









































59 
 

PENGARUH DANA INVESTASI MELALUI INSTRUMEN SUN DAN SBSN  
TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA  

Tya Ryandini1 
 

 
Abstract. The Influence of Investment Fund Through National Bond (SUN) and 
National Sukuk (SBSN) To Economic Growth in Indonesia. The aims of this 
research  is to analyze the short term and long term influence of investment fund 
through National Bond (SUN) and National Sukuk (SBSN) to economic growth in 
Indonesia in the year of 2008 – 2012.The methode which used in this research is 
Error Correction Model. The result shows that economic development is positively 
influenced by National Bond in short term and long term. But, it negatively 
influenced by the National Sukuk both in short term and long term. 
Keywords: National Bond, National Sukuk, Economic Growth of Indonesia, Error 

Correction Model. 
 

Abstrak. Pengaruh Dana Investasi Melalui Instrumen SUN dan SBSN Terhadap 
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 
pengaruh dana investasi melalui instrumen Surat Utang Negara (SUN) dan Surat 
Berharga Syariah Negara (SBSN) terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia 
Periode 2008-2012 dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Metode yang 
digunakan dalam penelitian ini adalah Error Correction Model (ECM). Hasil analisis 
menunjukkan bahwa variabel Surat Utang Negara (SUN) berpengaruh positif 
terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dalam jangka pendek maupun jangka 
panjang. Sedangkan variabel Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) memiliki 
pengaruh negatif terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dalam jangka pendek 
maupun jangka panjang. 
Kata Kunci: Surat Utang Negara (SUN), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), 
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (PDB), Error Correction Model (ECM) 
 
 

 
 

 

                                                           
1 Naskah diterima: 12 Oktober 2013, direvisi: 12 Nopember 2013, disetujui: 20 Nopember 2013 
DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), JL. Dr. Wahidin No. 1, Senen, Jakarta Pusat. Email: 
tyaryandini@yahoo.com 
 

mailto:tyaryandini@yahoo.com


60 
 

PENDAHULUAN 
Dalam suatu perekonomian, pemerintah memiliki peran yang sangat 

penting. Beberapa tujuan penting dari kegiatan pemerintah adalah mengatasi 
masalah pengangguran, menghindari inflasi, dan mempercepat pembangunan 
ekonomi dalam jangka panjang. Usaha seperti itu membutuhkan banyak uang, dan 
pendapatan dari pajak saja tidak cukup untuk membiayainya. Maka, untuk 
memperoleh dana yang diperlukan, pemerintah dapat meminjam atau mencetak 
uang (Sukirno, 2004). Pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih pesat salah 
satunya dengan meningkatkan efisiensi penanaman modal (investasi) yang 
dijalankan. Pertumbuhan ekonomi suatu negara baru dimungkinkan jika investasi 
neto lebih besar daripada nol (Rahardja dan Manurung, 2008). Peningkatan 
investasi akan memberikan dampak signifikan bagi perkembangan dan 
pertumbuhan ekonomi negara (Subagyo, 2007). 

Dalam rangka meningkatkan nilai investasi di Indonesia, pada umumnya 
pemerintah akan mengeluarkan berbagai instrumen atau surat berharga. 
Instrumen tersebut akan membantu pemerintah dalam membiayai pembangunan 
negara melalui APBN. Dalam UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN tahun 2012, 
APBN dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan 
itu, belanja negara tahun 2012 sebesar Rp 1.435,4 triliun terdiri dari belanja pusat 
sebesar Rp 965 triliun dan belanja daerah sebesar Rp 470,4 triliun. Penerbitan SBN 
pada tahun 2012 meningkat dari tahun sebelumnya menjadi sebesar Rp 270.419 
miliar. Kebijakan investasi yang dilakukan pemerintah untuk mendukung 
pertumbuhan ekonomi berupa penerbitan Surat Berharga Negara terdiri dari 
penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).  

Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban Pengelolaan SBN Tahun 2011 
yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, 
total nilai net nominal ON yang diterbitkan pada tahun 2011 sebesar Rp 110,514 
triliun. Di samping menerbitkan ON dalam denominasi Rupiah, pemerintah 
Indonesia juga melakukan penerbitan International Bonds dengan total dana 
mencapai US$ 2,5 miliar atau setara dengan Rp 21,44 triliun. Kebijakan investasi 
yang dapat dilakukan pemerintah selain menerbitkan Surat Perbendaharaan 
Negara (SPN) dan Obligasi Negara ialah dengan menerbitkan Surat Berharga 
Syariah Negara (SBSN). Seiring dengan sosialisasi di beberapa wilayah Indonesia, 
persentase peningkatan sukuk cukup pesat yakni 15 persen per tahun 2011. 
Peningkatan sukuk negara pada tahun 2011 diperkirakan mencapai sekitar Rp 38 
Triliun (Hasan, 2012). 

Di tengah kondisi perekonomian dunia yang melambat, pertumbuhan 
ekonomi Indonesia cenderung stabil. Berdasarkan data World Economic Outlook 
yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF) pada Oktober 2012, 
pertumbuhan ekonomi dunia dinilai mencapai 3,3 persen. Pada tahun yang sama, 
berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia 
mengalami pertumbuhan sebesar 6,3 persen. Menurut Menteri Keuangan RI Agus 
Martowardojo, hal ini menjadikan Indonesia menempati posisi sebagai negara 
dengan perekonomian terbaik kedua di dunia setelah China yang mencapai 
pertumbuhan ekonomi sebesar 7,8 persen. (Jawa Pos National Network, 2013) 

Berdasarkan pemaparan tentang meningkatnya penghimpunan dana 
investasi dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah 



61 
 

Negara (SBSN) serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai stabil, peneliti 
tertarik untuk mengadakan penelitian yang membahas tentang “Pengaruh Dana 
Investasi Melalui Instrumen SUN dan SBSN terhadap Pertumbuhan Ekonomi 
Indonesia”. 
TINJAUAN PUSTAKA 

Pertumbuhan ekonomi merupakan perubahan kondisi perekonomian suatu 
negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode 
tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan 
kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan 
pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi 
keberhasilan pembangunan ekonomi. 

Infrastruktur, barang-barang modal dan kemajuan teknologi dalam suatu 
negara menjadi salah satu faktor penunjang bagi tumbuhnya perekonomian. 
Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan faktor penunjang, pemerintah tentu 
membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana tersebut dapat diraih pemerintah 
dengan kegiatan penghimpunan dana investasi melalui instrumen pembiayaan 
seperti Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).   

Surat Utang Negara (SUN) diterbitkan dengan tujuan untuk membiayai 
defisit APBN. Dana yang berhasil dihimpun dari penerbitan SUN akan 
mempengaruhi belanja pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dan barang 
modal sehingga mampu meningkatkan produktivitas perekonomian. Surat Utang 
Negara (SUN) terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan Obligasi 
Negara. SPN berjangka waktu sampai dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga 
secara diskonto, sedangkan Obligasi Negara berjangka waktu lebih dari 12 bulan 
dengan kupon dan/atau pembayaran bunga secara diskonto. 

Tujuan penerbitan Surat Berharga Syariah Negara salah satunya ialah untuk 
membiayai proyek yang diselenggarakan pemerintah. Berbeda dengan SUN, pada 
SBSN terdapat underlying asset yang dapat dijadikan jaminan. Pada 
pelaksanaannya, SBSN yang sering juga disebut dengan Sukuk Negara 
menggunakan beberapa akad yang sesuai dengan syariah, seperti mudharabah, 
musyarakah, murabahah, salam, istishna’ dan ijarah. Dengan tambahan danayang 
berasal dari instrumen SBSN, pemerintah mampu menambah modal yang 
digunakan untuk mendanai proyek tertentu sehingga dapat berpengaruh pada 
pertumbuhan ekonomi.  
METODE  

 Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis 
model koreksi kesalahan (Error Correction Model). Salah satu asumsi dalam 
analisis statistika adalah data berdistribusi normal. Eviews menggunakan dua cara 
untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal, yakni dengan histogram dan 
uji Jarque – Bera. 

