ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2018 Editorial Team Editor-In-Chief Imam Mujahid, IAIN Surakarta Editorial Board Kamaruzzaman bin Yusof, Universiti Teknologi Malaysia Waryono Abdul Ghafur, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta Moch. Choirul Arif, UIN Sunan Ampel, Surabaya Imas Maesaroh, UIN Sunan Ampel, Surabaya Syakirin Al-Ghazali, IAIN Surakarta Ahmad Hudaya, IAIN Surakarta M. Endy Saputro, IAIN Surakarta Managing Editor Akhmad Anwar Dani, IAIN Surakarta Ahmad Saifuddin, IAIN Surakarta Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, IAIN Surakarta Alamat Redaksi : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Surakarta Jl. Pandawa No. 1, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah 57168 Phone : +62 271 - 781516 Fax : +62 271 - 782774 Surel : journal.albalagh@gmail.com, journal.albalagh@iain-surakarta.ac.id Laman : http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2018 Daftar Isi Motif Syekhermania Mengakses Video Dakwah Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegafs Uwes Fatoni dan Eka Octalia Indah Librianti 1 - 26 Pertobatan Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) Di Majelis Asy-Syifa: Studi Deskriptif Bimbingan Sosio-Spiritual Titik Rahayu 27 - 44 Analisis Wacana Kritis Berita “Kematian Terduga Teroris Siyono” Di Harian Solopos Fathan 45 - 72 Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial pada Buku Ungkapan Hikmah Karya Komaruddin Hidayat Muhammad Reza Fansuri dan Fatmawati 73 - 102 Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional Sebagai Media Dakwah Di Era Budaya Populer Nor Kholis 103 - 125 Peran Masjid dalam Mempersatukan Umat Islam: Studi Kasus Masjid Al-Fatah, Pucangan, Kartasura Syakirin 127 - 148 ANALISIS FRAMING PESAN KESALEHAN SOSIAL PADA BUKU UNGKAPAN HIKMAH KARYA KOMARUDDIN HIDAYAT DOI : http://dx.doi.org/10.22515/balagh.v3i1.1150 Muhammad Reza Fansuri Fatmawati Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta Keywords: Social piety, faith, rahamatan lil a lamin, Islam http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh © 2018 IAIN Surakarta ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Alamat korespondensi: e-mail: rezaafansuri@gmail.com, fatmawati@uinjkt.ac.id Abstract From this book of Ungkapan Hikmah, the writer want to know how the message of social piety was framed and constructed by Komaruddin Hidayat. This research uses constructionist paradigm, with qualitative descriptive approach and framing analysis model of Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki. Based on the analysis, the conclusion of this research explains that the book of Ungkapan Hikmah with four titles related to the message of social piety that emphasize the attitude of tolerance and peace. It’s evidenced by Komaruddin Hidayat’s ideas that often emphasize the importance of mutual respect in the midst of differences, for creating the peaceful conditions as an implication of one’s faith in Allah SWT. Abstrak Dari buku Ungkapan Hikmah ini, penulis ingin mengetahui bagaimana pesan kesalehan sosial dibingkai dan dikonstruksi oleh Komaruddin Hidayat. Penelitian ini menggunakan paradigm konstruksionis, dengan pendekatan kualitatif deskriptif serta analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Berdasarkan analisis yang dilakukan, kesimpulan dari penelitian ini menjelaskan bahwa buku Ungkapan Hikmah dengan empat judulnya terkait pesan kesalehan sosial menonjolkan sikap toleransi dan perdamaian. Hal ini dibuktikan dengan gagasan-gagasan Komaruddin Hidayat yang sering menekankan pentingnya berlaku saling menghargai di tengah perbedaan, guna menciptakan kondisi damai sebagai implikasi dari keberimanan seseorang kepada Allah SWT. Kata kunci: Kesalehan sosial, iman, rahamatan lil a lamin, Islam Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 74 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial I. PENDAHULUAN Agama dianggap sebagai sistem kepercayaan dan sarana menuju kebahagiaan (Zainudin, 2007). Kebahagiaan yang didapat dari agama berkaitan dengan bagaimana cara hidup manusia kepada Tuhan ataupun kepada sesama manusia, hal ini terlihat dari adanya hubungan lain selain hubungan antara manusia dengan Tuhan, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia sebagai gambaran bahwa agama tidak melulu berbicara masalah Hablu Minnallâh, yang dalam hal ini sebagian umat mengamalkan agama hanya sebatas hubungan antara dia dengan Allah saja (kesalehan individual) dan kurang mementingan hubungan antara diri dia dengan sesama muslim atau orang lain (kesalehan sosial). Islam memberikan tuntunan hidup manusia dari persoalan yang paling kecil hingga kepada urusan yang paling besar, mulai dari urusan rumah tangga, tidur, makan, minum sampai ajaran berbangsa dan bernegara (Zainuddin, 2007). Dimana semua itu termasuk mengajarkan bagaimana cara bersosial dan berhubungan antara sesama manusia. Kesalehan sosial merupakan implikasi dari ajaran yang menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘âlamin, dimana sikap dan perilaku seorang muslim terhadap sesama muslim atau kepada non muslim sesuai dengan apa yang Islam ajarkan, berbuat baik, saling mengasihi, hormat kepada orang tua dan sebagainya, semua itu sudah tertera di dalam Alquran dan As-Sunnah. Pesan-pesan kesalehan sosial sering disuarakan oleh cendekiawan muslim Indonesia, salah satunya Komaruddin Hidayat. Ia menuangkan konsep kesalehan sosial pada buku-bukunya, salah satunya pada buku yang berjudul Ungkapan Hikmah. Pada buku Ungkapan Hikmah karya Komaruddin Hidayat, terdapat pesan kesalehan sosial yang terkandung di dalamnya, terutama mengenai hikmah dan pelajaran akan sikap yang mencerminkan keislaman yang dipraktikan dalam kehidupan bersosial dengan sangat apik. Hal ini dapat dilihat melalui beberapa judul di dalam buku tersebut, sebut saja salah satunya pada judul Kalau Beriman Tidak Perlu Marah, dimana Komaruddin Hidayat menjelaskan dalam bukunya sebagai 75 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 berikut: “Dengan beragama, seseorang seharusnya menjadi pribadi yang mendatangkan rasa nyaman dan aman bagi semua sehingga ia akan malu untuk mudah marah, apalagi marah dengan dan atas nama Tuhan. Padahal, sesungguhnya akar soalnya pada diri sendiri” (Komaruddin, 2013). Bagi Komaruddin Hidayat agama Islam adalah agama yang diciptakan dengan cinta sehingga sepatutnya manusia dan agama justru menjadi agen penebar cinta dan kasih sayang kepada sesama. Ungkapan ini dijelaskan oleh Komaruddin Hidayat dalam petikan wawancara sebagai berikut: “Kalau berangkat dari pemikiran tasawauf falsafah Ibn Arraby itu kan Tuhan itu menciptakan agama itu kan manefestasi cinta dari Allah buat manusia, Tuhan menciptakan agama, aku cinta kepada manusia, mengapa menciptakan semesta? Aku cinta kepada manusia. Jadi, semua ciptaan ini berangkat dari cinta, makanya semua tindakan dimulai bismillahirrahmanirrahim, artinya semua yang aku lakukan diberikan, aku menjadi agen penebar cinta Allah Rahman Raahhim”. Buku Ungkapan Hikmah diterbitkan pada tahun 2013 dan sudah dua kali cetak pada bulan Maret dan Mei 2013 oleh Noura Books (PT. Mizan Publika), berisi 360 halaman dengan 12 bagian di dalamnya. Melalui buku Ungkapan Hikmah ini, penulis ingin mengetahui bagaimana pesan kesalehan sosial dikonstruksi oleh Komaruddin Hidayat sehingga dapat diidentifikasikan framing yang disusun oleh Komaruddin Hidayat dalam menyuguhkan pesan kesalehan sosial kepada para pembacanya. