



































PENELITIAN


Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

44 

 

METODE LANGSUNG (DIRECT METHOD) DALAM PEMBELAJARAN 

BAHASA ARAB  

 
Muh. Arif 

Email: muharif@iaingorontalo.ac.id 

IAIN Sultan Amai Gorontalo 

 

Abstrak  

Penerapan metode langsung (direct method) dalam pembelajaran bahasa Arab di 
Pesantren al-Falah dipandang relevan dengan ciri-ciri dan prosedur penerapannya, bahkan untuk 
mendukung keberhasilan pembelajaran bahasa Arab di pesantren tersebut diterapkan sistem 
bi’ah lughawiyah. Adapun faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Metode Langsung 
(Direct Method) dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren al-Falah telah 
menunjukkan bahwa: minat dan motivasi siswa sangat tinggi untuk belajar agama dan bahasa 
Arab. Begitu pula metode pembelajaran yang dipakai dalam pembelajaran bahasa Arab di 
Pondok Pesantren al-Falah membuat siswa mudah memahami dan menguasai pelajaran. Selain 
itu  telah didukung dengan penerapan sistem bi’ah lughawiyah (penciptaan lingkungan 
bernuansa Arab) yang dilaksanakan sepanjang waktu mulai bangun tidur santri hingga tidur 
kembali. Sedangkan faktor yang menghambat keberhasilan penerapan Metode Langsung (Direct 
Method) dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren al-Falah ini, antara lain 
berkaitan dengan problematika umum dalam penerapan Metode Langsung, seperti kebebasan 
berbicara pada situasi yang tidak diprogramkan, mencampuradukkan antara bahasa asing dan 
bahasa ibu, ketidaksiapan tenaga pengajar, dan penciptaan bi’ah lughawiyah yang belum 
maksimal. 

 
Kata Kunci: Metode Langsung, Bi’ah Lughawiyah, Pembelajaran Bahasa Arab 

 
 
 

Abstract 
The implementation of the direct method in Arabic learning in the al-Falah Islamic 

boarding school was seen as relevant to the characteristics and procedures of its implementation, 
even to support the success of the Arabic language learning in the boarding school, the bi'ah 
lughawiyah system was applied. The factors that support the successful implementation of the 
Direct Method in Arabic learning at al-Falah Islamic Boarding School have shown that: 
students' interests and motivations are very high for learning religion and Arabic. Similarly, the 
learning methods used in learning Arabic at the Al-Falah Islamic Boarding School make it easy 
for students to understand and master the lessons. In addition, it has been supported by the 
implementation of the bi'ah lughawiyah system (the creation of an Arab-nuanced environment) 
which is carried out all the time from waking up to to sleeping again. While the factors that 
hinder the successful implementation of the Direct Method in Arabic learning at al-Falah 
Islamic Boarding School are, among others, related to general problems in applying Direct 
Methods, such as freedom of speech in non-programmed situations, confusing foreign 
languages and languages. the mother, the unpreparedness of the teaching staff, and the creation 
of a bad lughawiyah. 

 
Keywords: Direct Method, Bi’ah Lughawiyah Arabic Learning 

 
 
 

 
 

mailto:muharif@iaingorontalo.ac.id


Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

45 

 

A. PENDAHULUAN 

Belajar dan memahami bahasa asing menjadi kebutuhan saat ini, baik karena 

tuntutan karier maupun karena kebutuhan dalam dunia akademik, termasuk mempelajari 

bahasa Arab yang menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap orang yang sedang belajar di 

sebuah lembaga pendidikan (terutama lembaga pendidikan Islam) karena di antara 

fungsi bahasa Arab adalah sebagai alat untuk meningkatkan intensitas penghayatan 

keagamaan dan pengembangan keilmuan Islam. Sebagaimana diketahui, bahwa sumber 

pokok ajaran Islam (al-Qur’an dan al-Sunnah) dan literatur-literatur yang menjadi 

bahan rujukan keilmuan Islam ditulis dan dibukukan dalam bahasa Arab. Oleh karena 

itu, para peminat studi Islam, baik di lembaga pendidikan umum maupun lembaga 

pendidikan agama, wajib mempelajari dan memahami bahasa Arab. 

