Syindi Oktaviani R. Tolinggi 64 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Volume 5, Nomor 1, Februari 2020 ISSN 2442-8965 (P) ISSN 2442-8973 (E) Model Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren Salafi dan Khalafi: Studi Pebandingan terhadap Pesantren Salafiyah Syafi’yah Pohuwato dan Pesantren Hubolo Tapa Syindi Oktaviani R. Tolinggi syindioktaviani0410@gmail.com Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam bagaimana metode pembelajaran bahasa Arab di Pesantren yang bercorak Salafi dan Pesantren yang bercorak Khalafi, dengan melakukan studi terhadap Pesantren Salafiyah Syafi`iyah di Pohuwato dan Pesantren Hubulo di Tapa, Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah field research atau penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Sebagai instrumen utama, namun peneliti menggunakan instrumen lainnya dalam mengumpulkan data berupa lembar observasi, pedoman wawancara dan dokumen. Subyek penelitian ini adalah Guru Bahasa Arab, Santri dan Pimpinan Pesantren. Teknik analisis data menggunakan (1) Reduksi Data (2) Penyajian Data dan (3) Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato merupakan pesantren yang bercorak Salafi. Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren ini berfokus pada kompetensi gramatika atau struktur bahasa (Nahwu & Ṣarf) yang diaplikasikan dalam pembelajaran kitab kuning. Metode pembelajaran yang digunakan menggunakan metode pembelajaran tradisional, seperti Sorogan, Bandongan, Wetonan, Pasaran/Kilatan. Sedangkan pesantren Hubulo Tapa adalah pesantren bercorak khalafi dengan pembelajaran bahasa Arab aktif yaitu tidak hanya sekedar teori dan pembelajaran kaidah tata bahasa saja, tetapi penerapan bahasa Arab sebagai bahasa dalam komunikasi sehari-hari santri dengan mengimplementasikan metode komunikatif yaitu Pemberian kosakata harian, pemberian percakapan harian, ungkapan harian dan latihan pidato berbahasa Arab. Kata Kunci: Metode Pembelajaran Bahasa Arab; Pesantren Salafi; Pesantren Khalafi ABSTRACT This study aims at finding out more deeply how the Arabic learning method in Salafi-style boarding school and Khalafi-style boarding school. This study selected Salafiyah Syafi`iyah boarding school in Pohuwato and Hubulo boarding school in Tapa, Gorontalo as the location. This study is field research using qualitative research methods. As the main instrument, the researchers used other instruments to collect data in the form of observation sheets, interview guidelines and documents. The subjects of this study were Arabic language teachers, http://u.lipi.go.id/1421293761 Syindi Oktaviani R. Tolinggi 65 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) students and Pesantren’s Leaders. Data analysis techniques used data reduction, data display and conclusion and verification. The results of this study indicated that the Salafiyah Boarding Shool Pohuwato is a Salafi-style Boarding School. Arabic instruction in this boarding school focuses on grammatical competence or language structure (Nahwu & Sarf) which is applied in the study of the bare book. The learning method used traditional learning methods, such as Sorogan, Bandongan, Wetonan, Pesantren Kilat. While the Hubulo boarding school Tapa is a khalafi-style with active Arabic learning that is not only theory and learning grammar rules, but the also implemented the communcative langauage teaching by practicing daily vocabulary building , daily conversation routine, daily expressions, and Arabic speech training. Key Words: Arabic Learning Methods, Salafi Boarding School, Khalafi Boarding school A. PENDAHULUAN Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia. Karena bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci dan tuntunan agama umat Islam sedunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang paling besar signifikansinya bagi ratusan juta umat Islam di dunia, baik yang berkebangsaan Arab maupun non-Arab (Arsyad, 2010: 1). Proses penyebaran bahasa Arab di berbagai negara adalah pengaruh dari perkembangan agama Islam yang sumber ajarannya dari Al-Quran dan Hadis yang menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab juga merupakan bahasa utama yang dapat menghantarkan pada pemahaman terhadap dua pilar utama ajaran agama Islam tersebut yaitu Al-Quran dan Hadis, serta literatur- literatur yang berkenaan dengan hukum Islam yang kebanyakan masih ditulis dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, mempelajari dan mengusai bahasa Arab menjadi kebutuhan setiap umat Islam. Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak kapan studi bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita (Wahab, 2008: 103). Pada awalnya pembelajaran bahasa Arab di Indonesia diasumsikan untuk kepentingan ibadah saja seperti salat, doa, zikir, dan kepentingan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Kemudian bahasa Arab berkembang sebagai sarana pemahaman sumber-sumber syariat dan ajaran agama Islam, seperti Al-Quran, Hadist, dan kitab- kitab berbahasa Arab lainnya, akan tetapi metode pembelajaran yang digunakan masih sangat klasik, salah satunya yaitu metode Gramatika-Tarjamah (Qawā’id wa Tarjamah) Syindi Oktaviani R. Tolinggi 66 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) yang digunakan dalam pembelajaran kitab-kitab agama Islam. Proses pembelajaran seperti ini hanya lebih menekankan pada penguasaan aturan-aturan gramatika melalui hapalan dan penerjemahan naskah kitab-kitab kuning ke dalam bahasa Ibu. Pembelajaran bahasa dengan metode tersebut menurut Effendy, digolongkan ke dalam bentuk pembelajaran bahasa Arab untuk tujuan memahami teks saja. Metode itu memiliki kontribusi yang sangat besar dalam memahamkan umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya. Tetapi dipandang dari segi kemahiran yang dicapai, hanya sebatas kemahiran reseptif saja (Effendy, 2009: 29). Padahal sejak bahasa Arab dinobatkan sebagai bahasa Internasional oleh PBB, menandakan bahwa kedudukan bahasa Arab semakin meningkat di mata dunia. Mempelajari bahasa Arab tidak hanya untuk keperluan memahami agama semata, tidak cukup hanya digunakan untuk ibadah dan membaca kitab-kitab klasik (Arab) saja, tetapi untuk keperluan ekonomi, sosial, budaya dan juga politik. Bahasa Arab juga tidak hanya dipelajari oleh orang-orang Islam, melainkan oleh non-Islam, bahkan para orientalis pun mempelajarinya. Sehingga tuntutan agar memiliki kemampuan berbahasa Arab yang lebih tinggi merupakan sebuah keharusan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa Arab membutuhkan sebuah inovasi, salah satunya adalah dalam metodologi pembelajarannya. Pembelajaran bahasa Arab di Indoensia, sebelum diajarkan di sekolah-sekolah berbasis non-pesantren, sudah lebih dahulu diajarkan di pesantren, karena selain bahasa Arab sangat dibutuhkan untuk beribadah, pembelajaran bahasa Arab sangat menunjang para santri untuk memahami pelajaran-pelajaran yang ada di pesantren, karena kitab yang digunakan yaitu rata-rata menggunakan bahasa Arab khususnya pada pesantren salaf. Bahkan tidak jarang ada pesantren yang telah mewajibkan santri-santrinya agar dapat menggunakan bahasa Arab tidak sekedar untuk memahami kitab-kitab yang berbahasa Arab, akan tetapi santri juga dituntut agar dapat menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi sesama santri dalam melakukan segala kegiatan sehari-hari khususnya di pesantren modern/khalaf. Karena kebutuhan penggunaan bahasa Arab yang berlebih, maka pendekatan, metode dan strategi pembelajaran bahasa Arab harus diterapkan dengan baik dan sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia sehingga santri dapat dengan mudah memperoleh Syindi Oktaviani R. Tolinggi 67 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) bahasa yang dipelajari dengan menyenangkan dan tidak membosankan serta tidak menjadi momok yang menakutkan untuk dipelajari. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling awal di Indonesia. Jenis lembaga seperti ini dapat dijumpai di berbagai wilayah Indonesia (Subhan, 2012: 75). Secara lahiriyah, pesantren pada umumnya merupakan suatu kompleks bangunan yang terdiri dari rumah Kiai, masjid, asrama sebagai tempat tinggal para santri dan ruang belajar. Di sinilah para santri tinggal selama beberapa tahun, belajar langsung pada Kiai dalam hal ilmu agama dan dewasa ini pesantren telah tumbuh dan berkembang secara bervariasi (Nasir, 2005: 81). Pesantren berasal dari kata santri, dengan konfiks pe-an yang berarti tempat tinggal para santri (Yasmadi, 2002: 61). Pesantren memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yaitu model pembelajarannya yang masih tetap mempertahankan model pembelajaran tradisional, walaupun keberadaan tipologi pesantren pada saat ini telah mengalami perubahan, sehingga ada yang dinamakan pesantren salaf dan pesantren khalaf. Hal lain yang menjadi ciri khusus pesantren dan membedakan dengan lembaga pendidikan dalam bentuk lain adalah lima elemen pokok yang dimiliki oleh pesantren, yaitu Kiai, santri, masjid, asrama dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan dalam bentuk lain. Pesantren mempunyai berbagai variasi. Akibat variasi pesantren tersebut maka perlu diadakan pembedaan secara kategorial. Kategori pesantren bisa diteropongi dari berbagai perspektif yakni dari segi rangkaian kurikulum, tingkat kemajuan dan kemodernan, keterbukaan terhadap perubahan, dan dari sudut sistem pendidikan pesantren (Fadhli, 2015: 2-3). Dari segi kurikulum, Arifin, menggolongkan menjadi pesantren modern, pesantren tahassus, dan pesantren campuran. Dipandang dari muatan kurikulum, Martin Van Bruinessen, mengelompokkan pesantren menjadi pesantren paling sederhana yang hanya mengajarkan cara membaca huruf Arab dan menghapal beberapa bagian atau seluruh Alquran dan pesantren sedang yang mengajarkan berbagai kitab Fikih, Akidah dan Tasawuf yang lebih mendalam dan beberapa mata pelajaran tradisional lainnya (Fadhli, 2015: 2-3). Prof. DR. Ridlwan Nasir, mengklasifikasikan pondok pesantren menjadi lima jenis, yaitu pondok pesantren salaf atau klasik, pondok pesantren semi Syindi Oktaviani R. Tolinggi 68 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) berkembang, pondok pesantren berkembang, pondok pesantren khalaf atau modern dan pondok pesantren ideal (Nasir, 2005: 23). Adapun Dhofir, memandang dari perspektif keterbukaan terhadap perubahan- perubahan yang terjadi, kemudian membagi pesantren menjadi dua kategori yaitu pesantren salaf dan khalaf. Pesantren salaf atau pesantren tradisional adalah pesantren yang tetap mengajarkan kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikannya. Penerapan sistem madrasah untuk memudahkan model sorogan yang dipakai dalam lembaga- lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Sedangkan pesantren khalaf atau pesantren modern adalah pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkan atau membuka tipe-tipe sekolah umum di lingkungan pesantren. Meskipun pesantren salaf dan khalaf sama-sama memiliki porsi dalam mendalami agama Islam, baik dari segi pelajaran Akidah, Fikih terutama mempelajari bahasa Arab, mulai dari kaidah tata bahasa Arab, kaidah penulisan Arab, dan cara berkomunikasi bahasa Arab, akan tetapi metodologi pembelajarannya jauh berbeda. Pesantren khalaf pada umumnya telah melakukan perubahan pada metodologi pembelajaran, yaitu metodologi pembelajaran mengenai kitab-kitab Islam klasik yang pada mulanya populer menggunakan metodik-didaktif dalam bentuk sorogan, bandongan, halaqah dan hapalan diajarkan dengan menggunakan metode klasikal di dalam kelas untuk pesantren khalafi (Fadli, 2015: 3). Tidak hanya itu, yang semula di pesantren salafi hanya memfokuskan bahasa Arab pada pembelajaran teori dan kaidah tata bahasa untuk meningkatkan kemampuan santri dalam membaca kitab, kemudian di pesantren khalafi melakukan perubahan dengan menjadikan pembelajaran bahasa Arab tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan santri dalam membaca kitab kuning saja, melainkan digunakan untuk bahasa komunikasi sehari-hari santri. Kedua pesantren dalam penelitian ini, yaitu Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato (Salaf) dan Pesantren Hubulo Tapa (Khalaf) merupakan dua jenis pesantren yang berbeda tetapi sama-sama mengajarkan bahasa Arab. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari pakaian yang digunakan santri, aktivitas pembelajaran, dan out put pembelajaran yang berbeda pula. Sehingga berdasarakan beberapa uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana metode pembelajaran bahasa Arab yang Syindi Oktaviani R. Tolinggi 69 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) digunakan di kedua pesantren tersebut, karena salah satu faktor dalam keberhasilan pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Asing adalah cara atau metode yang digunakan dalam pembelajaran. Metode akan memegang peranan penting dalam pembelajaran, sebab metode pembelajaran bisa diibaratkan sebagai suatu pelayanan yang akan diapresiasi oleh santri atau siswa dan akan selalu tergores dalam hati dan pikiran mereka. Dalam pembelajaran terutama bahasa Arab mutlak dibutuhkan atau dijalankan dengan mampu menggabungkan beberapa metode karena hemat peneliti tidak ada metode yang mutlak baik atau sempurna dan juga tidak ada metode yang tidak baik, sehingga sebagai tenaga pendidik mampu menggabungkan beberapa metode dalam pembelajaran. Mengambil keunggulan sebuah metode dan menutupi kelemahan- kelemahan yang ada dengan metode yang lain pula. B. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah field research atau penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Yusuf, menerangkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang pada prinsipnya bertujuan untuk mendeskripsikan, menerangkan secara kritis, atau menggambarkan suatu fenomena, kejadian, atau peristiwa interaksi sosial dalam masyarakat untuk mencari serta menemukan makna (meaning) dalam konteks yang sesungguhnya (natural setting). Sehingga, semua jenis penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data lunak (soft data) bukan hard data yang diolah dengan statistik (Yusuf, 2014: 338). Penelitian ini digolongkan sebagai jenis penelitian lapangan karena penelitian ini dilakukan dengan tujuan ke lokasi penelitian atau penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan di lapangan, seperti di lingkungan masyarakat, lembaga-lembaga organisasi kemasyarakatan dan lembaga pendidikan baik formal maupun non formal (Margono, 2010: 5). Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan pengamat partisipan/informan, dengan menghubungkan secara langsung sumber-sumber yang dapat memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan oleh peneliti dalam proses penelitian. Sehingga peneliti secara langsung bisa mendapatkan data yang sebenarnya dengan cara observasi, wawancara dan dokumentsi. Adapun untuk mendapatkan data Syindi Oktaviani R. Tolinggi 70 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) lapangan maka peneliti turun langsung ke lokasi penelitian. Karena dalam penelitian kualitatif data yang diperoleh harus benar-benar atas hasil pengamatan sendiri, sehingga kehadiran peneliti dalam objek penelitian sangat menentukan keabsahan hasil penelitian. Hal ini dimaksud agar lebih mudah dalam melakukan penyeleksian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Selain itu data yang diperoleh peneliti betul- betul mencerminkan kenyataan yang ada di lapangan dan benar-benar objektif, sehingga pendeskripsian data juga sebagaimana yang terjadi pada objek penelitian. Sumber Data Selanjutnya, sumber data sekunder dalam penilitian ini adalah data-data tambahan dari pihak Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren Hubulo Tapa, seperti dokumen-dokumen profil pesantren dan sebagainya sebagai pelengkap penelitian ini. