pndahuluan kegagalan sebuah sistem ekonomi, baik sistem ekonomi sosialis yang berporos pada begitu besarnya peran pemerintah terhadap kehidupan rakyat, yang kemudian runtuh dengan tumbangnya rezim komunis uni sovyet, juga ekonomi kapitalis, yang menyebabkan kekayaan terpusat pada segelintir orang atau negara, dan menyebabkan semakin besarnya gap atau ketimpangan antara kaya dan miskin, membuat banyak orang kemudian berfikir untuk terus mencari alternatif sistem ekonomi yang dapat memecahkan masalah akibat kegagalan dua sistem tersebut. dan munculnya sistem ekonomi islam merupakan sebuah sistem ekonomi tersendiri, bukan merupakan perpaduan dan atau campuran antara sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme. sistem ekonomi islam menempatkan manusia bukanlah sebagai sentral (antroposentrisme) tetapi dia adalah sebagai hamba tuhan (abid) yang harus meng abdi dan mengemban tugas yang dipercayakannya kepadanya (khalifah). oleh karena itu dalam kegiatan ekonomi yang dilakukannya harus men junjung tinggi nilai-nilai kepemilikan, nilai-nilai keadilan, kebebasan, keseimbangan dan per saudaraan serta kebersamaan sesuai dengan yang dituntunkan oleh ekonomi syariah peluang dan tantangan bagi ekonomi indonesia muhammad ade fakultas syariah dan hukum jakarta jl. ir. h. juanda 95, ciputat, jakarta. abstrak: dinamika perkembangan perbankan syariah, khususnya di indonesia tidak akan terlepas dari perkembangan perbankan nasional dan krisis global yang terjadi. meskipun progres report bank syariah menunjukkan gejala positif dan terus mengalami kemajuan yang berarti, namun karena keterbatasan ukuran bank syariah yang masih terlalu kecil, masih sulit bagi bank syariah untuk berperan lebih besar dalam perekonomian nasional. kata kunci: ekonomi syariah, krisis global, ekonomi indonesia muhammad ade: ekonomi syariah peluang dan tantangan bagi ekonomi indonesia108 ajaran agama. dan munculnya ekonomi islam yang sebenarnya sudah ada ribuan tahun yang lalu (sejak jaman rasulullah) perlahan kembali bangkit dan menggeliat termasuk di indonesia. berbagai macam kajian tentang ekonomi islam bermunculan. institusi-institusi ekonomi islam seperti bank syariah, koperasi syariah, baitulmal (bmt), bpr syariah pun tumbuh dengan subur. institusi pendidikan yang menggali ekonomi islam juga menggeliat dan terus bertumbuh. indonesia, negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis, pun mengalami hal serupa, dengan krisis yang berkepanjangan yang sampai saat ini bahkan belum seorang ahlipun yang memastikan bahwa indonesia telah keluar dari krisis. saat ini, berjuta-juta orang menganggur, puluhan juta orang berada dibawah garis kemiskinan, sektor moneter yang semakin jauh dari sektor rill sehingga berpotensi meledakkan bubble economic1 yang sudah terbentuk, dan berbagai macam masalah melingkupi kehidupan perekonomian kita. lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat (price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sering terjadi di mana-mana melanda hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti. sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998 – 2001 bahkan sampai saat ini (2008) krisis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya krisis finansial di amerika serikat2 . krisis itu terjadi tidak saja di amerika latin, asia, eropa, tetapi juga melanda amerika serikat. lima belas negara uni eropa sudah 1 suatu perekonomian dengan adanya gap yang sangat besar antara sektor moneter dengan sektor riil, sehingga kelihatan perekonomian besar karena besarnya sektor moneter, tetapi hal itu tidak membawa dampak pada sektor riil. 2 sejak setelah apa yang dinamakan great depresion, sector keuangan sudah mengalami beberapa krisi. dunia pernah mengenal black monday pada tahun 1987 yang menyebabkan jatuhnya indeks saham yang memicu resesi, kemudian tahun 1997 , resesi yang memukul negara-negara asia termasuk indonesia, tahun 2000 yang dikenal dengan the dotcom bubble, tahun 2007 krisis kredit perumahan amerika dan terakhir tahun 2008 yang menyebabkan krisis keuangan global. ( sumber: thomson reuters, msci, news reports, dikutip oleh kompas 15 nov 2008) al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 109 dinyatakan jatuh dalam resesi (kompas, 15 nov 2008). krisis keuangan yang bermula di amerika serikat saat ini, mulai merambah ke berbagai negara, termasuk indonesia. krisis tersebut diyakini bakal berpengaruh cepat atau lambat di indonesia, pada sektor keuangan maupun sector riil, dan ini sudah dirasakan dengan jatuhnya indeks harga saham gabungan (ihsg) dan melambungnya kurs dollar amerika terhadap rupiah. fenomena tersebut, merupakan dampak krisis global , dikarenakan kelangkaan likuiditas di amerika dan eropa menyebabkan modal jangka pendek dari luar negeri ditarik. akibatnya, ihsg, dimana banyak terdapat hot money dari investor asing, jatuh, karena investor menjual saham dan menukarnya menjadi dollar. terhadap sector riil, ekspor ke negara yang dilanda kesulitan juga menurun, sehingga menurunkan penerimaan3. hampir sama dengan apa yang terjadi pada krisis tahun 1997, maka ditengah krisis ini, banyak orang kembali memberikan perhatian kepada sistem ekonomi islam. krisis yang terjadi saat ini, menurut pakar ekonomi islam, penyebab utamanya adalah kepincangan sektor moneter (keuangan) dan sektor riil yang dalam islam dikategorikan dengan riba. sektor keuangan berkembang cepat melepaskan dan meninggalkan jauh sektor riel. bahkan ekonomi kapitalis, tidak mengaitkan sama sekali antara sektor keuangan dengan sektor riel4. hal ini terbukti dengan krisis global yang dimulai di amerika sebagai akibat dari penciptaan instrumen derivative keuangan yang memicu kredit macet dan menghambat arus uang kepada sektor riil.5 salah satu instrumen ekonomi islam yang sangat penting dan utama adalah perbankan syariah. perbankan syariah diyakini mempunyai resistensi yang tinggi terhadap krisis keuangan global sebagaimana dibuktikan ketika krisis keuangan tahun 1997 merontokkan sebagian besar bank-bank di indonesia. banyak ahli ekonomi islam yang optimis bahwa perbankan islam diramalkan dapat melalui krisis global ini dengan baik, sebagaimana yang 3 baca dalam andrianus moy, pesan dari krisis keuangan as, kompas , kamis 13 november 2008 4 lihat dalam agustianto, akar krisis keuangan global dan momentum ekonomi syariahsebagai solusi http://agustianto.niriah.com/ , diakses pada 10/9/2008 lihat pula dalam syakir sula dan adiwarman karim,: sekarang kesempatan untuk syariah, wawancara dengan kompas, senin 29 sept 2008, diakses dari kompas. com 5 baca dalam andrianus moy, pesan dari krisis keuangan as, kompas , kamis 13 november 2008 muhammad ade: ekonomi syariah peluang dan tantangan bagi ekonomi indonesia110 terjadi pada tahun 1997. optimisme itu terlihat dari berbagai pernyataan baik dalam maupun luar negeri tentang ekonomi islam, khususnya perbankan islam. sebagian lagi bahkan optimis, perbankan islam akan berpeluang terus bersinar dan kian memainkan peranan yang besar dalam sistem keuangan dunia6. namun ada pula yang yakin bahwa bank syariah akan terkena pula krisis global ini, karena memang porsi perbankan yang masih kecil dibandingkan dengan bank konvensional, dan masih tingginya tingkat ketergantungan bank syariah terhadap bank konvensional, terutama dalam masalah teknis operasional7. hal yang paling menonjol dalam ekonomi islam adalah dekatnya sektor riil dan sektor keuangan sehingga sektor keuangan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya dari sektor riil, dan sektor keuangan dapat menjadi penggerak sektor riil. bagaimana dinamika perkembangan dan peran bank syariah serta prospeknya dalam menghadapi krisis global, menjadi menarik untuk dibahas, karena penulis termasuk pihak yang setuju bahwa perbankan syariah masih terus berkembang, namun belum dapat berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, serta akan terpengaruh krisis global. perkembangan dan aset perbankan syariah di indonesia sejarah perbankan syariah diawali sebelas tahun lalu, ketika bank muamalat mulai beroperasi pada 1 mei 1992, dengan total komitmen modal disetor sebesar rp 106.126.382.0008, pada masa-masa awal operasinya, keberadaan 6 optimisme itu tercermin dari pernyataan-pernyataan, misalnya:dalam pers rilisnya, departemen keuangan kuwait mengatakan bahwa keuangan islam telah terhindar dari kekacauan yang dibuat oleh perbankan dan institusi keuangan konvensional, ”prediksi untuk sistem keuangan islam terlihat cemerlang dan akan menjadi yang terdepan dalam menyediakan dana bagi proyek-proyek besar, sedangkan sistem perbankan konvensional akan mengevaluasi kembali model bisnis mereka,” “ . pernyataan sama dikatakan oleh gubernur bank sentral malaysia, kata zeti akhtar aziz yang menyatakan bahwa perbankan islam sejauh ini masih positif, meskipun tengah menghadapi lingkungan keuangan global yang saat ini bergejolak. (baca selengkapnya dalam: perbankan islam selamat dari krisis, okezone.com. diakses tanggal 12 nov 2008) 7 dr muhammad arkam, direktur eksekutif international shari’ah research academy for islamic finance (isra), mengatakan bahwa keuangan islam telah menguasai 16 persen pangsa bank lokal, namun jumlah ini masih relatif rendah dan industri perbankan ksyariah masih bergantung pada pasar konvensional, sehingga pastilah akan terkena dampak krisis (wawancara dengan the edge financial daily., sebagaimana dikutip oleh okezone.com ) 8 4 bank muamalat 1993. al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 111 bank syariah belumlah memperoleh perhatian yang optimal dalam tatanan sektor perbankan nasional. landasan hukum operasi bank yang menggunakan sistem syariah, saat itu hanya dikategorikan sebagai “bank dengan sistem bagi hasil”; tanpa rincian landasan hukum syariah serta jenis-jenis usaha yang diperbolehkan. hal ini tercermin dari uu no. 7 tahun 1992, di mana pembahasan mengenai perbankan dengan sistem bagi hasil hanya diuraikan sepintas lalu. kondisi mulai berubah pada 1998, ketika pemerintah dan dewan perwakilan rakyat melakukan penyempurnaan uu no. 7/ 1992 tersebut menjadi uu no. 10 tahun 1998, yang secara tegas menjelaskan bahwa terdapat dua sistem dalam perbankan di tanah air (dual banking system), yaitu system perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah. peluang ini disambut hangat masyarakat perbankan, bersamaan dengan mulai meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat sebagai hasil edukasi dan kampanye yang gencar diselenggarakan. perkembang an ini misalnya dapat ditilik dari jaringan kantor perbankan syariah, yang di tahun 1998 baru ada satu bank umum syariah dengan 10 kantor cabang, 1 kantor cabang pembantu, serta 19 kantor kas, menjadi 2 bank umum syariah dengan total 123 kantor, 7 unit usaha syariah pada bank umum konvensionalyang tersebar dengan 39 kantor, serta 85 bprs 9 selain bank umum syariah, bank konvensional juga mulai melirik bentuk perbankan syariah ini dengan mendirikan unit usaha syariah. sampai september 2008, terdapat 3 bank umum syariah, dengan 25 unit pelayanan syariah dan 198 kantor kas. selain itu terdapat bank umum yang membuka unit usaha syariah sebanyak 28 buah uus, dan 128 bank perkreditan rakyat syariah. perkembangan perbankan syariah yang menggembirakan juga dapat dilihat dari total asetnya yang menunjukkan tren peningkatan secara signifikan. total asset perbankan syariah pada september 2008 sebesar 45,857,224,000, jauh meningkat jika dibandingkan dengan misalnya total asset bulan yang sama tahun 2007 sebesar 31,802,77310. meskipun angka-angka di atas menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, sesungguhnya peran perbankan syariah masih amatlah kecil dibandingkan dengan perbankan konvensional. hal yang positif adalah porsi yang kecil tersebut secara konstan terus bertambah. pada 9 bank indonesia, laporan tahun 1998-1999 10 statistik perbankan syariah, september 2008, bank indonesia muhammad ade: ekonomi syariah peluang dan tantangan bagi ekonomi indonesia112 akhir 2006 (desember) misalnya, ditinjau dari total aset, perbankan syariah hanya menyumbang 1,58 % dari keseluruhan asset perbankan nasional. peningkatan terus berlanjut hingga mencapai 1, 84% pada akhir tahun 2007 (desember) dan terus berlanjut hingga mencapai 2,19 % pada bulan agustus 2008. sementara itu, total dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank syriah rp 32,359 t atau hanya sekitar 2,12 % dari dari total dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun seluruh bank ditanah air. sedangkan pembiayaan yang telah disalurkan berjumlah rp 36,572 triliun atau hanya setara 3,03 % dari seluruh kredit yang disalurkan keseluruhan bank11. penutup dinamika perkembangan perbankan syariah, khususnya di indonesia tidak akan terlepas dari perkembangan perbankan nasional dan krisis global yang terjadi. meskipun progres report bank syariah menunjukkan gejala positif dan terus mengalami kemajuan yang berarti, namun karena keterbatasan ukuran bank syariah yang masih terlalu kecil, masih sulit bagi bank syariah untuk berperan lebih besar dalam perekonomian nasional. pustaka acuan andrianus moy, pesan dari krisis keuangan as, kompas , kamis 13 november 2008. agustianto, akar krisis keuangan global dan momentum ekonomi syariah sebagai solusi http://agustianto.niriah.com/, diakses pada 10/9/2008 syakir sula dan adiwarman karim, “sekarang kesempatan untuk syariah”, wawancara dengan kompas, senin 29 sept 2008, diakses dari kompas.com perbankan islam selamat dari krisis, okezone.com. diakses tanggal 12 nov 2008) wawancara dengan the edge financial daily., sebagaimana dikutip oleh okezone.com ) bank indonesia, laporan tahun 1998-1999 statistik perbankan syariah, september 2008, bank indonesia 11 lebih jelasnya baca dalam statistik perbankan syariah januari 2008 dan september 2008, bank indonesia , direktorat perbankan syariah. preferensi usaha kecil dan mikro di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan siti aisyah 1 abstract: preference of micro and small enterprise in pasar baru cikarang in selecting financing access. the aim of this research is to measure the micro and small entreprise preference in pasar baru cikarang in selecting of conventional or shariah financing access with using 100 responden. the method that used in this research is binary logistic regression and descriptive analysis. there are two result of this research, first, the factor that influence the micro and small enterprise preference are the lower interest/yield, diverse product, financing plafond, and presence a guidance of business development. second, 37 percent respondent stated that they chose to access financing in islamic financial institutions and 63 percent stated that they chose to access financing in conventional financial institutions. from this result we can conclude that the micro and small medium enterprise in pasar baru cikarang is more preferrable access in conventional financial institution. keyword: preference, financing access, binary logistic regression abstrak: preferensi usaha kecil dan mikro di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur preferensi dari usaha mikro dan kecil dalam mengakses pembiayaan berbasis konvensional atau syariah dengan menggunakan 100 orang responden. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik binary dan analisis deskriptif. berdasarkan hasil penelitian, didapat dua kesimpulan. pertama, bahwa hanya ada satu faktor yang mempengaruhi preferensi usaha kecil dan mikro di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan yaitu faktor produk yang meliputi: bunga/margin/bagi hasil yang rendah, produk yang beragam, jumlah plafond yang sesuai dengan kebutuhan dan terdapatnya bimbingan untuk pengembangan usaha. kedua, berdasarkan hasil analisis deskriptif, bahwa 37 persen yang memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah dan 63 persen yang memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional. dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha kecil dan mikro di pasar baru cikarang lebih berminat atau cenderung memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional. kata kunci: preferensi, akses pembiayaan, regresi logistic binary 1naskah diterima: 10 oktober 2013, direvisi: 12 nopember 2013, disetujui: 20 nopember 2013 bprs harta insan karimah, jl. ciledug raya, no. 88 b, larangan, tangerang, banten. email: siti_aisyahzakaria@yahoo.com. mailto:siti_aisyahzakaria@yahoo.com 2 pendahuluan perbankan dan lembaga pembiayaan merupakan sektor yang paling besar pengaruhnya dalam aktifitas perekonomian masyarakat modern, sebagai lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perusahaan, badan-badan pemerintah, swasta maupun perorangan yang menyimpan dana-dananya melalui kegiatan pembiayaan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. salah satu bentuk pertanggungjawaban sosial bank dan lembaga keuangan syariah adalah memberikan pembiayaan kepada umkm, mengingat umkm ini merupakan cerminan dari perekonomian rakyat, karena kelompok ini merupakan kelompok dominan, bahkan mayoritas dalam struktur pelaku usaha di tanah air. hal ini dapat dilihat dari sumber bappenas sebagaimana dikutip dalam amalia (2009), bahwa data usaha kecil mikro pada tahun 2007 adalah sebanyak 41,30 juta unit (99,85%), usaha menengah 61,05 juta unit (0,14%), dan usaha besar 2,2 juta unit (0,005%). hingga tahun 2011, ukm yang tersebar di indonesia sudah mencapai sekitar 52 juta. dari jumlah tersebut, dampaknya pada penyerapan tenaga kerja, sumbangan terhadap pdb, nilai ekspor non-migas, dan nilai investasi tidak dapat dianggap kecil. oleh karena itu, di tengah krisis ekonomi, umkm memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara. ironisnya, meski keberadaan kelompok usaha kecil dan mikro (ukm) sebagai motor penggerak ekonomi telah mendapatkan legitimasi dari uu no.9 tahun 1995, namun kelompok ukm di wilayah cikarang bekasi dalam perkembangannya seringkali dihadapkan oleh berbagai dilema. persoalan kecilnya akses permodalan dan sulitnya mendapat pembiayaan dari perbankan merupakan dilema yang sangat krusial bagi kelanjutan usaha ukm. dapat dilihat dari seluruh total ukm tahun 2012 baru 45-55 persen ukm yang mendapatkan akses ke perbankan. hal ini karena umumnya masyarakat menengah ke bawah tidak memahami mekanisme yang diterapkan pada bank maupun lembaga keuangan formal, dan kurangnya perhatian dari pemerintah. ditambah lagi, perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai pemberi pinjaman kepada pihak yang membutuhkan dana, memberikan dana dengan memberikan kriteria dan persyaratan yang cukup rumit bagi calon debiturnya, seperti: harus adanya jaminan, laporan keuangan, slip gaji,dan sebagainya. sedangkan tidak semua masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang kecil dan menengah mempunyai persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh perbankan tersebut. terdapat dua masalah yang harus dijawab dalam penelitian ini dan setelah kedua pertanyaan masalah ini terjawab, maka penulis akan menganalisisnya lebih mendalam sebagai evaluasi untuk menemukan solusi dan memunculkan kebijakan yang memperkuat pengembangan usaha mikro dan kecil dalam mendapatkan akses pembiayaan di lembaga perbankan. berikut adalah dua masalah dalam penelitian ini: (1) apakah faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi ukm di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan?; (2) akses pembiayaan apa yang paling diminati atau yang paling banyak digunakan oleh pelaku ukm di pasar baru cikarang? 3 tinjauan pustaka menurut kotler (2000), preferensi digambarkan sebagai sikap konsumen terhadap produk dan jasa sebagai evaluasi dari sifat kognitif seseorang, perasaan emosional dan kecenderungan bertindak melalui objek atau ide. sementara schiffman dan kanuk (2008) menyatakan sikap adalah ekspresi perasaan (inner feeling) yang mencerminkan apakah seseorang senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, dan setuju atau tidak setuju terhadap suatu objek. dalam psikolog, preferensi bisa dipahami sebagai sikap individu terhadap suatu objek, biasanya tercermin dalam proses pengambilan keputusan eksplisit (lichtenstein dan slovic, 2006). preferensi terhadap lembaga pembiayaan adalah keinginan atau kecenderungan seseorang untuk memilih atau tidak memilih bertransaksi di lembaga pembiayaan baik formal maupun nonformal. preferensi masyarakat dalam memilih akses pembiayaan sangat bervariasi, karena setiap individu mempunyai keinginan yang berbeda-beda dalam pilihannya. metode pada penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan data satu waktu (cross-sectional). teknis analisis data yang digunakan untuk penelitian ini yaitu dengan analisis deskriptif dan untuk menentukan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi terhadap pilihan akses pembiayaan adalah dengan metode analisis logistic regression model (lrm). metode pengumpulan data pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara purposive sampling, dimana pengambilan sampel didasarkan atas ciri-ciri atau sifatsifat tertentu yang dipandang mempunyai kaitan erat dengan ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (hadi: 2004). adapun ciri-ciri tertentunya adalah hanya pada responden (pedagang) yang padat modal yang telah memilih akses pembiayaan baik di perorangan maupun lembaga konvensional atau syariah. sehingga objek penelitian ini adalah para pedagang pasar yang berlokasi di pasar baru cikarang yang beralamatkan di jln.re martadinata no.02, desa cikarang kota kecamatan cikarang utara, kabupaten bekasi. instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. kuesioner disusun secara semi terstruktur dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan pilihan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih salah satu jawaban yang telah disediakan. sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, terlebih dahulu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen. untuk mengetahui apakah setiap butir pertanyaan pada setiap variabel dinilai valid atau tidak maka harus dilakukan cara-cara berikut ini (rochaety, dkk, 2007): membandingkan r tabel dengan setiap r butir pertanyaan, dengan cara membandingkan output correlated item total correlation dengan nilai r tabel. sedangkan suatu konstruk dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha > 0.7 (wijaya, 2009). distribusi normal merupakan distribusi kontinu yang sangat penting dalam statistika dan banyak dipakai dalam memecahkan persoalan (gujarati, 2006). distribusi normal disebut juga distribusi gauss (boediono dan koster, 2008). uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau 4 tidak. dalam penelitian ini, uji normalitas data dilakukan dengan uji one-sampel kolmogorov-sminorv test. analisis regresi logistik dengan model logit adalah model regresi yang digunakan untuk melihat pengaruh sejumlah variabel independen x1,x2,x3,…….,xk terhadap variabel dependen y yang berupa variabel kategorik (binominal, multinominal atau ordinal) dengan nilai kemungkinan diantara 0 dan 1 (winarno, 2011). spss menyediakan tiga prosedur regresi logistik,yaitu: regresi logistik biner (binary logistic regression), regresi logistik multinominal (multinominal