223 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) AL-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) IAIN Sultan Amai Gorontalo Volume 4, Nomor 2, Agustus 2019 ISSN 2442-8965 (P) ISSN 2442-8973 (E) http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al Struktur Kolokasi Bahasa Arab (Suatu Kajian Fenomena Linguistik) Yuslin Kasan yuslinkasan81@gmail.com IAIN Sultan Amai Gorontalo Abstrak Penelitian ini tentang kolokasi dalam bahasa Arab. Kolokasi dalam bahasa disebut al-tadhāmma. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan serta mendeskripsikan jenis atau kategori kolokasi dalam bahasa Arab. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka Metode yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan metode distribusional yakni tehnik unsur langsung kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua kategori kolokasi bahasa yang terdapat dalam sumber penelitian yakni kolokasi gramatikal dan kolokasi leksikal. Karakteristik dari kolokasi gramatikal biasanya preposisi bisa didampingkan dengan verba dan nomina, dimana preposisi yang digunakan yakni preposisi في(fî), إلى(ilâ), على(alâ), ْعن(an), ْل(li) dan ْب(bi) serta adverbia تَح ت(tachta), Sedangkan kolokasi leksikal adalah kolokasi yang terbentuk dari nomina, verba, adjektiva, yang digunakan untuk kata tertentu saja. Abstract This research is about collocation in the Arabic language. Collocation in the Arabic language is called al-tadhāmma. The purpose of this study is to describe the type or category of language collocation in Arabic. This research is library research. The technique of data collection used distributional, then analyzed qualitatively. The results of this study indicate that there are two categories of language collocation found in research sources namely grammatical collocation and lexical collocation. The characteristics of grammatical collocation are usually prepositions that can be accompanied by verbs and nouns, where the prepositions used are the prepositions في (fî), إلى (ilâ), ,(tachta) تَح ت and adverb (bi) بْ and (li) لْ ,(an) عنْ ,(alâ) على Whereas lexical collocation is collocation formed from nouns, verbs, adjectives, which are used for certain words only. Keywords: al-tadhāma; Grammatical Collocation, Lexical Collocation http://u.lipi.go.id/1421293761 http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al mailto:yuslinkasan81@gmail.com 224 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) A. PENDAHULUAN Kajian mengenai kolokasi bahasa arab sebagai suatu fenomena linguistik berlangsung belum lama ini. Minat akan kolokasi sebagai suatu fenomena linguistik di dalam bahasa Arab bermula sejak para pakar bahasa Arab tradisional yang mencatat keberadaannya di dalam bahasa Arab tetapi mereka tidak memberinya suatu nama. (Gemei & Mahmoud, 2006). Gemei & Mahmoud (2006) mendefinisikan kolokasi sebagai asosiasi yang mengikuti kebiasaan antara dua atau lebih kata-kata untuk menandakan arti tertentu. Ini merupakan suatu fenomena linguistik yang ada di dalam Arab seperti halnya di dalam bahasa-bahasa yang lain dan dibahas dalam ilmu semantik, leksikografi, tatabahasa, terjemahan, dan ilmu semantik teori. Hal ini telah dipelajari sebagai bagian dari masing- masing bidang dan diberi nama yang berbeda-beda sesuai dengan bidang yang mempelajarinya. Sebagaimana telah disebutkan di atas pada dasarnya setiap bahasa, mempunyai karekteristik kolokasi tersendiri. Misalnya dalam bahasa Indonesia kita mengatakan ‘saya hanya mau minum air bening, air putih, atau air biasa’.pilihan kata setelah kata air lebih tepat menggunakan