




































1 
 

PERAN ORANG TUA DALAM MENGOPTIMALKAN 

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK 

FASE GOLDEN AGE 

 

Rizatmi Zikri 

Linguistik Terapan Program PascasarjanaUniversitas Negeri Yogyakarta 

Email: rizatmi.zikri2015@student.uny.ac.id 

 

 

ABSTRACT 

 

This article aims to expose the stages of language development the child and the 

role of parents in every stages of language development. Child language 

development stages of several theories synthesized into seven stages of language 

development the child that is the first stage of language development from birth to 

one year, from one year to two years, from two years to three years, from three 

years to four years, from four years to five years, from five years to six years, and 

from six years to seven years. The role of parents in every stage of the child's 

language development yiatu invited talk, read out the stories, invites play, 

introduce objects, referring to public places, loud music, invite a reading of the 

story, show the pictures and objects around, telling tales, and introduce the 

closest people, listen and respond when children talk. 

 

Key Words: The Role Of The Parents, The Child's Language Development, 

Golden Age 

 

ABSTRAK 

 

Artikel ini bertujuan untuk memaparkan tahapan perkembangan bahasa anak dan 

peran orang tua dalam setiap tahapan perkembangan bahasa. Tahapan 

perkembangan bahasa anak dari beberapa teori disintesiskan menjadi tujuh 

tahapan perkembangan bahasa anak yaitu tahapan perkembangan bahasa pertama 



2 
 

dari lahir sampai satu tahun, dari umur satu tahun sampai dua tahun, dari dua 

tahun sampai tiga tahun, dari tiga tahun sampai empat tahun, dari empat tahun 

sampai lima tahun, dari lima tahun sampai enam tahun, dan dari enam tahun 

sampai tujuh tahun. Peran orang tua dalam setiap tahapan perkembangan bahasa 

anak yiatu mengajak anak berbicara, membacakan cerita, mengajak bermain, 

memperkenalkan benda-benda, mengajak ke tempat-tempat umum, 

memperdengarkan musik, mengajak membaca cerita, menunjukkan gambar-

gambar dan benda-benda sekitar, menceritakan dongeng, dan mengenalkan orang-

orang terdekatnya, mendengarkan dan memberikan respon ketika anak berbicara. 

 

Kata Kunci: Peran Orang Tua, Perkembangan Bahasa Anak, Golden Age 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



3 
 

A. PENDAHULUAN 

Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada setiap orang 

tua.Menurut Santoso (2011: 2) orang tua adalah orang dewasa pertama bagi anak 

dalam keluarga, tempat anak menggantungkan hidupnya, tempat ia 

mengharapkan bantuan dalam pertumbuhan dan perkembangannya menuju 

kedewasaan. Dengan demikian orang tua adalah pendidik pertama dan utama 

bagi anak-anaknya.Oleh karena itu, orang tua harus mampu menjaga, 

membimbing dan memberikan apa yang dibutuhkan anaknya, baik pemenuhan 

gizi, pakaian, tempat tinggal maupun pendidikan. Pendidikan anak tidak hanya 

dimulai dari ketika anak memasuki sekolah dasar, tetapi dimulai dari ketika anak 

di dalam kandungan.Salah satu pendidikan yang dapat dilakukan seorang ibu 

kepada anaknya yang masih dalam kandungan adalah pendidikan bahasa.Bahasa 

menurut Chaer (2011: 30) adalah alat verbal yang digunakan untuk 

berkomunikasi.Waskito (2009) menambahkan bahwa bahasa didefinisikan 

sebagai suatu lambang bunyi yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat 

untuk bekerja bersama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Hal ini sejalan 

dengan pendapat Wolraich et. al. (2008) bahwa Bahasa mengacu kepada 

kemampuan menerima respon, mengekspresikan ide, pikiran, emosi, dan 

keyakinan.Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah suatu alat verbal yang 

berupa lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi, berinteraksi, 

mengidentifikasi diri serta mengekspresikan ide, pikiran, emosi dan keyakinan. 

Seorang ibu bisa melakukan beberapa hal sebagai stimulasi 

perkembangan otakmaupun bahasa anak, seperti mengajak anak berbicara dan 

memperdengarkan lagu-lagu yang memiliki muatan positif.Hal ini sejalan dengan 

pendapat Trelease (2006: 19-37) bahwa agarperkembangan bahasa dan kognitif 

anak dapat optimal, sebaiknya stimulasi verbal dilakukan sedini mungkin yaitu 

sejak anak masih berada di dalam kandungan.Sejalan dengan hal tersebut, 

Altmann (dalam Dardjowidjojo, 2000) menyatakan bahwa sejak bayi berumur 7 

bulan dalam kandungan, seorang bayi telah memiliki sistem pendengaran yang 

telah berfungsi. 

 



4 
 

Pendapat tersebut didukung oleh Silberg (2004: 33) yang menyatakan 

bahwa ketika masih di dalam rahim, bayi sudah mampu membedakan suara 

manusia.Lebih lanjut Silberg (2004: 135) menyatakan bahwa perjalanan bahasa 

dimulai dari rahim, pada saat janin terus menerus mendengar suara ibunya.Hal ini 

didukung oleh pendapat Papalia, et. al.(2008: 248-249)bahwaorang tua 

memainkan peran penting pada setiap perkembangan bahasa.Orang tua sebaiknya 

mulai berkomunikasi dengan anaknya bahkan sejak anaknya masih bayi, yang 

dapat dilakukan dengan membaca buku cerita. 

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa stimulasi 

dari orang tua sebaiknyadilakukan sejak bayidi dalam kandungan, karena ia sudah 

memiliki sistem pendengaran yang telah berfungsi, sehingga bisa mendeteksi 

suara yang ia dengarkan. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang tua dalam 

memberikan rangsangan positif bagi si bayi dengan cara mengajak bayi berbicara 

atau memperdengarkan musik-musik lembut. 

