




































1 
 

PEMEROLEHAN FONOLOGI DAN SINTAKSIS 

(SEBUAH STUDI KASUS PADA ANAK USIA 2 TAHUN) 

 

Oleh 

Hasan Ayuba 

hasanayuba@gmail.com 

 

IAIN Sultan Amai Gorontalo 

Faculty of Education and Teacher Training 

 

 

ABSTRACT 

This research aims to describe the phonological and syntaxtical acquistion 

of two years old child. The type of this research is a case study research. The 

research data is spoken record obtained from the subject conversation in a video 

form. The recording process consists of two phases. The first phase, the subject is 

let to speak naturaly which is intended to know phonological and syntaxtical of 

the subject. The second phase, the subject is stimulated to speak in order to know 

the difference between phonological and syntaxtical of the subject. 

The result of the research are: a) the phonological and syntaxtical 

acquisition of the subjectare revolving on the unmeaningfull words. The words 

occured in this phase are pronoun. b) after being simulated, the phonological and 

syntaxtical acquisition of the subjectare revolving on meaningfull words which 

encompass nouns, one word-utterance, two words-utterance, and diftongs. 

 

Keyword: Aquisition, Fonological, Syntaxtical 

ABSTRAK 

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemerolehan fonologi dan 

sintaksis dari seorang anak berumur dua tahun. Jenis penelitian yang digunakan 

adalah penelitian studi kasus. Data penelitian berupa rekaman pembicaraan yang 

didapatkan dari percakapan subyek penelitian dalam sebuah video. Pengambilan 

rekaman terdiri dari dua fae. Fase yang pertama, subyek pada penelitian ini 

dibiarkan secara natural dan direkam Fonologi dan Sintaksis yang dia hasilkan. 

Fase kedua adalah dengan merangsang subyek pada penelitian ini untuk berbicara. 

mailto:hasanayuba@gmail.com


Hasil penelitian ini menunjukan bahwa; (a) pemerolehan fonologi dan 

sintaksis pada fase pertama ini menghasilkan kata kata yang tidak mempunyai 

makna, kata kata yang paling banyak muncul pada fase ini adalah jenis kata ganti 

orang/pronoun, (b) setelah dilakukan treatment berupa rangsangan untuk 

berbicara, hasil pada fase kedua ini adalah, subyek penelitian sudah mampu 

menghasilkan kata-kata yang mempunyai makna dan juga menghasilkan beberapa 

jenis kata diantaranya, kata benda yang diujar sampai dua, tiga kata dalam sekali 

ujaran dan beberapa diptong.    

Kata Kunci: Pemerolehan, Fonologi, Sintaksis 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



A. PENDAHULUAN 

Kita sering melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana anak mengujarkan 

sebuah kata, apakah kata itu bermakna atau tidak, kita dengan sendirinya dapat 

memahami apa yang anak maksudkan. Melalui gerakan tangannya, matanya, serta 

gerakan mulutnya yang lucu, anak berusaha untuk menyampaikan pesan kepada 

orang-orang yang berada di sekitarnya. Itulah keunikan yang ada pada anak, yaitu 

keunikan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain selain manusia. Keunikan ini 

merupakan kemampuan yang luar biasa yang dianugerahkan kepada setiap anak 

manusia yang lahir ke alam dunia.  

Beberapa ahli linguistik menyatakan bahwa sesungguhnya bahasa tidak 

dapat diajarkan kepada makhluk selain manusia dan hanya manusialah yang 

mampu berbahasa. Karena memang, kodrat bahasa hanya dapat dimiliki oleh 

manusia (Chomsky dalam Dardjowijodjo, 2003: 236). Dalam teorinya, Chomsky 

menyatakan bahwa anak dilahirkan sudah dibekali dengan Piranti Pemerolehan 

Bahasa atau yang dinamakan dengan Language Acquition Device (LAD) 

(Dardjowidjojo, 2003: 232). Dengan piranti inilah anak dapat dengan mudah 

memperoleh bahasa. Bahasa, pada tatanan ini diperoleh anak secara alamiah 

(nature). 

Berbeda dengan Chomsky, Skinner (dalam tahun Dardjowijodjo, 

2003:235) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa pada anak lebih dipengaruhi 

oleh faktor lingkungan (nurture). Bahasa, menurut Skinner, tidak lain hanyalah 

merupakan seperangkat kebiasaan. Kebiasaan hanya diperoleh melalui latihan 

yang bertubi-tubi. 

Terlepas dari perbedaan pemerolehan bahasa oleh para ahli di atas, tidak 

dapat dipungkiri bahwa baik faktor alamiah (nature) maupun faktor lingkungan 

(nurture), keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Nature 

diperlukan karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin dapat berbahasa. 

