




































Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

23 
 

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERUPA MODUL BASICS ENGLISH 

GRAMMAR UNTUK MAHASISWA TADRIS BAHASA INGGRIS  

FITK IAIN SULTAN AMAI GORONTALO 

 
Jhems Richard Hasan

(1)
, Alvons Habibie

(2)
, Abdul Kadir Ismail

(3)
 

jrh@iaingorontalo.ac.id
(1)

, habibievons@iaingorontalo.ac.id
(2)

, abdulkadir89@ymail.com
(3)

 

Tadris Bahasa Inggris, FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo 

 
Abstrak 

Tujuan penelitian ini dirancang untuk: (1) Mengembangkan Bahan Ajar berbentuk modul 

Basics English Grammar untuk mahasiswa Tadris Bahasa Inggris FITK IAIN Sultan Amai 

Gorontalo; (2) Mengetahui kelayakan Bahan Ajar berbentuk modul Basics English Grammar. 

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development). Desain 

penelitian yang digunakan mengacu pada model pengembangan four-D (4D) models dengan 

empat tahapan pokok yaitu, (1) Define; (2) Design; (3) Develop; (4) Disseminate. Teknik 

pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan angket dan FGD. Hasil riset 

ini berupa : (1) Pengembangan Bahan Ajar Berbentuk Modul Basic English Grammar sesuai 

dengan model pengembangan four-D models. Define, diperoleh hasil bahwa mahasiswa 

membutuhkan bahan ajar yang dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa, serta membantu 

belajar mandiri. Design, diperoleh hasil bahan ajar yang sesuai kebutuhan mahasiswa berupa 

modul Basic English Grammar. Develop, dilakukan validasi oleh ahli, revisi sesuai saran ahli, 

serta uji coba pengembangan di semester 3 Tadris Bahasa Inggris. Disseminate, dilakukan 

penyebaran modul kepada mahasiswa Tadris Bahasa Inggris (2) Kelayakan Bahan Ajar 

Berbentuk Modul berdasarkan penilaian: ahli materi diperoleh rerata skor 3,93 (layak), ahli 

media diperoleh rerata skor 4,02 (layak), dan praktisi pembelajaran/dosen pengampu mata 

kuliah Grammar diperoleh rerata skor 4,03 (layak); (3) Penilaian mahasiswa terhadap Bahan 

Ajar Berbentuk Modul Basic English Grammar diperoleh rerata skor 4,33 (sangat layak). 

Kata Kunci: Bahan Ajar, Modul Basic English Grammar, Model Pengembangan Four-D 

 

Abstract 
The purposes of this study were designed to: (1) develop teaching and learning materials in the 

form of a Basics English Grammar module for students of the English Department, Faculty of 

Teacher Training IAIN Sultan Amai Gorontalo; (2) find out the feasibility of teaching and 

learning materials in the form of a Basics English Grammar module. This study is research and 

development in nature. The research design used refers to the four-D (4D) models of 

development with four main stages namely, (1) Define; (2) Design; (3) Develop; (4) 

Disseminate. Data collection techniques in this study were using questionnaires and FGD. The 

results of this study are: (1) Development of Basic English Grammar Module Teaching 

Materials in accordance with the four-D model development model. In the fisrt step of the 

model Define, the results show that students need teaching materials that can improve student 

competence, as well as help independent learning. Design, the results of teaching materials that 

are suitable for students' needs are in the form of Basic English Grammar modules. Develop, 

carried out validation by experts, revised according to expert advice, and trial development in 

the 3rd semester of English Education Department. Disseminate, the module is disseminated to 

English Education students (2) Feasibility of Module-Based Teaching Materials based on 

assessment: material experts obtained a mean score of 3.93 (feasible), media experts obtained a 

mean score of 4.02 (appropriate), and learning practitioners / lecturers the average Grammar 

subject is 4.03 (feasible); (3) Student's assessment of Teaching Materials in the Form of Basic 

English Grammar Modules obtained a mean score of 4.33 (very feasible). 

 

Keywords:Teaching and Learning Material, Basic English Grammar Module, Four-D 

Model. 

mailto:jrh@iaingorontalo.ac.id
mailto:habibievons@iaingorontalo.ac.id
mailto:abdulkadir89@ymail.com


Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

24 
 

A. PENDAHULUAN 

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pasal 1 ayat 20, 

pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber 

belajar pada suatu lingkungan belajar. Definisi in menggambarkan pentingnya proses 

penciptaan interaksi yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya begitupula 

sebaliknya. Proses interaksi ini tentu memerlukan sebuah alat bantu untuk 

menjembatani proses pembelajaran di dalam kelas untuk mencapai tujuan dari proses 

pembelajaran itu sendiri. Alat bantu yang dimaksud adalah bahan ajar. Sebagaimana 

yang dikemukakan oleh suhertian (2004) bahwa bahan ajar mengambil peranan penting 

dalam mewujudkan tujuan pembelajaran yang berkualitas, dari hasil penelitiannya 

menyimpulkan bahwa bahan ajar mempunyai pengaruh yang siginifikan terhadap hasil 

belajar. Ini berarti pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cenderung memperoleh 

hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak menggunakan bahan ajar. 

Dari hasil observasi awal, penulis menemukan beberapa fakta mengenai proses 

pembelajaran Basic English Grammar di lingkungan IAIN Sultan Amai, khususnya di 

jurusan Tadris Bahasa Inggris; (1) Proses pembelajaran selama ini belum menggunakan 

bahan ajar yang sama, masing masing dosen mempunyai bahan ajar berbeda-beda. Dari 

hasil wawancara dosen bahasa inggris, ditemukan bahwa penyusunan bahan ajar hanya 

berdasarkan pemikiran dosen masing-masing dan sumber materi hanya mengambil dari 

internet dan buku-buku bahasa Inggris yang sudah jadi. (2) Materi yang diajarkan dan 

dituangkan dalam silabus atau RPP selama ini juga berbeda-beda, bahkan materi atau 

topik juga berbeda tiap tahunnya. (3) mahasiswa belum pernah pernah mempunyai buku 

pegangan yang bisa digunakan sebagai bahan belajarnya ketika ada di rumah, selama ini 

materi hanya dijelaskan mengggunakan metode tradisional yaitu menuliskan materinya 

di papan tulis selama proses pembelajaran di kelas berlangsung. (4) sistem evaluasi 

terkadang tidak berdasarkan pada acuan materi atau topik yang telah diajarkan. (5) mata 

kuliah grammar menjadi mata kuliah paling banyak yang tidak disukai oleh mahasiswa.  