 Uji Linieritas adalah pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah 
spesifikasi model yang digunakan sudah benar atau tidak. Untuk mendeteksi 
penghapusan variabel-variabel dan atau pilihan bentuk fungsional yang tak cocok, 
Ramsey telah mengembangkan sebuah uji umum untuk kesalahan spesifikasi 
model (Gujarari, 2007). Sebelum melakukan analisis, harus diketahui terlebih 
dahulu apakah data runtut waktu yang digunakan sudah stasioner. Untuk menguji 
stasioneritas data, dapat digunakan uji akar unit (Unit Root Test) yang 



62 
 

dikembangkan oleh Dickey-Fuller. Dalam penelitian ini, pengujian data dilakukan 
dengan uji Augmented Dickey-Fuller. 

 Data yang tidak stasioner bila diregresi akan mudah menyebabkan regresi 
lancung. Data dikatakan stasioner bila memenuhi syarat berikut: pertama, rata-
rata dan variannya konstan sepanjang waktu; Kedua, kovarian antara dua data 
runtut waktu tergantung pada kelambanan antara dua periode tersebut. Oleh 
karenanya, data yang tidak stasioner harus distasionerkan terlebih dahulu 
(Winarno, 2009). Uji derajat integrasi juga dilakukan dengan menggunakan Uji 
Augmented Dickey-Fuller. Selanjutnya dilakukan uji kointegrasi. Terdapat tiga cara 
untuk menguji kointegrasi, yaitu: pertama, uji kointegrasi Engle-Granger (EG), 
kedua, uji Cointegrating Regression Durbin Watson (CRDW), dan ketiga, uji 
Johansen (Winarno, 2009). Pada penelitian ini, uji kointegrasi dilakukan dengan uji 
Johansen. 

 Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah model estimasi telah 
memenuhi kriteria ekonometrika, dalam arti tidak terjadi penyimpangan yang 
cukup serius dari asumsi-asumsi yang harus dipenuhi dalam metode Ordinary 
Least Square (OLS). Dalam regresi linear berganda akan dijumpai berbagai 
permasalahan, seperti multikolinieritas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi 
(Nachrowi dan Usman, 2008). Uji asumsi klasik dilakukan untuk melihat apakah 
terdapat permasalahan tersebut dalam model regresi linier ganda, sehingga model 
tersebut memenuhi kriteria BLUE (Best Linier Unbiased Estimator). 

 Penelitian dengan ECM ini digunakan untuk melihat pengaruh jangka 
pendek dan jangka panjang antara variabel independen terhadap variabel 
dependen. Hubungan pertumbuhan ekonomi dan faktor-faktor yang 
mempengaruhi dapat diformulasikan sebagai berikut: 

PDBt  = f (SUNt, SBSNt) 
Model ECM pada penelitian ini ialah sebagai berikut: 
DLnPDBt = β0 + β1 DLnSUNt +  β2 DLnSBSNt +  β3LnSUNt-1  +   
 β4LnSBSNt-1 + β5 ECT 
Dengan: 
β0 = Konstanta 
β1 – β4 = Koefisien Regresi 
β5 = Koefisien ECT 
DLnPDBt = Perubahan PDB periode t 
DLnSUNt = Total Penghimpunan Dana Investasi SUN (jangka pendek) 
DLnSBSNt = Total Penghimpunan Dana Investasi SBSN (jangka pendek) 
LnSUNt-1 = Total Penghimpunan Dana Investasi SUN (jangka panjang) 
LnSBSNt-1 = Total Penghimpunan Dana Investasi SBSN (jangka 

panjang) 
ECT = Error Correction Term 

PEMBAHASAN 
 Utang merupakan bagian dari kebijakan fiskal dalam perekonomian yang 

bertujuan untuk memberikan kemakmuran dan menciptakan kenyamanan serta 
keamanan bagi penduduk suatu negara.Berdasarkan data dari Government Debt 
Profile edisi April 2013 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan 
Utang Kementerian Keuangan, nominal utang pemerintah meningkat dari Rp 
1.636,74 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 1.975,42 triliun pada tahun 2012. 



