




































180 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

 AL-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
IAIN Sultan Amai Gorontalo 

Volume 4, Nomor 2, Agustus 2019 
ISSN 2442-8965 (P)  
ISSN 2442-8973 (E)  

http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 

Teori Belajar Kognitif dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa Arab 

M. Fairuz Rosyid
(1)

 

m.fairuzrosyid@gmail.com  

R. Umi Baroroh
(2)

 

 baroroh@yahoo.co.id 
UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta 

 

Abstrak 

Teori pembelajaran begitu banyak jumlahnya salah satu yang banyak 

dikaji adalah teori kognitif. Artikel ini bertujuan mengkaji teori belajar 

kognitif beserta implikasinya dalam pembelajaran bahasa Arab. 

Adapun teori kognitif akan digali secara mendalam berdasarkan pada 

perspektif Jean Piaget dan Lev S. Vygotsky. Artikel ini bercorak 

kajian kepustakaan, data digali melalui studi pustaka dan dianalisis 

melalui analisis konten. Hasil analisis artikel ini menemukan bahwa 

teori kognitif berimplikasi dalam pembelajaran bahasa Arab pada 

beberapa aspek, yaitu:aspek tujuan pembelajaran, aspek lingkungan 

bahasa, aspek penggunaan media, aspek kultur, aspek tingkatan 

pembelajaran dan aspek model pembelajaran. 

 

Abstract 

 

So many number of learning theories, one of which is widely studied 

is cognitive theory. This article aims to examine cognitive learning 

theory and its implications in learning Arabic. The cognitive theory 

will be explored in depth based on the perspective of Jean Piaget and 

Lev S. Vygotsky. This article has a pattern of library research, data is 

explored through literature and analyzed through content analysis. The 

results of the analysis of this article found that cognitive theory has 

implications in learning Arabic in several aspects, namely: aspects of 

learning objectives, environmental aspects of language, aspects of 

media use, aspects of culture, aspects of learning levels and aspects of 

learning models. 

 

 

 

 

Keywords: 

Cognitive 

Learning; Arabic 

Teaching and 

Learning 

http://u.lipi.go.id/1421293761
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al
mailto:baroroh@yahoo.co.id


181 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

A. PENDAHULUAN 

 Menurut Ahmad Fuad Effendy (2012), rancangan pembelajaran bahasa Arab 

didasarkan pada sebuah pendekatan-aksiomatik mengenai hakikat bahasa (linguistik) 

dan  hakikat belajar (psikologi). Muhajir (2019) menjelaskan sifat aksiomatik itu berupa 

seperangkat asumsi mengenai hakikat bahasa dan belajar-mengajar bahasa yang  baku 

dan tidak dapat lagi dibantah kebenarannya. Mengenai hal ini Richard & Rodgers 

(2002) menjelaskan bahwa,”...approach refers to theories about the nature of language 

and language learning that serve as the source of practices and principle in language 

teaching.”. Sementara itu Nurhadi (2010) menambahkan, teori belajar bahasa disebut 

sebagai psikolinguistik yakni perpaduan antara teori bahasa dan teori belajar yang 

menjadi landasan bagi teori belajar bahasa. 

 Menurut Margaret E. Gredler (2013),  ada beberapa karakteristik agar suatu teori 

belajar diterima. Paling tidak ada empat kriteria, tiga diantaranya mendeskripsikan 

komponen esensial dari suatu teori. Pertama, adalah seperangkat asumsi eksplisit yang 

merupakan keyakinan dasar teoritisi tentang suatu fenomena yang akan dibahas. Kedua, 

suatu teori harus mencakup definisi yang eksplisit mengenai istilah penting. Ketiga, 

membentuk tubuh teori yang merupakan proses penarikan prinsip spesifik dari asumsi 

yang diuji melalui riset. Keempat, yang merupakan karakteristik tersendiri bagi teori 

belajar, yakni teori yang ada mampu menjelaskan dinamika psikologis dasar dari 

kejadian yang memengaruhi belajar. Permasalahannya adalah terdapat banyak sekali 

teori belajar yang berkembang di dunia. Perkembangan tersebut menurut B. R 

Hergenhahn dan Matthew H. Olson (2012) sudah dimulai sejak 427-347 SM oleh Plato, 

Aristoteles 384-322 SM, era psikologi modern yang diawali oleh Rene Descartes (1596-

1650), hingga teori belajar kontemporer dimulai tahun 1990 berpangkal pada teori yang 

telah diperbaharui sebagaimana pendapat Knud Illeris (2011). 

 Asumsi mengenai bahasa banyak ragamnya, Munir (2018) berpendapat bahasa 

sebagai kebiasaan, bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang dilisankan, dan ada 

pula yang menggap bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma dan aturan. Selanjutnya 

asumsi tersebut akan memengaruhi pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran 

bahasa. 

  



182 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

B. R Hergenhahn dan Matthew H. Olson (2012) menyebut empat tokoh kognitif 

yaitu; Max Wertheimer (1880-1943) pendiri psikologi gestalt, Jean Piaget 1896 teori 

epistemologi genetik,Edward Chace Tolman (1886-1959) dengan teori behaviorisme 

purposif, Albert Bandura 1925 teoritisi belajar obeservasional, dan masih ditambah satu 

lagi sumber lain yang menyebutkan Lev S. Vygotsky teori perkembangan psikologi 

kultural-historis. 

 Mulyanto Sumardi (dkk) dalam Abdul Halim Hanafi dan Amrina (2013), 

menyebut dua tujuan belajar bahasa Arab, yaitu (1) tujuan pengajaran bahasa Arab 

sebagai alat bantu dan (2) tujuan pengajaran bahasa Arab untuk menjadi tenaga ahli. 

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut menurut Ali Ahmad Madzkur (1991) setiap 

pembelajar arus menguasai empat kemahiran dasar berbahasa, yakni kemahiran reseptif 

(mendengar dan membaca) dan kemahiran produktif (berbicara dan menulis). Toni 

Pransiska (2015) menjelaskan yang termasuk reseptif adalah mendengar dan membaca 

sementara kemahiran produktif adalah berbicara dan menulis. 