Nurture juga diperlukan karena tanpa adanya input dari alam sekitar bekal kodrati 

tersebut tidak akan terwujud. 

Terkait dengan piranti pemerolehan bahasa, sebagaimana yang 

diungkapakn oleh Chomsky di atas, diperkuat oleh beberapa hal, yakni: (1). 



Pemerolehan bahasa anak mengikuti tahap-tahap sama;(2).Tidak ada hubungan 

pemerolehan bahasa anak dengan tingkat kecerdasan;(3). Pemerolehan bahasa 

tidak terpengaruh oleh emosi maupun motivasi; dan (4). Pada masa pemerolehan 

tata bahasa anak di seluruh dunia sama saja. Si anak akan mampu mengucapkan 

suatu kalimat yang belum pernah didengar sebelumnya dengan menerapkan 

kaidah-kaidah tata bahasa yang tidak sadar diketahuinya. 

Sejatinya, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab tentang 

bagaimana sebenarnya anak-anak memperoleh bahasa. Bagaimana cara mereka 

menentukan apa makna kata-kata atau bagaimana cara menghasilkan ujaran yang 

bersifat gramatika yang belum pernah mereka dengar atau yang diproduksi 

sebelumnya?Apakah anak-anak belajar bahasa karena orang dewasa 

mengajarkannya kepada mereka? Atau karena mereka diprogramkan secara 

genetik untuk memperoleh bahasa? apakah mereka belajar dalam rangka 

memenuhi beberapa kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain? 

Telah banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahasa dalam 

rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dan hasilnya pun sungguh luar 

biasa. Banyak fakta ditemukan oleh para peneliti terkait pemerolehan bahasa pada 

anak, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Melalui buku-buku inilah, 

banyak para peneliti dapat memecahkan misteri pemerolehan bahasa pada anak. 

begitu pula dengan penelitian mini ini(mini research) yang penulis ketengahkan 

kepada para pembaca. Dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk 

mendeskripsikan bagaimana cara anak dalam memperoleh bahasa pertamanya. 

Penelitian ini dilakakukan pada seorang anak yang bernama Rafandra 

Ishak. Rafandra Ishak, untuk selanjutnya disebut sebagai subyek, adalah anak 

pertama dari pasangan Uyan Ishak dan Irmawati Bagu. Bahasa sehari-hari yang 

dipakai oleh kedua orang tua subyek adalah bahasa Manado dan bahasa 

Gorontalo. Begitu pula dengan orang-orang yang berada di lingkungannya. 

Meskipun orang di sekitar subyek memakai dua bahasa, tapi subyek lebih 

dominan memperoleh bahasa Manado. Sehingga, bahasa manado menjadi bahasa 

pertama subyek. Alasan peneliti memilih subyek sebagai subjek penelitian adalah 



disebabkan oleh subyek pada usianya yang sudah menginjak 2 tahun, penguasaan 

kosa katanya masih sangat terbatas. 

Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka pertanyaan penelitian dapat 

dirumuskan sebagai berikut: a) Bagaimana perkembangan pemerolehan fonologi 

dan sintaksis tahap pertama pada anak usia 2 tahun? b) Bagaimana perkembangan 

pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap kedua pada anak usia 2 tahun? c) Apa 

perbedaan antara perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap 

pertama dan tahap kedua pada anak usia 2 tahun? 

Ada pun tujuan penelitian ini adalah:a) untuk mengetahui perkembangan 

pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama pada anak usia 2 tahun. b) 

untuk mengetahuiperkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap kedua 

pada anak usia 2 tahun. c) untuk mengetahui perbedaan antara perkembangan 

pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap pertama dan tahap kedua pada anak usia 

2 tahun. 

 

B. METODE PENELITIAN 

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode 

kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Bassey (1999: 25) menyatakan bahwa 

“Case study methods involve the collection and recording of data about a case or 

cases…” Pernyataan ini dapat diartikan bahwa metode-metode studi kasus 

termasuk di dalamnya adalah pengumpulan dan perekaman data tentang satu 

kasus atau lebih. Sehingga melalui metode kualitatif ini akan dideskripsikan 

perbedaan pemerolehan fonologi dan sintaksis pada anak usia 2 tahun. 

Data penelitian ini berupa data kebahasaan lisan yang direkam (spoken 

teks). Data ini berbentuk wacana interaksional. Data-data tersebut diperoleh dari 

kegiatan percakapan  antara subjek penelitian dan teman penulis yang berbentuk 

rekaman video. 

Data pada penelitian ini diperoleh melalui metode stimulus – respon 

terhadap subyek. Di mana stimulus – respon ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap 

pertama, subyek dibiarkan bercakap-cakap secara alamiah untuk mengetahui 

pemerolehan fonologi dan sintaksis subyek. Tahap kedua, subyek distimulus 



dengan lebih intens merespon apa yang subyek ujarkan, sehingga dengan tahap-

tahap ini dapat diketahui perbedaan antara pemerolehan fonologi dan sintaksis 

subyek. 