logistic regression), dan regresi logistik ordinal (ordinal logistic regression). regresi logistik biner sangat tepat digunakan untuk melakukan permodelan suatu kemungkinan kejadian dengan variabel respon bertipe kategori dua pilihan. nilai kemungkinan kejadian berada pada rentang 0-1. hal ini sangat berbeda dengan regresi linear biasa dimana nilai variabel dependen (variabel respon) bisa bernilai < 0 atau > dari 1 (trihendardi, 2007). model binary logistik dengan metode logit pada penelitian ini adalah sebagai berikut (nachrowi dan usman, 2008): 𝐿𝐿𝑖𝑖 = 𝑙𝑙𝑙𝑙� 𝑃𝑃𝑖𝑖 1 − 𝑃𝑃 � = 𝛽𝛽0 + 𝛽𝛽1𝑋𝑋𝑖𝑖 + 𝜇𝜇𝑖𝑖 prf = β0 + β1 lay + β2 prod + β3 agama1 + β 4 agama2 + β5 didik 1 + β6 didik2 + β7 didik3+ β8 didik4 + µi dimana: li sebagai preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan. dimana: li = 0, berarti lembaga keuangan konvensional li = 1, berarti lembaga keuangan syariah β0 sebagai konstanta βi sebagai koefisien regresi dari masing-masing variabel independen xi sebagai variabel bebas, dimana lay = layanan prod = produk agama1, agama2, didik1, didik 2, didik3, didik4 sebagai variabel kontrol pembahasan pada penelitian ini, diketahui 37 persen responden pernah mengakses pembiayaan di lembaga keuangan syariah dan 63 persen responden pernah mengakses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional. dari data yang telah didapat rata-rata usia responden yang mengakses pembiayaan adalah 24-65 tahun. terkait dengan agama yang dianut oleh responden yang memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah. dari 37 responden, terdapat 97,3% responden yang menganut/memeluk agama islam dan 2,7% responden yang menganut agama kristen. dapat disimpulkan bahwa responden yang beragama islam lebih banyak memilih akses pembiayaan syariah. berdasarkan responden yang ada, terdapat 5,4% yang pendidikan terakhirnya sd/sederajat, 8,1% responden yang pendidikan terakhirnya smp/sederajat, 83,3% responden yang pendidikan terakhirnya sma/sederajat dan 2,7% responden yang pendidikan terakhirnya diploma/sederajat. dapat disimpulkan bahwa responden yang pendidikan terakhir sma/sederajat lebih 5 banyak memilih akses pembiayaan syariah. jenis usaha/dagangan yang dijual oleh responden yang memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah. terdapat 27% adalah usaha sembako, 13,5% adalah usaha pakaian, 16,2% adalah usaha kelontong, 8,1% adalah usaha peralatan rumah tangga dan 35,1% usaha lainnya. berdasarkan sebaran kuesioner yang dilakukan, terdapat 16,2% yang memilih bank syariah, 24,3% memilih koperasi syariah, 37,8% memilih bmt, 13,5% memilih bprs, dan 8,1% memilih pegadaian syariah. dilihat dari jenis pembiayaan yang diambil terdapat 33 orang mengambil jenis pembiayaan mudharabah dan murabahah, 1 orang mengambil jenis pembiayaan musyarakah dan 3 orang mengambil jenis pembiayaan rahn dan qardh. dapat disimpulkan bahwa responden lebih banyak memilih akses pembiayaan kepada bmt. dalam menentukan uji validitas dan reliabilitas instrument, peneliti menggunakan dengan cara menentukan besarnyar tabel dengan ketentuan tingkat kepercayaan (degree of freedom= df) jumlah kasus dikurangi dua, membandingkan r tabel dengan cara membandingkan output correlated item total correlation dengan nilai r tabel. dari rumus tersebut, nilai r tabel untuk penelitian ini yaitu 100 – 2 = 98, tingkat signifikan 5%, maka nilai r tabel sebesar 0,196 dan dinyatakan valid karena r hitung lebih besar dari r tabel. dan hasil uji reliabilitas pada pertanyaan kuesioner diperoleh hasil alpha hitung 0,762, maka kuesioner terbukti handal atau reliabel karena cronbach alpha > 0,7. uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kecocokan metode logit atau probit yang digunakan untuk penelitian ini, maka perlu melakukan uji normalitas. untuk uji normalitas peneliti menggunakan one sample kolmogorovsminorv test dengan melihat tingkat signifikansi 5% pada masing-masing variabel. jika variabel tidak berdistribusi normal maka metode logit yang dipakai, namun jika variabel berdistribusi normal, maka metode probit yang dipakai. dari hasil pengujian normalitas data dapat diketahui bahwa variabel bebas x1, x3, x4, x5, x6, x7 dan x8 mempunyai distribusi tidak normal sehingga model yang dipakai adalah model logit. dan untuk variabel bebas x2 mempunyai distribusi normal sehingga model yang dipakai adalah probit. meskipun berbeda kedua model logit dan probit memiliki jenis metode yang sama. tidak ada alasan yang memaksa untuk harus menggunakan metode yang satu dibandingkan lainnya. dalam penelitian ini penulis menggunakan metode logit. analisis regresi logistik binary dengan model logit adalah model regresi yang digunakan untuk melihat pengaruh sejumlah variabel independen x1, x2, x3…….,xk terhadap variabel dependen y yang dengan nilai kemungkinan diantara 0 dan 1. dalam penelitian ini jumlah data yang diproses sebanyak 100 atau n 100, untuk melihat kelengkapan data yang diproses dalam penelitian ini dan tidak ada missing case, artinya data yang diproses lengkap. uji wald ratio adalah untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. untuk uji hipotesis masing-masing variabel sebagai berikut: h0 : β1,β2,…βk = 0, yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen (x) terhadap variabel dependen (y). h1 :β1,β2,…βk ≠0, yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen (x) terhadap variabel dependen (y). 6 dengan demikian, langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut: jika nilai probabilitas >0,05, maka h0 diterima jika nilai probabilitas <0,05 maka h0 ditolak. uji wald menguji masing-masing koefisien regresi logistik, sebagai berikut: 1. uji koefisien variabel x1 (lay): uji wald = 2,360, p-value = 0,124 > α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x1(lay) tidak signifikan. 2. uji koefisien variabel x2 (prod): uji wald = 16,162, p-value = 0,000 < α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x2 (prod) signifikan. 3. untuk koefisien variabel x3 (agama1) : ujiwald = 0,000, p-value = 0,986 >α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x3 (agama1) tidak signifikan. 4. untuk koefisien variabel x4 (agama2): ujiwald = 0,000, p-value = 0,987 >α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x4 (agama2) tidak signifikan. 5. uji koefisien variabel x5(didik1 ): uji wald = 0,245, p-value = 0,620 > α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x5(didik1)tidak signifikan. 6. uji koefisien variabel x6 (didik2 ): uji wald = 0,280, p-value = 0,597 > α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x6 (didik2) tidak signifikan. 7. uji koefisien variabel x7 (didik3 ): uji wald = 0,018, p-value = 0,894 > α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x7 (didik3) tidak signifikan. 8. uji koefisien variabel x8 (didik4 ): uji wald = 0,000, p-value = 0,987 > α = 0,05, maka koefisien regresi untuk variabel x8 (didik4) tidak signifikan. dengan demikian, berdasarkan hasil perhitungan koefisien dari model regersi logistik yang terlihat menunjukkan bahwa variabel x1 (lay), x3 (agama1 ), x4 (agama2), x5 (didik1 ), x6 (didik2), x7 (didik 3), x8 (didik4), tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel y. sedangkan untuk variabel x2 (prod) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap preferensi dalam memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah dan konvensional dengan koefisien variabel x2 (prod) signifikan pada probabilitas 0,000 < α = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara produk layanan lembaga keuangan syariah dengan lembaga keuangan konvensional. berdasarkan dari empat faktor yang dianalisis sebagai faktor yang mempengaruhi preferensi dalam memilih akses pembiayaan, hanya ada satu faktor yang berpengaruh signifikan terhadap preferensi dalam memilih akses pembiayaan, yaitu: faktor produk yang terdiri dari: 1. bunga/margin/bagi hasil yang rendah. 2. produk yang beragam. 3. plafond yang sesuai dengan kebutuhan. 4. terdapatnya bimbingan untuk pengembangan usaha. hal tersebut didapat dari hasil perhitungan uji wald statistik yang menunjukkan bahwa hanya ada satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu variabel produk dengan koefisien variabel x2 (prod) signifikan pada probabilitas 0,000 < α = 0,05, sedangkan variabel yang lainnya tidak berpengaruh. persamaan regresi yang dibentuk adalah sebagai berikut: pref= -30,680 + 1,398prod 7 dari persamaan regresi logistik di atas, dapat dilihat bahwa variabel lay, agama1, agama2, didik1, didik2, didik3, dan didik4 tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap preferensi ukm di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan. koefisien regresi prod sebesar 1,398 dan bernilai positif menunjukkan bahwa variabel prod berpengaruh positif terhadap preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan baik di lembaga keuangan syariah maupun konvensional, artinya jika variabel lain dianggap konstan, maka setiap unit perubahan variabel prod kemungkinan preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional adalah 4,049 kali lebih tinggi daripada preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah. dengan demikian, hasil penelitian ini didukung oleh teori schiffman dan kanuk (2008) yang menyatakan bahwa salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi yaitu karena faktor produk yang ditimbulkan dari usaha pemasaran perusahaan. berbeda dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh sirat qidrotullah dan ratih komalarini saidah dengan hasil penelitiannya, yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi pedagang dalam memilih akses pembiayaan dikarenakan faktor pelayanaan (pelayanan yang ramah, kemudahan dalam persyaratan, tidak adanya jaminan, dan dana yang cepat), faktor kepercayaan dan faktor kekerabatan. berdasarkan hasil analisis data penelitian secara deskriptif, diketahui bahwa dari 100 responden terdapat 37% yang pernah memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah dan 63% yang pernah memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional. dapat disimpulkan bahwa usaha kecil mikro (ukm) di pasar baru cikarang lebih berminat atau cenderung memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional dan sumber pembiayaan yang paling banyak diakses oleh ukm/pedagang adalah bpr (bank perkreditan rakyat), bahkan mengakses kepada bank keliling (renternir). hal tersebut dikarenakan beberapa sebab, yaitu: pertama, masyarakat lebih melihat keuntungan yang besar dengan cara yang mudah. kedua, kurangnya pemahaman masyarakat awam tentang keharaman riba atau lebih dikenal dengan bunga yang sudah sangat jelas keharamannya didalam al-qur’an dan assunnah, serta ada pula yang memahami namun mereka tetap bertransaksi dengan sistem riba itu, karena mereka tidak ada rasa takut kepada allah swt. ketiga, kurangnya tawakkal kepada allah swt. sehingga mereka menganggap rezeki itu terbatas dan sempit dan jika tidak ada pintu rezekiyang halal kemudian mereka akan bertransaksi dengan bank-bank ribawi, dan banyak responden yang beranggapan bahwa lembaga keuangan syariah masih belum banyak di daerah cikarang sehingga sulit untuk dijangkau dan sebagian besar para ukm beranggapan bahwa lembaga keuangan syariah tidak ada bedanya dengan lembaga keuangan konvensional karena penetapan margin di pembiayaan syariah sama halnya seperti bunga di pembiayaan konvensional yang hanya membedakan dalam penyebutannya saja. dengan demikian, berdasarkan dari beberapa sebab yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat khususnya pedagang yang masih belum mengetahui atau memahami tentang keharaman riba dan akibat yang akan didapatkannya, sehingga mereka lebih memilih untuk bertransaksi dengan bank-bank ribawi dibandingkan 8 memilih bertransaksi di lembaga keuangan syariah. simpulan dari hasil penelitian ini terdapat dua kesimpulan, pertama menunjukkan bahwa hanya ada satu faktor yang berpengaruh signifikan terhadap preferensi usaha kecil mikro (ukm) di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan yaitu faktor produk yang meliputi: bunga/margin/bagihasil yang rendah, produk yang beragam, plafond yang sesuai dengan kebutuhan, dan terdapatnya bimbingan untuk pengembangan usaha. hal tersebut dilihat dari hasil uji wald pada regresi logistik yang menunjukan bahwa hanya ada satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu variabel produk dengan koefisien variabel x2 (prod) signifikan pada probabilitas 0,000 < α = 0,05. kedua, menunjukkan bahwa dari 100 responden, terdapat 37% yang pernah memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah dan 63% yang pernah memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional. dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha kecil mikro (ukm) di pasar baru cikarang lebih berminat atau cenderung memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional. berdasarkan persamaan regresi logistik di atas, dapat dilihat bahwa variabel lay, agama1, agama2, didik1, didik2, didik3, dan didik4 tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap preferensi ukm di pasar baru cikarang dalam memilih akses pembiayaan. koefisien regresi prod sebesar 1,398 dan bernilai positif menunjukkan bahwa variabel prod berpengaruh positif terhadap preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan baik di lembaga keuangan syariah maupun konvensional, artinya jika variabel lain dianggap konstan, maka setiap unit perubahan variabel prod kemungkinan preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan konvensional adalah 4,049 kali lebih tinggi daripada preferensi ukm dalam memilih akses pembiayaan di lembaga keuangan syariah pustaka acuan al arif, m. n. r. 2011. dasar-dasar ekonomi islam. surakarta: era intermedia. amalia, euis. 2009. keadilan distributif dalam ekonomi islam penguatan peran lkm dan ukm di indonesia. jakarta: rajawali pers. boediono dan wayan koster. 2008. teori dan aplikasi statistika dan probabilitas. bandung: pt remaja rosdakarya. gujarati, d. n. 2006. dasar-dasar ekonometrika. ed.ketiga, jilid1. jakarta: erlangga. hadi, sutrisno. 2004. metodologi research. jilid 1, ed.kedua.yogyakarta: andi offset husnayain, ihdal. 2007. “analisis ekonomi kejahatan properti di indonesia tahun 2005.”skripsi s1 fakultas ekonomi, universitas indonesia kotler, philip. 2000. manajemen pemasaran. jakarta: prehalindo lichtenstein, s dan p. slovic. 2006. the construction of preference. new york: cambridge university press. nachrowi, n. d. dan h. usman. 2008. penggunaan teknik ekonometri: pendekatan populer dan praktis dilengkapi teknik analisis dan pengolahan data dengan menggunakan paket program spss. jakarta: pt rajagrafindo persada. rochaety, ety, dkk. 2007. metode penelitian bisnis: dengan aplikasi spss. 9 jakarta: mitra wacana media, 2007. schiffman, leon dan leslie lazar kanuk. 2008. prilaku konsumen, ed. ke-7. jakarta: pt indeks shobah, m. n. 2009. “analisis rasio camel dengan metode regresi logistik pada bank devisa dan bank non devisa”. skripsi s1 fakultas ilmu ekonomi dan sosial, universitas islam negeri syarif hidayatullah jakarta. trihendradi, c. 2007. kupas tuntas analisis regresi. yogyakarta: penerbit andi. winarno,w.w. 2011. analisis ekonometrika dan statistika dengan eviews ed. ketiga. yogyakarta: unit penerbit dan percetakan stim ykpn wijaya, tony. 2009. analisis data menggunakan spss. yogyakarta: universitas atmajaya yogyakarta rizky andriati & nurul huda: the influences of productive zakah 207 the influences of productive zakah mentoring to the saving behavior and the prosperity of poor housewife rizky andriati & nurul huda1 abstrack. the influences of productive zakah mentoring to saving behavior and the prosperity of poor housewife. the purpose of this study was to determine the influences of productive zakah mentoring to the saving attitude, the confidence of saving ability, the saving behavior and the prosperity of poor housewives which become partners of masyarakat mandiri dompet dhuafa. this is a quantitative research using structual equation modelling. the respondents are 115 poor housewives in parung, bogor, west java; cipinang, east jakarta; tanjung pasir, tangerang, banten; and bantar gebang, bekasi, west java. the variables that used on this research are the mentoring of zakah productive, saving attitude, saving behavior, and prosperity. the result showed that the mentoring of productive zakah program has significant influence for the saving attitude and saving behavior. saving behavior also affects significantly the prosperity of poor housewives. keywords: productive zakah mentoring, saving behavior, prosperity, structural equation modeling abstrak. pengaruh pendampingan zakat produktif terhadap prilaku menabung dan kesejahteraan dari ibu rumah tangga mustahik. penelitian ini membahas pengaruh kualitas pendampingan program pendayagunaan zakah produktif masyarakat mandiri dompet dhuafa terhadap sikap menabung, keyakinan kemampuan menabung, perilaku menabung dan kesejahteraan ibu rumah tangga mustahik. penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode structural equation modelling. responden penelitian ini adalah 115 ibu rumah tangga mustahik di empat lokasi yaitu parung, bogor, jawa barat; cipinang, jakarta timur; tanjung pasir, tangerang, banten; dan bantar gebang, bekasi. variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah pendampingan zakat produktif, sikap menabung, prilaku menabung, dan kesejahteraan. hasil penelitian ini menemukan bahwa kualitas pendampingan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan perilaku menabung. perilaku menabung berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan. kata kunci: pendampingan zakah produktif, prilaku menabung, kesejahteraan, model persamaan struktural first draft: february, 3rd 2015, revision: macrh, 5th 2015, accepted: march, 30th 2015 1 post-graduate of university of indonesia, master of science in middle eastern and islamic studies, economy faculty of yarsi university email: rizkyandriati@gmail.com; pakhuda@yahoo.com al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 208 introduction poverty does not only have relation with economic dimension, moreover poverty relates to many aspects such as social, culture, politics, environment, health, education, spirituality, working attitude and self value. financial aid is not enough to help them if the cause of their poverty is not solved (mintarti, 2013). productive zakah was developed since few years ago as a breakthrough to reduce poverty. it is the transformation of zakah program from cash donation into productive activities using zakah fund. zakah beneficiaries (mustahik) are not only given the donation, but they are motivated to work and become entrepreneur using the donation from zakah distribution (grandyanto, 2012). one of zakah institution which has developed the productive zakah is dompet dhuafa with the progam masyarakat mandiri that its purpose is to create the prosperity of mustahik through saving. saving is important because its benefits for life, and islam also support saving because a muslim can prepare themselves for their future plan or emergency condition (antonio, 2001). the purpose of the present study was to determine the effects of zakah institution to create prosperity of mustahik through their saving attitude, confidence of saving ability and saving behavior by seeing the aspect of mentoring. mentoring performance will be measured using service quality instrument. structual equation modelling (sem) is one of the methods that can be used to see the influence in several variables. based on the fact, the questions of this study are: first, do the program of productive zakah by masyarakat mandiri effect significantly to the saving attitude, the confidence of saving ability, the saving behavior and the prosperity of poor housewives? second, do saving behavior have effects significantly to the confidence of saving ability of poor housewives? third, do the confidence of saving ability have significant influence to the saving behavior of poor housewives? fourth, do saving behavior effect significantly to the prosperity of poor housewives? literature review from linguistic aspect, the root of the word zakah comes from zaka which means grow, clean, and good. based on fiqh terminology, zakah define as an obligation that an individual has to donate a certain proportion of wealth each year to charitable causes. in broad outline, the form of zakah distribution and utilization was divided into two ways, which is distribution for consumptive activities and productive activities. zakah distribution for consumption is only a temporary aid for urgent needs. usually this donation is purposed to give the basic need such as food, education and health. contrary, zakah distribution for productive activities is zakah donation for productive business for middle and long term (mintarti, 2013). productive zakah is zakah that is donated for mustahik as capital to run business with purpose to increase their economic level and their productivities (qadir, rizky andriati & nurul huda: the influences of productive zakah 209 2001). productive zakah is one of the community empowerment based on zakah to improve life quality of poor people using their skill, power and participation. it needs active interaction between zakah officer as program counselor and poor people as the target of the program. with the program, every poor people is seen as a personal who also has power but it is not totally used. through productive zakah, they can participate from making the plan, into evaluating the program. the zakah officer having the role as mentor becomes an agent of change who also helps to solve their problem. there are five service quality measurements that becomes satisfaction indicator for customer (kotler and keller, 2007), such as: first, tangibles, including physical facility, equipment, employee and communication tools. second, reliability, a skill to give the promised service immediately, accurately and satisfying. third, responsiveness, a willing of the employee to help the customer and give them the service with responsiveness. fourth, assurance, including knowledge, skill, politeness, trustworthiness of the employee, less of danger, risk or doubt. fifth, emphaty, including good communication and relationship, personal touch and customer understanding. besides this five indicators developed by parasuraman, othman and owen added compliances as service quality measurement, especially compliances with islamic law which was known as carter (compliance, assurance, reliability, tangible, emphaty, and responsiveness). the research was elaborated to determine the service quality of islamic bank kuwait finance house (kfh). compliance is a skill to comply with islamic law and islamic banking principles. it is developed into five aspects: the institution comply to the islamic law and principle, the institution does not take or give the interest in the saving product, product regulation and services are islamic, there’s no interest in the credit product, and there is profit sharing in the investment products (othman and owen, 2001). besides parasuraman et al, other experts also formulize other