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Herman dan Nurdiansa (2010) mengenai “Analisis Framing Pemberitaan Konflik Israel-Palestina Dalam Harian Kompas dan Radar Sulteng”, Leonarda Johanes (2013) mengenai “Analisis Framing Pemberitaan Konflik Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di Harian Media Indonesia dan Koran Sindo”; penelitian yang dilakukan oleh Gaio, Mondry, & Diahloka (2015) mengenai “Analisis Framing Robert Entman Pada Pemberitaan Konflik KPK vs Polri di Vivanews.co.id dan Detiknews. 76 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial com”; penelitian Mustika (2017) mengenai “Analisis Framing Pemberitaan Media Online Mengenai Kasus Pedofilia Di Akun Facebook”; penelitian Fadiyah (2014) mengenai “Analisis Framing Pemberitaan Ahok vs Lulung Dalam Konflik Penertiban PKL Di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat Dalam Media Online Detik.com”; penelitian Desiana (2016) mengenai “Analisis Framing Berita Serangan ISIS Di Paris Pada Surat Kabar Harian Waspada, SIB, Dan Analisa”; penelitian Putri (2012) tentang “Analisis Framing Berita Demonstrasi Mahasiswa Semarang Terkait Kenaikan Harga BBM Pada TV Borobudur”; penelitian Anggoro (2014) mengenai “Media, Politik, dan Kekuasaan (Analisis Framing Model Robert N. Entman Tentang Pemberitaan Hasil Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 Di TV One dan Metro TV)”; penelitian Damayanti, Mayangsari, & Syah Putra (2016) mengenai “Analisis Framing Robert N. Entman Atas Pemberitaan Reklamasi Teluk Jakarta Di Majalah Tempo”; penelitian Arniah, Rijal, & Falikhah (2012) mengenai “Analisis Framing Pada Pemberitaan Tewasnya Osama bin Laden Di Harian Republika-Kompas”; penelitian Sinaga (2016) mengenai “Analisis Framing Pemberitaan Bom Sarinah Di Kompas. com Dan Merdeka.com”; penelitian Gaio, Mondry, & Diahloka (2015) mengenai “Analisis Framing Robert Entman Pada Pemberitaan Konflik KPK vs POLRI Di Vivanews”; penelitian Jemat (2014) mengenai “Framing Media Online Terhadap Pemberitaan Mengenai Susilo Bambang Yudhoyono Menjelang Pemilu Legislatif 2014”; penelitian Mubarok & Andjani (2012) mengenai “Konstruksi Pemberitaa Media Tentang Negara Islam Indonesia (Analisis Framing Republika Dan Kompas)”; dan penelitian Apsari (2018) tentang “Bingkai Berita Bencana Lumpur Lapindo Di Media Online”. Sejumlah penelitian terdahulu tersebut lebih berkaitan dengan framing yang dilakukan oleh media massa, baik yang berbentuk cetak, maupun digital (online), bukan framing dari buku. Begitu pula dengan teknik framing yang digunakan adalah model framing Robert Entman. Sedangkan dalam penelitian ini, lebih difokuskan pada adanya pembingkaian (framing) buku karya Komarudin Hidayat dengan menggunakan framing model Pan 77 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 dan Kosicki. Di sisi lain, penelitian ini akan membahas mengenai pesan kesalehan sosial yang belum diteliti oleh peneliti terdahulu. Ketika manusia menyatakan diri sebagai makhluk yang beriman, maka manusia harus memiliki hubungan yang baik kepada-Nya. Karena tanpa memiliki hubungan yang baik kepada-Nya, manusia tidak akan bisa berhubungan baik dengan semua mahluk-mahluk-Nya. Hubungan yang baik kepada Allah SWT merupakan hablu min allah (hubungan baik kepada Allah), sedangkan hablu min an-nnas (hubungan baik dengan manusia) merupakan bukti kuat implikasinya (Rachman, 2012). Kesalehan sosial adalah sikap dan sifat orang-orang yang sesuai dengan ajaran Islam pada konteks bersosial yaitu bagaimana nilai-nilai Islam dijadikan landasan dan acuan dalam berinteraksi satu sama lain. Islam tidak sekedar menjalankan tentang kewajiban-kewajiban individual akan tetapi Islam juga mengajarkan kepada kita untuk menjalankan kewajiban- kewajiban sosial baik terhadap sesama manusia maupun mahluk hidup yang lain (Haidar, 2003). Ali Anwar Yusuf (2007) memaknai kesalehan sosial secara normatif, dimana kesalehan sosial merupakan deviasi (turunan) dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah, khususnya dari sisi hablu min an- nnas. Terdapat beberapa konteks konteks kesalehan sosial. Pertama, tolong menolong dalam kebaikan. Sebagai umat Islam tentunya kita semua bersaudara, satu kesatuan bagi terciptanya Ukhuwah Islamiyah. Seorang muslim dengan muslim lain kiranya mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dan juga umat lain yang tidak memeluk agama Islam. Kedua, berlaku baik dan adil kepada non-muslim yang tidak memerangi. Agama Islam mengajarkan pengikutnya untuk senantiasa berlaku adil, kepada sesama muslim ataupun kepada non-muslim sebagai bukti bahwa agama Islam menghargai perbedaan dan memancarkan nilai- nilai rahmatan lil’a’lamiin. Ketiga, hubungan kepada orang tua. Dalam Islam, setelah umat manusia mengemban beberapa tugas terhadap Allah SWT, tugas terbesar dan terpenting selanjutnya adalah berbakti kepada orang 78 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial tua. Keempat, saling memaafkan. Sebagai manusia tentunya kita tidak luput dari perasaan marah atas kesalah orang lain terhadap diri kita sendiri, balas lah dengan balasan yang setimpal yaitu tidak kurang dan tidak melebihi dari kesalahan yang dia lakukan terhadap diri kita, akan tetapi apa bila kita dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus membalasnya sesungguhnya itu lebih mulia. II. METODE PENELITIAN Analisis framing merupakan salah satu pisau bedah dalam melakukan penelitian terhadap media seperti halnya analisis isi dan semiotika. Secara sedehana, framing adalah cara membingkai dan membatasi pesan yang ingin disampaikan di media. Sobur, dikutip dalam Kriyanto (2006), mengatakan bahwa analisis framing digunakan untuk mengetahui prespektif atau cara pandang yang digunakan penulis dalam menonjolkan serta mengaburkan pesan yang disampaikan pada tulisan. Analisis framing adalah metode untuk melihat cara bercerita (story telling) media atas peristiwa. Cara bercerita ini tergambar pada “cara melihat” terhadap realitas yang dijadikan berita (Eriyanto, 2007). Paradigma penelitian yang digunakan adalah paradigma konstruktivis. Menurut Eriyanto (2007), paradigma konstruktivis mempunyai posisi dan pandangan sendiri terhadap media dan teks yang dihasilkan. Konstruksionis memandang bahwa realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, melainkan hasil dari konstruksi. Karenanya, konsentrasi analisis dari paradigma konstruktivis ini adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas m dikonstruksi dan dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sebagai teknik yang objektif dan sistematik, menggunakan metode observasi serta menggambarkan secara kualitatif pernyataan komunikasi yang diungkapkan (Ruslan, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrument kunci (Sugiarto, 79 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 2015). Sedangkan analisis yang digunakan adalah konsep framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Model Zhongdang pan dan Gerald M. Kosicki merupakan salah satu model yang paling popular dan paling banyak dipakai (Eriyanto, 2003). Subjek Penelitian ini adalah penulis buku Ungkapan Hikmah. