




































223 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 AL-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
IAIN Sultan Amai Gorontalo 

Volume 4, Nomor 2, Agustus 2019 
ISSN 2442-8965 (P)  
ISSN 2442-8973 (E)  

http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 

Struktur Kolokasi Bahasa Arab 

(Suatu Kajian Fenomena Linguistik) 

 

Yuslin Kasan 

yuslinkasan81@gmail.com 

IAIN Sultan Amai Gorontalo 

 

Abstrak 

Penelitian ini tentang kolokasi dalam bahasa Arab. Kolokasi dalam 

bahasa disebut al-tadhāmma. Tujuan penelitian ini adalah 

menguraikan serta mendeskripsikan jenis atau kategori kolokasi dalam 

bahasa Arab. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka 

Metode yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan 

metode distribusional yakni tehnik unsur langsung kemudian 

dianalisis secara kualitatif. Hasil  penelitian ini menunjukkan bahwa 

terdapat dua kategori kolokasi bahasa yang terdapat dalam sumber 

penelitian yakni kolokasi gramatikal dan kolokasi leksikal. 

Karakteristik dari kolokasi gramatikal  biasanya preposisi bisa 

didampingkan dengan verba dan nomina, dimana preposisi yang 

digunakan yakni preposisi في(fî), إلى(ilâ), على(alâ),  ْعن(an),  ْل(li) 

dan  ْب(bi) serta adverbia  ت  Sedangkan kolokasi leksikal ,(tachta)تَح 

adalah kolokasi yang terbentuk dari nomina, verba, adjektiva, yang 

digunakan untuk kata tertentu saja. 

 

Abstract 

 

This research is about collocation in the Arabic language. Collocation 

in the Arabic language is called al-tadhāmma. The purpose of this 

study is to describe the type or category of language collocation in 

Arabic. This research is library research. The technique of data 

collection used distributional, then analyzed qualitatively. The results 

of this study indicate that there are two categories of language 

collocation found in research sources namely grammatical collocation 

and lexical collocation. The characteristics of grammatical collocation 

are usually prepositions that can be accompanied by verbs and nouns, 

where the prepositions used are the prepositions في (fî), إلى (ilâ), 

ت and adverb (bi) بْ  and (li) لْ  ,(an) عنْ  ,(alâ) على  ,(tachta) تَح 

Whereas lexical collocation is collocation formed from nouns, verbs, 

adjectives, which are used for certain words only. 
 

Keywords: 

al-tadhāma; 

Grammatical 

Collocation, 

Lexical 

Collocation 

http://u.lipi.go.id/1421293761
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al
mailto:yuslinkasan81@gmail.com


224 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

A. PENDAHULUAN 

 Kajian mengenai kolokasi bahasa arab sebagai suatu fenomena linguistik 

berlangsung belum lama ini. Minat akan kolokasi sebagai suatu fenomena linguistik di 

dalam bahasa Arab bermula sejak para pakar bahasa Arab tradisional yang mencatat 

keberadaannya di dalam bahasa Arab tetapi mereka tidak memberinya suatu nama. 

(Gemei & Mahmoud, 2006). 

 Gemei & Mahmoud (2006) mendefinisikan kolokasi sebagai asosiasi yang 

mengikuti kebiasaan antara dua atau lebih kata-kata untuk menandakan arti tertentu. Ini 

merupakan suatu fenomena linguistik yang ada di dalam Arab seperti halnya di dalam 

bahasa-bahasa yang lain dan dibahas dalam ilmu semantik, leksikografi, tatabahasa, 

terjemahan, dan ilmu semantik teori. Hal ini telah dipelajari sebagai bagian dari masing-

masing bidang dan diberi nama yang berbeda-beda sesuai dengan bidang yang 

mempelajarinya.  

 Sebagaimana telah disebutkan di atas pada dasarnya setiap bahasa, mempunyai 

karekteristik kolokasi tersendiri.  Misalnya dalam bahasa Indonesia kita mengatakan 

‘saya hanya mau minum air bening, air putih, atau air biasa’.pilihan kata setelah kata air 

lebih tepat menggunakan putih, walaupun kenyataannya air berwarna bening. Contoh 

lainnya “kucing mati lebih tepat jika dibandingkan dengan kucing meninggal. Sebab 

kata “mati” hanya tepat jika disandingkan dengan kata “kucing” atau jenis hewan 

lainnya.  

Kemampuan menyandingkan kata dan memahami kata yang sudah disandingkan 

merupakan dambaan pembelajar bahasa Arab, akan tetapi akan menjadi sulit dan 

bahkan membuat frustrasi jika pembelajar bahasa Arab kurang memiliki kemampuan 

menyandingkan dan memahami kata yang sudah disandingkan dengan kata lainnya. 

