




































212 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 AL-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
IAIN Sultan Amai Gorontalo 

Volume 4, Nomor 2, Agustus 2019 
ISSN 2442-8965 (P)  
ISSN 2442-8973 (E)  

http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 

Model Pembelajaran Tenses Menggunakan  

Rumus Mathematic English (MatEng) 

 

Muhammad Shofiyuddin
(1)

   

muhshofiyuddin@unisnu.ac.id 

Santi Andriyani
(2) 

santi@unisnu.ac.id
 

Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU),  Jepara 

 

Abstrak 

Penguasaan tenses merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh 

mahasiswa pembelajar bahasa asing guna meningkatkan keterampilan 

bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Tujuan dari penelitian ini 

adalah untuk mengetahui implementasi model pembelajaran tenses 

berbasis rumus MATENG (Mathematic English) di Prodi PBI 

Universitas Muria Kudus. Metode yang digunakan adalah metode 

deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) implementasi 

model pembelajaran tenses menggunakan rumus MATENG 

(Mathematic English) meliputi 3 aspek ; penguasaan nama 16 tenses, 

fungsi dan rumusnya; 2) proses pembelajaran tenses dimulai dari 

apersepsi, kemudian aktivitas utama menggunakan metode PPP, dan 

tugas mandiri untuk mahasiswa; 3) respon mahasiswa terhadap 

implementasi model pembelajaran tenses menggunakan rumus 

MATENG dinyatakan sangat baik. 

 

Abstract 

 

Tenses mastery is an ability that must be possessed by students to 

improve their English skills both oral and written. The aim of this 

study is to find out the implementation of tenses learning based on 

MATENG (Mathematic-English) formula in the English Education 

Study Program at Muria Kudus University. The method used is 

descriptive method. The results showed that: 1) the implementation of 

the learning model tenses using the MATENG formula (Mathematic 

English) includes 3 aspects; mastery of the names of 16 tenses, 

functions and formulas; 2) the learning process of tenses starts from 

appraisal, then main activity used the PPP method, and individual 

tasks for students; 3) the students’ response to the implementation of 

the learning model tenses using the MATENG formula is stated to be 

very good. 

 

Keywords: 

English Tenses; 

Mathematic 

English Formula 

http://u.lipi.go.id/1421293761
http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al
mailto:muhshofiyuddin@unisnu.ac.id
mailto:santi@unisnu.ac.id


213 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

A. PENDAHULUAN 

 

Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional yang paling banyak 

dipelajari dan digunakan dalam berkomunikasi antar bangsa. Ini sesuai dengan peran 

bahasa Inggris sebagai bahasa global seperti yang dikemukakan oleh Crystal (2003: 3) 

bahwa bahasa Inggris berperan sebagai bahasa global atau dunia karena bahasa Inggris 

dipelajari dan dijadikan sarana berkomunikasi di berbagai negara baik sebagai bahasa 

pertama, bahasa kedua, maupun sebagai bahasa asing. Di Indonesia, bahasa Inggris 

sebagai bahasa asing pertama yang dipelajari sebagai mata pelajaran wajib dari sekolah 

menengah pertama hingga perguruan tinggi. 

Seiring dengan kebutuhan akan penguasaan bahasa Inggris, pemerintah 

Indonesia menetapkan Undang-Undang No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional 

Pasal 37 Ayat 1 tahun 2003 bahwa bahasa Inggris menjadi satu-satunya bahasa asing 

yang wajib dipelajari siswa  dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai 

Perguruan Tinggi.  

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No: 232/U/200 telah 

menetapkan bahwa kurikulum PT di Indonesia terdiri dari kurikulum inti dan 

institusional. Dalam kurikulum institusional, terdapat beberapa mata kuliah yang harus 

dipelajari mahasiswa salah satunya adalah mata kuliah bahasa Inggris sebagai antisipasi 

menghadapi era globalisasi. 

Perguruan Tinggi yang memiliki Prodi Pendidikan Bahasa Inggris memiliki 

peran dan tanggungjawab yang lebih dalam mempersiapkan mahasiswa untuk cakap 

berkomunikasi bahasa Inggris. Kewajiban prodi PBI melaksanakan segala kegiatan 

akademik dalam rangka mengantarkan mahasiswanya menjadi seorang guru bahasa 

Inggris yang professional di sekolah dasar, menengah pertama dan atas.  