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah pesan kesalehan sosial pada buku Ungkapan Hikmah karya Komaruddin Hidayat. Analisis model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki membagi empat unsur besar dalam menganalisis data. Keempat unsur tersebut dibagi kedalam perangkat framing sebagai berikut: a. Struktur sintaksis, struktur ini mengacu pada pola penyusunan kata atau frase menjadi kalimat, ini ditandai dengan struktur piramida terbalik dan pemilihan narasumber. Sintaksis mempunyai fungsi untuk mengantarkan pembaca kepada ide yang ingin dikemukakan oleh wartawan dan dapat memunculkan asumsi sementara dari pembaca (Ananda, 2017). Unsur yang diamati dalamnya adalah Headline, Lead, Latar Informasi, sumber, pernyataan, dan penutup. b. Struktur skrip, yakni mengacu pada tahapan-tahapan kegiatan dan komponen dari sebuah perstiwa. Secara umum, teks berita terdiri dari 5W dan 1H (What Who Where When dan How) (Ananda, 2017). Aspek ini berkaitan dengan bagaimana jurnalis menceritakan periwtiwa dalam bentuk berita (Nasution & Miswari, 2017). c. Struktur tematik adalah susunan herarki dengan sebuah tema sebagai inti yang menghubungkan subtema, yang pada gilirannya dihubungkan pada elemen-elemen pendukung. Struktur tematik ini terdiri dari ringkasan dan bagian utama. Ringkasan biasanya di presentasikan sebagai headline, lead atau kesimpulan. Sedangkan bagian utama merupakan tempat di mana bukti-bukti pendukung disajikan, baik berupa peristiwa itu sendiri latar belakang informasi atau kutipan-kutipan. d. Struktur retoris, yaitu menggambarkan pilihan gaya yang dibuat oleh jurnalis sehubungan dengan efek yang mereka harapkan dari sebuah perestiwa terhadap khalayak. Mereka menggunakan perangkat framing 80 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial untuk menggambarkan observasi dan interpretasi mereka sebagai sebuah fakta atau untuk meningkatkan efektifitas sebuah berita (Eriyanto, 2002). III. HASIL PENELITIAN Buku Ungkapan Hikmah adalah buku ke-8 yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat. Buku ini terbit pertama kali pada Maret 2013 melalui Penerbit Noura Books (PT. Mizan Publica) dan disunting oleh Abdullah Wong, yang selanjutnya didistribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU). Karena banyaknya peminat yang membeli, dua bulan selanjutnya, pada Mei 2013, Noura Book menerbitkan buku ini sebagai cetakan kedua. Buku Ungkapan Hikmah terdiri dari 360 halaman dan terbagi ke dalam 12 bagian. Buku ini merupakan kumpulan catatan berserakan yang lahir dari dialog singkat juga melalui pesan singkat untuk teman dan kolega. Buku Ungkapan Hikmah yang lahir atas kesan, suasana hati, emosi, dan pikiran Komaruddin ketika melihat dunia sekeliling, baik situasi sosial, lingkungan alam, persahabatan, maupun kehidupan keluarga, mengingat hidup itu sendiri merupakan jaringan yang kompleks dari sekian ragam variabel yang saling berkaitan. Salah satu tujuan penulisan buku Ungkapan Hikmah adalah sebagai sarana berdialog dengan alam juga teman-teman untuk merayakan kehidupan menemukan makna, menyibak fenomena untuk menangkap noumena, masuk pada substansi dan nilai, lalu jangan berhenti pada kemasan dan aksesoris (Komaruddin, 2013). Ide-ide kesalehan sosial banyak diuraikan pada beberapa judul dalam buku Ungkapan Hikmah. Kita dapat melihat pada bagian pertama yang berjudul Menyapa Semesta Dengan Cinta, Komaruddin mengajak kita untuk mencintai alam. Juga pada bagian ketiga dengan judul Melukis Surga Dalam Keluarga, pada bagian ini, kita diajak untuk mencintai keluarga karena merupakan perwujudan ibadah dalam agama Islam. Yang paling menonjol dalam bagian ini adalah uraian pada bagian keenam dengan 81 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 judul Cinta Tuhan Menebar pada Keragaman, dimana poin ini menjelaskan bahwa keragaman yang dimaksud tidak hanya terletak pada keragaman dalam beragama, melainkan lebih dari itu semua. Menyapa Semesta Dengan Cinta adalah judul bagian pertama pada buku Ungkapan Hikmah. Pada judul ini, Komaruddin menjelaskan pentingnya makna keislaman, yang kenyataanya banyak di antara kita yang memahami Islam hanya pada hubungan antara individu dengan Tuhan saja, dan melupakan esensi ajaran Islam itu sendiri untuk saling berbuat baik antara sesama manusia dan senantiasa menjaga alam semesta. Tentu ini bertolak belakang dengan sikap manusia yang cenderung kerap mengeksploitasi alam dan lingkungan. Karena pada hakikatnya, Nabi Muhammad diutus ke dunia untuk membenarkan akhlak manusia agar bisa menjaga alam semeta dan menghargai antara sesama manusia. Peneliti melakukan pengamatan dan analisis pada buku Ungkapan Hikmah. Judul yang penulis pilih untuk diteliti merupakan tulisan yang mengandung pesan kesalehan sosial. Penelitian ini melihat pembingkaian pesan dari media buku Ungkapan Hikmah dari sisi sintaksis, skrip, tematik dan retoris, sesuai dengan konsep analisis framing model Zongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Model framing ini termasuk dalam alternatif model framing yang populer dan banyak digunakan oleh para peneliti. Lebih lanjut, berikut adalah beberapa judul yang diambil dalam penelitian ini: Tabel 1 Rangkaian Judul Pesan Kesalehan Sosial Pada Buku Ungkapan Hikmah No Judul Buku 1. Dari Iman Lahirlah Aman Ungkapan Hikmah 2. Indahnya Perbedaan Ungkapan Hikmah 3. Agama Bukan Menebar Benci, Tapi Cinta Ungkapan Hikmah 4. Membuka Kunci Persahabatan Ungkapan Hikmah 82 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial IV. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti membahasnya menjadi beberapa bagian terkait kesalehan sosial. A. Dari Iman Lahirlah Aman Tabel 2 Dari Iman Lahirlah Aman Frame 1: Dari Iman Lahirlah Aman Struktur Variabel Sintaksis Headline: Dari Iman Lahirlah Aman Judul ini semakin ditekankan oleh Komaruddin Hidayat pada awal teks. Lead: Dalam bahasa Arab, kata “iman” seakar dengan kata “aman”. Oleh karena itu, sudah sepantasnya orang yang beriman mendatangkan rasa aman bagi diri, lingkungan, dan semesta Latar Informasi: Beriman artinya memproklamasikan dua hal, yaitu menyatakan percaya kepada Tuhan dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh sesama. Percaya kepada Tuhan artinya menjalakan ibadah serta penghambaan yang total sedangkan menjadi pribadi yang dapat dipercaya artinya menjadi sosok yang dapat melahirkan rasa aman dan kenyamanan kepada sesama. Kutipan: “Lebih jauh lagi, kaum beriman akan melindungi pihak manapun yang tertindas mengalami peminggiran dari pihak mana pun.” Sumber: Komaruddin Hidayat Pernyataan: “Betapa indah dan damai rasanya bila insan beriman dan menjadikan keberimanannya menebarkan keamanan dan kenyamanan kepada sesama”. 