




































1 

 

GAYA KEPENGARANGAN TERE LIYE DALAM NOVEL  

‘MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH’ TINJAUAN RETORIKA-STILISTIKA 

Oleh: Lamsike Pateda 

IAIN Sultan Amai Gorontalo 

 

Abstrak  

Penggunaan gaya bahasa yang diulas dalam retorika dan stilistia semakin 

menambah khasanah kajian bidang bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa 

bahasa digunakan untuk mengekspresikan pikiran dan gagasan penulis 

melalui karya-karyanya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Tere 

Liye dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah”, sehingga menjadikan 

novelnya sebagai novel yang terbaik.  Kajian pada gaya pengamatan 

difokuskan pada tiga bagian yaitu (1) pilihan kata. Pada pilihan kata dibagi 

lagi atas: (a) kata konkret, (b) kata khusus, (c) kata abstrak dan (d) kata 

umum. (2) pola kalimat dan bentuk sintaksis. Pola kalimat terdiri atas 

unsur-unsur kalimat, sedangkan bentuk sintaksis terdapat bentuk 

pengulangan (Paralelisme), bentuk pembalikan, dan bentuk penghilangan. 

(3) bentuk semantik, pengkajiannya lebih pada majas dan macam-

macamnya. Hampir semua jenis majas digunakan oleh pengarang dalam 

novel ini. Penggunaan majas tersebut telah memperkuat makna pesan yang 

disampaikan pengarang. Hal ini terbukti dengan masuknya novel “Moga 

Bunda Disayang Allah” sebagai novel best seller. 

Kata kunci: gaya, retorika, stilistika 

 

Abstract 

The use of the language style reviewed in rhetoric and stilistic adds to 

growing language field. This suggests that the language used to express 

the thoughts and ideas of the author through his works. It is as done by 

Tere Liye in his novel “Moga Bunda Disayang Allah”, making the novel 

as his best novel ever made. Study on the style of observation focused on 

three parts namely (1) the words choice, this is divided into: (a) concrete 

word, (b) specific words, (c) abstract word, and  (d) common word. (2) 

sentence patterns and forms of syntax. Sentence patterns composed of 

elements of sentence syntactic form, whereas there is a form of repetition 

(Parallelism), form reversal, and the form of omission. (3) the form of 

semantics, was more on the Majo and types. Almost all types of Majo is 

used by the author in the novel. The use of the Majo has reinforced the 

meaning of the message author. This is evident with the introduction of the 

novel “Moga Bunda Disayang Allah”  as a novel best seller. 

Keywords: style, rhetoric, stilistica 



2 

 

A. PENDAHULUAN 

Sastra merupakan sebuah karangan imajinatif yang mengandung nilai-nilai 

estetis. Karya sastra diciptakan agar dapat dinikmati oleh pembaca. Maka seorang 

pengarang menciptakan suatu karya tidak melepaskan diri dari aspek-aspek 

kebahasaan dan juga unsur-unsur keindahan yang ada dalam karya sastra. Karya 

sastra diciptakan berdasarkan pemikiran, pengalaman, ide dan perasaan pengarang. 

Karya sastra yang dihasilkan memiliki keindahan atau unsur estetis. 

Kata sastra di Indonesia merujuk pada bahasa Sansekerta yang berarti 

kehidupan. Akar kata bahasa Sansekerta adalah sas yang berarti mengarahkan, 

mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Sementara itu, akhiran tra biasanya 

menunjukkan alat atau sarana. Dengan demikian, sastra berarti alat untuk mengajar 

atau buku petunjuk, atau buku instruksi, atau buku pengajaran. Di samping kata 

sastra, kerap juga digunakan kata susastra dalam beberapa tulisan, yang berarti bahasa 

yang indah, sebab awalan su pada kata susastra mengacu pada arti indah (Emzir dan 

Rohman, 2015:5). 

Dalam karya sastra ada unsur-unsur keindahan, unsur-unsur keindahan 

tersebut terdapat pada gaya bahasa si pengarang dalam menciptakan karyanya. Gaya 

bahasa inilah yang dikenal dengan istilah stilistika. Stilistika (Stylistics) merujuk 

kepada pengertian studi tentang stile, kajian terhadap wujud kajian kebahasaan. 

Kajian stilistika dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antara bahasa dengan 

fungsi artistik dan maknanya, menentukan seberapa jauh dan dalam bahasa yang 

digunakan memperlihatkan penyimpangan, serta bagaimana penyair mempergunakan 

tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus (Nurgiantoro, 2007: 279). 

Terkait dengan stilistika, di dalam sastra dibahas pula tentang retorika yang 

tetap mengacu pada keindahan karya sastra. Dikatakan demikian karena masuknya 

unsur retorika di dalam sastra semakin memperkuat makna yang dikandung suatu 

karya sastra. Bahkan dari berbagai cabang ilmu yang mengkaji kegiatan bertutur dan 

berbahasa, ada beberapa diantaranya yang dekat sekali gejalanya dengan retorika 



3 

 

seperti; logika, tatabahasa dan sastra. Wilayah kajian retorika seringkali dikaburkan 

dengan masalah-masalah logika, tatabahasa dan sastra. Batas-batas ketiga ilmu 

tersebut seringkali bersinggungan dengan kajian retorika, bahkan bisa pada unsur 

yang sama. 

Misalnya dalam retorika, juga menempatkan analogi (logika), struktur dan 

makna kalimat (tatabahasa) dan diksi (sastra) sebagai unsur karakteristik retorika. 

Keterkaitan semacam ini sebagaimana dikatakan oleh Roland Barthes bahwa 

“rhetoric must always be read in its structural interplay with its neighbors, grammar, 

logic, poetics and philodopy”. Kajian bahasan retorika kaitannya dengan sastra, oleh 

Luxemburg menggunakan istilah stilistika, yakni melingkupi unsur-unsur gaya 

bahasa dalam karya sastra. Lebih lanjut Luxemburg mengemukakan bahwa 

pengamatan gaya dibagi dalam tiga bidang yaitu: (1) pilihan kata, (2) pola kalimat 

dan bentuk sintaksis, (3) bentuk semantik (Luxemburg, 1984: 167). 