Nation (2001) menyatakan, “knowing what words can occur with other words 

contributes to the fluency which with language can be used”. Pernyatan ini dapat 

dipahami kata-kata yang bisa berpasangan dengan kata-kata yang 
lainnya

 membantu 

kefasihan dalam penggunaan bahasa tersebut.  

Kolokasi merupakan fenomena universal yang ada dalam setiap bahasa dan 

memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda antara satu bahasa dan lainnya. Karena 

keunikannya itulah maka kolokasi menjadi objek yang sangat menarik untuk dikaji. 



225 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Tidak salah jika dikatakan bahwa kolokasi termasuk persoalan pelik yang mendapat 

perhatian serius terutama bagi para pembelajar bahasa terutama bahasa Arab.  

Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dideskripsikan tentang pengertian 

kolokasi dan bagaimana kolokasi dalam bahasa Arab dengan pengambilan sampel dari 

kamus-kamus bahasa Arab dan buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Arab.  

 

B. METODE PENELITIAN 

Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research) yakni 

mendeskripsikan suatu penelitian yang dilakukan semata-mata berdasarkan fakta atau 

fenomena yang terdapat pada data. Istilah “metode” dalam penelitian linguistik 

mencakup kesatuan dari rangkaian proses: penetuan, kerangka pikiran, perumusan 

hipotesa atau perumusan masalah, penentuan populasi, penentuan sampel, data tehnik 

pemerolehan data, analisis data. Jadi metode itu baru tampak dalam tehnik pemeroleh 

data analisis data (Subroto: 1992).  

Adapun metode pengumpulan data adalah dengan tehnik pustka. Sumber data 

dapat berwujud majalah, surat kabar, karya sastra, buku bacaan umum, karya ilmiyah 

yang pakai (Subroto: 1992).  

Sumber data diambil dari Kamus Arab Indonesia (Yunus: 1989), Kamus 

Almunawwir: Arab Indonesia Terlengkap (Al-Munawwir: 1997), Kamus Kontemporer 

Arab-Indonesia (Atabik, Ali dan Muhdlor, A Zuhdi: 1998) dan buku-buku yang 

berkaitan dengan bahasa Arab dengan pendekatan semantik gramatikal dan leksikal. 

Sedangkan teknik yang digunakan untuk analisis data adalah tehnik urai langsung ialah 

mengurai suatu kontruksi morfologi atau sintaksis tertentu kedalam unsur-unsur 

langsung berdasarkan intuisi yang didukung oleh penanda lahir (intonasi) peneliti dapat 

menentukan unsur langsung suatu konstruksi, seperti َْعلَى  yang terdiri dari فََرَض

verbaفرضberdampingan dengan preposisiعلى (Subroto: 1992).  

 

 

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 



226 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Hasil 

Kolokasi dalam bahasa Arab adalah  ْتضام(Bālbaki, 1990). Menurutnya kolokasi 

adalah: ْ ت ع َمال  َرىْف ىاإلس  َْكل ماتْأُخ  َعةُْالَكل َمةْإلَىْالتضمامْإلىْالكلمةْأو  ىنَز  اللُّغَو   yang 

dapat dimaknai kolokasi (tadhāmma) adalah kecondongan kata untuk bergabung 

dengan kata lainnya dalam  pemakaian bahasa (Balbaki, 1990). 

Barfield dan Gyllstad (2010) mengemukakan, “for everyone learning or  teaching 

a second language, collocation is undoubtedly one of the most fascinating (and at time 

frustrating) challenges that they face”. Konsep mengenai kolokasi pertama kali 

diidentifikasi oleh Palmer pada tahun 1933 (Nation, 2001) yang mengatakan bahwa: 

“Each [collocation] … must or should be learnt, or is best or most conveniently learnt 

as an integral whole or independent entity, rather than by the process of piecing 

together their component parts”. Misalnya, kata ‘menanak’ dapat berkolokasi dengan 

‘nasi’, tetapi tidak dapat berkolokasi dengan ‘ikan’ atau ‘sayur’.  

Adapun yang mempopulerkan istilah kolokasi adalah Firth seorang linguis 

Inggris, dalam slogan yang cukup populer ia mengatakan "you shall judge a word by the 

company it keep" dapat dimaknai 'Anda akan menilai sebuah kata dengan 

menyandingkannya'. Firth dalam Modes of meaning (1957) memaparkan bahwa 

meaning by collocation'pemaknaan berdasarkan kolokasi' bermanfaat untuk mendekati 

makna secara formal dan konseptual (al-Farisi, 2011).    