63 
 

Total utang pemerintah didominasi oleh diterbitkannya Surat Berharga Negara 
(SBN) yang dananya berasal dari masyarakat 

 
Tabel 1 PerkembanganUtangPemerintah 

 2008 2009 2010 2011 2012 
Outs % Outs % Outs % Outs % Outs % 

 
SBN 

 
906.50 

 
55 

 
979.46 

 
62 

 
1064.41 

 
63 

 
1187.66 

 
66 

 
1361.10 

 
69 

Denominasi 
Rupiah 

 
783.86  

 
836.31   

902.43  
 

992.03   
1096.19  

Denominasi 
Valas 

 
122.64  

 
143.15   

161.98  
 

195.63   
264.91  

 
Pinjaman 

 
730.25 

 
45 

 
611.20 

 
38 

 
617.25 

 
37 

 
621.29 

 
34 

 
614.32 

 
31 

Denominasi 
Rupiah 

 
0.00  

 
0.00   

0.39   
1.01   

1.80  

Denominasi 
Valas 

 
730.25  

 
611.20   

616.86  
 

620.28   
612.52  

 
TotalUtang 1636.74 

 
100 

 
1590.66 

 
100 

 
1681.66 

 
100 

 
1808.95 

 
100 

 
1975.42 

 
100 

 
  Dalam rangka perluasan basis investor, diversifikasi sumber pembiayaan, 

dan pengembangan pasar keuangan dalam negeri, Pemerintah telah menerbitkan 
surat berharga berdasarkan prinsip syariah, atau dikenal secara internasional 
dengan istilah sukuk. Instrumen keuangan ini memiliki perbedaan pokok antara 
lain berupa penggunaan konsep imbalan dan bagi hasil sebagai pengganti bunga, 
adanya suatu transaksi pendukung (underlying transaction) berupa sejumlah 
tertentu aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk, serta adanya aqad atau 
perjanjian antara para pihak yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip syariah.  

  Berdasarkan data yang dihimpun, terlihat bahwa pada awal tahun 
penerbitannya (2008), SBSN di Indonesia mampu menghimpun dana investasi 
sebesar Rp 4.699.700.000.000. Penghimpunan dana investasi melalui penerbitan 
SBSN mengalami kenaikan setiap tahunnya hingga mencapai Rp 
57.088.810.000.000,- pada tahun 2012. 

 Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika 
jumlah produksi barang dan jasanya meningkat. Pertumbuhan ekonomi 
mengindikasikan bahwa suatu perekonomian memiliki faktor-faktor produksi 
yang bertambah, baik dalam jumlah maupun kualitasnya.Untuk mengukur 
pertumbuhan ekonomi suatu negara dari tahun ke tahun, nilai PDB yang 
digunakan adalah PDB berdasarkan harga konstan. 

 Angka PDB tertinggi terjadi pada kuartal ketiga tahun 2012 sebesar Rp 
671.780.800.000.000,-. Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2012 cenderung 
terus menurun dengan mencatat pertumbuhan sebesar 3,3% dibandingkan 



64 
 

dengan tahun sebelumnya sebesar 3,9%. Perekonomian Indonesia pada tahun 
2012 masih tumbuh cukup baik sebesar 6,23% meskipun masih lebih rendah dari 
tahun sebelumnya yakni 6,49%. Pertumbuhan ekonomi terutama masih ditopang 
oleh kuatnya konsumsi domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan 
investasi. 

Berikut adalah model persamaan ECM yang digunakan dalam penelitian ini: 
DLnPDBt = β0 + β1 DLnSUNt +  β2 DLnSBSNt +  β3LnSUNt-1  +  

β4LnSBSNt-1 + β5 ECT 
Hasil pengolahan data regresi linier ECM tersebut dengan menggunakan pengolah 
data Eviews 6.0 adalah sebagai berikut: 

Tabel 2. Uji Error Correction Model (ECM) 

     
     Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.   
     
     C -0.965691 0.403880 -2.391034 0.0405 

D(LNSUN) 0.033264 0.011361 2.927982 0.0168 
D(LNSBSN) -0.008050 0.003378 -2.382816 0.0410 
LNSUN(-1) 0.033344 0.016869 1.976605 0.0795 

LNSBSN(-1) -0.002109 0.006032 -0.349690 0.7346 
RESID01(-1) -0.111131 0.046250 -2.402834 0.0397 

     
     R-squared 0.808943     Mean dependent var 0.015072 

Adj R-squared 0.702801     S.D. dependent var 0.020884 
S.E. of regression 0.011385     Akaike info criterion -5.823822 
Sum squared resid 0.001167     Schwarz criterion -5.540602 
Log likelihood 49.67866     Hannan-Quinn criter. -5.826838 
F-statistic 7.621289     Durbin-Watson stat 3.235884 
Prob(F-statistic) 0.004672    