putih, walaupun kenyataannya air berwarna bening. Contoh lainnya “kucing mati lebih tepat jika dibandingkan dengan kucing meninggal. Sebab kata “mati” hanya tepat jika disandingkan dengan kata “kucing” atau jenis hewan lainnya. Kemampuan menyandingkan kata dan memahami kata yang sudah disandingkan merupakan dambaan pembelajar bahasa Arab, akan tetapi akan menjadi sulit dan bahkan membuat frustrasi jika pembelajar bahasa Arab kurang memiliki kemampuan menyandingkan dan memahami kata yang sudah disandingkan dengan kata lainnya. Nation (2001) menyatakan, “knowing what words can occur with other words contributes to the fluency which with language can be used”. Pernyatan ini dapat dipahami kata-kata yang bisa berpasangan dengan kata-kata yang lainnya membantu kefasihan dalam penggunaan bahasa tersebut. Kolokasi merupakan fenomena universal yang ada dalam setiap bahasa dan memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda antara satu bahasa dan lainnya. Karena keunikannya itulah maka kolokasi menjadi objek yang sangat menarik untuk dikaji. 225 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Tidak salah jika dikatakan bahwa kolokasi termasuk persoalan pelik yang mendapat perhatian serius terutama bagi para pembelajar bahasa terutama bahasa Arab. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dideskripsikan tentang pengertian kolokasi dan bagaimana kolokasi dalam bahasa Arab dengan pengambilan sampel dari kamus-kamus bahasa Arab dan buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Arab. B. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research) yakni mendeskripsikan suatu penelitian yang dilakukan semata-mata berdasarkan fakta atau fenomena yang terdapat pada data. Istilah “metode” dalam penelitian linguistik mencakup kesatuan dari rangkaian proses: penetuan, kerangka pikiran, perumusan hipotesa atau perumusan masalah, penentuan populasi, penentuan sampel, data tehnik pemerolehan data, analisis data. Jadi metode itu baru tampak dalam tehnik pemeroleh data analisis data (Subroto: 1992). Adapun metode pengumpulan data adalah dengan tehnik pustka. Sumber data dapat berwujud majalah, surat kabar, karya sastra, buku bacaan umum, karya ilmiyah yang pakai (Subroto: 1992). Sumber data diambil dari Kamus Arab Indonesia (Yunus: 1989), Kamus Almunawwir: Arab Indonesia Terlengkap (Al-Munawwir: 1997), Kamus Kontemporer Arab-Indonesia (Atabik, Ali dan Muhdlor, A Zuhdi: 1998) dan buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Arab dengan pendekatan semantik gramatikal dan leksikal. Sedangkan teknik yang digunakan untuk analisis data adalah tehnik urai langsung ialah mengurai suatu kontruksi morfologi atau sintaksis tertentu kedalam unsur-unsur langsung berdasarkan intuisi yang didukung oleh penanda lahir (intonasi) peneliti dapat menentukan unsur langsung suatu konstruksi, seperti َْعلَى yang terdiri dari فََرَض verbaفرضberdampingan dengan preposisiعلى (Subroto: 1992). C. HASIL DAN PEMBAHASAN 226 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Hasil Kolokasi dalam bahasa Arab adalah ْتضام(Bālbaki, 1990). Menurutnya kolokasi adalah: ْ ت ع َمال َرىْف ىاإلس َْكل ماتْأُخ َعةُْالَكل َمةْإلَىْالتضمامْإلىْالكلمةْأو اللُّغَو ىنَز yang dapat dimaknai kolokasi (tadhāmma) adalah kecondongan kata untuk bergabung dengan kata lainnya dalam pemakaian bahasa (Balbaki, 1990). Barfield dan Gyllstad (2010) mengemukakan, “for everyone learning or teaching a second language, collocation is undoubtedly one of the most fascinating (and at time frustrating) challenges that they face”. Konsep mengenai kolokasi pertama kali diidentifikasi oleh Palmer