01 arief.pmd christian herdinata & cliff kohardinata, pengaruh regulasi dan kolaborasi terhadap literasi keuangan dalam upaya penerapan financial technology pada usaha kecil dan menengah 135135 pengaruh regulasi dan kolaborasi terhadap literasi keuangan dalam upaya penerapan financial technology pada usaha kecil dan menengah christian herdinata & cliff kohardinata international business management fakultas manajemen dan bisnis universitas ciputra e-mail: christian.herdinata@ciputra.ac.id & ckohardinata@ciputra.ac.id abstract: financial technology (fintech) has provided access to many parties who do not have a bank account to enter the formal business sector. the application of fintech is proven to be able to open greater access to formal financial services, encourage economic growth, and inclusive and sustainable development. to support the application of fintech in indonesia, the purpose of this study is to determine the effect of regulation and collaboration on financial literacy in small and medium businesses in east java indonesia. there are 2 (two) hypotheses from this study, namely regulation has a significant effect on financial literacy and collaboration has a significant effect on financial literacy. this research was conducted through a quantitative approach with a research sample of 148 msmes in surabaya and using technology applications in conducting trade transactions. the analysis technique used is multiple linear regression. the results of this study are that regulation and collaboration have a significant effect on financial literacy. therefore, this research can help many parties, namely the government, entrepreneurs, and consumers in providing a complete and comprehensive understanding related to financial literacy in small and medium enterprises related to the application of financial technology. keywords: financial technology (fintech), financial literacy, regulation, collaboration pendahuluan kementerian ppn/bappenas memandang fintech sebagai salah satu elemen strategis untuk mewujudkan keuangan inklusif, sekaligus dapat menciptakan pembangunan berkeadilan bagi masyarakat miskin. pada 2016, asosiasi fintech indonesia mendata setidaknya terdapat 140 pemain fintech di indonesia. diharapkan dengan semakin meningkatnya literasi keuangan masyarakat indonesia, maka investasi jangka panjang dan penempatan modal pada berbagai sektor produktif ditingkatkan. tiga prioritas pembangunan yang dapat digerakkan oleh pemanfaatan fintech. pertama, mobilisasi modal meningkatkan aktivitas ekonomi kelompok yang kurang terlayani, seperti masyarakat berpenghasilan rendah (mbr) dan usaha kecil menengah (ukm). kedua, mobilisasi uang untuk membiayai infrastruktur dasar, seperti sanitasi dan listrik. ketiga, mobilisasi dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, seperti energi bersih, dan atau membiayai inovasi yang penting dalam rangka peningkatan produksi pertanian dan perikanan. nofita wulansari (2017) mengungkapkan bahwa peran umkm di indonesia menjadi hal yang penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. umkm mampu bertahan dan menyelamatkan perekonomian bangsa ketika terjadi krisis. pada saat ini umkm telah menyesuaikan dengan revolusi industri 4.0 yang terjadi. hal yang paling dominan terlihat yaitu melalui financial technology (fintech) yang digunakan oleh umkm. iman (2016) merangkum definisi fintech sebagai implementasi dan pemanfaatan teknologi untuk peningkatan layanan jasa perbankan dan keuangan. oleh karena itu, fintech business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 136 dapat menjadi solusi seperti diungkapkan oleh anner (2015) bahwa fintech secara garis besar adalah teknologi yang digunakan untuk mengirimkan solusi finansial. hal lain yang menarik yaitu fintech dapat menyebabkan munculnya inovasi disruptif jika tidak diantisipasi dengan baik oleh dunia usaha yang dapat menyebabkan kejatuhan. (hadad, 2017). maka dari itu, menjadi penting untuk menguji pengaruh kolaborasi dan literasi keuangan terhadap penerapan financial technology. kajian pustaka regulasi saat ini banyak negara memiliki lembaga khusus untuk mengendalikan perusahaan di pasar keuangan. misalnya, di inggris ada financial conduct authority (fca), sebuah badan nonpemerintah independen. fca memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengatur perusahaan di sektor keuangan dan menerapkan standar serta persyaratan untuk produk keuangan, termasuk di dalamnya mengatur pemasaran dan keuangan perilaku produk sampai membuat larangan apabila terlihat penerapannya kurang tepat (kalmykova dan tyabova, 2016). kejelasan regulasi dapat berfungsi sebagai dasar untuk sistem pembiayaan non-utang berbasis aset (graff, 2013). struktur keuangan yang dimaksud untuk menghindari kontraktual jangka panjang pengaturan antara pembeli properti dan pemodal properti selain jangka panjang sewa hak kepemilikan pemilikan uang oleh pembeli properti (graff, 2013). kelas baru struktur keuangan memiliki lebih sedikit, dan lebih sederhana, jangka panjang ketentuan yang mirip kontrak daripada contoh-contoh standar dari keuangan yang sesuai syariah dan pembiayaan utang konvensional (graff, 2013). banyak penelitian berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya menjawab tantangan regulasi yang signifikan (philippon, 2016). kolaborasi kolaborasi dengan perusahaan lain dalam suatu ekosistem bisnis akan menghasilkan kompetensi untuk mencapai massa kritis minimum adopter dan probabilitas yang lebih tinggi sehingga produk inovatif terkait keuangan akan mampu berhasil diterapkan (teja, 2017). ekosistem bisnis dan pemerintah perlu mempertahankan kolaborasi peran aktif ini untuk mendorong pembangunan kolaborasi fintech di dalam dan di seluruh ekosistem bisnis. oleh karena itu, transformasi pengguna menjadi pengembang-pengguna dapat membuka peluang baru (overholm, 2014; mckelvey et al, 2015). selanjutnya, mengikat sebuah jaringan pengguna dan mengubah peran pengguna menjadi pengembang maka asumsinya perusahaan akan mendapatkan lebih banyak penerimaan (lu et al, 2014). oleh karena itu, maharesi (2017) mengungkapkan bahwa melalui berkolaborasi maka ekspansi pemanfaatan fintech bagi masyarakat luas dapat bernilai dan berdampak signifikan dalam menggerakkan perekonomian hingga ke lapisan bawah. literasi keuangan secara umum, arti literasi keuangan yaitu sebuah kecakapan atau kesanggupan dalam hal keuangan yang dimiliki oleh seseorang. ketika seseorang memiliki literasi keuangan yang baik (well literate), maka dia akan mampu melihat uang dengan sudut pandang yang berbeda serta mampu mengendalikan kondisi keuangannya. potensial fintech pada industri keuangan untuk menciptakan stabilitas dan akses ke layanan (philippon, 2016). oleh karena itu, proses substitusi teknologi di dalamnya jauh lebih baik untuk mendochristian herdinata & cliff kohardinata, pengaruh regulasi dan kolaborasi terhadap literasi keuangan dalam upaya penerapan financial technology pada usaha kecil dan menengah 137 yang dilihat melalui pengukuran dengan teknik cronbach’s alpha dengan reliabilitas dapat diterima jika cronbach’s alpha ≥ 0,6 (priyatno, 2014:64). teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda. hasil penelitian hasil dari model penelitian ini menunjukkan bahwa uji f signifikan sehingga memenuhi good of fit sebuah model. sampel penelitian terdiri dari 148 usaha kecil menengah di jawa timur indonesia dalam penelitian dan hasil uji f dapat dilihat pada tabel 1.1. tabel 1.1 hasil uji f rong investasi jangka panjang dan penempatan modal pada berbagai sektor-sektor produktif (rong et al., 2013). tantangan terbesar pengembangan inovasi keuangan ini merupakan produk unggulan yang fungsinya diterima dalam kebiasaan penggunaan sistem pembayaran harian pengguna tanpa mengubah kebiasaan pengguna (teja, 2017). oleh karena itu, dalam penelitian ini dibentuk hipotesis penelitian berkaitan dengan regulasi dan kolaborasi serta literasi keuangan, sebagai berikut. h1: regulasi berpengaruh signifikan terhadap literasi keuangan dalam penerapan financial technology. h2: kolaborasi berpengaruh signifikan terhadap literasi keuangan dalam penerapan financial technology. metodologi penelitian subjek penelitian fokus pada umkm yang ada di jawa timur yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling. peneliti memilih sampel dengan convenience sampling sebanyak 148 umkm yang menjadi subjek penelitian. sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data primer melalui kuesioner dan data sekunder. adapun pengukuran data dilakukan dalam penelitian ini menggunakan skala likert. pengukuran validitas adalah kecermatan atau ketepatan tes tersebut dalam menjalankan fungsi ukurnya suryabrata (2000) dalam rahayuni (2015). pernyataan dikatakan valid apabila nilai signifikansi dari korelasinya ≤ 0,05 atau 5% (lingga, 2012). pengukuran reliabilitas untuk melihat pertanyaan kuesioner mampu secara konsisten merefleksikan konstruk yang sedang diukur. sebuah item tertentu dalam kuesioner harus dengan konsisten menghasilkan hal yang relatif sama dengan keseluruhan kasus j model sum of squares df mean square f sig. 1 regression 22.751 2 11.376 43.216 .000b residual 38.168 145 .263 total 60.919 147 a. dependent variable: y_lit b. predictors: (constant), x2_kol, x1_reg berikut merupakan hasil uji t terhadap pengujian pengaruh regulasi terhadap penerapan ilustrasi keuangan ditemukan berpengaruh signifikan dengan nilai 0.001 lebih kecil dari 0.05. oleh karena itu, hipotesis (h1) diterima. selanjutnya, untuk pengujian pengaruh kolaborasi terhadap penerapan financial technology berpengaruh signifikan dengan nilai 0.000 lebih kecil dari 0.05. oleh karena itu hipotesis (h2) diterima. hasil uji t dapat dilihat pada tabel 1.2. tabel 1.2 hasil uji t model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 (constant) 2.202 .168 13.119 .000 x1_reg .201 .061 .299 3.283 .001 (*) x2_kol .255 .064 .364 3.994 .000 (*) keterangan: dependent variable = y_pf (*) = sig. 0.05 business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 138 saling bersinergi dalam meningkatkan literasi keuangan. daftar rujukan arner, douglas w; barberist, janos; & buckley, ross p. 2016. the evolution of fintech: a new post-crisis paradigm? georgetown journal of international law, vol. 47, th. 2016. hyytinen, a., pajarinen, m., & rouvinen, p. 2015. does innovativeness reduce startup survival rates? journal of business venturing, 30, 564-581. hadad, muliaman d. 2017. financial technology (fintech) di indonesia, kuliah umum tentang fintech – ibs, ojk jakarta, 2 juni 2017. iman, nofie. 2016. financial technology dan lembaga keuangan, gathering mitra linkage bank syariah mandiri hotel grand aston yogyakarta, 22 november 2016. ion, alexadra. 2016. financial technology (fintech) and its implementation on the romanian non-banking capital market. practical application of science. vol. iv, issue 2. kalmykova, ekaterina & anna ryabova. 2016. fintech market development perspectives. shs web of conferences, vol. 10. lu, c., rong, k., you, j., & shi, y. 2014. business ecosystem and stakeholders’ role transformation: evidence from chinese emerging electric vehicle industry. expert systems with applications, 41, 45794595. maharesi, yogie. 2017. fintech dan transformasi industri keuangan, departemen komunikasi dan internasional otoritas jasa keuangan, industry.co.id, 2 august 2017. hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh regulasi terhadap literasi keuangan berpengaruh signifikan. hal ini menunjukkan bahwa regulasi memiliki pengaruh dalam peningkatan literasi keuangan. hal ini diungkapkan oleh graff (2013) yang menyatakan bahwa kejelasan regulasi dapat berfungsi sebagai dasar untuk sistem pembiayaan non-utang berbasis asset. oleh karena hal ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah dari segi regulasi. banyak penelitian berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya menjawab tantangan regulasi yang signifikan (philippon, 2016). pengaruh kolaborasi terhadap literasi keuangan berpengaruh signifikan. hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi memiliki pengaruh yang penting dalam peningkatan literasi keuangan. oleh karena itu, transformasi pengguna menjadi pengembang dapat membuka peluang baru (overholm, 2014; mckelvey et al., 2015). maka dari itu, ekosistem bisnis dan pemerintah perlu mempertahankan kolaborasi peran aktif ini untuk mendorong pembangunan kolaborasi fintech di dalam dan di seluruh ekosistem bisnis. kesimpulan penelitian ini menemukan bahwa regulasi dan kolaborasi berpengaruh signifikan terhadap literasi keuangan. hal ini menunjukkan bahwa regulasi dan kolaborasi merupakan hal yang penting dalam upaya peningkatan literasi keuangan dalam penerapan financial technology. oleh karena itu, peran pemerintah dalam pembuatan regulasi dan pihak swasta dan masyarakat yang menjalankan peraturan harus memiliki sinergi sehingga menunjang dalam mengoptimalisasi regulasi. selain itu, kolaborasi yang ada perlu dibangun antara pemerintah, pihak swasta, masyarakat umum dan konsumen untuk dapat christian herdinata & cliff kohardinata, pengaruh regulasi dan kolaborasi terhadap literasi keuangan dalam upaya penerapan financial technology pada usaha kecil dan menengah 139 http://www.pwc.com/id/en/mediacentre/ pwc-innews/2017/indonesian/fintech-dan transformasi-industri-keuangan.html. mckelvey, m., zaring, o., & ljungberg, d. 2015. creating innovative opportunities through research collaboration: an evolutionary framework and empirical illustration in engineering. technovation, 39– 40, 26–36. nofita wulansari, akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui sinergi umkm dan good governance di indonesia, prosiding seminar nasional dan call for paper ekonomi dan bisnis (snaper-ebis 2017) – jember, 27–28 oktober 2017 (hal 262– 268) isbn : 978-602-5617-01-0. overholm, h. 2014. collectively created opportunities in emerging ecosystems: the case of solar service ventures. technovation, 39–40, 14–25. rong, ke. & yongjiang shi. 2013. business ecosystem extension: facilitating the technology substitution. international journal of technology management. vol. 63, no. 3–4. stewart, harrison & jan jurjens. 2018. data security and consumer trust in fintech innovation in germany. teja, adrian. 2017. indonesian fintech business: new innovations or foster and collaborate in business ecosystems? the asian journal of technology management, vol. 10, no. 1, pp 10–18. philippon, thomas. 2016. the fintech opportunity. national bureu of economic research. http://www.nber.org/papers/w 22476. priyatno, duwi. 2014. spss 22 pengolah data terpraktis. yogyakarta: andi. 01 astria primadhani.pmd ayouvi poerna wardhanie, didiet anindita arnandy, pengaruh kemampuan dan pengetahuan managerial serta lingkungan eksternal terhadap investasi teknologi di era 4.0 pada ukm di kota surabaya 9595 pengaruh kemampuan dan pengetahuan managerial serta lingkungan eksternal terhadap investasi teknologi di era 4.0 pada ukm di kota surabaya ayouvi poerna wardhanie, didiet anindita arnandy universitas dinamika e-mail: ayouvi@dinamika.ac.id, didiet@dinamika.ac.id abstract: this research was conducted to examine the relationship between managerial skills, managerial knowledge and the external environment on technology investment in the era of the industrial revolution 4.0 in smes in the city of surabaya. sampling was carried out using survey techniques through questionnaires distributed to respondents. the population determined in this study were smes in the city of surabaya. the number of samples taken was 36 smes in the city of surabaya. data analysis was performed using multiple regression tests through the statistical package for social sciences (spss) software. the results of this study indicate that managerial ability and the external environment partially do not have a significant positive effect on technology investment, while managerial knowledge has a significant positive effect on technology investment. however, simultaneously managerial ability, managerial knowledge and the external environment have a significant positive effect on technology investment. keywords: managerial ability, manajerial knowledge, external environment, technology investment pendahuluan daya saing indonesia di mata dunia hampir mengalami penurunan. hal ini tertulis pada laporan world economy forum (wef) tahun 2010, global competitiveness index indonesia. pada tahun 2010–2011, menduduki posisi ke-44 dari 139 negara, tahun 2011–2011 menduduki posisi ke-46 dari 142 negara, dan tahun 2012–2013 menduduki posisi ke-50 dari 144 negara. akan tetapi, hal ini langsung berubah pada periode 2013–2014, yang mana peringkat indonesia mengalami peningkatan secara drastis, yaitu pada peringkat ke-38. hal ini menunjukkan bahwa indonesia tangguh dalam menghadapi persaingan, terlebih kembali di era revolusi 4.0 saat ini. di era ini, indonesia memiliki peluang yang besar untuk lebih maju dalam persaingan. terlebih lagi terkait persaingan dalam memperluas target pasar yang saat ini semakin sulit di mana seiring adanya perkembangan teknologi yang secara otomatis berdampak pada peningkatan permintaan dan penawaran produk (candraningrat, et al., 2018). hal ini diwujudkan melalui sektor bisnis terutama pada usaha kecil dan menengah (ukm). ukm ialah suatu bentuk usaha yang melakukan jual beli produk yang diperoleh dari industri besar (santoso, 2017). berdasarkan uu no. 20 tahun 2008, ukm terdiri dari dua jenis yakni usaha kecil dan usaha menengah. usaha kecil ialah suatu bentuk usaha dengan penghasilan bersih di atas 50 juta sampai dengan 500 juta di luar tanah dan bangunan serta dengan hasil penjualan per tahun di atas 300 juta sampai dengan 2,5 miliar. usaha menengah ialah suatu bentuk usaha dengan penghasilan bersih di atas 500 juta sampai dengan 10 mmiliar di luar tanah dan bangunan usaha serta dengan hasil penjualan per tahun di atas 2,5 sampai dengan 50 miliar. di indonesia, ukm mengalami perkembangan sangat pesat setelah terjadinya penurunan ekonomi yang dimulai pada tahun 1997. oleh business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 96 karena itu, ukm dianggap sebagai penyelamat perekonomian. dikatakan demikian karena ukm mampu mengurangi tingkat pengangguran dan menyediakan lapangan kerja. selain itu, ukm juga berkontribusi dalam pendapatan baik daerah maupun negara. di samping itu, candraningrat, et al. (2018) berpendapat bahwa ukm berperan penting terhadap perekonomian indonesia terutama terkait pengangguran dan meningkatkan normalitas usaha yang berkelanjutan. era revolusi industri 4.0 ini membawa berbagai ancaman bagi negara indonesia, karena semakin mudah produk asing yang masuk. terlebih kembali bahwa produk-produk tersebut memiliki kualitas yang lebih baik. berawal dari hal tersebut, mendorong para pelaku ukm untuk dapat meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing dengan berbagai produk asing yang masuk. kota surabaya adalah salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat terkait ukm. pada tahun 2008, jumlah ukm di surabaya mencapai 4,2 juta, tahun 2012 mencapai 6,8 juta dan tahun 2016 mencapai 9,59 juta (aquinus, 2018). dengan menyadari peluang ukm di era industri 4.0 saat ini, diperlukan berbagai upaya agar dapat unggul dalam persaingan. salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu investasi teknologi. salah satu tujuan melakukan investasi teknologi adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan operasional, mulai dari pengadaan hingga pengiriman yang mana agar dapat unggul dalam persaingan. menurut annosi (2019) dalam memutuskan tersebut, ada tiga hal sebagai penentu keputusan pihak ukm terkait investasi teknologi antara lain kemampuan manajerial, pengetahuan manajerial dan lingkungan eksternal. selain itu, ketiga hal tersebut juga dianggap sebagai faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan perancangan, pembuatan, penerapan dan pemeliharaan pada teknologi yang digunakan. berdasarkan penjelasan tersebut, diperlukan penelitian tentang pengaruh kemampuan dan pengetahuan managerial serta lingkungan eksternal terhadap investasi teknologi di era 4.0 pada ukm di kota surabaya. kerangka konseptual/metodologi penelitian berdasarkan permasalahan yang dikaji, penelitian ini termasuk jenis penelitian kausalitas. penelitian kausalitas ialah penelitian yang mengkaji hubungan sebab akibat antara variabel bebas dengan variabel terikat (sugiyono, 2012), sedangkan berdasarkan jenis data yang diperoleh penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif. penelitian kuantitatif ialah penelitian yang mengambil data dalam bentuk angka yang selanjutnya dilakukan analisis statistik. penelitian ini terdiri dari tiga variabel bebas yakni kemampuan manajerial (x 1 ), pengetahuan manajerial (x 2 ), dan lingkungan eksternal (x 3 ) dengan satu variabel terikat yakni investasi teknologi (y). populasi yang ditentukan dalam penelitian ini yaitu semua ukm yang ada di kota surabaya. jumlah sampel yang diambil sebanyak 35 ukm yang ada di surabaya, hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah ukm yang berada di kota surabaya, sehingga hanya diambil sebanyak 35 ukm. kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1. gambar 1 kerangka pemikiran ayouvi poerna wardhanie, didiet anindita arnandy, pengaruh kemampuan dan pengetahuan managerial serta lingkungan eksternal terhadap investasi teknologi di era 4.0 pada ukm di kota surabaya 97 uji reliabilitas tabel 2 hasil uji reliabilitas hipotesis dalam penelitian ini sesuai kerangka pemikiran yang ada dapat diketahui sebagai berikut. h 1 : kemampuan manajerial berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi teknologi. h 2 : pengetahuan manajerial berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi teknologi. h 3 : lingkungan eksternal berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi teknologi. h 4 : kemampuan manajerial, pengetahuan manajerial dan lingkungan eksternal berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi teknologi. hasil dan pembahasan uji instrumen data uji validitas tabel 1 hasil uji validitas item rhitung rtabel hasil kemampuan manajerial 1 0,449 0,329 valid kemampuan manajerial 2 0,521 valid kemampuan manajerial 3 0,439 valid kemampuan manajerial 4 0,487 valid kemampuan manajerial 5 0,586 valid pengetahuan manajerial 1 0,561 valid pengetahuan manajerial 2 0,789 valid pengetahuan manajerial 3 0,700 valid lingkungan eksternal 1 0,393 valid lingkungan eksternal 2 0,419 valid lingkungan eksternal 3 0,392 valid investasi teknologi 1 0,744 valid investasi teknologi 2 0,687 valid berdasarkan hasil uji validitas dapat diketahui bahwa seluruh angket dalam penelitian ini valid karena memiliki r hitung > r tabel sebesar 0,329, sehingga angket dalam penelitian ini dapat digunakan ulang untuk penelitian selanjutnya dan dapat dilakukan uji reliabilitas. variabel nilai cronbach’ s alpha nilai minimum cronbach’s alpha hasil kemampuan manajerial 0,784 0,60 reliabel pengetahuan manajerial 0,749 reliabel lingkungan eksternal 0.,727 reliabel investasi teknologi 0,873 reliabel berdasarkan hasil uji reliabilitas dapat diketahui bahwa seluruh jawaban responden pada variabel penelitian bersifat reliabel karena memiliki nilai cronbach’s alpha> 0,60 sehingga jawaban responden yang ada dapat dipercaya dan dapat dilakukan uji prasyarat analisis. uji prasyarat analisis uji normalitas tabel 3 hasil uji normalitas one-sample kolmogorov-smirnov test unstandardized residual n 36 normal parameters mean 0,0000000 std. deviation 1,00442150 most extreme differences absolute 0,125 positive 0,091 negative -0,125 test statistic 0,125 asymp. sig. (2-tailed) 0,173 berdasarkan hasil uji normalitas dapat diketahui bahwa data penelitian ini berdistribusi normal karena memiliki nilai asymp. sig. (2tailed)> 0,05., sehingga dapat dilakukan uji multikolinieritas. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 98 uji multikolinearitas tabel 4 hasil uji multikolinearitas berdasarkan hasil uji linieritas dapat diketahui bahwa seluruh variabel bebas dalam penelitian ini berhubungan linear karena memiliki nilai sig. <0,05, sehingga dapat dilakukan uji regresi berganda. uji regresi berganda koefisien determinasi (adjusted r2) tabel 7 koefisien determinasi (adjusted r2) variabel vif tolerance hasil kemampuan manajerial 1,234 0,811 tidak terjadi multikolinearitas pengetahuan manajerial 1,225 0,817 tidak terjadi multikolinearitas investasi teknologi 1,050 0,953 tidak terjadi multikolinearitas berdasarkan hasil uji multikolinearitas dapat diketahui bahwa tidak terjadi multikolinearitas karena seluruh variabel bebas memiliki nilai tolerance> 0,1 dan nilai vif <10 sehingga dapat dilakukan uji heteroskedastisitas. uji heteroskedastisitas tabel 5 hasil uji heteroskedastisitas variabel sig. hasil kemampuan manajerial 0,532 tidak terjadi heteroskedastisitas pengetahuan manajerial 0,434 tidak terjadi heteroskedastisitas investasi teknologi 0,160 tidak terjadi heteroskedastisitas berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas dapat diketahui tidak terjadi heteroskedastisitas karena seluruh variabel bebas memiliki nilai sig.> 0,05, sehingga dapat dilakukan uji uji linieritas. uji linearitas tabel 6 hasil uji linearitas variabel sig. hasil kemampuan manajerial 0,143 linear pengetahuan manajerial 0,503 linear investasi teknologi 0,126 linear model summary model r r square adjusted r square std. error of the estimate 1 0,769 0,592 0,554 1,050 berdasarkan hasil koefisien determinasi dapat diketahui bahwa variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat sebesar 0,554 (55,4%). hal ini tertera pada nilai adjusted r2 sebesar 0,554 (55,4%), sehingga sebanyak 0,446 (44,6%) variabel terikat dijelaskan oleh variabel bebas lain di luar penelitian ini. langkah selanjutnya dilakukan uji f (uji serentak). uji f (uji serentak) tabel 8 hasil uji f anova model sum of squares df mean square f sig. 1 reg. 51,245 3 17,082 15,480 0,000 res. 35,310 32 1,103 total 86,556 35 berdasarkan hasil uji f dapat diketahui bahwa seluruh variabel bebas berpengaruh signifikan dan positif terhadap variabel terikat secara serentak karena memiliki nilai f hitung 15,480> f tabel 2,901 dan nilai sig. <0,05. langkah selanjutnya dilakukan uji t (uji individual). ayouvi poerna wardhanie, didiet anindita arnandy, pengaruh kemampuan dan pengetahuan managerial serta lingkungan eksternal terhadap investasi teknologi di era 4.0 pada ukm di kota surabaya 99 uji t (uji individual) tabel 9 hasil uji t h 3 : lingkungan eksternal berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi teknologi hipotesis ketiga mengkaji hubungan antara variabel le dengan variabel it yang dapat diketahui bahwa le tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap it karena memiliki nilai sig. 0,301> 0,05 dan memiliki nilai t stat -1,051 f tabel sebesar 2,901. dengan demikian, hipotesis yang menyatakan “kemampuan manajerial, pengetahuan manajerial dan lingkungan eksternal berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi teknologi”, diterima. kesimpuilan kesimpulan yang dapat diambil atas dasar hasil dan diskusi yang telah dijelaskan sebagai berikut. investasi teknologi pada ukm di kota surabaya tidak dipengaruhi oleh kemampuan manajerial pemilik ukm. investasi teknologi pada ukm di kota surabaya harus didasarkan pada pengetahuan manajerial dari pemilik ukm. investasi teknologi pada ukm di kota surabaya tidak terpengaruh oleh lingkungan eksternal. *km = kemampuan manajerial pm = pengetahuan manajerial le = lingkungan eksternal diskusi h 1 : kemampuan manajerial berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi teknologi hipotesis pertama mengkaji hubungan antara variabel km dengan variabel it yang dapat diketahui bahwa km tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap it karena memiliki nilai sig. 0,404> 0,05 dan memiliki nilai t stat sebesar 0,846 0,05 dan memiliki nilai t stat sebesar 5,771 0,1. kesimpulan dari hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel indpenden yang digunakan dalam penelitian ini bebas dari multikolinearitas. 3.2 uji heteroskedastisitas tabel 3.2 uji heteroskedastisitas sumber: hasil olah data berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa variabel kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial tidak terjadi gejala heteroskedastisitas, karena nilai signifikan > 0,05 sedangkan variabel komisaris independen terjadi gejala heteroskedastisitas. 3.3 uji autokorelasi tabel 3.3 uji autokorelasi sumber: hasil olah data sumber: hasil olah data a. variabel kepemilikan institusional memiliki nilai t hitung sebesar 0,247 dengan nilai signifikan 0,805. dapat disimpulkan bahwa variabel ini tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap tobin’s q karena nilai signifikan > 0,05. b. variabel komisaris independen memiliki nilai t hitung sebesar 6,184 dengan nilai signifikan 0,000. dapat disimpulkan bahwa variabel ini berpengaruh signifikan terhadap tobin’s q karena nilai signifikan < 0,05. c. variabel kepemilikan manajerial memiliki nilai t hitung sebesar 0,177 dengan nilai signifikan 0,860. dapat disimpulkan bahwa variabel ini tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap tobin’s q karena nilai signifikan > 0,05. 3.5 pembahasan 3.5.1 pengaruh kepemilikan institusional terhadap kinerja pasar hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh rizkary roslianti, pengaruh corporate governance terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di indeks saham syariah indonesia 151 signifikan terhadap kinerja pasar. hal ini sesuai dengan penelitian erkens, et al. (2012) yang menjelaskan bahwa dengan adannya nilai kepemilikan institusional yang tinggi justru akan memiliki risiko yang tinggi pula dan berimbas pada tingginya tingkat kerugian pemegang saham. koladkiewicz (2002) menemukan bahwa kepemilikan institusional dapat mengurangi pengelolaan laba yang didapatkan oleh perusahaan. ketika perusahaan tidak dapat mengelola laba dengan efisien, tingkat kepemilikan institusional yang tinggi justru akan mengurangi earning management. tingkat kepemilikan saham institusional yang tinggi tidak menjamin bahwa proses pengawasan dan monitoring akan berjalan dengan baik. saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan standar operasional perusahaan dengan baik. hal ini dapat menjadi suatu perbaikan dalam meminimalisasi adanya tindak penyimpangan yang muncul. 3.5.2 pengaruh komisaris independen terhadap kinerja pasar hasil penelitian menjelaskan bahwa komposisi komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja pasar. hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan abbasi, et al. (2012) bahwa komisaris independen memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pasar. semakin besar proporsi komisaris independen maka semakin objektif keputusan yang diambil perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan yang berdampak pada kinerja pasar. dengan adanya komisaris independen dalam perusahaan maka diharapkan dapat membantu untuk melakukan pengawasan kinerja manajemen agar tidak terjadi adanya penyimpangan atau kecurangan dalam manajemen. hal ini akan berdampak baik pada kinerja pasar. komisaris independen ini merupakan pihak eksternal yang bertugas untuk melakukan pengawasan dalam kinerja manajemen perusahaan. terkadang komisaris independen ini juga menjadi investor bagi perusahaan. dengan adanya komisaris independen ini diharapkan dapat menyatukan kepentingan pemegang saham minoritas dengan kepentingan manajemen. kinerja komisaris independen yang efisien dan sesuai dengan tugas serta wewenangnya dapat memberikan tingkat kepercayaan dan rasa aman bagi investor lain yang menanamkan modal saham pada perusahaan. 3.5.3 pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kinerja pasar hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan manajerial dan kinerja pasar. tingkat kepemilikan manajerial pada perusahaan di indonesia masih sangat sedikit. hal ini akan berdampak pada pengambilan keputusan dan kewenangan manajemen sangat rendah. fama & jensen (1983) menjelaskan bahwa dalam keadaan tertentu, kepemilikan manajemen (insider) yang tinggi tidak selalu dapat berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang berdampak pada kinerja pasar. kepemilikan manajerial tidak dapat sepenuhnya dapat melakukan pengawasan seratus persen dalam kegiatan perusahaan. seperti halnya yang dijelaskan oleh shleifer dan vishny (1997) bahwa menurut teori keagenan, kepemilikan manajemen bagaikan pedang bermata dua yang dapat memengaruhi biaya keagenen. kepemilikan manajemen dapat mengurangi biaya keagenen karena dengan adanya kepemilikan manajemen dalam perusahaan akan memberikan motivasi bagi manajemen untuk bertindak seperti pemegang saham. akan tetapi di sisi lain, tingkat kepemilikan manajemen yang tinggi dapat menyebabkan salah pelaporan keuangan dan pengambilalihan saham minoritas. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 152 berdasarkan hasil analisis tersebut, kepemilikan manajemen tidak terlalu berpengaruh bagi investor dalam menentukan perusahaan mana yang akan diinvestasikan. investor lebih memilih untuk mempertimbangkan faktor lain dalam pemilihan investasi seperti misalnya kinerja keuangan perusahaan. iv. kesimpulan berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa: variabel kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di indeks saham syariah indonesia tahun 2016 hingga 2018. hal ini dikarenakan dengan tingginya tingkat kepemilikan institusional tidak menjamin bahwa proses pengawasan akan berjalan dengan efektif. variabel komisaris independen berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di indeks saham syariah indonesia tahun 2016 hingga 2018. hal ini dikarenakan semakin besar proporsi komisaris independen dalam perusahaan akan menyebabkan pemilihan keputusan menjadi semakin objektif untuk meningkatkan nilai perusahaan dan berdampak pada kinerja pasar. variabel kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di indeks saham syariah indonesia tahun 2016 hingga 2018. hal ini disebabkan karena kepemilikan manajerial pada perusahaan di indonesia memiliki jumlah yang sangat kecil sehingga tidak terlalu berdampak pada keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan. variabel kepemilikan institusional, komisaris independen, dan kepemilikan manajerial secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di indeks saham syariah indonesia tahun 2016 hingga 2018. v. daftar rujukan abbasi, majid, et al. 2012. impact of corporate governance mechanisms on firm value evidence from the food industry of iran. journal of basic and applied scientific research, vol 2(5), hal. 4712–4721. alghifari, et al. 2013. effect of return on assets (roa) against tobin’s q: studies in food and beverage company in indonesia stock exchange years 2007–2011. international journal of science and research (ijsr), vol. 2 (1), hal. 722–725. cho, m.h. 1998. ownership structure, investment and the corporate value: an empirical analysis. journal of financial economics, vol. 47, hal. 103–121. chung, k.h., j. elder, & j. kim. 2009. corporate governance and liquidity. journal of financial and quantitative analysis, forthcoming. cnn indonesia. 2017. ojk: praktik gcg perusahaan indonesia masih tertinggal. diunduh tanggal 21 agustus 2019. debali, a. et al. 2017. do ownership structure and quality of financial information affect the cost of debt of tunisian listing firms? international journal of critical accounting. hidayat, athalia ariati & sidharta utama. 2015. board characteristics and firm performance: evidence from indonesia. international research journal of business studies. vol. 8, no. 3. hal. 137–154. jensen, m. & meckling. 1976. theory of the firm: managerial behavior, agency cost and ownership structure. journal of financial economics, hal. 305–360. jusoh, et al. 2014. managerial ownership and market-based performance indicators: extended agency theory. journal of conrizkary roslianti, pengaruh corporate governance terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di indeks saham syariah indonesia 153 temporary issues and thought, vol. 14, hal. 8–19. koladkiewicz, izabella. 2002. the institutional shareholders-best practice: the national funds experience. journal compilation, vol. 10, ha.l 187–192. blackwell publishing. komite nasional kebijakan governance. 2011. pedoman umum good governance bisnis syariah. leung, s. dan b. horwitz. 2007. is concentrated management ownership value increasing or decreasing? evidence in hongkong, china during the asian financial crisis. ssrn working paper series, no. 984403. ruan, w. et al. 2011. managerial ownership, capital structure and firm value: evidence from china’s civilian-run firms. australasian accounting, bussiness and finance journal, vol. 5(3), hal. 73–92. scjmid, m.m. & zimmermann h. 2007. managerial incentives and firm valuation evidence from switzerland. ssrn working paper series, no. 78418. shleifer, a. & r.w., vishny. 1997. a survey of corporate governance. a journal of finance, vol. 52, hal. 737–783. solomon, jill & aris solomon. 2004. corporate governance and accountability. england: john wiley & sons, ltd. thanatawee, yordying. 2014. institutional ownership and firm value in thailand. asian journal of business and accounting, 7(2), hal. 1–22. 01 tri siwi.pmd rahmat setiawan & moh maulidi syarif, kepemilikan institusional, kinerja perusahaan, dan efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif 4141 kepemilikan institusional, kinerja perusahaan, dan efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif rahmat setiawan & moh maulidi syarif fakultas ekonomi dan bisnis, universitas airlangga e-mail: rahmatsetiawan@feb.unair.ac.id moh.maulidi.syarif-2016@feb.unair.ac.id abstract: this research investigate impact of institutional ownership on firm performance, and moderating effect of active institutional ownership. using purposive sampling and the period of 2012-2016, we obtained 436 observations of 99 manufacturing firms for dependent variable measured by roa, and 415 observations of 95 manufacturing firms for dependent variable measured by tobin’s q. we found that institutional ownership had significant positive effect on firm performance. active institutional ownership as a moderating variable, strengthens the positive effect of institutional ownership on firm performance. keywords: institutional ownership, firm performance, active institutional investor a. pendahuluan pola kepemilikan saham perusahaan di negara maju dan berkembang memiliki kesamaan, kepemilikan saham oleh individu saat ini banyak dikelola oleh investor institusi seperti reksa dana (cornett et al., 2007). menurut pirzada et al. (2015) kepemilikan institusional adalah persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh investor institusi seperti, reksa dana, perusahaan sekuritas, asuransi, dana pensiun, institusi keuangan dan lainnya. tren ini menimbulkan pertanyaan menarik: apakah kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (lin dan fu, 2017). terdapat tiga kemungkinan peran dari investor institusi; active monitoring, passive monitoring, dan bekerja sama dengan manajemen untuk melakukan eksploitasi pada pemegang saham minoritas. pada skenario pertama, pengawasan oleh investor institusi cenderung akan meningkatkan kinerja perusahaan karena sebagai pemegang saham besar dan andal, investor institusi memiliki insentif dan keahlian untuk mengawasi manajemen, mereka dapat melakukan hal tersebut dengan biaya yang lebih murah daripada investor individu, dan mampu untuk memberikan pengaruhnya terhadap struktur governance dan tindakan perusahaan. skenario “passive monitoring” menyatakan bahwa investor institusional hanya bertindak sebagai pengawas pasif dan tidak mengintervensi manajemen, melakukan perdagangan saham untuk mendapatkan keuntungan spekulatif jangka pendek yang didasarkan pada keunggulan informasi yang dimiliki atau untuk memenuhi kebutuhan portofolionya (elyasiani dan jia, 2010). berdasarkan skenario ketiga, investor institusi bekerja sama dengan manajemen untuk melakukan ekspropriasi pada pemegang saham minoritas. dari ketiga skenario ini, salah satu mungkin mendominasi mengenai peran investor institusional (elsiyani dan jia, 2010). penelitian terdahulu mengenai dampak kepemilikan institusional dan kinerja perusahaan memiliki hasil yang berbeda. wei dan zhang (2005) pada penelitiannya menyatakan bahwa kepemilikan institusional berdampak negatif pada kinerja perusahaan (tobin’s q). fernando et al business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 42 (2012 pada penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif pada harga saham perusahaan. agrawal dan knober (1996) menunjukkan dalam penelitiannya bahwa kepemilikan institusional tidak berdampak signifikan pada kinerja perusahaan. kepemilikan saham oleh institusi dapat dimiliki oleh perusahaan, reksa dana, perusahaan sekuritas, asuransi, dana pensiun, institusi keuangan, dan yayasan. tipe kepemilikan institusional yang berbeda mungkin memiliki dampak yang berbeda pada kinerja perusahaan. penelitian-penelitian sebelumnya mengategorikan investor institusi berdasarkan ada tidaknya hubungan bisnis (aktif dan pasif), asal negara (domestik dan asing), dan besar kecilnya kepemilikan saham (lin dan fu, 2017). penelitian sebelumnya mengenai dampak perbedaan tipe kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan dijelaskan oleh ferreira dan matos (2008) yang melakukan penelitian dalam skala internasional pada 27 negara selama periode 2000–2005 dan menyatakan bahwa kepemilikan institusional asing dan independen (aktif) meningkatkan tobin’s q dan kinerja operasi (roa dan net profit margin), sedangkan koefisien dari kepemilikan institusi pasif dan domestik tidak signifikan. elsyani dan jia (2010) menginvestigasi perusahaan amerika serikat selama 1992–2004 dan menjelaskan bahwa stabilitas kepemilikan institusi berpengaruh positif pada kinerja perusahaan. dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa investor institusional aktif dan investor yang memiliki 5% atau lebih saham memiliki pengaruh positif yang lebih besar terhadap kinerja perusahaan daripada investor institusional pasif dan investor dengan kepemilikan saham kurang dari 5%. lin dan fu (2017) melakukan penelitian pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan pada perusahaan publik china dari 2004–2014. hasil ini menunjukkan bahwa kepemilikan oleh investor institusional berdampak positif pada kinerja perusahaan. hal ini mengindikasikan bahwa investor institusi aktif, asing, dan besar memiliki dampak positif yang lebih besar pada kinerja perusahaan daripada investor institusi pasif, domestik, dan kecil. indonesia merupakan salah satu, di mana kepemilikan saham dari perusahaan didominasi oleh kepemilikan institusional. berdasarkan data bursa efek indonesia (bei), kepemilikan institusional memiliki kepemilikan 73,14% dari jumlah saham yang beredar pada maret 2015. kepemilikan oleh investor institusional ini dimiliki oleh berbagai jenis investor institusional seperti reksa dana, perusahaan investasi, asuransi, broker, yayasan, dan lainnya. seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tipe kepemilikan institusional yang berbeda mungkin memiliki dampak yang berbeda pada kinerja perusahaan. penelitianpenelitian sebelumnya sebagian besar dilakukan pada negara-negara maju, sedangkan penelitian mengenai investor institusional pada kinerja perusahaan belum banyak dilakukan pada negara berkembang seperti indonesia. peran kepemilikan institusional di indonesia masih belum jelas. tujuan dari penelitian ini untuk menginvestigasi pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan dan untuk menguji efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif. b. kajian pustaka dan pengujian hipotesis 1. kepemilikan institusional dengan kinerja perusahaan terdapat tiga pandangan mengenai pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan. mengacu pada pandangan active monitoring, investor institusional secara aktif mengawasi rahmat setiawan & moh maulidi syarif, kepemilikan institusional, kinerja perusahaan, dan efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif 43 investor institusi lebih profesional daripada investor individu. oleh karena itu, mereka lebih mampu untuk membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan membagikan professional knowledge, kemampuan manajerial, dan memberikan akses pendanaan pada perusahaan. hipotesis penelitian ini mengenai pengaruh kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan adalah sebagai berikut. hipotesis 1: terdapat pengaruh positif kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan. 2. efek moderasi kepemilikan institusional aktif pada kinerja perusahaan penelitian terdahulu seperti, lin dan fu (2017), secara umum mengategorikan investor institusi berdasarkan ada tidaknya hubungan bisnis, negara asal dan besar kecilnya kepemilikan saham. hasil penelitian mereka mengindikasikan bahwa tipe kepemilikan institusi yang berbeda memiliki dampak yang berbeda pada kinerja perusahaan. kepemilikan saham oleh investor institusi aktif diharapkan berhubungan positif dengan kinerja perusahaan karena mereka cenderung tidak memiliki hubungan bisnis dan konflik kepentingan dengan perusahaan tempat berinvestasi, dan cenderung untuk lebih aktif mengawasi perusahaan dan menekan manajer untuk memaksimalkan nilai perusahaan. investor institusi aktif (reksa dana) memiliki kewajiban untuk memberikan return yang baik bagi para nasabahnya, karena management fees bergantung pada kinerja investasi dan besarnya dana yang dikelola. oleh karena itu, kepemilikan institusi aktif harusnya memiliki insentif kuat untuk mengawasi kinerja portfolio perusahaan dan mengambil tindakan untuk menghindari penurunan nilai investasi yang dilakukan. sebaliknya, kepemilikan institukegiatan operasional perusahaan, meminimalisasi adanya ketidakseimbangan (asimetri) informasi dan mengurangi masalah keagenan, serta meningkatkan kinerja perusahaan dengan dua cara (lin dan fu, 2017). yang pertama, investor institusi menerapkan kemampuan manajerial yang bagus, professional knowledge, dan hak voting untuk memengaruhi manajemen guna meningkatkan efisiensi perusahaan dan corporate governance sebagai tambahan untuk membantu perusahaan membuat keputusan bisnis. selain itu, ketika perusahaan akan melakukan ekspansi dan membutuhkan dana, investor institusional dapat memberikan akses dengan menggunakan koneksinya guna membantu perusahaan dalam mencari pendanaan. yuan et al. (2008) mendukung pandangan ini, menggunakan sampel dari perusahaan publik china periode 2001–2005, kepemilikan ekuitas oleh reksa dana berpengaruh positif pada kinerja perusahaan. pandangan passive monitoring menyatakan bahwa investor institusi merupakan short term traders yang tertarik untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek berdasarkan keunggulan informasi yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan portofolio (elysiani dan jia, 2010) daripada mengawasi untuk meningkatkan corporate governance dan kinerja perusahaan. berdasarkan pandangan exploitation, institutional investor mungkin akan bekerja sama dengan manajemen untuk mengeksploitasi pemegang saham minoritas dan menurunkan kinerja perusahaan. wei dan zhang (2005) mendukung pandangan ini, hasil penelitian mereka menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap tobin’s q. ketiga pandangan tersebut tidak mutually exclusive melainkan mungkin salah satu memainkan peran dominan dalam menjelaskan hubungan antara kinerja perusahaan dan kepemilikan institusional (elyasiani dan jia, 2010). business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 44 tobin’s q = + b. variabel independen variabel independen yang digunakan adalah kepemilikan institusional. kepemilikan institusional merupakan persentase jumlah saham beredar yang dimiliki oleh investor institusional pada akhir tahun (pirzada, 2015). c. variabel moderasi kepemilikan institusional dapat dibagi berdasarkan ada tidaknya hubungan bisnis, negara asal, dan besar kecilnya kepemilikan saham. mengacu pada, cornett et al. (2007), ferreira dan matos (2008), serta lin dan fu (2017), investor institusi diklasifikasikan apakah mereka aktif atau pasif. kepemilikan institusional aktif adalah persentase total jumlah saham yang beredar yang dimiliki oleh reksa dana, perusahaan investasi, dan investment advisory firm. sedangkan kepemilikan institusional pasif, merupakan persentase total jumlah saham beredar yang dimiliki perusahaan asuransi, dana jaminan sosial, broker, bank, dan lainnya. pada penelitian ini, kita menggunakan variabel dummy untuk mengukur apakah kepemilikan institusional tersebut termasuk aktif atau pasif. satu, jika perusahaan setidaknya dimiliki oleh reksa dana, perusahaan investasi dan investment advisory firm dengan minimal kepemilikan sebesar 5% dan nol jika sebaliknya. d. variabel kontrol variabel kontrol pada penelitian ini mengikuti penelitian lin dan fu (2017), yaitu ukuran perusahaan (size) dan leverage (lev). size sional pasif mungkin akan melakukan tindakan guna melindungi hubungan bisnis dengan perusahaan tempat berinvestasi dan bertindak sebagai pasif investor (cornett et al., 2007; ferreira dan matos, 2008). hipotesis 2: kepemilikan institusi aktif memperkuat pengaruh positif kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan. b. metodologi dan data 1. sampel sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia (bei) periode 2012–2016, setiap perusahaan harus menerbitkan laporan keuangan dalam bentuk rupiah. sampel akhir dari penelitian ini sebesar 436 observasi dari 99 perusahaan manufaktur untuk variabel kinerja perusahaan yang diukur menggunakan roa, dan 415 observasi dari 95 perusahaan manufaktur untuk variabel dependen tobin’s q. perbedaan observasi pada kedua pengukuran variabel dependen dikarenakan adanya perbedaan data outliers. 2. variabel a. variabel dependen variabel dependen pada yang digunakan adalah kinerja perusahaan. kinerja perusahaan diproksikan dengan roa dan tobin’s q. roa mewakili kinerja akuntansi dan fokus pada profitabilitas periode tertentu, sedangkan tobin’s q mewakili kinerja pasar dan mencerminkan harapan masa depan. roa adalah rasio dari laba bersih dibagi terhadap total aset (lin dan fu, 2017). sedangkan tobin’s q dihitung sebagai berikut: rahmat setiawan & moh maulidi syarif, kepemilikan institusional, kinerja perusahaan, dan efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif 45 diukur dengan logaritma dari total aset, yang mungkin berpengaruh negatif pada kinerja perusahaan karena perusahaan besar memiliki masalah birokrasi (xu dan wang, 1999) dan agency cost yang lebih besar (sun dan tong, 2003) serta cenderung lambat dalam merespons perubahan kondisi pasar. akan tetapi, perusahaan besar mungkin juga akan mendapatkan keuntungan dari skala ekonomi, yang mana dapat meningkatkan kinerja. sedangkan leverage (lev) diukur sebagai rasio dari total kewajiban terhadap total aset perusahaan. 3. model penelitian untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan dan efek moderasi dari kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan, penelitian ini menggunakan ordinary least square (ols). model penelitiannya adalah sebagai berikut: a. model 1 performance i,t = α + β 1 inst it + β 2 size it + β 3 leverage it + ε it b. model 2 performance i,t = α+β 1 inst it +β 2 dactive it + β 3 io*dactive it +β 4 size it + β 5 leverage it + ε i,t di mana: performance = diukur menggunakan roa dan tobin’s q io = kepemilikan institusional dactive = dummy variabel, 1 jika kepemilikan institusional aktif dan nol jika sebaliknya size = ukuran perusahaan menggunakan logaritma dari total aset leverage = rasio total utang terhadap total aset å = error d. hasil penelitian 1. statistik deskriptif statistik deskriptif variabel-variabel penelitian ini ditunjukkan pada tabel 1 dan tabel 2 tabel 1 statistik deskriptif untuk variabel dependen roa n min max mean std. dev roa 436 -0,55 0,42 0,0506 0,09381 inst 436 0,14 0,97 0,7334 0,18628 active 436 0,00 1,00 0,0573 0,23276 instxactive 436 0,00 0,97 0,0395 0,16447 size 436 0,04 14,42 11,9220 1,82478 leverage 436 0,20 0,82 0,4989 0,37382 valid n (listwise) 436 berdasarkan pada tabel 1, selama periode 2012–2016, nilai mean roa untuk perusahaan manufaktur di indonesia (0,0593). nilai maksimum roa adalah (0,42) dan nilai minimumnya sebesar (-0,55). sedangkan nilai mean kepemilikan institusional (inst) adalah (0,7334) atau 73,34% dari jumlah saham yang beredar dengan nilai maksimal (0,97) dan nilai minimal (0,14) hal ini mengindikasikan perusahaan manufaktur di indonesia didominasi oleh investor institusi. tabel 2 statistik deskriptif untuk variabel dependen tobin’s q n min max mean std. dev tobinsq 416 0,14 12,70 1,5781 1,39059 inst 416 0,14 0,97 0,7237 0,18782 active 416 0,00 1,00 0,0433 0,20371 instxactive 416 0,00 0,97 0,0279 0,13519 size 416 0,04 14,42 11,8927 1,93683 leverage 416 0,20 0,82 0,4809 0,31054 valid n (listwise) 416 berdasarkan tabel 2, selama periode 2012– 2016, nilai mean dari tobin’s q untuk perusahaan manufaktur indonesia adalah (2, 0782). nilai maksimal dan minimal dari tobin’s q adalah (12,70) dan (0,14). sedangkan nilai kepemilikan institusional (inst) adalah (0,7237) atau 72,37%, nilai maksimum adalah (0,98) dan nilai minimum adalah (0,14). business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 46 tabel 3 korelasi variabel puan manajerial dan jaringan pendanaan mereka pada perusahaan daripada investor individu (lin dan fu, 2017). ukuran perusahaan dan leverage sebagai variabel kontrol, berpengaruh signifikan terhadap roa dan tobin’s q. ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, mengindikasikan bahwa perusahaan besar mungkin akan mendapatkan keuntungan melalui skala ekonomi, yang mana dapat meningkatkan kinerja perusahaan (lin dan fu, 2017). leverage berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan, hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar beban bunga utang akan mengurangi pendapatan perusahaan. ukuran perusahaan (size) dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap tobin’s q. table 4 hasil regresi inst active instxactive size leverage inst active instxactive size leverage 1 -0.053 -0.008 -0.010 0.044 1 0.975** 0.041 0.077 1 0.043 0.117* 1 0.025 1 tabel 3 menjelaskan koefisien pearson correlations antar-variabel independen dan moderasi. dapat dilihat bahwa instxactive memiliki korelasi positif signifikan dengan kepemilikan institusional aktif, leverage memiliki korelasi positif signifikan dengan instxactive. sedangkan korelasi antar-variabel lainnya cenderung rendah. 2. hubungan antara kepemilikan institusional dan kinerja perusahaan berdasarkan tabel 4 kepemilikan institusional (inst) berpengaruh positif signifikan pada kinerja perusahaan (roa dan tobin’s q), yang berarti hipotesis 1 diterima. hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi roa dan tobin’s q yang bernilai positif yaitu 0,069 dan 1.241, dengan tingkat signifikansi 0,034 < 0,05 dan 0,001 < 0,05. hal ini berarti perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi akan meningkatkan kinerja operasi (roa) dan kinerja pasar perusahaan (tobin’s q). perusahaan dengan kinerja akuntansi yang baik akan mendapatkan keuntungan besar yang akan meningkatkan nilai perusahaan. hal ini merupakan sinyal positif yang ditandai dengan meningkatnya permintaan dan harga saham perusahaan. investor institusi lebih profesional dari investor individu, investor institusi secara aktif mengawasi bisnis perusahaan, meminimalisasi simetri informasi dan masalah keagenan. oleh karena itu, investor institusi lebih mampu dalam meningkatkan kinerja perusahaan dengan menerapkan kemamvariabel roa tobin’s q model 1 model 2 model 1 model 2 inst active instxactive size leverage 0,069* (0,034) 0,006* (0,023) -0,110* (0,000) 0.059* (0.007) -0.182* (0.023) 0.006* (0.011) -0.115* 0.000 1.241* (0,001) 0,052 (0,127) -0,316 (0,145) 1.093* (0,003) -3,212* (0,034) 0,053 (0,129) -0,463* 0,044 observations r r square 436 0,463 0,214 436 0,473 0,224 416 0,194 0,037 416 0,220 0,048 3. efek moderasi kepemilikan institusional aktif (instxactive) pada kinerja perusahaan berdasarkan tabel 3 hasil interaksi dari instxactive berpengaruh signifikan pada kinerja perusahaan (roa dan tobin’s q), yang berarti hipotesis kedua (h2) diterima. hal ini dibuktikan, nilai positif koefisien regresi dari roa dan tobin’s q yang masing-masing 0,054 dan 0,545 dengan tingkat signifikansi 0,025 < 0,05 dan rahmat setiawan & moh maulidi syarif, kepemilikan institusional, kinerja perusahaan, dan efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif 47 institusi cenderung akan meningkatkan kinerja perusahaan, karena sebagai investor besar dan andal, investor institusi memiliki insentif dan keahlian untuk mengawasi manajemen, dan dapat melakukannya dengan biaya yang lebih murah daripada investor individu serta mampu untuk memberikan pengaruh pada struktur governance dan tindakan perusahaan. sampel yang digunakan penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan manufaktur di indonesia yang terdaftar pada bursa efek indonesia (bei). masih banyak industri lain di indonesia yang masih bisa digali mengenai dampak kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan. hasil penelitian ini juga di harapkan untuk menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan dalam membuat keputusan. f. daftar rujukan agrawal, a. dan knoeber, c.r. 1996. firm performance and mechanisms to control agency problems between managers and shareholders. journal of financial and quantitative analysis, 31, 377–397. brickley, j., lease, r., dan smith, c. 1988. ownership structure and voting on antitakeover amendments. journal of financial economics, 20, 267–292. chen, z., du j., li, d., dan ouyang, r. 2013. does foreign institusional ownership increase return volatility? evidence from china. journal of banking and finance, 37, 660–669. core, john e., r.w. dan d. flacker. 1999. corporate governance, ceo compensation, and firm performance. journal of financial economics, 51, 371–406. cornett, m.m., marcus a.j., saunders, a., dan tehranian, h. 2007. the impact of institu0,006 < 0,05. hasil ini mengonfirmasi bahwa kepemilikan institusional aktif memperkuat pengaruh positif kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan. kepemilikan institusional aktif cenderung tidak memiliki hubungan bisnis dan konflik kepentingan dengan perusahaan dan cenderung untuk lebih aktif mengawasi perusahaan dan menekan manajemen untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham (cornett et al., 2007; ferreira dan matos, 2008; lin dan fu, 2017). reksa dana, perusahaan investasi, investment advisory firm, memiliki kewajiban untuk memberikan return yang bagus bagi para nasabahnya, karena management fees bergantung pada kinerja investasi dan jumlah dana yang dikelola (yuan et al., 2008). e. kesimpulan investor institusi sebagai investor besar, andal, dan profesional mampu untuk membantu perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan menerapkan kemampuan manajerial, dan jaringan pendanaan dengan perusahaan (lin dan fu, 2017). perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi memiliki kinerja yang baik, hal ini dibuktikan pada penelitian ini di mana kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (roa dan tobin’s q). penelitian ini juga menguji efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif. kepemilikan institusional aktif merupakan persentase total jumlah saham beredar yang dimiliki oleh institusi reksa dana, perusahaan investasi, investment advisory firm. hasil penelitian menyatakan bahwa kepemilikan institusional aktif memperkuat pengaruh positif kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan. hasil penelitian ini mendukung pandangan active monitoring, pengawasan oleh investor business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 48 sional ownership on corporate operating performance. journal of banking and finance, 31, 1771–1794. david, p., dan kochhar, r. 1996. barriers to effective corporate ownership, and the role of institusional investor: implications for theory and practice. european management journal, 14, 457–466. gillan, s. dan starks, l. 2003. corporate governance, corporate ownership, and the role of institusional investor: a global perspective. journal of applied finance, 13, 4–22. elyasiani, e. dan jia, j. 2010. distribution of institutional ownership and corporate firm performance. journal of banking and finance, 34, 499–533. fernando, c.s., gatchev, v.a., and spindt, p.a. 2012. institutional ownership, analyst following, and share prices. journal of banking and finance, 36, 2175–2189. ferreira, m. dan matos, p. 2008. the colors of investors money: the role of institutional investor around the world. journal of financial economics, 88, 499–533. li, d., nguyen, q.n., pham, p.k., and wei, s.x. 2011. large foreign ownership and firm level stock return volatility in emerging markets. journal of financial and quantitative analysis, 46, 1127–1155. lin, y.r. dan fu, x.m. 2017. does institutional ownership influence firm performance? evidence from china. international review of economics and finance, 49, 17– 57. mc connel, j.j. dan servaes, h. 1990. additional evidence on equity ownership and corporate value. journal of financial economics, 27, 595–612. pirzada, k., mustapha, m.z.b., and wickramasinghe, d. 2015. firm performance, institusional ownership and capital structure: a case of malaysia. procedia-social and behavioral sciences, 211, 170–176. shleifer, a. dan vishny, r.w. 1986. large shareholders and corporate control. journal of political economy, 94, 461–488. shleifer, a. and vishny, r. 1997. a survey of corporate governance. journal of finance, 52, 737–775. stiglitz, j. 2000. capital market liberalization, economic growth, and stability. world development, 28, 1075–1086. wei, z., xie, f., dan zhang, s. 2005. ownership structure and firm value in china’s privatized firms: 1991–2001. journal of financial and quantitative analysis, 40, 87–108. xu, x. dan wang, y. 1999. ownership structure and corporate governance in chinese stock companies. china economic review, 10(1), 75-98. yuan, r., xiao, j.z., & zou, h. 2008. mutual funds’ ownership and firm performance: evidence from china. journal of banking & finance, 32(8), 1552–1565. 01 arieszetni.pmd rydho jalu nuringtyas, analisis 7s mckinsey pt hasil rotibua abadi untuk perbaikan organisasi 5555 analisis 7s mckinsey pt hasil rotibua abadi untuk perbaikan organisasi rydho jalu nuringtyas universitas airlangga rydhojalu@gmail.com abstract: this study aims to identify and find solutions to delay construction work happening on the sce project. the sce project is a school building construction project. the background of this study is due to indications of delay with a difference of 25% between the schedule plan and the reality in the ground. the factors that cause the delay must be well identified so that a larger delay can be avoided and can provide solutions to these problems. from the results of fishbone analysis and ahp, 11 factors were found to influence the delay in sce project. keywords: operational management, project, delay pendahuluan coating merupakan salah satu bidang pekerjaan dalam pemeliharaan suatu pabrik, tujuan dari coating ini sendiri merupakan pelapisan dengan menggunakan bahan kimia maupun cat untuk menghambat laju korosi suatu mesin maupun struktur baja suatu pabrik, dalam lini usaha bidang konstruksi khususnya pelapisan anti karat (coating) pada umumnya masuk dalam kategori bidang konstruksi kecil maupun menengah. menurut kepmenaker ri no. 91 tahun 2016, atas arahan dirjen iatt kementerian perindustrian maka asosiasi coating indonesia (ascoatindo) mengajak seluruh stakeholder coating untuk mendukung dan memberikan contractor terhadap program pemerintah ini dan pada tahun 2007 skkni sektor industri jasa pengolahan sub-sektor industri jasa pelapisan bidang coating sub-bidang proteksi mengesahkan coating sebagai salah satu jasa konstruksi sub-bidang proteksi melalui keputusan menakertrans no. 102/men/ii/2007. beberapa peta persaingan pada industri coating dalam skala nasional adalah pt surya pranusa, pt nuscaco anti-corrosion indonesia, pt indopama karya perkasa, dan pt hermon pancakarsa libratama. keempat perusahaan tersebut dianggap sebagai pesaing utama karena memiliki keunggulan terkait dengan sisi harga yang lebih murah saat pelelangan dalam beberapa bidang coating. berikut merupakan penjelasan keunggulan dan kelemahan beberapa kompetitor pada bidang coating termasuk pt hasil rotibua abadi. gambar 1.1 keunggulan dan kelemahan beberapa kompetitor bidang coating beberapa pesaing ini umumnya menerapkan harga produk jasa yang lebih rendah daripada harga produk jasa kompetitornya untuk ditawarkan kepada pihak user. salah satu faktor yang menyebabkan harga pesaing lebih rendah adalah perusahaan pesaing, sebagai contoh pt indopama karya perkasa memiliki aset penunjang jasa yang akan ditawarkan seperti memiliki investasi pada perancah/scaffolding untuk pekerjaan yang khususnya berkaitan dengan ketinggian, sehingga business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 56 pada saat lelang dapat memberi penawaran harga lebih rendah. selain itu dengan perusahaan menginvestasikan alat-alat utama penunjang proses jasa pekerjaan seperti apa yang pt hasil rotibua abadi dapat menurunkan biaya rancangan suatu proyek karena biasanya banyak perusahaan hanya menyewa alat utama pada proses jasa tersebut, apabila ada keterlambatan pekerjaan maka biaya akan membengkak dua kali lipat meskipun produk yang digunakan berasal dari denmark. pt hasil rotibua abadi adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang operating and maintenance sub bidang pelapisan anti korosi atau biasa disebut coating service. perusahaan tersebut memiliki lokasi kantor maupun workshop di gresik. target konsumen dari pt hasil rotibua abadi adalah perusahaan-perusahaan bumn yakni pt pjb dan pt petrokimia gresik, di mana para konsumen tersebut membutuhkan pemeliharaan atas aset penunjang produksi yang mereka miliki seperti contoh internal tank corrosion, structure conveyor. pada tahun 2015, pt hasil rotibua abadi mengalami permasalahan yang rumit yakni terjadinya kecelakaan kerja yang mengakibatkan suatu material berjalan (conveyor) pada area npk pabrik 2 pt petrokimia gresik terbakar habis hingga menyisakan puing struktur dan material berjalan. berdasarkan ilustrasi proses safety management yang dilakukan oleh pt petrokimia terhadap para pekerja pt hasil rotibua abadi, terdapat salah satu kelalaian pekerja dalam proses pengendalian k3 yakni pada saat pengelasan di atas ketinggian lebih dari tujuh meter para pekerja tidak melindungi percikan api pengelasan dengan air maupun dengan penutup area yang kontak dengan percikan api. karena itu, api menyambar langsung kepada atap yang terbuat dari plastik dan api langsung menyambar sangat cepat hingga membuat area conveyor pt petrokimia gresik terbakar habis. dari pemaparan di atas, pt hasil rotibua abadi saat ini memang hanya menerapkan stragambar 1.2 lokasi kecelakaan kerja di area pt petrokimia gresik sumber: http://jatim.metrotvnews.com rydho jalu nuringtyas, analisis 7s mckinsey pt hasil rotibua abadi untuk perbaikan organisasi 57 tegi bisnis yang belum terstruktur dan belum menerapkan strategi yang sesuai dengan ketentuan smk3 dan penerapan strategi internal yang berbasis pada data analisis. dengan terjadinya kecelakaan kerja maupun hal yang mengakibatkan kerugian pada perusahaan, pt hasil rotibua abadi saat ini terkena dampak negatif yakni penurunan pada nilai roa maupun roe merupakan salah satu dampaknya karena akibat dari kecelakaan kerja tersebut perusahaan harus membayar denda akibat kecelakaan maupun di-blacklist dari pt pupuk indonesia holding company untuk tidak diperbolehkan bekerja di area tersebut selama 2 tahun hingga 2017. berikut data roa dan roe pada data yang disajikan pada tabel berikut. tabel 1 roe dan roa pt hasil rotibua abadi tiga tahun terakhir untuk mengetahui bagaimana cara peningkatan performa maupun metode bisnis proses yang sesuai dengan aktivitas pt. hasil rotibua abadi, peneliti ingin menggunakan framework 7s mckinsey, dengan menggunakan analisis ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi internal perusahaan dan mengetahui bisnis proses yang sesuai dengan visi perusahaan agar meningkatkan performa maupun dalam perbaikan perusahaan. tinjauan pustaka strategi menurut david (2011) strategi adalah sarana bersama dengan tujuan jangka panjang yang hendak dicapai. strategi bisnis mencakup ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, pengetatan, divestasi, likuidasi, dan usaha patungan atau joint venture. strategi adalah aksi potensial yang membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan dalam jumlah besar. jadi strategi adalah sebuah tindakan aksi atau berdasarkan pemaparan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan roe maupun roa dalam tiga tahun terakhir menurun sekitar +/3%. roa maupun roe menurun ini dikarenakan pendapatan pada tiga tahun terakhir yang menurun secara signifikan, berikut merupakan grafik pada pendapatan pt hasil rotibua abadi dalam tiga tahun terakhir. pada pemaparan grafik pendapatan pt hasil rotibua abadi tiga tahun terakhir terhitung mulai 2014 hingga 2016 ini terjadi penurunan secara beruntun. pada 2014, pt hasil rotibua abadi sedang mendapatkan pendapatan paling besar sekitar rp 5.323.942.381 tetapi pada saat tahun 2015 berjalan pendapatan perusahaan menurun sebesar 15% dengan jumlah rp 4.505.661.823. gambar 1.1 grafik pendapatan pt hasil rotibua abadi tiga tahun business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 58 kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan untuk mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. analisis 7s mckinsey berdasarkan pernyataan peters dan waterman (2004), yang menjelaskan dua hal yang sama dengan pengembangan organisasi (organization development). pertama, mengasumsikan adanya sebuah bentuk organisasi yang ideal dan menjelaskannya secara terperinci. kedua, nilainilai humanisme yang begitu penting dalam pengembangan organisasi yang tersirat dalam bentuk organisasi yang diusulkan oleh peters dan waterman. akan tetapi, alat analisis yang dikembangkan oleh para penulis inilah yang paling relevan untuk pembangunan organisasi karena alat itu menggambarkan sifat dasar pengembangan organisasi. alat analisis itu merupakan 7s mckinsey. menurut sikka et al. (2005) menyatakan bahwa implementasi yang efektif pada penggunaan semua metode ini tidak tergantung pada peningkatan kesadaran akan potensi, tetapi juga tentang meningkatkan kompetensi orang yang bersangkutan. metode penelitian pada penelitian kali ini pengumpulan data menggunakan survey untuk menghasilkan data primer. survei adalah teknik penelitian dengan sample diwawancarai di dalam suatu cara atau perilaku responden yang diamati dan dijelaskan dalam beberapa cara (zikmund et al., 2013). metode analisis pada penelitian kali ini merupakan eksploratori kualitatif, dengan menggunakan metode tersebut maka untuk mendapatkan informasi yang valid berdasarkan data jenuh. hasil pada analisis menggunakan metode 7s mckinsey ini untuk mengidentifikasi apa yang diperlukan organisasi agar meningkatkan kinerja dan untuk mengimplementasikan strategi yang efektif pada multi dimensi pendekatan (kaplan, 2005). berikut merupakan penjabaran pada hasil analisis 7s mckinsey yang telah dilakukan oleh penulis. values form culture dengan shared values ini, peneliti ingin mengetahui nilai-nilai yang membentuk budaya dasar perusahaan dan dengan demikian dapat memengaruhi bagaimana orang berperilaku dalam organisasi, terutama dengan memengaruhi pola pikir. pernyataan ini dibenarkan oleh kutipan wawancara kepada direktur utama pt hrba. “ […..] sejauh ini saya memahami dari tujuan perusahaan maupun nilai-nilai yang dikemukakan oleh pemegang saham, yakni menjadi perusahaan fabrikasi dan coating yang terkemuka di pulau jawa. nilai-nilai yang saya akan berikan kepada para staff sampai dengan manager yakni value of teamwork dan value of innovation [……] selain itu dengan adanya nilai kerja sama tim maka keputusan-keputusan yang diambil bertujuan untuk inovasi jasa yang akan kita kerjakan (informan 3, direktur utama). berdasarkan kutipan wawancara komisaris utama dan direktur utama, kesimpulannya pada penggalan wawancara di atas nilai-nilai pada perusahaan ini yakni value of teamwork dan value of innovation. tetapi dengan nilai utama tersebut maka semua departemen dan karyawan harus setuju dengan nilai-nilai yang dibangun oleh organisasi, oleh sebab itu nilai-nilai utama tersebut harus dipahami betul karena untuk masa depan perusahaan. menurut peneliti, shared values perusahaan telah dibentuk sedemikian harus didokumentasikan secara jelas agar rydho jalu nuringtyas, analisis 7s mckinsey pt hasil rotibua abadi untuk perbaikan organisasi 59 kesadaran atas nilai yang dibentuk oleh perusahaan dapat dijalankan sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi core perusahaan. low-cost strategy dengan strategi, kita dapat merencanakan dalam menciptakan daya saing dan mencapai tujuan perusahaan. “sebenarnya dengan kondisi saat ini strategi yang kami gunakan adalah memang sesuai ya dengan tipe perusahaan jasa saat ini mas, karena harga murah dalam pelelangan dapat memenangkan suatu proyek [….] permasalahannya dalam berjalannya waktu pekerjaan sering terjadi kendala yakni keterlambatan pekerjaan yang berimbas pada membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan” (informan 2, komisaris). berdasarkan kutipan wawancara dengan komisaris dan direktur utama, pt hasil rotibua abadi ini memang menggunakan low-cost strategy tetapi terdapat beberapa permasalahan dalam berjalannya strategi yang digunakan. terjadinya permasalahan tersebut dikarenakan tidak ada gbhp (garis besar haluan perusahaan) yang mengakibatkan karyawan-karyawan belum menyadari betul penerapan strategi yang digunakan di perusahaan. maka rekomendasi peneliti terhadap permasalahan ini adalah membuat gbhp (garis besar haluan perusahaan) terkait penerapan low-cost strategy dalam berjalannya perusahaan tetapi perusahaan juga harus membuat streamlined business process karena dengan adanya streamlined business process perusahaan dapat membuat metode bisnis proses yang akan dijalankan pada setiap proyek akan dikerjakan. innovation dengan adanya strategi pengembangan inovasi yang dikemukakan oleh pihak manajemen maka perusahaan menjalankan low cost strategy dengan inovasi-inovasi di setiap metode pekerjaannya. berikut kutipan wawancara dengan direktur utama: “[….] karena saat ini pemain-pemain di bidang fabrikasi dan coating ini sudah sangat jenuh, maka kami mewajibkan teman-teman di lapangan melakukan inovasi terkait dengan metode-metode pekerjaan yang akan kita lakukan” (informan 3, direktur utama). berdasarkan wawancara dengan pihak direktur utama terlihat bahwa dengan adanya kombinasi low-cost strategy dengan inovasiinovasi yang dilakukan oleh pekerja di lapangan terkait dengan inovasi pada metode-metode pekerjaan yang dilakukan pada setiap proyekproyek. peneliti berpendapat pada pemilihan kombinasi strategi ini sangat baik tetapi inovasiinovasi yang dilakukan pada metode pekerjaan jangan sampai memengaruhi jeleknya kebijakankebijakan k3 yang dibuat oleh safety officer pt hrba. the coercive and authoritative style dengan style, peneliti bermaksud ingin mengetahui gaya kepemimpinan dalam perusahaan yang menjadi kunci perusahaan, berikut kutipan wawancara dengan project manager pt hrba: “memang pada perusahaan ini kepemimpinan sangat perlu kepada pihak internal maupun eksternal. internal di sini dari para direksi kepada saya maupun saya kepada para supervisor dan staffstaff terkait. […..]. di sini memang saya kepada para staff maupun supervisor saya menggunakan intuitif atas perintah saya” (informan 4, project manager). berdasarkan kutipan wawancara yang dikemukakan oleh project manager pt hrba, memang gaya leadership yang digunakan oleh project manager ini cocok untuk kondisi-kondisi business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 60 di mana target harus direalisasikan sebelum due date proyek telah berakhir. cross learning orientation dengan cross learning orientation, kepemimpinan manajer proyek dalam berjalannya suatu proyek dapat memberikan transfer ilmu kepada staff-nya, berikut kutipan wawancara dengan project manager pt hrba. “dalam berjalannya suatu proses pekerjaan, biasanya saya berikan mereka ilmu yang tidak mereka dapatkan sebelumnya seperti bagaimana membuat kurva s yang baik dan benar maupun sampai dengan perancangan anggaran proyek yang dikerjakan” (informan 4, manajer proyek). berdasarkan kutipan wawancara dengan manajer proyek, pada berjalannya perusahaan sering kali manajer proyek ini menggunakan cara transfer ilmu kepada staff-staff nya untuk meningkatkan kompetensi karyawan dimana dengan adanya transfer ilmu yang diberikan maka kerja manajer proyek akan semakin mudah dan staff-staff mudah dikontrol oleh manajer proyek. cross functional information dalam berjalannya suatu organisasi, sistem dapat memengaruhi berbagai hal yang menyangkut aktivitas perusahaan sehari-hari hingga perencanaan, implementasi, kontrol, penyampaian informasi, evaluasi, anggaran, dan penghargaan. berikut kutipan wawancara dengan komisaris utama terkait dengan sistematika perusahaan yang berada di pt hasil rotibua abadi. “sistematika perusahaan yang dibuat berdasarkan tujuan perusahaan yakni cross functional information, hingga mencapai produktivitas karyawan, tetapi belum terlalu efektif dan efisien dalam berjalannya perusahaan. […..]” (informan 1, komisaris utama). berdasarkan kutipan wawancara dengan komisaris utama, sistem perusahaan yang digunakan memang sudah berjalan yakni tetapi belum berjalan efektif dan efisien. cross functional training and coaching dengan adanya cross functional training and coaching pada perusahaan, maka seluruh elemen perusahaan dari direktur hingga staff dari berbagai divisi dapat merasakan berbagai pelatihan yang diadakan dari pemilik proyek yakni pihak bumn maupun yang pt hrba adakan. berikut kutipan wawancara dengan pihak manajer proyek. “untuk pelatihan-pelatihan biasanya ketika pihak pt petrokimia gresik mengadakan pelatihan untuk pengembangan dasar-dasar k3 maka perusahaan kami mengirimkan perwakilan dari pt hrba untuk mengikuti pelatihan tersebut, tidak serta merta kami kirimkan dari divisi hse (health safety and environment) saja tetapi dari engineering kami sertakan untuk turut serta dalam pelatihan. dari pelatihan yang diadakan untuk internal perusahaan kami adakan pelatihan pengembangan k3 untuk para supervisi lapangan, maupun pelatihan tentang pengenalan proses pekerjaan yakni coating dan fabrikasi untuk diikuti para safety officer kami” (informan 4. manajer proyek). berdasarkan kutipan wawancara dengan manajer proyek, sistem perusahaan dengan menggunakan cross functional training and coach ini membuat efisiensi perusahaan dalam biaya yang dikeluarkan lebih efektif dengan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pihak user. dalam internal perusahaan pun, transfer ilmu yang diberikan kepada para staff terbukti efektif dan dapat meningkatkan kompetensi karyawan. cross functional jobs struktur organisasi adalah fondasi bisnis untuk membuat eksistensi yang berkelanjutan rydho jalu nuringtyas, analisis 7s mckinsey pt hasil rotibua abadi untuk perbaikan organisasi 61 dari kompetisi suatu pasar. berikut merupakan kutipan wawancara pada direktur utama: “memang kita sudah buat struktur organisasi secara terperinci tetapi pada kenyataannya pada suatu pekerjaan yakni project manager yang membawahi seluruh supervisor maupun staff semua divisi dalam hal pelaporan-pelaporan progress pekerjaan, kontrol proyek, pembuatan rancangan biaya proyek, hingga ke material yang digunakan. tetapi apabila suatu proyek yang jangkauannya jauh dan hanya cukup di-handle oleh supervisi saja maka pelaporan kutipan atau pelaporan pekerjaan maupun kontrol proyek menjadi tanggung jawabnya” (informan 3, direktur utama). berdasarkan kutipan wawancara kutipan direktur utama bahwa struktur organisasi yang dibentuk memang sudah terperinci tetapi fleksibilitas aktivitas yang paling terpenting dikarenakan apabila terjadi penyampaian informasi yang diberikan harus melalui manajer proyek lalu ke direktur butuh waktu maka supervisi dapat langsung menyampaikan permasalahan-permasalahan yang genting kepada direktur, setelah itu dikomunikasikan kepada manager agar dirapatkan bersama. certified skill yang dimaksud dengan skills pada metode 7s mckinsey merupakan kompetensi karyawan yang bekerja untuk perusahaan, merupakan unsur yang sangat penting bagi keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuannya dengan efektif dan efisien (bingham, eisenhardt, & furr, 2009). hal ini juga dikemukakan berbeda oleh manajer proyek pt hasil rotibua abadi, berikut kutipan wawancaranya. “untuk kompetensi skill karyawan di perusahaan saya rasa cukup dengan adanya coating inspector, welding inspector, maupun safety officer, dikarenakan berjalannya perusahaan berdasarkan proyek dan biasanya dalam suatu proses administrasi pelelangan harus disertakan sertifikat keahlian-keahlian tersebut. untuk kompetensi yang lain seperti drawing, project controlling dengan kurva s, maupun estimasi pekerjaan didapatkan dari transfer ilmu yang diberikan langsung oleh saya maupun direktur utama.” berdasarkan kutipan wawancara dengan manajer proyek, dapat disimpulkan bahwa untuk kompetensi dari skill karyawan pt hasil rotibua abadi saat ini sudah cukup baik, kompetensi karyawan dalam perhitungan anggaran proyek, kontrol proyek, maupun menggambar teknik sendiri memang saat ini hanya berdasarkan transfer ilmu yang diberikan langsung oleh direktur utama. namun ada beberapa kompetensi yang harus disertakan dalam dokumen administrasi pelelangan yakni coating inspector, welding inspector, maupun safety officer. hal ini yang menyebabkan perusahaan harus memperbarui kompetensi skill dari karyawannya. certified staff berdasarkan tujuan perusahaan yang sudah dikemukakan, maka suatu organisasi harus mempunyai personel staff yang sesuai dengan proses bisnis perusahaan. berikut kutipan wawancara kepada direktur utama terkait staff yang ada di perusahaan. “staff yang berada di perusahaan kami memang saat ini sudah cukup dengan berjalannya proses bisnis perusahaan dengan adanya kompetensikompetensi yang dimiliki oleh karyawan perusahaan, […..] tetapi apabila dalam suatu tender mengharuskan adanya staff safety officer dan staff coating inspector, otomatis kami harus merekrut karyawan-karyawan yang memiliki sertifikasi tersebut. biasanya kami merekrut karyawan yang bersertifikasi berdasarkan rekomendasi-rekomendasi dari asosiasi member seperti contoh ascoatindo (asosiasi coating indonesia). [….] pengembangan staff perusahaan biasanya pasti kita lakukan pelatihan-pelatihan bersertifikasi bnsp, tetapi sebelum itu biasanya kita lakukan seleksi interbusiness and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 62 nal berupa uji kompetensi di lapangan terkait dengan spesifikasi pekerjaan” (informan 3, direktur utama). berdasarkan kutipan wawancara terhadap direktur utama bahwa saat ini perusahaan sudah memiliki staff yang cukup tetapi tidak menutup kemungkinan apabila user mengharuskan adanya safety officer maupun coating inspector yang menetap di suatu lokasi proyek maka perusahaan tetap merekrut karyawan baru yang sesuai dengan kompetensi sertifikasi tersebut. kesimpulan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa strategi pt hrba dalam berjalannya proses bisnisnya memang menggunakan low-cost leadership dan innovation, dengan strategi fundamental pt hrba sudah sangat baik tetapi pemaparan strategi pada aktivitas perusahaan tersebut belum dipahami oleh pihak karyawan-karyawan. shared values pt hrba pada budaya yang diterapkan di perusahaan berasal dari dibentuknya nilai-nilai perusahaan, pada hakikatnya nilai yang membentuk budaya yakni values of teamwork dan values of innovation. pada values of teamwork ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia perusahaan maupun efektivitas operasional perusahaan, untuk values of innovation ini perusahaan harus mendorong terobosanterobosan yang diperlukan untuk meningkatkan kapabilitas dan kompetitif perusahaan dari para karyawan hingga level direksi. style atau gaya kepemimpinan perusahaan dalam berjalan aktivitas bisnisnya masih kurang efektif dikarenakan kepemimpinan yang diterapkan oleh perusahaan lebih intuitif daripada menemani karyawan yang bersangkutan dalam rangka ikut serta dalam pengambilan keputusan. sistem yang diterapkan perusahaan saat ini mencoba dengan penerapan cross-functional information, di mana informasiinformasi terkait dengan satu divisi dengan divisi lain sangat dibutuhkan untuk mengetahui informasi-informasi terkini terkait dengan proses bisnis perusahaan. structure pada penggunaan crossfunctional jobs ini pt hrba memang saat ini belum berjalan efektif dikarenakan kurangnya sumber daya manusia yang melingkupi proses bisnis perusahaan. skill kompetensi yang berbasis pada sertifikasi-sertifikasi yang dimiliki oleh karyawan pt hrba, dapat mendukung proses bisnis perusahaan tetapi saat ini yang memiliki kompetensi berdasarkan sertifikasi dari pemerintah saat ini hanya ada 4 staff dari total 50 karyawan perusahaan. staff yang dimiliki oleh pt hrba saat ini 60% berada pada usia 50–60 tahun dan semua nya tidak memiliki kompetensi yang tersertifikasi oleh asosiasi bidang pekerjaan yang pt hrba geluti saat ini, maka diperlukan nya regenerasi staff dengan pengalaman yang cukup dan memiliki sertifikasi dari asosiasi bidang pekerjaan yang dijalani oleh pt hrba. meskipun cost yang timbul sangat besar tetapi dampak positif dalam berjalannya organisasi akan sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan. referensi babin, b.j. & zikmund, w.g. 2013. essentials of marketing research. nelson education. brent, d. ruben & lea p. stewart. 2013. komunikasi dan perilaku manusia. jakarta: raja grafindo persada. bengtsso, t. & o. saito. 2004. population and economy: from hunger to modern economic growth. oxford university press. david, fred r. 2011. manajemen strategis: konsep-konsep, edisi dua belas. jakarta: salemba empat. rydho jalu nuringtyas, analisis 7s mckinsey pt hasil rotibua abadi untuk perbaikan organisasi 63 ebeling, charles e. 2010. an introduction to reliability and maintainability engineering. long grove, il, waveland press inc. guenzi, p. & storbacka, k. 2015. the organizational implications of implementing key account management: a case-based examination. industrial marketing management, 45, 84–97. hadiansyah, h., purwandari, b., satria, r., & yudhoatmojo, s.b. 2018 social media strategies for public diplomacy: a case study in the ministry of foreign affairs of the republic of indonesia. in informatics and computing (icic), 2017 second international conference on (pp. 1– 5). ieee. kotler, philip & keller. 2012. marketing management, global edition. pearson prestice hall. mintzberg, h. 2001. the strategy concept i: five ps for strategy. california management review, 30(1), 11–24. patton jr, j.d., business, m.i.b., & best, n.n.i. 2006. maintenance, long-term support and system management. a guide to the automation body of knowledge, 421. porter, m.e. & kramer, m.r. 2006. the link between competitive advantage and corporate social responsibility. harvard business review, 84(12), 78–92. porter, m.e. & kramer, m.r. 2006. the link between competitive advantage and corporate social responsibility. harvard business review, 84(12), 78–92. porter, m.e. 2008. the five competitive forces that shape strategy. harvard business review, 86(1), 78–93. scheffer, c. & girdhar, p. 2004. practical machinery vibration analysis and predictive maintenance. elsevier. singh, a. 2013. a study of role of mckinsey’s 7s framework in achieving organizational excellence. organization development journal, 31(3), 39. tampubolon, m.p. 2004. manajemen operasional, 98. jakarta: ghalia indonesia. wheelen, t.l. & hunger, j. 2006. david-strategic management and business policy: concepts and cases. zikmund. 2013. business research methods, ninth edition. south western. 01 astria primadhani.pmd hidayatul khusnah, dampak mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan 113113 dampak mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan hidayatul khusnah prodi s1 akuntansi fakultas ekonomi dan bisnis universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: hidayatul.khusnah@unusa.ac.id abstract: this study aims to investigate the effect of tournament incentives on earnings management and fraud, as well as the mediating impact of earnings management on the effect of tournament incentives on fraud. this research was conducted in manufacturing companies listed on the indonesia stock exchange (idx) which publish annual financial reports for six consecutive years, starting from 2014 to 2019. the data in this study were obtained from the official website of the indonesia stock exchange (www. idx.co.id), the website of each company, www.ahamok.com. the data analysis technique in this study used sem-pls analysis using the warppls 5.0 software. the results of this study indicate that tournament incentives have a positive effect on the possibility of fraud in financial reports and earnings management. this study also found a positive effect of earnings management on the possibility of fraud in financial statements. finally, this study did not find a mediating effect of earnings management on the effect of tournament incentives on the possibility of fraud in the financial statements. key words: tournament incentives, earnings management, fraud pendahuluan teori turnamen berkembang sebagai cara untuk menjelaskan kesenjangan upah yang besar antara ceo dan eksekutif peringkat bawah yang biasa diamati dalam praktik dan menjadi perhatian media yang cukup besar (haß, müller, and vergauwe 2015). kesenjangan upah yang besar akan menjadi informasi yang buruk bagi investor. selain itu, kesenjangan upah juga berdampak pada kecemburuan sosial yang dapat memicu terjadinya kecurangan. teori keagenan menyatakan manajer cenderung mementingkan tujuan pribadi dibandingkan dengan tujuan perusahaan (jensen dan meckling, 1976), hal tersebut mendasari terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan. ketika peluang muncul, eksekutif di posisi kunci pengambilan keputusan sangat mungkin untuk memanipulasi laporan keuangan karena secara langsung dapat memengaruhi kekayaan pribadi mereka (zhang et al., 2008). salah satu skema solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara merancang kompensasi eksekutif (lazear dan rosen, 1981; guay, 1999; kale et al., 2009; kubick dan masli, 2016; & sun et al., 2019). kebijakan kompensasi perusahaan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku manajerial dan kinerja perusahaan jia (2018). namun beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa skema kompensasi eksekutif tidak selalu berhubungan dengan kinerja perusahaan (bebchuk and fried, 2003 yang dikutip oleh sun et al., 2019). lazear dan rosen (1981) menawarkan alternatif bentuk pengaturan kompensasi turnamen yang berbentuk peringkat, turnamen ini memfasilitasi persaingan antara eksekutif senior yang mampu mencapai tujuan maka akan mendapat imbalan berupa moneter dan jabatan. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 114 teori tentang turnamen dikembangkan oleh lazear dan rosen (1981) yang kemudian diperluas oleh rosen (1986). teori ini menyatakan bahwa tournament incentives memfasilitasi persaingan antara eksekutif senior, hanya yang terbaik saja yang akan mendapatkan imbalan moneter yang besar, serta posisi superior dalam hierarki perusahaan. terdapat ketidakkonsistenan dari penelitian-penelitian sebelumnya terkait dengan tournament incentives, yang mana terdapat dua hasil yang saling bertentangan. pertama, tournament incentives menyebabkan perilaku negatif manajerial untuk kepentingan pribadi. beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh (kini dan williams, 2012) menunjukkan bahwa tournament incentives dapat mengarah kepada pengambilan risiko manajerial yang lebih besar, harbring dan irlenbusch (2012) juga menemukan bahwa tournament incentives dapat menyebabkan kecenderungan kesalahan yang lebih tinggi dalam pelaporan keuangan, selain itu juga menyebabkan fraud dalam keuangan (haß et al., 2015). jia (2018) juga menemukan bahwa kesenjangan upah ceo dengan eksekutif senior lainnya juga berpengaruh positif terhadap risiko jatuhnya harga saham di masa yang akan datang. tournament incentives yang tinggi menyebabkan eksekutif senior cenderung tergoda untuk melakukan perilaku tidak etis dalam menjalankan pekerjaannya sehingga berpengaruh terhadap harga saham di masa yang akan datang. kedua, yaitu hasil penelitian yang memiliki hasil bertolak belakang dengan hasil yang pertama, yakni hasil yang menunjukkan bahwa tournament incentives berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (kale et al., 2009). persaingan untuk mendapatkan insentif yang tinggi membuat para eksekutif senior lebih bekerja keras sehingga berdampak positif terhadap kinerja perusahaan. hal tersebut juga didukung oleh penelitian baru-baru ini yaitu yang dilakukan oleh sun et al. (2019) menunjukkan bahwa tournament incentives berpengaruh negatif terhadap risiko jatuhnya harga saham. penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh tournament incentives dan earnings management terhadap kemungkinan terjadinya fraud laporan keuangan. selain itu, penelitian ini juga menginvestigasi efek mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan fraud pada laporan keuangan. penelitian tentang insentif turnamen telah diteliti oleh penelitian sebelumnya di beberapa negara, tetapi belum pernah diteliti di indonesia. sun et al. (2019) meneliti insentif turnamen di negara china, callen and fang (2015), dan jia (2018) meneliti insentif turnamen di amerika. alasan peneliti melakukan penelitian tentang insentif turnamen di indonesia karena di indonesia memiliki karakteristik yang hampir sama dengan china dan penelitian ini bertujuan untuk menggeneralisasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh sun et al. (2019). penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi para pengambil keputusan, terutama ceo agar lebih objektif dalam memeriksa hasil pelaporan keuangan dari manajer di bawahnya. manfaat yang kedua untuk memberikan tools bagi ceo untuk melakukan audit internal hasil kinerja bawahannya. selanjutnya, penelitian ini diharapkan menambah literatur tentang tournament theory sehingga dapat memperluas konsep-konsep dalam tournament theory. landasan teori dan pengembangan hipotesis agency theory (teori keagenan) agency theory atau teori agensi mencoba untuk!menjalin hubungan yang formal antara prinsipal dan agen atau!pihak-pihak yang berkehidayatul khusnah, dampak mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan 115 mendapat insentif berupa moneter dan promosi posisi strategis. untuk memenangkan persaingan, eksekutif senior harus bisa mencapai target yang telah ditetapkan, tidak jarang dalam proses pencapaian target tersebut para eksekutif senior melakukan perilaku tidak etis. earnings management earning management adalah tindakan campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri. scott (2003:369) mendefinisikan earnings management sebagai “the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective” yang kurang lebih memiliki arti pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu. financial statement fraud financial statement fraud pada keuangan perusahaan mengacu pada kesalahan pada penyajian dan pengungkapan yang dilakukan secara sengaja di dalam laporan keuangan (apostolou et al., 2000). kesalahan penyajian dalam pelaporan keuangan di sini mengandung arti bahwa keputusan pengguna laporan keuangan akan terpengaruh oleh ketidakakuratan informasi salah saji tersebut sehingga akan berpengaruh pula pada keputusan yang diambil. terdapat dua jenis kecurangan akuntansi, yaitu kecurangan pelaporan keuangan (fraudulent financial report) dan penggelapan aktiva (misappropriation). kecurangan pelaporan keuangan merupakan kesalahan penyajian, penghilangan suatu jumlah tertentu atau pengungkapan salah saji secara sengaja dengan tujuan untuk menipu sehingga informasi yang disajikan menyesatkan bagi para pengguna laporan keuangan. pentingan dalam proses!penyusunan budget. teori ini menekankan pada perancangan pengukuran prestasi dan imbalan yang diberikan agar para manajer berperilaku!positif atau menguntungkan!perusahaan secara keseluruhan. teori keagenan menjelaskan tentang pemisahan antara fungsi pengelolaan (oleh manajer) dengan fungsi kepemilikan (oleh pemegang saham) dalam suatu perusahaan. hubungan agensi ini muncul ketika satu atau lebih orang mempekerjakan orang lain untuk memberikan jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambil keputusan kepada agen tersebut. tujuan dari manajer dan pemegang saham sama, yaitu meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemegang saham. akan tetapi, sering kali manajer tidak selalu bertindak demi kepentingan pemegang saham atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan keinginan pemegang saham sehingga terjadi konflik antara manajer perusahaan dengan pemegang sahamnya. tournament incentives teori turnamen dikembangkan oleh lazear dan rosen (1981) yang kemudian diperluas oleh rosen (1986). teori ini menyatakan bahwa insentif turnamen memfasilitasi persaingan antara eksekutif senior dan hanya yang terbaik saja yang akan mendapatkan imbalan moneter yang besar serta posisi superior dalam hierarki perusahaan. di bawah skema turnamen, kinerja eksekutif sering dievaluasi dengan membandingkan seberapa baik kinerja masing-masing eksekutif dibandingkan dengan yang eksekutif lainnya yang ikut dalam persaingan (sun, habib, and huang 2019). dengan demikian, eksekutif senior yang telah mencapai target yang ditetapkan maka dia yang akan memenangkan persaingan. eksekutif senior yang memenangkan persaingan akan business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 116 capai target tersebut, tidak jarang para eksekutif melakukan tindakan menyimpang, seperti fraud dalam pelaporan keuangan sehingga dapat berakibat buruk bagi perusahaan. beberapa penelitian terdahulu yang disimpulkan oleh haß, müller, and vergauwe, (2015) menunjukkan bahwa insentif turnamen mendorong pada pengambilan risiko yang lebih tinggi. berdasarkan penelitian terdahulu dan argumen tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. h1: tournament incentives berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya fraud h2: tournament incentives berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya earnings management earnings management dengan fraud earnings management adalah tindakan campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri. scott (2003:369) mendefinisikan earnings management sebagai the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective yang kurang lebih memiliki arti pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu. persediaan adalah salah satu dari akun termudah untuk dimanipulasi (stice 1991), karena persediaan memerlukan estimasi subjektif yang dapat berbeda di setiap perusahaannya, yang membuat audit atas persediaan menjadi lebih susah. persons (1995) menemukan bahwa perusahaan yang curang cenderung memiliki rasio persediaan/total aset yang lebih besar dibanding perusahaan yang tidak melakukan kecurangan. h3: earnings management berhubungan positif terhadap kemungkinan terjadinya fraud sedangkan penggelapan aktiva merupakan kecurangan yang menyangkut pencurian terhadap aset atau entitas perusahaan. pencurian ini umumnya dilakukan oleh karyawan dengan jumlah yang relatif kecil dan tidak material. namun pencurian tersebut juga dapat melibatkan manajemen yang lebih dapat menutupi atau menyembunyikan kecurangan sehingga sulit dideteksi (hery, 2016). pengembangan hipotesis tournament incentives dengan earnings management dan fraud sekelompok eksekutif biasanya bekerja sama dalam sebuah tim dalam perusahaan yang sudah besar (jia 2018). kelompok tersebut terdiri dari ceo dan eksekutif non-ceo yang memiliki tingkatan insentif yang relatif berbeda. perbedaan insentif antara ceo dan eksekutif non-ceo akan berpengaruh terhadap perilaku manajerial (bebchuk, cremers, and peyer 2011). eksekutif non-ceo akan merespons positif adanya insentif berbasis kinerja dan berbasis promosi, karena ada peluang untuk dipromosikan menjadi ceo, sedangkan ceo akan menanggapi secara eksklusif hanya untuk insentif berbasis kinerja saja (kubick and masli 2016). eksekutif non-ceo yang memiliki kinerja baik, akan memiliki kesempatan untuk dipromosikan menjadi ceo dengan tambahan insentif yang besar (lazear and rosen 2002). hal tersebut akan memicu terjadinya kesenjangan insentif antara ceo dengan eksekutif non-ceo sehingga insentif turnamen menjadi semakin kuat (kim, wang, and zhang 2016). tournament incentives mendorong eksekutif untuk meningkatkan kinerjanya agar mampu mencapai insentif yang ditawarkan. untuk menhidayatul khusnah, dampak mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan 117 earnings management memediasi pengaruh tournament incentives terhadap fraud tournament incentives memiliki kecenderungan efek disfungsional yang tidak diinginkan (jia 2018). beberapa penelitian terdahulu mendokumentasikan efek negatif dari insentif turnamen, di antaranya terjadinya misreporting dalam laporan keuangan karena eksekutif memanipulasi laporan keuangan demi mendapatkan promosi sebagai ceo (chena, honga, and jeremy c. stein 2001), memicu terjadinya fraud dalam pelaporan keuangan (haß, müller, and vergauwe 2015), dan cenderung meningkatkan risiko jatuhnya harga saham (jia 2018). earnings management tindakan campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri. eksekutif senior yang berada dalam kompetisi tidak jarang akan melakukan tindakan earnings management untuk tujuan pribadi yaitu untuk memenangkan persaingan dalam turnamen sehingga dapat berpotensi terjadi fraud. h4: earnings management memediasi pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud metode penelitian populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia (bei) tahun 2013 sampai dengan tahun 2018. sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam bursa efek indonesia (bei) yang memublikasikan laporan keuangan tahunan selama enam tahun berturut-turut, terhitung mulai tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. data dalam penelitian ini diperoleh dari situs resmi bursa efek indonesia (www.idx.co.id), situs masing-masing perusahaan, www.ahamok.com. variabel penelitian tournament incentives variabel tournament incentives diproksikan menjadi gap pembayaran eksekutif. gap pembayaran eksekutif dalam penelitian ini diukur menggunakan pengukuran log (ceo-medianvp pay) yang juga digunakan oleh peneliti sebelumnya yaitu (kini and williams 2012) and (jia 2018). gap pembayaran eksekutif diukur menggunakan perbedaan antara total kompensasi (selisih antara jumlah kompensasi jangka pendek dan jangka panjang) dari ceo perusahaan dan nilai median dari total kompensasi yang diberikan tahunan oleh perusahaan. earnings management variabel earnings management diukur dengan menggunakan accrual model yang dikembangkan oleh jones (1991). berikut adalah model akrual tersebut. keterangan: ta it = total accruals in year t for firm i !revit = revenues in year t less revenues in years t – 1 for firms i ppe it = gross property, plant, and equipment in year t for firm i a it-1 = total assets in year t–1 for firm i financial statement fraud variabel financial statement fraud dalam penelitian ini diukur menggunakan m score model yang dikembangkan oleh beneish (1999) menggunakan variabel dummy dengan dua kategori, yaitu 1 jika perusahaan dianggap melakukan kecurangan pada pelaporan keuangan dan 0 jika perusahaan dianggap tidak melakukan kecubusiness and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 118 rangan pada pelaporan keuangan. nilai tersebut berasal dari hasil perhitungan m score dengan kategori jika hasil penghitungan m score >-2,22 maka perusahaan dianggap melakukan kecurangan pada pelaporan keuangan. m score terdiri dari delapan indicator yaitu dsri, gmi, aqi, sgi, depi, tata, sgai, dan lvgi. berikut ini adalah rumus m score menurut beneish (1990). m score = -4,840 + 0,920 drsi + 0,528 gmi + 0,404 aqi + 0,892 sgi + 0,115 depi – 0,172 sgai – 0,327 lvgi + 4,697 tata day’s sales in receivable index (dsri) variabel ini merupakan rasio perbandingan antara penjualan dan piutang dari tahun pertama dan tahun kedua, mengukur apakah antara pendapatan dan piutang mengalami keseimbangan selama dua tahun berturut-turut. berikut rumus perhitungan rasio dsri berdasarkan beneish (1999). dengan total asset. semakin tinggi rasio maka semakin besar kemungkinan perusahaan melakukan penangguhan biaya. berikut rumus perhitungan rasio aqi berdasarkan beneish (1999). gross margin index (gmi) gross margin index (gmi) merupakan rasio penjualan minus beban penjualan, general, dan administratif untuk penjualan pada tahun t terhadap rasio yang sama di tahun t-1. rumus untuk menghitung rasio gmi adalah sebagai berikut (beneish, 1999). asset quality index (aqi) asset quality index (indeks kualitas asset) merupakan rasio noncurrent asset selain asset property, plant, equipment (pp&e) berbanding sales growth index (sgi) sales growth index (index pertumbuhan penjualan) merupakan perbandingan antara penjualan tahun t dengan penjualan tahun t-1. berikut rumus perhitungan rasio sgi berdasarkan beneish (1999). depreciation index (depi) tingkat penyusutan pada tahun tertentu sama dengan depresiasi/(depresiasi + net pp & e). rumus untuk menghitung rasio depi adalah sebagai berikut (beneish, 1999). sales general and administrative expenses index (sgai) rasio beban penjualan, general dan administratif untuk penjualan pada tahun t terhadap rasio yang sama di tahun t-1. berikut rumus perhitungan rasio sgai berdasarkan beneish (1999). leverage index (lvgi) perbandingan rasio total utang dan total aktiva pada tahun t dengan rasio yang sama hidayatul khusnah, dampak mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan 119 pada tahun t-1. rumus untuk menghitung rasio lvgi adalah sebagai berikut (beneish, 1999). dalam laporan keuangan memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,33 dan p value sebesar p <0.01 yang artinya langkah pertama untuk pengujian hipotesis mediasi ini terpenuhi sehingga dapat dilanjutkan pada pengujian berikutnya. tata akrual dihitung sebagai perubahan akun modal kerja selain kas kurang depresiasi. total akrual atau partisi total akrual digunakan dalam pekerjaan sebelumnya untuk menilai sejauh mana manajer membuat discretionary akuntansi pilihan untuk mengubah pendapatan sesuai yang diinginkan. rumus untuk menghitung rasio tata berdasarkan beneish (2012) sebagai berikut. hasil penelitian ini dilakukan di perusahaan manufaktur yang terdaftar pada bursa efek indonesia selama tahun 2014 sampai dengan 2019. terdapat 11 perusahaan manufaktur yang memenuhi kriteria untuk diteliti. pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis sempls dengan menggunakan software warppls 5.0. pengujian hipotesis dalam penelitian menggunakan analisis jalur, karena penelitian ini tidak hanya menguji hubungan langsung saja, akan tetapi juga menguji hubungan tidak langsung. berikut adalah hasil pengujian hipotesis penelitian ini. gambar 1.1 estimasi hubungan langsung (ti!!fr) berdasarkan gambar 1.1 dapat diketahui bahwa tournament incentives terhadap fraud t ! = 0,33 p <.01 r" = 0,14 tournament incentives fraud dalam laporan keuangan gambar 1.2 estimasi hubungan tidak langsung (full model) earnings management gambar 1.2 menunjukkan estimasi hubungan tidak langsung antara variabel tournament incentives terhadap fraud dalam laporan keuangan dengan earnings management sebagai variabel pemediasi. berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa variabel tournament incentives terhadap fraud dalam laporan keuangan memiliki nilai koefisien jalur yang positif yaitu ! = 0,33 dengan p < 0,01. nilai koefisien jalur dari tournament incentives terhadap earnings management sebesar ! = 0,30 dengan p <0,01 dan juga nilai koefisien jalur earnings management terhadap fraud dalam laporan keuangan sebesar ! = 0,21 dengan nilai p < 0,05. berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat diketahui bahwa ketika hubungan langsung (lihat gambar 1.1) dimasuki variabel mediasi dan nilainya masih tetap signifikan maka dapat dilanjutkan untuk pengujian berikutnya, yaitu melakukan perhitungan variance accounted for (vaf) melalui pembagian (/) antara total hubungan tidak langsung dengan hubungan total yang diperoleh dari penjumlahan (+) antara hubungan ! = 0,33 p <.01 r" = 0,14 ! = 0,30 ! = 0,21 p <.01 p 0,04 tournament incentives fraud dalam laporan keuangan earnings management business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 120 langsung dengan tidak langsung. jika nilai vaf > 0,80 maka menunjukkan peran mediasi secara penuh dan jika nilai vaf berada di antara 0,20 hingga 0,80 maka peran mediasi hanya sebagian. sedangkan ketika nilai vaf menunjukkan angka kurang dari 0,20 maka dapat disimpulkan bahwa hampir tidak terjadi efek mediasi dalam model (hair dkk., 2014). tabel 1.1 menyajikan hasil lengkap untuk perhitungan variance accounted for (vaf) tersebut. berdasarkan hasil pengujian vaf pada tabel tersebut dapat diketahui bahwa nilai pada hipotesis mediasi sebesar 0,16, hal tersebut menunjukkan bahwa earnings management tidak mampu menyerap pengaruh langsung dari model mediasi. pembahasan hipotesis tabel 1.2 merangkum hasil pengujian hipotesis penelitian ini. hipotesis pertama yang berbunyi tournament incentives berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan terdukung. hal tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien jalur dari ti!!fr sebesar 0, 33 dan nilai p<0,01. hasil tersebut berarti bahwa semakin tinggi tournament incentives maka kemungkinan terjadi fraud dalam hubungan tidak langsung (gambar 1.2) ti ! em !fr 0,30*0,21 0,063 total hubungan tidak langsung 0,063 hubungan langsung ti ! fr 0,33 total hubungan langsung 0,33 hubungan total 0,063 + 0,33 = 0,39 vaf (ti ! em !fr) hubungan tidak langsung = 0,063 hubungan total 0,39 0,16 tabel 1.1 hasil penghitungan vaf hubungan langsung tabel 1.2 rekapitulasi hasil pengujian hipotesis hipotesis hubungan koefisien jalur keterangan h1 ti ! fr 0,33*** terdukung h2 ti ! em 0,30*** terdukung h3 em ! fr 0,21** terdukung h4 ti ! em ! fr 0,16 tidak terdukung *** p-value < 0,01 ** p-value <0,05 hidayatul khusnah, dampak mediasi earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan 121 laporan keuangan juga tinggi. tournament incentives mendorong eksekutif untuk meningkatkan kinerjanya agar mampu mencapai insentif yang ditawarkan. untuk mencapai target tersebut, tidak jarang para eksekutif melakukan tindakan menyimpang, seperti kecenderungan melakukan fraud dalam pelaporan keuangan sehingga dapat berakibat buruk bagi perusahaan. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh (jia 2018). hipotesis kedua dalam penelitian ini yaitu tournament incentives berpengaruh positif terhadap earnings management terdukung. hal tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien jalur ti!! em sebesar 0,30 dengan nilai p<0,01. hasil tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi tournament incentives maka semakin tinggi pula kemungkinan seseorang untuk melakukan earnings management. tournament incentives dapat menyebabkan kecenderungan kesalahan yang lebih tinggi dalam pelaporan keuangan, sehingga memungkinkan untuk melakukan tindakan earnings management (haß et al. 2015). hipotesis selanjutnya yaitu earnings management berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan juga terdukung. hal tersebut dapat dibuktikan dari nilai koefisien jalur dari (em!!fr) sebesar 0,21 dan nilai p<0,04. hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings management maka semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. hipotesis terakhir dalam penelitian ini tidak terdukung. al tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan vif (lihat tabel 1.2) sebesar 0,16. hasil tersebut menunjukkan bahwa earnings management tidak memediasi pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. hasil tersebut mengindikasikan bahwa earnings management tidak dapat menyerap pengaruh langsung tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. kesimpulan penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh dari tournament incentives terhadap earnings management dan fraud, serta dampak mediasi dari earnings management pada pengaruh tournament incentives terhadap fraud. hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tournament incentives berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. yang kedua tournament incentives berpengaruh positif terhadap earnings management. selanjutnya earnings management berpengaruh positif terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. yang terakhir earnings management tidak memediasi pengaruh tournament incentives terhadap kemungkinan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. daftar pustaka bebchuk, lucian a., k.j. martijn cremers, and urs c. peyer. 2011. “the ceo pay slice.” journal of financial economics 102(1): 199–221. chena, joseph, harrison honga, and jeremy c. stein. 2001. “forecasting crashes: trading volume, past returns and conditional skewness in stock prices.” journal of financial economics 54(6): 2143–84. haß, lars helge, maximilian a. müller, and skrålan vergauwe. 2015. “tournament incentives and corporate fraud.” journal of corporate finance 34: 251–67. http:// dx.doi.org/10.1016/j.jcorpfin.2015.07.008. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 122 jia, ning. 2018. “tournament incentives and stock price crash risk.” accounting horizons 32(3): 101–21. kim, jeong bon, zheng wang, and liandong zhang. 2016. “ceo overconfidence and stock price crash risk.” contemporary accounting research 33(4): 1720–49. kini, omesh, and ryan williams. 2012. “tournament incentives, firm risk, and corporate policies.” journal of financial economics 103(2): 350–76. http://dx.doi.org/ 10.1016/j.jfineco.2011.09.005. kubick, thomas r., and adi n.s. masli. 2016. “firm-level tournament incentives and corporate tax aggressiveness.” journal of accounting and public policy 35(1): 66 –83 . htt p:/ /d x.d oi. or g/1 0.1 01 6/ j.jaccpubpol.2015.08.002. lazear, edward p., and sherwin rosen. 2002. “rank-order tournaments as optimum labor contracts.” journal of political economy 89(5): 841–64. rediker, kenneth j. 1995. “i——— mechanisms.” 16(july 1992): 85–99. sun, sophia li, ahsan habib, and hedy jiaying huang. 2019. “tournament incentives and stock price crash risk: evidence from china.” pacific basin finance journal 54(september 2018): 93–117. https:// doi.org/10.1016/j.pacfin.2019.02.005. xu, yuehua, lin zhang, and honghui chen. 2018. “board age and corporate financial fraud: an interactionist view.” long range planning 51(6): 815–30. https:// doi.org/10.1016/j.lrp.2017.08.001. yiu, daphne w., yuehua xu, and william p. wan. 2014. “corporate financial fraud.” organization science 25(5): 1549–71. zhang, xiaomeng et al. 2008. “ceos on the edge: earnings manipulation and stockbased incentive misalignment.” academy of management journal 51(2): 241–58. 01 arief.pmd desi kristanti & ria lestari pangastuti, effect of work stress, work motivation, and work environment to employee performance production part 105105 effect of work stress, work motivation, and work environment to employee performance production part (case study at ud pratama karya kota kediri) desi kristanti & ria lestari pangastuti program studi manajemen, fakultas ekonomi, universitas kadiri e-mail: desikristanti@unik-kadiri.ac.id & ceria.ria@gmail.com abstract: this research was conducted to test work stress, work motivation, work environment on employee performance. the research sample was 50 respondents and used a total sampling method. this study uses a quantitative approach, data for this study were obtained through a research questionnaire that was filled out by predetermined respondents. variables are measured with a likert scale. hypothesis testing using spss v20 tools with multiple linear regression analysis methods. the findings about the effect of work stress, work motivation, work environment on the performance of employees of ud pratama karya city of kediri. first, work stress and work motivation have no significant impact on employee performance. second, the work environment has a significant effect on employee performance. third, the work stress silmultually variable work motivation and work environment significantly influence employee performance. the results of this study are expected to be the basis for developing new strategies in an effort to improve work stress, work motivation, work environment on employee performance. keywords: work stres, work motivation, work environment and employee performance a.latar belakang sumber daya manusia memiliki peran penting sebagai penggerak seluruh aktivitas perusahaan. tiap-tiap perusahaan harus bisa menjaga, memelihara dan meningkatkan kualitas kinerja sdm yang dimiliki. salah strategi yang bias memiliki pengaruh positif terhadap karyawan. penelitian lain yang dilakukan oleh salleh et al. (2011) serta dari susan et al. (2012) juga menyatakan bahwa motivasi kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. kinerja lingkungan mempunyai pengaruh kinerja keuangan, kinerja lingkungan dapat berpengaruh csr sedangkan csr berpengaruh kinerja keuangan begitu juga csr mediasi hubungan lingkungan kerja sama csr (bahri & cahyani, 2016). motivasi berpengaruh terhadap kepuasan, prestasi dosen juga kepuasan berpengaruh pada prestasi dosen (yogi yunanto, 2017). motivasi berpengaruh positif signifikan, motivasi juga dapat mampu meningkatkan pengaruh kepemimpinan (rahayu & ruhamak, 2017). pelatihan keterampilan berpengaruh langsung pada minat wirausaha yang proporsi lebih besar dibandingkan pengaruh yang tidak langsung terhadap minat wirausaha pada motivasi diri berwirausaha (rahmi & hidayati, 2019). variabel motivasi, kompetensi, dan kompensasi secara parsial dan bersamaan berpengaruh signifikan sedangkan variabel motivasi paling dominan terhadap kinerja karyawan (selviasari, 2018). motivasi, prestasi, dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan secara parsial dan simultan (susanti, 2018). insentif, pelatihan kerja mempunyai hubungan yang tinggi dan sangat kuat terhadap kinerja karyawan (sulistyowati, 2018). suatu perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya baik perusahaan yang bergerak di bibusiness and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 106 dang industri, perdagangan, maupun jasa akan berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. keberhasilan serangkaian aktivitas di perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan tidak hanya tergantung pada kecanggihan teknologi, jumlah dana operasi yang ada, fasilitas yang tersedia namun juga tergantung pada kualitas sdm. faktor sdm merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh pengelola perusahaan terutama mengingat bahwa era perdagangan bebas akan segera dimulai dan kompetisi yang dihadapi akan berbeda. hal ini memaksa sekaligus menuntut tiap-tiap perusahaan untuk bekerja dengan lebih produktif, efektif, dan efisien. tingkat kompetisi yang tinggi akan memaksa dan menuntut setiap perusahaan untuk dapat survive dan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara memperhatikan aspek sumber daya. jadi manusia dipandang sebagai faktor penentu karena ditangani manusialah segala inovasi akan direalisasikan dalam upaya mewujudkan tujuan perusahaan. untuk mendapatkan sdm yang diharapkan perusahaan dapat memberikan partisipasi positif pada semua aktivitas perusahaan dalam mencapai tujuannya. setiap karyawan di perusahaan diharapkan memiliki dedikasi dan motivasi kerja yang tinggi sehingga mampu meningkatkan produktivitas kinerja. motivasi adalah hal yang tidak boleh diabaikan oleh pihak manajemen jika mengharapkan setiap karyawan mampu memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian tujuan perusahaan. karena dengan adanya motivasi, karyawan akan bersemangat dalam menjalankan pekerjaan dan tugas yang diberikan kepadanya. tanpa adanya motivasi, karyawan tidak akan dapat memenuhi dan menjalankan tugasnya sesuai standar atau bahkan melampaui standar karena apa yang menjadi motif dan motivasi karyawan melakukan pekerjaan tidak terpenuhi, meskipun karyawan memiliki kemampuan dan keterampilan operasional. motivasi kerja sangat memengaruhi semangat kerja yang dimiliki oleh karyawan yang berpotensi untuk memperoleh hasil yang maksimal. sehingga diperlukan adanya faktor pemicu dan pendorong agar karyawan bersedia mengerahkan seluruh kemampuan dan potensinya. pada ud pratama karya ini bergerak dalam usaha daur ulang ban bekas truk yang dijadikan jok untuk membuat kursi dan tali awalnya dirintis oleh bapak sunarto pada tahun 1999-2002 setelah bapak sunarto meninggal diteruskan oleh anaknya bapak fendy kristanto mulai tahun 2002 sampai sekarang. dalam memperoleh bahan baku diperoleh di surabaya, jombang, lamongan, gresik, tuban, dan kediri. pemasarannya di jombang, pare, nganjuk, mojoagung, blitar, dan tulungagung. kinerja umumnya dimaknai sebagai keberhasilan seorang dalam melakukan dan menyelesaikan suatu pekerjaan. kinerja karyawan mencakup kuantitas dan kualitas output serta keandalan dalam bekerja keandalan dalam bekerja. kinerja yang tinggi diperoleh dari karyawan yang mampu berkerja dengan baik, begitu pula dengan tujuan dari perusahaan akan segera tercapai jika setiap karyawan memiliki kinerja yang tinggi. berdasarkan penjelasan tersebut maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian yang diangkat judul: pengaruh stres kerja, motivasi kerja, dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan bagian produksi (studi di ud pratama karya kota kediri). a. landasan teori 1. stress jika tugas tidak memadai dan tuntutan sarana kemampuan dan kebutuhan seseorang pasti dia akan mengalami stress. desi kristanti & ria lestari pangastuti, effect of work stress, work motivation, and work environment to employee performance production part 107 1. kebutuhan fisiologikal seperti: kebutuhan makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, dan lainnya. kebutuhan merupakan kebutuhan tingkat dasar. 2. kebutuhan rasa aman, yaitu perlindungan dari tekanan ancaman bahaya, pertentangan, dan lingkungan. arti fisiknya tidak dalam arti semata, tetapi juga mental, psikologikal, dan intelektual. 3. kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan akan merasa memiliki kebutuhan untuk dapat diterima di dalam kelompok, berafiliasi, interaksi, dan dicintai. 4. kebutuhan akan harga diri ataupun pengakuan, yaitu kebutuhan untuk dihargai dan dihormati orang lain. 5. kebutuhan aktualisasi diri yaitu kebutuhan yang menggunakan kemampuan, skill, potensi, kebutuhan untuk berpendapat, dengan menggunakan ide-ide, memberikan penilaian, dan kritik terhadap sesuatu. b. teori erg alderfe teori ini membagi hierarki kebutuhan manusia menjadi tiga tingkatan sebagai berikut. 1. eksistensi, kebutuhan-kebutuhan akan manusia antara lain makanan, gaji, udara, kondisi kerja, dan air. 2. berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang adanya hubungan sosial dan interpersonal yang baik. 3. pertumbuhan untuk memberdayakan kreativitas, potensi juga kemampuan yang dimilikinya. c. teori herzberg menurut herzberg, yang tergolong faktor motivasional antara lain suatu karir, motivasional, dan factor hygiene atau pemeliharaan. definisi stress kerja adalah suatu perasaan yang dapat merasakan tertekan dapat dialami seorang karyawan di dalam menghadapi suatu pekerjaan. stres kerja mempunyai tampak dari simpton di antaranya emosi tidak kurang stabil, perasaan yang tidak tenang, senang menyendiri, dapat tekanan darah meninggi, dan dalam gangguan pencernaan. menurut rivai (2010:308) stress kerja adalah adanya ketidak keseimbangan di antara karakteristik dengan kepribadian karyawan juga karakteristik pada aspek-aspek pekerjaan dan apa yang terjadi. atribut tertentu yang dapat stress seorang karyawan. selanjutnya menurut fathoni dalam salam (2012:13) menyatakan bahwa stress karyawan timbul akibat kepuasan kerja tidak terwujud dari pekerjaannya. menurut sopiah (2008:85) stress merupakan respons adoptif terhadap suatu situasi yang di rasakan menantang atau mengancam kesehatan seseorang. dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa stress kerja adalah adanya ketidakseimbangan di antara tuntutan pekerjaan yang diberikan dengan kemampuan yang dimiliki sehingga menimbulkan tekanan. stres kerja dapat memicu karyawan menjadi sulit untuk proses berpikir, meningkatkan ketegangan emosi, dan kecemasan yang kronis. 2. teori motivasi teori yang berkaitan dengan motivasi dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut. a. teori hierarki kebutuhan maslow teori motivasi dapat dikembangkan pada tahun 40-an intinya yang berkisar pada pendapat manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 108 b. pengembangan hipotesis hipotesis merupakan pendapat yang kebenarannya masih rendah atau pada kadar kebenarannya masih belum dapat meyakinkan dikarenakan jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan juga kebenaran pendapat perlu diuji atau dibuktikan. berdasarkan kerangka pemikiran tersebut maka hipotesis yang saya ajukan adalah sebagai berikut. h1: diduga variabel stres kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan pada ud pratama karya. h2: diduga variabel motivasi kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan pada ud pratama karya. h3: diduga variabel lingkungan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan pada ud pratama karya. h4: diduga variabel stres kerja dan motivasi kerja lingkungan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan pada ud pratama karya. teori motivasi yang lazim digunakan untuk memperjelas sumber motivasi yang biasa digolongkan menjadi dua, yaitu bersumber motivasi pada dalam dirinya (intrinsik) dan bersumber motivasi dari luar (ekstrinsik). 1. motivasi intrinsik, yaitu motif-motif yang dapat menjadi aktif berfungsi tidak perlu juga dirangsang dari luar, karena di dalam diri setiap individu ada suatu. 2. motivasi ekstrinsik, yaitu motif-motif yang dapat aktif dan berfungsi ada perangsang dari luar. motivasi ekstrinsik dapat dikatakan bentuk motivasi yang berada di dalam aktivitas yang dimulai tidak berkaitan dengan dirinya. 3. lingkungan kerja lingkungan kerja adalah bisa memengaruhi lingkungan kerja yang nyaman, segar, dapat memenuhi standar kebutuhan yang layak dapat memberikan kontribusi kenyamanan karyawan dalam melakukan tugasnya. menurut ahyari (2005: 128) ada dua pengertian yang dimaksud lingkungan di mana karyawan bekerja, kondisi kerja adalah suatu kondisi di mana seorang karyawan bekerja. dengan ini kondisi kerja sebagai salah satunya unsur dalam lingkungan kerja. menurut mangkunegara (2005: 105) kondisi kerja adalah semua yang mempunyai aspek, psikologis kerja, fisik kerja, juga peraturan kerja dapat memengaruhi kepuasan kerja untuk pencapaian produktivitas kerja. dari beberapa teori di atas disimpulkan lingkungan kerja adalah segenap keadaan, tempat atau lingkungan fisik di dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan. lingkungan kerja yang baik adalah lingkungan bersih, aman, sehat membuat karyawan merasa nyaman dan aman di dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. keterangan: : simultan : parsial gambar c.1 kerangka konseptual desi kristanti & ria lestari pangastuti, effect of work stress, work motivation, and work environment to employee performance production part 109 b. karakteristik responden yang berdasarkan usia antara 15–25 tahun sebanyak 8 responden atau 16%, antara 26–40 tahun sebanyak 13 atau 26% responden antara 36–45 tahun sebanyak 17 responden atau 34% dan 46–55 tahun sebanyak 12 atau 24% responden. ini berarti responden yang paling banyak adalah 36–45 tahun sebanyak 17 persentase 34% yang usianya dalam hal ini masih produktif dan semangat kerjanya tinggi untuk bekerja. c. karakteristik responden yang berpendidikan sd sebanyak 10 atau 20% responden, yang berpendidikan smp sebanyak 18 atau 36% dan yang berpendidikan sma sebanyak 22 atau 44%. hal ini berarti yang paling banyak lulusan sma yang bekerja. d. karakteristik responden berdasarkan status karyawan ud pratama karya kediri mayoritas responden sebanyak 37 orang atau 72% menikah sedangkan satu orang atau 2% berpisah karena cerai dan pada berpisah karena meninggal satu orang atau 2% dan yang masih belum menikah 11 orang atau 22%. e. karakteristik responden berdasarkan masa kerja karyawan ud pratama karya kota kediri, yaitu lama bekerja karyawan, sebesar 44% karyawan bekerja dengan masa kerja selama 1–5 tahun dan merupakan jumlah responden terbanyak. sebesar 22% karyawan yang bekerja selama 6–10 tahun, 8% karyawan bekerja dengan masa kerja selama 11–15 tahun, 22% karyawan bekerja dengan masa kerja selama 16–20 tahun, dan sebesar 4% karyawan bekerja dengan masa kerja selama 21–25 tahun. 2. pembahasan pada bagian ini ada beberapa unsur yang akan dibahas sebagai berikut. c. metode penelitian prosedur pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sebagai sampel karena populasinya kecil. sampel penelitian ini adalah 50 responden, di mana semua populasi yang jadi sampel karena populasinya terlalu sempit. d. definisi operasional variabel dalam penelitian ini variabel independen adalah stres kerja (x 1 ), motivasi kerja (x 2 ), lingkungan kerja (x 3 ), dan variabel dependen kinerja karyawan (y). penelitian ini untuk mengukur motivasi dan kinerja karyawan, peneliti menggunakan skala likert. skala likert dapat digunakan untuk pengukuran sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang gejala atau masalah yang ada. kategori skala likert yang digunakan antara lain: sangat setuju: ss skor 5, setuju: s skor 4, cukup setuju: cs skor 3, tidak setuju: ts skor 2, dan sangat tidak setuju: sts skor 1. teknik pengumpulan data penelitian, yaitu metode interview, metode observasi langsung, dan metode angket. metode analisis data yang digunakan meliputi: uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji heteroskedastisitas, analisis regresi linier berganda, uji t dan uji f, serta analisis koefisien determinasi. e. teknik analisis penelitian ini menggunakan spss v.20 dengan metode analisis regresi linier berganda. g. hasil dan pembahasan 1. hasil penelitian a. karakteristik responden berjenis laki-laki berjumlah 50 responden, persentase 100%. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 110 uji reliabilitas berfungsi untuk mengetahui sejauh mana data dapat memberikan hasil relatif beda apa bila dilakukan dengan pengukuran kembali pada subjek yang sama dan dapat dikatakan untuk menunjukkan adanya persesuaian di antara sesuatu yang diukur dengan jenisnya alat pengukuran yang dipakai. menurut sugiyono (2001) yang menyatakan bahwa pengujian reliabilitas dikatakan reliabel apabila cronbach alpha >0,60 dan apabila cronbach alpha <0,60 maka tidak reliabel. berikut tabel hasil pengujian reliabilitas sebagai berikut. tabel f.2 hasil uji reliabilitas a. uji instrumen penelitian 1) uji validitas uji validitas adalah suatu alat ukuran yang dapat menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen (arikunto, 2002). uji validitas penelitian menggunakan korelasi product moment person dengan menggunakan program spss v.17. menurut ghozali (2005) apabila r hitung > r tabel maka dinyatakan valid. tabel f.1 uji validitas no. pertanyaan r hitung r tabel validitas variabel stres kerja (x1) 1. sk.1 0,341 0,273 valid 2. sk.2 0,397 0,273 valid 3. sk.3 0,291 0,273 valid 4. sk.4 0,387 0,273 valid 5. sk.5 0,314 0,273 valid 6. sk.6 0,281 0,273 valid 7 sk 7 0,468 0,273 variabel motivasi kerja (x2) 1. mk.1 0,318 0,273 valid 2. mk.2 0,446 0,273 valid 3. mk.3 0,433 0,273 valid 4. mk.4 0,483 0,273 valid 5. mk.5 0,430 0,273 valid 6. mk.6 0,425 0,273 valid variabel lingkungan kerja (x3) 1. lk.1 0,657 0,273 valid 2. lk.2 0,334 0,273 valid 3. lk.3 0,743 0,273 valid 4. lk.4 0,428 0,273 valid variabel kinerja karyawan ( y ) 1. k.1 0,593 0,273 valid 2. k.2 0,615 0,273 valid 3. k.3 0,425 0,273 valid 4. k.4 0,457 0,273 valid 5. k.5 0,596 0,273 valid sumber: data primer yang diolah menggunakan spss, 2019 berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, seluruh variabel penelitian valid karena r hitung > r tabel . sumber: data primer yang diolah menggunakan spss, 2019 berdasarkan hasil perhitungan, semua variabel penelitian dapat dinyatakan reliabel karena nilai cronbach’s alpha lebih dari > 0,6 maka suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel. uji regresi linier berganda, yaitu persamaan regresi linier berganda yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh antara variabel bebas dan terikat, di mana outputnya pada spss v.17 ditunjukkan pada tabel f.3. tabel f.3 hasil uji regresi linier berganda coefficientsa model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 (constant) 6,950 6,487 1,071 ,290 stress kerja ,172 ,131 ,186 1,313 ,196 motivasi kerja ,095 ,191 ,071 ,499 ,620 lingkungan kerja ,408 ,197 ,298 2,074 ,044 variabel cronbach’s alpha keterangan stres kerja (x1) 0,634 reliabel motivasi kerja (x2) 0,659 reliabel lingkungan kerja (x3) 0,645 reliabel kinerja karyawan ( y ) 0,660 reliabel sumber: data primer yang diolah menggunakan spss, 2019 desi kristanti & ria lestari pangastuti, effect of work stress, work motivation, and work environment to employee performance production part 111 berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui persamaan regresi linier berganda sebagai berikut. y = a+ b 1 x 1 +b 2 x 2 +b 3 x 3 + e y = 6,950 + 0,172x 1 + 0,095x 2 + 0,408x 3 + e dari persamaan regresi linier berganda di atas dapat diartikan variabel stres kerja (x 1 ), variabel motivasi kerja (x 2 ), dan variabel lingkungan kerja (x 3 ) memberikan pengaruh positif terhadap kinerja karyawan ud pratama karya dan dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. jika seluruh variabel x bernilai 0 maka variabel y bernilai konstan sebesar 6,950. 2. koefisien regresi variabel stres kerja atau (x 1 ) sebesar 0,172 mempunyai arti jika terjadi perubahan terhadap variabel stres kerja sebesar 1 satuan dengan asumsi variabel yang lain konstan maka kinerja karyawan akan mengalami peningkatan sebesar 0,172 satuan. 3. koefisien regresi variabel motivasi kerja atau (x 2 ) sebesar 0,095 mempunyai arti jika terjadi perubahan terhadap variabel motivasi kerja sebesar 1 satuan dengan asumsi variabel yang lain konstan maka kinerja karyawan akan mengalami peningkatan sebesar 0,095 satuan. 4. koefisien regresi variabel lingkungan kerja atau (x 3 ) sebesar 0,408 mempunyai arti jika terjadi perubahan terhadap variabel lingkungan kerja sebesar 1 satuan dengan asumsi variabel yang lain konstan maka kinerja karyawan akan mengalami peningkatan sebesar 0,408 satuan. 2) uji hipotesis a) uji t df = n – k = 50 – 3 = 47 berdasarkan tabel statistik, maka nilai t tabel = 2.012. ketentuan penerima hipotesis yaitu: ha ditolak bila sig. > 0,05 atau t hitung < t tabel ha diterima bila sig. ≤ 0,05 atau t hitung > t tabel berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui hasil uji regresi parsial sebagai berikut. 1. uji pengaruh variabel stres kerja (x 1 ) terhadap kinerja karyawan menunjukkan nilai t hitung 1,313 di mana lebih kecil dari t tabel yang nilainya 2.012 maka secara parsial disiplin kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan. berarti h 1 : yang menyatakan stres kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya diterima. 2. uji pengaruh variabel motivasi kerja (x 2 ) terhadap kinerja karyawan menunjukkan nilai 0,499 lebih kecil dari t tabel yang nilainya 2.012, maka secara parsial motivasi kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan. berarti h 2 : yang menyatakan motivasi kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya diterima. 3. uji pengaruh variabel lingkungan kerja (x2) terhadap kinerja karyawan menunjukkan nilai 2,074 lebih besar dari t tabel yang nilainya 2.012, maka secara parsial lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. berarti h 3 : yang menyatakan lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya diterima. b) uji f uji f untuk melihat besarnya pengaruh variabel independen secara simultan atau menyeluruh terhadap variabel dependen. uji f dikenal business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 112 sebagai uji one way anova pada perhitungan spss. caranya dengan membandingkan koefisien alpha pada taraf signifikansi 5% tabel f dengan nilai kolom sig. pada tabel anovab. koefisien alpha dapat diketahui dengan rumus: df1 = k 1 df2 = n k di mana: k = jumlah variabel independen dan variabel dependen n = jumlah sampel berdasarkan tabel f statistik diketahui nilai f tabel sebesar 3,20. berikut hasil perhitungannya. tabel f.4 perhitungan uji f anovaa tabel f.5 hasil koefisien determinasi model summaryb a. dependent variable: kinerja karyawan b. predictors: (constant), lingkungan kerja, stress kerja, dan motivasi kerja. sumber: data primer yang diolah menggunakan spss, 2019 berdasarkan tabel di atas diketahui hasil uji f menunjukkan nilai 2,822 lebih besar dari 2,81, artinya variabel stress kerja, motivasi kerja, dan lingkungan kerja secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. berarti h 4 : stres kerja, motivasi kerja, dan lingkungan kerja secara simultan/ bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya diterima. 3) uji koefisien determinasi koefisien determinasi intinya untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model pada variabel bebas menerangkan variasi variabel terikat yang dapat dilihat pada tabel f.5. model r r square adjusted r square std. error of the estimate durbinwatson 1 ,394a ,155 ,100 1,60050 2,507 a. predictors: (constant), lingkungan kerja, stress kerja, motivasi kerja b. dependent variable: kinerja karyawan sumber: data primer yang diolah menggunakan spss, 2019 berdasarkan tabel tersebut diketahui koefisien determinasi sebesar 0,155 atau 15,5%. hal ini berarti bahwa kemampuan seluruh variabel x dalam menjelaskan variabel y sebesar 15,5% dan sisanya 84,5% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini. h. kesimpulan berdasarkan hasil penelitian diambil suatu kesimpulan sebagai berikut. 1. stres kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya kediri. 2. motivasi kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya kediri. 3. lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya kediri. 4. stres kerja, motivasi kerja, dan lingkungan kerja secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan ud pratama karya kediri. i. saran berdasarkan kesimpulan penulis dapat memberikan saran sebagai berikut. 1. untuk meningkatkan kinerja karyawan ud pratama karya maka pemimpin perlu mengdesi kristanti & ria lestari pangastuti, effect of work stress, work motivation, and work environment to employee performance production part 113 adakan pengkajian tentang penerapan motivasi kerja dan mengeliminasi variabel stres kerja yang terjadi di dalam perusahaan. 2. untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan ud pratama karya pemimpin dapat melakukan suatu tambahan training, memberikan suatu reward bagi yang rajin, melakukan pendekatan-pendekatan guna untuk mengoptimalkan kinerjanya dengan melakukan suatu kegiatan khusus yang dapat membangun kekeluargaan di antara karyawan. 3. lingkungan kerja yang nyaman juga perlu mendapatkan perhatian dari perusahaan guna meningkatkan kinerja dan produktivitas kerja karyawan. j. daftar pustaka arikunto et al. 2002. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta. bahri, s. & cahyani, f.a. 2016. pengaruh kinerja lingkungan terhadap corporate financial dengan corporate social responsibility sebagai variabel intervening. jurnal ekonomi universitas kadiri, 1(2), 117– 142. retrieved from http://ojs.unik-kediri. ac.id/index.php/ekonika/article/view/11. rahayu, b. & ruhamak, m.d. 2017. pengaruh kepemimpinan, insentif, remunerasi, dan motivasi terhadap kinerja karyawan (studi kasus pada pt industri sandang pangan nusantara cilacap). ekonika, 2(1), 1– 22. retrieved from http://ojs.unik-kediri.ac. id/index.php/ekonika/article/view/15. rahmi, v.a. & hidayati, r.a. 2019. efektivitas pelatihan keterampilan dalam menumbuhkan minat wirausaha wanita melalui motivasi diri berwirausaha. jmk (jurnal manajemen dan kewirausahaan), 4(1), 1. https://doi.org/10.32503/jmk.v4i1.350. selviasari, r. 2018. pengaruh motivasi, kompetensi, dan kompensasi terhadap kinerja karyawan bank syariah mandiri. jmk (jurnal manajemen dan kewirausahaan), 3 (september), 114–128. retrieved from https://ejournal.uniska-kediri.ac.id/index. php/manajemenkewirausahaan/article/ view/358/294. sulistyowati, s. 2018. pengaruh program, insentif, dan pelatihan kerja terhadap kinerja karyawan. jmk (jurnal manajemen dan kewirausahaan), 3(2), 100–113. retrieved from https://ejournal.uniska-kediri.ac.id/ index.php/manajemenkewirausahaan/article/view/352/289. susanti. 2018. pengaruh motivasi, prestasi, dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan. jmk (jurnal manajemen dan kewirausahaan), 3(2), 61–71. https://doi.org/ 10.15294/maj.v1i1.502. yogi yunanto, sasi utami. 2017. pengaruh motivasi dan kepuasan kerja terhadap prestasi kerja dosen universitas kadiri. ekonika, pp. 99–110. retrieved from http:// ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ekonika/article/view/21. faustino cardoso gomes. 2003. manajemen sumber daya manusia. yogyakarta: andi yogyakarta. ghozali et al. 2005. aplikasi analisa multivariate. semarang: badan penerbit undip. mamik. 2008. pengaruh kedisiplinan, motivasi dan komitmen organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan. (online). no.43. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/ 7209370379.pdf. diakses tgl 10 feb 2017), s.p. robbins dan timothy a. judge. 2008. perilaku organisasi, jilid 1, edisi 12. jakarta: salemba empat. sugiyono. 2012. metodologi penelitian bisnis. edisi 2. bandung: alfabeta. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 114 t. hani handoko. 2008. manajemen personalia dan sumber daya manusia. yogyakarta: bpfee. veithzal rifai dan deddy mulyadi. 2010. kepemimpinan dan perilaku organisasi. edisi 7. jakarta: rajawali pers. 01 astria primadhani.pmd astria primadhani pamungkas, ahmad rizki sridadi, pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya 8585 pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya astria primadhani pamungkas, ahmad rizki sridadi airlangga surabaya e-mail: appastrid@gmail.com abstract: job stress is a serious phenomenon that refers to workplace characteristics that threaten workers. nursing has been identified as a job that has high stress level. nursalam (2011) states that nurses who are given excessive workload can have an impact on burnout. burnout occurs when people feel that the resources they value are threatened, they try to maintain those resources (maslach and leiter, 2016). burnout can result in decreased nurse performance/burnout can cause decreasing of nurse performance. the purpose of this study was to determine the effect of work overload on nurse performance directly nor indirectly. this study using quantitative approach and nonprobability sampling technique with saturated sampling of 40 low care inpatient service nurses in x hospital surabaya. data analysis techniques using path analysis. the results showed that there was a significant negative effect between work overload and nurse performance directly nor indirectly. keywords: work overload, burnout, nurse performance pendahuluan perkembangan dunia bisnis yang semakin pesat memberikan tantangan tersendiri bagi pelakunya untuk saling berkompetisi. termasuk industri di bidang layanan kesehatan. tantangan pada industri layanan kesehatan menghadapkan para pelaku bisnis seperti rumah sakit untuk terus melakukan perbaikan dalam meningkatkan mutu pelayanannya agar mampu memberikan kinerja perusahaan yang baik. cascio (2012) menyatakan bahwa kinerja adalah catatan mengenai akibat-akibat yang dihasilkan pada sebuah fungsi pekerjaan atau aktivitas selama periode tertentu yang berhubungan dengan tujuan organisasi. terdapat unsur yang berperan dan mendukung berfungsinya operasional suatu organisasi rumah sakit, salah satu unsur utama pendukung tersebut adalah sumber daya manusia. sumber daya manusia memiliki peran yang penting dalam setiap kegiatan perusahaan karena dipandang sebagai aset perusahaan. sumber daya manusia di rumah sakit memiliki peran penting dalam menjalin hubungan antara organisasi, karyawan, dan pasien. perawat merupakan salah satu profesi yang ada di rumah sakit. dalam melakukan pelayanan kesehatan perawat memiliki peran yang penting karena berada dalam kontak langsung dengan pasien sehari-hari sehingga dituntut untuk selalu dapat menampilkan emosi positif di depan pasien sebagai citra perusahaan. perawat dianggap sebagai profesi dengan pekerjaan yang penuh dengan tekanan karena mereka merawat sekelompok orang yang penuh tekanan yaitu pasien atau orang memiliki gangguan kesehatan (mohamed, 2016). work overload merupakan bagian dari job stress. stres kerja adalah fenomena serius yang merujuk pada karakteristik tempat kerja yang mengancam pekerja. tuntutan pekerjaan dapat menjadi penyebab utama stres di tempat kerja di mana pekerja tidak tahu bagaimana mengatur diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan mereka (malik, 2011 dalam karimi business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 86 et al., 2014). keperawatan telah diidentifikasi sebagai pekerjaan yang memiliki tingkat stres yang tinggi. stres kerja membawa dampak berbahaya tidak hanya pada kesehatan perawat tetapi juga pada kemampuan mereka untuk mengatasi tuntutan pekerjaan (sharma et al., 2014). hasil penelitian nursalam (2011) menyatakan bahwa perawat yang diberi beban kerja berlebih dapat berdampak kepada burnout. burnout terjadi ketika individu merasa bahwa sumber daya yang mereka nilai terancam, mereka berusaha untuk mempertahankan sumber daya itu. hilangnya sumber daya atau bahkan hilangnya sumber daya yang akan datang dapat memperburuk kelelahan (maslach dan leiter, 2016). berdasarkan data dari rumah sakit x surabaya penurunan kinerja terjadi pada kinerja perawat di ruang rawat inap low care penyakit dalam yang dapat dilihat dalam tiga tahun terakhir yaitu tahun 2016–2018 yang mengindikasikan adanya penurunan dalam penilaian kinerja perawat yang dilakukan kepala ruangan. kepala ruangan menyampaikan bahwa kinerja perawat tahun 2017 dan 2018 berada pada kisaran nilai 50–79 yang artinya masih perlu perbaikan. laporan penilaian kinerja tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan penilaian kinerja perawat ruangan penyakit dalam pada bagian uraian tugas yang dilakukan perawat. berdasarkan latar belakang masalah sebelumnya dapat diketahui rumusan masalah sebagai berikut. (1) apakah work overload berpengaruh terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya melalui burnout? (2) apakah work overload berpengaruh terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya? tujuan penelitiannya yaitu “menganalisis pengaruh work overload terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya melalui burnout dan menganalisis pengaruh work overload terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya. kajian teori dan pengembangan hipotesis work overload maslach et al. (2001) mengemukakan bahwa ketidakcocokan dalam beban kerja umumnya ditemukan sebagai kelebihan beban yang berlebihan. beban yang berlebihan disebabkan karena terlalu banyak tuntutan energi pada individu sehingga untuk pemulihan menjadi tidak mungkin (bersifat jangka panjang). burnout psikolog amerika, herbert freudenberger pertama kali menggunakan istilah “burnout” pada tahun 1970-an untuk menggambarkan hasil dari stres yang tinggi yang dialami oleh orang yang bekerja dengan pekerjaan di bagian pelayanan. tiga gejala utama yang dianggap sebagai tanda-tanda burnout syndrome adalah kelelahan emosional, keterasingan dari aktivitas terkait pekerjaan atau depersonalisasi, dan penurunan pencapaian diri (holdren et al., 2015). nurse performance kinerja adalah kemampuan pekerja untuk bekerja secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi (kovach, 1987 dalam hafeez, 2018). kinerja menjadi perhatian utama bagi organisasi mana pun. semua pemilik ingin pekerjanya memiliki kinerja yang sangat baik sehingga organisasi mereka menjadi lebih baik dan kompetitif di pasar. stres kerja telah secara konsisten dianggap sebagai salah satu faktor penyebab variansi terhadap kinerja di tempat kerja. rumah astria primadhani pamungkas, ahmad rizki sridadi, pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya 87 asumsi bahwa perawat rentan terhadap stres kerja dan burnout didasarkan pada literatur yang luas tentang stres kerja yang menunjukkan bahwa keperawatan adalah pekerjaan yang “membuat stres”. kutipan berikut adalah kesaksian tentang sifat stres yang tertanam dalam keperawatan. keperawatan pada dasarnya mengalami tingkat stres yang tinggi. setiap hari perawat berurusan dengan kesedihan, penderitaan, dan kematian seperti yang dilakukan beberapa orang lainnya. banyak tugas monoton yang dilakukan perawat hal ini dapat memengaruhi kinerja dari perawat (donkor, 2013). metode penelitian penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yaitu mengadakan pengujian hipotesis, pengukuran data, dan pembuatan kesimpulan. sugiyono (2011:7) mengatakan bahwa metode kuantitatif disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. jenis dan sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. data primer dalam penelitian ini berupa hasil jawaban responden atas kuesioner yaitu jawaban dari perawat rumah sakit x surabaya. data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh secara tidak langsung melalui perantara. data sekunder dalam penelitian ini berupa jurnal, foto dokumentasi lapangan, internet, dan literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap low care penyakit dalam rumah sakit x surabaya. teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (anshori sakit telah dianggap sebagai lingkungan kerja dengan beban kerja yang beragam. di rumah sakit, harapan pasien telah meningkatkan tingkat tuntutan kerja dan tekanan nyata di antara para pekerja rumah sakit. dengan demikian, dalam profesional kesehatan, manajemen stres merupakan tantangan kompleks bagi tenaga medis termasuk perawat (hafeez, 2018). pengaruh work overload terhadap nurse performance tenaga kesehatan terutama perawat bekerja di bawah kondisi stres yang tinggi. oleh karena itu, penelitian dari mengidentifikasi penyebab tersebut, hal ini memengaruhi beban kerja perawat. penelitian ini menemukan bahwa beban kerja perawat dapat menghambat kinerja perawat (holdren et al., 2015). donkor (2013) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa role overload adalah penyebab utama stres pada perawat di kath. penelitian ini menunjukkan bahwa stres memengaruhi output dan kualitas kerja yang menyebabkan ketidakpuasan pasien. oleh karena itu, stres memiliki hubungan negatif dengan kinerja perawat. pengaruh work overload terhadap nurse performance melalui burnout variasi yang berbeda dari model ketidakseimbangan burnout adalah model areas of worklife (aw), yang membingkai stressor pekerjaan dalam hal ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian orang-pekerjaan. semakin besar ketidakcocokan antara orang dan pekerjaan, semakin besar kemungkinan burnout terjadi. sebaliknya, semakin besar kecocokan terjadi maka semakin besar kemungkinan terjadi engagement (maslach dan leiter, 2016). business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 88 dan iswati, 2009:106). subjek penelitian ini adalah seluruh perawat (karyawan tetap) di bagian pelayanan di ruang rawat inap low care penyakit dalam rumah sakit x surabaya sebanyak 40 orang. teknik analisis data penelitian ini menggunakan path analysis. hasil dan pembahasan hipotesis i hipotesis i penelitian mengemukakan terdapat pengaruh signifikan antara work overload terhadap nurse performance. untuk menguji hipotesis ini dipergunakan model regresi 2, di mana nilai p-value uji t adalah sebesar 0,039. nilai p-value 0,039 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara work overload terhadap nurse performance. nilai koefisien path untuk variabel work overload adalah sebesar -0,331 yang berarti terdapat pengaruh negatif antara work overload terhadap nurse performance. berdasarkan hasil ini maka dapat dikemukakan bahwa hipotesis i penelitian (h1) sudah dapat terpenuhi. hipotesis ii hipotesis ii penelitian mengemukakan terdapat pengaruh signifikan antara work overload terhadap nurse performance melalui mediasi burnout. untuk menguji hipotesis ini maka akan dipergunakan perhitungan dengan rumus sobel test yang menggunakan komponen pada model regresi i dan ii. hasil dari sobel test didapatkan nilai p-value t sebesar 0,000, di mana nilai pvalue uji t tersebut lebih kecil dari 0,05. dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara work overload terhadap nurse performance secara tidak langsung yaitu melalui burnout. berdasarkan hasil ini maka dapat dikemukakan bahwa hipotesis ii penelitian (h2) sudah dapat dibuktikan secara statistik. hasil uji mediasi antara work overload terhadap nurse performance dengan mediasi burnout merupakan mediasi yang bersifat partial mediation. hasil dapat dikatakan memediasi sebagian (partial mediation) karena pengaruh dari work overload terhadap nurse performance baik secara langsung ataupun secara tidak langsung samasama masih bersifat signifikan (p-value < 0,05). hasil dari analisis path dapat digrafikkan sebagai berikut (pada halaman selanjutnya). nilai r-square yang dihasilkan model regresi 1 adalah sebesar 0,410 menunjukkan bahwa perubahan pada burnout yang dialami perawat rumah sakit x dipengaruhi oleh perubahan dalam work overload sebesar 41%, sisanya sebesar 59% dipengaruhi oleh faktor lain. sementara itu, nilai r-square yang dihasilkan model regresi 2 adalah sebesar 0,479 menunjukkan bahwa perubahan pada nurse performance rumah sakit x dipengaruhi oleh perubahan dalam work overload dan burnout sebesar 47,9%, sisanya sebesar 52,1% dipengaruhi oleh faktor lain. dari analisis path, dapat dihitung nilai r square total dengan rumus sebagai berikut. r2 total = 1[ (1-r 1 2) x (1-r 2 2) ] = 1 – [ 0,590 x 0.521 ] = 1 – 0,307 = 0,693 astria primadhani pamungkas, ahmad rizki sridadi, pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya 89 hasil nilai r square total sebesar 0,693 memiliki arti bahwa model path yang disusun mampu menerangkan keragaman kejadian yang terjadi pada variabel work overload, burnout dan nurse performance sebesar 69,3%. pengaruh work overload terhadap nurse performance kinman dan leggetter (2016) menyatakan bahwa perawat dalam melakukan pelayanan kesehatan memiliki peran yang penting karena berada dalam kontak langsung dengan pasien sehari-hari sehingga dituntut untuk selalu dapat menampilkan emosi positif di depan pasien dan diperlukan untuk memberikan perawatan dengan penuh perhatian. perawat tidak hanya diharapkan untuk belajar mengatur emosi mereka sendiri tetapi juga untuk meredakan rasa takut dan kesusahan pasien sehingga yang membuat pekerjaan perawat memiliki kondisi interpersonal yang menantang. hal ini sejalan dengan indikator pertama pada variabel nurse performance yaitu perawat ramah dan sopan di setiap situasi atau kondisi apa pun di rumah sakit. penelitian ini menunjukkan bahwa menurut atasan, perawat pada ruang rawat inap penyakit dalam di rumah sakit x surabaya ramah dan sopan kepada pasien. penilaian kinerja perawat disebut dengan caring. caring didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (carruth et al., 1999). caring dilakukan setiap bulan dan dinilai oleh kepala ruangan divisi lain. pertanyaan yang diberikan dari metode caring ini adalah terkait respect perawat pelayanan tiap individu terhadap pasien dan keluarga pasien. ketika penilai menganggap bahwa perawat tersebut tidak respect dengan pasien maka penilaian kinerja akan turun. penilaian kinerja yang turun akan berakibat pada kenaikan jenjang perawat karena tidak akan mendapat rekomendasi. hal ini dikarenakan perawat memiliki peran penting dalam kualitas citra rumah sakit. menurut data komite mutu dan keselamatan pasien, 70% complain pasien berasal dari komunikasi dan perawat menduduki 60% dari total 70% complain pasien karena perawat yang berada kontak langsung sehari-hari dengan pasien. pada perawat ruang rawat inap penyakit dalam rumah sakit x surabaya menurut atasan rata-rata perawat sudah berusaha melakukan pelayanan yang terbaik dengan menerapkan semboyan organisasi yaitu salam, senyum, dan sapa sehingga atasan menilai sangat setuju untuk keramahan dan kesopanan perawat kepada pasien. hasil pengujian hipotesis pertama ini sesuai dengan pernyataan kaur dan gujral (2017) yaitu beban kerja berat merupakan masalah utama di sebagian besar rumah sakit besar. perawat mengalami beban kerja yang berat karena pasokan perawat yang tidak mencukupi, meningkatnya permintaan perawat, berkurangnya staf, dan bertambahnya waktu lembur. beban kerja yang berat menyebabkan perawatan pasien kurang optimal. hal ini membuat perawat mungkin tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tugas dengan benar yang dapat memiliki efek langsung pada keselamatan pasien di bawah beban kerja yang berat. beban kerja yang berat akan menghalangi pengambilan keputusan yang tepat dalam melakukan pelayanan kesehatan. hal ini akan memengaruhi hubungan perawatpasien karena kurangnya komunikasi di antara mereka, ketidakpuasan di antara perawat untuk menciptakan kondisi untuk perawatan pasien yang tidak aman, kesalahan, dan kinerja pekerjaan yang buruk sehingga beban kerja yang berat akan mengakibatkan kinerja pekerjaan yang buruk. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 90 di sisi lain, rendahnya indikator kesembilan dalam variabel nurse performance, yaitu perawat mampu mengajarkan tindakan kesehatan preventif kepada pasien dan keluarga pasien. dalam artikel bradley university mengatakan bahwa dengan menawarkan pendidikan dan konseling, perawat secara signifikan dapat membantu upaya kesehatan preventif nasional. kesehatan pencegahan mengacu pada kumpulan strategi yang mendorong para profesional perawatan kesehatan untuk menerapkan agar pasien tetap sehat dan mengurangi risiko penyakit di masa depan. perawat memiliki peran penting dalam memberikan informasi kepada pasien dan keluarga pasien dalam bentuk pengajaran kesehatan. rumah sakit memiliki kegiatan utama yaitu kuratif. pelayanan kesehatan kuratif adalah serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit atau pengendalian penyakit agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. oleh karena seringnya perawat rumah sakit melakukan tindakan kuratif untuk melakukan tindakan promotif (memberikan penyuluhan kesehatan seperti menguras bak mandi dan membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum makan) dan preventif (mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang) perawat rumah sakit x surabaya masih belum benarbenar dilakukan. hal ini terjadi karena beban kerja perawat yang tinggi untuk memenuhi tindakan kuratif yang mencakup kebutuhan pasien seperti biologis, psikologis, sosiologis, spiritual, dan administratif yang akhirnya perawat tidak memiliki waktu untuk belajar dan mengajarkan tindakan preventif kepada pasien. kurangnya edukasi kepada pasien dan keluarga pasien terkait tindakan preventif dapat memengaruhi kinerja perawat karena pasien atau keluarga pasien bisa terjangkit infeksi silang akibat berada di rumah sakit. hal ini dapat menjadi masukan bagi rumah sakit x surabaya yaitu perlunya memberikan pelatihan kepada seluruh perawat terkait promosi kesehatan. dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan work overload di rumah sakit x surabaya akan memengaruhi nurse performance. dengan kata lain, work overload berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya. pengaruh work overload terhadap nurse performance melalui burnout holdren et al. (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa rasio pasien lebih rendah dari standar yang diberikan kepada perawat, lingkungan kerja yang lebih baik yang diciptakan oleh manajemen yang lebih baik, gaji yang lebih tinggi dan shift kerja yang lebih pendek, dan semua akan berkontribusi untuk mengurangi kelelahan di antara perawat saat ini. hal itu berpotensi membuat profesi keperawatan lebih diinginkan dan menarik lebih banyak orang untuk mau bekerja di lapangan. selain itu, hal tersebut akan mengurangi kekurangan perawat secara nasional yang disebabkan oleh burnout, menghemat uang rumah sakit dalam merekrut staf perawat baru, dan mempertahankan perawat yang ada saat ini. hasil pengujian hipotesis kedua ini sesuai dengan pernyataan laschinger dan fida (2014) menyatakan bahwa tingkat burnout yang tinggi dalam keperawatan telah dikaitkan dengan work overload. selanjutnya, eigel dan kuhnert (2005) mengungkapkan hal yang mungkin dapat dilakukan adalah mengembangkan perilaku kepemimpinan autentik digunakan untuk mencegah burnout yaitu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung terhadap kebutuhan perawat seperti adanya hubungan kerjasama yang baik antar perawat untuk meningkatkan kinerja perawat. astria primadhani pamungkas, ahmad rizki sridadi, pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya 91 hal ini sejalan dengan indikator keempat dan kedelapan pada variabel nurse performance yaitu perawat terampil dalam melakukan tindakan baik hard skill maupun soft skill dan perawat mampu bekerjasama dalam tim. penelitian ini menunjukkan bahwa perawat harus memiliki kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) untuk melakukan kegiatan keperawatan agar dapat mengatur beban kerja yang diberikan kepadanya. beban kerja tinggi yang tidak dapat di-handle oleh perawat akan meningkatkan stres yang pada akhirnya terjadi burnout dalam jangka panjang akan menurunkan kinerja. di sisi lain, rendahnya indikator kesepuluh dalam variabel nurse performance yaitu perawat menerima tanggung jawab di bawah arahan atasannya. menurut kusnanto (2004), perawat harus bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan. tanggung gugat berarti bertanggung jawab terhadap pelayanan yang diberikan. tanggung gugat mengandung aspek legal terhadap kelompok sejawat, atasan, dan pasien. suatu badan keperawatan dapat mencabut izin praktik bagi perawat yang tidak kompeten atau jika terjadi penyimpangan terhadap peraturan/perundangan yang berlaku. oleh karena itu, sangat penting seorang perawat menerima tugas dari atasannya dengan penuh tanggung jawab. pemenuhan tugas secara bertanggung jawab ini dapat dilakukan dengan baik apabila beban kerja perawat tidak berlebihan. ketika beban kerja perawat dalam merawat pasien sudah berlebih maka perawat cenderung mengalami kelelahan yang akhirnya dalam mengerjakan tugasnya kurang maksimal. struktur organisasi untuk perawat pelayanan di rumah sakit x surabaya yaitu kepala ruangan, clinical case management, ketua tim, dan anggota. ketua tim memiliki beban kerja yang lebih berat daripada anggota tim. anggota tim yang memiliki jumlah komposisi perawat terbanyak tidak mendapat tanggung jawab secara langsung dari kepala ruangan seperti ketua tim, yaitu tanggung jawab biologis, psikologis, sosiologis pasien, hingga administratif. sistem garis komando dari kepala ruangan – clinical case – katim – anggota tim, sedangkan anggota tim tidak terlalu patuh dengan ketua tim karena mereka merasa satu level. dengan demikian, kepala ruangan sebagai atasan menilai bahwa anggota tim kurang patuh terhadap atasan karena tidak mendapat secara langsung mandat tersebut. kepala ruangan ruang rawat inap penyakit dalam low care melakukan supervisi melalui katim terkait kepatuhan terhadap tanggung jawab ini sehingga atasan mengetahui bahwa anggota tim pada pelaksanaan tugas terutama administratif masih dianggap kurang. sebagai contoh, dalam mencatat rekam medik pasien, perawat cenderung kurang lengkap. kurang lengkapnya pencatatan tersebut berakibat pada tidak bisanya klaim bpjs hingga kasus hukum menjadi lemah untuk rumah sakit, karena perawat memiliki tanggung jawab dan tanggung gugat di sana. walaupun indikator ini masih dalam kategori setuju, namun perlu adanya perbaikan untuk kepala ruangan rumah sakit x surabaya agar melakukan supervisi berkala dengan ketat dan mengawasi perawat pada saat pencatatan administratif. perawat cenderung tidak lengkap menulis rekam medis dikarenakan dalam pencatatan tersebut hanya dituliskan kegiatan perawatan pada pasien dengan tidak mencantumkan nama perawat. dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan work overload di rumah sakit x surabaya akan memengaruhi nurse performance melalui burnout. dengan kata lain, work overload berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya melalui burnout. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 92 kesimpulan dan saran berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan path analysis dan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. work overload berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya dengan hasil ini maka hipotesis penelitian yang pertama diterima kebenarannya. work overload berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap nurse performance rumah sakit x surabaya melalui burnout, dengan hasil ini maka hipotesis penelitian kedua diterima kebenarannya. saran yang direkomendasikan setelah penelitian analisis pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya adalah sebagai berikut. rumah sakit x surabaya hendaknya menambah jumlah perawat sekaligus rumah sakit x surabaya perlu membuat analisis beban kerja untuk menunjukkan standar yang tepat antara jumlah pasien dan jumlah perawat. rumah sakit x surabaya hendaknya melakukan rolling terkait job description sebagai ketua tim yaitu enam bulan sekali agar seluruh perawat dapat merasakan menjadi ketua tim. rumah sakit x surabaya hendaknya untuk peningkatan mutu pelayanan staf perlu dilakukan adanya pelatihan untuk seluruh perawat termasuk anggota tim, terutama perlu adanya pelatihan terkait promosi kesehatan agar perawat bisa lebih aktif mengajarkan tindakan preventif kepada pasien dan keluarga pasien. rumah sakit x surabaya hendaknya melakukan audit kepada perawat secara berkala yaitu pertanggungjawaban terhadap mutu kelengkapan pengisian berkas rekam medis terutama perlu adanya pencantuman nama perawat yang mengisi berkas tersebut sehingga untuk perawat yang mencatat rekam medis secara rapi dan lengkap akan diberikan reward dan yang kurang baik akan diberikan punishment. daftar rujukan anshori, muslich & sri iswati. 2009. buku ajar metodologi penelitian kuantitatif. surabaya: airlangga university press. carruth, et al. 1999. the impact of primary and modular nursing delivery system on perceptions of caring behaviour. pittsburgh: oncology nursing press. cascio, wayne f. 2012. “methodological issues in international hr management research”. the international journal of human resource management, vol. 23 no. 12. donkor, jacob. 2013. “effects of stress on the performance of nurses: evidence from ghana”. international journal of accounting, banking, management, vol. 1, no. 6, pp. 64–74. hafeez, shahid. 2018. “the impact of job stress on performance of employees: a study of social security hospital of district okara & sahiwal”. journal of neuropsychology & stress management, 3:4–12. holdren, priscilla, david p. paul, & alberto coustasse. 2015. burnout syndrome in hospital nurses. chicago: bhaa international, marshal digital scholar. karimi, roohangiz, zoharah binti omar, farhad alipour, & zinab karimi. 2014. “the influence of role overload, role conflict, role ambiguity on occupational stress among nurses in selected iranian hospitals”. aess publication: international journal of asian social science, 4 (1), 34–40. kaur, major navjeet & harminder kaur gujral. 2017. “work load on nurses and its astria primadhani pamungkas, ahmad rizki sridadi, pengaruh work overload terhadap nurse performance dengan burnout sebagai variabel intervening di rumah sakit x surabaya 93 impact on patientcare”. iosr journal of nursing and health science, vol. 6, issue 5, ver. v. kinman, gail & sandra leggetter. 2016. “emotional labour and wellbeing: what protects nurses?” journal healthcare mdpi, vol. 4, no. 89. kusnanto. 2004. pengantar profesi dan praktik keperawatan profesional. jakarta: egc. laschinger, heather k. spence, & roberta fida. 2014. “new nurses burnout and workplace wellbeing: the influence of authentic leadership and psychological capital”. elsheiver: burnout research 1, 19– 28. maslach, christina, wilmar b. schaufeli, & michael p. leiter. 2001. “job burnout”. annu. rev. psychol, 52:397–422. maslach, christina & michael p. leiter. 2016. “understanding the burnout experience: recent research and its implications for psychiatry”. world psychiatry, 103–111. mohamed, fatma rushdy. 2016. “relationship among nurses role overload, burnout and managerial coping strategies at intensive care units”. international journal of nursing & clinical practices, 3:180. nursalam. 2011. manajemen keperawatan: aplikasi dalam praktik keperawatan profesional edisi 3. jakarta: salemba medika. sharma, paul, anuradha davey, sanjeey davey, arvind shukla, kajal shrivastava, & rahul bansal. 2014. “occupational stress among staff nurses: controlling the risk to health”. indian journal of occupational & environmental medicine, 18(2):52–56. ninditya nareswari, nuraini desty nurmasari, working capital management on financially constrained firm 127127 working capital management on financially constrained firm ninditya nareswari1, nuraini desty nurmasari2 1institut teknologi sepuluh nopember, 2universitas gadjah mada e-mail: ninditya@its.ac.id, nuraini.desty.n@mail.ugm.ac.id abstract: working capital management is a daily activity that will determine the availability of resources for the company. there are positive and negative effects in increasing the degree of working capital. there is an optimal degree as well. the degree of optimal working capital for each company is different, depends on financial conditions. this paper aims to examine the effect of non-linear working capital on firm performance and analyze the differences in the degree of optimal working capital between financially constrained and unconstrained firms. data were obtained from osiris with the observation period 2010–2019. working capital is proxied by the net trade cycle. this study uses panel data regression models, i.e. fixed effect regression and random effect regression. the result of this study shows that working capital has a non-linear effect (u-shaped inverted) on firm performance when using roa and roe as a proxy for performance which means the company has an optimal degree of working capital. the result also shows that financially constrained firms grouped based on cash flow, interest coverage, and cost of external financing have lower optimal working capital which means that the benefits of working capital are more used by non-financially constrained firms. keywords: financial constraints, firm performance, working capital management introduction there are three decisions determined by financial managers to maximize the wealth of shareholders. there are investment decisions, funding decisions, and working capital decisions. one of the decisions that need to be considered by managers is making working capital decisions and ensuring the company’s operational activities run smoothly (hanafi, 2013). working capital decisions are significant for the company because working capital decisions directly affect the company’s daily operational activities. most of the activities of a company’s financial manager are allocated to manage current assets because there are certain types of companies, for example, manufacturing, most of their assets are current assets. there are two perspectives regarding the effect of working capital investment on firm value. the first perspective explained that high working capital can increase sales and get discounts to increase company value (deloof,2003). meanwhile, the second perspective states that high working capital requires funding and increases the cost.so it can increase the risk of bankruptcy (kieschink, et.al 2011). based on these two perspectives, it means that there is a trade-off in determining working capital decisions. in this condition, a firm is required to be able to determine optimal working capital. optimal working capital is the limit to the extent to which working capital investment can have a positive effect on the company and if working capital investment exceeds the optimal degree, then working capital investment will harm the company. financial factors such as the availability of capital costs, internal funds, and access to the capital market will affect investments made by working capital management. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 128 banos -caballero et al. (2013) argue that optimal working capital for financially constrained firms will be lower than financially unconstrained firms. the imperfect market hypothesis explains that external funding is not the best substitute for internal funding because it increases costs. that makes financially constrained firms more sensitive to working capital investments. when increasing inventory, financially constrained firms tend to rely on account payables because they will face difficulties to access external funding so financially constrained firms cannot use a discount for early payments if they buy inventory in cash to a supplier. that will be different from financially unconstrained firms. they can get a discount if they buy inventory in cash from a supplier because of having sufficient cash. they can easily access external funding, such as bank loans. the discounts provided by these suppliers will certainly be higher than the interest in order to attract firms to pay in cash. so, the research problem is a trade-off in the working capital decision. empirical evidence is needed to show that influence. in addition, there are differences in the amount of optimal working capital between financially constrained and unconstrained firms. this paper aims to (1) examine the influence of working capital on firm performance and (2) analyze the differences in the level of optimal working capital between financially constrained and unconstrained firms. literature review and hypothesis development working capital according to hanafi (2016), working capital consists of cash, accounts receivable, and inventory. besides, working capital also consists of current debt, including trade debt and accrual debt. in contrast, according to brigham (604, 2014), working capital symbolizes the company’s assets that can be converted into cash to support the company’s operations. according to brigham (604, 2014), working capital management relates to two fundamental questions. first, what is the right amount of working capital both the specific number of accounts and the total amount. second, how should working capital be funded because working capital is related to funding decisions, so a financial manager must decide on the company’s cash amount and the amount of short-term funding for working capital. firm performance firm performance is the result obtained by the firms through actions and policies taken (neely, 68, 2004). performance is a term, generally used for part or all of the actions and activities of an organization in a period with references to the number of standards such as past or projected costs, with the basis of efficiency, accountability or management accountability and so on. santos and brito (2012), company performance is a result of the effectiveness of the company in carrying out its activities, both operational and financial. financial constraints firms often face financing constraints on investing. kaplan and zingales (1997) suggest that financial constraints occur due to unfavourable financial liquidity and the difficulty of accessing external funding because they face the difference between capital costs from internal funding and capital costs from external funding. according to fazzari et al. (1988), the existence of asymmetric information results in ninditya nareswari, nuraini desty nurmasari, working capital management on financially constrained firm 129 external funding costs being more expensive than internal funding, resulting in financially constrained companies’ investment decisions tends to be more sensitive to liquidity than nonfinancially constrained companies. this results when the company gets an investment opportunity, the company will fund its investment by using internal funding then external funding because internal funding raises costs that are cheaper than external funding. the influence of working capital on firm performance higher investment in inventories and accounts receivable and inventory can improve company performance. companies with a more extensive inventory can reduce costs and price fluctuations and prevent disruption of business processes (blinder and maccini, 1991). that also allows the firm to provide the best service for customers (schiff and lieber, 1974). besides, giving credit can increase a company’s sales, companies can provide discounts on customers effectively, attract customers to make purchases when demand is low, and improve long-term relationships between suppliers and customers. customers can ensure the quality of products and services before payment so that it can reduce asymmetry information between the seller and the buyer. emery (1984) argues that trade credit provision will be more profitable than investing in shortterm securities and can be used as a liquidity reserve to prevent future cash shortfalls. however, there are some negative impacts on investment in working capital when it has passed the optimal amount. first, higher inventory can increase costs such as warehouse rental fees, insurance, and security (kim and chung, 1990). second, high working capital requires higher funding as well. that can increase the financial cost and opportunity cost. in companies that provide high trade credit will increase credit risk. it can also lead companies to financial distress and face bankruptcy (kieschnick et al., 2011). the existence of positive and negative impacts on working capital reflects tradeoffs in working capital decisions. each company must have an optimal amount of working capital to balance costs and benefits to company performance. this increase in performance will be in line with the increase in working capital until the optimal amount of working capital is achieved. conversely, when the amount of working capital exceeds the optimal amount, the relationship between working capital and performance will be negative (banos-caballero et al. 2013). based on the following explanation, this study composes the hypothesis as follows. h1: there is an inverted u-shaped impact of working capital on firm performance. the impact of working capital on financially constrained firm suppose there is an inverse u parabolic effect of working capital on company performance. in that case, the optimal amount of investment in working capital will be different for companies with financial constraints and those without financial constraints. that is caused by working capital investment decisions that are strongly influenced by investment opportunities. financially constrained firms will have difficult access to the capital market and have fewer investment opportunities so they can only rely on internal funding. since market imperfections have asymmetry information and agency costs, means to get external funding will increase higher costs than internal funding (greenwald, et al. 1984). external capital is not a perfect substitute for internal capital. in line business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 130 with this, fazzari et al. (1988) show that company investment depends on financial factors such as internal funding availability, access to capital markets, or funding costs. companies with lively working capital require more funding, so the optimal amount of working capital will be lower for companies with financial constraints. when increasing the degree of inventory, financially constrained firms tend to rely on account payables because they will find difficulties to access external funding. that causes financially constrained firms cannot use a discount facility if they buy inventory in early payments from a supplier. on the one hand, a higher degree of account payable can reduce the working capital. that will be different for financially unconstrained firms. they can use discount facilities if buying supplies in cash to suppliers because they have sufficient cash. even though it turns out that they do not have enough cash, they can easily access external funding, such as bank loans. the discounts provided by these suppliers will certainly be more significant than the bank interest in order to attract companies to do early payment financially unconstrained firms are relatively more extensive and more mature. companies with a greater internal funding capacity and higher access to capital markets tend to have higher working capital hill et al. (2010). based on the following explanation, this study composes the second hypothesis as follows. h2: financially constrained firms will have a lower degree of optimal working capital than financially unconstrained firms. methodology the sample in this study is non-financial companies listed on the indonesia stock exchange during the period 2010–2019. sources of data in the study came from osiris. this research is quantitative. based on the hypothesis and research analysis model, the variables in this study consist of dependent variables, independent variables, company grouping variables with financial constraints, and control variables. the dependent variable in this study is firm performance which is measured by accounting performance. accounting performance is proxied by roa and roe. the independent variable in this paper is the working capital of the company. the net trade cycle is a proxy for measuring working capital. according to banos-caballero et al. (2013) and shin and soenen (1998), the net measurement proxy dividend pay-out ratio if the firms have interest coverage above the median then they are financially unconstrained firms, and vice versa. dividend pay-out ratio: dividend paid i,t / net income i,t cash flow if the firms have cash flow above the median then they are financially unconstrained firms, and vice versa. cash flowi,t= (earning before interest taxesi,t+depreciationi,t ) /total asseti,t interest coverage if the firms have interest coverage above the median then they are financially unconstrained firms, and vice versa. interest coveragei,t = ebiti,t / interest expensesi,t cost of external financing companies that have a dividend pay-out ratio above the median are classified as companies with financial constraints. conversely, if the company has a dividend pay-out ratio below the median, it is classified as a company with financial constraints. cost of external financingi,t= financial expensesi,t / total debti,t table 1 variable measurements trade cycle is a proxy for measuring working capital. the net trade cycle is measured by the following formula. ninditya nareswari, nuraini desty nurmasari, working capital management on financially constrained firm 131 ntc i,t = (account receiveables i,t / sales i,t )* 365 days + (inventories i,t / sales i,t ) *365 days – (account payables i,t / sales i,t )*365 day furthermore, in this study the group of financially constrained firms or financially unconstrained firms based on dividends, cash flow, cost of external financing, and interest coverage. the score is 1 for a financially constrained firm and 0 financially unconstrained firm. the estimates of the models are as follows: hypothesis 1 perfi,t= β0 + β1ntci,t + β2ntc 2 i,t +β3sizei,t +εi,t (1) hypothesis 2 perfi,t=β0+β1ntci,t+δ1dfci,t*ntci,t +β2ntc2i,t+δ2dfci,t*ntc 2 i,t+β3sizei,t +εi,t simplify the equation: perfi,t=β0+(β1+δ1dfci,t)ntci,t + (β2+δ2dfci,t)ntc 2 i,t+β3sizei,t+εi,t (2) based equation (1), the optimal degree of working capital can be measured by determine the turning point obtained from: -�1/2�2 if there is maximum turning point form equation (1), then equation (2) can be estimated. the optimal degree of working capital can be measured by determine the turning point obtained from equation (2): -(�1+�1)/2(�2+�2) result and discussion the sample in this study was a non-financial companies listed on the indonesia stock exchange during the period 2010–2019. data were obtained from osiris database. during sample selection, firms that have negative equity and delisted were removed. therefore, the final sample consisted of 435 firms. this work used a panel regression model to test the hypothesis. using panel data allows us to minimize unobservable heterogeneity and eliminate the risk of obtaining biased (greene, 2000). this work used a hausman test to choose using a fixed-effect or random-effect model. table 2 provides summary variables of this study. hypothesis 1 testing the results show a non-linear effect on company performance when using roa and roe as proxies for performance variables. that means that there is a non-linear effect of working capital on company performance. the ntc coefficient is significantly positive, and the coefficient of ntc2 has a significant negative value which means that the form of the effect is an u-shaped inverted curve that shows the maximum point. in line with hypothesis 1 shows that the firm has an optimal degree of working capital. the optimal degree of working capital can be calculated using the maximum point formula (-�1/2�2). table 2 summary statistics mean median min max std. dev ntc 93.2896 65.61 -778.08 1070.33 127.306 ntc2 24902.84 4748.5881 1.00e-04 1145606.3 67239.95 roa 0.0362 0.03234 -0.6193 0.54333 0.080895 roe 0.0586 0.07127 -13.835 5.173837 0.434555 size 20.952 21.0269 15.1862 25.0191 1.6885 lev 0.2688 0.25697 4.3e-03 537.563 0.18087 growth 0.6305 0.09329 -0.8772 0.9386 12.0623 cf 0.1013 0.092544 -0.504 0.6943 0.08624 dpr 0.4140 0 0 0.8742 0.9384 intcov 777.95 3,362 -1185,2 1000665 25631,45 coexf 0.503 0.079 0 245.774 7.710 ntc: net trade cycle, roa: return on asset, roe: return on equity, size, leverage, growth, cf: cash flow, dpr: dividend pay-out ratio, intcov: interest coverage, coexf: cost of external financing. hypothesis 2 testing the results show that the ntc coefficient is significantly positive and the coefficient of ntc2 has a significant negative value which business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 132 unconstrained firms. that obtained from -�1/ 2�2 dan -(�1�1)/2(�2+�2). the results supported h2 that financially constrained firms will have a lower degree of optimal working capital than financially unconstrained firms. conclusion the results show that working capital has a nonlinear effect (u-shaped inverted) on the performance when using roa and roe as performance measurement, which means there is a maximum point. the optimal degree of working capital for the roa and roe as performance is 271.23 days and 267.20 days, respectively. this study answers the contradictions of previous studies, which showed a positive effect of working capital on firm perforindependent variables dependent variables roa roe ntc .000198*** .0006894* ntc2 -3.65e-07*** -1.29e-06 * size .0031396 -.0877535 leverage -.082075** -.2765073 growth .0002436*** -.0003085 r2 0.2095 0.005 means that the form of the effect is an u-shaped inverted curve that shows the maximum point. the results also show a significant interaction coefficient between dfc and ntc and on dfc and ntc2 on grouping financially constrained firms based on size, cash flow, and dividend pay-out ratio. both coefficients can be used to calculate working capital for financially constrained firms. so, the next step for hypothesis 2 testing is calculating the firm’s optimal working capital for financially constrained and dependent variable: roa dprdummy cfdummy intcovdummy coexfdummy ntc .0002254*** .0005925*** 0,000376*** 0,0001771** ntc2 -3.80e-07*** -8.44e-07*** -6,8e-07*** -3,62e-07** dfc*ntc -.0001118** -.0004255*** -0,00035*** -0,0000954** dfc* ntc2 1.74e-07** 5.15e-07** 5,33e-07*** 1,57e-07* size .0029461 .0007259 0,017867** 0,018717** leverage -.0955525*** -.0789955** -0,0745885** -0,085418** growth .0002257*** .0002572** 0,00015777* 0,0003976** constant -.0067677 0201579 -0,3209886** -0,33126** r2 0.2853 0.2749 0,2572 0,1525 dependent variable: roe dprdummy cfdummy intcovdummy coexfdummy ntc .0005848** .0016575** 0,0009426*** 0,0003778*** ntc2 -9.86e-07** -2.57e-06** -1,45e-06*** -7,02e-07*** dfc*ntc -.000275** -.0010391** -0,0006951*** -0,0003128*** dfc* ntc2 4.43e-07* 1.38e-06* 1,05e-06*** 5,70e-07** size -.0925937 -.093267 0,0348592*** 0,0337162*** leverage -.3056945 -.2701036** -0,1712547** -0,2627797*** growth -.000522 -.0002748 0,0003015** 0,0005083* constant 2.066393 2.023086 -0,6357135*** -0,8247029*** r2 0.0136 0.0318 0,1608 0,1186 table 3 hypothesis 1 testing table 4 hypothesis 2 testing ninditya nareswari, nuraini desty nurmasari, working capital management on financially constrained firm 133 mance (schiff and lieber, 1974; blinder and maccini 1991; charitou, lois, and santoso, 2012) and showed a negative effect of working capital on firm performance. (kim and chung, 1990; mohamad and saad, 2010; kieschnick et al., 2011). table 5 summary of hypothesis 1 testing the manager must be able to decide the optimal degree of working capital in order to produce maximum financial performance. besides, the optimal degree of working capital owned by each company will be different depending on several factors; one of them is the financial condition of the firm. financially constrained firms will have a lower degree of optimal working capital than unconstrained firms. so the manager must consider the financial condition in determining the degree of working capital in order to produce maximum financial performance. this study has the following limitations: 1. the study has not separated the sample of working capital so that the working capital range is still too broad 2. the study only relates the amount of optimal working capital to the financial condition yet to associate with other factors. 3. grouping of financially constrained firms are only based on the median of the sample is not strong enough to provide that the company is classified as a financially constrained or financially unconstrained firm. the grouping is only separated the sample into two groups. then further research can confirm the findings of whether a firm that has a low degree of working capital will increase its performance if working capital is extended and vice versa by the following research suggestions: 1. for further research, it can be used by separating the sample first based on the firm’s working capital. 2. for further research, the optimal degree of working capital can be related to other factors such as the business life cycle or bargaining power. dependent variables result roa 271,23 days roe 267,20 days table 6 summary of hypothesis 2 testing besides, the results also show that there is an interaction impact between the financial constraints dummy and working capital when using financially constrained firms grouped based on cash flow, size, and dividend pay-out ratio using roa and roe as performance. the next step is calculating the optimal degree of working capital for financially constrained and unconstrained firms. the results show that financially constrained firms have lower optimal working capital than financially unconstrained firms. this shows that the benefits of working capital are more used by financially unconstrained firms. this study has implications for management to consider the optimal degree of working capital. first, working capital can have a positive impact on firms performance, but when a firm has working capital that exceeds the optimal degree, it will harm firm performance. so dependent variable: roa dprdummy cfdummy intcovdummy coexfdummy nfc 296.57 days. 351 days 166.66 days 195.45 days fc 275.72 days 253,21 days 309.21 days 244.61 days dependent variable: roe dprdummy cfdummy intcovdummy coexfdummy nfc 296.551 days 322.47 days 309.375 days 246.21 days fc 285,26 days 259.83 days 325.03 days 269.08 days business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 134 3. for further research can be used other proxies, especially grouping companies financially constrained firms more comprehensive, for example using specific scores. refrences baños-caballero s, p. j. garcía-teruel, & p. martínez-solano. (2013). working capital management, corporate performance, and financial constraints. journal of business research, 67 (3), 332–338. blinder, a. s. & maccini, l. j. (1991). the resurgence of inventory research: what have we learned? journal of economic surveys, 5, 291–328 brigham, e. & ehrhardt, m. (2014). financial management: theory and practice, 14th ed., pp. 370–371. ohio: south-western publishing. charitou, m., lois, p., & santoso, h.b. (2012). the relationship between working capital management and firm’s profitability: an empirical investigation for an emerging asian country”. the international business & economics research journal, 11(8), 839. deloof, m. (2003). does working capital management affect profitability of belgian firms? journal of business finance & accounting, 30, 573–587. emery, g. (1984). a purefinancial explanation for trade credit. journal of financial and quantitative analysis, 19, 271–285. fazzari, steven m., et al. (1988). financing constraints and corporate investment. brookings paper on economic activity, 1, 141– 195. greenwald, b., stiglitz, j. e., & weiss, a. (1984). informational imperfections in the capital market and macroeconomic fluctuations. american economic review, 74, 194–199. hanafi, mamduh m. (2016). manajemen keuangan, edisi kedua, cetakan pertama. yogyakarta: bpfe. hill, m. d., kelly, g., & highfield, m. j. (2010). net operating working capital behaviour: a first look. financial management, 39, 783–805. kaplan, steven n. and zingales, luigi. (1997). do financing constraints explain why investment is correlated with cash flow? quarterly journal of economics, 112: pp. 169–215. kim, y. h., & chung, k. h. (1990). an integrated evaluation of investment in inventory and credit: a cash flow approach. journal of business finance & accounting, 17, 381– 390. kieschnick, r., laplante, m., & moussawi, r. (2011). working capital management and shareholder wealth. working paper (ssrn: http://ssrn.com/abstract = 1431165). mohamad, nor edi & saad, noriza binti. (2010). working capital management: the effect of market valuation and profitability in malaysia. international journal of business management, vol. 5, no 11, november 2010. neely, andy. (2004). business performance measurement: theory and practice. international edition. cambridge: cambridge university press. schiff, m. & lieber, z. (1974). a model for the integration of credit and inventory management. journal of finance, 29, 133–140. shin, h. h. & soenen, l. (1998). efficiency of working capital and corporate profitability. financial practice & education, 8, 37– 45. 01 arief.pmd heru budi pratomo & bambang tjahjadi, strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) 123123 strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) heru budi pratomo & bambang tjahjadi universitas airlangga e-mail: heru.pratomo90@gmail.com abstract: the government launched a 35,000 mw program based on the decree of the minister of energy and mineral resources of the republic of indonesia especially for outside java region as part of development of country infrastructure. to be able to continue to grow and compete, pt pjb as a company engaged in the field of electric power producers must have good investment plan, one of the investments that can be made is through participation in electric power plant development projects. the purpose of this study is to find out the influential criteria in making decisions and provide recommendations to pt pjb in the formulation of alternative priority scales for power plant development projects selection strategy. this study uses a qualitative approach with a case study approach. samples from this study were key informants using purposive sampling and filling out questionnaires. the results of this study are the formation of 3 criteria which are the best priorities, namely generating new revenue with a weight of 0.177, market share with a weight of 0.134 and increasing opportunities in the future with a weight of 0.127. while the determination of the main alternative for the construction of the power plant project is the java 7 pltu of 16.3%, the java 8 pltu of 12.9% and the java 3 pltgu of 10%. keywords: power generation, project management, investment, ahp pendahuluan pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) adalah salah satu anak perusahaan dari pt pln (persero) yang bergerak di bidang produsen tenaga listrik. pt pjb berdiri pada tanggal 3 oktober 1995 yang terus berkembang hingga saat ini dengan memiliki beberapa anak dan cucu perusahaan sesuai gambar 1.1. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 124 masing-masing anak perusahaan dan perusahaan asosiasi memiliki fungsi dan peran yang berbeda-beda, namun terintegrasi untuk membantu pt pjb dalam pengembangan usaha dan rencana-rencana strategis perusahaan. dalam menjalankan proses bisnisnya, pt pjb mengelola 9 unit pembangkit (up) existing dengan total kapasitas daya terpasang sebesar 7.044 megawatt (mw) yaitu: up gresik, up muara karang, up muara tawar, up cirata, up brantas, up paiton, up bawean, dan up suppa serta 34 jasa operation and maintenance (o&m) yang tersebar di seluruh wilayah indonesia baik pulau jawa maupun luar pulau jawa. berikut ini merupakan gambar dari peta wilayah operasional pt pjb di indonesia. untuk dapat terus tumbuh dan bersaing, pt pjb sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang produsen tenaga listrik harus memiliki perencanaan yang baik dalam investasi, salah satu investasi yang dapat dilakukan adalah melalui keikutsertaan dalam proyek pembangunan tenaga listrik yang tertera di dalam ruptl. investasi pada proyek pembangunan tenaga listrik tersebut dapat digunakan untuk mengantisipasi penurunan nilai aset perusahaan yang diakibatkan karena unit pembangkit existing yang sudah dan akan melewati umur keekonomian pembangkit (pada umumnya, umur keekonomian pembangkit selama 30 tahun). di tahun 2018, banyak unit pembangkit existing pt pjb yang telah melewati batas keekonomian sehingga berdampak pada penurunan nilai aset di dalam portofolio perusahaan yang memengaruhi jumlah besaran revenue. sangat banyak faktor yang dipergunakan oleh para pejabat untuk melakukan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terhadap proyek pembangkit tenaga listrik sehingga menyebabkan keterlambatan realisasi pelaksanaan proyek pembangkit listrik. adanya keterlambatan pada realisasi pelaksanaan proyek pembangkit listrik dapat memengaruhi pencapaian salah satu indikator kinerja perusahaan (batas realisasi pelaksanaan heru budi pratomo & bambang tjahjadi, strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) 125 diketahui bahwa jumlah total mw yang direncanakan sebesar 8.320 mw di mana jumlah total mw tersebut hanya 24% dari total keseluruhan program pemerintah yang direncanakan yaitu 35.000 mw. rencana pembangunan ini membutuhkan dana yang sangat besar, namun dengan adanya keterbatasan dana yang ada saat ini maka pt pjb diharapkan mampu mengoptimalkan anggaran dana yang ada pada proyek pembangkit listrik yang diyakini dapat menciptakan value yang lebih bagi perusahaan. di dalam penelitian ini akan dicari urutan skala prioritas proyek yang nantinya dapat digunakan pt pjb untuk menentukan proyek mana yang terlebih dahulu lebih penting untuk dilaksanakan. selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mencari pembobotan dari kriteria-kriteria yang dipergunakan dalam pengambilan keputusan pelaksanaan proyek pembangkit listrik. pada saat ini, pt pjb masih belum memiliki acuan/dasar mengenai kriteria yang dipergunakan untuk pengambilan keputusan proyek pembangunan pembangkit listrik, sehingga pt pjb tidak memiliki informasi yang cukup untuk menyusun skala prioritas pengambilan proyek pemproyek pembangunan pembangkit listrik sesuai ruptl hingga tahun 2027). berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa penurunan nilai aset dari tahun 2017 ke tahun 2018 adalah sebesar rp 19 triliun. nilai tersebut cukup besar bagi pt pjb sehingga harus segera dilakukan investasi melalui proyek pembangunan pembangkit listrik dalam ruptl. berikut ini merupakan beberapa proyek pembangunan pembangkit listrik yang direncanakan akan diambil dan dikerjakan oleh pt pjb. 160 165 170 175 180 185 190 195 200 2015 2016 2017 2018 total aset 196 192 193 174 tr ili un total aset nomor nama proyek jenis pembangkit listrik kapasitas 1 batang toru plta 510 mw 2 jawa 7 pltu 2.000 mw 3 jawa 3 pltgu 800 mw 4 sumsel 6 pltu 600 mw 5 sumbagut 1 pltgu 250 mw 6 sumbagut 3,4 pltgu 750 mw 7 dumai pltgu 250 mw 8 jawa 10 pltu 660 mw 9 jawa 9 pltu 600 mw 10 sumbagsel 1 pltu 300 mw 11 jawa 8 pltu 1.000 mw 12 sumut 2 pltu 600 mw total 8.320 mw business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 126 kondisi kelistrikan di indonesia kapasitas total listrik di indonesia saat ini sekitar 52.231 megawatt (mw), dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa. kapasitas listrik itu untuk menerangi seluruh rumah tangga di tanah air yang berdasarkan data badan pusat statistik (bps) mencapai 61 juta rumah tangga. namun, belum semua rumah tangga itu dapat menikmati setrum, terutama yang tinggal di perdesaan dan wilayah terpencil. dari total kapasitas pembangkit listrik di tanah air saat ini, pembangkit listrik tenaga uap (pltu) yang berbahan batu bara masih mendominasi, yaitu 24.883 mw atau 48% dari total kapasitas pembangkit di dalam negeri 52.231 mw. posisi kedua ditempati pembangkit listrik tenaga gas dan uap (pltgu) yang berbahan bakar gas sebesar 11.262 mw atau 22%. pembangkit listrik tenaga diesel (pltd) yang berbahan bakar solar sebesar 5.771 mw atau 11%. pembangkit listrik tenaga gas (pltg) dan pembangkit listrik tenaga mesin dan gas (pltmg) sebesar 3.944 mw atau 8%. sementara itu, sisanya sekitar 12% berasal dari pembangkit listrik terbarukan sebesar 6.370 mw yang terdiri atas plts, plta, pltmh, pltbio, dan pltp (www.bisnis.com, 2018). investasi investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu yang panjang dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa akan dating (sunariyah, 2004). menurut jogiyanto (2010) mengatakan investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu. sedangkan gitman dan joehnk (2005) mendefinisikan investasi adalah suatu sarana di mana dana dapat bangkit listrik yang ada dalam ruptl. agar penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan metode ahp, penelitian ini akan diawali wawancara oleh peneliti dengan salah satu direksi pt pjb yang bertujuan untuk mengetahui kriteriakriteria yang dipergunakan dalam pengambilan keputusan proyek pembangunan pembangkit listrik. dengan demikian, pt pjb akan memiliki informasi/panduan yang berisi skala prioritas masing-masing alternatif proyek pembangkit listrik untuk kemudian dapat dipergunakan sebagai dasar/acuan untuk mengalokasikan modal dalam melaksanakan proyek pembangkit listrik mana yang harus diambil terlebih dahulu. tinjauan pustaka manajemen proyek manajemen proyek terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan proyek. menurut hughes dan cotterell (2002) manajemen meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasi, mencari sumber daya, memberi instruksi, memantau kemajuan, mengontrol, memiliki inovasi dan merepresentasi. manajemen adalah suatu proses perencanaan pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar tercapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. manajemen proyek adalah suatu teknik yang digunakan untuk merencanakan, mengerjakan, dan mengendalikan aktivitas suatu proyek untuk memenuhi kendala waktu dan biaya proyek (muslich, 2009). teknik ini berorientasi pada pencapaian tujuan, di mana tujuan tersebut mungkin pembangunan gedung, pembukaan kantor baru, atau pengendalian kegiatan penelitian dan pengembangan. heru budi pratomo & bambang tjahjadi, strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) 127 pihak manajemen dapat membandingkan performansi dari beberapa proyek secara efektif dan dapat menetapkan proyek mana yang terbaik. perumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di dalam penelitian, maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah “bagaimana pt pjb dapat melaksanakan pembangunan proyek pembangit listrik dalam ruptl dengan tepat waktu untuk menambah nilai aset dan revenue perusahaan agar dapat terus bersaing di bidang produsen tenaga listrik?” metode penelitian penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif, karena data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kualitatif (data deskriptif). moleong (2012) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. sampel dan teknik pengambilan sampel sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah key informan (informan kunci) yaitu orang-orang yang sangat memahami organisasi dan memiliki kepentingan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. penentuan informan kunci ditentukan menggunakan purposive sampling. pada penelitian ini akan dilaksanakan wawancara dengan beberapa key informan yang mengetahui terkait proyek pembangkit listrik pt pjb yaitu: direktur niaga, direktur operasi 1, direktur operasi 2, dan direktur keuangan yang dianggap memahami terkait proyek pembangkit listrik. penentuan informan ditempatkan dengan harapan dapat menghasilkan pendapatan secara positif dengan meningkatkan nilainya. manajemen strategi strategi secara etimologis berasal dari kata strategic (dalam bahasa inggris) yang memiliki arti suatu cara, kiat, dan atau taktik utama (nawawi, 2003 dalam mappasiara, 2018). namun, secara historis arti kata strategic bermula dari dunia militer yang kemudian lebih dikenal sebagai suatu alat atau media yang digunakan oleh para komandan militer dan atau jenderal untuk memenangkan peperangan (mappasiara, 2018). analytical hierarchy process (ahp) ahp yang dikembangkan oleh saaty (1993) dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang kompleks dengan aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak (multikriteria). kompleksitas ini disebabkan oleh struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian pengambil keputusan serta ketidakpastian tersedianya data statistik yang akurat atau bahkan tidak sama sekali. ada kalanya timbul permasalahan pada saat masalah yang diamati memerlukan keputusan yang harus diambil secepatnya, tetapi variasinya rumit sehingga data tidak mungkin dapat dicatat secara numerik hanya secara kualitatif saja yang dapat diukur, yaitu berdasarkan persepsi, pengalaman dan intuisi. metode ahp mampu mengakomodasi kriteria-kriteria penilaian yang bersifat kualitatif dan kuantitatif serta mudah dipahami dan diterapkan dalam operating managers. dengan ahp mampu mengidentifikasi kriteria yang dipentingkan dalam pemilihan dan evaluasi penentuan proyek pembangkit listrik. dalam aplikasinya business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 128 disusun, sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan. penyajian data melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan data, yakni menjalin kelompok data yang satu dengan kelompok data lainnya sehingga seluruh data yang dianalisis benarbenar dilibatkan dalam satu kesatuan karena dalam penelitian kualitatif data biasanya beraneka ragam perspektif dan terasa bertumpuk maka penyajian data pada umumnya diyakini sangat membantu proses analisis bentuk penyajian data kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik, jaringan dan bagan. 4. penarikan kesimpulan dan verifikasi penarikan kesimpulan merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. penarikan kesimpulan adalah hasil analisis yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan. pada dasarnya mengimplementasikan prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola-pola data yang ada dan atau kecenderungan dari display data yang dibuat. ada kalanya kesimpulan telah tergambar sejak awal, namun kesimpulan final tidak pernah dapat dirumuskan secara memadai tanpa peneliti menyelesaikan analisis seluruh data yang ada. analisis dan pembahasan hasil penelitian gambaran umum objek penelitian pt pembangkitan jawa-bali (pjb) merupakan salah satu anak perusahaan dari pt pln (persero). sejarah pjb berawal dari restrukturisasi yang dilakukan pln (perusahaan listrik negara) pada tahun 1982, dengan melakukan pemisahan unit sesuai fungsinya, yaitu unit pln distribusi dan unit pln pembangkitan serta unit pln penyaluran. selanjutnya pada 3 oktomenggunakan teknik purposive sampling, yaitu peneliti memilih informan berdasarkan pertimbangan yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. lokasi penelitian penelitian ini dilakukan di pt pembangkit jawa bali. teknik analisis pengolahan data dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu: 1. penentuan bobot kriteria menggunakan ahp langkah pertama yang dilakukan adalah mengetahui kriteria yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan proyek pembangkit listrik pt pjb dan menyebarkan kuesioner pada key informan. langkah selanjutnya memasukkan data hasil dari kuesioner dengan menggunakan metode ahp yang bertujuan mencari bobot dari masing-masing kriteria. dimulai dari menyusun matriks perbandingan berpasangan, dilanjutkan pengecekan konsistensi sampai didapat bobot yang diinginkan. pembobotan terhadap kriteria-kriteria diolah menggunakan software expert choice. 2. reduksi data reduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. reduksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. langkah reduksi data melibatkan beberapa tahap. 3. penyajian data penyajian data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi heru budi pratomo & bambang tjahjadi, strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) 129 ber 1995, pln melakukan restrukturisasi khusus bidang pembangkitan dengan mendirikan dua anak perusahaan, yaitu pt pln pembangkitan tenaga listrik jawa-bali i yang berkantor pusat di jakarta dan pt pln pembangkitan tenaga listrik jawa-bali ii yang berkantor pusat di surabaya. pada tahun 2000, pt pln pembangkitan tenaga. identifikasi kriteria pada penentuan proyek pembangunan pembangkit listrik identifikasi kriteria merupakan salah satu tahapan yang penting karena dapat diketahui kriteria yang digunakan dalam penentuan proyek pembangunan listrik di pt pjb. penelitian ini berfokus pada identifikasi kriteria pada proyek pembangunan listrik, termasuk juga mengetahui alternatif yang tepat proyek mana yang akan dilakukan pembangunan kemudian akan dilakukan strategi penentuan pembiayaan yang tepat sehingga dapat menghilangkan/mengurangi dampak dari risiko. dari hasil wawancara dengan responden, dokumen internal perusahaan dan pengamatan langsung didapatkan hasil kriteria yang menjadi dasar sebagai penentuan proyek pembangunan listrik, dengan rincian masingmasing yaitu sebagai berikut. 1. kesesuaian proyek dengan arah strategis rjpp pjb proyek pembangkit listrik yang akan dilaksanakan oleh pjb merupakan salah satu strategi untuk memperluas pasar (ekspansi pasar). di dalam kriteria ini, proyek pembangkit listrik yang ada diharapkan mampu untuk menciptakan value dalam mencapai sasaran strategis yang telah ditentukan oleh pjb. 2. proyek akan memberikan pengenalan teknologi baru dan proven kepada pjb kriteria ini menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan pengambilan proyek pembangkit listrik karena sebagai perusahaan yang terus berkembang, pjb menginginkan agar proyek pembangkit listrik yang nantinya akan diambil dapat membantu perusahaan untuk mengenalkan teknologi terbaru yang ada di pasar. 3. peningkatan market share salah satu faktor penting bagi semua perusahaan adalah peningkatan market share. begitu juga pjb, dalam hal peningkatan market share pertimbangan akan lebih menitikberatkan pada jumlah kapasitas produksi dari pembangkit listrik (mega watt). 4. generating new revenue kriteria ini diharapkan untuk menambah pendapatan baru dari proyek pembangkit listrik yang akan dipilih. pada umumnya, perusahaan membagi ke dalam tiga bagian yaitu proyek pembangkit listrik dengan revenue kecil (rp 10m/tahun). 5. dukungan pemangku kepentingan dan/atau stakeholder untuk membantu terlaksananya penyelesaian proyek pembangkit listrik, tentunya harus ditinjau dari adanya dukungan dari pemerintah (pusat atau daerah) ataupun adanya surat penugasan pelaksanaan proyek kepada pjb. 6. ketersediaan jaminan pemerintah atau insentif dari pemerintah proyek pembangkit listrik membutuhkan dana yang sangat besar, sehingga risiko jika terjadi kegagalan pelaksanaan proyek akan berdampak pada kelancaran kondisi keuangan perusahaan. oleh karena itu, pemilihan proyek pembangkit listrik sebaiknya mempertimbangkan apakah proyek tersebut mendapatkan jaminan dan insentif dari pemerintah dan perusahaan harus berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkannya. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 130 7. potensi risiko kegagalan proyek salah satu upaya yang dilakukan pjb untuk dapat terus maju dan bersaing di dalam bisnis produksi tenaga listrik adalah dengan melakukan investasi, di dalam hal ini adalah investasi pada proyek pembangkit listrik. dalam setiap investasi yang dilakukan akan terdapat suatu risiko kegagalan, karena besaran modal yang dibutuhkan untuk proyek pembangkit listrik sangat besar maka pjb harus memilah potensi risiko kegagalan proyek. untuk menganalisis potensi risiko tersebut dapat melalui data historis proyek sejenis yang telah sukses di indonesia, kemudian sudah ada regulasi yang mengatur (misalnya dalam bidang penetapan tariff), adanya dukungan dari masyarakat sekitar, dan faktor lain yang dapat memengaruhi potensi risiko kegagalan proyek. 8. peluang pengembangan di masa datang demi mencapai continuous improvement dan menambah investasi pada unit existing, maka proyek pembangkit listrik yang akan dipilih harus dapat memberikan nilai tambah dan memiliki peluang pengembangan di masa mendatang (adanya opsi upgrading dan retrovit pembangkit listrik). 9. peningkatan core competence core competence merupakan bagian yang menjadi kriteria yang disyaratkan dalam penentuan proyek. proyek yang nantinya dihasilkan paling tidak memiliki core competence sehingga bisa mendapatkan hasil yang diinginkan oleh perusahaan. 10. kesiapan kompetensi proyek pembangkit listrik yang akan dipilih memiliki berbagai macam jenis sehingga membutuhkan kompetensi sumber daya manusia yang juga berbeda. kesiapan kompetensi sdm dalam menjalankan pembangkit listrik dengan jenis tertentu akan menjadi kunci salah satu kriteria penting dalam indikator operasi pembangkit listrik yaitu keandalan. oleh karena itu, keputusan pemilihan proyek pembangkit listrik juga harus mempertimbangkan kesiapan sdm yang dimiliki. 11. kesiapan infrastruktur infrastruktur juga menjadi modal yang cukup penting bagi penentuan proyek pt pembangkitan jawa bali. dengan infrastruktur yang memadai akan memudahkan pembangunan dan sesuai dengan target waktu yang ditetapkan. selain itu kesiapan infrastruktur di sini juga terkait dengan keandalan pasokan bahan bakar utama yang digunakan oleh pembangkit listrik. 12. lokasi proyek (keadaan geografis) sesuai dengan target pjb lokasi juga memegang hal yang penting dalam penentuan pemilihan proyek pembangkit listrik. dalam hal ini lokasi proyek akan secara berurutan akan diprioritaskan pada pulau jawa; sumatera, kalimantan, dan sulawesi; maluku, papua, nusa tenggara timur, dan nusa tenggara barat. alternatif yang digunakan dalam penentuan proyek berdasarkan internal perusahaan sebanyak 12 nama proyek sebagai berikut. nomor nama proyek jenis pembangkit listrik kapasitas 1 batang toru plta 510 mw 2 jawa 7 pltu 2.000 mw 3 jawa 3 pltgu 800 mw 4 sumsel 6 pltu 600 mw 5 sumbagut 1 pltgu 250 mw 6 sumbagut 3,4 pltgu 750 mw 7 dumai pltgu 250 mw 8 jawa 10 pltu 660 mw 9 jawa 9 pltu 600 mw 10 sumbagsel 1 pltu 300 mw 11 jawa 8 pltu 1.000 mw 12 sumut 2 pltu 600 mw total 8.320 mw heru budi pratomo & bambang tjahjadi, strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) 131 hasil pembobotan skala prioritas tingkat kepentingan kriteria proses pengolahan data untuk ahp menggunakan bantuan software expert choice yang dikembangkan oleh saaty (1993). pada pengolahan data dilakukan pengujian konsistensi penilaian. apabila nilai ratio konsistensi di atas 10% (cr>10%), penilaian dilakukan pengulangan sampai memperoleh tingkat konsistensi yang baik (cr<10%) selanjutnya diperoleh bobot prioritas. berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan expert choice diperoleh bobot prioritas dan rasio konsistensi pada tabel berikut ini. kriteria bobot prioritas kesesuaian proyek dengan arah strategis rjpp pjb 0,06 proyek akan memberikan pengenalan teknologi baru dan proven kepada pjb 0,034 peningkatan market share 0,134 generating new revenue 0,177 dukungan pemangku kepentingan dan/atau stakeholder 0,057 ketersediaan jaminan pemerintah atau insentif dari pemerintah 0,020 potensi risiko kegagalan proyek 0,040 peluang pengembangan di masa datang 0,127 peningkatan core competence 0,114 kesiapan kompetensi 0,070 kesiapan infrastruktur 0,058 lokasi proyek (keadaan geografis) sesuai dengan target pjb 0,107 analisis model ahp dan data hasil penelitian proses penilaian yang dilakukan dalam penelitian ini didasarkan pada proses analitik, di mana penelitian dilakukan secara judgment. dalam penelitian ini, responden terpilih yang melakukan penilaian di mana responden dinilai memiliki kontribusi besar dalam penentuan pembangunan proyek pembangkit listrik pada pt pjb. hasil penelitian yang diproses dalam pengolahan ahp merupakan rata-rata dari empat orang responden. pada pengolahan data dilakukan pengujian konsistensi penilaian. suatu penilaian perbandingan berpasangan dikatakan konsisten jika cr tidak lebih dari 0,1. berdasarkan pengolahan penilaian perbandingan berpasangan didapatkan rasio konsistensi penilaian yang telah dilakukan para responden sebesar 0,09. hal ini menunjukkan bahwa penilaian yang dilakukan sudah cukup konsisten. berikut ini merupakan analisis terhadap nilai bobot pada kriteria yang dihasilkan melalui ahp dengan bantuan software expert choice. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 132 selain dilihat dari kriteria, hal lain yang perlu dibahas yaitu dari alternatif yang digunakan dalam penelitian ini. berdasarkan hasil dari analisis dengan ahp, maka dapat di analisis berdasarkan alternatif, di antaranya sebagai berikut. dilihat dari hasil penilaian akhir didapat bahwa pltu jawa 7 menjadi prioritas utama dalam penentuan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan nilai sebesar 16,3%. jawa menjadi prioritas utama karena tingkat konsumsi listrik di jawa sangat tinggi, hal ini bisa dilihat dari pengertian pada kriteria lokasi dapat dijelaskan bahwa lokasi jawa menjadi hal yang utama dalam proyek pembangunan, kemudian disusul oleh sumatera, kalimantan, dan sulawesi; maluku, papua, nusa tenggara timur, dan nusa tenggara barat. pltu jawa 7 merupakan proyek pembangunan dengan kapasitas yang paling besar yaitu 2000 mw, mengingat konsumsi listrik yang sangat tinggi pada pulau jawa. selain itu pltu jawa 8 dengan kapasitas 1000 mw dengan prioritas kedua untuk penentuan proyek, selanjutnya ada pltgu jawa 3 dengan kapasitas 800 mw sebagai prioritas 3, pltu jawa 10 dengan kapasitas 660 mw menempati prioritas keempat dan pltu jawa 9 dengan kapasitas 600 mw sebagai prioritas kelima. hal ini bisa dilihat dari peringkat alternatif yang diprioritaskan mulai dari 1 sampai 5 merupakan pembangunan yang berlokasi di pulau jawa. selain pulau jawa, alternatif yang menjadi prioritas adalah di daerah sumatera. pada area sumatera menempati prioritas selanjutnya yang terdiri dari sumatera utara 3 dan 4 dengan kapasitas 750 mw, sumatera utara dengan kapasitas 600 mw serta sumatera selatan dengan kapasitas 600 mw. dilihat dari kapasitas yang akan dibangun pembangkit listrik, sumatera memiliki potensi untuk meningkatkan market share bagi perusahaan. hal ini mengacu pada sumatera juga memiliki tingkat konsumsi listrik tertinggi setelah pulau jawa. tingginya konsumsi listrik pada pulau sumatera diharapkan untuk menambah pendapatan baru dari proyek pembangkit listrik yang akan dipilih. pada umumnya, perusahaan membagi ke dalam tiga bagian yaitu proyek pembangkit listrik dengan revenue kecil (rp 10 m/tahun). selanjutnya, secara berturut-turut ada alternatif pltgu sumatera utara dengan kapasitas 250 mw, pltu dumai dengan kapasitas 250 mw, pltu sumatera selatan 1 dengan kapasitas 300 mw dan plta batang dengan kapasitas 510 mw. prioritas ini menjadi prioritas yang terakhir sebagai pilihan dalam pembangunan pembangkit listrik, karena daerah tersebut sebagai peluang yang akan datang bagi perusahaan. selain itu dilihat dari kapasitas yang akan dibangun tidak membutuhkan investasi yang besar karena dengan kapasitas kurang lebih 250 mw akan menghasilkan revenue kecil yaitu senilai kurang dari 5m per tahun. simpulan dan saran simpulan dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 1. mengidentifikasi kriteria yang menjadi pembangunan proyek pembangkit listrik serta memberikan bobot terhadap masing-masing yang didapat dengan menggunakan software expert choice. a. generating new revenue dengan bobot sebesar 0,177. b. market share dengan bobot sebesar 0,134. c. peningkatan peluang pengembangan di masa datang mempunyai bobot 0,127. d. peningkatan core competence dengan bobot sebesar 0,114. heru budi pratomo & bambang tjahjadi, strategi pemilihan proyek pembangunan pembangkit listrik dengan metode analytical hierarchy process (ahp) di pt pembangkitan jawa bali (pt pjb) 133 e. peningkatan lokasi proyek (keadaan geografis) sesuai dengan target pjb memiliki bobot 0,107. f. peningkatan kesiapan kompetensi dengan bobot 0,070. g. peningkatan kesesuaian proyek dengan arah strategis rjpp pjb bernilai 0,060 h. peningkatan kesiapan infrastruktur bernilai 0,058. i. peningkatan dukungan pemangku kepentingan dan/atau stakeholder dengan bobot sebesar 0,057. j. peningkatan potensi risiko kegagalan proyek bernilai 0,040. k. peningkatan proyek akan memberikan pengenalan teknologi baru dan proven kepada pjb bernilai 0,034. l. peningkatan ketersediaan jaminan pemerintah atau insentif dari pemerintah didapatkan nilai sebesar 0,020. 2. penentuan alternatif pembangunan proyek pembangkit listrik dan kemudian meranking alternatif yang didapat dengan menggunakan software expert choice. a. pltu jawa 7 sebesar 16,3% b. pltu jawa 8 sebesar 12,9% c. pltgu jawa 3 sebesar 10% d. pltu jawa 10 sebesar 9,6% e. pltu jawa 9 sebesar 9,1% f. pltgu sumatera 3 sebesar 7,9% g. pltu sumatera utara 2 dan pltu sumatera selatan 6 sebesar 6,8% h. pltgu sumatera 1 sebesar 5,7% i. pltgu dumai sebesar 5,6% j. pltu sumatera selatan 1 sebesar 5,3% k. plta batang sebesar 4% saran berikut adalah saran yang dapat saya berikan dalam penelitian ini. 1. perusahaan dapat meningkatkan market share mereka dengan melakukan pembangunan di wilayah selain jawa dan sumatera, karena berpotensi meningkatkan pendapatan yang baru bagi perusahaan. 2. bagi peneliti selanjutnya yang berniat melakukan penelitian dapat mengembangkan metode yang lain. oleh sebab itu, penulis menyarankan untuk peneliti selanjutnya mencoba mengembangkan metode yang digunakan, misalnya dengan melakukan optimasi model persamaan, di mana dapat di cari dengan menggunakan goal programming untuk menentukan model persamaan pada pt pembangkitan jawa-bali (pjb). daftar rujukan allen, m.s. 2000. business portofolio management. jakarta: penerbit erlangga. halim, a. 2005. analisis investasi, edisi kedua. jakarta: salemba empat, alfabeta. hughes, b dan cotterel, m. 2002. software project management, edisi ke-3. london: mcgraw–hill. jones, c.p. 2003. investments: analysis & management. new york: john wiley & sons. inc. kerzner, h. 1998. project management, a system approach to planning, schedulling & controlling, six edition. lestari, r.m., baihaqi, i., & persada, s.f. 2018. praktik manajemen energi pada industri manufaktur. jurnal teknik its vol. 7, no. 1. moleong, lexy j. 2012. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt remaja rosdakarya. muslich, m. 2009. metode pengambilan keputusan kuantitatif. jakarta: bumi aksara. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 134 purnomo, h. 2004. pengantar teknik industri. yogyakarta: graha ilmu. prasetya, h. & lukiastusi, f. 2009. manajemen operasi. yogyakarta: media pressindo. saaty, l. 1993. pengambilan keputusan bagi para pemimpin. proses hierarki analitik untuk pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks, seri manajemen no. 134. jakarta: lppm dan pt pustaka binaman pressindo. santosa, b. 2009. manajemen proyek: konsep & implementasi. yogyakarta: graha ilmu. schwalbe, k. 2004. information technology project management, edisi ke-4. boston massachusetts: course technology. setiawan, h., anggraeni. s.k., & purnamasari, f. 2013. analisis penentuan rating risiko proyek pt xyz metode analytical hierarchy process (ahp). seminar nasional ienaco. 01 arief.pmd arief budiman & bambang tjahjadi, evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak 8181 evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak arief budiman dan bambang tjahjadi universitas airlangga e-mail: ariefbudimen@gmail.com abstract: port business (loading unloading container) give a positive impact for other industries related to control, arrange and develop logistics activities and material distribution. port can be the best solution for reduce and speed up commodity distribution process. purpose of this research is to evaluate the application of differentiation competitive strategies that have been applied so far in pt terminal teluk lamong on the area of pt pelabuhan tanjung perak and give recommendation of that issues in order to improve the quality of container services in tanjung perak port environment. this research is using qualitative approach especially case study. sample of this study is using a purposive sampling and interview with a key informan. the result of this research is strategy implementation in pt terminal teluk lamong to improve container loading unloading performance by using high technology system, go green port concept and human resources that can easily adapt with company improvement. the recommendation is to maintain go green port concept consistently, and keep make an innovation that focus in giving the best service for the customer. keywords: differentiation, competition strategy, loading unloading service pendahuluan indonesia merupakan negara kepulauan yang dua pertiga wilayahnya adalah perairan dan terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persinggahan rute perdagangan dunia. sebagai negara kepulauan yang sebagian besar daerahnya adalah lautan, tak salah jika indonesia disebut sebagai negara maritim (asihra, 2018). dengan sebutan negara maritim, dengan demikian indonesia dituntut dapat mengikuti perkembangan dunia internasional dan menjadi poros maritim dunia, yaitu dengan mengembangkan pelabuhan-pelabuhan yang besar serta mendorong investasi di bidang kemaritiman secara besar. keberlanjutan pengembangan pelabuhan (sustainability port development) tersebut menjadi hal yang sangat penting, mengingat hampir 80% total volume perdagangan dunia menggunakan transportasi laut, di mana sebanyak 70% merupakan total nilai perdagangan dunia. persentase volume sebesar 80% tersebut, diketahui bahwa asia menguasai pangsa sebesar 40% (muat/loaded) dan 60% (bongkar/unloaded) (unctad, 2015 dalam ulfany, wicaksono, dan anwar, 2017). pada tahun 2014, pelabuhan di indonesia dilaporkan memiliki throughput 14,3 juta teus, capaian yang cukup tinggi jika dibandingkan 14 tahun lalu, dengan demikian mencerminkan adanya suatu tingkat pertumbuhan rata-rata 7,7%. hal ini sejalan dengan adanya peningkatan throughput yang dialami container pt pelindo iii, di mana meningkat sebanyak 2,4 juta pada tahun 2005 menjadi sekitar 4,3 juta teus pada tahun 2017, dengan peningkatan pertumbuhan throughput kontainer 7,2% per tahun. berikut business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 82 ini adalah arus petikemas pt pelindo iii periode tahun 2010–2015. menurut proyeksi arus petikemas tanjung perak (gambar 1.4), digambarkan bahwa ada kemungkinan kenaikan kapasitas sampai 8 juta sampai 9 juta teu’s pada tahun 2025. dengan demikian, peluang usaha di bidang layanan jasa peti kemas diperkirakan akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan, tentu saja hal ini tidak hanya pt terminal teluk lamong saja yang akan memanfaatkan peluang tersebut, melainkan akan banyak pesaing (pemain lama dan pemain baru) yang akan bermain pada lahan bisnis yang sama. pt terminal teluk lamong merupakan anak perusahaan pt pelindo iii yang dibangun sebagai pengembangan dari pelabuhan tanjung perak, dilengkapi dengan peralatan ramah lingkungan dan semi-otomatis. pt terminal teluk lamong berfungsi sebagai solusi terbaik untuk mengurangi kepadatan dan mempercepat proses distribusi arus barang terutama dari dan ke wilayah indonesia timur. pt terminal teluk lamong melayani jasa terminal peti kemas (bongkar muat kontainer) dan curah kering (dry bulk). dengan adanya peralatan modern, pt terminal teluk lamong diharapkan mampu mendorong dan meningkatkan perekonomian di indonesia. terminal teluk lamong dibangun oleh pelabuhan indonesia iii (persero) dengan menerapkan konsep ramah lingkungan (green port) dan mengimplementasikan teknologi mutakhir, memakai alat bongkar muat dan truck berbahan bakar gas sehingga tidak menimbulkan polusi udara di sekitarnya, selain itu manajemen juga menanam ribuan pohon di sekitar teluk lamong sebagai penghijauan dan penunjang konsep green port, konsep ini dipilih agar terminal teluk lamong mampu bersaing dengan terminal canggih di wilayah tanjung perak, indonesia hingga negara lain. untuk bertahan dalam persaingan bisnis ini, pt terminal teluk lamong harus sigap dan tepat dalam menentukan strategi. berdasarkan gambar 1.6, terlihat adanya peningkatan bongkar muat petikemas pt terminal teluk lamong selama empat tahun terakhir. namun jika dibandingkan dengan kompetitor lain perolehan bongkar muat petikemas pt terminal teluk lamong sangat kecil sekalipun arief budiman & bambang tjahjadi, evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak 83 dengan pencapaian tujuan strateginya. sedangkan menurut pearce dan robinson (2008), strategi adalah rencana berskala besar dengan orientasi masa depan, guna berinteraksi dengan kondisi persaingan untuk mencapai tujuan perusahaan. strategi mencerminkan pengetahuan perusahaan mengenai bagaimana, kapan, dan di mana perusahaan kan bersaing, dengan siapa perusahaan sebaiknya bersaing, dan untuk tujuan apa perusahaan harus bersaing (lesal, 2015). strategi bersaing adalah pengembangan rencana mengenai bagaimana bisnis akan bersaing, apa yang seharusnya menjadi tujuan dan kebijakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut (porter, 2001). sedangkan menurut robbins dan coulter (2010), strategi bersaing adalah tentang bagaimana organisasi akan bersaing dalam bisnisnya. bagi organisasi kecil yang hanya berkecimpung dalam satu lini bisnis atau organisasi besar yang belum diversifikasi dalam berbagai produk atau pasar, strategi kompetitif menggambarkan bagaimana organisasi tersebut akan bersaing di pasar primer atau utamanya, namun bagi organisasi yang berkecimpung dalam berbagai bisnis, setiap bisnis mempunyai strategi kompetitifnya sendiri yang mendefinisikan keunggulan kompetitifnya, produk atau jasa yang ditawarkan, pelanggan yang ingin dijangkaunya, dan kesukaannya. inti dari strategi bersaing yaitu bagaimana sebuah organisasi melakukan upaya-upaya untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan. alternatif strategi bersaing yang tepat dan dapat diterapkan pada sebuah organisasi didasarkan pada keunggulan kompetitif yang dapat dikembangkan oleh organisasi tersebut (odeth, 2017). strategi generik dan keunggulan bersaing keunggulan bersaing memiliki dua arti yang berbeda tetapi saling berhubungan. ketatnya mengalami peningkatan setiap tahunnya. hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan mengingat market share pt terminal teluk lamong pada lingkup pelabuhan tanjung perak hanya sebesar 14%, di mana market share terbesar dikuasai oleh pt terminal petikemas (gambar 1.7). peningkatan jumlah yang tidak signifikan setiap tahunnya menunjukkan adanya peluang bagi pt terminal teluk lamong untuk bisa mengimbangi kompetitor. dengan latar belakang yang telah dijelaskan, maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai strategi bersaing pt terminal teluk lamong dalam upaya bertahan dan memenangkan persaingan. untuk itu, peneliti bermaksud mengajukan judul penelitian “evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak”. tinjauan pustaka strategi bersaing strategi menurut griffin (2009) adalah rencana komprehensif untuk mencapai tujuan organisasi, sebaliknya manajemen strategi adalah cara untuk menanggapi peluang dan tantangan bisnis. strategi yang efektif adalah strategi yang mendorong terciptanya keselarasan yang sempurna antara organisasi dengan lingkungannya dan business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 84 dan efisien dalam rangka memberikan kepuasan bagi konsumen. targeting targeting adalah merupakan kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. apabila perusahaan ingin menentukan segmen pasar mana yang akan dimasukinya, maka langkah yang pertama adalah menghitung dan menilai potensi profit dari berbagai segmen yang ada tadi. maka dalam hal ini, pemasar harus mengerti betul tentang teknik-teknik dalam mengukur potensi pasar dan meramalkan permintaan pada masa yang akan datang. teknikteknik yang dipergunakan ini sangat bermanfaat dalam memilih pasar sasaran, sehingga pemasar dapat menghindarkan kesalahan-kesalahan yang bakal terjadi, atau paling tidak menguranginya sekecil mungkin dalam praktiknya. maka untuk tujuan tersebut perusahaan harus membagi-bagi pasar menjadi segmen-segmen pasar utama, setiap segmen pasar kemudian dievaluasi, dipilih dan diterapkan segmen tertentu sebagai sasaran. positioning penempatan produk mencakup kegiatan merumuskan penempatan produk dalam persaingan dan menetapkan bauran pemasaran yang terperinci. penempatan posisi adalah strategi yang sangat penting dalam membangun sebuah merek. dalam pasar yang tingkat persaingannya tinggi, penempatan posisi memberikan diferensiasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang kritis, mengapa berbeda dengan pesaing, dan mengapa lebih baik dari pesaing (susanto dan wijanarko, 2004 dalam faqih, 2008). menurut pendapat kotler dan keller (2007), penetapan posisi (positioning) adalah persaingan menyebabkan perusahaan berusaha untuk memenangkan persaingan dengan cara menerapkan strategi bersaing yang tepat sehingga dapat melaksanakan serta mewujudkan tujuantujuan sesuai dengan apa yang diharapkan. keunggulan kompetitif, termasuk bagaimana mendapatkan dan mempertahankannya, merupakan konsep kunci dalam manajemen strategis. keunggulan kompetitif akan timbul dengan cara memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh pesaing lain. keunggulan kompetitif adalah strategi bersaing sesuatu yang dirancang untuk dieksploitasi oleh suatu organisasi (coulter, 2003 dalam kuncoro, 2006). segmentasi, targeting, dan positioning pengertian segmentasi pasar menurut kotler & armstrong (2004) adalah membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-kelompok pembeli yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah. adapun menurut assauri (2004), segmentasi pasar merupakan suatu proses membagi-bagi suatu pasar yang heterogen ke dalam kelompok-kelompok pembeli atau konsumen yang memiliki ciri-ciri/sifat yang homogen dan dapat berarti bagi perusahaan. segmentasi pasar adalah kegiatan membagibagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogen. berdasarkan definisi di atas diketahui bahwa pasar suatu produk tidaklah homogen, akan tetapi pada kenyataannya adalah heterogen. pada dasarnya segmentasi pasar adalah suatu strategi yang didasarkan pada falsafah manajemen pemasaran yang orientasinya adalah konsumen. dengan melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah dan sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara lebih efektif arief budiman & bambang tjahjadi, evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak 85 diferensiasi diferensiasi adalah suatu cara merancang perbedaan yang berarti untuk membedakan penawaran perusahaan dari penawaran pesaingnya (kotler dan susanto, 2001). strategi diferensiasi adalah suatu strategi yang dapat memelihara loyalitas pelanggan di mana dengan menggunakan strategi diferensiasi, pelanggan mendapat nilai lebih dibandingkan dengan produk lainnya. perusahaan akan melakukan diferensiasi terhadap para pesaingnya apabila perusahaan tersebut telah berhasil menampilkan keunikan yang dinilai penting oleh pelanggan, selain dengan penawaran harga yang rendah di mana telah banyak dilakukan oleh perusahaan atau pesaing (delmas, 2000). padahal diferensiasi dapat dilakukan dengan penawaran harga tinggi, sehingga perusahaan yang melakukan diferensiasi harus merancang serangkaian perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran yang diberikan perusahaan dengan tawaran pesaing (tampi, 2015). perumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di dalam penelitian, maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. apakah penerapan strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak dapat menunjang peningkatan kinerja bongkar muat petikemas? 2. rekomendasi apakah yang dapat diberikan pada pt terminal teluk lamong dari hasil penerapan penerapan strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak? tindakan merancang tawaran dan citra perusahaan sehingga menempati posisi yang khas (dibandingkan para pesaing) di dalam benak pelanggan sasarannya. tujuannya adalah menempatkan merek dalam pikiran konsumen untuk memaksimalkan potensi manfaat perusahaan. value chain menurut porter yang dikutip oleh david (2012), bisnis sebuah perusahaan paling baik dideskripsikan sebagai rantai nilai (value chain), di mana total pendapatan dikurangi total biaya semua aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan dan memasarkan produk atau jasa yang dihasilkan nilai. semua perusahaan di suatu industri memiliki rantai nilai yang serupa, yang mencakup berbagai aktivitas seperti memperoleh bahan mentah, merancang produk, membangun fasilitas manufaktur, mengembangkan perjanjian kerjasama, dan menyediakan layanan konsumen. sebuah perusahaan akan meraih keuntungan jika total pendapatan melampaui total biaya yang ditimbulkan dari penciptaan dan pengiriman produk atau jasa. menurut david (2012), analisis rantai nilai (value chain analysis-vca) mengacu pada proses yang dengannya perusahaan menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas organisasional dari pembelian bahan mentah sampai produksi dan pemasaran produk tersebut. sedangkan menurut pearce dan robinson (2007), rantai nilai merupakan sebuah perspektif di mana bisnis dipandang sebagai rantai kegiatan dalam mengubah input menjadi output yang memberikan nilai kepada pelanggan. sedangkan analisis rantai nilai adalah sebuah analisis yang mencoba untuk memahami bagaimana suatu bisnis dapat menciptakan nilai bagi pelanggan (customer value) dengan menguji kontribusi dari kegiatan yang berbeda dalam suatu perusahaan. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 86 teknik analisis pengolahan data penelitian dapat dilakukan dengan beberapa tahapan. pertama, reduksi data (data reduction), dalam tahap ini peneliti melakukan pemilihan, dan pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang diperoleh. kedua, penyajian data (data display), peneliti mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif. serta yang terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing and verification). analisis dan pembahasan hasil penelitian pt terminal teluk lamong berdasarkan temuan peneliti peneliti akan membahas menggambarkan awal mula berdirinya pt terminal teluk lamong berdasarkan hasil observasi dan wawancara. sekilas cerita mengenai pt terminal teluk lamong, yang diketahui sebagai anak perusahaan pt pelabuhan indonesia 3 dengan bidang usaha jasa bongkar muat petikemas dan jasa dermaga. menurut informasi yang didapatkan bahwa perusahaan bidang jasa bongkar muat petikemas sebelum pt terminal teluk lamong di antaranya adalah pt berlian jasa terminal indonesia (bjti) dan pt terminal petikemas surabaya (tps) di mana keduanya merupakan anak perusahaan pt pelabuhan indonesia 3 yang lebih dulu dibangun di kawasan tanjung perak. adanya kendala kondisi kedalaman dermaga yang tidak memungkinkan bagi bjti dan tps jika tetap memaksakan untuk beroperasi, mengakibatkan manajemen memikirkan solusi yang terbaik agar usaha yang telah dibangun dapat tetap berjalan. metode penelitian penelitian ini digunakan pendekatan studi kasus sebagai bagian dari penelitian kualitatif. studi kasus berfokus pada spesifikasi kasus dalam suatu kejadian baik itu yang mencakup individu, kelompok budaya, ataupun suatu potret kehidupan. creswell (2010) mengatakan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. studi kasus adalah sebuah penyelidikan empiris yang menginvestigasi fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, khususnya ketika batas antara fenomena dan konteks tidak begitu jelas (yin, 2011). sampel dan teknik pengambilan sampel sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah key informan (informan kunci) yaitu orang-orang yang sangat memahami organisasi dan memiliki kepentingan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan. penentuan informan kunci ditentukan menggunakan purposive sampling. pada penelitian ini, akan dilakukan interview dengan beberapa key informan berdasarkan struktur organisasi pt terminal teluk lamong, yaitu corporate planning & communication department head, terminal operation department head, information communication & technology department head, commercial and business development head, human capital department head, staff ahli head office pelindo 3 dan pelaku usaha/pengguna jasa di lingkungan terminal teluk lamong. lokasi penelitian penelitian ini dilakukan di pt terminal teluk lamong. arief budiman & bambang tjahjadi, evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak 87 pt pelabuhan indonesia 3 melihat peluang tempat baru di wilayah teluk lamong sebagai salah satu solusi bagi pelanggan yang memerlukan jasa bongkar muat. pertimbangan lain yang didapatkan dari key informan penelitian bahwa bjti dan tps yang merupakan anak perusahaan pt pelabuhan indonesia 3 tidak dapat menambah atau memaksimalkan fasilitas pelayanan dikarenakan kondisi tempat di wilayah tanjung perak sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan pengembangan. selain itu, pembaharuan teknologi tidak dapat dilakukan mengingat sebagian saham tps dimiliki asing, sehingga menjadikan manajemen untuk lebih memilih peluang membangun serta mengembangkan pelayanan jasa bongkar muat di wilayah baru yang murni tanpa kepemilikan asing. ....” pesaing tidak mengambil peluang tersebut, karena permasalahannya sama yaitu panjang dermaga, mereka pesaing tidak bisa memperpanjang dermaga dikarenakan sempitnya lahan, sedangkan di ttl lahan masih tersedia. ttl tidak pernah mengatakan dua dermaga tambatan jadi masih fleksibel dalam pengaturan tambatan, panjang dermaga 500 meter bisa dipakai dua kapal dan bisa dipakai satu kapal tergantung panjang kapal. sedangkan pesaing (tps dan bjti) ada statement empat dermaga tambatan dengan panjang 1000 meter sehingga harus ada fiks empat kapal. di dermaga pesaing, jika ada panjang kapal lebih besar maka mereka tidak menerima, karena ada space yang pasti kosong dan menurut mereka itu bisa merugikan pendapatan perusahaan, pelanggan pesaing lebih banyak sehingga aka nada antrean jika empat tambatan hanya diisi dua sampai tiga kapal saja...” (key informan 2). segmentasi berbicara mengenai segmentasi, pt terminal teluk lamong secara tidak langsung menetapkan segmen pasar yang sama dengan kompetitor yaitu segmentasi atas dasar geografis. kembali pada sekilas cerita awal mula berdirinya pt terminal teluk lamong di mana usaha ini dibangun sebagai solusi alternatif lain jasa bongkar muat bagi pelanggan yang disebabkan kondisi jasa bongkar muat pt bjti dan pt tps sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan pengembangan karena kondisi internal dan lingkungan tidak mendukung pembaharuan. segmentasi pasar ini dilakukan dengan cara membagi pasar ke dalam unit-unit geografis seperti negara, provinsi, kabupaten, kota, desa, dan lain sebagainya. targeting targeting adalah merupakan kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. untuk tujuan tersebut perusahaan harus membagi-bagi pasar menjadi segmen-segmen pasar utama, setiap segmen pasar kemudian dievaluasi, dipilih dan diterapkan segmen tertentu sebagai sasaran. berdasarkan segmentasi tersebut, pt terminal teluk lamong menetapkan sasaran pada perusahaan–perusahaan logistik yang ada di indonesia. namun demikian jalur bongkar muat petikemas tidak hanya domestik melainkan jalur internasional. pemilihan tersebut berdasarkan adanya peluang bisnis serta belum banyaknya perusahaan jasa petikemas atau bongkar muat yang ada di indonesia serta indonesia berada di wilayah maritim asean. positioning dalam hal ini pt terminal teluk lamong menempatkan posisi dalam pikiran konsumen sebagai pendatang baru yang hadir dengan memberikan pelayanan prima yang didukung dengan teknologi tinggi. selain itu konsep after sales services menjadi salah satu strategi pada internal business process. dengan menjaga hubungan baik dengan pelanggan diharapkan pt terminal business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 88 teluk lamong dapat lebih dekat dan mengerti apa yang menjadi kebutuhan pelanggan. value chain pt terminal teluk lamong berikut ini merupakan gambaran konsep value chain pt terminal teluk lamong berdasarkan data sekunder dan hasil observasi. 1. aktivitas primer (primary activities) 2. aktivitas sekunder (support activities) strategi diferensiasi pt terminal teluk lamong menurut hasil wawancara bahwasanya strategi diferensiasi pt terminal teluk lamong di antaranya adalah konsep transaksi full online yang terintegrasi, pelayanan automasi dan konsep go green port. konsep go green port yang diterapkan perusahaan berfungsi sebagai terminal bongkar muat petikemas yang ramah lingkungan di support dengan teknologi yang canggih. konsep inilah yang menjadikan pt terminal teluk lamong dapat beroperasi dan mengimbangi kompetitor dalam hal ini pemain lama arief budiman & bambang tjahjadi, evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak 89 yang telah lebih dulu bergerak di bidang pelayanan petikemas. pernyataan tersebut disimpulkan berdasarkan key informan 2 dan key informan 4. ... ‘pada saat ttl didirikan konsepnya ialah transaksi full online dan sistem terintegrasi secara online dengan semua stockholder, yang kedua adalah pelayanannya automasi, yang ketiga ttl ini adalah green port, maka tiga konsep ini yang harus dijalankan. konsep ini belum banyak pelanggan yg tahu’... (key informan 2). ... “teluk lamong itu adalah pelabuhan yang relative baru, baik dari infrastruktur dan peralatan operasi dalam mendukung kegiatan ini paling baru dan paling modern berada posisi empat di dunia dalam infrastruktur di teluk lamong dengan demikian jelas dari awalnya pemikiran strategi yang berbeda sudah terlihat pemikiran manajemen dahulu, kita lihat dari pt tps bekerja sama dengan dubai port dan stakeholder itu menggunakan infrastruktur masih menggunakan teknologi yang cenderung lama kalau teknologi yang terbaru hanya di ttl dan lebih mengarah ke go green port” ... (key informan 4). hasil wawancara lain yang mendukung pendapat aaker dalam ferdinand (2003) bahwa setiap tahun sejak mulai berdiri jumlah pelanggan pt terminal teluk lamong terus meningkat, walaupun masih di bawah pemegang market share terbesar di area pelabuhan tanjung perak namun sebagai pendatang baru kemampuan melihat peluang dan penetapan strategi perusahaan tidak bisa diragukan lagi. namun, menurut salah satu key informan mengatakan bahwa market share akan tumbuh jika industri manufaktur, export import tumbuh dengan baik kemudian pengiriman antar pulau berkembang maka market share akan meningkat, dan sebaliknya ketika pertumbuhan industri tersebut stagnan atau naik sedikit tidak akan bisa meningkatkan kemampuan handling secara optimal. dengan kata bahwasanya peningkatan market share menjadi sulit meningkat jika tidak terjadi pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri yang terkait dengan jasa pelabuhan. simpulan dan saran simpulan dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 1. berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sejauh ini penerapan strategi pt terminal teluk lamong dapat menunjang peningkatan kinerja bongkar muat petikemas dengan pemanfaatan high technology system, konsep go green port serta didukung sumber daya manusia yang disiapkan untuk menunjang setiap perubahan yang dilakukan perusahaan. strategi diferensiasi pt terminal teluk lamong sesuai dengan rjpp yang telah disepakati dan dilakukan dengan baik di mana salah satu indikator penilaian yang dapat dilihat dengan meningkatnya market share. terlepas dari image anak perusahaan pt pelindo iii, pt terminal teluk lamong dapat menjalankan bisnisnya dengan progress yang meningkat setiap tahunnya. keunggulan lain dari pt terminal teluk lamong adalah cara melihat peluang dari kompetitor, pelayanan 24 jam secara online menjadi keunggulan tersendiri bagi pt terminal teluk lamong, yang mana hal ini belum dilakukan oleh kompetitor lain. kesigapan online customer service 24 jam patut dipertahankan, karena menjadi penilaian tersendiri bagi pelanggan. hal ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan jumlah pelanggan yang disertai dengan perbaikan sistem, peningkatan fasilitas, dan pelayanan prima (fokus pada totalitas pelayanan yang terintegrasi). 2. konsisten mempertahankan konsep strategi go green port yang diimbangi dengan pembusiness and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 90 baharuan teknologi yang canggih secara berkesinambungan serta memaksimalkan dan mengembangkan sumber daya manusia pilihan untuk menunjang operasional perusahaan, maka ketiga elemen tersebut akan tetap menjadi strategi pilihan yang tepat bagi perusahaan, terus berinovasi dengan fokus memberikan pelayanan prima kepada pelanggan dan berbicara mengenai strategi, alangkah lebih baik jika sudah tidak lagi mengedepankan persaingan namun bekerja sama berkolaborasi untuk memaksimalkan pelayanan bongkar muat dengan kompetitor serta performance management system yang ada digunakan sebagai media evaluasi dan dasar untuk perbaikan secara berkelanjutan. saran penelitian ini membuka peluang bagi peneliti berikutnya yang berminat pada manajemen strategis dan manajemen pemasaran. hal lain yang dapat dilakukan di antaranya dapat meneliti atau mengevaluasi implementasi strategi green port pada pt terminal teluk lamong dan mengevaluasi penetapan segmentasi, targeting, dan positioning strategi pemasaran pt terminal teluk lamong. daftar rujukan asihra, r.r. 2018. strategi pt pelabuhan indonesia (pelindo) i persero dalam implementasi pelayanan jasa bongkar muat barang di pelabuhan belawan. program studi ilmu administrasi publik fakultas ilmu sosial dan politik universitas sumatera utara medan. bungin, b. 2007. penelitian kualitatif: komunikasi, ekonomi, kebijakan publik, dan ilmu sosial lainnya. jakarta: putra grafika. creswell, j.w. 2010. research design: pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. yogyakarta: pt pustaka pelajar. damanik, s. 2012. strategi bersaing ‘low cost carrier’ pt merpati nusantara airlines. program magister manajemen fakultas ekonomi dan bisnis universitas airlangga surabaya. griffin, j. 2009. customer loyalty: how to learn it, how to keep it. jakarta: erlangga gurning et al. 2007. manajemen bisnis pelabuhan. surabaya: pt andhika prasetya ekawahana. hermanto, a.w. 2008. analisis tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan terminal peti kemas semarang. magister teknik sipil program pasca sarjana, universitas diponegoro semarang. hill, c.w.l. dan jones, g.r. 2008. strategic management an integrated approach. mason, ohio: south-western cengage learning. istijanto. 2005. riset sumber daya manusia. jakarta: gramedia pustaka utama. kramadibrata, s. 2002. perencanaan pelabuhan. bandung: institut teknik bandung. kuncoro, m. 2012. metode riset untuk bisnis dan ekonomi. jakarta: penerbit erlangga. kuntjoroadi, w. dan safitri, n. 2009. analisis strategi bersaing dalam persaingan usaha penerbangan komersial. jurnal ilmu administrasi dan organisasi. vol. 16, no. 1, hlm. 45–52. lapod, j. 2016. analisis penentuan strategi dalam lingkungan bisnis yang kompetitif studi kasus pada pt pelindo iv (persero). jurnal riset bisnis dan manajemen, vol. 4, no.1, hlm. 33–48. lesal, i. 2015. analisis internal dan eksternal pada cv gading mas surya sidoarjo arief budiman & bambang tjahjadi, evaluasi strategi bersaing diferensiasi pt terminal teluk lamong pada pelayanan bongkar muat petikemas: studi banding antar-terminal petikemas di lingkungan pelabuhan tanjung perak 91 dalam rangka strategi bersaing. jurnal agora vol. 03, no 02, hlm. 148–157. moleong, l.j. 2012. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt remaja rosdakarya. odeth, s. 2017. analisis strategi bersaing usaha layanan transportasi online (studi pada indotiki di kota medan). program studi ilmu administrasi bisnis fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas sumatera utara medan. pearce ii, j.a. dan robinson, r.b.jr. 2008. manajemen strategis edisi ke-10. jakarta: salemba empat. pitoy, c.v., tumbel, altje, dan tielung, m. 2016. analisis strategi bersaing dalam persaingan usaha bisnis document solution (studi kasus pada pt astragraphia, tbk. manado). jurnal berkala ilmiah efisiensi, vol. 16, no. 03, hlm. 302–312. porter, m.e. 2001. strategi bersaing, teknik menganalisis industri, dan pesaing. jakarta: erlangga. robbins, s.p. dan coulter, m. 2010. manajemen edisi kesepuluh. jakarta: erlangga. rothaermel, f.t. 2013. strategic management: concepts and cases. new york: mcgrawhill irwin. rusly, c.o. dan indriyani, r. 2013. pengelolaan dan pengembangan usaha pada pt sariadi wahana jasa di surabaya. jurnal agora, vol. 01, no. 01. salim, a. 2006. teori dan paradigma penelitian sosial. yogyakarta: tiara wacana. satori, d. dan komariah, a. 2011. metode penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. supriyono. 2010. analisis kinerja terminal petikemas di pelabuhan tanjung perak surabaya. universitas diponegoro semarang. suryana. 2006. kewirausahaan pedoman praktis: kiat dan proses menuju sukses edisi ketiga. jakarta: penerbit salemba. tampi, n.h.r. 2015. analisis strategi diferensiasi produk, diferensiasi layanan dan diferensiasi citra terhadap keunggulan bersaing dan kinerja pemasaran (studi pada pt telkomsel grapari manado). jurnal emba, vol. 3, no. 4, hlm. 68–81. triatmodjo, b. 2009. perencanaan pelabuhan. yogyakarta: beta offset. ulfany, w. dan anwar. 2017. kajian kinerja pelayanan general cargo terminal jamrud di pelabuhan tanjung perak surabaya. jurnal rekayasa sipil, vol. 11, no. 03, hlm. 245–252. vredenbregt, j. 1980. metode penelitian kualitatif. jakarta: van hove. wahono, d. 2015. terminal petikemas pada pelabuhan internasional pantai kijing di kecamatan sungai kunyit kabupaten pontianak. jurnal online mahasiswa arsitektur universitas tanjungpura, vol. 03, no. 01, hlm. 37–55. yin, r.k. 2011. studi kasus: desain dan metode. jakarta: rajagrafindo persada. zyman, s. 2000. the end of marketing as we know it. jakarta: pt gramedia pustaka utama. 01 tri siwi.pmd christian herdinata, asset utilization and company performance 1515 asset utilization and company performance christian herdinata international business management, universitas ciputra, surabaya, indonesia e-mail: christian.herdinata@ciputra.ac.id abstract: this study examines the expropriation that occurs in asset utilization due to tunneling. this study aims to examine the effect of asset utilization on company performance. this study used a sample of 130 companies in indonesia to examine the effect of asset utilization on company performance. this research uses simultaneous equation model with three-stage least square technique. the results showed that asset utilization has a positive and significant effect on company performance. the result of the research shows that asset utilization which is managed and well controlled has influence to improve company performance. keywords: company performance, asset utilization, expropriation, tunneling introduction expropriation can be done by majority shareholder through company policy. shleifer and vishny (1986) argue that majority shareholders are more interested in using their controls to gain private benefits. when the private benefits of control are large, the majority shareholder will seek to allocate the company’s resources to generate the private benefits. the way to obtain private benefits is through tunneling. johnson et al. (2000) defines tunneling as the transfer of resources out of the enterprise for the benefit of the controlling shareholder. transactions with related parties tunneling, among others: (1) cash payment transactions; (2) asset purchases; (3) sale of assets; and (4) asset exchange (cheung et al., 2006; cheung, qi, and rau., 2009). based on these problems, agency conflicts in asset utilization if not resolved with the correct mechanism and do not find the right solution, it will affect the company performance. therefore, through this research is expected to get the right solution to do the control mechanism to asset utilization to reduce agency conflict. the higher intensity of agency conflict that occurs will affect the decrease in corporate performance due to increased agency costs and conversely the lower the intensity of the conflict will affect the increase in corporate performance due to decreased agency costs. the issue of agency conflict needs to be examined and found the right solution to perform a control mechanism on asset utilization that affects the company’s performance. therefore, this study is focused on resolving agency conflicts that occur within the asset utilization due to tunneling. literature review asset utilization asset utilization is a measure of the company’s ability to produce (ellis, 1998). nonutilized firm assets represent a loss in relation to investments caused by inefficient use of assets. in addition, assets that are not being properly utilized will have an effect on increasing agency costs because managers do not act in the best interests of the owners in using assets owned by the company (fleming, heaney, and mccosker, 2005). previous research has shown that manager behavior can be monitored by business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 16 shareholders to ensure that assets have been used efficiently to increase shareholder value (ang, cole, and lin, 2000; fleming, heaney, and mccosker, 2005; singh and davidson, 2003). this phenomenon is in line with the assumption that the use of free cash flows for excessive investment activities that are not related to the main activities of the company will contribute to the level of efficiency in the use of assets owned by the company. several studies related to asset utilization were performed by ang, cole, and lin (2000); ade, yustina (2008); jelinek and struerke (2009); iskandar, bukit, sanusi (2012) examines the effect of ownership structure on asset utilization. in addition, ang, cole, and lin (2000); jelinek and struerke (2009); wang goerge yungchih (2010); iskandar, bukit, sanusi (2012) also examines the effect of debt policy on asset utilization. another study was conducted by wang, goerge yungchih (2010); abdulla, shah, and khan (2012); pouraghajan, et al (2013) examined the effect of asset utilization on firm performance. company performance the quantity of performance is a measure of the success of management in managing the company (mahadwarta, 2004). performance is an important part of investors’ motivation to invest in companies. therefore, which also needs to be considered is the amount of return that will be obtained by shareholders (ismiyanti, 2007). company performance is realized in various activities to achieve corporate objectives because each activity requires resources, then the performance of the company will be reflected from the use of resources to achieve corporate goals (herdinata, 2006). therefore, the company’s performance is the measurement of the company’s achievement caused by the complex and difficult decision-making process of management, because it involves the effectiveness of capital utilization, efficiency, and profitability of the company’s activities. cui and mak (2002); zeitun and tian (2007); abor joshua (2007); rayan, kuben (2008) jelinek and struerke (2009); wellalege and locke (2011); abdullah, shah, and khan (2012) use roa as a measure of performance. on the other hand, faccio and lasfer (1999); zeitun and tian (2007); rayan, kuben (2008); wang, goerge yungchih (2010); bosses, pendleton, and toms (2011) use return on equity as a measure of company performance. on the other hand, morck, randall (1987); mcconnel and servae (1990); faccio and lasfer (1999); cui and mak (2002); abor joshua (2007); koiki and said (2011); ruan, tian and ma (2011); wellalege and locke (2011) use tobin’s q as a measure of company performance. the use of tobins q describes what management will accomplish in the future (hu and izumida, 2008b). bozec and laurin, (2008) and morck et al. (1998) states that the value of tobins q captures the existence of agency costs arising from different ownership structures. high tobins q indicates that the company has good growth because of the use of good assets in the company. likewise chen (2001) states that the value of tobins q shows the effectiveness of the use of resources within the company. the smaller the value of tobins q shows the greater the agency conflict between the majority and minority shareholders in the company. the magnitude of the agency conflict between the majority and minority shareholders reflects the expropriation made by the majority shareholders through management of minority shareholders. conversely, the greater the value of tobins q shows the more effective monitoring by the majority shareholder of the company’s management. christian herdinata, asset utilization and company performance 17 at a lower price than to independent party transactions. the sale of assets to the related party below the fair price (tunneling out) will affect the financial performance but indirectly, through the loss of potential synergies between the assets in-tunnel and the remaining assets (atasanov et al., 2007). purchase of assets from related parties above the fair price (tunneling in) will reduce the profitability of the company. purchasing assets above fair value increases the carrying amount of assets and increases depreciation expenses, so the joint effect will reduce return on assets. on the other hand, through the application of control mechanisms to asset utilization through institutional ownership and debt policy, it effectively and efficiently controls asset utilization so as to positively affect company performance. therefore, an indication of the transfer of resources out of the company through tunneling does not occur. therefore, a high increase in asset utilization will be in line with the high performance of the company as a result of the application of strong control mechanisms through institutional ownership and debt policy by the company. some studies have found that asset utilization has a positive effect on company performance, among others: wang, goerge yungchih (2010); abdulla, shah, and khan (2012); and pouraghajan, et al. (2013). the hypothesis of this research are: hypothesis 1: asset utilization influence positive and significant to performance company research methodology the data used in this research is the company’s financial statement data, among others: from balance sheet, income statement, cash flow statement, and financial statement note, and capital market data. all financial report relationship of asset utilization with company performance the relationship between asset utilization on company performance can be influenced by transnational-related transactions that are indicated by tunneling. tunneling can occur based on tunneled resources such as cash flow tunneling and asset tunneling (atasanov et al., 2007). cash flow tunneling is a transaction that transfers cash or current assets to a related party (atasanov et al., 2007). transactions relating to transactions that are indicated as cash flow tunneling include the purchase or sale of goods or services, payment of services to related parties, and accounts receivable to related parties. asset tunneling is a transaction that transfers long-term (tangible or intangible) assets from (to) the company to (from) related parties (atasanov et al., 2007). transactions related to the assets of tunneling assets are transactions of purchase or sale of assets to related parties. each form of tunneling has a different influence on financial performance. asset tunneling effect on the balance sheet while cash flow tunneling effect on income statement. jian and wong (2003) found that firms use accounts receivable transactions on a related party as a tunnel to transfer the company’s outgoing resources. aharony et al. (2005) found that loan transactions to related parties were used as a means of tunneling after the ipo. cheung, jing, and lu (2009) find empirical evidence that public companies in hong kong perform asset tunneling through related party transactions. a public company transacts assets with related parties at a lower price than on an asset transaction with an independent party. the company purchases assets from related parties at higher prices than on independent party transactions, on the other hand the company sells assets to related parties business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 18 asset_ut t = total sales t /total assets t x 100% ...................................................... (1.3) 4. company performance the use of tobin q proxy refers to douma et al., 2006; thomsen, 2004; chen, 2001; and wiwattanakantang, 2001. company performance is expressed in the symbol that is q. the formula used to describe the company’s performance (q), as follows: q t = (market value of equity t + total debt t )/total asset t x 100%..................... (1.4) 5. return on asset return on assets ratio used in this study refers to research hermeindito (2012). the formula used to describe return on assets, as follows: roa t = net profit t /total assets t x 100% ... (1.5) 6. asset structure asset structure used in this study refers to research hermeindito 2004. the formula used to measure the size of the company, as follows: sa t = total fixed assets t /total assets t x 100% ................................................... (1.6) 7. return on invested capital the return on invested capital ratio used in this study refers to the research of chan (2001) and stephen and david (2009). the formula used to describe return on invested capital (roic), as follows: roic t = (nopat dividends paid) t /(long term debt + total equity retained earnings) t x 100% ........................................ (1.7) information: nopat = net operating profit after taxes nopat t = (profit after tax) t + (interest paid) t 8. managerial ownership managerial ownership in this research in the form of dummy variable is the value of 1 for data is obtained from indonesian capital market directory 2001–2016 period and indonesian securities market database published by economic faculty of gadjah mada university, indonesia. furthermore, for capital market data obtained from the report of indonesia stock exchange. the sample used in this research are: (1) companies in indonesia that have been audited from 2001 to 2016 and not included in the financial industry; (2) the company under study provides complete financial statement data information for all periods of research; (3) the company under study is not in the process of acquisition, merger and delisting; (4) the firms studied provide capital market data information for all periods of study. the following sample selection process has been done as many as 130 companies. variables in this study include: 1. institutional ownership institutional ownership is expressed in symbol inst_own. the use of institutional ownership percentage refers to crutchley, et al (1999) studies. the proportion used to calculate the percentage of institutional ownership (inst_own), as follows: inst ownt = total institutional ownership t / total shares stocks t x 100% …………(1.1) 2. debt policy the proxy of debt policy is total debt divided by total assets referring to abor (2007). debt policy is expressed in the symbol of leverage. the formula used to describe the debt policy, as follows: leverage t = total debt t /total asset t x 100% ................................................... (1.2) 3. asset utilization the use of proxy asset utilization refers to wang (2010). asset utilization is expressed in the symbol asset_ut. the formula used to describe asset utilization (asset_ut), as follows: christian herdinata, asset utilization and company performance 19 companies that have managerial ownership and 0 for others. this refers to research hermeindito (2012). managerial ownership is expressed in the symbol mgr_own_ dum. this research uses simultaneous equation model with four empirical equations developed and tested based on research hypothesis. this simultaneous equation model considers non-linear functions in institutional ownership variables and debt policy toward asset utilization and firm performance. in addition, it also considers the interdependence relationship between institutional ownership and debt policy to examine the control mechanisms in agency perspectives on asset utilization and firm performance. these four empirical equations can be formulated, as follows: q = α 1 + β 11 asset_ut + β 12 inst_own + γ 11 inst_own2 + β 13 leverage + γ 12 leverage2 + δ 11 mgr_own_dum + δ 12 sa + δ 13 roic + δ 14 roa + ε 1 information: α, β, γ, and δ = parameter coefficients ε = residual q = company performance asset_ut = asset utilization inst_own = institutional ownership inst_own2 = institutional ownership of squares leverage = debt policy leverage2 = debt squares policy mgr_own_dum = managerial ownership dummy roic = return on investment and capital sa = asset structure roa = return on asset this research uses simultaneous equation model with three-stage least square technique to test the research hypothesis. to analyze the identification capability of the existing simultaneous equation model the estimated reduced form coefficient describes an endogenous variable only a function of an exogenous variable (gujarati and porter, 2012: 382). when this can be solved then the equation has been identified (identified). in addition, simultaneous equation models in the study are identified by order and rank conditions of identification to ensure identifiable capabilities (gujarati and porter, 2012: 382). data analysis and discussion hypothesis 1 estimates that asset utilization affects company performance. this hypothesis is tested by estimating based on simultaneous equations model and supported by quadratic model. table 1 presents the results of hypothesis testing 1 which shows the effect of asset utilization on company performance with control variable that is managerial ownership dummy, asset structure, and return on invested capital, return on asset. the result of the fourth hypothesis test by using simultaneous equation model shows that asset utilization have positive and significant effect to company performance. this suggests that the control mechanisms carried out on asset utilization through institutional ownership and debt policy will affect the company’s performance. the test result with simultaneous equation model shows that the asset utilization (β11 = 1,5488) asset coefficient is positive and significant at significance level of 1%. thus, hypothesis 1 which states that asset utilization has a positive effect on company performance is supported. business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 20 table 1 simultaneous equation model test results subsidiary pt sun has entered into a sale and purchase agreement with pt bba to purchase 80% of pt efa shares and 70% of pt efi shares. furthermore, pt sun also paid off all debts of pt efa and pt efi to pt bba. total agreed sale and purchase transactions for stock purchases and debt payments amounting to rp985,000,000,000,. the payment amounted to rp950,000,000,000,used to purchase pt efa and pt efi shares. whereas pt efi and pt efa have a bad performance. pt efi has a loss of rp5.000.000.000,and pt efa has a loss of rp7.000.000.000,and the purchase is above the fair price. furthermore, rp35,000,000,000,is used to repay the debts of pt efa and pt efi to pt bba. on the other hand, pt sta as a family company actually has a total cash flow right in pt bba 100% through pt sos and pt ris, while the total cash flow right in pt sun is 60%. the controlling rights of the controlling shareholder’s cash flow is greater in pt bba than in pt sun. these cash flow rights differences encourage tunneling of resources from pt sun with low cash flow rights to pt bba with high cash flow rights. based on the events that occur, the tunneling indication that occurred as follows: (1) transactions conducted pt sun pertained as cash payment transactions to the related party ie pt bba by issuing cash to buy shares of pt efi and pt efa which has poor financial performance and buying above fair price. the transaction actually causes losses in pt sun and noncontrolling shareholders (pt tra) and public shareholders; (2) pt sun pays pt efi and pt efa debts to pt bba. the transaction is beneficial to the controlling shareholder (pt sta) due to outflow cash flow from pt sun which has a low cash flow right flowing to pt bba having high cash flow right; (3) ownership of the company (pt sun) and related parties (pt bba) are owned by the same owner, namely the family company variabel q intercept 5,1115 (3,11) *** asset_ut 1,5488 (2,59) *** inst_own -19,4296 (-3,0) *** inst_own2 17,4662 (3,1) *** leverage 2,1356 (5,39) *** leverage2 -0,0948 (-1,61) sa 0,7593 (7,03) *** roic -0,1259 (-2,83) *** roa 1,0944 (8,12) *** mgr_own_dum 0,3998 (2,94) *** r-squared 0,3404 adj. r-squared 0,2711 information: *** = sig. 1% * * = sig. 5% * = sig. 10% when asset utilization can be properly controlled it will affect the company’s performance. therefore, the active monitoring function within the company becomes important so that expropriation through tunneling can be reduced and even not. the action will have a positive effect on the company’s performance. here is an explanation of the indication of tunneling that can occur, such as pt sun makes transactions with pt bba and both have the same controlling shareholder that is family company of pt sta. in addition, pt sun and pt bba have in common the person who serves as a commissioner and director who is held by a family member of the controlling shareholder. pt asa through its christian herdinata, asset utilization and company performance 21 (pt sta); (4) there are similarities between commissioners and directors held by family members of the controlling shareholder (pt sta) at pt sun and pt bba. the relationship between asset utilization on company performance can be influenced by transnational-related transactions that are indicated by tunneling. cash flow tunneling can be performed by a related party that transfers cash or current assets to a certain party (atasanov et al., 2007). transactions related to cash flow tunneling may occur in the form of purchases or sales of goods or services, payment of services to related parties, and receivables to related parties (atasanov et al., 2007). other things that can be done through related parties transactions are the tunneling assets that move the long-term assets (tangible or intangible) from (to) the company to (from) related parties (atasanov et al., 2007). transactions related to the assets of tunneling assets may be transactions of buying or selling assets to related parties. each form of tunneling has a different influence on financial performance. asset tunneling effect on the balance sheet while cash flow tunneling effect on income statement. tunneling occurs causing corporate losses that affect the company’s performance. jian and wong (2003) found that firms use accounts receivable transactions on a related party as a tunnel to transfer the company’s outgoing resources. aharony et al. (2005) found that loan transactions to related parties were used as a means of tunneling after the ipo. cheung, jing, and lu (2009) find empirical evidence that public companies in hong kong perform asset tunneling through related party transactions. a public company transacts assets with related parties at a higher price than on an asset transaction with an independent party. the company purchases assets from related parties at higher prices than on independent party transactions. however, the company sells assets to related parties at a lower price than to independent party transactions. the sale of assets to a related party below the fair price (tunneling out) will affect the financial performance but indirectly, through the loss of potential synergies between the assets in-tunnel and the remaining assets (atasanov et al., 2007). purchase of assets from related parties above the fair price (tunneling in) will reduce the profitability of the company. purchasing assets above fair value increases the carrying amount of assets and increases depreciation expenses, so the joint effect will reduce return on assets. therefore, through the application of control mechanisms to asset utilization through institutional ownership and debt policy, effectively and efficiently can control asset utilization so as to have a positive effect on company performance. therefore, the indication of the transfer of resources out of the company through tunneling can be reduced. therefore, a high increase in asset utilization will be in line with the high performance of the company as a result of the application of strong control mechanisms through institutional ownership and debt policy by the company. some studies have found that asset utilization has a positive effect on company performance, among others: wang, goerge yungchih (2010); abdulla, shah, and khan (2012); and pouraghajan, tabari, mansourinia, and emamgholipour (2013). conclusion the test result using simultaneous equation model shows that asset utilization has positive and significant effect to company perforbusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 22 mance. this shows that the higher asset utilization will affect the company’s higher performance and the lower asset utilization will affect the company’s lower performance. the implication of this research is that investors have an interest in funding and investment related to assets owned and managed within the company. therefore, the improvement of asset utilization and company performance reflects the results of the company’s planning, implementation, and control processes carried out by the company’s managers of existing assets. therefore, investors also need to evaluate the behavior of managers in making policies related to the utilization of corporate assets. on the other hand, investors also need to pay attention to the creditor’s behavior in monitoring the financing given to the company and pay attention to the company’s ability to pay interest and principal of maturing debt. in addition, owner behavior in changing ownership composition involving institutional ownership needs to be taken into account so that the trade-off between the expropriation effect and the monitoring effect due to changes in the behavior of the owner (majority shareholder) does not harm the investor because the tunneling activity can be done by the owner. the limitations of this study have not controlled and differentiated the sample based on the assumptions of high and low institutional ownership estimation models and high and low debt policies so that they can produce results that differ from those expected in the application of control mechanisms to the agency conflict. subsequent research can consider the excess capacity of the use of assets owned by the company and the size of the company so as to maintain the level of efficiency of asset utilization. bibliography abor, joshua. 2007. debt policy and performance of smes, evidence from ghanaian and south african firms. the journal of risk finance, vol. 8, no. 4, 2007, page 364–379. ade, yustina. 2007. hubungan struktur kepemilikan dan external monitoring terhadap agency cost dan aliran kas. jurnal keuangan dan perbankan, vol.12, no.3, september, page 343–354. aharony, et al. 2005. related party transaction: a real means of earning management and tunneling during ipo processing china. working paper. university of tel aviv. ang, j.s., et al. 2000. agency cost and ownership structure. journal of finance, 55, page 81–106. atasanov, et al. 2007. how does law affect finance an examination of financial tunneling in an emerging market. law and economics workshop, page 1–64. bosses, et al. 2011. governance thresholds, managerial ownership, and corporate performance: evidence from the u.k. working paper, no. 58, march. bozec, y. dan laurin, c. 2008. large shareholder entrenchment and performance: empirical evidence from canada. journal of business finance & accounting, 35, page 25–49. chan, wesley s. 2001. stock price reaction to news and no-news: drift and reversal after headlines. cheung, y., et al. 2006. tunneling, propping and expropriation: evidence from connected party transaction in hongkong. journal of financial economic, 82, page 343–386. christian herdinata, asset utilization and company performance 23 cheung, y.l., et al. 2009. buy high, sell low: how listed firms price asset transfers in related party transactions. journal of banking and finance, 335: page 914–924. cheung, y.l., jing, l.h., lu., et al. 2009. tunneling and propping up: an analysis of related party transactions by chinese listed companies. pacific-basin finance journal, 17 (3): page 372–393. chen, j. 2001. ownership structure as corporate governance mechanism: evidence from chinese listed companies. economic of planning, 34, page 53–72. crutchley, c.e., et al. 1999. agency problem and the simultaneity of financial decision making: the role of institutional ownership. international review of financial analysis 8/2, page 177–197. cui and mak. 2002. the relationship between managerial ownership and firm performance in high r&d firms. journal of corporate finance 8, page 313–336. douma, s., et al. 2006. foreign and domestic ownership, business groups, and firm performance: evidence from a large emerging market. strategic management journal, 27, page 637–657. ellis, r. 1998. asset utilization: a metric for focusing reliability efforts. seventh international conference on process plant reliability. marriot houston westside houston, texas. oktober, page 25–30. faccio and lasfer. 1999. managerial ownership, board structure and firm value: the uk evidence. bilkent university and hacettepe university turkey. fleming, g., et al. 2005. agency cost and ownership structure in australia. pacificbasin finance journal, 13, page 29–52. gujarati, damodar n. and dawn c. porter 2012. dasar-dasar ekonometrika. edisi 5, jakarta: salemba empat. herdinata, christian. 2006. esop (employee stock ownership program) terhadap reaksi pasar dan hubungannya dengan kinerja perusahaan yang go public di bursa efek jakarta. thesis tidak dipublikasikan, pascasarjana universitas kristen satya wacana. hermeindito. 2004. informasi asimetri dan kontrol manajemen: analisis kepekaan investasi dan leverage terhadap pemilihan sumber-sumber pendanaan. disertasi tidak dipublikasikan, pascasarjana universitas gadjah mada. hermeindito. 2012. leverage dan nilai perusahaan: studi empiris pengujian teori pertukaran dan teori keagenan. laporan penelitian. universitas katolik widya mandala surabaya. hu, y. and izumida, s. 2008. the relationship between ownership and performance: a review of theory and evidence. international business research, 1, page 72–81. imam, m.o. and malik, m. 2007. firm performance and corporate governance through ownership structure: evidence from bangladesh stock market. international review of business research papers, 3, page 88–110. ismiyanti, f. 2007. biaya keagenan pada mikrostruktur pasar: pendekatan rentang harga. disertasi tidak dipublikasikan, pascasarjana universitas gadjah mada. jelinek and stuerke. 2009. the nonlinear relation between agency costs and managerial equity ownership, evidence of decreasing benefits of increasing ownerbusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 24 ship. international journal of managerial finance, vol. 5, no. 2, page 156–178. jian, m. and wong, t.j. 2010. propping and tunneling thought related party transaction. review of accounting studies. johnson et al. 2000. corporate governance in asian financial crisis. journal of financial economic, 58, page 141–186. morck, randall, et al. 1988. management ownership and market valuation: an empirical analysis. journal of financial economics 20, page 293–315. pouraghajan, et al. 2013. investigation the effect of financial ratios, operating cash flows and firm size on earnings per share: evidence from the tehran stock exchange. international research journal of applied and basic sciences. rayan, kuben. 2008. financial leverage and firm value. a research project to the gordon. ruan, et al 2011. managerial ownership, capital structure and firm value: evidence from china’s civilian-run firms. australasian accounting business and finance journal. vol. 5, bo. 3. 2011. page 73–92. shleifer, a. and vishny, r.w. 1986. large shareholders and corporate control. journal of political economy 94, page 461–488. singh. m. and davidson iii w.n. 2003. agency cost, ownership structure and corporate governance mechanism. journal of banking and finance 27, page 793–816. sulong, z. and nor, f.m. 2010. corporate governance mechanisms and firm valuation in malaysian listed firms: a panel data analysis. journal of modern accounting and auditing, 6, page 1–19. stephen, and david. 2009. why capital efficiency measures are rarely used in incentive plans, and how to change that. journal of applied corporate finance, vol. 21, page 87–92. thomsen, s. 2004. block holder ownership, dividends, and firm value in continental europe. department of international economics and management, copenhagen business school. wang, george yungchih. 2010. the impacts of free cash flows and agency costs on firm performance. journal service science & management 3, page 408–418. wellalege and locke. 2011. ownership structure and firm financial performance: evidence from panel data in sri lanka. journal of business systems, governance and ethics. vol. 7, no. 1. wiwattanakantang, y. 2001. controlling shareholders and corporate value: evidence from thailand. pacific-basin finance journal, 9, page 323–362. zeitun and tian. 2007. does ownership affect a firm’s performance and default risk in jordan?. the international journal of business in society, vol. 7, no. 1, page 66–82. 01 astria primadhani.pmd rizki amalia elfita, heni agustina, luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia 101101 luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia rizki amalia elfita, heni agustina universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: elfita@unusa.ac.id abstract: the purpose of this study is to empirically test the influence of the size of islamic banks, muslim board of director proportion, and sharia supervisory boards on the broad disclosure of corporate governance. the population in this research is a sharia banking company in indonesia in 2015 to 2018 with a total of 44 company data. the sample was selected using a purposive sampling method. the data used in this study were analyzed using multiple linear regression analysis. multiple linear regression analysis was carried out with the help of spss 25.0 software. the results of the study showed that there were 41 data samples of sharia bank companies in indonesia that met the criteria of purposive sampling which assigned in this research. the results of this research prove that the size of islamic banks, muslim board of director proportion, and sharia supervisory boards were positively influenced the broad disclosure of corporate governance. keywords: size of islamic banks, muslim board of director proportion, sharia supervisory board, corporate governance disclosures pendahuluan ketidakpastian ekonomi secara global terjadi pada industri dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan peningkatan terhadap risiko yang dapat dihadapi oleh perusahaan salah satunya yakni fluktuasi harga bahan baku yang menyebabkan perusahaan kesulitan memproyeksikan laba di masa depan. salah satu perusahaan yang menghadapi tingkat risiko besar akibat ketidakpastian ekonomi adalah perusahaan perbankan. perusahaan perbankan merupakan satu perusahaan yang menghadapi tingkat risiko yang paling besar (abdullah dkk., 2015). perusahaan perbankan juga menghadapi risiko sistemik, yakni risiko yang timbul karena kegagalan dalam satu perusahaan perbankan yang dapat memberikan dampak terhadap perusahaan perbankan lainnya (abdullah dkk., 2015). oleh sebab itu, keterbukaan informasi penting untuk dilakukan oleh manajemen dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global agar perusahaan tetap dapat menjamin kepercayaan yang diberikan oleh pemegang saham akan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan (abdullah dkk., 2015). bank syariah merupakan salah satu entitas bisnis yang menerapkan nilai-nilai islam yang menekankan pada aspek transparansi, moralitas, dan keadilan sosial pada operasional perusahaan (albassam dan ntim, 2017). hal itu disebabkan bank syariah merupakan satu entitas ekonomi yang dapat memberikan dampak secara langsung kepada masyarakat. sebagai konsekuensinya, implikasi komitmen terhadap prinsip tersebut tecermin dalam tata kelola perusahaan (safieddine, 2009; vinnicombe, 2010). usaha yang dilakukan manajemen bank syariah dalam mengungkapkan tata kelola perusahaan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dalam bank syariah (adams, 2002). faktor internal yang mendorong bank syariah untuk melakukan pengungkapan tata kelola perusahaan secara lebih luas antara lain ukuran bank syariah, dewan business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 102 pengawas syariah, dan dewan direksi muslim (abdullah dkk., 2015; baydoun dkk., 1999; farook dkk., 2011). penelitian mengenai pengaruh ukuran perusahaan, dewan direksi muslim dan dewan pengawas syariah telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun masih terdapat perbedaan hasil antara peneliti satu dengan peneliti lainnya. dengan ruang lingkup sedemikian rupa maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah dipengaruhi oleh ukuran bank syariah, proporsi dewan direksi muslim, dan jumlah dewan pengawas syariah. landasan teori agency theory jensen dan meckling (1976) mengemukakan teori agensi yang menyatakan bahwa pihak agen belum tentu bertindak sesuai kepentingan dari pihak principal yang dapat memicu timbulnya masalah keagenan. dalam penelitian ini teori agensi menjadi dasar teori untuk menjawab permasalahan terkait dengan tata kelola perusahaan. dalam tata kelola perusahaan masalah keagenan dapat timbul karena adanya dominasi dari salah satu pihak untuk mencapai kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan konflik ketika beberapa kepentingan dari masing-masing pihak saling bertemu dalam suatu aktivitas bersama-sama. adanya konflik kepentingan antara prinsipal dan agen karena perbedaan tujuan mendorong terjadinya asimetri informasi. untuk meredam perbedaan kepentingan antara pihak prinsipal dan agen maka manajemen puncak akan berusaha mengambil keputusan terbaik demi melindungi kepentingan pemegang saham, terutama apabila terdapat keterlibatan oportunis (jensen dan meckling, 1976). teori agensi menjadi salah satu jawaban untuk meminimalkan oportunis manajerial dalam kaitannya dengan usaha perusahaan dalam meminimalkan biaya agensi melalui tata kelola perusahaan (haniffa dan hudaib, 2006). teori agensi juga memfokuskan perusahaan agar dapat mengembangkan struktur tata kelola perusahaan yang baik dengan cara membentuk kontrak hukum oleh pemegang saham yang dapat menjadi suatu alat dalam mengawasi kinerja manajemen. kesimpulan yang dapat ditarik dari teori agensi yakni bahwa tata kelola perusahaan yang baik dapat diciptakan melalui pengembangan mekanisme tata kelola perusahaan yang efektif agar dapat menurunkan biaya agensi. fama dan jensen (1983) mengungkapkan bahwa perlu adanya perbaikan menyeluruh dari praktik tata kelola perusahaan termasuk untuk kinerja keuangan dan pengungkapan tata kelola perusahaan dengan cara pengurangan biaya pemantauan dan pengikatan. perbaikan menggambarkan adanya usaha untuk menyelaraskan kepentingan prinsipal dan agen serta kontrol atas organisasi yang diukur melalui kinerja yang lebih baik, oleh sebab itu diperlukan adanya transparansi dari pihak manajemen perusahaan dalam mengungkapkan seluruh informasi terkait kegiatan operasional perusahaan secara menyeluruh agar tidak terjadi masalah agensi (safieddine, 2009). dalam hal ini, manajer dan dewan pengawas bank syariah harus memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan di bank syariah telah sesuai dengan syariah atau nilai-nilai islam, serta memastikan bahwa kesenjangan informasi dalam laporan keuangan perusahaan dapat diminimalisasi dan terciptanya rasa keadilan bagi semua pihak yang terkait dengan perusahaan (archer dkk., 2010; safieddine, 2009; & sarker, 1999). perbankan syariah harus mengedepankan nilai-nilai islam, di mana dalam nilai-nilai islam diajarkan mengenai prinsip rizki amalia elfita, heni agustina, luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia 103 ukuran bank syariah mohamad dan saeed (2018) menyatakan bahwa ukuran bank syariah dapat ditinjau dari besar nilai aset yang dimiliki oleh bank syariah atau besar kredit yang dapat disalurkan oleh bank syariah. bank syariah dengan nilai aset yang besar memiliki kemungkinan untuk memberikan berbagai macam layanan keuangan dengan biaya yang lebih rendah (mohamad dan saeed, 2018). besarnya nilai aset yang dimiliki bank syariah juga dapat meningkatkan timbulnya risiko terkait proses pengendalian yang harus dijalankan bank syariah, sehingga diperlukan adanya tata kelola yang baik agar risiko yang timbul terkait dengan proses pengendalian dapat direduksi. semakin besar ukuran bank syariah maka akan lebih ketat pengawasan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah terkait (buzby, 1975). berkaitan dengan hal tersebut, maka bank syariah diharapkan mampu mengungkapkan informasi yang baik dan tepercaya melalui laporan tata kelola perusahaan untuk meminimalisasi tekanan yang ada dari lembaga-lembaga pemerintah (abdullah dkk., 2015). dewan direksi muslim beekun dan badawi (1999) menjelaskan bahwa dewan direksi muslim adalah anggota dalam jajaran direksi dari manajemen perusahaan yang memeluk agama islam. pada umumnya pola kepemimpinan dewan direksi dapat memengaruhi kinerja manajemen dalam suatu perusahaan. baydoun dkk. (1999) mengungkapkan bahwa perilaku dan pola kepemimpinan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan salah satunya adalah faktor agama yang dapat berpengaruh pada fungsi manajemen suatu perusahaan. dijelaskan lebih lanjut bahwa dewan direksi muslim, memiliki pengaruh agama islam lebih metransparansi, keadilan, dan tanggung jawab, oleh karena itu pada perbankan syariah pengungkapan seluruh aktivitas oleh manajemen perusahaan menjadi penting sehingga bentuk laporan tata kelola perusahaan menjadi luas (albassam dan ntim, 2017). pengungkapan tata kelola perusahaan hassan dan christopher (2005) berpendapat bahwa tata kelola perusahaan menjadi salah satu perhatian utama dari seluruh perusahaan, terutama untuk perusahaan publik. pengungkapan tata kelola perusahaan menjadi sarana bagi perusahaan untuk mengungkapkan informasi secara transparan kepada pihak-pihak berkepentingan (solomon dan solomon, 2006). tujuan dari tata kelola perusahaan adalah untuk meningkatkan pengungkapan perusahaan berkaitan informasi mengenai akuntabilitas dan transparansi perusahaan (allegrini dan greco, 2013). pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah mengacu pada tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan berdasarkan sejumlah tolok ukur tata kelola perusahaan internasional yang diungkapkan dalam organisation for economic co-operation and development’s (oecd) (2014), laporan komite basel tentang pengawasan bank (basel committee on bank supervision bcbs) (2006), dan standar tata kelola aaoifi untuk lembaga keuangan islam (abdullah dkk., 2015). botosan (1997) menyatakan bahwa laporan tahunan perusahaan merupakan salah satu media utama bagi perusahaan dalam menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kondisi keuangan maupun kondisi non-keuangan dari perusahaan. dengan melakukan pengungkapan informasi secara maksimal maka perusahaan dapat menghasilkan informasi penting yang berkualitas bagi para pihak berkepentingan (o’sullivan, 2005). business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 104 kerangka konseptual/metodo-logi penelitian penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji pengaruh ukuran bank syariah, jumlah dewan direksi muslim, serta proporsi dewan pengawas syariah terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia. jumlah aset yang besar menimbulkan risiko yang semakin besar pula pada proses pengendalian yang harus dijalankan perusahaan sehingga dapat menimbulkan bias informasi (buzby, 1975). oleh karena itu, untuk memberikan kepercayaan kepada para pihak berkepentingan terkait proses pengendalian yang dimiliki oleh bank syariah, maka manajemen bank syariah berusaha untuk mengungkapkan tata kelola perusahaan secara lebih luas (abdullah dkk., 2015). hal ini dimaksudkan untuk memberikan bukti seberapa baik manajemen dalam mengelola besar aset yang dimiliki untuk memberikan keuntungan kepada para pemegang saham bank syariah (abdullah dkk., 2015). semakin besar aset yang dimiliki oleh bank syariah dapat memberikan kemudahan untuk manajemen bank syariah dalam menjalankan tata kelola perusahaan secara lebih baik (farook dkk., 2011). hasil dari penelitian oleh abdullah dkk. (2015); buzby (1975); hamid (2004); memberikan bukti bahwa ukuran bank syariah berpengaruh positif terhadap pengungkapan tata kelola perusahaan. abdullah dkk. (2015); buzby (1975); & hamid (2004) mengungkapkan bahwa bank syariah dengan ukuran yang lebih besar pada umumnya memiliki sumber daya yang lebih baik untuk tata kelola perusahaan mereka. h 1 : ukuran bank syariah berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah. nonjol dalam praktik manajemen bank syariah (baydoun dkk., 1999). dewan direksi muslim diharapkan mampu mengimplementasikan nilainilai islam dalam kegiatan operasional bank syariah sesuai dengan prinsip-prinsip transaksi dalam perbankan syariah untuk meningkatkan kualitas dari informasi dan transparansi dengan melakukan pengungkapan tata kelola perusahaan sebaik mungkin (baydoun dkk., 1999). dewan pengawas syariah dewan pengawas syariah memiliki peran penting dalam memastikan tata kelola syariah yang baik pada bank syariah (abdullah saif alnasser dan muhammed, 2012). peran dewan pengawas syariah termasuk memberi nasihat kepada dewan direksi mengenai hal-hal terkait syariah untuk memastikan bahwa aktivitas bisnis perusahaan telah dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah termasuk untuk produk dan layanan yang diberikan serta kebijakan internal (hassan dan christopher, 2005). farook dkk. (2011) menyatakan bahwa jumlah anggota dewan pengawas syariah yang besar dapat meningkatkan pengungkapan informasi yang lebih tinggi karena kapasitas pemantauan aktivitas bisnis perusahaan semakin meningkat. semakin besar jumlah anggota dalam dewan pengawas syariah, maka semakin besar jumlah pemantauan yang menyiratkan tingkat kepatuhan lebih besar terhadap hukum dan prinsip-prinsip islam (farook dkk., 2011). dewan pengawas syariah yang lebih besar dapat mengalokasikan fungsinya di seluruh kelompok anggota sehingga memungkinkan dewan pengawas syariah untuk meninjau lebih banyak aspek kegiatan bank dan memastikan kepatuhan yang lebih besar, termasuk dalam aspek tata kelola perusahaan (abdullah dkk., 2015). rizki amalia elfita, heni agustina, luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia 105 albassam dan ntim (2017) menyatakan bahwa dewan direksi muslim dalam jajaran dewan direksi bank syariah dapat memberi tekanan kepada bank syariah untuk lebih dalam melakukan proses internalisasi nilai-nilai islam dan meningkatkan transparansi perusahaan. lebih lanjut albassam dan ntim (2017) mengungkapkan bahwa banyaknya dewan direksi muslim dalam bank syariah dapat memberi masukan kepada manajemen untuk meningkatkan pengungkapan tata kelola perusahaannya. hasil dari penelitian baydoun dkk. (1999); allegrini dan greco (2013) memberikan bukti bahwa dewan direksi muslim memiliki pengaruh positif terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan. baydoun dkk. (1999); allegrini dan greco (2013) mengungkapkan bahwa bank syariah yang memiliki jumlah dewan direksi muslim lebih besar memiliki perilaku yang lebih baik dalam menjaga agar nilai-nilai islam senantiasa menjadi panutan bagi bank syariah. lebih lanjut, baydoun dkk. (1999); allegrini dan greco (2013) menyatakan dewan direksi muslim lebih menyakini nilai-nilai islam untuk diterapkan dalam aktivitas bisnis yang dijalankan, sehingga dapat memberi dorongan untuk lebih transparan terkait aktivitas bisnisnya dengan melakukan pengungkapan tata kelola perusahaan dengan sebaik mungkin. h2: proporsi dewan direksi muslim berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah. dewan pengawas syariah memiliki tanggung jawab yang penting dalam bank syariah sebagai pihak yang dapat mengotorisasi atau menyetujui berbagai transaksi maupun kegiatan yang dilakukan oleh bank syariah, selain itu dewan pengawas syariah juga bertindak untuk memonitor jajaran direksi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya supaya tetap dalam koridor prinsip syariah (mohammed dkk., 2017). abdullah dkk. (2015) mengungkapkan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan pengawas syariah dapat memberikan desakan kepada manajemen bank syariah supaya menerapkan nilai-nilai islam dalam setiap kegiatan operasional perusahaan untuk menyesuaikan dengan prinsip syariah yang berlaku termasuk meningkatkan transparansi, sehingga dapat mendorong manajemen bank syariah untuk memberikan pengungkapan tata kelola perusahaan lebih baik (mohammed dkk., 2017). hasil dari penelitian oleh farook dkk. (2011) & raman dan bukair (2013) memberikan bukti bahwa dewan pengawas syariah memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan tata kelola perusahaan. farook dkk. (2011) & raman dan bukair (2013) menyatakan bahwa bank syariah yang memiliki jumlah dewan pengawas syariah relatif besar dapat melakukan pengawasan dan pemantauan yang lebih efektif, sehingga menghasilkan tingkat pengungkapan informasi dan tata kelola perusahaan yang lebih tinggi. h3: proporsi dewan direksi muslim berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah. penyajikan model penelitian ini dapat dilihat pada gambar sebagai berikut. penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan tata kelola perusahaan bank syariah yang terdaftar business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 106 di indonesia periode 2015–2018. prosedur penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling. sebanyak 41 data sampel perusahaan yang memenuhi kriteria pemilihan dan dapat diobservasi dalam penelitian. definisi operasional dan pengukuran variabel variabel dependen luas pengungkapan tata kelola perusahaan diukur menggunakan indeks tata kelola perusahaan (albassam, 2014). indeks tata kelola perusahaan memiliki empat dimensi, (1) dewan perusahaan, (2) pengungkapan dan transparansi, (3) pengendalian internal dan manajemen risiko, serta (4) pemegang saham dan majelis umum. proksi dewan direktur dan dewan sub-komite, pengungkapan dan transparansi, pengendalian internal dan manajemen risiko, serta pemegang saham dan majelis umum merupakan sub indeks dari corporate governance index. item dari masing-masing ketentuan dapat diukur dengan menggunakan content analysis dengan nilai 1 jika diungkapkan dan 0 jika sebaliknya. luas pengungkapan corporate governance dinilai berdasarkan indeks pengungkapan yang dikembangkan berdasarkan jumlah tolok ukur tata kelola perusahaan (albassam dan ntim, 2017), dihitung dengan persamaan sebagai berikut. 2. dewan direksi muslim dihitung berdasarkan proporsi dari dewan direksi muslim yang dirumuskan sebagai berikut. variabel independen 1. ukuran bank syariah diukur berdasarkan logaritma natural total aset bank syariah sebagai berikut. size = ln (total aset) 3. dewan pengawas syariah dihitung berdasarkan jumlah dari dewan pengawas syariah pada bank syariah. variabel kontrol 1. kualitas audit bank syariah diukur dengan menggunakan variabel dummy dengan nilai 1 apabila bank syariah diaudit oleh kap yang terafiliasi dengan big four dan nilai 0 untuk sebaliknya. 2. kepemilikan block holder bank syariah diukur dengan menggunakan variabel dummy dengan nilai 1 jika pada bank syariah terdapat kepemilikan block holder dan nilai 0 jika sebaliknya. teknik analisis yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. uji regresi linier berganda pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program spss 25.0. model regresi yang digunakan untuk menguji hipotesis dirumuskan sebagai berikut. yit = į + ȕ1x1it + ȕ2x2it + ȕ3x3it + ȕ4x4it + ȕ5x5it + i̇it …. (1)� keterangan: : konstanta : koefisien regresi y : luas pengungkapan tata kelola perusahaan x 1 : ukuran bank syariah x 2 : proporsi dewan direksi muslim x 3 : jumlah dewan pengawas syariah x 4 : kualitas audit x 5 : kepemilikan block-holder it : error perusahaan i tahun t rizki amalia elfita, heni agustina, luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia 107 hasil dan diskusi analisis deskriptif analisis deskriptif digunakan untuk memberikan informasi dan gambaran umum mengenai data variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, yaitu variabel luas pengungkapan corporate governance (cgi), ukuran bank syariah (up), proporsi dewan direksi muslim (ppdm), jumlah dewan pengawas syariah (jdps), kualitas audit (aq), block-holder ownership (bo), pembayaran dividen (div), dan leverage (lev). analisis deskriptif mengungkapkan informasi mengenai standar deviasi, mean, nilai minimum dan nilai maksimum untuk masing-masing variabel yang digunakan. analisis deskriptif variabel yang digunakan dalam penelitian disajikan pada tabel 1. tata kelola perusahaan pada perusahaan sampel relatif seragam. artinya, luas pengungkapan tata kelola perusahaan sample dalam penelitian ini relatif sama. kondisi ini mengisyaratkan bahwa bank syariah yang menjadi sampel penelitian memiliki penerapan kebijakan tata kelola yang cenderung sama. ukuran bank syariah (x 1 ) mempunyai nilai terendah 27,920 dan tertinggi 32,108. berdasarkan data, nilai terendah ukuran bank syariah dimiliki oleh pt bank maybank syariah indonesia tahun 2017 dan nilai terbesar ukuran bank syariah dimiliki oleh pt bank syariah mandiri tahun 2018. rata-rata ukuran bank syariah pada seluruh perusahaan sampel adalah 30,0147 dengan standard deviasi 1,3899. hal ini memperlihatkan bahwa tingkat sebaran data ukuran bank syariah mempunyai tingkat variasi 4,6307%. dapat disimpulkan bahwa ukuran bank syariah pada perusahaan sampel relatif seragam. kondisi ini mengisyaratkan bahwa besar aset yang dimiliki bank syariah pada sampel penelitian relatif sama, artinya bank syariah memiliki nilai aset yang digunakan untuk kegiatan operasionalnya relatif sama. proporsi dewan direksi muslim (x 2 ) mempunyai nilai terendah 0,5 dan tertinggi 1. berdasarkan data, nilai terendah proporsi dewan direksi muslim dimiliki oleh pt bank bca syariah tahun 2015, 2016, 2017, dan 2018 sedangkan nilai tertinggi proporsi dewan direksi muslim dimiliki oleh empat perusahaan di tahun 2015, empat perusahaan di tahun 2016, empat perusahaan di tahun 2017, tiga perusahaan di tahun 2018. rata-rata proporsi dewan direksi muslim perusahaan sampel adalah 0,8525 dengan standar deviasi 0,1429. hal ini memperlihatkan tingkat sebaran data dari proporsi dewan direksi muslim memiliki tingkat variasi sebesar 16,7624%. dapat disimpulkan bahwa proporsi dewan direksi muslim perusahaan sampel relatif pada tabel 1 tersebut luas pengungkapan tata kelola perusahaan (y) memiliki nilai terendah 0,688 dan tertinggi 0,875. berdasarkan data, nilai terendah indeks pengungkapan tata kelola perusahaan dimiliki oleh bank jabar banten syariah pada tahun 2015 dan nilai terbesar indeks pengungkapan tata kelola perusahaan dimiliki oleh bank panin syariah pada tahun 2018. rata-rata indeks pengungkapan tata kelola perusahaan yang dimiliki seluruh perusahaan sampel adalah 0,7919 dengan standard deviasi 0,0490. hal ini memperlihatkan bahwa tingkat sebaran data indeks pengungkapan tata kelola perusahaan mempunyai tingkat variasi 6,1876%. dapat disimpulkan bahwa indeks pengungkapan n minimum maximum mean std. deviation y 41 0.688 0.875 0.7919 0.0490 x1 41 27.920 32.108 30.0147 1.3899 x2 41 0.500 1.000 0.8525 0.1429 x3 41 2 3 2.24 0.538 x4 41 0 1 0.49 0.506 x5 41 0 1 0.93 0.264 valid n (listwise) 41 business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 108 seragam. artinya, perusahaan sampel memiliki komposisi atau jumlah dewan direksi muslim yang relatif sama. kondisi ini mengisyaratkan kebijakan bank syariah dalam menetapkan dewan direksinya didominasi oleh dewan direksi yang memeluk agama islam. jumlah dewan pengawas syariah (x 3 ) mempunyai nilai terendah 2 dan tertinggi sebesar 3. berdasarkan data, nilai terendah jumlah dewan pengawas syariah dimiliki oleh tujuh perusahaan di tahun 2015, tujuh perusahaan di tahun 2016, tujuh perusahaan di tahun 2017, enam perusahaan di tahun 2018. sedangkan, jumlah tertinggi dewan pengawas syariah dimiliki oleh tiga perusahaan di tahun 2015, empat perusahaan di tahun 2016, empat perusahaan di tahun 2017 dan tiga perusahaan di tahun 2017. rata-rata jumlah dewan pengawas syariah perusahaan sampel adalah 2,24 dengan standar deviasi 0,538. hal ini memperlihatkan bahwa tingkat sebaran data jumlah dewan pengawas syariah memiliki tingkat variasi sebesar 24,0179%. dapat disimpulkan bahwa jumlah dewan pengawas syariah pada perusahaan sampel relatif rendah. kondisi ini mengisyaratkan bahwa perusahaan sampel mempunyai jumlah dewan pengawas syariah yang cenderung sama. artinya, kebijakan bank syariah dalam menentukan jumlah dewan pengawas syariah lebih kepada memenuhi syarat yang ditetapkan terkait jumlah minimum dewan pengawas syariah, yakni sebanyak dua dewan pengawas syariah. kualitas audit (x4) memiliki nilai minimum 0 dan nilai maksimum 1. nilai 0 dan 1 pada kualitas audit ini adalah nilai dari variabel dummy. nilai 1 digunakan untuk menyatakan bank syariah yang diaudit oleh kap yang terafiliasi dengan the big four, dan nilai 0 digunakan untuk menyatakan bank syariah yang tidak diaudit oleh kap yang terafiliasi dengan the big four. rata-rata kualitas audit yang dimiliki perusahaan sampel adalah 0,49 dengan standar deviasi 0,506. tingkat sebaran data kualitas audit mempunyai tingkat variasi 103,265%. kondisi ini mengisyaratkan bahwa kualitas audit bank syariah pada penelitian ini relatif sama. artinya, sebagian besar bank syariah memiliki kebijakan pemilihan auditor untuk mengaudit laporan keuangan yang cenderung serupa, yakni menggunakan jasa auditor yang terafiliasi dengan the big four. kepemilikan mayoritas perusahaan (x5) memiliki nilai minimum 0 dan nilai maksimum 1. nilai 0 dan 1 pada kepemilikan mayoritas perusahaan adalah variabel dummy. nilai 1 digunakan apabila pada bank syariah terdapat kepemilikan mayoritas sedangkan nilai 0 digunakan apabila pada bank syariah tidak terdapat kepemilikan mayoritas. rata-rata persentase kepemilikan mayoritas pada sampel adalah 0,93 dengan standar deviasi 0,264. dapat disimpulkan tingkat sebaran data persentase kepemilikan mayoritas mempunyai tingkat variasi sebesar 28,3871%. artinya, kepemilikan mayoritas pada bank syariah dalam penelitian ini relatif sama. pada bank syariah di wilayah indonesia masih didominasi oleh kepemilikan mayoritas. analisis model dan pembuktian hipotesis penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. hasil dari analisis regresi linier berganda dapat dilihat pada tabel 2 berikut. model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 (constant) 0.191 0.164 1.170 0.250 x1 0.014 0.006 0.394 2.524 0.016 x2 0.107 0.043 0.313 2.515 0.017 x3 0.033 0.013 0.360 2.500 0.017 x4 -0.018 0.013 -0.181 -1.326 0.193 x5 0.029 0.026 0.157 1.129 0.267 rizki amalia elfita, heni agustina, luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia 109 hipotesis 1 menyatakan bahwa ukuran bank syariah berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan. dapat dilihat dari nilai koefisien regresi ukuran bank syariah (x 1 ) adalah 0,014 dan nilai signifikansi ukuran bank syariah (x 1 ) sebesar 0,016 di mana tingkat signifikansi yang dihitung < dari tingkat kepercayaan 0,05. hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar ukuran bank syariah akan meningkatkan luas pengungkapan tata kelola perusahaan dari bank syariah. hipotesis 2 menyatakan proporsi dewan direksi muslim berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan. dapat dilihat dari nilai koefisien regresi proporsi dewan direksi muslim (x 2 ) adalah 0,107 dan nilai signifikansi proporsi dewan direksi muslim (x 2 ) sebesar 0,017 di mana tingkat signifikansi yang dihitung < dari taraf kepercayaan 0,05. hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan dewan direksi muslim dalam struktur organisasi bank syariah mampu memberikan pengaruh yang signifikan dalam mendorong penghayatan nilai-nilai islam dalam kegiatan operasional bank syariah sehingga meningkatkan transparansi bank syariah melalui pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik. hipotesis 3 menyatakan dewan pengawas syariah berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan. dapat dilihat berdasarkan koefisien regresi jumlah dewan pengawas syariah (x3) yakni 0,033 dan nilai signifikansi jumlah dewan pengawas syariah (x3) sebesar 0,017 di mana tingkat signifikansi yang dihitung < dari tingkat kepercayaan 0,05. hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar jumlah dewan pengawas syariah dalam struktur organisasi bank syariah mampu memberikan pengaruh signifikan terkait peningkatan luas pengungkapan tata kelola perusahaan. kesimpulan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa luas pengungkapan tata kelola perusahaan yang dilakukan oleh bank syariah dipengaruhi oleh ukuran bank syariah, banyaknya dewan direksi muslim, serta adanya dewan pengawas syariah. hasil pengujian dan analisis yang dilakukan dalam penelitian ini membuktikan bahwa ukuran bank syariah berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan bank syariah. semakin besar ukuran bank syariah yang diukur dari total aset yang dimiliki bank syariah dapat meningkatkan luas pengungkapan tata kelola perusahaan bank syariah. dalam hal ini jumlah aset yang besar dapat menunjukkan seberapa baik kemampuan bank syariah dalam mengelola dananya untuk memfasilitasi manajemen bank syariah dalam melaksanakan tata kelola perusahaan yang efektif dan memadai, sehingga bank syariah dapat mengungkapkan informasi kepada pihak berkepentingan dengan lebih lengkap dan lebih transparan. hasil pengujian dan analisis yang dilakukan dalam penelitian memberikan bukti bahwa banyaknya dewan direksi muslim berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan tata kelola perusahaan. keberadaan jajaran dewan direksi yang beragama islam dalam struktur organisasi perusahaan mampu memberikan dampak yang dalam memotivasi bank syariah untuk lebih aktif dalam mengungkapkan informasi melalui pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik kepada publik sebagai bentuk transparansi yang menjadi bagian dari tanggung jawab manajemen. hasil pengujian dan analisis yang dilakukan dalam penelitian memberikan bukti bahwa dewan pengawas syariah berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan tata kelobusiness and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 110 la perusahaan. keberadaan dewan pengawas syariah dalam struktur organisasi perusahaan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan luas pengungkapan tata kelola perusahaan. semakin banyak jumlah dewan pengawas syariah mampu meningkatkan proses pengawasan dan pemantauan pada manajemen perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip syariah yang salah satunya adalah meningkatkan transparansi terkait informasi dalam setiap kegiatan operasional perusahaan yang disajikan dalam pengungkapan tata kelola perusahaan. daftar pustaka abdullah saif alnasser, s., & muhammed, j. 2012. introduction to corporate governance from islamic perspective. humanomics, 28(3), 220–231. abdullah, w.a.w., percy, m., & stewart, j. 2015. determinants of voluntary corporate governance disclosure: evidence from islamic banks in the southeast asian and the gulf cooperation council regions. journal of contemporary accounting economics, 11(3), 262–279. adams, c.a. 2002. internal organisational factors influencing corporate social and ethical reporting: beyond current theorising. accounting, auditing & accountability journal, 15(2), 223–250. albassam, w.m. & ntim, c.g. 2017. the effect of islamic values on voluntary corporate governance disclosure: the case of saudi-listed firms. journal of islamic accounting business research, 8(2), 182– 202. allegrini, m. & greco, g. 2013. corporate boards, audit committees and voluntary disclosure: evidence from italian listed companies. journal of management & governance, 17(1), 187–216. archer, s., ahmed abdel karim, r., & sundararajan, v. 2010. supervisory, regulatory, and capital adequacy implications of profit-sharing investment accounts in islamic finance. journal of islamic accounting and business research, 1(1), 10–31. baydoun, n., mamman, a., & mahmaud, a. 1999. the religious context of management practices: the case of the islamic religion, accounting, commerce & finance. the islamic perspective journal, 3(1/2), 52–79. beekun, r. & badawi, j. 1999. the leadership process in islam. proteus-shippensburg-, 16, 33–38. botosan, c.a. 1997. disclosure level and the cost of equity capital. accounting review, 323–349. buzby, s.l. 1975. company size, listed versus unlisted stocks, and the extent of financial disclosure. journal of accounting research, 16–37. fama, e.f. & jensen, m.c. 1983. separation of ownership and control. the journal of law and economics, 26(2), 301–325. farook, s., kabir hassan, m., & lanis, r. 2011. determinants of corporate social responsibility disclosure: the case of islamic banks. journal of islamic accounting business research, 2(2), 114–141. hamid, f.z.a. 2004. corporate social disclosure by banks and finance companies: malaysian evidence. corporate ownership and control, 1(4), 118–130. haniffa, r. & hudaib, m. 2006. corporate governance structure and performance of malaysian listed companies. journal rizki amalia elfita, heni agustina, luas pengungkapan tata kelola perusahaan pada bank syariah di indonesia 111 of business finance & accounting analysis, 33(7–8), 1034–1062. hassan, s., & christopher, t. 2005. corporate governance statement disclosure of malaysian banks and the role of islam. asian review of accounting, 13(2), 36– 50. jensen, m.c. & meckling w.h. 1976. theory of the firm: managerial behavior, agency costs and ownership structure. journal of financial economics, 3(4), 305–360. mohammed, a.n., saif, s.a., & muhammed, j. 2017. the relationship between agency theory, stakeholder theory and shariah supervisory board in islamic banking: an attempt towards discussion. humanomics, 33(1), 75–83. o’sullivan, m. 2005. an investigation of the role played by corporate governance in the voluntary disclosure of forward-looking information and the quality of corporate financial reports. queensland university of technology, brisbane. raman, a.a. & bukair, a.a. 2013. the influence of the shariah supervision board on corporate social responsibility disclosure by islamic banks of gulf co-operation council countries. asian journal of business and accounting, 6(2). safieddine, a. 2009. islamic financial institutions and corporate governance: new insights for agency theory. corporate governance: an international review, 17(2), 142–158. sarker, m.a.a. 1999. islamic business contracts, agency problem and the theory of the islamic firm. international journal of islamic financial services, 1(2), 12–28. solomon, j.f. & solomon, a. 2006. private social, ethical and environmental disclosure. accounting, auditing & accountability journal, 19(4), 564–591. vinnicombe, t. 2010. aaoifi reporting standards: measuring compliance. advances in accounting, 26(1), 55–65. 01 arieszetni.pmd hidayatul khusnah, organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention 3535 organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention hidayatul khusnah universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: hidayatul.khusnah@unusa.ac.id abstract: this study aims to investigate the factors that can encourage individuals to do whistleblowing. factors that are predicted to affect whistleblowing intention are organizational ethical culture and moral intensity and ethical decision making. the sample in this study were 63 respondents. total questionnaires distributed were 78 questionnaires, but as many as 65 questionnaires were returned, there were 2 questionnaires that were not filled out completely, so were excluded from testing. data analysis techniques in this study used sem-pls. the results of this study found a positive effect of organizational ethical culture on whistleblowing intention. this shows that organizations that have a high ethical culture tend to have high whistleblowing intentions. the next finding is that moral intensity has a positive effect on ethical decision making and whistleblowing intention. this shows that individuals who have high moral intensity decisions that are made tend to be more ethical. the final finding in this research is ethical decision making which has a positive effect on whistleblowing intention. the higher the ethical decision making, the higher the whistleblowing intention. when someone is able to make decisions ethically, it will go hand in hand with the whistleblowing intention. keywords: organizational ethical culture, moral reasoning, ethical decision making, whistleblowing intention pendahuluan beberapa tahun terakhir ini, di provinsi jawa timur kasus skandal keuangan semakin meningkat, baik pada sektor swasta ataupun sektor publik. pada sektor publik, kasus skandal keuangan di provinsi jawa timur terutama dengan pelaku pejabat daerah bisa dikatakan sangat tinggi (bpk.go.id). kasus skandal keuangan di jawa timur sudah mencapai 81 kasus dan telah merugikan keuangan negara mencapai rp4,16 m (detik.com). tjahjono (2013) mengatakan hanya sekitar seperempat dari kasus fraud terungkap karena internal audit, dan seperempatnya lagi terungkap oleh adanya proses internal control atau bahkan secara tidak sengaja. berdasarkan hal tersebut, maka peran whistleblower menjadi sangat penting untuk mengungkap tindak kecurangan yang terjadi. dewasa ini banyak perusahaan yang tertarik dengan whistleblowing. istilah whistleblowing erat kaitannya dengan tindakan pelaporan yang dilakukan oleh karyawan atau mantan karyawan perusahaan terkait dengan tindakan pelanggaran kepada pihak-pihak yang berwenang. whistleblowing telah menjadi bagian integral dalam program penegakan peraturan di seluruh dunia. whistleblowing merupakan masalah organisasi yang kontroversial, whistleblower dapat membantu organisasi memperbaiki atau menyediakan sumber informasi yang penting dan kompleks (near dan miceli, 1985). whistleblower merupakan penegak keadilan ketika terjadi suatu kesalahan dalam suatu perusahaan (near dan miceli, 1985). pandangan akan whistleblower yang bertentangan, kerap menjadikan seorang business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 36 whistleblower berada dalam situasi yang membingungkan dalam menentukan sikap yang pada akhirnya dapat melakukan whistleblowing intention. tindakan pengungkapan kecurangan (whistleblowing) perlu adanya keberanian, evaluasi moral dan seseorang harus menempatkan kepentingan publik dari pada kepentingan pribadinya. saat ini, banyak whistleblower telah mengalami konsekuensi negatif termasuk kehilangan pekerjaan dan ancaman balas dendam. namun, dengan konsekuensi tersebut, melakukan pengungkapan kecurangan merupakan sesuatu yang harus mereka lakukan sebagai bentuk dalam melindungi organisasi mereka dari ancaman yang dapat membahayakan perusahaan. tindakan whistleblowing tidak dimaksudkan untuk menyebabkan bahaya tetapi untuk melindungi, mencegah penipuan dan kesalahan (zakaria, 2015). penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi faktor-faktor yang dapat mendorong individu untuk melakukan whistleblowing. faktorfaktor yang diprediksi dapat memengaruhi whistleblowing intention adalah organizational ethical culture dan moral reasoning dan ethical decision making. beberapa penelitian terdahulu telah memprediksi bahwa organizational ethical culture adalah faktor antecedent dari whistleblowing intention (keenan, 1990; rothwell dan baldwin, 2006; hwang et al., 2013; zakaria, 2018). organizational ethical culture dikonseptualisasikan sebagai persepsi karyawan tentang sejauh mana komitmen organisasi dalam kaitannya dengan masalah etika terhadap karyawan dan manajemennya (victor dan culen, 1988). organisasi yang memiliki nilai etika tinggi maka karyawan akan merasa bahwa selalu didukung ketika akan melakukan hal-hal yang terpuji, salah satunya whistleblowing, hal tersebut akan mendorong lebih banyak lagi niat karyawan untuk melakukan whistleblowing. faktor kedua yang diprediksi memiliki dampak terhadap whistleblowing intention adalah moral intention. moral reasoning atau intensitas moral adalah tingkatan kuat atau lemahnya perasaan dalam melakukan suatu perbuatan. intensitas moral dapat berhubungan dengan persepsi kontrol perilaku yang tecermin dalam teori perilaku yang terencana (theory of planned behavior) yaitu persepsi yang dimiliki oleh seseorang yang merupakan hasil dari kontrol diri seseorang dalam melakukan suatu tindakan (krehastuti dan prastiwi, 2014). beberapa penelitian sebelumnya yang ada di indonesia juga mengaitkan faktor moral reasoning dengan whistleblowing intention. fidyawati (2016), krehastuti dan prastiwi (2014) melakukan penelitian mengenai pengaruh intensitas moral terhadap niat untuk menjadi whistleblower. hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas moral berpengaruh terhadap niat untuk menjadi whistleblower. hal tersebut tidak didukung oleh penelitian yang dilakukan ahyaruddin dan asnawi (2017) yang menyatakan bahwa moral individu dan lingkungan etis organisasi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing pada auditor bpkb perwakilan provinsi riau. penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan sumbangan konseptual dalam literatur khususnya di bidang akuntansi serta memberikan kontribusi praktis bagi organisasi terutama di sektor publik untuk melakukan upaya-upaya dalam rangka mengurangi kecurangan yang terjadi serta memberikan fasilitas kepada whistleblower untuk mengungkap kecurangan tersebut tanpa ada rasa takut. sampel dalam penelitian ini sebanyak 63 responden. total kuesioner yang disebar adalah 78 kuesioner, akan tetapi yang kembali sebanyak 65 kuesioner, terdapat 2 kuesioner yang tidak diisi dengan lengkap, sehingga dikeluarkan dari hidayatul khusnah, organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention 37 pengujian. teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan sem-pls. hasil penelitian ini menemukan pengaruh positif dari organizational ethical culture terhadap whistleblowing intention. hal tersebut menunjukkan bahwa organisasi yang memiliki budaya etika yang tinggi maka cenderung memiliki niat untuk melakukan whistleblowing yang tinggi juga. temuan selanjutnya yaitu moral reasoning berpengaruh positif terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention. hal tersebut menunjukkan bahwa individu yang memiliki intensitas moral yang tinggi keputusan yang diambil cenderung akan lebih beretika. temuan terakhir dalam penelitian ini yaitu ethical decision making berpengaruh positif terhadap whistleblowing intention. semakin tinggi ethical decision making maka semakin tinggi pula whistleblowing intention. ketika seseorang mampu mengambil keputusan dengan etis, maka akan beriringan positif dengan niat untuk melakukan whistleblowing. landasan teori dan pengembangan hipotesis istilah whistleblowing sudah banyak didefinisikan oleh beberapa peneliti terdahulu, salah satunya yaitu near & miceli (1985), mclain & keenan (1999) mendefinisikan whistleblowing sebagai pengungkapan oleh anggota organisasi (anggota yang masih berada dalam organisasi maupun yang sudah keluar dari organisasi) terkait dengan praktik ilegal, tidak bermoral, atau praktik yang tidak dapat dilegitimasi secara hukum di bawah kontrol majikan mereka, kepada orang ataupun organisasi yang mungkin mampu untuk memengaruhi suatu tindakan. whistleblowing dianggap menjadi alat yang berharga dalam strategi tata kelola perusahaan (corporate governance), sebagai suatu pelaporan pelanggaran yang dapat membantu menjaga keamanan tempat kerja, sekaligus melindungi keuntungan dan reputasi perusahaan (susmanschi, 2012). orang atau pihak yang melihat beberapa tindakan yang salah dan melaporkan tindakan tersebut kepada manajemen atau regulator (pemerintah) disebut whistleblower. whistleblower merupakan salah satu sumber yang penting dalam pengungkapan kecurangan (fraud). hal ini karena whistleblower yang menjadi salah satu bagian dari internal organisasi merupakan pihak yang paling tahu mengenai terjadinya fraud di dalam organisasi. victor dan cullen (1988) mengonseptualisasikan organizational ethical culture sebagai persepsi karyawan tentang sejauh mana komitmen organisasi dalam kaitannya dengan masalah etika terhadap karyawan dan manajemennya. marta (1999) menegaskan bahwa organizational ethical culture diciptakan dalam organisasi melalui praktik manajemen kebijakan etika, penegakan dan tindakan. fang (2006), budaya etis organisasi menciptakan dan menanamkan keyakinan etis di antara anggotanya tentang apa yang dirasakan oleh anggota organisasi mereka akan meningkatkan kewajiban moral mereka untuk melindungi kepentingan organisasi yang mereka layani. sebagai imbalannya, organisasi harus mendukung tindakan mulia anggota melalui penghargaan dan saluran pelaporan birokrasi yang lebih sedikit. organizational ethical culture dapat sangat memengaruhi niat pengungkap fakta. manajemen organisasi bertanggung jawab atas budaya etika yang sehat dan dengan demikian mencerminkan komitmen etis manajemen (mendonca, 2011) dalam mendorong niat anggota untuk melakukan whistleblowing penting bahwa baik manajemen dan anggota memainkan peran penting dalam memperkuat dan memperkuat perlindungan terhadap whistle-blower. oleh karena itu, budaya etika yang sehat dan perlindungan yang diberikan kepada whistle-blower akan business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 38 merangsang kemungkinan whistleblowing intention di antara anggota. organizational ethical culture dengan whistleblowing intention organizational ethical culture menciptakan dan menanamkan keyakinan etis di antara anggota organisasi, lingkungan etis yang kuat dapat membantu mengurangi kecenderungan manajer untuk berperilaku oportunistik ketika terdapat masalah agensi (agency problems) (booth & schulz, 2004). menciptakan sebuah lingkungan etis yang kuat dapat menjadi pilihan pengendalian yang sangat diharapkan bagi organisasi secara umum (akhyarudin dan asnawi, 2017). budaya organisasi yang etis akan meningkatkan moral seseorang sehingga dapat mendorong niat seseorang untuk melaporkan ketika terjadi tidak kecurangan, maka dari itu hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. h1: organizational ethical culture berpengaruh positif terhadap whistleblowing intention moral reasoning, ethical decision making, dan whistleblowing intention ethical decision making atau pengambilan keputusan etis terjadi ketika seseorang dalam kondisi dilema etika di tempat kerja (jones, 1991). pengambilan keputusan etis dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan internal individu itu sendiri (o’fallon dan butterfield, 2005; craft, 2013). jones (1991) mengatakan bahwa moral reasoning memengaruhi penalaran seseorang. semakin tinggi moral reasoning seseorang maka penalaran yang ia lakukan juga semakin lebih baik. penelitian sebelumnya yang mengaitkan moral reasoning dengan pengambilan keputusan etis (cohen dan bennie 2006; harrington, 1997; mei dan pauli, 2002; valentine dan godkin, 2019). berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut. h2: moral reasoning berpengaruh positif terhadap ethical decision making salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan individu untuk melakukan whistleblowing adalah perilaku moral (near & miceli,1995). keputusan seseorang memutuskan untuk melakukan whistleblowing dipengaruhi oleh beberapa hal, yakni karakter pribadi individu, lingkungan sekitar serta ketakutan adanya pembalasan (near & miceli, 1995). individu yang memiliki penalaran moral yang lebih tinggi memiliki kecenderungan untuk melakukan whistleblowing dibandingkan dengan individu yang memiliki penalaran moral yang lebih rendah (liyanarachchi & newdick, 2009). semakin tinggi penalaran moral individu, maka kecenderungan untuk mengungkapkan tindak kecurangan yang terjadi juga semakin tinggi, maka dari itu hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. h3: moral reasoning berpengaruh positif terhadap whistleblowing intention ethical decision making dengan whistleblowing intention whistleblowing yaitu tindakan oleh seorang karyawan, mantan karyawan atau anggota organisasi untuk melaporkan tindak kecurangan oleh seseorang atau sekelompok orang yang berdampak terhadap masyarakat umum (shawver, 2011). akan tetapi, niat seseorang untuk melakukan whistleblowing sering kali hilang ketika dihadapkan pada ancaman pembalasan di masa yang akan datang. hal tersebut tidak berlaku ketika hidayatul khusnah, organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention 39 seseorang tersebut memiliki penalaran moral yang tinggi. valentine dan godkin (2019) menggabungkan faktor individu, organisasi dan sosial untuk mendorong niat seseorang lam melakukan whistleblowing. faktor yang diusulkan tersebut adalah ethical decision making atau pengambilan keputusan etis. pengambilan keputusan etis terjadi ketika seseorang dalam kondisi dilema etika di tempat kerja (jones, 1991). ketika seseorang berniat melakukan sesuatu maka seseorang tersebut harus memahami terlebih dahulu situasi yang ada, apakah memiliki implikasi etis atau tidak (trevino, 1986; rest, 1986; jones, 1991). ketika seseorang mampu mengambil keputusan dengan etis, maka akan beriringan positif dengan niat untuk melakukan whistleblowing. berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut. h4: ethical decision making berpengaruh positif dengan whistleblowing intention metode penelitian sampel penelitian dan teknik pengumpulan data sampel dalam penelitian ini adalah manajer akuntansi atau manajer keuangan perusahaan manufaktur di kawasan pt surabaya industrial estate (sier) yang terdaftar dalam buku daftar investor tahun 2017. pemilihan sampel pada satu jenis industri diharapkan dapat mengurangi kemungkinan industry effect terhadap data yang dianalisis. teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. adapun kriteria penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. bekerja di perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam buku daftar investor/investor guidance book (2017) di kawasan industri sier. 2. mempunyai jabatan sebagai manajer akuntansi atau manajer keuangan. 3. bekerja minimal selama satu tahun. manajer akuntansi atau manajer keuangan yang bekerja selama satu tahun dianggap sudah memenuhi kualifikasi mengenai pengetahuan terhadap lingkungan perusahaan dengan baik sehingga bisa menilai bagaimana perusahaan dalam menangani kecenderungan kecurangan akuntansi. data dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuesioner langsung kepada manajer akuntansi atau manajer keuangan perusahaan organizational ethical culture whistleblowing intention ethical decision making moral reasoning gambar 1.1 desain penelitian business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 40 manufaktur di kawasan pt surabaya industrial estate (sier). penelitian ini menggunakan kuesioner cetak yang diantar langsung ke perusahaan manufaktur di kawasan pt surabaya industrial estate (sier). jumlah kuesioner yang disebar sebanyak 78 kuesioner dan yang kembali sebanyak 65 kuesioner. berdasarkan data yang terkumpul, terdapat 2 kuesioner yang tidak diisi dengan lengkap sehingga total kuesioner yang dapat diolah sebanyak 63. persentase tingkat respons dalam penelitian ini sebesar 81%, jumlah persentase tersebut menunjukkan bahwa tingkat respons dari responden sangat tinggi. pengukuran variabel variabel organizational ethical culture diukur menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh hunt et al. (1989) yang digunakan oleh falah (2006) dan nurfarida (2011) yang setiap item pertanyaan berisi tentang tindakantindakan yang dilakukan pimpinan terhadap bawahannya pada tindakan etis maupun tidak etis yang berhubungan dengan whistleblowing intention. variabel organizational ethical culture diukur menggunakan lima pertanyaan. variabel moral reasoning diukur menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh jones (1991). instrumen tersebut diukur dengan menggunakan enam pernyataan dengan menggunakan skala likert 5 (lima) point. variabel ethical decision making diukur menggunakan 8 (delapan) item pernyataan, yang terdiri dari 4 (empat) item yang didasarkan pada persepsi individu tentang situasi yang disorot dalam skenario etika, sedangkan 4 (empat) item pernyataan penilaian etis yang dinilai dengan skala “moral equity” yang menunjukkan sejauh mana responden percaya bahwa situasi benar-benar tidak etis (valentine and godkin, 2019). variabel whistleblowing intention dalam penelitian ini diukur menggunakan instrumen dari liyanarachchi & newdick (2009) yang digunakan oleh peneliti di indonesia ahyaruddin dan asnawi (2017), pratiwi (2015), abdilla (2017), dan rodiyah (2014). whistleblowing intention dalam penelitian ini menggunakan 5 item pertanyaan. hasil analisis data dan pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan structural equation modeling (sem) dengan metoda alternatif partial least square (pls) dengan menggunakan software warppls 3.0. ada dua tahap dalam pengujian menggunakan sem-pls, yaitu analisis model pengukuran dan analisis model struktural. tahap pertama yang dilakukan adalah mengevaluasi model pengukuran terlebih dahulu, setelah itu baru mengevaluasi model struktural. proses perancangan model struktural dalam penelitian ini dengan menggunakan tujuh konstruk (variabel laten). konstruk tersebut terdiri dari satu konstruk eksogen dan enam konstruk endogen. konstruk yang ada di dalam model struktural masing-masing memiliki indikator yang berfungsi sebagai alat ukur untuk indikator tersebut. evaluasi model pengukuran bertujuan untuk mengetahui kualitas dari alat ukur (instrumen) dari sebuah konstruk. terdapat dua pendekatan untuk mengukur konstruk dalam evaluasi model pengukuran, yaitu pengukuran reflektif dan pengukuran formatif. penelitian ini hanya menggunakan satu pendekatan saja yaitu pendekatan pengukuran reflektif. konstruk reflektif dinilai berdasarkan nilai cross loading masing-masing konstruk. uji validitas dalam model pengukuran terdiri dari dua parameter, yaitu validitas konvergen dan validitas diskriminan. hidayatul khusnah, organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention 41 uji validitas konvergen didasarkan pada faktor loading masing-masing indikator dari konstruk yang mana loading indikator lebih besar dari 0.70, sedangkan untuk uji validitas diskriminan dinilai dengan cara membandingkan akar kuadrat dari average variance extracted (ave) dengan korelasi antar konstruk, atau bisa juga dengan cara membandingkan loading konstruk yang diukur dengan loading konstruk yang lainnya (sholihin dan ratmono, 2013). pengujian reliabilitas diukur menggunakan composite reliability dan cronbach alpha. rule of thumb dari composite reliability dan cronbach alpha adalah lebih besar dari 0,70 (sholihin dan ratmono, 2013). validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi (hartono dan abdillah, 2014). uji validitas konvergen dinilai berdasarkan pada faktor loading masingmasing konstruk lebih besar dari 0.70 (sholihin dan ratmono, 2013). tabel 1.1 menyajikan hasil uji validitas konvergen masing-masing konstruk. hasil dari uji validitas konvergen tersebut menunjukkan ada beberapa indikator dari beberapa konstruk ada yang memiliki nilai faktor loading di bawah 0,7. beberapa indikator tersebut yang dicetak tebal di dalam tabel di atas. untuk p-value masingmasing indikator telah memenuhi kriteria, yaitu kurang dari 0,05. indikator-indikator yang memiliki nilai faktor loading kurang dari 0,7 tidak dimasukkan dalam pengolahan data karena dianggap tidak memenuhi kriteria validitas konvergen. pengujian selanjutnya adalah uji validitas diskriminan. uji validitas diskriminan dinilai dengan cara membandingkan akar kuadrat dari average variance extracted (ave) dengan korelasi antar-konstruk, atau bisa juga dengan cara membandingkan loading konstruk yang diukur dengan loading konstruk yang lainnya (sholihin dan ratmono, 2013). tabel 1.2 korelasi antar-variabel laten variabel item loading p-value organizational ethical culture (oec) oec1 0,712 <0,001 oec2 0,844 <0,001 oec3 0,851 <0,001 oec4 0,846 <0,001 oec5 0,583 <0,001 moral reasoning (mi) mi1 0,656 <0,001 mi2 0,724 <0,001 mi3 0,693 <0,001 mi4 -0,609 <0,001 mi5 -0,685 <0,001 mi6 -0,738 <0,001 ethical decision making (edm) edm1 0,788 <0,001 edm2 0,866 <0,001 edm3 0,768 <0,001 edm4 0,828 <0,001 edm5 0,829 <0,001 edm6 0,682 <0,001 edm7 0,838 <0,001 edm8 0,768 <0,001 whistleblowing intention (wi) wi1 0,758 <0,001 wi2 0,851 <0,001 wi3 0,815 <0,001 wi4 0,785 <0,001 wi5 0,772 <0,001 tabel 1.1 nilai loading kombinasi dan faktor loading oec mi edm wi oec 0,528 0,422 0,285 0,326 mi 0,422 0,476 0,378 0,328 edm 0,285 0,378 0,554 0,240 wi 0,326 0,328 0,240 0,553 tabel 1.2 menyajikan hasil pengujian validitas diskriminan dari konstruk dalam penelitian ini. hasil pada tabel di atas menunjukkan bahwa validitas diskriminan dalam penelitian ini telah terpenuhi dilihat dari nilai akar kuadrat dari ave pada kolom diagonal lebih besar dari pada korelasi antarkonstruk pada kolom yang sama. pengujian selanjutnya pengujian reliabilitas diukur menggunakan composite reliability dan business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 42 cronbach alpha. rule of thumb dari composite reliability dan cronbach’s alpha adalah lebih besar dari 0,70 (sholihin dan ratmono, 2013). hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 1.3. tabel 1.3 hasil uji reliabilitas konsistensi internal pada level 10%). gambar 1.2 menunjukkan hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini. organizational ethical culture dengan whistleblowing intention hasil pengujian hipotesis yang disajikan dalam gambar 1.2 menunjukkan nilai p-value dan koefisien jalur organizational ethical culture (oec) terhadap whistleblowing intention (wi) sebesar 0,002 dan 0,113 (signifikan pada level 1%). hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis 1 terdukung. semakin tinggi budaya etika dalam suatu organisasi maka kecenderungan keinginan untuk melakukan whistleblowing juga tinggi. hasil penelitian ini sesuai dengan argumen yang ditulis dalam penelitian (zakaria, 2015). moral reasoning, ethical decision making dan whistleblowing intention hasil pengujian hipotesis berikutnya adalah pengaruh moral reasoning terhadap ethical decision making. berdasarkan hasil pengujian yang tertera dalam gambar di atas menunjukkan pvalue dan nilai koefisien jalur sebesar <0,001 dan 0,376. berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis 2 terdukung. semakin tinggi moral koefisien oec mi edm wi composite reliability 0,869 0,001 0,933 0,897 cronbach’s alpha 0,806 0,374 0,917 0,856 ave 0,579 0,470 0,636 0,635 pengujian selanjutnya adalah evaluasi model struktural. evaluasi model struktural dalam sem-pls dengan menggunakan nilai koefisien determinasi (r!) dan nilai q-squared. berikut adalah hasil pengujian evaluasi model struktural yang tersaji dalam tabel 1.4. tabel 1.4 koefisien variabel laten koefisien oec mi edm wi r! 0,290 0,332 q-squared 0,307 0,370 penelitian ini mengajukan empat hipotesis. hipotesis dalam penelitian ini dikatakan terdukung apabila memiliki nilai p-value <0,01 (signifikan pada tingkat 1%), p-value <0,05 (signifikan pada level 5%) dan p-value <0,1 (signifikan gambar 1.2 hasil pengujian hipotesis hidayatul khusnah, organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention 43 intensiti individu maka semakin tinggi pula pengambilan keputusan etisnya. moral reasoning memengaruhi penalaran seseorang. semakin tinggi moral reasoning seseorang maka penalaran yang ia lakukan juga semakin lebih baik (jones, 1991). hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian sebelumnya (cohen dan bennie 2006; harrington, 1997; mei dan pauli, 2002; valentine dan godkin, 2019). hipotesis ketiga yaitu moral reasoning berpengaruh positif terhadap whistleblowing intention. berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat diketahui p-value dan nilai koefisien jalurnya sebesar 0,063 dan 0,184 (signifikan pada level 10%) sehingga hipotesis 3 terdukung. semakin tinggi penalaran moral individu maka semakin tinggi pula niat untuk melakukan whistleblowing. individu yang memiliki penalaran moral yang lebih tinggi memiliki kecenderungan untuk melakukan whistleblowing dibandingkan dengan individu yang memiliki penalaran moral yang lebih rendah (liyanarachchi & newdick, 2009). ethical decision making dengan whistleblowing intention hipotesis terakhir yang diajukan dalam penelitian ini adalah ethical decision making berhubungan positif dengan whistleblowing intention. berdasarkan pengujian hipotesis yang telah dilakukan diketahui p-value dan nilai koefisien jalurnya adalah sebesar 0,086 dan 0,164 (signifikan pada level 10%) sehingga hipotesis 4 diterima. hal tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi ethical decision making maka semakin tinggi pula whistleblowing intention. ketika seseorang mampu mengambil keputusan dengan etis, maka akan beriringan positif dengan niat untuk melakukan whistleblowing. kesimpulan penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi faktor-faktor yang dapat mendorong individu untuk melakukan whistleblowing. faktorfaktor yang diprediksi dapat memengaruhi whistleblowing intention adalah organizational ethical culture dan moral reasoning dan ethical decision making. hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh positif dari organizational ethical culture terhadap whistleblowing intention. berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi budaya etika dalam suatu organisasi maka kecenderungan keinginan untuk melakukan whistleblowing juga tinggi. individu yang berada pada lingkungan organisasi yang memiliki budaya etika tinggi cenderung melakukan apa pun sesuai dengan etika yang berlaku. salah satunya ketika melihat adanya tindak kecurangan, maka individu tersebut cenderung memiliki niat yang lebih tinggi untuk melaporkan tindakan tersebut. penelitian ini juga menemukan pengaruh positif dari moral reasoning terhadap ethical decision making. moral reasoning memengaruhi penalaran moral seseorang. semakin tinggi moral reasoning seseorang maka penalaran yang ia lakukan juga semakin lebih baik (jones, 1991). semakin baik penalaran moral seseorang maka keputusan yang akan diambil cenderung keputusan yang tidak keluar dari aturan yang berlaku. selain menemukan pengaruh positif dari moral reasoning terhadap ethical decision making, penelitian ini juga menemukan pengaruh positif dari moral reasoning terhadap whistleblowing intention. ketika seseorang memiliki penalaran moral yang baik atau tinggi maka cenderung akan melakukan hal-hal yang baik dan meninggalkan atau menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan etika. seseorang dengan tingkat moral yang tinggi ketika melihat tindak kecurangan yang dilakukan business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 44 oleh orang lain cenderung berniat untuk melaporkan tindakan tersebut. semakin tinggi moral reasoning seseorang maka semakin tinggi pula whistleblowing intention. temuan terakhir dalam penelitian ini yaitu ethical decision making berpengaruh positif terhadap whistleblowing intention. ketika seseorang mampu mengambil keputusan yang tidak bertentangan dengan etika yang ada maka dia juga mampu mengungkap tindakan-tindakan yang berlawanan dengan etika. semakin tinggi ethical decision making seseorang maka semakin tinggi pula whistleblowing intention. berdasarkan keseluruhan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa etika itu sangat penting, baik dari lingkungan sekitar maupun dari diri seseorang itu sendiri. seseorang yang berada dalam lingkungan organisasi yang memiliki budaya etika yang tinggi serta memiliki moralitas yang tinggi pula cenderung akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku. termasuk salah satunya adalah niat untuk melaporkan tindak kecurangan yang dilakukan oleh orang lain. daftar rujukan ahyaruddin, m. & asnawi, m. 2017. “pengaruh moral reasoning dan ethical environment terhadap kecenderungan untuk melakukan whistleblowing”. jurnal akuntansi & ekonomika, vol. 1. booth, p. & schulz, a.k.-d. 2004. the impact of an ethical environment on managers’ project evaluation judgments under agency problem conditions. accounting, organizations and society, 29(5-6), 473– 488. cohen, j.r. & bennie, n.m. 2006. the applicability of a contingent factors model to accounting ethics research. journal of business ethics, 68(1), 1–18. craft, j. 2013. a review of the empirical ethical decision-making literature: 2004– 2011. journal of business ethics, 117(2), 221–259. fang, m.l. 2006. evaluating ethical decisionmaking of individual employees in organizations – an integration framework. journal of american academy of business, 8(2), 105–113. fleischman, g.m., valentine, s., & finn, d.w. 2007. ethical reasoning and equitable relief. behavioral research in accounting, 19, 107–132. harrington, s.j. 1997. a test of a person-issue contingent model of ethical decisionmaking in organizations. journal of business ethics, 16, 363–375. hartono, j., and abdillah, w. 2014. konsep and aplikasi pls (partial least square) untuk penelitian empiris. edisi pertama. yogyakarta: bpfe. hwang, d.b.k, staley, a.b., tsai, y., & chui, c.l., 2013. a comparative study of the propensity of whistle-blowing empirical evidence from china, taiwan and the united states. international journal of accounting and financial reporting, 3 (2), 202–204. jones, t. 1991. ethical decision making by individuals in organizations: an issuecontingent model. academy of management review, 16(2), 366–395. keenan, j.p. 1990. upper-level managers and whistleblowing: determinants of perceptions of company encouragement and information about where to blow the whistle. journal of business and psychology, 5 (2), 223–235. hidayatul khusnah, organizational ethical culture, moral reasoning: pengaruhnya terhadap ethical decision making dan whistleblowing intention 45 keenan, j.p. 2000. blowing the whistle on less serious forms of fraud: a study of executives and managers. employee responsibilities and rights journal, 12 (4), 199– 217. kreshastuti, d.k. dan prastiwi, a. 2014. analisis faktor-faktor yang mempengaruhi intensi auditor untuk melakukan tindakan whistleblowing (studi empiris pada kantor akuntan publik di semarang). diponegoro journal of accounting, vol. 3, no. 2, pp. 2–8. liyanarachchi, g. & newdick, c. 2009. the impact of moral intensity and retaliation on whistle-blowing: new zealand evidence. journal of business ethics, 89(1), 37–57. marta, j.k.m. 1999. an empirical investigation into significant factors of moral intensity and their influences on ethical judgments and intentions. doctoral dissertation, old dominion university. (umi no: 9928703). retrieved may, 24, 2006 from http:// www.proquest.umi.com.html/. may, d.r. & pauli, k.p. 2002. the role of moral intensity in ethical decision making. business & society, 41(1), 84–117. mclain, d.a. & keenan, j.p. 1999. risk, information, and the decision about response to wrongdoing in an organization. journal of business ethics, 19, 255–271. mendonca, m. 2001. preparing for ethical leadership in organizations. canadian journal of administrative science, 18 (5), 266– 276. near, j.p. & miceli, m.p. 1985. organizational dissidence: the case of whistle-blowing. journal of business ethics, 4(1), 1–16. o’fallon, m.j. & butterfield, k.d. 2005. a review of the empirical ethical decisionmaking literature: 1996–2003. journal of business ethics, 59, 375–413. rocha, e. & kleiner, b.h. 2005. to blow or not to blow the whistle? that is the question. management research news, 28(11/12), 80–87. rothwell, g.r. & baldwin, j.n. 2007. ethical climate theory, whistle-blowing, and the code of silence in police agencies in the state of georgia. journal of business ethics, 70(4), 341–361. shawver, t. 2011. the effects of moral intensity on whistleblowing behaviors of accounting professionals. journal of forensic and investigative accounting, 3(2), 162–190. sholihin, m. & ratmono, d. 2013. analisis sem-pls dengan warppls 3.0. yogyakarta: andi offset. susmanschi, g. 2012. internal audit and whistle-blowing. economics, management, and financial markets, 7(4), 415–421. tjahjono, s. 2013. business crimes and ethics: konsep dan studi kasus fraud di indonesia dan globa. yogyakarta: andi. trevino, l.k. 1986. ethical decision making in organizations: a person-situation interactionist model. academy of management review, 11, 601–617. victor, b. & cullen, j.b. 1988. the organizational bases of ethical work climate. administrative science quarterly, 33 (5), 101–125. zakaria, m. 2015. antecedent factors of whistleblowing in organizations. procedia economics and finance, vol. 28, no. 1, pp. 230–234. 01 arieszetni.pmd bibin retmawan, perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong 1717 perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong bibin retmawan universitas airlangga e-mail: biretma@icloud.com abstract: the existence of a port really determines progress in an area, this is related to its function in the supply chain management distribution or logistic distribution system as a link between sea and land transportation modes to meet the needs of the community and industry which will ultimately affect economic growth in an area. meeting the needs of the community will be fulfilled optimally, efficiently and effectively if the port as a logistical support system for the distribution of goods and people can run smoothly and well integrated. the purpose of this study is to analyze the right strategy at pt terminal teluk lamong in winning the competition seen from the analysis of the internal environment and the analysis of the external environment. this research uses a qualitative approach with a case study approach. the sample of this research is key informants using purposive sampling and conducting interviews. the results of this study are that the terminal pt teluk lamong is in a “hold and maintain” position. this is based on consideration of internal factors, external factors, and analysis of company position using the internal-external evaluation matrix (ie matrix). the result of internal factor evaluation (ife) of pt terminal teluk lamong is an average value of 2,339 ife, which is in the average area. whereas the results of the external factor evaluation (efe) of pt terminal teluk lamong are an average value of efe of 2,554, which is in the middle region. from the results of the ife and ife matrix, the pt terminal teluk lamong position in the internal external matrix analysis is in quadrant v, namely in area ii where the company is in a hold and maintain position. keywords: competitive strategy, swot, external analysis, internal analysis pendahuluan kondisi geografis pt terminal teluk lamong yang terletak di daerah tambak osowilangon benowo surabaya memiliki keunikan tersendiri. kondisi lingkungan baru dengan minimnya depo-depo petikemas dan gudang-gudang barang curah kering belum mendukung pt terminal teluk lamong untuk berkembang menjadi terminal multipurpose. tuntutan perusahaan induk pt pelindo iii (persero) yang menginginkan pt terminal teluk lamong untuk segera tumbuh dan berkembang sehingga lebih produktif merupakan catatan penting bagi manajemen agar pt terminal teluk lamong bisa terus tumbuh dan meningkatkan pendapatan. pt pelindo iii (persero) memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak pada jasa terminal operator di pelabuhan tanjung perak surabaya, di antaranya cabang tanjung perak, pt tps (terminal petikemas surabaya), pt bjti (berlian jasa terminal indonesia) dan pt terminal teluk lamong. cabang tanjung perak merupakan cabang dari pt pelindo iii (persero) atau yang dikenal dengan pelindo iii cabang tanjung perak, merupakan pemegang hak hpl (hak pengelolaan lahan) di area pelabuhan tanjung perak. semua kegiatan pemanduan dan penundaan kapal-kapal yang sandar di semua terminal dalam wilayah area pelabuhan tanjung perak menjadi kewenangan oleh pelindo iii cabang business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 18 tanjung perak. sedangkan area labuh menjadi kewenangan dari otoritas pelabuhan sesuai undang-undang pelayaran no. 17 tahun 2008. pada tahun 2018, market share kegiatan bongkar muat petikemas dan curah kering di area pelabuhan tanjung perak sebagaimana tabel di atas. dalam kegiatan bongkar muat petikemas, market share terbanyak dipegang oleh pt tps sebesar 38% atau 1.458.180 teus, posisi kedua dipegang oleh pt bjti sebesar 32% atau 1.224.892 teus, posisi ketiga adalah pt ttl sebesar 16% atau 636.886 teus, sedangkan tg perak sebesar 14% atau 545.688 teus. sedangkan untuk kegiatan bongkar curah kering, sebanyak 57% atau 4.765.707 ton dimiliki oleh cabang tanjung perak, pt ttl sebesar 30% atau 2.535.988 ton (naik hamper 100% dari tahun sebelumnya) dan pt bjti sebesar 13% atau 1.043.166 ton. bisnis terminal petikemas di area pelabuhan tanjung perak sangat kompetitif dan untuk kegiatan curah kering dikuasai oleh cabang tanjung perak. dibutuhkan strategi bisnis yang tepat untuk dapat bersaing dan memilki keunggulan bersaing dalam industri kepelabuhanan. kondisi pt terminal teluk lamong sebagai pendatang baru di industri kepelabuhanan dapat dikatakan sebagai “big baby” (prasetyadi, 2015). penerapan teknologi terbaru dan semi-automatic di pt terminal teluk lamong dalam semua kegiatan bongkar muat petikemas dan curah kering menuntut perubahan pola operasi baik di sisi terminal maupun di pelanggan. e-transaction (online transaction) dan e-payment merupakan hal baru bagi pengguna jasa di mana tidak ada lagi pengguna jasa datang ke kantor untuk proses pengurusan dokumen sehingga meminimalkan “face to face”. pro dan kontra penggunaan teknologi dalam transaksi jasa kepelabuhan memiliki tantangan tersendiri bagi pt terminal teluk lamong. aroma pengguna jasa mempertahankan sistem lama (manual) sangat tinggi. capaian tersebut tidak terlepas dari beberapa strategi dan keunggulan yang telah terapkan oleh pt terminal teluk lamong sehingga mampu menghasilkan capaian yang memang belum terbilang bagus, dan berharap ke depannya dapat lebih meningkatkan produktivitasnya. keunggulan dari pt terminal teluk lamong dibandingkan terminal lain di area pelabuhan tanjung perak atau bahkan di wilayah indonesia yaitu pertama auto gate system, di mana pembacaan container sudah menggunakan alat yang di namakan ocr (optical character recognition). kedua no people in pre-gate and main gate, tidak ada pertukaran data menggunakan kertas (hardcopy) sehingga menambah kecepatan transaksi dan mengurangi adanya pungutan liar, semua transaksi dalam kegiatan di pt terminal teluk lamong dilakukan secara online transaction. ketiga automation the truck read data, setiap truk yang masuk ke terminal teluk lamong sudah dipasangi rfid card yang ditempelkan pada chasis dan head truk, hal ini dapat membantu kecepatan proses receiving delivery petikemas. keempat green port, suprastruktur petikemas luar negeri teus 703 1.349.587 321.977 1.672.267 petikemas dalam negeri teus 544.985 1.224.892 108.593 314.909 2.193.379 total petikemas teus 545.688 1.224.892 1.458.180 636.886 3.865.646 total curah kering ton 4.765.707 1.043.166 2.535.988 8.344.861 tg perak bjti tps ttl totaljumlah trafik 2018 satuan tabel proporsi trafik petikemas dan curah kering tahun 2018 bibin retmawan, perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong 19 yang digunakan menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan dengan penggunaan listrik sebagai mesin penggeraknya, dimulai dari sts (ship to shore), gsu (grab ship unloader), asc (automatic stacking crane) dan beberapa alat bongkar muat lainnya termasuk penggunaan truk dengan bahan bakar gas. konsep ini menjadikan pt terminal teluk lamong pelabuhan pertama di indonesia yang ramah lingkungan. kelima docking system, container yang di angkut oleh truk ctt (combine truck terminal) dapat dilakukan secara otomatis ke dalam docking area. strategi dengan konsep diferensiasi dalam penerapan strategi bisnis yang di kembangkan oleh pt terminal teluk lamong di mana terdapat sistem layanan sangat berbeda dari terminal pesaing, mengutamakan konsep green port dan automatic dalam segala layanan bongkar muat sehingga menciptakan keunikan tersendiri. biaya yang dikeluarkan dalam menciptakan keunggulan tersebut tentunya tidak sedikit, akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan tarif bongkar muat yang sesuai dengan layanan yang diberikan. penetapan tarif bongkar muat di area pelabuhan tanjung perak ditentukan oleh kantor otorasi pelabuhan yang berfungsi sebagai regulator pelabuhan. semua tarif bongkar muat petikemas dan curah kering memiliki tarif yang sama dan berlaku sama di semua terminal pada area pelabuhan tanjung perak. hal ini merupakan tantangan utama bagi pt terminal teluk lamong untuk tetap tumbuh dan berkembang menghadapi persaingan bisnis terminal operator. terlebih lagi tuntutan dari pemegang saham untuk mencapai target laba di tahun 2018 naik menjadi 300%. dari hasil analisis tersebut perusahaan dapat mendiagnosis lingkungan dan mengambil suatu kebijakan strategis berdasarkan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki serta mempertimbangkan peluang dan ancaman yang ada. hal inilah yang mendorong dilakukannya penelitian dengan judul: perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong. tinjauan pustaka strategi strategi yaitu pencapaian jangka panjang yang hendak dicapai oleh perusahaan (david, 2011). adanya penetrasi pasar, divestasi, likuidasi, ekspansi secara geografis merupakan salah satu cakupan dari strategi bisnis. dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan diperlukan sebuah tindakan yaitu sebuah strategi. strategi artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jenderal (tjiptono, 2006). strategi merupakan potret dari rencana dalam skala besar di masa akan datang guna bisa bersaing dalam mencapai tujuan perusahaan (pearce dan robinson, 2008). dilihat dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian strategi yaitu sebuah tindakan nyata dari perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan berdasarkan keputusan bersama dari para pimpinan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. strategi merupakan sebuah perencanaan yang matang di mana bisa menjelaskan semua tujuan dan sasaran dari perusahaan berdasarkan visi dan misi dari perusahaan (rangkuti, 2015). konsep strategi menurut stoner et al (2005) memiliki dua pemikiran berbeda yaitu pemikiran organisasi ingin dilakukan dan pemikiran organisasi yang akhirnya lakukan. agar tujuan perusahaan yang efektif dan efisien tercapai maka diperlukan strategi yang tepat di mana ini merupakan unsur penting bagi perusahaan dalam mencapai sasarannya, selain itu perusahaan juga harus bisa menghadapi permasalahan yang semakin dinamis baik permasalahan secara internal dan eksternal. konsep strategi memiliki business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 20 banyak perkembangan dalam definisinya. perusahaan dalam mencapai visi dan misinya baik pencapaian jangka pendek dan jangka panjang membutuhkan namanya strategi. analisis swot (matriks efe dan efe) internal-external (ie) matrix merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengetahui posisi suatu perusahaan, dengan menggabungkan hasil dari internal factor evaluation (ife) matrix dan external factor evaluation (efe) matrix. ie matrix dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yang memiliki implikasi strategi yang berbeda sebagai berikut. a. area pertama terdiri atas sel i, ii, atau iv dapat dideskripsikan sebagai strategi grow and build. strategi yang sesuai untuk tahap ini adalah strategi intensive (market penetration, market development, dan product development). strategi lain yang dapat digunakan adalah strategi integrative (backward integration, forward integration, dan horizontal integration). b. area kedua terdiri dari sel iii, v, atau vii dapat digambarkan sebagai strategi hold and maintain. strategi yang sesuai untuk tahap hold and maintain adalah market penetration dan product development. c. area ketiga terdiri dari sel iv, viii, atau ix dapat dideskripsikan sebagai strategi harvest atau divest. strategi 3c model 3c (ohmae, 1995) menyatakan bahwa strategi harus fokus kepada 3 (tiga) faktor untuk mencapai kesuksesan. ketiga faktor tersebut antara lain konsumen, perusahaan, dan kompetisi. the ife total weighted scores strong average weak high medium low i ii iii iv v vi vii viii ix gambar the internal – external matrix sumber: david, f. r. 2003. strategic management: concepts and cases (13th ed.). new jersey: prentice hall. bibin retmawan, perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong 21 gambar model 3c (ohmae, 1995) 1. strategi berdasarkan pendekatan perusahaan strategi yang melibatkan perusahaan termasuk strategi dalam memilih. hal ini berarti perusahaan tidak harus menjadi utama dalam segala lini. namun ketika tidak memungkinkan, menjadi utama/pemimpin pasar dalam satu lini saja sudah cukup. strategi kedua adalah strategi membuat atau membeli. penentuan strategi ini didasarkan pendekatan biaya juga pendekatan apakah supplier mampu menghasilkan produk yang dibutuhkan dengan waktu yang telah ditetapkan. strategi ketiga yang berkaitan dengan perusahaan adalah strategi minimalisasi biaya. 2. strategi berdasarkan pendekatan konsumen strategi ini dilakukan dengan mensegmentasi konsumen untuk mempermudah analisis pasar. segmentasi yang pertama dilakukan dengan mensegmentasi konsumen berdasarkan tujuan penggunaan barang. segmentasi kedua dilakukan dengan mensegmentasi konsumen berdasarkan area coverage, yakni membatasi pemasaran produk pada era yang termasuk distribusi produk. ketiga pendekatan segmentasi pasar cenderung menurun, perusahaan juga dapat melakukan segmentasi ulang atas konsumen. perubahan segmentasi tersebut bisa muncul karena perubahan customer mix, yang terdiri dari demografi, distribusi dan lain sebagainya. 3. strategi berdasarkan pendekatan competitor strategi yang paling penting dalam persaingan adalah menggunakan pendekatan diferensiasi, melalui desain pembelian, kualitas layanan dan penjualan. oleh karenanya penting untuk menjaga image merek di mata konsumen untuk tetap bisa bersaing dengan kompetitor. perumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di dalam penelitian, maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini yaitu bagaimana analisis lingkungan dapat digunakan sebagai penentuan strategi pada pt terminal teluk lamong? metode penelitian pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. secara spesifik penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. pendekatan kualitatif ini didefinisikan sebagai sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial, yang didasarkan sebagai penciptaan secara holistis yang dapat dibentuk dengan kata-kata, serta memberikan pandangan dari pemberi informasi secara alami dan terperinci (cresswell, 2015). sampel dan teknik pengambilan sampel sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah key informan (informan kunci) yaitu orang-orang yang sangat memahami organisasi dan memiliki kepentingan sesuai dengan inforbusiness and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 22 masi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. penentuan informan kunci ditentukan menggunakan purposive sampling. pada penelitian ini, akan dilakukan interview dengan beberapa key informan berdasarkan struktur organisasi pt terminal teluk lamong, yaitu president director, director of operation and engineering, director of general affair and finance, senior manager pihak eksternal di lingkungan terminal teluk lamong. lokasi penelitian penelitian ini dilakukan di pt terminal teluk lamong. teknik analisis pengolahan data penelitian dapat dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu: analisis lingkungan internal, analisis ini menjelaskan tentang analisis program pemasaran, analisis sumber daya manusia dan analisis keuangan. analisis lingkungan eksternal, analisis mengenai faktor ekonomi, faktor pemerintah, faktor sosial budaya, faktor teknologi dan faktor persaingan. analisis 3c yang menjelaskan tentang posisi perusahaan dalam kenichi ohmae yaitu: corporation, customer dan competition. analisis swot, menentukan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman kemudian dibuat dalam bentuk tabel faktor-faktor kekuatan dan kelemahan dan faktor-faktor peluang dan ancaman. analisis dan pembahasan strategi, dari hasil analisis lingkungan internal, analisis lingkungan eksternal, analisis lingkungan industri, dan analisis swot dapat diketahui hasil dari posisi akan menggunakan strategi apa yang dipilih. analisis dan pembahasan hasil penelitian analisis faktor internal analisis faktor internal bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor kekuatan dan kelemahan terminal teluk lamong agar dapat digunakan sebagai penilaian terhadap kondisi internal perusahaan. dalam menganalisis lingkungan internal dilakukan penyebaran kuesioner untuk responden yang telah dipilih, yang dirasa kompeten dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. responden dari penelitian ini adalah dari jajaran manajerial terminal teluk lamong. jumlah keseluruhan yang dilakukan penelitian yaitu dari top level manager dan middle manager. faktor internal mencakup kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan. dari hasil wawancara pada tahap pra analisis, maka diidentifikasi variabel-variabel yang kemudian akan di analisis dalam internal evaluation factor (ife). faktor internal yang menjadi kelemahan yang dimiliki terminal teluk lamong antara lain: letak geografis luar area tanjung perak, keterbatasan kapasitas dermaga (under capacity dermaga), maintenance support equipment availability alat operasional, maintain terkait kemampuan pegawai ditingkatkan, rotasi kerja pada beberapa bidang pekerjaan, belum adanya backup listrik secara optimal, kegagalan sistem apabila listrik down, dan regulasi dalam penentuan tarif petikemas. berikut adalah faktor internal yang menjadi kekuatan yang dimiliki terminal teluk lamong: branding ttl sebagai terminal petikemas berbasis teknologi, peralatan berbasis semi otomatis, integrasi sistem dengan pihak regulator, pengguna jasa dan bea cukai, fleksibilitas layanan 24 jam 7 hari, efisiensi transaksi pelanggan secara onbibin retmawan, perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong 23 faktor eksternal yang menjadi tantangan yang dimiliki oleh terminal teluk lamong antara lain: pertumbuhan petikemas di kawasan tanjung perak tumbuh di angka 6% dari tahun ke tahun, perkembangan teknologi berpeluang meningkatkan efisiensi operasional dengan integrasi data antar-pelabuhan dan meningkatkan kemudahan maupun kualitas pelayanan pelanggan; meningkatnya permintaan khusus dari pelanggan kepada ttl terkait pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat; pelindo 3 dan pgn membuka usaha lng di ttl; ttl memiliki lahan yang tersedia masih sekitar 60% dari total area; dan keinginan pelanggan mendapatkan tarif yang kompetitif dan kualitas layanan yang cepat dan prima. faktor eksternal yang menjadi hambatan yang dimiliki oleh terminal teluk lamong antara lain: adanya pemain-pemain baru di dalam industri petikemas, indonesia saat ini memasuki era disrupsi (kondisi perekonomian dan politik global sangat rawan dan penuh dengan ketidakpastian), terciptanya teknologi-teknologi baru yang berpotensi untuk mengubah peta bisnis di industri petikemas, kualitas layanan, tarif, kehandalan, hinterland dan interkoneksi dari terminal petikemas pesaing, regionalisasi supply chain (produksi dan logistik), dan ketegangan tensi geopolitikal dan perdagangan (perang perdagangan, boikot, dll), ex. amerika & china. dari hasil yang didapat maka dapat dianalisis sebagian besar responden berpendapat bahwa terminal teluk lamong belum memiliki strategi yang cukup efektif terhadap faktorfaktor eksternal, yang berarti terminal teluk lamong belum cukup kuat dalam merespons ancaman dari luar dan belum cukup memanfaatkan peluang dari faktor yang ada. jika dicari rata-rata pada bobot matriks efe maka hasilnya adalah 2.554, di mana bobot tersebut berada pada wilayah rata-rata. line, kecepatan pelayanan bongkar muat, dan sumber daya manusia dalam golongan milenial (usia produktif). selanjutnya, analisis dilakukan dengan memberikan bobot dan rating pada variabel-variabel yang termasuk dalam faktor internal. bobot total untuk bobot internal bernilai maksimal 1. bobot yang tinggi menggambarkan tingkat kepentingan indikator tersebut, dan sebaliknya bobot yang rendah menggambarkan kepentingan yang rendah dari indikator tersebut. dilihat dari jawaban responden matriks internal faktor evaluation (ife) maka dapat dianalisis sebagian besar responden berpendapat bahwa terminal teluk lamong belum memiliki strategi yang efektif terhadap faktor-faktor internal. ratarata pada bobot matriks ife maka hasilnya 2.339, di mana nilai bobot tersebut berada pada wilayah rata-rata atau cukup, yang berarti strategi yang diterapkan oleh terminal teluk lamong masih belum optimal untuk dapat bersaing dalam industri bongkar muat. analisis faktor eksternal analisis faktor eksternal bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor tantangan dan peluang yang dihadapi oleh terminal teluk lamong agar dapat digunakan sebagai penilaian terhadap kondisi eksternal perusahaan. dalam menganalisis lingkungan eksternal dilakukan penyebaran kuesioner untuk responden yang telah dipilih, yang dirasa kompeten dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. faktor eksternal mencakup tantangan serta peluang yang dihadapi oleh perusahaan. hasil dari proses wawancara pada tahap pra analisis dengan responden eksternal, maka diperoleh variabel-variabel yang kemudian dimasukkan ke dalam external factor evaluation (efe). business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 24 internal-eksternal (ie) matriks hasil dari perhitungan matriks eksternal dan matriks internal terminal teluk lamong adalah nilai rata-rata efe 2,554 yang berada pada wilayah menengah, sedangkan nilai ratarata ife 2,339 yang berada pada wilayah ratarata. jika melihat gambar matriks eksternal dan internal di atas maka posisi strategi terminal teluk lamong berada pada kuadran v. menurut david (2006), untuk area kedua terdiri dari sel iii, v, atau vii dapat digambarkan sebagai strategi hold and maintain. strategi yang sesuai untuk tahap hold and maintain adalah market penetration dan product development. analisis 3c potensi keuntungan jangka panjang perusahaan dalam suatu industri dapat dilihat dari konsep 3c yang dikemukakan oleh ohmae untuk bisa lebih kompetitif sehingga membentuk struktur atau daya tarik industri tersebut. untuk menganalisis daya tarik industri dan daya saing perusahaan, berikut akan dibahas analisis industri dengan menggunakan kerangka 3c. a. customer suatu perusahaan pada awalnya harus memprediksi sasaran pasar yang akan dituju. perusahaan tersebut harus terlebih dahulu mengetahui kebutuhan dan keinginan calon pelanggan atau potential customer sehingga perusahaan dapat mempersiapkan produk atau jasa yang sama-sama menguntungkan baik dari pelanggan maupun perusahaan. customers adalah pelanggan atau orang-orang yang menggunakan jasa yang akan ditawarkan. perusahaan (ttl) sebaiknya lebih menekankan fokus pada keinginan pelanggan yaitu pada the ife weighted scores grow and build strong average weak 3,0 4,0 2,0 2,99 1,0 1,99 high the 3,0 4,0 efe weighted scores medium 2,0 2,99 low 1,0 1,99 hold and maintain harvest or divest i ii iii iv v ie ttl vi vii viii ix gambar internal-external (ie) matrix bibin retmawan, perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong 25 proses pelayanan yang cepat pada waktu bongkar muat petikemas. b. company sebuah usaha pemasaran tidak hanya terpusat pada kegiatan menjual jasa saja, namun diperlukan analisis perusahaan agar dapat mengetahui strategi yang efektif untuk mampu bersaing dengan competitor serta memperoleh laba yang signifikan. untuk melihat hal tersebut dapat diketahui melalui dua aktivitas yaitu aktivitas utama dan aktivitas utama dan pendukung. c. competitors setiap usaha pasti memiliki pesaing dalam memasarkan sebuah produk atau layanan yang diberikan. layaknya sebuah kompetisi, ttl juga berlomba menjadi pemenang di pasar dalam layanan bongkar muat petikemas. menurut data internal ttl perolehan bongkar muat petikemas dibandingkan competitor sangat kecil sekalipun mengalami kenaikan setiap tahunnya. market share terbesar masih dikuasai oleh terminal petikemas surabaya (tps) sebesar 39% jika dibandingkan ttl hanya sebesar 14%. dilihat dari selisih yang tidak terlalu jauh sebaiknya perusahaan bisa meningkatkan market share agar bisa mengimbangi kompetitor. pilihan strategi berdasarkan hasil external factor evaluation matrix, bobot rata-rata efe adalah 2,439, yaitu pada posisi rata-rata. artinya masih ada potensi bagi industri bongkar muat petikemas untuk tumbuh meskipun ada beberapa hambatan karena pengaruh faktor eksternal lainnya. hasil ini menggambarkan bahwa pada terminal teluk lamong masih memiliki kesempatan untuk dapat bersaing dalam industri bongkar muat petikemas. pemilihan strategi yang tepat merupakan hal yang penting untuk dapat mencapai optimalisasi kinerja perusahaan. pilihan strategi pada ie matrix meliputi intensive strategy, integrative strategy, retrenchment atau liquidation. intensive strategy dapat berupa strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. sedangkan integrative strategy dapat berupa strategi integrasi ke depan (forward integration) di mana perusahaan melakukan akuisisi terhadap distributor, integrasi ke belakang (backward integration) yaitu perusahaan melakukan akuisisi terhadap supplier, dan integrasi secara horizontal di mana perusahaan melakukan akuisisi terhadap perusahaan pesaing sejenis. sedangkan saat perusahaan berada pada posisi paling buruk, maka pilihan strategi adalah dengan melakukan penghematan (retrenchment), menjual aset atau melakukan likuidasi untuk dapat mempertahankan kondisi financial perusahaan. berdasarkan analisis matriks internal dan eksternal, posisi terminal teluk lamong berada pada area kedua, yaitu kuadran v. area kedua, yaitu kuadran iii, v dan vii merupakan tahap “hold and maintain”. untuk posisi ini, strategi yang cocok diterapkan pada terminal teluk lamong adalah intensive strategy (market penetration). dalam tahap menjaga dan mempertahankan, posisi perusahaan berada pada kondisi rata-rata, maka perusahaan harus berusaha untuk menumbuhkan lebih lanjut bisnis saat ini, untuk dapat mencapai posisi yang lebih baik dari para pesaing. simpulan dan saran simpulan dari hasil pembahasan dan analisis, maka dapat ditarik kesimpulan yang akan menjawab tujuan dari penelitian ini. terminal teluk labusiness and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 26 mong berada pada posisi “hold and maintain”. hal ini didasarkan pada pertimbangan faktor internal, faktor eksternal, dan analisis posisi perusahaan dengan menggunakan internal-external evaluation matrix (ie matrix). hasil internal factor evaluation (ife) terminal teluk lamong adalah nilai rata-rata ife 2,339, yang berada di wilayah rata-rata. sedangkan hasil eksternal faktor evaluation (efe) terminal teluk lamong adalah nilai rata-rata efe 2,554, yang berada di wilayah menengah. dari hasil ife dan ife matrix, maka posisi terminal teluk lamong pada analisis matriks internal eksternal berada pada kuadran v, yaitu pada area ii di mana perusahaan berada pada posisi hold and maintain. berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan matriks internal dan eksternal (ie matrix), maka posisi hold and maintain yang diduduki oleh terminal teluk lamong memiliki beberapa alternatif strategi yang dapat digunakan, yaitu: penetrasi pasar (market penetration). tujuan dari penetrasi pasar adalah untuk meningkatkan market share terminal teluk lamong, melalui usaha pemasaran yang lebih besar. strategi pertumbuhan ini fokus pada penjualan layanan yang ada pada pasar yang telah ada sebelumnya. dengan melakukan penetrasi pasar, maka perusahaan akan mampu menganalisis kondisi persaingan dalam industri tersebut, dan mengukur peluang-peluang potensial pasar secara keseluruhan. saran penelitian ini bagi kalangan akademis diharapkan dapat digunakan untuk memperkaya pengetahuan serta melengkapi literatur mengenai konsep strategi bersaing pada perusahaan bumn khususnya pada bongkar muat petikemas. daftar rujukan ali, z. 2000. metode penelitian hukum. jakarta: sinar grafik. ali, g., kerem, t., & korkmaz, u. 2012. application of combined swot and ahp: a case study for a manufacturing firm. 8th international strategic management conference. procedia social and behavioral sciences 58 (2012) 1525–1534. al-refaie, a., sy. e., rawabdeh, i., & alaween, w. 2016. integration of swot and anp for effective strategic planning in the cosmetic industry. advances in production engineering & management, march 2016, pp. 49–58. creswell, j.w. 2015. penelitian kualitatif dan desain riset: memilih di antara lima pendekatan. yogyakarta: pustaka pelajar. david, f.r. 2002. strategic management: cases. prentice hall. david, fred. r. 2004. strategic management: concepts and cases 10th ed. prentice hall. david, fred. r. 2006. manajemen strategis. jakarta, dki jakarta, indonesia: penerbit salemba empat. david, fred r. 2010. strategic management: a competitive advantage approach, concepts and cases (13th edition). london: prentice hall international. david fred, r. 2011. strategic management manajemen strategi konsep, edisi 12. jakarta: salemba empat. eko, h.b. & r.o. saut, g. 2017, manajemen pelabuhan, pasca uu no. 17 tahun 2008 era poros maritim dan tol laut. pt andhika prasetya ekawahana.( fandy, t. 2006. manajemen jasa. yogyakarta: andi. bibin retmawan, perumusan strategi bisnis untuk peningkatan market share pt terminal teluk lamong 27 gallego-ayala, j. dan juízo, d. 2011. strategic implementation of integrated water resources management in mozambique: an a’wot analysis. physics and chemistry of the earth, 36, 1103–1111. hill, t. & westbrook, r. 1997. swot analysis: it’s time for a product recall. long range plan, 30 (1), 46–52. hardianto, r.b. 2000. kajian strategi perusahaan pt perkebunan negara xi dalam perspektif swot. karya tulis utama program magister manajemen universitas airlangga. tidak diterbitkan. ireland, r. duane, robert e. hoskisson, & michael a. hitt. 2009. the management of strategy: concepts and cases (8 edition). ohama: southwestern cengage learning. jorfi, h., yaccob, h.f.b., & shah, i. m. 2011. relationships among strategic management, strategic behaviors, emotional intelligence, it-business strategic alignment, motivation, and communication effectiveness. international journal of business and management, 30–37. kusdihandari, susi. 2003. kajian strategi pada pt bank mandiri (persero) cabang hub basuki rahmat surabaya dengan menggunakan perspektif swot. karya tulis utama program magister manajemen universitas airlangga. tidak diterbitkan. kirovska, z. 2011. strategic management within the tourism and the world globalization. journal of economics, 2 (1): 69–76. moleong, l.j. 2014. metode penelitian kualitatif, edisi revisi. bandung: pt remaja rosdakarya. nidhi, v.a. & preetvanti, s. 2016. integrated analytical hierarchy process with swot analysis for women education. international journal of management and applied science, issn: 2394–7926. ohmae, k. 1995. the end of the nation state, the rice of regional economic. new york/ london: the free press. porter, m.e. 1985. competitive advantage: creating and sustaining superior performance. new york: the free press. prasetyadi. 2015. perancangan strategis performance management di pt terminal teluk lamong. surabaya: magister management, ekonomi dan bisnis, universitas airlangga. pt pelabuhan indonesia iii (persero). 2014. rencana jangka panjang perusahaan (rjpp) 2014–2018. pt terminal teluk lamong. 2015. rencana jangka panjang perusahaan (rjpp) 2015–2019. pt terminal teluk lamong. 2017. rencana kerja dan anggaran perusahaan (rkap) 2017– 2018. putu. y., okta. r., ahmadi. s., & okol. s.s. 2017. feasibility analysis of naval base relocation using swot and ahp method to support main duties operation. journal of defense management. doi: 10. 4172/2167-0374.1000160. pearce ii, j.a. & robinson. r.b.jr. 2008. manajemen strategis 10. jakarta: salemba empat. rangkuti. f. 2015. analisis swot: teknik membedah kasus bisnis. jakarta: gramedia pustaka utama. sampik. k.t. & chriswahyudi. 2017. perencanaan strategi pemasaran dengan pendekatan matrik ie, swot, dan ahp untuk mendapatkan alternatif strategi prioritas. seminar nasional sains dan teknologi. sekaran, u. 2017. metode penelitian untuk bisnis pendekatan pengembangan-keahlian. jakarta: salemba empat. business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 28 swayne, l., duncan, w.j., & ginter, p.m. 2006. strategic management of health care organizations. john wiley & sons. sugiyono. 2017. metode penelitian kualitatif: untuk penelitian yang bersifat: eksploratif, enterpretatif, interaktif, dan konstruktif. bandung: alfabeta. sutari. 2013. analisis swot dalam strategi pengembangan cabang bank mandiri di daerah pantura kabupaten lamongan. karya tulis utama program magister manajemen universitas airlangga. tidak diterbitkan. stoner, j. a.f., freeman, r., edward, g. jr, & daniel, r. 2005, manajemen, jilid i, pt bhuana ilmu populer. thomas l. saaty. 1980. the analytic hierarchy process. new york: mcgraw-hill. umar, h. 2002. riset pemasaran dan perilaku konsumen. jakarta: pt gramedia pustaka utama. wickramasinghe, v. & takano, s. 2010. application of combined swot and analytic hierarchy process (ahp) for tourism revival strategic marketing planning: a case of sri lanka tourism. journal of the eastern asia society for transportation studies, vol. 8, pp. 954–969. wheelen, t.l. & hunger, j.d. 1995. strategic management and business policy, singapore: addison wessley. worsfold, k., worsfold, j., & bradley, g. 2007. interactive effects of proactive and reactive service recovery strategies: the case pf rapport and compensation. journal of applied social psychology. york, k.m. & miree, c.e. 2012. searching for trace evidence of strategic management decisions: using organizational theory to understand the competitive environment. journal of strategic management education, 8(2): 147–172. yuksel, i., degdeviren, m. 2007. using the analytical network process (anp) in a swot analysisa case study for a textile firm, information sciences, 177. pp. 3364–3382. 01 astria primadhani.pmd winda trisnandawati, niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel 165165 niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel winda trisnandawati universitas airlangga e-mail: windatrisna15@gmail.com abstract: the purpose of this research is to know how deep customers aim to have arwinda tour and travel as their umrah travel. this goals of research is to know the quality of arwinda service around cust’s satisfaction, their trust, and to know how deep they want to use this agent back in their travel. quantitative is the research metode that author used to know relation between variables, these are exogenous variabel is quality of service and endogen variabel is satisfaction, trust, and their aim to use this travel agent again. samples that used was about 150 jamaahs, minimum once a year that have arwinda tour and travel. analysize technical that author used was partial least square (pls). the result is it positive influence significantly as: service quality has a positive influence of customers satisfaction, service quality has a positive influence of trust, cust satisfaction has a influence of a cust’s will to use this travel agent again trust has a positive influence of a cust’s will to use this travel agent again. keywords: service quality, customer satisfaction, trust, repurchase intention pendahuluan umrah merupakan salah satu kegiatan ibadah dalam agama islam. ibadah ini dilaksanakan dengan cara berkunjung ke baitullah pada waktu yang tidak ditentukan. tata cara pelaksanaan umrah dengan berihram dari miqat, kemudian tawaf, sa’i, dan diakhiri dengan menggunting rambut dan dilaksanakan dengan tertib. pelaksanaan umrah lebih sederhana dari pada haji sehingga sering kali disebut haji kecil (biro humas data dan informasi kementerian agama, 2017). begitupun dengan jamaah umrah indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. menurut kementerian haji dan umrah arab saudi, jumlah visa umrah yang telah dikeluarkan untuk indonesia pada 2016 mencapai 699,6 ribu jemaah, meningkat 7,2 persen dari tahun sebelumnya. angka ini menjadikan indonesia sebagai negara dengan jumlah jemaah umrah terbesar ketiga di dunia, seperti tampil pada gambar 1.1. sumber: pemerintah arab saudi (2016) gambar 1.1 negara jemaah umrah terbesar di tahun 2016 tingginya minat dan keinginan orang muslim untuk bisa pergi beribadah ke tanah suci ini dianggap oleh para pelaku bisnis sebagai peluang bisnis yang cukup menjanjikan. hal ini terbukti dengan banyak bermunculan agen travel untuk melayani haji dan umrah, baik agen baru atau cabang dari beberapa travel yang sudah terkenal business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 166 dalam penyelenggaraan umrah maupun haji khusus. menurut kemenag, ada lebih dari 600 agen travel umrah yang terdaftar resmi di kementerian agama republik indonesia (biro humas data dan informasi kementerian agama, 2017). banyak bermunculannya biro travel menyebabkan tingkat persaingan untuk mendapatkan konsumen semakin ketat. para biro travel bersaing dalam membuat strategi pemasaran yang tepat guna mendapatkan calon jemaah. salah satunya ialah dengan memberikan harga yang murah untuk paket umrah yang ditawarkan. dengan adanya harga paket yang murah tersebut, banyak para biro travel umrah tidak bisa memberangkatkan jemaah yang sudah membayar karena tidak didasarkan pada kemampuan dalam melayani konsumen sehingga membuat calon jamaah merasa dirugikan (kementerian agama dan asosiasi muslim penyelenggara haji dan umroh republik indonesia, 2017). kasus yang menarik perhatian pada awal tahun 2017 yaitu first travel yang merugikan calon jemaah umrah hingga 800 miliar lebih, serta pada awal tahun 2018 juga merugikan jemaah hingga 600 miliar lebih yaitu abu tours and travel (kementerian agama dan asosiasi muslim penyelenggara haji dan umrah republik indonesia, 2017). adanya kasus first travel dan abu tours ini menimbulkan rasa takut pada calon jemaah umrah yang akan berangkat ke tanah suci menggunakan jasa biro travel umrah. dengan demikian, salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi biro travel umrah adalah membuat agar jamaah tidak takut dan berkenan untuk menggunakan kembali paket umrah yang ditawarkan oleh biro travel yang amanah dan ini dikenal dengan niat menggunakan kembali. niat menggunakan kembali adalah kedudukan konsumen yang setidaknya pernah menggunakan minimal sekali pada perusahaan tertentu (ibzan, balarabe dan jakada, 2018). tarofder (2016) menambahkan bahwa niat menggunakan kembali ini sebagai kunci keberhasilan bagi setiap perusahaan dalam melayani konsumen. menurut liao (2016) bahwa niat menggunakan kembali dipengaruhi oleh faktor kepuasan pelanggan dan kepercayaan pelanggan. arwinda tour & travel merupakan salah satu jasa travel di kota sidoarjo. arwinda tour & travel ini berdiri pada tahun 2015. awal mula berdirinya perusahaan ini yaitu berasal dari pengalaman kerja berbisnis penjualan tiket maskapai penerbangan, hingga kini merambat ke perjalanan domestik dan internasional. meski terbilang baru di dunia pariwisata, penjualan tiket maskapai penerbangan, pengembangan tour domestik dan internasional cukup sukses sehingga dapat merambat lagi ke biro perjalanan umroh dan haji dengan mengoptimalkan kepuasan pelanggan melalui layanan e-mail, instagram, facebook, bahkan website interaktif ini disediakan dengan harapan dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan. bagi perusahaan yang berpusat pada konsumen, kepuasan konsumen merupakan tujuan dan sasaran pemasaran. perusahaan harus lebih baik lagi memperhatikan tingkat kepuasan konsumennya (anshori et al., 2020) dan (karya, 2020). kepuasan konsumen merupakan sikap, penilaian, dan respons emosional yang ditunjukkan oleh konsumen setelah proses pembelian/konsumsi yang berasal dari perbandingan kesannya terhadap kinerja aktual terhadap suatu produk dan harapannya serta evaluasi terhadap pengalaman mengonsumsi suatu produk dan jasa (karya, 2016). ketika kepuasan meningkat maka konsumen akan lebih sering menggunakan agen travel sehingga keuntungan perusahaan akan semakin meningkat (anshori et al., 2019). winda trisnandawati, niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel 167 karena itu, arwinda tour & travel sebagai perusahaan jasa umrah dan haji harus lebih fokus kembali terhadap bagaimana mengelola dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan agar dapat meningkatkan tingkat kepuasan dan kepercayaan pelanggan, karena hal itu sesuai dengan misi yang dimiliki oleh arwinda tour & travel yaitu menghadirkan produk dan layanan terbaik serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi setiap pelanggan yang menggunakan jasa dari arwinda tour and travel. conceptual framework dan research methods kotler & keller (2016) mendefinisikan jasa sebagai setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan akan sesuatu. dengan kata lain, service (layanan) juga bisa diartikan sebagai tawaran tidak berwujud oleh satu pihak kepada pihak lain dengan pertukaran melalui jual beli dan tidak mengakibatkan kepemilikan akan sesuatu atau apa pun. gronroos (2016) menyatakan bahwa jasa adalah sebuah proses yang terdiri atas serangkaian aktivitas intangible yang biasanya terjadi pada interaksi antara pelanggan dan karyawan jasa dan/atau sumber daya fisik yang disediakan sebagai solusi atas masalah pelanggan. interaksi antara penyedia jasa dana pelanggan kerapkali terjadi dalam jasa, sekalipun pihak-pihak yang terlibat sering kali tidak menyadarinya. menurut rahim (2016) kepuasan adalah suatu respons fisiologis, perasaan senang, atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya sebelum dan setelah mengonsumsi produk/ jasa tersebut. ting et al. (2016) menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan konsumen tabel 1.2 jumlah jemaah umrah arwinda tour & travel tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 jumlah 247 316 329 306 293 432 479 sumber: pt arwinda tour & travel (2018) pada tabel 1.2 dapat disimpulkan bahwa jumlah jamaah umrah pada perusahaan arwinda tour & travel mengalami ketidakstabilan. pada tahun 2012–2014 mengalami peningkatan, namun di tahun 2015–2016 mengalami penurunan, dan di tahun 2017–2018 mengalami peningkatan kembali. dengan demikian, tentu ada faktor yang menjadi pengaruh atas ketidakstabilan jumlah jemaah tersebut. selain itu dilakukan wawancara kepada beberapa dari pelanggan arwind tour dan travel untuk menemukan fakta adanya masalah yang terjadi. hasil wawancara dengan beberapa pelanggan sebagai berikut. adanya beberapa pelayanan dari karyawan arwinda tour dan travel yang kurang responsif ketika pelanggan menanyakan terkait program yang dimiliki. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan perlu mendapatkan edukasi terkait apa saja program yang dimiliki oleh arwinda tour dan travel. selain itu, ketika memberikan makanan adanya kualitas rasa yang kurang di mata pelanggan. hal ini mengindikasikan bahwa faktor makanan dan minuman yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan rasa dari pelanggan yang mayoritas berasal dari sekitaran surabaya (jawa timur pada umumnya). selain itu, yang terakhir terkait dengan keluhan yaitu beberapa pelanggan mengeluh masalah tempat menginap, ada yang mengatakan masih kurang bersih hingga jauh dari masjid tempat mereka beribadah. adanya beberapa permasalahan tersebut (dilihat dari kualitas layanan yang diberikan) merupakan faktor yang memengaruhi jumlah jamaah pada arwinda tour & travel. oleh business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 168 atau jasa berdasarkan pengalaman konsumen menggunakan produk atau jasa yang disediakan oleh penyedia. sikap ini digambarkan sebagai suka atau tidak suka konsumen terhadap produk atau jasa dan sangat terkait dengan niat pelanggan (customers’ intention) untuk menggunakan kembali produk atau jasa. beberapa literatur mengungkapkan bahwa niat menggunakan kembali, niat membeli kembali merepresentasikan dampak terhadap loyalitas dari konsumen (chen et al, 2015). pembelian ulang (repurchase) mempunyai definisi menurut peter & olson (2002) dalam malhotra et al. (2017), yaitu kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali. dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa adanya niat dari pelanggan untuk kembali menggunakan produk atau jasa yang sama. niat pembelian ulang (repurchase intention) sangat erat kaitannya dengan konsep keinginan untuk berperilaku yang dibangun atas sikap konsumen terhadap objek dan sikap konsumen terhadap perilaku sebelumnya. memahami konsumen berarti perusahaan harus memahami sikap dan perilaku dari konsumen itu sendiri. peter & olson (2002) malhotra et al (2017) mendefinisikan sikap (attitude) sebagai evaluasi konsep secara menyeluruh yang dilakukan seseorang. kualitas adalah sebuah bentuk pengukuran terhadap layanan yang telah diterima oleh konsumen dan kondisi dinamis sebuah produk atau jasa dalam memenuhi harapan dan bebas dari cacat (rahim, 2016). shing (2012) menyatakan customer satisfaction adalah suatu respons psikologis, perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya sebelum dan setelah mengonsumsi produk atau jasa tersebut. setiap konsumen yang mendapatkan layanan dari perusahaan maka akan melakukan penilaian secara keseluruhan atas keunggulan layanan tersebut. adalah respons konsumen terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. selanjutnya, ibzan et al. (2016) menyatakan bahwa kepuasan konsumen merupakan evaluasi purna-beli di mana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan konsumen, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. oleh karena itu, dapat disimpulkan definisi kepuasan konsumen adalah respons dari perilaku yang ditunjukkan oleh konsumen dengan membandingkan antara kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapan. morgan dan hunt (1994) mendefinisikan bahwa trust akan terjadi apabila seseorang memiliki kepercayaan diri dalam sebuah pertukaran dengan mitra yang memiliki integritas dan dapat dipercaya. ba dan pavlou (2002) dalam tabrani et al (2018) mendefinisikan trust adalah penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan melakukan transaksi tertentu menurut harapan orang kepercayaannya dalam suatu lingkungan yang penuh ketidakpastian. menurut leninkumar (2017) yang mendefinisikan bahwa kepercayaan sebagai suatu kondisi ketika salah satu pihak yang terlibat dalam proses pertukaran yakin dengan keandalan dan integritas pihak yang lain. definisi tersebut menjelaskan bahwa kepercayaan adalah kesediaan atau kerelaan untuk bersandar pada rekan yang terlibat dalam pertukaran yang diyakini. kerelaan merupakan hasil dari sebuah keyakinan bahwa pihak yang terlibat dalam pertukaran akan memberikan kualitas yang konsisten, kejujuran, bertanggung jawab, ringan tangan, dan berhati baik. keyakinan ini akan menciptakan sebuah hubungan yang dekat antar-pihak yang terlibat pertukaran. menurut han et al (2009) dalam malhotra et al. (2017), konsumen sering membangun sikap mengenai penyedia (seperti: perusahaan) produk winda trisnandawati, niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel 169 sebelum menerima layanan dari perusahaan, seorang konsumen mempunyai pengharapan atas layanan yang akan diterima, ketika penilaian terhadap suatu layanan dianggap baik dan telah terbukti dapat memenuhi harapan maka konsumen akan merasakan senang atau puas. demikian sebaliknya, ketika layanan yang diterima tidak memenuhi kriteria dari penilaian konsumen dan tidak sesuai dengan harapan konsumen maka konsumen akan merasa tidak puas atau kecewa. dengan demikian, service quality yang diberikan perusahaan akan memengaruhi customer satisfaction. analisis tersebut didukung penelitian yang dilakukan oleh han dan hwang (2013) dan chou (2014) bahwa service quality mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap customer satisfaction. kualitas pelayanan adalah salah satu hal yang memengaruhi kepercayaan konsumen ini sangatlah bergantung pada kualitas sumber daya manusia (karyawan) yang perusahaan miliki. kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen memiliki peran dalam kinerja pemasaran perusahaan. kualitas pelayanan merupakan segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan guna memenuhi harapan konsumen. pelayanan diartikan sebagai jasa atau servis yang disampaikan oleh pemilik jasa yang berupa kemudahan, kecepatan, hubungan kemampuan, dan keramahtamahan yang ditujukan melalui sikap dan sifat dalam memberikan pelayanan untuk kepuasan konsumen (mahanani dan karya, 2016). hal itu harus sangat diperhatikan oleh setiap perusahaan karena menjadi elemen penting yang terkandung di dalamnya adalah tangible, empathy, responsiveness, reliability, dan assurance untuk bisa selalu ditingkatkan oleh perusahaan agar terciptanya kenyamanan bagi pelanggan. konsumen yang percaya terhadap perusahaan akan menggantungkan dirinya karena adanya jaminan dari kualitas pelayanan yang bagus, sebaliknya konsumen yang tidak percaya terhadap perusahaan tidak akan menggantungkan dirinya dikarenakan tidak adanya jaminan akan kualitas layanan yang bagus. hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh chou (2014) yang mengatakan bahwa dampak dari kualitas layanan yang diberikan akan memberikan efek positif dari tingkat kepercayaan pelanggan. shing (2012) menyatakan bahwa kepuasan adalah suatu respons fisiologis, yaitu perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja suatu produk dan harapanharapannya sebelum dan setelah mengonsumsi produk/jasa tersebut. niat menggunakan kembali (reuse intention) sangat erat kaitannya dengan konsep keinginan untuk berperilaku yang dibangun atas sikap konsumen terhadap objek dan sikap konsumen terhadap perilaku sebelumnya. ketika pelanggan merasakan kepuasan atas jasa atau produk yang diterima maka akan meningkatkan niat untuk menggunakan kembali jasa atau produk yang digunakan, sebaliknya ketika pelanggan merasakan ketidakpuasan maka akan menurunkan minat menggunakan kembali jasa atau produknya. hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh malhotra et al. (2017) mengatakan kepuasan berpengaruh signifikan dan sangat kuat terhadap niat menggunakan kembali. kepercayaan pelanggan merupakan kesediaan atau kemauan konsumen dalam menghadapi risiko yang berhubungan dengan produk dan jasa yang akan dibeli sehingga akan menghasilkan hasil yang positif dan menguntungkan. niat menggunakan kembali (reuse intention) sangat erat kaitannya dengan konsep keinginan untuk berperilaku yang dibangun atas sikap konsumen terhadap objek dan sikap konsumen terhadap perilaku sebelumnya. trust merupakan keyakinan konsumen atau harapan konsumen bahwa penyedia jasa atau produk dapat dipercaya atau diandalkan. semakin tinggi kepercayaan konsumen terhadap perbusiness and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 170 usahaan akan meningkatkan niat beli ulang pada konsumen. hal ini didukung oleh malhotra et al. (2017) yang mengatakan bahwa kepercayaan pelanggan memengaruhi niat beli kembali. penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang menguji suatu hipotesis, studi yang termasuk dalam pengujian hipotesis menjelaskan sifat hubungan tertentu atau menentukan perbedaan antar-kelompok atau independensi dua atau lebih faktor dalam suatu situasi. metode pengumpulan data menggunakan metode survei dengan cara pembagian kuesioner pada pelanggan yang pernah menggunakan jasa dari arwinda tour dan travel minimal satu kali. jumlah sampel yang digunakan untuk memenuhi metode sem berdasarkan maximum likelihood adalah sebesar 100–200 atau minimal jumlah sampel adalah 5– 10 kali jumlah indikator (hair et al., 2014). sedangkan teknik penelitian ini menggunakan partial least square (pls). analisis dan pembahasan hasil penelitian karakteristik responden berdasarkan dari karakteristik responden pada tabel tersebut menunjukkan bahwa responden yang menggunakan berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada responden laki-laki, yaitu dengan persentase perempuan sebesar 56,9%. berdasarkan usia, responden terbanyak dengan rentang usia di atas 45 tahun dengan persentase sebesar 29,4%. hal ini mengindikasikan bahwa pengguna dari arwinda tour dan travel adalah responden yang sudah tingkat dewasa dengan pendapatan yang cukup sehingga mampu untuk menyewa jasa dari arwinda tour dan travel. apabila dilihat dari intensitas menggunakan jasa arwinda tour dan travel maka responden terbanyak adalah responden menggunakan jasa arwinda tour dan travel sebanyak 1 kali dengan jumlah persentase sebesar 64,7%. analisis hasil pls outer model (discriminant validity) pada outer model terdapat analisis mengenai validitas dan reliabilitas indikator dari pls. validitas indikator terdiri dari convergent validity dan discriminant validity, sedangkan reliabilitas dapat dilihat dari composite reliability. untuk tahap validitas diskriminan, pengukurannya dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruknya atau dengan membandingkan akar ave untuk setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk satu dengan konstruk lainnya dalam model. suatu model dikatakan memiliki validitas diskriminan yang cukup apabila akar ave untuk setiap konstruk lebih besar daripada korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. uji reliabilitas diperlukan untuk mengukur stabilitas dan konsistensi dari suatu instrumen dalam mengukur suatu konsep atau variabel. pada penelitian ini, reliabilitas dapat diukur dengan melihat nilai comitem deskripsi frekuensi jumlah (n) % jenis kelamin perempuan 58 43,1 laki-laki 44 56,9 total 102 100,00 usia 18–25 24 23,5 26–35 26 25,5 36–45 12 11,8 46–55 10 9,8 >55 30 29,4 total 102 100,00 intensitas menggunakan 1 kali 66 64,7 2 kali 16 15,7 3 kali 2 2 lebih dari 3 kali 18 17,6 total 102 100,00 winda trisnandawati, niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel 171 posite reliability. hair et al (2014) menyebutkan bahwa composite reliability mengukur nilai sesungguhnya reliabilitas suatu konstruk. disebutkan juga bahwa untuk dapat dikatakan suatu konstruk reliabel, rule of thumb yang berlaku adalah > 0.7 untuk nilai composite reliability. tabel hasil evaluasi outer model (composite reliability dan convergent validity) laian secara keseluruhan atas keunggulan layanan tersebut. sebelum menerima layanan dari perusahaan, seorang konsumen mempunyai pengharapan atas layanan yang akan diterima ketika penilaian terhadap suatu layanan dianggap baik dan telah terbukti dapat memenuhi harapan maka konsumen akan merasakan senang atau puas. demikian sebaliknya, ketika layanan yang diterima tidak memenuhi kriteria dari penilaian konsumen dan tidak sesuai dengan harapan konsumen maka konsumen akan merasa tidak puas atau kecewa. dengan demikian, service quality yang diberikan perusahaan akan memengaruhi customer satisfaction. analisis tersebut didukung penelitian yang dilakukan oleh han dan hwang (2013) bahwa service quality mempunyai hubungan positif terhadap customer satisfaction. kualitas pelayanan, yaitu salah satu hal yang memengaruhi kepercayaan konsumen ini sangatlah bergantung pada kualitas sumber daya manusia (karyawan) yang perusahaan miliki. kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen memiliki peran dalam kinerja pemasaran perusahaan. hal itu harus sangat diperhatikan oleh setiap perusahaan karena menjadi elemen penting yang terkandung di dalamnya adalah tangible, empathy, responsiveness, reliability, dan assurance untuk bisa selalu ditingkatkan oleh perusahaan agar terciptanya kenyamanan bagi pelanggan. kepercayaan konsumen ini erat hubungannya dengan harapan dan kenyataan atau kinerja yang pelanggan dapatkan setelah menggunakan produk tersebut yang bilamana sesuai harapan atau tidak sesuai harapan. jika sama dengan harapan atau melebihi harapan maka pelanggan akan puas sedangkan bilah tidak sesuai harapan tentu pelanggan tidak akan puas sehingga akan menurunkan tingkat kepercayaan pelanggan. hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh chou (2014) mengatakan bahwa variabel/konstruk cronbachs alpha composite reliability average variance extracted hasil syarat hasil syarat service quality 0.9739 0.9774 > 0.7 0.8281 > 0.5 customer satisfaction 0.9597 0.9739 0.9257 trust 0.9769 0.9830 0.9353 niat menggunakan kembali 0.9534 0.9699 0.9148 sumber: hasil pengolahan data (2019) pengujian model struktural (inner model) pengujian selanjutnya dapat dilakukan dengan melihat nilai koefisien path atau inner model yang menunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis. dalam hal melihat signifikansi hubungan antar konstruk maka yang digunakan adalah analisis t-test dari koefisien jalur (path coefficient). hubungan jalur antar variabel tersebut dianggap signifikan jika memiliki t-statistics lebih dari 1,96. tabel evaluasi path coefficient dan uji signifikansi hipotesis variabel path coefficient t statistics kesimpulan h1 service quality -> satisfaction 0,9367 50,7747 accepted h2 service quality -> trust 0,9106 29,3941 accepted h3 satisfaction -> niat menggunakan kembali 0,6125 6,7044 accepted h4 trust -> niat menggunakan kembali 0,3781 4,1323 accepted sumber: lampiran setiap konsumen yang mendapatkan layanan dari perusahaan maka akan melakukan penibusiness and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 172 dampak dari kualitas layanan yang diberikan akan memberikan efek positif dari tingkat kepercayaan pelanggan. secara umum customer satisfaction terhadap layanan yang sangat baik, meningkatkan tingkat trust konsumen terhadap keandalan, dan integritas penyedia layanan (lankton et al., 2010). berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh seiedeh nasrin danesh et al. (2014) setiap perusahaan memiliki tujuan untuk mengembangkan kepercayaan pelanggan melalui kepuasan pelanggan. pelanggan yang merasa puas saat berbelanja di perusahaan dapat membentuk suatu kepercayaan pelanggan. kepercayaan dianggap sebagai sebuah kunci penting untuk menjaga kesinambungan dalam hubungan antara penyedia layanan dan pelanggan (chiu et al., 2012; han dan hyun, 2013). kepuasan adalah suatu respons fisiologis, yaitu perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya sebelum dan setelah mengonsumsi produk/jasa tersebut. niat menggunakan kembali (reuse intention) sangat erat kaitannya dengan konsep keinginan untuk berperilaku yang dibangun atas sikap konsumen terhadap objek dan sikap konsumen terhadap perilaku sebelumnya. ketika pelanggan merasakan kepuasan atas jasa atau produk yang diterima maka akan meningkatkan minat untuk menggunakan kembali jasa atau produk yang digunakan, sebaliknya ketika pelanggan merasakan ketidakpuasan maka akan menurunkan minat menggunakan kembali jasa atau produknya. hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh malhotra et al. (2017) mengatakan kepuasan berpengaruh signifikan dan sangat kuat terhadap niat menggunakan kembali. kepercayaan pelanggan merupakan kesediaan atau kemauan konsumen dalam menghadapi risiko yang berhubungan dengan produk dan jasa yang akan dibeli sehingga akan menghasilkan hasil yang positif dan menguntungkan. niat menggunakan kembali (reuse intention) sangat erat kaitannya dengan konsep keinginan untuk berperilaku yang dibangun atas sikap konsumen terhadap objek dan sikap konsumen terhadap perilaku sebelumnya. trust merupakan keyakinan konsumen atau harapan konsumen bahwa penyedia jasa atau produk dapat dipercaya atau diandalkan. semakin tinggi kepercayaan konsumen terhadap perusahaan akan meningkatkan niat beli ulang pada konsumen. hal ini didukung oleh malhotra et al (2017) yang mengatakan bahwa kepercayaan pelanggan memengaruhi minta beli kembali. kepercayaan yang didasarkan atas pengalaman yang memuaskan sebagai penentu niat untuk melakukan pembelian kembali (lankton et al., 2010). simpulan dan saran dari hasil analisis yang dilakukan, berikut kesimpulan yang telah didapatkan: service quality memiliki pengaruh positif terhadap customer satisfaction, service quality memiliki pengaruh positif terhadap trust, customer satisfaction memiliki pengaruh terhadap niat menggunakan kembali dan trust memiliki pengaruh positif terhadap niat menggunakan kembali. dari hasil analisis yang dilakukan, berikut implikasi manajerial dan akademis dari penelitian yang dapat diterapkan pada perusahaan yaitu hasil dari penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis bisa diterima. kepuasan pelanggan sangat ditentukan oleh service quality yang ditetapkan oleh perusahaan. pada variabel service quality semua indikator pada kategori puas namun ada poin yang memiliki nilai rata-rata paling rendah yaitu pada indikator pelayanan yang diberikan dengan winda trisnandawati, niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel 173 cepat. oleh karena itu, dalam memenuhi standar pelayanan yang diinginkan pelanggan hendaknya lebih cepat dan responsif karena pelanggan menginginkan kecepatan baik dari segi pelayanan sebelum berangkat maupun pada waktu berangkat menuju lokasi. dari sudut pandang teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur layanan jasa, khususnya untuk tour dan travel. penelitian ini mengadopsi penelitian yang dilakukan oleh malhotra et al. (2017), namun ada modifikasi model yang disesuaikan dengan industri layanan jasa. terdapat beberapa variabel yang tidak digunakan dalam penelitian ini, yaitu psychological contract violation. variabel psychological contract violation tidak digunakan dalam penelitian ini karena dalam penelitian ini bertujuan mengetahui dampak dari kualitas layanan yang diberikan oleh arwinda tour dan travel. melihat pentingnya variabel trust dan customer satisfaction dalam penelitian ini maka untuk penelitian mendatang dapat ditambahkan pengujian variabel price reasonable sebagai mediator dalam pengaruh hubungan antara customer satisfaction dan trust terhadap niat menggunakan kembali. menurut hun dan hyun (2015) mengatakan bahwa price reasonable diberikan guna mengukur apakah harga bisa memperkuat atau memperlemah hubungan kepuasan dan kepercayaan terhadap niat menggunakan kembali. daftar rujukan anshori, m.y., karya, d.f., fatmasari, d., & herlambang, t. 2020. a study of revisit intention: beach image, beach uniqueness, beach authenticity, attraction and satisfaction in lombok beach nusa tenggara barat. test engineering and management, vol. 83, pp. 2988–2996. anshori, m.y., herlambang, t, karya, d.f., muhith, a., & rasyid, r.a. 2019. profit ability estimation of a company in pt abcd using extended kalman filter. the third international conference on combinatorics, graph theory and network topology, 26–27 oct. 2019. jember: university of jember indonesia ba, s. & pavlou p.a. 2002. evidence of the effect of trust building technology in electronic markets: price premiums and buyer behavior. mis quarterly vol. 26 no. 3, pp. 243–268 chou, p.f., lu, c.s., & chang, y.h. 2014. effects of service quality and customer satisfaction on customer loyalty in highspeed rail services in taiwan. transportmetrica a: transport science, 30, 83–103. gronroos, c. 2016. service management and marketing: a customer relationship management approach. chishester: jhon wiley and sond, ltd. hair, j.f., black, w.c., babin, b.j., & et al. 2014. multivariate data analysis, edisi 12. upper saddle river: prentice hall. hoffman, k.d, dan bateson, j.e.g. 2011. service marketing: concept, strategies, & cases. south-western college. ibzan. e., balarabe. f., & jakada. b. 2018. consumer satisfaction and repurchase intentions. developing country studies, 6(2): 96–100. imanuel, h. & tanoto, s. 2019. pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan di pt hastaco tour and travel. agora, vol. 7, no. 1. karya, d.f. 2020. analisis reuse intention pelanggan tour dan travel “x”. accounting and management journal, vol. 4, no. 1. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 174 karya, d.f. 2016. analisis kualitas layanan dan kepuasan pengunjung perpustakaan kampus a universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa). business and finance journal, vol. 1, no. 2. kim, y. h., duncan, j., & chung, b.w. 2013. involvement, satisfaction, perceived value, and revisit intention: a case study of a food festival. journal of culinary science & technology, 13(2), 133–158. kotler, p., & keller, k.l. (2016). marketing management. global edition (vol. 15e). liang, z. 2018. the effect of service interaction orientation on customer satisfaction and behavioral intention: the moderating effect of dining frequency. procedia social and behavioral sciences, vol. 24 1026-1035. leninkumar, v. 2017. the relationship between customer satisfaction and customer trust on customer loyalty. international journal of academic research in business and social sciences, 7(4). lovelock, c., wirtz, j., & mussry, j. 2016. pemasaran jasa, edisi 10. jakarta: erlangga. mahanani, p. & karya, d.f. 2016. loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya). business and finance journal, vol. 1, no. 1. malhotra, n., sahadev, s., & purani, k. 2017. psychological contract violation and customer intention to reuse online retailers: exploring mediating and moderating mechanisms. journal of business research, 75, 17–28. morgan, r.m. & hunt, s.d. 1994. the commitment-trust theory of relationship marketing. journal of marketing, vol. 58. mukherjee, a. & nath, p. 2003. a model of trust in online relationship banking. the international journal of bank marketing bradford, 21(1). pappas, i.o., pateli, a.g., giannakos, m.n., & chrissikopoulos, v. 2014. moderating effects of online shopping experience on customer satisfaction and repurchase intentions. international journal of retail & distribution management, 42(3), 187–204. parasuraman, l.l. 1985. a conceptual model of services quality and its implications for future research. journal of marketing, 49, 33–46. peter, j.p. & olson, j.c. 2002. consumer behavior: perilaku konsumen dan strategi pemasaran, edisi 6. jakarta: erlangga. piriyakul, m., piriyakul, r., chuachareon, o., boonyoung, m., piriyakul, p., & piriyakul, i. 2015. effects of trust, satisfaction and factors corresponding to tam on intention to reuse internet business transaction. international review of management and business research, vol. 4, issue 3. sekaran, u. 2014. metodologi penelitian untuk bisnis (research methods for business), buku 1, edisi 4. jakarta: salemba empat. soleimani, a.g. & einolahzadeh, h. 2018. the influence of service quality on revisit intention: the mediating role of wom and satisfaction (case study: guilan travel agencies). cogent social sciences journal. tabrani et al. 2018. trust, commitment, customer intimacy, and customer loyalty in islamic banking relationships. international journal of bank marketing, vol. 36, iss.5, pp.823–848. tarofder, nikhashemi, azam, & selvantharan, h. 2016. the mediating influence of service failure explanation on customer repurchase intention through customers winda trisnandawati, niat pelanggan untuk menggunakan kembali jasa umrah arwinda tour & travel 175 satisfaction. international journal of quality and service. ting, o.s., ariff, m.i., norhayati, z., zuraidah, s., & saman, m.z.m. 2016. e-service quality, e-satisfaction, and e-loyalty of online shoppers in business to consumer market; evidence form malaysia. iop conf. series: materials science and engineering 131. tjiptono, f. & chandra, g. 2016. service quality & satisfaction, edisi keenam. yogyakarta: andi. wang, e.s. 2018. effect of product attribute beliefs of ready-to-drink coffee beverages on consumer-perceived value and repurchase intention. british food journal, vol. 118, no. 12 pp. 2963–2980. yu, l., cao, x., liu, z., gong, m., & adeel, l. 2016. understanding mobile payment users’ continuance intention: a trust transfer perspective. internet research. zikmund, g.w. & babin, b.j. 2013. menjelajahi riset pemasaran, edisi 10. jakarta: penerbit salemba empat. 01 arief.pmd christina whidya utami & hendro susanto, opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing 9393 opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing (sebuah tinjauan dari skala perusahaan) christina whidya utami & hendro susanto universitas ciputra e-mail: whidyautami@ciputra.ac.id & hendro.susanto@ciputra.ac.id abstract: this study aims to bridge the gap in the literature by examining the dimensions of growth orientation, opportunity orientation, total customer focus dimensions, value creation networking, informal market analysis, closeness to the market on large and small company scale related to entrepreneurial marketing (em) behavior. thus the objectives to be developed in this study are: analyze how em behavior in small companies compared to large companies? the dimensions of whether in entrepreneurial marketing are dominant in the context of small and large scale companies. the questionnaire was aimed at a national sample of 406 business owners in indonesia, spread in 8 provinces. small companies are defined as companies that employ at least 9 fewer full-time employees other than their owners, while large companies are companies that employ more than 9 full-time employees other than their owners. snowball sampling is used to determine the selected respondent. the results showed that there are differences in entrepreneurial marketing behavior between large companies and small companies, where small scale companies have lower entrepreneurial marketing behavior compared to large scale companies. for small scale companies, it shows that opportunity orientation is the most dominant dimension, whereas in large scale companies it shows that growth orientation is the most dominant dimension. keywords: entrepreneurial marketing, growth orientation, opportunity orientation, total customer focus, value creation networking, informal market analysis, closeness to the market pendahuluan pembahasan tentang entrepreneurial marketing (em) telah dilakukan pada perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. em mengintegrasikan pemasaran dan kewirausahaan melalui konsep umum yang dimiliki oleh kedua bidang tersebut (morris et al., 2002). lebih jauh moris dkk (2002:5) menyatakan bahwa em merupakan identifikasi dan eksploitasi proaktif terhadap peluang untuk memperoleh dan mempertahankan pelanggan yang menguntungkan melalui pendekatan inovatif terhadap manajemen risiko, peningkatan sumber daya dan penciptaan nilai. definisi ini diperluas oleh hills dan hultman (2011, hal 6) sebagai: [...] semangat, orientasi, dan juga proses mengejar peluang dan peluncuran usaha yang penuh semangat yang menciptakan nilai pelanggan yang dirasakan melalui hubungan dengan menggunakan inovasi, kreativitas, penjualan, market immersion, jaringan dan fleksibilitas. miles dan darroch (2006) berpendapat bahwa pendekatan em dapat secara proaktif memanfaatkan inovasi dan membantu mengelola risiko selama proses pemasaran untuk “menciptakan, berkomunikasi dan memberi nilai kepada pelanggan”. penelitian sebelumnya mengidentifikasi beberapa karakteristik perilaku em, seperti pengambilan keputusan (carson dan grant, 1998), pengambilan keputusan sumber daya (thomas et al., 2013), keputusan berdasarkan intuisi dan pengabusiness and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 94 laman (hills dan singh, 1998), fokus pada pengakuan peluang, pendekatan fleksibilitas terhadap pasar dan eksploitasi ceruk pasar yang lebih kecil (stasch, 1999). dari diskusi awal yang dilakukan, terdapat fenomena bahwa perilaku em terbukti berbeda pada skala perusahaan yang berbeda. kesimpulan didasarkan pada beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa perusahaan skala kecil lebih berhasil dalam menjalankan entrepreneurial marketing. meskipun demikian, belum ada penelitian yang secara eksplisit meneliti implementasi em pada perusahaan skala kecil dibandingkan dengan perusahaan skala besar. sebagian besar penelitian em biasanya bergantung pada studi kasus, yang hasilnya, walaupun memberikan gambaran pengalaman perusahaan secara rinci, mungkin tidak dapat digeneralisasikan di berbagai sampel. beberapa penelitian juga cenderung belum mampu menetapkan dimensi yang paling dominan yang akan berkontribusi terhadap perilaku entrepreneurial marketing. berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba menganalisis perusahaan skala kecil dan besar di indonesia yang beroperasi di delapan provinsi. perusahaan kecil didefinisikan sebagai perusahaan yang mempekerjakan setidaknya sembilan lebih sedikit karyawan penuh waktu selain pemiliknya, sedangkan perusahaan besar adalah perusahaan yang mempekerjakan lebih banyak dari sembilan orang karyawan penuh waktu selain pemiliknya. lebih jauh penelitian ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan dalam literatur dengan menganalisis sejauh mana perbedaan implementasi perilaku entrepreneurial marketing antara perusahaan skala besar dan kecil serta, dimensi manakah yang dominan dalam berkontribusi terhadap perilaku entrepreneurial marketing pada perusahaan skala kecil dibandingkan dengan perusahaan skala besar. tinjauan pustaka 1. entrepreneurial marketing, evolusi dan legitimasi entrepreneurial marketing menurut konseptualisasi awal, em sering dianggap sebagai reaktif, tidak canggih dan terbatas pada keinginan individu (hills & hultman, 1999; morris et al., 2002). misalnya, morris et al. (2002: 4) menggambarkan praktik em sebagai tindakan pengusaha yang tidak terencana, tidak linier dan visioner. morris et al. (2002: 5) mengonseptualisasikan em sebagai identifikasi dan eksploitasi proaktif terhadap peluang untuk memperoleh dan mempertahankan pelanggan yang menguntungkan melalui pendekatan inovatif terhadap manajemen risiko, peningkatan sumber daya dan penciptaan nilai, definisi yang lebih baru telah diajukan dalam literatur (hills dan hultman, 2013; kraus et al., 2010). sedangkan hills & hultman (2013) dalam tinjauan mereka tentang definisi em, melanjutkan versi yang lebih luas dengan menggabungkan definisi kewiraswastaan dan definisi pemasaran american marketing association (halaman 27): pemasaran kewirausahaan adalah fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan inovasi, mengomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan serta untuk mengelola hubungan dengan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya, dan hal ini ditandai dengan inovasi, pengambilan risiko, proaktif, yang dapat dilakukan tanpa sumber daya yang saat ini dimiliki. peneliti menyadari kedua definisi tersebut sesuai dengan konsep inti em dan artikel ini berfokus pada dimensi yang mendasari kedua definisi tersebut. 2. dimensi entrepreneurial marketing setiap dimensi em dijelaskan secara singkat sebagai berikut. christina whidya utami & hendro susanto, opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing 95 yang tidak berkesinambungan. perhatikan bahwa inovasi tidak terbatas pada produk atau layanan, namun juga bisa mencakup proses pemasaran atau strategi. c. total fokus pelanggan (total customer focus) em menjadikan pelanggan mereka sebagai prioritas utama dan memperlakukan pelanggan sebagai peserta aktif dalam proses pengambilan keputusan pemasaran mereka. pemasar mengintegrasikan pelanggan mereka ke dalam operasi mereka dan menerima rekomendasi dari pelanggan secara reguler. preferensi pelanggan secara langsung memainkan peran penting dalam menentukan pendekatan produk, harga, distribusi, dan komunikasi suatu perusahaan. untuk mengikuti perubahan perilaku em mengutamakan preferensi pelanggan, menggunakan pendekatan yang sangat terfokus, fleksibel dan dapat disesuaikan dengan pasar. mereka bersedia membuat janji baru kepada pelanggan, memodifikasi desain produk mereka dan mengubah harganya untuk memberikan produk atau layanan yang paling memuaskan kepada pelanggan. d. penciptaan nilai melalui jaringan (value creation networking) penciptaan nilai melalui jaringan merupakan konsep penting dalam em. em mengumpulkan informasi pasar dan mendapatkan akses ke calon pelanggan melalui jaringan mereka. informasi dari jaringan juga membantu pemasar untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik kepada pelanggan dan untuk menciptakan keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing. sumber daya dari jaringan dapat membantu perusahaan mengelola risiko mereka dan mengalokasikan sumber dayanya secara lebih efisien. hal a. orientasi pertumbuhan (growth orientation) em sering dikaitkan dengan pertumbuhan. pemasar wirausaha biasanya memiliki tujuan jangka panjang dalam kegiatan pemasaran mereka dan bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan penjualan melalui hubungan jangka panjang. ambisi pemasar untuk menumbuhkan perusahaan mereka menentukan model bisnis perusahaan, strategi kompetitif dan pengelolaan sumber daya. untuk tumbuh, pemasar mengadopsi beberapa cara untuk mengembangkan bisnis mereka, termasuk meningkatkan bisnis yang berulang dan menciptakan komunitas pelanggan yang berdedikasi dan loyal terhadap produk. peneliti menyarankan karakteristik yang tampaknya mendorong pertumbuhan menjadi target pasar didefinisikan sebagai pasar ceruk dengan ukuran terbatas dan orientasi pasar produk yang seimbang. b. orientasi kesempatan (opportunity orientation) em menempatkan penekanan pada mengejar peluang, terlepas dari sumber daya yang ada. pemasar menanggapi peluang yang muncul dengan terus melakukan improvisasi dan mengalihkan sumber daya mereka. meski peluang bisa muncul secara acak, em dikenal secara proaktif mencari peluang baru. ke depan melihat dan memiliki kemauan untuk menjadi pelopor memungkinkan pemasar kewirausahaan untuk melayani kebutuhan yang tidak terpenuhi dan menangkap peluang yang muncul sebelum pesaing mereka. inovasi dan kreativitas adalah proses penting yang membantu em untuk mengubah peluang menjadi kenyataan. perusahaan yang mengadopsi em sering berfokus untuk menciptakan kategori produk baru dan mengarahkan pelanggan mereka menggunakan inovasi business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 96 strategi pemasaran dan komunikasi mereka secara lebih efektif. beberapa em mengandalkan pengalaman saat membuat keputusan mengenai produk dan layanan baru karena percaya bahwa pengalaman membantu membuat keputusan pemasaran yang kompeten. praktik em dan ukuran perusahaan pemasaran di perusahaan kecil pernah dianggap sebagai versi sederhana dari pemasaran tradisional. namun belakangan, para periset semakin menyadari bahwa pemasaran di perusahaan kecil berbeda dari pemasaran di perusahaan besar (bjerke dan hultman, 2002; carson et al., 1995). bukti empiris menunjukkan bahwa perusahaan kecil menggunakan strategi pemasaran yang lebih sedikit (sriram dan sapienza, 1991), mengadopsi sedikit pendekatan untuk mendefinisikan pasar mereka (weinstein, 1994), menggunakan strategi yang berbeda untuk mengekspor (bonaccorsi, 1992) dan tidak mengikuti pandangan tradisional dengan perencanaan pasar dan pengukuran kinerja yang berbeda dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar (coviello et al., 2000). studi sebelumnya secara empiris mengidentifikasi beberapa karakteristik perusahaan kecil yang membuat mereka cenderung lebih entrepreneurial dalam pemasaran mereka daripada perusahaan yang lebih besar. berdasarkan bukti yang menunjukkan bahwa perusahaan kecil lebih berwirausaha daripada perusahaan yang lebih besar, makalah ini mengusulkan bahwa ukuran perusahaan memiliki dampak pada tingkat praktik em perusahaan dan bahwa perilaku em lebih lazim di perusahaan yang lebih kecil daripada perusahaan yang lebih besar. hipotesis selanjutnya adalah sebagai berikut. h1. perusahaan yang lebih kecil memiliki tingkat orientasi perilaku entrepreneurial marketing yang lebih tinggi daripada perusahaan yang lebih besar. ini terutama berlaku untuk perusahaan kecil yang kegiatan pemasarannya biasanya dibatasi oleh kurangnya sumber daya mereka. perhatikan bahwa jaringan pemasar wirausaha tidak terbatas pada pemasok dan pelanggan, tetapi juga mencakup pesaing. e. analisis pasar informal (informal market analysis) keputusan pemasaran di bawah em tidak selalu bergantung pada proses perencanaan formal. strategi pemasaran perusahaan dapat muncul dan disesuaikan pada saat implementasi. pemasar kewirausahaan sering mengikuti naluri mereka dalam membuat keputusan pemasaran dan menganggap penilaian intuitif sebagai bagian yang sangat penting untuk menilai potensi pasar. pemasar memiliki kecenderungan untuk tidak melakukan riset pasar formal karena mereka percaya bahwa mereka mendapatkan pemahaman intuitif dan kaya tentang pasar mereka melalui kontak konstan dengan pelanggan. dengan memperhatikan persepsi pelanggan selama interaksi, pemasar dapat memperoleh informasi pasar yang berharga dan mengidentifikasi peluang pasar yang layak. f. kedekatan dengan pasar (closeness to the market) em sering memiliki proses pengambilan keputusan yang terkait erat dengan pelanggan. mereka membuat keputusan berdasarkan umpan balik pelanggan atau informasi yang diterima selama interaksi langsung atau percakapan tatap muka dengan pelanggan. melalui hubungan dengan pemasok dan mitra dagang, pemasar dapat mengumpulkan informasi mengenai pasar dan perubahan preferensi pelanggan. informasi tersebut memungkinkan mereka untuk menerapkan christina whidya utami & hendro susanto, opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing 97 identifikasi variabel perilaku em adalah variabel dependen dalam penelitian ini, diukur dengan enam pertanyaan. skala likert lima poin sebagai berikut yakni setuju, agak setuju, tidak setuju, agak tidak setuju, atau sangat tidak setuju. variabel bebas dikategorikan menurut dimensi em. orientasi pertumbuhan, kedekatan dengan pasar, penciptaan nilai melalui jaringan, dan analisis pasar informal masing-masing diukur dengan tiga variabel, sedangkan orientasi kesempatan dan total fokus pelanggan masing-masing diukur dengan empat variabel. h2. dimensi orientasi peluang lebih dominan pada perusahaan skala kecil yang berperilaku entrepreneurial marketing, sedangkan dimensi orientasi pertumbuhan lebih dominan pada perusahaan skala besar yang berperilaku entrepreneurial marketing. metodologi penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena memerlukan perhitungan yang bersifat sistematis tentang perbedaan perilaku em antara perusahaan skala besar dan skala kecil serta menetapkan dimensi entrepreneurial yang paling dominan pada perilaku entrepreneurial marketing perusahaan skala besar dan kecil. di mana keduanya menitikberatkan pada pengujian hipotesis dengan menggunakan alat bantu statistik. dalam pendekatan kuantitatif-penelitian menggunakan proses rasionalisasi dari suatu fenomena yang terjadi dan mengukur variabel (indikator variabel) yang sedang diteliti, dan akhirnya pendekatan kuantitatif mencoba untuk membuat kesimpulan yang digeneralisasikan. populasi penelitian adalah perusahaan di delapan provinsi di indonesia. kuesioner ditujukan pada sampel nasional dari 406 pemilik bisnis di indonesia, yang tersebar di delapan provinsi. perusahaan kecil didefinisikan sebagai perusahaan yang mempekerjakan setidaknya sembilan lebih sedikit karyawan penuh waktu selain pemiliknya, sedangkan perusahaan besar adalah perusahaan yang mempekerjakan lebih banyak dari sembilan orang karyawan penuh waktu selain pemiliknya. snowball sampling digunakan untuk menetapkan responden terpilih. teknik analisis untuk menguji hipotesis yang diajukan adalah dengan menggunakan uji beda t test dan multiple regression. gambar 1 model penelitian sumber: olahan peneliti, 2019 deskripsi responden di mana dari 406 perusahaan sebagai sampel terdapat 118 (29%) perusahaan skala kecil dan 288 (71%) perusahaan skala besar yang menjadi responden. jika ditinjau berdasarkan usia perusahaan sebanyak 31% usia perusahaan kurang dari 5 tahun, 58% usia perusahaan antara 5–15 tahun dan 45% kurang dari 15 tahun. sedangkan jika mengamati asset perusahaan maka sebanyak 23% perusahaan dengan asset antara 200–500 juta, 37% perusahaan dengan asset lebih besar dari 500 juta sampai 10 miliar business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 98 hampir semua jawaban responden untuk semua pertanyaan memiliki rata-rata jawaban di atas 4 hanya rata-rata jawaban untuk pertanyaan dimensi orientasi opportunity yakni “upaya pemasaran kami memimpin pelanggan dan bukan meresponsnya” dan ketiga pertanyaan untuk dimensi analisis pasar informal kesemuanya memiliki rata-rata jawaban antara 3 sampai 3,5 yakni “memperkenalkan produk atau layanan baru biasanya hanya melibatkan sedikit penelitian dan analisis pasar formal”, “keputusan pemasaran kami lebih didasarkan pada umpan balik pelanggan informal daripada riset pasar formal,” dan “penting untuk mengandalkan firasat saat membuat keputusan pemasaran.” dan 40% perusahaan dengan asset lebih besar dari 10 miliar. karakteristik sampel berdasarkan jenis industri nya adalah sebagai berikut: jasa 3%, manufaktur 10%. real estate 3%, retail 7%, industri alat kesehatan 3%, biotechnology 3%, gula rafinasi 3%, property 3%, food and beverage 3%, retail houseware 3%, pengolahan kopi 3%, trading company 3%, hospitality 3%, freight forwarding and logistic 7%, perikanan 3%, industri batik 7%, perusahaan cat 3%, agency 3%, furniture 7%, digital industry 10%, branding and graphic design 7%. sedangkan jika mengamati jawaban responden untuk setiap pertanyaan kuesioner maka dapat dilihat pada tabel 1. indikator pertanyaan mean std deviasi g1 pertumbuhan jangka panjang lebih penting daripada keuntungan langsung 4.5 0.7593 g2 tujuan utama kami adalah menumbuhkan bisnis 4.633 0.5405 g3 kami mencoba memperluas basis pelanggan kami secara agresif 4.1601 0.9514 o1 kami terus mencari peluang bisnis baru 4.4113 0.73419 o2 upaya pemasaran kami memimpin pelanggan, dan bukan meresponsnya 3.4704 1.33809 o3 menambah produk atau layanan inovatif sangat penting bagi kesuksesan kami 4.5 0.73954 o4 kreativitas menstimulasi keputusan pemasaran yang baik 4.5739 0.65032 t1 sebagian besar keputusan pemasaran kami didasarkan pada apa yang kami pelajari dari kontak pelanggan sehari-hari 4.2833 0.80189 t2 pelanggan kami mewajibkan kami bersikap sangat fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan khusus mereka 4.0739 0.97851 t3 semua orang di perusahaan ini membuat pelanggan menjadi prioritas utama 4.5123 0.71912 t4 kami menyesuaikan diri dengan cepat untuk memenuhi harapan pelanggan yang terus berubah 4.4532 0.67515 v1 kita belajar dari pesaing kita 4.4039 0.81612 v2 kami menggunakan teman dan mitra industri utama kami secara ekstensif untuk membantu kami mengembangkan dan memasarkan produk dan layanan kami 4.2931 0.86084 v3 sebagian besar keputusan pemasaran kami didasarkan pada pertukaran informasi dengan orang-orang di jaringan pribadi dan profesional kami 4.1897 0.81103 i1 memperkenalkan produk atau layanan baru biasanya hanya melibatkan sedikit penelitian dan analisis pasar formal 3.1059 1.41635 i2 keputusan pemasaran kami lebih didasarkan pada umpan balik pelanggan informal daripada riset pasar formal 3.4631 1.16634 tabel 1 rata-rata dan standar deviasi jawaban responden christina whidya utami & hendro susanto, opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing 99 analisis dan diskusi uji validitas dan reliabilitas uji validitas dengan menggunakan pearson correlations yang menunjukkan bahwa nilai r hitung > r tabel, berdasarkan uji signifikan 0.01 (2-tailled), artinya bahwa item-item tersebut di atas valid. sedangkan uji reliabilitas dilakukan dengan cronbach alpha, menunjukkan angka sebesar 0.876 lebih besar dari 0.6 yang berarti reliable yakni instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh informasi yang digunakan dapat dipercaya sebagai alat pengumpulan data dan mampu mengungkap informasi yang sebenarnya di lapangan. uji hipotesis uji beda t test digunakan untuk membuktikan bahwa terdapat perbedaan perilaku entrepreneurial marketing antara perusahaan skala kecil dan besar, berdasarkan tabel 3 dan tabel 4 sebagai berikut.” tabel 2 group statistic p gg p p i3 penting untuk mengandalkan firasat saat membuat keputusan pemasaran 3.2217 1.25122 c1 permintaan pelanggan biasanya adalah alasan kami mengenalkan produk dan/atau layanan baru 4.9012 0.90122 c2 kami biasanya mengenalkan produk dan layanan baru berdasarkan rekomendasi dari pemasok kami 4.9831 0.98316 c3 kami sangat bergantung pada pengalaman saat membuat keputusan pemasaran 4.7436 0.74367 em1 orientasi pertumbuhan menjadi menjadi faktor penting dalam membangun kesuksesan bisnis 4.5148 0.63131 em2 orientasi peluang menjadi faktor penting dalam membangun kesuksesan bisnis 4.4852 0.60739 em3 total customer fokus menjadi faktor penting dalam membangun kesuksesan bisnis 4.5 0.63148 em4 value creation through networking menjadi faktor penting dalam membangun kesuksesan bisnis 4.5 0.67678 em5 informal market analysis menjadi faktor penting dalam membangun kesuksesan b merupisnis 4.3374 0.67909 em6 closenes to the market menjadi faktor penting dalam membangun kesuksesan bisnis 4.4113 0.71372 composite n mean std. deviation std. error mean entrmark2 small company 118 4.3561 0.59732 0.05499 big company 288 4.5006 0.4346 0.02561 tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat 118 (29%) perusahaan skala kecil dan 288 (71%) perusahaan skala besar yang menjadi responden, dengan mean 4.35 pada perusahaan skala kecil dan 4.5 pada perusahaan skala besar, sedangkan standar deviasi keduanya dengan nilai 0.59 dan 0.43 yang menandakan bahwa kecenderungan jawaban responden adalah homogen. tabel 3 uji beda t test independent samples test levene's test for equality of variances f sig. t df sig. (2tailed) mean difference std. error difference 95% confidence interval of the difference lower upper entrmark2 equal variances assumed 42.891 0 -2.713 404 0.007 -0.14452 0.05327 0.24924 0.03981 equal variances not assumed -2.383 169.999 0.018 -0.14452 0.06066 0.26426 0.02478 tabel 3 menunjukkan analisis uji beda em untuk perusahaan skala kecil dan besar dengan business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 100 menggunakan levene test dalam uji t independen. nilai sig (2 tailed) atau p value. pada pengujian di atas nilai p value sebesar 0,007 di mana <0,05. karena <0,05 maka terdapat perbedaan bermakna secara statistik atau signifikan pada probabilitas 0,05. besarnya perbedaan rerata atau mean kedua kelompok yaitu -0,144. karena bernilai negatif maka berarti kelompok pertama yakni perusahaan skala kecil memiliki mean lebih rendah dari pada kelompok perusahaan skala besar, atau perusahaan skala kecil memiliki perilaku entrepreneurial marketing lebih rendah di bandingkan perusahaan skala besar. sedangkan pada tabel 4, 5, dan tabel 6 uji multiple regresi dilakukan untuk menganalisis apakah keenam dimensi tersebut berpengaruh signifikan pada perilaku entrepreneurial marketing perusahaan skala kecil dan skala besar. tabel 4 model summary untuk kelompok perusahaan skala besar r sebesar .589 sedangkan r square .347 hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen (yakni: growth orientation, opportunity orientation, total customer focus, value creation networking, informal market analysis, closeness to the market) terhadap perilaku em sebesar 83.6% untuk perusahaan skala kecil, sedangkan untuk perusahaan besar adalah sebesar 34.7%. tabel 5 anovaa model r r square adjusted r square std. error of the estimate prsh kecil .914a .836 .827 .24866 prsh besar .589a .347 .333 .35501 berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa nilai r sebesar .914 sedangkan r square sebesar .836 untuk perusahaan skala kecil, sedangkan jenis perusahaan sum of squares df mean square f sig. kecil besar regression 34.881 6 5.813 94.019 .000b residual 6.863 111 .062 total 41.744 117 1 regression residual total 18.794 35.415 54.208 6 281 287 3.132 .126 24.853 .000b berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa signifikansi sebesar 0.000 baik untuk perusahaan skala kecil maupun skala besar yang artinya ada pengaruh secara signifikan antara growth orientation, opportunity orientation, total customer focus, value creation networking, informal market analysis, closeness to the market secara simultan terhadap perilaku em perusahaan skala kecil maupun besar. jenis perusahaan unstandardized coefficients std. error standardized coefficients t sig. b beta kecil besar kecil besar kecil besar kecil besar kecil besar (constant) 0.468 0.201 0.2 0.231 2.335 8.693 0.021 0 growth orient 1 0.245 0.282 0.043 0.058 0.266 0.339 5.646 4.854 0 0 opportunity orient 2 0.301 -0.179 0.062 0.05 0.306 -0.245 4.899 -3.547 0 0 total cust focus 3 0.226 0.068 0.062 0.043 0.238 0.092 3.664 1.597 0 0.111 value creation network 4 0.156 0.215 0.06 0.041 0.187 0.31 2.615 5.21 0.01 0 informal market analysis 5 -0.187 -0.088 0.025 0.026 -0.322 -0.22 -7.547 -3.343 0 0.001 closeness to the market 6 0.164 0.265 0.058 0.057 0.165 0.341 2.805 4.682 0.006 0 tabel 6 coefficient christina whidya utami & hendro susanto, opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing 101 berdasarkan tabel 6 menganalisis ke enam dimensi tersebut berpengaruh signifikan pada perilaku entrepreneurial marketing. pada perusahaan skala kecil keenam variabel signifikan, sedangkan pada perusahaan skala besar hanya variabel total customer focus yang tidak signifikan karena nilai signifikansinya lebih besar dari 0.05. variabel opportunity orientation merupakan dimensi yang paling dominan untuk perusahaan skala kecil dengan nilai beta sebesar 0.301, sedangkan untuk perusahaan skala besar dimensi yang paling dominan adalah growth orientation dengan nilai beta sebesar 0.282. pembahasan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku entrepreneurial marketing antara perusahaan besar dan perusahaan kecil, di mana perusahaan skala kecil memiliki perilaku entrepreneurial marketing lebih rendah dibandingkan perusahaan skala besar. untuk perusahaan skala kecil menunjukkan bahwa opportunity orientation merupakan dimensi yang paling dominan, sedangkan pada perusahaan skala besar menunjukkan bahwa growth orientation merupakan dimensi yang paling dominan. pertama, perusahaan kecil memiliki sumber daya dan kemampuan yang terbatas. sumber daya yang terbatas mencegah mereka melakukan jenis kegiatan pemasaran yang sama dengan perusahaan besar. akibatnya, perusahaan kecil menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengejar peluang pasar mereka. perusahaan kecil mengejar peluang dengan mengandalkan kecepatan, fleksibilitas dan kemampuan untuk memuaskan ceruk pasar, sementara perusahaan yang lebih besar mengejar peluang yang mengandalkan sumber daya keuangan dan sumber daya manusia (dean et al., 1998). kedua, perusahaan kecil memiliki proses pengambilan keputusan pemasaran yang oportunistis, fleksibel, dan inovatif. perusahaan dapat berimprovisasi dan membuat perubahan mendadak dalam pola pengambilan keputusan saat terlibat dengan pasar mereka. akibatnya, mereka memiliki kemampuan untuk bereaksi cepat terhadap perubahan lingkungan dan kecenderungan untuk menangkap peluang baru pada tingkat yang lebih cepat daripada perusahaan besar (carson dan mccartan-quinn, 1995; chen dan hambrick, 1995). ketiga, perusahaan kecil memiliki lebih sedikit pembuat keputusan yang mendominasi daripada perusahaan besar. akibatnya, keputusan dan strategi pemasaran di perusahaan kecil dapat dipengaruhi secara langsung oleh tujuan pribadi pembuat keputusan (brush and chaganti, 1998). perusahaan yang tumbuh sering dikelola oleh individu kewirausahaan yang bekerja untuk memaksimalkan kinerja keuangan mereka, atau untuk memperluas usaha mereka lebih jauh, daripada hanya bekerja menuju arus kas positif untuk bertahan dalam bisnis (runyan et al., 2008). akhirnya, perusahaan kecil memiliki struktur organisasi yang lebih datar daripada perusahaan besar dan itu membuat mereka lebih dekat dengan pelanggan daripada perusahaan besar. personel perusahaan di semua tingkat di perusahaan-perusahaan kecil memiliki potensi untuk terlibat dalam interaksi tingkat individu dan tatap muka dengan pelanggan (carson et al., 1995). dan relatif mudah bagi perusahaan kecil untuk mengakses informasi pasar melalui halhal langsung (hisrich, 1992). akibatnya, perusahaan kecil lebih cenderung berinvestasi dalam menciptakan hubungan pribadi dengan pelanggan utama mereka dan untuk menciptakan kontak pelanggan yang kuat daripada perusahaan besar business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 102 (meziou, 1991). hal ini mendukung argumen bahwa banyak perusahaan kecil tetap kecil dari skala ukuran karena mereka tidak ingin tumbuh, sementara perusahaan besar tumbuh lebih besar karena memang perusahaan tersebut ingin tumbuh, yang pada gilirannya mendukung argumen bahwa perusahaan em tumbuh melalui kewirausahaan (bjerke dan hultman, 2002). dengan demikian perusahaan skala kecil memiliki perilaku entrepreneurial marketing lebih rendah di bandingkan perusahaan skala besar. kesimpulan penelitian ini menyelidiki bahwa terdapat perbedaan perilaku entrepreneurial marketing antara perusahaan besar dan perusahaan kecil, di mana perusahaan skala kecil memiliki perilaku entrepreneurial marketing lebih rendah di bandingkan perusahaan skala besar. untuk perusahaan skala kecil menunjukkan bahwa opportunity orientation merupakan dimensi yang paling dominan, sedangkan pada perusahaan skala besar menunjukkan bahwa growth orientation merupakan dimensi yang paling dominan. temuan bahwa karakteristik perusahaan skala kecil dan besar merupakan penentu yang tepat untuk praktik em perusahaan memberikan kontribusi teoretis penting untuk literatur yang ada. penelitian ini menyarankan bahwa perilaku em tidak dapat dikonseptualisasikan sematamata sehubungan dengan kegiatan perusahaan kecil maupun perusahaan besar namun para peneliti dapat menggunakan langkah-langkah lain yang lebih baik mewakili tingkat kewirausahaan perusahaan, misalnya entrepreneurial organization. studi ini menawarkan beberapa implikasi untuk penelitian masa depan. hasil dari analisis menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih kecil, terlibat lebih sedikit dalam kedekatan dengan dimensi pasar em daripada perusahaan yang lebih besar. hasilnya mungkin mencerminkan bahwa perusahaan yang lebih kecil tidak memiliki pasar yang terdefinisi dengan baik atau basis pelanggan yang mapan, sehingga mereka kurang mengandalkan permintaan pasar/informasi pasar daripada perusahaan yang lebih besar ketika memperkenalkan produk baru mereka. temuantemuan ini menyiratkan bahwa penelitian di masa depan mungkin perlu menyelidiki sejauh mana em dapat membantu mengurangi dampak tanggung jawab atas kebaruan dalam perusahaan dan untuk mengidentifikasi praktik em terbaik yang harus diadopsi oleh perusahaan agar mereka bertahan dalam jangka panjang. acknowledgment: penelitian ini adalah output pt-upt didanai oleh kementerian riset teknologi pendidikan tinggi (kemenristek dikti) tahun 2019. daftar rujukan bjerke, b. and hultman, c.m. 2002. entrepreneurial marketing: the growth of small firms in the new economic era. cheltenham: edward elgar. bonaccorsi, a. 1992, “on the relationship between firm size and export intensity”. journal of international business studies, vol. 23, no. 4, pp. 605–635. brush, c.g. and chaganti, r. 1998. “businesses without glamour? an analysis of resources on performance by size and age in small service and retail firms”, journal of business venturing, vol. 14, no. 3, pp. 233–257. carson, d., cromie, s., mcgowan, p., and hill, j. 1995. marketing and entrepreneurship christina whidya utami & hendro susanto, opportunity dan growth orientation sebagai variabel dominan perilaku entrepreneurial marketing 103 in smes: an innovative approach. london: prentice-hall. carson, d. and grant, k. 1998. “sme marketing competencies: a definition and some empirical evidence”, in hills, g.e. and miles, m. (eds), research at the marketing/entrepreneurship interface, il, pp. 173–186. chicago: university of illinois at chicago. carson, d. and mccartan-quinn, d. 1995. “non-practice of theoretically based marketing in small business: issues arising and their implications”. journal of marketing theory and practice, vol. 3 no. 4, pp. 24–32. chen, m.j. and hambrick, d.c. 1995. “speed, stealth, and selective attack: how small firms differ from large firms in competitive behavior.” academy of management journal, vol. 38, no. 2, pp. 453– 482. coviello, n., brodie, r., and munro, h. 2000. “an investigation of marketing practice by firm size”, journal of business venturing, vol. 15 nov. 5/6, pp. 523–545. dean, t.j., brown, r.l., and bamford, c.e. 1998. “differences in large and small firm responses to environmental context: strategic implications from a comparative analysis of business formations”. strategic management journal, vol. 19, no. 8, pp. 709–728. hills, g. and hultman, c. 1999. “marketing behavior in growing firms: a challenge to traditional marketing knowledge”, in hills, g.e., siu, w. and malewicki, d. (eds). research at the marketing/entrepreneurship interface, il, pp. 14–29. chicago: university of illinois at chicago. hills, g.e. & hultman, c.m. 2011. academic roots: the past and present of entrepreneurial marketing. journal of small business and entrepreneurship. hills g.e. & c. hultman. 2013. entrepreneurial marketing: conceptual and empirical research opportunities. entrepreneurship research journal, vol. 3, issue 4, pg 437– 448 issn (online) 2157-5665. hills, g. and singh, r. 1998. “opportunity recognition: a survey of high performing and representative entrepreneurs”, in hills, g.e. and miles, m. (eds). research at the marketing/entrepreneurship interface, il, pp. 249–268. chicago: university of illinois at chicago. hisrich, r. 1992. “the need for marketing in entrepreneurship”. journal of business & industrial marketing, vol. 7, no. 3, pp. 53–57. meziou, f. 1991. “areas of strength and weakness in the adoption of the marketing concept by small manufacturing firms”. journal of small business management, vol. 29, no. 4, pp. 72–78. miles, m.p. and darroch, j. 2006. “large firms, entrepreneurial marketing processes, and the cycle of competitive advantage”. european journal of marketing, vol. 40, nov. 5/6, pp. 485–501. morris, m., schindehutte, m., and laforge, r. 2002. “entrepreneurial marketing: a construct for integrating emerging entrepreneurship and marketing perspectives”. journal of marketing theory and practice, vol. 10, no. 4, pp. 1–19. runyan, r., droge, c., and swinney, j. 2008. “entrepreneurial orientation versus small business orientation: what are their relationships to firm performance?” journal of small business management, vol. 46, no. 4, pp. 567–588. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 104 sriram, v. and sapienza, h. 1991. “an empirical investigation of the role of marketing for small exporters”. journal of small business management, vol. 29, no. 4, pp. 33–43. stasch, s. 1999. “guerilla marketing in new venture marketing strategies”, in hills, g.e., siu, w. and malewicki, d. (eds). research at the marketing/entrepreneurship interface, il, pp. 57–67. chicago: university of illinois at chicago. thomas, l.c., painbéni, s., and barton, h. 2013. “entrepreneurial marketing within the french wine industry”. international journal of entrepreneurial behavior & research, vol. 19, no. 2, pp. 238–260. weinstein, a. 1994. “market definition in technology-based industry: a comparative study of small versus non-small companies”. journal of small business management, vol. 32, no. 1, pp. 28–36. 01 arieszetni.pmd rm. kumara anindhita widyaswendra, pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) 6565 pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) rm. kumara anindhita widyaswendra universitas airlangga e-mail: widyas.wendra@pelindo.co.id abstract: this study aims to examine the effect of organizational culture on employee engagement with job satisfaction as an intervening variable on the employees of pt pelindo iii (persero). the data analysis technique used in this study uses partial least square. the sample used was 210 respondents of pt pelindo iii (persero) employees located in surabaya. the results showed that organizational culture influences employee engagement, job satisfaction influences employee engagement, and organizational culture influences employee engagement with job satisfaction as an intervening variable. the results obtained indicate that there is no direct and insignificant influence between organizational culture and employee engagement, so it seems clear that job satisfaction fully mediates the effect of organizational culture on employee engagement. from the results of research at pt pelindo iii shows organizational culture, employee engagement and job satisfaction are appropriate, but there are several factors that are continuously being improved, including maintaining the opportunity for self-development opportunities in jobs that occupy the highest category of other factors, given the majority of pt pelindo iii employees is a millennial generation so programs must be found to suit their interests. keywords: organizational culture, job satisfaction, employee engagement pendahuluan konsep engagement telah menjadi determinan penting bagi kesuksesan organisasi terkait kualitas, efisiensi, dan produktivitas (macey dan scheneider, 2008). ketatnya persaingan bisnis saat ini menyebabkan perusahaan yang pada awalnya hanya melakukan recruitment, mengembangkan karyawan, dan mempertahankan karyawan yang berpotensi, kini juga harus mampu membuat karyawannya memiliki engagement terhadap pekerjaan dan perusahaan mereka sehingga produktivitas karyawan juga akan meningkat (sunyoto, 2015). pengukuran employee engagement telah dilakukan di berbagai perusahaan di seluruh dunia pada beberapa tahun terakhir. hewitt (2016) menyatakan bahwa saat ini di seluruh dunia perusahaan-perusahaan yang menggunakan pengukuran mengenai employee engagement terus mengalami peningkatan meskipun berada di tengah-tengah ketatnya kondisi pasar tenaga kerja di united states, ketidakpastian kondisi ekonomi di negara-negara eropa, dan tantangan-tantangan bisnis yang dihadapi negara-negara lain. banyak penelitian yang berusaha menggunakan konsep engagement secara mendalam. para akademisi berusaha menemukan faktor-faktor yang terkait engagement dengan harapan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengelola karyawannya sesuai dengan tujuan perusahaan. salah satu faktor yang memengaruhi adalah faktor organizational culture (leung dan wijaya, 2016). organizational culture merupakan sebuah sistem yang ada di perusahaan yang dianut oleh business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 66 anggotanya. budaya perusahaan adalah suatu sistem nilai-nilai yang dirasakan oleh seluruh orang yang ada dalam organisasi (robbins dan judge, 2008). selain dipahami seluruh jajaran meyakini sistem-sistem nilai tersebut sebagai landasan gerak organisasi. organizational culture mewakili sebuah persepsi yang sama dari para anggota organisasi. oleh karena itu, diharapkan bahwa individu-individu yang memiliki latar belakang berbeda atau berada pada tingkatan yang tidak sama dalam organisasi dapat memahami organizational culture dengan pengertian yang serupa. pada pt pelindo iii (persero), untuk mewujudkan visi, misi, serta tujuan yang telah ditetapkan, manajemen perusahaan menyadari perlunya dukungan organizational culture yang selaras dengan karakteristik bisnis, lingkungan bisnis, dan strategi perusahaan yang telah terumuskan. budaya yang dimaksud perlu dimiliki oleh seluruh karyawan perusahaan serta terinternalisasi dengan baik di setiap proses bisnis perusahaan. nilai inti perusahaan adalah customer focus, care dan integrity. faktor lain yang menjadi anteseden dari employee engagement yaitu job satisfaction yang dapat dijabarkan sebagai suatu perasaan yang menyenangkan atau positif yang merupakan hasil dari penilaian atas pekerjaan atau pengalaman seseorang (luthans, 2005). dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa kepuasan diperoleh setelah karyawan menjalankan sebuah proses kerja. ketika karyawan menjalankan tugasnya sebagai karyawan, sang karyawan akan mengalami proses kerja yang akan membuatnya puas apabila pekerjaan tersebut memenuhi syaratsyarat atau harapan yang dipersepsikan sang karyawan di awal sebelum pekerjaannya dimulai. pelindo iii berupaya menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan untuk peningkatan kepuasan stakeholder, memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pelanggan, serta menciptakan solusi bisnis yang cerdas melalui integrasi dan kerjasama dengan mitra strategis. untuk mencapai visi dan misi tersebut pelindo iii menyusun strategi-strategi yang dituangkan dalam rencana jangka panjang perusahaan (rjpp), serta fokus pada perubahan untuk keberlanjutan. agar visi dan misi tersebut tercapai tidak hanya dibutuhkan strategi yang jelas saja, namun tidak kalah pentingnya juga harus didukung oleh sdm yang memiliki employee engagement yang tinggi dengan perusahaan, karena karyawan yang terikat dengan perusahaan akan merasa sangat terlibat dengan keberlangsungan dan kesuksesan perusahaan, employee engagement sangat dipengaruhi oleh organizational culture yang kuat mengakar dari atas sampai dengan bawah lini organisasi (wibowo dan putra, 2016). untuk itu, pelindo iii memiliki nilai-nilai perusahaan yang menjadi acuan dan norma dalam berperilaku dan bertindak sehingga menjadi organizational culture yang kuat, yaitu: customer focus, care, dan integrity. pengelolaan sumber daya manusia di pt pelindo iii (persero) perlu dilakukan secara baik dan terencana, di antaranya dengan melakukan evaluasi job satisfaction dan employee engagement agar kinerja dan pelayanan perusahaan kepada para pelanggannya terus meningkat, dan pada gilirannya meningkat pula keuntungan perusahaan dan kesejahteraan karyawannya. apabila job satisfaction telah mencapai level tertinggi maka akan timbul sikap employee engagement terhadap perusahaan. oleh karena itulah organisasi perlu untuk memperhatikan tingkat employee engagement karyawannya. kepedulian terhadap tingkat employee engagement yang ada di dalam lingkungan kerja merupakan hal yang sangat penting (seijts dan crim, 2006) karena employee engagement terbukti memiliki kontribusi terhadap kesuksesan sebuah organirm. kumara anindhita widyaswendra, pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) 67 sasi dalam menjalankan bisnis dan employee engagement dipengaruhi organizational culture. tabel 1.1 survei kepuasan pegawai tahun 2018 ekspektasi (ivancevich, dkk., 2006). sedangkan organizational culture juga mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggotaanggotanya dan yang membedakan antara satu organisasi dengan lainnya (robbins, 2008). wallach (1983) menjelaskan istilah budaya korporasi (corporate culture) sebagai bentuk pemahaman bersama perilaku anggota – bagaimana cara mereka bekerja dalam melakukan sesuatu. kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, norma, dan loso atau cara hidup (way of life) yang dianut individu akan menentukan bagaimana segala sesuatunya berjalan. mereka membatasi bagaimana cara seseorang bekerja, standar tingkah laku, cara berbicara, bagaimana mempresentasikan diri, dan keharusan-keharusan apa yang perlu dipatuhi oleh seseorang. employee engagement strom, sears dan kelly (2014) mengutip bates (2004) bahwa perusahaan yang paling produktif dan fungsional terdiri dari karyawan yang sangat berharga yang secara fisik, kognitif, dan emosional terlibat dalam pekerjaan mereka. untuk mendorong keterlibatan karyawan, organisasi harus fokus pada menumbuhkan lingkungan kerja yang mendukung karyawan, membuat mereka termotivasi dan positif, tidak hanya tentang pekerjaan mereka saja tetapi juga tentang organisasi secara keseluruhan. dengan menawarkan kepemimpinan berkualitas tinggi dalam lingkungan kerja yang bijaksana dan teratur, organisasi dapat meningkatkan tingkat employee engagement yang diinginkan. menurut kahn (1990) employee engagement adalah keterikatan karyawan terhadap organisasi dalam peran pekerjaan mereka dan karyawan menunjukkan keterikatan individu tersebut dengan mengekspresikan diri mereka secara fisik, mental, dan emosional selama bekerja. sumber: laporan survei kepuasan dan engagement pegawai tahun 2018 dari data di atas, secara korporat hasil survei kepuasan pegawai tahun 2018 memperoleh skor 4.44 dengan interpretasi sangat puas. dengan demikian secara umum, pegawai pelindo 3 dapat dikatakan sangat puas dengan pekerjaan, atasan, rekan kerja, lingkungan kerja, keselamatan kerja, dan benefit yang diberikan perusahaan. apabila dilihat berdasarkan unit kerja, regional jawa timur memperoleh skor job satisfaction tertinggi. berdasarkan hasil tersebut, terlihat bahwa kecenderungan engagement karyawan mengalami penurunan. oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero). tinjauan pustaka organization culture organizational culture adalah apa yang dipersepsikan karyawan dan cara persepsi itu menciptakan suatu pola keyakinan, nilai, dan business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 68 aspek mental dari keterikatan berarti apa yang menjadi keyakinan karyawan terhadap organisasi dan aspek emosional berarti apa yang dirasakan karyawan dan sikap positif atau negatif karyawan tersebut terhadap organisasi dan para pemimpinnya. sedangkan aspek fisik dari employee engagement berarti energi fisik yang digunakan oleh karyawan untuk memenuhi peran mereka. menurut schaufeli, bakker, dan salanova dalam abd-allah (2016) menyimpulkan bahwa work engagement adalah kondisi pikiran yang positif, memuaskan, dan berhubungan dengan pekerjaan yang dicirikan oleh kekuatan atau semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan absorbsi (absorption). job satisfaction job satisfaction didefinisikan sebagai suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristikkarakteristiknya (robbins, 2008). seseorang dengan tingkat job satisfaction yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang pekerjaan tersebut. orang yang merasa puas menganggap kepuasan sebagai suatu rasa senang dan sejahtera karena dapat mencapai suatu tujuan atau sasaran. setiap pimpinan perusahaan perlu mengetahui informasi mengenai kepuasan karyawannya dalam bekerja secara akurat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam perusahaan. menurut malthis (2006) job satisfaction adalah keadaan emosi yang positif dari mengevaluasi pengalaman kerja seseorang. ketidakpuasan kerja muncul saat harapan-harapan ini tidak terpenuhi. job satisfaction mempunyai banyak dimensi, secara umum adalah kepuasan dalam pekerjaan itu sendiri, gaji, pengakuan, hubungan antara supervisor dengan tenaga kerja, dan kesempatan untuk maju. setiap dimensi menghasilkan perasaan puas secara keseluruhan dengan pekerjaan itu sendiri. secara umum diketahui bahwa job satisfaction merupakan faktor yang berkontribusi terhadap fisik dan mental kesejahteraan karyawan. karena itu, ia memiliki pengaruh yang signifikan pada pekerjaan yang berhubungan dengan perilaku seperti produktivitas, absensi, tingkat turnover, dan hubungan karyawan. pengaruh organizational culture terhadap employee engagement organizational culture yang kuat menunjukkan bahwa karyawan memegang keyakinan dan nilai-nilai etika yang sama. ketika keyakinan dan nilai-nilai etika selaras dengan tujuan organisasi, mereka bisa efektif dalam membangun tim karena adanya hubungan dan kepercayaan membantu mereka menghindari konflik dan fokus pada penyelesaian tugas. karyawan yang memaknai serta berkontribusi terhadap pekerjaannya dan mengerjakan pekerjaan dengan mencurahkan segenap energi fisik, kognitif, dan emosinya disebut sebagai karyawan yang engaged (kahn, 1990 dalam kulaar et al., 2008). perilaku engagement yang paling terlihat jelas adalah usaha dari orang tersebut. orang yang engaged terlihat bekerja keras, berusaha, dan terlibat penuh pada pekerjaan. mereka fokus pada apa yang mereka kerjakan dengan mengerahkan segenap energinya (schaufeli dan baker, 2004 dalam albrecht, 2010). membangun organizational culture yang khas merupakan salah satu strategi menciptakan employee engagement yang perlu untuk diperhatikan oleh para manajer, perusahaan harus rm. kumara anindhita widyaswendra, pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) 69 mempromosikan organizational culture yang kuat di mana tujuan dan nilai-nilai manajer sejajar di semua bagian pekerjaan. perusahaan yang membangun budaya saling menghormati dengan menjaga kisah sukses hidup tidak hanya akan menjaga karyawan mereka yang engaged, tetapi juga mereka karyawan yang baru masuk dapat menularkan budaya semangat kerja (markos dan sridevi, 2010). menurut mcbain (2007) salah satu faktor yang mendukung terbentuknya employee engagement adalah organizational culture. lockwood (2007) juga menyatakan bahwa organizational culture adalah salah satu faktor yang memengaruhi employee engagement. kondisi organizational culture yang mendukung dalam pekerjaan dan perkembangan karyawan, serta kondisi kerja yang ramah dan saling membantu juga dapat membantu dalam membentuk sifat engaged terhadap pekerjaannya. kompensasi dan keuntungan yang cukup dan sepadan juga dapat membuat karyawannya merasa engaged terhadap pekerjaannya. hal-hal lain menyangkut organizational culture yang dapat membantu dalam pembentukan employee engagement adalah misi dan visi organisasi yang jelas, perlakuan dari anggota organisasi lainnya, kebijakan pekerjaan dan keseimbangan kerja dapat memengaruhi dalam pembentukan employee engagement. berdasarkan hasil penelitian terdahulu (giovanni & hendrika, 2013; sopyan, 2016; dan leung & wijaya, 2016) menunjukkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan organizational culture terhadap employee engagement. pengaruh organizational culture terhadap job satisfaction menurut kotter dan hesket (sutanto, 2002: 129) mengungkapkan bahwa organizational culture yang kuat akan memicu karyawan untuk berpikir, berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai organisasi. kesesuaian antara organizational culture dengan anggota organisasi yang mendukungnya akan menimbulkan job satisfaction, sehingga mendorong karyawan untuk meningkatkan kinerja menjadi lebih baik, yaitu bertahan pada satu perusahaan dan berkarier dalam jangka panjang. oleh karena itu, organizational culture yang kuat diperlukan oleh setiap organisasi agar kepuasan karyawan meningkat. hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh safwat, ahmad (2015) yang menunjukkan bahwa organizational culture memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap job satisfaction. penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan ahamed dan mahmood (2015) yang menyimpulkan bahwa organizational culture benar-benar memiliki pengaruh yang kuat dan signifikan terhadap job satisfaction. pengaruh job satisfaction terhadap employee engagement safwat, ahmad (2015) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada hubungan positif antara variable job satisfaction dengan employee engagement, yang dapat diartikan bahwa employee engagement dapat ditingkatkan dengan meningkatkan job satisfaction karyawan. pininta dan indriati (2015) dalam penelitiannya juga menyimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara job satisfaction terhadap employee engagement, yang artinya bahwa semakin tinggi job satisfaction semakin tinggi employee engagement. job satisfaction memediasi hubungan organizational culture dengan employee engagement business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 70 dalam penelitian yang dilakukan humairoh dan wardoyo (2017) menunjukkan terdapat pengaruh antara organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variabel intervening. dengan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa job satisfaction menjadi variabel antara organizational culture terhadap employee engagement atau adanya organizational culture dalam bekerja akan menumbuhkan rasa puas dalam bekerja dan rasa puas yang dirasakan ini akan berpengaruh terhadap terciptanya keterikatan yang baik dari para karyawan. perumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di dalam penelitian, maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. apakah organizational culture berpengaruh terhadap employee engagement karyawan pt pelindo iii (persero)? 2. apakah organizational culture berpengaruh terhadap job satisfaction karyawan pt pelindo iii (persero)? 3. apakah job satisfaction berpengaruh terhadap employee engagement karyawan pt pelindo iii (persero)? 4. apakah job satisfaction memediasi hubungan organizational culture dengan employee engagement pt pelindo iii (persero)? metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif. pendekatan ini digunakan untuk pengujian hipotesis, di mana untuk menguji hipotesis tersebut digunakan variabel dengan data terukur serta akan menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasikan. metode pengumpulan data menggunakan metode survei dengan cara pembagian kuesioner pada karyawan pt pelindo iii yang bekerja di kantor pusat surabaya. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan pt pelindo iii (persero) yang bekerja di kantor pusat kota surabaya sebanyak 488 orang. pengambilan sampel adalah suatu proses yang dilakukan untuk memilih dan mengambil sampel secara benar dari suatu populasi, sehingga dapat digunakan sebagai wakil yang dapat mewakili populasi tersebut (hair et al, 2014). sedangkan teknik penelitian ini menggunakan partial least square (pls). tabel sampel kantor pusat pt pelindo iii (persero) direktorat kantor pusat populasi purposive sampling sampel direktorat sdm struktural 40 (40/488)x210 17 staf/pelaksana 114 (114/488)x210 49 direktorat operasi dan komersial struktural 17 (17/488)x210 7 staf/pelaksana 68 (68/488)x210 29 direktorat transformasi & pengembangan bisnis struktural 13 (13/488)x210 6 staf/pelaksana 40 (40/488)x210 17 direktorat teknik struktural 31 (31/488)x210 13 staf/pelaksana 48 (48/488)x210 21 direktorat keuangan struktural 15 (15/488)x210 7 staf/pelaksana 53 (53/488)x210 23 sekretaris perusahaan struktural 5 (5/488)x210 2 staf/pelaksana 19 (19/488)x210 8 satuan pengawasan intern struktural 5 (5/488)x210 2 fungsional 20 (20/488)x210 9 total 488 210 sumber: laporan tahunan direktorat sdm 2019, diolah analisis dan pembahasan hasil penelitian uji validitas dan reliabilitas indikator dikatakan valid dan reliabel secara konstruk apabila mempunyai nilai faktor loading lebih besar atau sama dengan 0,5. berdasarkan uji measurement model tersebut maka nilai outer loading dari masing-masing variabel dimana semua indikator sudah memenuhi syarat outer loading yaitu lebih besar dari 0,5, sehingga semua indikator dinyatakan layak untuk uji validitas dan reliabilitas. rm. kumara anindhita widyaswendra, pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) 71 analisis hasil pls outer model (discriminant validity) untuk tahap validitas diskriminan, pengukurannya dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruknya atau dengan membandingkan akar ave untuk setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk satu dengan konstruk lainnya dalam model. suatu model dikatakan memiliki validitas diskriminan yang cukup apabila akar ave untuk setiap konstruk lebih besar daripada korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. tabel di bawah akan menunjukkan nilai ave dan akar ave. tabel nilai ave dan akar ave itu sendiri. dalam hal ini, item-item indikator dari masing-masing variabel bersifat reflektif sehingga apabila ada yang tidak valid maka item tersebut akan dieliminasi. indikator dari masingmasing variabel dikatakan valid apabila nilai dari t-statistiknya adalah ! 