83 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 Frame 1: Dari Iman Lahirlah Aman Struktur Variabel Penutup: Betapa indah dan damai rasanya bila insan beriman dan menjadikan keberimanannya menebarkan keamanan dan kenyamanan kepada sesama. Lead pada teks ini sudah mewakili pesan yang ingin disampaikan oleh penulis, Lead ini juga sesuai dengan judul sehingga saling memberi penekanan pada pesan yang disampaikan kepada pembaca. Skrip Who: Orang beriman What: Pesan bahwa orang yang beriman memberikan rasa aman When: - Where: - Why: Implikasi dari beriman kepada Allah terlihat dalam sikapnya yang membawa kenyamanan dan keamanan How: Orang beriman memploklamirkan dirinya untuk taqwa kepada Allah, sehingga ketaqwaannya itu menjadi landasan dalam bersikap dan bertingkah laku. Orang yang beriman akan menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup, sementara Alquran mengajarkan kita untuk menebarkan kasih sayang dan rasa aman kepada semesta. Teks ini memang tidak memiliki kesempurnaan unsur 5W+1H walau demikian pesan yang disampaikan oleh penulis dapat dipahami dengan jelas dan lengkap. Tematik Detail: Komaruddin hidayat menuliskan bahwa beriman artinya memproklamasikan dua hal, yaitu bertaqwa kepada Allah. Kedua, implikasi dari ketaqwaan kepada Allah adalah berbuat baik kepada sesama sehingga melahirkan rasa aman dan nyaman. 84 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial Frame 1: Dari Iman Lahirlah Aman Struktur Variabel Kohorensi: Kata “iman” seakar dengan kata “aman”. Karena itu, sudah sepantasnya orang yang beriman mendatangkan rasa aman dan nyaman. a. Komaruddin hidayat menuliskan bahwa beriman artinya memproklamasikan dua hal, yaitu bertaqwa kepada Allah. b. Implikasi dari ketaqwaan kepada Allah adalah berbuat baik kepada sesama sehingga melahirkan rasa aman dan nyaman. Retoris Bentuk kalimat: Komaruddin Hidayat menggunakan bentuk kalimat deduktif yaitu menguraikan inti di awal teks kemudian disusul dengan keterangan yang mendetail. Inti teks yang diuraikan di awal adalah makna iman secara etimologis yang melahirkan satu kesimpulan yaitu keberimanan membawa rasa aman dan nyaman bagi lingkungan atau pun semesta. Kata: Komaruddin Hidayat menggunakan beberapa kata sebagai penguat ide-idenya di dalam teks ini, seperti: lahirlah, keamanan, proklamasikan, kejam dan menghancurkan. Idiom: - Kata “lahirlah” memiliki arti timbul atau hadir. Bila dikaitkan dengan teks yang diteliti maka yang dimaksud dengan kata “lahirlah” adalah sebagai penekanan bahwa aman itu berhubungan dengan keimanan, ialah keimanan yang memunculkan dan menghadirkan keadaan aman. Kata keamanan berarti memberikan rasa nyaman dan jauh dari keadaan yang mengancam. Kata proklamasi berati mendeklarasikan atau mengumumkan. Sedangkan kejam dan menghancurkan berarti dzalim dan merusak keduanya merupakan kata yang bersifat negatif. Berdasarkan tabel 2 tersebut, secara sintaksis, headline dari tulisan ini cukup mewakili pesan yang terkandung di dalamnya, pesan yang dibingkai Komaruddin Hidayat atas pesan kesalehan sosial, melaui headline ini dia membingkai bahwa keimanan seutuhnya ditunjukan dari sikap yang memberi kebaikan dan keamanan kepada sesama manusia. Melalui lead tersebut Komaruddin Hidayat ingin menyampaikan dan menekankan 85 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 kepada khalayak atas frame-nya di awal tulisan. Bahwa implikasi dari iman kepada Allah adalah memberikan rasa aman kepada lingkungan dan semesta. Latar informasi yang disampaikan oleh Penulis buku Ungkapan Hikmah adalah manifestasi keimanan kepada Tuhan. Pada kutipan di atas sangat jelas Komaruddin menekankan atas frame-nya bahwa pada keimanan seseorang akan melahirkan sikap baik kepada sesama sehingga bisa diartikan bahwa kesalehan sosial adalah buah dari imannya seseorang. Dalam kutipan pernyataan dalam teks tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa Komaruddin membingkai kesalehan sosial sebagai keimanan yang senantiasa mencerminkan sikap baik penuh kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebatas hubungan baik kepada Allah saja, namun juga berlaku baik dan adil kepada sesama manusia bahkan semesta. Dari analisis Skrip atau analisis berdasarkan cara penulis buku Ungkapan Hikmah mengisahkan cerita atau fakta. Unsur yang diamati oleh peneliti adalah 5W+1H. Tulisan Dari Iman Lahirlah Aman tidak memiliki kelengkapan unsur 5W+1H, yang terdapat di dalamnya hanya unsur What, Why, Who. Salah satu penyebabnya memang dikarenakan tulisan ini bukanlah sebuah berita sehingga tidak diharuskan kelengkapan unsur 5W+1H. Secara tematik, detail di atas terlihat relevansi antara judul dengan isi teks yang saling mendukung satu sama lain, yaitu pembingkaian bahwa kesalehan sosial adalah keberimanan yang memberikan rasa aman dan nyaman sebagai implikasi keimanannya kepada Allah SWT. Seperti yang terdapat pada lead teks ini, bila dianalisis maka ditemukan proposisi sebab akibat yang ditandai dengan pemakaian kata hubung “karena”. Di sana Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa kata “iman” seakar dengan kata “aman”. Bentuk kalimat berhubungan dengan dengan cara berpikir logis, di mana dalam penelitian ini penulis melihat bahwa Komaruddin Hidayat menggunakan bentuk kalimat deduktif yaitu menguraikan inti di awal teks kemudian disusul dengan keterangan yang mendetail. Dari 86 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial aspek retorisnya teks yang disampaikan mengandung retorika, dimana Komaruddin Hidayat membuat sebuah konsep tentang keimanan. Dengan memberikan konsep beriman seperti itu maka Komaruddin Hidayat menekankan kepada pembaca bahwa orang yang beriman akan senantiasa memberikan rasa aman dan nyaman kepada lingkungan sebagai implikasi dari penghambaannya kepada Tuhan, sehingga bila ada orang yang mengaku beriman akan tetapi dalam bersosial tidak melahirkan rasa aman dan nyaman perlu dipertanyakan keimanannya. B. Indahnya Perbedaan Tabel 3 Indahnya Perbedaan Frame 2: Indahnya Perbedaan Struktur Variabel Sintaksis Headline: Indahnya Perbedaan Judul ini semakin ditekankan oleh Komaruddin Hidayat pada awal teks. Lead: Keragaman agama, ideologi, dan etnis menjadi kekayaan budaya manusia maka bersikaplah lapang dan arif agar ketiganya bersinergi menjadi mozaik indah. Latar Informasi: manusia sering egois dalam menyikapi perbedaan, sehingga hati kita menjadi sempit dalam menerima kebenaran dari orang lain, oleh karena itu yang sering muncul adalah perdebatan karena sudah tidak ada lagi ruang untuk berdialog, jangankan untuk berdialog, untuk mendengar usulan orang lain rasanya manusia sering enggan. Kutipan: Satu hal yang bijak kiranya jika kita lebih mau mendengar dari pada memaksa orang lain untuk “harus” mendengarkan. Sumber: Komaruddin Hidayat 87 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 Frame 2: Indahnya Perbedaan Struktur Variabel Pernyataan: Tidak kah kita menutup mata akan kenyataan keragaman natural dari Tuhan? Apakah kita tidak mencoba memahami dengan jujur bahwa ada sesuatu yang bisa kita dapatkan dari pemahaman atau ideologi pihak lain? Penutup: Di sinilah kemudian dibutuhkan sikap lapang dada. Dibarengi pula dengan kesadaran dan kejujuran untuk