




































Hidayatul Khoiriyah   96                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

 

 

    Volume 5, Nomor 1, Februari  2020 
   ISSN 2442-8965 (P) ISSN 2442-8973 (E) 

 

Deskripsi Pengembangan Kurikulum  

Pembelajaran Bahasa Arab Di Malaysia 

 
Hidayatul Khoiriyah 

hidakhoir3@gmail.com 

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia 

 

ABSTRAK 

Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan sistem pengembangan kurikulum 

pembelajaran bahasa Arab di Malaysia  yang ditinjau dari tujuan, metode, dan evaluasi. 

Penelitian ini adalah penelitian berbentuk kajian pustaka bersifat kualitatif. Data dikumpulkan 

melalui  dokumen kurikulum pembelajaran bahasa Arab di Malaysia. Arsip-arsip tersebut 

diakses melalui internet pada laman Kementerian Pendidikan Malaysia. Selain dokumen, data 

juga dikumpulkan melalui beberapa artikel yang berkaitan dengan kajian penelitian. Hasil 

penelitian menunjukkan bahwa kurikulum pembelajaran bahasa Arab di Malaysia memiliki 

tujuan untuk menguasai empat kemahiran berbahasa, yaitu berbicara, membaca, menulis, dan 

mendengarkan. Namun dalam prakteknya, siswa belum sampai pada tahap berinteraksi dan 

berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Metode pembelajaran yang digunakan pada 

pembelajaran bahasa Arab di Malaysia pada umumnya yaitu metode inquiry, kooperatif, metode 

komunikatif, metode discoverry learning, dan lain-lain. Evaluasi dalam sistem pengembangan 

kurikulum pembelajaran bahasa Arab di Malaysia dilaksanakan dalam penilaian sumatif dan 

formatif.  

Kata Kunci : Pengembangan; Bahasa Arab;  Kurikulum Malaysia. 

 

ABSTRACT 

The purpose of this study is to describe the education system and find out the Arabic 

learning curriculum in Malaysia in terms of objectives, methods, and evaluation. This research 

is a research in the form of library research that is qualitative in nature and takes the object of 

curriculum research documents in Arabic learning in Malaysia. The data used as a source of 

writing are archives from the Ministry of Education of Malaysia which are accessed by internet, 

and several articles relating to the study. The results of the study indicate that the Arabic 

language learning curriculum in Malaysia aims to have four language skills, but has not yet 

reached the stage of interacting and communicating, both verbally and in writing. The method 

used in Malaysia is the inquiry method, cooperative, etc. Evaluation in Malaysia’s curriculum 

system was carried out through summative and formative assessments. 

Keywords : Development;  Arabic Language;  Malaysia’s Curriculum. 

http://u.lipi.go.id/1421293761


Hidayatul Khoiriyah   97                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

A. PENDAHULUAN 

Dalam kehidupan yang semakin modern ini, pendidikan mutlak diperlukan. 

Pendidikan yang seperti apa, tentunya pendidikan yang mampu membekali peserta 

didik dengan kemampuan, keterampilan, serta kompetensi dalam menghadapi 

persaingan global di masa mendatang. Pendidikan juga merupakan sebuah kunci utama 

dalam kemajuan sebuah peradaban. Dimana semakin baik kualitas pendidikannya tentu 

semakin maju peradaban sebuah bangsa. 

Pendidikan merupakan salah satu upaya dalam mewariskan nilai, yang akan menjadi 

pedoman dalam menjalani kehidupan manusia. Dengan pendidikan, manusia 

diharapkan dapat mengembangkan potensi diri melalui kegiatan pengajaran atau 

dengan cara lain yang diakui oleh masyarakat luas. Dengan pendidikan, manusia juga 

diharapkan dapat menghadapi dan menyelesaikan problematika kehidupan yang 

dilaluinya. Pendidikan memiliki berbagai macam komponen, salah satunya adalah 

kurikulum.  

Faktor yang sangat menentukan dalam mensukseskan pendidikan sebagai motor 

penggerak pembentukan karakter bangsa adalah pengembangan kurikulum. Abdul 

Wahab (2016) berpendapat bahwakurikulum (manhaj) merupakan “jantung” institusi 

pendidikan atau sistem pembelajaran.Sedangkan menurut Muhaimin (2009), 

Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok aktivitas pendidikan, dan 

merupakan penjabaran dari idealisme, cita-cita, tuntutan masyarakat, atau kebutuhan 

tertentu.Dari kurikulum inilah akan diketahui arah pendidikan, alternatif pendidikan, 

fungsi pendidikan serta hasil pendidikan yang hendak dicapai dari aktivitas pendidikan. 

Karena itu, kurikulum selalu menjadi bahan perbincangan yang menarik dan aktual, 

bahkan di kalangan masyarakat pendidikan sering muncul ungkapan bahwa “ganti 

materi ganti kurikulum”, walaupun dalam kenyataannya tidak demikian. Karena itu, 

pengembangan kurikulum merupakan suatu keniscayaan, termasuk pengembangan 

kurikulum Bahasa Arab, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, 

tuntutan sosial masyarakat, dan perkembangan global. 

Kurikulum dapat dipahami sebagai alat sentral bagi keberhasilan pendidikan. Peran 

ini menjadi kunci bagaimana pendidikan akan diarahkan. Oleh karena itu, kurikulum 

harus dibangun dengan sedemikian rupa, sehingga mampu mencakup segala kebutuhan 

peserta didik, dan tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal. 



Hidayatul Khoiriyah   98                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Kurikulum mencakup semua elemen yang diperlukan dalam sebuah pembelajaran 

mulai dari tujuan, proses pembelajaran, waktu, guru, pembelajar dan lembaga itu 

sendiri, sehingga proses pembelajaran ada yang mengarahkan pada suatu pencapaian 

yang maksimal. 

Kurikulum bersifat dinamis, artinya dapat berubah sewaktu-waktu disesuaikan 

dengan perkembangan zaman, serta didasarkan pada apa yang diharapkan masyarakat 

dari pendidikan itu sendiri. Khairul Azrin (2011) menyatakan bahwa perubahan dan 

pengembangan kurikulum pendidikan tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara lain 

seperti Malaysia yang menjadi fokus penelitian ini juga demikian. Sebelum Malaysia 

merdeka dan sebelum masa penjajahan, kurikulum pendidikan formal belum 

ditetapkan. Ketika itu baru ada bentuk pendidikan Islam di pondok dan surau. 

