ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2018 Editorial Team Editor-In-Chief Imam Mujahid, IAIN Surakarta Editorial Board Kamaruzzaman bin Yusof, Universiti Teknologi Malaysia Waryono Abdul Ghafur, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta Moch. Choirul Arif, UIN Sunan Ampel, Surabaya Imas Maesaroh, UIN Sunan Ampel, Surabaya Syakirin Al-Ghazali, IAIN Surakarta Ahmad Hudaya, IAIN Surakarta M. Endy Saputro, IAIN Surakarta Managing Editor Akhmad Anwar Dani, IAIN Surakarta Ahmad Saifuddin, IAIN Surakarta Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, IAIN Surakarta Alamat Redaksi : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Surakarta Jl. Pandawa No. 1, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah 57168 Phone : +62 271 - 781516 Fax : +62 271 - 782774 Surel : journal.albalagh@gmail.com, journal.albalagh@iain-surakarta.ac.id Laman : http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2018 Daftar Isi Motif Syekhermania Mengakses Video Dakwah Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegafs Uwes Fatoni dan Eka Octalia Indah Librianti 1 - 26 Pertobatan Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) Di Majelis Asy-Syifa: Studi Deskriptif Bimbingan Sosio-Spiritual Titik Rahayu 27 - 44 Analisis Wacana Kritis Berita “Kematian Terduga Teroris Siyono” Di Harian Solopos Fathan 45 - 72 Analisis Framing Pesan Kesalehan Sosial pada Buku Ungkapan Hikmah Karya Komaruddin Hidayat Muhammad Reza Fansuri dan Fatmawati 73 - 102 Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional Sebagai Media Dakwah Di Era Budaya Populer Nor Kholis 103 - 125 Peran Masjid dalam Mempersatukan Umat Islam: Studi Kasus Masjid Al-Fatah, Pucangan, Kartasura Syakirin 127 - 148 SYIAR MELALUI SYAIR: EKSISTENSI KESENIAN TRADISIONAL SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI ERA BUDAYA POPULER DOI : http://dx.doi.org/10.22515/balagh.v3i1.984 Nor Kholis Peneliti Label, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Keywords: Popular culture, da’wah, traditional art, transformation. http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh © 2018 IAIN Surakarta ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) Alamat korespondensi: e-mail: annurkholis24@gmail.com Abstract Traditioanl art in the era of popular culture has begun to be abandoned. One form of traditional art can be used as a medium of propaganda. This research want to see hoe the existetence, fungtion and value of traditional art Kubro Siswo in the era of popular culture. The method used in this research is descriptive – analysis. The results show traditional art still in demand because it has its own fascination after transformation happened. The transformation is a result of planned chance from the internal aspect. While the function of the art that still can be used as syiar media and also as social relation bond. While the values there are accepted by the society toward those only limited on entertainment, not yet understood its philosopical values. However with those art, the society can be used as facility to strengththen and increase quality of the relationship one another. Abstrak Kesenian tradisional di era budaya populer sudah mulai ditinggalkan. Padahal salah satu fungsi kesenian tradisional bisa digunakan sebagai media dakwah. Penelitian ini ingin melihat bagaiamana eksistensi, fungsi dan nilai-nilai kesenian tradisional Kubro Siswo di era budaya populer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif– analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesenian tradisional masih diminati karena memiliki daya tarik tersendiri setelah adanya transformasi. Terjadinya trasformasi dikarenakan perubahan yang direncanakan dari internal. Sementara fungsi dari kesenian tersebut masih bisa digunakan sebagai media syiar dan berfungsi sebagai pengikat hubungan sosial. Adapun nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat luas terhadap kesenian tersebut baru sebatas hiburan, belum dipahami nilai-nilai filosofisnya. Meskipun demikian dengan adanya kesenian tersebut oleh masyarakat luas bisa sebagai sarana untuk saling mempererat dan meningkatkan silaturahmi antara individu dengan individu yang lain. Kata kunci: Budaya Populer, Dakwah, Kesenian Tradisonal, Transformasi. Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 104 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional I. PENDAHULUAN Salah satu metode dakwah Islam yang dikembangkan di Indonesia yaitu melalui media kesenian tradisional. Kesenian tradisional biasanya identik dengan syair yang digunakan untuk mengiringinya pada saat pertunjukan. Dalam syair tersebut terkandung nilai–nilai dakwah yang ingin disampaikan. Salah satu kesenian tradisional yang mengunakan syair ialah Kubro Siswo. Di era globalisasi dengan maraknya budaya populer, eksistensi kesenian tradisional, termasuk Kubro Siswo perlu menyesuaikan dengan permintaan masyarakat. Jika tidak maka akan tergantikan dengan kesenian populer. Dengan hilangnya kesenian tradisional maka nilai–nilai kearifan tidak bisa dikembangkan sebagai syiar agama (Syarifah, 2016). Inilah yang menjadi tantangan bagaiamana supaya kesenian tradisional tetap bisa dilestarikan di era globalisasi saat ini. Menurut Bustamam, ada beberapa isu yang harus diperhatikan mengenai globalisasi. Pertama, Globalisasi menyebabkan hilangnya batas– batas negara (borderless) sehingga terjadi penyatuan umat manusia yang melampaui batas negara, bangsa, suku, ras dan agama. Kedua, terjadinya krisis identitas yang terjadi akibat proses asimilasi dan akulturasi karena penyebaran manusia (diaspora) yang bisa menghilangkan keaslian budaya setempat. Ketiga, terjadinya distingsi terutama dalam bidang ekonomi antara negara maju dan negara yang belum maju (Bustamam-Ahmad, 2004). Dalam konteks ini budaya barat memainkan peran signifikan terhadap pembentukan peradaban manusia. Konvergensi media dakwah di era globaliasi berkembangan seiring dengan