1 PEMEROLEHAN FONOLOGI DAN SINTAKSIS (SEBUAH STUDI KASUS PADA ANAK USIA 2 TAHUN) Oleh Hasan Ayuba hasanayuba@gmail.com IAIN Sultan Amai Gorontalo Faculty of Education and Teacher Training ABSTRACT This research aims to describe the phonological and syntaxtical acquistion of two years old child. The type of this research is a case study research. The research data is spoken record obtained from the subject conversation in a video form. The recording process consists of two phases. The first phase, the subject is let to speak naturaly which is intended to know phonological and syntaxtical of the subject. The second phase, the subject is stimulated to speak in order to know the difference between phonological and syntaxtical of the subject. The result of the research are: a) the phonological and syntaxtical acquisition of the subjectare revolving on the unmeaningfull words. The words occured in this phase are pronoun. b) after being simulated, the phonological and syntaxtical acquisition of the subjectare revolving on meaningfull words which encompass nouns, one word-utterance, two words-utterance, and diftongs. Keyword: Aquisition, Fonological, Syntaxtical ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemerolehan fonologi dan sintaksis dari seorang anak berumur dua tahun. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus. Data penelitian berupa rekaman pembicaraan yang didapatkan dari percakapan subyek penelitian dalam sebuah video. Pengambilan rekaman terdiri dari dua fae. Fase yang pertama, subyek pada penelitian ini dibiarkan secara natural dan direkam Fonologi dan Sintaksis yang dia hasilkan. Fase kedua adalah dengan merangsang subyek pada penelitian ini untuk berbicara. mailto:hasanayuba@gmail.com Hasil penelitian ini menunjukan bahwa; (a) pemerolehan fonologi dan sintaksis pada fase pertama ini menghasilkan kata kata yang tidak mempunyai makna, kata kata yang paling banyak muncul pada fase ini adalah jenis kata ganti orang/pronoun, (b) setelah dilakukan treatment berupa rangsangan untuk berbicara, hasil pada fase kedua ini adalah, subyek penelitian sudah mampu menghasilkan kata-kata yang mempunyai makna dan juga menghasilkan beberapa jenis kata diantaranya, kata benda yang diujar sampai dua, tiga kata dalam sekali ujaran dan beberapa diptong. Kata Kunci: Pemerolehan, Fonologi, Sintaksis A. PENDAHULUAN Kita sering melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana anak mengujarkan sebuah kata, apakah kata itu bermakna atau tidak, kita dengan sendirinya dapat memahami apa yang anak maksudkan. Melalui gerakan tangannya, matanya, serta gerakan mulutnya yang lucu, anak berusaha untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Itulah keunikan yang ada pada anak, yaitu keunikan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain selain manusia. Keunikan ini merupakan kemampuan yang luar biasa yang dianugerahkan kepada setiap anak manusia yang lahir ke alam dunia. Beberapa ahli linguistik menyatakan bahwa sesungguhnya bahasa tidak dapat diajarkan kepada makhluk selain manusia dan hanya manusialah yang mampu berbahasa. Karena memang, kodrat bahasa hanya dapat dimiliki oleh manusia (Chomsky dalam Dardjowijodjo, 2003: 236). Dalam teorinya, Chomsky menyatakan bahwa anak dilahirkan sudah dibekali dengan Piranti Pemerolehan Bahasa atau yang dinamakan dengan Language Acquition Device (LAD) (Dardjowidjojo, 2003: 232). Dengan piranti inilah anak dapat dengan mudah memperoleh bahasa. Bahasa, pada tatanan ini diperoleh anak secara alamiah (nature). Berbeda dengan Chomsky, Skinner (dalam tahun Dardjowijodjo, 2003:235) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa pada anak lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan (nurture). Bahasa, menurut