1.96. tabel outer loadings (mean, stdev, t-values) sumber: data diolah, lampiran 1 selain melalui perbandingan nilai akar ave dengan korelasi variabel laten, uji validitas diskriminan juga dapat dilakukan dengan melihat nilai cross loading. kriteria dalam cross loading adalah bahwa setiap indikator yang mengukur konstruknya haruslah berkorelasi lebih tinggi dengan konstruknya dibandingkan dengan konstruk lainnya. pada proses olah data seluruh variabel, organizational culture, employee engagement, dan job satisfaction semuanya memenuhi syarat di mana setiap indikator yang mengukur konstruknya telah berkorelasi lebih tinggi dengan konstruknya dibandingkan korelasi dengan konstruk lainnya. convergent validity pengujian convergent validity dari indikatorindikatornya bergantung dari jenis dari indikator ave akar ave organizational culture 0.7438 0.8624 employee engagement 0.7351 0.8574 job satisfaction 0.7432 0.8621 original sample (o) t statistics (|o/sterr|) a1 0.7 untuk nilai composite reliability. hasil untuk uji reliabilitas penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut. tabel nilai composite realibility pengaruh organizational culture terhadap employee engagement organizational culture yang kuat menunjukkan bahwa karyawan memegang keyakinan dan nilai-nilai etika yang sama. ketika keyakinan dan nilai-nilai etika selaras dengan tujuan organisasi, mereka bisa efektif dalam membangun tim karena adanya hubungan dan kepercayaan membantu mereka menghindari konflik dan fokus pada penyelesaian tugas. karyawan yang memaknai serta berkontribusi terhadap pekerjaannya dan mengerjakan pekerjaan dengan mencurahkan segenap energi fisik, kognitif, dan emosinya disebut sebagai karyawan yang engaged (kahn, 1990 dalam kulaar et al., 2008). membangun organizational culture yang khas merupakan salah satu strategi menciptakan employee engagement yang perlu untuk diperhatikan oleh para manajer, perusahaan harus mempromosikan organizational culture yang kuat di mana tujuan dan nilai-nilai manajer sejajar di semua bagian pekerjaan. perusahaan yang membangun budaya saling menghormati dengan menjaga kisah sukses hidup tidak hanya akan menjaga karyawan mereka yang engaged, tetapi juga mereka karyawan yang baru masuk dapat menularkan budaya semangat untuk bekerja. pelindo iii sudah menerapkan organizational culture yang terdiri dari customer focus, care, dan integrity. pada pelaksanaan di perusahaan para karyawan menunjukkan bisa bekerja dengan tim demi kepentingan pelanggan, di mana karyawan saling membantu ketika karyawan lain merasa kesulitan. hal ini bisa dilihat dari jawaban responden memiliki nilai rata-rata tertinggi pada dimensi customer focus. selain itu ada kesempatan belajar yang diberikan oleh pelindo bagi karyawan untuk pengembangan kompetensi bagi karyawannya. pelindo juga memberikan beasiswa kepada karyawannya buat melanjutkan studi lebih lanjut. composite reliability organizational culture 0.9812 employee engagement 0.9778 job satisfaction 0.9664 sumber: hasil pengolahan dengan smartpls pengujian model struktural (inner model) pengujian selanjutnya dapat dilakukan dengan melihat nilai koefisien path atau inner model yang menunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis. dalam hal melihat signifikansi hubungan antar konstruk maka yang digunakan adalah analisis t-test dari koefisien jalur (path coefficient). hubungan jalur antarvariabel tersebut dianggap signifikan jika memiliki t-statistics lebih dari 1,96. tabel nilai path coeffisient (mean, standard deviation, t-values) original sample (o) t statistics (|o/sterr|) organizational culture -> employee engagement 0.2060 1.9445 organizational culture -> job satisfaction 0.8056 20.7593 job satisfaction -> employee engagement 0.6818 5.8720 sumber: hasil pengolahan dengan smartpls rm. kumara anindhita widyaswendra, pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) 73 dari dua alasan ini bisa membuat karyawan akan lebih engage pada perusahaan. pengaruh organizational culture terhadap job satisfaction menurut kotter dan hesket (sutanto, 2002: 129) mengungkapkan bahwa organizational culture yang kuat akan memicu karyawan untuk berpikir, berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai organisasi. kesesuaian antara organizational culture dengan anggota organisasi yang mendukungnya akan menimbulkan job satisfaction, sehingga mendorong karyawan untuk meningkatkan kinerja menjadi lebih baik, yaitu bertahan pada satu perusahaan dan berkarier dalam jangka panjang. oleh karena itu, organizational culture yang kuat diperlukan oleh setiap organisasi agar kepuasan karyawan meningkat. hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh safwat, ahmad (2015) yang menunjukkan bahwa organizational culture memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap job satisfaction. penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan ahamed dan mahmood (2015) yang menyimpulkan bahwa organizational culture benar-benar memiliki pengaruh yang kuat dan signifikan terhadap job satisfaction. pengaruh job satisfaction terhadap employee engagement seseorang dengan tingkat job satisfaction yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang pekerjaan tersebut. orang yang merasa puas menganggap kepuasan sebagai suatu rasa senang dan sejahtera karena dapat mencapai suatu tujuan atau sasaran. setiap pimpinan perusahaan perlu mengetahui informasi mengenai kepuasan karyawannya dalam bekerja secara akurat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam perusahaan. untuk mendorong keterlibatan karyawan, organisasi harus fokus pada menumbuhkan lingkungan kerja yang mendukung karyawan, membuat mereka termotivasi dan positif, tidak hanya tentang pekerjaan mereka saja tetapi juga tentang organisasi secara keseluruhan. dengan menawarkan kepemimpinan berkualitas tinggi dalam lingkungan kerja yang bijaksana dan teratur, organisasi dapat meningkatkan tingkat employee engagement yang diinginkan. safwat, ahmad (2015) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada hubungan positif antara variable job satisfaction dengan employee engagement, yang dapat diartikan bahwa employee engagement dapat ditingkatkan dengan meningkatkan job satisfaction karyawan. pininta dan indriati (2015) dalam penelitiannya juga menyimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara job satisfaction terhadap employee engagement, yang artinya bahwa semakin tinggi job satisfaction semakin tinggi employee engagement job satisfaction memediasi hubungan organizational culture dengan employee engagement pt pelindo iii (persero) pada penelitian ini selain menguji pengaruh langsung juga menguji pengaruh tidak langsung. pada hipotesis ketiga yang mengemukakan bahwa organizational culture berpengaruh terhadap employee engagement melalui job satisfaction dapat diterima. hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa job satisfaction memediasi secara penuh pengaruh organizational culture yang berpengaruh terhadap employee engagement. business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 74 beberapa faktor penting yang lebih banyak mendatangkan job satisfaction yang pertama adalah pekerjaan yang memberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan, dan umpan balik tentang seberapa baik mereka bekerja, faktor berikutnya adalah bagaimana kondisi kerja karyawan, baik dari segi kenyamanan pribadi maupun kemudahan untuk melakukan pekerjaan, hal-hal tersebut berkaitan erat dengan aturan dan standar-standar yang telah ditentukan oleh perusahaan, sedangkan aturan dan standar tersebut terbentuk dari organizational culture di dalam perusahaan itu sendiri. apabila persepsi karyawan terhadap organizational culture baik, maka karyawan akan merasa puas terhadap pekerjaannya. sebaliknya, apabila persepsi karyawan terhadap organizational culture tidak baik, maka karyawan cenderung tidak puas terhadap pekerjaannya. hal ini bisa dilihat koefisien estimate bahwa budaya organisasi memberikan kontribusi yang besar pada kepuasan karyawan. penerapan budaya pelindo sudah memberikan dampak yang signifikan bagi karyawan yang meliputi customer focus, care dan integrity bisa diterima oleh karyawan pelindo. budaya yang ada sebaiknya dipertahankan agar tingkat kepuasan karyawan tetap tinggi, ketika tingkat kepuasan yang dimiliki tinggi maka akan semakin engage pada perusahaan. selain itu para karyawan yang masih berusia produktif juga bisa menyesuaikan dengan budaya yang diterapkan perusahaan. dalam penelitian yang dilakukan humairoh dan wardoyo (2017) menunjukkan terdapat pengaruh dan signifikan antara organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variabel intervening. dengan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa job satisfaction menjadi variabel antara organizational culture terhadap employee engagement atau adanya organizational culture dalam bekerja akan menumbuhkan rasa puas dalam bekerja dan rasa puas yang dirasakan ini akan berpengaruh terhadap terciptanya keterikatan yang baik dari para karyawan. simpulan dan saran simpulan tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk menguji pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variabel antara (intervening variable). dari hasil analisis yang dilakukan, berikut kesimpulan yang telah didapatkan. a. organizational culture berpengaruh signifikan terhadap employee engagement. hal tersebut menunjukkan di mana ketika organizational culture semakin tinggi, maka employee engagement juga akan meningkat. b. organizational culture berpengaruh signifikan terhadap job satisfaction. hal tersebut menunjukkan di mana ketika organizational culture semakin tinggi, maka job satisfaction juga akan meningkat. c. job satisfaction berpengaruh signifikan terhadap employee engagement, yang artinya bahwa semakin tinggi job satisfaction semakin tinggi employee engagement. d. job satisfaction memediasi secara penuh pengaruh organizational culture yang berpengaruh terhadap employee engagement. saran dari hasil analisis yang dilakukan, berikut implikasi manajerial dan akademis dari penelitian yang dapat diterapkan pada perusahaan. a. bahwa job satisfaction menjadi variabel antara organizational culture terhadap employee engagement atau adanya organizational culture dalam bekerja akan menumbuhkan rasa rm. kumara anindhita widyaswendra, pengaruh organizational culture terhadap employee engagement dengan job satisfaction sebagai variable intervening pada karyawan pt pelindo iii (persero) 75 puas dalam bekerja dan rasa puas yang dirasakan ini akan berpengaruh terhadap terciptanya keterikatan yang baik dari para karyawan. begitu pentingnya faktor organizational culture, maka meski dari hasil penelitian di pt pelindo iii (persero) menunjukkan telah tinggi, namun faktor ini harus terus menerus ditingkatkan, khususnya pada aspek dalam bekerja perusahaan memberikan toleransi kepada karyawan yang bersikap jujur dan terbuka pada situasi apa pun di perusahaan. b. bahwa employee engagement menunjukkan telah tinggi, namun terlihat dari penilaian yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa karyawan merasa bahwa sebagian besar waktu mereka terserap untuk pekerjaan, untuk itu perlu dievaluasi work instruction, standard operating procedure dan peraturan direksi tentang kewenangan pekerjaan masing-masing karyawan serta mereviewnya secara periodik untuk kemudian dibuat analisis beban kerja yang tepat. c. job satisfaction dari masing-masing karyawan pt pelindo iii (persero) sudah tinggi dan faktor kesempatan pengembangan diri pada pekerjaan menempati kategori tertinggi dari faktor lainnya, untuk itu perusahaan hendaknya selalu konsisten untuk mempertahankan hal ini, terutama mengingat mayoritas karyawan pt pelindo iii (persero) adalah generasi millennial sehingga harus dicari programprogram yang sesuai dengan minat mereka, karena terbukti dari program pengembangan karier serta kesempatan belajar baik di dalam negeri maupun luar yang dilakukan oleh perusahaan direspons baik oleh karyawan. d. pada penelitian ini banyak sekali faktor atau variable yang memengaruhi employee engagement yang masih belum dapat dimasukkan dalam variabel penelitian dikarenakan adanya beberapa keterbatasan data. sehingga untuk langkah berikutnya peneliti memberikan saran kepada pihak akademisi untuk dapat mengusulkan penelitian dengan topik penelitian dengan variabel intervening lain yang berpengaruh langsung pada peningkatan employee engagement. daftar rujukan agarwal, p. & sajid, s.m. 2017. “a study of job satisfaction, organizational commitment and turnover intention among public and private sector employees”. journal of management research, vol. 17. no. 3. pp. 123–136. ahamed, maruf., mahmood, rezwan. (2015). “impact of organizational culture on job satisfaction: a study on banglalion communication ltd, bangladesh”. european journal of business and management, vol.7, no.10. augusty, ferdinand. 2006. “metode penelitian manajemen”. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. barney, j.b. 1991. “firm resources and sustained competitive advantage”. journal of management, vol. 17, no. 1, pp. 19–120. jewel, l.n. & siegel marc. 1998. “psikologi industri/organisasi modern”. penerjemah, a. hadyana pudjaatmaka dan maetasari. jakarta: penerbit archan. khan, et al. 2011. “impact of organization culture on the job satisfaction of the employees (banking sector of pakistan)”. european journal of economics, finance and administrative sciences, issue, 35, pp. 7–14. kreitner, robertdan kinicki, angelo. 2010. “organizational behavior ninth edition”. new york: mcgraw-hill international edition. business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 76 lintangsari, amanda ayu, aditya, munawir yusuf, & priyatama, nanda. 2015. hubungan antara employee satisfaction dan budaya organisasi dengan employee engagement pada karyawan tetap pt bpd jawa tengah cabang utama semarang. program studi psikologi fakultas kedokteran universitas sebelas maret. lockwood, r.n. 2007. leveraging employee engagement for competitive advantage. virginia: society for human resource management. mcbain, r. 2007. “the practice of engagement: research into current employee engagement practice”. strategic hr review, 6(6), 124–136. mohammed al shehri, patrick mclaughlin, ahmed al-ashaa, & rashid hamad. 2017. “the impact of organizational culture on employee engagement in saudi banks”. journal of human resources management research http://ibimapublishing.com/articles/jhrmr/2017/761672, article id 761672, pp. 23. robbins, stephen p. & timothy a. judge. 2008. perilaku organisasi, edisi 12 jilid 1 dan 2. jakarta: salemba empat. robbins, stephen p. 2007. perilaku organisasi konsep, kontroversi, aplikasi. (alih bahasa: hadyana pujaatmaka dan benyamin molan; editor. agus widyantoro) edisi 8. jakarta: prenhallindo. robbins, stephen p. 2002. prinsip-prinsip perilaku organisasi. edisi kelima. alih bahasa: halida, dewi sartika. jakarta: penerbit erlangga. sayeeduzzafar qazi, tejbir kaur p. 2017. impact of organizational culture on job satisfaction among the university faculty members – an empirical study. international journal of business and social science, vol. 8, no. 3. seijts, g., & crim, d. 2006. what engages employees the most or, the ten c’s of employee engagement. ivey business journal online, 1–5. sugiyono. 2007. metode penelitian bisnis. bandung: alfabeta. sugiyono. 2010. metode penelitian administrasi. bandung: alfabeta. sugiyono. 2011. metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: afabeta sugiyono. 2012. metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. thomas, c.h. 2007. a new measurement scale for employee engagement: scale development, pilot test and replication. academy of management. wibowo, m.a. & putra, y.s. 2016. pengaruh motivasi dan budaya organisasi terhadap kepuasan kerja serta implikasinya terhadap kinerja karyawan pada rumah sakit umum (rsu) salatiga. among makarti, vol. 9, no. 17. zikmund, w.g., babin, b.j., carr, j.c., & griffin, m. 2013. business research method”. 9th international edition. canada: cengage learning. 01 tri siwi.pmd revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 4949 pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment yang dimoderasi oleh self-efficacy (studi pada pt bogasari ism flour mills tbk. surabaya) revan jaya kusuma & praptini yulianti master of science in management airlangga university, surabaya, indonesia e-mail: revanjayakusuma93@gmail.com abstract: career success is a way for individuals to fulfill their needs for achievement and effort during work, even career success is someone’s goal in working. the sample in this study were 65 production department employees with quantitative analysis approaches. in this study using pls (partial least square) analysis with smartpls 3.0 software. research on career success benefits both individuals and organizations. at the individual level, career success can be observed from the objective (extrinsic) and subjective (intrinsic). knowledge of career success helps individuals develop the right strategies to commit to careers in their working days. at the organizational level, knowledge of the relationship between proactive personality and organizational support for career development towards career success can help companies to design effective career systems. companies that want to get competent human resources must understand the factors that affect their employees’ career success, one of these factors is self-efficacy. the self-efficacy variable in this study is positioned as a moderator that influences the relationship between career success and career commitment. the purpose of this paper is to develop conceptual models and propose hypotheses that connect proactive personality and organizational support for career development in career success through career commitment that is moderated by self-efficacy. keywords: proactive personality; organizational support for career development; career commitment; self-efficacy; career success pendahuluan salah satu tujuan seseorang bekerja adalah untuk mencapai kesuksesan karier pada perusahaannya, tidak sedikit dari mereka yang berupaya bekerja baik demi mendapatkan karier yang diinginkan karena karier sendiri merupakan keseluruhan jabatan atau posisi yang mungkin akan diduduki seseorang dalam organisasinya. seibert, crant, & kraimer (1999) mendefinisikan kesuksesan karier sebagai hasil dan pencapaian positif dari pengalaman kerja seseorang. kesuksesan karier bisa diamati dari objektif (ekstrinsik) dan subjektif (intrinsik), kesuksesan karier objektif ini bisa diukur dan diamati secara langsung, namun berbeda dengan kesuksesan karier subjektif yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang terlibat dalam kariernya sendiri. pt bogasari merupakan pabrik tepung terigu di indonesia yang memiliki kapasitas produksi sebesar 3,6 juta ton per tahun, hal tersebut menjadikan pt bogasari merupakan pabrik tepung terbesar di dunia dalam satu lokasi. pabrik tepung terigu tersebut memiliki beberapa fasilitas yang supporting prosesnya produksi di antaranya milling, storage dan jetty. informasi yang diberikan oleh pt bogasari surabaya melalui corporate profile dan pkb disebutkan bahwa pt bogasari surabaya sangat mendukung karyawannya untuk dapat mengembangkan kariernya untuk mendapatkan kepuasan karier karyawan business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 50 (subjektif karier) maupun gaji yang diharapkan (objektif karier). melalui wawancara dengan karyawan operator dari pt bogasari surabaya khususnya bagian produksi, mereka menjelaskan bahwa semua karyawan tetap perusahaan pt bogasari surabaya mempunyai kesempatan karier yang sama melalui penilaian kinerja minimal b dan penilaian yang diberikan tercantum pada ppk (penilaian prestasi kerja) tiap karyawan yang bisa dilihat di intranet perusahaan ini. karyawan harus berinisiatif dan berinovasi selepas dari rutinitas job daily mereka untuk mendapatkan ppk dengan predikat nilai b. dalam penelitian ini akan membuktikan bahwa perusahaan mendukung karyawannya untuk mencapai karier yang diinginkan. permasalahan dari penelitian yang dimaksud adalah, kesiapan karyawan dalam merencanakan karier mereka. selain itu, peneliti mencoba memasukkan beberapa variabel yang dapat memengaruhi career success, seperti variabel day & allen (2004) menyatakan bahwa orang yang berkepribadian proaktif dapat mengambil langkah aktif untuk menemukan peluang konkret di luar organisasi karena sifat proaktif pada dasarnya adalah aktif, orientasi perilaku terhadap lingkungan. (hall, 1989) menyatakan bahwa organisasional support for career development dapat meningkatkan pertumbuhan karier seseorang atau perolehan kompetensi yang relevan untuk peran karier mereka, karena pertumbuhan karier ini dapat menjadi milik tujuan karier seseorang maupun realisasi tujuan komitmen karier mereka. (hall, 1989) menyatakan bahwa komitmen karier didefinisikan sebagai sikap seseorang terhadap motivasi untuk peran karier mereka dalam bekerja. day & allen (2004) menemukan selfefficacy terkait dengan indikator keberhasilan karier dan efektivitas kinerja. karyawan yang menunjukkan self-efficacy karier yang tinggi akan meningkatkan komitmen mereka untuk mencapai keberhasilan karier yang sukses dibandingkan dengan mereka yang kurang berminat dan kurang berkomitmen. penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis apakah karyawan operator bagian produksi tersebut memiliki proactive personality sehingga mereka dapat menentukan kesuksesan kariernya. dengan adanya organizational support for career development melalui program pengembangan kompetensi sdm diharapkan karyawan operator bagian produksi ini memiliki kepribadian yang aktif untuk terus berkembang dan berkontribusi untuk kemajuan perusahaan. career success organizational support for career development career commitment proactive personality self-efficacy kerangka teoretis sumber: data diolah dari penulis gambar 1 model analisis revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 51 peluang yang melayani tujuan mereka, dan bertahan dalam mengubah hal-hal dengan cara itu memajukan minat dan karier mereka. peneliti menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kepribadian proaktif dan kesuksesan karier. h3: proactive personality akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career commitment pengaruh organizational support for career development terhadap career commitment dalam penelitian yang dilakukan oleh (colarelli & bishop, 1990) menyatakan bahwa komitmen karier adalah kepedulian praktis individu dan organisasi, dengan demikian sangat penting untuk pengembangan kemampuan karena komitmen karier membantu seorang individu untuk bertahan dalam jenis pekerjaan yang diberikan cukup lama untuk mengembangkan keterampilan khusus. peneliti menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara organizational support for career development dan komitmen karier. h4: organizational support for career development akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career commitment pengaruh career commitment terhadap career success dalam penelitian (colarelli & bishop, 1990) menyatakan bahwa komitmen karier telah menjadi sumber makna dan kesinambungan pekerjaan yang signifikan ketika organisasi menjadi lebih datar dan kurang mampu memberikan pekerjaan atau karier yang aman. peneliti menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara karier komitmen dan karier sukses. pengembangan hipotesis pengaruh proactive personality terhadap career success dalam penelitian yang telah dilakukan oleh (seibert et al., 1999) menyebutkan bahwa pendekatan teoretis pada tingkat proaktif personality seseorang terhadap hasil karier yang objektif dan subjektif berasal dari psikologi interaksional. peneliti menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kepribadian proaktif dan kesuksesan karier. h1: proactive personality akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career success pengaruh organizational support for career development (oscd) terhadap career success pada penelitian (kong, cheung, & song, 2012) menjelaskan bahwa kegiatan manajemen karier yang efektif seperti training, mentoring, penilaian kinerja, dan program pengembangan karier terhadap karyawan mereka merupakan kegiatan yang bermanfaat untuk pengembangan kompetensi karier. peneliti menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara organizational support for career development dan kesuksesan karier. h2: organizational support for career development akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career success pengaruh proactive personality terhadap career commitment dalam penelitian yang dilakukan oleh (bateman & crant, 1993) menjelaskan bahwa kepribadian proaktif adalah “disposisi pribadi terhadap perilaku proaktif ”, individu proaktif menunjukkan inisiatif, secara aktif mencari business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 52 pengaruh career commitment terhadap career success yang dimoderasi oleh self-efficacy penelitian yang membahas career commitment dan self-efficacy sebelumnya telah dilakukan oleh (ballout, 2009) menemukan bahwa self-efficacy sebagai variabel intervening memediasi hubungan antara komitmen karier dan subjective career success dan objective career success. individu dengan self-efficacy tinggi keyakinan menetapkan tujuan karier yang lebih tinggi, lebih berupaya, dan mengejar strategi karier yang mengarah pada pencapaian tujuan tersebut. peneliti menemukan self-efficacy memoderasi hubungan positif dan signifikan antara commitment career dan career success. h8: career commitment akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career success yang dimoderasi oleh self efficacy metode penelitian sesuai dengan kerangka konseptual yang sudah dibahas di bab sebelumnya, maka penelitian kali ini menggunakan suatu pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang menitikberatkan pada pengujian hasil hipotesis, penggunaan data yang sudah terukur, dan pengujian kausalitas sehingga mendapatkan kesimpulan secara umum. pendekatan kuantitatif ini menggunakan (alat analisis) statistik. populasi dan sampel penelitian populasi pada penelitian ini merupakan karyawan tetap pt bogasari surabaya dengan kriteria yaitu mempunyai masa kerja lebih dari 2 tahun dengan jabatan operator. dengan kriteria tersebut maka, jumlah populasi yang di dapatkan sebanyak 65 orang. oleh karena jumlah populasi 65 orang karyawan maka jumlah tersebut dijah5: career commitment akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career success pengaruh proactive personality terhadap career success yang dimediasi career commitment dalam penelitian (bateman & crant, 1993) menyatakan bahwa kepribadian proaktif, atau disposisi pribadi terhadap proactive mencirikan orang-orang yang berusaha mengubah lingkungan dengan cara yang memajukan karier dan tujuan mereka (seibert et al., 1999). peneliti menemukan komitmen karier memediasi hubungan positif dan signifikan antara proactive personality dan career success. h6: proaktif personality akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career success melalui career commitment. pengaruh organizational support for career development terhadap career success yang dimediasi career commitment dalam penelitian (orpen & orpen, 2005) telah menemukan hubungan positif dalam hal pengalaman dengan kegiatan manajemen karier yang terpisah, seperti mentoring, dan berkaitan dengan pengalaman organisasi karier manajemen secara keseluruhan. individu dengan komitmen karier yang kuat dan tingkat harapan karier yang lebih tinggi dapat membuat progress yang signifikan dalam karier mereka. namun dalam penelitian ini career commitment diposisikan memediasi hubungan antara oscd dengan career success. h7: organizational support for career development akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap career success melalui career commitment. revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 53 dikan sebagai responden kayawan pt bogasari surabaya. teknik untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling jenuh atau bisa di namakan teknik sensus, yang dapat diartikan bahwa semua anggota populasi dijadikan sampel. metode pengumpulan data data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh dengan menggunakan metode kuesioner yang dikirim kepada karyawan operator bagian produksi sebanyak 65 orang dalam waktu 2 minggu. kuesioner juga dilengkapi dengan pertanyaan mengenai data demografi responden. skala pengukuran pada penelitian ini menggunakan skala likert yang terbagi dalam lima kategori jawaban. masing-masing jawaban diberi skor antara satu sampai lima dengan parameter mulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju dan sangat setuju. definisi dan pengukuran variabel proactive personality dapat didefinisikan sebagai karyawan yang dapat mengenali peluang dan mereka dapat memengaruhi perubahan lingkungan di pt bogasari surabaya. proactive personality diukur dengan menggunakan lima item pertanyaan yang diperoleh dari (bateman & crant, 1993) dengan menyesuaikan objek penelitian. ada tiga aspek proactive personality yang diukur yaitu proactive disposition, prototypic proactive personality, perspektif interaksionis. masing-masing aspek tersebut terdapat item pertanyaan. organizational support for career development dapat didefinisikan dukungan yang diberikan oleh suatu organisasi untuk meningkatkan kesuksesan karier karyawan mereka seperti pelatihan, mentoring terhadap penilaian kinerja karyawan pt bogasari surabaya. organizational support for career development diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan yang diperoleh dari (sturges, guest, conway, & mackenzie davey, 2002)dengan menyesuaikan objek penelitian. ada dua aspek organizational support for career development yang diukur yaitu secara formal dan informal. career commitment dapat didefinisikan sebagai sikap karyawan bagian produksi terhadap pekerjaan yang diinginkan. career commitment diukur dengan menggunakan empat item pertanyaan yang diperoleh dari (blau, 1988) dengan menyesuaikan objek penelitian. ada dua aspek career commitment yang diukur yaitu occupational commitment dan career orientation. masing-masing aspek tersebut terdapat dua item pertanyaan. self-efficacy dapat diartikan sebagai suatu keyakinan diri karyawan terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan dan menyelesaikan suatu masalah maupun tugas dari pt bogasari surabaya. self-efficacy diukur dengan menggunakan enam item pertanyaan yang diperoleh dari (bandura, 1997) dengan menyesuaikan objek penelitian. ada tiga aspek self-efficacy yang diukur yaitu magnitude, strength, dan generality. masing-masing aspek tersebut terdapat dua item pertanyaan. career success dapat didefinisikan sebagai pencapaian positif yang dihasilkan oleh karyawan pt bogasari berdasarkan pengalaman kerjanya. career success diukur dengan menggunakan delapan item pertanyaan yang diperoleh dari (judge, higgins, thoresen, & barrick, 1999)dengan menyesuaikan objek penelitian. ada dua aspek atau dimensi career success yang diukur yaitu subjective career dan objective career. masingbusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 54 analisis pls (partial least square) dengan software smartpls 3.0. analisis dan pembahasan karakteristik responden secara umum, responden pada penelitian ini berjenis kelamin laki-laki semua, usia responden yang paling banyak adalah berumur 41– 50 tahun sebanyak 22 orang atau dengan persentase 33.8%, pendidikan terakhir responden terbanyak yaitu sma/smk sebanyak 45 orang masing aspek tersebut terdapat empat item pertanyaan. metode dan teknik analisis setelah memperoleh data yang dibutuhkan melalui kuesioner dan pengumpulan data melalui data primer, maka selanjutnya adalah melakukan analisis dengan alat uji statistik untuk menjawab hipotesis penelitian. analisis data merupakan proses pengolahan dan penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. penelitian ini menggunakan indikator proactive personality (pp) oscd career commitment (cc) selfefficacy (se) career success (cs) valid/ tidak valid x1.1 0.651 valid x1.2 0.757 valid x1.3 0.681 valid x1.4 0.504 tidak valid x1.5 0.795 valid x2.1 0.456 tidak valid x2.2 0.718 valid x2.3 0.751 valid x2.4 0.631 valid x2.5 0.715 valid z1.1 0.694 valid z1.2 0.862 valid z1.3 0.836 valid z1.4 0.565 tidak valid z2.1 0.725 valid z2.2 0.692 valid z2.3 0.065 tidak valid z2.4 0.010 tidak valid z2.5 0.727 valid z2.6 0.725 valid y1.1 0.825 valid y1.2 0.646 valid y1.3 0.461 tidak valid y1.4 0.668 valid y1.5 0.690 valid y1.6 0.694 valid y1.7 0.791 valid y1.8 0.706 valid tabel 1 hasil uji validitas masing-masing indikator (sebelum drop indikator) sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 55 validasi untuk masing-masing indikator (sebelum drop indikator). hasil uji validitas masing-masing indikator (sebelum drop indikator) terdapat enam faktor yang mempunyai nilai <0.6 dan indikator tersebut dinyatakan tidak valid yaitu pada indikator x1.4, x2.1, z1.4, z2.3, z2.4 dan y1.3. oleh karena itu, enam indikator yang tidak valid ini yaitu x1.4, x2.1, z1.4, z2.3, z2.4 dan y1.3 dihapus oleh peneliti. berikut adalah tabel 4.2 yang menunjukkan hasil uji validitas untuk masing-masing indikator setelah dilakukan drop indikator atau penghapusan indikator yang tidak valid, hasilnya sebagai berikut. atau sebesar 69.2%, masa kerja responden terbanyak adalah masa kerja 11–15 tahun sebanyak 24 orang atau dengan persentase 36.9% dari jumlah keseluruhan yaitu 65 orang. analisis hasil pls bagian model dan pengujian hipotesis terdiri dari dua bagian, yaitu evaluasi outer model dan inner model. sesuai dengan teknik pls (partial leas square), evaluasi outer model dilakukan untuk mengetahui validitas dan reabilitas instrumen pengukuran, sedangkan evaluasi inner model dilakukan untuk mengetahui suatu hubungan kausalitas antar variabel pada penelitian ini. rule of thumb yang digunakan untuk melihat nilai loading factor yang dianggap valid adalah 0,6. pada tabel 2 menunjukkan hasil uji indikator proactive personality (pp) oscd career commitment (cc) self-efficacy (se) career success (cs) valid/ tidak valid x1.1 0.687 valid x1.2 0.821 valid x1.3 0.696 valid x1.5 0.827 valid x2.2 0.706 valid x2.3 0.752 valid x2.4 0.633 valid x2.5 0.735 valid z1.1 0.734 valid z1.2 0.880 valid z1.3 0.816 valid z2.1 0.730 valid z2.2 0.713 valid z2.5 0.715 valid z2.6 0.723 valid y1.1 0.827 valid y1.2 0.635 valid y1.4 0.655 valid y1.5 0.682 valid y1.6 0.706 valid y1.7 0.814 valid y1.8 0.713 valid tabel 2 hasil uji validitas masing-masing indikator (setelah drop indikator) sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 56 indikator proactive personality (pp) oscd career commitment (cc) self-efficacy (se) career success (cs) x1.1 0.687 0.217 0.162 0.221 0.243 x1.2 0.821 0.163 0.221 0.281 0.320 x1.3 0.696 0.257 0.218 0.329 0.326 indikato r proactive personality (pp) oscd career commitment (cc) self-efficacy (se) career success (cs) x1.5 0.827 0.460 0.321 0.460 0.432 x2.2 0.379 0.706 0.292 0.427 0.397 x2.3 0.421 0.752 0.353 0.430 0.456 x2.4 0.112 0.633 0.394 0.233 0.402 x2.5 0.243 0.735 0.516 0.576 0.682 z1.1 0.563 0.578 0.734 0.528 0.627 z1.2 0.407 0.438 0.880 0.355 0.441 z1.3 0.387 0.537 0.816 0.645 0.432 z2.1 0.243 0.576 0.516 0.730 0.682 z2.2 0.366 0.337 0.556 0.713 0.506 z2.5 0.250 0.572 0.680 0.715 0.614 z2.6 0.192 0.465 0.616 0.723 0.513 y1.1 0.366 0.337 0.734 0.586 0.827 y1.2 0.250 0.572 0.580 0.440 0.635 y1.4 0.192 0.465 0.516 0.514 0.655 y1.5 0.076 0.303 0.477 0.630 0.682 y1.6 0.139 0.261 0.482 0.513 0.706 y1.7 0.520 0.663 0.378 0.615 0.814 y1.8 0.497 0.482 0.466 0.523 0.713 tabel 3 hasil cross loading hasil penelitian sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls gambar 2 model penelitian hasil bootstrapping smartpls sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 57 berdasarkan dari tabel 2 diketahui bahwa terdapat enam indikator yang tidak valid dan sudah dihapus sehingga semua loading factor mempunyai nilai >0.6 atau dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk mengukur konstruk dalam penelitian. pada tabel skor loading akan terlihat bahwa masing-masing indikator di suatu konstruk akan berbeda dengan indikator di konstruk lain dan mengumpul pada konstruk yang dimaksud. hasil dari validitas diskriminan dapat dilihat pada tabel 3. berdasarkan dari tabel 4.3 nilai pada cross loading tersebut dapat diketahui bahwa secara umum indikator yang menyusun variabel dalam penelitian ini telah memenuhi discriminant validity. gambar 2 menunjukkan model penelitian bootstrapping dengan smartpls 3.0. pada tabel 4 menunjukkan nilai ave pada masing-masing variabel, kemudian dibandingkan dengan nilai akar ave, apabila nilai ave > 0.50 maka variabel tersebut dinyatakan valid. tabel 4 hasil uji ave lebih besar dari korelasi antar konstruk dalam model. nilai kuadrat ave akan disajikan pada tabel 5. tabel 5 hasil uji fornell-lareker criterion (akar kuadrat ave) variabel ave nilai cut off valid/ tidak valid pp 0.546 >0.5 valid oscd 0.501 valid cc 0.660 valid se 0.519 valid cs 0.522 valid sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls berdasarkan nilai ave yang ditunjukkan oleh tabel 4 diketahui bahwa nilai ave untuk setiap variabel laten memiliki nilai >0.50, artinya adalah nilai ave memiliki validitas diskriminan yang cukup. setelah mengetahui nilai ave, langkah selanjutnya adalah menghitung nilai akar ave dan membandingkannya dengan korelasi antar variabel laten pada model penelitian. validitas diskriminan yang baik ditunjukkan dari akar kuadrat ave untuk tiap konstruk sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai akar kuadrat ave setiap variabel laten lebih besar bila dibandingkan korelasi dengan variabel lainnya. hal ini mengindikasikan bahwa variabel laten tersebut memiliki indikator dengan validitas diskriminan yang baik. rule of thumb yang digunakan untuk menilai rabilitas konstruk yaitu nilai composite reability harus lebih besar dari 0.7 (>0.7), sedangkan untuk nilai cronbach’s alpha adalah >0.7 (ghozali, 2012). hasilnya akan terlihat pada tabel 6. tabel 6 hasil uji composite reliability dan cronbach’s alpha cc cs oscd se pp cc 0.812 cs 0.619 0.722 oscd 0.572 0.618 0.708 se 0.623 0.714 0.614 0.720 pp 0.327 0.464 0.397 0.460 0.739 composite reliability cronbach’s alpha nilai cut off reliebel/ tidak reliebel pp 0.825 0.750 >0.7 reliebel oscd 0.800 0.719 reliebel cc 0.853 0.755 reliebel se 0.812 0.715 reliebel cs 0.883 0.859 reliebel sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls berdasarkan nilai tabel 6 menunjukkan bahwa semua nilai variabel laten melalui uji reabilitas memenuhi persyaratan rule of thumb yaitu >0.7. hasil nilai dari uji reabilitas ini mengindikasikan bahwa semua variabel adalah reliable dan dapat digunakan dalam penelitian. business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 58 analisis model struktural dalam menganalisis model struktural pada analisis smartpls menggunakan nilai r-square pada variabel dependen, dan juga nilai koefisien path atau t-values tiap path untuk uji signifikansi antarkonstruk dalam model struktural. nilai rsquare tersebut digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap dependen. hasil uji r-square akan terlihat pada tabel 7. tabel 7 hasil uji r-squares 0.917 untuk variabel career success yang berarti bahwa pengaruh terhadap career success yang dapat dijelaskan oleh proactive personality dan oscd adalah sebesar 92 persen (92%) sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model yang diukur. pengujian hipotesis jika nilai t-statistic lebih dari 1.96 untuk signifikansi lima persen (5%) maka terdapat pengaruh antar variabel dan hipotesis diterima, jika kurang dari 1.96 maka hipotesis ditolak. hasil uji hipotesis tersebut dapat dilihat pada tabel 8. berdasarkan hasil pada uji hipotesis tabel 8 menunjukkan hasil lima hipotesis diterima dan satu hipotesis ditolak, penjelasannya adalah sebagai berikut. hasil perhitungan dengan menggunakan smartpls 3.0 menunjukkan nilai path coefficients variabel proactive personality terhadap career success memiliki pengaruh dengan nilai koefisien beta 0.209 dan nilai t-statistic 2.961 yang artinya signifikan karena nilai t-statistic lebih dari 1.96. artinya adalah hipotesis 1 terdukung. oscd terhadap career success memiliki pengaruh dengan nilai koefisien beta 0.219 dan nilai t-statistic 3.888 yang artinya signifikan karena nilai t-statistic sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls berdasarkan hasil r-square yang telah diketahui dari tabel 7 maka dapat dijelaskan bahwa nilai r-square sebesar 0.339 untuk variabel career commitment yang berarti bahwa pengaruh terhadap career commitment yang dapat dijelaskan oleh proactive personality dan oscd adalah sebesar 34 persen (34%) sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model yang diukur. kemudian nilai r-square sebesar r-square nilai cut off keterangan pp kuat>0.67> moderate>0.33> lemah>0.19 oscd cc 0.339 moderate se cs 0.917 kuat hipotesis pengaruh antar variabel original sampel sampel mean standard deviation t-statistics diterima/ ditolak signifikan/ tidak signifikan h5 cc-> cs 0.695 0.683 0.063 6.041 diterima signifikan h4 oscd -> cc 0.525 0.539 0.096 5.496 diterima signifikan h2 oscd -> cs 0.219 0.218 0.056 3.888 diterima signifikan h8 moderating effect 1 -> cs 0.203 0.210 0.055 2.854 diterima signifikan h3 pp -> cc 0.119 0.113 0.011 1.063 ditolak tidak signifikan h1 pp -> cs 0.209 0.205 0.056 2.961 diterima signifikan tabel 8 hasil uji hipotesis sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 59 lebih dari 1.96. artinya adalah hipotesis 2 terdukung. proactive personality terhadap career commitment memiliki pengaruh dengan nilai koefisien beta 0.119 dan nilai t-statistic 1.063 yang artinya tidak signifikan karena nilai t-statistic kurang dari 1.96. artinya adalah hipotesis 3 tidak terdukung. oscd terhadap career commitment memiliki pengaruh dengan nilai koefisien beta 0.525 dan nilai t-statistic 5.496 yang artinya signifikan karena nilai t-statistic lebih dari 1.96. artinya adalah hipotesis 4 terdukung. career commitment terhadap career success memiliki pengaruh dengan nilai koefisien beta 0.695 dan nilai t-statistic 6.041 yang artinya signifikan karena nilai t-statistic lebih dari 1.96. artinya adalah hipotesis 5 terdukung. self-efficacy memoderasi hubungan antara career commitment terhadap career success memiliki pengaruh dengan nilai koefisien beta 0.203 dan nilai t-statistic 2.854 yang artinya signifikan karena nilai t-statistic lebih dari 1.96. artinya adalah hipotesis 8 terdukung. pada tabel 9 hasil uji specific indirect effects ditemukan terdapat pengaruh yang tidak signifikan pada pengaruh antara proactive personality terhadap career commitment, maka dapat disimpulkan bahwa career commitment tidak memediasi hubungan antara proactive personality terhadap career success (hipotesis 6 ditolak). selanjutnya, terdapat hubungan yang signifikan antara oscd terhadap career commitment dan juga pada career commitment terhadap career success. maka dapat disimpulkan bahwa career commitment memediasi hubungan antara oscd terhadap career success (hipotesis 7 diterima). pembahasan pengaruh proactive personality terhadap career success berdasarkan hasil pada pengujian hipotesis pertama menunjukkan hasil bahwa adanya pengaruh signifikan antara proactive personality terhadap career success, sehingga hipotesis pertama dapat diterima. penelitian ini mendukung penelitian scott e. seibert and j. michael crant (1999) bahwa karyawan dengan kepribadian yang proaktif memiliki kesuksesan karier yang baik dalam perusahaan. jika dikaitkan dengan perusahaan pt bogasari surabaya, maka karyawan yang memiliki kepribadian proaktif yang tinggi akan terdorong membuat suatu perbedaan di organisasinya untuk mencapai kesuksesan pada kariernya. pengaruh oscd terhadap career success berdasarkan hasil pada pengujian hipotesis kedua menunjukkan hasil bahwa adanya pengahipotesis hipotesis pengaruh antar variabel original sampel sampel mean standard deviation t-statistics p-value signifikan/ tidak signifikan h7 oscd -> cc -> cs 0.365 0.369 0.062 5.842 0.000 signifikan h6 pp-> cc -> cs 0.082 0.094 0.079 1.044 0.297 tidak signifikan tabel 9 hasil specific indirect effects untuk variabel mediasi sumber: hasil pengolahan data primer dengan smartpls business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 60 ruh signifikan antara oscd terhadap career success, sehingga hipotesis kedua dapat diterima. penelitian ini mendukung penelitian (orpen & orpen, 2005)yang menyatakan bahwa karyawan yang merasakan organizational support for career development dan juga merasakan kesempatan berkarier dapat berdampak pada kesuksesan karier mereka. berdasarkan data di atas dapat dikatakan bahwa perusahaan pt bogasari surabaya menyadari untuk mendukung perkembangan usaha dan menjaga kesinambungan sukses perusahaan, perusahaan harus memiliki sdm yang andal, inovatif dan berdedikasi tinggi. untuk memiliki sdm yang demikian, salah satunya memberikan opportunity pada karyawan operator bagian produksi tersebut untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang baik dengan memberikan pelatihan berupa training. pengaruh proactive personality terhadap career commitment hasil uji hipotesis ketiga menunjukkan bahwa proactive personality tidak terbukti memiliki hubungan yang signifikan terhadap career commitment. hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian (arora & rangnekar, 2016) yang menjelaskan bahwa proactive personality memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap career commitment. perbedaan tersebut dapat dipicu pada konteks penelitian dan karakteristik responden yang berbeda. penelitian yang dilakukan (arora & rangnekar, 2016) ditujukan pada responden di india utara pada karyawan manajerial dari kedua organisasi yaitu publik dan organisasi swasta, sedangkan penelitian ini dilakukan pada karyawan operator bagian produksi perusahaan pt bogasari indonesia. jika dikaitkan dengan karakteristik responden berdasarkan usia dan masa kerja maka mayoritas responden pada penelitian ini berusia 41–50 tahun sebanyak 22 responden dengan persentase 33.8% dan memiliki masa kerja 11–15 tahun sebanyak 24 responden dengan persentase 36.9%. hal ini menunjukkan bahwa karyawan operator bagian produksi ini sudah mendekati masa pensiun sedangkan karier yang mereka dapat sampai saat ini masih operator dengan masa kerja yang dibilang bisa cukup lama namun tidak berpengaruh pada kariernya, hal tersebut akhirnya membuat mereka tidak berkomitmen dengan kariernya lagi. pengaruh oscd terhadap career commitment berdasarkan hasil pada pengujian hipotesis keempat menunjukkan hasil adanya pengaruh signifikan antara oscd terhadap career commitment, sehingga hipotesis keempat dapat diterima. penelitian ini mendukung penelitian (hall, 1989) menyatakan bahwa organizational support for career development berpengaruh positif yang signifikan terhadap career commitment. berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa perusahaan pt bogasari surabaya mendukung karyawan operator bagian produksi untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pekerjaan yang dilakukan dengan memberikan pelatihan berupa training. pengaruh career commitment terhadap career success berdasarkan hasil pada pengujian hipotesis kelima menunjukkan hasil adanya pengaruh signifikan antara career commitment terhadap career success dapat diterima. penelitian ini mendukung penelitian (ballout, 2009) menyatakan bahwa career commitment berpengaruh positif yang signifikan terhadap career success. berdasarkan data di atas dapat dikatakan bahwa karyawan revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 61 operator bagian produksi berkeinginan untuk bertahan di pekerjaannya dan bersedia menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan pada karier di pekerjaannya. pengaruh proactive personality terhadap career success yang dimediasi career commitment berdasarkan hasil pengujian hipotesis keenam menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan positif namun tidak signifikan antara proactive personality terhadap career success yang dimediasi oleh career commitment. hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian (seibert et al., 1999) bahwa karyawan yang memiliki kepribadian proaktif lebih cenderung terlibat dalam komitmen yang berorientasi pada karier karena fokus mereka dalam mencari peluang yang terkait dengan keberhasilan kariernya. perbedaan ini dapat dipicu pada konteks penelitian dan karakteristik responden yang berbeda. penelitian yang dilakukan (seibert et al., 1999) ditujukan pada responden para alumni di western university, sedangkan penelitian ini dilakukan pada karyawan operator bagian produksi perusahaan pt bogasari indonesia. perbedaan hasil ini dapat terjadi karena karyawan bagian produksi perusahaan pt bogasari surabaya memiliki target kemajuan karier dan standar keberhasilan karier yang lebih tinggi. pengaruh oscd terhadap career success yang dimediasi oleh career commitment berdasarkan hasil pada pengujian hipotesis ketujuh menunjukkan hasil bahwa terdapat pengaruh signifikan antara oscd terhadap career success melalui career commitment. hal ini menunjukkan bahwa career commitment mempunyai peranan penting dalam memberikan pengaruh oscd terhadap career success karyawan bagian produksi. hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (verbruggen, sels, & forrier, 2007) yang menyatakan bahwa organisasi dapat memberikan pengaruh pada pengalaman karyawan pada kesuksesan karier (baik secara subjektif maupun objektif) dengan mendukung pada pengembangan karier karyawan. jika dikaitkan dengan perusahaan pt bogasari surabaya, dengan adanya program training yang diberikan oleh perusahaan pt bogasari surabaya untuk seluruh karyawan khususnya karyawan bagian produksi dalam hal pelatihan, pengembangan dan mentoring pada karyawan dapat meningkatkan komitmen karier dan juga kesuksesan karier karyawan operator bagian produksi di perusahaan. pengaruh career commitment terhadap career success yang dimoderasi oleh self efficacy berdasarkan hasil pada pengujian hipotesis kedelapan menunjukkan hasil bahwa self-efficacy berpengaruh signifikan memoderasi hubungan antara career commitment terhadap career success. hal ini menunjukkan bahwa selfefficacy mempunyai peranan penting dalam memperkuat hubungan antara career commitment terhadap career success karyawan operator bagian produksi. penelitian ini mendukung penelitian (ballout, 2009) menemukan bahwa selfefficacy sebagai variabel intervening memediasi hubungan antara komitmen karier dan subjective career success dan objective career success. hal ini menunjukkan bahwa karyawan operator bagian produksi pt bogasari surabaya memiliki keyakinan individu yang tinggi akan kemampuannya untuk berkomitmen pada karier mereka guna dapat menumbuhkan keberhasilan karier karyawan bagian produksi. business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 62 simpulan penelitian ini berusaha menguji pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment yang dimoderasi oleh self-efficacy pada karyawan operator bagian produksi pt bogasari surabaya. berdasarkan hasil uji statistik pada hasil jawaban responden dengan alat uji smartpls 3.0, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 1. proactive personality memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap career success. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan operator bagian produksi yang memiliki kepribadian proaktif terdorong untuk membuat perbedaan di organisasi (proactive personality), maka sikap karyawan untuk mencapai keberhasilan kariernya (career success) akan semakin tinggi. 2. organizational support for career development memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap career success. hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan memberikan fasilitas pelatihan dan program training yang dapat mendukung pekerjaan karyawan sehari-hari (oscd) sehingga dapat meningkatkan kesuksesan karier (career success) karyawan operator bagian produksi tersebut. 3. proactive personality memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap career commitment. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan operator bagian produksi dalam perkembangan kariernya yang menimbulkan rasa kurang puas atas komitmen karier (career commitment) yang dicapainya. hal tersebut dikarenakan karyawan operator bagian produksi yang sudah mendekati masa pensiun sedangkan karier yang mereka dapat sampai saat ini masih operator dengan masa kerja yang dibilang bisa cukup lama namun tidak berpengaruh pada kariernya. 4. organizational support for career development memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap career commitment. hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan pt bogasari surabaya mendukung karyawan operator bagian produksi untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pekerjaan yang dilakukan dengan memberikan pelatihan berupa training (oscd), sehingga dapat meningkatkan komitmen karier (career commitment) karyawan bagian produksi tersebut. 5. career commitment memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap career success. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan operator bagian produksi berkeinginan untuk bertahan di pekerjaannya dan bersedia menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan pada karier di pekerjaannya (career commitment) sehingga dapat memicu kesuksesan karier yang lebih besar (career success). 6. proactive personality memiliki pengaruh yang positif namun tidak signifikan terhadap career commitment dan career success. berarti bahwa career commitment tidak memediasi hubungan antara proactive personality terhadap career success. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan operator bagian produksi yang memiliki kepribadian proaktif dan berkomitmen terhadap kariernya (career commitment) akan memberikan dampak terhadap keberhasilan jenjang kariernya yang lebih tinggi (career success). namun hubungan mediasi antara kedua hal ini belum signifikan, hal tersebut dikarenakan mereka kesulitan untuk mendapatkan promosi jabatan ke jenjang karier yang lebih tinggi. revan jaya kusuma & praptini yulianti, pengaruh proactive personality dan organizational support for career development terhadap career success melalui career commitment 63 7. organizational support for career development memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap career commitment dan career success. berarti bahwa career commitment memediasi hubungan antara organizational support for career development terhadap career success. hal ini mengindikasikan perusahaan pt bogasari surabaya dapat mendukung dan memotivasi pengembangan diri karyawan operator bagian produksi dalam mencapai keberhasilan kariernya dengan memberikan kesempatan mereka untuk mengembangkan keterampilan dan menetapkan tujuan kariernya (oscd) sehingga mereka berkomitmen pada kariernya (career commitment) guna meraih pencapaian kesuksesan karier (career success) karyawan bagian produksi tersebut. 8. career commitment memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap career success yang dimoderasi oleh self-efficacy. berarti bahwa self-efficacy memperkuat hubungan antara career commitment terhadap career success. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan operator bagian produksi yang memiliki self-efficacy mempunyai keyakinan untuk menetapkan tujuan kariernya (career commitment), sehingga mereka mendapatkan kesuksesan karier di organisasinya. simpulan penelitian 1. career success merupakan hal yang penting bagi karyawan dan pihak perusahaan harus memperhatikan. dalam hal tersebut, pt bogasari surabaya sebaiknya memberikan fasilitas pada karyawan operator khususnya di bagian produksi untuk meningkatkan kemampuannya yang dapat mendukung pekerjaan keseharian karyawan tersebut. 2. peran dukungan organisasi merupakan hal yang penting bagi karyawan untuk pengembangan pengetahuan dan keterampilan mereka. dalam hal ini, pt bogasari surabaya sebaiknya memberikan pelatihan secara berkala pada karyawan operator khususnya di bagian produksi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung pekerjaan keseharian karyawan tersebut dan memberikan program-program training terkait dengan teknologi alat operasional produksi, agar mereka dapat bekerja sebaik mungkin. 3. karena menetapkan tujuan yang jelas dianggap sebagai elemen penting dari perencanaan karier dan kemungkinan menimbulkan keinginan seseorang untuk menetapkan kemajuan kariernya. dalam hal ini, perusahaan pt bogasari surabaya sebaiknya mendukung sikap ini dengan meningkatkan kompetensi maupun memberikan kesempatan peningkatan job grade pada karyawan operator bagian produksi, sebagai salah satu cara untuk mendukung perencanaan karier dan kemajuan karier mereka. daftar rujukan arora, r. & rangnekar, s. 2016. the interactive effects of conscientiousness and agreeableness on career commitment. journal of employment counseling, 53(1), 14–29. https://doi.org/10.1002/joec.12025. ballout, h. i. 2009. career commitment and career success: moderating role of selfefficacy. career development international, 14(7), 655–670. https://doi.org/10. 1108/13620430911005708. bateman, t.s. & crant, j.m. 1993. the proactive component of organizational-bebusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 64 havior a measure and correlates. journal of organizational behavior, 14(2), 103– 118. https://doi.org/10.1002/job.4030140 202. blau, g. 1988. further exploring the meaning and measurement of career commitment. journal of vocational behavior, 32, 284– 297. colarelli, s.m. & bishop, r.c. 1990. career commitment: functions, correlates, and management. group & organization management, 15(2), 158–176. https://doi.org/ 10.1177/105960119001500203. day, r. & allen, t.d. 2004. the relationship between career motivation and self-efficacy with protégé career success. journal of vocational behavior, 64(1), 72–91. https://doi.org/10.1016/s0001-8791(03) 00036-8. hall, d. 1989. testing the generalizability of a career commitment measure and its impact on employee turnover, 103, 88–103. judge, t.a., higgins, c.a., thoresen, c.j., & barrick, m.r.m.r. 1999. the big five personality traits, general mental ability, and career success across the life span. personnel psychology, 52(1), 621–652. https://doi.org/10.1111/j.1744-6570.1999. tb00174.x. kong, h., cheung, c., & song, h. 2012. from hotel career management to employees’ career satisfaction: the mediating effect of career competency. international journal of hospitality management, 31(1), 76–85. https://doi.org/10.1016/j.ijhm.2011. 03.002. orpen, c. & orpen, c. 2005. the effects of organizational and individual career management on career success. seibert, s.e., crant, j.m., & kraimer, m.l. 1999. proactive personality and career success. journal of applied psychology, 84(3), 416–427. https://doi.org/10.1037// 0021-9010.84.3.416 sturges, j., guest, d., conway, n., & mackenzie davey, k. 2002. a longitudinal study of the relationship between career management and organizational commitment among graduates in the first ten years at work, 748(may), 731–748. retrieved from http://oro.open.ac.uk/1544/. verbruggen, m., sels, l., & forrier, a. 2007. unraveling the relationship between organizational career management and the need for external career counseling. journal of vocational behavior, 71(1), 69– 83. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2007.03. 003. 01 tri siwi.pmd tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 11 proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya tri siwi agustina & ivan rizky muhammad departemen manajemen, fakultas ekonomi dan bisnis, universitas airlangga e-mail: agustina2772@gmail.com, ivanrizkymuhammad@gmail.com abstract: proactive personality is an important factor in a boundaryless career. the reason is, in the boundaryless career period, the work environment becomes uncertain and the challenges in a career are increasingly complex. therefore, there is a need for an adaptive attitude in running a career. proactive personality is seen as a form of career adaptability. this study analyzes the relationship between proactive personality, career adaptability and career success (subjective and objective). samples from this study are 41 people from employees of pt kai daop 8 surabaya which is included in the state-owned enterprises (bumn). the respondents’ data were analyzed using partial least square (pls) using the smartpls 3.0 program. the results of this study indicate that when proactive personalities increase, career adaptability and subjective career success will increase too. while the other results of this study are when proactive personality increases, it does not significantly influence objective career success. similarly, increasing career adaptability does not significantly influence objective career success. keywords: personality, proactive personality, career, career adaptability, career success, subjective career success, objective career success a. latar belakang seseorang yang memutuskan untuk memulai bekerja, baik itu bekerja di perusahaan maupun membuka usaha bisnis sendiri tentunya memiliki suatu tujuan yang ingin segera dipenuhi, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang. selain itu, seseorang tentunya memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai selama bekerja, khususnya ketika seseorang bekerja di dalam suatu perusahaan. bekerja merupakan salah satu upaya individu untuk memperoleh peningkatan kelayakan kehidupan yang lebih baik di mana posisi atau jabatan dalam perusahaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hal tersebut. seorang pegawai tentunya cenderung akan mempunyai keinsantosn untuk naik ke jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, karena diharapkan akan membawa kepada suatu kondisi yang lebih baik bagi kehidupannya. hal ini berkaitan erat dengan bagaimana seseorang mengembangkan kariernya. pola karier yang telah menjadi semakin beragam, tanpa batas (boundaryless), dan non-linier memunculkan perdebatan bahwa pengembangan karier yang sukses mengharuskan pekerja untuk mengembangkan kemampuan (abilities) untuk beradaptasi dan mengendalikan pengembangan diri dalam konteks pekerjaan (jiang, 2016). keadaan seperti ini merupakan dampak dari sifat organisasi atau perusahaan yang selalu berusaha untuk memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tidak menentu. lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan pekerjaan yang meliputi keadaan dalam perusahaan itu sendiri, tren permintaan konsumen, dan lain-lain. akibat dari lingkungan pekerjaan tersebut sangat luas dan bukan hanya dipengaruhi oleh internal perusahaan namun juga eksternal perusahaan, maka keadaan lingbusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 2 kungan seperti ini menjadi sangat tidak menentu. hal inilah yang menyebabkan perusahaan harus memiliki sikap adaptif yang baik. selain itu, adanya kemungkinan bahwa perusahaan dapat melakukan downsizing maupun outsourcing untuk mengatasi persaingan yang kompleks, memunculkan konsekuensi bahwa pekerja berupaya untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan nilai mereka di perusahaan di mana individu tersebut bekerja serta pada pasar tenaga kerja guna mengantisipasi ketika dirasa perusahaan tersebut tidak lagi layak bagi dirinya untuk membangun karier atau karyawan tersebut melihat adanya peluang yang lebih baik bagi dirinya di perusahaan lain. oleh sebab itu, dengan semakin berkembangnya zaman, seorang karyawan dituntut untuk dapat menata atau mengembangkan rencana kariernya sendiri di samping bantuan dari perusahaan untuk mencapai kesuksesan karier. sukses dalam karier sendiri dibagi menjadi dua yaitu subjective career success dan objective career success. career success didefinisikan sebagai hasil psikologis, pekerjaan yang positif, atau prestasi pribadi dan profesional yang dikumpulkan seseorang dari pengalaman kerja mereka (santos, 2016). career success dibagi menjadi dua yaitu subjective career success dan objective career success (santos, 2016). subjective career success bergantung kepada evaluasi individual dan tanggapan afektif terhadap hasil kariernya yang mencakup beberapa arti. objective career success adalah pandangan eksternal dari karier dan kesuksesan karier didefinisikan oleh tindakan yang dapat diamati seperti gaji dan promosi (santos, 2016). dalam beberapa tahun terakhir terdapat beberapa faktor kepribadian yang diketahui dapat memengaruhi objective career success (gaji dan promosi) dan subjective career success (kepuasan karier) (spurk dkk., 2013). inisiatif individu untuk terlibat ke dalam aktivitas dan situasi dalam konteks pekerjaan menjadi fokus penelitian mengenai kepribadian dan karier (spurk dkk., 2013). dalam beberapa penelitian mengenai karier, individu dipandang pasif dan lunak (mudah menurut), menekankan pengaruh dari situasi pada perilaku manusia (seibert, 1999). sedangkan hal ini akan menjadi sesuatu yang kurang menguntungkan bagi sisi karyawan maupun perusahaan pada masa boundaryless career. di sisi lain individu yang tidak pasif disebut individu yang proaktif, yaitu individu yang dapat dideskripsikan sebagai mereka yang tidak terbatasi oleh tekanan situasi serta mereka yang mampu memengaruhi perubahan lingkungan, dalam hal ini lingkungan kerja mereka (bateman dan crant, 1999). oleh karena itu, jika dilihat secara menyeluruh, individu dengan proactive personality sangat dibutuhkan dalam masa boundaryless career saat ini. individu dalam perusahaan industri berperan besar dalam kinerja perusahaan mengingat dalam segala kegiatan di perusahaan selalu membutuhkan campur tangan dari manusia sehingga menuntut karyawan untuk teliti dalam melaksanakannya. oleh karena itu, diperlukan suatu keputusan yang bijak saat calon pekerja memutuskan untuk melamar kerja dalam suatu jenis perusahaan industri. hal ini yang sepatutnya dibangun oleh perusahaan-perusahaan yang ada di indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar. tidak dapat dipungkiri bahwa tuntutan perkembangan zaman, mengakibatkan meningkatnya ekspektasi pelayanan oleh perusahaan. perusahaan-perusahaan di indonesia sudah sepatutnya sadar bahwa untuk bersaing dengan para kompetitornya, selain mengandalkan teknologi yang terus berkembang diperlukan juga karyawan-karyawan yang dapat ikut andil dalam pembuatan produk-produk maupun pelayanan yang inovatif dan mempunyai daya saing yang tinggi. tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 3 dan bisnis usaha penunjangnya, melalui praktik bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi stakeholders dan kelestarian lingkungan berdasarkan empat pilar utama: keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan, dan kenyamanan” (https:// www.kai.id/corporate/about_kai/). visi dan misi perusahaan ini benar-benar dijalankan, terlihat dari penghargaan-penghargaan yang telah dicapai oleh pt kai (daop 8). hingga oktober 2018 tercatat sebanyak 75 penghargaan telah diperoleh. selain terlihat bahwa pt kai (daop 8) surabaya sangat menjunjung tinggi kepuasan pelanggan, selaras dengan visi dan misinya, perusahaan ini juga membutuhkan para pekerja proaktif karena tanpa individu-individu dengan tipe proactive personality maka visi dan misi perusahaan maupun penghargaan-penghargaan tersebut akan sulit untuk dicapai. oleh karena itu, individu-individu dengan tipe kepribadian reaktif harus diminimalisasi sehingga akan mendorong tercapainya visi dan misi yang telah dibentuk pada masa pendirian perusahaan tersebut. adanya potensi ancamanancaman seperti di atas dapat diatasi salah satunya adalah dengan melakukan peningkatan pemahaman yang lebih baik dari perusahaan terkait karier karyawan. hal yang juga akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis mengenai variabel kontemporer karier yang disebut career adaptability (spurk dkk., 2013) sebagai mediator dalam hubungan proactive personality dan career success. individu yang adaptif terhadap kariernya akan lebih sukses karena mereka merencanakan karier mereka lebih efektif, mengatasi keadaan yang belum terjadi di masa depan, serta lebih mudah dipekerjakan pada pasar tenaga kerja terkini (spurk dkk, 2013). selaras dengan keadaan yang tidak menentu dan berubah-ubah menjadikan pemimpin maupun karyawan perusahaan untuk dapat adaptif terhadap perusahaan saat ini dituntut untuk tanggap terhadap perubahan-perubahan lingkungan agar dapat bertahan dalam persaingan. perubahan dalam aspek lingkungan, teknologi, dan ilmu pengetahuan juga pada akhirnya menuntut karyawan menjadi seseorang individu yang proaktif untuk dapat mencapai kesuksesan kariernya. hal ini juga terlihat dari semakin kompleksnya job requirement yang diberikan oleh perusahaan sehingga sikap kepribadian reaktif yang merupakan lawan dari proactive personality perlu dihindari oleh para calon karyawan. individu yang tidak dapat beradaptasi terhadap kompleksitas karier umumnya gagal untuk mendapatkan karier yang baik (zhu dkk, 2013). oleh karena itu, career adaptability sangat dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan karier dalam menanggapi tantangan pasar saat ini. career adaptability mengacu kepada seperangkat sikap, perilaku, dan kompetensi yang digunakan individu dalam menghadapi perubahan kondisi kerja dan tuntutan, yang terdiri dari empat dimensi: concern (perencanaan), kontrol (pengambilan keputusan, penentuan), rasa ingin tahu (mengeksplorasi), dan kepercayaan diri (pemecahan masalah, percaya diri) (bocciardi dkk, 2017). berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia industri merupakan tantangan tersendiri bagi perusahaan, karena ketidakmampuan perusahaan termasuk karyawan di dalamnya untuk beradaptasi merupakan sebuah ancaman yang dapat mengakibatkan tertinggalnya perusahaan oleh kompetitor lainnya. tentunya hal tersebut juga menjadi salah satu fokus utama pt kai (daop 8) surabaya. berdasarkan visi dan misi pt kai (daop 8) surabaya mencerminkan bahwa perusahaan ini membutuhkan karyawan yang proaktif. visi perusahaan ini adalah “menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan pelanggan dan memenuhi harapan stakeholders “sedangkan misi perusahaan ini adalah “menyelenggarakan bisnis perkeretaapian business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 4 dari suatu pekerjaan (work-related outcomes) atau pencapaian personal dan pencapaian profesional yang didapat seseorang dari pengalamannya selama bekerja. hal ini diperjelas melalui pendapat zhu dkk. (2013) yaitu karier didefinisikan sebagai suatu seri pendek (seperti 3–5 tahun) dari siklus pembelajaran yang memerlukan kemampuan beradaptasi terhadap situasi yang baru melalui eksplorasi, aktivitas percobaan dan penguasaan. dilihat dari cara mengukurnya, career success sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu subjektif career success dan objektif career success. istilah objective career success mengacu kepada prestasi karier yang dapat diamati seperti gaji dan sejarah promosi (seibert dkk., 1999). sedangkan subjective career success merefleksikan perasaan seseorang atas kepuasan dan prestasi yang dicapai dalam karier mereka (scott dkk., 1999). jika ditinjau lebih jauh, dapat ditarik kesimpulan bahwa karyawan atau individu dengan proactive personality tidak hanya memengaruhi kondisi dan situasi kerja akan tetapi juga memilih, membuat, dan memengaruhi lingkungan kerja serta jalur karier mereka sehingga secara konsisten akan mengarahkan mereka kepada tingkat kesuksesan dalam berkarier yang lebih baik (spurk, 2013). 3. career adaptability career adaptability merupakan kegiatan tertentu untuk mengasah serta menggunakan sumber daya psikososial yang penting untuk melakukan perubahan dalam diri dan situasi guna mencapai kepuasan dan kesuksesan karier (maree, 2017). career adaptability pertama kali muncul dalam tradisi perkembangan karier sebagai konstruksi untuk menafsirkan dan memajukan pengembangan karier individu dewasa dengan cara meningkatkan kematangan karier sebalingkungan kerja mereka. konsep sikap adaptif dalam boundaryless career ini kemudian dikenal dengan istilah career adaptability. berdasarkan pemikiran latar belakang di atas maka dalam penelitian ini diberi judul: pengaruh proactive personality (proactive personality) terhadap career success dimediasi oleh career adaptability (career adaptability) pada pt kai (daop 8 surabaya). dalam penelitian yang dilakukan, diharapkan akan ditemukan berbagai informasi penting yang bermanfaat bagi proses manajemen dalam pt kai daop 8 surabaya, khususnya dalam bidang pengembangan karier karyawan. selain itu juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pimpinan pt kai (daop 8 surabaya) terkait karier karyawan mereka. b. landasan teori 1. proactive personality proactive personality didefinisikan sebagai kecenderungan yang relatif stabil untuk memengaruhi perubahan lingkungan (bateman & crant, 1993). proactive personality juga dapat dikaitkan sebagai seseorang yang memiliki sikap relatif tidak terbatasi oleh kekuatan situasional serta seseorang yang dapat memengaruhi perubahan lingkungan (bateman & crant, 1993). sedangkan crant (2000) menjelaskan proactive personality berhubungan dengan seseorang yang mengambil inisiatif untuk memperbaiki keadaan saat ini atau menciptakan sesuatu yang baru di mana hal tersebut berarti menantang keadaan status quo dibandingkan secara pasif beradaptasi dengan kondisi saat ini. 2. career success rasdi dkk. (2011) mendefinisikan career success sebagai psikologikal positif atau hasil tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 5 gai konstruksi yang diterapkan pada proses pengembangan karier selama masa remaja (savickas, 1997; super & knasel, 1981). career adaptability memiliki empat dimensi yaitu: concern, control, curiosity, dan confidence (savcikas, 2012). c. pengembangan hipotesis h1: proactive personality berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective career success h2: proactive personality berpengaruh positif dan signifikan terhadap objective career success h3: proactive personality berpengaruh positif dan signifikan terhadap career adaptability h4: career adaptability berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective career success h5: career adaptability berpengaruh positif dan signifikan terhadap objective career success h6: terdapat pengaruh tidak langsung bersifat positif signifikan dari proactive personality terhadap subjective career success melalui career adaptability h7: terdapat pengaruh tidak langsung bersifat positif signifikan dari proactive personality terhadap objective career success melalui career adaptability keterangan: : variabel : pengaruh langsung : pengaruh tidak langsung d. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. penelitian ini memiliki variabel independen dan variabel dependen. variabel independen dari penelitian ini adalah proactive personality (x), variabel mediasi dari penelitian ini adalah adpatabilitas karier (career adaptability) (z), sedangkan variabel dependen dari penelitian ini adalah sukses karier subjektif (subjective career success) (y1) dan objective career success (y2). setiap item diukur menggunakan skala likert berjenjang 5 dengan urutan: sangat tidak setuju hingga sangat setuju penelitian ini dilakukan pada pt kai daop 8 surabaya dengan pembagian wilayah meliput: depo kereta besar a sidotopo, depo lokomotif besar a sidotopo, depo gerbang besar a sidotopo, stasiun besar a surabaya gubeng, dan stasiun besar a surabaya pasarturi. populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan (anshori dan iswati, 2009). populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan pt kai daop 8 surabaya. sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (anshori dan iswati, 2009). sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari karyawan yang telah mengalami kenaikan jabatan setidaknya satu kali serta sampel pada penelitian ini berjumlah 41 orang responden. pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara nonprobability sampling. sedangkan teknik sampling yang dipilih peneliti adalah teknik purposive sampling. pursukses karier subjektif sukses karier objektif adaptabilitas karier kepribadian proaktif h2 h3 h4 h5 h6 h7 gambar 1 kerangka konseptual business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 6 posive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (anshori dan iswati, 2009). kriteria sampel pada penelitian ini adalah individu yang telah mengalami kenaikan jabatan setidaknya satu kali stasiun besar a surabaya pasarturi. penelitian ini dilakukan pada 30 juli 2018 sampai dengan 29 agustus 2018. e. definisi operasional variabel 1. proactive personality adalah mengacu pada karyawan pt kai daop 8 surabaya yang memiliki sikap relatif tidak terbatasi oleh kekuatan situasional serta dapat memengaruhi perubahan lingkungannya. 2. subjective career success didefinisikan sebagai seberapa puas karyawan pt kai daop 8 surabaya terhadap pekerjaan atau karier yang mereka capai. 3. objective career success didefinisikan sebagai prestasi karier karyawan pt kai daop 8 surabaya yang dapat diamati seperti gaji dan promosi. 4. career adaptability seperangkat sikap, perilaku, dan kompetensi yang digunakan karyawan pt kai daop 8 surabaya dalam menghadapi perubahan kondisi kerja dan tuntutan, yang terdiri dari empat dimensi: concern (perencanaan), kontrol (pengambilan keputusan, penentuan), rasa ingin tahu (mengeksplorasi), dan kepercayaan diri (pemecahan masalah, percaya diri). f. teknik analisis penelitian ini menggunakan pls-sem karena metode ini dapat menjawab hipotesis penelitian dengan jumlah responden yang tergolong sedikit (hair dkk., 2016). hal ini sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan dengan jumlah responden yang kurang dari 100 tepatnya sebanyak 41 responden. tahap pertama adalah dengan menguji kecocokan antara model dengan data. proses ini dilakukan dengan dua macam model pengukuran, yaitu: outer model dan inner model. g. hasil dan pembahasan 1. uji hipotesis no. hubungan antar-variabel hipotesis t-statistic p-values status 1 2 3 4 5 6 7 proactive personality-> subjective career success diterima proactive personality -> objective career success tidak diterima proactive personality -> career adaptability diterima career adaptability -> subjective career success diterima career adaptability -> objective career success tidak diterima proactive personality -> career adaptability -> subjective career success diterima proactive personality -> career adaptability -> objective career success 2.023 1.465 8.236 2.143 1.029 2.027 0.983 0.044 0.144 0.000 0.033 0.304 0.043 0.326 signifikan tidak signifikan signifikan signifikan tidak signifikan signifikan tidak signifikan 2. pembahasan berdasarkan atas hasil output analisis uji hipotesis dengan menggunakan smartpls, berikut adalah pembahasan untuk masing-masing hipotesis. 1. hipotesis 1: proactive personality berpengaruh positif terhadap subjective career success berdasarkan uji bootstrapping pada model menunjukkan bahwa proactive personality (x) berpengaruh positif secara signifikan terhadap subjective career success (y1) dengan nilai tstatistik sebesar 2,023 dan tingkat signifikansi tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 7 sebesar 0,04. artinya, semakin tinggi tingkat proactive personality seseorang maka akan semakin tinggi subjective career success yang dialaminya. oleh karena itu, hipotesis 1 yang menyatakan proactive personality berpengaruh positif terhadap subjective career success, diterima. hasil dari uji ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh spurk (2013) bahwa proactive personality memiliki pengaruh positif terhadap subjective career success. hasilnya menunjukkan bahwa seseorang yang bersikap lebih proaktif memiliki tingkat kesuksesan karier subjektif yang lebih tinggi juga. menurut penelitian yang dilakukan oleh siebert, dkk. (1999) individu yang bersikap lebih proaktif akan memiliki sense determination dan self-efficacy yang lebih tinggi terhadap pekerjaannya, yang artinya mereka akan lebih puas terhadap karier mereka. 2. hipotesis 2: proactive personality berpengaruh positif terhadap objective career success berdasarkan uji bootstrapping pada model, menunjukkan bahwa proactive personality tidak berpengaruh secara signifikan terhadap objective career success. hal tersebut terjadi karena nilai t-statistik berada di bawah 2,02 serta nilai p-value lebih besar dari 0,05 yaitu 0,144. sehingga dapat dinyatakan bahwa hipotesis 2 yang menyatakan proactive personality berpengaruh positif terhadap objective career success ditolak. hal ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh spurk (2013) yang menyatakan bahwa proactive personality berpengaruh positif terhadap objective career success. hal ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan jumlah responden dan ketersediaan waktu yang diberikan kepada responden di saat pengisian kuesioner. hal yang dilakukan oleh spurk (2013) dalam melakukan penelitiannya adalah membagikan kuesionernya secara online kepada 385 calon responden kemudian mereka diberi kebebasan waktu untuk mengisi kuesioner tersebut. metode seperti ini tentu memiliki kelebihan yaitu data bisa tersebar ke banyak calon responden, akan tetapi kelemahannya adalah tidak semua responden benar-benar mengisi kuesioner dengan penuh kesadaran. terlihat bahwa kuesioner yang kembali dari 385 hanyalah 153, kurang dari 50% dari jumlah calon responden. sisanya tidak dapat digunakan karena tidak semua pertanyaan dijawab oleh responden. sehingga hal ini tentu akan berbeda dengan metode penyebaran kuesioner penelitian ini yang dilakukan pada jam kerja dan diambil pada jam kerja. 3. hipotesis 3: proactive personality berpengaruh positif terhadap career adaptability berdasarkan uji bootstrapping di atas, dapat dilihat bahwa proactive personality berpengaruh positif signifikan terhadap career adaptability dengan nilai t-statistik 8,236 yang mana artinya lebih besar dari t-tabel yaitu 2,02. selain itu nilai signifikan dari hubungan ini adalah 0,000 di mana hasil tersebut menunjukkan pengaruh yang signifikan karena berada di bawah 0,05. sehingga dapat dinyatakan bahwa hipotesis 3 yang menyatakan bahwa proactive personality memiliki pengaruh signifikan positif terhadap career adaptability, dapat diterima. hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh tolentino dkk. (2013) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat proaktif seseorang maka akan semakin tinggi tingkat adaptabilitas seseorang dalam bekerja. tolentino, dkk. (2013) juga menambahkan bahwa semakin siap individu dalam hal menyiapkan ketidakpastian maka akan semakin baik career adaptability yang mereka miliki. business and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 8 4. hipotesis 4: career adaptability berpengaruh positif terhadap subjective career success pengujian menggunakan bootstrapping menunjukkan hasil bahwa career adaptability memiliki pengaruh yang signifikan terhadap subjective career success, dengan perolehan t-statistik 2,143 dan nilai signifikansi sebesar 0,033. artinya, pernyataan hipotesis 4 bahwa career adaptability berpengaruh positif terhadap subjective career success, dapat diterima. hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh zacher (2014) yang menyatakan bahwa career adaptability berpengaruh positif terhadap subjective career success terutama pada bagian kepuasan karier dan self-rated performance. hasil ini wajar didapatkan mengingat hipotesis pertama dan ketiga juga diterima. sikap karyawan pt kai daop 8 surabaya yang adaptif secara pengujian menunjukkan tendensi ke arah kepuasan terhadap pencapaian yang mereka raih terkait karier mereka. menurut analisis peneliti, kenyataan bahwa sebagian besar responden adalah lulusan sma/smk menjadikan pekerjaan mereka dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan bagi mereka. terlebih perusahaan tempat mereka bekerja termasuk ke dalam badan usaha milik negara (bumn) di mana hal-hal seperti kebanggaan dapat menjadi bagian di dalamnya merupakan hal yang lumrah terjadi. 5. hipotesis 5: career adaptability berpengaruh positif terhadap objective career success hasil uji bootstrapping menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara career adaptability terhadap objective career success, dengan detail t-statistik 1,029 dan pvalue sebesar 0,304. hal ini berarti pernyataan hipotesis 5 berupa career adaptability berpengaruh positif terhadap objective career success, tidak dapat diterima. hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh spurk (2013) bahwa adaptabilitas karier berpengaruh signifikan positif terhadap objective career success. perbedaan hasil ini memiliki kecenderungan akibat adanya perbedaan sistem karier di indonesia dengan di luar negeri. pada pt kai daop 8 surabaya, jabatanjabatan tinggi masih dipegang oleh para senior yang telah lama bekerja. berbeda halnya dengan keadaan di luar negeri yang sangat umum ditemui para pemegang jabatan tinggi berada di usia yang dapat dikatakan muda. jika dilihat dari jawaban responden terkait objective career success, setidaknya terdapat 20 orang dari jumlah total 41 orang yang menjawab cukup puas terhadap keseluruhan promosi yang diterima. hal ini menggambarkan bahwa untuk mendapatkan promosi di pt kai daop 8 surabaya merupakan hal yang cukup sulit untuk dicapai meskipun mereka telah memiliki sikap yang adaptif. 6. hipotesis 6: terdapat pengaruh tidak langsung bersifat positif dari proactive personality terhadap subjective career success melalui career adaptability berdasarkan uji bootstrapping terdapat pengaruh tidak langsung yang bersifat positif antara proactive personality terhadap subjective career success melalui career adaptability. lebih detailnya adalah nilai t-statistik 2,027 dan nilai signifikansi sebesar 0,043. artinya, hipotesis 6 yang menyatakan adanya pengaruh tidak langsung bersifat positif antara proactive personality terhadap subjective career success melalui career adaptability, dapat diterima. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh spurk (2013) bahwa individu dengan proactive personality lebih adaptif terhadap karier mereka serta mereka akan lebih puas terhadap pekerjaan mereka dan karier mereka sesuai dengan hasil tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 9 dari penelitian ini yang dinyatakan lewat hipotesis 6. spurk (2013) juga menyatakan bahwa individu dengan proactive personality dan adaptif terhadap karier mereka akan merasa diri mereka lebih dihargai baik dari sisi perusahaan tempat ia bekerja maupun di pasar tenaga kerja. 7. hipotesis 7: terdapat pengaruh tidak langsung bersifat positif dari proactive personality terhadap objective career success melalui career adaptability uji bootstrapping yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan antara proactive personality terhadap objective career success melalui career adaptability. dapat dilihat bahwa nilai tstatistik yaitu 0,983 dan signifikansi 0,326. sehingga pernyataan hipotesis 7 bahwa terdapat pengaruh tidak langsung bersifat positif dari proactive personality terhadap objective career success melalui career adaptability, ditolak. hasil ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh spurk (2013) bahwa career adaptability dapat menjelaskan hubungan proactive personality terhadap objective career success, artinya bahwa terdapat pengaruh signifikan positif antara proactive personality terhadap objective career success melalui career adaptability. akan tetapi, hasil penelitian ini mendukung penelitian dari seibert (2001) bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara proactive personality dengan objective career success. h. simpulan berdasarkan uraian-uraian di atas serta hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1. proactive personality memiliki pengaruh signifikan positif terhadap subjective career success, serta terdapat pengaruh tidak langsung antara proactive personality terhadap subjective career success melalui career adaptability. artinya, semakin tinggi tingkat proactive personality karyawan maka akan semakin tinggi pula kepuasan yang mereka peroleh terkait kemajuan mereka dalam berkarier. 2. terdapat beberapa ketidaksesuaian antara hasil penelitian dengan hasil penelitian terdahulu yaitu bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara proactive personality terhadap objective career success maupun tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara proactive personality terhadap objective career success melalui career adaptability. perbedaan ini disebabkan karena kondisi karier di indonesia umumnya mengaitkan keputusan posisi jabatan dengan status lama bekerja karyawan tersebut, serta terdapat faktor-faktor lain di luar penelitian yang dapat dimasukkan ke dalam penelitian. sehingga konsep proactive personality memengaruhi objective career success memiliki keterbatasan tertentu jika diterapkan di indonesia. i. saran hasil pengujian dan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa sikap proactive personality dan bentuk adaptif dalam berkarier merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan pekerjaan. selain berguna untuk mencapai kepuasan dalam berkarier, hal ini juga dapat mendorong tumbuhnya lingkungan kompetitif yang sehat dalam perusahaan yang tentunya diharapkan berdampak positif bagi perkembangan perusahaan. sehingga patut untuk dipertimbangkan bahwa merupakan hal yang lumrah ketika individu/karyawan dengan usia muda dapat mendubusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 10 duki jabatan yang tinggi. selain menciptakan kondisi kompetitif dalam lingkungan kerja, hal ini juga dapat menjaga kinerja dari seluruh karyawan baik yang muda maupun senior karena mereka mengetahui kenyataan bahwa siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk dapat meraih posisi jabatan yang lebih tinggi dari pada yang mereka rasakan sekarang. saran untuk penelitian selanjutnya adalah memperbanyak jumlah responden penelitian agar diharapkan hasil yang diperoleh bisa lebih akurat dan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. di samping itu, diharapkan pada penelitian berikutnya akan dimasukkan faktor-faktor lain yang ada di luar penelitian ini agar memberikan ragam hasil yang lebih luas dan dapat merepresentasikan keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan. menurut analisis dari penulis, variabel-variabel seperti manajemen karier, motivasi, dan selfefficacy patut untuk dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya. j. daftar rujukan anshori, h.m. & iswati, h.s. 2009. buku ajar metodologi penelitian kuantitatif. surabaya: pusat penerbitan dan percetakan unair (aup). arthur, m.b., khapova, s.n., & wilderom, c.p. 2005. career success in a boundaryless career world. j. organiz. behav. 26, 177– 202 (2005). bakker, a.b., tims, m., & derks, d. 2012. proactive personality and job performance: the role of job crafting and work engagement. human relations, 65, 1359– 1378. bateman, t.s. & crant, j.m. 1993. the proactive component of organizational behavior: a measure and correlates. journal of organizational behavior, vol. 14,103–118 (1993). bateman, t. & crant, j.m. 1999. proactive behavior: meaning, impact, recommendations. business horizons, may/jun99, vol. 42 issue 3, p63, 8p, 1bw. bateman, t. & michael, c.j. 1999. proactive behavior: meaning, impact, recommendations. source. business horizons, may/ jun99, vol. 42 issue 3, p63, 8p, 1bw. boateng, f. g. 2016. knowledge sharing among teachers: the role of the big five personality traits. vine journal of information and knowledge management systems, vol. 46 iss 1. bocciardi, f., caputo, a., fregonese, c., langher, v., & sartori, r. 2017. career adaptability as a strategic competence for career development an exploratory study of its key predictors. european journal of training and development, vol. 41 iss 1 pp. 67–82. bozionelos, n. 2004. the big five of personality and work involvement. journal of managerial. buss, d.m. 1983. the act frequency approach to personality. psychological review, 90, 105–126. cochran, l. 1994. what is a career problem? the career development quarterly, march 1994, vol. 42. crant, j. 2000. proactive behavior in organizations. journal of management, vol. 26 no. 3, 435–462. denollet, j. 1998. personality and coronary heart disease: the type-d scale-16 (ds16). annals of behavioral medicine, 1998, vol. 20, 209–215. dotlich, d.p.c. & rhinesmith, s. 2008. complexity, diversity, and uncertainty – the tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 11 shaky new ground for ceos. people & strategy, vol. 31, no. 2, 44–51. dougherty, t.w., cheung, y.h., & florea, l. 2008. the role of personality in employee developmental networks. journal of managerial psychology, 653–669. dreher, g.a. 1990. a comparative study of mentoring among men and women in managerial, professional, and technical positions. journal of applied psychology, vol. 75, 539–546. drost, j.w. 2016. core personality traits of managers. journal of managerial psychology, vol. 31 iss 2. dubrin, a.j. 2013. proactive personality and behavior for individual and organizational productivity. edward elgar publishing. epstein, s. 1979. the stability of behavior: i. on predicting most of the people much of the time. journal of personality and social psychology, 37, 1097–1126. gattiker, u. & larwood, l. 1988. predictors for managers’ career mobility, success, and satisfaction. human relations, vol. 41 no. 8, 569–91. greenhaus, j., parasuraman, s., & wormley. 1990. effects of race on organizational experiences, job performance evaluations and career outcomes. academy of management journal, vol. 33 no. 1, 64-86. hair jr., j.f., black, w.c., babin, b.j., & anderson, r.e. 2014. multivariate data analysis (7th ed). s.1.: pearson prentice-hall. heneman, h. & schwab, d. 1985. pay satisfaction: its multidimensional nature and measurement. international journal of psychology, vol. 20, 129–141. henseler, j., ringle, c.m., & sinkovics, r.r. 2009. the use of partial least squares path modeling in international marketing. international marketing, 20, 277–319. hirschi, a.h. 2014. career adaptivity, adaptability, and adapting: a conceptual and empirical investigation. journal of vocational behaviour, vol. 87, 1–10. https://www.kai.id/. 2018. retrieved from https:/ /www.kai.id/corporate/about_kai/. jaya, i.g. & sumertajaya, i.m. 2008. pemodelan persamaan struktural dengan partial least square. semnas matematika dan pendidikan matematika, 1–118. jeffrey h. greenhaus, g.a. 2010. career management. sage. jiang, z. 2016. proactive personality and career adaptability: the role of thriving at work. journal of vocational behavior. jones, b. 2012. innovation and human resources: migration policies and employment protection policies. manchester institute of innovation. king, z. 2004. career self-management: its nature, causes, and consequences. journal of vocational behavior, vol. 65. koen, j., klehe, u.-c., vianen, a.e., zikic, j., & nauta, a. 2010. job-search strategies and reemployment quality the impact of career adaptability. journal of vocational behavior vol. 77, 126–139. langelaan, s., bakker, a.b., van doornen, l.j., & schaufeli, w.b. 2006. burnout and work engagement: do individual differences make a difference? personality and individual differences, 521–532. larsen, r.j. 2005. personality psychology. domains of knowledge about human nature (2nd ed.). new york: mcgraw hill. lau, v.p., & shaffer, m.a. 1999. career success. the effects of personality. career development international, vol.4 iss 4, 225–231. maree, k. 2017. psychology of career adaptability, employability, and resilience. psybusiness and finance journal, volume 4, no. 1, march 2019 12 chology of career adaptability, employability and resilience, 1–453. mayer, j.d. 2007. asserting the definition of personality. the online newsletter for personality science issue 1, spring 2007, 342–343. nawawi, h. 1993. dasar-dasar manajemen dan manajemen gerakan pramuka. yogyakarta: gadjah mada university press. prabhu, v.p., mcguire, s.j., drost, e.a., & kwong, k.k. 2012. proactive personality and entrepreneurial intent: is entrepreneurial self-efficacy a mediator or moderator? international journal of entrepreneurial behaviour and research 18, 559– 586. prasojo, l.d., mukminin, a., & mahmudah, f.n. 2018. manajemen strategi human capital dalam pendidikan. yogyakarta: uny press. rasdi, r.i. 2011. predicting malaysian managers objective and subjective career success. international journal of human resource management, vol. 22 no. 17, pp. 3528–3549, 3528–3549. robbins, s.p. 2001. organizational behavior 9th. international, prentice hall. robbins, s.t., judge, t.a., & hasham, e.s. 2012. organizational behavior. rottinghaus, p.j., day, s.x., & borgen, f.h. 2005. the career futures inventory: a measure of career-related adaptability and optimism. journal of career assessment, vol. 13 no. 1, 3–24. ryckman, r.m. 2012. theories of personality. cengage learning. santos, g.g. 2016. career barriers influencing career success a focus on academics’ perceptions and experiences. career development, vol. 21 iss 1 pp. 60–84. savickas, m.a. 2012. “career adapt-abilities scale: construction, reliability, and measurement equivalence across 13 countries. journal of vocational behavior, vol. 80 no. 3, pp. 2661–2673, doi: 10.1016/ j.jvb.2012.01.011. savickas, m.l. 1997. career adaptability: an integrative construct for life-span, lifespace theory. the career development quarterly, march 1997, vol. 45, 247– 259. savickas, m.l. 2002. career construction: a developmental theory of vocational behavior. in d. brown & associates (eds.). career choice and development 4th ed, 149–205. savickas, m.l. 2005. the theory and practice of career construction. in s.d. brown & r.w. lent (eds). career development and counseling: putting theory and research to work, 42–70. savickas, m.l. & porfeli, e.j. 2012. career adapt-abilities scale: construction, reliability, and measurement equivalence across 13 countries. journal of vocational behavior 80(3), 661–673. scarpello, v., scarpello, v., & campbell, j. 1983. job satisfaction: are all the parts there? personnel psychology, vol. 36, 577– 600. scott, s.g. 1994. determinants of innovative work behavior: a path model of individual innovation in the workplace. academy of management journal, 38, 1442– 1165. seibert, e.s. & maria, l.k. 2001. the fivefactor model of personality and career success. journal of vocational behavior, vol. 58. tri siwi agustina & ivan rizky muhammad, proactive personality, career success, dan career adaptability pada karyawan pt kereta api indonesia daop 8 surabaya 13 seibert, s., crant, j.m., & kraimer, m.l. 1999. research report “proactive personality and career success”. journal of applied psychology. spurk, d., kauffeld, s., barthauer, l., & heinemann, n.s. 2015. fostering networking behavior, career planning and optimism, and subjective career success: an intervention study. journal of vocational behavior 87, 134–144. spurk, d., volmer, j., hagmaier, t., & kauffeld, s. 2013. why are proactive people more successful in their careers? the role of career adaptability in explaining multiple career success criteria. e.e. crossman, & m.a. weiler (eds.), personality traits: causes, conceptions and consequences. new york: nova publishers. super, d.e. 1974. measuring vocational maturity for counseling and evaluation. washington, dc. national vocational guidance association. super, d.e. 1981. career development in adulthood: some theoretical problems and a possible solution. british journal o/guidance and counseling, 9,194–201. tolentino r.l.m.p.r., nhatlu, g., d. restubog, s.l., prashantbordia, & carolinplewa. 2013. career adaptation: the relation of adaptability to goal orientation, proactive personality, and career optimism. journal of vocational behavior, vol. 84. yang, f., & chau, r. (467–482). proactive personality and career success. journal of managerial psychology, vol. 31 iss 2. zacher, h. 2014. career adaptability predicts subjective career success above and beyond personality traits and core selfevaluations. journal of vocational behavior, vol. 84, 21–30. zhu, g., wolff, s.b., hall, d.t., heras, m.l., gutierrez, b., & kram, k. 2013. too much or too little? a study of the impact of career complexity on executive adaptability. career development international, vol. 18 iss 5 pp. 457–483. 01 arief.pmd i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 147147 strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara universitas airlangga e-mail: yogaiswr@gmail.com abstract: sea transportation has an important role in economic growth in each country, including indonesia. as a maritime country, sea transportation has a strategic role in improving people’s welfare through the distribution of goods and passengers between islands. nominally, goods are the major contributors to the revenues of pt pelindo iii (persero). goods compared, the passenger’s segment only accounts for around 0.74% of total revenue. nevertheless, pt pelindo iii (persero) gives special remark to international passengers with the development of benoa port as a cruise turn around port. this is due to the high traffic of cruise ships or international passenger ships visiting the port over the past 5 years. meanwhile, this cruise ship visit helped boost the velocity of money in the bali region as well as creating a domino effect for the surrounding community. this research is a qualitative research and uses in-depth interviews with 6 informants. 4 people from the internal and 2 from customers’ side. the research uses porter’s five forces in analyzing pt pelindo iii (persero) as well as output in the form of an appropriate strategy proposal in the development of benoa port. the results of the study show that pt pelindo iii (persero) needs to 1) improve work culture, 2) restructuring and regenerating human capital, 3) cooperation and synergy of soes, 4) improving service levels, 5) optimizing facilities and 6) setting reasonable tariffs. keywords: port, benoa, strategy, marketing, cruise turn around port pendahuluan latar belakang masalah transportasi laut memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di setiap negara, tidak terkecuali indonesia. sebagai negara maritim, angkutan laut di indonesia mempunyai peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya melalui distribusi barang antar-pulau (purnomo, 2010). adanya peningkatan perekonomian menurut data badan pusat statistik tahun 2016, membuktikan bahwasanya transportasi laut secara tidak langsung mendukung pertumbuhan ekonomi (nugroho et al, 2017). untuk itu diperlukan adanya pembangunan infrastruktur perhubungan laut, yang erat kaitannya dengan perbaikan lalu lintas barang dan penumpang. mengingat wilayah indonesia didominasi oleh kepulauan, transportasi laut memiliki peranan penting untuk meningkatkan konektivitas antarpulau di indonesia yaitu sebagai alat mobilitas manusia dan barang. dengan demikian, penyediaan prasarana dan sarana transportasi terus dituntut untuk meningkatkan efisiensi pelayanan (purnamasari, 2018). salah satu penyediaan prasaran dan sarana transportasi laut adalah dengan adanya pelabuhan. pelabuhan di indonesia diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu pelabuhan yang diusahakan dan pelabuhan yang tidak diusahakan, di mana kedua pelabuhan ini memiliki tujuan yang sama yaitu melayani kegiatan angkutan laut hanya saja fasilitas pada pelabuhan yang tidak diusahakan tidak selengkap pelabuhan yang diusahakan. pada tahun 2012, jumlah pelabuhan yang diusahakan ada sebanyak 111. jumlah tersebut business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 148 tidak bertambah hingga tahun 2015, dan mengalami penurunan dua tahun setelahnya yaitu menjadi 108 pelabuhan pada tahun 2016 dan 97 pelabuhan pada tahun 2017. secara umum, peningkatan jumlah pelabuhan yang paling besar ada di tahun 2016. namun sebaliknya, jumlah pelabuhan yang tidak diusahakan menunjukkan kenaikan. pada tahun 2012, tercatat ada sebanyak 571 pelabuhan. kemudian mengalami peningkatan menjadi 574 pelabuhan pada 2015, jumlah tersebut dirasa masih belum berimbang untuk memenuhi kebutuhan pelayaran di indonesia (departemen perhubungan indonesia, 2017 dalam purnamasari, 2018). pt pelabuhan indonesia iii (persero) merupakan badan usaha yang sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah republik indonesia (pemerintah) atau bumn. pt pelindo iii, bertindak sebagai terminal operator yang mengoperasikan 43 pelabuhan dengan 16 cabang di 7 provinsi. sebagai bumn, selain diamanatkan untuk mengejar keuntungan, pt pelindo iii (persero) juga diwajibkan menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam pemerataan kesejahteraan masyarakat dan melayani kepentingan umum. pendapatan pt pelindo iii pada semester i tahun 2018 tercatat sebesar rp 4.56 triliun di mana pendapatan terbesar diperoleh dari segmen usaha petikemas sebesar rp 2.6 triliun. sedangkan segmen pelayanan penumpang tercatat sebesar rp 33.7 miliar pada akhir tahun 2017, di mana penumpang non domestik sebesar rp 3.5 miliar dan penumpang domestik sebesar rp 30.1 miliar atau persentase masing-masing sebesar 11.9% dan 89.4%. apabila dibandingkan dengan barang, segmen penumpang hanya menyumbang sekitar 0.74% dari total pendapatan. pendapatan yang diperoleh oleh pt pelindo iii tidak lepas dari strategi yang diterapkan oleh perusahaan. strategi khususnya pemasaran menurut assauri (2008) adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu, pada masing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan keadaan persaingan yang selalu berubah. sedangkan menurut kotler dan amstrong (2012) logika pemasaran di mana perusahaan berharap dapat menciptakan nilai bagi customer dan dapat mencapai hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan. dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya strategi marketing merupakan suatu tindakan yang mengarah pada kegiatan atau usaha pemasaran yang bertujuan untuk menciptakan value bagi customer. untuk menciptakan value tersebut pt pelindo iii sejauh ini telah menerapkan beberapa strategi marketing sebagai berikut. 1. pembagian jenis kapal penumpang (penumpang domestik dan penumpang non-domestik) dengan demikian terdapat perbedaan fasilitas yang ditawarkan, 2. perbedaan tarif penumpang, di mana penumpang non-domestik (penumpang asing) membayar dalam bentuk mata uang usd, 3. meningkatkan kapasitas pelayanan publik pelabuhan, dilakukan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan untuk terminal penumpang, di antaranya dilakukan dengan menambah/memperbesar terminal penumpang sehingga dapat menampung lebih banyak penumpang di ruang tunggu, selain itu dilakukan pengerukan terhadap kolam dan alur pelayaran sehingga kapasitas kapal penumpang yang singgah di pelabuhan juga lebih banyak. selain itu, peningkatan standar pelayanan dengan membudayakan pelayanan prima, pengelolaan pengaduan, penilaian kepuasan pelanggan, serta pemanfaatan teknologi informasi. i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 149 pang pada tahun 2002 tercatat sebesar 11.1 juta penumpang dan tahun 2016 sebesar 27.5 juta penumpang, dengan demikian pernyataan keduanya mendukung bahwasanya pemilihan pelabuhan benoa bali sebagai cruise turn around port tepat. selain itu, menurut hasil pengamatan pt pelindo iii pada tahun 2018 diketahui bahwa jumlah kapal yang sandar di pelabuhan tanjung perak di surabaya dengan pelabuhan benoa di bali memiliki jumlah perbedaan yang cukup signifikan, di mana realisasi kapal cruise yang sandar di surabaya sebanyak 10 kapal, sedangkan di bali sebanyak 56 kapal. maka secara tidak langsung hal tersebut membenarkan bahwa tujuan wisata berpengaruh signifikan dalam menentukan jumlah kunjungan kapal. lebih lanjut, kementerian pariwisata republik indonesia telah memperkenalkan 10 destinasi wisata sebagai ‘bali baru’. destinasi prioritas tersebut yakni, danau toba (sumatera utara), tanjung kelayang (bangka belitung), tanjung lesung (banten), kepulauan seribu (dki jakarta), candi borobudur (jawa tengah), gunung bromo & gunung semeru (jawa timur), labuhan bajo (nusa tenggara timur), mandalika (nusa tenggara barat), wakatobi (sulawesi tenggara), dan morotai (maluku utara). delapan dari 10 destinasi wisata tersebut merupakan wisata maritim dan dapat dioptimalkan untuk menjadi wisata marina. marina merupakan pelabuhan kecil ataupun teluk tempat bersandarnya kapal-kapal kecil dan kapal wisata (yacht) dan tidak melayani kegiatan bongkar muat barang dan penumpang dalam skala besar. melihat peluang tersebut pt pelindo iii akan berusaha memaksimalkan rencana pengembangan pelabuhan benoa bali serta mengembangkan fasilitas pelabuhan di daerah yang menjadi destinasi kapal cruise dan yacht, seperti di pantai boom di banyuwangi, gilimas-lembar dan laberdasarkan hasil observasi diketahui bahwasannya saat ini pt pelindo iii sedang berencana melakukan pengembangan pelabuhan benoa di bali sebagai pelabuhan cruise turn around port. turn around port adalah sebuah istilah di industri pelabuhan. aliansi otoritas pelabuhan amerika (appa) mendefinisikan turn around port adalah sebuah pelabuhan yang memungkinkan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang untuk melakukan jadwal perjalanan. definisi lain, turn around port merupakan sebuah status bagi pelabuhan yang menjadi tempat pemberangkatan (embarkasi) dan penurunan (debarkasi) utama dan menjadi tempat dimulainya setiap perjalanan international cruise. pemilihan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port yang pertama adalah karena bali memiliki connecting flight internasional dengan rute yang lengkap dan yang kedua karena bali memiliki objek-objek wisata dan juga fasilitas untuk menginap, dengan kata lain bali merupakan destinasi wisata yang paling siap untuk dikunjungi turis asing dan kapal pesiar. hal-hal tersebut sejalan dengan pendapat managing director cruise asia, yasa sediya yang mengatakan bahwa “pelabuhan benoa sudah beberapa tahun menjadi permintaan kapal pesiar tetapi cuma sampai sekarang belum terjadi. industri mengharapkan pelabuhan benoa bisa menjadi turn around port. kapal pesiar bisa mendatangkan kunjungan turis asing yang banyak” (prodjo dan ashdiana, 2016). menurut bmi research (2018), dikatakan bahwa kunjungan cruise serta yacht didorong oleh adanya tujuan wisata yang ada di daerah tersebut termasuk di dalamnya fasilitas yang memadai untuk sandar kapal. medcruise (2016) mengatakan bahwa cruise merupakan salah satu industri yang terus mengalami peningkatan hingga 148% dalam 15 tahun terakhir di mana jumlah penumbusiness and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 150 indonesia iii (persero) dalam menyusun strategi dan mengembangkan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port. 2. bagi pihak lainnya penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi peneliti lainnya yang berkeinginan mengembangkan penelitian tentang strategi khususnya marketing pada perusahaan jasa. tinjauan pustaka penelitian terdahulu a. “analisis swot dan penyusunan strategi pemasaran pelabuhan ferry internasional sekupang” oleh benny syahroni (2012). penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman pelabuhan ferry internasional sekupang dan analisis posisi pelabuhan ferry internasional sekupang dibandingkan dengan pelabuhan umum dan pelabuhan khusus lainnya, serta bagaimana proses penyusunan strategi pemasaran pada pelabuhan ferry internasional sekupang. b. “pengembangan transportasi laut dalam upaya meningkatkan konektivitas di wilayah nusa tenggara timur” oleh syafril dan feronika, 2017. penelitian ini membahas rekomendasi pengembangan transportasi laut, sehingga terdapat konektivitas antar-pelabuhan yang terdapat di provinsi ntt dan dengan pelabuhan provinsi lain. c. “prospect and challenges of cruise tourism development in sri lanka “oleh sampath and suranga, 2017. tujuan penelitian ini adalah menggambarkan peluang serta tantangan pengembangan cruise tourism di sri lanka, serta peran serta semua pihak dalam buan bajo. pengembangan ini dilakukan untuk meningkatkan margin pt pelindo iii, hal ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa mayoritas pelabuhan di dunia berusaha untuk menarik operasional home port atau turn around port cruise di pelabuhan mereka yang memberikan margin tinggi serta berdampak positif pada perekonomian lokal (brida & zapata, 2010; castillomanzano, lopez-valpuesta, & alanis, 2015). perumusan masalah berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut. “bagaimanakah strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port?” tujuan penelitian berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. untuk mengetahui strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port. 2. untuk memberikan rekomendasi strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port. manfaat penelitian terdapat beberapa manfaat dari penelitian ini baik secara teoretis maupun manfaat secara praktis. manfaat-manfaat tersebut adalah sebagai berikut. 1. bagi perusahaan hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pt pelabuhan i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 151 menyelesaikan masalah yang timbul pasca pengembangan daerah pariwisata. strategi marketing menurut assauri (2008) strategi pemasaran yang dapat dijalankan oleh perusahaan dapat dibedakan ke dalam tiga jenis sebagai berikut. a. strategi pemasaran yang tidak membedabedakan pasar (undifferentiated marketing) dengan strategi ini, perusahaan menganggap pasar sebagai suatu keseluruhan, sehingga perusahaan hanya memperhatikan kebutuhan konsumen secara umum, oleh karena itu, perusahaan hanya menghasilkan dan memasarkan satu macam produk saja dan berusaha menarik semua pembeli dan calon pembeli dengan suatu rencana pemasaran saja. strategi ini bertujuan untuk melakukan penjualan secara massal, sehingga menekan biaya. perusahaan memusatkan perhatiannya pada seluruh konsumen dan kebutuhannya, serta merancang produk yang dapat menarik sebanyak mungkin para konsumen tersebut. b. strategi pemasaran yang membeda-bedakan pasar (differentiated marketing) dengan strategi ini, perusahaan hanya melayani kebutuhan beberapa kelompok konsumen tertentu dengan jenis produk tertentu pula. jadi perusahaan atau produsen menghasilkan dan memasarkan produk yang berbeda-beda untuk tiap segmen pasar. perusahaan yang menggunakan strategi ini bertujuan untuk mempertebal kepercayaan kelompok konsumen tertentu terhadap produk yang dihasilkan dan dipasarkan sehingga pembeliannya akan dilakukan berulang kali. c. strategi pemasaran yang terkonsentrasi (concentrated marketing) dengan strategi ini, perusahaan mengkhususkan pemasaran produknya dalam beberapa segmen pasar, dengan pertimbangan keterbatasan sumber daya perusahaan. strategi pemasaran ini mengutamakan seluruh usaha pemasaran pada satu atau beberapa segmen pasar tertentu saja. jadi perusahaan yang memusatkan segala kegiatan akan memberikan keuntungan yang terbesar. segmentation segmentasi adalah membagi sebuah pasar menjadi kelompok -kelompok pembeli dengan keinginan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda-beda (kotler & amstrong, 2008 dalam tania dan dharmayanti, 2014). menurut tjiptono dan chandra (2012) dalam hanafrian (2017) bahwa pengertian segmentasi pasar adalah sebagai proses mengelompokkan pasar keseluruhan yang heterogen menjadi kelompokkelompok atau segmen-segmen yang memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan, keinginan, perilaku dan atau respons terhadap program pemasaran spesifik. targeting targeting merupakan proses mengevaluasi dan memilih satu atau beberapa segmen pasar yang dinilai paling menarik untuk dilayani dengan program pemasaran spesifik perusahaan (tjiptono dan chandra, 2012 dalam tania dan dhamrayanati, 2014). menurut keegan dan green, targeting adalah proses pengevaluasian segmentasi dan pemfokusan strategi pemasaran kepada sebuah negara, provinsi, atau sekelompok orang yang memiliki potensi untuk memberikan respons. target pasar juga diartikan sebagai kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan (wijaya dan sirine, 2017 dalam takdir, 2017). business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 152 positioning definisi positioning menurut kotler dan keller (2009) adalah suatu aktivitas perusahaan dalam memberikan suatu citra yang ditaruh di dalam benak pikiran pasar sasaran atau target konsumen. dari definisi ini dijelaskan bahwa positioning memiliki tujuan untuk melokasikan suatu brand di dalam pikiran konsumen agar dapat memberikan nilai tambah (manfaat) yang lebih kepada perusahaan. cruise turn around port turn around port merupakan istilah di dunia kepelabuhanan di mana siriwardena dan silva (2017) mendeskripsikan turn around port sebagai pelabuhan bagi kapal cruise dalam menaikkan dan menurunkan penumpang. lebih lanjut, disebutkan pula bahwa pelabuhan ini bukanlah pelabuhan tujuan utama bagi para penumpang akan tetapi memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam melayani perjalanan kapal cruise. adapun, turn around port hanya dapat dimungkinkan apabila pada daerah pelabuhan dimaksud memiliki jumlah international connecting flight yang cukup serta aksesibilitas ke terminal penumpang di area pelabuhan. hal senada dari cruise line international association (2017) juga menjelaskan lebih lanjut bahwa pada turn around port, kapal-kapal cruise tidak hanya melakukan aktivitas sandar serta menaikkan dan menurunkan penumpang, namun juga melakukan aktivitas pengisian perbekalan seperti bahan bakar, air bersih, logistik, makanan, dan lain sebagainya. lebih lanjut, menurut internal pt pelindo iii turn around port memiliki potensi untuk mendongkrak aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar pelabuhan atau dengan kata lain memiliki domino effect. beberapa industri yang dipengaruhi langsung adalah penginapan, pusat perbelanjaan dan restoran atau tempat makan. adapun, terdapat kesempatan bagi perencana perjalanan untuk menjadwalkan waktu wisata pada tujuan wisata pelabuhan dimaksud. porter’s analysis framework dalam perkembangan ilmu manajemen, konsep mengenai strategi terus berubah. para pemikir dan konsultan manajemen memberikan berpuluh model dan kerangka berpikir (framework) untuk menganalisis pilihan strategi (hambrick dan fredrickson, 2005). strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. strategi merupakan respons secara terus menerus maupun adaptif, terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat memengaruhi organisasi. hambrick dan fredrickson (2005) menekankan bahwa para chief executing officer (ceo), kepala divisi, atau siapa pun entrepreneur, harus mempunyai strategi untuk bisa mencapai tujuan organisasi. 1. the threat of new entrants (masuknya pesaing baru) 2. the power of suppliers (kekuatan penawaran pemasok) 3. the power of buyers (kekuatan penawaran pembali) 4. the threat of substitutes (ancaman dari produk pengganti/substitusi) 5. rivalry among existing competitors (persaingan di antara pesaing yang ada) kelima kekuatan tersebut menentukan profitabilitas industri karena memengaruhi harga, biaya, dan memerlukan investasi perusahaan di i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 153 dalam suatu industri. profitabilitas industri tidak bergantung pada bagaimana tampaknya produksi bersangkutan atau apakah fungsi itu mencakup teknologi tinggi atau rendah, tetapi tergantung pada struktur industri. kekuatan masing-masing dari kelima kekuatan bersaing merupakan fungsi struktur industri, atau karakteristik ekonomi dan teknis yang mendasari suatu industri. dengan mempelajari kelima hal ini, manajer dapat memformulasikan strategi yang akan menjadikan perusahaan lebih profit dan menjadi kurang vulnerable menghadapi pasar (porter, 2008). metode penelitian pendekatan penelitian pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. pendekatan kualitatif diartikan sebagai sebuah proses penyelidikan bertujuan memahami masalah baik itu manusia atau sosial, berdasarkan pada penciptaan gambaran holistis lengkap yang dibentuk melalui kata-kata dalam bentuk laporan pandangan pemberi informasi secara rinci dan disusun dalam sebuah latar alamiah (cresswell, 2002). penelitian deskriptif kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dilakukan dengan studi mendalam serta mempertimbangkan kedalaman data dengan pertimbangan kemudahan untuk mendalami, menggali informasi lebih banyak dan akurat. jenis dan sumber data jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder (marzuki, 2002). sumber data berasal dari hasil wawancara dengan key informants serta hasil pengamatan atas fenomena di lapangan pada objek penelitian. data sekunder, mengacu pada informasi yang dikumpulkan dari sumber yang telah ada. data sekunder dapat berupa laporan, buku-buku, pedoman, dan peraturan pelaksanaan. teknik pengumpulan data pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara membagi menjadi tiga tahap. pertama, survei pendahuluan untuk memperoleh gambaran perusahaan dalam hal ini pt pelindo iii secara umum, dan mempelajari strategi marketing pt pelindo iii secara khusus. kedua, pengorganisasian penelitian yang terdiri dari tahap persiapan, pencarian jurnal dan teoriteori yang terkait. ketiga, pengumpulan data melalui wawancara dan pengumpulan dokumen perusahaan terkait. key informants pada penelitian ini, akan dilakukan interview dengan beberapa key informants berdasarkan struktural organisasi pt pelabuhan indonesia iii (persero), yaitu direktur operasi dan komersial, senior vice president marketing, senior vice president corporate strategic planning and performance dan vice president tourism. kemudian, key informan eksternal pt pelabuhan indonesia iii (persero) adalah customer yakni general manager pt equator marindo dan manager operation pt beahari eka nusantara. teknik analisis data analisis data menggunakan metode kualitatif deskriptif. perolehan data melalui wawancara dalam penelitian ini di analisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu pendeskritifikan data hasil wawancara dari key informants secara business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 154 menyeluruh di mana data wawancara dalam penelitian ini adalah sumber data utama yang menjadi bahan analisis data untuk menjawab masalah penelitian. proses analisis data dimulai dengan membuat transkrip hasil wawancara lebih dahulu, hal yang dilakukan terkait transkrip hasil wawancara adalah dengan cara memutar kembali rekaman wawancara kemudian menuliskan kata-kata yang sesuai dengan apa yang ada di rekaman tersebut. kemudian, setelah penulisan transkrip selesai selanjutnya peneliti membuat reduksi data dengan cara abstraksi, yaitu dengan mengambil data yang sesuai dengan konteks penelitian dan mengabaikan data yang tidak diperlukan. triangulasi digunakan sebagai penguji keabsahan data di mana data di luar penelitian digunakan untuk pengecekan atau sebagai pembanding. keabsahan data dilakukan dengan maksud agar data yang dihasilkan dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. analisis dan pembahasan segmentation, targeting dan positioning pt pelindo iii (persero) segmentation berdasarkan penelitian kotler, bowen dan makens (2012) diketahui pt pelabuhan indonesia iii (persero) menetapkan segmentasi atas dasar geografis. sesuai dengan dokumen internal perusahaan (dokumen kpku, 2017) pt pelabuhan indonesia iii (persero) membagi segmen pelanggan menjadi dua, yakni domestik dan internasional. adapun pada kedua segmen ini, pt pelabuhan indonesia iii (persero) membagi pasar-pasar yang dilayani menjadi lima jenis yakni petikemas, curah kering, curah cair, bag cargo dan other cargo. khusus pada penelitian ini, kapal cruise masuk ke dalam jenis other cargo. adapun pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam mempermudah kegiatan usahanya membagi wilayah kerja menjadi empat region sebagaimana di bawah yakni: region jawa timur, region jawa tengah, region kalimantan, dan region bali nusra. khusus untuk region bali nusra akan mendapat perhatian khusus dalam pembahasan penelitian ini karena pada region inilah pelabuhan benoa berdiri. secara umum, region bali nusra memiliki arus penumpang internasional paling tinggi di antara region lain yang bersumber dari kunjungan kapal cruise dengan jumlah penumpang pada tahun 2017 sebanyak 165.492 dan pada tahun 2018 jumlah penumpang tercatat 252.305 atau meningkat 52%. targeting berdasarkan penetapan segmentasi di atas maka pt pelabuhan indondesia iii (persero) menetapkan sasaran target usaha tidak hanya terfokus pada kondisi internal saja melainkan kondisi eksternal yang mana dalam hal ini adanya kebijakan pemerintah menjadi pertimbangan perusahaan dalam menentukan target pasar. jika berdasarkan teori strategi, maka pt pelabuhan indonesia iii (persero) menetapkan target sasaran dengan full market converage, di mana perusahaan berusaha untuk mencakup keseluruhan pasar yang ada dengan memenuhi kebutuhan konsumen dengan produk yang berbeda di setiap segmen pada keseluruhan pasar. dalam hal ini, pt pelabuhan indonesia iii (persero) tidak hanya membatasi pada satu bisnis saja namun beberapa peluang bisnis dengan memaksimal kemampuan perusahaan. hal ini sesuai dengan strategi bisnis perusahaan mengenai diferensiasi produk dan inovatif proaktif. jika berdasarkan penelitian widjaya (2017), maka strategi target pasar pt pelabuhan indonesia iii (persero) adalah differentiated marketing, di mana strategi ini digunai nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 155 kan perusahaan untuk menargetkan beberapa segmen pasar dan mendesain tawaran yang terpisah kepada setiap segmen pasar. dengan menawarkan berbagai variasi produk dan pemasaran ke dalam segmen, perusahaan berharap untuk penjualan yang lebih tinggi dan posisi yang lebih kuat dalam setiap segmen pasar. positioning pt pelabuhan indonesia iii (persero) memosisikan diri tidak hanya sebagai sebuah perusahaan yang mengejar keuntungan, namun juga sebagai agen pemerintah dalam pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah kerjanya. hal ini membuat pt pelabuhan indonesia iii (persero) tidak leluasa melakukan gerakan bisnis dengan cepat pada umumnya. positioning dalam hal ini menjadi kekuatan perusahaan di mana pt pelabuhan indonesia iii (persero) mendapatkan perlakuan dan perlindungan khusus dari pemerintah dalam bentuk regulasi yang berdasarkan undangundang maupun peraturan setingkat kementerian. porter’s five forces porter analysis pt pelabuhan indonesia iii (persero) threat of new entrants munculnya pendatang baru (pelabuhanpelabuhan baru) yang dikelola baik oleh pemerintah (bumn), perusahaan lokal (swasta) baik dengan bekerja sama atau tidak bekerja sama dengan investor asing tidaklah mudah, hal ini terkait dengan regulasi pemerintah serta investasi pembangunan yang cukup besar. namun, adanya pendatang baru dan peluang akan dibukanya investor asing untuk mengelola secara langsung akan menjadikan ancaman bagi perusahaan dalam hal ini pt pelabuhan indonesia iii (persero). berdasarkan data badan pusat statistik tahun 2018, jumlah pelabuhan strategis di indonesia pada tahun 2015 adalah 1.351 pelabuhan cenderung mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2013 dan tahun 2014. sedangkan jumlah pelabuhan strategis berdasarkan pengelolaan pada tahun 2014 dan tahun 2015 untuk pt pelindo cenderung tetap yaitu sebanyak 111 pelabuhan, terminal khusus berjumlah 480 pelabuhan, tuks berjumlah 574 pelabuhan, sedangkan upt mengalami penurunan semula 574 pelabuhan menjadi 186 pelabuhan pada tahun 2015. bargaining power of suppliers pada industri transportasi laut dalam hal ini sarana dan prasarana pelabuhan yang menjadi pemasok ataupun supplier adalah perusahaanperusahaan yang menawarkan alat berat seperti crane untuk membantu mengembangkan usaha bongkar muat pelabuhan, penyediaan sumber air bersih dengan swro (desalinasi air laut) atau bwro (desalinasi air payau). namun berdasarkan data wawancara diketahui bahwasanya pemasok kegiatan operasional adalah beberapa anak perusahaan pt pelabuhan indonesia yang dikondisikan sebagai supplier, di dalam wawancara tersebut disebutkan bahwa pt pel membantu dalam memfasilitasi pengaturan gas, ppi (pelindo properti indonesia) untuk mengatasi permasalahan marina (pelabuhan khusus), pt pms (pelindo marinie service) untuk memfasilitasi masalah bbm dan air. bargaining power of buyers pelanggan yang dimaksud di sini adalah perusahaan atau pelanggan yang membutuhkan layanan jasa angkutan transportasi laut. para pelanggan biasanya akan menuntut suatu jasa yang berkualitas prima, layanan yang baik serta business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 156 kemudahan dalam bertransaksi namun dengan harga yang murah. menurut hasil wawancara, ditemukan bahwa pelanggan pt pelabuhan indonesia iii (persero) di antaranya adalah agen kapal dan perusahaan pelayaran (bongkar muat petikemas, kargo, bulk, kontainer). kemudian bargaining power of buyers cukup kuat mengingat pt pelindo iii (persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa. adapun, pelanggan pt pelindo iii (persero) pada segmen cruise berdampak langsung pada pendapatan negara. selain itu, kekhawatiran adanya dampak negatif word of mouth turut berpengaruh pada kunjungan ke pelabuhan benoa. threat of substitute products or services produk/servis substitusi (pengganti) jasa transportasi laut dalam hal ini pelabuhan adalah jasa transportasi udara dan jasa transportasi darat. pada setiap tahunnya penggunaan transportasi baik darat, udara dan laut mengalami peningkatan. terjadi peningkatan jumlah pengguna transportasi darat (kereta api), di mana pada setiap tahunnya jumlah angkutan penumpang pulau jawa mengalami pertumbuhan sebesar 16,19% sedangkan di pulau sumatra sebesar 14,60%. namun hasil ini berbanding terbalik dengan jumlah angkutan barang dengan menggunakan jasa transportasi kereta api, pulau sumatra mengalami peningkatan sebesar 13,78% setiap tahunnya sedangkan pulau jawa sebesar 10,64% setiap tahunnya. transportasi laut sejauh ini lebih banyak dalam hal angkutan penumpang, berdasarkan data bps tahun 2017 diketahui jumlah angkutan penumpang udara sebanyak hampir delapan juta orang, sedangkan bongkar muat barang jauh lebih banyak lagi dibandingkan transportasi udara. berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada produk pengganti memberikan pilihan bagi pelanggan untuk memilih jasa transportasi berdasarkan kebutuhan. rivalry among existing competitors berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa saat ini jasa transportasi laut dengan pengembangan usaha pelabuhan masih banyak dikelola oleh pemerintah. pt pelabuhan indonesia, masih mendominasi dibandingkan perusahaan lokal swasta dan asing. akan tetapi, masih terdapat kemungkinan bagi perusahaan swasta tersebut untuk terus bersaing dengan menggandeng perusahaan lokal apabila pt pelindo iii (persero) tidak melakukan pembenahan dari sisi pelayanan. strategi pt pelindo iii (persero) berdasarkan hasil wawancara mengenai strategi pt pelabuhan iii (persero), penetapan strategi perusahaan didasarkan pada visi dan misi perusahaan, di mana dahulu strategi perusahaan masuk dalam rjpp sehingga tidak menggambarkan dengan jelas strategi yang dimaksud, namun kemudian diturunkan dalam rencana kerja manajemen jangka panjang serta rencana kerja jangka pendek sehingga memudahkan setiap insani pt pelabuhan indonesia iii (persero) menangkap tujuan perusahaan. gambaran strategi pt pelindo iii (persero) dapat dikatakan belum memaksimalkan fungsi pelabuhan secara baik. masih ada pelayanan yang belum berjalan sebagaimana seharusnya, kemudian belum adanya evaluasi lebih lanjut perihal implementasi strategi marketing yang sedang berjalan, perlunya melibatkan semua cabang dalam membuat keputusan sehingga tidak hanya pusat saja yang memiliki kewenangan untuk menentukan rencana kerja terkait dalam menunjang tercapainya tujuan i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 157 perusahaan. selain itu, beberapa pelaksana belum bekerja dengan baik. berikut ini usulan perbaikan strategi pt pelindo iii (persero) berdasarkan penelitian. 1. memperbaiki budaya kerja dengan pola lama, di mana kesan ‘birokrat” pada perusahaan milik pemerintah masih melekat. 2. restrukturisasi dan regenerasi sumber daya manusia, kemudian menyiapkan sumber daya manusia agar sigap dengan perubahan yang terjadi. 3. menjaga kerjasama dan bersinergi dengan perusahaan bumn dan mitra kerja perusahaan. 4. pelayanan pt pelabuhan indonesia iii (persero) yang diberikan kepada pelanggan. pelayanan yang dimaksudkan dapat berupa kepastian dan ketepatan waktu pelayanan. 5. memaksimalkan fasilitas, dan dilakukan penambahan apabila diperlukan dalam rangka menunjang peningkatan pelayanan. 6. investasi teknologi system dengan konsep home terminal service. home terminal service merupakan bentuk aplikasi seperti gojek yang dapat memudahkan pelanggan tanpa harus datang secara langsung. 7. menetapkan tarif yang reasonable. adapun atas kondisi existing tersebut, strategi pt pelindo iii (persero) masih belum teruji dengan baik di mana kompetitor belum banyak sehingga perlu dilakukan evaluasi dan pengembangan untuk memanfaatkan kondisi status quo. lebih lanjut, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengevaluasi kembali segmentasi, target, dan positioning perusahaan sebelum menentukan pengembangan strategi baru dalam hal ini adalah rencana pengembangan strategi cruise turn around port. lebih lanjut, rencana pengembangan cruise turn around port di benoa menjadi alternatif pilihan pengembangan strategi yang menjanjikan hanya saja perlu dipersiapkan dengan baik mengingat strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) secara umum dapat dikatakan belum maksimal. selain benoa bali, indonesia bagian timur seperti sumbawa dan raja ampat dapat menjadi pertimbangan lain. keterbatasan penelitian keterbatasan dalam penelitian ini antara lain adalah objek penelitian hanya meneliti rencana pelabuhan benoa menjadi turn around port sebagai objek penelitian, tidak meneliti alternatif pengembangan lainnya. di samping itu, proporsi key informant pada penelitian ini lebih banyak dari sisi pt pelabuhan indonesia iii (persero) atau dapat dikatakan internal’s key informant dalam penelitian ini lebih dominan. selain itu, penelitian ini tidak menganalisis dampak biaya dan beban finansial atas strategi yang dilakukan oleh perusahaan. titik berat dari penelitian ini lebih pada peningkatan pendapatan dan pasar perusahaan yang berkaitan dengan cruise turn around port pelabuhan benoa. hal lain yang dapat dilakukan di antaranya dapat meneliti atau mengevaluasi kembali implementasi pengembangan strategi turn around port pada pt pelabuhan indonesia iii (persero) dengan menambahkan key informants eksternal perusahaan sehingga akan mendapatkan informasi serta perspektif yang lebih luas, kemudian mengevaluasi strategi bauran pemasaran pt pelabuhan indonesia iii (persero) dan re-evaluasi penetapan segmentasi, targeting, dan positioning (stp) strategi pemasaran pt pelabuhan indonesia iii (persero). business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 158 kesimpulan dan saran kesimpulan berdasarkan hasil penelitian mengenai” strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port” maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 1. bagaimanakah strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port? strategi yang diterapkan oleh pt pelabuhan indonesia iii (persero) dapat dikatakan belum memaksimalkan fungsi pelabuhan secara baik. hal ini terkait dengan adanya pelayanan yang masih belum berjalan sebagaimana seharusnya, kemudian belum adanya evaluasi lebih lanjut perihal implementasi strategi khususnya dalam konteks marketing yang sedang berjalan, perlunya melibatkan semua cabang dalam membuat keputusan sehingga tidak hanya pusat saja yang memiliki kewenangan untuk menentukan rencana kerja terkait dalam menunjang tercapainya tujuan perusahaan. selain itu, peran sumber daya manusia sebagai pelaksana belum bekerja dengan baik. namun, rencana pengembangan cruise turn around port di benoa menjadi alternatif pilihan pengembangan strategi yang menjanjikan hanya saja perlu dipersiapkan dengan baik mengingat strategi yang dilakukan pt pelabuhan indonesia iii (persero) dapat dikatakan belum maksimal. 2. rekomendasi strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port? pada dasarnya sebelum menentukan ataupun memutuskan pengembangan strategi, alangkah lebih baik jika pt pelabuhan indonesia iii (persero) melakukan evaluasi. kemudian beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. a. memperbaiki budaya kerja dengan pola lama, di mana kesan ‘birokrat” pada perusahaan milik pemerintah masih melekat. b. restrukturisasi dan regenerasi sumber daya manusia, kemudian menyiapkan sumber daya manusia agar sigap dengan perubahan yang terjadi. c. menjaga kerjasama dan bersinergi dengan perusahaan bumn dan mitra kerja perusahaan. d. pelayanan pt pelabuhan indonesia iii (persero) yang diberikan kepada pelanggan. pelayanan yang dimaksudkan dapat berupa kepastian dan ketepatan waktu pelayanan. e. memaksimalkan fasilitas dan menambahkan jika diperlukan dalam menunjang peningkatan pelayanan. f. menetapkan tarif yang reasonable. saran dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa saran yang dapat dipertimbangkan atau dimanfaatkan sebagai bahan dalam pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut. pelabuhan benoa telah memiliki keunggulan eksternal strategis dalam upayanya untuk menjadi cruise turn around port yakni lokasi pulau bali yang telah memiliki tujuan wisata bagi wisatawan asing dan domestik serta connecting flight yang lengkap juga aksesibilitas yang menjangkau hingga ke area pelabuhan. untuk itu, pt pelindo iii (persero) perlu melakukan perbaikan internal sebagaimana tercantum pada kesimpulan agar mendukung dan memperkuat keunggulan eksternal dimaksud. i nyoman gede danendra kenaka yoga iswara, strategi pt pelabuhan indonesia iii (persero) dalam pengembangan pelabuhan benoa sebagai cruise turn around port 159 daftar pustaka assauri, sofyan, 2008. manajemen pemasaran: dasar, konsep, dan strategi, cetakan kedelapan. jakarta: pt raja grafindo. bps. 2017. transportasi darat 2017, diunduh melalui https://www.bps.go.id/ bps. 2017. transportasi laut 2017, diunduh melalui https://www.bps.go.id/ bps. 2017. transportasi udara 2017, diunduh melalui https://www.bps.go.id/ bps. 2018. data statistik pelabuhan strategis di indonesia, diunduh melalui https://www. bps.go.id/ brida & zapata. 2011. residents’ attitudes and perceptions towards cruise tourism development: a case study of cartage de india’s (colombia). tourism and hospitality research, vol.1, no. 3, hal: 187–202. castillo-manzano, lopez-valpuesta, & alanis. 2014. tourism managers’ view of the economic impact of cruise traffic: the case of southern spain. current issues in tourism, vol. 18, no.7, hal: 701–705. chiappa, lorenzo – romero, galarza. 2018. host community perceptions of cruise tourism in a homeport: a cluster analysis. journal of destination marketing & management, vol. 7, hal: 170–181. company profile pt pelindo iii. 2018. creswell, john w. 2002. desain penelitian. jakarta: kik press. cruise line international association. 2017, diunduh melalui https://cruising.org/ daft, richard l. 2010. understanding the theory and design of organizations 10th edition. asia – china: south western, cengage learning. dolan, r.j. 1991. strategic marketing management. boston: business school publication gusnur. 2008. tantangan pemasaran abad 21, diunduh melalui http://gusnur69.wordpress.com. hambrick and fredrickson. 2005. are you sure you have a strategy. academy of management executive, vol.19, no.4. hanafrian, ruri hafizh. 2017. tinjauan strategi segmentasi, targeting, positioning (stp) pada pt soka cipta niaga. jurnal e-proceeding of applied science, vol.3, no.2, hal: 338–344. koentjaraningrat. 1993. metode-metode penelitian masyarakat. jakarta: pt gramedia pustaka utama. kotler, philip dan amstrong, gary. 2009. prinsipprinsip pemasaran, edisi 12, jilid 2. jakarta: erlangga. kotler, philip dan amstrong, gary. 2012. prinsipprinsip pemasaran, edisi 13 jilid 1. jakarta: erlangga. kotler, philip dan armstrong, gary. 2008. manajemen pemasaran, jilid 1, alih bahasa oleh benyamin molan, edisi 12. jakarta: pt indeks. kotler, philip dan keller, kevin lane. 2009. manajemen pemasaran, edisi 13, jilid 1. jakarta: erlangga. kotler, philip dan keller, kevin lane. 2012. marketing management 13th. new jersey: pearson prentice hall, inc. laporan tahunan. 2017. laporan tahunan pt pelabuhan indonesia iii (persero), diunduh melalui https://www.pelindo.co.id/info-investor/laporan/q/annual-report. lubis, arlina nubaity. 2004. strategi pemasaran dalam persaingan bisnis. usu digital library. program studi ilmu manajemen fakultas ekonomi universitas sumatera utara. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 160 marzuki. 2002. metodologi riset. yogyakarta: fakultas ekonomi universitas islam indonesia. moleong, lexy j. 2012. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt remaja rosdakarya. nugroho et al. 2017. strategi pengembangan bisnis pt pelayaran bahtera adhiguna dalam industri pelayaran. albacore, vol. 1, no. 3, hal: 321–336. palmer, adrian. 2001. principles of service marketing 13th edition. united stated of america: mcgraw hill. porter, michael e. 2008. strategy bersaing (competitive strategy). tangerang: kharisma publishing group. purnamasari, desi. 2018. sejauh mana perbaikan infrastruktur laut indonesia? diunduh melalui https://tirto.id/sejauh-mana-perbaikaninfrastruktur-laut-indonesia-cmjg. purnomo, cahya. 2010. pentingnya pemasaran jasa angkutan laut di indonesia. bahari jogja, vol.x, no.17. rangkuti, f. 2004. strategi promosi yang kreatif: analisis kasus integrated marketing communication. jakarta: gramedia pustaka utama. siriwardena, sampath and suranga, dac silva. 2017. prospect and challenges of cruise tourism development in srilanka. seusl journal of marketing, vol. 2. no. 1. hal: 1–25. sugiyono. 2002. metode penelitian administrasi. bandung: cv alfabeta. susanto dan wijanarko. 2004. power branding: membangun merek unggul dan organisasi pendukungnya. jakarta: mizan publika jakarta. suyanto. 2007. marketing strategi top brand indonesia. yogyakarta: cv andi offset. syafril dan feronika. 2017. pengembangan transportasi laut dalam upaya meningkatkan konektivitas di wilayah nusa tenggara timur. warta penelitian perhubungan, vol. 29, no. 2, hal: 241–252. syahroni, benny. 2012. analisis swot dan penyusunan strategi pemasaran pelabuhan ferry internasional sekupang. program pascasarjana universitas terbuka jakarta. takdir. 2017. pengaruh strategi stp dan personal selling terhadap peningkatan penjualan pada pt bumi sarana utama di makassar. fakultas ekonomi dan bisnis islam universitas islam negeri alauddin. tania, debby dan dharmayanti, diah. 2014. market segmentation, targeting, dan brand positioning dari winston premier surabaya. jurnal manajemen pemasaran petra, vol.2, no.1, hal: 1–7 tjiptono, fandy. 2006. strategi pemasaran. yogyakarta: cv andi offset. widjaya, pieter gunawan. 2017. analisis segmenting, targeting, positioning, dan marketing mix pada pt murni jaya. jurnal agora, vol. 5, no. 1. 01 astria primadhani.pmd si ti muja n ah , siti n ur ul ain i, c andran ingrat , tr ansform ation al l e ad e rship , kond isi k e rja, d a n b ud ay a o rga nisasi pe ng a ruhn y a t e rh a d a p k in e r j a k a ry aw a n 155155 transformational leadership, kondisi kerja, dan budaya organisasi pengaruhnya terhadap kinerja karyawan siti m ujanah1, siti nurul aini2, candraningrat3 1, 2 fa kult as e konomi d an bisnis, u niversit as 17 agustus 1945 surabaya 3 fa kultas e konomi dan bisnis u niversit as d inami ka e-mail: 1sit imujanah @ untag-sby. ac.id, 2stnurulaini92 @gmail .com, 3candra @ dinamika .ac.id abstract: t his a ims of this study w a s to find the rela tionship bet ween tra nsforma tiona l lea dership, working condition a nd orga niza tiona l cul ture on employee performa nce. respondents on this study were employees a t c entra l asia r a ya suraba ya as a sa mple in the study a mounted to 62 peoples. t his research used primary da ta sources w ith collection da t a method by survey w ith a questionna ire instrument, a fter the da ta is collected, the da ta is a n a lyzed using the a n a lysis of correla tion, regression, f-test a nd t-test w ith spss softw a re. t he results of this study indica te tha t tra nsformationa l leadership a nd work ing condit ion a nd orga ni za tiona l culture pa rtia lly have a significa nt effect on employee performa nce. fur thermore, as simultaneously tra nsforma tiona l leadership, working condition, a nd org a niza tion a l cu lture have a signif ica nt effect on employee performa nce, a nd work environment domina nt in fluence on employee performa nce. keywords: tra nsforma tiona l leadership, work ing condit ions, org a niza tion a l culture, a nd employee performa nce pe n da h ulua n sumber daya manusia memilik i peran penting dalam m encapai keberha silan sua tu org anisasi t erlebih dala m sua tu perusah a an . sumber daya manusia sebagai subje k yang menggera kkan semu a a k tivi t as di o rganisa si mulai dari me rencana kan , mengorganisasikan, mela ksana kan , dan meng evaluasi semua kegia t an sumber daya manusi a . un tuk itu di perluka n sumber daya m anusia yang po t ensial yang a kan ber peran d alam mela ksana kan kebija kan dan kegia t a n opera sional perusah a an . pe rusaha an harus mencip t a kan stra t egi mul ai merumuskan visi, misi, tujuan , dan sasaran yang h arus di pahami oleh se tiap anggo t a di dalam organisasi. un tu k menca pai tu juan organisasi dipe rlukan sumber daya ma nusia y ang po t ensial yang mamp u menca pai ki nerja sesuai d engan yang dit a rget kan oleh p erusaha a n demik ian jug a di perusaha an asuransi yang tingka t persa ingannya cukup tinggi. perk embanga n industri asuransi di ind onesia mengala mi pen ingka t a n yang cukup baik yang bisa di liha t d ari per kembanga nnya se lama empa t t ahun t era kh ir, di mana aset industri asuransi yang mengalami pertumbuhan ra t a-ra t a mencapai lebih dari 16% ( n isrina s alma a li fah , 2020). r at a-ra t a pertumbuhan perusaha an asuransi di i ndonesia memili ki nilai invest asi yang masing-masing ada peningka t an sebesar 14 ,4% dan juga 21 ,0%, sebaga imana disampaik an oleh k epala e kse kut if peng a w as i k n b firda us d ja e lani (201 1). d a t a t ersebut menunjuk kan adanya pening ka t an positif y ang t erj adi di dalam bisnis asur ansi. n amun de mikian perusaha an asur ansi di i ndonesia masih bisa dit ingka t ka n kinerj anya seca ra op ti mal guna mend ukung p ertumbuhan asur ansi seh ingga setiap t a hun dap a t meningka t t erus. peningkat an kinerja perusaha an dapat dilakuka n denga n meningka t kan kinerj a karya w an , sema kin tinggi kin erja karya w an a kan sem a kin busin ess and fin an ce jour n al , volume 5 , n o . 2 , o ct ober 20 20 156 tinggi pula kinerja organisasi at au kinerja perusahaan. perusaha an c en tral a sia r a ya sura baya dala m mengel ola s d m selalu m emperha t ikan kebu tuhan ka rya w an y ang mamp u mening ka tkan kinerja karyaw annya . o leh karena pimpinan sang a t berpe ran t er hadap ki nerja k arya w an . selain itu, ko ndisi ke rja yang nyaman juga sa nga t diha rap kan dalam m eningka t kan kin erja ka ryaw an . selain kondisi kerja , budaya organisasi juga diperlukan karena banya k penelitian mengat a ka n bah w a budaya organisasi yang kua t yang dit e rap kan di perusaha an , dan se mua anggo t a organisasi menerima dengan baik ma ka diharapkan dapa t meningka t kan mo tivasi karya wan dan pada a khirny a dapa t mening ka t kan k inerja karya wan. berd asarkan fenomena yang t erjadi, ma ka pen t ing un t uk di k et ahui a pa kah k epemimp inan transformasional, kondisi kerja dan budaya organisa si berp engaruh t erhada p kiner ja kary a w an dii p t a j c en tral a sia r ay a c abang surabaya . k ebe rhasila n sua t u organ isasi t ida k l epas dari seorang pimpinan yang menjalan kan fungsinya dengan gaya k epemimp inan ya ng men jadi ciri kas t ersendiri, salah sa tunya adalah k epemimp inan tr ansformasiona l yaitu merup a kan peri la ku se orang pemimpi n yang meliba t kan perubahan besar da lam mem engaruh i sikap dan asumsi anggo t a org anisasi dan me mbangun komitm en , misi , tujua n , dan stra t egi organisasi (robbins, st ephen p. & c oult er, 20 10). k epemimpinan transformasional juga dapa t diartikan sebagai kemampuan seorang pemimpin dalam menginspirasi dan memo tivasi para pengikut nya un tu k meningka t kan hasil y ang dica painya (tria m ondiana , 2012). pemi mpin de ngan gaya kepemimpinan transformasional cenderung memberikan l ebih ba nya k kebebasan , rasa k epemili kan dan t anggung ja w a b yang a kan me ndorong t ercap ainya t ujuan pe rusaha a n yang bersangkutan (k han, z unnoorain, & shahzad k han, 2013). d eng an demi kian dap a t dika t a kan bah w a kepe mimpinan transformasion al meng inspir asi dan memo tiv asi pengikutnya sehingga peng ikut cend erung l ebih ba nya k kebebasan , dan p unya rasa memiliki un tuk mencapai kinerja yang lebih tingg i (se ka r n indi t a a dil a putri dan d a dang iska ndar, 2 016), k arena k epemimp inan tr ansform asional berpengaruh signifik an t erh adap kinerja karyaw an (a nhairullah dan siti m ujanah , 2016), hasi l penel itian la in juga menya t a kan bah w a kepemimpinan transformasi onal be rpengaruh posit if dan signifik an t erh adap kin erja (e ndr i sukman a d k k . , 2015) selain kepemimpinan transformasional yang dit e rap kan , kondisi kerja juga berp engaruh t erhada p peningka t an kinerj a karya w an (d e lvin a le x ander g una wan , 2018). kondisi kerja merupa ka n sua tu sarana dan prasarana y ang dipe rsiap kan oleh pe rusaha an di t emp a t ker ja dan yang diharap kan dapa t menduk ung kary a w an dalam menjalan kan pe kerjaannya (a lex s. n itisemito , 2014). d efin isi lai n menya t a kan bah w a kond isi kerj a merup a kan keseluruha n peral a t an perk a kas da n bahan yang d iguna ka n dalam menger ja kan t ugasnya yang be rada di lingkungan se ki t arnya di mana seseora ng be ke rja , me tode kerj a , penga turan ke rja , ba ik yang dila ksan a kan seca ra perseoranga n maupun sebag ai kelo mpo k (sed armayan ti, 20 06). k ond isi ker ja perusaha an t erdiri dari fisik dan non-fisik , yang berbentuk fisik yaitu keadaan t empa t bekerja dalam ben tuk fisik yang disiap kan seba gai t emp a t be ke rja sesu ai deng an pe ker ja an kary a w an , sedangka n kondisi kerj a non-fisik adal ah kead a an t empa t ke rja yang berka it an deng an kond isi hubungan ke rja , ba ik hubungan deng an a t asan , hubungan d engan r e kan ke rja , si ti muja n ah , siti n ur ul ain i, c andran ingrat , tr ansform ation al l e ad e rship , kond isi k e rja, d a n b ud ay a o rga nisasi pe ng a ruhn y a t e rh a d a p k in e r j a k a ry aw a n 157 roch man , m ulyan to n ugroh o , slam et riy adi, 2020). d ari pemaham an t ersebut da pa t dipa hami seba gai sua t u nilai , asumsi, sikap , dan n orma perila ku yang diyakini oleh setiap anggot a dalam organisasi kemudian diguna kan sebagai pedoman dala m setia p langk ah dala m mela ksana kan kegia t an un tuk mencapai kinerja yang tinggi sesuai deng an yang t elah d it arget k an oleh perusah a an , dan budaya organisasi juga dapa t digun a kan seba gai ide n tit as dari ins titusi organisasi. k ebe rhasila n dari sua tu organisasi sa nga t dit en tuk an oleh kinerja karya w an yaitu merupakan h asil dari pe kerja an organisasi yang dik erjakan oleh karya w an de ngan sebaik-baik nya . seti ap orga nisasi a kan sukses a pabila apa ya ng dit arg et kan bisa t ercap ai, k ebe rha sil an orga nisasi t ida k le pas dar i kinerj a karya w an . k ine rja merupa kan h asil ya ng diper oleh ka ryaw an dalam m enjalan kan pe k erja ann ya baik secara kualit a s dan k uan tit as dalam mela ksan a kan tugasnya sesuai dengan tugas dan t anggung jaw ab yang diberi kan kep ada oleh perusa ha an ( m angkunegara , 20 16). k ine rja dap a t diar tikan juga sebagai h asil kerj a secara kualit a s dan ku an tit as dari seo rang kary a w an sebagai individ u maupun kelo mpo k dalam penyelesaian tuga s sesuai dengan kemampuan yang di peroleh dari p roses be la jar sert a keinginan un tuk be rprest asi (k h a erul u mam, 2010). d ari berbaga i penge rtian t ersebut ma ka dapat diambil suatu pemahaman yaitu merupakan hasi l kerja yang di peroleh karya w a n sesuai dengan t arget dan st a ndar ya ng t elah dit et a p kan pada period e t ert e n tu. be rd asa rk an ka jia n t e ori t ersebut ma ka kera ngka konsep tual dalam p eneliti an ini d apa t dili ha t sep erti pad a g amba r 1 . maup un hubungan deng an ba w ah an (seda rmayan t i, 200 6). k ond isi ker ja yang baik a ka n memeng aruhi kine rja karya w an m enjadi l ebih ti nggi (r usti m aw a praci, d k k. 2017). d i samping itu, kondisi kerja yang diberikan terhadap karya w an merupakan sarana yang da pa t me ningka t kan kin erja kary a w an (a m elia pra tiw i, 20 14). buda ya orga nisasi juga m erupa ka n vari abel pen t ing dal am meni ngka t ka n kiner ja kary a w an karena budaya organisasi yang kuat akan meningka t k an kine rja karya w an (siti m ujanah & i a brahmasari, 2019). budaya organisasi merupakan sua tu sistem yang memiliki nilai-nilai yang dianut oleh setiap anggo t a dalam sua tu organisasi dan merupa kan ci ri khas t ersen diri, ya ng membedakan sua tu organisasi dengan organisasi lai nnya (robbins, s t ephen p & judg e , 2013). d efi nisi lain menyebut kan bah w a bud aya org anisasi sebaga i sist em yang me miliki n ilai-nil ai dan m erupa ka n keya ki nan , asumsi-asumsi, a t au nilai-n ilai yang berla ku dan disepa ka t i sert a dianut oleh setiap anggot a organisasi yang diguna kan sebagai pedo man dala m berper ila ku d an pemecahan sua t u setia p perma salahan yang t imbul d alam perusaha an a t au organisasi (sutrisno , 20 11). buda ya organ isasi da pa t diu kur ke d alam empa t eleme n , yai tu ma n a ging cha nge, achieving goa ls, coordin a ting tea mwork, a nd cult ura l strength, dan ke empat elemen tersebut berpengaruh signifikan t erhadap kinerja karya w an (g hazi ben sa ad , 20 18). se lain itu , buday a organisasi juga d apa t di ukur me lal ui i ndi ka to r seper ti employee pa r ticipa tion , openness to communica tion , risk t a king a nd in nova tion , customer service orient a tion , a nd re w ard system se rt a hasilnya adalah berpengaruh signifikan t erhadap kinerj a karya w an (fa khar shah zad , z ahid iqbal, 2013). buda ya orga nisasi y ang kua t dapa t mening ka t kan kinerja karya w an (achma t m a skubusin ess and fin an ce jour n al , volume 5 , n o . 2 , o ct ober 20 20 158 w aba n respo nden di ka t ego rikan d engan s kala likert 1–5 , yaitu skala penelitian yang diguna kan un tuk mengukur sikap a t au pendapa t responden deng an memi lih ja w aban y ang sesuai de ngan pend apa t me re ka t e rhadap pert any a an ( n a zir, 2005). h asil pe neli t ia n juml ah respo nde n dal am pe nel it ian i ni adal ah 62 or ang yang t erdir i dari 60% pria dan 40% wanit a , dengan demik ian komposisi pria dala m penel itian i ni lebih domina n dari pada w ani t a . d ar i 62 responden yang pa ling ba nya k dari mere ka berusi a an t ara 31–40 t ahun y aitu seba nya k 45 % seda ngkan y ang berusia 2 5–30 t ahun ada 3 0 ,65% d an yang di a t as 40 t ahun hany a 19% sisanya a t au usi a di ba w ah 25 t ahun hany a 5%, ha l ini me nunjuk ka n bah w a yang menj adi responden ini keba nya kan berusia sekit ar 25–40 t ahun merupa kan usia yang produktif d alam mer aih kine rja . jika diliha t dari pendid ikan responden kebany a kan be rpendid ikan s-1 yaitu sebesar 78% seda ngkan sisanya d -3 (4%) dan s m a /s m k sebesar 1 9%. uji validitas dan reliabilitas instrumen pengujian i nstrume n dila kukan set elah da t a t erkumpul dengan menguji validit as dan reliabilit asn ya . h asil uji validit as set iap kuesioner a kan diny a t a kan v alid ap abila n ilai yang diper oleh menda pa t kan a ngka di a t as nil ai r-t abel yai tu sebesar 0 ,27 87 . set elah dil a kukan uji kore lasi t ernya t a hasilnya un tuk setiap pert anyaan dalam kuesioner m enunjuk k an nila i rhi tung lebih besar dari rtable, seh ingga da pa t diny a t a kan bah w a semua it em pert anya an dalam kuesioner dinya takan v alid . gambar 1 kerangka konseptual be rd asa rk an k a ji an t e or i d an ke ra ng ka konsep tual t ersebut ma ka h ipo t esis peneli tian ini dapa t d irumuska n sebag ai beri kut . : k epemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifika n t erha dap kin erja karya wan . : k ond isi ker ja berp engaruh posit if dan signifi kan t e rhadap kinerja karya w an . : buda ya orga nisasi berpengaruh p ositif dan sign ifikan t erhadap kinerj a karya w an . m e t o d e pe neli t ia n pene litian i ni mengguna kan metode p eneliti an expla n a tory dengan pende ka t an penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan menguji hip o t esis yang t elah di rumuska n . sumber da t a ya ng diguna kan da lam pen elitian ini adal ah sumber da t a prim er. seda ngkan sa mpel perusahaan dalam penelitian ini adalah mengambil seluruh karya w an yang ada di perusaha an a sur ansi c e n tral a sia r ay a , sura baya de ngan pengambilan sampel secara sensus karena jumlah kary a w an ha nya 62 orang se hingga diambil semua karya w a n sebag ai respo nden da lam pen elitian i ni. pengumpulan d a t a dila kukan de ngan meto de surv ei deng an inst rumen k uesione r, jasi ti muja n ah , siti n ur ul ain i, c andran ingrat , tr ansform ation al l e ad e rship , kond isi k e rja, d a n b ud ay a o rga nisasi pe ng a ruhn y a t e rh a d a p k in e r j a k a ry aw a n 159 uji reliabilitas juga t elah dilakukan t erhadap inst rumen ya ng digun a kan . h a sil uji reliabil it as t erhadap ins trumen menunjuk kan rel iabel un tuk semua pert any a an yang memben tuk sua tu v ariabel dalam penelitian ini, karena nilai c ronbach’s alpha men unjuk kan angka y ang lebi h besar dari 0 .6 sehingga setiap pert anya an yang memben tuk seti ap varia bel dala m penel itian in i dinya t a kan relia bel. uji asumsi klasik uji asumsi klasik diguna kan sebagai sy ara t un tu k mengan alisis s t a tisti k parame trik , ka rena st a t istik ya ng diguna kan d alam pen elitian ini adal ah uji r egresi ma ka per lu di a nalisis dulu apa k ah da t a dalam p enelitia n ini berdistribusi normal, tidak adanya multikolinearitas, dan tidak ada het eroce dastisi t as. uji normalitas uji n ormalit as un tu k menge t ahui ap a kah da t a yang a k an diana lisis t e lah memi liki persyara t a n berdis tribusi normal. h asil a nalisis normali t as dap a t dili ha t pa da tabe l 1 . tabel 1 o ne-sample kolmogorov-smirnov test peng ambilan kesimpulan dalam analisis uji normalit as dila kukan dengan cara membandingkan hasil uj i normal it as de ngan nil ai alfa yang dit e n tukan sebesar 0 ,05 (a symto tic significan t , 2 ta iled) sebagai beriku t (san t oso , 20 16). jika hasil perhitungan p robabil ity men unjuk k an angk a di a t as 0 ,0 5 ma ka da t a d apa t diny a t a kan d alam ko ndisi be rdistribusi normal. n amun jika hasil nilai p robabil ity me nunjuk k an angk a di ba w ah 0 , 05 ma ka da t a d alam kond isi tida k distribusi normal. d ari hasil pengujian sa tu sisi, dapa t dinya takan bah w a d a t a dal am penel itian i ni memi liki dist ribusi n ormal k arena n ilai prob. sig men unjuk k an angk a sebesar 0 ,95 1 yaitu angka yang lebih besar dar i d = 5 % (0 .0 5) hal ini me nunjuk kan bah w a da t a dapa t dika t a kan berdistribusi norm al, deng an ka t a lain bah w a da t a yang dipe roleh da lam pen elitian ini t el ah meme nuhi persyara t an normali t as. uji m ultikolinearitas uji m ultiko linear it as diguna kan un tuk menget ahui ap a kah d a t a memiliki m enunju k kan ada at au tidaknya multikolinearitas an tar-variabel beba s, hasi l analisis dap a t dil iha t pa da tabe l 2 . tabel 2 hasil analisis variance inflation factor u nst and ardized r esidual n o 62 n ormal parame tersa m ean . 000000 std. d ev . 1.3776368 m ost e x treme d ifferences absolute .072 positive .071 n ega tive -.075 k olmogorov-smirnov z .517 asymp. sign. (2-tailed) .956 test dist ribu t ion normal . sumber: da t a primer variabel tolerance vif k epemimpinan t ransformasional k ondisi k erj a budaya o rganisasi 0,731 0,550 0,573 1.386 2.813 2.748 sumber: d iolah penulis tabe l 2 men unjuk kan hasil perhitungan mult ikolinea rit as ya ng dapa t diliha t dari h asil v i f, di man a varia bel kepe mimpina n transformasi onal, ko ndisi k erja , da n buday a organisasi busin ess and fin an ce jour n al , volume 5 , n o . 2 , o ct ober 20 20 160 memp unyai ni lai tole rance d i a t as 0 ,1 dan n ilai v i f < 10 seh ingga h asil uj i multik olinear it as menunjuk kan bah w a da t a da lam pen elitian ini tida k t erdap a t multi kolinea rit as an t ar vari abel beba s . uji h eterokedastisitas u j i h e t e r o k ed a s t isi t as a d al a h su a t u u j i asumsi yang merupa kan sala h sa tu persyar a t an dala m pengguna an r egresi agar mo del reg resi tida k bisa un tuk menget a hui apa kah t erd apa t ketida ksama an varian dari residual dalam semua peng ama t an p ada mod el regr esi. h asil anal isis het e ra kedast isit as d apa t di liha t pa da g amba r 2 . tabel 3 analisis regresi linier berganda gambar 2 g ambar 2 me nunjuk k an bah w a tida k ada h eteroskedastisit as karena gambar menunjukkan titi k-titik yang me nyebar d i a t as dan di ba w ah angk a 0 seh ingga t ida k ad a pola yang je las. uji regresi berganda r egr esi berg anda diguna kan un tuk me nget ahui besarn ya peng aruh va riabel i ndepend en x t erh adap va riabel dependen y. h asil anal isis regr esi berganda d apa t dil iha t pa da tabe l 3 . a . d ependent variable: y sumber: d a t a prim er di olah penu lis tabe l 3 men unjuk ka n hasi l analisis reg resi berg anda ya ng menunjuk kan persam a an sebagai be ri ku t . y = 3.824 + 0 ,153 x 1 + 0,162 x 2 + 0,156 x 3 + e d ari hasil persama an reg resi t e rsebut ma ka dapa t diin t e rpret asi kan seba gai beri kut . 1. n ilai konst an (a) menunjuk kan angka sebesar 3 .82 4 , arti nya bah w a nila i kiner ja kary a w an (y) adalah 3.824 apabila t anpa disertai adanya v a r i a be l ke p e mi mp i n a n t r a nsform a si o n a l , kond isi ker ja , dan budaya organisasi. 2. k epe mimpin an transformasio nal menunjukkan nilai koefisien (e1) sebesar 0,153 , artinya bah w a variabel kepemimpinan transfo rmasional (e1) mengalami peningka tan maka akan berd ampa k p ada pe ningka t an kine rja ka ryaw an sebesar 0 ,1 52 deng an asumsi vari abel lain konst an . d engan d emikian dapa t di ka t akan bah w a ke pemimpin an transformasi onal berp engaruh t erhada p kiner ja karya w an . 3. k ond isi kerj a menun juk kan nilai ko efisien sebesar 0,161 , artinya apabila variabel kondisi kerj a mengal ami peni ngka t an sa tu sa t uan , ma ka a kan be rdampa k pada pen ingka t an kinerja karya wan sebesar 0 ,161 . h al ini menunjuk k an bah w a kondisi ker ja memi liki pe ngaruh t erhada p kinerj a karya w an . m odel unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 ( c onst ant) 3. 824 1. 755 2.175 .036 k ep t ransf. . 153 . 062 .256 2.414 .021 x -2 . 162 . 051 .384 3.153 .004 x -3 . 156 . 061 .312 2.602 .013 a. d ependen t v ariabl e: y si ti muja n ah , siti n ur ul ain i, c andran ingrat , tr ansform ation al l e ad e rship , kond isi k e rja, d a n b ud ay a o rga nisasi pe ng a ruhn y a t e rh a d a p k in e r j a k a ry aw a n 161 4. buda ya o rga nisasi memili ki nila i koefisien regresi sebesar 0 ,155 yang menunjuk kan bahw a a pabila budaya organisasi di tingka t kan sa tu sa tuan , ma ka be rdampa k pada pen ingkat an kinerja karya w an sebesar 0 ,155 , sehingga d apa t di ka t a ka n bah w a buaya organisasi berp engaruh t erhada p kiner ja karya w an . d ar i ha sil a na l isis r egr esi l in ie r berga nd a t ersebut ma ka dapa t diket ah ui bah w a kepe mimpina n transformasion al, kond isi kerj a , dan budaya organisasi berpengaruh positif t erhadap kinerja kary a w an . a k an t et a pi, apa kah peng aruh t e rsebut signifi kan a t a u tida k ma ka perlu d i uji l ebih lanjut deng an mengguna ka n uji f dan uj i-t . koefisien korelasi dan d eterminasi k oefisien k orelasi digun a kan un tuk me nget ahui sebera pa era t hubunga n an t ar a variabel x deng an varia bel y da lam pen elitian ini. tabel 4 model summaryb seda ngkan h asil a nalisis det erminasi a t au r2 men unju k kan ang ka sebesar 0 ,62 7 a t au 62 ,7 0% yang menunju k kan ba h w a kepe mimpinan transformasional, kondisi kerja karya w an , dan buda ya organ isasi me miliki p eran sebesar 62 ,7 0% t erh adap pe ncapaia n kiner ja kary w an , sedangkan sisanya sebesar 37 .3% dijelaskan oleh fa k t or lain di luar model, kemungk inannya bisa vari abel ke mampuan kerja , kompet ensi, semanga t kerj a , dan mungkin v ariabel lain . pe n gujia n h i o t esis h asil uji-t (parsial) pengujian hipo t esis secara partial t elah dilakukan dengan uji-t , di mana hasilnya ditunjukkan pada tabel 3 . a nal isis uj i t un t uk menguji hip o t esis yang berbunyi kepemimpinan transformasional berpengaruh sign ifikan t erhada p kiner ja kary a w an menunjuk kan angka t hi tung sebesar 2 .414 menunjuk k an angk a yang l ebih besar dar i t t abel sebesar 2 .01 29 da n nila i sign ifikan menunju k kan a ngka sebesar 0 .02 0 lebih besar dari 0 ,0 5 , sehi ngga dapa t disimpulkan bah w a k epemimp inan tr ansform asional berpengaruh signifik an t erh adap kiner ja karya w an . h ipo t esis k edua yang menya t a kan bah w a kond isi kerj a berpe ngaruh signifik an t erh adap kinerja karya wan menunjukkan hasil bah w a t hitung sebesar 3 .1 53 yang menun juk kan angka l ebih besa r dari t t abel 2 .01 29 , seda ngkan ni lai probabili ty sign ifikansi sebesa r 0 .003 menunju k kan angk a lebih besar dari 0 .05 seh ingga d apa t di ka t a ka n bah w a k ondisi ker ja ber pengaruh sign ifikan t erhadap kinerj a karya w an . h ipo t esis ke tiga adala h buday a organisasi berp engaruh signifi kan t erh adap ki nerja ka ryaw an t erbuk t i keben arannya karena hasil u ji t menunjuk kan angka t hi tu ng sebesar 2 .602 merum ode l r r square adjust ed r square std. e rr . of the est . 1 .792a .627 . 603 1.422 a . pre dicto rs: ( c onst ant), x 3, x 2, x 1 b. d epe ndent v ariable : y h asi l perhit ungan m elalui program spss menunjuk kan bah w a n ilai koe fisien korelasi (r) sebesar 0 .79 2 artin ya secar a bersa ma-sama bahw a kepemimpinan transformasional, kondisi kerja , dan buda ya orga nisasi memili ki hubungan yang positif dan ku a t denga n kiner ja karya w an . h al ini dap a t dili ha t dar i hasil analisis kore lasi yang mendapa t ka n angka sebesar 0 ,79 2 , a rtinya apabila kepemimpinan transformasional, kondisi kerja , dan buda ya orga nisasi diting ka t kan ma ka kinerja karya w an juga a kan meningka t , demikian juga sebalik nya . busin ess and fin an ce jour n al , volume 5 , n o . 2 , o ct ober 20 20 162 pa ka n angka yang l ebih besar dar i t t abel 2 .0 129 dan ni lai probabili ty signifika nsi sebesar 0 .012 lebi h besar dari 0 . 05 sehingga dap a t dika t a kan bah w a budaya organisasi berpengaruh signifikan t erha dap kine rja kary a w an . h asil uji-f (uji simultan) ujif diguna kan un tu k mengu ji hipo t esis seca ra simul t an , ha sil perh itungan uji f d apa t dili ha t pad a tabe l 5 . tabel 5: hasil analisis a n ovab an , kesetia an , dan penghorma t an t erhadap pemimpinnya , dengan begitu karyaw an dapa t mencapa i kinerj a yang l ebih ti nggi. h a l ini me ndukung penelitiannya anhairullah (2016) dan e ndri sukm ana d k k . (20 15). temu an t ersebut mengindika sikan bah w a dalam upaya un tuk meningka t kan kinerja karyawan yang lebih tinggi maka diperlukan penerapan kepemimpinan transformasional t erhadap karyaw an sehi ngga dapa t t ermo tivasi un tuk mencapai kiner ja yang lebih ti nggi. selai n itu, k epemimpi nan transformasi onal mamp u memo ti vasi karya w an un tuk mencapai t arg et yang t elah d it et ap k an sehingga kin erja dapa t di pero leh secara op ti mal. pengaruh kondisi kerja terhadap kinerja h asi l analisis regresi menun juk kan bah w a kond isi ke rja ber pengaruh posi tif dan signifikan t erh adap kin erja ka rya w an . h asil i ni membu k tikan bah w a dengan adan ya pembe rian fasi lit as kerja seperti penerangan/ cahaya di t empa t kerja cukup , suhu dan si rkulasi udara yang t e pa t , tida k ada gangguan suara , bau-bauan , ta t a w arna dan de korasi yang indah , aman , dan ad anya hubungan ya ng baik an t ar-karya w a n ma ka a kan membu a t karya w an di p t a j c en t ral a sia r aya c aba ng sura baya da pa t be ke rja dengan op t imal dan kinerja nya bisa mening ka t . h asil penelitian ini mendukung hasil penelitiannya rusti m a w a praci, yuliana, dan h ijriyantomi suyuthi e (2017), bah w a kondisi kerja berpeng aruh t e rhadap kinerja karya w an (a me lia pra t iw i, n uryan ti dan i w an n . d aulay, 20 14). pengaruh budaya o rganisasi terhadap kinerja karyawan pembuk tian hipo t esis yang t elah dila k ukan menghasilkan bahw a budaya organisasi berpengam odel sum of squares df m ean of square f sig. 1 r egression 156. 285 3 52. 094 25.767 . 000a r esidual 92. 997 46 2.021 t otal 249. 281 49 a. pre dictors: (c onst ant), x 3, x 1, x 2 b. d epe ndent v ariabl e: y tabe l 5 men unjuk ka n nilai hasil u ji f-hi tung sebesar 25 .7 68 seda ngkan f-t abel sebesar 2 ,80 , seda ngkan ni lai probability signifik ansi sebesar 0 .00 0 < 0 .05 , hal i ni menunjuk kan bah w a k epemimp inan tra nsforma sional, k ondisi kerja , dan buda ya organ isasi secara simult an berpeng aruh positif dan signifikan t e rhadap kinerja karya w an . pe m ba h asa n pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja h asi l analisis menunjuk kan bah w a k epemimp inan tr ansform asional memili ki peng aruh yang positi f dan signifika n t erha dap kin erja kary a w an , a rtinya bah w a perusaha an a sur ansi c en t ral a si a r aya surabay a t elah menera p kan kepe mimpina n transformasi onal se hingga membua t k arya w an memiliki kepe rcaya an , ke kagumsi ti muja n ah , siti n ur ul ain i, c andran ingrat , tr ansform ation al l e ad e rship , kond isi k e rja, d a n b ud ay a o rga nisasi pe ng a ruhn y a t e rh a d a p k in e r j a k a ry aw a n 163 ruh positif dan sign ifikan t erhadap kinerja karyaw an, dengan demikian dapa t dinyatakan bahwa hipo t esis t erbuk ti kebenarannya . h al ini menunjukkan bah wa penerapan budaya organisasi yang kuat dan budaya dapa t diterima dan dila ksanakan oleh semua anggo t a organisasi ma ka kary a w an a kan be kerja dengan baik . h al itu men unjuk ka n bah w a pener apan buda ya orga nisasi dengan memperh a tikan halhal sepert i inov asi dan pengambilan r isiko , adanya perha tia n , bero rien t asi pada h asil, or ang, tea mw ork, da n t erbe n tuk kea gresifa n sert a keman t apan a t au st abilit as y ang sel alu di jaga sehingga karya w an dapa t mencapai kinerja yang lebi h tinggi. h asil penelitian ini mengindikasikan bah w a buda ya organ isasi secara positif da n signifikan berp engaruh t erhad ap kiner ja kerj a karya w an . o leh karena itu, hasil pene litian i ni mendu kung hasil penelitiannya alinvia ayu sagit a h eru susilo m uha mmad c ah yo w.s. , 2018) bah w a budaya orga nisasi berpenga ruh positif dan signifikan t erh adap kin erja karya w an d an hasil penelit iannya (siti m ujanah, dk k) bahw a budaya organisasi berp engaruh signifik an t erha dap kine rja . si m pula n da n reko m e n dasi berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis da ta dalam penelitian ini dapa t ditarik simpulan guna menja w ab rumusan masa lah , a n t ara lain k e p e mi mp i n a n t r a nsfo rm a si o n a l be r p e ng a ruh signi fi ka n t er ha da p ki n er ja k arya w an ; ko nd isi k er j a ber p eng a ruh sign i fi k an t e r ha d a p k in e rj a karya w an ; da n bud aya o rgan isasi berp enga ruh signifikan t erhadap kinerja karyaw an . h al itu men un ju k k a n bah w a k e p emi mp i n a n t r a nsform asional, kondisi kerja , dan budaya organisasi harus diperha tikan dalam memo tivasi sumber daya manusi a di pe rusaha a n , karen a denga n pener apan k e p e m i mp i n a n t r a ns fo r m a si o n a l y a n g t e p a t , kond isi ker ja yang nyaman , dan me mperla k ukan buda ya organ isasi y ang kua t a kan d apa t men ingka t k an kiner ja yang lebih baik . reko m e n dasi berd asarkan simpulan t ersebu t ma ka beberapa re komendasi dapa t d iberikan , seperti penerapan gaya kepemimpinan transformasional yang t epa t a kan memo tivasi karya w an dalam meningka t k an kine rja mer e ka , demikian juga perusaha an harus mempersiap kan kondisi kerja yang nyam an karen a be ker ja di k an tor asuransi a kan bany a k berh ubungan denga n klien yang h arus dilayani dengan baik sehingga kondisi kerja yang nyaman akan membaw a pelayanan menjadi lebih baik . selain itu, budaya organisasi h arus dicip t akan dengan kua t ka rena dengan bud aya org anisasi yang kuat dapa t meningka tkan kinerja karyaw an d i perusa ha an . selan jutnya , h asil pene litian i ni dapa t diguna ka n sebaga i refere nsi bag i peneli ti yang a kan mela kukan penelitian dalam bidang s d m dengan vari abel yang simil ar seper ti kema mpuan ke rja , komp et ensi, semanga t kerja , dan va riabel l ain . daf tar pus taka achm a t m askurochman , m ulya n to n ugr oho , & sl amet riy adi. 202 0 . t he influence of transforma ti onal l e adershi p , o rgan ization al suppo rt , and job sa t isfactio n on m o ti va tion and e mp loyee performa nce . jm m1 7 jurn a l e konomi da n m a n a jemen , 7(1). a lex s. n itisemito . 2014. m an a jemen person a lia . ja ka rt a : p t g alia indonesia . a mel ia pra t iw i, n . dan i . n . d . 201 4 . peng aruh ling kungan k erja da n buday a o rganisasi business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 164 terhadap kinerja karyawan pt bank riau kepri capem duri. jom fekon, 1(2). anhairullah & siti mujanah. 2016. pengaruh gaya kepemimpinan transformasional dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada pengadilan negeri kelas 1b raba bima. jurnal riset ekonomi dan manajemen, 16(1), pp. 15–28. delvin alexander gunawan, s.m. & m. 2018. pengaruh hubungan interpersonal, lingkungan kerja, dan perceived organizational support terhadap motivasi kerja dan kinerja karyawan pt mitra surya persada. jurnal global, 2(2), pp. 11–22. endri sukmana dan gede adyana sudibia. 2015. pengaruh kepemimpinan transformasional, motivasi, dan burnout terhadap kinerja karyawan outsourcing rri mataram. e-jurnal manajemen unud, vol. 4, no. 8. fakhar shahzad & zahid iqbal, m.g. 2013. impact of organizational, culture on employees job performance: an empirical study of software houses in pakistan. journal of business studies quarterly, vol. 5, no. 2, pg. 56–64. firdaus djaelani. 2011. pertumbuhan industri asuransi jiwa di indonesia: suatu kajian dari sisi penawaran, jurnal ilmiah sosial dan humaniora. jurnal ilmiah sosial dan humaniora, 1(3). ghazi ben saad, m.a. 2018. the impact of organizational culture on job performance: a study of saudi arabian public sector work culture. problems and perspectives in management, 16(3). khaerul umam. 2010. perilaku organisasi, cetakan 1. bandung: cv pustaka setia. khan, zunnoorain, shahzad khan, & s.s. 2013. moderating role of procedural justice and empowerment in transformational leadership with its impact on organizational commitment. international review of management and business research, 2(3), pp. 847–852. mangkunegara, a.a.p. 2016. manajemen sumber daya manusia perusahaan. bandung: pt remaja rosdakarya. nazir, m. 2005. metode penelitian. jakarta: pt ghalia indonesia. nisrina salma alifah. 2020. data perkembangan asuransi di indonesia. available at: lifepal. co.id-media›data›perkembangan-asuransidi-i. robbins, stephen p. & coulter, m. 2010. manajemen, edisi kesepuluh. jakarta: penerbit airlangga. robbins, stephen p. & judge, t.a. 2013. organizational behavior, terjemahan ratna saraswati dan fabriella sirait, edition 16. jakarta: salemba empat. santoso, s. 2016. panduan lengkap spss versi 23. jakarta: elexmedia computindo. sedarmayanti. 2006. sumber daya manusia dan produktivitas kerja. bandung: mandar maju. siti mujanah, i.a. brahmasari, i.b.r., & c. 2019. the impact of collective ambition, organizational culture, and organizational commitment on organizational citizenship behavior and the women’s cooperatives’ performance in east java indonesia. international journal of civil engineering, 10(08), pp. 30–44. sutrisno, e. 2011. manajemen sumber daya manusia. jakarta: pt kencana. tria mondiana. 2012. ‘pengaruh kepemimpinan transformasional dan kompensasi terhadap kinerja karyawan pt pln (persero) upj semarang. jurnal administrasi bisnis, 1(1). 01 arieszetni.pmd aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 11 pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan aries zetni hydayati, fendy suhariyadi universitas airlangga e-mail: arieszetni@yahoo.com abstract: the purpose of this study is to analyse the effect of transformational leadership on performance with innovative behaviour as a medium variable in achieving sustainable competitive advantages, the effect of transformational leadership on employees’ ability to innovate, the effect of employees’ innovation skills on their performance and the effect of transformational leadership on employees’ performance. the research approach uses quantitative technique. while data collection in this study is a survey method using likert scale. the research data analysis will be using sem analysis with smartpls version 3. the samples are 86 employees of membership section. purposive sampling technique will be employed as samples fetching method. the results prove that there is a significant influence on transformational leadership style on employees’ performance with their innovation behaviour as an intermediate variable. impact of transformational leadership style is found on employees’ innovation. there is an influence of employees’ innovation behaviour on their performance. significant influence of transformational leadership style appears on employees’ performance. keywords: transformational leadership, innovation ability, employees’ performance, bpjs employment 1. pendahuluan bpjs ketenagakerjaan yang ada sekarang ini merupakan transformasi dari pt jamsostek (persero). perubahan atau transformasi pt jamsostek (persero) menjadi bpjs ketenagakerjaan terbagi menjadi 3 fase. tahun 2019 merupakan fase kritis ketiga. fase kritis ketiga dimulai tahun 2015 sampai dengan 2025. secara badan hukum terjadi perubahan badan hukum organisasi dari bumn menjadi badan hukum publik. berdasarkan cakupan penanganan, bpjs dibagi menjadi 2 yaitu bpjs kesehatan dan bpjs ketenagakerjaan. transformasi bpjs ketenagakerjaan lebih lanjut juga berdampak pada pertama perubahan cakupan kepesertaan wajib dari hanya tenaga kerja penerima upah menjadi perlindungan untuk seluruh pekerja. kedua, perubahan pengalihan wewenang pelaksanaan inspeksi kepatuhan kepesertaan dalam sistem penegakan hukum (law enforcement) dari kementerian tenaga kerja kepada bpjs ketenagakerjaan. ketiga, perubahan program yang dikelola dari jaminan kecelakaan kerja (jkk), jaminan hari tua (jht), jaminan kematian (jkm), dan jaminan pemeliharaan kesehatan (jpk) menjadi jaminan kecelakaan kerja (jkk), jaminan hari tua (jht), jaminan kematian (jkm), dan jaminan pensiun (jp). ini berarti ada satu program yang tidak lagi menjadi program bpjs yaitu jaminan pemeliharaan kesehatan (jpk) dan penambahan satu program baru yaitu jaminan pensiun. hilangnya program jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikelola bpjs ketenagakerjaan, mengakibatkan bpjs ketenagakerjaan kehilangan 3 triliun pendapatan iuran dalam setahun dari business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 2 iuran program jpk secara nasional, karena dialihkan kepada bpjs kesehatan. kondisi ini memaksa organisasi untuk melakukan restrukturisasi bisnis dengan meningkatkan manfaat dan juga menambah program sehingga bisa mendapatkan pendapatan iuran secara signifikan. khusus untuk jaminan pensiun merupakan strategi manajemen yang diajukan pada saat pembuatan draf undang-undang sistem jaminan sosial nasional dan juga peraturan pemerintah terkait penyelenggaraan program jaminan sosial ketenagakerjaan akibat tidak adanya program jaminan pemeliharaan kesehatan. sehingga bpjs ketenagakerjaan memungkinkan mendapatkan pendapatan iuran lain pengganti program jaminan pemeliharaan kesehatan. upaya perubahan tentu tidak cukup dengan hanya menambah program. bpjs ketenagakerjaan harus melakukan tidak hanya persiapan yang jauh lebih baik tetapi memerlukan transformasi mulai cara pandang, pola kerja sampai kepada model bisnis yang diterapkan secara menyeluruh melalui suatu penahapan yang terencana dengan baik dalam jangka waktu yang panjang. regulasi pemerintah tentang penyelenggaraan sistem jaminan sosial ketenagakerjaan membuka tantangan bagi entitas ini untuk semakin harus memperhatikan performa kinerja organisasi. salah satu parameter kinerja organisasi adalah pencapaian dana kelolaan. dana kelolaan dari waktu ke waktu menunjukkan adanya kenaikan. pada tahun 2016 dana kelolaan menjadi 297 triliun. pada tahun 2017 dana kelolaan sebesar 320 triliun. dalam empat tahun bpjs ketenagakerjaan berhasil menaikkan dana kelolaannya sebesar 214%. proyeksi dana investasi pada tahun 2018 adalah sebesar rp 356 triliun, tahun 2019 sebesar rp 415 triliun. (laporan road map bpjs ketanagakerjaan tahun 2017–2021). selain dana kelolaan, kinerja organisasi dapat diukur dari capaian jumlah perusahaan aktif yang menjadi peserta bpjs ketenagakerjaan. pada tahun 2016 perusahaan aktif yang menjadi peserta bpjs ketenagakerjaan adalah 359.724. pada tahun 2017 menjadi 455.090. setelah mengalami transformasi menjadi bpjs ketenagakerjaan berhasil menaikkan kepesertaan perusahaan aktif menjadi 240%. (laporan tahunan 2013–2017 dan http://bi.bpjsketenagakerjaan.go.id). ukuran kinerja ketiga di antaranya adalah perluasan jaringan operasi. tahun 2016 adalah tahun perluasan jaringan operasi dengan adanya 53 kantor cabang perintis dan 500 spo bank kerjasama dan mulai dirintis e-business. tahun 2017 adalah tahun pelayanan di mana sudah diimplementasikan service blue print (sbp) dan pelayanan prima yang terdiri dari 3p: people, process, dan physical evidence. bpjs ketenagakerjaan juga sudah mengoptimalkan penerapan service level agreement (sla) untuk pelayanan di bpjs ketenagakerjaan. sla untuk jht adalah tiga hari kerja, jkk 7 hari kerja, jkm tiga hari kerja dan jp adalah 15 hari kerja untuk jp berkala, untuk pengambilan selanjutnya per tanggal 1 bulan berikutnya sedangkan untuk jp lumpsum adalah dua hari kerja sehingga bpjs ketenagakerjaan saat ini merupakan badan hukum publik yang sedang bertransformasi menjadi service organization. pencapaian kinerja organisasi dan keberhasilan bertransformasi menjadi service organization ini tentunya perlu didukung oleh pencapaian kinerja di tingkat kantor cabang. berdasarkan data internal bpjs ketenagakerjaan, dari 16 kantor cabang di wilayah jawa timur, kantor cabang gresik merupakan cabang dengan kinerja paling rendah. perusahaan menggunakan empat parameter balance score card yaitu perspektif keuangan, kinerja pelanggan, proses bisnis internal, pertumbuhan, dan pembelajaran sebagai penilaian kinerja di tingkat unit. kpi aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 3 unit kantor cabang gresik masih fluktuatif. di tahun 2015 mencapai skor 3,675, kemudian meningkat di tahun 2016 menjadi 4,719. namun di tahun 2017 mengalami penurunan cukup tajam yaitu 1,386 dari skala 6. penurunan kinerja unit tentu tidak terlepas dari keberadaan kinerja karyawan di tingkat unit tersebut. jumlah karyawan kepesertaan di unit kabupaten gresik ada 12 orang. berdasarkan data kpi individual menunjukkan bahwa pencapaian kinerja kepesertaan karyawan tingkat individu di kantor cabang gresik belum seluruhnya sesuai harapan yaitu mencapai kategori istimewa. bahkan pada pencapaian tahun 2017 terdapat satu karyawan masih berkategori kurang, satu karyawan pada kategori cukup. hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1. karyawan yang memiliki kinerja individu yang tinggi bisa membuat kinerja unit tinggi, demikian pula sebaliknya. kinerja karyawan yang kurang maksimal tentu tidak terlepas dari peran pimpinan. seorang pemimpin harus mampu untuk mengoptimalkan kemampuan organisasi untuk belajar. kemampuan mengoptimalkan tersebut bergantung pada gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh pimpinan. gaya kepemimpinan transformasional, menurut bass (1985) dalam yukl (2005:305), adalah kepemimpinan yang membuat para pengikut merasakan kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan penghormatan kepada pemimpin, dan termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan oleh karyawan. bass menambahkan bahwa pemimpin transformasional mengubah dan memotivasi para pengikut dengan cara membuat para karyawan lebih menyadari pentingnya hasil tugas, membujuk para karyawan untuk lebih mementingkan kepentingan tim atau organisasi dibandingkan kepentingan pribadi dan mengaktifkan kebutuhan mereka yang lebih tinggi. kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang mampu mendatangkan perubahan di dalam setiap individu yang terlibat atau bagi seluruh organisasi untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi. dengan kemampuan tersebut diharapkan kinerja karyawan bpjs ketenagakerjaan yang mengedepankan konsep service organization akan lebih berhasil. bass (1985) kepemimpinan transformasional merupakan salah satu metode terbaik untuk meningkatkan kinerja individu dan kelompok. pemimpin transformasional memotivasi pengikut untuk mengekaryawan 2015 kategori 2016 kategori 2017 kategori 1 3.81 baik 2.43 kurang 2.93 cukup 2 3.98 baik 3.11 cukup 3.00 cukup 3 2.26 kurang 4 2.19 kurang 5 2.50 cukup 3.75 baik 3.92 baik 6 2.31 kurang 3.16 cukup 3.24 baik 7 1.86 kurang 2.93 cukup 2.79 cukup 8 2.05 kurang 3.41 baik 3.38 baik 9 3.24 baik 3.81 baik 3.83 baik 10 3.65 baik 2.66 cukup 3.64 baik 11 1.95 kurang 3.28 baik 3.18 cukup 12 2.95 cukup 3.08 cukup sumber: kpi bpjs ketenagakerjaan kc gresik tabel 1 kinerja karyawan kepesertaan bpjs ketenagakerjaan cabang gresik 2015–2017 business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 4 rahkan dan mengeksplorasi prospek yang ada serta baru. kepemimpinan transformasional secara proaktif membantu para pengikut untuk mencapai tujuan dengan standar tinggi (antonakis, avolio, & sivasubramaniam, 2003). pemimpin transformasional menggerakkan pengikut di luar kepentingan pribadi (bass, 1999). kepemimpinan transformasional menciptakan lingkungan di mana karyawan termotivasi dan berenergi (de jong & bruch, 2013). karyawan termotivasi yang bekerja dalam iklim yang mendukung memberikan layanan pelanggan yang lebih efektif, memperkuat kinerja organisasi. keterkaitan gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan bergantung pada fase organisasi. menurut tierney (1999) hubungan antara atasan dan bawahan akan menghasilkan lebih banyak persepsi positif karyawan pada perubahan organisasi. nadler, thies, and nadler (2001) menyatakan bahwa perubahan yang efektif, menuntut keterlibatan aktif pimpinan sebagai kepala arsitek dari proses perubahan. pimpinan harus memiliki kompetensi organisasi. pemimpin harus memastikan bahwa peserta merasa bagian dari pengambilan keputusan, terlibat dalam proses. jika tidak dilibatkan maka anggota organisasi akan menjadi sinis dan tidak responsif, karyawan berpikir bahwa pemimpin membutuhkan karyawan hanya “lip service” untuk konsultasi tetapi tidak terjadi dalam kenyataan. karisma seorang pimpinan harus divalidasi oleh pengikutnya. pada konteks perubahan atau transformasi organisasi ini maka gaya kepemimpinan transformasional yang memotivasi karyawan, memberikan inspirasi serta memberikan daya karisma pada karyawan sangat diperlukan. pemimpin transformasional, karismatik, dan visioner dapat berhasil mengubah status quo dalam organisasi mereka dengan menampilkan perilaku yang tepat pada tahap yang tepat dalam proses transformasi. ketika ada kesadaran bahwa cara-cara lama tidak lagi bekerja, para pemimpin tersebut dapat melakukan pengembangan visi yang menarik untuk masa depan. sebuah visi yang baik memberikan dampak strategis dan akan meningkatkan motivasi. pernyataan yang jelas tentang tujuan organisasi akan menjadi sumber inspirasi dan komitmen karyawan (eisenbach, regina dkk. 1999). pemimpin menjadi aktor perubahan yang dapat merakit dan memotivasi karyawan dengan kekuatan yang cukup untuk memimpin upaya perubahan (kotter, 1995). pemimpin transformasional yang ingin melaksanakan perubahan manajemen harus berhati-hati untuk mencocokkan nilai-nilai yang dianut dan dilaksanakan. mereka harus melakukan ini meskipun perubahan lingkungan organisasi terus menerus membuat kesesuaian tersebut sangat sulit (eisenbach, regina dkk. 1999). perubahan atau transformasi organisasi membawa reaksi yang berbeda-beda pada setiap karyawan, maka solusi dari managing change adalah dengan memfokuskan pada karyawan. perubahan akan memengaruhi siapa pun baik pihak manajemen ataupun karyawan. transformasi organisasi bisa ditanggapi dengan reaksi negatif (resistances) bergantung jenis dan derajat perubahan itu sendiri. untuk mencapai keberhasilan suatu program perubahan maka setiap orang harus siap dan mampu mengubah perilakunya. hal ini sangat bergantung pada apa yang memengaruhi perilaku dan apa pula yang mendorong seseorang untuk berubah (mangkuprawira, 2009). abram (2006) menjabarkan bahwa ada beberapa tipe psikologi manusia ketika terjadi perubahan organisasi yaitu: penolakan (denial), marah (anger), negosiasi (bargaining), depresi (depression) dan penerimaan (acceptance). pada tahun 2018 bpjs ketenagakerjaan memasukkan inovasi dalam item pertumbuhan dan pembelajaran di kpi unit maupun kpi individu. hal ini dilakukan untuk meningkatkan perilaku aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 5 inovatif untuk seluruh insan bpjs ketenagakerjaan. organisasi yang inovatif akan dapat merespons tantangan dengan cepat, dapat bertahan dan lebih mudah berkembang (carmeli et al., 2006). pemimpin transformasional dikatakan memiliki pengaruh positif pada motivasi dan kapasitas untuk memunculkan perilaku inovasi melalui perilaku keteladanan, membangun kepercayaan, memberikan otonomi, melahirkan komitmen untuk visi inspirasional, dan mendorong pengikut untuk tidak terkungkung asumsi lama. kepemimpinan transformasional telah berfokus pada melahirkan inovasi sebagai fungsi inti. dukungan penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa peran pemimpin transformasional sebagai pendorong penting perilaku inovasi di berbagai fungsi dan tingkat organisasi (lie et al., 2015). penelitian sebelumnya yang dilakukan bass (1985), basu & green (1997) tichy & ulrich (1984) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional menentukan perilaku inovasi. namun penelitian yang dilakukan samad (2012) dengan judul “the influence of innovation and transformational leadership on organizational performance”, menunjukkan hubungan antara inovasi, kepemimpinan transformasional dan kinerja organisasi. studi ini menemukan baik kepemimpinan transformasional dan inovasi ditemukan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. karyawan yang menghasilkan gagasan inovatif akan mampu membuat dirinya memiliki cara baru dan efektivitas untuk mencapai kinerja. bpjs ketenagakerjaan mendorong inovasi karyawan. karyawan yang memiliki ide baru akan mendapatkan reward dari perusahaan dan akan meningkatkan point penilaian kinerja melalui kpi. beberapa karyawan yang memiliki kemampuan beride dan inisiatif menunjukkan semangat kerja yang tinggi dan kecepatan menyelesaikan pekerjaan dibandingkan karyawan minim ide dan inisiatif. 2. kerangka konseptual kepemimpinan transformasional innovative behavior kinerja karyawan h1 h2 h3 gambar 1 kerangka konseptual penelitian 3. metode penelitian pendekatan penelitian menggunakan kuantitatif. metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan menggunakan skala likert. analisis data pada penelitian ini akan menggunakan analisis sem dengan smartpls versi 3. kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai pemimpin yang menginspirasi para pengikut untuk melampaui kepentingan pribadi mereka dan yang mampu membawa dampak mendalam dan luar biasa bagi pengikutnya. dimensi-dimensi gaya kepemimpinan transformasional mengacu pada penelitian bass dan avolio (1994). kemampuan inovasi adalah upaya yang dilakukan karyawan untuk menghasilkan dan mengimplementasi ide yang dimiliki pada organisasi. indikator yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada pendapat scott and bruce tahun 1994. kinerja karyawan pada penelitian ini diukur dari key performance indicator karyawan kepesertaan bpjs. sampel adalah karyawan bidang kepesertaan yang berjumlah 86 orang. teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. 4. hasil penelitian jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 86 orang reponden yang terdiri atas lakilaki dan perempuan. komposisi responden yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir berimbang. dominasi responden berjenis kelamin business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 6 laki-laki yang berjumlah 46 orang (53,5%), sementara perempuan berjumlah 40 orang (46,5%). usia responden yang paling muda adalah 24 tahun, kemudian yang paling tua 56 tahun. rata-rata usia responden 34,38 tahun. dengan standar deviasi 9,037 tahun. kemudian lama kerja responden yang paling singkat 2 tahun dan yang paling lama 35 tahun. rata-rata lama kerja responden 9,16 tahun dengan standar deviasi 7,938. responden di bagian kbp ada 8 orang (9,3%),di bagian kep ada 66 orang atau 76,7% dan di bagian was ada 12 orang atau 14%. tahap pengujian measurement model atau outer model a. uji validitas berikut hasil uji validitas konvergen, konstruk, dan diskriminan selengkapnya. tabel 2 hasil pengujian validitas konvergen, konstruk dan diskriminan pada perhitungan validitas konvergen, hasil perhitungan menunjukkan untuk seluruh variabel menunjukkan seluruh itemnya memiliki nilai factor loading lebih dari 0,5. dengan hasil ini maka item seluruh variabel valid. khusus untuk variabel kinerja hanya diukur dengan satu indikator laten, sehingga bernilai 1. perhitungan validitas konstrak, hasil perhitungan menunjukkan seluruh konstrak variabel penelitian menunjukkan semua variabel memiliki nilai ave lebih dari 0,5. dengan hasil ini maka seluruh variabel laten memiliki kecukupan validitas yang baik. perhitungan validitas diskriminan yang diukur dengan cross loading, menunjukkan hasil valid. item pada masing-masing variabel memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan kolom pada variabel lain. dengan demikian, konstrak laten memprediksi indikator pada blok mereka lebih baik dibandingkan dengan indikator di blok yang lain. b. reliabilitas reliabilitas konstruk yang diukur dengan nilai cronbach alpha dan composite reliability, konstruk reliabel jika nilai composite reliability di atas 0,70 maka indikator disebut konsisten dalam mengukur variabel latennya. berikut hasil selengkapnya. tabel 3 hasil pengujian reliability konstrak sumber: hasil olah smart pls indikator validitas konvergen validitas konstrak validitas diskriminan factor loading ave cross loading kepemimpinan transformasional leadership1 0.869 0.810 0.558 0.869 0.774 leadership2 0.918 0.783 0.918 0.796 leadership3 0.931 0.719 0.931 0.768 leadership4 0.911 0.723 0.911 0.734 leadership5 0.913 0.737 0.913 0.770 leadership6 0.934 0.726 0.934 0.784 leadership7 0.889 0.737 0.889 0.773 leadership8 0.914 0.696 0.914 0.804 leadership9 0.903 0.735 0.903 0.734 leadership10 0.862 0.635 0.862 0.719 leadership11 0.829 0.597 0.829 0.647 leadership12 0.923 0.743 0.923 0.774 inovasi karyawan inovasi01 0.979 0.927 0.847 0.837 0.979 inovasi02 0.972 0.813 0.799 0.972 inovasi03 0.970 0.861 0.817 0.970 inovasi04 0.956 0.842 0.798 0.956 inovasi05 0.979 0.831 0.823 0.979 inovasi06 0.921 0.661 0.788 0.921 kinerja skor kpi 1.000 1.000 1.000 0.780 0.843 sumber: hasil olah smart pls hasil pengujian menunjukkan bahwa konstruk (variabel) seluruh variabel memiliki nilai variabel cronbach's alpha composite reliability kinerja 1.000 1.000 leadership 0.979 0.981 inovasi karyawan 0.984 0.987 aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 7 diperoleh nilai t statistik 23.098 dengan p value 0,000 (p < 0,05). karena p value kurang dari 0,05 maka hipotesis penelitian kedua diterima kebenarannya. 3. hipotesis penelitian ketiga menyatakan: “inovasi karyawan berpengaruh pada kinerja karyawan”. hasil perhitungan diperoleh nilai t statistik 2.278 dengan p value 0,023 (p < 0,05). karena p value kurang dari 0,05 maka hipotesis penelitian ketiga diterima kebenarannya. pengaruh tidak langsung pada penelitian ini juga dapat diketahui langsung berdasarkan hasil perhitungan smartpls versi 3 profesional. berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai signifikansi 0,040. nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang berarti inovasi karyawan berperan sebagai mediasi kepemimpinan transformasional dengan kinerja karyawan. atau dengan kata lain ada pengaruh tidak langsung kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan melalui inovasi karyawan. dengan hasil ini maka peran mediasi inovasi karyawan adalah parsial mediasi. parsial mediasi ini disebabkan kepemimpinan transformasional bisa langsung berpengaruh terhadap kinerja karyawan namun juga bisa berpengaruh tidak langsung terhadap kinerja melalui inovasi karyawan. penelitian ini juga memperoleh hasil besarnya pengaruh yang dapat dilihat dari nilai rsquare. nilai r2 menjelaskan seberapa besar variabel eksogen (independen/bebas) pada model mampu menerangkan variabel endogen (dependen/terikat). nilai r square pada hubungan antarvariabel di atas menunjukkan sebagai berikut. a. pengaruh transformasional leadership berpengaruh terhadap inovasi karyawan sebesar 0,708 atau 70,8%. ini berarti perubahan inovasi karyawan yang disebabkan oleh adalah gaya kepemimpinan transformasional adalah 70,8%. composite reliability lebih besar dari 0,7 sehingga reliabel. tahap structural model atau inner model berikut adalah nilai estimate dari masingmasing hubungan antar-variabel penelitian. tabel 4 nilai koefisien estimate antar-variabel sumber: hasil olah smart pls hasil perhitungan menunjukkan arah koefisien pengaruh antar-variabel bernilai positif. ini menunjukkan bahwa hubungan gaya kepemimpinan transformasional yang semakin baik akan membuat inovasi karyawan meningkat. demikian juga gaya kepemimpinan transformasional yang semakin baik akan membuat kinerja karyawan meningkat. inovasi karyawan yang semakin meningkat akan membuat karyawan meningkat. hasil pengujian hipotesis menunjukkan sebagai berikut. 1. hipotesis penelitian pertama menyatakan: “kepemimpinan transformasional berpengaruh pada kinerja karyawan”. hasil perhitungan diperoleh nilai t statistik 5.702 dengan p value 0,000 (p < 0,05). karena p value kurang dari 0,05 maka hipotesis penelitian pertama diterima kebenarannya. 2. hipotesis penelitian kedua menyatakan: “kepemimpinan transformasional berpengaruh pada inovasi karyawan”. hasil perhitungan hubungan antar-variabel koefisien t statistics p values pengaruh langsung leadership î kinerja 0.240 2.278 0.000 leadership îinovasi 0.842 23.098 0.000 hubungan antar-variabel koefisien t statistics p values inovasi î kinerja 0.641 5.702 0.023 pengaruh tidak langsung leadership î inovasi î kinerja 0.539 5.582 0.040 business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 8 b. pengaruh transformasional leadership dan inovasi karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan sebesar 0,728 atau 72,8%. ini berarti perubahan kinerja karyawan yang disebabkan oleh adalah gaya kepemimpinan transformasional dan inovasi karyawan adalah 72,8%. fit model dapat dianalisis dengan menggunakan beberapa hal berikut. 1. nilai predictive relevance atau nilai q-square. hasil dari perhitungan q-square dapat dilihat bahwa nilai q-square sebesar 0,920576. karena nilai q2 > 0, dapat disimpulkan bahwa hubungan antar-variabel memiliki tingkat prediksi yang baik. 2. goodness of fit (gof). nilai gof adalah 0.8094. menurut tenenhau (2004), nilai gof small = 0,1, gof medium = 0,25 dan gof besar = 0,38. dengan nilai gof 0,8094 maka fit model termasuk yang besar karena melebihi 0,38. 5. diskusi pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan sebagaimana yang dinyatakan oleh bass, (1985) kepemimpinan transformasional adalah salah satu metode terbaik untuk meningkatkan kinerja individu dan kelompok, ternyata pada penelitian ini berkorelasi signifikan. hasil penelitian diperoleh nilai koefisien bertanda positif sebesar 0,240. yang berarti semakin baik gaya kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi kinerja karyawan. hasil perhitungan dengan uji t menunjukkan bahwa arah hubungan dan besarnya hubungan tersebut signifikan. arti dari signifikan adalah dampak kepemimpinan transformasional pada kinerja adalah nyata. berdasarkan dari data deskriptif menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional pimpinan bpjs ketenagakerjaan di beberapa cabang adalah mendekati skor rata-rata 4. yang berarti karyawan menilai gaya kepemimpinan transformasional yang dimiliki kepala cabang baik. ini juga berarti kepala cabang bpjs ketenagakerjaan di beberapa kota tersebut mampu memengaruhi bawahan, menstimulasi intelektual bawahan, memotivasi bawahan dan memberikan perhatian kepada karyawan. hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan teoretis yang menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional (tl) memainkan peran penting dalam kinerja organisasi. sebagaimana dinyatakan oleh bass, (1985) kepemimpinan transformasional adalah salah satu metode terbaik untuk meningkatkan kinerja individu dan kelompok. pemimpin transformasional memotivasi pengikut untuk mengerahkan dan mengeksplorasi prospek yang ada serta baru. pemimpin transformasional secara proaktif membantu para pengikut untuk mencapai tujuan dengan standar tinggi (antonakis, avolio, & sivasubramaniam, 2003). pemimpin transformasional menggerakkan pengikut di luar kepentingan pribadi langsung (bass, 1999). kepemimpinan transformasional menciptakan lingkungan di mana karyawan termotivasi dan berenergi (de jong & bruch, 2013). karyawan termotivasi yang bekerja dalam iklim yang mendukung memberikan layanan pelanggan yang lebih efektif, memperkuat kinerja organisasi (giroux & mclarney, 2014). pada saat pimpinan memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan masing-masing pengikut yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pencapaian mereka (bass & avolio, 1990). kemudian pada saat pimpinan memberikan umpan balik positif kepada karyawan akan memotivasi mereka untuk menunjukkan lebih banyak upaya sehingga bisa mencapai kinerja optimal. oleh karena itu, karyawan cenderung berperiaries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 9 laku sedemikian rupa sehingga menyederhanakan kinerja tugas tingkat tinggi. selain itu, pemimpin transformasional mendorong karyawan untuk lebih mempertimbangkan keuntungan kolektif dari organisasi dan pemimpin atas kepentingan pribadi (bass, 1985). pemimpin transformasional dengan hasil idealized influence yang tinggi akan memengaruhi kinerja pengikut dengan mengembangkan ikatan yang kuat dengan pengikut (wang et al., 2008; wang et al., 2005). hasil penelitian ini menguatkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh samad (2012) yang bahwa kepemimpinan transformasional telah secara signifikan meningkatkan kinerja organisasi di perusahaan logistik malaysia. demikian juga penelitian arif dan akram (2018) yang menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional dan kinerja organisasi memiliki hubungan yang kuat. pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap inovasi karyawan sebagaimana yang dinyatakan oleh jannex, (2006) khususnya kepemimpinan transformasional sangat penting dalam upaya mengaktifkan kemampuan inovatif pengikutnya, ternyata pada penelitian ini berkorelasi signifikan. hasil penelitian diperoleh nilai koefisien bertanda positif sebesar 0,842. yang berarti semakin baik gaya kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi kemampuan karyawan dalam berinovasi. hasil perhitungan dengan uji t menunjukkan bahwa arah hubungan dan besarnya hubungan tersebut signifikan. arti dari signifikan adalah dampak kepemimpinan transformasional terhadap inovasi karyawan adalah nyata. berdasarkan dari data deskriptif menunjukkan bahwa inovasi karyawan bpjs ketenagakerjaan di beberapa cabang adalah melebihi dari skor 4. yang berarti karyawan dinilai pimpinan memiliki kemampuan inovasi yang tinggi. kemampuan inovasi tersebut di antara mencari proses atau cara baru, menghasilkan ide, memunculkan ide, mencari dan memastikan sumber dana untuk mengimplementasikan ide. kemampuan inovasi karyawan yang kurang adalah dalam hal mengembangkan rencana dan jadwal untuk mengimplementasikan ide baru. kemampuan yang rendah ini disebabkan karyawan lebih banyak terlibat pada tugas harian kantor yang relatif ketat sehingga sulit membuat rencana dan jadwal untuk mengimplementasikan ide baru. adanya pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap inovasi sesuai dengan beberapa pernyataan bahwa kepemimpinan khususnya kepemimpinan transformasional sangat penting dalam upaya mengaktifkan kemampuan inovatif pengikut (jennex, 2006). karakteristik dan gaya kepemimpinan pemimpin adalah penentu utama kemampuan inovatif dalam organisasi. literatur mengungkapkan bahwa gaya transformasional lebih cenderung mendorong inovasi organisasi daripada gaya transaksional (xenikou, 2017). adanya pengaruh pemimpin transformasional terhadap inovasi ini dapat dijelaskan dengan argumen bahwa kepemimpinan transformasional siap membuat kelompok dan melengkapi bawahan dengan kekuatan, kepemimpinan, dan tentu saja mereka untuk membuat kemajuan dan mendorong untuk terus melakukan pembelajaran (berson, nemanich, waldman, galvin, & keller, 2006). dengan konsep ini maka karyawan atau bawahan akan dapat menemukan ideide baru dari proses pembelajaran dan dukungan motivasi atasan. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian garcía-morales, jiménez-barrionuevo, dan gutiérrez-gutiérrez (2012) bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh pada kemampuan inovasi. jung, chow, & wu, (2003) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki hubungan positif dengan business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 10 kemampuan inovasi di banyak perusahaan. menurut jung, chow, & wu, (2003) kemampuan inovasi yang diberikan oleh pemimpin transformasional dengan menggunakan faktor-faktor motivasi untuk mengangkat kemampuan inovasi karyawan. pengaruh kemampuan inovasi terhadap kinerja karyawan hasil penelitian yang dilakukan oleh samad (2012) menyatakan bahwa inovasi berdampak pada kinerja memiliki korelasi yang signifikan dengan penelitian ini. hasil penelitian diperoleh nilai koefisien bertanda positif sebesar 0,641. yang berarti semakin tinggi kemampuan inovasi maka semakin tinggi kinerja karyawan. hasil perhitungan dengan uji t menunjukkan bahwa arah hubungan dan besarnya hubungan tersebut signifikan. arti dari signifikan adalah dampak inovasi karyawan terhadap kinerja adalah nyata. berdasarkan dari data deskriptif menunjukkan bahwa inovasi karyawan bpjs ketenagakerjaan di beberapa cabang adalah melebihi dari skor 4. yang berarti karyawan dinilai pimpinan memiliki kemampuan inovasi yang tinggi. demikian juga pencapaian kinerja karyawan berdasarkan skor kpi adalah 3,8030. ini berarti kinerja karyawan masih termasuk tinggi. pencapaian 3,8030 adalah rata-rata kpi dari 86 karyawan. dengan hasil yang signifikan berarti jika inovasi tinggi maka kpi juga tinggi dan sebaliknya. meskipun secara rata-rata tidak tergambar pola hubungan inovasi dan kinerja namun hasil yang signifikan cukup menjelaskan bahwa jika inovasi karyawan tinggi maka kinerja karyawan baik, dan sebaliknya jika inovasi karyawan relatif kurang maka kinerja karyawan juga kurang baik. (hasil hubungan tiap karyawan dapat dilihat di lampiran). hasil penelitian ini menegaskan apa yang ada dalam latar belakang bahwa inovasi merupakan hal yang penting bagi kinerja karyawan. sehingga untuk mengangkat kinerja karyawan yang masih kurang salah satunya adalah menggerakkan kemampuan inovasi karyawan oleh pimpinan cabang. adanya pengaruh inovasi terhadap kinerja ini dapat dijelaskan dengan argumen bahwa inovasi akan menghasilkan sumber daya baru, berharga, langka, dan tak dapat ditiru yang akan membuat karyawan tersebut dihargai dan mendapatkan perhatian pihak manajemen bahkan reward. kondisi ini akan memacu karyawan tersebut menghasilkan kinerja yang lebih tinggi. inovasi mengarah pada pengayaan sumber daya strategis perusahaan dan keunggulan kompetitif berkelanjutan sebagai aspek penting untuk mencapai kinerja organisasi. inovasi yang berhasil dibuat oleh masing-masing individu akan membuat unit organisasi kaya akan temuan dan selanjutnya akan membuat faktor pembeda dari unit organisasi yang lain. hasil penelitian yang menguatkan hubungan kemampuan inovasi pada kinerja adalah penelitian yang dilakukan samad (2012). hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi berdampak pada kinerja. penelitian yang dilakukan samad dilakukan pada konteks kinerja organisasi sedangkan pada penelitian ini berfokus pada kinerja individu. pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan dengan perilaku inovasi sebagai variabel antara sebagaimana yang dinyatakan oleh byars dan rue (2000:276) yang menyatakan bahwa faktor individu memengaruhi kinerja dan pada penelitian ini berpengaruh signifikan. hasil penelitian diperoleh nilai koefisien bertanda positif sebesar 0,539. yang berarti semakin baik gaya kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi kemampuan karyawan dalam berinovasi aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 11 dan berdampak signifikan terhadap peningkatan kinerja karyawan. hasil perhitungan dengan uji t menunjukkan bahwa arah hubungan dan besarnya hubungan tersebut signifikan. arti dari signifikan adalah dampak kepemimpinan transformasional pada kinerja dengan perilaku inovasi sebagai variabel antara adalah nyata. berdasarkan dari data deskriptif menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional pimpinan bpjs ketenagakerjaan di beberapa cabang adalah mendekati skor rata-rata 4. yang berarti karyawan menilai gaya kepemimpinan transformasional yang dimiliki kepala cabang baik. ini juga berarti kepala cabang bpjs ketenagakerjaan di beberapa kota tersebut mampu memengaruhi bawahan, menstimulasi intelektual bawahan, memotivasi bawahan dan memberikan perhatian kepada karyawan. hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan teoretis yang menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional (tl) memainkan peran penting dalam kinerja organisasi. kepemimpinan khususnya kepemimpinan transformasional sangat penting dalam upaya mengaktifkan kemampuan inovatif pengikut (jennex, 2006). karakteristik dan gaya kepemimpinan pemimpin adalah penentu utama kemampuan inovatif dalam organisasi. literatur mengungkapkan bahwa gaya transformasional lebih cenderung mendorong inovasi organisasi daripada gaya transaksional (xenikou, 2017). pemimpin transformasional siap membuat kelompok dan melengkapi bawahan dengan kekuatan, kepemimpinan, dan tentu saja mereka untuk membuat kemajuan dan mendorong untuk terus melakukan pembelajaran (berson, nemanich, waldman, galvin, & keller, 2006). dengan konsep ini maka karyawan atau bawahan akan dapat menemukan ide-ide baru dari proses pembelajaran dan dukungan motivasi atasan. garcía-morales, jiménez-barrionuevo, dan gutiérrez-gutiérrez (2012) telah melakukan penelitian di 168 perusahaan spanyol untuk mengidentifikasi dampak kepemimpinan transformasional pada kemampuan inovasi. jung, chow, & wu, (2003) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki hubungan positif dengan kemampuan inovasi di banyak perusahaan. menurut jung, chow, & wu, (2003) kemampuan inovasi yang diberikan oleh pemimpin transformasional dengan menggunakan faktor-faktor motivasi untuk mengangkat kemampuan inovasi karyawan. 6. kesimpulan berdasarkan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan pada 86 karyawan di 7 cabang bpjs ketenagakerjaan kantor cabang surabaya raya, sidoarjo dan gresik yang diolah dengan program sem smartpls 3 menghasilkan kesimpulan sebagai berikut. 1. ada pengaruh signifikan terhadap gaya kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan dengan perilaku karyawan dalam berinovasi sebagai variable antara. semakin baik gaya kepemimpinan transformasional, maka semakin tinggi kinerja dan perilaku karyawan dalam berinovasi. 2. ada pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap inovasi karyawan. semakin baik gaya kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi perilaku karyawan dalam berinovasi. dengan hasil ini maka hipotesis penelitian kedua diterima kebenarannya. 3. ada pengaruh perilaku inovasi karyawan terhadap kinerja karyawan. semakin tinggi inovasi karyawan maka semakin tinggi kinerja karyawan. dengan hasil ini maka hipotesis penelitian ketiga diterima kebenarannya. 4. ada pengaruh signifikan gaya kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan. business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 12 semakin baik gaya kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi kinerja karyawan. dengan hasil ini maka hipotesis penelitian pertama diterima kebenarannya. 7. saran perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait kinerja organisasi setelah dilakukan penelitian pada kinerja individu. apakah kinerja individu berkaitan atau berkorelasi pada kinerja unit atau organisasi. serta kaitan inovasi individu pada kinerja organisasi. sedangkan bagi perusahaan diharapkan perusahaan dapat terus mendorong kemampuan inovasi karyawan. hal yang dapat dilakukan untuk mendorong hal tersebut adalah memberi reward atau penghargaan pada karyawan yang menghasilkan inovasi sesuai bidangnya. kemudian melakukan coaching atau mentoring pada karyawan yang kurang dalam berinovasi. gaya kepemimpinan transformasional juga terbukti berdampak pada kinerja dan inovasi karyawan. sehingga perusahaan dapat memilih kepala cabang yang memiliki kemampuan transformasional dengan baik. sehingga gaya bisa menjadi salah satu tolak ukur penempatan dan seleksi pimpinan cabang bpjs ketenagakerjaan. 8. daftar rujukan abrahamson, e. 2000. change without pain, 75– 79. harvard business review. antonakis, j., avolio, b.j., & sivasubramaniam, n. 2003. context and leadership: an examination of the nine-factor full range leadership theory using the multifactor leadership questionnaire. the leadership quarterly, 14, 261–295. baird, lloyd. 1986. managing performance. new york: john wileyd son, inc. bass, b.m. and avolio, b.j. 1990. the implications of transactional and transformational leadership for individual, team and organizational development. research in organizational change and development, 4: 231–272. bass, b.m. & avolio, b.j. 1994. improving organizational effectiveness through transformational leadership. thousand oaks, ca: sage. bass, b.m. 1990. from transactional to transformational leadership: learning to share the vision’. organizational dynamics, 18, pp. 19–31. bass, b.m. 1985. leadership: good, better, best. organizational dynamics. bass, b.m., avolio, b.j., & jung, d.i. 1999. reexamining the components of transformational and transactional leadership using the multifactor leadership. journal of occupational and organizational psychology, 72, 441–462. basu, r. & green, s.g. 1997. leader-member exchange and transformational lleadership: an empirical examination of innovative behaviors in leader-member dyads. journal of applied social psychology, 27, 477–499. bernardin, h.j. & russel, j.e.a. 1993. human resource management an experiential approach. singapore: mc graw-hill, inc. berson, y., nemanich, l.a., waldman, d., galvin, b.m., & keller, r.t. 2006. leadership and organizational learning: a multiple levels perspective. leadership quarterly, 17(6), 577–594. burns, j.m. 1978. leadership. new york: harper row. byars, l. lloyd dan rue, w. leslie. 2000. human resource management, international edition. 6th edition. mcgraw-hill. aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 13 carrel, et al. 1992. organizational behavior. prentice hall inc. chin, w.w. 1998. the partial least squares approach for structural equation modeling in g.a. marcoulides (ed.). modern methods for business research (pp.295–236). london: lawrence erlbaum associates. jong, de & kemp, r. 2003. determinants of coworkers’ innovative behaviour: an investigation into knowledge intensive service. international journal of innovation management. 7(2). de jong, j., & den hartog, d. 2007. how leaders influence employees’ innovative behavior. european journal of innovation management, 10(1), 41–64. desplaces, david. 2005. a multilevel approach to individual readiness to change. the journal of behavioral and applied management, vol.7, no.1. dorfman, p.w. and j.p. howell. 1996. dimensions of national culture and effective leadership patterns: hofstede revisited. advances in international comparative management (3) pp.127–150. dyer, j., gregersen, h., & christensen, c.m. 2011. the innovator’s dna: mastering the five skills of disruptive innovators. harvard business press. eisenbach,regina et al. 1999. transformational leadership in the context of organizational change. journal of organizational change management, vol. 12, no. 2, pp. 80–88. francoise contreras, juan c. espinosa, utz dornberger, & yonni angel cuero acosta. 2017. leadership and employees’ innovative work behavior: test of a mediation and moderation model. asian social science; vol. 13, no. 9. feldman, m.s. & pentland, b.t. 2003. reconceptualizing organizational routines as a source of flexibility and change. administrative science quarterly, 48, 94–118. garcía-morales, jiménez-barrionuevo, dan gutiérrez-gutiérrez. 2012. transformational leadership influence on irganizational performance through organizational learning and innovation. journal of business research, 65(7), 1040–1050. george, j.m. and brief, a.p. 1992. feeling gooddoing good: a conceptual analysis of the mood at work-organizational spontaneity relationship. psychological bulletin, 112, 310–329. getz, i. & robinson, a.g. 2003. innovative or die: is that a fact? creativity innovation manage, 12( 3),130–136. ghozali, imam. 2006. aplikasi analisis multivariate dengan program spss. (edisi ke-4). semarang: badan penerbit universitas diponegoro. ghiselli and brown. 1995. personnel and industrial psychology. new york: mc. graw hill book company inc. gibson, ivancevich, & donnelly. 1985. organisasi, perilaku, struktur, dan proses. jakarta: bina rupa aksara. giroux, t. & mclarney, c. 2014. exploring the leadership continuum: the relevance of transformational leadership on organizational performance. proceedings of the northeast region decision sciences institute, 862–886. jennex, m. 2006. case studies in knowledge management. idea group publishing. jung, d.i., chow, c., & wu, a. 2003. the role of transformational leadership in enhancing organizational innovation. the leadership quarterly 14, 525–544. katz, d. & kahn, r.l. 1978. the social psychology of organizations. new york: wiley. business and finance journal, volume 5, no. 1, march 2020 14 katz, d. 1964. the motivational basis of organizational behaviour, dalam behavior science. 9, halaman: 131–133. kotter, john p. 1995. leading change, menjadi pioner perubahan, (joseph bambang m.s., penerjemah). jakarta: pt gramedia pustaka utama. laporan road map bpjs ketenagakerjaan tahun 2017–2021. mangkuprawira, tb. sjafri. 2009. horison bisnis, manajemen, dan sumber daya manusia. bogor: itb press. naveed ahmad faraz, chneng yanxia, fawad ahmed, zelalem gebretsadik estifo, ali raza. 2018. the influence of transactional leadership on innovative work behavior mediation model. european journal of business and social sciences, vol. 07, no. 01. parmenter d. 2007. key performance indicators developing, implementing, and using winning kpis. hoboken, new jersey: john wiley & sons. porras, j.i. and robertson, p.j. 1992. organizational development: theory, practice, and research’, in dunnette, m. and hough, l. (eds). handbook of industrial and organizational psychology, 2nd ed., vol. 3, pp. 720–822. palo alto, ca: consulting psychologists press, inc., palo alto. ramamoorthy, n., flood, p.c., slattery, t. and sardessai, r. 2005. determinants of innovative work behavior: development and test of an integrated model. creativity and innovation management, vol. 14, no. 2, pp. 142–150. rensfelt a., winblad c.j., lindman l. 2008. kpi’s measuring and evaluating in order to increase logistic efficiency, vaxjo universitet school of management and economics. bachelor thesis g3 in business economics, 15 logistics, fe3583, spring semester 2008. robbins dan coulter. 1999. manajemen, edisi vi. pt prehallindo. byars, llloyd l. dan rue, leslie w. 2000. human resource management, 8 edition. mcgraw-hill. sadia arif dan aman akram. 2018. transformational leadership and organizational performance. seisense journal of management, vol. 1, issue 3, july 2018. samad. 2012. the influence of innovation and transformational leadership on organizational performance. social and behavioral sciences, 57, 486–493. schuler, randall dan susan e. jackson. 1997. manajemen sumber daya manusia, (menghadapi abad ke-21). jakarta: pt. gelora aksara pratama. scott, s.g. and r.a. bruce. 1994. determinants of innovative behavior: a path model of individual innovation in the workplace. academy of management journal, 37, pp. 580–607. sugiyono. 2011. metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: afabeta. tanenhaus, m., vinci, chatelin, y.m., dan carlo, l. 2004. pls path modeling. computational statistics and data analysis, 48: 159– 205. tichy noel m. & david o. ulrich. 1984. the leadership challenge–a call for the transformational leader. sloan management review, fall 1984, vol. 26, no. 1, reprinted with permission. tierney, p. and farmer, s.m. 2004. the pygmalion process and employee creativity”, journal of management, vol. 30, no. 3, pp. 413– 432. aries zetni hydayati, fendy suhariyadi, pengaruh transformational leadership terhadap kinerja karyawan dengan innovative behavior sebagai variabel mediator di bpjs ketenagakerjaan 15 timothy c. bednall , alannah e. rafferty, 1 helen shipton, karin sanders, and chris j. jackson, 2018. innovative behaviour: how much transformational leadership do you need?” british journal of management, vol. 00, 1–21. voyce li, rebecca mitchell, and brendan boyle. 2015. the divergent effects of transformational leadership on individual and team innovation group & organization management. group & organization management. 1–32. sagepub.com/journalspermissions. nav. wang, h., law, k., hackett, r., wang, d., & chen, z.x. 2005. leader-member exchange as a mediator of the relationship between transformational leadership and followers’ performance and organizational citizenship behavior. academy of management journal, 48, 420-432. wang, e., chou, h.-w., & jiang, j. 2005. the impacts of charismatic leadership style on team cohesiveness and overall performance during erp implementation. international journal of project management, 23, 173–180. werther, william b. & keith davis. 1996. human resources and personal management. international edition. usa: mcgraw-hill, inc. xenikou, a. 2017. transformational leadership, transactional contingent reward, and organizational identification: the mediating effect of perceived innovation and goal culture orientations. frontiers in psychology, 8, 1754. yukl, gary 1994. leadership in organizations. terjemahan jusuf udayana. kepemimpinan dalam organisasi. edisi 3. jakarta: penerbit prenhallindo. yukl, gary. 2005. kepemimpinan dalam organisasi (edisi v). jakarta: pt indeks. yukl. 2015. kepemimpinan dalam organisasi (edisi vii). jakarta: pt indeks. 01 antariksa.pmd ninnasi muttaqi’in, puspandam katias, strategies to improve service quality with house of quality at hotel x surabaya 6565 strategies to improve service quality with house of quality at hotel x surabaya ninnasi muttaqi’in, puspandam katias nahdlatul ulama surabaya university e-mail: puspandam@unusa.ac.id, m.ninnasi@unusa.ac.id abstract: service that can satisfy consumers is the main key for service companies to be able to survive and develop their business. because service is an intangible product, it requires maximum effort for service providers to be able to obtain satisfactory value from consumers. understanding consumer needs and trying to meet consumer expectations as best as possible is one way to improve service quality. hotel is one of the service providers in the tourism and business sector, where at this time hotel service is a critical service in its contribution to the tourism business. this research was conducted at a hotel in surabaya. surabaya is one of the metropolitan cities in indonesia, where service providers have been competing fiercely and continue to innovate in providing services. this is also supported by the characteristics of the city of surabaya as a trading city, so that it always requires complex services to meet consumer expectations. therefore, it is very important to improve service quality through the formulation of the right strategy. in this research, it will be known what are the priorities of customers in choosing hotels, hotel service conditions, and hotel internal responses. the research method used in this study is divided into several stages, namely: problem identification, questionnaire creation and distribution, data processing, and the preparation of the house of quality (hoq). the data collection method used was a survey method with a questionnaire instrument, while the data analysis technique used was the house of quality matrix (hoq) method as a representation of the quality function deployment (qfd) method where the qfd function was to show how the quality attribute efforts would be derived as an effort to meet customer needs in other words serves to determine what will satisfy customers and translate their customer desires into designed target. keywords: house of quality, matrix house of quality, quality function deployment introduction hotels not only compete with other hotels, but also have other competitors in similar fields such as inns, leased apartments, meetinghouses, and the like (ariana, 2018; arja, 2019; fitria, 2019; hakam, 2019). with the increasing number of similar hotel and lodging services, there are many choices for consumers to use tourism services according to consumer desires. this can cause consumers who are dissatisfied with the services of a tourism service provider to move places and use other hospitality and services industries (kusumaningtyas, 2019; karya, 2016; mahanani, 2016; putri, 2015). as previously explained that consumers can be used as a source of information, if these consumers spread information about their dissatisfaction with other consumers, more and more consumers will leave and not use the previous hospitality and services industries. this causes huge losses for the company. this study raises the problem of the response and what factors are the priority of customer expectations in choosing hotel x surabaya, and aims to determine the service conditions of hotel x in surabaya from the customer’s perspective. the expected contribution is to provide information that can be used as the manager of x hotel in surabaya in business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 66 making policies to improve the quality of service at x hotel in surabaya. based on this explanation, research is needed on “strategies for improving service quality with the house of quality at hotel x surabaya.” research methodology this research begins with a preliminary survey, namely making observations in the field about hotel x in surabaya, then proceed with secondary data searches about hotel x in surabaya through collecting documents from the management of hotel x in surabaya, after finding the problems that exist at hotel x in surabaya. after conducting a literature review (katias, 2018) then compiling research instruments and data collection techniques and data analysis techniques used to build the house of quality matrix, the data obtained from the results of distributing questionnaires is processed and analyzed using the house of quality (hoq) matrix method as a representation from the quality function deployment (qfd) method (xie, 2003) where the quality function deployment (qfd) function is to show how the quality attribute effort will be derived as an effort to meet customer needs in other words it functions to determine what will satisfy customers and translate customer desires. their inclusion into target design (heizer and render, 2013) result and discussion the questionnaire was distributed to 100 guests of hotel x surabaya. it was found that the number of female respondents was more than male respondents. the number of female respondents was 76% and male respondents were 24%. while the number of respondents based on age 25–45 years was 40.00% dominant. while the jobs of the majority of respondents are 60 private employees, 15% are selfemployed, while 10% are civil servants. gap (gap) between realities and expectations of service quality attributes. table 1 tangible aspect table 2 empathy aspect table 3 responsiveness aspect ninnasi muttaqi’in, puspandam katias, strategies to improve service quality with house of quality at hotel x surabaya 67 symbol ! : 1 there is almost no relationship between technical response and service attributes symbol " : 3 weak relationships between technical response and service attributes symbol # : 5 medium relationships between technical response and service attributes symbol $: 9 strong relationships between technical response and service attributes house of quality making qfd (house of quality) matrix identification of customer voices service quality attributes that have been grouped using factor analysis are used as the main input in qfd analysis as the voice of customers in planning the quality of mathematics laboratory services. the attributes that become the voice of the customer can be seen in the customer requirements (whats) table. formation of the planning matrix the planning matrix is an analysis of the voice of customer which includes: guest interest level, service performance, goals and improvement differences, sales points. conclusion from the research that has been done, the following conclusions can be drawn: from the results of research using service quality and quality function deployment, it can be seen that the services of hotel x surabaya which have been carried out so far have not satisfied customers. although there are several attributes that have felt satisfaction, there are still many service attributes that are not in table 5 assurance aspect table 4 reliability aspect the tables above show that there are all 27 service quality attributes, which have a negative gap value. of the 27 attributes, it is known that the attributes of the completeness of supporting facilities have the largest gap value, namely 1.39, after that the attribute of the availability of adequate parking spaces with a gap of -1.28 is followed by the attribute of speed of officers responding to guest complaints with a gap of 1.26. this means that the performance of the 27 service quality attributes is still below the expectations of guests of hotel x surabaya. whats and hows relationship at this stage, the relationship between guest needs and the quality of services at hotel x surabaya (whats) is determined and the technical responses (hows) that have been made. the determination of this relationship is based on the results of discussions with officers at hotel x surabaya. the depiction of the relationship between whats and hows is done with the following symbols. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 68 accordance with customer expectations. this can be seen from the value between the level of customer satisfaction and customer expectations, there are 27 service attributes. service attributes that really need attention from the hotel to immediately improve the completeness of supporting facilities have the largest gap value, namely -1.39 after that the attribute of adequate parking space availability with a gap of -1.28 is followed by the attribute speed of officers responding to guest complaints with a gap -1.26. improving the quality of service at hotel x surabaya in accordance with the needs or desires of customers, namely service by prioritizing the improvement of service quality attributes that are needed by these customers. references ariana, ida bagus oka. 2018. analisis kualitas pelayanan terhadap nasabah bank jatim cabang x dengan menggunakan metode servqual dan diagram fishbone. undergraduate thesis unpublished. economic & business faculty, airlangga university, surabaya. arja, moch. alex. 2019. pengaruh kualitas produk dan kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan dalam membentuk loyalitas pelanggan (studi kasus pada laziza chiken dan pizza, sekardangan, sidoarjo). under-graduate thesis unpublished. economic & business faculty nahdlatul ulama university, surabaya. cohen, l. 2005. quality function deployment: how to make qfd work for you. massachusetts: addison wesley publishing. fitria, asrul, 2019. pengaruh kualitas produk dan citra merek terhadap minat beli konsumen smartphne samsung pada mahasiswa universitas nahdlatul ulama surabaya. undergraduate thesis unpublished. economic & business faculty nahdlatul ulama university surabaya. hakam, m. fajrul. 2019. pengaruh kualitas produk dan kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan dengan kepuasan pelanggan sebagai variabel intervening; studi kasus pada cv pustaka cendikia jaya. undergraduate thesis unpublished. economic & business faculty nahdlatul ulama university surabaya. heizer, j. and render, b. 2013. operations management: sustainability and supply chain management. pearson higher ed. hoffman, k.d. and bateson, j.e. 2001. essentials of services marketing: concepts, strategies, and cases. south-western pub. kusumaningtyas, rizki. 2019. customer relationship management dan kualitas pelayanan pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan (survei pada pelanggan online shop yasshop, kota surabaya). undergraduate thesis unpublished. economic & business faculty nahdlatul ulama university surabaya. karya, d. f. 2016. analisis kualitas layanan dan kepuasan pengunjung perpustakaan kampus a universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa). business and finance journal, vol.1, no.2. katias puspandam, fuji rahayu. 2018. analisis service quality di puskesmas x surabaya dengan quality function deployment. business and finance journal, vol. 3, no. 2. ninnasi muttaqi’in, puspandam katias, strategies to improve service quality with house of quality at hotel x surabaya 69 mahanani, p dan karya, d.f. 2016. loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya). business and finance journal, vol. 1, no. 1. putri, resthi rismarini. 2015. analisis perbaikan kualitas dengan menggunakan integrasi servqual (service quality) dan matriks importance performance analysis di perusahaan forwarding pt tricipta semesta. undergraduate thesis unpublished. economic & business faculty, airlangga university surabaya. xie, min., tan, k.c., & goh, t.n. 2003. advanced qfd applications. american society for quality. quality press. 01 astria primadhani.pmd miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 123123 pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo miko arko universitas airlangga e-mail: miko.arko@gmail.com abstract: the purpose of this study is to prove the influence of supportive leadership and performance through job satisfaction as a mediator. the method used in this study is quantitative with data collection techniques through the distribution of questionnaires in the study sample, as many as 74 employees of hotel x sidoarjo. the data analysis technique used is spss and sobel test to determine the mediating effect. this study found that: (1) leadership supported positive and significant effect on job satisfaction with a beta coefficient of 0,618 (0.000 <0.05); (2) job satisfaction has a positive and significant effect on performance with a beta coefficient of 0,348 (0.000 <0.05); and (3) job satisfaction succeeded in mediating the effect of support on work performance with the sobel test results of 2.730 (0.006 <0.05). keywords: supportive leadership, job satisfaction, work performance i. pendahuluan berbagai kondisi perekonomian saat ini menuntut setiap perusahaan untuk terus berusaha mencapai tujuan dengan menjalankannya secara efektif dan efisien. keberhasilan tujuan perusahaan bergantung pada kemampuan dan keahlian seorang pemimpin. perusahaan juga membutuhkan karyawan yang memiliki kemampuan untuk bekerja lebih baik. karyawan menjadi penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan sehingga seorang pemimpin harus dapat memberikan arahan kepada karyawan untuk meningkatkan kinerjanya (sanjiwani & suana, 2016). pemimpin yang sadar akan tugas dan tanggung jawab mereka dan mampu mendorong bawahan mereka dianggap sebagai pemimpin yang mendukung. pemimpin yang mendukung menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk menumbuhkan rasa hormat, kepercayaan, kerja sama, dan dukungan emosional. tempat kerja yang diperkaya dengan para pemimpin yang mendukung membawa hasil yang sukses dan bermanfaat bagi kesejahteraan (khalid et al., 2012:489). kepemimpinan yang suportif adalah aspek kunci dari kepemimpinan yang efektif di indonesia (teori jalur-tujuan). kepemimpinan suportif mirip dengan individual pertimbangan dan sub-dimensi kepemimpinan transformasional, dalam kedua jenis kepemimpinan mencakup mengekspresikan minat pada pengikut individu, menghadiri dan menanggapi kebutuhan pribadi mereka (sree & gunaseelan, 2016:54). dari hasil data phri (perhimpunan hotel dan restoran indonesia), indonesia memiliki jumlah anggota asosiasi phri di provinsi jawa timur sebanyak 487 hotel. sedangkan di kabupaten sidoarjo jumlah anggota asosiasi phri (perhimpunan hotel dan restoran indonesia) sebanyak 10 hotel (www.phrijatim.com). salah satu hotel di sidoarjo yang akan mengalami persaingan adalah hotel x sidoarjo. hotel x sidoarjo akan bersaing dengan hotel seperti airy hotel, reddoorz, dan oyo. namun bukan hanya jumlah hotel yang ada di sidoarjo saja business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 124 yang berpengaruh terhadap persaingan yang dihadapi oleh hotel x sidoarjo, tetapi dari jumlah hotel berbintang dan non-bintang yang ada di seluruh wilayah jawa timur akan menjadi pesaing dari hotel x sidoarjo. berdasarkan data diketahui bahwa jumlah hotel berbintang di wilayah jawa timur pada tahun 2017 sebanyak 161 unit. sedangkan untuk jumlah hotel non-bintang di wilayah jawa timur pada tahun 2017 sebanyak 1173 unit. kota surabaya merupakan kota pertama yang memiliki jumlah hotel terbanyak yaitu 82 unit hotel berbintang dan 141 hotel non-bintang. kota malang adalah kota kedua yang memiliki jumlah hotel terbanyak yaitu sebanyak 24 hotel bintang dan 90 hotel non-bintang. terbanyak ketiga adalah kota batu dengan jumlah 16 hotel bintang dan 58 hotel non-bintang. banyaknya jumlah hotel baik berbintang maupun non-bintang menjadikan persaingan semakin ketat di wilayah jawa timur khususnya dalam bidang perhotelan. dari banyaknya hotel yang ada di sidoarjo akan berdampak pada persaingan yang ketat di dalam bisnis perhotelan di sidoarjo. hal tersebut disebabkan karena hotel x sidoarjo merupakan hotel budget. persaingan hotel dapat dilihat dari lokasinya strategis dekat dengan bandara juanda, banyak pabrik, dan berdekatan dengan alunalun. persaingan tersebut dapat diatasi dengan mengubah kepemimpinan pada hotel tersebut berdasarkan ketepatan waktu dalam bekerja, kualitas kerja, bersedia bekerja sama dengan rekan kerja, kreativitas karyawan, dan keandalan dalam bekerja (gomes, 1995). fenomena yang ada di hotel x sidoarjo adalah bahwa kepercayaan yang selama ini sudah diberikan oleh pimpinan kepada para karyawan malah sebaliknya diabaikan oleh karyawan sehingga karyawan memiliki kinerja yang cukup buruk. berikut adalah data penilaian kinerja berdasarkan tamu hotel yaitu dengan menggunakan data tiga bulan terakhir bulan mei sampai juli 2019. data penilaian kinerja yang diambil adalah berdasarkan kebersihan hotel, keramahan karyawan, dan cepat tanggap karyawan. berikut ini merupakan data yang dimaksud. gambar 1.1 data penilaian kinerja tiga bulan terakhir karyawan hotel x sidoarjo berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa nilai tertinggi penilaian kinerja adalah pada kebersihan hotel pada kategori 2 yaitu dengan total penilaian sebanyak 29. sedangkan nilai paling rendah adalah penilaian kinerja pada cepat tanggap karyawan pada kategori 5 yaitu dengan total sebanyak dua. hal tersebut berarti bahwa kinerja karyawan hotel x sidoarjo paling baik adalah dari segi kebersihan hotel, sedangkan kinerja karyawan perihal cepat tanggap masih amat kurang sehingga perlu untuk ditingkatkan. rendahnya kinerja berkaitan erat dengan motivasi yang dimiliki oleh setiap individu karyawan. salah satu bentuk yang memotivasi dan dapat meningkatkan kinerja karyawan adalah upah atau gaji yang diterima. gambar 1.2 merupakan tabel gaji karyawan yang diterima oleh karyawan hotel x sidoarjo. gambar 1.2 data gaji karyawan 3 bulan terakhir karyawan hotel x sidoarjo miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 125 dan kinerja karyawan hotel x sidoarjo. oleh karena pada saat ini kepuasan kerja, kepemimpinan suportif, dan juga kinerja dari karyawan masih dianggap kurang. berdasarkan pada paparan tersebut maka peneliti mengambil judul penelitian pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo”. 1.1 rumusan masalah berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. apakah supportive leadership berpengaruh terhadap job performance pada karyawan hotel x sidoarjo? 2. apakah job satisfaction berpengaruh terhadap job performance pada karyawan hotel x sidoarjo? 3. apakah job satisfaction berperan memediasi supportive leadership terhadap job performance pada karyawan hotel x sidoarjo? 1.2 tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. untuk mengetahui pengaruh antara supportive leadership terhadap job performance pada karyawan hotel x sidoarjo. 2. untuk mengetahui pengaruh antara job satisfaction terhadap job performance pada karyawan hotel x sidoarjo. 3. untuk mengetahui peran job satisfaction dalam memediasi supportive leadership terhadap job performance pada karyawan hotel x sidoarjo. gambar tersebut menunjukkan dapat diketahui bahwa terdapat ketidaksesuaian gaji karyawan dengan umk setiap bulan mulai dari bulan april sampai juni, sedangkan upah minimum kota atau kabupaten adalah sebesar rp 3.864.696,20. karyawan yang memiliki jabatan sebagai security pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.135.909 pada bulan april. karyawan yang memiliki jabatan sebagai front office pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.176.875 pada bulan april, sedangkan gaji tertinggi sebesar 3.220.000 pada bulan juni. karyawan yang memiliki jabatan sebagai front office pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.176.875 pada bulan april, sedangkan gaji tertinggi pada bulan mei sebesar 3.271.875. karyawan yang memiliki jabatan sebagai housekeeping pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.185.882 pada bulan april, sedangkan gaji tertinggi pada bulan mei sebesar 3.255.882. karyawan yang memiliki jabatan sebagai f & b pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.159.250 pada bulan april, sedangkan gaji tertinggi pada bulan mei sebesar 3.260.000. karyawan yang memiliki jabatan sebagai laundry pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.149.444 pada bulan april, sedangkan gaji tertinggi pada bulan mei sebesar 3.260.000. karyawan yang memiliki jabatan sebagai manajemen pada hotel x sidoarjo gaji terendah sebesar 3.548.333 pada bulan april, sedangkan gaji tertinggi pada bulan juni sebesar 3.560.000. hal tersebut membuktikan bahwa gaji yang diterima oleh karyawan lebih kecil daripada upah minimum kota sidoarjo sehingga menyebabkan karyawan kurang puas dengan gaji yang diterima. tentu saja kemajuan tersebut tak lepas dari adanya peran sosok yang memimpin para karyawan. dengan adanya pemimpin yang suportif maka dapat meningkatkan kepuasan kerja business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 126 2.2 indikator supportive leadership indikator supportive leadership pada penelitian ini diambil dari mcgilton dalam maurya dan agarwal (2015), yaitu (1) mensuport standar pelayanan karyawan yang diberikan kepada pelanggan; (2) memenuhi kebutuhan karyawan dengan baik; (3) memahami sudut pandang karyawan; (4) dapat diandalkan saat dimintai bantuan; (5) memberi tahu jika ada perubahan pada lingkungan kerja; dan (6) menolerir frustasi dan mendengar keluh kesah karyawan. 2.3 definisi job performance kinerja adalah ukuran kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tertentu. job performance adalah sejauh mana karyawan melakukan upaya untuk mencapai tujuan organisasi. ini berarti bagaimana seorang karyawan berusaha mencapai tujuan organisasi dan mencoba untuk mencapai standar yang ditetapkan oleh organisasi!