Masalah tersebut di atas tentu sedikit memberi gambaran bahwa pembelajaran 

Basic English Grammar di Tadris Bahasa Inggris perlu dan penting untuk dicarikan 

solusinya. Pembelajaran grammar merupakan aspek penting penopang empat skill 

utama dalam bahasa. Keterampilan bahasa berupa speaking, listening, reading dan 

writing tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran grammar itu sendiri. Proses 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

25 
 

pembelajaran grammar yang dimaksud adalah pembelajaran yang mampu 

meningkatkan motivasi dan minat mahasiswa untuk mendalami serta menekuni mata 

kuliah grammar, khususnya pada tataran basic, intermediate, dan advance. 

Agar membuat pembelajaran Basic English Grammar lebih terarah dan 

menyenangkan, maka dipandang perlu untuk dibuatkan sebuah buku ajar yang 

komunikatif dan mampu membangkitkan gairah belajar mahasiswa. Oleh karena itu 

penulis bermaksud melakukan riset dan pengembangan materi ajar Basic English 

Grammar yang digunakan sebagai modul pegangan dosen dan mahasiwa pada semester 

tiga Tadris Bahasa Inggris IAIN Sultan Amai Gorontalo. 

Sebelum mengembangkan Modul atau materi ajar, perlu adanya bangunan 

teoritis yang kuat untuk mendukung penelitian ini. Beberapa definisi ahli mengenai 

bahan ajar atau materi ajar didefinisikan sebagai berikut. Menurut Tomlinson (1998:2) 

materi ajar adalah segala sesatu yang digunakan oleh guru dan siswa dalam upaya 

memudahkan belajar bahasa sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan atau 

penglaman berbahasa. 

Dick, Carey, dan Carey (2009: 230) menambahkan bahwa instructional material 

contain the conten either written, mediated, or facilitated by an instructor that a student 

as use to achieve the objective also include information thet the learners will use to 

guide the progress. Berdasarkan ungkapan Dick, Carey, dan Carey dapat diketahui 

bahwa bahan ajar berisi konten yang perlu dipelajari oleh siswa baik berbentuk cetak 

atau yang difasilitasi oleh pengajar untuk mencapai tujuan tertentu. 

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2011: 171) mengungkapkan bahwa bahan 

ajar merupakan seperangkat informasi yang harus diserap peserta didik melalui 

pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penyusunan 

bahan ajar diharapkan siswa benar-benar merasakan manfaat bahan ajar atau materi itu 

setelah ia mempelajarinya. Yana Wardhana (2010: 29) menambahkan bahwa bahan ajar 

merupakan suatu media untuk mencapai keinginan atau tujuan yang akan dicapai oleh 

peserta didik. Sedangkan menurut Opara dan Oguzor (2011: 66) mengungkapkan bahwa 

instructional materials are the audio visual materials (software/hardware) which can be 

used as alternative channels of communication in the teaching-learning process. Bahan 

ajar merupakan sumber belajar berupa visual maupun audiovisual yang dapat digunakan 

sebagai saluran alternatif pada komunikasi di dalam proses pembelajaran. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

26 
 

Berdasarkan kajian di atas, istilah bahan ajar yang digunakan dalam penelitian ini 

adalah suatu bahan/ materi pelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan 

dosen dan mahasiswa dalam pemebelajaran Basic English Grammar untuk mencapai 

tujuan yang diharapkan. 

Pengembangan suatu bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan 

siswa/mahasiswa. Terdapat sejumlah alasan mengapa perlu dilakukan pengembangan 

bahan ajar, seperti yang disebutkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas 

(2008: 8-9) sebagai berikut. 

a. Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang 

dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum 

b. Karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuaikan 

dengan karakteristik siswa/mahasiswa sebagai sasaran, karakteristik tersebut 

meliputi lingkungan sosial, budaya, geografis maupun tahapan perkembangan 

siswa/mahasiswa 

c. Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah 

atau kesulitan dalam belajar. 

Dengan demikian, pengembangan bahan ajar di sekolah atau perguruan tinggi perlu 

memperhatikan karakteristik siswa/mahasiswa dan kebutuhan siswa/mahasiswa sesuai 

kurikulum, yaitu menuntut adanya partisipasi dan aktifitas siswa lebih banyak dalam 

pembelajaran. Pengembangan lembar kegiatan siswa menjadi salah satu alternatif bahan 

ajar yang akan bermanfaat bagi siswa menguasai kompetensi tertentu, karena lembar 

kegiatan siswa dapat membantu siswa menambah informasi tentang materi yang 

dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis 

Secara umum bahan ajar dapat dibedakan ke dalam bahan ajar cetak dan 

noncetak. Bahan ajar cetak dapat berupa, handout, buku, modul, brosur, dan lembar 

kerja siswa. Sedangkan bahan ajar noncetak meliputi, bahan ajar audio seperti, kaset, 

radio, piringan hitam, dan compact disc audio. Bahan ajar audio visual seperti, CAI 

(Computer Assisted Instruction), dan bahan ajar berbasis web (web based learning 

materials) (Ika Lestari, 2013: 5). 

Lebih lanjut Mulyasa (2006: 96) menambahkan bahwa bentuk bahan ajar atau 

materi pembelajaran antara lain adalah bahan cetak (hand out, buku, modul, LKS, 

brosur, dan leaflet), audio (radio, kaset, cd audio), visual (foto atau gambar), audio 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

27 
 

visual (seperti; video/ film atau VCD) dan multi media (seperti; CD interaktif, computer 

based, dan internet). 

Bahan ajar yang dimaksud dalam kajian ini lebih ke bahan ajar cetak berupa 

buku teks. Hal ini dikarenakan, buku teks sangat erat kaitannya dengan kurikulum, 

silabus, standard kompetensi, dan kompetensi dasar. Rudi Susilana (2008: 14) 

mengungkapkan bahwa buku teks adalah buku tentang suatu bidang studi atau ilmu 

tertentu yang disusun untuk memudahkan para guru dan siswa dalam upaya mencapai 

tujuan pembelajaran. 