dimension or factor used by costumers to measure the quality of service. one of them is gronroos, who stated that there are three main criteria used by costumers in measuring the quality of a service, there are: outcome related, process related and image related. those three criteria can still be elaborated into six elements; two of them are (tjiptono, 2000): first, recovery, this element is included in process-related criteria. customers realized that, if there is a mistake or if they find an unexpected thing, the service provider will take immediate and appropriate action and solve the problem. second, reputation and credibility. this element is included in image-related-criteria. a person’s ability to behave is influenced by his confidence. this confidence is defined as perceived behavioral control. perceived behavioral control is somebody’s confidence in his ability to do certain behavior, whether it is easy (yasid, 2010). in al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 210 relation to the behavior of saving, the perceived behavioral control describes the perception of somebody on his ability to save. this believe is influenced by several believes he can accept (control believe). this control believes is an individual believe on the existence of several factors that make saving easy or difficult. this believes is influenced by several accepted believes (control believes). the control believes is an individual believe about the present of many factors that makes easy or difficult in doing something. in conceptual, perceived behavioral control relates with self-efficacy. self-efficacy is a self believe about a confidence to do something in specific situation. according to the above definition of perceived behavioral control and self-efficacy, the saving behavior of a person is influenced by his confidence in saving ability in his situation. the indicators in seeing the confidence in saving ability are: first, the confidence in saving ability; second, the confidence in not withdrawing the saving immediately. in economics, the saving behavior is described as the comparison between income and the amount of funds allocated for the future, whether it is saved for daily needs according to life cycle, urgent needs or investments (yasid, 2010). there are four factors that indicate the saving behavior, that is: first, the amount of fund; second, the ratio between saving and earning, which defined as the comparison between the amount of saving and the income earned; third, the increase of saving amount, which can be defined as the perception on the increase of saving amount saved by somebody; fourth, saving frequency, defined as how often a person save in a certain period of time (yasid, 2010). methods the analysis method of this study is structural equation model (sem). structural equation modeling (sem) is a very cross-sectional, linear and general modeling technique. included in this sem are factor analysis, path analysis, and regression. the next definition states that sem is a statistical technique used to build and test statistical models which usually presented in cause-effect models. sem is actually a hybrid technique, which include the confirmatory aspects of factor analysis, path analysis and regression which can be considered as special case in sem (sarwono, 2014). the information was collected by distributing questionnaire to the respondents. the population of the study is all of poor housewives of masyarakat mandiri partner in zona madina cluster in parung, bogor, west java; cipinang, east jakarta; tanjung pasir, tangerang, banten; and bantar gebang, bekasi, west java. sample was taken using non probability sampling in form convenience sampling. the amount of respondents on this study is 115 poor housewives. the research will elaborate five latent variables, which are the service quality, the saving attitude, the rizky andriati & nurul huda: the influences of productive zakah 211 confidence of saving ability, the saving behavior and the prosperity. the statistic hypotesis of the studies are: ho: the mentoring of productive zakah program by masyarakat mandiri does not influence significantly the saving attitude or poor housewives. h1: the mentoring of productive zakah program by masyarakat mandiri influences significantly the saving attitude or poor housewives. ho: the mentoring of productive zakah by masyarakat mandiri does not influence significantly the confidence of saving ability of poor housewives. h2: the mentoring of productive zakah by masyarakat mandiri influences significantly the confidence of saving ability of poor housewives. ho: the mentoring of productive zakah by masyarakat mandiri does not influence significantly the saving behavior of poor housewives. h3: the mentoring of productive zakah by masyarakat mandiri influences significantly the saving behavior of poor housewives. ho: the saving attitude does not influence significantly the confidence of saving ability of the poor housewives. h4: the saving attitude influences significantly the confidence of saving ability of the poor housewives. ho: the confidence of saving ability does not influence significantly the saving behavior of the poor housewives. h5: the confidence of saving ability influences significantly the saving behavior of the poor housewives. ho: the saving behavior does not influence significantly the prosperity of the poor housewives. h6: the saving behavior influences significantly the prosperity of the poor housewives. ho: the mentoring quality of productive zakah by masyarakat mandiri does not influence the prosperity of the poor housewives. h7: the mentoring quality of productive zakah by masyarakat mandiri influences the prosperity of the poor housewives discussion this research used two stage approaches, where the initial analysis is conducted on the model measured to analyze the accuracy of each question on the model. the model measured which explains the relationship between indicator variables in building the latent variables. from nine measurements of gof, there are 3 gof measurements not showing good compatibility, whereas 4 other gof measurements shows good compatibility, and there are 2 measurements shows marginal compatibility, therefore it is concluded that the compatibility of the models are good. after no offending al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 212 estimates can be found, the research can move to the next examination, the validity of measuring models. observed variables considered valid the t-value is bigger than the exact value of 1,96 (the critical t is approached by z value 95%) and the standardized loading factors more or less bigger than 0,50. but, if there is a standard factor value under 0.5 but still higher or more or less the same as 0,3, then the related variable may still be considered not to be eliminated. but, if the value of the factor is less than 0,3, the variable must be eliminated from the model. in this research, the author will maintain all variables because all of their values are higher than or the same as 0,3. figure 1. standardized solution model structural after measuring the validity, the next step is to measure the reliability. the construct of reliability measurement in sem can be measured by using composite reliability measure and variance extracted measure. hair et.al states that a construct having good reliabilities is if the value of its construct reliability (cr) is ≥ 0.70. from the reliability analysis, it is seen that the reliability coefficient, all indicators to each construct are bigger or the same as 0.7, except the believe in the ability to save. therefore, the variable will not to be included in the next data assignments. figure 2. t-values model structural essed rizky andriati & nurul huda: the influences of productive zakah 213 the causality relation in each construct becomes significant if statistically the level of α = 0,05 and t value ≥ 1,96 (critical value or t table). the evaluation of structural model includes: table 1. the evaluation of structural model coefficient relation estimation t-value information mentoring quality to saving attitude 0,71 3,46 significant mentoring quality to saving behavior 0,46 3,97 significant saving attitude to prosperity 0,84 3,58 significant mentoring quality to prosperity 0,29 -2,30 no significant source: respondent data source, processed based on the coefficient evaluation of structural model at the table, we can see that there is one coefficient which is not statistically significant. it is the coefficient describing the relation between mentoring quality and prosperity. it’s concluded that there is no significant causality relation between those factors that has been hypothesized. according to the above mention sem analysis, the h2 hypothesis (the quality of mentoring program of the productive zakah empowerment of the masyarakat mandiri influencing significantly to the believe of the ability to save of the housewives among the mustahiks), h4 (saving attitude influences significantly to the believe in saving ability and h5 (the believe in saving ability influence significantly the behavior in saving) is not included because according to reliability studies of the measuring model, the latent variable of kkm is not fulfilling the reliable value therefore do not included in the data processing. table 2. the result of hypotesis test hipotesis t-values keterangan h1 the quality of the mentoring of the empowerment program of the productive zakah of the masyarakat mandiri influence significantly the saving attitude of the housewives among the mustahiks. 3.46 data supports h1 h3 the quality of the mentoring of the empowerment program of the productive zakah of the masyarakat mandiri influence significantly the saving attitude of the housewives among the mustahiks. 3.97 data supports h3 al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 214 h6 the saving behavior is influencing significantly to the welfare of the housewives among the mustahiks. 3.58 data supports h6 h7 the quality of mentoring the empowerment program of the productive zakah of the masyarakat mandiri is related significantly to the saving attitude of the housewives among the mustahiks. -2.30 data do not support h7 source: respondent data source, processed hypothesis 1 states: ‘the mentoring quality of the empowerment program of the .productive zakah is significantly influence the saving attitude of the housewives among the mustahiks. according to the result of the calculation of the structure model of the hypothesis 1, the t-value is 3,46. therefore the research supports the statement that states the quality mentoring program of the empowerment significantly influence the saving attitude of the housewives among mustahiks. this means that the higher the quality of the mentoring program of the masyarakat mandiri dompet dhuafa, the higher also the saving attitude of the housewives among the mustahiks. the structural equality of hypothesis 1 is: sikap_me = 0.71*kualitas, errorvar.= 0.50 r2=0.50 the structural equality shows the significant and direct influence of mentoring quality in the empowering program in of productive zakah to the saving attitude. the percentage value of influence is 50,41 percents. this shows that 50.41 percents of the changing of saving attitude of the housewives among the mustahiks are directly influenced by the improvement of mentoring quality of the empowerment program of productive zakah of the independent society. hypothesis 3 states: ‘the quality of mentoring program of productive zakah significantly influence the saving attitude of housewives among the mustahiks.” according to the result of the calculation of the structure model of the hypothesis 1, the t-value is 3,97. therefore the research supports the statement that states the quality mentoring program of the empowerment significantly influence the saving attitude of the housewives among mustahiks. this means that the higher the quality of the mentoring program the higher also the saving behavior of the housewives among the mustahiks. the structural equality of this hypothesis is: sikap_me = 0.46*kualitas, errorvar.= 0.79 r2=0.21 the structural equality shows the significant and direct influence of mentoring quality in the empowering program in of productive zakah to the saving behavior. the percentage value of influence is 21.16 percents. this shows that 21.16 percents of the changing of saving behavior of the housewives among the mustahiks are rizky andriati & nurul huda: the influences of productive zakah 215 directly influenced by the improvement of mentoring quality of the empowerment program of productive zakah of the independent society. hypothesis 6 states: ‘saving behavior significantly increase the prosperity of the housewives among mustahiks”. the research supports the statement that states the saving behavior significantly increase the prosperity of the housewives among the mustahiks. this means that the higher the saving behavior the higher also the prosperity of the housewives among the mustahiks. the structural equation of this hypothesis is : kesejaht = 0.84*perilaku – 0.29*kualitas, errorvar.= 0.43 r2=0.57 the structural equality shows that the percentage of influence of saving behavior to the prosperity of the mustahiks is 70,56 persen. this shows that 70.56 percent of the improvements of the prosperity of the housewives among the mustahiks directly caused by the improvements of saving behavior. hypothesis 7 states: mentoring quality empowerment program of productive zakah significantly influence the prosperity of the housewives among the mustahiks”. according to the result of the calculation of the structure model of the hypothesis 6, the t-value is -2.30. therefore the research do not support the statement that states the mentoring quality of the empowerment program of productive zakah significantly influence the prosperity of the housewives of the mustahiks. the structural equality of this hypothesis is : kesejaht = 0.84*perilaku – 0.29*kualitas, errorvar.= 0.43 r2=0.57 the structural equality shows the percentage amount of influence of mentoring quality of the empowerment program of productive zakah to the saving behavior is 8.41 percents (-0.292). this shows that 8.41 percents of improvements of the mustahik’s prosperity is directly influenced by the improvements of quality of the mentoring programs of the empowerment of productive zakah. conclusion the saving behavior is proven to have a major impact in increasing the prosperity of the housewives of the mustahik. in the future, masyarakat mandiri dompet dhuafa or other zakah institutions which develop the productive zakah are obliged to give more attentions to the saving behaviors of the musthik. saving programs must be developed to build the saving attitude and to push the saving behavior. one thing those institutions can do is to set a certain amount of saving target for each mustahik ,in order to achieve want they want to get. at the same time, masyarakat mandiri can give rewards to those who achieve their saving targets or those who can achieve certain saving points from time to time so they can win prizes in local or national level prepared by masyarakat mandiri dompet dhuafa. al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 216 in this case, amil zakah institutions or other society empowerment institutions have to give more attentions to the mentoring process, because in this phase, the mustahik will receive knowledge and motivations. the mentors have to be trained periodically in progressive training to expand their horizons and increase their understandings in order to accelerate the transformation process of the mustahik. one of the knowledge and skill needed to be imparted is mass communication, which can be transferred through trainings. references qadir, a. 2001. zakah dalam dimensi mahdah dan sosial. jakarta: pt. raja grafindo persada. antonio, m.s. 2001. bank syariah dari teori ke praktek. jakarta: gema insani press. grandyanto, t. 2012. upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan zis. presentasi dipaparkan pada seminar masyarakat ekonomi syariah di universitas trisakti, jakarta. kotler. p & k.l. keller. 2007. manajemen pemasaran. jakarta: indeks. mintarti, n. 2013. “the development of zakah in indonesia. seminar filantropi islam asia tenggara. jakarta: imz. nasution. 2004. manajemen jasa terpadu. bogor: ghalia indonesia. othman, a.q. & l. owen. 2001. adopting and measuring customer service quality (sq) in islamic banks: a case study in kuwait finance house. international journal of islamic financial service. volume 3 nomor 1. qardawi, y. 1988. hukum zakah. bogor: pt. pustaka litera antarnusa. tjiptono, f. 2000. manajemen jasa. yogyakarta: penerbit andi yogyakarta. wijanto, s.h. 2008. structural equation modeling dengan lisrel 8.8. yogyakarta: graha ilmu. yasid, mukhamad. 2010. perilaku menabung ibu rumah tangga ‘’keluarga mustahik’’ peserta program ikhtiar lembaga keuangan mikro syariah berbasis kelompok di bogor, jawa barat. bogor: institut pertanian bogor. pendahuluan investasi (al-ististmar) dalam islam pada dasarnya adalah bentuk aktif dari ekonomi syariah. meski, sering sekali orang memahami ajaran islam lebih menitik beratkan segala perilaku ekonominya berbasis kedermaan, contoh perintah zakat dan anjuran shadaqah. sesungguhnya, dalam islam perilaku ekonomi yang terkait dengan harta adalah pemanfaatannya yang produktif. perintah zakat adalah bentuk stimulasi (pendorong) supaya manusia dapat terus mengembangkan harta kekayaannya. jika harta tersebut didiam kan (idle), maka lambat laun akan termakan oleh zakatnya. salah satu hikmah dari zakat ini adalah mendorong setiap muslim untuk menginvestasikan hartanya. harta yang diinvestasikan tidak akan termakan oleh zakat, kecuali keuntungannya saja. dalam investasi juga dikenal harga. harga adalah nilai jual atau beli dari sesuatu yang diperdagangkan. selisih harga beli terhadap harga jual disebut profit margin. harga terbentuk setelah terjadi nya mekanisme pasar. resosialisasi investasi keuangan syari’ah yuke rahmawati fakultas syariah dan hukum jakarta jl. ir. h. juanda 95, ciputat, jakarta. abstrak: investasi adalah menanamkan atau menempatkan aset, baik berupa harta maupun dana, pada sesuatu yang diharapkan akan memberikan hasil pendapatan atau akan meningkatkan nilainya di masa mendatang. kegiatan investasi keuangan syariah melibatkan bank, pasar uang, pasar modal, dana pensiun, asuransi, dan reksadana. lembaga pasar uang dan pasar modal syariah ini menyediakan surat-surat berharga sebagai sarana atau alat yang diper dagangkan untuk memobilisasi sumber-sumber dana masyarakat dan juga untuk mengamankan likuiditas lembaga keuangan syariah yang ber lebihan. kata kunci: investasi, keuangan syariah. yuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah66 suatu pernyataan penting al-ghazali sebagai ulama besar adalah ke untungan merupakan kompensasi dari kepayahan perjalanan, risiko bisnis dan ancaman keselamatan diri pengusaha. sehingga sangat wajar seseorang memperoleh keuntungan yang merupakan kompensasi dari risiko yang ditanggungnya. beberapa prinsip dasar islam dalam muamalah yang harus diperhatikan oleh pelaku investasi syariah (pihak terkait) adalah: (1) tidak mencari rizki pada hal yang haram, baik dari segi zatnya maupun cara mendapatkannya, serta tidak menggunakannya untuk hal-hal yang haram. (2) tidak mendzalimi dan tidak didzalimi. (3) keadilan pendistribusian kemakmuran. (4) transaksi dilakukan atas dasar ridha sama ridha. (5) tidak ada unsur riba, maysir (perjudian/spekulasi), dan gharar (ketidakjelasan/ samar-samar). mengenal investasi definisi investasi adalah menanamkan atau menempatkan aset, baik berupa harta maupun dana, pada sesuatu yang diharapkan akan memberikan hasil pendapatan atau akan meningkatkan nilainya di masa mendatang. atau secara sederhananya, investasi berarti mengubah cashflow agar mendapatkan keuntungan/jumlah yang lebih besar di kemudian hari. sedangkan investasi keuangan adalah menanamkan dana pada surat berharga (financial asset) yang diharapkan akan meningkat nilainya di masa mendatang. ada 4 klasifikasi financial asset: (1) fixed income/pendapatan tetap. surat-surat berharga yang dikeluarkan yang memiliki penghasilan tetap seperti deposito dan obligasi. (2) equity/saham. bukti kepemilikan dari sebuah atau beberapa perusahaan, sehingga penting bagi pemilik saham untuk mengetahui informasi tentang perusahaan yang mengeluarkan saham dan dapat mengetahui nilai klaim dari investasi tersebut. (3) instrumen derivatif. instrumen yang merupakan turunan dari saham seperti future trading. (4) portofolio. gabungan dari seluruh instrumen-instrumen investasi keuangan seperti reksadana. ada beberapa keunggulan financial asset: (1) liquid. mudah dibeli dan mudah pula untuk dijual kembali. (2) mudah untuk dibagi (divisibility). al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 67 jika mempunyai tanah seluas 1 hektar untuk menjual seperempat hektar akan membutuhkan banyak biaya lagi seperti biaya notaris, pembagian surat tanah, dan lain-lain. berbeda halnya jika kita mempunyai tabungan, kita bisa mengalokasikan sebagiannya ke reksadana. (3) biaya transaksi kecil. biaya transaksi yang paling besar adalah spread. semakin tidak likuid suatu instrumen investasi, makin besar pula spread-nya, yang diartikan sebagai ongkos dari suatu transaksi. (4) kemudahan dalam penggabungan berbagai asset (pool of fund). diversifikasi dalam membagi portofolio hanya mungkin jika menggunakan financial asset. landasan syar’i investasi kegiatan investasi keuangan syariah pada prinsipnya adalah harus terkait secara langsung dengan suatu aset atau kegiatan usaha yang spesifik dan menghasilkan manfaat, karena hanya atas manfaat tersebut dapat dilakukan bagi hasil. ada beberapa landasan syar’i, baik dalam al-qur’an dan, hadits nabi, maupun kaidah fiqih yang mendasari investasi, diantaranya: “allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (al-baqarah: 275). “hai orang beriman! janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu..” (an-nisaa: 29). hai orang-orang yang beriman! penuhilah akad-akad itu ....(al-maa’idah: 1). rasulullah sendiri tidak setuju membiarkan sumber daya modal tidak produktif dengan mengatakan: “berikanlah kesempatan kepada mereka yang memiliki tanah untuk memanfaatkannya dengan caranya sendiri dan jika hal itu tidak dilakukannya, hendaknya diberikan pada orang lain agar memanfaatkannya (h.r. muslim). bahkan ada hadits yang berbunyi “seandainya gunung uhud ini menjadi emas maka tidak akan aku biarkan emas itu singgah di rumahku kecuali untuk urusan hutang”. khalifah umar juga menekankan agar umat islam menggunakan modal mereka secara produktif dengan berkata: “mereka yang mempunyai uang perlu menginvestasikannya, dan mereka yang mempunyai tanah perlu mengeluarkannya.” hal tersebut menunjukkan bahwa islam sangat yuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah68 me nekankan umatnya untuk melakukan investasi. prinsip investasi syariah investasi yang diakui oleh hukum positif yang berlaku, belum tentu sesuai dengan prinsip islam. ada beberapa aspek yang harus dimiliki dalam berinvestasi menurut pandangan islam, yaitu: 1. aspek material atau finansial; artinya suatu bentuk invetasi hendaknya menghasilkan manfaat finansial yang kompetitif dibandingkan dengan bentuk investasi lainnya. 