cepatnya gerak perubahan yang terjadi di masyarakat. Konvergensinya dapat dibagi dalam beberapa bentuk, pertama transformasi nilai-nilai dakwah lewat media digital. Nilai-nilai dakwah disebarkan dalam berbagai format media baru seperti film (Pratiwi, 2018), musik (Satria & Mohamed, 2017), novel (Fitriyah, Lubis, & Mardhiah, 2016), puisi, game, media sosial (Aminuddin, 2018) dan berbagai media digital lainnya (Saefulloh, 2014). Kedua, penggunaan media lama dengan format 105 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 dan materi baru seperti pagelaran wayang kulit, kesenian hadrah (Mansur, 2015), kompolan (Halik, 2012; Hafil, 2016) dan berbagai kesenian lama yang dimodernisasi. Ketiga, optimalisasi organisasi sosial di masyarakat sebagai wadah penyebaran nilai-nilai dakwah (Slamet, 2014). Hal ini terlihat dari maraknya kegiatan dakwah di organisasi kepemudaan baik yang formal di sekolah dan perguruan tinggi maupun masyarakat secara umum (Ja’far, 2016; Shodiq, 2016). Konvergensi media dakwah harus dilakukan terutama untuk membentengi generasi muda dari berbagai masalah keagamaan kekinian yang semakin kompleks. Beberapa isu yang menjadi tantangan dakwah di era digital adalah liberalisme dalam beragama (Idris, 2017), penyebaran paham radikalisme (Nuraida, 2011), stigmatisasi islam sebagai agama teror (Huda, 2015), tindakan anarkis ormas keagamaan hingga pergeseran otoritas keagamaan di era digital (Epafras, 2016). Kubro Siswo merupakan salah satu kesenaian tradisional yang berkembang di tanah Jawa yang serat dengan nilai–nilai dakwah Islami. Di era globalisasi saat ini, kesenian tersebut telah melakukan transformasi agar bisa mengikuti perkembangan zaman, tujuanya supaya kesenian tersebut tetap diminati oleh kalangan masyarakat luas. Jika dilihat perkembang Kubro Siswo, sejak memasuki era modernisasi sudah kurang diminati oleh masyarakat. Kesenian tersebut biasanya hanya ditampilkan pada acara–acara tertentu, seperti peringatan hari kemerdekaan atau untuk penyambutan tamu dan itu pun hanya ditampilkan dengan durasi waktu yang cukup singkat. Sehingga nilai–nilai filosofis yang ingin dibawakan dalam pertunjukan tersebut tidak bisa dinikmati secara utuh. Kesenian tradisional saat ini ibarat hidup tak mau mati pun tak mau. Setidaknya ada beberapa penyebab hidup matinya kesenian tradisional, diantaranya karena faktor politik, ekonomi, perubahan selera masyarakat dan kalah saing dengan pertunjukan yang lain (Soedarsono, 2002). Oleh karena itu kesenian Kubro Siswo kemudian melakukan transformasi dengan tanpa meninggalkan pakem yang sudah ada. 106 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional Salah satu transformasi yang dilakukan yaitu dengan memberikan iringan pada setiap syair-syairnya yang digunakan ketika pertunjukan dimulai, yaitu dengan mengkombinasikan antara instrumen musik tradisional dengan instrumen yang lebih modern menggunakan alat musik yang biasanya digunakan untuk mengiringi musik dangdut, seperti kendang, keyboard, drum dan seruling. Sehingga masyarakat meyebutnya dengan nama “Brodut” yang merupakan kependekan dari Kubro Dangdut. Sejak mulai dirintis kurang lebih tiga tahun yang lalu kesenian hasil perubahan dari kubro ini telah berkembang pesat dan saat ini telah memiliki penggemar (fans) dari seluruh lapisan masayarakat termasuk dari kalangan para remaja dan pemuda (Ahmad, 2017). Penelitian ini akan melihat (1) Bagaimana terjadinya proses transformasi kesenaian Kubro Siswo dalam mengikuti perkembangan zaman. (2) Bagiamana fungsi dari Kubro Siswa sendiri setelah mengalami transformasi, apakah masih memiliki nilai-nilai sebagai media dakwah pada awalnya (3) Bagaiamana nilai – nilai yang diterima oleh masyarakat dengan hadirnya kesenian tersebut. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) kualitatif. Pada rentang waktu satu bulan, mulai dari tanggal 17 Agustus - 17 September 2017. Lokasi penelitian dilakukan selain di Desa Gunung Lemah, juga dilakukan di beberapa tempat mengikuti tempat dimana pertunjukan ditampilkan. Pertujukan kesenian dimulai dari pukul 21.00 – 24.00 WIB. Data dikumpulkan melalui tiga aspek. Pertama, Observasi, dilakukukan di Desa Gunung Lemah dan beberapa tempat mengikuti ketika pementasan pertunjukan. Kedua, wawancara. Ditujukan kepada beberapa nara sumber, seperti ketua, pengurus kesenian tradisional kubro siswo Desa Gunung Lemah dan para pengemar (fans). Ketiga, Dokumentasi, dilakukan melalui telaah sumber-sumber dan arsip-arsip terkait dengan penelitian seperti buku, artikel, skripsi, desertasi, maupun foto -foto. 107 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif – analisis dengan menggunakan teori perubahan sosial dan identitas sosial sebagai pisau analisis. Kesenian Kubro Siswo di Gunung Lemah telah ada sejak tahun 1997. Namun kesenian ini mengalami pasang surut karena menurunnya minat masyarakat terhadap kesenian tersebut. Oleh karenanya saat ini mengalami transformasi. Melalui teori perubahan sosial akan digunakan untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi dalam kesenian tradisional Kubro Siswo yang saat ini telah mengalami transformasi menjadi kesenian yang lebih modern (brodut). III. PERKEMBANGAN DAKWAH DI INDONESIA Salah satu metode dakwah yang dikembangkan di Indonesia dilakukan dengan mengunakan media kesenaian tradisional, sehingga dakwah tersebut dapat dipahami dan diterima secara baik oleh masyarakat. Inilah yang dimaksud oleh Harold Laswell bahwasanya komunikasi yang dilakukan oleh komunikator kepada komunikan denganjika mengunakan media maka bisa menimbulkan efek tertentu (Suhadang, 2013). Dengan demikian pesan yang dimaksudkan oleh komuniktor dapat dipahami secara baik oleh komunikan dan memberikan efek tertentu. Dalam konteks pesan dakwah yang dikembangkan di Indonesia, maka media dakwah melalui kesenian tradisional merupakan cara efektif untuk menimbulkan efek ketertarikan kepada komunikan. Lebih lanjut menurut Suhadang, dalam menyampaikan pesan perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, Proses pembuatan pesan, dalam proses pembuatan komunikasi yang lengkap perlu melibatkan tujuh unsur di dalamnya yaitu: sumber, komunikator, pesan, media, komunikan, tujuan, dan akibat. Kedua, Penyesuaian pesan, dalam hal ini persamaan pengalaman antara komunikator dengan komunikan akan membantu terjadinya proses komunikasi yang baik, selain itu juga perlu adanya daya tarik dari seorang komunikator. Ketiga, Karakter pesan, dalam menentukan karakter pesan jika ditinjau dari teori psikologi, bahwasanya untuk melanjutkan komunikasi 108 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional maka harus diperhatikan terlebih dahulu tentang beberapa aspek seperti organisasi, struktur dan bahan pesan tersebut. Keempat, dimenensi karakter komunikator. Ada tiga hal pengaruh dari komunikasi yang terjadi pada orang lain, yaitu internalisasi, identifikasi, dan pengaruh ketundukan. Pengaruh internalisasi, apabila orang menerima pengaruh dikarenakan gagasan, pikiran dan anjuran yang ditawarkan oleh orang lain yang memiliki kesesuaian dengan sistem nilai yang dimiliki. Pengaruh identifikasi yaitu saat orang menerima pengaruh dan mengambil perilaku dari orang lain atau organisasi kerena keduanya telah mendifinisikan dirinya secara memuaskan. Pengaruh ketundukan, yaitu apabila orang menerima pegaruh dari orang lain karena berharap ia mendapatkan reaksi yang menyenangkan dari orang atau kelompok tersebut (Suhadang, 2013). Dari kaca mata komuniaksi sebagaimana dijelaskan Suhadang yang mengutip pendapat Wilbur Schramm dalam mempengaruhi seseorang perlu terlebih dahulu disesuaikan dengan kondisi–kondisi yang ada pada si penerima, yaitu sesuai dengan status pribadinya, situasi, dan norma – norma kelompok yang ada di lingkungan dari penerima. Bentuk – bentuk tersebut sepertinya telah dipahami oleh para da’i pada waktu itu. Islam disebarkan ke Indonesia melalui beragam cara salah satunya dengan mengunakan media kesenian tradisional. Wayang kulit umpamanya merupakan salah satu kesenian yang dikembangkan sebagai sarana dakwah dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Kesenian tersebut dikembangkan oleh Sunan Kalijaga untuk menarik masyarakat. Penggunakan kesenian wayang kulit tidak lepas dari latar belakang dimana pada waktu itu wayang sedang berkembang pesat di tengah para penganut kepercayaan agama Hindu – Budha. Sehingga secara internalisasi masyarakat merasakan nilai-nilai yang sama dari yang telah dimiliki sebelumnya. Kepandaian Sunan Kalijaga dalam mengkreasikan kesenian wayang pada akhirnya bisa menarik masyarakat untuk datang menyaksikan pertunjukan tersebut, sehinga pada akhirnya mereka mau memeluk agama 109 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 Islam berkat syarat yang dianjurkan oleh Sunan Kalijaga yakni dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga merupakan strategi internalisasi yakni dengan cara mengkuti trend yang sedang berkembang dan itu merupakan bagian dari masyarakat. Dengan demikian dakwah yang disampaikan bisa masuk dan diterima oleh semua pihak. Dengan metode dakwah yang dikembangkan tersebut maka Islam bisa tersebar secara luas karena Islam mampu menunjukan wajah Islam yang akomodatif (Supriyanto, 1970). Jika dilihat penyebaran Islam di Indonesia perkembangan dakwah dimulai sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, setidaknya ada tiga yang berkembang mengenai teori tentang masuknya islam di Indonesia, yaitu teori Arab, Gujarat, dan Persia. Namun berdasarkan hasil seminar di Medan yang kemudian dikukuhkan kembali oleh seminar di Aceh menghasilkan beberapa keputusan dimana salah satunya memaparkan mengenai masuknya Islam ke Indonesia, diantaranya: Pertama, Islam masuk pertama kali ke Indonesia dari Arab sejak abad pertama hijrah sekitar abad ke 7 dan 8 M, ini sebagai koreksi atas teori yang dikembangkan oleh sarjana barat yang mengatakan bahwa baru abad ke 13 masuknya Islam ke Indonesia melalui Persia dan India. Kedua, Islam disebarkan secara damai di Indonesia bukan dengan cara kekerasan. Hal ini tidak lepas dari yang pengetahuan di publik yang banyak disalahpahami bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit disebabkan kerena Islam. Ketiga, Islam datang ke Indonesia dengan membawa peradaban yang tinggi dalam upaya pembentukan kepribadian bangsa Indonesia (Hasymy, 1993). Dari beberapa versi mengenai masuknya Islam ke Indonesia ada titik kesamaan mengenai Islam di Indonesia, yaitu bahwasanya Islam disebarkan secara damai, baik melalui perdagangan, perkawinan maupun kesenian. Dengan cara-cara tersebut Islam bisa diterima oleh masyarakat secara baik. Islam mampu mengakomodasi dari kepercayaan masyarakat dari pemahaman terhadap agama–agama yang sudah ada sebelumya. Dengan cara demikian maka Islam secara perlahan memberikan stimulus 110 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional atas ajaranya sehingga Islam bisa diterima secara luas, karena Islam mampu menyesuaikan dengan ketidaksamaan dengan paham maupun kepercayaan- kepercayaan yang sudah ada sebelumnya. Menurut Buztaman - Ahmad (2004), ada tiga kemungkinan ketika Islam tidak sesuai dengan konteks yang ada maka, Pertama, terjadinya pengubahan terhadap aspek – aspek tersebut untuk disesuaikan dengan ajaran Islam. Dalam konteks ini memunculkan gerakan - gerakan yang ingin memurnikan agar disesuaikan dengan ajaran Islam. Kedua, melakukan interpretasi ajaran Islam terhadap konteks yang ada sehingga aspek – aspek yang ada sebelumnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian dari sinilah memunculkan kelompok modernis. Ketiga, Ajaran Islam menjadi bagian otonom dalam kehidupan masyarakat sehingga Islam tidak perlu dicapurkan oleh aspek-aspek tersebut karena Islam hanya sebagai ajaran pribadi, dalam hal ini munculah kelompok sekularisme. Dengan demikian perkembangan dakwah Islam di indonesia bisa dilakukan secara akomodatif, yakni tidak melawan arus dengan