Berdasarkan pengelompokkan gaya yang akan digunakan oleh pengarang di 

dalam meramu karyanya, maka akan memberikan nuansa atau ciri khas yang berbeda 

antara pengarang yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh 

pemahaman dan penguasaan pengarang terhadap ketiga hal tersebut. Adanya 

pemahaman yang berbeda-beda pada setiap pengarang, menghasilkan karya yang 

berbeda pula dari aspek pilihan kata, pola kalimat dan bentuk sintaksis, serta bentuk 

semantik. 

Berdasarkan paparan di atas, maka pada bagian ini akan dikaji novel sebagai 

bagian dari genre sastra. Hal yang akan dikaji adalah penggunaan pilihan kata, pola 

kalimat dan bentuk sintaksis, serta bentuk semantik dalam novel “Moga Bunda 

Disayang Allah” karya Tere Liye. Melalui kajian ini akan diidentifikasi ketiga gaya 

kepenulisan, sehingga akan memberikan gambaran gaya kepengarangan Tere Liye di 

dalam novel tersebut. Dengan demikian, kajian ini dalam bentuk mini research 

berjudul “Gaya Kepengarangan Tere Liye dalam ‘Novel Moga Bunda Disayang 

Allah’ tinjauan Retorika-Stilistika”. 



4 

 

 

Permasalahan 

Kajian ini dipaparkan berdasarkan penggunaan pilihan kata, pola kalimat dan 

bentuk sintaksis, serta bentuk semantik. Untuk itu, permasalahan yang akan dikaji 

adalah (1) Bagaimana pilihan kata dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah”  karya 

Tere Liye? (2) Bagaimana pola kalimat dan bentuk sintaksis dalam novel “Moga 

Bunda Disayang Allah”  karya Tere Liye? (3) Bagaimana bentuk semantik dalam 

novel “Moga Bunda Disayang Allah”  karya Tere Liye? 

B. KAJIAN TEORI 

Retorika dan stilistika sama-sama berfokus pada penggunaan gaya bahasa 

dalam karya sastra, sehingga karya yang dihasilkan memiliki unsur-unsur keindahan. 

Walaupun memiliki fokus yang sama, dalam pembahasan ini tetap akan dipisahkan 

dengan maksud agar diperoleh pemahaman yang komprehensif.  

Retorika 

Seringkali pengertian retorika tidak bisa dilepaskan dari pengertian  persuasi 

atau bujukan dan seringkali dianggap sama dengan gaya bahasa. Oleh sebab itu dalam 

kajian ini diperlukan pemaparan pengertian dasar retorika, terutama dalam kaitannya 

dengan ilmu sastra. Dalam ilmu sastra, sejak dulu pemakaian bahasa yang istimewa 

sangat ditonjolkan. Hal ini dapat terlihat dari apa yang dikatakan oleh Teeuw bahwa 

sastra menggunakan bahasa yang khas, spesial dan istimewa yang dianggap 

menyimpang dari bahasa sehari-hari dan menyimpang dari bahasa normal (Teeuw, 

2013:56). Sejalan dengan pendapat tersebut, Burhan juga menyatakan bahwa retorika 

merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis 

(Nurgiantoro, 2007:295). Dengan demikian dapat dipahami bahwa retorika 

merupakan penggunaan bahasa yang dianggap istimewa dan memiliki unsur estetis 

dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Perbedaan-perbedaan dalam 

penggunaan bahasa dalam karya sastra tersebut merupakan ciri khas kesistimewaan 

karya sastra itu sendiri. 



5 

 

Retorika kaitannya dengan sastra Corbett (2004:142) menggunakan istilah 

Figures of speech ‘kiasan’. Kiasan merupakan rahmat bahasa sebagai "balutan 

pemikiran". Dikatakan perhiasan karena sesungguhnya kiasan "menghiasi" prosa dan 

memberikan "gaya" dalam arti modiste. Hal ini menandakan bahwa di dalam retorika 

digunakan kata atau kelompok kata untuk melukiskan sesuatu yang disebut metafora. 

Metafora, menurut Aristoteles, tidak hanya memberikan "pesona dan perbedaan" 

untuk ekspresi kita; tapi bahkan lebih dari itu, metafora adalah cara lain untuk 

memberikan "kejelasan" dan "keaktifan" ekspresi pikiran kita. 

Sementara itu, Burhan mengatakan bahwa retorika berkaitan dengan 

pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut dengan masalah 

pemilihan kata dan ungkapan, struktur kalimat, segmentasi, penyusunan dan 

penggunaan bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan, dan lain-lain yang semuanya 

disesuaikan dengan situasi dan tujuan penutur. Sejalan dengan hal tersebut Lanham 

mengatakan bahwa permainan retorika merupakan salah satu pola "tacit bargaining", 

pola yang secara tersirat menyarankan suatu hasil tertentu (Lanham, 2004:177). 

Penggunaan unsur kekhasan tersebut sebenarnya sangat ditentukan oleh kemampuan 

imajinasi dan kreatfitas pengarang dalam menyiasati gagasan dan bahasa yang akan 

menentukan keefektifan wacana yang dihasilkan.  

Senada dengan pandangan Abrams, Corbett melalui tulisannya Classical 

Rhetoric menggunakan istilah figures of speech ‘kiasan’. Kiasan digunakan sebagai 

istilah umum untuk setiap penyimpangan berseni dari modus berbicara atau menulis. 

Kiasan tersebut dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni: skema dan kiasan. 