Skinner, tidak lain hanyalah merupakan seperangkat kebiasaan. Kebiasaan hanya diperoleh melalui latihan yang bertubi-tubi. Terlepas dari perbedaan pemerolehan bahasa oleh para ahli di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa baik faktor alamiah (nature) maupun faktor lingkungan (nurture), keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Nature diperlukan karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin dapat berbahasa. Nurture juga diperlukan karena tanpa adanya input dari alam sekitar bekal kodrati tersebut tidak akan terwujud. Terkait dengan piranti pemerolehan bahasa, sebagaimana yang diungkapakn oleh Chomsky di atas, diperkuat oleh beberapa hal, yakni: (1). Pemerolehan bahasa anak mengikuti tahap-tahap sama;(2).Tidak ada hubungan pemerolehan bahasa anak dengan tingkat kecerdasan;(3). Pemerolehan bahasa tidak terpengaruh oleh emosi maupun motivasi; dan (4). Pada masa pemerolehan tata bahasa anak di seluruh dunia sama saja. Si anak akan mampu mengucapkan suatu kalimat yang belum pernah didengar sebelumnya dengan menerapkan kaidah-kaidah tata bahasa yang tidak sadar diketahuinya. Sejatinya, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab tentang bagaimana sebenarnya anak-anak memperoleh bahasa. Bagaimana cara mereka menentukan apa makna kata-kata atau bagaimana cara menghasilkan ujaran yang bersifat gramatika yang belum pernah mereka dengar atau yang diproduksi sebelumnya?Apakah anak-anak belajar bahasa karena orang dewasa mengajarkannya kepada mereka? Atau karena mereka diprogramkan secara genetik untuk memperoleh bahasa? apakah mereka belajar dalam rangka memenuhi beberapa kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain? Telah banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahasa dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dan hasilnya pun sungguh luar biasa. Banyak fakta ditemukan oleh para peneliti terkait pemerolehan bahasa pada anak, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Melalui buku-buku inilah, banyak para peneliti dapat memecahkan misteri pemerolehan bahasa pada anak. begitu pula dengan penelitian mini ini(mini research) yang penulis ketengahkan kepada para pembaca. Dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk mendeskripsikan bagaimana cara anak dalam memperoleh bahasa pertamanya. Penelitian ini dilakakukan pada seorang anak yang bernama Rafandra Ishak. Rafandra Ishak, untuk selanjutnya disebut sebagai subyek, adalah anak pertama dari pasangan Uyan Ishak dan Irmawati Bagu. Bahasa sehari-hari yang dipakai oleh kedua orang tua subyek adalah bahasa Manado dan bahasa Gorontalo. Begitu pula dengan orang-orang yang berada di lingkungannya. Meskipun orang di sekitar subyek memakai dua bahasa, tapi subyek lebih dominan memperoleh bahasa Manado. Sehingga, bahasa manado menjadi bahasa pertama subyek. Alasan peneliti memilih subyek sebagai subjek penelitian adalah disebabkan oleh subyek pada usianya yang sudah menginjak 2 tahun, penguasaan kosa katanya masih sangat terbatas. Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: a) Bagaimana perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama pada anak usia 2 tahun? b) Bagaimana perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap kedua pada anak usia 2 tahun? c) Apa perbedaan antara perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama dan tahap kedua pada anak usia 2 tahun? Ada pun tujuan penelitian ini adalah:a) untuk mengetahui perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama pada anak usia 2 tahun. b) untuk mengetahuiperkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap kedua pada anak usia 2 tahun. c) untuk mengetahui perbedaan antara perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama dan tahap kedua pada anak usia 2 tahun. B. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Bassey (1999: 25) menyatakan bahwa “Case study methods involve the collection and recording of data about a case or cases…” Pernyataan ini dapat diartikan bahwa metode-metode studi kasus termasuk di dalamnya adalah pengumpulan dan perekaman data tentang satu kasus atau lebih. Sehingga melalui metode kualitatif ini akan dideskripsikan perbedaan pemerolehan fonologi dan sintaksis pada anak usia 2 tahun. Data penelitian ini berupa data kebahasaan lisan yang direkam (spoken teks). Data ini berbentuk wacana interaksional. Data-data tersebut diperoleh dari kegiatan percakapan antara subjek penelitian dan teman penulis yang berbentuk rekaman video. Data pada penelitian ini diperoleh melalui metode stimulus – respon terhadap subyek. Di mana stimulus – respon ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, subyek dibiarkan bercakap-cakap secara alamiah untuk mengetahui pemerolehan fonologi dan sintaksis subyek. Tahap kedua, subyek distimulus dengan lebih intens merespon apa yang subyek ujarkan, sehingga dengan tahap- tahap ini dapat diketahui perbedaan antara pemerolehan fonologi dan sintaksis subyek. Selanjutnya, data dalam penelitian mini ini diperoleh melalui teknik perekaman, yaitu perekaman dilakukan pada saat subyek sedang bermain, makan, berinteraksi dengan keluarga, dan aktifitas-aktifitas subyek lainnya.Data secara keseluruhan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Langkah yang dilakukan adalah data yang berupa rekaman ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada pembahasan ini akan diuraikan pemerolehan fonologi dan sintaksis yang dibagi kedalam dua tahap, yakni perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama dan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap kedua. Pembagian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis subyek pada saat sebelum dilakukan stimulus dan pada saat setelah dilakukan stimulus. 1. Pemerolehan fonologi dan sintaksis (tahap pertama) a. Pemerolehan Fonologi Fonologi adalah salah satu bidang ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam bahasa tersebut (Verhaar,1995:36). Selanjutnya, dalam bunyi yang diamati adalah bunyi yang dapat membedakan arti yang dikenal dengan fonem. Lebih jelas lagi, yang dimaksud dengan fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan perbedaan makna (Kridalaksana, 1993:56). Misalnya, perbedaan bunyi [p] dan bunyi [b] pada kata [paru] dan [baru]. Dalam bahasa Inggris, misalnya, kata light dan right, lot dan rot. Dari pasangan kata ini, yang menyebabkan berbedanya makna,yaitu pada fonem [l] dan [r]. Pada tahap ini, subjek sudah bisa memproduksi beberapa fonem, di antaranya adalah fonem [p], [b], [t], [m], [k], dan [w] untuk bunyi konsonan. Sementara untuk bunyi vokal, dia sudah bisa memproduksi fonem [a], [e], [i], dan [o]. Fonem yang paling sering muncul diantara keempat fonem tersebut adalah fonem [a] dan fonem [e]. Kedua fonem ini selalu muncul pada setiap situasi, baik ketika ia bermain, makan, dan aktivitas lainnya. Fonem [i] pada tahap ini hanya beberapa kali muncul, yaitu ketika Subek ingin ikut bersama ibunya, dia mengucapkan kata /yi/ untuk pergi, dan pada saat ia sedang bermain, dia mengucapkan “ati...ti...ti...”, maksudnya adalah ia menyuruh kakaknya untuk mengambil bola. Sedangkan untuk fonem [o] hanya sekali muncul, yaitu ketika ia sedang bermain di ruang tengah bersama kakaknya. Fonem ini muncul begitu saja bersama dengan bunyi hambat bilabial [p], dan pada situasi-situasi berikutnya, fonem ini sudah tidak pernah muncul lagi. Selanjutnya, dalam hal konsonan, pada perkembangannya subyek tampaknya sudah mengikuti konsep universal yang diungkapkan oleh Jakobson, bahwa urutan pemerolehan konsonan hambat adalah dari bilabial ke alveolar, dan akhirnya ke velar. Dalam hal ini subyek sudah bisa mengeluarkan bunyi hambat bilabial [p] dan velar ringan [t]. Hal ini tampak pada setiap situasi kedua fonem ini selalu muncul bersamaan seperti yang tergambar pada situasi berikut ini: R: (subyek) R : (sedang berada di atas ranjang) “ma...ma...ma...pete...pete...” “waw..” (sambil memainkan pengikat rambut kakaknya) “pete...pete...”