Ada banyak faktor yang menyebabkan sukses dan tidaknya seseorang belajar 

bahasa Arab (dan belajar bahasa asing pada umumnya). Faktor-faktor yang sering 

disebut oleh para pakar bahasa adalah faktor bakat, inteligensi, minat dan motivasi, 

metode belajar, dan faktor guru, lingkungan, dan sebagainya. Berkaitan dengan metode 

belajar, para linguis telah berupaya merumuskan metode dan teknik yang praktis untuk 

mempelajari bahasa asing (termasuk bahasa Arab). William Francis M. mencatat 

terdapat sekitar 15 (lima belas) metode dalam pembelajaran bahasa. (Sumardi Mulyanto, 

1979: 32) 

Salah satu metode yang dianggap efektif dalam pembelajaran bahasa Arab 

adalah Metode Langsung (Thorîqat al-Mubâsyarah/Direct Method). Metode Langsung 

muncul sebagai reaksi metode Qawaid-Terjemah yang memperlakukan bahasa sebagai 

sesuatu yang mati. Metode Langsung memprioritaskan keterampilan berbicara (kalam) 

dan memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang hidup. Oleh karena itu, dalam 

mempelajari bahasa Arab terdapat dua lembaga pendidikan (khususnya di Indonesia) 

yang senantiasa berseteru dalam penggunaan metode, yang masing-masing mengklaim 

sebagai yang terbaik. Kedua lembaga pendidikan tersebut adalah Pondok-Pondok 

Pesantren Salaf yang masih menggunakan Metode Qawaid-Terjemah, dan Pondok-

Pondok Pesantren Modern yang menggunakan Metode Langsung.  

Salah satu Pondok Pesantren Modern, seperti Pondok Pesantren Gontor di Jawa 

Timur, yang menggunakan Metode Langsung dalam pembelajaran bahasa Arab dengan 

sistem bi’ah lughawiyah (penciptaan lingkungan bernuansa Arab) adalah Pondok 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

46 

 

Pesantren al-Falah yang terletak di Kabupaten Gorontalo. Di Pondok Pesantren al-Falah 

ini, para santri belajar agama dan bahasa Arab dibimbing oleh para ustadz yang 

merupakan alumni Pondok Pesantren Gontor. Oleh karena itu, tak salah jika disebut 

bahwa Pondok Pesantren al-Falah sangat mengidamkan kesuksesan penerapan Metode 

Langsung sebagaimana yang telah diberlakukan di Pondok Pesantren Gontor dalam 

pembelajaran bahasa Arab bagi santri-santrinya. Namun, ada pepatah yang mengatakan 

lain ladang lain belalang, begitu juga dengan penerapan sebuah metode yang secara 

kontekstual sangat tergantung pada tujuan pembelajaran dan lingkungannya. 

Untuk itu, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan lebih dalam tentang 

penerapan Metode Langsung (Thorîqat al-Mubâsyarah/Direct Method) khususnya di 

Pondok Pesantren al-Falah Kabupaten Gorontalo. Hasil Penelitian ini sejalan dengan 

adanya reformasi metodologi pembelajaran bahasa Arab yang tengah digalakkan di 

beberapa lembaga pendidikan agama, mulai dari sekolah usia dini hingga tingkat 

perguruan tinggi, terutama dari sistem pembelajaran yang menggunakan metode 

Gramatika-Terjemah ke metode-metode yang memprioritaskan penguasaan kemampuan 

berbicara (kalam); juga adanya penerapan program ma’had di beberapa perguruan 

tinggi Islam yang notabenenya merupakan upaya untuk menciptakan bi’ah lughawiyah 

yang diharapkan menjadi tempat belajar yang efektif dan intensif dalam penggunaan 

bahasa Arab sehari-hari. Selanjutnya, dengan penelitian ini ditemukan sistem 

pembelajaran bahasa Arab yang secara kontekstual sesuai dengan tujuan dan 

lingkungannya.  