 Sementara itu, menurut Fitrah Wahyudi, dkk (2015) secara spesifik tujuan 

pengajaran bahasa Arab di madrasah-madrasah di Indonesia terbagi menjadi dua macam 

yaitu tujuan pendidikan Nasional; yakni meningkatkan kualitas keimanan dan 

ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; dan tujuan kurikuler; dijelaskan dalam 

Garis-Garis Besar Program Pengajaran Mata Pelajaran Bahasa Arab disebutkan bahwa 

Bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi, memahami Al-Qur’an dan Hadits, 

memahami buku-buku agama, dan menguasai sejumlah perbendaharaan kata tertentu. 

 Permasalahan terbesar yang hendak digali artikel ini adalah bagaimana 

merumuskan titik temu antara teori kognitif dengan pembelajaran bahasa Arab sehingga 

pada akhirnya dapat dirumuskan implikasi teori kognitif terhadap pembelajaran bahasa 

Arab. Sebab tidak mudah untuk memutuskan teoritisi yang tepat dengan tingkat 

kedekatan paling tinggi terhadap pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Arab. 

Menurut penulis permasalahan ini dapat diselesaikan dengan menentukan beberapa 

asumsi. Pertama, melacak teoritisi manakah yang secara eksplisit mengemukakan 

epistemologi teorinya mengenai hubungan antara bahasa dan proses koginitif. Kedua, 

dilihat dari segi kematangan teoritisi dalam menjabarkan perkembangan kognitif. Dari 

dua alasan ini artikel akhirnya memilih dua nama teoritisi kognitif yang tersebut diatas. 



183 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

Hasil literature review yang dilakukan oleh penulis menunjukkan belum ada 

yang mengkaji implikasi teori kognitif dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini 

ditunjukkan oleh beberapa artikel berikut. Pertama, Perkembangan Kognitif: Teori Jean 

Piaget yang ditulis oleh Fatimah Ibda tahun 2015. Artikel ini sekedar membahas 

perkembangan kognitif menurut Jean Piaget. Pembahasan difokuskan pada 

perkembangan; kognitif, intelekual, tahap perkembangan intelektual, tingkatan 

perkembangan intelektual, serta beberapa kritik terhadap teori Piaget. 

 Kedua, penelitian oleh Puspo Nugroho dengan judul Pandangan Kognitifisme 

Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini tahun 

2015. Artikel ini membahas penerapan teori kognitif perspektif Bruner, Ausubel dan 

Piaget dalam meningkatkan kualitas pembelajaran agama Islam pada Pendidikan Anak 

Usia Dini (PAUD) yang menghasilkan beberapa temuan berikut; aplikasi  teori dalam 

pembel PAI PAUD Pertama, Bruner: proses belajar lebih ditentukan bagaimana guru 

mampu mengatur pembelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa. discovery learning, 

murid mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajari  sesuai dengan tingkat kemajuan 

dan perkembangan anak tsb. Kedua, Ausubel: pembelajaran harus bermakna dimana 

informasi baru diuhubungkan dengan struktur konsep yang relevan, struktur kognif 

yang sudah dimiliki. Ketiga, Piaget: anak mengembangkan kemampuan berpikirnya 

menurut tahap yang teratur, setiap tahap ttt akan muncul skema/struktur yang 

keberhasilannya bergantung pada tahap sebelumnya. Prinsip pembelajaran Piaget: 

belajar aktif, belajar lewat interaksi sosial, belajar lewat pengalaman sendiri. 

 Ketiga, penelitian oleh Adi Nur Cahyono dengan judul Vygotskian Perspektive: 

Proses Scaffolding untuk mencapai Zone of Proximal Development (ZPD) Peserta Didik 

dalam Pembelajaran Matematika tahun 2010.Menurut Cahyono dengan Scaffolding 

guru berinteraksi dengan siswanya sehingga siswa mampu membentuk pemahaman 

konsepnya sendiri melalui interaksi dalam suatu lingkungan sosial serta menumbuhkan 

nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam kehidupan sosial. Sehingga dibutuhkan 

sebuah kajian yang membahas teori kognitif beserta implikasinya dalam pembelajaran 

bahasa Arab secara fokus. Oleh karena itu penulis melakukan artikel berbasis studi 

pustaka guna mengembangkan kegunaan teori kognitif dalam pembelajaran bahasa 

Arab.  

 



184 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

B. METODE PENELITIAN 

Metode penelitian library research digunakan dalam artikel ini. Sumber data 

diambil dari eksplorasi literatur kepustakaan terkait kajian dan akhirnya akan dianalisa 

secara kritis dan mendalam melalui triangulasi data; reduksi data, penyajian data dan 

penarikan kesimpulan.  

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Hasil 

Teori Belajar Kognitif 

 Menurut Puspo Nugroho (2015), definisi “Cognitive” berasal dari kata 

“Cognition” yang memiliki persamaan dengan “knowing” yang berarti mengetahui. 

Dalam arti yang luas kognisi adalah perolehan, penataan, dan penggunaan 

pengetahuan.Tingkah laku seseorang menurut teori psikologi kognitif, tidak semata 

dipengaruhi oleh “reward” dan “reinforcement”. Moh. Sholeh (2014) menjelaskan 

tingkah laku seseorang didasarkan pada kognisi, maksudnya tindakan mengenal 

sekaligus memikirkan situasi dimana tingkah laku terjadi. Dalam situasi belajar, seorang 

terlibat langsung dalam situasi tersebut dan memperoleh “insight” untuk pemecahan 

masalah. 

 Sehubungan dengan hal tersebut, Knud Illeris (2011) menjelaskan bahwa,”juga 

penting untuk disebutkan bahwa setiap dimensi [pembelajaran] mencakup segi mental 

di samping segi jasmaniah.”Piaget dalam Knud Illeris (2011)  lebih terperinci 

mengatakan, 

 Sejatinya pembelajaran dimulai dari tubuh dan berlangsung melalui otak, yang 

juga bagian dari tubuh, dan hanya secara berangsur-angsur segi  mental memisah 

sebagai satu area atau fungsi tersendiri namun tidak  pernah independen. 