Semakin sering orang tua mengajak bayi berbicara, maka kosa kata yang 

didapatkan si bayiakan semakin bertambah dan hal tersebut dapat menjadi 

rangsangan untuk membantu bayi belajar berbicara. Hal ini sesuai dengan yang 

dinyatakan oleh Silberg (2004: 51) yang menyatakan bahwa berbicara dan 

bernyanyi untuk bayi secara berarti mempercepat prosesnya mempelajari kata-

kata baru. Lebih lanjut Silberg (2004: 81) berpendapat bahwa berbicara dengan si 

kecil sejak usia dini akan membantu anak-anak belajar bicara.Disini terlihat 

bahwa orang tua sangat berperan dalam membantu mengoptimalkan bahasa anak. 

Pada dasarnya orang tua memang memiliki peranan yang sangat penting 

dalammendampingi dan membimbing perkembangan bahasa anak, karena orang 

tua khususnya ibu adalah orang terdekat bagi anak.Ibu dan anak sudah 

berkomunikasisejak anak di dalam kandungan sampai ia dilahirkan. Tahapan dari 

ketika anak dilahirkan sampai dengan anak bisa berbicara adalah tahapan yang 

paling penting dalam masa pemerolehan bahasa.Tahapan tersebut biasa disebut 

dengan fasegolden age.Fasegolden agemerupakan tahapan proses pemerolehan 

bahasa anak yang cukup baik, karena pada tahapan ini, otak anak mulai 

berkembang dan bisa menyerap berbagai macam rangsangan yang ada di 

sekitarnya. 



5 
 

Hal ini sejalan dengan pendapat Kosasih (2008) yang menyatakan bahwa  

‘The Golden Age’ adalah masa emas yang tepat untuk diberikan 

stimulasi.Pada masa ini perkembangan motorik anak semakin baik, 

sejalan dengan perkembangan kognitifnya yang mulai kreatif dan 

imajinatif.Anak-anak memperoleh bahasa pertamanya dari apa yang 

mereka dengar dan lihat, sehingga orang tua harus bisa mengoptimalkan 

pemerolehan bahasa anak tersebut, dikarenakan pemerolehan bahasa 

pertama akan berdampak pada tahapan perkembangan bahasa 

selanjutnya.  

Pendapat tersebut sejalan dengan Soetjiningsih (2003: 29-31, 62-70) yang 

menyatakan bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, sehingga 

diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi anak berkembang 

secara optimal. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih 

cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau tidak mendapat 

stimulasi. Pada periode ini stimulasi verbal sangat penting untuk perkembangan 

bahasa anak. Lebih lanjut berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Republik 

Indonesia (2005), stimulasi verbal yang dapat dilakukan orang tua untuk 

mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa anak diantaranya adalah dengan 

bernyanyi dan menceritakan sajak-sajak kepada anak, menonton televisi, banyak 

berbicara kepada anak dalam kalimat-kalimat pendek, serta membacakan buku 

cerita kepada anak setiap hari.Hal ini didukung oleh pendapat dari Silberg (2004: 

113) yang menyatakan bahwa anak-anak belajar tata bahasa dengan lebih mudah 

dengan mendengarkan kalimat-kalimat pendek. 

Oleh karena itu, fase golden age harus benar-benar dimanfaatkan oleh 

orang tua, karena masa pemerolehan bahasa terbaik anak adalah di tahapan 

tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Hidayat (2006) yang menyatakan 

bahwa pada usia dini adalah usia emas anak untuk mempelajari suatu bahasa, 

sehingga peran orang-orang di sekitarnya sangat membantu pemerolehan dan 

penguasaan bahasa anak. Ibu yang kurang berperan dalam memenuhi kebutuhan 

dasar anak mempunyai dampak pada perkembangan anak yaitu terganggunya 

perkembangan bahasa anak untuk tahapan selanjutnya. Orang tua (ibu) adalah 

orang pertama yang mengajak anak untuk berkomunikasi, sehingga anak mengerti 



6 
 

bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain menggunakan bahasa. Lingkungan 

(keluarga) adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang 

anak.Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Glenn Doman (Institutes for the 

Achievment of Human Potential) (dalam Syahid, 2008)bahwa kunci keberhasilan 

dari berlangsungnya stimulasi terletak di tangan para orang tua.Lebih lanjut 

Oofuka Masaru (dalam Syahid, 2008) menyatakan bahwa ibu sangat berperan 

penting dalam pemberian stimulasi kepada anak, karena anak lebih peka dan cepat 

dalam menangkap bahasa ibu, gerakan ibu dan suasana hati ibu.Sentuhan dan 

pelukan serta kebersamaan dengan anak merupakan modal utama dalam 

pemberian stimulasi. Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Cipto Mangunkusumo 

(dalam Hariwijaya: 2010: 13) yang menyatakan bahwa pendidikan dimulai di 

pangkuan ibu, setiap kata yang diucapkan dan didengar anak-anak kecil 

cenderung membentuk wataknya.   

Dalam hal ini orang tua tidak hanya memperhatikanbanyaknya kata yang 

bisa dikuasai oleh anak, tetapi kandungan moral di dalam kata-kata tersebut. Ibu 

harus bisa memilih kata sebaik mungkin, karena kata-kata yang disampaikan oleh 

orang tua akan terekam dan ditirukan oleh anak.Setiap kata yang diucapkan orang 

tua merupakaan jelmaan dari pendidikan karakter yang ditanamkan kepada anak. 

Oleh karena itu orang tua khususnya ibu harus mampu memilih kata dan bisa 

menyampaikannya dengan cara yang terbaik yang bisa membuat anak berbicara 

dengan kata-kata yang baik pula.Karena pada masa ini anak-anak masih dalam 

proses peniruan. Ia akan meniru apa yang didengar dan dilihat di sekitarnya. 