Buku teks mempunyai peran penting dalam pencapaian tujuan pendidikan 

nasional. Hutchinson & Torres (1994) mengungkapkan bahwa The textbook is an almost 

universal element of [English language] teaching. Millions of copies are sold every 

year, and numerous aid projects have been set up to produce them in [various] 

countries…No teaching-learning situation, it seems, is complete until it has its relevant 

textbook. Buku teks merupakan salah satu unsure yang dibutuhkan dalam pengajaran. 

Buku teks dapat juga menjadi wadah untuk menuliskan ide-ide terkait kebudayaan 

nasional suatu bangsa. Sebagaimana yang diungkapkan Pingel (2009: 7) bahwa 

Textbooks are one of the most important educational inputs: texts reflect basic ideas 

about a national culture, and are often a flashpoint of cultural struggle and 

controversy. 

Proses pembelajaran grammar mengambil peran penting dalam mendukung 

keempat keterampilan berbahasa Inggris pada umumnya. Asumsi bahwa pembelajaran 

bahasa berfokus pada pemaknaan atau komunikasi dipandang belum cukup untuk 

mencapai kompetensi kebahasaan secara menyeluruh. Di bawah ini penulis mencoba 

menjabarkan mengenai grammar berrdasarkan pada teori-teori pakar bahasa. Menurut 

Harmer (2001:142), tata bahasa merupakan penjelasan cara bagaimana kata - kata 

diubah dan digabungkan pada kalimat di dalam suatu bahasa (grammar is the 

description of the ways in which words can change their forms and can be combined 

into sentences in that language). Tata bahasa adalah salah satu aspek yang paling 

penting dalam penerjemahan 

Senada dengan itu, Swan (2005:19), mendefinisikan grammar “the rules that show 

how words are combined, arranged or changed to show certain kinds of 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

28 
 

meaning.”(Grammar adalah aturan yang menerangkan bagaimana kata digabungkan, 

disusun atau diubah untuk menunjukkan beberapa jenis makna). 

Selain definisi yang umum seperti di atas, ada beberapa pakar bahasa yang 

mendefinisikan grammar dengan gaya yang berbeda seperti Greenbaum dan Leech. 

Leech dkk (1982:3) mendefinisikan grammar sebagai:“reference to the mechanism 

according to which language works when it is used to communicate with other people. 

Grammar is a mechanism for putting words together, but we have said little about 

sound of meaning.”(Makna Grammar adalah referensi mekanisme menurut fungsi 

bahasa ketika digunakan dalam komunikasi dengan orang lain. Grammar adalah aturan 

untuk penggabungan kata, tetapi kami telah menjelaskan sedikit tentang bunyi suatu 

makna). Sedangkan tata bahasa (grammar) menurut Gerot dan Wignell (1995: 2), 

“Grammar is a theory of language, of how language is put together and how it works”.  

Dari beberapa kutipan penjelasan menurut pakar bahasa di atas dapat bahasakan 

kembali bahwa grammar (tata bahasa) merupakan aturan dalam suatu bahasa yang 

menggabungkan kata sehingga menjadi susunan yang dapat dipahami penerapan dan 

cara kerjanya. 

Menurut Gerot dan Wignell (1995) dalam bukunya “Making Sense of Functional 

grammar terdapat tiga grammar yang dipelajari di dunia pendidikan abad ini, yaitu: 

1. Tata bahasa tradisional (Traditional grammar) bertujuan menggambarkan 

standarisasi grammar bahasa Inggris yang dibandingkan dengan Latin. Tata 

bahasa tradisional lebih fokus pada peraturan-peraturan dalam memproduksi 

kalimat yang benar. 

2. Tata bahasa formal (Formal grammar) bertujuan menggambarkan struktur-

struktur kalimat. Pertanyaan yang tepat yang dapat terjawab oleh Tata 

bahasa formal yaitu “How is this sentence structured? 

3. Tata bahasa fungsional (Functional grammar) menggambarkan bahasa 

sebagai makna yang terfokus pada teks dan konteks. Tata bahasa fungsional 

diawali dengan pertanyaan “How are the meanings of this text realized?” 

Dari ketiga model tersebut yang dikemukakan Gerot dan Wignell di atas, penelitian 

ini mengambil ketiga model tersebut untuk diramu dan dikembangkan menjadi sebuah 

modul pembelajaran yang komunikatif dengan menampilkan pembelajaran tata bahasa 

berbasis gambar. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

29 
 

Penelitian Terdahulu yang Relevan 

Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut: 

Pengembangan bahan ajar grammar one berbasis mobile learning di lembaga kursus 

Global English Pare – Kediri. Dari kajian penelitian yang dilakukan oleh Syahrul 

Mubaroq pada tahun 2015, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar 

grammar one berbasis mobile learning dengan menggunakan model pengembangan Lee 

& Owens. Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti adalah pengembangan modul 

pembelajaran grammar dengan penjelasan materi berbasis gambar dengan menggunakan 

model pengembangan Borg & Gall. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk 

pengembangan bahan ajar Grammar One ini dapat digunakan dalam pembelajaran 

sebagai pelengkap pembelajaran di kelas maupun dapat dijadikan sumber belajar secara 

mandiri.  

Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hendra Eka Putra 

& Ridianto tahun 2016 dengan judul pengembangan model materi ajar mata kuliah 

bahasa inggris 2 berbasis kebutuhan mahasiswa program studi Akuntansi Syariah 

STAIN Batusangkar. Tujuan Penelitian ini adalah mendesain model pembelajaran 

bahasa inggris yang difokuskan pada keterampilan membaca. Perbedaan antara 

penelitian ini dan penelitian yang peneliti lakukan adalah pada objek dan subjek 

penelitian yang dikembangkan. 

 

B. METODE PENELITIAN 

Penelitian ini menggunakan pendekatan Research & Development (Penelitian dan 

Pengembangan). Penelitian ini merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk 

mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada dan 

dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini mengacu pada model penelitian dan 

pengembangan 4D (four-D) yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel dan Semmel 

(dalam Trianto, 2010: 189). Model pengembangan ini terdiri dari 4 tahap yaitu 

pendefinisian (Define), Perancangan (Design), Pengembangan (Develop), dan 

Penyebaran (Disseminate).   

Lokasi penelitian adalah di jurusan Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Tarbiyah 

dan Keguruan, IAIN Sultan Amai Gorontalo 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

30 
 

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Tadris Bahasa Inggris yang akan dbagi ke 

dalam dua kelompok uji coba, yaitu uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok 

besar. 