Sementara ketika masa penjajahan Inggris di Malaysia kurikulum disesuaikan dengan 

kebangsaan masing-masing, seperti pekerja dari Cina menggunakan sistem pendidikan 

yang diadopsi dari Cina seperti halnya pekerja dari India membawa sistem 

pendidikannya ke Malaysia. 

Selepas merdeka, Malaysia kemudian menerapkan kurikulum yang juga terus 

mengalami perkembangan, mulai dari didirikannya komite kesepakatan umum tentang 

silabus dan time table, pendirian pusat perkembangan kurikulum di bawah 

Kementerian Pendidikan Malaysia, sampai dengan dicetuskannya Kurikulum Baru 

Sekolah Rendah (KBSR) dan Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah (KBSM). Saat 

ini Malaysia menggunakan kurikulum yang sudah dikembangkan yaitu Kurikulum 

Standar Sekolah Rendah (KSSR) dan Kurikulum Standar Sekolah Menengah (KSSM). 

Perkembangan kurikulum yang terus disempurnakan dari waktu ke waktu tersebut 

menunjukkan betapa pentingnya peran kurikulum dalam pendidikan di suatu negara. 

Pengembangan kurikulum umumnya dilakukan sebagai hasil evaluasi dari kurikulum 

sebelumnya. Diantara problematika yang dihadapi oleh Malaysia dalam pembelajaran 

bahasa Arab adalah sebagai berikut: pengajaran berbasis pada guru, pengajaran 

didasarkan pada terjemahan teks, kurang latihan dan pertanyaan, kurangnya 

penggunaan bahasa, kurangnya aktivitas yang dapat membantu penguasaan bahasa, 

sikap pasif peserta didik dalam pembelajaran, dan kurangnya komunikasi 

menggunakan bahasa Arab. 



Hidayatul Khoiriyah   99                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Terdapat beberapa hal yang mendasari pemilihan Malaysia sebagai latar penelitian 

ini. Di samping dari segi pembelajaran terkait problematika pembelajaran bahasa Arab, 

juga karena di Malaysia 64% dari total penduduknya beragama Islam. Hal ini 

berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan Islam terlebih terhadap pembelajaran 

bahasa Arab di Malaysia. Karena bahasa Arab pada awalnya sama-sama digunakan 

untuk mempelajari ajaran Islam. 

Berbicara mengenai kurikulum, tentu tidak lepas dari empat komponen utamanya, 

yaitu tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Dari keempat komponen tersebut nantinya 

dapat menggambarkan bagaimana kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran 

bahasa Arab di Malaysia. 

Penelitian ini berfokus pada analisis isi dokumen kurikulum pendidikan khususnya 

bahasa Arab di Malaysia untuk kelas awal (I-III). Peneliti berharap dengan mengetahui 

kurikulum di Malaysia dapat menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum bahasa 

Arab di masa mendatang. 

Penulisan artikel ini bertujuan memberikan gambaran penerapan sistem pendidikan 

dan kurikulum, khususnya kurikulum pengembangan pembelajaran bahasa Arab di 

Malaysia sebagai bahan refleksi pengembangan kurikulum di Indonesia. 

B. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Sistem Pendidikan 

Sistem pendidikan merupakan satu kesatuan yang saling terkait dalam upaya 

mencapai tujuan pendidikan. Secara garis besar, konsep pendidikan memiliki dua 

pengertian, yaitu pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Pengertian secara 

sempit adalah usaha yang dilakukan secara terencana, terorganisir, dan dilaksanakan 

secara formal dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. 

Berdasarkan dari pengertian tersebut sistem pendidikan meliputi komponen-komponen 

yang terdiri dari tujuan pendidikan, kurikulum, tenaga kependidikan, dan partisipasi 

masyarakat dalam kegiatan pendidikan (stakeholder). Sedangkan pendidikan dalam arti 

luas adalah segala tindakan yang bertujuan untuk merubah perilaku manusia menuju ke 

arah yang lebih baik. Dengan demikian, sistem pendidikan itu sendiri merupakan 

bagian dari sistem sosial. 



Hidayatul Khoiriyah   100                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Sistem pendidikan di Malaysia adalah sistem pendidikan kebangsaan. 

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum kebangsaan, yaitu memadukan 

penguasaan ilmu pengetahuan, kerohanian, nasionalisme dan patriotisme, dan sikap dan 

tindakan yang terpuji (nilai sivik). Bahasa utama yang digunakan dalam proses 

pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah bahasa Melayu dan Inggris. 

Aslindah (2015) menambahkan sistem pendidikan di Malaysia pada dasarnya 

mengadopsi sistem pendidikan yang digunakan oleh Inggris, secara umum di sana lebih 

maju. Kunci utama majunya sistem pendidikan di Malaysia adalah: 1) bersedia belajar 

dari negara yang lebih maju, 2) alokasi anggaran pendidikan yang cukup memadai, dan 

3) membuat perencanaan pendidikan jangka panjang yang sistematis dijalankan dengan 

konsekuen. 

Pendidikan bersifat wajib bagi anak-anak usia sekolah, yaitu antara usia 6 

sampai dengan 17 tahunan. Pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah meliputi 

pendidikan Umum dan pendidikan Agama. Pendidikan umum sangat dipengaruhi oleh 

sistem pendidikan negeri Inggris. Sejak tahun 1982, pemerintah Malaysia menerapkan 

kurikulum bersepadu sekolah Menengah yang disebut KBSM menggantikan kurikulum 

lama sekolah menengah (KLSM) yang masih digunakan sampai sekarang dengan terus 

melakukan revisi-revisi perbaikan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. 

Pendidikan dimulai dari pra sekolah, sekolah dasar (rendah) dan sekolah 

menengah, kemudian sekolah tinggi. Pendidikan pra sekolah tidak ada aturan yang 

tetap pada saat anak memulai pendidikan pra sekolah, secara umum anak-anak masuk 

pra sekolah mulai usia 3-6 tahun. Pendidikan pra sekolah biasanya berlangsung selama 

2 tahun, pendidikan ini dilaksanakan sebelum anak-anak masuk ke sekolah dasar. 