 Penelitian tentang “Penerapan Metode Langsung dalam Pembelajaran Bahasa 

Arab di Pondok Pesantren al-Falah Kabupaten Gorontalo” ini penting dilaksanakan, 

karena hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dan kegunaan praktis sebagai 

upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab, dan efektivitas 

keberhasilan penerapan Metode Langsung dalam pembelajaran bahasa Arab pada 

sebuah lembaga pendidikan (terutama lembaga pendidikan yang berbasis ma’had); dan 

bermanfaat secara teoretis sebagai salah satu sumber rujukan yang akan memperkaya 

kepustakaan khususnya tentang penerapan metode langsung dalam pembelajaran bahasa 

Arab dan bahasa asing pada umumnya. 

 Pada bagian ini, diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan penerapan sebuah 

metode dalam pembelajaran bahasa Arab, yakni: pengertian pendekatan, metode dan 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

47 

 

teknik; macam-macam metode pembelajaran bahasa Arab, dan deskripsi tentang metode 

langsung dan penerapannya dalam pembelajaran bahasa Arab. 

1. Pengertian Pendekatan, Metode dan Teknik 

a. Pendekatan (approach atau مدخل) 

Pendekatan adalah suatu pernyataan pendirian, filsafat dan keyakinan. 

Pendekatan ialah suatu aksioma (jelas kebenarannya) yang diyakini, walaupun 

kebenaran itu tidak mesti dapat dibuktikan. Kongkretnya, pendekatan dalam pengajaran 

bahasa terdiri dari serangkaian asumsi mengenai hakikat bahasa dan pembelajarannya. 

Misalnya, asumsi dari aoral-oral approach  yang menyatakan bahwa bahasa adalah apa 

yang didengar dan diucapkan, sedangkan tulisan merupakan representasi dari ucapan itu; 

juga asumsi yang menyatakan bahwa keterampilan menyimak dan berbicara harus 

diprioritaskan dari pada keterampilan membaca dan menulis, adalah dua contoh yang 

merupakan pernyataan keyakinan, pendirian dan filsafat yang jelas kebenarannya. 

Rusydi Thoimah mengemukakan bahwa ada empat macam pendekatan dalam 

pengajaran bahasa asing, yaitu: 

1) Pendekatan manusiawi (humanistic approach/الوذخل اإلنساني), yakni pendekatan yang 

menekankan pada perhatian terhadap peserta didik sebagai anak manusia, bukan 

sebagai alat atau benda yang menerima stimulus dan meresponnya. Pendekatan ini 

sangat memperhatikan kepuasan kebutuhan psikologis peserta didik dari pada 

menyambut aspirasi pikiran mereka. 

2) Pendekatan sarana dasar (media-based approach/  yakni pende-katan ,(الوذخل اللتقيّي 

yang mengasumsikan bahwa dalam mengajar bahasa asing harus mengandalkan 

kepada sarana dan teknik mengajar. Sebagaimana diketahui bahwa sarana atau alat 

peraga mempunyai peranan yang besar dalam menyampaikan keahlian dan 

mengubahnya dari keahlian abstrak ke yang kongkrit. 

3) Pendekatan analisis dan non-analisis (analytical approach/ -dan non  الوذخل اللحليلي

anaytical approach/ الوذخل غير اللحليلي  ). 

a. Pendekatan analisis adalah pendekatan yang berlandaskan kepada pertimbangan 

kebahasaan yang bersifat sosioliguistik, semantik, aktivitas bicara, analisis 

sistem dan pengertian-pengertian pikiran serta fungsi.  

b. Pendekatan non-analisis adalah pendekatan yang berlandaskan kepada 

pertimbangan kebahasaan yang bersifat psikolinguistik. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

48 

 

4) Pendekatan komunikatif (comunicative approach/الوذخل االتصالي ), yakni pende-katan 

yang berasumsi bahwa bahasa sebagai alat komunikasi, sehingga sasaran 

pembelajarannya adalah supaya peserta didik mampu berkomunikasi aktif dan 

praktis. Menurut pendekatan ini fungsi utama bahasa antara lain: fungsi manfaat, 

fungsi regulatori, fungsi interaksi, fungsi pribadi, fungsi heuristik, fungsi imajinasi, 

dan fungsi representasi. (Rusydi Ahmad Thaimah, 1989:70) 

b. Metode (Method/  ( الطريقة

Metode (method/  dapat diartikan sebagai aturan yang bersifat umum yang ( الطريتت

dipedomani oleh guru setelah mempersiapkan segala teknik dan cara yang akan 

dilakukan. (Hidayat, 1986: 5). Definisi ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan 

oleh J. Anthony  yang memberi pengertian metode sebagai prosedur atau rencana 

menyeluruh yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan 

serasi serta tidak saling bertentangan satu sama lain berdasar suatu pendekatan tertentu. 