(kata-kata ini terus dia ulangi. Kemudian dia turun dari ranjang) “akaa...waw...waw...waw...” (masih terus memainkan pengikat rambut kakaknya).“pete...pete...mama...ma...mama...”(memanggil ibunya) “kaka....mama...” (ia meminta kakaknya supaya diantar pulang kepada ibunya). Dari situasi di atas dapat dilihat bahwa kata “pete...pete” sering dia ucapkan meskipun dari segi semantik kata ini tidak bermakna. Sementara untuk bunyi velar [k] pada kata /kaka/ seperti yang tampak di atas, sudah dengan lancar dapat ia ucapkan dan bunyi nasal [m] pada kata /mama/. Bunyi hambat bilabial [b] hanya satu kali muncul, yaitu pada kata /ebe..ebe.../. Kata ini muncul ketika subjek kesal karena tidak dihiraukan oleh kakaknya. Sedangkan bunyi semivokal [w] dalam tahap ini muncul berulang-ulang ketika subyek mengekspresikan kata /waw/ yang selalu ia dengar dari kakaknya. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel pemerolehan fonologi subyek di bawah ini: Bentuk Fonem Fonem dalam Bentuk Kata Makna Kata Keterangan [p] /pete-pete/ - Tidak bermakna [b] /ebe-ebe/, (bernada mencibir) [t] /ati/ - Tidak bermakna [m] /mama/ (ibu) [k] /kaka/ (kakak) [w] /waw/ (ekspresi) [a] /kaka/, /mama/, /ati/ (kakak), (ibu), (-)* *) tidak bermakna [e] /ebe-ebe/, /eee/pete-pete/ - Tidak bermakna [i] /ati/, /ti..ti/ ,/yi/* *) pergi Tidak bermakna [o] /ooo..poo/ - Tidak bermakna Tabel 1. Pemerolehan fononologi tahap pertama b. Pemerolehan Sintaksis Dalam teori pemerolehan bahasa pada anak, penguasaan sintaksis berlangsung secara bertahap, yaitu, dimulai dari tahap satu kata, dua kata, dan tiga kata atau lebih. Dalam pemerolehan sintaksis, para peneliti tidak memulai kajian dari tahap holofrasis karena, menurut Greenfield dan Smith (dalam Chaer, 2009) bahwa ucapan-ucapan holofrasis sukar ditafsirkan atau dipahami. Untuk bisa menafsirkannya peneliti harus merujuk kepada situasi dan konteks di mana holofrasis itu diucapkan. Namun, Clark dan Garman (Chaer, op.cit.) menyatakan bahwa tahap holofrasis ini mungkin dapat memberikan beberapa gambaran batin mengenai perkembangan sintaksis. Oleh karena itu, ada baiknya diikutsertakan dalam satu teori pemerolehan sintaksis. a. Ujaran satu suku kata Dalam ujaran satu suku kata ini, subyek sudah mengeluarkan kata-kata yang sebagian dari kata-kata tersebut belum mempunyai makna. Misalnya, kata- kata berikut ini: [pete-pete] [ebe] [ati] [ti] [oopo po] Jika ditinjau dari segi semantik, kata-kata ini tampak lebih bersifat latihan motoris. Tidak ada referen yang dapat dikaitkan dengan apa yang subyek katakan, meskipun sebenarnya pada umurnya yang sudah dua tahun ini subyek sudah seharusnya dapat mengujarkan lebih banyak kata. Echa pada umurnya 2:6 tahun sudah dapat mengujarkan kata-kata yang bersuku dua. Misalnya, untuk kata layang-layang dia sudah dapat memilih suku kata terakhir yaitu [yaŋ] (Dardjowidjojo, 2000:125), dan masih banyak lagi kata lainnya yang sudah Echa kuasai. Di samping kata-kata yang telah disebutkan di atas, pada tahap ini terdapat beberapa kata yang sudah dapat diproduksi oleh subyek dengan baik, misalnya, untuk kata /mama/ dan /kakak/ subyek tidak mengalami masalah. Karena memang kata-kata ini sudah familiar baginya . Meskipun terkadang pada saat mengujarkan kata [mama] dia sering menggunakan kata /ma/ dan /ka/ untuk kata [kakak]. 