Sedangkan menurut Kridalaksana (2008) kolokasi adalah “asosiasi yang tetap 

antara kata dengan yang lain yang berdampingan dalam kalimat; misalnya: antara kata 

‘keras’ dan ‘kepala’ dalam ‘kami sulit menyakinkan orang yang keras kepala’.   

Definisi kolokasi menurut Baker (1997) sebagai kecenderungan sejumlah kata 

untuk bergabung secara teratur dalam suatu bahasa, tetapi kata yang mana dapat 

berkolokasi dengan kata apa tidak ada hubungannya secara logis.  

Kolokasi berbeda dengan idiom. Idiom adalah ungkapan yang kalau 

diterjemahkan secara harfiah tidak masuk akal atau ungkapan yang maknanya tidak 

dapat ditelusuri melalui kata per kata dan membentuk kata baru. Misalnya, idiom dalam 

bahasa Indonesia ‘cuci tangan’ dalam kalimat ‘Mereka cuci tangan atas masalah itu’. 



227 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Idiom ‘cuci tangan’ tidak bisa dipahami melalui kata ‘cuci’ dan kata ‘tangan’, tetapi 

harus dipahami sebagai satu kesatuan. Dalam bahasa Arab  pun demikian. Misalnya ْا ب ُن

بْ   ‘artinya ‘anakابن ,tidak bisa kita pahami kata perkata (pandai berperang)ال َحر 

sedangkan الحربartinya ‘perang’.  ْي ق ْالطَّر  ُع عُْ tidak bisa pahami (perampok)قَاط   قَاط 

‘yang memotong’ dan الطريقartinya ‘jalan’.  Contoh lainnya seperti kata ْ أع َطى

ُرهُْ ُرهُْ memberikan’ sedangkan‘ أع َطي tidak bisa dipahami kataَظه   ’punggungnya‘ َظه 

tidak bisa diartikan dia memberikan punggungnya akan tetapi idiom yang berupa klausa 

tersebut dimaknai ‘tidak mengindahkan dan tidak memperhatikan.  

Sebaliknya, kolokasi adalah gabungan kata yang maknanya dapat ditelusuri 

melalui kata per kata, tetapi tidak membentuk kata baru. Misalnya dalam bahasa 

Indonesia gabungan kata ‘memanjat pohon’ dapat dipahami maknanya melalui kata 

‘memanjat’ dan kata ‘pohon’. Adapun dalam bahasa Arab, ketika seorang penutur 

bahasa Arab memikirkan minuman, misalnya, ia dapat menggunakan verba yang umum 

seperti يشرب. Pendengar dapat memprediksikan sejumlah besar kemungkinan kata 

yang berkolokasi dengan verba tersebut,  seperti: ُّْالشَّاي ‘teh’, ال َحل يب ‘susu’, القهوة 

‘kopi’, تقَال ي ُرال بُر   jus jeruk’, tetapi sama sekali pendengar tidak akan‘َعص 

memprediksikan kata-kata  ْك رْ  ,’oli mesin‘ َزي تُال ُمَحر   ي   minyak ‘ َزي تُا لَبن ز 

bensin,شامبو‘syampo’ يتيك ب ر  ُضا لك    .’asam belerang‘ َحام 

Menurut Benson, dan Ilson (1997) kolokasi terdiri atas dua kategori, yaitu 

kolokasi gramatikal dan kolokasi leksikal. Kolokasi gramatikal ialah  gabungan kata 

yang terdiri atas kata dominan (nomina, ajektiva, verba) dan kata depan (preposisi), 

misalnya ‘menyimpang dari’,‘senang dengan’, ‘terdiri atas’, dan kolokasi leksikal ialah 

gabungan kata yang terdiri atas nomina, verba, adjektiva, dan adverba, misalnya 

‘minum obat’, ‘teh tawar’, ‘menanak nasi’, ‘mengumbar janji’, ‘berjalan cepat’.  

Kolokasi adalah kecenderungan sejumlah kata atau sekelompok kata untuk 

bergabung secara teratur guna menghasilkan bicara dan atau tulisan yang terdengar 



228 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

lazim dan berterima dalam suatu bahasa. Setiap bahasa mempunyai kebiasaannya 

masing-masing. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kata ’mati’ dapat bersanding dengan 

lampu menjadi ’lampu mati’. Kata ’mati’ bersinonim dengan kata ’meninggal dunia’, 

’mangkat’, ’berpulang ke rahmatullah’, tetapi sinonim kata ’mati’ tidak lazim 

bergabung dengan kata ’lampu’. Dalam bahasa Indonesia, tidak lazim dikatakan “lampu 

meninggal dunia (mangkat, wafat, gugur, atau berpulang ke rahmatulah)”. 

