ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Vol. 4, No. 1, Januari - Juni 2019 Editorial Team Alamat Redaksi : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Surakarta Jl. Pandawa No. 1, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah 57168 Phone : +62 271 - 781516 Fax : +62 271 - 782774 Surel : journal.albalagh@gmail.com, journal.albalagh@iain-surakarta.ac.id Laman : http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh Editor-In-Chief Imam Mujahid, Institut Agama Islam Negeri Surakarta Editor Waryono Abdul Ghafur, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Soiman, Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI) Diajeng Laily Hidayati, Institut Agama Islam Negeri Samarinda Akhmad Anwar Dani, Institut Agama Islam Negeri Surakarta Ahmad Saifuddin, Institut Agama Islam Negeri Surakarta Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, Institut Agama Islam Negeri Surakarta Abraham Zakky Zulhazmi, Institut Agama Islam Negeri Surakarta ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Vol. 4, No. 1, Januari - Juni 2019 Daftar Isi Astri Fajar Atikasari, Vera Imanti 1 - 24 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi 25 - 58 Mubalig Youtube dan Komodifikasi Konten Dakwah Ferdi Arifin 91 - 120 Tren Pengembangan Program Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam dalam Transformasi IAIN Menjadi UIN Surakarta Kamila Adnani 141 - 168 Optimalisasi Penghimpunan Zakat Melalui Digital Fundraising Ade Nur Rohim 59 - 90 Menurunkan Kecemasan Menghadapi Praktik Belajar Kerja Penyandang Disabilitas Fisik dengan Bimbingan Kelompok Literasi Digital sebagai Upaya Menangkal Hoaks di Era Disrupsi Naimatus Tsaniyah, Kannisa Ayu Juliana 121 - 140 MODEL DAKWAH MILENIAL UNTUK HOMOSEKSUAL MELALUI TEKNIK KONTINUM KONSELING BERBASIS ALQURAN Khilman Rofi Azmi Institut Agama Islam Negeri Kudus Keywords: counseling continuum; homosexuals; millennial preaching http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh Alamat korespondensi: e-mail: rofiazmi@iainkudus.ac.id Abstract The response of da’wa in dealing with the problems of the people in the digital era can be realized through the millennial missionary model. The purpose of the following research is to develop a pilot model of contemporary preaching for homosexuals. The author uses a study of literature studies in developing this model. Nevertheless, a preliminary study was conducted on six research subjects to provide an initial picture in building this model. The technique of giving advice by using Qur’an-based continuum of counseling approach which explained to the six main stages in dealing with homosexual cases, including: 1) identity (self); 2) relationship; 3) feeling distinction (differential of feeling); 4) identification and evaluation (identify and evaluation); 5) spiritual intervention; 6) acceptance of environment. The six continuums are based on nine letters in the Qur’an. In addition, this model also uses a contemporary approach with the use of information channels on various social media platforms in the form of “one-minute advice video”, status, tweet support, and others. Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) 26 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Abstrak Respons dakwah dalam menghadapi problematika umat di era digital salah satunya dapat diwujudkan melalui model dakwah milenial. Tujuan penelitian berikut adalah untuk mengembangkan rintisan model dakwah kekinian untuk kaum homoseksual. Penulis menggunakan kajian studi literatur dalam mengembangkan model ini. Meskipun demikian, studi pendahuluan dilakukan terhadap enam subyek penelitian untuk memberikan gambaran awal dalam membangun model ini. Teknik pemberian nasihat dengan menggunakan pendekatan kontinum konseling berbasis Alquran merujuk pada enam tahapan utama dalam menangani kasus homoseksual antara lain: 1) jati diri (self), 2) hubungan (relationship), 3) distingsi perasaan (differential of feeling), 4) identifikasi dan evaluasi (identify & evaluation), 5) intervensi spiritual (spiritual intervention), 6) penerimaan lingkungan (acceptance of environment). Keenam kontinum didasarkan pada sembilan surat pada Alquran. Selain itu, model ini juga memakai pendekatan kekinian dengan pemanfaatan kanal informasi pada berbagai platform media sosial dalam bentuk “one minute advice video”, status, tweet support, dan lainnya. Kata kunci: dakwah milenial; homoseksual; kontinum konseling. How to cite (APA 6th Style): Azmi, K. R. (2019). Model Dakwah Milenial Untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran. Al-Balagh: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 4(1), 25–58. https://doi.org/10.22515/balagh.v4i1.1557 PENDAHULUAN Cepatnya arus informasi dan teknologi di dunia menghasilkan berbagai dinamika perkembangan keilmuan, tak terkecuali dakwah dan komunikasi Islam. Munculnya teori, konsep, dan term baru dalam keilmuan dakwah merupakan indikator serta upaya keilmuan dakwah dalam menjawab tantangan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Namun, perkembangan keilmuan ternyata tidak selalu berbanding lurus 27Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) dengan arah perbaikan dan eskalasi nilai akhlak masyarakat. Berbagai problem dan fenomena berkaitan dengan krisis sosial (social crisis) muncul seiring dengan lahirnya generasi milenial dan generasi Z (gen Z). Salah satu permasalahan yang muncul terkait hal itu adalah orientasi seksual Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT). Gaya hidup (lifestyle) menjadi salah satu fokus penting dalam rangka memahami berbagai fenomena umat kekinian tersebut. Gaya hidup merupakan salah aspek yang tidak dapat dilepaskan dari munculnya fenomena LGBT . Mengenai pembagian generasi, Putra (2016) membagi generasi berdasarkan kajian terhadap beberapa tokoh. Misalkan, menurut Tapscott (Putra, 2016) bahwa generasi yang lahir pada tahun 1946 sampai dengan 1964 disebut generasi Baby Boom, generasi yang lahir pada tahun 1965 sampai dengan tahun 1975 disebut dengan generasi X, dan generasi yang lahir pada tahun 1976 sampai dengan 2000 disebut dengan generasi digital. Sedangkan menurut Howe dan Strauss (Putra, 2016) bahwa generasi yang lahir pada tahun 1943 sampai dengan tahun 1960 dinamakan generasi Boom, generasi yang lahir pada tahun 1961 sampai dengan 1981 dinamakan dengan generasi 13, dan generasi yang lahir pada tahun 1982 sampai dengan 2000 disebut dengan generasi milenial. Dengan demikian, jelas bahwa generasi milenial merupakan istilah dari tokoh Howe dan Strauss. Selain itu, generasi milenial juga diungkapkan oleh Martin dan Tulgan (Putra, 2016), bahwa generasi milenial lahir dan hidup antara tahun 1978 sampai dengan tahun 2000. Menurut Elia (Azmi, 2015), terdapat dua jenis varian lifestyle yakni gaya hidup umum (the common lifestyle) dan gaya hidup alternatif (the alternative lifestyle). Gaya hidup umum (the common lifestyle) mengacu pada pola dan kebiasaan masyarakat tertentu sesuai dengan gaya hidup mayoritas masyarakat lain di seluruh dunia, gaya hidup ini juga biasa disebut dengan mainstream lifestyle. Berbeda dengan gaya hidup alternatif (the alternative 28 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) lifestyle) yang berciri khas ”unik dan berbeda” dibandingkan dengan lifetsyle umum yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat dunia. Varian gaya hidup kedua ini memungkinkan munculnya berbagai dinamika persoalan. Lahirnya kembali kaum LGBT menjadi salah satu indikator gaya hidup ini dan tren ini telah menjadi fenomena di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Walaupun demikian, dalam perspektif hukum kebebasan dan Hak Asasi Manusia (HAM), pilihan gaya hidup alternatif tersebut dianggap bagi sebagian masyarakat lain sebagai sesuatu yang wajar dan masuk dalam kategori hak akan kebebasan seperti layaknya kebebasan beragama yang dilindungi oleh hukum negara (Azmi & Kharis, 2019). Munculnya berbagai komunitas dan organisasi atau perkumpulan khusus seperti Ikatan Gay Malang (IGAMA), IGATA (Ikatan Gay Tulungagung) dan Gay Nusantara Surabaya hanyalah beberapa contoh dari sekian banyak organisasi berbasis LGBT. Di belahan dunia lainnya, dinamika kaum homoseksual dan lesbian juga mengalami perkembangan yang pesat, terutama di negara maju seperti Amerika dan Australia. Beberapa negara bagian di negara tersebut bahkan telah melegalkan pernikahan sejenis. Tak cukup sampai disitu, setelah mereka resmi menikah kaum lesbian dan homoseksual berupaya melahirkan keturunan melalui jalan inseminasi buatan hingga donor sperma (Ripper, 2007). Berbagai jenis komunitas dan kelompok pendukung LGBT terutama gay dan lesbian memunculkan penghitungan statistik kisaran penduduk Kinsey yakni sekitar 10% dari total jumlah penduduk di suatu negara (Heiman & Bass, 2015) dengan catatan angka dapat berubah pada negara- negara dengan jumlah muslim yang cukup besar seperti Indonesia yang diprediksikan hanya mencapai 1% saja dari jumlah penduduk. Meskipun demikian, pada tahun 2013 hingga 2015 diperkirakan jumlah komunitas LGBT meningkat secara tajam mencapai sekitar dua juta orang (Davies, 2016). 29Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Menurut kajian ahli dalam bidang kajian sosial (Bockting, Knudson, & Goldberg, 2006), munculnya LGBT diketahui tidak terbatas pada masalah lingkungan saja, namun juga satu kesatuan sistem diri manusia sosial yang terdiri dari fisik, seksual, psikologis, sosial, agama, kesehatan dan budaya. Dalam konteks ilmu sosial, interaksi yang ditunjukkan kaum homoseksual ditunjukkan dengan beberapa hal meliputi paling tidak tiga hal yakni tingkah laku, gaya bicara, dan bahasa (Hidayati, 2017). Ketiga interaksi tersebut hampir selalu ditunjukkan oleh mereka, baik langsung maupun tak langsung. Sebagian kaum gay bahkan memiliki “kode khusus” dalam proses interaksi mereka sehari-hari. Kemiripan nasib dan rasa empati memunculkan rasa “senasib sepenanggungan” dapat menjadi faktor penting yang membuat para gay menjadi percaya diri untuk bersosialisasi dan menunjukkan jati dirinya. Di sisi lain, rasa malu dan kecemasan akan penolakan masyarakat menjadi faktor penghambat diri mereka untuk menunjukkan eksistensi diri. Studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada kurun waktu Desember tahun 2015 hingga bulan November tahun 2017 di kota Malang dan Tulungagung Jawa Timur terhadap delapan orang yang mengikrarkan diri sebagai pelaku homoseksual menghasilkan informasi berdasar data wawancara sebagai berikut: 1) keyakinan dari dalam diri mereka bahwa mereka ingin diakui sebagai masyarakat normal; 2) dua orang mengaku masih menikmati pergaulan gay-nya; 3) enam orang yang mengaku ingin berhenti secara periodik dan lebih mendekatkan diri mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta; 4) semua responden mengaku mempertanyakan Tuhan atas takdir mereka menjadi seorang homoseksual. Hasil tersebut memperkuat adanya “celah” yang belum banyak disentuh oleh masyarakat untuk melakukan pendekatan kaum homoseksual atau gay, khususnya melalui bidang dakwah dan kajian keislaman. Fenomena lahirnya kembali kaum homoseksual dalam kajian keilmuan Islam telah menjadi pembahasan yang menarik para peneliti. 30 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Meskipun demikian, diperlukan keluasan dan kedalaman kajian dalam memahami fenomena tersebut secara arif dan bijaksana. Secara lebih spesifik, dalam konteks dakwah, rujukan awal yang sering digunakan adalah peristiwa sejarah kaum Nabi Luth alaihi salam. Seperti kutipan hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berikut: “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, nomor hadis 2563, 1457) Berdasarkan hadis tersebut, maka dapat dimaknai dengan jelas bahwa prediksi isyarah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam akan terjadi di masa depan. Pernyataan tersebut juga mengandung arti kuat tentang ancaman dan efek yang ditimbulkan ketika kaum homoseksual eksis kembali. Sementara itu, dakwah menjadi salah satu cara yang dapat diupayakan sebagai bentuk ikhtiar untuk menanggulangi fenomena homoseksual. Melalui dakwah, maka diharapkan akan mampu menyentuh sisi qalbun salîm dari sesama umat agar mereka dapat kembali ke jalan Allah subhanahu wa taala. Hal selanjutnya yang perlu menjadi kajian lebih mendalam ialah tantangan dan isu berkaitan dengan khazanah keilmuan dakwah. Salah satu isu tersebut ialah keraguan akan efektivitas dakwah yang sesuai dengan perkembangan arus informasi dan teknologi di era globalisasi, khususnya untuk kaum homoseksual atau gay. Masih minimnya upaya untuk menanggulangi fenomena tersebut, khususnya dalam bidang dakwah, menjadi tantangan tersendiri bagi pegiat dan peneliti dakwah. Oleh karena itu, menilik dari tantangan dan isu tersebut, maka diperlukan model pendekatan dakwah yang bersifat kontemporer. Terkait dengan penelitian terdahulu, menurut Fikri (2017) dalam rangka menjalankan metode dan strategi dakwah kontemporer hendaknya dilakukan dengan cara mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Dakwah kontemporer juga berarti dakwah yang memanfaatkan fasilitas teknologi modern dan mutakhir di media-media massa. Hal tersebut juga 31Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) dinyatakan oleh Sirajuddin (2014) dan Rubawati (2018) bahwa strategi pengembangan dakwah dituntut untuk selalu dikemas dalam kemasan yang menarik dan menggoda. Selain itu, keseluruhan tahapan dalam pembuatan model dakwah harus tetap didasarkan pada prinsip-prinsip Alquran. Prinsip tersebut diantaranya mengacu pada surat An-Nahl ayat 125, yakni al-hikmah, al-mauidzah al-hasanah, dan al-mujadalah al-ahsan (Aliyudin, 2010). Sementara itu, pelbagai upaya yang dilakukan untuk menanggulangi fenomena homoseksual hampir selalu berkaitan dengan konsep well being yang ingin dicapai oleh setiap pelaku homoseksual (Adelia, Novitasari, Laraswati, Saprila, & El Layli, 2016). Pelaku LGBT, khususnya homoseksual dapat diberikan treatment melalui teknik coming out. Teknik coming out adalah proses ketika kaum LGBT memberitahukan orang lain mengenai orientasi seksualnya (Fadhilah, 2015). Salah satu peran yang ikut berperan dalam proses coming out adalah peran jenis kelamin pada kaum LGBT. Peran jenis kelamin merupakan ekspektasi yang menentukan cara perempuan atau laki laki seharusnya berpikir, bertindak, dan merasa (Santrock, 2011). Selain itu, upaya lain yang telah dilakukan untuk memberikan bantuan kepada komunitas homoseksual juga dilakukan secara online, namun lebih pada kecenderungan untuk mendukung gerakan mereka. Beberapa bantuan yang dilakukan antara lain adalah berkaitan dengan: 1) LGBTQ therapy for individuals; 2) gay couples or marriage counseling; 3) online coaching for individuals and couples (LGBT therapy team, 2019). Dari beberapa upaya yang telah dilakukan untuk memberikan bantuan kepada komunitas ini, ada satu teknik yang dapat dilakukan dan masih dipercaya sebagai obat untuk membantu komunitas homoseksual yakni melalui Gay Conversion Therapy (GCT). Walaupun masih menjadi perdebatan di kalangan ahli, Model terapi ini telah dinyatakan efektif dalam beberapa studi kasus yang pernah ada di Amerika (Pappas & Ghose, 2013). Gay Conversion Therapy (GCT) merupakan praktik yang dilakukan untuk mengubah orientasi seksual dari homoseksual dan biseksual menjadi heteroseksual. Pada tahun 32 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) 1980-an, terapi ini menggunakan teknik klinis seperti electric shock, ice-pick lobotomy atau bedah otak dan pemberian cairan kimia untuk menekan atau meningkatkan hormon tertentu yang dianggap menjadi penyebab terjadinya homoseksual. Namun, perkembangan terapi tersebut telah bergeser dan beberapa orang menyebutnya sebagai reparative therapy. Perbedaannya adalah pada pendekatan yang lebih bersifat psikologis melalui konseling, pelatihan sosial, dan intervensi spiritual (Haldeman, 1994; Herek, 1999; Zucker, 2003; Bancroft et al., 2003; Calvert, Carnley, Link, & Riedemann, 2013; Drescher, 2018). Titik tekan dalam pembahasan tersebut adalah perubahan paradigma terapi untuk LGBT yang awalnya cukup ekstrim, menjadi lebih ramah dan bersifat humanis dengan pendekatan komunikasi dan konseling. Berdasarkan studi pendahuluan tersebut, maka tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengembangkan rintisan model dakwah kekinian terhadap kaum homoseksual atau LGBT. Dengan kata lain, tulisan ini tidak hanya berusaha mengungkap fenomena homoseksual, namun juga berupaya memberikan gambaran alternatif solusi berbasis keislaman dalam bentuk model dakwah milenial melalui teknik konseling dengan enam kontinum dasar berbasis ayat-ayat suci Alquran. Term atau istilah milenial dipilih berdasarkan pertimbangan dominannya kaum homoseksual pada usia perkembangan remaja hingga dewasa akhir sehingga pendekatan dakwah yang lebih mutakhir diperlukan dalam membangun model dakwah ini. Secara umum, homoseksual didefinisikan sebagai golongan lelaki atau perempuan yang mempunyai tarikan seksual terhadap kaum sejenisnya (Haridi, Rahman, & Wazir, 2016). Kajian berkaitan dengan perilaku orientasi seksual seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender telah masuk dalam daftar gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual. Dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) III edisi cetakan pertama 33Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) dinyatakan sebagai berikut. “Kode lima karakter berikut mungkin bisa digunakan untuk menunjukkan variasi perkembangan atau orientasi seksual yang mungkin menjadi problem bagi individu seperti homoseksualitas dan biseksualitas” (Depkes R.I., 1993). Berdasar kutipan tersebut dapat dimaknai bahwa homoseksual merupakan gangguan psikologis dan perilaku yang bisa diobati atau disembuhkan sehingga pengidap gangguan dapat kembali normal. Jika dikaji kembali, gay atau homoseksual merupakan istilah spesifik yang merujuk pada perilaku ketertarikan sesama jenis atau same sex attraction (SSA) (Sinyo, 2016). Selain itu, kaum homoseksual juga mempunyai jenis kelompok tertentu sebagai bentuk pola hubungan mereka. Bell dan Weinberg (Masters, Johnson, & Kolodny, 1997) membagi jenis dan pola hubungan dalam dunia kaum homoseksual menjadi lima jenis, antara lain: 1) close-couple atau pasangan tidak terbuka, adalah jenis gay yang hidup berdampingan dengan pasangannya serta melaksanakan berbagai kegiatan layaknya kehidupan pasangan suami-istri dengan menyedikitkan konflik dan upaya untuk berganti pasangan; 2) open-couple atau pasangan terbuka, yakni homoseksual jenis ini memiliki pasangan dan tinggal bersama, tetapi memiliki pasangan seksual yang banyak, dan menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk mencari pasangan seks. Homoseksual jenis ini memiliki permasalahan seksual yang lebih banyak dibandingkan close-couple homoseksual; 3) functional atau fungsional, yakni homoseksual jenis ini tidak memiliki pasangan, dan memiliki pasangan seks yang banyak, tetapi dengan sedikit masalah seksualitas. Homoseksual ini kebanyakan individu muda, yang belum menerima orientasi seksualnya, dan memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap seksualitas; 4) dysfunctional atau disfungsi, yakni jenis homoseksual yang cenderung memiliki ketertarikan terhadap pasangan secara berganti-ganti sehingga memunculkan potensi permasalahan yang cukup beragam; 5) asexual, yakni jenis seorang gay yang memiliki ketertarikan seksual yang rendah, ciri lainnya adalah perilaku yang sangat tertutupnya kelompok ini dibandingkan kelompok atau jenis lainnya. 34 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Selain kelima model hubungan tersebut, kaum homoseksual juga memiliki beberapa hubungan sosioseksual. Hubungan sosioseksual merupakan jenis hubungan antara dua pihak yang dibangun berdasarkan interaksi sosialnya (Hidayati, 2017). Menurut Sonenschein (1968) hubungan sosioseksual meliputi: 1) permanent social relationship; 2) nonpermanent social relationship; 3) permanent sexual relationship; 4) nonpermanent sexual relationship; 5) permanent sociosexual relationship; dan 6) nonpermanent sociosexual relationship. Keenam model sosioseksual tersebut mempunyai ciri yang berbeda mulai dari pola interaksi yang bertahan lama dengan ciri permanen hingga hubungan jangka pendek dengan tujuan bersenang-senang. Berdasarkan kajian keislaman, hubungan normal antara satu individu dengan individu lainnya telah berjalan sesuai dengan sunatullah, baik sesama laki-laki maupun perempuan. Namun, fenomena terjadinya homoseksual (termasuk perilaku seksual lesbian, gay, biseksual, dan transgender) adalah perilaku yang dianggap menyimpang, baik dalam dimensi agama Islam maupun sosial kemasyrakatan. Alquran telah memberikan berbagai perspektif tentang fenomena homoseksual, mulai dari gambaran sejarah umat terdahulu hingga ancaman dan balasan untuk kaum ini. Dalam kajian keilmuan Islam, sejarah membuktikan terjadinya suatu peristiwa penting yang menimpa kaum Sodom dan Gomora. Kaum yang telah melakukan perbuatan keji dan mungkar dengan melakukan hubungan seks dengan sesama lelaki maupun sesama perempuan, kemudian turun firman Allah yang menjelaskan kejadian tersebut : “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas.” [Quran Surat Al-A’raf ayat 80-81]. 35Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Ayat tersebut menjelaskan pengkategorian serta pelabelan terhadap perbuatan yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth alaihi salam. Label tersebut adalah fâhisyah. Sebuah istilah untuk menggambarkan jenis perbuatan buruk yang sangat parah dengan merujuk pada pemaknaan dikalangan ulama tafsir yakni “keliaran dan “kebodohan”(Akbar, 2016). “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” [Quran Surat asy-Syu’ara’ ayat 165-166]. Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan tentang keengganan kaum laki-laki untuk mendatangi perempuan-perempuan dan malah menyukai sesama laki-laki. Hal tersebut merupakan perbuatan yang melampaui batas karena berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya (Syaikh, 2015). Allah subhanahu wa taala juga berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu).” [Quran Surat An-Naml 27 ayat 54-55]. Allah subhanahu wa taala juga memberikan keterangan yang jelas tentang hukuman bagi kaum Nabi Luth alaihi salam “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Quran Surat Hud ayat 82-83] Berbagai ayat khusus tersebut menggambarkan peristiwa penyebab kaum Nabi Luth alaihi salam dimusnahkan. Beberapa ayat lainnya menggambarkan balasan yang diterima berupa azab kepada kaum Nabi Luth alaihi salam yang telah ingkar kepada Allah subhanahu wa taala. Bahkan, ayat pada surat At Tahrim ayat 10 menjelaskan tempat kaum Nabi Luth alaihi salam di akhirat, yakni di neraka Jahanam seperti dalam kutipan berikut. 36 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) “Allah membuat istri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang- orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. [Quran Surat At-Tahrim ayat 10] Kesembilan ayat yang membahas kaum homoseksual tersebut (selanjutnya disebut dengan sembilan ayat pamungkas) menjadi salah satu acuan utama dalam mengembangkan model dakwah ini. Ayat yang bersifat ancaman dan ayat yang memberikan deskripsi peristiwa turunnya azab Allah kepada kaum Nabi Luth alaihi salam dielaborasi dalam bentuk pemberian nasihat dan layanan konseling secara terpadu. Pemberian layanan dalam bentuk nasihat dan konseling secara terpadu merupakan istilah teknik atau metode pendekatan yang dilakukan untuk memberikan dampak yang signifikan bagi kaum homoseksual. Istilah terpadu mengacu pada proses pemberian layanan yang bersifat sistematis, mulai pada proses pengadministrasian oleh konselor, yang dilanjutkan pada proses asesmen dan perekaman data awal, kemudian proses inti konseling, refleksi, dan evaluasi hingga dapat bermuara pada layanan rujukan yang memungkinkan kerjasama dengan pihak lain seperti konselor lain, psikolog, dan bahkan psikiater. Kondisi kekinian yang menggambarkan perubahan dengan sangat cepat bermakna bahwa dinamika arus informasi dan teknologi komunikasi berkembang melebihi zaman-zaman sebelumnya. Manusia tengah berada di era globalisasi, bahkan sebagian lainnya menyebut post- globalisasi. Kemajuan teknologi dan informasi dengan hadirnya media sosial (medsos), e-commerce, dan digital ekonomi bisa diakses dengan begitu mudah (Nursyamsi & Aminah, 2018). Kondisi tersebut sangat mungkin menjadi sebuah peluang yang luas dalam pemberian dakwah sesuai dengan anjuran Allah subhanahu wa taala, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan- 37Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga memberikan justifikasi pada perintah Allah tersebut melalui hadis berikut. “Beri kabar gembiralah dan jangan buat ia kabur, mudahkanlah dan jangan mempersulit,” (Hadis Riwayat Muslim). Pendekatan agama dalam dakwah terhadap generasi milenial dilakukan melalui pemanfaatan media-media komunikasi karena pengguna terbanyak adalah generasi milenial. Dakwah melalui pemanfaatan media sosial dan komunikasi dianggap lebih efektif dalam memperoleh perhatian dan simpati masyarakat milenial. Pendekatan yang sangat berbeda juga mulai ditampilkan oleh para dai-dai milenial. Mulai dari materi, style, retorika, performa, dan lain sebagainya. Generasi milenial telah diberikan kelengkapan opsi sesuai dengan selera dan minat masing-masing. Oleh sebab itu, keterampilan dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menunjang produktifias serta peningkatan keimanan menjadi hal yang penting (Suriani, 2017). Berbagai penelitian terdahulu tentang LGBT sudah banyak dilakukan. Misalkan, penelitian Papilaya (2016) yang menyoroti kurangnya keadilan pada LGBT; Yansyah & Rahayu (2018) tentang pandangan HAM dan agama terhadap