Sejalan dengan pendapat Azhim (2007) menyatakan bahwa keluarga 

mempengaruhi perkembangan bahasa anak dalam pemilihan kosakata dan jenis 

kosakata. Keluarga khususnya ibu yang memotivasi anak dan menyediakan 

lingkungan berbahasa yang sesuai, maka anak akan lebih maju daripada teman 

sebayanya dalam menguasai keterampilan berbahasa dan pemakaiannya. Selain 

itu ibumemberikan kebutuhan dasar pada anak untuk tumbuh kembang.Asuh dan 

asih menyebabkan konstitusi anak atau fungsi organ tubuh, terutama otak menjadi 

baik, sehingga anak dapat mencerna stimulasi yang diberikan. (Jaenudin, 

2000)Dengan demikian perkembangan anak dapat berjalan secara optimal.Lebih 

lanjut Silberg (2004: 111) menambahkan bahwakemampuan dan kapasitas 



7 
 

berbahasa di masa mendatang paling baik berkembang pada lingkungan yang 

kaya dengan bahasa percakapan. 

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peran ibu 

sangat penting dalam optimalisasi perkembangan bahasa anak. Pemberian 

stimulus yang baik akan mendukung kemampuan anak dalam menguasai bahasa. 

Stimulasi yang dapat diberikan oleh ibu atau keluarga adalah dengan selalu 

mengajak anak berbicara, membacakan cerita, memperdengarkan lagu anak-anak 

atau bisa dengan bernyanyi.Hal tersebut bisa merangsang penguasaan kosa kata 

anak. Kosa kata yang banyak akan membuat anakberkomunikasi dengan lancar. 

Kenyataan yang ditemui selama ini dalamkehidupan sehari-hari,para orang 

tua belum sepenuhnya memahami tahapan perkembangan bahasa anak dan hal apa 

saja yang harus dilakukan dalam menyikapi setiap tahapan perkembangan bahasa 

anak tersebut. Ketika anak balita belum bisa menyebutkan kata, sebaiknya orang 

tua tidak mengajari anak untuk menyebutkan suatu kata, karena itu termasuk 

pemaksaan dan melampaui tahapan perkembangan bahasa balita tersebut.Lalu, 

seperti apakah tahapan perkembangan bahasa anak?Bagaimana pendampingan 

yang seharusnya dilakukan orang tuadi setiap tahapan perkembangan bahasa anak 

tersebut?Dan bagaimana dengan orang tua yang memiliki pola asuh yang 

berbeda?Makalah ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan 

kata lain bahwa makalah ini fokus pada pembahasan tentang tahapan 

perkembangan bahasa anak dan bagaimana peran orang tua pada setiap tahapan 

tersebut. 

B. TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK FASE GOLDEN AGE 

Perkembangan bahasa dimulai dari ketika anak dilahirkan sampai dengan 

ia bisa berbicara.The American Speech-Language-HearingAssociation (Dalam 

Levey and Polirstok, 2011: 133-134)menyatakan bahwa tahapan perkembangan 

bahasa anak sebagai berikut: 

1. Birth to 3 months (Lahir sampai usia 3 bulan) 

Children make pleasure sounds (e.g., cooing, going), cries differently for different 

needs and smiles when sees you. (Anak-anak senang membuat suara seperti 

mendengkur), menangis untuk kebutuhan yang berbeda dan tersenyum ketika 

melihatmu) 



8 
 

 

2. 4 to 6 months(4 sampai 6 bulan) 

Babbling sounds more speech-like with many different sounds, including p, b, and 

m, chuckles and laughs, vocalizes excitement and displeasure, and makes 

gurgling sounds when left alone and when playing with you. (Berbicara dalam 

berbagai macam bunyi, termasuk p, b dan m, tertawa, menyuarakan kegembiraan 

dan perasaan tidak senang, dan mendenguk ketika sendirian dan ketika bermain 

bersamamu) 

3. 7 months to 1 Years(7 bulan sampai 1 tahun) 

Babbling has both long and short groups of sounds, such as ‘tata upup bibibibi’, 

use speech or noncrying sounds to get and keep attention, uses gestures to 

communicate (e.g., waving, holding arms to be picked up), imitates different 

speech sounds, and has one or two words (e.g., hi, dog, dada, mama) around first 

birthday, although sounds may not be clear. (Babbling memiliki bunyi yang 

panjang dan pendek, seperti ‘tata upup bibibibi’, bicara atau seperti menangis 

untuk mendapatkan perhatian, menggunakan gerak isyarat untuk berkomunikasi 

(seperti melambai, memegang lengan untuk diangkat, menirukan bunyi yang 

berbeda, dan memiliki satu atau dua kata seperti hi, dog, dada, mama yang berada 

di sekitarnya sejak lahir, meskipun bunyinya belum terlalu jelas). 

4. 1 to 2 Years(1 sampai 2 tahun) 

Says more words every month, uses some one- or two-word questions (e.g., 

“Where kitty?” “Go bye-bye?” “What’s that?”), puts two words together (e.g., 

“more cookie,” “no juice”. “mommy book”), and uses many different consonant 

sounds at the beginning of words. (bayi sudah bisa mengatakan banyak kata di 

setiap bulannya, menggunakan satu atau dua kata untuk bertanya, (seperti 

“Dimana kitty?” “Bay-bay” “Apa itu”), mengambil dua kata secara bersama 

(seperti “kuenya lagi” “tidak ada jus” ‘ibu, buku”), dan menggunakan banyak 

bunyi konsonan yang berbeda di awal kata). 