Malaysia menerapkan pendidikan rendah/dasar selama 6 tahun yang dimulai 

pada usia 7 tahun. Kemudian dilanjutkan pendidikan menengah selama 5 tahun. 

Pendidikan menengah ini terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan menengah rendah 

dilaksanakan selama 3 tahun, dimulai dari tingkatan I sampai tingkatan III, setelah itu 

siswa melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu sekolah menengah tinggi. Pada 

tingkatan ini siswa menempuh pendidikan selama 2 tahun, yang terdiri dari tingkatan 

IV dan V. Dengan demikian pengelolaan sekolah menengah rendah dan sekolah 

menengah tinggi menjadi satu kesatuan manajemen, siswa dididik dalam lingkungan 



Hidayatul Khoiriyah   101                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

yang sama, sehingga guru dapat memantau proses perkembangan anak baik secara 

psikologis maupun perkembangan intelektual.  

Nur’aeni Marta (2015)menyatakan bahwa berdasarkan falsafah pendidikan 

kebangsaan, pendidikan di Malaysia adalah suatu usaha yang berkelanjutan 

(berterusan) ke arah lebih memperkembangkan potensi individu secara menyeluruh dan 

bersepadu untuk melahirkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, 

rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan. 

Pendidikan di Malaysia dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan warga negara 

Malaysia yang berilmu pengetahuan, berketerampilan, berakhlak mulia, bertanggung 

jawab dan berkemampuan mencapai kesejahteraan diri serta memberikan sumbangan 

terhadap keharmonisan dan kemakmuran keluarga, masyarakat dan negara. Tujuan 

pendidikan yang dirumuskan secara jelas tersebut, menjadikan arahan dan petunjuk 

yang mudah difahami dan dilaksanakan oleh guru-guru selaku pelaksanan pendidikan 

di lapangan. 

Struktur Kurikulum Pendidikan  

Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, karena di dalam 

kurikulum terdapat komponen-komponen yang mencakup tujuan pendidikan, materi 

pelajaran, media dan sumber belajar, serta sistem evaluasi. Berdasarkan Peraturan 

Kementerian Pendidikan Malaysia (2014) kurikulum pendidikan Malaysia adalah 

kurikulum kebangsaan. Kurikulum kebangsaan ini bertujuan untuk melahirkan murid 

yang seimbang, berdaya tahan, bersifat ingin tahu, berprinsip, bermaklumat, dan 

patriotik serta mempunyai kemahiran berfikir, berkomunikasi dan bekerja sama. 

Sebagai upaya untuk menghadapi abad 21, maka pendidikan berupaya mempersiapkan 

daya saing siswa pada tataran global sebagaimana digariskan dalam pembangunan 

pendidikan Malaysia, yaitu setiap siswa memiliki kemahiran memimpin, kemahiran 

dwibahasa, etika dan kerohanian, identitas sosial, pengetahuan dan kemahiran berfikir. 

Nur’aeni menyatakan (2015) bahwa sejak tahun 1982, pendidikan sekolah 

menengah di Malaysia menggunakan kurikulum bersepadu sekolah menengah (KBSM). 

Kurikulum yang dikembangkan di Malaysia adalah kurikulum yang menekankan pada 

pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan pendekatan 

konstruktivistik. Guru berperan sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi kegiatan 

pembelajaran bukan penyampai pengetahuan, sumber belajar bukan hanya berasal dari 



Hidayatul Khoiriyah   102                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

guru dan buku teks, tetapi siswa didorong agar dapat memanfaatkan lingkungannya 

sebagai sumber belajar. Pendekatan konstruktivistik ini membantu siswa membangun 

sendiri makna pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan pengetahuan dan 

pengalaman yang dimiliki siswa. 

Perubahan kurikulum mengacu kepada usaha memperbaiki program 

pembelajaran untuk meningkatkan keberhasilan murid dalam mencapau enam aspirasi 

yaitu pengetahuan, kemahiran berfikir, kemahiran memimpin, kemahiran dwibahasa, 

etika dan kerohanian serta identitas nasional seperti yang dituangkan dalam Peran 

Pembangunan Pendidikan Malaysia (PPPM) 2013-2015. 

Dalam Peraturan Kementerian Pendidikan Malaysia (2016)dijelaskan bahwa 

dalam bagi memastikan kesinambungan pendidikan rendah dengan pendidikan 

menengah, transformasi kurikulum dilaksanakan ke atas Kurikulum Bersepadu Sekolah 

Menengah (KBSM). KBSM diperlukan dan ditambah baik bagi memastikan kurikulum 

senantiasa relevan dengan keperluan semasa dan cabaran abad ke-21 serta selari dengan 

Pelan Transformasi Kerajaan. Kurikulum baharu ini dikenali sebagai Kurikulum 

Standard Sekolah Rendah (KSSR) dan Kurikulum Standard Sekolah Menengah 

(KSSM). 

Kurikulum Pengajaran Bahasa Arab di Malaysia 

Pengajaran Bahasa Arab di Malaysia telah meletakkan matlamat membolehkan 

pelajar menguasai empat kemahiran bahasa yaitu kemahiran mendengar, bertutur, 

membaca, dan menulis. Di Malaysia pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab masih 

belum berada di tahap yang memuaskan. Kenyataan ini diteguhkan dengan pernyataan 

Muhammad Pisol dalam Ab. Halim Mohammad (2009) yaitu kelemahan pelajar IPTA 

dalam menguasai bahasa Arab sudah diketahui umum dan amat mendukacitakan. 

Mereka juga kurang membaca dan memahami bahasa surat kabar. Selain itu, prestasi 

belajar dalam penguasaan bahasa Arab khususnya tata bahasa Arab didapati semakin 

merosot.Oleh karena yang demikian, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. 

Diantaranya dengan melihat kembali permasalahan yang menjadi batu sandungan dan 

berusaha mengatasinya.  

 

 

 



Hidayatul Khoiriyah   103                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Masalah Kurikulum Bahasa Arab di Malaysia 

a. Pengajaran Berbasis Kepada Guru  

kebanyakan sekolah-sekolah Arab masih berorientasi proses pengajaran 

yang berpusat pada guru semata-mata. Siswa hanya mendengarkan dan mencatat 

apa yang perlu untuk mereka. Pandangan dan kontribusi mereka dalam proses 

tersebut tidak diberi penekanan. Ada juga siswa yang tidak pernah membaca 

langsung kutipan di dalam kelas. Begitu juga mereka tidak pernah bertanya atau 

ditanya. Ada juga siswa yang tidak pernah mengeluarkan pendapatnya atau 

memberi kesimpulan terhadap apa yang dipelajarinya. Hasil dari proses 

pengajaran seperti ini siswa menjadi lembab dan tidak aktif khususnya untuk 

menyuarakan pendapat dan pandangan. Ini jelas terlihat ketika diajukan 

pertanyaan kepada  mereka. 