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan tiga instrumen pendukung yakni: a. Observasi Secara umum pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan- bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Setiyadi menjelaskan bahwa tujuan observasi dalam sebuah penelitian adalah untuk menjelaskan situasi yang diteliti, kegiatan- kegiatan yang terjadi, individu-individu yang terlibat dalam suatu kegiatan dan hubungan antarsituasi, antarkegiatan, dan antarindividu sehingga pembaca laporan penelitian mengerti secara jelas apa yang sudah terjadi dan bagaimana proses terjadinya kegiatan tersebut (Setiyadi, 2006: 239). Teknik pengumpulan data dengan observasi ini peneliti gunakan untuk mengamati objek penelitian di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren Hubulo Tapa. b. Wawancara/Interview Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan di mana terjadinya pertemuan antara dua orang atau lebih untuk mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan- keterangan (Narbuko dan Achmadi, 2005: 83). Secara spesifik, wawancara terbagi menjadi tiga, yaitu; wawancara terstruktur, wawancara semiterstruktur, Syindi Oktaviani R. Tolinggi 71 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) dan wawancara tak berstruktur. Adapun pada penelitian ini, menggunakan pedoman wawancara jenis pertama, yaitu pedoman wawancara terstruktur dengan menyusun instrumen wawancara. Dalam penelitian ini digunakan teknik wawancara untuk memperoleh jawaban penelitian dari sumber data primer berupa implementasi metode pembelajaran bahasa Arab di kedua pondok pesantren tersebut. c. Dokumentasi Teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat teori, dalil, hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Margono, 2010: 38). Dokumentasi juga digunakan untuk menunjang kelengkapan data lainnya seperti pengambilan gambar atau video. Sebagaimana menurut Sugiyono, dokumentasi atau studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan interview dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi dan interview akan lebih kreadible apabila dapat dilampirkan dengan dokumen pendukung (Sugiyono, 2013: 330). Melalui teknik pengumpulan data dokumentasi, peneliti dapat mengumpulkan data di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren Hubulo Tapa.. Dokumen tersebut berupa dokumen profil kedua pondok pesantren tersebut. Teknik Analisis Data Adapun dalam penelitian ini, menggunakan aktivitas dalam analisis, yaitu: (Sugiyono, 2013: 334-339). a. Reduksi Data (Data Reduction) Mereduksi data berarti menentukan hal-hal yang pokok, merangkum, dan memfokuskan pada hal-hal yang penting dicari tema dan polanya (Sugiyono, 2013: 337). Setelah data dikumpulkan, maka dibuatlah reduksi data guna memilih data yang relevan dan bermakna, memfokuskan data yang mengarah untuk memecahkan masalah, penemuan, pemaknaan, atau untuk menjawab pertanyaan peneliti kemudian menyederhanakan dan menyusun secara sistematis dan menjabarkan hal-hal penting tentang hasil temuan dan maknanya. Pada tahap ini peneliti akan menyeleksi data dari hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi dengan cara memfokuskan pada data yang berkenaan dengan Syindi Oktaviani R. Tolinggi 72 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) permasalahan penelitian. Sedangkan data yang tidak berkaitan dengan masalah penelitian dibuang. Dengan kata lain, reduksi data digunakan untuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan dan membuang yang tidak penting, serta mengorganisasikan data sehingga memudahkan untuk ditarik kesimpulan. b. Penyajian Data (Data Display) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan display atau menyajikan data. Penyajian data merupakan tahap kedua setelah mereduksi data. Penyajian data dapat berupa uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori, flowchart, dan sejenisnya (Sugiyono, 2014: 224). Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan menyajikan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut (Sugiyono, 2013: 339). Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan kumpulan data atau informasi secara sistematis dan jelas untuk membantu proses analisis. Dalam hal ini, akan digunakan penyajian data dalam bentuk naratif untuk memudahkan penguasaan data dan informasi baik secara keseluruhan atau begian-bagian tertentu dari hasil penelitian. c. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusing Drawing dan Verification) Pada tahapan akhir yang dilakukan oleh peneliti dalam kaitannya dengan rangkaian proses kegiatan analisa data adalah penarikan kesimpulan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono, dalam memahami penelitian kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi (Sugiyono, 2014: 99). Kesimpulan penelitian ini diharapkan mendapatkan temuan baru yang berupa deskripsi atau gambaran objek yang sebelumnya masih belum jelas menjadi jelas, baik berupa hubungan kausal atau interaktif, maupun hipotesis atau teori. Kemudian peneliti akan menyajikan data-data yang telah dikumpulkan dengan metode deskriptif analitik, cara berpikir induktif maka hasil temua dapat disajikan secara lebih akurat dan dapat dideskripsikan dengan sistematika yang jelas dan baik. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 73 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) C. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pembelajaran Bahasa Arab di PondokPesantren SalafiyahSyafi`iyah Pohuwato Pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato adalah pondok pesantren yang telah lama didirikan di Provinsi Gorontalo. Meskipun pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah telah memasukkan sekolah-sekolah formal di lingkungan pesantren, namun bukan berarti bahwa pondok pesantren tersebut telah meninggalkan pembelajaran kitab- kitab klasik dan model-model pembelajaran tradisional, karena itu sudah menjadi ciri khas dari dulu dan sudah menjadi kebutuhan masyarakat setempat khususnya. Bahkan pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini dominan sebagai pondokpesantren yang lebih memfokuskan pada pembelajaran kitab dan tidak terlalu begitu menekankan kepada santri pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato untukmenggunakanbahasa Arab sebagai bahasa aktif dalam komunikasi karena salah satu tujuan pondok pesantren ini adalah sebagai tempat untuk pengkaderan ulama. Santri pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato mendapatkan pembelajaran bahasa Arab dari aspek keterampilan berbicara hanya di madrasah formal saja, Sedangkan di lingkungan pesantren, santri lebih dominan dengan pembelajaran kitab kuning. Untuk pembelajaran kitab kuning, di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dibuatkan sebuah program khusus yang pelaksanaannya pada waktu sore dan malam hari. Program ini dinamakan oleh Kiai program Diniyah pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato. Pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato mengkombinasikan pesantrennya antara pesantren yang telah memasukkan unsur-unsur umum dengan mendirikan sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren dan pesantren salaf yang masih menerapkan metode pembelajaran klasik dengan menjadikan kitab-kitab klasik yaitu kitab kuning sebagaitext book reference dan tidak mengajarkan keilmuan umum di lingkungan pesantren kecuali di madrasah formal. “Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini jika dilihat termasuk dalam kategori pesantren campuran, yaitu pondok pesantren yang mengkombinasikan antara pesantren modern dan pesantren salaf. Jika dilihat dengan kacamata pesantren modern, Syindi Oktaviani R. Tolinggi 74 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) pesantren ini masih berbau pesantren salaf karena di pesantren ini masih mengajarkan kitab-kitab klasik, bahkan dengan model-model pembelajaran yang klasik juga. Jika dilihat menggunakan kacamata pesantren salaf, pesantren ini sudah berbau modern karena pesantren ini sudah memasukkan unsur-unsur modern seperti pesantren modern pada umumnya yaitu sekolah formal MI, MTs dan MA dan kurikulum yang digunakan di sekolah formal sepenuhnya mengikuti perubahan sesuai standar Pendidikan Nasional dan Departemen Agama.” Begitulah penuturan dari Bapak Khairul Anam, salah satu pengajar bahasa Arab di Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi Peneliti, berikut adalah metode- metode pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato yang lebih spesifik pada pembelajaran kitab kuning. Metode Sorogan KH Abd. Ghofir Nawawi, yang ditemui oleh peneliti menuturkan bahwa untuk di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini karena kitab yang dipakai lebih banyak kitab-kitab klasik, jadi metode pembelajarannya juga menggunakan metode- metode klasik. Adapun metode pembelajaran tradisional yang digunakan di pondok pesantren ini seperti sorogan, yaitu metode pembelajaran kitab di mana kitab yang dipelajari dibacakan oleh Kiai terlebih dahulu, kemudian