




































Syindi Oktaviani R. Tolinggi   64                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

  
 

        
   Volume 5, Nomor 1, Februari  2020 

          ISSN 2442-8965 (P) ISSN 2442-8973 (E) 
 
 

 

Model  Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren Salafi dan Khalafi: 

Studi Pebandingan terhadap Pesantren Salafiyah Syafi’yah Pohuwato dan 

Pesantren Hubolo Tapa 

 

Syindi Oktaviani R. Tolinggi 

 syindioktaviani0410@gmail.com 

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia 

 

 

 
ABSTRAK 

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam bagaimana metode pembelajaran bahasa 

Arab di Pesantren yang bercorak Salafi dan Pesantren yang bercorak Khalafi, dengan 

melakukan studi terhadap Pesantren Salafiyah Syafi`iyah di Pohuwato dan Pesantren Hubulo di 

Tapa, Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah field research atau penelitian lapangan dengan 

menggunakan metode penelitian kualitatif. Sebagai instrumen utama, namun peneliti 

menggunakan instrumen lainnya dalam mengumpulkan data berupa lembar observasi, pedoman 

wawancara dan dokumen. Subyek penelitian ini adalah Guru Bahasa Arab, Santri dan Pimpinan 

Pesantren. Teknik analisis data menggunakan (1) Reduksi Data  (2) Penyajian Data  dan (3) 

Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren 

Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato merupakan pesantren yang bercorak Salafi. Pembelajaran 

Bahasa Arab di Pesantren ini berfokus pada kompetensi gramatika atau struktur bahasa (Nahwu 

& Ṣarf) yang diaplikasikan dalam pembelajaran kitab kuning. Metode pembelajaran yang 

digunakan menggunakan metode pembelajaran tradisional, seperti Sorogan, Bandongan, 

Wetonan, Pasaran/Kilatan. Sedangkan pesantren Hubulo Tapa adalah pesantren bercorak khalafi 

dengan pembelajaran bahasa Arab aktif yaitu tidak hanya sekedar teori dan pembelajaran kaidah 

tata bahasa saja, tetapi penerapan bahasa Arab sebagai bahasa dalam komunikasi sehari-hari 

santri dengan mengimplementasikan metode komunikatif yaitu Pemberian kosakata harian, 

pemberian percakapan harian, ungkapan harian dan latihan pidato berbahasa Arab. 

 

Kata Kunci: Metode Pembelajaran Bahasa Arab; Pesantren Salafi; Pesantren Khalafi 

 

 

ABSTRACT 

 

This study aims at finding out more deeply how the Arabic learning method in Salafi-style 

boarding school and Khalafi-style boarding school. This study selected Salafiyah Syafi`iyah 

boarding school in Pohuwato and Hubulo boarding school in Tapa, Gorontalo as the location. 

This study is field research using qualitative research methods. As the main instrument, the 

researchers used other instruments to collect data in the form of observation sheets, interview 

guidelines and documents. The subjects of this study were Arabic language teachers, 

http://u.lipi.go.id/1421293761


Syindi Oktaviani R. Tolinggi   65                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

students and Pesantren’s Leaders. Data analysis techniques used data reduction, data display and 

conclusion and verification. The results of this study indicated that the Salafiyah Boarding 

Shool Pohuwato is a Salafi-style Boarding School. Arabic instruction in this boarding school 

focuses on grammatical competence or language structure (Nahwu & Sarf) which is applied in 

the study of the bare book. The learning method used traditional learning methods, such as 

Sorogan, Bandongan, Wetonan, Pesantren Kilat. While the Hubulo boarding school Tapa  is a 

khalafi-style with active Arabic learning that is not only theory and learning grammar rules, but 

the also implemented the communcative langauage teaching by practicing daily vocabulary 

building , daily conversation routine, daily expressions, and Arabic speech training. 

 

Key Words: Arabic Learning Methods, Salafi Boarding School, Khalafi Boarding school 

 

 

A. PENDAHULUAN 

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh 

lebih dari 200.000.000 umat manusia. Karena bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci 

dan tuntunan agama umat Islam sedunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang 

paling besar signifikansinya bagi ratusan juta umat Islam di dunia, baik yang 

berkebangsaan Arab maupun non-Arab (Arsyad, 2010: 1). Proses penyebaran bahasa 

Arab di berbagai negara adalah pengaruh dari perkembangan agama Islam yang sumber 

ajarannya dari Al-Quran dan Hadis yang menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab juga 

merupakan bahasa utama yang dapat menghantarkan pada pemahaman terhadap dua 

pilar utama ajaran agama Islam tersebut yaitu Al-Quran dan Hadis, serta literatur-

literatur yang berkenaan dengan hukum Islam yang kebanyakan masih ditulis dengan 

bahasa Arab. Oleh karena itu, mempelajari dan mengusai bahasa Arab menjadi 

kebutuhan setiap umat Islam. Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan 

sejak kapan studi bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi 

yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh 

bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita (Wahab, 

2008: 103). 

Pada awalnya pembelajaran bahasa Arab di Indonesia diasumsikan untuk 

kepentingan ibadah saja seperti salat, doa, zikir, dan kepentingan untuk mendekatkan 

diri kepada Allah swt. Kemudian bahasa Arab berkembang sebagai sarana pemahaman 

sumber-sumber syariat dan ajaran agama Islam, seperti Al-Quran, Hadist, dan kitab-

kitab berbahasa Arab lainnya, akan tetapi metode pembelajaran yang digunakan masih 

sangat klasik, salah satunya yaitu metode Gramatika-Tarjamah (Qawā’id wa Tarjamah) 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   66                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

yang digunakan dalam pembelajaran kitab-kitab agama Islam. Proses pembelajaran 

seperti ini hanya lebih menekankan pada penguasaan aturan-aturan gramatika melalui 

hapalan dan penerjemahan naskah kitab-kitab kuning ke dalam bahasa Ibu. 

Pembelajaran bahasa dengan metode tersebut menurut Effendy, digolongkan ke dalam 

bentuk pembelajaran bahasa Arab untuk tujuan memahami teks saja. Metode itu 

memiliki kontribusi yang sangat besar dalam memahamkan umat Islam Indonesia 

terhadap ajaran agamanya. Tetapi dipandang dari segi kemahiran yang dicapai, hanya 

sebatas kemahiran reseptif saja (Effendy, 2009: 29).  

Padahal sejak bahasa Arab dinobatkan sebagai bahasa Internasional oleh PBB, 

menandakan bahwa kedudukan bahasa Arab semakin meningkat di mata dunia. 

Mempelajari bahasa Arab tidak hanya untuk keperluan memahami agama semata, tidak 

cukup hanya digunakan untuk ibadah dan membaca kitab-kitab klasik (Arab) saja, tetapi 

untuk keperluan ekonomi, sosial, budaya dan juga politik. Bahasa Arab juga tidak hanya 

dipelajari oleh orang-orang Islam, melainkan oleh non-Islam, bahkan para orientalis pun 

mempelajarinya. Sehingga tuntutan agar memiliki kemampuan berbahasa Arab yang 

lebih tinggi merupakan sebuah keharusan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa 

Arab membutuhkan sebuah inovasi, salah satunya adalah dalam metodologi 

pembelajarannya. 

Pembelajaran bahasa Arab di Indoensia, sebelum diajarkan di sekolah-sekolah 

berbasis non-pesantren, sudah lebih dahulu diajarkan di pesantren, karena selain bahasa 

Arab sangat dibutuhkan untuk beribadah, pembelajaran bahasa Arab sangat menunjang 

para santri untuk memahami pelajaran-pelajaran yang ada di pesantren, karena kitab 

yang digunakan yaitu rata-rata menggunakan bahasa Arab khususnya pada pesantren 

salaf. Bahkan tidak jarang ada pesantren yang telah mewajibkan santri-santrinya agar 

dapat menggunakan bahasa Arab tidak sekedar untuk memahami kitab-kitab yang 

berbahasa Arab, akan tetapi santri juga dituntut agar dapat menggunakan bahasa Arab 

sebagai alat komunikasi sesama santri dalam melakukan segala kegiatan sehari-hari 

khususnya di pesantren modern/khalaf. 

Karena kebutuhan penggunaan bahasa Arab yang berlebih, maka pendekatan, 

metode dan strategi pembelajaran bahasa Arab harus diterapkan dengan baik dan sesuai 

dengan kultur masyarakat Indonesia sehingga santri dapat dengan mudah memperoleh 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   67                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

bahasa yang dipelajari dengan menyenangkan dan tidak membosankan serta tidak 

menjadi momok yang menakutkan untuk dipelajari.  

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling awal di Indonesia. Jenis 

lembaga seperti ini dapat dijumpai di berbagai wilayah Indonesia (Subhan, 2012: 75). 