Dampak dari proses ini juga siswa tidak memiliki keyakinan diri dalam 

memahami pelajaran yang dipelajarinya secara mandiri. Mereka hanya 

mengandalkan guru saja. Dampak yang buruk kepada mereka adalah kurangnya 

keterampilan berkomunikasi dan keterampilan diri. Guru-guru pula ada yang 

berpendapat bahwa proses pengajaran satu arah ini perlu karena pengetahuan 

siswa terlalu terbatas. Mereka tidak mampu untuk berbicara dan mengeluarkan isi 

diskusi pada teks. Begitu juga mereka tidak dapat memahami teks dengan 

membaca sendirian. Mereka membutuhkan terjemahan murni yang harus 

diberikan oleh guru. Sebenarnya proses pengajaran yang berpusat pada siswa 

dapat dilaksanakan dengan bimbingan dari guru. Siswa harus diberi kesempatan 

untuk berinteraksi dan mengemukakan pandangan. Begitu juga mereka harus 

diajukan beberapa persoalan yang terkait dengan subjek mereka. Guru hanya 

berperan sebagai fasilitator saja di dalam kelas. 

b. Pengajaran Berteraskan Kepada Terjemahan Teks 

Proses terjemahan ini mengambil masa yang banyak dalam proses 

pengajaran. Boleh dikatakan ke semua sekolah Arab berpegang kepada 

terjemahan bagi memudahkan proses pengajaran dan pelajar dapat memahami 

subjek yang dipelajari dengan mudah. Proses terjemahan ini berlaku dengan sebab 

pengajian lebih berpusat kepada guru. Terjemahan ini tidak membantu pelajar 

untuk menguasai ilmu yang mereka belajar dengan sendiri dan juga tidak 



Hidayatul Khoiriyah   104                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

membantu untuk aktif dan berinteraksi di dalam kelas. Ia lebih menyumbang 

kepada bersifat pasif. Terjemahan ini tidak boleh diatasi dengan memberi tugas 

kepada pelajar bagi mencari isi penting atau membentangkan kefahaman mereka. 

Begitu juga penggunaan kamus yang efektif boleh membantu pelajar untuk coba 

memahami sendiri subjek yang dipelajari. 

Bagi guru-guru yang menggunakan proses terjemahan ini pula, mereka 

berpendapat bahwa siswa tidak memiliki kemampuan sendiri untuk membaca dan 

memahami. Hasil dari tanggapan mereka inilah proses terjemahan berlangsung 

sampai hari ini. Sewajarnya siswa harus diberi tugas dan kesempatan untuk 

berinteraksi dalam kelas untuk menyuntikkan keyakinan ke dalam jiwa mereka. 

Untuk menggantikan terjemahan ini, pendekatan harus diperkenalkan. Pendekatan 

tersebut harus dapat memberikan efek yang baik dalam penguasaan ilmu. Antara 

pendekatan yang bisa diaplikasikan adalah pengajaran harus berpusat kepada 

siswa. 

Siswa harus didedahkan dengan strategi mandiri sehingga mereka dapat 

melakukan kegiatan pembelajaran dengan sendiri. Guru harus memberi 

kesempatan kepada siswa untuk membaca, mencari makna, membuat pemahaman, 

kesimpulan dan presentasi. Peran guru hanyalah membahas isi penting yang 

disajikan oleh siswa. Proses pembelajaran berlangsung dengan diskusi di antara 

siswa yang dipimpin oleh guru. Dengan banyak berusaha sendiri siswa akan dapat 

menguasai ilmu dengan cepat dan baik. 

c. Kurang Latihan dan Pertanyaan 

Latihan dan pertanyaan merupakan unsur utama dalam menyukseskan 

proses pembelajaran. Ini merupakan pilar untuk mengetahui efektivitas 

pembelajaran. Setiap periode pembelajaran harus diadakan latihan dan pertanyaan 

untuk menguji prestasi siswa. Latihan dan pertanyaan juga merupakan dorongan 

untuk siswa terus belajar dan menanamkan semangat untuk terus sukses. Ini dapat 

merangsang dan mengaktifkan siswa. Begitu juga ia dapat membentuk sikap 

positif di kalangan siswa. 

Guru harus selalu memberikan pelatihan kepada siswa terhadap mata 

pelajaran yang dipelajarinya dan memperbaiki pelatihan tersebut untuk memberi 

paparan siswa terhadap kesalahan yang biasa dilakukan. Dari kesalahan ini siswa 



Hidayatul Khoiriyah   105                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

akan dapat meningkatkan penguasaan ilmu mereka. Tes mendadak juga perlu 

untuk menyuntikkan kesadaran dan kepekaan terhadap subjek yang dipelajari. 

Siswa akan selalu berada dalam kondisi siap untuk menghadapi tes tersebut. 

Persoalan juga harus selalu dikemukakan oleh guru kepada siswa di dalam kelas 

secara acak untuk menimbulkan minat dan perihatin mereka. Untuk 

menyukseskan kegiatan pembelajaran, guru disarankan agar memperbanyak 

latihan kepada siswa di dalam kelas. Pertanyaan ini akan dapat memberi perhatian 

dan juga kesadaran kepada siswa untuk terus belajar. Begitu juga ia dapat 

menambahkan pengetahuan dan usaha siswa untuk terus belajar. 

d. Kurang Penggunaan 

Alat bantu mengajar dan bahan bacaan tambahan untuk menarik minat dan 

menambah pengetahuan dan penguasaan siswa, alat bantu mengajar harus 

digunakan dan juga bahan bacaan luar harus diversifikasi. Alat bantu mengajar 

yang selalu digunakan oleh guru-guru di sekolah-sekolah tersebut adalah papan 

putih atau hitam saja untuk memperjelas dan menguraikan subjek yang diajarkan. 

Penggunaan laboratorium bahasa untuk meningkatkan bahasa kurang digunakan. 

