
























































Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  179

KOMPARASI EFISIENSI TEKNIS
BANK UMUM KONVENSIONAL (BUK) DAN

BANK UMUM SYARIAH (BUS)  DI INDONESIA DENGAN 
METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) 

Abdul Wahab, Muhamad Nadratuzzaman Hosen  & Syafaat Muhari1 

Abstract: The Comparation of Technical Efficiency Between Conventional 
Banks and Islamic Banks in Indonesia Using DEA Method. This research 
is to compare the levels of technical efficiency between BUK and BUS by 
employing non-parametric Data Envelopment Analysis (DEA). This research 
assigns Third Party Funds, Labor Expenses and Fixed Assets which are input 
variable, meanwhile Total Credit and Other Incomes are determined as 
Output Variables. This research also examines the Profitability of BUK and 
BUS by Using Panel Regression Model with CAR, LDR, NPL and BOPO as 
independent variables, where ROA and ROE are  dependent variables.  The 
result showed that the average technical efficiency of the Conventional Banks 
is better than that of the Islamic Banks.  That  is because of the inefficient 
utilization of Input Variables, namely Third Party Funds, Labor Expenses and 
Fixed Assets in the Islamic Banks.    

Keywords: Efficiency Bank, Data Envelopment Analysis, Panel Regression

Abstrak: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional dan 
Bank Umum Syariah di Indonesia Dengan Metode DEA. Penelitian ini 
bertujuan untuk membandingkan efisiensi teknis Bank Umum Konvensional 
dan Bank Umum Syariah. Penelitian ini menggunakan  Non-Parametrik Data 
Envelopment Analysis dengan pendekatan intemediasi. Variabel inputnya 
DPK, Biaya Tenaga Kerja dan Harta Tetap. Variabel Outputnya Total kredit 
dan Pendapatan Lainnya. Selain itu diukur  juga  Profitabilitasnya dengan 
metode Regresi Panel. Variabel Independennya, CAR, LDR, NPL dan BOPO, 
Variabel Dependennya ROA dan ROE. Hasil yang ada menunjukkan bahwa 
Bank Umum Konvensional secara rata-rata memiliki efisiensi teknis yang 
lebih baik dari Bank Umum Syariah. Hal ini dikarenakan inefisiensi dalam 
penggunaan variabel input, seperti dana pihak ketiga, biaya tenaga kerja, dan 
aset tetap di Bank Syariah. 

Kata kunci: Efisiensi Bank, Data Envelopment Analysis (DEA), Regresi Panel

 1 Diterima: 28 Pebruari 2014 , Direvisi: 4 April 2014 , Disetujui: 16 April 2014 IEF Trisakti, 
Jl. Kyai Tapa No. 1, Grogol, Jakarta Barat. Email: awahab27@yahoo.com
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda No. 95, Tangerang 
Selatan, Banten. Email: mnhosen@gmail.com
IBFI Trisakti. Jl. Kyai Tapa No. 1, Grogol, Jakarta Barat. Email: syafaatmuhari@ymail.com



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 180

PENDAHULUAN

 Lembaga keuangan bank maupun non bank merupakan tulang punggung  
perekonomian suatu negara, di mana keduanya mempunyai peranan penting 
sebagai lembaga intermediasi antara pihak yang kelebihan dana yang menyimpan 
kelebihan dananya di lembaga keuangan dengan pihak yang kekurangan dana yang 
meminjam dana ke lembaga keuangan. Oleh karena itu, kepercayaan terhadap 
lembaga keuangan menjadi sangat penting agar fungsi intermediasi dapat berjalan 
sesuai dengan yang diharapkan. Jika fungsi intermediasi tercapai maka penggunaan 
dana akan lebih optimal dan efisien yang akan berdampak pada meningkatnya 
aktivitas produktif dari dana yang dipinjamkan sehingga output aktifitas produksi 
akan meningkat dan lapangan kerja baru yang banyak bermunculan menambah 
taraf  kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. 

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Bank Umum Syariah di Indonesia 
Tahun 2006-2012 sebagai berikut:

Indikator 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Jaringan Kantor
     Jumlah Bank
     Jumlah Kantor

3
346

3
398

5
576

6
711

11
1.215

11
1.390

11
1.734

  Sumber: Statistik Perbankan Syariah

Dalam dunia usaha termasuk lembaga keuangan, kompetisi adalah suatu hal 
yang  sudah terjadi dan akan terus terjadi. Agar survive dalam usahanya maka suatu 
unit usaha dapat diukur hasil kerja dalam bentuk kinerja. Salah satu cara untuk 
mengukur kinerja adalah effisiensi, yang antara lain dapat ditingkatkan melalui 
penurunan biaya (reducing cost) dalam proses produksi. Berger et.al (1993) dalam 
Nurul Komariyatun (2006), mengatakan jika terjadi perubahan struktur keuangan 
yang cepat maka penting mengidentifikasi efisiensi biaya dan pendapatan. Bank 
yang lebih efisien diharapkan akan mendapat keuntungan yang optimal dengan 
kata lain tingkat profitabilitasnya akan meningkat, yang akan dapat digunakan 
untuk meningkatkan laba di tahan, peningkatan pelayanan kepada nasabah 
dengan  melalui peningkatan skill para pegawainya maupun peningkatan kualitas 
dan kuantitas sarana dan prasarananya. Dari data tersebut diatas diketahui jumlah 
Bank Umum Syariah pada tahun 2007 sebanyak 3 Bank terdiri dari 398 kantor, 
berkembang menjadi 11 Bank dan 1.734 kantor pada tahun 2012. 