Seperti yang telah diuraikan di atas, kolokasi dapat diuraikan dalam dua kategori, 

yakni kolokasi gramatikal dan leksikal. Untuk itu, dalam pembahasan kali ini akan 

diuraikan sedikit tentang kolokasi dalam bahasa Arab dilihat dari segi kolokasi 

gramatikal dan leksikal.  

Dalam bahasa Arab kolokasi secara gramatikal misalnya verba َْاَل َزمberdampingan 

dengan preposisi  ْبmenjadi  ْْب  ,yang dimaknai mengharuskan, mewajibkan (Aliاَل زَم

Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Verba َْأتبع(menggabungkan) berdampingan dengan 

preposisi  ْبmenjadi  yang dimaknai menggabungkan (Ali, Atabik & Muhdlor, Aأَت بََعْبْ 

Zuhdi. 1998).   

Verba بَاض(bertelur) berdampingan dengan preposisi  ْب(dengan) menjadi ْباَض

 .yang dimaknai diam, berdomisili (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998: 294)بْ 

Selanjutnya verba فرض(menentukan) berdampingan dengan 

preposisiعلىmenjadiفََرَضَْعلَىyang dimaknai mewajibkan (Ali, Atabik & Muhdlor, A 

Zuhdi. 1998).  

Verba غاب(menghilang) berdampingan dengan preposisi  َْعن(dengan)  

menjadi َْعنْ   .yang dimaknai menghilangkan (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdiَغاَب

1998). Selanjutnyaَْا ب تَعَد(menjadi jauh) berdampingan dengan preposisi  َْعن(tentang) 

menjadi َْعنْ   & yang dimaknai menceraikan atau memisahkan (Ali, Atabikا ب تَعَدَ

Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Verba ُْيَئ س(putus asa) berdampingan dengan preposisi  ْن ْ menjadi (dari)م  يَئ ُس

نْ   yang dimaknai berputus asa (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Contohم 



229 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

selanjutnya verba حاد(condong) berdampingan dengan preposisi  ْعنyang dimaknai 

condong atau menyimpang (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya verba ََْحَصل(berjalan, terjadi) berdampingan dengan preposisi 

ْلْ  menjadi (untuk)لْ   & yang dimaknai mengenai, atau terjadi (Ali, Atabikَحَصل 

Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Dan jika verbaََْحَصل(berjalan, terjadi) berdampingan dengan 

preposisi  ْن نْ  menjadi (dari)م  ْم   ,yang dimaknai muncul dari atau hasil dari (Aliَحَصل 

Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Sedangkan verba ََْحَصل(berjalan, terjadi) 

berdampingan dengan preposisi على(atas) menjadi َْعلَى  yang dimaknaiَحَصَل

mendapatkan atau memperoleh (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya verba ََْخَرج(keluar) jika berdampingan dengan preposisi  ْب(dengan) 

menjadi  َْخَرَجْبyang dimaknai mengeluarkan. Kemudian jika  verba ََْخَرج(keluar) jika 

berdampingan dengan preposisi َعلَى(diatas) menjadi َْعلَى  yang dimaknaiَخَرَج

memberontak, menyerang. Selanjutnya verba ََْخَرج(keluar) jika berdampingan dengan 

preposisi  َْعن(tentang) menjadi  َْْعن  yang dimaknai membelok, perkecualian dariَخَرَج

atau melampaui (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya verba دَعا(memanggil, mengundang) jika berdampingan dengan 

preposisi  ْب(dengan) menjadi  ْْب  .yang dimaknai mengundang, atau menamakanدَعا

Kemudian verba دَعا(memanggil, mengundang) jika berdampingan dengan preposisi 

ْإلى menjadi (ke)إلى  yang dimaknai mengundang. Kemudian jika verbaدَعا

 (untuk)لْ  jika berdampingan dengan preposisi (memanggil, mengundang)دَعا

menjadi  yang dimaknai menyebabkan, mendatangkan (Ali, Atabik & Muhdlor, Aدعاْلْ 

Zuhdi. 1998).  

Verba َْراغ(menyimpang) jika berdampingan dengan dengan preposisi  ْن  danم 

نْ  menjadiَعنْ   dimaknai menghindang aau mengelak. Sedangkan jikaراغْعنْ  danَراَغْم 

berdampingan dengan preposisi إلىmenjadi راغْإلىdimaknai cenderung atau berpihak 

dengan sembunyi-sembunyi (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).   