pada tahun 1933 (Nation, 2001) yang mengatakan bahwa: “Each [collocation] … must or should be learnt, or is best or most conveniently learnt as an integral whole or independent entity, rather than by the process of piecing together their component parts”. Misalnya, kata ‘menanak’ dapat berkolokasi dengan ‘nasi’, tetapi tidak dapat berkolokasi dengan ‘ikan’ atau ‘sayur’. Adapun yang mempopulerkan istilah kolokasi adalah Firth seorang linguis Inggris, dalam slogan yang cukup populer ia mengatakan "you shall judge a word by the company it keep" dapat dimaknai 'Anda akan menilai sebuah kata dengan menyandingkannya'. Firth dalam Modes of meaning (1957) memaparkan bahwa meaning by collocation'pemaknaan berdasarkan kolokasi' bermanfaat untuk mendekati makna secara formal dan konseptual (al-Farisi, 2011). Sedangkan menurut Kridalaksana (2008) kolokasi adalah “asosiasi yang tetap antara kata dengan yang lain yang berdampingan dalam kalimat; misalnya: antara kata ‘keras’ dan ‘kepala’ dalam ‘kami sulit menyakinkan orang yang keras kepala’. Definisi kolokasi menurut Baker (1997) sebagai kecenderungan sejumlah kata untuk bergabung secara teratur dalam suatu bahasa, tetapi kata yang mana dapat berkolokasi dengan kata apa tidak ada hubungannya secara logis. Kolokasi berbeda dengan idiom. Idiom adalah ungkapan yang kalau diterjemahkan secara harfiah tidak masuk akal atau ungkapan yang maknanya tidak dapat ditelusuri melalui kata per kata dan membentuk kata baru. Misalnya, idiom dalam bahasa Indonesia ‘cuci tangan’ dalam kalimat ‘Mereka cuci tangan atas masalah itu’. 227 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Idiom ‘cuci tangan’ tidak bisa dipahami melalui kata ‘cuci’ dan kata ‘tangan’, tetapi harus dipahami sebagai satu kesatuan. Dalam bahasa Arab pun demikian. Misalnya ْا ب ُن بْ ‘artinya ‘anakابن ,tidak bisa kita pahami kata perkata (pandai berperang)ال َحر sedangkan الحربartinya ‘perang’. ْي ق ْالطَّر ُع عُْ tidak bisa pahami (perampok)قَاط قَاط ‘yang memotong’ dan الطريقartinya ‘jalan’. Contoh lainnya seperti kata ْ أع َطى ُرهُْ ُرهُْ memberikan’ sedangkan‘ أع َطي tidak bisa dipahami kataَظه ’punggungnya‘ َظه tidak bisa diartikan dia memberikan punggungnya akan tetapi idiom yang berupa klausa tersebut dimaknai ‘tidak mengindahkan dan tidak memperhatikan. Sebaliknya, kolokasi adalah gabungan kata yang maknanya dapat ditelusuri melalui kata per kata, tetapi tidak membentuk kata baru. Misalnya dalam bahasa Indonesia gabungan kata ‘memanjat pohon’ dapat dipahami maknanya melalui kata ‘memanjat’ dan kata ‘pohon’. Adapun dalam bahasa Arab, ketika seorang penutur bahasa Arab memikirkan minuman, misalnya, ia dapat menggunakan verba yang umum seperti يشرب. Pendengar dapat memprediksikan sejumlah besar kemungkinan kata yang berkolokasi dengan verba tersebut, seperti: ُّْالشَّاي ‘teh’, ال َحل يب ‘susu’, القهوة ‘kopi’, تقَال ي ُرال بُر jus jeruk’, tetapi sama sekali pendengar tidak akan‘َعص memprediksikan kata-kata ْك ي رْ ,’oli mesin‘ َزي تُال ُمَحر minyak ‘ َزي تُا لَبن ز bensin,شامبو‘syampo’ يتيك ب ر ُضا لك .’asam belerang‘ َحام Menurut Benson, dan Ilson (1997) kolokasi terdiri atas dua kategori, yaitu kolokasi gramatikal dan kolokasi leksikal. Kolokasi gramatikal ialah gabungan kata yang terdiri atas kata dominan (nomina, ajektiva, verba) dan kata depan (preposisi), misalnya ‘menyimpang dari’,‘senang dengan’, ‘terdiri atas’, dan kolokasi leksikal ialah gabungan kata yang terdiri atas nomina, verba, adjektiva, dan adverba, misalnya ‘minum obat’, ‘teh tawar’, ‘menanak nasi’, ‘mengumbar janji’, ‘berjalan cepat’. Kolokasi adalah kecenderungan sejumlah kata atau sekelompok kata untuk bergabung secara teratur guna menghasilkan bicara dan atau tulisan yang terdengar 228 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) lazim dan berterima dalam suatu bahasa. Setiap bahasa mempunyai kebiasaannya masing-masing. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kata ’mati’ dapat bersanding dengan lampu menjadi ’lampu mati’. Kata ’mati’ bersinonim dengan kata ’meninggal dunia’, ’mangkat’, ’berpulang ke rahmatullah’, tetapi sinonim kata ’mati’ tidak lazim bergabung dengan kata ’lampu’. Dalam bahasa Indonesia, tidak lazim dikatakan “lampu meninggal dunia (mangkat, wafat, gugur, atau berpulang ke rahmatulah)”. Seperti yang telah diuraikan di atas, kolokasi dapat diuraikan dalam dua kategori, yakni kolokasi gramatikal dan leksikal. Untuk itu, dalam pembahasan kali ini akan diuraikan sedikit tentang kolokasi dalam bahasa Arab dilihat dari segi kolokasi gramatikal dan leksikal. Dalam bahasa Arab kolokasi secara gramatikal misalnya verba َْاَل َزمberdampingan dengan preposisi ْبmenjadi ْْب ,yang dimaknai mengharuskan, mewajibkan (Aliاَل زَم Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Verba َْأتبع(menggabungkan) berdampingan dengan preposisi ْبmenjadi yang dimaknai menggabungkan (Ali, Atabik & Muhdlor, Aأَت بََعْبْ Zuhdi. 1998). Verba بَاض(bertelur) berdampingan dengan preposisi ْب(dengan) menjadi ْباَض .yang dimaknai diam, berdomisili (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998: 294)بْ Selanjutnya verba فرض(menentukan) berdampingan dengan preposisiعلىmenjadiفََرَضَْعلَىyang dimaknai mewajibkan (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Verba غاب(menghilang) berdampingan dengan preposisi َْعن(dengan) menjadi َْعنْ .yang dimaknai menghilangkan (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdiَغاَب 1998). Selanjutnyaَْا ب تَعَد(menjadi jauh) berdampingan dengan preposisi َْعن(tentang) menjadi َْعنْ & yang dimaknai menceraikan atau memisahkan (Ali, Atabikا ب تَعَدَ Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Verba ُْيَئ س(putus asa) berdampingan dengan preposisi ْن يَئ ُسْ menjadi (dari)م نْ yang dimaknai berputus asa (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Contohم 229 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) selanjutnya verba حاد(condong) berdampingan dengan preposisi ْعنyang dimaknai condong atau menyimpang (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya verba ََْحَصل(berjalan, terjadi) berdampingan dengan preposisi ْلْ menjadi (untuk)لْ & yang dimaknai mengenai, atau terjadi (Ali, Atabikَحَصل Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Dan jika verbaََْحَصل(berjalan, terjadi) berdampingan dengan preposisi ْن نْ menjadi (dari)م ْم ,yang dimaknai muncul dari atau hasil dari (Aliَحَصل Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Sedangkan verba ََْحَصل(berjalan, terjadi) berdampingan dengan preposisi على(atas) menjadi َْعلَى yang dimaknaiَحَصَل mendapatkan atau memperoleh (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya verba ََْخَرج(keluar) jika berdampingan dengan preposisi ْب(dengan) menjadi َْخَرَجْبyang dimaknai mengeluarkan. Kemudian jika verba ََْخَرج(keluar) jika berdampingan dengan preposisi َعلَى(diatas) menjadi َْعلَى yang dimaknaiَخَرَج memberontak, menyerang. Selanjutnya verba ََْخَرج(keluar) jika berdampingan dengan preposisi َْعن(tentang) menjadi َْخَرَجَْعنyang dimaknai membelok, perkecualian dari atau melampaui (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya verba دَعا(memanggil, mengundang) jika berdampingan dengan preposisi ْب(dengan) menjadi ْْب .yang dimaknai mengundang, atau menamakanدَعا Kemudian verba دَعا(memanggil, mengundang) jika berdampingan dengan preposisi ْإلى menjadi (ke)إلى yang dimaknai mengundang. Kemudian jika verbaدَعا (untuk)لْ jika berdampingan dengan preposisi (memanggil, mengundang)دَعا menjadi yang dimaknai menyebabkan, mendatangkan (Ali, Atabik & Muhdlor, Aدعاْلْ Zuhdi. 