Berdasarkan data selama 3 (tiga) tahun terahir yaitu dari tahun 2010 sampai 
dengan 2012 terjadi  pertumbuhan total aset BUK yaitu sebesar 19%. Periode yang 
sama DPK dan Kredit masing-masing tumbuh 18% dan 21%. Sedangkan BUS 



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  181

selama 3 (tiga) tahun terahir yaitu dari tahun 2010 sampai dengan 2012  terjadi  
pertumbuhan total aset BUS yaitu sebesar 22%. Periode yang sama DPK simpanan 
wadiah tumbuh 27%,  Dana Investasi tidak terikat tumbuh 21%  sedangkan 
pembiayaan tumbuh 22% . Dari angka pertumbuhan selama 3 (tiga) tahun  BUS 
cukup seimbang yaitu asset tumbuh 22%, pembiayaan 22%. Sedangkan kinerja 
keuangan yang menunjukkan tingkat ukuran efisiensi pengelolaan bank dapat dilihat 
dari ratio keuangan berupa Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Loan 
To Deposit Ratio (LDR)/ Financial To Deposit Ratio (FDR), Non Performing Loan 
(NPL)/Non Performing financing (NPF), BOPO, Net Interest Margin (NIM). 

Berdasarkan data yang diperoleh dapat ditarik beberapa hal terkait dengan 
kinerja Bank Umum Syariah dan Bank Umum Konvensional.
a. ROA dan ROE  rata-rata BUS pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 

relatif lebih rendah dibanding BUK.
b. FDR BUS pada posisi akhir tahun 2011 dan tahun 2012 relatif lebih tinggi 

dibandingkan dengan LDR BUK
c. NPF/NPL Gross BUS rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan BUK dan 

3 (tiga) tahun terakhir  yang paling rendah adalah  BUK BCA yaitu dibawah 
% yaitu sebesar  0,64% pada tahun 2010, sebesar  0,49% pada tahun 2011, 
sebesar 0,38% pada tahun 2012. Bank lainnya baik kelompok  BUK maupun 
kelompok BUS NPL/ NPF nya berkisar antara 2% sampai dengan 3% dibawah 
5% sebagaimana ketentuan Bank Indonesia Peraturan Bank Indonesia nomor 
6/9/PBI/2004 tentang tindak lanjut pengawasan dan penetapan status bank  
bahwa maksimal NPL/NPF net adalah 5%.  

d. Rata-rata BOPO BUS di luar MayBank Syariah  lebih tinggi yaitu antara 70% - 
80% dibandingkan dengan kelompok  BUK antara 60% - 70%.

e. Pada posisi  akhir tahun 2011 rata-rata NIM BUS lebih tinggi dibandingkan 
dengan BUK. NIM BUS yang paling tinggi adalah Mega Syariah yaitu 15,10%. 
BUS lainnya antara 5% sampai dengan 8%. NIM BUK tertinggi adalah BRI 
yaitu 10,77%, sedangkan BUK lainnya merata antara 5 % sampai dengan 6.%. 

 Sesuai dengan permasalahan yang telah dijelaskan bahwa fenomena empiris 
yang muncul pada  perbedaan tentang efisiensi perbankan BUK dan BUS yang 
ditemukan dalam hasil penelitian terdahulu yaitu efisiensi BUS lebih baik diband-
ingkan dengan efisiensi BUK. Namun menurut analisa efisiensi teknis dari kin-
erja keuangan  tahun 20010 – 2012 diatas yang menyimpulkan bahwa rata-rata 
BUK lebih baik dibandingkan dengan BUS. Artinya efisiensi BUS lebih rendah jika 
dibandingkan dengan BUK. Hal ini bertentangan dengan hasil para peneliti terda-
hulu yang menggunakan DEA. Sementara  itu pertumbuhan bank syariah selama 3 
(tiga) tahun  terakhir  cukup tinggi 22% dibandingkan dengan pertumbuhan asset 



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 182

Bank Konvensional 19%. Saat ini share Bank Syariah baru 3,7%selama  masa 20 
tahun. Apakah mungkin operasional bank syariah BUS tersebut efisiensinya lebih 
dibandingkan dengan BUK. Maka muncul pertanyaan penelitian yang akan di-
jawab dalam penelitian ini yaitu bagaimana perbedaan nilai efisiensi dan profitabili-
tas antara BUK dengan BUS selama periode 2007-2011.

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Ascarya et. al (2008) bahwa Pengukuran efisiensi dengan 
menggunakan pendekatan frontier sudah digunakan selama 40 tahun lebih 
(Coelli, 1996). Metode utama yang menggunakan linier programming dan metode 
ekonometrika adalah: 1) Data Envelopment Analysis; dan 2) Stochastic Frontier 
Approach.