Selanjutnya, data dalam penelitian mini ini diperoleh melalui teknik 

perekaman, yaitu perekaman dilakukan pada saat subyek sedang bermain, makan, 

berinteraksi dengan keluarga, dan aktifitas-aktifitas subyek lainnya.Data secara 

keseluruhan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. 

Langkah yang dilakukan adalah data yang berupa rekaman ditranskripsikan ke 

dalam bentuk tulisan.  

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Pada pembahasan ini akan diuraikan pemerolehan fonologi dan sintaksis 

yang dibagi kedalam dua tahap, yakni perkembangan pemerolehan fonologi dan 

sintaksis tahap pertama dan pemerolehan fonologi dan sintaksis tahap kedua. 

Pembagian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pemerolehan fonologi 

dan sintaksis subyek pada saat sebelum dilakukan stimulus dan pada saat setelah 

dilakukan stimulus. 

 

1. Pemerolehan fonologi dan sintaksis (tahap pertama) 

a. Pemerolehan Fonologi 

Fonologi adalah salah satu bidang ilmu bahasa yang membahas 

tentang bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu menurut fungsinya untuk 

membedakan makna leksikal dalam bahasa tersebut (Verhaar,1995:36). 

Selanjutnya, dalam bunyi yang diamati adalah bunyi yang dapat 

membedakan arti yang dikenal dengan fonem. Lebih jelas lagi, yang 

dimaksud dengan fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu 

menunjukkan perbedaan makna (Kridalaksana, 1993:56). Misalnya, 

perbedaan bunyi [p] dan bunyi [b] pada kata [paru] dan [baru]. Dalam 

bahasa Inggris, misalnya, kata light dan right, lot dan rot. Dari pasangan 

kata ini, yang menyebabkan berbedanya makna,yaitu pada fonem [l] dan 

[r]. 



Pada tahap ini, subjek sudah bisa memproduksi beberapa fonem, di 

antaranya adalah fonem [p], [b], [t], [m], [k], dan [w] untuk bunyi konsonan. 

Sementara untuk bunyi vokal, dia sudah bisa memproduksi fonem [a], [e], [i], dan 

[o]. Fonem yang paling sering muncul diantara keempat fonem tersebut adalah 

fonem [a] dan fonem [e].   Kedua fonem ini selalu muncul pada setiap situasi, 

baik ketika ia bermain, makan, dan aktivitas lainnya. Fonem [i] pada tahap ini 

hanya beberapa kali muncul, yaitu ketika Subek ingin ikut bersama ibunya, dia 

mengucapkan kata /yi/ untuk pergi, dan pada saat  ia sedang bermain, dia 

mengucapkan “ati...ti...ti...”, maksudnya adalah ia menyuruh kakaknya untuk 

mengambil bola. Sedangkan untuk fonem [o] hanya sekali muncul, yaitu ketika ia 

sedang bermain di ruang tengah bersama kakaknya. Fonem ini muncul begitu saja  

bersama dengan bunyi hambat bilabial [p], dan pada situasi-situasi berikutnya, 

fonem ini sudah tidak pernah muncul lagi. 

Selanjutnya, dalam hal konsonan,  pada perkembangannya subyek 

tampaknya sudah mengikuti konsep universal yang diungkapkan oleh Jakobson, 

bahwa urutan pemerolehan konsonan hambat adalah dari bilabial ke alveolar, dan 

akhirnya ke velar. Dalam hal ini subyek sudah bisa mengeluarkan bunyi hambat 

bilabial [p] dan velar ringan [t]. Hal ini tampak pada setiap situasi kedua fonem 

ini selalu muncul bersamaan seperti yang tergambar pada situasi berikut ini: 

R: (subyek) 

R :   (sedang berada di atas ranjang) “ma...ma...ma...pete...pete...” 

 “waw..” (sambil memainkan pengikat rambut kakaknya) 

“pete...pete...”(kata-kata ini terus dia ulangi. Kemudian dia turun dari 

ranjang) “akaa...waw...waw...waw...” (masih terus memainkan pengikat 

rambut kakaknya).“pete...pete...mama...ma...mama...”(memanggil 

ibunya) “kaka....mama...” (ia meminta kakaknya supaya diantar pulang  

kepada ibunya). 