Prosedur Penelitian ini mengadapsi prosedur penelitian pengembangan yang 

dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel dan Semmel dengan skema berikut: 

  

 

 

Untuk mengetahui kualitas produk yang dikembangkan, maka diperlukan data 

kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa kritik, saran, dan masukan dari para 

ahli, dosen, dan mahasiswa untuk perbaikan modul Basic English Grammar. Data 

kuantitatif berupa skor tanggapan  tentang kualitas produk baik dari pakar, dosen, dan 

mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa membuat angket. 

Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang kelayakan modul 

pembelajaran Basic English Grammar. Angket yang digunakan dalam penelitian ini ada 

dua macam, yakni: a) angket untuk  penilaian produk oleh ahli materi dan media; b) 

angket penerimaan dan respon praktisi pembelajaran dan mahasiswa. 

Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskrptif kuantitatif. Data yang 

dianalisis meliputi analisis kelayakan, respon siswa, Analisis kelayakan modul oleh ahli, 

dosen, dan mahasiswa.  

Analisis Kelayakan Produk. Data untuk analisis kelayakan produk didapat dari 

angket validasi oleh ahli materi, dosen ahli media dan praktisi pembelajaran akuntansi. 

Angket tersebut terdiri dari lima pilihan jawaban dengan skala interval 1 sampai 5. 

Teknik analisis ini dilakukan dengan langkah-langkah berikut: a) Tabulasi data; b) 

Menghitung skor rata-rata; c) mengubah skor rata-rata menjadi nilai dengan kategori. 

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Hasil 

Pengembangan bahan ajar berupa modul dalam penelitian ini merujuk pada model 

atau prosedur pengembangan yang dikembangkan oleh Thiagarajan dan Semmel yang 

dikenal dengan istilah Four-D (4D) models. Tahap-tahap ini meliputi: (a) Define atau 

pendefinsiai, (b) Design atau perancangan, (c) Develop atau pengembangan dan (d) 

Define Design Develop Disseminate 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

31 
 

Disseminate atau tahap penyebaran produk. Adapun temuan dari setiap tahapan 

teserbut dijabarkan sebagai berikut: 

1. Define (Pendefinisian) 

Langkah awal pada tahap ini adalah mengumpulkan informasi dan menganalisis 

kebutuhan mahasiswa dan dosen bahasa Inggris di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah 

dan Keguruan IAIN Sultan Amai Gorontalo. Pengumpulan informasi kebutuhan 

terhadap pengembangan produk berupa modul atau bahan ajar pada mata kuliah Basic 

English Grammar ini dilakukan dengan menyebarkan angket kebutuhan dan melalui 

Focus Group Discussion (FGD). Dari hasil angket dan kegiatan focus group discussion 

ini kemudian diuraikan dan dianalisis segala bentuk kebutuhan dosen dan mahasiswa 

sebagai langkah awal dalam mengembangkan produk berupa modul atau bahan ajar 

pada mata kuliah Basic English Grammar di Jurusan Tadris Bahasa Inggris FITK IAIN 

Sultan Amai Gorontalo. 

a. Hasil Angket 

Angket yang disebarkan ke beberapa mahasiswa bertujuan untuk mengetahui 

kebutuhan dasar mahasiswa dalam pembelajaran pada mata kuliah English Basic 

Grammar.  Dari hasil angket ini didapati informasi mengenai proses pembelajaran dan 

kemampuan awal mahasiswa serta kebutuhan dasar mahasiswa pada mata kuliah 

English basic grammar sebagai berikut: 

1). Proses pembelajaran English Basic Grammar di semester III Tadris Bahasa Inggris 

selama ini menggunakan metode konvensional atau tradisional, dimana dosen mentik 

beratkan pengajaran pada aspek materi yang berisi tentang hapalan-hapalan rumus yang 

banyak dan cukup membingungkan mahasiswa. 

2). Buku ajar sebagai media dalam proses pembelajaran tidak dibagikan, namun hanya 

disampaikan melalui pembahasan langsung dalam kelas, bahkan referensi buku yang 

dirujuk hanya bersumber pada salah satu buku grammar saja. 

3). Hasil pembelajaran hanya berfokus pada sejauhmana mahasiwa dapat menghafalkan 

rumus-rumus dalam membentuk kalimat bahasa Inggris dengan baik dan tepat sesuai 

kaidah tata bahasa yang berlaku. 

4). Sistem evaluasi pembelajaran tidak mampu mengukur kemampuan mahasiswa yang 

sebenarnya. Atau dengan kata lain, alat evaluasi yang digunakan tidak sesuai dengan 

tujuan pembelajaran Basic English Grammar itu sendiri. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

32 
 

5). Secara umum kemampuan tata bahasa mahasiswa pada level dasar atau basic masih 

dapat dikategorikan sedang. Hal ini dibuktikan dengan hasil belajar mahasiswa pada 

mata kuliah tersebut dimana sebagian besar mahasiswa mendapatkan nilai di bawah 

3.50 (A-). 

6). Pada aspek mengenai harapan mahasiswa dalam pembelajaran Basic English 

Grammar, sebagian besar mahasiswa mengharapkan adanya sebuah produk atau media 

pembelajaran berupa modul atau bahan ajar yang baku dan dibagikan kepada 

mahasiswa. 

b. Hasil Focus Group Discussion (FGD) 

Kegiatan ini dilakukan untuk melihat dan mendengarkan langsung mengenai 

keluhan dan merumuskan solusi dalam pembelajaran Basic English Grammar. Kegiatan 

ini melibatkan dosen pengajar dan mahasiwa Tadris Bahasa Inggris. Dosen pengajar 

yang diundang adalah dosen yang memang bergelut dalam bidang English grammar 

sebanyak 2 orang wakil dosen. Mahasiwa bahasa Inggris yang mewakili tiga angkatan 

mulai dari angkatan 2015 sampai angkatan 2017, dan kami sebagai peneliti  berjumlah 3 

orang. Dalam diskusi ini, kami sebagai peneliti mengarahkan topik diskusi pada (1) apa 

saja keluhan yang dirasakan dan dialami langsung oleh dosen dan mahasiswa dalam 

proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. (2) apa yang diharapakan? atau 

kebutuhan dosen dan mahasiswa apa yang paling dibutuhkan dalam pembelajaran Basic 

English Grammar?. 

