herawati, Hubeis, A. V., Amanah, S., & Fatchiya, A. (2017). Kapasitas Petani Padi Sawah Irigasi Teknis Dalam Menerapkan Prinsip Pertanian Ramah Lingkungan Di Sulawesi Tengah. Jurnal Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 20(2), 155–170. Karampela, S., Kizos, T., & Spilanis, I. (2016). Evaluating the impact of agritourism on local development in small islands. Island Studies Journal, 11(1), 161–176. Kaul, V. (2012). The Digital Communications Revolution. Online Journal of Communication and Media Technologies, 2(3), 113–130. Kementerian Komunikasi dan Informatika. (2015). Buku saku data dan tren TIK di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika. Kuranchie-Mensah, E. B., & Amponsah-Tawiah, K. (2016). Employee Motivation and Work Performance: A Comparative Study of Mining Companies in Ghana. Journal of Industrial Engineering and Management JIEM, 9(92), 255–309. https://doi.org/10.3926/jiem.1530 Mardikanto. (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Solo: Sebelas Maret University Press. McGrath, G. M. (2006). The Identification of Ict Gaps and Needs Within the Australian Tourism Industry. Information Technology in Hospitality, 4(4), 161–178. https://doi.org/ 10.3727/154595306779868421 Mpiti, K., & Harpe, A. (2015). ICT factors affecting agritourism growth in rural communities of Lesotho. African Journal of Hospitality, Tourism and Leisure, 4(2), 1–11. Oktavia, Y., Muljono, P., Amanah, S., & Hubeis, M. (2017). Jurnal Penyuluhan, September 2017 Vol. 13 No. 2 Hubungan Perilaku Komunikasi dan Pengembangan Kapasitas Pelaku Agribisnis Perikanan Air Tawar di Padang, Sumatera Barat. Jurnal Penyuluhan, 13(2), 157–165. Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations. https://doi.org/citeulike-article-id:126680 Scolari, C. A. (2009). Mapping conversations about new media: the theoretical field of digital communication. New Media & Society, 11(6), 943–964. https://doi.org/10.1177/14614448 09336513 Slamet, M. (2002). Memantapkan Posisi dan Meningkatkan Peran Penyuluhan Pembangunan dalam Pembangunan. In R. P. dan A. Kilat (Ed.), Prosiding Seminar IPB, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani. Jakarta: Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian. Soekartawi. (2003). Teori Ekonomi Produksi. Jakarta: Rajawali. Sriyadi. (2016). Model Pengembangan Agrowisata Berbasis Kearifan Lokal (Studi Kasus di Desa Kebon Agung Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul DIY). AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research, 2(2), 152– 160. https://doi.org/10.18196/agr.2236 Sujarweni, W. (2014). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru. Sumardjo, & Mulyandari, R. S. H. (2010). Implementasi Cyber Extension dalam Komunikasi Inovasi Pertanian. Jurnal Informatika Pertanian, 19(2), 247–276. Tembo, R., Simbanegavi, G., & Owei, V. (2010). Factors Influencing the Use of ICT by Farm Employees in the Western Cape Commercial Agriculture: A Case Study of the Wine Industry. 2010 IST- Africa, 1–7. Durban. Triyono, Mulyo, J. H., Masyhuri, & Jamhari. (2016). Pengaruh Karakteristik Struktural dan Manajerial Terhadap Efisiensi Usahatani Padi di Kabupaten Sleman. AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research, 2(1), 1–8. https://doi.org/10.18196 /agr.2120 Witteveen, L., Lie, R., Goris, M., & Ingram, V. (2017). Design and development of a digital farmer field school. Experiences with a digital learning environment for cocoa production and certification in Sierra Leone. Telematics and Informatics, 34(8), 1673–1684. https:// doi.org/10.1016/j.tele.2017.07.013