Begitu juga alat-alat ICT bantu mengajar yang lain. Sebagaimana yang 

diungkapkan oleh Abu Bakar Zainuddin dkk, (2007), pada hari ini ICT menjadi 

kebutuhan bagi semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan dan menyalurkan 

informasi. Begitu juga ia menjadi satu kebutuhan dalam bidang kehidupan 

modern saat ini seperti bisnis, perdagangan, industri, hiburan, medis dan 

administrasi. Begitu juga kebutuhannya dalam bidang pendidikan tidak 

terbantahkan. 

e. Kurang Aktivitas  

Untuk membantu siswa menguasai bahasa berbagai kegiatan bahasa harus 

diadakan. Aktivitas ini dapat membantu siswa untuk membangun identitas diri 

dan jati diri. Ilmu yang dipelajari harus mengupas untuk membangun 

keterampilan komunikasi. Begitu juga penggunaan bahasa dapat dicapai melalui 

kegiatan bahasa. Aktivitas ini dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran 

dalam kelas dengan mengadakan kelompok. Begitu juga ia dapat dilakukan 

melalui kuis. Aktivitas juga bisa diadakan di luar kelas seperti berkemah dan 

sebagainya. Begitu juga akting atau pementasan memiliki manfaat yang besar 



Hidayatul Khoiriyah   106                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

dalam menyumbang keterampilan komunikasi dan kemasyarakatan. Aktivitas 

perdebatan juga banyak membantu siswa dalam membangun pemikiran kritis dan 

kreatif. Guru harus banyak berperan dalam menyukseskan kegiatan seperti ini. 

Siswa akan dapat itu terjadi melalui dorongan guru. Setiap kegiatan harus disertai 

oleh siswa yang berbeda untuk memberi kesempatan kepada mereka, serta turut 

menjadi favorit mereka kegiatan study tour. 

f. Kurang Komunikasi Arab 

Lingkungan yang tidak membantu dalam pembelajaran bahasa adalah tidak 

menggunakan bahasa Arab dalam berkomunikasi. Persekiran berkomunikasi 

bahasa Arab akan diciptakan untuk membantu penguasaan bahasa yang baik. 

Lingkungan ini dapat dibentuk melalui penyampaian subjek di dalam kelas, reuni 

siswa dengan guru dan interaksi sesama siswa dan guru. Siswa yang belajar 

bahasa akan dapat menggunakan bahasa tersebut saat berkomunikasi. Lingkungan 

ini akan dapat membantu siswa untuk memahirkan penggunaan bahasa dalam 

situasi yang berbeda. Penggunaan bahasa Arab dalam proses pengajaran adalah 

penting bagi memahirkan siswa dengan bahasa, siswa yang selalu mendengarkan 

kata dan ayat yang selalu digunakan oleh guru akan dapat menguasainya dengan 

lebih baik. Guru harus menggunakan bahasa Arab dalam kelas dan di luar kelas. 

Dengan penggunaan ini siswa juga akan turut  menggunakannya. Dengan adanya 

penggunaan dari kedua belah pihak, suasana berkomunikasi dalam bahasa Arab 

akan dapat dihidupkan. 

Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab 

Pengembangan berarti tindak lanjut dari pertumbuhan. Dalam Kamus Besar Bahasa 

Indonesia kata pengembangan diberi makna “proses, cara, perbuatan mengembangkan”. 

MenurutMuhaimin (2009), istilah pengembangan dapat bermakna kuantitatif dan 

kualitatif, yang bisa dalam bentuk: 1) Memperkaya nuansa pemikiran dan teori yang 

sudah ada; atau 2) Merevisi dan menyempurnakan pemikiran dan teori yang sudah ada; 

atau 3) Mengganti pemikiran dan teori lama dengan pemikiran dan teori baru; atau 4) 

Menciptakan pemikiran dan teori yang belum ada sebelumnya. 

Dalam narasi yang lain, Abdul Wahab (2016) menjelaskan bahwa kurikulum 

merupakan seperangkat pengalaman dan program pendidikan yang terencana yang 

didesain dan diberikan oleh institusi pendidikan kepada peserta didik dengan tujuan 



Hidayatul Khoiriyah   107                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

membantu mereka tumbuh dan berkembang secara terpadu (fisik, mental, intelektual, 

emosional, spiritual, sosial, dan sebagainya) sehingga mampu beradaptasi dan berkreasi 

dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan mereka. Oleh karena itu, dapat 

dipahami bahwa kurikulum (manhaj) merupakan “jantung” institusi pendidikan atau 

sistem pembelajaran. 

Sementara itu, Ismail Muhammad (1997) menyatakan bahwa kurikulum 

pembelajaran bahasa Arab menjadi sangat urgent untuk dikembangkan agar proses 

pembelajaran (bahasa Arab) menjadi lebih bermutu, mengikuti perkembangan keilmuan 

(relevansi intelektual) dan kebutuhan masyarakat, serta output yang dihasilkan sesuai 

dengan tuntutan pasar (relevansi sosial). Sehingga dengan pengembangan kurikulum, 

tujuan pembelajaran, isi (content), metode, media, interaksi, dan evaluasi pembelajaran-

pembelajaran bahasa menjadi jelas, terarah, dan terukur. Ahmad Thu’aimah (2001) 

menyatakan bahwa pengembangan kurikulum bahasa Arab sama dengan pengembangan 

kurikulum lainnya. Oleh karena itu, mau tidak mau harus bersentuhan dengan asas-asas 

pengembangan kurikulum secara umum, yaitu: landasan linguistik, landasan edukatif, 

landasan psikologis, dan landasan sosial. 

Bahasa Arab dan Pembelajarannya 

Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya 

aktivitas belajar dalam diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan sesuatu 

hal yang bersifat eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya proses 

belajar internal dalam diri individu. 

Walter Dick dan Lou Carey (2005) mengidentifikasi pembelajaran sebagai rangkaian 

peristiwa atau kegiatan yang disampaikan secara terstruktur dan terencana dengan 

menggunakan sebuah atau beberapa jenis media. Proses pembelajaran mempunyai 

tujuan agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai 

tujuan tersebut proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik. 

Menurut A.Akrom Malibary dkk, (1976) sebenarnya bahasa adalah sistem lambang-

lambang berupa bunyi yang digunakan oleh segolongan masyarakat tertentu untuk 

berkomunikasi dan berinteraksi. 