2. aspek kehalalan ; artinya suatu bentuk investasi harus terhindar dari bidang maupun prosedur yang syubhat atau haram. suatu bentuk investasi yang tidak halal hanya akan membawa pelakunya kepada kesesatan serta sikap dan perilaku deskruptif secara individu maupun sosial. 3. aspek sosial dan lingkungan; artinya suatu bentuk investasi hendak nya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat banyak dan lingkungan sekitar, baik untuk generasi saat ini maupun yang akan datang. 4. aspek pengharapan kepada ridha allah ; artinya suatu bentuk investasi tertentu itu dipilih adalah dalam rangka mencapai ridha allah. aspek kehalalan aspek kehalalan investasi mencakup hal-hal berikut: 1. niat atau motivasi. motivasi yang halal ialah transaksi yang berorientasi kepada hasil yang win-win, yaitu saling memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi. 2. transaksi transaksi bisnis yang dibenarkan adalah memenuhi syarat sebagai berikut: � pihak-pihak yang bertransaksi adalah mereka yang memiliki kesadaran dan pemahaman akan bentuk dan konsekuensi transaksi. � barang atau jasa yang ditransaksikan adalah benda atau jasa yang halal, yang diketahui karakteristiknya oleh para pihak yang al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 69 terlibat. � bentuk transaksi jelas, baik secara lisan maupun tulisan, dan dipahami oleh para pihak yang terlibat. � adanya kerelaan dari para pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut. 3. prosedur pelaksanaan transaksi sesudah dilaksanakan akad antara pihak yang berbisnis, maka pelaksanaannya tidak boleh menyimpang dari kekuatan awal. masingmasing pihak harus bersikap amanah dan profesional. tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada kecurangan, apalagi wanprestasi. 4. penggunaan barang atau jasa yang ditransaksikan. kehalalan itu tidak cukup hanya pada barang atau jasa, melainkan juga termasuk penggunaannya. oleh karena itu, penggunaan yang tidak benar atau untuk tujuan yang tidak benar, meskipun benda atau jasa tersebut pada asalnya adalah halal, maka ia dapat jatuh ke haram. asas maslahah asas manfaat merupakan hal yang esensial dalam bermuamalat. para pihak yang terlibat dalam investasi, masing-masing harus dapat memperoleh manfaat sesuai dengan porsinya. � manfaat yang timbul, harus dirasakan oleh pihak yang bertransaksi. � manfaat yang timbul, harus dapat dirasakan oleh masyarakat pada umunya. seluruh investasi yang memungkinkan untuk mendatangkan keuntung an yang sedikit secara sementara, namun akhirnya akan membawa kerugian yang demikian banyak dan tidak bisa diperbaiki, di anggap oleh al-qur’an sebagai bisnis yang sungguh-sungguh merugikan dan tidak membawa maslahah. kerugian ini diasumsikan sebagai merusakkan proporsi karena perbendaharaan akhirat yang abadi diperdagangkan dengan kenikmatan dunia yang fana. hal yang sama terkutuknya adalah praktek-praktek investasi yang di permukaan tampak menghasilkan bagi segelintir orang, namun sebenarnya yuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah70 pada saat yang sama menhancurkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. semua jenis investasi ini akan berakhir dengan kerugian dalam bisnis. kriteria investasi syariah kriteria yang dikemukakan oleh fatwa dewan syari’ah nasional (dsn) untuk pedoman pelaksanaan investasi syariah adalah sebagai berikut: kriteria investasi islami berdasarkan fatwa dsn industri kecuali: � barang haram � alkohol � jasa keuangan ribawi � judi � perusahaan senjata gelap � bisnis pornografi perusahaan dengan sumber dana dari hutang yang debt on equity rasionya tidak lebih dari 30% pendapatan margin yang diterima oleh perusahaan tidak lebih dari 15 % perusahaan yang memiliki aktiva kas atau piutang dimana piutang dagang tidak lebih dari 50 % dengan kriteria yang terpenuhi ini maka seorang muslim dapat berinvestasi ke dalam bentuk usaha sebagai berikut: pertama, industri. seorang muslim dapat menginvestasikan dananya pada proyek pembangunan di sektor riil atau perdagangan yang diperbolehkan oleh syari’ah kecuali industri yang bergerak atau yang memproduksi barang haram, misalnya minuman keras, makanan dari daging babi, jasa keuangan dengan dasar bunga, industri perjudian, pelacuran, senjata gelap, memproduksi film atau gambar porno, penyalahgunaan obat-obatan yang di larang dan sebagainya. kedua, perusahaan yang mendapatkan dana pembiayaan atau sumber al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 71 dana dari hutang tidak lebih dari 30 % dari rasio modalnya. di sini islam melindungi umatnya dari kesengsaraan hutang. rasulullah sendiri pernah bersabda: “orang yang berhutang tidak pernah tenang dalam tidurnya”. bahkan al-qur’an menyebutkan dalam surat al-baqarah: 280, di mana allah memerintahkan kreditur untuk memberikan keringanan kepada debitur jika mengalami kesulitan. disaming itu rasio hutang ini menurut ulama dapat menimbulkan kondisi gharar dan maysir yang dilarang karena menimbulkan risiko peningkatan ketidakpastian transaksi. ketiga, pendapatan bunga yang diperoleh perusahaan tidak lebih dari 15 %. diperbolehkannya investasi pada perusahaan yang pendapatannya mengandung riba, karena semua bidang ekonomi yang saat ini menjadi partner lembaga keuangan syariah adalah lembaga konvensional yang memberikan imbalan jasa bunga. walaupun demikian, yang perlu diperhatikan dan digarisbawahi adalah bahwa dalam syariah islam barang haram dengan halal tidak dapat di campur kan adukkan. bila dalam suatu akad keuangan yang halal terdapat bagian yang diragukan kehalalannya, maka dilakukan pemurnian (purifying) atas hasil usaha tersebut. jadi, harus transparan jika perusahaan itu memang menerima jasa bunga atau pendapatan non halal lainnya. keempat, perusahaan yang memiliki aktiva kas atau piutang yang jumlah piutang dagangnya atau total piutannya tidak lebi dari 50 %. fatwa ini dimaksudkan bahwa setiap keragu-raguan (syubhat) dalam islam hukumnya makruh. dalam piutang bisa saja terjadi piutang ragu-ragu atau pitang yang tidak tertagih. islam melindungi harta pemiliknya jangan sampai piutang ragu-ragu dan piutang tidak tertagih akan mengurangi harta yang seharusnya menjadi haknya. selain itu ulama menilai bahwa rasio piutang seperti juga rasio hutang terhadap pendapatan dapat menimbulkan kondisi gharar dan maysir yang mengakibatkan meningkatnya rasio ketidakpastian pendapatan. institusi yang terlibat pada kegiatan investasi keuangan syariah kegiatan investasi keuangan syariah melibatkan bank, pasar uang, pasar modal, dana pensiun, asuransi, dan reksadana. lembaga pasar uang dan pasar modal syariah ini menyediakan surat-surat berharga sebagai sarana yuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah72 atau alat yang diperdagangkan untuk memobilisasi sumber-sumber dana masyarakat dan juga untuk mengamankan likuiditas lembaga keuangan syariah yang berlebihan. pasar uang syariah pasar uang syariah adalah pasar di mana diperdagangkan surat berharga yang diterbitkan sehubungan dengan penempatan atau peminjaman uang dalam jangka pendek (satu tahun atau kurang) guna memobilisasi sumber dana jangka pendek dan mengatur likuiditas secara efisien, dapat memberikan keuntungan dan sesuai dengan syariah. di beberapa negara yang telah menerapkan pasar uang syari’ah seperti yordania telah mengeluarkan mutual loan bonds, yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan pemerintah. idb menerbitkan trust invesment unit funds dan islamic bank portofolio for trade finance. malaysia menerbitkan surat berharga yaitu goverment invesment certificate, islamic accepted bills, halal bankers acceptance (green ba), bank negara negotiable notes, sanadat mudharabah, islamic commercial papers, negotiable islamic debt sertificate, islamic bond/private debt securities. pasar uang syari’ah di indonesia dikenal dengan pasar uang antar bank berdasarkan prinsip syari’ah (puas). piranti yang digunakan dalam puas adalah: 1. dalam bentuk sertifikat investasi mudharabah antarbank (ima) 2. sertifikat wadi’ah bank indonesia (swbi). pasar modal pasar modal adalah pasar yang mempertemukan mereka yang me merlu kan dana jangka panjang dan mereka yang dapat menyediakan dana tersebut. jual beli dana jangka panjang ditunjukkan dengan kegiatan perusahaan yang menerbitkan saham, obligasi dan sekuritas-sekuritas lain yang bersifat jangka panjang. bursa efek merupakan satu bentuk kegiatan pasar modal. beberapa negara yang memanfaatkan pasar modal syariah adalah bahrain stock di bahrain, amman financial market di amman, muscat securities kuwait stock exchange di kuwait dan malaysia kuala lumpur al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 73 stock exchange di malaysia. di negeri paman sam, new york stock exchange meluncurkan dow jones islamic market index (djimi) pada bulan februari 1999. pasar modal syariah di indonesia ditandai dengan ber dirinya jakarta islamic index (jii) pada tahun 2000. ada beberapa prinsip yang haru sesuai dengan ajaran-ajaran moral islam yang dapat membatasi praktek-praktek tidak sehat di pasar modal, diantaranya: a. jujur dalam transaksi dan informasi. jujur merupakan keutamaan dan akhlak islami yang diperintahkan kepada seluruh umat islam. islam menekankan kepada kelompok pelaku bisnis dan memerintahkan mereka untuk berpegang teguh pada penjelasan dan keterangan terhadap apa yang mereka jual dan yang mereka beli. jika jujur hukumnya wajib bagi berbagai transaksi bisnis kecil, maka kewajiban tersebut lebih kuat dan lebih ditekankan dalam bertransaksi di bursa efek, dimana bisa jadi memberikan keterangan bohong berakibat pada hancurnya pasar secara keseluruhan, atau bahkan hancurnya ekonomi negara. oleh karena itu, wajib: � bagi perusahaan atau emiten yang mengeluarkan surat-surat berharga untuk bersikap jujur dalam memberikan keterangan dan pernyataan yang diajukan kepada media massa dan dalam memberikan laporan tahunan tentang aktifitas perusahaan, keuntungan dan posisi keuangannya. � bagi perusahaan pialang untuk jujur terhadap para mitranya dalam memberikan informasi yang disampaikan pada kliennya. � bagi para ulama, ilmuwa dan lembaga pengawas untuk jujur. � terpenuhinya kejujuran dalam jaminan-jaminan yang diajukan oleh para pelaku bagi lembaga-lembaga peminjaman. � terpenuhinya kejujuran dalam proyek-proyek yang didanai dari harta pihak lain. b. tidak menyembunyikan informasi (transparan) islam telah memerintahkan transparansi dan mengharamkan meyuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah74 nyem bunyi kan data bagi penjual dan pembeli serta semua pihak yang bertransaksi di pasar modal atau mereka yang tidak bertransaksi namun mereka mempunyai keterangan atau informasi. rasulullah saw bersabda: “tidak halal bagi seorang muslim menjual dari saudaranya suatu jual beli di dalamnya ada aib, cacat kecuali ia menjelaskannya.”(h.r. bukhari). penyembunyian dan tidak adanya penjelasan tidak terbatas hanya pada cacat dan kerusakan, tetapi juga mencakup kebaikan-kebaikan dan informasi yang bermanfaat. c. amanah dalam transaksi dalam hadits qudsi, allah swt berfirman:”saya (allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu dari keduanya tidak mengkhianati kawannya, jika mereka berdua berkhianat maka saya (allah) keluar dari keduanya.” d.menepati janji dan akad. bermuamalah yang baik secara ‘urf (tradisi) maupun secara syar’i adalah menepati perjanjian dan akad serta menepati pembayaran hutang pada waktu yang telah disepakati tanpa ada penundaan dalam pelunasannya tanpa ada uzur yang syar’i. banyak penyimpangan dalam pasar modal yang sebabnya karena akhlaq mumathalah (mengundur-undur hutang sebab yang dibenarkan) dan taswif (mengundur-undur perjanjian dan semisalnya). e. toleransi dalam bertransaksi dalam sebuah hadits shahih, rasulullah saw bersabda: “sebaik-baik orang beriman adalah orang yang toleran dalam menjual, toleran dalam membeli, toleran dalam membayar dan toleran dalam mencari keadilan. di bawah ini kaidah-kaidah syari’ah yang harus dipenuhi dalam instrumen pasar modal. 1. kaidah syari’ah untuk saham a. bersifat musyarakah jika saham ditawarkan secara terbatas. b. bersifat mudaharabah jika saham ditawarkan secara terbatas. al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 75 c. tidak boleh ada pembedaan jenis saham karena resiko harus ditanggung oleh semua pihak. d. seluruh keuntungan akan dibagi hasil, dan jika terjadi kerugian akan dibagi rugi bila perusahaan dilikuidasi. e. investasi pada saham tidak dapat dicairkan kecuali setelah likuidasi. 2. kaidah syari’ah untuk kontrak berjangka a. kontrak hak untuk membeli saham terlebih dahulu sebelum ditawarkan kepada publik adalah akad arbun. b. kontrak untuk mengkonversikan obligasi menjadi saham, bila bersifat hak atau khiyar dan bila bersifat keharusan adalah bai’ salam. c. untuk mendapatkan hak-hak tersebut harus ditentukan biaya atau uang muka (premium). d. harga jual tidak boleh ditentukan berdasarkan fungsi waktu. 3. kaidah syariah untuk obligasi a. bersifat muqharadah karena tidak harus menanggung rugi. b. dapat menerima pembagian dari pendapatan (revenue sharing) di mana emiten mengikat diri untuk membatasi penggunaan pendapatan sebagai biaya usaha. c. dapat dijualdi bawah nilai pari (modal awal) kalau perusahaan mengalami kerugian. d. perubahan nilai pasar bukan berarti perubahan jumlah hutang. 4. kaidah syari’ah untuk emiten a. produk/jasa yang dihasilkan dikategorikan halal. dalam hal ini, jii (jakarta islamic index) telah melakukan penyaringan terhadap saham yang listing. berdasarkan fatwa dsn, bej memilih emiten yang unit usahanya sesuai syariah. b. hasil usaha tidak mengandung unsur riba dan tidak bersifat zalim. c. tidak menempatkan investor dalam kondisi gharar atau maysir. � memberi informasi yang transparan � resiko usaha yang wajar dan memenuhi ketentuan. � manajemen islami yuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah76 � menghormati ham � menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup 5. kaidah syariah untuk pasar perdana a. semua akad harus berbasis pada transaksi yang riil (dengan penyerahan) atas produk dan jasa yang halal dan bermanfaat b. tidak boleh menerbitkan efek hutang untuk membayar kembali hutang. c. dana hasil penjualan efek yang diterbitkan akan diterima oleh perusahaan. d. hasil investasi yang akan diterima pemodal merupakan fungsi dan manfaat yang diterima emiten dari modal yang diperoleh dari dana hasil penjualan efek dan tidak boleh semata-mata merupakan fungsi dari waktu. 6. kaidah syariah untuk pasar sekunder. a. semua efek harus berbasis pada transaksi riil (dengan penyerahan) atas produk dan jasa yang halal. b. tidak boleh membeli efek hutang dengan dana dari hutang atau menerbikan surat hutang. c. tidak boleh membeli berdasarkan tren atau indeks d. tidak boleh memperjualbelikan hasil yang diperoleh dari suatu efek (misalnya kupon, dividen) walaupun efeknya sendiri dapat diperjualbelikan. e. tidak boleh melakukan transaksi murabahah dengan menjadikan obyek transaksi sebagai jaminan. f. transaksi tidak menyesatkan, seperti penawaran palsu dan cornering. problematika investasi keuangan salah satu faktor utama yang menyebabkan gerakan yang tidak stabil dalam harga saham adalah spekulasi dalam pembayaran uang muka atau obral saham dengan harga marginal. para spekulan mencari keuntungan dari perbedaan harga dalam transaksi jangka pendek. al-iqtishad: vol. i, no. 1, januari 2009 77 spekulan berbeda kontras dengan investor. tujuan investor yang sungguh-sungguh adalah mencari jalan keluar dari tabungan mereka, memperoleh pendapatan melalui apresiasi terhadap nilai saham yang mereka miliki jika mereka benar-benar mau menjual di kemudian hari. investor yang sesungguhnya tidak tertarik akan transaksi berjangka pendek dan tujuan mereka, setidaknya saat pembelian , adalah memegang saham dalam jangka panjang. oleh karena itu, ada tiga hal yang mencirikan suatu investasi di pasar modal: mengambil saham yang telah dibeli, melakukan pembayaran penuh, dan keinginan pada saat membeli untuk memegang saham dalam jangka waktu yang tidak tertentu. pengurangan fluktuasi harga dalam perputaran uang melalui penghapusan pembayaran margin akan membatasi kepanikan spekulatif, mempertahankan sanitas di pasar modal dan membuat harga saham mampu mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. kegiatan spekulatif di bursa saham atas dasar margin tidak memberikan fungsi ekonomi yang bermanfaat dan justru membahayakan para investor yaitu melahirkan fluktuasi yang tidak dapat diterima dalam harga saham dan menyuntikkan elemen ketidakpastian dan ketidakstabilan ke dalam investasi mereka. resep-resep kebijaksanaan penerapan bagi hasil dengan pembayaran tunai disarankan karena kedua resep ini akan menjamin sehatnya pasar modal yang sangat penting bagi jalannya perekonomian atas dasar modal sendiri yang efisien. resep-resep yang sama juga bisa di dapat dari ajaranajaran syari’ah terutama atas dalih masalah atau kepentingan. penghapusan riba dari perekonomian islam cenderung meminimalisir spekulasi pasar modal yang didasarkan pada harga margin karena ketika bank pemberi pinjaman tahu bahwa bank harus ikut menanggung risiko dari bisnis yang spekulatif dan tidak ada jaminan akan kembalinya modal, bank seharusnya lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman untuk bisnis spekulatif. penutup investasi syariah merupakan bagian anjuran dan perintah allah dalam ajaran islam. keberadaannya adalah kewajiban umat muslim untuk men dayagunakan harta kekayaan pada sektor keuangan dalam rangka yuke rahmawati: resosialisasi investasi keuangan syari’ah78 pembangunan perkonomian umat dan kesejahteraannya sebagai manifestasi dari keimanannyaterhadap allah swt. aplikasi investasi dapat dilakukan diberbagai sistem, teknik, dan mekanisme investasi keuangan yang berlaku dalam segala transaksi yang tentunya sesuai dengan maqashid syariah. eksistensi lembaga-lembaga keuangannya pun menjadi “wajib” adanya dalam rangka memfasilitasi proses pemanfaatan keuangan tersebut. pustaka acuan h t t p : / / w w w . b u k h o r i b r a . w o r d p r e s s . c o m . i n v e s t a s i s y a r i ’ a h dipasarmodal.13oktober2009 http://bapepam.go.id/pasar.modal/publikasi-pm/studi-pmsyari’ah. pdfdiakses13oktober2009 santoso, budi totok, triandaru sigit, bank dan lembaga keuangan lain, edisi 2 ,salemba empat, jakarta, 2006 kashmir, bank dan lembaga keuangan lainya, edisi ke enam pt raja grafindo persada, jakarta.2002 darmawi, herman, pasar financial dan lembaga-lembaga finansial, bumi akasara, jakarta, 2006. investasi di produk keuangan syariah http://nuansaonline.net/index.php?option=com_content&task=view&id= 70&itemid=30 investasi secara syariah http://bebibluu.blogspot.com/2009/04/investasi-keuangan-secara-syariah. html prinsip-prinsip ekonomi islam dalam investasi http://kjksmadani.wordpress.com/2009/01/20/investasi-dalam-perspektifsyariah/ ida syafrida: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah 195 perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah dengan konvensional pada pasar modal di indonesia ida syafrida, indianik aminah, bambang waluyo1 abstract: the performance comparation between sharia instrument performance and conventional syariah. the main objective of investors in investment activities is to get the profit. similarly, investors in islamic investment activities want the same things. but often the performance of sharia instruments deemed lower than conventional instruments, so market share sharia-compliant investment instruments is still minimal. this research doing comparation performance index and mutual fund index between shariah based and conventional based. based on the results of research that takes samples islamic instruments of capital markets such as sharia islamic stocks and sharia mutual funds, it is concluded that the performance of sharia-based investment instruments are not significantly different from the conventional investment instruments, even during the period of research islamic investment instruments showed slightly better performance. keywords: performance, sharia islamic stocks, sharia mutual funds abstrak: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah dengan konvensional di pasar modal indonesia. tujuan utama investor melakukan kegiatan investasi adalah untuk memperoleh keuntungan. demikian pula bagi investor kegiatan investasi berbasis syariah, tentu menginginkan hal yang sama. namun seringkali kinerja instrumen investasi berbasis syariah dipandang lebih rendah dibanding instrumen investasi konvensional, sehingga peminat instrumen investasi berbasis syariah masih minim. penelitian ini melakukan perbandingan kinerja indeks dan kinerja reksadana antara basis syariah dan basis konvensional. berdasarkan hasil penelitian yang mengambil sampel instrumen syariah pasar modal dalam bentuk saham syariah dan reksadana syariah ini diperoleh kesimpulan bahwa kinerja instrumen investasi berbasis syariah tidak berbeda signifikan dengan instrumen investasi konvensional, bahkan selama periode penelitian instrumen investasi syariah menunjukkan kinerja sedikit lebih baik. kata kunci: kinerja, saham syariah, reksadana syariah 1 diterima: 1 maret 2014, direvisi: 2 april 2014, disetujui: 16 april 2014 jurusan akuntansi, politeknik negeri jakarta, kampus ui depok -16425email: sya_frida@yahoo.com, ndianikmashuri@gmail.com, bamwaluyo@yahoo.co.id al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 196 pendahuluan investasi sering diartikan sebagai kegiatan menyisihkan sebagian danauntuk ditempatkan pada sarana investasi dengan harapan dapat memetik nilai ekonomis di kemudian hari. pada umumnya, investor akan memilih untuk menginvestasikan dananya dengan pertimbangan-pertimbangan finansial, yaitu mempertimbangkan imbal hasil (return) dan risiko (risk) semata. secara teori, terhadap investasi yang lebih berisiko, investor akan mengharapkan return yang lebih tinggi. akan tetapi ada pula investor yang dalam kegiatan investasinya tidak semata-mata mempertimbangkan aspek finansial namun juga mempertimbangkan nilai-nilai yang dianutnya, seperti ajaran agama. investor yang demikian akan menolak berinvestasi pada perusahaan yang menghasilkan prooduk atau aktivitas bisnisnya bertentangan dengan prinsip agama. di indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam mulai dikembangkan investasi berbasis syariah, dimana investasi tersebut mengintegrasikan nilai-nilai agama yang dianut dalam kegiatan investasi dengan cara melakukan proses seleksi (screening) dalam memilih instrumeninstrumen investasinya. salah satu sarana dalam berinvestasi sesuai prinsip islam adalah melalui pasar modal syariah. kemunculan pasar modal syariah pertama kali di indonesia ditandai dengan diluncurkannya danareksa syariah oleh danareksa investment management pada juli 1997. danareksa syariah merupakan reksadana saham yang pertama kali secara eksplisit menyatakan investasinya bersifat syariah. pada akhir tahun 2000, pt bursa efek jakarta bekerja-sama dengan danareksa management indonesia mengeluarkan jakarta islamic index (jii) yang merupakan indeks dari 30 saham paling likuid dan memenuhi kriteria syariah sesuai ketentuan dewan syariah nasional (dsn). sedangkan indeks saham syariah indonesia (issi) yang menggambarkan kinerja seluruh saham syariah di indonesia baru diluncurkan pada 12 mei 2011. indonesia dinyatakan secara resmi memiliki pasar modal syariah pada tanggal 14 maret 2003, dimana saham-saham yang diperdagangkan adalah saham-saham yang telah melalui proses screening sesuai dengan kriteria syariah dengan batasan maksimal hutang ribawi 45% dari modal. dengan kriteria tersebut sekaligus sebagai saringan bagi kesehatan perusahaan, karena mitigasi pembiayaan dari bank syariah lebih jelas dalam menyeleksi objek pembiayaan. kemudian dari sisi modal, perusahaan yang memiliki modal sendiri lebih dominan dibanding hutangnya, maka perusahaan tersebut akan memiliki tingkat kesehatan keuangan uang lebih tinggi daripada yang tidak. dukungan (political will) dari regulator untuk mempercepat akselerasi industri keuangan syariah telah dilakukan seperti dengan disahkannya undang-undang surat berharga syariah nasional (uu sbsn). kemudian disusul dengan diterbitkannya ida syafrida: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah 197 sukuk negara untuk pertama kali di awal semester ii tahun 2008dengan underlying asset barang milik negara. dengan adanya akselerasi instrumen syariah, membuka peluang bagi instrumen reksadana syariah sebagai instrumen portofolio investasi syariah untuk berkembang. secara keseluruhan, berdasarkan data statistik bapepamlk desember 2011 sampai dengan akhir tahun 2011 nab reksadana syariah mengalami peningkatan jumlah nab sebesar rp. 5,565 t (3,31% dari keseluruhan nab reksadana) dari 22 manajer investasi, dengan jumlah produk 50 produk (7,74%). demikian pula dengan saham, sampai dengan akhir tahun 2011 sudah terdapat 238 saham yang memenuhi kriteria saham syariah. dari data statistik bapepam desember mengenai perkembangan indeks di pasar modal indonesia (tabel 1) diketahui selama tahun 2011 saham-saham syariah memberikan keuntungan lebih rendah dibandingkan saham-saham lainnya. dimana berdasarkan perhitungan indeks saham jii memberikan return 12%, sedangkan lq 45=13%. tabel. 