mau saling berbagi kebenaran. Satu hal yang bijak kiranya jika kita lebih mau mendengar daripada memaksa orang lain untuk “harus” mendengarkan. Pada teks ini Komaruddin Hidayat menyusun cerita tentang indahnya sebuah perbedaan (agama, ideologi, etnis) sebagai kekayan budaya manusia dan karunia Tuhan. Skrip Who: - What: indahnya sebuah perbedaan sebagai karunia Tuhan dan kekayaan budaya manusia. When: - Where: - Why: Ada sesuatu yang bisa kita dapatkan dari pemahaman atau ideology pihak lain, Toh, semua berakar dan bersumber dari yang Satu. Kalaupun terjadi ragam perbedaan, hal itu dikarenakan soal presepsi dan ekspresi. How: Sikap lapang dada, dibarengi dengan kesadaran dan kejujuran untuk mau saling berbagi kebenaran. Walaupun Komaruddin Hidayat tidak menggunakan seluruh unsur 5W+1H namun esensi gagasan yang sampaikan sangat jelas dan mudah untuk dipahami. Tematik Detail: Detail pada teks ini adalah bahwa keegoisan melahirkan hati yang sempit sehingga menutup kebenaran dari orang lain. 88 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial Frame 2: Indahnya Perbedaan Struktur Variabel Koherensi: Kalau pun terjadi ragam perbedaan, hal itu dikarenakan soal presepsi dan ekspresi. Bentuk kalimat: Bentuk kalimat yang terdapat pada teks ini adalah kalimat deduktif, di mana inti pesan pada teks sudah disampaikan pada awal kalimat, konsep ini juga biasa disebut dengan piramida terbalik, dimana inti pesan ada di awal paragraf selanjutnya adalah penjelasan pada kalimat dan paragraf di bawahnya. a. Manusia sering egois dan merasa benar sendiri, sehingga membuat hati menjadi sempit. b. Bahwa ada sesuatu yang bisa kita dapatkan dari pemahaman dan ideologi pihak lain, karena perbadaan adalah tentang ekspresi dan presepsi. Retoris Kata: Komaruddin Hidayat dalam melakukan penekanan dan penonjolan makna. Salah satu kata yang menonjol adalah “Keragaman” yang menggantikan kata perbedaan, kata “Keragaman” mengindikasikan adanya variasi dan pilihan. Sedangkan kata lainnya adalah “Perbedaan” dan “Berbagi” Idiom: Dalam teks ini idiom yang digunakan adalah kata lapang dada Penggunaan kata “Keragaman” mengindikasikan adanya variasi dan pilihan. Sedangkan kata lainnya adalah “Perbedaan” dan “Berbagi” kesemuanya merupakan cara penulis melakukan penekanan makna untuk mendukung gagasan yang disampaikan. Berdasarkan tabel 3 tersebut, secara sintaksis judul teks ini sangat jelas menunjukan pandangan Komaruddin Hidayat atas sebuah kesalehan sosial, yaitu perbedaan sebagai keindahan, baik itu perbedaan agama, suku, atau pun perbedaan ideologi. Lead yang dipakai pada teks ini merupakan jenis statement lead yaitu pernyataan tentang pesan yang disampaikan, yaitu indahnya sebuah perbedaan. Penekanan yang dijadikan latar informasi oleh Komaruddin Hidayat adalah akibat dari sikap egois dan keangkuhan yang saling menjatuhkan sehingga menyebabkan perpecahan di tengah 89 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 masyarakat. Tidak mau membuka hati dan membuka diri guna menjunjung tinggi perbedaan yang sudah ada, bahkan menurut Komaruddin Hidayat perbedaan yang ada adalah kekayaan budaya manusia. Dari kutipan ini Komaruddin Hidayat menekankan bahwa sikap terbuka dan mau untuk mendengarkan pendapat dan argumentasi orang lain adalah salah satu jalan keluar guna memecah perbedaan yang ada sehingga bisa saling memahami dan menerima satu sama lain. Kutipan pernyataan tersebut peneliti mengambil sebuah kesimpulan bahwa Komaruddin Hidayat menekankan bahwa sesungguhnya perbedaan merupakan karunia Tuhan yang di dalamnya juga terdapat hikmah baik itu ilmu atau ideologi yang bisa kita pelajari sebagai sebuah pembelajaran bersama atas keragaman natural dari Tuhan. Ada pun pada unsur skrip pada teks ini anatara lain adalah What yang menjelaskan pesan apa yang disampaikan pada teks ini, yaitu tentang indahnya sebuah perbedaan sebagai karunia Tuhan dan kekayaan budaya manusia.Juga terdapat unsur Why, yang menjelaskan kenapa sebuah perbedaan itu menjadi indah, dan Who, yaitu manusia itu sendiri sebagai entitas di dalam kehidpan, ada juga unsur How, yaitu bagaimana indahnya perbedaan itu terjadi di dalam kehidupan kita. Pada wacana tematik ini, detail yang pertama, manusia sering egois dan merasa benar sendiri, sehingga membuat hati menjadi sempit oleh karena itu tidak aka nada ruang dialog sehingga yang akan muncul adalah perdebatan untuk saling menjatuhkan. Kedua, bahwa ada sesuatu yang bisa kita dapatkan dari pemahaman dan ideologi pihak lain, karena perbadaan adalah tentang ekspresi dan presepsi. Komaruddin Hidayat berusaha menekankan bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang abadi, karena perbedaan hanyalah tentang bagaimana manusia memaknai dan mengekspresikan sesuatu. Bentuk kalimat yang terdapat pada teks ini adalah kalimat deduktif, di mana inti pesan pada teks sudah disampaikan pada awal kalimat, konsep ini juga biasa disebut dengan piramida terbalik, dimana inti pesan ada di 90 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial awal paragraf selanjutnya adalah penjelasan pada kalimat dan paraghraf di bawahnya. Adapun unsur idiom yang terdapat pada teks ini adalah “lapang dada” yang berarti berjiwa besar atau penyabar. C. Agama Bukan Menebar Benci, Tapi Cinta Tabel 4 Agama Bukan Menebar Benci, Tapi Cinta Frame 3: Agama Bukan Menebar Benci, tetapi Cinta Struktur Variabel Sintaksis Headline: Agama Bukan Menebar Benci, tetapi Cinta Judul ini semakin ditekankan oleh Komaruddin Hidayat pada awal teks. Lead: Ingatlah, misi utama agama adalah menebarkan rahmat. Bukan berlomba memperbanyak umat, bahkan saling bertengkar dan menebar kebencian. Latar Informasi: yang menjadi latar dalam teks ini adalah dalil Alquran yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW. memang diutus oleh Allah kebumi untuk menebarkan rahmat kepada seluruh alam, artinya Nabi Muhammad di utus untuk apa saja yang ada di alam ini, termasuk manusia. Kutipan: “…dan tidaklah Kami utus engkau Muhammad, kecuali untuk menebar rahmat bagi semesta….” Sumber: Komaruddin Hidayat Pernyataan: Bila diri kita mengaku sebagai umat nabi Muhammad mengapa kita masih menebar benci dan angkara di bumi ini. Padahal, sang nabi yang kita cinta itu diperintahkan untuk menebar kasih. 91 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 Frame 3: Agama Bukan Menebar Benci, tetapi Cinta Struktur Variabel Penutup: Lalu, mana yang akan kita perjuangkan, kualitas umat atau kuantitas umat? Untuk apa kuantitas bila justru hanya banyak menjadikan banyak pertumpahan darah? Bila diri kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad mengapa kita masih menebarkan benci dan angkara di bumi ini. Padahal, sang nabi yang kita cintai itu diperintahkan untuk menebar kasih (rahmat). Pada teks ini Komaruddin Hidayat menyusun gagasan mengedepankan dalil dalam Alquran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad membawa Islam sebagai rahmat kepada seluruh alam (termasuk manusia). Skrip Who: Nabi Muhammad What: agama yang di bawa Nabi Muhammad itu menebar rahmat dan kasih sayang bukan kebencian When: - Where: - Why: Islam adalah agama rahmatan lil a lamin, agama yang didatangkan untuk seluruh umat manusia, sehingga kehadirannya merupakan kebaikan dan kasih sayang untuk umat manusia How: sebagai umat Islam kita harus mencerminkan nilai-nilai keisalaman sebagai wujud rahmatan lil alamin, bukan menebar kebencian seperti golongan Islam tertentu. Dalam mengisahkan gagasan Komaruddin Hidayat tidak menggunakan unsur 5W+1H dengan lengkap, namun gagasan yang dituliskan mudah dipahami dengan baik oleh pembaca. Tematik Detail: sesungguhnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. adalah ajaran yang menebarkan cinta juga kasih sayang kepada seluruh alam akan tetapi umat Islam sering mereduksi makna alam yang hanya dipahami sebagai bagian terpisah dari manusia, padahal makna alam itu adalah semua yang ada di dalam alam itu sendiri termasuk manusia. 