230 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Selanjutnya verba ََْسلَّم(menyerahkan, memberikan) jika berdampingan dengan 

preposisi إلى(ke) menjadi ْإلى  dimaknai tunduk dan mengajukan. Tetapi jika diَسلََّم

sandingan dengan preposisi  ْن نْ  makan akan menjadi (dari)م  ْم   yang dimaknaiسلََّم

menyelamatkan, menjaga, dan jika disandingkan dengan preposisi علَى(diatas) maka 

akan menjadi َْعلَى  yang dimaknai memberi hormat atau salam. Kemudian jikaَسلََّم

disandingkan dengan preposisi  ْبmakan akan menjadi  ْْب  ,yang dimaknai relaَسلََّم

mengakui atau menetapkan (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).   

Kemudian verba َْ  jika disandingkan dengan preposisi (naik, tinggi)َسما

 yang dimaknai memandang rendah, dan jika dibandingkanَسماَْعنْ  menjadi (tentang)َعنْ 

dengan preposisi  ْب(dengan) menjadi  ْْب َ  dimaknai menaikkan. Selanjutnya jikaَسما

disandingkan dengan preposisi إلى(ke) menjadi َْْإلى  dimaknai mengangkat atauَسما

berhasrat kepada (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998) 

Kemudian klausa ُْن ه  disandingkan (memperoleh)يَدَى berasal dari kata verbaيَدَىْم 

dengan preposisi  ْن  yang dimaknai memperoleh kebaikan (dia)ـهdan pronomina (dari)م 

darinya (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). 

Kemudian prasa بة ر  ْتج  ت تَْ merupakan gabungan dari adverbiaتح   di bawahتَح 

dan nomina بة ر   yang diartikan percobaan. Jika disandingkan kedua kata tersebutتَج 

diterjemahkan secara harfiyah di dalam kekuasaan dan diterjemahkan secara maknawi 

diartikan dalam percobaan.  

Klausa ْيده تَْ berasal dari adverbiaتحت  dan (tangan)يَدَىَّْ dan nominaتح 

pronominaـه(dia) yang dimaknai di dibawah kekuasannya (Ali, Atabik & Muhdlor, A 

Zuhdi. 1998). 

Selanjutnya preposisi َعلى(di atas) jika disandingkan dengan nomina  ْيَد(tangan) 

menjadi  ْْيد  (tentang)َعنْ  dimaknai atas perbuatannya. Selanjutnya jika  preposisiعلى

jika disandingkan dengan nomina  ْيَد(tangan) menjadi  ْْيد  dimaknai atas bantuannyaعن 

(Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  



231 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 Kemudian preposisi  َْعن(tentang) dan preposisi  ْمن(dari) jika disandingkan 

dengan nomina  ْد ي  ْبعيدْ  menjadiبَع  َْبعيدْ  danَعن  ن   yang dimaknai dari jauh (Ali, Atabikم 

& Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Lebih jelasnya di bawah ini diuraikan contoh kolokasi 

dalam bentuk tabel. 

Tabel  1. Pembentukan Kolokasi Gramatikel  

 

NN 
Kolokasi Gramatikal Terjemahan Maknawi  Kategori 

1 
(ب)الزمْ  

(aljama bi) 

Mengharuskan Verba+ 

preposisi 

2 
(ب)أتبَعْ  

(atba’a bi) 

Menggabungkan Verba + 

preposisi 

3 
(ب)باض  

(bâ’dhabi) 

Berdomisili Verba +  

preposisi 

4 
(على)فرضْ  

(faradha ‘alâ) 

Mewajibkan Verba + 

preposisi 

5 
 (عن)غابْ

(ghâba ‘an) 

Menghilang dari Verba + 

preposisi 

6 
 (عن)ابتعدْ

(ibta’ada ‘an) 

Menceraikan Verba + 

preposisi 

7 
نْ )يئس  (م 

(ya’isu min) 

Berputus asa Ajektiva 

+preposis

i 

8 
 (ْلْ )َحَصل

(chashala li) 

mengenai atau terjadi Verba +  

preposisi 

9 
( نْ )َحَصلْ  م   

(chashala min) 

Muncul dari  Verba +  

preposisi 

10 
(َعلَى)َحَصلَْ  

(chashala ‘alâ) 

memperoleh Verba +  

preposisi 

11 
( بْ )َخَرجَْ  

(kharaja bi) 

mengeluarkan Verba +  

preposisi 

12 
(َعلَى)َخَرجَْ  

(kharaja ‘alâ) 

menyerang Verba +  

preposisi 

13 
 (َعنْ )َخَرجَْ

(kharaja   ‘an) 

membelok Verba +  

preposisi 

14 
(بْ )دَعا  mengundang/menamakan Verba +  

preposisi 



232 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

(da’â bi) 