1. perkembangan indeks di pasar modal indonesia indeks periode mlq45 jii . 2007 599.82 493.01 2008 270.23 216.19 2009 498.29 417.18 2010 661.38 532.90 2011 673.51 537.03 januari 597.85 477.51 februari 614.02 496.87 maret 659.05 514.92 april 680.63 528.76 mei 682.25 531.38 juni 690.65 536.04 juli 729.84 567.12 agustus 676.26 529.16 september 622.64 492.30 oktober 675.57 530.19 november 656.41 520.49 desember 673.51 537.03 sumber: riset pasar modal-biro risti bapepam-lk dari data nab reksadana (tabel 2) yang diperoleh dari data statistik bapepam-lk menunjukkan return reksadana syariah selama tahun 2010 rata-rata al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 198 3%, sedangkan return reksadana campuran konvensional rata-rata19 %. saat ini, meski instrumen investasi syariah di indonesia terus menunjukkan pertumbuhannya, namun data bapepam menunjukkan bahwa secara market share industri keuangan syariah dalam kurun waktu lima tahun terakhir masih dalam kisaran 3% dari industri keuangan nasional. salah satu cara untuk meningkatkan market share instrumen investasi berbasis syariah adalah dengan menjaga return syariah ke tingkat yang dapat diterima pasar. keunggulan prinsip ekonomi syariah yang menekankan pada prinsip keadilan, perlarangan spekulasi, serta pelarangan riba seharusnya berimbas pula pada return yang dihasilkan. tabel. 2. nilai aktiva bersih reksa dana per jenis(rp milyar) periode campuran syariah total 2007 14.232,58 0,00 92.190,63 2008 10.002,12 774,22 74.065,81 2009 15,657.72 3,671.45 116,732.41 2010 21,988.63 3,763.93 149,099.02 2011 jan 18,431.44 3,640.34 143,017.41 feb 18,924.99 3,672.07 145,423.83 mar 20,065.62 3,802.54 150,778.78 apr 20,176.60 3,842.17 153,686.52 mei 20,231.85 3,844.51 155,927.97 juni 21,297.37 3,845.46 157,059.21 juli 20,130.38 3,831.24 157,690.78 agt 32,943.59 3,701.02 180,872.12 sept 19,595.48 3,550.45 154,528.94 okt 20,923.87 3,688.89 162,484.11 nov 20,589.99 3,691.41 162,942.09 des 21,713.15 3,766.86 168,236.89 sumber: riset pasar modal-biro risti bapepam-lk berdasarkan penelitian ridho (2008), menghasilkan kesimpulan bahwa perbandingan rata-rata kinerja reksadana konvensional dengan reksadana syariah pada jangka panjang menunjukkan bahwa rata-rata kinerja ketiga indeks, terhadap kedua reksadana tersebut tidak berbeda secara signifikan. sedangkan penelitian sufianti (2003) dengan menggunakan periode data jangka pendek menunjukkan bahwa rata-rata return indeks jii tidak berbeda secara signifikan dengan rata-rata indeks lq-45. penelitian ini ingin fokus meneliti perbedaan kinerja investasi ida syafrida: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah 199 syariah dengan investasi konvensional pada jangka menengah (3 tahun) sebagai periode investasi yang moderat. tinjauan pustaka pasar modal syariah secara sederhana dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal yang dilarang oleh syariat seperti: unsur riba, perjudian, bersifat spekulasi dan lain-lain. pasar modal syariah secara prinsip sangat berbeda dengan pasar modal konvensional. sejumlah instrumen syariah sudah diterbitkan di pasar modal indoneisa seperti dalam bentuk saham dan obligasi dengan kriteria tertentu yang sesuai dengan prinsip syariah (al arif, 2011) menurut fatwa dsn-mui no. 40/dsn-mui/x/2003 yang dimaksud dengan pasar modal syariah adalah pasar modal yang seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai emiten, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. sedangkan yang dimaksud dengan efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang akad, pengelolaan perusahaan, maupun cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah. adapun yang dimaksud dengan prinsip-prinsip syariah adalah prinsip yang didasarkan oleh syariah ajaran islam yang penetapannya dilakukan oleh dsn-mui melalui fatwa. pasar modal syariah secara khusus memperjualbelikan efek syariah. efek syariah adalah efek yang akad, pengelolaan perusahaan, maupun cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah yang didasarkan atas ajaran islam yang penetapannya dilakukan oleh dsn-mui dalam bentuk fatwa. secara umum ketentuan penerbitan efek syariah haruslah sesuai dengan prinsip syariah di pasar modal. prinsip-prinsip syariah di pasar modal adalah prinsip-prinsip hukum islam dalam kegiatan di bidang pasar modal berdasarkan fatwa dewan syariah nasional majelis ulama indonesia (dsn-mui), baik fatwa dsn-mui yang ditetapkan dalam peraturan bapepam dan lk maupun fatwa dsn-mui yang telah diterbitkan sebelum ditetapkannya peraturan bapepam dan lk. sampai saat ini, efek-efek syariah menurut fatwa dsn mui no.40/dsnmui/x/2003 tentang pasar modal mencakup saham syariah, obligasi syariah, reksa dana syariah, kontrak investasi kolektif efek beragun aset (kik eba) syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. belakangan, instrumen keuangan syariah bertambah dalam fawa dsn-mui nomor: 65/dsn-mui/iii/2008 tentang hak memesan efek terlebih dahulu (hmetd) syariah dan fatwa dsn-mui nomor: 66/dsn-mui/iii/2008 tentang waran syariah pada tanggal 6 maret 2008. al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 200 metode penelitian ini melakukan perbandingan kinerja indeks dan kinerja reksadana antara basis syariah dengan basis konvensional.perbandingan indeks dilakukan antara jakarta islamic indeks (jii) sebagai proxi investasi syariah dengan indeks lq 45 sebagai proxi investasi konvensional.periode pengamatan yang digunakan adalah tahun 2008 sampai dengan 2011. perbandingan indeks dilakukan dengan membandingkan total return serta rata-rata return bulanan dari masing-masing indeks, untuk kemudian dilakukan pengujian dengan menggunakan uji-t antara jii dengan lq-45. dengan demikian dapat diketahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata return bulanan jii dengan rata-rata return bulanan lq-45. return bulanan dari masingmasing indeks diperoleh dari persamaan: return bulanan = indeks t – indeks t-1 indeks t-1 indeks t = indeks pada bulan ke-t indeks t-1 = indeks pada bulan sebelumnya hipotesa yang diajukan dari perbandingan indeks ini adalah: ho : tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja indeks saham-saham syariah dengan kinerja indeks saham-saham konvensional h1 : terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja indeks saham-saham syariah dengan kinerja indeks saham-saham konvensional perbandingan kinerja reksadana dilakukan terhadap satu wakil reksadana syariah dan satu wakil reksadana konvensional dan untuk menghindari bias karena perbedaan kemampuan pengelolaan dari manajer investasi, maka digunakan reksadana syariah (basis syariah) dan reksadana campuran (basis konvensional) yang dikelola oleh manajer investasi yang sama, yaitu pt danareksa. perbandingan juga dilakukan terhadap rata-rata return bulanan dari setiap reksadana dengan menggunakan persamaan berikut: return bulanan = nab t – nab t-1 + distribusi pendapatan& keuntungan modal nab t-1 nab t = nilai aktiva bersih pada bulan ke-t nab t-1= nilai aktiva bersih pada bulan sebelumnya setelah itu, kinerja reksadana diukur dengan model sharpe.menurut ida syafrida: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah 201 sharpe, kinerja reksadana dapat diprediksi dengan menggunakan dua ukuran, yaitu expected rate of return (er) yaitu return rata-rata dan predicted variability of risk yang diekspresikan sebagai deviasi standar return (σ). reksadana layak dibeli jika memiliki excess return ((rp – rf ) yang bernilai positif. berikut rumus indeks sharpe: r/vs = (rp – rf ) σp r/vs = reward to variability ratio rp = average return portfolio rf = risk free rate σp = deviasi standar return portofolio hipotesa untuk perbandingan kinerja reksadana ini adalah: ho.1 : tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana syariah dengan kinerja reksadana konvensional. h1.2 : terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana syariah dengan kinerja reksadana konvensional penelitian ini menggunakan data-data indeks jii dan indeks lq-45 yang diperoleh dari bursa efek indonesia (bei).data-data lain adalah nab reksadana syariah dan reksadana campuran dari pt danareksa. metode pengumpulan data empiris dan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, dilakukan melalui studi kepustakaan dan konsultasi dengan pihak pt danareksa. data-data yang akan dianalisis menggunakan data sekunder berupa laporan publikasi pt bei dan pt danareksa pada periode 2008 sampai dengan 2011. untuk pengujian hipotesis dari data-data tersebut digunakan metode uji beda ratarata (uji-t)dengan menggunakan bantuan program spss. perbandingan kinerja indeks syariah dan indeks konvensional penilaian kinerja indeks dilakukan dengan cara menilai return investasi bulanan terhadap jii dan lq-45 selama periode 1 januari 2010 sampai dengan 31 oktober 2012 yang diperoleh dari data harian jii dan lq-45. lq-45 dan jii merupakan indeks bagi saham-saham liquid berkapitalisasi pasar besar, namun jii hanya diambil dari daftar saham syariah yang telah melalui proses screening dalam hal kehalalannya oleh dewan syariah nasional majelis ulama indonesia (dsnmui). untuk itu jii dipilih sebagai proxy mewakili investasi pada saham syariah. dari data, antara jii dengan lq-45 dapat dikatakan kedua indeks memiliki trend yang sama dalam keseluruhan periode penelitian. periode dengan return indeks tertinggi berada di bulan agustus-september 2010 dan terendah di bulan januari 2011. al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 202 perbandingan kinerja reksadana syariah dan reksadana konvensional penilaian kinerja indeks dilakukan dengan cara menilai reward to variability berdasarkan indeks sharpe (r/vs) yang diperoleh dari return investasi bulanan reksadana syariah berimbang (rdsb) dan reksadana anggrek (rdan) selama periode 1 januari 2010 sampai dengan 31 oktober 2012 yang diperoleh dari data harian jii dan lq-45. dipilihnya kedua reksadana yang sama-sama dikelola oleh perusahaan sekuritas yang sama, yaitu pt dim dimaksudkan agar kekhawatiran adanya kesalahan (misleading) sebagai akibat dari faktor manajemen dan keputusan investasi dapat dihilangkan. kedua reksadana tersebut juga sama-sama reksadana berjenis campuran, sehingga dapat diperbandingkan secara langsung. dari data, return bulanan dari rdsb terlihat cenderung flat, artinya tidak memiliki kenaikan/penurunan yang berarti, sedangkan gambar r/vs rdsb lebih terlihat dinamisasinya dengan angka tertinggi berada pada periode oktober 2011, walaupun kecenderungan terakhir mengalami penurunan dengan angka terendah selama periode penelitian. berdasarkan data, terlihat trend return yang datar, tidak terlihat jelas kenaikan/penurunannya, sehingga dapat dikatakan return cenderung stabil. trend r/vs sangat terlihat kenaikan/penurunannya, dimana r/vs tertinggi pada periode oktober 2011 dan di akhir periode penelitian trend r/vs mengalami penurunan sampai pada posisi terendah. dari data terlihat kecenderungan trend kenaikan/penurunan kinerja yang hampir sama selama periode penelitian antara reksadana syariah berimbang dengan reksadana anggrek. namun, jika dilihat lebih cermat, maka akan nampak bahwa r/ vs rdsb lebih sering berada diatas posisi r/vs rdan. jika ingin dikatakan bahwa kinerja reksadana syariah berimbang sedikit lebih baik daripada kinerja reksadana anggrek. hal ini sesuai dengan karakteristik reksadana syariah yang merupakan portofolio efek syariah dengan proses seleksi yang lebih ketat dibandingkan efek konvensional, sehingga hasil investasi diharapkan lebih baik dari sisi kehalalan maupun imbal hasilnya. namun demikian adanya sedikit perbedaan tidak dapat langsung disimpulkan bahwa memang ada perbedaan antara kinerja investasi syariah dengan investasi konvensional, melainkan perlu dilakukan pengujian lebih lanjut dengan alat-alat statistik untuk membuktikan hipotesis yang telah dibuat sebelumnya. pengujian hipotesis terhadap perbandingan kinerja indeks adanya perbedaan terhadap cara pemilihan saham-saham yang masuk dalam kelompok indeks jii yang melalui proses penyaringan terlebih dahulu dalam hal kehalalannya dengan pemilihan saham-saham dalam kelompok indeks lq-45 ida syafrida: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah 203 menimbulkan dugaan adanya perbedaan antara kinerja jii sebagai wakil indeks saham-saham syariah dengan kinerja lq-45 sebagai wakil indeks saham-saham konvensional dalam penelitian ini. hipotesa yang diajukan dari perbandingan indeks ini adalah: ho : tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerjaindeks saham-saham syariah dengan indeks saham-saham konvensional h1 : terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja indeks saham-saham syariah dengan indeks saham-saham konvensional pengujian dilakukan terhadap angka return bulanan antara jii dengan lq45 dengan testing hipotesis perbedaan dua rata-rata (two different mean) dengan significancy level 5%. setelah dilakukan pengujian dengan software spss, maka hasil output adalah sebagai berikut: hasil output spss pengujian hipotesis jii dan lq-45 group statistics group n mean std. deviation std. error mean average return bulanan jii 34 .000618 .0023309 .0003997 lq45 34 .000694 .0024279 .0004164 independent samples test levene’s test for equality of variances t-test for equality of means f sig. t df sig. (2-tailed) mean difference std. error difference 95% confidence interval of the difference lower upper lower upper lower upper lower upper lower return bulanan equal variances assumed .029 .865 -.132 66 .895 -.0000765 .0005772 -.00122 .001076 equal variances not assumed -.132 65.891 .895 -.0000765 .0005772 -.00122 .001076 al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 204 dari tabel kelompok statistik pada tabel diatas diketahui besar sampel untuk setiap group adalah 34 dengan purata (mean) jii = 0,000618 dan lq-45 = 0,000694, simpangan baku (std deviation) jii = 0,003997 dan lq-45 = 0,004164. dari hasil levene’s test yang ditujukkan pada tabel uji t dua sampel independen (independent sample t test) terdapat p value = 0,865 lebih besar dari α = 0,05 sehingga ho tidak dapat ditolak. dengan demikian asumsi kedua varians sama besar terpenuhi, dengan kata lain tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja jii dengan kinerja lq-45. pengujian hipotesis terhadap perbandingan kinerja reksadana adanya perbedaan terhadap cara pemilihan porofolio efek yang masuk dalam kelompok reksadana syariah berimbang yang terdiri dari efek saham syariah, sukuk, maupun surat berharga berbasis syariah lainnya dengan pemilihan portofolio efek dalam kelompok reksadana anggrek menimbulkan dugaan adanya perbedaan antara kinerja reksadana syariah berimbang (rdsb) sebagai wakil investasi pada instrumen syariah dengan kinerja reksadana anggrek (rdan) sebagai wakil investasi pada instrumen konvensional dalam penelitian ini. hipotesa yang diajukan dari perbandingan indeks ini adalah: ho : tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana syariah dengan kinerja reksadana konvensional. h1 : terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana syariah dengan kinerja reksadana konvensional pengujian dilakukan terhadap angka reward to variabilityrdsb denganreward to variability rdan dengan testing hipotesis perbedaan dua rata-rata (two different mean) dengan significancy level 5%. setelah dilakukan pengujian dengan software spss, maka hasil output adalah sebagai berikut: hasil output spss pengujian hipotesis rdsb dan rdan group statistics group n mean std. deviation std. error mean reward to variability rdsb 34 -.585900 .2685860 .0460621 rdan 34 -.685541 .3296666 .0565374 ida syafrida: perbandingan kinerja instrumen investasi berbasis syariah 205 independent samples test levene’s test for equality of variances t-test for equality of means f sig. t df sig. (2-tailed) mean diff. std. error diff. 95% confidence interval of the difference lower upper lower upper lower upper lower upper lower reward to variability equal variances assumed .539 .465 1.366 66 .176 .0996412 .0729259 -.0459601 .2452425 equal variances not assumed 1.366 63.410 .177 .0996412 .0729259 -.0460712 .2453536 dari tabel kelompok statistik pada tabel diatas diketahui besar sampel untuk setiap group adalah 34 dengan purata (mean) rdsb = 0,5859 dan rdan = 0,685541, simpangan baku (standard deviation) rdsb = 0,0460621 dan rdan = 0,0565374. dari hasil levene’s test yang ditujukkan pada tabel uji t dua sampel independen(independent samples t test) terdapat p value = 0,465 lebih besar dari α = 0,05 sehingga ho tidak dapat ditolak. dengan demikian asumsi kedua varians sama besar terpenuhi, dengan kata lain tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksadana syariah dengan kinerja reksadana konvensional. simpulan berdasarkan hasil yang didapat menunjukkan bahwa kinerja jii dengan kinerja lq-45 tidak terdapat perbedaan yang signifikan, demikian pula antara kinerja reksadana syariah dengan kinerja reksadana konvensional. hal ini menunjukkan bahwa instrumen berbasis syariah tidak kalah menguntungkan jika dibanding dengan instrumen berbasis konvensional. bahkan jika diamati lebih cermat selama periode pengamatan terlihat kinerja reksadana syariah sedikit lebih baik daripada kinerja reksadana konvensional. untuk itu bagi investor yang menginginkan cara berinvestasi sesuai prinsip islam yaitu menghindari produk dan transaksi haram, bathil, maisyir, gharar, dan ribasaat ini tidak perlu ragu. investor tersebut dapat menempatkan dananya pada instrument pasar modal berbasis syariah, seperti saham syariah, sukuk, dan reksadana syariah, karena dijamin kehalalan produknya dan memiliki imbal hasil yang tidak kalah dari instrumen konvensional. al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 206 pustaka acuan achsien, i.h. 2000. investasi syariah di pasar modal menggagas praktek manajemen portofolio syariah. jakarta: gramedia pustaka utama. ahmad, k. 2004. dasar-dasar manajemen investasi dan portofolio edisi revisi. jakarta: rineka cipta. al arif, m. n. r. 2011. lembaga keuangan syariah: kajian teoritis praktis. bandung: pustaka setia. anoraga, p. & p. pakarti. 2006. pengantar pasar modal edisi revisi. jakarta: rineka cipta. anwar, t.f. 2006. kinerja investasi saham, obligasi, dan reksadana pt asuransi jasa indonesia berdasarkan metode sharpe dan optimalisasi portofolio (tesis). jakarta: universitas indonesia. darmadji, t. & h.m. fakhruddin. 2001. pasar modal indonesia pendekatan tanya jawab. jakarta: salemba empat. deniansyah, b. 2001. optimalisasi portofolio investasi reksadana syariah (tesis). jakarta: universitas indonesia. halim, a. 2005. analisis investasi edisi kedua. jakarta: salemba empat. harianto f. & s. sudomo. 1998. perangkat dan teknis analisis investasi di pasar modal indonesia. jakarta: bursa efek indonesia. huda, n. & m.e. nasution. 2007. investasi pada pasar modal syariah (edisi revisi). jakarta: kencana. husnan, s. 2001. dasar-dasar teori portofolio dan analisa sekuritas (edisi ketiga). yogyakarta: upp amp ykpn. liestyowati. 2000. analisis faktor-faktor yang mempengaruhi return saham di bej analisa periode sebelum krisis dan periode selama krisis (tesis). jakarta: universitas indonesia. nachrowi, d.n. & h. usman. 