 Puspo Nugroho (2015) menyebutkan lima ciri aliran kognitifisme, yaitu: 1) 

mementingkan apa yang terjadi dalam diri anak, 2) mementingkan keseluruhan daripada 

bagian-bagian, 3) mementingkan peranan kognitif, 4) mementingkan kondisi waktu 

sekarang, dan 5) mementingkan pembentukan struktur kognitif. Adapun beberapa 

tahapan kognitif dimulai dari pengkodean (coding)- penyimpanan (storing)-perolehan 

kembali (retreiving)-pemindahan informasi (transfering information). 



185 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

 Sehingga dapat dikatakan bahwa belajar menurut teori kognitif adalah 

perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah 

laku. Gagasan utama teori ini adalah bagian-bagian situasi tertentu saling berhubungan 

dengan konteks seluruh situai tersebut.menurut Abdullah Helmy (2011), belajar 

merupakan porses internal yang mencakup: ingatan, retensi, pengolahan informasi, 

emosi dan faktor-faktor lain. 

Jean Piaget 

 Jean Piaget (dalam Gredler, 2013), menjelaskan bahwa,”untuk memahami 

gagasan tentang belajar yang memadai, kita pertama-tama harus menjelaskan 

bagaimana individu bisa mengonstruksi dan menciptakan, bukan hanya bagaimana dia 

mengulang dan meniru.” 

 Fatimah Ibda (2015), menjelaskan teori Piaget tersebut dikenal dengan genetic 

epistemologi (epistemologi genetik) yakni sebuah kerangka yang ditujukan untuk 

melacak perkembangan kemampuan intelektual. Hal ini menandakan bahwa 

pengetahuan dan kecerdasan bukan kuantitas statis. Kebalikannya, Gredler (2013) 

menjelaskan, mengetahui adalah sebuah proses yang berkembang melalui adaptasi 

individu terhadap lingkungannya dan terus-menerus berubah. Oleh karena itu, proses 

pemerolehan pengetahuan baru seseorang tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan 

hidupnya. 

 Dengan kata lain pengetahuan menurut Piaget dalam Fatimah Ibda (2015) adalah 

genetic artinya pengetahuan itu berkembang atau developmental bukan sesuatu yang 

diwariskan secara biologis. Sehingga, pengetahuan dalam pandangan Piaget (dalam 

Puspo Nugroho, 2015)  datang dari tindakan yang berimplikasi pada perkembangan 

kognitifnya. Hal ini dipengaruhi oleh sebarapa jauh individu aktif memanipulasi dan 

aktif berinteraksi dengan lingkungannya. 

Perubahan Kualitatif dalam Proses Penalaran  

 Fatimah Ibda (2015) menjelaskan fase perkembanan kognitif menurut Piaget 

dibagi menjdi empat tahap, yaitu: tahap sensori motor (0-1,5 tahun), tahap pra-

operasional (1,5-6 tahun), tahap operasional konkrit (6-12 tahun), dan tahap operasional 

formal (12 tahun ke atas).Perkembangan ini terus berlanjut bahkan hingga memasuki 

masa tua. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl 

(2012:89) dari Universitas California, Los Angelos, yang menyatakan bahwa bagian 



186 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

otak yang berfungsi memahami kata-kata (Werrnicke) jumlah dendrit mempunyai 

korelasi dengan kuantitas belajar.Hal ini menguatkan teori Piaget, alih-alih semakin 

berkurang, kecerdasan manusia akan semakin berkembang ketika manusia terus belajar.  

Proses Fundamental  

 Menurut Margaret E. Gredler (2013), terdapat empat faktor yang memengaruhi 

perkembangan kognitif dari satu bentuk ke bentuk lainnya, yaitu: lingkungan fisik, 

kematangan, pengaruh sosial, dan proses penyeimbangan.Sementara proses fundamental 

perkembangan yang terjadi adalah asimilasi, akomodasi, ekuilibrasi,dan B. R 

Hergenhahn dan Matthew H. Olson (2011) menambahkan proses interiorisasi. 

 Fatimah Ibda (2015), menjelaskan asimilasi terjadi ketika pengintegrasian 

informasi, persepsi, konsep dan pengalaman baru ke dalam struktur yang sudah ada 

dalam benak seseorang. Margaret E. Gredler (2013) menambahkan, terjadi 

penggabungan elemen eksternal (objek atau kejadian) ke dalam sensorimotor atau 

skema konseptual subjek. Dapat pula dipahami sebagai respon internal berupa 

pengubahan struktur skema informasi yang diperoleh dengan skema konspetual 

pengetahuan yang sudah dimiliki oleh seseorang. 

 Akomodasi menurut Margaret E. Gredler (2013) terjadi ketika struktur internal 

menyesuaikan diri dengan dengan karakteristik tertentu dari objek dan 

peristiwa.Sebagai proses penyesuaian atau penyusunan yang membentuk skema ke 

dalam situaasi baru sebagaimana dijelaskan oleh Fatimah Ibda (2015). 

 Ekuilibrasi bagi Willis F. Everten dan Jeanette McCarthy Gallagher (1977) 

merupakan proses yang dilakukan dalam memelihara keadaan yang tetap saat perubahan 

terus berlangsung. Proses ini menurut Margaret E. Gredler (2013:337-339) merupakan 

proses yang kompleks dan dinamis yang mengatur perilaku secara terus-menerus.Hal ini 

disebabkan oleh adanya abstraksi reflektifyang terjadi akibat adanya konflik kognitif 

yang berimplikasi adanya reorganisasi cara berpiki individu ke peringkat yang lebih 

tinggi. 