Dari situasi di atas dapat dilihat bahwa kata “pete...pete” sering dia 

ucapkan meskipun dari segi semantik kata ini tidak bermakna. Sementara untuk 

bunyi velar [k] pada kata /kaka/ seperti yang tampak di atas, sudah dengan lancar 

dapat ia ucapkan dan bunyi nasal [m] pada kata /mama/.  Bunyi hambat bilabial 



[b] hanya satu kali muncul, yaitu pada kata /ebe..ebe.../. Kata ini muncul ketika 

subjek kesal karena tidak dihiraukan oleh kakaknya. Sedangkan bunyi semivokal 

[w] dalam tahap ini muncul berulang-ulang ketika subyek mengekspresikan kata 

/waw/ yang selalu ia dengar dari kakaknya. 

Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel pemerolehan fonologi subyek di 

bawah ini: 

Bentuk 

Fonem 

Fonem dalam Bentuk 

Kata 
Makna Kata Keterangan 

[p] /pete-pete/ - Tidak bermakna 

[b] /ebe-ebe/,  (bernada mencibir)  

[t] /ati/ - Tidak bermakna 

[m] /mama/ (ibu)  

[k] /kaka/ (kakak)  

[w] /waw/ (ekspresi)  

[a] /kaka/, /mama/, /ati/ (kakak), (ibu), (-)* *) tidak bermakna 

[e] /ebe-ebe/, /eee/pete-pete/ - Tidak bermakna 

[i] /ati/, /ti..ti/ ,/yi/* *) pergi Tidak bermakna 

[o] /ooo..poo/ - Tidak bermakna 

Tabel 1. Pemerolehan fononologi tahap pertama 

b. Pemerolehan Sintaksis 

Dalam teori pemerolehan bahasa pada anak, penguasaan sintaksis 

berlangsung secara bertahap, yaitu, dimulai dari tahap satu kata, dua kata, dan tiga 

kata atau lebih. Dalam pemerolehan sintaksis, para peneliti tidak memulai kajian 

dari tahap holofrasis karena, menurut Greenfield dan Smith (dalam Chaer, 2009) 

bahwa ucapan-ucapan holofrasis sukar ditafsirkan atau dipahami. Untuk bisa 

menafsirkannya peneliti harus merujuk kepada situasi dan konteks di mana 

holofrasis itu diucapkan. Namun, Clark dan Garman (Chaer, op.cit.) menyatakan 

bahwa tahap holofrasis ini mungkin dapat memberikan beberapa gambaran batin 

mengenai perkembangan sintaksis. Oleh karena itu, ada baiknya diikutsertakan 

dalam satu teori pemerolehan sintaksis. 

a. Ujaran satu suku kata 

Dalam ujaran satu suku kata  ini, subyek sudah mengeluarkan kata-kata 

yang sebagian dari kata-kata tersebut belum mempunyai makna. Misalnya, kata-

kata berikut ini: 



[pete-pete] [ebe] [ati] 

[ti]  [oopo po] 

Jika ditinjau dari segi semantik, kata-kata ini tampak lebih bersifat latihan 

motoris. Tidak ada referen yang dapat dikaitkan dengan apa yang subyek katakan, 

meskipun sebenarnya pada umurnya yang sudah dua tahun ini subyek sudah 

seharusnya dapat mengujarkan lebih banyak kata. Echa pada umurnya 2:6 tahun 

sudah dapat mengujarkan kata-kata yang bersuku dua. Misalnya, untuk kata 

layang-layang dia sudah dapat memilih suku kata terakhir yaitu [yaŋ] 

(Dardjowidjojo, 2000:125), dan masih banyak lagi kata lainnya yang sudah Echa 

kuasai. 

Di samping kata-kata yang telah disebutkan di atas, pada tahap ini terdapat 

beberapa kata yang sudah dapat diproduksi oleh subyek dengan baik, misalnya, 

untuk kata /mama/ dan /kakak/ subyek tidak mengalami masalah. Karena memang 

kata-kata ini sudah familiar baginya . Meskipun terkadang pada saat mengujarkan 

kata [mama] dia sering menggunakan kata /ma/ dan /ka/ untuk kata [kakak]. 

1. Ujaran dua suku kata  

Seperti yang telah di uraikan di atas, ada beberapa kata yang sudah 

membentuk ujaran dua suku kata yang muncul ketika subyek berujar. Di 

antaranya adalah kata [pete//pete]. Namun, kata ini tidak termasuk ke dalam 

ujaran dua suku kata yang sesuai dengan teori generatif transformatif Chomsky. 

Dalam teori ini dinyatakan bahwa terdapat hubungan subject-ofyang dirumuskan 

seperti pada bagan berikut: 

   K              FN + FV 

Keterangan: 

K     = kalimat 

FN   = frase nomina 

FV   = frase verbal 

Sehubungan dengan rumus di atas, Mc. Neil (dalam Chaer, 2009) 

menyatakan bahwa ucapan-ucapan dua kata atau lebih dari kanak-kanak dapat 

dianalisis berdasarkan hubungan-hubungan yang digambarkan dalam rumus itu 

karena ucapan dua kata itu sesungguhnya mempunyai struktur. Jika didasarkan 



pada teori ini, kata [pete//pete] tidak termasuk dalam ujaran dua suku kata 

sebagaimana yang dimaksud. Karena kata ini tidak tergolong baik dalam frase 

nomina atau pun dalam frase verbal. 

