Linda Ekadewi Widyatami*, Ardhitya Alam Wiguna Politeknik Negeri Jember, Jln. Mastrip Kotak Pos 164 Jember, Indonesia *) Email korespondensi: linda.e.widyatami@gmail.com AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2019 Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Usahatani Padi SRI di Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi Competitiveness and Impact of Government Policies on Rice Farming with SRI Method in Rogojampi District, Banyuwangi Regency DOI: http://dx.doi.org/10.18196/agr.5279 ABSTRACT The SRI method is one approach in rice cultivation practices that emphasizes the management of land, plants and water through group empowerment and local wisdom based on environmentally friendly activities. One method of rice cultivation which was developed in Banyuwangi Regency in 2012 was System of Rice Intensification (SRI) method. One area in Banyuwangi Regency that has succeeded in developing the SRI method of rice farming is Watukebo Village in Rogojampi District. The purpose of this reserach was to determine the competitiveness and the impact of government policies on SRI rice farming in Watukebo Village, Rogojampi District, Banyuwangi Regency. The analytical method used was the Policy Analysis Matrix method, which is by calculating tradable input costs, non- tradable input costs, revenue, and profits of the private price and the social price of SRI rice farming. The research sample were rice farmers who applied the SRI method which have joined in Sumber Urip Farmer Group. The results of the analysis show that the SRI method has a competitive advantage and comparative advantage. Government policies on tradable inputs and tradable output have a positive impact on SRI method, and together with the government policies on tradable inputs-output and non-tradable inputs have a positive impact on the SRI rice farming method. Keywords: Competitiveness, Impact of Goverment Policy, Policy Analysis Matrix, System of Rice Intensification INTISARI System of Rice Intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Di Kabupaten Banyuwangi metode SRI mulai dikembangkan pada Tahun 2012. Salah satu wilayah di Kabupaten Banyuwangi yang telah berhasil mengembangkan usahatani padi metode SRI adalah Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya saing usahatani padi SRI dan dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Metode analisis yang digunakan adalah metode Policy Analysis Matrix (PAM), yaitu dengan menghitung biaya input tradable, biaya input non tradable, penerimaan, serta keuntungan pada tingkat harga privat dan harga sosial usahatani padi SRI. Sampel data penelitian adalah petani padi di Desa Watukebo yang menerapkan usahatani padi metode SRI yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Urip. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi mempunyai keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Kebijakan pemerintah terhadap input tradable dan output tradable memberikan dampak positif terhadap usahatani padi SRI, dan secara bersama- sama kebijakan pemerintah terhadap input-output tradable dan input non tradable memberikan dampak positif terhadap usahatani padi metode SRI. Kata kunci: Dampak Kebijakan Pemerintah, Daya Saing, Policy Analysis Matrix, System of Rice Intensification 100 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research PENDAHULUAN Produksi padi pada Tahun 2015 di Indonesia diperkirakan mencapai 75,40 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dan sekitar 51,69% diantaranya diproduksi di Pulau Jawa. Sentra produksi padi pada tahun 2015 adalah Propinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Di Propinsi Jawa Timur, Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2015 termasuk dalam kategori lima besar penghasil komoditas padi terbesar di Jawa Timur yaitu pada urutan ketiga, dengan hasil produksi sebesar 860.239 ton, setelah Kabupaten Jember (1.004.898. ton), dan Lamongan (935.176 ton) (Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur, 2016). Pada Tahun 2012 di Kabupaten Banyuwangi mulai digulirkan kegiatan budidaya padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI) kepada kelompok tani-kelompok tani yang ada di wilayah Banyuwangi. Metode SRI merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Di Indonesia, uji coba metode SRI pertama dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Sukamandi Jawa Barat pada musim kemarau tahun 1999 dengan hasil 6,2 ton per hektar dan pada musim hujan tahun 1999/2000 menghasilkan padi rata-rata 8,2 tonper hektar (Uphoff, 2002; Sato, 2007, dalam Zulkifli, 2011). Pada Tahun 2015 di Kabupaten Banyuwangi terdapat 59 kelompok tani di 18 Kecamatan yang masuk dalam pengembangan program SRI dengan hasil yang sangat menggembirakan karena mengalami peningkatan produksi dari biasanya, yaitu kira-kira sekitar 37% (Yud, 2015). Pengembangan usahatani padi dalam upaya meningkatan dan memperkuat kedaulatan pangan nasional salah satunya dipengaruhi oleh daya saing usahatani padi, yaitu dilihat dari daya saing pada kondisi pasar yang berlaku tanpa mempermasalahkan ada tidaknya distorsi pasar (Keunggulan kompetitif), yang ditunjukkan dengan pengelolaan usahatani padi yang maksimal, serta daya saing pada kondisi pasar persaingan bebas tanpa distorsi (Keunggulan komparatif) yang ditusnjukkan dengan rendahnya penggunaan biaya sumberdaya domestik. Menurut Sutawi (2002), suatu produk yang memiliki keunggulan komparatif bisa terjadi tidak memiliki keunggulan kompetitif apabila ada hambatan yang bersifat disinsentif, sebaliknya suatu produk yang tidak memiliki keunggulan komparatif bisa terjadi memiliki keunggulan kompetitif apabila pemerintah memberikan proteksi terhadap produk yang bersangkutan. Kebijakan pemerintah terhadap usahatani padi seperti kebijakan proteksi perdagangan yang mencakup semua insentif perdagangan baik itu kuota, tarif, maupun subsidi terhadap input produksi dan ouput produksi agribisnis padi, menimbulkan distorsi pasar yaitu mencegah terjadinya pasar persaingan bebas dan dapat