 Sementara menurut B. R Hergenhahn dan Matthew H. Olson (2011) proses 

ekuilibrasi terjadi karena adanya aspek unik dari suatu kejadian yang tidak dapat 

direspon oleh pengetahuan yang sudah ada sebelumnya yang berakibat ada 

ketidakseimbangan kognitif. Karena ada kebutuhan bawaan untuk mencapai harmoni 



187 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

(ekuilibrium), struktur mental organisme berubah agar dapat memasukkan aspek unik 

dari pengalaman ini dan menyebabkan upaya penyeimbangan kognitif kembali. 

 Interiorisasi manurut B. R Hergenhahn dan Matthew H. Olson (2011) terjadi 

ketika individu memiliki struktur kognitif yang berkembang dan dapat memecahkan 

permasalahan yang lebih komplek. Sehingga tumpukan informasi yang berasal dari 

pengalaman sebelumnya menjadikan individu mengalami penurunan ketergantungan 

pada lingkungan fisik dan meningkatnya penggunaan struktur kogntif. 

Lev S. Vygotsky 

 Gredler (2013) menjelaskanepistemologi teori Vygotsky dipengaruhi oleh tiga 

filsuf, yaitu Benedict Spinoza, G. W. F Hegel, Karl Marx dan Frederic Engels.Pengaruh 

Spinoza terdapat pada teori Vygotsky yang mendeskripsikan penguasaan atas perilaku 

seseorang melalui perkembangan kapabilitas mental rasional (fungsi mental). Kedua, 

Hegel, Vygotsky mendeskripsikan proses perkembangan kognitif sebagai proses 

dialektika yang komplek. Ketiga, pengaruh Marx dan Engelspada Vygotsky muncul 

pada konsep perangkat psikologis. Hal ini merupakan hubungan antara penggunaan alat 

(simbol) dan perkembangan kognitif yang didasarkan pada pendapatnya bahwa tanda 

dan simbol kultural (dalam perkembangan atensi, abstraksi, bahasa, memori,operasi 

numerik, dan penalaran)sebagai perangkat biologis yang melahirkan transformasi 

kesadaran manusia. 

Tahapan Penggunaan Lambang 

 Margaret E. Gredler (2013) menjelaskan, terdapat empat tahap penggunaan 

lambang yang dimulai ketika masa anak-anak dan meluas sampai ke masa remaja. 

Empat tahap tersebut ialah: tahap primitif, tahap psikologi naif, tahap penggunaan 

lambang eksternal, dan tahap penggunaan lambang internal. 

 Tahap alamiah Margaret E. Gredler (2013) terjadi ketika anak mengandalkan 

pada proses mental elementer. Tahap psikologi naif terjadi ketika anak berusaha 

menggunakan stimuli bantuan yang ada, namun tidak mengetahui hubungan psikologis 

yang diperlukan antara stimuli dan tugas. Tahap penggunaan lambang eksternal (usia 

sekolah) terjadi ketika anak secara hati-hati memilih atau menata stimuli eksternal 

berkenaan dengan kebutuhan tugas. Dan tahap penggunaan lambang internal terjadi 

ketika subjek (individu) mengandalkan pada stimuli internal yang dibuat sendiri. Proses 



188 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

pengintegrasian lambang-lambang ke dalam pemikiran seseorang meupakan hal langkah 

penting untuk mengembangkan bentuk kognisi yang lebih tinggi. 

Perkembangan Wicara 

 Pada mulanya wicara digunakan sebagai alat komunikasi dan sosialisasi namun 

kemudian berkembang menjadi alat berpikir.Lev Vygotsky (1986) menyebut 

bahwa,”...interrelation between thought and language...that arises is that of intellect 

and affect...since it makes the thought process appear as an autonomous flow...” 

 Isu sentral dalam perkembangan wicara adalah hubungan pemikiran dengan 

kata. Wicara mulai berkembang terlepas dari pemikiran kemudian pada titik tertentu, 

keduanya bertemu; pemikiran menjadi verbal dan ucapan intelektual.Lev Vygotsky 

(1986) menambahkan,”...the multiform concrete relations between thought and 

language that arise in the course of the development and functioning of verbal thought 

in its various aspect...” 

 Beberapa aspek wicara tersebut dibagi menjadi empat tahap pemikiran.Pertama, 

wicara pra-intelektual,Margaret E. Gredler (2013) dicirikan dengan alat kontak sosial di 

tahun pertama kehidupan; termasuk tertawa, mengocek, menunjuk, dan memberi 

isyarat. Kedua, bicara otonom dicirikan dengan “kata” yang diucapkan anak untuk 

menyebut suatu objek konkret yang tampak; namun, ia tidak dipakai secara konsisten. 

Ketiga, psikologi naif dicirikan dengan wicara dan pemikiran mulai berbarengan di 

tahun kedua kehidupan saat anak menemukan hal-hal yang memiliki nama; banyak kata 

digunakan tanpa dipahami makna sebenarnya, (misalnya, karena, tetai, ketika).Ketiga, 

dominasi bicara eksternal (egosentris –komunikatif)dicirikan dengan wicara memenuhi 

fungsi sosial. Pembicaraan pertama mengiringi tindakan anak dalam perencanaan dan 

memecahkan masalah, kemudian ia menjadi esensial dalam perencanaan,”penghubung 

tengah” di antara wicara eksternal dan internal. Keempat, wicara batin (tahap 

intelektual) dicirikan dengan operasi eksternal bergerak ke tataran internal dan 

mengalami banyak perubahan; wicara menjadi di batin saja. 

