Pendahuluan Saat ini, masalah etos kerja telah menjadi salah satu mainstream utama dalam masyarakat kita. Mainstream itu, tidak jarang menimbulkan ke- khawatiran. Jika kita sebagai bangsa tidak dapat menumbuhkan etos kerja yang baik, maka kemungkinan besar bangsa kita akan tetap tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa-bangsa tetangga dalam lingkungan Asia Tenggara, atau lebih-lebih lagi Asia Timur. Bahkan, sudah mulai terdengar ramalan yang bernada pesimis, bahwa jika kita tidak berhasil menjadi negara maju, maka ketika seluruh bangsa Asia Timur telah menjadi negara industri, Indonesia akan menjadi tidak lebih daripada “back yard“ pada kawasan ini. PENGARUH TINGKAT KEAGAMAAN TERHADAP PERILAKU PEDAGANG Ahmad Faiz BMT al-Mu’awanah Bogor Email: faiz-awwal@gmail.com Abstrak: kaitan antara etika kerja dengan agama Islam dan orang-orang muslim, dan bangsa Indonesia adalah bangsa muslim. Sikap menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa muslim, tidak saja merupakan realisme kultural dan sosiologis, tetapi juga sebagai peringatan bahwa, dalam analisa terakhir, kaum muslim Indonesia dengan ajaran Islamnya, merupakan orang yang pertama bertanggung jawab atas usaha pembinaan dan pengembangan etos kerja nasional. Untuk itu, perlu juga dibangkitkan keinsyafan pada kaum muslim Indonesia bahwa maju-mundurnya bangsa Indonesia akan mengakibatkan kredit-deskredit kepada agama Islam dan umatnya. Kata kunci: Keagamaan, Perilaku Pedagang, Pengaru Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang182 Ada sinyalemen bahwa bangsa kita memang menderita kelemahan etos kerja. Sebuah bahasan yang terdapat dalam majalah Reader’s Digest dikatakan, Indonesia tidak akan menjadi negara maju dalam waktu dekat ini, karena “Indonesia has lousy work ethic and serious corruption“ (Indonesia mempunyai etika kerja yang cacat dan korupsi yang gawat).1 “Etos” dari sudut pandang bahasa, berasal dari bahasa Yunani (etos) yang bermakna watak atau karakter. Maka, makna lengkap “etos” adalah karakteristik, sikap, kebiasaan, kepercayaan, dan seterusnya, yang sifatnya khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Dari perkataan “etos” ini, terambil pula perkataan “etika” dan “etis” yang merujuk kepada makna “akhlaq” atau bersifat “akhlaqi.” Yakni, kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk, termasuk suatu bangsa.2 Bagi negeri kita, kaitan antara etika kerja dengan agama Islam dan orang-orang muslim, dan bangsa Indonesia adalah bangsa muslim. Sikap menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa muslim, tidak saja merupakan realisme kultural dan sosiologis, tetapi juga sebagai peringatan bahwa, dalam analisa terakhir, kaum muslim Indonesia dengan ajaran Islamnya, merupakan orang yang pertama bertanggung jawab atas usaha pembinaan dan pengembangan etos kerja nasional. Untuk itu, perlu juga dibangkitkan keinsyafan pada kaum muslim Indonesia bahwa maju- mundurnya bangsa Indonesia akan mengakibatkan kredit-deskredit kepada agama Islam dan umatnya.3 Perihal etos kerja ini, barangkali dapat dimulai dengan usaha me- nangkap makna secara mendalam dalam ajaran Islam. Bahwa, nilai setiap bentuk kerja itu sangat tergantung kepada niat-niat yang dimiliki pelakunya. Jika tujuannya tinggi, seperti tujuan mencapai ridha Allah, maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika tujuannya rendah, seperti hanya untuk memperoleh simpati sesama manusia belaka, 1 Louis Kraar, “The New Power of Asia” dalam Reader’s Digest, edisi Asia (Singapura, Hongkong, Tokyo), (Desember, 1998), Vol. 52, No. 309, h. 44. 2 Webster’s New World Dictionary of the American Language, 1980, (edisi revisi), s.v. ethos, ethical, and ethics. 3 Dr. Nurcholish Madjid, “Tafsir Islam Perihal Etos Kerja” dalam Nilai dan Makna Kerja Dala Islam, (Jakarta: Persada Madani), h.59. Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 183 maka setingkat tujuan itu pulalah nilai kerja diperoleh.4 Lebih dari itu, untuk memahami dimensi etis kerja dari sudut pandang Islam tradisional, penting sekali mempraktikan realitas bahwa kata “kerja” dalam bahasa Arab, tidak dipisahkan dari kata yang digunakan untuk menunjukkan “tindakan” dalam pengertiannya yang paling luas. Maksud statemen ini adalah jika mencari kata “kerja” dalam kamus, kita biasanya dihadapkan pada dua kata: ‘amal dan shun’. Makna generik pada pada kata: ’amal merupakan “tindakan-praktis” seperti yang secara umum dipertentangkan dengan kata “pengetahuan.” Sedangkan shun’ bermakna “membuat” atau ”memproduksi” sesuatu dalam arti secara artistik dan keterampilan.5 Jika dikaitkan dengan dunia sekitar kita, manusia memenuhi dua fungsi: Pertama, bertindak di dalam atau terhadap dunia, dan Kedua, membuat sesuatu dengan mengolah atau mengolah ulang bahan-bahan dan objek-objek yang diambil dari dunia sekelilingnya. Secara prinsipil, etika kerja dalam Islam ada dua macam fungsi ini: ‘amal dan shun’. Hal ini disebabkan sifat syariah itu sendiri yang mencakup: “seluruh jaringan tindakan dan perbuatan manusia.” Sementara prinsip dasar etis dari kata shun’, atau “seni”, berkaitan dengan dimensi spiritual pewahyuan Islam. Oleh karena itu, aspek etis atau apa yang yang secara lahiriah dikerjakan manusia, ditemukan dalam petunjuk-petunjuk serta ajaran-ajaran syariah. Allah berfiman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu6. dihalalkan 4 Sebuah hadits yang amat terkenal, dan dikabarkan merupakan hadits yang paling otentik diantara semua hadits: “Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan. Maka barangsiapa hijrahnya (ditujukan) kepada (ridha) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada ridha Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa hijrahnya itu kearah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya.” (Lihat, Al- Syayyid Abd al-Rahim Anbar al-Tahtawi, Hidayat al-Bari ila Tartib Ahadits al-Bukhari, 2 Jilid, (Kairo: al-Maktabat al-Tijariyyat al-Kubra, 1335 H.), Jilid 1, h. 220-1; dan al-Hafizh al-Mundziri, Mukhtashar Shahih Muslim, 2 Jilid (Kuwait: Wazarat al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyah, 1388 H/1969 M), Jilid 2, h. 47 [Hadits No. 1080]). 