15 
(إلى)دَعا  

(da’â ‘alâ) 

mengundang Verba +  

preposisi 

16 
(لْ )دعا  

(da’â li) 

Menyebabkan, 

mendatangkan 
Verba +  

preposisi 

17 
نْ )َراغَْ (م   

(râgha min) 

Menghindar, mengelak Verba +  

preposisi 

18 
(َعنْ )َراغَْ  

(râgha an) 

Menghindar, mengelak Verba +  

preposisi 

19 
(إلى)راغ  

(râgha ilâ) 

Cenderung, berpihak Verba +  

preposisi 

20 
(إلى)َسلَّمَْ  

(sallama ilâ) 

Mengajukan, tunduk Verba +  

preposisi 

21 
نْ )سلَّمَْ (م   

(sallama min) 

menyelamatkan Verba +  

preposisi 

22 
(َعلَى)َسلَّمَْ  

(sallama ‘alâ) 

Memberi hormat Verba +  

preposisi 

23 
(بْ )َسلَّمَْ  

(sallama bi) 

Mengakui, menetapkan Verba +  

preposisi 

24 
( َْ عنْ )َسما  

(samâ‘an) 

Memandang rendah Verba +  

preposisi 

25 
( َْ بْ )َسما  

(samâ bin) 

menaikkan Verba +  

preposisi 

26 
 (إلىَْ)َسما

(samâ ilâ) 

Mengangkat, berhasrat 

kepada 
Verba +  

preposisi 

27 
 (منه)يدى

(yadâ minchu) 

Memperoleh Kebaikan 

darinya 

Nomina + 

preposisi

+ 

pronomin

a 

28 
تَتجربة  تَح 

(tachtatajribah) 

Dalam percobaan Adverbia 

+ Nomina 

29 
 (يده)تحت

(tachta yadahu) 

Dibawah kekuasaanya adverbia+ 

Nomina  

30 
 يدْ (على)

(a’ala yadin) 

Atas perbuatan Preposisi 

+ Nomina 

+ 

pronomin

a 

31 
 يدْ (عن)

(‘an yadin) 

Atas bantuannya Preposisi 

+ Nomina 



233 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

32 
 بعيدْ (عن)

(‘an ba’îdin) 

Dari jauh Preposisi 

+ Nomina 

33 
 بعيدْ (من)

(min ba’îdin) 

Dari jauh Preposisi 

+ Nomina 

 

Kolokasi secara leksikal, seperti yang telah diuraikan di atas ialah gabungan kata 

yang terdiri atas nomina, verba, adjektiva, dan adverbia. Misalnya: prasa ْالقَُرى  ,أُمُّ

nomina أمartinya induk sedangkan القرىartinya desa-desa, jika disandingkan kedua 

nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah induk dari desa, dan  diterjemahkan 

secara maknawi menunjuk pada suatu tempat yakni kota Mekkah al-Mukarramah (Ali, 

Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Begitu juga dengan ُّْْأُم أس  الرَّ kata ُّْ أُمّ  artinya induk sedangakan الرأسartinya 

kepala. Jika disandingkankan kedua  nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah 

artinya induk dari kepala dan diterjemahkan secara maknawi artinya otak (Ali, Atabik & 

Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya prasa ْالكتاب  artinya indukأم merupakan gabungan dari nominaأم

sedangkan الكتابartinya buku, al-qur’an. Jika disandingkan kedua nomina  tersebut 

diterjemahkan secara harfiyah artinya induk dari al-qur’an, dan  diterjemahkan secara 

maknawi artinya surat al-fathichah (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian prasa ح ْْأم م  الرُّ merupakan gabungan dari nomina أمartinya induk 

sedangkanْ ح م   artinya lembing. Jika disandingkan kedua nomina tersebutالرُّ

diterjemahkan secara harfiyah artinya pokok lembing dan terjemahan secara maknawi 

artinya bendera.  