Dari hasil pertemuan merumuskan beberapa hasil kesepakatan bersama antara 

peneliti, dosen dan mahasiswa sebagai berikut: 

a. Produk pembelajaran atau media pembelajaran berupa modul atau bahan 

ajar yang baku sangat diharapkan ada atau tersedia dalam bentuk cetak. 

b. Materi pembelajaran agar disesuaikan dengan komptensi dasar yang ingin 

dicapai, atau dengan kata lain, materi harus mencerminkan segala aspek 

yang dibutuhkan mahasiswa pada level dasar pada mata kuliah Basic 

English Grammar itu sendiri. 

c. Materi pembelajaran agar mudah dipahami dan dilengkapi dengan ilustrasi 

atau gambar-gambar yang menarik dan bisa membangkitkan gairah belajar 

mahasiswa. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

33 
 

d. Materi pembelajaran grammar agar lebih aplikatif atau dapat diterpakan 

langusung dan tidak menitik beratkan pada hafalan-hafalan rumus dan kosa 

kata 

e. Bahasa yang digunakan dalam modul menggunakan bahasa Inggris 

sederhana atau bahasa Indonesia sehingga memudahkan mahasiswa dalam 

memahami setiap penjelasan dan instruksi dalam modul secara mandiri 

f. Mengurangi atau menyederhanakan setiap penjelasan atau instruksi dalam 

modul, sehingga tidak membuat mahasiswa bosan untuk membacanya. 

g. Penjelasan setiap materi terdapat ilustrasi sederhana berupa gambar atau 

tabel sederhana yang mampu memberikan gambaran dan pemahaman 

langsung tanpa harus membaca keseluruhan uraian. 

h. Alat evaluasi yang digunakan beragam dan posisinya pada setiap akhir topik 

pembelajaran 

Dari hasil analisis kebutuhan dosen dan mahasiswa melalui dua cara tersebut di 

atas, tim peneliti menyimpulkan bahwa penting untuk mengembangkan bahan ajar 

berupa modul Basic English Grammar pada mahasiswa Tadris Bahasa Inggris 

khususnya pada semester III. Produk yang dikembangkan merupakan pengembangan 

lanjutan dari berbagai bahan ajar yang sudah tersedia baik secara online maupun offline, 

namun dengan memperhatikan dan mempertimbangkan segala aspek yang dibutuhkan 

mahasiswa sehingga proses pembelajaran menggunakan modul ini sesuai dengan 

karakter dan kebutuhan bersama dosen dan mahasiswa. Ciri khas utama modul yang 

dikembangkan adalah terletak pada ilustrasi grambar dan tabel yang ditampilkan pada 

setiap topik sehingga memudahkan mahasiswa dalam memahami setiap materi dengan 

baik. Serta alat evaluasi yang variatif dan menantang namun menarik. 

Langkah kedua adalah telaah pustaka atau dokumen. Pada tahap ini tim peneliti 

melakukan kajian terhadap modul atau buku ajar yang sudah beredar baik dalam bentuk 

e-modul atau printed modul. Dari hasil kajian dari beberapa modul tersebut, tim peneliti 

menemukan bahwa terdapat berbagai bentuk sajian atau format modul itu sendiri. 

Keberagaman dalam tampilan isi modul ini juga menambah khasanah tim peneliti dalam 

mengembangakan modul English Basic Grammar. Namun, perbedaan itu juga yang 

menginspirasi tim peneliti untuk mengembangkan produk berupa bahan ajar atau modul 

dengan ciri khas berupa tampilan gambar dan tabel-tabel sehingga memudahkan 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

34 
 

pembaca atau pembelajar itu sendiri. Tampilan atau format yang disajikan sederhana 

namun padat dan jelas. Pada langkah ini pula tim peneliti banyak mendapatkan inspirasi 

dalam membuat evaluasi atau latihan-latihan soal pada setiap materinya. Model evaluasi 

atau latihan dibuat beragam dan mendorong mahasiswa untuk belajar menyelesaikan 

setiap model latihan tersebut. 

Langkah ketiga, Setelah melakukan telaah pustaka atau dokumen di atas, maka 

langkah selanjutnya adalah menentukan cakupan materi. Cakupan materi tersebut 

disesuaikan dengan kurikulum dan tingkat kemampuan mahasiswa. Berdasarkan 

analisis kebutuhan mahasiswa dan telaah pustaka atau dokumen di atas, materi yang 

dituangkan dalam modul pada penelitian ini adalah materi dasar grammar yang 

mencakup Parts of Speech. Materi ini sangat penting untuk dikuasai terlebih dahalu bagi 

seorang pembelajar bahasa, khususnya pada komptensi kebahasaan berupa tata bahasa. 

Langkah keempat, Tahap ini dilakukan untuk merumuskan hasil telaah pustaka 

atau dokumen dan analisis materi yang sebelumnya telah dilakukan. Indikator yang 

muncul dari analisis kurikulum dan analisis materi akan menjadi tujuan pembelajaran 

sekaligus sebagai dasar penyusunan butir soal.  Berdasarkan telaah pustaka atau 

dokumen dan analisis materi, diperoleh spesifikasi tujuan dari masing-masing 

kompetensi dasar.  

2. Design (Perancangan) 

Tahap perancangan dilakukan untuk merancang bahan ajar yang dikembangkan. 

Terdapat empat langkah yang dilakukan pada tahap perancangan ini, yaitu: 

a. Penyusunan tes  

Soal tes termuat dalam satu paket soal praktik yang terdiri dari lembar soal dan 

lembar kerja. Lembar soal yang diberikan terdiri dari informasi umum, instruksi 

mengerjakan soal dan soal pemahaman tentang part of speech dalam bentuk pilihan 

ganda. 

b. Pemilihan media  

Pemilihan media dilakukan untuk menentukan media yang tepat dalam penyajian 

materi pembelajaran serta sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pemilihan media ini 

didasarkan pada analisis yang dilakukan sebelumnya pada tahap define. Berdasarkan 

analisis yang dilakukan diperoleh informasi bahwa pada mata Kuliah English Basic 

Grammar diperlukan pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan mahasiswa untuk 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

35 
 

belajar secara mandiri dan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa. Dengan 

demikian, media yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Bahan Ajar Grammar 

Berbentuk Modul. Alasan pemilihan modul karena modul merupakan bahan ajar yang 

disusun secara sistematis sesuai tingkat pengetahuan mahasiswa agar dapat digunakan 

belajar secara mandiri oleh mahasiswa. Bentuk dari Bahan Ajar Grammar berbentuk 

Modul yang dikembangkan adalah media cetak.   