Perbandingan Teori Kognitif Perspektif Piaget dan Vygotsky 

 Baik Piaget maupun Vygotsky keduanya memfokuskan pemikirannya pada 

perkembangan kognitif (perkembangan berpikir). Namun terdapat beberapa perbedaan 

mendasar diantara keduanya. Margaret E. Gredler (2013) mendedahkan perbedaan 

tersebut. Pertama, Piaget memfokuskan pada pemikiran logis yang berpuncak pada 



189 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

kapabilitas untuk memecahkan permasalahan multifaktor dipandang dari segi sebab-

akibat. Sementara Vygotsky berfokus pada perkembangan atensi, persepsi, dan memori, 

dimana penguasaan sistem simbol (lambang) dan pemikiran konseptual merupakan hal 

yang sangat penting.Kedua, Piaget memandang bahwa bayi dan anak kecil sebagai 

tertutup dalam dirinya sendiri (egocentrism), menerima objek dan orang disekitarnya 

sebagai bagian dari dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan bayi dan 

anak untuk melihat sudut pandang orang lain. Secara perlahan, pemikiran (wicara) 

egosentris ini akan hilang setelah anak tersosialisasikan dengan cara berpikir orang 

dewasa.  Sementara Vygotsky memandang bahwa pemikiran anak berawal dari interaksi 

sosial dengan orang dewasa. Kemudian pemikirannya dirubah dari pertukaran sosial 

menjadi pemikiran individual. 

Pembelajaran Bahasa Arab 

 Pembelajaran bahasa Arab di Indonesia bagi Cecep Jaenudin (2018)  menempati 

posisi yang strategis sebagai bahasa agama sebab mayoritas penduduknya beragama 

Islam bahkan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia sudah berlangsung sebelum 

zaman kemerdekaan.Selain itu, menurut Syarifuddin Hasyim (2016) bahasa Arab juga 

berupa bahasa kehidupan (bahasa komunikasi). Azman Ismail (2016) 

menambahkanbahasa Arab telah dipelajari masyarakat Indonesia mulai dari sekolah 

dasar, menengah dan universitas. 

 Zaid Sulaiman dan Muhammad Fawaid Al-Hawamidah (2015) menjelaskan, 

pembelajaran adalah seperangkat aktivitas yang dilaksanakan oleh pengajar dalam 

konteks pembelajaran untuk membantu pembelajar dalam menggapai tujuan 

pembelajaran yang telah ditentukan. Supaya proses pembelajaran dapat berhasil maka 

diperlukan adanya media dan potensi, serta menggunakan metode dan strategi yang 

disesuaikan untuk mengapai tujuan yang telah ditetapkan.Proses pembelajaran tidak 

bisa dilepaskan dari tujuan instruksional. Sebab, menurut Lorin W. Anderson dan David 

R. Krathwohl (2010) tujuan instruksional lebih spesifik dibandingkan dengan tujuan 

pendidikan yang diterjemahkan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Metode 

dalam proses pembelajaran menurut Syahruddin (2015) perlu memerhatikan prinsip-

prinsip berikut, yaitu: berpusat pada anak didik (student oriented), belajar dengan 

melakukan (learning by doing), mengembangkan kemampuan sosial, mengembangkan 



190 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

keingintahuan dan imajinasi, dan mengembangkan kreativitas dan keterampilan 

memecahkan masalah. 

 Sementara itu, proses teknis di dalam kelas tidak terlepas dari peran metodologi 

pengajaran bahasa Arab. Istilah metodologi tercakup di dalamnya pendekatan, metode 

dan teknik sebagai tahap implementasi dari interpretasi guru terhadap kurikulum yang 

telah ditetapkan. 

 Strategi belajar bahasa menurut Umi Baroroh (2018) berkaitan dengan 

pemroresan (processing), penyimpanan (storage), mendapatkan kembali (retreival), dan 

mengambil pengetahuan dan pesan yang lain. Menurut Oxford dalam Umi Baroroh 

terdapat dua jenis strategi belajar bahasa, yaitu strategi langsung dan strategi tidak 

langsung. Strategi langsung terdiri dari tiga kelompok yaitu: strategi memori, strategi 

kognitif, dan strategi kompensasi. Sementara strategi tidak langsung terdiri dari strategi 

metakognitif, strategi afektif dan strategi sosial. 

 Menurut penulis ragam strategi tersebut tidak terlepas dari pandangan teori 

kognitif. Sebab, sebagaimana menurut Dian Maulidiah (2016) bidang pengembangan 

kognitif meliputi perkembangan auditori, visual, taktil, dan kinestetik. Menurut Colin 

Rose dan Malcolm J. Nicholl (2012), terdapat tiga bagian otak yang mengiringi strategi 

diatas yaitu batang otak, sistem limbik, dan neokorteks. Batang otak mengontrol banyak 

fungsi dasar seperti pernafasan ,detak jantung, dan insting. Sistem limbik berfungsi 

mengendalikan emosi. Sementara neokorteks berhubungan dengan melihat, mendengar, 

mencipta, berfikir, dan berbicara.Dengan kata lain, di dalam otaklah segala keputusan 

mengenai tindakan kognitif, afektif dan psikomotorik dirumuskan dan diputuskan 

melalui hormon-hormon motorik. 

Implikasi Teori Kognitif dalam Pembelajaran Bahasa Arab 

 Teori kognitif bagi Margaret E. Gredler (2013) merupakan sebuah teori 

pembelajaran yang memfokuskan pada proses belajar berupa proses pencarian 

informasi, pengingatan, pengelolaan belajar, dan pemecahan masalah.Berdasarkan 

uraian diatas penulis dapat memutuskan-paling tidak- tujuh poin implikasidari teori 

kognitif terhadap pembelajaran bahasa Arab. Adapun tujuh implikasi tersebut yaitu: 

Tujuan Pembelajaran 

 Teori kognitif Piaget mendasarkan pada proses asimilasi, akomodasi, ekuilibrasi 

dan interiorisasi, Vygotsky lebih memfokuskan padapada perkembangan atensi, 



191 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

persepsi, dan memori, serta pemikiran konseptual ataspenguasaan sistem simbol 

(bahasa).Baik Piaget maupun Vygotsky keduanya secara umum mendasarkan 

perkembangan kognitifnya pada “interaksi” antara individu dengan lingkungannya 

sehingga terjadi perkembangan tingkat kognitif anak. 