budaya yang sudah ada, tidak juga sebaliknya, akan tetapi Islam justru mampu menyesuaikan dan berkompromi terhadap antara ajarannya dengan konteks masyarakat yang telah ada sebelumnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwasanya penyebaran dakwah di Indonesia dilakukan secara damai tanpa dilakukan kekerasan, sehingga sampai saat ini Islam bisa berkembang secara baik di Indonesia. IV. KESENIAN TRADISIONAL SEBAGAI MEDIA DAKWAH Ada beragam kesenian tradisional yang digunakan sebagai media dakwah agama Islam di Indonesia. Masing – masing memiliki metode yang persuasif sebagai ajakan kepada masyarakat secara luas. Namun seiring perkembangan zaman dan tuntunan selera masyarakat maka kesenian tradisional harus bisa ikut menyesuaikan agar mampu bertahan di era modernisasi saat ini. Dengan demikian nilai yang dibawakan oleh kesenian tersebut bisa semakin dilestarikan dan tetap bisa digunakan sebagai sarana 111 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 dakwah. Beberapa kesenian tradisional yang digunakan sebagai media dakwah Islam diantaranya: A. Wayang Sebagai kesenian tradisional, wayang merupakan satu media untuk dakwah yang dulu digunakan oleh para wali dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Wayang memiliki alur cerita tentang agama–agama yang ada sebelum Islam seperti Hindu dan Budha. Kedua agama tersebut telah ada jauh sebelum Islam datang ke Indonesia Sehingga alur cerita yang dibawakan dalam pertunjukan wayang alur cerita yang dibawakan juga menceritakan tidak jauh mengenai agama yang ada sebelum Islam datang ke Indonesia. Namun demikian ketika para wali sanga mulai menyebarkan Islam ke Indonesia, kesenian wayang diadopsi oleh para wali sanga untuk digunakan sebagai media dakwah dalam menyebarkan agam Islam. Mereka merubah alur cerita yang terkadnug di dalamnya yang diganti dengan nilai – nilai Islami. Ada beberapa pertimbangan yang dilakukan oleh Sunan kalijaga mengunakan jalur kesneian sebagai mendia dakwah. Pertama, masyarakat Jawa masih dipengaruhi oleh ajaran Hindu – Budha. Kedua, masyarakat Jawa masih kuat dengan paham anemisme dan dinamisme (Hadinata, 2015). Dengan demikian fleksibilitas dakwah yang dibawakan oleh para wali sanga memiliki dampak positif terhadap penyebaran Islam di Indonesia. Terkait dengan kesenain tradisional wayang, sampai saat ini wayang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan wayang tersebut ditandai dengan munculnya berbagai jenis pertunjukan wayang seperti: wayang kulit yang pertunjukannya dilakukan oleh seorang dalang. Sementara wayang manusia atau wong pertujukan dilakukan oleh manusia dangan membawakan alur cerita masing – masing tokoh-tokoh tertentu. 112 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional B. Tarian Tari merupakan salah satu kesenian yang juga berwawasan nilai- nilai islami. Salah satunya yaitu tari Saman yang berasal dari daerah Aceh. Tarian Saman merupakan sebuah tarian yang mengungkapkan semangat untuk mengajarkan dan menanamkan semangat akidah dan syariah kepada masyarakat yang diekspresikan melalui gerak dan syair – syair. Tari saman merupakan santapan estetis yang menjelaskan kehidupan sosio-agama, filosofis dan norma serta etika dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tari Saman berkembang bersamaan dengan masuknya Islam di Aceh pada abad ke-13 yang kemudian menjadi kesenian yang memiliki fungsi sosial- budaya dan merupakan akulturasi budaya Islam yang dibawa oleh para ulama dan saudagar dari Timur Tengah. (Yusnizar Herniawati, 2015) V. KUBRO SISWO SEBAGAI MEDIA DAKWAH Kesenain tradisional ini awal mula berasal dari dasa Mendut, Magelang yang ada sekitar tahun 1960-an. Tujuan didirikan kesenian ini yaitu untuk digunakan sebagai media dakwah agama Islam, selain itu juga adanya kesenian ini sebagai upaya dalam membentengi paham komunis yang pada saat itu sedang marak– maraknya berkembang di Indonesia, oleh karena itu maka didirikan kesenian kubro, dimana kesenian tersebut melibatkan banyak orang sebagai pemainya. (Ahmad, 2017). Kesenian ini pada mulanya digunakan sebagai sarana dakwah syiar Islam, hal ini bisa dilihat sebagaimana tertulis dalam syair–syair yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan tersebut. Kubro merupakan singkatan dari kata kesenian ubahing badan lan rogo (kesenian mengenai gerak badan dan jiwa) maka dalam setiap pertunjukanya identik dengan semangat(Burhanuddin, 2016). Ketiga kesenian tersebut merupakan contoh dari beberapa kesenian tradisional yang digunakan sebagai media Pada kesenian tersebut terkandung nilai-nilai religius dan filosofis bagi masyarakat dalam memahami ajaran islam. Kesenian wayang dengan alur cerita yang bisa 113 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 dijadikan teladan kehidupan sebab biasanya alur cerita yang dibawakan mengisahkan tentang tokoh-tokoh tertentu. Sementara dalam tarian, setiap gerakannya melambangkan sikap manusia yang semesinya yang harus semangat dalam menjalankan kehidupan beragamanya. Adapun kubro siswo dalam setiap syairnya selalu mengajak manusia dalam kebaikan. Dengan demikian masing-masing kesenian tradisional tersebut membawakan ciri khasnya masing – masing dalam membawakan syiar agama Islam di Indonesia. Kesenian yang terakhir yang kemudian menjadi fokus utam kajian penelitian ini. VI. EKSISTENSI KESENIAN TRADISIONAL: TRANSFORMASI KESENIAN KUBRO SISWO Era tahun 1980-an dunia mulai mengalami pendewasaan dengan mengenal globalisasi yang identik dengan modernisasi di berbagai sektor, seperti teknologi, ekonomi, politik dan agama (Bustamam-Ahmad, 2004). Modernitas ini muncul di Eropa sekitar abad ke – 17. Modernisasi sebagai konsekuensi dari hadirnya globalisasi yang menjadikan semua bidang mengalami pergesaran dan hal ini telah menjamah semua lini kehidupan, termasuk dalam kesenian tradisional. Perkembangan kesenian tradisional di era modernisasi mendapatkan tentangan sendiri sebagai upaya mempertahankan eksistensinya. Maka tidak mengherankan jika saat ini beberapa kesenian tradisional telah melakukan transformasi pada beberapa bagianya. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, hal ini tidak bisa dilepaskan atas pengaruh arus globalisasi, yang mana dengan hadirnya era globalisasi para seniman juga memiliki kebebasan untuk memunculkan ide dan gagasanya, sehingga bersamaan dengan ini muncul istilah dengan apa yang disebut sebagai multikulturalisme. Paham tersebut menghargai karya seni yang bervariasi, baik pada aspek gaya maupun dari asal negara (Soedarsono, 2002). Kesenian tradisional di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh kesenian yang telah ada sebelumnya yang berasal dari 114 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional beberapa bangsa, seperti India, Arab, China, dan Eropa. Pembentukan produk budaya termasuk di dalamnya kesenian tradisional secara umum melewati proses akulturasi, asimilasi, dan sikretisme terhadap budaya yang sudah ada sebelumya. Namun pengaruh itu mampu ditanggapi secara kreatif oleh penduduk pribumi sehingga bentuk–bentuk kesenian yang masuk ke Indonesia bisa disesuaikan dengan kesenian yang ada, sehingga lebih berwarna ke-Indonesiaan, baik kesenian yang berasal dari India, Arab, China, maupun Eropa. Menurut Sudarsono (2002) pengaruh budaya barat yang paling berpengaruh terhadap kesenian Indonesia yaitu dalam bidang musik. Hal ini bisa dilihat sejak tahun 1970-an mulai banyak dilakukanya kerjasama antara komponis Indonesia dengan komponis asing, sehingga perpaduan antara kedua genre musik tersebut bisa saling mengisi. Sebelum itu juga di tahun sekitar 1950 – 1960 lahir juga musik pop Indonesia yang juga dipengaruhi oleh musik pop Amerika yang kemudian melahirkan penciptaan eksperimental, misalnya terjadinya transformasi dari gamelan ke dalam idiom musik modern. Selain itu juga secara bersamaan pada waktu itu musik dangdut telah berhasil mencuri perhatian publik karena mampu menyerap genre dari musik-musik lainnya yang telah ada. Musik dangdut menurut penjelasan Suka Harjana, berasal dari musik Melayu yang telah bersinggungan dengan musik India, Islam timur tengah. Oleh sebab itu, saat ini musik dangdut telah menjamah dan diterima oleh masyarakat secara luas sampai kemudian telah divariasikan dengan kesenian tradisional Kubro Siswo, misalnya. Untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi dari kubro siswo menjadi brodut (kubro dangdut) maka dapat digunakan teori perubahan sosial untuk menelusuri penyebab terjadinya perubahan dana perkembangan dari kesenian kubro siswo menjadi brodut. Teori perubahan sosial menurut Ruswanto, yaitu bahwasanya perubahan sosial dapat terjadi oleh sebab yang bersifat alamiah dan atau oleh suatu yang direncanakan. Perubahan yang bersifat alamiah terjadi karena perubahan dari masyarakatnya sendiri. Sementara perubahan sosial 115 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 yang direncanakan terjadi karena memang adanya suatu progam yang direncanakan, progam tersebut bisa muncul dari dalam individu atau dari dalam masyarakat itu sendiri yang dibuat atau ditentukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang ditujukan bagi kelompok- kelompok yang lain (Masyhuril, 2008). Teori ini akan digunakan untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi dalam kesenian tradisional Kubro Siswo yang saat ini telah mengalami transformasi menjadi kesenian yang lebih modern (brodut). Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Kubro Siswo awal mulanya berasal dari desa Mendut Magelang sekitar tahun 1960-an, dan kini telah menyebar ke beberapa daerah di sekitar Desa Mendut, salah satunya yaitu di Desa Gunung Lemah. Kesenian Kubro Siswo di Gunung Lemah telah ada sejak tahun 1997. Namun sebagaimana disampaikan oleh salah satu pengurus kesenian tersebut, kesenian ini mengalami pasang surut karena menurunnya minat masyarakat terhadap kesenian tersebut (Ahmad, 2017). Atas latar belakang seperti itu maka kemudian muncul inisiatif dari para pemuda yang terkumpul dalam satu wadah yang sudah ada pada waktu itu ketika mereka sedang kompak-kompaknya untuk mencoba memberikan sentuhan baru terhadap kesenian Kubro tersebut. Sekitar tahun 2014 para pemuda yang memiliki gagasan tadi mengutarakan maksudnya kepada para sesepuh untuk memberikan penjelasan mengenai perubahan yang akan dilakukan. Meskipun pada saat itu ada beberapa golongan dari sesepuh yang tidak sepakat, namun dengan dilakukanya musyawarah secara baik- baik dan juga melalui kompromi – kompromi, maka pada akhirnya tawaran perubahan tersebut bisa disepakati oleh semua kalangan di desa tersebut. Setelah semua warga sepakat untuk melakukan perubahan dengan tetap tidak mengubah dari pakem yang sudah ada, kemudian meraka mengajukan maksud tersebut ke Dinas Kebudayaan Kabupaten Magelang. Sebagaimana disampaikan oleh ketua pengurus kesenian, pada awalnya dinas kebudayaan tidak menyetujui dilakukannya perubahan atau variasi 116 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional pada kesenian kubro siswo tersebut, karena dikhawatirkan nantinya malah akan merusak orisinalitas kesenian tersebut. Pihak dinas berargumentasi nanti kesenian ini malah akan rusak seperti yang terjadi pada beberapa kesenian tradisional lainya yang ketika ditambah atau divariasikan dengan kesenian yang lainya, namun justru malah rusak. Kepala dinas tersebut mencontohkan pada kesenian Jathilan yang divariasikan dengan leak dan akhirnya justru malah rusak. Meskipun demikian pada akhirnya pihak dinas tidak melarang dan mengamini atas gagasan baru yang ingin dilakukan oleh masyarakat tersebut. Hal itu berawal dari inisiatif pemuda yang mengundang pihak Dinas Kebudayaan untuk melihat pertunjukan secara langsung. Setelah dinas melihat pertunjukan secara langsung akhirnya mereka justru senang dan memberikan persetujuan terhadap kesenian tersebut. Dengan demikian saat ini semua pihak telah sepakat atas perubahan dari kubro siswo yang divariasikan