Sementara itu, menurut Fatwiah Noor (2018), bahasa Arab adalah salah satu hal yang 

sangat penting dalam sebuah kehidupan manusia. Sebab dengan bahasa itulah manusia 

bisa berkomunikasi dan menyampaikan semua gagasan dan isi pikirannya, memenuhi 



Hidayatul Khoiriyah   108                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

semua kebutuhan hidupnya dan mewarnai kehidupannya. Adapun makna bahasa 

beragam, tergantung pada perspektif yang memberi makna terhadap bahasa tersebut dan 

motif yang ingin dicapainya. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, sebuah pembelajaran merupakan upaya 

membelajarkan siswa. Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat 

mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dapat dilakukan 

dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, 

menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi 

penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan 

menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar 

harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam 

setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat 

terpenuhi. Dalam hal ini peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan 

pembelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan 

strategi pembelajaran. 

Pembelajaran yang baik memerlukan suatu proses perencanaan yang disusun secara 

matang dan sesuai dengan standar proses pendidikan kesetaraan yang meliputi: 

Perencanaan Proses Pembelajaran, Pelaksanaan Pembelajaran, Penilaian Proses, Hasil 

Pembelajaran dan Pengawasan Proses Pembelajaran.  

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, 

pembelajaran bahasa adalah upaya membelajarkan siswa bagaimana cara berkomunikasi 

dalam hal ini dikhususkan untuk pembelajaran berkomunikasi dengan bahasa Arab. 

Pembelajaran diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam 

berkomunikasi bahasa Arab, baik lisan maupun tulis. Menyimak dan berbicara adalah 

dua keterampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab secara lisan, 

sedangkan membaca dan menulis adalah dua keterampilan yang berkaitan dengan 

penggunaan bahasa Arab secara tulisan. 

Muhammad Waly (1998) menyatakan bahwa selain empat keterampilan di atas, ada 

aspek lain yang tidak kalah pentingnya dan ikut mempengaruhi ketercapaian tujuan 

pembelajaran bahasa Arab secara komprehensif. Aspek tersebut adalah unsur-unsur 

bahasa (al-‘anāsir al-lughawiyyah), yaitu fonologi (ashwat), morfologi (sharaf), 

sintaksis/kalimat (nahwu), semantik (dalālah), dan kosakata (mufrādat). 



Hidayatul Khoiriyah   109                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Desain Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab di Malaysia 

Tujuan Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab 

1. Tujuan Umum 

Tujuan umum adalah tujuan pembelajaran bahasa Arab yang tercantum 

dalam kurikulum. Tujuan umum ini antara lain: 

a. Pembelajaran bahasa Arab sebagai tujuan, dimaksudkan untuk membina 

ahli bahasa Arab, yang meliputi bidang ilmu bahasa (linguistik), bidang 

pembelajaran bahasa dan bidang sastra. 

b. Pembelajaran bahasa Arab sebagai alat, dimaksudkan untuk memberikan 

kepada siswa kemahiran dalam bahasa Arab dalam aspek tertentu sebagai 

alat untuk keperluan tertentu pula. Misalnya, sebagai alait komunikasi 

dalam pergaulan sehari-hari, sebagai alat untuk memahami buku-buku 

berbahasa Arab, sebagai alat pembantu keahlian lain (supplementary), 

sebagai alat pembantu teknik (rocational). 

2. Tujuan Khusus 

Yang dimaksud tujuan khusus ialah tujuan untuk masing-masing langkah 

(steps) pada setiap pokok bahasan. Tujuan khusus ini hendaknya cukup 

operasional dan spesifik sehingga dapat dijadikan dasar untuk menetapkan jenis 

tes yang akan digunakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang 

diinginkan anak dari aspek fisik bahasa dapat tercapai. 

Tarigan (1989) menjelaskan bahwa adapun tujuan akhir dari 

pembelajaran bahasa Arab ialah agar siswa terampil berbahasa: terampil 

menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. 

Selain pengklasifikasian di atas, tujuan pembelajaran bahasa Arab secara 

umum dibagi menjadi dua yaitu: 

a. Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab Secara Umum 

Tujuan umum adalah tujuan pembelajaran bahasa Arab yang tercantum 

dalam kurikulum, baik itu di sekolah, perguruan tinggi maupun lembaga-

lembaga  pendidikan Islam lainnya. Tujuan umum ini antara lain: 

Menurut Abu Bakar (1981), tujuan umum ialah tujuan dari pelajaran itu 

sendiri dan yang bertalian dengan bahan pelajaran tersebut. Tujuan umum 

sulit dicapai tanpa dijabarkan secara operasional dan spesifik. Dalam narasai 



Hidayatul Khoiriyah   110                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

yang lain, Hermawan (2011) menyatakan bahwa tujuan umum pembelajaran 

bahasa Arab adalah sebagai berikut: 

1. Tujuan Religius 

Yaitu belajar bahasa Arab dengan tujuan memahami dan mengajarkan 

ajaran agama Islam yang termaktub dalam al-Qur’ān dan al-Hadīs. Orientasi 

ini adalah berupa keterampilan pasif, yaitu mendengar dan membaca, juga 

keterampilan aktif, yaitu  berbicara dan menulis. 

2. Tujuan Akademis 

Yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan akademis guna memahami ilmu-

ilmu yang ditulis menggunakan bahasa Arab. Atau guna memahami dan 

menguasai keterampilan berbahasa (al-istimā’, al-kalām, al-qirā’ah, dan al-

kitābah). Orientasi dan tujuan ini lebih mengarah pada penempatan bahasa 

Arab sebagai disiplin ilmu yang dijadikan mata pelajaran atau mata kuliah 

yang harus dikuasai. Hal seperti ini biasanya identik pada studi bahasa Arab 

yang terdapat di lembaga-lembaga pendidikan, seperti Pendidikan Bahasa 

Arab, Sastra Arab, Program Pascasarjana dan Lembaga Ilmiah lainnya. 

3. Tujuan Profesionalisme atau Praktis 

Yang dimaksud disini adalah belajar bahasa Arab untuk tujuan profesi, 

praktis dan pragmatis. Yaitu untuk bisa berbicara dan berkomunikasi 

dengan bahasa Arab. Biasanya, tujuan seperti ini ditempuh oleh orang-orang 

yang ingin menjadi TKI di wilayah Timur Tengah, diplomat, turis, 

berdagang atau untuk melanjutkan studi ke wilayah Timur Tengah. 