(khalid, et al, 2012:489). job performance telah didefinisikan sebagai nilai organisasi dapat mengharapkan dari perilaku diskrit yang dilakukan oleh seorang karyawan dari waktu ke waktu. job performance mengarah pada definisi ini termasuk gagasan bahwa kinerja pekerjaan adalah perilaku, episodik, evaluatif, dan multidimensi. namun, harus ada klarifikasi tentang perbedaan antara perilaku dan kinerja; perilaku adalah apa yang dilakukan orang dan kinerja adalah nilai organisasi yang diantisipasi dari apa yang dilakukan orang (abozoum, nimran, & musadieq, 2015:45). job performance dapat didefinisikan karena semua perilaku yang dilakukan karyawan saat bekerja. individu kinerja pekerjaan adalah ukuran hasil yang relevan studi dalam lingkungan kerja; ini merujuk pada bagaimana baik seseorang tampil di pekerjaannya. aspek seperti kemamii. tinjauan pustaka 2.1 definisi supportive leadership pemimpin yang sadar akan tugas dan tanggung jawab mereka dan mampu mendorong bawahan mereka dianggap sebagai pemimpin yang mendukung. pemimpin yang mendukung menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk menumbuhkan rasa hormat, kepercayaan, kerja sama, dan dukungan emosional. tempat kerja yang diperkaya dengan para pemimpin yang mendukung membawa hasil sukses dan bermanfaat bagi kesejahteraan (khalid, et al, 2012:489). kepemimpinan yang suportif aspek kunci dari kepemimpinan yang efektif di indonesia (teori jalur-tujuan). kepemimpinan suportif mirip dengan individual pertimbangan, subdimensi kepemimpinan transformasional, dalam kedua jenis kepemimpinan mencakup mengekspresikan minat pada pengikut individu dan menghadiri dan menanggapi kebutuhan pribadi mereka (sree & gunaseelan, 2016:54). gaya kepemimpinan suportif memiliki konsultasi tingkat tinggi antara pemimpin dan pengikutnya. terutama terlihat ketika pengikut terlibat dalam pengambilan keputusan oleh para pemimpin mereka. keterlibatan ini sangat penting untuk mencapai kinerja karyawan yang tinggi mengarah pada komitmen karyawan yang tinggi karena pengikut merasa dihargai (lumbasi, aol, & ouma, 2016:4). kepemimpinan suportif berfokus pada dukungan sosial dan emosional yang dimanifestasikan dalam perilaku seperti bersimpati, peduli, dan mendengarkan (shin, oh, sim, & lee, 2016:56). kepemimpinan suportif mengacu pada sejauh mana para pemimpin mendukung pengikut mereka melalui keterlibatan aktif dalam menyelesaikan situasi sulit, bersikap terbuka, jujur, dan adil dalam interaksi mereka (elsaied, 2018:3). miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 127 puan tugas spesifik pekerjaan, terkait perilaku untuk tugas-tugas inti pekerjaan, tingkat komitmen untuk tugas inti, dan perilaku kerja umum menjadi faktor penting yang terkait dengan kinerja pekerjaan (fogaca & melo, 2018:231). prestasi kerja dianggap sebagai parameter penting dalam profesi keperawatan, sedemikian rupa sehingga dalam etika terakhir, cara-cara perhitungan dan pertimbangan inovatif baru telah ditemukan bahkan untuk yang baru profesional terdaftar (platis, reklitis, & zimeras, 2015:481). kinerja didefinisikan sebagai pencapaian karyawan dan hasil yang diakui oleh organisasi dalam karya karyawan adopsi dari keahlian, usaha, dan sifat kondisi kerja adalah campuran yang dinyatakan sebagai bagian yang mewakili kinerja pekerjaan (ling & bhatti, 2014:1987). job performance dapat dilihat sebagai aktivitas dalam di mana seorang individu mampu menyelesaikan tugasnya ditugaskan kepadanya dengan sukses, tunduk pada normal kendala pemanfaatan yang wajar dari yang tersedia sumber daya. 2.4 indikator job performance job performance adalah kinerja karyawan dalam menjalankan tugas/pekerjaan yang dibebankan berdasarkan atas pengalaman, kesungguhan, kecakapan, dan waktu. indikator job performance menurut gomes (2005) adalah sebagai berikut. 1. quantity of work, jumlah pekerjaan yang harus dilakukan oleh karyawan dalam periode waktu tertentu. jumlah pekerjaan yang disediakan sesuai dengan kesediaan karyawan. loyalitas dan kesediaan karyawan untuk bekerja di luar jam kerja dengan kesepakatan yang telah ditentukan. 2. quality of work, kualitas kerja yang dicapai berdasarkan persyaratan yang sesuai dan kesiapan yang tinggi melahirkan penghargaan, kemajuan serta perkembangan organisasi, serta meningkatkan keterampilan dan pengetahuan secara sistematis sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat. 3. job knowledge, seberapa luas pengetahuan dan keterampilan karyawan di tempat kerja. indikator yang terkait dengan luasnya pengetahuan tentang pekerjaan seseorang dan keterampilan karyawan dan kemampuan karyawan untuk terus mengembangkan pengetahuannya menjadi lebih baik. 4. creativeness, keaslian pemikiran yang timbul dari langkah-langkah dapat menyelesaikan masalah-masalah yang timbul. petunjuk yang berkaitan dengan keaslian ide-ide yang muncul dari langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul. 5. cooperation, kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain (sesama anggota organisasi). indikator yang dapat terkait dengan proses adaptasi lingkungan kerja dan kemauan untuk bekerja sama dengan orang lain (sesama anggota organisasi). 6. dependability, kesadaran dan bisa dipercaya dalam hal kehadiran. indikator disiplin, kepercayaan, dan penyelesaian pekerjaan. 7. initiative, semangat dalam melaksanakan tugas-tugas baru dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi. 8. personal qualities, kepemimpinan dan integritas pribadi. mengenai kepribadian, kepemimpinan, ramah-tamah, dan integritas pribadi. indikator ini spesifik karena setiap individu memiliki sifat dan pola pikir yang berbeda. 2.5 definisi job satisfaction kepuasan kerja adalah suatu sikap yang bisa berupa emosi atau penilaian. dengan kata lain, pengaruh dianggap sebagai emosi atau business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 128 perasaan, sedangkan penilaian berasal dari ranah kognitif. kepuasan kerja mengandung tiga komponen antara lain komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen perilaku. sementara komponen afektif mengacu pada perasaan tentang pekerjaan, komponen kognitif mewakili keyakinan tentang pekerjaan. sering kali kedua aspek ini saling terkait. komponen perilaku adalah indikator untuk niat perilaku menuju pekerjaan seperti mulai bekerja tepat waktu dan bekerja keras (abozoum, nimran, & musadieq, 2015:43). kepuasan kerja adalah subjektif individu sudut pandang yang mencakup cara dia merasa tentang pekerjaannya dan pekerjaannya organisasi. kepuasan kerja dikenal sebagai assemble yang telah sering dideskripsikan, dibahas, dan diteliti. kepuasan karyawan adalah ukuran yang menceritakan tentang kondisi umum emosi karyawan tentang tempat kerja dan pekerjaannya. hal itu untuk mengukur pendekatannya terhadap pekerjaan dan sejauh mana pekerjaan itu memuaskan kebutuhan karyawan. kepuasan kerja digunakan untuk mengukur niat seorang karyawan terhadap tempat kerja mereka (javed, balouch, & hassan, 2014:122–123). kepuasan kerja adalah respons afektif dan emosional untuk berbagai aspek seseorang pekerjaan. kepuasan kerja menggambarkan respons emosional yang dihasilkan dari pemenuhan dirasakan karyawan, kebutuhan karyawan, dan apa yang mereka yakini ditawarkan oleh perusahaan (agbozo, et al., 2017:14). kepuasan kerja adalah keadaan di mana karyawan merasakan situasi kesenangan dari pekerjaannya atau itu adalah keadaan positif dan emosional dari karyawan sebagai hasil penilaian atas pekerjaan dan kinerjanya. kepuasan kerja adalah pusat pertimbangan untuk mengetahui efek pada kinerja karyawan (shaikh, et al., 2012:322). kepuasan kerja adalah konstruksi yang kompleks dan kontroversial, di mana tidak ada definisi tunggal. secara konsensual, ini dianggap sebagai salah satu sikap paling positif terhadap pekerjaan itu sendiri. saat ini ada dominasi pendekatan multidimensional yang memahami kepuasan sebagai respons psikologis tripartit yang terdiri dari perasaan, ide dan niat untuk bertindak, di mana orang mengevaluasi pengalaman kerja mereka secara emosional dan/ atau kognitif (omar, et al 2017:96). 2.6 indikator job satisfaction kepuasan kerja adalah suatu tindakan emosional yang tidak menyenangkan atau menyenangkan dari karyawan terhadap pekerjaannya dibandingkan dengan hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan mereka. indikator kepuasan kerja menurut robbins, stephen (2003) adalah sebagai berikut. 1. pekerjaan itu sendiri (work itself), setiap pekerjaan membutuhkan keahlian tertentu sesuai dengan bidang masing-masing. sulit atau tidaknya suatu pekerjaan yang akan meningkatkan atau penurunan kepuasan kerja. 2. atasan (supervision), atasan yang baik adalah atasan yang mau menghargai hasil pekerjaan bawahannya entah itu sesuai atau tidak sesuai. 3. teman sekerja (workers), faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pimpinan dan karyawan, baik yang sama atau berbeda jenis pekerjaan. 4. promosi (promotion), faktor yang berhubungan dengan adanya suatu kesempatan untuk memperoleh kemajuan karier dalam pekerjaan. gaji/upah (pay) merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak. miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 129 2.7 kerangka konseptual dengan kata lain, pengaruh dianggap sebagai emosi atau perasaan, sedangkan penilaian berasal dari ranah kognitif. dalam komponen afektif mengacu pada perasaan tentang pekerjaan, komponen kognitif mewakili keyakinan tentang pekerjaan. sering kali kedua aspek ini saling terkait. komponen perilaku adalah indikator untuk niat perilaku menuju pekerjaan seperti mulai bekerja tepat waktu dan bekerja keras (abozoum, nimran, & musadieq, 2015:43). kepuasan kerja adalah subjektif individu sudut pandang yang mencakup cara dia merasa tentang pekerjaannya dan pekerjaannya organisasi. kinerja adalah ukuran kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tertentu. job performance adalah sejauh mana karyawan melakukan upaya untuk mencapai tujuan organisasi. ini berarti bagaimana seorang karyawan berusaha untuk mencapai tujuan organisasi dan mencoba untuk mencapai standar yang ditetapkan oleh organisasi (khalid, et al., 2012:489). job performance mengarah pada definisi ini termasuk gagasan bahwa kinerja pekerjaan adalah perilaku, episodik, evaluatif, dan multidimensi. namun, harus ada klarifikasi tentang perbedaan antara perilaku dan kinerja; perilaku adalah apa yang dilakukan orang dan kinerja adalah nilai organisasi yang diantisipasi dari apa yang dilakukan orang (abozoum, nimran, & musadieq, 2015: 45). h2: job satisfaction berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap job performance 2.10 pengaruh job satisfaction memediasi supportive leadership terhadap job performance kepuasan kerja dikenal sebagai assemble yang telah sering dideskripsikan, dibahas, dan diteliti. kepuasan karyawan adalah ukuran tentang karyawan emosi terhadap tempat kerja dan gambar 2.1 kerangka konseptual 2.8 pengaruh supportive leadership terhadap job satisfaction pemimpin yang sadar akan tugas dan tanggung jawab mereka dan mampu mendorong bawahan mereka dianggap sebagai pemimpin yang mendukung. pemimpin yang mendukung menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk menumbuhkan rasa hormat, kepercayaan, kerja sama, dan dukungan emosional. tempat kerja yang diperkaya dengan para pemimpin yang mendukung membawa hasil yang sukses yang bermanfaat bagi kesejahteraan (khalid, et al., 2012:489). kepemimpinan yang suportif adalah aspek kunci dari kepemimpinan yang efektif di indonesia (teori jalur-tujuan). kepemimpinan suportif mirip dengan individual pertimbangan, sub-dimensi kepemimpinan transformasional, dalam kedua jenis kepemimpinan mencakup mengekspresikan minat pada pengikut individu dan menghadiri dan menanggapi kebutuhan pribadi mereka (sree & gunaseelan, 2016:54). h1: supportive leadership berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap job satisfaction 2.9 pengaruh job satisfaction terhadap job performance kepuasan kerja adalah suatu sikap dan sikap itu bisa berupa emosi atau penilaian. job perfomance (y) supportive leadership (x) job satisfaction (z) wee rakk ody agar wal shin h h h business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 130 pekerjaannya. ini mengukur pendekatannya terhadap pekerjaan dan sejauh mana pekerjaan itu memuaskan kebutuhan karyawan. kepuasan kerja digunakan untuk mengukur niat seorang karyawan terhadap tempat kerja mereka (javed, balouch, & hassan, 2014:122–123). kepuasan kerja adalah respons afektif dan emosional untuk berbagai aspek seseorang pekerjaan. kepuasan kerja menggambarkan respons emosional yang dihasilkan dari pemenuhan dirasakan karyawan, kebutuhan karyawan, dan apa yang mereka yakini ditawarkan oleh perusahaan (agbozo, et al., 2017:14). job performance dapat didefinisikan karena semua perilaku yang dilakukan karyawan saat bekerja. individu kinerja pekerjaan adalah ukuran hasil yang relevan studi dalam lingkungan kerja; ini merujuk pada bagaimana baik seseorang tampil di pekerjaannya. aspek seperti kemampuan tugas spesifik pekerjaan, terkait perilaku untuk tugas-tugas inti pekerjaan, tingkat komitmen untuk tugas inti, dan perilaku kerja umum menjadi faktor penting yang terkait dengan kinerja pekerjaan (fogaca & melo, 2018:231). prestasi kerja dianggap sebagai parameter penting dalam profesi keperawatan, sedemikian rupa sehingga dalam etika terakhir, cara-cara perhitungan dan pertimbangan inovatif baru telah ditemukan bahkan untuk yang baru profesional terdaftar (platis, reklitis, & zimeras, 2015:481). h3: job satisfaction secara signifikan memediasi supportive leadership terhadap job performance. iii. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu menyampaikan presentasi hasil penelitian yang bersifat numeric, untuk tujuan menggambarkan dan menjelaskan fenomena yang mencerminkan hasil penelitian (barbie, 2010: 405). pendekatan yang dilakukan adalah penelitian kausal. studi penelitian meneliti sebabakibat adalah hubungan kausal antara dua variabel atau lebih penelitian kausal akan menjelaskan efek dari perubahan variasi nilai dari satu atau lebih variabel lain. artinya, apakah perubahan nilai suatu variabel menyebabkan perubahan nilai variabel lain (silalahi, 2011). 3.1 definisi operasional dan pengukuran variabel definisi variabel adalah konsep atau konstruk yang memiliki variasi (dua atau lebih) dari nilai sehingga dapat diamati (diobservasi) atau dapat diukur (measurable) (silalahi, 2012: 115). operasi adalah definisi yang berkaitan dengan variabel dengan memberikan makna atau menentukan kegiatan atau memberikan operasional yang diperlukan dalam mengukur variabel-variabel ini. (silalahi, 2012:190). berdasarkan dari rumusan masalah yang telah dikemukakan maka variabel yang akan digunakan dalam analisis ini dijelaskan sebagai berikut. tabel 3.1 operasional variabel variabel definisi indikator supportive leadership (x) gaya kepemimpinan yang bersahabat dan memberikan perhatian kepada bawahan 1. men-support standar pelayanan karyawan yang diberikan kepada pelanggan 2. memenuhi kebutuhan karyawan dengan baik 3. memahami sudut pandang karyawan 4. dapat diandalkan saat dimintai bantuan 5. memberi tahu jika ada perubahan pada lingkungan kerja 6. menolerir frustasi dan mendengar keluh kesah karyawan (mcgilton dalam agarwal, 2015) miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 131 3.2 jenis data data yang digunakan didalam penelitian ini adalah data kuantitatif. data kuantitatif adalah tipe data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, dalam bentuk informasi atau penjelasan yang ditandai dengan angka atau bilangan (ghozali, 2013). 3.3 sumber data sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua sumber data yaitu: 1. data primer data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti (atau petugas) dari sumber pertama. adapun sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari kuesioner. 2. data sekunder data sekunder adalah data berasal dari sumber kedua yang dapat diperoleh melalui jurnal, buku-buku, internet, dan juga artikel. 3.4 metode pengumpulan data metode pengumpulan data ini yang digunakan dalam penelitian adalah pengumpulan data terstruktur (structured data collection), dalam penelitian ini, kuesioner yang disusun tersebut mencakup pertanyaan yang berkaitan dengan komitmen organisasi, kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan. skala yang digunakan untuk memberikan skoring angket dalam penelitian ini adalah skala likert dengan memberikan nilai sebagai berikut (ghozali, 2013): sangat setuju/selalu : 5 setuju/sering : 4 agak setuju/kadang-kadang : 3 tidak setuju/jarang : 2 sangat tidak setuju : 1 3.5 uji validitas dalam penelitian ini, validitas tes ini dilakukan dengan melihat korelasi pearson product moment (r), yang mengukur kedekatan korelasi antara skor pertanyaan dengan skor total variabel yang diamati. uji validitas dilakukan dengan melihat korelasi pearson product moment (r) digunakan untuk mengetahui korelasi antara item dengan total item penelitian. di mana ketentuan yang diterapkan adalah bahwa sebuah item kuesioner dinyatakan valid jika nilai r memiliki tingkat signifikan kurang dari 5% (silalahi, 2012). 3.6 uji realibilitas keandalan adalah gelar yang menggambarkan kemampuan untuk membuat respons sama dari waktu ke waktu juga di seluruh situasi. sebuah alat ukur dikatakan handal jika hasil pengukuran dari alat ukur stabil dan konsisten (silalahi, 2012). uji reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan uji statistik cronbach’s alpha (!) dengan ketentuan bahwa variabel yang diteliti dinyatakan reliabel apabila nilai cronbach’s alpha (!) adalah di atas 0,6. job performance (y) capaian hasil kerja oleh karyawan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diberikan dalam angka mewujudkan tujuan perusahaan 1. kuantitas pekerjaan 2. kualitas pekerjaan 3. pengetahuan dalam pekerja 4. kreativitas 5. kerjasama 6. dapat diandalkan 7. inisiatif dalam diri 8. kualitas individu (gomes, 1995) job satisfaction (z) aspek psikologis dalam diri yang mencerminkan perasaan individu terhadap pekerjaannya 1. pekerjaan yang dilakukan 2. atasan atau pengawasan 3. rekan kerja 4. promosi 5. gaji yang diberikan (robbins, 2003) business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 132 3.7 path analysis teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis) diolah dengan menggunakan analisis regresi dengan variabel yang terlibat. ghozali (2013) menyatakan, variabel perantara adalah variabel yang secara teoretis memengaruhi hubungan antara variabel dependen dan independen. variabel ini adalah variabel yang antara variabel dependen dan independen sehingga variabel independen tidak langsung memengaruhi perubahan variabel dependen. dengan intervensi dari tujuan analisis regresi untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (eksogen) dan variabel terikat (endogen). model path analysis yang digunakan sebagai berikut. 3.8 regresi berganda standardized persamaan hipotesis 3 menggunakan rumus persamaan sebagai berikut. y = "2 x + "3 z + e keterangan: y = job performance " = koefisien regresi z = job satisfaction x = supportive leadership e = error nilai koefisien regresi sangat menentukan sebagai dasar analisis. hal ini berarti apabila koefisien b bernilai positif (+) hingga bisa dikatakan terjalin pengaruh searah antara variabel independen dengan variabel dependen, demikian pula kebalikannya, apabila koefisien nilai b bernilai negatif (-) perihal ini menampilkan adanya pengaruh negatif di mana peningkatan nilai variabel independen akan berdampak pada penyusutan nilai variabel dependen. untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung adalah sebagai berikut. a. pengaruh langsung dapat dilihat dari masingmasing standardized coefficients beta (") jalur yang telah terbentuk. b. pengaruh tidak langsung antara job performance (y) dengan supportive leadership (x) (y ? x), maka dilakukan dengan mengalikan standardized coefficients "1x dengan "2z iv. hasil dan pembahasan 4.1 pengujian validitas hasil uji validitas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. gambar 3.1 model path analysis berdasarkan gambar tersebut untuk mengetahui masing-masing pengaruh menggunakan persamaan regresi sebagai berikut. 3.7.1 regresi sederhana persamaan hipotesis 1 dan 2 menggunakan rumus persamaan linier sebagai berikut. z = "1 x + e (persamaan regresi sederhana1) y = "2 z + e (persamaan regresi sederhana2) keterangan: z = job satisfaction y = job performance x = supportive leadership " = koefisien regresi miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 133 tabel 4.1 uji validitas variabel supportive leadership variabel job performance terdiri atas dua belas pernyataan di mana masing-masing pernyataan memiliki nilai r dengan tingkat signifikan kurang dari 5% sehingga dapat disimpulkan keseluruhan pernyataan kuesioner variabel job performance adalah valid. 4.2 uji reabilitas uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi responden dalam menjawab kuesioner. hasil uji reliabilitas dalam penelitian ini sebagai berikut. tabel 4.4 uji reliabilitas sumber: lampiran 3, diolah variabel supportive leadership terdiri atas delapan butir pernyataan yang masing-masing memiliki nilai r dengan tingkat signifikan kurang dari 5% sehingga dapat disimpulkan keseluruhan pernyataan kuesioner variabel supportive leadership adalah valid. tabel 4.2 uji validitas variabel job satisfaction sumber: lampiran 3, diolah variabel job satisfaction terdiri atas dua belas pernyataan di mana masing-masing pernyataan memiliki nilai r dengan tingkat signifikan kurang dari 5% sehingga dapat disimpulkan keseluruhan pernyataan kuesioner variabel organizational culture adalah valid. tabel 4.3 uji validitas variabel job performance item pernyataan pearson correlation signifikan jp 1 0,598 0,000 jp 2 0,652 0,000 jp 3 0,644 0,000 jp 4 0,680 0,000 jp 5 0,635 0,000 jp 6 0,558 0,000 jp 7 0,558 0,000 jp 8 0,590 0,000 item pernyataan pearson correlation signifikan js 1 0,543 0,000 js 2 0,705 0,000 js 3 0,743 0,000 js 4 0,745 0,000 js 5 0,705 0,000 item pernyataan pearson correlation signifikan sl 1 0,528 0,000 sl 2 0,643 0,000 sl 3 0,727 0,000 sl 4 0,612 0,000 sl 5 0,623 0,000 sl 6 0,571 0,000 sumber: lampiran 3, diolah variabel penelitian cronbach’s alpha supportive leadership 0,671 job satisfaction 0,719 job performance 0,761 sumber: lampiran 3, diolah ketentuan bahwa variabel dinyatakan reliabel apabila nilai cronbach’s alpha (?) adalah di atas 0,6. hasil uji reliabilitas menunjukkan masing-masing variabel yang terdiri dari supportive leadership, job satisfaction, dan job performance memiliki nilai cronbach’s alpha yang lebih besar dari 0,6 sehingga dinyatakan reliabel. 4.3 analisis deskriptif analisis deskriptif akan menjabarkan distribusi jawaban responden berdasarkan frekuensi, mean, dan kategori. penentuan kategori dilakukan dengan cara sebagai berikut. interval kelas = = = 0,8 (rata-rata maksimum – rata-rata minimum) jumlah kelas 5 – 1 5 business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 134 berdasarkan perhitungan rumus tersebut maka interval kelas yang diperoleh sebesar 0,8. bisa diketahui rata-rata maksimum diperoleh jikalau semua jawaban responden atas pertanyaan bernilai 5 dan biasanya minimum tercapai jikalau semua jawaban responden atas pertanyaan bernilai 1. kategori dari masing-masing variabel berdasarkan interval kelas sebagai berikut. tabel 4.5 kategori penilaian berdasarkan tanggapan responden atas pernyataan pada variabel supportive leadership menunjukkan nilai mean tertinggi terdapat pada pernyataan atasan selalu mendengar keluh kesah karyawan (sl 6) sebesar 3,65. hal ini menunjukkan pemimpin di hotel x sidoarjo dalam menjalankan kepemimpinan yang paling dirasakan oleh responden adalah selalu mendengarkan keluh kesah dari karyawan. 4.3.2 variabel job satisfaction berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan oleh peneliti, maka diperoleh jawaban responden terkait variabel job satisfaction yang terdiri atas dua belas butir pernyataan kuesioner. hasil analisis deskriptif jawaban responden akan disajikan sebagai berikut. tabel 4.7 distribusi frekuensi jawaban variabel job satisfaction berikut ini merupakan deskripsi jawaban responden atas masing-masing variabel penelitian variabel beserta nilai mean dan kategori. 4.3.1 variabel supportive leadership variabel supportive leadership terdiri atas delapan butir pernyataan yang kemudian diolah untuk mengetahui frekuensi jawaban responden. hasil analisis frekuensi jawaban responden pada variabel supportive leadership akan disajikan sebagai berikut. tabel 4.6 distribusi frekuensi jawaban variabel supportive leadership interval kategori 4,21 – 5,00 sangat tinggi 3,41 – 4,20 tinggi 2,61 – 3,40 cukup tinggi 1,81 – 2,60 rendah 1,00 – 1,80 sangat rendah sumber: lampiran 4, diolah sumber: lampiran 4, diolah sesuai dengan paparan pada tabel tersebut menunjukkan tanggapan responden atas pertanyaan yang terdapat pada variabel job satisfaction. indikator yang memiliki nilai mean tertinggi adalah pernyataan karyawan puas dengan besaran gaji yang di berikan perusahaan (js 5) dengan mean sebesar 3,91. besarnya gaji yang diberikan kepada perusahaan dapat menciptakan kepuasan karyawan pada perusahaan. miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 135 4.3.3 variabel job performance variabel job performance terdiri atas delapan item pernyataan di dengan distribusi jawaban responden sebagai berikut. tabel 4.8 distribusi frekuensi jawaban variabel job performance tabel 4.9 hasil uji kolmogorov-smirnov model i sumber: lampiran 4, diolah berdasarkan tanggapan responden atas pertanyaan yang terdapat pada variabel job performance menunjukkan nilai mean tertinggi terdapat pada pernyataan karyawan selalu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan (jp 1) sebesar 4,09. hal ini menunjukkan karyawan memiliki motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan perusahaan. 4.4 uji asumsi klasik 4.4.1 uji normalitas pengujian kesimpulan normalitas data di dalam penelitian ini menggunakan pengujian kolmogorov-smirnov. data yang digunakan dapat dinyatakan memenuhi kesimpulan normalitas di saat nilai signifikan hasil uji kolmogorov-smirnov lebih besar dari nilai kritis yang digunakan, yakni 0,05 (!# = 5%). berikut hasil uji kolmogorov-smirnov yang dilakukan ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut. sumber: lampiran 15 berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada tabel 4.9, diketahui bahwa nilai signifikansi yang ditunjukkan (asymp. sig. (2-tailed) ialah sebesar 0,631. di mana nilai ini lebih berasal dari nilai kritis yang digunakan, yakni 0,05 (!# = 5%) sehingga mampu dijelaskan bahwa sebaran data yang digunakan dalam model i sudah memenuhi asumsi normalitas dan mampu dilanjutkan ke pengujian asumsi klasik berikutnya. 4.4.2 uji heterokedastisitas selanjutnya ialah pengujian hipotesis klasik heterokedastisitas yang bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. model regresi dinyatakan lolos asumsi heterokedastisitas. berikut hasil pengujian berasal dari asumsi heterokedastisitas. sumber: lampiran 14 gambar 4.2 uji heterokedastisitas model i business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 136 4.4.3 uji multikolinieritas uji multikolinearietas digunakan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar-variabel bebas (independent). ketentuan yang digunakan adalah (1) mempunyai angka tolerance lebih dari 0,10 dan (2) mempunyai nilai vif yang kurang dari 10. hasil uji multikolinieritas dalam penelitian ini sebagai berikut. tabel 4.10 uji multikolinieritas model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi autokorelasi. 4.4.5 uji asumsi klasik model ii pengujian asumsi klasik pada model ii, dilakukan dengan memperhatikan asumsi normalitas, asumsi heterokedastisitas, asumsi autokorelasi, multikolinieritas dan asumsi linieritas. asumsi multikolinieritas tidak dilakukan pengujian pada model i karena variabel independen yang digunakan hanya 1, sedangkan asumsi multikolinieritas ialah asumsi yang menjelaskan mengenai korelasi antar-variabel independen. berikut hasil pengujian asumsi klasik yang dilakukan pada model ii. 4.4.6 uji normalitas pengujian kesimpulan normalitas data dalam penelitian ini menggunakan pengujian kolmogorov-smirnov. data yang digunakan bisa dinyatakan memenuhi kesimpulan normalitas ketika nilai signifikan hasil uji kolmogorov-smirnov lebih besar l dari nilai kronis yang digunakan, yakni 0,05 (!#= 5%). berikut hasil uji kolmogorov-smirnov yang dilakukan ditunjukkan pada tabel berikut. tabel 4.12 hasil uji kolmogorov-smirnov model sumber: data, diolah berdasarkan hasil uji multikolinieritas menunjukkan nilai tolerance masing-masing variabel bebas yang lebih dari 0,10 dan nilai vif kurang dari 10 supaya bisa dikatakan data dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas. dengan demikian tidak terjadi korelasi antar-variabel bebas (independent). 4.4.4 uji autokorelasi penelitian ini menguji autokorelasi dengan melihat nilai durbin-watson (dw). dikatakan tidak ada autokorelasi apabila nilai durbinwatson berada di antara -2 dan +2. hasil uji autokorelasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. tabel 4.11 hasil uji durbin watson sumber: lampiran 17 berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui nilai durbin watson sebesar 1,981 yang berada di antara -2 dan +2 sehingga dapat disimpulkan sumber: lampiran 21 berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan di atas diketahui bahwa nilai signifikansi yang ditunjukkan (asymp. sig. (2-tailed)) ialah sebesar 0,746. di mana nilai ini lebih dari nilai kritis yang digunakan, yakni 0,05 (!# = 5%). dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa sebarmiko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 137 an data yang digunakan dalam model ii telah memenuhi asumsi normalitas dan dapat dilanjutkan ke pengujian asumsi klasik berikutnya. 4.4.7 uji heterokedastisitas selanjutnya adalah pengujian asumsi klasik heterokedastisitas yang memiliki tujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. model regresi dinyatakan lolos asumsi heterokedastisitas. berikut hasil pengujian dari asumsi heterokedastisitas. tabel 4.13 uji multikolinieritas sumber: lampiran 14 gambar 4.3 uji heterokedastisitas model ii 4.4.8 uji multikolinieritas uji multikolinearietas digunakan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar-variabel bebas (independent). ketentuan yang digunakan adalah (1) mempunyai angka tolerance lebih dari 0,10 dan (2) mempunyai nilai vif yang kurang dari 10. hasil uji multikolinieritas dalam penelitian ini sebagai berikut. sumber: data, diolah berdasarkan hasil uji multikolinieritas menunjukkan nilai tolerance masing-masing variabel bebas yang lebih dari 0,10 dan nilai vif kurang dari 10 sehingga dapat dikatakan data dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas. dengan demikian, tidak terjadi korelasi antar-variabel bebas (independent). 4.4.9 uji autokorelasi penelitian ini melakukan uji autokorelasi dengan melihat nilai durbin-watson (dw). dikatakan tidak ada autokorelasi apabila nilai durbin-watson berada di antara -2 dan +2. hasil uji autokorelasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. tabel 4.14 hasil uji durbin watson model i sumber: lampiran 17 berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui nilai durbin watson sebesar 1,929 yang berada di antara -2 dan +2 sehingga dapat disimpulkan model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi autokorelasi. 4.5 uji hipotesis 4.5.1 uji hipotesis model i pengujian hipotesis yang dilakukan pada model regresi 1 menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan hasil pengujian yang disajikan pada tabel berikut. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 138 tabel 4.15 hasil pengujian regresi linier sederhana model i performance akan meningkat nilai sebesar 0,229. pada persamaan yang ditunjukkan pada model regresi 1 ditunjukkan pula mengenai tanda positif pada nilai koefisien variabel supportive leadership, di mana tanda tersebut menunjukkan pengaruh yang searah antara supportive leadership dengan job performance. sehingga dapat diterangkan bahwa ketika supportive leadership mengalami peningkatan maka akan diikuti dengan peningkatan pada job performance. berdasarkan hasil uji t menunjukkan variabel supportive leadership memiliki nilai signifikansi sebesar 0,064 yang lebih besar dari 0,05. sehingga dapat dikatakan bahwa supportive leadership berpengaruh tidak signifikan terhadap job performance. selain itu, hasil dari koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut. tabel 4.16 hasil koefisien determinasi model1 sumber: lampiran 19 berdasarkan hasil analisis yang ditunjukkan, diketahui bahwa persamaan regresi yang diperoleh ialah sebagai berikut. y = 1,741 + 0,348 x + 0,229 z + e apabila mengacu dari persamaan yang dihasilkan dapat dijelaskan mengenai pengaruh dari supportive leadership dan job satisfaction terhadap job performance sebagai berikut. 1. nilai koefisien pada job satisfaction diketahui sebesar 0,348, yang menjelaskan bahwa ketika variabel job satisfaction terjadi perubahan sebesar satu satuan, maka job performance akan meningkat nilai sebesar 0,348. pada persamaan yang ditunjukkan pada model regresi 1 ditunjukkan pula mengenai tanda positif pada nilai koefisien variabel job satisfaction, di mana tanda tersebut menunjukkan pengaruh yang searah antara job satisfaction dengan job performance. sehingga dapat diterangkan bahwa ketika job satisfaction mengalami peningkatan maka akan diikuti dengan peningkatan pada job performance. berdasarkan hasil uji t menunjukkan variabel job satisfaction memiliki nilai signifikansi sebesar 0,003 yang lebih kecil dari 0,05. sehingga dapat dikatakan bahwa job satisfaction berpengaruh signifikan terhadap job performance. 2. nilai koefisien pada supportive leadership diketahui sebesar 0,229, yang menjelaskan bahwa ketika variabel servant leadership terjadi perubahan sebesar satu satuan maka job sumber: lampiran 20 berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel, dapat diketahui bahwa nilai r-square yang dihasilkan ialah sebesar 0,541. nilai r-square tersebut menjelaskan bahwa kemampuan job satisfaction dan supportive leadership dalam menjelaskan job performance ialah sebesar 54,1%. kemudian nilai sisanya, yakni sebesar 46,9% dijelaskan oleh variabel selain job satisfaction dan supportive leadership yang tidak dimasukkan dalam model i. 4.5.2 uji hipotesis model ii pengujian hipotesis yang dilakukan pada model regresi 1 menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan hasil pengujian yang disajikan pada tabel 4.17 berikut. miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 139 tabel 4.17 hasil pengujian regresi linier berganda model ii bahwa kemampuan supportive leadership dalam menjelaskan job satisfaction ialah sebesar 33,0%. kemudian nilai sisanya, yakni sebesar77% dijelaskan oleh variabel selain promosi penjualan yang tidak dimasukkan dalam model ii. pengaruh simultan dapat dilihat berdasarkan hasil uji f yang ditunjukkan pada tabel 4.19 berikut. tabel 4.19 hasil uji f model ii sumber: lampiran 25 berdasarkan hasil analisis yang ditunjukkan pada tabel, diketahui bahwa persamaan regresi yang diperoleh ialah sebagai berikut. y = 1,504 +0,618 x apabila mengacu dari persamaan yang dihasilkan dapat dijelaskan mengenai pengaruh dari supportive leadership terhadap job satisfaction, dapat dijelaskan bahwa nilai koefisien pada supportive leadership (x1) diketahui sebesar 0,618 yang menjelaskan bahwa ketika variabel supportive leadership terjadi perubahan sebesar satu satuan maka job satisfaction akan meningkat nilai sebesar 0,618. pada persamaan yang ditunjukkan pada model regresi 2 ditunjukkan pula mengenai tanda positif nilai koefisien variabel supportive leadership, di mana tanda tersebut menunjukkan pengaruh yang searah antara supportive leadership. dengan demikian dapat diterangkan bahwa ketika supportive leadership mengalami peningkatan maka akan diikuti dengan peningkatan pada job satisfaction. selanjutnya, hasil dari koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut ini. tabel 4.18 hasil koefisien determinasi model ii sumber: lampiran 26 berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel, diketahui bahwa nilai r square ialah sebesar 0,330. nilai r square tersebut menjelaskan sumber: lampiran 27 berdasarkan hasil uji f yang ditunjukkan, diketahui pula nilai signifikansi f yakni sebesar 0,000b. di mana nilai lebih kecil dari nilai kritis (!#= 5%) yang digunakan dalam penelitian ini sehingga dapat disimpulkan bahwa supportive leadership dan job satisfaction pada model i secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap job performance. hasil ini menerangkan bahwa ketika terjadi perubahan secara bersama supportive leadership dan job satisfaction akan berdampak pada perubahan job performance secara signifikan. 4.6 uji efek mediasi uji efek mediasi dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai sobel test melalui perhitungan online sebagai berikut. tabel 4.20 uji efek mediasi sumber: data diolah (2019) business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 140 tahapan pengujian hipotesis pengaruh supportive leadership terhadap kinerja perusahaan adalah sebagai berikut. a. menghitung pengaruh langsung supportive leadership terhadap kinerja. hasil perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel praktik supportive leadership memiliki pengaruh positif terhadap kinerja, dengan nilai sebesar 0.618 dengan nilai t statistik sebesar 5.961. pengaruh positif ini signifikan karena nilai sig.value yang dihasilkan adalah sebesar 0,000 yang lebih dari 5%. b. menghitung nilai sobel dengan menggunakan formulasi online. hasil perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai sobel yang dihasilkan adalah sebesar 2.730 dengan significant value sebesar 0,006. artinya, hipotesis 3 diterima kebenarannya, yang dapat dijelaskan bahwa supportive leadership berperan dalam kinerja perusahaan. 4.7 pembahasan 4.7.1 pengaruh supportive leadership terhadap job satisfaction hasil analisis dari uji hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisiensi beta yang diperoleh pada pengaruh supportive leadership terhadap job satisfaction sebesar 0,618 dengan p-value sebesar 0,000 > 0,05. hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan supportive leadership terhadap job satisfaction. temuan tersebut menjelaskan apabila pemimpin yang sadar akan tanggung jawab dan tugas mampu tidak menjadi jaminan perusahaan untuk menciptakan kepuasan kerja terhadap karyawan. kepemimpinan yang suportif dianggap sebagai aspek kunci dari kepemimpinan yang efektif di indonesia teori jalur-tujuan. kepemimpinan suportif mirip dengan individual pertimbangan dan sub-dimensi kepemimpinan transformasional dalam kedua jenis kepemimpinan mencakup mengekspresikan minat pada pengikut individu dan menghadiri dan menanggapi kebutuhan pribadi mereka (sree & gunaseelan, 2016:54). fungsi kepemimpinan adalah membimbing, memimpin, membangun, menyediakan, menggerakkan perusahaan, membangun jaringan komunikasi yang baik, menyediakan pengawasan atau pemantauan yang efisien, dan mendorong karyawan untuk dapat mencapai target sesuai dengan ketentuan waktu dana rencana (sumaryo, et al., 2015). sebagaimana disampaikan pada penelitian maurya & agarwai (2015) ketika pemimpin tidak dapat menjalankan prinsip kepemimpinan dengan baik maka karyawan menjadi tidak percaya dengan pemimpin dan kemudian berdampak pada kinerja karyawan yang mengalami penurunan. namun sebaliknya, ketika pemimpin mampu menerapkan kepemimpinan yang suportif dengan baik maka karyawan akan terdorong untuk bekerja secara optimal karena karyawan merasa bahwa pemimpin dapat dipercaya. hal tersebut sesuai dengan shin & oh (2016) menjelaskan bahwa kepemimpinan yang suportif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. 4.7.2 pengaruh job satisfaction terhadap job performance hasil analisis dari uji hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisiensi beta yang diperoleh pada pengaruh job satisfaction terhadap job performance sebesar 0,348 dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05. hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan job satisfaction terhadap job performance. kepuasan kerja merupakan suatu tindakan dan perilaku yang dapat berupa emosi dan penilaian. adanya pengaruh dapat dianggap sebagai miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 141 emosi atau perasaan, sedangkan penilaian berasal dari ranah kognitif. kepuasan kerja mengandung tiga komponen yaitu komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen perilaku. sementara komponen afektif mengacu pada perasaan tentang pekerjaan, komponen kognitif mewakili keyakinan tentang pekerjaan. sering kali kedua aspek ini saling terkait. komponen perilaku adalah indikator untuk niat perilaku menuju pekerjaan seperti mulai bekerja tepat waktu dan bekerja keras (abozoum, nimran, & musadieq, 2015:43). kepuasan dari seorang karyawan pada suatu perusahaan dapat menciptakan kinerja perusahaan yang baik. job performance, yakni sejauh mana karyawan melakukan upaya untuk mencapai tujuan organisasi. seorang karyawan berusaha mencapai tujuan organisasi dan mencoba mencapai standar yang ditetapkan oleh organisasi (khalid, et al., 2012: 489). hal tersebut menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. selain itu, kepuasan kerja dapat dilakukan dengan cara memberikan motivasi kepada karyawan untuk melaksanakan pekerjaan dengan memberikan tugas sesuai dengan kemampuannya. karyawan yang memiliki kepuasan terhadap perusahaan akan berusaha untuk mencapai kinerja yang maksimal. semakin tinggi kepuasan kerja seorang karyawan maka semakin tinggi pula kinerja karyawan (kumaladewi & rahardja, 2016). sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh panda (2015) & inuwa (2016) yang menjelaskan bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. 4.7.3 pengaruh supportive leadership terhadap job performance melalui mediasi job satisfaction berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini diketahui bahwa pengaruh langsung dari variabel supportive leadership terhadap job performance memiliki nilai koefisiensi beta sebesar 0,229 dengan signifikansi 0,000(<0,05). adapun untuk mediasi digunakan uji sobel dengan score 2,730 dengan signifikansi 0,006(<0,05). dengan demikian, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat pengaruh supportive leadership terhadap job performance melalui job satisfaction sehingga hipotesis h3 diterima. kepuasan kerja digunakan untuk mengukur niat seorang karyawan terhadap tempat kerja mereka (javed, balouch, & hassan, 2014:122123). kepuasan kerja adalah respons afektif dan emosional untuk berbagai aspek seseorang pekerjaan. kepuasan kerja menggambarkan respons emosional yang dihasilkan dari pemenuhan dirasakan karyawan, kebutuhan karyawan, dan apa yang mereka yakini ditawarkan oleh perusahaan (agbozo, et al., 2017:14). kepemimpinan yang baik mampu memberikan motivasi dengan baik dan akan menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas karyawan di dalam perusahaan. pemimpin mendorong adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam proses perumusan masalah, pencarian solusi, dan menghargai perbedaan sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kinerja karyawan di dalam sebuah perusahaan (lestari, et al., 2014). v. kesimpulan berdasarkan hasil analisis yang telah disebutkan dapat disimpulkan sebagai berikut. sesuai hasil penelitian dan pembahasan yang dikemukakan sebelumnya maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. hasil analisis dari uji hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 142 bahwa nilai koefisiensi beta yang diperoleh pada pengaruh supportive leadership terhadap job satisfaction sebesar 0,618 dengan p-value sebesar 0,000 > 0,05. hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan supportive leadership terhadap job satisfaction. 2. hasil analisis dari uji hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisiensi beta yang diperoleh pada pengaruh job satisfaction terhadap job performance sebesar 0,348 dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05. hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan job satisfaction terhadap job performance. 3. berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini diketahui bahwa pengaruh langsung dari variabel supportive leadership terhadap job performance memiliki nilai koefisiensi beta sebesar 0,229 dengan signifikansi 0,000(<0,05). adapun untuk mediasi digunakan uji sobel dengan score 2,730 dengan signifikansi 0,006(<0,05). dengan demikian, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat pengaruh supportive leadership terhadap job performance melalui job satisfaction sehingga hipotesis h3 diterima. vi. saran sesuai dengan pembahasan dan kesimpulan tersebut maka saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. pada hasil deskriptif statistik, peneliti menemukan di antara item-item pernyataan lain, terdapat dua item pada variabel supportive leadership dengan score terendah sedikitnya 3,50. kedua item itu di antaranya sl1 “atasan saya selalu men-support standar pelayanan karyawan yang diberikan kepada tamu” dan sl2 “atasan saya selalu memenuhi kebutuhan fasilitas karyawan dengan baik”. dengan demikian, melalui penelitian ini peneliti bermaksud memberikan saran yang berkaitan dengan kepemimpinan suportif dengan senantiasa memberikan fasilitas serta dukungan secara langsung dari atasan. 2. pada hasil deskriptif statistik, peneliti menemukan di antara item-item pernyataan lain, terdapat item pada variabel job satisfaction dengan skor terendah sedikitnya 3,59. item tersebut yaitu js2 “saya puas dengan atasan yang selalu memberi dukungan”. dengan demikian, melalui penelitian ini, peneliti menyampaikan saran berkaitan dengan kepuasan agar perusahaan senantiasa memberikan dukungan pada karyawan baik dukungan intrinsik maupun ekstrinsik. 3. pada hasil deskriptif statistik, peneliti menemukan di antara item-item pernyataan lain, yaitu terdapat item pada variabel job performance dengan skor terendah sedikitnya 3,58. item tersebut yaitu jp7 “karyawan berinisiatif saat menemui masalah dengan pekerjaannya”. dengan demikian, melalui penelitian ini, peneliti memberikan saran untuk perusahaan dapat lebih mengembangkan inisiatif karyawan dengan pendekatan-pendekatan yang baik. vii. daftar rujukan abozoum, h., nimran, u., & musadieq, m. 2015. analysis factors affecting employees job performance in libya. journal of business and management, 42–49. abuhashesh, m., dmour, r., & masa’deh, r. 2019. factors that affect employees job satisfaction and performance to increase miko arko, pengaruh supportive leadership terhadap job performance dengan job satisfaction sebagai variabel intervening pada karyawan hotel x sidoarjo 143 customers’ satisfactions. journal of human resources management research, 1– 23. agbozo, g., owusu, i., howdoafia, m., & atarkorah, y. 2017. the effect of work environment on job satisfaction: evidence from the banking sector in ghana . journal of human resource management, 12– 18. astryanty, m., mukzam, m., & mayowan, y. 2016. pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja (studi pada karyawan ajb bumiputera 1912 kantor wilayah malang). jurnal administrasi bisnis, 31– 39. barbie, e.r. 2010. the practice of social research. belmont, california: wardworth, cengage learning. dar, l., akmal, a., naseem, m., & khan, k. 2011. impact of stress on employees job performance in business sector of pakistan. global journal of management and business research, 1–5. elsaied, m. 2018. supportive leadership, proactive personality, and employee voice behavior. american journal of business, 1–18. fogaca, n. & melo, c. 2018. job performance analysis: scientifi c studies in the main journals of management and psychology from 2006 to 2015. international society for performance improvement, 231–247. gomes, faustino cardoso. 1995. manajemen sumber daya manusia. yogyakarta: andy offset. hamdi, a.s. & bahruddin, e. 2015. metode penelitian kuantitatif aplikasi dalam pendidikan. deepublish. javed, m., balouch, r., & hassan, f. 2014. determinants of job satisfaction and its impact on employee performance and turnover intentions. international journal of learning and development, 120–140. khalid, a., murtaza, g., zafar, a., zafar, m., saqib, l., & mushtaq, r. 2012. role of supportive leadership as a moderator between job stress and job performance. information management and business review, 487–495. ling, s. & bhatti, m. 2014. work stress and job performance in malaysia academic sector: role of social support as moderator. british journal of economics, management and trade, 1986–1998. lumbasi, g., aol, g., & ouma, c. 2016. the effect of participative leadership style on the performance of coya senior managers in kenya. research journali’s journal of management, 1–12. m., sintasih, d., & riana, i. 2015. pengaruh kepemimpinan terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan. e-jurnal ekonomi dan bisnis universitas udayana, 430–442. malholtra, n.k. & dash, s. 2009. marketing research: an applied orientation. fifth edition. new delhi: dorling kindersley (india) pvt. ltd. licences of pearson education in south asia. maurya, m. & agarwal, m. 2015. relationship between supportive leadership, mental health status and v]job satisfaction of civil police constables. journal of the indian academy of applied psychology, 103–111. perera, k. & weerakkody, w. 2018. the impact of human capital and social capital on employee performance: a study of employees in small scale industry enterprises in western province of sri lanaka. kelaniya journal of human resource management, 38–48. business and finance journal, volume 5, no. 2, october 2020 144 platis, c., reklitis, p., & zimeras, s. 2015. relation between job satisfaction and job performance in healthcare services. elsevier, 480–487. robbins, stephen p. 2003. perilaku organisasi, terjemahan tim indeks edisi 9, jilid 1. jakarta: pt indeks kelompok gramedia. shin, y., oh, w., sim, c., & lee, j. 2016. a multilevel study of supportive leadership and individual work outcomes: the mediating roles of team cooperation, job satisfaction, and team commitment. the journal of applied business research, 55–70. silalahi, ulber. 2012. metode penelitian sosial. bandung: refika aditama. soewito, y. 2013. kualitas produk, merek dan desain pengaruhnya terhadap keputusan pembelian sepeda motor yamaha mio. jurnal riset ekonomi, manajemen, bisnis, dan akuntansi, 1(3). sree, d. & gunaseelan, r. 2016. supportive leadership -a conceptual study. namex international of management research, 54–60. sugiyono. 2012. metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta suprapta. vijaya, diota prameswari. 2013. pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap aktivitas volume perdagangan dan harga saham. jurnal universitas pendidikan ganesha. 01 antariksa.pmd friska ayu, ratna ayu ratriwardhani, hubungan tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren x di kota surabaya 2121 hubungan tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren x di kota surabaya friska ayu, ratna ayu ratriwardhani universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: friskayuligoy@unusa.ac.id abstract: preparedness is a part of the disaster management process which aims to prevent and minimize disaster risk which is pro-active before a disaster occurs. fire disasters can occur anywhere, including in the islamic boarding schools, this is because in the islamic boarding schools there is not only a teaching and learning process, but there are additional activities such as fulfilling their daily needs such as the students also live in the cottage during their studies. this research was conducted in july-august 2020 which aims to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes of students towards fire disaster preparedness at islamic boarding school pondok karya at manado city. type of this research using analytic survey with a cross sectional approach, with a total sample of 89 people was taken using accidental techniques. the results of this study showed that as many as 60 students (67.4%) have a level of preparedness that is ready to cope with fire disasters with a good level of knowledge (47.2%) on fire management procedures although only 33 students (37.1%) knew how to use fire extinguisher. statistical test result using chi square test show that there is a relationship between the level of knowledge (0.002) and attitude (0.000) with the level of preparedness in fire disaster preparedness at islamic boarding school pondok karya at manado city. recommended for islamic boarding school management are required to provide education on fire disaster management preparedness to students at least once a year, so that if a fire disaster occurs, the risk can be minimized. keywords: fire disaster preparedness, islamic boarding school, santri sigab pendahuluan penyelenggaraan pendidikan dan keselamatan kerja di lembaga pendidikan masih perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif. sebuah lembaga pendidikan tidak berbeda jauh dengan sebuah perusahaan, di dalam lembaga pendidikan terdapat tenaga kerja, orang-orang selain pekerja, risiko bahaya, sumber bahaya, dan risiko terjadinya bahaya. berbeda dengan lembaga pendidikan kegiatan di sebuah perusahaan terfokus pada kegiatan produksi, namun demikian bukan berarti lembaga pendidikan tidak mempunyai risiko bahaya. salah satu risiko bahaya yang dapat terjadi di lembaga pendidikan adalah bencana kebakaran. kejadian kebakaran di lingkungan pendidikan seperti kampus pernah terjadi di kampus stie (sekolah tinggi ilmu ekonomi) perbanas di kawasan kuningan jakarta dan gedung dekanat fakultas teknik universitas indonesia depok jawa barat pada tahun 2001[3]. pada bulan maret 2019 telah terjadi kebakaran di ruang kemahasiswaan fakultas kesehatan masyarakat universitas airlangga surabaya, penyebab kebakaran diduga karena adanya hubungan pendek arus listrik. kejadian kebakaran di lingkungan pondok pesantren pernah terjadi di malaysia tahun 2017 yang menewaskan 24 orang santri dan pengurus pondok pesantren, adapun penyebab kebakaran adalah hubungan arus pendek listrik. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 22 pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai risiko bahaya, karena di dalam kegiatannya selalu menggunakan alat dan bahan untuk menunjang proses belajar mengajar dan sumber energi yang mampu menimbulkan bahaya. sumber energi seperti listrik, gas elpiji, dan bahan-bahan kimia jika tidak ditata dengan baik dapat menimbulkan risiko kebakaran. kebakaran merupakan bencana yang paling sering dihadapi dan bisa digolongkan sebagai bencana alam ataupun bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia. bahaya kebakaran dapat terjadi setiap saat dan sewaktuwaktu, yang banyak mengakibatkan kerugian berupa materi, lingkungan, finansial, peralatan, dan manusia itu sendiri [4]. faktor utama yang dapat mengakibatkan bencana tersebut menimbulkan korban dan kerugian besar, yaitu kurangnya pemahaman tentang karakteristik bahaya, sikap, atau perilaku yang mengakibatkan penurunan sumber daya alam, kurangnya informasi peringatan dini yang mengakibatkan ketidaksiapan, dan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam menghadapi bencana. kesiapsiagaan dikelompokkan menjadi empat parameter yaitu pengetahuan dan sikap, perencanaan kedaruratan, sistem peringatan dan mobilisasi sumber daya. oleh karena itu, kegiatan penelitian ini perlu dilaksanakan untuk melihat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren. metode penelitian penelitian ini pada awalnya akan di lakukan di sebuah pondok pesantren yang berada di kota surabaya, survei awal dan perizinan telah dilakukan oleh tim, namun dikarenakan adanya pandemic covid-19 yang melanda indonesia maka pondok pesantren tempat penelitian yang dituju belum dapat kembali ke aktivitas normal, dengan alasan tersebut maka tim peneliti memindahkan lokasi penelitian ke pondok pesantren yang berada di kota manado, alasan pemilihan tempat penelitian ini adalah lokasi domisili peneliti selama masa pandemi berada di kota manado, selain itu para santri masih tetap tinggal di pondok selama masa pandemic. kegiatan penelitian ini dilaksanakan di pesantren lembaga pendidikan islam, pondok karya pembangunan kota manado di jalan arie lasut kelurahan kombos timur, kecamatan singkil manado, sulawesi utara. jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan rancangan cross sectional study yakni suatu rancangan penelitian yang mempelajari hubungan variabel independen/variabel bebas dalam hal ini tingkat pengetahuan dan sikap santri dengan variabel dependen/variabel terikat yakni kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri yang tinggal di pondok pesantren sebanyak 164 orang. besar sampel yang akan diambil sebanyak 89 orang yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. hasil dan pembahasan a. hasil penelitian data tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik santri yang menjadi responden dalam penelitian ini. sebagian besar santri berusia 10– 15 tahun (85.4%) dengan pendidikan terakhir adalah smp yakni sebanyak 38 orang. tingkat pengetahuan santri akan tata cara penanggulangan bencana kebakaran termasuk dalam kategori cukup baik (52.8%), meskipun hanya 33 orang yang tahu menggunakan alat pemadam api ringan friska ayu, ratna ayu ratriwardhani, hubungan tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren x di kota surabaya 23 (apar), sedangkan sikap santri dalam menghadapi bencana kebakaran dalam kategori positif (70.8%). tingkat kesiapsiagaan santri dalam penanggulangan bencana kebakaran berada dalam kategori siap (67.4%). data tabel 2 menunjukkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square terhadap variabel bebas dengan variabel terikat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan (0.002) dan sikap (0.000) dengan tingkat kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pesantren lembaga pendidikan islam, pondok karya pembangunan, kota manado. pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk kesiapsiagaan. pengetahuan yang dimiliki biasanya dapat memengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap siaga dalam mengantisipasi bencana. b. pembahasan kejadian kebakaran di lingkungan pendidikan seperti kampus pernah terjadi di kampus stie (sekolah tinggi ilmu ekonomi) perbanas di kawasan kuningan jakarta dan gedung dekanat fakultas teknik universitas indonesia depok jawa barat pada tahun 2001 [3]. pada bulan maret 2019 telah terjadi kebakaran di ruang kemahasiswaan fakultas kesehatan masyarakat universitas airlangga surabaya, penyebab kebakaran diduga karena adanya hubungan pendek arus listrik. kejadian kebakaran di lingkungan pondok pesantren pernah terjadi di malaysia tahun 2017 yang menewaskan 24 orang santri dan pengurus pondok pesantren, adapun penyebab kebakaran adalah hubungan arus pendek listrik. faktor utama yang dapat mengakibatkan bencana tersebut menimbulkan korban dan kerugian besar, yaitu kurangnya pemahaman tentang .dudnwhulvwln�5hvsrqghq� q� �� umur 10-15 tahun 76 85,4 16-20 tahun 12 13,5 >20 tahun 1 1,1 lama tinggal di pondok < 1 tahun 51 57,3 1-2 tahun 24 27,0 >2 tahun 14 15,7 pendidikan terakhir madrasah ibtidaiyah (sd) 37 41,6 madrasah tsanawiyah (smp) 38 42,7 madrasah aliyah (sma) 12 13,5 pt (d4/s1) 2 2,2 pengalaman menghadapi kebakaran ya 9 10,1 tidak 80 89,9 tingkat pengetahuan cukup baik 47 52,8 baik 42 47,2 sikap sikap negatif 26 29,2 sikap positif 63 70,8 pemanfaatan sarpra penanggulangan kebakaran tersedia tetapi tidak tahu menggunakan 56 62,9 tersedia dan tahu menggunakan 33 37,1 tingkat kesiapsiagaan bencana kebakaran kurang siap 29 32,6 siap 60 67,4 -xpodk� 89 100,0 tabel 1 distribusi karakteristik santri di pesantren lembaga pendidikan islam, pondok karya pembangunan, kota manado tahun 2020 9duldeho�%hedv� 9duldeho�7hulndw� �.dwhjrul�.hvldsvldjddq� %hqfdqd�.hedndudq�� 3�ydoxh�.xudqj� 6lds� 6lds� q� �� q� �� tingkat pengetahu an cukup baik 24 75.0 23 40.4 0.002 baik 8 25.0 34 59.6 -xpodk� ��� ���� ��� ���� sikap santri sikap negatif 23 79.3 3 5.0 0.000 sikap positif 6 20.7 57 95.0 -xpodk� ��� ���� ��� ���� tabel 2 uji hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pesantren lembaga pendidikan islam, pondok karya pembangunan, kota manado tahun 2020 business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 24 karakteristik bahaya, sikap, atau perilaku yang mengakibatkan penurunan sumber daya alam, kurangnya informasi peringatan dini yang mengakibatkan ketidaksiapan, dan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam menghadapi bencana. kesiapsiagaan dikelompokkan menjadi empat parameter yaitu pengetahuan dan sikap, perencanaan kedaruratan, sistem peringatan, dan mobilisasi sumber daya. dalam penelitian ini pengetahuan yang harus dimiliki santri mengenai bencana kebakaran yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang penyebab kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana kebakaran yang meliputi pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri yang tepat saat terjadi kebakaran serta tindakan dan peralatan yang perlu disiapkan sebelum terjadi kebakaran, demikian juga sikap dan kepedulian terhadap faktor risiko kebakaran. pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk kesiapsiagaan. pengetahuan yang dimiliki biasanya dapat memengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap siaga dalam mengantisipasi bencana. pada penelitian ini dapat dilihat bahwa sebagian besar santri di pesantren lembaga pendidikan islam, pondok karya pembangunan, kota manado menunjukkan tingkat pengetahuan dalam penanganan bencana kebakaran berada dalam kategori cukup, hal ini berarti para santri cukup mengetahui dan memahami penyebab bencana kebakaran, mengetahui cara penyelamatan diri ketika terjadi bencana, dan memahami tindakan yang akan dilakukan ketika terjadi bencana kebakaran. dalam penelitian ini sikap merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan tindakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran. sikap santri di pondok pesantren ini menunjukkan sikap yang tanggap darurat terhadap bencana kebakaran, beberapa santri mengetahui jalur evakuasi dan letak alat pemadam api ringan (apar) namun beberapa santri masih belum tahu menggunakan alat pemadam api ringan tersebut. hasil penelitian ini didukung oleh lenawida (2011) yang mengatakan bahwa variabel sikap merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi bencana gempa bumi. penelitian lipi-unesco/isdr (2006) tentang kesiapsiagaan masyarakat pedesaan aceh menghadapi bencana, menunjukkan bahwa pengetahuan mempunyai pengaruh terhadap tingkat kesiapsiagaan menghadapi bencana pada masyarakat pedesaan aceh. lipi-unesco/isdr (2006) juga menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan faktor utama kunci kesiapsiagaan. upaya meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan kebencanaan diharapkan dapat meningkatkan perilaku kesiapsiagaan seseorang. hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian di mana pengetahuan yang semakin baik dapat meningkatkan perilaku kesiapsiagaan seseorang. kesimpulan dan saran kesimpulan dari kegiatan penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren. terdapat empat parameter yang dapat diukur untuk melihat kesiapsiagaan seseorang terhadap bencana yakni pengetahuan akan potensi bahaya tersebut, sikap, perencanaan kedaruratan, sistem peringatan, dan mobilisasi sumber daya saat terjadi bencana. oleh karena itu, disarankan bagi pengurus pesantren dapat memberikan edukasi kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran kepada santri minimal setafriska ayu, ratna ayu ratriwardhani, hubungan tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren x di kota surabaya 25 hun sekali sehingga jika terjadi bencana kebakaran maka risiko dapat diminimalisasi. referensi bakornas pb. 2007. pengenalan karakteristik bencana dan upaya mitigasinya di indonesia. jakarta: badan nasional penanggulangan bencana. badan nasional penanggulangan bencana. 2012. data kebencanaan (diakses melalui www. bnpb.go.id diakses pada tanggal 27 september 2017). depnakertrans. materi evaluasi dan penunjukan calon ahli k3:pengawasan k3 penanggulangan kebakaran. jakarta. fitriana, l., suroto, & kurniawan, b. 2017. faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya kesiapsiagaan karyawan bagian produksi dalam menghadapi bahaya kebakaran di pt sandang asia maju abadi. jurnal kesehatan masyarakat (e-journal), 5(3), 295–307. international fire service training association (ifsta). 2007. dasar-dasar penanggulangan kebakaran (essential of fire fighting). dinas kebakaran. dki jakarta. kementerian dalam negeri. 2007. peraturan menteri dalam negeri nomor 27 tahun 2007 tentang pedoman penyiapan sarana dan prasarana dalam penanggulangan bencana. jakarta. kodoatie, j.r. 2006. pengelolaan bencana terpadu. jakarta: yarsif watampone. miranti, r.s. & mardiana. 2018. penerapan sistem proteksi aktif dan sarana penyelamatan jiwa sebagai upaya pencegahan kebakaran. journal of public healts, 2(1), 23–32. pangesti, asih dwi hayu. 2012. gambaran tingkat pengetahuan dan aplikasi kesiapan bencana pada mahasiswa fakultas ilmu keperawatan universitas indonesia tahun 2012. tidak diterbitkan. skripsi. fakultas ilmu keperawatan universitas indonesia. patuju, a. 2018. hubungan sikap terhadap resiko bencana kebakaran dengan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran di pemukiman kelurahan air putih kecamatan samarinda ulu kalimantan timur. peraturan daerah (perda) daerah khusus ibukota (dki) jakarta no. 3 tahun 1992 tentang penanggulangan bahaya kebakaran dalam wilayah daerah khusus ibukota jakarta. pusdiklatkar. 2006. modul pelatihan: perilaku api. jakarta. ramli s. 2010. pedoman praktis manajemen bencana. jakarta: dian rakyat. tarwaka, dkk. 2012. ergonomi untuk keselamatan kesehatan kerja dan produktivitas. surakarta: uniba press. triyono, agus. 2001. teknik penanggulangan bahaya kebakaran di perusahaan. majalah hiperkes dan keselamatan kerja. vol. xxxiv (3), hal. 34–53. 01 antariksa.pmd rachma rizqina mardhotillah, denis fidita karya, azmil chusnaini, berto mulia wibawa, panic buying phenomenon among academics at x university in surabaya 7171 panic buying phenomenon among academics at x university in surabaya rachma rizqina mardhotillah1, denis fidita karya2, azmil chusnaini3, berto mulia wibawa4 123universitas nahdlatul ulama surabaya, 4institut teknologi sepuluh nopember e-mail: rachma.rizqina@unusa.ac.id abstract: in the weeks at the start of the pandemic, some news in indonesia was colored related to the panic buying phenomenon by indonesians in the midst of the covid-19 pandemic. of course, the indonesian people were quite worried about the pandemic at that time. starting from the scarcity of masks, hand soap and hand sanitizers at the beginning of the soaring positive cases of covid19 to the scarcity of staple goods consumed by everyday people such as sugar and rice, this phenomenon forced the government to impose restrictions on the purchase of staples. currently, several regulations have been implemented regarding the purchase of basic commodities by the government to minimize hoarding activities of staple goods. this study aims to see the effect of the covid-19 pandemic on the emergence of panic buying behavior among the academics of a university in surabaya. the analytical method used in this research is descriptive analysis with a total sample of 60 respondents consisting of lecturers, students, and educational staff. the research was conducted from june to july 2020. after conducting a survey, it was found that many academics at x university surabaya were not affected by the panic buying phenomenon. keywords: academics, panic buying, covid-19 introduction the covid-19 outbreak has had a major impact across the globe. tourism, education, health, and economies are all affected by this pandemic. one major impact on the economic sector is the emergence of ‘panic-buying’ (eva et al., 2020). panic buying behavior, which means buying with an atmosphere of panic, haste, and uncontrollable, is currently happening in many countries including indonesia as the spread of the covid-19 pandemic is getting worse (cnn, 2020). in the midst of the covid-19 pandemic, anxiety regarding the scarcity of resources, especially food, has increased not only in the middle to lower classes, but also people with high incomes (putra, 2020). panic buying is illustrated by the occurrence of a large-scale buying pattern for no clear reason except the fear of not being able to buy something in the future due to the impulse of the current situation. panic buying can be influenced by other people because of emotional contagion. when the first buyer observes the behavior of the second buyer hoarding groceries, the first buyer may be influenced to do the same. the role of social media, news from tv, radio, and other media which currently preach a lot of panic buying, also indirectly makes people compete to shop. anxiety is the main factor affecting panic buying. government regulations related to psbb (large-scale social restrictions) also support this panic buying phenomenon. as a result of this regulation, people have flocked to retail stores to fulfill their needs. this step is considered as a precautionary measure against regulations set by the government (mardhotillah and rasyid, 2019). according to yuen et al. (2020), panic buying behavior is shown when consumers buy products in large quantities in anticipation, durbusiness and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 72 ing or after a disaster is felt, or to anticipate price increases or shortages of goods. shadiqi et al. (2020) stated that panic buying behavior is caused by fear, anxiety, feelings of insecurity, psychological conflict, stress, perception of uncertainty, and media exposure. consumer anxiety during a pandemic shows that there is a public intention to supply sufficient products due to fear and uncertainty. consumers buy products in large quantities in order to avoid supply shortages that may occur in the future. research conducted by nicola et al., (2020) states that the food sector, including food distributors and retail, is under pressure from panic buying. this has led to increasing concerns about shortages of food products. so it can be concluded that the panic buying phenomenon is part of consumer behavior caused by personal (psychological) and environmental factors that influence purchasing decisions (kaur and malik, 2020). this study aims to see whether this phenomenon also occurs or is experienced by academics at x university in surabaya. the academic circles in question are the students, lecturers, and educational staff of x university.. research methodology this research uses descriptive analysis method. the object of this research is the x university academic community in surabaya who shopped during the covid-19 pandemic between march-may 2020 in surabaya. the sampling technique used is non-probability sampling, because the population cannot be determined (vehovar et al., 2016). the sampling method is a convenience sampling method based on the ease with which researchers can direct questionnaires with the objects they face. the research data used is primary data derived from questionnaires and interviews with research objects. the questionnaire was distributed to 145 respondents online using the google form application and the total sample that can be collected was 125 questionnaires. the questionnaire contains statements according to research indicators and is measured using yes or no answers. analysis of research data using descriptive analysis. in this study, there are 25 indicators to be assessed. these indicators were developed from the research that conducted by widyastuti (2020). the indicators used in this research are: table 1 indicator table no. indicator 1 i bought groceries to anticipate price increases during the covid-19 pandemic 2 i bought groceries products to anticipate shortages of supplies during the covid-19 pandemic 3 i bought groceries because i saw other people doing it too 4 i buy groceries because i am influenced by the people around me (relatives, friends or neighbors) 5 i feel the availability of groceries products is uncertain during the covid-19 pandemic 6 i bought groceries to meet uncertain needs during the covid19 pandemic 7 i was unable to control the purchase of groceries products during the covid-19 pandemic 8 i bought groceries because of rumors (supplies would run out) during the covid19 pandemic 9 the grocery store that i choose to shop for offers competitive product prices 10 i can spend my shopping time at the grocery store comfortably 11 the grocery store that i choose to shop provides clear product information 12 the grocery store that i choose to shop has adequate operating hours 13 the grocery store that i choose to shop has a strategic location rachma rizqina mardhotillah, denis fidita karya, azmil chusnaini, berto mulia wibawa, panic buying phenomenon among academics at x university in surabaya 73 source: processed data (2020) the largest percentage of respondents are female and are dominated by lecturers at x university. the shopping intensity of the respondents is 1–2 times with the grocery store that is most frequently visited is supermarkets. the types of products that are mostly purchased are raw food ingredients such as meat, chicken or fish. based on the results of 125 respondents who filled out the questionnaire, the following indicators were obtained: table 3 questionnaire result result and discussion based on the questionnaire that has been distributed to 125 respondents, descriptive data of the respondents are obtained as follows as set out in table 2. table 2 respondent descriptive 14 the grocery store that i chose to shop made easy payment transactions 15 the grocery store that i chose to shop provided a fast waiting time for payment transactions 16 the grocery store that i chose to shop had a product order that was easy to find 17 the grocery store that i choose to shop for has the availability of the products i need 18 the grocery store that i chose to shop makes it easy to exchange damaged products or wrong transactions 19 the grocery store that i chose to shop provided guarantees for certain products 20 i feel determined to buy groceries products during the covid19 pandemic 21 i bought groceries products that i usually buy (repurchase intention) 22 i made purchases quickly after choosing groceries 23 i buy groceries based on my personal decision 24 i buy groceries because i know the advantages of the product 25 i bought groceries because i was sure i needed the product information percentage gender male female 37% 63% profession college student lecturer education staff 8% 56% 36% shopping intensity in a month 1ʹ2 times 3ʹ4 times >5 times 42% 37% 21% 5 times types of grocery stores visited minimarket supermarket hypermarket online all store types 32% 37% 5% 0% 26% types of food products that are often purchased raw food processed food ready to eat food 58% 26% 16% indicator yes no i bought groceries to anticipate price increases during the covid19 pandemic 26% 74% i bought groceries products to anticipate shortages of supplies during the covid-19 pandemic 42% 58% i bought groceries because i saw other people doing it too 11% 89% i buy groceries because i am influenced by the people around me (relatives, friends or neighbors) 21% 79% i feel the availability of groceries products is uncertain during the covid-19 pandemic 32% 68% i bought groceries to meet uncertain needs during the covid19 pandemic 26% 74% i was unable to control the purchase of groceries products during the covid-19 pandemic 11% 89% business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 74 source: processed data (2020) from the data above, it was found that most of the x university academic community was not affected by the phenomenon of panic buying behavior, which was often found in the early days of the pandemic. respondents admitted to purchasing products according to personal decisions, not following other people and not following the current trend. conclusion consumer purchasing behavior is influenced by many factors, both internally and externally. during the covid-19 pandemic, consumer decisions in buying products were significantly influenced by anticipatory anxiety if the price of goods increased, influenced by herd or group (herd behavior) and instigated media exposure or rumors stating that goods were becoming scarce. however, the purchasing decisions of the respondents in this study are not affected by this phenomenon. they made purchases normally and did not increase significantly when compared to purchases before the pandemic period. consumers feel that the convenience of payment transactions, convenience benefits and convenience of access are important factors in shopping. based on the research that has been done, it can be recommended that entrepreneurs or retail managers, especially grocery stores, always prepare themselves for a pandemic. the results of the study prove that people are hit by the panic buying phenomenon when a pandemic occurs. this buying behavior needs to be anticipated by preparing a strategy for more efficient supply chain and inventory management. it is intended that retail stores have sufficient inventory as an anticipatory measure for shortages of goods and rising prices. in terms of management, retail stores need to prioritize customer convenience in various aspects, be it transactions, benefits, accessibility and post-sales service. with increasingly sophisticated technological advances, retail companies i bought groceries because of rumors (supplies would run out) during the covid-19 pandemic 5% 95% the grocery store that i choose to shop for offers competitive product prices 79% 21% i can spend my shopping time at the grocery store comfortably 79% 21% the grocery store that i choose to shop provides clear product information 84% 16% the grocery store that i choose to shop has adequate operating hours 100% 0% the grocery store that i choose to shop has a strategic location 95% 5% the grocery store that i chose to shop made easy payment transactions 100% 0% the grocery store that i chose to shop provided a fast waiting time for payment transactions 79% 21% the grocery store that i chose to shop had a product order that was easy to find 100% 0% the grocery store that i choose to shop for has the availability of the products i need 100% 0% the grocery store that i chose to shop makes it easy to exchange damaged products or wrong transactions 47% 53% the grocery store that i chose to shop provided guarantees for certain products 32% 68% i feel determined to buy groceries products during the covid19 pandemic 74% 26% i bought groceries products that i usually buy (repurchase intention) 94% 6% i made purchases quickly after choosing groceries 74% 26% i buy groceries based on my personal decision 79% 21% i buy groceries because i know the advantages of the product 94% 6% i bought groceries because i was sure i needed the product 100% 0% rachma rizqina mardhotillah, denis fidita karya, azmil chusnaini, berto mulia wibawa, panic buying phenomenon among academics at x university in surabaya 75 must be able to adapt and make better use of technology so that consumer convenience is increasing in shopping. for example, the convenience of payment transactions can be done using financial technology to provide consumers with many choices. references cnn. 2020. alasan psikologi dibalik “panicbuying”. https://www.cnnindonesia.com/ gaya-hidup/20200322161747-284-485813/ alasan-psikologi di-balik-panic-buying. eva, n., saputra, d.r., wulandari, d.a., yahya, f.a., & annisa, w. 2020. panic-buying behaviour during the covid-19 outbreak: a cross-cultural psychological study. kne social sciences, 80–87. kaur, a. & malik, g. 2020. understanding the psychology behind panic buying: a grounded theory approach. global business review. mardhotillah, r. r. & rasyid, r. a. 2019. pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan mahasiswa di pts x surabaya. accounting and management journal, 3(2), 105–112. nicola, m., alsafi, z., sohrabi, c., kerwan, a., al-jabir, a., iosifidis, c., agha, m., & agha, r. 2020. the socio-economic implications of the coronavirus and covid19 pandemic: a review. international journal of surgery. putra, n.p. 2020. virus corona picu panic buying makanan, masker, hand sanitizer, bagaimana meredamnya? https://www. liputan6.com/news/read/4193886/headlinevirus-corona-picupanic-buying-makananmasker-hand-sanitizer-bagaimana-meredamnya. shadiqi, m.a., hariati, r., hasan, k.f.a., i’anah, n., & al istiqomah, w. 2020. panic buying pada pandemi covid-19: telaah literatur dari perspektif psikologi. jurnal psikologi sosial. vehovar, v., toepoel, v., & steinmetz, s. 2016. non-probability sampling. the sage handbook of survey methods, 329–345. widyastuti, p. 2020. analisis keputusan pembelian: fenomena panic buying dan service convenience (studi pada grocery store di dki jakarta), proceeding sendiu. yuen, k.f., wang, x., ma, f., & li, k.x., 2020. the psychological causes of panic buying following a health crisis. international journal of environmental research and public health, 17(10), p.3513. 01 antariksa.pmd ardian jaya prasetya, yunanto tri laksono, candraningrat candraningrat, city branding di jember: analisis perspektif dari pengunjung 1313 city branding di jember: analisis perspektif dari pengunjung ardian jaya prasetya, yunanto tri laksono, candraningrat candraningrat universitas dinamika e-mail: ardian@dinamika.ac.id, yunanto@dinamika.ac.id, candra@dinamika.ac.id abstract: this study aims to analyze the effect of brand attitude and brand image on brand preference through mediating brand equity. the data collection technique used was a survey through a questionnaire given to respondents. the population determined in this study is people who have visited the city of jember. the samples taken in this study were 130 people. the data analysis technique used is partial least square (pls) using smartpls 2.0 software. this study provides several results, among others: (1) the attitude of influencing the brand does not have a significant positive effect on brand preference; (2) brand image has a significant positive effect on brand preference; (3) the attitude of influencing the brand has a significant positive effect on brand equity; (4) brand image has a significant positive effect on brand equity; (5) brand equity has no significant positive effect on brand preference; (6) the attitude of influencing the brand indirectly has no significant positive effect on brand preference through brand equity; and (7) brand image indirectly has a significant positive effect on brand preference through brand equity. keywords: city branding, attitudes affect brands, brand image, brand equity, brand preference pendahuluan di era global saat ini, persaingan pemasaran tentu berdampak pada persaingan antara merek. candraningrat, et al. (2018) berpendapat demikian bahwa persaingan dalam berbisnis dan memperluas pangsa pasar saat ini menjadi semakin kompleks di mana teknologi perkembangan membuat paritas produk meningkat. bahkan, persaingan pasar yang ketat di indonesia saat ini, tidak hanya bersaing dengan produk lokal tetapi juga bersaing dengan produk global (fianto & candraningrat, 2018). oleh karena itu, setiap merek saling bersaing untuk unggul dan memperoleh keuntungan yang tinggi secara berkelanjutan (rangkuti, 2008). selain itu, perusahaan perlu memastikan terjadinya peningkatan minat beli dari konsumen (candraningrat, et al., 2018). persaing tersebut juga berlaku antarkota. peningkatan era globalisasi saat ini membawa pada persaingan antar-kota dalam hal kunjungan wisatawan (pfefferkorn, 2005). pengembangan sektor pariwisata perlu untuk dilakukan agar terdapat pemerataan wisatawan di setiap kota (fianto, et al., 2018). untuk unggul dalam persaingan tersebut, setiap kota harus dilakukan identifikasi terlebih dahulu (anshori et al., 2020). hal ini untuk mengetahui ciri khas setiap kota. oleh karena itu, setiap kota memerlukan ciri khas masing-masing. terlebih kembali di indonesia, yang mana pada era otonomi daerah mendorong setiap kota untuk saling bersaing dan berusaha membedakan diri dengan kota lain. hal ini memicu terjadinya city branding. city branding ialah upaya yang dilakukan kota tertentu agar memiliki ciri khas tersendiri. dengan ciri khas tersebut, kota lebih mudah teridentifikasi karena berbeda dengan kota lain. salah satu kota yang saat ini gempar melakukan city branding adalah kota jember. hal ini diimplementasikan melalui program jember fashion carnival (jfc). jfc ialah suatu kegiatan business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 14 fashion carnival yang pertama muncul di indonesia berupa arteri kota sebagai catwalk (prastiana, 2012). selain itu, jannah (2010) juga mengemukakan bahwa jfc ialah suatu kegiatan carnival yang berupa catwalk dengan panjang 3,6 km. program jfc ini diikuti oleh ratusan ribu dari berbagai kalangan seperti penonton, media, photographer, observer, dan menciptakan brand kabupaten jember yakni “the world fashion carnival city”. program tersebut diadakan dengan tujuan untuk menarik perhatian masyarakat dan meningkatkan kunjungan wisatawan. berawal dari program ini, muncul sebuah pengalaman dan citra kabupaten jember secara menyeluruh sehingga apabila masyarakat mengingat jfc tentu mengingat kabupaten jember dan sebaliknya. city branding muncul adanya preferensi merek. selanjutnya preferensi merek terbentuk dari ekuitas merek. dalam menciptakan ekuitas merek itu sendiri, diperlukan adanya sikap terhadap merek dan citra merek. dikatakan demikian, karena sikap terhadap merek dan citra merek sebagai bentuk pengetahuan dan emosional pengujung terhadap kota yang dikunjungi. apabila pengetahuan dan emosional tersebut terbentuk secara positif, tentu menguatkan ekuitas merek dan berdampak pula pada preferensi merek. preferensi merek yang tinggi, menunjukkan keberhasilan city branding yang dilakukan. hal ini karena preferensi merek sebagai wujud loyalitas merek (karya, 2020), yang mana apabila pengunjung telah bersikap loyal terhadap suatu kota tertentu maka memutuskan untuk berkunjung secara berulang, sehingga mencerminkan keberhasilan dari program city branding yang dilakukan (karya, 2020). berdasarkan penjelasan tersebut, diperlukan penelitian tentang “city branding di jember: analisis perspektif dari pengunjung”. metodologi penelitian ini berjenis penelitian kausalitas. penelitian kausalitas ialah penelitian yang menganalisis hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih (sugiyono, 2012). selain itu, berdasarkan data yang diperoleh, penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh berupa angka dan dilakukan analisis data. penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas yaitu sikap terhadap merek (x 1 ) dan citra merek (x 2 ), satu variabel terikat yaitu preferensi merek (y) dan satu variabel mediasi yaitu ekuitas merek (z). populasi yang ditentukan dalam penelitian ini yaitu orang yang pernah melakukan kunjungan ke kota jember. jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan pendapat dari hair (2013) yaitu jumlah indikator dikalikan 10–15. adapun jumlah indikator dalam penelitian ini sebanyak 13 sehingga diperoleh jumlah sebanyak 130– 195 orang. namun, dalam penelitian ini diambil sampel sebanyak 130 orang, karena dianggap telah memenuhi syarat. dalam melakukan pengambilan sampel, teknik yang digunakan ialah survei dengan memberikan kuesioner kepada responden. sumber data dalam penelitian ini termasuk data primer, karena data diperoleh secara langsung oleh peneliti melalui jawaban responden yang ada di kuesioner. teknik analisis data yang digunakan yaitu partial least square (pls) dengan menggunakan software smartpls 2.0. kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1. gambar 1 kerangka konseptual ardian jaya prasetya, yunanto tri laksono, candraningrat candraningrat, city branding di jember: analisis perspektif dari pengunjung 15 berdasarkan kerangka konseptual tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut. h 1 : sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek. h 2 : citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek. h 3 : sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap ekuitas merek. h 4 : citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap ekuitas merek. h 5 : ekuitas merek berpengaruh signifikan positif preferensi merek. h 6 : sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek sebagai mediasi. h 7 : citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek sebagai mediasi. hasil dan pembahasan outer model tabel 1 hasil outer loading sm3, sm4, dan sm5 memiliki nilai loading lebih dari (>) 0,70 sehingga dapat dipertimbangkan pada model. kedua, indikator dalam variabel citra merek (cm) yaitu cm1, cm2 dan cm3 memiliki nilai loading lebih dari (>) 0,70 sehingga dapat dipertimbangkan pada model. ketiga, indikator dalam variabel ekuitas merek (cm) yaitu em1, em2, dan em3 memiliki nilai loading lebih dari (>) 0,70 sehingga dapat dipertimbangkan pada model. keempat, indikator dalam variabel preferensi merek (pm) yaitu pm1, pm2, dan pm3 memiliki nilai loading lebih dari (>) 0,70 sehingga dapat dipertimbangkan pada model. discriminant validity tabel 2 discriminant validity item sm cm em pm hasil sm1 0,814 mcv sm2 0,767 mcv sm3 0,785 mcv sm4 0,820 mcv sm5 0,859 mcv cm1 0,930 mcv cm2 0,937 mcv cm3 0,957 mcv em1 0,774 mcv em2 0,898 mcv em3 0,888 mcv pm1 0,936 mcv pm2 0,956 mcv pm3 0,919 mcv *mcv: memenuhi convergent validity berdasarkan tabel 1, dapat disimpulkan beberapa hal. pertama, indikator dalam variabel sikap terhadap merek (sm) yaitu sm1, sm2, sm cm em pm sm1 0,814 0,279 0,526 0,285 sm2 0,767 0,245 0,483 0,251 sm3 0,785 0,244 0,354 0,251 sm4 0,820 0,240 0,361 0,246 sm5 0,859 0,255 0,431 0,261 cm1 0,295 0,930 0,414 0,928 cm2 0,290 0,937 0,389 0,936 cm3 0,302 0,957 0,396 0,956 em1 0,490 0,390 0,774 0,397 em2 0,439 0,305 0,898 0,310 em3 0,452 0,380 0,888 0,385 pm1 0,290 0,937 0,389 0,936 pm2 0,302 0,957 0,396 0,956 pm3 0,313 0,912 0,429 0,919 berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa masih terdapat beberapa nilai loading factor setiap indikator pada masing-masing variabel laten yang tidak lebih besar jika dibandingkan dengan variabel laten yang lain sehingga setiap variabel laten belum memenuhi discriminant validity yang baik karena memiliki pengukur yang berkorelasi lebih tinggi dari konstruk yang lain. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 16 reliability dan average variance extracted (ave) tabel 3 composite reliability dan average variance extracted penelitian ini terdiri sari dua variabel laten dependen yaitu variabel ekuitas merek (em) yang dipengaruhi oleh sikap terhadap merek (sm) dan citra merek (cm) dan variabel preferensi merek (pm) yang dipengaruhi oleh sikap terhadap merek (sm), citra merek (cm), dan ekuitas merek (em). berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai r-square variabel em sebesar 0,367 dan variabel pm sebesar 0,997. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebesar 36,7% variabel em dipengaruhi oleh variabel sm dan cm dan sebesar 99,7% variabel pm dapat dipengaruhi oleh variabel sm, cm, dan em. uji hipotesis tabel 5 path coefficient ave composite reliability sm 0,656 0,905 cm 0,886 0,959 em 0,731 0,890 pm 0,878 0,956 berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa seluruh konstruk memenuhi kriteria reliable. hal ini dilihat pada nilai composite reliability > 0,70. selain itu, juga dilihat dari nilai ave, bahwa seluruh konstruk memenuhi kriteria reliabel karena memiliki nilai ave > 0,50. inner model gambar 2 model struktural penilaian model pls dimulai pada nilai rsquare setiap variabel laten dependen. nilai tersebut dapat dilihat pada tabel 4. tabel 4 nilai r-square r square em 0,367 pm 0,997 original sample (o) t statistics (|o/sterr|) sm -> pm 0,007 0,843 cm -> pm 0,994 137,788 sm -> em 0,455 6,400 cm -> em 0,282 3,977 em -> pm 0,006 0,788 pembahasan h 1 : sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek hipotesis pertama menganalisis hubungan antara variabel sikap terhadap merek (sm) dengan preferensi merek (pm) yang memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,007 dan nilai t sebesar 0,843. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap merek (sm) tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap preferensi merek (em), sehingga hipotesis yang menyatakan “sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek”, ditolak. ardian jaya prasetya, yunanto tri laksono, candraningrat candraningrat, city branding di jember: analisis perspektif dari pengunjung 17 h 2 : citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek hipotesis kedua menganalisis hubungan antara variabel citra merek (cm) dengan preferensi merek (pm) yang memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,994 dan nilai t sebesar 137,788. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa citra merek (cm) memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap preferensi merek (pm), sehingga hipotesis yang menyatakan “citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek”, diterima. h 3 : sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap ekuitas merek hipotesis ketiga menganalisis hubungan antara variabel sikap terhadap merek (sm) dengan ekuitas merek (pm) yang memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,455 dan nilai t sebesar 6.400. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap merek (sm) memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap ekuitas merek (em), sehingga hipotesis yang menyatakan “sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap ekuitas merek”, diterima. h 4 : citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap ekuitas merek hipotesis keempat menganalisis hubungan antara variabel sikap terhadap merek (sm) dengan preferensi merek (em) yang memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,282 dan nilai t sebesar 3,977. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa citra merek (cm) memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap preferensi merek (em), sehingga hipotesis yang menyatakan “citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap ekuitas merek”, diterima. h 5 : ekuitas merek berpengaruh signifikan positif preferensi merek hipotesis kelima menganalisis hubungan antara variabel ekuitas merek (em) dengan preferensi merek (pm) yang memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,006 dan nilai t sebesar 0,788. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekuitas merek (em) tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap preferensi merek (em), sehingga hipotesis yang menyatakan “ekuitas merek berpengaruh signifikan positif preferensi merek”, ditolak. h 6 : sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek sebagai mediasi hipotesis keenam menganalisis hubungan secara tidak langsung antara variabel sikap terhadap merek (sm) dengan preferensi merek (pm) melalui ekuitas merek (em). pengujian tersebut dilakukan dengan menggunakan rumus sobel. hasil dari rumus sobel menunjukkan bahwa nilai koefisien jalur sebesar 0,003 dan nilai t sebesar 0,769. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap merek (sm) tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap preferensi merek (pm) melalui ekuitas merek (em), sehingga hipotesis yang menyatakan “sikap terhadap merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek sebagai mediasi”, ditolak. h 7 : citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek sebagai mediasi business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 18 hipotesis ketujuh menganalisis hubungan secara tidak langsung antara variabel citra merek (cm) dengan preferensi merek (pm) melalui ekuitas merek (em). pengujian tersebut dilakukan dengan menggunakan rumus sobel. hasil dari rumus sobel menunjukkan bahwa nilai koefisien jalur sebesar 0,002 dan nilai t sebesar 0,7479. nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,979). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa citra merek (cm) tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap preferensi merek (pm) melalui ekuitas merek (em), sehingga hipotesis yang menyatakan “citra merek berpengaruh signifikan positif terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek sebagai mediasi”, ditolak. kesimpulan kesimpulan yang dapat diambil dari hasil dan pembahasan analisis data sebagai berikut. sikap tidak merek tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi merek. artinya, preferensi merek kota jember tidak dipengaruhi oleh bagaimana perilaku pengunjung terhadap kota jember terhadap apa yang diperoleh dari kota jember. citra merek memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi merek. artinya, citra merek jember sangat bergantung pada bagaimana citra merek tersebut. sikap terhadap merek memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekuitas merek. artinya ekuitas merek jember sangat bergantung pada bagaimana pengunjung berperilaku terhadap kota jember atas apa yang diperoleh. citra merek memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekuitas merek. artinya ekuitas merek jember dipengaruhi oleh bagaimana citra mereknya. ekuitas merek tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi merek. artinya city brand preference di jember tidak bergantung pada ekuitas merek. sikap terhadap merek dan citra merek secara tidak langsung tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi merek melalui ekuitas merek. artinya ekuitas merek yang dimiliki oleh kota jember tidak memediasi hubungan antara sikap memengaruhi merek dan citra merek terhadap preferensi merek. daftar rujukan anshori, m.y., karya, d.f., fatmasari, d., & herlambang, t. 2020. a study of revisit intention: beach image, beach uniqueness, beach authenticity, attraction and satisfaction in lombok beach nusa tenggara barat. test: engineering & management, 83(1), 2988–2996. candraningrat, adrianto, y.r., & wibowo, j. 2018. pengabdian kepada masyarakat bagi kelompok tani elok mekar sari surabaya. jurnal pengabdian masyarakat lppm untag surabaya, vol. 03, no. 01, hal 1–6. candraningrat, adrianto, y.r., & wibowo, j. 2018. science and technology for communities: marketing strategic development and packaging design for kelompok tani elok mekarsari surabaya. international conference on information technology applications and systems (icitas), iii, 42–46. fianto, a.y.a & candraningrat. 2018. the influence of destination brand communication and destination brand trust toward visitor loyalty of marine tourism in east java, indonesia. international journal of civil engineering and technology (ijciet), vol. 9, issue 8, pp. 910–923. ardian jaya prasetya, yunanto tri laksono, candraningrat candraningrat, city branding di jember: analisis perspektif dari pengunjung 19 fianto, a.y.a., candraningrat, & wibowo, j. 2018. visitor loyalty analysis of marine tourism in bayuwangi beaches. the 2nd international conference on economics and business, pp. 39–49. hair, j.f., ringle, c.m., & sarstedt, m., 2013. partial least squares structural equation modelling: rigorous applications, better results and higher acceptance. long range planning, 46(1–2), pp. 1–12. jannah, r. 2010. jfc, identitas kota jember dan diskursus masyarakat jaringan. tesis. universitas indonesia. karya, d.f. 2020. customer loyalty perspective developed from customer commitment. journal of applied management and business (jamb), 1(1), 20–26. karya, d.f. 2020. analisis reuse intention pelanggan tour dan travel “x”. accounting and management journal, 4(1). pfefferkorn, j.w. 2005. the branding of cities – exploring city branding and the importance of branding image’. tesis. syracuse university. prastiana, vita. 2012. studi tentang pengelolaan event karnaval pada jember fashion carnival (jfc). skripsi. universitas negeri malang. rangkuti, freddy. 2008. the power of brands, cetakan ketiga. jakarta: gramedia pustaka utama. sugiyono. 2012. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: alfabeta. 01 antariksa.pmd antariksa wibawa natanegara, pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention 11 pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention antariksa wibawa natanegara universitas airlangga e-mail: antariksawibawanatanegara@gmail.com abstract: this study analyzes how visual aesthetics and presentation modality influence information credibility, consumer trust and purchase intention on food content. this research uses a quantitative approach and belongs to the category of causal studies. the sampling technique used is nonprobability sampling. the sample of this research is people who actively use instagram, follow culinary accounts, have bought food products on instagram. data collection techniques through surveys with a questionnaire that uses a five-level likert scale. the questionnaire was distributed via an electronic link using google form. the analysis technique used is manova and sem. the results of this study stated that visual aesthetic and presentation modality affect information credibility and consumer trust, then information credibility and consumer trust affect purchase intention. keywords: visual aesthetics, presentation modality, manova, sem pendahuluan instagram saat ini menjadi salah satu media sosial yang populer di indonesia. beberapa hal yang menyebabkan instagram menjadi semakin populer karena adanya langkah-langkah berani yang dilakukan oleh facebook selaku pemilik baru instagram. semenjak mengakuisisi instagram, facebook telah melakukan beberapa penambahan fitur pada instagram, seperti menambah resolusi foto, memperbanyak filter foto, menambah filter video yang awalnya hanya berdurasi 15 detik menjadi berdurasi satu menit, menambahkan fitur multiple post, dan lain-lain. instagram juga menghadirkan berbagai macam fitur terbaru yang mendukung kegiatan bisnis seperti instastory, instagram advertising, serta dapat mengubah akun biasa menjadi akun bisnis sehingga dapat melihat insight dari setiap postingan yang diunggah. fungsi instagram saat ini tidak lagi sebatas media komunikasi personal namun juga sebagai platform bagi pemasar untuk melakukan kegiatan bisnis (kompasiana, 2019). instagram memiliki fitur khusus bagi akun bisnis seperti mengetahui demografi pengguna bagi yang melihat akun bisnis tersebut dan mengetahui jumlah penonton dari akun bisnis tersebut serta mengetahui jumlah pengikut dari akun bisnis tersebut. dengan fitur pendukung tersebut, pemasar dapat mengoptimalkan promosi penjualan dan dapat membantu pemasar dalam melakukan promosi produk. hal ini juga didukung dengan tingginya antusias masyarakat indonesia pada jejaring sosial ini di mana instagram memasuki urutan keempat dalam jejaring sosial yang paling aktif digunakan oleh masyarakat indonesia (hootsuite, 2020). saat ini, banyak bermunculan bisnis makanan yang memanfaatkan akun social media untuk mengiklankan produknya. pelaku bisnis makanan harus memperhatikan kegunaan social media yang sesuai dengan target pasarnya sehingga pesan yang diberikan efektif, efisien, dan memenuhi tujuan dari penggunaannya. ada beberapa hal yang melatarbelakangi mencuatnya bisnis business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 2 makanan di social media, antara lain terjadinya perubahan gaya hidup konsumen urban indonesia yang signifikan. konsumen urban indonesia kini menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, menikmati lebih banyak aktivitas, dan berupaya untuk mencari lebih banyak pengalaman. kelas konsumen ini pada umumnya saling terkoneksi, gesit, terekspos pada informasi, dan terbuka untuk mencoba hal-hal baru. meningkatnya gaya hidup urban yang aktif membuat konsumen lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. gaya hidup ini memberikan perubahan signifikan terhadap perilaku konsumen dalam mengalokasikan pengeluaran mereka, terutama untuk produk-produk siap santap (ready to eat atau rte) dan minuman dalam kemasan (ready to drink atau rtd) (pikiranrakyat.com, 2019). seperti yang telah dijelaskan bahwa dengan begitu banyaknya pengguna di instagram, berakibat pada banyaknya jumlah postingan. saat ini tercatat sekitar 95 juta gambar yang diunggah setiap harinya. dari sudut pandang pelaku bisnis, traffic 95 juta post di instagram tentu menjadi tantangan, agar postingan mereka mampu menarik perhatian pengguna instagram, karena tercatat sekitar 70% unggahan konten di instagram tidak dilihat bahkan diabaikan oleh pengguna (digital business, 2018). adanya intensitas unggahan konten pada timeline pengguna instagram menyebabkan adanya penumpukan konten yang tidak tersaring. hal ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha makanan dalam merancang strategi konten iklan yang tepat. apabila tidak, kemungkinan besar konten tersebut tidak dilihat atau bahkan diabaikan begitu saja oleh para pengikut dan pengguna instagram lainnya (femaledaily.com, 2018). nekmat dan gower (2012) mengatakan bahwa niat beli (purchase intention) muncul pada konsumen, disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya ialah informasi yang detail pada iklan, sosok yang dipercaya oleh konsumen untuk menyampaikan informasi tersebut dan informasi yang terlihat kredibel (dianggap memiliki kredibilitas yang baik). ketika informasi iklan tersebut memiliki pesan yang jelas dan dianggap kredibel muncul rasa percaya konsumen bahwa yang disampaikan oleh iklan tersebut adalah benar, dari situlah akan muncul niat untuk membeli oleh konsumen. ismagilova, e., et al. (2019) juga menemukan hal yang sama. niat beli muncul ketika konsumen mendapatkan informasi iklan dari seseorang yang dianggap memiliki kompetensi pada bidang itu. ada beberapa teori yang dapat memengaruhi sebuah iklan pemasaran yang dapat menimbulkan kesan kredibel dan meningkatkan rasa percaya pada produk yang diiklankan yaitu visual aesthetetics dan presentation modality. elemen desain visual adalah salah satu faktor signifikan yang memengaruhi persepsi konsumen (van rompay, et al., 2012). orang-orang mulai memasukkan komponen estetika dalam setiap aspek kehidupan karenanya; istilah estetika mengambil bagian dalam kehidupan sehari-hari dari banyak orang (weggeman, et al., 2007; venkatesh dan meamber, 2008). untuk alasan ini, perusahaan dan manajer mencoba untuk membedakan produk mereka dengan memasukkan unsur estetika agar produk mereka laris. meskipun penggunaan jenis visual aesthetics dan presentation modality saat ini banyak ditampilkan pada iklan-iklan di media sosial seperti instagram, hasil penelitian empiris tentang efektivitasnya masih belum banyak diperoleh. kemudian, masih terbatasnya penelitian yang menguji efektivitas visual aesthetics (classical vs expressive) dan presentation modality (single vs multiple) pada konten periklanan produk makanan yang diunggah di instagtram. temuan penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting bagi pemasar dalam pengembangan antariksa wibawa natanegara, pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention 3 strategi kegiatan pemasaran pada media sosial, terutama instagram serta dapat memberikan kontribusi bagi pemilik usaha makanan dalam merancang konten yang akan ditampilkan. melalui penelitian ini, peneliti ingin menguji apakah penggunaan jenis visual aesthetics dan presentation modality dalam tampilan konten periklanan yang diunggah oleh pelaku usaha makanan di instagram akan mampu menghasilkan respons paling efektif pada credibility information, consumer trust, dan purchase intention. kerangka konseptual masing kelompok terdiri atas 30 orang. keempat kelompok yang dipergunakan dalam penelitian dibedakan berdasarkan stimuli yang mendasari pengisian kuesioner. stimuli yang dipergunakan adalah foto, video, atau keduanya yang meliputi foto visual aesthetics classical, foto visual aesthetics expressive, video aesthetics classical, dan video aesthetics expressive. jumlah responden dengan jenis kelamin perempuan memiliki jumlah yang lebih besar sebanyak 67 orang (55,8%) yang merata pada setiap kelompok responden, kecuali untuk kelompok responden video aesthetics classical yang lebih banyak responden laki-laki. sementara itu, untuk responden lakilaki sendiri memiliki jumlah keseluruhan sebanyak 53 orang (44,2%). jumlah responden dengan usia antara 26 hingga 35 tahun memiliki jumlah yang paling besar dibandingkan kategori usia yang lainnya baik secara kelompok maupun secara total responden. tercatat sebanyak 78 orang (65,0%) responden berusia 26–35 tahun. kemudian responden dengan usia 18–25 tahun tercatat sebanyak 36 orang (30,0%) dan sisanya masingmasing sebanyak tiga orang (2,5%) adalah responden yang berusia antara 36–45 tahun serta 46–55 tahun. jumlah responden yang memiliki profesi sebagai swasta merupakan responden dengan jumlah yang paling besar sebanyak 58 orang (48,3%) merata pada semua kelompok terkecuali untuk kelompok video aesthetics classical. responden yang berprofesi sebagai pelajar/ mahasiswa sebanyak 29 orang (24,2%), pns sebanyak sembilan orang (7,5%), dan wiraswasta sebanyak 17 orang (14,2%). disusul oleh responden berprofesi sebagai ibu rumah tangga sebanyak lima orang (4,2%) dan profesi lainlain sebanyak dua orang (1,7%). jumlah responden yang memiliki pendidikan terakhir setara dengan strata 1 (s1) dengan jumlah sebanyak 78 orang (65,0%) dan merata metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan termasuk dalam kategori studi kausal. teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling. sampel penelitian ini adalah orang-orang yang aktif menggunakan instagram, mem-follow akun kuliner, pernah membeli produk makanan yang ada di instagram. teknik pengumpulan data melalui survei dengan kuesioner yang menggunakan skala likert lima tingkat. kuesioner tersebut disebarkan melalui tautan elektronik dengan menggunakan google form. teknik analisis yang digunakan adalah manova dan sem. hasil penelitian penelitian ini melibatkan 120 orang responden yang terbagi atas empat kelompok dengan perlakuan berbeda beda di mana pada masing purchase intention consumer trust presentation modality credibility information visual aesthetics purchase intenti on business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 4 pada setiap kelompok responden. responden lain adalah berpendidikan akhir sma sebanyak 28 orang (23,3%), s2 sebanyak 13 orang (10,8%), dan smp hanya satu orang (0,8%). sebagian besar responden adalah orang yang berpenghasilan antara rp 2,5–7,5 juta berjumlah 78 orang (65,0%) dengan proporsi merata pada semua kelompok responden. responden terbanyak kedua adalah yang berpenghasilan antara rp 7,6 juta hingga rp 15 juta sebanyak 36 orang (30,0%). sementara itu, sisanya adalah responden dengan penghasilan antara rp 16 juta hingga tabel 1 jawaban responden item pernyataan mean foto classical foto expressive video classical video expressive ic1 desain postingan pada makanan tersebut sesuai dengan selera saya 3,37 2,90 3,87 4,13 ic2 postingan makanan tersebut terlihat profesional 3,40 2,87 4,10 3,73 ic3 postingan makanan tersebut terlihat autentik/apa adanya 3,37 2,93 4,13 4,13 ic4 postingan makanan tersebut menarik perhatian saya 3,40 2,90 4,13 4,03 mean kelompok 3,39 2,90 4,06 4,0 1 mean total 3,59 ct1 postingan makanan tersebut dapat dipercaya 3,43 2,77 4,27 4,23 ct2 postingan makanan tersebut persuasif dan meyakinkan saya 3,47 2,87 4,30 4,13 ct3 postingan makanan tersebut tidak meragukan saya 3,37 2,87 4,30 4,30 mean kelompok 3,42 2,84 4,29 4,22 mean total 3,69 pi1 saya akan membeli makanan yang diiklankan tersebut 3,37 2,93 4,10 4,27 pi2 saya akan mempertimbangkan untuk membeli makanan yang diiklankan tersebut suatu saat nanti 3,33 3,00 4,20 4,30 pi3 saya bersedia untuk membeli makanan yang diiklankan tersebut 3,43 2,90 4,27 4,30 pi4 saya memiliki keinginan untuk membeli makanan yang diiklankan tersebut 3,43 2,90 4,20 4,10 pi5 kemungkinan besar saya akan membeli makanan yang diiklankan tersebut dalam waktu dekat 3,20 2,90 4,13 4,10 mean kelompok 3,35 2,93 4,18 4,21 mean total 3,67 antariksa wibawa natanegara, pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention 5 rp 20 juta sebanyak lima orang (4,2%) dan penghasilan lebih dari rp 25 juta sebanyak satu orang (0,8%). multivariate analysis of variance (manova) adalah penelitian yang dipergunakan untuk mengetahui adanya perbedaan tanggapan responden pada variabel information credibility serta consumer trust dengan adanya dua stimuli yang dipergunakan yaitu visual aesthetics classical dan expressive serta presentation modality single dan multiple. berdasarkan hasil analisis manova pada tabel 2, untuk variabel information credibility diperoleh nilai f hitung (f test) sebesar 6,792 dengan nilai signifikan sebesar 0,010. hasil nilai signifikansi 0,010 lebih kecil dibandingkan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada information credibility responden yang diberikan stimuli visual aesthetics classical dan expressive. lebih lanjut dapat diinformasikan bahwa persepsi information credibility responden dengan stimuli visual aesthetics classical lebih bagus dibandingkan dengan responden yang diberikan stimuli visual aesthetics expressive. melalui hasil uji ini dapat dikemukakan hipotesis pertama (h1) dapat dibuktikan secara statistik. berdasarkan hasil analisis manova pada tabel 2, untuk variabel consumer trust diperoleh nilai f hitung (f test) sebesar 8,138 dengan nilai signifikan sebesar 0,005. hasil nilai signifikansi 0,005 lebih kecil dibandingkan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada consumer trust responden yang diberikan stimuli visual aesthetics classical dan expressive. lebih lanjut dapat diinformasikan bahwa persepsi consumer trust responden dengan stimuli visual aesthetics classical juga masih lebih bagus dibandingkan dengan responden yang diberikan stimuli visual aesthetics expressive. melalui hasil uji ini dapat dikemukakan hipotesis kedua (h2) dapat dibuktikan secara statistik. berdasarkan hasil analisis manova pada tabel 3, untuk variabel information credibility diperoleh nilai f hitung (f test) sebesar 75,934 dengan nilai signifikan sebesar 0,000. hasil nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dibandingkan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat tabel 2 hasil uji beda manova visual aesthetics variabel kelompok mean difference test keterangan f test sig information credibility single 12,567 75,934 0,000 ada beda multiple 16,133 consumer trust single 9,383 96,337 0,000 ada beda multiple 12,767 variabel kelompok mean difference test keterangan f test sig information credibility single 12,567 75,934 0,000 ada beda multiple 16,133 consumer trust single 9,383 96,337 0,000 ada beda multiple 12,767 tabel 3 hasil uji beda manova presentation modality business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 6 perbedaan yang signifikan pada information credibility responden yang diberikan stimuli presentation modality single dan multiple. lebih lanjut dapat diinformasikan bahwa persepsi information credibility responden dengan stimuli presentation modality multiple lebih bagus dibandingkan dengan responden yang diberikan stimuli presentation modality single. melalui hasil uji ini dapat dikemukakan hipotesis ketiga (h3) dapat dibuktikan secara statistik. berdasarkan hasil analisis manova pada tabel 3, untuk variabel consumer trust diperoleh nilai f hitung (f test) sebesar 96,337 dengan nilai signifikan sebesar 0,000. hasil nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dibandingkan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada consumer trust responden yang diberikan stimuli presentation modality single dan multiple. lebih lanjut dapat diinformasikan bahwa persepsi consumer trust responden dengan stimuli presentation modality multiple lebih bagus dibandingkan dengan responden yang diberikan stimuli presentation modality single. melalui hasil uji ini dapat dikemukakan hipotesis keempat (h4) dapat dibuktikan secara statistik. berdasarkan tabel 4 tersebut dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut. 1. besar pengaruh antara information credibility terhadap consumer trust adalah sebesar 0,778 dengan nilai p sebesar 0,000 yang nilainya lebih kecil dari 0,05 (!=5%) sehingga dapat disimpulkan bahwa information credibility berpengaruh signifikan terhadap consumer trust. berdasarkan hasil ini maka hipotesis kelima penelitian (h5) yang menduga information credibility berpengaruh signifikan terhadap consumer trust dapat diterima dan terbukti secara statistik. 2. besar pengaruh antara information credibility terhadap purchase intention adalah sebesar 0,351 dengan nilai p sebesar 0,000 yang nilainya lebih kecil dari 0,05 (!=5%), sehingga dapat disimpulkan bahwa information credibility berpengaruh signifikan terhadap purchase intention. berdasarkan hasil ini, maka hipotesis keenam penelitian (h6) yang menduga information credibility berpengaruh signifikan terhadap purchase intention dapat diterima dan terbukti secara statistik. 3. besar pengaruh antara consumer trust terhadap purchase intention adalah sebesar 0,593 dengan nilai p sebesar 0,000 yang nilainya lebih kecil dari 0,05 (!=5%), sehingga dapat disimpulkan bahwa consumer trust berpengaruh signifikan terhadap purchase intention. berdasarkan hasil ini, maka hipotesis ketujuh penelitian (h7) yang menduga consumer trust berpengaruh signifikan terhadap purchase intention dapat diterima dan terbukti secara statistik. tabel 4 uji pengaruh sem pengaruh estimate se c.r. p information -ăဨ-ăဨ-ăဨ> consumer trust credibility 0,778 0,104 9,114 0,000 information -ăဨ-ăဨ-ăဨ> purchase intention credibility 0,351 0,120 3,578 0,000 consumer trust -ăဨ-ăဨ-ăဨ> purchase intention 0,593 0,099 6,017 0,000 antariksa wibawa natanegara, pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention 7 dapat diterima, yang mengindikasikan bahwa ada perbedaan respons dari partisipan ketika melihat media yang berbeda, dalam hal ini ialah media foto dan video. didapatkan hasil bahwa konten video atau multiple presentation modality memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan konten foto atau single presentation modality terhadap information credibility dan consumer trust. studi dari penelitian burgoon et al., (2008) juga membenarkan bahwa tampilan iklan dengan multiple presentation modality dapat meningkatkan kredibilitas yang lebih besar serta kepercayaan kepada iklan dalam pertukaran komunikasi. maka dari itu, sebuah pesan yang ditampilkan dengan multiple presentation modality, maka iklan tersebut akan dianggap semakin kredibel oleh konsumen. semakin banyak presentation modality yang digunakan dalam hal ini pada konten periklanan yang diciptakan oleh pelaku usaha, maka akan mengurangi ambiguitas dan ketidakpastian pada sebuah pesan yang disampaikan dibandingkan dengan tampilan single presentation modality. konsumen akan menganggap iklan kredibel ketika konten yang disajikan dengan tampilan multiple presentation modality dibandingkan dengan konten dengan tampilan single presentation modality. information credibility sangat memengaruhi proses penerimaan pesan yang diterima oleh konsumen (friedman dan friedman, 1979 dalam hunt, 2000). information credibility dan consumer trust hasil pengujian yang telah dilakukan dengan sem amos menunjukkan bahwa information credibility dapat memengaruhi consumer trust secara positif dan signifikan sehingga menjadikan hipotesis 5 terdukung pada penelitian ini. hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa sebudiskusi perbedaan visual aesthetics terhadap information credibility dan consumer trust berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa perbedaan jenis visual aesthetics memiliki pengaruh yang berbeda terhadap information credibility dan consumer trust. hasil ini didasarkan pada hasil pengujian menggunakan manova, dengan demikian hipotesis 1 dan 2 dapat diterima, yang mengindikasikan bahwa ada perbedaan respons dari partisipan ketika melihat visual aesthetics yang berbeda, pada variable information credibility dan consumer trust, didapatkan hasil visual aesthetics classical memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan visual aesthetics expressive, dengan kata lain partisipan lebih menyukai foto makanan yang rapi, simpel, dan minimalis dibandingkan foto makanan yang acak dan tidak teratur. hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (kensicki, l.j., 2003), yang membandingkan desain visual website mana yang paling dianggap memiliki kredibilitas menunjukkan hasil, menurut responden website yang menggunakan desain simpel dan minimalis dianggap paling kredibel (78.9% dibandingkan dengan website yang hanya memiliki tulisan dan 69.2% dibandingkan dengan website yang menggunakan desain tidak teratur atau rumit). perbedaan presentation modality terhadap information credibility dan consumer trust berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa perbedaan jenis presentation modality memiliki pengaruh yang berbeda terhadap information credibility dan consumer trust. hasil ini didasarkan pada hasil pengujian menggunakan manova, dengan demikian hipotesis 3 dan 4 business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 8 ah iklan yang dianggap memiliki kredibilitas yang tinggi dapat berfungsi sebagai dasar penting dalam evaluasi iklan bagi konsumen. secara umum, pesan yang disampaikan oleh sumber yang memiliki kredibilitas tinggi akan diterima lebih mudah oleh konsumen dan lebih memungkinkan untuk mengarah pada pembentukan sikap yang lebih positif (kelman dan hovland, 1953; johnson, torcivia, dan poprick, 1968; miller dan baseheart, 1969; warren, 1969; schulman dan worrall, 1970 dalam goldsmith, 2002). oleh karena itu, iklan yang dianggap kredibel telah terbukti memiliki efek positif pada pembentukan sikap percaya konsumen terhadap iklan (atkin dan blok, 1983; fishbein dan ajzen, 1975; goldberg dan hartwick, 1990; mitchell dan olson, 1981 dalam goldsmith, 2002). dengan demikian menunjukkan bahwa information credibility memang berhubungan positif dengan rasa percaya terhadap iklan (goldsmith, et al., 2002). information credibility dan purchase intention hasil pengujian yang telah dilakukan dengan sem amos menunjukkan bahwa information credibility dapat memengaruhi purchase intention secara positif dan signifikan sehingga menjadikan hipotesis 6 terdukung pada penelitian ini. hal ini sejalan dengan teori goldsmith yang mengatakan iklan yang dianggap kredibel akan membentuk adanya efek positif terhadap persepsi konsumen atas sebuah pesan atau informasi yang disampaikan (goldsmith, et al., 2000 dalam lim, et al., 2017). selain itu, iklan yang memiliki desain yang baik dan menarik akan cenderung lebih persuasif dalam menyampaikan pesan kepada konsumen (aaker dan myers, 1987 dalam lim, et al., 2017) dan mampu mendorong niat pembelian konsumen (ohanian 1991 dalam lim, et al., 2017). hal ini kemudian sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa credibility information memiliki pengaruh positif pada sikap konsumen serta niat membeli (till dan busler, 2000 dalam lim, et al., 2017). metzger et al. (2003) menjelaskan bahwa informasi yang dianggap memiliki trustworthy yang tinggi akan membuat konsumen tertarik terhadap pesan yang disampaikan dalam iklan sehingga penerimaan informasi akan mencakup aspek yang lebih luas sehingga dapat berpengaruh pada perilaku pengikut mereka. informasi dengan tingkat attractiveness yang tinggi juga dapat memicu adanya sikap positif dari konsumen dengan munculnya niat pembelian (till dan busler, 2000 dalam lim, et al., 2017). oleh karena itu, informasi yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi akan memicu niat beli pada konsumen. consumer trust dan purchase intention hasil pengujian yang telah dilakukan dengan sem amos menunjukkan bahwa consumer trust dapat memengaruhi purchase intention secara positif dan signifikan sehingga menjadikan hipotesis 7 terdukung pada penelitian ini. hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa dengan sikap percaya terhadap iklan maka akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat beli (karson dan fisher, 2005b; lord, lee, dan sauer, 1995 dalam huang, et al., 2017). selain itu, sikap terhadap iklan cenderung memicu adanya pandangan secara subjektif sehingga akan mengarah pada sikap impersonal pada konsumen yang akan memicu adanya niat beli (mackenzie, et al., 1986 dalam huang, et al., 2017). oleh karena itu, dengan adanya sikap percaya terhadap iklan akan memicu adanya niat beli pada konsumen. antariksa wibawa natanegara, pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention 9 kepercayaan dapat mengeliminasi perasaan akan ketidakpastian yang dirasakan oleh konsumen ketika bertransaksi dengan toko yang belum pernah dikenal, kualitas yang belum teruji. lebih lanjut, heijden, et al. (2003) mengemukakan bahwa trust dapat mengurangi risiko-risiko yang konsumen akan terima (perceived risk) jika bertransaksi secara online sehingga hal ini dapat memengaruhi minat beli secara positif. kesimpulan berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka simpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. hasil penelitian menunjukkan bahwa konten yang menggunakan visual aesthetics classical akan menghasilkan persepsi terhadap information credibility lebih positif, dibandingkan konten iklan yang menggunakan visual aesthetics expressive. 2. hasil penelitian menunjukkan bahwa konten yang penggunaan desain visual aesthetics classical akan menghasilkan consumer trust lebih positif, dibandingkan penggunaan iklan dengan desain visual aesthetics expressive. 3. hasil penelitian menunjukkan bahwa konten dengan tampilan multiple presentation modality berupa video akan menghasilkan persepsi terhadap information credibility lebih positif, dibandingkan konten periklanan dengan tampilan single presentation modality berupa gambar. 4. hasil penelitian menunjukkan bahwa konten dengan tampilan multiple presentation modality berupa video akan menghasilkan consumer trust lebih tinggi, dibandingkan konten periklanan dengan tampilan single presentation modality berupa gambar. 5. hasil penelitian menunjukkan bahwa information credibility berpengaruh positif terhadap consumer trust. 6. hasil penelitian menunjukkan bahwa information credibility berpengaruh positif terhadap purchase intention. 7. hasil penelitian menunjukkan bahwa consumer trust berpengaruh positif terhadap purchase intention. implikasi penelitian sebagai suatu penelitian maka kesimpulan yang ditarik tentu mempunyai suatu implikasi. dalam studi ini terdapat dua implikasi yang dapat dirasakan oleh pihak akademisi dan perusahaan. penjelasan mengenai kedua implikasi tersebut akan dijabarkan sebagai berikut. bagi pihak akademisi penelitian ini memberikan kontribusi akademis pada bidang komunikasi pemasaran. selama ini, penelitian mengenai strategi penggunaan visual aesthetics dan presentation modality lebih banyak diulas pada konteks tampilan website. maka dari itu, penelitian ini diharapkan akan menambah literatur mengenai efektivitas visual aesthetics dan presentation modality pada tampilan konten iklan di media sosial instagram. oleh karena itu, temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi mengenai efektivitas konten iklan di instagram menggunakan strategi visual aesthetics dan presentation modality terutama jenis classical visual aesthetics dan multiple presentation modality. bagi pihak pemasar penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemasar dalam hal strategi perancangan konten business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 10 iklan yang berfokus pada jenis visual aesthetics dan presentation modality. temuan penelitian ini menyatakan bahwa konten iklan dengan classical visual aesthetics dan multiple presentation modality mampu menghasilkan information credibility dan consumer trust lebih positif. bagi pengusaha makanan temuan ini berkontribusi untuk merancang strategi yang tepat dalam membuat konten iklan di instagram. dengan demikian, disarankan bagi pengusaha makanan untuk menggunakan jenis classical visual aesthetics dan multiple presentation modality. apabila konten yang dibuat oleh pengusaha makanan tepat maka akan menghasilkan information credibility dan consumer trust yang positif dari pengguna instagram. daftar rujukan ahmed, m. & abdulwahid, n. 2012. endorser credibility effects on yemeni male consumer’s attitudes towards advertising, brand attitude and purchase intention: the mediating role of attitude toward brand. international business research, vol. 5, no 4, april 2012. barlow, t. & wogalter, m.s. 1993. alcoholic beverage warnings in magazine and television advertisements. journal consum, res. 20. belch, p.t., brunel, f.f., & arnold, t.j. 2004. individual differences in the centrality of visual product aesthetics: concept and measurement. journal of consumer research 29, 551–565. burgoon, j.k., blair, j.p., & strom, r.e. 2008. cognitive biases and nonverbal cue availability in detecting deception. human communication research, 34, 572–599. bloch, p.t., brunel, f.f., & arnold, t.j. 2003. individual differences in the centrality of visual product aesthetics: concept and measurement. journal of consumer research, 29, 551-–565. curwin, n., moultrie, j., & clarkson, p.j. 2002. seeing things: consumer response to the visual domain in product design. elsevier design studies, 25, 547–577. crilly, n., moultrie, j., & clarkson, p.j. 2004. seeing things: consumer response to the visual domain in product design. elsevier design studies, 25, 547–577. femaledaily.com. 2018. intip keseruan launching dan blogger gathering wardahinstaperfect.[http://editorial.femaledaily.com/ blog/2018/08/15/intip-keseruan-launchingdan-blogger-gathering-wardah-instaperfect/]. diakses pada 12 oktober. goldsmith, m. & hassanein, k. 2000. consumers’ satisfaction with online information quality: the moderating roles of consumer decision-making style, gender and product involvement. ecis 2013 research in progress, 10. goldsmith, r.e., bridges, e., & freiden, j. 2002. characterizing online buyers: who goes with the flow? quarterly journal of electronic commerce, vol. 2, no. 3, pp. 189–197. ghozali, imam. 2014. structural equation modelling, metode alternatif dengan partial least square (pls), edisi 4. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. horton, d.l. & thomas p.n. 1984. marketing in hypermedia computer-mediated environments: conceptual foundations. journal of marketing, 60, 50–68. hootsuite. 2018. digital report 2018. web. diakses november 2019. antariksa wibawa natanegara, pengaruh visual aesthetics dan presentation modality terhadap information credibility, consumer trust, dan purchase intention 11 ismagilova, elvira. 2019. the effect of characteristics of source credibility on consumer behaviour: a meta-analysis. journal of retailing and consumer services. kensicki, l.j. 2003. building credibility for nonprofit organizations through webpage interface design. journal of visual literacy, 23, 139–162. kompas.com. 2018. pengguna aktif instagram tembus 1 miliar. [https://tekno.kompas. com/read/2018/06/21/10280037/juni-2018pengguna-aktif-instagram-tembus-1-miliar] diakses pada 5 november 2018. kristensen, t., gabrielsen, g., zaichkowsky, j.l. 2012. how valuable is a well-crafted design and name brand? recognition and willingness to pay. journal of consumer behavior, 11, 44–55. marketeers.com. 2017. media insight dari 45 juta pengguna aktif instagram di indonesia. [http://marketeers.com/45-juta-orangindonesia-punya instagra m/]. diakses pada 5 februari 2019. mcknight, e., richard, m.o., & laroche, m. 2002. online consumer behavior: comparing canadian and chinese website visitors. journal of business research, vol. 64 (9), 958–965. mix.co.id. 2017. mengapa iklan berbayar di media sosial lebih efektif. [http://mix.co. id/marcomm/brand-communication/advertising/mengapai-iklan-berbayar-di-socialmedia-lebih-efektif]. diakses pada 10 oktober 2018. mix.com. 2018. strategi influencer marketing makin diminati. [https://mix.co.id/marcomm/brand-insight/marketing-strategy/ 2018-strategi-influencer-marketing-makindiminati]. diakses pada 29 oktober 2018. nekmat, e. & gower, k.k. 2018. effects of disclosure and message valence in online word-of-mouth (ewom) communication: implications for integrated marketing communication. international journal of integrated marketing communications. rodríguez-ardura, i. & martínez-lópez, f.j. 2008. playing cat and mouse: consumer empowerment and marketing interaction on the net. international journal of business environment, vol. 2, no. 2, pp. 201– 214. stafford, n. & singh, s.n. 2004. measuring attitude toward the brand and purchase intentions. journal of current issues and research in advertising, vol. 26(2), 53– 66. urban, j.j. & chang, y.s. 2009. towards understanding members’ interactivity, trust, and flow in online travel community. industrial management & data systems, vol. 105(7): 937–954. rama septriduta surya negara, christian herdinata, liestya padmawidjaja, the effect of innovation product and halal labelization on buying repurchase special food in blitar city 167167 the effect of innovation product and halal labelization on buying repurchase special food in blitar city rama septriduta surya negara, christian herdinata, liestya padmawidjaja international business management, universitas ciputra, surabaya, indonesia abstract: increased growth of food and beverage businesses that grow above the gross domestic product (gdp) in the blitar city area from year to year. making food and beverage business people must strive to maintain their competitive edge in order to maintain their business amid the many competitors that continue to emerge, especially in this study, namely the typical food product business of the city of blitar cang-jo, uceng tho siti, and abon lele mekarsari. the purpose of this study was to determine and analyze the effect of product innovation and halal label on repurchase interest in blitar city. the method used in this research is quantitative. the data analysis method used is multiple linear regression using spss software. with a research sample of 100 respondents obtained by the technique of calculating the number of indicators of all variables at times 10. data collection was carried out using hypothesis testing and statistical tests. the results of this study are product innovation and halal labelling have a significant effect on repurchase special food in blitar city. keywords: innovation product, halal labelization, buying repurchase introduction the food and beverage business has increased above the gross domestic product (gdp) in indonesia, especially the blitar city area from year to year, in 2015 it was still at 5.96%, in 2016 it was 5.95%, in 2017 it was 8.62 %, in 2018 8.60 percent and in 2019 an increase of 9.39%. the increase in business in the food and beverage industry sector is of course accompanied by a growing number of business actors (www.blitarkab.bps.go.id/2020). research on the typical food products of the city of blitar is focused on food product businesses with the brands dodol cang-jo’s, uceng tho siti, and abon lele mekarsari. the three products are processed food products that are quite well known in blitar city and have made product innovations and have halal certification. the number of competitors that are increasingly popping up makes the brand have to focus on the desire or interest in consumer purchases of its products. in developing awareness of the importance of product innovation, currently the office of cooperatives and micro businesses (dinkopum) of blitar regency is holding entrepreneurship training for the people of blitar, the training held is training on innovationbased food processing carried out by dinkopum at balai petung in beru village, wlingi district. (www.jatimnews.com) the increase in the growth of muslims in indonesia and the world according to the 20192024 indonesian sharia economic masterplan, which has increased by 7–8 percent per year, especially indonesia, where the majority of the population is muslim, has made public awareness of the importance of consuming halal food increasing. the halal label is also an appreciation given to products that meet the halal criteria according to islamic teachings. halal food products are marked with a halal label printed on the product. the institution that has the right to issue halal labels and certificates in indonesia is lppom mui. (www.halalmui.org). business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 168 literatur review according to cahyaningrum and panjaitan (2019) that product innovation is an action taken by a company in an effort to improve the quality, usability and quality of the product and add variety to products in order to maintain and also create a competitive advantage towards the global market. there are five indicators in measuring product innovation according to aditi (2019), namely, adding product variants, adding new products, product appearance and product taste. the halal label is the inclusion of a halal statement on a product packaging to show that the product is a halal product. there are indicators to measure a halal label in khairannoor (2019), namely, the manufacturing process, raw materials, and specificity. according to khairannoor (2019) repurchase intention is a manifestation of customer loyalty. although the literature identifies other dimensions of customer loyalty, behavior regarding product repurchase has a more direct effect because repurchase intention is the tendency that consumers will buy goods or services at the same store and share their experience of using them with friends and relatives. indicators of repurchase intention according to sutisna (2010) in the journal aditi (2019), namely, benefit association, priority in buying, and frequency of purchases. this study aims to examine and analyze the effect of product innovation and halal label on repurchase in blitar city. previous research research conducted by bunga aditi (2019) on innovation product halal labelization in buying repurchase. the purpose of this study was to determine and analyze the influence of the innovation product variables and halal labelization on buying repurchase. the method used in this research is descriptive analysis method by describing the data. the data analysis used was multiple linear using spss software with non-probability sampling technique. the population in this study were all consumers totaling 475 respondents who bought sme products, with a sample used of 100 respondents using the theory of hair et al (2007). the results showed that product innovation and halal labelization had a positive and significant effect on buying repurchase. this study both examines and analyzes the halal labelization and buying repurchase variables. in ika yoga’s (2018) research on halal emotional attachment on repurchase intention. the purpose of this study was to examine the position of emotional attachment as a mediation of the influence between halal awareness, halal logo, and food ingredients composition on repurchase intention to buy halal products. this research method is a quantitative method. this study took a sample of consumers who had consumed or bought halal products. the population obtained 384 respondents. the results showed that the halal variable was able to play an important role and significantly influence the intention to buy back or buy repurchase. this study both examines and analyzes the halal variable and buying repurchase. in the research of panca and kusumadewi (2019) on the effect of product innovation on repurchase intention mediated by consumer satisfaction. the purpose of this study was to determine the effect of product innovation on repurchase intention mediated by customer satisfaction. this study uses data analysis techniques path analysis. the sample size obtained by using purposive sampling method of 110 respondents. the results of this study indicate rama septriduta surya negara, christian herdinata, liestya padmawidjaja, the effect of innovation product and halal labelization on buying repurchase special food in blitar city 169 that product innovation has a positive and significant effect on consumer repurchase intentions. this study both examines and analyzes product innovation variables. cahyaningrum and panjaitan (2019) examined the effect of product innovation, price and location on purchase purchase decisions. the purpose of this study was to determine whether product innovation, price and location partially and simultaneously had a significant effect on repurchase decisions. this type of research is causality, using data collection techniques in the form of a questionnaire. the sampling technique used non-probability with purposive sampling method with the number of samples determined by the researcher as many as 100 people and the data analysis technique used was multiple linear regression. the research results of hypothesis testing in this study indicate that the variable product innovation, price and location have an effect on re-purchase decisions. this study both examines and analyzes product innovation variables. relationship between variables bunga aditi’s research (2019) aims to determine and analyze the effect of product innovation and halal labelization on buying repurchase. the results of this study are product innovation and halal labelling simultaneously have a positive and significant effect on the repurchase of msmes in langkat regency. partially each product innovation and halal label have a positive and significant effect on the repurchase of msmes in langkat regency. the product innovation variable has a positive value of 43.33%. this means that the influence of the product innovation variable is in line with the increase in repurchases. partially it shows that the product innovation variable has a positive effect on increasing repurchases. the halal label variable has a positive value of 61.7%, which means that the influence of the halal label variable is in line with the increase in purchase returns. this shows that the halal labelling variable has a positive effect on increasing repurchases. also research from rantau (2019) which states that product innovation has a significant effect on buying repurchase. marimon’s research (2020) aims to determine the factors that influence the purchase intention of halal food among spanish muslim consumers. this research empirically provides evidence of a significant relationship between halal awareness, attitudes towards halal labels and halal purchase intentions. the results also show that the mediating effect of attitudes on the halal label is in the form of complementary partial mediation. this means that the attitude of muslim consumers towards the halal label has a mediating effect and a direct effect on consumer purchase intentions. this result is in accordance with ika yoga (2018) which states that the halal variable is able to play an important role and has a significant effect on buying repurchase intention. h1: the effect of product innovation on repurchasing special foods in blitar city h2: the effect of the halal labelization on the re-purchase of special food in blitar city. method this research method uses quantitative research. the data used in this study are primary and secondary data. collecting data in this study using a questionnaire distributed online with reference to likert scale measurement and statistically analyzed using multiple business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 170 linear regression analysis method. the population in this study were consumers of dodol cang-jo’s, uceng tho siti, and shredded lele mekarsari with the criteria of having bought a product at least three times, amounting to 100 respondents obtained by calculating the number of indicators for all variables in 10 times. conducted using hypothesis testing and statistical tests. results and discussion validity and reliability test in the validity test, it shows the results of all indicators of product innovation, halal labels and repeat purchases are declared valid because they have a significance value <0.05 reliability test results show that all product innovation variables, halal labels and repeat purchases have a cronbach alpha value >0.6, so all of them are declared reliable. classic assumption test based on the normality test, the klomogrov smirnov test results show that the significance value is more than the 0.05 significance level so that it can be concluded that the residuals are normally distributed. unstandardized coefficients mean that the distance between one data and another is not too far or extreme. based on the results of the multicollinearity test, it shows that the tolerance value of all variables is more than 0.100 and the vif (variant inflation factor) value is less than 10, namely the vif of the product innovation variable shows a value of 1.099, and the halal label also has a value of 1.099, so it can be concluded that multicollinearity does not occur between independent variables. based on the results of the heteroscedasticity test, the significance value of the product innovation variable (x1), and the halal label (x2) is greater than 0.05, it can be concluded that there is no heteroscedasticity in the product innovation variable (x1), and the halal label (x2). results of multiple linear regression model the results obtained in the calculation of the multiple linear regression equation in this study are: table 1 results of multiple linear regression model y = 1,006 + 0,194 x1 + 0,448 x2 description: y = buying repurchase xl = innovation product x2 = halal labelization f test the value shown in the f test shows a significance of 0.000. so, it can be concluded that product innovation and halal label have a simultaneous significant effect on re-purchase because the significance value of the f test is ≤ 0.05. t test the product innovation variable has a significant value of 0.032, and the halal label is 0,000. so it can be concluded if the two variables have a partial significant effect on repurchase because the significance value is ≤ 0.05. model koefisien beta t sig. keterangan (constant) 1,006 innovation product (x1) 0,194 2,170 0,032 signifikan halal labelization (x2) 0,448 5,004 0,000 signifikan dependent variable: buying repurchase (y) rama septriduta surya negara, christian herdinata, liestya padmawidjaja, the effect of innovation product and halal labelization on buying repurchase special food in blitar city 171 correlation coefficient (r) and coefficient of determination (r2) and adjusted r square the test results on r, r2, and adjusted r square give the result that the r value of 0.540 or 54.0% means that the relationship between the independent variable and the dependent variable has a strong enough relationship because the value does not approach 0. and the r2 value or the coefficient of determination shows the number 0.291 or 29.1%, which means that the percentage of influence of the independent variable on the dependent variable is 29.1%, the rest is explained by other variables not examined in this study. the coefficient of determination on adjusted r square is 0.277, which means that the product innovation and halal labelization variables can describe the dependent variable of 27.7%, while the rest is explained by other variables not examined in this study. discussion based on the research results, product innovation has a significant effect on buying repurchase. this means that existing indicators on product innovation have a significant influence on buying repurchase. product innovation has several indicators consisting of adding product variants, adding new products, product appearance, and product taste. the results of this study are supported by research conducted by bunga aditi (2019) who found that product innovation has a positive and significant effect on buying repurchase. the same view was also expressed by rantau (2019) where researchers found that product innovation had a positive and significant effect on buying repurchase. based on the results of the research, product innovation has a very important role because it can affect buying repurchase of typical foods in blitar, namely cang-jo’s, uceng tho siti, and abon lele mekarsari. therefore, these typical food products must pay more attention to product innovation in order to encourage consumers to buy repurchase. therefore, what can be done with blitar’s typical food products, namely cang-jo’s, uceng tho siti, and abon lele mekarsari, is to add product variants according to market demand, add new products, further improve product appearance and pay attention to the quality of taste in products. based on the research results, halal labelization has a significant effect on buying repurchase. this means that the indicators in halal labelization have a significant effect on buying repurchase. halal labelization has several indicators which consist of the process of making raw materials and specificities. the results of this study are supported by research conducted by marimon (2020) who found that halal labelization has a positive and significant effect on buying repurchase. the same view was expressed by yoga (2018) finding that halal labelization has a positive and significant effect on buying repurchase. this study provides results that halal labelization has a very important role because it can affect buying repurchase for typical food in blitar, namely cang-jo’s, uceng tho siti, and abon lele mekarsari. therefore, the typical food products of city b must pay more attention to halal labelization in order to encourage consumers to buy repurchase of these products. so what can be done by typical food products in the city of blitar is to educate the public or consumers about the importance of halal certification in food products and highlight the ownership of the halal certification that the product has. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 172 conclusions and recommendations conclusions product innovation has a significant effect on repurchase in blitar city, the first hypothesis (h1) is accepted. and halal label has a significant effect on repurchase in blitar city, the first hypothesis (h2) is accepted recommendations for the special food products of blitar city, which are typical food products of the city of blitar, it is expected to pay more attention to product innovation with indicators of adding product variants, adding new products, paying attention to product appearance and taste of products, typical food products of blitar city are also expected to pay attention to halal labelization by educating the public regarding the importance of the halal label and highlighting that the product has halal certification, this needs to be considered as much as possible as a form of strategy to increase buying repurchase and as a consideration for taking this typical food product in the city of blitar to continue to run amid the many business competitors in the similar food sector. suggestions for future researchers, based on overall research results. the suggestion given is that the next researcher is expected to consider expanding the scope of the sample to a different food business, either a different brand or a different type of food, and by deepening the research or adding other relevant variables to be studied. references bunga, aditi. (2019). innovation product and halal labelization in buying purchase. international research jurnal of business studies, vol. 12, no. 1. cahyaningrum, novia & panjaitan, hotman. (2019). pengaruh inovasi produk, harga dan lokasi terhadap keputusan pembelian ulang. ika yoga. (2018). halal emotional attachment on repurchase intention. journal of economics and business. issn:2503-4235 (p): 2503-4243 (e). khairannoor, muhammad. (2019). pengaruh label halal dan citra merek terhadap niat pembelian ulang. marimon, frederic, pradana, mahir, & ruben, huertas garcia. (2020). spanish muslims’ halal food purchase intention. international food and agribusiness management review, vol. 23, issue 2. rantau, aga shanada. (2019). pengaruh citra merek, kesadaran merek, dan inovasi produk terhadap keputusan pembelian pada mr. suprek surabaya. attachment tabel validity test result variabel pearson correlation nilai sig. (2-tailed) kesimpulan innovation product (x1) x1.1 0,290 0,003 valid x1.2 0,318 0,001 x1.4 1,000 0,000 halal labelization (x2) x2.2 0,438 0,000 valid x2.3 0,440 0,000 x2.4 0,404 0,000 x2.5 1,000 0,000 buying repurchase (y) y.2 0,524 0,000 valid y.3 0,663 0,000 y.4 1,000 0,000 rama septriduta surya negara, christian herdinata, liestya padmawidjaja, the effect of innovation product and halal labelization on buying repurchase special food in blitar city 173 tabel t test tabel f test tabel heteroskedastisitas test tabel kolmogorov-smirnov test tabel reliability test result kolmogorov-smirnov sig. unstandardized coefficients 0,161 model unstandardized coefficients keterangan vif innovation product (x1) 1,099 tidak terjadi multikolinearitas halal labelization (x2) 1,099 tidak terjadi multikolinearitas dependent variable: buying repurchase (y) model sig. keterangan innovation product (x1) 0,861 tidak terjadi heteroskedastisitas halal labelization (x2) 0,767 tidak terjadi heteroskedastisitas anova a model f sig. regression 19.935 0,000 sumber: data diolah, 2020 indikator jumlah sampel cronbach’s alpha keterangan innovation product (x1) x1.1 100 0,609 reliabel x1.2 100 x1.3 100 x1.4 100 x1.5 100 halal labelization (x2) x2.1 100 0,782 reliabel x2.2 100 x2.3 100 x2.4 100 x2.5 100 buying repurchase (y) y.1 100 0,808 reliabel y.2 100 y.3 100 y.4 100 model t sig. keterangan innovation product (x1) 2,170 0,032 signifikan halal labelization (x2) 5,004 0,000 signifikan dependent variable: buying repurchase (y) tabel t test tabel correlation coefficient (r) and coefficient of determination (r2) and adjusted r square test r r2 adjusted r square 0,540 0,291 0,277 business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 174 01 antariksa.pmd wilda khairin najwah, perancangan model pengukuran kinerja corporate social responsibility (csr) di bpd jatim 8989 perancangan model pengukuran kinerja corporate social responsibility (csr) di bpd jatim wilda khairin najwah universitas airlangga e-mail: wildakhairin@gmail.com abstract: companies that realize the importance of csr do so to obtain a corporate image, this practice uses social activities for corporate marketing activities. publication in the media is one of the mediums in obtaining a positive image for the company. bpd east java has been carrying out csr activities since 2007 but has a measuring tool such as a special kpi to measure the effectiveness of its csr activities. so that the purpose of this research is to design a key performance indicator (kpi) of csr activities at bpd east java. this research uses a qualitative research method with a modified participation action research (par) approach or modified action research, which is carried out to obtain an overview of csr activities in bpd east java. then the researchers made a measuring instrument or kpi to determine the effectiveness of csr activities using the model: prism performance. the results of the kpi design are then discussed with relevant stakeholders for evaluation. the validation of the bpd east java bpd csr kpi is carried out by submitting the kpi design proposal to the company which is considered to understand the object of research with the company’s real conditions and has a role in making corporate strategic decisions. keyword: key performance indicator (kpi), corporate social responsibility (csr), performance prism pendahuluan csr (corporate social responsibility) di indonesia menjadi sesuatu yang wajib dilakukan oleh perusahaan menurut pasal 74 uu nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. menurut iso 26000, csr tidak hanya donasi atau filantropi namun tanggung jawab perusahaan atas dampak dari operasi bisnisnya terhadap masyarakat dan lingkungan hidup secara transparan, beretika, serta berdampak kepada pembangunan berkelanjutan (radyati, 2016). kegiatan corporate social responsibility (csr) merupakan suatu bentuk nyata kepedulian kalangan dunia usaha terhadap lingkungan di sekitar usaha tersebut. kegiatan csr dapat dilakukan perusahaan pada berbagai bidang. konsep csr sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan sudah dimulai sejak tahun 1970-an namun kegiatannya di indonesia baru berkembang pesat pada dekade 2000-an. pada saat ini diyakini pelaksanaan csr adalah bagian dari pelaksanaan untuk mencapai status good corporate governance (gcg) oleh suatu perusahaan. perusahaan yang menyadari pentingnya csr melakukannya untuk memperoleh corporate image, praktik ini menggunakan kegiatan sosial untuk kegiatan pemasaran perusahaan. perkembangan dunia industri saat ini menuntut perusahaan tidak hanya menjual produk dan mendapat profit, namun perusahaan perlu meningkatkan corporate image untuk keberlanjutan perusahaannya, karena dengan image perusahaan yang positif maka akan meningkatkan kepercayaan konsumen maupun pemegang saham. salah satu upaya peningkatan corporate image yaitu melalui terlaksananya program csr. publikasi di media menjadi salah satu medium dalam memperoleh image positif bagi perusahaan. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 90 bpd jawa timur merupakan salah satu perusahaan bumd milik salah satu daerah di indonesia dan telah melakukan kegiatan csr sejak tahun 2007. namun, hingga saat ini bpd jawa timur belum memiliki kpi (key performance indicator) khusus yang digunakan untuk mengukur kegiatan csr yang terealisasi selama ini. oleh karena itu, peneliti merasa penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program csr pada bpd jawa timur agar dapat merancang key performance indicator (kpi) kegiatan csr supaya terdapat standar baku dalam penerapan csr di bpd jatim. kerangka teoretis corporate social responsibility (csr) suatu perusahaan yang berdiri di suatu wilayah harus bertanggung jawab terhadap pemangku kepentingan (stakeholders) perusahaan yang bersangkutan. stakeholders adalah orang atau kelompok yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh berbagai keputusan, kebijakan, maupun operasi perusahaan (post, et al., 2002). di dalam perusahaan stakeholders terdiri dari inside dan outside stakeholders. inside stakeholders terdiri dari pemegang saham (stockholders), para manajer dan karyawan. sedangkan outside stakeholders terdiri dari pelanggan, pemasok, pemerintah, dan masyarakat. menurut the world business council for sustainable development, yaitu bahwa csr merupakan suatu komitmen memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi sambil meningkatkan kualitas hidup para pekerja dan keluarganya serta bagi komunitas lokal dan masyarakat pada umumnya. definisi terakhir inilah yang diterima secara luas oleh praktisi dan aktivis csr (kalangit, 2009). regulasi csr secara implisit dapat dilihat di uu no.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup; uu no. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen; dan uu no. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. regulasi yang secara eksplisit mengatur csr di antaranya adalah undang-undang no. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas (pt) tertanggal 16 agustus 2007. performance prism performance prism merupakan metode pengukuran yang mengalami perkembangan dari model sebelumnya, kelebihan yang dimiliki performance prism di antaranya dapat mengidentifikasi stakeholder dari berbagai kepentingan seperti karyawan, pemerintah, dan masyarakat. sedangkan metode lain seperti contohnya balance scorecard, hanya dapat melihat dari dua sisi stakeholder yakni shareholder dan customer. pengukuran kinerja menggunakan model performance prism digambarkan dalam bangun prisma dengan lima perspektif, yaitu stakeholder satisfaction, strategy, process, capabilities, dan stakeholder contribution. gambar 1 performance prism sumber: neely & adams, 2002 wilda khairin najwah, perancangan model pengukuran kinerja corporate social responsibility (csr) di bpd jatim 91 ningrat, 1993). peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menganalisis data penelitian ini. data yang diperoleh melalui wawancara dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu dengan cara mendeskripsikan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan secara menyeluruh. data wawancara dalam penelitian adalah sumber data utama yang menjadi bahan analisis data untuk menjawab masalah penelitian. analisis data dilakukan dengan membuat suatu transkrip hasil wawancara dengan cara memutar kembali rekaman wawancara dan menuliskan kalimat yang sesuai dengan apa yang ada pada hasil wawancara tersebut. setelah peneliti menuliskan hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip, selanjutnya mereduksi data dengan cara abstraksi, yakni mengambil data yang sesuai dengan konteks penelitian dan mengabaikan data yang tidak diperlukan. berdasarkan teknik analisis tersebut, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. stakeholder satisfaction stakeholder yang terlibat secara langsung yaitu karyawan bpd pada corporate secretary khususnya di unit csr, perwakilan dari forum csr bappeda jawa timur, dan masyarakat penerima bantuan program csr. berikut ini adalah beberapa bagian dalam stakeholder satisfaction. 1. masyarakat manfaat finansial, berdasarkan hasil penelitian di lapangan, manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan csr ini adalah adanya peningkatan pendapatan. manfaat non-finansial, masyarakat penerima csr juga merasakan manfaat lain seperti peningkatan kerapian, peningkatan kebersihan, peningkatan prestasi, dan peningkatan kesehatan. tahapan perancangan alat ukur/ key performance indicator (kpi) menggunakan model performance prism dijelaskan pada gambar berikut. gambar 2 proses perancangan performance prism sumber: kaplan, 2000 analisis dan pembahasan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. moleong (2012) menyatakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi (koentjarabusiness and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 92 2. pemerintah melalui wawancara narasumber yang mewakili pemerintah (bappeda), program csr memberikan satisfaction apabila mampu mewujudkan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat jawa timur secara berkelanjutan, memastikan program csr di jawa timur berjalan dengan benar agar pelaksanaannya tidak tumpang tindih, dan program csr perusahaan dapat selaras dengan program prioritas pemprov jatim. berdasarkan hasil penelitian kebutuhan dan keinginan (untuk mencapai satisfaction) perusahaan terhadap kegiatan csr ini adalah mampu memenuhi penerapan prinsip good corporate governance (gcg). “oleh karena csr sendiri merupakan tata kelola perusahaan yang baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. csr dan gcg berjalan beriringan untuk meningkatkan keberlanjutan perusahaan” (v, karyawan bpd), kegiatan csr bersifat sustainable (berkelanjutan). ...”pengen nya seperti yang tadi seperti inisiatif itu benar-benar tepat sasaran kalau misal itu memang dibutuhkan dan memang bermanfaat untuk kedepannya dipakai secara terus-menerus”... (sdri. v, karyawan bpd). pendapat sdri. v juga didukung oleh sdr. w, ... ”membantu perekonomian pemberdayaan pada umkm dan pada keberlangsungannya... berkelanjutan”... (w, salah satu pejabat di unit csr). meningkatkan corporate image ... ”tujuannya cuma satu meningkatkan corporate image”... (sdr. w, salah satu pejabat di unit csr). memperoleh csr awards ...”kita dapat award di forum isda”... (sdri. e, karyawan bpd). pernyataan sdr. e didukung oleh sdr. v sebagai berikut. “program inisiatif (sanitasi) yang itu tadi sih yang menang karena sanitasi tadi karena dia juga sudah dapat dua penghargaan itu dari yang jakarta itu isda (indonesia sustainable development award)” (sdri. v, karyawan bpd). 3. strategies penentuan strategi merupakan tahap kedua pada model performance prism, setelah menemukan stakeholder satisfaction. strategi dibutuhkan oleh perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan stakeholder kunci sekaligus memenuhi kebutuhan perusahaan. strategi yang dibutuhkan bpd jatim untuk memenuhi stakeholder satisfaction adalah penerapan prinsip good corporate governance (gcg), meningkatkan corporate image terkait penilaian positif dari masyarakat/awareness masyarakat terhadap csr bpd jatim, penerimaan awards, publikasi positif dari media. 4. processes pada tahap proses, peneliti mendaftar proses yang diperlukan bpd jatim untuk mencapai strategi-strategi dalam penerapan prinsip gcg dengan melakukan mekanisme self-assessment tata (tata kelola) dengan cara pic berwenang meng-input dan menganalisis berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif dengan memperhatikan prinsip pada gcg, yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran mengajukan review pada otor 1 (pemimpin divisi terkait), jika ditolak pic merevisi kembali hasil analisis dan apabila diterima, hasil analisis diteruskan ke otor 2 (pemimpin divisi kepatuhan & tata kelola), selanjutnya, laporan dicetak dan diajukan ke direksi untuk disampaikan ke ojk. langkah berikutnya ialah meningkatkan corporate image dengan cara mengikuti ajang csr awards, mengidentifikasi kegiatan awarding yang diadakan oleh penyelenggara, menyiapkan dan melengkapi persyaratan yang diminta penyelenggara, melihat tema yang diangkat serta atribut yang diminta oleh penyelenggara awarding, menyiapkan data-data dan resume program csr yang sesuai dengan tema csr awards yang wilda khairin najwah, perancangan model pengukuran kinerja corporate social responsibility (csr) di bpd jatim 93 akan diikuti media, bekerja sama dengan pr perusahaan yang memiliki list media, menjalin hubungan baik dengan media partner, menginfokan kepada media atas program csr perusahaan & perolehan awards yang terkait dengan csr, mengundang media dalam acara penyerahan csr kepada masyarakat, memberikan kuesioner terhadap masyarakat yang memperoleh dampak kegiatan csr, melakukan wawancara terhadap masyarakat penerima csr, merangkum testimoni positif dari masyarakat untuk diangkat ke media sosial perusahaan, seperti: website, majalah, video company profile, dan lain-lain. 5. capabilities untuk menjalankan proses, perusahaan perlu mengidentifikasikan kemampuan atau kapabilitas yang dimilikinya. berdasarkan observasi dan wawancara dengan karyawan bpd jatim, menurut peneliti berikut adalah kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan untuk menjalankan proses di atas. 1. jumlah kegiatan csr yang meningkat dari tahun sebelumnya. 2. jumlah anggaran csr yang meningkat dari tahun sebelumnya. 3. jumlah publikasi mengenai csr. 4. jumlah sdm yang berasal dari karyawan csr di kantor pusat dan dibantu oleh karyawan pelaksana di kantor cabang. 6. stakeholder contribution selanjutnya peneliti perlu mengidentifikasi stakeholder contribution dari masing-masing pemangku kepentingan. wawancara terhadap stakeholder kunci menghasilkan informasi terkait kontribusi pemangku kepentingan untuk mencapai satisfaction terhadap program csr bpd jatim. hasil dari wawancara dengan beberapa karyawan perusahaan, diketahui kontribusi mereka dalam terlaksananya program csr adalah sebagai berikut. 1. melakukan koordinasi dengan hadir pada pertemuan forum csr bappeda. 2. melakukan sinkronisasi antara program usulan dari forum csr bappeda dengan program yang sesuai dengan bidang pada perusahaan. 3. menyampaikan laporan program csr pada rups. 4. membuat analisis, usulan, dan pelaksanaan program csr. 5. merealisasikan program csr untuk masyarakat. 6. melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan kantor cabang melalui surat, telepon, dan pertemuan secara langsung. 7. mengevaluasi pelaksanaan program csr. sedangkan kontribusi yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan hasil wawancara dengan pihak bappeda adalah sebagai berikut. 1. memetakan kondisi lapangan dan menentukan kebutuhan program csr. 2. mengoordinasikan hasil pemetaan dengan perusahaan agar pelaksanaan program csr tidak tumpang tindih. 3. membantu perusahaan dalam melakukan monitoring dan evaluasi. 4. memberikan dukungan pada perusahaan dalam melaksanakan program csr (rewards). 5. mengadakan rapat koordinasi anggota forum csr bappeda. hasil dari wawancara dengan narasumber yang mewakili masyarakat penerima bantuan untuk setiap bidang csr yang ada di perusahaan adalah sebagai berikut. 1. mengajukan permohonan csr ke perusahaan. 2. melengkapi dokumen permohonan sesuai dengan yang ditetapkan oleh perusahaan. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 94 3. membantu perusahaan menggali permasalahan sosial untuk ide program csr ke depan. 4. memberikan bantuan tenaga untuk mendukung kesuksesan program csr perusahaan. kesimpulan perancangan kpi menggunakan model performance prism dilakukan untuk mengetahui kinerja csr perusahaan sehingga dapat dilaporkan kepada seluruh stakeholder. berdasarkan observasi yang dilakukan di lingkungan perusahaan, peneliti menentukan tiga stakeholder kunci pada pelaksanaan csr di bpd jatim yaitu karyawan perusahaan, pemerintah dan masyarakat. kemudian, dari wawancara yang dilakukan peneliti mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan (satisfaction) stakeholder dan kontribusinya untuk mencapai hal tersebut. peneliti memetakan strategi, proses, dan kapabilitas dari masingmasing stakeholder kunci untuk mengetahui kontribusi lain yang dapat dilakukan. peneliti mengintegrasikan hasil pemetaan sehingga diperoleh 12 indikator pengukuran csr di bpd. kpi csr ini tidak dapat diterapkan pada perusahaan lain, karena perumusannya disesuaikan dengan kondisi yang ada di bpd jatim, dan setiap perusahaan memiliki kondisi yang berbeda. daftar rujukan aggraini, f. 2006. pengungkapan informasi sosial dan faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan tahunan (studi empiris pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar bursa efek jakarta), simposium nasional akuntansi 9. alexander gj and buchloz ra. 1978. ahmad, n., maliah, & siswantoro, d. 2003. corporate social responsibility disclosure in malaysia: an analysis of annual reports of klse listed companies, iium journal o f economics and management malaysia 11 (1). the intenational islamic university ambadar, j. 2008. csr dalam praktik di indonesia: wujud kepedulian dunia usaha. jakarta: elex media komputindo. aris. 2010. csr bisa jadi pengurang pajak. (online), (http://www.bisnis.com/articles/csrbisa-jadi-pengurang-pajak, diakses 17 juli 2018) arista. 2011. pengaruh corporate social responsibility terhadap profitabilitas dan kinerja pasar perusahaan (studi empiris pada perusahaan lq45 periode 2007–2008). universitas negeri malang. skripsi tidak diterbitkan. asongu, j.j. 2007. the history of corporate social responsibility, journal of business and public police, vol. 1, no. 2. asongu, j.j. http://www.mallenbanker.net/csr?csrfiles/ definition.html. diakses, 17 juli 2018. baron, d.p. 2006. business and its environment. fifth edition. upper saddle river, new jersey: person-prantice hall. burkett w., b & douglas g. 2016. “voluntary regulation of international labour standards: an overview of the corporate social responsibility phenomenon” diakses dari http://library.findlaw.com/2012/sep/11/ 246322.html mengutip “corporate social responsibility: an ioe approach.” international oragization of employers position paper, at p. 2, online: http:///www.uscib.org/ docs/03_21_03_cr.pdf. choi, d.y. & grey, e.r. 2008. the venture development processes of sustainable entrepreneurs. management research news, vol. 31 no. 8. dafid, r.f. 2009. manajemen strategis. jakarta: salemba empat. wilda khairin najwah, perancangan model pengukuran kinerja corporate social responsibility (csr) di bpd jatim 95 dharmawan, a. 2011. desa model. lembaga pengabdian kepada masyarakat universitas negeri malang. djakfar, m. 2012. etika bisnis: menangkap spirit ajaran langit dan pesan moral ajaran bumi, jakarta: penebar plus. efferin, s. & suherman, b. 2010. seni perang sun zi dan sistem pengendalian manajemen. jakarta: elex media komputindo. erawati, e. 2010. persoalan hukum seputar tanggung jawab sosial dan lingkungan perseroan dalam perundang-undangan ekonomi indonesia. direktorat kementrian hukum dan hak asasi manusia. 23 oktober 2018. gunadi. 2012. bagaimana perlakuan atas csr? (online), (http://www.businesslawyer.ihslawfirm.com/2?id=bagaimana-perlakuanpajak-atas-csr, diakses 18 september 2018). husted, b. 2003. “governance choices for corporate social responsibility: to contribute, collaborate or internalize?” long range planning 36, no. 5 (2003), h.481–498. iqbal, n. 2012. “the impact of perceived corporate social responsibility (csr) on job attitude and performance of internal stakeholders”, international journal of human resource studies, vol. 2, no. 4, pp. 77–86. jefkins, f. & yadin, d. 2003. public relation, 5th ed. jakarta: erlangga. kalangit, k.m. 2009. konsep corporate social responsibility, pengaturan dan pelaksanaannya di indonesia. kartini. 2009. corporate social responsibility transformasi konsep sustainability management dan implementasi di indonesia. bandung: refika aditama. keputusan menteri keuangan no.:1232/kmk. 013/1989 tanggal 11 november 1989 tentang pedoman pembinaan pengusaha ekonomi lemah dan koperasi melalui badan usaha milik negara. keputusan menteri keuangan no.:316/kmk016/1994 tanggal 27 juni 1994 tentang pedoman pembinaan usaha kecil dan koperasi melalui pemanfaatan dana dari bagian laba badan usaha milik negara. keputusan menteri negara bumn no.: kep236/mbu/2003 tentang program kemitraan bumn dengan usaha kecil dan program bina lingkungan. kotler. p. 1997. marketing management 6 analysis, planning, implementation, and control – ninth edition. new jersey: prenticehall, inc. moleong, l.j. 2010. metodologi penelitian kualitatif, cet. 21, hlm. 248. bandung: rosdakarya. marshal, r.s. & harry, d.p. 2005. introducing a new business course: “global business and sustainability”. international journal of sustainability in higher education, vol. 6, no. 2. mas’ud & santoso. 2007. survei peran corporate social responsibility (csr) dan harmonisasi social hubungan industrial di jawa timur. bappenas jawa timur. mcwiiliam a. & siegel d. 2001. corporate social responsibility: a theory of the firm perspective. the academy of management review, 26(1). abi/inform global. miles, b.m & huberman, m. 1992. analisis data kualitatif buku sumber tentang metodemetode baru. jakarta. pearce, j.a. & robinson, r.b. 2007. management strategic: formulation, implementation, and control, 10th ed. mcgraw-hill companies, inc. peraturan daerah provinsi jawa timur nomor 4 tahun 2011 tentang tanggung jawab sosial perusahaan. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 96 peraturan menteri negara bumn no.: per-o5/ mbu/2007 tanggal 27 april 2007 tentang program kemitraan bumn dengan usaha kecil dan program binaan lingkungan. peraturan pemerintah nomor 32 tahun 1998 tentang pembinaan dan pengembangan usaha kecil. peraturan pemerintah nomor 93 tahun 2010 tentang sumbangan penanggulangan bencana nasional, sumbangan penelitian dan pengembangan, sumbangan fasilitas pendidikan, sumbangan pembinaan olahraga, dan biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. post, e., lawrence, t.a., & weber. 2002. business and society: corporate strategy, public policy, ethics. 10th ed. mcgraw hill companies, inc. prayogo, d. 2011. evaluasi program corporate social responsibility dan community development pada industri tambang dan migas makara. sosial humaniora vol. 15 no. 1. prayogo, d., & hilarius, y. (2012). efektivitas program csr/cd dalam pengentasan kemiskinan: studi peran perusahaan geotermal di jawa barat. jurnal sosiologi masyarakat, vol. 17, no. 1, 1–22. ricardo, s. 2013. tanggung jawab direksi dalam menjalankan csr (corporate social responsibility) berdasarkan peraturan pemerintah nomor 47 tahun 2012. transparency, ii(2). robbins, s.p. & boulter, m. 2003. management. upper saddle river, new jersey: prentice hall. siswoyo, b.b. et al. 2010. pemetaan program corporate social responsibility (csr)-kemitraan bina lingkungan (pkbl) di jawa timur. kerjasama bappeda provinsi jawa timur dan fakultas ekonomi universitas negeri malang. soemirat, s. dan elvinaro, a. 2003. dasar-dasar public relation, bandung: remaja rosdakarya. solihin, i. 2011. corporate social responsibility: from charity to sustainability. jakarta: salemba. suharto, e. 2007. pekerjaan sosial di dunia industri: memperkuat tanggung jawab sosial perusahaan, bandung: refika aditama. sulaiman, m. & zakaria, a. 2010. jejak bisnis rasul. jakarta: hikmah (mizan publika). sugiyono. 2016. metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. undang-undang nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. undang-undang nomor 19 tahun 2003 tentang bumn. undang-undang nomor 20 tahun 2008 tentang umkm. undang-undang nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal. undang-undang nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. undang-undang ri nomor 36 tahun 2008 tentang perubahan keempat atas undangundang nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan. virvilaite, r. & ugne d. 2011. “corporate social responsibility in forming corporate image”. inzinerine ekonomika-engineering economics, 22(5), 534–543. watrick, l., cochran, & l. phillip. 1985. the evolution of the corporate social performance model. the academy of management review, vol. 10, no. 4, october. 01 antariksa.pmd mega meilya alif, analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo 2727 analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo mega meilya alif universitas airlangga e-mail: megameilya@yahoo.com abstract: the purpose of this study is to analyze the theory of reasoned action and the influences of price, location and developer’s reputation toward apartment purchase intention in sidoarjo. this research uses a quantitative approach and include as clausal study. the sampling technique is non probability sampling. the criteria of the respondents are people who were born between 1980– 2000 or the age group of 20–40 years in 2020 (millennials), who is planning to buy an apartment within the one year; and has never bought an apartment in sidoarjo before. the techniques of data collection uses a survey method by five-level of likert scale. the questionnaire was distributed by electronic links using email and social media. this study uses multiple linear regression assisted with the statistical program for social science (spss) software for the data analysis. the result of the study are attitude, subjective norms, price, location, and developer’s reputation have a significance influence toward purchase intention. keywords: theory of reasoned action, price, location, developer’s reputation, purchase intention, apartment pendahuluan saat ini di sidoarjo telah bermunculan beberapa pengembang apartemen yang saling bersaing memperebutkan pasar. melihat besarnya potensi pertumbuhan properti di sidoarjo, persaingan di sektor tersebut menjadi semakin ketat. untuk bertahan di pasar yang kompetitif, para developer harus mengingat bahwa apartemen merupakan high-involvement product dan memerlukan pengambilan keputusan yang matang. artinya, apartemen merupakan jenis barang yang tidak sering dibeli, berharga mahal, dan memiliki risiko tinggi. oleh karena itu, perusahaan harus mampu menyediakan informasi sebanyak mungkin kepada konsumen mengenai produk yang mereka tawarkan. bagi sebagian orang, membeli apartemen adalah salah satu keputusan ekonomi paling signifikan dan memerlukan pengumpulan banyak informasi mengenai fitur, kualitas, fasilitas, desain, harga, lokasi, dan lingkungan (nursal dkk., 2019:697). pada tahun 2019 umumnya harga minimal perumahan di sidoarjo ditawarkan dengan harga di atas 500 juta rupiah dengan lokasi di wilayah perkotaan, sedangkan apartemen ditawarkan dengan harga antara 300–900 juta rupiah (jawapos, 2019). adanya pengembangan pembangunan apartemen secara tidak langsung meningkatkan harga saham bagi perusahaan property (karya et al., 2018). saat ini terdapat tiga pengembang apartemen yang bersaing di sidoarjo yaitu apartemen tamansari prospero, suncity residence apartemen, dan shafira city apartemen. lokasi ketiganya berada di pusat kota dengan kemudahan akses jalan utama, transportasi, dan berbagai fasilitas umum lainnya. penghuni apartemen juga dimanjakan dengan kepraktisan melalui banyaknya fasilitas apartemen seperti kolam renang, business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 28 pusat kebugaran, café, restaurant, dan pusat perbelanjaan yang dapat menunjang gaya hidup mereka. keberhasilan pemasaran apartemen tergantung pada analisis yang benar atas perilaku pembelian konsumen. untuk mengetahui tentang kebutuhan konsumen, maka pemasar harus memahami faktor atau variabel apa yang secara signifikan memengaruhi niat pembelian apartemen. penting bagi para pemasar untuk menganalisis niat pembelian konsumen sebagai upaya untuk memengaruhi, memastikan kepuasan, dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan. niat pembelian atau purchase intention adalah kecenderungan dan hasrat yang secara kuat mendorong individu untuk membeli suatu produk. menurut wu dan teng (2011:7585) niat pembelian dapat dipahami sebagai suatu perencanaan untuk membeli produk atau layanan tertentu di masa depan. niat pembelian pada konsumen, menurut theory of reasoned action (tra) milik fishbein dan ajzen (1980), dapat diprediksi oleh dua variabel yaitu sikap (attitude) dan norma subjektif (subjective norms). attitude didefinisikan sebagai cara individu merespons dan/atau kecenderungan individu terhadap suatu objek. selain itu, attitude juga terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intention (yusliza & ramayah, 2011:491). hasil penelitian al-nahdi (2014:39) menunjukkan bahwa sikap memiliki pengaruh positif terhadap niat pembelian konsumen pada apartemen di saudi arabia. sedangkan subjective norms merupakan hasil dari bagaimana seseorang merasakan tekanan yang diberikan oleh orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (ajzen dan fishbein, 1980). bisa jadi tekanan tersebut berasal dari kelompok referensi, keluarga, rekan kerja, teman dekat, atau bahkan influencer. terdapat temuan penelitian yang meyatakan bahwa pasangan dan anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat pembelian sebuah hunian. anak-anak memiliki peran yang paling berpengaruh dalam memprediksi niat pembelian hunian diikuti oleh pasangan, orang tua, dan terakhir teman (sangkakoon, dkk., 2014:6). berdasarkan penjabaran tersebut, penulis melihat pentingnya attitude dan subjective norms untuk digunakan sebagai prediktor niat beli apartemen di sidoarjo. selain itu, mengingat sidoarjo adalah daerah penyangga kota surabaya, faktor lainnya seperti harga (price), lokasi (location), dan reputasi developer (developer’s reputation) juga dapat menjadi sesuatu yang dipertimbangkan konsumen dan memengaruhi niat beli mereka. temuan penelitian milik nasar dan manoj (2014:8) bahwa price, location dan developer’s reputation ada di peringkat lima besar dari sepuluh faktor paling signifikan yang menentukan keputusan pembelian apartemen. ajzen (1991) dalam chia, dkk. (2016:97) mengungkapkan bahwa niat pembelian dan keputusan pembelian berada pada dua tahap yang berbeda dalam teori perilaku konsumen, namun ada hubungan yang signifikan antara kedua tahap ini, terutama dalam kaitannya dengan pembelian hunian. bagi milenial yang berada di usia awal bekerja, tingginya harga rumah tapak tidak menutup kemungkinan jika sebagian dari mereka lebih memilih apartemen sebagai hunian tempat tinggal. selain dapat memenuhi gaya hidup praktis mereka, harga yang ditawarkan juga lebih terjangkau apabila dibandingkan dengan rumah tapak. hal tersebut menggambarkan bahwa harga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi niat pembelian konsumen. oleh karena tingkat harga merupakan pertimbangan utama bagi konsumen selama proses pembelian apartemega meilya alif, analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo 29 ngenai banyaknya masalah seperti penipuan atau proyek pembangunan apartemen yang macet. oleh karena itu, berangkat dari theory of reasoned action serta melihat latar belakang pada penelitian ini, penulis bermaksud untuk menganalisis lebih jauh mengenai pengaruh attitude, subjective norms, price, location, dan developer’s reputation terhadap purchase intention apartemen di sidoarjo. dengan demikian, nantinya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi para pengembang properti di sidoarjo dalam membuat perencanaan pemasaran apartemen dengan memahami niat pembelian konsumen. kerangka konseptual men (nasar & manoj, 2014:9). studi serupa oleh razak, dkk. (2013) mengonfirmasi bahwa pertimbangan finansial khususnya harga rumah memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap niat pembelian. selain harga, lokasi apartemen juga menjadi faktor yang memengaruhi niat beli konsumen. lokasi berkaitan erat dengan jarak dari berbagai tempat yang menarik seperti dekat dengan pusat bisnis, sekolah, tempat bekerja dan pusat perbelanjaan (chia, dkk., 2016:97). studi sebelumnya menemukan bahwa lokasi dianggap sebagai pertimbangan penting bagi pembeli rumah (razak, dkk., 2013). sebagian konsumen memiliki preferensi masing-masing dalam menentukan lokasi hunian/apartemen yang diinginkan. wang dan li (2004) dalam al-nahdi (2014:35) menjelaskan bahwa di cina, sebagian konsumen menghindari lokasi apartemen yang dekat dengan beberapa fasilitas umum yang ramai namun lebih memilih untuk lebih dekat dengan sekolah atau taman. sementara itu, beberapa penelitian lainnya menyatakan bahwa memilih hunian di saudi arabia juga dapat dipengaruhi oleh lokasinya yang dekat dengan sekolah dan keluarga (opoku & abdulmuhmin, 2010:223). reputasi developer juga merupakan faktor yang dapat memengaruhi niat beli konsumen. semakin tinggi reputasi yang dimiliki oleh suatu developer maka kecenderungan niat beli konsumen juga akan tinggi. namun, karena adanya kekhawatiran sebagian konsumen akan proyek apartemen yang gagal dan tidak diselesaikan tepat waktu yang sebagian besar disebabkan oleh pengembang, peran reputasi developer menjadi semakin penting dalam pemilihan apartemen. nursal, dkk. (2019:700) menyatakan bahwa repuatsi developer menjadi perhatian banyak konsumen sebab pengembang apartemen yang jelas menurunkan kekhawatiran konsumen meapartment purchase intention attitude terhadap apartemen di sidoarjo subjective norms price location developer's reputation h1 h2 h3 h4 h5 metode penelitian pendekatan yang digunakan pada penelitian ini merupakan pendekatan kuantitatif. penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian studi klausal atau sebab akibat. berdasarkan sumbernya, penelitian ini menggunakan data primer. populasi penelitian ini adalah masyarakat atau orang-orang yang berencana untuk membeli properti. sampel penelitian ini adalah orang-orang yang termasuk dalam kelompok milenial (generasi-y) yang lahir antara tahun 1980–2000 atau business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 30 kelompok umur 20–40 tahun pada tahun 2020; berencana untuk membeli apartemen dalam kurun waktu satu tahun ke depan; dan belum pernah membeli apartemen di wilayah sidoarjo. teknik pengumpulan data melalui survei dengan kuesioner yang menggunakan skala likert lima tingkat. kuesioner tersebut disebarkan melalui tautan elektronik dengan menggunakan email dan media sosial. teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda yang dibantu dengan software statistic program for social science (spss). hasil penelitian kuesioner penelitian disebarkan kepada masyarakat dengan golongan umur 21–40 tahun, yang berencana untuk membeli apartemen dalam kurun waktu satu tahun ke depan, dan belum pernah membeli apartemen di sidoarjo sebelumnya. dari 347 data responden yang terkumpul, sebanyak 244 yang memenuhi kriteria penelitian. responden kelompok usia antara 21–25 tahun adalah sebanyak 27 orang dengan persentase sebesar 11,1%. jumlah responden dengan kelompok usia antara 26–30 tahun adalah sebanyak 182 orang dengan persentase sebesar 74,6%. jumlah responden dengan kelompok usia antara 31–35 tahun adalah sebanyak 29 orang dengan persentase sebesar 11,9%. jumlah responden dengan kelompok usia antara 35–40 tahun adalah sebanyak enam orang dengan persentase sebesar 2,5%. jumlah responden dengan status lajang/ belum menikah adalah sebanyak 115 orang dengan persentase sebesar 47,1%. selanjutnya, responden dengan status menikah adalah sebanyak 129 orang dengan persentase sebesar 52,9%. jumlah responden yang berdomisili di kota surabaya adalah sebanyak 91 orang dengan persentase sebesar 37,3%. selanjutnya, responden yang berdomisili di kabupaten sidoarjo adalah sebanyak 76 orang dengan persentase sebesar 31,1%. terakhir, responden dengan domisili lainnya (selain surabaya dan sidoarjo) adalah sebanyak 77 orang dengan persentase sebesar 31,6%. jumlah responden dengan pendidikan terakhir tingkat slta adalah sebanyak 21 orang dengan persentase sebesar 8,6%. responden dengan pendidikan terakhir tingkat diploma (d3) adalah sebanyak 23 orang dengan persentase sebesar 9,4%. sementara responden dengan pendidikan terakhir tingkat sarjana (d4/s1) adalah sebanyak 172 orang dengan persentase sebesar 70,5%. responden dengan pendidikan terakhir tingkat master (s2) adalah sebanyak 27 orang dengan persentase sebesar 11,1%. terakhir, responden dengan pendidikan terakhir tingkat doktor (s3) adalah sebanyak satu orang dengan persentase sebesar 0,4%. jumlah responden yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga adalah sebanyak 11 orang dengan persentase sebesar 4,5%. jumlah responden yang berprofesi sebagai wirausaha adalah sebanyak 46 orang dengan persentase sebesar 18,9%. jumlah responden yang bekerja sebagai karyawan swasta/bumn adalah sebanyak 153 orang dengan persentase sebesar 62,7%. responden yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (pns) adalah sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 3,3%. berbeda tipis dengan pns, responden yang bekerja sebagai professional adalah sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 3,7%. terakhir, responden dengan kategori pekerjaan lainnya adalah sebanyak 17 orang dengan persentase sebesar 7%. jumlah responden dengan penghasilan <5 juta rupiah adalah sebanyak 65 orang dengan persentase sebesar 26,6%. jumlah responden mega meilya alif, analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo 31 dengan penghasilan rp 5.000.001–10.000.000 sebanyak 116 orang dengan persentase sebesar 47,5%. selanjutnya, jumlah responden dengan penghasilan rp 10.000.001–15.000.000 sebanyak 34 orang dengan persentase sebesar 13,9%. jumlah responden dengan penghasilan rp 15.000.001–20.000.000 sebanyak 20 orang dengan persentase sebesar 8,2%. terakhir, jumlah responden dengan penghasilan >20 juta rupiah adalah sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 3,7%. pengujian hipotesis menggunakan regresi linier berganda bertujuan untuk membuktikan hipotesis pada penelitian ini yaitu attitude, subjective norms, price, location, dan developer’s reputation secara bersama-sama memiliki pengaruh secara signifikan terhadap purchase intention konsumen pada apartemen di sidoarjo. adapun hasil uji regresi linier berganda yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut. 1. nilai unstandar koefisien atau koefisien konstanta 0,225 menunjukkan bahwa apabila nilai dari x1, x2, x3, x4, dan x5 sama dengan 0, maka tingkat atau besarnya variabel dependen y akan sebesar 0,225. 2. nilai adjusted r square yang diperoleh adalah sebesar 0,526 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bersifat pengaruh antara variabel independen (attitude, subjective norms, price, location, and developer’s reputation) terhadap variabel dependen (purchase intention) yakni sebesar 52,6%. sedangkan sisanya sebesar 47,4% dijelaskan oleh faktorfaktor lain yang tidak masuk dalam model regresi penelitian ini. 3. melihat nilai correlation partial pada tabel 1 dapat disimpulkan bahwa urutan variabel independen yang memiliki pengaruh paling besar terhadap variabel dependen (purchase intention) adalah attitude (0,279), subjective norms (0,191), location (0,169), developer’s reputation (0,134), dan price (0,132). 4. variabel attitude menunjukkan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti nilainya lebih kecil 9duldeho 6lj� 1lodl�w 8qvwdqgduw� .rhilvlhq &ruuhodwlrq� 3duwldo 0rgho� 6xppdu\ .hwhudqjdq &rqvwdqw ����� $gmxvwhg�5�6txduh ����� +���$wwlwxgh��;���ĺ�3xufkdvh� ,qwhqwlrq��<� ����� ����� ����� ����� 6ljqlilndq +���6xemhfwlyh�1rupv��;���ĺ� 3xufkdvh�,qwhqwlrq��<� ����� ����� ����� ����� 6ljqlilndq +���3ulfh��;���ĺ�3xufkdvh� ,qwhqwlrq��<� ����� ����� ����� ����� 6ljqlilndq +���/rfdwlrq��;���ĺ�3xufkdvh� ,qwhqwlrq��<� ����� ����� ����� ����� 6ljqlilndq +���'hyhorshu v�5hsxwdwlrq� �;���ĺ�3xufkdvh�,qwhqwlrq��<� ����� ����� ����� ����� 6ljqlilndq sumber: lampiran 5 tabel 1 hasil regresi linier berganda business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 32 daripada 0,05. nilai t positif sebesar 4,478 menunjukkan bahwa variabel attitude memiliki hubungan yang searah dengan variabel purchase intention. harga koefisien b1 = 0,328 mengartikan bahwa apabila nilai variabel attitude (x1) mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel independen lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel purchase intention (y) akan meningkat sebesar 0,328. berdasarkan hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap konsumen terhadap apartemen di sidoarjo memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat beli mereka. pengaruh tersebut memiliki arah yang positif, artinya apabila semakin baik sikap konsumen terhadap apartemen di sidoarjo, maka semakin tinggi pula niat beli pada konsumen. berdasarkan analisis tersebut maka hipotesis penelitian satu (h1) diterima. 5. variabel subjective norms menunjukkan tingkat signifikansi 0,003 yang berarti nilainya lebih kecil daripada 0,05. nilai t positif sebesar 3,005 menunjukkan bahwa variabel subjective norms memiliki hubungan yang searah dengan variabel purchase intention. harga koefisien b2 = 0,160, berarti bahwa apabila nilai variabel subjective norms (x2) mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel independen lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel purchase intention (y) akan meningkat sebesar 0,160. berdasarkan hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa norma subjektif memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat beli pada konsumen. pengaruh tersebut memiliki arah yang positif, artinya apabila norma subjektif konsumen semakin tinggi maka akan semakin tinggi juga niat beli yang dimiliki oleh konsumen. berdasarkan analisis tersebut maka hipotesis penelitian dua (h2) diterima. 6. variabel price menunjukkan tingkat signifikansi 0,041 yang berarti nilainya lebih kecil daripada 0,05. nilai t positif sebesar 2,056 menunjukkan bahwa variabel price memiliki hubungan yang searah dengan variabel purchase intention. harga koefisien b3 = 0,126, berarti bahwa apabila nilai variabel price (x3) mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel independen lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel purchase intention (y) akan meningkat sebesar 0,126. berdasarkan hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa harga apartemen di sidoarjo memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat beli konsumen. pengaruh tersebut memiliki arah yang positif, artinya apabila semakin baik harga apartemen di sidoarjo maka akan semakin tinggi juga niat beli pada konsumen. berdasarkan analisis tersebut maka hipotesis penelitian tiga (h3) diterima. 7. variabel location menunjukkan tingkat signifikansi 0,009 yang berarti nilainya lebih kecil daripada 0,05. nilai t positif sebesar 2,640 menunjukkan bahwa variabel location memiliki hubungan yang searah dengan variabel purchase intention. harga koefisien b4 = 0,178, berarti bahwa apabila nilai variabel location (x4) mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel independen lainnya bersifat tetap maka tingkat variabel purchase intention (y) akan meningkat sebesar 0,178. berdasarkan hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa lokasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat beli konsumen pada apartemen di sidoarjo. pengaruh tersebut memiliki arah yang positif, artinya apabila semakin baik lokasi yang dimiliki oleh apartemen di sidoarjo maka semakin tinggi pula niat beli pada konsumen. berdasarkan analisis tersebut maka hipotesis penelitian empat (h4) diterima. mega meilya alif, analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo 33 8. variabel developer’s reputation menunjukkan tingkat signifikansi 0,038 yang berarti nilainya lebih kecil daripada 0,05. nilai t positif sebesar 2,091 menunjukkan bahwa variabel developer’s reputation memiliki hubungan yang searah dengan variabel purchase intention. harga koefisien b5 = 0,133, berarti bahwa apabila nilai variabel developer’s reputation (x5) mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel independen lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel purchase intention (y) akan meningkat sebesar 0,133. berdasarkan hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa reputasi yang dimiliki oleh developer memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat beli konsumen apartemen di sidoarjo. pengaruh tersebut memiliki arah yang positif, artinya apabila semakin baik reputasi yang dimiliki oleh suatu developer maka akan semakin tinggi juga niat beli pada konsumen. berdasarkan analisis tersebut maka hipotesis penelitian lima (h5) diterima. diskusi attitude terhadap apartemen di sidoarjo dan purchase intention berdasarkan hasil pengolahan data dan uji hipotesis yang telah dilakukan sebelumnya, diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara attitude terhadap apartemen di sidoarjo dan purchase intention. ketika konsumen memiliki keyakinan yang kuat bahwa membeli apartemen di sidoarjo adalah sebuah keputusan yang menguntungkan maka akan semakin meningkatkan niat beli konsumen. hal ini digambarkan oleh indicator at-4 dengan pernyataan “saya merasa membeli apartemen di sidoarjo adalah keputusan yang menguntungkan” memiliki nilai tertinggi. attitude atau sikap didefinisikan sebagai kecenderungan psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi entitas tertentu dengan beberapa tingkat suka atau tidak suka (ajzen & fishbein, 1980). attitude adalah kesukaan atau ketidaksukaan seseorang terhadap suatu behavior (al-nahdi, dkk., 2014:39). attitude juga didefinisikan sebagai cara individu merespons dan cenderung terhadap suatu objek (yusliza dan ramayah, 2011:491). studi sebelumnya oleh kim dan han (2010:1000) menemukan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan stabil antara attitude dan purchase intention. subjective norms dan purchase intention berdasarkan hasil pengolahan data dan uji hipotesis yang telah dilakukan sebelumnya, diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara subjective norms dan purchase intention. temuan dalam penelitian ini dapat menggambarkan bahwa konsumen berminat membeli apartemen di sidoarjo karena melihat banyaknya online review yang positif mengenai apartemen di sidoarjo. artinya, ketika konsumen menemukan banyak ulasan positif di internet yang membahas tentang apartemen di sidoarjo maka akan semakin meningkatkan niat beli mereka. hal ini dapat digambarkan oleh indikator sn-4 dengan pernyataan “saya berminat membeli apartemen di sidoarjo karena melihat banyak online review yang positif ” memiliki nilai tertinggi. temuan tersebut sangat sesuai dengan karakteristik responden yang mayoritas berusia antara 26–30 yang cukup familiar dengan teknologi dan internet dalam kehidupan sehariharinya. subjective norms merupakan hasil dari bagaimana seseorang merasakan tekanan yang diberikan oleh orang lain untuk melakukan atau business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 34 tidak melakukan suatu perilaku (ajzen, 1991). kokliè & vida (2009) dalam al-nahdi (2014:33) menyebutkan bahwa faktor eksternal konsumen, seperti kelompok referensi atau keluarga dapat memengaruhi proses pembelian rumah. susilawati dkk., (2001:5) menemukan dalam penelitiannya bahwa sebesar 45% pengambilan keputusan untuk membeli hunian dipengaruhi oleh kolega, teman, dan istri. adapun faktor sosial dan budaya juga memainkan peran penting dalam menunjukkan preferensi perumahan yang ditentukan oleh agama, kekerabatan, dan hubungan sosial (jabareen, 2005:143). hal tersebut mencerminkan bahwa faktor sosial memainkan peranan penting dalam memengaruhi niat pembelian. price dan purchase intention berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh signifikan antara price terhadap purchase intention. tingkat harga merupakan pertimbangan utama bagi konsumen selama proses pembelian. harga apartemen yang sesuai dengan kemampuan finansial konsumen akan semakin meningkatkan niat beli mereka. hal tersebut dapat dicerminkan oleh indikator p-1 di mana mayoritas responden setuju bahwa mereka berminat untuk membeli apartemen di sidoarjo dengan harga yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka. temuan tersebut dapat dikaitkan dengan karakteristik mayoritas responden yang berpenghasilan antara 5–10 juta rupiah dan berprofesi sebagai karyawan swasta/bumn. hal ini membuat konsumen menjadi lebih pemilih dalam memilih apartemen dengan budget yang sesuai dengan kemampuan mereka. dengan kemudahan akses internet atau komunikasi dari mulut ke mulut, konsumen dapat membandingkan harga di antara produk yang sama sebelum membuat keputusan pembelian (tsou, dkk., 2015:4). sejalan dengan hal tersebut, penelitian milik nasar dan manoj (2014:8) mencatat bahwa harga apartemen adalah menduduki peringkat tertinggi sebagai faktor yang paling signifikan memengaruhi purchase decision konsumen. location dan purchase intention berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh signifikan antara location terhadap purchase intention. lokasi apartemen adalah salah satu faktor yang memengaruhi niat beli individu untuk membeli apartemen. hal tersebut dicerminkan oleh indikator l-3 dan l-4 bahwa ketika apartemen di sidoarjo memiliki lokasi yang dekat dengan pusat entertainment seperti pusat perbelanjaan, bisokop, restaurant/café, serta dekat dengan pelayanan umum seperti rumah sakit dan kantor pemerintahan maka akan semakin meningkatkan niat beli konsumen. apartemen yang berlokasi dekat dengan pusat entertainment atau pusat pelayanan umum dapat memberikan kepraktisan kepada para penghuninya. kepraktisan gaya hidup sangat sesuai dengan karakteristik mayoritas penduduk indonesia yang didominasi oleh milenial, di mana mereka lebih memprioritaskan rumah layak huni dan berkualitas berupa apartemen atau hunian di pusat kota yang terintegrasi dengan simpul transportasi umum dan memiliki kemudahan dalam akses internet (jannah, 2019). hal tersebut sangat sesuai dengan karakteristik responden yang mayoritas adalah penduduk yang berdomisili di perkotaan (surabaya) dengan usia antara 26–30 tahun. mega meilya alif, analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo 35 developer’s reputation dan purchase intention developer’s reputation memiliki pengaruh yang signifikan terhadap purchase intention. hal ini mengindikasikan bahwa reputasi developer menurut konsumen menjadi pengaruh terhadap keputusan pembelian mereka. ketika reputasi developer berkompeten dalam pembangunan apartemen, maka akan semakin meningkatkan konsumen untuk membeli apartemen di sidoarjo. hal tersebut dicerminkan pada indikator dr-3 dengan pernyataan “saya berminat membeli apartemen di sidoarjo yang dibangun oleh developer berkompetensi di bidang pembangunan apartemen”, memiliki nilai tertinggi. hal tersebut saling berkaitan sebab reputasi yang kuat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk dan layanan yang ditawarkan sehingga berpengaruh pada niat pembelian konsumen. menurut penelitian yang dilakukan oleh nassar dan manoj (2014:8) reputasi yang dimiliki oleh developer menjadi faktor pendorong seseorang melakukan pembelian apartemen. karena reputasi memiliki kaitan erat dengan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan pengembang. semakin bagus reputasi yang dimiliki oleh developer maka semakin tinggi pengaruhnya terhadap purchase intention. umumnya, konsumen lebih peduli tentang reputasi karena citra dan reputasi suatu merek dapat membantu mereka menyimpulkan kualitas produk (tsou, dkk., 2015:14). kesimpulan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, penulis memperoleh kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian “analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer’s reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo”, yaitu sebagai berikut: attitude terhadap apartemen di sidoarjo memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. attitude konsumen terhadap apartemen di sidoarjo memiliki pengaruh yang paling besar di antara faktor lainnya dalam memengaruhi purchase intention. subjective norms memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. price memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. location memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. developer’s reputation memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. sebagai suatu penelitian maka kesimpulan yang ditarik tentu mempunyai suatu implikasi. dalam studi ini terdapat dua implikasi yang dapat dirasakan oleh pihak akademisi dan perusahaan. penjelasan mengenai kedua implikasi tersebut akan dijabarkan sebagai berikut. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa theory of reasoned action relevan digunakan dalam memprediksi niat beli konsumen terhadap apartemen di sidoarjo. selain itu, studi ini juga mengimplikasikan bahwa harga apartemen, lokasi apartemen serta reputasi pengembang juga dapat memberikan pengaruh yang signifikan dan positif pada niat beli konsumen. sikap terhadap apartemen di sidoarjo yang dimiliki oleh konsumen mempunyai pengaruh paling besar terhadap niat beli mereka. kemudian disusul dengan norma subjektif, lokasi apartemen, reputasi developer, dan yang terakhir adalah harga apartemen sehingga hasil penelitian ini dapat dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang belum pernah diteliti pada studi sebelumnya. temuan dalam studi ini menggambarkan bahwa attitude terhadap apartemen di sidoarjo memiliki pengaruh yang paling besar di antara business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 36 faktor lainnya dalam memengaruhi purchase intention konsumen. strategi yang dapat diterapkan oleh para developer apartemen di sidoarjo adalah menekankan kepada konsumen bahwa membeli apartemen di sidoarjo merupakan ide yang bagus dan sebuah keputusan menguntungkan. melalui kegiatan personal selling hal tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan sales person yang professional dan terlatih untuk menyediakan informasi sebanyak mungkin, termasuk mengedukasi para pembeli potensial dengan menjelaskan proyeksi kenaikan harga apartemen di masa depan. selain itu, mengingat sebagian responden dalam penelitian ini adalah golongan milenial, perusahaan dapat memanfaatkan influencer dalam menggiring dan membentuk opini publik. penelitian ini juga menggambarkan bahwa konsumen berminat membeli apartemen di sidoarjo ketika melihat banyaknya online review yang positif mengenai apartemen di sidoarjo. artinya, ketika konsumen menemukan banyak ulasan positif di internet yang membahas tentang apartemen di sidoarjo maka akan semakin meningkatkan niat beli mereka. oleh karena itu, peran influencer dalam hal ini dapat digunakan untuk meningkatkan niat beli konsumen pada apartemen di sidoaro. daftar rujukan al-nahdi, t.s. 2014. factors influencing the intention to purchase real estate in saudi arabia: role of location. journal of applied science and agriculture, vol. 9(18), 32–42. chia, j., harun, a., kassim, awm., martin, d., & kepal, n. 2016. understanding factors that influence house purchase intention among consumer in kota kinabalu: an application of buyer behavior model theory. journal of technology management and business, vol. 3(2), 94110. ginanjar, d. 2019. sidoarjo makin memikat jadi tempat tinggal, rumah murah susah dicari. jawa pos. diakses melalui website https://www.jawapos.com/surabaya/19/08/ 2019/sidoarjo-makin-memikat-jadi-tempattinggal-rumah-murah-susah-dicari/ pada minggu, 01 september 2019. jabareen, y. 2005. culture and housing preferences in a developing city. journal of environment and behavior, vol. 37(1): 134–146. jannah, s.m. 2019. 81 juta generasi milenial tak punya rumah, pupr rancang kpr khusus. tirto.id. diakses melalui website https:/ /tirto.id/81-juta-generasi-milenial-tak-punya-rumah-pupr-rancang-kpr-khusus-ecfe pada kamis, 01 september 2019. kamal, m. & pramanik, s.a.k. 2015. customers’ intention towards purchasing apartment in dhaka city, bangladesh: offering an alternative buying intention model. european journal of business and management, vol. 7(35), 45–58. karya, d.f., katias, p., & herlambang, t. 2018. stock price estimation using ensemble kalman filter square root method. journal of physics: conference series, 1008 (1), 012017. kaynak, e., & stevenson. 1982. comparative study of home buying behaviour of atlantic canadians. management research news, vol. 5(1), 3–11. kim, y. & han, h. (2010). intention to pay conventional-hotel prices at a green hotel: a modification of the theory of mega meilya alif, analisis theory of reasoned action serta pengaruh price, location, dan developer's reputation terhadap purchase intention pada apartemen di sidoarjo 37 planned behavior. journal of sustainable tourism, vol. 18(8), 997–1014. mollah, m.m.h., haque, i., & pasha, s.h.a. (2009). factors influencing apartment buying decision: an analysis of company and customer perspective. southeast university journal of business studies, vol. 5(2), 109–121. nasar, k.k., & manoj, p.k. 2014. factors influencing the purchase of apartments: some empirical evidence. clear international journal of research in management, science and technology, vol. 4(8), 1–11. nursal, a.t., omar, m.f., nawi, m.n., & sapri, m.m. 2019. the importance of developer reputation criterion in house purchase decision making. international journal of supply chain management, vol. 8(1), 697–701. onggo, y., setiawan, a., arifianthie, r.v., & rizal, s. 2018. faktor yang menentukan keputusan membeli apartemen. journal of indonesian business review, vol. 1(1), 94–103. opoku, r. & abdul-muhmin, a.g. 2010. housing preferences and attribute importance among low-income consumers in saudi arabia. habitat international, vol. 34, 219–227. razak, i., ibrahim, r., hoo, j., osman, i., & alias, z. 2013. purchasing intention towards real estate development in setia alam, shah alam: evidence from malaysia. international journal of business, humanities and technology, vol. 3(6), 66–75. sangkakoon, p., ngarmyarn, a., & panichpathom, s. 2014. the influence of group references in home purchase intention in thailand. 21st annual european real estate society conference. eres: conference. bucharest, romania, 2014. tsou, h.t., liu, f.h., & hsu, h.y. 2015. the effects of reputation and relative low price on purchase intention: service quality as a mediated moderator. journal of chinese management review, vol. 18(3): 1–16. wu, ks., & teng, ym. 2011. applying the extended theory of planned behavior to predict the intention of visiting a green hotel. african journal of business management, vol. 5(17): 7579–7587. yusliza, my. & ramayah, t. 2011. explaining the intention to use electronic hrm among hr professionals: results from a pilot study. australian journal of basic and applied sciences, vol. 5(8): 489–497. 01 antariksa.pmd mikhael ming khosasih, l. verina halim s., pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo 3939 pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo mikhael ming khosasih, l. verina halim s. university of surabaya e-mai: s134118007@student.ubaya.ac.id, verina@staff.ubaya.ac.id abstract: this day, social media has been developing. this media was used with company to close with consumer and gain more loyalty to brand. ovo company has doing many activities in instagram but the number of active customers not as much as their competitors. go-pay has the most active customer with social media activity not as much as ovo. this study aims to discuss the effect of social media marketing activities on ovo customer loyalty from attitudinal loyalty and behavioural loyalty with mediation customer satisfaction and perceived value. this study uses structural equation model (sem) and 150 respondents processed with spss 25 and amos 25. the result confirmed that there is positive relation but not significant between ovo customer satisfaction and behavioural loyalty. keywords: social media marketing activities, perceived value, customer satisfaction, attitudinal loyalty, behavioural loyalty, e-wallet introduction internet telah berkembang di seluruh dunia. saat ini penggunaan internet di dunia telah mencapai dua miliar pengguna (belch dan belch, 2018). internet saat ini berdampak pada perkembangan media sosial untuk saling bertukar pesan (kotler et al., 2018). semakin majunya zaman internet telah membuat media sosial makin berkembang sehingga memiliki 3,2 miliar pengguna (tjepkema, 2019). media sosial tidak hanya digunakan untuk melakukan interaksi antarpengguna tetapi juga memiliki peranan penting sebagai kekuatan pemasaran (macy dan thompson, 2011). media sosial merupakan alat pemasaran yang paling ampuh saat ini (khan, 2019). saat ini media sosial banyak digunakan oleh perusahaan atau sebuah merek untuk mendekatkan di kepada konsumen (okazaki et al., 2015). penggunaan media sosial ini sangat berguna untuk menumbuhkan relasi yang bersifat jangka panjang dengan para konsumen (kotler et al., 2018). persaingan antar perusahaan saat ini menjadi sangat meningkat drastis akibat adanya media sosial (lee et al., 2018). setiap perusahaan berusaha untuk merebut hati para konsumen melalui media sosial. media sosial saat ini digunakan oleh banyak jenis perusahaan termasuk perusahaan dompet digital. saat ini pertumbuhan dompet digital sangat berkembang pesat hingga 50% pada kuartal ke-4 2017 (devata, 2017). terdapat 38 perusahaan dompet digital yang saling bersaing untuk merebut hati konsumen di indonesia (rizal, 2019). hal ini menjadi tantangan bagi perusahaan untuk mampu menarik minat konsumen kemudian menjadi konsumen yang loyal agar dapat bertahan di industri dompet digital indonesia. tantangan lainnya adalah konsumen indonesia adalah masyarakat berperilaku konsumtif tetapi memiliki penghasilan sedikit (santoso dan erdaka, 2019). oleh karena itu, banyak konsumen yang tertarik menggunakan dompet business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 40 digital karena adanya promo-promo pada perusahaan tersebut. aktivitas pemasaran melalui media sosial atau social media marketing activities dapat memengaruhi keberlanjutan konsumen untuk partisipasi dan melakukan pembelian (chen dan lin, 2019). penelitian ini mengungkapkan bahwa social media marketing activities tidak berdampak langsung terhadap customer satisfaction. padahal menurut hanaysha (2017) aktivitas pemasaran melalui media sosial dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. interaksi melalui media sosial dan kualitas pelayanan yang baik dapat meningkatkan loyalitas dari konsumen (lee et al., 2018). pada penelitian ini mengungkapkan bahwa kepuasan pelanggan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap behavioural loyalty. hal ini tidak sejalan dengan penelitian dari shahin dan rahim (2014) kepuasan pelanggan berdampak pada attitudinal loyalty dan behavioural loyalty. dompet digital banyak menggunakan strategi media sosial untuk meningkatkan konsumen. banyak masyarakat yang terpengaruh media sosial untuk menggunakan dompet digital (mastercard, 2017). ovo dan go-pay adalah salah satu contoh dompet digital yang paling atas di indonesia. saat ini ovo memiliki jumlah pengikut dan aktivitas media sosial yang lebih tinggi dari go-pay. tetapi jika dilihat dari pengguna aktifnya, ovo memiliki jumlah pengguna aktif yang lebih sedikit dibandingkan dengan go-pay. hal ini tidak sejalan dengan teori kotler yang mengungkapkan bahwa interaksi yang kuat dapat meningkatkan pemasaran jangka panjang hingga ke loyalitas konsumen. penelitian ini akan membahas apakah ada hubungan antara penggunaan media sosial ovo terhadap loyalitas dari konsumen. loyalitas ini pun juga dibagi menjadi dua yaitu attitudinal loyalty dan behavioural loyalty. penelitian ini juga menggunakan customer satisfaction dan perceived value sebagai mediasi antara social media marketing activities dengan loyalitas konsumen ovo. penelitian ini juga menambahkan hubungan antara perceived value dengan attitudinal loyalty dan behavioural loyalty sesuai dengan penelitian chua, lee, dan han (2017). conceptual framework and methodology menurut belch dan belch (2018), media sosial berguna untuk melakukan komunikasi atau interaksi antara pemasar dengan konsumen dan konsumen dengan konsumen. contoh interaksi yang dilakukan oleh pemasar adalah layanan konsumen, mencari kebutuhan konsumen, hingga saling berbagi mengenai produk antar-konsumen. menurut hanaysha (2017), aktivitas tersebut dapat meningkatkan customer satisfaction. konsumen juga akan puas ketika melakukan transaksi menggunakan aplikasi yang ada sehingga meningkatkan pengalaman yang dirasakan oleh konsumen (verhagen et al., 2011). pernyataan ini akan menjadi h1 dalam penelitian. h1 diduga ada pengaruh positif antara social media marketing activities (smmvs) terhadap customer satisfaction. media sosial memungkinkan konsumen untuk mencari informasi, hiburan, dan remunerasi (belch dan belch, 2018). saat mencari informasi, konsumen akan menangkap keunggulan dan berbagai informasi yang dimiliki oleh merek. hal tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pemasar untuk memberikan berbagai nilainilai yang dimiliki perusahaan. konsumen juga akan melakukan remunerasi yaitu nilai apa saja yang akan didapat dari penggunaan produk atau jasa tersebut. hal tersebut membuat aktivitas mikhael ming khosasih, l. verina halim s., pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo 41 kuat antara perceived value terhadap loyalitas (llach et al., 2013). jika sebuah merek mengalami penurunan pada perceived value yang mereka miliki maka konsumen akan cenderung untuk beralih menggunakan merek yang lebih unggul atau lebih baik lagi (el-adly dan eid, 2016). oleh karena itu, perceived value yang meningkat akan berdampak baik terhadap loyalitas dari konsumen. pernyataan tersebut menjadi h5 dalam penelitian. h5 diduga ada pengaruh positif antara perceived value terhadap attitudinal loyalty. penelitian dari duman dan mattila (2005) mengungkapkan bahwa adanya peningkatan nilai yang dimiliki perusahaan akan berdampak terhadap kemauan konsumen untuk melakukan pembelian atau mau menggunakan produk atau jasa tersebut. kim dan ok (2009) juga mengungkapkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara nilai yang dimiliki oleh perusahaan terhadap komitmen konsumen untuk menggunakan ulang produk atau jasa tersebut sehingga ada pengaruh positif yang cukup kuat antara perceived value terhadap behavioural loyalty. pernyataan tersebut menjadi h6 dalam penelitian. h6 diduga ada pengaruh positif antara perceived value terhadap behavioural loyalty. attitudinal loyalty merupakan loyalitas yang dirasakan oleh konsumen terikat dengan merek tertentu. ketika konsumen puas akan memiliki perasaan ikatan yang kuat terhadap merek tertentu. ikatan yang kuat tersebut akan membuat konsumen melakukan pembelian ulang terhadap suatu merek tertentu. menurut lee et al. (2018), behavioural loyalty merupakan tingkatan loyalitas yang lebih tinggi dari pada attitudinal loyalty. pernyataan tersebut menjadi h6 dalam penelitian. melalui media sosial dapat berdampak positif pada perceived value. pernyataan ini akan menjadi h2 dalam penelitian. h2 diduga ada pengaruh positif antara social media marketing activities (smmvs) terhadap perceived value. menurut chen (2019), konsumen yang puas akan memengaruhi orang tersebut untuk menjadi loyal terhadap suatu produk dan jasa. bandyopadhyay dan martell (2007) mengungkapkan bahwa loyalitas terbagi menjadi dua yaitu attitudinal dan behavioural loyalty. attitudinal loyalty merupakan loyalitas yang dirasakan oleh konsumen yang merasa terikat dengan merek tertentu. ketika konsumen puas akan memiliki perasaan ikatan yang kuat terhadap merek tertentu sehingga semakin customer satisfaction akan berdampak positif terhadap attitudinal loyalty. pernyataan tersebut menjadi h3 dalam penelitian. h3 diduga ada pengaruh positif antara customer satisfaction terhadap attitudinal loyalty. menurut chou (2015), masyarakat yang puas pada suatu pelayanan akan melakukan pembelian ulang untuk produk atau jasa yang sama di masa depan. penelitian tsai dan huang (2007) juga mengatakan bahwa pelanggan yang puas menggunakan website tertentu untuk belanja online akan melakukan pembelanjaan ulang di kemudian hari. konsumen tidak hanya akan menggunakan jasa atau membeli produk lagi tetapi akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada orang lain (sano, 2019). pernyataan tersebut menjadi h4 dalam penelitian. h4 diduga ada pengaruh positif antara customer satisfaction terhadap behavioural loyalty. penelitian sebelumnya telah mengungkapkan bahwa ada hubungan yang positif dan cukup business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 42 h7 diduga ada pengaruh positif antara attitudinal loyalty terhadap behavioural loyalty. jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah applied research karena dalam penelitian ini lebih fokus dalam membahas permasalahan yang dihadapi perusahaan ovo terkait media sosial (sekaran dan bougie, 2018). penelitian ini juga tergolong causal research yaitu penelitian yang akan membahas hubungan sebab akibat (sekaran dan bougie, 2018). hubungan antara social media marketing activities dengan loyalitas konsumen ovo dengan mediasi customer satisfaction dan perceived value. penelitian ini juga tergolong penelitian kuantitatif karena menggunakan kuesioner untuk menjawab pertanyaan yang diajukan (burns, veeck, dan bush, 2017). data yang digunakan adalah data primer yang dihasilkan dari membagi kuesioner kepada konsumen ovo. kuesioner akan berbentuk closeended dengan dua bagian yaitu bagian identitas dan pertanyaan. kuesioner akan menggunakan aras interval dengan skala likert 1 hingga 5. target populasi yang dipilih adalah semua konsumen ovo yang telah berusia minimal 17 tahun. orang tersebut juga harus aktif di media sosial dan mengikuti instagram ovo. konsumen juga harus menggunakan ovo dalam tiga bulan terakhir. kemudian populasi tersebut akan ditentukan dengan memilih sampel dengan menggunakan non-probability sampling dengan metode purposive sampling karena akan mengambil sampel sesuai dengan tujuan tertentu. setelah data dikumpulkan kemudian akan diolah menggunakan uji validitas dan reliabilitas terhadap 30 data pertama menggunakan spss 25. selanjutnya akan dihitung berdasarkan measurement model dengan uji validitas dan reliabilitas terhadap 150 data menggunakan amos 25. perhitungan yang akan dilakukan adalah nilai construct reliability (cr) yang diterima jika memiliki nilai di atas 0,6 dan average variance extracted (ave) yang akan diterima dengan nilai di atas 0,5. perhitungan selanjutnya akan menghitung goodness of fit berdasarkan nilai cmin/df, rmsea, gfi, cfi, dan tli. pada perhitungan terakhir akan melihat nilai structural model melalui perhitungan standard estimate, cri, dan alpha. result and discussion hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji validitas dan reliabilitas tahap pertama dengan 30 kuesioner dan bantuan aplikasi spss 25 didapat nilai yang valid dan reliabel sehingga dilanjutkan pada perhitungan berikutnya menggunakan measurement model. pada tahap penelitian ini sudah terkumpul sebanyak 150 data. tahap berikutnya adalah menguji kecocokan dengan menggunakan cmin/df, rmsea, gfi, cfi, dan tli. hasil pada uji kecocokan pada tabel 1 menunjukkan bahwa nilai bisa diterima dan dilanjutkan pengolahan data selanjutnya. kemudian diuji nilai standardized loading, ave, dan cr. hasil dari perhitungan dapat dilihat pada tabel 2. tabel 1 uji kecocokan measurement model tabel 1 menunjukkan nilai uji kecocokannya dapat diterima hanya bagian gfi terlihat mendapatkan peringkat marginal fit tetapi hal ini tidak menjadi masalah dan bisa dilanjutkan mikhael ming khosasih, l. verina halim s., pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo 43 untuk perhitungan berikutnya. pada tabel 2 juga ditunjukkan hasil perhitungan nilai dari standardized loading dapat diterima pada setiap indikator variabel social media marketing activities, customer satisfaction, perceived value, attitudinal loyalty, dan behavioural loyalty karena berhasil mendapatkan nilai ! 0,5. oleh karena itu, semua indikator dapat diterima, tetapi jika dilihat sekilas dari perhitungan tersebut adalah ave dari variabel perceived value nilainya mendapatkan 0,495 yang seharusnya pada ketentuan harus mendapatkan nilai ! 0,5. hal ini tidak menjadi masalah karena pada percobaan standardized loading pada setiap variabel sudah mendapatkan nilai ! 0,05sehingga variabel perceived value dan indikatornya masih dapat dikatakan valid dan reliabel. dari perhitungan goodness of fit atau uji kecocokan dapat dilihat bahwa nilai dari uji cmin/df mendapatkan nilai 1,821 sehingga bisa disebut dengan good fit karena memiliki nilai kurang dari 2. selanjutnya adalah uji rmsea mendapatkan nilai yang sesuai yaitu 0,074 sehingga disebut dengan good fit. nilai cfi dan tli juga mendapatkan keterangan good fit dengan nilai 0,919 dan 0,903. terakhir adalah gfi mendapatkan predikat marginal fit dengan nilai 0,857 tetapi masih tetap bisa diterima. hasil perhitungan dari goodness of fit dapat dilihat pada tabel 3 berikut. tabel 3 uji kecocokan structural model tabel 2 perhitungan standardized loading, ave, and cr std. loading: standardized loading; ket.: keterangan no. uji kecocokan kriteria kecocokan hasil keterangan 1 cmin/df ! 2 1,821 good fit 2 rmsea ! 0,08 0,074 good fit 3 gfi 0,90–0,99 0,857 marginal fit 4 cfi 0,90–0,99 0,919 good fit 5 tli 0,90–0,99 0,903 good fit tahap paling terakhir dalam pengolahan data adalah pengujian hipotesis. tahap ini dapat dilakukan setelah menyelesaikan perhitungan dan pengujian pada measurement model dan structural model. pengujian hipotesis dilakukan menggunakan aplikasi amos 25. pengujian ini dilakukan untuk memastikan hubungan antara variabel sesuai dengan hipotesis yang pertama diajukan pada bab 2. pada pengujian hipotesis ini akan melihat dua bagian penting. pertama adalah nilai dari standard estimate dan critical ratio atau p-value. dalam perhitungan kali ini nilai alpha yang akan digunakan adalah sebesar 0,1. nilai standard estimate akan diterima jika memiliki arah hubungan yang sesuai dengan hipotesis. hipotesis akan diterima jika memiliki nilai cri (critical ratio) lebih besar atau sama dengan 1,645. jika nilai tidak sesuai dengan kriteria di atas maka hipotesis tidak dapat diterima. kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis, semua hipotesis mulai dari h1 hingga h3 dan h5 hingga h7 diterima dalam penelitian ini. hipotesis yang tidak dapat diterima adalah h4 karena memiliki nilai yang tidak signifikan atau tidak sesuai dengan ketentuan. hubungan customer satisfaction berpengaruh positif tetapi tidak signibusiness and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 44 fikan terhadap behavioural loyalty. h4 memiliki nilai standard estimate 0,191 dan c.r. 1,513. pembahasan hubungan setiap hipotesis akan dijelaskan pada bab berikutnya untuk mengetahui hubungan yang ada berdasarkan jurnal pendukung. hasil pengujian hipotesis dari konsumen ovo dapat dilihat pada tabel 4 berikut. tabel 4 uji hipotesis hipotesis 1 atau h1 dapat diterima atau terdukung. penelitian terdahulu juga menjelaskan bahwa aktivitas pemasaran menggunakan media sosial memiliki peranan yang penting untuk membangun kepuasan dari pelanggan (clark dan melancon, 2013; sano, 2014). peningkatan aktivitas pemasaran dari ovo melalui media sosial akan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan ovo agar puas menggunakan ovo sebagai dompet digital mereka. menurut khan (2019) juga menjelaskan bahwa aktivitas melalui media sosial merupakan alat pemasaran yang ampuh dan memiliki banyak pengguna. menurut penelitian dari hanaysha (2017) juga mengungkap bahwa pengolahan media sosial yang baik untuk pemasaran dapat meningkatkan kepuasan pelanggan secara signifikan. strategi penggunaan media sosial untuk kegiatan pemasaran untuk meningkatkan perhatian dan kepuasan konsumen terhadap perusahaan dompet digital sudah digunakan (www.blog.nolimit.id diunduh pada 7 november 2020). hipotesis 2 atau h2 dapat diterima atau terdukung. hasil penelitian chen dan lin (2019) mengungkapkan semakin tinggi penggunaan media sosial sebagai alat untuk pemasaran akan meningkatkan juga perceived value dari perusahaan tersebut. semakin tinggi perusahaan ovo untuk menggunakan media sosial dari instagram untuk melakukan kegiatan pemasaran akan semakin tinggi perceived value dari perusahaan ovo. masyarakat atau pengguna ovo dapat menilai ovo memiliki nilai-nilai yang positif. nilai positif yang akan terlihat seperti estetika dari instagram ovo, kenyamanan pengguna ovo, transaksi menggunakan ovo akan menghemat waktu, dan terakhir kemampuan ovo untuk selalu memberikan pelayanan kepada pengguna. hal ini juga dapat dilihat bahwa media sosial instagram banyak dipakai oleh perc.r.=critical ratio; *** < 0,001; ** < 0,05 pada penelitian kali ini semua nilai dari standard estimate atau se dapat diterima karena memiliki arah hubungan sesuai yaitu positif. h1 mendapatkan nilai 0,705. h2 mendapatkan nilai +0,672. h3 mendapatkan nilai 0,582. h4 mendapatkan nilai 0,191. h5 mendapatkan nilai 0,309. h6 mendapatkan nilai 0,270. sedangkan h7 mendapatkan nilai +0,534. seluruh hasil standard estimate mendapat nilai yang memuaskan sesuai dengan hipotesis yang arahnya adalah positif. pada penelitian kali ini tidak dijumpai hubungan yang negatif. model dan nilai hasil dari standard estimate dapat dilihat pada gambar berikut. gambar 1 model hasil nilai standard estimate mikhael ming khosasih, l. verina halim s., pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo 45 usahaan untuk branding perusahaan dan digunakan sebagai kegiatan pemasaran untuk mendorong laju performa perusahaan. media sosial di instagram juga digunakan untuk meningkatkan nilai-nilai perusahaan (www.tirto.id diunduh pada 28 oktober 2020). hipotesis 3 atau h3 dapat diterima atau terdukung. menurut chen (2019) juga mengungkapkan bahwa konsumen yang puas terhadap suatu produk atau jasa maka bisa memengaruhi orang atau konsumen tersebut untuk menjadi pelanggan yang loyal terhadap perusahaan tersebut. pernyataan tersebut juga didukung oleh penelitian dari lee et al. (2018) bahwa semakin meningkatnya rasa kepuasan konsumen terhadap barang jasa akan meningkatkan attitudinal loyalty terhadap perusahaan tersebut. menurut penelitian dari akamavi et al. (2015), customer satisfaction atau kepuasan pelanggan memiliki pengaruh yang kuat terhadap loyalitas secara keseluruhan. penelitian akamavi et al. (2015) dan penelitian lee et al. (2018) berhubungan dengan industri pesawat terbang. ternyata hal ini juga sesuai dengan industri dompet digital bahwa ada pengaruh yang kuat antara kepuasan pelanggan dengan loyalitas. tetapi jika dilihat dari hasil kepuasan pelanggan ovo hanya berpengaruh signifikan terhadap attitudinal loyalty saja, sedangkan untuk behavioural loyalty tidak signifikan. hal ini akan dibahas pada subbab selanjutnya. konsumen dompet digital yang puas akan cenderung menjadi loyal (www.arenalte. com diunduh pada 7 november 2020). hipotesis 4 atau h4 tidak dapat diterima atau tidak dapat terdukung. penelitian dari shahin dan rahim (2014) mengungkapkan bahwa kepuasan konsumen seharusnya memiliki hubungan yang positif dan signifikan kepada attitudinal loyalty dan behavioural loyalty. penelitian dari tsai dan huang (2017) juga mengungkapkan bahwa pelanggan yang puas akan melakukan pembelian ulang terus menerus terhadap produk atau jasa. ternyata dalam penelitian kali ini tidak dapat terdukung. hasil penelitian ini ternyata sesuai dengan penelitian dari lee et al. (2018) yang mengungkapkan bahwa kepuasan dari pelanggan berpengaruh positif terhadap loyalitas keseluruhan seperti attitudinal loyalty dan behavioural loyalty, tetapi pengaruh kepuasan pelanggan lebih signifikan terhadap attitudinal loyalty. pada bagian behavioural loyalty tidak terlalu signifikan. hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian konsumen ovo hubungan customer satisfaction dan behavioural loyalty memiliki nilai c.r. dan p-value yang tidak dapat diterima atau tidak terdukung. penelitian terdahulu dari taylor dan baker (1994) mengungkapkan bahwa konsumen yang puas ketika ingin membeli ulang barang tersebut akan lebih signifikan melalui efek attitudinal loyalty. fenomena ini terjadi pada konsumen ovo. jika konsumen ovo yang relatif anak muda ketika merasa puas terhadap performa ovo mereka cenderung untuk menjadi konsumen yang loyal baru mereka akan melakukan transaksi ulang dan menggunakan ovo sebagai dompet digital utamanya. hal ini terjadi karena ovo membuat akomodasi loyalitas dari pengguna (www.dailysocial.id diunduh 28 oktober 2020). ada program khusus loyalitas dari ovo yaitu ovo poin yang bisa dikumpulkan untuk berbelanja kembali sehingga konsumen yang puas akan menjadi loyal dengan menggunakan program loyalitas dan menggunakan ovo lagi untuk melakukan transaksi ulang. hipotesis 5 atau h5 dapat diterima atau terdukung. menurut llach et al. (2013) mengungkapkan bahwa perceived value memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap loyalitas dari konsumen. hal ini juga diperkuat dengan business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 46 penelitian dari el-adly dan eid (2016) yang mengungkapkan bahwa perceived value yang menurun dapat menyebabkan penurunan terhadap loyalitas konsumen. fenomena ini juga terjadi pada penelitian kali ini. konsumen ovo menilai bahwa nilai-nilai yang dimiliki perusahaan ovo sangat baik. nilai tersebut adalah tampilan dan konten instagram ovo yang menarik secara estetika. konsumen ovo juga sangat nyaman mencari informasi di instagram ovo dan menggunakan dompet digital ovo. konsumen juga sangat setuju bahwa instagram ovo dan transaksi menggunakan ovo dapat menghemat waktu. terakhir para konsumen ovo sangat puas dengan pelayanan yang diberikan ovo. nilai-nilai baik yang dimiliki oleh ovo ini berpengaruh besar terhadap attitudinal loyalty yang dimiliki oleh ovo. hipotesis 6 atau h6 dapat diterima atau terdukung. penelitian terdahulu dari duman dan mattila (2005) juga mengungkapkan bahwa peningkatan nilai perusahaan atau perceived value dari perusahaan semakin meningkat dapat memengaruhi keputusan orang untuk menggunakan produk atau jasa tersebut. hal ini juga didukung oleh penelitian kim dan ok (2009) yang mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara nilai yang dimiliki perusahaan untuk menggunakan ulang produk tersebut. kemudian penelitian dari chua, lee, dan han (2017) lebih mempertegas lagi bahwa perceived value atau nilai dari perusahaan tersebut memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap behavioural loyalty dari konsumen ovo. jika dilihat dari hasil penelitian ini sangat berbanding terbalik dengan customer satisfaction. pembahasan sebelumnya telah menyatakan bahwa customer satisfaction memiliki hubungan positif terhadap behavioural loyalty tetapi tidak signifikan. namun demikian, pada variabel perceived value dapat dilihat memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap behavioural loyalty. hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial sebagai alat pemasaran kemudian menumbuhkan kepuasan pelanggan tidak akan signifikan meningkatkan transaksi ulang dari ovo. peningkatan nilai atau perceived value yang dimiliki oleh perusahaan dapat memberikan dampak positif dan peningkatan yang signifikan terhadap behavioural loyalty. hal ini sesuai dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat, saat ini dompet digital ovo dapat bertumbuh pesat karena konsumen dari ovo sudah paham dengan manfaat dan nilai-nilai baik yang dimiliki oleh perusahaan ovo bukan karena promopromo lagi (www.inet.detik.com diunduh 28 oktober 2020). konsumen saat ini lebih memedulikan dalam sektor kenyamanan dan keamanan yang dimiliki oleh perusahaan dompet digital. sehingga mereka lebih mudah untuk melakukan transaksi ulang. hipotesis 7 atau h7 dapat diterima atau terdukung. penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa konsumen akan melakukan transaksi ulang barang dan jasa dipengaruhi oleh efek attitudinal loyalty (taylor dan baker, 1994). penelitian ini juga diperkuat dengan hasil penelitian lee et al. (2018) bahwa attitudinal loyalty memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap behavioural loyalty. penelitian dari aziz (2018) juga mengungkapkan bahwa emosi positif dari seseorang terkait loyalitas dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk memiliki hubungan loyal dan menggunakan produk atau jasa tersebut. penelitian terbaru dari saini dan singh (2020) juga mengungkapkan bahwa attitudinal loyalty memiliki hubungan yang kuat dan positif terhadap behavioural loyalty. hal ini sesuai dengan penelitian pada konsumen ovo. perasaan loyalitas dan mau merekomendasikan mikhael ming khosasih, l. verina halim s., pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo 47 ovo pada keluarga, teman maupun orang terdekat dapat meningkatkan keinginan menggunakan ovo lagi dan menjadikan ovo sebagai dompet digital utama. konklusi hasil dari penelitian menunjukkan ada pengaruh yang positif dan signifikan antara social media marketing activities dari instagram ovo dengan customer satisfaction dari pelanggan ovo. adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara social media marketing activities dari instagram ovo dengan perceived value dari pelanggan ovo. adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara customer satisfaction dengan attitudinal loyalty dari pelanggan ovo. adanya pengaruh yang positif dan tidak signifikan antara customer satisfaction dengan behavioural loyalty dari pelanggan ovo. sehingga h4 tidak terdukung. adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara perceived value dengan attitudinal loyalty dari pelanggan ovo. adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara perceived value dengan behavioural loyalty dari pelanggan ovo. adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara attitudinal loyalty dengan behavioural loyalty dari pelanggan ovo sehingga h7 terdukung. penggunaan media sosial dalam kegiatan pemasaran sangat berpengaruh cukup besar pada kepuasan pelanggan, hanya berbeda tipis dengan perceived value. akan tetapi, jika dilihat hubungan berikutnya, nilai perceived value sangat kuat terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty. dengan demikian, peneliti merekomendasikan ke ovo untuk menggunakan media sosial instagram ovo untuk mempertahankan estetika dari tampilan instagram ovo kemudian mengikuti zaman agar sesuai dengan tren tampilan instagram yang sesuai. selain itu, ovo juga bisa menggunakan media sosial instagram ovo untuk menampilkan perceived value atau nilainilai baik yang dimiliki ovo sehingga dapat meningkatkan tidak hanya attitudinal loyalty tetapi berdampak langsung terhadap behavioural loyalty yaitu konsumen ovo akan menggunakan ulang dan menjadi ovo sebagai dompet digital utama. jika dilihat dari data situs iprice, ovo saat ini mendapatkan peringkat kedua sebagai pengguna aktif dari perusahaan. peringkat pertama adalah perusahaan go-pay. sampai saat ini pun di tahun 2020, go-pay mampu untuk menjadi dompet digital dengan peringkat pertama (www.inet.detik.com diunduh 28 oktober 2020). go-pay banyak digunakan sekitar 58%, ovo 29%, dana 9%, dan linkaja sekitar 4%. menurut situs tersebut juga mengungkapkan bahwa go-pay bisa mendapatkan peringkat teratas bukan semata-mata karena promo yang diberikan oleh go-pay atau istilahnya bakar duit perusahaan tetapi masyarakat percaya terhadap keamanan dan kenyamanan yang dimiliki oleh gopay sehingga masyarakat lebih puas untuk menggunakan ovo dari pada go-pay. hal lain yang membuat go-pay menjadi lebih unggul karena mampu memberikan cash back yang lebih besar dibandingkan dengan ovo (www.tirto.id diunduh 7 desember 2020). selain itu go-pay juga lebih unggul ketika melakukan top-up bisa melalui mitra go-jek sehingga tidak perlu membayar biaya admin tambahan (www.cekaja.com diunduh 7 desember 2020). rekomendasi yang bisa diberikan ovo agar lebih unggul dari pesaingnya go-pay adalah meningkatkan kepuasan dari pelanggan untuk menaikkan penggunaan aktif. cara meningkatkannya dengan memberi keamanan dan kenyamanan lebih. mampu memberikan cash back business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 48 atau promo yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan pesaingnya. memperkecil biaya admin agar bisa lebih menarik minat pelanggan. selain itu, media sosial ovo dapat digunakan juga dengan menambah promo-promo yang menarik dan tentu menguntungkan pihak konsumen agar mereka mau menggunakan ulang ovo. perusahaan ini harus terus dapat meningkatkan kepuasan pelanggan agar mau menggunakan dompet digital tersebut. penelitian ini hanya untuk melihat penggunaan media sosial sebagai aktivitas pemasaran dari dompet digital ovo. pada penelitian selanjutnya bisa membandingkan juga aktivitas pemasaran melalui media sosial dari dompet digital yang lain seperti go-pay, dana, dan linkaja. selain itu, media sosial yang digunakan hanya instagram padahal ovo selain instagram juga memiliki facebook dan twitter juga. penelitian ini juga terbatas untuk dompet digital di indonesia. selanjutnya penelitian ini bisa menggunakan dompet digital di luar indonesia. penelitian ini juga terbatas menyebarkan kuesioner hanya pada orang terdekat saja sehingga perlu diperluas penyebaran kuesioner. penelitian ini juga terbatas hanya menggunakan satu variabel yang digabungkan menjadi perceived value. penelitian selanjutnya bisa membagi perceived value menjadi aesthetic, playfulness, consumer return on investment (croi), dan service excellence untuk mengetahui variabel perceived value mana yang lebih berdampak terhadap hubungan social media marketing activities terhadap loyalitas dari konsumen. penelitian selanjutnya juga bisa menguji variabel mediasi agar lebih mengetahui nilai kekuatan hubungan antara variabel. daftar pustaka akamavi, r.k., mohamed, e., pellmann, k., & xu, y. 2015. key determinants of passenger loyalty in the low-cost airline business. tourism management, 46, pp. 528– 545. arena lte. 2020. ini dompet digital sering digunakan konsumen indonesia bertransaksi di pandemi. dikutip 7 november 2020, https://arenalte.com/berita/fintech/ ini-dompet-digital-sering-digunakan-konsumen-indonesia-bertransaksi-di-pandemi/ bandyopadhyay, s. & martell, m. 2007. does attitudinal loyalty influence behavioral loyalty? a theoretical and empirical study. journal of retailing and consumer services, 14(1), pp.35–44. belch, g.e. & belch, m.a. 2004. advertising and promotion: an integrated marketing communications perspective 6th. n e w york: mcgraw-hil l. cekaja.com. 2019. perbandingan gopay dan ovo. siapakah yang terbaik ? dikutip dari 7 desember 2020, https://www.cekaja. com/info/perbandingan-gopay-dan-ovoyang-perlu-diketahui-siapakah-yang-terbaik. chen, s.c. & lin, c.p. 2019. understanding the effect of social media marketing activities: the mediation of social identification, perceived value, and satisfaction. technological forecasting and social change, 140, pp.22–32. chua, b.l., lee, s. & han, h. 2017. consequences of cruise line involvement: a comparison of first-time and repeat passengers. international journal of contemporary hospitality management. mikhael ming khosasih, l. verina halim s., pengaruh social media marketing activities terhadap attitudinal loyalty dan behavioural loyalty pada konsumen ovo 49 daily social. 