5 Dengan perluasan makna, kata shina’ah atau shun’ah yang berhubungan erat dengan term shun’, belakangan ini juga dipakai untuk menunjukkan “industri” dalam arti kata modern. 6 Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya. Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang184 bagi mu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang me- ngerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (Q.s. al-maidah: 1) Makna janji-janji (‘uqud) dalam ayat ini, menurut para mufassir tra- disional, mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, dirinya sendiri, dan dunia. Janji-janji ini juga dimaknai sebagai “tafsir tentang peningkatan moral” untuk suatu penilaian atas dimensi moral seluruh hidup manusia. Oleh karena itu, landasan semua etika kerja Islam ditentukan dengan karakter moral yang tak dapat dipisahkan dari seluruh tindakan manusia berikut tanggung jawab yang harus dipikulnya. Namun, tanggung jawab manusia itu bukan sekedar dipertanggungjawabkan dihadapan majikan atau pegawai, melainkan juga dihadapan kerja itu sendiri, yang harus dilaksanakan se- sempurna mungkin sejalan dengan kemampuan seseorang. Meskipun demikian, tanggung jawab kerja manusia, tentu saja tetap berada dihadapan Allah SWT, Yang Maha Menyaksikan segala tindak tanduk manusia. Karena itulah, perspektif Islam yang komprehensif, secara tegas menolak pemisahan antara ibadah dan kerja. Dalam perspektif ini, kerja secara erat, dikaitkan dengan shalat dan ibadah dalam masyarakat. Untuk memahami etika kerja Islam: pola relasi positif antara kerja, ibadah dan leisure (bersenang-senang) jelas begitu penting. Hal ini ber- laku juga terhadap apa yang sekarang ini dipandang sebagai aktivitas budaya, yang berkaitan secara harmonis dan diintegrasikan kedalam suatu kesatuan. Unsur dasar etika kerja Islami yang semestinya diperhatikan oleh manusia adalah petunjuk syariah. Yakni, petunjuk yang menegaskan bahwa penyelesaian kerja apapun secara baik adalah penting untuk menunjang kehidupan diri sendiri dan keluarga. Hal ini dimata Tuhan, memiliki nilai sebanding dengan ditunaikannya kewajiban-kewajiban keagamaan yang diklasifikasikan hukumnya wajib. Namun demikian, dalam Islam, kerja demi kerja itu sendiri tidak ditekankan, sebagaimana seseorang dapat menemukannya dalam bentuk- bentuk protestantisme tertentu. Dalam perspektif Islam, kerja di pandang bernilai sejauh dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ma- Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 185 nusia dan menciptakan keseimbangan dalam kehidupan individual dan sosial. Tetapi kewajiban atas kerja ini dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan seseorang berikut keluarganya, selalu dijaga dan dijauhkan dari akibat menjadi israf (berlebihan). Ketentuan ini, tentu saja secara normatif, didasarkan pada penegasan Al-Quran atas kesementaraan hidup, bahaya kerakusan dan iri hati, serta pentingnya manusia untuk menjauhkan diri dari akumulasi kekayaan secara berlebihan. Bukankah Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An Nisa 4:32). Kerja, seperti apapun juga dalam kehidupan, harus dilihat dan di- jalankan dalam kerangka suatu keseimbangan yang ingin diupayakan dalam Islam. Umat Islam saat di Makkah, lebih banyak berkonsentrasi pada aktivitas ibadah mahdhah seperti shalat dan tahajud. Namun, saat di Madinah Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya warga ma- syarakat muslim menghabiskan sepertiga hari mereka untuk bekerja, sepertiga lainnya untuk tidur dan istirahat, dan sepertiga lagi untuk shalat, bersenang-senang dan termasuk juga aktivitas-aktivitas keluarga dan ma- syarakat. Teladan Nabi SAW ini, telah menjadi sebuah teladan masyarakat Islam sekarang ini. Maksudnya, bekerja sebagai sebuah tugas untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mesti dipandang sebagai tugas keagamaan. Untuk itulah, doktrin kerja secara berlebihan hanya demi kerja itu sendiri, jelas ditentang Islam, oleh karena dianggap merusakkan keseimbangan yang menjadi tujuan hidup Islam. Dalam perspektif Islam, kerja itu sendiri jika dilihat dari aspek ekonomis nya, harus dijalankan sesuai perjanjian yang dibuat berdasarkan asas keadilan dan tanggung jawab, baik dari pihak pekerja maupun majik an. Seorang pekerja harus bertanggung jawab baik kepada majikan maupun Tuhan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah ditentukan Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang186 oleh kemampuannya. Hanya dengan jalan demikian, maka gaji yang diperoleh pekerja menjadi halal. Kondisi-kondisi dan butir-butir tertentu harus tercakup dalam perjanjian kerja, baik masalah jam kerja, gaji yang harus dibayar, kuantitas yang dihasilkan, kualitas yang harus dicapai. Jadi, ada unsur moral yang kuat dikalangan kaum muslim. Dalam kerangka inilah, dari