2005. penggunaan teknik ekonometri. jakarta: pt raja grafindo persada. ridho, a. 2008. perbandingan kinerja reksadana konvensional dan syariah dengan indeks sharpe, treynor, dan jensen (periode tahun 2003-2007) (tesis). jakarta: universitas indonesia. sufianti, y. 2003. analisa kinerja investasi etis di indonesia periode 2001-2002 (studi kasus perbandingan kinerja investasi konvensional dengan investasi syariah di indonesia) (tesis). jakarta: universitas indonesia. sulistiowati, i. 2004. analisis hasil investasi dan kinerja portofolio reksadana pt asuransi jasindo (tesis). jakarta: universitas indonesia. usman, m. 1997. bunga rampai reksadana. jakarta: balai pustaka. warsini, s. 2009. manajemen investasi. jakarta: semesta media. burhanuddin yusuf: human resources development of sharia banking 241 human resources development of sharia banking: phenomenological approach burhanuddin yusuf1 abstract. human resources development of sharia banking: phenomenological approach. the aims of this study are to finding, identifying and mapping the condition and situation of the policy and practice of human resource management. this study used a qualitative method with phenomenological approach to uncover the professional development of hr qualify. data analysis techniques includes reduction, data display, perform verification, and compiling data to draw the conclusions. the study concluded that the conditions of management and human resource development three sharia bank in jakarta refers to the philosophy and principles of islamic economics as well as guided by the vision and mission of sharia banks. this study find that sharia hr professional qualification characterised by quality of faith, piety, knowledge and understanding of finance and business, applying the principles of islam and has a strong commitment to apply the rules of sharia, noble, hard-working, and sincerely intelligent accompanied by sincere keywords: sharia banking, human resource development, phenomenological abstrak. pengembangan sumber daya manusia perbankan syariah: pendekatan fenomenologis. tujuan dari kajian ini adalah untuk menemukan, mengidentifiaksi, dan memetakan kondisi dan situasi dari kebijakan dan praktik manajemen sumber daya manusia. kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk melihat pengembangan atas kualifikasi sumber daya manusia. teknik analisis data mencakup reduksi, tampilan data, verifikasi kinerja, dan kompilasi data untuk membentuk suatu kesimpulan. kajian ini menunjukkan bahwa kondisi manajemen dan pengembangan sumber daya manusia di tiga bank syariah merujuk pada filosofi dan prinsip ekonomi syariah sebagaimana yang ditunjukkan oleh visi dan misi bank syariah. temuan lain menunjukkan bahwa kualifikasi sumber daya professional memiliki karakteristik atas kualitas keyakinan, kesalehan, pengetahuan, dan pemahaman akan keuangan dan bisnis, aplikasi prinsip syariah dan memiliki komitmen kuat untuk mengaplikasikan aturan syariah, mulia, pekerja kerja, dan cerdas yang diiringi dengan ketulusan sikap. kata kunci: bank syariah, sumber daya manusia, fenomenologis first draft: january, 15th 2015, revision: march, 10th 2015, accepted: april, 20th 2015 1 syarif hidayatullah state islamic university. jl. ir. h. juanda no. 95, ciputat, south tangerang, banten, indonesia. email: burhanuddin.yusuf@uinjkt.ac.id al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 242 introduction nowadays, especially in the globalization era increasingly intense competition among companies, the more we realize the importance of human resource management and development of professionalism, including the islamic banking industry in indonesia. this paper is going to analyze the human resource development in three islamic banks in indonesia such as bank of muamalat, bank of bni syariah, and bank of syariah mandiri. in indonesia, the development of islamic banking system is developed base on dual banking system framework; this system is related with indonesian banking architecture. on this system there is integration between islamic banking and conventional banking to make a synergy cooperation to help the people for increasing the credit or financing for national productive sector. the delopment of islamic banking industry faced the tight competition, so the competency of human resources on islamic banking must be improve. until the 2014, the islamic banking industry has 11 islamic commercial banks, 23 islamic banking unit, and 163 islamic rural banks. islamic banking industry has growing rapidly, but in the last year the growth of islamic banking industry is decreasing. the islamic banking industry needs the qualified human resources which have multi-knowledge and multi-skills. the qualified human resources are needed by the islamic banking industry to manage the banks to improve the profit of islamic banking industry. the human resources in islamic banks must to be creative and innovative to develop and modified the banking’s product. the human resources in islamic banking industry must to have the competency as an expertise in islamic banking and finance, besides that must to understand the shariah contract, so he can modified the product that fulfill the shariah compliance. the islamic human resources must be able to give a services and confince the sociecty that the islamic banking product has suitable with islamic ethics and principle. the human resources in islamic banking industry must to have a competency in financial investement, banking, soft skills, and sharia. but this condition is rare in islamic banking industry. this problem is established because the limitation of educational and training institution on islamic banking. the fact shows that almost the human resources on islamic banks, especially at middle or top management is come from conventional banks. it predicted that almost 70 percent of islamic banks employee today is come from conventional banks or from non-shariah economics education (bank of indonesia, 2012). so, the human resources fulfillment that has a complete competency must to do, either by qualitative or quantitative ways. burhanuddin yusuf: human resources development of sharia banking 243 muhammad (2005) stated that the credibility and profesionalty of financial institution is developed if they have three elements, such as humanware, hardware, and software. humanware is the persons that manage the institution started from highest level to the lowest level. the humanware must suitable either on quality side or quantity side. the hardware includes the production tools and physical equipment, such as machine, building, and the others. the software includes the non-physical things, such as procedure, system, and the others. the development of human resources is concern with the activity and relationship control between the employes. they should show their optimal performance. the employes must to increase the competency and the technical skills to realize the goals that had been set in planning. the one thing that can be done to achieve it is by the human resources training. according to the condition above, we can formulate the problem statements as follow: first, how is the situation and condition about the islamic banking management in indonesia? second, how are the condition and the development of three islamic banks in jakarta? third, how are the development’s patterns on human resources development in three islamic banks in jakarta? literature review islamic banking can be defined as a bank that operated based on profit sharing system that gives an advantage either for the society or the banks. the islamic banking offers the justice in transactions, the ethical investment, and proposes the cooperative values and brotherhood in production, and avoids the speculative activities. the human resources management is the empowerment, development, appraisal, the remuneration, and individual management of organization members or groups. besides that, it also related with design and system implementation of planning, staffing, employee development, career management, performance’s evaluation, employee compentation, and the good relationship in employee (simamora, 2004). professionalism is based on the word of profession that has a meaning as a job based on skill and educated. professionalism that the characters of professionals employee is a job, or title that must fulfill the certain qualification and personality (komaruddin, 1994). on this research profession is job sector that based on educated skills, and certain personality such as honesty, loyalty, and the others. so, the professional human resources in islamic business institution is a human resources that have a knowledge and skills in shariah, economics, and business practice. al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 244 the development of human resources in islamic banking is something that they have to do. the first job is with the selection of the employee to fulfill the position. the development and training existence in islamic banking is obligatory, this things in the way to increase the productive working culture. the professionalism of human resources in islamic banking is something that very strategi to increase the customer’s loyalty and to make an efficient production process in islamic banking industry. one fundamental ways to make islamic banking becomes credible is must be supported with human resources that qualify, competence, and professional. professional means that the person needs special knowledge and skills to do that job. profesionality means that a practical values of competence skills to manage the organization and do the job with effective and efficient (muhammad, 2005). profesionality can be measured just from physical appreance, but the most important show by the real performance from the activities. the islamic and professional human resources have the qualification and competency that expertise in economics, banking, finance, and shariah. in indonesia the human resources problems is very complex, there are several indicators that show this things, such as: first, the difference between human resources competency with market of worker. second, the distribution of populations is not equal. third, the growth of workers is larger than the job’s vacancy. fourth, the asymmetric of public services need with the worker. fifth, the market worker’s information is not symectric. sixth, the unemployment and poverty that makes a lower education and health. there are several studies that have discussed about the human resources development. eka purwanda and zaenal muttaqien (2012) show the increasing islamic human resources competency with the islamic bank’s leadership that visioner and adaptive. muhammad (2003) show that the advantage of islamic finance institution is determined by the credibel’s human resources. we have an increasing empowerment strategy with the entrepreneurship and leadership empowerment in islamic financial institution. siswanto (2012) conclude that to increase the advantage of islamic bank’s human resources is through the implementation of qur’an-based human resources management. the result from this research is the implementation of quran-based hrm and the employee satisfaction is positive. according to the siswanto’s research, this paper are going to show the human resources development problems using a phenomenological approach, so we expected that the increasing of human resources competency based on quran can established the advantage of human resources islamic banking. burhanuddin yusuf: human resources development of sharia banking 245 tri wikaningrum (2011) had identified the policy and development practice of human resources in islamic banking and the influence to company’s performance. the quantitative descriptive variable is the policy and human resources development, attitude, selection, training, and performance evaluation. the result shiw that the practice of human resources management is still not optimal, the training is still not optimal, the evaluation performance that not oriented on employee development. this paper are going to anaylize the influence of practical and policy in human resources management with the company’s performance and employee development. so this paper are going to show the human resources development condition in indonesian islamic banking industry. methods the research method is using qualitative methods using the phenomenological approach. this approach is selected because the research is targeted to identifying and mapping the comprehensive perception of respondent according to human resources development at three islamic banks in jakarta. so, with this method we hope that we can get the comprehensive information about the research subject to analyze the human resources development program in islamic banks. there are several steps on this approach, such as (husserl, 1982): the first step on this research is intentional analysis. the second step is doing the epoche. the third step is eidetic reduction. the fourth step is the researcher concluding the research result to answer the question about the form and practice of human resources development in islamic banks. the research framework can be shown on figure 1. epoche to human resources management in islamic banks epoche policy and management in islamic banks the analysiz of human resources development in three islamic banks 1. record and documentation 2. manager and staff 3. the community of shariah economy eidetic to human resources profesionality at three islamic banks the human resource development at three islamic banks using phenomenological approach figure 1. the research framework al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 246 the phenomelogical is described as what the feeling of individual or group related with his perception and experience. the feeling that established is called as phenomena (prianti, 2011). the data that used on this research is based on manager and staff at three islamic banks, such as bank of muamalat, bank of bni syariah, and bank of shariah mandiri. also the data come from the interview with head of islamic bank department at bank of indonesia. to get depth information, this research using focus group discussion in several bank locations. moleong (1989) explain that on analysis data process in general have three relatied activities, such as: the data reduction, the data show, and the data verification to make a conclusion. on data analysis, the researcher doing the data reduction, after that show and compile the relevant data. next is the data verification to make a conclusion. discussion from the focus group discussion find there are several problems that need the solution, such as: first, the incomplete regulation for islamic bank, this thing is become the problems so the islamic banks can’t operate optimally based on its characteristics. second is the problem about the quality of human resources. third is the problem about infrastructure. bank of bni syariah had recruitment for fresh graduate using professional hire institution. the human resources development based competency through recruitment process to all out performance, training, remuneration, and industrial relations. the target in human resources is maximizing the working culture, trust and brotherhood in all shariah employees. in bank of syariah mandiri, the recruitmen process has three criteria, such as fresh graduate, professional employee for officer position, and management development program for fresh graduate. every criterias has different competency according his job’s position. the educational background can be varied, such as engineering, mathematics, economics, and the others. with the variation of educational background of course will be have an impact the competency’s gap in understanding the banking product and operational. bank of bni syariah do the job evaluation every two until three years, this is suitable with business challenger. besides that, also do the job analysis to see the suitableness job position with remuneration and assessment. the employee development’s program is to make the trustworthy and brotherhood culture in working environment. the program and training is made based on the competency gap according the job’s position. standardized training curriculum is made based on the need on every job’s position. burhanuddin yusuf: human resources development of sharia banking 247 bank of bni syariah to do the evaluation for their employee is using performance appraisal evaluation. this method is using performance management system to increase the services and performance from bank of bni syariah. this system is using the key performance indicator with computer system. the reason of application this system is to make an appraisal performance to be more accurate and can to go the effectivity of organization. bank of shariah mandiri doing the evaluation and revition through enhancement program, such as: certification program, public training, scholarship, and the others. the evaluation is supported by e-learning implementation that can be accessed by every employee. one form of evaluation program is assestment system in every level, such as middle management development program. if the employee can’t pass the passing grade, so the employee must to involve the refreshment program. this refreshment program is doing every three month. evaluation on this system is using the key performance indicator. bank of muamalat indonesia has fulfilled the officer need through his learning center in muamalat institute. the muamalat institute has doing the human resources quality that have a competency in islamic banking practice, and also understand the shariah knowledge. the development of human resources is based on the organization needs and industry. the routine program in human resources development, such as: internal training, the periodical competency exam, the human resources development through modp. so, it will create a new leader from internal organization. from the discussion and interview we can make a several organization and human resources strategy that can be applied in islamic bank, such as: first, realized the job analysis in every job’s position either in head office or branch office. second, the cooperation with academic institution to fulfill the human resources need. third, the development and increase the human resources competency to fulfill the human resources need either in quality and quantity, so the banks can develop his business. fourth, the development of human resources information shariah that based on competency. the professional human resources at islamic bank must to have the qualification and competency in economics, banking, and finance in one side, and combine it with the shariah knowledge. because of that, the human resources at islamic bank must to develop that competency. the expertise of human resources will be developed in a good way, if they have the following criteria and type as follow: first, the shariah expertise that understand the economics, banking, and finance. second, the economics, business, and finance al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 248 expertise that understand the shariah knowledge. third, the shariah, economics, banking and finance expertise. according to muhammad (2005), profesionality is an element key in islamic bank’s management. nabi muhammad saw said “that allah will be greatfull if one of you doing his job in a professional way” (hr. baihaqi). the professional means that the individual will be in high motivation to finish their job in excellent result using the competency that he has. there are several implications based on this research for islamic banking industry, such as: first, should consider seriously and consequently the contribution of human resources studies to professionalism development. second, give the chance to higher education institution to have managerial studies that can give a benefit to knowledge and practical development. third, give a full attention with the human resources development condition at islamic banks with the integrated framework of banking and shariah ethics. fourth, do the cooperation between higher education instutiton and islamic banking industry to develop the professional human resources. besides that, there are also several implications for regulator either for bank of indonesia or financial service authority, such as: first, facilitate the policy that can support the human resources development at islamic banking industry. second, facilitate to decrease the implementation trap of integration knowledge (such as shariah knowledge with banking and financial knowledger) in every islamic bank. third, support the sinergity between the higher education institutions with the islamic banking industry. for higher education institution have to do several systemic and continuity actions in a framework of: first, mapping, organizing, facilitating the students need from the beginning of study. second, formulate and response the human resources problems in a framework of academical studies. third, support the students to have a contribution research to answer the islamic banking industry problems. this research also has an implication to the government either ministry of national education and culture or ministry of religious affair to keep in touch with the development of human resources for islamic banking and financial institution need. the support can be formulated as curriculum since the high school until the university, so the islamic economics and finance can develop rapidly in society. conclusion this research find that the development and management from islamic banks has suitable with islamic banking standars, because has fulfill the philosophy burhanuddin yusuf: human resources development of sharia banking 249 of islamic economics, legal standing, vision and mission, the development policy, strategic target, etc. besides that, it had established the human resources department with the supporting action from bank of indonesia in every islamic bank. the qualification of humas resources in islamic bank is based on al-qu’ran and sunnah. the human resources had passed the professional selection, after that the employee has a chance to follow the training either the soft skills training or hard skills training to improve the competency. the recruitment have three important criteria, such as: fresh graduate for tecnichal position, experience employee for officer position, and management development program for fress graduate that can fulfill the officer position. there are several actions for decreasing the difference in human resources qualification, such as: open rectruitment at the university, do the training and monitoring, the banking staff program, micro banking academy, etc. the development pattern of human resources in islamic banks basically divided into two, such as: the professional qualification based on shariah side, and the professional qualification based on tha business and banking side. the evaluation model and human resources in islamic banks has eight substantial elements and procedures, such as job evaluation, job analysis, spiritual side, learning center, e-learning, refreshment, enhancement program, and value foundation. on this model, employee is not only as a target but also has a subject to evaluation process and human resources development. the professionalism of human resources development in islamic bank is should be: first, always integrated and empowerment of human resources principle to support the basic action, systematic, and contextual in the way to increase the effectivity and efficiency in islamic banks; second, islamic banks and conventional banks is should be together to improve the strategic role in economy; third, the consistency to have their own identity as islamic business entity. references ahmed, s. 2009. islamic banking finance and insurance: a global view, kualalumpur: as. noordeen. ali, s. & f. faryal. 2013. islamic banking: is the confidence level of being an islamic banking employee better than convention banking employee? an exploratory study regarding islamic banking, journal of business studies quarterly, volume 4, number 3, pp. 42-64 amirullah. 2008. perguruan tinggi: pusat pengembangan sdm dan transformasi pemahaman ekonomi dan perbankan syariah, jurnal aplikasi manajemen, volume 6, nomor 1, april 2008, pp. 45-60. antonio, m.s. 2001. bank syariah: dari teori ke praktik. jakarta: gema insani al-iqtishad: vol. vii no. 2, juli 2015 250 press. arifin, z. 2003. dasar-dasar manajemen bank syariah. jakarta: alvabet. asnaini. 