2017. ovo mantapkan diri jadi platform akomodasi loyalitas pengguna. dikutip 28 oktober 2020, https://dailysocial.id/post/ovo-mantapkan-diri-jadi-platform-akomodasi-loyalitas-pengguna. detik net. 2020. hasil riset: go-pay jadi dompet digital favorit meski tanpa promo. dikutip 28 oktober 2020, https://inet. detik.com/cyberlife/d-4906576/hasil-risetgopay-jadi-dompet-digital-favorit-meskitanpa-promo. dunman, t. & mattila, a.s., 2005. the role of affective factors on perceived cruise vacation value. tourism management, 26(3), pp.311–323. el-adly, m.i. & eid, r., 2016. an empirical study of the relationship between shopping environment, customer perceived value, satisfaction, and loyalty in the uae malls context. journal of retailing and consumer services, 31, pp.217–227. khan, m.m. 2019. the impact of perceived social media marketing activities: an empirical study in saudi context. international journal of marketing studies, 11(1), p.134. kim, w. & ok, c. 2009. the effects of relational benefits on customers’ perception of favorable inequity, affective commitment, and repurchase intention in fullservice restaurants. journal of hospitality & tourism research, 33(2), pp.227– 244. kompas. 2019. tumbuh pesat, ini tantangan ecommerce untuk raih loyalitas konsumen. dikutip 3 november 2019, https:// money.kompas.com/read/2019/03/26/ 192803026/tumbuh-pesat-ini-tantangan-ecommerce-untuk-raih-loyalitas-konsumen kotler, p., keller, k.l., ang, s.h., tan, c.t., & leong, s.m. 2018. marketing management: an asian perspective (7th ed.). england: pearson. lee, c.k., ng, k.k.h., chan, h.k., choy, k.l., tai, w.c., & choi, l.s. 2018. a multi-group analysis of social media engagement and loyalty constructs between full-service and low-cost carriers in hong kong. journal of air transport management, 73, pp.46–57. llach, j., marimon viadiu, f., alonso-almeida, m.d.m. & bernardo, m., 2013. determinants of on-line booking loyalties for airline ticket purchasing. tourism management. macy, b. 2011. the power of real-time social media marketing: how to attract and retain customers and grow the bottom line in the globally connected world. nolimit. 2020. mengintip strategi konten ewallet indonesia. dikutip 7 november 2020, https://blog.nolimit.id/2019/11/26/ mengintip-strategi-konten-e-wallet-indonesia/. saini, s. & singh, j., 2020. a link between attitudinal and behavioral loyalty of service customers. business perspectives and research, 8(2), pp.205–215. sano, k. 2014. do social media marketing activities enhance customer satisfaction, promote positive wom and affect behavior intention? an investigation into the effects of social media on the tourism industry. t×_>yfuf[, 66(3), pp.491–515. santoso, a.s. & erdaka, a., 2015. customer loyalty in collaborative consumption model: empirical study of crm for product-service system-based e-commerce in business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 50 indonesia. procedia computer science, 72, pp.543–551. sekaran, u. & bougie, r., 2016. research methods for business 7th ed. john wiley. sharifi, s.s. & esfidani, m.r. 2014. the impacts of relationship marketing on cognitive dissonance, satisfaction, and loyalty. international journal of retail & distribution management. taylor, s.a. & baker, t.l., 1994. an assessment of the relationship between service quality and customer satisfaction in the formation of consumers’ purchase intentions. journal of retailing, 70(2), pp.163–178. tirto.id. 2019. go-pay vs ovo: mana yang kini berhasil merebut hati pengguna? dikutip dari 7 desember 2020, https:// tirto.id/gopay-vs-ovo-mana-yang-kiniberhasil-merebut-hati-pengguna-echz tirto.id. 2020. tips memanfaatkan media sosial untuk branding bisnis saat pandemi. dikutip dari 28 oktober 2020, https://tirto.id/ tips-memanfaatkan-media-sosial-untukbranding-bisnis-saat-pandemi-fkxx/ tjepkema, l. 2019. 5 big social media predictions for 2019 | emarsys. retrieved 3 november 2019, from https://www.emarsys.com/resources/blog/top-5-social-mediapredictions-2019. livia marsha sarengat, putu anom mahadwartha, the effect of technology acceptance model and internet usage factor to financial literacy of active user of financial technology application among millennial generation 119119 the effect of technology acceptance model and internet usage factor to financial literacy of active user of financial technology application among millennial generation livia marsha sarengat, putu anom mahadwartha universitas surabaya e-mail: jeanlivia07@gmail.com, anom@staff.ubaya.ac.id abstratc: this experiment examined the effect of technology acceptance model which generated as perceived usefulness and perceived ease of use, and internet usage factor to financial literacy of active user of financial technology application among millennial generation. this experiment is basic research with using quantitative analysis, data of this experiment from results of respondent’s answer in questionnaire and processed with sem-pls technique analysis. the result of this experiment will be used for next curriculum development in the future in connected field. keywords: financial literacy, financial technology, technology acceptance model (tam), internet usage, sem-pls introduction the era of digitalization in industry 4.0, various forms of technological innovation have begun to emerge, one of which is in the financial sector that created financial technology (fintech). the fintech industry continues to grow, as can be seen from the increasing number of licensed fintech startups in indonesia. tracxn data states that in the asean region, 20% of the number of fintech startup companies come from indonesia, this indicates the large development of the fintech industry in indonesia. the development of fintech in indonesia is also supported by the availability of a high number of working age population. indonesia as one of the most populous countries in the world has a population dominated by productive ages ranging from 15–64 years which reached more than 60% based on the central statistics agency in 2019, so that fintech has a fairly large market potential in indonesia. the growing fintech has a large enough opportunity to expand the market in indonesia due to the large number of people in indonesia who do not yet have access to banking services (underbanked/unbanked). according to the cambridge center of alternative finance, most fintech companies in indonesia target the population who do not have access to a bank account/underbanked consisting of both individuals and small and medium enterprises (smes). the indonesia stock exchange (idx) noted that in 2019, the demographics of investors were dominated by the millennial generation as much as 44.62%. millennial generation, or commonly referred to as generation y, is a generation born in the 1980s-early 2000s. the millennial generation has competence in the use of information and communication technology that is superior and is familiar with the world of social media. it can be seen from idx data that the millennial generation has a great interest in investing using fintech. based on the national financial literacy survey (snlik) conducted by ojk in 2019, the financial literacy index of indonesian citizens business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 120 reached 38.3% and the financial inclusion index was 76.19%. this figure shows an increase in results compared to 2016, which had a financial literacy index of 29.7% and a financial inclusion index of 67.8%. ojk and the indonesian government continue to strive so that the level of financial literacy in indonesia continues to develop in order to improve domestic economic welfare. the development of fintech in indonesia is increasing every year, especially among the millennial generation who dominate the market. the use of financial services in fintech is expected to help increase awareness of the importance of the influence of financial literacy in the community of active fintech users. this study will analyze the influence of the technology acceptance model factor which consists of perceived usefulness and perceived ease of use, as well as the internet usage factor in the use of fintech applications on the level of financial literacy of fintech application users, especially among the millennial generation in the city of surabaya. the financial services in fintech in question are the use of digital payment features, online loans, and online investments. research method this type of research is a basic research with a causal problem formulation that has a causal relationship. this study will analyze the influence of tam (technology acceptance model) and internet usage factors on the level of financial literacy of active users of fintech applications among the millennial generation. the data in this study used primary data sources which were taken directly by distributing questionnaires to fintech user respondents who had millennial generation profiles (birth years ranging from 1980 to 2000) and domiciled in the city of surabaya. the data that has been obtained from the respondents’ answers to the questionnaire are then statistically processed using the sem-pls technique with the help of spss 26 and smartpls 3 applications. the number of samples to be taken is a small part of the population which is expected to be able to represent the data needed in this study. the sampling technique used simple random sampling technique, which took samples from the population of the millennial generation who live in the city of surabaya. based on the calculation of the slovin formula, the minimum number of samples needed in this study was 399 people. the questionnaire compiled will try to collect data that can measure variables perceived usefulness, perceived ease of use, internet usage, fintech usage, and financial literacy with each measuring instrument on each indicator. the measuring instrument is adopted and compiled based on previous research journals by converting it into a point statement with answers using a likert scale of 1 to 5 (strongly agree, agree, neutral, disagree, strongly disagree). after going through the process of collecting respondent data from the distributed survey, it is continued to the data tabulation process in microsoft excel software and saved in the form of a .csv (comma delimited) file. the research diagram model is then compiled in the smartpls application, after which the respondent’s data in the form of a .csv file is inputted into the research diagram model. furthermore, the sempls analysis test was carried out with the help of the pls algorithm calculation feature to see the results. the sem-pls analysis test consists of 3 stages, the outer model test, the inner model test, and the goodness of fit test. livia marsha sarengat, putu anom mahadwartha, the effect of technology acceptance model and internet usage factor to financial literacy of active user of financial technology application among millennial generation 121 the outer model test consists of validity and reliability tests to determine whether the data results are valid and reliable. the validity test in this study used the convergent validity and discriminant validity test. the reliability test in this study used cronbach’s alpha and composite reliability methods. the inner model analysis test in this study uses a method by evaluating the r square value and the path coefficient to assess the level of relations and significance between variables in the research model. goodness of fit (gof) test to indicate the performance of the relationship between the inner model and the outer model. the gof index is calculated with the help of a formula consisting of the average value of r square and communalities/ave, the greater the gof index number, the better the results. notes: pu : perceived usefulness peou : perceived ease of use iu : internet usage fu : fintech usage fl: financial literacy results and discussion after going through the process of collecting data through a questionnaire instrument, a number of 403 respondents were collected who could meet the respondent’s criteria. the number of respondents who had collected met the target minimum sample size of 399 people. based on the recap of the results of the questionnaire data, the results of the sem-pls statistical test were collected as follows. validity and reliability test based on the results of the data analysis test of this study, the majority of the outer loadings values meet the requirements above 0.70, while the 6 data variables still range from 0.50 to 0.60 which can still be considered quite valid. figure 1 research diagram the following equation will be applied in this study in accordance with the research diagram above. (1) (2) (3) (4) fl = (5) (6) (7) figure 2 results of model research based on the results of data analysis in table 1, all variables in this study have an ave business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 122 value> 0.50 so that it can be concluded from the convergent validity test as a whole declared valid. table 1 ave results based on the results of the analysis test in table 3, the cronbach’s alpha value of all variables as a whole is included in the reliable category with values ranging from 0.60 to 0.90 so that the data is declared reliable. table 3 cronbach’s alpha results variabel ave finacial literacy 0.578 fintech usage 0.629 internet usage 0.623 perceived ease of use 0.601 perceived usefulness 0.659 based on the results of cross loading on the processed data in table 2, the results for the five variables are valid and meet the criteria for discriminant validity. table 2 cross loadings results fl fu iu peou pu fl1 0.789 0.485 0.270 0.412 0.324 fl10 0.837 0.381 0.151 0.315 0.257 fl11 0.760 0.432 0.156 0.316 0.276 fl12 0.680 0.410 0.275 0.333 0.272 fl13 0.550 0.351 0.227 0.273 0.270 fl14 0.801 0.406 0.112 0.320 0.234 fl2 0.750 0.465 0.302 0.415 0.356 fl3 0.641 0.327 0.309 0.362 0.270 fl4 0.755 0.387 0.208 0.359 0.263 fl5 0.839 0.367 0.196 0.332 0.212 fl6 0.840 0.387 0.133 0.302 0.214 fl7 0.724 0.364 0.278 0.344 0.278 fl8 0.781 0.423 0.224 0.314 0.243 fl9 0.837 0.438 0.230 0.376 0.280 fu1 0.490 0.665 0.152 0.318 0.290 fu2 0.442 0.862 0.449 0.658 0.626 fu3 0.373 0.838 0.456 0.602 0.635 iu1 0.205 0.310 0.682 0.252 0.306 iu2 0.216 0.305 0.807 0.383 0.396 iu3 0.258 0.459 0.868 0.472 0.480 peou1 0.332 0.485 0.422 0.752 0.599 peou2 0.372 0.529 0.418 0.814 0.563 peou3 0.288 0.513 0.302 0.680 0.479 peou4 0.392 0.581 0.366 0.837 0.598 peou5 0.369 0.541 0.377 0.754 0.539 peou6 0.341 0.532 0.354 0.802 0.580 pu1 0.284 0.580 0.414 0.606 0.852 pu2 0.251 0.502 0.425 0.574 0.797 pu3 0.207 0.491 0.459 0.586 0.785 pu4 0.392 0.608 0.369 0.583 0.813 variable cronbach's alpha finacial literacy 0.942 fintech usage 0.704 internet usage 0.698 perceived ease of use 0.866 perceived usefulness 0.828 based on the results of the data analysis test in table 4, the composite reliability value is above 0.70 so that all variables are declared reliable. table 4 composite reability results variable composite reability finacial literacy 0.950 fintech usage 0.834 internet usage 0.831 perceived ease of use 0.900 perceived usefulness 0.886 inner model test (r square) based on the results of the r-square test of this research data, the results of the rsquare value on financial literacy are 0.28 and fintech usage is 0.54.0. table 5 r-square results r square r square adjusted finacial literacy 0.286 0.284 fintech usage 0.547 0.544 path coefficient test in the path coefficient test method, the results of the original sample, standard deviation, t-statistics, and p-value values will be livia marsha sarengat, putu anom mahadwartha, the effect of technology acceptance model and internet usage factor to financial literacy of active user of financial technology application among millennial generation 123 seen from the existing data. the overall results of data analysis with a data significance level of 5% with the path coefficient method have a significant correlation between variables with a p value <0.05. table 6 nine path coefficient results sisting of statements answered by respondents on a likert scale of 1–5, in general, it tries to test whether the use of the fintech application has benefits for users/respondents. an example of a statement in a survey is, “i get many benefits from using fintech applications”. the majority of respondents’ answers are quite positive with an average result of 5, which indicates that respondents agree that the use of fintech applications provides benefits for its users. perceived of usefulness certainly indicates that technological development innovations in fintech applications provide many benefits and conveniences for users in making various transactions such as payments, investing, applying for loans, and others. the financial services presented in the fintech application provide significant efficiency solutions for its users so that they can transact quickly and easily. based on the results of data analysis, it was also found positive beta results of 0.342, t test results of 5.999, and p value <0.05. the three indicators of data processing test results show that the perceived usefulness factor has a positive influence on the use of fintech applications, so it can be concluded from this study that hypothesis 1a, perceived usefulness has a positive influence on the use of fintech applications. hypothesis 2, perceived ease of use →→ fintech usage the second hypothesis in this study consists of a statement if the perceived ease of use factor has a positive/no effect on the use of fintech. the questionnaire includes 6 statements to test whether respondents think the use of features in the fintech application is easy enough to use, such as the statement, “i can use the fintech application easily and skillfully”. by using answers consisting of a likert scale of 1–5 o m t p fu -> fl 0.54 0.54 0.04 13.87 *** iu -> fu 0.11 0.11 0.04 2.41 *** peou -> fu 0.39 0.39 0.06 6.89 *** pu -> fu 0.34 0.34 0.06 5.99 *** goodness of fit (gof) test the gof test in this study was used to see the combined performance of the outer model and the inner model in the study whose values ranged from 0–1 on a scale. gof test results are obtained from the average root value of communalities with the average root value of r square. the result of the gof financial literacy value is 0.405. discussion in this study, an analysis test was carried out on each variable to prove whether the variable factors perceived usefulness, perceived ease of use, internet usage, and fintech usage had a significant effect on the level of financial literacy of fintech users. the study used the sem-pls analysis test. the following is a discussion of the results of data analysis on each hypothesis compiled in this study. hypothesis 1, perceived usefulness → fintech usage hypothesis 1 in this study consists of a statement whether the perceived usefulness factor has a positive influence or not on the use of fintech applications. in the questionnaire conbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 124 for the choice between strongly disagree to strongly agree, the majority of respondents chose a scale of 5 which means respondents strongly agree that the use of fintech applications is quite easy to implement for their users. this is also related to the profile of respondents who have a millennial generation background and long enough fintech users, based on the results of the questionnaire, the average respondent is an active fintech user for approximately 3.4 years so that fintech users use various features in the fintech application. easy and familiar. based on the results of statistical data processing, the results of the positive beta value with a value of 0.388, the t test of 6.892 (> 1.96), and the value of p value <0.05. these three indicators are sufficient to prove that the perceived ease of use factor has a positive influence on the use of fintech applications. the h2a hypothesis, which states that perceived ease of use has a positive effect on the use of fintech applications, is accepted. hypothesis 3, internet usage →→ fintech usage the third hypothesis, states whether the internet usage factor has a positive influence or not on the use of fintech applications. in the questionnaire statement with a likert scale answer between 1–5 (strongly disagree to strongly agree), trying to test the frequency and needs of respondents as fintech users in using the internet. this study tries to test how much the respondents need and influence in using the internet daily. one of the statements in the questionnaire consisted of, “i feel the internet has given me many benefits”. based on the respondents’ answers, the majority of respondents answered strongly agree. this proves one of the characteristics of the millennial generation which is closely related to the development of technology and communication along with the times. the results of the data analysis test showed that the internet usage factor had a positive effect on the use of fintech with a positive beta value, 0.107, a t test value> 1.96 of 2.406, and a p value <0.05 which indicated a significant relationship. based on the overall data results, it can be concluded that the h3a hypothesis, which states that internet usage has a positive influence on the use of fintech applications, can be accepted in this study. hypothesis 4, fintech usage →→ financial literacy in the last hypothesis, it consists of a statement whether the factor of using fintech applications has a positive influence or not on the level of financial literacy of its users. in the questionnaire, 3 statements are presented to test the frequency, purpose, and level of benefits of using fintech applications. furthermore, 14 statements are presented that test the level of financial literacy for respondents, statements are presented to test how far the respondent understands basic aspects/knowledge around finance, such as the concept of time value of money, personal finance, risk and return, interest, loan, and investments. based on the results of the questionnaire, the overall results are quite positive, with an average score on the fintech usage and financial literacy factors of 4. this shows that the use of fintech has a fairly positive influence on the level of financial literacy of its users. the average respondent agrees on the financial literacy questionnaire, which shows that the respondents, as users of fintech applications, understand the basic concepts of finance quite well. livia marsha sarengat, putu anom mahadwartha, the effect of technology acceptance model and internet usage factor to financial literacy of active user of financial technology application among millennial generation 125 in the results of data processing in the previous chapter, the results of the fintech usage →→ financial literacy variable test have positive beta indicator results of 0.535, t test results of 13,874, and p value < 0.05. overall, the results indicate that the fintech usage variable has a positive influence on financial literacy, so it can be concluded that the h4a hypothesis, which states that the use of fintech applications has a positive effect on the financial literacy of fintech application users, is acceptable. conclusion based on the results of research and discussion in the previous chapter, it is concluded that the technology acceptance model faktor which consists of perceived usefulness and perceived ease of use, as well as the internet usage factor has an influence on the level of financial literacy of fintech application users among the millennial generation. based on 3 independent variables and 1 mediator variable, it can be stated that perceived usefulness, perceived ease of use, and internet usage have an influence on the use of fintech applications. hence, the active use of fintech applications has a positive influence on the level of financial literacy of users with millennial backgrounds in indonesia. this study has several limitations due to object of research demographic and nationality. hence for further research, few suggestions can be to conduct research on the use of more specific fintech applications such as a loan application to open a business (for example: tunaiku, modalku), business bookkeeping applications for msme entrepreneurs, and many other types. each type of fintech application has the potential for varying degrees of influence. besides that, do research object with a specific profile that is more focused, such as fintech application users who actively invest in stocks, mutual funds, or bonds.lastly, in addition to the influence on the level of financial literacy of active fintech users, it can also be further developed in aspects of financial behavior and financial planning. references aftech. (2020). laporan annual member survey 2019/2020. jakarta: asosiasi fintech indonesia. amagir, a. g. (2018). a review of financial-literacy education programs for children and adolescents. journal of citizenship, social, and economic education, 17(1), 56–80. doi: 10.1177/2047173417719555. carlson, e. (2008). the lucky few: between the greatest generation and the baby boom. florida: springer science & business media. davis, f. d. (1993). user acceptance of information technology: system characteristics, user perceptions, and behavioral impact. interntional journal of man-machine studies, 38(3), 475–487. doi: 10. 1006/imms.1993.1022. lusardi, a. (2008). financial literacy: an essential tool for informed consumer choice? the social science research network electronic paper collection, 1-30. meyliana, e. f. (2019). the influence of perceived risk and trust in adoption of fintech services in indonesia. communication & information technology journal, 13(1), 31-37. doi:10.21512/commit.v13i1.5708. muliaman d. hadad, p. (2017, june 2). indonesia banking school. retrieved november business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 126 21, 2020, from http://www.ibs.ac.id: http:/ / w w w. i b s . a c . i d / i m g / d o c/ m d h %2 0 %20fintech%20ibs%20june%202017.pdf oecd. (2016, july 1). the importance of financial education. retrieved march 7, 2021, from www.oecd.org: https://www.oecd.org/ finance/financial-education/37087833.pdf oecd. (2017). g20/oecd infe report on adult financial literacy in g20 countries. paris: oecd/international network on financial education. ojk. (2017). strategi nasional literasi keuangan indonesia. jakarta: otoritas jasa keuangan. ozili, p. k. (2018). impact of digital finance on financial inclusion and stability. borsa istanbul review, 18(4), 329–340. doi: 10.1016/j.bir.2017.12.003. palameta, b. n. (2016). the link between financial confidence and financial outcomes among working-aged canadians. ottawa: the social research and demonstration corporation. sekaran u., r. b. (2014). research methods for business: a skill building approach 6th edition. chicester, uk: john wiley & sons. shen, y. w. (2019). the effects of financial literacy, digital financial product usage and internet usage on financial inclusion in china. international conference on circuits and systems (pp. 228, 1–6). portugal: matec web of conferences. shubhangi singh, m. m. (2020). what drives fintech adoption? a multi-method evaluation using an adapted technology acceptance model. management decision, 58(8), 1675–1697. doi: 10.1108/md-09-20191318. trinh, p. j. (2019). fintech and financial literacy in lao pdr. adbi working paper series, 1–19. walstad, k. r. (2017). the test of financial literacy: development and measurement characteristics. journal of economic education, 48(2), 113–122. doi: 10.1080/ 00220485.2017.1285739. endah tri wahyuningtyas, dina anggraeni susesti, muis murtadho, comparative study of stock price index on european stock exchanges before and after brexit uk stock price in europe 141141 comparative study of stock price index on european stock exchanges before and after brexit uk stock price in europe endah tri wahyuningtyas1, dina anggraeni susesti2, muis murtadho3 1,2universitas nahdlatul ulama surabaya, 3universitas widya kartika e-mail: endahtri@unusa.ac.id1, dins@unusa.ac.id2, muis.murtadho@uwika.ac.id3 abstract: this study was conducted to analyze the comparison of the impact of britain to exit (brexit) on the uk stock price index in the european region. the sampling countries in this study include four european countries, namely denmark, france, germany, and england. this research method uses quantitative research by comparing stock price index data before and after the uk’s exit from the european union. this research is an event study research that is analyzing the market reaction due to an event or the publication of an announcement. results from this study were that the cse index denmark, france cac index, the index hdax germany has a significant influence before and after brexit britain while britain’s ftse index had no impact on the stock price index volatility before and after brexit. this shows that the investment decisions of investors in denmark, france, and germany were greatly influenced by the brexit announcement so that the stock price indexes in these three countries experienced significant movements. while the brexit announcement does not affect the decisions of investors in the uk itself because this brexit event does not contain strong information so that market participants do not react before and after the event. keywords: stock price index, britain to exit, brexit, event study, european stock exchanges introduction a major decision in the referendum to leave the european union was carried out by the british community on june 23, 2016, history noted that the purpose of the european union was to strengthen trade and simplify the payment system for countries in the european region and remove barriers to international trade in the region. europe. however, as the european union progressed, there were many internal conflicts in the uk where the british community was divided into two, some were in favor of joining the european union and some were against the british joining the european union. the main reason for the supporters of the british brexit with the european union is because of the problem of the large number of immigrants entering the uk so that it can threaten security and labor competition. the exit of the british state from the european union brought major consequences for the british economy and other european countries. this policy is considered to close the european free market which has been well established. demographically, the european union is inhabited by about 500 million people, relying heavily on the economic strength of the influence of western countries, namely america, and reducing dependence on the us dollar. the british brexit decision against the european union created panic and doubt in the eyes of investors, where the freedom of business, trade, and investment that has been carried out so far will experience obstacles and cause a situation of uncertainty over investment and the market that has been pioneered since the beginning. this was marked by massive stock selling in the capital and money markets. the stock price index in england fell drastically and fell and the value of the curbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 142 rency fell helplessly, forcing the bank of england to increase interest rates to maintain the exchange rate. this indicates a reaction by market participants to the announcement of the uk’s exit from the european union. when the condition of the situation is stable, it will be seen that the movement of the stock price index is relatively fixed. however, when the stock market situation is sluggish, it will be seen that the movement of the stock price index has decreased significantly. investors feel no longer confident in the british economy after they panicked and withdrew their capital and fear that the trade that has been running so far will be destroyed due to the brexit policy. not only that, the uk’s exit from the european union made the members of the european union confused, where so far britain has contributed about 20% in supporting the european economy, no doubt europe was dragged down against the american dollar. the political stability of a country that has an impact on economic conditions must make investors or market participants feel safe and confident in investing in the stock market. this study aims to examine one of the political events on the market reaction in the stock market, namely the incident of britain’s exit from the european union, commonly known as britain to exit (brexit) which occurred on june 23, 2016. several empirical studies related to this brexit event or the result of a political and economic event stated different results. lestari and nuzula’s research (2018) which examined britain exit on the lq 45 index on abnormal return and trading volume activity on the idx concluded that britain’s brexit had an effect on trading volume on the idx. research on before and after brexit in the asean capital market conducted by prayogo et al. (2019) found that the brexit event could change the segmented asean region into an integrated one and found that the singapore capital market had an impact on the british brexit. furthermore, candra et al. (2018) who examined the british, french and indonesian capital markets before and after brexit found that before the issue of the british capital market brexit against the french capital market, there was a very strong and significant relationship, for the british capital market to the indonesian capital market (lq45). research conducted by handayani (2014) found that world gold prices, world oil, and exchange rates affected the jci. furthermore, aditya’s research (2018), trying to research the foreign exchange index and macroeconomics on the jci, found that the djia and nikkei had a positive and significant effect on the jci. based on the description above, it can be seen that there is an inconsistency from the results of previous research regarding the relationship between the announcement of political or economic events on the reaction of investors on the stock market before and after the event. conceptual framework/research methodology this research is an event study to analyze the impact of the announcement of an event on the reaction of investors in the stock market. the research question of this study is whether there is a significant difference in the stock price index before and after the brexit event in european countries. according to market efficiency theory, the capital market whose share price reflects all available information (fama, 1997). the available information is directly absorbed by market participants or investors and used in making investment decisions. the decision to buy or sell shares from these investors results in the movement of the stock price index in the capital market. endah tri wahyuningtyas, dina anggraeni susesti, muis murtadho, comparative study of stock price index on european stock exchanges before and after brexit uk stock price in europe 143 this research model tries to make a comparison of stock price indexes in european countries before and after britain’s brexit against the european union. this research is important considering that the uk is a large country that contributes directly or indirectly to the economy of the european union, as well as to find out the direct impact on the development of stock price indexes in the european region as a reflection of the success of economic policies. this research was conducted by looking at the stock price index for two years before the british brexit, namely june 2016, and two years after the british brexit by using a sampling of 4 european countries, namely denmark, france, germany, and england. so that it can be photographed the condition of the stock price index in each of these countries. the data collection method used to view stock price indexes on stock exchanges in european countries, in this case, is to use secondary data published by bloomberg, namely stock index data in four european countries: the danish cse index, the french cac index, the german hdax index and the ftse index. britain for 23 months before and after the brexit as a european union country. to be able to examine in depth the impact of the british brexit from the european union on its share price, a paired sample t-test was carried out so that it could measure the success or failure of the program being able to increase or decrease the stock price index in the country, member of the european union which is the object of research. the formula for the two-sample difference test in pairs is as follows: where: d = difference between x1 and x2 (x1-x2) n = number of samples x bar = average sd = standard deviation d result and discussion this study analyzes the impact of britain’s brexit on the same price index in four european countries, namely the danish cse index, france’s cac index, germany’s hdax index, and the uk’s ftse index. the data used in this study is secondary data by looking at stock price trading data in 4 european countries. determination of the starting point of this research data starting from june 2016, was chosen as a benchmark at the time the uk was declared out of the european union. this research data was taken based on monthly data published by bloomberg, which is 23 months before and after british brexit. the stock price index data on the danish copenhagen stock exchange can be presented in the following figure: figure 1 movement graph denmark copenhagen stock exchange (cse) before and after brexit uk source: bloomberg based on the research data above, it can be seen that the stock price index on the danish copenhagen stock exchange is more likely to experience an increase, this can be seen from the trend in which the period before the brexit business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 144 occurred, namely, in august 2014 the cse index was in the range of 607.59 and increased when the brexit occurred. in june 2016 the cse index was 754.25. denmark’s cse index had fallen one month after brexit, namely in august by 749.98, and continued to fall until november 2016 by 673.62. then at the beginning of 2017, the cse index experienced a sharp increase of 742.88 and continued to rise until its peak in april 2018 of 815.75. furthermore, the cac stock price index in france can be presented in the following figure: figure 3 movement graph hdax germany stock exchange. before and after brexit uk the data above shows the german hdax index in august 2014 of 4,908 and an increase in april 2016 of 6181. however, the hdax index fell sharply before the british brexit in may 2015 by 5,990 and continued until june 2016, after the british brexit index shot sharply to its peak, namely in december 2017 amounted to 7,002 and continues to increase. the movement of the stock price index on the uk stock exchange before and after the brexit event can be seen in the image below: figure 2 movement graph french cotation assistee en continu (cac) stock exchange before and after source: bloomberg the stock price index in france or better known as the french cac 40 index can be seen before the british brexit period, which was 3,258 in august 2014 and continued to increase until april 2015 by 4,001, then the french cac 40 index decreased to its peak during brexit last month. june 2018 amounted to 3,892. however, the index rose sharply after brexit in september 2016 by 3476 and continued to rise until march 2018 by 4083. furthermore, the stock index in germany hdax before and after the uk brexit can be presented as follows: figure 4 movement graph ftse uk stock exchange before and after brexit uk source: bloomberg the research data above shows that the ftse united kingdom index in august 2014 was 6,718.79 and experienced a very sharp decline until november 2014 was recorded at 6567.24, then the index continued to decline until february 2016 at 5950. endah tri wahyuningtyas, dina anggraeni susesti, muis murtadho, comparative study of stock price index on european stock exchanges before and after brexit uk stock price in europe 145 to determine the effect of the stock price index on the european stock exchange before and after the british brexit, see the following figure: significant influence before and after the british brexit, this can be seen from the sig value of 0.000 which is smaller than 0.05. meanwhile, the uk ftse index has no impact on the volatility of the stock price index before and after brexit, which statistically has a sig value above 0.05. references aditya, a., sinaga, b. m., & maulana, t. a. (2018). pengaruh indeks bursa luar negeri, indikator makroekonomi dan krisis ekonomi global terhadap indeks harga saham gabungan di indonesia. jurnal aplikasi bisnis dan manajemen (jabm), 4(2), 284– 284. candra, b. c., mangantar, m. m., & maramis, j. b. (2018). integrasi pasar modal inggris terhadap pasar modal prancis dan indonesia (lq45) sebelum dan sesudah isu brexit. jurnal emba: jurnal riset ekonomi, manajemen, bisnis dan akuntansi, 6(4). fuji lestari, d. p. & nuzula, n. f. (2018). dampak britain exit (brexit) terhadap abnormal return dan trading volume activity pada indeks lq-45. jurnal administrasi bisnis, 55(3), 14–23. ghozali, imam. (2005). aplikasi analisis multivarate dengan spss, semarang: penerbit universitas diponegoro. handiani, s. (2014). pengaruh harga emas dunia, harga minyak dunia dan nilai tukar dolar amerika/rupiah terhadap indeks harga saham gabungan pada periode 2008–2013. e-journal graduate unpar, 1(1). kenani, j. m., purnomo,j., & maoni, f. (2013). the impact of the global financial crisis on the integration of the chinese and indonesian stock markets. international source: processed data, 2021 the data above shows that the danish copenhagen stock exchange (cse) has a sig value of 0.000 which means it has a significant effect before and after the british brexit, while the french cac index was recorded to have a sig value of 0.000 which means it has a significant influence on the stock price index before and after the uk brexit, as well as the german hdax index which also has a sig value of 0.000 which means it has a significant impact before and after the uk brexit. ftse united kingdom has no significant effect before and after the uk brexit because the sig value of 0.057 is greater than 0.05. indicates that the reaction of the capital market in the uk to this event is uncertain and not prolonged. the results of this study support research conducted by lestari and nuzula (2018), prayogo et al. (2019), candra at al. (2018), that the existence of political policies will have an impact on the vitality of the stock price index on the global exchange. conclusion from the results of this study, it can be seen that the danish cse index, the french cac index, the german hdax index have a business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 146 journal of economics and finance, 5(9), 69–81. prayogo, p., harijono, h., & robiyanto, r. (2019). uji integrasi pasar modal dan contagion effect sebelum dan sesudah brexit pada pasar modal asean. matrik: jurnal manajemen, strategi bisnis dan kewirausahaan, 75–86. robiyanto, r. dan ernayani, r. (2018). capital market integration in some asean countries revisited. jurnal manajemen, 22(2), 205–222. smales, l. a. (2016). brexit: a case study in the relationship between political and financial market uncertainty. article school of economics and finance university of curtin australia. zulfikar, r. & jayadi, a. (2017). tantangan turbulensi ekonomi global terhadap ekonomi politik internasional indonesia. jurnal ilmu ekonomi dan pembangunan, 17(2), 89–98. www.idx.co.id. www.bloomberg.com. www.kompas.com. www.bloomberg.com/markets/stocks/world-indexes/europe-africa-middle-east. 01 antariksa.pmd christina w.u., metta p., analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah 7777 analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah christina whidya utami, metta padmalia universitas ciputra e-mail: whidyautami@ciputra.ac.id, metta.padmalia@ciputra.ac.id abstract: the purpose of this study is to estimate and analyze the willingness to pay and fax tor the factors that affect the willingness to pay at high school in semarang. the method used is contingent valuation method (cvm) and multiple linear regression analysis. the number of samples in this study were 238 respondents, the sampling technique was done by snowball sampling. the results of this study indicate that the average willingness to pay (wtp) of households in high schools in semarang is rp559.034,00. factors that have a significant influence on wtp values are income variables, number of household dependents, age, and length of access. whereas the factors that have no effect on willingness to pay (wtp) are parents’ education variables. based on the results of the study, the suggestions that can be put forward are the management or the government to improve the quality of the vocational school as well as the development of a transparency policy on the collection and allocation of user fees and other resources. keywords: willingness to pay, income variables, number of household dependents, age and length of access pendahuluan era globalisasi lebih menuntut kesiapan yang matang dalam segala aspek, termasuk dalam bidang pendidikan yang merupakan salah satu andalan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman. persiapan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan dilakukan sejak dari masa pendidikan sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas. setiap level sekolah merupakan lembaga tempat anak didik memperoleh pendidikan dan pelajaran yang diberikan oleh para pendidik. sekolah mempersiapkan anak didiknya agar mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, budi pekerti, dan meningkatkan ketakwaaan kepada tuhan yang maha esa sebagai bekal hidup di masyarakat. pendidikan merupakan salah satu kunci dari kemajuan suatu bangsa. pendidikan merupakan sarana yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia, karena dengan pendidikan maka akan ada pembangunan. kota semarang sebagai ibu kota provinsi jawa tengah juga diharapkan dapat berperan sebagai pusat pendidikan. khususnya pendidikan sekolah menengah atas di wilayah jawa tengah. di sisi lain, tujuan utama pembangunan ekonomi adalah untuk menciptakan pertumbuhan dan peningkatan sumber daya manusia. seiring dengan berkembangnya teori human capital semakin terlihat bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan kualitas tenaga kerja dan pada akhirnya akan memengaruhi pendapatan dan produktivitas kerja (nihayah & kusmantoro, 2010). tujuan penyelenggaraan pendidikan menengah yang sering disebut dengan sekolah menengah atas (sma) harus multi-fungsi dan saling terkait. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 78 fenomena ini juga terjadi di pulau jawa yaitu jumlah sma dan jumlah siswa sma setiap tahunnya mengalami peningkatan. bertambahnya jumlah sekolah menengah atas dan siswanya karena pulau jawa merupakan pusat pertumbuhan ekonomi di indonesia. berdasarkan data yang diperoleh dari bps tahun 2017 dapat disimpulkan bahwa jumlah sekolah menengah atas di pulau jawa mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. pada tahun 2011/20 jumlah sma hanya 5.764 kemudian meningkat 25,72% menjadi 7.274 pada tahun 2015/2016 (bps, 2017). peningkatan jumlah sma tersebut tentunya bertujuan untuk mewujudkan program pemerintah yaitu menurunkan angka pengangguran. pengangguran masih menjadi masalah serius di indonesia karena hampir seluruh wilayah di indonesia mengalami masalah yang sama di bidangnya seperti pengangguran, terutama pengangguran berpendidikan. demikian juga seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1, jumlah sma dibandingkan dengan smk pada 10 provinsi yang memiliki sma dan smk terbesar di indonesia. tabel 1 jumlah sma dan smk di indonesia tahun 2017/2018 pada 10 provinsi terbanyak 2015/2016 terus meningkat walaupun pada tahun 2014/2015 jumlah siswa sma menurun namun pada tahun 2015/2016 mengalami peningkatan lagi. pada tahun 2011/2012 jumlah siswa sma hanya 2.498.091 meningkat 11,21% menjadi 2.778.204 pada tahun 2015/2016 (bps, 2017). hal tersebut menunjukkan adanya minat masyarakat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. kota semarang memiliki posisi geostrategis sebagai kota pusat pemerintahan provinsi jawa tengah, karena berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau jawa dan merupakan koridor pembangunan jawa tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang. kota semarang memiliki luas wilayah sebesar 373,70 km2 yang lokasinya berbatasan langsung dengan kabupaten kendal di sebelah barat, kabupaten semarang di sebelah selatan, kabupaten demak di sebelah timur, dan laut jawa di sebelah utara dengan panjang garis pantai berkisar 13,6 km. jumlah warga semarang terus meningkat, pada 2012 populasinya hanya 1.559.198 kemudian meningkat 11,98% menjadi 1.729.428 pada tahun 2016 (bps, 2017). peningkatan jumlah penduduk juga diikuti oleh laju pertumbuhan penduduk yang cenderung meningkat dan laju pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif. laju pertumbuhan penduduk meningkat 0,70% selama 2012–2016, dari 0,96% menjadi 1,66 persen, sedangkan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2016 sebesar 5,69%. angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. penurunan laju pertumbuhan ekonomi kota semarang pada tahun 2016 masih di atas laju pertumbuhan ekonomi di jawa tengah yang hanya sebesar 5,28% sekaligus masih menjadi penopang utama laju pertumbuhan ekonomi jawa tengah. laju pertumbuhan ekonomi kota semarang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi di jawa tengah yaitu sebesar 13,45% (bps, 2017), tahun provinsi sma smk jawa barat 1584 2846 jawa timur 1524 1983 jawa tengah 858 1569 sumut 1064 978 banten 529 668 dki jakarta 502 579 sulsel 582 435 lampung 484 457 sumsel 594 294 sumber: bps jawa tengah, 2019 berdasarkan data yang diperoleh dari bps tahun 2017 dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa sma di jawa dari tahun 2011/2012 hingga christina w.u., metta p., analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah 79 didik. pengangguran terdidik terjadi karena belum adanya keselarasan antara perencanaan pembangunan pendidikan dan pengembangan lapangan kerja. inilah penyebab utama dari jenis pengangguran ini. faktanya institusi pendidikan di indonesia hanya menghasilkan pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja (sari ak, 2012). jumlah penganggur berpendidikan terakhir sekolah menengah atas di semarang memiliki kontribusi yang paling tinggi dibandingkan dengan penganggur dengan pendidikan terakhir lainnya. pada tahun 2015 kontribusi penganggur terhadap pendidikan terakhir sekolah menengah atas di kota semarang sebesar 37,59%. pengangguran terdidik terjadi karena belum adanya keselarasan antara perencanaan pembangunan pendidikan dan pengembangan lapangan kerja. di sisi lain, penganggur berpendidikan ini lebih memilih formal laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi di semarang didukung oleh investasi di semarang yang meningkat tajam. kantor penanaman modal satu pintu (dpmptsp) semarang mencatat pencapaian investasi tersebut pada kuartal pertama pekerjaan dan mereka memiliki kemauan untuk bekerja di tempat yang secara langsung menempatkan mereka pada posisi yang baik dapat memperoleh banyak fasilitas dan langsung mendapatkan gaji pada posisi yang besar (sari a.k., 2012). tabel 3 total unemployment di lima kota besar di jawa tengah tahun 2015 2018 sudah mencapai rp 5,8 triliun. besarnya investasi yang masuk pada triwulan i 2018 masih didominasi negara sebesar 70%, sedangkan sisanya 30% berasal dari investor asing. investasi di semarang difokuskan pada perdagangan dan jasa, khususnya manufaktur. peningkatan investasi akan meningkatkan jumlah perusahaan di semarang. kota semarang memiliki jumlah perusahaan terbanyak di jawa tengah yaitu sebanyak 3.735 perusahaan pada tahun 2017. tingginya jumlah perusahaan tersebut belum mampu mengatasi tingginya angka pengangguran di semarang yang dari tahun 2012 hingga 2015 mengalami peningkatan. berdasarkan data badan pusat statistik kota semarang tahun 2012 hingga 2015 jumlah pengangguran mengalami peningkatan. pada tahun 2012 jumlah pengangguran sebanyak 46.081, pada tahun 2013 sebanyak 49.733, pada tahun 2014 sebanyak 68.978, dan pada tahun 2015 sebanyak 51.229 sekaligus merupakan jumlah pengangguran tertinggi dibandingkan kotakota lain di jawa tengah. hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. tabel 2 jumlah siswa di indonesia berdasarkan jenjang pendidikan tahun 2017/2018 jenis sekolah jumlah siswa smk 4.904.000 sma 4.783.600 smp 10.125.700 sd 25.486.500 sumber: bps jawa tengah, 2019 pada tabel 2 terlihat bahwa kota semarang memiliki jumlah penganggur tertinggi dibandingkan dengan lima kota di jawa tengah yang berjumlah 51.229 jiwa. peningkatan jumlah pengangguran di semarang didominasi oleh pengangguran lulusan sma. pengangguran lulusan sma termasuk dalam jenis pengangguran terkota unemployment (people) magelang 3.927 surakarta 12.877 salatiga 5.794 semarang 51.229 pekalongan 6.131 tegal 10 kontribusi lulusan sma tertinggi ini bertolak belakang dengan tren peningkatan jumlah business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 80 sma dan jumlah siswa sma di semarang. jumlah sma di semarang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. pada tahun 2008 jumlah sma di semarang hanya 75 sekolah kemudian meningkat 18,67% menjadi 89 sekolah pada tahun 2016 (bps, berbagai tahun). bertambahnya jumlah sma di semarang menyebabkan bertambahnya jumlah siswa yang melanjutkan studi ke sma di semarang. jumlah siswa sma di semarang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. pada tahun 2008 jumlah siswa sma sebanyak 33.262 orang kemudian meningkat 17,40% menjadi 39.050 orang pada tahun 2016 (bps, berbagai tahun). dalam rangka penyelenggaraan pendidikan baik di tingkat makro (negara) maupun di tingkat mikro (lembaga) yang dianggap penting adalah masalah pembiayaan yang merupakan unsur mutlak yang harus tersedia. berdasarkan observasi awal yang dilakukan secara acak di sekolah menengah atas di semarang diperoleh informasi bahwa besarnya sumbangan pengembangan pendidikan (spp) untuk sekolah menengah atas negeri berada pada kisaran rp 200.000,00 sampai rp 350.000,00. sedangkan untuk sekolah menengah atas swasta besaran bantuan pengembangan pendidikan (spp) berada pada kisaran rp 500.000,00 sampai rp 1.500.000,00. jumlah biaya beban di satu sisi dan nilai manfaat yang diperoleh dari pendidikan di sisi lain memengaruhi perilaku masyarakat secara keseluruhan dalam memilih jenis pendidikan dan pelatihan (danim, 2003). permasalahan relatif tingginya biaya spp siswa sma yang harus ditanggung oleh rumah tangga namun terdapat fakta bahwa jumlah pengangguran terbanyak di semarang adalah dari lulusan sma sehingga menimbulkan keinginan penulis untuk melakukan penelitian apakah ada fakta bahwa biaya sekolah yang tinggi dan tingginya angka pengangguran lulusan sma berdampak pada kesediaan rumah tangga untuk membayar biaya pendidikan sma di kota semarang mengingat pembiayaan merupakan unsur mutlak yang harus tersedia. metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner responden yaitu orang tua siswa di sma akreditasi a. lokasi penelitian di semarang. jumlah sampel sebanyak 238 orang tua siswa sma yang terakreditasi a dijadikan responden dalam penelitian ini, berdasarkan teknik snowball sampling. metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, studi pustaka, dokumentasi, dan angket. metode analisis data dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan contingent valuation method (cvm) dan analisis regresi linier berganda. proses pelaksanaan untuk memperoleh nilai kesediaan untuk membayar terdapat lima tahapan menurut fauzi, (2004), antara lain membangun hipotesis pasar, memperoleh nilai kesediaan untuk membayar, menghitung kesediaan untuk membayar nilai rata-rata, dan menjumlahkan data untuk mendapatkan nilai total kesediaan untuk membayar. analisis regresi linier berganda digunakan untuk menentukan variabel yang memengaruhi kesediaan untuk membayar biaya pendidikan sekolah menengah atas di kota semarang. persamaan model regresi linier berganda adalah sebagai berikut. wtp = alfa + ß 1 pdpt + ß 2 pot + ß 3 jtrt + ß 4 us + ß 5 aks + e i keterangan: wtp = value of willingness to pay (kerelaan untuk membayar) alfa = intercept christina w.u., metta p., analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah 81 ß 1-t = koefisien pdpt = pendapatan orang tua pot = pendidikan orang tua jrtrt = jumlah tanggungan dalam rumah tangga us = usia orang tua aks = akses ke sekolah e = tingkat kesalahan hasil dan diskusi secara geografis, semarang berada di antara garis 6°50‘–7°10’ lintang selatan dan garis 109°35–110°50‘ bujur timur. pendekatan metode valuasi kontingen dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis tingkat kesediaan rumah tangga membayar pada sma di semarang. kesediaan membayar diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 238 orang tua siswa di kota semarang. setiap nilai kesediaan membayar yang diperoleh menunjukkan jumlah yang dibayarkan oleh rumah tangga. dari 238 responden yang bersedia membayar biaya sekolah di sma di semarang. nilai rata-rata kesediaan membayar responden semarang dengan perbandingan nilai kesediaan membayar responden dengan jumlah total responden yang bersedia membayar sehingga diperoleh nilai rata-rata kesediaan membayar: !wtp = rp 133.050.000,00 238 !wtp = rp 559.034,00 berdasarkan hasil perhitungan menggunakan pendekatan metode penilaian kontinjen, dari jumlah responden sebanyak 238 orang tua siswa, secara keseluruhan responden bersedia membayar biaya sekolah menengah atas di semarang. untuk total nilai kesediaan membayar yang diperoleh adalah rp 133.050.000,00 per bulan dengan nilai rata-rata kesediaan membayar rp 559.034,00 per bulan. nilai sebesar ini menunjukkan adanya kepedulian rumah tangga terhadap pendidikan anak sekolah menengah atas di semarang. sedangkan pada tabel 4 menunjukkan hasil regresi antara pendapatan, pendidikan orang tua, jumlah tanggungan rumah tangga, umur, dan lama akses. berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan software eviews 9, hasil yang diperoleh seperti yang ditunjukkan pada tabel 4. tabel 4 output of multiple linier regression analysis results variabel koefisien prob c -160.4 0.003 pdpt 0.040 0.003 pot 3.553 0.085 jtrt 16.956 0.005 us 3.219 0.002 aks -3.519 0.000 sehingga dihasilkan persamaan regresi: wtp = -160,4 + 0,040 pdpt + 3,553 pot + 16,956 jtrt + 3,219 us3,519 aks + e i berdasarkan hasil regresi linier berganda dapat disimpulkan sebagai berikut. nilai konstanta -160,4 menandakan bahwa bila nilai semua variabel bebas adalah 0 (nol) maka nilai kesediaan membayar sebesar -160,4. nilai koefisien variabel pendapatan (pdpt) adalah 0,036 dan bertanda positif (+), artinya jika pendapatan seseorang bertambah seribu rupiah maka nilai wtp yang bersedia dibayar untuk biaya sekolah menengah atas di semarang akan meningkat 36 rupiah dengan asumsi variabel independen lain dianggap konstan. variabel pendidikan orang tua tidak memengaruhi nilai wtp. nilai koefisien yang dimiliki variabel jumlah tanggungan rumah tanggungan keluarga (jtrs) adalah sebesar 16.956 dan bertanda positif (+). artinya, jika jumlah tanggungan dari seseorang bertambah satu orang maka nilai wtp yang bersedia dibayar untuk biaya sekolah di sma di semarang akan meningkat sebesar rp 16.956 dengan asumsi business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 82 variabel bebas lainnya dianggap konstan. koefisien variabel umur (us) memiliki nilai 3,219 dan bertanda positif (+). hal ini dapat diartikan bahwa jika usia seseorang bertambah satu tahun maka besarnya nilai wtp yang bersedia dibayar untuk biaya sekolah menengah atas di semarang akan meningkat sebesar 3.219 rupiah dengan asumsi variabel independen lain dianggap konstan. koefisien variabel akses (aks) lama adalah 3.519 dan bertanda negatif (-), artinya jika lama akses dari rumah ke sekolah satu menit maka nilai wtp yang bersedia dibayar akan semakin berkurang sebesar 3.519 rupiah, dengan asumsi variabel independen lain dianggap konstan. berdasarkan hasil regresi yang diperoleh, variabel pendapatan (pdpt) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemauan membayar (wtp) rumah tangga sekolah menengah atas di semarang. pendapatan (pdpt) di sini berdasarkan rupiah yang diperoleh rumah tangga selama satu bulan dari penghasilan yang diperoleh semua anggota rumah tangga. hubungan yang memiliki variabel pendapatan dengan nilai wtp yang besar bertanda positif. artinya, ketika pendapatan yang diterima rumah tangga meningkat maka jumlah kemauan membayar (wtp) rumah tangga tersebut akan meningkat. hasil regresi yang diperoleh sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula nilai willingness to pay (wtp) yang harus dibayar (simanjuntak, 2009; li jingru et al., 2018). semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi capaian ekonominya sehingga semakin tinggi kemampuan dan kesempatan individu untuk mampu dan mau membayar biaya sekolah yang dibebankan oleh sekolah menengah atas di kota semarang. responden yang berpenghasilan lebih tinggi memungkinkan untuk memiliki tingkat kemauan yang lebih tinggi membayar biaya sekolah yang dibebankan dibandingkan dengan responden berpenghasilan rendah lainnya. keynes menyatakan pendapatan merupakan variabel ekonomi yang sangat erat kaitannya dan penting dengan tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan kegiatan konsumsi. dalam hal ini sebagai upaya seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup keluarganya sehingga terdapat hubungan yang positif antara pendapatan dan konsumsi (prasetyo, 2012). semakin tinggi pendapatan yang dimiliki seseorang maka tingkat kemampuan mengonsumsi atau membayar juga dianggap semakin tinggi (saptutyningsih, 2007). hasil penelitian ini serupa dengan penelitian rosyadi, sasongko, & hoetoro (2016) tentang kesediaan rumah tangga membayar biaya pendidikan menengah unggul di kota malang, di mana penelitian tersebut menunjukkan bahwa variabel pendapatan rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan atas kesediaan untuk membayar. jika terjadi peningkatan pendapatan rumah tangga maka akan meningkatkan kemauan untuk membayar rumah tangga tersebut. penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh sari & setiartiti (2015), li jingru et al. (2018) kesediaan membayar untuk peningkatan kualitas pelayanan kereta api. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap kesediaan membayar (wtp). golbazi, et al. (2020). hal ini disebabkan semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang maka semakin mudah seseorang mengeluarkan uang untuk kebutuhan lain seperti untuk meningkatkan kualitas. pengaruh yang terjadi antara pendapatan dan kemauan membayar diperkuat oleh penelitian permata (2012) dan li jingru et al. (2018) yang menyatakan bahwa kesediaan untuk membayar secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pendapatan christina w.u., metta p., analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah 83 konsumen dari pendapatan rumah tangga. berdasarkan hasil penelitian ekanem, okon, & ekpoh (2012) juga disebutkan bahwa pungutan spp bergantung pada kemampuan rumah tangga berdasarkan pendapatan yang diterima terhadap biaya pendidikan yang harus dikeluarkan selama siswa menempuh pendidikan. jika pendapatan rumah tangga dapat menutupi anggaran untuk kebutuhan rumah tangga dan terutama biaya pendidikan maka rumah tangga tersebut akan bersedia membayar biaya pendidikan. berdasarkan hasil di lapangan diketahui bahwa secara keseluruhan responden bersedia membayar karena sebagian besar responden memiliki tingkat pendapatan rata-rata rp 3.750.000,00. jumlah tersebut mendekati umr semarang yaitu rp 2.715.000,00 yang artinya pada saat pendapatan tinggi, responden mampu secara finansial untuk membiayai sekolah. hal ini pula yang menyebabkan tingginya minat masyarakat untuk melanjutkan ke sekolah menengah atas di semarang. pendidikan orang tua merupakan pendidikan (pot) yang telah ditempuh oleh orang tua pada jenjang pendidikan formal di indonesia. diukur dalam satuan tahun, misalnya pendidikan dasar (6 dan 9 tahun), pendidikan menengah (12 tahun), dan pendidikan tinggi (15, 16, 18, dan 21 tahun). hasil regresi menunjukkan bahwa variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap besar kemauan membayar (wtp) rumah tangga sekolah menengah atas di semarang. hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian rosyadi, sasongko, & hoetoro (2016) mengenai kesediaan rumah tangga membayar biaya pendidikan menengah unggul di kota malang, di mana dalam penelitian variabel pendidikan orang tua berpengaruh positif dan signifikan tentang kesediaan untuk membayar. berdasarkan hasil penelitian sadikin, dkk. (2017) dijelaskan bahwa terdapat perbedaan faktor-faktor yang memengaruhi besarnya kesediaan membayar karena perbedaan karakteristik sosial ekonomi masing-masing individu. namun hasil penelitian ini didukung oleh penelitian fildzah (2016), walsh sharon, et al. (2018), dan golbazi, et al. (2020) tentang kesediaan membayar (wtp) fasilitas penyelenggara jaminan sosial kesehatan di banda aceh. fildzah (2016) menyatakan bahwa variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap keinginan membayar. hasil penelitian menjelaskan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap keinginan membayar karena sampel yang relatif homogen. berdasarkan hasil di lapangan diperoleh informasi bahwa sampel relatif homogen, dari total 100 responden terdapat 51 orang (51%) yang tamat sma/smk/sederajat. hal ini juga didukung oleh stigma yang tumbuh di masyarakat yaitu rumah tangga dengan kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah cenderung menyekolahkan anaknya di sekolah menengah atas dengan harapan setelah lulus sekolah menengah atas anak tersebut akan segera mendapatkan pekerjaan dengan keterampilan yang dimilikinya. selain itu, variabel tingkat pendidikan orang tua tidak berpengaruh signifikan terhadap kesediaan untuk membayar karena kesediaan untuk membayar orang tua dibatasi oleh biaya sumbangan pengembangan pendidikan (spp) di sekolah menengah atas negeri dan swasta. meskipun pendidikan orang tua tinggi tetapi jika anak responden bersekolah di sman kesediaan untuk membayar relatif rendah, walaupun responden berpendidikan rendah namun jika anak responden bersekolah di sma swasta, kesediaan untuk bayarannya relatif lebih tinggi. hal ini terjadi karena adanya perbedaan biaya iuran bantuan pendidikan antara sma negeri dan swasta, yaitu spp di sma swasta relatif lebih mahal. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 84 jumlah tanggungan (jtrt) adalah anggota rumah tangga yang tidak bekerja dan tidak memperoleh penghasilan. kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya seperti biaya pendidikan anggota rumah tangga yang tidak bekerja ditanggung oleh anggota rumah tangga yang bekerja dan berpenghasilan. jumlah tanggungan suatu rumah tangga diukur berdasarkan jumlah orang dalam suatu rumah tangga. anggota rumah tangga adalah banyaknya anggota keluarga atau orang lain yang tinggal dalam satu rumah. berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa variabel jumlah tanggungan rumah tangga berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar (wtp) rumah tangga sekolah menengah atas di semarang. hubungan yang dimiliki variabel jumlah tanggungan rumah tangga dengan kemauan membayar (wtp) bertanda positif, artinya semakin bertambahnya jumlah tanggungan rumah tangga maka kemauan membayar (wtp) rumah tangga akan meningkat. berdasarkan temuan di lapangan, variabel jumlah tanggungan rumah tangga berpengaruh positif terhadap kesediaan membayar karena rumah tangga yang menjadi responden memiliki rata-rata jumlah tanggungan dua dan tiga orang per rumah tangga, angka ini rata-rata tidak membebani pendapatan rumah tangga. jika dilihat dari tingkat pendapatan rata-rata pendapatan responden adalah rp 3.750.000,00. jumlah tersebut mendekati umk semarang yaitu sebesar rp 2.715.000,00 yang artinya pada saat pendapatan tinggi responden mampu secara finansial untuk membiayai sekolah. hasil penelitian ini sesuai dengan rosyadi, sasongko, & hoetoro (2016); li jingru et al. (2018) tentang kesediaan rumah tangga membayar biaya pendidikan menengah unggul di kota malang, di mana dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa variabel terikat rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesediaan untuk membayar rumah tangga. pengaruh positif jumlah tanggungan karena rumah tangga di tiga lembaga pendidikan menengah terkemuka memiliki rata-rata jumlah tanggungan dua dan tiga orang per rumah tangga, jumlah tersebut ratarata tidak membebani pendapatan rumah tangga. selain itu, tingginya ekspektasi rumah tangga terhadap pendidikan menengah unggul dari segi manfaat yang diperoleh baik jangka pendek maupun jangka panjang membuat rumah tangga rela mengorbankan asetnya untuk membiayai biaya pendidikan anggota rumah tangga guna memperoleh layanan pendidikan menengah unggul. hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian cahyaningrum & iasmaini (2014) yang menyatakan bahwa jumlah anggota rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan di jawa timur. sedangkan zuraidah (1999) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pegawai institut pertanian bogor (ipb) menyatakan bahwa ketergantungan keluarga berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan dan kesehatan. berdasarkan hasil regresi yang diperoleh, variabel umur (us) berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar (wtp) rumah tangga sekolah menengah atas di kota semarang. usia digunakan untuk mengukur kematangan seseorang dalam pengambilan keputusan hubungan yang memiliki variabel usia dengan kesediaan untuk membayar (wtp) bertanda positif. artinya, ketika orang tua menua meningkat, kemauan membayar (wtp) rumah tangga akan meningkat. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh sari & setiartiti, (2015); walsh sharon, et al. (2018) tentang kesediaan membayar untuk peningkatan kualitas pelayanan kereta api dengan menggunakan metode continchristina w.u., metta p., analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah 85 gent valuation (cvm). penelitian ini menunjukkan bahwa usia berpengaruh positif terhadap kesediaan untuk membayar (wtp). hal ini disebabkan semakin bertambahnya usia seseorang, semakin luas pula cara berpikir dalam memahami pentingnya kualitas pelayanan. hasil penelitian ini juga senada dengan penelitian yang dilakukan oleh sasmi (2016) yang menjelaskan bahwa variabel usia berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesediaan membayar. berdasarkan temuan di lapangan, responden secara keseluruhan bersedia membayar uang sekolah di sma karena usia responden masih tergolong usia produktif, tidak ada responden yang melebihi usia produktif 64 tahun. akses ke sekolah (aks) adalah waktu tempuh siswa dari rumah ke sekolah yang diukur dengan menit. berdasarkan hasil estimasi model regresi menunjukkan bahwa variabel lama akses sekolah berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar (wtp) rumah tangga sekolah menengah atas di semarang. hubungan antara variabel lama akses dengan kemauan membayar (wtp) rumah tangga adalah negatif. artinya, saat waktu tempuh berangkat ke sekolah maka kemauan membayar (wtp) rumah tangga di sekolah menengah atas di semarang akan menurun. hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh rosyadi, sasongko, & hoetoro (2016); li jingru et al. (2018) tentang kesediaan rumah tangga untuk membayar biaya pendidikan menengah unggul di malang, di mana dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa akses ke sekolah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kesediaan untuk membayar. pengaruh variabel akses terhadap kesediaan untuk membayar menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh gertler & glewwe (1990) di pedesaan peru yang dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa rumah tangga bersedia membayar biaya pendidikan jika ada lembaga pendidikan menengah di desanya atas permintaan rumah tangga untuk mengurangi waktu tempuh ke sekolah. semakin dekat jarak sekolah ke sekolah menengah maka kemauan untuk membayar rumah tangga semakin meningkat, karena sebagian besar siswa sekolah menengah bekerja membantu orang tua sebagai petani. jika waktu tempuh ke sekolah semakin dekat maka siswa memiliki lebih banyak waktu untuk membantu orang tua bekerja sebagai petani. hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh (saqib, 2004); walsh sharon, et al. (2018) tentang kesediaan untuk membayar (wtp) di sekolah dasar di pedesaan pakistan. studi tersebut menunjukkan bahwa akses waktu tempuh ke sekolah berpengaruh pada kesediaan untuk membayar orang tua di pedesaan pakistan. semakin dekat waktu tempuh ke sekolah, semakin besar keinginan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah dasar. temuan ini sesuai dengan hasil di lapangan, orang tua akan memilih sma yang lebih dekat dengan rumah, karena jika jarak dari rumah ke sekolah lama maka rumah tangga akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. misalnya, biaya hidup seorang anak jika jarak ke sekolah tidak memungkinkan setiap hari dari rumah. menurut khasanah (2012) dalam penelitiannya tentang pengambilan keputusan orang tua dalam memilih sekolah dasar diperoleh fakta bahwa lokasi sekolah berpengaruh terhadap keputusan memilih sekolah. penilaian lokasi sekolah adalah jarak tempuh, transportasi, dan keamanan serta kenyamanan pergi ke sekolah sehingga pengaruh positif lokasi sekolah dapat diperoleh atas keputusan orang tua. penilaian lokasi dan akses sekolah pada hasil penelitian ini sama-sama berpengaruh, orang tua akan sangat mempertimbangkan lokasi atau akses business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 86 sekolah dalam menentukan lembaga pendidikan untuk anaknya. berdasarkan temuan di lapangan, responden secara keseluruhan bersedia membayar karena rata-rata lama waktu akses responden ke sekolah ±30 menit sehingga responden tidak mengalokasikan tambahan dana yang terlalu banyak biaya berupa biaya transportasi anakanak (siswa) ke sekolah. kesimpulan berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan, kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah nilai rata-rata kesediaan untuk membayar (wtp) rumah tangga sekolah menengah atas di kota semarang adalah rp 559.034,00 per bulan dan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kesediaan membayar (wtp). jumlah rumah tangga di sekolah menengah atas adalah variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, dan lama akses, sedangkan variabel yang tidak memengaruhi kesediaan membayar (wtp) rumah tangga sma di semarang adalah variabel pendidikan orang tua. daftar rujukan bps. 2017. central java in figures 2017. semarang: bps. bps. 2017. indonesian statistics 2017. jakarta: bps. danim, s. (2003). human resource economics. bandung: loyal library. bps. 2017. semarang in figures 2017. semarang: bps. cahyaningrum, n.i. & iasmaini, z. 2012. tobit regression approach to factors affecting household expenditures for education in east java. (http//www.digilib.its.ac.id). downloaded on february 18, 2018. ekanem, e.e., okon, j.e., & ekpoh, u.i. 2012. reforming education through user fees: ability and willingness to pay for university education in calabar, nigeria. journal of education and practice, 3 (8). fauzi, a. 2004. economy of natural resources and environment. jakarta: main gramedia library. fildzah, s. 2016. willingness to pay (wtp) facility of health social security organizing agency in banda aceh. essay. banda aceh: syah kuala university. gertler, p. & glewwe, p. (1990). the willingness to pay for education in developing countries evidence from rural peru. journal of public economics, 251–275. golbazi, arel el danaf, & can b. aktas. (2020). willingness to pay for green buildings: a survey on students’ perception in higher education. energy and building, vol. 216. khasanah, n. 2012. factors affecting parents in decision making choosing private primary schools (sd virgo maria 2 and sdip. h. soebandi bawen district, semarang regency). satya widya, 28(2), 137– 146. li jingru, jian zuo, hong guo, gaihong he, & han liu. 2018. willingness to pay for higher construction waste landfill charge: a comparative study in shenzhen and qingdao, china. waste management, 81, 226–233. ngadi. 2014. relevance of vocational education to the labor market in indonesian. the indonesian population journal, 9(1). nihayah, d.m. & kusumantoro. 2010. determinants of regional wages: skilled labor and uneducated labor in indonesia. jejak, 28–39. nurtanto, m. & ramdani, s.d. 2016. preparing vocational education based on local wischristina w.u., metta p., analisis willingness to pay dan pengaruh variabel pendapatan, jumlah tanggungan rumah tangga, usia, akses ke sekolah terhadap pemilihan serta pengembangan strategi pengelolaan sekolah 87 dom, 1(1), 59–66. yogyakarta: yogyakarta state university. nurtanto, m. 2015. implementation of problem based learning based basic compensation of conventional ignition systems to improve cognitive, psychomotor, and affective learning outcomes of ma’arif salam vocational school students. in thesis. permata, m.r. 2012. ability to pay analysis and willingness to pay for soekarno hatta manggarai railway service users. thesis. depok: ui (university of indonesia). prasetyo, p.e. 2012. macroeconomic fundamentals. yogyakarta: yogyakarta beta offset. rosyadi, m.i., sasongko, & hoetoro, a. 2016. willingness to pay households in paying for superior middle education fees in malang. journal of economics and development studies, 8(2). sadikin, p.n., mulatsih, s., pramudya, b., & arifin, h.s. 2017. willingness to pay analysis on mount rinjani national park ecotourism. journal of forestry policy analysis, 31–46. saptutyningsih, e. 2007. influential factors against willingness to pay for improvement of code river water quality in yogyakarta. journal of economics and development studies, viii(2), 171–182. saqib, n.u. 2004. willingness to pay for primary education in rural pakistan. the pakistan development review, 43(1), 77– 51. sari, a.k. 2012. analysis of the effect of education levels, economic growth, and wages on educated unemployment in west sumatra. journal of development economics. sari, h.p. & setiartiti, l. 2015. willingness to pay improved railway service quality. journal of economics and development studies, 16(2), 200–209. sasmi, n.a. 2016. factors affecting willingness to pay visitors to goa cemara beach tourism object using the contingent valuation method (cvm). essay. yogyakarta: muhammadiyah university of yogyakarta. sharon w., cullinan, j., & flannery, d. 2018. exploring heterogenity in willingness to pay for the attributes of higher education institutions. oxford economic papers, 1–22 doi: 10.1093/oep/gpy030. simanjuntak, g.e.m. 2009. willingness to pay society analysis of improvement of service of water supply system with wslc (water study of low income community) (case study of situdaun village, tenjolaya district, bogor regency). thesis. bogor: ipb (bogor agricultural institute). susanti, a. & nihayah, d.m. 2019. economics development analysis journal, 8(2). yogyakarta: yogyakarta state university. susiani, r. 2009. study of the international standard school (sbi) of sma negeri 2 salatiga and its relationship in the development of surrounding areas. in thesis. semarang: diponegoro university. zuraidah, y. 1999. economic crises influence on expenditures for education and family health (study of civil servants at the bogor agricultural institute). essay. bogor: ipb (bogor agricultural institute). yoseva�maria pujirahayu sumaji, the calculation of�value at risk�using�variance covariance in lq-45 companies 175175 the calculation of�value at risk�using�variance covariance in lq-45 companies � yoseva�maria pujirahayu sumaji ciputra university, surabaya, indonesia e-mail: yoseva.maria@ciputra.ac.id abstract: the government of indonesia is trying to find some solutions�to indonesia’s economic problems.�one of the problems of indonesia’s economic growth is the lack of capital and correct calculation of capital risks, especially in stock investments can reduce the occurrence of various capital problems in accordance with the criteria required and obtained by 9 companies analyzed.�the analytical method used in calculating market risk in stock investments in this study is variance covariance value at risk.�this method is a risk measurement through the highest estimated losses over a period of time and assumed confidence levels.�to prove the level of trust of the variance covariance value at risk method, analysis was conducted using back testing method.�the results of this study show that the method of calculating variance covariance value at risk is the right and accurate method to calculate market risk from the company’s stock. � keywords:�var, variance-covariance, back testing preliminary capital flows as a part of economic growth from the capital market, namely the indonesia stock exchange. the capital market sells shares that have an economic function because the capital market provides facilities or a vehicle for meeting interests, namely those who have excess funds and those who need funds. stocks that are known to have high risk-high return characteristics, meaning that they provide opportunities for high profits but also have the potential to have a high risk of loss. stock price fluctuations cause investors to gain or lose. not only investors who have the risk of their investment, but the company will also have risks that are in the company after the investor makes an investment. this risk is called speculative risk. speculative risk, arguably includes a larger class of risk. speculative risk is the uncertainty of events that can give rise to gain or loss. according to aparna gupta (2013), speculative risk can be categorized as market risk, credit risk, strategy, business and reputation risk. companies must manage risks, especially market risks, so as not to have an impact on company earnings and also the profits provided to investors. this risk can occur in all sectors including the manufacturing industry sector. company industrial sector manufacturing in indonesia has a great influence on economic growth. the manufacturing industry is the sector most attractive for investors to invest. the industry ministry has been optimistic about the growth of the manufacturing industry, despite various obstacles including limited availability of infrastructure and others. according to markowitz (1952), going public companies also have an impact on a large number of domestic and foreign investors. in investing, there are three bases that need to be calculated, namely the expected return, the level of risk, and the relationship between return and risk. investors can reduce risk by diversifying their investments. diversified investment will provide optimal rebusiness and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 176 turns in return for investment in a portfolio. markowitz (1952) has proven that investment risk will be reduced when combining several assets in a portfolio. yoseva (2017) states that there are several methods of measuring risk, namely the traditional method and the value at risk method. according to the traditional method of risk measurement, quantification of risk is carried out by measuring sensitivity by observing changes in one of the risk factors and their effect on the gain or loss of a portfolio. traditional measurement results are the amount of loss experienced, but these measurements do not provide an idea of the probability of the potential amount or loss that may be experienced. in addition, the measurement is traditionally used on individual assets, so that each asset has a different risk measurement method (sartono, 2006). according sartono (2006), when each of these assets are combined into one portfolio, risk measurement becomes difficult because many methods used for each calculation of the asset. in 1994, jp morgan developed the value at risk (var) method which is then used very widely to measure various types of risk. according to best (1999), value at risk (var) is a statistical risk measurement method that estimates the maximum loss that may occur at a certain level of confidence in a portfolio. there are several models in measuring var, namely the variance-covariance model, the historical simulation model, and the monte carlo model. previous research (yoseva, 2017) found that calculating var using the variance-covariance model resulted in a greater undiversified var compared to the historical calculation model. according to butler (1999), estimating potential losses that could arise from adverse changes in market conditions is a key element of risk management. for financial institutions and treasuries companies around the world, value at risk (var) is fast emerging as the dominant methodology for estimating exactly how much money is at risk on a daily basis in financial markets. crouhy (2001) states that; var is the worst possible loss that you can expect from holding a security or portfolio over a period of time, given the specified level of probability (known as the ‘confidence level’). this research was conducted to determine the validity of risk calculations using the variance covariance method, followed by a backtesting test to see that the calculation method used is valid and accurate, or vice versa. this study uses the objects of the manufacturing industry in indonesia which are members of the lq-45 where the company is the most active for the last 3 years and has the highest market capitalization for the last 12 months, because it can represent the values of daily market trading, and to find out whether this method is used, and can be used as a reference for calculating risk, especially for companies that have a major contribution to economic growth in indonesia. literature review previous research this study is a continuation of previous studies, where several researchers tested the measurement of potential losses (var) using the variance-covariance model and the historical simulation model. in 2005, oom komariyah conducted research on the risk analysis of stock market investment against sharia in the 10 jakarta’s islamic index (jii). in the study sample, 10 stock issuers representing 30 sharia, whose shares were consistently traded in the first period from november 2002 to december 2004, yoseva�maria pujirahayu sumaji, the calculation of�value at risk�using�variance covariance in lq-45 companies 177 were taken on the jakarta stock exchange. the research methodology used is the methodological value of the risk variance-covariance model and the historical simulation model. the results of the study conclude that the second model is applicable to measure a maximum of 10 losses of sharia stocks that are included in the jakarta islamic index. to test the validity of the model is to look at the failure rate (failure rate) with the kupiec test. in 2007, a research entitled value at risk method: an application for swedish national pension fund (ap1, ap2, ap3) was conducted by students of blanka grubjesic university of skovde sweden using a parametric model. the study was conducted in the calculation of the daily earning at risk with a parametric or variance-covariance model on three pension fund asset portfolios consisting of 20 types of stocks traded on the swedish exchange, 20 foreign stocks and 10 bonds. the period examined was from january 3, 2005, to december 30, 2005, with a 95% confidence level. the resulting conclusion emphasizes that the application of a simple parametric model approach can easily be applied to the investment of the swedish national pension fund (ap pension fund). understanding investment and risk according to bodie (2009) ordinary shares have two important characteristics as an investment tool that claims the remainder (residual claim) and limited liability. investment is a variety of activities that are capable of investing a number of funds in these assets. investment is the attachment of a number of funds or other resources to do this time, with the goal of obtaining a profit in the future (tandelilin, 2010). this objective affects investment because of a need or need where the investment occurs spontaneously in accordance with the development of life needs, as well as investment because of an expectation of profit and profit. apart from motivation, there are also aspects that can arise in the investment, namely the aspect of sacrifice. in this case, an investor must be answered resources, the aspect of hope to the investment which he did for the public welfare, the aspect of risk that each person can conduct business investment to earn a profit, but the reality is not everyone can make a profitable business, will there is a turnover or even a loss, the time aspect in which to invest requires patience in waiting for the expected return and the type aspects where each investment likes to take different forms and risks. according to hanafi (2006) is a risk, the imbalance between the actual rate of return with the expected rate of return (er). risk is the prospect of an unwelcome result (operating as the standard deviation). with this, it can be concluded that the definition of risk is a condition that arises due to uncertainty with completely unfavorable and possible impacts. according to fabozzi (2007) portfolio risk is not only determined by the risk-weighted average shares that make up the portfolio, but is also influenced by the correlation coefficient factor between the level of stock earnings. meanwhile, a variance portfolio consisting of two or more assets depends not only on the variance of each asset but also on how close the relationship is between the two asset. investments and stock returns one of the goals of investors in investing is to make a profit. if investing does not generate a profit, of course investors will not invest. so, broadly speaking, the main objective of all inbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 178 vestments is to make a profit. according to tandelilin (2010), the expected profit from a portfolio is the weighted average of the expected rate of return of each individual asset that makes up the portfolio. the presentation of the value of the portfolio that has been invested in each individual asset in the portfolio is known as portfolio weighting. if all portfolio weights are added and have a total of 100% or 1.0, then all funds have been invested with the expected portfolio return (tandelilin, 2010). research�methodology type of research and sampling this type of research is quantitative research. according to gujarati (2001), quantitative research focuses on research using measured data. the type of data also uses quantitative data to calculate returns and var. sources of data in this study are secondary data sources. the calculation used in this research is the manufacturing industry in indonesia which is registered in lq-45, which is 45 companies registered. the sampling technique in this study was nonprobability sampling with purposive sampling type. the criteria used are based on certain reasons or rations. for the research, the criteria used are with certain considerations, namely: 1. indonesian manufacturing companies are listed on the indonesia stock exchange with active stocks and meet the criteria for the 45 most active stocks in the last 3 years. 2. manufacturing companies have a market capitalization of more than rp 1 trillion, because they can represent the values of daily market trading, and are even able to become an index mover in the formation of the jci on the indonesia stock exchange. table 1 sample classification source: processed data, 2021 the number of stock data as an investment portfolio after the determination of these criteria is 9 shares. the daily data collected for each share is as much as 780 daily share price data. calculation phase in general, the calculation stages in measuring the risk of stock market investment policies in manufacturing companies use the value at risk model, including: 1. determine the type and number of shares to be used according to the sampling criteria 2. calculate expected returns using geometry return. 3. calculating portfolio return using a formula. 4. calculating var using matrix v, c, vc, vcv. 5. determine the variance of each stock and the variance covariance portfolio model. testing�of�validity the calculation of var in this study uses data return stock, to measure the validity of testing needs to be carried out var data, which includes the distribution pattern of the classical no. criteria number of samples 1 indonesian manufacturing companies are listed on the indonesia stock exchange with active stocks and meet the criteria for the 45 most active stocks in the last 3 years. 30 companies 2 manufacturing companies have a market capitalization of more than rp. 1 trillion, because they can represent the values of daily market trading, and are even able to become an index mover in the formation of the jci on the indonesia stock exchange. 9 companies yoseva�maria pujirahayu sumaji, the calculation of�value at risk�using�variance covariance in lq-45 companies 179 assumptions. to determine whether this model is valid or not, then do testing back through test kupiec by using the data submarines a year. in test kupiec is carried test in which the level of trust kupiec that is used is 95% and is done with a test 252 transaction data for a period of 1 year. here’s how calculation to kupiec test: 1. if the failure rate (n) numbering is between 6 < n < 21, then the var model is considered valid for measuring potential losses. 2. if n < 6 then the model is considered too conservative to measure potential losses. 3. if n > 21 then the model is considered too moderate to measure potential losses. research results and discussion stock exposure calculation the selection of shares by the management of indonesian manufacturing companies is based on the consideration of investment diversification in various kinds of stocks. if the case decrease in the return of an asset class, it is expected that the return on other asset classes increase, so the return on the overall portfolio relatively fluctuated. the following is a stock portfolio arrangement used in this study: based on the exposure of stock investments made by companies manufacturing indonesia looks issuers that have dominated by sub automotive sector (39,49%) namely asii (astra), things can be understood considering the very high development of automotive companies in indonesia due to popular demand the market will be motorized vehicles. the type of data in this research is a continuous data and time series, so as to calculate the result of the return day of her using the method of calculation of geometric returns are included in a logarithmic function of the ratio of the price. the use of geometric returns to avoid biased results with respect to the magnitude of the effect is divided as a common element in calculations using arithmetic returns. based approach to geometry return, the next is to calculate the daily for the nine selected stocks. after knowing the daily return of each stock in a predetermined period, the daily portfolio return of each stock is calculated. then, the return t is then assessed the proportion (weighted) of each share portfolio. 100% weighting occurs when the overall portfolio weight is aggregate. stock lot share volume closing price portfolio value weight asii 932. 481 93.248. 100 6.450 601.450.245.000 39,49% cpin 154. 889 15.488. 900 3.345 51.810.370.500 3,40% ggrm 14. 341 1.434. 100 58.350 83.679.735.000 5,49% icbp 45. 212 4.521. 200 14.450 65.331.340.000 4,29% indf 179. 966 17.996. 600 6.200 111.578.920.000 7,33% intp 54. 173 5,417, 300 19.700 106.720.810.000 7,01% klbf 1.027. 517 102.751.700 1.335 137.173.519.500 9,01% smgr 166. 838 16.683. 800 11.050 184.355.990.000 12,11% unvr 49. 255 4.925. 500 36.700 180.765.850.000 11,87% total 262.467.200 1.522.866.780.000 100% table�2�indonesian manufacturing company stock exposures source: processed data, 2021 business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 180 classic assumption test the type of classical assumption test used is the normality test. this test is conducted to determine whether the nine stocks return distribution data is normally distributed or not/ skewed. based on the normality test showed that the overall 9 stock experienced a data abnormality in as right value asymp. sig (twotailed) were smaller than at 0,05. therefore, in calculating variance-covariance need to calculate z-score used cornish fisher. after her test for normality, in the know that the data is experiencing lack of normal late the data, therefore it is necessary for the recalculation of the value of �. the � value used in the normal distribution comes from the normal use of the z-score value. while the value on the distribution of abnormal use is generated from an adjustment through the correction z. customization performed on the data form � skewness normality to wear expansion cornish-fisher. in addition to the normality test, heteroscedasticity test is also conducted to determine homoscedasticity or heteroscedasticity data. based on the results of the data, the return obtained is homoscedasticity because the t-significance is more than 0,05. for this reason, the calculation of return volatility using the exponentially weighted moving average (ewma) approach is no longer necessary. calculation of variance covariance var for each share the following is the stage of calculating the variance covariance of each stock:� table�3�matrix�calculation�v source: processed data, 2021 code asii cpin ggrm icbp indf intp klbf smgr unvr asii 0,02148 cpin 0,03082 ggrm 0,02093 icbp 0,02037 indf 0,02140 intp 0,02434 klbf 0,02128 smgr 0,02332 unvr 0,02087 table 4�matrix�calculation�c source: processed data, 2021 code asii cpin ggrm icbp indf intp klbf smgr asii 1 0,47436 0,32224 0,37442 0,45320 0,49842 0,42130 0,51168 cpin 0,47436 1 0,42188 0,36999 0,39591 0,44034 0,40725 0,47591 ggrm 0,32224 0,42188 1 0,31617 0,33692 0,35293 0,33643 0,36954 icbp 0,37442 0,36999 0,31617 1 0,36814 0,33278 0,43199 0,30018 indf 0,45320 0,39591 0,33692 0,36814 1 0,48233 0,40005 0,40269 intp 0,49842 0,44034 0,35293 0,33278 0,48233 1 0,43545 0,68637 klbf 0,42130 0,40725 0,33643 0,43199 0,40005 0,43545 1 0,41835 smgr 0,51168 0,47591 0,36954 0,30018 0,40269 0,68637 0,41835 1 yoseva�maria pujirahayu sumaji, the calculation of�value at risk�using�variance covariance in lq-45 companies 181 the var value shows the maximum possible (potential) loss on a financial asset or portfolio in a utilization period with a certain level of confidence. in the table above is known that the value of var is the highest in the period of 1 day per share occurred on ggrm shares amounting to rp 2.842,41, while the value of var most low occurred on klbf table 5�calculation of matrix cv source: processed data, 2021 table 6 calculation of matrix vcv source: processed data, 2021 � unvr 0,42408 0,40942 0,34128 0,34605 0,41037 0,37137 0,46918 0,38095 1 code asii cpin ggrm icbp indf intp klbf smgr unvr asii 0,000461 0,000314 0,000145 0,000164 0,000208 0,000261 0,000193 0,000256 0,000190 cpin 0,000314 0,000949 0,000272 0,000232 0,000261 0,000330 0,000267 0,000342 0,000263 ggrm 0,000145 0,000272 0,000437 0,000135 0,000151 0,000180 0,000150 0,000180 0,000149 icbp 0,000164 0,000232 0,000135 0,000414 0,000160 0,000165 0,000187 0,000143 0,000147 indf 0,000208 0,000261 0,000151 0,000160 0,000457 0,000251 0,000182 0,000201 0,000183 intp 0,000261 0,000330 0,000180 0,000165 0,000251 0,000592 0,000226 0,000390 0,000189 klbf 0,000193 0,000267 0,000150 0,000187 0,000182 0,000226 0,000452 0,000208 0,000208 smgr 0,000256 0,000342 0,000180 0,000143 0,000201 0,000390 0,000208 0,000543 0,000185 unvr 0,000190 0,000263 0,000149 0,000147 0,000183 0,000189 0,000208 0,000185 0,000435 code asii cpin ggrm icbp indf intp klbf smgr unvr asii 0,000461 0,474359 0,322242 0,374418 0,453203 0,498423 0,421304 0,511683 0,424078 cpin 0,474359 0,000949 0,421882 0,369994 0,395911 0,440341 0,407253 0,475913 0,409423 ggrm 0,322242 0,421882 0,000437 0,316169 0,336921 0,35293 0,336426 0,369543 0,341284 icbp 0,374418 0,369994 0,316169 0,000414 0,368141 0,332778 0,431989 0,300177 0,346048 indf 0,453203 0,395911 0,336921 0,368141 0,000457 0,482328 0,400054 0,402692 0,410373 intp 0,498423 0,440341 0,35293 0,332778 0,482328 0,000592 0,435452 0,686373 0,371374 klbf 0,421304 0,407253 0,336426 0,431989 0,400054 0,435452 0,000452 0,418354 0,469185 smgr 0,511683 0,475913 0,369543 0,300177 0,402692 0,686373 0,418354 0,000543 0,380949 unvr 0,424078 0,409423 0,341284 0,346048 0,410373 0,371374 0,469185 0,380949 0,000435 table�7�calculation of variance covariance value at risk�in a period of�1 day, 5 days, 10 days, and 20 days source: processed data, 2021 code price exposure st. deviation z correction var a day var 5 days var 10 days var 20 days asii 6.450,00 0,02148 2,47909216 343,38947 767,84220 1085,892853 1535,6844 cpin 3.345,00 0,03082 2,646182746 272.80133 610,002308 862,6735373 1220,00462 ggrm 58.350,00 0,02093 2,327553661 2.842,41023 6355,8225 8988,490381 12711,645 icbp 14.450,00 0,02037 2,577873584 758,63385 1696,35686 2399,010879 3392,71372 indf 6.200,00 0,02140 3,109308725 412,46173 922,292466 1304,318513 1844,58493 intp 19.700,00 0,02434 2,65294 1.272,01305 2844,30765 4022,458452 5688,6153 klbf 1.335,00 0,02128 2,491867898 70,79996 158,31352 223,8891277 316,627041 smgr 11.050,00 0,02332 2,844247963 732,80188 1638,59482 2317,323011 3277,18963 unvr 36.700,00 0,02087 1,804364288 1.381,75932 3089,70778 4369,506645 6179,41556 business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 182 shares amounting to rp 70,79. for the value of var in the period of time 5 days ahead, the highest occurred in ggrm shares amounting to rp 6.355,82 while the lowest occurred in s aham klbf amounting to rp 158,31. for the var value within the next 10 days, the highest was ggrm shares amounting to rp 8.988,49, while the lowest occurred in klbf shares with rp 223,88. finally, for the value of var in the period of the next 20 days per share, the highest in the shares ggrm rp 12.711,64, while the lowest value of var exist on klbf shares worth rp 316,62. var model testing after calculating the var value, to determine whether the value is accurate or not, a backtesting test is performed (jorion, 2007). one of the backtesting models is done with the kupiec test (kupiec, 1995), namely by comparing the test results between the predicted values of the actual var return data. testing back through test kupiec by using the data submarines a year. in test kupiec is carried test in which the level of trust kupiec that is used is 95% and is done with a test 252 transaction data for a period of 1 year. the following kupiec test is evaluated: 1. if the failure rate (n) numbering is between 6 < n <21, then the var model is considered valid for measuring potential losses. 2. if n < 6 then the model is considered too conservative to measure potential losses. 3. if n > 21 then the model is considered too moderate to measure potential losses. 4. the following is the result of var backtesting testing table 8�var�backtesting�results code differencecovariance validity (<21) asii 8 valid cpin 8 valid ggrm 10 valid icbp 7 valid indf 7 valid intp 16 valid klbf 10 valid smgr 7 valid unvr 18 valid from the results table above stated that the failure rate generated by the model variance-covariance very small as evidenced by value 6 45 55 18,3% total 300 100.00% business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 160 25 tahun sebanyak 7 responden atau 2,33%. dari penyebaran instrument penelitian pada sampel data juga diperoleh memiliki karakteristik responden sebagai berikut. tabel 3 karakteristik responden berdasarkan posisi generasi gambar 2 model sem berdasarkan hipotesis mengevaluasi estimasi model normalitas data dari hasil output amos mengenai penilaian normalitas data sebagai berikut. tabel 5 hasil uji normalitas berdasarkan tabel 3, penelitian mengenai karakteristik responden berdasarkan posisi generasi, generasi pendiri bisnis adalah 55 responden atau 18,3%. generasi penerus mendominasi karakteristik responden sebanyak 245 responden atau sebesar 81,7%. tabel 4 karakteristik responden berdasarkan kategori bisnis berdasarkan tabel 4, terdapat 159 perusahaan keluarga sektor manfukatur kategori olahan pangan, 57 perusahaan kategori material bangunan, 36 perusahaan kategori logam dan 48 perusahaan kategori kimia yang menjadi sampel penelitian ini. penyusunan model sem penyusunan model sem dan pembuatan diagram jalur dilakukan untuk mengetahui model penelitian secara keseluruhan. berdasarkan hipotesis penelitian maka dibuatlah diagram jalur sem sebagai berikut. kategori jumlah persentase olahan pangan 159 53% material bangunan 57 19% logam 36 12% kimia 48 16% sumber: data diolah, 2021 posisi generasi jumlah persentase generasi penerus 245 81.7% pendiri 55 18.3% 300 100.0% sumber: data diolah, 2021 variable min max skew c.r. kurtosis c.r. cp4 2.000 5.000 -1.026 -9.364 .134 .611 cp3 1.000 5.000 -1.472 -13.439 2.462 11.237 cp2 2.000 5.000 -.319 -2.915 -1.354 -6.178 cp1 2.000 5.000 -.726 -6.630 -.571 -2.608 cc4 2.000 5.000 -.635 -5.800 -.780 -3.560 cc3 1.000 5.000 .259 2.365 -.794 -3.623 cc2 1.000 5.000 -.920 -8.399 -.217 -.992 cc1 2.000 5.000 -.235 -2.142 -1.240 -5.660 is1 1.000 5.000 -1.035 -9.453 -.050 -.230 is2 1.000 5.000 -.651 -5.942 -.562 -2.564 is3 1.000 5.000 -.950 -8.669 1.086 4.956 lcr1 4.000 5.000 -1.094 -9.990 -.802 -3.663 lcr2 2.000 5.000 -.164 -1.498 -1.069 -4.881 lcr3 2.000 5.000 -.894 -8.160 -.058 -.263 lcr4 1.000 5.000 .122 1.118 -.944 -4.308 sp1 1.000 5.000 .236 2.155 -.540 -2.466 sp2 1.000 5.000 .077 .701 -.928 -4.238 sp3 3.000 5.000 -.687 -6.270 -.547 -2.498 sp4 3.000 5.000 -1.177 -10.748 .394 1.798 sp5 1.000 5.000 -.295 -2.692 -1.023 -4.669 sp6 1.000 5.000 -.290 -2.647 -.968 -4.417 sp7 3.000 5.000 -.590 -5.383 -.899 -4.104 sp8 2.000 5.000 -1.532 -13.984 1.748 7.978 multivariate -35.715 -11.775 sumber: data diolah, 2021 data dikatakan terdistribusi normal jika pada tingkat probabilitas 0,01 dan nilai c.r. tidak melebihi angka kritis sebesar 2,58. pada tabel tersebut menunjukkan bahwa ada data tidak terdistribusi normal. hal ini dikarenakan hendro susanto, metta padmalia, roos kities andadari, analisis dampak manajemen rantai nilai dalam masa pandemi covid pada kinerja perusahaan (studi pada perusahaan keluarga sektor manufaktur di jawa timur) 161 masih terdapat nilai signifikansi masing-masing variabel tersebut memiliki nilai yang lebih besar dari 2,58. namun, untuk mendapatkan data yang normal pada praktiknya sangat sulit ditemukan dalam penelitian keperilakuan. oleh sebab itu, peneliti tetap menggunakan data tersebut untuk dianalisis lebih lanjut. selain itu, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang disajikan apa adanya dari penelitian yang berasal dari data primer berdasarkan jawaban responden yang sangat beragam sehingga sulit untuk memperoleh data yang terdistribusi normal. namun, adanya temuan ini, peneliti tetap menggunakan data tersebut untuk dianalisis lebih lanjut. uji kelayakan model (goodness-of-fit) uji goodness-of-fit dilakukan untuk mengetahui seberapa fit model dengan data penelitian yang diperoleh. berdasarkan pengujian, output yang di peroleh di dapatkan hasil sebagai berikut. tabel 6 hasil pengujian model awal gambar 3 output diagram jalur model sem awal pada tabel 6 dapat disimpulkan bahwa indikator yang diberi tanda merah memiliki factor loading <0,5 sehingga perlu dilakukan penghapusan indikator yang memiliki loading factor di bawah 0,5. setelah ketiga data tersebut dihapus, dibuatlah kembali model seperti pada gambar 4. estimate sp7 <--sp .302 sp6 <--sp .540 sp5 <--sp .598 sp4 <--sp .187 sp3 <--sp .180 sp2 <--sp .871 sp1 <--sp .867 lcr4 <--lcr .543 lcr3 <--lcr .585 lcr2 <--lcr .586 lcr1 <--lcr .505 is3 <--is .812 is2 <--is .962 is1 <--is .595 cc1 <--cc .640 cc2 <--cc .598 cc3 <--cc .531 cc4 <--cc .939 cp1 <--cp .569 cp2 <--cp .949 cp3 <--cp .734 cp4 <--cp .796 sumber: data diolah, 2021 gambar 4 model sem setelah dievaluasi setelah dilakukan penghapusan indikator dan dilakukan uji goodness of fit, maka hasil pengujian dapat dilihat sebagai berikut. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 162 tabel 7 hasil analisis kesesuaian model masi dapat terpenuhi. hubungan antar konstruk dalam hipotesis ditunjukkan oleh nilai regression weights. hipotesis diterima apabila tingkat signifikansi hubungan antar-variabel pada regression weight dari estimate maximum likelihood memiliki nilai p < 0,05 (cooper dan schindler, 2014). hipotesis diterima jika pengaruh dari konstruk pada konstruk yang lain memiliki nilai parameter estimasi yaitu nilai kritis yang lebih besar dari 1,96 pada tingkat signifikansi 0,05. berikut adalah hasil pengujian dengan model yang telah diperbaharui. pada tabel 8 menunjukkan bahwa hipotesis penelitian dinyatakan terbukti berpengaruh signifikan karena nilai p kurang dari 0,05 (alfa 5%). h1 dan h4 pengaruh positif signifikan, sedangkan h2 dan h4 tidak signifikan. berdasarkan tabel 7, marginal fit adalah kondisi kesesuaian model pengukuran di bawah kriteria ukuran absolute fit, maupun incremental fit, namun masih dapat diteruskan pada analisis lebih lanjut, karena dekat dengan kriteria ukuran good fit (hair et al.,1998). lebih lanjut, hair et al. (2014) menegaskan bahwa model dikatakan layak jika paling tidak salah satu pengujian kesesuaian model terpenuhi. oleh karena itu, berdasarkan keseluruhan pengukuran goodness of fit dari model penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model yang diajukan dapat diterima dengan kelayakan yang cukup. analisis uji hipotesis pengujian hipotesis dilakukan setelah kriteria goodness of fit model struktural yang diestiregression weight estimate s.e. c.r. p keterangan strategic partnership à corporate competitiveness 0,573 0,201 2,855 ,004 h1 positif signifikan long term customer relationship à corporate competitiveness -0,483 0277 -1.742 ,082 h2 negatif tidak signifikan information sharing à corporate competitiveness 0,404 0,079 5,108 ,000 h3 positif signifikan corporate competitiveness à corporate performance 0,001 0.038 0,018 0,986 h4 positif tidak signifikan tabel 8 hasil uji hipotesis sumber: data diolah, 2021 c goodness of fit nilai yang diharapkan hasil evaluasi absolute fit measures chi-square (��!) diharapkan kecil 5869,994 poor fit probabilitas ≥ 0,05 0,000 good fit rmsea ≤ 0,08 0,281 poor fit gfi ≥ 0,90 0,573 marginal fit incremental fit measures agfi ≥ 0,90 0,450 marginal fit cfi ≥ 0,90 0,383 marginal fit tli ≥ 0,90 0,281 marginal fit parsimony fit measures cmin/df ≤ 5,00 36,012 poor fit sumber: data diolah, 2021 hendro susanto, metta padmalia, roos kities andadari, analisis dampak manajemen rantai nilai dalam masa pandemi covid pada kinerja perusahaan (studi pada perusahaan keluarga sektor manufaktur di jawa timur) 163 pembahasan dari hasil analisis data terlihat bahwa hipotesis pertama terbukti, ini berarti selama masa pandemi covid-19, kemitraan dengan suplier dan distributor terbukti telah mampu meningkatkan daya saing perusahaan. hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh youn, s. (2013) hasil penelitian mendapatkan temuan bahwa kemitraan dengan suplier dan distributor tidak bersifat jangka pendek, namun juga aktif melibatkan suplier dan distributor di dalam perumusan strategi perusahaan. untuk hipotesis kedua, tidak terbukti yang menunjukkan bahwa hubungan jangka panjang dengan konsumen tidak terbukti memengaruhi daya saing perusahaan. hal ini tidak sejalan dengan penelitian fuxiang, l., & yuhui, y. (2011) dan youn (2013), di mana upaya untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen belum seluruhnya dapat dilakukan oleh perusahaan keluarga sektor manufaktur. proses untuk memahami dan mengetahui kebutuhan dari pelanggan haruslah ditopang dengan data berbasis pelanggan yang cukup lengkap dan hal ini masih belum mampu dipenuhi oleh perusahaan keluarga di sektor manufaktur selama masa pandemi covid-19. untuk hipotesis ketiga terbukti, ini berarti berbagi informasi mampu meningkatkan daya saing perusahaan selama masa pandemi covid19. hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh zhao, x. (2002) dan fawcett, s. (2007). selama masa pandemi covid-19 kecenderungan untuk berbagi informasi secara internal dan eksternal dengan mitra-mitra perusahaan memang mengalami peningkatan secara signifikan. di mana aktivitas berbagi informasi ini memperlancar dari segi operasional dan pengambilan keputusan perusahaan. sedangkan untuk hipotesis keempat tidak terbukti, ini menunjukkan daya saing perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh youn (2013), zhao, x. (2002), suharto (2013) dan wulandari (2017). hal ini dapat dijelaskan bahwa di tengah pandemi covid-19 ukuran kinerja perusahaan yang diukur dari efisiensi biaya, profitabilitas perusahaan, tingkat keluhan pelanggan dan pangsa pasar memang terlihat mengalami penurunan di hampir mayoritas perusahaan keluarga sektor manufaktur di jawa timur. strategi supply chain management merupakan kumpulan kegiatan dan aksi strategis yang dilakukan perusahaan di sepanjang supply chain guna menciptakan rekonsiliasi antara apa yang dibutuhkan pelanggan akhir dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki supply chain tersebut (pujawan, 2010). penelitian ini menunjukkan bentuk strategi supply chain yang tepat bagi perusahaan, terutama perusahaan keluarga sektor manufaktur yang ada di jawa timur. lebih lanjut lagi, penelitian ini telah berhasil menganalisis kemampuan sumber daya perusahaan, aktivitas supply chain perusahaan yang menjadi daya saing bagi perusahaan keluarga bidang manufaktur semasa pandemi covid-19. selama kondisi pandemi covid-19, perusahaan keluarga dapat menggunakan strategi partnership baik dengan supplier maupun distributor karena dapat meningkatkan daya saingnya. kemitraan yang baik terjalin sebagai hubungan jangka panjang antara perusahaan keluarga dengan supliernya. hal itu dapat meningkatkan strategi dan kemampuan operasional perusahaan pemasok dalam berpartisipasi terhadap perusahaan yang bertujuan untuk mencapai tujuan yang diharapkan (suharto & devie, 2013). strategi ini memumpun pada perencanaan bersama (mutual planning) dan melakukan upaya business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 164 pemecahan masalah bersama antara perusahaan dan supplier (gunasekaran, patel, & tirtiroglu, 2001). dengan melakukan strategi yang bermitra dengan supplier, maka perusahaan keluarga dapat bekerja secara efektif dengan beberapa supplier yang mau berbagi tanggung jawab untuk menciptakan dan menyukseskan suatu produk yang diproduksi perusahaan manufaktur. saran saran praktis yang diusulkan dalam penelitian ini untuk meningkatkan daya saing perusahaan, perusahaan keluarga sektor manufaktur di jawa timur perlu berinvestasi pada sebuah program yang mampu menghimpun database pelanggan. dengan ada database pelanggan yang cukup lengkap akan memampukan perusahaan lebih memahami kebutuhan dan keinginan dari pelanggan yang berujung pada peningkatan daya saing perusahaan. untuk penelitian selanjutnya diusulkan penelitian sejenis berfokus pada bidang-bidang tertentu sehingga akan lebih menggambarkan fakta yang lebih terinci pada implementasi praktik rantai pasokan. referensi amore, m. d., quarato, f., & pelucco, v. (2020). family ownership during the covid-19 pandemic. ssrn electronic journal, 1–22. https://doi.org/10.2139/ssrn. 3598256. bratiæ, d. (2011). achieving a competitive advantage by scm. ibima business review journal, (june 2011), 1–13. https:// doi.org/10.5171/2011.957583. day, g. s. & wensley, r. (1988). assessing advantage: for framework diagnosing superiority competitive. journal of marketing, 52(2), 1–20. fawcett, s. (2007). information sharing and supply chain performance: the role of connectivity and willingness. supply chain management, 12(5), 358-368. doi:10.1108/ 13598540710776935. fuxiang, l. & yuhui, y. (2011). study and explores on crm based on the supply chain integration. management science engineering, 5(1), 1-9. gunasekaran, a., patel, c., & tirtiroglu, e. (2001). performance measures and metrics in a supply chain environment. international journal of operations & production management, 21(1/2), 71–87. https:// doi.org/10.5267/j.uscm.2019.8.003. heizer, j., render, b., & munson, c. (2017). operations management: sustainability & supply chain management 12th edition. in corporate finance (12th ed., vol. 1). retrieved from https://books.google.com/ books?id=nmzibqaaqbaj&pgis=1%5 cnhttp://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/ 21708159%5cnhttp://link.springer.com/ 10.1007/978-1-4614-7639-9%5cnhttp:// scholar.google.com/scholar?hl=en&btng =search&q=intitle:springer+series+in+ operations+resea. huang, c., wang, y., li, x., ren, l., zhao, j., hu, y., … cao, b. (2020). clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in wuhan, china. the lancet, 395(10223), 497–506. https://doi.org/ 10.1016/s0140-6736(20)30183-5. ivanov, d., dolgui, a., das, a., & sokolov, b. (2019). handbook of ripple effects in the hendro susanto, metta padmalia, roos kities andadari, analisis dampak manajemen rantai nilai dalam masa pandemi covid pada kinerja perusahaan (studi pada perusahaan keluarga sektor manufaktur di jawa timur) 165 supply chain. 276(april), 309–332. retrieved from http://link.springer.com/10. 1007/978-3-030-14302-2. jahanshahi, a. a., rezael, m., nawaser, k., ranjbar, v., & pitamber, b. k. (2012). analyzing the effects of electronic commerce on organizational performance: evidence from small and medium enterprises. african journal of business management, 6(15), 6486–6496. https:// doi.org/10.5897/ajbm11.1768. kinra, a., ivanov, d., das, a., & dolgui, a. (2020). ripple effect quantification by supplier risk exposure assessment. international journal of production research, 58(18), 5559–5578. https://doi.org/10. 1080/00207543.2019.1675919. kozlenkova, i. v., hult, g. t. m., lund, d. j., mena, j. a., & kekec, p. (2015). the role of marketing channels in supply chain management. journal of retailing, 91(4), 586–609. https://doi.org/10.1016/ j.jretai.2015.03.003. li, s., ragu-nathan, b., ragu-nathan, t. s., & rao, s. s. (2006). the impact of supply chain management practices on competitive advantage and organizational performance. 34, 107–124. https://doi.org/10. 1016/j.omega.2004.08.002. porter, m. (1985). competitive advantage: creating and sustaining superior performance. p. 580. new york: the free press. poza, e. j. & daugherty, m. s. (2013). family business. retrieved from https://books. google.co.id/books?id=j7bucgaaqbaj. pranata, s. (2017). strategi kemitraan dalam supply chain management untuk meningkatkan kinerja organisasi (studi pada perusahaan rotan kabupaten cirebon). jurnal digit, 5(2), 218–229. pujawan, i.n. & mahendrawathi. (2010). supply chain management (2nd ed). surabaya: guna widya. schmitt, t. g., kumar, s., stecke, k. e., glover, f. w., & ehlen, m. a. (2017). mitigating disruptions in a multi-echelon supply chain using adaptive ordering. omega (united kingdom), 68, 185–198. https://doi.org/ 10.1016/j.omega.2016.07.004. suharto, r. & devie. (2013). analisis pengaruh supply chain management terhadap keun ggu la n b er sai ng da n kin er ja perusahaan. business accounting review, 1(2), 161–171. retrieved from http:// eprints2.binus.ac.id/id/eprint/24110. who. (2020). coronavirus disease 2019 situation report 63 23rd march 2020. in nove l coron avirus: world he alth organisation. retrieved from https:// www.who.int/emergencies/diseases/novelcoronavirus-2019. wulandari, w., sari, r. n., & al azhar, l. (2017). pengaruh supply chain management terhadap kinerja perusahaan melalui keunggulan bersaing. jurnal ekonomi, 21(3), 462–479. youn, s. (2013). strategic supply chain partnership, environmental supply chain management practices, and performance outcomes: an empirical study of korean firms. journal of cleaner production, 56, 121–130. doi:10.1016/j.jclepro.2011.09.026. zhao, x. (2002). the impact of information sharing and ordering co-ordination on supply chain performance. supply chain management, 7(1), 24-40. doi:10.1108/ 13598540210414364. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 166 sumber lain: he, l. the coronavirus could cost china’s economy $60 billion this quarter. beijing will have to act fast to avert a bigger hit. [diakses 22 desember 2020]. tersedia dari: https:// edition.cnn.com/2020/01/31/economy/ china-economy-coronavirus/index. html. oecd. coronavirus: the world economy at risk. [diunduh 22 desember 2020]. tersedia dari: https://www.oecd.org/berlin/ publikationen/interim-economic-assessment-2march-2020.pdf. an rahmadi, b. dewandaru, effect of market orientation and innovation toward competitive advantage in business street food at jl. pahlawan kusuma bangsa kediri city 135135 effect of market orientation and innovation toward competitive advantage in business street food at jl. pahlawan kusuma bangsa kediri city an rahmadi, b. dewandaru faculty of economics, university of kadiri e-mail: afifnur@unik-kediri.ac.id abstract: this study aims to determine the effect of market orientation and innovation on competitive advantage partially and simultaneously. the population in this study are msme entrepreneurs who sell food on pahlawan kusuma bangsa street, kediri, with a sample size of about 100 respondents. based on the results of data analysis and discussion conclusions can be drawn that partially market orientation and innovation posited with the highest or dominant value is market orientation. while simultaneously market orientation and innovation together affect competitive advantage. this is very good, by increasing market orientation and innovation, the company’s competitive advantage will also increase. therefore, market orientation and innovation variables are always improved so that food entrepreneurs who are on the way of the heroes of kusuma bangsa can survive and increase competitive advantage. keywords: market orientation, innovation, competitive advantage introduction kediri city has become one of the cities that has succeeded in exploring the potential and excellence of the region to advance the welfare of the community and the area. micro, small, and medium enterprises (msmes) have an essential contribution in helping to increase regional income and can improve the welfare of the people of kediri city. besides, msmes that are more flexible can help create jobs for the community so that they can reduce unemployment. in 2018, the city of kediri also managed to reduce the poverty rate by 7.68%. the reduction in poverty in the city of kediri is below the national achievements of 9.82% and the achievements of east java by 10.98%. this shows that msmes in the city of kediri is stretching and have a strategic role in fighting poverty and unemployment with a total of 38,806 businesses. “the large number of msmes that have similar products will undoubtedly produce competition that cannot be avoided, especially in the culinary field. msmes must be able and ready to compete with many competitors, both inside and outside the region. therefore, to win the competition, the company must have the ability to create a competitive advantage. competitive advantage relates to how a company chooses and implements business strategies in its business [1]. the development of market orientation and innovation is part of the main component in increasing competitive advantage. market orientation requires adequate resources to create a sustainable competitive advantage. the market orientation, which includes customers and competitors, requires companies to understand customer needs and provide better value than competitors [2]. in addition to being market-oriented, companies must continue to innovate by making improvements and creating new ideas to stay ahead of the competition. innovation is the key and source of strength to achieve a competitive advantage and become a winner business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 136 in competition in the global market circle. this is supported by [3], which states that market orientation and product innovation together have a positive effect on competitive advantage. product innovation has a positive impact on competitive advantage. the statement is following the results of research by [4], [5], [6], [7], [8], [2], [2] and [3] which show product innovation has a positive effect on competitive advantage. based on the background described above, the purpose of this research is to find out the influence of market orientation and innovation on competitive advantage in the street food business on jl. pahlawan kusuma bangsa kediri city. theory study competitive advantage competitive advantage according to [9], competitive advantage is an advantage over competitors obtained by offering more value to consumers, either through lower prices or by providing more benefits that support higher pricing. [9] explains that a competitive advantage is the heart of marketing performance to face competition. competitive advantage defined as a benefits strategy of companies that collaborate to create competitive advantages that are more effective in their markets. competitive advantage grows from the values or benefits created by the company for its buyers. customers generally prefer to buy products that have more value than they want or expect. market orientation market orientation is a business culture where the company commits to continue to be creative in creating superior value for customers. according to bharadwaj varadarajan and jayachandran [4], market orientation is a set of concrete actions that enable companies to maintain variations in market demand and supply and provide appropriate responses to various changes that occur. [10] defines market orientation as a process and activity related to customer creation and satisfaction by continuing to assess customer needs and wants. market-oriented companies will continue to seek efficiency and create more value for buyers in the hope of creating a competitive advantage and providing long-term benefits for the company. according to [11], market orientation consists of three indicators, namely: customer orientation defined as an adequate understanding of customer purchase targets to create superior value for buyers continuously. the knowledge here includes an understanding of the entire value chain of the buyer, both at the latest and at the time of its development in the future. this effort can achieve through the process of finding information about customers [11]. based on some of the opinions above, the researcher concluded to measure market orientation, the indicators used in this study were customer orientation, competitor orientation, and market information according to [11] theory. innovation innovation is the process of changing transform creative ideas into a product or method useful work, [12] . innovate a company that will guarantee the company’s ability to compete, [13]. from some of the above understanding, innovation can be interpreting as a breakthrough in products or services implemented by a company for the sustainability of its business. companies that can innovate highly will be more successful in adapting to their environment and conan rahmadi, b. dewandaru, effect of market orientation and innovation toward competitive advantage in business street food at jl. pahlawan kusuma bangsa kediri city 137 tinue to develop new capabilities to compete superiorly. product innovation is a combination of various processes that affect one another [14]. research methods the method used in this research is quantitative research methods. the population in this study is msme entrepreneurs in street food, jl. pk bangsa kediri city. data collection techniques using probability sampling [15] in obtaining data from respondents used interviews, literature studies, observations, and distributing questionnaires based on indicators of each variable using a likert measurement scale 1-5. from the data collected, data analysis carried out using the spss (statistical package for social science) program. this analysis is carried on in several stages of multiple linear regression analysis is a means of forecasting the influence of two or more independent variables on the dependent variable to prove the presence or absence of a functioning relationship or causal relationship between two or more independent variables with one dependent variable[15]. the purpose of this analysis tool is to determine the magnitude of the effect caused by market orientation and innovation on competitive advantage using multiple regression equations. furthermore, the hypothesis test uses the t-test and the f-test. results and discussion this study uses 100 respondents taken from msme entrepreneurs who sell permanently along the pk bangsa road. the city of kediri both sells during the day and night. this research was conducted from february to march 2020. the results of the validity test of this study showed that the results of the questionnaire from the variables of market orientation, innovation, and competitive advantage were declared valid. the reliability test of all questionnaires showed a fairly large alpha coefficient where the alpha coefficient was above 0.60, so that it could be said that all measurement concepts from the questionnaire were reliable. data processing that has been obtained is tested using multiple linear regression. then several steps are carried out to find the relationship between the independent variable and the dependent variable through the relationship between market orientation and innovation to competitive advantage. so we can get the multiple regression coefficient value where an equation y = 5.710 + 0.727 x 1 + 0.308 x 2 + e appears. from the above equation, it can be interpreted that constant á = 5,710 means that if there is no change in market orientation, innovation, and competitive advantage, the competitive advantage variable will increase by 5,710 units. if the market orientation variable rises by one group, competitive advantage will increase by 0.727 units. next, if innovation rises by one unit, competitive advantage will increase by 0.308 units. table 1 t-test coefficientsa model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 (constant) 5.710 1.154 4.947 .000 x1 .727 .063 .686 11.496 .000 x2 .308 .063 .291 4.882 .000 a. dependent variable: y source: primary data by research (2020) the next results of the partial test or t-test can be concluded that the variables consisting of market orientation and innovation have a business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 138 partially positive effect on competitive advantage in the street food business in pk bangsa kediri city. of the variables that influence dominantly is market orientation. the previous analysis of supports this research, [16], where the results of his study show that market orientation and innovation influence competitive advantage. to test the next hypothesis, which is to determine the effect of market orientation and innovation simultaneously influence competitive advantage, the results of the independent variables are less than significant á (0.05). this shows that the hypothesis is accepted. thus, the two independent variables consisting of market orientation and innovation, have a simultaneous influence on competitive advantage. table 2 f-test fully, the study could be particularly useful in the development of science at kadiri university. reference a. supriyanto, h. r. sukrina, & m. z. abidin. (2017). “pengaruh orientasi pasar dan inovasi produk terhadap keunggulan bersaing (studi pada umkm kopiah haji di kabupaten hulu sungai tengah) akhmad supriyanto; hipni rahman sukrina; m. zainal abidin program studi manajemen – fakultas ekonomi dan bisnis uni.” pros. semin. nas. aimi, vol. isbn: 1234, pp. 27–28. a. v. a. fatah. (2013). “effect of product innovation and competitive advantage of market orientation (survey on deden).” repos. unikom. c. gray. (2006). “absorptive capacity, knowledge management and innovation in entrepreneurial small firms,” int. j. entrep. behav. res., vol. 12, no. 6, pp. 345–360. e. jayaningrum and b. sanawiri. (2018). “pengaruh orientasi pasar, inovasi, orientasi kewirausahaan terhadap keunggulan bersaing dan kinerja pemasaran (studi pada kuliner kafe kota malang) erni,” vol. 54, no. 1, pp. 149–158. frengky andiyanto & s. sufian, miyasto. (2017). “analisis pengaruh orientasi pasar dan inovasi terhadap keunggulan bersaing dalam rangka meningkatkan kinerja bisnis (studi empiris pada industri pakaian jadi skala kecil dan menengah di kabupaten kudus) frenky,” pp. 1–20. h. herman, h. hady, & w. arafah. (2018). “the influence of market orientation and product innovation on the competitive advantage and its implication toward small and anovaa model sum of squares df mean square f sig. 1 regression 770.752 2 385.376 335.687 .000b residual 111.358 97 1.148 total 882.110 99 a. dependent variable: y a. predictors: (constant), x2, x1 source: primary data by research (2020) in this study, it can be concluded that there is a positive influence between market orientation and innovation on partial competitive advantage. and simultaneously influence market orientation and change on competitive advantage. and this research is supported by [16] and research from [17]. acknowledgment this research was conducted because it received assistance from the government with the simlitabmas grants program with the beginner lecturer research (pdp) scheme, and hopean rahmadi, b. dewandaru, effect of market orientation and innovation toward competitive advantage in business street food at jl. pahlawan kusuma bangsa kediri city 139 medium enterprises (ukm) performance,” int. j. sci. eng. invent., vol. 04, no. 08, pp. 8–21. h. taan. (2017). pengaruh inovasi produk dan harga terhadap keunggulan bersaing usaha karawo di kota gorontalo,” pp. 148–157. j. c. narver & s. f. slater. (1990). “the effect of a mark et orientation on business,” no.__, october, pp. 20–35. kotler & amstrong, no title. 2009. m. uncles. (2000). market orientation, vol. 25, no. 2. n. ketut, p. satwika, n. made, w. kusuma, and a. free. (2018). “pengaruh orientasi pasar serta inovasi terhadap keunggulan kompetitif dan kinerja bisnis,” vol. 7, no. 3, pp. 1481–1509. p. kotler and k. l. keller. (2007). manajemen pemasaran, 12th ed. jakarta: indeks. s. p. robbins and m. coulter. (2016). management, 3rd ed. s. sutapa, m. mulyana, & w. wasitowati. (2018). “the role of market orientation, creativity and innovation in creating competitive advantages and creative industry performance,” j. din. manaj., vol. 8, no. 2, pp. 152–166. sugiyono, sugiyono. (2010). bandung: alfabeta. t. alwi & e. handayani. (2018). “keunggulan bersaing ukm yang dipengaruhi oleh orientasi pasar dan inovasi produk,” no.__ april. t. haryono & s. marniyati. (2017). “pengaruh market orientation, inovasi produk, dan kualitas produk terhadap kinerja bisnis dalam menciptakan keunggulan bersaing,” j. bisnis manaj., vol. 17, no. 2, pp. 51–68. 01 antariksa.pmd nevi nevada, pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi 5151 pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi (studi kasus pt bank tabungan negara) nevi nevada universitas airlangga e-mail: nevinevada@gmail.com abstract: this study aims to determine the effect of person organization fit and workplace spirituality on turnover intention through affective commitment as an intervening variable. also, to determine the relationship between person organization fit on turnover intention moderated by millennials generation, samples in this study are employees of pt bank tabungan negara, tbk., total of 100 respondents. this type or research is explanatory with quantitative methods. the sampling technique used is nonprobability sampling with purposive sampling, namely the technique of sampling data source with certain considerations. this study uses a survey method using a questionnaire in data collection and processed using partial least squares. the results of the testing of hypothesis indicate that there is a negative effect of person organization fit on turnover intention, there is a negative effect of workplace spirituality on turnover intention. there is a positive effect of person organization fit and workplace spirituality on affective commitment. there is negative effect of affective commitment on turnover intention. there is an effect of person organization fit and workplace spirituality on turnover intention through affective commitment. there is a relationship between person organization fit on turnover intention moderated by millennials generation. keywords: person-organization fit, workplace spirituality, affective commitment, millennials generation, turnover intention pendahuluan tidak dapat dipungkiri bahwa sumber daya manusia masih mendapatkan perhatian yang cukup serius karena merupakan pilar utama sekaligus roda penggerek sebuah organisasi dalam upaya mewujudkan visi dan misinya. meskipun organisasi memiliki modal hingga sarana prasarana yang baik namun tidak memiliki sumber daya manusia yang mendukung maka segala kegiatan yang terjadi di dalam organisasi tersebut tidak akan terselesaikan dengan baik. oleh karena itu, organisasi berlomba-lomba untuk mendapatkan, mempertahankan, dan mengembangkan sumber daya manusia sebagai sumber daya yang memiliki potensi untuk dikembangkan. sumber daya manusia tersebut seiring dengan tumbuhnya organisasi yang akan diisi oleh beberapa generasi, salah satunya generasi milenial. karyawan generasi milenial mulai mendapatkan perhatian di segala lini perusahaan. hal ini dikarenakan jumlah karyawan generasi milenial yang semakin bertambah setiap tahunnya. generasi milenial diprediksikan akan mendominasi sekitar lebih dari 50% angkatan kerja di seluruh dunia pada tahun 2020 (novita, 2017). di indonesia, jumlah generasi ini telah mencakup lebih dari 30% dari total penduduk di tahun 2015 dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 40% dari total penduduk indonesia (panindya, 2017). diprediksikan bahwa jumlah tenaga kerja generasi milenial akan mencapai puncaknya, yaitu sebesar 70% di tahun 2030 (ali, 2016). generasi business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 52 milenial adalah mereka yang lahir sekitar tahun 1980–2000-an. generasi milenial cenderung memiliki ciri seperti cerdas, kreatif, produktif, berorientasi pada pencapaian prestasi (achievement oriented), mencari pengembangan personal, kebermaknaan karier, dan mencari mentor atau supervisor untuk mendorong dan memfasilitasi pengembangan profesionalitas (kicheva, 2017). oleh karena itu, apabila perusahaan tidak mampu menyediakan, memenuhi dan menyesuaikan lingkungan pekerjaan dengan kekhasan yang dimiliki oleh generasi tersebut maka generasi milenial sepenuhnya siap untuk mencari tempat lain. sebaliknya, jika mereka merasa dihargai ada kemungkinan mereka bisa menjadi karyawan seumur hidup bagi perusahaan (tanner, 2010). oleh karena itu, masalah yang seringkali muncul terkait dengan isu generasi milenial tersebut adalah terkait dengan turnover. kondisi yang sama dihadapi oleh bank btn surabaya. pt bank tabungan negara merupakan badan usaha milik negara (bumn) yang bergerak pada sektor perbankan. pt bank tabungan negara, tbk. (bank btn) adalah bank yang unggul dalam bidang kredit pembiayaan perumahan. beberapa produk kredit pembiayaan rumah tersebut adalah kredit pemilikan rumah (kpr) btn subsidi dan kredit pemilikan rumah (kpr) btn platinum (non-subsidi). terjadinya turnover adalah suatu hal yang tidak diinginkan oleh perusahaan. namun turnover merupakan masalah atau kejadian yang sering terjadi di sebuah perusahaan. turnover dapat diartikan sebagai bentuk perbuatan karyawan yang keluar dari organisasi. turnover menuju pada kenyataan akhir yang dialami suatu organisasi yaitu jumlah karyawan yang meninggalkan organisasi pada periode tertentu. keinginan karyawan untuk berpindah (turnover intention) terlihat pada hasil evaluasi individu mengenai kelanjutan hubungan dengan organisasi yang belum terwujud dalam tindakan pasti meninggalkan organisasi (rachmah, 2017). tingginya turnover karyawan pada perusahaan mengakibatkan tingginya biaya perekrutan, seleksi, dan pelatihan yang harus ditanggung oleh perusahaan (mercer, 1988). tentunya hal tersebut dapat mengganggu efisiensi operasional bila karyawan yang meninggalkan organisasi memiliki pengetahuan dan pengalaman sehingga perusahaan memerlukan persiapan dan biaya untuk mencari penggantinya. menurut michaels dan spectoe (1982) terdapat tiga hal yang dapat digunakan untuk pengukuran turnover intention sebagai berikut. 1. adanya pikiran untuk keluar (thinking of quitting), mencerminkan individu untuk berpikir keluar dari pekerjaan atau tetap berada di lingkungan kerja. 2. adanya keinginan untuk mencari alternatif pekerjaan (intention to search for alternatives), mencerminkan keinginan individu untuk mencari pekerjaan di organisasi lain. 3. adanya keinginan untuk keluar (intention to quit), mencerminkan individu yang berkeinginan untuk keluar. mathis dan jackson (2006) menggambarkan bahwa upaya dalam mempertahankan karyawan untuk tetap pada tempat kerjanya merupakan persoalan yang menjadi tantangan bagi suatu perusahaan hal ini dikarenakan mencari tenaga kerja/karyawan yang berbakat atau sesuai dengan perusahaan tidaklah mudah. salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi adanya keinginan karyawan untuk keluar dari perusahaan adalah dengan memastikan kesesuaian antara organisasi dengan karyawan (kristof, 1996). kristof mengaitkan proses seleksi pada penelitian human resource management (hrm) tentang person organization fit. person-organization fit (p-o fit) dapat membantu perusahaan untuk memilih para karyawan nevi nevada, pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi 53 karyawan berupa “kehidupan batin” yang berkaitan dengan pekerjaan dan komunitas. dengan kata lain, jika karyawan menemukan makna di dalam pekerjaannya dikarenakan pekerjaannya memberikan dampak bagi masyarakat luas serta lingkungan kerja yang saling mendukung antar-karyawan maka akan menimbulkan rasa suka cita serta kenyamanan untuk berada di organisasi tersebut. menurut as ashmos and duchon (2000), variabel workplace spirituality dibentuk oleh indikator yang dapat diartikan dalam tiga konsep sebagai berikut. 1. kehidupan batin (inner life), adalah pemahaman mengenai kekuatan ilahi dan bagaimana cara menggunakannya untuk kehidupan lahiriah yang lebih memuaskan. 2. makna dan tujuan bekerja (meaning and purpose in work), adalah hidup maupun bekerja yang menyangkut kehidupan dengan makna, tujuan, kedamaian, dan perasaan memiliki kontribusi terhadap komunitas yang lebih luas. spiritualitas di tempat kerja menyangkut bagaimana membawa hidup dan pekerjaan berjalan bersama. 3. perasaan terhubung dengan komunitas (a sense connection and community). workplace spirituality tidak hanya bagaimana mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan batin dengan mencari pekerjaan yang bermakna melainkan bagaimana hidup dapat terhubung dengan orang lain. person organization fit dan workplace spirituality juga dapat meningkatkan komitmen karyawan. ketika karyawan sudah sesuai dengan nilai-nilai, budaya, dan tujuan organisasi serta sudah menemukan makna dari pekerjaannya maka akan timbul perasaan memiliki sehingga tidak ingin melewatkan keistimewaan yang diberikan oleh perusahaan/organisasi atau dengan kata lain karyawan secara tidak langsung telah terikat dengan nilai dan keyakinan yang sesuai dengan organisasi dan membentuk pengalaman-pengalaman yang dapat memperkuat kesesuaian tersebut. suatu organisasi membutuhkan p-o fit, karena p-o fit adalah kunci untuk mempertahankan tenaga kerja yang fleksibel dan berkomitmen. di mana person organization fit didefinisikan sebagai kesesuaian antara orang dan organisasi di mana ia bekerja, dengan kata lain mengacu pada kompatibilitas antara seseorang dan organisasi atau perusahaan, menekankan sejauh mana seseorang dan karakteristik organisasi memiliki kesesuaian yang dapat memenuhi kebutuhan keduanya, baik karyawan maupun organisasi atau perusahaan (behery, 2009). menurut kristof (1996), variable person-organization fit dibentuk oleh indikator yang dapat diartikan dalam empat konsep sebagai berikut. 1. kesesuaian nilai (value congruence), yaitu kesesuaian antara nilai intrinsik individu dengan organisasi. 2. kesesuaian tujuan (goal congruence), yaitu kesesuaian antara tujuan individu dengan organisasi dalam hal ini adalah pemimpin dan rekan sekerja. 3. pemenuhan kebutuhan karyawan (employee need fulfilment) adalah kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan karyawan dan kekuatan yang terdapat dalam lingkungan kerja dengan sistem dan struktur organisasi. kekuatan yang terdapat dalam lingkungan kerja. 4. kesesuaian karakteristik kultur-kepribadian (culture personality congruence) adalah kesesuaian antara kepribadian (non-nilai) dari setiap individu dan iklim atau kultur organisasi. selain person organization fit faktor yang menentukan generasi milenial bertahan di perusahaan adalah workplace spirituality. ashmos and duchon (2000) menjelaskan bahwa spiritualitas di tempat kerja merupakan kondisi yang dimiliki business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 54 komitmen secara afektif dengan perusahaan. komitmen afektif menggambarkan attachment emosional karyawan pada organisasinya (allen meyer, 1996). seperti yang diketahui bahwa komitmen karyawan sangat dibutuhkan oleh sebuah perusahaan, karena dapat meningkatkan kinerja yang berdampak pada perusahaan dan karyawan juga akan terlibat secara sukarela dalam berbagai kegiatan yang diadakan perusahaan sehingga perusahaan akan lebih mudah untuk mencapai tujuan perusahaan. di samping itu, karyawan yang memiliki komitmen pada organisasi tidak akan berniat meninggalkan organisasi. rumusan masalah berdasarkan pada latar belakang yang telah diungkapkan sebelumnya, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. apakah person organization fit berpengaruh terhadap turnover intention pada pegawai bank tabungan negara? 2. apakah workplace spirituality berpengaruh terhadap turnover intention pada pegawai bank tabungan negara? 3. apakah person organization fit berpengaruh terhadap affective commitment pada pegawai bank tabungan negara? 4. apakah workplace spirituality berpengaruh terhadap affective commitment pada pegawai bank tabungan negara? 5. apakah affective commitment berpengaruh terhadap turnover intention pada pegawai bank tabungan negara? 6. apakah affective commitment memediasi hubungan antara person organization fit terhadap turnover intention pada pegawai bank tabungan negara? 7. apakah affective commitment memediasi hubungan antara workplace spirituality terhadap turnover intention pada pegawai bank tabungan negara? 8. apakah generasi milenial memoderasi hubungan antara person organization fit terhadap turnover intention? kerangka berpikir dan metode penelitian berikut merupakan kerangka pemikiran yang dapat menjelaskan hubungan antar-konsep yang digunakan untuk menyusun penelitian. jenis penelitian jenis penelitian yang digunakan adalah eksplanatori. adapun penelitian eksplanatori menurut sugiyono (2017) adalah penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel yang memengaruhi hipotesis. sementara di dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena diperlukan perhitungan yang sistematis atas pengaruh antar-variabel yang berfokus pada pengujian hipotesis dan hasilnya dapat digeneralisasikan dan dapat menghasilkan data yang lebih terukur dengan bantuan aplikasi statistik. populasi dan sampel populasi adalah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penenevi nevada, pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi 55 liti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (sugiyono, 2017). populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di pt bank tabungan negara. sementara sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. pengambilan sampel yang benar-benar dapat mewakili dan dapat menggambarkan populasi sebenarnya. untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. sehingga jumlah responden yang ada dalam penelitian ini sebanyak 100 orang. dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan yaitu nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. menurut sugiyono (2017) bahwa non-probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. teknik sampel ini meliputi sampling sistematis, kuota, aksidental, purposive, jenuh, dan snowball. sementara purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. alasan menggunakan teknik purposive sampling adalah karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan fenomena yang diteliti. teknik pengumpulan data teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menyebarkan kuesioner. sumber data yang diperoleh adalah data primer yang didapatkan dari responden yang bekerja di pt bank tabungan negara, tbk. dengan menyebarkan kuesioner secara online. skala pengukuran data perhitungan kuesioner dengan menggunakan skala pengukuran likert memakai penilaian skor 1–5. skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. jawaban responden mengenai person-organization fit (po-fit), workplace spirituality, affective commitment, turnover intention, dan generasi millennial akan dijelaskan dengan melihat standar deviasi dan mean. untuk dapat dikategorikan jawaban dari responden maka akan digunakan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut. dari rumus tersebut, interval kelas akan ditentukan dengan data sebagai berikut. tabel 1 kategori rata-rata jawaban responden interval kategori 1,00 � x� 1,80 sangat rendah 1,81 � x� 2,60 rendah 2,61 � x� 3,40 sedang 3,41 � x� 4,20 tinggi 4.21 � x� 5,00 sangat tinggi teknik analisis data penelitian ini menggunakan pendekatan structural equation modeling. analisis sem yang digunakan adalah partial least square (pls) dengan menggunakan program software smartpls (ringle, wende, & will, 2005. uji validitas pada penelitian ini uji validitas dilakukan dengan menggunakan program smartpls versi 3.0 untuk menguji convergent validity dan discriminant validity. uji reliabilitas uji reliabilitas dapat menggunakan dua metode, yaitu cronbach’s alpha dan composite reliability. cronbach’s alpha digunakan untuk business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 56 mengukur batas bawah nilai reliabilitas sebuah konstruk. composite reliability dinilai lebih baik dalam mengestimasi internal suatu konstruk. composite reliability yang memiliki nilai di atas 0,70 maka dapat dikatakan bahwa konstruk dinyatakan reliabel. berdasarkan hasil uji reliabilitas yang sudah dilakukan, menunjukkan bahwa variabel person organization fit, workplace spirituality, affective commitment, turnover intention dan generasi millennial memenuhi persyaratan uji reliabilitas sehingga ketiga variabel tersebut dapat dikatakan reliabel. hasil penelitian dan pembahasan dalam rangka mewujudkan visi dan misi bank tabungan negara, insan-insan bank tabungan negara perlu menerapkan nilai-nilai organisasi dalam berperilaku dan melakukan pekerjaannya. setiap karyawan diharapkan menerima dan menyepakati nilai-nilai yang dimaksud jika bergabung dengan bank tabungan negara, yang kemudian disebut dengan budaya organisasi. budaya organisasi tersebut adalah siips (sinergi, integritas, inovasi, profesionalisme, dan spirit mencapai keunggulan). karakteristik responden tabel 2 jumlah responden berdasarkan jenis kelamin tabel 3 karakteristik usia responden no. jenis kelamin jumlah (orang) persentase (%) 1 laki-laki 63 63% 2 perempuan 37 37.% jumlah 100 100% berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa dari 100 subjek penelitian, mayoritas responden laki-laki lebih banyak daripada responden perempuan. jumlah responden laki-laki berjumlah 63 orang (63%), kemudian responden yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 37 orang (37%). no. usia jumlah (orang) persentase (%) 1 24–30 tahun 19 19% 2 31–36 tahun 28 28% 3 37–42 tahun 23 23% > 42 tahun 30 30% jumlah 100 100% berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 100 subjek penelitian, responden yang berusia 24 sampai 30 tahun berjumlah 19 orang (19%), responden yang berusia 31 sampai 36 tahun berjumlah 28 orang (28%), responden yang berusia 37 sampai 42 tahun 23 orang (23%), sementara responden yang berusia di atas 42 tahun sebanyak 30 orang (30%). tabel 4 karakteristik berdasarkan pendidikan no. pendidikan jumlah (orang) persentase (%) 1 d3 5 5% 2 s1 78 78% 3 s2 17 17% jumlah 100 100% dapat diketahui bahwa dari 100 subjek penelitian dalam penelitian ini mayoritas responden adalah lulusan s1 yaitu berjumlah 78 orang (78%), kemudian responden dengan lulusan s2 berjumlah 17 orang (17%), responden dengan lulusan d3 berjumlah 5 orang (5%). hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4. tabel 5 karakteristik berdasarkan lama bekerja no. lama bekerja jumlah (orang) persentase (%) 1 1–3 tahun 6 6% 2 4–6 tahun 11 11% 3 7–10 tahun 30 30% 4 10> tahun 53 53% jumlah 100 100% nevi nevada, pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi 57 berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa dari 100 subjek penelitian dalam penelitian ini dapat diketahui sebanyak enam orang (6%) telah bekerja di bank tabungan negara selama 1–3 tahun, sebanyak 11 orang (11%) telah bekerja di bank tabungan negara selama 4–6 tahun, sebanyak 30 orang (30%) telah bekerja di bank tabungan negara selama 7–10 tahun, sebanyak 53 orang (53%) telah bekerja di bank tabungan negara selama lebih dari 10 tahun. tabel 6 karakteristik responden berdasarkan status yang termasuk dalam kategori tinggi. hal ini mengindikasikan bahwa pegawai bank tabungan negara memiliki kesesuaian nilai-nilai, harapan dan karakteristik pribadi yang dimiliki dengan organisasi tempat pegawai tersebut bekerja yaitu bank tabungan negara. tabel 8 hasil rata-rata tanggapan responden terhadap variabel workplace spirituality no. status jumlah (orang) persentase (%) 1 menikah 63 63% 2 belum menikah 37 37% jumlah 100 100% berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa dari 100 subjek penelitian, responden yang berstatus menikah berjumlah 63 orang (63%), sementara responden yang berstatus belum menikah berjumlah 37 orang (37%). deskripsi jawaban responden tabel 7 hasil rata-rata tanggapan responden terhadap variabel person organization fit indikator mean kategori po1: saya memiliki nilainilai yang sesuai dengan organisasi ini 3.53 tinggi po2: tujuan organisasi sudah mencerminkan tujuan saya 3.49 tinggi po3: nilai-nilai dan budaya organisasi sesuai dengan hal-hal yang saya hargai dalam hidup 3.86 tinggi mean total 3,62 tinggi berdasarkan hasil tersebut, nilai mean atau rata-rata dari jawaban responden terhadap variabel person organization fit adalah sebesar 3.62 indikator mean kat. wps1: di tempat kerja terdapat ruangan untuk beribadah/kerohanian saya 3.34 tinggi wps2: berdoa adalah bagian penting dalam hidup saya 3.52 tinggi wps3: saya senang menjalani pekerjaan saya 3.54 tinggi wps4: pekerjaan saya sesuai dengan prinsip hidup saya 3.59 tinggi wps5: saya melihat terdapat hubungan antara pekerjaan saya dengan kebaikan sosial masyarakat yang lebih besar dari organisasi saya 3.69 tinggi wps6: saya merasa menjadi bagian dari sebuah komunistas di tempat saya bekerja 3.65 tinggi wps7: saya merasa bahwa anggota tim saya saling m endukung satu sama lain 3.65 tinggi wps8: saya merasa bahwa anggota tim saya peduli satu sama lain 3.54 tinggi wps9: tim saya menunjukkan semangat dari kekompakan 3.30 sedang mean total 3.53 tinggi berdasarkan hasil tersebut, nilai mean atau rata-rata dari jawaban responden terhadap variabel workplace spirituality adalah sebesar 3.62 yang termasuk dalam kategori tinggi. hal ini menunjukkan bahwa karyawan bank tabungan negara merasa pekerjaan mereka memiliki makna serta pengaruh terhadap masyarakat luas sehingga secara tidak langsung akan menimbulkan rasa suka cita karyawan di tempat kerja. business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 58 pada akhirnya karyawan juga lebih dapat menikmati pekerjaan mereka dan lebih bisa mengekspresikan ide serta hasil kerja mereka, serta kontribusi yang tinggi terhadap komunitas. tabel 9 hasil rata-rata tanggapan responden terhadap variabel affective commitment berdasarkan tabel tersebut, rata-rata jawaban responden terhadap variabel turnover intention adalah sebesar 2.49 yang mana masuk dalam kategori rendah. hal ini mengindikasikan bahwa karyawan bank btn tidak berniat meninggalkan perusahaan atau organisasi, meskipun terdapat peluang yang lebih baik. tabel 11 hasil rata-rata tanggapan responden terhadap variabel generasi millennial indikator mean kat. ac1: saya merasa organisasi ini seperti ‘keluarga saya sendiri’ 3.87 tinggi ac2: saya merasakan ‘sense of belonging’ yang kuat terhadap organisasi ini 3.75 tinggi ac3: saya merasa seolaholah masalah organisasi ini adalah masalah saya sendiri 3.68 tinggi ac4: saya bangga memberi tahu orang-orang bahwa saya bagian dari organisasi ini 3.65 tinggi ac5: organisasi ini layak mendapatkan loyalitas saya 3.64 tinggi ac6: saya akan sangat senang menghabiskan sisa karier saya di organisasi ini 3.57 tinggi mean total 3.69 tinggi berdasarkan tabel 9, nilai mean dari jawaban responden terhadap variabel affective commitment adalah sebesar 3.69 yang mana termasuk dalam kategori tinggi. hal ini menunjukkan bahwa pegawai bank tabungan negara telah terikat secara afektif dengan organisasi. karyawan dengan komitmen tinggi juga akan memberikan segala usaha, kemampuan dan loyalitasnya untuk mewujudkan nilai dan tujuan organisasi tersebut. tabel 10 hasil rata-rata tanggapan responden terhadap variabel turnover intention indikator mean kat. ti1: saya sering berpikir untuk meninggalkan perusahaan 2.40 rendah ti2: saya sering mencoba untuk mencari pekerjaan baru di perusahaan lain 2.50 rendah ti3: saya ingin meninggalkan perusahaan apabila ada kesempatan yang lebih baik 2.57 rendah ti4: saya berkeinginan untuk keluar dari pekerjaan saya 2.54 rendah ti5: saya berkeinginan untuk meninggalkan perusahaan dalam waktu dekat 2.48 rendah mean total 2.49 rendah no. usia jumlah (orang) 1 24 – 29 tahun 19 2 30 – 35 tahun 28 3 36 – 40 tahun 23 > 40 tahun 30 jumlah 100 berdasarkan hasil tersebut yang berasal dari generasi y sebanyak 68 orang, generasi y merupakan generasi milenial yang lahir pada tahun 1980–2000, sementara pembandingnya adalah generasi x sebanyak 32 orang yang lahir pada tahun 1945–1979. generasi milenial ini diukur dengan dummy, skor 0 untuk yang lahir di era milenial, skor 1 untuk yang lahir selain milenial. nevi nevada, pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi 59 analisis model pengukuran atau outer model analisis outer model berkaitan dengan pengujian validitas dan reliabilitas berbagai indikator dari variabel penelitian. validitas indikator atau disebut outer model dalam pls dievaluasi dengan menggunakan convergent dan discriminant validity. reliabilitas dievaluasi melalui composite reliability dan cronbach alpha. convergent validity uji convergent validity dalam pls dapat dilakukan dengan melihat masing-masing loading factor. nilai loading factor mendeskripsikan besarnya korelasi antara setiap item pengukuran (indikator pada kuesioner) dengan variabel laten (konstruknya). satu item indikator dikatakan telah memenuhi convergent validity apabila skor loading pada tiap jalur (path) antara komponen (variabel laten) dan variabel manifest sebaiknya >0.7 (jogiyanto, 2016). berikut adalah nilai outer loading dari masing-masing indikator pada variabel penelitian. tabel 12 loading factor berdasarkan tabel tersebut telah ditunjukkan bahwa masing-masing indikator dan variabel penelitian banyak yang memiliki nilai outer loading >0.7. namun, terlihat masih terdapat beberapa indikator yang memiliki nilai outer loading <0.7. menurut ghozali (2012), nilai outer loading antara 0,5–0,6 sudah dianggap cukup untuk memenuhi syarat convergent validity. data tersebut menunjukkan tidak ada indikator variabel yang nilai outer loading-nya di bawah 0,5 sehingga semua indikator dinyatakan layak atau valid untuk digunakan penelitian dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. discriminant validity uji discriminant validity menggunakan nilai cross loading. suatu indikator dinyatakan memenuhi discriminant validity apabila nilai cross loading indikator pada variabelnya adalah yang terbesar dibandingkan pada variabel lainnya (ghozali,1998). berikut ini adalah nilai cross loading masing-masing indikator. tabel 13 cross loading variabel indikator outer loading person organization fit (x1) x1.1 0.856 x1.2 0.864 workplace spirituality (x2) x2.1 0.899 x2.2 0.820 x2.3 0.785 x2.4 0.851 x2.5 0.864 x2.6 0.808 x2.7 0.814 x2.8 0.797 x2.9 0.893 turnover intention (y) y1 0.643 y2 0.746 y3 0.707 y4 0.735 y5 0.704 affective commitment (z1) z1.1 0.781 z1.2 0.849 z1.3 0.877 z1.4 0.888 affective commitment (z1) z1.5 0.872 z1.6 0.589 generasi millennial (z2) z2.1 1.176 var ac po-f pof* gen ti wps ac1 0.781 0.574 0.386 -0.561 0.526 ac2 0.849 0.560 0.450 -0.688 0.618 ac3 0.877 0.519 0.513 -0.740 -0.740 ac4 0.888 0.492 0.420 -0.727 0.646 ac5 0.872 0.539 0.428 -0.694 0.635 ac6 0.589 0.273 0.278 -0.488 0.522 po1 0.554 0.856 0.431 -0.550 0.436 po2 0.500 0.864 0.428 -0.558 0.376 business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 60 tabel 13 menunjukkan bahwa nilai masingmasing indikator di suatu konstruk lebih tinggi dibandingkan dengan konstruk lain dan mengumpul pada satu konstruk tersebut. oleh karena itu, dalam penelitian ini dapat dikatakan memiliki discriminant validity yang baik. selain mengamati nilai cross loading, discriminant validity juga dapat diketahui melalui metode lainnya yaitu dengan melihat nilai average variant extracted (ave) untuk masing-masing indikator dipersyaratkan nilainya harus >0.5 untuk model yang baik (ghozali,1998). tabel 14 average variant extracted (ave) composite reliability uji reliabilitas dapat dilihat dari nilai cronbach’s alpha dan composite reliability. suatu konstruk dapat dikatakan reliabel apabila memiliki nilai cronbach’s alpha harus >0,6 dan milai composite reliability harus >0.7 (jogiyanto, 2016). composite reliability mengukur nilai reliabilitas sesungguhnya dari suatu variabel sedangkan cronbach’s alpha mengukur nilai terendah (lower bound) reliabilitas suatu variabel sehingga nilai composite reliability selalu lebih tinggi dibandingkan nilai cronbach’s alpha (jogiyanto, 2016). berikut adalah nilai cronbach’s alpha dan composite reliability masing-masing variabel pada penelitian ini. tabel 15 composite reliability dan cronbach’s alpha po3 0.518 0.855 0.479 -0.582 0.419 po-f* gen 0.512 0.520 1.000 -0.663 0.621 ti1 -0.404 -0.416 -0.471 0.643 -0.448 ti2 -0.585 -0.451 -0.536 0.746 -0.654 ti3 -0.552 -0.392 -0.445 0.707 -0.575 ti4 -0.631 -0.471 -0.492 0.735 -0.648 ti5 -0.636 -0.579 -0.409 0.704 -0.595 wps1 0.690 0.461 0.567 -0.809 0.899 wps2 0.649 0.406 0.598 -0.719 0.820 wps3 0.733 0.444 0.546 -0.725 0.785 wps4 0.678 0.358 0.485 -0.689 0.851 wps5 0.614 0.396 0.607 -0.707 0.864 wps6 0.578 0.423 0.488 -0.682 0.808 wps07 0.559 0.414 0.441 -0.636 0.814 wps08 0.539 0.328 0.377 -0.546 0.797 wps09 0.636 0.358 0.529 -0.728 0.893 berdasarkan sajian data dalam tabel 14 diketahui bahwa nilai ave variabel affective commitment, generasi, person organization fit, turnover intention, dan workplace spirituality >0.5. dengan demikian dapat dinyatakan bahwa setiap variabel telah memiliki discriminant validity yang baik. variabel composite reliability cronbach’s alpha affective commitment 0.922 0.895 pov*generasi 1.000 1.000 person organization fit 0.894 0.822 turnover intention 0.833 0.752 wps 0.955 0.947 berdasarkan tabel 15 dapat diketahui bahwa seluruh konstruk dalam penilaian ini cronbach’s alpha >0.6 dan nilai composite reliability >0.7 maka dapat dikatakan bahwa semua construct adalah reliable. hal ini dapat diartikan bahwa masing-masing konstruk dalam model penelitian memiliki konsistensi internal dalam uji reliabilitas instrumen. analisis inner model koefisien determinasi analisis koefisien determinasi dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan sebuah model dalam menerangkan variasi variabel devariabel ave affective commitment 0.666 pov*generasi 1.000 person organization fit 0.737 turnover intention 0.501 wps 0.702 n evi n eva da , pe nga ruh pe rso n o rga niz ation fit d a n work place spirit uality te rh a d ap turno ver in t en tio n d eng an affectiv e c o mmi tme n t sebagai va riabel in t ervening d an g e n er asi m il len nia l s ebagai m od erasi 6 1 penden (g hozali, 2012). n ilai koefisien det erminasi adalah a n t ara no l dan sa tu. sema kin kecil nil ai r-squ are bera rti vari asi varia bel depe nden yang sanga t t erbat as, dan nilai yang mendeka ti 1 (sa tu) berarti variabel-variabel independen sudah mampu memberi semua informasi yang dibutuhkan untuk menjelaskan dan memprediksi variabel dependen . tabel 16 n ilai r-square = 1 – (0 ,34 5 x 0 ,1 84) = 1 – 0 ,0 634 = 0 ,9366 berdasarkan hasil perhit ungan q -square t ersebut ma ka dap a t dinya t a kan bah w a mod el memili ki nil ai predictive rele vance sebesar 0 . 9366 a t au 93 ,66%, hal ini men unjuk k an bah w a mod el analisis memil iki predictive releva nce yang bai k . goodness of fit g oodness of f it merupa kan penguj ian kecoco k an a t a u kesesu aian an t a ra hitungan hasil pengama t an (fre kuensi pengama t an) t erten tu dengan fre kuensi yang diper oleh berdasarkan nilai hara pannya (fre kue nsi t eor etis), dari ha sil pengolahan da t a dapa t diketahui melalui perhitungan be ri ku t . g oodness of f it = 2rxave = 0,7355 x 0,7212 = 0.728285 ber dasark an per hitung an t ersebut , dap a t diket a hui bah w a n ilai goodness of f it pad a peneliti an ini sebesar 0 .7 2 . g oodness of f it memi liki tig a krit e ria , yait u g o f = 0 ,10 ber nilai kecil, g o f = 0 .25 bernilai sedang, g o f = 0 ,36 bernilai besa r. h asil perhitung an t ersebut m enunju k kan jika performa gabungan antara model pengukuran dan model struktural memiliki nilai besar tersebut 0 .3 6 . h al ini men jelask an bah w a da t a empi ris coco k a t au sesuai d engan mo del (tid a k ada perbe da an an t a ra mod el deng an da t a sehi ngga mod el da t a dika t a kan fit) (g hoz ali, 201 2). uji pengaruh langsung uji hipo t esis pad a peneli tian ini dila k ukan d enga n es ti m asi ko efisi en j al ur y ang da pa t die valuasi berd asark an nil ai t-st a tisti k . i t em variabel r-square affect ive c ommit ment 0.65 5 t urnov er int ent io n 0.81 6 berdasarkan nilai r-square yang telah ditampilk an pad a tabel 16 dan set e lah dikai t kan dengan 100% ma ka didapa t nilai koefisien determinasi dar i a f fective commit ment sebesar 65 , 5%, dar i nil ai t ersebut men jelask an bah w a vari abel a f fect ive commit ment d ap a t di je la sk an o le h varia bel person orga n iza tion f it dan workplace spiritua li ty sedangkan sisa nya sebesar 34 . 5% dijel askan ol eh variabel lain d i luar model penelitian . semen t ara nilai koefisien det erminasi dari turnover intent ion sebesar 81 .6% menjela skan bah w a vari asi nil ai varia bel turnover inten tion dap a t dijela skan ole h varia bel a f fective commitmen t dan gener asi milen ial sedangkan sisa nya sebesar 18 . 4% dije laskan o leh vari abel lai n di luar model peneli tian . predictive relevance predictive releva nce pad a mod el struk tural digun a kan un t uk mengu kur seber apa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi para met erny a (g ho zali, 2 012). n ilai d ari predict ive releva nce dap a t diket ahui mela lui per hitung an q -squ are seba gai beri kut : q -squ are = 1 – [(1 – r 2 1) x (1 – r 2 2)] = 1 – [(1 – 0 .65 5) x (1 – 0 .81 6)] business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 62 pengukuran yang digunakan dikatakan signifikan apabila nilai t-statistik lebih besar dari 1.96 dan nilai p-value kurang dari 0.05 pada taraf signifikansi 5%. sedangkan koefisien parameter menunjukkan arah pengaruh dengan melihat positif atau negatifnya original sample sekaligus besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (ghozali, 2008). berikut adalah tabel path coefficient untuk melihat nilai t-statistik. tabel 17 path coefficient ment adalah positif sebesar 0.604, dengan nilai t-statistik sebesar 8.045 > 1.96 dan nilai p-values 0.000 < 0.05. hal ini menunjukkan bahwa workplace spirituality berpengaruh signifikan positif terhadap affective commitment. nilai koefisien jalur pengaruh affective commitment terhadap turnover intention adalah negative sebesar -0.269, dengan nilai t-statistik sebesar 3.334 > 1.96 dan nilai p-values 0.001 < 0.05. hal ini menunjukkan bahwa affective commitment berpengaruh signifikan negatif terhadap turnover intention. nilai koefisien jalur pengaruh gerenasi milenial memoderasi pengaruh person organization fit terhadap turnover intention adalah negatif sebesar -0.123, dengan nilai t-statistic sebesar 2.331 > 1.96 dan nilai p-values 0.020 < 0.05. hal ini menunjukkan bahwa generasi milenial memoderasi signifikan negatif hubungan antara person organization fit terhadap turnover intention. pengaruh tidak langsung tabel 18 hasil spesifik indirect effects untuk variabel mediasi hub. original sample t statistics p values hasil z1 -> y -0.269 3.334 0.001 signifikan z2 -> y -0.123 2.331 0.020 signifikan x1 -> z1 0.322 3.679 0.000 signifikan x1 -> y -0.213 3.504 0.001 signifikan x2 -> z1 0.604 8.045 0.000 signifikan x2 -> y -0.441 5.953 0.000 signifikan pada tabel 17 dapat diketahui bahwa pengaruh person organization fit terhadap turnover intention adalah negative sebesar -0.213, dengan nilai t-statistik sebesar 3.504 > 1.96 dan nilai pvalue 0.001 < 0.05. hal ini menunjukkan bahwa person organization fit berpengaruh signifikan negatif terhadap turnover intention. nilai koefisien jalur pengaruh workplace spirituality terhadap turnover intention adalah negative sebesar -0.441, dengan nilai t-statistik sebesar 5.953 > 1.96 dan nilai p-values 0.000 < 0.05. hal ini menunjukkan bahwa workplace spirituality berpengaruh signifikan negatif terhadap turnover intentions. nilai koefisien jalur pengaruh person organization fit terhadap affective commitment adalah positif sebesar 0.322, dengan nilai t-statistik sebesar 3.679 > 1.96 dan nilai p-value 0.000 < 0.05. hal ini menunjukkan bahwa person organization fit berpengaruh signifikan positif terhadap affective commitment. nilai koefisien jalur pengaruh workplace spirituality terhadap affective commithipo pengaruh antar variabel t statistics p values hasil h6 po-f -> ac-> toi 2.491 0.013 signifikan h7 wps -> ac-> toi 2.862 0.004 signifikan pada penelitian ini hubungan antara person organization fit sebagai variabel x terhadap affective commitment yang mana sebagai variabel z adalah signifikan (dapat dilihat pada tabel path coefficient). berdasarkan keterangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa affective commitment dapat memberi pengaruh mediasi antara variabel person organization fit terhadap turnover intention karena hubungan langsung antara kedua variabel terpenuhi begitu pula hubungan antara variabel independen terhadap variabel intervening. kesimpulan tersebut tentunya didukung dari hasil uji specific indirect pada nevi nevada, pengaruh person organization fit dan workplace spirituality terhadap turnover intention dengan affective commitment sebagai variabel intervening dan generasi millennial sebagai moderasi 63 tabel tersebut yang menunjukkan bahwa nilai tstatistik pada h6 adalah 2.491 > 1.96 dan nilai p-values 0.013 < 0.05. berikutnya diketahui bahwa hasil uji specific indirect effects untuk variabel mediasi h7 memiliki nilai t-statistik sebesar 2.862 > 1.96 dan p-value 0.004 sehingga affective commitment juga memberi pengaruh mediasi antara variabel workplace spirituality terhadap turnover intention. hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelapan hipotesis diterima di mana person organization fit memiliki pengaruh terhadap turnover intention, workplace spirituality memiliki pengaruh terhadap turnover intention, person organization fit memiliki pengaruh terhadap affective commitment, workplace spirituality memiliki pengaruh terhadap affective commitment, affective commitment memiliki pengaruh terhadap turnover intention, affective commitment memediasi pengaruh antara person organization dan workplace spirituality terhadap turnover intention, dan generasi millennial memoderasi hubungan antara person organization terhadap turnover intention. dari hubungan tersebut dapat diartikan bahwa karyawan pt bank tabungan negara, tbk. memiliki kesesuaian dengan organisasinya dengan begitu tumbuh rasa memiliki terhadap organisasi atau disebut dengan komitmen afektif sehingga karyawan tidak akan memiliki niat untuk berpindah. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh hanich dan hulin (1990) yang menyatakan bahwa person organization fit dapat meningkatkan kinerja karyawan dan secara tidak langsung dapat menimbulkan dedikasi kepada perusahaan, sehingga dapat menurunkan perilaku turnover intention. selanjutnya, pengaruh mediasi affective commitment juga terbukti pada hubungan workplace spirituality terhadap turnover intention. hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan oleh kumar dkk. (2012) yang menyatakan bahwa workplace spirituality signifikan berpengaruh terhadap affective commitment. ketika karyawan menemukan makna dalam pekerjaannya, maka secara tidak langsung akan menimbulkan komitmen terhadap perusahaan. jika dikaitkan dengan kondisi di lapangan bahwa nilai organisasi yang sangat terlihat adalah memedulikan kepentingan masyarakat sosial dan lingkungan secara berkelanjutan, hal ini tentunya sesuai dengan misi bank tabungan negara. dapat disimpulkan bahwa perusahaan sudah cukup berhasil untuk menyampaikan nilai-nilai perusahaan kepada pegawai di perusahaan tersebut sehingga diterima baik pula oleh para karyawan. berdasarkan hasil penelitian di lapangan juga menunjukkan hasil bahwa generasi milenial memoderasi hubungan antara person organization fit terhadap turnover intention. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian dari swiggard (2012) yang menyatakan bahwa generasi y memiliki kecenderungan dua kali lipat lebih besar dari generasi x untuk keluar dari pekerjaannya setelah satu tahun bekerja sehingga salah satu cara untuk meningkatkan loyalitas generasi y adalah dengan person organization fit. ketika karyawan merasa sesuai/fit dengan nilai-nilai perusahaan maka karyawan akan enggan untuk meninggalkan organisasi. kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis secara deskriptif maupun statistik maka dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, yaitu person organization fit berpengaruh signifikan negatif terhadap turnover intention. workplace spirituality berpengaruh signifikan negatif terhadap turnover intention. person organization fit berpengaruh signifikan positif terhadap affective commitment. workplace spirituality berpengaruh signifikan positif terhadap affective business and finance journal, volume 6, no. 1, march 2021 64 commitment. affective commitment berpengaruh signifikan negatif terhadap turnover intention. affective commitment memediasi hubungan antara person organization terhadap turnover intention. affective commitment memediasi hubungan antara workplace spirituality terhadap turnover intention. generasi millennial memoderasi hubungan antara person organization terhadap turnover intention. daftar rujukan ali, syukron. 2016. mengenal lebih dekat generasi millennial. swa.co.id/swa diakses pada tanggal 15 maret 2020. allen, n.j. & meyer, j.p. 1996. affective, continuance, and normative commitment to the organization: an examination of construct validity. journal of vocational behavior, 49(3), pp.252–276. ashmos, d.p. & duchon, d. 2000. spirituality at work: a conceptualization and measure. journal of management inquiry, 9(2), pp.134–145. behery, m.h. 2009. person/organization job fitting and affective commitment to the organization. cross cultural management: an international journal. ghozali, i. 2012. aplikasi analisis multivariate dengan program ibm spss 20. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. jogiyanto. 2016. metodologi penelitian bisnis. yogyakarta: kpye ikapi. kicheva, t. 2017. management of employees from different generations-challenge for bulgarian managers and hr professionals. economic alternatives, 1, pp.103–121. kristof, a.l. 1996. person organization fit: an integrative review of its conceptualizations, measurement, and implications. personnel psychology, 49 (1), pp.1–49. mathis, r.l. & jackson, j.h. 2006. sumber daya manusia. jakarta: salemba empat. michaels, c.e. & spector, p.e. 1982. causes of employee turnover; a test of the mobley, griffith, hand, and meglino model. journal of applied psychology, 67(1), 53–59. panindya, belfast. 2017. menjadi generasi millennial yang selalu kreatif, aktif, dan inovatif. www.kompasiana.com/belfast. diakses pada tanggal 15 maret 2020 rachmah, a.n., machasin, m., & fitri, k. 2017. pengaruh komitmen organisasi, kepuasan kerja, dan budaya organisasi terhadap turnover intention pada karyawan hotel mutiara merdeka pekanbaru. doctoral dissertation, riau university. sugiyono. 2017. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: pt alfabeta. tanner, l. 2010. who are the millennials? center for operational research & analysis. canada: defence r&d. geodita w.b., ninditya n., maydawati f.g., aang k., nugroho p.n., berto m.w., analysis of sustainability report disclosure, external assurance, environmental performance, and financial access on non-financial sector companies 109109 analysis of sustainability report disclosure, external assurance, environmental performance, and financial access on non-financial sector companies geodita woro bramanti, ninditya nareswari, maydawati fidellia gunawan, aang kunaifi, nugroho priyo negoro, berto mulia wibawa department of business management, faculty of creative design and digital business, institut teknologi sepuluh nopember e-mail: geodita@mb.its.ac.id; geodita.bramanti@gmail.com abstract: economic growth in indonesia is growing rapidly, this further exacerbates the current environmental conditions which are characterized by high levels of pollution, greenhouse gas effects, global warming and the threat of ecosystem extinction. the emergence of various environmental problems that occur today are caused by various sectors, one of which is the industrial sector. as the largest contributor to gdp in indonesia, the industrial sector which is an idx listing company has an obligation to have a sustainability report where this report describes economic, social and environmental activities. this sustainability report can provide information symmetry that can be considered by third parties, both financial institutions and investors. this sustainability report must have external quality and assurance so that it is not just a disclosure but can be a reliable sustainability report. therefore, this study has an aim to analyze the relationship between the sustainability reports quality, the external assurance quality, usage of external assurance, environmental performance and financial access. the sample population are non-financial sector companies listed on the indonesia stock exchange and proper during the 2014–2019 period. the analytical method used is panel data regression analysis using stata. the result of this study found a significant strongly relationship between environmental performance and the quality of sustainability report disclosures on the company’s financial access. in contrast, there is an insignificant effect between the quality of external assurance sustainability report disclosure on the financial access of the main sector and manufacturing companies. keywords: environmental performance, external assurance, financial access, sustainability report, stata introduction environmental damage, global warming, pollution, and the threat of ecosystem extinction are sustainability issues that are currently being faced and have become a public concern. these environmental and social problems are caused by various sectors. indonesia as one of the g20 member countries that signed the nationally determined contribution (ndc) document, has a commitment to reduce its emissions to 29% with its own efforts and to 41% with the support of international cooperation from business as usual by 2030 (directorate general of ppi, 2019). based on the 2020 climate transparency report, greenhouse gas (ghg) emissions in indonesia were at the 581 mtco2 in 2019 where this emission level increased significantly compared to 1990. from the total greenhouse gas emissions, the largest contributor was the industrial sector at 37% as the largest contributor to gross domestic product (gdp) in 2018 (bps, 2019). because of the industrial growth rapidly, environmental problems may also increase (patnaik, 2018). business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 110 in line with indonesia’s commitment as a member of the g20, the ministry of environment and forestry developed a program for increasing the awareness of corporate environmental management. this program is known as the corporate performance rating assessment program in environmental management (proper). proper was created to provide an assessment for ecological management compliance as well as performance through incentive and disincentive instruments. based on the 20132018 proper report, many companies in indonesia have not met the minimum proper standard in blue and moreover, less than 10% of companies in indonesia have carried out environmental management more than the standard or equivalent to the colors green and gold. according to banerjee et al, 2019, his research appointed that companies was having good environmental management will rarely face obstacles in their finance financial access is the company’s ability to find the source of funding. a good financial access can reduce company’s financial constraints. it became essential since it was used for companies to expand its operations, innovation, investment on production facilities and new staff recruitment (oecd, 2006). based on bank indonesia regulation number 14/15/pbi/2012 and bank indonesia circular letter number 15/28/dpnp 2013, it is emphasized that the level of environmental management in a company is one of the indicators for successful in obtaining credit facilities. thus, companies with good environmental performance will be easier to obtain credit facilities. moreover, as companies listed on idx, based on the law of the republic of indonesia number 40 of 2007, it is stated that sustainability information has become an obligation. however, the report is still very limited and as a part of the annual report. it showed on the financial services authority (ojk) report at the end of 2016 that only 49 idx issuers having sustainability reports, of which most of these companies are in the non-financial sector (ojk, 2017) currently, investors tend to look the effect of economic achievement and sustainability reports (unruh et al., 2016). martinez-ferrero et al., 2016 highlighted that sustainability report can increase information symmetry which can foster investor confidence to make decisions on investment. therefore, the sustainability reports must have quality. this is because disclosure alone does not enhance the reliability of the given data. garcía-sánchez et al.(2019) found that a sustainability report is considered to have quality if the report meets specific guidelines for the preparation and presentation of information, has an external guarantor, and the quality of external assurance. meanwhile, other research states that it can be recognize ad an excellent sustainability report if it has a report assurance (simnett et al., 2009; al-shaer & zaman, 2016) and meets the environmental and social measurement index model (bachoo et al., 2013). therefore, a study on the analysis of the disclosure of sustainability reports quality, external assurance, environmental performance and financial access to non-financial sector companies is needed as consideration for the financial services authority (ojk) and the ministry of environment & forestry (klhk) in regulating their regulations, relating to the implementation of sustainable finance in companies listed on the idx. in addition, the research can produce an overview for companies regarding the essential of environmental performance and geodita w.b., ninditya n., maydawati f.g., aang k., nugroho p.n., berto m.w., analysis of sustainability report disclosure, external assurance, environmental performance, and financial access on non-financial sector companies 111 color class, including gold, green, blue, red, and black. sustainability report sustainability reports show actual sustainability performance (papoutsi & sodhi, 2020). currently, sustainability disclosure in indonesia still depends on the willingness of every entrepreneur. in fact, the disclosure of sustainability reports can help companies to decide their objectives, value its performance, and plan to alter operational activities more sustain (gri, 2013). in addition, the disclosure of sustainability reports also has the potential to reduce the company’s financial constraints which include the inability to obtain loan, issue equity, dependence on bank credits, or the inadequacy of assets (yao, hong, & lin, 2019). the guidelines used as a standard for preparing sustainability reports by the majority of companies or organizations are the global reporting initiatives (gri) sustainability report guidelines. sustainability report that is following gri, consists of two standards, namely general standards and specific standards. in the g4 guidelines, a sustainability report has quality if it meets six principles (balance, comparability, accuracy, timeliness, clarity, and reliability). the previous research from garcía-sánchez et al. on 2019 also stated that a sustainability report has a good quality if it meets the requirement of gri guidelines, and has specific information. meanwhile, the studies of al-shaer & zaman (2016) and simnett et al. (2009) highlighted that the quality of these report based on the external assurance availability this is because the usage of external assurance for sustainability reports can improve the accuracy of the information quality as well as can reduce the risk of information discrepancies. until now, sustainability reports toward access on funding as well as consideration for investors. literature review environmental performance environmental performance is a company’s performance that shows the company’s awareness for the environment. good environmental performance can increase legitimacy, reduce asymmetric and possible spending, which leads to raise capital supply and reducing the financing constraints (liu et al., 2020). several methods for valuing company’s performance related to environment, that are including measuring company’s green investment, the amount of emissions and pollution, ranking environmental performance, and counting words related to the environment in company reports. meanwhile, according to iso 140031 in trumpp, et.al (2015) research, the company’s environmental performance includes measurement of two aspects, such as emp and eop (environmental management performance and environmental operational performance). in indonesia, there are several indicators for measuring corporate environmental performance, one of which is proper. according to the minister of environment regulation no. 3 of 2014 article 1 paragraph (1), proper is defined as an evaluation of the compliance and performance of the firm owner and/or activities for eliminating pollution and/or environmental degradation, managing hazardous and toxic waste. results of the company’s performance appraisal ratings are announced and published regularly to the public. rating results can enhance or damage a company’s reputation. proper defines a company’s environmental performance rating which is divided into 5 business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 112 the use of assurances in sustainability reports is still voluntary. the presence or absence of an external guarantee is influenced by report disclosure and the type of company industry (cho et al., 2014). financial access financial access is very important for company’s activities. financial access will affect various company decisions such as company investment or divestment decisions, company capital structure choices, cash management policies, company export behavior, and company r&d intensity (li, 2011). based on banerjee et al. (2019) research states that the ease of obtaining financial access is characterized by low financial constraints. cheng et al. (2014) also defines better financial access can reduce company’s financial constraints, where these constraints refer to market frictions that can prevent company funding. better financial access is associated with increased stakeholder involvement and reduced information asymmetry. there are several general scale-indicators that can be used to measure a company’s financial access, including the kz index by kaplan & zingales (1997), the ww index by whited & wu (2006) and the sa index by hadlock & pierce (2010). same as previous research from garcía sánchez et al. (2019), this study uses the kz index to measure the company’s financial access research methodology research model based on the previous research of banerjee et al. and garcía-sánchez et al. on 2019, the study proposes research model with dependent variable financial access (see figure 1). figure 1 research model the independent variables are environmental performance, sustainability report quality, and quality of external assurance. the dummyindependent variable is external assurance of sustainability reports. some indicator measurement variables were applied with adjustments according to the characteristics of the sample from previous studies. table 1 the scale of variable variable code measurement scaleindicator environmental performance ep proper ratings by indonesian ministry of environment and forestry sustainability report disclosure quality srq based on scoring level by garcíasánchez et al (2019) external assurance of sustainability report ea valued as “1”, if available, and “0” otherwise quality of external assurance aq scoring context index of assurance statement based on aa1000as dan isae3000 standards financial access fa kz index geodita w.b., ninditya n., maydawati f.g., aang k., nugroho p.n., berto m.w., analysis of sustainability report disclosure, external assurance, environmental performance, and financial access on non-financial sector companies 113 based on the following research model, this study composes the hypothesis as follows: h1: the effect of environmental performance on financial access. h2: the effect of the sustainability report disclosure quality on financial access. h3: the effect of sustainability report external assurance on financial access. h4: the effect of external assurance quality of sustainability reports on financial access. research sample the research population is non-financial sector companies listed on the indonesia stock exchange and company performance improvement appraisal program or that is known as proper in indonesia. the data was collected from the period 2014–2019. the sample in this study was selected using the purposive data sampling. there was 501 observations that meets the criteria. data processing this research uses panel data regression analysis approach and stata program to assist research data processing. in addition, this study also evaluates the suitability of the research model through the chow and hausman test. result panel data regression data analysis from the results of testing model fit, the appropriate model for this research is the random effect model, therefore the panel data regression analysis using the following equation fa it = 1.714 0.326 ep it 0.010 srq it 0.042 ea it 0.177 aq it + e it f-test based on the regression results of, it appears that the p-value is 0.005 d” 0.01. this value indicates that the variables of financial performance, quality of sustainability report disclosure, external assurance of sustainability reports, and quality of external assurance of sustainability reports simultaneously have a significant effect on financial access of non-financial sector companies from 2014 to 2019 at a 99% confidence level. t-test the t-test could be done by comparing the probability value of each independent variable with the level of significance. based on the table below (table 2), it can be seen that: 1. the ep variable, environmental performance, has a probability of 0.020 ≤ 0.05 indicating that the environmental performance variable has a positive and significant effect on financial access at a significance level of 5%. 2. the srq variable, sustainable report quality, has a probability of 0.008 ≤ 0.01 indicating that the second variable has a positive and significant effect on financial access at a significance level of 1%. 3. the ea variable, external assurance, has a probability of 0.972 ≥ 0.10 indicating that the third variable report has no effect on the financial access 4. variable aq, the quality of external assurance, has a probability of 0.880 ≥ 0.10 indicating that this fourth variable has insignificant effect on financial access of non-financial sector companies. table 2 panel data regression result variable coeffisien std.error t-statistic probability ep -0.326 0.140 -2.33 0.020** srq -0.010 0.004 -2.63 0.008*** ea -0.042 1.216 -0.03 0.972 aq -0.177 1.271 -0.14 0.880 business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 114 discussion the effect of environmental performance on financial access the results of data processing using the random effect (rem) model showed that environmental performance has a significant positive effect on financial access for non-financial sector companies. this result corresponds to the last studies which found that the firm’s access to source of funding will be influenced by its performance on environment (banerjee et. al., 2019 & nguyen et al., 2018). good environmental performance will attract stakeholders, especially external stakeholders, so it is believed to be able to improve stakeholder relationships and increase long-term profitability (brulhrat et al., 2019). stakeholders capture environmental performance information as positive information that leads to positive market performance outcomes (yadav et. al, 2016). companies with a good level of environmental performance will be responded positively by investors through fluctuations in stock prices, and will be responded positively by banks. in bank indonesia regulation number 14/15/pbi/ 2012 and bank indonesia circular letter number 15/28/dpnp 2013, environmental management efforts by companies are one of the indicators for assessing the provision of credit facilities by banks. on the contrary, poor environmental performance leads to lawsuits, which can increase the expenses and reduce the ability to catch new investor and debtor (barth, m.e., & mcnichols, 1994). in indonesia, law number 32 of 2009 states that the the central and or regional government may apply administrative section to the owners of businesses and/or their business activities if environmental violations are found under supervision. the effect of the sustainability report disclosure quality on financial access from the table 2, srq variable result show that it has a positive and significant effect on financial access for non-financial sector companies. this condition is supported by the research of garcía sánchez et al.(2019) and bachoo et. al. (2013). the better quality of sustainability disclosure, the higher the ability to increase company profits (rezaee & tuo, 2019; mouselli et al., 2012). this information can influence investors’ perceptions and behavior (kothari & short, 2009). sustainability disclosure can also be a strategy for proactive environmental actions that are able to attract investors (clarkson et al., 2013). recently, investors prefer to invest in transparent entities because there is greater trust between managers and stakeholders, more accurate forecasting, and low information asymmetry (jiang & fu, 2019; oncioiu, 2020). disclosure on sustainability data allows investors to obtain more information and a positive correlation with operating cash flow and asset returns (liang & renneboog, 2016; jiang & fu, 2019; yang & yan, 2020; oncioiu, 2020). this is because high disclosure quality also indicates a systematically higher equity price, either through the cost of capital or the expected future performance effects (bachoo et. al., 2013). the effect of sustainability report external assurance on financial access the results showe that the availability external guarantee had a positive and insignificant effect on the financing access of non-financial sector companies. external assurance is to ensure that the quality of sustainability disclosures can strength the credibility and increase geodita w.b., ninditya n., maydawati f.g., aang k., nugroho p.n., berto m.w., analysis of sustainability report disclosure, external assurance, environmental performance, and financial access on non-financial sector companies 115 the trust and perception of information users (pflugrath et al., 2011). not only external assurance, internal assurance can also increase the credibility of disclosure (mercer, 2004). the usage of report guarantees can increase shareholder confidence and others (simnett et al., 2009). a possible explanation of the insignificant relationship was due to the absence of regulations requiring the use of external assurances for sustainability reports, and also most of the research objects did not use the external assurance. most of them choose to use internal assurance rather than external assurance for sustainability reports, although several other studies have found that without independent or external assurance it will reduce the value of the company in the eyes of stakeholders (lenssen et al., 2011). in contrast haji & anifowose (2016) found the the use of internal assurance can be cost efficient in increasing reliability, capability and trust of sustainability on nonfinancial sector. a possible explanation of the insignificant relationship is due to the absence of regulations requiring the use of external assurances for sustainability reports. both inside and outside assurance had a benefit impact on the company’s financial access. the effect of external assurance quality of sustainability reports on financial access based on above table (table 2), the result show a finding that the quality of the external guarantee of the sustainability report has a positive and not significant relationship with access to finance of non-financial sector companies. same as previous research of garcíasánchez et al. (2019), the cause of the absence of a relationship is first, the lack of knowledge and experience from investors or other information users on understanding complex information from assurance reports even though there are regulations or guidelines to make good reports. second, small number of companies in indonesia that was using of external assurance for sustainability reports. third, until now there has been any regulation that asking to use reliable outside assurance. companies domiciled in countries that have a shareholder orientation will pay more attention to and want reputable external assurance. in addition, companies in countries with market-driven sustainability practices will also pay more attention to and want excellent quality of external assurance, compared to companies whose sustainability practices are driven by institutions or the government (kolk & parego, 2010) conclusion this research examines the effect of environmental performance, quality of disclosure of sustainability reports, external guarantees and quality of external guarantees on financial access for non-financial sector companies. the results imply that both environmental performance and quality of sustainability reports are important variables that have a strong & positive relationship to the company’s financial access while the other two have a negative and insignificant relationship. the results obtained in this study can be a good reference for the government, companies that have and have not been registered in proper and also future research related to green finance sustainability. however, additional research is needed to further advance current understanding. the challenge for future studies is the selection of a sample population in which the criteria to be considered are requiring external assurance in business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 116 the reliability report, this condition may affect the final results. in addition, it is necessary to conduct in-depth research by comparing two conditions from different sample criteria when the presence of an outside guarantor is mandatory or not. therefore, it is advisable to repeat the investigation with the selection criteria based on the obligation to have external guarantees on the report, to ensure the findings can provide more reliable insight. reference al-shaer, h., & zaman, m. (2016). board gender diversity and sustainability reporting quality. journal of contemporary accounting & economics, 12(3), 210–222. bachoo, k., tan, r., & wilson, m. (2013). firm value and the quality of sustainability reporting in australia. australian accounting review, 23(1), 67–87. barth, m. e., & mcnichols, m. f. (1994). estimation and market valuation of environmental liabilities relating to superfund sites. journal of accounting research, 32, 177–209. banerjee, r., gupta, k., & mudalige, p. (2019). do environmentally sustainable practices lead to financially less constrained firms? international evidence. international review of financial analysis. bank indonesia. (2013). surat edaran bank indonesia nomor 15/28/dpnp 2013 perihal penilaian kualitas aset bank umum. bank indonesia. (2012). peraturan bank indonesia nomor 14/15/pbi/2012 tentang penilaian kualitas aset bank umum. bps. (2019). statistik lingkungan hidup indonesia 2019. cheng, b., ioannou, i., & serafeim, g. (2014). corporate social responsibility and access to finance. strategic management journal, 35 (1), 1–23. cho, c. h., michelon, g., patten, d. m., & roberts, r. w. (2014). csr report assurance in the usa: an empirical investigation of determinants and effects. sustainability accounting, management and policy journal. clarkson, p. m., fang, x., li, y., & richardson, g. (2013). the relevance of environmental disclosures: are such disclosures incrementally informative?. journal of accounting and public policy, 32(5), 410– 431. climate transparency. (2020). comparing g2o climate action and responses to the covid-19 crisis. climate transparency report directorate general of ppi. (2019). statistik tahun 2018. garcía sánchez, i. m., hussain, n., martínez ferrero, j., & ruiz barbadillo, e. (2019). impact of disclosure and assurance quality of corporate sustainability reports on access to finance. corporate social responsibility and environmental management, 1–17. gri. (2013). g4 sustainability reporting guidelines. �hadlock, c.j., & pierce, j.r. (2010). new evidence on measuring financial constraints: moving beyond the kz index, review of financial studies, 23 (5), 19091940. haji, a. a., & anifowose, m. (2016). audit committee and integrated reporting practice: does internal assurance matter?. managerial auditing journal. geodita w.b., ninditya n., maydawati f.g., aang k., nugroho p.n., berto m.w., analysis of sustainability report disclosure, external assurance, environmental performance, and financial access on non-financial sector companies 117 review of economic policy. 33, (2), 278316. liu, z., li, w., hao, c., & liu, h. (2020). corporate environmental performance and financing constraints: an empirical study in the chinese context. corporate social responsibility and environmental management, (september), 1–14. https://doi.org/ 10.1002/csr.2073. martinez-ferrero, j., banerjee, s., & garcíasánchez, i. m. (2016). corporate social responsibility as a strategic shield against costs of earnings management practices. journal of business ethics, 133(2), 305– 324. menteri lingkungan hidup. (2014). peraturan menteri lingkungan hidup nomor 03 tahun 2014 tentang program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. menteri lingkungan hidup dan kehutanan. (2018). program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. retrieved from http://www.menlhk.go.id/ site/post/119. mercer, m. (2004). how do investors assess the credibility of management disclosures? accounting horizons, 18(3), 185-196. mouselli, s., jaafar, a., & hussainey, k. (2012). accruals quality vis-à-vis disclosure quality: substitutes or complements?. the british accounting review, 44(1), 36-46. nguyen, j. h. (2018). carbon risk and firm performance: evidence from a quasi-natural experiment. australian journal of management, 43(1), 65–90. oecd. (2006). economic policy reforms 2006: going for growth, oecd publishing, paris. heemskerk, b., pistorio, p., & scicluna, m. (2002). sustainable development reporting: striking the balance. international organization for standardization (iso). (1999). iso 14031: 1999. environmental management-environmental performance evaluation-guidelines. geneva: iso. jiang, c. & fu, q.a. win-win. (2019). outcome between corporate environmental performance and corporate value: from the perspective of stakeholders. sustainability, 11, 921. kaplan, s. n., & zingales, l. (1997). do investment-cash flow sensitivities provide useful measures of financing constraints? the quarterly journal of economics, 112(1), 169–215. kolk, a., & perego, p. (2010). determinants of the adoption of sustainability assurance statements: an international investigation. business strategy and the environment, 19(3), 182-198. kothari, s. p., li, x., & short, j. e. (2009). the effect of disclosures by management, analysts, and business press on cost of capital, return volatility, and analyst forecasts: a study using content analysis. the accounting review, 84(5), 1639-1670. lenssen, g., blagov, y., bevan, d., ridley, j., d’silva, k., & szombathelyi, m. (2011). sustainability assurance and internal auditing in emerging markets. corporate governance: the international journal of business in society. li, d. (2011). financial constraints, r&d investment, and stock returns. the review of financial studies, 24(9), 2974–3007. liang, h. & rennenboog, l. (2017). corporate donations and shareholder value. oxford business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 118 ojk. (2017). infografis lembaga jasa keuangan dan emiten penerbit sustainability report. publikasi riset dan statistik. oncioiu, i., petrescu, a.-g., bîlcan, f.-r., petrescu, m., popescu, d.-m., & anghel, e. (2020).�corporate sustainability reporting and financial performance. sustainability, 12(10), 4297. papoutsi, a., & sodhi, m. m. s. (2020). does disclosure in sustainability reports indicate actual sustainability performance? journal of cleaner production, 260, 121049. https:/ /doi.org/10.1016/j.jclepro.2020.121049. patnaik, r. (2018). impact of industrialization on environment and sustainable solutions–reflections from a south indian region. iop conference series: earth and environmental science, 120(1). pemerintah indonesia. (2009). undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. pemerintah indonesia. (2007). undang-undang republik indonesia nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. pflugrath, gary, peter roebuck, and roger simnett. (2011). impact of assurance and assurer’s professional affiliation on financial analysts’ assessment of credibility of corporate social responsibility information. auditing: a journal of practice & theory 30(3), 239–254. rezaee, z. & tuo, l. (2019). are the quantity and quality of sustainability disclosures associated with the innate and discretionary earnings quality?. journal of business ethics, 155(3), 763–786. simnett, r., vanstraelen, a., & chua, w. f. (2009). assurance on sustainability reports: an international comparison. the accounting review, 84(3), 937–967. trumpp, c., endrikat, j., zopf, c., & guenther, e. (2015). definition, conceptualization, and measurement of corporate environmental performance: a critical examination of a multidimensional construct. journal of business ethics, 126(2), 185– 204. https://doi.org/10.1007/s10551-0131931-8. unruh, g., kiron, d., kruchwitz, n., reeves, m., rubel, h., & zum felde, a. m. (2016). investing for a sustainable future: investors care more about sustainability than many executives believe. mit sloan management review, 57(4). whited, t.m. & wu, g. (2006). financial constraints risk, review of financial studies, 19 (2), 531–559. yadav, p. l., han, s. h., & rho, j. j. (2016). impact of environmental performance on firm value for sustainable investment: evidence from large us firms. business strategy and the environment, 25(6), 402– 420. yang, t.-k. & yan, m.-r. (2020). the corporate shared value for sustainable development: an ecosystem perspective. sustainability, 12, 23–48. yao, s., hong, y., & lin, c. m. (2019). environmental information disclosure and financial constraint. asia-pacific journal of financial studies, 48(5), 666–689. https://doi.org/10.1111/ajfs.12277. eko budi santoso, pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial terhadap manajemen laba 147147 pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial terhadap manajemen laba eko budi santoso universitas ciputra e-mail: esantoso@ciputra.ac.id abstract: this study is based on the paradox where companies that are active in carrying out social responsibility turn out to be involved in financial scandals. the aim of this study is to examine the association of corporate social responsibility (csr) disclosure with earnings management. this research was conducted at indonesian go public companies which have issued csr disclosures according to gri-g4 for the period of 2013–2017. the result of the study shows that there is positive association of csr disclosure with earnings management. the findings of this study suggest stakeholders should not take for granted that csr disclosure of the company automatically reflects their ethical behavior in financial areas. keywords: etika bisnis, informasi nonfinansial, kualitas laba, manajemen laba, tanggung jawab sosial pendahuluan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan isu yang semakin berkembang dalam dunia bisnis seiring dengan semakin meningkatkan kesadaran bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam praktik bisnis. thornton (2008) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang mengadopsi prinsipprinsip tanggung jawab sosial percaya dengan beroperasi secara etis dan bertanggung jawab maka mereka akan memperoleh kesempatan berhasil yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang tidak mengadopsi prinsip tersebut. penelitian yang dilakukan oleh orlitzky et al. (2003), harjoto & jo (2011), blazovich & smith (2010), dan lys et al., (2015) menemukan bahwa aktivitas tanggung jawab sosial berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. perusahaan yang aktif untuk melakukan dan melaporkan aktivitas tanggung jawab sosialnya mengalami pertumbuhan penjualan, kenaikan harga saham dan nilai perusahaan karena perusahaan tersebut dianggap peduli terhadap tanggung jawab sosialnya. kondisi-kondisi tersebut memotivasi perusahaan untuk berlomba-lomba aktif melakukan dan melaporkan kegiatan tanggung jawab sosialnya karena akan meningkatkan nilai perusahaan di mata stakeholder. permasalahan timbul ketika perusahaan yang aktif melakukan tanggung jawab sosial ternyata juga terlibat dalam skandal-skandal keuangan seperti enron dan xerox yang sebelum terungkap skandal keuangannya dikenal sebagai perusahaan yang aktif dan memperoleh penghargaan di bidang tanggung jawab sosial. paradoks yang sama juga terjadi di negara-negara berkembang seperti di indonesia ada pt asian agri dan pt kaltim prima coal di indonesia yang aktif dan memperoleh penghargaan dalam pengungkapan tanggung jawab sosial namun terlibat dalam skandal penggelapan pajak. kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang aktif melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial belum tentu merupakan perusahaan yang melakukan tanggung jawab etis dalam praktik bisbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 148 nisnya. hemingway & maclagan (2004) mengemukakan bahwa manajer dapat menggunakan aktivitas tanggung jawab sosial sebagai alat untuk menutupi kecurangan keuangan perusahaan. keberadaan perusahaan yang aktif melakukan tanggung jawab sosial dan pada saat yang bersamaan melakukan manipulasi keuangan menunjukkan bahwa motivasi melakukan dan melaporkan aktivitas tanggung jawab sosial tidak selalu didasari oleh pertimbangan etis. nilai-nilai yang terkandung dalam tanggung jawab sosial perusahaan belum tentu menjadi nilai etis yang terintegrasi dalam perusahaan tetapi bisa jadi merupakan perilaku oportunistik manajer untuk dapat memperoleh keuntungan pribadi. namun meskipun terjadi paradoks yang sama, terdapat perbedaan kondisi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan antara negara maju dan negara berkembang. ali et al. (2017) menemukan di negara maju kepedulian pemangku kepentingan tertentu seperti regulator, pemegang saham, kreditor, dan pemerhati lingkungan serta tekanan publik menjadi pertimbangan penting dalam pengungkapan tanggung jawab sosial. sedangkan pada negara berkembang pengungkapan tanggung jawab sosial banyak dipengaruhi oleh pemangku kepentingan kuat seperti pembeli dan investor asing. selain itu pada negara berkembang tekanan publik untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial masih rendah yang menunjukkan masih minimnya kesadaran akan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan. pada saat yang sama perilaku opportunistik manajer sulit untuk dikendalikan pada negara berkembang yang umumnya memiliki tingkat perlindungan investor yang rendah (chih et al., 2008; richardson, 2008). hal ini menjadikan asosiasi antara tanggung jawab sosial dan perilaku etis dalam pelaporan keuangan menarik untuk diteliti terlebih lagi pada konteks negara berkembang yang memiliki kesadaran tanggung jawab sosial lebih rendah dibandingkan negara maju. pada negara berkembang, tanggung jawab etis menempati prioritas terakhir sebagai dasar bagi perusahaan dalam melakukan aktivitas tanggung jawab sosial (visser, 2008; alri & tjiptono, 2014). hasil penelitian yang mengasosiasikan tanggung jawab sosial dengan manajemen laba memberikan hasil yang inkonklusif. penelitian kim et al. (2012), hong & andersen (2011), choi et al. (2013), scholten & kang (2012) menunjukkan asosiasi yang negatif. sedangkan penelitian prior et al. (2008), muttakin et al. (2015), bozzolan et al. (2015) justru memberikan hasil asosiasi yang positif. hal ini yang mendorong peneliti untuk meneliti kembali pada asosiasi antara pengungkapan tanggung jawab sosial dan manajemen laba pada konteks indonesia sebagai negara berkembang. indonesia sudah mengeluarkan regulasi mengenai kewajiban pengungkapan tanggung jawab sosial dalam undang-undang no. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. namun regulasi tersebut belum mengatur mengenai isi dari pengungkapan tersebut. tinjauan literatur konsep tanggung jawab sosial secara formal mulai diperkenalkan oleh howard rothmann bowen pada tahun 1953 dalam bukunya social responsibilities of the businessman yang menyatakan bahwa perusahaan harus memperhatikan etika dalam berbisnis agar dapat memperoleh kinerja jangka panjang yang superior. selain itu carroll (1997) menyatakan bahwa tanggung jawab sosial dari sebuah bisnis meliputi aspek ekonomi, hukum, etika, dan ekspektasi masyarakat terhadap bisnis pada waktu tertentu. berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut dapat dieko budi santoso, pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial terhadap manajemen laba 149 simpulkan bahwa tanggung jawab sosial merupakan bagian dari perilaku etis dalam komitmen berkelanjutan perusahaan untuk beroperasi dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya berhubungan dengan isu lingkungan dan kemasyarakatan namun juga berhubungan seluruh aspek yang ada dalam perusahaan termasuk praktik bisnis yang etis. john elkington pada tahun 1994 mengemukakan konsep triple bottom line (tbl) yang menyatakan bahwa bisnis seharusnya tidak hanya berfokus pada single bottom line yaitu profit (ekonomi) namun juga harus memperhatikan people (tenaga kerja) dan planet (lingkungan). tbl merupakan suatu kerangka keberlanjutan perusahaan yang menguji dampak perusahaan pada sosial, lingkungan dan ekonomi. aspek tenaga kerja merujuk pada praktik bisnis perusahaan yang mendukung tenaga kerja seperti perlindungan terhadap tenaga kerja, pemberian upah yang wajar, dan pengembangan diri tenaga kerja. pada aspek lingkungan berfokus pada pengelolaan perusahaan terhadap sumber daya alam yang terbatas, mengurangi dan mengelola limbah yang dihasilkan serta mengurangi penggunaan emisi karbon dan pemakaian energi. sedangkan aspek ekonomi tidak sekadar berarti keuntungan yang diperoleh perusahaan namun terciptanya perdagangan yang adil dan etis. pada saat mencari bahan baku perusahaan tidak hanya berfokus pada sisi ekonomis dengan mencari harga termurah, namun pada harga yang wajar. implikasi dari konsep ini adalah perusahaan harus lebih mengutamakan kepentingan stakeholder dibandingkan kepentingan shareholder. setelah 25 tahun konsep tersebut diaplikasikan, elkington (2018) menyatakan bahwa perusahaan masih banyak berfokus pada aspek pemenuhan target profit dibandingkan dengan mengembangkan bottom line yang lain. ukuran kinerja manajer masih didominasi ukuran finansial yaitu keuntungan yang dihasilkan. hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas dan pengungkapan aspek lingkungan masih ditujukan untuk membantu tercapainya keuntungan yang optimal bagi perusahaan. keberadaan tanggung jawab sosial sebagai salah satu wujud perilaku etis perusahaan juga berevolusi menjadi salah satu bagian dari strategi bisnis perusahaan. pandangan dalam resource based theory (rbt) menempatkan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari sumber daya tak berwujud yang dapat berkontribusi pada keunggulan kompetitif suatu perusahaan dibandingkan perusahaan lain. lebih jauh keberadaan tanggung jawab sosial perusahaan menjadi salah satu strategi pemasaran untuk mencapai kinerja keuangan yang maksimal. pergeseran tanggung jawab sosial dari wujud perilaku etis menjadi strategi pemasaran dapat menyebabkan pengungkapan tanggung jawab tidak lagi menjadi cerminan dari perilaku etis perusahaan namun menjadi alat untuk mencari keuntungan. penelitian yang dilakukan dalam menghubungkan tanggung jawab sosial dengan kinerja perusahaan telah banyak dilakukan namun masih belum banyak yang mencoba meneliti motivasi perusahaan dalam melakukan tanggung jawab sosial. penelitian yang dilakukan grougiou et al. (2015) menemukan bahwa perusahaan yang memiliki stigma negatif seperti perusahaan pada industri alkohol, tembakau, judi, energi nuklir dan persenjataan melaporkan lebih banyak aktivitas tanggung jawab sosialnya sebagai cara untuk menetralisir dampak negatif dari industrinya. penelitian lain yang dilakukan oleh ling & sultana (2015) pada perusahaan di bursa efek singapura menemukan bahwa perusahaan dengan volatilitas harga saham yang tinggi melabusiness and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 150 kukan pengungkapan aktivitas tanggung jawab sosial yang lebih banyak sebagai upaya untuk mengalihkan atau mengubah persepsi investor terhadap perusahaan. hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa motivasi dalam melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial tidak selalu didasari oleh pertimbangan etis namun untuk menetralkan atau mengubah pandangan stakeholder terhadap perusahaan. penelitian yang berusaha mengaitkan perilaku tanggung jawab sosial perusahaan dalam hubungannya dengan perilaku perusahaan dalam keuangannya pada negara berkembang memperoleh hasil yang inkonklusif. penelitian choi et al. (2013) pada perusahaan-perusahaan di korea dengan menghubungkan tanggung jawab sosial, manajemen laba dan struktur kepemilikan menemukan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan negatif terhadap manajemen laba tetapi hubungan tersebut melemah pada perusahaan keluarga atau perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. namun penelitian yang dilakukan muttakin et al. (2015) pada perusahaanperusahaan di bangladesh menemukan bahwa tanggung jawab sosial justru berhubungan positif pada praktik manajemen laba. lebih lanjut muttakin menemukan bahwa perusahaan yang berorientasi ekspor dan didominasi pembeli luar negeri yang kuat akan melakukan pengungkapan yang lebih banyak dan memiliki manajemen laba yang lebih rendah. hal ini menunjukkan perilaku etis dipengaruhi oleh tekanan yang dilakukan oleh pihak eksternal dan bukan berdasarkan nilai yang memang dipercaya oleh perusahaan. penelitian jordaan et al., (2018) di perusahaan-perusahaan afrika selatan yang menemukan bahwa perusahaan dengan kinerja tanggung jawab sosial yang lebih baik cenderung untuk melakukan manajemen laba dengan menaikkan laba melalui akrual diskresioner. sementara itu, hasil penelitian nasution dan adhariani (2016) menemukan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan di indonesia masih menggunakan pendekatan simbolis yang berfokus untuk menaikkan citra perusahaan namun tidak disertai dengan perubahan yang substantif dalam praktik bisnis perusahaan. pendekatan simbolis ini dapat digunakan sebagai alat bagi manajemen perusahaan untuk menyembunyikan tindakan manajemen laba yang dilakukan. berdasarkan argumentasi tersebut maka disusun hipotesis sebagai berikut. h a : semakin luas pengungkapan tanggung jawab sosial, semakin tinggi tindakan manajemen laba. metodologi penelitian data dan sampel penelitian penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder pada perusahaan-perusahaan industri non-keuangan yang go public dan terdaftar di bursa efek indonesia periode tahun 2013–2017. periode sampel ini dipilih karena sejak 2013 diterapkan pedoman gri-g4 untuk pelaporan tanggung jawab sosial perusahaan. terdapat 137 perusahaan yang melaporkan pengungkapan csr menggunakan pedoman gri-g4 pada periode sampel. terdapat tiga perusahaan yang memiliki data tidak lengkap sehingga sampel akhir berjumlah 134 perusahaan. definisi operasional variabel dan pengukuran pengungkapan tanggung jawab sosial pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai pengungkapan perusahaan tentang tanggung jawab sosialnya yang dilakukan dengan menerbitkan laporan keberlanjutan (sustainability report) eko budi santoso, pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial terhadap manajemen laba 151 versi gri-g4. pengungkapan tanggung jawab sosial dihitung dengan menjumlahkan item yang diungkapkan perusahaan dalam keberlanjutannya. skor 1 diberikan jika perusahaan melakukan pengungkapan dan 0 jika tidak mengungkapkan. jumlah total skor kemudian akan dibandingkan dengan jumlah total item pengungkapan di gri versi g4. manajemen laba manajemen laba adalah tindakan perusahaan untuk melakukan manipulasi angka laba yang ditujukan untuk tujuan tertentu. manajemen laba diukur dengan pendekatan manajemen laba akrual menggunakan modified jones model (1991) sebagai berikut. ttt cfonitac �� (1) t t t t t ttt ε ta ppe α ta δs α ta α ta tac ���� ��� 1 3 1 2 1 1 1 1 (2) hasil koefisien �1, �2, dan �3 dari regresi pada persamaan (2) digunakan untuk menghitung nda pada persamaan (3). 1 3 1 2 1 1 1 ��� � � �� t t t tt t t ta ppe α ta recδs α ta αnda (3) t t t t ndata tac da �� �1 (4) keterangan: tac t = akrual total pada tahun t ni t = laba bersih pada tahun t cfo t = arus kas operasi pada tahun t ta t-1 = aset total pada tahun t-1 s t = perubahan penjualan bersih pada tahun t ppe t = aktiva tetap bruto pada tahun t rec t = perubahan piutang usaha bersih pada tahun t nda t = akrual non-diskresioner pada tahun t da t = akrual diskresioner pada tahun t variabel kontrol variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan (size) (prior et al., 2008), tingkat utang (lev) (mahadeo et al., 2011), pertumbuhan perusahaan (pbv) (kim et al., 2012). teknik analisis data pengujian hipotesis menggunakan regresi linier berganda dengan model penelitian berikut. ���� = �0 + �1 ��� + �2 � ��� + �3����� + �4����� +�5���_�������+�5���_��������� keterangan: da it = manajemen laba akrual pada perusahaan i di tahun t csr it = pengungkapan tanggung jawab sosial pada perusahaan i di tahun t size it = ukuran pada perusahaan i di tahun t lev it = tingkat utang pada perusahaan i di tahun t pbv it = pertumbuhan pada perusahaan i di tahun t hasil dan diskusi berikut adalah statistik deskriptif dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. tabel 1 statistik deskriptif variables n mean median stdev da 134 0.178 0.071 0.530 csr 134 0.438 0.430 0.184 size 134 16.803 16.837 1.152 lev 134 1.179 0.940 1.322 pbv 134 4.664 1.840 11.891 berdasarkan hasil statistik deskriptif dapat dilihat bahwa rata-rata pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan di indonesia adalah sebesar 43,8% dari total seluruh item yang ada dalam indeks gri g4. hal ini dikarenakan perusahaan menggunakan pengungkapan gri g4 opsi core yang memberikan fleksibilitas business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 152 bagi perusahaan untuk memilih item csr yang akan diungkapkan sesuai dengan kondisi perusahaan. bahwa perusahaan yang aktif dalam pengungkapan tanggung jawab sosial juga akan berperilaku etis dalam aspek keuangannya. hasil penelitian ini menunjukkan pada negara berkembang yang sebenarnya masih memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial yang rendah, pengungkapan tanggung jawab sosial dapat digunakan manajer untuk mengalihkan perhatian para pemangku kepentingan terhadap tindakan manajemen laba. manajer dapat terus melakukan tindakan manajemen laba dengan berlindung pada pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan. hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penting untuk tetap melakukan analisis terhadap laporan keuangan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan hal tersebut tidak bisa disubstitusikan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan. kesimpulan penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial terhadap manajemen laba pada perusahaan yang aktif melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial. hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan csr berasosiasi positif terhadap tindakan manajemen laba perusahaan. kontribusi dari penelitian ini adalah pentingnya bagi para pemangku kepentingan untuk tidak hanya menggunakan informasi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan namun juga perlu memperhatikan aspek keuangan. hasil penelitian ini juga menegaskan pentingnya analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi para pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan terhadap perusahaan. penelitian selanjutnya perlu untuk menguji apakah pola yang sama pada praktik penghindaran pajak dengan menguji asosiasi da variable coeff. (t-stat) csr 0.518 (1.750)** control size 0.004 (0.100) lev -0.007 (-0.190) pbv 0.004 (0.940) industry dummy included year dummy included r2 0.032 notes: ** sig 5% hasil pengujian hipotesis disajikan pada tabel 2. berdasarkan output regresi dapat dilihat bahwa pengungkapan csr berasosiasi positif dengan manajemen laba dengan tingkat signifikansi 5% sehingga hipotesis yang menyatakan semakin luas pengungkapan csr maka akan semakin rendah tindakan manajemen laba tidak diterima. tanda positif menunjukkan bahwa semakin luas pengungkapan tanggung jawab sosial maka semakin tinggi manajemen laba dan berdampak pada rendahnya kualitas laba. hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan menggunakan pengungkapan tanggung jawab sosial sebagai alat untuk mengalihkan perhatian pemangku kepentingan dari tindakan oportunis manajer yaitu manajemen laba. kondisi ini dimungkinkan karena manajer menggunakan kesalahan pemahaman yang terjadi di masyarakat yang cenderung menggeneralisasi perusahaan yang aktif dalam tanggung jawab sosial adalah perusahaan yang memegang nilai-nilai etika dalam seluruh bisnisnya. pemangku kepentingan menganggap eko budi santoso, pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial terhadap manajemen laba 153 pengungkapan csr terhadap praktik-praktik kecurangan lain di bidang akuntansi seperti penghindaran pajak. acknowledgement penelitian ini dibiayai dari hibah riset dikti. daftar rujukan ali, w., frynas, j.g., & mahmood, z. (2017). determinants of corporate social responsibility (csr) disclosure in developed and developing countries: a literature review. corporate social responsibility and environmental management, 24(4), 273–294. arli, d., & tjiptono, f. (2014). does corporate social responsibility matter to consumers in indonesia? social responsibility journal, 10(3), 537–549. blazovich, j. & smith, l. m. (2011). ethical corporate citizenship: does it pay? research on professional responsibility and ethics in accounting 15, 127–163. bozzolan, s., fabrizi, m., mallin, c. a., & michelon, g. (2015). corporate social responsibility and earnings quality: international evidence. international journal of accounting, 50(4), 361–396. carroll, a.b. (1997). a three-dimensional conceptual model of corporate performance. academy of management review, 4(4), 497–505. chih, h.l., shen, c.h., & kang, f.c. (2008). corporate social responsibility, investor protection, and earnings management: some international evidence.�journal of business ethics,�79(1), 179–198. choi, b.b., lee, d., & park, y. (2013). corporate social responsibility, corporate governance and earnings quality: evidence from korea. corporate governance: an international review, 21(5), 447–467. dechow, p.m., sloan r.g., & sweeney a.p (1995). detecting earnings management. the accounting review, 70(2), 193–225. elkington, j. (2018). 25 years ago i coined the phrase “triple bottom line” here’s why it’s time to rethink it. harvard business review. grougiou, v., dedoulis. e., & leventis, s. (2016). corporate social responsibility reporting and organizational stigma: the case of “sin” industries. journal of business research, 69(2), 905–914. harjoto, m. a., & jo, h. (2011). corporate governance and csr nexus. journal of business ethics, 100(1), 45–67. hemingway, c., & maclagan, p. (2004). managers’ personal values as drivers of corporate social responsibility. journal of business ethics, 50(1), 33–44. hong, y., & andersen, m. l. (2010). the relationship between corporate social responsibility and earnings management: an explanatory study. journal of business ethics, 104(4), 461–471. jordaan, l. a., de klerk, m., & de villiers, c. j. (2018). corporate social responsibility and earnings management of south african companies. south african journal of economic and management sciences, 21(1), 1–13. kim, y., park, m. s., & wier, b. (2012). is earnings quality associated with corporate social responsibility? the accounting review, 87(3), 761–796. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 154 ling, t. c. & sultana, n. (2015). corporate social responsibility: what motivates management to disclose? social responsibility journal, 11(3), 513–534. lys, t., naughton j.p., & wang, c. (2015). signalling through corporate accountability reporting. journal of accounting and economics, 60 (1), 56–72. mahadeo, j. d., oogarah-hanuman, v., & soobaroyen, t. (2011). a longitudinal study of corporate social disclosures in a developing economy. journal of business ethics, 104(4), 545–558. muttakin, m.b., kahn, a., & azim, m.i. (2015). corporate social responsibility disclosure and earnings quality, are they a reflection of managers opportunistic behavior? managerial auditing journal, 30(3), 277–298. nasution r. m., adhariani, d. (2016). simbolis atau substantive? analisis pratik pelaporan csr dan kualitas pengungkapan. jurnal akuntansi dan keuangan indonesia, 13(1), 23–51. orlitzky, m., schmidt, f.l., & rynes, s.l. (2003). corporate social and financial performance: a meta-analysis.�organization studies,�24(3), 403–441. prior, d., surroca, j., & tribó, j.a. (2008). are socially responsible managers really ethical? exploring the relationship between earnings management and corporate social responsibility.�corporate governance: an international review,�16(3), 160–177. richardson, g. (2008). the relationship between culture and tax evasion across countries; additional evidence and extensions, journal of international accounting, auditing, and taxation, 17, 67–78. scholtens, b., & kang, f.-c. (2013). corporate social responsibility and earnings management: evidence from asian economies. corporate social responsibility and environmental management, 112, 95–112. simnett, r., vanstraelen a., & chua, w.f. (2009). assurance on sustainability reports: an international comparison. the accounting review, 84(3), 937–967. thornton, g. (2008). corporate social responsibility: a necessity not a choice, international business report. grant thornton. visser, w. (2008)�corporate social responsibility in developing countries. in a. crane, a., mcwilliams, d. matten, j. moon, & d.s. siegel, the oxford handbook of corporate social responsibility. oxford: oxford university press, 473– 479. yip, e., van staden, c., & cahan, s. (2011). corporate social responsibility reporting and earnings management: the role of political costs. australasian accounting business and finance journal, 5(3), 17–33. 01 adrian denar.pmd dwi irawan, mudrifah, knowledge sharing, innovation capability, and public sector performance in indonesia 2525 knowledge sharing, innovation capability, and public sector performance in indonesia dwi irawan, mudrifah* fakultas ekonomi dan bisnis, universitas muhammadiyah malang e-mail: mudrifah@umm.ac.id abstract: this study aims to investigate the impact of knowledge-sharing innovation capability on the public sector performance in indonesia. this study’s data consisted of all regional work units from various provinces in indonesia. the data is analyzed using structural equation modelling (sem) with pls 3.0 tools. the result shows that tacit knowledge sharing does not affect innovation capability, but explicit knowledge sharing positively affects the innovation capability of public sector organizations. furthermore, the innovation capability affects the organizational performance, which means that new ideas, new services, and improving the quality of services carried out by public sector organizations can improve organizational performance. keywords: explicit knowledge sharing, innovation capabilities, public sector performance, tacit knowledge sharing introduction knowledge is a mixture of experience, values, contextual information, expert views, and basic intuition that provides an environment and framework for evaluating and integrating new experiences with information (ray & little, 2001). knowledge is created on individual initiative and interactions that occur in particular groups, which will later be crystalized through a process of dialogue, discussion, various experiences, and observations (sudarno & yulia, 2012). in terms of managing, knowledge has become an essential function of every organization, appreciated, and discussed in organizations over the past few years. organizational knowledge is considered as one of the most important sources of competitive advantage (yeºil, koska, & büyükbeºe, 2013). knowledge management (km) means building a system that has culture and technology to innovate knowledge and feedback to the system by information sharing, integration, records, accession, and updating, which can accumulate knowledge uninterruptedly for individuals and organizations, strengthen organizational wisdom capital, and adapt to changes in the external environment. public services, which have traditionally been slower to adopt innovative management practices, only started after realizing the importance of km (taylor & wright, 2004). as a result, the new public management theory provides an opportunity to adopt km into the public sector. as a vital pattern in management, km is accepted directly by the public sector and becomes a policy tool in public sector innovation. public services also need to pay attention to the importance of km because it also faces international competition. customers are also putting pressure on it because of the increased demand for excellent services and products, which some private firms provide the same business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 26 benefits as the government. with the current financial crisis, there is a need to share knowledge and information between departments to reduce service replication. loss of institutional memory due to staff turnover also leads the public sector to embrace km practices. knowledge is often stored in documents or repositories and organizational routines, processes, practices, and norms in organizations. consequently, knowledge sharing is critical to transforming the information held by individuals in the company into an organizational asset that all organization members can access (irawan, bastian, & hanifah, 2019). innovation capability is defined as the company’s ability to identify new ideas and turn them into new, improved products, services, or processes that benefit it (aas & breunig, 2017). moreover, innovation is an essential determinant of organizational performance because organizational performance can be improved through technical and administrative innovation (elfita & agustina, 2021). therefore, technological and corporate innovation is vital for improving performance and increasing value (saunila, pekkola, & ukko, 2014). to meet those current issues such as climate change, an aging society, obesity, and the financial crisis, public sector institutions must discover a new method to innovate (bommert, 2010). innovation systems theory emphasizes that innovation does not occur in isolation but relies on interactions between different actors who take part and play various roles in the innovation process. often innovation happens in the relationship between actors and their respective knowledge bases through recombination of existing knowledge (bloch & bugge, 2013). therefore, the innovation capabilities of public sector organizations (psos) depend on the collaboration of many stakeholders, including those already involved in the day-to-day business of pso, as well as relying on specific organizational configurations that enhance the development of innovative work behaviors, idea generation, and realization of each employee (boukamel & emery, 2017). prior studies have shown that knowledge sharing can improve innovation capabilities. ganguly, talukdar, and chatterjee (2019) stated that knowledge sharing and knowledge quality are positively related to innovation capability in an organization. aulawi et al. (2009) stated that ks behavior plays a role in encouraging individual innovation abilities. abdallah, khalil, and divine (2012) state that organizational understanding of knowledge sharing can help the organization utilize its resources to influence its innovation capability. long et al., (2012) believe that a knowledge-sharing culture will provide numerous benefits to the business, such as allowing workers to come up with new ideas and be inventive in their organization in terms of an organization’s performance. saunila et. al. (2014) stated that innovation capability significantly affects organizational performance. prior studies adeyemi, uzamot, & temim, (2022); kumar et al. (2022) showed how the link between information sharing and an organization’s ability to innovate could enhance performance are still from corporate or private organizations. there are currently few studies that give empirical evidence regarding this in public sector organizations (azeem, et al., 2021; christa and kristinae, 2021; el-kassar et al., 2022). therefore, based on the preceding context, where public sector organizations must also enhance their innovation skills, the purpose of this study is to investigate the impact of knowledge sharing on the innovation capacities of public sector organizations in indonesia (azamela et al., 2022). dwi irawan, mudrifah, knowledge sharing, innovation capability, and public sector performance in indonesia 27 explicit knowledge that is easy to use for all organizations so that no words are needed. 