5. 2 to 3 Years(2 sampai 3 tahun) 

a. Has a word for almost everything, use two or three words to talk about and ask 

for things, uses k, g, f, t, d, and n sounds, speech is understood by familiar 

listeners most of the time, and often asks for or directs attention to objects by 



9 
 

naming them. (Memiliki kata untuk setiap hal, menggunakan dua atau tiga kata 

untuk berbicara atau bertanya terkait sesuatu dengan menggunakan bunyi k, g, f, t, 

d dan n, bisa memahami pembicaraan orang yang dikenal sepanjang waktu dan 

seringkali bertanya terkait benda yang menarik perhatiannya) 

b. Understands differences in meaning (e.g., “go-stop”, “in-on”, “big-little”, 

“up-down”), follows two requests (e.g., “Get the book and put it on the table”), 

and listens to and enjoys hearing stories for longer periods of time. (Mengerti 

perbedaan perbedaan suatu arti, misalnya “go-stop”, “in-on”, “big-little”, “up-

down”, mengikuti dua permintaan misalnya “ambil buku itu dan taruh di meja.” 

Lebih lanjut dalam buku Language Development Understanding 

Language Diversity in the Classroom (2011: 134) karya Levey dan Polirstok 

disebutkan bahwa tahapan perkembangan bahasa bayi dan anak sebagai berikut: 

1. Babblesat about 8 months (e.g., “bababababa”) 

2. Produces two words at about 12 months 

3. Uses gestures (e.g., waving) at 12 months 

4. Produces early words by 15 months (e.g., “mama”) 

5. Produces about 20 words at 18 months 

6. Imitate two-word utterences at about 18 months 

7. Points of items of interest (e.g., dogs, bicycles, and toys) by 20 months 

8. Understands simple directions at 21 months 

9. Produces about 50 words and word combinations by 24 months 

10. Can understand speech by 30 months 

 

Maksud dari kutipan di atas adalah pada usia 8 bulan bayi mengoceh 

“bababababa”, dan pada usia 12 bulan memproduksi dua kata dan menggunakan 

gerak isyarat seperti melambai. Selanjutnya pada usia 15 bulanbayimemproduksi 

kata pertama seperti ‘mama’ dan pada usia 18 bulan bayi memproduksi sekitar 20 

kata dan menirukan 2 rangkaian kata. Bayi menunjuk benda-benda yang menarik 

seperti anjing, sepeda, dan mainan pada usia 20 bulan. Pada usia 21 bulan bayi 

sudah bisa memahami arahan sederhana. Selanjutnya bayi sudah bisa 

memproduksi sekitar 50 kata dan mengkombinasi kata pada usia 24 bulan, 

sedangkan pada usia 30 bulan bayi sudah bisa memahami suatu pembicaraan. 



10 
 

 

Lebih lanjut Piaget dan Vygotsky (dalam Tarigan, 1988) memberikan istilah-

istilah di setiap tahapan perkembangan bahasa anak. Tahapan tersebut adalah 

sebagai berikut: 

 

Usia Tahapan Perkembangan Bahasa 

0,0-0,5 Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama 

0,5-1,0 Tahap Meraban (Pralinguistik) Kedua: Kata nonsense 

1,0-2,0 Tahap Linguistik I: Holofrastik; Kalimat Satu Kata 

2,0-3,0 Tahap Linguistik II: Kalimat dua kata 

3,0-4,0 Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa 

4,0-5,0 Tahap Linguistik IV: Tata Bahasa Pra-Dewasa 

5,0 Tahap Linguistik V: Kompetensi Penuh 

 

Dari tabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 

1. Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama (0,0-0,5) 

Clark (1977) menyatakan bahwa anak pada tahap meraban pertama sudah bisa 

berkomunikasi walalupun hanya dengan cara menoleh, menangis atau tersenyum. 

Dengan demikian orang tua dan anak sudah berkomunikasi dengan baik sebelum 

anak dapat berbicara. 

2. Tahap Meraban kedua:(0,5-1,0) 

Menurut Clark (1977) dari segi komprehensi kemampuan bahasa anak semakin 

baik dan luas.Anak semakin mengerti beberapa makna kata, misal: nama (diri 

sendiri atau panggilan ayah dan ibunya), larangan, perintah, dan ajakan (misal 

permainan ciluk baa). Lebih lanjut, Tarigan (1985) menambahkan bahwa tahap ini 

disebut tahap kata tanpa makna. Ciri-ciri lain tahapan ini yaitu ocehan, seringkali 

dihasilkan dengan intonasi, kadang-kadang dengan tekanan menurun yang ada 

hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Pada tahap mengoceh (babbling) 

bayi mengeluarkan bunyi-bunyi yang makin bertambah variasinya dan semakin 

kompleks kombinasinya.Mereka mengkombinasikan vokal dengan konsonan 

menjadi struktur yang mirip dengan silabik (suku kata), misal ma-ma-ma, ba-ba-

ba, pa-pa-pa, da-da-da-da dsb. 



11 
 

 

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Goldman (dalam Saxton: 2010) yang 

menyatakan bahwa “A word like mama is relatively easy for the 12-month-old to 

pronounce. In fact, it often arises spontaneously in the child’s babbling some time 

before its appearance as a word. This may happen because is composed of simple 

sounds, arranged into repetitive strings of simple syllables”. Maksud dari 

pertanyaan tersebut adalah sebuah kata seperti ‘mama’ relative mudah untuk 

diucapkan pada usia 12 bulan. Pada kenyataannya, seringkali anak-anak secara 

spontan mengoceh sebelum ia bisa menyebutkan kata tersebut. Hal itu terjadi 

karena mama tersusun dari bunyi yang sederhana dan diadakan menjadi 

rangkaian berulang dari silabik yang sederhana. 

Lebih lanjut Tarigan (1985) menyatakan bahwausia 7 sampai 8 bulan anak-

anak sudah bisa mengenal bunyi kata untuk obyek yang sering diajarkan dan 

dikenalkan secara berulang-ulang. Selanjutnya usia8bulan sampai 1 tahun anak 

mulai mencoba mengucapkan segmen-segmen fonetik berupa suku kata kemudian 

berupa kata. Misal, bunyi “bu” kemudian “bubu” dan terakhir baru dapat 

mengucapkan kata “ibu”.Pada tahap ini anak sudah berinisiatif memulai 

komunikasi dan menggunakan bahasa isyarat untuk menunjuk atau meraih benda-

benda. 