 Atas dasar itu pembelajaran bahasa Arab yang bercorak kognitifistik hendaknya 

ditujukan untuk penguasaan komunikatif atas empat kemahiran dasar berbahasa 

Arab.Hal ini disebabkan oleh penguasaan atas simbol (bahasa) yang telah diperoleh 

melalui proses atensi, persepsi dan memori perlu dikontekstualisasikan supaya terjadi 

proses asimilasi, akomodasi, ekuilibrasi, maupun interiorisasi. 

 Nazri Syakur (2010) menyebutkan ada dua hal yang harus dikuasai pembelajar 

dalam tujuan komunikatif yaitu kompetensi dan performansi. Kompetensi mengacu 

pada pengetahuan mendasar seseorang tentang sistem, peristiwa atau fakta, sesuatu yang 

tak kasat mata, kemampuan ideal bagaimana melakukan sesuatu. Sementara itu 

performansi bersifat kasat mata, pengejawantahan sesungguhnya atau realisasi dari 

kompetensi atau pelaksanaan dari suatu pekerjaan, seperti berjalan, menyanyi, menari 

dan berbicara. 

 Menurut Nazri Syakur (2010) terdapat empat kompetensi komunikatif yang 

harus dikuasai oleh setiap pembelajar bahasa, yaitu: kompetensi gramatikal, kompetensi 

sosio-linguistik, kompetensi wacana dan kompetensi strategi. Kompetensi gramatikal 

adalah kompetensi linguistik. Kompetensi sosio-linguistik adalah pemahaman mengenai 

konteks sosial dimana bahasa digunakan: peserta peran (participant). Kompetensi 

wacana adalah kemampuan untuk menafsirkan rangkaian kalimat atau ungkapan dalam 

rangka membangun keutuhan makna dan keterpaduan teks sesuai dengan konteksnya. 

Kompetensi strategi adalah kemampuan menguasai strategi komunikasi verbal dan non 

verbal untuk keperluan mengatasi kemacetan komunikasi yang terjadi karena kondisi 

tertentu. 

Lingkungan Bahasa 

 Piaget menyatakan bahwa anak menerima objek dan orang disekitarnya sebagai 

bagian dari dirinya sendiri. Sementara Vygotsky berpendapat bahwapemikiran anak 

berawal dari interaksi sosial dengan orang dewasa. 

 Dapat disimpulkan baik Piaget maupun Vygotski keduanya mensyaratkan 

adanya lingkungan yang memastikan terjadinya interaksi sehingga perkembangan 



192 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

kognitif dapat mencapai puncaknya.Sebab inti dari bahasa adalah alat komunikasi. 

sebagaimana menurut Rappe (2015), manusia dan bahasa tidak dapat dipisahkan, hal ini 

disebabkan manusia dan sesamanya berinteraksi dengan media bahasa, baik bahasa 

verbal maupun nonverbal. 

 Berkaitan dengan tujuan komunikatif ini, maka dibutuhkan lingkungan bahasa 

agar terjadi perkembangan kognitif melalui pemerolehan maupun pembelajaran bahasa. 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Stephen D. Krashen (1981) menyatakan 

bahwa,”...two sorts of linguistic environments are constrasted: arficial, or formal 

environments, found for the most part in the classroom, and natural or informal 

environments...”Lebih jauh Stephen D. Krashen (1981) mendefinisikan, 

 The informal environment can be efficiently utilized by the adult second 

 language learner. Formal study, or its essential characteristics, is significantly 

more efficient than informal exposure in increasing second  language 

proficiency in adults. 

 Lingkungan formal maupun informal keduanya sangatlah penting, yang pertama 

mengindikasikan pemerolehan bahasa secara alamiah, sementara yang kedua 

menandakan proses sadar belajar bahasa di ruang kelas mengenai kebahasaan. Sehingga 

untuk membentuk sebuah pembelajaran bahasa Arab yang kognitivistik diperlukan 

lingkungan bahasa Arab yang memadai. 

Penggunaan Media 

 Konsep perangkat psikologis Vygotsky memandang adanya hubungan antara 

penggunaan alat (simbol) dan perkembangan kognitif yang didasarkan pada 

pendapatnya bahwa tanda dan simbol kultural (dalam perkembangan atensi, abstraksi, 

bahasa, memori,operasi numerik, dan penalaran). 

 Media yang dimaksud disini adalah penggunaan simbol-simbol bahasa memiliki 

kedudukan sangat penting untuk meningkatkan proses perkembangan kognitif. Media 

memungkinkan penalaran kognitif oleh individu atas suatu objek maupun peristiwa. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Vygostki bahwa otak akan menjalankan proses 

penguasaan melalui lambang yang mana lambang-lambang ini akan memediasi 

perkembangan kemampuan kognitif. 

 Munir (2017) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah media komunikasi 

yang dipakai dalam berbagai lapangan pembelajaran yang berbeda-beda, dan 



193 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

mengandung beberapa unsur yang prinsip dalam proses komunikasi 

pembelajaran.menurut Bermawy Munthe (2009) penggunaan media harus disertai 

dengan seorang guru yang memahami dirinya dan pembelajar dalam upaya memberikan 

pelayanan untuk mencapai tujuan pembelajaranmisalnya mind mapping dan thinking 

map. 

Kultur 

 Kultur disini merupakan basis dari epistemologi Vygotskian mengenai proses 

perkembangan kognisi yang ditandai dengan simbol atau bahasa. Mempelajari bahasa 

tidak terlepas dari mempelajari bagaimana bahasa digunakan dalam kehiupan sehari-

hari. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Arab penguasaan kompetensi 

interkultural menduduki posisi strategis. Afdol Tharik Wastono (2017:4)menjelaskan 

bahwa,  

 Mengembangkan kompetensi interkultural mampu memunculkan sensitivitas 

budaya yang ditandai dengan perubahan dari yang tadinya “melihat realitas 

hanya dari sudut pandang budayanya sendiri” menuju pada “menyadari akan 

adanya banyak sudut pandang lain dalam budaya dunia ini”. 