Namun, sudah ada kata yang membentuk ujaran dua suku kata yang 

muncul pada tahap ini, meskipun kemunculan kata ini hanya dua kali. Pertama, 

ketika subjek melihat ibunya akan pergi, dia mengucapkan [kaka//yi], maksudnya 

adalah dia ingin pergi bersama ibunya. Kedua, saat dia minta kepada kakaknya 

untuk diantar pulang ke rumahnya, dia mengucapkan [kaka//mama]. Kedua kata 

ini, [kaka//yi] dan [kaka// mama], mempunyai ciri-ciri USK (ujaran dua kata) atau 

dalam istilah asingnya adalah TWU (Two Word Utterance) di mana salah satu 

cirinya adalah anak sudah mulai mengujarkan dua kata yang diselingi oleh jeda 

sehingga seolah-olah dua kata itu terpisah. Untuk menyatakan bahwa subyek 

ingin pergi, dia tidak mengatakan [kakayi], akan tetapi [kaka//yi] “kakak pergi” 

dengan jeda di antara kakak dan pergi. 

 

2. Pemerolehan fonologi dan Sintaksis (tahap kedua) 

a. Pemerolehan Fonologi  

Pada pemerolehan tahap kedua ini, kemampuan fonologi subjek 

menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, karena pada tahap ini Rafa 

distimulus untuk mengujarkan kata yang telah diperolehnya. Jika pada 

sebelumnya subjek dapat mengujarkan beberapa bunyi konsonan [p], [b], [t], [m], 

[k], dan [w], maka pada tahap ini bertambah dua bunyi konsonan yaitu, bunyi 

alveolar [d], dan alveo-palatal [y]. Munculnya bunyi alveolar [d] ketika dia sedang 

diajak berbicara oleh kakaknya seperti yang terdapat pada dialog mereka berikut 

ini: 

Keterangan: 

N (kakak subyek) 

R (Subyek) 

 

N: “ti mama ada di mana?” / ibu di mana?/  

R: “paati...” (sambil menunjuk ke arah rumahnya) 



N: “hah...?” (bingung dengan jawaban R) 

R: “pati...” 

N: “pati?...ada pati iti?” / oh, ada sama bibi fitri?/ 

R: “aaa.. (mengangkat kedua tangannya) ...dias” 

N: “apa itu “dias”? (bingung ketika R menjawab dengan kata “dias”) 

R: (diam tak menjawab) 

 Dari dialog di atas, kata “dias” adalah kata yang tidak memiliki makna, 

karena kata tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang diutarakan oleh 

kakaknya. Kata ini keluar dengan spontan. Namun begitu, bunyi [d] pada kata 

“dias” menandakan bahwa subyek sudah bisa mengujarkan bunyi [d]. Tidak 

hanya kata“dias”, ada beberapa kata yang subjek ujarkan mengandung bunyi 

konsonan [d], diantaranya adalah pada saat dia diminta untuk mengujarkan kata 

/Andi/, dia mengujarkannya dengan kata /Adi/, dan /Pade/ untuk kata /Fadel/. 

Sementara itu, untuk alveo-palatal [y] muncul ketika subyek sedang 

bersama dengan ibunya. Saat itu subyek diminta untuk menyebutkan nama-nama 

kakaknya. Untuk kata /Debi/, dia mengucapkannya dengan /yi/ dan /Fitri/ dia 

mengucapkannya dengan /yiti/.   seperti yang terdapat dalam dialog mereka di 

bawah ini: 

Keterangan:  

     IR = (Ibu subyek) 

      R = (subyek) 

IR: “kakDebi....” (meminta R untuk menyebutkan nama kakaknya)  

R: “aaa? (bertanya) 

IR: “kakDebi....” (mengulangi sekali lagi) 

R: “aka...” 

IR: “Debi...” 

R: “yii.....” (maksudnya Debi) 

IR: “panggeFitri...” /panggil Fitri/ (menyuruh Rafa untuk mengucapkan 

kata “Fitri”) 

R: “yiti...” (maksudnya adalah “Fitri”) 



Berdasarkan dialog di atas, subjek tampak selalu mengganti bunyi vokal 

[i] dengan gabungan konsonan + vokal yaitu [yi], baik yang terdapat pada awal 

kata maupun pada akhir kata. Misalnya, pada akhiran kata dari kata /Debi/ yaitu 

/bi/, dia mengucapkannya dengan /yi/ dan pada awal kata dari kata /Fitri/, yaitu 

/Fi/, dia mengucapkannya dengan /yi/ pula. Hal ini juga membuktikan bahwa 

subyek belum bisa mengujarkan bunyi frikatif [ f] dan bunyi getar [r] seperti 

pada kata /Fitri/. Subjek lebih memilih mengucapkan /yi/ untuk bunyi frikatif [f] 

dan bunyi getar [r]  dengan langsung mengucapkan /ti/.  