Secara lahiriyah, pesantren pada umumnya merupakan suatu kompleks bangunan yang 

terdiri dari rumah Kiai, masjid, asrama sebagai tempat tinggal para santri dan ruang 

belajar. Di sinilah para santri tinggal selama beberapa tahun, belajar langsung pada Kiai 

dalam hal ilmu agama dan dewasa ini pesantren telah tumbuh dan berkembang secara 

bervariasi (Nasir, 2005: 81). Pesantren berasal dari kata santri, dengan konfiks pe-an 

yang berarti tempat tinggal para santri (Yasmadi, 2002: 61). 

Pesantren memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan lembaga-lembaga 

pendidikan lainnya yaitu model pembelajarannya yang masih tetap mempertahankan 

model pembelajaran tradisional, walaupun keberadaan tipologi pesantren pada saat ini 

telah mengalami perubahan, sehingga ada yang dinamakan pesantren salaf dan 

pesantren khalaf. Hal lain yang menjadi ciri khusus pesantren dan membedakan dengan 

lembaga pendidikan dalam bentuk lain adalah lima elemen pokok yang dimiliki oleh 

pesantren, yaitu Kiai, santri, masjid, asrama dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. 

Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan 

membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan dalam bentuk lain. 

Pesantren mempunyai berbagai variasi. Akibat variasi pesantren tersebut maka 

perlu diadakan pembedaan secara kategorial. Kategori pesantren bisa diteropongi dari 

berbagai perspektif yakni dari segi rangkaian kurikulum, tingkat kemajuan dan 

kemodernan, keterbukaan terhadap perubahan, dan dari sudut sistem pendidikan 

pesantren (Fadhli, 2015: 2-3).  

Dari segi kurikulum, Arifin, menggolongkan menjadi pesantren modern, 

pesantren tahassus, dan pesantren campuran. Dipandang dari muatan kurikulum, Martin 

Van Bruinessen, mengelompokkan pesantren menjadi pesantren paling sederhana yang 

hanya mengajarkan cara membaca huruf Arab dan menghapal beberapa bagian atau 

seluruh Alquran dan pesantren sedang yang mengajarkan berbagai kitab Fikih, Akidah 

dan Tasawuf yang lebih mendalam dan beberapa mata pelajaran tradisional lainnya 

(Fadhli, 2015: 2-3). Prof. DR. Ridlwan Nasir, mengklasifikasikan pondok pesantren 

menjadi lima jenis, yaitu pondok pesantren salaf atau klasik, pondok pesantren semi 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   68                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

berkembang, pondok pesantren berkembang, pondok pesantren khalaf atau modern dan 

pondok pesantren ideal (Nasir, 2005: 23). 

Adapun Dhofir, memandang dari perspektif keterbukaan terhadap perubahan-

perubahan yang terjadi, kemudian membagi pesantren menjadi dua kategori yaitu 

pesantren salaf dan khalaf. Pesantren salaf atau pesantren tradisional adalah pesantren 

yang tetap mengajarkan kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikannya. Penerapan 

sistem madrasah untuk memudahkan model sorogan yang dipakai dalam lembaga-

lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. 

Sedangkan pesantren khalaf atau pesantren modern adalah pesantren yang telah 

memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkan 

atau membuka tipe-tipe sekolah umum di lingkungan pesantren.  

Meskipun pesantren salaf dan khalaf sama-sama memiliki porsi dalam 

mendalami agama Islam, baik dari segi pelajaran Akidah, Fikih terutama mempelajari 

bahasa Arab, mulai dari kaidah tata bahasa Arab, kaidah penulisan Arab, dan cara 

berkomunikasi bahasa Arab, akan tetapi metodologi pembelajarannya jauh berbeda. 

Pesantren khalaf pada umumnya telah melakukan perubahan pada metodologi 

pembelajaran, yaitu metodologi pembelajaran mengenai kitab-kitab Islam klasik yang 

pada mulanya populer menggunakan metodik-didaktif dalam bentuk sorogan, 

bandongan, halaqah dan hapalan diajarkan dengan menggunakan metode klasikal di 

dalam kelas untuk pesantren khalafi (Fadli, 2015: 3). Tidak hanya itu, yang semula di 

pesantren salafi hanya memfokuskan bahasa Arab pada pembelajaran teori dan kaidah 

tata bahasa untuk meningkatkan kemampuan santri dalam membaca kitab, kemudian di 

pesantren khalafi melakukan perubahan dengan menjadikan pembelajaran bahasa Arab 

tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan santri dalam membaca kitab kuning saja, 

melainkan digunakan untuk bahasa komunikasi sehari-hari santri.  

Kedua pesantren dalam penelitian ini, yaitu Pesantren Salafiyah Syafi`iyah 

Pohuwato (Salaf) dan Pesantren Hubulo Tapa (Khalaf) merupakan dua jenis pesantren 

yang berbeda tetapi sama-sama mengajarkan bahasa Arab. Perbedaan tersebut dapat 

dilihat dari pakaian yang digunakan santri, aktivitas pembelajaran, dan out put 

pembelajaran yang berbeda pula. 

Sehingga berdasarakan beberapa uraian di atas, peneliti tertarik untuk 

mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana metode pembelajaran bahasa Arab yang 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   69                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

digunakan di kedua pesantren tersebut, karena salah satu faktor dalam keberhasilan 

pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Asing adalah cara atau metode yang 

digunakan dalam pembelajaran. Metode akan memegang peranan penting dalam 

pembelajaran, sebab metode pembelajaran bisa diibaratkan sebagai suatu pelayanan 

yang akan diapresiasi oleh santri atau siswa dan akan selalu tergores dalam hati dan 

pikiran mereka. Dalam pembelajaran terutama bahasa Arab mutlak dibutuhkan atau 

dijalankan dengan mampu menggabungkan beberapa metode karena hemat peneliti 

tidak ada metode yang mutlak baik atau sempurna dan juga tidak ada metode yang tidak 

baik, sehingga sebagai tenaga pendidik mampu menggabungkan beberapa metode 

dalam pembelajaran. Mengambil keunggulan sebuah metode dan menutupi kelemahan-

kelemahan yang ada dengan metode yang lain pula. 

 

B. METODE PENELITIAN 

Jenis Penelitian 

Jenis penelitian ini adalah field research atau penelitian lapangan dengan 

menggunakan metode penelitian kualitatif. Yusuf, menerangkan bahwa penelitian 

kualitatif merupakan penelitian yang pada prinsipnya bertujuan untuk mendeskripsikan, 

menerangkan secara kritis, atau menggambarkan suatu fenomena, kejadian, atau 

peristiwa interaksi sosial dalam masyarakat untuk mencari serta menemukan makna 

(meaning) dalam konteks yang sesungguhnya (natural setting). Sehingga, semua jenis 

penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data lunak (soft data) 

bukan hard data yang diolah dengan statistik (Yusuf, 2014: 338). Penelitian ini 

digolongkan sebagai jenis penelitian lapangan karena penelitian ini dilakukan dengan 

tujuan ke lokasi penelitian atau penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan di 

lapangan, seperti di lingkungan masyarakat, lembaga-lembaga organisasi 

kemasyarakatan dan lembaga pendidikan baik formal maupun non formal (Margono, 

2010: 5). 

Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan pengamat 

partisipan/informan, dengan menghubungkan secara langsung sumber-sumber yang 

dapat memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan oleh peneliti dalam proses 

penelitian. Sehingga peneliti secara langsung bisa mendapatkan data yang sebenarnya 

dengan cara observasi, wawancara dan dokumentsi. Adapun untuk mendapatkan data 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   70                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

lapangan maka peneliti turun langsung ke lokasi penelitian. Karena dalam penelitian 

kualitatif data yang diperoleh harus benar-benar atas hasil pengamatan sendiri, sehingga 

kehadiran peneliti dalam objek penelitian sangat menentukan keabsahan hasil 

penelitian. Hal ini dimaksud agar lebih mudah dalam melakukan penyeleksian terhadap 

kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Selain itu data yang diperoleh peneliti betul-

betul mencerminkan kenyataan yang ada di lapangan dan benar-benar objektif, sehingga 

pendeskripsian data juga sebagaimana yang terjadi pada objek penelitian.  

Sumber Data 

Selanjutnya, sumber data sekunder dalam penilitian ini adalah data-data 

tambahan dari pihak Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren 

Hubulo Tapa, seperti dokumen-dokumen profil pesantren dan sebagainya sebagai 

pelengkap penelitian ini.  