          Pada pengujian kointegrasi yang telah dilakukan, ditemukan bahwa data 
dalam penelitian ini memiliki hubungan keseimbangan jangka panjang antara 
variabel independen dengan variabel dependen. Walaupun terdapat keseimbangan 
jangka panjang, dalam jangka pendek mungkin saja terjadi ketidakseimbangan. 
Untuk menguji apakah variabel-variabel memiliki pengaruh dalam jangka pendek, 
maka dilakukan analisis dengan pendekatan Error Correction Model. 

Untuk menyatakan apakah model yang digunakan benar atau tidak, maka 
koefisien Error Correction Term harus signifikan. Nilai koefisien ECT pada tabel 
dapat dilihat pada nilai resid01(-1) sebesar 0,111131 yang berarti bahwa 
ketidaksesuaian pertumbuhan PDB aktual dengan PDB potensial akan dieliminasi 
atau dihilangkan dalam suatu periode penelitian sebesar 11,11%. Dapat dilihat 
bahwa nilai t-Statistic cukup tinggi yakni 2,402834 yang lebih tinggi dari 2 dan 
nilai probabilitas ECT sebesar 0,0397 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti ECT 
sudah signifikan pada tingkat kepercayaan α = 5% dan menunjukkan bahwa model 
dari pengujian ECM ini sudah valid. 

 
 



65 
 

Tabel 3 Koefisien ECM 

Variabel 
Coefficient 

Jangka Pendek Jangka Panjang 

Konstanta -0,965691 -0,965691 

Surat Utang Negara 
(SUN) 0,033264 0,033344 

Surat Berharga Syariah 
Negara (SBSN) -0,008050 -0,002109 

 
Berdasarkan tabel 3, maka hasil regresi ECM dalam jangka pendek dan 

jangka panjang ialah sebagai berikut: 
DLnPDBt = -0,965691 + 0,033264*DLnSUNt- 0,008050*DLnSBSNt +  

0,033344*LnSUNt-1  - 0,002109*LnSBSNt-1 -0.111131*ECT 
Keterangan: 

DLnPDBt = Perubahan PDB periode t 
DLnSUNt = Total Penghimpunan Dana Investasi SUN (jangka pendek) 
DLnSBSNt = Total Penghimpunan Dana Investasi SBSN (jangka pendek) 
LnSUNt-1 = Total Penghimpunan Dana Investasi SUN (jangka panjang) 
LnSBSNt-1 = Total Penghimpunan Dana Investasi SBSN (jangka 

panjang) 
ECT = Error Correction Term 

  Berdasarkan hasil di atas, dapat dilihat dari sisi kontanta, bahwa dalam 
jangka pendek maupun jangka panjang, nilai konstanta (-0,965691) menunjukkan 
apabila nilai variabel independen konstan, maka besarnya penerimaan PDB turun 
sebesar 0,96 persen. 
  Pengaruh Dana Investasi Melalui Instrumen Surat Utang Negara (SUN) 
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dapat dilihat secara jangka pendek 
maupun jangka panjang. Pertama, secara jangka pendek, DLnSUN menunjukkan 
nilai probabilitasnya sebesar 0,0168 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini 
menunjukkan bahwa variabel SUN memiliki hubungan yang signifikan pada 
tingkat kepercayaan α = 0,05 pada jangka pendek sebesar 0,033264. Realisasi 
penghimpunan dana dari penerbitan SUN berpengaruh signifikan dalam jangka 
pendek terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang 
dilakukan oleh Adrian Sutawijaya dan Zulfahmi bahwa investasi memiliki 
pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Peningkatan investasi 
akan meningkatkan kapasitas produksi yang pada akhirnya berujung pada 
pembukaan lapangan kerja baru yang pada tahap selanjutnya akan mendorong 
pertumbuhan ekonomi.  
  Kedua, secara jangka panjang, Pada LnSUN(-1) nilai koefisiennya sebesar 
0,033344 dan memiliki probabilitas sebesar 0,0795 yang lebih besar dari 0,05. Hal 
ini menunjukkan bahwa variabel SUN memiliki pengaruh positif yang tidak 
signifikan pada tingkat kepercayaan α = 0,05. Dapat diartikan bahwa dalam jangka 