Pengukuran efisiensi modern ini pertama kali dirintis oleh Farrell (1957), 
bekerja sama dengan Debreu dan Koopmans, dengan mendefinisikan suatu 
ukuran yang sederhana untuk mengukur efisiensi suatu perusahaan yang dapat 
memperhitungkan input yang banyak. Efisiensi yang dimaksudkan oleh Farrell 
terdiri dari efisiensi teknis (technical efficiency) yang merefleksikan kemampuan dari 
suatu perusahaan untuk memaksimalkan output dengan input tertentu, dan efisiensi 
alokatif (allocative efficiency) yang merefleksikan kemampuan dari suatu perusahaan 
yang memanfaatkan input secara optimal dengan tingkat harga yang telah ditetapkan. 
Kedua ukuran efisiensi ini kemudian dikombinasikan untuk menghasilkan efisiensi 
ekonomis (total).
Pengukuran Berorientasi Input (Input-Oriented Measures)

Pengukuran berorientasi input menunjukkan sejumlah input dapat dikurangi 
secara proporsional tanpa mengubah jumlah output yang dihasilkan. Farrell (1957) 
memberikan ilustrasi dengan melibatkan perusahaan-perusahaan yang menggunakan 
dua input (X1 dan X2) untuk memproduksi satu output (y) dengan asumsi constant 
return to scale.

Sebuah perusahaan menggunakan dua input yaitu X1 dan X2 untuk 
memproduksi output sebesar y (asumsi constant return to scale). Isoquant SS1 
menggambarkan kombinasi input untuk menghasilkan tingkat output yang sama 
(efisien secara teknis). Isocost AA1 menggambarkan kombinasi input yang dapat 
dibeli oleh produsen dengan tingkat biaya yang sama (efisien secara alokatif ). 
Garis OP menunjukkan kombinasi input yang digunakan oleh suatu perusahaan. 
Titik Q1 menunjukkan efisien secara teknikal dan alokatif. Titik M menunjukkan 
ketidakefisienan karena tidak berada pada kurva isocost dan isoquant. Titik N efisien 



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  183

secara alokatif, sedangkan titik Q efisien secara teknis. Efisien secara teknis diperoleh 
dari rasio TE = OQ/OP. Efisien secara alokatif diperoleh dari rasio AE = ON/OQ – 
selama NQ merepresentasikan bahwa pengurangan biaya produksi akan terjadi jika 
produksi secara teknis maupun alokatif efisien pada titik Q1. Sehingga total efisiensi 
sama dengan ON/OP –NP adalah pengurangan biaya produksi.

Fungsi produksi yang menunjukkan perusahaan yang efisien penuh (SS1) 
secara praktek tidak diketahui. Oleh sebab itu, perlu diestimasi melalui sampel 
observasi dari perusahaan-perusahaan dalam satu industri. Menurut Farrell untuk 
mengestimasi fungsi produksi tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1) 
non-parametric piecewise-linear convex isoquant, dan b) fungsi parametrik, seperti 
bentuk Cobb-Douglas. Sedangkan Coelli menggunakan pendekatan nonparametrik 
DEA untuk mengestimasi fungsi produksi yang efisien tersebut.

Dimana: x1 = input pertama, x2 = input kedua, q = output. Jika rasio harga 
input (dalam Gambar 1 diwakili oleh garis AA) juga telah diketahui, maka titik 
produksi yang efisien secara alokatif dapat juga dihitung. Tingkat efisiensi alokatif 
(allocative efficiency/AE) dari suatu perusahaan yang berorientasi pada titik P dapat 
didefinisikan sebagai rasio dari :

 AE = 0N/0P ............................................................... (1)
dimana jarak NQ menggambarkan pengurangan dalam biaya produksi yang dapat 
diperoleh apabila tingkat produksi berada pada titik Q1 yang efisiensi secara alokatif 
(dan secara teknis), berbeda dengan titik Q yang efisien secara teknis (technical 
efficient), akan tetapi tidak-efisien secara alokatif (allocatively inefficient). Total 
efisiensi ekonomis (total economic efficiency) didefinisikan sebagai rasio dari :

 EE = 0Q / 0P .............................................................. (2)
dimana jarak dari titik N ke titik P dapat juga diinterpretasikan dengan istilah 
pengurangan biaya (cost reduction). Perhatikan bahwa produk yang efisien secara 
teknis dan secara alokatif memberikan makna telah tercapainya efisiensi ekonomis 
secara keseluruhan.

 TE x AE = (0Q/0P) x (0N/0P) = (0Q/0P) = EE ..................... (3)
dimana semua ukuran ketiganya terletak pada daerah yang bernilai antara nol dan 
satu.
Pengukuran Berorientasi Output (Output-Orientated Measures)

Pengukuran efisien secara teknis yang berorientasi input, pada dasarnya bisa 
ditujukan untuk menjawab sebuah pertanyaan: “sampai seberapa banyaknya kuantitas 
input dapat dikurangi secara proporsional tanpa mengubah kuantitas output yang 



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 184

diproduksi dengan kata lain, sedangkan sampai seberapa banyak kuantitas dari 
output dapat ditambah tanpa mengubah kuantitas input yang digunakan. Ini yang 
disebut pengukuran berorientasi output (output-oriented measure), merupakan 
kebalikan dari pengukuran berorientasikan input.

Perbedaan antara pengukuran berorientasi input dan output dapat 
diilustrasikan dengan menggunakan sebuah contoh sederhana yang terdiri dari satu 
input dan satu output, dalam Gambar 2. (a), diilustrasikan mengenai sebuah fungsi 
produksi dengan teknologi yang bersifat decreasing return to scale yang diwakili oleh 
ƒ(x), dan sebuah perusahaan yang tidak efisien yang beroperasi pada titik P. Farell 
menjelaskan pengukuran yang berorientas input dari efisiensi teknis  sama dengan 
rasio AB/AP, sedangkan pengukuran berorientasikan output dari efisiensi teknis 
diwakili oleh rasio CP/CD. Pengukuran yang berorientasi input dan output akan 
menghasilkan nilai pengukuran yang sama dari efisiensi teknis jika berada dalam 
kondisi constant return to scale (CRS), namun jika berada dalam kondisi decreasing 
return to scale (DRS), nilai pengukuran TE tidak akan sama hasilnya. (b), bahwa AB/
AP =CP/CD, untuk titik P yang tidak efisien (Farell dan Lovell, 1978) dalam Coelli, 
et al (2005).