Instrumen Penelitian 

Penelitian ini menggunakan tiga instrumen pendukung yakni: 

a. Observasi 

Secara umum pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-

bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan 

pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang 

dijadikan sasaran pengamatan. Setiyadi menjelaskan bahwa tujuan observasi 

dalam sebuah penelitian adalah untuk menjelaskan situasi yang diteliti, kegiatan-

kegiatan yang terjadi, individu-individu yang terlibat dalam suatu kegiatan dan 

hubungan antarsituasi, antarkegiatan, dan antarindividu sehingga pembaca 

laporan penelitian mengerti secara jelas apa yang sudah terjadi dan bagaimana 

proses terjadinya kegiatan tersebut (Setiyadi, 2006: 239). Teknik pengumpulan 

data dengan observasi ini peneliti gunakan untuk mengamati objek penelitian di 

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren Hubulo Tapa. 

b. Wawancara/Interview 

Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang 

berlangsung secara lisan di mana terjadinya pertemuan antara dua orang atau 

lebih untuk mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-

keterangan (Narbuko dan Achmadi, 2005: 83). Secara spesifik, wawancara 

terbagi menjadi tiga, yaitu; wawancara terstruktur, wawancara semiterstruktur, 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   71                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

dan wawancara tak berstruktur. Adapun pada penelitian ini, menggunakan 

pedoman wawancara jenis pertama, yaitu pedoman wawancara terstruktur 

dengan menyusun instrumen wawancara. Dalam penelitian ini digunakan teknik 

wawancara untuk memperoleh jawaban penelitian dari sumber data primer 

berupa implementasi metode pembelajaran bahasa Arab di kedua pondok 

pesantren tersebut. 

c. Dokumentasi 

Teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui arsip-arsip 

dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat teori, dalil, hukum-hukum dan 

lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Margono, 2010: 38). 

Dokumentasi juga digunakan untuk menunjang kelengkapan data lainnya seperti 

pengambilan gambar atau video. Sebagaimana menurut Sugiyono, dokumentasi 

atau studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi 

dan interview dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi dan 

interview akan lebih kreadible apabila dapat dilampirkan dengan dokumen 

pendukung (Sugiyono, 2013: 330). Melalui teknik pengumpulan data 

dokumentasi, peneliti dapat mengumpulkan data di Pondok Pesantren Salafiyah 

Syafi`iyah Pohuwato dan Pesantren Hubulo Tapa.. Dokumen tersebut berupa 

dokumen profil kedua pondok pesantren tersebut.   

Teknik Analisis Data 

Adapun dalam penelitian ini, menggunakan aktivitas dalam analisis, yaitu: 

(Sugiyono, 2013: 334-339). 

a. Reduksi Data (Data Reduction) 

Mereduksi data berarti menentukan hal-hal yang pokok, merangkum, dan 

memfokuskan pada hal-hal yang penting dicari tema dan polanya (Sugiyono, 

2013: 337). Setelah data dikumpulkan, maka dibuatlah reduksi data guna memilih 

data yang relevan dan bermakna, memfokuskan data yang mengarah untuk 

memecahkan masalah, penemuan, pemaknaan, atau untuk menjawab pertanyaan 

peneliti kemudian menyederhanakan dan menyusun secara sistematis dan 

menjabarkan hal-hal penting tentang hasil temuan dan maknanya. Pada tahap ini 

peneliti akan menyeleksi data dari hasil wawancara, observasi dan studi 

dokumentasi dengan cara memfokuskan pada data yang berkenaan dengan 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   72                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

permasalahan penelitian. Sedangkan data yang tidak berkaitan dengan masalah 

penelitian dibuang. Dengan kata lain, reduksi data digunakan untuk analisis yang 

menajamkan, menggolongkan, mengarahkan dan membuang yang tidak penting, 

serta mengorganisasikan data sehingga memudahkan untuk ditarik kesimpulan. 

b. Penyajian Data (Data Display) 

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan 

display atau menyajikan data. Penyajian data merupakan tahap kedua setelah 

mereduksi data. Penyajian data dapat berupa uraian singkat, bagan, hubungan 

antara kategori, flowchart, dan sejenisnya (Sugiyono, 2014: 224). Yang paling 

sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah 

dengan teks yang bersifat naratif. Dengan menyajikan data, maka akan 

memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja 

selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut (Sugiyono, 2013: 339).
 

Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan kumpulan data atau informasi secara 

sistematis dan jelas untuk membantu proses analisis. Dalam hal ini, akan 

digunakan penyajian data dalam bentuk naratif untuk memudahkan penguasaan 

data dan informasi baik secara keseluruhan atau begian-bagian tertentu dari hasil 

penelitian. 

c. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusing Drawing dan Verification) 

Pada tahapan akhir yang dilakukan oleh peneliti dalam kaitannya dengan 

rangkaian proses kegiatan analisa data adalah penarikan kesimpulan. 

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono, dalam memahami penelitian 

kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi (Sugiyono, 2014: 99). 

Kesimpulan penelitian ini diharapkan mendapatkan temuan baru yang berupa 

deskripsi atau gambaran objek yang sebelumnya masih belum jelas menjadi 

jelas, baik berupa hubungan kausal atau interaktif, maupun hipotesis atau teori. 

Kemudian peneliti akan menyajikan data-data yang telah dikumpulkan dengan 

metode deskriptif analitik, cara berpikir induktif maka hasil temua dapat 

disajikan secara lebih akurat dan dapat dideskripsikan dengan sistematika yang 

jelas dan baik. 

 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   73                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

 

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Hasil 

Pembelajaran Bahasa Arab di PondokPesantren SalafiyahSyafi`iyah Pohuwato 

Pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato adalah pondok pesantren 

yang telah lama didirikan di Provinsi Gorontalo. Meskipun pondok pesantren Salafiyah 

Syafi`iyah telah memasukkan sekolah-sekolah formal di lingkungan pesantren, namun 

bukan berarti bahwa pondok pesantren tersebut telah meninggalkan pembelajaran kitab-

kitab klasik dan model-model pembelajaran tradisional, karena itu sudah menjadi ciri 

khas dari dulu dan sudah menjadi kebutuhan masyarakat setempat khususnya. Bahkan 

pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini dominan sebagai pondokpesantren 

yang lebih memfokuskan pada pembelajaran kitab dan tidak terlalu begitu menekankan 

kepada santri pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato 

untukmenggunakanbahasa Arab sebagai bahasa aktif dalam komunikasi karena salah 

satu tujuan pondok pesantren ini adalah sebagai tempat untuk pengkaderan ulama. 

Santri pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato mendapatkan pembelajaran 

bahasa Arab dari aspek keterampilan berbicara hanya di madrasah formal saja, 

Sedangkan di lingkungan pesantren, santri lebih dominan dengan pembelajaran kitab 

kuning.  

Untuk pembelajaran kitab kuning, di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah 

Pohuwato dibuatkan sebuah program khusus yang pelaksanaannya pada waktu sore dan 

malam hari. Program ini dinamakan oleh Kiai program Diniyah pondok pesantren 

Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato. Pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato 

mengkombinasikan pesantrennya antara pesantren yang telah memasukkan unsur-unsur 

umum dengan mendirikan sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren dan 

pesantren salaf yang masih menerapkan metode pembelajaran klasik dengan 

menjadikan kitab-kitab klasik yaitu kitab kuning sebagaitext book reference dan tidak 

mengajarkan keilmuan umum di lingkungan pesantren kecuali di madrasah formal. 

“Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini jika dilihat termasuk dalam 

kategori pesantren campuran, yaitu pondok pesantren yang mengkombinasikan antara 

pesantren modern dan pesantren salaf. Jika dilihat dengan kacamata pesantren modern, 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   74                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

pesantren ini masih berbau pesantren salaf karena di pesantren ini masih mengajarkan 

kitab-kitab klasik, bahkan dengan model-model pembelajaran yang klasik juga. Jika 

dilihat menggunakan kacamata pesantren salaf, pesantren ini sudah berbau modern 

karena pesantren ini sudah memasukkan unsur-unsur modern seperti pesantren modern 

pada umumnya yaitu sekolah formal MI, MTs dan MA dan kurikulum yang digunakan 

di sekolah formal sepenuhnya mengikuti perubahan sesuai standar Pendidikan Nasional 

dan Departemen Agama.” Begitulah penuturan dari Bapak Khairul Anam, salah satu 

pengajar bahasa Arab di Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato. 

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi Peneliti, berikut adalah metode-

metode pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato 

yang lebih spesifik pada pembelajaran kitab kuning. 

Metode Sorogan 

KH Abd. Ghofir Nawawi, yang ditemui oleh peneliti menuturkan bahwa untuk 

di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini karena kitab yang dipakai lebih 

banyak kitab-kitab klasik, jadi metode pembelajarannya juga menggunakan metode-

metode klasik. Adapun metode pembelajaran tradisional yang digunakan di pondok 

pesantren ini seperti sorogan, yaitu metode pembelajaran kitab di mana kitab yang 

dipelajari dibacakan oleh Kiai terlebih dahulu, kemudian santri bergantian untuk 

membacanya satu per satu. Tidak harus menghapalkan isi kitab tersebut, yang penting 

santri sudah bisa membaca kitab dengan baik dan benar. Beliau menambahkan bahwa 

dengan metode sorogan ini, santri akan maju satu per satu untuk membacakan kitab di 

hadapan beliau. Sehingga beliau dapat lebih mengenal dan mengetahui perkembangan 

santri tersebut secara satu per satu. 

 

 

 

 

  

 

  Gambar 1. Pembelajaran dengan Metode Sorogan 

   di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Pohuwato 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   75                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Berdasarkan hasil observasi peneliti, inti dari metode sorogan ini adalah 

berlangsungnya proses belajar mengajar secara face to face antara Kiai dan santri. 