dengan iringan musik modern dangdut tersebut. Ketika dilihat mengunakan teori perubahan sosial di atas maka dapat dipahami bahwasanya perubahan yang terjadi dalam kesenian tradisional kubro siswo menjadi brodut maka hal tersebut merupakan sebuah perubahan yang memang direncanakan oleh pihak internal untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Latar belakang dilakukanya perubahan adalah tidak lebih karena ingin agar kesenian tradisional kubro siswo tetap bisa langgeng dan eksis di tengah budaya populer saat ini. Selain itu juga supaya masyarakat tetap meminati kesenian tersebut. Adapun bagian kedua dalam penelitian ini akan melihat bagaimana fungsi dari Kubro Siswa sendiri setelah mengalami transformasi, apakah masih memiliki nilai yang sama dengan tujuan awal didirikan Kubro yang ingin digunakan sebagai media dakwah. Ini bisa dilihat dari aspek internal para pihak yang melestarikan kesenian kubro tersebut setelah kesenian kubro siswo mengalami transformasi dan sejauh mana mereka tetap ada pada pekem yang telah ada. Untuk melihat nilai-nilai ini digunakan teori identitas sosial untuk memetakan mengenai nilai-nilai dalam kesenian tradisional tersebut. 117 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 Menurut teori identitas sosial perilaku kelompok menekankan adanya tiga struktur dasar. Pertama, Kategorisasi, yaitu proses dimana individu mempersepsi dirinya sama atau identik dengan anggota lain dalam kelompok yang sama. Kedua, Identitas, dapat didefinisikan sebagai citra diri, konsep diri atau pemaknaan seseorang terhadap diri sendiri. Setiap individu memiliki dorongan kuat untuk menganggap bahwa dirinya baik dan memiliki identitas serta harga diri yang positif. Dalam hal ini individu cenderung memiliki penilain yang lebih mengutamakan kelompoknya sendiri. Ketiga, Perbandingan sosial. Penilaian sesorang terhadap diri sendiri tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan perbandingan dengan orang lain. Individu memaknai dan menilai dirinya lebih baik dibandingkan orang lain. Individu juga memperoleh identitas sosial melalui keanggotaanya pada kelompok tersebut. Sehingga bisa dipahami bahwa identitas sosial adalah bagian dari konsep individu yang berasal dari pengetahuanya selama berada dalam kelompok sosial tertentu dengan disertai internalisasi akan pentingnya nilai – nilai seperti emosi, partisipasi, kepedulian dalam kelompoknya tersebut Bentuk-bentuk internalisasi yang ada pada masyarakat di desa gunung lemah, mereka memiliki persamaan dalam upaya mengangkat dan membesarkan kesenian ini menjadi sampai saat ini. Mereka bangga karena bagaimanapun juga ketika pada waktu itu mereka bersama-sama melakukan upaya dalam pelestarian kesenian kubro siswo. Mereka untuk menomboki setiap pertunjukan mereka mengunakan uang kas yang didapatkan dari hasil mencari batu dan pasir di sungai. Karena pada waktu itu ketika ada orang yang menyewa kesenian tersebut, mereka malah kebanyakan minus dan tidak mendapatkan pemasukan (Inggi, 2017). Sementara bentuk identitas yang mereka lakukan ialah tidak melakukan perubahan atas pakem yang sudah ada. Mereka hanya menambahkan variasi pada instrumen alat musiknya semata. Dengan demikian mengenai pesan dakwah yang terdapat dalam syair yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan kesenian Kubro Siswo tetap sama pada pakem yang sudah 118 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional ada. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, kesenian tradisional Kubro Siswo dalam setiap pertujukanya diiringi dengan syair. Ada sekitar dua puluh syair yang digunakan dalam pertujukan Kubro Siswo yang dilagukan selama enam pertemuan. Setiap pertemuan diisi dengan 3 – 4 syair yang berbeda-beda. Menurut pemaparan ketua pengurus brodut bahwa syair yang dibawakan sekitar 60% benuansa islami, sementara sisanya bertemakan lagu-lagu nasional dan lagu sesuai kondisional. Semisal disana sedang ada hajatan ulang tahun maka ada lagu yang dinyanyikan tentang ucapan selamat ulang tahun. Bukan hanya itu saja, ketika ada salah satu rekan dari personilnya yang sedang ulang tahun maka lagu tersebut juga digunakan untuk mengiringi pertunjukan kesenian tersebut. Meskipun ketika pertunjukan dimulai syair yang digunakan untuk mengiringinya divariasikan dengan instrumen modern, namun tetap tidak mengubah pakem yang ada. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh salah satu anggota kesenian tersebut. Jadi muatan nilai – nilai yang terkandung dalam setiap syair yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan masih berisikan tentang nilai-nilai dakwah yang mengajak kepada kebaikan. Misalnya, syair tentang ajakan beribadah. Tidak hanya itu saja nilai-nilai yang terdapat dalam syair juga mengandung nilai-nilai sebagai ajakan untuk menghormati orang lain. Dari konten yang ada sebagaimana telah dipaparkan, bahwasanya kesenain kubro siswo yang saat ini telah mengalami trasformasi, namun tidak mengubah pola pakem yang sudah ada sebelumnya. Selain itu juga muatan yang dibawakan dalam setiap syiar yang digunakan dalam mengirinya juga bermuatan ajakan kebaikan dan juga sikap menghormati kepada orang lain yang bernafaskan islami. Dengan demikian syair yang digunakan dalam kesenian kubro masih sama seperti yang dulu. Inilah yang menjadi kebanggaan yang tersendiri oleh para anggota kesenian kubro di desa Gunung Lemah. 119 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 Adapun bentuk perbandingan sosial yang ada pada kesenian tersebut yang dimiliki oleh masing-maisng anggota bahwasanya mereka tidak mempermasalahkan ketika ada kelompok maupun dari desa lain yang “menyaingi” bentuk-bentuk kesenian seperti yang mereka. Meraka tetap merasa bangga karena mereka menjadi pelopor pertama adanya model kesenian seperti itu. Menurut ketua pengurus kesenian tersebut kesenian di desanya menurut sebagian besar masyarakat adalah yang paling bagus dan menariki jika dibandingkan dengan yang alainya, karena kesenian brodut di desa gunung lemah merupakan cikal bakalnya. Dengan demikian dapat dipahami perbandingan sosial dari masyarakat gunung lemah atas kesenian yang dimilikinya, meskipun saat ini sudah banyak yang menyaingi, namun mereka tetap merasa bangga, karena mereka merupakan pelopor pertama adanya kesenian seperti itu. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaiamana nilai–nilai yang diterima oleh masyarakat luas dengan hadirnya kesenian tersebut. Apakah masyarakat memahami konten muatan yang sebenarnya yang ada dalam kesenian kubro atau hanya menganggapnya sebagai hiburan semata. Dengan kacamata ini pada dasarnya setiap orang memiliki cara pandang yang beragam terhadap pertujukukan kesenian. Menurut Sudarsono jika ditinjau dari segi fungsi, maka fungsi seni pertujukan dibagi menjadi dua kelompok yaitu fungsi primer dan sekunder. Seni pertunjukan memiliki tiga fungsi primer (1) sebagai sarana ritual (2) sebagai hiburan pribadi (3) sebagai presentasi estetis (Soedarsono, 2002). Dalam konteks kesenian ini, sebagaimana telah diketahui brodut merupakan wujud transformasi dari kesenian tradisional kubro siswa yang salah satu perubahannya pada alat musik atau instrumen yang digunakan untuk mengiringinya. Dengan adanya perubahan tersebut ternyata memiliki pengaruh yang cukup baik dalam upaya menjaga eksistensi kesenian kubro siswo. Jika dilihat perkembangannya sejak tiga tahun yang lalu sampai dengan saat ini, para peminat kesenian ini mengalami peningkatan yang signifikan. Bisa dilihat misalnya dengan jumlah fans atau penggemar yang 120 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional semakin banyak, selain itu juga jumlah anggota yang tergabung melalui media sosial juga sangat banyak dan semakin mengalami peningkatan. Hal ini memperlihatan bahwa peminat kesenian ini pada saat ini mengalami peningkatan yang baik dibandingkan ketika sebelum kesenian melakukan perubahan. Sebagaimana disampaikan oleh salah pengurus yang mangatakan sebelum ini belum ada fans-fans yang bermunculan, namun seiring dilakukanya modifikasi dalam penampilan pertujukan, jumlah penggemarnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan (Soedarsono, 2002). Hal ini bisa dilihat secara langsung ke lapangan pada saat pertunjukkan dimulai jumlah penontonnya memenuhi area lapangan. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu pengemarnya yang mengatakan kalau datang harus awal supaya bisa dapat tempat (Kikit, 2017). Dari kemajuan dan peningkatan jumlah penggemar brodut desa Gunung Lemah, pertanyaan adalah apakah nilai-nilai yang diterima olah masyarakat sama dengan tujuan yang ingin disampaikan dalam kesenian kubro atau masyarakat menganggapnya hanya sebatas hiburan saja. Menurut salah satu informan yang merupakan salah satu dari penggemar kesenian tersebut mengatakan bahwa dengan adanya kesenian tersebut bisa digunakan sebagai sarana hiburan. Mereka mengatakan ketertarikanya karena ada musik dangdut yang ditampilkan ketika akan perpindahan antara satu babak ke babak lain dan juga variasi musik yang digunakan ketika mengiringi saat pertujukan dimulai (Semurup, 2017). Jika dilihat mengenai daya tarik masyarakat misalnya dari para fans terhadap kesenian ini, maka kesenian ini masih hanya menjadi sebatas hiburan semata, mereka belum meresapi mengenai fungsi dari kesenian yang sebenarnya. Hal ini bisa dilihat misalnya ketika pertunjukan dimulai masih sering terjadi pertengkaran antara satu penggemar dengan penggemar lainnya, sehingga pertunjukan harus diberhentikan sejenak untuk mengkondisikannya. Setelah keadaan bisa dikondisikan baru pertujukan dimulai kembali. Selain itu juga bukti bahwasanya belum dipahaminya nilai-nilai dalam kesenian tersebut yaitu menurut apa yang disampaikan 121 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 oleh masyarakat luas, ketika akan menanggap kesenian tersebut maka dari segi keamanan harus dipersiapkan secara baik-baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini sebagaimana dipaparkan oleh Sudarsono (2002), bahwa masyarakat saat ini sedang mengalami masa kebingungan, ketika mau mengacu pada nilai–nilai yang lama takut dianggap ketinggaan jaman, sementara ketika mau mengacu pada nilai – nilai yang modern belum sampai. Akibatnya masyarakat saat ini lebih suka menonton pertunjukan yang sifatnya menghibur dari pada yang memuat nilai–nilai filosofis atau pendidikan. Sejalan dengan ini sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh mengenai bentuk apresiasi kesenian tradisional kubro siswo di desa tempel menjelaskan bahwasanya seiring perkembangan zaman kesenian tersebut berubah fungsinya sebagai pertunjukan hiburan, tetapi tidak mengurangi identitas dari pertunjukan kesenian tontonan saja namun sebagai tuntunan (Masyhuril, 2008). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai sebenarnya yang terkandung dalam kesenian tersebut belum bisa dipahami dan diresapi oleh masyarakat secara baik. Namun demikian ada nilai-nilai lain yang sebenarnya telah bisa diimplementasikan melalui kesenian tersebut, yaitu timbulnya rasa kebersamaan dan saling memiliki antara masyarakat yang ada, meskipun adakalanya terjadi pertentangan atau perkelahian ketika pertujukan, namun itu hanya bagian kecilnya saja, sementara dengan adanya kesenian tersebut mereka bisa merasakan bahwa kesenian tersebut bisa mempererat persaudaraan dan kesatuan antar sesama teman. VII. KESIMPULAN Kesenian Kubro Siswo merupakan salah satu kesenian tradisional yang digunakan sebagai media dakwah agama Islam melalui syair-syair yang dibawakan ketika pertunjukan. Seiring perkembangannya Kubro Siswo mengalami pasang surut, terutama di era globalisasi saat ini yang identik dengan modernisasi yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh 122 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional budaya populer. Kesenian tradisional saat ini sudah kurang diminati karena kalah saing dengan kesenin yang lebih populer. Untuk menjaga eksistensi kesenian ini agar bisa tetap dilestarikan dan diminati oleh masyarakat maka kesenian Kubro Siswo melakukan transformasi dengan menambahkan beberapa variasi, baik melalui syair atau pertunjukan yang ditampilkan. Dengan dilakukanya variasi tersebut maka kesenian Kubro Siswo di desa Gunung Lemah saat ini semakin banyak diminati oleh masyarakat dan mendapatkan tanggapan positif dari berbagai pihak. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai (1) bagaiamana terjadinya proses transformasi (2) bagaimana identitas sosial dari para pelaku kesenian (3) bagaimana nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat, ditinjau menggunakan teori perubahan sosial dan identitas sosial. Permata, terjadinya transformasi dari kesenian tradisional Kubro Siswo menjadi brodut dikarenakan perubahan yang direncanakan dari internal. Kedua, pelaku kesenian Kubro Siswo banga dengan kesenian tersebut, karena mereka masih memahami sebagai sarana dakwah. Ketiga, nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat luas terhadap kesenian Kubro Siswo baru sebatas hiburan semata, belum bisa dipahami nilai- nilai filosofis, meskipun demikian dengan adanya kesenian tersebut bisa saling mempererat dan meningkatkan silaturahmi antara individu dengan individu yang lain. DAFTAR PUSTAKA Aminuddin, A. (2018). Facebook sebagai Media Dakwah. Al-Munzir, 10(1), 31–50. Retrieved from http://ejournal.iainkendari.ac.id/al- munzir/article/view/796 Burhanuddin, J. (2016). Identitas Sosial kesenian tradisional kubro siswo dusun sedayu II, sedayu, Muntilan, Magelang. UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. 123 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 Bustamam-Ahmad, K. (2004). Wajah baru Islam di Indonesia. Yogyakarta: UII Press. Epafras, L. (2016). Religious e-Xpression among the Youths in the Indonesian Cyberspace. Jurnal ILMU KOMUNIKASI, 13(1), 1. https://doi.org/10.24002/jik.v13i1.596 Fitriyah, D. H., Lubis, Z., & Mardhiah, I. (2016). Analisis Pesan Dakwah dalam Novellet “Ketika Mas Gagah Pergi’ Karya Helvy Tiana Rosa. Jurnal Online Studi Al-Qur an, 12(1), 22. https://doi.org/10.21009/ JSQ.012.1.02 Hadinata, Y. (2015). Sunan Kalijaga: Biografi, Sejarah, Kearifan, Peninggalan dan Pengaruh – Pengaruhnya. Yogyakarta: Dipta. Hafil, A. S. (2016). Komunikasi Agama dan Budaya (Studi atas Budaya Kompolan Sabellesen Berdhikir Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah di Bluto Sumenep Madura). Al-Balagh : Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 1(2), 161. https://doi.org/10.22515/ balagh.v1i2.350 Halik, F. (2012). Rokat Bhuju’ Vis-À-Vis Kompolan (Metamorfosis Elit Madura Pasca Keruntuhan Orde Baru). KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 12(2), 119–131. https://doi.org/10.19105/ karsa.v12i2.137 Hasymy, A. (1993). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indoensia. Al- Maarif. Huda, M. (2015). The Project Of Islamophobia. QIJIS (Qudus International Journal of Islamic Studies), 3(2), 192–209. https://doi.org/10.21043/ QIJIS.V3I2.1586 Idris, M. (2017). Potret Pemikiran Radikal Jaringan Islam Liberal (JIL) Indonesia. KALAM, 8(2), 367. https://doi.org/10.24042/klm. v8i2.227 Ja’far, J. (2016). Peran Al Jam’iyatul Washliyah dalam Merevitalisasi Madhhab Shafi’i di Era Kontemporer. Justicia Islamica, 13(1), 1. https://doi.org/10.21154/justicia.v13i1.451 Mansur, M. (2015). Pola Dakwah yang Dikembangkan Pada Masyarakat Etnis Muslim Bali di Desa Sulemandara Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe. Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian, 8(1), 143–159. https://doi.org/10.31332/AI.V8I1.92 Masyhuril, S. (2008). Perubahan Apresiasi Masyarakat Terhadap Kesneian Tradisional. UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 124 Nor Kholis – Syiar Melalui Syair: Eksistensi Kesenian Tradisional Nuraida. (2011). Gerakan Radikalisme Islam di Indonesia. Wardah : Jurnal Dakwah Dan Kemasyarakatan, 12(2), 153–162. Retrieved from http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/warda/article/ view/235 Pratiwi, A. F. (2018). Film sebagai Media Dakwah Islam. Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 2(2). https://doi.org/10.30984/ajip.v2i2.523 Saefulloh, A. (2014). Cyberdakwah sebagai Media Alternatif Dakwah. ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman, 7(1), 138. https://doi. org/10.15642/islamica.2012.7.1.138-160 Satria, E., & Mohamed, R. (2017). Analisis Terhadap Peranan Nasyid dalam Dakwah. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 16(2), 227. https://doi. org/10.22373/jiif.v16i2.1329 Shodiq, M. (2016). Eksistensi dan Gerakan Dakwah Tarekat Siddîqîyah di Tengah Masyarakat Urban Surabaya. Teosofi: Jurnal Tasawuf Dan Pemikiran Islam, 5(2), 346. https://doi.org/10.15642/ teosofi.2015.5.2.346-375 Slamet, S. (2014). Nadhlatul Ulama dan Pluralisme: Studi Pada Strategi Dakwah Pluralisme NU di Era Reformasi. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 8(1), 60–78. https://doi.org/10.24090/ komunika.v8i1.749 Soedarsono, R. M. (2002). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globaliasasi. Yogyakarta: Gajah Mada Press. Suhadang, K. (2013). Ilmu Dakwah Prespektif Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya. Supriyanto, S. (1970). Dakwah Sinkretis Sunan Kalijaga. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 3(1), 10–19. https://doi. org/10.24090/komunika.v3i1.111 Syarifah, M. (2016). Budaya dan Kearifan Dakwah. Al-Balagh : Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 1(1), 23. https://doi.org/10.22515/ balagh.v1i1.43 125 Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 3, No. 1, January – June 2018, pp. 103 - 126 Wawancara Ahmad, Ketua Kesenian Kubro Siswo Desa Gunung Lemah, tanggal 10 September 2017 Andung, Ketua Fans Benteng Semurup, tanggal 15 Sepetember 2017 Kikit, Ketua Fans Pengkik Indah, tanggal 15 Sepetember 2017 Nur, Penggurus Kesenian Kubro Siswo Desa Gunung Lemah, tanggal 12 September 2017