Pengukuran tingkat efisiensi berorientasi output ini dapat dianalisis lebih 
dalam dengan sebuah contoh kasus dimana fungsi produksi melibatkan dua 
macam output (q1 dan q2) dan sebuah input tunggal (x). Jika kita  mengasumsikan 
kondisinya constant return to scale, maka dapat direpresentasikan tingkat teknologi 
dengan sebuah kurva unit kemungkinan produksi (unit production possibility curve) 
dalam bentuk dua dimensi. Oleh sebab itu, sebuah pengukuran efisiensi teknis 
berorientasikan output adalah merupakan rasio TE= 0A/0B dengan revenue efficiency 
(RE) yang merupakan rasio RE=0B/0C.

Jika diperoleh informasi tentang harga, maka dapat digambarkan sebuah 
kurva isorevenue yaitu garis DD1 dan mendefinisikan alokatif sebagai, AE = 0B/0C 
dimana mempunyai sebuah interpretasi adanya peningkatan pendapatan ( a increasing 
revenue interpretation ), dimana pada contoh kasus pengukuran efisiensi berorientasi 
input, serupa dengan interpretasi adanya pengurangan biaya (cost reducing) dalam 
kondisi ketidakefisienan yang bersifat alokatif.

Lebih lanjut dapat didefinisikan efisiensi ekonomi secara keseluruhan (overall 
economic efficiency) sebagai hasil dari dua pengukuran efisiensi teknis dan efisiensi 
alokatif.

EE= (0A/0C) = (0A/0B) x (0B/0C) = TE x AE



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  185

METODE

Sumber data dalam Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu 
diperoleh dari laporan keuangan per semester BUK dan BUS publikasi bank yang 
bersangkutan dan/ atau dari Bank Indonesia pada periode 2010-2012.

Adapun data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk Data Enveloptment Analysis adalah: total kredit, laba operasional lainnya, 

total  Dana Pihak Ketiga, harta tetap, biaya tenaga kerja sebagai proksi dari 
jumlah tenaga kerja yang diperoleh dari Laporan Keuangan Neraca dan Laba / 
Rugi BUK dan total pembiayaan dari neraca dalam laporan keuangan BUS yang 
bersangkutan selama periode pengamatan.

b. Untuk Profitabilitas adalah CAR, LDR/FDR,BOPO, NPL/ NPF sebagai variable 
independent dan ROA serta ROE sebagai variable dependent.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan 
menggunakan metode dokumentasi, yaitu metode yang menghimpun informasi 
dan data melalui metode studi pustaka, eksplorasi literatur-literatur dan laporan 
keuangan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia atau BUK dan BUS yang 
bersangkutan. Alat analisa untuk efisiensi yang digunkan adalah Non parametric 
DEA dengan pendekatan intermediasi. Untuk profitabilitas alat analisanya Regresi 
Panel.

Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan metodologi untuk menganalisis 
tingkat efisiensi relatif dan kinerja manajerial produktif atau unit pengambilan 
keputusan (decision making units (DMU). Teknik analisis DEA membolehkan 
kita untuk membandingkan tingkat efisiensi relatif dari bank dengan pertama 
kali menenentukan tingkat efisiensi bank sebagai acuan dan kemudian mengukur 
inefisiensi dari kombinasi masukan atas bank lain secara relatif pada bank yang 
menjadi acuan (Jemrić dan Vujčić, 2002).

Teknik analisis DEA merupakan pendekatan alternatif atas analisis regresi. 
Ketika analisis regresi berdasarkan pada ukuran pemusatan, maka teknik DEA 
berbasis pada observasi eksternal. Kemudian teknik DEA menggunakan dan 
menganalisis tiap vektor (DMU) secara terpisah untuk memproduksi pengukuran 
efisensi individual secara relatif pada seluruh himpunan yang sedang dilakukan 
evaluasi (Jemrić dan Vujčić, 2002). 

Dari himpunan data yang tersedia, teknik DEA mengidentifikasi titik referensi 
(efisiensi relatif terhadap DMUs), kemudian menetapkan batasan efisiensi sebagai 
praktik terbaik dalam teknologi produksi, dan terakhir mengevaluasi inefisiensi pada 
titik interior yang lain. Seluruh DMUs yang mengalami inefisiensi akan berada pada 
batasan efisiensi tersebut.