4. Tujuan Ideologis dan Ekonomis 

Yaitu mempelajari bahasa Arab dengan tujuan untuk memahami dan 

menggunakan bahasa Arab sebagai media dan alat untuk kepentingan 

orientalisme, kapitalisme, imperialisme dan lain-lain. Hal semacam ini 

ditandai dengan banyaknya lembaga khusus mempelajari bahasa Arab di 

dunia Barat. 

Dari beberapa orientasi dan tujuan yang telah dipaparkan di atas, maka proses 

pembelajaran bahasa Arab pada hakikatnya dapat disimpulkan paling tidak menjadi dua 

macam tujuan utama yaitu pembelajaran bahasa Arab yaitu: sebagai alat bantu bagi 

peningkatan keahlian lain yang harus dipelajari dan sebagai tujuan yakni bertujuan 



Hidayatul Khoiriyah   111                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

untuk menghasilkan ahli bahasa dan sastra Arab agar mampu mengajarkan bahasa Arab 

itu sendiri dan menguasai dan mampu mengajarkan bahasa Arab. 

b. Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab Secara Khusus  

Tujuan khusus ialah tujuan yang ingin dicapai dari mata pelajaran atau 

mata kuliah saat itu yang biasa disebut dengan tujuan jangka pendek. Tujuan 

kurikulum merupakan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh setiap upaya 

pendidikan. Tujuan kurikulum bahasa Arab sebagai matlamat komunikasi 

yang mengacu pada falsafah pendidikan kebangsaan.  

Diantara yang termasuk dalam tujuan pembelajaran bahasa Arab sesuai 

dengan kurikulum di Malaysia adalah: Mendengarkan huruf, kata, kalimat, 

dan paragraf serta memahaminya; Mengucapkan huruf dan kalimat dengan 

benar; Berbicara; Membaca, kata, kalimat, dan paragraf dengan benar; 

Menulis kata, kalimat, dan paragraf dengan benar; Menerapkan dasar-dasar 

qawā’id dalam berbicara maupun menulis; Latihan menggunakan bahasa 

Arab Fusha dalam ucapan maupun tulisan; dan Menerapkan nilai-nilai luhur 

dan pembentukan karakter demi mengabdi pada agama dan masyarakat. 

Materi 

Implementasi kurikulum pembelajaran bahasa Arab dapat dilihat dari 

sisi/substansi materi pembelajaran bahasa Arab yang diberikan di sekolah. 

a. Materi pembelajaran bahasa Arab di tingkat I 

Huruf hijaiyyah: 

ش، ع، ص،  أ، ب، ت، م، ج، د، ك، ن، ل، ي، و، س، ه، ر، ف، ط، ق، خ،

 .ز، ح، ث، ذ، ظ، غ، ض

Kata/Kalimat:   

 .صباح، مساء، النور، الخير

Daftar murodat: Perkenalan, Peralatan sekolah, benda-benda di kelas, 

Lingkungan sekolah, Nama-nama hari, Anggota keluarga, ruangan di 

dalam rumah. 

Angka dan bilangan 1-10. 

 

b. Materi pembelajaran bahasa Arab di tingkat II 



Hidayatul Khoiriyah   112                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

huruf hijaiyyah: 

 .ل، ي، و، س، ه، ر،ق،ط

Daftar mufradat: anggota tubuh, anggota keluarga, macam-macam warna, 

benda di dalam rumah, perlengkapan belajar, lingkungan sekolah, 

nama-nama bulan dalam hijriyyah. 

Angka dan bilangan 11-19. 

Kalimat ungkapan: 

 .شكرا، عفوا، اسمح بي، من فضلك، عيد سعيد

c. Materi pembelajaran bahasa Arab di tingkat III 

Materi pembelajaran di tingkat III terdapat beberapa kategori, 

Huruf hijaiyyah : 

 .خ، ش، ع، ص، ز، ح، ث، ذ، ظ، غ، ض

Daftar mufradat: jenis-jenis pakaian, benda-benda di dalam kelas, orang-orang 

di sekolah, jenis ruangan di rumah, jenis makanan dan minuman, nama 

buah-buahan, nama bulan-bulan masehi. 

Angka dan bilangan : puluhan, 20, 30, 40, 50, dst. 

Isim isyarah: 

 هنا، هناك

Kalimat ungkapan: 

 . بارك هللا، ممتاز، جزاك هللا، احسنت

Qawaid 

 .هذا، هذه، ذلك، تلك، مذكر، مؤنث

Metode Pembelajaran  

Pengembangan metode pembelajaran sangat bergantung pada kreativitas guru 

dalam merancang, mengolah dan melaksanakan pendekatan, kaedah, teknik secara 

terpadu dan sistematik. Orientasi pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga guru 

ditekankan merancang pengajaran dan pembelajaran yang mendorong keterlibatan siswa 

secara aktif dalam proses pembelajaran agar tercipta suasana pembelajaran yang 

menyenangkan. Beberapa metode pembelajaran yang dikembangkan dalam 

pembelajaran bahasa Arab yaitu: 



Hidayatul Khoiriyah   113                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

1. Pembelajaran berbasis Inquiry (Inquiry Based Learning)  

Ini merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan proses eksplorasi 

alam dan didasarkan pada lima tahap, yaitu bertanya, meneliti, menciptakan, 

mendiskusikan, dan membuat refleksi. 

2. Pembelajaran Kooperatif 

Metode ini memerlukan kerjasama siswa yang mempunyai berbagai 

kemampuan untuk mencapai tujuan yangg sama. Peranan setiap siswa perlu 

ditunjukkan untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan sesuai dengan 

kemampuan siswa masing-masing. Pengalaman yang didapatkan dari proses 

pembelajaran ini dapat mendorong siswa untuk saling bekerja sama dalam 

mencapai suatu tujuan pembelajaran. 

3. Pembelajaran di Luar Kelas 

Aktifitas ini merupakan pembelajaran tambahan yang mampu menjadikan 

siswa lebih mengingat apa yang telah dipelajari. Selain itu, aktivitas 

pembelajaran di luar kelas juga dapat menghilangkan rasa bosan siswa ketika 

belajar. 