Termasuk dalam pembelajaran individual, di mana seorang santri berhadapan dengan 

seorang guru dan terjadi interaksi saling mengenal antara keduanya. Dengan metode 

seperti ini, Kiai secara pasti akan mengetahui kualitas santri didiknya. Akan tetapi 

metode ini membutuhkan waktu yang sangat banyak karena seluruh santri harus maju 

satu per satu menghadap Kiai. 

Metode Wetonana atau Bandongan 

Kemudian metode yang kedua, yang digunakan dalam program Diniyah di 

pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato adalah metode wetonan. Metode 

wetonan ini adalah metode di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di 

sekeliling Kiai yang menerangkan pelajaran dalam kitab, santri menyimak kitab 

masing-masing dan membuat catatan pada kitab tersebut. Istilah wetonan ini di Jawa 

Barat disebut dengan bandongan. 

Berdasarkan hasil observasi peneliti, dengan metode bandongan atau wetonan 

santri duduk kemudian memegang kitab yang akan dibahas. Ustaz/Kiai akan 

membacakan kitab yang dibahas tersebut di depan santri dan santri menyimaknya, 

kemudian Ustaz/Kiai akan menerjemahkan secara perkata dan memberikan keterangan 

terhadap kata-kata baru dan sulit yang ada di dalam pembahasan tersebut. Ustaz/Kiai 

juga akan menjelaskan terlebih mengenai kaidah-kaidah kebahasaannya seperti Nahwu 

dan Ṣarf. Santri tidak harus maju satu per satu untuk menyetorkan bacaan apalagi 

hapalannya kepada Ustaz/Kiai. 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Pembelajaran dengan Model Bandongan/Wetonan  

di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Pohuwato 

Menurut penulis, metode pembelajaran seperti ini begitu praktis dan cepat, 

tidak membutuhkan waktu yang banyak seperti metode sorogan. Akan tetapi dengan 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   76                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

metode seperti ini, Kiai atau Ustaz tidak akan dapat mengetahui perkembangan 

kemampuan santri didiknya karena santri hanya belajar secara bersama-sama atau 

kolektif tanpa belajar individu seperti metode sorogan. 

Metode Pasaran atau Kilatan 

Metode pembelajaran pasaran adalah metode pembalajaran melalui pengkajian 

materi atau kitab tertentu pada seorang Kiai atau Ustaz yang dilakukan oleh sekelompok 

santri dalam kegiatan selama tenggang waktu tertentu. Pada umumnya dilakukan pada 

bulan Ramadhan selama setengah bulan, 20 hari atau terkadang satu bulan. Tergantung 

pada tebalnya halaman kitab yang dikaji. Metode ini lebih mirip dengan metode 

bandongan, tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesainya kitab sesuai waktu 

yang telah ditentukan. Jadi dalam metode ini, yang menjadi titik beratnya terletak pada 

pembacaan bukan pada pemahaman sebagaimana pada metode bandongan. Seperti yang 

dinyatakan oleh KH. Abd. Ghofur Nawawi, istilah metode pasaran juga biasanya 

disebut dengan istilah kilatan. 

Metode Hapalan atau Tahfiz 

Di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato ini dalam pembelajaran 

kitab kuning juga menggunakan metode hapalan yang dikombinasikan dengan metode 

sorogan. Seperti yang diungkapkan oleh Kiai Ghofur, dalam mengajarkan kitab 

mengenai Nahwu dan Ṣarf beliau menggunakan metode sorogan kemudian beliau 

menggabungkannya dengan metode hapalan yaitu meminta santri untuk menghapalkan 

kitab tersebut. Jadi sebelum menambah materi pembahasan baru dalam kitab tersebut, 

santri akan menghapalkan terlebih dahulu materi pembahasan pada pertemuan 

sebelumnya. 

Kiai akan meminta santri untuk duduk bersila membentuk lingkaran 

menghadap Kiai. Kemudian Kiai akan memulai pembelajaran dengan mulai 

membacakan bab dalam kitab yang akan dibahas dan meminta santri untuk mengikuti 

bacaan beliau secara berjama`ah kemudian disusul dengan terjemahan pembahasan 

yang diberikan oleh Kiai tersebut secara per kata dan menjelaskan kata atau kalimat-

kalimat yang baru atau sulit. Kemudian para santri duduk khusus` mendengarkan Kiai 

sambil memperhatikan kitab masing-masing. Setelah itu, Kiai akan meminta santri 

untuk maju kedepan dengan membawa kitab masing-masing. Santri duduk 

menghadapKiai dan mulai membacakan kitab setelah membaca, santri diminta untuk 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   77                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

menghapalkan Matānal-Jurumiyah yang diajarkan oleh Kiai tersebut. Apabila ada santri 

yang tidak bisa menghapal maka dia akan diberdirikan sampai benar-benar hapal. 

Dari berbagai metode pembelajaran bahasa Arab pada program Diniyah di atas, 

semakin menunjukkan bahwa di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah lebih 

memfokuskan pencapaian keterampilan santri pada aspek qirā`ah saja, sedangkan 

pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah tidak mengadakan program-program kebahasaan 

dan tidak mempunyai metode-metode pembelajaran bahasa Arab dalam meningkatkan 

keterampilan santri terutama pada aspek kalam.  Untuk pembelajaran bahasa Arab di 

pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah penguasaan tata bahasalah yang lebih 

diutamakan. Tata bahasa dipelajari dalam dua pembahasan utama yang dikenal dengan 

Ilmu Nahwu dan Ilmu Ṣarf. Dalam tradisi pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah 

Pohuwato ini, penguasaanbahasa Arab tidak diikuti dengan kesungguhan dalam 

mempelajari ilmu tata bahasa Arab dengan usaha aplikatif untuk mempraktikkan bahasa 

Arab dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berakibat pada minimnya tingkat penguasaan 

santri terhadap mufradāt atau kosa kata bahasa Arab, sehingga tingkat keilmuan 

bahasanya adalah penguasaan bahasa Arab pasif, bukan bahasa aktif. Maksudnya adalah 

bahwa pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato lebih mengutamakan 

penguasaan teks daripada penguasaan praktik. 

“Pembelajaran bahasa Arab di pesantren ini intinya pada tata bahasa atau 

qawāid, Nahwu dan Ṣarf sedangkan untuk percakapan masih tidak terlalu begitu 

ditekankan karena yang difokuskan adalah para santri mampu membaca kitab gundul. 

Untuk hal komunikasi santri di pondok pesantren ini agak terhambat karena memang 

tidak ditunjang oleh pembina, program-program khusus apalagi lingkungan yang dapat 

meningkatkan kemampuan santri dalam berbicara. Sedangkan untuk kemampuan 

mendengar dan menulis, dilatih ketika santri sedang belajar kitab, yaitu ketika Kiai dan 

Ustaz yang lainnya sedang membacakan isi kitab tersebut itu juga terasa tidak terlalu 

efektif.” Diungkapkan oleh Bapak Ali Mukmin, selaku kepala MTs di lingkungan pondok 

pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato dan pengajar kitab kuning di program diniyah pondok 

pesantren. 

Santri di pondok pesantren salaf mempunyai kelebihan mampu memahami teks 

dan penguasaan penerjemahan. Hal ini dipengaruhi oleh kedisiplinan untuk memegang 

gramatika (Nahwu dan Ṣarf) yang diiplementasikan ke dalam penerjemahan kitab-kitab 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   78                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

klasik. Akan tetapi, mempunyai kelemahan pada sisi praktik kebahasaan (komunikasi) 

atau dengan kata lain membentuk pola kebahasaan yang pasif. 

Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren Hubulo Tapa 

Pada Pesantren Hubulo Tapa, bahasa Arab dijadikan sebagai salah satu bahasa 

asing yang harus digunakan sebagai bahasa komunikasi wajib seluruh santri yang 

belajar di pesantren tersebut. Berdasarkan wawancara, observasi dan dokumentasi yang 

dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian menunjukkan bahwa dalam 

perkembangannya, pesantren Hubulo memberikan penguatan pada kemampuan 

berbahasa santri. Kurikulum dikembangkan dengan memasukkan porsiter besar dalam 

mendukung proses belajar pada penguasaan bahasa asing yaitu salah satunyabahasa 

Arab.  

Bahasa Arab di pesantren Hubulo ini berjalan dan berkembang dengan sangat 

baik. Di pesantren ini, bahasa Arab lebih ditekankan sebagai bahasa yang digunakan 

oleh santri dalam berkomunikasi sehari-hari. Hal itu dapat dilihat dari santri yang aktif 

menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi sehari-hari mereka baik di asrama, 

di dapur ataupun di dalam kelas. Sama halnya dengan pondok pesantren modern pada 

umumnya. Selain mendapatkan pembelajaran bahasa Arab secara formal di dalam kelas 

madrasah MTs dan MA, santri juga digodok dan dibiasakan dengan pembelajaran dan 

kegiatan-kegiatan kebahasaan selama 24 jam di lingkungan asrama, yang setiap asrama 

baik asrama putra maupun asrama putri memiliki bagian penggerak bahasa masing-

masing. 