2. the externalization process is shared through metaphors and ideas from tacit knowledge to explicit knowledge. 3. from explicit knowledge to explicit knowledge, with a combination process, namely through storage, combination, and classification of knowledge to obtain systematic, explicit knowledge. 4. from explicit knowledge to tacit knowledge, by an internalization process, namely by inspection and application methods, internalization of explicit language, words, graphics, or information into one’s knowledge through a combination of socialization and externalization. in this context, innovation is a means to change the organization, either in response to changes in the internal or external environment or as preventive measures taken to affect the environment (damanpour, 1991). companies that lack initiative and creativity in developed nations today have nothing to say since innovation capacity is the ability of organizations to acquire new goods and services, processes and ideas, and enhance successful economic processes (selakjani & kelidbari, 2016). innovation is introduced as an idea, product, or process that is new to the organization and refers to the tendency of the organization to develop new elements or new combinations of elements of existing products, technologies, procedures, or organizational practices (chen, huang, & hsiao, 2010). the capacity of a business to find new ideas and transform them into new or better goods, services, or procedures that benefit the firm is referred to as its innovation capability (aas & breunig, 2017). conceptual framework and research methodology knowledge-based view (kbv) is a new extension of resource-based view (rbv). the basic assumptions of corporate knowledge-based theory come from a resource-based view of the firm (wang, wang, & liang, 2014). in terms of this study, knowledge sharing carried out by hr can certainly disseminate better information to improve the innovation of an organization’s performance. the knowledge-based theory of the enterprise outlines the following distinctive characteristics: 1. knowledge holds the most strategic meaning in organizations. 2. activities and processes within organizations involve the application of knowledge. 3. the individuals within the organization who are responsible for creating, holding, and sharing knowledge. knowledge sharing (ks) is a culture of social interaction, which involves exchanging employee knowledge, experience, and skills through all departments or organizations (teh & sun, 2012). however, ks is not a two-way exchange of knowledge between knowledge providers and knowledge recipients, and ks is limited only to the behavior of knowledge providers (wickramasinghe & widyaratne, 2012). furthermore, dalkir (2013) states that a conversion process is needed so that others in a company can use personal knowledge. there are four models of knowledge conversion, namely: 1. from tacit knowledge to explicit knowledge, the transfer, and sharing of personal experiences through actions with a socialization process. however, this conversion process has limitations because it does not produce business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 28 new public management (npm) new public management (npm ) was never a homogeneous theory. different countries developed similar approaches, often in collaboration with consultants. however, one fundamental commonality of all approaches is to address the shortcomings of classical budgeting. performance management is the primary tool for a management style that makes decisions not based on (financial) inputs but results and outputs. improving, transferring, and generating knowledge and a fundamental process for organizational knowledge management. there are two types of knowledge: tacit and explicit. it is not easy to codify, identify, extract, and communicate with others because tacit information is immersed in the action, contextualized in practice, and susceptible to actor interpretation. while explicit knowledge sharing can directly enhance knowledge consumers’ codified knowledge and abilities, knowledge providers can also deepen their understanding of their expertise via feedback and debate (wang et al. 2014). information transfer (ks) is the transfer or dissemination of knowledge from one person or group to another. it is a critical component of improving, transferring, and generating knowledge and an essential process for organizational knowledge management. there are two types of knowledge: tacit and explicit. because tacit information is immersed in the action, contextualized in practice, and susceptible to actor interpretation, it is difficult to codify, identify, extract, and communicate with others. while explicit knowledge sharing can directly enhance knowledge consumers’ codified knowledge and abilities, knowledge providers can also deepen their understanding of their expertise via feedback and discussion (boukamel and emery 2017). innovation arises when organizational members share knowledge. based on the description above, the hypotheses of this research are: h1: tacit knowledge sharing affects innovation capability h2: explicit knowledge sharing affects innovation capability innovative and creative in an organization is a source of competitive advantage, which ultimately leads to an increase in organizational mission strategy outcomes output input p er fo rm an ce a p p ra is al figure 1 performance appraisal performance appraisal chart performance management needs to be based on strategy and a legal mission. combining the five elements mentioned above allows for the delegation of operations management to the administration/bureaucracy (buschor, 2013). organizational performance is a well-studied subject in management science, although there is no single definition due to its ambiguity. the efficiency, effectiveness, and economy of a program conducted by an organization are all examples of performance. furthermore, performance refers to an organization’s ability to meet its goals and objective (nisar, jabeen, & sheikh, 2020). good performance of public sector organizations implies that public sector organizations are effective (in terms of volume and quality) and efficient in supplying public goods and services (mimba, helden, & tillema, 2007). information transfer (ks) is the transfer or dissemination of knowledge from one person or group to another. it is a critical component of dwi irawan, mudrifah, knowledge sharing, innovation capability, and public sector performance in indonesia 29 performance regardless of the public or business sector (nisar et al., 2020). innovation capability is an organization’s ability to identify new ideas and turn them into new/improved products, services, or processes that benefit the organization. public sector organizations can improve their innovation capabilities to support employee empowerment so that the performance of public sector organizations can continue to increase. based on the description above, the hypotheses of this research are: h3: the innovation capability affects the performance of public sector organizations the data from statistical tests will be interpreted as research findings in this study, which employs a quantitative descriptive method. this associative research aims to offer empirical data on the influence of knowledge sharing, innovation capability, and performance of public sector organizations. this study’s population consisted of all regional work units from various provinces in indonesia. the sampling technique in this study used snowball sampling. this technique was chosen because the population is large and scattered in various regions, so the questionnaire is sent through the respondent’s network. the data used in this study is primary data. primary data was obtained directly through a questionnaire through a google form which was distributed to the respondents. the variables in this study consisted of independent variables and dependent variables. the independent variable in this study is knowledge sharing, where knowledge sharing is divided into two, namely tacit knowledge sharing and explicit knowledge sharing. while the dependent variable in this study is the innovation capability of public sector organizations, specifically the operationalization of the variables can be seen in table 1 below. table 1 operationalization and measurement of variables variable indicator tacit knowledge sharing the tacit knowledge sharing indicator uses indicators developed by wang et al., (2004), which consists of: 1.�employees in my organization often share knowledge based on their experiences. 2.�employees in my organization often gather knowledge from others based on their experiences. 3.�employees in my organization often share knowledge of knowing where or knowing who with others. 4.�employees in my organization often gather knowledge about knowing where or knowing who with other people. 5.�employees in my organization often share knowledge based on their expertise. 6.�employees in my organization often gather knowledge from others based on their expertise. 7.�employees in my organization will share lessons from past failures if they feel the need. explicit knowledge sharing explicit knowledge sharing indicators use indicators developed by wang et al., (2004) which consists of: 1.� employees in my organization often share existing official reports and documents with members of my organization. 2.� employees in my organization often share reports and official documents that they prepare themselves with members of my organization. 3.� employees in my organization often collect official reports and documents from others in their work. 4.� knowledge-sharing mechanisms often drive employees in my organization. 5.� employees in my organization are often offered various training and development programs. innovation capability indicators of innovation capability use indicators developed by ahmad et al. (2017) which consist of: 1.� our organization often tries out new ideas 2.� our organization is creative in operating methods, innovating new products and services 3.� the introduction of our organization's products and services has increased over the past three years. public sector organizational performance performance indicators of public sector organizations use indicators developed by caruana, ewing & ramaseshan (2002) which consist of: business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 30 in this research, data is analyzed using structural equation modelling (sem). sem is a multivariate analytic approach equation that allows researchers to investigate the interaction between complicated variables, both recursive and non-recursive, to gain a fuller understanding of the whole model (ghozali, 2008). the partial least squares (pls) 3.0 was used in this investigation. there are two steps to take in the pls analysis: 1. assessing the outer model or measurement model this test was conducted to test the validity and reliability of the research instrument. the research instrument is valid if the value of the loading factor is > 0.5. furthermore, the research instrument is reliable if it has a composite value > 0.7, and has average variance extracted (ave) > 0.5. 2. assessing the inner model or structural model this test is carried out to see the r-square and test the hypothesis by looking at the path coefficient to determine whether the hypothesis is accepted or statistically total. results and discussion based on the data in table 2, it can be seen that the majority of respondents in the study were in the age range of 31–35 years, namely as many as 26 people or 45.61% of the total respondents. furthermore, in terms of gender, most respondents were male, as many as 33 people or 57.89 % of the total respondents. meanwhile, when viewed from the educational background, most respondents have a bachelor’s education background (s1) as many as 41 people or 71.92 % of the total respondents. testing the outer model or measurement model is used to assess the validity and reliability of the research construct and its indicators. the minimum limit value of outer loading factor is an accurate indicator used to reflect a variable at 0.5. reliability test in this study by looking at the value of composite reliability. a construct is said reliable if the value of composite reliability > 0.70 and having average variance extracted (ave)> 0.5 (ghozali, 2008). the tks 4, eks 1, ko 1, and ko 4 indicators are not meet the validity and reliability tests. as a result, the four indications must be released as research tools. according to table 3, the loading factor value of each indicator is more significant than 0.5, the ave value is greater than 0.5, and the composite reliability value is more significant than 0.7, indicating ( ) 1.� the overall performance of our organization in the last three years is relatively excellent compared to other government organizations. 2.� regarding the commitment of resources, the increase achieved by this organization in the last three years is meager. 3.� this organization's level of customer service in the last three years is more than that offered by any other public organization. 4.� the level of cost-effectiveness achieved by this organization in the last three years is deficient. table 2 research respondent characteristics criteria number of respondents percentage age 25–30 7 12.28% 31–35 26 45.61% 36–40 11 19.30 % 41–45 7 12.28% 46–50 1 1.75% >50 5 8.77% gender man 33 57.89% woman 24 42.11% level of education bachelor degree) 41 71.92% masters (s2) 16 28.08% source: primary data processed 2020 dwi irawan, mudrifah, knowledge sharing, innovation capability, and public sector performance in indonesia 31 that the indicators stated above meet the validity and reliability standards. table 4 r – square value tion capability variable by 54.4%. the organizational performance variable has an r-square value of 0.448, which means that the innovation capability variable can explain the organizational performance variable of 44.8%. in table 4 it can be seen that the results of the research hypothesis test indicate that tacit knowledge sharing does not affect the innovation capability of public sector organizations. in contrast, explicit knowledge sharing has a significant effect on the innovation capabilities of public sector organizations in indonesia. table 5 also shows that the innovation capability of public sector organizations affects organizational performance. tacit knowledge sharing in public sector organizations does not affect innovation capability, while explicit knowledge sharing has a positive effect. it shows that there is not much individual knowledge in public sector organizations that can increase the organization’s innovation capability. the knowledge-based view of the enterprise (kbv) is an organizational learning management concept that provides firms with strategies to achieve competitive advantage. this is achieved through increased employee interaction in the formulation and transformation of the company’s operational and long-term transformational goals. the continuous acquisition and transfer of knowledge in business organizations are required by factors such as the ever-changing competitive conditions in the market initiated by globalization, frequent deregulation, and technical advances. however, in the public sector, each employee has a specific rules and a binding code of ethics. this causes not much information to be shared. in terms of work, human resources in public sector organizations tend to follow standard operating procedures (sops) that have been standardized and are set based on the work table 3 loading factor, composite reliability, and ave values variable indicators nilai outer loading factor ave composite reliability tacit knowledge sharing tks 1 0,694 0,595 0,897 tks 2 0,689 tks 3 0,752 tks 5 0,750 tks 6 0,927 tks 7 0,792 explicit knowledge sharing eks 2 0,768 0,677 0,893 eks 3 0,781 eks 4 0,934 eks 5 0,797 kemampuan inovasi ki 1 0,931 0,799 0,922 ki 2 0,901 ki 3 0,847 organization performance ko 2 0,963 0,924 0,961 ko 3 0,960 sumber: data primer diolah 2020 variable r-square tacit knowledge sharing explicit knowledge sharing innovation capability 0.561 organizational performance 0.448 source: primary data processed 2020 table 5 path coefficients and significance test source: primary data processed 2020 original sample tstatistics information tks æki 0.098 0.367 rejected eks æki 0.751 14,534* accepted ki æko 0.677 8,061* accepted the inner model testing looks at the rsquare and path coefficients between variables. r-square is used to see how strong the determination of the independent variable is on the dependent variable . based on table 4, it can be seen that the innovation capability variable has an r-square value of 0.561, which means that the tacit knowledge sharing and explicit knowledge sharing variables can explain the innovabusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 32 plan that was determined at the beginning. although the new public management (npm) has revolutionized public sector organizations in terms of performance appraisal made closer to private organizations, most of the activities of public sector organizations are service activities that already have standard and clear standards so that explicit knowledge sharing is more dominant in problem-solving. in addition, public sector organizations are also organizations that are demanded transparency and accountability. the ability of public sector enterprises to innovate has a beneficial impact on organizational performance. it demonstrates that the organization’s innovations, including new ideas or initiatives, new services, and increasing service quality, have improved organizational performance. the public sector’s innovation capability has undoubtedly adjusted to the established programs and is based on the community’s requirements. in commercial businesses and public sector enterprises, the innovation capability has improved performance. conclusions since public services are the critical performance measure, public sector organizations must always prioritize service quality. the success of public sector organizations cannot be separated from the quality of their human resources. an organization’s innovation capability is the spearhead of the progress of public sector organizations. the ability to innovate cannot be separated from knowledge sharing among staff in public sector organizations. in this study, tacit knowledge sharing does not affect the innovation capability, but explicit knowledge sharing positively affects the innovation capability of public sector organizations. in their work, human resources in public sector organizations are more adapted to existing sops and regulations, following their respective authorities and responsibilities. the innovation capability affects organizational performance, which means that new ideas, new services, and improving the quality of services carried out by public sector organizations can improve organizational performance. daftar pustaka aas, t. h. & breunig, k. j. (2017). conceptualizing innovation capabilities: a contingency perspective. abdallah, s., khalil, a., & divine, a. (2012). the impact of knowledge sharing on innovation capability in united arab emirates organizations. adeyemi, i. o., uzamot, w. o., & temim, f. m. (2022). knowledge transfer and use as predictors of law firm performance: nigerian lawyer’s perspectives. international journal of knowledge management (ijkm), 18(1), 1–17. ahmad, n., bohn, t., mulder, n., vaillant, m., & zaclicever, d. (2017). indicators on global value chains: a guide for empirical work. aulawi, h., govindaraju, r., suryadi, k., & sudirman, i. (2009). hubungan knowledge sharing behavior dan individual innovation capability. jurnal teknik industri, 11(2), pp. 174–187. azamela, j. c., tang, z., owusu, a., egala, s. b., & bruce, e. (2022). the impact of institutional creativity and innovation capability on innovation performance of public sector organizations in ghana. sustainability, 14(3), 13–78. dwi irawan, mudrifah, knowledge sharing, innovation capability, and public sector performance in indonesia 33 azeem, m., ahmed, m., haider, s., & sajjad, m. (2021). expanding competitive advantage through organizational culture, knowledge sharing and organizational innovation. technology in society, 66, 101–635. bloch, c. & bugge, m. m. (2013). public sector innovation—from theory to measurement. structural change and economic dynamics, 27, 133–145. bommert, b. (2010). collaborative innovation in the public sector. international public management review, 11(1), 15–33. boukamel, o. & emery, y. (2017). evolution of organizational ambidexterity in the public sector and current challenges of innovation capabilities. the innovation journal: the public sector innovation journal, 2(22). buschor, e. (2013). performance management in the public sector: past, current and future trends. tékhne, 11(1), 4–9. caruana, a., ewing, m. t., & ramaseshan. (2002). effects of some environmental challenges and centralization on the entrepreneurial orientation and performance of public sector entities. service industries journal, 22(2), 43-58. chen, c. j., huang, j. w., & hsiao, y. c. (2010). knowledge management and innovativeness. international journal of manpower. christa, u. & v. kristinae (2021). “the effect of product innovation on business performance during covid 19 pandemic.” uncertain supply chain management 9(1): 151–158. dalkir, k. (2013). knowledge management in theory and practice: routledge. damanpour, f. (1991). organizational innovation: a meta-analysis of effects of determinants and moderators. academy of management journal, 34(3), 555–590. el-kassar, a. n., dagher, g. k., lythreatis, s., & azakir, m. (2022). antecedents and consequences of knowledge hiding: the roles of hr practices, organizational support for creativity, creativity, innovative work behavior, and task performance. journal of business research, 140, 1–10. elfita, r. a. & agustina, h. (2021). innovation, current and future firms performance (study on manufacturing firms listed 0n indonesia stock exchange 2016–2018). procedia business and financial technology, 1. ganguly, a., talukdar, a., & chatterjee, d. (2019). evaluating the role of social capital, tacit knowledge sharing, knowledge quality and reciprocity in determining innovation capability of an organization. journal of knowledge management. ghozali, i. (2008). structural equation modelling: metode alternatif dengan partial least square (pls). semarang: badan penerbit universitas diponegoro. irawan, d., bastian, e., & hanifah, i. a. (2019). knowledge sharing, organizational culture, intellectual capital, and organizational performance. journal of accounting and investment, 20(3), 267–282. kumar, m., mamgain, p., pasumarti, s. s., & singh, p. k. (2022). organizational it support and knowledge sharing behaviour affecting service innovation performance: empirical evidence from the hospitality industry. vine journal of information and knowledge management systems. long, c., ghazali, n., rasli, a., & heng, l. (2012). the relationship between knowledge sharing culture and innovation capabusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 34 bility: a proposed model. journal of basic and applied scientific research, 2(9), 9558–9562. mimba, n. p. s., helden, g., & tillema, s. (2007). public sector performance measurement in developing countries: a literature review and research agenda. journal of accounting and organizational change, 3(3), 192–208. nisar, m. s., jabeen, p. d. n., & sheikh, m. l. (2020). reinventing public sector for innovativeness and performance: a case study of university of the punjab, lahore. south asian studies, 33(1). ray, t. & little, s. e. (2001). managing knowledge: an essential reader. sage publications, inc. saunila, m., pekkola, s., & ukko, j. (2014). the relationship between innovation capability and performance: the moderating effect of measurement. international journal of productivity and performance management. selakjani, s. g. & kelidbari, h. r. (2016). the impact of knowledge sharing capability on innovation capability with the mediating role of islamic work ethic among employees of electricity distribution company of guilan province. the turkish online journal of design, art, and communication, 6, 2145–2154. sudarno, s. & yulia, n. (2012). intellectual capital: pendefinisian, pengakuan, pengukuran, pelaporan dan pengungkapan. jurnal akuntansi universitas jember, 10(2). taylor, w. a. & wright, g. h. (2004). organizational readiness for successful knowledge sharing: challenges for public sector managers. information resources management journal (irmj), 17(2), 22–37. teh, p.-l. & sun, h. (2012). knowledge sharing, job attitudes and organisational citizenship behaviour. industrial management & data systems, 112(1), 64–82. doi: https://doi.org/ 10.1108/02635571211193644. wang, z., wang, n., & liang, h. (2014). knowledge sharing, intellectual capital and firm performance. management decision, 52(2), 230–258. doi: https://doi.org/10.1108/md02-2013-0064. wickramasinghe, v. & widyaratne, r. (2012). effects of interpersonal trust, team leader support, rewards, and knowledge sharing mechanisms on knowledge sharing in project teams. vine, 42(2), 214–236. doi: https://doi.org/10.1108/0305572121122 7255. yeºil, s., koska, a., & büyükbeºe, t. (2013). knowledge sharing process, innovation capability and innovation performance: an empirical study. procedia-social and behavioral sciences, 75, 217–225. 01 adrian denar.pmd rizqi p.n.b., rizki a., umdatus s., sri h., endang s., khamida, hidayatul k., riyan s., ary a., implementation of mbkm program and modelling of questionnaire based on a case of mbkm in universitas nahdlatul ulama surabaya 8383 implementation of mbkm program and modelling of questionnaire based on a case of mbkm in universitas nahdlatul ulama surabaya rizqi putri nourma budiarti*, rizki amalia, umdatus soleha, sri hartatik, endang sulistiyani, khamida, hidayatul khusnah, riyan sisiawan, ary andini universitas nahdlatul ulama surabaya, indonesia e-mail: rizqi.putri.nb@unusa.ac.id abstract: technological developments during the covid19 pandemic prompted the enactment of a new era in education, namely merdeka belajar kampus merdeka (mbkm), where its implementation encourages universities to remain productive in implementing the tri dharma, namely teaching, research, and community service. the increase during the implementation in mbkm is an effort to improve all competence of students and lecturers at universities in synergizing with the world of work and the industrial world. in addition, there are 8 mbkm schemes designed to facilitate the implementation of a flexible learning curriculum for students. this study aims to describe implementation modelling and provide an overview of the extent of involvement of lecturers, staff, and students in the implementation of mbkm at universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa). this study focuses on categorical metric analysis where the analysis runs at the ranking level that is being analyzed by giving a high score or a low score using key influencers where the ai visualization used using ml.net in running logistic regression on scoring with categorical analysis type in assessing each factor one by one, so that results are obtained in the presentation of data where the results clearly show a positive increase in the implementation of mbkm education at unusa which is illustrated from the large and small impact model analyzed through the results of a questionnaire from the unusa community that is relevant to the suitability of mbkm implementation with the directives ministry of education and culture. as stated in permendikbud no. 20 year 2021. which is stated in the regulation of the ministry of education and culture no. 20 of 2021. the data used in this study is the result of a survey on the implementation of mbkm on lecturers, staff, and student respondents with a total sampling of 220 lecturers, 113 students, and 3661 students. the percentage of the results achieved shows the major influence of the questionnaire, 36.53% of the lecturer respondents were divided into five response groups, 66.67% of students were divided into five respondents, and five response groups 75.45% groups of admin’s educators were divided. the percentage of the results achieved included minor influence from the questionnaire, 36.53% of the lecturer respondents were divided into seven response groups, 63.03% students were divided into four response groups, and 63.64% admin’s educators were divided into seven response groups. keywords: mbkm program, mayor influence, minor influence, logistic regression introduction as an effort to prepare graduates from universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa) who are tough in facing the 4.0 revolution era, efforts are needed to increase student competence by linking and matching the world of education with the business world and the industrial world (kemendikbud, 2020). the purpose of the policy of “merdeka learning-independent campus” (mbkm) is the right to study for three semesters outside the study program which is useful for improving the competence of graduates, both soft skills and hard skills, to be more prepared and relevant to the needs of the times, preparing graduates as leaders. the future of a nation that is superior and has personality (arifin & muslim, 2021; kemendikbud, 2020; marijan, soleha, windarti, budury, business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 84 nurjanah, wisnuanto, et al., 2020). experiential learning programs with flexible pathways are expected to facilitate students to develop their potential according to their passions and talents(marijan, soleha, windarti, budury, nurjanah, dwijayanti, et al., 2020). the mbkm activity has been regulated by permendikbud number 3 of 2020 concerning national higher education standards: universities are required to facilitate the rights for students (can be taken or not) to: a) can take credits outside of tertiary institutions for a maximum of 2 semesters or the equivalent of 40 credits. b) can take credits in different study programs at the same university for 1 semester or the equivalent of 20 credits (baharuddin, 2021; kemendikbud, 2020; marijan, soleha, windarti, budury, nurjanah, dwijayanti, et al., 2020; marijan, soleha, windarti, budury, nurjanah, wisnuanto, et al., 2020). based on the importance of this mbkm activity, unusa participated in activities carried out by the directorate general of higher education, ministry of education and culture by actively participating in the “merdeka learning-independent campus” (mbkm) program through the 2021 mbkm grant which was won by the faculty of economics, business and digital technology (febtd)(humar unusa, 2021), and the 2021 indonesian student micro credential grant (kmmi) won by the faculty of teacher training and education (fkip) (kementrian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi, 2021). this mbkm activity provides an opportunity for unusa students to gain learning experiences through learning based projects, increasing competence through various internships/ work practices, and entrepreneurial activities. as for lecturers, this mbkm activity is carried out with several supporting programs for skill improvement through lecturer competency certification and lecturer publications in national and international journals and proceedings (marijan, soleha, windarti, budury, nurjanah, dwijayanti, et al., 2020; rodiyah, 2021; rohiyatussakinah, 2021; sopiansyah et al., 2022; susetyo, 2020). the kmmi program carried out by fkip unusa is carried out through the augmented reality (ar) learning media course by providing students with skills to design interesting 3-dimensional learning media based on existing markers or conventional learning media. the method used in this method is project based learning which is carried out in 3 credits with lms e-sorogan (hartatik, 2021). the implementation of mbkm in each university certainly needs to be monitored and evaluated in order to determine the effectiveness of the implementation of mbkm towards improving the quality of students’ soft-skills and hard-skills (arifin & muslim, 2021)(nehe, 2021) while using online learning (sulistiyani & budiarti, 2021). therefore, it is necessary to conduct research related to the evaluation of the mbkm implementation of insitution. this objective focuses on analyzing the mbkm implementation model at unusa in order to determine the optimal achievement of the mbkm program. research methodology data collections the primary data of study was obtained through filling out questionnaires conducted by unusa lecturers, admin’s educators and students at the link https://survey.spadadikti.id/. the number of unusa lecturers who took part in the filling was 220 people, the teaching staff rizqi p.n.b., rizki a., umdatus s., sri h., endang s., khamida, hidayatul k., riyan s., ary a., implementation of mbkm program and modelling of questionnaire based on a case of mbkm in universitas nahdlatul ulama surabaya 85 result and discussion the mbkm activities carried out by the management, accounting and information systems study programs have referred to the kpi that has been implemented by the ministry of education and culture, namely meeting the key performance indicators (iku) 1 through efforts to produce graduate students who are trying through entrepreneurial training and webinars, iku 2 compiles the mbkm curriculum and guides students to actively participate in competitions at the national level, iku 4 improves the skills of lecturers through participation in certification to increase educator competence, iku 5 relates to cost assistance for lecturer publications in scientific articles both national and international conferences, and national journals or internationally reputed, iku 7 enhances student competence through project-based courses which can be directly implemented in knowledge along with internships in industries such as pelindo and indosat (kemendikbud, 2020; marijan, soleha, windarti, budury, nurjanah, dwijayanti, et al., 2020; marijan, soleha, windarti, budury, nurjanah, wisnuanto, et al., 2020; rohiyatussakinah, 2021). based on data taken from a survey containing questionnaires conducted on respondents including lecturers, admin’s educators and students. in the results of data with lecturer respondents, there are 25 questions with a total of 220 lecturers as respondents. from the 25 questions, 3 questions were obtained that had a major influence on the results of the lecturer’s response, where the data contributed greatly to the data obtained on the question scores and the results of the lecturer respondents. who filled in the filling were 113 people, and students were 3,657 people. the data obtained were then analyzed to obtain the mbkm implementation model at unusa. data analysis in data analysis, using key influencers using ml.net to run linear regression (ahmed et al., 2019), using the same data transformation as categorical key influencers and using the sdca regression algorithm (shalev-shwartz & zhang, 2013). in this research, key influencers basically using metric analysis by the use of measures and aggregates that are used as segment factors are evaluated in the analytical metric table to find out the factors that contribute to high rankings (major influences) and low rankings (minor influences) based on each question’s role as a variable used by providing a value display. in each category. with metric analysis, the correlation test is carried out with respect to the target if the target is continuous, then the use of pearson correlation is chosen, if the target is categorized then the biserial point correlation test in this case uses key influencers where the ai visualization used uses ml.net in running logistic regression on giving a score with the type of categorical analysis in assessing each factor one by one so that a high, neutral and low score is produced. the statistical test used in this determination uses the wald test with a visual p-value of 0.05 as the threshold. in this case, the algorithm looks at how the questions change based on the reviewer’s factors, such as knowledge related to mbkm or the effect on soft skills and hard skills. in this case, the impact of having a good mbkm implementation on the results of respondents from lecturers, students, and teaching staff can be seen. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 86 figure 1 questions that have major influences from the results of lecturer respondents the three selected questions that have a major influence include: 1. in your opinion, does the implementation of the mbkm program play a role in increasing the capacity of lecturers? 2. in your opinion, does the implementation of the mbkm program improve students’ hardskills and soft-skills? 3. in your opinion, to what extent does the mbkm program have an impact on the student learning process? accord to the major impact on the 3 questions above, it can be concluded that in the selected question 1, the result of the increase in impact is 9.35 points over the other 25 questions. on the selected question 2, the result of an increase in the impact of 8.25 points above the other 25 questions, while the selected question 3, has an increase in the impact of 7.2 points over the other 25 questions. the questions related to the role of mbkm implementation in increasing the capacity of unusa lecturers who have major influences, the percentages are obtained as follows: figure 2 results of analysis of the role of mbkm implementation in increasing the capacity of unusa lecturers from figure 2, the results of 220 lecturer respondents who filled out the mbkm questionnaire. 36.53% of lecturer respondents stated that there was a very good improvement from the implementation of mbkm, while 36.07% stated that there was a good improvement, 24.66% of the improvement was quite good and 2.25% stated that there was an improvement but not good. meanwhile, 1 lecturer respondent stated that there was no improvement at all in the implementation of mbkm. the results of the distribution of data on the questions and the number of lecturer respondents can be seen in figure 3. figure 3 results of the distribution of unusa lecturer respondent data based on the 25 questions obtained 1 question that has a minor influence on the results of rizqi p.n.b., rizki a., umdatus s., sri h., endang s., khamida, hidayatul k., riyan s., ary a., implementation of mbkm program and modelling of questionnaire based on a case of mbkm in universitas nahdlatul ulama surabaya 87 the lecturer’s response, where the data contributes very little to the data obtained on the value of questions and the results of lecturer respondents. questionnaire. 36.53% of lecturer respondents stated that they received information on mbkm policies from higher education online channels (pages/websites, social media), 23.29% stated that lecturers received information on mbkm policies from offline/online socialization activities organized by universities, 14.16% came from offline outreach activities. organized by the ministry of education and culture and 12.79% stated that they came from the online channel of the ministry of education and culture. the rest was obtained from mass media 7.76%, community communication channels 4.57% and 0.91% obtained from others. in the results of data with student respondents, there are 22 questions with a total of 3661 students as respondents. from the 22 questions obtained two questions that have major influence on the results of student response, where data tersebut which contribute greatly to the data obtained on the value of the question and the results of student respondents. figure 4 questions that have minor influences from the results of lecturer respondents one question that has a minor impact is “where did you get the information about the independent learning-independent campus (mbkm) policy?” accord to the 25 questions given to the lecturer respondents, it was found that a minor effect was obtained on the choice question no.1 minor which had a decreasing impact of 9.24 points on the other questions. from questions related to how unusa lecturers get information related to mbkm policies that have minor influences, the percentages are obtained as follows: figure 5 results of analysis of unusa lecturers obtain mbkm policy information based on figure 5, the results of 220 lecturer respondents who filled out the mbkm figure 6 questions that have major influences from the results of lecturer respondents two questions that have a major influence include: 1. in your opinion, how important are mbkm activities to prepare for the post-campus period? 2. in your opinion, how much of an increase in soft-skills did you get after you participated in business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 88 mbkm activities in developing competence/ skills as a preparation for work after graduation? based on the major impact on the 2 questions above, it can be concluded that the selected question 1 resulted in an increase of 6.57 points over the other 22 questions. on the selected question 2, the result of an increase in the impact of 5.48 points above the other 22 questions was obtained. accord to the question related to the comparison of conditions before the mbkm program, how significant is the improvement in the quality of graduates produced to face the postcampus world (the world of work, continuing college, self-employment)? which has major influences, obtained from the following percentages: figure 7 the importance of mbkm activities for unusa students in preparation for the post-campus period based on figure 7, the results of 3661 student respondents who filled out the mbkm questionnaire. 66.67% of student respondents stated that mbkm activities were very important in preparation for the post-campus period, 21.31% stated that they were important, 11.26% stated that they were quite important. as for the rest, 0.62% stated that mbkm activities were not important, and 0.15% stated that they were less important. figure 8 questions that have minor influences from the results of lecturer respondents the two questions that have a minor influence include: 1. in your opinion, how many semesters and how many credits can be equated with the form of mbkm activities outside the university? 2. where did you get information about the independent learning-independent campus (mbkm) policy? based on the minor impact on the 2 questions above, it can be concluded that in the selected question 1, the result of the increase in impact is 9.47 points above the other 22 questions. on the selected question 2, the result of an increase in the impact of 7.78 points above the other 22 questions was obtained. the questions related to up to how many semesters in the implementation of mbkm activities outside universities identified as having minor influences, the percentages are obtained as follows: figure 9 analysis results from unusa students related to how many semesters of implementation of mbkm activities outside higher education rizqi p.n.b., rizki a., umdatus s., sri h., endang s., khamida, hidayatul k., riyan s., ary a., implementation of mbkm program and modelling of questionnaire based on a case of mbkm in universitas nahdlatul ulama surabaya 89 figure 9 explained the results of 3661 student respondents who filled out the mbkm questionnaire. 63.03% of student respondents stated that up to 2 semesters of mbkm implementation outside of tertiary institutions, 17.97% of student respondents stated that up to 3 semesters of mbkm implementation outside of universities, 15.43% of student respondents stated that up to 4 semesters of mbkm implementation outside of universities. as for the rest, 3.58% of student respondents stated that up to 1 semester of mbkm implementation outside universities. the results of the distribution of data on questions and the number of student respondents can be seen in figure 10. figure 11 questions that have major influences from the results of education personnel respondents the three selected questions that have a major influence include: 1. in your opinion, compared to conditions before the mbkm program, how significant is the improvement in the quality of graduates produced to face the post-campus world (the world of work, continuing college, selfemployment)? 2. in your opinion, to what extent does your university involve education personnel in the mbkm program? 3. in your opinion, does the implementation of the mbkm program play a role in increasing the capacity and ability of admin’s educators? from the major impact on the 3 questions above, it can be concluded that in the selected question 1, the result of an increase in the impact of 10.13 points above the other 26 questions was obtained. on the selected question 2, the result of an increase in the impact of 6.94 points over the other 26 questions was obtained, while in the selected question 3, it had an increase in the impact of 5.87 points over the other 26 questions. from questions related to the comparison of conditions before the mbkm program to figure 10 results of data distribution of unusa student respondents in the results of the data from admin’s educators that called “tendik” respondents, there are 26 questions with a total of 113 education personnel as respondents. from the 26 questions, there were 3 questions that had a major influence on the results of the tendik responses, where the data contributed greatly to the data obtained on the value of the questions and the results of the admin’s educators or tendik respondents. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 90 improving the quality of graduates produced in dealing with the post-campus world (the world of work, continuing studies, entrepreneurs) which have major influences, the percentages are obtained as follows: 1. where did you get the information about the independent learning-independent campus (mbkm) policy? 2. in your study program, how many credits of courses are recognized/equalized with the form of mbkm learning activities: the minor impact on the 2 questions above, it can be concluded that the selected question 1 resulted in an increase of 10.34 points over the other 22 questions. on the selected question 2, the result of an increase in the impact of 5.97 points above the other 22 questions was obtained. the questions related to get the information about the independent learning-independent campus (mbkm) policy which have minor influences, the percentages are obtained as follows: figure 12 results of comparative analysis of conditions prior to the program mbkm towards improving the quality of graduates produced to face the post-campus world figure 12 revealed the results of 113 admin’s educators who filled out the mbkm questionnaire. 75.45% of teaching staff respondents stated that there was a good improvement in post-campus graduates from before the mbkm program. meanwhile, 11.82% stated that there was a very good increase in postcampus graduates from before the mbkm program. as for the rest, 10% increase is quite good, 1.82% there is an increase but not good and 0.91% is obtained from 1 respondent who states there is no improvement at all. figure 13 questions that have minor influences from the results of education personnel respondents two questions that have a minor impact include: figure 14 results of analysts for unusa admin’s educators obtaining information mbkm policy figure 14 obtained the results of 113 admin’s educators who filled out the mbkm questionnaire. 63.64% of admin’s educators respondents stated that they received information on mbkm policies from offline/online socialization activities organized by universities, 11.82% stated that admin’s educators received information on mbkm policies from universities’ online channels (websites/websites, social media), 10% came from online channels. ministry of education and culture (websites/ websites, social media) and offline/online sorizqi p.n.b., rizki a., umdatus s., sri h., endang s., khamida, hidayatul k., riyan s., ary a., implementation of mbkm program and modelling of questionnaire based on a case of mbkm in universitas nahdlatul ulama surabaya 91 cialization activities organized by the ministry of education and culture. as for the rest, 3.64% were obtained from mass media, 0.91% of community communication channels and 0% were obtained from others. the following are the results of the distribution of data on the questions and the number of respondents of education personnel can be seen in figure 15. the results of visualization exposure make the level of influence of the factors worthy of being considered compared to other factors that do not have a major influence or minor influence. this depiction pattern is expected to provide a reasonably representative consideration of data points in concluding the pattern with the results of filling out a questionnaire on the questions given in determining the impact factors that are considered to have a significant influence on the mbkm program at unusa. acknowledgments researchers would like to thank the directorate general of higher education of the ministry of education and culture for funding this activity. in addition, the researchers would like to thank all unusa lecturers, admin’s educators, and students who have assisted in filling out this questionnaire to complete the data in this study. references ahmed, z., amizadeh, s., bilenko, m., carr, r., chin, w.-s., dekel, y., dupre, x., eksarevskiy, v., erhardt, e., eseanu, c., filipi, s., finley, t., goswami, a., hoover, m., inglis, s., interlandi, m., katzenberger, s., kazmi, n., krivosheev, g., & zhu, y. (2019). machine learning at microsoft with ml.net. arifin, s. & muslim, m. (2021). tantangan implementasi kebijakan “merdeka belajar, kampus merdeka” pada perguruan tinggi islam swasta di indonesia. ojs unismuh luwuk, 1–11. baharuddin, m. r. (2021). adaptasi kurikulum merdeka belajar kampus merdeka (fokus: figure 15 results of the distribution of data on respondents of education personnel of unusa conclusion based on total sampling of 220 lecturers, 113 students and 3661 students were obtained the percentage of the results achieved included the major influence of the questionnaire, 36.53% of the lecturer respondents who were divided into 5 response groups, 66.67% of students who were divided into 5 respondents into 5 response groups 75.45% groups of admin’s educators were divided. the percentage of the results achieved included minor influence from the questionnaire, 36.53% of the lecturer respondents who were divided into 7 response groups, 63.03% students were divided into 4 response groups and 63.64% admin’s educators were divided into 7 response groups. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 92 model mbkm program studi). jurnal studi guru dan pembelajaran, 4(1), 195–205. https://www.e-journal.my.id/jsgp/article/ view/591 hartatik, s. (2021). laporan pelaksanaan program kredensial mikro mahasiswa indonesia. humar unusa. (2021). dapat hibah rp 2 m dari program kompetisi mbkm. kemendikbud. (2020). panduan program bantuan program studi menerapkan kerja sama kurikulum merdeka belajar-kampus merdeka. kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi. (2021). penetapan penerima hibah program riset keilmuan tahun 2021. marijan, k., soleha, u., windarti, y., budury, s., nurjanah, s., dwijayanti, i., wisnuanto, h., & rahayu, t. a. s. (2020). panduan konversi kegiatan belajar, kurikulum dan mata kuliah (issue november). marijan, k., soleha, u., windarti, y., budury, s., nurjanah, s., wisnuanto, h., & rahayu, t. a. s. (2020). buku pedoman pemutakhiran kurikulum dan model merdeka belajar kampus merdeka (mbkm) universitas nahdlatul ulama surabaya tahun 2020. nehe, b. m. (2021). kampus merdeka dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 di masa pendemik di stkip setia budhi. prosiding seminar nasional setiabudhi, 1(1), 13–19. https://jurnal.stkipsetiabudhi. ac.id/index.php/prosiding/article/view/18. rodiyah, r. (2021). implementasi program merdeka belajar kampus merdeka di era digital dalam menciptakan karakter mahasiswa hukum yang berkarakter dan profesional. seminar nasional hukum universitas negeri semarang, 7(2), 425–434. rohiyatussakinah, i. (2021). implementation of mbkm and the relationship of curriculum policy based on a case of efl education in japan. journal of english language teaching an literature, 4(2), 39–50. shalev-shwartz, s., & zhang, t. (2013). stochastic dual coordinate ascent methods for regularized loss minimization. journal of machine learning research, 14(1), 567– 599. sopiansyah, d., masruroh, s., zaqiah, q. y., & erihadiana, m. (2022). konsep dan implementasi kurikulum mbkm (merdeka belajar kampus merdeka ). reslaj: religion education social laa roiba journal, 4(1). https://doi.org/10247476/reslaj.v4i1. 458. sulistiyani, e., & budiarti, r. p. n. (2021). analysis of online learning readiness level at universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa). international journal of innovation in enterprise system, 5(01), 23–34. susetyo, s. (2020). permasalahan implementasi kurikulum merdeka belajar program studi pendidikan bahasa indonesia fkip universitas bengkulu. seminar nasional pendidikan bahasa dan sastra, 1(1), 29–43. amy aisya, debbie amalina, evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) 9797 evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) amy aisya1, debbie amalina2 1magister management, universitas airlangga 2departement of management technology, institut teknologi sepuluh nopember e-mail: amy.aisya@gmail.com, debbie.amalina@gmail.com abstract: e-invoice considered as one of the most implemented financial information systems these recent years. e-invoice had grown from a system that brings convenience, into a part of the strategy to fulfil corporate expectation. however, it’s uncertain whether e-invoice implementation indeed successfully brings proven benefits into the company business, especially in mandatory environment. therefore, the aim of this study is to identify the indicators that affect the success of e-invoice implementation in a particular state-owned company, based upon delone & mclean is success model which adjusted to fit mandatory environment. in terms of evaluation, previous research regarding e-invoice mostly discussed about the key factors that influence the adoption of e-invoice. therefore, most of the evaluation using delone & mclean is success model did not consider the environment of the system. this research also examining whether the mandatory-environmentadjusted delone & mclean is success model is valid for evaluating is success. according to delone & mclean is success model, there are six variables used as basic measurement, namely information quality, system quality, service quality, user satisfaction, intention to use, and net benefits. following that, a set of structured questionnaire arranged and distributed to 34 users of an e-invoice system provided by a state-owned enterprise headquartered in rembang, indonesia, which are vendors. the data then will be processed using partial least square (pls) method. the result showed that information quality and system quality gave significant impact to eser satisfaction and user satisfaction has the most impact towards net benefits. keywords: delone & mclean is success model; e-invoice; financial information system; information system evaluation; partial least square pendahuluan sistem informasi keuangan merupakan teknologi yang menyediakan informasi kepada seseorang atau kelompok mengenai pergerakan arus keuangan, transaksi keuangan, dan informasi lainnya terkait permasalahan keuangan perusahaan. dalam satu dekade terakhir, perusahaan skala menengah hingga atas menerapkan sistem informasi keuangan sebagai salah satu sistem pendukung proses bisnis perusahaan terkait berbagai prosedur keuangan. kesadaran untuk mengganti sistem manual ke sistem informasi keuangan dipicu atas kebutuhan perusahaan akan ketersediaan informasi keuangan secara otomatis, terfasilitasinya pengiriman dokumen secara elektronik, proses administrasi prosedur yang terekam dengan baik, serta proses transaksi keuangan yang bersifat digital. seluruhnya dikelola sesuai dengan kebijakan yang berlaku di masing-masing perusahaan. salah satu perusahaan yang terus mengembangkan sistem informasi keuangan sesuai dengan perkembangan zaman adalah pt xyz. di perusahaan ini, sistem informasi keuangan sehari-hari digunakan untuk membantu kinerja unit akuntansi dan keuangan yang bertanggung business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 98 jawab dalam hal pengawasan dan pengelolaan proses transaksi keuangan, yaitu transaksi penerimaan piutang dan pembayaran utang. dalam hal ini termasuk juga pengelolaan proses verifikasi dokumen untuk keperluan penerimaan dan pembayaran yang dilakukan oleh dan untuk perusahaan. prioritas utama dari penerapan sistem informasi adalah untuk memadukan teknologi dengan tujuan bisnis dan kebutuhan pengguna sehingga mampu memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, termasuk keuntungan strategis (peterson dan kim, 2000). proses administrasi pembayaran tagihan dengan pihak luar perusahaan seringkali lebih rumit karena terkendala oleh jarak maupun kebijakan masing-masing perusahaan. oleh karena itu, salah satu manfaat yang diharapkan oleh unit akuntansi dan keuangan dengan adanya solusi sistem informasi keuangan adalah kelancaran dan efektivitas proses administrasi pembayaran tagihan utang perusahaan, terutama yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan atau vendor yang bekerjasama dengan pt xyz. kinerja sebuah perusahaan tergantung pada kinerja sistem informasi yang mendukung kinerja perusahaan tersebut (fieschi, 2018). kinerja einvoice diharapkan selalu berada dalam kondisi baik dan prima. dalam praktiknya penerapan sistem informasi belum tentu sesuai dengan ekspektasi. perusahaan belum tentu mendapatkan sistem yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai target. menurut chaos survey, pada rentang tahun 1994–2000, hanya sekitar 30% dari penerapan sistem informasi di dunia bisnis yang benarbenar memenuhi kebutuhan penggunanya (hastie, 2006). emam dan koru (2008) dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa pada tahun 2007 terdapat sekitar 11,54% penerapan sistem informasi di perusahaan mengalami kegagalan setelah diteliti dengan menggunakan faktor kepuasan pengguna, ketepatan waktu, biaya, kualitas produk dan informasi yang dicapai atas penggunaan sistem informasi. bahkan dalam survei yang dilakukan deloitte consulting atas 64 perusahaan yang masuk dalam urutan fortune 500, sekitar 25% perusahaan mengalami penurunan kinerja yang cukup tajam setelah menerapkan sistem informasi (hall dan singleton, 2007). tidak semua penerapan sistem informasi sesuai dengan harapan, karena sistem informasi bukan sekadar bentuk terkomputerisasi dari proses manual, namun juga melibatkan proses bisnis dan sumber daya perusahaan. untuk menghindari faktor-faktor yang berpotensi memicu kegagalan penerapan e-invoice, dibutuhkan evaluasi untuk mengetahui kesuksesan e-invoice dalam memenuhi kebutuhan pengguna dan perusahaan. evaluasi kesuksesan sistem informasi merupakan salah satu topik yang sering dibahas oleh banyak peneliti. delone dan mclean (2016) mengutip pernyataan keen (1980) bahwa evaluasi kesuksesan sistem informasi merupakan hal yang sangat penting, baik untuk kepentingan penelitian maupun praktikal, karena penerapan teknologi informasi yang sukses didukung oleh desain, penyampaian, kebermanfaatan, dan pengaruh yang efektif. dalam merancang konsep evaluasi sistem informasi, ada banyak hal yang harus diperhatikan. salah satunya adalah sifat penerapan sistem informasi yang akan dievaluasi, apakah sistem tersebut bersifat mandatory atau voluntary. einvoice tergolong sistem mandatory. perbedaan yang cukup mendasar dari penerapan sistem yang bersifat mandatory dengan yang bersifat voluntary atau sukarela terdapat pada dimensi penggunaan dan konsekuensi dari penggunaan sistem tersebut (koh et al., 2010). berbeda dengan sistem yang bersifat voluntary, pengguamy aisya, debbie amalina, evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) 99 oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan evaluasi sistem e-invoice untuk mengetahui faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap kesuksesan penerapan sistem e-invoice. akan tetapi, pengukuran variabel mengacu pada usulan dan teori yang diungkapkan oleh beberapa peneliti sebelumnya mengenai karakteristik sistem mandatory, di mana sistem mandatory lebih baik diukur berdasarkan kebermanfaatan sistem sebagai penunjang pekerjaan. evaluasi dilakukan menggunakan delone & mclean is success model, yang menekankan pengamatan dari aspek perilaku pengguna dalam memanfaatkan sistem informasi. melalui penelitian ini juga diuji apakah model kesuksesan delone & mclean yang telah disesuaikan dengan lingkungan mandatory dapat digunakan dalam evaluasi kesuksesan sistem informasi perusahaan. sehingga apabila di masa yang akan datang perusahaan ingin menerapkan sistem lainnya yang melibatkan pihak luar seperti vendor, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan evaluasi dan pengembangan lanjutan. model dari delone & mclean dapat dilihat pada gambar 1. pengumpulan data pendukung penelitian dilakukan melalui kuesioner yang ditujukan kepada seluruh pengguna e-invoice, baik dari sisi internal maupun sisi eksternal. data-data hasil kuesioner yang telah dijawab oleh responden kemudian dianalisis dengan menggunakan metode structural equation modelling: partial least square (sem-pls). metode sem-pls dapat digunakan untuk prediksi hubungan antar variabel yang terdapat dalam sebuah model konseptual. selain karena metode ini memungkinkan untuk analisis data dengan jumlah sampel kecil, dalam penelitian ini berjumlah sekitar 34 responden, pls dapat berbasis pada asumsi atau teori. hal tersebut diperkirakan lebih sesuai dan cocok dengan penelitian yang dilakukan. naan sistem dapat diukur dari seberapa sering sistem tersebut dipakai dan berhubungan dengan keinginan pengguna untuk secara kontinu menggunakan sistem (mardiana et al., 2015). sedangkan untuk sistem mandatory, indikator-indikator seperti frekuensi penggunaan maupun niat penggunaan kurang tepat digunakan untuk mengukur kesuksesan karena pengguna sudah dipastikan akan tetap menggunakan sistem tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan. dari banyaknya penelitian mengenai evaluasi kesuksesan sistem informasi menggunakan model kesuksesan delone & mclean, tidak sedikit yang mendapati hasil bahwa aspek penggunaan sistem tidak berpengaruh pada kesuksesan sistem informasi. hal ini disimpulkan oleh petter (2008), rendahnya hubungan antara penggunaan sistem dengan variabel lain disebabkan karena peneliti terlalu menyederhanakan konteks penelitian, seperti mengabaikan di lingkungan seperti apa sistem diterapkan, apakah voluntary atau mandatory. iivari (2005) yang mengevaluasi sistem informasi akuntansi dengan model delone & mclean berasumsi bahwa semakin baik kualitas sistem, semakin tinggi tingkat penggunaan sistem. indikator daily use dan frequency of use digunakan untuk mengukur penggunaan sistem. akan tetapi, penelitian ini menemukan bahwa variabel actual use secara relatif tidak memiliki peranan yang signifikan di dalam model. disimpulkan bahwa hal ini diakibatkan oleh penggunaan sistem yang bersifat mandatory. penelitian serupa juga dilakukan oleh budiyanto (2009). hasil penelitian yang didapatkan pun tidak jauh berbeda, di mana variabel actual use tidak tepat dijadikan pengukuran penggunaan nyata, walaupun diterapkan pada aplikasi dengan objek, waktu, dan tempat berbeda. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 100 gambar 1 delone & mclean is success model 2002 metodologi penelitian metodologi penelitian terdapat empat tahap dalam menyusun penelitian ini. (1) tahap persiapan, (2) tahap pengumpulan data, (3) tahap analisis data, dan (4) tahap pembahasan hasil. detail dari masingmasing tahap dapat dilihat pada gambar 2-a. batasan penelitian, identifikasi masalah, dan seluruh informasi awal yang dibutuhkan. studi lapangan dilakukan untuk menganalisis kondisi terkini implementasi e-invoice terkait hasil yang diharapkan oleh manajemen terhadap penerapan sistem, tantangan yang dihadapi, dan permasalahan yang terjadi. selanjutnya, sampel penelitian ditentukan. studi literatur dilakukan seiring dengan studi lapangan. dari informasi yang terkumpul pada tahap ini, model penelitian dapat ditentukan dan kuesioner penelitian siap untuk disusun. kuesioner yang disusun disesuaikan dengan delone & mclean is success model. masingmasing konstruk dijelaskan oleh indikator yang menentukan arah kuesioner. tabel 1 menunjukkan konstruk dan serta sumber literatur yang digunakan sebagai acuan penentuan indikator. tabel 1 indikator untuk kuesioner gambar 2 a metodologi penelitian 1. tahap persiapan tahap yang paling awal ini merupakan persiapan untuk menyusun tujuan penelitian, konstruk indikator sources information quality iq1 konten gable et. al (2008), mckinney et. al (2009), iivari (2005) iq2 format iq3 akurasi iq4 ketepatan waktu system quality sq1 reliabilitas gable et. al (2008), bailey & pearson (2008), hamilton & chervany (1981) sq2 kemudahan penggunaan sq3 kemudahan pemahaman sq4 fitur sq5 waktu respons service quality sv1 reliabilitas pitt et. al (1995) sv2 responsivitas sv3 jaminan sv4 empati use u1 & u2 kebermanfaatan sistem delone & mclean (2016) user satisfaction us1 kepuasan keseluruhan gable et. al (2008) us2 kepuasan informasi us3 kepuasan sistem net benefits nb1 pencapaian target delone & mclean (2016) nb2 peningkatan efektivitas penyesuaian terhadap kondisi mandatory terlihat pada konstruk use, di mana indikator amy aisya, debbie amalina, evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) 101 yang digunakan adalah kebermanfaatan sistem. sesuai dengan pendapat delone & mclean (2016) mengenai kebermanfaatan sistem sebagai indikator pengukuran yang dianjurkan. 2. tahap pengumpulan data pada tahap ini, kuesioner disusun dan didistribusikan kepada responden. responden pada penelitian ini adalah pengguna e-invoice, khususnya pihak vendor. setelah kuesioner yang telah dijawab terkumpul, kuesioner diuji untuk memeriksa validitas dan reliabilitas hasil kuesioner. 3. tahap analisis data pada tahap ini, hasil kuesioner yang telah dibagikan dan dijawab oleh responden akan dianalisis. analisis data kuantitatif menggunakan metode partial least square. a. menilai model pengukuran model pengukuran, atau outer model merupakan proses evaluasi validitas dan reliabilitas konstruk atau dapat diartikan sebagai pengujian korelasi antar indikator dan konstruknya. terdapat tiga kriteria dalam menilai model pengukuran, antara lain: � convergent validity � discriminant validity � composite reliability b. menilai model struktural model struktural dinilai untuk memastikan hubungan antara satu konstruk dengan konstruk lainnya. penilaian dilakukan dengan cara mencari nilai r-square atau menganalisis koefisien jalur. stabilitas dari estimasi ini diperiksa melalui uji-t dengan prosedur bootstrapping. 4. tahap pembahasan hasil terakhir, setelah analisis selesai dilakukan, hasil analisis diinterpretasikan dan didiskusikan untuk mencapai kesimpulan. kesimpulan ini akan menjadi acuan rekomendasi terhadap pengembangan e-invoice di masa yang akan datang. populasi dan sampel penelitian ini dilakukan di unit akuntansi dan keuangan pt xyz. populasi keseluruhan adalah seluruh pengguna e-invoice, baik dari sisi internal maupun sisi eksternal yaitu vendor. persyaratan yang harus dipenuhi oleh sampel, yaitu telah berpengalaman menggunakan e-invoice minimal selama enam bulan. dari sekitar 50 kuesioner yang dibagikan, hanya 34 kuesioner yang berlanjut ke tahapan analisis. model penelitian dan hipotesis model penelitian diadaptasi dari delone & mclean is success model, di mana terdapat enam konstruk yang dibagi menjadi tiga variabel independen dan tiga variabel dependen. model penelitian dapat dilihat pada gambar 2-b. model penelitian ini memiliki hubungan reciprocal atau hubungan mutual antara variabel use dengan variabel user satisfaction. untuk itu, model penelitian akan diuji dua kali dengan cara menguraikan menjadi dua model, yaitu model penelitian 1 (gambar 2-c) dan model penelitian 2 (gambar 2-d). gambar 2 b model penelitian business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 102 gambar 2 c model penelitian 1 hasil dan pembahasan analisis data: menguji outer model atau model pengukuran pertama-tama, model pengukuran dinilai dengan cara menghitung korelasi antara indikator dan konstruknya. kemudian validitas dan reliabilitas dari model dapat diketahui. metode yang dilakukan dalam pengukuran model pengukuran antara lain convergent validity, discriminant validity, dan construct reliability (ghozali, 2018). 1. convergent validity convergent validity merupakan validitas hubungan antara indikator dengan konstruknya. validitas ini dapat diperhatikan melalui nilai loading factor dari masing-masing indikator. indikator dianggap valid apabila nilai loading factor ≥ 0.7 (ghozali, 2018). pada program pls, loading factor dapat ditemukan pada bagian outer loading. tabel 3 menunjukkan outer loading dari masing-masing indikator. tabel 3 outer loading indikator gambar 2 d model penelitian 2 berdasarkan model penelitian di atas, disusun sembilan hipotesis seperti yang bisa dilihat pada tabel 2 berikut ini. tabel 2 hipotesis penelitian hypothesis h1 information quality berpengaruh terhadap use h2 information quality berpengaruh terhadap user satisfaction h3 system quality berpengaruh terhadap use h4 system quality berpengaruh terhadap user satisfaction h5 service quality berpengaruh terhadap use h6 service quality berpengaruh terhadap user satisfaction h7 user satisfaction berpengaruh terhadap use h8 user satisfaction berpengaruh terhadap net benefits h9 use berpengaruh terhadap net benefits constructs indicators loading factors model 1 model 2 information quality iq1 0.859 0.859 iq2 0.718 0.718 iq3 0.925 0.925 iq4 0.907 0.907 system quality sq1 0.542* 0.542* sq2 0.917 0.917 sq3 0.806 0.806 sq4 0.881 0.881 sq5 0.807 0.807 service quality sv1 0.891 0.891 sv2 0.969 0.969 sv3 0.941 0.941 sv4 0.918 0.918 use use1 0.774 0.774 use2 0.704 0.704 use3 0.699* 0.699* user satisfaction us1 0.932 0.933 us2 0.904 0.902 us3 0.930 0.930 net benefits nb1 0.932 0.932 nb2 0.925 0.925 keterangan: * = tidak valid amy aisya, debbie amalina, evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) 103 dari tabel 3, seluruh indikator telah valid kecuali indikator sq1 dan use3. hal ini artinya kedua indikator tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan dari model. setelah indikator tersebut dikeluarkan dari model, dilakukan pengujian ulang discriminant validity. hasil pengujian ulang dapat dilihat pada tabel 4. tabel 4 outer loading indikator re-estimasi discriminant validity dikatakan baik apabila akar kuadrat dari ave untuk masingmasing konstruk lebih besar daripada korelasi konstruk tersebut dengan konstruk lain. tabel 5 dan tabel 6 menunjukkan discriminant validity dari model penelitian 1 dan model penelitian 2 berdasarkan nilai cross loading. tabel 5 discriminant validity model penelitian 1 dari hasil pengujian ulang, diketahui bahwa seluruh indikator telah valid. 2. discriminant validity discriminant validity memiliki prinsip bahwa indikator sebuah konstruk tidak boleh berkorelasi lebih tinggi dengan konstruk lainnya. terdapat dua cara untuk menguji discriminant validity sebagai berikut. a. cross loading idealnya nilai cross loading antara konstruk dan indikatornya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai cross loading indikator-indikator tersebut dengan konstruk lainnya. b. akar kuadrat average variance extracted (ave) constructs indicators loading factors model 1 model 2 information quality iq1 0.859 0.859 iq2 0.718 0.718 iq3 0.925 0.925 iq4 0.907 0.907 system quality sq2 0.917 0.917 sq3 0.806 0.806 sq4 0.881 0.881 sq5 0.807 0.807 service quality sv1 0.891 0.891 sv2 0.969 0.969 sv3 0.941 0.941 sv4 0.918 0.918 use use1 0.774 0.774 use2 0.704 0.704 user satisfaction us1 0.932 0.933 us2 0.904 0.902 us3 0.930 0.930 net benefits nb1 0.932 0.932 nb2 0.925 0.925 indikator constructs iq sq sv use us nb iq1 0.862 0.573 0.424 0.526 0.683 0.628 iq2 0.713 0.563 0.422 0.500 0.553 0.679 iq3 0.926 0.601 0.307 0.396 0.610 0.548 iq4 0.908 0.629 0.285 0.389 0.643 0.548 sq2 0.689 0.903 0.446 0.463 0.702 0.630 sq3 0.497 0.843 0.484 0.486 0.518 0.620 sq4 0.570 0.902 0.549 0.608 0.781 0.762 sq5 0.645 0.817 0.511 0.497 0.622 0.529 sv1 0.386 0.576 0.890 0.597 0.551 0.545 sv2 0.457 0.566 0.968 0.604 0.534 0.535 sv3 0.360 0.483 0.939 0.619 0.506 0.562 sv4 0.378 0.515 0.921 0.689 0.541 0.582 use1 0.400 0.595 0.736 0.864 0.636 0.632 use2 0.490 0.358 0.319 0.769 0.505 0.638 us1 0.614 0.804 0.635 0.705 0.932 0.825 us2 0.705 0.661 0.466 0.595 0.904 0.861 us3 0.713 0.652 0.481 0.644 0.930 0.744 nb1 0.603 0.650 0.574 0.697 0.862 0.933 nb2 0.711 0.726 0.537 0.739 0.770 0.924 tabel 6 cross loading model penelitian 2 indikator constructs iq sq sv use us nb iq1 0.862 0.573 0.424 0.526 0.683 0.628 iq2 0.713 0.563 0.422 0.500 0.553 0.679 iq3 0.926 0.601 0.307 0.396 0.610 0.548 iq4 0.908 0.629 0.285 0.389 0.643 0.548 sq2 0.689 0.903 0.446 0.463 0.702 0.630 sq3 0.497 0.843 0.484 0.486 0.518 0.620 sq4 0.570 0.902 0.549 0.608 0.781 0.762 sq5 0.645 0.817 0.511 0.497 0.622 0.529 sv1 0.386 0.576 0.890 0.597 0.551 0.545 sv2 0.457 0.566 0.968 0.604 0.534 0.535 sv3 0.360 0.483 0.939 0.619 0.506 0.562 sv4 0.378 0.515 0.921 0.689 0.541 0.582 use1 0.400 0.595 0.736 0.864 0.636 0.632 use2 0.490 0.358 0.319 0.769 0.505 0.638 us1 0.614 0.804 0.635 0.705 0.932 0.825 us2 0.705 0.661 0.466 0.595 0.904 0.861 us3 0.713 0.652 0.481 0.644 0.930 0.744 nb1 0.603 0.650 0.574 0.697 0.862 0.933 nb2 0.711 0.726 0.537 0.739 0.770 0.924 business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 104 hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa seluruh korelasi antara indikator dan konstruknya memenuhi persyaratan cross loading ≥ 0.7. 3. composite reliability analisis model pengukuran juga dilakukan untuk menguji reliabilitas model. sebuah konstruk dianggap reliabel apabila nilai composite reliability ≥ 0.70. tabel 7 menghimpun composite reliability dari kedua model. tabel 7 composite reliability model 1 dan model 2 tabel 8 r-square konstruk model 1 model 2 composite reliability reliabilitas composite reliability reliabilitas iq 0.916 reliabel 0.916 reliabel sq 0.924 reliabel 0.924 reliabel sv 0.962 reliabel 0.962 reliabel use 0.801 reliabel 0.801 reliabel us 0.945 reliabel 0.945 reliabel nb 0.926 reliabel 0.926 reliabel dari keenam konstruk dalam model, seluruhnya memiliki nilai composite reliability ≥ 0.70 sehingga seluruh konstruk dinyatakan reliabel. analisis data: menguji inner model atau model struktural pemeriksaan model struktural bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah disusun sebelumnya. terdapat dua hal yang harus dilakukan untuk memeriksa model struktural, yaitu rsquare dan estimasi koefisien jalur (t-test). 1. r-square r-square digunakan untuk mengukur kekuatan prediksi dari model struktural. nilai rsquare sekitar 0,75 dikategorikan sebagai kuat, sekitar 0,5 dikategorikan moderat, dan nilai sekitar 0,25 dikategorikan lemah (hair et al., 2011). konstruk r square model 1 keterangan model 2 keterangan use 0.54 moderat 0.60 moderat us 0.73 moderat 0.69 moderat nb 0.82 kuat 0.82 kuat informasi pada tabel 8 dapat dirangkum sebagai berikut. a. nilai r-square sebesar 0.540 pada model 1 menjelaskan pengaruh variabel information quality (iq), system quality (sq), dan service quality (sv) terhadap variabel endogen use sebesar 54% dan nilai rsquare 0.602. sedangkan pada model 2 menjelaskan pengaruh variabel iq, sq, sv dan us terhadap variabel endogen use sekitar 60%. b. nilai r-square sebesar 0.731 pada model 1 menjelaskan pengaruh variabel iq, sq, sv dan use terhadap variabel endogen us sebesar 73% dan nilai r-square 0.691 pada model 2 menjelaskan pengaruh variabel iq, sq, dan sv terhadap variabel endogen us sebesar 69%. c. nilai r-square sebesar 0.821 pada model 1 dan model 2 menjelaskan pengaruh variabel use dan us terhadap variabel endogen nb sebesar 82%. 2. estimasi koefisien jalur (t-statistic) tahap ini dilakukan dengan menggunakan metode bootstrapping melalui software smartpls. besar number of bootstrap sample yang digunakan adalah sebanyak 5000 sampel, dengan tingkat signifikansi 5%. untuk tingkat signifikansi 5%, koefisien jalur dinilai signifikan apabila t-statistic lebih dari 1,96 (hair et al., 2011). hasil bootstrapping untuk model 1 dan model 2 dapat dilihat pada tabel 9 dan tabel 10. amy aisya, debbie amalina, evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) 105 tabel 9 t-statistic untuk model 1 faktor lain di luar dari variabel yang diteliti. hal ini pernah dinyatakan oleh seddon dan kiew (1996) dalam penelitiannya bahwa apabila sebuah sistem memberikan dukungan yang besar terhadap pekerjaan pengguna, bagaimanapun kualitasnya tidak akan jadi masalah selagi sistem tersebut dirasa bermanfaat. b. variabel eksogen service quality justru memiliki hubungan positif yang signifikan dengan variabel use. dapat diartikan bahwa semakin baik kualitas layanan sistem informasi yang diberikan oleh tenaga teknis it, semakin besar pula manfaat e-invoice dapat dirasakan. hasil serupa pernah diungkapkan oleh fitzgerald dan russo (2005), di mana peranan tenaga teknis yang efektif memengaruhi kelancaran penggunaan sistem. c. variabel information quality dan system quality memiliki hubungan positif yang signifikan dengan variabel user satisfaction. dapat diindikasikan bahwa kualitas informasi dan kualitas sistem memengaruhi baik tidaknya pengalaman yang didapatkan pengguna saat memanfaatkan e-invoice. hubungan antara kedua variabel kualitas ini dengan user satisfaction juga ditemukan pada penelitian oleh iivari (2005) dan wu dan wang (2006). d. variabel use berpengaruh signifikan terhadap variabel user satisfaction. semakin tinggi kebermanfaatan yang dirasakan oleh pengguna, semakin tinggi pula kepuasan yang dirasakan oleh pengguna. e. variabel user satisfaction berpengaruh terhadap variabel use. oleh karena pengalaman yang baik saat memanfaatkan sistem, pengguna menjadi lebih percaya diri dan yakin akan kebermanfaatan e-invoice databel 10 t-statistic untuk model 2 dari hasil pengujian hipotesis menggunakan kedua model di atas, terdapat beberapa hal yang dapat diamati. untuk model 1, seluruh koefisien jalur bernilai positif, namun hanya enam yang signifikan dan masing-masing mendukung hipotesis h 2 , h 4 , h 5 , h 7 , h 8 , h 9 . sedangkan pada model 2, seluruh koefisien jalur bernilai positif kecuali untuk h 3 . terdapat tujuh hipotesis yang diterima dan masingmasing mendukung hipotesis, h 2 , h 4 , h 5 , h 6 , h 8 , h 9 , h 10 . berikut ini beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil uji hipotesis. a. pada model 1 dan 2, variabel information quality dan system quality memiliki hubungan yang tidak signifikan dengan variabel use. hasil ini dapat dimaknai bahwa hal yang memicu pengguna untuk merasakan kebermanfaatan e-invoice bukan hanya terkait permasalahan kualitas informasi maupun kualitas sistem, namun ada faktor koefisien jalur tstatistic p-value signifikansi iq � use 0.208 0.932 0.176* tidak signifikan iq � us 0.315 1.807 0.035 signifikan sq � use 0.175 0.774 0.219* tidak signifikan sq � us 0.347 2.119 0.017 signifikan sv � use 0.482 3.941 0.000 signifikan sv � us 0.037 0.360 0.359* tidak signifikan us � use 0.303 2.446 0.007 signifikan us � nb 0.667 5.369 0.000 signifikan use � nb 0.303 2.292 0.011 signifikan koefisien jalur tstatistic p-value signifikansi iq � use 0.041 0.181 0.428* tidak signifikan iq � us 0.376 2.141 0.016 signifikan sq � use -0.007 0.027 0.489* tidak signifikan sq � us 0.402 2.541 0.006 signifikan sv � use 0.398 2.909 0.002 signifikan sv � us 0.184 1.855 0.032 signifikan use � us 0.450 2.084 0.019 signifikan us � nb 0.665 5.286 0.000 signifikan use � nb 0.305 2.265 0.012 signifikan business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 106 lam menyelesaikan pekerjaan terkait administrasi dokumen tagihan. hubungan yang signifikan antara kedua variabel ini juga pernah ditemukan pada penelitian mengenai penerapan enterprise system oleh hsieh dan wang (2007). f. variabel use memiliki hubungan yang signifikan dengan net benefits. hal ini dapat diartikan, semakin optimal pemanfaatan e-invoice, semakin baik kontribusinya dalam peningkatan efektivitas penyelesaian administrasi dokumen tagihan. g. variabel user satisfaction memiliki hubungan yang signifikan dengan net benefits. perasaan puas yang ditimbulkan atas terpenuhinya kebutuhan akan penyelesaian pekerjaan membawa keyakinan pada pengguna bahwa kinerja e-invoice membawa pengaruh baik pada peningkatan efektivitas penyelesaian pekerjaan. hasil penelitian ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh rai et al. (2002) bahwa pengalaman yang baik akan manfaat sebuah sistem akan memengaruhi peningkatan produktivitas dan efektivitas kinerja pengguna. kesimpulan dan saran kesimpulan dari analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling memengaruhi kesuksesan penerapan e-invoice adalah user satisfaction. user satisfaction dipengaruhi paling dominan oleh information quality dan system quality, yang artinya pihak perusahaan harus menjaga dan meningkatkan kualitas informasi dan kualitas sistem e-invoice agar pengguna puas dengan manfaat yang didapatkan dari penggunaan sistem e-invoice. dari hasil pengolahan data yang dilakukan, model delone & mclean yang disesuaikan dengan keadaan sistem mandatory dapat digunakan untuk mengukur kesuksesan sistem mandatory. akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut. 1. pengujian sebaiknya dilakukan menggunakan sampel data yang lebih besar. oleh karena penelitian ini hanya mencakup 34 responden, ada kemungkinan hasil yang didapatkan akan lebih valid apabila melibatkan lebih banyak responden. 2. penggabungan antara model delone & mclean dengan variabel dari model lain atau variabel lain yang relevan sangat mungkin dilakukan, apabila ingin melakukan penelitian di lingkungan mandatory dengan mempertimbangkan lebih banyak aspek. saran untuk penelitian berikutnya evaluasi ini menitikberatkan pada persepsi pengguna terhadap kualitas sistem informasi. untuk penelitian berikutnya, dapat dilakukan pengamatan dari segi behavioral intention menggunakan metode lain seperti utaut atau utaut 2 untuk melihat aspek-aspek lain yang memengaruhi penggunaan sistem, misalkan aspek sosial maupun kebiasaan (habit). selain itu, dari hasil penelitian ini diketahui bahwa sifat sistem mandatory membawa cukup pengaruh dalam pengambilan kesimpulan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesuksesan sistem. untuk penelitian berikutnya, peneliti dapat melakukan penggabungan antara model delone & mclean dengan model lain atau variabel lain untuk memperluas sudut pandang. sebisa mungkin dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak agar dapat memberikan gambaran yang lebih relevan. amy aisya, debbie amalina, evaluasi implementasi perangkat lunak e-invoice pada divisi finansial menggunakan delone & mclean is success model (studi kasus: pt xyz) 107 daftar pustaka budiyanto. 2009. evaluasi kesuksesan sistem informasi dengan pendekatan model delone dan mclean (studi kasus implementasi billing system di rsud kabupaten sragen). thesis magister. surakarta: universitas sebelas maret. delone, w. h. & mclean, e. r. 2016. information systems success measurement. foundation and trends in information system, vol. 2, no. 1, pp 1–116. emam, k. & koru, a. 2008. a replicated survey of it software project failures. software. ieee, 25. 84–90. 10.1109/ms. 2008.107. fieschi, m. 2018. health data processing: systemic approaches. london: iste press ltd. fitzgerald, g. & russo, n. l. 2005. the turnaround of the london ambulance service computer-aided dispatch system (lascad). european journal of information systems, 14(3), 244–257. ghozali, i. 2008. structural equation modelling edisi ii. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. hair, j. f., et al. 2011. pls-sem: indeed a silver bullet. journal of marketing theory and practice, 19(2), pp 138–150. hall, j. a. & singleton, t. 2007. information technology auditing and assurance. 2nd edition. thomson learning. hastie, s. 2006. “what makes information systems projects successful?” software education associates ltd. (available at: https://www.academia.edu/5208529/what_ makes_information_systems_projects_successful).4. hsieh, j. j. p. a. & wang. w. 2007. explaining employees’ extended use of complex information systems. european journal of information systems, 16(3), 216–227. iivari, j. 2005. an empirical test of the delone & mclean model of information system success. the database for advances in information systems, vol. 36, no.2. keen, p. 1980. mis research: current status, trends, and needs. in r. buckingham, r. hirschheim, f. land, and c. tully, editors. information systems education: recommendations and implementation. cambridge: cambridge university press. koh, c. e., et al. 2010. a model for mandatory use software technologies: an integrative approach by applying multiple levels of abstraction of informing science, eds. t. g. gill. informing science: the international journal of an emerging transdiscipline, vol. 13 mardiana, s., et al. 2015. delone-mclean information system success model revisited: the separation of intention-to-use – use and the integration of technology acceptance model. international journal of economic and financial issues, 5 (special issue), 172–182. available at: www. econjournals.com. peterson, d. k & kim, c. s. 2000. information systems objectives: effects of experience, position level, and education on developers. journal of information technology management, volume xi, numbers 3–4. petter, s., et al. 2008. measuring information systems success: models, dimensions, measures, and interrelationships. european journal of information systems, 17(3), pp 236–263. business and finance journal, volume 6, no. 2, october 2021 108 rai, a., et al. 2002. assessing the validity of is success models: an empirical test and theoretical analysis. information systems research, 13(1):50–69. wu, j. h. & wang, y. m. 2006. measuring kms success: a respecification of the delone and mclean’s model. journal of information & management, 43, 728–739. putri mahanani & denis fidita karya, loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya) 11 loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya) putri mahanani universitas nahdlatul ulama surabaya email: putrimahanani@unusa.ac.id denis fidita karya universitas nahdlatul ulama surabaya email: denisfk@unusa.ac.id abstract: bpjs is one of the health services provided by the government to the people of indonesia. in the process of patient care by using bpjs there were some complaints from consumers related to the quality of service. poor service quality will have an impact on consumer dissatisfaction in the service, so that it is capable of influencing consumer loyalty. loyalty can only be generated if consumers have experienced the satisfaction of a good service quality provided by the service provider. this study aims to determine the effect of service quality on customer loyalty. in this case the customer satisfaction are things that need to be met first before consumers get to the stage of loyalty. respondents of this study are inpatients in rsi jemursari surabaya as many as 100 people who use the service bpjs third grade. this study used survey method and analyzed using path analysis with partial least square (pls). results from this study is the quality of service has an influence on loyalty with mediation of consumer satisfaction. loyalty can occur if the satisfaction felt by consumers. thus, in this study, customer satisfaction a mediating variable for the relationship between the variables of service quality and customer loyalty. keywords: service quality, consumer satisfaction, consumer loyalty pendahuluan program badan penyelenggara jaminan sosial (bpjs) kesehatan yang bergulir sejak awal tahun 2014 merupakan layanan yang paling banyak memperoleh keluhan dari masyarakat (www.jawawapos.com, 2015). salah satu indikasinya adalah banyaknya laporan yang diterima oleh komisi pelayanan publik (kpp) jatim. bpjs menduduki peringkat teratas dalam daftar instansi paling dikeluhkan di jawa timur (www. kppjatimprov.go.id, 2015). mayoritas keluhan tersebut terkait dengan rumitnya prosedur layanan pendaftaran bagi pasien bpjs. hal selanjutnya yang menjadi keluhan adalah masalah teknis di lapangan, yaitu mengenai jumlah rumah sakit yang masih tergolong rendah yang memberikan layanan untuk pasien bpjs, dan juga persoalan rumah sakit yang belum bisa meng-cover semua kebutuhan pasien (www.kppjatimprov.go.id, 2015). keluhan tersebut terjadi karena harapan yang dimiliki konsumen tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. hal ini berkaitan dengan perhatian besar yang diberikan oleh masyarakat terhadap regulasi bpjs. besar kemungkinan informasi terkait segala hal yang business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 2 menyangkut tentang prosedur penggunaan layanan bpjs belum tersampaikan kepada masyarakat secara utuh dan menyeluruh, sehingga banyak hal yang belum diketahui oleh masyarakat terkait dengan prosedur penggunaan layanan bpjs. rumah sakit islam (rsi) jemursari surabaya adalah salah satu rumah sakit di surabaya yang menyediakan layanan bpjs kesehatan bagi masyarakat. rsi jemursari surabaya dan bpjs bersama-sama berkomitmen melayani masyarakat kelas menengah ke bawah dengan pelayanan yang terjangkau, termasuk pelayanan berbiaya tinggi, seperti hemodialisa (cuci darah), bedah, jantung, dan lain sebagainya. dengan adanya bpjs, jumlah pasien keseluruhan yang menggunakan layanan rsi jemursari meningkat dari 31% menjadi 63%. pasien bpjs rawat inap meningkat cukup tinggi dari 41% menjadi 74%. khusus untuk pasien hemodialisa (cuci darah) justru meningkat drastis dari 264 pada januari 2014 menjadi 709 pasien pada desember 2014, sedangkan di tahun 2015 angka pasien hemodialisa yang menggunakan bpjs telah mencapai angka ribuan (www.harianterbit.com, 2015). hal tersebut menunjukkan bahwa bpjs merupakan program yang bermanfaat untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, namun rsi jemursari surabaya juga tidak mengalami kerugian dengan mengadakan program tersebut, melalui manajemen yang berbasis pelayanan publik justru rsi jemursari surabaya memperoleh keuntungan lebih dengan adanya program bpjs. senada dengan hal tersebut, direktur rsi jemursari mengatakan manajemen berbasis pelayanan publik mengacu pada komitmen dokter, kebersamaan dalam perencanaan obat dan kebutuhan lainnya, serta kendali mutu. selain itu, kualitas pelayanan tidak rendah, meski rsi jemursari melayani masyarakat rendahan (www. harianterbit.com, 2015). pelayanan merupakan unsur yang sangat penting di dalam usaha meningkatkan kepuasan konsumen. pada dasarnya posisi pelayanan ini merupakan faktor pendukung terhadap aktivitas pemasaran jasa rsi jemursari. untuk itu rsi jemursari surabaya memberikan perhatian khusus kepada kegiatan pelayanan dalam hal pemenuhan kebutuhan pelanggan agar dalam pelaksanaannya dapat memuaskan pelanggannya. jika pelayanan yang diberikan memenuhi harapan konsumen, maka konsumen akan merasa puas dan bila kualitas pelayanan berada di bawah tingkat yang diharapkan, pelanggan akan merasa kurang atau tidak puas. pelanggan yang merasa tidak puas terhadap kualitas pelayanan yang diberikan, dengan sendirinya akan menceritakan kepada orang lain sebagai komplain atas ketidakpuasan tersebut (word of mouth negative). kualitas layanan merupakan topik yang paling banyak menarik minat tidak hanya bagi praktisi namun juga ilmuwan atau akademisi untuk menelitinya, teori ini dipopulerkan oleh parasuraman dkk. (1985). lehtinen dan lehtinen (1982) menilai bahwa dimensi kualitas layanan bisa dilihat dari tiga hal yaitu, interaksi, bukti fisik, dan kualitas perusahaan. kepuasan pelanggan adalah keputusan akhir dari pengalaman konsumen yang merasakan adanya kualitas layanan (bolton dan drew, 1991; boulding, dkk., 1993). oleh karena itu, pengukuran kepuasan akan pelayanan yang diberikan oleh rsi jemursari surabaya pada masyarakat harus selalu dilakukan. hal tersebut bertujuan untuk mengetahui dan merencanakan strategi yang lebih baik di masa mendatang, lebih meningkatkan putri mahanani & denis fidita karya, loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya) 3 kualitas pelayanannya agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta untuk meminimalisir adanya komplain atau keluhan dari konsumen. berdasarkan hal tersebut, perlu dikaji lebih mendalam mengenai kualitas layanan yang telah diberikan oleh rsi jemursari surabaya terhadap pasien yang menggunakan layanan bpjs, terutama untuk pasien rawat inap karena pasien rawat inap bisa dikategorikan konsumen yang telah merasakan seluruh layanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, terutama pada tingkat fasilitas kesehatan tertentu. berdasarkan latar belakang masalah yang telah disajikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut: 1. apakah kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen? 2. apakah kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen? kerangka teoritis definisi kualitas layanan memberikan layanan terhadap konsumen dapat terjadi dengan adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan, hal tersebut merupakan suatu aktifitas atau serangkaian aktifitas yang bersifat tidak kasat mata (ratminto dan winarsih, 2005). kegiatan ini bertujuan sebagai salah satu upaya perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumennya sehingga sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh konsumen. definisi lain dari kualitas layanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan oleh pelanggan untuk memenuhi keinginan pelanggan (wyckof, 1990 dalam tjiptono, 2005). dalam salah satu studi yang dilakukan oleh (parasuraman, dkk., 1988) terdapat lima dimensi kualitas layanan yang dapat dijabarkan yaitu sebagai berikut: 1. keandalan (reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi. 2. keresponsifan (responsiveness), yaitu suatu kemampuan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas. membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan. 3. jaminan (assurance), atau kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy). 4. bukti fisik (tangibles), yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. yang meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 4 dan lain-lain), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (tekhnologi), serta penampilan pegawainya. 5. empati (empathy), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan pelanggan. dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan. definisi kepuasan pelanggan tingginya tingkat persaingan dan daya beli konsumen terhadap suatu produk menyebabkan kepuasan konsumen menjadi hal yang sangat diperhatikan bagi pemasar. pemasar, konsumen dan peneliti perilaku konsumen adalah pihak-pihak yang paling banyak berhubungan langsung dengan kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan (tjiptono, 2005). karena kepuasan konsumen menggambarkan sejauh mana persepsi konsumen terhadap kinerja suatu produk atau jasa sehingga dapat memenuhi harapan kebutuhan konsumen (kotler, 2006). dengan kata lain, jika kinerja produk yang diberikan oleh perusahaan lebih rendah daripada harapan konsumen, maka ketidakpuasan konsumen akan terjadi, namun sebaliknya jika kinerja dan segala atribut yang melekat pada suatu barang atau jasa sesuai atau melebihi harapan konsumen, maka kepuasan konsumen akan tercapai. definisi loyalitas pelanggan tjiptono (2005:387) mendefinisikan loyalitas sebagai situasi dimana konsumen bersikap positif terhadap produk atau produsen (penyedia jasa) serta disertai pola pembelian ulang yang konsisten. loyalitas juga dinyatakan sebagai suatu perilaku yang diharapkan atas suatu produk atau layanan yang antara lain meliputi kemungkinan pembelian lebih lanjut atau perubahan perjanjian layanan, atau sebaliknya seberapa besar kemungkinan pelanggan akan beralih kepada merek lain atau penyedia jasa lain (tjiptono, 2005). hipotesis gronroos (1984, 1990) dan parasuraman, dkk. (1985, 1988, 1994) berpendapat bahwa persepsi kualitas layanan dihasilkan dari perbandingan yang dibuat oleh konsumen antara kualitas yang diharapkan dan kualitas yang dirasakan. kualitas layanan tersebut yang pada akirnya akan menghasilkan kepuasan atau ketidakpuasan dari konsumen. kualitas layanan sepertinya menjadi satu-satunya faktor layanan yang memiliki pengaruh langsung pada kepuasan konsumen (cronin dan taylor, 1992; ruyter, dkk. 1997; spreng dan mackoy, 1999). secara keseluruhan, kepuasan yang diperoleh dalam pengalamannya memperoleh suatu pelayanan jasa akan menyebabkan munculnya loyalitas konsumen (bearden dan teel, 1983). hal tersebut yang akhirnya membentuk hipotesis pertama dan kedua, yaitu: h 1 : kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen h 2 : kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen hipotesis tersebut dapat digambarkan pada rerangka konseptual penelitian di bawah ini: putri mahanani & denis fidita karya, loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya) 5 rerangka konseptual tersebut menunjukkan pengaruh variabel independen berupa kualitas layanan terhadap variabel tergantung yaitu loyalitas konsumen, dengan kepuasan konsumen sebagai variabel mediasi. metode penelitian metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuisioner. kuesioner terdiri dari beberapa item pernyataan untuk mengukur kualitas layanan, kepuasan dan loyalitas konsumen. responden dari penelitian ini adalah pasien rawat inap bpjs di rsi jemursari surabaya berjumlah 100 orang, yang terdiri dari 50 pasien laki-laki, dan 50 pasien perempuan. jumlah sampel sebanyak 100 orang ditentukan dengan mengacu pada ukuran sampel dalam penelitian multivariat yang ditulis oleh uma sekaran (2006) yang mengatakan bahwa ukuran sampel sebaiknya 10 kali lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian. jumlah variabel dalam penlitian ini adalah tiga sehingga akan lebih baik jika jumlah sampel minimal yang dapat digunakan adalah 10x3=30 orang. responden dipilih dengan menggunakan metode gabungan antara purposive sampling dengan convenience sampling. metode purposive sampling yaitu dengan melakukan sampling yang terarah dengan memilih populasi berupa pasien rawat inap bpjs rsi jemursari yang memiliki karakteristik yang sama. sedangkan convenience sampling ini memberi kebebasan kepada peneliti untuk memilih siapa saja yang ditemui menjadi partisipan (cooper dan schindler, 2001:192). dalam penelitian ini data dari hasil survey akan diolah menggunakan teknik analisis berupa path analysis dengan partial least square (pls), dimana software yang akan digunakan adalah smartpls 2.0. sebelum survey dijalankan, dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk menilai item-item yang digunakan apakah sudah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. analisis dan pembahasan sebelum melakukan pengujian terhadap hipotesis, maka dilakukan uji validitas dari item-item alat ukur. berdasarkan outer loading untuk semua alat ukur dari masing-masing variabel yaitu kualitas layanan, kepuasan dan loyalitas konsumen dinyatakan valid yaitu memenuhi cut off value sebesar 0,5. setelah menguji validitas dari alat ukur, selanjutnya adalah menguji reliabilitas dengan melihat skor composite reliability. composite reliability menguji nilai reliabilitas masingmasing indikator.cutoff value dari reliabilitas adalah sebesar 0,7. kualitas layanan kepuasan konsumen loyalitas konsumen gambar 1 rerangka konseptual penelitian business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 6 berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak ada nilai yang berada di bawah cut off value. nilai tersebut menyatakan bahwa semua item alat ukur dari masing-masing variabel memenuhi standar reliabilitas. uji hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang telah dituliskan, maka penelitian ini memiliki dua hipotesis. dalam path coefficient ini nilai cutoff value dapat dilihat pada tabel t-statistic. jika t-statistics memiliki nilai lebih besar atau sama dengan 1,64 maka pengaruh variabel tersebut adalah signifikan, sedangkan jika kurang dari 1,64 maka dapat dikatakan variabel tersebut tidak berpengaruh secara signifikan. berdasarkan hasil uji hipotesis yang tertera pada tabel di atas, diketahui bahwa kualitas layanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan, dan kepuasan pelanggan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen, dengan kata lain kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen. hal ini terbukti dari nilai t-statistics yang lebih dari 1,64. sedangkan untuk hipotesis kedua yaitu apakah kualitas layanan berpengaruh secara langsung terhadap loyalitas konsumen, dari hasil olah statistik dapat dilihat bahwa nilai tstatistics dari hubungan antara kualitas layanan dan loyalitas konsumen adalah kurang dari 1,64. dengan kata lain, kualitas layanan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas konsumen. variabel composite reliability kepuasan pelanggan 0,9827 kualitas layanan 0,9787 loyalitas 0,9405 tabel 1 composite reliability sumber: data diolah tabel 2 path coefficient original sample (o) t statistics (|o/sterr|) kualitas layanan -> kepuasan konsumen 0,885518 25,495538* kepuasan konsumen -> loyalitas konsumen 0,872917 8,623514* kualitas layanan -> loyalitas konsumen 0,007183 0,068852 sumber: data diolah putri mahanani & denis fidita karya, loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya) 7 setelah melalui serangkaian proses pengumpulan data dan pengujian maka ringkasan hasil penelitian ini adalah seperti yang tertera di pada tabel 3. diskusi pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima, dengan kata lain kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen. hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh (bearden dan teel, 1983) yang menyatakan bahwa secara keseluruhan, kepuasan yang diperoleh dalam pengalamannya memperoleh suatu pelayanan jasa akan menyebabkan munculnya loyalitas konsumen. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa loyalitas konsumen dapat terjadi apabila konsumen telah mengalami kepuasan yang ditimbulkan dari adanya kualitas layanan yang baik. pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas konsumen selanjutnya diketahui berdasarkan hasil analisis data bahwa hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah ditolak, yang artinya kualitas layanan tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap loyalitas konsumen. hal ini menjelaskan bahwa loyalitas hanya dapat terjadi apabila konsumen telah merasakan kepuasan terhadap kualitas layanan yang diberikan, sehingga tanpa adanya kepuasan, loyalitas tidak dapat terjadi dengan begitu saja. dapat diketahui bahwa indikator loyalitas seperti yang dijabarkan oleh bearden dan teel (1983), bahwa kepuasan dapat membuat konsumen untuk melakukan pembelian atau penggunaan ulang pada suatu produk dan melakukan word of mouth positif pada orang lain. implikasi dan keterbatasan dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen. namun demikian, kualitas layanan tidak berpengaruh secara langsung terhadap loyalitas konsumen. saran bagi penelitian selanjutnya penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya milik albert caruana (2000). dalam penelitian albert caruana (200) dinyatakan bahwa kualitas layanan no. hipotesis kesimpulan 1. kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen diterima 2. kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen ditolak tabel 3 ringkasan hasil penelitian sumber: data diolah business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 8 rsi jemursari yang dapat diasosiasikan dengan salah satu lembaga islam yang ada di indonesia yaitu nahdlatul ulama, adalah tingkat religiusitas sesorang. jadi perlu untuk diteliti secara lebih mendalam terkait kemungkinan adanya faktor yang mempengaruhi loyalitas selain dari kepuasan konsumen yaitu tingkat religiusitas konsumen. keterbatasan keterbatasan dalam penelitian ini adalah hanya mengambil sampel dari satu jenis tingkat fasilitas kesehatan bpjs yaitu tingkat tiga, akan lebih baik jika diambil sampel dari keseluruhan tingkat dari fasilitas kesehatan, yaitu mulai tingkat satu, dua, dan tiga agar hasil yang diperoleh dapat lebih menggambarkan kualitas layanan bpjs secara keseluruhan dari beberapa tingkat fasilitas kesehatan yang dimiliki. daftar referensi bearden, w.o dan teel, j.e. 1983. selected determinants of consumer satisfaction and complaint behaviour. journal of marketing research, vol.20, february, pp.21-8. bolton, r.n, dan drew j.h. 1991. a multistage model of customers assesments of service quality and value. journal of consumer research, vol17, march, pp.375-84. boulding, w., dkk. 1993. a dynamic process model of service quality: from expectations to behavioural intentions. journal of marketing research, vol.30, february, pp. 7-27. caruana, albert. 2002. service loyalty: the effects of service quality and the mediating role of customer satisfaction. memiliki pengaruh terhadap kepuasan dan loyalitas konsumen. dalam hal ini kualitas layanan adalah satu-satunya hal yang bisa menimbulkan kepuasan dan loyalitas konsumen. hal yang bisa dikembangkan dalam penelitian selanjutnya adalah terkait dengan image baik itu coprorate image maupun brand image dari sebuah instansi atau sebuah produk. implikasi bagi praktisi kualitas layanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah indonesia melalui instansiinstansi kesehatan yang terkait memberikan dampak secara tidak langsung terhadap image dari pemerintah indonesia sendiri dan juga instansi yang memberikan layanan jasa kesehatan tersebut yaitu rumah sakit dan instansi sejenisnya. sehingga hal ini menjadi penting bagi instansi penyedia layanan kesehatan untuk memperhatikan masalah kualitas layanan yang diberikan, akan sangat baik apabila kualitas layanan yang diberikan mampu mendekati atau melampaui harapan dari konsumen, karena hal ini yang akan menciptakan kepuasan dan selanjutnya adalah loyalitas konsumen pada instansi kesehatan terkait, serta image dari intansi kesehatan terkait dan pemerintah indonesia. implikasi bagi akademisi dalam penelitian albert caruana (200) dinyatakan bahwa kualitas layanan memiliki pengaruh terhadap kepuasan dan loyalitas konsumen. dalam hal ini dapat diketahui bahwa kepuasan akan menimbulkan loyalitas pada sebuah produk. hal lain yang kemungkinan dapat berpengaruh terhadap loyalitas dari konsumen terhadap suatu produk terutama yang memiliki asosiasi dengan lembaga islam seperti putri mahanani & denis fidita karya, loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya) 9 european journal of marketing, august. cronin, j.j dan taylor s.a. 1992. measuring service quality: a re-examination and extension. journal of marketing, vol.56, july, pp.55-68. cooper, d. r., dan pamela s. s. 2001. business research methods. new york: mc graw hill. gronroos, c. 1984. a service quality model and its markets implications. european journal of marketing, vol.18, no.4, pp.36-44. gronroos, c. 1990. service management and marketing. dc. heath and co., lexington, ma. kotler, philip. 2005. manajemen pemasaran edisi 11. jakarta: pt. indeks. lehtinen, u dan lehtinen, j.r. 1982. service quality-a study of dimensions. unpublish working paper, service management institute, helsinki, pp.439-60. parasuraman, dkk. 1985. a conceptual model of service quality and its implication for future research. journal of marketing, vol.49, april, pp.41-50. parasuraman, dkk. 1988. servqual: a multiple item scale for measuring consumer perceptions of service quality. journal of retailing, vol.64, no.1, spring, pp.12-140. parasuraman, dkk. 1994. alternative scales for measuring service quality: a comparative assesment based on psycometric and diagnostic criteria. journal of retailing, vol.70, no.3, pp.20130. ratminto dan winarsih atik septi. 2005. manajemen pelayanan. yogyakarta: penerbit pustaka pelajar. ruyter, dkk. 1997. merging service quality and service satisfaction: an empirical test of an integrative model. journal of economic psycology, vol.18, pp.387406. sekaran, uma. 2006. metodologi penelitian untuk bisnis. jakarta: salemba empat. spreng, m.k dan mackoy, r.d. 1996. an empirical examination of a model of perceived service quality and satisfaction. journal of retailing, vol.72, no.2, pp.201-14. tjiptono, fandy. 2005. service, quality, and satisfaction. yogyakarta: penerbit andi. tanpa nama. 2015. keluhan bpjs tertinggi. www.jawapos.com. diakses tanggal 2 februari 2016 tanpa nama. 2015. tanpa judul. www.kppjatimprov.go.id. diakses tanggal 2 februari 2016 tanpa nama. 2015. tanpa judul. www.harianterbit.com. diakses tanggal 2 februari 2016 business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 10 01 adrian denar.pmd heni agustina, rizki amalia elfita, the effect of earning surprise and earning per share on stock return 7575 the effect of earning surprise and earning per share on stock return heni agustina, rizki amalia elfita nahdlatul ulama surabaya university e-mail: heni@unusa.ac.id abstract: a lot of investors are currently focusing on corporate earnings information, resulting on stock market reacts more strongly to unexpected earnings. the reaction is caused by several factors such as earning surprise (es) and earning per share (eps). based on these, the research was conducted to find out how es and eps affect on stock return of manufacturing companies listed on indonesia stock exchange in 2016–2018. this research is quantitative descriptive with associative research methods. the data used in this research were annual reports of manufacturing companies listed on the indonesia stock exchange (idx) during the period 2016–2018. sampling in this research was conducted using a purposive sampling method. the results showed that simultaneously and partially eps and es variables have no effect. keywords: earning surprise (es), earning per share (eps), stock return background investment decision on financial market largely is influenced by financial statement information. one of the main objectives of financial statements is to assist users in decision making. one important factor in financial statements is the disclosure of information related to revenue. in an efficient capital market, one important information key for investors in investment decisions is company performance (goetzmann, 1999). good performance of the company is an achievement of the company’s ability to produce optimal revenue. ball (1968) shows that investor reactions to companies with good earnings reports generate positive returns. they also observed that investors’ reactions to companies with poor earnings reports resulted in negative returns. many empirical studies focus on market reaction to information on corporate earnings. in several published studies, the stock market react more strongly to unexpected earnings for some companies than for other companies. scott (2003) reinforces this theory with his findings indicating that various stock market reactions are caused by several reasons, including earning surprise (es) and eps. in a period of reporting corporate earnings, kinney et al. (2002) explain the term earning surprise (es) as the difference between the value of earnings forecast and the value of earnings announcements. hartono (2010) states that the main reason for investors to invest in a company is to gain an optimal return. stock return is the level of profit that can be gained by investors on investments made in a company. stock return can be in form of dividends or capital gains. weygandt et al. (2005) defines dividends as proportional distributions by companies to their shareholders. as explained by riyatno (2007), the profit achieved by a company is one measure of performance and is considered by investors or creditors in making decisions to make investments or to provide additional credit. thus, it is expected that earning surprise (es) and eps affect the company’s return. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 76 literature review signalling theory wolk, et al. (2001) state signal theory as a theory that explains the reasons for companies in presenting information for the capital market. in addition, signal theory explains the difference in the proportion of information obtained between investors and management, which is also called information asymmetry. the relationship between signal theory and this research relates to the signals given by management to investors and potential investors in the form of earnings per share (earnings per share realization). maria immaculatta (2006) states that the quality of information disclosed by management can influence investor decisions. therefore, the signals given by management in the capital market can be divided into 2, good news and bad news. stock returns ang (1997) defines stock return as a profit which is the main goal by investors of any short-term or long-term investment, both directly and indirectly. there are 2 types of stock returns, dividends and capital gains (profits derived from the price difference). weygandt et al. (2005) defines dividends as distributions by companies to their shareholders proportionally. earning surprise according to asih and gudono (2000), the company has a signal of reported earnings about future profits. in this case the unexpected profit “surprise” is a signalling technique intended to provide a signal for making more accurate predictions. various profit forecast models are a way to determine the expected returns. surprise is an event or something experienced by investors outside of their predictions so that it can cause various kinds of responses. earnings per share supadi (2017) define that the level of profit obtained by shareholders on earnings (per share) can be seen by the ratio of earning per share (eps). this ratio shows the company’s performance, especially from the profitability associated with the market. the higher the eps, the higher the profit per share, and the same goes for it. this has an impact on the level of the company’s stock return ability in the capital market. therefore, a stable company will show the stability of eps growth, on the other hand an unstable company will show fluctuating growth. however, there are also several companies whose eps values have decreased even though their share prices have increased. hypotheses effect of earning surprise against stock return research conducted by ridhmadhantia (2010), jones and frank bacon (2007), and vestari (2012) provide empirical evidence that earnings surprises influence stock prices. this causes anomaly returns received by investors. investor optimism causes negative earnings surprises therefore it has a negative effect on stock returns. while pessimism is the reason for positive earnings surprises and a positive effect on stock returns. based on the explanation above, the hypothesis stated by the researchers in this research is: h1: earnings surprises affect stock returns effect of earnings per share on stock returns research conducted by (ulfyana and purwanto, 2011), (putri and sampurno, 2012) and heni agustina, rizki amalia elfita, the effect of earning surprise and earning per share on stock return 77 independent variable earnings surprises (es) earnings are expected to be related to the results of investor expectations of the financial information it receives (skinner and sloan, 2002). the value obtained from earning surprise illustrates the company’s performance to meet investor desires. in accounting, research that used expected data is measured using sun expected earnings (sue). therefore, earnings surprises in this research will be measured using the difference between realized quarterly eps and expected quarterly eps. the measurement of earnings surprises with the naive model is as follows (asih, 2000): 1 1 � � � tprofit tprofittprofitueit the results obtained will be grouped based on three indicator values, the value of -1 if earnings surprise is negative, the value of 0 if earnings surprises is 0, and the value of 1 if earnings surprises is positive. earnings per share (eps) earning per share (eps) is a ratio that can show the level of profit that investors get, where the level of profit (per share) shows the company’s performance, especially from the profitability associated with the market. the higher the profit, the higher the company’s stock return in the capital market. in this research eps is calculated using the formula (fahmi, 2012. in nurzahra, 2021): information: eps = earning per share eat = earnings after tax or after-tax income j sb = number of shares outstanding (savitri and haryanto, 2012) provide empirical evidence that eps has a positive effect on stock prices. it also causes anomaly returns received by investors. based on the explanation above, the hypothesis stated by the researchers in this research is: h2: eps affects stock returns research method this research is quantitative descriptive with associative research methods. correlations and causal relationships between variables are obtained from associative research (sulistyanto et al., 2000). this research uses an explanatory approach. the purpose of this approach is to describe the relationship (causality) between variables through hypothesis testing (sugiyono, 2010). based on a quantitative approach, this research is also called a confirmatory research that focuses on confirming the theory to apply to a particular research object, both for explanation and prediction (sugiyono, 2010). operational definition and variable measurement dependent variable stock returns weygandt et al. (2005) define dividends as distributions by companies to their shareholders proportionally. this return is the level of profit that an investor gains on his investment activities. there are 2 types of stock returns, dividends and capital gains (profits derived from the price difference). in this research, stock returns is calculated using the formula (fahmi, 2012. in nurzahra, 2021): busin ess and fin an ce jour n al , volum e 6 , n o . 2 , m arch 20 22 7 8 t he da t a used in t his research w ere an nual repo rts of manufacturing companies list e d on the indonesi a stock e xchange (i d x ) during the per iod 20 15–2018 . t his research sample w as done by purposive sa mpling, w hich is the samp li ng t ech ni qu e w it h cer t a in co nsid e ra ti ons (sug iyono , 2010). t he crit eria co nsidere d in rese arch sa mpling are ma nufacturing co mpanies tha t h ave bee n list e d on th e indon esia stock e xcha nge before d ecember 3 1 , 2015 and are still regist ere d as of d ecembe r 31 , 2 018 . m anufacturi ng comp anies th a t have annual report s ending on d ecember 31 , ma nufacturing comp anies pr esen t complet e da t a re la t ed to the varia bles of the rese arch . t he analysis t echn ique use d in th is rese arch is multiple linear regression analysis w ith the considera tion tha t this analysis t echnique can be used as a prediction mo del of company perform ance w ith product innovation , process innovation , and orga niza tion al innov a tion . t his hyp o thesis t est w as carried out using the spss 18 .0 program. t he regr ession model used to t est t he hypo thesis w ill be fo rmula t ed as foll o ws: y = d + e1 x 1 + e2 x 2 + e3 x 3 + e .. . . . . .. . . . . ..(1) informa tion : y : stock ret urn d : c ons t an t e1....en : c oefficien t of reg ressio n direction x 1 : e arn ing surprise x 2 : e arni ng per share x 3 : o rganiza tional innova tion e : r esi dual e rror result s a n d d is cus si o n research result t he research results fro m the d a t a ar e in the form of descrip t ive st a tistics w hich ca n be seen as foll o ws: table 1 descriptive statistics base d on the t able a bove , it can be concluded th a t : 1. es v alue ha s a mea n valu e of 0 . 21 w hich is smal ler tha n the m ean rs value of 0 .32 . in this sense , the va lue obt a ined fr om earn ings surprise ill ustr a t es th e compa ny ’s p erfo rmance to me et the desires of in vestors . so tha t the gro w th of e s has a perform ance tha t does n o t meet the w ishes of invest ors. 2. eps has a m ean valu e of 3 . 19 w hich is grea t er tha n the m ean rs value of 0 .32 . in this sense , the gre a t er th e compan y ’s abi lity to g enera t e profit s per sh are for its o w ner, this w ill a ffect t he comp any ’s s tock re turn on t he capi t al mar ket . classic assumption test normality test table 2 n ormality test descriptive statistics m ean std. deviation n rs .3227 . 30933 74 e s .2088 . 14798 74 eps 3. 1887 2. 28369 74 kolmogorovsmirnova shapiro-wilk statistic d f sig. statistic df sig. r esidual .064 74 .215 .990 74 . 635 k olmogorov-smirnov t est , it can be seen tha t the significa nce of residu al erro rs is a bove 0 .05 so it can be co ncluded tha t residual er rors are n ormally distribu t ed . autocorrelation test table 3 autocorrelation test model durbin-watson 1 1 .842 h eni agus tin a , rizk i a mal ia e l f i t a , t h e e ffect o f e a rning surp ris e a nd e arn ing p er sh are on s tock r e turn 7 9 table 4 m ulticollinity test table 7 uji f (anova) m odel collinearity statistic t olerance vif e s . 72 1.40 2 eps . 69 1.90 9 by l oo king a t the v i f number of each inde penden t variabl e belo w 10 , it can be conclud ed tha t the ind ependen t variables are free from multicollin ity. h eteroskedastic test table 5 heteroskedastic test by using th e g lesj er test , the significance of e ach ind ependen t variable on a bsolut e residu als is no t significan t so th a t the variance of the research da t a is said to be het e roskedas tic. m ultiple regression analysis table 6 m ultiple regression (coefficient) t he resulti ng regression e qua tion is: stock r etur n = 0 . 310 0 .043 es + 0 .00 7 eps m ana gerial i mplica t ions of this equa tion are : 1. stock retur n has a value of 0 .3 10 percen t w her e the o t her vari ables a re const an t . 2. stock returns hav e a 0 .0 43 perce n t decr ease for every 1 percen t increa se in e s and o ther vari ables ar e const an t . 3. stock returns w il l have a 0 .007 percen t increa se every 1 percen t increase i n eps o ther vari ables ar e const an t . a n o va a m odel sum of squares df m ean square f sig. 1 r egr ession . 017 2 . 008 .087 .917b r esidual 6. 968 71 . 098 t ot al 6. 985 73 a . d epe nde nt v ariable: rs b. pr edictors: (c onstant), eps, e s base d on the results of the f t est , the simult aneous es and eps ha ve no effect on the to t al stock . correlation and d etermination coefficient table 8 correlation & determination coefficients m odel summaryb m odel r r square adjusted r square std. error of the estimate durbinwatson 1 .0 49a . 00 2 -. 026 . 31 328 1. 842 a. pred ictors : ( c onst a nt), eps, e s b. d epen de nt v a ri able : rs discussion 1. hypothesis test 1: earning surprise has no effect on stock return t his period has a mean va lue of 0 .21 w hich is sm aller t han th e mean rs valu e of 0 .32 . in th is sense , the v alue obt ained from earn ings sur prise il lustra t es the co mpany ’s perform ance to meet th e desir es of in vestors . so tha t the gr o w th of es has a perfo rmance tha t does no t mee t the w ishes of investo rs. e arn ings are e x pect e d to be rela t ed to the result s of investor e x p ect a tions of th e financial info rmation it rece ives according to skinn er and sloan (200 2). in t his research , the comp any did no t prov ide a good per formance of inv estors’ e xpect a tions o r e x pect a tions of the financial inform a tion r eceived . i t can be concluded tha t the presence or absence of earnings surpr ises does no t aff ect a company ’s stock returns , it a r ises beca use i n v es t o rs w i l l o n l y s e e t h e business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 80 company’s net income on a regular basis, not earnings surprises which do not necessarily appear regularly. 2. hypothesis test 2: earning per share has no effect on stock return eps has a mean value of 3.19 which is greater than the mean rs value of 0.32. in this sense, the greater the company’s ability to generate profits per share for its owner, this will affect the company’s stock return on the capital market. but in this research the earnings per share that is hinted by investors are not proportional to the realized returns. the results of this research do not agree with ang (1997), that the increasing eps will increase the attractiveness of investors in investing funds into the company, so that stock prices will increase. rising stock prices will affect the increase in total returns obtained by investors. it can be concluded that earnings per share have no effect on stock returns because there are still many factors including the unfavorable market environment. conclusion partially, es has no effect on stock returns neither with eps that partially has no effect on stock returns. the relationship between the independent variable and the dependent variable is weak. the contribution of the independent variable to explain the dependent variable model is 0.2%. suggestion that can be put forward is: 1. adding company fundamental variable factors besides es and eps. because the neglect of other fundamental factors can actually have an influence on the company’s total return. references ang, robert. (1997). buku pintar pasar modal indonesia. mediasoft indonesia no. pp. anshori, muslich & iswati, sri. (2009). buku ajar metodologi penelitian kuantitatif. surabaya: airlangga university press. arikunto, s. (2006). prosedur penelitian suatu pendekatan praktis edisi revisi vi. jakarta: pt rineka cipta. ball, ray & brown, philip. (1968). an empirical evaluation of accounting income numbers. journal of accounting research no. pp. 159–178. ghozali, imam. (2011). aplikasi analisis mulitivariate dengan program ibm spss 19. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. goetzmann, william n, & garstka, stanley j. (1999). the development of corporate performance measures: benchmarks before eva. yale icf working paper. hartono, jogiyanto. (2010). studi peristiwa: menguji reaksi pasar modal akibat suatu peristiwa. edisi pertama. bpfe ugm. hal vol. 53 no. pp. hartono, jogiyanto. (2008). teori portofolio dan analisis investasi-5/e. no. pp. ikatan akuntan indonesia, iai. (2009). pernyataan standar akuntansi keuangan. jakarta: salemba empat. fahmi, irham. (2012). analisis kinerja keuangan. bandung: alfabeta. kinney, william, burgstahler, david, & martin, roger. (2002). earnings surprise “materiality” as measured by stock returns. journal of accounting research vol. 40 no. 5 pp. 1297–1329. kothari, sp. (2001). capital markets research in accounting. journal of accounting and economics vol. 31 no. 1 pp. 105–231. heni agustina, rizki amalia elfita, the effect of earning surprise and earning per share on stock return 81 nurzahra, s. p. (2021). pengaruh return on assets (roa), earning per share (eps) dan net interest margin (nim) terhadap return saham (survey pada emiten sektor perbankan yang terdaftar di bursa efek indonesia) (doctoral dissertation, universitas siliwangi). moradi, mehdi, salehi, mahdi, & erfanian, zakiheh. (2010). a study of the effect of financial leverage on earnings response coefficient through out income approach: iranian evidence. international review of accounting, banking and finance, vol. 2, no. 2 pp. 104–116. putri, anggun amelia bahar, & sampurno, r djoko. (2012). analisis pengaruh roa, eps, npm, der, dan pbv terhadap return saham (studi kasus pada industri real estate and property yang terdaftar di bursa efek indonesia periode 2007– 2009). unpublished thesis, fakultas ekonomika dan bisnis. riyatno. (2007). pengaruh ukuran kantor akuntan publik terhadap earnings response cooefficients. jurnal akuntansi dan bisnis, vol. 5, no. 2, pp. 148–162. sasongko, noer, & wulandari, nila. (2006). pengaruh eva dan rasio-rasio profitabilitas terhadap harga saham. jurnal empirika, vol. 19, no. 1, pp. 64–80. savitri, dyah ayu & haryanto, a mulyo. (2012). analisis pengaruh roa, npm, eps, dan per terhadap return saham (studi kasus pada perusahaan manufaktur sektor food and beverages periode 2007–2010). unpublished thesis, fakultas ekonomika dan bisnis. scott, w. r. (2003). financial accounting theory. toronto: prentice hall. sugiyono. (2010). metode penelitian bisnis pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. sulistyanto, h. sri & clara susilawati. (2000). pedoman penulisan skripsi. semarang: penerbit universitas soegijapranata dan pusat pengkajian dan pengembangan akuntansi (p3a). ulfyana, dian farisa & purwanto, agus. (2011). analisis pengaruh laba unexpected, large working capital accruals, ukuran perusahaan, earning per share, dan investment opportunity set terhadap return saham. unpublished thesis, universitas diponegoro. weygandt, jerry j, kieso, donald e, & kimmel, paul d. (2005). financial accounting (vol. 1): john wiley & sons incorporated. zou, liping & chen, ruishan. (2017). earnings surprises, investor sentiments and contrarian strategies. international journal of economics and financial issues, vol. 7, no. 1. 01 adrian denar.pmd gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 6161 analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat program studi/jurusan sistem informasi, universitas dinamika jl. raya kedung baruk 98 surabaya, 60298 e-mail: contactgerdyade@gmail.com, ayouvi@dinamika.ac.id, candra@dinamika.ac.id abstract: the community’s need for higher education in indonesia continues to grow, seen from the increasing number of higher education institutions every year. dinamika university as one of 328 private universities (pu) in east java has implemented marketing tools using a website (www.dinamika.ac.id). however, the availability of the website has not been proven to be effective in attracting new students to register at dinamika university. especially new students from sidoarjo, as one of the areas with the highest number of new students at the dinamika university. from 5134 new students, 3785 students (74%) received admissions information through offline media, 1256 students (24%) through online media, and 93 students (2%) through other media. this study aims to analyze and design the dinamika university web page that can create buying interest in prospective new students based on significant web page design elements and can be proven through statistical methods. this study combines the pls-sem as an analytical method and the double diamond method in designing web page recommendations using warp pls 7.0 and adobe xd. 100 experimental respondents were obtained from the purposive sampling method. in the process of designing web page recommendations, the crazy 8 design method will be used to sketch design, super voting to select design recommendations, and usability testing to test prototypes. this study prove that there is a significant influence between visual web page design on customer experience, verbal web page design on customer experience, verbal web page design on buying interest, customer experience on buying interest, visual web page design on buying interest through customer experience. however, there is also an insignificant effect between visual web page design on buying interest, verbal web page design on buying interest through customer experience. the results of testing the prototype obtained an average score of “very good” in its usefulness value. keywords: double diamond, pls-sem, web design elements, customer experience, buying interest of new students prospective introduction the community’s need for higher education in indonesia continues to grow. this can be seen from the continued development of the number of higher education institutions in indonesia every year. in 2020, indonesia has a 270.20 million population with 4593 higher education institutions (direktorat jenderal pendidikan tinggi indonesia, 2020). private universities (pu) occupy the highest position with 3,044 institutions (66.27%), followed by religious universities (ru) with 1,204 institutions (27%), government-affiliated college (gac) with 187 (4 .07%), and state universities (su) with 122 institutions (2.66%). the high number of universities in indonesia is in line with the high competition between institutions in attracting the interest of new students. the number of new students in 2020 is 2,163,682 (direktorat jenderal pendidikan tinggi indonesia, 2020), which is dominated by pu with 4,374,994 (51.572%) new students. then business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 62 followed by su with 2,994,015 (35.293%) new students, ru with 939,986 (11.081%) new students, and gac with 184,218 (2,054%). the difference in the number is influenced by several reasons, namely the limited capacity of each agency to the varied interests of new students. as an institution with the highest number and market of new students in indonesia, private universities need to have a good marketing strategy to increase their competitive advantage and attract new students. in the era of society 5.0, the marketing strategy of higher education institutions today is also inseparable from integration with the internet (nastiti & abdu, 2020). according to (hananto et al., 2017) businesses that can compete in this era are businesses that have integrated themselves with the internet as part of their competitive advantage. in general, higher education institutions use websites to market their services and display agency profiles to new students. dinamika university as one of 328 private universities in east java (direktorat jenderal pendidikan tinggi indonesia, 2020) has implemented marketing tools using the website on www.dinamika.ac.id. the availability of the website as a marketing tool has not been proven to be effective in attracting new students to register at dinamika university. through observation at the student admissions, it was found that 3785 (74%) new students knew information about admissions through offline media (brochures, friends, teachers, family, visits, exhibitions, presentations, radio, and newspapers), 1256 (24%) through online media (website and internet), and 93 (2%) through other media. researchers also conducted pre-research observations on the condition of the dinamika university website. the results of these observations state that there are still obstacles in accessing the dinamika university website. of course, it will be very unfortunate if the website which is the spearhead of dinamika university marketing has not been fully effective in attracting new students. in the opinion of schlosser et al. in bleier et al (2019) states that success in growing competitive advantage online is stimulated through the provider’s understanding in compiling and arranging verbal and visual elements on web pages to gain a potential customers. this research was made primarly based on study by bleier et al. (2019), but there are differences in the scope of the discussion. interestingly, until now no further research has been carried out to develop and support the research of bleier et al. (2019) beyond online shopping. on this basis, this research is very important to do to develop previous research and to find out the main factors of webpage design elements that affect customer experience and buying interest in the realm of higher education in indonesia, especially dinamika university (anshori et al., 2020). this research will focus on four variables, visual web page design, verbal web page design, customer experience, and buying interest. the novelty in this research is the combination of the pls-sem method as an analytical method and the double diamond method in designing website recommendations. the combination of the two methods is expected so that the analysis process provides accurate and accountable results following the existing statistical theory. later, the outcomes of this studies are anticipated so as to offer a strategy related to the high number of new student admissions competitions at private universities (pu), specifically for dinamika university. gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 63 researchers also conducted pre-research observations by distributing questionnaires to 21 respondents from university students and the general public. the results of these observations state that there are still obstacles in accessing the dinamika university website. population and sample the population in the experimental process is 3rd-grade sma/ma/smk student in sidoarjo. while the sample in this study was some 3rd-grade sma/ma/smk student in sidoarjo in determining the minimum sample, refer to the “10-times rule” formula by hair et al. in kock & hadaya (2018). the minimum sample size is 10 times the largest number of arrows that pointing to all variables withinside the pls inner and outer model. in this study, the arrows pointing to variables in the pls inner and outer model is 5, so the minimum sample size estimate is 50 samples (10 x 5 = 50). based on sugiyono (2011) states that the minimum number of samples is in the range of 30-100 samples. so to get the maximum output, this study used 100 respondents and implementing the purposive sampling technique in the process. the purposive sampling technique is based on predetermined criteria or conditions. the sample criteria in this study are as follows: 1. 3rd-grade students of sma/ma/smk in sidoarjo. 2. mentally and physically healthy (not color blind and deaf). 3. interested study in college. define according british design council (2021), define is the stage where there is a process of defining the problem being faced from the uniresearch method figure 1 research methodology discover according to british design council (2021), discover is the stage where there is a process of in-depth understanding of a problem. in the process, at this stage, it will be carried out in 2 phases, literature study and research approach in the form of observation and experiment. study of literature the literature study stage is carried out by looking for references from journals and previous research that contains theories about website design elements, customer experience, buying interest, double diamonds, pls-sem, usability testing, and other literature reviews that support this research. observation this stage is carried out to observe and find out statistical data on new student registration which correlates with the promotion of the dinamika university website at the dinamika university admissions section. in addition, the business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 64 fication of various information and knowledge obtained from the discover stage. in this stage, the instrument testing process will be carried out using validity and reliability tests. in pls instrument testing can be represented by testing the outer model. after that, the measurement of the relationship between variables will be carried out using the pls-sem method using the warppls application. operational definition the variable and indicators in this research are based on other literature reviews that support this research. according to bleier et al. (2019), visual web page design contains indicators such as product/institution detail photos, lifestyle photos, photo sizes, and product/ institution videos. verbal web page design contains indicators such as language style, product/institution detailed description, product/ institution feature points, and return policy information. customer experience contains indicators such as informativeness, entertainment, social presence, and sensory appeals. according to ferdinand (2006), buying interest contains indicators such as transactional, referential, preferential, and explorative. table 1 operational definitions instrument test and data analysis the instrument testing consists of validity and reliability tests, but the pls-sem can be represented by the outer model test. in the process, according to candraningrat (2020) the outer model testing will include convergent validity test, discriminant validity test, and reliability test on cronbach’s alpha and composite reliability values. in the process, the inner model testing will include the model fit test, path coefficient test, and r2 test. hypothesis testing in statistics, a proposed hypothesis can be accepted or rejected through the calculation of its significance level (p-value). in this study, the desired level of significance is 5% or 0.05. so, if the p-value 0.05, then the hypothesis is accepted. meanwhile, if the p-value > 0.05, then the hypothesis is rejected. develop according to british design council (2021), develop is the stage where there is a process of developing solutions to the problems that have been identified. at this stage, website design recommendations will be developed based on the results obtained from the define stage. indicators of define stage results that do not have a significant effect will be ruled out in the website design recommendations. deliver according to british design council (2021), deliver is the stage where the process of testing alternative solutions to problems that have been identified is carried out in a small scope. at this stage, the design or prototype that has been built will be tested by implementing the usability testing method. gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 65 result and discussion define experiment results characteristics of respondents are used to group respondents based on the similarity of special characteristics to obtain information. the grouping of respondents can be seen in table 2. table 2 respondent characteristics based on table 3, this research used suitable indicators because the loading value is by the conditions while maintaining the indicator with a value of 0.40–0.60 (ridyah, 2020). table 4 ave test result characteristics count percentage gender 100 100% male 32 32% female 68 68% school type 100 100% sma 78 78% ma 15 15% smk 7 7% school origin 100 100% ma negeri sidoarjo 15 15% sma antartika 10 10% sma hang tuah 2 2 2% sma hang tuah 5 1 1% sma katolik untung suropati 4 4% sma negeri 1 porong 53 53% sma petra 4 sidoarjo 5 5% sma walisongo 1 1% sma negeri 1 gedangan 1 1% sma negeri 1 sidoarjo 1 1% sma negeri 1 tarik 1 1% sma negeri 2 sidoarjo 1 1% smk 10 november 2 2% smk antartika 1 1 1% smk plus nahdlatul ulama 1 1% smk negeri 1 buduran 3 3% outer model testing a) convergent validity table 3 combined-loadings and cross loading test result based on table 4, this research used suitable variables because the average variance extracted (ave) value is above the expected condition. table 5 standard error test result based on table 5, this research used suitable indicators because the standard error (se) value is above the expected condition. b) discriminant validity table 6 discriminant validity test result business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 66 based on table 6, this research used suitable indicators because they have the largest loading value between indicators and main variables. c) composite reliability and cronbach’s alpha table 7 composite reliability test result based on table 9 the model in this study has an apc of 0.275 and a p-value of < 0.001, an ars of 0.365 and a p-value of < 0.001, an aars of 0.347 and a p-value of < 0.001, an avif of 2.050, an afvif of 2.013, gof of 0.472 (large), spr of 0.800, rscr of 0.979, ssr of 1,000, nlbcdr of 1,000. so, the inner model in this study can be accepted. b) r2 test table 10 r2 test result based on table 7, this research used suitable variables because the composite reliability value is above the expected condition. table 8 cronbach’s alpha test result based on table 8, variables used in this study are feasible because the cronbach’s alpha value is above the expected condition. inner model a) model fit and path coefficient test table 9 model fit and path coefficient test result based on table 10, visual element web page, verbal element web page anda customer experience variable can affected buying interest variable by 18.5%. the other 81.5% can be affected by other variables outside of this research. the small value of r2 is because this research only focuses on university web page design by ignoring other variables such as facilities, service quality, price, location and brand image. while the visual and verbal web page design can effected buying interest by customer experience by 54.4%. the other 45.6% can be affected by other variables outside of this research. hypothesis test figure 2 effect sizes gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 67 or !0.05, so it has a significant and positive effect/h1 is accepted. if the quality of the visual web page design increases by 54.9%, the customer experience will increase by 54.9%. this increase was mainly supported by the institutional detail photo indicator. thus, it can be concluded that customer experience on the quality of a good visual web page design depends on displaying detailed photos of all elements of the university (academy, facilities, agenda, awards, etc.) on the dinamika university web page. h2: customer experience is significantly affected by verbal web page design. the verbal web page design and customer experience value is 0.246 and p-values 0.005 or !0.05, so it has a significant and positive effect/ h2 is accepted. if the quality of the verbal web page design increases by 24.6%, the customer experience will increase by 24.6%. this improvement was mainly supported by the language style indicator. thus it can be concluded that the customer experience on the quality of a good verbal web page design depends on the use of a communicative and easy-to-understand language style on the dinamika university web page. h3: buying interest of new students is significantly affected by visual web page design. the visual web page design and buying interest value is -0.052 and p-values 0.301 or >0.05, so it has no significant effect/h3 is not accepted. this is supported by the photo size indicator. thus, it can be concluded that the buying interest of new students is not affected by the size of the photo displayed on the dinamika university web page. this hypothesis is supported by various criticism from respondents. the existence of a pop-up banner that fills the screen and without an exit button is very annoying. the scroll mode for every single table 11 direct effects result table 12 indirect effects result table 13 total effect result based on table 13, the variable customer experience (z) has a positive path of 1 or 0.05. so that the customer experience variable (z) deserves to be intervening and is significant in mediating the visual web page design (x1) and verbal web page design (x2) on buying interest of new student (y). discussion h1: customer experience is significantly affected by visual web page design. the visual web page design and customer experience value is 0.549 and p-values <0.001 business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 68 page full of parallax effects has proven difficult to navigate web pages. the size of photos and videos on the dinamika university web page is deemed disproportionate and inconsistent because the quality of the photos is often blurry, not updated, and using too many dummy photos. when accessed using a cell phone, some sections or content are cropped. figure 3 parallax scroll mode the layout of the web page, which previously contained 10 sections, received a suggestion for a simpler and more efficient design. some sections are not even operable and are considered less important to display on the homepage. respondents provide criticism for displaying the facilities/advantages section because some people are interested in a university by its facilities. figure 4 there are too many sections figure 5 section cannot be operated figure 6 unnecessary sections figure 7 inconsistent and disproportionate photos figure 8 blurred photos figure 9 use of dummy photos figure 10 cropped section gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 69 thus, the use of visual content, both popup banners, layouts, number of sections, scroll mode, photo and video quality on the dinamika university web page must be improved again to increase positive impressions and buying interest in new students. h4: buying interest of new students is significantly affected by verbal web page design. verbal web page design and buying interest value is 0.207 and p-values 0.015 or !0.05, so it has a significant and positive effect / h4 is accepted. if the quality of the verbal web page design increases by 20.7%, the buying interest will increase by 20.7%. this increase was mainly supported by the language style indicator. thus, it can be concluded that the customer’s buying interest in the quality of a good verbal web page design depends on the use of a communicative and easy-to-understand language style on the dinamika university web page. h5: buying interest of new students is significantly affected by customer experience. the customer experience and buying interest value is 0.301 and p-values <0.001 or !0.05, so it has a significant and positive effect/h5 is accepted. if the quality of customer experience increases by 32.1%, buying interest will increase by 32.1%. this increase was mainly supported by the informative indicator. thus, it can be concluded that the buying interest of new students is influenced by a good customer experience depending on the availability of clear and useful information and general descriptions on the dinamika university web page. h6: buying interest of new students is significantly affected by visual web page design through customer experience. the visual web page design and buying interest through customer experience value is 0.177 and p-values 0.005 or 0.05, so it has a significant and positive effect/h6 is accepted. if the quality of the visual web page design increases by 17.7%, the purchase interest through customer experience will increase by 17.7%. this increase was mainly supported by the institution detail photo indicator. thus, it can be concluded that the buying interest of new students is influenced by customer experience on the quality of a good visual web page design depending on the detailed display of photos of all elements of the university (academy, facilities, agenda, awards, etc.) on the dinamika university web page. h7: buying interest of new students is significantly affected by verbal web page design through customer experience. verbal web page design and buying interest through customer experience value is 0.079 and p-values of 0.128 or >0.05, so it has no significant effect/h7 is not accepted. this is supported by the return policy information indicator. thus, it can be concluded that the buying interest of new students which is influenced by customer experience on the quality of the visual web page design does not depend on the information displayed on the registration refund policy on the dinamika university web page. this hypothesis is supported by various criticism from respondents. media content is too big that makes navigating a web page laggy and often crash when accessed primarily via mobile phones figure 11 no return policy information business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 70 so it reduces their experience and buying interest visitors. refund policy information for registration has not been displayed on the dinamika university web page. to access it, visitors must open another section on a different web page (www.penmaru.dinamika.ac.id). information of university’s advantages features such as facilities has not been displayed on the home page. the lack of description in some parts is also considered to reduce the visitor experience in navigating the dinamika university web page. university webpage designs into 4 main parts (homepage, faculties/facilities, agenda/news/innovation/achievements, and blog/post) to improve the efficiency of the design resources. supervoting to get results that are in line with the define stage, the selected respondents are those who meet the purposive sampling criteria. in the process, voting is done online via google form. the results of the voting on 31 respondents can be seen in table 14 dan figure 14. table 14 supervoting result figure 12 section without description figure 13 content without description thus, the use of verbal content, especially detailed information, descriptions of information as well as communicative and inviting language styles on the dinamika university web page must be increased again to increase positive impressions and buying interest of new students. develop crazy 8 design sketching is done to provide guidelines in making prototypes. in the process, the researchers designed and grouped the types of dinamika figure 14 selected recommendation design gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 71 design guideliness figure 16 homepage design figure 17 faculties/facilities in choosing the color, the primary color red (#a71a22) was inspired by the dinamika university logo which has been adjusted to make it comfortable to see. it is combined with gray (#f1f1f1) and white (#ffffff) to give a clean impression and place the user’s full concentration on the content (not the background). in figure 15 design guideliness choosing the type of font/typography, we chose a serif font with the characteristics of a no-tail/ stroke to give modern, minimalist, and timeless effects. the serif font chosen is poppins, designed by indian type foundry. this geometric and open source font has an attractive design language and reads well on various devices. prototype business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 72 figure 18 agenda/news design usability testing task table 15 usability testing task figure 19 blog/post design deliver in this stage, respondent are given the opportunity to operate the dinamika university website prototype with the tasks that have been prepared by the researcher. the usability testing elements are learnability, memorability, error handling, and satisfaction. usability testing result based on the test results, it can be concluded that the score for the learnability element is 92/100, efficiency is 88/100, memorability is 88/100, error handling is 84/100, and satisfaction is 90/100. so that the final average obtained is 88.58064516 ~ 89, thus this prototype has been classified as very good, feasible, and does not need to be iterated again. conclusion based on the results of the analysis, design, and implementation, it can be concluded that customer experience is significantly affected by visual web page design, mainly by institution details photo. so that the customer experience on the quality of a good visual web page design depends on displaying detailed photos of all elements of the university (academy, facilities, agenda, awards, etc.). the customer experience is significantly and positively affected by verbal web page design, mainly by language style. so that the customer experience on the quality of a good verbal web page design depends on the use of a communicative and easy-to-understand language style. the buying interest of new student is not significantly affected by visual web page design, gerdy ade irfandy, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat candraningrat, analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo 73 mainly by photo size. so that the buying interest of new students is not affected by the size of the photo displayed. the buying interest of new student is significantly affected by verbal web page design, mainly by language style. so that the customer’s interest in buying through a good quality verbal web page design depends on the use of a communicative and easy-to-understand language style.the buying interest of new student is significantly and positively affected by customer experience, mainly by informativeness. so that the buying interest of new students is influenced by a good customer experience depending on the availability of clear and useful information and an overview related to the dinamika university for customers. the buying interest is significantly affected by visual web page design through customer experience, mainly by institutional detail photos. so that the buying interest of prospective new students is influenced by customer experience on the quality of a good visual web page design depending on the detailed display of photos of all elements of the university (academy, facilities, agenda, awards, etc.). the buying interest is not significantly affected by verbal web page design through customer experience, mainly by return policy information. so that the buying interest of prospective new students who are influenced by customer experience on the quality of the visual web page design does not depend on the display of information about the registration refund policy on the dinamika university web page. based on the test results from the recommendation of the dinamika university website prototype design using the usability testing method, the final average score was obtained in the “very good” category in its usability value. references adianita, a. s., mujanah, s., & candraningrat, c. (2017). kompetensi karyawan, emotional quotient dan self efficacy pengaruhnya terhadap organizational citizenship behavior dan kinerja karyawan pada indomobil grup di surabaya. jurnal riset ekonomi dan manajemen, 17(1), 199. https:// doi.org/10.17970/jrem.17.170114. id. anshori, m. y., karya, d. f., fatmasari, d., & herlambang, t. (2020). a study of revsit intention: beach image, beach uniqueness, beach authenticity, attraction and satisfaction in lombok beach nusa tenggara barat. test: engineering & management, 83(1), 2988–2996. bleier, a., harmeling, c. m., & palmatier, r. w. (2019). creating effective online customer experiences. journal of marketing, 83(2), 98–119. https://doi.org/10.1177/ 0022242918809930 british design council. (2021). what is the framework for innovation? design council’s evolved double diamond. https://www. designcouncil.org.uk/news-opinion/whatframework-innovation-design-councilsevolved-double-diamond. candraningrat, c. (2020). the effect of entrepreneurship education on interests of entrepreneurship through self awareness in students in surabaya. jmm17, 7(01), 34–45. https://doi.org/10.30996/jmm17. v7i01.3545. candraningrat, c., oktaviani, o., & suhandiah, s. (2018). analysis of the success factors for msme succession in surabaya: a principal component analysis. journal of economics, business & accountancy ventura, 21(2), 207–217. https://doi.org/10.14414/ jebav.v21i2.1381 business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 74 direktorat jenderal pendidikan tinggi indonesia. (2020). statistik pendidikan tinggi. ferdinand, a. t. (2006). metode penelitian manajemen: pedoman penelitian untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasi ilmu manajemen. hananto, v. r., churniawan, a. d., & wardhanie, a. p. (2017). perancangan analytical crm untuk mendukung segmentasi pelanggan di institusi pendidikan. jurnal ilmiah teknologi informasi asia, 11(1), 79. https://doi.org/10.32815/jitika.v11i1. 55. kock, n. & hadaya, p. (2018). minimum sample size estimation in pls-sem: the inverse square root and gamma-exponential methods. information systems journal, 28(1), 227–261. https://doi.org/10.1111/isj.12131. karya, d. f., rasyid, r. a., & candraningrat. (2021). entrepreneurial commitments: study at woman entrepreneurs in surabaya. proceedings of the 2nd international conference on business and management of technology (iconbmt 2020), 175, 31– 37. https://doi.org/10.2991/aebmr.k.2105 10.007. karya, d. f. (2020). customer loyalty perspective developed from customer commitment. journal of applied management and business (jamb), 1(1), 20–26. https:// doi.org/10.37802/jamb.v1i1.61. mujanah, s. & aini, s. n. (2020). transformational leadership, kondisi kerja dan budaya organisasi pengaruhnya terhadap kinerja karyawan. business and finance journal, 5(2), 155–164. nastiti, f. & abdu, a. (2020). kajian: kesiapan pendidikan indonesia menghadapi era society 5.0. edcomtech jurnal kajian teknologi pendidikan, 5(1), 61–66. https:/ /doi.org/10.17977/um039v5i12020p061. ridyah, r. (2020). berwirausaha melalui mediasi self awareness. sugiyono. (2011). metode penelitian kuantitaif kualitatif dan r & b. alfabeta. wardhanie, a. p. & arnandy, d. a. (2020). pengaruh kemampuan dan pengetahuan managerial serta lingkungan eksternal terhadap investasi teknologi di era 4.0 pada ukm di kota surabaya. business and finance journal, 5(2), 95–100. https:/ /doi.org/10.33086/bfj.v5i2.1790. wardhanie, a. p. (2017). peranan media digital dalam mempertahankan budaya lokal indonesia di era globalisasi. penguatan komunitas lokal menghadapi era global, 348–353. wardhanie, a. p. & kumalawati, d. (2016). analisis business model canvas pada perpustakaan institut bisnis dan informatika stikom surabaya dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi. july, 1–23. wardhanie, a. p., kartikasari, p., & wulandari, s. h. e. (2018). pertumbuhan bisnis melalui metode o2o pada usaha mikro, kecil dan menengah (umkm) di indonesia. jurnal ilmiah bisnis dan ekonomi asia, 12(2), 76–83. https://doi.org/10.32812/ jibeka.v12i2.10. yanu, a., fianto, a., & candraningrat. (2018). the influence of destination brand communication and destination brand trust toward visitor loyalty of marine tourism in east java, indonesia. international journal of civil engineering and technology, 9(8), 910–923.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                01 adrian denar.pmd adrian d.w.n., slamet r., sunu p., the effect of health protocol, work from home, information technology system, and work life balance on employees' performance of bank indonesia 11 the effect of health protocol, work from home, information technology system, and work life balance on employees' performance of bank indonesia representative office in east java province adrian denar wahyu nugraha, slamet riyadi, sunu priyawan faculty of economics and business, university of 17 august surabaya e-mail: gavinalhaaziq@gmail.com abstract: this study is to prove and analyze the effect of health protocols, work from home and information technology systems on the work life balance and employee performance at the bank indonesia representative office in east java province. the method used in this study is quantitative and explanatory in nature, namely a study that highlights between variables and tests a hypothesis that has been formulated in the form of causality (influence) that examines the effect (determinant) of one or more independent variables on one or more dependent variables. keywords: health protocols, work from home, information technology system, work life balance, performance introduction the covid-19 patients continues to experience a fairly significant increase now. the public has been advised to stay at home with the aim to stop the chain of spreading covid-19. however, under certain conditions, there are people who still have to leave the house to carry out activities. therefore, to remain safely under control, for activities outside the house, the ministry of health (kemenkes) created a health protocol. the ministry of health creates a detailed health protocol through the decree of the minister of health of the republic of indonesia no. hk.01.07/menkes/382/2020 regarding the health protocol for the community in public places and in the prevention and control of corona virus disease 2019 (covid19). the purpose of this health protocol is to provide guidelines for the community in carrying out life during the new normal. this era forcibly changes people’s lifestyles to adapt to new habits so that people at the same time can be productive and minimize the change of the transmission of covid-19. one of the mandatory health protocols is wearing a mask every time you leave the house, frequently washing your hands with soap and clean water, and keeping a distance of at least one meter from other people. in hope that the application of this new habit will bring a cleaner and healthier lifestyle that leads to strengthen the immune system. the health protocol is applied to anyone who is doing an activity or is in a public area. therefore, the government issued an attitude of implementing social distancing to prevent transmission and recommending a policy where employees are required to apply both working from home and work from the office. the information is based on article 86 paragraph (1) a in the manpower law no. 13 of 2013 which said, every worker/laborer has the right to obtain protection for occupational safety and health. working from home or what can be called work from home (wfh) has the same obligabusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 2 tions and responsibilities as when doing work in the office. the implementation of wfh has challenges and obstacles that are difficult to do because not all sectors of work can be done at home. there are several factors that can affect the operation of wfh, for example, the unavailability of work equipment, lack of coordination, the emergence of “domestic” disturbances in the household, and others. working from home also needs mental stability, being able to distinguish between work and home affairs, so a work-life balance is needed. work-life balance is an individual’s capacity to balance the demands of work and individual or family needs. therefore, individuals who have a high wlb level can be seen that the individual has succeeded in creating a balance between the demands of the targeted work and the lives of the individual himself or his family. during the early pandemic, there are employees who feel they have failed because they cannot create a wlb atmosphere. failure to create a balanced atmosphere between work and individual life can lead to decreased levels of health and impact on individual, family, or organizational performance. the application of wfh has several advantages and disadvantages. the advantages are that wfh activities give a chance to more freely complete their work, no office hours, no need mobile costs which minimize gasoline costs, can reduce stress levels due to traffic jams while traveling, and can have a lot of free time. the disadvantages of implementing wfh are the loss of motivation to work, additional costs for electricity and internet networks, unstable network when conducting face-to-face online/video calls or virtual meetings, unsupported environment. good employee performance will be achieved if employees feel comfortable working in an organization where distributed a balanced workload and supported a balanced individual life. those are in line with the quality of increasing work and individual lives. currently, the use of information technology and telecommunications has been implemented for home workers (teleworkers) of the company. the development of technology is now very rapid, this development has provided many benefits in various dimensions. development is continuous, especially with information and communication technology which is supported by the technology. this development can help humans in completing various jobs that are a must for the survival of life. not only that, but technological developments must also be followed by the development of human resources. the development of information technology provides a faster and more accurate decision-making process. it does not need an exact place and time in carrying out the work. its development is not only in years, months, or days but also hours, even minutes and seconds, especially with the advanced technology. the use of technology by humans in helping to complete work is a must in life. technological developments should also be followed by developments in human resources. the development of information technology can facilitate the acceleration and accuracy of decision-making. information technology does not integrate with the place and time in carrying out the work. digital transformation also brings bank indonesia into digital in everything. change in policies and institutions by building an omni experience using the latest technology (big data, adrian d.w.n., slamet r., sunu p., the effect of health protocol, work from home, information technology system, and work life balance on employees' performance of bank indonesia 3 you meet other people, the chances of getting infected with the corona virus will be higher. (5) reduced mobility; the virus that causes corona can be anywhere. the more time you spend outdoors, the higher your exposure to the virus. therefore, if there is no urgent need, it is better to stay at home. work from home with the implementation of the health protocol, many organizations make rules that employees must carry out work from home (wfh) (mustajab, et al., 2020, candraningrat, 2017). (bloom et al., 2015) argue that treating employees with wfh creates two main problems. first, whether this can provide benefits for increasing productivity and profitability. second, there is concern regarding a poor worklife balance (wlb) and the role of wfh to overcome this problem. wfh has become a policy followed by many organizations and can be very beneficial for organizations. the implementation of wfh in indonesia is strictly applied to minimize the spread of covid-19. therefore, there is a manager’s decision to do wfh which is useful for maintaining employee productivity. wfh is ideal for informants who live far away so they can maintain productivity due to savings in transportation costs and time (de vos, meijers & van ham in mustajab, et al. 2020). the implementation of wfh will not reduce the performance but can actually improve it during the pandemic, as research results from lilis sulastri (2021) show that work from home has a direct and significant effect on employee motivation and performance, this shows that employees who apply wfh can produce high performance. likewise, the results of her research ibriati kartika alimuddin (2021) that the ai, iot) as well as reliable and secure infrastructure with the aim of supporting the development of indonesia, maintaining the authority of the central bank and welcoming digital civilization. literature review health protocol health protocols have been implemented in indonesia since the coronavirus pandemic at the end of 2019 to prevent the virus transmission from people to others. health protocols are guidelines or procedures for activities carried out in order to ensure individuals and communities remain healthy and protected from certain diseases (arifin, 2020). in indonesia, the government makes health protocols, which are more often referred to as recommendations for complying 5m, which consist of (1) washing hands; namely the recommendation to wash hands with soap and clean water for 20 seconds a day, especially before cooking or eating, after using the bathroom, or after covering the nose when coughing or sneezing. in order to kill viruses and other germs. (2) wear a mask; the world health organization (who) issued an appeal for everyone (whether healthy or sick) to always wear a mask when doing activities outside the house. (3) maintain a distance; according to the decree of the indonesian minister of health, there are rules for maintaining a minimum distance of 1 meter from other people to avoid being exposed to droplets from people who talk, cough, or sneeze, as well as avoid crowds. (4) stay away from crowds; according to the indonesian ministry of health (kemenkes), people are asked to stay away from crowds when outside their homes. because often, when business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 4 implementation of work from home (wfh) can affect the employee’s performance, this is in accordance with the results of her research. information technology system systems that work done from home requires employees to understand a technology information as a means and media for communicating in carrying out their work, according to sutabri, (2014) information technology is a technology for data processing, processing, compiling, storing, manipulating and collecting data in various ways to obtain quality results in the form of relevant, accurate information, timely for individual, business, and government needs and good strategy for decision making. the use of information technology by employees can affect their performance, this is in accordance with the research results of mukhammad hilmi muzakki et al. (2021), as well as the results of hendra gunawan et al. research (2016) stated that the use of information wireless technology and information technology has a significant effect on employee performance. work life balance in addition to information technology, employees who do wfh do not rule out the possibility that it will affect the work life balance (wlb) related to working time, flexibility, welfare, family, and others. wlb is essential because if it is not achieved, it can result in low job satisfaction, affect level of happiness, work life conflict, and fatigue. wlb includes the balance of work-free and individual life in the direction of increasing the quality of work and individual life (fishermcauley, stanton, jolton, & gavin, 2003. wlb is a condition of individuals who are able to divide roles and feel the emergence of satisfaction in that role which is shown by the low level of work family conflict and high level of work family facilitation (handayani, 2013) according to research results badrianto et al (2021) state that work life balance has a positive and significant effect on employee performance. performance performance according to mangkunegara, (2015) is work results based on the quality and quantity of the employee achievements when carrying out tasks that are in accordance with the responsibilities. according to mahsun, (2006) and the results of his research, wiandari and darma, (2017), state that performance is a representation related to the level of achievement of concept of program to realize the goals, objectives, the existing mission and vision of the organization in incorporate strategic planning. so that performance can be interpreted as an activity carried out to complete the tasks and responsibilities given in order to achieve the goals that have been set (mujanah, 2019). research method this research is explanatory, namely research that pays attention between variables and examines hypotheses in the form of causality (effect) which examines the influence (determinant) of one or more independent variables on one or more dependent variables. these independent variables are health protocol, work from home, information technology system, and work life balance, while the dependent variable is employee performance. adrian d.w.n., slamet r., sunu p., the effect of health protocol, work from home, information technology system, and work life balance on employees' performance of bank indonesia 5 population and sample the population in this study were all 100 employees of the bank indonesia representative office in east java province. while the sampling in this study was the total population, namely all employees of the bi representative office of east java province who underwent work from home, and it turned out that 100 employees had alternately experienced wfh so all were taken as samples in this study. data collection techniques the data sources used in this study are primary data sources, which were taken using a survey method through a questionnaire instrument which was filled in directly by the respondent through a google form. data analysis and hypothesis testing before the data was analyzed, a validity test was carried out by calculating the pearson interrelation of each item score with a total score and the results were valid. meanwhile, the reliability test using chronbach’s alpha score > 0.60 and the test results of all variables showed a value above 0.60 or reliable. hypothesis testing was carried out with the spss software program (solimun, 2013) along with the smartpls software version 2.0.m3 analysis results based on the multiple linear regression results obtained from each variable in the study consisting of health protocols, work from home (wfh), information technology systems, and work life balance on employee performance is as shown in table 1. table 1 shows the results of multiple analysis, thus followed to the regression equation: y = a +bx 1 + bx 2 + bx 3 +bx 4 then it becomes: y = 2.545 + 0.194 + 0.185 + 0.801 + 0.833 based on the above equation then a value is 2.545. indicates that without variable protocol health, work from home (wfh), information technology systems, and work life balance, the performance in getting amounted to 2,545 but if the health protocol is improved in the workplace, the employee’s performance will increase by 0.194 although this is not high but model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 (constant) 2545 .240 10 618 .000 health protocol .194 .052 .355 3765 .000 work from home .185 .050 .351 3708 .000 information technology system .055 .825 14,444 .000 .801 work life balance .833 .151 .486 5.500 .000 a.� dependent variable: employee performance table 1 results of multiple regression analysiscoefficientsa business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 6 that the third hypothesis in this study was accepted, so it can be stated that employees who have it skills will have higher performance. testing the 4th hypothesis about the effect of work life balance on performance shows that the t-test value of 5.55 and a probability value of 0.00 indicates that the hypothesis is accepted, so it can be interpreted that if employees are faced with a work life balance situation, the employee will improve its performance. the discussion the health protocol that was implemented turned out to be able to improve employee performance during the covid-19 pandemic, this was evident from the results of testing the hypothesis that the health protocol had a positive effect on employee performance. this means that the health protocol applied to employees at bank indonesia in the form of guidelines for activity procedures in order to ensure that individuals and communities remain healthy and protected from certain diseases (arifin, 2020) has been successful, because it will affect the performance of bank indonesia employees in carrying out their duties in accordance with responsibility despite working with health protocols. work from home (wfh) has a positive and significant effect on employee performance at bank indonesia in east java. the results were supported by lilis sulastri’s research (2021) which states that work from home has a direct and significant effect on employee performance. likewise, the results of the research by alimuddin (2021) said, the application of work from home (wfh) to employees can affect their performance, and also the results of research by suspahariati and susilawati (2020) it can reduce the chance of virus transmission that employees have peace of mind at work. the implementation of work from home also has an impact on employee performance and this can also increase their performance by 0.185, while technology systems such as the use of the internet, online systems and other devices can increase performance by 0.801 and even this has the highest effect on increasing employee performance. and the highest is that work life balance can also improve employee performance. the higher the work life balance, the better employee performance will. hypothesis testing table 1 also shows the results of hypothesis testing as follows: the results of hypothesis testing indicate that the application of health protocols has a significant effect on employee performance at bank indonesia, east java province, this is in accordance with the results of the t test showing a number of 3.765 with a significant probability of 0.00. it means that the implementation of the health protocol at the bi office in east java can improve employee performance. the results of testing the second hypothesis which states that work from home has a significant effect on employee performance shows a t-test number of 3.708 and a significant probability of 0.00. this means that the implementation of wfh by employees can improve performance during the pandemic period like this because with wfh employees still being able to work at home without having to worry about the current covid outbreak. the results of testing the hypothesis of the influence of information technology systems on employee performance resulted in a t-test of 14.44 and a probability value of 0.00 indicating adrian d.w.n., slamet r., sunu p., the effect of health protocol, work from home, information technology system, and work life balance on employees' performance of bank indonesia 7 stated that the application of work from home does not make employee performance experience a decrease in work quality although there is a slight negative impact from the implementation of wfh. wfh at bank indonesia is a policy or an arrangement as the alternative where employees work from their own homes, for example, their homes are far from the main office, at least most of the work schedule is carried out at their homes by using the technology to interact with other members of the office. while doing the work (bailey & kurland (2002); baruch, (2001); feldman & gainey (1997), during the covid pandemic it turned out that the wfh method had been successfully implemented, because it could improve the performance of bank indonesia employees in completing tasks in accordance with their responsibilities even though they work from home. the results of this study indicate that the information technology system (x3), influence the employee’s performance. it was supported by the research results of mukhammad hilmi muzakki et al. (2021) which states that the use of information technology by employees could affect their performance, also another research results by hendra gunawan et al. (2016) which states that the use of information technology has a significant effect on employee performance. the information technology system at bank indonesia is a technology for processing, obtaining, compiling, storing, and manipulating data in various ways to obtain qualified data information. namely the relevant, accurate and timely information, for personal, business and government purposes. strategic data is used as a basis for decision making that has been successfully applied, thus making it comfortable for employees to work well. information technology system has an effect on performance employees of bank indonesia in east java, this indicates that if there is an information technology system as a main support for employees to work, the employee’s performance will increase. this is because facilities provided, it, play a big role to work that must be done at home, it requires technology facilities that support employees in carrying out their work performance. bank indonesia employees who carry out their duties in accordance with their responsibilities because there are adequate information technology system facilities from bank indonesia. work life balance has a significant effect on the performance of bank indonesia employees, this shows that the work life balance owned by employees at bank indonesia can improve their performance. work life balance is a condition where bank indonesia employees can apply situations and conditions at work while maintaining a balance between responsibilities in carrying out work and their roles in carrying out as members/heads of families, as well as activities outside of work, and it turns out that conditions like these can affect employee performance. it can be said that bank indonesia employees have succeeded during a certain period of time in balancing their lives from work and their private life. the results of this study support the research results of indawati and witjaksono study in 2021 which stated that wlb has a significant effect on lecturer performance. likewise, the results of the research by badrianto et al (2021) stated that work life balance had a positive and significant effect on employee performance. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 8 conclusion based on the results of data analysis and monitoring, it can be concluded that the health protocol has a significant effect on employee performance, because with the health protocol, employees can composedly feel protected from the covid virus so they can work more peacefully. work from home also affects employee performance. it does not make employee performance experience a decrease in work quality but there is a slight negative impact from the implementation of the wfh. information technology system has a significant effect on employee performance, because the information technology system can make it easier for employees in coordinating, reporting, obtaining information and data as material for completing work. work life balance has a significant effect on performance employees of the bi representative office in east java province, this indicates that employees who have a work life balance condition can work better. suggestions based on the conclusion, it is suggested that the employees of the bi. representative office of east java province during this covid-19 pandemic to continue to be disciplined in implementing the new lifestyle protocol, and a healthy behavior. as for the organization of the bank indonesia representative office in east java province can still use work from home regulation with normal proportions even during the new normal period because it can improve their employee’s performance. in addition, information technology is also still being used considering that currently the use of information technology is inevitable in carrying out work. for further researchers, it is recommended to take research with other variables such as individual characteristics, work life balance on performance and collaborate with researchers from the field of psychology to review the detailed relationship between these variables. references arifin. (2020). covid-19 dalam ragam tinjauan perspektif. mcbridge press. ashar, khafit, siti mujanah, & murgianto murgianto. (2019). “pengaruh kompetensi, dukungan organisasi terhadap kinerja guru dengan motivasi sebagai variabel intervening pada yayasan pendidikan cendekia utama surabaya.” management & accounting research journal 4.1. bailey & kurland (2002); baruch. (2001). feldman & gainey. (1997) dalam holland et al. (2016). bloom et al. (2015). bloom, n., liang, j., roberts, j., & ying, z. j. (2015). does working from home work? evidence from a chinese experiment. quarterly journal of economics. https://doi.org/10.1093/qje/ qju032. candraningrat, c. (2017). pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya. business and finance journal, 2(1). candraningrat, c. (2019). monograf faktor kesuksesan suksesi umkm di kota surabaya principal component analysis. fisher-mcauley, g., stanton, j., jolton, j., & gavin, j. (2003). modelling the relationship between work life balance and adrian d.w.n., slamet r., sunu p., the effect of health protocol, work from home, information technology system, and work life balance on employees' performance of bank indonesia 9 organisational outcomes. in annual conference of the society for industrialorganisational psychology. orlando (pp. 1–26). friedman, dkk. (1997). ginekonologi, edisi kedua. jakarta: binarupa aksara. handayani, arri dkk. (2015). studi eksplorasi makna keseimbangan kerja keluarga pada ibu bekerja. semarang: seminar psikologi & kemanusiaan. hendra gunawan (2018) pengaruh penggunaan teknologi informasi terhadap kinerja karyawan, jurnal informatika dan sistem informasi, vol. x, no. 2. ibriati kartika alimudin (2021). pengaruh work from home terhadap kinerja karyawan pada masa pandemi covid 19, studi kasus pada bank btn. journal of management, vol. 4, (2). k.m ashar, s. mujanah, & murgianto. (2019). pengaruh kompetensi, dukungan organisasi terhadap kinerja guru dengan motivasi sebagai variabel intervening pada yayasan pendidikan cendekia utama surabaya. management & accounting research journal global, vol. 4, no. 1. lilis sulastri. (2021). pengaruh work from home terhadap kinerja karyawan di masa pandemi covid-19. jurnal ilmiah nasional vol. 3 (3). mahsun, mohamad. (2006). pengukuran kinerja sektor publik, cetakan pertama. yogyakarta: penerbit bpfe. mangkunegara, a.p. (2015). manajemen sumber daya manusia perusahaan. bandung: pt remaja rosdakarya. mardhotillah, r.r., karya, d.f., saadah, c., & rasyid, r.a. (2021). the antecedents of employee’s performance: case study of nahdlatul ulama university of surabaya, indonesia. in iop conference series: earth and environmental science (vol. 747, no. 1, p. 012–112). iop publishing. mukhammad hilmi, muzakki, heru susilo, saiful rahman, & yuniarto (2021). pengaruh penggunaan teknologi informasi terhadap kinerja karyawan (studi pada karyawan pt telkom pusat divisi regional v surabaya). jurnal administrasi bisnis (jab), vol. 39. no. 2. mustajab, dkk. (2020). fenomena bekerja dari rumah sebagai upaya mencegah serangan covid-19 dan dampaknya pada produktivitas kerja. the international journal of applied business. solimun. (2002). structural equation modelling (sem) lisrel dan amos. malang: fmipa universitas brawijaya. suspahariati & ririn, s. (2020). penerapan sistem wfh (work from home) dan dampaknya terhadap kinerja staf dan dosen unipdu jombang selama pandemi covid-19. jurnal manajemen dan pendidikan islam. vol. 6, no. 2, pp. 229–240. tata sutabri. (2014), analisis sistem informasi, andi, yogyakarta. wiandari, i.a.a. & darma, g.s. (2017). kepemimpinan, total quality management, perilaku produktif karyawan, kinerja karyawan dan kinerja perusahaan. jurnal manajemen & bisnis, 14 (2): 61–78. yuan badrianto dan muhamad ekhsan (2021). “pengaruh work life balance terhadap kinerja karyawan yang di mediasi komitmen organisasi. jurnal ekonomi & ekonomi syariah, vol. 4 (2). … keputusan menteri kesehatan ri no. hk. 01.07/menkes/382/2020.https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/kmk_ no._hk.01.07-menkes-382-2020. 01 adrian denar.pmd salsabila hana haninda, rizki amalia elfita, the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach 9393 the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach salsabila hana haninda1, rizki amalia elfita2 1fakultas ekonomi dan bisnis, universitas airlangga 2fakultas ekonomi bisnis dan teknologi digital, universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: hanahnd9@gmail.com abstrak: the study aims to examine the influence of perceived behavioral control on ethical behavioral intention and examine the moderating role of religiosity on the relationship between perceived behavioral control and ethical behavioral intention. this is quantitative research by adding discussing explanations. data were obtained from 110 questionnaires distributed to auditors in public accounting firms located in surabaya. the statistical analysis used is partial least square (pls). the results of the study indicate that perceived behavioral control positively affects the ethical behavioral intention of auditors. moreover, the results of the study show that religiosity has an influence on ethical behavioral intention, but it does not moderate the auditor’s perception of behavioral control. keywords: perceived behavioral control, religiosity, ethical behavioral intention introduction public accounting professions have honored the public trust for serving an assessment of financial statements. in carrying out the profession, public accountants are required to produce qualified audit reports following all applicable principles, standards, and laws. as stated in public company accounting oversight board (pcaob), in paragraph 2 of auditing standards 1001, an auditor has a responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable assurance about whether the financial statements are free of material misstatement, whether caused by error or fraud. not only find the error or fraud, but auditors must also communicate the fraud to management, the audit committee, and others (as 1001 paragraph 79). unfortunately, fraud cases committed by company management involving auditors of public accounting firms frequently happen. in indonesia, for example, pt sunprima nusantara pembiayaan (snp) finance, a subsidiary of columbia group, was manipulating their financial statements, and it was involving two public accountants; marlina public accountant and merliyana syamsul public accountant, also public accounting firms satrio bing eny & partners (sbe), under deloitte indonesia entity. based on snp finance’s financial report, they issued an opinion “fair without exception”. however, financial services authority (ojk) showed a different result, stated that snp finance experiencing default payment of mediumterm notes (mtn) which was not included in the report of sbe public accounting firm (hidayat, 2018). earlier, a similar case was carried out by three directors of pt waskita karya and two public accounting firms. the ministry of state-owned enterprises deactivated two directors of pt waskita karya related to the case of manipulating financial statements in 2004–2008 when they will conduct an ipo in 2008 (melinda, 2017). numbers of fraud that occur as well as the involvement of auditors arise due to a lack of business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 94 ethical awareness of auditors causing an ethical dilemma to emerge that directs auditors to take actions that are contrary to ethics. as stated by ponemon (1990), ethics is the cornerstone of public accounting practice. this is following the previous research stated the fact that occurs in the various frauds always starts from unethical behavior (dallas, 2002). it is also supported by cima (2002) as cited by wilopo (2006) which states that a company with a low ethics standard is likely to have high accounting fraud risk. therefore, auditors in public accounting firms need to improve their ethical behavior so that the number of frauds will decrease. ethical behavior is defined as one that is both “legal and morally acceptable to the larger community,” whereas unethical behavior is defined as one that is both “illegal and unacceptable to the larger community” (jones, 1991). it can be interpreted that ethical behavior is an action that can be accepted by a community and is not contradictory to moral values (amalia, 2018). in exploring human behavior, the theory of planned behavior (tpb) is applied to explain various behaviors, including a study about ethical behavior. tpb has been used extensively to investigate and predict various types of workplace behaviors and is regarded as one of the widely employed theories among management researchers (ferdous & polonsky, 2013). attitude, subjective norm, and perceived behavioral control are the three main constructs of tpb. dreana (2012), quoted lu et al. (2010) defines attitude as an evaluation of confidence if it should display the desired behavior. the subjective norm is an individual’s subjective normative beliefs that to what extent the significant others will approve or disapprove of her/his performing the behavior (cheung & chan, 2000). the belief in ones’ self, also known as perceived behavioral control, is a strong predictor of decision-making in social settings (i. ajzen, 1985). the perceived behavioral control is the perceived ease or difficulty of performing a behavior under different situations when the behavior may go beyond one’s controllable aspects of predicting behavior directly or through intention (i. ajzen, 2012). in this study, we will use pbc as the main focus. pbc is the largest domain in the individual that is formed by cognitive factors that are owned by individuals. knowledge becomes key in shaping the construct of perception of behavior so that good or bad behavior is determined by the merits of an individual’s knowledge. perception of control becomes a major construct for individuals who prioritize ways of thinking as a foundation in making a decision. pbc will encourage individuals to explore the knowledge they have, so it brings up the right behavior and decision for individuals. in the era of highly business completion, more temptations will be faced by the auditors, so does the amount of pressure. according to the fraud triangle theory, the higher the pressure they face, the greater the intention to commit fraud. therefore, we need a situational variable that can strengthen auditors’ behavior control so that ethical behavior can increase. in this study, the variable being used is religiosity. the researchers have found a positive relationship between strong religion following ethical behavior. religiosity has a clear impact on human behavior and attitudes (weaver & agle, 2002). moreover, one of the most interesting socio-cultural value systems that have been proposed as relevant to ethical behavior in the workplace is religiosity (singhapakdi, vitell, lee, mellon, & yu, 2013). mcdaniel & burnett (1990) defined religiosity as “a belief in god accompanied by a commitment to follow principles believed to be set by god.” religiosity is salsabila hana haninda, rizki amalia elfita, the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach 95 (morrison, gillmore, simpson, & wells, 1996), literary reading (miesen, 2003), and so on. a study by kashif et al. (2017) demonstrated that aspects of the extended theory of planned behavior (etpb) can be successfully applied to the investigation of a developing country’s bank managers’ intention to behave ethically. they also found that the most important contribution to the literature lies with the incorporation of religiosity into the etpb and the empirical testing of its effect on bank managers’ intentions to behave ethically, which means religiosity plays an important role in shaping ethical behavior. in line with the previous research, we propose religiosity as an element moderating the effect of existing tpb constructs on ethical behavioral intentions. this statement is supported by ajzen (2005) that religiosity is a strong predictor of behavior. the religious beliefs of an individual will influence his or her ethical decision-making process (hunt & vitell, 1986). employees who score high on religiosity tend to exhibit higher levels of perceived behavioral control (walker, williams, lombrozo, & gopnik, 2012). with the higher levels of pbc, it is expected that it will help individuals to act or behave ethically. this statement is echoed with weaver & agle (2002), individuals who strictly follow religious principles score high on religiosity and are more likely to exhibit an attitude that fosters ethical intent. conceptual framework of all the models that aim to predict human behavior the tpb (ajzen, 1991) stands out for its being well-documented and applicable to a variety of decision-making processes, and it has been used extensively to investigate and predict various types of workplace behavioral intents (kashif et al., 2017). the tra and the not a unidimensional concept (allport & ross, 1967); rather, it pertains to various elements of religion. it includes belief, practice, knowledge, experience, and the effects of those elements on daily activities (o’connell & connolly, 2008). it can be interpreted that religiosity is an understanding of beliefs that are manifested in daily behavior as a guide. literature review theory of planned behavior ajzen and fishbein (1980) introduced the tpb as the extension of the theory of reasoned action (tra), which provides a framework for understanding the factors that affect ethical behavioral intentions in the workplace. the tpb framework was first introduced by ajzen & sexton (1999), explaining three main constructs of tpb that direct behavioral intentions which are the attitude toward behavior, subjective norms, and perceived behavioral control. attitudes toward behavior and subjective norms are two main constructs of tra. based on an earlier finding, attitude toward behavior and subjective norms have a strong impact on the intention to do and perform certain behaviors. this theory is then modified by adding pbc (i. ajzen, 1988), which can be used to predict the probability of a successful behavioral attempt when the extent of resources and opportunity become realistic (ajzen, 1985). ajzen and fishbein (1980) first demonstrated that the drivers of behavioral intentions are attitudes and norms, but then they added that pbc not only influences behavioral intent but also affects actual behavior. it shows that tpb is more suitable for analyzing and predicting behavior intentions. many studies have applied tpb in various content domains such as smoking cessation (norman, conner, & bell, 1999) alcohol abuse business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 96 tpb propose that behavior is based on the concept of intention (ajzen, 1991). the intention is the extent to which someone is ready to engage in a certain behavior or the likelihood that someone will engage in a particular behavior (ajzen & fishbein, 1980; fishbein, 1967). as a general rule, the stronger the intention to engage in a behavior, the more likely should be its performance (ajzen, 1991). perceived behavioral control is a personal characteristic that refers to people’s perceptions of their ability to perform a given behavior (kashif et al., 2017). as stated in the theory of tpb by ajzen (1991), pbc together with behavioral intention can be used directly to predict behavioral achievement. if someone’s pbc is increasing, it means that he has more control over his perceptions to perform a behavior and it is expected to increase the ethical behavior intention. this statement is supported by the previous research by kashif et al. (2017), which stated that perceived behavioral control influences positively ethical behavioral intentions. we also include religiosity as a moderating variable, since religiosity is proven to shapes people’s self-identity which increases perceived behavioral control (kashif et al., 2017). also, a finding from walker et al. (2012), employees who score high on religiosity tend to exhibit higher levels of perceived behavioral control. with the inclusion of religiosity, it is expected that religiosity can increase the level of pbc in shaping an ethical behavioral intention. the correlation of all variables is presented below. as in the original tra, a central factor in the tpb is the individual’s intention to perform a given behavior (i. ajzen, 2012). the theory also mentioned that intentions are assumed to capture the motivational factors that influence behavior. as a general rule, the stronger the intention to engage in behavior, the more likely it should be performed (i. ajzen, 2012). the theory of tpb by ajzen (2012), stated that pbc, together with behavioral intention, can be used directly to predict behavioral achievement. auditors that have good control inside themselves due to sufficient knowledge, confidence, and accuracy of perception will create better independence that will cause auditors to have a better respect for the ethics applied in the workplace, and they tend to behave more ethically. also, auditors who are capable of making a consideration based on ethics can make good decisions based on applied ethics (agustia et al., 2018). the explanation above is also supported by the previous research by kashif et al., (2017), which stated that perceived behavioral control influences positively ethical behavioral intentions. also a study by henle (2009) explaining the effect of perceived behavioral control on intentions to behave ethically in the workplace. however, there is a different result comes from anggraini (2016), who found that perceived behavioral control has a negative impact in moderating the relation of an attitude and intention to convey fraud. we, hereby, controlling all socio-demographic elements except age and gender and test the following hypothesis: h1: perceived behavioral control positively affects the ethical behavior of auditors. based on some previous findings, religiosity is found to be linked to ethical behavior intention. this statement is supported by hunt & vitell (1986), the religious beliefs of an individual will influence his or her ethical deci� h2 h1 perceived behavioral control religiosity ethical behavioral intention salsabila hana haninda, rizki amalia elfita, the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach 97 sion-making process. it has been argued that religious practices strengthen faith, that faith helps people maintain moral standards and that high levels of individual morality make an overall ethical social setting (wichester, 2008). in other words, individuals that believe in religion and applied it in their daily lives tend to have better control over moral standards that lead to the performance of ethical behavior. it also can be interpreted that religious individuals have better control over their perception so that the intention of doing ethical behavior can increase. this is in line with previous research, which stated that employees who score high on religiosity tend to exhibit higher levels of perceived behavioral control (walker et al., 2012). the reverse has also been found to be true: people exhibiting higher levels of perceived behavioral control were found to be more likely to be influenced by religious teachings and practices (welch et al., 2006). moreover, perceived behavioral control is influenced by people’s orientation towards religious beliefs which in turn affect their ethical intentions (vohs, 2017). finally, a study by kashif et al. (2017) reveals that injunctive norms and perceived behavioral control better predict the ethical intentions of those managers who exhibit higher levels of religiosity. based on the findings above, we integrate all the statements and test the hypothesis: h2: religiosity strengthens the influence of the auditors’ perception of ethical behavioral control. research methodology the type of research used in this study is a quantitative research. this study is using quantitative research type because it aims to know the influence of one variable on another variable. this research is using primary and secondary data. sources of data were obtained from the answers to the questionnaires that have been filled by auditors from public accounting firms in surabaya. secondary data is obtained indirectly through the media collected such as journal data as well as the results of previous studies that discuss a similar topic. all the variables were measured on a five-point likert scale. participants are asked to show their level of agreement with a scale range from 1= “strongly disagree/most unlikely” to 5 = “strongly agree/highly unlikely”. in measuring all the variables, respondents will be asked to provide opinions based on the five questions below. tabel 1 questionnaires model constructs variables perceived behavioral control my intention is to do a good job in the organization overall, i have much control in doing my job in the organization it depends mostly upon me to do my job i am very confident that i would be able to do my job in this organization ethical behavior i have to live and apply the accountant’s code of ethics with a full sense of responsibility i must carry out professional service following the relevant technical professional standards in carrying out my duties, i have to be objective in expressing things that according to belief and consideration i have an obligation to ensure that staff under my supervision and those who are asked for their advice and assistance are respecting the clients’ confidentiality religiosity i regularly pray five times a day i have a great sense of god’s presence it is important for me to spend more time on religious activities i live my life according to my religious beliefs i follow a religion because it gives me more comfort in times of trouble and sorrow source: kashif et al. (2017) and rahman (2012) the population of this study is all public accounting firms in surabaya, with a total of 45 firms. based on the population, the sample used in this study is junior and senior auditors in the public accounting firm. this sample is taken based on the codes of ethics according to iai business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 98 that are expected to be applied in carrying the jobs by junior and senior auditors. the data in this study is processed using a partial least squares structural equation modelling technique using warpls 5.0, analysis software that can be used to test complex models with latent variables (ringle, 2005). to test the interaction between independent variables and moderating variables as well as the effect of these interactions on the independent variables, we use the mra technique which is carried out in two stages. the stages of mra testing are shown in the analysis model below. model 1: model including independent variable (moderation variable is not involved) ebi = !!!!!1pbc + """""1..................................... (1) model 2: model including moderation variable (involving moderation variable) ebi = !!!!!2pbc + !!!!!3r + """""2 ….................... (2) model 3: moderated regression (involving moderation variable and interaction) ebi = !!!!!4pbc + !!!!!5r + !!!!!6pbc * r + """""3... (3) notes: ! : coefficient pbc : perceived behavioral control ebi : ethical behavioral intention r : religiosity " : error result and discussion the unit of analysis in this study were auditors in public accounting firms located in surabaya, with a total of 45 firms. this research used a saturated sampling method for sample selection, therefore all public firms located in surabaya were included as a sample. in carrying out this research, respondents were 110 auditors from different public accounting firms located in surabaya. characteristics of this research include the gender and age of auditors. there were 58 males or 52.7% and 52 females or 47.3% of total respondents. this can be concluded that most of the respondents were males. the data also shows that most respondents were mostly below 30 years old with the number of 78 respondents or 70.9%. meanwhile, groups aged 30–40 were only 25 or 22.7%, and the last is group aged above 41 years old with only 7 respondents or 6.4% of the total number. hypothesis testing in this research is using moderated regression analysis (mra). this testing aims to determine the effect of religiosity with the perceived behavioral control on ethical behavioral intention. the positive regression coefficient indicates the direct change between the independent variable and the dependent variable. conversely, the negative regression coefficient indicates a change in the opposite direction. table 2 hypothesis testing result source: research data, processed 2019 in model 1, the regression coefficient for the perceived behavioral control variable is 0.412. therefore, if the perceived behavioral control has increased once, then the ethical behavioral intention will increase 0.412 times, assuming other variables or constant or unchanged. the coefficient determination testing in model 1 is 0.162 or 16.2%. this indicates that ethical behavioral intention can be explained as big as 16.2% by perceived behavioral control, while the remaining 83.8% can be influenced and explained by other variables that are not used in this research. in this model, the perceived behavioral control variable model i model ii model iii coeff p-value coeff p-value coeff p-value pbc 0.412 <0.001 0.239 0.004 0.232 0.006 rlg 0.606 <0.001 0.562 <0.001 pbc*rlg -0.139 0.066 adjusted r2 0.162 0.498 0.511 salsabila hana haninda, rizki amalia elfita, the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach 99 variable has a p-value of < 0.001. it means that the perceived behavioral control has a significant effect on ethical behavioral control because the significant value is less than 0.05. in model 2 involving moderation variable religiosity, the regression coefficient for perceived behavioral control is 0.239. therefore, if the perceived behavioral control has increased once, then the ethical behavioral intention will increase by 0.239 times, assuming other variables or constant or unchanged. the regression coefficient for religiosity is 0.606, which means, if religiosity increase once, the ethical behavioral intention will increase 0.606 times, assuming other variables are constant or unchanged. the coefficient determination testing in model 2 for moderating religiosity is 0.498 or 49.8%. this indicates that ethical behavioral intention can be explained as big as 49.8% by perceived behavioral control and religiosity, while the remaining 50,2% can be influenced and explained by other variables that are not used in this research. in this model, the perceived behavioral control variable has a p-value of 0.004 and religiosity has < 0.001. it means that the perceived behavioral control and religiosity have a significant effect on ethical behavioral control because the significant value is less than 0.05. in model 3 involving moderation variable religiosity and the interaction, the regression coefficient for perceived behavioral control is 0.232. therefore, if the perceived behavioral control has increased once, then the ethical behavioral intention will increase by 0.232 times, assuming other variables or constant or unchanged. the regression coefficient for religiosity is 0.562, which means, if religiosity increase once, the ethical behavioral intention will increase 0.562 times, assuming other variables are constant or unchanged. the regression coefficient for the interaction of perceived behavioral control and religiosity is -0.139. it means that if the interaction between perceived behavioral control and religiosity has increased once, the ethical behavioral intention will decrease by 0.139, assuming other variables are constant or unchanged. the coefficient determination testing in model 3 for moderation variable religiosity and the interaction is 0.511 or 51.1%. this indicates that ethical behavioral intention can be explained as big as 51.1% by perceived behavioral control and religiosity, while the remaining 48.9% can be influenced and explained by other variables that are not used in this research. in this model, the perceived behavioral control variable has a p-value of 0.006, religiosity has < 0.001, and the interaction between perceived behavioral control and religiosity has 0.066. it means that these variables have a significant effect on ethical behavioral control, except the interaction between perceived behavioral control and religiosity because the p-value is higher than 0.05. perceived behavioral control positively affects ethical behavior hypothesis 1 (h1) stated that perceived behavioral control positively affects the ethical behavior of auditors. the results show that perceived behavioral control can positively affect the ethical behavior of auditors. it can be seen from the p-value of perceived behavioral control with 0.001 < 0.05. therefore, hypothesis 1 (h1) is accepted. the results show that good perceived behavioral control can increase the auditor’s perception to behave ethically. perception of control is a major construct for individuals who prioritize ways of thinking as a foundation in making a decision. good perceived behavioral control in auditors will give them the ability to consider good and bad behavior. thus, that will business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 100 shows that religiosity did not have a significant influence on the auditor’s perception of ethical behavioral control. it can be seen from the pvalue of the interaction between perceived behavioral control and religiosity is 0.066 > 0.05. therefore, hypothesis 2 (h2) is rejected. the results show that religiosity does not moderate the perception of ethical behavioral control. religiosity is measured by the amount of prayer, involvement in religion-related activities, and faith in god. religiosity is attached to individuals and will not be affected under any circumstances. with the existence of religiosity within themselves, it will shape an individual’s morality, and it will be easier for them to determine which actions are good and bad so they have good control in making decisions. however, since religiosity and perception of control are two different things at the same level. when religiosity increases, internal control will not change significantly. religiosity will only affect ethical behavior, but it will not strengthen the relationship between perceived control and ethics that are performed. the perception to behave ethically also can be affected by other factors. many researchers who applied the theory of the fraud triangle have emphasized the aspect of behavior in relating unethical behavior (cohen, ding, lesage, & stolowy, 2010). cressey (1950, 1953) stated that fraud occurs because of the existence of all elements of the triangle of fraud (pressure, opportunity, and rationalization), as (dorminey, a.s., m.-j, & r.a., 2010) stated. the first condition is pressure (or motivation to commit fraud, where a fraud perpetrator may have pressure to commit fraud, such as pressure to attract external financing at a low cost (dechow et al., 1996). the second condition is the existence of an opportunity to commit fraud, for example, poor internal control of a comminimize ethical dilemmas inside themselves. the lack of ethical dilemmas of individuals will encourage them to perform good behavior. it is important for auditors that prioritizing judgment in fulfilling their job to have the ability to make good decisions and take action. based on the results, auditors who perform ethical behavior tend to have a high level of control over their job and they also feel confident with their work because they think that they have the responsibility in keeping the public’s trust. according to the planned behavior theory, pbc not only influences behavioral intention but also affects actual behavior (ajzen and fishbein, 1980). if someone has sufficient knowledge about pbc, and they have control over a situation, they will be more likely to perform a behavior. also, from barua (2013), the behavioral achievement of pbc depends upon confidence (i.e., the feeling or belief that one can rely on something) and accuracy of perception (i.e., intuitive understanding and insight). the higher the level of pbc, it will also increase the intention to perform ethical behavior. auditors need to perform ethical behavior. an auditor commits unethical actions, so this will damage the public’s trust in the auditor profession (nugraha & dinanti, 2018). this is under the previous research by henle, reeve, & pitts, (2010) explaining the effect of perceived behavioral control on intentions to behave ethically in the workplace. also, research by kashif et al., (2017), stated that perceived behavioral control influences positively ethical behavioral intentions. religiosity strengthens the influence of the auditors’ perception of ethical behavioral control hypothesis 2 (h2) stated that religiosity strengthens the influence of the auditors’ perception of ethical behavioral control. the result salsabila hana haninda, rizki amalia elfita, the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach 101 pany. the third condition is rationalization by the perpetrator of the fraud. fraud will not be committed if the perpetrator is unable to justify his fraudulent act. (aris et al., 2013). therefore, religiosity might not affect the perception of behavioral control because there are still some other factors that are not explained in the theory of planned behavior. this result is echoed with the previous research by kidwell, stevens, & bethke (2013) there is no relationship between religiosity and ethical judgments of the manager. also, some previous studies have found there is no difference between religious and non-religious individuals on unethical behaviors (e.g., suzanne hood, peter kelley, 1996). taken together, all the findings support research by hood et al., (1996: 341), he had a view that religion and ethics are like “something of a roller coaster ride” so that it is difficult to define conclusions about the relationship (weaver and agle, 2002). conclusion based on the results, auditors need to behave ethically because their job is involving the public’s trust. having good perceived behavioral control is important for auditors that prioritizing judgment in fulfilling their job so that they can make good decisions and take action. knowledge can be one of the drivers of perceived behavioral control. to have good behavioral control, sufficient knowledge is required by auditors such as understanding the accountant’s code of ethics and the regulations. with sufficient knowledge, auditors will be more confident in carrying out their duties so that it will minimize the ethical dilemmas that arise, and they will do their job better in the organization. besides, religiosity is something that also can affect ethical behavior because religiosity is attached to individuals and will not be affected under any circumstances. religion is needed in every aspect of life, including in auditors’ life. in a stressful work environment, religiosity can give more comfort in times of trouble and sorrow. however, religiosity will not strengthen the relationship between perceived control and ethics performed because religiosity and perception of control are two different things at the same level. references ajzen, i. (1985). from intentions to actions: a theory of planned behavior. in j. kuhl & j. beckmann (eds.), action control: from cognition to behavior (pp. 11-39). berlin, heidelberg: springer berlin heidelberg. ajzen, i. (1988). attitudes, personality, and behavior. homewood, il, us: dorsey press. ajzen, i. (2012). the theory of planned behavior, vol. 1, pp. 438–459. ajzen, i. & madden, t. j. (1986). prediction of goal-directed behavior: attitudes, intentions, and perceived behavioral control. journal of experimental social psychology, 22, 453–474. ajzen, i. & sexton, j. (1999). depth of processing, belief congruence, and attitude-behavior correspondence, pp. 117–138. alhouti, s., johnson, c. m., & holloway, b. b. (2016). corporate social responsibility authenticity: investigating its antecedents and outcomes. journal of business research, 69(3), 1242–1249. doi: https://doi.org/ 10.1016/j.jbusres.2015.09.007. allport, g. w. & ross, j. m. (1967). personal religious orientation and prejudice. journal of personality and social psychology, 5(4), 432-443. doi: 10.1037/h0021212. amalia, e. r. (2018). the effect of emotion on enterprise resource planning system qualbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 102 ity with user expertise as moderation variable. russian journal of agricultural and socio-economic sciences, 80(8). anggraini, f. r. (2016). the role of perceived behavioral control and subjective norms to internal auditors’ intention in conveying unethical behavior : a case study in indonesia. review of integrative business and economics research, 5(2), 141–150. anshori, m. & iswati, sri. (2009). metodologi penelitian kuantitatif. surabaya: airlangga university press. arens, a. a., elder, r. j., beasley, m. s., & hogan, c. e. (2017). auditing and assurance services. pearson. bandura, a., adams, n., hardy, a., & howells, g. (1980). tests of the generality of selfefficacy theory. cognitive therapy and research, 4, 39-66. doi: 10.1007/bf01173354. barua, p. (2013). the moderating role of perceived behavioral control: the literature criticism and methodological considerations. international journal of business and social science, 4, 57–59. bearman, m. & dawson, p. (2013). qualitative synthesis and systematic review in health professions education. medical education, 47, 252–260. doi: 10.1111/medu.12092. buchan, h. f. (2005). ethical decision making in the public accounting profession: an extension of ajzen’s theory of planned behavior. journal of business ethics, 61(2), 165–181. doi: 10.1007/s10551-005-0277-2. cheung, s. f. & chan, d. (2000). the role of perceived behavioral control in predicting human behavior. a meta-analytic review of studies on the theory of planned behavior. conner, m., sheeran, p., norman, p., & armitage, c. (2001). temporal stability as a moderator of relationships in the theory of planned behaviour. the british journal of social psychology/the british psychological society, 39 pt 4, 469-493. doi: 10.1348/ 014466600164598. cottingham, j. (1994). religion, virtue, and ethical culture. philosophy, 69(268), 163–180. retrieved from http://www.jstor.org/stable/ 3751343. cooper, d. r., schindler, & pamela s. (2006). business research methods (9ed.): mc graw-hill international edition. cornwall, m., albrecht, s. l., cunningham, p. h., & pitcher, b. l. (1986). the dimensions of religiosity: a conceptual model with an empirical test. review of religious research, 27(3), 226–244. doi: 10.2307/3511418. d. ancok, f. s. & m.s. ardani. (2000). psikologi islami: solusi islam atas problem-problem psikologi. yogyakarta: pustaka pelajar. dreana, t. m., syafruddin., & muchammad. (2012). analisis faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan penggunaan simaweb di fakultas ekonomika dan bisnis universitas diponegoro: integrasi tam dan tpb. ebert, g. (2004). business (7ed.). upper saddle river. nj: prentice-hall. ferdous, a. & polonsky, m. (2013). predicting bangladeshi financial salespeople’s ethical intentions and behaviour using the theory of planned behaviour. asia pacific journal of marketing and logistics, 25, 655–673. doi: 10.1108/apjml-01-2013-0019. fornell, c. & larcker, d. f. (1981). evaluating structural equation models with unobservable variables and measurement error. journal of marketing research, 18(1), 39– 50. https://doi.org/10.2307/3151312. ghozali, i. (2013). aplikasi analisis multivariate dengan program spss (7ed.). semarang: badan penerbit universitas diponegoro. salsabila hana haninda, rizki amalia elfita, the moderating role of religiosity on ethical behavioral intention: planned behavioral theory approach 103 ghozali, i. & latan, h. (2014). partial least squares konsep, metode dan aplikasi menggunakan program warppls 4.0. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. gurajati, d. (2003). ekonometri dasar. jakarta: erlangga. harsono. (1998). coaching dan aspek-aspek psikologi dalam coaching. jakarta: cv kesuma. henle, c., reeve, c., & pitts, v. (2010). stealing time at work: attitudes, social pressure, and perceived control as predictors of time theft. journal of business ethics, 94, 53– 67. https://doi.org/10.1007/s10551-0090249-z. hidayat. (2018, 5 october 2018). ojk ingin kantor akuntan publik belajar dari kasus snp finance. retrieved 9 september 2019. hunt, s. d. & vitell, s. (1986). a general theory of marketing ethics. journal of macromarketing, 6(1), 5–16. doi: 10.1177/027 614678600600103. jones, t. m. (1991). ethical decision making by individuals in organizations: an issue-contingent model. the academy of management review, 16(2), 366-395. doi: 10.2307/ 258867. joshi, a., kale, s., chandel, s., & pal, d. (2015). likert scale: explored and explained. british journal of applied science & technology, 7, 396–403. doi: 10.9734/bjast/2015/ 14975. kashif, m., zarkada, a., & ramayah, t. (2017). the moderating effect of religiosity on ethical behavioural intentions: an application of the extended theory of planned behaviour to pakistani bank employees. personnel review, 46. doi: 10.1108/pr-102015-0256 kidwell, j., stevens, r., & bethke, a. (2013). differences in ethical perceptions between male and female managers: myth or reality? in citation classics from the journal of business ethics: celebrating the first thirty years of publication, pp. 329–335. https://doi.org/10.1007/978-94-007-41263_16. madden, t., ellen, p., & ajzen, i. (1992). a comparison of the theory of planned behavior and the theory of reasoned action. personality and social psychology bulletin, 18, 3–9. doi: 10.1177/0146167292181001. mcdaniel, s. w. & burnett, j. j. (1990). consumer religiosity and retail store evaluative criteria. journal of the academy of marketing science, 18(2), 101–112. doi: 10.1177/009207039001800201. melinda, h. (2017). analisis kasus kecurangan pt waskita. nugraha, g. & dinanti, a. (2018). pengaruh struktur dan kultur organisasi terhadap keefektifan partisipasi anggaran dalam peningkatan kinerja manajerial studi empiris pada lembaga keuangan syariah. kompartemen. jurnal ilmiah akuntansi, 16. doi: 10.30595/kompartemen.v16i1.2281. o’connell, j. & connolly, w. (2008). measurement and analysis of aggregate marketing margins. journal of agricultural economics, 26, 219-226. doi: 10.1111/j.14779552.1975.tb01462.x. oaksford, m., chater, n., & larkin, j. (2000). probabilities and polarity biases in conditional inference. journal of experimental psychology. learning, memory, and cognition, 26, 883–899. doi: 10.1037/02787393.26.4.883. ponemon, l. a. (1990). ethical judgments in accounting: a cognitive-developmental perspective. critical perspectives on accounting, 1(2), 191–215. doi: https://doi.org/ 10.1016/1045-2354(90)02019-1. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 104 priyo nugroho, a., hidayat, a., & kusuma, h. (2017). the influence of religiosity and selfefficacy on the saving behavior of the ²slamic banks. banks and bank systems, 12, 35–47. doi: 10.21511/bbs.12(3).2017.03 reid, g. (2002). religious study. philip allan. ringle, c. m., wende, & will, a. (2005). smart pls 2.0 m3. hamburg: university of hamburg. sekaran, u. (2009). research method for business: metodologi penelitian untuk bisnis (4 ed.). jakarta: salemba empat. sheeran, p., milne, s., webb, t., & gollwitzer, p. (2005). implementation intentions and health behaviour. first publ. in: predicting health behaviour /ed. mark connor. new york: open univ. pr., 2005, pp. 276–323. simms, e. & rausher, m. (1987). costs and benefits of plant resistance to herbivory. american naturalist amer naturalist, 130. doi: 10.1086/284731. singhapakdi, a., vitell, s., lee, d.-j., mellon, a., & yu, g. (2013). the influence of love of money and religiosity on ethical decisionmaking in marketing. journal of business ethics, 114, 183-191. doi: 10.1007/s10551012-1334-2. solimun. (2010). analisis multivariat pemodelan struktural metode partial least square-pls. malang: cv citra. solimun. (2011). analisis variabel moderasi dan mediasi. sonstroem, r. j. & morgan, w. p. (1989). exercise and self-esteem: rationale and model. medicine & science in sports & exercise, 21(3), 329–337. doi: 10.1249/00005768198906000-00018. steiner, g. a. (1997). strategic planning. new york: the free press. sugiyono. (2011). metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. suzanne hood, peter kelley, b. m. (1996). children as research subjects: a risky enterprise. children & society, 10(2), 117–128. treviño, l. k., weaver, g. r., & reynolds, s. j. (2006). behavioral ethics in organizations: a review. journal of management, 32(6), 951-990. doi: 10.1177/0149206306294258. t. libby, l. t. (2007). the development of a measure of auditor’s virtue. journal of business ethics, 71(1), 89–99. t.c. mcintyre. (1984). the relationship between locus of control and teacher burnout. british journal of educational psychology, 54(2), 235–238. vohs, k. d., finkenauer, c., & baumeister, r. f. (2017). romantic relationship functioning hinges on self-control abilities. minneapolis: university of minnesota. walker, c., williams, j. j., lombrozo, t., & gopnik, a. (2012). explaining influences children’s reliance on evidence and prior knowledge in causal induction. paper presented at the proceedings of the 34th annual conference of the cognitive science society. weaver, g. & agle, b. (2002). religiosity and ethical behavior in organizations: a symbolic interactionist perspective. the academy of management review, 27, 77. doi: 10.2307/4134370. wigneswara, a. s. (2016). pengaruh kecerdasan intelektual (iq), kecerdasan emosional (eq), dan kecerdasan spiritual (sq) terhadap perilaku etis auditor eksternal pada kantor akuntan publik di surabaya (bachelor). surabaya: universitas airlangga. wilopo. (2006). analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi: studi pada perusahaan publik dan badan usaha milik negara di indonesia. wulansari, diaz perdana, analysis the effect of financial statement publication on the stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger 209209 analysis the effect of financial statement publication on the stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger wulansari, diaz perdana magister manajemen teknologi, institut teknologi sepuluh nopember surabaya east java indonesia e-mail: wulansarirachmat27@gmail.com; perdanadiaz@gmail.com abstract: as the country with the world’s largest muslim population, indonesia has the potential to lead the islamic finance industry. increased public awareness of halal issues, as well as strong stakeholder support, are critical factors in the growth of indonesia’s halal industry ecosystem. islamic banks are included. bumn banks’ sharia banks, namely bank syariah mandiri, bni syariah, and bri syariah, are no exception, having merged on february 1, 2021. the goal of this study was to see what effect the publication of quarterly financial statements had on the performance of pt bank syariah indonesia’s stock price up to a year after the merger. this study employs secondary data and documentation techniques, with the analysis time period being each quarter in the annual period of 10 days after reporting financial publication reports and 10 days before reporting financial publication reports. stock prices from that time period, as well as several financial ratios from publicly available financial reports, were used as variables. to test the hypothesis itself, use a ratio scale and the comparative hypothesis method of two paired sample t-tests, as well as the ryanjoiner method to test for normality. if the significance value is 0.05 or greater, the data is said to be normally distributed. according to the results of the tests, there were significant differences in bris stock prices 10 days before and 10 days after the financial statements were published. keywords: syariah bank, stock, banking performance, financial statements, merger a. introduction a bank, according to law no. 10 of 1998, is a business entity that collects funds from the community in the form of savings and distributes them to the community in the form of credit and/or other forms to improve the living standards of many people. the bank acts as a “financial intermediary,” collecting and distributing public funds as well as providing other payment-related services. in the indonesian banking system, there are two types of banking operating systems: conventional banks and islamic banks. sharia bank, according to law no. 21 of 2008 on sharia banking, is a bank that conducts business activities based on sharia principles, or islamic law principles regulated in the fatwa of the indonesian ulema council, such as the principles of justice and balance (‘adl wa tawazun), welfare (maslahah), universalism (alamiyah), and does not contain gharar, maysir, riba, zalim, and other haram objects. furthermore, the islamic banking law entrusts islamic banks with performing social functions such as baitul mal institutions, which receive funds derived from zakat, infaq, alms, grants, or other social funds and distribute them to the waqf manager (nazhir) according to the will (wakif). with the significant increase in demand for sharia-based products and services in indonesia over the last few years, the government has identified this as a watershed moment in the country’s sharia economy. by these optimistic circumstances, on february 1st, 2021, the government finally merged business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 210 the three lists of large islamic banks created by state-owned enterprises, namely pt bank syariah mandiri, pt bank bni syariah, and pt bank bri syariah tbk., into a new intensity known as bank syariah indonesia or bsi. the financial services authority (ojk) launched the establishment of bsi with a letter. letter issued under the number: sr-3/pb.1/2021 regarding the granting of permits for the merger of pt bank syariah mandiri and pt bni syariah into pt bank bri syariah tbk., as well as permits to change name by using pt bank bri syariah tbk. business license into a business license on behalf of pt bank syariah indonesia tbk. with the stock code bris as the merged bank. with the issuance of this letter from the ojk, it further strengthens bsi’s position to carry out banking activities based on the sharia concept and the merger of the 3 forming banks. the following are some of the goals of bsi’s merger: (1) effective synergies to improve sharia bank customers’ services. (2) improving business processes. (3) risk management, the current success of bank mandiri, which arose from the merger of four previous banks, demonstrates that banking risks can be reduced if three state-owned islamic banks are combined into one. (4) institutional resources: every agency and board of directors will be filled by professionals who will work under one umbrella institution with the same vision and mission. (5) strengthening digital technology: in terms of technology, bsi has developed an online-based website and mobile application for bank syariah indonesia, making it easier for the general public to access them. the reason for the merger of state-owned sharia banks is that indonesia does not yet have a sharia bank with large assets and financing capabilities, despite the fact that the majority of the population is muslim. bsi has achieved one year of post-merger performance, and investors will undoubtedly expect the company to perform well in the future; good performance will have an impact on the welfare of its shareholders. the company’s performance can be seen in its ability to generate profits, with the hope that these profits will also be enjoyed by investors in the form of dividend payments, increasing the welfare of shareholders. this will be a strong enough draw for other investors to want to share in the company’s profits, causing these investors to invest in the company, affecting the demand for the company’s shares. research on the comparative analysis of stock returns and stock trading volume before and after the merger has been carried out by (pratiwi, dwipradnyana, and diatmika, 2021) which only took the observation period within a week after the merger. based on the existing background, the research examined the comparison of stock prices per quarter with a comparison to the announcement of pt bank syariah indonesia’s financial performance per quarter until full year 2021 performance or a year after the merger. table 1 summary of pt bank syariah indonesia financial performance q1 q2 q3 q4 financing growth 14.74% 3.18% 7,38% 9.32% fdr 77,28% 74,53% 74,45% 73,39% ni 6,13% 6,29% 6,00% 6.04% cir 79,90% 79,92% 79,84% 80.46% npf nett 0,92% 0,93% 1,02% 0.87% spec mention 2.40% 3,18% 2,93% 1.77% car 23,10% 22,58% 22,75% 22.09% roe 14,12% 13,84% 13,82% 13,71% roa 1,72% 1,70% 1,70% 1,61% ratio's financial performance 2021 the purpose of the study, “ analysis the effect of financial statement publication on the wulansari, diaz perdana, analysis the effect of financial statement publication on the stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger 211 the choices for company’s funding. moreover, stock is investors’ most favorites investment instrument because it offers them an interesting return rate. stock can be defined as a sign of capital participation of an individual or institution in a company or corporation. by investing in a company, the party has the claim for the company’s income, assets, and right to attend the general meeting of shareholders. basically, there are two benefits the investor can get by buying or having stock: (1) dividend, dividend is profit sharing given by company and comes from the income. dividend is given after getting the agreement from shareholders in the general meeting. if an investor wants to receive dividend, he/ she must own the stock for a relatively long period, until the ownership term is in the period where he/she is acknowledged as the shareholder who has the right to obtain the dividend. (2) capital gain, capital gain is the different between buying price and selling price. capital gain is obtained through the trading activities carried out in the secondary market. for example, an investor buys abc’s shares at rp 3,000 per share and then sells it at rp 3,500 per share. it means the investor gets capital gain of rp 500 for every sold share. besides benefits as investment instrument, stock also has risks: (1) capital loss, it is the reverse of capital gain. it is a condition when the investor sells his/her shares at lower price than its buying price. for instance, pt xyz’s shares are bought at rp2,000 per share, but aftermath the stock price experiences decrease to the level of rp 1,400 per share. afraid of continuous declines, the investor sells the shares at price of rp 1.400. the investor has retained a capital loss of rp 600 per share. (2) liquidity risk, a company, whose shares are owned by stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger,” was to: 1. examine how the bris stock price moves before and after the quarterly financial statements are released. 