santri bergantian untuk membacanya satu per satu. Tidak harus menghapalkan isi kitab tersebut, yang penting santri sudah bisa membaca kitab dengan baik dan benar. Beliau menambahkan bahwa dengan metode sorogan ini, santri akan maju satu per satu untuk membacakan kitab di hadapan beliau. Sehingga beliau dapat lebih mengenal dan mengetahui perkembangan santri tersebut secara satu per satu. Gambar 1. Pembelajaran dengan Metode Sorogan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Pohuwato Syindi Oktaviani R. Tolinggi 75 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Berdasarkan hasil observasi peneliti, inti dari metode sorogan ini adalah berlangsungnya proses belajar mengajar secara face to face antara Kiai dan santri. Termasuk dalam pembelajaran individual, di mana seorang santri berhadapan dengan seorang guru dan terjadi interaksi saling mengenal antara keduanya. Dengan metode seperti ini, Kiai secara pasti akan mengetahui kualitas santri didiknya. Akan tetapi metode ini membutuhkan waktu yang sangat banyak karena seluruh santri harus maju satu per satu menghadap Kiai. Metode Wetonana atau Bandongan Kemudian metode yang kedua, yang digunakan dalam program Diniyah di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato adalah metode wetonan. Metode wetonan ini adalah metode di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling Kiai yang menerangkan pelajaran dalam kitab, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan pada kitab tersebut. Istilah wetonan ini di Jawa Barat disebut dengan bandongan. Berdasarkan hasil observasi peneliti, dengan metode bandongan atau wetonan santri duduk kemudian memegang kitab yang akan dibahas. Ustaz/Kiai akan membacakan kitab yang dibahas tersebut di depan santri dan santri menyimaknya, kemudian Ustaz/Kiai akan menerjemahkan secara perkata dan memberikan keterangan terhadap kata-kata baru dan sulit yang ada di dalam pembahasan tersebut. Ustaz/Kiai juga akan menjelaskan terlebih mengenai kaidah-kaidah kebahasaannya seperti Nahwu dan Ṣarf. Santri tidak harus maju satu per satu untuk menyetorkan bacaan apalagi hapalannya kepada Ustaz/Kiai. Gambar 2. Pembelajaran dengan Model Bandongan/Wetonan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Pohuwato Menurut penulis, metode pembelajaran seperti ini begitu praktis dan cepat, tidak membutuhkan waktu yang banyak seperti metode sorogan. Akan tetapi dengan Syindi Oktaviani R. Tolinggi 76 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) metode seperti ini, Kiai atau Ustaz tidak akan dapat mengetahui perkembangan kemampuan santri didiknya karena santri hanya belajar secara bersama-sama atau kolektif tanpa belajar individu seperti metode sorogan. Metode Pasaran atau Kilatan Metode pembelajaran pasaran adalah metode pembalajaran melalui pengkajian materi atau kitab tertentu pada seorang Kiai atau Ustaz yang dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan selama tenggang waktu tertentu. Pada umumnya dilakukan pada bulan Ramadhan selama setengah bulan, 20 hari atau terkadang satu bulan. Tergantung pada tebalnya halaman kitab yang dikaji. Metode ini lebih mirip dengan metode bandongan, tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesainya kitab sesuai waktu yang telah ditentukan. Jadi dalam metode ini, yang menjadi titik beratnya terletak pada pembacaan bukan pada pemahaman sebagaimana pada metode bandongan. Seperti yang dinyatakan oleh KH. Abd. Ghofur Nawawi, istilah metode pasaran juga biasanya disebut dengan istilah kilatan. Metode Hapalan atau Tahfiz Di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini dalam pembelajaran kitab kuning juga menggunakan metode hapalan yang dikombinasikan dengan metode sorogan. Seperti yang diungkapkan oleh Kiai Ghofur, dalam mengajarkan kitab mengenai Nahwu dan Ṣarf beliau menggunakan metode sorogan kemudian beliau menggabungkannya dengan metode hapalan yaitu meminta santri untuk menghapalkan kitab tersebut. Jadi sebelum menambah materi pembahasan baru dalam kitab tersebut, santri akan menghapalkan terlebih dahulu materi pembahasan pada pertemuan sebelumnya. Kiai akan meminta santri untuk duduk bersila membentuk lingkaran menghadap Kiai. Kemudian Kiai akan memulai pembelajaran dengan mulai membacakan bab dalam kitab yang akan dibahas dan meminta santri untuk mengikuti bacaan beliau secara berjama`ah kemudian disusul dengan terjemahan pembahasan yang diberikan oleh Kiai tersebut secara per kata dan menjelaskan kata atau kalimat- kalimat yang baru atau sulit. Kemudian para santri duduk khusus` mendengarkan Kiai sambil memperhatikan kitab masing-masing. Setelah itu, Kiai akan meminta santri untuk maju kedepan dengan membawa kitab masing-masing. Santri duduk menghadapKiai dan mulai membacakan kitab setelah membaca, santri diminta untuk Syindi Oktaviani R. Tolinggi 77 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) menghapalkan Matānal-Jurumiyah yang diajarkan oleh Kiai tersebut. Apabila ada santri yang tidak bisa menghapal maka dia akan diberdirikan sampai benar-benar hapal. Dari berbagai metode pembelajaran bahasa Arab pada program Diniyah di atas, semakin menunjukkan bahwa di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah lebih memfokuskan pencapaian keterampilan santri pada aspek qirā`ah saja, sedangkan pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah tidak mengadakan program-program kebahasaan dan tidak mempunyai metode-metode pembelajaran bahasa Arab dalam meningkatkan keterampilan santri terutama pada aspek kalam. Untuk pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah penguasaan tata bahasalah yang lebih diutamakan. Tata bahasa dipelajari dalam dua pembahasan utama yang dikenal dengan Ilmu Nahwu dan Ilmu Ṣarf. Dalam tradisi pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini, penguasaanbahasa Arab tidak diikuti dengan kesungguhan dalam mempelajari ilmu tata bahasa Arab dengan usaha aplikatif untuk mempraktikkan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berakibat pada minimnya tingkat penguasaan santri terhadap mufradāt atau kosa kata bahasa Arab, sehingga tingkat keilmuan bahasanya adalah penguasaan bahasa Arab pasif, bukan bahasa aktif. Maksudnya adalah bahwa pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato lebih mengutamakan penguasaan teks daripada penguasaan praktik. “Pembelajaran bahasa Arab di pesantren ini intinya pada tata bahasa atau qawāid, Nahwu dan Ṣarf sedangkan untuk percakapan masih tidak terlalu begitu ditekankan karena yang difokuskan adalah para santri mampu membaca kitab gundul. Untuk hal komunikasi santri di pondok pesantren ini agak terhambat karena memang tidak ditunjang oleh pembina, program-program khusus apalagi lingkungan yang dapat meningkatkan kemampuan santri dalam berbicara. Sedangkan untuk kemampuan mendengar dan menulis, dilatih ketika santri sedang belajar kitab, yaitu ketika Kiai dan Ustaz yang lainnya sedang membacakan isi kitab tersebut itu juga terasa tidak terlalu efektif.” Diungkapkan oleh Bapak Ali Mukmin, selaku kepala MTs di lingkungan pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan pengajar kitab kuning di program diniyah pondok pesantren. Santri di pondok pesantren salaf mempunyai kelebihan mampu memahami teks dan penguasaan penerjemahan. Hal ini dipengaruhi oleh kedisiplinan untuk memegang gramatika (Nahwu dan Ṣarf) yang diiplementasikan ke dalam penerjemahan kitab-kitab Syindi Oktaviani R. Tolinggi 78 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) klasik. Akan tetapi, mempunyai kelemahan pada sisi praktik kebahasaan (komunikasi) atau dengan kata lain membentuk pola kebahasaan yang pasif. Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren Hubulo Tapa Pada Pesantren Hubulo Tapa, bahasa Arab dijadikan sebagai salah satu bahasa asing yang harus digunakan sebagai bahasa komunikasi wajib seluruh santri yang belajar di pesantren tersebut. Berdasarkan wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian menunjukkan bahwa dalam perkembangannya, pesantren Hubulo memberikan penguatan pada kemampuan berbahasa santri. Kurikulum dikembangkan dengan memasukkan porsiter besar dalam mendukung proses belajar pada penguasaan bahasa asing yaitu salah satunyabahasa Arab. Bahasa Arab di pesantren Hubulo ini berjalan dan berkembang dengan sangat baik. Di pesantren ini, bahasa Arab lebih ditekankan sebagai bahasa yang digunakan oleh santri dalam berkomunikasi sehari-hari. Hal itu dapat dilihat dari santri yang aktif menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi sehari-hari mereka baik di asrama, di dapur ataupun di dalam kelas. Sama halnya dengan pondok pesantren modern pada umumnya. Selain mendapatkan pembelajaran bahasa Arab secara formal di dalam kelas madrasah MTs dan MA, santri juga digodok dan dibiasakan dengan pembelajaran dan kegiatan-kegiatan kebahasaan selama 24 jam di lingkungan asrama, yang setiap asrama baik asrama putra maupun asrama putri memiliki bagian penggerak bahasa masing- masing. Adapun metode pembelajaran yang digunakan di pesantren Hubulo ini adalah bervariasi tetapi tetap berdasarkan pada tujuan dari bahasa itu sendiri di pesantren ini. Sama halnya dengan di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato, titik fokus peneliti adalah hanya pada model pembelajaranbahasa Arab di lingkungan pesantren saja, bukan pada lingkungan madrasah. Secara lebih rinci, berikut adalah metode-metode pembelajaran bahasa Arab yang digunakan di pesantren Hubulo: Pemberian Mufradāt Yaumiyyah (Kosakata Harian) Dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab, sebenarnya yang harus dikenalkan pertama kali adalah kosa katabaik kata kerja, kata benda maupun kata keterangan. Kosa kata merupakan salah satu unsur bahasa yang harus dimiliki oleh Syindi Oktaviani R. Tolinggi 79 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) pembelajar bahasa Asing termasuk bahasa Arab. Perbendaharaan kosakata bahasa Arab yang memadai dapat menunjang seseorang dalamber komunikasi dan menulis dengan bahasatersebut. Gambar 3. Pemberian Mufradāt Yaumiyyah (Kosakata Harian) di Pesantren Hubulo Tapa Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, pelaksanaan pemberian mufrodāt yaumiyyah (kosakataharian) rutin di pesantren Hubulo kepada santri dilaksanakan setiap hari pada pagi hari dan malam hari menjelang tidur. Pemberian kosakata dilakukan oleh bagian penggerak bahasa yang sudah mendapatkan bimbingan dari pembina dan pembimbing asrama masing-masing baik putra maupun putri. Dalam pemberian kosakata, santri dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkat kelas di madrasah untuk mengefektifkan waktu pemberian kosakata tersebut. Kosakata yang diberikan setiap kelas berbeda-beda tergantung tingkatan kelas tersebut. Dalam pemberian kosakata rutin ini, sebelumnya setiap bagian penggerak bahasa akan menuliskan kosakata yang akan diberikan di papan tulis kecil. Kosakata yang diberikan dalam sehari hanya berjumlah dua sampai tiga kosakata saja dan tidak lebih, tetapi diberikan dalam tiga bahasa salah satunya bahasa Arab. Pemberian Muhādaṡah Yaumiyyah (Percakapan Harian) dan Ungkapan Harian (Idiom) Pemberian muhādaṡah di pesantren Hubulo dilaksanakan setiap hari sama halnya dengan pemberian mufradāt. Akan tetapi, untukpemberian muhādaṡah diberikan setiap selesai salat Subuh. Untuk santri putri, mereka akan dipandu oleh santri senior kelas 6 TMI untuk bercakap-cakap dengan teman sesama mereka sedangkan bagian penggerak bahasa putri bertugas untuk mengawasi proses pemberian muhādaṡah Syindi Oktaviani R. Tolinggi 80 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) tersebut. Sedangkan bagi santri putra, mereka dipandu oleh bagian penggerak bahasa putra. Gambar 4. Pemberian Muhādaṡah Yaumiyyah (Percakapan Harian) Santri Putri di Pesantren Hubulo Tapa Gambar 5. Pemberian Muhādaṡah Yaumiyyah (Percakapan Harian) Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa Adapun pemberian ungkapan harian dengan berbahasa Arab dan berbahasa Inggris kepada santri dilaksanakan pada hari jum`at pagi (seminggu sekali) yaitu ketika sebelum melakukan olahraga pagi baik senam dan lari pagi. Dalam pemberian ungkapan harian, seluruh santri diminta untuk berbaris rapi di depan asrama berdasarkan kelas masing-masing. Kemudian seluruh penggerak bahasa maju ke depan para santri dan berbaris rapi menghadap santri. Penggerak bahasa inilah yang akan memandu dan memberikan ungkapan harian kepada santri dengan menggunakan bahasa salah satunya adalah bahasa Arab. Kemudian setelah itu bagian penggerak bahasa akan menuliskan ungkapan tersebut di papantulis sehingga santri dapat melihat dan mengetahui tulisannya dan santri diminta satu per satu untuk menghapalkan ungkapan harian tersebut dan menyetorkannya kepada bagian penggerak bahasa. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 81 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Gambar 6. Pemberian Ungkapan Harian (Idiom) di Pesantren Hubulo Tapa Muhāḍarah (Latihan Pidato Berbahasa Arab) Muhāḍarah merupakan sarana latihan berpidato bagi para santri yang rutin diadakan setiap minggu. Dalam muhāḍarah, santri akan dibiasakan untuk berpidato tidak hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia saja, tetapi juga bahasa Inggris dan terutama bahasa Arab. Muhāḍarah harus diikuti oleh seluruh santri yang berada di pesantren Hubulo baik di asrama putra maupun asrama putri, khususnya tingkat 1 sampai dengan tingkat 4. Sedangkan santri tingkat 5 dan 6 dijadikan sebagai pembimbing dan pengurus yang akan bertanggung jawab atas muhāḍarah, menggantikan peran guru. Gambar 7. Muhāḍarah (Latihan Pidato Berbahasa Arab) Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa Pada pelakasanaannya beberapa santri ditugaskan sebagai mutakallim atau pembicara yang menyampaikan pidato. Mutakallim diberikan tugas menyiapkan bahan pidato yang akan disampikanya itu seminggu sebelum tampil sebagai pembicara. Adapun materi yang akan dibawakan harus ditulis di buku album tersendiri dan disetorkan kepada bagian pengajaran yang bekerjasama dengan bagian penggerak bahasa. Kemudian, setelah buku tersebut dikembalikan oleh bagian pengajaran dan Syindi Oktaviani R. Tolinggi 82 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) setelah pidato yang dibuat oleh santri tersebut dikoreksi oleh bagian pengajaran, maka santri harus menghapalkan pidatonya tersebut. Apabila ada santri yang tidak bisa menghapalkan pidatonya sama sekali, maka dia akan dimasukkan ke dalam mahkamah santri dan akan diberikan sanksi. Kemudian setelah pembicara selesai menyampaikan pidatonya, santri yang hadir akan ditunjuk untuk mengambil inti sari dari salah satu pembicara. Gambar 8. Muhāḍarah (Latihan Pidato Berbahasa Arab) Santri Putri di Pesantren Hubulo Tapa Muhāḍarah ini diadakan guna melatih mental santri agar terbiasa berpidato di depan umum ketika santri terjun ke tengah masyarakat kelak. Dengan adanya muhāḍarah pula, maka akan diketahui kemampuan santri dalam menggunakan bahasa Arab yang baik. Memang para santri sehari-harinya menggunakan bahasa Arab, namun belum pasti telah menggunakan bahasa Arab yang baik dan betul. Maka ketika dalam pelaksanaan muhāḍarah diharuskan menggunakan bahasa Arab yang baik dan benar serta sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang berlaku. Mahkamah dan Sanksi Pelanggaran Bahasa Salah satu bentuk untuk mempertahankan kelangsungan pada peraturan adalah dengan membentuk mahkamah. Aturan yang diberlakukan adalah adanya ketentuan untuk tidak boleh berbahasa daerah dan bahasa Indonesia, demikian pula praktik berbahasa harus sesuai dengan hari yang telah ditentukan. Kalaupun peraturan ini ditetapkan tetapi tidak diawasi, maka akan menjadisia-sia. Oleh sebab itu, di pesantren Hubulo memiliki aturan kemudian dipertahankan dengan melaksanakan mahkamah dan memberikan sanksi bagi para pelanggar. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 83 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Gambar 8. Mahkamah dan Pemberian Sanksi Santri Putri di Pesantren Hubulo Tapa Pesantren ini memberikan sanksi bagi santri yang melanggar bahasa dalam bentuk makhamah bahasa. Bagi santri yang ketahuan menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan pesantren ini, maka santri tersebut akan mendapati namanya berada di deretan nama-nama pelanggar bahasa dan akan disidang di dalam makhamah. Tidak hanya pelanggaran berupa berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja maka santri akan masuk mahkamah kemudian diberi sanksi, akan tetapi selain dari itu untuk pelanggaran seperti santri tidak berbahasa sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, santri tidak mengikuti pemberian mufradāt, muhādaṡah, muhāḍarahdan berbagai kegiatan bahasalainnya, santri tidak menghapalkan mufradāt, muhādaṡah, dan muhāḍarah, santri terlambat mengikuti kegiatan kebahasaan dan pelanggaran- pelanggaran lain yang berkaitan dengan bahasa. Maka akan dengan terang-terangan nama santri tersebut dipanggil ketika pelaksanaan mahkamah. Untuk sanksi yang akan diberikan kepada santri yang melanggar di pesantren Hubulo adalah bervariasi, tergantung pada jenis pelanggaran yang diperbuat oleh santri tersebut. Akan tetapi pesantren Hubulo menerapkan sanksi yang bersifat edukatif. Seperti contohnya pada awalnya sanksi bagi santri putra yang melanggar bahasa adalah dibotak, kemudian sanksi tersebut dirubah dengan sanksi dalam bentuk hapalan baik berupa hapalan ayat-ayat Alquran atau buku-buku berbahasa Arab, agar santri tersebut dalam belajar dari kesalahan yang telah dia perbuat. Karena dengan model hukuman seperti sebelum-sebelumnya malah hanya akan menumbuhkan benih-benih kebencian di hati santri terhadap yang telah memberikan sanksi tersebut kepadanya. Bukan malah memberikan efek jera. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 84 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Gambar 9. Mahkamah dan Pemberian Sanksi Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa Selanjutnya, untuk mengetahui jika ada santri yang melanggar, di pesantren ini pengurus OSPH baik putra maupun putri dalam setiap bagian tidak hanya bagian penggerak bahasa saja bekerja sama dengan seluruh santri agar dapat mengawasi sesama teman. Tidak hanya santri junior saja yang akan mendapatkan sanksi apabila ketahuan melanggar, tetapi juga dengan santri senior dengan sanksi yang dilipatgandakan. Lomba-Lomba dan Model Pembelajaran Tambahan Selain pemberian mufradāt, muhādaṡah, pelaksanaan muhāḍarah, adanya mahkamah dan pemberian sanksi dan juga pemberian ungkapan harian, di pesantren Hubulo ini guna untuk membantu menunjang santri dalam belajar dan membiasakan diri dengan berbahasa, pesantren Hubulo berusaha untuk menghadirkan model-model pembelajaran dan pembiasaan berbahasa yang bervariasi agar dapat mengatasi kebosanan santri dalam belajar bahasa. Pesantren Hubulo mengadakan lomba-lomba yang bertujuan sebagai pemacu motivasi santri. Adapun lomba-lomba yang diadakan oleh pesantren Hubulo adalah misterius kata bahasa Arab dan Inggris dan lomba mengeja kata bahasa Arab dan Inggris yang juga berguna untuk mengevaluasi pengetahuan mufradāt santri. Kemudian ada pula lomba debat bahasa Arab, drama bahasa, pesona bahasa, lomba berpidato, bernyanyi dalam bahasa Arab, lomba menulis kaligrafi, dan juga selain lomba-lomba itu, pesantren Hubulo juga selalu mengutus perwakilan santri dalam mengikuti lomba- lomba seperti debat bahasa Arab dan Inggris, kaligrafi dan lomba qirā`ah al-kutub (membaca kitab-kitab kuning) dalam perlombaan nasional. Semua dilakukan dengan Syindi Oktaviani R. Tolinggi 85 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) harapan agar dapat memotivasi santri untuk selalu belajar dan melatih kebahasaan mereka dengan lebih baik lagi. Gambar 10 dan 11. Lomba Misterius Kata Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa Gambar 12. Lomba Baca Puisi Bahasa Asing Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa Selain dengan model lomba, santri juga belajar dan dibiasakan berbahasa Arab dengan adanya pemberian informasi atau pengumuman dengan menggunakan bahasa Arab di asrama. Tidak ada informasi yang disampaikan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan sejak santri menjadi santri baru, santri tersebut sudah terbiasa mendengarkan informasi atau pengumuman yang disampaikan oleh kakak-kakak santri senior dengan menggunakan bahasa Arab walau sebelumnya santri tersebut tidak mengerti apa arti dari pengumuman tersebut dan itu terjadi setiap hari, sehingga hal itu akan teringat-ingat selalu di dalam pikiran santri dan tiba giliran dia yang menyampaikan informasi santri tersebut sudah terbiasa. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 86 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Gambar 13. Kegiatan Rutin Santri Putra Setiap Pagi Sebelum Berangkat ke Kelas Pembina dan Pembimbing Asrama Akan Bertanya di Depan Gedung Asrama kepada Santri Menganai Kosakata yang Pernah diberikan kepada Mereka Saat pembelajaran beberapa mata pelajaran pesantren seperti Nahwu, Ṣarf, Tafsir Alquran, Balagah, Sejarah Islam, Fikih, Ushul Fikih, Muṭāla`ah dan Muṣṭōlahal- Hadiṡ baik di MTs dan MA, pesantren menggunakan kitab berbahasa Arab sebagai rujukan materi, sehingga santri dapat belajar membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Selain itu, untuk melatih kemampuan santri dalam membaca, di asrama khususnya di asrama putra diadakan pembelajaran kitab atau yang dinamakan komunitas kitab kuning. Komunitas kitab kuning biasanya dilaksanakan setiap malamya itu belajar Nahwu dengan menggunakan kitab berbahasa Arab, yaitu Nahwu Wāḍih. Selain Nahwu juga ada Fikih dan itu dilaksanakan setiap malam bersama pembina asrama. Gambar 14. Pembelajaran Kitab Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa Berdasarkan metode-metode pembelajaran bahasa Arab yang telah dipaparkan di atas, semakin menunjukkan bahwa di pesantren Hubulo bahasa Arab benar-benar dijadikan sebagai alat komunikasi sehari-hari santri yang belajar di pesantren tersebut, Syindi Oktaviani R. Tolinggi 87 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) bahkan tidak hanya santri, namun juga guru-guru yang mengajar di dalam pesantren Hubulo. Adapun metode pembelajaran yang digunakan di pesantren Hubulo adalah penunjang untuk mencapai tujuan bahasa itu sendiri. Metode tersebut begitu membantu santri dalam membiasakan diri dan melatih diri mereka dengan berbahasa karena pesantren Hubulo adalah pesantren yang belajar bahasa tidak hanya sekedar berupa teori saja melainkan juga praktik dalam keseharian. Kemudian faktor terbesar di balik aktifnya bahasa di pesantren Hubulo yaitu karena adanya dukungan lingkungan. Lingkungan pembelajaran menjadi bagian terpenting dalam proses pembiasaan dan pembelajaran bahasa Arab di pesantren. Dukungan lingkungan dalam sebuah praktik pendidikan menjadi rangsangan untuk perkembangan, seperti penggunaan bahasa komunikas sehari-hari di lingkungan pesantren. Dasar yang digunakan dalam menerapkan bahasa bukan karena adanya kemampuan para santri tetapi terlebih dahulu merupakan usaha dalam pembentukan lingkungan. Ada kondisi yang memaksa setiap santri untuk turut dalam aturan ini. Ketika itu terbentuk, maka santri secara otomatis mau tidak mau akan menggunaka bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan di pesantren. Pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato merupakan pondok pesantren yang meskipun telah memasukkan sekolah formal dan mata pelajaran umum dengan menggunakankurikulum Departemen Agama dan Dinas Pendidikan ke dalam pondok pesantren, akan tetapi pondokpesantren ini masih tetapmempertahankan ciri khasnya yaitu pembelajaran kitab kuning dengan menggunakan model pembelajaran yang tradisional. Bahkan untuk pembelajaran bahasa Arab di lingkungan pondok pesantren ini, tujuannya adalah lebih kepada untuk meningkatkan kemampuan santri dalam aspek membaca kitab kuning saja. Sedangkan pesantren Hubulo Tapa, memiliki tujuan utama dalam pembelajaran bahasa Arab yaitu agar santri dapat berkomunikasi aktif dengan menggunakan bahasa Arab. Akan tetapi, tidak hanya sebagai bahasa aktif saja, pesantren ini juga membekali santri dengan kemampuan untuk belajar bahasa Arab dalam membaca dan memahami kitab kuning. Adapun perbedaan antara pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren Hubulo Tapa adalah dari segi tujuan pembelajaran bahasa Arab antara kedua pondok tersebut sehingga mempengaruhi metode pembelajaran bahasa Arab yang Syindi Oktaviani R. Tolinggi 88 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) digunakan di lingkungan pondok pesantren. Karena pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah lebih memfokuskan pada pengajaran kitab kuning, maka metode pembelajaran yang digunakan juga merupakan penunjang untuk tujuan pembelajaran kitab kuning tersebut. Sedangkan pesantren Hubulo adalah