Adapun metode pembelajaran yang digunakan di pesantren Hubulo ini adalah 

bervariasi tetapi tetap berdasarkan pada tujuan dari bahasa itu sendiri di pesantren ini. 

Sama halnya dengan di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato, titik fokus 

peneliti adalah hanya pada model pembelajaranbahasa Arab di lingkungan pesantren 

saja, bukan pada lingkungan madrasah. 

Secara lebih rinci, berikut adalah metode-metode pembelajaran bahasa Arab 

yang digunakan di pesantren Hubulo:  

Pemberian Mufradāt Yaumiyyah (Kosakata Harian) 

Dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab, sebenarnya yang harus 

dikenalkan pertama kali adalah kosa katabaik kata kerja, kata benda maupun kata 

keterangan. Kosa kata merupakan salah satu unsur bahasa yang harus dimiliki oleh 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   79                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

pembelajar bahasa Asing termasuk bahasa Arab. Perbendaharaan kosakata bahasa Arab 

yang memadai dapat menunjang seseorang dalamber komunikasi dan menulis dengan 

bahasatersebut. 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Pemberian Mufradāt Yaumiyyah  

(Kosakata Harian) di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, pelaksanaan 

pemberian mufrodāt yaumiyyah (kosakataharian) rutin di pesantren Hubulo kepada 

santri dilaksanakan setiap hari pada pagi hari dan malam hari menjelang tidur. 

Pemberian kosakata dilakukan oleh bagian penggerak bahasa yang sudah mendapatkan 

bimbingan dari pembina dan pembimbing asrama masing-masing baik putra maupun 

putri. Dalam pemberian kosakata, santri dibagi ke dalam beberapa kelompok 

berdasarkan tingkat kelas di madrasah untuk mengefektifkan waktu pemberian kosakata 

tersebut. Kosakata yang diberikan setiap kelas berbeda-beda tergantung tingkatan kelas 

tersebut. 

Dalam pemberian kosakata rutin ini, sebelumnya setiap bagian penggerak 

bahasa akan menuliskan kosakata yang akan diberikan di papan tulis kecil. Kosakata 

yang diberikan dalam sehari hanya berjumlah dua sampai tiga kosakata saja dan tidak 

lebih, tetapi diberikan dalam tiga bahasa salah satunya bahasa Arab. 

Pemberian Muhādaṡah Yaumiyyah (Percakapan Harian) dan Ungkapan Harian 

(Idiom) 

Pemberian muhādaṡah di pesantren Hubulo dilaksanakan setiap hari sama 

halnya dengan pemberian mufradāt. Akan tetapi, untukpemberian muhādaṡah diberikan 

setiap selesai salat Subuh. Untuk santri putri, mereka akan dipandu oleh santri senior 

kelas 6 TMI untuk bercakap-cakap dengan teman sesama mereka sedangkan bagian 

penggerak bahasa putri bertugas untuk mengawasi proses pemberian muhādaṡah 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   80                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

tersebut. Sedangkan bagi santri putra, mereka dipandu oleh bagian penggerak bahasa 

putra.  

 

 

 

 

 

 

 

         Gambar 4. Pemberian Muhādaṡah Yaumiyyah 

        (Percakapan Harian) Santri Putri di Pesantren Hubulo Tapa 

 

 

 

 

 

 

  

                         Gambar 5. Pemberian Muhādaṡah Yaumiyyah 

 (Percakapan Harian) Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Adapun pemberian ungkapan harian dengan berbahasa Arab dan berbahasa 

Inggris kepada santri dilaksanakan pada hari jum`at pagi (seminggu sekali) yaitu ketika 

sebelum melakukan olahraga pagi baik senam dan lari pagi. Dalam pemberian ungkapan 

harian, seluruh santri diminta untuk berbaris rapi di depan asrama berdasarkan kelas 

masing-masing. Kemudian seluruh penggerak bahasa maju ke depan para santri dan 

berbaris rapi menghadap santri. Penggerak bahasa inilah yang akan memandu dan 

memberikan ungkapan harian kepada santri dengan menggunakan bahasa salah satunya 

adalah bahasa Arab. Kemudian setelah itu bagian penggerak bahasa akan menuliskan 

ungkapan tersebut di papantulis sehingga santri dapat melihat dan mengetahui 

tulisannya dan santri diminta satu per satu untuk menghapalkan ungkapan harian 

tersebut dan menyetorkannya kepada bagian penggerak bahasa. 

 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   81                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Pemberian Ungkapan Harian (Idiom) 

di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Muhāḍarah (Latihan Pidato Berbahasa Arab) 

Muhāḍarah merupakan sarana latihan berpidato bagi para santri yang rutin 

diadakan setiap minggu. Dalam muhāḍarah, santri akan dibiasakan untuk berpidato 

tidak hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia saja, tetapi juga bahasa Inggris dan 

terutama bahasa Arab. Muhāḍarah harus diikuti oleh seluruh santri yang berada di 

pesantren Hubulo baik di asrama putra maupun asrama putri, khususnya tingkat 1 

sampai dengan tingkat 4. Sedangkan santri tingkat 5 dan 6 dijadikan sebagai 

pembimbing dan pengurus yang akan bertanggung jawab atas muhāḍarah, 

menggantikan peran guru.  

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Muhāḍarah (Latihan Pidato Berbahasa Arab) 

Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Pada pelakasanaannya beberapa santri ditugaskan sebagai mutakallim atau 

pembicara yang menyampaikan pidato. Mutakallim diberikan tugas menyiapkan bahan 

pidato yang akan disampikanya itu seminggu sebelum tampil sebagai pembicara. 

Adapun materi yang akan dibawakan harus ditulis di buku album tersendiri dan 

disetorkan kepada bagian pengajaran yang bekerjasama dengan bagian penggerak 

bahasa. Kemudian, setelah buku tersebut dikembalikan oleh bagian pengajaran dan 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   82                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

setelah pidato yang dibuat oleh santri tersebut dikoreksi oleh bagian pengajaran, maka 

santri harus menghapalkan pidatonya tersebut. Apabila ada santri yang tidak bisa 

menghapalkan pidatonya sama sekali, maka dia akan dimasukkan ke dalam mahkamah 

santri dan akan diberikan sanksi. Kemudian setelah pembicara selesai menyampaikan 

pidatonya, santri yang hadir akan ditunjuk untuk mengambil inti sari dari salah satu 

pembicara. 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Muhāḍarah (Latihan Pidato Berbahasa Arab) 

Santri Putri di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Muhāḍarah ini diadakan guna melatih mental santri agar terbiasa berpidato di 

depan umum ketika santri terjun ke tengah masyarakat kelak. Dengan adanya 

muhāḍarah pula, maka akan diketahui kemampuan santri dalam menggunakan bahasa 

Arab yang baik. Memang para santri sehari-harinya menggunakan bahasa Arab, namun 

belum pasti telah menggunakan bahasa Arab yang baik dan betul. Maka ketika dalam 

pelaksanaan muhāḍarah diharuskan menggunakan bahasa Arab yang baik dan benar 

serta sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang berlaku. 

Mahkamah dan Sanksi Pelanggaran Bahasa 

Salah satu bentuk untuk mempertahankan kelangsungan pada peraturan adalah 

dengan membentuk mahkamah. Aturan yang diberlakukan adalah adanya ketentuan 

untuk tidak boleh berbahasa daerah dan bahasa Indonesia, demikian pula praktik 

berbahasa harus sesuai dengan hari yang telah ditentukan. Kalaupun peraturan ini 

ditetapkan tetapi tidak diawasi, maka akan menjadisia-sia. Oleh sebab itu, di pesantren 

Hubulo memiliki aturan kemudian dipertahankan dengan melaksanakan mahkamah dan 

memberikan sanksi bagi para pelanggar.  

 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   83                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Mahkamah dan Pemberian Sanksi 

Santri Putri di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Pesantren ini memberikan sanksi bagi santri yang melanggar bahasa dalam 

bentuk makhamah bahasa. Bagi santri yang ketahuan menggunakan bahasa Indonesia di 

lingkungan pesantren ini, maka santri tersebut akan mendapati namanya berada di 

deretan nama-nama pelanggar bahasa dan akan disidang di dalam makhamah. Tidak 

hanya pelanggaran berupa berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja maka santri 

akan masuk mahkamah kemudian diberi sanksi, akan tetapi selain dari itu untuk 

pelanggaran seperti santri tidak berbahasa sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, 

santri tidak mengikuti pemberian mufradāt, muhādaṡah, muhāḍarahdan berbagai 

kegiatan bahasalainnya, santri tidak menghapalkan mufradāt, muhādaṡah, dan 

muhāḍarah, santri terlambat mengikuti kegiatan kebahasaan dan pelanggaran-

pelanggaran lain yang berkaitan dengan bahasa. Maka akan dengan terang-terangan 

nama santri tersebut dipanggil ketika pelaksanaan mahkamah. 