92 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial Frame 3: Agama Bukan Menebar Benci, tetapi Cinta Struktur Variabel Kohorensi: Bila diri kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad mengapa kita masih menebarkan benci dan angkara di bumi ini. Padahal, sang Nabi yang kita cintai itu diperintahkan untuk menebar kasih (rahmat). Bentuk kalimat: dalam penulisan teks ini menggunakan jenis kalimat deduktif, dimana inti berita diletakan pada awal kalimat, kemudian disusul dengan kalimat penjelas pada kalimat dan paragraph di bawahnya. Teks ini juga di dominasi kalimat pasif seperti awalan “di” contohnya “diperintah” dan “diutus”. a. Sesungguhnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. adalah ajaran yang menebarkan cinta juga kasih sayang kepada seluruh alam. b. Islam sering mereduksi makna alam yang hanya dipahami sebagai bagian terpisah dari manusia. Retoris Kata: Kata yang ditonjolkan Komaruddin dalam teks ini di antarnya adalah kata “Menebar”, “ramat” dan “alam” sebagai penekanan bahwa ajaran agama Islam menebarkan rahmat atau kasih sayang kepada alam, alam yang dimaksud adalah alam beserta isinya termasuk manusia tanpa memandang warna kulit, budaya dan bangsa. Idiom: Idiom yang terdapat di dalam kalimat itu adalah kata “pertumpahan darah” yang bermakna pembunuhan atau peperangan. Kata “Menebar”, “ramat” dan “alam” sebagai penekanan bahwa ajaran agama Islam menebarkan rahmat atau kasih sayang kepada alam. Berdasarkan tabel 4 tersebut, teks ini membawa pesan kepada khalayak bahwa agama yang nabi Muhammad bawa bukan untuk kebencian, melainkan ditujukan untuk perdamaian yang penuh cinta dan kasih sayang. Lead yang digunakan adalah jenis Lead pernyataan, yang menyatakan bahwa misi agama diturunkan ke bumi adalah sebagai rahmat bagi alam dan semesta. Yang menjadi latar dalam teks ini adalah 93 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 dalil Alquran yang menerangkan bahwa nabi Muhammad SAW memang diutus oleh Allah kebumi untuk menebarkan rahmat kepada seluruh alam. Kutipan di atas sangat jelas mengatakan bahwa agama yang dibawa nabi Muhammad SAW. adalah rahmat untuk alam semesta beserta isinya, sehingga bisa disimpulkan penonjolan pesan kesalehan pada teks ini adalah bahwa Islam adalah agama yang diturunkan untuk alam, penuh cinta dan kasih sayang. Pernyataan Komaruddin Hidayat yang sangat mendukung dan menonjolkan atas pesan yang disampaikan pada teks ini yaitu bahwa agama adalah rahmat untuk semesta, bahkan nabi Muhammad diutus untuk menebar cinta dan kasih sayang kepada umat manusia. Dari skripnya teks ini memang tidak memiliki kesempurnaan pada sisi 5W+1H, hanya terdapat unsur What yang menunjukan gagasan apa yang hendak disampaikan kepada pembaca, juga unsur Why yang menjelaskan kenapa gagasan ini penting untuk diketahui, dan unsur Who yang menunjukan siapa yang ada di dalam gagasan itu dalam hal ini adalah Nabi Muhammad. Secara tematik, peneliti menemukan beberapa detail bahwa sesungguhnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah ajaran yang menebarkan cinta juga kasih sayang kepada seluruh alam. Berdasarkan koherensi di atas, jelas sekali ajakan untuk berintropeksi diri dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad yang senantiasa menebarkan kebaikan kepada semua orang. Bentuk kalimat yang digunakan oleh Komaruddin Hidayat dalam penulisan teks ini menggunakan jenis kalimat deduktif, dimana inti berita diletakan pada awal kalimat, kemudian disusul dengan kalimat penjelas pada kalimat dan paragraf di bawahnya. Dari analisis leksikonnya, Kata yang ditonjolkan Komaruddin dalam teks ini di antarnya adalah kata “menebar”, “ramat” dan “alam” sebagai penekanan bahwa ajaran agama Islam menebarkan rahmat atau kasih sayang kepada alam, alam yang dimaksud adalah alam beserta isinya termasuk manusia tanpa memandang warna kulit, budaya dan bangsa. Pada teks ini terdapat kalimat yang mengandung idiom yang digunakan 94 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial oleh Komaruddin Hidayat, idiom yang terdapat di dalam kalimat itu adalah kata “pertumpahan darah” yang bermakna pembunuhan atau peperangan. D. Membuka Kunci Persahabatan Tabel 5 Membuka Kunci Persahabatan Frame 4 : Membuka Kunci Persahabatan Struktur Variabel Sintaksis Headline: Membuka Kunci Persahabatan Judul ini semakin ditekankan oleh Komaruddin Hidayat pada awal teks. Lead: Jika pintu sahabat tertutup, bukalah dengan permohonan maaf dan ucapan terimakasih yang tulus agar pintu persahabatan kembali terbuka. Latar Informasi: pemahaman bahwa dalam bersahabat itu harus ada kesejajaran (egaliter) antara sesama. Karena sesungguhnya setiap orang itu sama di mata Tuhan, tidak ada lagi kasta yang berlaku seperti zaman Hindu. Kutipan: “ketika satu di antara sahabat merasa lebih tinggi dan merasa lebih hebat dan seterusnya, perselisihan akan segera menyeruak” Sumber: Komaruddin Hidayat Pernyataan: “Bukti nyata bahwa kita menyejajarkan sahabat kita adalah ketika kita melakukan kesalahan maka segeralah meminta maaf ” Penutup: Bukti nyata bahwa kita menyejajarkan sahabat kita adalah ketika kita melakukan kesalahan maka segeralah minta maaf, hal yang tidak kalah penting lagi adalah menyampaikan terimakasih jika kita mendapat sesuatu dari orang lain. 95 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 Frame 4 : Membuka Kunci Persahabatan Struktur Variabel Pada teks ini Komaruddin Hidayat menyusun teks didahului dengan gagasan Bahwa semua orang itu mempunyai kedudukan yang sejajar, sehingga yang salah meminta maaf dan yang diminta maaf memaafkan, itulah kunci persahabatan. Skrip Who: Sahabat What: Menyejajarkan sahabat merupakan kunci persahabatan When: - Where: - Why: Ketika kita menyejajarkan sahabat maka implikasinya adalah Saat kita berbuat salah maka kita mengucapkan maaf dan bila kita disakiti sahabat maka dengan berjiwa besar kita memafkannya. How: Persahabatan itu seperti gelombang radio, bila frekuensinya tidak nyambung maka tidak akan muncul suara yang jelas, maka dari itu sebagai individu harus berjiwa besar untuk saling memafkan sebagai kunci persahabatan. Pada teks ini unsur 5W+1H tidak lengkap, tetapi pesan yang disampaikan oleh penulis sangat jelas dan dapat dimengerti. Tematik Detail: persahabatan yang di dalamnya terdapat kesejajaran (egaliter) maka akan minim perpecahan. Dan detail lain yang menyatakan bahwa sifat egois dan merasa paling hebat dapat melahirkan perpecahan di dalam hubungan persahabatan itu sendiri. Kohorensi: Peneliti melihat terdapat penekanan dan koherensi penjelas yang menyatakan bahwa persahabatan itu harus egaliter kalau pun ada persahabatan yang tidak sehat namun tetap berhubungan itu karena salah satunya sering mengalah cenderung menjadi korban. 