 Kompetensi interkultural merupakan sebuah kemampuan untuk bergerak dari 

sikap “etnosentrik” menuju sikap menghargai budaya lain, sehingga menimbulkan 

kemampuan untuk berperilaku secara tepat dalam sebuah budaya yang berbeda. Hal ini 

didasari pada kenyataan bahwa bahasa merupakan bagian dari sebuah produk budaya 

masyarakat tertentu.Pada taraf selanjutnya, menurut Hamka ( 2013) siswa yang telah 

memahami kultur bahasa Arab akan mampu memandang masyarakat sebagai satu 

jaringan kerjasama kelompok yang saling membutuhkan satu sama lain dalam sistem 

yang harmonis.Sehingga belajar kultur masyarakat pengguna bahasa Arab asli sangat 

ditekankan dalam pembelajaran bahasa Arab kognitivistik. 

Tingkatan Pembelajaran 

 Tingkatan pembelajaran dibagi oleh Piaget menjadi beberapa tahap, yaitu:tahap 

sensori motor (0-1,5 tahun), tahap pra-operasional (1,5-6 tahun), tahap operasional 

konkrit (6-12 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun ke atas).Sementara 

Vygotsky tahapan Vygotksky adalahtahap alamiah terjadi ketika anak mengandalkan 

pada proses mental elementer. Tahap psikologi naif terjadi ketika anak berusaha 

menggunakan stimuli bantuan yang ada. Tahap penggunaan lambang eksternal (usia 



194 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

sekolah) terjadi ketika anak secara hati-hati memilih atau menata stimuli eksternal 

berkenaan dengan kebutuhan tugas. Dan tahap penggunaan lambang internal terjadi 

ketika subjek (individu) mengandalkan pada stimuli internal yang dibuat sendiri. 

 Dalam pembelajaran kognitifistik sudah sepatutnya guru menyajikan proses 

pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Hal ini 

bertujuan agar pembelajar mengembangkan kemampuan kognitifnya secara maksimal 

serta mengantarkan mereka menuju pada tahap kognitif pada tingkat yang lebih tinggi. 

Model pembelajaran  

 Dalam pengajaran bahasa, Moh. Sholeh (2014) menyebut wacana Scaffolding 

Vygotskian sering diterapkan oleh para guru, yakni suatu bentuk bantuan yang 

diberikan oleh guru selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi 

bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak mengambil alih 

tanggungjawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. 

 Model pembelajaran kognitifistik yang perlu dikembangkan oleh guru, menurut 

Julia Jasmine (2007)  harus disertai dengan pengenalan, pengakuan, dan penghargaan 

terhadap setiap atau berbagai cara pembelajar belajar, disamping pengenalan, 

pengakuan dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing 

pembelajar.Untuk itu, bagi Buhori Muslim (2016:108) guru didorong memiliki 

kreativitas yang tinggi untuk merancang strategi pembelajaran bahasa Arab yang 

kreatif, inovatif dan produktif. 

 “Pencapaian konsep” dalam pembelajaran kognitifistik sebagaimana Bruce 

Joyce (2011:125), merupakan proses mencari dan mendaftar sifat-sifat yang dapat 

digunakan untuk membedakan contoh-contoh yang tepat dengan contoh-contoh yang 

tidak tepat dari berbagai kategori, sementara “pembentukan konsep" merupakan proses 

yang mengharuskan siswa menentukan dasar dimana mereka akan membangun 

kategori, dan “penemuan konsep” mengharuskan pembelajar menggambarkan sifat-sifat 

dari suatu kategori yang sudah terbentuk dalam pikiran orang lain dengan cara 

membandingkan dan membedakan contoh-contoh yang berisi karakteristik dari contoh-

contoh dan contoh yang tidak mengandung karakteristik dari contoh-contoh. 

 Sementara itu,Umi Baroroh (2018) telah menyusun beberapa teori model belajar 

bahasa Arab yang disesuaikan dengan empat keterampilan bahasa. Hal ini sangat 

penting diketahui oleh guru agar pengajaran disesuaikan dengan teori model belajar 



195 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

pembelajar ini. Pertama, model belajar bahasa Arab untuk kompetensi reseptif, yaitu: 

model niteni bunyi, model niteni tulisan, model niteni kaidah, model membaca dan 

mengembangkan literatur, model siap belajar, model dicari guru, model mengerjakan 

tugas dengan sungguh-sungguh, model auotodidak, dan model tasyji’ al-lughah. Kedua, 

model-model belajar bahasa Arab untuk kompetensi produktif, yaitu: model menirukan 

bunyi, model menirukan tulisan, model menirukan struktur, model menulis diary, model 

khitobah, model teater, model membaca nyaring, dan lainnya. 

 Terdapat dua modus pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran 

kognitifistik. Sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Hosnan (2014) yaitu strategi 

pembelajaran langsung, maksudnya proses pendidikan dimana peserta didik 

mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik 

melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan 

RPP. Kedua, strategi pembelajaran tidak langsung, maksudnya adalah proses 

pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung, tetapi tidak dirancang 

dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan nilai dan sikap. 

Berbeda dengan pengetahuan nilai dan sikap yang dilakukan dalam pembelajaran 

langsung oleh mata pelajaran tertentu. 

 

D. SIMPULAN 

 Berdasarkan peneitian ini dapat dikatakan bahwa pembelajaran bahasa Arab 

merupakan pembelajaran yang bersifat kognitivistik sebab berkaitan erat dengan proses 

pengembangan kognitif pemelajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil artikel bahwa teori 

kognitif mengandung implikasi secara langsung terhadap pembelajaran bahasa Arab 

dilihat dari sudut pandang Piaget dan Vygotsky dengan masing-masing 

karakteristiknya. Teori kognitif dari keduanya berimplikasi pada beberapa aspek 

pembelajaran bahasa Arab yaitu:aspek tujuan pembelajaran, aspek lingkungan bahasa, 

aspek penggunaan media, aspek kultur, aspek tingkatan pembelajaran dan aspek model 

pembelajaran. Namun yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah apakah pembelajaran 

yang dilaksanakan di sekolah-sekolah sudah menerapkan prinsip teori kognitif dengan 

maksimal?. Pertanyaan semacam ini hanya dapat dijawab dengan melakukan kajian 

lebih lanjut. 