c. Pemilihan format  

Pemilihan format dilakukan dengan memilih format dari media yang 

dikembangkan dengan mengkaji format-format yang sudah ada dan sudah 

dikembangkan. Format yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah komponen-

komponen yang harus ada dalam penyusunan modul sesuai dengan kajian pustaka yang 

telah dilakukan. Berdasarkan analisis kajian teori yang telah dilakukan, maka format 

dari Bahan Ajar English Basic Grammar Berbentuk Modul memuat hal-hal berikut: 

1) Bagian Pembuka 

a) Halaman sampul 

b) Kata pengantar 

c) Daftar isi, daftar Tabel, daftar gambar 

2) Kegiatan belajar 

a) Pengantar 

b) Uraian materi beserta contoh dan latihan 

c) Rangkuman 

d) Tes formatif 

e) Tugas 

f) Lembar kerja 

g) Kunci jawaban 

5) Evaluasi 

6) Daftar pustaka 

d. Penulisan Naskah 

Penulisan naskah dilakukan dengan tahap berikut: 

1) Menetapkan Judul Modul 

Judul Modul yang dikembangkan adalah “Basic English Grammar; 

Practical and Understandable” 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

36 
 

2) Menetapkan Tujuan Akhir dan Antara 

3) Menyusun Garis-Garis Besar Konten Modul 

4) Mengembangkan Materi 

3. Develop (Pengembangan) 

Tahap pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk akhir dengan 

melewati beberapa tahap sebagai berikut:  

a. Validasi Ahli 

Hasil rancangan modul oleh tim peneliti pada tahap sebelumnya harus melalui 

validasi ahli sebelum diujicobakan pada kelompok kecil. Tujuan validasi ini adalah 

untuk mengetahui kelayakan modul yang telah dikembangkan. Validator dalam 

peelitian ini terdiri dari validator materi, validator media dan dosen pengampu MK 

Basic English Grammar. Validator memberikan penilaian dan saran berdasarkan lembar 

penilian yang telah disediakan oleh tim peneliti.  

1) Hasil Uji Kelayakan Ahli Materi 

Materi modul dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan format penilaian 

berbentuk angket dengan skala 5. Angket berisi 31 butir pernyataan yang 

dikelompokkan dalam 3 aspek yaitu kelayakan isi, penggunaan bahasa dan penyajian. 

Hasil rata-rata penilaian disajikan dalam tabel berikut: 

Tabel 1. Uji Kelayakan Ahli Materi 

No Aspek Penilaian Rata-Rata Skor Kategori 

1 Isi 4,00 Layak 

2 Penggunaan Bahasa 3,91 Layak 

3 Penyajian 3,89 Layak 

Rata-Rata Skor Ahli materi 3,93 Layak 

 

Dari hasil validasi oleh ahli materi di atas dapat disimpulkan bahwa 

pengembangan produk tahap awal oleh tim peneliti mendapatkan skor rata-rata 3,93. 

Hal ini berarti produk dapat dikategorikan layak dan dapat diujicobakan. 

2) Hasil Uji Kelayakan Ahli Media 

Materi modul dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan format penilaian 

berbentuk angket dengan skala 5. Angket berisi 36 butir pernyataan yang 

dikelompokkan dalam 6 aspek yaitu konsistensi, bentuk dan ukuran huruf, format, 

pengorganisasian, daya tarik, ruang (spasi kosong). Hasil rekapitulasi dapat dilihat 

selengkapnya dalam lampiran. Hasil rata-rata penilain disajikan dalam tabel berikut: 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

37 
 

Tabel 2. Uji Kelayakan Ahli Media 

No Aspek Penilaian Rata-Rata Skor Kategori 

1 Konsistensi 4,40 Layak 

2 Bentuk dan Ukuran Huruf 3,86 Layak 

3 Format 4,00 Layak 

4 Pengorganisasian 3,88 Layak 

5 Daya Tarik 4,00 Layak 

6 Spasi Kosong 4,00 Layak 

Rata-Rata Skor Ahli Media 4,02 Layak 
 

Dari hasil validasi oleh ahli media di atas dapat disimpulkan bahwa 

pengembangan produk tahap awal oleh tim peneliti mendapatkan skor rata-rata 4,02. 

Hal ini berarti produk dapat dikategorikan layak dan dapat diujicobakan. 

3) Hasil Uji Kelayakan oleh Praktisi Pengajaran 

Materi modul dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan format penilaian 

berbentuk angket dengan skala 5. Angket berisi 36 butir pernyataan yang 

dikelompokkan dalam 4 aspek yaitu kelayakan isi, penggunaan bahasa, penyajian dan 

kegrafikan. Hasil rekapitulasi dapat dilihat selengkapnya dalam lampiran. Hasil rata-rata 

penilaian disajikan dalam tabel berikut: 

Tabel 3. Uji Kelayakan oleh Praktisi Pengajaran 

No Aspek Penilaian Rata-Rata Skor Kategori 

1 Isi 3,91 Layak 

2 Penggunaan Bahasa 4,00 Layak 

3 Penyajian 3,89 Layak 

4 Kegrafikan 4,33 Sangat Layak 

Rata-Rata Skor Praktisi 

Pengajaran 

4,03 Layak 

 

Dari hasil validasi oleh Praktisi pengajaran di atas dapat disimpulkan bahwa 

pengembangan produk tahap awal oleh tim peneliti mendapatkan skor rata-rata 4,03. 

Hal ini berarti produk dapat dikategorikan layak dan dapat diujicobakan. 

 

b. Revisi Produk 

Setelah mendapatkan penilaian dan masukan dari ahli materi, ahli media dan 

praktisi pembelajaran di atas, tim peneliti kemudian merevisi produk awal dengan 

memperhatikan beberapa masukan dan koreksi dari tim ahli di atas.  

 

 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

38 
 

c. Uji Coba Pengembangan 

Uji coba pengembangan dilakukan pada kelompok kecil dan kelompok besar. Pada 

tahap ini peserta dimintai responnya terhadap produk yang dikembangkan. Respon 

mahasiswa terhadap penggunaan modul Basic English Grammar bertujuan untuk 

memperoleh informasi dan masukan pada rancangan akhir produk berupa modul 

pembelajaran. 

1) Data Uji Coba Kelompok Kecil 

Uji coba kelopok kecil dilakukan terhadap 10 orang mahasiswa. Uji coba diawali 

dengan pembagian draft modul yang sudah direvisi dan dinyatakan layak oleh ahli. 

Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan singkat mengenai isi modul. Selanjutnya 

mahasiswa diberikan waktu untuk melihat dan membaca draft modul dan pada saat yang 

bersamaan mahasiswa diberikan format penilaian berupa angket dengan skala 5. Angket 

berisi 25 butir pernyataan yang dikelompokkan dalam 4 aspek yaitu kelayakan isi, 

penggunaan bahasa, penyajian dan kegrafikan. Hasil rekapitulasi dapat dilihat 

selengkapnya dalam lampiran. Hasil rata-rata penilain disajikan dalam tabel berikut: 

Tabel 4. Uji Coba Kelompok Kecil 

No Aspek Penilaian Rata-Rata Skor Kategori 

1 Isi 4,33 Sangat Layak 

2 Penggunaan Bahasa 4,45 Sangat Layak 

3 Penyajian 4,40 Sangat Layak 

4 Kegrafikan 4,60 Sangat Layak 

Rata-Rata Skor Respon 

Mahasiswa 

4,45 Sangat Layak 

 

Dari hasil di atas, respon mahasiswa terhadap draft modul pada kelompok kecil 

menunjukkan bahwa modul berada pada kategori sangat layak dengan rata-rata skor 

4,45. Dari hasil ini tim peneliti melakukan revisi pada beberapa bagian modul untuk 

kemudian dapat diujicobakan pada taha selanjutnya. 

2) Data Uji Coba Kelompok Besar 

Uji coba kelompok besar ini dilakukan terhadap 21 orang mahasiswa. Uji coba 

diawali dengan pembagian draft modul yang sudah direvisi dan dinyatakan layak oleh 

ahli. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan singkat mengenai isi modul. Selanjutnya 

mahasiswa diberikan waktu untuk melihat dan membaca draft modul dan pada saat yang 

bersamaan mahasiswa diberikan format penilaian berupa angket dengan skala 5. Angket 

berisi 25 butir pernyataan yang dikelompokkan dalam 4 aspek yaitu kelayakan isi, 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

39 
 

penggunaan bahasa, penyajian dan kegrafikan. Hasil rekapitulasi dapat dilihat 

selengkapnya dalam lampiran. Hasil rata-rata penilain disajikan dalam tabel berikut: 

Tabel 5. Uji Coba Kelompok Besar 

No Aspek Penilaian Rata-Rata Skor Kategori 

1 Isi 4,80 Sangat Layak 

2 Penggunaan Bahasa 4,75 Sangat Layak 

3 Penyajian 4,90 Sangat Layak 

4 Kegrafikan 4,75 Sangat Layak 

Rata-Rata Skor Respon 

Mahasiswa 

4,80 Sangat Layak 

 

Dari hasil di atas, respon mahasiswa terhadap draft modul pada kelompok besar 

menunjukkan bahwa modul berada pada kategori sangat layak dengan rata-rata skor 

4,80. Dari hasil ini tim peneliti melakukan revisi dan kemundian menghasilkan produk 

akhir dari pengembangan modul pembelajaran Basic English Grammar yang 

diperuntukan bagi mahasiswa Semester Tiga Tadris Bahasa Inggris. 

B. Pembahasan 

Pengembangan Bahan Ajar English Grammar berbentuk Modul  menggunakan 

model pengembangan Four-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan dan Semmel. 

Penelitian pengembangan ini dilakukan melalui empat tahap yaitu pendefinisian 

(define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran 

(disseminate).   

1. Define (Pendefinisian) 

Langkah awal pada tahap ini adalah mengumpulkan informasi dan menganalisis 

kebutuhan mahasiswa dan dosen bahasa Inggris di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah 

dan Keguruan IAIN Sultan Amai Gorontalo. Pengumpulan informasi kebutuhan 

terhadap pengembangan produk berupa modul atau bahan ajar pada mata kuliah Basic 

English Grammar ini dilakukan dengan menyebarkan angket kebutuhan dan melalui 

Focus Group Discussion (FGD). Dari hasil angket dan kegiatan focus group discussion 

ini kemudian diuraikan dan dianalisis segala bentuk kebutuhan dosen dan mahasiswa 

sebagai langkah awal dalam mengembangkan produk berupa modul atau bahan ajar 

pada mata kuliah Basic English Grammar di Jurusan Tadris Bahasa Inggris FITK IAIN 

Sultan Amai Gorontalo. Hasil analisis pada tahap ini dapat digambarkan bahwa 

mahasiswa memerlukan modul atau buku pegangan selama proses pembelajaran. Modul 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

40 
 

yang baku dan sesuai dengan standar kompetensi juga menyesuaikan dengan 

karakteristik mahasiswa itu sendiri.  

2. Design (Perancangan) 

Pada tahap design, tim peneliti menyusun tes, memilih media yang tepat, dan 

memilih format yang akan digunakan dalam pengembangan media, serta menulis 

naskah modul. Penyusunan tes merupakan langkah awal yang memhubungkan antara 

tahap define dan tahap design. Penyusunan tes digunakan untuk mengukur pencapaian 

kompetensi mahasiswa Mata Kuliah English Grammar pada level basic. Bentuk tes 

yang digunakan adalah option test. Pemilihan bentuk tes ini didasarkan pada tujuan 

akhir yang ingin dicapai bahwa mahasiswa mampu menguasai dan memahami tata 

bahasa inggris sederhana khsusunya pada materi parts of speech dan determiner.  

Tahap selanjutnya adalah pemilihan media, Pemilihan media didasarkan pada 

analisis yang dilakukan pada tahap define. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada 

tahap define, mahasiswa membutuhkan bahan ajar yang dapat membantu mahasiswa 

untuk belajar mandiri, serta dapat meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa 

pada MK English grammar. Sehingga, media yang dipilih berupa Bahan Ajar English 

Grammar Berbentuk Modul. 

Format modul terdiri dari komponen-komponen yang harus ada dalam modul. 

Format modul disusun dengan memperhatikan komponen-komponen modul yang 

dikemukakan oleh Depdiknas (2008). Komponen utama dalam modul merupakan 

kegiatan belajar. Kegiatan belajar merupakan kunci utama tercapainya tujuan 

pembelajaran pada setiap kompetensi dasar yang mana kegiatan belajar tersebut berisi 

uraian materi beserta contoh dan penyelesaian, rangkuman, tes formatif, dan tugas. 