berpengaruh terhadap daya saing usahatani padi. Pengembangan metode SRI masih dihadapkan pada sikap petani yang belum banyak tertarik dan lebih memilih melakukan usahatani padi metode konvensional. Di Desa Watukebo dari enam kelompok tani hanya dua kelompok tani yaitu Kelompok Tani Sumber Urip dan Kelompok Tani Harta Jaya yang petani anggotanya menerapkam usahatani padi metode SRI, sedangkan untuk empat kelompok tani lainnya masih menerapkan usahatani padi metode konvensional. Melihat kondisi demikian diharapkan pengembangan usahatani padi metode SRI dapat lebih disosialisasikan agar petani lebih yakin tentang manfaat dan keunggulan dari penerapan metode SRI. Menurut Zulkifli, dkk (2011), terdapat beberapa manfaat ekonomi yang diperoleh dari penerapan metode SRI pada usahatani padi sawah yaitu peningkatan produksi usahati per hektar per musim tanam, penghematan penggunaan tenaga kerja. serta penghematan biaya produksi dengan penggunaan benih lebih sedikit, penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati yang bahannya tersedia secara lokal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani padi dengan metode SRI di Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi tentang daya saing (keunggulan 101 Vol.5 No.2 Juli-Desember 2019 kompetitif dan keunggulan komparatif) pada usahatani padi metode SRI, dan dampak kebijakan pemerintah yaitu kebijakan input (seperti kebijakan subsidi pupuk, kebijakan tarif impor, dll), dan kebijakan output (seperti kebijakan tarif impor beras) terhadap usahatani padi SRI, sehingga hasil analisis tersebut nantinya dapat dijadikan pertimbangan dan rekomendasi bagi pengembangan usahatani metode SRI di kelompok tani dan atau daerah lain untuk mewujudkan peningkatan produktivitas usahatani padi melalui penerapan metode SRI. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Desa Watukebo dipilih menjadi daerah penelitian secara purposive method dikarenakan di Desa Watukebo terdapat kelompok tani yang telah berhasil menerapkan sistem usahatani padi metode SRI (System of Rice Intensification) sejak Tahun 2012 hingga saat ini, yaitu Kelompok Tani Sumber Urip. Keberhasilan penerapan usahatani ini ditunjukkan dengan telah mendapatkan sertifikat padi semi organik prima 3 untuk hasil usahatani padi yang dikembangkan dengan metode SRI. Sebelum Tahun 2018 Desa Watukebo adalah Desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Desa Watukebo mulai awal Tahun 2018, secara resmi dan administrtasif sudah mulai terpisah dari Kecamatan Rogojampi dan menjadi bagian dari Kecamatan Blimbingsari, sebelumnya wilayah Blimbingsari juga menjadi bagian dari Kecamatan Rogojampi. Pada pembahasan penelitian ini penulis tetap menulis Desa Watukebo sebagai bagian dari Kecamatan Rogojampi dikarenakan awal penelitian ini mulai dilakukan pada Tahun 2017. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu metode pengambilan sampel berdasarkan atas adanya pertimbangan dan kriteria tertentu yang berfokus pada tujuan tertentu. Kriteria sampel penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti adalah petani yang menerapkan usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo, jumlah sampel sebanyak 30 orang petani yang merupakan petani yang menerapkan usahatani padi SRI di Desa Watukebo dan tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Urip. Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis daya saing yang meliputi keunggulan kompetitif, keunggulan komparatif, serta dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani padi metode SRI adalah metode Policy Analysis Matrix (PAM) atau matrik analisis kebijakan. Pendekatan PAM yang dikemukakan Monke dan Pearson (1989) merupakan sistem analisis dengan memasukkan berbagai kebijakan yang mempengaruhi penerimaan dan biaya produksi pertanian. Suatu matriks yang disusun dengan memasukkan komponen-komponen utamanya penerimaan, biaya dan profit. PAM disusun untuk mempelajari masing-masing sistem produksi pertanian dengan mempergunakan data usahatani, pemasaran dari petani ke pengolah, pengolahan dan pemasaran dari pengolah ke pedagang. Selanjutnya dapat ditaksir dampak kebijakan komoditas dan ekonomi makro dengan membandingkan tanpa adanya kebijakan (Monke dan Pearson, 1989 dalam Soetriono, 2010). Tabel Policy Analysis Matrix dapat digambarkan pada Tabel 1 berikut ini: TABEL 1. POLICY ANALYSIS MATRIX Revenues Costs Profits Tradable inputs Domestic Factors Private Prices A B C D Social Prices E F G H Effects of Divergences and Efficient Policy I J K L Sumber : Monke dan Pearson, 1989 Keterangan Tabel : 1. Private Profit (D) : D = A – B – C 2. Social Profit (H) : H = E – F – G 3. Output Transfer (I) : I = A – E 4. Input Transfer (J) : J = B – F 5. Factor Transfer (K) : K = C – G 6. Net Transfer (L) : L = D – H Menurut Bandrang, dkk (2015), ada beberapa tahapan sebelum pendekatan dengan menggunakan PAM yaitu: (1) Penentuan input usahatani padi; (2) Penentuan harga bayangan input dan output; (3) Pemilahan biaya usahatani kedalam kelompok tradable dan domestik; (4) Menghitung penerimaan dari usahatani padi; (5) Menghitung dan menganalisis 102 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research berbagai indikator yang bisa dihasilkan dari analisis PAM. Daya saing usahatani padi metode SRI pada analisis PAM dapat dilihat dari keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatifnya. Keunggulan komparatif pada usahatani padi dapat diketahui dengan menggunakan Rasio Biaya Sumberdaya Domestik/Domestic Resources Cost (DRC), DRC merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya faktor domestik yang diperdagangkan pada harga sosial. Keunggulan kompetitif pada usahatani padi, dapat diketahui dengan menggunakan Private Cost Ratio (PCR), PCR merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya faktor domestik yang diperdagangkan pada harga di tingkat produsen (harga privat). Formulasi DRC dan PCR adalah sebagai berikut (Soetriono, 2002) : DRC= Biaya Input non Tradable (Penerimaan Sosial-Biaya Input Tradable Sosial = G (E-F) Kriteria pengambilan