(Anthony  J, 1976: 63 

Berdasarkan  pengertian di atas, dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat 

aksioma, dan metode bersifat prosedural. Dalam sebuah pendekatan dapat saja 

digunakan beberapa metode. Sebagai contoh, dalam comunicative approach dapat 

menggunakan metode langsung dan metode natural. 

Penerapan sebuah metode sangat tergantung pada tujuan, materi dan peserta 

didik. Kalau tujuan belajar bahasa untuk membaca (pemahaman), maka metode yang 

tepat adalah metode Gramatika-Terjemah atau metode Membaca (reading method). 

Kalau tujuan belajar bahasa untuk keterampilan berbicara, maka metode yang paling 

tepat digunakan adalah metode langsung (direct method). 

c. Teknik (Technik/  ( األسلوب

Metode (method / -dapat didefinisikan sebagai pengaturan dan langkah ( األسلىب

langkah prosedural yang digunakan untuk mencapai sasaran proses pembelajaran. 

Definisi lain menyebutkan bahwa teknik adalah strategi dan praktik operasional yang 

terjadi di kelas (lapangan).  

Kedua pengertian di atas, jelaslah bahwa teknik adalah langkah operasional dan 

prosedural yang harus konsisten dengan metode dan pendekatan. Dengan kata lain, 

prinsip-prinsip penggunaan teknik tidak boleh bertentangan dengan metode dan 

pendekatan, supaya sasaran pembelajaran dapat tercapai secara efektif, karena 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

49 

 

pendekatan merupakan landasan berpijak bagi metode, dan metode adalah landasan bagi 

teknik. Sebagai contoh, kalau seorang guru menggunakan pendekatan komunikatif dan 

metode langsung, maka teknik yang tepat digunakan dalam pembelajaran di kelas 

adalah teknik tanya-jawab (dapat juga teknik lain yang tentunya harus sesuai dengan 

pendekatan dan metode yang digunakan). 

2. Macam-Macam Metode Pembelajaran Bahasa Arab 

Ada banyak faktor yang menyebabkan sukses dan tidaknya seseorang belajar 

bahasa Arab (dan belajar bahasa asing pada umumnya). Faktor-faktor yang sering 

disebut oleh para pakar bahasa adalah faktor bakat, inteligensi, minat dan motivasi, 

metode belajar, dan faktor guru dan lingkungan, dan sebagainya.  

Berkaitan dengan metode belajar, para linguis telah berupaya merumuskan 

metode dan teknik yang praktis untuk mempelajari bahasa asing, termasuk bahasa Arab. 

William Francis M. mencatat terdapat sekitar 15 (lima belas) metode dalam 

pembelajaran bahasa.  Metode-metode tersebut yaitu: 

1. Metode langsung (direct method) 

2. Metode alamiah (natural method) 

3. Metode psikologis (psychological method) 

4. Metode fonetik (phonetic method) 

5. Metode membaca (reading method) 

6. Metode gramatika (grammar method) 

7. Metode terjemah (translation method) 

8. Metode gramatika-terjemah (grammar-translation method) 

9. Metode eklektik (eclectic method) 

10. Metode unit (unit method) 

11. Metode kontrol bahasa (control-language method) 

12. Metode mendengar dan menghafal (mimicry-memorization method) 

13. Metode teori dan praktek (practice-theory method) 

14. Metode peniruan (cognate method) 

15. Metode dwibahasa (dual language method). (Sumardi Mulyanto, 1979: 32-39) 

 

 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

50 

 

3. Metode Langsung (Direct Method) dan Penerapannya dalam Pembelajaran   

    Bahasa Arab 

Metode langsung (al-thariqah al-mubasyirah/direct method) dikembangkan oleh 

Charles Berlitz, seorang ahli dalam pengajaran bahasa, di Jerman menjelang abad ke-19. 