perilaku LGBT; Pratama, Fahmi, & Fatmawati (2018) yang menyatakan bahwa perilaku LGBT adalah abnormal berdasarkan kajian psikologi Islam; Santoso (2017) yang menghasilkan bahwa setiap apapun yang diperjuangkan oleh LGBT harus disesuaikan oleh norma Pancasila; Harahap (2016) yang menghasilkan bahwa hak keamanan LGBT harus dijamin namun LGBT juga tidak boleh melanggar aturan dan hak orang lain; Ermayani (2017) yang membahas LGBT berdasarkan sudut pandang agama Islam; Sujana, Setyawati, & Ujanti (2018) yang membahas komunitas LGBT dalam bingkai Pancasila; Suherry, Mandala, mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Quran Surat An-Nahl ayat 125] 38 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Mustika, Bastiar, & Novalino (2016) yang menganggap bahwa perilaku LGBT adalah abnormal menurut agama Islam, Nasrani, dan Yahudi; Nirwanto (2016) yang membahas upaya pembingkaian kompas.com terhadap fenomena pro dan kontra LGBT; Muttaqin (2016) yang mengkonstruksi strategi LGBT untuk menjaga eksistensi di Indonesia; Aryanti MA (2016) yang menganggap bahwa perilaku LGBT dipengaruhi oleh lingkungan; Ayub (2017) yang mengkaji perilaku LGBT berdasarkan perspektif psikologi dan teologi; Winurini (2016) yang menganggap bahwa LGBT merupakan perilaku abnormal berdasarkan kajian psikologi abnormal; Asmara & Valentina (2017) yang menghasilkan bahwa perilaku lingkungan mempengaruhi konsep diri gay; serta Adriani, Angai, & Pradoponingrum (2017) yang meneliti tentang pengungkapan diri gay kepada keluarga. Penelitian terdahulu tersebut menggunakan berbagai sudut pandang, mulai dari perspektif agama, hukum, masyarakat, sampai dengan psikologi. Akan tetapi, penelitian terdahulu tersebut belum membahas tentang psikoterapi dan konseling dengan menggunakan nilai agama dan keislaman untuk kalangan LGBT. Adapun penelitian ini memfokuskan pada implementasi dari konseling dengan menggunakan kesembilan ayat pamungkas yang diwujudkan dalam konseling dengan teknik enam kontinum untuk kalangan LGBT. Perbedaan lain dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah rumusan konseling dan dakwah dengan menggunakan media modern, mengingat permasalahan tentang LGBT juga menyasar kalangan milenial. METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam artikel ini ialah berbasis studi literatur/ studi pustaka yang dilakukan dengan mengkaji dan menggali berbagai teori dan praksis melalui literatur mulai dari buku, jurnal ilmiah, disertasi, e-book, internet, dan berbagai data serta fakta yang ada dalam masyarakat, khususnya berkaitan dengan fenomena gay dan dakwah untuk kaum 39Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) milenial yang kemudian digunakan untuk mengkonstruk sebuah model dakwah untuk kaum milenial. Meskipun berbasis studi literatur, penulis telah melakukan beberapa penggalian data sebagai upaya untuk meneguhkan model dakwah ini. Penggalian data dilaksanakan dengan cara melakukan studi pendahuluan terhadap enam responden yang telah mengaku sebagai homoseksual. Instrumen wawancara telah disusun untuk memberikan tanggapan awal terkait dengan model dakwah ini. Keseluruhan responden mengaku tertarik dengan model dakwah ini sebagai upaya awal mereka untuk sembuh dari penyimpangan orientasi seksual ini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Teknik Enam Kontinum Konseling Model dakwah milenial untuk kaum homoseksual dilakukan melalui teknik konseling dengan enam kontinumnya. Kontinum merupakan rangkaian yang dilalui untuk sampai pada titik tertentu (Ebta, 2018). Hal ini bermakna bahwa dai atau konselor hendaknya dapat menyampaikan risalah agama kepada kaum homoseksual dengan tahapan-tahapan khusus dalam kontinum tersebut. Model kontinum berikut merupakan model yang diadaptasi dari penelitian Azmi (2015) yang diberi nama enam kontinum konseling untuk kaum LGBT. Namun, model ini tidak sama persis dan mengalami beberapa pengubahan. Perbedaan tersebut nampak dengan jelas, yakni jika pada model kontinum sebelumnya menekankan pada proses dan pendekatan konseling dengan mengurangi sisi intervensi spiritual karena model lama memang ditujukan untuk masyarakat secara umum dengan berbagai latar belakang agama, maka model dakwah pada artikel penelitian ini lebih menekankan pada konten dan metode penyampaian dakwah yang memang ditujukan khusus untuk umat Islam. Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan karakteristik model dakwah yang akan dibangun. Berikut adalah penjelasan enam kontinum tersebut. 40 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Pertama, jati diri (self). Self merupakan kontinum pertama yang menjadi dasar atau pondasi untuk melangkah pada tahapan berikutnya. Tahapan ini merupakan tahapan ketika seorang konselor atau dai mulai melakukan pengumpulan data lengkap tentang mad’u atau konseli. Sebagai seorang individu, mad’u memiliki beberapa informasi mendasar yang dapat dimanfaatkan konselor untuk memberikan gambaran yang utuh tentang masalah yang dialami oleh mad’u atau konseli. Beberapa aspek yang menjadi informasi penting bagi konselor antara lain, data fisik, alamat, bentuk tubuh, dan warna kulit, tempat tanggal lahir, berat dan tinggi badan, serta riwayat kesehatan. Selain itu, informasi tentang lingkungan, persepsi pribadi, konsep diri, bahkan visi dan tujuan hidup juga dibutuhkan dalam kontinum tersebut. Langkah selanjutnya adalah penggalian aspek kesadaran konseli tentang keadaan diri berkaitan dengan ideal self (diri ideal) dan real self. Dua hal tersebut menjadi sasaran utama dalam menggali data awal tentang jati diri konseli. Informasi mendasar seperti jenis kelamin yang tertera pada KTP atau Kartu Tanda Siswa juga menjadi dasar dalam membangun wawasan atau insight sehingga, konseli akan menyadari posisi dan fitrahnya sampai menjadi sosok seperti sekarang. Dalam tahapan ini, beberapa hambatan yang bisa muncul adalah tidaksinkronnya antara data awal dengan perilaku yang ditunjukkan, perdebatan antara konselor dan konseli, serta timbulnya sikap kepura-puraan dan bias budaya. Beberapa permasalahan yang berpotensi timbul pada kontinum awal ini dapat diatasi dengan pemenuhan keterampilan teknik komunikasi yang baik dari dai atau konselor. Penerimaan tanpa penghakiman konselor terhadap kondisi awal menjadi hal yang juga tidak dapat ditinggalkan. Kedua, hubungan (relationship). Tahapan selanjutnya ialah relationship berkaitan dengan dua data utama yang hendakanya diketahui oleh pendakwah atau konselor sebelum mengeksplorasi lebih jauh tentang diri klien. Dua data tersebut adalah data kuantitatif dan data kualitatif. 41Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Data kuantitatif merujuk pada hitungan tertentu berkaitan dengan jumlah kenalan, teman, dan sahabat berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sedangkan jumlah kualitatif merujuk pada tingkat kualitas kedekatan dan kesolidan (kohesivitas) antar satu klien dengan teman-temannya. Jalinan hubungan konseli dengan lingkungan sosialnya dapat menjadi salah satu pemicu menguatnya fenomena gay dan lesbian. Jalinan hubungan sosial dengan sesama jenis dan atau lawan jenis dapat menjadi data bagi konselor dalam mengembangkan permasalahan diri konseli sehingga memperoleh gambaran sosial yang baik. Secara teoritis, konselor atau pendakwah dapat menggunakan sosiometri dalam memetakan hubungan sosial dengan lingkungannya. Beberapa aspek yang patut dipertimbangkan konselor antara lain: 1) hitungan teman, kenalan, sahabat laki-laki dan perempuan; 2) berkaitan dengan berbagai pengalaman serta bagaimana konseli diperlakukan dan memperlakukan lingkungan sosialnya; 3) aspek karakteristik teman, sahabat serta locus/ setting ketika berhubungan sosial. Ketiga, differential of feeling. Berdasarkan pada kontinum sebelumnya, maka langkah kontinum selanjutnya adalah pengidentifikasian klien terhadap perbedaan perasaan kepada teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Aspek perasaan atau sisi afektif menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam menangani konseli/klien dengan label homoseksual. Perasaan menjadi salah satu tolok ukur yang harus digali oleh pendakwah secara mendalam. Feeling yang masuk dalam kategori sisi afektif berkaitan dengan beberapa hal berikut: 1) pandangan terhadap peran laki-laki dan perempuan serta dinamikanya; 2) perasaan-perasaan mendalam yang timbul dan tenggelam terhadap lingkungan sosialnya perlu diuraikan secara lebih mendalam; 3) penggalian pengalaman masa lalu berkaitan dengan dominasi perasaan tertentu terhadap suatu pengalaman tertentu yang paling berkesan dalam hidup; 4) penyimpulan dan labelling perasaan