1. Ujaran dua suku kata Seperti yang telah di uraikan di atas, ada beberapa kata yang sudah membentuk ujaran dua suku kata yang muncul ketika subyek berujar. Di antaranya adalah kata [pete//pete]. Namun, kata ini tidak termasuk ke dalam ujaran dua suku kata yang sesuai dengan teori generatif transformatif Chomsky. Dalam teori ini dinyatakan bahwa terdapat hubungan subject-ofyang dirumuskan seperti pada bagan berikut: K FN + FV Keterangan: K = kalimat FN = frase nomina FV = frase verbal Sehubungan dengan rumus di atas, Mc. Neil (dalam Chaer, 2009) menyatakan bahwa ucapan-ucapan dua kata atau lebih dari kanak-kanak dapat dianalisis berdasarkan hubungan-hubungan yang digambarkan dalam rumus itu karena ucapan dua kata itu sesungguhnya mempunyai struktur. Jika didasarkan pada teori ini, kata [pete//pete] tidak termasuk dalam ujaran dua suku kata sebagaimana yang dimaksud. Karena kata ini tidak tergolong baik dalam frase nomina atau pun dalam frase verbal. Namun, sudah ada kata yang membentuk ujaran dua suku kata yang muncul pada tahap ini, meskipun kemunculan kata ini hanya dua kali. Pertama, ketika subjek melihat ibunya akan pergi, dia mengucapkan [kaka//yi], maksudnya adalah dia ingin pergi bersama ibunya. Kedua, saat dia minta kepada kakaknya untuk diantar pulang ke rumahnya, dia mengucapkan [kaka//mama]. Kedua kata ini, [kaka//yi] dan [kaka// mama], mempunyai ciri-ciri USK (ujaran dua kata) atau dalam istilah asingnya adalah TWU (Two Word Utterance) di mana salah satu cirinya adalah anak sudah mulai mengujarkan dua kata yang diselingi oleh jeda sehingga seolah-olah dua kata itu terpisah. Untuk menyatakan bahwa subyek ingin pergi, dia tidak mengatakan [kakayi], akan tetapi [kaka//yi] “kakak pergi” dengan jeda di antara kakak dan pergi. 2. Pemerolehan fonologi dan Sintaksis (tahap kedua) a. Pemerolehan Fonologi Pada pemerolehan tahap kedua ini, kemampuan fonologi subjek menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, karena pada tahap ini Rafa distimulus untuk mengujarkan kata yang telah diperolehnya. Jika pada sebelumnya subjek dapat mengujarkan beberapa bunyi konsonan [p], [b], [t], [m], [k], dan [w], maka pada tahap ini bertambah dua bunyi konsonan yaitu, bunyi alveolar [d], dan alveo-palatal [y]. Munculnya bunyi alveolar [d] ketika dia sedang diajak berbicara oleh kakaknya seperti yang terdapat pada dialog mereka berikut ini: Keterangan: N (kakak subyek) R (Subyek) N: “ti mama ada di mana?” / ibu di mana?/ R: “paati...” (sambil menunjuk ke arah rumahnya) N: “hah...?” (bingung dengan jawaban R) R: “pati...” N: “pati?...ada pati iti?” / oh, ada sama bibi fitri?/ R: “aaa.. (mengangkat kedua tangannya) ...dias” N: “apa itu “dias”? (bingung ketika R menjawab dengan kata “dias”) R: (diam tak menjawab) Dari dialog di atas, kata “dias” adalah kata yang tidak memiliki makna, karena kata tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang diutarakan oleh kakaknya. Kata ini keluar dengan spontan. Namun begitu, bunyi [d] pada kata “dias” menandakan bahwa subyek sudah bisa mengujarkan bunyi [d]. Tidak hanya kata“dias”, ada beberapa kata yang subjek ujarkan mengandung bunyi konsonan [d], diantaranya adalah pada saat dia diminta untuk mengujarkan kata /Andi/, dia mengujarkannya dengan kata /Adi/, dan /Pade/ untuk kata /Fadel/. Sementara itu, untuk alveo-palatal [y] muncul ketika subyek sedang bersama dengan ibunya. Saat itu subyek diminta untuk menyebutkan nama-nama kakaknya. Untuk kata /Debi/, dia mengucapkannya dengan /yi/ dan /Fitri/ dia mengucapkannya dengan /yiti/. seperti yang terdapat dalam dialog mereka di bawah ini: Keterangan: IR = (Ibu subyek) R = (subyek) IR: “kakDebi....” (meminta R untuk menyebutkan nama