2008. pengembangan mutu sdm perbankan syariah: sebagai upaya pengembangan ekonomi islam. la_riba, jurnal ekonomi islam vol.ii, no.1, juli 2008, pp. 51-68 creswell, j.w. 2010. research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approach. yogayakarta: penerbit pustaka pelajar. darmawan, c. 2006. kiat sukses manajemen rasulullah: manajemen sumber daya insani berbasis nilai-nilai ilahiyah. bandung: khasanah intelektual. el-seoudi, a.w.m. et.al. 2012. human resources in the islamic banks. journal of economic theory 6 (2), pp. 66-69 . gallagher, s. & d. zahavi. 2008. the phenomeboligical mind: in introduction to philosophy of mind cognitive science. london: routledge. hafiduddin, d. & h. tanjung. 2003. manajemen syariah: dalam praktik. jakarta: gema insani. herdiansyah, h. 2010. metodologi penelitan kualitatif, jakarta: salemba humanika. husserl, e. 2006. the basic problems of phenomenology. netherlands: springer. ivancevich, j.m. 2007. human resource managament. new york: mcgraw hill. kuswarno, e. 2009. fenomenologi: konsepsi, pedoman, dan contoh penelitiannya. bandung: widya. muhammad. 2005. manajemen bank syari’ah. yogyakarta: upp amp ykpn. moleong, l.j. 2011. metodologi penelitian kualitatif. bandung: remaja rosdakarya. noe, r.a. et.al. 2003. human resources management. boston: mc graw-hill pheng, l.m. & i.j. detta. 2007. islamic banking & finance law. malaysia: pearson longman. simamora, h. 2004. manajemen sumber daya manusia. yogyakarta: stie ykpn. siswanto. 2011. meningkatkan daya saing sumber daya insani perbankan syariah melalui implementasi praktek quran-based hrm. proceeding forum riset perbankan syariah v 2011. sugiyono. 2007. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r & d. bandung: alfabeta. wikaningrum, t. 2011. praktek dan kebijakan manajemen sumber daya manusia pada perbankan syariah. siasat bisnis vol. 15 januari 2011, pp. 32-44 zubair, m.k. 2008. akselerasi pertumbuhan bank syariah di indonesia. jurnal millah vol.viii, no.1, agustus 2008, pp. 28-40 suryani: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah 239 analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah suryani1 abstract: factor analysis on services quality in islamic bank (study at pt bank muamalat indonesia). the aim of this study is to determine and identify the factors forming quality of service in pt. bank muamalat indonesia, tbk branch medan. instruments of research use questionnaires and factor analysis. this research is quantitative research using survey methods. the sample method that used in this research is accidental sampling. the reliability and validity test shown that 13 question had been fulfilled the reliability and validity requirements. from the extraction gives three factors. factor 1 explained 45,299%, factor 2 explained 12,819%, and factor 3 explained 8,904%. the results show that quality of communication is dominant factor to explain service quality. then product innovation and physical aspects. keywords: service quality, islamic banking, factor analysis abstrak: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah (studi pada pt bank muamalat indonesia). penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk kualitas pelayanan pada pt. bank muamalat indonesia, tbk cabang medan. penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survey. metode sampel yang dipergunakan adalah metode penarikan sampel aksidental. instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan analisis faktor. hasil uji reliabilitas dan validitas memperlihatkan bahwa 13 butir pertanyaan terbukti memenuhi syarat reliabilitas dan validitas item. hasil ekstraksi hanya menghasilkan 3 faktor. faktor 1 mampu menjelaskan sebesar 45.299%, faktor 2 menjelaskan 12.819%, dan faktor 3 mampu menjelaskan sebesar 8.904%. faktor yang paling mampu menjelaskan kualitas pelayanan adalah faktor keandalan komunikasi. faktor kedua adalah inovasi produk. faktor ketiga adalah aspek fisik. kata kunci : kualitas pelayanan, perbankan syariah, analisis faktor 1 diterima: 18 maret 2014, direvisi 20 april 2014, disetujui: 28 april 2014 stain malikussaleh lhokseumawe, jl. banda aceh – medan, buket rata, kota lhokseumawe, aceh email: suryapijar@yahoo.com al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 240 pendahuluan bisnis perbankan merupakan bisnis jasa yang berdasarkan pada azas kepercayaan sehingga masalah kualitas layanan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan usaha. kualitas layanan merupakan suatu bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat layanan yang diterima (perceived service) dengan tingkat layanan yang diharapkan (expected service). semakin ketatnya persaingan dalam industri perbankan mendorong industri perbankan untuk cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat di sekitarnya. hal tersebut ditandai dengan semakin maraknya ekspansi dari bank-bank asing yang mencoba masuk ke pasar perbankan di indonesia. industri perbankan saat ini berlomba-lomba untuk meningkatkan layanan kepada nasabah, dengan cara memberikan fasilitas-fasilitas yang memudahkan nasabah tersebut dalam melakukan transaksi keuangan (infobank, april 2008). persaingan yang ketat baik antar bank syariah maupun dengan bank konvensional meningkatkan standar nasabah terhadap jasa perbankan. sehingga pendekatan menggunakan sentimen syariah menjadi tidak lagi efektif. masyarakat yang sudah terbiasa dengan sistem konvensional dan memiliki image bahwa pelayanan bank konvensional lebih baik dari bank syariah menjadi tantangan bagi bank syariah untuk menemukan strategi yang lebih tepat dalam mempertahankan nasabah dan meningkatkan pangsa pasar. munculnya konsep bank syariah di indonesia dimungkinkan melalui undang-undang perbankan nasional no. 7 tahun 1992 yang menyatakan dimungkinkan bank dengan sistem bagi hasil yang pada akhirnya mengilhami lahirnya bank muamalat indonesia. sejalan dengan munculnya krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi di indonesia yang antara lain ditandai dengan banyaknya bank yang dilikuidasi. pada sisi lain bank muamalat indonesia tetap tegap menjalankan operasinya. terjadinya perubahan undang-undang no.7 tahun 1992 menjadi undang-undang (uu) no. 10 tahun 1998 semakin memberikan stimulus munculnya perbankan syariah di indonesia. karena dalam uu baru tersebut dinyatakan dimungkinkan bank beroperasi dalam dua sistem yaitu bank konvensional dan bank syariah (dual banking system). terhitung sejak 17 juni 2008, industri perbankan syariah indonesia secara resmi memasuki era baru. ruu perbankan syariah yang telah masuk ke dpr sejak pertengahan 2005 sebagai ruu inisiatif dpr, telah disahkan sehingga indonesia kini resmi memiliki regulasi perbankan syariah yaitu uu nomor 21 tahun perbankan syariah (yusuf wibisono, 1999). konseptualisasi dan pengukuran persepsi kualitas pelayanan adalah salah satu suryani: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah 241 topik kontemporer yang paling diperdebatkan dan kontroversial dalam literatur pemasaran jasa (brady dan cronin, 2001; zeithaml, 2000; zins, 2001; rust dan oliver, 2000;. lapierre, et al, 1996). karena jasa tidak berwujud, konsumen menilai kualitas secara subjektif. seperti yang dirasakan layanan / produk yang berkualitas telah disebut sebagai “sulit dipahami” (parasuraman et al, 1985;. smith, 1999), dan berbagai penelitian menganggap bahwa konstruk ini masih dianggap “tidak terselesaikan” (carhuana et al, 2000). pengukuran kualitas pelayanan oleh parasuraman etal. (1985) pada riset eksplanatorinya, dijelaskan pelayanan dan faktor-faktor yang menentukannya. dalam penelitian ini didefinisikan bahwa kualitas pelayanan sebagai derajat ketidakcocokan antara harapan normatif nasabah pada jasa dan persepsi nasabah pada kinerja pelayanan yang diterima. dari penelitian ini digunakan instrumen servqual, yaitu suatu skala yang terdiri dari 22 item untuk mengukur kualitas pelayanan yang tercakup dalam lima dimensi, yaitu: reliability, responsiveness, assurance, empathy dan tangibles. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dimensi reliability yang paling penting dalam menentukan kepuasan pelanggan. kemudian diikuti dimensi responsiveness, assurance, empathy, dan tangibles. firdaus abdullah (2011) mencatat sejumlah besar studi empiris pada kualitas pelayanan bank berdasarkan literatur, sebagian besar penelitian ini mengukur kualitas pelayanan dengan mereplikasi atau mengadaptasi model servqual (kumaretal, 2010; petridouetal,2007; jabnoun dan altamimi, 2003; blanchard dan galloway, 1994; macdougall dan levesque, 1994; newman dan cowling, 1996; athanassopoulos, 1997; lloyd-walker dan cheung,1998; marshall dan smith, 2000). firdaus abdullah, dkk (2011) sendiri mengembangkan sebuah analisis faktorial menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki tiga dimensi yaitu “systemization of service delivery”, “komunikasi handal” dan “responsivitas”, dan selanjutnya beberapa analisis regresi menunjukkan bahwa “sistematisasi” adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling penting dalam sektor perbankan yang kemudian disebut sebagai indeks bsq (bank service quality). penelitian saad a. metawa, mohammed almossawi, (1998), berhasil mengidentifikasi profil dan perbankan kebiasaan nasabah bank syariah serta kesadaran mereka, penggunaan, dirasakan pentingnya dan tingkat kepuasan dengan produk saat ini dan layanan disediakan oleh dua bank syariah terkemuka yang beroperasi di bahrain. metawa dan almossawi (1998) mengembangkan atribut-atribut yang mempengaruhi perilaku nasabah meliputi: ketersediaan kredit, saran kerabat dan rekomendasi, teman, saran dan rekomendasi, lokasi yang nyaman, berbagai bank layanan, kualitas layanan, ketersediaan atm, jam bank yang memadai, investasi, keramahan personil, memahami kebutuhan keuangan, layanan khusus perempuan, al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 242 dan nama bank. mengingat konsep kualitas pelayanan bank itu sendiri masih memiliki berbagai perbedaan, maka penelitian ini mencoba untuk menganalisis faktor pembentuk kualitas pelayanan menggunakan 13 atribut pelayanan dan diharapkan dapat membentuk faktor konstruk kualitas pelayanan. tinjauan pustaka definisi awal kualitas layanan didasarkan pada paradigma yang disebut diskonfirmasi. menurut parasuraman et al. (1985), persepsi kualitas pelayanan adalah hasil dari perbandingan antara layanan apa yang konsumen harus pertimbangkan dan persepsi mereka tentang kinerja yang sebenarnya ditawarkan oleh penyedia layanan. parasuraman et al.(1985) mendalilkan lima dimensi dari pengalaman pelayanan dikenal model servqual terdiri: keandalan, daya tanggap, empati, jaminan, dan berwujud. parasuraman et. al (1990) telah mengembangkan suatu alat ukur kualitas layanan yang disebut servqual (service quality), servqual ini merupakan skala multi item yang terdiri dari 22 pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengukur persepsi nasabah atas kualitas layanan. menurut parasuraman et al (1990) kulaitas layanan meliputi lima dimensi yaitu: 1. tangibles, meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, personilnya dan sarana komunikasi. hal ini berkaitan dengan fasilitas fisik, penampilan karyawan, peralatan dan teknologi yang dipergunakan dalam memberi layanan, fasilitas fisik seperti gedung, ruang tempat layanan, kebersihan, ruang tunggu, fasilitas musik, ac, tempat parkir merupakan salah satu segi dalam kualitas jasa karena akan memberikan sumbangan bagi konsumen yang memerlukan layanan perusahaan. penampilan karyawan yang baik akan memberikan rasa dihargai bagi nasabah yang dilayani sedang dalam peralatan dan teknologi yang dipergunakan dalam memberikan layanan akan memberikan kontribusi pada kecepatan dan ketepatan layanan. 2. reliability (kehandalan), yaitu kemampuan untuk menghasilkan kinerja pelayanan yang dijanjikan secara akurat dan pasti. hal ini berarti bahwa pelayanan harus tepat waktu dan dalam spesifikasi yang sama, tanpa kesalahan, kapanpun pelayanan tersebut diberikan. 3. responsiveness (keikutsertaan), yaitu kemampuan para karyawan untuk membantu para nasabah dan memberikan layanan dengan tanggap. hal ini tercermin pada kecepatan, ketepatan layanan yang diberikan kepada nasabah, keinginan karyawan untuk membantu para nasabah (misal: customer service memberikan suryani: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah 243 informasi seperti yang diperlukan nasabah), serta adanya karyawan pada jamjam sibuk (seperti tersedianya teller pada jam-jam sibuk). 4. assurance, yaitu kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh para staff, bebas dari bahaya, risiko dan keragu-raguan. berkaitan dengan kemampuan para karyawan dalam menanamkan kepercayaan kepada nasabah, adanya perasaan aman bagi nasabah dalam melakukan transaksi, dan pengetahuan dan sopan santun karyawan dalam memberikan layanan kepada konsumen, pengetahuan, kesopanan dan kemampuan karyawan akan menimbulkan kepercayaan dan keyakinan terhadap perusahaan. 5. empathy, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan nasabah. hal ini berhubungan dengan perhatian atau kepedulian karyawan kepada pelanggan (misal: untuk menemui karyawan senior), kemudahan mendapatkan layanan (berkaitan dengan banyaknya outlet, kemudahan mendapatkan informasi melalui telepon). kepedulian karyawan terhadap masalah yang dihadapinya. perusahaan memiliki objektifitas yaitu memperlakukan secara sama semua nasabah. semua nasabah berhak untuk memperolah kemudahan layanan yang sama tanpa didasari apakah mempunyai hubungan khusus dengan karyawan atau tidak. kualitas menurut kotler adalah keseluruhan ciri serta sifat suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat. sementara pelayanan mengandung pengertian setiap kegiatan atau manfaat yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak pula berakibat kepemilikan sesuatu. kualitas pelayanan pada umumnya dipandang sebagai hasil keseluruhan sistem pelayanan yang diterima konsumen, dan pada prinsipnya, bahwa kualitas pelayanan berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan, serta adanya tekad untuk memberikan pelayanan sesuai dengan harapan pelanggan. kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan pelanggan bank islam atau yang disebut dengan bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. bank syariah merupakan lembaga keuangan perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada al-quran dan hadis nabi saw. dengan kata lain bank umum syariah adalah bank yang melakukan kegiatan usaha atau beroperasi berdasarkan prinsip syariah dan tidak mengandalkan pada bunga dalam memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran. menurut surat keputusan direktur bank indonesia no. 32/ 148/ kep/ dirtanggal 12 november 1998 pasal 12 ayat (3) menyatakan bahwa bank al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 244 berdasarkan prinsip syariah adalah: “prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam. bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana/ pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina). perwataatmadja dan antonio (1992) mendefinisikan bank islam sebagai berikut: “bank islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah islam yang tata cara operasinya mengacu kepada al-quran dan hadis. bank yang beroperasi sesuai prinsip-prinsip syariah islam adalah bank yang dalam beroperasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah islam khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara islami. sesuai dengan suruhan dan larangan islam itu, maka yang dijauhi adalah praktek-praktek yang mengandung unsur-unsur riba, sedangkan yang diikuti adalah praktek-praktek usaha yang dilakukan di zaman rasulullah saw atau bentuk-bentuk usaha yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh beliau. dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa bank syariah merupakan suatu lembaga keuangan yang beroperasi sesuai dengan syariat islam, yang beroperasi dengan prinsip bagi hasil, bukan prinsip pranata bunga. bank syariah merupakan profit oriented business dan tidak hanya diperuntukkan bagi umat islam, tetapi untuk seluruh masyarakat. sejak satu dekade terakhir di indonesia telah diperkenalkan suatu sistem perbankan dengan metode pendekatan syariah islam yang dapat menjadi perbankan alternatif bagi masyarakat, khususnya bagi umat islam. gambaran suatu perbankan yang aman, terpercaya dan amanah serta terbebas dari riba sangat dirindukan oleh masyarakat. karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. perbankan syariah di indonesia sendiri muncul pada tanggal 1 mei 1992 yaitu sejak berdirinya bank muamalat indonesia (bmi), hingga saat ini perkembangan suryani: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah 245 perbankan syariah di indonesia juga cukup menggembirakan. perbankan syariah memasuki sepuluh tahun terakhir, pasca perubahan uu perbankan yang ditandai dengan terbitnya uu no. 10/1998 tentang perbankan, mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang amat pesat. perkembangan yang pesat itu terutama tercatat sejak dikeluarkannya ketentuan bank indonesia yang memberi izin untuk pembukaan bank syariah yang baru maupun pendiriaan unit usaha syariah (uus). bank syariah menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menjauhi praktik riba, untuk diisi dengan kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dari pembiayaan perdagangan. industri perbankan syariah merupakan bagian dari sistem perbankan nasional yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. peranan perbankan syariah secara khusus antara lain sebagai perekat nasionalisme baru, artinya menjadi fasilitator jaringan usaha ekonomi kerakyatan, memberdayakan ekonomi umat, mendorong penurunan spekulasi di pasar keuangan, mendorong pemerataan pendapatan, dan peningkatan efisiensi mobilitas dana. metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survey. penelitian survey dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel, sosiologis maupun psikologis. dalam penelitian ini akan dilakukan survey pada sejumlah nasabah pada bank muamalat indonesia cabang medan. berdasarkan tingkat ekplanasinya, penelitian ini dikategorikan penelitian deskriptif dimana penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor mana yang terbukti sebagai pembentuk kualitas pelayanan membuat perbandingan atau menghubungkan antar satu masalah dengan masalah yang lain. populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulannya (sugiyono, 2007:90). objek analisis dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah nasabah yang berkunjung ke bank muamalat cabang medan periode 21 november sampai dengan 25 november 2011. teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling atau convenience sampling yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti yang dijumpai di tempat survey, bila dipandang konsumen yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. pengambilan sampel akan berhenti setelah tepenuhinya range waktu yaitu selama 5 hari dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 50 responden. al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 246 data primer dalam penelitian ini dikumpulkan melalui pengisian kuisioner yaitu dengan memberikan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. teknik pengisian kuesioner ini memberikan tanggung jawab kepada setiap responden untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dalam daftar pertanyaan. dalam rangka menggali informasi lebih jelas dan lebih lengkap, pengumpulan data melalui kuesioner tersebut akan disertai dengan wawancara yang mendalam kepada sebagian responden, dengan tetap berpedoman pada kuesioner. data sekunder dalam penelitian ini antara lain berupa data tentang perkembangan perbankan syariah di indonesia yang diperoleh melalui jurnal, majalah maupun akses data lewat internet maupun informasi-informasi lain yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mendukung penelitian mengenai kualitas pelayanan nasabah pada bank. kualitas pelayanan adalah ciri, karakteristik atau sifat suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan konsumen yang dalam hal ini adalah nasabah pada bank berbasis syariah. atribut kualitas pelayanan bank syariah diadaptasi dari 5 dimensi kualitas pelayanan dari parasuraman et. al (1990) dengan servqual (service quality) dan dimensi produk dengan total item pertanyaan sebanyak 13. atribut kualitas pelayanan meliputi: (1) kebersihan ruangan; (2) penampilan fisik dan kerapian karyawan; (3) tidak adanya kesalahan dalam transaksi; (4) ada berbagai pilihan produk dan jasa yang ditawarkan sehingga nasabah bisa memilih; (5) setiap keluhan atau masalah yang dihadapi oleh pelanggan segera diselesaikan; (6) perhatian terhadap masalah antrian; (7) kemampuan karyawan memberi penjelasan mengenai produk yang ditawarkan; (8) kemampuan karyawan melakukan koreksi dengan cepat pada waktu terjadi kekeliruan; (9) karyawan memberi ucapan selamat datang atau sambutan lain ketika pelanggan datang–pulang; (10) karyawan mendengarkan dengan baik setiap keluhan yang disampaikan oleh nasabah; (11) produk dan jasa yang diberikan bank syariah sangat menarik dan inovatif; (12) jenis produk dan jasa bank syariah sangat beragam sehingga memberikan banyak pilihan sesuai kebutuhan; (13) istilah-istilah dan nama produk/jasa syariah sudah akrab. teknik statistik yang digunakan adalah analisis faktor. tujuannya adalah untuk mengelompokkan data menjadi beberapa kelompok sesuai dengan saling korelasi antar variabel. pada aplikasi penelitian, analisis faktor dapat digunakan untuk mengetahui pengelompokan individu sesuai dengan karakteristiknya, maupun untuk menguji validitas konstruk. proses analisis faktor sendiri mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah variabel-variabel yang saling dependen dengan yang lain, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah awal. suryani: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah 247 pembahasan nilai cronbach alpha diperoleh sebesar 0.894 yang mengindikasikan bahwa instrument yang digunakan memiliki tingkat reliabilitas yang baik. sementara, besaran nilai corrected item-total correlation seluruh item pertanyaan juga memperlihatkan angka di atas 0.30 yang berarti seluruh item pertanyaan dinyatakan valid. setelah seluruh item dinyatakan valid, maka selanjutnya dilakukan analisis faktor. analisis faktor konfirmatori digunakan untuk menguji apakah indikatorindikator pembentuk variabel dapat mengkonfirmasikan sebuah konstruk variabel. dalam analisis ini akan dilihat seberapa besar korelasi antar faktor satu dengan faktor lain yang menjadi pembentuk variabel. jika ditemukan korelasi yang cukup kuat di antara faktor-faktor maka dinyatakan faktor tersebut dinyatakan memang sebagai pembentuk variabel. besaran matrik korelasi yang disepakati untuk analisis faktor adalah 0,5. hasil uji analisis faktor pada 13 atribut kualitas pelayanan diperoleh nilai kaiser-meyer-olkin measure of sampling adequacy pada kotak kmo and bartlet’s test adalah sebesar 0,727. hasil ini memperlihatkan bahwa instrumen ini valid karena nilai kmo telah melebihi dari 0,5. disamping itu, dilihat dari nilai bartlett’s test menunjukkan nilai 378..211 dengan nilai