sudut pandang Islam, telah diciptakan suatu sistem pemberian zakat, donasi, dan lain-lain, untuk menyucikan gaji tadi dan menjauhkan akibat-akibat negatif. Dari sini, bisa dipahami kenapa konsep halal dan haram, juga mempengaruhi jenis pekerjaan yang dijalankan oleh kaum muslim. Untuk itu, Islam sangat mewajibkan umatnya untuk mencari pekerjaan yang halal dan baik. Aspek kualitas dari etika kerja Islami, tidak mungkin dapat dipahami sepenuhnya, kecuali jika seseorang menyelam ke dalam macam-macam kerja. Dalam kasus ini, jika melibatkan manusia, maka tentu saja hubungan manusiawi dan interpersonal sangat erat ditekankan.7 Berusaha mau tidak mau adalah bentuk suatu bentuk transaksi antar manusia, yang tentu saja akan melibatkan orang lain. Agar usaha berjalan lancar, tanpa ada yang saling merugikan dan dirugikan, maka perlu ada etika yang mengatur dan mengikat. Etika yang dimaksud adalah suatu perbuatan standard yang mengarahkan individu dalam membuat suatu keputusan. Bila etika dikaitkan dengan usaha, maka maksudnya adalah norma-norma standar yang mengarahkan para pelaku usaha dalam me- laksanakan dan membuat keputusan-keputusan. Ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman telah menggariskan norma-norma etika dalam berusaha. Ajaran itu adalah: 8 1. Niat yang baik 2. Tidak melalaikan kewajibannya kepada Allah. 7 Prof. Dr. Seyyed Hossein, “Perspektif Islam Perihal Etika Kerja” dalam Nilai dan Makna Kerja Dalam Islam, (Jakarta: Persada Madani), h. 84. 8 Drs. H. Rusydi AM, Lc, M Ag, “Etos Kerja Dan Etika Usaha: Perspektif Al-Qur’an” dalam Nilai dan Makna Kerja dalam Islam, (Jakarta: Persada Madani), h.101. Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 187 3. Suka sama suka antara pihak yang bersangkutan. 4. Dilandasi akhlak dan mental yang baik. 5. Tidak mau melakukan kecurangan. 6. Menerapkan administrasi yang baik dan manajemen yang tepat. 7. Objek usaha haruslah yang halal. Banyak kita jumpai akhir-akhir ini apabila kita melakukan jual beli, sering sekali para pedagang tidak jujur, adil dan amanat terhadap apa yang ia laksanakan. Sebagaimana yang terdapat dilapangan sering sekali pembeli dirugikan oleh pedagang, ada yang mengurangi takaran dalam timbangan, ada yang berlaku curang dengan menyembunyikan cacat barang dagangannya. Pelayanan terhadap Konsumen Pelayanan diberikan sebagai tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan atau nasabah. Tindakan tersebut dapat dilakukan melalui cara langsung melayani pe- langgan atau nasabah. Artinya karyawan langsung berhadapan dengan pelanggan atau menempatkan sesuatu di mana pelanggan atau nasabah sudah tahu tempatnya atau pelayanan melalui telepon.9 Dasar-dasar Pelayanan Pada dasarnya pelayanan terhadap konsumen tergantung dari latar belakang karyawan tersebut, baik suku bangsa, pendidikan, pengalaman, budaya atau adat istiadat. Namun, agar pelayanan menjadi berkualitas dan memiliki keseragaman, setiap karyawan perlu dibekali dengan pengetahun yang men dalam tentang dasar-dasar pelayanan. Berikut ini dasar-dasar pelayanan yang harus dipahami dan dimengerti seorang customer service, pramuniaga, public relation, satpam atau kasir. 1. Berpakaian rapi dan berpenampilan menarik. 2. Percaya diri, bersikap akrab dan penuh dengan senyum. 9 Kasmir, S.E., M.M, Etika Custemer Service, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005, h. 15. Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang188 3. Menyapa dengan lembut dan berusaha menyebutkan nama jika sudah kenal. 4. Tenang, sopan, hormat, serta tekun mendengarkan setiap pem- bicaraan. 5. Berbicara dengan bahasa yang baik dan benar. 6. Bergairah dalam melayani nasabah dan tunjukkan kemampuan. 7. Tidak menyela atau memotong pembicaraan. 8. Mampu meyakinkan nasabah serta memberikan kepuasan 9. Jika tidak sanggup menangani permasalahan yang ada, maka mintalah bantuan. 10. Bila belum dapat melayani,beritahukan kapan akan dilayani. Semua dasar-dasar pelayanan ini harus dikuasi dan dilakukan oleh semua karyawan, terutama sekali bagi mereka yang berhubungan langsung dengan pelanggan.10 Ciri-ciri pelayanan yang baik Dalam praktiknya, pelayanan yang baik memiliki ciri-ciri tersendiri dan hampir semua perusahaan menggunakan kriteria yang sama untuk mem- bentuk ciri-ciri pelayanan yang baik. Terdapat beberapa faktor pendukung yang mempengaruhi langsung terhadap mutu pelayanan yang diberikan. Yang mempengaruhi pelayanan yang baik pertama adalah faktor manusia yang memberikan pelayanan tersebut, kedua pelayanan yang baik juga harus diikuti oleh tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung kecepatan, ketepatan, dan keakuratan pekerjaan. Berikut ini beberapa ciri-ciri pelayanan yang baik yang harus diikuti oleh karyawan yang bertugas melayani pelanggan/nasabah adalah:11 1. Tersedianya karyawan yang baik. 2. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik. 3. Bertanggung jawab kepada setiap nasabah sejak awal hingga selesai. 10 Ibid.. h. 18-21. 11 Ibid., h. 33-38. Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 189 4. Mampu melayani secara cepat dan tepat. 5. Mampu berkomunikasi. 6. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi. 7. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik. 8. Berusaha memahami kebutuhan nasabah. 