 

Selanjutnya, untuk bunyi vokal, pada tahap ini tidak jauh berbeda 

dengan tahap awal. Namun, pada tahap ini, subjek sudah dapat memproduksi 

dua gabungan vokal atau yang disebut diftong. Dalam pengambilan data yang 

berlangsung kurang lebih satu bulan ini (pada tahap dua, yaitu bulan Oktober), 

ditemukan dua diftong yang muncul dalam ujaran subjek, yaitu, /ae/ dan /ua/. 

Diftong /ae/ muncul ketika dia ditanyai kakaknya kalau sedang melakukan apa, 

kemudian dia menjawab dengan kata /mae/, maksudnya adalah dia sedang 

bermain. Untuk lebih jelasnya, perhatikan dialog mereka berikut ini: 

N: “ada ba apa ti nunu?”/ Rafa sedang melakukan apa?/ (ketika melihat 

R sedang memegang “mouse” laptop) 

R: “mae...” (maksudnya adalah dia sedang bermain) 

Kata /mae/ pada dialog ini maksudnya adalah /main/. Kemudian, diftong 

/ua/ muncul pada kata gula-gula(dalam bahasa Indonesia adalah permen) dan kata 

/dua/. Pada kata gula-gula, dia mengujarkannya dengan /wua-wua/, sementara 

pada kata /dua/ dia mengujarkannya dengan benar yaitu /dua/. 

 

1. Pemerolehan Sintaksis 

Perkembangan sintaksis subjek pada tahap ini sudah makin baik, terutama 

pada tahap satu kata. Seperti halnya dengan ujaran satu suku kata pada tahap 

pertama, wujud sintaksisnya masih sederhana, namun semantiknya sudah 

kompleks. Seperti kata-kata seperti [kaka] “kakak,” [mae] “main,” dan [dua] 

“dua,” ” masing-masing merujuk pada etentitas, keadaan, dan perbuatan yang 



berbeda-beda. Kata [kaka], misalnya subyek ucapkan ketika dia melihat sepatu, 

sehingga barangkali subyek sedang mengatakan bahwa itu sepatu kakak, atau 

ketika dia memandangi sebuah foto dia ingin mengatakan bahwa itu adalah 

kakak. Sementara itu, kata [mae] dia keluarkan ketika subyek sedang memainkan 

mouse laptop. Dari konteksnya kata [dua] subyek ujarkan ketika dia sedang 

berbicara dengan neneknya lewat handphone. Saat itu subyek meminta neneknya 

untuk membelikan dua botol susu untuknya.  

Dari berbagai kata yang telah dikuasai subjek, verba dan ajektiva yang 

belum muncul. Sementara yang mendominasi adalah nomina, yaitu berkisar pada 

nama-nama orang yang berada di sekitarnya seperti berikut ini: 

[yi]  “Debi”  

[pade]  “Fadel”  

[yiti]  “Fitri” 

[tata]  “kakak” 

[adi]  “Andi” 

 

Selanjutnya, untuk ujaran dua suku kata pada tahap ini muncul pada 

beberapa situasi. Misalnya, pada kata [ma dua] muncul ketika dia sedang 

berbicara dengan neneknya melalui handphone. Dalam situasi ini kata [ma dua] 

yang dia ujarkan muncul dengan alami meskipun sebelumnya dia sempat 

diberikan petunjuk oleh ibunya. Seperti yang tampak dalam dialog mereka berikut 

ini: 

Keterarangan: 

NR (nenek Subjek) 

R   (Subjek) 

NR: (suara neneknya melalui handphone) “halo”... 

R: “ma, dua...” (maksudnya dia ingin dibelikan dua blek susu oleh 

neneknya) 

NR: “suruh bili apa ti nunu?”/ Rafa mau dibelikan apa?/ (tanya neneknya) 

R: “dua...” 

NR: “apa?” 



R: “dua...dua...” 

Kata [ma] pada dialog di atas bukan bermakna  /mama/ akan tetapi 

bermakna /oma/. Dari dialog ini pula tampak bahwa subjek sudah bisa merespon 

pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan baik. Meskipun jawabannya masih 

dalam bentuk ujaran dua kata bahkan satu kata, baginya dan bagi anak pada 

umumnya kata ini sudah memiliki makna yang kompleks. 