2. investigating the significance of the difference in bris stock prices before and after the release of the financial statements. there was an increase on the share return after the financial report publication, this fact proved that there was information content in the financial report publication (susilo, djiwanto, & jaryono, 2004) 3. define others cause of stock price changes that are not attributable to the rights issue. (pratama & sudhiarta,2014) 4. earnings releases have little influence on anomalous stock returns. this is due to the fact that profits information is just a tiny portion of the information (virginia, manurung, muliawati, 2012), which is why the complete financial statement is required to test. by these purposes, the research hypothesis this time is: h 0 : there is no significant difference in bsi’s stock price for 10 days before and after the quarterly financial report’s publication. h 1 : there is a significant difference in bsi’s stock price for 10 days before and after the quarterly financial report’s publication. if the significance value (p-value) is smaller than the real level (� = 0.05) h 0 will be rejected and the alternative hypothesis (h 1 ) accepted. b. literature review shares (stocks) is one of the most popular financial instruments. issuing stock is one of business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 212 public, is stated for bankruptcy by the court or is being dismissed. in this case, the claiming rights of shareholders get the last priority after all the company’s liabilities are settled (by gathering the fund from selling the company’s assets). if there is an amount of rest of the company’s wealth, it will be shared proportionally to the shareholders. but, if there is no rest left, the shareholders will not receive anything out of the liquidation. this is the worst condition that might happen to shareholders. for that reason, a shareholder needs to observe every development in the company, which shares are owned. in secondary market or daily shares trading activities, stock prices fluctuate, either increase or decrease. prices are formed from the demand and supply of the stock. in other words, prices are formed by supply and demand. supply and demand are influenced by many factors, either by specific factors such as the company and industry’s performance where the stocks exist or macro factors such as the interest rate, inflation, currency rate, and noneconomic factors like social and political conditions, and so on. c. research methodology the purpose of the study, “analysis the effect of financial statement publication on the stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger,” was to examine how the bris stock price moves before and after the quarterly financial statements are released and investigating the significance of the difference in bris stock prices before and after the release of the financial statements. these study purposes are also to prove financial statements are significant and fundamental variables to test the effect to price stock performance (cahyani, simanjuntak, dan hutadjulu, 2016). financial reports generated by corporations and conveyed to other parties, such as investors, are anticipated to provide information value that may be utilized by investors in making investment choices. the data used is secondary data, which is historical data from closing real-time stock prices. the following are the cut-off dates for each quarter: 7 may 2021 for q1, 30 july 2021 for q2, 29 october 2021 for q3, and 28 january 2022 for q4. the documentation technique is used to collect data. bris share price data is obtained from the indonesia stock exchange website, which can be found at https:// www.idx.co.id/. so the variable used is the bris stock price 10 days before and 10 days after the quarterly financial statements are published, for a total of 80 data points. the information gathered was analyzed using microsoft excel and minitab statistical software. the descriptive statistical analysis technique was used, followed by hypothesis testing paired sample ttest. d. result and discussion 1. descriptive statistics the data processing results from bris issuers’ share prices 10 days before and 10 days after the release of quarterly financial statements are shown table 2. table 2 shows the descriptive statistics for each variable that was used. each quarter, the amount of data used is bris share price for 10 days before and 10 days after the publication of the financial statements. the ryan-joiner normality test was used to ensure that each variable was normal before processing. if the rj wulansari, diaz perdana, analysis the effect of financial statement publication on the stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger 213 indicator is close to 1 then the data is said to be normal. all variables in the preceding data met these requirements. during the year 2021, the stock price tends to fall. there is an increase in the second quarter, but it then falls and start increase again in fourth quarter. 2. the hypothesis test the results of the paired sample t-test are shown as follows. the significance value (p-value) for the four pairs of bris stock prices after and before the publication of the financial statements is 0.000 to 0.005, which means it is less than 0.05, based on the paired sample t-test results shown in table 2. this means that stock prices differ significantly before and after the release of financial statements. in the q1-q3 publication period, the mean value of the difference in stock prices before and after the publication of the financial statements is positive, indicating that the stock price after the publication of the quarterly financial statements is lower than before the publication. figures 1–4 show the graph of stock prices for that time period. although the mean value is always positive, it shows a downward trend variable n mean se mean std dev minimum median maximum rj indicator before q1 10 2287 17.70 56.00 2220 2280 2420 0.930 after q1 10 1977 56.80 179.60 1760 1915 2280 0.954 before q2 10 2622 44.10 139.30 2390 2615 2820 0.984 after q2 10 2493 49.60 156.80 2250 2525 2700 0.974 before q3 10 2149 16.00 50.70 2080 2145 2250 0.964 after q3 10 2077 3.67 11.60 2060 2080 2090 0.997 before q4 10 1531 9.21 29.10 1495 1528 1585 0.966 after q4 10 1619 16.40 52.00 1545 1630 1675 0.958 table 2 data processing outcomes from bris issuers’ share prices mean stdev se mean lower upper sig. (p-value) 10 days before q1 publication 10 days before q1 publication 10 days before q2 publication 10 days before q2 publication 10 days before q3 publication 10 days before q3 publication 10 days before q4 publication 10 days before q4 publication pair 34.80 50.20 207.80 0.005 310.50 166.80 52.80 191.20 429.80pair 1 pair 2 129.00 110.20 95% ci for µ_difference 0.001 pair 4 -88.00 56.90 18.00 -128.70 -47.30 0.001 pair 3 72.00 49.40 15.60 36.70 107.30 0.000 table 3 paired sample t-test result business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 214 each quarter. this is possible because investors began to respond positively to the publication of bsi’s financial performance report in the third quarter, with bsi’s recording a 10.15% yoy increase in assets and bsi’s financing growing by around 7.38% yoy. bsi’s also managed to keep its net financing quality (npf) at 1.02%. bsi’s was able to record a solid performance during this period, posting a net profit of rp2.26 trillion, and 37.01% increase over the previous quarter’s net profit of rp1.65 trillion. figure 1 stock price chart 10 days before and after publication q1 2021 figure 2 stock price chart 10 days before and after publication q2 2021 the mean value for pair q4 is negative, indicating that the value after the publication of the stock price report is greater than the value before the publication of the report. this indicates that at the end of the year period, bsi’s demonstrated good performance, which increased investor confidence in the company’s ability to increase its capital. bsi was able to increase financing by 9.32 percent year on year in the 2021, performance publication report. in terms of quality, bsi recorded a net non-perwulansari, diaz perdana, analysis the effect of financial statement publication on the stock performance of pt bank syariah indonesia tbk. one year after the merger 215 figure 3 stock price chart 10 days before and after publication q3 2021 figure 4 stock price chart 10 days before and after publication q4 2021 forming financing (npf) of 0.87 percent in december 2021, which is improving from the q3 financial performance position. bsi’s return on equity (roe) increased to 13.71 percent based on the profitability ratio. return on assets (roa) increased to 1.61 percent as well. e. conclusion in the 2021 performance publication report, bsi was able to increase financing by 9.32% year on year. in terms of quality, bsi recorded a net non-performing financing (npf) of 0.87% in december 2021, which is improving from the position of q3 financial performance. according to the profitability ratio, bsi’s return on equity (roe) increased to 13.71%. return on assets (roa) increased to 1.61%. the stock value 10 days after publication is lower than the stock value 10 days before publication during the q1-q3 publication period. this is possible because investors are still business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 216 waiting for bsi’s financial performance until the full year performance to see if the movement of financial ratios per quarter to one year of performance is sustainable, as evidenced by the stock price in the fourth quarter increasing 10 days after the publication of the annual financial statements. this study suggests that investors can add this bris issuer to their long-term investment portfolio because they have prospects and are able to make a quick recovery in line with national economic growth during the pandemic. for further research, it is expected to be able to compare the performance of pt bank syariah indonesia tbk. with other islamic banks in order to be able to provide options for investors who are interested in adding the islamic banking sector to their investment portfolio with different analysis periods. f. references kementerian hukum dan hak asasi manusia. (2008). undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. jakarta: kementerian sekretariat negara republik indonesia. pemerintah pusat republik indonesia. (1988). undang-undang republik indonesia nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan. jakarta: kementerian sekretaris negara indonesia. pratiwi, i. a., dwipradnyana, i. m., & diatmika, i. d. (2021). analisis perbandingan return saham dan volume perdagangan saham sebelum dan setelah merger (studi kasus pada pt bank syariah indonesia tbk.). majalah ilmiah untab vol. 18 no. 1, 108–113. cahyani, linda & simanjuntak,m.a. aaron & hutadjulu, linda (2016). analisis pengaruh pengumuman laporan keuangan terhadap return saham, jurnal akuntansi & keuangan daerah, vol. 11 no. 1 mei 2016. pratama, i. g., surya, & sudhiarta, g. mertha. (2014). analisis perbandingan abnormal return saham sebelum dan sesudah pengumuman right issue e-jurnal vol. 3 no. 1 tahun 2014. virginia, sheila., manurung, elizabeth t dan muliawati. (2012). “pengaruh pengumuman earnings terhadap abnormal return saham”. jurnal administrasi bisnis, vol.8, no.1, p.1–20 susilo, dwi., djiwanto, teguh dan jaryono. (2004). “dampak publikasi laporan keuangan terhadap perilaku return saham di bursa efek jakarta”, smart, vol. 2, no 2, p.97–110. pt bank syariah indonesia, tbk. (2021). publikasi triwulanan bris desember 2021. jakarta: pt bank syariah indonesia, tbk. pt bank syariah indonesia, tbk. (2021). publikasi triwulanan bris juli 2021. jakarta: pt bank syariah indonesia tbk. pt bank syariah indonesia, tbk. (2021). publikasi triwulanan bris maret 2021. jakarta: pt bank syariah indonesia, tbk. pt bank syariah indonesia, tbk. (2021). publikasi triwulanan bris september 2021. jakarta: pt bank syariah indonesia, tbk. pt bursa efek indonesia. (2022, march 21). pt bursa efek indonesia. accessed on march 30th, 2021 at 10.12 pm retrieved from pt bursa efek indonesia: https://www.idx. co.id/produk/saham/. 01 adrian denar.pmd sarah rosa dayanti, romi ilham, influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java 105105 influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java sarah rosa dayanti, romi ilham departement of accounting, universitas hayam wuruk perbanas surabaya e-mail: 2017310364@students.perbanas.ac.id, romi_ilham@perbanas.ac.id abstract: more than one year has passed since the covid-19 pandemic in indonesia, which has impacted the distance learning process. e-learning is one of the facilities provided by the university that helps the course of online lectures. this study aims to determine the effect of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction. the method used is a quantitative method with data collection, distributing questionnaires to active users of e-learning at universities in east java. the data were analyzed using warppls 7.0. the results in this study indicate that e-learning service quality affects e-learning student satisfaction and e-learning student loyalty. likewise, e-learning student satisfaction affects e-learning student loyalty. keywords: e-learning service quality, e-learning student satisfaction, e-learning student loyalty. introduction more than a year has passed in indonesia since the covid-19 pandemic, but there is no sign that the pandemic will end. therefore, a pandemic has a destructive impact on education in indonesia, resulting in the teaching and learning process being carried out using the distance learning method, commonly referred to as learning from home (lfh). according to e-learning market trends 2017, the total market in asia is us$7.1 billion, with an annual growth rate of 17.3%. indonesia is one of the fastest-growing countries in the elearning market, with an average annual growth rate of 25% above colombia, ukraine, and the rest of the world. asia presents the most exciting trends in literacy development, the demand for content, adoption of technology, highest growth rate, integration with talent management, and vital government initiatives. in such a situation, indonesia will have a promising opportunity in 2017 as it is expected to add usd 12.2 billion to users in the e-learning market. online learning requires breakthroughs in innovation and strategy at all levels. thus, education should focus more on new trends in executive leadership (flanagan & jacobsen, 2003). the quality of universities or educational institutions can be seen from the services provided to customers. in improving the quality of educational institutions, efforts need to be made. providing a learning information system is an effort to improve quality and service quality to consumers (sasuti et al., 2020). the quality of service at an institution can include several things such as e-learning systems, instructor and course materials, administrative support. e-learning can provide many benefits for universities and students (samir et al., 2009). for universities, first, e-learning can help universities save many costs related to investment in physics teaching and learning infrastructure (ramadiani et al., 2017). second, e-learning can help universities become more digital and conbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 106 tribute to a digital and knowledge-based society (arguelles & busquet, 2016). third, e-learning can help universities integrate into the global education environment (wong & huang, 2011). there are some differences in research results related to the quality of e-learning services. in their research, pham et al. (2019) stated that the quality of e-learning services affects e-learning student satisfaction. on the contrary, larasati & andayani (2019) stated that it does not affect. due to several factors. in contrast to other studies, arguelles & busquet (2016) found that service quality does not affect satisfaction but does affect loyalty. students must continue to use e-learning to participate in the lecture process, but the campus does not maximize the performance of the elearning. theoretical framework and hypotheses satisfaction theory satisfaction is a feeling of pleasure or disappointment that arises after assessing whether a product’s performance results met expectations (chaw & tang, 2018). so, consumers will be satisfied if the performance and product results align with user expectations. an assessment that a product or service feature offers a level of comfort related to fulfilling a need, including completing conditions below or exceeding consumer expectations (song, 2010). e-learning service quality service quality measures how much service can be provided by the level of service provided, following consumer expectations (pham et al., 2019). based on this definition, service quality depends on the company’s ability to meet consumer needs and expectations based on consumer expectations (karya, 2016). industrial quality is a product or service that follows the size of the current place of manufacture of the product, and its delivery is at least equal to consumer expectations. wong & huang (2011) stated, “the focus of service quality is to meet consumer needs and expectations, as well as the accuracy of delivery to balance consumer expectations, namely consistency between expectations and management concepts, as well as consistency between consumer expectations and employee work standards. e-learning student satisfaction customer satisfaction is one of the factors to measure success for any development and implementation of information application systems in a company. customer perception is a form of a picture of whether service quality is good or bad, not based on service providers’ point of view or opinion (maudiarti, 2018). as stated by kotler & keller (2015), “satisfaction is a person’s feelings of pleasure disappointment that results from comparing a product’s perceived performance (or outcome) to expectations.” therefore, satisfaction is a feeling of satisfaction or disappointment with someone resulting from comparing the product’s perceived performance with his expectations. in the era of the widespread development of ict and e-commerce, online satisfaction can be defined as the customer’s overall assessment of the quality of services or products offered in the online market (rolph & srinivasan, 2003). e-learning student loyalty according to leonnard et al. (2014), “customer loyalty is based on very positive characteristics of long-term purchases, consumer comsarah rosa dayanti, romi ilham, influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java 107 ilham & siregar, 2021). the theory above is supported by previous research conducted by pham et al. (2019) by obtaining research results, namely that system quality, information quality, and service quality have a positive effect on user satisfaction of e-learning systems. furthermore, purwanto & pawirosumarto (2017) also states in their research that system quality, information quality, and service quality have a significant and significant effect on e-learning users. meanwhile, larasati & andayani (2019) research state that the quality of services provided by e-learning has not been able to meet the needs of students as users. relationship between e-learning service quality and e-learning student loyalty service quality is a model that compares customer expectations of service with acceptance/feelings to describe customer expectations of service based on experience, word of mouth publicity, and advertising status (kotler & keller, 2015). service quality is the desired level of excellence, and controlling this level of excellence is to meet customer needs (onuma & ada, 2016). service quality can be interpreted as the difference between reality and customer expectations for the services they receive (leonnard et al., 2014). from the point of view of several experts above, it can be concluded that service quality is the difference between consumer expectations and consumer acceptance. service quality available in a product has good benefits and satisfaction from the user. this satisfaction can create loyalty from the user to use the product again for the long term (romi ilham, 2018a). in the research conducted by pham et al. (2019), the overall quality of e-learning services directly affects student e-learning loyalty. in mitment to brands, stores or suppliers.” based on this understanding, it can be explained that the combination of satisfaction and complaints has obtained brand loyalty (romi ilham, 2018a) and (karya, 2020). at the same time, customer satisfaction comes from how the company achieves this satisfaction by minimizing complaints to obtain consumer purchases in the long term (mahanani & karya, 2016). advances in information and communication technology (ict) are changing all industries and sectors; higher education is no exception (ramadiani et al., 2017). e-learning may be one of them. with the application of information and communication technology (ict), e-learning is becoming increasingly popular in universities. the technology provides various teaching options to lecturers and students (ramadiani et al., 2017). relationship between e-learning service quality and e-learning student satisfaction humans need high-quality services to lay a solid foundation for building good customer relationships. services cannot be created suddenly but must be designed slowly. they have a unique memory for the product or service (romi ilham, 2018b). kotler & keller (2015) stated that “customer satisfaction is closely linked to quality.” moreover, quality has a direct impact on product performance and customer satisfaction. in the narrowest sense, quality can be defined as “freedom from defectors,” but most customer’s centered companies go beyond this narrow definition of quality. instead, they defined quality in terms of customer satisfaction. if a service has a quality that can meet or even exceed user expectations, it can be said that the service has been able to satisfy the user and can be said to be a quality service (romi business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 108 addition to this research, the same results were also found in purwanto & pawirosumarto (2017). the influence of the quality of online tutorial services on student loyalty has a reasonably considerable influence and is unidirectional and significant. however, it was found in putra (2014) that service quality has a negative and significant effect on user loyalty. h1: e-learning service quality affects e-learning student satisfaction relationship between e-learning student satisfaction and e-learning student loyalty student satisfaction is one of the quality standards of e-learning. student satisfaction with online learning users can indicate that students enjoy the online learning experience. high-quality training courses will give users great pleasure (song, 2010). customer loyalty is a longterm commitment to rebuild or re-support one or more products or services that the customer likes forms. it accumulates when the customer feels that consuming the product or service can bring value to him (pham et al., 2019). in this context, student loyalty towards e-learning treats students as customers and universities as educators, a national service provider organization. based on some of the theories above, it can be concluded that user loyalty depends on the satisfaction felt by its users; the better the quality of service that the provider provides to users, the greater the possibility of new users becoming customers. furthermore, the number of customers can give trust to others, so the more people who use e-learning as a learning tool, the more effective the system in e-learning will be. research conducted by pham et al. (2019) shows that the overall quality of elearning services is positively related to student e-learning satisfaction, which positively affects e-learning student loyalty. the research of sasuti et al. (2020) also said that student satisfaction positively impacts student loyalty. on the other hand, research from ilham et al. (2021) states that user loyalty is not optimal because users have not felt satisfaction from the service. in this case, the role of lecturers as a sub-system in the learning process takes an important role. h2: e-learning service quality affects e-learning student loyalty the relationship of e-learning service quality to e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction student loyalty to e-learning must be maintained because users can use e-learning more often than usual with loyalty. related to service quality and e-learning user satisfaction, the user’s feelings of pleasure or disappointment will appear after comparing the performance of the e-learning system with user satisfaction expectations (strong, 2012). due to loyalty, users will first assess the quality of service from the e-learning provided and their satisfaction with the e-learning system. the overall quality of elearning services was positively related to elearning satisfaction, which positively affected student e-learning loyalty pham et al. (2019). strong (2012), in their research, revealed that satisfaction with loyalty showed a positive relationship. so the better the satisfaction, the higher the loyalty h3: e-learning student satisfaction affects elearning student loyalty framework the framework of thought in this study is described as follows: sarah rosa dayanti, romi ilham, influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java 109 figure 1 thinking framework the population of this study are users of social media youtube, facebook and instagram. the method used is purposive sampling. there are three criteria in sampling in this study; firstly, the questionnaire must be filled out by students using e-learning for more than one year. second, students must fill out the questionnaire using the moodle e-learning application in east java. third, accredited universities a or b. several campuses that meet these criteria include hayam wuruk perbanas university surabaya, brawijaya university, brawijaya university, upn veteran surabaya, untag surabaya, university of jember, ciputra university, ubaya, surabaya state university. the data collection technique in this study used a survey technique through a questionnaire provided by google forms. the measurement of the variables was carried out using a likert scale. the analytical method used in this research is warp partial least square (pls). in the pls (partial least square) method, the analytical techniques used are outer model analysis, inner model analysis and hypothesis testing. data analysis overview of research subjects questionnaires began to be distributed on 17 june 2021, and the collection was limited to 1 july 2021. as a result, 138 questionnaires could be processed at 20 universities in east java. therefore, the total questionnaires that can be processed according to the research criteria are 138 questionnaires. the data shows that most respondents in the study came from the hayam wuruk perbanas university surabaya, with 52 respondents and the university of muhammadiyah malang as many as 16 respondents. the rest were respondents spread across several universities in east java. data analysis outer model analysis table 1 outer model results variable indicator loading factor ave ca cr e-se one e-lo e-se x1.1 0.751 -0.317 -0.122 0.529 0.888 0.910 x1.2 0.693 -0.018 -0.133 x1.3 0.729 0.031 0.038 x1.4 0.666 0.330 -0.029 x1.5 0.791 -0.030 0.026 x1.6 0.757 0.110 0.224 x1.7 0.649 0.035 -0.123 x1.8 0.776 0.213 -0.287 x1.9 0.721 -0.331 0.399 one z1.1 0.086 0.886 -0.078 0.722 0.806 0.886 z1.2 0.065 0.809 0.154 z1.3 -0.151 0.851 -0.065 e-lo y1.1 0.098 0.083 0.925 0855 0.831 0.922 y1.2 -0.098 -0.083 0.925 convergent validity based on the table above, it can be seen that all of the variable items above are valid. the loading factor value for the variable elearning service quality (x1) ranges from 0.649 to 0.791. these values are all above 0.5. moreover, for the ave value of the variable more than 0.5, that is 0.529. therefore, it can be concluded that all items from the variable elearning service quality (x1) have a high level of validity and can be used for further knowledge research. as for knowing the convergent validity test of the e-learning student satisfaction (z1) varibusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 110 able, it can be seen in the table above that all of the variable items above are valid. the loading factor value for the variable e-learning student satisfaction (z1) ranges from 0.809 to 0.886. the value of the loading factor of each indicator is greater than the measurement criteria, namely 0.5. moreover, for the ave value of the variable more than 0.5, that is 0.722. therefore, it can be concluded that all items from the variable e-learning student satisfaction (z1) have a high level of validity and can be used for other e-learning student satisfaction research. e-learning student loyalty (y1) from the table above shows that all variables above are valid. the dependent variable’s loading factor value for the e-learning student loyalty (y1) is 0.925. the loading factor value of each of these indicators is more significant than 0.5. and for the value of 2 variables more than 0.5, namely 0.855. therefore, it can be concluded that the item from the dependent variable of e-learning student loyalty (y1) has a high level of validity and can be used for e-learning student loyalty research. discriminant validity the test results that can be seen in the table above have been met because each indicator measuring the variable has a loading factor value more significant than the loading factor value in the measurement of other variable indicators. therefore, in this study, all the variables used in the model are valid. reliability test from the table above, it can be seen that the value of cronbach’s alpha is in the range of 0.806 to 0.888, while the value of composite reliability is in the range of 0.886 to 0.922, where the e-learning student loyalty variable (y1) has the most considerable composite reliability value. from these results, all-composite reliability values of each variable are more than 0.6. the value is greater than the cronbach alpha value, which means that the internal consistency of an indicator in the latent variable is reliable. table 2 path coefficient and p-values correlation path coefficient p-values information e-se ĺ e-lo 0.549 0.010 significantly e-se ĺ e-sa 0.749 0.010 significantly e-sa ĺ e-lo 0.285 0.010 significantly e-se ĺ e-sa ĺ e-lo 0.214 0.010 significantly based on table 2, it can be explained that the variable e-learning student satisfaction on elearning student loyalty has a significant influence. the result of the last correlation is an indirect effect, showing the effect of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction is significant, as seen from the coefficient value of 0.214 and p-values of 0.010. table 3 coefficient of determination e-learning service quality e-learning student satisfaction e-learning student loyalty r-squared 0.561 0.626 cronbach alpha 0.888 0.806 0.831 full collin. vif 3,280 2,329 2,504 q-squared 0.566 0.626 based on the table above, the results from the inner model show that the r-squared value is 0.561 or 56 per cent, which means that 56 per cent affects e-learning service quality on elearning student satisfaction. so it can be concluded from the coefficient of determination on the mediating variable that e-learning student satisfaction is less moderate. the r-squared size affects the dependent variable, namely esarah rosa dayanti, romi ilham, influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java 111 learning student loyalty, with a value of 0.626 or 63 per cent, which can be interpreted as much as 63 per cent of the influence. the independent variable is e-learning service quality to the dependent variable, namely e-learning student loyalty; other variables outside the study explain the rest. while the q-squared value in the table above, it can be concluded that the value of predictive validity is more than 0, then the research data that has been distributed has been well constructed and has a predictive relationship. research using the cronbach alpha test on the dependent variable, namely elearning student loyalty on the independent variable e-learning service quality with a value of 0.888, the mediating variable e-learning student satisfaction with a value of 0.806 and the performance of e-learning student loyalty with a value of 0.831. then the test results above are declared free from collinearity because it is less than the composite reliability value. hypothesis testing hypothesis 1: e-learning service quality variable significantly influences e-learning student satisfaction at universities in east java. table 3 shows that the variable e-learning service quality significantly influences e-learning student satisfaction at universities in east java, which can be seen through the path coefficient value of 0.749 and the p-values less than 0.05. hypothesis 2: e-learning service quality variable significantly affects e-learning student loyalty at universities in east java. table 3 shows that the variable e-learning service quality significantly influences e-learning student loyalty at universities in east java, which can be seen through the path coefficient value, which is 0.549 and the p-values less than 0.05. hypothesis 3: variable e-learning student satisfaction significantly affects e-learning student loyalty at universities in east java. table 3 shows that the variable e-learning student satisfaction significantly influences e-learning student loyalty at universities in east java, which can be seen through the path coefficient value, which is 0.285 and the p-values less than 0.05. discussion effect of e-learning service quality on e-learning student loyalty the variable e-learning service quality has a significant effect on e-learning student loyalty. the quality of e-learning services provided by the campus to students, whether good or bad, will affect student loyalty using e-learning. based on the questionnaire and the indicators contained in the e-learning service quality variable; this variable has a significant effect on the loyalty of e-learning users because the feasibility of excellent and quality e-learning services can provide added value to the campus. the quality of e-learning makes students more comfortable following daily learning, especially during the pandemic. in addition, e-learning services include website display, administration, materials, and instructors’ added values to make students feel free and loyal to use e-learning during the lecture process (pandey & pande, 2014). the quality of e-learning services is a factor that will determine the advantages of campus facilities which aim to identify, provide convenience, and develop superior e-learning services (jiang et al., 2014). effect of e-learning service quality on e-learning student satisfaction the variable quality of e-learning services significantly affects e-learning student satisfacbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 112 ing student loyalty through e-learning student satisfaction. to achieve loyalty from students as users of e-learning, what must be achieved first is to provide satisfaction to users through services that are applied to e-learning (belanche gracia et al., 2015). e-learning is said to be successful if students are satisfied and loyal. students and the campus can feel these satisfactory results. conclusions, limitations of the research and suggestions conclusion based on the results of the tests and discussions described, it can be concluded that elearning service quality affects e-learning student satisfaction. this is because, on average, the respondents agree that the assessment and quality of e-learning services, whether good or bad, will affect the satisfaction of e-learning users themselves, namely university students. elearning service quality effect on e-learning student loyalty. this means a person’s loyalty in using the e-learning facilities provided by the university can be influenced by the quality of service. this shows that good service quality will create a sense of loyalty from the student. e-learning student satisfaction effect on e-learning student loyalty. this is because creating a sense of satisfaction from students with e-learning facilities makes students comfortable and can use e-learning well so that student loyalty will arise. research limitations in this study, several limitations cannot be overcome, including the following, this research was carried out during the covid-19 pandemic, so the research questionnaires can only be distion, meaning that the campus has provided elearning services well. assessment of e-learning services can include systems, administration, layout, materials to instructors. based on the questionnaire and the indicators contained in the e-learning service quality variable, this variable is essential in the satisfaction of using elearning. student satisfaction is the primary goal of an e-learning service; arnold & sangrà (2018) states that e-learning is good if students are satisfied. effect of e-learning student satisfaction on elearning student loyalty the variable of e-learning student satisfaction has a significant effect on e-learning student loyalty, meaning that students who are satisfied with e-learning systems and services will become loyal students and trust e-learning. the creation of user loyalty depends on the satisfaction felt by the user; the better the quality of service provided by the provider to the user, the more likely new users become customers (nisar & prabhakar, 2017). the number of customers can give trust to others, so the more people who use e-learning as a learning tool, the more effective and high-usefulness of the e-learning system will be (kennepohl & moore, 2016). the effect of e-learning service quality on elearning student loyalty through e-learning student satisfaction based on the analysis results, the path coefficient value of e-learning service quality is 0.214, and p-values are 0.010 for e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction. this indirect relationship results in the conclusion that the variable quality of e-learning services has a significant effect on e-learnsarah rosa dayanti, romi ilham, influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java 113 tributed through the google form. furthermore, researchers cannot provide instructions or explanations if respondents do not understand the statement to be filled out. in addition, this study includes respondents on the island of java, but the distribution of respondents has not been able to represent it evenly. this condition is due to time constraints when distributing questionnaires to universities in areas outside surabaya where the research is domiciled. suggestion based on the results of the conclusions above, the researchers can give suggestions for further research as follows: 1. for further researchers, if at the time of the study, the covid-19 pandemic had subsided, it would be best if the questionnaire was distributed directly to explain the statements to be filled out by respondents. this method is beneficial for equating the interpretation of statements between respondents and researchers. 2. for further researchers, it is hoped that they can maximize the use of questionnaires in expanding the scope of the research area and even out the number of respondents in each region on the island of java to make it more valid. references arguelles, m. j. m. & busquet, j. m. b. (2016). perceived service quality and student loyalty in an online university. international review of research in open and distance learning, 17(4), 264–279. arnold, d. & sangrà, a. (2018). dawn or dusk of the 5th age of research in educational technology? a literature review on (e-) leadership for technology-enhanced learning in higher education (2013-2017). international journal of educational technology in higher education, 15(1). https:/ /doi.org/10.1186/s41239-018-0104-3. belanche gracia, d., casaló ariño, l. v., & guinalíu blasco, m. (2015). the effect of culture in forming e-loyalty intentions: a cross-cultural analysis between argentina and spain. brq business research quarterly, 18(4), 275–292. https://doi.org/ 10.1016/j.brq.2015.02.003. chaw, l. y. & tang, c. m. (2018). what makes learning management systems effective for learning? journal of educational technology systems, 47(2), 152– 169. https://doi.org/10.1177/ 0047239518795828. flanagan, l. & jacobsen, m. (2003). technology leadership for the twenty-first century principal. journal of educational administration, 41(2), 124–142. https:// doi.org/10.1108/09578230310464648. ilham, r, ulum, a. s., & siregar, c. s. (2021). apakah cyberloafing memengaruhi kinerja dosen di indonesia? … (jurnal penelitian ilmu …, 2. http://jurnalekonomi.unisla. ac.id/index.php/jpim/article/view/758. ilham, romi. (2018a). improve quality of eloyalty in online food delivery services/ : a case of indonesia. journal of theoretical and applied information technology, 96(15), 4760–4769. ilham, romi. (2018b). the impact of organizational culture and leadership style on job satisfaction and employee performance. journal of advanced management science, 6(1), 50–53. https://doi.org/10. 18178/joams.6.1.50-53. ilham, romi, & siregar, c. s. (2021). can instagram convince information to users? jurnal manajemen teknologi, 20(2), 117– business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 114 133. https://doi.org/10.12695/jmt.2021. 20.2.2. jiang, g., ma, f., shang, j., & chau, p. y. k. (2014). evolution of knowledge sharing behavior in social commerce: an agentbased computational approach. information sciences, 278, 250–266. https:// doi.org/10.1016/j.ins.2014.03.051. karya, d. f. (2016). analisis kualitas layanan dan kepuasan pengunjung perpustakaan kampus a universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa). business and finance journal, 1 (2). karya, d. f. (2020). customer loyalty perspective developed from customer commitment. journal of applied management and business (jamb), 1(1), 20–26. kennepohl, d. & moore, m. g. (2016). teaching science online: practical guidance for effective instruction and lab work. stylus publishing. https://books.google.co. id/books?id=bgfldaaaqbaj. kotler, p. & keller, k. l. (2015). marketing management, global edition (15th ed.). pearson. larasati, n. a., & andayani, s. (2019). pengaruh penggunaan learning management system (lms) terhadap tingkat kepuasan mahasiswa menggunakan metode delone and mclean. jurnal teknik informatika unika santo thomas, 4(1), 13–20. leonnard, l., daryanto, h. k. ., sukandar, d., & yusuf, e. z. (2014). the loyalty model of private university student. international research journal of business studies, 7(1), 55–68. https://doi.org/10.21632/irjbs.7.1. 55–68. mahanani, p. & karya, d. f. (2016). loyalitas pasien rawat inap melalui layanan bpjs kesehatan (studi pada rsi jemursari surabaya). business and finance journal, 1(1), 1–10. nisar, t. m. & prabhakar, g. (2017). what factors determine e-satisfaction and consumer spending in e-commerce retailing? journal of retailing and consumer services, 39(may), 135–144. https://doi.org/ 10.1016/j.jretconser.2017.07.010. onuma, n., & ada, n. r. (2016). evaluation of students’ personnel services in colleges of education in nigeria. british journal of education, 4(82), 82–98. http://www. eajournals.org/wp-content/uploads/evaluation-of-students’-personnel-services-incolleges-of-education-in-nigeria.pdf. pandey, h. & pande, p. p. (2014). video conferencing/ : an efficient e-learning tool for distance education. 10(2), 308–311. pham, l., limbu, y. b., bui, t. k., nguyen, h. t., & pham, h. t. (2019). does e-learning service quality influence e-learning student satisfaction and loyalty? evidence from vietnam. international journal of educational technology in higher education, 16(1). https://doi.org/10.1186/s41239-0190136-3. purwanto, s. k. & pawirosumarto, s. (2017). pengaruh kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas layanan terhadap penggunaan sistem e-learning di program pascasarjana universitas mercu buana. jurnal manajemen, 21(2), 282–305. https:// doi.org/10.24912/jm.v21i2.237. putra, r. p. (2014). pengaruh kualitas pelayanan islami terhadap kepuasan dan loyalitas nasabah bank bri syariah surabaya. jestt, vol. 1, no.(9), 624. ramadiani, azainil, haryaka, u., agus, f., & kridalaksana, a. h. (2017). user satisfaction model for e-learning using smartsarah rosa dayanti, romi ilham, influence of e-learning service quality on e-learning student loyalty through e-learning student satisfaction at university in east java 115 phone. procedia computer science, 116, 373–380. https://doi.org/10.1016/j.procs. 2017.10.070. rolph, e. a. & srinivasan, s. s. (2003). e satisfaction and e loyalty: a contingency framework. psychology & marketing, 20(2), 123–138. https://doi.org/10.1002/ mar.10063. samir, m., el-seoud, a., taj-eddin, i. a. t. f., seddiek, n., el-khouly, m. m., & nosseir, a. (2009). paper e-learning and students’ motivation: a research study on the effect of e-learning on higher… e-learning and students’ motivation: a research study on the effect of e-learning on higher education. 20–26. https://doi.org/ 10.3991/ijet.v9i4.3465. santi maudiarti. (2018). penerapan e-learning di perguruan tinggi. perspektif ilmu pendidikan, 32(1), 53–68. sasuti, j. r., sunaryanto, & nuris, d. m. (2020). does student satisfaction mediate the correlation between e-learning service quality, academic engagement and academic achievement? journal of accounting and business education, 5(september), 38–53. song, s. (2010). e-learning: investigating students’ acceptance of online learning in hospitality programs. graduate theses and dissertations, paper 11902, 1–144. http:// lib.dr.iastate.edu/etd/11902/. strong, r. (2012). investigating students’ satisfaction with elearning courses: the effect of learning environment and social presence. journal of agricultural education, 53(3), 98–110. https://doi.org/10. 5032/jae.2012.03098. wan-tzu wong, & neng-tang norman huang. (2011). the effects of e-learning system service quality and users’ acceptance on organizational learning. international journal of business and information, 6(2), 205– 225. http://search.proquest.com/docview/ 910986292?accountid=13552% 5cnhttp:/ /findit.lib.rmit.edu.au:9003/sfx_ local??url_ ver=z39.88-2004&rft_val_fmt =info:ofi/ fmt:kev:mtx:journal&genre= article& sid=proq:proq:abiglobal&atitle= the+ effects+of+e-learning+system+ servic. 01 adrian denar.pmd farah jihan nabilah, sulastri irbayuni, effect of employee satisfaction and employee discipline on employee performance of pt mediatech centra filter surabaya 3535 effect of employee satisfaction and employee discipline on employee performance of pt mediatech centra filter surabaya farah jihan nabilah, sulastri irbayuni department of management, faculty of economics and business, pembangunan nasional “veteran” university east java e-mail: farahjihannabilah145@gmail.com abstract: this study aims to analyze the gain of progress and achieve goals. companies need to encourage and monitor employee performance to develop their abilities to the potential. this research is quantitative, with the data used being secondary. the decline in the performance of employees in the production department has an impact on the company because it can hinder the company’s filter production, and the company’s production targets are not achieved. human resource management’s scope generally discusses human beings’ matters, including employee job satisfaction. employee job satisfaction is a factor that is considered necessary because it can affect the running of the company as a whole. the satisfaction felt by employees at work indicates that employees have feelings of pleasure in carrying out work duties. job satisfaction is also a positive attitude of employees towards various situations in the workplace. for organizations, employee job satisfaction must receive attention and fulfilment of this is primarily the task of organizational leaders. for employees, job satisfaction is an individual factor, and a means to achieve work productivity. so within the scope of human resource management, job satisfaction factors benefit organizations/companies, employees, and even the community. keywords: employee satisfaction, employee discipline, employee performance introduction human resources is the most essential asset for an organization or company. the absence of the human element makes the company not run smoothly. the company’s purpose is growth, profit, productivity, and others. employees and companies are two closely related aspects. the critical role of employees in company activities is to provide improvement and development of the company through employee performance programs. the object of research conducted by the author is at pt mediatech centra filter surabaya produces various designs and types of filters for industrial needs. human resource management’s scope generally discusses human beings’ matters, including employee job satisfaction. employee job satisfaction is a factor that is considered necessary because it can affect the running of the company as a whole. the satisfaction felt by employees at work indicates that employees have feelings of pleasure in carrying out work duties. job satisfaction is also a positive attitude of employees towards various situations in the workplace. for organizations, employee job satisfaction must receive attention, and fulfilment of this is primarily the task of organizational leaders. for employees, job satisfaction is an individual factor, and a means to achieve work productivity. so within the scope of human resource management, job satisfaction factors benefit organizations/companies, employees, and even the community (adianita et al., 2017). performance in action. the performance action consists of many components and is not a direct result. performance is individual bebusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 36 cause every employee has a different ability to do their job. the performance comes from work performance or actual performance, which means someone has done work performance or actual performance. performance is the result of a process. according to the behavioral approach to management, performance is the quantity or quality of something produced or done by someone who does the job. the company expects high employee performance. the more employees who have high performance, the overall company productivity will increase to survive in global competition. understanding employee performance according to moeheriono (2010), employee performance or the definition of performance as a result of the performance that can be achieved by a person or group of people in an organization both qualitatively and quantitatively following their respective authorities, duties, and responsibilities. each to legally accomplish the goals of the organization concerned without violating the law and by morality or ethics. according to sedarmayanti (2011), performance is a translation of the word performance, which has the meaning as a result of the work of an employee or worker, a management process in which the work result must have concrete evidence that can also be measured. employee performance indicators are job satisfaction, work discipline, and work environment (mujanah et al, 2020) and (mardhotillah et al, 2021). according to hasibuan (2016), job satisfaction is an emotional attitude that is pleasant and loves his job. this attitude is reflected by work morale, discipline, and work performance. factors that affect employee job satisfaction are the individual factors of the employee himself, salary and workplace facilities, co-workers, and social working conditions. and the indicators of job satisfaction are liking his job, loving his job, work discipline, and work performance. (ayu, et al., 2019). according to edy sutrisno (2016), work discipline, namely: a person’s behavior by regulations, existing work procedures, or discipline, is attitudes, behavior, and actions that are by the rules of the organization, both written and unwritten. in addition, bedjo siswanto, quoted by lijan poltak sinambela (2016), stated work discipline as follows: “work discipline is an attitude of respect, respect, obedience and obedience to applicable regulations, both written and unwritten and able to carry out and does not avoid receiving sanctions if he violates the duties and authorities given to him”. the existence of work discipline will ensure the maintenance of order and the smooth implementation of the company’s work to obtain optimal results. as for employees, work discipline impacts a pleasant working atmosphere to increase enthusiasm in carrying out their work. according to mangkunegara and octorent (2015), work discipline can be measured by the following indicators: punctuality in coming to work, accuracy in returning home, compliance with applicable regulations, use of predetermined work uniforms, responsibilities in doing assignments, carrying out tasks -work assignments to completion every day. (faviandhani et al. 2018). pt mediatech centra filter surabaya was founded in 1990 until now. manufacturing technology and raw materials for various filters are transferred from our principal in europe, korea, and china. at pt mediatech centra filter surabaya has 40 production employees. like business entities in general, pt mediatech centra filter surabaya, in its establishment and its development, cannot be separated from its vision and mission. vision and mission of pt farah jihan nabilah, sulastri irbayuni, effect of employee satisfaction and employee discipline on employee performance of pt mediatech centra filter surabaya 37 conceptual framework and hypotheses job satisfaction job satisfaction or employee satisfaction measures workers’ level of satisfaction with their type of work related to the nature of their job duties, work results achieved, the form of supervision obtained, and a sense of relief and liking for the work they do. dessler (2000) states that job satisfaction has a role in achieving better productivity and quality standards, avoiding the possibility of building a more stable workforce, and using human resources more efficiently. the research results from mcneese–smith (1996) showed a relationship between job satisfaction and employee performance. so it can be concluded that job satisfaction positively affects employee performance because work discipline can increase employee productivity for better performance. then formed the hypothesis: h1: job satisfaction has a positive effect on employee performance at pt mediatech center filter. work discipline work discipline is a tool used by managers to communicate with employees so that they are willing to change behavior and increase their awareness and willingness to comply with all company regulations (rivai, 2011). according to syamsuddinnor (2013) in marheno (2016), work discipline can develop employee performance to improve company performance. it can be concluded that work discipline positively affects performance because it can encourage employees to achieve better performance. then the hypothesis is formed mediatech centra filter surabaya is to create a good environment with the go green program by supporting industries for air pollution problems due to the production process. pt mediatech centra filter surabaya was founded and has run the company since 1990 now. its primary production is various designs and types of features for the industry. it is divided into dry filter (dust filter) and wet filter (liquid filter). as filter media manufacturers, manufacturing technology and raw materials for various filters are the principal transfers in europe, korea, and china. providing european standard quality and continuously prioritizing aftersales service to its customers. filter materials pt mediatech centra filters surabaya are polyester (pe), polypropylene (pp), dralon or acrylic (dt), nomex (no), plyhenylene sulphide (pps), teflon or ptpe (tf), polymide or p84, nylon (nl), fibreglass. the phenomenon that occurs in the production employees at pt mediatech centra filters surabaya is the decline in employee performance in the production section. the decline in employee performance significantly impacts the company because it will hinder its filter production. and not achieving the company’s production targets. the following is the target achievement data from the performance of production employees at pt mediatech centra filters surabaya in 2018–2020 and the company’s targets and the employee attendance table produced by pt mediatech centra filters surabaya. in this study, there are phenomena in companies such as filter production targets that are not by what the company targets per month. with a target of 6000 (six thousand) pcs per month filter products or 72,000 pcs per year filter products. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 38 h2: work discipline has a positive effect on employee performance at pt mediatech center filter. employee performance performance is individuals’ effort on their work (robbins, 2001). meanwhile, according to bernandi & russell (in riani 2011), performance is a record resulting from the function of a particular job or activity during a specific period. research methodology this research is quantitative using a questioner to collect data. data collection using a saturated sampling technique with a sample of 40 people. the population used in this study were all permanent employees at pt mediatech centra in the production section has as many as 40 people. the data collected using purposive sampling and then analyzed using partial least square (pls). results and discussion job satisfaction or employee satisfaction measures workers’ level of satisfaction with their type of work related to the nature of their job duties, work results achieved, the form of supervision obtained, and a sense of relief and liking for the work they do. job satisfaction means feelings of support or unsupport experienced by an employee at work. according to hasibuan (2016), job satisfaction is an emotional attitude that is pleasant and loves his job. this attitude is reflected by work morale, discipline, and work performance. factors that affect employee job satisfaction are individual factors of the employee himself, salary and workplace facilities, co-workers, and social working conditions. and the indicators of job satisfaction are liking his job, loving his job, work discipline, and work performance. factors affecting job satisfaction. five aspects contained in job satisfaction (levi, 2002), namely: 1. the work itself (work itself), every job requires a specific skill by their respective fields. the difficulty of a job and a person’s feeling that his skills are needed in doing the job will increase or decrease job satisfaction. 2. supervisor (supervision), a good boss is willing to respect the work of his subordinates. supervisors can be considered father/mother/ friend figures and superiors for associates. 3. co-workers (workers) is a factor related to the relationship between employees with their superiors and other employees, both the same or different types of work. 4. promotion is a factor related to the presence or absence of opportunities for career advancement while working. 5. salary/wage is a factor in fulfilling the needs of employees who are considered worthy or not. indicators of employee job satisfaction according to harzberg in mangkunegara (2005) in ida ayu brahmasari (2008), there are 4 indicators of employee job satisfaction: compensation, working conditions, administration system, and company policies, opportunity to develop. employee job satisfaction variables according to mangkunegara (2009), job satisfaction is related to the variables, namely: a. turnover is higher job satisfaction, is associated with lower employee turnover. meanwhile, dissatisfied employees usually experience higher turnover. b. work absence rate employees who are dissatisfied with the company will experience a high level of absenteeism. farah jihan nabilah, sulastri irbayuni, effect of employee satisfaction and employee discipline on employee performance of pt mediatech centra filter surabaya 39 c. age with a tendency for older employees to be more satisfied than older employees. this is because older employees are experienced in adjusting to the work environment. while young employees usually have ideal expectations about the world of work, if there is a gap between their expectations and reality, it can cause them to be dissatisfied. d. employment level employees who occupy higher job levels tend to be more satisfied than employees who occupy lower job levels. employees who have a higher level of work show good work skills and express creative ideas at work. e. company organization size, company organization size can affect employee satisfaction. this is because the company’s size is also related to coordination, communication, and employee participation. work discipline is an attitude and behavior of a person who shows obedience, obedience, loyalty, order, and order to company or organization regulations and applicable social norms. enforcing work discipline is very important for the company. the existence of work discipline will ensure the maintenance of order and the smooth implementation of the company’s work to obtain optimal results. as for employees, work discipline impacts a pleasant working atmosphere to increase enthusiasm in carrying out their work. meanwhile, according to edy sutrisno (2016), work discipline, namely: a person’s behavior by regulations, existing work procedures, or discipline, is an attitude, behavior, and actions that are by the organization’s rules, both written and unwritten. in addition, bedjo siswanto, quoted by lijan poltak sinambela (2016), stated work discipline as follows: “work discipline is an attitude of respect, respect, obedience and obedience to applicable regulations, both written and unwritten and able to carry out and does not avoid receiving sanctions if he violates the duties and authorities given to him”. the existence of work discipline will ensure the maintenance of order and the smooth implementation of the company’s work to obtain optimal results. as for employees, work discipline impacts a pleasant working atmosphere to increase enthusiasm in carrying out their work. according to mangkunegara and octorent (2015), work discipline can be measured by the following indicators: punctuality in coming to work, accuracy in returning home, compliance with applicable regulations, use of predetermined work uniforms, responsibilities in doing assignments, carrying out tasks -work assignments to completion every day. work discipline goals discipline can be defined when employees obey, respect, and obey all company regulations and applicable social norms. if the field goes well, the company’s efficiency and effectiveness of employees’ work can increase. according to sutrisno (2011), the objectives of work discipline include: 1. the high sense of employee concern for the achievement of company goals. 2. high enthusiasm and enthusiasm for work and employee initiative to carry out work. 3. the sense of responsibility for employees to carry out their duties as well as possible. 4. the development of a sense of belonging and a high sense of solidarity among employees. 5. increased work efficiency and productivity of employees. with the goal of work discipline, employee work discipline must be enforced in a company. without the employees’ support, it is difficult for the company to realize its goals. so, discipline is one of the most critical factors for achieving its goals successfully. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 40 work discipline indicator the following indicators of work discipline in sinambela (2016) are as follows: 1. attendance frequency the frequency of attendance is one of the benchmarks to determine employee discipline. the higher the frequency of attendance or the lower the absenteeism rate, the employee has high work discipline. 2. awareness level in carrying out their work, employees who are always full of calculation and accuracy have a high level of vigilance towards themselves and their work. 3. adherence to work standards in carrying out his work, an employee must comply with all work standards that work rules have set and guidelines so that work accidents do not occur or can be avoided. 4. obedience to work regulations this is intended for comfort and smooth working. 5. work ethics work ethics are needed by every employee in carrying out their work to create a harmonious atmosphere and mutual respect between fellow employees. definition of employee performance, performance when associated with performance as a noun (noun), then the notion of performance or performance is the result of work that can be achieved by a person or group of people in a company by their respective authorities and responsibilities to achieve company goals illegally, does not violate the law and does not conflict with morals and ethics (rivai & basri, 2004; harsuko 2011). viewed from the point of view of other experts, performance is the amount of effort that individuals put out on their work (robbins, 2001). meanwhile, according to bernandi & russell 2001 (in riani 2011) performance is a record resulting from the function of a particular job or activity over a certain time. models pls the pls output shows that the factor loading value in each indicator is reflected in the path coefficients that appear in each exogenous and endogenous variable. then it can also be seen from the amount of r-square that appears in the endogenous variable. outer loadings test results (mean, stdev, t-values) �� )dfwru� /rdglqj��2�� 6dpsoh� 0hdq��0�� 6wdqgdug� 'hyldwlrq� �67'(9�� 6wdqgdug�(uuru� �67(55�� 7�6wdwlvwlfv� �_2�67(55_�� �;��������.(38$6$1� .(5-$��;��� 0,966748 0,966344 0,007647 0,007647 126,426490 �;��������.(38$6$1� .(5-$��;��� 0,939774 0,938441 0,018381 0,018381 51,127475 �;��������.(38$6$1� .(5-$��;��� 0,948660 0,948327 0,012387 0,012387 76,582662 �;��������',6,3/,1� .(5-$��;��� 0,855815 0,861245 0,017798 0,017798 48,084800 �;��������',6,3/,1� .(5-$��;��� 0,763953 0,753588 0,075508 0,075508 10,117544 �;��������',6,3/,1� .(5-$��;��� 0,737679 0,723902 0,082662 0,082662 8,924076 �;��������.,1(5-$� .$5<$:$1��<�� 0,949750 0,948151 0,018475 0,018475 51,407389 �;��������.,1(5-$� .$5<$:$1��<�� 0,961697 0,959908 0,013628 0,013628 70,568937 �;��������.,1(5-$� .$5<$:$1��<�� 0,941503 0,938566 0,025806 0,025806 36,484233 farah jihan nabilah, sulastri irbayuni, effect of employee satisfaction and employee discipline on employee performance of pt mediatech centra filter surabaya 41 indicator factors from other variables, so that it can be said that all indicators in this study are valid or have good validity. test results average variance extracted (ave) based on the table, it can be seen from the validity of the indicators measured from the factor loading value it is stated that the validity is sufficient if > 0.5 and the t-statistic value > 1.96 (z value at = 0.05). the loading factor is the correlation of indicators and variables. if > 0.5, the validity can be fulfilled, and the tstatistic value > 1.96 is fulfilled its significance. from the table above, the effect of job satisfaction (x1) on employee performance has a positive effect on employee performance (y) is acceptable, based on path coefficients 0.503109. the t-statistic value is 5.109118 > 1.96 (from the table value z! = 0, 05). this means that if the company’s job satisfaction towards employees is high, the employee’s performance increases, on the other hand, if the satisfaction is low, the employee’s performance decreases and cannot achieve the goals of the company. the company pt mediatech centra filter surabaya many employees work not extended due to tedious work and the absence of employee career paths, so they do not get job satisfaction. work discipline (x1) on employee performance positively affects employee performance (y) acceptable, based on path coefficients 0.375067. t-statistic value 5.034376 > 1.96 (from table value z! = 0.05) means that a high level of discipline from employees increases performance. vice versa, low work discipline will result in decreased employee performance. cross loading test results from the results of cross loading data processing, it is obtained that all the loading factor values for each indicator (shaded) both on job satisfaction (x1), work discipline (x2), and employee performance (y) variables, show a higher factor loading value than by loading work disciplin e (x2) work satisfacti on (x1) employee performan ce (y) (x1.1) 0,777855 0,966748 0,773743 (x1.2) 0,675559 0,939774 0,689598 (x1.3) 0,761016 0,948660 0,798556 (x2.1) 0,855815 0,869002 0,790418 (x2.2) 0,763953 0,430199 0,467838 (x2.3) 0,737679 0,388438 0,452117 (x3.1) 0,750270 0,743421 0,949750 (x3.2) 0,716481 0,796852 0,961697 (x3.3) 0,720339 0,726142 0,941503 ave work discipline (x2) 0,620071 work satisfaction (x1) 0,905911 employee performance (y) 0,904438 the next measurement model is the average variance extracted (ave) value, which indicates the magnitude of the indicator variance contained by the latent variable. convergent ave value greater than 0.5 indicates good adequacy of validity for the latent variable. the reflective indicator variable can be seen from the average variance extracted (ave) value for each construct (variable). a good model has required if each construct’s ave value is greater than 0.5. the results of the ave test for the job satisfaction variable (x1) are 0.905911, the work discipline variable (x2) is 0.620071, and business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 42 employee performance (y) is 0.904438, the three variables show a value of more than 0.5, so overall all variables in this study can be said to have good validity. composite reliability test results value of 1. the closer the value to 1, the better the correlation. from the table of latent variable correlations above, the average correlation value between one variable and another shows the average correlation value. the highest correlation value is between the variable job satisfaction (x1) and employee performance (y) 0.794895. it can also be stated that among the variables in the research model, the relationship between the variable job satisfaction (x1) and employee performance (y) shows a stronger connection than the relationship between other variables, this can also be interpreted that in this research model the high and low employee performance is more influenced by the trust variable than the work discipline variable. inner model test results (structural model testing) composite reliability work discipline (x2) 0,829815 work satisfaction (x1) 0,966534 employee performance (y) 0,965976 the value of composite reliability measures the reliability of the construct, a reliable construct. if the composite reliability value is above 0.70, the indicator consistently measures the latent variable. the results of the composite reliability test show that the job satisfaction variable (x1) is 0.966534, the work discipline variable (x2) is 0.829815, and employee performance (y) is 0.965976, the three variables show the composite reliability value above 0.70 so that it can be said that all variables in this study are reliable. test results of latent variable correlations in pls, the relationship between variables or constructs can be correlated with one another, be it exogenous and endogenous variables or exogenous and exogenous variables, as shown in the table of latent variable correlations above. the relationship between one variable and another has a maximum correlation work discipline (x2) work satisfaction (x1) employee performance (y) work discipline (x2) 1,000000 work satisfaction (x1) 0,777956 1,000000 employee performance (y) 0,766464 0,794895 1,000000 r square work discipline (x2) work satisfaction (x1) employee performance (y) 0,687394 r2 value = 0,687394. this can be interpreted that the model can explain the phenomenon of employee performance influenced by independent variables, including job satisfaction and work discipline, with a variance of 68.73%. in comparison, the remaining 31.27% is explained by other variables outside of this study (besides job satisfaction and discipline). work). in addition to knowing the value of r2, goodness of fit the goodness of fit of the research model can be seen from the magnitude of q2 or q-square predictive relevance for the structural model, which is to measure how well the observation values generated by the model farah jihan nabilah, sulastri irbayuni, effect of employee satisfaction and employee discipline on employee performance of pt mediatech centra filter surabaya 43 and also the parameter estimates are. q-square value > 0 indicates the model has predictive relevance; conversely, if the value of q-square 0 indicates the model lacks predictive relevance. the formula does q-square calculation: q2 = 1 (1 r 1 2) (1 r 2 2) ... (1r p 2) where r 1 2, r 2 2 ... r p 2 is the r-square of the endogenous variable in the equation model. the magnitude of q2 has a value with a range of 0 < q2 < 1, where the closer to 1, the better the model. the quantity of q2 is equivalent to the coefficient of total determination in path analysis. in this study, the value of q2 is equal to q2 = 1 (1 0,687394) = 0,687394. from the results of the calculation of q2 with the results of 0.687394, it can be concluded that the research model can be said to meet predictive relevance. result in connection with the level of discipline in the employees of pt mediatech centra filter surabaya, in this study, in fact, the employees of pt mediatech centra filter surabaya is relatively low because many employees still do not comply with company regulations, especially in punctuality during working hours, and impact a lack of responsibility for the assigned tasks. this can be caused by a lack of supervision from leaders who direct employees to obey company rules and work in line with the provisions, causing a decrease in employee performance. conclusion based on the study results, the conclusion is that job satisfaction contributes to the performance of employees of pt mediatech center filter surabaya. these results explain that the high or low or good and bad work discipline affects the high and low performance of employees of pt mediatech center filter surabaya. in addition, work discipline contributes to the performance of pt mediatech center filter surabaya. these results explain that the high or low or good and bad employee work discipline will affect the high and low performance of employees of pt mediatech center filter surabaya. the suggestion that the author can submit is, in increasing employee job satisfaction, the leadership must always provide company facilities that make it easier, such as providing better equipment so that the filter making process can be done more quickly by employees and employees get a feeling of satisfaction when working at pt mediatech center filter. the next suggestion is to enforce employee discipline in a company because it is difficult to achieve its goals without good discipline. pt mediatech central surabaya is expected to increase employee discipline by being more assertive in taking action and giving sanctions to not disciplined employees. references adianita, a. s., mujanah, s., & candraningrat, c. (2017). kompetensi karyawan, emotional quotient dan self efficacy pengaruhnya terhadap organizational citizenship behavior dan kinerja karyawan pada indomobil grup di surabaya. jurnal riset ekonomi dan manajemen, 17(1), 199– 212. ayu, f., karya, d. f., & rhomadhoni, m. n. (2019). pengaruh program k3 terhadap produktivitas kerja pada operator alat berat di pt bjti kota surabaya. business and finance journal, 4(2), 115–122. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 44 diah fadhilah (2018) pengaruh disiplin kerja, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan pt bank sumut syariah (persero) tbk. cabang syariah medan. faviandhani, q., karya, d. f., & widjaja, r. p. a. (2018). gaya kepemimpinan patrenalistik, budaya organisasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan dengan variabel intervening kepuasan kerja pada perusahaan. hasibuan, malayu s.p. 2020. manajemen sumber daya manusia. jakarta: bumi aksara. kartika dewi. (2017) pengaruh disiplin kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pt taspen (persero) kcu medan. mangkunegara, a.a. 2013. manajemen sumber daya manusia, cetakan kesebelas. bandung: pt remaja rosdakarya. mangkunegara, a.a. 2014. manajemen sumber daya manusia perusahaan. bandung: remaja rosdakarya. mardhotillah, r. r., karya, d. f., saadah, c. & rasyid, r. a. 2021. the antecedents of employee performance: case study of nahdlatul ulama university of surabaya, indonesia. iop conference series: earth and environmental science 747 (1), 012– 112. marwansyah. 2016. manajemen sumber daya manusia. bandung: alfabeta. melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening”. mujanah, s., aini, s. n. & candraningrat, c. (2020). transformational leadership, kondisi kerja dan budaya organisasi pengaruhnya terhadap kinerja karyawan. business and finance journal, 5(2), 155-164. moeheriono. 2010. pengukuran kinerja berbasis kompetensi. surabaya: ghalia indonesia oki prasetyo (2013). pengaruh lingkungan kerja, disiplin kerja, dan kompensasi terhadap kinerja karyawan pt masscom graphy semarang. resti yulistria, eka putri handayani, tiara nurmalsari. (2018). pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada pt prima krista sejahtera bandung. sedarmayanti. 2011. manajemen sumber daya manusia. reformasi birokrasi dan manajemen pegawai negeri sipil, cetakan kelima, bandung: pt refika aditama. setiyo wibowo (2015). pengaruh kepuasan kerja dan motivasi terhadap kineja karyawan (studi kasus pada bumi perkemahan dan graha wisata pramuka cibubur). slamet purwanto. (2016). pengaruh lingkungan kerja, kepuasan kerja, dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan outsourching bagian gudang pada pt indofood cbp sukses makmur, tbk divisi noodle cabang semarang. sinambela. lijan poltak. 2016. manajemen sumber daya manusia: membangun tim kerja yang solid untuk meningkatkan kinerja. jakarta: bumi aksara. 01 reno.pmd tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 117117 the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya with job satisfaction as a mediating variabel tatik suryani, reno triyono universitas hayam wuruk perbanas e-mail: tatik@perbanas.ac.id, 2019610860@students.perbanas.ac.id abstract: this study examines four factors that are suspected to be causally influential on organizational commitment of nahdlatul ulama university employees, surabaya. the purpose of this study was to determine whether or not there was an influence of organizational culture, islamic leadership and islamic work ethic on organizational commitment of the employees of nahdlatul ulama university, surabaya with job satisfaction as a mediating variable. the population of this study was all employees of the university of nahdlatul ulama, surabaya, which consisted of 227 lecturers and 135 education staff and was determined to be the sample with the formula from green as many as 122 people. data collection used a questionnaire consisting of 69 questions which were previously tested for validity and reliability. the data analysis technique in this study used partial least squares (pls). the results showed that organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic had a direct and significant positive effect on organizational commitment. organizational culture and islamic leadership have a direct and significant positive effect on job satisfaction as well. however, islamic works ethic has an effect on job satisfaction but not significantly. job satisfaction mediates the relationship between organizational culture and islamic learning on organizational commitment. job satisfaction does not mediate the effect of the relationship between islamic work ethics on organizational commitment. keywords: organizational culture, islamic leadership, islamic works ethic, organizational commitment a. introduction what makes organizational culture unique is its feelings, beliefs, standards, customs, and rules. therefore, specifically the culture in the organization will be determined by the conditions of team work, leaders and characteristics of the organization as well as the applicable administration process. according to armstrong and taylor (2014:120) if the function of organizational culture cannot be fulfilled satisfactorily, organizational effectiveness can be significantly reduced by the organizational culture. leadership is something that cannot be separated in an organization as revealed by adebara and okeoghene (2018) leadership is important for organizations that want to be successful in achieving company goals. egel and fry (2017) reveal that islamic leadership encourages leaders to express their faith through active participation in all aspects of life, including work. the success or failure of an organization can be influenced by the leadership style of the leader of the organization (riinawati, 2019:153). the effectiveness of efforts to achieve personal goals and organizational goals is influenced by leadership style, as revealed by (armstrong and taylor, 2014:324) that an effective leader is a leader who is able to flexibly adapt his leadership style to the demands and situations of the organization. (salahudin, et al, 2016) revealed that many organizations have collapsed due to ethical probbusiness and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 118 lems, thus attracting a lot of research on ethical issues and the effectiveness of ethical theory. according to nasution and rafiki (2019) selfethic has become an interesting topic to discuss recently, especially the islamic work ethics. islamic works ethics (iwe) builds islamic expectations with admiration for individual behavior in the workplace which includes exertion, dedication of responsibility, creativity of social relations and cooperation. al-douri, et al. (2020) revealed that iwe has reflected the akhlaqul karimah upheld by the prophet muhammad (saw), which must be adopted by muslims and is included in daily business activities and not only applied in religious rituals. islamic work ethics as one of the factors considered in employee commitment and satisfaction in an organization according to al-douri et al. (2020). meanwhile, armstrong and taylor (2014:124) revealed that organizational culture can determine organizational effectiveness to further determine employee commitment and satisfaction to their organization as well. yanti and dahlan (2017) assert that job satisfaction can also encourage the growth of loyalty and a strong will to contribute to the organization. loyalty and a strong will to contribute to the organization are at the core of organizational commitment. in the process of realizing the organization’s vision as an excellent university, it requires a strong commitment from all employees of the university of nahdlatul ulama surabaya. the large number of employees at nahdlatul ulama university surabaya who resigned was made possible by the lack of job satisfaction and commitment among employees to their organization. the most reason why surabaya nahdlatul ulama university employees resign was because they were accepted in other institutions. this indicates that most of the employees who resign because of their unwillingness to contribute to their organization as expressed by yanti and dahlan (2017) loyalty and a strong will to contribute to the organization are the core of organizational commitment. therefore this study aims to determine how the influence of organizational culture, islamic leadership and islamic work ethics on organizational commitment and the influence of organizational culture, islamic leadership and islamic work ethics on employee job satisfaction and whether job satisfaction can mediate the relationship between organizational culture, islamic leadership and islamic work ethics with employee organizational commitment. 1. organizational culture ivancevich, et al. (2005:44) defines organizational culture as a pattern of basic assumptions found or developed by certain groups when learning to deal with problems of external adaptation and internal integration that have worked well enough to be considered valid. wibowo (2016:16) reveals that organizational culture is the philosophy that the basis of the organization contains shared beliefs, norms, and values which are the core characteristics of how to do things in an organization. these beliefs, norms and values become the grip of all human resources in the organization in carrying out their performance. according to yanti and dahlan (2020) organizations that have superior values that are massively instilled in their employees will become role models for employees in carrying out their daily duties. 2. islamic leadership according to rahiim (2017: 8) in islam proportionally leadership is interpreted as a character that will bring the community to the tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 119 tional state in which employees view their work. job satisfaction shows a person’s feelings towards his job. 5. organizational commitment according to adebara and okeoghene (2018), employee commitment involves employee loyalty to the achievement of organizational goals by complying with rules, regulations and goals. meanwhile, allen and meyer (1993) conceptualize employee commitment as three components which include: 1. affective commitment involves employees’ emotional attachment and feeling of belonging to the organization. therefore, employees who are effectively committed have strong bonds and have high value for the organization. 2. normative commitment is a feeling of obligation on the part of employees to remain in an organization as a consequence of resignation. 3. continuity commitment refers to the need for employees to stay in the organization due to lack of alternatives. a. the influence of organizational culture on organizational commitment jigjiddorj et al. (2021) revealed that organizations with a strong culture are better able to retain committed employees who are satisfied with their jobs. meanwhile, according to senjaya and aninidita (2020) employees who view the culture in their organization as fair and respectful of their employees will have a higher level of organizational commitment. based on research conducted by (jigjiddorj et al. 2021) and (senjaya and aninidita, 2020) it is known that organizational culture has a posiagreed goals, which can articulate and harmonize the interests that exist in society. in perfecting the character of a leader, islam it is necessary to have four main characteristics possessed by the apostles who are able to become the basis for building the character of a good islamic leader. the four mandatory characteristics according to navis, et al. (2016: 122) are sidq, amanah, fathanah and tabligh. 3. islamic work ethics etymologically, ethics and ethos come from the greek word ethos which means an ordinary place of residence; meadow; cage; custom; morals; the nature of feeling; attitude; way of thinking. whereas in its plural form (ta etha) it means custom. this plural form of ethics was used by the philosopher aristotle (384–322 bc) to explain their study of greek moral philosophy (values and ideology) as expressed by (irkhami, 2014:2). irkhami (2014:11) continue his statement ethics is always associated with the order of the daily life of a society. ethics can be seen as a critical and rational reflection on moral values and norms that are upheld in social life, both individually and in groups. islam is a religion that is present on this earth to convey ethical and moral teachings of humanity and justice for all mankind. 4. job satisfaction according to ilhamdi et al. (2019:46) job satisfaction is a feeling of satisfaction or pleasure experienced by employees for the work delegated by the company to themselves. job satisfaction can be seen from whether in work someone gets job satisfaction in accordance with what is desired. meanwhile, handoko (2008) said that job satisfaction is a pleasant or unpleasant emobusiness and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 120 tive effect on organizational commitment, this indicates that organizational culture is an important condition in building organizational commitment in a company or organization. b. the influence of islamic leadership on organizational commitment according to egel and fry (2017) leadership research and practice is dominated by western-based model leadership practices, although consensus is emerging that new theories and models are needed to encourage crosscultural understanding and approaches. abusama et al. (2017:2) in elfani (2019) explains that the skills of islamic leaders in leading will lead people to the goals they want to achieve, namely dignity and prosperity accompanied by god’s blessings. it becomes important for organizations that want to succeed in achieving goals and objectives to have capable leaders who will influence employees to act in a direction that will increase their commitment to organizational goals according to adebara and okeoghene (2018). based on the opinions of adebara and okeoghene (2018), elfani (2019), and (egel and fry, 2017) regarding islamic leadership and leadership theory, and based on research conducted by (yusuf, 2017) it is known that leadership style has a direct influence on employee organizational commitment, this is indicates that islamic leadership and organizational commitment of employees are factors that need to be considered in a company or an organization. c. the influence of islamic work ethics on organizational commitment through islamic work ethics (iwe) management persuades its members to not only commit effectively and be open to change, but to work towards implementing progressive change. this was revealed by al-shamali et al. (2021). employees have a strong commitment and perceived satisfaction with their organization not only based on the benefits package or compensation received but also consider iwe as one of the factors according to nasution and rafiki (2019). based on research conducted by al-shamali et al. (2021) where it is known that iwe has a positive influence on affective commitment. another study conducted by nasution and rafiki (2019) showed that iwe has a positive and significant relationship to organizational commitment, it is indicated that iwe and organizational commitment are factors that are considered in a company or organization. d. the influence of organizational culture on organizational commitment with job satisfaction as a mediation variable leea et al. (2018) revealed that organizational culture is expected to encourage employee behavior and attitudes because acceptance of the organization’s underlying values is a prerequisite for employees’ affective commitment, which is defined as employees’ emotional attachment, identification with, and involvement in the organization. based on research conducted by leea et al. (2018), it is known that organizational culture has an influence on employees’ affective commitment, and research conducted by (yusuf, 2017) shows that organizational culture has a direct influence on job satisfaction and job satisfaction has a direct influence on organizational commitment. from the two studies, it can be indicated that organizational culture can create job satisfaction which can then create employee organizational commitment. tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 121 e. the effect of islamic leadership on organizational commitment with job satisfaction as a mediation variable according to dulay and marlina (2019) job satisfaction can be increased through good relationships from leadership to subordinates. in this case, leadership is certainly part of the way that the planned activities can run effectively. elfani (2019) added that islamic leadership can affect employee job satisfaction. furthermore, elfani (2019) states that employees will feel satisfied if they are treated fairly and attentively, given clear examples and directions as well as good examples. meanwhile, yusuf (2017) said that leadership style is said to affect organizational commitment and acts as an important predictor in increasing organizational commitment. making employees feel that they are important assets to the organization and will ultimately increase their commitment to the organization. based on the three studies, it is known that leadership style can affect employee organizational commitment directly or can affect employee job satisfaction which can then affect employee organizational commitment. from this it can be indicated that islamic leadership has an influence on employee job satisfaction which can then affect employee organizational commitment. f. the influence of islamic work ethics on organizational commitment with job satisfaction as a mediation variable in a study conducted by siswanto et al. (2019), it is said that islamic work ethics (iwe) comes from the koran and the hadith of the prophet muhammad saw. iwe is built on four principles: business, competition, transparency and morally responsible behavior. the four principles according to siswanto et al. (2019) reflect job satisfaction and organizational commitment. from the research conducted by nasution and rafiki (2019), it was found that iwe had an effect on job satisfaction and organizational commitment. islamic work ethic can increase organizational commitment indirectly through job satisfaction. meanwhile, in the research of (siswanto et al. 2019), the total influence of islamic work ethics on organizational commitment is indirectly smaller than the direct effect, so it can be indicated that iwe can create job satisfaction which can then increase organizational commitment. the proposed model builds on and extends past research and theory. the proposed model of this research is used to describe the patterns and ways of thinking in this study where in this framework it is described about organizational culture, islamic leadership and islamic work ethics that affect organizational commitment which is mediated by job satisfaction. h1 organizational culture has a significant positive effect on commitment nahdlatul ulama surabaya university employee organization h2 islamic leadership has a significant positive effect on commitment organization of employees of nahdlatul ulama university surabaya. h3 islamic work ethic has a significant positive effect on commitment organization of employees of nahdlatul ulama university surabaya. h4 organizational culture has a significant positive effect on satisfaction nahdlatul ulama university surabaya employee work. h5 islamic leadership has a significant positive effect on satisfaction nahdlatul ulama university surabaya employee work. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 122 h6 islamic work ethic has a significant positive effect on satisfaction nahdlatul ulama university surabaya employee work. h7 job satisfaction mediates the influence of organizational culture on organizational commitment of nahdlatul ulama university surabaya employees. h8 job satisfaction mediates the effect of islamic leadership on organizational commitment of nahdlatul ulama university surabaya employees. h9 job satisfaction mediates the influence of islamic work ethics on organizational commitment of nahdlatul ulama university surabaya employees. v. research methodology 1. samples the minimum number of samples required in this study based on the calculations carried out is 122. the sample in this study was obtained using certain criteria that were adapted to the research objectives or purposive sampling. data collection methods in this study were conducted using a questionnaire. each respondent’s answer choice is given a score or weight which is arranged in stages based on the likert scale. the likert scale in this study used a likert scale of 1–5 with scores obtained on the favourite items and vice versa. 2. characteristics of respondents the results of the respondents’ answers as many as 127 people can be classified based on their gender, which consists of 61.4% female or 78 respondents and 38.6% male or 49 respondents. respondents’ answers are also classified based on employment status. the employment status of the respondents is 120 of them are permanent employees or 94.5% while the other 5.5% are employees with contract status. characteristics of respondents based on last education is 0.8% or 1 person has a senior high school education, 10 people have a diploma education or 7.9%, as many as 40 people have an undergraduate education or 31.5%, 70 respondents have a master’s degree or equivalent to 55.1%, 4 people with doctoral education or 3.1% and 1.6% or as many as 2 people with the last position of nursing profession. characteristics of respondents based on their tenure can be grouped as follows: <1 year as many as 1 person or 0.8%. while the working period of 1–5 years is 45 people or 35.4%. for a period of 5–10 years there are 56 people or 44.1% and for a working period of > 10 years there are 25 people or 19.7%. h6 budaya organisasi islamic works ethis islamic leadership kepuasan kerja komitmen organisasi h5 h4 h3 h1 h2 h7 h8 h9 figure 1 research framework tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 123 c. result and discussion this study uses partial least square (pls) which is a method for predicting the model construct with many factors and collinear relationships. after processing the data with the smartpls3.0 program, an evaluation of the measurement model and model structure is carried out. the path relationship of each variable in this study is presented in figure 2. 1. structural equations modelling to evaluate the structure of the model used path coefficients, values of r² and f². from table 1 it can be seen that there is a significant relationship between each variable figure 2 path analysis table 1 total effect variable original sample (o) standard deviation (stdev) t statistics (|o/stdev|) ket. budaya organisasi -> kepuasan kerja 0,263 0,105 2,510 sig budaya organisasi -> komitmen organisasi 0,368 0,091 4,025 sig islamic leadership -> kepuasan kerja 0,568 0,075 7,557 sig islamic leadership -> komitmen organisasi 0,148 0,072 2,050 sig islamic work ethics -> kepuasan kerja 0,110 0,099 1,107 tdk sig islamic work ethics -> komitmen organisasi 0,381 0,092 4,143 sig kepuasan kerja -> komitmen organisasi 0,320 0,093 3,431 sig business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 124 organizational commitment variable. the islamic leadership variable has a strong influence on the job satisfaction variable but has a weak effect on the organizational commitment variable. the islamic work ethics variable has a weak influence on the job satisfaction variable and has a moderate effect on the organizational commitment variable. the job satisfaction variable itself has a weak influence on the organizational commitment variable. the criteria for acceptance or rejection of hypotheses. h0 and h1 are determined using the criteria h0 is accepted or h1 is rejected, if p value 0.05 and h0 is rejected or h1 is accepted, if p value <0.05. from the table 4, it is known that hypotheses h1 can be accepted due to the t-statistic value is 4.025 and the p-value is 0.000 and the value of t statistic> 1.96 and the value of pvalue <0.05. h2 can be accepted due to the t statistic is 2.050 and the p-palue is 0.041 and the value of t-statistic> 1.96 and the value of pvalue <0.05. h3 can be accepted because of the t-statistic is 4.143 and the p-value is 0.000 and the value of t-statistic> 1.96 and the value of p-value <0.05. h4 can be accepted because of the t-statistic is 2.510 and the p-value is 0.012 and the value of t-statistic> 1.96 and the value of p-value <0.05. h5 can be accepted because of the t-statistic is 7.557 and the pvalue is 0.000 and the value of t-statistic> 1.96 and the value of p-value <0.05. h6 can not be because the t statistic value obtained is > 1.96 except for the influence between the islamic work ethics variable and the job satisfaction variable where the t statistic value is 1.107 or < 1.96. the next model’s feasibility test is to use r². table 2 r² r square r square adjusted kepuasan kerja 0,738 0,732 komitmen organisasi 0,693 0,683 from the table above, it can be seen that the variability of the endogenous variable job satisfaction can be explained by 73.8% by exogenous variables and the variability of endogenous variables of organizational commitment can be explained by 69.3% by exogenous variables. the next model’s feasibility test is to use the f² value. this f² value is used to determine the effect of the exogenous latent variable or the independent variable on the endogenous latent variable or the dependent variable. according to helen and wang (2010) f² itself is interpreted as a value of 0.02 (weak exogenous variable influence), 0.15 (moderate exogenous latent variable influence) and 0.35 (strong exogenous variable influence). from the table above, it is known that the organizational culture variable has a weak influence on the job satisfaction variable and the kepuasan kerja komitmen organisasi keterangan budaya organisasi 0,087 0,079 weak, weak islamic leadership 0,597 0,001 strong, weak islamic work ethics 0,018 0,149 weak, moderat kepuasan kerja 0,088 weak table 3 f² tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 125 accepted due to the t-statistic is 1.107 and the p-value is 0.269 and the value of t-statistic < 1.96 and the value of p-value > 0.05. h7 can be accepted because of the value of t-statistic is 2.226 or has been more than 1.96. while the pvalue is 0.026 or less than 0.05. h8 can be accepted because of the value of t-statistic is 3.033 or has been more than 1.96. while the pvalue is 0.003 or less than 0.05 and h9 can not be accepted because of the value of t statistic is 0.951 or less than 1.96. while the p-value is 0.342 or more than 0.05. 2. discussion according to (yanti and dahlan, 2020) organizations that have superior values that are massively instilled in their employees will become role models for employees in carrying out their daily duties. organizational culture at nahdlatul ulama university surabaya is developed and continues to be maintained by applying and implementing organizational cultural values into every activity carried out by every academic community at nahdlatul ulama university surabaya. one example is the implementation of routine istighosah for employees in which a culture of values is inserted. organizational cultural values so that nahdlatul ulama university surabaya employees understand and explore the application of organizational culture at nahdlatul ulama university surabaya which will further increase the love of nahdlatul ulama university surabaya employees to their organization which in turn will increase organizational commitment of nahdlatul ulama university surabaya employees. according to rahiim (2017:8) in islam proportionally leadership is interpreted as a character that will bring the community to the agreed goals, which can articulate and harmonize the interests that exist in society. islamic leadership developed at nahdlatul ulama university surabaya was developed with the aim of increasing organizational commitment of nahdlatul ulama university surabaya employees. one way to improve the implementation of islamic leadership is by adding an element of assessment of structural officials so that the implementation of islamic leadership can be continuously monitored table 4 total effect variable original sample (o) standard deviation (stdev) t statistics (|o/stdev|) p values budaya organisasi -> kepuasan kerja 0,263 0,105 2,510 0,012 budaya organisasi -> komitmen organisasi 0,368 0,091 4,025 0,000 islamic leadership -> kepuasan kerja 0,568 0,075 7,557 0,000 islamic leadership -> komitmen organisasi 0,148 0,072 2,050 0,041 islamic work ethics -> kepuasan kerja 0,110 0,099 1,107 0,269 islamic work ethics -> komitmen organisasi 0,381 0,092 4,143 0,000 kepuasan kerja -> komitmen organisasi 0,320 0,093 3,431 0,001 business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 126 and measured and can be continuously applied in the organization. one of the attitude statements in the application of islamic leadership is that the attitude of superiors and employees of nahdlatul ulama university surabaya can respect each other and for a superior it is required to be able to encourage subordinates to continue to develop and improve their ability to work so as to increase the willingness of employees to remain part of nahdlatul ulama university surabaya, which means increasing organizational commitment. according to shukor (2021) islamic work ethic focuses on the pattern of relationships between humans and their creators. the application of islamic work ethic at nahdlatul ulama university surabaya is aimed at increasing organizational commitment of the employees of nahdlatul ulama university surabaya. one of the efforts to improve islamic work ethic is to affix in the competency assessment elements of nahdlatul ulama university surabaya employees the elements of islamic work ethic starting from the habit of greetings and greetings as well as the ability and discipline in obeying the existing regulations in the organization. one indicator of organizational commitment variable is the willingness to use real effort on behalf of the organization. the willingness to obey the rules in the organization as well as the willingness to carry out ethics in the organization reflects the willingness and earnest effort on behalf of the organization is an organizational commitment. organizational culture in the context of behavior-based management is very important. according to duryadin et al. (2019:94) this context is the embodiment of positive behavior in the organizational context. in this context, the company must be able to find out what values are applied in the organization and at the same time be able to read well the values held by each individual. at nahdlatul ulama university surabaya, one of the values applied in the organizational culture is that the employees of nahdlatul ulama university surabaya support each other in completing each other’s work. according to duryadin et al. (2019:58) that the highest job satisfaction is not measured by the satisfaction of the personal ego but rather from the benefit of others. at nahdlatul ulama university surabaya, it is proven that the highest indicator based on the results of the respondents’ answers is the indicator of coworkers who support each other in completing work or in other words, at nahdlatul ulama university surabaya, it is more concerned with benefiting others than just the interests of personal achievement. it can be concluded that organizational culture at nahdlatul ulama university surabaya can affect job satisfaction of nahdlatul ulama university employees surabaya. according to riinawati (2019:153) the way a leader leads his members is important. the success or failure of an organization can be influenced by the leadership style of the leader of the organization. nahdlatul ulama university surabaya applies islamic values in its organization, including in the way and style of leadership such as the leadership values exemplified by the prophet muhammad saw according to navis et al. (2016:122) namely sidq, amanah, fatah, tabliq. one of the attitude statements on the application of islamic leadership at nahdlatul ulama university surabaya is the attitude of superiors and employees of nahdlatul ulama university surabaya to respect each other. at nahlatul ulama university surabaya, a superior is also required to be able to encourage subordinates to continue to develop and improve their abilities at work so tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 127 that the desired job satisfaction of employees is achieved. this shows that islamic leadership at the nahdlatul ulama university surabaya is able to increase employee job satisfaction. according to irkhami (2014:11), ethics can be seen as a critical and rational reflection on moral values and norms that are upheld in social life, including in life and the world of work, both individually and in groups. nahdlatul ulama university surabaya in implementing islamic work ethics where one of the values is professional in which there is a wholehearted component (al-ikhlas) using one way, one of which is by adding a religious test and modesty in the selection of employee acceptance. this aims in addition to getting professional employees also put their trust in allah swt. according to khadijah et al. (2015), professional employees who have good sincerity and humility have a tendency to submit the results of their every effort to allah swt. whether the results are good or not. so that the dimensions of job satisfaction such as salary, promotion and work environment are not too much of a problem and what causes islamic work ethic to have a positive effect on job satisfaction even though it is not significant. according to duryadin et al. (2019:94) this context is the embodiment of positive behavior in the organizational context. according to yanti and dahlan (2020) organizations that have superior values that are massively instilled in their employees will become role models for employees in carrying out their daily duties. one of the organizational cultural values that exist at nahdlatul ulama university surabaya is rahmatan lil ‘alamin in which there is a component of caring and helping. according to nuryadin et al. (2019:58) that the highest job satisfaction is not measured by the satisfaction of the personal ego but rather from the benefit of others. this will be influenced by the application of the cultural value of helping each other at nahdlatul ulama university surabaya which will then foster a sense of belonging both among fellow employees and towards the organization which then fosters organizational commitment. according to riinawati (2019:153), the success or failure of an organization can be influenced by the leadership style of the organizational leader. one example of leadership conveyed by the prophet muhammad, according to navis et al. (2016:126) is tabliq or being able to convey. at the university of nhadlatul ulama surabaya, this is implemented with one example being that a superior/leader is required to be able to encourage subordinates to continue to develop and improve their abilities at work so as to achieve job satisfaction and achieve their best dedication to the company as stated by nuryadin et al. (2019: 58), an employee is satisfied when he has given his best work and dedication to the company. the highest job satisfaction is not measured by the satisfaction of the personal ego but rather from the benefit to others, the benefit to the organization. in this case, it can say the organizational commitment. according to irkhami (2014: 11), ethics can be seen as a critical and rational reflection on moral values and norms that are upheld in social life, including in life and the world of work, both individually and in groups. nahdlatul ulama university surabaya in implementing islamic work ethics where one of the values is professional in which there is a wholehearted component (al-ikhlas) using one way, one of which is by adding a religious test and modesty in the selection of employee acceptance. this business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 128 aims in addition to getting professional employees also put their trust in allah swt. according to khadijah et al. (2015), professional employees who have good sincerity and humility have a tendency to submit the results of their every effort to allah swt. whether the results are good or not. so that the dimensions of job satisfaction such as salary, promotion and work environment are not too much of a problem. this is what causes islamic work ethic to have a positive effect on job satisfaction even though it is not significant which in turn also affects organizational commitment but is not significant. d. conclusion based on the discussion carried out, the conclusions that can be drawn are as follows: 1. organizational culture has a significant positive effect on organizational commitment, thus the first hypothesis is accepted and proven true. 2. islamic leadership has a significant positive effect on organizational commitment, thus the second hypothesis is accepted and proven true. 3. islamic work ethics has a significant positive effect on organizational commitment, thus the third hypothesis is accepted and proven true. 4. organizational culture has a significant positive effect on job satisfaction, thus the fourth hypothesis is accepted and proven true. 5. islamic leadership has a significant positive effect on job satisfaction, thus the fifth hypothesis is accepted and proven true. 6. islamic work ethics has an insignificant positive effect on job satisfaction thus the sixth hypothesis is declared not accepted and not proven true. 7. job satisfaction mediates the influence of organizational culture on organizational commitment, thus the seventh hypothesis can be accepted and proven true. 8. job satisfaction mediates the effect of islamic leadership on organizational commitment, thus the eighth hypothesis can be accepted and proven true. 9. job satisfaction does not mediate the influence of islamic work ethics on organizational commitment, thus the ninth hypothesis cannot be accepted and is not proven true. e. rerences elfani. (2019). peran mediasi kepuasan kerja pada pengaruh kepemimpinan islam terhadap loyalitas karyawan bni syariah di surabaya. journal of business and banking, issn 2088-7841, vol. 9, no. 1, mei– oktober 2019. surabaya: stie perbanas. ferdinand, augusty. (2002). structural equation modelling dalam penelitian manajemen. semarang: bp undip. gachter, simon & falk, armin. (2000). work motivation, institutions and performance, the participants of the first asian conference on experimental business research at the hongkong university of science and technology. working paper pp. 1–18. glaser, s. r. zamanou, s., & kenneth hacker. (1987). measuring and interpreting organizational culture. management communication quarterly, vol. 1, no. 2, pp. 173–178. gondokusumo, sutanto. (2015). motivasi kerja, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional karyawan. jmk, vol. 17, no. 2, september 2015, 186–196. tatik suryani, reno triyono, the influence of organizational culture, islamic leadership, islamic work ethic on organizational commitment of employee at nahdlatul ulama university surabaya 129 h. teman koesmono. (2015). pengaruh budaya organisasi terhadap motivasi dan kepuasan kerja serta kinerja karyawan pada sub sektor industri pengolahan kayu skala menengah di jawa timur, pp. 162–179. surabaya: jurusan ekonomi manajemen, fakultas ekonomi, universitas kristen petra. herpen, m., praag, m., & cools, k. (2002). the effects of performance measurement and compensation on motivation and empirical study. conference of the performance measurement association in boston, pp. 1–34. kotler, kertajawa, & setiawan. (2017). marketing 4.0. jakarta: gramedia pustaka utama. kreitner, robert & kinicki, angelo. (1995). organizational behavior, third edition, printed in the united state of america: richard d. irwin inc. mangkunegara, a. a. anwar prabu. (2001). manajemen sumber daya manusia perusahaan. bandung: pt remaja rosdakarya. molenaar, keith. (2002). corporate culture, a study of firm with outstanding consideration safety. profesional safety, pp. 18–27. mondy r. wayne & noe, robert m. (1996). human resource management, printed in the united states of america: prentice hall international, inc. nasarudin. (2001). job satisfaction and organizational commitment among the malaysian workforce. proceeding of 5th asian academic of management conference klantan pahang, pp. 270–276. najmy haqq. (2016). pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui motivasi sebagai variabel intervening studi pada pt rahmat jaya perkasa sidoarjo. bisma – bisnis dan manajemen, vol. 9, no. 1, oktober 2016. navis, et al. (2016). khasanah aswaja. surabaya: aswaja nu center pw nu jawa timur. nuryadin, tohirin, & ilhamdi. (2019). perilaku organisasi modern dilengkapi perspektif islam. jakarta: mitra wacana media. riinawati. (2019). pengantar teori manajemen komunikasi dan organisasi. yogyakarta: pustaka baru. robbins, stephen p. (1996) perilaku organisasi, konsep kontroversi aplikasi, edisi bahasa indonesia. jakarta: pt prenhalindo. robbins, stephen p. (2001). organizational behavior, upper saddle river. new jersey: prentice hall inc. sugiyono. (2017). metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: cv alfabeta. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 130 gojek vs grab: which one is better in creating customer satisfaction and loyalty? berto mulia wibawa1,2, grisna anggadwita3, rachma rizqina mardhotillah4, syarief nur husin1, alyaa zalfaa komara putri1, siska lusia putri5 1department of business management, institut teknologi sepuluh nopember, indonesia 2school of business, monash university, malaysia 3school of economics and business, telkom university, indonesia 4department of management, universitas nahdlatul ulama surabaya, indonesia 5department of management, universitas dharma andalas, indonesia e-mail: berto@mb.its.ac.id abstract: online ride-hailing is now becoming a popular option for customers to travel worldwide, including for consumers in indonesia. however, the covid-19 pandemic caused many force majeure problems for companies serving online ride-hailing services. these situations lead to numerous customer dissatisfaction, low switching cost, and disloyalty for customers to use online ride-hailing services. in particular, this study aims to investigate the comparison of customer satisfaction and loyalty level between gojek and grab. this study used the online-survey method with a total sample of 569 usable online responses. the data analysis was carried out by calculating the importance-performance analysis, customer satisfaction index, and customer loyalty index. our findings illustrate that the competition between two companies is very tight and competitive. based on service satisfaction, gojek is slightly better than grab. nevertheless, in terms of loyalty, the level of loyalty of grab consumers is more loyal than gojek consumers. hence, instead of competing head to head, it would be more effective for gojek and grab to have diverse service strategies to provide more varied benefits to society. keywords: online ride-hailing, customer satisfaction, customer loyalty, gojek, grab introduction online ride-hailing transportation services have been introduced in indonesia since 2010 and became popular with the public in 2014 (pratama et al., 2017). currently, two online ride-hailing companies dominate the market in indonesia. the two online ride-hailing companies are gojek and grab. gojek was founded in 2010 by indonesian nadiem makarim, while grab was founded in 2012 by anthony tan in singapore. as it developed, both grab and gojek faced major problems from the covid-19 pandemic and impacted the revenue decrease that led to drivers' dedication to their work. the comparison between drivers' income before and after the pandemic is significant. they were expected to get income above the regional minimum wage per domicile in indonesia. however, in reality, they got income from online ride-hailing orders below the average of regional minimum wage. (bukhari & ramadhan, 2020). however, although consumers can well receive online transportation in indonesia, many consumers are still dissatisfied and disappointed with the services provided, starting not to get proper facilities such as masks and head coverings, unfriendly drivers, and the driver's behaviour not ethical. table 1. list of causes disappointment online ride-hailing consumers (ylki, 2017) no consumers disappoinment reason percentage (%) 1 the driver asks to cancel 22.30 2 it is difficult to get the driver 21.19 3 motorists unilaterally cancel 16.22 4 map application crashes 13.11 5 the number plate is not the same as the vehicle being brought 12.06 6 the driver does not come 6.34 7 the condition of the vehicle is not good 6.04 8 driver dishonesty 5.03 9 the driver starts the trip before meet the customers 4.97 10 drivers are reckless 4.73 11 vehicles smell of cigarette smoke 4.61 12 drivers don't want to be informed 2.89 13 drivers smoke while driving 0.75 the dominant opinion of consumers who value online transportation services is positive, and it does not seem necessary to erase consumer disappointment. because, based on a survey conducted by the indonesian consumers foundation (yayasan lembaga konsumen indonesia) in 2017, almost half of the online ride-hailing users have been disappointed when using that services. based on the survey results, many problems were revealed that caused customers feel disappointed and dissatisfied (table 1). another fact in service consumers' online ride-hailing today is the ease users can switch from one service provider to another. this low switching cost can be seen from the number of consumers who have both applications from these service providers at once. in a business that is run online and competition is only a few clicks away, consumers have very minimal barriers to switching from one service provider to another (yang & peterson, 2004). consumers choose transportation services online based on the cheapest price comparisons, so companies respond to this by providing discounted promos to attract consumer interest. this price war strategy is certainly not good for the company's sustainability in the future because if there is a new company with the same service and offering a lower price, consumers will quickly switch to the other online ride-hailing service. loyal customers are essential for business continuity, so attracting buyers and maintaining their loyalty is essential for companies (yen & lu, 2008). companies must increase loyalty by satisfying customers based on marketing theory and practical experience, thereby obtaining and maintaining an advantage in a highly competitive business environment. this is because the main output of customer satisfaction is customer loyalty (aydin & ozer, 2005). although online ride-hailing services have been widely accepted by consumers and received positive responses, there are problems faced by service providers, online ride-hailing companies, and the number of consumers who are allegedly disappointed and dissatisfied with the services provided. coupled with the low switching costs, it is easy for consumers to switch from one service provider to another. this behaviour is certainly not good for the company's sustainability going forward. therefore, it is necessary to compare service quality and level of loyalty to gojek and grab so the company can find out where its position is compared to its competitors and know what is important for customer satisfaction to formulate the proper strategy. this study has two objectives: (1) mapping the importance of gojek and grab service attributes, (2) examining the comparison of gojek and grab customer satisfaction and loyalty. in addition, companies can use recommendations from the results of this study to evaluate and improve the quality of gojek and grab consumer services so that companies can evaluate and formulate managerial implementations to strengthen customer loyalty. conceptual framework online ride-hailing innovation in the transportation sector with the principle sharing economy has created a new service industry sector, by way of explanation is the online ridehailing services (wibawa et al., 2018). according to feeney (2015), online ridehailing is a transportation platform where customers and service providers interact in a peer-to-peer marketplace facilitated by the internet. online ride-hailing users can download the application on their smartphone and then register. after that, every time they need transportation, the user needs to input the pick-up address and destination, and a few seconds later they will be contacted by the driver who will pick them up and drop them off at their destination. the online ride-hailing services in indonesia have currently been classified as the types of transportation used, such as car-hailing, bike-hailing, and carpooling (rainaldo et al., 2017). therefore, online ride-hailing is included in the business model sharing economy (cohen & kietzmann, 2014). sharing economy can be interpreted as an abased activity peer-to-peer to obtain, provide, or share access to goods and services coordinated through services online (hamari et al., 2015). the sharing economy works where the owners of resources such as vehicles and human labour can provide temporary access to their resources to customers. the role of online ride-hailing companies is as an intermediary in providing a marketplace platform that brings together the owners of these resources with customers. although online ride-hailing has a vital role in the urban transportation cycle, the rates for online ride-hailing services are much more affordable than conventional transportation services and access is not bound by time and place (irawati & ezrani, 2018). customer satisfaction according to oliver (1980), customer satisfaction is a customer's reaction after they use a product or service. these reactions arise based on fulfilling the expectations given by the products or services consumed. in general, satisfaction is a feeling of pleasure that arises from comparing the product's perceived performance to their expectations. if performance fails to meet expectations, the customer will be dissatisfied. if performance matches expectations, customers will be satisfied. if performance exceeds expectations, customers will be very satisfied or happy (kotler & keller, 2016). meanwhile, tse and wilton (1988) state that customer satisfaction or dissatisfaction is the customer's responsibility to evaluate, disconfirmation the perception between previous expectations and the product's actual performance that is felt after its use. based on these definitions, it can be underlined that customer satisfaction is a customer's psychological reaction after using a product or service and feeling the benefits that match or exceed his expectations. customer loyalty oliver (1999) stated that loyalty is a consumer's willingness to continue purchasing at a company in the long term and use the product or service repeatedly. they also recommend it to friends and other companies voluntarily. consumer loyalty is a deeply held commitment to buy or re-support a preferred product or service in the future, even though situational influences and marketing efforts have the potential to cause customers to switch (karya, 2020). based on these definitions, customer loyalty is a condition where customers are willing to use a product or service repeatedly for a long period and recommend it to others and are not easily influenced by competitors' product offerings. customer satisfaction has a relationship with loyalty. two things can be used as a measure of loyalty. the first is indicated by the tendency of customers to continue to use the product or service, which is realized by making repeat purchases. then the second is the tendency of customers to recommend products or services that are consumed or used by their relatives (wibawa and aryanto, 2016). the four characteristics of loyal customers are making regular purchases, buying outside the product or service line, recommending products to others, and showing immunity from the appeal of similar products from competitors (griffin, 2010). meanwhile, bilgihan (2016) stated that generation y or millennial generation as the generation that will dominate the market in the future is the most faithless generation compared to previous generations and finds that trust and brand equity determine the loyalty of the millennial generation. service quality service quality is defined as an assessment of how well the services delivered match the client's expectations. service business operators often assess the quality of services provided to their customers to improve their services, quickly identify problems, and better assess client satisfaction (patterson & spreng, 1997). assessing the quality of service can be done by using the method of service quality (parasuraman et al., 1985). service quality, often referred to as servqual, aims to assess consumer perceptions of service quality (karya, 2016). servqual consists of five dimensions. those are tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy (parasuraman et al., 1988). the eservice quality (eservqual) theory is a modification of the theory servqual, which aims to assess the quality of a service based on information systems and is generally online based. according to yen & lu (2008), eservqual is related to user satisfaction and system success in information systems and is also related to customer satisfaction, retention, and loyalty in marketing. online transactions are complex processes divided into sub-processes such as navigation, information retrieval, negotiation, payments online, shipping, and after-sales service. thus, eservice quality contains multi-components, which reflect two attributes in the measurement: system attributes and service attributes (yen & lu, 2008). eservqual has six attributes which are explained in table 2. table 2. attributes of eservice quality (yen & lu, 2008) eservice quality attributes efficiency system availability privacy protection contact fulfillment responsiveness research methods this study will be using conclusivedescriptive and multiple cross-sectional as the research methods. this study requires data representing the characteristics of satisfaction and loyalty of service users online ride-hailing to answer the questions raised in this study. the data was obtained through the questions posed in the questionnaire. the questionnaire in this study uses a likert scale of 1-5 (1 = strongly disagree and 5 strongly agree) (malhotra et al., 2017). the questionnaire was distributed online using the google form platform to reach a broader range of respondents. dissemination of online questionnaires has the advantage of accessing a large and geographically distributed population (lefever et al., 2007). the sampling technique used is convenience sampling, with the respondent's criteria being that they have experienced services from gojek and grab ride-hailing within the last two months. the use of convenience sampling was chosen because the population could not be determined, and it was possible to collect as much data as possible (piero et al., 2018). the target respondents in this study were a minimum of 500 respondents. the analytical tools used in this study are the importanceperformance analysis, customer satisfaction index, and customer loyalty index. the variables in this study will adopt the components of eservice quality proposed by yen & lu (2008): efficiency, system availability, privacy protection, contact, fulfilment, and responsiveness. the following is an overview of the research variables, their definitions, and the operationalization of the variables (table 3). table 3. definition of operational variables (source: yen & lu, 2008) dimension indicators variables definition efficiency information the information contained in the application (such as promos, locations, vehicles) is by existing conditions. appearance the appearance of the application is well organized convenience application is easy to use ease of transaction transactions on the application are easy to do system availability system availability the application can always be used system speed when the application is opened smoothly without loading system reliability the application always runs well without crashes system expedite when placing an order system, the application does not freeze or run smoothly privacy protection security the application has a good level of security. data privacy the application does not share personal data with other parties. data protection the application protects my data from unauthorized parties. confidential ity the application keeps my transaction history confidential. contact contact the application always provides the driver's phone number. dimension indicators variables definition contactable the driver is always contactable. customer service there is customer service that can be contacted if a problem occurs. communica tion platform there is an online communication platform in the application between me and the driver. fulfillment suitability the driver who arrives as stated on the application punctuality the driver arriving according to the estimated pickup listed on the application fulfillment the driver delivers according to the ordered destination (not stopping in the middle of the trip). compliance fulfillment the driver delivers according to the route stated on the application responsiven ess responses the driver responds to my requests quickly (such as asking for a mask, driving slowly, stopping somewhere, etc.). communica tion driver notifies me when unable to make a pickup. act fast drivers act quickly when a problem occurs. honesty the driver returns the items left behind. loyalty recommend would recommend the brand to people asking for advice dimension indicators variables definition positive comments willing to speak positively about the brand intend to be loyal willing to continue use the brand loyalty definitely to continue use the brand results and discussion data was collected by distributing questionnaires online and was carried out in february-march 2021. from the results of broadcasting the questionnaires, 644 respondents were participated, with 569 respondents who successfully passed the process screening stage. the following is a demographic and usage table provided from data collected (table 4 and table 5). table 4. demographics of respondents demographic frequency percentage (%) gender male 131 23.0 female 438 77.0 total 569 100.0 age 12-18 years 181 31.8 19-24 years 340 59.6 25-40 years 39 6.9 41-60 years 9 1.6 >60 years 0 0 total 569 100.0 age 12-18 years 181 31.8 19-24 years 340 59.6 25-40 years 39 6.9 41-60 years 9 1.6 >60 years 0 0 total 569 100.0 jobs students 464 81.5 asn 7 1.2 private employees 64 11.2 state-owned enterprise employees 3 0.5 entrepreneurs 15 2.6 others 16 3.0 total 569 100.0 table 5. usage usage frequency percentage (%) average usage per month 1 time 32 5.6 2-4 times 190 33.4 4-6 times 80 14.1 > 6 times 267 46.9 total 569 100.0 most frequently used gojek 261 45.9 grab 308 54.1 total 569 100.0 most preferred provider gojek 272 47.8 grab 297 52.2 total 569 100.0 purpose go to work/office 65 11.4 go to school/college 236 41.5 travel to shopping centers/malls 136 23.9 others 132 23.2 total 569 100.0 most preferred payment method cash 382 67.1 in apps wallet (gopay / grabpay) 182 32.0 other 5 0.9 total 569 100.0 the first analysis is the importanceperformance analysis (ipa), which produces an output in visual display in a chart that shows the distribution using four quadrants (martilla & james, 1977). this study analysed the importanceperformance analysis for each online transportation service provider, specifically gojek and grab. the first step of importance-performance analysis is to calculate the level of conformity, calculate the mean importance and mean satisfaction of each indicator and calculate the gap between interest and satisfaction according to gojek customers (table 6). the calculation of the mean of each indicator will later be used as a cut-off point in the chart. meanwhile, the gap, which is the distance or reduction from the level of importance to customer satisfaction, has a function similar to the level of conformity analysis, which shows whether gojek's services are by on the expectations of consumers. if the value of the gap that appears is positive, then the company's performance has exceeded consumer expectations. however, if the value of the gap appears negative, then the customer has not reached the level of satisfaction with the company's performance (nadiri & husain, 2005). from the calculation of the gap on gojek's performance, there are similar results to the conformity analysis where the display indicators and compliance get positive results where consumers are satisfied with the application's appearance, and the driver delivers according to the route listed in the application. meanwhile, other indicators get a negative value, which means that gojek still has to improve its services on these indicators. overall, gojek also gets a score of -0.44, which means gojek still has to improve its services to match consumer expectations. table 6. mean interest¸ mean satisfaction and gap gojek dimensio ns indicato rs mean intere st mean statisfac tion gap efficiency informa tion 4,38 3,77 -0.61 display 3.88 3.92 0.04 ease 4.40 3.98 -0.42 ease transac tion 4.44 4.10 -0.34 system availabilit y availabi lity systems 4.42 3.95 -0.47 system speed 4.41 3.72 -0.69 system reliabili ty 4.40 3.73 -0.67 system fluency 4.35 3.73 -0.63 privacy protection security 4.45 3.93 -0.52 data privacy 4.46 3.98 -0.48 data protecti on 4.50 3.98 -0.52 dimensio ns indicato rs mean intere st mean statisfac tion gap confide ntiality 3.92 3.89 -0.03 contact contact 4.33 4.03 -0.30 commu nication 4.39 3.88 -0.51 custom er service 4.28 3.85 -0.44 commu nication platfor m 4.40 3.94 -0.46 fulfillmen t confor mity 4.35 3.87 -0.48 punctua lity 4.34 3.75 -0.59 fulfillm ent 4.44 4.06 -0.37 complia nce fulfillm ent 3.93 3.95 0.02 responsiv eness respons e 4.41 3.92 -0.50 commu nication 4.48 3.95 -0.53 act fast 4.45 3.89 -0.56 honesty 4.56 4.03 -0.52 overall 4.35 3.91 -0.44 after calculating the mean and gap, the next step is to estimate the average of all attributes of importance (y) and performance (x) which will be the limits in the cartesian diagram of importanceperformance analysis. the following formula can calculate the x-axis limit: �̅̅� = σ𝑋𝐼̅̅ ̅ 𝐾 �̅̅� = 93,79 24 �̅̅� = 3,91 the y-axis limit can be calculated by the following formula: �̅̅� = σ𝑌𝐼̅̅ ̅ 𝐾 �̅̅� = 104,37 24 �̅̅� = 4,35 based on these calculations, the limit value on the diagram importanceperformance analysis for the x-axis is 3.91, and the limit for the y-axis is 4.35. after finding the limit value on the diagram, each attribute is plotted into a scatterplot matrix of importanceperformance analysis (figure 1). figure 1. importance-performance analysis matrix of gojek based on the results of the important-performance analysis of all gojek service attributes, there are 11 attributes or 46 per cent of them in the second quadrant, which indicates that gojek's performance is good enough on these attributes it is recommended to maintain its performance. however, there are still many attributes in the main priority quadrant, which is as many as seven attributes. the following is a table of categories resulting from gojek's matrix importance-performance analysis (table 7). table 7. importance-performance analysis of gojek quadrant service quadrant i system speed top priority reliability systems system fluency information suitability can be contacted act fast quadrant ii communication platform maintain achievement security quadrant service response communication system availability data privacy data protection convenience honesty fulfillment ease of transactions quadrant iii customer service low priority confidentiality timeliness quadrant iv views redundant compliance compliance contact all service attributes that still have a value gap negative based on the calculation results certainly require attention and improvement from gojek management. however, gojek service attributes that are included in quadrant i are service attributes that must be the main priority. consumers consider these service attributes essential for them. unfortunately, the services provided by gojek are still unable to fulfil consumer desires. services require more urgency and attention because these services have a low satisfaction value even though the service attribute is important according to customers. based on the calculation results of the important-performance analysis, there are seven service attributes contained in quadrant i or the main priority for improvement. the service attributes are system speed, system reliability, system smoothness, information, suitability, drivers can be contacted, and drivers act quickly. after analyzing the importanceperformance for gojek, the same analysis was performed for grab. however, no indicators obtained positive results, which means grab still has to improve its services on these indicators. overall, grab gets a score of -0.49, which means grab still has to improve services to meet consumer expectations. table 8. mean interests, mean satisfaction and gap of grab dimensio ns indicators mean intere st mean statisfa ction gap efficiency informatio n 4.38 3.86 -0.52 display 3.88 3.79 -0.09 ease 4.40 3.87 -0.53 ease transactio n 4.44 3.91 -0.53 system availabilit y availabilit y systems 4.42 3.78 -0.65 system speed 4.41 3.61 -0.79 system reliability 4.40 3.62 -0.79 system fluency 4.35 3.59 -0.76 privacy protection security 4.45 3.90 -0.55 data privacy 4.46 3.95 -0.51 data protection 4.50 3.97 -0.53 confidenti ality 3.92 3.88 -0.04 contact contact 4.33 4.00 -0.33 communic ation 4.39 3.86 -0.52 customer service 4.28 3.85 -0.44 communic ation platform 4.40 4.05 -0.35 fulfillmen t conformit y 4.35 3.86 -0.49 punctualit y 4.34 3.78 -0.56 fulfillmen t 4.44 4.01 -0.43 complianc e fulfillmen t 3.93 3.91 -0.02 responsiv eness response 4.41 3.87 -0.55 communic ation 4.48 3.89 -0.59 act fast 4.45 3.89 -0.56 honesty 4.45 3.88 -0.57 overall 4.35 4.56 3.98 after calculating the mean and gap, the next step is to calculate the average of all attributes of importance (y) and performance (x) which will be the limits in the cartesian diagram of importanceperformance analysis. based on these calculations, the limit value on the diagram importance-performance analysis for the x-axis is 3.86, and the limit for the y-axis is 4.35 (figure 2). based on the results of the importance-performance analysis, the most attributes are in quadrant ii, which is 11 service attributes. this means that grab's performance is quite good on these attributes, and it is recommended to maintain its performance. however, there are still many attributes in the central priority quadrant, as many as seven attributes. the following is a table of categories resulting from matrix importance-performance analysis grab's (table 9). table 9. importance-performance analysis of grab quadrant service quadrant i availability of the system top priority system speed system reliability system fluency information can be contacted conformity quadrant ii easiness maintain achievement response act fast communication security easy transaction honesty quadrant service data privacy data protection communication platform fulfillment quadrant iii punctuality low priority display customer service quadrant iv confidentiality redundant contact compliance all service attributes that still have a value gap negative based on the calculation results certainly require attention and improvement from grab management, but grab service attributes included in quadrant i are service attributes that must be made a top priority. grab consumers consider these service attributes to be very important for them, and the services provided by grab are still unable to fulfil consumer desires. services require more urgency and attention because these services have a low satisfaction value even though, according to customers, the service attribute is important. based on the calculation results of the importanceperformance analysis, there are seven service attributes contained in quadrant i or the main priority for improvement. the service attributes are system availability, system speed, system reliability, system smoothness, information, suitability, and contactable drivers. after knowing what attributes need attention from each transportation service provider online, then an analysis of theory will be carried out on the customer satisfaction index of each gojek and grab. the customer satisfaction index measures the level of customer satisfaction (fornell, 1992). therefore, this analysis was conducted to determine the level of satisfaction of gojek and grab customers. to determine the customer satisfaction index, the first step is to calculate the values mean important variable (mis) and mean satisfaction figure 2. importance-performance analysis of grab matrix score (mss). then after getting the mis and mss values, the next step is to calculate the weight score (wsi) for each gojek and grab service attribute by multiplying mis by mss for each attribute. after all wsvalues are obtained, the next step is to add up all wsi to determine the total weight score (table 10 and table 11). table 10. mis, mss, and wsi of gojek dimensio ns indicators mis mss wsk (mis x mss) efficiency information 4.38 3,77 16,52 display 3.88 3.92 15.23 ease 4.40 3.98 17.53 ease transaction 4.44 4.10 18.20 system availabilit y availability systems 4.42 3.95 17.47 system speed 4.41 3.72 16.38 system reliability 4.40 3.73 16.43 system fluency 4.35 3.73 16.21 privacy protection security 4.45 3.93 17.50 data privacy 4.46 3.98 17.75 data protection 4.50 3.98 17.93 confidential ity 3.92 3.89 15.24 contact contact 4.33 4.03 17.45 communica tion 4.39 3.88 17.00 customer service 4.28 3.85 16.48 communica tion platform 4.40 3.94 17.31 fulfillmen t conformity 4.35 3.87 16.86 punctuality 4.34 3.75 16.27 fulfillment 4.44 4.06 18.02 compliance 3.93 3.95 15.50 responsiv eness response 4.41 3.92 17.29 communica tion 4.48 3.95 17.67 act fast 4.45 3.89 17.29 honesty 4.56 4.03 18.37 total wsi 407.89 hs 521.85 table 11. mis, mss, and wsi of grab dimensio ns indicators mis mss wsk (mis x mss) efficiency information 4.38 3,86 16,93 display 3.88 3.79 14.74 ease 4.40 3.87 17.05 ease transaction 4.44 3.91 17.35 system availabilit y availability systems 4.42 3.78 16.71 system speed 4.41 3.61 15.92 system reliability 4.40 3.62 15.91 system fluency 4.35 3.59 15.64 privacy protection security 4.45 3.90 17.37 data privacy 4.46 3.95 17.60 data protection 4.50 3.97 17.87 confidential ity 3.92 3.88 15.22 contact contact 4.33 4.00 17.31 communica tion 4.39 3.86 16.95 customer service 4.28 3.85 16.48 communica tion platform 4.40 4.05 17.79 fulfillmen t conformity 4.35 3.86 16.81 punctuality 4.34 3.78 16.40 fulfillment 4.44 4.01 17.78 compliance 3.93 3.91 15.35 responsiv eness response 4.41 3.87 17.06 communica tion 4.48 3.89 17.39 act fast 4.45 3.88 17.27 honesty 4.56 3.98 18.13 total wsi 403.01 hs 521.85 after the total wsi is obtained, the next step is to calculate the hs or highest score. hs is the product of the total mis with the highest likert scale used. in this study, the highest likert scale used was 5, so that after the calculations, the hs value was 521.85. next, we calculate the customer satisfaction index by inputting the total weight score divided by the highest score and percentage. the following is the csi of gojek: 𝐶𝑆𝐼 = ∑ 𝑊𝑆𝑖 𝑝 𝑖=1 𝐻𝑆 x 100% 𝐶𝑆𝐼 = 407,89 521,85 x 100% 𝐶𝑆𝐼 = 78,2% the following is the csi of grab: 𝐶𝑆𝐼 = ∑ 𝑊𝑆𝑖 𝑝 𝑖=1 𝐻𝑆 x 100% 𝐶𝑆𝐼 = 403,01 521,85 x 100% 𝐶𝑆𝐼 = 77,2% based on the customer satisfaction index, gojek has 78.2 per cent. the value of 78.2 per cent is in the range of 61-80 per cent, whereas the satisfaction index is in the range that means that consumers are satisfied with gojek's services. therefore, a score of 78.2 per cent can be identified through which service components provide the highest level of satisfaction for gojek users. overall, what provides the highest level of satisfaction for gojek consumers is the ease of transaction indicators. gojek is considered to have had satisfactory transaction convenience compared to other services. meanwhile, the grab customer satisfaction index value is 77.2 per cent. the value of 77.2 per cent is in the range of 61-80 per cent, whereas the satisfaction index is in the range that means that consumers are satisfied with grab's services. the 77.2 per cent score can be identified through which service components provide the highest level of satisfaction for grab users. overall, what provides the highest level of satisfaction for grab consumers is the indicator of a communication platform within the application. grab is considered to have had a communication platform between customers and drivers satisfied in the application compared to other services. after analyzing the customer satisfaction index, the following analysis will be the customer loyalty index to determine how high the level of customer loyalty of a product or service is. this analysis was conducted to determine the level of loyalty of gojek and grab customers. the first step is to calculate the performance or mean of each loyalty attribute. in this study, there are four loyalty attributes for each company. after knowing the score of the willing statement of each attribute, the value is then divided by the highest likert scale score of 5 and then multiplied by 100 per cent. the following is the score of gojek and grab loyalty attributes (table 12 and table 13). table 12. customer loyalty index of gojek loyalty indicator willing statement cli (%) lj1 3.63 72.7 lj2 3.70 74.0 lj3 3.53 70.7 lj4 3.43 68.6 overall 71.5 table 13. customer loyalty index of grab loyalty indicator willing statement cli (%) lg1 3.71 74.1% lg2 3.72 74.3% lg3 3.62 72.5% lg4 3.57 71.5% overall 73.1% finally, the four values of each attribute are calculated on average to get the value customer loyalty index overall. based on the calculation, the value of the customer loyalty index gojek's is 71.5 per cent. the value of 71.5 per cent is in the 71-90 per cent range, which can be interpreted as saying that gojek consumers are "loyal" customers. while the customer loyalty index of grab customers reached 73.5 per cent, which is slightly better than gojek. the value of 73.5 per cent is in the 71-90 per cent range which can be interpreted as grab consumers being “loyal” customers. even so, both gojek and gral should increase the loyalty of their users, seeing that its value is almost in the range below it. thus, both gojek and grab companies must push to make their customers in the loyalty range above 90 per cent or categorized "very loyal", so they do not easily switch to other service providers. conclusions the results gathered from the importance-performance analysis indicated that 24 attributes of online ridehailing services are analyzed and divided into four quadrants. the importanceperformance analysis reveals that gojek should improve at least seven priority attributes: system speed, reliability, fluency, information, suitability, contact ability, and quick action. similar but slightly different from gojek, grab also has to improve seven main service attributes: system availability, system speed, system reliability, system smoothness, information, contact ability, and suitability. our findings stated that based on the level of customer satisfaction, gojek has a 78.2 per cent of customer satisfaction level, slightly better than grab's customer satisfaction level of 77.2 per cent. in general, consumers of the two services are in the "satisfied" category regarding the online ride-hailing services provided by gojek and grab. however, even though customers are satisfied, both companies must continue to improve their service performances to keep increasing the customer satisfaction level. furthermore, customer loyalty analysis reveals that grab customers are slightly more loyal than gojek customers. the level of customer loyalty index for grab customers is 73.1 per cent, slightly above the value of gojek's customer loyalty 71.5 per cent. based on the results, both gojek and grab customers are in the "loyal" category. it can be concluded that the competition in creating customer satisfaction and loyalty between two companies is very tight and remarkably competitive. therefore, gojek and grab should consider innovating and differentiating from each other by maintaining service attributes rated well by current customers and considering a new way of problem-solving in online-ridehailing services to acquire more satisfied and loyal customers. there are some limitations to this study. first, it is limited to the satisfaction variable referred to from the e-servqual theory. it does not include other factors affecting satisfaction and loyalty, such as price and terms conditions. second, this study on online ride-hailing is also limited to ride-hailing features. it does not consider customer satisfaction and loyalty on other features such as food delivery, payment services, or billing services. further investigation by including more comprehensive variables and provider service other than ride-hailing features is recommended to examine the overall satisfaction and loyalty between gojek and grab. references aydin, s., & özer, g. (2005). national customer satisfaction indices: an implementation in the turkish mobile telephone market. marketing intelligence & planning, 23(5), 486504. bilgihan, a. (2016). gen y customer loyalty in online shopping: an integrated model of trust, user experience and branding. computers in human behavior, 61(8), 103-113. bukhari, e., & ramadhan, a. (2020). analisis komparasi penghasilan driver gojek dan grab terhadap standar upah minimum regional kota bekasi pada saat pandemi covid-19. jurnal ilmiah akuntansi dan manajemen, 16(2), 26– 31. cohen, b., & kietzmann, j. (2014). ride on! mobility business models for the sharing economy. organization & environment, 27(3), 279-296. ennew, c. t., reed, g. v., & binks, m. r. (1993). importance-performance analysis and the measurement of service quality. european journal of marketing, 27(2), 59-70. feeney, m. (2015). is ridesharing safe?. cato institute policy analysis, (767). fornell, c. (1992). a national customer satisfaction barometer: the swedish experience. journal of marketing, 52(1), 6-21. griffin, j., & herres, r. t. (2002). customer loyalty: how to earn it, how to keep it (p. 18). san francisco, ca: jossey-bass. hamari, j., sjöklint, m., & ukkonen, a. (2016). the sharing economy: why people participate in collaborative consumption. journal of the association for information science and technology, 67(9), 2047-2059. irawati, d. y., & ezrani, o. (2018). servqual dan conjoint analysis dalam house of quality untuk layanan ojek online. jurnal teknik industri, 19(1), 84-98. karya, d. f. (2016). analisis kualitas layanan dan kepuasan pengunjung perpustakaan kampus a universitas nahdlatul ulama surabaya (unusa). business and finance journal 1 (2). karya, d. f. (2020). customer loyalty perspective developed from customer commitment. journal of applied management and business (jamb) 1 (1), 20-26. kotler, p., & keller, k. l. (2016). a framework for marketing management. boston, ma: pearson. lefever, s., dal, m., & matthiasdottir, a. (2007). online data collection in academic research: advantages and limitations. british journal of educational technology, 38(4), 574582. malhotra, n., nunan, d., & birks, d. (2017). marketing research: an applied approach. pearson. martilla, j. a., & james, j. c. (1977). importance-performance analysis. the journal of marketing, 41(1), 77-79. nadiri, h., & hussain, k. (2005). diagnosing the zone of tolerance for hotel services. managing service quality: an international journal. 15(3), 259-277. oliver, r. l. (1980). a cognitive model of the antecedents and consequences of satisfaction decisions. journal of marketing research, 17(4), 460-469. oliver, r. l. (1999). whence consumer loyalty?. journal of marketing, 63(1): 33-44. parasuraman, a., zeithaml, v. a., & berry, l. l. (1985). a conceptual model of service quality and its implications for future research. the journal of marketing, 49(4), 41-50. parasuraman, a., zeithaml, v. a., & berry, l. l. (1988). servqual: a multiple-item scale for measuring consumer perceptions of service quality. journal of retailing, 64(1), 1240. patterson, p. g., & spreng, r. a. (1997). modelling the relationship between perceived value, satisfaction and repurchase intentions in a business-tobusiness, services context: an empirical examination. international journal of service industry management, 8(5), 414-434. piero, m., wibawa, b. m., & persada, s. f. (2018). identifikasi perilaku compulsive buying pada mahasiswa di surabaya. jurnal sains dan seni its, 7(1), 15-17. pratama, m. g., wibawa, b. m., & kunaifi, a. (2017). analisis deskriptif konsumen dan mitra pengemudi pada jasa transportasi online ride sharing. jurnal sains dan seni its: 6(2), d164-d167. rainaldo, m., wibawa, b. m., & rahmawati, y. (2017). analisis business model canvas pada operator jasa online ride-sharing (studi kasus uber di indonesia). jurnal sains dan seni its, 6(2), d232-d236. tse, d. k., & wilton, p. c. (1988). models of consumer satisfaction formation: an extension. journal of marketing research, 25(2), 204-212. wibawa, b. m., & aryanto, m. f. (2016). optimalisasi strategi pemasaran lembaga bimbingan belajar bahasa inggris menggunakan metode education service quality. jurnal manajemen, 13(1), 21-57. wibawa, b. m., rahmawati, y., & rainaldo, m. (2018). analisis industri bisnis jasa online ride sharing di indonesia. jurnal bisnis dan manajemen, 8(1), 9-20. yang, z., & peterson, r. t. (2004). customer perceived value, satisfaction, and loyalty: the role of switching costs. psychology & marketing, 21(10), 799-822. yayasan lembaga konsumen indonesia. (2017). transportasi online; kawan atau lawan?. retrieved 28 februari 2018; https://ylki.or.id/2017/07/wartakonsumen-transportasi-online-kawanatau-lawan/. yen, c. h., & lu, h. p. (2008). effects of eservice quality on loyalty intention: an empirical study in online auction. managing service quality: an international journal, 18(2), 127-146. endah budi permana putri, rachma rizqina mardhotillah, denis fidita karya, education with audiovisual media on attitudes and behavior of halal food consumption in high school students 155155 education with audiovisual media on attitudes and behavior of halal food consumption in high school students endah budi permana putri1, rachma rizqina mardhotillah2, denis fidita karya3 1department of nutrition, faculty of health, universitas nahdlatul ulama surabaya, east java, indonesia 60237 2,3department of management, faculty of business economics and digital technology, universitas nahdlatul ulama surabaya, east java, indonesia 60237 e-mail: endah.budi92@unusa.ac.id abstract: islam requires its followers to consume halal food. the rapid development of the media causes the flow of information to be obtained more easily and a lot so that it can affect a person’s consumption pattern. factors that can influence a person’s decision to consume halal food are attitudes and behavior. audiovisual media are considered better and more interesting in displaying information so that understanding is obtained, and a good attitude can also change a person’s behavior. the purpose of the study was to analyze differences in attitudes and behavior before and after being given education with audiovisual media in high school students. the type of research used is an experimental design with a two-group design with pre-test and post-test. the study was conducted on students of sma hang tuah 2 sidoarjo. the sample required is 86 people who are divided into 2 groups, namely 42 students in the poster and discussion group (p1) and 42 students in the video group (p2), with a sampling technique that is cluster sampling. the data collection instrument used was a questionnaire of respondents’ attitudes and behavior in consuming halal food. the results are there is a significant difference between the attitude of consuming halal food in the group that was given education with video media compared to posters and discussions. there is also a significant difference between the consumption behavior of halal food in the group that was educated with video media compared to posters and discussions. the conclusion of this study, halal food education will be effective in changing attitudes and behavior in high school students if it is given with audiovisual media in the form of the video so that this educational strategy can be applied to other target groups such as university students. kata kunci: education, audiovisual media, attitudes, behavior, halal food, consumption a. introduction allah commands all humans to consume halal food because the food or drink eaten will enter the body as a source of energy needed every day. this is contained in the qur’an surah al baqoroh verse 168 which means “o mankind! eat of that which is lawful and clean on earth, and do not follow the footsteps of shaitan (satan) verily, he is to you an open enemy.” and surah al ma’idah verse 88 which means: “eat of the good, lawful things provided to you by allah. and be mindful of allah in whom you believe”. the rapid development of the media causes the flow of information to be obtained more easily and a lot so that it can affect a person’s consumption patterns, including teenagers. however, when referring to the results of iranita’s study (2013), not a few indonesian people when consuming a product no longer pay too much attention to the halal of a product. even from the results of dewi’s study (2020), it is known that as many as 30% of respondents do not pay attention to the halal aspect of food, so there is a need for educational media related to the urgency of halal and food safety given to students. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 156 media can be interpreted as a tool in conveying messages. according to notoatmodjo (2012), one of the functions of the media in conveying messages or information is to encourage people’s desire to know and explore more so that they finally get a good understanding. audiovisual media is a type of media that contains sound as well as images that can be seen such as videos, films, and so on. the ability of audiovisual media is considered better and more interesting because it contains both elements of media types, namely sound (ears) and images (eyes) (arsyad, 2011). several studies have revealed that subjective norms or influences from outside a person have an influence on the intention to consume halal food in adolescents (amalia, 2020). knowledge has an influence on attitudes, meaning that an increase in knowledge linearly will affect consumers in buying a product (rahman et al, 2015). in another study, it was stated that there was a relationship between knowledge of halal food and the attitude of purchasing decisions for halal products where if the score of knowledge of halal food increased by 1, the attitude score of halal food purchasing decisions increased by 0.1778 (rosidi et al, 2018). rochmanto and widiyanto (2015) said that consumer attitudes towards halal products have the greatest influence on the intention to consume halal food and beverage products. the discussion above shows that many factors can influence a person’s decision to consume halal food. one of the educational media that can be used to increase the consumption of halal food is audiovisual media in the form of posters and videos. the purpose of this study is to analyze the difference of halal food education conducted with audiovisual media on the attitudes and behavior of consuming halal food in adolescents so that it can encourage adolescents to be able to choose to consume halal food in daily life in accordance with the teachings of islam. b. research methodology 1. research design this type of research is experimental, where the research conducted will provide treatment so that the differences between the two groups can be seen. the design used in this study is a two-group design with pre-test and post-test. this design was used to obtain data on the p1 who was given education-related to halal food with audiovisual media in the form of posters and discussions while the p2 was given halal food education with audiovisual media in the form of video with the aim of analyzing the differences in audiovisual media education on attitudes and behavior in consuming halal food in high school students. 2. population and research sample the population used in this study were all students of sma hang tuah 2 sidoarjo, totalling 456 students. from the sample size formula, 86 people were obtained which were divided into 2 groups, namely 42 students in the poster and discussion group (p1) and 42 students in the video group (p2). samples were taken by cluster sampling method based on class x, xi, and xii which were in accordance with the inclusion criteria, namely being muslim and the exclusion criteria being students who did not have a smartphone. 3. data collection method the study began with filling out a pretest questionnaire by the subjects in both groups. the questionnaire used is a questionnaire stateendah budi permana putri, rachma rizqina mardhotillah, denis fidita karya, education with audiovisual media on attitudes and behavior of halal food consumption in high school students 157 tion on the attitude of consuming halal food are shown in table 1. based on the results of statistical analysis using the paired sample t-test, it shows that there is no difference in the attitude of consuming halal food before and after being given education with posters and discussion media (pvalue 0.249). different results were shown in the education group with video media, where there were differences in the attitude of consuming halal food before and after being given education (p-value 0.000). this is because the provision of education using video media has advantages, namely the message conveyed develops imagination, develops thoughts and opinions, and the message conveyed will be easy to remember (zatalini and wulandari, 2018). in line with previous research, there was an increase in knowledge of halal food in respondents who were given education with video media (putri and firdausy, 2021). knowledge has an influence on attitudes, meaning that an increase in knowledge linearly will affect consumers in buying a product (rahman et al, 2015). it is known that there is a significant relationship between attitudes and consumption of halal food among consumers in indonesia (vanany et al, 2019). research conducted on muslim residents (malaysia) and non-muslim residents (australia) found that the muslim population showed a more conscious attitude towards the principles of animal slaughter. they think that halal slaughter can lead to an increase in the quality of meat. it was concluded ment on the attitude of consuming halal food as many as 15 questions and a questionnaire statement on the behavior of consuming halal food as many as 10 questions. after that, online education was given 3 times for 3 weeks for each group. after 3 weeks, the attitudes and behavior of halal food consumption in both groups were measured again using a post-test questionnaire with the same questions as the pretest questionnaire. 4. data analysis data analysis was carried out using the paired sample t-test to determine the difference between the pretest and posttest results of the two groups. the confidence level was set at 95 percent. c. result and discussion 1. audiovisual media education on halal food consumption attitude according to othman et al (2018), education for muslims needs to be done to increase knowledge and awareness regarding food consumption according to islamic law. one of the educational media that can be used is audiovisual media. audiovisual media is a type of media that is considered better and more interesting because it contains both elements of media types, namely sound (ears) and images (eyes) (arsyad, 2011). examples of audiovisual media are videos and posters followed by discussions. attitudes of audiovisual media educamedia before after p-value n mean±sd n mean±sd poster and discussion 42 49,65±4,15 42 50,30±4,62 0,249 video 42 49,07±2,66 42 52,51±3,14 0,000* table 1 audiovisual media education on halal food consumption attitude business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 158 that religion and education were the most common factors related to consumer attitudes, beliefs, and habits about halal (jalil et al, 2018). 2. audiovisual media education on halal food consumption behavior halal food consumption behavior is an act of a person in determining the decision to consume halal food according to islamic religious law. in this study, halal food education was provided with audiovisual media. a comparison of audiovisual media education on halal food consumption behavior is shown in table 2. based on the results of statistical analysis using the paired sample t-test, it shows that there is no difference in the behavior of halal food consumption before and after being given education with posters and discussion media (pvalue 0.119). different results were shown in the education group with video media, where there were differences in the behavior of consuming halal food before and after being given education (p-value 0.000). in line with the education given to students of sma muhammadiyah 23 jakarta through videos about halal understanding and halal conscious behavior, there was a significant increase. this shows that halal education and socialization are very necessary for building halal-conscious attitudes and behaviors in the younger generation (permanasari & nugrahaeni, 2021). research conducted by soesilowati & yuliana (2013) on respondents in the muslim majority and minority areas, behavior in consuming halal food is associated with reasons from themselves, or because they really like it (attitude), so it can be said that attitudes and behavior will be in line in determining a person’s decision to consume halal food. behavior and religiosity have a significant relationship with the intention to buy halal cosmetics among muslims in malaysia (haque et al, 2018). in addition to halal food education through videos, halal food consumption behavior can be improved by including the halal logo on food product packaging. halal logos are an innovative marketing method in modern times because they have the potential to attract and convince consumers in terms of health, safety, and health quality (anam et al, 2018). d. conclusion halal food education given to high school students with audiovisual media in the form of video is more effective in changing attitudes and behavior than posters and discussions. this educational strategy can be applied to other target groups such as students so that it will increase the awareness of muslims in consuming halal food. e. acknowledgments this study was supported by a research grant from the research and community service institution, universitas nahdlatul ulama surabaya, with contract number 161.1.82/unusa/admlppm/iii/2021. table 2 audiovisual media education on halal food consumption behavior media before after p-value n mean±sd n mean±sd poster and discussion 42 31,19±3,14 42 32,00±2,88 0,119 video 42 29,70±1,99 42 32,88±2,57 0,000* endah budi permana putri, rachma rizqina mardhotillah, denis fidita karya, education with audiovisual media on attitudes and behavior of halal food consumption in high school students 159 f. references abd rahman, a., asrarhaghighi, e., & ab rahman, s. (2015). consumers and halal cosmetic products: knowledge, religiosity, attitude, and intention. journal of islamic marketing, 6(1): 148–163. al rochmanto, b. & widiyanto, i. (2015). pengaruh pengetahuan produk dan norma religius terhadap sikap konsumen dalam niat mengonsumsi produk makanan dan minuman halal (studi kasus di kota semarang). diponegoro journal of management, 4(1), 280–211. amalia, a. n. (2020). niat mengonsumsi makanan dan minuman halal pada remaja. li falah: jurnal studi ekonomi dan bisnis islam, 5(1), 111–128. anam, j., sany sanuri, b. m. m., & ismail, b. l. o. (2018). conceptualizing the relation between halal logo, perceived product quality and the role of consumer knowledge. journal of islamic marketing, 9(4), 727–746. arsyad, azhar. (2011). media pembelajaran. jakarta: pt raja grafindo persada. dewi, n. s. a. a. (2020). kajian kesadaran konsumsi pangan halal pada pelajar sltp. indonesia journal of halal, 3(1), 69–73. haque, a., anwar, n., tarofder, a., ahmad, n & sharif, s. (2018). muslim consumers’ purchase behavior towards halal cosmetic products in malaysia. management science letters, 8(12), 1305–1318. iranita. (2013). pengaruh labelisasi halal produk kemasan terhadap keputusan pembelian pada mahasiswa fakultas ekonomi universitas maritim raja ali haji. retrieved february 25, 2021, from https://www. researchgate.net/profile/iranita_iranita/publication/. jalil n. s. a., tawde a. v., zito s., sinclair m., fryer c., & idrus z. (2018) attitudes of the public towards halal food and associated animal welfare issues in two countries with predominantly muslim and nonmuslim populations. plos one 13(10): e0204094. notoatmodjo, s. (2012). promosi kesehatan dan perilaku kesehatan (edisi revisi). jakarta: pt rineka cipta. othman, khatijah, hamdani m. d, suhailiza, sulaiman, mashitah, ramly, roslizawati, mutalib, & marina, m. (2018). education as moderator to knowledge consumers in creating awareness of halal food consumption. in: knowledge management international conference (kmice), 25–27 july 2018, miri sarawak, malaysia. permanasari, e. d. & nugrahaeni, f. (2021). pembangunan perilaku sadar halal generasi muda melalui edukasi dan sosialisasi halal tingkat sma kota jakarta timur. prosiding seminar nasional abdimasmu, 2(1), 87–97. putri, e. b. p, & firdausy, s. t. (2021). pengaruh pemberian edukasi audio visual terhadap pengetahuan pangan halal di sma hang tuah 2 sidoarjo. halal research, 1(2), 96–102. soesilowati, e. s. & yuliana, c. i. (2013). komparasi perilaku konsumen produk halal di area mayoritas dan minoritas muslim. jurnal ekonomi dan pembangunan, 21(2), 167–178. rosidi, a., musdianingwati, t., suyanto, a., yusuf, m., & sulistyowati, e. (2018). pengetahuan dan sikap mahasiswa dalam keputusan pembelian produk halal. jurnal gizi, 7(2), 40–48. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 160 vanany, i., soon, j. m., maryani, a., & wibawa, b. m. (2019). determinants of halal-food consumption in indonesia. journal of islamic marketing, 11(2), 507–521. zatalini, d. s. & wulandari, d. r. (2018). pengaruh penyuluhan dengan metode diskusi poster dan video terhadap tingkat pengetahuan tentang penyakit menular seksual pada anak jalanan kota semarang (studi kasus di rumah pintar bang jo). diponegoro medical journal (jurnal kedokteran diponegoro), 7(2), 442–450. augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 141141 impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange augustina kurniasih1, heliantono2, agus herta sumarto3, yulia efni4 1,2,3mercu buana university, jakarta, indonesia 4universitas riau, pekanbaru, indonesia e-mail: augustina.kurniasih@mercubuana.ac.id; heliantono@mercubuana.ac.id; agus.herta@mercubuana.ac.id; yuliaefni@yahoo.com abstract: cellulose is an organic component that is widely found in wood fibers. cellulose is the main component in the pulp/paper industry. as in wood, the raw material for pulp contains cellulose fibers. cellulose is often used and processed to produce various types in the paper industry. pulp is the primary material for different paper products, ranging from factories’ boards to daily necessities such as paper, tissue, tea bags, and magazines. meanwhile, paper is a new change in literature and language that has played a significant role in the history of the development of human civilization. the pulp and paper industry in indonesia provides a reasonably good contribution to the indonesian economy. several pulp & paper companies are listed on the indonesia stock exchange. the results of previous studies indicate that several pulp & paper companies are in a stage of financial difficulty. this study aims to prove empirically that the z-score as a measure of the company’s economic challenges affects stock prices. the results showed that the z-score affected stock prices. from several ratios that make up the z-score, it is known that the ratio of working capital to total assets, market value of equity to book value of debt, and sales to total assets have a significant effect on stock prices. keywords: financial distress, z-score, stock price a. introduction the pulp and paper industry makes a significant contribution to the indonesian economy. in 2019, this industry contributed 17.6% to the non-oil and gas processing industry and 6.3% to the national processing industry. during the covid-19 pandemic, the paper and pulp trading was still in surplus both in volume and value. throughout 2020, the net national pulp export reached 1.32 tons, while the net paper exports reached 5.94 million tons. the pulp and paper industry has a significant role in indonesia’s production and export activities. in 2019 indonesia was included in the 10 largest pulp and paper producers in the world. indonesia’s pulp and paper exports are mainly from the asian region, such as china, south korea, india, saudi arabia, and japan. research by kurniasih et al. (2019) found that pulp and paper companies listed on the indonesia stock exchange (idx) are in an unhealthy condition or experiencing financial problems (financial distress). companies experiencing financial distress show poor performance. this information is expected to affect stock prices (kurniasih, heliantono, and herta sumarto, 2019). z-score as a measure to identify the condition of the company whether it is experiencing financial distress or not is calculated using several financial ratios. the ratios are working capital to total assets, retained earnings to total business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 142 assets, earnings before interest and taxes to total assets, market capitalization to book value of debt, and sales to total assets. several previous studies have tested the effect of z-score on stock prices. previous researchers studied companies located in indonesia and other countries. junaeni (2018) finds that the z-score has a significant effect on the stock prices of banking companies listed on the indonesia stock exchange (junaeni 2018). the z-score has a significant negative effect on stocks in the indonesian syariah stock index. apergis et al. (2011) found that there is a positive correlation between altman z-score and stock prices on the paris, london, and frankfurt stock exchanges (apergis et al. 2011). on the other hand, lestari et al (2016) found that the financial ratio component measuring the z-score affected the share price of the chemical sub-sector companies on the idx in the 2009-2014 period (lestari, oktaviani, and arafah 2016). meanwhile, endri & yerianto (2019) found that the z-score component affected the share price of the gas sector listed on the idx in 2012-2016 (endri and yerianto 2019). it has been found that paper companies listed on the idx on average show experiencing financial distress conditions in 2013-2018. if financial distress is a condition that is considered by investors, it will certainly affect investors’ interest in investing. as is known, investors invest by hoping of getting returns, either in the form of dividends and/or capital gains. capital gains are obtained if the stock price increases. positive information will cause stock prices to increase, and vice versa if there is negative information there will be a decrease in stock prices. this study aims to fill a research gap that is still open, namely regarding the stock prices of pulp & paper companies listed on the idx and whether the stock prices of pulp & paper companies listed on the idx are influenced by the z-score and components of the financial ratios of altman z-score. the questions that this research wants to find answers are: 1) how are the share price of the pulp & paper sub-sector companies listed on the idx in the 2013-2019 period? 2) does the z-score affect the stock prices of pulp and paper companies listed on the idx? 3) does the z-score component (working capital to total assets, retained earnings to total assets, earnings before interest and taxes to total assets, market capitalization to book value of debt, sales to total assets) affect the share price of pulp and paper companies listed on the idx? on the indonesia stock exchange (idx) the pulp and paper sub-sector is included in the basic industry and chemical sector. the indonesian pulp and paper industry is among the top 10 largest producers in the world, but on the other hand, the condition of companies in the pulp & paper industry is known to be unhealthy or experiencing financial distress. companies experiencing financial distress are quite worrying if they are made as an investment choice since investors invest by hoping of getting a return on their investment, namely through increasing stock prices. b. theoretical framework aziz et al. (2015) explains that the stock price is the price in the real market, and is the price that is most easily determined since it is the price of a stock in the on-going market or if the market is closed. thus the market price is the closing price (azis, mintarti, and nadir 2015). augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 143 previous researchers. apergis et al (2011) found that there is a positive correlation between altman z-score and stock prices, both in paris, england, and frankfurt (apergis et al. 2011). choy et al (2016) also found the effect of zscore on stock prices in malaysia (choy et al. 2011). ozyesil (2020) found that there was a positive relationship between the altman zscore and stock price performance on the boras istanbul-30 index (özyeºil 2020). meanwhile in indonesia, marcelina & yuliandhari (2014) found that the z-score had no significant effect on stock prices (marcelina and yuliandhari 2014). however, andriawan & salean (2016), ramadhan & wuryani (2018), and junaeni (2018) found the z-score has a positive and significant effect on stock prices (andriawan and salean 2016; junaeni 2018; ramadhan and wuryani 2018). z-score is formed from several ratios. lestari et al. (2016) found that working capital to total assets (wcta) had a significant negative effect, retained earnings to total assets (reta) had an insignificant effect, and earnings before interest and taxes to total assets (ebitta) and book value of equity to book value of debt. (bvebvd) has a significant positive effect on the stock price of chemical companies listed on the idx (lestari, oktaviani, and arafah 2016). radityama & mustafa (2019) found that wcta and reta had no significant effect, while ebitta and book value of equity to book value of total liabilities (bvebtl) had a positive and significant effect on plantation stock prices listed on the idx (radityatama and mustafa 2019). wirto & mustafa (2021) found that wcta, reta, ebitta and bvebtl have a positive and significant effect on stock prices of the automotive and component sub-sectors listed on the idx (wirto and mustafa 2021). fama (1965) explains that the random walk theory on stock prices involves two separate hypotheses, which are (1) price changes are independent, and (2) price changes according to several possible distributions (fama 1965). altman (1968) used the multiple discriminant analysis methods, which resulted in a score known as the altman z-score. the score shows the condition of the company in relation to the possibility of bankruptcy (altman 1968a). altman uses five types of financial ratios, which are used in the equation of: 54321 999.06.03.34.12.1 zzzzzz notes: z1 = working capital / total asset (wcta) z2 = retained earnings / total asset (reta) z3 = earnings before interest and taxes / total asset (ebitta) z4 = market capitalization / book value of debt (mcap) z5 = sales / total asset (saleta) based on the revised formula, altman divides companies based on the z-score into (altman 2013): a. when the z-score < 1.23, the company is categorized as an unhealthy company and is experiencing major financial problems and the risk of the company going bankrupt is very large. b. when 1.23 < z-score < 2.99 the company has the potential to go bankrupt c. when z-socre > 2.99, the company is included in the healthy criteria. until present, the z-score is still more widely used by researchers, practitioners, and academics in the accounting area to find explanation the condition of the company. several studies regarding the effect of the z-score on prices have been carried out by business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 144 signal theory is useful for describing behavior when two parties (can be individuals or organizations) have access to different information (mccabe 1979). basically, the information owned by investors is not as much as information owned by management or there is asymmetric information between investors and management (asymmetric information). asymmetric information is the difference in information obtained between one party and another in economic activities. asymmetric information can occur between investors who will invest in the capital market. investors need to know the condition of the company whose shares will be chosen to invest. this makes investors will find out the condition of the stock (company) completely and accurately in order to benefit from their investment in the future. 1. z-score relationship with stock price altman z-score. the score, hereinafter referred to as the z-score, shows the condition of the company in relation to the possibility of bankruptcy. the higher the z-score, the better the condition of the company. companies that have good conditions, give a positive signal, so the price increases. h1: z-score has a positive effect on stock prices. 2. relationship of wcta with stock price the ratio of working capital to total assets (working capital to total assets/wcta) is a net measure of the company’s current assets to the company’s capital. net working capital is the difference between current assets and current liabilities (altman 1968b). companies that have significant working capital are in a liquid state. liquid companies show good performance. companies that perform well will increase their share price. h2: wcta has a positive effect on stock prices. 3. reta relationship with stock price the ratio of retained earnings to total assets (reta) shows the company’s ability to generate retained earnings from the company’s total assets. retained earnings are profits that are not distributed to shareholders. retained earnings occur since common stockholders allow the company to reinvest profits that are not distributed as dividends. thus, retained earnings reported in the balance sheet are not cash and are not available for dividend payments or other distribution (endri 2009). the higher the reta, the greater the opportunity for the company to make investment. the greater the investment opportunity, the better the company’s performance, so that the company’s stock price will increase. h3: reta has a positive effect on stock prices. 4. ebitta relationship with stock return the ratio of earnings before interest and tax (ebit) to total assets (ebitta) is used to measure the actual productivity of the company’s assets (kamaludin and indriani 2012). this ratio is calculated by dividing income before interest and taxes by total assets. the higher the ebit generated, the better the company’s performance. companies that perform well will increase their share price. h4: ebitta has a positive effect on stock prices. 5. mcap’s relationship to stock returns altman (1968) explains that equity is measured by the combined market value of all shares (preferred and common), while debt includes both short-term debt and long-term debt. the market value of equity is the multiplication of the number of shares outstanding with its price, or commonly referred to as market capitalization (marketcap) (altman 1968b). according to altman, the ratio of market capitalization augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 145 to book value of debt (mcap) shows that a company’s assets can decrease in value (measured by market value of equity) before liabilities exceed assets and the company becomes bankrupt. the greater the market value of equity (market capitalization) the better the company’s performance so that the stock price will increase. h5: mcap has a positive effect on stock prices. 6. the relationship of saleta to stock returns the ratio of sales revenue to total assets (sales to total assets/saleta) of the company shows the ability of the business to generate sales based on the assets owned. the higher this ratio implies that management is able to optimize the use of investment in assets. the formula for sales to total assets is to divide net annual sales by the aggregate number of all assets stated in the company’s balance sheet. the higher this ratio, the better the condition of the company, so that the company’s stock price will increase. h6: saleta has a positive effect on stock prices. the research is expected to be useful for company management, especially companies in the pulp and paper sub-sector so that company management better managed so that company prices can be maintained at a high level. the higher the stock price, the higher the value of the company. the higher the value of the company, the more successful the management in managing the company. the research is also expected to be useful for investors and potential investors who will invest in the capital market, especially investments in shares of companies in the pulp and paper subsector. the information obtained from the results of this study is expected to be useful for investors to help make investment decisions. the research is also expected to be useful for observers of the pulp and paper sub-sector as well as academics working in the field of financial management. the results of this study are expected to enrich the study of financial distress and its impact on stock prices so that it can be a reference for further research. c. research methods this study is a causality study that aims to find empirical evidence of the influence of the independent variable on the dependent variable. the independent variables of this study are the z-score and the ratio of the z-score components consisting of working capital / total assets, retained earnings / total assets, earnings before interest and taxes / total assets, market capitalization / book value of debt, and sales / total assets. the dependent variable of this research is stock price. the research framework is presented in figure-1. wcta reta salet ebitta mcap z-score stock price figure 1 research framework the independent variables of this study and their measurements are as follows: z-score = 1,2 z1 + 1,4 z2 + 3,3 z3 + 0,6 z4 + 0,999z5 z1 = wcta = working capital / total asset business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 146 z2 = reta = retained earnings / total assets z3 = ebitta = earnings before interest and taxes / total asset z4 = mcap = market value of equity / book value of debt z5 = saleta = sales / total asset the dependent variable of this study is the daily closing stock price. the share price of a company in a year is measured from the average daily closing share price in 1 year. the population of this study are pulp and paper companies listed on the indonesia stock exchange. in 2020, the number of pulp and paper companies listed on the idx is 9 companies. the research sample is pulp and paper companies that are listed on the idx and meet the sample criteria, which are 1) continuously listed on the idx in the period 2013-2019 and 2) financial reports (lk) are available and accessible. it takes a long period of time to obtain sufficient research data for statistical testing. the number of companies that meet the sample criteria are 7 companies. one company, pt sriwahana adityakarta tbk. (swat) was listed on the idx on june 8 2018, so it did not meet the sample criteria. while the 2019 lk from pt paper factory basuki rachmat, tbk. (persero) (kbri) is not available or cannot be accessed. the two companies are not included in the research sample. the research data are secondary data, cross-sectional and time-series, and are annual data, and ratio scale data. data were collected using the library method, by noting the figures presented in the company’s lk. the data required is the value of current assets, current liabilities, total assets, sales receipts (sales), net profit, retained earnings, ebit, total debt, and total equity, as well as daily closing share prices. based on data from lks, the ratios that make up the z score and the z-score value of each company are calculated in the 2013-2019 period. stock price data is obtained from yahoofinance.com and/or idx.co.id. the stock price in this study is the daily closing price. based on the daily price for a period of 1 (one) year, the average is calculated so that it becomes the share price of a company i (i the issuer) and year the stock price is ln (average daily closing price). the research data was tabulated using the excel program. the analysis was descriptively and inferentially. descriptive statistics are used to describe research variables based on the average, maximum, and minimum values. inferential statistics were used to obtain answers to research questions and were analyzed using a panel data regression approach. the regression equation compiled is as below: sp it = a 0 + bz-score it (1) sp it = a 0 + b 1 wcta it + b 2 reta it + b 3 ebitta it + b 4 mcap it + b 4 saleta it + it (2) where: sp = stock price z-score = altman z-score wcta = working capital / total asset reta = retained earning / total asset ebitta = earnings before interest and taxes / total asset mcap = market value of equity / book value of debt saleta = sales / total asset a 0 = intercept b 1 , b 2 , b 3 , b 4 , b 5 = koefficient regression = error term d. data analysis the following table 1. presents descriptive statistics of research variables. it can be seen that the average annual share price of pulp and paper companies listed on the idx for the augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 147 period 2013-2019 is idr 1,965 per share. the highest share price was rp. 13,795 owned by pt indah kiat pulp & paper, tbk. (inkp) in 2018. while the stock with the lowest price was rp. 153 experienced by pt suparma, tbk. (spma) in 2016. the average wcta of pulp & paper companies is 0.102. this means that the company’s working capital per year is an average of 10.2% of its total assets. the highest wcta is 0.286 owned by spma in 2018. the lowest wcta is negative, which is -0.103 indicating the company’s current assets are lower than its current liabilities, in other words the company is in an illiquid state. the lowest wcta was experienced by pt fajar surya wisesa tbk. (fasw) in 2019. the average ratio of retained earnings to total assets (reta) of pulp & paper companies is 0.337. this means that retained earnings in one financial year are 33.7% of total assets. the highest reta is owned by pt toba pulp lestari, tbk. (inru) in 2013 amounted to 1,751. the reta figure of 1.751 shows that the company’s retained earnings are greater than its total assets. the lowest reta of 0.009 was owned by fasw in 2015. the average value of operating profit to total assets (ebitta) is 0.068. this means that the company is able to generate profits before payment of interest and tax obligations of 6.8% of total assets. the highest ebitta was 0.210 experienced by fasw in 2018, while the lowest ebitta -0.033 was also experienced by fasw in 2013. a negative ebitta value indicates the company has experienced operating losses. mcap shows the market value of the company. the average mcap score for pulp & paper companies is 0.650. this figure shows that on average the company’s market value is lower than its book value. the highest mcap was 3,233 experienced by fasw in 2019. fasw’s mcap in 2019 showed the company’s market value was higher than its book value. the lowest mcap was 0.076 experienced by tkim in 2016. the saleta ratio shows the comparison between the company’s sales and total assets. in other words, the ratio shows the company’s activity. the average value of saleta pulp & paper companies in the 2013-2019 period is 0.825. this means that every 100 rupiah of company assets is able to generate 82.5 rupiah of sales. the highest saleta was 1,783 experienced by pt kedawung setia industrial tbk. (kdsi) in 2019. the lowest saleta value of 0.216 was experienced by pt inru (2019). the average z-score of pulp & paper companies in the 2013–2019 period is 2.032. this figure shows the company is experiencing financial difficulties, since the z-score is less than 2.99. the highest z-score value was 3,407 experienced by fasw in 2018. in 2018, fasw ebitta was the highest among other pulp & paper companies. the lowest z-score value was 0.614 experienced by inkp in 2013. variable minimum maximum mean std. dev stock price 153 13.795 1.965 3.144 wcta -0.103 0.286 0.102 0.103 reta 0.009 1.751 0.337 0.508 ebitta -0.033 0.210 0.068 0.052 mcap 0.076 3.233 0.650 0.656 saleta 0.216 1.783 0.825 0.498 z-score 0.614 3.407 2.032 0.831 table 1 descriptive statistics research variables business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 148 the results of the study support the findings of previous studies abroad such as aspergis et al. (2011) who conducted research in france, england, and germany, choy et al. (2011) who conducted researched in malaysia, and ozyesil (2020) who researched conducted in turkey. the results of research in indonesia from andriawan & salean (2016), syamni et al (2018), ramadhan and wuryani (2018), pratiwi et al. (2018), junaeni (2018) and lestari et al. (2016) also proves that the z-score has a significant positive effect on stock prices. various previous studies were conducted on various company stocks, both plantations, mining, telecommunications, manufacturing, and banking (andriawan and salean 2016; pratiwi, sriwardany, and irma 2018; junaeni 2018; lestari, oktaviani, and arafah 2016; syamni, majid, and siregar 2018; ramadhan and wuryani 2018). 2. the influence of z-score components on stock prices furthermore, the z-score calculation consists of several financial ratios, namely wcta, reta, ebitta, mcap, and saleta, it is necessary to examine the influence of the ratios 1. effect of z-score on stock price the results of the best panel model test show that the fixed effect model (fem) is the best model. furthermore, the results of the regression test of the fem model are presented in table 2. table 3 the influence of z-score on the stock prices of pulp and paper companies listed on the idx in 2013–2019 with fixed effect based on table 2, it is known that the model built is fit. the results of the model test show the f statistic value of 28.8605 with a significance of 0.000. r2 is 83.13%, indicating that the z-score is able to explain 83.13% of the variability in stock prices of pulp & paper companies listed on the idx. the z-score regression coefficient is 0.9438, indicating that if the z-score increases by 1 unit, the stock price will increase by 0.9438. the higher the z-score, the higher the company’s stock price. the higher the stock price, the higher the market value of the company’s stock. in other words, investors catch a good signal on the company’s shares referring to the z-score value. as is known, the higher the z-score means the company is further away from the possibility of experiencing financial distress (financial distress). table 2 best model selection results variable koeficient t-stat sign notes contanta 4,8559 15,4064 0.0000 *** z-score 0,9438 6,2624 0.0000 *** r2 0.8313 r2 adjusted 0.8025 f-stat 28,8605 0.0000 *** test criteria statistics results decision chow cross-section f 33,6186 0,000 cem is not the best model hausman cross-section random 6,6289 0.010 fem is the best model table 3 the influence of z-score on the stock prices of pulp and paper companies listed on the idx in 2013–2019 with fixed effect model augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 149 forming the z-score on stock prices. the results of the best panel model testing for the influence of the ratio forming z-score on stock prices are presented in table 3. the best panel model test results show that rem is the best model. furthermore, the testing of suitability of the rem mode are presented in table 4. based on table 4, it is known that the model built is fit. the results of model testing show the value of f statistics 32.9614 with a significance of 0.000. r2 of 90.74% indicates that the z-score components (wcta, reta, ebitta, mcap, and saleta) together are able to explain 90.74% of the variability of stock prices of pulp & paper companies listed on the idx. the value of the coefficient of determination indicates that by differentiating the ratios forming the z-score, the model’s ability to explain the phenomenon of stock prices increases. the wcta regression coefficient is 2.1996 with a significance of 0.0167. this shows that wcta has a significant positive effect on stock prices. when the wcta increases by 1 unit, the share price will increase by 2.1995. the higher the value of working capital, the greater the potential for the company to carry out its operations, so that it is further away from the possibility of experiencing financial difficulties. the reta regression coefficient is 0.3102 with a significance of 0.6467. this shows that reta has no significant effect on stock prices. the ebitta regression coefficient is 0.3194 with a significance of 0.8600. this shows that ebitta has no significant effect on stock prices. the mcap regression coefficient is 1.2415 with a significance of 0.000. this shows that mcap has a significant positive effect on stock prices. if mcap increases by 1 unit, then the share price will increase by 1.2415. the higher the stock market value, the better the public’s assessment of the stock, which indicates the company is healthy and far from the possibility of experiencing financial difficulties. the saleta regression coefficient is 1.1481 with a significance of 0.0337. this shows that saleta has a significant negative effect on stock prices. if saleta increases by 1 unit, table 4 best model selection results test criteria statistics results decision chow cross-section f 21,2352 0,000 cem is not the best model hausman cross-section random 0,4519 0.9938 rem is the best model table 5 the influence of z-score components on share prices of pulp and paper companies listed on the idx in 2013–2019 with random effect model variable coefficient t-stat sign notes constanta 6,566 15,3115 0.0000 *** wcta 2,1996 2.5081 0.0167 ** reta 0,3102 0,4608 0.6467 ebitta 0,3194 0,1776 0,8600 mcap 1,2415 7.4003 0.0000 *** saleta -1,1481 -2,2059 0.0337 ** r2 0,9074 r2 adjusted 0.8799 f-stat 32,9614 0.0000 *** business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 150 the stock price will decrease by 1.1481. the findings of this study indicate that the higher the level of sales of the assets owned, the lower the share price. e. discussion based on the ratio forming the z-score, it was found that wcta had a significant positive effect on stock prices. if the wcta increases, the share price will increase. this finding is in line with kadim & sunardi (2018) who researched the construction industry on the idx for the period 2013–2017. the higher the value of working capital, the greater the potential for the company to carry out its operations, so that there are more opportunities for increased production and the company is far from the possibility of experiencing financial difficulties. in other word the company is in good shape. the better the condition of the company, the higher the interest of investors to own the company’s shares so that the price is higher. the results of this study indicate that reta has no significant effect on stock prices. the results of this study are in line with the research of endri & yerianto (2019) which examined gas mining companies on the idx for the period 2012-2016. also in line with radityatama & mustafa (2019) which examined plantation sector companies listed on the idx (radityatama and mustafa 2019). also supports the findings of ardian & khoirudin (2014) who conducting research for manufacturing companies. the greater the retained earnings, it does not necessarily increase the share price, if it is not followed by the company’s investment in productive assets which will have an impact on increasing the company’s performance (ardian and khoiruddin 2014). the results of this study indicate that retained earnings which are of considerable value are not a concern of investors, so they do not affect stock prices. it needs to be further proven that the retained earnings are used for new investments and the company’s growth occurs so that it then affects the stock price. ebitta was found to have no significant effect on stock prices. this finding is in line with endri & yerianto (2019). high ebit but if it ultimately results in low net profit, making ebit not something that investors pay attention to. this condition causes stock prices to not be affected by the ratio of ebit to total assets. further studies are needed on the interest expense and corporate tax expense and their impact on stock prices (endri and yerianto 2019). it was found that mcap had a significant positive effect on stock prices. this finding supports the research of sukmawati et al (2014), endri & yerianto (2019), and radityatama & mustafa (2019). mcap shows the ratio between the market value of equity to the book value of debt. the higher this ratio indicates investor confidence in the company’s ability to pay off its debt obligations. the higher this ratio, the better the company’s performance. companies that perform well, the stock price will increase (sukmawati and adiputra 2014; radityatama and mustafa 2019; endri and yerianto 2019). saleta was found to have a negative and significant effect on stock prices. this finding is in line with the research results of ardian & khoirudin (2014). the ratio of sales to total assets shows the ratio of the company’s activities. the higher this ratio indicates high company activity or high efficiency and is expected to increase stock prices. the finding that sales augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 151 to total assets has a negative and significant effect on the stock price of pulp & paper companies shows that investors perceive higher sales as giving a negative signal if it is not followed by higher net income. cost of goods sold, interest rates, and taxes that must be calculated by the company need to be studied further to be able to explain the negative effect of the ratio of sales to total assets on stock prices (ardian and khoiruddin 2014). referring to the three variables that have a significant effect on stock prices, it is known that wcta has the greatest effect. thus, if the company’s management views the company’s stock price as important, so that the stock price continues to increase, management needs to pay attention to working capital management properly. management needs to properly manage receivables, inventories, and other shortterm assets that are expected to be converted into cash in less than one year. likewise, management needs to properly manage current liabilities including trade payables, tax payables, and the portion of long-term debt maturing within a maximum of one year, so that when these liabilities mature, the company is able to pay them off. the greater the working capital of the company, the higher the share price. f. implications and limitations the results of this study indicate that the z-score has a positive and significant effect on stock prices. this finding supports several previous studies, and shows that investors pay attention to the company’s financial health, and this has an impact on the company’s stock price. z-score is formed from the ratio of wcta, reta, ebitta, mcap, and saleta. the results showed that wcta and mcap had a positive and significant effect on the stock prices of pulp & paper companies listed on the idx. saleta has a negative and significant effect. meanwhile, reta and ebitta have no significant effect on stock prices. altman z-score model, in particular the ratio of working capital to total assets, market price of equity to book value of debt, and ratio of sales to total assets. the results of this study indicate that these three variables have a significant effect on stock prices. the ratios that make up the altman zscore model have been proven to be an appropriate model in determining the fluctuations in the company’s stock price, but the ability to explain it is still relatively limited. for further research, the research model can add new variables such as company interest expense, corporate tax rate, and cost of goods sold in influencing the company’s stock price. g. references altman, edward i. 1968a. “financial ratios, discriminant analysis and the prediction of corporate bankruptcy.” the journal of finance 23 (4): 589–609. ———. 1968b. “financial ratios, discriminant analysis and the prediction of corporate bankruptcy.” the journal of finance 23 (4): 589–609. https://doi.org/10.2307/ 2978933. ———. 2013. “predicting financial distress of companies: revisiting the z-score and zeta® models.” in edward elgar publishing. andriawan, nur fadli, & dantje salean. 2016. “analisis metode altman z-score sebagai alat prediksi kebangkrutan dan pengaruhbusiness and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 152 nya terhadap harga saham pada perusahaan farmasi yang terdaftar di bursa efek indonesia.” jurnal ekonomi akuntansi 1 (1): 67–82. https://doi.org/10.30996/jea17. v1i01.650. apergis, nicholas, john sorros, panagiotis artikis, & vasilios zisis. 2011. “bankruptcy probability and stock prices: the effect of altman z-score information on stock prices through panel data.” journal of modern accounting and auditing 7 (7): 689–96. ardian, andromeda, & moh khoiruddin. 2014. “pengaruh analisis kebangkrutan model altman terhadap harga saham perusahaan manufaktur.” management analysis journal 3 (1): 1–14. https://doi.org/10. 15294/maj.v3i1.3354. azis, musdalifah, sri mintarti, & maryam nadir. 2015. “manajemen investasi: fundamental, teknikal, perilaku investor dan return saham.” in manajemen investasi: fundamental, teknikal, perilaku investor dan return saham, 445. choy, steven liew woon, jayaraman munusamy, shankar chelliah, & ally mandari. 2011. “effects of financial distress condition on the company performance: a malaysian perspective.” review of economics & finance 1 (4): 85–99. http://www. bapress.ca/journal-4/effects of financial distress condition on the company performance-a malaysian perspective.pdf. endri. 2009. “prediksi kebangkrutan bank untuk menghadapi dan mengelola perubahan lingkungan bisnis: analisis model altman’s z-score.” perbanas quarterly review 2 (1): 34–50. endri & denny yerianto. 2019. “determinants of bankruptcy prediction and implication on stock prices in oil and gas mining sectors in indonesia stock exchange period 2012–2016.” international journal of management sciences and business research 8 (4): 11–17. http://www. ijmsbr. com. fama, eugene f. 1965. “the behavior of stockmarket prices.” the journal of business 38 (1): 34–105. junaeni, irawati. 2018. “stock prices predicted by bankruptcy condition?” binus business review 9 (2): 105–14. https://doi.org/ 10.21512/bbr.v9i2.4103. kamaludin & rini indriani. 2012. manajemen keuangan. bandung: cv mandar maju. kurniasih, augustina, heliantono, & agus herta sumarto. 2019. “potential bankruptcy in pulp and paper companies listed on stock exchange and its impact on stock prices: the case of indonesia.” international journal of business marketing and management 4 (9): 1–14. www. ijbmm.com. lestari, setyani dwi, retno fuji oktaviani, & willy arafah. 2016. “financial distress prediction with altman z-score and effect on stock price: empirical study on companies subsectors chemical listed in indonesia stock exchange period 20092014.” international journal of business and management invention 5 (8): 30–39. marcelina, tri ayu, & willy sri yuliandhari. 2014. “prediksi kebangkrutan menggunakan metode z-score dan pengaruhnya terhadap harga saham pada perusahaan transportasi yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2008–2012.” e-proceeding of management 1 (3): 291–98. mccabe, george m. 1979. “the empirical relationship between investment and financing: a new look.” journal of financial and quantitative analysis 14 (1): 119–35. augustina kurniasih, heliantono, agus herta sumarto, yulia efni, impact of financial distress on stock price: the case of pulp & paper companies registered in indonesia stock exchange 153 özyeºil, mustafa. 2020. “a relationship between altman’s z scores and stock price performance: a review on listed companies in bist-30 index.” international journal of economics and management studies 7 (2): 179–86. https://doi.org/10. 14445/23939125/ijems-v7i2p125. pratiwi, irma, sriwardany, & ova novi irma. 2018. “pengaruh potensi kebangkrutan terhadap harga terdaftar di bursa efek indonesia.” jurnal akuntansi dan pembelajaran 7 (2): 87–95. radityatama, muhammad fachri, & matrodji h. mustafa. 2019. “the effect of altman z-score financial ratio on stock price (study on go public plantation subsector companies in indonesia stock exchange).” dinasti international journal of digital business management 1 (1): 43–55. https:/ /doi.org/10.31933/dijdbm. ramadhan, ferry ardiansyah, & eni wuryani. 2018. “pengaruh prediksi kebangkrutan terhadap harga saham perusahaan.” jurnal akuntansi akunesa 7 (1): 1–23. sukmawati, ni made dewi, & i made pradana adiputra. 2014. “pengaruh rasio-rasio dalam model altman z score terhadap harga saham (studi pada perusahaan perbankan yang go public di bursa efek indonesia).” e-journal s1 ak universitas pendidikan ganesha 2 (1): 1–11. syamni, ghazali, m. shabri abdul majid, & widyana verawaty siregar. 2018. “bankruptcy prediction models and stock prices of the coal mining industry in indonesia.” etikonomi 17 (1): 57–68. https://doi. org/10.15408/etk.v17i1.6559. wirto, wirto, & matrodji h. mustafa. 2021. “the impact from financial ratios on altman z-scores’ model towards stocks return (study in automotive subsectors companies and its components that listed on indonesia stock exchange).” dinasti international journal of digital business management 1 (6): 1070–80. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 154 01 adrian denar.pmd fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 4545 the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables fitri purwanto, siti mujanah, sumiati faculty of economics and business university of 17 august 1945 surabaya e-mail: fitripurwanto906@gmail.com, sitimujanah@untag-sby.ac.id, sumiati@untag-sby.ac.id, abstract: this study aims to prove and analyze the effect of self-leadership, self-ability and resilient on organizational commitment and performance of the investigators. the sample used is 90 respondents who are investigators in satreskrim (criminal investigation agency) in surabaya division. the data was taken through a survey technique with a questionnaire instrument and data were analyzed using pls (partial least square). the results of this study showed that the self-leadership, selfability and resilient have significant effect on the investigator’s commitment and performance, while commitment has a significant effect on investigator performance. this indicates that as an investigator, they must have self-leadership, self-ability, and high resilience, so that they can achieve the targets that have been set keywords: self leadership, self ability, resilient, organizational commitment, and performance of investigators introduction surabaya is the second metropolitan city after dki jakarta, which also a capital city of east java province. its title works as a magnet for people to try their luck and seek their fortune in an effort to meet their needs. therefore, surabaya has became another busiest city with various kinds of complex problems. surabaya criminal investigation unit (satreskrim) is assigned by government to maintaining harkamtibmas by providing excellent service to the surabaya community, especially in area of investigations and inquiry. according to the report of the last 5 (five) years, the number of public reports (total crime) handled by surabaya investigators division is increasing, although the process of solving cases (clearance rate) leave a large number of cases unresolved properly. thus, without immediate evaluation the performance of investigators will impact the public trust in the performance of the police as indicated by the number of public complaints against the investigations carried out by the surabaya division. the low number of cases resolved by the surabaya police investigation unit can be influenced by several factors, namely the number of cases/police reports from the community, the difficult cases, the position of the suspect/witness outside surabaya, and evidence that has been lost, those will hinder the process of resolving cases by investigators of the surabaya police investigation unit (chusnaini, et al., 2021) the performance of surabaya police investigation unit in handling a case regardless of time, situation and condition cannot be separated from how the system works. the value that is internalized within individuals and organizational groups to work effectively, respond quickly in dealing with problems which closely dependent on the role of self-leadership, an attempt to influence oneself to be able to exert oneself in order to work better (manz and sims, 2012:15). business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 46 the existence of self-leadership motivates investigators to skilfully lead themselves in contributing to organizational performance. thus in practice, the ability provides sufficient strength to encourage better performance for the organization. this is possible because it created space for each individual to complete work on their own way. in contrast with the results of eva rachmawati’s research (2019). it shows that self-leadership has no significant effect on organizational commitment, although the results of the study showed otherwise. self-leadership affected on the way a person acts, especially in motivating a person to be enthusiastic in carrying out an activity or job, giving commitment to do some work, specifically in organizational empowerment. meanwhile, self-leadership encourage the creation of perceptions of control and responsibility that will positively affect performance outcomes (manz and sims, 2012; karya, et al., 2021). the number of cases handled by investigators from surabaya police investigation unit year over year always develop with various problems align with technological developments. this is one of the factors of the difficulty faced by investigators in resolving the cases. therefore the division needs the investigators who have a good selfability; physical endurance and intellectual ability in handling cases, so they can resolve properly and contribute to organizational performance in providing excellent service to the community. self-ability is an ability that a person must have in carrying out physical or mental tasks while skills are talents that a person has and can be learned on the process of carrying out a task (ivancevich; john m., et al., 2017). according to robbins; stephen p. and timothy judge (2018), self-ability is an individual’s capacity to perform various tasks in a job. generally, individual capacity is influenced by the knowledge, skills, and attitudes that are embedded in a person’s mind, taught from oneself, parents, teachers or the environment. self-ability is necessary in achieving better work performance because self-ability can have a positive and significant effect on employee performance (abellia, s. mujanah: 2021) with good abilities, employees will be competent to complete their work well. handling cases can be difficult. it requires an extra work so that every case can be resolved on time. in the case settlement process, many investigators experience difficulties and pressure from both internal and external, therefore every investigator must have a way in dealing with pressure within himself. therefore, as an investigator, he must have a resilient skill. it’s a positive psychological condition which the ability to adapt and overcome misfortune situations, uncertainty, conflict, failure where it all leads to help investigators on carrying responsibility in advanced and better way (luthans, 2007). every human being has the ability to be resilient and everyone is able to learn how to deal with obstacles in life, namely the ability to respond in a healthy and productive manner when faced with obstacles, and to have tenacity and resilience in the face of difficult circumstances (arifin h. abdul majid, 2021). therefore, resilient is very necessary for every investigator to have and develop. equipping every investigator the ability to cope with the hardships, disappointments, or challenges. resilient investigators are clearly seen during the investigation, the more a person survives with many challenges and obstacles, the more they likely succeed in developing resilient characteristics within him. the performance of investigators in handling a case gets great attention from the chief, because the performance of investigators will have a significant impact on the organizational performance fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 47 advice from others, being able to manage oneself, doing self-development, knowing onesel. (eva rachmawati et al., 2018). self leadership is a psychological construct on a person’s capacity to perform an improvement through a repertoire of on-going cognitive, motivational strategies and self-navigating behaviors based on curral and marques-quinteiro (2009: 165). on the other hand, according to sims and manz (2012) self-leadership has four dimensions, namely: (1) self modelling, the behavior shown by leaders for self-leadership development by being a model to employees related to the way the leader works; (2) self goal setting, is a method used by the leader in setting company goals by involving employees; (3) natural rewards, the awards given by the leader in the form an effort to teach employees how to respect themselves and build natural rewards into their work; and (4) positive patterns, behavior developed by the leader towards employees so that employees can think independently, use the opportunities and overcome all obstacles in their work. the definition of self-leadership above shows the importance of controlling one’s motivation, cognition and actions in order to be competent in carrying out the tasks properly. when a person is able to produce the desired actions, both for himself and his organization, it can be stated that the individual has a high degree of self-leadership. they will likely improve their performance better (marnis and marzolina, 2010) it supported by the results of dyah sawitri et al (2018) research which states that self-leadership affects employee performance. self ability according to robbins (2018), self-ability is defined as the level of an employee’s ability at in surabaya police criminal investigation unit. the performance of the investigator cannot be separated from its commitment. the organizational commitment of an investigator is defined as its alignment with the investigation unit goals and desires to maintain membership within it. investigators who are highly committed will have high productivity. vice versa, the low commitment investigators will has a negative impact. employees with low commitment will not give their best and strand the organization someday. sumiati & ketut dewa et al. (2018). tobing (2009) explains that employees with high organizational commitment have different attitudes than those with low commitment. organizational commitment is seen as an individual’s strength to get involved in an organization. by then, high organizational commitment can improve employee’s performance (benny agus setiono, et al., 2019). organizational commitment is more than passive loyalty to the organization, it shows an active relationship between investigators and organizations. in this study, the researcher will discuss the organizational commitment of surabaya police investigation unit, and its performance improvement. based on the above phenomenon, the problem in this research is formulated that whether self leadership, self ability and resilience affect the performance of investigators through organizational commitment in the police investigation unit of surabaya division (satreskrim polrestabes surabaya). theory self-leadership self-leadership is an attempt to influence oneself to skilfully exert oneself in order to work better, with indicators such as, asking for business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 48 work. the indicators of self-ability (gibson, 2009) are: 1. competence 2. technical skills 3. managerial skills 4. ability to solve problems at work 5. ability to self-study 6. ability to cooperate with colleagues. self-ability is important for every employee because a high self-ability can have an impact on their performance as the results of research by eva rachmawati, et al. (2019). likewise, the research results of permatasari et al. (2021) stated that self-ability has a positive and significant effect on employee performance. resilient grothberg (2014) defines resilience as human ability to face, overcome, gain strength and even capable to achieve self-transformation after experiencing an adversity circumstances. from then, individuals will find variation solution to solve problems that have been experienced. reivich and shatte (2002) defines resilience as a fundamental ability to deal with adversity or trauma in a positive manner. it is very important on how to control the stresses of a person’s daily life. reivich and shatte (2002) describe seven abilities that build a resilience personality. 1. emotional regulation, is the ability to remain calm under stressful conditions. 2. impulse control, the individual’s ability to control desires, urges, likes, and pressures that arise from within. 3. optimism, resilient individuals are optimistic individuals. 4. self-efficacy, is the result of successful problem solving. 5. causal analysis, refers to the ability of individuals to identify accurately the causes of the problems. 6. empathy, as the ability to understand and have concern for others. 7. reaching out, the ability to overcome misfortune and rise from it, and also the individual’s ability to achieve positive aspects of life after the befalls. high resilience behavior can affect employee’s performance, this is in accordance with the results of research by sungging darupaksi, (2020) which stated that employees who have resilience can improve their performance better, as well as the results of qikki ocktafian research (2021) resilience employee is significant to employee’s performance. organizational commitment according to mathis and jackson (2011) “organizational commitment is the degree to which employees believe and accept the goals of the organization and devoted fully to it.” meanwhile, according to kreitner and kinicki in putu and i wayan (2017) and karya et al. (2021) organizational commitment is an agreement to do something for oneself and other individuals, groups or organizations. according to indra kharis (2010) the indicators of organizational commitment are willingness, loyalty, and pride to the organization. organizational commitment is important for employees because it can improve employee’s performance. according to the results of sumiati’s research (2018) which states that organizational commitment has a significant effect on employee performance variables. likewise, the results of the research by nur azizah (2019) states that organizational commitment has a significant effect on employee performance. fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 49 performance of investigators according to mangkunegara (2016: 67) the term performance comes from the word job performance or actual performance (work achievement or actual achievement achieved by someone). performance is the either quality or quantity result of doing work achieved by an employee in carrying out his duties in accordance with the responsibilities given to him, mangkunegara (2016: 67). edison (2016: 190) performance is the result of a process that refers to and is measured over a certain period of time based on pre-determined provisions or agreements. according to edison (2016: 195) the performance dimensions consist of: 1. target, is an indicator of the fulfilment of the number of goods, jobs, or the amount of money generated. 2. quality is an important element, because the resulting a quality becomes the strength in maintaining customer loyalty. 3. completion time, timely completion makes sure the distribution and delivery of work is certain. this is esensial to create customer trust. 4. adhering to principle, not only must meet the target, quality and time but also, must be carried out a correct, transparent and accountable manner. conceptual framework and hypotheses figure 1 shows the conceptual framework of the research described based on the results of theoretical and empirical studies that have been carried out. based on the conceptual framework in figure 1, the hypothesis in this study are: h1. self-leadership has a significant effect on organizational commitment at the satreskrim polrestabes surabaya. h2. self-leadership has a significant effect on the performance of investigators at the satreskrim polrestabes surabaya. h3. self ability has a significant effect on organizational commitment at the satreskrim polrestabes surabaya. h4. self ability has a significant effect on the performance of investigators at the satreskrim polrestabes surabaya. h5. resilience has a significant effect on organizational commitment at the satreskrim polrestabes surabaya. h6. resilience has a significant effect on the performance of investigators at the satreskrim polrestabes surabaya. h7. organizational commitment has a significant effect on the performance of investigators at the satreskrim polrestabes surabaya. research methods population is an object/subject that has certain qualities and characteristics determined by the researcher to be studied and drawn conclusions (fianto 2021; and candraningrat, c. 2020). the population in this study were all figure 1 conceptual framework business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 50 investigators of the surabaya police investigation unit with the causal explanatory type. according to sugiyono (2014:85) if the subject is less than 100 people, all of them should be taken into account. because the number of population subjects in this study were 90 people which less than 100 people, then all population subjects were taken as samples. so the sampling technique used is total sampling or saturation sampling, a sampling technique when all members of the population are used as samples. this study uses a quantitative method that refers to using primary data sources obtained through the distribution of questionnaires by researchers via google form to the satreskrim investigator respondents in surabaya police station. the data collection method used in this study is a survey method which is a method of using a questionnaire as a data collection tool. questionnaires were distributed to respondents according to the characteristics of the samples described previously. after filling out the questionnaire, it all will be selected. then the data that has actually been filled out completely and in accordance with the filling instructions will be processed further. furthermore, the selected data is analyzed by testing the research model using the pls (partial least structural). data analysis results and discussion instrument validity test validity tests are carried out to determine the extent to which the statement items can measure each of the variables studied. to measure the validity of the questionnaire pearson product moment correlation was used. if the correlation value in each statement item produces a value greater than r table (0.361) then the statement item is declared valid. validity testing was carried out using spss program. the results of the validity test using corrected correlation on each statement item on each variable were all greater than r table 0.361 so, it can be concluded that all statement items used to measure variables are valid and can be used as good instruments to measure each variable. instrument reliability the reliability test was used to determine the reliability (consistency) of the instrument (measurement instrument) in the form of a questionnaire. this reliability test was carried out using the cronbach’s alpha with the provision that the questionnaire was declared reliable if the measurement of a variable had a cronbach’s alpha value more than 0.60 (malhotra in solimun, 2002:71) in this research, cronbach’s alpha value for all research variables has a value greater than 0.60 therefore, it can be concluded that the preparation of questionnaire statement items on self-leadership, self-ability, resilience, organizational commitment and investigator performance can be declared reliable and trustworthy as a measuring tool that produces consistent answers. evaluation of the outer model testing convergent validity of the indicators depends on the type of the indicator itself. in this case, the indicator items from each variable are reflective so that if there are invalid items then the item will be eliminated. the indicator of each variable is said to be valid if the value of the t-statistic is greater than 1.96 (ghozali, 2018). t-statistic indicators of each variable the smallest value of 4.047 (�� 1.96) for that all fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 51 outer model evaluation after examined a model which fits the criteria of outer model next step is to test the structural model (inner model). in pls, the structural model is evaluated by calculating the goodness of fit (gof). the reference in this gof measurement is described by hair, et al. (2014) gof values range from 0-1 with an interpretation of 0.1 (small gof), 0.25 (moderate gof), 0.36 (large gof). the following table shows the average value of communalities and also the average r-square table 3 above provides an r square value of 0.539 for the organizational commitment which means that self leadership, self ability, and resilience are able to explain the variance organizational commitment of 53.9 %. the investigator performance construct has an r square value of 0.867 which means that self leadership, self ability, and resilience and organizational commitment are able to explain the investigator’s performance variance 86.7%. table 3 value of r square indicators are valid. the method to see discriminant validity is to look at the value square root of average variance extracted (ave). the recommended value is above 0.5. table 1 ave values and roots of ave average variance extracted (ave) roots average variance extracted (ave) y 0.665 0.824 z 0.591 0.768 x3 0.574 0.779 x2 0.649 0.851 x1 0.475 0.638 based on table 1 that all constructs have an ave value (average variance extracted) above 0.5. likewise, the square root value of the ave gained a value of more than 0.5, therefore, it met a good standard of validity test. the reliability test can be measured by looking at the composite reliability value. hair et al. (2014) stated that composite reliability measures the real value of the a construct reliability. it is also mentioned that to be said one, the applicable rule of thumb is > 0.7 for the composite reliability value. table 2 composite reliability value composite reliability investigator performance 0.943 organizational commitment 0.810 resilient 0.946 self ability 0.944 self leadership 0.872 table 2 shows that the composite reliability for all constructs are above 0.7 which indicates that all constructs in the estimated model met the composite reliability. the lowest value is 0.810 in the organizational commitment. table 3 above provides an r square value of 0.539 for the organizational commitment which concluded that self leadership, self ability, and resilient are able to explain variance of organizational commitment which 53.9%. the investigator performance construct has an r square value of 0.867 which means that self leadership, self ability, and resilience and organizational commitment are able to explain the investigator’s performance variance of 86.7%. r square r square adjusted self leadership self ability resilient organizational commitment 0.539 0.521 investigator performance 0.867 0.869 business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 52 further testing can be done by looking at the path or inner model as shown in table 4. table 4 path coefficient value table 5 shows that the effect of exogenous variables on endogenous variables can be seen from t value, if t-statistics is greater than ttable (1.96) it can be stated that there is a significant effect of exogenous variables on endogenous variables, they are: 1. self leadership has a value of 0.496 to organizational commitment, then self leadership has no significant effect on organizational commitment. 2. self leadership has a value of 0.200 to investigator performance, then self leadership has a positive and not so significantly affect the investigator performance. 3. self ability has a value of 0.437 to organizational commitment, thus, self ability has a positive and significant impact on organizational commitment. 4. self ability has a value of 0.446 to the investigator’s performance, therefore, self ability has a positive and significant impact on the investigator’s performance. 5. resilient has a value of 0.526 to organizational commitment, meaning that resilient has a positive and significant impact on organizational commitment. 6. resilient has a value of 0.262 to the investigator’s performance, thus, resilient has an impact but not so significantly affect the investigator’s performance. 