9. Mampu memberikan kepercayaan kepada nasabah. Hubungan Antara Pedagang Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam menjalankan kehidupan, manusia menjalin hubungan baik dengan pen- cipta-Nya maupun dengan sesamanya. Hubungan manusia dalam berbisnis tidak hanya terhadap konsumen tetapi juga terhadap sesama pengusaha dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:12 Tepat dalam memilih rekan kerja. Nilai-nilai akhlak mulia dan ber- prestasi, haruslah menjadi kriteria dalam memilih rekan kerja sehingga para pelaku bisnis diharapkan untuk lebih selektif dalam memilih rekan bisnis agar tidak terjadi perselisihan dan kerugian yang akan terjadi bila rekan bisnis tidak kompeten serta amanah. Firman Allah, “Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam” (Shaad: 37) Tepat dalam memilih pekerjaan. Tidak jauh berbeda dengan pe milihan rekan kerja, memilih pekerjaan juga harus mengutamakan kualitas akhlak dan kompetensi serta keahlian mereka. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar Aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja Telah bercakap-cakap dengan Dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari Ini menjadi seorang yang berkedudukan Tinggi lagi dipercayai pada sisi kami (54) Berkata Yusuf: “Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan (55)”. Kerjasama diantara para pelaku bisnis. Kerjasama dengan para pe- 12 Siddiq Muhammad, Husain Shahatoh, Transaksi dan Etika Bisnis Islam, Jakarta: Visi Insani Publishing, 2005, h. 60-66. Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang190 laku bisnis lain sangat dibutuhkan dalam rangka bertukar informasi dan pengalaman. Islam menganjurka adanya kerjasama dalam hal kebajikan. Sebagaimana Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah13, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram14, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya15, dan binatang-binatang qalaa-id16, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya17 dan apa bila kamu Telah menyelesai kan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan jangan lah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil- haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-me- nolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” Konsultasi dalam ruang lingkup manajemen dan penentuan keputusan. Dalam Islam dikenal istilah syura (musyawarah) seperti yang difirmankan Allah, “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan- nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.” Dapat dipahami bahwa Islam menganjurkan untuk bermusyawarah dalam manajemen pengelolaan bisnis. Dengan bermusyawarahsebelum mengambil keputusan akan terbentuk dukungan moral dari para rekan kerja dan pegawai serta mendatangkan solusi yang tepat atas permasalahan. 13 Syi’ar Allah ialah: segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempat mengerjakannya. 14 Maksudnya antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan Ihram., maksudnya ialah: dilarang melakukan peperangan di bulan-bulan itu. 15 ialah: binatang (unta, lembu, kambing, biri-biri) yang dibawa ke ka’bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih ditanah Haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadat haji. 16 ialah: binatang had-ya yang diberi kalung, supaya diketahui orang bahwa binatang itu Telah diperuntukkan untuk dibawa ke Ka’bah. 17 dimaksud dengan karunia ialah: keuntungan yang diberikan Allah dalam perniagaan. keredhaan dari Allah ialah: pahala amalan haji. Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 191 Pengujian Validitas dan Reabilitas Sebelum kuesioner disebarkan penulis melakukan pengujian validitas dan reliabilitas dengan menggunakan kuesioner sebanyak 30 responden. Pengujian validitas dan reliabilitas adalah proses menguji butir-butir per- tanyaan yang ada dalam kuesioner. Jika butir-butir sudah valid dan reliabel, berarti butir-butir tersebut sudah bisa untuk mengukur faktornya. Langkah selanjutnya adalah menguji apakah faktor-faktor sudah valid untuk mengukur konstrak yang ada. Untuk mengetahui apakah setiap butir pertanyaan pada tiap-tiap variabel valid atau tidak dilakukan dengan membandingkan dengan r tabel. Dari r tabel untuk df = (30-2) = 28, dengan alpha 5% didapat angka 0,361. Pengambilan keputusan adalah jika r hasil hitung positif lebih besar dari r tabel dan r hasil hitung negatif lebih kecil dari r tabel maka butir tersebut valid. Sebaliknya jika r hasil hitung positif lebih kecil dari r tabel dan r hasil hitung negatif lebih besar dari r tabel maka butir tersebut tidak valid. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas dijelaskan sebagi berikut. Pengujian Validitas Variabel Dimensi Aqidah Berdasarkan tabel 4.1 pada kolom corrected item-total correlation di- peroleh hasil yang tertinggi sebesar 0,897 dan yang terendah 0,357. Butir pertanyaan 11 memilki nilai corrected item-total correlation lebih kecil dari pada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.1 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Aqidah No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Allah yang menciptakan alam ini .897 2 Allah yang mengetahui apa yang kita perbuat .897 3 Segala rezeki dan karunia berasal dari Allah semata .613 4 Nikmat maupun bencana yang terjadi karena Allah yang menghendaki .577 Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang192 5 Malaikat Jibril diutus Allah untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad .429 6 Islam agama akhir zaman .734 7 Nabi Muhammad adalah nabi terakhir .897 8 Al-Qur’an adalah firman Ta’ala .830 9 Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW .830 10 Ada surga dan neraka .794 11 Setiap qadha