terhadap peristiwa dan orang tertentu. Karena menggunakan terminologi kontinum, maka pendakwah atau konselor mengupayakan suatu kontinum 42 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) dapat dilalui bersama konseli dengan sungguh-sungguh. Ketika dalam satu kontinum belum tuntas maka, seorang pendakwah atau konselor tidak dapat meneruskan pada tingkatan kontinum selanjutnya. Hal ini untuk mengantisipasi hal-hal yang menjadi penyebab gagalnya model terapi ini. Keempat, identifikasi dan evaluasi (identification and evaluation). Tahapan identify merupakan proses mengidentifikasi konseli berdasarkan data yang ada pada kontinum-kontinum sebelumnya. Tahapan ini juga dilaksanakan secara persuasif dengan membentuk pikiran-pikiran sadar konseli untuk kembali pada fitrah atau kondisi dasar manusia. Pada tahapan ini juga pendakwah atau konselor mengajak konseli untuk melakukan pelabelan dan pengukuhan konsep diri tentang menjadi normal atau tetap pada komitmen diri menjadi seorang LGBT. Pelabelan tersebut menjadi hal yang penting untuk menentukan langkah intervensi konselor atau pendakwah pada kontinum selanjutnya. Setiap keputusan yang diambil konseli harus diberikan wawasan tentang seluruh konsekuensi logis dari setiap keputusan yang telah diambil. Dalam tahapan ini juga terdapat kontinum evaluasi diri atau evaluation. Tahapan evaluasi mengacu pada proses refleksi diri secara lebih dalam berkaitan dengan keseluruhan pengalaman yang masih diingat mulai saat kecil hingga dewasa ini. Pendakwah atau konselor juga dapat menggunakan pendekatan tertentu untuk mengeksplorasi pikiran bawah sadar konseli, misalkan dengan menggunakan teknik psikoanalisis. Proses ini dapat berlangsung dengan cara relaksasi, refleksi, kontemplasi, dan muhasabah diri. Relaksasi dipilih dengan tujuan memberikan kenyamanan bagi klien agar lebih mudah dalam mengekspresikan pikiran bawah sadarnya (Corey, 2015). Kelima, spiritual intervention. Spiritual intervention atau intervensi spiritual mengacu pada inti keseluruhan kontinum yang dilalui oleh pendakwah bersama kliennya. Intervensi spiritual mengacu pada unsur- unsur dakwah bil hal yang memberikan fleksibilitas dan keluwesan bagi 43Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) seorang pendakwah dalam rangka menyampaikan risalah dan substansi dakwahnya. Memberikan penjelasan dan nasihat yang baik atau mau’idhah hasanah menjadi kunci dalam penyampaian sembilan ayat pamungkas untuk klien homoseksual. Teknik yang diberikan tidak hanya dalam bentuk nasihat dan ancaman semata, karena teknik ini dikhawatirkan dapat membuat klien tidak merasa nyaman. Oleh karena itu, teknik konseling dan psikoterapi Islam dengan pendekatan komunikasi yang baik sangat dibutuhkan dalam rangka membuat klien menjadi nyaman dan merasa dihargai sebagai seorang yang sedang membutuhkan bantuan. Intervensi spiritual menjadi salah satu kunci kesuksesan dalam menangani kaum homoseksual. Keenam, acceptane of environmental. Acceptance of enviromental atau penerimaan diri terhadap lingkungan adalah kontinum terakhir yang wajib dilalui oleh seorang pendakwah atau konselor dalam rangka memberikan bantuan kepada klien homoseksual agar mereka dapat diterima kembali dengan identitas sejati, yakni seorang lelaki atau perempuan dengan orientasi seks normal dan penuh dengan religiositas. Tahapan ini juga dapat berarti pada tindakan lanjutan setelah klien melampaui kontinum- kontinum sebelumnya. Tindak lanjut atau follow up menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh pendakwah dalam rangka memberikan monitoring terhadap setiap perkembangan serta potensi masalah yang mungkin timbul usai melampaui kontinum kontinum sebelumnya. 44 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Gambar 1. Desain Model Dakwah Milenial Melalui Teknik Enam Kontinum Konseling Berbasis Alquran Berdasarkan gambar grand design tersebut, dapat dimaknai bahwa proses pemberian layanan dalam model konseling ini adalah berjenjang, mulai jenjang satu sampai dengan enam. Beberapa kemungkinan yang muncul adalah kesulitan dalam melampaui suatu tahapan tertentu, dalam hal ini maka konselor atau pendakwah diperbolehkan untuk turun kembali pada tahapan tertentu. Artinya, walaupun tahapan telah dibuat sedemikian rupa, model ini adalah model dakwah dan konseling yang tidak terlalu kaku serta bersifat fleksibel. Hal ini dikarenakan kondisi masing-masing klien sangat bervariasi. Lebih lanjut, setiap jenjang merupakan tahapan yang wajib dilalui dengan indikator-indikator yang telah dijelaskan dalam uraian sebelumnya serta kesimpulan indikator dalam tabel berikut. 45Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Tabel 1. Indikator Enam Kontinum Konseling untuk Homoseksual Continuum Indikator Jati diri • Identitas spesifik • Jenis kelamin • Pengalaman masa lalu Hubungan • Jumlah teman • Kategorisasi teman dekat • Click Distingsi Perasaan • Gender • Perasaan terhadap teman-teman sekitar • Orientasi seksual Identifikasi dan Evaluasi • Deklarasi dan pelabelan diri • Kajian khusus sembilan ayat pamungkas untuk homoseksual Intervensi Spiritual • Nilai-nilai universal • Pengalaman masa lalu • Preposisi Penerimaan Lingkungan • Identifikasi masalah utama • problem manajemen masalah • Alternatif solusi perubahan • Tindak lanjut Model Dakwah Milenial Melalui Teknik Enam Kontinum Konseling Berbasis Alquran Respons dakwah terhadap problematika umat dapat diwujudkan salah satunya melalui model dakwah milenial dan kekinian. Hal ini menjadi penting karena Indonesia sebagai salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar didunia akan mengalami lompatan dinamika masyarakat melalui bonus demografi pada tahun 2030. Bonus demografi merupakan kondisi ketika populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif (Andi, 2017). Hal ini juga berdampak pada khazanah keilmuan dakwah yang menuntut penyesuaian model dakwah sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Model dakwah milenial merujuk pada teknik penyampaian risalah- risalah agama dalam dakwah terhadap generasi milenial yang dilakukan 46 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) melalui pemanfaatan media-media komunikasi dan teknologi. Generasi muslim milenial berkemajuan adalah generasi penentu dan pelopor yang unggul dan modern (Irsyad, 2018). Hal ini penting mengingat bahwa salah satu karakteristik generasi milenial adalah selalu terkoneksi dengan berbagai fitur di internet (Zulhazmi & Hastuti, 2018). Di sisi lain, penggunaan media sosial dalam rangka konseling dan dakwah untuk kaum homoseksual juga dalam rangka meneguhkan dampak positif dari internet dan media sosial. Seperti yang dijelaskan oleh Zulhazmi & Hastuti (2018) bahwa internet dan media sosial memiliki beberapa kontribusi positif dalam dakwah. Dalam konteks rintisan model dakwah yang dibangun melalui tulisan ini, maka titik tekan yang dikaji oleh penulis adalah model dakwah menggunakan teknik enam kontinum konseling untuk kaum homoseksual dengan pendekatan modern dan bersifat milenial. Penggunaan media, metode, serta tahapan dalam model ini menjadi poin kajian sebagai penciri khusus yang membedakan dengan model dakwah lainnya. Penggunaan teknologi dan media sosial dalam konseling dengan teknik enam kontinum akan memudahkan pendakwah dalam melaksanakan model dakwah ini. Hal ini dikarenakan model kontinum adalah tahapan- tahapan yang jelas dan detail. Kajian khusus sembilan ayat pamungkas untuk klien yang berada pada kontinum kelima, diberikan dengan pendekatan komunikasi dalam konseling, psikoterapi, dan komunikasi Islam. Hal ini sesuai dengan kajian teori bahwa komunikasi antar ahli dan klien menjadi kunci suksesnya sebuah terapi (Fauzan, 2008). Hal ini juga bermakna bahwa seorang pendakwah atau dai dapat menggunakan keterampilan komunikasi sehingga membuat klien merasa nyaman dan mau terbuka terhadap dirinya (self diclosure). Penggunaan rintisan model dakwah milenial ini juga tepat ketika dilakukan di lembaga-lembaga khusus konseling, pusat layanan, unit, dan ruang publik lainnya seperti di pesantren, sekolah umum dan agama, serta perguruan tinggi. Studi pendahuluan yang dilakukan penulis sebagai modal 47Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) awal untuk membangun model ini dilakukan di beberapa tempat, seperti unit khusus perguruan tinggi, pesantren, dan ruang publik seperti kafe dan tempat makan/kantin. Model dakwah milenial juga merujuk pada penggunaan media khusus seperti pemanfaatan berbagai platform media sosial, misalkan Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube dengan teknik publikasi seperti one minute advice