Sebuah skema (Yunani: schema, bentuk) melibatkan penyimpangan dari pola biasa 

atau susunan kata-kata. Sebuah kiasan (Yunani: tropein, untuk mengubah) melibatkan 

penyimpangan dari makna biasa dan makna pokok kata.  

Stilistika  

Istilah “stilistika” diserap dari bahasa Inggris stylistic yang diturunkan dari 

kata style yang berarti ‘gaya’. Menurut Ratna bahwa stilistika sebagai bagian dari 



6 

 

ilmu sastra, lebih sempit lagi ilmu gaya bahasa dalam kaitannya dengan aspek-aspek 

keindahan (Ratna, 2009:9). Lebih lanjut Teeuw (1988:61) mengemukakan bahwa 

stilistika atau ilmu gaya bahasa pada umumnya membicarakan pemakaian bahasa 

yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas seorang penulis, aliran sastra, 

atau pula penyimpangan dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa yang normal atau 

baku, dan sebagainya. 

 Kajian stilistika melingkupi unsur-unsur gaya bahasa dalam karya sastra. 

Menurut Luxemburg bahwa pengamatan gaya dibagi dalam tiga bidang yaitu: (1) 

pilihan kata, (2) pola kalimat dan bentuk sintaksis, (3) bentuk semantik.  

1. Pilihan Kata 

Dalam bahasa Indonesia, kata diksi berasal dari kata dictionary (bahasa 

Inggris  yang kata dasarnya diction) berarti perihal pemilihan kata. Diksi atau pilihan 

kata mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa, atau klausa tertentu untuk 

menghadapi situasi tertentu. Luxemburg berpendapat bahwa dalam mengnalisis 

pilihan kata yang pertama dilakukan ialah pengamatan bahwa sebuah teks berisi kata-

kata konkret dan khusus atau berisi kata-kata abstrak dan umum.  

a. Kata Konkret 

Kata konkrit adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat 

ataudirasakan oleh satu atau lebih dari pancaindra. Kata-kata konkrit 

menunjukkepada barang yang aktual dan spesifik dalam pengalaman. Kata 

konkritdigunakan untuk menyajikan gambaran yang hidup dalam pikiran 

pembacamelebihi kata-kata yang lain.  

b. Kata Khusus 

Kata khusus adalah kata-kata yang mengacu kepada pengarahan-pengarahan 

yang khusus dan konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus.  

 

 

c. Kata Abstrak 



7 

 

Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep, kata abstrak 

sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap dengan panca indra 

manusia. Kata-kata abstrak merujuk kepada kualitas (panas, dingin, baik, buruk), 

pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran (kecurigaan, penetapan, 

kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai untuk menjelaskan pikiran yang 

bersifat teknis dan khusus. 

d. Kata Umum 

Kata umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas.  

Kata-kata umum menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada 

keseluruhan.  

 

2. Pola Kalimat dan Bentuk Sintaksis 

Kalimat yaitu rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, 

atau perasaan. Kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan 

pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Pada kalimat sekurang 

kurangnya harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Bila tidak memiliki subjek dan 

predikat maka bukan disebut kalimat tetapi disebut frasa. Selain itu ada unsur lainnya 

yaitu pelengkap (P) dan keterangan (K). Subjek adalah unsur pokok yang terdapat 

pada sebuah kalimat di samping unsur predikat.Predikat juga merupakan unsur utama 

suatu kalimat di samping subjek. Predikat berfungsi menjelaskan subjek, sedangkan 

objek yaitu keterangan predikat yang memiliki hubungan erat dengan predikat. Unsur 

kalimat ini bersifat wajib dalam susunan kalimat aktif transitif yaitu kalimat yang 

sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan objek. Pelengkap 

merupakan unsur kalimat yang dapat bersifat wajib ada karena melengkapi makna 

verba predikat kalimat.Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan 

informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat 

Pola kalimat dan bentuk sintaksis merupakan salah satu bidang kajian yang 

sangat perlu mendapat perhatian. Kalimat lebih penting dan bermakna daripada 



8 

 

sekadar kata-kata walaupun kegayaan kalimat dalam banyak hal juga dipengaruhi 

oleh pilihan kata. Bentuk sintaksis atas bentuk pengulangan, pembalikan, dan 

penghilangan. 

a. Bentuk pengulangan (Paralelisme) 

Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran 

dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama 

dalam bentuk gramatikal yang sama (Keraf, 1981:126). 

b. Bentuk pembalikan (Inversi) 

Dalam bentuk pembalikan atau inversi, urutan kata yang normal dalam kalimat 

diubah.  

c. Bentuk penghilangan  

Penghilanngan atau elips menampilkan adaanya bagian tertentu di hilangkan, 

sehingga menjadi tidak lengkap. 

 

3. Bentuk Semantik 

Gaya semantis merujuk pada makna kata, bagian kalimat, dan kalimat dan 

secara umum disebut majas. Majas ialah bahasa yang maknanya melampaui batas 

lazim. Majas dapat dibagi menjadi: 

a.  Majas Perbandingan 

Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang menyatakan perbandingan 

untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca”. 

Ditinjau dari cara pengambilan perbandingannya, Majas Perbandingan dibagi 

menjadi: 

1) Asosiasi atau Perumpamaan 

Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada 

hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh 

penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana. 

2) Metafora 



9 

 

Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa 

perbandingan analogis. 

3) Personifikasi 

Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa 

seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia. 

4) Alegori 

Alegori adalah Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. 

Alegori: majas perbandingan yang bertautan satu dan yang lainnya dalam 

kesatuan yang utuh. 

5) Simbolik 

Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda, 

binatang, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang. 

6) Metonimia 

Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda 

untuk menggantikan benda tersebut.Pengungkapan tersebut berupa penggunaan 

nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. 

7) Sinekdok 

Sinekdok adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda 

secara keseluruhan atau sebaliknya.  