Ujaran dua kata selanjutnya muncul pada saat dia menemukan sebuah Rp. 

500-, yang kemudian meminta kakaknya agar uang tersebut dibelikan permen, 

seperti yang terdapat pada potongan dialog mereka berikut ini: 

Keterangan: 

R: (subjek)  

 N: (Kakak subjek) 

R:  (mengembalikan sepatu tersebut ke tempatnya semula. Ketika 

berbalik, R melihat uang Rp. 500 di tepi ranjang. Diambilnya uang itu 

dan diperlihatkan kepada N)) 

N: “barapa itu?”/berapa itu?/ (bertanya kepada R berapa nominal uang 

itu). 

R: “hmmm...” (memperlihatkan uang itu kepada N) 

N: “mo bili akan apa itu?, mo ba bili akan gula-gula?/ untuk apa itu 

uang?, untuk membeli gula-gula?/ (gula-gula adalah bahasa manado, 

dalam bahasa Indonesia adalah permen). 

R: “wa...” (maksudnya adalah gula-gula /permen) 

N: “ mo bili akan apa?”/mau dibelikan apa?/ 

R: “uwa...” 

N: “ mo bili akan apa?”/mau dibelikan apa?/ (terus bertanya agar R bisa 

mengucapkan “gula-gula”) 

R: “wuwa-wuwa...” 

N: “apa...?” 

R: “wuuwwa...” (menekan dan menaikkan nada suaranya) 

N: “gula-gula...” 

R: “wuwa...” 



Kata [wuwa-wuwa]atau “gula-gula” (dalam bahasa Manado), dalam 

bahasa Indonesia yang berati “permen” adalah hasil dari stimulus yang dilakukan 

berulang kali sehingga ujaran ini muncul meskipun pada akhirnya kembali pada 

bentuk satu suku kata yaitu [wuwa]. Hal yang menarik dalam dialog di atas adalah 

upaya subjek untuk mengujarkan kata [gula-gula]. Di mana ketika dia terus 

diminta untuk mengulangi kata tersebut dia menaikkan nada suaranya sehingga 

menghasilkan ujaran [wuuwwa]. Ujaran ini bukan pertanda bahwa dia jengkel 

ketika diminta untuk terus mengulangi ujaran tersebut, akan tetapi ujaran ini 

merupakan ujaran ekspresif yang dia tunjukkan ketika meminta sesuatu. 

 

3. Perbedaan antara Pemerolehan Fonologi dan Sintaksis (Tahap Pertama 

dan Tahap Kedua)    

Dari uraian pembahasan di atas, terdapat perbedaan antara  perkembangan 

pemerolehan fonologi dan sintaksis (tahap pertama dan tahap kedua). Yaitu: 

a. Pertama,  tahap (sebelum diadakan stimulus) pada perkembangan 

fonologi, subjek sudah dapat mengujarkan beberapa bunyi konsonan, di 

antaranya adalah fonem [p], [b], [t], [m], [k], dan [w]. Sementara untuk 

bunyi vokal, dia sudah bisa memproduksi fonem [a], [e], [i], dan [o]. Pada 

tahap ini, kemunculan semua fonem dihasilkan dari ujaran-ujaran yang 

tidak bermakna. Misalnya, fonem [p], [t] dan [e] muncul pada kata [pete-

pete].  

Sementara itu, pada perkembangan fonologi tahap kedua (setelah 

diadakan stimulus), bunyi konsonan subjek bertambah yaitu fonem [d] dan 

[y]. Munculnya fonem-fonem ini berasal dari ujaran yang telah memiliki 

makna. Misalnya, fonem [d] muncul pada kata [Andi], subjek 

mengujarkannya dengan [Adi] dan fonem [y] pada kata [Fitri] subjek 

mengujarkannya dengan [yiti]. 

Pada tahap ini, subjek sudah banyak mengujarkan ujaran kombinasi 

KVKV (Konsonan + Vokal). Misalnya, pada kata-kata seperti: 

[mama]  [Pade]  “Fadel”  

[papa]   [yiti]  “Fitri” 



[tata]   [wuwa] “gula-gula”  (permen)  

[bibi]   [pama]  “paman” 

[kaka] “kakak” 

Di samping itu juga, subjek sudah dapat memproduksi gabungan dua 

vokal atau diftong yaitu, /ae/ dan /ua/. Diftong /ae/ muncul pada kata [main], 

subjek mengujarkannya dengan /mae/ dan diftong /ua/ muncul pada kata 

[gula-gula], subjek mengujarkannya dengan /wua-wua/. 

b. Kedua, dalam perkembangan sintaksis tahap pertama, subjek sudah dapat 

mengujarkan ujaran satu suku kata dan ujaran dua suku kata. Ujaran satu 

suku kata subjek masih berkisar pada  pronomina, yaitu [kaka] untuk 

“kakak” dan [ma] untuk “mama”. Selebihnya yang muncul adalah kata-

kata yang tidak mengandung makna, seperti [pete], [pa] dan [ye]. 