dan qadar ditentukan ole Allah SWT .357 12 Ada kehidupan setelah mati .572 13 Segala amal manusia ditimbang di hari akhir .852 14 Makhluk ghaib itu ada .544 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa me nyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.2 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,906 dan yang terrendah sebesar 0,434 lebih besar dari pada 0,361. Sehingga semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. Tabel 4.2 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Aqidah Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Allah yang menciptakan alam ini .906 2 Allah yang mengetahui apa yang kita perbuat .906 3 Segala rezeki dan karunia berasal dari Allah semata .657 4 Nikmat maupun bencana yang terjadi karena Allah yang menghendaki .580 5 Malaikat Jibril diutus Allah untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad .434 Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 193 6 Islam agama akhir zaman .759 7 Nabi Muhammad adalah nabi terakhir .906 8 Al-Qur’an adalah firman Ta’ala .848 9 Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW .848 10 Ada surga dan neraka .813 12 Ada kehidupan setelah mati .570 13 Segala amal manusia ditimbang di hari akhir .800 14 Makhluk ghaib itu ada .507 Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas terlihat bahwa nilai Cronbach’s alpha pada tabel 4.2 sebesar 0,930 lebih besar daripada 0,60 (0,930 > 0,60) sehingga dapat disimpulkan bahwa 13 butir pertanyaan tersebut valid dan reliabel. 1. Pengujian Validitas Variabel Dimensi Ibadah Berdasarkan tabel 4.3 pada kolom corrected item-total correlation di- peroleh hasil yang tertinggi sebesar 0,748 dan yang terrendah -0,012. Butir pertanyaan 1, 3, 5, 7, 8, 9 dan 10 memilki nilai corrected item-total correlation lebih kecil dari pada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.3 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ibadah No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya melaksanakan shalat dengan berjamaah walau banyak aktivitas .234 2 Saya melaksanakan shalat sunnah .748 3 Bagi saya puasa di bulan Ramadahan merupakan wujud keataatan kepada Allah -.012 4 Saya mengerjakan puasa sunnah .698 Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang194 5 Menunaikan zakat fitrah .028 6 Membayar zakat mal .368 7 Apakah menunaikan ibadah haji hanya bagi yang mampu .082 8 Saya meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari .286 9 Saya berzikir setelah melakukan shalat .268 10 Saya berdoa setelah melaksanakan shalat .124 11 Saya melaksanakn ibadah Qurban pada Hari Raya Idul Adha .477 12 Saya melaksanakan I’tikaf sepuluh hari di masjid pada akhir bulan ramadhan .517 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.4 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,834 dan yang terrendah sebesar 0,426 lebih besar dari pada 0,361. Sehingga semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. Tabel 4.4 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ibadah Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 2 Saya melaksanakan shalat sunnah .834 4 Saya mengerjakan puasa sunnah .689 6 Membayar zakat mal .426 11 Saya melaksanakn ibadah Qurban pada Hari Raya Idul Adha .591 12 Saya melaksanakan I’tikaf sepuluh hari di masjid pada akhir bulan ramadhan .661 Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas terlihat bahwa nilai Cronbach’s alpha pada tabel 4.4 sebesar 0,825 lebih besar daripada 0,60 (0,825 > 0,60) Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 195 sehingga dapat disimpulkan bahwa 5 butir pertanyaan tersebut valid dan reliabel. 2. Pengujian Validitas Variabel Dimensi Akhlak Berdasarkan tabel 4.5 pada kolom corrected item-total correlation di- peroleh hasil yang tertinggi sebesar 0,678 dan yang terrendah 0,166. Butir pertanyaan 1, 2, 3, 5 dan 10 memiliki nilai corrected item-total correlation lebih kecil dari pada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.5 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Akhlak No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya menolong orang yang mengalami kesulitan menyebrang di jalan raya .245 2 Saya suka ikut dalam kerja bakti .240 3 Saya menyisihkan sebagian uang saya setiap bulannya, untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan .166 4 Dalam hubungan dengan manusia lain, saya berlaku jujur .528 5 Saya selalu memaafkan kesalahan orang lain .316 6 Saya menjaga setiap amanat yang diberikan kepada saya .508 7 Saya tidak pernah mencuri barang orang lain .678 8 Saya tidak akan korupsi, karena perbuatan tersebut merugikan orang lain .651 9 Saya tidak pernah menipu orang lain .535 10 Saya tidak berjudi .324 11 Saya tidak meminum minuman yang memabukkan .563 12 Saya menjaga fasilitas umum seperti halte bis yang ada di lingkungan saya, dengan tidak mengotori dan mencoretnya .546 13 Dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat sekitar, saya ikut berpartisipasi dengan membuang sampah pada tempatnya .526 Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang196 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.6 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,773 dan yang terrendah sebesar 0,306. Butir pertanyaan 4 memiliki nilai corrected item-total correlation lebih kecil dari pada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.6 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Akhlak Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 4 Dalam hubungan