video, status, tweet support, dan lainnya. Hal ini sesuai dengan jawaban dari para pakar dan ahli dakwah yang mencoba mengelaborasi teknik dakwah dengan media sosial secara masif, seperti pendapat Arifin (2011). Pendakwah atau konselor dapat memanfaatkan sebagian atau keseluruhan fitur dalam melaksanakan setiap kontinum yang dilalui, seperti pemanfaatan media Youtube berikut ini. 48 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Gambar 2. Pemanfaatan Youtube untuk Model Dakwah Milenial Selain pemanfaatan platform Youtube, seorang pendakwah atau konselor juga disarankan untuk memanfaatkan mesin pencari seperti google, ask.com, yahoo, dan model sejenis untuk memberikan penguatan kepada klien/kaum homoseksual dalam rangka orientasi dan penyembuhan, seperti contoh berikut. Gambar 3. Pemanfaatan Mesin Pencari untuk Model Dakwah Milenial 49Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Penggunaan mesin pencari seperti gambar tersebut merupakan perwujudan dari tantangan pemanfaatan teknologi untuk berdakwah dan pengembangan potensi diri (Niam, 2018). Dalam konteks rintisan model ini, maka seorang pendakwah dapat memanfaatkan media tersebut mulai awal kontinum (untuk menunjukkan gejala dan fenomena awal) hingga kontinum kelima (yakni, intervensi spiritual yang menjadi kontinum inti dalam model ini). Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian dengan segmen dakwah yang akan menentukan keberhasilan dari model ini. Usia mulai remaja awal hingga dewasa akhir menjadi usia yang sesuai dengan segmen dalam implementasi model ini. Penting bagi konselor atau dai sebagai komunikator atau pembawa pesan untuk menggunakan media komunikasi dan media sosial ini dalam implementasi konseling dengan teknik enam kontinum tersebut. Hal ini untuk menunjang sampainya pesan dan menarik perhatian dari klien sehingga muncul dorongan pada diri klien untuk mengikuti proses konseling. Menurut Effendy (2003), terdapat beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi efektivitas pelaku komunikasi atau komunikator. Beberapa diantaranya adalah kredibilitas dan atraksi. Kredibilitas ini dapat dicapai oleh konselor dan dai dengan cara meningkatkan pengetahuan dan mengasah keterampilan dalam penerapan konseling, khususnya konseling dengan teknik enam kontinum. Adapun atraksi adalah daya tarik komunikator (dalam hal ini konselor atau dai). Daya tarik ini bisa diwujudkan dengan menggunakan media sosial dan teknologi. Saat ini, setiap kalangan menjadi pengguna media sosial dan teknologi. Terlebih lagi, media sosial dan teknologi menjadi andalan bagi kalangan LGBT untuk menjalin komunikasi. Menurut Johnson (2014), salah satu keterampilan mengirimkan pesan agar pesan dapat diterima dengan baik adalah menyesuaikan cara penyampaian pesan. Dalam konteks implementasi konseling menggunakan teknik enam kontinum, konselor dan dai dapat menggunakan teknologi 50 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) dan media sosial untuk menyesuaikan pihak klien. Sehingga, diharapkan pesan-pesan yang disampaikan dalam konseling dapat diterima dengan baik. Selain itu, media sosial dan teknologi ini juga diharapkan dalam mempermudah pihak klien dalam melaksanakan proses konseling. Pendekatan yang berfokus pada hubungan sosial dan konseling dengan kemasan dakwah merupakan terobosan yang diinspirasi oleh terapi khusus bernama reparative therapy yang telah terbukti dapat memberikan efek positif terhadap orientasi seksual (Pappas & Ghose, 2013). Selanjutnya, langkah pendekatan konseling dapat menggunakan berbagai model, seperti pendekatan psikoanalisis dengan teknik analisis mimpi, asosiasi bebas atau pendekatan lain yang menyentuh alam bawah sadar dan perilaku seperti pendekatan behavioral. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan jenis permasalahan yang menimpa kaum gay yang muncul dikarenakan beberapa aspek berikut: 1) trauma masa lalu; 2) pengaruh hormon; dan 3) lingkungan sekitar (Pappas & Ghose, 2013). Integrasi antara teknik enam kontinum konseling dengan dakwah milenial menjadi kunci keberhasilan dari rintisan model ini. Perpaduan antara keilmuan dakwah, konseling, psikologi, dan teknologi komunikasi menjadi stressing point atau titik tekan penulis dalam rangka menjawab problematika umat, khususnya fenomena homoseksual. Berdasarkan penjelasan tersebut, model konseling teknik enam kontinum dengan menggunakan media sosial dan komunikasi yang modern ini berbeda dengan konseling dan psikoterapi model lain. Konseling dan psikoterapi model lain misalkan terapi konversi atau conversion therapy dan reparative therapy atau terapi reparatif, yaitu sebuah terapi yang bertujuan untuk mengubah atau mengembalikan orientasi seksual LGBT (Bartlett, 2018; Wright, Candy, & King, 2018; Mallory, Brown, & Conron, 2018). Terapi konversi dan terapi reparatif memiliki persamaan dengan konseling teknik enam kontinum, yaitu sama-sama bertujuan mengembalikan orientasi seksual seseorang. Akan tetapi, terapi konversi dan terapi reparatif 51Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) ini belum tentu menggunakan perspektif atau nilai agama. Adapun model konseling teknik enam kontinum ini berupaya mengintegrasikan perspektif konseling dengan agama Islam. Model konseling teknik enam kontinum dengan menggunakan media komunikasi modern ini juga berbeda dengan konsep bimbingan dan konseling Islam untuk LGBT yang dirumuskan oleh Dores (2016) dan Faizin (2016). Konsep bimbingan dan konseling Islam tersebut masih merupakan konsep umum, sedangkan konseling model enam kontinum ini sudah sampai pada penjabaran setiap sesi dan implementasi. Konseling teknik enam kontinum dengan menggunakan media komunikasi yang modern ini juga berbeda dengan teknik konseling berbasis spiritual yang diteliti oleh Ardiansyah (2018). Perbedaannya terletak pada metode konseling. Jika konseling yang diteliti oleh Ardiyansah (2018) tersebut menggunakan sistem pondok untuk transgender, maka teknik enam kontinum bisa berlangsung fleksibel dengan menggunakan media komunikasi dan media sosial dan tidak menggunakan sistem pondok. Di sisi lain, teknik konseling yang dibahas dalam artikel penelitian ini merupakan upaya menspesifikkan konsep dari penelitian Azmi (2015). Dalam penelitian tersebut, sudah membahas tentang konseling teknik enam kontinum. Kemudian, dalam artikel penelitian ini penulis mencoba menspesifikkan metode atau cara penyampaian konseling dengan teknik enam kontinum tersebut dengan menggunakan media komunikasi dan teknologi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Mengembangkan rintisan model dakwah kekinian untuk kaum homoseksual melalui teknik kontinum konseling berbasis Alquran adalah bentuk langkah nyata dalam menjawab respons dakwah atas berbagai problematika umat di era digital. Model ini dibangun berdasarkan langkah- langkah ilmiah, seperti studi pendahuluan dan kajian literatur. Substansi 52 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) model berbasis kemutakhiran menjadi poin penting dalam hal kebaruan. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan teknik enam kontinum yang belum pernah dibuat oleh peneliti dan ahli bidang terkait sebelumnya. Dalam subbab pembahasan, penulis mempunyai kekuatan opini yang didialogkan dengan teori sehingga membuat standing opinion yang jelas. Model dakwah milenial melalui teknik kontinum konseling berbasis Alquran yang diintegrasikan dengan berbagai platform media sosial seperti Facebook, Youtube, Twitter, dan lain sebagainya adalah contoh konkret dari banyak model dakwah kontemporer yang dikaji sebatas pada teori saja. Meskipun demikian, penulis menyadari bahwa rintisan model ini belum sempurna. Hal ini dikarenakan model dakwah atau konseling dengan teknik enam kontinum menggunakan media yang modern ini belum pernah diuji efektivitasnya sehingga, memerlukan kajian dan penelitian lebih lanjut terutama penelitian lapangan untuk menguji seberapa besar rintisan model ini. Dengan demikian, konsep ini menjadi model yang lebih baik. Namun, berdasarkan penelitian ini pula memunculkan pemahaman bahwa melalui rintisan model ini akan dapat menjembatani kebutuhan akan tuntutan dakwah di zaman modern dengan kebutuhan serta problematika yang dialami oleh kaum milenial. Saran Model dakwah kekinian untuk kaum homoseksual melalui teknik kontinum konseling berbasis Alquran masih dirasa memerlukan perbaikan dan pengujian lebih lanjut. Hal ini dipandang sangat perlu dilakukan dengan rasional bahwa kebutuhan dakwah untuk segmentasi khusus perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Beberapa saran yang dapat dilaksanakan oleh peneliti