keputusan: 1. DRC < 1, maka terdapat keunggulan komparatif pada usahatani padi metode SRI 2. DRC > 1, maka tidak terdapat keunggulan komparatif pada usahatani padi metode SRI PCR= Biaya Input non Tradable Privat (Penerimaan Privat-Biaya Input Tradable Privat = A (A-B) Kriteria Pengambilan Keputusan: 1. PCR < 1, maka terdapat keunggulan kompetitif pada usahatani padi metode SRI 2. PCR > 1, maka tidak terdapat keunggulan kompetitif pada usahatani padi metode SRI Dampak Kebijakan Pemerintah pada Matrik Analisis Kebijakan dapat dilihat dari indikator- indikator yaitu: Dampak kebijakan pemerintah terhadap output ditunjukan dari nilai Nominal Protection Coefficient Output (NPCO). Dampak kebijakan pemerintah terhadap input tradable ditunjukkan dari nilai Nominal Protection Coefficient Input (NPCI), dan Dampak kebijakan pemerintah terhadap input dan output dapat diketahui dengan menggunakan indicator Net Policy Transfer (NPT), Effective Protection Coefficient (EPC), Profit Coefficient (PC), dan Subsidy Ratio to Producers (SRP), dengan formulasi sebagai berikut (Pearson, dkk, 2005): NPCO= Penerimaan Privat Penerimaan Sosial = A E Kriteria pengambilan keputusan: 1. NPCO < 1, produsen tidak mendapatkan proteksi output dari pemerintah 2. NPCO > 1, produsen mendapatkan proteksi output dari pemerintah NPCI= Biaya Input Tradable Privat Biaya Input Tradable Sosial = 𝐵 𝐹 Kriteria pengambilan keputusan: 1. NPCI < 1, produsen mendapatkan proteksi input dari pemerintah 2. NPCI > 1, produsen tidak mendapatkan proteksi input dari pemerintah NPT=Keuntungan Privat (D)-Keuntungan Sosial (H) Kriteria pengambilan keputusan: 1. NPT positif, terdapat dampak positif dari kebijakan pemerintah 2. NPT negatif, tidak terdapat dampak positif dari kebijakan pemerintah. EPC= Penerimaan Privat-Biaya Input Tradable Privat Penerimaan Sosial-Biaya Input Tradable Sosial = (A-B) (E-F) Kriteria pengambilan keputusan: 1. EPC < 1, proteksi input dan output tradable dari pemerintah terhadap produsen tidak efektif 2. EPC > 1, proteksi input dan output tradable dari pemerintah terhadap produsen efektif PC= Keuntungan Privat Keuntungan Sosial = D H Kriteria pengambilan keputusan: 1. PC < 1, kebijakan pemerintah tidak memberikan insentif kepada produsen 2. PC > 1, kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen SRP= Transfer Bersih Penerimaan Sosial = L E Kriteria pengambilan keputusan: 103 Vol.5 No.2 Juli-Desember 2019 1. SRP < 0, produsen tidak mendapatkan proteksi dari pemerintah 2. SRP > 0, produsen mendapatkan proteksi dari pemerintah HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) untuk menganalis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah pada usahatani padi metode SRI (System of Rice Intensification) di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Hasil analisis Policy Analysis Matrix (PAM) pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi pada Matrik Analisis Kebijakan menunjukkan hasil perhitungan tentang penerimaan, biaya yang meliputi biaya input tradable dan biaya input non tradable (faktor domestik), dan keuntungan usahatani padi pada harga privat dan harga sosial. Harga privat merupakan harga yang mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh kebijakan dan kegagalan pasar, atau harga yang diterima petani setelah ada campur tangan pemerintah yang berupa kebijakan pemerintah. Harga sosial merupakan harga yang seharusnya diterima petani tanpa adanya kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Budidaya padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, melalui pemberdayaan petani yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Sistem SRI ini mempunyai ciri khas yaitu input yang kecil tetapi mempunyai output yang besar dibandingkan dengan sistem konvensional (Bargumono, 2016). Usahatani padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI) di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi memiliki ciri-ciri antara lain yaitu: penanaman benih padi usia muda (usia 15 hari), penanaman padi dengan sistem jajar legowo, pengurangan penggunaan pupuk kimia secata bertahap, dan penggunaan agensia hayati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman padi. Penanaman sistem jajar legowo yang diterapkan antara lain yaitu: sistem jajar legowo 2:1, dengan jarak tanam antar barisan 25 cm, jarak tanam dalam barisan 15 cm, dan legowo 40 cm, atau sistem jajar legowo 5:1, dengan jarak tanam antar barisan 20 cm, jarak tanam dalam barisan 20 cm, dan legowo 40 cm. Pemakaian pupuk kimia untuk usahatani padi yang mengembangkan metode SRI di Desa Watukebo dikurangi seraca bertahap, yaitu untuk pupuk urea dari penggunaan yang awalnya 2 kwintal per Ha saat ini dengan metode SRI, pupuk urea yang digunakan berkurang 50% menjadi 1 kwintal per Ha, dan untuk pupuk NPK dari penggunaan yang awalnya 3 kwintal per Ha, berkurang 50% menjadi 1,5 kwintal per Ha. Pengurangan penggunaan pupuk kimia pada metode SRI ini digantikan dengan peningkatan penggunaan pupuk organik yaitu penggunaannya sekitar 50 ton per Ha. Pengendalian hama penyakit tanaman (HPT) pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo sudah tidak menggunakan pestisida kimia, pengendalian HPT tersebut menggunakan pestisida organik atau agensia hayati yaitu menggunakan Coryne Bacterium Likani, Bakteri Merah, dan Verti. Agensia Hayati Bakteri Merah dan Verti digunakan untuk pengendalian hama, dan agensia hayati Coryne Bacterium Likani digunakan untuk pengendalian jamur atau penyakit. Penggunaan agensia Hayati Bakteri Merah, Coryne Bacterium Likani, dan Verti tersebut sekitar 15 liter per Ha. DAYA SAING USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION DI KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI Daya saing suatu produk dapat diukur dengan dua cara yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Menurut Irawati, dkk (2015), daya saing merupakan suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan biaya produksi yang cukup rendah. Keunggulan kompetitif mengukur daya saing pada usahatani padi berdasarkan harga yang