dengan manusia lain, saya berlaku jujur .306 6 Saya menjaga setiap amanat yang diberikan kepada saya .516 7 Saya tidak pernah mencuri barang orang lain .773 8 Saya tidak akan korupsi, karena perbuatan tersebut merugikan orang lain .760 9 Saya tidak pernah menipu orang lain .582 11 Saya tidak meminum minuman yang memabukkan .576 12 Saya menjaga fasilitas umum seperti halte bis yang ada di lingkungan saya, dengan tidak mengotori dan mencoretnya .580 13 Dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat sekitar, saya ikut berpartisipasi dengan membuang sampah pada tempatnya .594 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.7 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang ter- tinggi sebesar 0,759 dan yang terrendah sebesar 0,541. Sehingga semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 197 Tabel 4.7 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Akhlak Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 6 Saya menjaga setiap amanat yang diberikan kepada saya .541 7 Saya tidak pernah mencuri barang orang lain .759 8 Saya tidak akan korupsi, karena perbuatan tersebut merugikan orang lain .741 9 Saya tidak pernah menipu orang lain .589 11 Saya tidak meminum minuman yang memabukkan .588 12 Saya menjaga fasilitas umum seperti halte bis yang ada di lingkungan saya, dengan tidak mengotori dan mencoretnya .592 13 Dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat sekitar, saya ikut berpartisipasi dengan membuang sampah pada tempatnya .595 Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas terlihat bahwa nilai Cronbach’s alpha pada tabel 4.3 sebesar 0,856 lebih besar daripada 0,60 (0,856 > 0,60) sehingga dapat disimpulkan bahwa 8 butir pertanyaan tersebut valid dan reliabel. Sehingga semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. 3. Pengujian Validitas Variabel Dimensi Ilmu Berdasarkan tabel 4.8 pada kolom corrected item-total correlation di- peroleh hasil yang tertinggi sebesar 0,496 dan yang terrendah -0,042. Butir pertanyaan 5 memilki nilai corrected item-total correlation lebih kecil dari pada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang198 Tabel 4.8 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ilmu No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya mengetahui bahwa semua ketentuan hidup telah diatur dalam Al-Qur’an .496 2 Rukun Islam itu ada lima .394 3 Rukun Iman ada enam .394 4 Melaksanakn ibadah haji adalah kewajiban bagi setiap umat islam .078 5 Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa -.042 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.9 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,507 dan yang terrendah sebesar 0,192 lebih besar dari pada 0,361. Butir pertanyaan 4 memiliki nilai corrected item-total correlation diperoleh hasil tertinggi 0,507 dan yang terrendah sebesar 0,192 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.9 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ilmu Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya mengetahui bahwa semua ketentuan hidup telah diatur dalam Al-Qur’an .507 2 Rukun Islam itu ada lima .405 3 Rukun Iman ada enam .405 4 Melaksanakn ibadah haji adalah kewajiban bagi setiap umat islam .192 Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 199 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.10 terlihat bahwa semua nilai corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,744 dan yang terrendah sebesar 0,333 lebih besar dari pada 0,361. Butir pertanyaan 1 memiliki nilai corrected item- total correlation diperoleh hasil tertinggi 0,744 dan yang terrendah sebesar 0,333 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.10 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ilmu Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya mengetahui bahwa semua ketentuan hidup telah diatur dalam Al-Qur’an .333 2 Rukun Islam itu ada lima .744 3 Rukun Iman ada enam .744 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.11 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 1,000. Sehingga semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. Tabel 4.11 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ilmu Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 2 Rukun Islam itu ada lima 1.000 3 Rukun Iman ada enam 1.000 Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang200 Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas terlihat bahwa nilai Cronbach’s alpha pada tabel 4.10 sebesar 1,000 lebih besar daripada 0,60 (1,000 > 0,60) sehingga dapat disimpulkan bahwa 2 butir pertanyaan tersebut valid dan reliabel. 4. Pengujian Variabel Dimensi Penghayatan Berdasarkan tabel 4.12 pada kolom corrected item-total correlation di- peroleh hasil yang tertinggi sebesar 0,556 dan yang terrendah 0,100. Semua butir pertanyaan memiliki nilai corrected item-total correlation lebih besar daripada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. Tabel 4.12 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Penghayatan No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya merasakan dekat dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari .508 2 Saya merasakn do’a-do’a saya sering dikabulkan oleh Allah .435 3 Perasaan saya tentram bahagia karena menuhankan Allah .367 4 Saya merasa bertawakal kepada Allah .330 5 Dengan bersyukur kepada Allah, maka hati saya menjadi tenang .519 6 Perasaan saya tergetar ketika mendengarkan adzan .527 7 Allah menolong saya jika dalam kesuliatan keuangan