lain, antara lain: 1) model dakwah ini memerlukan uji efektivitas sehingga, lebih dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya bagi umat; 2) pemanfaatan media sosial perlu ditambah, seperti Telegram, Instagram, dan Line melalui akun-akun resmi yang dapat 53Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) menerima hotline dan adanya tindak lanjut; 3) perlunya lebih banyak kajian dan kerjasama dalam bidang dakwah dengan pendekatan hubungan sosial antara komunitas gay di seluruh Indonesia. Melalui saran-saran tersebut diharapkan model dakwah dan konseling ini akan dapat berkembang secara lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Adelia, D., Novitasari, D., Laraswati, N., Saprila, S., & El Layli, S. R. (2016). Program Coming Out Kaum LGBT Dewasa Awal pada Masyarakat dan Keluarga. Jurnal Psikologi Dan Ilmu Sosial, 5(9), 1–8. Adriani, S., Angai, A. I., & Pradoponingrum, R. A. (2017). Pengungkapan Diri Gay Kepada Keluarga. Psikosains, 12(1), 1–8. Akbar, C. (2016). Faahisyah. Retrieved November 30, 2018, from hidayatullah.com website: https://www.hidayatullah.com/spesial/ hidcompedia/read/2016/02/16/89469/faahisyah.html Aliyudin. (2010). Prinsip-Prinsip Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an. Jurnal Ilmu Dakwah, 4(15), 1007–1021. https://doi.org/10.15575/ idajhs.v5i15.431 Andi, F. (2017). Kenapa Bonus Demografi Jadi Kesempatan Emas bagi Indonesia? Retrieved November 30, 2018, from tribunnews.com website: http://www.tribunnews.com/kilas- kementerian/2017/09/29/kenapa-bonus-demografi-jadi- kesempatan-emas-bagi-indonesia Ardiansyah. (2018). Upaya Bimbingan Konseling Nilai dan Spiritual Terhadap Transgender di Yogyakarta. Counsellia: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 8(2), 71–87. https://doi.org/10.25273/counsellia. v8i2.2568 Arifin, A. (2011). Dakwah Kontemporer: Sebuah Studi Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu. Aryanti MA, Z. (2016). Faktor Resiko Terjadinya LGBT pada Anak dan Remaja. NIZHAM: Jurnal Studi Keislaman, 5(1), 42–49. 54 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Asmara, K. Y., & Valentina, T. D. (2017). Konsep Diri Gay yang Coming Out. Psikologi Udayana, 4(2), 277–289. Ayub. (2017). Penyimpangan Orientasi Seksual (Kajian Psikologis dan Teologis). Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 1(2), 181–226. https:// doi.org//10.21111/tasfiyah.v1i2.1851 Azmi, K. R. (2015). Enam Kontinum Dalam Konseling Transgender sebagai Alternatif Solusi untuk Konseli LGBT. Jurnal Psikologi Pendidikan Dan Konseling: Jurnal Kajian Psikologi Pendidikan Dan Bimbingan Konseling, 1(1), 50. https://doi.org/10.26858/jpkk. v1i1.1136 Azmi, K. R., & Kharis, M. (2019). Optimalization of Interfaith Organization (IO) in ASEAN: Inspiration from Indonesian’s IO (Forum Kerukunan Umat Beragama) for Preventing and Dealing Conflicts in Myanmar, Thailand, and Indonesia. International Research Journal of Multidisciplinary Studies, 5(2), 1–8. Bancroft, J., Beckstead, A. L., Byrd, A. D., Carlson, H. M., Cohen, K. M., Savin-Williams, R. C., … Yarhouse, M. A. (2003). Understanding the Self-reports of Reparative Therapy “Successes.” Archieves of Sexual Behavior, 32(5), 419–468. https://doi.org/10.1300/5503_06 Bartlett, A. (2018). Conversion Therapy and the LGBT Community. BJPsych Bulletin, 42(6), 264. https://doi.org/10.1192/bjb.2018.90 Bockting, W. O., Knudson, G., & Goldberg, J. M. (2006). Counseling and Mental Health Care for Transgender Adults and Loved Ones. International Journal of Transgenderism, 9(3–4), 35–82. https://doi. org/10.1300/J485v09n03_03 Calvert, C., Carnley, K., Link, B., & Riedemann, L. (2013). Conversion Therapy and Free Speech: A Doctrinal and Theoretical First Amendment Analysis. William & Mary Journal of Women and the Law, 20(9), 525–571. Corey, G. (2015). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont, California: Thomson Brooks/ Cole. Davies, S. G. (2016). Indonesian ‘Tolerance’ under Strain as Anti-LGBT Furore Grows. Retrieved November 30, 2018, from ass.asn.au website: http://asaa.asn.au/indonesian-tolerance-under-strain-as- anti-lgbt-furore-grows/ 55Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Depkes R.I. (1993). Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta: Bhakti Husada. Dores, A. (2016). Konsep Bimbingan Konseling Islam dalam Mengatasi Remaja Terjerumus Dalam Perilaku Homoseksual. Intelektualita, 5(1), 57–66. Drescher, J. (2018). Sexual Conversion Therapies. Article. Ebta, S. (2018). Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Retrieved November 30, 2018, from kbbi.web.id website: https://kbbi.web. id/kontinum Effendy, O. U. (2003). Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditia Bakti. Ermayani, T. (2017). LGBT dalam Perspektif Islam. Jurnal Humanika, XVII(2), 147–168. https://doi.org/10.21831/hum.v17i1.18569 Fadhilah, T. S. (2015). Pasanganku Sejenisku (Studi Kasus tentang Gay yang Coming Out kepada Orang Tua). Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling, 9(5), 1–16. Faizin, M. (2016). Konseling Islam sebagai Solusi Fenomena Transgender. NIZHAM, 05(01), 88–96. https://doi.org/10.17605/OSF. IO/32H4K Fauzan, L. (2008). Teknik-Teknik Komunikasi untuk Konselor. Malang: UM Press. Fikri, H. K. (2015). Metode Dakwah: Solusi untuk Menghadapi Problematika Dakwah Kontemporer. Komunike, 7(2). Haldeman, D. C. (1994). The Practice and Ethics of Sexual Orientation Conversion Therapy. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 62(2), 221–227. Harahap, R. D. K. A. (2016). LGBT di Indonesia: Perspektif Hukum Islam, HAM, Psikologi dan Pendekatan Maṣlaḥah. Al-Ahkam, 26(2), 223–248. https://doi.org/10.21580/ahkam.2016.26.2.991 Haridi, N. H., Rahman, K. A. A., & Wazir, R. (2016). Metodologi Dakwah Terhadap Golongan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Jurnal Pengajian Islam, 9(II), 103–119. Heiman, J. R., & Bass, J. L. (2015). Kinsey Institute. In P. Whelehan & A. Bolin (Eds.), The International Encyclopedia of Human Sexuality (pp. 633–647). https://doi.org/10.1002/9781118896877.wbiehs250 56 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Herek, G. M. (1999). “Reparative Therapy” and Other Attempts to Alter Sexual Orientation : A Background Paper. 1–4. Hidayati, N. ’Azmi U. (2017). Interaksi Simbolik Kaum Gay: Studi Fenomenologi Kaum Gay di Kalangan Mahasiswa di Yogyakarta. Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Surakarta. Irsyad, S. (2018). Mendidik Muslim Millenial Berkemajuan. Retrieved November 30, 2018, from muhammadiyah.or.id website: http:// www.muhammadiyah.or.id/id/news-13411-detail-mendidik- muslim-millenial-berkemajuan.html Johnson, D. H. (2014). Reaching Out: Interpersonal Effectiveness and Self- Actualization (11 Ed). Boston, MA: Pearson Education, Inc. LGBTQ therapy team. (2018). LGBT Therapy. Retrieved November 30, 2018, from thegaytherapycenter.com website: https://www. thegaytherapycenter.com/ Mallory, C., Brown, T. N. T., & Conron, K. J. (2018). Conversion Therapy and LGBT Youth. The Williams Institute UCLA School of Law, (January), 1–8. Retrieved from https://williamsinstitute.law.ucla. edu/wp-content/uploads/Conversion-Therapy-LGBT-Youth- Jan-2018.pdf Masters, W., Johnson, V. E., & Kolodny, R. C. (1997). Human Sexuality (4th Ed). Boston: Allyn & Bacon. Muttaqin, I. (2016). Membaca Strategi Eksistensi LGBT di Indonesia. Raheema: Jurnal Studi Gender Dan Anak, 3(1), 78–86. https://doi. org/10.24260/raheema.v3i1.562 Niam, A. M. (2018). Memanfaatkan Teknologi untuk Berdakwah dan Pengembangan Potensi Diri. Retrieved November 30, 2018, from nu.or.id website: http://www.nu.or.id/post/read/89244/ memanfaatkan-teknologi-untuk-berdakwah-dan-pengembangan- potensi-diri Nirwanto, G. D. (2016). Pembingkaian Berita Pro Kontra LGBT di Laman Topik Pilihan Kompas.com. Jurnal E-Komunikasi, 4(1), 1–12. Nursyamsi, M., & Aminah, A. N. (2018). Kebutuhan Dakwah Generasi Milenial. Retrieved November 30, 2018, from republika.co.id website: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/ islam-nusantara/17/10/19/oy2t7p384-jokowi-metode-dakwah- medsos-efektif-bagi-generasi-milenial 57Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Papilaya, J. O. (2016). Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) dan Keadilan Sosial. Pax Humana: Jurnal Humaniora Yayasan Bina Dharma, 3(1), 25–34. Pappas, S., & Ghose, T. (2013). Gay Conversion Therapy: What You Should Know. Retrieved November 30, 2018, from livescience.com website: https://www.livescience.com/38987-gay-conversion- therapy-facts.html Pratama, R. A. M., Fahmi, R., & Fatmawati. (2018). Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender: Tinjauan Teori Psikoseksual, Psikologi Islam dan Biopsikologi. Jurnal Psikologi Islami, 4(1), 27–34. https://doi. org/10.19109/psikis.v4i1.2157 Putra, Y. S. (2016). Theoritical Review: Teori Perbedaan Generasi. Jurnal Among Makarti, 9(18), 123–134. Ripper, M. (2007). Fishing For Taddies: Emotion Work In Lesbian Women Search For Sperm Donors In South Australia. Gay & Lesbian Issues and Psychology Review, 3(1), 16–24. Rubawati, E. (2018). Media Baru: Tantangan dan Peluang Dakwah. Jurnal Studi Komunikasi (Indonesian Journal of Communications Studies), 2(1), 126–142. https://doi.org/10.25139/jsk.v2i1.586 Santoso, B. M. (2017). LGBT dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Share: Social Work Journal, 6(2), 154–272. https://doi.org/10.24198/ share.v6i2.13206 Santrock, J. W. (2011). Developmental Psychology. New York: Mc Graw Hill. Sirajuddin, M. (2014). Pengembangan Strategi Dakwah Melalui Media Internet (Peluang dan Tantangan). Al-Irsyad Al-Nafs: Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam, 1(1), 11–23. Sonenschein, D. (1968). The Ethnography of Male Homosexual Relationships. The Journal of Sex Research, 4(2), 69–83. https://doi. org/10.1080/00224496809550559 Suherry, Mandala, E., Mustika, D., Bastiar, R., & Novalino, D. (2016). Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dalam Perspektif Masyarakat dan Agama. Aristo, 4(2), 89–99. https:// doi.org/10.24269/ars.v4i2.191 Sujana, I. N., Setyawati, K. A., & Ujanti, N. M. P. (2018). The Existence of the Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) Community in the Perspective of a State Based on Pancasila. Mimbar Hukum 58 Model Dakwah Milenial untuk Homoseksual Melalui Teknik Kontinum Konseling Berbasis Alquran Khilman Rofi Azmi Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, January – June 2019, pp. 25 - 58, DOI: 10.22515/balagh.v4i1.1557 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 30(1), 126. https://doi. org/10.22146/jmh.28655 Suriani, J. (2017). Kebutuhan Dakwah Generasi Milenial. Retrieved March 15, 2019, from uin-suska.ac.id website: https://uin-suska. ac.id/2017/10/27/aktualisasi-dakwah-di-era-cyber/ Syaikh, M. bin A. R. bin I. alu. (2015). Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Asy Syafi’i. Winurini, S. (2016). Memaknai Perilaku LGBT di Indonesia (Tinjauan Psikologi Abnormal). Info Singkat Kesejahteraan Sosial, VIII(05), 9–12. Wright, T., Candy, B., & King, M. (2018). Conversion Therapies and Access to Transition-related Healthcare in Transgender People: a Narrative Systematic Review. BMJ Open, 8(e022425), 1–12. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2018-022425 BMJ Yansyah, R., & Rahayu. (2018). Globalisasi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT): Perspektif HAM dan Agama dalam Lingkup Hukum di Indonesia. Law Reform, 14(1), 132. https:// doi.org/10.14710/lr.v14i1.20242 Zucker, K. J. (2003). The Politics and Science of “Reparative Therapy.” Archieves of Sexual Behavior, 32(5), 399–402. Zulhazmi, A. Z., & Hastuti, D. A. S. (2018). Da’wa, Muslim Millennials and Social Media. Lentera, 2(2), 212–138. https://doi.org/10.21093/ lentera.v2i2.1235 1. Artikel bersifat ilmiah berisi hasil riset empiris atau gagasan konseptual dan belum pernah dipublikasikan di sebuah jurnal. Artikel juga bukan merupakan satu bab utuh dari tesis atau disertasi. 2. Panjang artikel antara 15-30 halaman, tidak termasuk judul, abstrak (abstract), kata kunci (keywords), dan bibliografi. 3. Artikel terdiri dari beberapa bagian, yaitu: judul, nama penulis, abstrak (200-250 kata), kata kunci (maksimal 5 kata), dan bibliografi, dengan detil ketentuan sebagai berikut: • Penulisan judul tidak boleh lebih dari lima belas (15) kata. • Nama penulis ditulis lengkap tanpa gelar, dilengkapi dengan asal institusi, alamat korespondensi (e-mail address), serta nomor telephone/handphone. • Abstrak terdiri dari konteks diskursus area disiplin; tujuan penulisan artikel; metodologi (jika ada); temuan riset; kontribusi tulisan di dalam area disiplin. Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. • Pendahuluan terdiri dari pemetaan penelitian terdahulu (literature review, sebaiknya temuan riset sepuluh tahun terakhir) dan novelti tulisan; batas permasalahan yang dibahas; dan argumentasi utama tulisan. • Pembahasan berisi proses reasoning argumentasi utama tulisan. • Kesimpulan berisi jawaban atas permasalahan tulisan, berdasarkan perpektif teoritis dan konseptual yang dibangun oleh penulis. • Referensi mencantumkan sumber pustaka yang menjadi rujukan. • Gaya kutipan menggunakan American Psychological Association (APA) 6th Edition, memakai model pengutipan body note (penulis tahun), dengan ketentuan detail sebagai berikut: KETENTUAN PENULISAN ARTIKEL 1. Book Dalam referensi ditulis : Azwar, S. (2016). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Di dalam kutipan ditulis : (Azwar, 2016) 2. Edited book(s) Dalam referensi ditulis : Cone, J. D. (1999). Observational assessment: Measure development and research issues. dalam P. C. Kendall, J. N. Butcher, & G. N. Holmbeck (Eds.), Handbook of research methods in clinical psychology (pp. 183-223). New York: Wiley. Di dalam kutipan ditulis : (Cone, 1999) 3. E-book(s) Dalam referensi ditulis : Sukanta, P. O., ed. (2014). Breaking the Silence: Survivors Speak about 1965-66 Violence in Indonesia (translated by Jemma Purdey). Clayton: Monash University Publishing. Diakses dari http://books.publishing. monash.edu/apps/bookworm/view/Breaking+the+Silence%3A+ Survivors+Speak+about+1965%E2%80%9366+Violence+in+Ind onesia/183/OEBPS/cop. htm, tanggal 31 Maret 2016. Di dalam kutipan ditulis : (Sukanta, 2014) 4. Article of the Journal a. Journal With Digital Objective Identifier (DOI) Dalam referensi ditulis : Tekke, M., & Ghani, F. (2013). Examining Career Maturity Among Foreign Asian Students : Academic Level. Journal of Education and Learning. Vol. 7 (1), 29-34. DOI: http://dx.doi. org/10.11591/edulearn.v7i1.173 Di dalam kutipan ditulis : (Tekke & Ghani, 2013) b. Journal Without Digital Objective Identifier (DOI) Dalam referensi ditulis : Arbiyah, N., Nurwianti, F., & Oriza, D. (2008). Hubungan bersyukur dengan subjective well being pada penduduk miskin. Jurnal Psikologi Sosial, 14(1), 11-24. Di dalam kutipan ditulis : (Arbiyanti, Nurwianti, & Oriza, 2008) c. E-Journal Dalam referensi ditulis : Crouch, M. (2016). “Constitutionalism, Islam and the Practice of Religious Deference: the Case of the Indonesian Constitutional Court.” Australian Journal of Asian Law 16, 2: 1-15. http://papers. ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2744394, diakses 31 Maret 2016. Di dalam kutipan ditulis : (Crouch, 2016) 5. Article Website a. Dengan Penulis Dalam referensi ditulis : Hendrian, D. (2016, Mei 2). Memprihatinkan Anak Pengguna Narkoba Capai 14.000. Retrieved September 27, 2017, from http://www.kpai.go.id/berita/memprihatinkan-anak-pengguna- narkoba-capai-14-ribu/ Di dalam kutipan ditulis : (Hendrian, 2016) b. Tanpa Penulis Six sites meet for comprehensive anti-gang initiative conference. (2006, November/December). OJJDP News @ a Glance. Retrieved from: http://www.ncjrs.gov/htmllojjdp/news_ acglance/216684/topstory.htmI tanggal 10 Agustus 2012. Di dalam kutipan ditulis : (http://www.ncjrs.gov/htmllojjdp/ news_acglance/216684/topstory.htmI, 2006) Saifuddin, A. (2016). Peningkatan Kematangan Karier Peserta Didik SMA Melalui Pelatihan Reach Your Dreams dan Konseling Karier (Tidak Diterbitkan). Surakarta : Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Di dalam kutipan ditulis : (Saifuddin, 2016) 7. Manuskrip Institusi Pendidikan Yang Tidak Dipublikasikan Dalam referensi ditulis : Nuryati, A., & Indati, A. (1993). Faktor-faktor yang memengaruhi prestasi belajar. Unpublished Manuscript, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di dalam kutipan ditulis : (Nuryati & Indiati, 1993) 4. Penulisan gaya pengutipan dihimbau menggunakan perangkat citation manager, seperti Mendeley, Zotero, EndNote, RefWorks, BibText dan lain sebagainya dengan memakai American Psychological Association (APA) 6th Edition. 5. Transliterasi bahasa Arab menggunakan standar International Journal of Middle Eastern Studies, detail transliterasi dapat diunduh di http:// ijmes.chass.ncsu.edu/docs/TransChart.pdf 6. Artikel bebas dari unsur plagiat, dengan melampirkan bukti (screenshot) bahwa artikel telah dicek memakai piranti lunak antiplagiat, misalnya, tetapi tidak terbatas pada, plagiarism checker (plagramme.com). 6. Skripsi, Tesis, atau Disertasi Yang Tidak Dipublikasikan Dalam referensi ditulis :