66 
 

panjang, realisasi penerbitan SUN tidak berpengaruh secara signifikan terhadap 
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. 
  Pengaruh Dana Investasi Melalui Instrumen Surat Berharga Syariah Negara 
(SBSN) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dapat dilihat secara jangka pendek 
dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, dari tabel terlihat bahwa DLnSBSN 
memiliki nilai koefisien sebesar (-0,008050) dengan probabilitas 0.0410 yang 
lebih kecil dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa penghimpunan dana investasi 
melalui penerbitan SBSN memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap 
Pertumbuhan Ekonomi dalam jangka pendek pada tingkat kepercayaan  α = 0,05. 
Jika jumlah dana hasil penerbitan SBSN naik sebesar 1%, maka pertumbuhan 
ekonomi akan mengalami penurunan sebesar 0,04 persen. Secara jangka panjang, 
LnSBSN(-1) memiliki nilai koefisien sebesar (-0,002109) dan nilai probabilitasnya 
sebesar 0,7346, lebih besar dari 0,05. Pada jangka panjang, dana yang dihasilkan 
dari realisasi penerbitan SBSN memiliki pengaruh negatif yang tidak signifikan 
terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Sehingga berapapun kenaikan penghimpunan 
dana investasi dari penerbitan SBSN, tidak akan mempengaruhi pertumbuhan 
ekonomi secara signifikan. 

Error Correction Model  dalam tabel memperlihatkan nilai Adjusted R-
Squared sebesar 0,702801 yang berarti 70% variabel dependen (pertumbuhan 
ekonomi) dapat dijelaskan oleh variabel independen (Realisasi Penerbitan Surat 
Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara). Sisanya sebesar 30% dijelaskan 
oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. Nilai t-Statistic 
ECT pada model tersebut sebesar 2,402834 yang lebih tinggi dari 2 dan nilai 
probabilitas ECT sebesar 0,0397 yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa 
model dari pengujian ECM ini sudah valid. 

Dalam penelitian ini dihasilkan bahwa realisasi penerbitan SUN memiliki 
pengaruh yang signifikan untuk jangka pendek, namun tidak berpengaruh secara 
signifikan dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, variabel SUN memiliki 
pengaruh yang signifikan sebesar 0,033264 terhadap PDB. Hal ini 
mengindikasikan ketika jumlah dana realisasi penerbitan SUN naik sebesar 1%, 
maka pertumbuhan ekonomi akan naik sebesar 0,033 persen.  

Seperti telah dipaparkan sebelumnya bahwa utang dilakukan pemerintah 
untuk membiayai defisit APBN, pembiayaan arus kas jangka pendek, dan 
refinancing utang lama. Pada tahun 2012, Indonesia mengalami defisit APBN yang 
tinggi karena besarnya subsidi BBM dan sumber daya energi yang diberikan 
pemerintah yakni sebesar Rp 241,5 Triliun. Pemerintah menganggap bahwa 
subsidi BBM tidak tepat pada sasaran dan menjadi hal yang memberatkan karena 
menghambat program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pengalokasian 
dana untuk menutup biaya defisit ini menjadikan pembangunan infrastruktur 
menjadi sangat terbatas. Padahal, yang menjadi tujuan utama pemerintah dalam 
melakukan kebijakan utang adalah untuk pembangunan infrastruktur yang 
diharapkan berimbas pada pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk jangka 
panjang. 

Pada penelitian mengenai SBSN, realisasi penghimpunan dana investasi 
SBSN memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi 
dalam jangka pendek, namun tidak berpengaruh signifikan dalam jangka panjang. 
Pengaruh negatif ini bertentangan dengan teori maupun pendapat yang 



67 
 

mengemukakan bahwa investasi dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi 
suatu negara. Dengan pengaruh yang negatif antara realisasi penghimpunan dana 
investasi melalui instrumen SBSN dengan pertumbuhan ekonomi mengindikasikan 
bahwa belum terserapnya dengan baik dana tersebut. Tidak signifikannya 
pengaruh penghimpunan dana melalui instrumen SBSN ini disebabkan masih 
terlalu kecilnya jumlah dana yang berhasil dihimpun jika dibandingkan dengan 
Surat Utang Negara (SUN). 