 

3. Tahap holofrastik: Tahap linguistik pertama (1,0-2,0) 

Tahap ini adalah anak sudah mengucapkan satu kata.Menurut Tarigan (1985) 

ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase/holofrastik karena 

anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata 

yang diucapkannya itu.Contohnya kata ‘asi’ (maksudnya nasi) dapat berarti dia 

ingin makan nasi, dia sudah makan nasi, nasi tidak enak apakah ibu mau makan 

nasi?dan sebagainya 

4. Tahap linguistik II: Kalimat Dua Kata (2,0-3,0) 

Anak sudah mampu mengucapkan dua kata.Hal ini sejalan dengan pendapat 

Tarigan (1985) bahwatahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata 

tanpa makna. Ciri-ciri lain yang menarik selain yang telah disebutkan tadi adalah: 

ocehan, seringkali dihasilkan dengan intonasi, kadang-kadang dengan tekanan 



12 
 

menurun yang ada hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Pada tahap 

mengoceh (babbling) bayi mengeluarkan bunyi-bunyi yang makin bertambah 

variasinya dan semakin kompleks kombinasinya. Mereka mengkombinasikan 

vokal dengan konsonan menjadi struktur yang mirip dengan silabik (suku kata) 

misal: ma-ma-ma, ba-ba-ba, pa-pa-pa, da-da-da-da dan sebagainya. Ocehan ini 

tidak memiliki makna danada kemungkinan tidak dipakai setelah anak dapat 

berbicara (mengucapkan kata atau kalimat). Ocehan ini akan semakin bertambah 

sehingga anak mampu memproduksi perkataan pertama atau periode satu kata, 

yang muncul sekitar usia satu tahun. 

 

5. Tahap Linguistik II: Kalimat Dua Kata (3,0-4,0) 

Menurut Tarigan (1980)tahapan linguistik kedua ini biasanya mulai menjelang 

hari ulang tahun kedua.Kanak-kanan memasuki tahap ini dengan pertama kali 

mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat.Misalnya mama masak, 

adik minum, papa pigi (ayah pergi), baju kakak dan sebagainya.Ucapan-ucapan 

ini pun mula-mula tidak jelas seperti ‘di’ maksudnya adik, kemudian anak 

berhenti sejenak, lalu melanjutkan ‘num’ maksudnya minum, maka berikutnya 

muncul kalimat “adik minum”.Pada akhir tahapan ini anak sudah bisa bertanya 

dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu sama seperti perkembangan 

awal yaitu sini, sana, lihat, itu, ini, lagi, mau dan minta. 

 

6. Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (4,0-5,0) 

Tahap ini dimulai sekitar usia 2,6 bulan tetapi ada juga sebagian anak yang 

memasuki tahap ini ketika memasuki usia 2,0 tahun, bahkan ada juga anak yang 

lambat yaitu ketika anak berumur 3,0 tahun. Pada umumnya, pada tahap ini, anak-

anak telah mulai menggunakan elemen-elemen tata bahasa yang lebih rumit, 

seperti pola-pola kalimat sederhana, kata-kata tugas (di, ke, dari, ini, itu, dan 

sebagainya), penjamakan, pengimbuhan, terutama awalan dan akhiran yang 

mudah dan bentuknya sederhana (Hartati, 2000). 

 

 

 



13 
 

7. Tahap linguistik kompetensi penuh (5,0-7,0) 

Tarigan (1988) menyatakan bahwa salah satu perluasan bahasa sebagai alat 

komunikasi yang harus mendapat perhatian khusus di sekolah dasar adalah 

pengembangan baca tulis (melek huruf).Jadi, pada tahapan ini anak sudah bisa 

dikenalkan dan diajarkan untuk menulis. Menurut Izzaty, dkk (2013: 106)belajar 

membaca dan menulis membebaskan anak-anak dari keterbatasan untuk 

berkomunikasi langsung. Menulis merupakan tugas yang dirasa lebih sulit 

daripada membaca bagi anak.Cara belajar menulis dilakukan setahap demi 

setahap dengan latihan dan seiring dengan perkembangan membaca.Membaca 

memiliki peran penting dalam pengembangan bahasa. 

Berdasarkan pembagian tahapan perkembangan bahasa dari beberapa ahli 

sebagaimana dipaparkan di atas, maka untuk pembahasan lebih lanjut, tahapan 

perkembangan bahasa anak dibagi dalam tujuh tahapan.Dapat diketahui bahwa 

setiap tahapan perkembangan bahasa memiliki karakteristiknya masing-

masing.Oleh karena itu, semua orang tua harus bisa memahami hal tersebut agar 

bisa memberikan stimulasi yang tepat sehingga mampu mengoptimalkan 

perkembangan bahasa anaknya.Urutan tahapan perkembangan bahasa anak 

sebagai berikut: 

 

1. Tahapan pertama (dari lahir sampai 1 tahun) 

Anak-anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang tua melalui tangisan, 

senyuman, mendengkur dan mengoceh (babbling) sepeerti “bababababa” dan 

pada akhir tahapan ini anak sudah mulai bisa menyebutkan kata ibu atau bapak. 

 

2. Tahapan kedua (1 sampai 2 tahun) 

 Pada tahapan ini anak sudah mampu mengucapkan satu kata yang mana kata 

tersebut mewakili keseluruhan frase atau kalimat.Kata yang diucapkan biasanya 

berupa objek atau kejadian yang biasa ia lihat atau dengar dan dilakukan 

berulang-ulang. Kata tersebut juga dikombinasikan dengan gerak isyarat berupa 

permintaan, pertanyaan, perintah, pemberitahuan, penolakan dan lain-lain yang 

membantu anak dalam berkomunikasi.Pada tahap ini anak juga masih kesulitan 



14 
 

mengucapkan kata r, s, k j, dan t. Hal itu disebabkan karena alat ucap anak belum 

matang. 