kakaknya) R: “aaa? (bertanya) IR: “kakDebi....” (mengulangi sekali lagi) R: “aka...” IR: “Debi...” R: “yii.....” (maksudnya Debi) IR: “panggeFitri...” /panggil Fitri/ (menyuruh Rafa untuk mengucapkan kata “Fitri”) R: “yiti...” (maksudnya adalah “Fitri”) Berdasarkan dialog di atas, subjek tampak selalu mengganti bunyi vokal [i] dengan gabungan konsonan + vokal yaitu [yi], baik yang terdapat pada awal kata maupun pada akhir kata. Misalnya, pada akhiran kata dari kata /Debi/ yaitu /bi/, dia mengucapkannya dengan /yi/ dan pada awal kata dari kata /Fitri/, yaitu /Fi/, dia mengucapkannya dengan /yi/ pula. Hal ini juga membuktikan bahwa subyek belum bisa mengujarkan bunyi frikatif [ f] dan bunyi getar [r] seperti pada kata /Fitri/. Subjek lebih memilih mengucapkan /yi/ untuk bunyi frikatif [f] dan bunyi getar [r] dengan langsung mengucapkan /ti/. Selanjutnya, untuk bunyi vokal, pada tahap ini tidak jauh berbeda dengan tahap awal. Namun, pada tahap ini, subjek sudah dapat memproduksi dua gabungan vokal atau yang disebut diftong. Dalam pengambilan data yang berlangsung kurang lebih satu bulan ini (pada tahap dua, yaitu bulan Oktober), ditemukan dua diftong yang muncul dalam ujaran subjek, yaitu, /ae/ dan /ua/. Diftong /ae/ muncul ketika dia ditanyai kakaknya kalau sedang melakukan apa, kemudian dia menjawab dengan kata /mae/, maksudnya adalah dia sedang bermain. Untuk lebih jelasnya, perhatikan dialog mereka berikut ini: N: “ada ba apa ti nunu?”/ Rafa sedang melakukan apa?/ (ketika melihat R sedang memegang “mouse” laptop) R: “mae...” (maksudnya adalah dia sedang bermain) Kata /mae/ pada dialog ini maksudnya adalah /main/. Kemudian, diftong /ua/ muncul pada kata gula-gula(dalam bahasa Indonesia adalah permen) dan kata /dua/. Pada kata gula-gula, dia mengujarkannya dengan /wua-wua/, sementara pada kata /dua/ dia mengujarkannya dengan benar yaitu /dua/. 1. Pemerolehan Sintaksis Perkembangan sintaksis subjek pada tahap ini sudah makin baik, terutama pada tahap satu kata. Seperti halnya dengan ujaran satu suku kata pada tahap pertama, wujud sintaksisnya masih sederhana, namun semantiknya sudah kompleks. Seperti kata-kata seperti [kaka] “kakak,” [mae] “main,” dan [dua] “dua,” ” masing-masing merujuk pada etentitas, keadaan, dan perbuatan yang berbeda-beda. Kata [kaka], misalnya subyek ucapkan ketika dia melihat sepatu, sehingga barangkali subyek sedang mengatakan bahwa itu sepatu kakak, atau ketika dia memandangi sebuah foto dia ingin mengatakan bahwa itu adalah kakak. Sementara itu, kata [mae] dia keluarkan ketika subyek sedang memainkan mouse laptop. Dari konteksnya kata [dua] subyek ujarkan ketika dia sedang berbicara dengan neneknya lewat handphone. Saat itu subyek meminta neneknya untuk membelikan dua botol susu untuknya. Dari berbagai kata yang telah dikuasai subjek, verba dan ajektiva yang belum muncul. Sementara yang mendominasi adalah nomina, yaitu berkisar pada nama-nama orang yang berada di sekitarnya seperti berikut ini: [yi] “Debi” [pade] “Fadel” [yiti] “Fitri” [tata] “kakak” [adi] “Andi” Selanjutnya, untuk ujaran dua suku kata pada tahap ini muncul pada beberapa situasi. Misalnya, pada kata [ma dua] muncul ketika dia sedang berbicara dengan neneknya melalui handphone. Dalam situasi ini kata [ma dua] yang dia ujarkan muncul dengan alami meskipun sebelumnya dia sempat diberikan petunjuk oleh ibunya. Seperti yang tampak dalam dialog mereka berikut ini: Keterarangan: NR (nenek Subjek) R (Subjek) NR: (suara neneknya melalui handphone) “halo”... R: “ma, dua...” (maksudnya dia ingin dibelikan dua blek susu oleh neneknya) NR: “suruh bili apa ti nunu?”/ Rafa mau dibelikan apa?