signifikansi 0,000 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh atribut / item instrumen ini telah memenuhi syarat valid. selanjutnya, hasil korelasi dari masing-masing faktor tersebut juga tergolong tinggi (> 0,5). hasil pengujian analisis diketahui bahwa nilai korelasi anti-image masing-masing item dirangkum dalam tabel berikut ini: tabel 1. korelasi anti-image atribut kualitas pelayanan atribut pelayanan nilai korelasi anti-image ruangan 0.660 penampilan_fisik 0.543 kesalahan 0.783 pilihan_produk 0.764 keluhan 0.662 perhatian 0.653 penjelasan 0.862 koreksi 0.780 ucapan 0.800 mendengarkan 0.855 al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 248 inovasi 0.650 beragam 0.647 istilah_produk 0.748 berdasarkan korelasi anti-image di atas, maka dapat dinyatakan bahwa seluruh atribut diikut sertakan dalam model, dimana seluruhnya memiliki nilai korelasi anti-image yang lebih besar dari 0.50. dari 13 atribut yang diteliti, ternyata hasil ekstraksi komputer menghasilkan 3 faktor (nilai eigen value > 1 yang menjadi faktor). faktor 1 mampu menjelaskan sebesar 45.299%, faktor 2 menjelaskan 12.819%, dan faktor 3 mampu menjelaskan sebesar 8.904%. dari tiga faktor ini mampu menjelaskan lebih dari 50% yaitu sebesar 67% varian variabel kualitas pelayanan. dengan melihat komponen matrik (tabel 2) diketahui bahwa butir yang mempunyai korelasi cukup kuat dengan faktor 1 adalah item pertanyaan ke 3, 5,6,7,8. faktor kedua yang memiliki nilai korelasi cukup tinggi adalah item ke 9, 10, 11 dan 12. sedangkan faktor ketiga dibentuk oleh item 1, dan 2. setelah diperoleh kesimpulan bahwa hasil rotasi menunjukkan bahwa item ke 4 (pilihan produk) tidak termasuk dalam tiga komponen faktor, karena korelasinya tidak mencapai angka 0.5, sehingga hasil akhir memperlihatkan bahwa hanya 12 atribut pelayanan yang selanjutnya dikelompokkan menjadi tiga faktor. dengan melihat komponen matrix di atas, maka selanjutnya adalah pemberian nama faktor. pemberian nama faktor ini menurut ghozali bersifat subjektif, dan kadang-kadang faktor loading tertinggi digunakan untuk memberi nama faktor. dengan demikian faktor 1 dinamakan ”keandalan komunikasi”, faktor kedua dinamakan ”inovasi produk”, dan faktor ketiga adalah ”fisik”. tabel 2. hasil component matix component 1 2 3 ruangan 0.155 0.097 0.913 penampilan_fisik 0.064 -0.018 0.895 kesalahan 0.719 0.279 0.162 pilihan_produk 0.415 0.360 0.357 keluhan 0.853 -0.042 0.049 perhatian 0.678 0.227 0.272 penjelasan 0.563 0.457 0.273 suryani: analisis faktor kualitas pelayanan di bank syariah 249 koreksi 0.622 0.312 0.196 ucapan 0.360 0.515 0.494 mendengarkan 0.402 0.490 0.530 inovasi 0.109 0.912 0.113 beragam 0.267 0.860 0.035 istilah_produk 0.563 0.482 -0.103 faktor yang paling mampu menjelaskan kualitas pelayanan adalah faktor keandalan komunikasi. faktor ini terdiri dari: (1) tidak adanya kesalahan dalam transaksi; (2) perhatian terhadap masalah antrian; (3) kemampuan karyawan memberi penjelasan mengenai produk yang ditawarkan; (4) kemampuan karyawan melakukan koreksi dengan cepat pada waktu terjadi kekeliruan. faktor kedua adalah inovasi produk terdiri dari: (1) karyawan memberi ucapan selamat datang atau sambutan lain ketika pelanggan datang–pulang; (2) karyawan mendengarkan dengan baik setiap keluhan yang disampaikan oleh nasabah; (3) produk dan jasa yang diberikan bank syariah sangat menarik dan inovatif; (4) jenis produk dan jasa bank syariah sangat beragam sehingga memberikan banyak pilihan sesuai kebutuhan saya. faktor ketiga adalah aspek fisik terdiri dari: (1) kebersihan ruangan; (2) penampilan fisik dan kerapian karyawan. simpulan hasil uji reliabilitas dan validitas memperlihatkan bahwa 13 butir pertanyaan terbukti memenuhi syarat reliabilitas dan validitas item. berdasarkan analisis faktor diperoleh besaran nilai kaiser-meyer-olkin measure of sampling adequacy (kmo) adalah sebesar 0,727. hasil ini memperlihatkan bahwa instrumen ini valid karena nilai kmo telah melebihi dari 0,5. berdasarkan korelasi anti-image di atas, maka dapat dinyatakan bahwa seluruh atribut diikutsertakan dalam model, dimana seluruhnya memiliki nilai korelasi anti-image yang lebih besar dari 0.50. hasil ekstraksi komputer hanya menghasilkan 3 faktor (nilai eigen value > 1 yang menjadi faktor). faktor 1 mampu menjelaskan sebesar 45.299%, faktor 2 menjelaskan 12.819%, dan faktor 3 mampu menjelaskan sebesar 8.904%. dari tiga faktor ini mampu menjelaskan lebih dari 50% yaitu sebesar 67% varian variabel kualitas pelayanan. faktor yang paling mampu menjelaskan kualitas pelayanan adalah faktor keandalan komunikasi. faktor ini terdiri dari (1) tidak adanya kesalahan dalam transaksi; (3) perhatian terhadap masalah antrian; (3) kemampuan karyawan memberi penjelasan mengenai produk yang ditawarkan; dan (4) kemampuan al-iqtishad: vol. vi no. 2, juli 2014 250 karyawan melakukan koreksi dengan cepat pada waktu terjadi kekeliruan. faktor kedua adalah inovasi produk terdiri dari: (1) karyawan memberi ucapan selamat datang atau sambutan lain ketika pelanggan datang–pulang; (2) karyawan mendengarkan dengan baik setiap keluhan yang disampaikan oleh nasabah; (3) produk dan jasa yang diberikan bank syariah sangat menarik dan inovatif; dan (4) jenis produk dan jasa bank syariah sangat beragam faktor ketiga adalah aspek fisik terdiri dari: (1) kebersihan ruangan; dan (2) penampilan fisik dan kerapian karyawan. pustaka acuan abdullah, f, dkk. 2011. bank service quality (bsq) index: an indicator of service performance. international journal of quality & reliability management. vol. 28 iss: 5. al arif, m. n. r. 2010. dasar-dasar pemasaran bank syariah. bandung: alfabeta. --------------------. 2011. lembaga keuangan syariah kajian teoritis praktis. bandung: pustaka setia. caceres, r.c. & n.g. paparoidamis. 2005. service quality, relationshipsatisfaction, trust, commitmentand business-to-business loyalty. european journal of marketing vol. 41 no. 7/8. 2005. ghozali, i. 2011. aplikasi analisis multivariate dengan program ibm-spss19. semarang: bp undip. kotler, p. 2002. manajemen pemasaran, ed. milenium. jakarta: pt. prenhalindo. metawa, s.a. & m. almossawi. 1998. banking behavior of islamic bank customers: perspectives and implications. international journal of bank marketing, vol. 16 iss: 7. muhammad. 2005. manajemen bank syariah. yogyakarta: uup ampykpn. ----------------. 2005 bank syari’ah problem, dan prospek perkembangan di indonesia. yogyakarta: graha ilmu. parasuraman, a., dkk. 1985. a conceptual model of service quality and its implications for future research. journal of marketing, vol. 49 no. 4. perwataatmadja, k.a. dan m.s. antonio. 1992. apa dan bagaimana bank syari’ah. yogyakarta: dana bhakti wakaf. sugiyono. 2007. metode penelitian administrasi. bandung: alfabeta. tjiptono, f. & g. chandra. 2004. service, quality & satisfaction. yogyakarta: andi. wibisono, y. 1999. politik ekonomi uu perbankan syariah peluang dan tantangan regulasi industri perbankan syariah, bisnis & birokrasi jurnal ilmu administrasi dan organisasi, mei–agustus 2009, vol. 16, no. 2, 1999. happy febrina hariyani1, hendra kusuma2 abstract. green sukuk-based project on sustainable waste management in indonesia. most of the problems that occur in waste management are related to financing. this study proposes green sukuk to be used by the government as a diversification of funding for municipal waste management. this paper argues that green sukuk can potentially be an islamic finance instrument for financing municipal substantial waste management project carried out by the ministry of environment and forestry. further, there will be costs and benefits obtained by the government as the implications of this financing. hence, this paper attempts to find the best alternative of sukuk strategy to be implemented in the financing of municipal waste management using analytic network process (anp) with a network of benefit, opportunity, cost, risk (bocr) analysis. keywords: sustainable waste management; green sukuk; anp-bocr abstrak. proyek berbasis sukuk hijau untuk pengelolaan sampah berkelanjutan di indonesia. sebagian besar masalah yang terjadi dalam pengelolaan limbah adalah pembiayaan. oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dapat menggunakan sukuk hijau sebagai diversifikasi pendanaan untuk pengelolaan limbah kota. penelitian ini menunjukkan bahwa sukuk hijau berpotensi menjadi instrumen keuangan islam untuk membiayai proyek pengelolaan limbah padat kota yang dilakukan oleh kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. lebih lanjut, pemerintah memiliki potensi dan peluang untuk mengimplementasikan sistem pembiayaan ini; namun juga menghadapi potensi beban dan kerugian sebagai implikasi dari pembiayaan ini. oleh karena itu, penelitian ini berupaya menemukan strategi alternatif berupa produk sukuk terbaik untuk diimplementasikan dalam pembiayaan pengelolaan limbah kota, dengan menggunakan analytic network process (anp) dan jaringan analisis manfaat, peluang, biaya, risiko (bocr). kata kunci: pengelolaan limbah berkelanjutan; sukuk hijau; anp-bocr green sukuk-based project on sustainable waste management in indonesia al-iqtishad: jurnal ilmu ekonomi syariah (journal of islamic economics) volume 12 (2), jul-dec 2020 p-issn: 2087-135x; e-issn: 2407-8654 page 165 178 1correspondent author 1, 2muhammadiyah malang university, indonesia e-mail: 1happyfebrina@umm.ac.id, 2hendrakusuma@umm.ac.id 166 http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad http://dx.doi.org/10.15408/aiq.v12i2.17077 al-iqtishad: jurnal ilmu ekonomi syariah (journal of islamic economics) vol. 12 (2), jul-dec 2020 introduction being the 4th largest population in the world makes indonesia produce a large amount of waste, especially municipal waste. the ministry of environment and forestry (2018) recorded that national waste production is over 65,8 million tons per year, and 60 percent of the total waste is domestic or household waste. 38,5 million tons per year total domestic waste generation in indonesia ended up in the landfill sites that have been operated as open dumpsites rather than sanitary landfills. indonesia relies very much on landfill. sixty-nine percent of the total waste goes to landfill. indonesia has more than 200 landfill sites, but they are not even good. only ten percent of the landfill sites have good sanitary landfill technologies. these landfills are struggling to cope with the everincreasing waste as the population grows, and people consume more. increasing population, urbanization and community living standards have led to the increased municipal waste in developing countries (minghua et al., 2009). only a small fraction of the collected waste was treated by recycling, composting or incinerating. one of the significant challenges for developing country is managing and providing effective and sustainable waste management. several solid management projects have been carried out in collaboration with external support agencies. some projects were successful, but most could not support themselves or expand further when the external agencies discontinued their input due to the lack of organization, financial resources, complexity and system multidimensionality (burnley, 2007). moreover, the technology fails because it is centrally organized, heavily subsidized, lacking in community cooperation, and is reliant on disposal (supriyadi et al., 2000). most of the problems that occur in waste management are financing. the high costs required for the procurement of municipal solid waste management technology, as well as high management and maintenance costs, makes some of the existed projects stopped. therefore, to overcome these problems, the government can use sharia bond as a diversification of funding for building the waste management infrastructure. infrastructure financing through sharia bond or sovereign sukuk issuance has been implemented since 2010, namely project-based sukuk (pbs) series (ministry of finance, 2017). the development of indonesian sovereign sukuk in 2016 has provided encouraging results. indonesia, as the big sukuk issuer has a total issuance of usd 10,5 billion from the total issuance of sukuk by the government happy febrina hariyani. green sukuk-based project on sustainable waste management 167 http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad http://dx.doi.org/10.15408/aiq.v12i2.17077 around the world (suherman, 2016). in the middle of the development of sukuk instruments, green bond appears as an instrument that offers investment in environmental development to overcome the problem of climate change. with the presence of the green bond as an investment instrument for the environment, a sharia investment instrument has emerged, which has the same concentration as the green bond. the instrument is then called green sukuk. from the discussion above, this paper argues that green sukuk can potentially be an islamic finance instrument for financing municipal solid waste management project carried out by the ministry of environment and forestry. further, the government has several advantages and opportunities, and also burdens and losses as the implications of this financing. hence, this paper attempts to find the best alternative sukuk strategy to be implemented in the financing of municipal solid waste management using analytic network process (anp) with a network of benefit, opportunity, cost, risk (bocr) analysis. literature review green bond and green sukuk due to the high impact of global warming, the world bank pioneered the issuance of green bond as an effort to finance infrastructure that supports the reduction of carbon emission. the world bank first issued the development of the concept of green bond in 2008 as part of the “strategic framework for development and climate change”. this concept is also in response to the increasing demand of investors who want to invest in financing instruments related to global climate change and the action of saving the earth (hariyanto, 2017). indonesia has a role in supporting programs to reduce global warming and its impact. as a trusted sukuk issuer, indonesia should use sukuk as a financial instrument that can be used to support that program. the development of infrastructure in various sectors, run intensively by the government, has a huge potential to develop green sukuk. the government also has an integrated infrastructure development program contained in the master plan for acceleration and expansion of indonesian economic development (mp3ei). the infrastructure development program in mp3ei is in line with the concept of green sukuk. for this program to be in line with the carbon emission reduction program, it seems necessary to align the infrastructure development program in mp3ei with the concept of green infrastructure. 168 http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad http://dx.doi.org/10.15408/aiq.v12i2.17077 al-iqtishad: jurnal ilmu ekonomi syariah (journal of islamic economics) vol. 12 (2), jul-dec 2020 analytical network process according to ascarya (2010), anp is a non-parametric non-bayesian qualitative approach to the decision-making process with a general framework without making assumptions. this method was first developed by thomas l. saaty, who is a developer of the analytic hierarchy process (ahp) method. anp is a new approach in the decision-making process without making assumptions. there are three basic principles of anp, namely decomposition, comparative assessment, and composition or synthesis (ascarya, 2010). decomposition is intended to structure complex problems into a hierarchical framework or network of clusters, sub-clusters, and so on. the comparative assessment is to build a pairwise comparison of all combinations of elements contained in the cluster to get local priority. the last is the composition. the composition is intended to divert local priorities from elements in the cluster with global priorities from the parent element, which in turn will produce global priorities in the entire hierarchy. anp has three main functions. the first is to measure complexity hierarchically into homogeneous clusters of factors to model the problem into the anp framework then. the second is the measurement of the ratio scale, which is believed to be accurate in measuring the factors that make up the hierarchy. measurement of this ratio is needed to reflect proportions. the last is synthesis, which unites all the parts that have been decomposed and measured into one unit (ascarya, 2010). benefit-opportunity-cost-risk analysis according to saaty and vargas (2006), in research with the bocr network, the relationship between benefits, opportunity, cost and risk is influenced by general factors. benefit, opportunity, cost and risk (bocr) analysis is an analysis of priority determination based on the results of the calculation of the desired criteria as benefits and criteria that are not desired as a burden (cost). in addition, there are also criteria based on future events that may occur as positive things (opportunity) and things that can lead to harmful risks. in the analysis, the calculation is done by pairwise comparison (saaty, 2001). the resulting decision is divided into three parts, namely the assessment system, merits of the bocr decision as a consideration for making decisions, and a network of objective relationships that make an alternative decision more desirable than others. happy febrina hariyani. green sukuk-based project on sustainable waste management 169 http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad http://dx.doi.org/10.15408/aiq.v12i2.17077 methods source and data collection method this research uses primary data obtained from an in-depth interview with experts and practitioners to understand the problem comprehensively in order to synthesize the problems and make it in priority. the consideration in choosing the respondents is by their understanding of green sukuk and its implementation for financing sustainable waste management in indonesia. three respondents are from experts who are professor and lectures from university, and the other four respondents are from the ministry of environment and forestry and ministry of finance as the practitioners related to the topic discussed. methodology this research is qualitative-quantitative analysis research that aims to capture a value or view that is controlled by regulators, academics and practitioners about green sukuk based project on sustainable waste management. the analytical tool used is the analytic network process (anp) with benefit, opportunity, cost and risk (bocr) networks that are processed using microsoft excel software and super decision software. anp methodology is done in three steps. first, questionnaires and in-depth interviews with scholars, experts, practitioners, and regulators of green sukuk financing on sustainable waste management are conducted to comprehend the real problems. second, the results of the preliminary stage are used to develop an appropriate anp network and relevant questionnaires to glean the necessary of the data from experts and practitioners from islamic finance, particularly in green sukuk and also sustainable waste management. third, anp analysis is applied to set the priority alternative solutions and policy strategies in order to formulate policy recommendations. analytical network process (anp) method the anp method is widely used in research on policy, strategic management and various studies related to decision making. these include wang & hsu (2003) analyzing the right channel as a continuation of the anp method for convenience stores in taiwan to meet the challenges of competition and the application of anp for supports weighting in designing performance appraisal 170 http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad http://dx.doi.org/10.15408/aiq.v12i2.17077 al-iqtishad: jurnal ilmu ekonomi syariah (journal of islamic economics) vol. 12 (2), jul-dec 2020 systems and selection of partners and future strategic business alliances (boran, 2008; chen, 2008). the number of samples/respondents in anp does not serve as a benchmark for validity. valid conditions for respondents in anp are that they are experts in their fields. saaty & vargas (2006) stated that anp has four axioms on which to base its theory. the axiom serves to strengthen a statement so that truth can be seen without evidence (tanjung & devi, 2013). these axioms include reciprocal, homogeneity, priority and dependence condition. with regards to reciprocal, this axiom states that if pc (ea, eb) is the comparative value of pairs of elements a and b, then it is seen from the parent element c, which shows how many times element a has what element b has, then pc (eb, ea) = 1 / pc (ea, eb). for example: if a is five times bigger than b, then b is 1/5 of the magnitude of a. the axiom of homogeneity, axiom states that the element to be compared does not have an extensive comparison that can cause a more significant error in determining the assessment of supporting elements that influence the decision to be taken. priority, means absolute weighting using the interval scale [0,1] and as a measure of relative dominance. dependence condition assumes that the composition can be composed into components that form part of a cluster. tanjung & devi (2013) explained that there are three basic principles in anp, which include decomposition, comparative assessment, consistency and hierarchical composition (synthesis). data analysis data and information from experts and practitioners are arranged in the form of a framework model. if the questionnaire regarding opinions has been collected, then the next step is processing the data using microsoft excel software and superdecision software. the questionnaire was put into pairwise comparison, between elements in the cluster and between clusters to find out which one gives more significant influence seen from one side. the results from the bocr network from respondents will be put together. the data is then processed through microsoft. the next step is to calculate the geometric mean and rater agreement. the first is to calculate the geometric mean. geometric mean is used to determine the individual judgment of the respondents and to get the opinion of respondents. geometric mean is a type of average calculation that shows a happy febrina hariyani. green sukuk-based project on sustainable waste management 171 http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad http://dx.doi.org/10.15408/aiq.v12i2.17077 certain trend or value (ascarya, 2012). the formulation is as follows: gmk = (r1 * r2 ... n) 1 / n description: gm = geometric mean r = respondents n = number of respondents the second is to calculate the rater agreement. tanjung & devi (2013) defined that the rater agreement is the value of the agreement between respondents. so rater agreement is a measure that shows the level of conformity or agreement of the respondents (r1-rn) to a problem in one cluster. the tool used to measure the rater agreement is kendall’s coefficient of concordance (w, 0