 

3. Tahapan ketiga (2 sampai 3 tahun) 

Anak-anak sudah bisa mengucapkan dua kata dalam rangkaian yang cepat. 

 

4. Tahapan keempat (3 sampai 4 tahun) 

Pada tahapan ini anak-anak sudah mulai menggunakan bagian-bagian tata 

bahasa, seperti pola-pla kalimat sederhana, kata-kata tugas, dan lain-lain. 

 

5. Tahapan kelima (4 sampai 5 tahun) 

Pada tahapan ini anak-anak sudah terampil bercakap-cakap dan mulai 

menggunakan tata bahasa yang lebih rumit.Misalnya kaliamat mejemuk sederhaan 

seperti “aku mau nonton sambil makan”. 

 

6. Tahapan keenam(5 sampai 6 tahun) 

Pada tahapan ini anak-anak telah menguasai bagian-bagian sintaksis bahasa 

ibunya serta memiliki kompetensi untuk memahami dan memproduksi bahasa 

secara memadai.Selama periode ini, anak-anak dihadapkan pada tugas utama 

mempelajari bahasa tulis.Hal tersebut dimungkinkan anak-anak menguasai bahasa 

lisan. 

 

7. Tahapan ketujuh (6 sampai 7 tahun) 

Pada tahapan ini anak-anak sudah menggunakan kalimat yang lebih kompleks. 

Anak-anak sudah dihadapkan untuk mempelajari bahasa tulis, perkembangan 

bahasa pada usia sekolah dasar ini meningkat dari bahasa lisan ke bahasa 

tulis.Selanjutnya, bagaimana stimulasi dan pendampingan yang harus dilakukan 

orang tua untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak? 

 

 

 

 



15 
 

C. PERAN ORANG TUA DALAM TAHAPAN PERKEMBANGAN 

BAHASA ANAK 

1. Tahapan perkembangan pertama (0 sampai 1 tahun) 

Hal yang harus dilakukan orang tua pada tahapan ini adalah mengenalkan 

nama anak dan sebutan untuk ayah serta ibu. Hal tersebut dapat dilakukan 

dengancara sering menyebutkan nama anak ketika sedang berkomunikasi 

dengannya. Contoh: “Halo Razita”, “Razita cantik mandi dulu yaaa? “Ibu sayang 

sama Razita” Kata tersebut diucapkan sambil mencium dan memeluknya. Lalu 

ketika Ayah berangkat kerja, “Itu Ayah mau pergi kerja, salaman dulu ya sama 

Ayah” anak didekatkan kepada ayah atau meminta ayah menggendongnya dan 

memeluknya. Cara lain yang ditawarkan olehSilberg (2004: 10)yaituketika anak 

terlentang di dalam boksnya, bicaralah dari pinggir tempat tidur dan panggillah 

namanya, terus ucapkan namanya sampai ia menggerakkan mata atau kepalanya 

ke sumber suara. Hal tersebut bertujuan untuk memperkenalkan nama bayi 

tersebut.  

Pada tahapan ini pula orang tua harus mengenalkan nama benda sebanyak 

mungkin secara berulang-ulang, karena pada tahapan ini anak meraban disertai 

dengan memperlihatkan atau mengangkat barang-barang. Hal tersebut harus 

diberitanggapan dandimanfaatkan oleh orang tua, agar penguasaan kosakata anak 

bisa bertambah. Hal ini sesuai dengan pendapat Silberg (2004: hal 49) yang 

menyatakan bahwa jumlah kata yang didengar seorang bayi setiap hari 

mempengaruhi kecerdasannya di masa depan, kebaikan sosial, dan prestasi 

belajarnya.Hal ini dapat dilakukan denganmulailah percakapan dengan si kecil. 

Ucapkan kalimat  singkat, seperti “Hari ini indah” bila ia merespon dengan tangis 

atau isakan, berhenti bicara dan tatap matanya. Sewaktu si kecil bicara, jawablah 

dengan anggukan kepala atau senyum.Ini menunjukkan pada si kecil bahwa kita 

mendengarkan dan menikmati suaranya. Lanjutkan dengan kalimat lain. Selalu 

berhenti dan dengarkan responsnya. Bila kita membiarkan si kecil tahu bahwa kita 

memperhatikannya dan senang dengan apa yang ia katakana, kita 

mengembangkan keterampilan bahasa dan kepercayaan dirinya.Silberg (2004: 97) 

menambahkanbahwa memberikan jeda antarkata saat berbicara akan membantu 

bayi berkonsentrasi pada bunyi bahasa.  



16 
 

 

2. Tahapan perkembangan kedua (1 sampai 2 tahun) 

Hal yang harus dilakukan orang tua adalah mencermati situasi dan 

keadaan pada saat anak mengucapkan sebuah kata. Orang tua harus segera 

menanggapi dengan caramendengarkan dan menanyakan kembali apa yang 

dimaksud oleh si anak. Misalnya ketika anak mengatakan ‘aus’ yang hal tersebut 

bisa berarti ‘haus’, dilihat dari gerakan anak tersebut dan biasanya akan menunjuk 

benda yang berhubungan dengan kata yang disampaikannya.Selain itu orang tua 

sudah bisa menyebutkan nama-nama benda yang ada di rumah dan meminta anak 

menunjuk benda tersebut.Pada tahapan ini anak juga senang ketika orang tua atau 

orang –orang terdekatnya membacakan cerita. Hal lain yang bisa dilakukan pada 

tahapan ini adalah sesuai dengan pendapat Silberg (2004: 131) yang menyatakan 

bahwameniru adalah keterampilan alami yang dapat dilakukan bayi dengan sangat 

baik. Ucapkan satu kata dan doronglah si kecil untuk meniru kita. Pilih kata-kata 

yang ia kenali dan mulailah dengan suku kata. Anda mungkin telah melakukan ini 

dengan mengajarkan padanya “Apa yang dikatakan si sapi?” Setiap saat si kecil 

mengulangi ucapan Anda, pujilah ia dan beri pelukan. Beberapa kata-kata yang 

gampang adalah bayi, ayah, mami, apel, sinar, meong dan dah-dah. 