diterima produsen (harga privat), dan Keunggulan komparatif mengukur daya saing pada usahatani padi berdasarkan harga sosial. Pada Policy Analysis Matrix (PAM) nilai keunggulan kompetitif dan komparatif dapat diketahui dari koefisien nilai PCR (Private Cost Ratio) dan DRC 104 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research (Domestic Resource Cost). PCR merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya faktor domestik yang diperdagangkan pada harga di tingkat produsen (harga privat). DRC merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya faktor domestik yang diperdagangkan pada harga sosial. Hasil analisis PAM yang menunjukkan nilai keunggulan kompetitif atau nilai koefisien Private Cost Ratio (PCR) pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi ditunjukkan pada Tabel 2. TABEL 2. HASIL ANALISIS PAM DAN NILAI PRIVATE COST RATIO (PCR) USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DESA WATUKEBO KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017- MARET 2018 (PER HA) Output Input Tradable Faktor Domestik Profit Harga Privat 25.589.667 2.019.620 16.215.622 7.354.425 Harga Sosial 24.045.094 3.357.949 14.938.736 5.748.409 Divergensi 1.544.573 -1.338.329 1.276.885 1.606.016 PCR = 0,688 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Hasil analisis PAM pada Tabel 2, menunjukkan nilai PCR sebesar 0,677, nilai PCR yang lebih besar dari satu ini menunjukkan bahwa usahatani padi dengan metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi memiliki keunggulan kompetitif. Nilai PCR sebesar 0,677, berarti bahwa untuk menghasilkan satu satuan nilai tambah output pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kabupaten Banyuwangi pada harga privat diperlukan kurang dari satu satuan korbanan biaya sumberdaya domestik. Keunggulan kompetitif usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi disebabkan penggunaan faktor domestik yang cukup efisien dengan pengelolaan padi metode SRI yang optimal, selain itu harga jual padi yang diterima petani mampu menutupi biaya produksi dan menghasilkan keuntungan bagi petani. Usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi menggunakan faktor domestik antara lain yaitu pupuk organik, pestisida organik atau agensia hayati, tenaga kerja dalam usahatani padi yang meliputi tenaga kerja pengolahan tanah, tenaga kerja penanaman yang dilakukan oleh tenaga kerja wanita, dan tenaga kerja pemeliharaan pada usahatani padi (pemupukan I, pemupukan II, pemupukan organik, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengendalian gulma tanaman atau penyiangan dan penyulaman, serta pengairan sawah), kegiatan pemanenan, iuran pengairan untuk HIPPA, penyusutuan peralatan, modal, serta lahan. Pada usahatani padi SRI kegiatan pemeliharaan pada usahatani padi di Kecamatan Rogojampi ada yang dilakukan oleh petani pemilik sawah dan ada yang dilakukan oleh tenaga kerja di luar keluarga yang disebut Mager Sari. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan oleh Mager Sari pada usahatani padi metode SRI antara lain meliputi: pemupukan I, pemupukan II, pemupukan organik, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengendalian gulma tanaman atau penyiangan dan penyulaman, serta pengairan sawah. Pada usahatani padi di Desa Watukebo tersebut bagi hasil antara mager sari dan pemilik lahan atau pemilik modal usahatani padi khususnya di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi yaitu sebesar 1 : 8 dari jumlah karung yang dihasilkan pada saat pemanenan, atau dari penerimaan yang diterima oleh pemilik lahan, sebagai biaya dari pemeliharaan yang telah dilakukan oleh tenaga kerja mager sari tersebut. Proses pemanenan pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi antara lain meliputi kegiatan pemotongan padi, perontokan padi dengan menggunakan mesin perontok padi, dan pengangkutan gabah kering sawah (GKS) hasil pemamenan dari lahan petani menuju pinggir jalan untuk di angkut ke tempat penggilingan padi. Proses pemanenan padi yang dilakukan oleh petani padi metode SRI di Desa Watukebo dilakukan dengan memperkerjakan jasa tenaga kerja pemanenan dengan biaya ongkos potong rata-rata per Ha sekitar Rp 25.000 per karung, biaya perontokan yang meliputi jasa tenaga kerja den mesin perontok padi sekitar Rp 15.000 per karung, dan ongkos angkut karung padi sekitar Rp 10.000 – Rp 20.000 per karung tergantung dari letak sawah petani di pinggir jalan atau di tengah 105 Vol.5 No.2 Juli-Desember 2019 sawah, selain dengan sistem pemanenan tersebut beberapa petani padi metode SRI Desa Watukebo ada yang melakukan pemanenan padi dengan sistem pemanenan tebasan. Hasil analisis PAM yang menunjukkan nilai keunggulan komparatif usahatani padi metode SRI di Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi, yang ditunjukkan dengan nilai Domestic Resources Cost terdapat pada Tabel 3. TABEL 3. HASIL ANALISIS PAM DAN NILAI DOMESTIC RESOURCES COST (DRC) USAHATANI PADI METODE SRI DI DESA WATUKEBO KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017- MARET 2018 (PER HA) Output Input Tradable Faktor Domestik Profit Harga Privat 28.256.024 814.359 18.578.389 8.863.276 Harga Sosial 26.589.164 1.458.274 17.394.054 7.736.837 Divergensi 1.666.860 -643.915 1.184.335 1.126.439 DRC = 0,692 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Hasil analisis PAM pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai Domestic Resources Cost (DRC) usahatani padi SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi lebih kecil dari satu yaitu sevesar 0,692, nilai lebih kecil dari satu ini menunjukkan bahwa usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi memiliki keunggulan komparatif. Nilai DRC sebesar 0,692, berarti bahwa usahatani padi SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi dari segi ekonomi efisien dalam menggunakan sumberdaya domestik, karena untuk menghasilkan devisa sebesar satu-satuan hanya dibutuhkan biaya faktor domestik sekitar 0,692 satuan. Nilai DRC ini juga menunjukkan bahwa biaya memproduksi padi dengan metode SRI pada harga