(Acep Hermawan, 2011: 175) 

Metode langsung adalah metode yang menekankan pada penggunaan bahasa 

sasaran (bahasa yang dipelajari) dalam pembelajaran bahasa dan  

tidak diperkenankan menggunakan bahasa ibu (Sumardi Mulyanto, 1979: 32).  Selain 

itu, metode langsung dapat diartikan bahwa suatu cara menyajikan materi pembelajaran 

bahasa asing yaitu guru langsung menerapkannya bahasa asing tersebut sebagai bahasa 

pengantar tanpa menggunakan bahasa peserta didik sedikitpun dalam pembelajaran, jika 

ada satu kata yang sulit dimengerti oleh peserta didik, maka guru dapat mengartikan 

dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, menggambarkan dan lain-lain. 

(Sumardi Mulyanto, 1979: 32) 

Metode langsung muncul pada tahun 850 M sebagai reaksi metode Qawaid-

Terjemah yang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Kemunculan metode 

ini menyerukan adanya perubahan-perubahan mendasar dalam mengajarkan bahasa 

asing dan memperlakukannya sebagai bahasa yang hidup.  

Di antara ciri-ciri khusus Metode Langsung adalah: 

1. Memprioritaskan keterampilan berbicara sebagai ganti keterampilan membaca,  

menulis dan menterjemah. 

2. Menjauhi dan menganggap tidak perlu menerjemahkan ke dalam bahasa ibu. 

Dengan kata lain, bahasa ibu tidak ada tempat sama sekali. 

3. Menerangkan makna kata atau kalimat yang sulit dengan bahasa Arab lagi melalui 

berbagai cara. Di antaranya menjelaskan maksud kata/kalimat, menyebut 

sinonimnya atau lawannya dan sebagainya. 

4. Menggunakan perbandingan langsung antara kata dan maknanya (dalam bahasa 

Arab lagi). Juga perbandingan langsung antara kalimat dan situasinya. 

5. Menggunakan teknik menirukan dan hafalan, di mana peserta didik mengulang-

ulang kalimat-kalimat, lagu-lagu dan percakapan yang membantu mereka 

memantapkan bahasa sasarannya. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

51 

 

Dengan memperhatikan ciri-ciri khusus di atas, maka prosedur penerapan 

Metode Langsung dalam pembelajaran bahasa mengikuti langkah-langkah berikut: 

1. Semua kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa asing (Arab). 

2. Dalam menjelaskan makna kata, diupayakan dengan teknik-teknik, antara lain: 

a) menunjukkan benda-benda kongkrit yang merupakan makna-makna kata yang 

dimaksud, seperti pulpen, buku dan sebagainya untuk menjelaskan makna 

 .dsb  ,كلاب، قلن

b) Mendemonstrasikan dengan perbuatan untuk menjelaskan makna kalimat, 

sebagai contoh: guru membuka pintu untuk menjelaskan kalimat فلح الباب. 

c) Main peran (drama). 

d) Menyebut lawan kata. 

e) Menyebut sinonim. 

f) Asosiasi, seperti menyebut kata yang mengingatkan pikiran menyebutkan kata 

lain, seperti ketika menyebut kata أســـرة terpanggil kata  أوالد – أمّي – أب dan 

sebagainya. 

g) Menyebut induk kalimat dan musytaqnya, seperti هجاهذة berasal dari جهذ. 

h) Menjelaskan maksud kata atau kalimat, seperti kata 

ذ صلّيى هللا عليه وسلّين وأظهر الخضىع والتبىل لها:  الوسـلن   هى هن صذق برســالت هحوّي  

i) Menerjemahkan ke dalam bahasa pengantar. 

Dengan prosedur dan teknik seperti di atas, Metode Langsung memiliki 

kelebihan dalam menampilkan bahasa pada situasi hidup dengan cara dialog dan praktis 

dalam menggunakan kosa kata, struktur dan ungkapan-ungkapan bahasa sasaran, 

sehingga peserta didik mudah dan cepat dalam menggunakan bahasa asing (Arab) 

dalam percakapan sehari-hari. Namun, problema utama yang muncul dalam penerapan 

Metode Langsung adalah: 

1. Metode ini kadang-kadang memberikan kebebasan berbicara pada situasi yang tidak 

diprogramkan. Biasanya siswa mencampur-adukkan antara bahasa asing dan bahasa 

ibu. 