8) Simile: 

Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan 

dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai". 

b. Majas Pertentangan  

Majas Pertentangan adalah “Kata-kata berkias yang menyatakan pertentangan 

dengan yang dimaksudkan sebenarnya oleh pembicara atau penulis dengan maksud 

untuk memperhebat atau meningkatkan kesan dan pengaruhnya kepada pembaca atau 

pendengar”. Macam-macam Majas Pertentangan dibedakan menjadi berikut. 

1) Antitesis 

http://www.info-asik.com/


10 

 

Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang berlawanan 

artinya. 

2) Paradoks 

Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan antara pernyataan dan 

fakta yang ada. 

3) Hiperbola 

Majas hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari 

kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta 

perhatian. 

4) Litotes 

Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang berlawanan dari 

kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk 

merendahkan diri. 

c. Majas Penegasan 

Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang menyatakan penegasan 

untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau 

pembaca”.Majas penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut. 

1) Repetisi 

Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan. 

2) Paralelisme 

Paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalam puisi. 

3) Tautologi 

Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata 

dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu 

menggunakan kata bersinonim. 

4) Klimaks 



11 

 

Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut dan makin 

lama makin meningkat. Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal 

berturutturut yang makin lama menurun. 

5) Retorik 

Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. 

Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah. 

d. Majas Sindiran 

Majas sindiran ialah kata-kata berkias yang menyatakan sindiran untuk 

meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca”. Majas 

sindirian dibagi menjadi: 

1) Ironi 

Ironi adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan denganmaksud 

menyindir. 

2) Sinisme 

Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung. 

3) Sarkasme 

Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Majas ini biasanya diucapkan 

oleh orang yang sedang marah. 

Memperhatikan beberapa pengelompokkan gaya bahasa di atas, maka seorang 

pengarang dapat memilih gaya yang akan digunakan sehingga menjadikan karyanya 

penuh makna dan unsur keindahan. Penggunaan gaya bahasa di dalam karya sastra 

tidak terlepas adanya kaitan antara kata dengan objek. Wellek membagi gaya menjadi 

gaya konseptual dan gaya indrawi, ringkas atau bertele-tele, merendahkan atau 

melebih-lebihkan, jelas atau kabur, tenang atau menggebu-gebu, tinggi atau rendah, 

sederhana atau berbunga-bunga. Berdasarkan hubungan antarkata, gaya 

diklasifikasikan menjadi gaya tegang atau lepas, halus atau kasar, tak berwarna atau 

berwarna-warni. Berdasarkan kaitan kata dengan sistem total bahasa, gaya bisa dibagi 



12 

 

menjadi gaya lisan atau tulisan, klise atau unik; dan berdasarkan hubungan kata 

dengan pengarangnya, ada gaya objektif dan gaya subjektif. 

 

C. METODE PENELITIAN 

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang 

bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, sikap, dan 

pemikiran seseorang. Dalam hal ini mendeskripsikan penggunaan pilihan kata, pola 

kalimat dan bentuk sintaksis, serta bentuk semantik dalam novel “Moga Bunda 

Disayang Allah” karya Tere Liye.  

Pendekatan yang digunakan yakni stilistika-retorika. Hal ini dilakukan 

mengingat aspek keindahan dalam karya sastra kaitannya dengan gaya bahasa 

dibahas melalui kedua pendekatan dimaksud. Melalui pendekatan stilistika-retorika 

dibahas gaya kepengarangan Tere Liye dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah”. 

Berdasarkan data primer tersebut, selanjutnya dilakukan pengumpulan data 

melalui metode bacaan, yakni membaca novel sambil mengidentifikasi data terkait 

dengan penggunaan pilihan kata, pola kalimat dan bentuk sintaksis, serta bentuk 

semantik. Kemudian dilakukan analisis dan pembahasan berdasarkan data yang 

teridentifikasi dalam novel ini. 

 

D. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN 

1. Pilihan Kata 

Penggunaan pilihan kata sangat menetukan mutu karya sastra. Demikian 

halnya dengan novel yang menjadi kajian ini. Umumnya terdapat empat jenis pilihan 

kata yang akan dibahas dalam tulisan ini, yakni kata konkret, kata abstrak, kata 

umum, dan kata khusus. Melalui penggunaan pilihan kata itu, pengarang dapat 

menyampaikan pesan secara baik kepada pembacanya. Berikut ini temuan penulis 

terkait dengan penggunaan pilihan kata pengarang. 

 



13 

 

a. Kata Konkret 

Kata konkret merupakan kata-yang dapat dilihat dan dirasakan. Pada bab 

“Merah.Kuning.Hijau”terdapat kata-kata  

“Langit kelam. Petir menyambar. Ombak bergelombang susul menyusul 

menghantam perahu nelayang berkapasitas empat puluh orang”. (Tere Liye, 

2006:19). Kata-kata Langit kelam. Petir menyambar. Ombak bergelombang 

menggambarkan akan turun hujan, terlihat keterkaitan kalimatnya bahwa tempat 

terjadinya berada di pantai. Kata Langit kelam menandakan langit terlihat gelap, Petir 

menyambar memperlihatkan kilatan, cahaya di atas langit. Ombak terlihat mulai 

menyambar ke darat, menggulung-gulung dengan indahnya sehingga mengahantam 

perahu yang di pakai oleh karang dan rombongan lainnya. Suasana saat itu sangat 

menegangkan, semuanya tampak takut dengan keadaan seperti itu. 

“Ibu-ibu gendut itu berusaha mengambil tempat air plastik yang mulai 

gemetaran dalam genggaman pemuda tersebut” (Tere Liye, 2006:21).Tempat air 

plastik merupakan suatu benda yang digunakan oleh ibu-ibu gendut untuk 

menuangkan air untuk diminumdan kemudian diserahkan kepada karang.  