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 186

PEMBAHASAN

Hasil olahan DEA

Hasil perhitungan analisis DEA menunjukkan untuk tahun 2010 menun-
jukkan dari total 10 Bank Konvesional terbesar di Indonesia yang dijadikan sampel, 
seluruh bank sudah mencapai tingkat efisiensi yang optimal 100%, kecuali bank 
Mandiri dimana bank tersebut baru mencapai tingkat efisiensi sebesar 98,39%. Ha-
sil Perhitungan analisis DEA tahun 2011 menunjukkan terjadi penurunan jum-
lah bank Konvensional yang sudah mencapai tingkat efisiensi yang optimal 100% 
dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2011 jumlah bank yang mencapai tingkat 
efisiensi 100% turun menjadi 7 Bank dimana tahun sebelumnya 2010 sebanyak 9 
bank. Bank yang mengalami penurunan tingkat efisiensi adalah BRI, dimana pada 
tahun 2011 tingkat efisiensi turun menjadi 98,07%, BCA turun menjadi 88,54% 
dan BNI turun menjadi 78,68%. Hasil perhitungan analisis DEA tahun 2012  
menunjukkan hasil yang membaik, dimana pada tahun ini bank yang memiliki 
tingkat efisiensi optimal 100% sebanyak 8 bank, selain itu terjadi peningkatan ting-
kat efisiensi pada bank BNI dengan tingkat efisiensi sebesar 90,76% namun pada 
bank BII terjadi penurunan tingkat efisiensi dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 
menjadi 98,37%.

Tabel 2. Kinerja Efisiensi DEA Masing-Masing Bank Konvensional          
2010-2012

No UKE Bank 
Efisiensi (%)

2010 2011 2012
1 UKE1 Mandiri 98,39 100 100
2 UKE2 BRI 100 98,07 100
3 UKE3 BCA 100 88,54 100
4 UKE4 BNI 100 78,68 90,76
5 UKE5 CIMB Niaga 100 100 100
6 UKE6 Danamon 100 100 100
7 UKE7 Panin 100 100 100
8 UKE8 Permata 100 100 100
9 UKE9 BII 100 100 98,37

10 UKE10 BTN 100 100 100
Sumber: Data Diolah DEA

Hasil perhitungan analisis DEA menunjukkan untuk tahun 2010 menunjuk-
kan dari total 10 Bank Syariah terbesar di Indonesia yang dijadikan sampel, hanya 
6 bank yang sudah mencapai tingkat efisiensi yang optimal 100%, yaitu Bank Sya-
riah Mandiri, Bank Muamalat, BNI Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, MayBank 



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  187

Syariah dan BCA Syariah. Hasil Perhitungan analisis DEA tahun 2011 menunjuk-
kan terjadi penurunan jumlah bank Syariah  yang sudah mencapai tingkat efisiensi 
yang optimal 100% dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2011 jumlah bank yang 
mencapai tingkat efisiensi 100% turun menjadi 3 Bank, dimana tahun sebelumnya 
2010 sebanyak 6 bank. Bank yang mengalami penurunan tingkat efisiensi adalah 
Bank Syariah Mandiri pada tahun 2011 tingkat efisiensi turun menjadi 95,06%, 
Bank Muamalat turun menjadi 87,85% dan BCA Syariah turun menjadi 53,14%. 
Hasil perhitungan analisis DEA tahun 2012  menunjukkan hasil yang tidak be-
gitu membaik, dimana pada tahun ini bank yang memiliki tingkat efisiensi optimal 
100% sebanyak 4 bank. Dimana terjadi peningkatan tingkat efisiensi yang optimal 
pada bank Panin Syariah dimana pada tahun 2011 tingkat efisiensi sebesar 73,08 
persen.

  
Tabel 3. Kinerja Efisiensi DEA Masing-Masing Bank Syariah 2010-2012

No UKE Bank 
Efisiensi (%)

2010 2011 2012
1 UKE1 Syariah Mandiri 100 95,06 100
2 UKE2 Muamalat 100 87,85 83,53
3 UKE3 BRI Syariah 49,14 49,32 67,94
4 UKE4 BNI Syariah 100 100 100
5 UKE5 Mega Syariah 78,99 49,23 51,35
6 UKE6 Bukopin Syariah 73,57 72,56 76,73
7 UKE7 Jabar Banten Syariah 100 100 55,17
8 UKE8 MayBank Syariah 100 100 100
9 UKE9 Panin Syariah 63,22 73,08 100

10 UKE10 BCA Syariah 100 53,14 82,56
Sumber: Data Diolah DEA

 
Analisis Regresi Panel Bank Konvensional

Tabel 4. Perbandingan Hasil Estimasi Model ROA Konvesional

Variabel
Common Effect Fixed Effect Random Effect

Koefisien Koefisien Koefisien
C 9.433495 *** 6.072304 *** 6.630112 ***

CAR 0.024302 0.095944 * 0.092509 *
LDR -0.002534 -0.018431 -0.012937
NPL -0.013858 -0.265993 ** -0.184432 *

BOPO -0.089267 *** -0.032456 ** -0.048153 ***



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 188

R2 0.566935 0.856409 0.364764
Adjusted R2 0.535440 0.815829 0.318565
F-Statistik 18.00045 *** 21.10414 *** 7.895506 ***

Sumber: data diolah dengan Eviews 7.0

Pada kelompok konevensional dengan model ROA, terlihat pada tabel 5 
dengan melakukan pengujian menggunakan Chow Test dimana hipotesa nol (H0) 
adalah model common effect diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 
0,0000 < 0,05. Dengan demikian hipotesa nol (H0) ditolak, sehingga model yang 
lebih baik digunakan adalah estimasi dengan individual effect (fixed effect), maka 
pengujian selanjutnya adalah membandingkan fixed effect dengan random effect 
dimana pengujian menggunakan Hausman test. Dengan melakukan pengujian 
menggunakan Hausman Test dimana hipotesa nol (H0) adalah model random  
effect diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 0,00136 < 0,05. Dengan 
demikian hipotesa nol (H0) ditolak, sehingga model yang lebih baik digunakan 
adalah estimasi dengan fixed effect.