2. Bahasa ibu diasingkan dari bahasa kedua, akibatnya peserta didik hanya mengetahui 

makna struktur dari konteks saja. Sedangkan memahami struktur melalui konteks 

hanya dapat dilakukan oleh peserta didik yang cerdas saja. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

52 

 

3. Banyak tenaga pengajar yang tidak siap untuk melaksanakan penerapan Metode 

Langsung di kelas, karena asas manfaat bercakap bahasa Arab di negara kita 

(Indonesia) sangat terbatas. Artinya, harus ada penciptaan lingkungan yang 

mendukung penerapan metode ini. 

B. PEMBAHASAN 

1. Penerapan Metode Langsung (Direct Method) pada Pembelajaran Bahasa 

Arab di Pondok Pesantren al-Falah Kabupaten Gorontalo 

Pada dasarnya pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren al-Falah tidak jauh 

berbeda dengan pembelajaran bahasa Arab di pesantren-pesantren lain yang nota 

benenya merupakan pesantren modern. Namun, di pesantren ini untuk mempercepat 

perolehan kompetensi berbicara dalam bahasa Arab diterapkan metode langsung yang 

didukung oleh sistem bi’ah lughawiyah (penciptaan lingkungan bernuansa Arab). 

Berikut beberapa hal yang penting dikemukakan sebagai hasil pengamatan langsung 

terhadap pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren al-Falah di Kabupaten 

Gorontalo.  

Pembelajaran bahasa Arab dengan metode langsung ini dilaksanakan pada 

setiap hari setelah melaksanakan shalat subuh selama 1.5 jam.  

Kegiatan pembelajaran ini dibimbing langsung oleh Ustadz Drs. Juwaini. 

Peserta kegiatan adalah dikategorikan dalam dua kelompok, yakni (1) santri-santri yang 

senior, yakni para santri lama yang telah menetap dan mengikuti kegiatan pondok di 

atas satu tahun), dan (2) santri-santri yunior, yakni para santri baru atau santri yang telah 

menetap dan mengikuti kegiatan pembelajaran bahasa Arab di bawah satu tahun). 

Adapun prosedur penerapan Metode Langsung dalam pembelajaran bahasa di 

Pesantren al-Falah mengikuti langkah-langkah berikut: 

1) Semua kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa asing (Arab). 

2) Dalam menjelaskan makna kata, diupayakan dengan teknik-teknik, antara lain: 

a. menunjukkan benda-benda konkret yang merupakan makna-makna kata yang 

dimaksud, seperti pulpen, buku dan sebagainya untuk menjelaskan makna  ،كلاب

 .dsb  ,قلن

b. Mendemonstrasikan dengan perbuatan untuk menjelaskan makna kalimat, 

sebagai contoh: guru membuka pintu untuk menjelaskan kalimat فلح الباب. 

c. Main peran (drama). 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

53 

 

d. Menyebut lawan kata. 

e. Menyebut sinonim. 

3) Asosiasi, seperti menyebut kata yang mengingatkan pikiran menyebutkan kata 

lain, seperti ketika menyebut kata أســـرة terpanggil kata  أوالد – أمّي – أب dan 

sebagainya. 

4) Menyebut induk kalimat dan musytaqnya, seperti هجاهذة berasal dari جهذ. 

5) Menjelaskan maksud kata atau kalimat, seperti kata 

ذ صلّيى هللا عليه وسلّين وأظهر الخضىع والتبىل لها:  الوسـلن   هى هن صذق برســالت هحوّي  

6) Menerjemahkan ke dalam bahasa pengantar. 

Adapun sistem bi’ah lughawiyah (penciptaan lingkungan bernuansa Arab) 

dilaksanakan sepanjang waktu mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Namun, 

pelaksanaannya bersifat fleksible mengingat para santri juga tercatat sebagai siswa 

Madrasah  (di MTs atau di MA yang ada di lingkungan Pesantren al-Falah) yang   

diharuskan mengikuti beberapa mata pelajaran umum dan bertemu dengan para guru 

bidang studi umum yang rata-rata menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. 