“Lengang. Rumah besar super-mewah di lereng perbukitan itu legang”.( Tere 

Liye, 2006:25). Rumah besar penuh dengan kemewahan yang terletak diperbukitan 

itu tampaknya legang. Kata Legang menandakan suasana sunyi, sepi, tidak banyak 

orang sehingga rumah yang besar  

“Karang , pemuda di atas ranjang tua itu mengernyit dalam tidurnya”. (Tere 

Liye, 2006:30). Karang merebahkan tubuhnya di atas ranjang tua atau tempat tidur 

untuk istirahat karena telah lelah melakukan aktifitas.  

“Berputar-putar. Seekor kunang-kunang tersesat terbang berputar 

kebingungan. Kunang-kunang? Terbang di dalam kamarnya.(Tere Liye, 2006:31) 

seekor kunang-kunang merupakan binatang kecil sebesar lalat yang mengeluarkan 

cahaya berkelip-kelip pada malam hari terlihat berputar-putar mengelilingi kamar 

karang tetapi karang tidak begitu peduli dengan pemandangan yang indah itu. 



14 

 

b. Kata Khusus 

Kata khusus adalah kata-kata yang digambarkan secara khusus. Kata khusus 

ini dapat dilihat pada bab “Tiga tahun lalu”. Berikut penggalan-penggalan ceritanya: 

“Ada satu-dua pasangan kekasih yang berjalan-jalan di atas pasir lembut 

yang bak es krim saat diinjak”.(Tere Liye, 2006:51)Kata pasangan merupakan dua 

benda yang kembar atau yang saling melengkapi, belum diketahui kata pasangan 

merujuk pada pasangan seperti apa. setelah kata pasangan dilekati kata kekasih 

setelahnya maka kata-kata tersebut menjadi satu kalimatyaitu pasangan kekasih yang 

kita tahu bahwa pasangan kekasih adalah dua insan yang sedang memadu kasih dan 

sayang. Dua insan yang merasakan indahnya cinta. 

“Semalam ia pulang persis saat adzan shubuh berkumandang”.(Tere Liye, 

2006:51) Karang yang semalaman bergadang tak menentu, mabuk-mabukkan sampai 

lupa untuk pulang, menyebabkan ia harus pulang saat adzan subuh 

dikumandanngkan. Adzanitubermacam-macam ada adzan dikumandangkan saat 

magrib, ada saat adzan isya, dan adzan dhuhur, tetpi pengarang lebih mengkhususkan 

pada adzan subuh yang menandakan pagi akan menyapa bumi tetapi karang belum 

sempat istirahat atau untuk tidur malam. 

 “Mulutnya yang terbuka memamerkan gigi kecil. Di tangannya tergenggam 

sebuah boneka panda...”. (Tere liye, 2006:53). Boneka panda siapa yang tidak 

menyukai boneka, boneka dalam bentuk apapun. Lebih-lebih anak perempuan sangat 

suka dengan boneka. Karang yang mengerti dan menyadari bahwa melati tidak jauh 

berbeda dengan Qintan langsung memberikan boneka kesayangan Qintan pada melati 

dengan maksud melati akan menyadari bahwa tidak semua barang yang dipegang, 

disentuh harus dibuang begitu saja. 

 “Tangannya meremas-remas, tepatnya mengacak-acak, nasi goreng spesial 

buatan salamah”. (Tere Liye, 2006: 55). Terdapat kata nasi goreng lebih 

dikhususkan yang dimakan Melati adalah nasi goreng, bukan nasi putih, nasi kuning, 

nasi uduk dan lain-lainnya. Nasi goreng khusus dibuatkan oleh salamah untuk Melati.  



15 

 

 “Karang merintis mimpi-mimpi besarnya. Menukar seluruh masa kecilnya 

yang menyedihkan”. masa kecil merupakan masa-masa yang indah, masa di mana 

kita belajar, ingin tahu tentang sesuatu dan masa ingin mencoba melakukan sesuatu 

yang belum pernah ia lakukan. Beranjak masa remaja tentu berbeda lagi suasana yang 

kita rasakan begitu juga setelah kita menginjak masa dewasa. 

c. Kata Abstrak 

Kata abstrak yang umumnya kata-kata sulit untuk kita maknai, tidak dapat 

diterima oleh pancaindera kita, bahkan di Kamus Bahasa Indonesia sulit untuk kita 

temukan. 

“Begitu indah ketika semburat matahari muncul di kejauhan horizon 

cakrawala. Membuat jingga hamparan laut yang beriak tenang”. (Tere Liye. 

2006:1). 

“Hutan hujan tropis lebat perbukitan. Bagai sehelai beledru hijau sepanjang 

mata menatap”. (Tere Liye. 2006:1). 

“Lihat saja pagi ini, kabut putih sempurna mengungkunghijaunya 

dedaunan”.(Tere Liye. 2006:2). 

“Pemilik ruko-rukojugamulai membuka partisi depan. Bunyi pintu aluminium 

didorong terdengar c”.(Tere Liye. 2006:3). 

“Air jeruk panas membuatk kuyup selimut. Tangan Bunda gemetar 

menyingkapnya”.(Tere Liye. 2006:13) 

“Melati terus meraba-raba. Tidak peduli. Tidak mendengar. Tiba di tepi 

ranjang, menyibak bantal”.(Tere Liye. 2006:14) 

Kata-kata horizon, beledru, mengungkung, mengungkung, menyingkapnya, 

menyibak pada penggalan cerita di atas sulit kita maknai maksud dari kata-kata 

tersebut. Penulis menggunakan kata-kata sukar sehingga kita sebagai pembaca yang 

belum mengenal kata-kata tersebut atau sebutlah orang awan akan sulit 

memahaminya, memang penggunaan kata-kata yang digunakan oleh pengarang 



16 

 

menggunakan kata-kata ilmiah atau kata-kata sastra yang belum begitu ada 

publikasinya. 

d. Kata Umum 

Pada bab ”Ribuan kunang-kunang”. Terdapat kata-kata umum yang 

memberikan gambaran bahwa dalam certia ini terdapat kata-kata umum, yang 

memberikan gambaran secara jelas terhadap objek yang dituju. 