1998). Verba َْراغ(menyimpang) jika berdampingan dengan dengan preposisi ْن danم نْ menjadiَعنْ dimaknai menghindang aau mengelak. Sedangkan jikaراغْعنْ danَراَغْم berdampingan dengan preposisi إلىmenjadi راغْإلىdimaknai cenderung atau berpihak dengan sembunyi-sembunyi (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). 230 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Selanjutnya verba ََْسلَّم(menyerahkan, memberikan) jika berdampingan dengan preposisi إلى(ke) menjadi ْإلى dimaknai tunduk dan mengajukan. Tetapi jika diَسلََّم sandingan dengan preposisi ْن نْ makan akan menjadi (dari)م ْم yang dimaknaiسلََّم menyelamatkan, menjaga, dan jika disandingkan dengan preposisi علَى(diatas) maka akan menjadi َْعلَى yang dimaknai memberi hormat atau salam. Kemudian jikaَسلََّم disandingkan dengan preposisi ْبmakan akan menjadi ْْب ,yang dimaknai relaَسلََّم mengakui atau menetapkan (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian verba ََْسما(naik, tinggi) jika disandingkan dengan preposisi yang dimaknai memandang rendah, dan jika dibandingkanَسماَْعنْ menjadi (tentang)َعنْ dengan preposisi ْب(dengan) menjadi ْْب dimaknai menaikkan. Selanjutnya jikaَسماَ disandingkan dengan preposisi إلى(ke) menjadi َْْإلى dimaknai mengangkat atauَسما berhasrat kepada (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998) Kemudian klausa ُْن ه disandingkan (memperoleh)يَدَى berasal dari kata verbaيَدَىْم dengan preposisi ْن yang dimaknai memperoleh kebaikan (dia)ـهdan pronomina (dari)م darinya (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian prasa بة ر تَْ merupakan gabungan dari adverbiaتح تْتج di bawahتَح dan nomina بة ر yang diartikan percobaan. Jika disandingkan kedua kata tersebutتَج diterjemahkan secara harfiyah di dalam kekuasaan dan diterjemahkan secara maknawi diartikan dalam percobaan. Klausa ْيده تَْ berasal dari adverbiaتحت dan (tangan)يَدَىَّْ dan nominaتح pronominaـه(dia) yang dimaknai di dibawah kekuasannya (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya preposisi َعلى(di atas) jika disandingkan dengan nomina ْيَد(tangan) menjadi ْعلىْيدdimaknai atas perbuatannya. Selanjutnya jika preposisi َْعن(tentang) jika disandingkan dengan nomina ْيَد(tangan) menjadi ْْيد dimaknai atas bantuannyaعن (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). 231 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Kemudian preposisi َْعن(tentang) dan preposisi ْمن(dari) jika disandingkan dengan nomina ْي د ْبعيدْ menjadiبَع َْبعيدْ danَعن ن yang dimaknai dari jauh (Ali, Atabikم & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Lebih jelasnya di bawah ini diuraikan contoh kolokasi dalam bentuk tabel. Tabel 1. Pembentukan Kolokasi Gramatikel NN Kolokasi Gramatikal Terjemahan Maknawi Kategori 1 (ب)الزمْ (aljama bi) Mengharuskan Verba+ preposisi 2 (ب)أتبَعْ (atba’a bi) Menggabungkan Verba + preposisi 3 (ب)باض (bâ’dhabi) Berdomisili Verba + preposisi 4 (على)فرضْ (faradha ‘alâ) Mewajibkan Verba + preposisi 5 (عن)غابْ (ghâba ‘an) Menghilang dari Verba + preposisi 6 (عن)ابتعدْ (ibta’ada ‘an) Menceraikan Verba + preposisi 7 نْ )يئس (م (ya’isu min) Berputus asa Ajektiva +preposis i 8 (ْلْ )َحَصل (chashala li) mengenai atau terjadi Verba + preposisi 9 ( نْ )َحَصلْ م (chashala min) Muncul dari Verba + preposisi 10 (َعلَى)َحَصلَْ (chashala ‘alâ) memperoleh Verba + preposisi 11 ( بْ )َخَرجَْ (kharaja bi) mengeluarkan Verba + preposisi 12 (َعلَى)َخَرجَْ (kharaja ‘alâ) menyerang Verba + preposisi 13 (َعنْ )َخَرجَْ (kharaja ‘an) membelok Verba + preposisi 14 (بْ )دَعا mengundang/menamakan Verba + preposisi 232 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) (da’â bi) 15 (إلى)دَعا (da’â ‘alâ) mengundang Verba + preposisi 16 (لْ )دعا (da’â li) Menyebabkan, mendatangkan Verba + preposisi 17 نْ )َراغَْ (م (râgha min) Menghindar, mengelak Verba + preposisi 18 (َعنْ )َراغَْ (râgha an) Menghindar, mengelak Verba + preposisi 19 (إلى)راغ (râgha ilâ) Cenderung, berpihak Verba + preposisi 20 (إلى)َسلَّمَْ (sallama ilâ) Mengajukan, tunduk Verba + preposisi 21 نْ )سلَّمَْ (م (sallama min) menyelamatkan Verba + preposisi 22 (َعلَى)َسلَّمَْ (sallama ‘alâ) Memberi hormat Verba + preposisi 23 (بْ )َسلَّمَْ (sallama bi) Mengakui, menetapkan Verba + preposisi 24 ( عنْ )َسماَْ (samâ‘an) Memandang rendah Verba + preposisi 25 ( بْ )َسماَْ (samâ bin) menaikkan Verba + preposisi 26 (إلىَْ)َسما (samâ ilâ) Mengangkat, berhasrat kepada Verba + preposisi 27 (منه)يدى (yadâ minchu) Memperoleh Kebaikan darinya Nomina + preposisi + pronomin a 28 تَتجربة تَح (tachtatajribah) Dalam percobaan Adverbia + Nomina 29 (يده)تحت (tachta yadahu) Dibawah kekuasaanya adverbia+ Nomina 30 يدْ (على) (a’ala yadin) Atas perbuatan Preposisi + Nomina + pronomin a 31 يدْ (عن) (‘an yadin) Atas bantuannya Preposisi + Nomina 233 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 32 بعيدْ (عن) (‘an ba’îdin) Dari jauh Preposisi + Nomina 33 بعيدْ (من) (min ba’îdin) Dari jauh Preposisi + Nomina Kolokasi secara leksikal, seperti yang telah diuraikan di atas ialah gabungan kata yang terdiri atas nomina, verba, adjektiva, dan adverbia. Misalnya: prasa ْالقَُرى ,أُمُّ nomina أمartinya induk sedangkan القرىartinya desa-desa, jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah induk dari desa, dan diterjemahkan secara maknawi menunjuk pada suatu tempat yakni kota Mekkah al-Mukarramah (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Begitu juga dengan ُّْْأُم أس الرَّ kata ُّْ أُمّ artinya induk sedangakan الرأسartinya kepala. Jika disandingkankan kedua nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah artinya induk dari kepala dan diterjemahkan secara maknawi artinya otak (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya prasa ْالكتاب artinya indukأم merupakan gabungan dari nominaأم sedangkan الكتابartinya buku, al-qur’an. Jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah artinya induk dari al-qur’an, dan diterjemahkan secara maknawi artinya surat al-fathichah (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian prasa ح ْْأم م الرُّ merupakan gabungan dari nomina أمartinya induk sedangkanْ ح م artinya lembing. Jika disandingkan kedua nomina tersebutالرُّ diterjemahkan secara harfiyah artinya pokok lembing dan terjemahan secara maknawi artinya bendera. Selanjutnya ْس ر ْالج ُس artinya kepalaَرأسُْ merupakan gabungan dari nominaَرأ sedangkan الجس رartinya jembatan dan jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah artinya kepala jembatan dan terjemahan secara maknawi ujung jembatan. Kemudian frasa ْال َمالْ ُس merupakan gabungan dari nominaَرأ 234 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) yang artinya harta, dan jika disandingkanالمالُْ artinya kepala, sedangkan nominaَرأسُْ kedua nomina tersebut diterjamahkan secara harfiyah artinya kepala harta dan terjemahan secara maknawi artinya modal (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian frasa ُْا لبَابْ َْعتَبَة merupakan gabungan nominaَُْعتَبَةyang artinya tangga sedangkan nomina البَابartinya pintu, jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah tangga pintu, dan terjemahan secara maknawi ambang pintu (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian frasa ُْت رْ َْصو ال َمك ُسو merupakan gabungan nomina صوتyang artinya suara dan nomina ْر artinya rusak, jika disandingkan kedua nomina tersebutال َمك ُسو terjamahan harfiyahnya suara rusak dan terjamahan secara maknawi suara yang lunak (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya frasa ُْي ُْْصل ب أ الرَّ merupakan gabungan nomina ُُْصل بyang artinya artinya baja dan nomina ُْأ ي artinya pemikiran, pendapat. Jika disandingkan keduaالرَّ nomina tersebut terjemahan harfiyahnya keras pendapat yang diterjamahkan secara maknawi keras kepala (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya frasa ُْا ألَدَبْ ْقَل ي ل merupakan gabungan nomina ُْقَل ي لartinya sedikit, dan artinya adab, sopan santun. Jika disandingkan kedua nomina tersebut terjemahanاألدب harfiyahnya sedikit adab dan terjemahan maknawi tidak punya sopan santun (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Selanjutnya frasa ُْل ا لبَالْ َْمش غُو merupakan gabungan nomina ل artinya sibukَمش غُو dan nomina ُْالبَالartinya keadaan jika disandingkan kedua nomina tersebut terjemahan harfiyahnya sibuk keadaan dan terjemahan maknawi gundah, gelisah (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian frasa ُْبَالْ ا لَْخال ي merupakan gabungan nomina خاليartinya kosong, bebas danُْا لبَالyang artinya keadaan jika disandingkan kedua nomina tersebut 235 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) terjemahan harfiyahnya keadaan yang kosong dan terjemahan maknawi tenang, damai (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian frasa ُْيَاح ي كْ ْص الد merupakan gabungan nomina ُْيَاح artinya suaraص dan ْي ك yang diartikan ayam jantan. Jika disandingkan kedua nomina tersebutالد diterjemahkan secara harfiyah suara ayam jantan yang dimaknai ayam berkokok (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian frasa ذوْبالmerupakan gabungan nominaذوartinya mempunyai dan yang diartikan keadaan. Jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkanبَالْ secara harfiyah artinya mempunyai keadaan, dan terjemahan maknawi yang penting, menarik perhatian (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian prasa غيرْذيْبالmerupakan gabungan dari nomina غيرyang diartikan tidak, bukan dan prasaذيْبالyang diartikan mempunyai keadaan jika di terjemahkan secara harfiyah tidak mempunyai keadaan, secara maknawi diartikan yang tidak penting (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian prasa ُْطاَرَْصوابُهmerupakan gabungan dari verba َْطاَرartinya terbang dan َْصوابartinya kesadaran. jika disandingkan kedua kata tersebut diterjemahkan secara harfiyah artinya terbang kesadaran, dan terjemahan yang maknawi artinya hilang kesadaran (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Kemudian prasa ْ طاَرْفَرحاmerupakan gabungan dari verba َْطاَرartinya terbang dan ْ فَرحاartinya senang. jika disandingkan kedua kata tersebut diterjemahkan secara harfiyah artinya terbang senang, dan terjemahan yang maknawi artinya bersuka ria (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Untuk lebih memberikan pemahaman di bawah diuraikan contoh-contoh kolokasi secara leksikal dalam bentuk tabel. Tabel 2. Pembentukan Kolokasi Leksikal No Kolokasi Leksikal Terjemahan Maknawi Kategori 236 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) أمْالقرى 1 (‘Ummu al-Qurâ) Makkah al-Mukarramah Nomina + Nomina مح 2 أمْالر (‘Ummu al-Ramchi) Bendera Nomina + Nomina أمْالرأس 3 (Ummu al-Ra’si) Otak Nomina + Nomina أمْالكتاب 4 (Ummul-Kitâbi) Surat Al-fatihah Nomina + Nomina ح ْْأم 5 م الرُّ (Ummu al-rumhi) Bendera Nomina + Nomina رأسْالمالْ 6 (ra’su al-mâli) Modal Nomina + Nomina عتبةْالباب 7 (‘Utabatu-l-bâb) Ambang pintu Nomina + Nomina صوتْالمكسور 8 (Shawtu al-Maksûr) Suara yang lunak Nomina + Nomina صلبْالرأي 9 (Shalaba al-Ra’yi) Keras kepala Nomina + Nomina قليلْاألدب 10 (Qalîlu al-‘adabi) Tidak tahu adab (sopan) Ajektiva + Nomina مشغولْالبال 11 (Masyghûlu al-bâli) Gundah Ajektiva + Nomina خاليْالبال 12 (Khâliyu al-Bâli) Tenang Nomina + Nomina صياحْالديك 13 (Shiyâchu al-Dîku) Ayam berkokok Nomina + Nomina ذوْبال 14 (DzûBâlin) Penting Nomina + Nomina غيرْذيْبال 15 (GhairuDzîBâlin) Tidak penting Nomina + Nomina طاَرَْصوابُهُْ 16 (thâra shawâbuhu) Kehilangan kontrol Verba + Nomina فَرحا ْْطارَْ 17 (thâra shawâbuhu) Bersuka ria Verba + Nomina D. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kolokasi dibentuk dari dalam dua kategori, yakni kolokasi gramatikal dan kolokasi leksikal yang terdiri dari 237 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) dua kata atau lebih yang salah satu unsur kata tersebut memiliki hubungan dengan anggota kata lain. Adapun karakteristik kolokasi gramatikal pada penelitian ini, bahwasanya preposisi bisa didampingkan dengan verba dan nomina, dimana preposisi yang digunakan yakni preposisi في(fî), إلى(ilâ), على(alâ), ْعن(an), ْل(li) dan ْب(bi) serta adverbia َْت Sedangkan kolokasi leksikal adalah kolokasi yang terbentuk dari .تَح nomina, verba, adjektiva, yang digunakan untuk kata tertentu saja. Penelitian kolokasi dalam bahasa Arab sesungguhnya sangat penting dalam mempelajaran Bahasa Arab dan juga dalam penerjemahan. Penulis meyakini kajian mengenai Kolokasi dalam bahasa Arab dapat dikaji lebih lanjut sebagai bagian dalam mengembangkan khasanah keilmuan khususnya dalam bidang bahasa. DAFTAR PUSTAKA Ali, A. & Muhdlor, A Z. (1998). Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. Yogyakarta: Indonesia. Al-Farisi, M. Z. (2011). Pedoman Penerjemahan Arab Indonesia (Strategi, Metode, Prosedur dan Teknik). Bandung: PT. REMAJA ROSDAYA. Alwi, H., dkk. (2003) Tata Bahasa Baku Indonesia (Edisi Tiga). Jakarta: Balai Pustaka. Bakalla, M. H. (1984). Arabic Culture, Through It’s Language and Literature. London: Keagen Paul International. Baker, M. (1997). In Other Words: A Course book on Translation. London: Routledge. 238 ©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Bālbaki, R. M. (1990) Mu’jam Al-Mushthalahaat Al-Lughawiyyah, Inkliziyyah-‘Arabiy, cetakan pertama. Beirut: Daar El-Ilmi Lilmalayin. Barfield, A., & Gyllstad, H. (ed.). (2010). Researching Collocations in Another Language. Houndmills, Basingstoke, Hampshire: Macmillan Publishers Limited. Benson, M., Benson, E., & Ilson, R. (1997), The BBI Dictionary of English Word Combinations. Philadelphia: John Benjamins. Harimurti, K. (2008). Kamus linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Munawwir, A.W & Fairuz, M. (2007). Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif. Nation, I.S.P. (2001). Learning Vocabulary in Another Language. Cambridge: Cambridge University Press. Subroto, E. (1992). Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Yunus, M. (1989). Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: PT Hidakarya Agung.. El-Gemei, Dalal Mahmoud. (2006). Encyclopedia of Arabic Language and Linguistics, Vol. 1, General Editor Kees Versteegh. Leiden – Boston: Brill. pp. 434-439