Berdasarkan hasil uji pengaruh diketahui bahwa pada kelompok konvension-
al, faktor yang mampu mempengaruhi kinerja 10 BUK terbesar di Indonesia adalah 
NPL dan BOPO, dimana kedua variable ini memberikan pengaruh yang negatif 
dan signifikan terhadap kinerja BUK terbesar di Indonesia. 

Tabel 5. Hasil Estimasi Metode Fixed Effect Model ROA Konvensional

Variabel Dependent:
ROA

Variabel Independent Koefisien Std. Error Probabilita

C 6.072304 1.800704 0.0015

CAR 0.095944 0.050547 0.0640
LDR -0.018431 0.015004 0.2255
NPL -0.265993 0.124478 0.0380
BOPO -0.032456 0.012965 0.0159
R-squared 0.856409
Adjusted R-squared 0.815829
F-stat 21.10414
Prob F-stat 0.000000

Sumber: data diolah, Eviews 7.0 



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  189

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gelos 
(2006) dalam Ahmad Buyung Nusantara, dalam penelitiannya menguji pengaruh 
NPL terhadap ROA bank dimana hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sig-
nifikan negatif berpengaruh terhadap kinerja bank artinya besarnya risiko kredit 
bank mempengaruhi kinerja bank. Serta penelitian yang dilakukan oleh Suyono 
(2005) dalam Ahmad Buyung Nusantara, dalam penelitiannya yang menguji pen-
garuh BOPO terhadap ROA pada bank umum di Indonesia periode tahun 2001-
2003, menunjukkan bahwa BOPO mempunyai pengaruh yang negatif terhadap 
ROA. Hasil yang didapat dalam penelitian ini didukung atau sesuai dengan pene-
litian yang dilakukan oleh Muh. Sabir. M, Muhammad Ali, Abd. Hamid Habbe 
dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh rasio kesehatan bank terhadap kinerja 
keuangan bank umum syariah dan bank konvensional di Indonesia, penelitian yang 
dilakukan oleh Yuliani dengan judul Hubungan efisiensi operasional dengan kinerja 
profitabilitas pada sektor perbankan yang go publik di bursa efek Jakarta.

Tabel 6. Perbandingan Hasil Estimasi Model ROE Konvesional

Variabel
Common Effect Fixed Effect Random Effect

Koefisien Koefisien Koefisien
C 84.74322 *** 49.58176 *** 53.24512 ***
CAR -0.756543 -0.337394 -0.340556
LDR -0.168385 ** -0.155876 ** -0.175577 **
NPL 0.417745 -0.196142 -0.196549
BOPO -0.507891 *** -0.117317 * -0.143405 **
R2 0.498842 0.934987 0.211929
Adjusted R2 0.462394 0.916614 0.154614
F-Statistik 13.68643 *** 50.88849 *** 3.697657 ***

Sumber: data diolah dengan Eviews 7.0

Dengan melakukan pengujian menggunakan Chow Test dimana hipotesa nol 
(H0) adalah model common effect diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 
0,0000 < 0,05. Dengan demikian hipotesa nol (H0) ditolak, sehingga model yang 
lebih baik digunakan adalah estimasi dengan individual effect (fixed effect), maka 
pengujian selanjutnya adalah membandingkan fixed effect dengan random effect 
dimana pengujian menggunakan Hausman test. Dengan melakukan pengujian 
menggunakan Hausman Test dimana hipotesa nol (H0) adalah model random  effect 
diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 0,3764 > 0,05. Dengan demikian 



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 190

hipotesa nol (H0) gagal ditolak, sehingga model yang lebih baik digunakan untuk 
persamaan ROE adalah estimasi dengan random effect.

Tabel 7. Hasil Estimasi Metode Random  Effect Model ROE Konvensional
Variabel Dependent: 

ROE
Variabel Independent Koefisien Std. Error Probabilita

C 53.24512 8.395944 0.0000

CAR -0.340556 0.244282 0.1689
LDR -0.175577 0.066608 0.0109
NPL -0.196549 0.590881 0.7407
BOPO -0.143405 0.061741 0.0239
R-squared 0.211929
Adjusted R-squared 0.154614
F-stat 3.697657
Prob F-stat 0.000002

Sumber: data diolah, Eviews 7.0 

Pada model ROE, variable yang memiliki pengaruh signifikan adalah BOPO, 
dmana pengaruh yang diberikan BOPO terhadap kinerja BUK terbesar di Indonesia 
yang diukur oleh ROE adalah negatif. Sedangkan ketiga variabel lainnya yaitu CAR, 
LDR dan NPL tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja BUK 
yang diukur oleh ROE.
Regresi Panel Bank Syariah

Tabel 8. Perbandingan Hasil Estimasi Model ROA Syariah

Variabel
Common Effect Fixed Effect Random Effect

Koefisien Koefisien Koefisien
C 2.100982 ** 3.185110 *** 2.536657 ***
CAR -0.002755 -0.019558 ** -0.010192
LDR 0.013372 ** 0.006289 0.010764 **
NPL 0.177934 0.023117 0.049388
BOPO -0.026065 *** -0.020243 *** -0.022203 ***
R2 0.537893 0.745938 0.483223
Adjusted R2 0.504286 0.674138 0.445639
F-Statistik 16.00503 *** 10.38911 *** 12.85723 ***

Sumber: data diolah dengan Eviews 7.0



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  191

Dengan melakukan pengujian menggunakan Chow Test dimana hipotesa 
nol (H0) adalah model common effect diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square 
sebesar 0,000 < 0,05. Dengan demikian hipotesa nol (H0) ditolak, sehingga model 
yang lebih baik digunakan adalah estimasi dengan individual effect (fixed effect), 
maka pengujian selanjutnya adalah membandingkan fixed effect dengan random 
effect dimana pengujian menggunakan Hausman test. Dengan melakukan pengujian 
menggunakan Hausman Test dimana hipotesa nol (H0) adalah model random  effect 
diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 0,2647 > 0,05. Dengan demikian 
hipotesa nol (H0) gagal ditolak, sehingga model yang lebih baik digunakan adalah 
estimasi dengan random effect.