dengan adanya ada orang yang memberikan kelebiahan rezeki kepada saya .100 8 Keberhasilan saya dalam segala hal semata-mata karena pertolongan Allah .556 Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 201 9 Hidup saya bertambah berkah dengan dipermudahkan rezeki, karena melaksanakan shalat tahajud .128 Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.13 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,576 dan yang terrendah sebesar 0,423 lebih besar dari pada 0,361. Kemudian dilakukan pengujian validitas dan realibilitas kembali tanpa menyertakan butir pertanyaan yang tidak valid. Berdasarkan tabel 4.7 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang ter- tinggi sebesar 0,759 dan yang terrendah sebesar 0,541. Sehingga semua pertanyaan tersebut telah valid dan dapat dipergunakan. Tabel 4.13 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Ilmu Dengan Mengeluarkan Variabel yang tidak Valid No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya merasakan dekat dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari .423 2 Saya merasakn do’a-do’a saya sering dikabulkan oleh Allah .557 3 Perasaan saya tentram bahagia karena menuhankan Allah .477 5 Dengan bersyukur kepada Allah, maka hati saya menjadi tenang .576 6 Perasaan saya tergetar ketika mendengarkan adzan .490 8 Keberhasilan saya dalam segala hal semata-mata karena pertolongan Allah .501 Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang202 Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas terlihat bahwa nilai Cronbach’s alpha pada tabel 4.12 sebesar 0,761 lebih besar daripada 0,60 (0,761 > 0,60) sehingga dapat disimpulkan bahwa 6 butir pertanyaan tersebut valid dan reliabel. 5. Pengujian Validitas Terhadap Prilaku Pedagang Berdasarkan tabel 4.14 pada kolom corrected item-total correlation diperoleh hasil yang tertinggi sebesar 0,820 dan yang terendah -0,181. Butir pertanyaan 1, 2, 3, 6, 7, 9, 10, 13, 14, 17, 18, 21, 28, 30 dan 31 memilki nilai corrected item-total correlation lebih kecil dari pada 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan. Tabel 4.14 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabel Variabel Dimensi Prilaku Pedagang No Pernyataan Corrected Item-Total Correlation 1 Saya niat melakuakn usaha hanya untuk memenuhi kebutuhan materil semata .029 2 Saya niat melakukan usaha semata-mata untuk mendapatkan pahal dari Allah -.181 3 Saya niat melakukan usaha bukan hanya untuk mendapatkan materi saja tetapi juga untuk mendapat ridha Allah -.143 4 Saya selalu melaksanakan shalat tepat pada waktunya .735 5 Saya melaksanakan shalat sunnah .421 6 Saya tidak pernah menimggalkan shalat jum’at .337 7 Saya tetap melaksanakan puasa di bulan ramadhan .090 8 Saya melaksanakan puasa sunnah .378 9 Saya membakar zakat fitrah .162 Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 203 10 Saya membakar zakat mal .146 11 Dalam menjual barang saya memaksakan kepada pembeli untuk membeli barang .408 12 Dalam menjual suatu barang saya tidak memaksakan pembeli untuk membeli barang, kecuali pembeli tersebut tertarik kepada barang saya .367 13 Saya ingin usaha saya maju .206 14 Saya bekerja tanpa mengenal waktu .358 15 Saya membutuhkan tenaga kerja demi untuk kemajuan usaha saya .381 16 Saya berpakaian yang rapi agar pembeli tertarik .381 17 Saya bias menjalankan usaha dalam keadaan apapun .098 18 Saya bisa mengambil keputusan apabila usaha yang saya jalankan dalam keadaaan yang terpuruk .157 19 Saya belajar demi memajukan usaha .630 20 Melakukan studi banding ke pengusaha lain yang memiliki usaha yang sama .366 21 Saya melakukan usaha untuk emenuhi kebutuhan dan mendapat rizki yang halal .348 22 Saya mempromosikan barang dagangan kepada konsumen .357 23 Saya tidak membohongi konsumen terhadap kondisi barang dagangan yang saya jual .485 24 Saya menerangkan barang yang saya jual dengan apa adanya .531 25 Saya tidak pernah mengurangi ukuran timbangan .820 26 Saya memberi hak kepada pembeli untuk memilih .570 27 Menjaga amanah orang lain .571 Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang204 28 Saya memberikan upah kepada pegawai sesuai dengan haknya .343 29 Saya menepati amanat dalam melayani konsumen yang membeli barang dengan memesan sesuai dengan kesepakatan .403 30 Saya mencatat barang yang masuk atau yang keluar .259 31 Saya mencatat uang yang masuk .352 32 Saya mencatat pembelian konsumen yang masih kurang pembayarannya .725 33 Saya tidak menjual sesuatu yang memabukkan .447 34 Saya tidak mencampur barang yang haram kedalam dagangan .447 35 Saya berpakaian arapi dan menarik dalam menghadapi pelanggan .532 36 Saya senyum dan bersifat akrab dalam menghadapi pelanggan .508 37 Saya menyapa pelanggan dengan lembut .572 38 Saya tenang, sopan, dan tidak memotong pembicaraan pelanggan .710 39 Saya berbicara dengan bahasa yang baik dan benar kepada pelanggan .746 40 Saya bersemangat dalam melayani pelanggan .668 41 Saya selektif dalam memilih rekan kerja .375 42 Saya selektif dalam memilih pekerjaan .382 43 Saya bekerjasama dengan pedagang lain dalam berbisnis .526 44 Saya bermusyawarah dalam manajemen pengelolaan bisnis .447 Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 205 Statistik Deskriptif Dari grafik di bawah dijelaskan bahwa, pedagang ditinjau dari kelompok jenis kelamin, menggambarkan bahwa, padagang laki-laki lebih banyak dari pada pedagang perempuan. Tabel 4.17 Grafik Jenis Kelamin Responden Untuk pendidikan pedagang Kebayoran Lama , maka yang paling