 
SIMPULAN 

Utang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan 
kebijakan yang diperlukan untuk membiayai defisit APBN, penyediaan arus kas 
jangka pendek, dan refinancing utang lama. Pemerintah juga telah menerbitkan 
surat berharga berdasarkan prinsip syariah, atau dikenal secara internasional 
dengan istilah sukuk (Surat Berharga Syariah Negara). Data dari tahun ke tahun 
menunjukkan bahwa penghimpunan dana investasi melalui instrumen SUN dan 
SBSN telah mengalami peningkatan.  

Pada jangka pendek, pengaruh dana investasi melalui instrumen SUN ialah 
sebesar 0,033264 dan pada jangka panjang pengaruhnya ialah sebesar 0,033344. 
Instrumen SBSN memiliki pengaruh negatif dalam jangka pendek maupun jangka 
panjang. Dalam jangka pendek, pengaruhnya ialah sebesar (-0,008050) dan pada 
jangka panjang, pengaruhnya ialah sebesar (-0,002109). 

DLnSUN menunjukkan nilai probabilitasnya sebesar 0,0168 yang lebih kecil 
dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel SUN memiliki hubungan yang 
signifikan pada tingkat kepercayaan α = 0,05 pada jangka pendek sebesar 
0,033264. Dana investasi dari instrumen SUN berpengaruh signifikan dalam 
jangka pendek terhadap Pertumbuhan Ekonomi. LnSUN(-1) memiliki probabilitas 
sebesar 0,0795 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel 
SUN memiliki pengaruh positif yang tidak signifikan pada tingkat kepercayaan α = 
0,05. Dapat diartikan bahwa dalam jangka panjang, dana investasi melalui 
instrumen SUNtidak berpengaruh secara signifikan terhadap Pertumbuhan 
Ekonomi Indonesia. Pada tabel terlihat bahwa DLnSBSN memiliki probabilitas 
0.0410 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa dana investasi 
melalui instrumen SBSN memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap 
Pertumbuhan Ekonomi dalam jangka pendek pada tingkat kepercayaan  α = 0,05. 
Jika jumlah dana hasil penerbitan SBSN naik sebesar 1%, maka pertumbuhan 
ekonomi akan mengalami penurunan sebesar 0,04 persen.LnSBSN(-1) memiliki 
nilai probabilitas sebesar 0,7346, lebih besar dari 0,05. Pada jangka panjang, dana 
yang dihasilkan dari instrumen SBSN memiliki pengaruh negatif yang tidak 
signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Sehingga berapapun kenaikan 
penghimpunan dana investasi dari instrumen SBSN, tidak akan mempengaruhi 
pertumbuhan ekonomi secara signifikan. 
 
PUSTAKA ACUAN 
Al Arif, M. N. R. 2010. Teori Makroekonomi Islam. Bandung: Alfabeta 
Anoraga, Pandji dan P. Piji. 2008. Pengantar Pasar Modal. Jakarta: Rineka Cipta 
Antonio, M. Syafi’i. 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani 



68 
 

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta: 
Rineka Cipta 

Asnuri, Wulan. 2012. “Pengaruh Total Pembiayaan Bank Syariah, Sertifikat Bank 
Indonesia Syariah, dan Kontribusi Ekspor terhadap Pertumbuhan Ekonomi 
Indonesia.” Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri 
Syarif Hidayatullah Jakarta 

Boediono dan W. Koster.  2008. Teori dan Aplikasi Statistika dan Probabilitas. 
Bandung: PT Remaja Rosdakarya 

Case, Karl E. dan R. C. Fair. 2004. Prinsip-prinsip Ekonomi Makro. Jakarta: PT 
INDEKS, Kelompok Gramedia 

Direktorat Pembiayaan Syariah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU), 
Departemen Keuangan RI. 2008. Mengenal Sukuk, Instrumen Investasi 
Berbasis Syariah. Jakarta: Direktorat Pembiayaan Syariah Departemen 
keuangan RI 

Fatah, Dede Abdul. 2011.  “Perkembangan Obligasi Syari’ah (Sukuk) di Indonesia: 
Analisis Peluang dan Tantangan.” Innovatio Vol. X. No. 2 (Juli-Desember 
2011): h. 281-301. 