Selanjutnya penulisan modul. Modul yang ditulis berjudul Basic English Grammar; 

Mudah & Praktis. Penulisan modul didasarkan pada Garis Besar Konten Modul dengan 

memperhatikan elemen mutu modul yang dikemukakan Depdiknas (2008) dan Azhar 

Arsyad (2014). Modul ditulis secara runtut sesuai dengan kompetensi dasar, dengan 

desain menarik dan berwarna. Modul yang disusun merupakan satu kesatuan bahan ajar 

yang didesain untuk dapat digunakan belajar mandiri mahasiswa serta meningkatkan 

kompetensi mahasiswa pada Mata Kuliah English Grammar. 

 

 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

41 
 

3. Develop (Pengembangan) 

Pada tahap develop, tim peneliti melakukan validasi dan uji coba pengembangan. 

Bahan Ajar English Grammar Berbentuk Modul yang telah dicetak kemudian diuji 

kelayakannya oleh ahli materi, ahli media, dan praktisi pengajaran. Hasil validasi 

menunjukkan bahwa Bahan Ajar English Grammar berbentuk Modul layak 

diujicobakan. Kategori layak diartikan bahwa Bahan Ajar English Grammar berbentuk 

Modul dari segi materi memiliki kualitas isi, kebahasaan, dan penyajian yang baik untuk 

menunjang proses pembelajaran. Dari segi media memiliki daya tarik, format serta 

konsistensi dalam layout modul yang baik dengan pemilihan bentuk dan ukuran huruf 

yang tepat, serta pengorganisasian yang memudahkan mahasiswa yang dilengkapi 

dengan ruang (spasi kosong) untuk menjawab soal dan pemisah antar unit. 

4. Disseminate (Penyebarluasan) 

Pada tahap ini, tim peneliti membagikan produk kepada mahasiswa yang berbentuk 

cetak. Tim peneliti juga akan memberikan produk ini untuk dijadikan salah satu arsip 

pada persputakaan kampus atau prodi. Pada tahap ini pula tim peneliti akan 

menyebarluaskan hasil penelitian ini melalui jurnal nasional. 

 

D. KESIMPULAN  

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal 

sebagai berikut: Pengembangan Bahan Ajar Basic English Grammar pada 

dikembangkan menggunakan model Four-D yang dilakukan melalui 4 tahapan pokok 

yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan 

penyebaran (diseseminate).   

1. Define, pada tahap ini, diperoleh hasil bahwa mahasiswa membutuhkan bahan ajar 

yang dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa pada mata kuliah English 

Grammar, serta dapat membantu mahasiswa untuk belajar mandiri.   

2. Design, pada tahap ini, diperoleh hasil bahwa bahan ajar yang sesuai dengan 

kebutuhan mahasiswa yakni, Modul Basic English Grammar.   

3. Develop, pada tahap ini Modul disusun berdasarkan kedua tahap di atas dan 

divalidasi oleh ahli materi, media dan praktisi pembelajaran. 

4. Disseminate, pada tahap ini modul dibagikan kepada mahasiswa dan hasil 

penelitian akan disebarkan melalui jurnal nasional. 



Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

42 
 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Atwi-Suparman, M..(2012). Desain Intruksional Modern. Jakarta : Erlangga 

 

Depdiknas 2003. Pedoman Penulisan Modul. Jakarta: Direktorat PLP, Ditjen 

Dikdasmen. Depdiknas. 

 

Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Departemen Pendidikan 

Nasional. 

 

Dick, W., Carey, L.,dan Carey, J.O. 2009. The Systematic Design of Instruction. New 

Jersey: Pearson. 

 

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan 

Sekolah menengah Atas. (2008). Panduan Penulisan Butir Soal. Departemen 

Pendidikan Nasional. 

 

Gerot, Linda and Wignell, Peter. 1995. Making Sense of Functional Grammar. NSW : 

Antipodean educational Enterprises.  

 

Harmer, Jeremy. 2001.  The Practice of English Language Teaching, 3
rd

 Ed, New York: 

Pearson Education Limited. 

 

Hutchinson, Tom & Eunice Torres. 1994. The textbook as agent of change. English 

Language Teaching Journal, 48,pp. 315-328. 

 

Ika Lestari. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Padang:Akademia 

Permata. 

 

Iskandarwassid, dan H. Dadang Sunendar. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa. 

Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 

 

Leech, Geofrey. 1982. Priciples of Pragmatics. London dan New York:  Longman.  

Mulyasa. (2006). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.  

Opara, Jacinta A dan Oguzor, N Silas. (2011). Inquiry Instructional Method and the 

School Science Currículum. [Online]. Tersedia: 

http://maxwellsci.com/print/crjss/v3-188-198.pdf (November 2017) 

 

Pingel F. 2009. A guide Book on the textbook research and textbook revision. _ :United 

Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. 

 

Rudi Susilana.Cepi Riyana,.2008. Media Pembelajaran. Bandung :CV WacanaPrima 

Sahertian W Demaja Christiana, 2004. Pengaruh Penggunaan Bahan Ajar Dan Gaya 

Belajar Terhadap Hasil Belajar, Artikel 

 

Swan, Michael. 2005.Practical English Usage. Third edition. New York: Oxford 

University Press 

http://maxwellsci.com/print/crjss/v3-188-198.pdf


Al-Lisan. Journal Bahasa & Pengajarannya 
ISSN 2442-8965 & E ISSN 2442-8973  
Volume 4 Nomor 1- Februari 2019 
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

43 
 

Hendra Eka Putra & Ridianto. 2016. Pengembangan Model Materi Ajar Mata Kuliah 

Bahasa Inggris II Berbasis Kebutuhan Mahasiswa Program Studi Akuntansi 

Syariah STAIN Batusangkar. Ta’dib, Volume 19, No. 2 (Desember 2016) 

 

Syahrul Mubaroq. 2015. “Pengembangan bahan ajar grammar one berbasis mobile 

learning di lembaga kursus Global English Pare – Kediri”. Skripsi. Program 

Studi Teknologi Pembelajaran, Universitas Negeri Malang. 

 
Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for 

Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis,Minnesota: 

Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota. 
 

Tomlinson, Brian. 1998. Materials Development in Language Teaching. Cambridge: 

Cambridge University Press. 

 

Wardhana, Yana. 2010. Teori belajar dan mengajar. Bandung: Pribumi Mekar 
 