Pada kelompok BUS, pada model ROA variable yang mampu mempengaruhi 
kinerja 10 BUS terbesar di Indonesia adalah variable LDR dan BOPO. Pengaruh 
yang diberikan LDR adalah positif signifikan artinya semakin tinggi LDR dari BUS 
maka semakin tinggi juga kinerja BUS yang diukur oleh ROA. Hasil penelitian ini 
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Restiyana dan M. Kholiq Mahfud, 
analisis pengaruh car, npl, bopo, ldr, dan nim terhadap profitabilitas perbankan 
(Studi pada bank umum di Indonesia periode 2006-2010) dan sesuai dengan dua 
penelitian yang sudah disebutkan diatas. Selain LDR, BOPO merupakan variable 
yang mampu mempengaruhi kinerja ROA, pengaruh yang diberikan oleh BOPO 
adalah negatif. Hasil ini sesuai dengan hasil pada model ROA di kelompok konven-
sional.

Dengan melakukan pengujian menggunakan Chow Test dimana hipotesa nol 
(H0) adalah model common effect diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 
0,0000 < 0,05. Dengan demikian hipotesa nol (H0) ditolak, sehingga model yang 
lebih baik digunakan adalah estimasi dengan individual effect (fixed effect), maka 
pengujian selanjutnya adalah membandingkan fixed effect dengan random effect 
dimana pengujian menggunakan Hausman test. Dengan melakukan pengujian 
menggunakan Hausman Test dimana hipotesa nol (H0) adalah model random  effect 
diperoleh nilai Probabilitas dari Chi square sebesar 0,0858 > 0,05. Dengan demikian 
hipotesa nol (H0) gagal ditolak, sehingga model yang lebih baik digunakan adalah 
estimasi dengan random effect.



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 192

Tabel 9. Perbandingan Hasil Estimasi Model ROE Syariah

Variabel
Common Effect Fixed Effect Random Effect

Koefisien Koefisien Koefisien
C 61.50642 *** 46.33671 *** 48.69024 ***
CAR -0.175144 0.009845 -0.037361
LDR -0.111117 -0.038292 -0.056437
NPL 2.539842 -2.176921 * -1.522937
BOPO -0.388296 *** -0.262667 *** -0.265766 ***
R2 0.455978 0.922254 0.567918
Adjusted R2 0.416412 0.900283 0.536494

F-Statistik 11.52469 *** 41.97481 *** 18.07267 ***
Sumber: data diolah dengan Eviews 7.0

Hasil yang sama juga terjadi pada model ROE, dimana BOPO mampu mem-
pengaruhi ROE 10 BUS terbesar di Indonesia, artinya semakin tinggi BOPO 10 
BUS terbesar di Indonesia maka semakin rendah kinerja BUS tersebut yang diukur 
oleh ROE. Adapun keterbatasan dari penelitian ini:
1. Dengan menggunakan metode DEA nonparametrik dengan pendekatan  

intermediasi, sedangkan 2 (dua) pendekatan lainnya yaitu pendekatan produksi 
dan total asset tidak kami bahas.

2. Pembahasan efisiensi dapat dilihat dari sisi input mapun dari sisi output, 
pembahasan dalam penelitian  ini hanya dari sisi input.

3. Periode sampelnya hanya 3 (tiga) tahun yaitu tahun 2010, 2011 dan tahun 
2012.

4. Individu obyek penelitian berupa 10 (sepuluh) BUK dan BUS terbesar.

SIMPULAN

Hasil olahan DEA diketahui bahwa rata-rata efisiensi BUK lebih baik diband-
ingkan BUS. Hal ini dengan ulasan pada bagian latar belakang sudah diberikan 
penjelasan bahwa berdasarkan analisa efisiensi teknis yaitu perbandingan ratio-ratio 
keuangannya kinerja BUK lebih baik dibandingkan BUS. Hal ini dikarenakan BUK 
sudah beroperasi cukup lama dibandingkan dengan BUS, di samping itu terda-
pat perbedaan operasional antara BUK dan BUS, salah satu perbedaan yang cukup 
mencolok adalah pada sistem bagi hasil  pada BUS tidak dapat diprediksi di awal 
karena berdasarkan realisasi hasil usaha yang ada. Sementara sistem bunga langsung 
ditentukan di muka. Kemudian pada produk murabahah margin sudah ditentu-



Abdul Wahab: Komparasi Efisiensi Teknis Bank Umum Konvensional  193

kan sampai dengan jatuh tempo walaupun terhadap kredit jangka panjang seperti 
KPR dengan jangka waktu rata-rata di atas 10 (sepuluh) tahun. Penetapan fix rate 
atas margin keuntungan maka ditambahkan premium risk sehingga menghasilkan 
pricing yang lebih tinggi dibandingkan BUK, hal ini menyebabkan BUS tidak bisa 
bersaing dengan BUK.