Selanjutnya  ْر س  ْالج   artinya kepalaَرأسُْ merupakan gabungan dari nominaَرأ ُس

sedangkan الجس رartinya jembatan dan jika disandingkan kedua nomina tersebut 

diterjemahkan secara harfiyah artinya kepala jembatan dan terjemahan secara maknawi 

ujung jembatan. Kemudian frasa ْال َمالْ   merupakan gabungan dari nominaَرأ ُس



234 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 yang artinya harta, dan jika disandingkanالمالُْ artinya kepala, sedangkan nominaَرأسُْ

kedua nomina tersebut diterjamahkan secara harfiyah artinya kepala harta dan 

terjemahan secara maknawi artinya modal (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian frasa ُْا لبَابْ َْعتَبَة merupakan gabungan nominaَُْعتَبَةyang artinya tangga 

sedangkan nomina البَابartinya pintu, jika disandingkan kedua nomina tersebut 

diterjemahkan secara harfiyah tangga pintu, dan terjemahan secara maknawi ambang 

pintu (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian frasa ُْت رْ َْصو  ُسو  ال َمك  merupakan gabungan nomina صوتyang artinya 

suara dan nomina  ْر ُسو   artinya rusak, jika disandingkan kedua nomina tersebutال َمك 

terjamahan harfiyahnya suara rusak dan terjamahan secara maknawi suara yang lunak 

(Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya frasa ُْأ ي ُْْصل ب الرَّ merupakan gabungan nomina ُُْصل بyang artinya 

artinya baja dan nomina ُْأ ي  artinya pemikiran, pendapat. Jika  disandingkan keduaالرَّ

nomina tersebut terjemahan harfiyahnya keras pendapat yang diterjamahkan secara 

maknawi keras kepala (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya frasa ُْا ألَدَبْ ْقَل ي ل merupakan gabungan nomina ُْقَل ي لartinya sedikit, dan 

 artinya adab, sopan santun.  Jika disandingkan kedua nomina tersebut terjemahanاألدب

harfiyahnya sedikit adab dan terjemahan maknawi tidak punya sopan santun (Ali, 

Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Selanjutnya frasa ُْل ا لبَالْ َْمش غُو  merupakan gabungan nomina ل غُو   artinya sibukَمش 

dan nomina ُْالبَالartinya keadaan jika disandingkan kedua nomina tersebut terjemahan 

harfiyahnya sibuk keadaan dan terjemahan maknawi gundah, gelisah (Ali, Atabik & 

Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian frasa ُْبَالْ ا لَْخال ي merupakan gabungan nomina خاليartinya kosong, 

bebas danُْا لبَالyang artinya keadaan jika disandingkan kedua nomina tersebut 



235 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

terjemahan harfiyahnya keadaan yang kosong dan terjemahan maknawi tenang, damai 

(Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian frasa ُْيَاح ي كْ ْص  الد   merupakan gabungan nomina  ُْيَاح  artinya suaraص 

dan  ْي ك  yang diartikan ayam jantan. Jika disandingkan kedua nomina tersebutالد  

diterjemahkan secara harfiyah suara ayam jantan yang dimaknai ayam berkokok (Ali, 

Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian frasa ْبال  artinya mempunyai danذوmerupakan gabungan nominaذو

 yang diartikan keadaan. Jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkanبَالْ 

secara harfiyah artinya mempunyai keadaan, dan terjemahan maknawi yang penting, 

menarik perhatian (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian prasa غيرْذيْبالmerupakan gabungan dari nomina غيرyang diartikan 

tidak, bukan dan prasaذيْبالyang diartikan mempunyai keadaan jika di terjemahkan 

secara harfiyah tidak mempunyai keadaan, secara maknawi diartikan yang tidak penting 

(Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian prasa ُْطاَرَْصوابُهmerupakan gabungan dari verba َْطاَرartinya terbang 

dan  َْصوابartinya kesadaran. jika disandingkan kedua kata tersebut diterjemahkan 

secara harfiyah artinya terbang kesadaran, dan terjemahan yang maknawi artinya hilang 

kesadaran (Ali, Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998).  

Kemudian prasa ْ ْفَرحا  artinya terbangطاَرَْ merupakan gabungan dari verbaطاَر

dan ْ فَرحاartinya senang. jika disandingkan kedua kata tersebut diterjemahkan secara 

harfiyah artinya terbang senang, dan terjemahan yang maknawi artinya bersuka ria  (Ali, 

Atabik & Muhdlor, A Zuhdi. 1998). Untuk lebih memberikan pemahaman  di bawah 

diuraikan contoh-contoh kolokasi secara leksikal dalam bentuk tabel.   