pesantren yang lebih memfokuskan pada kemampuan santri dalam bercakap dengan menggunakan bahasa Arab, maka metode pembelajaran bahasa Arab yang digunakan di pesantren Hubulo adalah untuk menunjang kemampuan santri dalam bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Arab. Sedangkan persamaan antara pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan pesantren Hubulo Tapa dalah dalam hal kitab yang digunakan di kedua pondok pesantren tersebut ada beberapa kitab yang sama, akan tetapi metode pengajaran kitab tersebut berbeda. Adanya perbedaan metode pembelajaran bahasa Arab antara kedua pondok pesantren tersebut adalah hal yang lumrah. Bukan untuk mencari metode pembelajaran bahasa Arab mana yang benar dan mana yang salah apalagi mana yang bagus dan mana yang tidak, hal itu terjadi semata-mata tujuan dari pembelajaran bahasa Arab di masing-masing pondok pesantren tersebut. Pembahasan Metode Pembelajaran Bahasa Arab Secara etimologi istilah metode berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “metodos” yang berarti cara atau jalan. Sedangkan secara semantik, metode berarti cara- cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien (Izzan, 2009: 72). Ibnu Khaldun berkata, “Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan ketelatenan, sehingga menjadi cakap dan professional.” Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 89 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Pembelajaran adalah suatu peristiwa atau situasi yang sengaja dirancang dalam rangka membantu dan mempermudah proses belajar dengan harapan dapat membangun kreatifitas siswa. Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam individu (Sadiman dkk, 1986: 7). Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik. Sedangkan menurut Depdiknas, dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sikdiknas Pasal 1 Ayat 20, Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Bambang, 2008: 85). Berdasarkan pengertian di atas dapat dilihat bahwa pembelajaran bukan sekedar transfer ilmu dari guru kepada siswa, melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi interkasi antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Pembelajaran hendaknya tidak menganut paradigma transfer of knowledge, yang mengandung makna bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Tapi upaya untuk membelajarkan siswa ditandai dengan kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan model untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Oleh karena itu pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa itulah sebabnya dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa, dan bukan apa yang dipelajari siswa dan dipahami siswa. Adapun bahasa Arab merupakan alat komunikasi yang berupa kata secara tulisan maupun lisan digunakan oleh orang bangsa Arab dalam mengungkapkan hal yang ada di hati, otak, dan benak mereka (Nasir, : 23). Dengan turunnya Al-Qur’an membawa kosa kata baru dengan jumlah yang luar biasa banyaknya menjadikan bahasa arab menjadi suatu bahasa yang paling sempurna, baik dalam kosa kata, makna, gramatikal, dan ilmu- ilmu lainnya. Di Indonesia bahasa Arab bisa jadi sebagai bahasa kedua bisa juga sebagai bahasa Asing. Bahasa Arab bukan merupakan bahasa pergaulan sehari-hari, maka bagi lingkungan atau masyarakat pada umumnya Indonesia, bahasa Arab merupakan bahasa Syindi Oktaviani R. Tolinggi 90 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Asing. Di sekolah-sekolah bahasa Arab tidak digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran, tetapi sebagai mata pelajaran yang terdiri dari beberapa materi. Secara formal bahasa Arab merupakan bahasa asing. Karena sebagai bahasa yang tergolong asing, sistem pembelajaran bahasa Arab adalah bahasa asing, mulai dari tujuan, materi, sampai kepada strategi dan metode pembelajaran. Dalam pembelajaran bahasa Arab, ada komponen-komponen yang disebut dengan aspek kebahasaan dan aspek keterampilan berbahasa. Aspek kebahasaan berupa unsur-unsur bahasa yang terdiri dari tata bunyi (fonologi/ `ilm al-aṣwāt), tata kata (morfologi/`ilm aṣ-ṣarf), tata kalimat (sintaksis/`ilm nahwu), tata tulis (kitābah), dan kosa kata (al-mufradāt). Sedangkan aspek keterampilan berbahasa terdiri dari empat keterampilan dan keempat keterampilan ini memiliki hubungan erat satu sama lain. Farhatul Atiqoh, mengelompokkan empat keterampilan tersebut menjadi dua kelompok, yaitu: (1) keterempilan reseptif untuk keterampilan pemahaman yang berisi keterampilan menyimak (mahārotu al-istimā`/listening skill) dan keterampilan membaca (mahārotul al-qirō`ah/reading skill), dan (2) keterampilan produktif untuk keterampilan pengungkapan pikiran yang berisi keterampilan berbicara (mahārotul kalām/speaking skill) dan keterampilan menulis (mahārotul kitābah/writing skill (Atiqoh, 2016: 179-212). Setiap ketrampilan itu erat kaitanya satu sama lain, sebab dalam ketrampilan berbahasa mencerminkan pikiranya. Semakin terampil orang berbahasa semakin jelas dan cerah pula jalan pikirannya. Pada awalnya seorang anak belajar dari menyimak perkataan orang tuanya. Kemudian anak akan mampu berbicara setelah menyimak apa yang diajarkan oleh orang tuanya, setelah itu barulah ia belajar membaca dan menulis. Sebenarnya ke empat ketrampilan berbahasa ini adalah satu kesatuan yang sangat berkaitan. Ada tiga kompetensi yang hendaknya dicapai dalam pembelajaran bahasa Arab. Tiga kompetensi yang dimaksud adalah: (1) kompetensi kebahasaan, maksudnya adalah pembelajar mampu menguasai sistem bunyi bahasa Arab, baik cara membedakannya dan pengucapannya, mengenal struktur bahasa, gramatika dasar aspek teori dan fungsi; mengetahui kosa kata dan penggunaannya, (2) kompetensi komunikasi, maksudnya adalah pembelajar mampu menggunakan bahasa Arab dalam mengungkapkan ide-ide dan pengalaman dengan lancar, dan mampu menyerap yang telah dikuasai dari bahasa secara mudah, (3) kompetensi budaya maksudnya adalah memahami apa yang Syindi Oktaviani R. Tolinggi 91 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) terkandung dalam bahasa Arab dari aspek budaya, mempunyai pemahaman terhadap budaya Arab, baik berupa pemikiran, nilai-nilai, adat, etika, maupun seni. Bahasa Arab telah menunjukkan signifikansi dan urgensinya di mata dunia, yaitu menjadi wahana komunikasi dan ajang interaksi di forum-forum internasional, dan kini bahasa Arab sudah diikuti menjadi bahasa yang sejajar dengan bahasa-bahasa dunia lainnya (Bahriah, 2008: 2). Hal ini membuktikan bahwa kedudukan tinggi bahasa Arab dan memiliki peranan penting dalam dunia internasional. Mata pelajaran Bahasa Arab merupakan suatu mata pelajaran yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Arab baik reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tulis. Maka pembelajaran bahasa Arab adalah aktivitas penyampaian ilmu pengetahuan mengenai bahasa Arab oleh seorang pendidik kepada peserta didik yang bertujuan agar peserta didik dapat memahami dan menguasai bahasa Arab serta dapat mengembangkannya menjadi kompetensi dalam keterampilan berbahasa. Adapun pendidik yang dimaksud, menurut peneliti adalah pendidik yang memang memiliki kompetensi dan performansi dalam pembelajaran bahasa Arab. Supaya proses pembelajaran bahasa Arab dapat terlaksana dengan baik, maka pendidik melakukan perencanaan yang matang mengenai proses pembelajaran tersebut, yang di dalamnya menyangkut pendekatan kemudian dituangkan ke dalam strategi pembelajaran, dan diimplementasikan dengan menggunakan metode-metode yang bervariasi sesuai dengan materi dan tujuan yang telah ditetapkan. Serangkaian tahap tersebut terhimpun di dalam metodologi pembelajaran bahasa Arab. Dari pendapat di atas dapat kita simpulkan metode pembelajaran bahasa Arab ialah sistem atau cara yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab agar pelajaran atau materi yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik. Secara sederhana, metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu: pertama, metode tradisional/klasikal dan kedua, metode modern. Metode pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti Syindi Oktaviani R. Tolinggi 92 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) belajar secara mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab, baik aspek gramatika/sintaksis (Qowaid Nahwu), morfem/morfologi (Qowaid As-Sharf) ataupun sastra (adab). Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut adalah metode qowaid dan tarjamah. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad, bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya pesantren salafiah masih menerapkan metode tersebut (Nazarudin, 2007: 187). Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya, bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern, sehingga inti belajar bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapan/ungkapan dalam bahasa Arab. Metode yang lazim digunakan dalam pembelajaran adalah metode langsung (thariqah al–mubasyarah). Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa (Nazarudin, 2007: 195). Guru harus memikirkan metode yang tepat dalam menyampaikan bahan pelajaran. Untuk mengajarkan suatu mata pelajaran, tidak cukup hanya dengan menggunakan satu metode saja. Tepat tidaknya guru dalam memilih metode pembelajaran adalah salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran. Metode adalah bentuk implementasi dari strategi pembelajaran yang telah disusun berdasarkan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Sedangkan pendekatan pembelajaran harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Sehingga metode pembelajaran yang digunakan sangat bergantung pada strategi, pendekatan, materi dan tujuan pembelajaran. Dari hasil observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti, Metode pembelajaran bahasa Arab yang digunakan pada dua pesantren bercorak Salafi dan Khalafi diatas berbeda. Hal ini didasarkan oleh perbedaan tujuan pembelajaran bahasa Arab diajarkan pada kedua Pesantren tersebut. Bahasa Arab diajarkan pada Pesantren Salafi-Safi’yah dimaksudkan untuk mendalami dan menguasi kitab kuning. Penguasaan kompetensi bahasa gramatika dan struktur bahasa sangat membantu para Guru dan Santri dalam proses memahami sebuah karya klasik para ulama terdahulu yang dituliskan dengan struktur dan gramatika bahasa Arab yang kompleks dan rumit. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 93 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Olehnya metode-metode tradisional sangat akrab dan masih dipertahankan dalam mengajarkan Bahasa Arab pada setiap santri di pesantren ini. Berbeda dengan pesantren Salafi-Syafi’iyah Pohuwato, Pesantren Hubulo adalah pesantren yang menganut sistem pondok pesantren Modern atau biasanya disebut pesantren Khalaf. Pondok pesantren ini menerapkan metode yang lebih komunikatif pada santrinya. Pembelajaran bahasa arab lebih pada unsur kreativitas seseorang dalam mengekspresikan suatu bahasa. Bahasa Arab dimaksudkan agar Santri mampu berkomunikasi dan dipat digunakan dalam percakapan sehari-hari antar Santri maupun Guru pada pesantren tersebut. Bahasa arab dititikberatkan pada kemampuan verbal santri untuk mengungkapkan idenya kepada orang lain. Sehingga metode yang dikembangkan di pesantren ini adalah metode komukatif dan praktis. D. SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato merupakan pesantren yang bercorak Salafi dengan pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren tersebut yang hanya terfokus pada pembelajaran gramatika atau kaidah tata bahasa Arab (Nahwu dan Ṣarf) yang diaplikasikan dalam pembelajaran kitab kuning, sehingga pembelaran bahasa Arab di pondok pesantren tersebut adalah bersifat pasif. Metode pembelajaran yang digunakan pula adalah kebanyakan metode pembelajaran tradisional, seperti Sorogan, Bandongan, Wetonan, Pasaran/Kilatan. Sedangkan pesantren Hubulo Tapa adalah pesantren bercorak khalafi dengan pembelajaran bahasa Arab aktif yaitu tidak hanya sekedar teori dan pembelajaran kaidah tata bahasa saja, tetapi penerapan bahasa Arab sebagai bahasa dalam komunikasi sehari-hari santri dengam metode pembelajaran yang lebih modern, yaitu Pemberian mufradāt yaumiyyah (kosakata harian) rutin, pemberian muhādaṡah yaumiyyah (percakapan harian) rutin dan ungkapan harian (idiom) dan muhāḍarah (latihan pidato berbahasa Arab). Syindi Oktaviani R. Tolinggi 94 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) DAFTAR PUSTAKA Ali, A. Pesantren dan Pengembangan Masyarakat. Yogyakarta: LkiS, 2005. Arief, A. Reformulasi Pendidikan Islam. Jakarta: CRSD Press, 2005. Arifin, M. KapitaSelekta Pendidikan Islam. Jakarta: BumiAksara, 2003. Arsyad, A. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya Beberapa Pokok Pikiran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010. Atiqoh, F. Teknik Maudhu` Usbu`iy Sebagai Alternatif untuk Meningkatkan Penguasaan Keterampilan Reseptif dn Produktif Bahasa Arab. Proceedings of Seminar Nasional Bahasa Arab HMJ Sastra Arab Fakultas Satra Universitas Negeri Malang, 2016. Azra, A. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana, 2012. Bahriah, S. dkk. Afaq `Arabiyyah. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2008. Bakri, N. Praktis dan MetodologiPenelitian. Jakarta: PedomanIlmu Jaya, 1994. Bambang, W. Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2008. Chairul, F. “Pembelajaran Bahasa Arab di PondokPesantren Modern dan PesantrenTradisional (Study KomparatifantaraPondokPesantrenAs`ad dan PondokPesantrenSa`adatuddarai Kota Jambi)”. Tesis Program Studi Pendidikan Islam Konsetrasi Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Islam Negeri SunanKalijaga Yogyakarta, 2015. Daulay, H. P. Sejarah Pertumbuhan, dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2007. Dhofier, Z. TradisiPesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES, 1982. Effendy, A. F. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat, 2009. Efendi, N. Manajemen Perubahan di PondokPesantren (Kontruksi Teoritik dan Praktik Pengelolaan Perubahan sebagai Upaya Pewarisan Tradisi dan Menatap Tantangan Masa Depan. Yogyakarta: Kalimedia, 2016. Haedari, A. Mengembangkan Pendidikan Pesantren Berbasis Tradisi. Jurnal Pondok Pesantren Departemen Pendidikan Diniyah dan PondokPesantren. Vol 4, No. 2, Vol. 2, 2006. Hasan, M. A dan Mukti, A. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PedomanIlmu Jaya, 2003. Hilmy, M. Pendidikan Islam dan TradisiIlmiah. Malang: Madani, 2016. Izzan, A. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009.. Kusdiana, A. Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran dan Jaringannya di Wilayah Priangan. Bandung: Humaniora, 2014. Mastuhu. DinamikaSistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian TentangUnsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS, 1994. Syindi Oktaviani R. Tolinggi 95 Available online at http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya, 2010. Moleong, L. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994. Mutohar, A dan Nurul, A. Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam dan Pesantren.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. Nahrawi, A. Pembaharuan Pendidikan Pesantren. Yogyakarta: Gama Media, 2008. Nasir, R. MencariTipologi Format Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan. Yogyakarta: PustakaPelajar, 2005. Nazarudin. Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik, dan Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum. Yogyakarta :Teras, 2007. Sadiman, A. S. dkk. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali, 1986. Soekamto. Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, Jakarta: IKAPI, 1999. Subhan, A. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke-20 Pergumulan Antara Modernisasi dan Identitas. Jakarta: Kencana, 2012. Tuanaya, A. Malik M. Thahadkk. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, 2007. Wahab, Muhbib A. Epistimologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2008. Wekke, Ismail S. Model Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Deepublish, 2014. ------- dan Mat, B. KepemimpinanTransformatif Pendidikan Islam: Gontor, Kemodernan, dan Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: Deepublish, 2016. Yahiji, K. Cara MudahMemahami Kitab Gundul: Strategi Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren. Gorontalo: Sultan Amai Press, 2011. Yasmadi. Modernisasi Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional). Jakarta: Ciputat Press, 2002. Zaenuddin, R. Metodologi dan Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005.