Agar mampu menjadi seorang guru bahasa Inggris yang professional, mahasiswa 

perlu dibekali kemampuan berkomunikasi lisan maupun tulisan yang baik. Komunikasi 

lisan dan tulisan dalam bahasa membutuhkan pemahaman terhadap pemahaman struktur 

atau tata bahasa yang baik dan benar. Oleh karena itu, prodi PBI di setiap perguruan 

tinggi umumnya mewajibkan mahasiswa menempuh mata kuliah structure (tata bahasa) 

yang terdiri dari basic structure, intermediate structure, dan advanced structure. Semua 

mata kuliah tersebut ditempuh oleh mahasiswa dimulai dari semester 1 hingga 4. 



214 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Pentingnya penguasaan tenses atau tata bahasa Inggris bagi mahasiswa PBI 

sebagaimana diutarakan oleh Penny dalam Chang (2010: 13) bahwa grammar adalah 

seperangkat aturan yang menentukan bagaimana kata (atau bagian dari kata) 

digabungkan atau diubah untuk membentuk unit makna yang dapat diterima dalam 

suatu bahasa. Sirod dalam Falah (2011: 10) juga menyatakan bahwa kompetensi 

gramatikal adalah konsep payung yang mencakup peningkatan keahlian dalam tata 

bahasa (morfologi dan sintaks), kosakata, dan pola. Untuk menyampaikan makna, 

peserta harus memiliki pengetahuan tentang kata-kata dan kalimat. sehingga penguasaan 

bahasa Inggris tidak dapat dikuasai dengan baik tanpa adanya tata bahasa khususnya 

tenses. 

Kajian penelitian terdahulu yang berjudul Penggunaan Present Perfect Tense 

Bahasa Inggris Oleh Siswa SMK Kesehatan Bakti Nusantara Gorontalo (Sebuah 

Analisis Kesalahan) yang dilakukan oleh Pungki Wulansakti Antula (2016) . Hasil 

penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa 

dalam penggunaan present perfect tense . Adapun kesalahannya meliputi 3 kategori 

yaitu : (1) omission; (2) misinformation; dan (3) misordering. Selanjutnya penelitian 

yang dilakukan oleh Rino Pribadi (2013) dengan judul Aplikasi Structure Tenses Dalam 

PembelajaranBahasa Inggris Berbasis J2me, hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi 

Structure Tenses Dalam pembelajaran Bahasa Inggris pada media telepon selular.  

AplikasiStructure Tenses untuk siswa SMA N 6 Surakarta kelas X ini layak dijadikan 

acuan untuk media alternatif belajar pada siswa. 

Dari deskripsi di atas, penting adanya sebuah model pembelajaran tenses yang 

menarik dan efektif sehingga mahasiswa akan mudah memahami materi dan mudah 

mengaplikasikannya dalam  berbagai topik kalimat. Rumus mateng merupakan 

perpaduan antara rumus matematika dasar dengan rumus tenses. Dengan penggabungan 

kedua rumus tersebut menjadikan 16 tenses dapat dipelajari secara lebih sederhana, 

mudah dan efektif karena dalam konsep penerapan rumus mateng dapat membantu 

mahasiswa mempelajari ke 16 tenses dalam waktu yang lebih singkat. 16 tenses yang 

biasanya dipelajari dalam waktu sedikitnya satu semester, dengan penggunaan rumus 

mateng diharapkan mahasiswa dapat menguasai 16 tenses hanya dalam waktu 1-3 

pertemuan. Sehingga waktu penguasaan lebih efektif dan waktu perkuliahan dapat 

dimanfaatkan lebih banyak untuk praktik dan mendalami materi lebih jauh. 



215 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Berangkat dari deskripsi di atas, peneliti akan mencoba menggali lebih dalam 

mengenai Implementasi Model Pembelajaran Tenses berbasis Rumus Mateng ( 

mathematic english) yang dilaksanakan di Prodi PBI Universitas Muria Kudus. 

B. METODE PENELITIAN 

Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan 

metode deskriptif kualitatif. Sugiono (2012: 9) menyatakan penelitian kualitatif sebagai 

metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk 

meneliti pada kondisi objek alamiah. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha untuk 

meneliti secara mendalam tentang proses impelementasi kodel pembelajaran tenses 

menggunakan rumus mateng (mathematic english).  

Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa semester 4 Prodi Pendidikan 

Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus berjumlah 40 mahasiswa. Teknik 

pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi dan kuisioner. Obervasi 

yang digunakan oleh peneliti adalah observasi langsung. Ini berarti bahwa peneliti 

mengamati secara langsung segala bentuk perilaku dan proses pembelajaran tenses yang 

dilaksanakan pada kelas tersebut. Marshall dalam Sugiono (2010: 310) menyatakan 

bahwa “through observation, the researcher learn about behavior and he meaning 

attached to those behavior”. Sedangkan kuisioner digunakan untuk mengetahui respon 

dari subjek penelitian mengenai implementasi model pembelajaran tenses menggunakan 

rumus mateng untuk kemudian hasilnya dideskripsikan oleh peneliti.  

Teknik analisis data yang dilakukan adalah dengan mengorganisasikan data ke 

dalam kategori, memilih dan memilah data yang sesuai dengan tujuan penelitian, 

kemudian membuat kesimpulan. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan 

sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan 

(Sugiono: 2009) 

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Hasil 

Implementasi Model Pembelajaran Grammar berbasis Rumus Mateng 

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, ditemukan bahwa 

implementasiproses pembelajarantenses menggunakan rumus mateng meliputi tiga 



216 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

aspek, yaitu penguasaan nama 16 tenses, fungsi dan rumusnya.Sebelum masuk dalam 

pembahasan 16 tenses melalui Rumus Mateng, mahasiswa diharuskan telah menguasai 

jenis, bentuk, dan penggunaan Verb sebagai dasar dan inti dari tenses. Untuk 

mengetahui bahwa mahasiswa telah menguasai Verb, kemudiandiberikan beberapa 

pertanyaan atau kuis kepada mereka, mulai dari jenis verb, fungsi verb dan bentuk-

bentuk verb yang akan digunakan pada rumus tenses. Setelah dapat dipastikan bahwa 

mahasiswa telah menguasai verb, pembelajaran 16 tenses melalui  Rumus Mateng 

dimulai. 

Proses pembelajaran dilakukan menggunakan metode PPP ditambah dengan kuis 

yang diawali dengan brainstorming. Pertama, pembelajaran diawali dengan guiding 

question dan brainstorming. Kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dan 

penggunaan rumus Mateng dalam penguasaan 16 tenses, dimulai dari nama, fungsi dan 

terakhir adalah rumusnya. Setelah pemaparan materi setiapbagian, mahasiswa diminta 

untuk mengulanginya bersama-sama. Dan yang terakhir adalah praktik secara mandiri 

untuk mempraktikkan implementasi rumus Mateng di depan kelas dan mereka diminta 

untuk mempraktikkannya diluar kelas.  

Penguasaan Nama 16 Tenses 

 Langkah awal penggunaan Rumus Mateng pada pembelajaran tenses dimulai 

dari penguasaan nama 16 tenses yang dilakukan dengan pendekatan metode jarimatika, 

yaitu menghafalkan nama 16 tenses dengan cara menggabungkan kelompok nama 

waktu dan kelompok nama kejadian, masing-masing berjumlah empat nama. Kelompok 

nama waktu dituliskan pada empat jari tangan kiri, dari telunjuk sampai dengan 

kelingking. Sedangkan kelompok nama kejadian dtuliskan pada tangan kanan pada 

empat jari tersebut. Berikut gambar ilustrasi rumus : 

 
Gambar 1. Rumus Mateng menggunakan Jarimatika 



217 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

Penggabungan nama dengan cara penjumlahan sebagaimana penjumlahan pada 

aritmatika. Contoh: simple (kejadian) + present (waktu) = simple present, Past + 

continuous = Past continuous, Future + Prefect = Future perfect, dan seterusnya. 

Adapun nama urutan penggabungan sebagaimana angka yang tertera pada 

gambar. Simple memiliki angka satu yang berarti pada penggabungannya, simple akan 

selalu berada di depan. Sedangkan continuous, perfect dan perfect continuous selalu 

pada urutan kedua.  