banyak adalah pendidikan SMA/MA, kemudian pendidikan SMP/MTs, ke- mudian diikuti dengan pendidikan SD/MI, kemudian diikuti dengan pen- didikan Diploma, kemudian diikuti dengan pendidikan sarjana, dan dari semua pedagang tidak ada yang berasal dari pondok pesantren. Tabel 4.18 Kurva Tingkat Pendidikan Responden Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang206 Penutup Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan maka dapat di- simpulkan sebagai berikut: Berdasarkan hasil pengujian statistik dengan uji z (sampel > 30) secara parsial yang berpengaruh terhadap prilaku pedagang dari dimensi- dimensi religiusitas adalah dimensi akhlak dan dimensi ilmu. Sedangkan dimensi aqidah, ibadah dan penghayatan tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel prilaku pedagang. Berdasarkan hasil pengujian statistik dengan uji F mengindikasikan bahwa dari dimensi religiusitas, variabel dimensi aqidah, dimensi ibadah, dimensi akhlak, dimensi ilmu dan dimensi penghayatan tidak berpengaruh terhadap prilaku pedagang secara simultan. Variabel tingkat religiusitas berpengaruh signifikan secara parsial terhadap prilaku pedagang. Dilihat dari nilai koefisien determinasi (r2X1Y) diperoleh hasil sebesar 0,5182 = 0,268 artinya keragaman yang terjadi pada variabel prilaku pedagang 26,8% ditentukan oleh keragaman yang terjadi pada variabel keagamaan. Dalam dimensi-dimensi religiusitas tidak terdapat perbedaan antara para pedagang dalam variabel dimensi aqidah, ibadah dan akhlak. Sedang- kan dalam dimensi ilmu dan penghayatan terdapat perbedaan antara para pedagang. Pustaka Acuan Ancok, Djamaludin dan Suroso, Fuad Nashori. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993. Ang, S.H, Cheng, P. S. Lim, E.A.C & Tambyah, S.K. “Spot The Difference: Consumer Responses Towards Counterfeit,” Journal of Consumer Marketing, Vol. 18 no.3, 2001. Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatau Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 1998. Badroen, Faisal, Drs.MBA. Etika Bisnis dalm Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005. Bariadi, Lili, Muhammad Zen, dan M. Hudri. Zakat dan Wirausaha. Jakarta: CED, 2005. Al-Iqtishad: Vol. II, No. 1, Januari 2010 207 Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Cet. Ke-14. Jakarta: Bulan Bintang, 1991. Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1995. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, Cet ke-2, 1989. Dister, Nico Syukur. Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama. Yogyakarta: Kanisius, 1992. Djairi, Ibnu. Erosi Moral dan Pemahaman Kembali Agama. Artikel diakses pada 20 Juni 2007 dari http://suaramerdeka.com/harian/0406/18/opi4. htm. Echols, Jhon M. and Hasan Shadily. Kamus Inggris – Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia, 1984. Gujarati, D. Basic Econometrics. Mc Graw-Hill.inc, 1978. Hossein, Seyyed, Prof. Dr. “Perspektif Islam Perihal Etika Kerja” dalam Nilai dan Makna Kerja Dalam Islam. Jakarta: Persada Madani, 1999. Jalaludin. Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Press, edisi revisi, 2005. Kraar, Louis, “The New Power of Asia”: dalam Reder’s Digest, edisi Asia (Singapura, Hongkong, Tokyo), Desember, 1998. Madjid, Nurcholish, Dr. “Tafsir Islam Perihal Etos Kerja” dalam Nilai dan Makna Kerja dalam Islam. Jakarta: Persada Madani, 1999. Mahmasani, Subhi. Konsep Dasar Hak-hak Asasi Manusia (Studi Perbandingan Syariat Islam dan Perundang-undangan Modern). Jakarta: PT. Pustaka Lentara Antarnusa. Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jilid I. Jakarta: UI Press, cet. Ke-5, 1985. Natsir, Nanat Fatah. Etos Kerja Wirausahawan Muslim. Bandung: Gunung Djati Press, 1999. Nawami, Hardani. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004. Nugroho, Bhuono Agung. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta: Andi, 2005. Prayitno, Prof. Dr. H. Ahmad dan Drs. Trubus, MS. Etika Kemajemukan Ahmad Faiz: Pengaruh Tingkat Keagamaan terhadap Perilaku Pedagang208 Solusi Strategis Merenda Kebersamaan dalam Bingkai masyarakat Majemuk. Jakarta: Universitas Trisakti, 2004. Putra, Dalizar. Hak Asasi Manusia Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al- Husna, 1995. Qardhawi, Al-Yusuf. Norma dan Etika Ekonomi Islam. terjemahan Zainul Arifin, Lc. Dra. Dahlia Husin. Jakarta: Gema Insani Press, 1997. Qardhawi, Al-Yusuf. Peranan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. terjemahan Didin Hafiduddin. Jakarta: Robani Press, 2001. Rianto, Yatim. Tehnik Metodologi Penelitian. Jakarta: Sich, 2000. Robertson, Rolland. Agama dalam Analisa dan Interprestasi Sosiologis. Jakarta: Rajawali Press, 1993. Rusydi, Drs. H. AM, Lc, M.Ag. “Etos Kerja dan Etika Usaha: Prespektif Al- Qur’an” dalam Nilai dan Makna Kerja dalam Islam. Jakarta: Persada Madani, 1999. Santoso, Singgih. Menggunakan SPSS untuk SPSS Non Parametrik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2005. Santoso, Singgih. Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 12. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2004. Singaribun, Masri dan Sofian Efendi. Metode Penelitian Survey Singarimbun. Jakarta: LP3ES, 2005. Singaribun, Masri dan Sofian Efendi. Metodogi Penelitian Survey. Edisi revis. Jakarta: LP3ES, 2005. Sukandarrumidi. Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula. Yogyakarta: Gajah Mada University, 2004. Sukandarrumidi. Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula. Yogyakarta: Gajah Mada University, cet ke-2, Juni 2004.