 

3. Tahapan perkembangan ketiga (2 sampai 3 tahun) 

Pada tahapan ini anak sudah bisa diajak menyebutkan angka-angka dasar, 

seperti angka satu, dua, tiga sampai sepuluh.Ketika orang tua berbicara kepada 

anakharus dengan perlahan dan ucapan yang jelas supaya anak dapat 

membedakan setiap kata.Penekankan atau pengulangan setiap kata juga akan 

membantu. Ungkapan-ungkapan pendek yang diucapkan orang tua pun 

akanmenajdi stimulusyang baik bagi anak dan supaya anak bisa cepat memahami 

sebaiknya diberi pengulangan.Menurut Silberg (2004: 39) ungkapan pendek 

mempercepat perkembangan proses bahasa. Misalnya. Duduklah di depan cermin 

dengan si kecil di pangkuan, lalu katakanlah “siapa bayi itu?”, lambaikan tangan 

si kecil dan ucapkan “halo bayi” dan gerakan-gerakan yang lainnya disertai 

dengan ungkapan-ungkapan yang disesuaikan dengan gerakan tersebut. 

 



17 
 

4. Tahapan perkembangan keempat (3 sampai 4 tahun) 

  Pada tahapan ini orang tua terus mengajak anak berbicara pada setiap 

kegiatan yang dilakukan bersama, misalnya pada saat makan, mandi, berpakaian, 

bermain dan lain sebagainya, karena pada saat ini anak sudah mengetahu tentang 

kegunaan suatu benda.Orang tua pun dapat mengajak anak untuk menceritakan 

cerita-cerita lucu atau pertanyaan-pertanyaan yang mengandung humor. Hal ini 

sejalan dengan pendapatSilberg (2004: 29) yang menyatakan bahwa anak-anak 

yang tumbuh di lingkungan yang kaya akan bahasa biasanya selalu lancar 

berbahasa pada pada usia tiga tahun. Orang yang sewaktu kecil terisolasi dari 

bahasa akan sulit menguasai bahasa pada saat dewasa meskipun mereka pintar dan 

dilatih dengan intensif.). 

  Pada tahapan ini sesering mungkin orang tua mengajak anak untuk 

berinterkasi dengan membicarakan hal-hal yang dijumpai atau dialami si anak. 

Hal tersebutakanmerangsang anak untuk berbicara, baik bercerita maupun 

bertanya tentang sesuatu hal. Hal ini sesuai dengan pendapat A. Gultom, Budi 

Susilo dan M. Shelly (dalam Ratnawati, 2000: 11) bahwa bentuk interaksi yang 

dimaksudkan antara lain bermain bersama anak, memberi kesempatan dan 

mendorong anak untuk melakukan pekerjaan tertentu di sekitar rumah, dan 

mendorong atau merangsang anak untuk lebih banyak bertanya. Tampaknya 

interaksi verbal merupakan bentuk yang sangat penting dan bermanfaat terutama 

dalam usaha mendorong anak bertanya.Lebih lanjut disampaikan bahwa anak 

yang banyak mengajukan pertanyaan cenderung lebih cerdas disbanding yang 

sebaliknya. 

 

5. Tahapan perkembangan kelima (4 sampai 5 tahun) 

Silberg (2004: 104) menyatakan bahwa anak-anak mempelajari bahasa 

dengan mendengarkan kata-kata yang diulang-ulang. Karenanya, semakin awal 

kita berbicara dengannya, hasilnya akan lebih baik. Selain itu, anak-anak bisa 

diajak ke tempat-tempat umum, seperti pasar, taman bermain, tempat wisata, 

kebun binatang agar anak dapat mengenal hal-hal lain di sekitarnya dan 

memperkaya kosakatanya. Selain itu, orang tua bisa membiasakan untuk 

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang dilihat atau 



18 
 

yang dialami, agar anak terbiasa merangkai kata-kata dan terlibat di dalam sebuah 

percakapan.  

 

6. Tahapan perkembangan keenam (5 sampai 6 tahun) 

Pada tahapan ini orang tua membacakan cerita-cerita teladan atau hal-hal 

yang terkait dunia anak-anak.Selain itu orang tua harus memilih buku cerita yang 

memiliki lebih banyak gambar, agar anak dapat mengeksplorasi dan 

mengembangkan imajinasinya terkait gambar yang dilihatnya. Setelah anak 

mendengar cerita, mintalah anak untuk mengulang kembali cerita yang 

didengarkan agar anak bisa belajar untuk mengungkapkan apa yang 

dipahami.Silberg (2004: 67) mengemukakan bahwa semakin banyak kata yang 

anak dengar, semakin cepat ia belajar bahasa. Bunyi kata menciptakan sirkuit 

neuron yang penting untuk perkembangan kemampuan berbahasa anak.Lebih 

lanjut Silberg (2004: 113) menyatakan bahwa anak-anak belajar tata bahasa 

dengan lebih mudah dengan mendengarkan kalimat-kalimat pendek. Meskipun 

demikian, anak-anak yang orang tuanya mengucapkan banyak anak kalimat 

(“karena” dan “yang”), belajar menggunakannya lebih awal dibanding anak-anak 

yang lain. 