 Pertama, mahasiswa diminta untuk mengamati dan memahami materi yang 

disampaikan melalui power point. Setelah mereka memahaminya, peneliti meminta 

mereka untuk mempraktikkannya bersama-sama, dan yang terakhir adalah uji coba 

mahasiswa untuk praktik secara mandiri. Proses penguasaan nama 16 tenses melalui 

rumus mateng hanya membutuhkan waktu 10 menit.  

Penguasaan Fungsi 16 Tenses 

  Pembelajaran fungsi 16 tenses dilakukan sebagaimana proses penguasaan nama 

16 tenses, yaitu dengan metode jarimatika dan prinsip penjumlahan aritmatika. Urutan 

penjumlah juga sama dengan penjumlahan atau penggabungan nama tenses. Contoh: 

Simple = rutinitas atau fakta dan present = saat ini. Sehingga simple present digunakan 

untuk menyatakan rutinitas atau fakta saat ini; past = masa lampau dan continuous = 

sedang dilakukan, sehingga past continuous digunakan untuk menyatakan aktivitas yang 

sedang dilakukan atau sesuatu yang sedang terjadi pada masa lampau, dan seterusnya. 

Setelah memahami penggabungan tersebut, mahasiswa juga diminta untuk 

mempraktikkanya bersama-sama dan individu.    

Penguasaan Fungsi 16 Tenses 

Proses terakhir penggunaan Rumus Mateng adalah penguasaan rumus 16 tenses. 

Proses ini sedikit berbeda dengan proses penguasaan nama dan fungsi 16 tenses. 

Meskipun pendekatan atau prinsip yang digunakan sama namun prinsip artimatika 

diterapkan dan lebih ditekankan pada proses ini.  

 



218 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 
Bagan 1. Prinsip aritmatika pada rumus 16 tenses melalui rumus Mateng. 

 

Pembelajaran rumus 16 tenses tidak hanya dilakukan dengan menggabungkan 

nama dari kelompok waktu dan nama dari kelompok kejadian saja, namun 

penggabungan rumus dasar 16 tenses yang berjumlah lima rumus, sebagaimana pada 

tabel berikut. 

Tabel 1. Rumus Tenses 

Waktu BentukKejadian 

Present Simple 

bentuk1 
X (tidak memiliki rumus/ 

mengikutiwaktunya) 

Past Continuous 

bentuk2 To be + V ing 

Future Perfect 

will/shall + V0 Have/ has + bentuk 3 

Lima rumus dasar tenses tersebut kemudian digabungkan dengan menggunakan 

prinsip penjumlahan pada aritmatika. Misalnya, present continuous yaitu gabungan dari 

prsent dan continuous dimana rumus present adalah bentuk atau verb satu dan rumus 

continuous adalah be + V-ing sehingga rumus dari present continuous adalah bentuk 1 

dari be = is/am/are + V-ing. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan contoh berikut. 

 



219 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 
 

Implementasi rumus Mateng pada pembelajaran tenses tersebut menunjukkan 

bahwa mahasiswa dapat memahami dan menguasai 16 tenses dengan mudah, yaitu 

hanya dalam satu pertemuan saja, dengan penguasaan nama, fungsi dan rumus 16 tenses 

dari bentuk kalimat verbal, nominal dan passive voice dalam bentuk kalimat positif, 

negatif dan interrogatif.  

Respon terhadap Implementasi Pembelajaran Tenses Menggunakan Rumus Mateng 

Setelah proses pembelajaran berakhir, kami menyebarkan kuisioner kepada 

siswa untuk disi . Hal ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan program. Angket ini 

berisi 10 pernyataan tentang konsep , implementasi , serta manfaat yang dirasaan setelah 

pembelajaran. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar memberikan tanggapan 

yang sangat baik pada keseluruhan item yang tersedia. Berikut hasil olah data dari 

pengisian kuisioner. 



220 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

 

 Dari bagan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam konstruksi konsep, 

keberfungsian produk, dan efektifitas mencapai score lebih dari 4, oleh karena itu 

implementasi model pembelajaran tenses menggunakan rumus mateng (mathematic 

english) dinyatakan sangat baik. 

 

Pembahasan 

Pembelajaran tenses merupakan salah satu materi bahasa Inggris yang utama 

bagi pembelajar bahasa asing. Karena dalam konteks berkomunikasi baik lisan maupun 

tulis, selalu berkaitan dengan konsep waktu. Nofriani (2016) menyatakan bahwa tenses 

adalah bentuk kata kerja yang berhubungan dengan waktu. oleh karena itu, dengan 

adanya tenses maka perubahan waktu juga akan mempengaruhi kata kerja/verb yang 

akan digunakan. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan sangat membantu 

dalam proses pembelajaran (Megawati: 2019). 