/ (tanya neneknya) R: “dua...” NR: “apa?” R: “dua...dua...” Kata [ma] pada dialog di atas bukan bermakna /mama/ akan tetapi bermakna /oma/. Dari dialog ini pula tampak bahwa subjek sudah bisa merespon pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan baik. Meskipun jawabannya masih dalam bentuk ujaran dua kata bahkan satu kata, baginya dan bagi anak pada umumnya kata ini sudah memiliki makna yang kompleks. Ujaran dua kata selanjutnya muncul pada saat dia menemukan sebuah Rp. 500-, yang kemudian meminta kakaknya agar uang tersebut dibelikan permen, seperti yang terdapat pada potongan dialog mereka berikut ini: Keterangan: R: (subjek) N: (Kakak subjek) R: (mengembalikan sepatu tersebut ke tempatnya semula. Ketika berbalik, R melihat uang Rp. 500 di tepi ranjang. Diambilnya uang itu dan diperlihatkan kepada N)) N: “barapa itu?”/berapa itu?/ (bertanya kepada R berapa nominal uang itu). R: “hmmm...” (memperlihatkan uang itu kepada N) N: “mo bili akan apa itu?, mo ba bili akan gula-gula?/ untuk apa itu uang?, untuk membeli gula-gula?/ (gula-gula adalah bahasa manado, dalam bahasa Indonesia adalah permen). R: “wa...” (maksudnya adalah gula-gula /permen) N: “ mo bili akan apa?”/mau dibelikan apa?/ R: “uwa...” N: “ mo bili akan apa?”/mau dibelikan apa?/ (terus bertanya agar R bisa mengucapkan “gula-gula”) R: “wuwa-wuwa...” N: “apa...?” R: “wuuwwa...” (menekan dan menaikkan nada suaranya) N: “gula-gula...” R: “wuwa...” Kata [wuwa-wuwa]atau “gula-gula” (dalam bahasa Manado), dalam bahasa Indonesia yang berati “permen” adalah hasil dari stimulus yang dilakukan berulang kali sehingga ujaran ini muncul meskipun pada akhirnya kembali pada bentuk satu suku kata yaitu [wuwa]. Hal yang menarik dalam dialog di atas adalah upaya subjek untuk mengujarkan kata [gula-gula]. Di mana ketika dia terus diminta untuk mengulangi kata tersebut dia menaikkan nada suaranya sehingga menghasilkan ujaran [wuuwwa]. Ujaran ini bukan pertanda bahwa dia jengkel ketika diminta untuk terus mengulangi ujaran tersebut, akan tetapi ujaran ini merupakan ujaran ekspresif yang dia tunjukkan ketika meminta sesuatu. 3. Perbedaan antara Pemerolehan Fonologi dan Sintaksis (Tahap Pertama dan Tahap Kedua) Dari uraian pembahasan di atas, terdapat perbedaan antara perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis (tahap pertama dan tahap kedua). Yaitu: a. Pertama, tahap (sebelum diadakan stimulus) pada perkembangan fonologi, subjek sudah dapat mengujarkan beberapa bunyi konsonan, di antaranya adalah fonem [p], [b], [t], [m], [k], dan [w]. Sementara untuk bunyi vokal, dia sudah bisa memproduksi fonem [a], [e], [i], dan [o]. Pada tahap ini, kemunculan semua fonem dihasilkan dari ujaran-ujaran yang tidak bermakna. Misalnya, fonem [p], [t] dan [e] muncul pada kata [pete- pete]. Sementara itu, pada perkembangan fonologi tahap kedua (setelah diadakan stimulus), bunyi konsonan subjek bertambah yaitu fonem [d] dan [y]. Munculnya fonem-fonem ini berasal dari ujaran yang telah memiliki makna. Misalnya, fonem [d] muncul pada kata [Andi], subjek mengujarkannya dengan [Adi] dan fonem [y] pada kata [Fitri] subjek mengujarkannya dengan [yiti]. Pada tahap ini, subjek sudah banyak mengujarkan ujaran kombinasi KVKV (Konsonan + Vokal). Misalnya, pada kata-kata seperti: [mama] [Pade] “Fadel” [papa] [yiti] “Fitri” [tata] [wuwa] “gula-gula” (permen) [bibi] [pama] “paman” [kaka] “kakak” Di samping itu juga, subjek sudah dapat memproduksi gabungan dua vokal atau diftong yaitu, /ae/ dan /ua/. Diftong /ae/ muncul pada kata [main], subjek mengujarkannya dengan /mae/ dan diftong /ua/ muncul pada kata [gula-gula], subjek mengujarkannya dengan /wua-wua/. b. Kedua, dalam perkembangan sintaksis tahap pertama, subjek sudah dapat mengujarkan ujaran satu suku kata dan ujaran dua suku kata. Ujaran satu suku kata subjek masih berkisar pada pronomina, yaitu [kaka] untuk “kakak” dan [ma] untuk “mama”. Selebihnya yang muncul adalah kata- kata yang tidak mengandung makna, seperti [pete], [pa] dan [ye]. Sementara untuk ujaran dua suku kata, subjek sudah dapat mengujarkan [kaka//mama] dan [kaka/yi]. Ujaran [kaka//mama] mengandung arti bahwa subjek ingin kakaknya mengantarkan dia untuk pulang ke rumah ibunya, sementara ujaran [kaka/yi], bermakna bahwa subjek ingin ikut bersama ibunya. Selanjutnya tahap kedua, yaitu perkembangan sintaksis subjek setelah diadakan stimulus. Jika dibandingkan dengan tahap pertama, pada tahap ini subjek sudah dapat mengujarkan beragam kata. selain ujaran satu suku kata, ujaran dua suku kata, dan pronomina, subjek sudah dapat mengujarkan nomina. Di antaranya adalah nama-nama orang yang berada di sekitarnya. Di samping itu pula subjek sudah mampu untuk mengekspresikan istilah yang berasala dari bahasa Gorontalo yaitu, kata “ate”. Kata “ate” sebenarnya berasal dari kata yilate. “yilate” yang berarti mati. Sekarang kata itu telah menjadi populer di kalangan para muda-mudi bahkan pada anak-anak tak kala mengepresikan sesuatu yang bersifat negative. Contohnya, seperti melihat orang yang megalami kecelakaan, melihat orang jatuh, orang yang mengalami kesialan, dll. Lebih spesifik lagi kata yilate berarti “mati kamu”. Kata ini subjek ekspresikan dua kali yaitu ketika penjepit rambut yang kakaknya letakkan di atas kepala subjek jatuh dan pada saat subjek memperlihatkan sebuah koin yang subjek temukan di tepi ranjang tapi kemudian koin itu pun lepas dari genggamannya. Dengan refleks subjek mengucapkan kata “ate”. D. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka perkembangan pemerolehan bahasa anak usia dua tahun pada tataran fonologi dan sintaksis dapat disimpulkan bahwa a) Pada tahap pertama (sebelum diadakan stimulus), perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis subjek berkisar pada kata-kata yang tidak bermakna. Kata-kata yang muncul pada tahap ini baik fonologi maupun sintaksis masih berupa pronomina. b) Pada tahap kedua (setelah diadakan stimulus), perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis subjek sudah berkisar pada kata-kata yang bermakna, baik berupa nomina, ujaran satu suku kata, ujaran dua suku kata, dan diftong. c) Perbedaan antara pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama dan tahap kedua (baik sebelum diadakan stimulus maupun setelah diadakan stimulus) adalah pada tahap pertama, pemerolehan bahasa subjek baik pada tataran fonologi maupun sintaksis masih sangat terbatas. Ujaran subjek pada tahap ini didominasi oleh kata-kata yang tidak bermakna. Sementara pada tahap kedua, pemerolehan bahasa subjek baik pada tataran fonologi maupun sintaksis sudah didominasi oleh kata-kata yang bermakna. Karena pada tahap ini subjek distimulus untuk mengujarkan kata-kata, sehingga kata-kata yang subjek produksi lebih banyak jika dibandingkan dengan tahap yang pertama. DAFTAR PUSTAKA Bassey, Michael. (1999). Case study research in educational settings. USA: Open University Press. Chaer, Abdul. (2009). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta Dardjowidjojo, Soenjono. (2003). Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. .(2000). ECHA: Kisah pemerolehan bahasa anak Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Kridalaksana, Harimurti. (1993). Kamuslinguistik.Jakarta: PT Gramedia. O’Grady, William.(2005). How children learn language. New York: Cambridge University Press. Subyakto, Sri Utari. (1988). Psikolinguistik: suatu pengantar. Jakarta: P2LPTK. Subroto, Edi. (2011). Pengantar studi semantik dan pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media. Verhaar, J.M.W. (1995). Pengantarlinguistik.Yogyakarta: GadjahMada Univ. Press.