Untuk sanksi yang akan diberikan kepada santri yang melanggar di pesantren 

Hubulo adalah bervariasi, tergantung pada jenis pelanggaran yang diperbuat oleh santri 

tersebut. Akan tetapi pesantren Hubulo menerapkan sanksi yang bersifat edukatif. 

Seperti contohnya pada awalnya sanksi bagi santri putra yang melanggar bahasa adalah 

dibotak, kemudian sanksi tersebut dirubah dengan sanksi dalam bentuk hapalan baik 

berupa hapalan ayat-ayat Alquran atau buku-buku berbahasa Arab, agar santri tersebut 

dalam belajar dari kesalahan yang telah dia perbuat. Karena dengan model hukuman 

seperti sebelum-sebelumnya malah hanya akan menumbuhkan benih-benih kebencian di 

hati santri terhadap yang telah memberikan sanksi tersebut kepadanya. Bukan malah 

memberikan efek jera. 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   84                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9. Mahkamah dan Pemberian Sanksi 

Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Selanjutnya, untuk mengetahui jika ada santri yang melanggar, di pesantren ini 

pengurus OSPH baik putra maupun putri dalam setiap bagian tidak hanya bagian 

penggerak bahasa saja bekerja sama dengan seluruh santri agar dapat mengawasi 

sesama teman. Tidak hanya santri junior saja yang akan mendapatkan sanksi apabila 

ketahuan melanggar, tetapi juga dengan santri senior dengan sanksi yang 

dilipatgandakan. 

Lomba-Lomba dan Model Pembelajaran Tambahan 

Selain pemberian mufradāt, muhādaṡah, pelaksanaan muhāḍarah, adanya 

mahkamah dan pemberian sanksi dan juga pemberian ungkapan harian, di pesantren 

Hubulo ini guna untuk membantu menunjang santri dalam belajar dan membiasakan diri 

dengan berbahasa, pesantren Hubulo berusaha untuk menghadirkan model-model 

pembelajaran dan pembiasaan berbahasa yang bervariasi agar dapat mengatasi 

kebosanan santri dalam belajar bahasa. 

Pesantren Hubulo mengadakan lomba-lomba yang bertujuan sebagai pemacu 

motivasi santri. Adapun lomba-lomba yang diadakan oleh pesantren Hubulo adalah 

misterius kata bahasa Arab dan Inggris dan lomba mengeja kata bahasa Arab dan 

Inggris yang juga berguna untuk mengevaluasi pengetahuan mufradāt santri. Kemudian 

ada pula lomba debat bahasa Arab, drama bahasa, pesona bahasa, lomba berpidato, 

bernyanyi dalam bahasa Arab, lomba menulis kaligrafi, dan juga selain lomba-lomba 

itu, pesantren Hubulo juga selalu mengutus perwakilan santri dalam mengikuti lomba-

lomba seperti debat bahasa Arab dan Inggris, kaligrafi dan lomba qirā`ah al-kutub 

(membaca kitab-kitab kuning) dalam perlombaan nasional. Semua dilakukan dengan 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   85                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

harapan agar dapat memotivasi santri untuk selalu belajar dan melatih kebahasaan 

mereka dengan lebih baik lagi. 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10 dan 11. Lomba Misterius Kata 

Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa 

 

 

 

 

 

 

  

    Gambar 12. Lomba Baca Puisi Bahasa Asing 

Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Selain dengan model lomba, santri juga belajar dan dibiasakan berbahasa Arab 

dengan adanya pemberian informasi atau pengumuman dengan menggunakan bahasa 

Arab di asrama. Tidak ada informasi yang disampaikan dengan menggunakan bahasa 

Indonesia. Bahkan sejak santri menjadi santri baru, santri tersebut sudah terbiasa 

mendengarkan informasi atau pengumuman yang disampaikan oleh kakak-kakak santri 

senior dengan menggunakan bahasa Arab walau sebelumnya santri tersebut tidak 

mengerti apa arti dari pengumuman tersebut dan itu terjadi setiap hari, sehingga hal itu 

akan teringat-ingat selalu di dalam pikiran santri dan tiba giliran dia yang 

menyampaikan informasi santri tersebut sudah terbiasa.  

 

 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   86                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 13. Kegiatan Rutin Santri Putra Setiap Pagi  

Sebelum Berangkat ke Kelas Pembina dan Pembimbing Asrama 

Akan Bertanya di Depan Gedung Asrama kepada Santri  

Menganai Kosakata  yang Pernah diberikan kepada Mereka 

 

Saat pembelajaran beberapa mata pelajaran pesantren seperti Nahwu, Ṣarf, 

Tafsir Alquran, Balagah, Sejarah Islam, Fikih, Ushul Fikih, Muṭāla`ah dan Muṣṭōlahal-

Hadiṡ baik di MTs dan MA, pesantren menggunakan kitab berbahasa Arab sebagai 

rujukan materi, sehingga santri dapat belajar membaca kitab-kitab berbahasa Arab. 

Selain itu, untuk melatih kemampuan santri dalam membaca, di asrama khususnya di 

asrama putra diadakan pembelajaran kitab atau yang dinamakan komunitas kitab 

kuning. Komunitas kitab kuning biasanya dilaksanakan setiap malamya itu belajar 

Nahwu dengan menggunakan kitab berbahasa Arab, yaitu Nahwu Wāḍih. Selain Nahwu 

juga ada Fikih dan itu dilaksanakan setiap malam bersama pembina asrama. 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 14. Pembelajaran Kitab 

Santri Putra di Pesantren Hubulo Tapa 

 

Berdasarkan metode-metode pembelajaran bahasa Arab yang telah dipaparkan 

di atas, semakin menunjukkan bahwa di pesantren Hubulo bahasa Arab benar-benar 

dijadikan sebagai alat komunikasi sehari-hari santri yang belajar di pesantren tersebut, 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   87                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

bahkan tidak hanya santri, namun juga guru-guru yang mengajar di dalam pesantren 

Hubulo. Adapun metode pembelajaran yang digunakan di pesantren Hubulo adalah 

penunjang untuk mencapai tujuan bahasa itu sendiri. Metode tersebut begitu membantu 

santri dalam membiasakan diri dan melatih diri mereka dengan berbahasa karena 

pesantren Hubulo adalah pesantren yang belajar bahasa tidak hanya sekedar berupa teori 

saja melainkan juga praktik dalam keseharian. 

Kemudian faktor terbesar di balik aktifnya bahasa di pesantren Hubulo yaitu 

karena adanya dukungan lingkungan. Lingkungan pembelajaran menjadi bagian 

terpenting dalam proses pembiasaan dan pembelajaran bahasa Arab di pesantren. 

Dukungan lingkungan dalam sebuah praktik pendidikan menjadi rangsangan untuk 

perkembangan, seperti penggunaan bahasa komunikas sehari-hari di lingkungan 

pesantren. Dasar yang digunakan dalam menerapkan bahasa bukan karena adanya 

kemampuan para santri tetapi terlebih dahulu merupakan usaha dalam pembentukan 

lingkungan. Ada kondisi yang memaksa setiap santri untuk turut dalam aturan ini. 

Ketika itu terbentuk, maka santri secara otomatis mau tidak mau akan menggunaka 

bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan di pesantren.  

Pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato merupakan pondok pesantren 

yang meskipun telah memasukkan sekolah formal dan mata pelajaran umum dengan 

menggunakankurikulum Departemen Agama dan Dinas Pendidikan ke dalam pondok 

pesantren, akan tetapi pondokpesantren ini masih tetapmempertahankan ciri khasnya 

yaitu pembelajaran kitab kuning dengan menggunakan model pembelajaran yang 

tradisional. Bahkan untuk pembelajaran bahasa Arab di lingkungan pondok pesantren 

ini, tujuannya adalah lebih kepada untuk meningkatkan kemampuan santri dalam aspek 

membaca kitab kuning saja. 

Sedangkan pesantren Hubulo Tapa, memiliki tujuan utama dalam pembelajaran 

bahasa Arab yaitu agar santri dapat berkomunikasi aktif dengan menggunakan bahasa 

Arab. Akan tetapi, tidak hanya sebagai bahasa aktif saja, pesantren ini juga membekali 

santri dengan kemampuan untuk belajar bahasa Arab dalam membaca dan memahami 

kitab kuning. 

Adapun perbedaan antara pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato 

dan Pesantren Hubulo Tapa adalah dari segi tujuan pembelajaran bahasa Arab antara 

kedua pondok tersebut sehingga mempengaruhi metode pembelajaran bahasa Arab yang 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   88                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

digunakan di lingkungan pondok pesantren. Karena pondok pesantren Salafiyah 

Syafi`iyah lebih memfokuskan pada pengajaran kitab kuning, maka metode 

pembelajaran yang digunakan juga merupakan penunjang untuk tujuan pembelajaran 

kitab kuning tersebut. Sedangkan pesantren Hubulo adalah pesantren yang lebih 

memfokuskan pada kemampuan santri dalam bercakap dengan menggunakan bahasa 

Arab, maka metode pembelajaran bahasa Arab yang digunakan di pesantren Hubulo 

adalah untuk menunjang kemampuan santri dalam bercakap-cakap dengan 

menggunakan bahasa Arab.  