BOPO Berpengaruh negatif dan siginifikan baik terhadap ROA maupun 
ROE, bagi BUK maupun BUK. NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA 
BUK. LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROE BUK tetapi berpengaruh 
positif signifikan terhadap ROA BUS. Bagi BUK dan BUS yang belum efisien, 
untuk memperoleh efifiensi yang optimal, agar mengurangi  pemborosan dalam 
penggunaan varibel  inputnya DPK, BTK  dan aktiva tetap atau pemanfaatannya 
dioptimalkan lagi. Bagi BUS yang tidak efisien pada varibel input DPK, agar lebih 
berani mengambil risiko dalam pengerahan DPK, sehingga lebih banyak penerimaan 
dana mudharabahnya yang mutlaqoh sehingga dapat diperoleh keuntungan yang 
lebih tinggi dibandingkan mudharabah muqoyyadah.

Bagi BUK dan BUS yang sudah efisien, agar mempertahankan kinerjanya  
dengan meminimalkan variabel input sekaligus meningkat variabel output sehingga 
terjadi produktivitas, namun dengan tetap memperhatikan kewajaran terutama 
berkaitan dengan variabel input biaya tenaga kerja. Bagi Regulator Bank Indonesia 
dan OJK, agar membuat aturan-aturan yang mendukung pengembangan industri 
keuangan terutama keuangan syariah terutama di bidang perbankan. Karena 
Keuangan Perbankan Syariah, adalah industri yang baru tumbuh di  Negara RI 
yang mayoritas beragama islam mempunyai potensi yang sangat besar.

Bagi MUI/ DSN agar mengawal pertumbuhan lembaga keuangan syariah 
terutama di bidang perbankan agar tetap dalam koridor syar’i, sekaligus membuat 
aturan-aturan yang diperlukan untuk pengembangan produk maupun aturan 
operasional  lainnya yang diperlukan. Bagi Lembaga pendidikan agar memperkuat 
bidang riset berkolaborasi dengan praktisi/ pelaku ekonomi terutama dengan 
Lembaga Perbankan maupun dengan otoritas Monener seperti Bank Indonesia dan 
OJK/ Kementrian Keuangan sehingga dapat mendukung pengembangan lembaga 
keuangan, lembaga keuangan menjadi semakin sehat dan berkembang tentu efek 
penggandanya akan mengembangkan perekonomian Negara  secara keseluruhan.

PUSTAKA ACUAN

Abidin, Z. 2007. Kinerja Efisiensi pada Bank Umum Periode 2002-2005. Proceeding 
PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek, Sipil) Vol.2. Auditorium 
Kampus Gunadharma, 21-22 Agustus 2007. 



Al-Iqtishad: Vol. VI No. 2, Juli 2014 194

Amirillah, M.A. 2010. Efisiensi Perbankan Syariah di Indonesia Tahun 2005-2009 
(Tesis). Semarang: Universitas Diponegoro. 

Antonio, M. S. 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktek. Depok: Gema Insani 
Press.

Arifin, Z. 2009. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Jakarta: Azkia Publisher. 
Arslan, B. G & E.H. Ergec. 2010. The Efficiency of Participation and Conventional 

Banks in Turkey: Using Data Envelopment Analysis. International Research 
Journal of Finance and Economics Issue 57.

Bachruddin. 2006. Pengukuran Tingkat Efisiensi Bank Syariah dan Bank Konvensional 
di Indonesia dengan Formula David Cole’s ROE for Bank. Jurnal Siasat Bisnis 
Vol. 11 No. 1, April 2006: hlm. 67-80.

Efendic, V. 2011. Efficiency of the Banking Sector Of Bosnia–Herzegovina with Special 
Reference to Relative Efficiency of the Existing Islamic Bank. Paper presented in 
8th International Conference on Islamic Economics and Finance. 

Iqbal, Z. & A. Mirakhor. 2008. Pengantar Keuangan Islam Teori dan Praktek.  
Jakarta: Kencana.

Jemrić, I & B. Vujčić. 2002. Efficiency of Banks in Croatia: A DEA Approach, Croatian 
National Bank, Working Paper, 7 Pebruari 2002.

Komaryatin, N. 2006. Analisis Efisiensi Teknis Industri BPR di Eks Karesidenan Pati 
(tesis). Semarang: Universitas Diponegoro.

Prastowo, Dwi dan Rifka Yuliaty. 2005. Analisa Laporan Keuangan Konsep dan 
Aplikasi.  Yogyakarta: AMP YKPN.

Prasetyia, F. & K. Diendtara. 2011. Pengukuran Efisiensi Perbankan Syariah Berbasis 
Manajemen Risiko. Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 15, No. 1, hlm. 
119-129, 2011.

Purwanto, R. 2011. Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Umum Konvensional 
(BUK) dan Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan Metode Data 
Envelopment  Analysis (DEA) (Periode 2006-2010) (Skripsi). Semarang: 
Universitas Diponegoro.

Rahmawati, R. & M. N. Hosen. 2012. Efficiency of Fund Management of Sharia 
Banking in Indonesia (Based on Parametric Approach). International Journal of 
Academic Research in Economics and Management Sciences, Vol. 1, No.2,  
hlm: 144-157.

Rosyadi, I. & Fauzan. 2011. Komparatif Efisiensi Perbankan Syariah dan Perbankan  
Konvensional di Indonesia. Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume 15, Nomor 
2, Desember 2011: hlm. 129-147. 