 

7. Tahapan perkembangan ketujuh (6 sampai 7 tahun) 

Silberg (2004: 98) menyatakan bahwaluangkan waktu khusus setiap hari 

untuk buku.Waktu tidur juga baik.Pilihlah buku dengan kalimat-kalimat pendek 

dan ilustrasi yang sederhana.Biarkan si kecil memegang buku dan membalikkan 

halamannya.Sebutkan gambar-gambar. Cerita akan muncul begitu saja kemudian. 

Berhenti dan bicarakan tentang apa saja yang menarik bagi si kecil. Sebuah 

gambar mungkin mengingatkannya tentang hal lain. Lanjutkan percakapan dan 

gunakan kata-kata yang deskriptif. Yang paling penting: ulangi, ulangi, ulangi. Si 

kecil akan mau membaca buku yang sama berulang kali. Semakin sering diulangi, 

semakin otak terangkai. 

Lebih lanjut Silberg (2004: 28) mengemukakan bahwa membacakan cerita 

pada anak dapat merangsang imajinasi dan memperkaya pemahaman mereka 

tentang dunia.Aktivitas ini juga mengasah kemampuan membaca dan mendengar 



19 
 

serta menyiapkan mereka untuk memahami kata-kata tertulis. Selain itu anak bisa 

diminta untuk menceritakan terkait pengalamannya bersama teman-temannya atau 

hal-hal yang ia temui dalam kehidupannya. Hal ini akan merangsang anak untuk 

mengeksplorasi dan menggunakan kosa kata yang telah diperoleh selama tahapan 

perkembangan sebelumnya. 

 

D. KESIMPULAN 

Dari beberapa pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tahapan  

perkembangan bahasa anak dibagi dalam tujuh tahapan, yaitu 1) Tahapan 

pertama(dari lahir sampai 1 tahun); 2) Tahapan kedua (dari 1 sampai 2 tahun); 3) 

Tahapan ketiga (dari 2 sampai 3 tahun); 4) Tahapan keempat (dari 3 sampai 4 

tahun); 5) Tahapan kelima (dari 4 sampai 5 tahun); 6) Tahapan keenam (dari 5 

sampai 6 tahun); 7) Tahapan ketujuh (dari 6 sampai 7 tahun). Setiap tahapan 

perkembangan bahasa anak, orang tua disarankan melakukan tindakan yang sesuai 

dengan kemampuan atau tahapan perkembangan bahasa anak. 

Orang tua disarankan untuk memperhatikan dan memahami tahapan 

perkembangan bahasa anak ini.Karena pemahaman orang tua terhadap hal ini 

akanmembantu meningkatkan kompetensi dan perkembangan bahasa anak. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



20 
 

DAFTAR PUSTAKA 

Azhim.(2007). Membimbing Anak Terampil Berbahasa. Jakarta: Erlangga. 

 

Chaer, Abdul. (2011). Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta. 

 

Clark dan Clark.(1977). Psychology and Language Harcount. Brace Jovanovich, 

Inc. 

 

Dardjowidjojo, Soenjono. (2000). ECHA, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak 

Indonesia. Jakarta: Grasindo. 

 

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.(2009). Masa Balita Masa 

Emas.Available at: http//www.depkes.go.id. Juni 2009. 

 

Hariwijaya, M. (2010).Panduan Mendidik dan Membentuk Watak Anak. 

Yogyakarta: Luna Publisher. 

 

Hartati, Tatat. (2000). Pemerolehan Imbuhan Siswa Sekolah Dasar Negeri 

Cileunyi Kabupaten Bandung. Bandung: UPI. 

 

Hidayat, Aziz Alimul. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: 

Salemba Medika. 

 

Izzaty, Rita Eka, dkk. (2013). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY 

Press. 

 

Jaenudin, E. (2000)Stimulasi Keluarga pada Perkembangan Bicara Anak Usia 6 

sampai 36 Bulan di Kelurahan Kuningan, Semarang Utara. Fakultas 

Kedokteran Universitas Diponogoro Semarang.Tesis. 

 

Kosasih.(2008). Perkembangan dan Pengembangan Anak di Usia Taman Kanak-

kanak. Jakarta: Grasindo. 

 

Levey, Sandra dan Polirstok, Susan.(2011). Language 

DevelopmentUnderstanding Language Diversity in the Classroom. London: 

SAGE Publication. 

 

Papalia, D.E. et. al. (2008).Human Development (Psikologi Perkembangan). 

Jakarta: Kencana. 

 

Ratnawati, Shinta. (2000). Keluarga, Kunci Sukses Anak. Jakarta: Kompas. 

 

Santoso, Hari. (2011). Peran Buku Bacaan dan Lingkungan dalam Menunjang 

Perkembangan Bahasa Anak: Artikel Pustakawan Perpustakaan UM. 

 

Saxton, Matthew. (2010). Child Language Acquisition and Development.Los 

Angeles. SAGE Publication. 



21 
 

 

Silberg, Jackie. (2004). 125 Brain Games for Toddlers. Jakarta: Erlangga. 

 

     . (2004). Brain Games for Babies. Jakarta: Erlangga. 

 

Soetjiningsih (2003).Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC. 

 

Syahid.(2008). Urgensi Pemberian Stimulasi Dini pada Anak.Universitas 

Diponegoro Semarang. Jurnal Psikologi. 

 

Tarigan, Henry Guntur. (1985). Psikolinguistik. Bandung. Angkasa. 

 

 ..(1988). Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung. Angkasa. 

 

Trelease, J. (2008). Read-Aloud Handbook. Jakarta: Hikmah.  

 

Waskito.(2009). Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Medika. 

 

Wolraich et.al.(2008). Attention-Deficit//Hyperactivity Disorder Among 

Adolescents: a Review of the Diagnosis, Treatment, and Clinical 

Implications. Pediatrics. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



22 
 

 