Berdasarkan hasil penelitian diatas, menunjukkan bahwa model pembelajaran 

tenses menggunakan rumus mateng (mathematic English) dapat meningkatkan 

pemahaman mahasiswa mengenai tenses. Model pembelajaran tenses yang inovatif 

dapat memberikan dampak yang positif dalam mempelajari tenses. Ini sesuai dengan 

beberapa hasil penelitian. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Hafid (2016), 

menunjukkan bahwa The Crossing Formulas of Tenses Table memberikan dampak 

yang signifikan terhadap kemampuan tenses siswa kelas XII MA Madani Alaudin 

Poopao. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan (2012) menunjukkan 

4,75 

4,285 

4,58 

Konstruks
i Konsep 

Efektivita
s Produk  

Keberfun
gsian 

Produk  

Respon User terhadap 
implementasi konsep 

Series1 

Series2 



221 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

hasil bahwa pembelajaran past tense menggunakan metode cooperative learning 

memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan siswa. 

Respon user (pengguna) terhadap model pembelajaran tenses menggunakan 

rumus mateng dinyatakan sangat baik dengan score lebih dari 4. Ini menunjukkan 

bahwa dari mulai proses pembelajaran, pemahaman konsep rumus mateng, sampai pada 

evaluasi memiliki dampak terhadap peningkatan pemahaman tenses mahasiswa. Dengan 

mempelajari tenses secara praktis dan efektif, maka mahasiswa tidak dirumitkan dengan 

berbagai hafalan tenses dan time signal karena sudah disajikan formula tenses yang 

praktis yaitu integrasi antara matematika dasar dan English. 

 

D. SIMPULAN 

Implementasi model pembelajaran tenses menggunakan rumus mateng (mathematic 

english) yang meliputi 3 aspek ; penguasaan nama 16 tenses, fungsi dan rumusnya. 

Proses pemembelajaran tenses dimulai dari appersepsi, kemudian main activity 

menggunakan metode PPP, dan individual task untuk mahasiswa. Respon mahasiswa 

terhadap impelementasi model pembelajaran tenses menggunakan rumus mateng 

dinyatakan sangat baik. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



222 
 

©2019 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal) 
 
 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Antula, P. W. (2016). Penggunaan Present Perfect Tense Bahasa Inggris Oleh Siswa 

Smk Kesehatan Bakti Nusantara Gorontalo (Sebuah Analisis Kesalahan). 

Jurnal Elektronik Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, 4(2). 

Chang, S-C. (2010).  A Contrastive Study Of Grammar Translation Method And 

Communicative Approach In Teaching English Grammar. Published By 

Canadian Center Of Science And Education. Doi:10.5539/Elt.V4n2p13. 

 

Crystal, D. (2003). English As A Global Language. Cambridge: Cambridge University 

Press. 

 

Falah, M. (2011). The English Grammar Mastery Of LBA Students Of MA NU TBS 

Taught By Using Aralish Contrastive Analysis In Academic Year 2010-

2011. Kudus. UMK. 

 

Hafid, A. G. (2016). The Effectiveness of Using Crossing Formulas of Tenses Table in 

Learning English 16 Tenses at XII Grade Students of MA Madani Alauddin 

Paopao In Academic Year of 2015/2016. Eternal (English, Teaching, 

Learning, And Research Journal), 2(1), 96-109. 

 

Hasibuan, B. (2012). Teaching Simple Past Tense By Using Cooperative Learning: An 

Experimental Study At Seconde Of MTS Pembangunan UIN Jakarta. 

 

Megawati, E. (2019). Penggunaan Model Pembelajaran Peer Teaching Dalam 

Pengajaran Tenses Pada Mahasiswa EFL. DEIKSIS, 11(01), 39-50. 

 

Pribadi, R. (2013). Aplikasi Structure Tenses Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris 

Berbasis J2ME (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah 

Surakarta). 

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung : 

Alfabeta. 

Sugiyono. (2010).  Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung : 

Alfabeta,. 

Sugiyono. (2012).  Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: 

Alfabeta,. 

 

 