sosial hanya sebesar 69,2% dari biaya impor, sehingga apabila pemenuhan permintaan terhadap padi dilakukan dari produksi dalam negeri maka akan mampu menghemat devisa sebesar 30,8% dari besarnya biaya impor yang diperlukan. Keunggulan komparatif pada analisis PAM dianalisis menggunakan biaya input tradable dan faktor domestik pada kondisi pasar persaingan sempurna (harga sosial) atau kondisi tanpa ada kebijakan pemerintah di dalamnya. Perhitungan harga sosial untuk faktor domestik pada usahatani padi SRI, output dan input tradable dicerminkan dengan harga bayangan (shadow price) atau berdasarkan pada estimasi the social oppurtunity cost, harga bayangan tersebut dipakai untuk menyesuaikan terhadap harga pasar internasional. Menurut Gittinger (1986) dalam Sukmaya, dkk (2016), harga bayangan merupakan suatu harga yang lebih dekat menggambarkan biaya imbangan sosial. Untuk faktor domestik yang tidak dapat diperdagangkan secara internasional seperti tenaga kerja, modal dan lahan harga bayangannya ditaksir dengan berbagai asumsi-asumsi yang telah digunakan dalam penelitian PAM sebelumnya, pendugaan harga banyangan untuk harga tenaga kerja usahatani padi diasumsikan sebagai tenaga kerja tak terlatih sehingga untuk menghitung tingkat upah sosialnya digunakan kebijakan pemerintah berupa tingkat upah minimum dan digunakan konversi sebesar 0,8 dari tingkat upah yang sebenarnya. Menurut Suryana (1980) dalam Haryono, dkk (2011), Penentuan harga bayangan tenaga kerja sebesar 80% dari tingkat upah yang berlaku. Harga bayangan bunga modal diperoleh dari tingkat suku bunga kredit ritel Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang sering dijadikan lembaga peminjaman kredit bagi petani yaitu sebesar 10,75% dikurangkan dengan tingkat inflasi sebesar 3,36% sehingga diperoleh nilai harga bayangan bunga modal sebesar 7,39%. Harga Sosial lahan didekati dengan nilai sewa lahan, hal ini dilandasi oleh mekanisme pasar lahan di pedesaan berjalan baik (Rachman, dkk, 2004), serta Menurut Gittinger (2008), harga bayangan yang digunakan dinilai dengan nilai sewanya. Harga bayangan untuk biaya faktor domestik lainnya seperti biaya pemanenan, iuran pengairan HIPPA, biaya penyusutan peralatan diasumsikan sama dengan harga aktual atau harga privatnya. Harga banyangan untuk output tradable usahatani padi didasarkan dari harga sosial beras yang nantinya dikonversikan menjadi padi, karena produk yang diperdagangkan di pasar internasional adalah beras, harga bayangan beras dihitung berdasarkan harga CIF karena di Indonesia beras merupakan produk impor. Harga impor beras di tingkat dunia tahun 2017/2018 rata-rata sebesar 432,33 US $/ton. 106 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research Harga beras dunia tersebut ditambah dengan freight and insurance cost dan dikonversikan dalam mata uang rupiah, kemudian ditambahkan dengan biaya handling, penyimpanan dan susut, biaya transportasi, serta biaya distribusi ke tingkat petani, dari hasil perhitungan penyesuaian harga sosial impor padi diperoleh harga sosial padi di tingkat petani sebesar Rp 4.351,22/kg. Harga bayangan nilai tukar rupiah (shadow exchange rate) dihitung dengan membagi nilai tukar rupiah (NTR) dengan faktor konversi baku (SCF), dari hasil perhitungan diperoleh harga bayangan nilai tukar rupiah sebesar Rp 14,762.826/US $. Input Tradable pada usahatani padi metode SRI meliputi benih dan pupuk anorganik, Harga bayangan benih diasumsikan diperhitungkan dari harga privat aktual pada lokasi penelitian yang dikurangi pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10%. Harga bayangan input tradable pupuk Urea, dan pupuk NPK dihitung berdasarkan harga CIF (Cost Insurance and Freight), karena pupuk Urea dan NPK diasumsikan termasuk produk impor. Menurut Zakariah, dkk, (2010), untuk input dan output yang diperdagangkan secara internasional, harga sosialnya dihitung berdasarkan harga perdagangan internasional, untuk komoditas yang diimpor dipakai harga CIF. Hasil perhitungan menunjukkan harga bayangan untuk pupuk Urea sebesar Rp 4.014,76/kg dan harga bayangan pupuk NPK sebesar Rp 5.198,27/kg. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP OUTPUT PADA USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION DI KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI Rasio yang digunakan untuk megukur dampak kebijakan output (output transfer) dalam analisis PAM adalah Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO), rasio ini menunjukkan seberapa besar output pada harga domestik (harga privat) berbeda dengan output pada harga sosial. Hasil Analisis PAM yang menunjukkan nilai NPCO pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi ditunjukkan pada Tabel 4. TABEL 4. TRANSFER OUTPUT PRODUKSI PADI PADA USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION DI DESA WATUKEBO KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017- MARET 2018 (PER HA) Output NPCO Harga Privat 28.256.024 Harga Sosial 26.589.164 1,063 Divergensi 1.666.860 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Hasil Analisis PAM pada Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai NPCO lebih besar dari satu yaitu 1,064, yang berarti bahwa usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi menerima dampak positif dari kebijakan pemerintah dan mekanisme pasar output yang berlaku pada tahun 2017/2018. Nilai NPCO sebesar 1,063 berarti bahwa kebijakan pemerintah terhadap output usahatani padi, membuat harga output pada usahatani padi metode SRI 6,3% lebih tinggi daripada harga sosialnya. Kebijakan pemerintah terhadap output usahatani padi antara lain adalah kebijakan tarif impor beras sebesar Rp 450/kg pada tahun 2017/2018, kebijakan tarif impor beras ini akan mampu melindungi harga beras domestik dari beras impor. Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa penerimaan yang diterima petani padi dengan metode SRI pada harga privat lebih besar dibandingkan dengan penerimaan yang dihitung dengan harga sosialnya. Penerimaan yang diterima petani padi dengan metode SRI pada harga privat sebesar Rp 28.256.024 per Ha, sedangkan penerimaan yang seharusnya diterima petani padi atau penerimaan pada harga sosial sebesar Rp 26.589.164 per Ha, hal ini berarti bahwa petani padi metode SRI memperoleh dampak positif dari kebijakan ouput yang ditetapkan pemerintah. Output transfer pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi yang disebabkan oleh proteksi ouput dari kebijakan pemerintah adalah sebesar Rp 1.666.860 per Ha. 107 Vol.5 No.2 Juli-Desember 2019 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INPUT TRADABLE DAN FAKTOR DOMESTIK USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI Dampak kebijakan pemerintah terhadap input tradable pada analisis PAM ditunjukkan oleh nilai koefisien Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI). Rasio NPCI menunjukkan seberapa besar harga domestik dari input tradable berbeda dengan harga sosialnya. Hasil analisis PAM pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi yang menunjukkan nilai Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) dapat dilihat pada Tabel 5. TABEL 5. TRANSFER INPUT TRADABLE PRODUKSI PADI PADA USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DESA WATUKEBO KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017- MARET 2018 (PER HA) Output Input Tradable Benih Pupuk Anorganik Total Harga Privat 28.256.024 276,852 537,507 814,359 Harga Sosial 26.589.164 249,167 1,209,107 1,458,274 Divergensi 1.666.860 27,685 -671,600 -643,915 NPCI = 0,558 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Hasil Analisis PAM pada Tabel 5 menunjukkan nilai NPCI pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi kurang dari satu yaitu 0,558, yang berarti bahwa harga domestik (harga privat) input tradable lebih rendah dari harga sosialnya, dengan kata lain usahatani padi SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi menerima proteksi input dari pemerintah atau menerima dampak positif dari kebijakan pemerintah dan mekanisme pasar output yang berlaku pada Tahun 2017/2018. Nilai NPCI sebesar 0,558, berarti bahwa kebijakan pemerintah terhadap input tradable menyebabkan harga input tradable pada usahatani padi hanya 55,8% dari harga sosialnya. Kebijakan pemerintah terhadap input tradable pada usahatani padi salah satunya adalah kebijakan subsidi pupuk. Pupuk kimia yang digunakan pada usahatani padi SRI yang mendapatkan subsidi adalah pupuk Urea dengan harga pupuk subsidi sebesar Rp 180.000/kuintal dan harga pupuk urea non subsidi sebesar Rp 500.000/kuintal, serta pupuk NPK dengan harga pupuk NPK subsidi sebesar Rp 230.000/kuintal dan harga pupuk NPK non subsidi sebesar Rp 900.000/kuintal. Faktor domestik yang digunakan pada usahatani padi meliputi, pupuk organik, pestisida organik atau agensia hayati, tenaga kerja, penyusutan peralatan, biaya pemanenan, iuran pengairan HIPPA, modal, dan lahan. Hasil analisis PAM yang menunjukkan dampak kebijakan pemerintah terhadap faktor domestik pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada Tabel 6. TABEL 6. ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP FAKTOR DOMESTIK PADA USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DESA WATUKEBO KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017- MARET 2018 (PER HA) Faktor Domestik Harga Privat Harga Sosial Divergensi Pupuk Organik 2.350.704 2.350.704 0 Pestisida Organik (Agensia Hayati) 1.125.000 1.125.000 0 Tenaga Kerja 5.819.824 4.655.859 1.163.965 Pemanenan 2.778.163 2.778.163 0 Iuran HIPPA 367.390 367.390 0 Penyusutan Peralatan 95.833 95.833 0 Modal 746.197 787.771 -41.574 Lahan 5.295.278 5.233.333 61.944 Total 18.578.389 17.394.054 1.184.335 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Hasil analisis PAM tentang dampak kebijakan pemerintah terhadap faktor domestik pada Tabel 6 menunjukkan bahwa faktor domestik tenaga kerja pada usahatani padi metode SRI memiliki harga privat yang lebih tinggi daripada harga sosialnya, ini menunjukkan bahwa pemerintah memberikan proteksi kebijakan terhadap tenaga kerja usahatani. Tenaga kerja pada usahatani termasuk dalam tenaga kerja yang tidak terlatih, tingkat upah tenaga kerja tidak terlatih pada usahatani pada umumnya tidak mencerminkan tingkat upah sosial yang sesungguhnya, perbedaan tersebut disebabkan oleh 108 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research adanya kebijakan pemerintah, seperti ketentuan tentang upah minimum. Ketentuan tingkat upah minimum ini menyebabkan tingkat upah yang diterima tenaga kerja tak terlatih lebih tinggi daripada tingkat upah yang sebenarnya, sehingga dengan adanya kebijakan pemerintah petani padi harus membayar faktor domestik tenaga kerja lebih mahal daripada harga sosialnya, atau dapat dikatakan bahwa kebijakan pemerintah meningkatkan biaya produksi yang seharusnya dikeluarkan petani pada harga sosialnya. Divergensi yang disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah terhadap tenaga kerja usahatani padi metode SRI adalah sebesar Rp 1,163,965/Ha, yang artinya petani usahatani padi SRI harus membayar biaya faktor domestik tenaga kerja Rp 1,163,965/Ha lebih mahal daripada harga sosialnya. Faktor domestik modal kerja pada usahatani padi memiliki harga privat yang lebih tinggi daripada harga sosialnya, perbedaan harga privat dan sosial tersebut disebabkan karena perbedaan tingkat suku bunga privat dengan tingkat suku bunga sosial yang seharusnya diterima petani. Tingkat suku bunga nominal atau privat pada penelitian ini menggunakan tingkat suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan kebijakan pemerintah untuk membantu usaha rakyat termasuk usahatani, yaitu dengan nilai suku bunga sebesar 7%, dan untuk suku bunga sosialnya adalah suku bunga retail Bank Rakyat Indonesia sebesar 10,75% dikurangkan dengan tingkat inflasi sebesar 3,36%, sehingga tingkat suku bunga sosial yang digunalan dalam penelitian ini adalah sebesar 7,39%. Tingkat suku bunga sosial yang lebih besar daripada tingkat suku bunga nominalnya, menunjukkan bahwa pemerintah memberikan kebijakan subsidi terhadap tingkat suku bunga yang diterima oleh petani. Divergensi pada modal kerja yang disebabkan karena adanya kebijakan subsidi pada KUR untuk usahatani padi adalah sebesar - Rp 41,574 per Ha. Faktor domestik lahan memiliki harga privat lahan lebih mahal daripada harga sosialnya, hal ini dikarenakan pada perhitungan faktor domestik lahan untuk harga privat lahan memperhitungan pajak tanah yang harus dibayarkan oleh petani padi, sedangkan untuk harga sosial sewa lahan diasumsikan sama dengan harga privatnya. Divergensi pada faktor produksi lahan pada usahatani padi metode SRI sebesar Rp 61.944/Ha, yang berarti bahwa petani harus membayar pajak tanah untuk lahan usahataninya sebesar Rp 61.944/Ha. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INPUT OUTPUT USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION DI KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI Kebijakan output dan input pada usahatani padi metode SRI di Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi secara keseluruhan dapat diketahui dari indikator-indikator antara lain yaitu Efective Protection Coeficient (EPC), Net Protection Transfer (NPT), Profitability Coeficient (PC) dan Subsidy Ratio to Producer (SRP). EPC merupakan indikator untuk mengetahui efek transfer gabungan yang disebabkan oleh kebijakan, baik transfer output tradable maupun transfer input tradable. NPT menggambarkan tambahan surplus produsen atau berkurangnya surplus produsen yang diakibatkan oleh kebijakan pemerintah. PC merupakan rasio antara keuntungan privat dan keuntungan sosial, yang menunjukkan pengaruh dari kebijakan pemerintah yang menyebabkan keuntungan privat berbeda dengan keuntungan sosial, sedangkan SRP merupakan perbandingan antara tranfer bersih dengan nilai ouput pada harga sosial. Hasil Analisis PAM yang menunjukkan dampak kebijakan pemerintah terhadap input ouput usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada Tabel 7. Hasil Analisis PAM pada Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai Net Protection Transfer (NPT) pada usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi sebesar Rp 1.666.860 per Ha. 109 Vol.5 No.2 Juli-Desember 2019 TABEL 7. NILAI NET PROTECTION TRANSFER (NPT), PROFITABILITY COEFFICIENT (PC) DAN SUBSIDY RATIO TO PRODUCER (SRP) USAHA TANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DESA WATUKEBO KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017- MARET 2018 (PER HA) Output Input Tradable Faktor Domestik Profit PC SRP Harga Privat 28.256.024 814.359 18.578.389 8.863.276 Harga Sosial 26.589.164 1.458.274 17.394.054 7.736.837 1,146 0,042 Divergensi 1.666.860 -643.915 1.184.335 1.126.439 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Nilai NPT yang positif tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi pengalihan surplus dari produsen atau petani padi ke pihak lain, dengan kata lain kebijakan pemerintah memberikan dampak yang positif terhadap usahatani padi SRI. Nilai Profitability Coeficient (PC) menunjukkan nilai lebih besar dari satu yaitu sebesar 1,146, hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input, ouput tradable dan faktor domestik pada usahatani padi SRI menambah penerimaan produsen atau petani padi sebesar 14,6%, sehingga usahatani padi SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi memperoleh keuntungan lebih tinggi dari yang seharusnya diterima oleh petani padi, atau dapat dikatakan kebijakan pemerintah terhadap input output secara keseluruhan berdampak positif terhadap usahatani padi metode SRI. Nilai Subsidy Ratio to Producer (SRP) dari hasil analisis PAM, diperoleh nilai yang positif, yaitu sebesar 0,042. Nilai SRP tersebut menunjukkan pengaruh adanya kebijakan pemerintah memberikan dampak kepada petani padi SRI yang membayar biaya produksi lebih rendah dari biaya sosialnya, atau berarti bahwa pengaruh dari kebijakan pemerintah dan mekanisme pasar pada saat penelitian berdampak positif terhadap stuktur biaya produksi usahatani padi SRI. Nilai SRP sebesar 0,042 berarti bahwa dampak kebijakan pemerintah mampu menurunkan biaya produksi padi metode SRI sebesar Rp 0,042/Ha, atau dengan kata lain kebijakan pemerintah menyebabkan usahatani padi metode SRI menerima biaya produksi lebih rendah 4,2% dari biaya yang seharusnya dikeluarkan. Dampak dari keseluruhan kebijakan pemerintah dan mekanisme pasar terhadap input dan output tradable pada usahatani padi ditunjukkan dengan nilai EPC (Effective Profitability Coefficient). Hasil analisis PAM yang menunjukkan nilai EPC usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi ditujukkan pada Tabel 8. TABEL. 8. KOEFISIEN PROTEKSI EFEKTIF (EPC) PADA USAHATANI PADI METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DESA WATUKEBO KABUPATEN BANYUWANGI MUSIM TANAM DESEMBER 2017-MARET 2018 (PER HA) Output Input Tradable EPC Harga Privat 28.256.024 814.359 Harga Sosial 26.589.164 1.458.274 1,092 Divergensi 1.666.860 -643.915 Sumber: Data Primer dan Skunder Diolah Tahun 2018 Hasil Analisis PAM pada Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai EPC lebih besar dari satu, yaitu sebesar 1,092. Nilai EPC sebesar 1,092 berarti bahwa adanya kebijakan pemerintah terhadap input dan ouput tradable menyebabkan nilai tambah yang diterima petani padi 10,92% lebih tinggi dibandingkan tanpa adanya kebijakan. KESIMPULAN Hasil analisis PAM untuk usahatani padi metode SRI di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi menunjukkan Nilai Private Cost Ratio (PCR) sebesar 0,677, yang berarti bahwa usahatani padi metode SRI memiliki keunggulan kompetitif, dan Nilai Domestic Resources Cost (DRC) sebesar 0,692, yang berarti bahwa usahatani padi metode SRI mempunyai keunggulan komparatif. Hasil analisis PAM untuk mengetahui dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani padi metode SRI menunjukkan bahwa, Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) sebesar 1,063, yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap output tradable memberikan dampak positif pada usahatani padi metode SRI. Nilai Protection Coefficient on Input (NPCI) sebesar 