“Di sini kunang-kunang, tidak hanya seekor, ribuan malah. Juga tersesat”. 

(Tere Liye. 2006:33). Dalam penggalan cerita ini kunang-kunang bukan hanya satu, 

Dua ekor saja tetapi ribuan ekor. Sehingga menjadi kumpulan kunang-kunang. 

“Sebenarnya dua hari lalu aku sudah mau berkunjung, menjenguk..tapi masih 

ada keperluan mengurus izin praktik”.(Tere Liye. 2006:34).Tidak 

digambarkan secaara jelas Kinasih mengurus izinpraktikapa. Hanya 

disebutkan mengurus izin praktik. 

 “Bunda berseru-seru panik. Tuan HK berusaha mencengkram salah satu 

dokter karena dokter itu berusaha mencengkram melati untuk menagkapnya”. (Tere 

Liye. 2006:37). Dokter bisa saja yang diundang oleh mereka adalah Dokter ahli mata, 

Dokter ahli pendengaran atau bahkan Dokter dari rumah sakit jiwa untuk dapat 

mengobati penyakit melati. 

“Sepanjang sisa umurnya, ia sibuk merawat rumah warisan suaminya”. (Tere 

Liye. 2006:41). Selama ini Ibu-ibu gendut selalu sabar dan setia merawat rumah 

warisan suaminya begitu juga dengan anak asuh mereka karang yang kini berbeda 

waktu suaminya ad bersama mereka. Kata sisa bisa merujuk pada banyak hal, bisa 

sisa makanan, sisa minuman, bisa sisa kenangan dan masih banyak lagi. 

2. Pola Kalimat dan Bentuk Sintaksis 

Ada pun unsur-unsur kalimat diantaranya: 

a. Subjek (S) 

Pada bab “Satu Minggu Berlalu” dapat ditemukan kata-kata yang berpola 

Subjek  



17 

 

“Karang tiba di rumah besar lereng bukit”. (Tere Liye, 2006: 123) 

“Aku menginginkan kamar terpisah dari kalian”. (Tere Liye, 2006: 124). 

Kata Karang dan kata Aku merupakan kata yang berpola subjek ini sudah jelas bahwa 

setiap subjek berada di depan sebuah kalimat. 

“Kamar itu tidak sebesar kamar milik di rumah ibu-ibu gendut”.(Tere Liye, 

2006: 125) yang menjadi subjek pada penggalan cerita ini yaitu kata Kamar karena 

disertai dengan kata itu setelahnya. 

“ Apa pun yang Nyonya lihat atas apa yang aku lakukan, yakinlah itu belum 

tentu seperti yang Nyonya bayangkan”. (Tere Liye, 2006: 124). Di samping subjek 

disertai kata itu, subjek juga diberi penghubung yang sehingga jelas bahwa subjek di 

sini adalah Nyonya. 

b. Predikat (P) 

“ Sudah lama ia tidak tidur lelap”. (Tere Liye, 2006: 130). Yang menjadi 

predikat pada penggalan cerita ini yaitu kata tidur. Jelas bahwa kata ia merupakan 

subjeknya. 

“Ia tidak mengerti apa itu menangis”. (Tere Liye, 2006: 135) mengerti 

merupakan predikatnya, mengapa demikian? Karena terdapat bentuk pengingkaran 

dengan kata tidak di atas. 

 “Ibu, semua urusan ini sedikit pun belum terlihat ujung terangnya”. ”. (Tere 

Liye, 2006: 150). Kata-kata sudah dan belum merupakanbentuk predikat verba karena 

kata-kata tersebut termasuk dalam kata-kata aspek dalam predikat. 

c. Objek (O) 

“Gadis Lesung Pipit” pada bab ini kita akan menemukan pola kalimat 

berobjek. Kalimat berobjek sudah jelas terlihat bahwa kalimat itu telah berpola subjek 

dan predikat pasti di belakang predikat itulah objek, hal ini terlihat pada penggalan-

penggalan cerita di bawah ini 

“Karang yang sedetik lalu baru turun dari mobil”. (Tere Liye, 2006,151).  



18 

 

“Kinasih sudah bersandar pada pintu mobil yang terbuka”. (Tere Liye, 

2006,153). 

“Bunda menyuapi Melati di kamarnya”. (Tere Liye, 2006,15). 

d. Pelengkap (P) 

“Suster tya tersenyum lebar sepanjang hari”. (Tere Liye, 2006,155). 

 Itu juga”“Salamah nyengir senang”. (Tere Liye, 2006,157). 

“Tuan HK ingin pulang saat itu juga”. (Tere Liye, 2006,157). 

“Tuan HK merasa tidak perlu berbasa-basi lagi”. (Tere Liye, 2006,158). 

“Bunda terdiam sambil menelan ludah”. (Tere Liye, 2006,159). 

e. Keterangan (K) 

"“Aku akan mengusirnya malam ini juga”. (Tere Liye, 2006,160).“Tinggal dua 

hari lagi”. (Tere Liye, 2006,160).malam ini dan dua harimenunjukkan pola 

kalimat keterangan waktu. 

“Tuan HK terdiam sejenak demi melihat ekspresi wajah istrinya”. (Tere Liye, 

2006,161). Pola kalimat ini membentuk pola keterangan sebab, karena ingin 

melihat bagaimana respo Bunda terhadap keputusnnya untuk mengusir Karang 

dari rumah mereka. 