Sedangkan persamaan antara pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Pohuwato 

dan pesantren Hubulo Tapa dalah dalam hal kitab yang digunakan di kedua pondok 

pesantren tersebut ada beberapa kitab yang sama, akan tetapi metode pengajaran kitab 

tersebut berbeda. Adanya perbedaan metode pembelajaran bahasa Arab antara kedua 

pondok pesantren tersebut adalah hal yang lumrah. Bukan untuk mencari metode 

pembelajaran bahasa Arab mana yang benar dan mana yang salah apalagi mana yang 

bagus dan mana yang tidak, hal itu terjadi semata-mata tujuan dari pembelajaran bahasa 

Arab di masing-masing pondok pesantren tersebut. 

Pembahasan 

Metode Pembelajaran Bahasa Arab 

Secara etimologi istilah metode berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata 

“metodos” yang berarti cara atau jalan. Sedangkan secara semantik, metode berarti cara-

cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif 

dan efisien (Izzan, 2009: 72). Ibnu Khaldun berkata, “Sesungguhnya pengajaran itu 

merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kecermatan 

karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan 

ketelatenan, sehingga menjadi cakap dan professional.” Penerapan metode pengajaran 

tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi 

pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai 

tentang metode itu. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya 

proses pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat 

aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar 

tentang karakteristik suatu metode.  



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   89                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Pembelajaran adalah suatu peristiwa atau situasi yang sengaja dirancang dalam 

rangka membantu dan mempermudah proses belajar dengan harapan dapat membangun 

kreatifitas siswa. Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang untuk 

menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam individu (Sadiman dkk, 1986: 7). Dalam 

pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana agar terjadi proses 

belajar dalam diri peserta didik. Sedangkan menurut Depdiknas, dalam UU No.20 

Tahun 2003 tentang Sikdiknas Pasal 1 Ayat 20, Pembelajaran adalah proses interaksi 

peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar 

(Bambang, 2008: 85). 

Berdasarkan pengertian di atas dapat dilihat bahwa pembelajaran bukan sekedar 

transfer ilmu dari guru kepada siswa, melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi 

interkasi antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Pembelajaran 

hendaknya tidak menganut paradigma transfer of knowledge, yang mengandung makna 

bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Tapi upaya untuk membelajarkan siswa 

ditandai dengan kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan model untuk 

mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan pemilihan, penetapan, dan pengembangan 

metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Oleh karena itu 

pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk 

membelajarkan siswa itulah sebabnya dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi 

dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan 

sumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga 

pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa, dan bukan apa 

yang dipelajari siswa dan dipahami siswa. 

Adapun bahasa Arab merupakan alat komunikasi yang berupa kata secara tulisan 

maupun lisan digunakan oleh orang bangsa Arab dalam mengungkapkan hal yang ada di 

hati, otak, dan benak mereka (Nasir, : 23). Dengan turunnya Al-Qur’an membawa kosa 

kata baru dengan jumlah yang luar biasa banyaknya menjadikan bahasa arab menjadi 

suatu bahasa yang paling sempurna, baik dalam kosa kata, makna, gramatikal, dan ilmu-

ilmu lainnya. 

Di Indonesia bahasa Arab bisa jadi sebagai bahasa kedua bisa juga sebagai 

bahasa Asing. Bahasa Arab bukan merupakan bahasa pergaulan sehari-hari, maka bagi 

lingkungan atau masyarakat pada umumnya Indonesia, bahasa Arab merupakan bahasa 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   90                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Asing. Di sekolah-sekolah bahasa Arab tidak digunakan sebagai bahasa pengantar 

dalam pembelajaran, tetapi sebagai mata pelajaran yang terdiri dari beberapa materi. 

Secara formal bahasa Arab merupakan bahasa asing. Karena sebagai bahasa yang 

tergolong asing, sistem pembelajaran bahasa Arab adalah bahasa asing, mulai dari 

tujuan, materi, sampai kepada strategi dan metode pembelajaran.  

Dalam pembelajaran bahasa Arab, ada komponen-komponen yang disebut 

dengan aspek kebahasaan dan aspek keterampilan berbahasa. Aspek kebahasaan berupa 

unsur-unsur bahasa yang terdiri dari tata bunyi (fonologi/ `ilm al-aṣwāt), tata kata 

(morfologi/`ilm aṣ-ṣarf), tata kalimat (sintaksis/`ilm nahwu), tata tulis (kitābah), dan 

kosa kata (al-mufradāt). Sedangkan aspek keterampilan berbahasa terdiri dari empat 

keterampilan dan keempat keterampilan ini memiliki hubungan erat satu sama lain.  

Farhatul Atiqoh, mengelompokkan empat keterampilan tersebut menjadi dua 

kelompok, yaitu: (1) keterempilan reseptif untuk keterampilan pemahaman yang berisi 

keterampilan menyimak (mahārotu al-istimā`/listening skill) dan keterampilan 

membaca (mahārotul al-qirō`ah/reading skill), dan (2) keterampilan produktif untuk 

keterampilan pengungkapan pikiran yang berisi keterampilan berbicara (mahārotul 

kalām/speaking skill) dan keterampilan menulis (mahārotul kitābah/writing skill 

(Atiqoh, 2016: 179-212). Setiap ketrampilan itu erat kaitanya satu sama lain, sebab 

dalam ketrampilan berbahasa mencerminkan pikiranya. Semakin terampil orang 

berbahasa semakin jelas dan cerah pula jalan pikirannya. Pada awalnya seorang anak 

belajar dari menyimak perkataan orang tuanya. Kemudian anak akan mampu berbicara 

setelah menyimak apa yang diajarkan oleh orang tuanya, setelah itu barulah ia belajar 

membaca dan menulis. Sebenarnya ke empat ketrampilan berbahasa ini adalah satu 

kesatuan yang sangat berkaitan. 

Ada tiga kompetensi yang hendaknya dicapai dalam pembelajaran bahasa Arab. 

Tiga kompetensi yang dimaksud adalah: (1) kompetensi kebahasaan, maksudnya adalah 

pembelajar mampu menguasai sistem bunyi bahasa Arab, baik cara membedakannya 

dan pengucapannya, mengenal struktur bahasa, gramatika dasar aspek teori dan fungsi; 

mengetahui kosa kata dan penggunaannya, (2) kompetensi komunikasi, maksudnya 

adalah pembelajar mampu menggunakan bahasa Arab dalam mengungkapkan ide-ide 

dan pengalaman dengan lancar, dan mampu menyerap yang telah dikuasai dari bahasa 

secara mudah, (3) kompetensi budaya maksudnya adalah memahami apa yang 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   91                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

terkandung dalam bahasa Arab dari aspek budaya, mempunyai pemahaman terhadap 

budaya Arab, baik berupa pemikiran, nilai-nilai, adat, etika, maupun seni.  

Bahasa Arab telah menunjukkan signifikansi dan urgensinya di mata dunia, yaitu 

menjadi wahana komunikasi dan ajang interaksi di forum-forum internasional, dan kini 

bahasa Arab sudah diikuti menjadi bahasa yang sejajar dengan bahasa-bahasa dunia 

lainnya (Bahriah, 2008: 2). Hal ini membuktikan bahwa kedudukan tinggi bahasa Arab 

dan memiliki peranan penting dalam dunia internasional. Mata pelajaran Bahasa Arab 

merupakan suatu mata pelajaran yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, 

mengembangkan, dan membina kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhadap 

bahasa Arab baik reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan 

untuk memahami pembicaraan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan 

produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi baik secara 

lisan maupun tulis.  

Maka pembelajaran bahasa Arab adalah aktivitas penyampaian ilmu 

pengetahuan mengenai bahasa Arab oleh seorang pendidik kepada peserta didik yang 

bertujuan agar peserta didik dapat memahami dan menguasai bahasa Arab serta dapat 

mengembangkannya menjadi kompetensi dalam keterampilan berbahasa. Adapun 

pendidik yang dimaksud, menurut peneliti adalah pendidik yang memang memiliki 

kompetensi dan performansi dalam pembelajaran bahasa Arab. 

Supaya proses pembelajaran bahasa Arab dapat terlaksana dengan baik, maka 

pendidik melakukan perencanaan yang matang mengenai proses pembelajaran tersebut, 

yang di dalamnya menyangkut pendekatan kemudian dituangkan ke dalam strategi 

pembelajaran, dan diimplementasikan dengan menggunakan metode-metode yang 

bervariasi sesuai dengan materi dan tujuan yang telah ditetapkan. Serangkaian tahap 

tersebut terhimpun di dalam metodologi pembelajaran bahasa Arab. 

Dari pendapat di atas dapat kita simpulkan metode pembelajaran bahasa Arab 

ialah sistem atau cara yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab agar pelajaran 

atau materi yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik. Secara 

sederhana, metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam, 

yaitu: pertama, metode tradisional/klasikal dan kedua, metode modern. Metode 

pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang 

terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   92                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

belajar secara mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab, baik aspek 

gramatika/sintaksis (Qowaid Nahwu), morfem/morfologi (Qowaid As-Sharf) ataupun 

sastra (adab). Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut 

adalah metode qowaid dan tarjamah. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad, 

bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya pesantren salafiah 

masih menerapkan metode tersebut (Nazarudin, 2007: 187). 

Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang 

berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya, bahasa Arab dipandang sebagai 

alat komunikasi dalam kehidupan modern, sehingga inti belajar bahasa Arab adalah 

kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami 

ucapan/ungkapan dalam bahasa Arab. Metode yang lazim digunakan dalam 

pembelajaran adalah metode langsung (thariqah al–mubasyarah). Munculnya metode 

ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh karena itu harus 

dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa (Nazarudin, 

2007: 195). 

Guru harus memikirkan metode yang tepat dalam menyampaikan bahan 

pelajaran. Untuk mengajarkan suatu mata pelajaran, tidak cukup hanya dengan 

menggunakan satu metode saja. Tepat tidaknya guru dalam memilih metode 

pembelajaran adalah salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran. Metode 

adalah bentuk implementasi dari strategi pembelajaran yang telah disusun berdasarkan 

pendekatan pembelajaran yang digunakan. Sedangkan pendekatan pembelajaran harus 

sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Sehingga metode pembelajaran 

yang digunakan sangat bergantung pada strategi, pendekatan, materi dan tujuan 

pembelajaran.  

Dari hasil observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti, 

Metode pembelajaran bahasa Arab yang digunakan pada dua pesantren bercorak Salafi 

dan Khalafi diatas berbeda. Hal ini didasarkan oleh perbedaan tujuan pembelajaran 

bahasa Arab diajarkan pada kedua Pesantren tersebut. Bahasa Arab diajarkan pada 

Pesantren Salafi-Safi’yah dimaksudkan untuk mendalami dan menguasi kitab kuning. 

Penguasaan kompetensi bahasa gramatika dan struktur bahasa sangat membantu para 

Guru dan Santri dalam proses memahami sebuah karya klasik para ulama terdahulu 

yang dituliskan dengan struktur dan gramatika bahasa Arab yang kompleks dan rumit. 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   93                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Olehnya metode-metode tradisional sangat akrab dan masih dipertahankan dalam 

mengajarkan Bahasa Arab pada setiap santri di pesantren ini. 

Berbeda dengan pesantren Salafi-Syafi’iyah Pohuwato, Pesantren Hubulo adalah 

pesantren yang menganut sistem pondok pesantren Modern atau biasanya disebut 

pesantren Khalaf. Pondok pesantren ini menerapkan metode yang lebih komunikatif 

pada santrinya. Pembelajaran bahasa arab lebih pada unsur kreativitas seseorang dalam 

mengekspresikan suatu bahasa. Bahasa Arab dimaksudkan agar Santri mampu 

berkomunikasi dan dipat digunakan dalam percakapan sehari-hari antar Santri maupun 

Guru pada pesantren tersebut. Bahasa arab dititikberatkan pada kemampuan verbal 

santri untuk mengungkapkan idenya kepada orang lain. Sehingga metode yang 

dikembangkan di pesantren ini adalah metode komukatif dan praktis. 

 

D. SIMPULAN 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pesantren Salafiyah 

Syafi`iyah Pohuwato merupakan pesantren yang bercorak Salafi dengan pembelajaran 

bahasa Arab di pondok pesantren tersebut yang hanya terfokus pada pembelajaran 

gramatika atau kaidah tata bahasa Arab (Nahwu dan Ṣarf) yang diaplikasikan dalam 

pembelajaran kitab kuning, sehingga pembelaran bahasa Arab di pondok pesantren 

tersebut adalah bersifat pasif. Metode pembelajaran yang digunakan pula adalah 

kebanyakan metode pembelajaran tradisional, seperti Sorogan, Bandongan, Wetonan, 

Pasaran/Kilatan. Sedangkan pesantren Hubulo Tapa adalah pesantren bercorak khalafi 

dengan pembelajaran bahasa Arab aktif yaitu tidak hanya sekedar teori dan 

pembelajaran kaidah tata bahasa saja, tetapi penerapan bahasa Arab sebagai bahasa 

dalam komunikasi sehari-hari santri dengam metode pembelajaran yang lebih modern, 

yaitu Pemberian mufradāt yaumiyyah (kosakata harian) rutin, pemberian muhādaṡah 

yaumiyyah (percakapan harian) rutin dan ungkapan harian (idiom) dan muhāḍarah 

(latihan pidato berbahasa Arab). 

 

 

 

 

 

 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   94                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

DAFTAR PUSTAKA 

 

Ali, A. Pesantren dan Pengembangan Masyarakat. Yogyakarta: LkiS, 2005. 

Arief, A. Reformulasi Pendidikan Islam. Jakarta: CRSD Press, 2005. 

Arifin, M. KapitaSelekta Pendidikan Islam. Jakarta: BumiAksara, 2003. 

Arsyad, A. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya Beberapa Pokok Pikiran. 

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010. 

Atiqoh, F. Teknik Maudhu` Usbu`iy Sebagai Alternatif untuk Meningkatkan 
Penguasaan Keterampilan Reseptif dn Produktif Bahasa Arab. Proceedings of  
Seminar Nasional Bahasa Arab HMJ Sastra Arab Fakultas Satra Universitas 
Negeri Malang, 2016. 

Azra, A. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. 

Jakarta: Kencana, 2012. 

Bahriah, S. dkk. Afaq `Arabiyyah. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2008. 

Bakri, N. Praktis dan MetodologiPenelitian. Jakarta: PedomanIlmu Jaya, 1994. 

Bambang, W. Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka 
Cipta, 2008. 

Chairul, F. “Pembelajaran Bahasa Arab di PondokPesantren Modern dan 

PesantrenTradisional (Study KomparatifantaraPondokPesantrenAs`ad dan 

PondokPesantrenSa`adatuddarai Kota Jambi)”. Tesis Program Studi Pendidikan 

Islam Konsetrasi Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Islam Negeri 

SunanKalijaga Yogyakarta, 2015. 

Daulay, H. P. Sejarah Pertumbuhan, dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. 
Jakarta: Kencana Prenada Media, 2007. 

Dhofier, Z. TradisiPesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES, 

1982.  

Effendy, A. F. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat, 2009. 

Efendi, N. Manajemen Perubahan di PondokPesantren (Kontruksi Teoritik dan Praktik 

Pengelolaan Perubahan sebagai Upaya Pewarisan Tradisi dan Menatap 

Tantangan Masa Depan. Yogyakarta: Kalimedia, 2016. 

Haedari, A. Mengembangkan Pendidikan Pesantren Berbasis Tradisi. Jurnal Pondok 

Pesantren Departemen Pendidikan Diniyah dan PondokPesantren. Vol  4, No. 

2, Vol. 2, 2006. 

Hasan, M. A dan Mukti, A. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Jakarta: 

PedomanIlmu Jaya, 2003. 

Hilmy, M. Pendidikan Islam dan TradisiIlmiah. Malang: Madani, 2016. 

Izzan, A. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora, 2009.. 

Kusdiana, A. Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran dan Jaringannya di Wilayah 

Priangan. Bandung: Humaniora, 2014. 

Mastuhu. DinamikaSistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian TentangUnsur dan 

Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS, 1994. 



Syindi Oktaviani R. Tolinggi   95                                                                                                           
Available online at  http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/al 

 
 

 © 2020 Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)  

Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya, 2010. 

Moleong, L. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994. 

Mutohar, A dan Nurul, A. Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam dan 

Pesantren.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. 

Nahrawi, A. Pembaharuan Pendidikan Pesantren. Yogyakarta: Gama Media, 2008. 

Nasir, R. MencariTipologi Format Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus 

Perubahan. Yogyakarta: PustakaPelajar, 2005. 

Nazarudin. Manajemen  Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik, dan 
Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum. 
Yogyakarta :Teras, 2007. 

Sadiman, A. S. dkk. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan 
Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali, 1986. 

Soekamto. Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, Jakarta: IKAPI, 1999.  

Subhan, A. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke-20 Pergumulan Antara 

Modernisasi dan Identitas. Jakarta: Kencana, 2012. 

Tuanaya, A. Malik M. Thahadkk. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Balai Penelitian dan 

Pengembangan Agama, 2007. 

Wahab, Muhbib A. Epistimologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Jakarta: 

Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2008.  

Wekke, Ismail S. Model Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Deepublish, 2014.  

------- dan Mat, B. KepemimpinanTransformatif Pendidikan Islam: Gontor, 

Kemodernan, dan Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: Deepublish, 2016. 

Yahiji, K. Cara MudahMemahami Kitab Gundul: Strategi Pembelajaran Kitab Kuning 

di Pondok Pesantren. Gorontalo: Sultan Amai Press, 2011. 

Yasmadi. Modernisasi Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan 

Islam Tradisional). Jakarta: Ciputat Press, 2002. 

Zaenuddin, R. Metodologi dan Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab. 

Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005. 