Dalam hal yang demikian ini, para santri diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia 

sesuai bidang yang dikajinya (khususnya di ruang kelas saat jam-jam sekolah). 

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Metode Langsung (Direct 

Method) 

Adapun faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Metode 

Langsung (Direct Method) dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren  al-

Falah, antara lain: 

a) Dari sisi siswa. Meskipun input Pondok Pesantren al-Falah tidak semuanya 

merupakan siswa yang berbakat dan berinteligensi tinggi, namun minat dan 

motivasi siswa yang tinggi untuk belajar agama dan bahasa Arab sangat 

mendukung keberhasilan program. 

b) Dari sisi metode belajar siswa. Metode pembelajaran yang dipakai dalam 

pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren al-Falah membuat siswa mudah 

memahami dan menguasai pelajaran. 

c) Dari sisi guru/tenaga pengajar. Para ustadz di Pondok Pesantren al-Falah adalah 

para alumni Pondok Pesantren Gontor, selain para alumni pesantren al-Falah 

sendiri yang sudah berpengalaman membimbing pembelajaran bahasa Arab. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

54 

 

d) Dari sisi lingkungan. Sistem bi’ah lughawiyah (penciptaan lingkungan bernuansa 

Arab) yang dilaksanakan sepanjang waktu mulai bangun tidur hingga tidur 

kembali di Pondok Pesantren al-Falah juga merupakan faktor yang paling 

berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa Arab. 

Adapun faktor-faktor yang menghambat keberhasilan penerapan Metode 

Langsung (Direct Method) dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren al-

Falah ini, antara lain berkaitan dengan problematika umum dalam penerapan Metode 

Langsung, seperti kebebasan berbicara pada situasi yang tidak diprogramkan, 

mencampuradukkan antara bahasa asing dan bahasa ibu, ketidaksiapan tenaga pengajar, 

dan penciptaan bi’ah lughawiyah yang belum maksimal, juga tampak di Pondok 

Pesantren al-Falah. Namun, problematika itu masih dalam taraf yang wajar dan tidak 

begitu berpengaruh terhadap keberhasilan yang telah dicapai Pesantren al-Falah sebagai 

pesantren modern yang telah menerapkan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari di 

lingkungan pesantren.  

Selanjutnya  untuk mengatasi faktor-faktor yang menghambat tersebut, pihak 

pesantren telah melakukan hal-hal sebagai berikut: 

1) Problema kebebasan berbicara pada situasi yang tidak diprogramkan, diatasi dengan 

membuat program-program yang terbimbing, yakni guru menyajikan materi-materi 

percakapan yang terbimbing (al-hiwar al-muwajjah), sementara untuk bercakap 

bebas (hiwar al-hurr) diterapkan pada kelas yang telah mahir. 

2) Siswa mencampuradukkan antara bahasa asing dan bahasa ibu. Problema ini diatasi 

dengan adanya sanksi-sanksi akademik dengan menulis atau mencari padanan kata 

yang tidak diketahuinya dalam bahasa Arab di Kamus. 

3) Ketidaksiapan tenaga pengajar, diatasi dengan mengikutsertakan para guru tersebut 

dalam pelatihan-pelatihan baik yang dilaksanakan oleh pihak pesantren sendiri atau 

pihak di luar pesantren. 

4) Problema penciptaan bi’ah lughawiyah yang belum maksimal, diatasi secara 

bertahap dengan komitmen yang kuat untuk melaksanakan pemakaian bahasa Arab 

dan istilah-istilah bahasa Arab baik oleh santri maupun oleh para pengelola Pondok 

Pesantren al-Falah (mulai dari pimpinan pondok, ustadz/ustadzah, dan hingga para 

pengelola bidang urusan rumah tangga yang lain, seperti pengelola kantin, cleaning 

service, dsb.) 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

55 

 

C. KESIMPULAN 

Penerapan metode langsung (direct method) dalam pembelajaran bahasa Arab 

di Pesantren al-Falah telah sesuai dengan ciri-ciri dan prosedur penerapannya, bahkan 

untuk mendukung keberhasilan pembelajaran bahasa Arab di pesantren tersebut 

diterapkan sistem bi’ah lughawiyah. 

Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Metode Langsung 

(Direct Method) dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren al-Falah, yaitu: 

(1) minat dan motivasi siswa yang tinggi untuk belajar agama dan bahasa Arab, (2) 

Metode pembelajaran yang dipakai dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok 

Pesantren al-Falah membuat siswa mudah memahami dan menguasai pelajaran, (3) Para 

ustadz di Pondok Pesantren al-Falah adalah para alumni pondok pesantren Gontor, 

selain itu para alumni Pesantren al-Falah yang sudah berpengalaman membimbing 

pembelajaran bahasa Arab, (4) lingkungan, yakni penerapan sistem bi’ah lughawiyah 

(penciptaan lingkungan bernuansa Arab) yang dilaksanakan sepanjang waktu mulai 

bangun tidur hingga tidur kembali. 

Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan penerapan Metode Langsung 

(Direct Method) dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren al-Falah ini, 

antara lain berkaitan dengan problematika umum dalam penerapan Metode Langsung, 

seperti kebebasan berbicara pada situasi yang tidak diprogramkan, mencampuradukkan 

antara bahasa asing dan bahasa ibu, ketidaksiapan tenaga pengajar, dan penciptaan bi’ah 

lughawiyah yang belum maksimal. 

 Untuk mengatasi faktor-faktor yang menghambat tersebut, pihak Pondok 

Pesantren al-Falah telah melaksanakan beberapa cara, di antaranya: (1) pemberian 

materi-materi percakapan yang terbimbing (al-hiwar al-muwajjah), (2) pemberian 

sanksi-sanksi yang bersifat akademik, (3) mengikutsertakan para guru tersebut dalam 

pelatihan-pelatihan, dan (4) menumbuhkan komitmen yang kuat untuk penciptaan bi’ah 

lughawiyah yang maksimal. 

 

 

 

 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

56 

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

al-Araby, Shalah Abdul Majid. Ta’allum al-Lughât al-Hayyat wa Ta’lîmuhâ Baina 
Nazhariyat wa Tathbîq. Beirut-Libanon: Maktabah Lubnan, 1981. 

Arsyad, Azhar. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 
2004. 

Anthony, J.  Approach, Method, and Technique: English Language Teaching. 1976. 

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka 
Cipta, 1998. 

Effendy, Ahmad Fuad. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat, 2003. 

Farber, Barry. How to Learn Any Language. Cet. 15; New York: Citadel Press, 
Kensington Publishing Corp, 2001. 

Hermawan, Acep. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Cet. 1; Bandung: Remaja 
Rosdakarya, 2011. 

Hidayat.  Ikhtisar Metode Pengajaran Bahasa Arab bagi Siswa-Siswi di Sekolah dan 
Pesantren di Indonesia. Jakarta: t.p., 1986. 

al-Khauli, Muhammad Ali. Asâlîb Tadrîs al- Lughat al-‘Arabiyah. Saudi Arabia, 1982. 

Madkur, Ali Ahmad. Tadrîs Funun al-Lughat al-‘Arabiyah. Riyad: Dar  
al-Syawaf, 1991. 

Moleong, Lexy.J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 
1990. 

Mulyanto, Sumardi. Pengajaran Bahasa Asing. Jakarta: Bulan Bintang, 1979. 

al-Qosimy, Ali Muhammad. Ittijâhât al-Hadîtsah fî Ta’lîm al-‘Arabiyah li al-Nâthiqîn 
bi al-Lughât al-Ukhra. Riyad: Riyad University Press, 1979. 

Suprayogo, Imam dan Thobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: 
Remaja Rosdakarya, 2001. 

Thaimah, Rusydi Ahmad. Ta’lîm al-‘Arabiyah li Ghair al-Nâthiqîn Bihâ: Manâhijuh 
wa Asâlîbuh. Mesir-Rabath: al-Munazhzhomat al-Islamiyah, 1989. 

Yusuf, Tayar. dan Syaiful Anwar,    Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. 
Jakarta: Raja Grafindo     Persada, 1995.  

 

 

 

 

 

 