Selanjutnya bentuk-bentuk sintaksis yang terdapat dalam novel ini 

digambarkan pada uraian berikut. 

a. Bentuk pengulangan  

Bab”keterbatasan Melati” kita akan temukan bentuk pengulangan kata dan frasa 

yang mengalami pengulanngan, adapun penggalannya sebagai berikut: 

“Sialnya angin yang menderu-deru membuat semakin kelam dan tegang 

suasana”. (Tere Liye, 2006: 73).  

Deru adalah tiruan bunyi angin ribut menderu adalahberbunyi keras gemuruh 

spt bunyi angin ribut (gelombang besar, mesin, dsb), jadi menderu-deru adalah 

berbunyi berulang kali. 



19 

 

“Terangkat ke atas ujung-ujung gelombang lautan”. (Tere Liye, 2006: 73). Kata 

ujung merupakanbagian penghabisan dari suatu benda. Kata ujung-ujung di atas 

menerangkan bahwa gelombang itu berada pada paling ujung lautan 

 “penting? Omong kosong! Nyonya tidak akan meninggalkannya walau sekejap 

jika putri Nyonya memang amat penting bagi Nyonya”. (Tere Liye, 2006: 84). Pada 

paragraf ini kata Nyonya sering disebut oleh Salamah untuk menyakinkan Bunda 

bahwa melati adalah anak yang patut untuk mendapatkan kasih sayang dari siapa pun. 

b. Bentuk Pembalikan 

Dalam novel ini sulit ditemukan kata-kata yang terbalik. Pengarang sengaja tidak 

menggunakan kata-kata pembalikan agar pembaca juga tidak merasa ada sesuatu 

yang tidak dimengerti. Pengarang lebih pada memberikan gambaran secara langsung 

tanpa memberikan keraguan pada pembaca terhadap interpretasinya mereka terhadap 

ceritanya. 

c. Penghilangan 

“Pertemuan Pertama” pada bab ini dapat ditemukan ada kata dan kalimat 

yang seharusnya dilengkapi atau diteruskan oleh pengarang tetapi pengarang 

menyembunyikan maksud dari kata dan kalimat selanjutnya itu dengan kata lain 

pengarang mengharap agar pembaca dapat menerka sendiri apa maksudnya. Memang 

pengarang tidak melanjutkan kata dan kalimat yang seharusnya ditulis cerita tersebut, 

tetapi setelh dibaca, di baca kita juga akan menemukan maksudnya seperti yang 

terjadi pada penggalan cerita ini”Ergh, orangnya seram, bu_” salamah 

menyeringai”. (Tere liye, 2006:95) 

 “Tuan HK ber-oo pendek, tidak bertanya lagi”. (Tere liye, 2006:96). 

Seharusnya tuan HK berkata bukan ber-oo.  Dengan tuan HK berkata maka jelas apa 

yang dimaksud tanpa harus mempersingkat dengan kata ber-oo. 

Pada kata dan kalimat yang dihilangan dalam cerita ini kita dapat 

mengetahuinya dengan melihat yang menggunakan simbol (--). Dengan simbol ini 

sudah jelas kata dan kalimat selanjutnya tidak lagi ditulis dan digambarkan oleh 



20 

 

pengarang. Untuk mengetahui kata dan kalimat apa yang seharusnya dilengkapi kita 

dapat membaca bait selanjutnya yang memilki hubungan dengan kata dan kalimat 

yang dihilangkan. 

3.Bentuk Semantik  

Bentuk semantik dalam novel dapat dipahami melalui penggunaan majas oleh 

pengarang. Penggunaan majas telah memperkuat makna pesan yang hendak 

disampaikan oleh Tere Liye. Untuk lebih jelasnya, berikut dipaparkan jenis-jenis 

majas yang digunakan pengarang. 

1) Setidaknya hari ini, pagi ini, biarlah kami bergembira atas kabar baik ini. (Tere 

Liye 2006:182) 

Kata ini pada kalimat diatas menunjukan bahwa peristiwa yang menyenangkan 

tentang kabar baik berlangsung pada pagi hari ini. Kalimat ini termasuk majas 

repetisi dimana pengulangannya terdapat pada kata ini. 

2)  “BAAAA....MAAA!” Melati berteriak marah. Bagai mesin diesel yang mulai 

panas,kanak-kanak itu kembali mengamuk. (Tere Liye 2006:185) 

Kalimat di atas mengandung majas antropomofisme karena membandingkan 

manusia dan benda mati. Kata marah dibandingkan dengan mesin diesel yang 

mulai panas (benda mati). 

3) Wajah yang tadi pagi begitu senang. Riang. Seolah-olah kabar baik itu bagai 

gelombang air besar. Yang bisa membasahi seluruh kekeringan sela tiga tahun 

terakhir (Tere Liye 2006:185)  

Uraian ini termasuk majas asindeton karena menyebutkan secara berturut suasana 

hati Bunda.  Pagi begitu senang. Riang. Seolah-olah kabar baik itu bagai 

gelombang air besar. 

4) Keterbatasan Melati mulai datang satu per satu. Seperti eksekusi pengadilan 

yang amat menyakitkan. Seperti menguliti bawang sehelai demi sehelai, membuat 

mata pedih berair.  (Tere Liye 2006:203) 



21 

 

Kalimat di atas mengandung majas asosiasi karena menggunakan kata eksekusi 

sebagai perumpamaan. Kata esekusi juga diartikan putusan berupa cobaan dari-

Nya yang harus dijalani oleh mereka 

5) Kaki-kaki kecilnya yang tanpa alas, sempurna menuju tumpukan pecah-belah 

celengan yang terhampar bak ladang ranjau. (Tere Liye 2006:209) 

Kalimat di atas menggunakan majas simile yang menggunakan kata bak sebagai 

kata perbandingan.  

6) Sementara yang lainnya hanya ditutup perban setelah diberikan disinfektan  

(Tere Liye 2006:212)  

Disenfektan adalah obat pencegah terjadinya infeksi. Menurut kami disinfektan 

merupakan majas metonimia karena menggunakan nama merek untuk mengganti 

barang tersebut. 