  

Tabel 2. Pembentukan Kolokasi Leksikal  

No Kolokasi Leksikal Terjemahan Maknawi Kategori 



236 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 أمْالقرى 1
(‘Ummu al-Qurâ) 

Makkah al-Mukarramah Nomina + Nomina 

مح 2  أمْالر 
(‘Ummu al-Ramchi) 

Bendera Nomina + Nomina 

 أمْالرأس 3
(Ummu al-Ra’si) 

Otak Nomina + Nomina 

 أمْالكتاب 4
(Ummul-Kitâbi) 

Surat Al-fatihah Nomina + Nomina 

ح ْْأم 5 م  الرُّ  
(Ummu al-rumhi) 

Bendera Nomina + Nomina 

 رأسْالمالْ  6
(ra’su al-mâli) 

Modal  Nomina + Nomina 

 عتبةْالباب 7
(‘Utabatu-l-bâb)   

Ambang pintu Nomina + Nomina 

 صوتْالمكسور 8
(Shawtu al-Maksûr) 

Suara yang lunak Nomina + Nomina 

 صلبْالرأي 9
(Shalaba al-Ra’yi) 

Keras kepala Nomina + Nomina 

 قليلْاألدب 10
(Qalîlu al-‘adabi) 

Tidak tahu adab (sopan) Ajektiva + Nomina 

 مشغولْالبال 11
(Masyghûlu al-bâli) 

Gundah Ajektiva + Nomina 

 خاليْالبال 12
(Khâliyu al-Bâli) 

Tenang Nomina + Nomina 

 صياحْالديك 13
(Shiyâchu al-Dîku) 

Ayam berkokok Nomina + Nomina 

 ذوْبال 14
(DzûBâlin) 

Penting Nomina  + Nomina 

 غيرْذيْبال 15
(GhairuDzîBâlin) 

Tidak penting Nomina + Nomina 

 طاَرَْصوابُهُْ 16
(thâra shawâbuhu) 

Kehilangan kontrol Verba + Nomina 

 فَرحا ْْطارَْ 17
(thâra shawâbuhu) 

Bersuka ria Verba + Nomina 

D.  SIMPULAN 

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kolokasi  dibentuk dari 

dalam dua kategori, yakni kolokasi gramatikal dan kolokasi leksikal yang terdiri dari 



237 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

dua kata atau lebih yang salah satu unsur kata tersebut memiliki hubungan dengan 

anggota kata lain. Adapun karakteristik kolokasi gramatikal pada penelitian ini, 

bahwasanya preposisi bisa didampingkan dengan verba dan nomina, dimana preposisi 

yang digunakan yakni preposisi في(fî), إلى(ilâ), على(alâ),  ْعن(an),  ْل(li) dan  ْب(bi) serta 

adverbia َْت  Sedangkan kolokasi leksikal adalah kolokasi yang terbentuk dari .تَح 

nomina, verba, adjektiva, yang digunakan untuk kata tertentu saja.  

Penelitian kolokasi dalam bahasa Arab sesungguhnya sangat penting dalam 

mempelajaran Bahasa Arab dan juga dalam penerjemahan. Penulis meyakini kajian 

mengenai Kolokasi dalam bahasa Arab dapat dikaji lebih lanjut sebagai bagian dalam 

mengembangkan khasanah keilmuan khususnya dalam bidang bahasa.  

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Ali, A. & Muhdlor, A Z. (1998). Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. Yogyakarta: 

Indonesia. 

Al-Farisi, M. Z. (2011). Pedoman Penerjemahan Arab Indonesia (Strategi, Metode, 

Prosedur dan Teknik). Bandung: PT. REMAJA ROSDAYA. 

Alwi, H., dkk. (2003) Tata Bahasa Baku Indonesia (Edisi Tiga). Jakarta: Balai Pustaka. 

Bakalla, M. H. (1984). Arabic Culture, Through It’s Language and Literature. London: 

Keagen Paul International.  

Baker, M. (1997). In Other Words: A Course book on Translation. London: Routledge.  



238 

 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Bālbaki, R. M. (1990) Mu’jam Al-Mushthalahaat Al-Lughawiyyah, Inkliziyyah-‘Arabiy, 

cetakan pertama. Beirut: Daar El-Ilmi Lilmalayin.  

Barfield, A., & Gyllstad, H. (ed.). (2010). Researching Collocations in Another 

Language. Houndmills, Basingstoke, Hampshire: Macmillan Publishers 

Limited.  

Benson, M., Benson, E., & Ilson, R. (1997),  The BBI Dictionary of English Word 

Combinations. Philadelphia: John Benjamins.  

Harimurti, K. (2008). Kamus linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.  

Munawwir, A.W & Fairuz, M. (2007). Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab 

Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif.  

Nation, I.S.P. (2001). Learning Vocabulary in Another Language. Cambridge: 

Cambridge University Press.  

Subroto, E. (1992). Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: 

Sebelas Maret University Press.  

Yunus, M. (1989). Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: PT Hidakarya Agung..  

El-Gemei, Dalal Mahmoud. (2006). Encyclopedia of Arabic Language and Linguistics, 

Vol. 1, General Editor Kees Versteegh. Leiden – Boston: Brill. pp. 434-439  

 

 