96 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial Frame 4 : Membuka Kunci Persahabatan Struktur Variabel Bentuk kalimat: Bentuk kalimat yang digunakan adalah kalimat deduktif, dimana kalimat deduktif adalah kalimat yang memiliki gagasan pokok di awal kalimat sehingga kalimat selanjutnya adalah kalimat penjelas dari gagasan pokok yang ada. Teks ini juga di dominasi oleh kalimat aktif berawalam me-, seperti kalimat “menyergap” “merasa” “menyergap”. a. Persahabatan yang di dalamnya terdapat kesejajaran (egaliter) maka akan minim perpecahan. b. Sifat egois dan merasa paling hebat dapat melahirkan perpecahan di dalam hubungan persahabatan itu sendiri. Retoris Kata: Pada analisis leksikon peneliti melihat terdapat beberapa kata yang digunakan guna memberikan tekanan dan dukungan atas gagasan yang ingin disampaikan, di antaranya adalah kata “egois”, “persahabatan”, “egaliter”. Idiom: - Penggunaan kata “egaliter” atau kesejajaran dan “egois” adalah cara Komaruddin Hidayat melakukan penekanan makna. Berdasarkan tabel 5, secara sintaksis, pesan yang disampaikan sangat sesuai dengan gagasan yang disampaikannya pada teks ini yaitu ajakan untuk senantiasa bersikap baik kepada orang lain, membuka persahabatan dan saling memaafkan karena amarah hanyalah keegoisan yang memutus tali persahabatan. Jenis lead di atas termasuk kedalam jenis Statement lead (lead pernyataan). Sedangkan dari sisi 5W+1H merupakan jenis what lead yaitu teras berita yang menceritakan pesan. Latar informasi yang digunakan pada teks ini adalah pemahaman bahwa dalam bersahabat itu harus ada kesejajaran (egaliter) antara sesama. Lebih jelas kutipan di atas sangat mendukung gagasan yang di sampaikannya Komaruddin Hidayat dalam teks ini, di mana menurutnya persahabatan adalah sesuatu yang mesti dijaga dan dipelihara sebagai makna dari kesalehan sosial. Kutipan di atas menekankan akan esensi 97 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 dari sebuah hubungan persahabatan, yaitu meminta maaf bila melakukan kesalahan, dan memaafkan jika sahabat meminta maaf. Dengan cemrat Komaruddin memberikan tekanan atas bingkainya melalui pernyataan tersebut, bahwa kesalehan sosial (pada teks ini) adalah mensjajarkan orang lain karena semua sama di mata Tuhan. Dari wacana analisis skripnya terlihat hanya terdapat beberapa unsur 5W+1H. Di antara unsur yang terdapat di dalamnya adalah unsur What, unsur Why, unsur How dan unsur Who. Hal ini terjadi karena teks ini memang bukan sebuah berita yang harus memiliki kelengkapan unsur 5W+1H. Secara tematik, peneliti menemukan detail, yaitu persahabatan yang di dalamnya terdapat kesejajaran (egaliter) maka akan minim perpecahan. Dan detail lain yang menyatakan bahwa sifat egois dan merasa paling hebat dapat melahirkan perpecahan di dalam hubungan persahabatan itu sendiri. Kohorensi di dalam teks tersebut maksudnya ketika persahabatan di dalamnya mengandung keegoisan satu sama lain, merasa lebih hebat dari sahabat maka perselisihan akan menyeruak, kalaupun masih bertahan itu karena salah satu dari sahabat ada yang mau berbesar hati untuk mengalah. Bentuk kalimat yang digunakan adalah kalimat deduktif, dimana kalimat deduktif adalah kalimat yang memiliki gagasan pokok di awal kalimat sehingga kalimat selanjutnya adalah kalimat penjelas dari gagasan pokok yang ada. Pada analisis retoris peneliti melihat bahwa teks ini terstruktur dengan apik, dengan kesadaran akan kegoisan setiap individu sehingga diperlukannya kebijakan dalam memandang arti sebuah persahabatan, yaitu egaliter, kesejajaran antara sahabat yang akan melahirkan hubungan baik, dengan saling memaafkan dan memahami, itu adalah kunci persahabatan. 98 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial E. Konstruksi Pesan Kesalehan Sosial Pada Buku Ungkapan Hikmah Komaruddin Hidayat mengkonstruksi pesan kesalehan sosial pada keempat judul itu, dimana ia melihat beberapa hal terkait bagaimana umat Islam memaknai konteks Islam yang dianut sebagai agama dan kepercayaan manusia. Merujuk pada kepayahan umat dalam menjalankan nilai dan ajaran agama Islam, pada akhirnya menjadikan masyarakat sering salah kaprah dalam memaknai Islam. Banyak yang mempelajari Islam hanya pada kulitnya saja dan tidak secara jauh merujuk pada esensi dan substansi dari Islam itu sendiri. Yang pertama, dari Iman Lahirlah Aman, pada judul ini Komaruddin berusaha menjelaskan bahwa orang yang beriman senantiasa memberikan rasa aman dan nyaman kepada khalayak sebagai implikasi dari keimanannya kepada Allah SWT. Bukan malah sebaliknya, seperti yang sering dilakukan sekelompok muslim yang berkedok Organisasi Masyarakat (ORMAS). Realitas memperlihatkan ORMAS yang menjadikan Islam sebagai tameng, nyatanya kerap bersikap di luar nilai-nilai keislaman. Kerap bersikap keras dan anarkis pada dasarnya bukanlah cara berdakwah. Nabi mengajarkan bahwa berdakwah harus menggunakan cara yang baik dan menjauhi segala macam cara kekerasan karena cara demikian itu akan lebih berkenan dalam hati seseorang. Yang Kedua, Indahnya Perbedaan, pada judul ini Komaruddin Hidayat menjelaskan bahwa perbedaan adalah rahmat dan kekayaan budaya yang harus dijaga oleh manusia. Karena menurut Komaruddin Hidayat, perbedaan dan keragaman merupakan pemberian Tuhan yang harus dijaga karena semua manusia memiliki posisi sama di mata Tuhan. Konstruksi yang dilakukan Komaruddin atas teks ini adalah upaya menyadarkan umat terhadap realitas perkembangan zaman yang majemuk dan tidak dapat dihindari sehingga perlu adanya sikap percaya diri, optimis, serta dinamis dalam mengikuti perkembangan atas segala sesuatu yang dipandang positif dan membawa pengaruh baik untuk kehidupan manusia. 