Government Debt Profile edisi April 2013 
Gujarati, D. N. 2007. Dasar-dasar Ekonometrika. Jakarta: Penerbit Erlangga 
Harahap, Sofyan S. 2008. “Sukuk Sebagai Instrumen Pendanaan Negara”. La Riba 

Vol. 2. No. 2 (Desember 2008): h. 217 
Irwanto, Wien (Direktorat Pembiayaan Syariah, Ditjen Pengelolaan Utang 

Kemenkeu RI). 2012. “Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan SBSN/Sukuk 
Negara”. Dalam Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah, 22 November 
2012 di Pekanbaru Riau, h. 4. 

Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2008 
Laporan Pertanggungjawaban SBN 2011 
Muhamad. 2008. Metodologi Penelitian Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers 
Mawaddah. 2012. “Analisis Pengaruh Jumlah Uang Beredar (JUB), Pembiayaan 

Mudharabah (PM) dan Kontribusi Pertumbuhan Zakat, Infak dan Sedekah 
(ZIS) terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 2007-2010.” 
Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Nachrowi, N. D. dan Hardius Usman.  2008. Penggunaan Teknik Ekonometri. 
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 

Nusantara, Agung dan E. P. Astutik. 2001. “Analisis Peranan Modal Asing terhadap 
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”. Jurnal Bisnis dan Ekonomi  

P3EI UII Yogya dan Bank Indonesia. 2009 Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers 
Peraturan Menteri Keuangan No. 08/PMK.08/2008 Tentang Penjualan Surat Utang 

Negara dengan Private Placement di Pasar Perdana Dalam Negeri.  
Peraturan Menteri Keuangan No. 50/PMK.08/2008 Tentang Lelang Surat Utang 

Negara di Pasar Perdana. 
Peraturan Menteri Keuangan No. 11/PMK.08/2009 Tentang Penerbitan dan 

Penjualan Surat Berharga Syariah Negara di Pasar Perdana dalam Negeri 
dengan Cara Lelang. 

Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.08/2012 Tentang Penerbitan dan 
Penjualan Surat Berharga Syariah Negara dengan Cara Bookbuilding di Pasar 
Perdana dalam Negeri. 



69 
 

Peraturan Menteri Keuangan No. 239/PMK.08/2012 Tentang Penerbitan dan 
Penjualan Surat Berharga Syariah Negara dengan Cara Penempatan 
Langsung (Private Placement). 

Rahardja, Prathama dan M. Manurung. 2008. Teori Ekonomi Makro: Suatu 
Pengantar. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI 

Rochaeti, Ety dkk. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS. Jakarta: 
Penerbit Mitra Wacana Media 

Salim, Fahmi. 2011. “Konsep dan Aplikasi Sukuk dalam Kebijakan Fiskal di 
Indonesia.” Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri 
Syarif Hidayatullah Jakarta 

Salvatore, Dominick. 2002. Managerial Economicsdalam Perekonomian Global. 
Jakarta: PT Penerbit Erlangga 

Slavin, Stephen L. 2008. Macroeconomics. New York: The McGraw-Hill Companies 
Subagyo, Ahmad. 2007. Studi Kelayakan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 
Sukirno, Sadono. 2004. Makroekonomi: Teori Pengantar, ed. III. Jakarta: PT Raja 

Grafindo Persada 
----------------------. 2000. Makroekonomi Modern: Perkembangan Pemikiran dari 

Klasik hingga Keynesian Baru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 
Supranto, J. 2004. Ekonometri Buku Kedua. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. 
Sutawijaya, Adrian dan Zulfahmi. 2010. “Pengaruh Ekspor dan Investasi terhadap 

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1980-2006”. Jurnal Organisasi dan 
Manajemen Volume 6. No. 1, 2010. 

Tim Penyusun Direktorat Pembiayaan Syariah. 2010. Tanya Jawab SBSN Edisi 
Kedua. Jakarta: Direktorat Pembiayaan Syariah Ditjen Pengelolaan Utang 
Kemenkeu RI 

World Economic Outlook October 2012 
Winarno, Wing W. 2009. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews ed. 

Kedua. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN. 