7) Kinasih berkata pelan. Saking pelannya hampir kalah dengan desau angin 

malam. (Tere Liye 2006:215) 

Kalimat di atas merupakan majas hiperbola. Karena terjadi penglebihan pada 

kalimat Saking pelannya hampir kalah dengan desau angin malam  yang artinya 

suara Kinasih pelan seperti suara angin, padahal kita tahu angin itu tidak bisa 

didengar. 

8) Tiga hari terakhir karang mengumpulkan benda apa saja. Mulai dari yang 

lembut,kasar,tajam,tumpul,besar,kecil, apa saja. (Tere Liye 2006:240) 

Kalimat ini termasuk majas antitesis karena menggunakan pasangan kata 

berlawanan. Kalimat ini menegaskan benda-benda yang digunakan pada saat itu. 

9) Mukanya mengernyit. Berpikir cepat bagai desing peluru. (Tere Liye 2006:242) 

Kalimat ini termasuk majas personifikasi. Berpikir adalah bagian dari cara 

manusia, sedangkan desingan peluru adalah pembandingan dalam hal ini benda 

mati.  

10)  “Kau pergi sekarang juga!” desisan Tuan HK bagai seekor ular kobra yang 

penuh oleh gelembung kemarahan. (Tere Liye 2006:267) 



22 

 

Kalimat di atas termasuk majas asosiasi, bagai seekor digunakan sebagai 

perbandingan. desisan Tuan HK bagai seekor ular kobra yang penuh oleh 

gelembung kemarahan diartikan kemarahan yang tak terkontrol. 

11) Jika kami bisa melihat kasih sayang itu bak pendar cahaya,maka Kau sungguh 

membuat kemilau indah tiada tara di langit-langit taman rumput itu sekarang. 

(Tere Liye 2006:272) 

Kalimat ini termasuk majas simile. Jika kami bisa melihat kasih sayang itu bak 

pendar cahaya diartikan pengharapan Karang agar saat keajaiban Tuhan 

berkenan datang kembali dapat dilihat seperti cahaya (kunang-kunang) yang 

selalu menghiasi taman rumput itu setiap malam. 

12) Berdua sekarang berdiri di tepi pelabuhan. Menatap lurus kedepan, ke arah lima 

kapal pesiar yang membuang sauh persis di tengah-tengah teluk. Kapal-kapal itu 

terlihat gemerlap oleh cahaya. Pemandangan yang hebat. Apalagi bintang-

gemintang berserakan di atas sana, bersama bulan sabit menjadi kanvas 

pertunjukan. (Tere Liye 2006: 294) 

Kalimat ini termasuk majas enumerasio dimana menjelaskan beberapa peristiwa  

menjadi satu kesatuan agar dalam eseluruhannya tampak jelas. Perisitiwa di atas 

menjelaskan mereka berdua menikmati malam di tepi pelabuhan. 

 

E. SIMPULAN 

 Stilistika atau ilmu gaya bahasa pada umumnya membicarakan pemakaian 

bahasa yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas seorang penulis, aliran 

sastra, atau pula penyimpangan dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa yang normal 

atau baku, dan sebagainya. Gaya bahasa atau penggunaan bahasa yang khas dalam 

sastra juga bagian dari pembahasan retorika. Untuk itu, antara stilistika dan retorika 

memiliki kesamaan dalam pengkajian sastra pada aspek gaya bahasa sastra yang 

terdapat di dalamnya.  



23 

 

Kajian pada gaya pengamatan difokuskan pada tiga bagian yaitu (1) pilihan kata. 

Pada pilihan kata dibagi lagi atas: (a)kata konkret, (b) kata khusus, (c) kata abstrak 

dan (d) kata umum. (2) pola kalimat dan bentuk sintaksis. Pola kalimat terdiri atas 

unsur-unsur kalimat, sedangkan bentuk sintaksis terdapat bentuk pengulangan 

(Paralelisme), bentuk pembalikan, dan bentuk penghilangan. (3) bentuk semantik, 

pengkajiannya lebih pada majas dan macam-macamnya. Hampir semua jenis majas 

digunakan oleh pengarang dalam novel ini. Penggunaan majas tersebut telah 

memperkuat makna pesan yang disampaikan pengarang. Hal ini terbukti dengan 

masuknya novel “Moga Bunda Disayang Allah” sebagai novel best seller. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



24 

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Corbett, E. P. (2004). Classical Rhetoric. In J. Rivkin , & M. Ryan, Literary Theori: 

An Anthology, Second Edition (pp. 142-161). Oxford, UK: Blackwell 

Publishing. 

Culler, J. (2000). Literary Theory: A Very Short Introduction. New York: Oxford 

University Press. 

Dobbie, A. B. (2012). Theory Into Practice: An Introduction to Literary Critism, 

Third Edition. Canada: Wadsworth Cengage Learning. 

Eagleton, T. (2005). Literary Theory An Introduction, Second Edition. Oxford, UK: 

Blackwell Publishing. 

Emzir, & Rohman, S. (2015). Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: PT Raja 

Grafindo Persada. 

Lanham, R. (2004). Tacit Persuasion Patterns. In J. Rivkin, & M. Ryan, Literary 

Theori: An Anthology, Second Edition (pp. 177-194). Oxford, UK: Blackwell 

Publishing. 

Liye, Tere. (2006). Moga Bunda Disayang Allah: Novel. Republika: Jakarta 

Nurgiantoro, B. (2007). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gaja mada University 

Press. 

Ratna, Kutha Nyoman. (2006). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. 

Yogyakarta: Pustaka Pelajar 

Teeuw, A. (2013). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: 

Pustaka Jaya. 

Wellek, Rene dan Austin Warren. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani 

Budianta. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama 