 



196 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

DAFTAR PUSTAKA 

Anderson, L. W. & David R. K. (ed). (2010).  Pembelajaran,  Pengajaran, dan 

Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Azman, I.( 2016). Dinamika Perkembangan Pembelajaran Bahasa Arab: Antara Teori  dan 

Praktik. Jurnal Lisanuna. 

Baroroh, U. (2018). Model-Model Belajar Bahasa Arab Efektif. Yogyakarta: CV  Istana 

Agency. 

Muslim, B. (2016). Konsep Scientific Approach dalam Pembelajaran Bahasa Arab di 

Perguruan Tinggi. Jurnal Lisanuna. 5 (1). 105-126. 

http://dx.doi.org/10.22373/l.v5i1.858 

Jaenudin, C. (2018).  Pengajaran Bahasa Arab di Taman Kanak-Kanak. Jurnal  Lisanuna. 8 

(1). 32-44.  http://dx.doi.org/10.22373/l.v8i1.3475 

Effendy, A. F. (2012). Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang:  Misykat. 

Everten, W. F. & Jeanette M. G. (Ed). (1977). Knowledge an  Development. New 

York: Plenum Press. 

Gredler, M. E. (2013). Learning and Instruction: Teori dan Aplikasi. Jakarta: 

 Kencana.  

Hamka. (2013). Pendekatan Sosioogis (Fungsional, Konflik, Interpretatif). Makassar: Jurnal 

Shaut Al-‘Arabiyah. 

Hanafi, A. H. & Amrina. (2013). .Desain Pembelajaran Bahasa Arab.  Jakarta: 

Diadit Media Press. 

Helmy, A. (2011). Teori Kognitif dan Aplikasinya dalam Pembelajaran  Bahasa. 

Malang: Jurnal Linguistik Terapan. 1 (2). https://jlt-

polinema.org/?page_id=79 

Hergenhahn, B. R & Matthew H. O. (2012) .Theories Learning (Teori  Belajar). 

Jakarta: Kencana. 

Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran  Abad 

21. Bogor: Ghalia Indonesia. 

Ibda, F. (2015). Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget. Banda Aceh  :Jurnal 

Intelektualita. 

Illeris, K. (2011). Contemporary Theories of Learning: Teori-Teori 

 Pembelajaran Kontemporer. Bandung: Nusa Media. 

http://dx.doi.org/10.22373/l.v5i1.858
http://dx.doi.org/10.22373/l.v8i1.3475
https://jlt-polinema.org/?page_id=79
https://jlt-polinema.org/?page_id=79


197 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

Jasmine, J. (2007). Metode Mengajar Multiple Intelligences. Bandung: Nuansa 

 Cendekia. 

Maulidiah, D. (2016). Peniningkatan Perkembangan Kognitif Melalui 

 Pembelajaran Sains Pemula Dengan Metode Proyek Di Taman Kanak-

 Kanak. Pontianak: Prodi PAUD FKIP UNTAN..  

Muhajir. (2017). Arah Baru Pengajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Fakultas Ilmu 

 Tarbiyah dan Keguruan. 

Munir,  (2017). Perencanaan Sistem Pengaaran Bahasa Arab. Jakarta: Kencana. 

Munir. (2018). Pendekatan Struktural dalam Pelajaran Bahasa Arab. Makassar: Jurnal  Shaut 

Al-‘Arabiyah. 6 (1).  13-24. https://doi.org/10.24252/saa.v6i1.5644 

Munthe, B. (2009). Desain Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Insan  Madani. 

Nugroho, P. (2015). Pandangan Kognitifisme dan Aplikasinya dalam 

 Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini. Kudus: Jurnal 

 Thufula. 3 (2). 2015. 281-304. DOI 10.21043/thufula.v3i2.4734 

Nurhadi. (2010). Dimensi-Dimensi dalam Belajar Bahasa Kedua. Bandung: Sinar 

 Baru Algesindo. 

Pransiska, T. (2015). Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia: Historisitas dan 

 Realitas. Yogyakarta: Ombak. 

Rappe. (2015). Konsep Keterampilan Bercakap Bahasa Arab. Makassar: Jurnal Shaut  Al-

‘Arabiyah. 3 (2). 41-52. https://doi.org/10.24252/saa.v3i2.1255 

Richards, J. C. & Theodore S. R. (2002). .Approaches and Methods in  Language 

Teaching. Cambridge: Cambridge University Press. 

Rose, C. & Malcolm J. N. (2012). Accelerated Learning for The 21st  Century. 

Bandung: Nuansa. 

Sholeh, M. (2014). Metodologi Pembelajaran Kontemporer. Yogyakarta:  Kaukaba 

Dipantara. 

Syahruddin. (2015). Metode Pembelajaran Bahasa Arab Perspektif Teoritis. Makassar: Jurnal 

Shaut Al-‘Arabiyah. 3 (2). 53-66.  https://doi.org/10.24252/saa.v3i2.1256  

Syakur, N. ( 2010). Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.  Yogyakarta: 

Pedagogia. 

Syarifuddin, H. (2016). Keefektifan Pembelajaran Mufradat untuk Meningkatkan 

 Kemahiran Berbicara Bahasa Arab Santri Dayah Kota Banda Aceg”.Jurnal 

Lisanuna. 

https://doi.org/10.24252/saa.v6i1.5644
http://dx.doi.org/10.21043/thufula.v3i2.4734
https://doi.org/10.24252/saa.v3i2.1255
https://doi.org/10.24252/saa.v3i2.1256


198 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 

Vygotsky, Lev. (1986). Thought and Language. London: The MIT Press. 

Wahyudi, Fitrah, dkk. (2015). Kilas Balik Sejarah Pendidikan Bahasa Arab (Di 

 Nusantara dan Mancanegara). Yogyakarta: CV. Sunrise. 

 .دار الشواف: الرياض. تدريس فنون اللغة العربية.1991.على أحمد مدكور

 