0,558, menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input tradable juga 110 AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research memberikan dampak positif pada usahatani padi metode SRI. Secara bersama-sama kebijakan pemerintah terhadap input output tradable dan input non tradable (faktor domestik) memberikan dampak positif terhadap usahatani padi metode SRI, hal ini ditunjukkan dengan Nilai Net Protection Transfer (NPT) sebesar Rp 1.666.860 per Ha, Nilai Subsidy Ratio to Producer (SRP) sebesar 0,042, yang berarti bahwa dampak kebijakan pemerintah mampu menurunkan biaya produksi padi sebesar Rp 0,042/Ha, serta nilai Profitability Coeficient (PC) sebesar 1,146, yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input, ouput tradable dan faktor domestik pada usahatani padi SRI menambah penerimaan produsen atau petani padi sebesar 14,6%. Dampak kebijakan pemerintah terhadap input dan output tradable secara bersama-sama juga memberikan dampak positif pada usahatani padi metode SRI, yang ditunjukkan dengan nilai EPC lebih besar dari satu yaitu sebesar 1,092, yang berarti bahwa adanya kebijakan pemerintah terhadap input dan ouput tradable menyebabkan nilai tambah yang diterima petani padi metode SRI 10,92% lebih tinggi dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Implikasi dari penelitian ini dapat lebih meyakinkan petani tentang keunggulan usahatani padi metode SRI, bahwa usahatani tani metode SRI memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Keunggulan kompetitif ditunjukkan dengan penggunaan faktor domestik yang cukup efisien dengan pengelolaan padi metode SRI yang optimal, serta harga jual padi yang diterima petani mampu menutupi biaya produksi dan menghasilkan keuntungan bagi petani. Keunggulan komparatif ditunjukkan dari biaya produksi padi metode SRI pada harga sosial lebih kecil dibandingkan biaya impor, sehingga apabila pemenuhan permintaan terhadap padi dilakukan dari produksi dalam negeri maka akan mampu menghemat devisa dari besarnya biaya impor yang diperlukan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap output tradable dan atau input tradable memberikan dampak positif pada usahatani padi metode SRI. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. (2016). Provinsi Jawa Timur dalam Angka. Surabaya: Badan Pusat Statistik Propinvi Jawa Timur. Bargumono. (2016). Pertanian Organik: Solusi Alternatif Pertanian. Yogyakarta: Global Pustaka Utama. Bandrang, T. N., Ronnie S. 2015. Natawidjaja, dan Maman Karmana. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan terhadap Beras Organik Ekspor (Studi Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya). Agrivet Jurnal Ilmu Pertanian dan Peternakan. Vol. 3. No. 1. 33- 46. Majalengka: Fakultas Pertanian Universitas Majalengka. Gittinger, J. P. (1986). Analisis Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Jakarta: UI Press. Dalam Sukmaya, G. S., Rachmina, D., Saptana. (2016). Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kedelai vs Pengusaha Kedelai di Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Forum Agribisnis. Vol 6. No. 1. 21-52. Retrieved from http://journal.ipb.ac. id/index.php/fagb/article/view/17230/12462. Gittinger, J. P. (2008). Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Jakarta: UI Press. Irawati, D. J., Sihombing, L., Ginting, R. (2015). Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Padi Sawah di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Journal of Agriculture and Agribusiness Socioeconomics. 1-15. Monke, E. A. and Pearson, S. R. (1989). The Policy Analysis Matrix Agriculture Development. New York: Cornell University Press. Monke, E. A. and Pearson, S. R. (1989). The Policy Analysis Matrix Agriculture Development. New York: Cornell University Press. Dalam Soetriono. (2010). Ekonomi dan Kebijakan Agribisnis Tebu”: Suatu Analisis Jawa Timur. Malang: Bayu Media. Pearson, S., Gotsch, C., dan Bahri, S. (2005). Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Suryana, A. (1980). Keuntungan Komparatif dalam Produksi Ubikayu dan Jagung di Jawa Timur dan Lampung dengan Analisa Penghematan Biaya Sumberdaya Domestik (BSD). Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Dalam Haryono, D., Soetriono, Hartadi, R., Aji, J. M. M. (2011). Analisis Daya Saing dan Dampak 111 Vol.5 No.2 Juli-Desember 2019 Kebijakan Pemerintah terhadap Produksi Kakao di Jawa Timur. Jurnal of Social and Agricultural Economics (J-SEP). Vol. 5 No. 2. 72-82. Retrieved from https://jurnal.unej.ac. id/index.php/JSEP/article/view/375/233. Sutawi. (2002). Manajemen Agribisnis. Malang: Bayumedia. Soetriono. (2002). The Policy Analysis Matrix PAM. Jember: Universitas Jember. Rachman, B., P. Simatupang, dan T. Sudaryanto. 2004. Efisiensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Padi. Prosiding Efisiensi dan daya Saing Sistem Usahatani beberapa Komoditas Pertanian di Lahan Sawah. 1-27. ISBN: 979- 3566-22-1. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Uphoff, N. (2002). Development of The SRI in Madagascar. http://sri.ciifad.cornell.edu/abo utsri/CIP_UPWARD_SRICase.pdf. Dalam Zulkifli, A. Malik, Z. Fathoni. (2011). Analisis Ekonomi Pengembangan Padi Sawah dengan Metode System of Rice Intensification di Provinsi Jambi. Retrieved from https://www. academia.edu/8362589/Analisis_Ekonomi_Pa di_Sawah_dengan_Metode_SRI?auto=downl oad. Yud. (2015). Pemkab Banyuwangi Kembangkan Padi SRI 2.500 Hektare. Retrieved from https:// www.beritasatu.com/nasional/299565/pemk ab-banyuwangi-kembangkan-padi-sri-2500- hektare. Zakariah, A., Wahyuning, K. S. dan R. Kustiari. 2010. Analisis Daya Saing Komoditas Kedelai menurut Agro Ekosistem: Kasus di Tiga Provinsi di Indonesia. Jurnal Agroekonomi. Vol 28. No. 1. 21-37. Bogor: Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian. Zulkifli, A. Malik, Z. Fathoni. (2011). Analisis Ekonomi Pengembangan Padi Sawah dengan Metode System of Rice Intensification di Provinsi Jambi. Retrieved from https://www.academia .edu/8362589/Analisis_Ekonomi_Padi_Sawah _dengan_Metode_SRI?auto=download.