Evaluasi 

Dalam kurikulum Standar Sekolah Rendah, evaluasi atau penilaian disebut 

dengan Pentaksiran Sekolah. Sama dengan Indonesia, penilaian dilakukan secara 

formatif dan sumatif. Pentaksiran dilaksanakan secara berterusan untuk memastikan 

perkembangan dan pencapaian pembelajaran murid. Guru menilai sejauh mana murid 

menguasai standar pembelajaran dengan merujuk kepada standar prestasi yang 

ditetapkan. Perkembangan dan pencapaian tahap penguasaan murid dicatat dan 

dilaporkan secara deskriptif kepada murid dan orang tua. 

Dalam penilaian dengan mengacu pada kerangka berikut, yakni : pertama, 

penilaian dilaksanakan dengan menilai materi yang sudah disampaikan untuk 

mengetahui sejauh mana materi tersebut dapat dipahami oleh siswa. Kedua, penilaian 

dilaksanakan seiring berjalannya proses pembelajaran dengan observasi, pemberian 

tugas proyek, dll. Ketiga, penilaian bersifat adil untuk semua siswa. Dan yang terakhir 

harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. 

 

C. SIMPULAN 



Hidayatul Khoiriyah   114                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Pada dasarnya sistem pendidikan di Malaysia dan Indonesia tidak jauh berbeda. 

Pendidikan dimulai dari pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan 

pendidikan tinggi. Perbedaan yang menonjol dari pendidikan kedua negara tersebut 

pada nama jenjang kedua negara. Tingkatan jenjang pendidikan juga berbeda 

contohnya pada jenjang sekolah menengah dimana sekolah menengah Malaysia 

ditempuh dalam jenjang waktu 5 tahun, sedangkan di Indonesia 6 tahun. Di Malaysia 

tidak mengenal lembaga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah 

Atas (SMA). 

Negara Malaysia cenderung lebih maju di bidang pendidikan karena kurikulum 

yang dipakai cenderung relatif stabil dan tidak sering ada pergantian kurikulum. 

Berbeda dengan kurikulum di Indonesia yang sering terjadi perubahan tergantung pada 

kebijakan pemerintah yang berkuasa, sehingga cenderung ganti penguasa ganti 

kurikulum, sehingga pelaksanaan teknis kurikulum di Indonesia cenderung lambat 

untuk berkembang karena perlu waktu untuk pengajaran dan sosialisasi pada guru-guru 

sebagai pelaksana kurikulum di lapangan. Alasan lain yang berpengaruh dalam 

kemajuan pendidikan di kedua negara adalah bekas negara jajahan yang berbeda. Hal 

ini sedikitnya mempengaruhi sistem pendidikan di kedua negara tersebut. 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Anuar bin Sopian.Isu dan Tantangan Pembelajaran Bahasa Arab di Malaysia. 

Akademi Pengajian Bahasa Universitas Teknologi MARA (UiTM). 

 

Aslindah, Andi. 2015. Pendidikan Islam di Malaysia: Jenjang, Kebijakan, dan Tujuan 

Pendidikan. Lentera Pendidikan. Vol. 8. No. 1. 

 

Azrin, Mior Khairul. 2011. “Sistem Pendidikan di Malaysia; Dasar, Cabaran, dan 

Pelaksanaan ke Arah Perpaduan Nasional”. Jurnal Sosiohumanika. Vol.4. No.1. 

  

Dick, Walter dkk. 2005. The Systemic Design Of  Instruction. New York : Pearson. 

 

Hermawan, Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Remaja 

Rosdakarya. 

Kementerian Pendidikan Malaysia.Draf KurikulumStandard Sekolah Rendah: Dokumen 

Standard Kurikulum dan Pentaksiran. 

 



Hidayatul Khoiriyah   115                                                                                                            
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 
 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Kementerian Pendidikan Malaysia. 2016. Buku Penerangan Kurikulum Standard 

Sekolah Menengah. Kuala Lumpur: Bahagian Pembangunan Kurikulum 

Kementerian Pendidikan Malaysia.  

 

Malibary, A.Akrom dkk. 1976. Pedoman  Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan 

Tinggi Agama Islam IAIN. Jakarta: Depag RI.  

 

Marta, Nur’aeni. 2015. “Kurikulum Pendidikan Sejarah di Malaysia: Sebagai Bahan 

Refleksi Pengembangan Kurikulum Sejarah di Indonesia”. Jurnal Pendidikan 

Sejarah. Vol. 4. No.1. 

 

Mohammad, Ab. Halim. 2009. “Tahap Komunikasi dalam Bahasa Arab dalam 

Kalangan Pelajar Sarjana Muda Bahasa Arab di IPTA Malaysia”. Journal of 

Islamic and Arabic Education. 1(1).  

 

Muhaimin. 2007. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, 

Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.  

 

Muhammad, ‘Ali Ismāil. 1997. al-Manhaj fī al-Lughah al-‘Arabiyyah. Kairo: Maktabah 

Wahdah.  

 

Muhammad, Abu Bakar. 1981. Metode Khusus Pembelajaran Bahasa Arab. Surabaya: 

Usaha Nasional. 

 

Noor, Fatwiah. 2018. “Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi”. 

Jurnal Arabiyatuna. Vol. 2. No. 1. 

 

Tarigan, Henry Guntur. 1989. Pembelajaran Kompetensi Bahasa. Bandung: Angkasa. 

  

Thu’aimah, Rusydī Ahmad. 2001. Manāhij Tadrīs al-Lughah al-‘Arabiyyah bi al-

Ta’līm al-Asasi. Kairo: Dār al-Fikr al’Arabi.  

 

Wahab, A. M. 2016. “Standarisasi Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab di Perguruan 

Tinggi Keagamaan Islam Negeri”. Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan 

Kebahasaaraban. Vol. 3. No.1.  

 

Waly, Fadhil Fathy Muhammad. 1998. Tadrīs Al-Lughah Al-Arabiyyah Fī Al-Marhalah 

Al-Ibtidāiyyah: Thuruquhu, Asālībuhu, Qadhāyahu. Ha’il: Dār Al-Andalus Li al-

Nasyr Wa Al-Tauzī’.  

 

Zainuddin, Abu Bakar, dkk,. 2007. Kemahiran ICT di Kalangan Guru Pelatih IPTA 

Malaysia.  Shah Alam: Arah Publications.  