Sementara untuk ujaran dua suku kata, subjek sudah dapat mengujarkan 

[kaka//mama] dan [kaka/yi]. Ujaran [kaka//mama] mengandung arti bahwa 

subjek ingin kakaknya mengantarkan dia untuk pulang ke rumah ibunya, 

sementara ujaran [kaka/yi], bermakna bahwa subjek ingin ikut bersama 

ibunya. 

Selanjutnya tahap kedua, yaitu perkembangan sintaksis subjek 

setelah diadakan stimulus. Jika dibandingkan dengan tahap pertama,  pada 

tahap ini subjek sudah dapat mengujarkan beragam kata. selain ujaran satu 

suku kata, ujaran dua suku kata, dan pronomina, subjek sudah dapat 

mengujarkan nomina. Di antaranya adalah nama-nama orang yang berada 

di sekitarnya. Di samping itu pula subjek sudah mampu untuk 

mengekspresikan istilah yang berasala dari bahasa Gorontalo yaitu, kata 

“ate”.   Kata “ate” sebenarnya berasal dari kata yilate. “yilate” yang 

berarti mati. Sekarang kata itu telah menjadi populer di kalangan para 

muda-mudi bahkan pada anak-anak tak kala mengepresikan sesuatu yang 

bersifat negative. Contohnya, seperti melihat orang yang megalami 

kecelakaan, melihat orang jatuh, orang yang mengalami kesialan, dll. 

Lebih spesifik lagi kata yilate berarti “mati kamu”. Kata ini subjek 

ekspresikan dua kali yaitu ketika penjepit rambut yang kakaknya letakkan 



di atas kepala subjek jatuh dan pada saat subjek memperlihatkan sebuah 

koin yang subjek temukan di tepi ranjang tapi kemudian koin itu pun lepas 

dari genggamannya. Dengan refleks subjek mengucapkan kata “ate”.  

 

D. SIMPULAN DAN SARAN 

Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka perkembangan pemerolehan 

bahasa anak usia dua tahun pada tataran fonologi dan sintaksis dapat disimpulkan 

bahwa a) Pada tahap pertama (sebelum diadakan stimulus),  perkembangan 

pemerolehan fonologi dan sintaksis subjek berkisar pada kata-kata yang tidak 

bermakna. Kata-kata yang muncul pada tahap ini baik fonologi maupun sintaksis 

masih berupa pronomina. b) Pada tahap kedua (setelah diadakan stimulus),  

perkembangan pemerolehan fonologi dan sintaksis subjek sudah berkisar pada 

kata-kata yang bermakna, baik berupa nomina, ujaran satu suku kata, ujaran dua 

suku kata, dan diftong. c) Perbedaan antara pemerolehan fonologi dan sintaksis 

tahap pertama dan tahap kedua (baik sebelum diadakan stimulus maupun setelah 

diadakan stimulus) adalah pada tahap pertama, pemerolehan bahasa subjek baik 

pada tataran fonologi maupun sintaksis masih sangat terbatas. Ujaran subjek pada 

tahap ini didominasi oleh kata-kata yang tidak bermakna. Sementara pada tahap 

kedua, pemerolehan bahasa subjek baik pada tataran fonologi maupun sintaksis 

sudah didominasi oleh kata-kata yang bermakna. Karena pada tahap ini subjek 

distimulus untuk mengujarkan kata-kata, sehingga kata-kata yang subjek produksi 

lebih banyak jika dibandingkan dengan tahap yang pertama. 

 

 

 

 

 

 

 

 



DAFTAR PUSTAKA 

 

Bassey, Michael. (1999). Case study research in educational settings. USA: Open 

University Press. 

 

Chaer, Abdul. (2009). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta 

 

Dardjowidjojo, Soenjono. (2003). Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa 

Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 

 

                                            .(2000). ECHA: Kisah pemerolehan bahasa anak 

Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. 

 

Kridalaksana, Harimurti. (1993). Kamuslinguistik.Jakarta: PT Gramedia. 

 

O’Grady, William.(2005). How children learn language. New York: Cambridge 

University Press. 

 

Subyakto, Sri Utari. (1988). Psikolinguistik: suatu pengantar. Jakarta: P2LPTK. 

 

Subroto, Edi. (2011). Pengantar studi semantik dan pragmatik. Surakarta: 

Cakrawala Media. 

 

Verhaar, J.M.W. (1995). Pengantarlinguistik.Yogyakarta: GadjahMada Univ. 

Press. 

 

 

 

 

 
 

 