99 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 Yang Ketiga, Agama Bukan Menebar benci, tetapi Cinta, pada judul ini, Komaruddin menjelaskan bahwa agama Islam sebagai ajaran dan konsep dalam berkehidupan merupakan sesuatu yang diturunkan kepada seluruh umat manusia sehingga selayaknya sebagai seorang muslim harus senantiasa mencerminkan ajaran islam itu sendiri. Yang Keempat, Kunci Persahabatan, pada judul ini Komaruddin Hidayat berusaha menjelasakan bahwa persahabatan adalah nilai yang agung, dan di antara dua sahabat terdapat kesejajaran. Maka bila di antara manusia ada kesalahan maka meminta maaf dan saling memaafkan adalah kunci dari persahabatan. Komaruddin membangun dan membentuk pesan kesalehan sosial ini dengan menekankan bahwa semua manusia di mata Allah adalah sama, sama-sama seorang hamba, yang mana apabila salah satu di antara keduanya berbuat salah, maka hendaknya meminta maaf, begitu pula sebaliknya. V. KESIMPULAN Berdasarkan analisis model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki yang dilakukan terhadap buku Ungkapan Hikmah karya Komaruddin Hidayat terkait pesan kesalehan sosial, diperoleh kesimpulan bahwa buku Ungkapan Hikmah dengan empat judulnya terkait pesan kesalehan sosial menonjolkan sikap toleransi dan perdamaian, ini terbukti dengan gagasan- gagasan Komaruddin Hidayat yang sering menekankan pentingnya berlaku saling menghargai ditengah perbedaan untuk menciptakan kondisi damai sebagai implikasi dari keberimanan seseorang kepada Allah SWT. Pada setiap penulisan buku Ungkapan Hikmah, Komaruddin Hidayat mengkonstruksi pesan kesalehan sosial dengan melakukan penekanan dan seleksi tertentu guna menguatkan pesan yang ingin disampaikan. Hal ini terlihat dari lead dan headline yang dituliskan. Tulisan berjudul “Dari Iman Lahirlah aman” merepresentasikan bahwa keimanan seseorang akan tercermin pada sikapnya yang membawa rasa aman dan nyaman. “Agama bukan menebar benci, tetapi Cinta” dikonstruksi dengan menekankan bahwa 100 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial agama adalah cinta dan manusia merupakan agen penebar cinta sehingga agama akan mampu menebarkan kasih saying, dan bukan kebencian. Bagian “Indahnya Perbedaan”, diwujudkan sebagai sebuah kekayaan budaya bangsa Indonesia sehingga adanya perbedaan pada dasarnya harus dijaga karena Allah sendiri mengatakan bahwa bisa saja Allah yang menciptakan orang beriman dan kafir. Selanjutnya, tulisan “Membuka Kunci Persahabatan” menjelaskan bahwa bagi Allah, semua manusia itu adalah sama sehingga dalam konteks persahabatan, kita harus memandang sahabat-sahabat kita sama rata tanpa memandang suku ataupun status pekerjaan. Mengingat yang membedakan manusia di mata Allah bukan terkait status dan posisi fisiknya, melainkan keimanan dan ketakwaaannya. Disadari bahwa setiap buku memiliki segmentasi pembaca yang berbeda. Namun faktanya, dewasa ini setiap orang dapat mengaksesnya dengan mudah sehingga perlu adanya penjelasan yang lebih netral dan objektif terhadap apa yang ditawarkan dalam konten sebuah buku. Dengan demikian, terkait sejumlah kekurangan dalam penelitian ini, tentu perlu kiranya untuk melakukan kajian pada beberapa buku lain yang sejenis, terutama sebagai referensi lanjut sekaligus pengembangan penelitian untuk ke depannya. Lebih jauh, adanya penelitian selanjutnya diharapkan mampu menjadi pertimbangan akademis yang lebih lengkap sekaligus menambah wawasan kebaruan terkait kajian sejenis yang diteliti. DAFTAR PUSTAKA Ananda, P. I. (2017). “World Muslimah Sebagai Budaya Populer dalam Bingkai Media Online Islam”. al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 2 No. 2 Tahun 2017. 165 – 190. DOI : 10.22515/balagh.v2i2.983. Anggoro, A. D. (2014). Media, Politik, dan Kekuasaan (Analisis Framing Model Robert N. Entman Tentang Pemberitaan Hasil Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 Di TV One dan Metro TV). Jurnal Aristo Vol. 2 No. 2 Juli 2014, 25-54. Apsari, T.A. (2018). Bingkai Berita Bencana Lumpur Lapindo Di Media 101 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 73 - 102 Online. Jurnal Komunikasi Dan Kajian Media, Vol. 2, Nomor 1, April 2018. 1-17 Arniah, Rijal, S., & Falikhah, N. (2012). Analisis Framing Pada Pemberitaan Tewasnya Osama bin Laden Di Harian Republika-Kompas. Alhadlarah Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 11 No. 22, Juli-Desember 2012, 161-173. Bungin, B. (2008). Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Damayanti, S., Mayangsari, I. D., & Syah Putra, D. K. (2016). Analisis Framing Robert N. Entman Atas Pemberitaan Reklamasi Teluk Jakarta Di Majalah Tempo. e-Proceeding Management Vol. 3 No. 3 December 2016, 3928-3936. Desiana. (2016). Analisis Framing Berita Serangan ISIS Di Paris Pada Surat Kabar Harian Waspada, SIB, Dan Analisa. Al-Balagh, Vol. 1, No. 1, 2016, 138-148. Eriyanto. (2003). Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS. Fadiyah, D. (2014). Analisis Framing Pemberitaan Ahok vs Lulung Dalam Konflik Penertiban PKL Di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat Dalam Media Online Detik.com. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL Vol. 2 No. 3, Maret 2014, 169-176. Gaio, A. M. S., Mondry, & Diahloka, C. (2015). Analisis Framing Robert Entman Pada Pemberitaan Konflik KPK vs Polri di Vivanews. co.id dan Detiknews.com. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 4, No. 3. 451 – 455. Haidar, I. A. (2003). Etika Islam dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Sosial. Jakarta: Al-Huda. Herman, A., & Nurdiansa, J. (2010). Analisis Framing Pemberitaan Konflik Israel-Palestina Dalam Harian Kompas dan Radar Sulteng. Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 8, No. 2, Mei-Agustus 2010. 164 – 168. Hidayat, K. (2012). Psikologi Kematian. Jakarta: Noura Books. Hidayat, K. (2013). Ungkapan Hikmah. Jakarta: Noura Books. Jemat, A. (2014). Framing Media Online Terhadap Pemberitaan Mengenai Susilo Bambang Yudhoyono Menjelang Pemilu Legislatif 2014. Jurnal Komunikologi Vol. 11 No. 2 September 2014, 57-64. Johanes, L. (2013). Analisis Framing Pemberitaan Konflik Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di Harian Media Indonesia dan Koran Sindo. 102 Muhammad Reza Fansuri, Fatmawati – Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial Jurnal E-Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra Surabaya, Vol. 1, No. 2, tahun 2013. 83 – 92. Kriyanto, R. (2006). Teknik Praktik: Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana. Mubarok, & Andjani, M. D. (2012). Konstruksi Pemberitaan Media Tentang Negara Islam Indonesia (Analisis Framing Republika Dan Kompas). Jurnal Komunikasi Makna Vol. 3 No. 1 (2012), 24-41. DOI: http://dx.doi.org/10.30659/jikm.3.1.24-41. Mustika, R. (2017). Analisis Framing Pemberitaan Media Online Mengenai Kasus Pedofilia Di Akun Facebook. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 20 No. 2, Desember 2017, 135-148. Nasution, I. F. A., & Miswari. (2018). Islam Agama Teror? (Analisis Pembingkaian Berita Media Online Kompas.com dalam kasus Charlie Hebdo. al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 2 No. 1. Tahun 2017. 45 – 62. DOI : 10.22515/balagh.v2i1.753. Putri, A. N. (2012). Analisis Framing Berita Demonstrasi Mahasiswa Semarang Terkait Kenaikan Harga BBM Pada TV Borobudur. THE MESSENGER, Vol. IV, No. 1, Edisi Juli 2012, 19-26. Rachman, M. F. (2012). Islamic Relationship. Jakarta: Erlangga. Ruslan, R. (2003). Metodologi Penelitian Publik Relation dan Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sinaga, K. C. (2016). Analisis Framing Pemberitaan Bom Sarinah Di Kompas.com Dan Merdeka.com. JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016, 1-12. Sobary, M. (2007). Kesalehan Sosial. Yogyakarta: LKiS. Sobur, A. (2006). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT. Remaja Rosydakarya. Sugiarto, E. (2015). Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif: Skripsi dan Tesis. Yogyakarta: Suaka Media. Yusuf, A. A. (2007). Implementasi Kesalehan Sosial dalam Persfektif Sosiologi Alquran. Bandung: Humaniora Utama Press. Zainudin, M. (2007). Kesalehan Normatif dan Sosial. Malang: UIN Malang Press.