7. organizational commitment has a value of 0.489 to investigator performance, therefore, organizational commitment has a positive and significant impact on investigator performance. discussion the results of the study show that selfleadership has a significant effect on organizavariable cronbach's alpha critical description x1 0,773 0.60 reliable x2 0.900 0.60 reliable x3 0.912 0.60 reliable z 0.837 0.60 reliable y 0.914 0.60 reliable coefficient path or inner model level of significance can be found in hypothesis testing. in terms of seeing the significance of the relationship between constructs, what is used is the t-test of the path coefficient. the path relationship between these variables is considered significant if t-statistics are greater than 1.96. hypothesis coefficient value path or inner model which shows the level of significance in hypothesis testing. hypothesis testing can be seen in table 5. table 5 path coefficient original sample (o) t statistics (|o/stdev|) p values conclusion organizational commitment -> investigator performance 0.489 2.008 0.045 significant resilient -> investigator performance 0.262 1.519 0.129 not significant resilient -> organizational commitment 0.526 3.332 0.001 significant self ability -> investigator performance 0.446 2.762 0.006 significant self ability -> organizational commitment 0.437 3.034 0.000 significant self leadership -> investigator performance 0.200 1.489 0.137 not significant self leadership -> organizational commitment 0.496 2.355 0.025 significant fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 53 tional commitment, this indicates that the higher self-leadership, the stronger the organizational commitment is. thus, the third hypothesis which states that self-leadership affect on organizational commitment to investigators of satreskrim polrestabes surabaya, is accepted. the results of this study do not support eva rachmawati’s research (2019) which shows that self-leadership has no significant effect on employee performance. the results of this study also show that self-leadership of the investigators of the criminal investigation unit in handling cases was quite high, where the investigators have the competence to guide themselves in challenging situations that prioritize the achievement of goals with clear plan and objectives. besides that the investigators of the investigation unit criminals can motivate themselves to be able to lead themselves in contributing to organizational performance, thus the ability to lead personally provides sufficient strength to encourage investigators to have high loyalty to the organizational commitment of the surabaya police criminal investigation unit. in addition, self-leadership is very much needed by an investigator for his motivation, as well as his actions to be able to carry out the tasks for which he is responsible properly, when a person’s control over himself is able to produce the expected actions, both by himself and his organization, it can be stated that the investigator has a degree of self-confidence leadership . based on the results of hypothesis testing using smartpls, it gives an output that the self leadership has no significant effect on changes in the investigator’s performance variable, in simple word, an increase in the value of self leadership has relatively no effect on increasing investigator performance or vice versa. the results of the estimation of the coefficient of the effect of self leadership on the performance of investigators show an insignificant effect. the resulting coefficient of influence is positive, meaning that the high self-leadership has not been able to improve the performance of investigators, it can increase but in a low percentage. thus the second hypothesis which states that self-leadership effect on the performance of investigators at the surabaya polrestabes criminal investigation unit cannot be accepted (h2 is rejected). this is not in accordance with previous research conducted by eva rachmawati, siti mujanah (2018:4), and i made aditya darma putra, desak ketut sintaasih (2011) and diah safitri et al. (2018) who found that self-leadership has a positive and significant effect on employee performance. likewise, the research by marnis and marzola (2019) shows that selfleadership has a significant effect on organizational commitment and employee performance. self leadership of the investigators of the surabaya polrestabes criminal investigation unit has not been able to significantly improve the performance of investigators, this is influenced by the large number of investigators who are young and do not have experience, considering how difficult it is to handle a case so that investigators who are young and inexperienced are still confused and find it difficult to focus on the goals of their work as investigators. so that young investigators have not been able to regulate themselves, especially emotional factors and personal weaknesses. as unable to control themselves, they often lose control, become very critical, behave inappropriately, and are unable to maintain self-esteem. based on the results of hypothesis testing, it was found that self ability had a positive and business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 54 significant effect on the change in the organizational commitment variable. an increase in the self ability will have an effect on increasing organizational commitment or vice versa. the estimation result of the coefficient influenced the self ability on organizational commitment significantly. the coefficient result is positive, thus, the better the self-ability is, the stronger the organizational commitment is. moreover, the third hypothesis which states that self-ability affects organizational commitment to the surabaya police satreskrim investigators can be accepted (h3 is accepted). the results of this study support previous research conducted by abellia permatasari, siti mujanah et al (2018) with the title “the influence of self-leadership, social intelligence, employee ability on organizational commitment and employee performance of the department of population control, women’s empowerment and child protection in surabaya city.” permatasari et al. (2018) wrote, employee’s ability effect on organizational commitment. the higher employee ability, the higher organizational commitment is. this increase on the value of self ability will have an effect on improving the performance of investigators or vice versa. the results of the estimation of the coefficient of the effect of self ability on the performance of investigators show a significant effect. the coefficient is positive, in other word, the higher the self ability is, the higher the investigator’s performance will be. thus, the fourth hypothesis which states that self ability affects the performance of investigators in the surabaya police criminal investigation unit can be accepted (h4 is accepted). the results of this study support previous research conducted by abellia permatasari et al. (2021) which states that self ability has a significant effect on employee performance that the higher the self ability is, the higher the employee’s performance will be. based on the results of hypothesis testing using smartpls, it gives the output that the resilent a positive and significant influence on changes in the organizational commitment variable. that is, an increase in the value of resilient will have an effect on increasing organizational commitment or vice versa. the results of this study are verified by several research results, namely research conducted by paul et al. (2016) and hui meng et al. (2017) where the results show that resilience has a significant effect on organizational commitment. the results of this study support previous research conducted by sungging darupaksi (2020) with the title “the influence of organizational support, value conformity and employee resilience on organizational commitment at bpr bkk purwokerto”. the conclusion of sungging darupaksi (2020) that resilience has a significant effect on organizational commitment, that the higher the resilience is the higher organizational commitment will be. based on the results of hypothesis testing using smartpls, it gives an output that the resilient has a positive but not significant effect on changes in the investigator’s performance variable. that is, an increase in the relative value of resilience has no effect on increasing the performance of investigators or vice versa. the estimation results of the resilient on the investigator’s performance showed an insignificant effect. the resulting coefficient of influence is positive, meaning that the higher the resilience has not been able to improve the performance of the investigator, although, it can increase but only in a low percentage. thus the sixth hypothesis which states that resilience fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 55 affects the performance of investigators at the satreskrim polrestabes surabaya cannot be accepted (h6 is rejected). satreskrim polrestabes surabaya investigators who are young and have minimum work experience, do not fully have the ability to cope with various challenges and pressures. they hardly continue to survive, adapt and develop a solusion from difficult situations, therefore investigators who are young and have minimal work experience need to have organizational commitment. mathis and jackson, (2006) define organizational commitment as the level of employee confidence and acceptance of organizational goals and the desire to remain with the organization. by having a strong organizational commitment, investigators are able to consist a persistence performance in times of difficulties, conflicts, failures or positive events and can improve the performance of an investigator. based on the results of hypothesis testing using smartpls, it gives the output that the organizational commitment variable has a positive and significant influence on changes in the investigator’s performance variable. that is, an increase in the value of organizational commitment will have an effect on improving the performance of investigators or vice versa. the results of the estimation of the coefficient of the effect of organizational commitment on the performance of investigators show a significant effect. the resulting coefficient of influence is positive, meaning that the higher the organizational commitment, the higher the investigator’s performance will be. thus the seventh hypothesis which states that organizational commitment affects the performance of investigators at the surabaya police criminal investigation unit can be accepted (h7 is accepted). conclusions and suggestions based on the analysis of the results of this study, the conclusion is that self-leadership has no significant effect on organizational commitment. this means that the higher the selfleadership, the higher the organizational commitment is. however, this self-leadership has no significant effect on employee performance. in addition, self-ability has a positive and significant effect on organizational commitment and employee performance. moreover, resilience has a significant effect on organizational commitment but has no significant effect on performance. meanwhile, organizational commitment has a positive and significant effect on the performance of investigators. this shows that the higher the organizational commitment, the higher the investigator’s performance will be. this indicates that improving the performance of investigators, is necessary to motivate them to have self-leadership, self-ability and resilience within them. based on the conclusions that have been drawn from the results of the study, the head of the surabaya police criminal investigation unit, needs to provide support to investigators with training, and provide motivation in the hope that investigators are able to manage themselves in order to achieve the goals that have been determined by the organization. re-increase organizational commitment by encouraging investigators. with the hope that the higher the organizational commitment felt by investigators, it will improve the performance of investigators in handling cases. and foster resilience towards investigators who are young and still have few work experience in the hope that investigators will be able to face both internal and external pressures and by being tough which business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 56 in the future can improve the performance of investigators. references abellia permatasari & siti mujanah. (2021). the effect of self ability, compensation, and self efficacy on employee performance at rizqy jaya mulia sidoarjo company. journal of applied management and business (jamb), 2(1), 21–30. https:// doi.org/10.37802/jamb.v2i1.156. aditya, i. m., sintaasih, d. k., & universitas udayana. (2018). pengaruh self leadership dan komitmen organisasional terhadap kinerja karyawan di hotel four points by sheraton. e-jurnal manajemen unud, 7(8), 4237–4266. ahdiyana, m. (2011). perilaku organisasi. program studi ilmu administrasi negara uny. akbar, a., musadieq, m., & mukzam, m. (2017). pengaruh komitmen organisasional terhadap kinerja (studi pada karyawan pt pelindo surabaya). jurnal administrasi bisnis s1 universitas brawijaya, 47(2), 33–38. atwater, e., & duffy, k. g. (1999). psychology for living/: adjustment, growth & behaviour today. 6th ed. prentice-hall inc. bangun, w. (2012). manajemen sumber daya manusia. jakarta: erlangga. bogar, c. b., & hulse-killacky, d. (2006). resiliency determinants and resiliency processes among female adult survivors of childhood sexual abuse. journal of counselling and development, 84(3), 318– 327. https://doi.org/10.1002/j.1556-6678. 2006.tb00411.x. cooper, c. l., liu, y., tarba, s. y., & cooper, c. l. (2014). resilience , hrm practices and impact on organizational performance and employee wellbeing 2015 special issue. in the international journal of human resource management (vol. 25, issue 17, pp. 2466–2471). taylor & francis. https://doi.org/10.1080/09585192. 2014.926688. creswell, j. w. (2009). research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches, 3rd ed. in research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches, 3rd ed. (pp. xxix, 260–xxix, 260). sage publications, inc. curral, l. & marques-quinteiro, p. (2009). selfleadership and work role innovation: testing a mediation model with goal orientation and work motivation. revista de psicología del trabajo y de las organizaciones, 25(2), 165–176. https://doi.org/ 10.4321/s1576-59622009000200006. darupaksi, s. (2021). pengaruh dukungan organisasi, kesesuaian nilai dan employee resilience terhadap komitmen organisasi pd bpr bkk purwokerto. jurnal ekonomi, bisnis, dan akuntansi, 22(4), 457–467. https://doi.org/10.32424/jeba.v22i4.1770. dini, r., bambang, p., & iqbal, s. m. (2016). pengaruh kemampuan kerja dan komitmen organisasional terhadap kinerja karyawan (studi pada karyawan perusahaan daerah air minum kota malang). jurnal administrasi bisnis (jab)|vol, 33(1). edison, e., anwar, y., & komariyah, i. (2016). manajemen sumber daya manusia. bandung: alfabeta. fauzan, m. (2016). pengaruh efikasi diri dan resiliensi terhadap komitmen profesional dimoderasi budaya klan (studi kasus pada guru smk negeri di kabupaten pati). stikubank university. fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 57 gardner, w. l., avolio, b. j., luthans, f., may, d. r., & walumbwa, f. (2005). “can you see the real me?” a self-based model of authentic leader and follower development. leadership quarterly, 16(3), 343– 372. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2005. 03.003 ghozali, i. (2006). structural equation modelling metode alternatif dengan partial least square. universitas diponegoro. gibson, j. l., ivancevich, j. m., & donnelly, j. h. (2012). organizations: behavior, structure, processes. dubuque, ia/: mcgrawhill. greeff, a. (2005). resilience: personal skills for effective learning. crown house. https:/ /books.google.co.id/books?id=kr6poq aacaaj. grotberg, e. h. (2003). resilience for today: gaining strength from adversity. praeger. https://books.google.co.id/books?id=ob6 u7thfakwc. grotberg, e. h. (edith h., & bernard van leer foundation. (1995). a guide to promoting resilience in children/: strengthening the human spirit (issue 8). hair, j. f., hult, g. t. m., ringle, c. m., & sarstedt, m. (2014). partial least squares structural equation modelling (pls-sem). sage publications. hallak, r., assaker, g., o’connor, p., & lee, c. (2018). firm performance in the upscale restaurant sector: the effects of resilience, creative self-efficacy, innovation and industry experience. journal of retailing and consumer services, 40, 229– 240. https://doi.org/10.1016/j.jretconser. 2017.10.014 hayat, s. z., khan, s., & sadia, r. (2016). resilience, wisdom, and life satisfaction in elderly living with families and in oldage homes. pakistan journal of psychological research, 31(2), 475–494. indra, k. (2010). pengaruh komitmen organisasional dan kepuasan kerja. terhadap kinerja guru sma negeri 3 bandung. jurnal administrasi bisnis, 3. ivancevich, j. m. (2008). perilaku dan manajemen organisasi jilid 1. john m. ivancevich, robert konopaske, michael t. matteson; alih bahasa: gina gania; editor: wibi hardani, bimo adi yoso. jaya, d. k. & maryati, t. (2010). pengaruh kemampuan, motivasi berprestasi dan locus of control terhadap kinerja individu melalui pemediasian selfefficacy. jurnal bisnis: teori dan implementasi, 2(1), 191–206. http%3a%2f%2fjournal.umy. ac.id%2findex. karya, d. f., zahara, r. i. t. a., anshori, m. y., & herlambang, t. (2021, may). workfamily conflict and organizational commitment of female lecturers of nahdlatul ulama university of surabaya: an investigation of job satisfaction as a mediator using partial least square. in iop conference series: earth and environmental science, vol. 747, no. 1, p. 012–110. iop publishing. kreitner, r. & kinicki, a. (2015). perilaku organisasi. jakarta: salemba empat. lhalloubi, j. & ibnchahid, f. (2020). do resilience and work engagement enhance distribution manager performance/ ? a study of the automotive sector. 7, 5–17. lusiyani, a. & helmy, i. (2020). pengaruh psychological capital terhadap kinerja karyawan dengan komitmen organisasional sebagai variabel intervening. jurnal ilmiah mahasiswa manajemen, bisnis dan akunbusiness and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 58 tansi (jimmba), 2(2), 155–165. https:// doi.org/10.32639/jimmba.v2i2.458. luthans, f., avolio, b. j., avey, j. b., & norman, s. m. (2007). positive psychological capital: measurement and relationship with performance and satisfaction. personnel psychology, 60(3), 541–572. https://doi.org/ 10.1111/j.1744-6570.2007.00083.x. malhotra, n. (2007). marketing research/ : an applied orientation, pearson education, inc., fifth edition. pearson. mangkunegara, a. a. p. (2016). manajemen sumber daya manusia perusahaan. bandung: remaja rosdakarya. manz, c. c., pearce, c. l., mott, j. w., henson, z., & sims, h. p. (2013). don’t take the lead…share the lead: surprising leadership lessons from big time college sports. organizational dynamics, 42(1), 54–60. https://doi.org/10.1016/j.orgdyn.2012. 12.007. manz, c. c. & sims, h. p. (1991). super leadership: beyond the myth of heroic leadership. organizational dynamics, 19(4), 18–35. https://doi.org/https://doi. org/10.1016/0090-2616(91)90051-a. mathis, r. l., jackson, j. h., valentine, s. r., & meglich, p. (2016). human resource management. cengage learning. https:// books.google.co.id/books?id=-ihbcgaa qbaj. meng, h., luo, y., huang, l., wen, j., ma, j., & xi, j. (2019). on the relationships of resilience with organizational commitment and burnout: a social exchange perspective. the international journal of human resource management, 30(15), 2231– 2250. https://doi.org/10.1080/09585192. 2017.1381136. meyer, j. p., allen, n. j., & smith, c. a. (1993). commitment to organizations and occupations: extension and test of a three-component conceptualization. journal of applied psychology, 78(4), 538– 551. https://doi.org/10.1037/0021-9010. 78.4.538. moorhead, g. & griffin, r. w. (2013). perilaku organisasi/: manajemen sumber daya manusia dan organisasi. jakarta: salemba empat. morrison, g. s., dewi, f. i., & romadhona, s. (2012). dasar-dasar pendidikan anak usia dini (paud). muchlas, m. (2012). perilaku organisasi. yogyakarta: gadjah mada university press. neck, c. p., manz, c. c., & houghton, j. d. (2016). self-leadership: the definitive guide to personal excellence. sage publications. https://books.google.co.id/books? id=buqkjweacaaj. ocktafian, q. (2021). pengaruh resiliensi karyawan terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan hidup. jurnal ilmu manajemen, 9(2), 830. https://doi.org/10.26740/jim. v9n2.p830-843. paul, h., bamel, u. k., & garg, p. (2016). happy paul, umesh kumar bamel, and pooja garg. 308–324. https://doi.org/10. 1177/0256090916672765. porter, m. e. i. p. a. d. a. m. (1992). keunggulan bersaing/: menciptakan dan mempertahankan kinerja unggul. jakarta: erlangga. putra pratama, m. a. & nurdiana dihan, f. (2017). pengaruh komitmen organisasional dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening. jbti/: jurnal bisnis teori dan implementasi, 8(2), 115–135. https://doi.org/10.18196/bti.82087. fitri purwanto, siti mujanah, sumiati, the effect of self-leadership, self-ability, and resilient on the performance of surabaya satreskrim police investigators through organizational commitments as intervening variables 59 rachmawati, e., mujanah, s., & retnaningsih, w. (2019). pengaruh self leadership, kecerdasan sosial, employee ability terhadap komitmen organisasional dan kinerja karyawan dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kota surabaya. jmm17, 5(02). https://doi.org/10.30996/jmm17. v5i02.1945. reivich, k. & shatté, a. (2002). the resilience factor: 7 essential skills for overcoming life’s inevitable obstacles. in the resilience factor: 7 essential skills for overcoming life’s inevitable obstacles. (p. 342). broadway books. robbins, s. p. & judge, t. a. (2013). perilaku organisasi: organizational behavior buku 2–12/e. jakarta: salemba empat. roziqin, m. z. (2010). kepuasan kerja. malang: averroes pres. rutter, m. (2006). implications of resilience concepts for scientific understanding. annals of the new york academy of sciences, 1094, 1–12. https://doi.org/10.1196/ annals.1376.002. sawitri, d., cahyandari, n., & muawanah, u. (2018). hubungan self leadership, self efficacy dan kecerdasan intelektual terhadap kinerja karyawan pada badan pendapatan daerah kabupaten mojokerto. jurnal manajemen dan bisnis indonesia, 6(1), 76–90. https://doi.org/10.31843/ jmbi.v6i1.184. schoon, i. (2006). risk and resilience. adaptations in changing times. risk and resilience: adaptations in changing times, 1– 222. https://doi.org/10.1017/cbo9780511 490132. setiawan, a. h. & siagian, h. (2017). pengaruh kemampuan dan motivasi kerja terhadap kinerja pada cv sinar agung. agora, 5(3), 1–9. shafiah, s. a. & prasetyo, w. y. (2004). pengaruh kemampuan dan motivasi terhadap kinerja pegawai kantor pelayanan terpadu (studi pada kantor pelayanan terpadu lumajang). jurusan administrasi publik (jap), 2(2), 312–318. siebert, a. (2005). the resiliency advantage: master change, thrive under pressure, and bounce back from setbacks. berrettkoehler publishers. singarimbun, m. & effendi, s. (2006). metode penelitian survei. lp3es. sobirin, a. (2019). budaya organisasi/: pengertian, makna dan aplikasinya dalam kehidupan organisasi. upp stim ykpn. sugiyono. (2017). metode penelitian bisnis: pendekatan kuantitatif, kualitatif, kombinasi, dan r&d. bandung: alfabeta. sumiati, s., raka ardiana, i. d. k., & pratiwi, a. i. (2018). pengaruh komitmen organisasi, quality of work life (qwl) terhadap organization citizenship behavior (ocb) dan kinerja pegawai pada dinas kependudukan dan pencatatan sipil kabupaten bangkalan madura jawa timur. jmm17, 5(01), 24–36. https://doi.org/ 10.30996/jmm17.v5i01.1710. susilawati. (2016). perilaku organisasi dan manfaatnya. http://euissusilawati256.blogspot.com/ sutanto, e. m. & ratna, a. (2015). pengaruh komitmen organisasional terhadap kinerja karyawan berdasarkan karakteristik individual. bisma: jurnal bisnis dan manajemen, 9(1), 56–70. tenenhaus, m. & esposito, v. (2005). pls path modelling. 48, 159–205. https://doi.org/ 10.1016/j.csda.2004.03.005. business and finance journal, volume 6, no. 2, march 2022 60 tobing, d. s. k. l. (2009). pengaruh komitmen organisasional dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan pt. perkebunan nusantara iii di sumatera utara. jurnal manajemen dan wirausaha, 11(1), 31–37. https://doi.org/10.9744/jmk.11.1.pp.31-37. triatna, c. (2015). perilaku organisasi dalam pendidikan. bandung: pt remaja rosdakarya. umar, h. (2008). metode penelitian untuk skripsi dan tesis bisnis. pt rajagrafindo persada. https://books.google.co.id/books?id=6dtl nqaacaaj. utaminingsih, a. (2014). perilaku organisasi. malang: universitas brawijaya press. wijaya, d. (2017). manajemen keuangan konsep dan penerapannya. gramedia widiasarana indonesia. williams, m. (2005). leadership for leaders. thorogood. https://books.google.co.id/ books?id=wde5aaaaiaaj. yamin, s. & kurniawan, h. (2011). generasi baru mengolah data penelitian dengan partial least square path modelling. jakarta: salemba empat. yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 1111 analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan melalui perilaku responsif (studi pada pt garuda indonesia kantor cabang surabaya) yunia insanatul karimah universitas nahdlatul ulama surabaya email: nia.ahmad@unusa.ac.id abstract: the purpose of this research is to find out the influence of leadership competency and organization culture to customer satisfaction either directly or indirectly through responsive behavior employees. this research has three variables namely independent variables (leadership competency and organizational culture), mediating variable (responsive behavior) and dependent variable (customer satisfaction). the population in this research are frontliners and customer of pt garuda indonesia surabaya branch office. the technique of data collection is the census method. data are gathered by questionnaires given to 42 frontliners and customers of pt garuda indonesia surabaya branch office. this research used quantitative approach with multiple regression analysis. the result shows that leadership competency, organizational culture and frontliner responsive behavior have significantly influence to customer satisfaction. responsive behavior does not mediate the influence of leadership competency and organizational culture to customer satisfaction. keywords: leadership competency, organizational culture, responsive behavior, customer satisfaction pendahuluan perkembangan industri jasa maskapai penerbangan yang sangat pesat menyebabkan persaingan bisnis jasa penerbangan menjadi sangat tajam, baik di pasar domestik (nasional) maupun di pasar internasional (global). untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya, yaitu dengan menghasilkan kualitas pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan. dalam rangka untuk menyediakan nilai kepada pelanggan, strategi pelayanan harus mempertimbangkan manajemen dalam perusahaan pada berbagai perilaku di organisasi (asree et al., 2010). adanya persaingan yang ketat dalam industri jasa penerbangan maka diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai keunggulan kompetitif. sumber daya manusia sebagai salah satu faktor internal yang memegang suatu organisasi dalam mencapai tujuan sehingga perlu diarahkan melalui manajemen sumber daya manusia yang efektif dan efisien. karyawan dalam organisasi diharapkan dapat menghasilkan kinerja yang tinggi, responsif terhadap pelanggan, berorientasi pada proses, terlibat dalam kepemimpinan dan bertanggung jawab untuk menciptakan knowledge yang dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi serta mencapai kesuksesan bisnis (moulton et al., 2006). business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 12 program pengembangan kepemimpinan meliputi identifikasi kompetensi dan penciptaan model kompetensi. sebuah kompetensi adalah sebuah keterampilan tertentu, pengetahuan, atau karakteristik yang diperlukan untuk melakukan peran secara efektif dan untuk membantu bisnis memenuhi tujuan strategisnya. kompetensi model digunakan untuk membangun kualifikasi kepemimpinan dan meningkatkan efektivitas dalam kaitannya dengan tantangan bisnis masa depan. kategori utama kompetensi mencakup kepemimpinan, pemikiran analitis, komunikasi, pembuatan keputusan, membangun hubungan, perencanaan strategik atau kecerdasan emosional (emiliani, 2003). organisasi perlu memperbarui strategi agar dapat memenangkan tantangan bisnis. pemimpin memainkan peran penting dalam menanggapi perubahan sumber daya, teknologi, metode pemasaran dan sistem distribusi serta mengarahkan keberhasilan organisasi. saat ini pangsa pasar, kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, dan kinerja keuangan menempati prioritas utama dalam rencana strategis organisasi. alignment antara budaya organisasi dengan rencana strategis penting untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. perusahaan dapat disebut sebagai organisasi yang memiliki aktivitas untuk memenuhi kebutuhan anggota atau karyawannya. perilaku karyawan perusahaan mengikuti peraturan, job description, struktur organisasi dan identitas spesifik berdasarkan visi dan misi. perusahaan didasarkan pada budaya organisasi yang dibangun oleh anggota organisasi serta menciptakan nilai. budaya organisasi dapat disebut sebagai sumber keunggulan kompetitif bagi perusahaan untuk membedakan dari perusahaan lain (darwis dan djajadiningrat, 2010). untuk menjadi pemimpin sukses salah satunya harus dapat secara akurat menilai budaya organisasi dan membantu karyawan dalam memahaminya juga. pengetahuan tentang budaya organisasi dapat menjadi sarana yang penting untuk memahami keyakinan dan perilaku individu dalam suatu organisasi. keberhasilan atau kegagalan budaya dapat ditentukan oleh pemimpin dan oleh orang-orang yang dipilih oleh pemimpin untuk bekerja dalam sistem. oleh karena itu, penting bahwa pemimpin memahami dan mengenali kompleksitas dan kepentingan budaya (mullins, 2007). dalam lingkungan kompetitif yang berubah, ada kebutuhan untuk mengembangkan organisasi dan fasilitas secara signifikan yang lebih fleksibel dan responsif dari yang sudah ada. perusahaan yang peka memerlukan kemampuan untuk bertahan hidup dan berkembang di lingkungan yang kompetitif dari perubahan secara terus-menerus dan tak terduga dengan bereaksi cepat dan efektif terhadap perubahan pasar, yang dipicu oleh produk dan jasa dengan customer-designed. kemampuan yang mengharuskan organisasi untuk menanggapi dengan lebih baik terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis, pada dasarnya dibagi menjadi empat kategori utama yaitu responsif, kompetensi, fleksibilitas dan kecepatan. responsif adalah kemampuan perusahaan untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan komersial, mengidentifikasi perubahan dan merespon dengan cepat, dan menanganinya secara reaktif atau proaktif (büyüközkan, 2004). agar menjadi responsif, manajer membutuhkan informasi mengenai situasi yang mereka yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 13 hadapi serta proyeksi tentang masa depan. responsif termasuk bereaksi terhadap atau bahkan mengantisipasi apa yang diinginkan pelanggan. meningkatkan fleksibilitas untuk merespon perkembangan tak terduga adalah prioritas utama. kecepatan, fleksibilitas, dan responsif dalam organisasi saat ini adalah lebih penting daripada perencanaan strategis untuk banyak manajer. apabila perusahaan tidak mau belajar untuk responsif, maka kelangsungan organisasi dalam jangka panjang akan diragukan (ellinger dan rogers, 1995). kepuasan pelanggan memberikan pengaruh yang penting bagi perkembangan sebuah organisasi perusahaan atau bisnis. karena itu seorang pemimpin dari suatu organisasi bisnis sangat penting untuk dapat menunjukkan ketulusan dan kepeduliannya dalam memberikan layanan prima kepada pembeli atau pelanggan. kepemimpinan yang professional memiliki orientasi pada kepuasan pelanggan. karakteristik umum yang biasanya dimiliki seorang pemimpin yang menginginkan terjadinya kepuasan pelanggan di perusahaan adalah mempunyai customer satisfaction vision (irawan, 2002). mencapai kepuasan pelanggan saat ini merupakan tujuan utama suatu bisnis agar dapat bertahan. industri menganggap bahwa pemahaman terhadap perilaku pelanggan setelah pembelian awal dapat memperat hubungan organisasi dengan pelanggan lebih lama. kepuasan pelanggan pengaruhnya pada pembelian ulang dan rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth). pengalaman menunjukkan bahwa hanya perusahaan yang berorientasi pada pelanggan dapat mencapai tujuannya yaitu mempertahankan dan memuaskan pelanggan saat ini dan pelanggan masa lalu. perusahaan-perusahaan ini berfokus pada kebutuhan dan keinginan spesifik sasaran pelanggan dan kemudian bekerja keras untuk memaksimalkan kepuasan dengan produk atau jasa yang ditawarkan (pizam dan ellis, 1999). karakteristik dari kompetensi pemimpin serta pemahaman budaya organisasi dapat memunculkan perilaku responsif pada karyawan terhadap kebutuhan pelanggan dalam hal kualitas, kecepatan, dan fleksibilitas. perilaku responsif dalam organisasi dapat menjadi keunggulan kompetitif dalam hal kinerja bisnis, kepuasan pelanggan, inovasi dan kinerja keuangan (stalk and hout: 1990). penelitian ini dilakukan pada karyawan frontliner dan pelanggan pt garuda indonesia kantor cabang surabaya. pt garuda indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penerbangan sehingga pelayanan dan kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama. garuda indonesia telah menjadi ikon maskapai penerbangan dengan pelayanan terbaik di indonesia. karyawan frontliner mempunyai peranan penting dalam proses pemberian pelayanan jasa secara langsung berinteraksi dengan pelanggan. perusahaan selalu mengharapkan setiap karyawan bekerja dengan profesional dan mau memperhatikan keinginan pelanggan. setiap karyawan frontliner merupakan sumber daya penentu dalam keberhasilan suatu perusahaan serta berperan penting dalam menciptakan kepuasan pelanggan. berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah: 1. apakah kompetensi kepemimpinan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kebusiness and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 14 puasan pelanggan di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya? 2. apakah kompetensi kepemimpinan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan melalui perilaku responsif karyawan frontliner di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya? 3. apakah budaya organisasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya? 4. apakah budaya organisasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan melalui perilaku responsif karyawan frontliner di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya? tinjauan teoretis dan hipotesis kompetensi kepemimpinan hutapea dan toha (2008:53) mendefinisikan kompetensi sebagai karakteristik yang melekat dalam diri seseorang dimana seseorang dapat menjadi manusia yang kompeten dalam melakukan pekerjaannya dengan baik sesuai dengan kemampuan mereka yang konsisten. ada tiga jenis kompetensi yaitu kompetensi teknis yang lebih menekankan pada pencapaian efektivitas kerja, kompetensi perilaku (konsep diri, ciri diri dan motif individu) yang lebih menekankan pada perilaku produktif yang harus dimiliki, serta kompetensi pengetahuan dan keterampilan individu yang lebih ditujukan kepada pelatihan dan pendidikan. menurut wibowo (2008:86), kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi dengan keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai sesuatu yang terpenting dan sebagai unggulan bidang tertentu. para peneliti mendefinisikan kepemimpinan berdasarkan persepsi individu dan aspek dari fenomena yang paling menarik bagi mereka. kepemimpinan telah didefinisikan dalam hal sifat-sifat, perilaku, pengaruh, pola interaksi, peran hubungan, dan pekerjaan posisi administratif. kepemimpinan dijelaskan dalam berbagai cara dimana sebagian besar mengasumsikan dengan melibatkan proses pengaruh yang berkaitan dengan kinerja tugas (yukl:2006). menurut newstrom (2011:171), kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan mendukung orang lain untuk bekerja dengan antusias dalam mencapai tujuan. kepemimpinan merupakan faktor penting yang membantu individu atau kelompok dalam mengidentifikasi tujuan, memotivasi dan membantu dalam mencapai tujuan. tiga unsur penting dalam definisi kepemimpinan adalah pengaruh/ dukungan, usaha sukarela, dan pencapaian tujuan. robbins (2001:314) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok dalam mencapai tujuan. organisasi membutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk menginspirasi anggota organisasi dalam mencapai visi serta efektifitas yang optimum. kepemimpinan selalu berbasis manusia dan proses yaitu cara untuk memanusiakan pekerja agar menemukan talenta terbaiknya yang kelak akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru. menurut agung (2007:117) kompetensi kepemimpinan mempunyai tiga indikator yaitu nilai-nilai perusahaan, kerjasama tim dan keteladanan, serta dilandasi dengan kompetensi yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 15 teknikal (dengan indikator standar baku) dan kompetensi personal (dengan indikator komunikasi) guna mencapai kompetensi bisnis serta mengoptimalkan kinerja. kemampuan untuk mengidentifikasi ketrampilan dan kompetensi diperlukan oleh pemimpin industri di masa yang akan datang penting untuk perusahaan yang berharap untuk tetap kompetitif. chung-herrera et al. (2003) melakukan penelitian mengenai kompetensi kepemimpinan dan menemukan delapan tipe faktor kompetensi kepemimpinan dalam industri perhotelan. model kompetensi adalah sebuah alat deskriptif yang mengidentifikasi pengetahuan, ketrampilan, kemampuan dan perilaku yang dibutuhkan untuk bekerja efektif dalam sebuah organisasi. model kompetensi fokus pada perilaku dibandingkan sifat personal, karena sifat personal biasanya sulit untuk diukur secara akurat. penelitian chung-herrera et al., (2003) menemukan delapan faktor kompetensi kepemimpinan yaitu: 1. self-management, yang terdiri dari etika dan integritas, manajemen waktu, fleksibilitas dan adaptibility, dan pengembangan diri. 2. strategic positioning, yang terdiri dari kesadaran akan kebutuhan pelanggan, komitmen untuk kualitas, mengelola manajemen stakeholder dan kepedulian masyarakat. 3. implementation, yang mencakup perencanaan, mengarahkan orang lain, dan rekayasa-ulang. 4. critical thinking, yang meliputi orientasi strategis, pengambilan keputusan, analisis, dan pengambilan risiko dan inovasi. 5. communication, yang mencakup berbicara dengan dampak, memfasilitasi komunikasi terbuka, aktif mendengarkan dan komunikasi tertulis. 6. interpersonal, yang terdiri dari dari membangun jaringan, mengelola konflik, dan menghargai keragaman. 7. leadership, yang terdiri dari dari orientasi kerja sama tim, memupuk motivasi, ketabahan, mengembangkan orang lain, menghargai perubahan dan fleksibilitas kepemimpinan. 8. industry knowledge, yaitu keahlian bisnis dan industri. budaya organisasi robbins (2001:510) menjelaskan bahwa budaya organisasi merujuk kepada suatu sistem bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan dengan organisasi lain. sistem yang dianut bersama adalah seperangkat karakter kunci dari nilai-nilai organisasi. budaya sebagai konsep, memiliki sejarah panjang. dalam dekade terakhir telah digunakan oleh beberapa peneliti organisasi dan manajer untuk menunjukkan iklim dan praktek yang mengembangkan organisasi serta menangani orang atau merujuk kepada nilai-nilai dan kepercayaan organisasi. menurut daft (2010, 336), budaya adalah seperangkat nilai, norma, panduan kepercayaan dan pemahaman yang dianut oleh anggota-anggota organisasi dan diajarkan kepada anggota baru sebagai cara untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku. budaya organisasi ada di dua tingkatan. tingkatan pertama adalah bagian permukaan merupakan artifak yang terlihat dan perilaku yang tampak yaitu cara orang berpakaian, bertindak, jenis sistem pengendalian dan struktur kekuasaan yang digubusiness and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 16 nakan oleh perusahaan, simbol-simbol, cerita, dan upacara anggota organisasi. unsur-unsur yang terlihat di budaya namun mencerminkan nilai-nilai lebih dalam dalam pikiran anggota organisasi. tingkatan kedua adalah nilai-nilai yang mendasari, asumsi, keyakinan, dan proses berpikir beroperasi secara tidak sadar untuk mendefinisikan budaya sejati. karakteristik budaya organisasi luthans (1995:497) menjelaskan bahwa budaya organisasi memiliki beberapa karakteristik penting. beberapa dari yang paling mudah disepakati adalah sebagai berikut: 1. pengamatan perilaku regular. ketika anggota organisasi berinteraksi satu sama lain, mereka menggunakan bahasa umum, istilah, dan ritual yang berhubungan dengan penghormatan dan sikap. 2. norma-norma. standar perilaku yang ada, termasuk panduan pada berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan. 3. nilai-nilai dominan. ada nilai-nilai utama yang disepakati oleh anggota organisasi. contoh khas adalah kualitas produk yang tinggi, ketidakhadiran (pembolosan) yang rendah, dan efisiensi yang tinggi. 4. filosofi. ada kebijakan yang menetapkan keyakinan organisasi tentang bagaimana karyawan dan pelanggan diperlakukan. 5. peraturan. ada panduan yang ketat terkait dengan kelangsungan hidup bersama di organisasi. pendatang baru harus belajar peraturan mereka untuk diterima sebagai anggota penuh grup. 6. iklim organisasi. ini adalah keseluruhan perasaan yang disampaikan oleh fisik tata letak, cara peserta berinteraksi, dan cara anggota organisasi memperlakukan diri mereka dengan pelanggan atau pihak luar. collins dan porras (2000:338) menyatakan bahwa budaya organisasi merujuk kepada satu sistem bersama makna yang dipegang oleh anggota yang membedakan satu organisasi dari organisasi lain. mereka percaya bahwa makna ini bersama serangkaian karakteristikkarakteristik kunci, dan bahwa nilai-nilai organisasi dan esensi dari budaya organisasi dapat ditangkap di tujuh karakteristik utama. karakteristik ini adalah: 1. inovasi dan risiko. sejauh mana karyawan yang didorong untuk menjadi inovatif dan mengambil risiko. 2. perhatian terhadap detail. sejauh mana karyawan diharapkan untuk menunjukkan ketepatan analisis dan perhatian terhadap detail. 3. orientasi hasil. sejauh mana manajemen fokus pada hasil dibandingkan pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut. 4. orientasi orang. sejauh mana keputusan manajemen mempertimbangkan hasil pada orang-orang (secara individu) dalam organisasi. 5. orientasi kelompok. sejauh mana aktivitas pekerjaan yang dilakukan secara kelompok daripada individu. 6. agresivitas. sejauh mana orang-orang yang agresif dan kompetitif daripada santai. 7. stabilitas. sejauh mana kegiatan organisasi menekankan untuk menyeimbangkan status quo berbeda dengan pertumbuhan. yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 17 perilaku responsif kotler & keller (2009:390) juga menjelaskan mengenai langkah-langkah yang dapat diambil oleh perusahaan jasa untuk meningkatkan pengendalian kualitas adalah: 1. investasi pada perekrutan dan prosedur pelatihan yang baik. merekrut karyawan yang baik dan menyediakan mereka pelatihan yang sangat baik adalah penting terlepas dari apakah karyawan adalah profesional yang sangat terampil atau pekerja dengan keterampilan rendah. karyawan yang terlatih dengan baik menunjukkan karakteristik sebagai berikut: a) competence yaitu karyawan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan b) courtesy yaitu karyawan yang ramah, hormat dan perhatian c) credibility yaitu karyawan yang dapat dipercaya d) reliability yaitu karyawan melakukan pelayanan secara konsisten dan akurat e) responsiveness yaitu karyawan merespon dengan cepat atas permintaan dan masalah pelanggan f) communication yaitu karyawan membuat usaha untuk memahami pelanggan dan berkomunikasi dengan jelas. 2. menstandarisasi proses kinerja jasa ke seluruh organisasi. cetak biru jasa secara bersamaan dapat memetakan proses jasa, kontak pelanggan, dan bukti pelayanan dari sudut pandang pelanggan. 3. memonitor kepuasan pelanggan. menggunakan saran dan sistem keluhan, sistem pelanggan, survei pelanggan, dan perbandingan belanja. pada literatur parasuraman et al. (1988), istilah perilaku responsif pada literatur dipandang dari dua fungsi pespektif berbeda yaitu pemasaran jasa dan manajemen operasi. dari sudut pandang pemasaran jasa, perilaku responsif berkaitan dengan kesediaan untuk membantu pelanggan dan kecepatan jasa yang diberikan, sedangkan dari sudut pandang manajemen operasi, perilaku responsif lebih terkait dengan kecepatan dan berbagai produk/jasa yang ditawarkan. kombinasi dari dua perspektif menjelaskan perilaku responsif sebagai kemampuan perusahaan untuk menyediakan kecepatan jasa dan ragam jasa serta kesediaan untuk membantu pelanggan dalam penyampaian proses jasa. dari definisi tersebut, perilaku responsif mewakili kemampuan kumulatif dalam hal kinerja beberapa langkah seperti kualitas, kecepatan (fleksibilitas) dan jasa (asree et al., 2010). sharifi dan zhang (1999) menjelaskan bahwa kemampuan yang diperlukan organisasi adalah merespon lebih baik dengan perubahan yang terjadi di dalam lingkungan usahanya, yang secara dasar dibagi menjadi empat kategori yaitu perilaku responsif, kompetensi, fleksibiltas dan kecepatan. pada kenyataannya semua kategori saling berhubungan. perilaku responsif adalah kemampuan perusahaan untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan komersial, untuk mengidentifikasi perubahan dan merespon dengan cepat terhadap perubahan tersebut baik reaktif atau secara proaktif, dan bangkit dari perubahan. kotler dan keller (2009:390) menjelaskan bahwa harapan pelanggan berasal dari banyak sumber seperti pengalaman masa lalu, dari mulut ke mulut, dan iklan. secara umum, pelanggan membandingkan antara jasa yang business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 18 kinerja (hasil) produk/jasa yang diterima terhadap harapan mereka. apabila kinerja jauh di bawah harapan, maka pelanggan akan kecewa. apabila kinerja cocok (sama) dengan harapan, maka pelanggan akan puas. apabila kinerja jauh melebihi harapan, maka pelanggan akan sangat puas (kotler & keller 2009:400). apabila kepuasan pelanggan dapat tercapai maka perusahaan akan mendapat banyak manfaat. tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan mencegah perputaran pelanggan, mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga, mengurangi biaya kegagalan pemasaran, meningkatkan efektivitas iklan, dan meningkatkan reputasi bisnis (fornell, 1992). menurut lupiyoadi (2001), terdapat lima faktor utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggan yaitu: 1. kualitas produk. pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka konsumsi berkualitas. konsumen rasional selalu menuntut produk yang berkualitas untuk setiap pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh produk tersebut. kualitas yang baik akan memberikan nilai tambah di benak konsumen. 2. kualitas pelayanan. kualitas pelayanan terutama di bidang jasa, pelanggan akan merasa puas bila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan. pelanggan yang puas akan menunjukkan kemungkinan untuk kembali membeli produk yang sama. pelanggan yang puas cenderung akan memberikan persepsi terhadap produk perusahaan. diterima dan jasa yang diharapkan. pada model kualitas jasa, terdapat lima penentu dari kualitas jasa: 1. reliability merupakan kemampuan untuk melakukan pelayanan yang tepat dijanjikan dan akurat. 2. responsiveness merupakan kesediaan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang cepat. 3. assurance merupakan pengetahuan, kesopanan karyawan dan kemampuan untuk menyampaikan kepercayaan dan keyakinan. 4. empathy merupakan kepedulian, perhatian individu terhadap pelanggan. 5. tangibles merupakan penampilan fisik fasilitas, peralatan, karyawan, dan bahan komunikasi. perusahaan harus mampu memastikan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang terealisasi dalam service yang dihasilkan perusahaan. kualitas pelayanan adalah pemahaman yang cukup dari perusahaan tentang pelanggan agar mampu menciptakan nilai unggul bagi pelanggan. perusahaan yang berkualitas dapat disebut sebagai sebuah perusahaan dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, memahami dan menjawab kebutuhankebutuhan pelanggan. kualitas pelayanan juga membantu perusahaan mempelajari masalah teknis pasar dan menyediakan evaluasi segmen mengenai pentingnya pasar dan nilai pertumbuhan (taylor, 2001). kepuasan pelanggan secara umum kepuasan adalah perasaan seseorang terhadap kesenangan atau kekecewaan yang dihasilkan dari membandingkan yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 19 3. emosional. pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dia apabila menggunakan produk dengan merk tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi. kepuasan yang diperoleh bukan karena kualitas dari produk tetapi nilai sosial atau self esteem yang membuat pelanggan menjadi puas terhadap merk tertentu. 4. harga. produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada pelanggannya. 5. biaya. pelanggan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa itu. mengukur kepuasan pelanggan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam rangka mengevaluasi posisi perusahaan saat itu dibandingkan dengan pesaing dan pengguna akhir, serta menemukan bagian mana yang membutuhkan peningkatan. menurut kotler (2004), untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan ada empat metode pengukuran yang perlu diperhatikan oleh perusahaan yaitu: 1. sistem keluhan dan saran pelanggan. setiap perusahaan yang berorientasi terhadap pelanggan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada pelanggan untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan. adapun metode yang digunakan bisa berupa kotak saran ataupun dengan menyediakan saluran telepon khusus. 2. survei kepuasan pelanggan. umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan metode survei, baik melalui pos, telepon maupun wawancara langsung. untuk mengukur kepuasan pelanggan dapat dilakukan dengan cara: a. pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan pertanyaan seperti ungkapan seberapa puas saudara terhadap pelayanan. b. responden diminta untuk menuliskan masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan juga dimintai untuk menuliskan perbaikan-perbaikan yang mereka sarankan. c. responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mengharapkan atribut tertentu dan seberapa besar mereka rasakan. d. responden dapat merangking berbagai elemen dan penawaran berdasarkan derajat penting setiap elemen seberapa baik kinerja perusahaan dalam masingmasing elemen. 3. ghost shopping. metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang (ghost shopping) berperan sebagai pembeli yang memanfaatkan produk atau jasa perusahaan dan pesaing, sehingga dapat memprediksi tingkat kepuasan pelanggan atas produk tersebut. 4. lost customer analysis. dalam metode ini perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah beralih ke perusahaan lain. hal ini ditujukan untuk memperoleh informasi penyebab terjadinya peralihan pelanggan kepada perusahaan lain, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi selanjutnya. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 20 perumusan hipotesis h1: bahwa kompetensi kepemimpinan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya. h2: bahwa kompetensi kepemimpinan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan melalui perilaku responsif karyawan frontliner di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya. h3: bahwa budaya organisasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan pt garuda indonesia kantor cabang surabaya. h4: bahwa budaya organisasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan melalui perilaku responsif karyawan frontliner di pt garuda indonesia kantor cabang surabaya. metodologi penelitian populasi dan sampel penelitian pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada responden di perusahaan jasa antara karyawan frontliner dengan pelanggan yang memliki interaksi tinggi serta menyusun kuesioner untuk pelanggan yang berbeda secara redaksional namun tetap mengacu pada esensi yang sama. teknik pengumpulan data untuk masingmasing jenis responden ini berbeda. teknik pengumpulan data yang digunakan untuk karyawan frontliner adalah purposive sampling, yaitu dengan memilih karyawan dengan minimal telah waktu kerja satu tahun untuk karyawan. kriteria sampel untuk pelanggan pt garuda indonesia adalah pelanggan yang datang ke kantor pt gai cabang surabaya dan penyebaran kuesioner pada pelanggan dilakukan pada hari yang sama dengan penyebaran pada karyawan frontliner. penyebaran kuesioner ini dilakukan sendiri oleh peneliti dengan persetujuan pimpinan kantor pt gai. definisi operasional dan pengukuran variabel variabel independen 1. kompetensi kepemimpinan dalam variabel kompetensi kepemimpinan terdapat beberapa dimensi antara lain: a. self-management, yang terdiri dari integritas,etika, manajemen waktu, adaptibility, dan pengembangan diri. b. strategic positioning, yang terdiri dari kesadaran akan kebutuhan pelanggan, komitmen untuk kualitas, mengelola manajemen stakeholder dan kepedulian masyarakat. c. communication, yang terdiri dari percakapan dua arah, memfasilitasi komunikasi terbuka, aktif mendengarkan dan komunikasi tertulis. d. interpersonal, yang terdiri dari dari membangun jaringan, mengelola konflik, dan menghargai keragaman. e. leadership, yang terdiri dari dari orientasi kerja sama tim, memupuk motivasi, mengembangkan orang lain dan menghargai perubahan. 2. budaya organisasi dalam variabel budaya organisasi terdapat beberapa indikator antara lain: a. perhatian terhadap detail. sejauh mana karyawan diharapkan untuk menunjukkan ketepatan analisis dan perhatian terhadap detail. yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 21 b. orientasi hasil. sejauh mana manajemen fokus pada hasil dibandingkan pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut. c. orientasi orang. sejauh mana keputusan manajemen mempertimbangkan hasil dari orang-orang (secara individu) dalam organisasi. d. orientasi kelompok. sejauh mana aktivitas pekerjaan yang dilakukan secara kelompok daripada individu. variabel intervening perilaku responsif karyawan dalam variabel ini terdapat beberapa indikator antara lain: 1. reliability merupakan kemampuan untuk melakukan pelayanan yang tepat dijanjikan dan akurat. 2. responsiveness merupakan kesediaan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang cepat. 3. assurance merupakan pengetahuan, kesopanan karyawan dan kemampuan untuk menyampaikan kepercayaan dan keyakinan. 4. empathy merupakan ketentuan untuk peduli, perhatian individu terhadap pelanggan. 5. tangibles merupakan penampilan fisik fasilitas, peralatan, karyawan, dan bahan komunikasi. variabel dependen kepuasan pelanggan dalam variabel ini terdapat beberapa indikator antara lain: 1. reliability merupakan kemampuan untuk melakukan pelayanan yang tepat dijanjikan dan akurat. 2. responsiveness merupakan kesediaan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang cepat. 3. assurance merupakan pengetahuan, kesopanan karyawan dan kemampuan untuk menyampaikan kepercayaan dan keyakinan. 4. empathy merupakan kepedulian, perhatian individu terhadap pelanggan. 5. tangibles merupakan penampilan fisik fasilitas, peralatan, karyawan, dan bahan komunikasi. hasil penelitian dan pembahasan uji asumsi klasik a. uji multikolinieritas uji multikolinieritas pada hubungan x1, x2 terhadap z hasil perhitungan nilai variance inflation factor (vif) juga menunjukkan hal yang sama yaitu bahwa variabel bebas kompetensi kepemimpinan (x1) dan budaya organisasi (x2), mempunyai nilai vif < 10 sehingga mengindikasikan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antar variabel bebas dalam model regresi, adapun nilai vif variabel x1 dan x2 sebesar 1,051. uji multikolinieritas pada hubungan x1, x2, dan z terhadap y hasil perhitungan nilai variance inflation factor (vif) juga menunjukkan hal yang sama yaitu bahwa variabel bebas kompetensi kepemimpinan (x1) dan budaya organisasi (x2), business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 22 dan perilaku responsif karyawan (z) mempunyai nilai vif < 10 sehingga mengindikasikan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antar variabel bebas dalam model regresi, adapun nilai vif variabel x1 = 1,210, x2 = 1,321, dan z = 1,338. b. uji heterokedastisitas uji heterokedastisitas pada hubungan x1, x2 terhadap z uji heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat pola grafik scatterplot. pada scatterplot model regresi antara variabel kompetensi kepemimpinan (x1) dan budaya organisasi (x2) terhadap perilaku responsif karyawan (z) terlihat bahwa titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y, maka dapat dikatakan tidak terjadi heterokedastisitas artinya bahwa ada kesamaan varian antara data pengamatan yang satu dengan data pengamatan yang lain. uji heterokedastisitas pada hubungan x1, x2,dan z terhadap y pada scatterplot model regresi antara variabel kompetensi kepemimpinan (x1), budaya organisasi (x2) dan perilaku responsif karyawan (z) terhadap kepuasan pelanggan (y) terlihat bahwa titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y, maka dapat dikatakan tidak terjadi heterokedastisitas artinya bahwa ada kesamaan varian antara data pengamatan yang satu dengan data pengamatan yang lain. c. uji normalitas uji normalitas pada hubungan x1, x2 terhadap z dengan melihat normal probability plot di atas tampak bahwa gambaran data yang sesungguhnya mempunyai kecenderungan mengikuti garis normal, sehingga dapat dikatakan bahwa data yang ada cenderung berdistribusi normal. uji normalitas pada hubungan x1, x2, z terhadap y dengan melihat normal probability plot di atas tampak bahwa gambaran data yang sesungguhnya mempunyai kecenderungan mengikuti garis normal, sehingga dapat dikatakan bahwa data yang ada cenderung berdistribusi normal. uji regresi linier berganda a. analisis koefisien determinasi model summary b model r r square adjusted r square std. error of the estimate 1 .503 a .253 .215 .669 a. predictors: (constant), x2, x1 b. dependent variable: z sumber: hasil olahan melihat hasil output spss tersebut di atas diketahui adjusted r square sebesar 0,253. hal ini berarti 25,3% variasi perilaku responsif karyawan, besarnya dapat dijelaskan oleh variasi dari kedua variabel bebas kompetensi kepemimpinan (x1) dan budaya organisasi (x2). sedangkan sisanya 74,7% dijelaskan                                                                                                                                                                  business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 24 e. analisis pengujian hipotesis uji parsial (hubungan x1, x2 terhadap z) coefficients a model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. collinearity statistics b std. error beta tolerance vif 1 (constant) -.444 1.200 -.370 .713 x1 .461 .189 .345 2.434 .020 .952 1.051 x2 .646 .204 .449 3.167 .003 .952 1.051 a. dependent variable: z sumber: hasil olahan dari tabel di atas, dapat dilihat pengaruh dari masing-masing variabel kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap perilaku responsif karyawan dapat dilihat dari arah tanda dan tingkat signifikansi (probabilitas). hasil pengujian hipotesis masing-masing variabel kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi secara parsial terhadap perilaku responsif karyawan dapat dianalisis sebagai berikut: � uji hipotesis pengaruh kompetensi kepemimpinan terhadap perilaku responsif karyawan variabel kompetensi kepemimpinan (x1) mempunyai pengaruh yang signifikan atau dengan kata lain h 0 ditolak, hal ini bisa dilihat dari nilai t hitung untuk variabel kompetensi kepemimpinan (x1) mempunyai nilai [t hitung = 2.434] > (t tabel = 2,021) sedangkan nilai probabilitas signifikansi untuk x1 sebesar 0,020, nilai tersebut kurang dari 0,05 ( = 5%). karena nilai t hitung > t tabel (t n-2, /2) dan angka signifikansi < 0,05 maka tolak ho, artinya bahwa variabel kompetensi kepemimpinan (x1) secara individual mempengaruhi variabel perilaku responsif karyawan (z). � uji hipotesis pengaruh budaya organisasi terhadap perilaku responsif karyawan variabel budaya organisasi (x2) mempunyai pengaruh yang signifikan atau dengan kata lain h 0 ditolak, hal ini bisa dilihat dari nilai t hitung untuk variabel budaya organisasi mempunyai nilai (t hitung = 3.167) > (t tabel = 2,021) sedangkan nilai probabilitas signifikansi untuk x2 sebesar 0,003, nilai tersebut kurang dari 0,05 ( = 5%). karena nilai t hitung > t tabel (t n-2, /2) dan angka signifikansi < 0,05 maka tolak ho, artinya bahwa variabel budaya organisasi (x2) secara individual mempengaruhi variabel perilaku responsif karyawan (z).                                                                                                                                                                                                                                        yunia insanatul karimah, analisis kompetensi kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan pelanggan 27 c. ukuran-ukuran kepuasan pelanggan seyogyanya dapat dipahami dengan jelas oleh semua karyawan terutama karyawan frontliner dan melibatkan semua karyawan, terutama mengenai keterkaitan ukuran-ukuran perilaku responsif dengan visi kepuasan pelanggan. d. organisasi memberikan kemudahan bagi karyawan dalam melakukan komunikasi dengan pimpinan dengan memberikan fasilitas yang dapat digunakan karyawan untuk menyebarkan dan mendapatkan informasi. keterbatasan beberapa keterbatasan dalam penelitian ini antara lain. 1. penelitian ini dilakukan pada satu perusahaan saja, sehingga tingkat generalisasi penelitian ini sangat rendah. 2. pengamatan dalam penelitian ini hanya dilakukan di tahun 2013. 3. penggunaan kuesioner dapat menyebabkan respons bias dari responden akibat ketidakjujuran maupun responden tidak serius dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. daftar referensi agung, lilik a.m. 2007. human capital competensies, sketsa-sketsa praktik human capital berbasis kompetensi. jakarta: penerbit pt elex media komputindo. asree, susita, m. zain, and m.r. razalli. 2010. influence of leadership competency and organizational culture on responsiveness and performance of firms. international journal contemporary hospitality management. vol. 22 no. 4 pp. 500-516. buyukozkan, gulcin. 2004. an organizational information network for corporate responsiveness and enhanced performance. journal of manufacturing technology management. volume 15. number 1. pp 57-67. chung-herrera, b.g., enz, c.a. and lankau, m.j. 2003. grooming future hospitality leaders: a competencies model. cornell hotel and restaurant administration quarterly, june, pp. 17-25. darwis, k. tommy & surna tjahja djajadiningrat. 2010. the relationship of leadership styles and organizational culture. jurnal manajemen teknologi. vol.9. no.3. pp. 323-37. emiliani, m. l. 2008. linking leaders� belifs to their behaviors and competencies. management decision. vol. 41. no. 9. pp. 893-910. fornell, c. 1992. a national customer satisfaction barometer: the swedish experience. journal of marketing. vol. 60. pp. 7-17 hutapea, p. dan n.toha. 2008. kompetensi plus teori, desain, dan penerapan untuk hr dan organisasi yang dinamis. jakarta: pt. gramedia pustaka utama irawan, handi d. 2002. 10 prinsip kepuasan pelanggan. jakarta: elex media komputindo. kotler, philip & kevin lane keller. 2009. marketing management. thirteenth edition. new jersey: prentice hall international, inc. lupiyoadi, rambat. 2001. manajemen pemasaran jasa teori dan praktik. edisi pertama. jakarta: penerbit salemba empat. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 28 luthans, fred. 1995. organizational behavior. seventh edition. singapore: mcgraw-hill. moulton, steven, oki sunardi, & gino ambrosini. 2006. competency: development, integraton, and application. business & management journal bunda mulia. vol: 2, no.1. pp. 12-20. newstrom, w. john. 2011. organizational behavior. thirteen edition. singapore: mcgraw-hill. parasuraman, a., zeithamal, valarie.a. and berry, leonardo.c. (1988). servqual: a multiple-item scale for measuring consumer perceptions of service quality. journal of retailing. vol. 64 no.1, pp. 12-40. pizam, abraham & taylor ellis. 1999. customer satifaction and its measurement in hospitality enterprises. international journal of contemporary hospitality management. vol.11. no.7. pp. 326339. robbins, p. stephen. 2001. organizational behavior. nineth edition. new jersey: prentice hall international, inc. sharifi, h. & zhang z. 1999. a methodology for achieving agility in manufacturing organizations: an introduction. international journal of production economics. vol. 62. pp: 7-22. taylor, steven a. 2001. assessing the use of regression analysis in examining service recovery in the insurance industry: relating service quality, customer satisfaction, and customer trust. journal of insurance issues. vol. 24, pp. 30�57. wibowo, 2008. manajemen kinerja. edisi dua. jakarta: pt rajagrafindo persada yukl, yukl, gary. 2006. leadership in organizations. sixth edition. new york: pearson prentice hall. 69 modeling e-commerce website using qfd manik ayu titisari1, surjo hadi2, yitno utomo3 , denis fidita4, gerald binta syarifudin aliansa5 , 1,3,5 pgri adi buana university surabaya, indonesia 2 yos sudarso university surabaya, indonesia 4 nahdlatul ulama university surabaya, indonesia e-mail: manikayu@unipasby.ac.id; bestsurjo@yahoo.com; yitno@unipasby.ac.id; denisfk@unusa.ac.id; geraldbinta@gmail.com abstract: the study aims to identify factors influencing agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage, are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial and institutional ownership is inversely and significantly associated with agency costs. in introduction technological developments go handin-hand with the accelerated growth of the digital economy in indonesia. indonesia is the country with the fastest-growing ecommerce in the world. it was in the top position, with a growth of 78% in 2018 (merchant, 2022). based on this number, 11.9% were purchases of clothing and footwear. the number of internet users in indonesia, which exceeds 100 million people, is one of the forces supporting the growth of e-commerce. based on this statistic, building an e-commerce website for a business will be very profitable. with the shift in consumer shopping styles to online, e-commerce services have become the core process of the business itself. ax store was originally an offline shoe store that designed handmade shoes. they are made from genuine leather (cowhide) with a touch of cultural uniqueness. along with the development of people's lifestyles that are switching to online shopping and aiming to increase sales, ax store is also adapting to these changes to become an e-commerce business that can reach buyers from various countries. since ecommerce is a business where all transactions are internet-based (laudon, kenneth c. & laudon, 1998), ax store needs a business website to serve prospective buyers. 88% of potential buyers believe that online sellers who sell their products through websites are more trustworthy than those who only sell through social media. many potential buyers now use search engines to find trusted brands. a study from verisign.com found that 77% of potential buyers will first survey through reviews abstract: : in the last decade, technological developments and advances in the digital economy have changed consumer behavior significantly. in this millennial era, all levels of society can easily use e-commerce. meeting customer needs, even exceeding their expectations, is crucial in this intense digital business competition. this study took place at ax store, which aimed to identify service attributes that would be developed to improve their quality. this study used the quality function deployment (qfd) method, which began with surveys and interviews, then distributed questionnaires to respondents (customers) to find the voice of customers, and then processed the data using qfd. the results showed that: 1) the attribute product quality had the highest level of importance, with an importance level of 4.63; 2) the attribute complete product type had the top priority for superior performance, with a weight value of 4.6398; 3) the technical response easy order tracking service is a top priority for improvement, with a priority value of 6.3224 and a normalized contribution of 32.44%. keywords: qfd, voice of customer, technical response, attribute, e-commerce. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 70 about the products they are looking for from the website (stickley, 2016). in addition, ge capital retail bank also released the results of its research, which stated that 81% of consumers conducted product research using a search engine before deciding to purchase (williams, 2013). 60% of shoppers will look at an e-commerce site they find online before purchasing. these facts inform us that selling products through marketplaces and social media is considered inadequate to compete for the hearts of consumers. moreover, business competition in the digital era is very tight, especially if many competitors offer the goods or services being sold. therefore, trading through online shopping sites or ecommerce websites, as well as on marketplaces or social media, will strengthen the branding of the products sold. in addition, e-commerce websites have many advantages over conventional stores because running an online business is not limited to place and time. people familiar with the internet are also increasingly critical of the many demands for quality service from e-commerce websites. an ecommerce website is like a shopping center. product completeness, product transparency, product quality, ease of payment, and fast and friendly service are the main factors that customers always pay attention to. every customer has the potential to spread good or bad information to other customers or potential customers because they can share product reviews on various social media platforms. with just a simple tweet, they can reach thousands of people instantly. with this fact, a business needs to provide quality services to satisfy consumers (kottler, 1997). one of these services is through improving the quality of the website. continuous quality improvement requires consumer involvement in product/service development as a critical element. the size of the gap between reality and customer expectations for the services obtained shows whether the quality of service is good or not (parasuraman a, valarie a. zeithaml, 1990). of the five gaps that cause service delivery failure identified by pasuraman a, valeri a, zeithaml dan leonard l (1993), the fifth gap often occurs between perceived and expected service. this consumer involvement is the primary goal of the quality function deployment (qfd) method. cohen (1995) defines qfd as a structured method for planning and developing products, specifying consumer needs and wants, and evaluating a product's or service's capabilities in meeting consumer needs and wants. this method makes customers part of a company's product/service development cycle. literature review and hypotheses development the importance of a cpa review center's service attributes can be determined based on the preferences of the accountancy graduating students. the attributes are affected by the perceptions of the accountancy graduating students on the levels that define an attribute. in this study, the cpa review centers attributes such as track record, reviewers, conduciveness, review materials, and affordability are the independent variables influencing the preferences of accountancy graduating students of a cpa review center in davao city. manik ayu, t., surin, h., yitno, u., denis, f., surio,h., gerald,b,s,a. modeling e-commerce website using qfd 71 figure 1. conceptual framework of the study research methodology this research begins with a preliminary study with business observation, formulating problems and their limitations, setting research objectives, and conducting related literature studies. the next step is identifying the study's variables and samples, then deploying the questionnaire. applying the quality function deployment method maps the needs and desires of consumers into a product design (akao, 2004). it begins with forming a product planning matrix, often called the house of quality, which includes technical responses, relationship matrices, technical correlations, and determining technical matrices to map how much each technical response contributes to the quality of services. the priority value of technical responses that need to be developed can be seen in the house of quality (hoq). result and discussion after the respondent's data is successfully collected and tested for validity and reliability, the data will be used to form a planning matrix. the relative importance rating this value indicates the importance of the attribute for determining the quality of services. the higher importance value means the attribute is increasingly important according to the customer. table 1. ranking of the relative importance rating the competitif priority ratings the level of satisfaction attribute of ax store and its competitors (w store) is viewed in terms of customer perception. from the questionnaire that was successfully collected and after processing, the performance of the attributes above obtained the average value of the respondents, which is shown in table 2. table 2. the competitif priority ratings preferences of accountancy graduating students of a cpa review center review center attributes: • track record • reviewers • conduciveness • review materials and • affordability business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 72 the target value the target value is a goal that will be used to achieve the level of performance of the online store service to be analyzed. the setting of target values must be adjusted to the capacity of the online store in terms of its advantages and disadvantages as well as opportunities and threats from the environment. table 3. target value analysis the improvement ratio (ir) this value indicates the level of importance needed to achieve development targets by referring to the level of satisfaction with store service attributes. the higher the improvement ratio, the more effort it will take to achieve the target—the improvement ratio is shown in table 4. table 4. improvement ratio on ax store service table 4. improvement ratio on ax store service the raw weight (rw) the value of weight is closely related to the level of fulfillment of consumer satisfaction, the amount of effort required to improve these attributes, and the potential value of its sales. the greater the weight value, the more it becomes a major concern for the development team to prioritize those attributes for development—ranking of the raw weight shown by table 5. manik ayu, t., surin, h., yitno, u., denis, f., surio,h., gerald,b,s,a. modeling e-commerce website using qfd 73 table 5. ranking of the raw weight no service attribute rw rank 1. completeness of product types 4.6398 1 2. product quality 4.6201 2 3. ease of payment 4.5830 3 4. completeness of product description 4.5721 4 5. fast and friendly response 4.5627 5 6. there is an offline store 4.5527 6 7. attractive web design 4.4101 7 8. high-quality product photos 4.3702 8 9. competitive price 4.3403 9 10. discount 4.3001 10 the normalized raw weight (nrw) the normalized raw weight shows the contribution of attributes to all wishes of customers. the greater the weight normalization value, the greater attributes' contribution to meeting customer desires—the normalized raw weight is shown in table 6. table 6. the normalized raw weight no. service attribute nrw 1. completeness of product types 0.102453 2. product quality 0.102317 3. ease of payment 0.101202 4. completeness of product description 0.100732 5. fast and friendly response 0.100521 6. there is an offline store 0.099651 7. attractive web design 0.099469 8. high-quality product photos 0.098671 9. competitive price 0.097836 10. discount 0.097782 the table above shows that the attribute "completeness of product types" has the highest value of 0.102453, which means that the attribute contributes 0.102453 to consumer needs. technical response and relationship matrix at the technical response stage, the management team will conduct discussions with relevant parties and literature studies for each need and targets to be achieved to improve the performance of service attributes. while the relationship matrix is a matrix that shows the closeness of the relationship between consumer desire attributes (customer needs / whats) and substitute quality characteristics (how). the magnitude of this level of business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 74 relationship is shown in the visual symbols, which are full rounds that indicate very strong relationships and non-full rounds that indicate medium relationships. these triangles indicate weak and empty relationships that indicate that attributes and sqcs have no relationship—technical response and relationship matrix shown by the house of quality (hoq). technical correlation the determination of technical correlation contains the reciprocal relationship between technical responses. the stronger the technical response affects other technical responses, the stronger the relationship. from the interview with the management, a relationship can be formulated between the technical responses—the correlation that occurs in technical response, shown by the house of quality (hoq). technical matrix determination the technical matrix maps how much each technical response contributes to service quality. the greater the priority value, the greater the contribution of the technical response in meeting customer satisfaction. the priority value of technical responses that need to be developed is shown by the house of quality (hoq) conclusion from the results of data processing and analysis, the following conclusions can be drawn: figure 1 house of quality 1. the attribute with the highest importance level is the "product quality" attribute, with an importance value of 4.63. 2. the service attribute with the top priority to develop or improve its performance is "completeness of product type," with a weight value of 4.6398. 3. the top priority of technical response to be improved is the "easy order tracking service," with a priority value of 6.3224 and a normalized contribution of 32.44%. references akao, y. (2004). quality function deployment: integrating customer requirements into product design. taylor & francis. cohen. (1995). quality function deployment : how to make qfd work for you. addison wesley publishing company, massachuset. kottler, p. (1997). marketing management: analysis, planning, implementation, and control. prentice hall. laudon, kenneth c. & laudon, j. p. (1998). management information systems new approaches to organization & manik ayu, t., surin, h., yitno, u., denis, f., surio,h., gerald,b,s,a. modeling e-commerce website using qfd 75 technology (5th ed.). new jersey: prentice hall. merchant. (2022). saturated sectors: finding gaps in the ecommerce market. https://merchantmachine.co.uk/saturat ed-sectors/ parasuraman a, valarie a. zeithaml, dan l. l. b. (1990). servqual: a multiple item scale for measuring consumer perceptions of service quality. texas a&m university college station. pasuraman a, valeri a, zeithaml dan leonard l, b. (1993). delivering quality service balancing customer perception and expectation. the free press, new york. stickley, l. (2016). five reasons every small business needs a website. https://blog.verisign.com/gettingonline/five-reasons-every-smallbusiness-needs-a-website/ williams, c. (2013). https://www.ge.com/news/press releases/ge-capital-retail-bankssecond-annual-shopper-studyoutlines-digital-path-major. ge.com.https://www.ge.com/news/pr ess-releases/ge-capital-retail-bankssecond-annual-shopper-studyoutlines-digital-path-major https://merchantmachine.co.uk/saturated-sectors/ https://merchantmachine.co.uk/saturated-sectors/ https://blog.verisign.com/getting-online/five-reasons-every-small-business-needs-a-website/ https://blog.verisign.com/getting-online/five-reasons-every-small-business-needs-a-website/ https://blog.verisign.com/getting-online/five-reasons-every-small-business-needs-a-website/ https://www.ge.com/news/press inggrid elier, prita ayu kusumawardhany, antonius budhiman setyawan, the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in east java indonesia manufacturing companies 175175 the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in east java indonesia manufacturing companies inggrid elier, prita ayu kusumawardhany, antonius budhiman setyawan department of management, faculty of business and economics, universitas surabaya e-mail: pritaayu@staff.ubaya.ac.id abstract: this study aims to determine the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in manufacturing companies in east java. this writing is quantitative writing with the sem (structural equation modeling) data processing method using spss 23.0 software to test the validity and reliability at an early stage and using pls 3.0 software to test the research model. this writing method was carried out by distributing online questionnaires to 150 respondents in east java who carried out knowledge sharing, absorptive capacity, individual creativity, and innovation performance activities in manufacturing companies. the sample used in this paper is the owner, director, manager, or department head of an east java manufacturing company. the results of this study will show several factors that have a significant positive effect on innovation performance. keywords: innovation performance, knowledge sharing, individual creativity, absorptive capacity, manufacturing company a. introduction innovation is the main source of a company’s competitive advantage and a driving factor for its success for the company. innovation has become a must for companies that want to stay in business competition. companies must be able to improve innovation performance through knowledge-sharing activities among individuals involved in the hope of creating innovative products and services to meet consumer needs (basset-jones, 2005). knowledge sharing among the individuals involved is able to create cooperation that gives and receives knowledge between workers so that it will encourage the ability of each individual to innovate. according to zhao et al. (2020) knowledge-sharing consists of inbound knowledge-sharing and outbound knowledge-sharing. absorptive capacity or the ability to absorb individuals in the organization is expected to determine the extent to which information will be processed and received to improve innovation performance. when the individual’s absorptive capacity in the organization goes well, it will encourage individuals to create and develop new creative ideas. this is what helps individual creativity. a manufacturing company is the sector that contributes the most to the indonesian economy so the sector is one of the main engines of the indonesian economy (laksani et al., 2012). therefore, innovation is needed to increase the company’s popularity. east java manufacturing companies have a growth rate, especially large and medium companies which have the second largest number in indonesia. this position makes east java manufacturing companies have the highest impact on the economic structure of east java with a contribution of around 30% per year. this contribution makes manufacturing companies the sector with business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 176 the largest contribution in east java. according to data from the central statistics agency, the manufacturing sector of east java has a major influence on the proportion of value added to indonesia’s gross domestic product (gdp), when compared to other provinces. it’s recorded for the last 3 years, namely in 2019 by 30.23%, in 2020 by 30.31%, and in 2022 by 30.25. %. as a company with the first position in the market (first-to-the-market), it must be able to compete by innovating both process innovation and product innovation assisted by knowledgesharing activities both from within and from outside the organization. knowledge sharing between fellow workers within the company needs to be done to improve competence and skills so that the workforce in the company can produce competitive products so that the company’s productivity also increases. companies must be able to produce quality products in order to compete with competitors. in improving innovation performance, manufacturers must also apply elements of absorptive capacity and individual creativity. through knowledge sharing, absorptive capacity and individual creativity are formed which help companies improve their innovation performance. the difference between this research and previous research is the scope of the research or the scope of the research, where this research only focuses on one area of the company, namely manufacturing. a study conducted by zhao et al. (2020) stated that knowledge inbound sharing has a positive insignificant effect on innovation performance. meanwhile, research by han, y. and chen, g. (2018) states that knowledge sharing has a significant positive effect on innovation performance. with this resulting gap, the purpose of this study is to examine the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in east java manufacturing companies. b. conceptual framework and research methodology the model used in this study adopted the research model conducted by zhao et al. (2020). the main focus of this research model in figure 1 is to examine the effect of knowledge sharing, namely knowledge outbound sharing and knowledge inbound sharing on innovation performance by using 2 mediating variables, namely absorptive capacity, and individual creativity. knowledge sharing a. knowledge outbound sharing (kos) b. knowledge inbound sharing (kis) innovation performance (ip) individual creativity (ic) absorptive capacity (ac) h5 (+) h1 (+) h3 (+) h4 (+) h2 (+) figure 1 research framework source: zhao et al. (2020) inggrid elier, prita ayu kusumawardhany, antonius budhiman setyawan, the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in east java indonesia manufacturing companies 177 h5b knowledge inbound sharing has a positive and significant effect on absorptive capacity in east java manufacturing companies. this research is included in the type of basic research because it focuses on finding the truth of previous research. in this study, 150 respondents were needed. the instrument test was carried out on 3 respondents with the help of the spss 23.0 software application and then the analysis technique used in this study was structural equation modeling with partial least square (sem-pls). the sample used in this study is nonprobability sampling with a purposive sampling type. characteristics of respondents in this study are small, medium, and large manufacturing companies with job positions equivalent to middle top management levels such as the owner, director, ceo, manager, or head of the department, both female and male; have a minimum of 3 years work experience; understand the strategies implemented within the company regarding the performance of innovations related to consumers; have a branch office or business partner; own factory. this research was conducted by using the ordinal scale where the authors use statements agree and disagree in the measurement of variables. a five-point likert scale is used in this study to measure variables starting from the numbers 1 to 5. the test is carried out using 2 stages of measurement. the first stage is to test the measurement model (outer model) in testing the validity through convergent validity and discriminant validity. then in the second stage, the structural model (inner model) test is carried out, which serves to test a hypothesis that is tested whether it is supported or not supported. individual creativity in employees is an important part of organizational innovation. for this reason, the individual creativity of employees needs to be improved so that they can develop innovation performance. the company’s ability to carry out knowledge-sharing activities can have a positive impact on absorptive capacity and will create dynamic capabilities for the company (zhao et al., 2020). organizations with a high level of absorptive capacity can respond quickly to customer needs resulting in an increase and having a significant positive effect on innovation performance (kusumawardhany, 2018). therefore, there are hypotheses of the research. h1a knowledge outbound sharing (kos) has a positive and significant effect on individual creativity in east java manufacturing companies. h1b knowledge inbound sharing (kis) has a positive and significant effect on individual creativity in east java manufacturing companies. h2 individual creativity (ic) has a positive and significant effect on innovation performance (ip) in east java manufacturing companies. h3a knowledge outbound sharing has a positive and significant impact on innovation performance in east java manufacturing companies. h3b knowledge inbound sharing has a positive and significant effect on innovation performance in east java manufacturing companies. h4 absorptive capacity (ac) has a positive and significant effect on innovation performance in east java manufacturing companies. h5a knowledge outbound sharing has a positive and significant effect on absorptive capacity in east java manufacturing companies. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 178 c. result and discussion in this research, questionnaires were distributed to respondents using google forms with a total of 150 respondents. the characteristics of respondents in this study are companies that have a form of a corporate legal entity, company scale, company field, length of service, last education, number of employees led, job position, divisional position, and company age. the following are the details of the respondents in this study. it can be seen from table 1, in this study is dominated by respondents who work in food and beverage companies as many as 67 respondents with a percentage of 45%. respondents with 5–19 employees were 82 people with a percentage of 55%. respondents with 20–99 employees were 49 people with a percentage of 33%. respondents with more than 100 employees were 19 people with a percentage of 12%. table 2 respondent’s position and company age table 1 company profile sector responses qty. % food & beverage 67 45% textile & fashion 12 8% wood 9 6% paper 2 1% leather 3 2% rubber & plastic 9 6% machine 9 6% furniture 12 8% vehicles 10 7% other processing 17 11% total 150 100% table 2 shows the positions of the respondents who filled out the questionnaire. respondents with the position of head of the department in manufacturing companies are the most filling questionnaires. the age of the respondent’s company is dominated by companies that have been established for more than 10 years. position qty. established qty. director 19 <3 years 2 ceo 9 3–5 years 8 marketing manager 19 6–10 years 30 operational manager 28 >10 years 110 production manager 24 hr manager 12 head of division 39 total 150 150 the validity test is done by looking at the ave (average variance extracted) value. the ave value is a description of the diversity of indicators contained by the latent variable. in this test, the ave value requirement is 0.50. based on table 3, it can be seen that all variables have an ave value of 0.50. so, it can be concluded that all variables in the tested model have no problems. table 3 validity and reliability test variables ave cr ca kos 0.770 0.910 0.851 kis 0.698 0.902 0.856 ic 0.583 0.846 0.769 ac 0.558 0.919 0.901 ip 0.500 0.795 0.711 the composite reliability test is used to measure the actual value of the reliability of a variable, while cronbach’s alpha test is used to measure the lowest reliability value of a variable. each value of composite reliability and cronbach’s alpha must be 0.60 to be said to be reliable. based on table 3, it can be seen that the composite reliability test value on all variables has a value of 0.60. therefore, it can be said that all variables in this study are reliable. cronbach’s alpha test value on all variables has a value of 0.60. therefore, it can be said that all variables in this study are reliable or have met the reliability test standards so that they can be continued for further inggrid elier, prita ayu kusumawardhany, antonius budhiman setyawan, the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in east java indonesia manufacturing companies 179 testing. after the data is said to be valid and reliable, then the calculation for the research model image has been completed. the coefficient of determination or rsquare test was conducted to measure how much influence the independent variable had on the independent variable. the measurement standard of the coefficient of determination test is that the value of 0.670 is considered strong, the value of 0.333 is considered moderate, and 0.190 or below is considered weak. table 4 coefficient of determination test results (r2) shows a negative variable relationship and the right shows a positive variable relationship. based on table 5, the results of the h1a test, namely the effect of knowledge outbound sharing on individual creativity in east java manufacturing companies have a positive and significant effect. this is in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that knowledge outbound sharing has a positive and significant effect on individual creativity. the results of the same study were also found by aulia (2016) who stated that there was a positive and significant relationship between knowledge sharing and individual creativity. table 5 hypotheses test result variables r-square absorptive capacity 0.339 individual creativity 0.238 innovation performance 0.161 based on table 4, it can be seen that the rsquare value of absorptive capacity is 0.339, which means that the influence of knowledge outbound sharing and knowledge inbound sharing on absorptive capacity is 33.9%, which means it has a moderate effect. the r-square value of individual creativity is 0.238, which means that the influence of the variable knowledge outbound sharing and knowledge inbound sharing on individual creativity is 23.8%, which means it has a moderate effect. the r-square value of innovation performance is 0.161, which means that the influence of the variables of knowledge outbound sharing, knowledge inbound sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance is 16.1%, which means it has a weak influence. a hypothesis is said to be significant or supported if it meets the specified requirements, namely having a t-statistics value > 1.65 and a p-value < 0.1 and also by looking at the value of the path coefficient where the left hypotheses t-stat p-value path coeff result h1a: kos ic 3.686 0.000 0.470 supported h1b: kis ic 0.179 0.858 0.023 not supported h2: ic ip 0.977 0.329 0.100 not supported h3a: kos ip 0.116 0.908 0.016 not supported h3b: kis ip 1.794 0.073 0.253 supported h4: ac ip 1.071 0.285 0.123 not supported h5a: kos ac 1.740 0.082 0.220 supported h5b: kis ac 3.593 0.000 0.397 supported the results of the h1b test are that the effect of knowledge inbound sharing on individual creativity in east java manufacturing companies has a positive but not significant effect. this is in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that knowledge inbound sharing has a positive and insignificant effect on individual creativity. in practice, knowledge sharing is still difficult for employees in the work environment. the main difficulty is caused by human factors because without the desire of individuals to share their knowledge, knowledge sharing will not occur. the results of the h2 test, namely the effect of individual creativity on innovation performance in east java manufacturing companies have a positive but not significant effect. this is not in business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 180 this study are in line with the results of research by han, y., and cohen, g. (2018) which say that the relationship between knowledge sharing and innovation performance is significantly positive. one of the most important advantages of innovation performance capability is to innovate by motivating companies to share ideas and facilitate market understanding. knowledge sharing is an important capability for manufacturing companies to increase innovation (tassabehji et al. 2020). innovation can only be achieved with creative and knowledgeable or competent human resources, so that knowledge sharing can be the main driver of innovation. the results of the h4 test, namely the effect of absorptive capacity on innovation performance in east java manufacturing companies have a positive but not significant effect. this is not in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that absorptive capacity has a positive and significant influence on innovation performance. the results of this study are in line with the results of research obtained by ranto, d. w. (2015) which states that absorptive capacity has an insignificant effect on the innovation performance ability of smes. those with greater absorptive capacity or have more relevant prior knowledge will have a better ability to learn, absorb and utilize the knowledge shared in the knowledge-sharing process. while individuals with smaller absorptive capacity or less initial knowledge, till being less able to learn, absorb and utilize the knowledge shared in the knowledge sharing process. the lower the individual’s absorptive capacity in the world of work, the lower the individual’s innovation performance in the company. because the level of absorptive capacity received by each individual is different, the relationship between absorptive capacity and innovation performance is not significant. line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that individual creativity has a positive and significant influence on innovation performance. the results of the same study as this study were also found by shubina, i., and kulakli, a. (2020) who stated that there was no significant effect between creativity and innovation. the fewer knowledge individuals receive, the lower the level of creativity they have so which will inhibit innovation. the results of the h3a test are that the effect of knowledge outbound sharing on innovation performance in east java manufacturing companies has a positive but not significant effect. this is not in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that knowledge outbound sharing has a positive and significant influence on innovation performance. this study supports research from goyal et al. (2020) which says knowledge has no effect on employee innovation. it said that the formal education taken did not provide knowledge about the current work of employees. when individuals share knowledge externally, the company’s stock of knowledge resources increases, and the knowledge application process must involve knowledge screening and selection. strong knowledge reserves and discriminatory abilities are required to complete this step. here it is clear that this cannot be fulfilled at the company level, which inevitably reduces the ability of knowledge sharing to improve organizational innovation performance. the results of the h3b test, namely the effect of knowledge inbound sharing on innovation performance in east java manufacturing companies have a positive and significant effect. this is not in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that knowledge inbound sharing has a positive and insignificant effect on innovation performance. the results of inggrid elier, prita ayu kusumawardhany, antonius budhiman setyawan, the effect of knowledge sharing, absorptive capacity, and individual creativity on innovation performance in east java indonesia manufacturing companies 181 the results of the h5a test, namely the effect of knowledge outbound sharing on absorptive capacity in east java manufacturing companies has a positive and significant effect. this is in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that knowledge outbound sharing has a positive and significant effect on absorptive capacity. the same study was also found by raharso, s. (2021) who said that knowledge sharing had a positive and significant effect on absorptive capacity. this shows that individual knowledge sharing in manufacturing companies plays a role in building and increasing absorptive capacity. when the absorbency increases, it will be much easier for one to create extraordinary innovations based on the acquired knowledge. the results of the h5b test, namely the effect of knowledge inbound sharing on absorptive capacity in east java manufacturing companies have a positive and significant effect. this is in line with previous research conducted by zhao et al. (2020) which states that inbound knowledge sharing has a positive and significant influence on absorptive capacity. inbound knowledge sharing is a simple collection and storage of knowledge from outside and only the absorptive capacity of the organization can absorb and manage that knowledge properly. d. conclusion knowledge sharing and individual creativity are not enough to increase the innovation performance of east java manufacturing companies. this happens because individuals in the company obtain knowledge sharing that is less than optimal and lack the awareness to increase their creativity and it affects the ideas generated to develop products, which results in the company’s innovation performance being less than optimal. on the other hand, knowledge sharing also helps increase individual creativity, innovation performance, and individual absorptive capacity in east java manufacturing companies. this happens because individuals can utilize the knowledge received through external training properly so that through their individual abilities, they can easily solve problems and find solutions to product development so that the innovation performance of east java manufacturing companies is getting better. knowledge outbound sharing needs to be further enhanced by being active in seeking as much information or knowledge as possible from outside the company in order to come up with new, creative ideas for better and more competitive manufacturing companies. companies are advised to improve and evaluate the knowledge and work experience of employees. knowledge inbound sharing can increase individual creativity or workforce if individuals have good communication with their colleagues in east java manufacturing companies, related to internal knowledge so that they will support and build the development of the manufacturing company itself in dealing with competitors. creativity is very useful in improving and developing the innovation of an east java manufacturing company, so the company needs to conduct a creativity competition between individuals so that they can find the best new ideas that might help increase the innovation of east java manufacturing companies. absorptive capacity possessed by individuals can be trained by providing specific strategies to the workforce so that training programs can run more effectively in creating innovation. training and development programs provided by east java manufacturing companies can be business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 182 in the form of educational scholarship programs, especially for employees with low levels of education and experience, so that employees can improve their skills and knowledge. for further researchers, this study covers the area of east java, so it is hoped that further researchers can conduct research in other areas to be used as a comparison of better results. other variables need to be added to a trigger of innovation performance in manufacturing companies. e. references aulia, a. (2016). pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui knowledge sharing sebagai variabel intervening (studi pada pt pelabuhan indonesia iii cabang tanjung perak surabaya). jurnal ilmu manajemen, 4(3), 1–15. basset-jones, n. (2005). the paradox of diversity management, creativity and innovation. creativity and innovation management, 14(2), 169–175. han, y. & chen, g. (2018). the relationship between knowledge sharing capability and innovation performance within clusters: evidence from china. journal of chinese economic and foreign trade studies, 11(1), 32–48. hhtps://doi.org/10.1108/jcefts06-2017-0018. goyal, s., ahuja, m., & kankanhalli, a. (2020). does the source of external knowledge matter? examining the role of customer cocreation and partner sourcing in knowledge creation and innovation. information and management, 57(6), 1–14. https://doi.org/ 10.1016/j.im.2020.103325. kusumawardhany, p. a. (2018). pengaruh kapasitas absorptive dan situs jejaring sosial terhadap kinerja inovasi umkm di indonesia. jurnal manajemen teori dan terapan, 11(1), 71– 88. laksani, c.s., prihadyanti, d., triyono, b., & kardoyo, h., (2012). model technological learning guna meningkatkan kemampuan teknologi dan kinerja inovasi di perusahaan sektor industri manufaktur indonesia. laporan penelitian praktik 2012. pappipteklipi. raharso, s. (2021). relationship between knowledge sharing, absorptive capacity, and innovation capability: empirical studies in minimarkets. inovbiz: jurnal inovasi bisnis, 9(1), 91. https://doi.org/10.35314/inovbiz. v9i1.1790 ranto, d. w. (2015). pengaruh knowledge sharing terhadap kemampuan inovasi usaha kecil menengah (ukm) di yogyakarta dengan absorptive capacity sebagai variabel intervening. jurnal siasat bisnis, 19(2), 32– 145. https://doi.org/10.20885/jsb.vol 19 iss2.art4. shubina, i. & kulakli, a. (2020). the research patterns of creativity and innovation: the period of 2010–2019. international journal of emerging technologies in learning, 15(21), 89–102. https://doi.org/10.3991/ ijet.v15i21.16101. tassabehji, r., mishra, j. l., & dominguez-pery, c. (2019). knowledge sharing for innovation performance improvement in micro/ smes: an insight from the creative sector. production planning dan control, 30(1012), 935–950. zhao, s., jiang, y., peng, x., & hong, j. (2020). knowledge sharing direction and innovation performance in organizations: do absorptive capacity and individual creativity matter? european journal of innovation management, 24(2), 371–394. https://doi. org/10.1108/ejim-09-2019-0244. 60 preferences of accountancy graduating students of a cpa review center rey a. castillo1, enrico c. yee, jr.2 1,2 university of southeastern, philippines e-mail: rey.castillo@usep.edu.ph1, enrico.yee@usep.edu.ph2 abstract: the study aims to identify the factors that influence agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data obtained from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial ownership and institutional ownership are inversely and significantly associated with agency costs. in introduction passing the certified public accountant (cpa) board exam is not simple. it requires a lot of planning, grit, persistence, and prayer. preparation, which includes registering oneself in a respected review center to get more knowledge and to be taught to handle issues effectively and efficiently, is one of the variables contributing to an aspirant's success in sitting the cpa board test. avercamp (2003) says that the cpa board exam is among the most difficult professional licensing tests. in the us, even though candidates can take just one section at a time, the cpa exam is so rigorous that nearly half of the candidates sitting for any given section will receive a failing score. a challenging, mentally exhausting test that demands knowledge, experience, strategy, and testtaking abilities is the cpa exam. additionally, passing the cpa exam comes at a big expense. it requires a lot of effort to acquire the necessary knowledge and apply it in a test-taking setting to receive a grade of 75 or higher. according to narayan et al. (2002), less than 20 percent of the 14,000 aspirants become successful each year as they take the said exam. in the philippines, abrugar (2011) adds that the cpa board examination is considered one of the most difficult professional examinations requiring a lot of preparation, hard work, patience, and confidence to pass successfully. today, there are 100,000 recognized cpas in the country since its inception. cpa passers 2013 consider it difficult to pass the cpa board exam as the exam last october 2013 revealed only 41 percent or 4,246 of 10,396 passed it. the lower result was released in may 2013, in which only 27 abstract: : conjoint analysis was used in this study to ascertain the preferences of accountancy graduates from a cpa review institution in davao city. the study also established the aggregate model and the relative importance of the cpa review center characteristics, including track record, reviewers, conduciveness, review materials, and affordability in contributing to the overall value of review centers. based on the results, "track record" is the most important attribute and "affordability" is the least important attribute, while other cpa review center attributes were also found important in determining the review centers' overall utility. on the aggregate level the preferred design model of the respondents is described by: (a) track record-produced board topnotchers/placers and has an above average national passing rate; (b) reviewer-author of a book, a board placer and at least 15 years' experience as instructor; (c) conducivenessless than 50 reviewees in a room; (d) review materials-comprehensive review materials with three years recency; and (e) affordability-php10,000 below. keywords: marketing; preference, conjoint analysis; segmentation; targeting; positioning; and attributes.. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 61 percent or 1,533 of 5,665 takers passed the exam (www.prc.gov.ph, 2013ab). this number is not new. many had taken it, dreamt, prepared, and failed. locally, accountancy graduates from different schools in davao city were not spared by these difficulties in passing the cpa board exam. in the may 2013 cpa board exam, an ateneo de davao college graduate topped the exam. still, the overall result shows only 35 percent of the graduates from different schools in davao city who offered accounting courses passed it. however, the results increased last october 2013 when 56 percent of hopefuls passed (www.prc.gov.ph, 2013ab). still, many of the hopefuls were not able to pass. several factors contribute to these low passing rates, including inadequate facilities, a lack of training materials, and poor english language proficiency, which reflect deficiencies in basic education. to address the problems that arise, the researcher looked at the students' preparation in choosing a cpa review center. these cpa review centers and those planning to establish in the future must know the preferred attributes of accountancy graduating students so that they can design review services. hence, this study is aimed at helping them. literature review and hypotheses development the importance of a cpa review center's service attributes can be determined based on the preferences of the accountancy graduating students. the attributes are affected by the perceptions of the accountancy graduating students on the levels that define an attribute. in this study, the cpa review center attributes such as track record, reviewers, conduciveness, review materials, and affordability are the independent variables influencing the preferences of accountancy graduating students of a cpa review center in davao city. figure 1. conceptual framework of the study research methodology this study made use of the causalexplanatory research method. explanatory research aims to comprehend or explain a link between elements. it provides more precise answers to "why" inquiries (david, 2002), whereas causal research establishes cause-and-effect relationships between variables by performing experiments (brown and suter, 2012). the responses of the graduating accountancy students from ateneo de davao university, holy cross of davao college, jose maria college, university of the immaculate conception, and the university of mindanao served as the main sources of data. there were two sections to the survey questionnaire. part 1 details the respondents' demographics, including their age, sex, civil status, gross family monthly income, educational background, and level of accreditation for their accounting program. part 2 contained the ten (10) hypothetical designs comprising the combinations of attributes and levels generated using the preferences of accountancy graduating students of a cpa review center review center attributes: • track record • reviewers • conduciveness • review materials and • affordability rey, a, c., enrico, c, y. preferences of accountancy graduating students of a cpa review center 62 statistical package for the social sciences (spss). instead of using hold-out designs, a split-half validation technique was used. the intention is to limit the number of designs, thus addressing the concern of respondent burnout. a complete enumeration was employed surveying the 280 graduating accountancy students from the schools and universities who took part of the study. the study was materialized following the stages in designing a conjoint experiment according to hair, et al. (2009): stage 1: research problem. the problem statement was developed to address the objectives, which sought to assess the relative importance and contribution of each attribute—track record, reviewers, conduciveness, review materials, and affordability—in establishing the best design based on the preferences of accountancy graduating students. stage 2: creating a conjoint methodology. in this study, the five (5) attributes were used in the traditional conjoint analysis, and respondents received a non-metric full profile presentation of the results. the study also employed the additive model to calculate the overall utility. the conjoint methodology was maximized as follows: designing the stimuli (selecting and defining attributes and levels). seven (7) attributes were identified which generated 2,187 combinations using factorial design (3x3x3x3x3x3x3). additionally, evans (2008) cautioned against "information overload" and found it challenging to evaluate the more than six (6) attributes. additionally, a list of too many features can significantly increase the workload for respondents, according to mclennon (2002), as many attributes necessitate the evaluation of various product profiles. a selfadministered questionnaire was distributed to the thirty-three (33) accountancy graduating students from the notre dame university in cotabato city to address the issue. the students selected the five most preferred attributes from the initial list of seven (accessibility, affordability, conduciveness, review materials, reviewers, schedule of review and track record) attributes. the respondents were likely to enroll as reviewers in cpa review centers in davao city. the hypothetical designs of an accountancy review center in davao city were built based on the five characteristics that key informants rated highest in importance: affordability, conduciveness, review materials, reviewers, and track record. designing the stimuli (specifying the basic model form). the aggregate utilities' values were calculated using the additive model equation: total utility of a cpa review center a to e = utility level a for track record (tr) + utility level b for reviewers (r) + utility level c for conduciveness (c) + utility level d for reviewer materials (rm) + utility level e for affordability (a). data collection (choosing a presentation method and selecting a preference measure). the full-profile method in presenting ten (10) hypothetical design combinations was used as shown in table 1. the non-metric method was business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 63 employed to determine the rank of each design based on the preferences of the accountancy graduating students of a cpa review center in davao city. data collection (creating the stimuli). a total of 162 (3x3x3x3x2) design combinations will be produced by using a factorial design with five attributes, three levels for each of the four attributes, and two levels on one of the attributes. for a respondent to evaluate, this is too many. the statistical package for the social sciences (spss) software implemented a fractional factorial design to solve the issue and produce the data required for conjoint analysis. using the spss program, sixteen (16) orthogonal designs were produced. hair et al. (2009) suggest that removing profiles from the orthogonal design and presenting respondents with believable designs makes it possible to reduce some profiles using specialized conjoint designs. using the unique role of price (affordability) as a factor (attribute) (hair et al., 2009), six (6) unbelievable designs were detected from the sixteen (16) orthogonal designs. the six (6) unbelievable designs were eliminated from the study because they either have excellent attributes but are low on price or have poor attributes but are high on price. the elimination of the six (6) unbelievable designs still meets the minimum number of designs required for conjoint analysis (hair, et al., 200). the minimum number of designs of ten (10) were generated based on the following computations: minimum number of designs = total number of levels across all attributes – number of attributes + 1 = 14 total levels – 5 total attributes + 1 = 10 design combinations. table 1. design combinations generated from spss dn r tr rm c a 1 subject matter expert + at least 10 years of experience equal to national passing rate comprehens ive review materials, with 3 years recency with 51-100 reviewees in a room php 10,000 below 2 author of a book + board placer + at least 15 years' experience produced board topnotchers/placers + above the average national passing rate comprehens ive review materials, with 3 years recency with 51-100 reviewees in a room php 10,001 up 3 subject matter expert + at least 10 years of experience produced board topnotchers/placers + above the average national passing rate concise older than 5 years less than 50 reviewees in a room php 10,001 up 4 author of a book + board placer + at least 15 years' experience equal to national passing rate concise older than 5 years more than 100 reviewees in a room php 10,000 below 5 at least 5 years of experience produced board topnotchers/placers + above the average national passing rate comprehens ive with more than 3 to 5 years recency with 51-100 reviewees in a room php 10,000 below 6 subject matter expert + at least 10 years of experience below to national passing rate comprehens ive review materials, with 3 years recency less than 50 reviewees in a room php 10,000 below 7 author of a book + board placer + at least 15 years' experience produced board topnotchers/placers + above the average national passing rate comprehens ive review materials, with 3 years recency less than 50 reviewees in a room php 10,001 up 8 at least 5 years of experience produced board topnotchers/placers + above the average national passing rate concise older than 5 years less than 50 reviewees in a room php 10,000 below 9 author of a book + board placer + at least 15 years' experience equal to national passing rate comprehens ive with more than 3 to 5 years recency less than 50 reviewees in a room php 10,001 up 10 author of a book + board placer + at least 15 years' experience below to national passing rate comprehens ive with more than 3 to 5 years recency less than 50 reviewees in a room php 10,000 below legend: dn = design number; r = reviewers; tr = track record; c = conduciveness; rm = review materials; and a = affordability data collection (form of survey administration). to conduct the survey, permission from the schools was requested. the survey was carried out once the letter was approved. the respondents received a survey form with an attached consent letter. rey, a, c., enrico, c, y. preferences of accountancy graduating students of a cpa review center 64 stage 3: assumptions. the basic assumptions used in this study were 1) a cpa review center is a bundle of attributes such as track record, reviewers, conduciveness, review materials and affordability; and 2) the attributes have significant importance in determining the preferences of accountancy graduating students of cpa review center in davao city. stage 4: estimating the conjoint model and assessing overall fit. because respondents will rank the designs, the nonmetric method is used in this study's estimation technique. using non-metric rank-order data, spearman's rho or kendall's tau are used to evaluate the goodness-of-fit. stage 5: interpreting the results. the 280 respondents' information was compiled and examined. the aggregate model and relative importance scores were calculated using the respondents' information. to assess the relative importance of the attributes in determining the preferences of accountancy graduating students of a cpa review center in davao city, relative importance scores were calculated. at the aggregate level, the utilities were used to determine the model. stage 6: validation of the conjoint results. grover and vriens (2006) state that two model validation methods are frequently used to assess the quality of a conjoint model. one method is known as hold-out validation, and the other is market share prediction. this is because spss software cannot generate hold-out task using the minimum number of designs (in this case, the 10 designs). the hold-out respondents were used to evaluate the generalizability of the models and market simulations (stage 7) were conducted to determine the market shares of the models and an existing market. the hold-out validation can be done using the hold-out respondents to evaluate the model's generalizability to the main respondents. the researcher used yamane's formula in determining the 164 main respondents applying the following formula: n = n / (1 + ne2) where n = number of sample size, n = total population and e = 5 percent degree of error n = 280/ [1+ (280*0.0025)] n = 280/1.70 n = 164 stratified random sampling, according to david (2002), is the process of selecting a random sample from subgroups or strata (schools) into which a population (280 respondents) has been subdivided. according to black (2005), proportionate stratified random sampling occurs when the percentage of the sample taken from each stratum is proportionate to the percentage of the population that each stratum represents (e.g ateneo 46% of 164 = 75). table 2 shows the distribution of respondents using the proportionate stratified random sampling technique. ms excel rand () command and sort (largest to smallest) were used to randomly identify the respondents in every school. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 65 the remaining number of surveyed respondents was considered a hold-out for evaluating the results' generalizability. table 2. distribution of respondents legend: sr = surveyed respondents; mr = main respondents; and hr = holdout respondents stage 7: managerial application of conjoint analysis. conjoint can assist in identifying customer needs, prioritizing those needs, and translating those needs into actual strategies (hair et al, 2009). choice simulator. this study used market simulations to predict the market shares of accountancy graduating students on the aggregate model, rank 1 design, and rank 10 design. the market shares of each design were calculated using the spss software's maximum utility model, bradley-terryluce model, and logit model. to determine the rank 1 and rank 10 designs, the researcher ran a pre-simulation on all ten (10) designs to determine the main respondents' preference scores on each. the design with the highest preference score was ranked first, and the design with the lowest preference score was ranked tenth result and discussion the overall or aggregate importance value rating shows that "track record" is the most preferred attribute (31.85 percent) followed by "reviewers" (21.49 percent) "conduciveness" (20.16 percent) "review materials" (14.59 percent), and the overall least preferred attribute "affordability" (11.92 percent). this shows that the respondents are willing to pay more for the review provided that the review center has a proven "track record" of producing top notchers and has a high passing rate. further, the respondents differ in their preferences of the attributes, indicating individual perceptions of a review center's features. any change in a respondent's perception in any of the attributes will also change the results of the importance values of the other attributes. the preference of the accountancy graduating students was consistent with the consumer behavior theory of reynolds (2005), which says that the objective of the consumer is to maximize the utility that can be derived given their preferences, income, and prices by choosing the best possible attributes of a review center at a lower cost. this was also the case of the study of campbell, nelson, ebel, dozier, and hockema (2004), where respondents preferred the best attributes at a lower price as well as the study of dorotan (2012) where the preference for engineering reviewers are attributed with excellent features at a low cost. dorotan (2012) explains that such design is impossible to pursue by the review center because best attributes would also entail higher cost, this is called a trade-off. the total utility using the additive formula is shown below: total utility = utr+ur+uc+urm+ua+constant = 2.84tr+1.06r+0.52c+0.47rm+(0.76)a+5.12constant = 9.25 schools sr % mr hr ateneo de davao university 128 46% 75 53 holy cross of davao college 58 21% 34 24 jose maria college 9 3% 5 4 university of the immaculate conception 24 9% 14 10 university of mindanao 61 22% 36 25 total 280 100% 164 116 rey, a, c., enrico, c, y. preferences of accountancy graduating students of a cpa review center 66 the utility scores of each of the attribute was computed based on the utility score results presented in table 3: table 3. utility scores for the levels of each attribute attribute s levels utility track record utr produced board topnotchers/placers + above the average national passing rate 2.84 equal to national passing rate 0.20 below to national passing rate -3.03 reviewer s ur author of a book + board placer + at least 15 years' experience 1.06 subject matter expert + at least 10 years of experience 0.68 at least 5 years of experience. -1.73 conduci veness uc less than 50 reviewees in a room 0.52 with 51-100 reviewees in a room -0.63 more than 100 reviewees in a room 0.11 review material s urm comprehensive review materials, with 3 years recency 0.47 comprehensive with more than 3 to 5 years recency 0.46 concise older than 5 years -0.93 affordab ility ua 10,000 below -0.76 10,001 up -1.51 (constant) 5.12 total utility 9.25 kendall's tau 1.00 significance 0.00 finally, results show that the aggregate total utility score is 9.25. table 4 shows the sample model derived from the overall utility score of the accountancy graduating students. table 4. aggregate model of the preferences of accountancy graduating students of a cpa review center in davao city. aggregate model tr r c rn a produced board topnotchers /placers + above the average national passing rate author of a book + board placer + at least 15 years' experien ce less than 50 review ees in a room compreh ensive review materials , with 3 years recency php10,00 0 below legend: tr = track record; r = reviewers; c = conduciveness; rm = review materials; and a = affordability hold-out validation and simulations. to test for the generalizability of the model, holdout validation was conducted. results showed significance on total utilities between main and hold-out respondents, t (278) =2.482, p=0.014 which validates the model in which the result of the t-test means that the preference of the holdout respondents is closely like the preference of the main respondents. simulation and market shares of aggregate model, rank 1 design and rank 10 design. another test of generalizability is through the conduct of market simulations. table 5 shows the simulated preference scores of each design and ranking based on the preference of accountancy graduating students of a review center in davao city. based on the simulation, design number 7 got the preference score of 8.494, while the least preferred design is number 6 with only 3.006 preference score. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 67 table 5. ranking and preference scores of each design combination. rank preference score design number 1 8.494 7 2 7.348 2 3 6.713 3 4 5.841 9 5 5.305 5 6 5.085 1 7 5.061 8 8 4.793 4 9 3.372 10 10 3.006 6 the design models in table 6 (spss result) can be simulated to determine their market share. results show that the aggregate model got the highest market share at 54.00 percent using the maximum utility model, 43.40 percent using bradford-terry-luce (btl) model, and 55.40 percent using the logit model. the rank 1 design (design 7) closely follows the bradley-terry-luce result at 41.3%, while the rank 10 design (design 6) is only at 15.3%. the market share results show further that the aggregate model can be generalized. table 6. simulation results of non-metric conjoint analysis aggregate model, rank 1 and rank 10 designs. preference probabilities of simulationsb card number id maximum utilitya bradleyterry-luce logit aggregate 11 54.0% 43.4% 55.4% rank 1 7 36.3% 41.3% 36.7% rank 10 6 9.8% 15.3% 7.9% a. including tied simulations b. 156 out of 164 subjects are used in the bradley-terry-luce and logit methods because these subjects have all nonnegative scores. conclusion the five attributes, namely: track record, reviewers, conduciveness, review materials, and affordability, are all important in determining the preference of accountancy graduating students of a cpa review center in davao city. the most important attribute is "track record," and the least important is "affordability". on the aggregate, the respondents prefer: (a) track record– produced board topnotchers/placers and has an above average national passing rate; (b) reviewer–author of a book, a board placer and at least 15 years experience as an instructor; (c) conduciveness– less than 50 reviewers in a room; (d) review materials–comprehensive review materials with three years recency; and (e) affordability–php10,000 below. to check for the model's generalizability, simulations and market have been conducted and predicted. the following recommendations are made based on the study's findings and conclusions: (1) cpa review centers prioritize the most important attributes like the "track record" in attracting enrollees; (2) that the universities and colleges in the philippines use the results of the study to give their accountancy graduating students an idea on what cpa review center service attributes for them to consider before deciding to enroll; and (3)that further studies on determining other attributes that are important in designing a cpa review center can be done. references abrugar, v. (2011). how to pass the cpa board exam in the philippines. https://businesstips.ph/how-to-pass-the-cpaboard-exam-in-the-philippines/ avercamp, h. (2003). difficulty of the cpa exam. https://www.accountingcoach.com/careers/c pa-exam-review black, k. (2005). business statistics for contemporary decision making. fourth edition update. pp.227. https://businesstips.ph/how-to-pass-the-cpa-board-exam-in-the-philippines/ https://businesstips.ph/how-to-pass-the-cpa-board-exam-in-the-philippines/ rey, a, c., enrico, c, y. preferences of accountancy graduating students of a cpa review center 68 brown, t.j. and suter, t.a., (2012). marketing research, first edition, pp. 155-159. campbell, b.l., r.g. nelson, r.c. ebel, w.a., dozier, j.l. adrian, and b.r. hockema (2004). fruit quality characteristics that affect consumer preferences for satsuma mandarins. hortscience 39(7), pp. 16641669. david, f.p., (2002). understanding and doing research: a handbook for beginners. dorotan, ml. c. (2012). reviewees' preference for civil engineering review centers in davao city. unpublished thesis. master of business administration of the university of southeastern philippines – college of governance, business and economics (usep-cgbe), davao city, philippines, pp. 86. evans, cb. (2008). thesis on consumers' preference for watermelons, pp. 15-16. grover, r., & vriens, m. (2006). the handbook of marketing research: uses, misuses, and future advances, 654-658 hair, j. f., black, w. c., babin, b. j., & anderson, r. e. (2009). multivariate data analysis, 7e, pp. 408-449 mclennon, st. e. a. (2002). analysis of consumer perceptions toward biotechnology and their preferences for biotech food levels, pp. 26. narayan, f., athukorala, sl., and reid, b. (2002). diagnostic study of accounting and auditing practices in selected developing member countries, pp 89-90. reynolds, l.r., (2005). basic micro economics: an outline, pp. 168. www.prc.gov.pha (2013). october 2013 certified public accountant licensure examination results released in six (6) working days. www.prc.gov.phb (2013). may 2013 certified public accountant licensure examination results released in one (1) working day.previous section http://knowledge.sagepub.com/view/hdbk_mktgresearch/sage.xml http://knowledge.sagepub.com/view/hdbk_mktgresearch/sage.xml http://knowledge.sagepub.com/view/hdbk_mktgresearch/sage.xml http://www.prc.gov.ph/ http://www.prc.gov.ph/news/?id=613 http://www.prc.gov.ph/news/?id=613 http://www.prc.gov.ph/news/?id=613 http://www.prc.gov.ph/ http://www.prc.gov.ph/news/?id=527 http://www.prc.gov.ph/news/?id=527 http://www.prc.gov.ph/news/?id=527 http://www.prc.gov.ph/news/?id=527 02 muhammad jamil.pmd mohammad jamil rizwan, gancar candra premananto, the influence of organizational culture, strategic marketing in crisis (covid-19 pandemic): a study at primebiz hotel surabaya 131 strategic marketing in crisis (covid-19 pandemic): a study at primebiz hotel surabaya mohammad jamil rizwan, gancar candra premananto department of management faculty of economics and business universitas airlangga surabaya e-mail: mohammad.jamil.rizwan-2020@feb.unair.ac.id abstract: covid-19 pandemic has disrupted the global economy including the hotel industry lo cally and internationally. it has spread to practically every country in the world. while survival of hotel industry was at its stake, there was a need of research to know management response to this crisis and opted strategies for survival. the purpose of this research is to design a marketing strategy at primebiz hotel surabaya that deals with covid-19. this research was conducted using a qualita tive approach based on case studies. this study uses triangulation methods to validate and view from various perspectives. the data collection procedure used in this study was in-depth inter views. the findings of this study indicate that the economic crisis brought on by the coronavirus had an effect on the hotel in indonesia. overall, the key findings imply that the primebiz hotel im proved and adjusted its marketing mix in response to the issue. the indonesian primebiz hotel required to alter its marketing mix as a result of the shift in consumer purchasing behavior, which was a significant factor. in order to prevent the virus from spreading, the indonesian government and the public health agency put in place measures like social exclusion, travel restrictions, and solid borders. keywords: strategic management, hotel industry, surabaya hotels, covid-19 impact, response, risk management a. introduction organizations operate in a highly integrated global commercial environment (alhawari et al., 2012). as a result, enterprises are more sensi tive to unique and unexpected international events, such as a crisis, because they introduce new risks and create an unpredictable business climate. companies that fail to adjust during a crisis may find it difficult to stay afloat, if they survive at all (darbonnens & zurawska, 2017). as a result of the corona-pandemic epidemic (covid-19), the world is currently undergoing an economic crisis, which is affecting sectors. indonesia is a tourist friendly archipelagic coun try with abundant natural beauty. as a result of this benefit, the government may consider posi tioning it as a comparable sector of indonesian tourism to that of other countries. as either a conclusion, tourism is the most important busi ness for boosting a country’s foreign exchange profits because the resources needed to develop tourism are already available (hakim, 2020). the primebiz hotel surabaya is one of the hotels that this epidemic has impacted. al though primebiz is a midscale hotel located in the south surabaya area, it must compete with other hotels to survive during and after the pandemic. due to a significant decrease causing a widespread, the number of visitors decreased drastically compared to the previous year. that is the most concerning matter for the hotel industry, particularly hotels based in surabaya. surabaya is a city where most visitors arrive for business trips. therefore, it was a 131 mailto:rizwan-2020@feb.unair.ac.id mailto:rizwan-2020@feb.unair.ac.id business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 132 tabel 1 occupancy and net revenue data from primebiz hotel before and after month sep-19 oct-19 nov-19 dec-19 occupancy % 54.10% 61.68% 67.23% 66.25% total revenue 1.518.172.016 1.615.123.147 1.883.343.988 1.791.938.238 month nov-19 dec-19 jan-20 feb-20 occupancy % 71.44% 68.54% 55.34% 57.80% total revenue 1.199.167.227 1.256.617.960 1.013.648.042 865.707.231 source: hotel internal data grave concern that significantly impacted hotel operations, particularly revenue. data on occu pancy and total net income for the preceding four (6) years before and after are provided in the table 1. according to occupancy and revenue data collected over the past six month before and after pandemic, the primebiz hotel is one of the hotels that has been negatively impacted and has been able to stay open despite the loss of revenue. in addition, the closure of the sur rounding areas and the reduction in the number of available flights reduced the intention to travel to surabaya. for this reason, the prime business hotel must develop a new strategy for post epidemic operations to get the most out of existing resources. the covid-19 problem has undoubtedly upset the hotel sector. over half of the country’s largest cities’ hotels are fighting to stay in busi ness as a result of the severe impact, with most of them operating below the point at which most hotels can break even and pay off debt. hotels would be wise to put the lessons they’ve learned from this year to use and get ready for the future of the industry beyond covid-19 even though the hospitality sector is still having trouble with almost two-thirds of hotels operat ing at or below 50% occupancy and hoteliers are growing worried about the outcome of this new year travel. it’s time to adapt and innovate how hotels draw guests now that cleanliness and safety are more crucial than ever. according to occupancy and revenue infor mation for the previous four years, the primebiz hotel surabaya saw a fall in business during the epidemic. hotel primebiz is one of the most adversely impacted hotels, according to occu pancy and income data gathered over the previ ous four years, and has managed to stay open despite the loss of revenue. furthermore, fewer people planned to come to surabaya as a result of the closure of the neighborhood and the reduction in airline options. in order to maxi mize the potential benefits from the resources at hand, primebiz hotel must create a new plan for carrying out post-pandemic operations. the hotel’s management made a concerted effort to reduce expenses in order to prevent budget overruns, which led to the layoff of about half of the whole employees. despite this, the standard of service that is provided must be of the greatest caliber, and the hotel’s management needs to pay more attention to the issue of cost management in order for the company to continue financing its operating activities. the pandemic issue has forced sup pliers of tourist goods and services to confront uncertainty and risk in order to maintain good connections with their customers. in many in dustrialized nations, including the united states and singapore, there are numerous autonomous mohammad jamil rizwan, gancar candra premananto, the influence of organizational culture, strategic marketing in crisis (covid-19 pandemic): a study at primebiz hotel surabaya 133 authorities that can handle commercial crises. these organizations help create crisis manage ment strategies, which are subsequently turned into rules for companies or other organizations that fall under them and are known as the “business continuity plan” (soetjipto, 2020). the primebiz hotel in surabaya must therefore come up with a strategy for handling the prob lem in order to lessen the pandemic’s effects. offering strong planning and execution pro cesses for business continuity can achieve this. a suggested technique for enterprises with limited resources (typically hotels) to deal with an economic crisis is marketing innovation (naidoo, 2010). the adoption of a new market ing plan that involves modifications to product design, price strategy, packaging, and product placement is referred to as marketing innova tion. (varadarajan, 2018). when a company, such as the hospitality industry, is hit by a crisis, marketing strategies may need to be updated and changed (karlsson & tavassoli, 2016). in such cases, firms must keep in mind that implementing a new market ing strategy should not result in lower market ing expenditures (köksal & zgul, 2007). reassessing the marketing mix and realign ing the value offered to match customers’ modi fied demand as a result of the crisis (karlsson & tavassoli, 2016; falk, 2013) could be a crucial first step in changing the marketing strategy. according to empirical evidence, mar keting innovation activities have a favorable impact on the economic viability of hospitality organizations (nieves & diaz-meneses, 2016). an economic crisis brought on by the coronavirus epidemic has so far required un precedented global measures (fernandes, 2020). every crisis is unique; therefore a firm cannot prepare it in advance on how to handle it. as a result, companies encounter crises with a lim ited level of competence (grewal & tansuhaj, 2001). in light of this, the authors want for this study to give new knowledge about how indo nesian hotels in the hospitality industry might survive the current crisis as well as research that can help in the management of future crises. the coronavirus outbreak has produced an economic disaster that has required unparal leled global reactions to date (fernandes, 2020). because each crisis is unique, a firm cannot prepare for it in advance, and as a result, companies respond with limited skill (grewal & tansuhaj, 2001). with this in mind, the authors expect that their work will contribute to a greater understanding of how hotels in indonesia’s hospitality sector could survive the current crisis, as well as research that will aid in the management of future crises. figure 1 depicts how hotels can adjust to an economic downturn by undertaking marketing innovation activities (changes in the four p’s of the market ing mix) to understand how they can stay afloat during the current downturn. natural disasters, technological catastro phes, and economic crises are just a few ex amples of the many types of crises that can strike without warning and in ways that no one could have predicted (grewal & tansuhaj, 2001). decisions with low probability, ambigu ity, and high consequences that are made under time constraints are considered crises by pearson & clair (1998). there are many ways that an economic crisis can have an impact on busi business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 134 nesses, and if they are not properly managed, the consequences can be severe (ghandour & benwell, 2012). due to a lack of consumer demand and the resulting competition, some businesses are forced to reduce production (i.e. supply). even if they don’t have to lay anyone off or decrease their wages, some enterprises are com pelled to close their doors for good. financial losses might also occur as a result of supply chain disruptions (ghandour & benwell, 2012). re duced output and a demand deficiency result in unemployment in the event of a supply disrup tion (guerrieri, lorenzoni, straub, & werning, 2020). a supply disruption could affect the busi ness both internally and externally since the repu tation and trust of stakeholders are at danger (ghandour & benwell, 2012; he & ran, 2015). supply shocks that initially affect only one busi ness can swiftly spread to other industries during a pandemic. b. literature review 1. hygiene and cleanliness during the covid-19 epidemic, things changed. furthermore, because achieving a bet ter level of cleanliness may necessitate invest ments in technology, equipment, and money, future research should evaluate how far differ ent types of hotels should enhance their sanita tion methods. hygiene can refer to more than only sani tization. it can also refer to several areas of health care. when arranging vacations following the covid-19 epidemic, customers are likely to be more concerned about basic health-care avail ability, such as how to get medical care if they become unwell. on a personal level, guests prioritize their health and cleanliness as lines of defense against diseases, such as through a balanced diet and good sleep hygiene the clean liness of a hotel’s guestrooms (such as bed rooms andbathrooms) is a key aspect in defining its reputation (gu and ryan, 2008). 2. innovative marketing in the hospitality sector new technologies, particularly the emer gence of the internet, have had a tremendous impact on tourism and hotel marketing ideas in times of crisis, according to empirical data from a prior study (campo et al., 2014; nicolau & santa-mara, 2013). since the internet’s incep tion, businesses have had low-cost access to an endless number of customers (consiglio et al. 2018; campo et al. 2014). web sites and social media activity for businesses are important tools for marketing services and products. further more, using a website as a sales channel elimi nates the need for intermediaries, saving money for the hotel and making it easier for customers to obtain information about the company or a product (hjalager, 2010; consiglio et al., 2018; campo et al., 2014) these marketing ideas developed from new technologies have proven to be a critical com ponent for hospitality companies to remain com petitive and grow sales (scaglione et al. 2009). marketing innovation efforts have a favorable impact on the economic viability of hospitality businesses (nieves & diaz-meneses, 2016). furthermore, empirical findings from a study by campo et al. (2014) demonstrated that hotels’ ability to adapt during the 2008 financial crisis resulted in an increase in customer service quality, satisfaction, and value offer. these three terms are essential for maintaining and gaining a competitive advantage as well as financial profits (medrano et al., 2016; anning-dorson et al., 2018). mohammad jamil rizwan, gancar candra premananto, the influence of organizational culture, strategic marketing in crisis (covid-19 pandemic): a study at primebiz hotel surabaya 135 as an outcome, companies who purposely restricted marketing innovation activities in the face of a crisis should revaluate their decision and instead implement marketing innovation activities such as new process enhancements and new services (campo et al. 2014). accord ing to the conclusions of an empirical study, hospitality firms should focus marketing innova tion in order to prosper in times of crisis. companies in the company are primarily fo cused on implementing unique marketing ideas, followed by better pricing and increased promo tional activities, according to the data (pappas, 2015). the most prevalent method was to rely on government aid, according to a report that looked into how hotel marketers dealt with the sars epidemic in toronto (when around 75% of the hospitality sector saw a dip) (jayawardena et al., 2008). the most prevalent approach used by the corporation in order to acquire clients was to give price discounts. however, a few hotels provided their rooms for reasons other than accommodation, such as renting them out as offices (jayawardena et al., 2008). in a crisis, solutions like the one stated can be more effec tive than standard price reductions, because price decreases do not enhance profit in the same amount. companies must instead main tain marketing investment in order to remain successful in the long run (köksal & zgul, 2007). since marketing innovation is defined as enhancements and essential modifications in the marketing mix, it suits the spending ability of hotels. place marketing, product, and price are three options available to increase con sumer value (naidoo, 2010; köksal & zgul, 2007). the marketing mix is the set of activities used by a company to promote its product or brand in the marketplace. another way to de scribe it is as the organization’s blend of diverse marketing decisions for selling its products or services. which could be employed to help the company innovate its way out of the effects of a recession? (singh, 2012). it is a dynamic and inventive model that adapts to changes in con sumer preferences, market competition, market conditions, and government legislation (singh, 2012). when a crisis arises, managers in the firm must assess the standard marketing mix model and reshape it with marketing mix tools for marketing innovation (naidoo, 2010). c. research method this research was conducted qualitatively so that the way of thinking, knowledge and the author’s perception is very influential. qualita tive research identifies goals certain things through techniques in interpreting a phenom enon in depth without rely on numerical mea surements (zikmund, 2015). qualitative ap proach used because the discussion is quite broad in exploring various types of possibilities for the formulation of corporate strategy. this type of research is descriptive with the aim of describe the actual challenges and problems faced by primebiz hotel in indonesia. the author tries to describe the facts related to the problem investigated according to rational interpretation, explain relationships and derive implications and the meaning of a phenomenon that is being faced by primebiz hotel in indone sia to provide an objective picture of the situa tion. the hotel industry was jeopardized during the pandemic. this study proposes to analysis of internal and external elements and chooses strategies for the survival of primebiz hotels business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 136 located in indonesia, particularly. indonesia is one of the biggest countries in the world, which heavily relies upon visitors from across the country. interviews were conducted to obtain direct information and face to face with research sources. resource persons have a role as a key informant and has access to some important company information related to strategies and policies as well as strategic resources in an effort to achievement of company goals. the resource person has occupied this position at least 2 years with positions in the core busi nesses primebiz hotel in indonesia. table 2 the interview dimensions and questions questions, marketing manager, general manager q1 : could you please tell us how the corona virus is affecting your company? q2 : what do you think about the long-term impacts of this crisis in your business? q3 : what impact has the coronavirus had on your marketing strategy? q4 : what is your strategy for remaining com petitive and, as a result, continuing to sell your product or service? q5 : do you give special attention to frequent customers during this crisis? q6 : do you think lower prices will attract more customers? in contemporary times of economic difficulty? q7 : do you use the initial price for quality products, or do you offer quality prod ucts to a reduced price? q8 : can you please tell us about your new plan for promotion and advertising? q9 : are you promoting more or less than before the economic crisis (derived from covid-19)? q10: are you considering any new distribution channels for your products and services? d. result and discussion the main objective of the research topic was to ascertain what creative strategies hotels employed to get around thecoronavirus’s chal lenges. almost every sector has been hit by the financial crisis, including indonesia’s hospitality sector. the findings of this study indicate that the current economic crisis brought on by the coronavirus has an effect on hotels in indonesia. according to the study, businesses have three chances to survive: financial resources, govern ment assistance, and/or finding new ways to apply their expertise. hotels usually have a limited amount of resources; therefore they can’t rely on financial reserves to survive a recession when revenues fall. instead, many hotels are forced to rely on government aid, which is not the long-term solution that will be most profitable. therefore, the most desirable course of action is to combine subsidies with reallocation and novel approaches to capitalize on the company’s strengths. in general, the findings of this paper’s research are consistent with earlier studies’ sug gested measures for organizations facing a crisis in many ways. it does, however, highlight some distinctions. none of the companies examined have attempted to lower their distribution costs, as an example of how actual tactics deviate from theory. everyone had made adjustments in their consumer distribution network, but not to save money; rather, the alterations were done to get around government regulations. according to prior study, businesses should focus their marketing efforts on areas where they are a strong competitor. international clients are im mohammad jamil rizwan, gancar candra premananto, the influence of organizational culture, strategic marketing in crisis (covid-19 pandemic): a study at primebiz hotel surabaya 137 portant to businesses in the hotel and tourism industries. furthermore, due to the current situ ation, these customers are completely unavail able. this underpins the crisis’ singularity, which necessitates certain singular responses. an ex ecution of a marketing innovation plan, in turn, canprovide the distinctive measures. to with stand this crisis, measures such as facilitating reservations, payment, and refunds, as well as redirected marketing efforts and a long-term focus, will be critical. e. conclusions there is a possibility that the widespread fear caused by covid-19 will have long-lasting effects on travel. after the recent outbreak of a public health crisis, it will be necessary to implement tactics that are both effective and efficient in order to restore travelers’ confi dence and assist businesses in recovering in a timely manner. the hotel industry’s capacity for resiliency and sustainability can be strengthened figure 1 overview of consequences and actions brought by the covid-19 pandemic business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 138 by attending to a variety of customers’ con sumption requirements and taking active ac tions to transform challenges into opportuni ties. these initiatives are aligned with expected developments in market demand, such as the preservation of the environment, contactless services, and the health and wellness of travel lers. the actions made by hotels in reaction to the outbreak and the market’s fluctuating de mand show a number of areas where profes sional knowledge should be improved. by re flecting on evolving visitor expectations and industry recovery plans, the academic commu nity can contribute to theoretical development in hotel marketing and management. this will aid in the promotion of good improvements in industry practices in the aftermath of the pan demic. the findings of this study contribute with some novel discoveries due to the fact that the most recent financial crisis, which was caused by the covid-19 epidemic, is distinct from prior financial crises in several respects. the limits imposed by the government are the most no table factor that contributes to the one-of-a kind nature of the situation and have rendered it nearly difficult for certain industries to oper ate. because of this, businesses have been driven to use novel and creative methods in order to get around the challenges caused by the con straints. as a result, this study has provided with fresh material that has the potential to direct future research on the issue of either the economic crisis or marketing innovation. in addition to the findings that have to do with the fact that the current crisis is distinct from earlier crises in many aspects, the study has also verified a significant portion of the findings of the studies that came before it. one of the most important findings of this research, which also validates findings from earlier stud ies, is the susceptibility of hotels to damage during an economic downturn. this is made clear by the fact that the corporations that were questioned have been compelled to make cuts to their budgets as well as employee positions. the fact that the empirical evidence does not fit the theory in a number of instances is almost certainly something that can be explained by the effects of what it is that makes this crisis exceptional. the covid-19 outbreak has caused signifi cant disruption to the operations of hotels all across the world, threatening some of them with extinction. the moment has come for academics and industry professionals to take a close look at the effects of this catastrophe and investigate ways to improve business proce dures. researchers may find that empirical data gathered from important stakeholders are help ful when investigating and analyzing phenomena of interest in order to formulate appropriate predictions. depending on the studies research aims, future research may utilize focus groups, in-depth interviews, surveys, scenario-based experiments, digital analytics, or a mixed-meth ods approach to collect data to address the challenges presented in this article. these tech niques can be used to collect information in order to solve the challenges stated in this article. in a summary, covid-19-induced changes in passenger behavior, as well as hotel market ing and management strategies, necessitate additional academic investigation. it is our genu ine hope that the study routes indicated in this publication will throw light on relevant subjects of interest and encourage further investigation. mohammad jamil rizwan, gancar candra premananto, the influence of organizational culture, strategic marketing in crisis (covid-19 pandemic): a study at primebiz hotel surabaya 139 f. references alhawari, s., karadsheh, l., talet, a. n., & mansour, e. (2012). knowledge-based risk management framework for information technology project. international journal of information management, 32(1), 50-65. bárrios, m. j., marques, r., & fernandes, a. a. (2020). envelhecer com saúde: estratégias de ageing in place de uma população portuguesa com 65 anos ou mais. revista de saúde pública, 54, 129. darbonnens, c. a., & zurawska, m. (2017). effective crisis and emergency responses in the multinational corporation. in the responsive global organization (pp. 169204). emerald publishing limited. fernandes, n. (2020). economic effects of coronavirus outbreak (covid-19) on the world economy. ghandour, a., & benwell, g. (2012). a framework of business recovery in the aftermath of a disaster. international journal of business continuity and risk management, 3(3), 263-274. grewal, r., & tansuhaj, p. (2001). building organizational capabilities for managing economic crisis: the role of market orientation and strategic flexibility. journal of marketing, 65(2), 67-80. gu, h., & ryan, c. (2008). place attachment, identity and community impacts of tourism— the case of a beijing hutong. tourism management, 29(4), 637-647. guerrieri, v., lorenzoni, g., straub, l., & werning, i. (2022). macroeconomic implications of covid-19: can negative supply shocks cause demand shortages?. american economic review, 112(5), 1437-74. köksal, m. h., & özgül, e. (2007). the relationship between marketing strategies and performance in an economic crisis. marketing intelligence & planning. naidoo, v. (2010). firm survival through a crisis: the influence of market orientation, marketing innovation and business strategy. industrial marketing management, 39(8), 1311-1320. nieves, j., & diaz-meneses, g. (2016). antecedents and outcomes of marketing innovation: an empirical analysis in the hotel industry. international journal of contemporary hospitality management. nikbin, d., iranmanesh, m., ghobakhloo, m., & foroughi, b. (2021). marketing mix strategies during and after covid-19 pandemic and recession: a systematic review. asia-pacific journal of business administration. perera, s., & perera, c. integration of marketing innovation, and brand value in enhancing brand competitiveness: a study on small and mediumsized enterprises (smes) in emerging countries. revitalizing the economy through sustainable strategies, 54. jayawardena, c., patterson, d. j., choi, c., & brain, r. (2008). sustainable tourism development in niagara: discussions, theories, projects and insights. international journal of contemporary hospitality management. sulistyaningrum, d., & al hakim, r. r. (2020). pendampingan pembelajaran siswa melalui teknologi informasi selama pandemi covid19: studi kasus kkn tematik covid-19. jurnal pengabdian kepada masyarakat, 1(02). soetjipto, n. (2020). ketahanan umkm jawa timur melintasi pandemi covid-19. tavassoli, s., & karlsson, c. (2016). innovation strategies and firm performance: simple or complex strategies?. economics of innovation and new technology, 25(7), 631-650. zikmund, w. g., & babin, b. j. (2015). essentials of marketing research. cengage learning. 01 dafazal saffan.pmd dafazal saffan, bambang syairudin, fuad achmadi, analisis kepuasan pelayanan dan loyalitas pelanggan dengan menggunakan metode servqual, ipa, dan qfd di terminal teluk lamong 11 analisis kepuasan pelayanan dan loyalitas pelanggan dengan menggunakan metode servqual, ipa, dan qfd di terminal teluk lamong dafazal saffan, bambang syairudin, fuad achmadi program magister manajemen teknologi institut teknologi sepuluh november surabaya, indonesia e-mail: dafazalbachmid@yahoo.com, bambangsy@ie.its.ac.id, fuadachmadi@gmail.com abstract: service is a very important element in the effort to increase customer satisfaction and loyalty. basically, the position of these services is a supporting factor to the service activities of pt terminal teluk lamong. the number of service users who did online booking in counters and complaints in the services provided to encourage researchers to conduct research. the study population was a customer terminal teluk lamong the number 312 company. the total sample of 75 respondents using the sampling method used is purposive sampling and slovin formula. the analysis used in knowing the fit between the expectations and reality, used models cartesian diagram. the results of the cartesius diagram is processed with the house of quality in qfd. the results of the analysis of servqual and qfd shows that five (5) top priority in efforts to improve customer satisfaction terminal teluk lamong, namely: (1) evaluate the sop of the process behandle, (2) adding personel to the clerk tkbm in behandle locations, (3) provide specialized training for officers at the behandle location, (4) trying to establish a communication network with the customs, if the service users experiencing problems in the management of npe, and (5) increases forklift unit if necessary. keywords: job description, leadership, employees performance, working environment, motivation i. pendahuluan negara indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.058 pulau. yang secara geografis terletak di antara benua asia dan australia, serta diapit oleh samudra pasifik dan samudra hindia. letak negara indonesia yang strategis menjadikan indonesia mempunyai peranan penting dalam perdagangan di dunia. transportasi merupakan salah satu aspek paling penting dan strategis dalam memperlancar arus perdagangan tersebut. dengan demikian, dibutuhkan pelabuhan sebagai tempat penghubung antara moda laut dengan moda darat. pelabuhan sebagai penyedia jasa pelayanan jasa kepelabuhan diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima, sehingga pelanggan tidak dirugikan dengan peningkatan biaya akibat pelayanan yang tidak optimal. pt terminal teluk lamong merupakan perusahaan baru di bidang jasa terminal multipurpose dan bongkar muat peti kemas dan dibekali sarana dan prasarana dengan teknologi terkini di indonesia. salah satu jenis layanan yang diusahakan oleh pt terminal teluk lamong yaitu kegiatan bongkar muat peti kemas. pelayanan merupakan unsur yang sangat penting di dalam usaha meningkatkan kepuasan pelanggan. menurut kottler (2005), kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. di samping memiliki alat-alat yang canggih dalam kegiatan bongkar muat, terminal teluk lamong memiliki fasilitas online booking melalui internet yang dapat diakses oleh seluruh pelanggan, sistem tersebut adalah hal yang baru diterapkan di dunia kepelabuhanan terutama di business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 2 indonesia. tetapi masih banyak pelanggan yang tidak menggunakan fasilitas tersebut (manual) dan juga komplain mengenai pelayanan selama melakukan proses di terminal. oleh karena itu, pengukuran kepuasan akan pelayanan yang diberikan oleh pt terminal teluk lamong pada pengguna jasa dilakukan untuk mengetahui dan merencanakan strategi yang lebih baik di masa mendatang dan lebih meningkatkan kualitas pelayanannya agar dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan serta untuk meminimalisasikan masalah. ii. metode a. service quality (servqual) pengukuran dengan metode servqual merupakan pendekatan used-based approach (pendekatan berbasis pengguna) dan kini sering digunakan di industri-industri jasa. pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya sehingga produk yang paling memuaskan preferensi seseorang merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. model yang dikembangkan oleh zeithaml et al (1990) yaitu service quality dengan mengidentifikasi 5 kesenjangan yang menyebabkan kegagalan penyampaian jasa, dapat dilihat pada gambar 1. metode servqual membagi kualitas pelayanan kedalam lima dimensi, yaitu tangibles, reliability, responsive, assurance, dan emphaty. b. importance and performance analysis (ipa) metode importance performance analysis (ipa) pertama kali diperkenalkan oleh martilla dan james (1977) dengan tujuan untuk mengukur kepuasan pelanggan dalam produk atau servisnya. interpretasi grafik ipa sangat mudah, di mana grafik ipa dibagi menjadi empat buah kuadran berdasarkan hasil pengukuran importance-performance sebagaimana terlihat pada gambar 2. gambar 1 metode konseptual servqual gambar 2 importance performance analysis (ipa) matrix c. quality function deployment (qfd) menurut subagyo 2004, quality function deployment (qfd) adalah suatu cara untuk meningkatkan kualitas barang atau jasa dengan dafazal saffan, bambang syairudin, fuad achmadi, analisis kepuasan pelayanan dan loyalitas pelanggan dengan menggunakan metode servqual, ipa, dan qfd di terminal teluk lamong 3 memahami kebutuhan konsumen, lalu menghubungkannya dengan ketentuan teknis untuk menghasilkan barang atau jasa di tiap tahap pembuatan barang atau jasa yang dihasilkan. dalam proses qfd digunakan alat house of quality yang menyerupai sebuah rumah yang memuat kebutuhan pelanggan dan dibagi-bagi seperti pada gambar 3. jika nilai alpha>0,60 maka data tersebut reliable. tabel 1 hasil uji validitas dan reliabilitas harapan gambar 3 house of quality (hoq) iii. result penelitian ini menggunakan kuesioner terhadap 75 responden dengan pertanyaan survei mengenai harapan pengguna jasa dan kenyataan yang diterima oleh pengguna jasa terhadap kualitas layanan yang diberikan terminal teluk lamong selama ini. data yang diolah terdiri dari data tingkat harapan dan data kepuasan yang dirasakan oleh pengguna jasa terminal teluk lamong. kedua data tersebut telah diolah dengan menggunakan microsoft excel dan program spss. uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan metode cronbach alpha untuk menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak. atribut corrected itemtotal correlation cronbach alpha r1 0,322 0,761 r2 0,404 r3 0,486 r4 0,515 r5 0,619 r6 0,646 r7 0,430 a1 0,465 0,631 a2 0,465 t1 0,590 0,717 t2 0,522 t3 0,456 t4 0,524 e1 0,315 0,621 e2 0,284 e3 0,418 e4 0,425 e5 0,335 e6 0,381 s1 0,507 0,684 s2 0,454 s3 0,547 a. service quality (servqual) tabel 2 hasil survei kuesioner variabel nilai servqual % kesesuaian x1 r1 -0,933 80% r2 0,387 111% r3 0,027 101% r4 -0,933 80% r5 -0,053 99% r6 -0,547 88% r7 -0,280 94% x2 a1 0,133 103% a2 -0,373 91% business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 4 belum sesuai harapan. item–item yang termasuk dalam kuadran ini adalah: a. kemudahan pengurusan npe di bea cukai (x1). b. proses behandle berjalan dengan baik di hanggar/lokasi behandle (x2). c. peralatan untuk kegiatan receiving/delivery memadai di transfer area (x3). d. fasilitas shuttle bus cukup memadai (x4). e. petugas tkbm (tenaga kerja bongkar muat) di lokasi behandle (hanggar) telah membantu proses pemeriksaan bea cukai/karantina dengan baik (khusus jalur merah) (x5). c. quality function deployment (qfd) tabel 3 matrix what hasil perhitungan gap 5 dimensi servqual menunjukkan bahwa hampir seluruh atribut bernilai negatif. artinya pengguna jasa belum merasa puas dengan pelayanan terminal teluk lamong. b. importance and performance analysis (ipa) x3 t1 -0,600 86% t2 -0,333 92% t3 -1,080 76% t4 -0,533 87% x4 e1 -0,680 85% e2 -0,173 96% e3 -0,333 92% e4 -0,427 90% e5 -0,440 90% e6 -0,373 91% x5 s1 -0,147 96% s2 -0,827 81% s3 -0,360 92% gambar 4 diagram kartesius variabel mutu pelayanan dalam kuadran a di atas ditunjukkan halhal yang perlu menjadi prioritas utama untuk segera ditangani oleh manajemen terminal teluk lamong, karena hal-hal ini dinilai sangat penting oleh pengguna jasa dalam kenyataannya masih no. how/technical response what’s customer needs 1 x 1 2 x 2 3 x 3 4 x 4 5 x 5 tabel 4 importance of what no. how/technical response what’s customer needs importance of the whats 1 x 1 4,65 2 x 2 4,67 3 x 3 4,43 4 x 4 4,56 5 x 5 4,41 tabel 5 matrix how pada quality function deployment (qfd) no. what’s customer needs how/technical response 1 menyediakan tempat khusus untuk cargo yang belum memiliki npe 2 berusaha membentuk jaringan komunikasi dengan pihak bea cukai, apabila pengguna jasa mengalami kendala dalam pengurusan npe 3 melakukan evaluasi mengenai sop kegiatan dari proses behandle dafazal saffan, bambang syairudin, fuad achmadi, analisis kepuasan pelayanan dan loyalitas pelanggan dengan menggunakan metode servqual, ipa, dan qfd di terminal teluk lamong 5 karakteristik teknis yang memiliki korelasi positif dan kuat mengandung arti bahwa di antara karakteristik teknis yang satu dengan yang lainnya berkaitan erat dan saling menunjang dan begitu juga sebaliknya. untuk mendapatkan pola hubungan ini dilakukan dengan cara brainstorming dengan pihak yang berkompeten dalam hal ini adalah manager operation dan shift manager. dari matrix house of quality dapat diketahui langkah-langkah mana yang perlu didahulukan oleh manajemen terminal teluk lamong untuk dapat memenuhi permintaan pengguna jasa sebagai berikut. 1) melakukan evaluasi mengenai sop kegiatan dari proses behandle (14,6). 2) menambah personel untuk petugas tkbm di lokasi behandle (13,9). 3) memberikan training pelayanan khusus untuk petugas tkbm di lokasi behandle (13,2). 4) berusaha membentuk jaringan komunikasi dengan pihak bea cukai, apabila pengguna jasa mengalami kendala dalam pengurusan npe (11,2). 5) menambah unit forklift apabila memang dibutuhkan (9,6). 6) melakukan evaluasi mengenai jadwal shuttle bus (9,6). 7) menyediakan tempat khusus untuk cargo yang belum memiliki npe (8,9). 8) menambah armada bus (8,1). 9) menambah peralatan untuk menunjang kegiatan delivery/receiving di transfer area (7,8). 10) memberikan alternatif baru selain harus menunggu di transfer area, tetapi dapat langsung masuk ke dalam cy (2,9). iv. kesimpulan a. kesimpulan lima prioritas utama yang dapat dilakukan antara lain yaitu: 1) melakukan evaluasi kegiatan mengenai sop dari proses behandle. 2) menambah personel untuk petugas tkbm di lokasi behandle. 3) memberikan training pelayanan khusus untuk petugas tkbm di lokasi behandle. 4) berusaha membentuk jaringan komunikasi dengan pihak bea cukai, apabila pengguna jasa mengalami kendala dalam pengurusan npe. 5) menambah unit forklift apabila memang dibutuhkan. kesimpulan yang dapat diambil dari 5 (lima) prioritas utama yaitu bahwa terminal teluk lamong harus lebih fokus terutama terkait dengan pelayanan di area behandle. karena dari hasil yang sudah diolah banyak pengguna jasa yang masih belum terpuaskan terutama di area tersebut, baik itu mengenai kegiatannya, personel yang melakukan pekerjaan, dan juga alat bantu yang ada. b. saran dari hasil kesimpulan tersebut maka saran yang peneliti usulkan yaitu prioritas langkah-langkah perbaikan yang perlu didahulukan oleh p 4 menambah unit forklift apabila memang dibutuhkan 5 memberikan alternatif baru selain harus menunggu di transfer area, tetapi dapat langsung masuk ke dalam cy 6 menambah peralatan untuk menunjang kegiatan delivery/receiving di transfer area 7 menambah armada bus 8 melakukan evaluasi mengenai jadwal shuttle bus 9 memberikan training pelayanan khusus untuk petugas tkbm di lokasi behandle 10 menambah personel untuk petugas tkbm di lokasi behandle business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 6 manajemen terminal teluk lamong untuk dapat memenuhi permintaan pengguna jasa yang nantinya akan dilakukan pemanfaatan secara optimal. daftar pustaka alter, s. 2002. information system: foundation of e-business. prentice hall. arikunto, s. 2006. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta. aulia, t. 2011. pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengguna jasa pada pt. pelabuhan indonesia iv (persero) cabang terminal petikemas di makassar. universitas hasanuddin makassar. hermanto, a. 2008. analisa tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan terminal peti kemas semarang. universitas diponegoro semarang. huff, l.c. 2000. “an integrated model of consumer trust formation.” proceeding of american marketing association conference, vol. 11, pp. 206–212. kotler, p. 1995. manajemen pemasaran analysis perencanaan dan implementasi. jakarta: salemba empat. kotler, p. 2001. manajemen pemasaran di indonesia: analisis, perencanaan, implementasi dan pengendalian. jakarta: salemba empat. kotler, p. 2007. alih bahasa: benyamin molan; penyunting: bambang sarwiji. manajemen pemasaran, edisi 12, jilid 1. jakarta: pt indeks. kotler, p. 2008. alih bahasa: benyamin molan; penyunting: bambang sarwiji. manajemen pemasaran, edisi 12, jilid 2. jakarta: pt indeks. kotler, p. and gary a. 2012. principle of marketing, fourteenth edition. pearson education limited, england. lesmana, a. 2008. analisis kepuasan nasabah terhadap pelayanan bank mandiri (persero) tbk di bagian retail & consumer risk group. tesis. universitas gunadarma depok. lestari dan siti m. 2009. kepuasan pelanggan dan kualitas pelayanan pada pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan bahasa jakarta. jurnal psikologi, vol. 2, no. 2. lupiyoadi, r dan hamdani, a. 2011. manajemen pemasaran jasa. edisi dua. jakarta: salemba empat. lovelock, christopher and lauren w. 2002. principles of service marketing and management. second edition. pearson education international, inc. prentice hall. nasution, m.n. 2005. manajemen mutu terpadu (total quality management), edisi kedua. jakarta: ghalia indonesia rangkuti. 2003. measuring customer satisfaction: gaining customer relationship strategy. cetakan kedua. gramedia pustaka utama, jakarta. stanton, w.j. 2001. prinsip pemasaran. jakarta: erlangga. shurety, s. 1999. e-business with net.commerce. prentice hall. sugiyono. 2012. metodologi penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. alfabetha: bandung taylor, s.a. 2001. assessing the use of regression analysis in examining service recovery in the insurance industry: relating service quality, customer satisfaction, and customer trust. journal of insurance issues, vol. 24, pp. 30–57. widayat & amirullah. 2002. riset bisnis. yogyakarta: graha ilmu. zeithaml v.a., a. parasuraman, and leonard l.b. 1990. delivery quality service balancing costumer perceptions and expectation. new york: the free press. 01 reno.pmd michael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat, the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website 183183 the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website michael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat fakultas teknologi dan informatika, universitas dinamika e-mail: michael030669@gmail.com, ayouvi@dinamika.ac.id, candra@dinamika.ac.id abstract: this research aims to find out how perceived usability, satisfaction, and customer trust play a role in developing user loyalty on the ruangguru edutech startup website. the data collection method will be used to distribute surveys through questionnaires to 106 respondents consisting of ruangguru users, namely junior high school students. high school students have thrice used ruangguru’s services and opened the ruangguru website. this study uses statistical techniques, partial least square structural equation modeling (pls-sem), in the data analysis process to determine the significance level of the relationship between research variables. based on the research, it was found that there is a significant effect of perceived usability on customer trust, satisfaction, and customer loyalty, as well as perceived usability and satisfaction on customer loyalty. in contrast, customer trust does not significantly impact customer loyalty on website edutech. it can be concluded that to increase website users’ loyalty, edutech startups need to pay attention to the perceived usability and satisfaction of their website users. keywords: perceived usability, satisfaction, customer trust, customer loyalty, startup, edutech. a. introduction edutech startups in indonesia are starting to be seen by various parties in the world. this information can be found based on the ranking of indonesian edutech startups on the startup ranking website. according to the website, the highest-ranking edutech startup is owned by ruangguru, followed by neliti, duniailkom, eduka system, wardya college, and several other startups. the ranking uses the startup rank (sr) value which is calculated based on several factors, from the importance of a startup on the internet and the social influence of the startup. based on these data, ruangguru will be used as the object of this research. figure 1 edutech indonesia startup ranking (startup ranking, 2018) business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 184 as one of the startup companies engaged in education, ruangguru has a mission to provide and disseminate quality education to all students, regardless of place and time, using technology. in achieving this mission, ruangguru has issued several expected innovations to help users. in the second semester of 2020, ruangguru issued some innovations, such as the flash concept in preparing for the computer-based written examination. users can print questions in the question bank, live teaching conducted by some teachers daily, and animated videos on character education (damaledo, 2020). there is an increase in the number of users from year to year due to the products, services, and innovations developed by ruangguru. there has been an increase in new ruangguru users by seven million from the end of 2019 to the end of 2020, so the total number of ruangguru users in indonesia reached more than 22 million in december 2020 (damar, 2021). on the other hand, there are still several shortcomings in ruangguru’s services. based on research on the assessment of the quality of the ruangguru application on user satisfaction using the end-user computing satisfaction (eucs) and critical performance analysis (ipa) methods, it was found that respondents were dissatisfied with the content, accuracy, format, ease of use, and timeline of the ruangguru application (yazid, wijoyo, & rokhmawati, 2019). in addition, in terms of service, there are several shortcomings and problems faced by the ruangguru company, one of these shortcomings is that although it has received cooperation with the government and has 22 million users, ruangguru’s valuation is not enough to achieve unicorn. in addition, there are new problems faced by companies regarding government programs and internship programs. these problems will have an impact on the trust of ruangguru users; with the decreasing trust of ruangguru users, there is a possibility that user loyalty will decrease. this information is supported by several previous studies below, which state that trust impacts user loyalty. when creating website services, startups need to pay attention to several factors. perceived usability, satisfaction, and trust have an essential role in the loyalty of a website; where based on perceived usability, consumers will use the product offered if they can feel the benefits derived from the product (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006). trust is another factor that affects the success of a website’s services. although there are many advantages, the lack of trust in the system for its users can be a potential barrier to existing innovation (trihutama, 2017). based on the problems above, this research was conducted to find out how perceived usability, satisfaction, and customer trust play a role in developing user loyalty on the ruangguru edutech startup website. it is hoped that this research can produce solutions to increase the loyalty of edutech website users. 1. perceived usability perceived usability is things like past experiences or emotional situations that shape how you interact with the world around you and whatever system you use (maniataki, 2020), according to flavia´n, guinalý´u, & gurrea, who guide this research, several important indicators of perceived usability exist. several indicators are used to measure perceived usability: ease of use, comfort when using, straightforward design, and easy orientation to the application (oyibo & vassileva, 2020). the indicators of perceived usability used are ease of understanding, easy to use, easy to find informichael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat, the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website 185 of satisfaction. satisfaction indicators are decision-making accuracy, overall user satisfaction, user satisfaction in transactions, and user satisfaction with services (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006). 4. customer loyalty visitor loyalty is a behavior that arises as a reaction to things that result in the visitor’s desire to be able to visit again (aliffianto, candraningrat, & wibowo, 2018). if a product can meet customer expectations, then the product will create customer loyalty (minawati, 2017). according to flavia´n, guinalý´u, & gurrea as the guide for this research, there are several important indicators of customer loyalty. indicators of customer loyalty are the number of website visits, websites for purchasing products, favorites in purchasing products, the number of visits to other websites within a distance of one month, the number of visits to other websites, and the desire for transactions on other websites (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006). 5. partial least square as part of the statistical method of structural equation modeling (sem) based on variance, partial least squares (pls) were created to handle multiple regression when specific problems arise in the data, such as data loss, small sample size, and multicollinearity (nurani, 2015). sem modeling will provide dimensional answers to research questions (adianita, mujanah, & candraningrat, 2017). the analysis process will use the sem technique with the pls type to find the relationship between variables with the help of the warppls trial seven application. the most appropriate nonlinearity, then the nonlinear function, is used to predict the path coefficient to consider nonlinearity (kock, 2019). mation, structure, and content that is easy to understand, ease of movement, neatness of content, ease of navigation, and download speed (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006). 2. customer trust user trust is the readiness of a party to accept risk from another party according to the hope and trust that the other party will act as expected, even though the two parties do not know each other (lutfi, 2020). building trust in long-term customer relationships is essential to customer loyalty (muttaqiin, rasyid, & candraningrat, 2021). service quality and perceived benefits of a service are two factors that affect user trust (reza haikal hakim, 2017). according to flavia´n, guinalý´u, & gurrea as the guide for this research, there are several important indicators of customer trust. customer trust indicators used are fulfilling commitments, sincere and honest information, trusting promises made, no false statements, known to be honest and transparent, made for mutual benefit, paying attention to user interests, taking into account the impact on users, and not intentionally harming users, offering the website considers user needs, accepts user needs, has capabilities, marketing products, and services, has resources, and knows users (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006) 3. satisfaction satisfaction is felt when buying and continuously using products or services following customer expectations, desires, and needs (sabila, 2020). user value, quality of goods/ services, and service quality affect user satisfaction (putri & astuti, 2017). according to flavia´n, guinalý´u, & gurrea, who guide this research, there are several important indicators business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 186 the outer model is a model that determines the character of the relationship among latent variables and their indicators (candraningrat, 2020). the outer model’s purpose is to find a model’s reliability and validity (amiyantho, wulandari, & wardhanie, 2019). the outer model test will use reflection based on convergent validity, discriminant validity, composite reliability, average variance extracted (ave), and cronbach alpha (usada, hakim, & kurniawati, 2016). an inner model is a model that forms a relationship between variables that are influenced by other latent variables in the model (endogenous variables) with variables that are influenced by other latent variables outside the model (exogenous variables) (rodliyah, 2016). several statistical measures are needed to evaluate the inner model, namely r2, q2 predictive relevance, and goodness of fit (gof) index (putri g. r., 2017). the goodness of fit test of the statistical model describes how well the model fits a series of observations (maryam, somayasa, ruslan, gubu, & jufra, 2022). whether the proposed hypothesis is accepted or rejected can be found from its significance level (p-value) (irfandy, wardhanie, & candraningrat, 2022). generally, the p-value will be compared with a certain level of significance, normally = 5% or 0.05 (hakim, 2018). according to the statement, this research will use a significance level of 5% from the existing hypothesis. 6. conceptual framework the conceptual framework is the relationship between one theory and another used as a guide when systematically compiling research and assisting in the research process (ariyanto, 2018). figure 2 below is the conceptual framework of the research conducted. 7. hypothesis hypotheses are quick answers/conclusions made in response to the problems posed in research to be tested empirically (utari, 2017). based on the previous definition, it can be summarized that the hypothesis is a statement that is the reason why the research is carried out, which will then be tested for truth. this study will use the following hypotheses: h1: the user’s perceived website usability positively impacts customer trust in the ruangguru website. figure 2 research conceptual framework michael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat, the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website 187 h2: the user’s perceived usability of the website positively impacts satisfaction with the ruangguru website. h3: the user’s perceived website usability positively impacts customer loyalty to the ruangguru website. h4: website customer trust perceived by users positively impacts customer loyalty to the ruangguru website. h5: website satisfaction felt by users has a positive impact on customer loyalty to the ruangguru website. hypotheses 1 to 5 were developed based on research conducted by flavia´n, guinalý´u, and gurrea (2006). b. research method they are collecting data in this study using literature study and observation. literature studies were conducted through journals, books, and website searches through google using the keywords perceived usability, customer trust, satisfaction, and customer loyalty. research observations will use questionnaires distributed to ruangguru users as primary data, while previous research will be used as secondary data. the population of this study consisted of 22 million ruangguru users, with a sample of 106 respondents in the form of ruangguru users in the city of surabaya who had used the ruangguru service and opened the ruangguru website at least three times. the questionnaire distributed to the respondents contained questions related to the indicators of this research variable. after the data is collected following the number of samples, the data analysis process will be carried out using the sem technique with the pls type to find the relationship between variables with the help of the warppls trial application 7. the variables to be processed in this study consist of the independent variable (x) in the form of perceived usability. the moderating variable (z) is customer trust and satisfaction, while the dependent variable (x) is customer loyalty. c. result and discussion 1. respondent character characteristic data were obtained through distributed questionnaires and the questions used to perform pls analysis. the data will be grouped based on several criteria, including age, gender, education, and the number of website users. it can be seen in table 1 that most of the respondents consist of women aged 12–15 years and currently studying in junior high school. table 1 respondent character criteria quantity age 106 12 15 years 89 16 18 years 15 over 18 years old 2 gender 106 male 25 female 81 education 106 junior high school 89 senior high school 16 vocational high school 1 2. partial least squares analysis the analysis process will be carried out by testing the outer model, inner model, and hypothesis. in one of the outer model tests, namely the loading factor test in table 2, it was found that 3 of the 33 indicators did not reach the minimum criteria of 0.4 in the loading factor test, so the indicator would be discarded in the following process. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 188 based on the process of testing composite reliability and cronbach alpha in table 4, the composite reliability value of all variables above the minimum criteria (0.7) and reliability 3 of 4 variables is substantial, and the reliability of the customer trust variable (z1) is perfect. in addition, it can be seen that the average variance extracted from all variables is above the minimum criteria (0.5). so it can be seen that the research model is valid and reliable. table 4 composite reliability, cronbach alpha, and ave test results table 2 loading factor test results variable indicator valid invalid perceived usability (x) 8 0 customer trust (z1) 13 2 (z1.4, z1.9) satisfaction (z2) 4 0 customer loyalty 5 1 (y1.6) then a cross-loading test was carried out on the valid indicators from the previous test results. based on the results of cross-loading in table 3, it was found that all indicators were under the criteria, namely more significant than other constructs. table 3 cross loading test results x z1 z2 y x1.1 0.732 -0.27 0.091 -0.042 x1.2 0.785 0.077 -0.241 0.05 x1.3 0.702 -0.151 0.276 -0.121 x1.4 0.775 0.033 0.183 -0.052 x1.5 0.681 0.073 -0.19 0.107 x1.6 0.693 0.066 -0.14 -0.012 x1.7 0.663 0.009 -0.019 0.037 x1.8 0.671 0.173 0.038 0.041 z1.1 0.136 0.749 0.023 0.263 z1.2 0.062 0.805 -0.239 0.13 z1.3 0.096 0.752 0.216 0.146 z1.5 -0.057 0.796 -0.1 0.078 z1.6 -0.114 0.727 -0.33 0.038 z1.7 0.033 0.775 -0.151 -0.106 z1.8 -0.238 0.586 0.269 0.045 z1.10 -0.097 0.79 0.127 -0.036 z1.11 0.006 0.828 0 -0.219 z1.12 0.032 0.813 -0.003 -0.118 z1.13 0.011 0.807 -0.003 -0.045 z1.14 0.041 0.789 0.129 -0.169 z1.15 0.027 0.827 0.113 0.035 z2.1 -0.001 0.156 0.869 -0.074 z2.2 -0.058 0.145 0.922 -0.092 z2.3 0.038 -0.259 0.753 0.162 z2.4 0.029 -0.082 0.904 0.031 y1.1 -0.045 -0.051 0.077 0.808 y1.2 0.128 -0.296 0.409 0.814 y1.3 0.204 -0.076 0.137 0.857 y1.4 -0.156 0.073 -0.118 0.766 y1.5 -0.193 0.458 -0.664 0.635 variable composite reliability cronbach alpha ave x 0.892 0.892 0.510 z1 0.951 0.951 0.601 z2 0.922 0.922 0.748 y 0.885 0.885 0.608 then testing the inner model, where based on the data that can be seen in table 5, it can be seen that based on the results of the r2 test, the customer trust variable can be influenced by perceived usability by 41.4% and 58.6% is the influence of other factors from outside the model. in comparison, satisfaction can be affected by perceived usability by 27.8%, and 72.2% is the influence of other factors from outside the model. loyalty can be influenced by perceived usability, satisfaction, and customer trust by 33.4%, and 66.6% influence other factors outside the model. based on the results of the q2 test in the table, it can be seen that customer trust has the highest predictive relevance when compared to loyalty and satisfaction as the variables with the lowest predictive relevance. variable r2 q2 customer trust (z1) 0.414 0.422 satisfaction (z2) 0.278 0.276 loyalty (y) 0.334 0.331 table 5 r-square and q-square test results michael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat, the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website 189 based on table 6, it can be seen that the goodness of fit index can be accepted because it has met all the criteria. table 6 goodness of fit test results table 8 hypothesis result index score criteria apc <0.001 p<0.05 ars <0.001 p<0.05 aars <0.001 p<0.05 avif 2.327 received avif<=5, ideal avif<=3.3 afvif 2.090 accepted afvif<=5, ideal afvif<=3.3 tenenhaus gof 0.459 small >= 0.1, medium >= 0.25, large >= 0.36 spr 1.000 received spr>=0.7, ideal spr>=1 rscr 1.000 accepted rscr>=0.9, ideal rscr>=1 ssr 1.000 accepted ssr>=0.7 nlbcdr 1.000 accepted nlbcdr>=0.7 using the direct effect variable, hypothesis testing was conducted to determine the relationship between the dependent and independent variables. the results of the effect size can be seen in figure 3. figure 3 effect size table 7 direct effect results criteria variable x z1 z2 y path coeffic ient x z1 0.64 3 z2 0.52 7 y 0.37 3 0.14 5 0.42 4 p-value x z1 <0. 001 z2 <0. 001 y <0. 001 0.06 1 <0. 001 hypothesis path coef p-value result hypothesis 1 positive bellow 0.05 accepted hypothesis 2 positive bellow 0.05 accepted hypothesis 3 positive bellow 0.05 accepted hypothesis 4 positive above 0.05 rejected hypothesis 5 positive bellow 0.05 accepted h1: perceived usability of the website that users perceive positively impacts customer trust in the ruangguru website. based on the hypothesis test, the perceived usefulness variable (x) has a favorable path coefficient value (0.643) and a smaller p-value (<0.001) compared to the criteria (<0.05) on the customer trust variable (z1), so h1 is accepted. perceived usability has a favorable path coefficient value and p-value according to the provisions, so it has a significant and positive effect on customer trust. these results are also from research conducted by (flavia´n, guinal!´u, & gurrea, 2006) which found that consumer trust depends directly and positively on perceived usaccording to the results of hypothesis testing from table 7, it can be concluded: business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 190 ability. based on the results of this study, it was found that the advantages of the ruangguru website are that it is easy to use even for firsttime users, and the ruangguru website can accept and respond to the needs of its users. on the other hand, weaknesses were found on the ruangguru website, including that it was not easy to navigate. thus, it can be concluded that the perceived usability of a good edutech website is influenced by how easily the website can be used and how much the edutech website can accept and respond to the needs of its users. ease of use and navigation is part of the three website criteria (site design, site functionality, and customer value). according to richardus eko (2012), navigation on the website is a sub-criteria in shaping the website’s design, while ease of use is part of the functionality of a website. in addition, the website does not consider the impact their actions can have on consumers, where several respondents stated that the price offered by ruangguru’s services is higher than the services provided. based on the results of the analysis above, ruangguru needs to make improvements to these two weaknesses. h2: perceived usability of the website by users has a positive impact on satisfaction with the ruangguru website. based on table 8, the perceived usefulness variable (x) has a positive path coefficient value (0.527) and a smaller p-value (<0.001) than the criterion (<0.05) on the satisfaction variable (z1), so h2 is accepted. perceived usability has a positive path coefficient value and p-value according to the provisions, so it has a significant and positive effect on satisfaction. these results also follow research conducted by (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006) which found that consumer satisfaction depends directly and positively on perceived usability. based on the results of this study, it was found that the advantages of the ruangguru website are that it is easy to use, even for users who are using it for the first time. the experience that users have with the ruangguru website is satisfactory. on the other hand, it was found that the weakness of the ruangguru website was that it was not easy to navigate. ease of use and navigation is part of the three website criteria (site design, site functionality, and customer value). according to richardus eko (2012), navigation on the website is a sub-criteria in shaping the website’s design, while ease of use is part of the functionality of a website. in addition, users are not satisfied with how ruangguru makes transactions on its website. based on the results of the analysis above, ruangguru needs to make improvements to these two weaknesses. thus, it can be concluded that the perceived usability of a good edutech website is influenced by how easy it is to use the website and overall user satisfaction. h3: perceived usability of the website perceived by users positively impacts customer loyalty to the ruangguru website. based on table 8, the perceived usefulness variable (x) has a positive path coefficient value (0.373), and the p-value is smaller (<0.001) than the criteria (<0.05) for the customer loyalty variable (y), so h3 is accepted. perceived usability has a positive path coefficient value and p-value according to the provisions, so it has a significant and positive effect on customer loyalty. these results differ from those of research conducted by (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006), which found that perceived usability had no significant effect on michael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat, the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website 191 customer loyalty. based on the results of this study, it was found that the advantages of the ruangguru website are that it is easy to use even for users who are using it for the first time and the ruangguru website is the user’s favorite website to buy educational products and services. on the other hand, it was found that the weakness of the ruangguru website was that it was not easy to navigate. ease of use and navigation is part of the three website criteria (site design, site functionality, and customer value). according to richardus eko (2012), navigation on the website is a sub-criteria in shaping the website’s design, while ease of use is part of the functionality of a website. in addition, the number of user visits on other edutech websites that offer similar products and services is higher, one of which is brainly which offers a question-and-answer submission service similar to the roboguru service. when compared based on website information (www.similarweb.com), the number of visitors to the brainly website is much higher (89 million) than compared to the ruangguru website (19 million). based on the results of the analysis above, ruangguru needs to make improvements to these two weaknesses. thus, it can be concluded that the perceived usability of a good edutech website is influenced by the ease with which it is used, even for users who first open it. h4: website customer trust perceived by users positively impacts customer loyalty on the ruangguru website. based on table 8, the customer trust variable (z1) has a positive path coefficient value (0.145), and the p-value is more significant (0.061) than the criteria (<0.05) on the customer loyalty variable (y), so h4 is rejected. customer trust has a positive path coefficient value and a p-value above the provisions, so it has a positive but insignificant effect on customer loyalty. these results differ from those of research conducted by (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006), which found that customers thus significantly impacted customer loyalty. based on the research results, it is known that the level of consumer trust in the website does not affect loyalty because the ruangguru website does not take into account the impact that its actions can have on consumers, where some respondents stated that the price offered by ruangguru’s services is higher when compared to the services provided. in addition, the number of user visits to other edutech websites that offer similar products and services is higher. one such website, brainly, offers a questionand-answer submission service similar to the roboguru service. when compared based on website information (www.similarweb.com), the number of visitors to the brainly website is much higher (89 million) than compared to the ruangguru website (19 million). thus, it can be concluded that the edutech website’s customer loyalty is not too influenced by considering the impact their actions can have on consumers. based on the results of the analysis above, ruangguru needs to make improvements to these two weaknesses. h5: website satisfaction perceived by users positively impacts customer loyalty to the ruangguru website. based on table 8, the satisfaction variable (z2) has a positive path coefficient value (0.424), and the p-value is smaller (<0.001) than the criteria (<0.05) for the customer loyalty variable (y), so h5 is accepted. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 192 based on the results of this study, it was found that the advantages of the ruangguru website are that the user experience with the ruangguru website is satisfactory, and the ruangguru website is the user’s favorite website for purchasing educational products and services. satisfaction has a favorable path coefficient value and p-value according to the provisions, so it significantly and positively affects customer loyalty. these results are also consistent with research conducted by (flavia´n, guinalý´u, & gurrea, 2006), which found that satisfaction significantly impacts website loyalty. on the other hand, it was found that the weakness of the ruangguru website is that users are not satisfied with the way ruangguru makes transactions on its website. then the number of user visits on other edutech websites that offer similar products and services is higher. one such website, brainly, offers a questionand-answer submission service similar to the roboguru service. when compared based on website information (www.similarweb.com), the number of visitors to the brainly website is much higher (89 million) than compared to the ruangguru website (19 million). based on the results of the analysis above, ruangguru needs to make improvements to these two weaknesses. thus it can be concluded that the level of satisfaction with a good edutech website is influenced by how satisfied the user experience is when using the edutech website. d. conclusion based on the analysis produced by plssem, it can be found that 4 out of 5 research hypotheses can be accepted. based on this analysis, it can be concluded that in order for perceived usability to create satisfaction and customer trust in developing customer loyalty websites, the indicator that needs to be considered is the ease of use of the website, even for users who are accessing the website for the first time. the website must be able to accommodate all needs. for users with these criteria, a website can create a satisfying user experience, especially for female junior high school students aged 12 to 15 years, and ultimately become a favorite platform for purchasing products and services in the field of education. on the other hand, customer trust does not affect the development of customer loyalty for edutech website users. it was found that the ruangguru website did not consider the impact their actions could have on users. some respondents stated that the price offered by ruangguru’s services was higher than those provided. in addition, ruangguru users still open other edutech websites, one of which is brainly which offers a question-and-answer submission service similar to the roboguru service. when compared based on website information (www. similarweb.com), the number of visitors to the brainly website is much higher (89 million) than compared to the ruangguru website (19 million). e. references adianita, a. s., mujanah, s., & candraningrat. (2017). kompetensi karyawan, emotional quotient, dan self efficacy pengaruhnya terhadap organizational citizenship behavior dan kinerja karyawan pada indomobil grup di surabaya. journal of research in economics and management, 199–212. aliffianto, a. y., candraningrat, c., & wibowo, j. (2018). visitor loyalty analysis of mamichael vinsent djulianto, ayouvi poerna wardhanie, candraningrat, the role of perceived usability, satisfaction, and customer trust in design and developing user loyalty edutech website 193 rine tourism in banyuwangi beaches. the 2nd international conference on economics and business, 39–49. amiyantho, e., wulandari, s. h., & wardhanie, a. p. (2019). evaluasi aplikasi crowdsourcing terhadap kepuasan kerja driver gojek di surabaya. jurnal sistem informasi universitas dinamika, 8, 1–12. ariyanto, m. r. (2018). analisis pemahaman konsep matematika siswa kelas x sma menggunakan model quantum learning dengan media pembelajaran adobe flash. malang: university of muhammadiyah malang. candraningrat. (2020). the effect of entrepreneurship education on interests of entrepreneurship through self awareness in students in surabaya. jmm17 jurnal ilmu ekonomi dan manajemen , 34–45. damaledo, y. d. (2020, january 3). ruangguru kenalkan inovasi produk dan squad baru di semester ii. retrieved from tirto.id: https://tirto.id/ruangguru-kenalkan-inovasiproduk-dan-squad-baru-di-semester-iieqob. damar, a. m. (2021, january 7). ruangguru kantongi 22 juta pengguna hingga akhir 2020. retrieved from liputan6: https:// www.liputan6.com/tekno/read/4450355/ ruangguru-kantongi-22-juta-penggunahingga-akhir-2020. flavia´n, c., guinalý´u, m., & gurrea, r. (2006). the role played by perceived usability, satisfaction and consumer trust on website loyalty. information and management, 1–14. hakim, l. (2018). evaluasi terhadap penerimaan masyarakat terhadap situs pembelajaran koding belajarkoding.net menggunakan unified theory of acceptance and use of technology. surabaya: universitas airlangga. indrajit, r. e. (2012). kriteria desain website efektif. e-artikel sistem dan teknologi informasi, 1–4. irfandy, g. a., wardhanie, a. p., & candraningrat. (2022). analysis and design of dinamika university web page in creating customer experience and buying interest of new students from sidoarjo. business and finance journal, 61–74. kock, n. (2019). factor-based structural equation modeling with warppls. australasian marketing journal, 57–63. lutfi, l. (2020). pengaruh kepercayaan konsumen, keandalan, dan jaminan terhadap keputusan pengguna jasa (studi pada kp. jne mojoagung). jombang: sekolah tinggi ilmu ekonomi dewantara. maniataki, k. (2020, april 22). measuring the perceived usability of a system using the system usability scale. retrieved from ux collective: https://uxdesign.cc/measuring-the-perceived-usability-of-a-system-using-the-system-usability-scale-3418971dd7a3. maryam, u., somayasa, w., ruslan, gubu, l., & jufra. (2022). estimasi parameter dan uji goodness of fit untuk data biner berpasangan. jurnal matematika, komputasi, dan statistika, 1–12. minawati, a. r. (2017). pengaruh harga, kualitas produk dan kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan (studi kasus pelanggan wardah di universitas muhammadiyah surakarta). surakarta: universitas muhammadiyah surakarta. muttaqiin, n., rasyid, r. a., & candraningrat. (2021). pengaruh citra (images), kepuasan konsumen (customer satisfaction), business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 194 kepercayaan konsumen (customer trust) dan loyalitas konsumen (customer loyalty) pada perusahaan agen asuransi di surabaya. media mahardhika, 173–181. nurani, w. (2015). pengaruh pengungkapan corporate social responsibility (csr) terhadap nilai perusahaan dengan kinerja lingkungan dan struktur kepemilikan modal asing sebagai variabel moderating. malang: universitas islam negeri maulana malik ibrahim. putri, a. d. & astuti, s. r. (2017). faktorfaktor yang memengaruhi kepuasan konsumen serta dampaknya terhadap minat beli ulang konsumen (studi pada blends pasta & chocolate cabang unika semarang). diponegoro journal of management, 1–10. putri, g. r. (2017). pengaruh faktor perilaku terhadap gambaran klinis pasien hiv/aids dengan metode partial least square prediction oriented segmentation (sem plspos) di kabupaten pasuruan. surabaya: institut teknologi sepuluh nopember. reza haikal hakim, i. (2017). analisis faktorfaktor yang memengaruhi kepercayaan konsumen serta implikasinya terhadap keputusan pembelian (studi kasus pada go-ride di kota bandung). diponegoro journal of management, 1–11. rodliyah, m. (2016). estimasi score factor dengan partial least square (pls) pada measurement model (studi kasus: remunerasi tenaga kependidikan di lingkungan its). surabaya: institut teknologi sepuluh nopember. sabila, v. e. (2020). hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pelanggan pengguna grab bike di mall palembang icon. palembang: uin raden fatah palembang. startup ranking. (2018, june 11). education startup ranking in indonesia. retrieved from startup ranking: https://www.startupranking.com/tag/education/indonesia. trihutama, r. p. (2017). pengaruh perceived ease of use, perceived usefulness, dan trust terhadap behavioral intention to use (studi pada pengguna go-pay layanan go-jek). jurnal ilmiah mahasiswa feb, 1–15. usada, u., hakim, l., & kurniawati, a. (2016). analisis pengaruh kualitas pelayanan akademik terhadap loyalitas mahasiswa unusida dengan pendekatan partial least square (pls). journal of research and technology, 6–13. utari, t. s. (2017). analisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, upah minimum dan investasi terhadap kesempatan kerja pada provinsi di pulau jawa tahun 2011–2015. malang: university of muhammadiyah malang. yazid, m. a., wijoyo, s. h., & rokhmawati, r. i. (2019). evaluasi kualitas aplikasi ruangguru terhadap kepuasan pengguna menggunakan metode eucs (end-user computing satisfaction) dan ipa (importance performance analysis). jurnal pengembangan teknologi informasi dan ilmu komputer, 8496-8505. 76 implementation of good corporate governance and tax planning on company value heni agustina1*, khannifah rahmadhani2, rizki putri nourma budiarti3, rizki amalia elfita4, mohamad rijal iskandar zhulqurnain5 1,2,3,4,5 nahdlatul ulama university surabaya, indonesia e-mail: heni@unusa.ac.id abstract: the study aims to identify factors influencing agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage, are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial and institutional ownership is inversely and significantly associated with agency costs. in introduction the rapid competition of companies that occurs in the current era of globalization makes companies compete as much as possible to achieve the goal of increasing company value. the more open economy of a country will certainly provide opportunities for companies to develop business by creating new innovations in the product and service sectors. the company is trying very hard to achieve the expected goals as desired. in improving company performance by predetermined objectives, good corporate governance must be strictly implemented. where with the implementation of good corporate governance can increase investor confidence in the company, that the company has good value. however, the company's value can decrease because it is influenced by external factors, such as monetary conditions, namely the entry of the covid-19 virus which has worsened the performance of companies listed on the indonesia stock exchange (idx). as the news published on katadata.co.id states that the central statistics agency (bps) recorded 82.85% of entrepreneurs experienced a decrease in income due to the covid-19 pandemic, experienced an increase in income of 2.55% and experienced income stability of 14.60%. "companies in the accommodation and food and beverage sector are most affected by the covid-19 pandemic. this sector has experienced a very significant decline in income," said bps head suhariyanto. in the survey conducted above, there are bad signals that can affect the decline in company income and improper implementation of good corporate governance in the company so that it can impact the profit earned. the company's profit has decreased, which can affect the company's value, so the decision made by abstract: : the objective of this study to identify good corporate governance and tax planning on firm value using secondary data taken from the annual financial statements of companies listed on idx during the 2017-2020 period. the method in this study is purposive sampling, which consists of 11 companies that have been selected for sample. independent variables in this study are managerial ownership, institutional ownership, independent board of commissioners, audit committee, tax planning. dependent variable use in this study is firm value. the data analysis method used multiple linear regression using spps 25 software with a significant level of 0.05. the results of this study indicate that managerial ownership and institutional ownership have a positive effect on firm value, the board of commissioners has a negative effect on firm value, audit committees and tax planning have no effect on firm value. keywords: managerial ownership, institutional ownership, independent board of commissioners, audit committee, tax planning, firm value. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 77 the company takes steps to reduce the number of employees of the company that has been surveyed. by reducing employees, it is hoped that the company can stabilize the company's profits. companies that choose to cut the number of employees amid the pandemic come mostly from the food and beverage sector. which can be said that there is a management performance error in it. yuono & widyawati (2016) explain that good or bad management performance is measured by the profit income it earns by generating profits, the company can maintain the continuity of all company activities in the future. therefore, good management performance can increase company value and become a reflection that can affect investors' perceptions of the company. several factors influence the increase in firm value, one of which is by implementing good corporate governance and tax planning. zalkifli (2016) stated that the importance of good corporate governance can be seen from one of the objectives in establishing a company, namely to improve the owner's welfare and to protect the rights of shareholders/investors which will aim to maximize shareholder wealth through increasing company value. this study's proxy for good corporate governance uses managerial ownership, institutional ownership, independent board of commissioners, and audit committee. yuono & widyawati (2016) explain that tax planning indirectly involves all parties. to monitor the company whether it is in accordance with the applicable good corporate governance regulatory standards. wibowo (2016) explains that managerial ownership is a situation where managers own company shares or in other words, managers are also shareholders. and institutional ownership is ownership of company shares owned by institutions or other institutions. continuation of the implementation of good corporate governance with the proxy of the board of commissioners. furthermore, the factor that can affect company value is tax planning. according to fransisca tessya (2021) tax planning is a legal tax avoidance that individuals and corporate entities can do to minimize the obligation to pay taxes. this is a way to avoid taxes which certainly does not violate the rules that the government has made regarding taxpayer regulations in the country of indonesia. literature review and hypotheses development managerial ownership (x1) tambalean et al (2018) argue that managerial ownership is a situation where management has shares in the company. so it can be interpreted that shareholders, as well as management, can decide company decisions. a manager's dual role is as a shareholder and manager in the company (mentari & idayati, 2021). managerial ownership is implemented with the aim of monitoring the behavior of managers in managing the company. managerial ownership can be measured by comparing the percentage of shares owned (sugiarto, 2011). the instrument used as a measurement of this variable is as follows: managerial ownership =(number of shares owned by management)/(number of outstanding shares) managerial ownership = 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒𝑠 𝑜𝑤𝑛𝑒𝑑 𝑏𝑦 𝑚𝑎𝑛𝑎𝑔𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡 number of outstanding shares heni, a., khannifah, r., rizki, p,n,b., rizki, a,e., mohammad rijal, i,z. implementation of good corporate governance and tax planning on company value 78 ownership institutional (x2) institutional ownership is share ownership by institutional parties whose ownership is by other companies or institutions (sriwahyuni, 2016). the existence of institutional ownership can encourage more effective supervision, because institutions are considered as parties who have the ability to evaluate company performance (franita, 2016). institutional ownership can be formulated as follows (sugiarto, 2011): institutional ownership = institutional ownership number of outstanding shares board of commissioners independent (x3) the independent board of commissioners according to wardhani et al (2021) are parties who act as governance organs that function as operational supervision according to company goals. independent commissioners are organs that oversee the running of a company so as not to cause agency conflicts between the principal and the agent. an effective board of commissioners can improve management performance standards in the company which has a positive impact on firm value. in calculating the board of commissioners according to pohan & dwimulyani (2017) using the ratio of the number of independent commissioners to the total board of commissioners owned by the company. the formula instrument of the independent board of commissioners put forward by sugiarto is as follows (2011): independent board of commissioners = independent board of commissioners total board of commissioners audit committee (x4) the audit committee is an internal auditor formed by the board of commissioners to process a financial report in the company, with high integrity without taking sides with anyone. in this case, the audit committee is tasked with monitoring and evaluating the planning and implementation of the company's internal control. the audit committee is measured by a dummy variable where the value 1 for companies that have an audit committee of more than 3 people and a value 0 for companies that have an audit committee of less than 3 people (rahmawati, 2016). the formula instrument of the audit committee is (sugiarto, 2011): committee = total audit committee tax planning (x5) tax planning according to tarihoran (2017) is a process of controlling actions to avoid paying unwanted taxes. which is often referred to as tax planning which is a legal action which basically reduces tax debt to the state. tax planning is measured by the following indicators (mardiasmo, 2018): effective tax rate (etr) = tax burden profit before tax dependent variable (y) the dependent variable (y), in this study, is the company value using the price to book value (pbv) measurement. company value according to lestari (2017) is the price that prospective buyers are willing to pay if the company is sold. company value can also be said to be investors' perceptions of the success rate of a company. in maximizing the value of the business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 79 company can be done by prospering all shareholders. according to putra, (2016) company value can also be used as an indicator to see whether or not a company is worthy of being an investment place. the instrument in measuring company value uses price to bookvalue, namely the following formula (robert, 1997): pbv = valueet share price number of outstanding shares research methodology this study uses quantitative methods, with secondary data derived from the annual financial statements (annual report) of manufacturing companies engaged in the food and beverage sector for the 2017-2020 period listed on the indonesia stock exchange (idx). the population in this study consisted of 26 companies that had qualifications in accordance with those determined by the researcher based on the needs of this study. the sample in this study was determined using purposive sampling method and found the number of research objects, namely 11 companies. result and discussion classical assumption test based on the results of the kolmogorv-smirnov normality test, the value is 0.123 with a significant level of 0.200 which> 0.05 means that the residual value is normally distributed. the multicolonierity test shows that the vif value on all independent variables used in this study has a vif value < 10 and a tolerance value of not less than 0.10. meaning that there are no multicolonierity symptoms. the results of the heteroscedasticity test when measured using a scatterplot are spread out and do not form a certain pattern. autocorrelation test based on durbin watson test obtained d-w value of 1.982. in accordance with the calculation of the decision table du < dw < 4 du (1,777 < 1,982 < 2,223), it can be concluded that there is no autocorrelation between variables, so that further tests can be carried out. multiple linear regression test based on multiple linear regression analysis, it can be seen that the constant for the multiple linear regression equation in this study is 4.520 with a variable coefficient value of managerial ownership (x1) of 3.173, institutional ownership (x2) of 2.462, independent board of commissioners (x3) of -3.123, audit committee (x5) of -0.005 and tax planning (x6) of 2.050. hypothesis test in this study, the hypothesis test consists of 3, namely: simultaneous significant test (f test), individual parameter test (t test) and determination coefficient test (r2). hypothesis discussion managerial ownership on firm value signaling theory says that managerial ownership provides a heni, a., khannifah, r., rizki, p,n,b., rizki, a,e., mohammad rijal, i,z. implementation of good corporate governance and tax planning on company value 80 positive signal to investors. based on the results of the hypothesis test, it is known that the t-test is 5,452 with a significant value of 0.020 with a beta value of 3.173 which shows an error rate smaller than 0.050. the results of this study pt icbp in 2017-2020 has a managerial ownership level of 0.66% with a company value of 4.12% in 2019 and in 2020 of 5.37% where the company value has increased in the study year. pt dlta and pt sklt have a managerial ownership value of 0.58% in 2017-2020, pt dlta with a company value of 3.43% in 2019 and in 2020 it increased to 14.26% which shows that managerial ownership has a positive influence on firm value. this means that the higher the proportion of managerial ownership, the higher the company value. this can happen because in accordance with the data that has been obtained that managerial ownership increases every year. this condition can state that the higher the managerial ownership can reflect that the decision of the share owner is very influential in company activities which can increase company value. this also still applies during the covid 19 pandemic. the managerial role really determines the level of business continuity with firm value as an indicator. institutional ownership on firm value based on the results of the hypothesis test, it is known that the t-test is 4,316 with a significant value of 0.018 with a beta value of 2.464, this shows that the error rate is smaller than 0.050. this is supported by the agency theory of jensen and mackling (1976) which states that the role of institutional ownership is one of the determinants in minimizing conflicts between managers and shareholders. the existence of institutional investors is able to become a very effective monitoring mechanism in every decision made by managers, because institutional investors are involved in the strategy so that they do not easily believe in earnings manipulation. institutional ownership is a reliable mechanism that can be used professionally to monitor investment developments, so that the level of control over management actions is very high and accurate. at the time of covid 19 investors were the main determinant in the continuity of a business, so the role of institutional ownership was very large in determining the amount of company value. the results of this study pt mlbi in 2017-2020 has an institutional ownership level of 0.82% with a firm value of 27.6% in 2019 and increased to 28.5% in 2020 which shows that institutional ownership has a positive influence on firm value. pt dlta has an institutional ownership value of 0.26% in 2017-2020 with a company value of 3.43% in 2019 and a company value of 5.26%, indicating that institutional ownership has a positive influence on firm value. independent board of commissioners on firm value based on the results of the hypothesis test, it is known that the t-test is -3,340 with a significant value of 0.005 with a beta value of -3.123, this business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 81 shows that the error rate is smaller than 0.05. this shows that the board of commissioner variable has a negative and significant effect on firm value. the more ownership of the independent board of commissioners, the more opinions the company will receive, so it will make it difficult for the company to determine whose opinion to use. the number of independent board members can cause many opinions that are difficult to coordinate and will experience difficulties in communicating between members and the independent board of commissioners is not optimal in carrying out the monitoring function, so this can give a negative signal to investors, this will trigger a decrease in stock interest in a company. the size or small proportion of the independent board of commissioners in a company is not a guarantee that the company's performance will be better and does not guarantee that it can increase company value. the results of this study pt indf in 2017-2020 has a board of commissioner value of 0.75% with a company value of 1.42% in 2017 and in 2018 of 1.31%. furthermore, pt psdn has a board of commissioner value of 1.00% in 2017-2020 with a company value of 4.89% in 2018, in 2019 it was 3.67%, which shows that the high level of the board of commissioners has a negative effect on firm value. audit committee on firm value based on the results of the hypothesis test, it is known that the t-test is -0.016 with a significant value of 0.896 with a beta value of -0.005, this shows that the error rate is greater than 0.05. this shows that the audit committee variable has no effect on firm value. the results in this study pt aisa in 2017-2018 had an audit committee of 4 people with a company value of 1.15% and in 2019-2020 the audit committee decreased to 3 people with a company value of 3.26%. so that the number or number of audit committees has no effect on company value. maximizing the role of the audit committee in the object of this study is still lacking. so it is possible that the presence or absence of an audit committee cannot affect firm value. this is because the audit committee is carried out by the company's internal parties. so that their focus will be different, the audit committee will focus only on solving a problem with the company and not focusing on increasing company value. in line with wulandari (2011) opinion, the main function of the audit committee is to assess internal control, ensure the quality of financial reports, and improve audit effectiveness. this is also in line with the results of rohmah's research (2019) which shows that the number of audit committees has no effect on increasing company value. tax planning on firm value based on the results of the hypothesis test, it is known that the t-test is 0.988 with a significant value of 0.325 with a beta value of 2.050, this shows that the error rate is greater than 0.05. heni, a., khannifah, r., rizki, p,n,b., rizki, a,e., mohammad rijal, i,z. implementation of good corporate governance and tax planning on company value 82 this shows that the tax planning variable has no effect on firm value. tax planning will signal to investors about company management who do tax planning. it can be interpreted that tax planning carried out by the company does not guarantee to increase company value. the high and low value of the company is not influenced by the high and low tax planning carried out by company management, with good tax planning activities it will appear that the company's tax payments are smaller than they should be. this will raise investor suspicion of the company and it will be considered not tax-compliant. so that the role of tax planning has no influence on firm value. the results of this study pt psdn in 2019 has a tax planning value of 6.93% and in 2020 it is 0.57% with a company value of 3.67% in 2019 and 4.56% in 2020. furthermore, pt dlta has a tax planning value of 2.55% in 2019 with a company value of 3.43% and in 2020 has a tax planning value of 0.25% with a company value of 14.26% which shows that the high and low level of tax planning has no effect on company value. in line with sari & irawati's research (2022) which states that tax planning has no effect on firm value. conclusion based on the research that has been done, the following conclusions can be drawn. managerial ownership, institutional ownership has a positive effect on the value of manufacturing companies in the food and beverage subsector listed on the indonesia stock exchange (idx) in 2017-2020. this can be interpreted that the higher the managerial ownership, the better the supervision in the company which can increase the value of the company. in addition, the existence of institutional ownership in the company can increase the monitoring carried out by the company so that the company's performance can be more effective so that mistakes do not occur that can harm the company which can have an impact on increasing company value. the board of commissioners has a negative effect on firm value in food and beverage sub-sector manufacturing companies listed on the indonesia stock exchange (idx) in 2017-2020 because the large or small number of members of the board of commissioners does not guarantee that the performance in a company will be good. in addition, the audit committee and tax planning have no effect on firm value in food and beverage sub-sector manufacturing companies listed on the indonesia stock exchange (idx) in 2017-2020. committee members in the company only monitor financial reports so that the audit committee has no effect on increasing company value, and tax planning carried out by the company does not guarantee that the company can increase company value. references franita, r. (2016). pengaruh kepemilikan institusional, kepemilikan managerialdan ukuran perusahaan business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 83 terhadap nilai perusahaan. jurnal mediasi: manajemen, ekonomi, pendidikan dan akuntansi, 5(2), 72– 89. http://digilib.unimed.ac.id/21811/ jensen, michael c., and william h. meckling."theory of the firm: managerial behavior, agency costs and ownership structure." journal of financial economics 3.4 (1976): 305360. lestari, l. (2017). pengaruh kepemilikan institusional dan struktur modal terhadap nilai perusahaan. jurnal riset manajemen dan bisnis(jrmb)fakultasekonomi uniat,2(september),293306.https://doi.org/10.36226/jrmb.v2i s1.62 mentari, b., & idayati, f. (2021). pengaruh kepemilikan manajerial, profitabilitas, dan kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan. jurnal ilmu dan riset putra., adhitya agri. (2016). pengaruh good corporate governance terhadap nilai perusahaan. gospodarka materiałowa i logistyka, 26(4), 185–197. rahmawati, lely f. (2016). pengaruh penerapan tata kelola terhadap nilai perusahaan. 6(july), 1–23. rohmah, i. m. (2019). struktur kepemilikan, komite audit, dan karakteristik perusahaan terhadap nilai perusahaan (studi pada sektor agriculture yang listing di bei periode 2013-2017). 7. sriwahyuni, u., & sp, w. (2016). pengaruh profitabilitas, leverage, kepemilikaninstitusional, dan investment opportunity set terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai variabel intervening padaperusahaan manufaktur yang terdaftar di bei periode 2010-2014. jurnal manajemen bisnis, 7(1), 84– 109. https://doi.org/10.18196/mb tambalean, f. a. k., manossoh, h., & runtu, t. (2018). 21255-43289-1 sm.13(4), 465–473. tarihoran, a. (2017). pengaruh penghindaran pajak dan leverage moderasi.jwem stie mikroskil, 6(2), 149–164. wardhani, w. k., titisari, k. h., & suhendro, s. (2021). pengaruh profitabilitas, struktur modal, ukuran perusahaan, dan good corporate governance terhadap nilai perusahaan. ekonomis: journal of economics and business, 5(1), 37. https://doi.org/10.33087/ekonomis.v5i 1.264 yuono, c. a. s., & widyawati, d. (2016). pengaruh perencanaan pajak dan corporate governance terhadap nilai perusahaan. jurnal ilmu dan riset akuntansi,5(6),119.http://ejournal.upi.edu/index.php/j rak/article/view/7708technology (5th ed.). new jersey: prentice hall. http://digilib.unimed.ac.id/21811/ https://doi.org/10.18196/mb https://doi.org/10.33087/ekonomis.v5i1.264 https://doi.org/10.33087/ekonomis.v5i1.264 01 reno.pmd siti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 195 the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village siti mujanah, sumiati, candraningrat*, annisa kaffi, chilmaniya baril haq universitas 17 agustus 1945 surabaya 1,2,4,5 universitas dinamika 3 e-mail: sitimujanah@untag-sby.ac.id, sumiati@untag-sby.ac.id, candra@dinamika.ac.id*, annisakaffi06@gmail.com, chilmaniya@gmail.com abstract: the tourism village is a government program that aims to reduce poverty in the commu nity around the tourist village. sustainable tourism development can be realised by developing tourist destinations from the smallest unit, the village level because most tourist activities are there. this is the background of research on the influence of tourist village services on tourist satisfaction in tourist villages in east java. this study uses quantitative methods to determine the potential for tourist satisfaction with the shopping experience in tourist villages in east java. researchers analysed tourist satisfaction through questionnaires or questionnaires distributed to respondents who had experience visiting tourist villages in east java. the conceptual framework was developed to ex plain and understand tourist satisfaction with the tourist village experience in east java. tourists most likely do bargaining to buy an item they want, and getting a low and reasonable price is an exceptional satisfaction for tourists in shopping. nevertheless, the results of the analysis that have been obtained show that tourists prefer to visit tourist villages to enjoy a quieter rural atmosphere. keywords: enthusiasm level, shopping motivation, experience, tourist satisfaction, tourism village a. introduction efforts to increase msme sales (karimah et al. 2021; mujanah and pristiana 2021; mujanah and yustini 2022). shopping is an activity to meet the needs in one’s life, but many people do shopping not only that but also to relieve stress and boredom and are just interested in the promos on offer. shopping is currently not only done in urban areas. how ever, it is also a tourist activity in rural areas because many people have developed villages as an economic source for the local community. one of them is by developing the village’s potential as an opportunity to become a tourist village. that way, the community in the village can develop tourism based on the potential that exists in the village, the community can partici pate in selling typical souvenirs to tourists vis iting the tourist village, and for that, it must be appropriately managed, and this can be done by providing management assistance. shopping tourism villages are a growing phenomenon in many destinations and can be an essential tool for regional development (govers, jansen-verbeke, and go 2000). for example, identifying tourism/recreational shop ping is not only one, but is often the best development alternative for declining rural ar eas. shopping can be identified into four at tribute dimensions, namely tangibles quality, staff service quality, product value, and product reli ability that affect tourist satisfaction in shop ping (heung and cheng 2000). the development of tourist villages must be interesting to visit so that it can be achieved following what is expected, among others, by providing satisfaction to visitors, and this will be an essential key in increasing the number of visits, tourists, both for the first time and tour ists who make repeat visits (mujanah, 2015). tourist satisfaction can also lead to visitor loy alty, increasing economic added value for the 195 mailto:sitimujanah@untag-sby.ac.id mailto:sumiati@untag-sby.ac.id mailto:candra@dinamika.ac.id* mailto:annisakaffi06@gmail.com mailto:chilmaniya@gmail.com business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 196 local community and surrounding areas (siregar 2021). increasing visitor satisfaction at tourist attractions can be developed continuously because growing visitor satisfaction can potentially increase product selling power and longterm market share. tourist satisfaction can also facilitate local msmes’ promotional products and services. visitors in the tourism village generally enjoy the beautiful facilities provided by the tourist village manager; however, it is not uncommon that visitors also hope to get a shopping experience for whatever is available and sold at tourist attractions; the shopping experience is a mixture of product perceptions, services and place. thus, the services and merchandise retailers and vendors provide are essential to the destination experience (tosun 2007). an unforgettable experience while in a tourist village attracts visitors because it offers a variety of entertainment and sights to enjoy in one place ((kiran and jhamb 2011). visitors who come from various regions will get the experience of enjoying tourist attractions and shopping for souvenirs and culinary. this is like the results of research, which state that the online shopping experience has a significant effect on customer satisfaction; the better the online shopping experience that customer get, the more customer satisfaction will increase (theresia and wardana 2019). likewise, shopping in tourist villages will increase the satisfaction of tourist village visitors. shopping in an attractive and diverse environment can create a free shopping experience. tourist shopping habitat (tsh) assumes that shopping locations in tourist attractions will lead to various utilitarian activities (yu and 2007). the qualities of a shopping environment that are attractive to tourists include the diversity and uniqueness of products; a variety of high-quality shops. supporting facilities such as restaurants, pubs and entertainment facilities, good pedestrian access and parking facilities, and a multi-functional environment ensures the place feels alive (jansen and verbeke 1998). the results show that tourists desire to talk to salespeople, spend more time browsing and exploring products, and spend more money than initially planned. in addition, if the shopping area is clean, it can attract customers and compete. with other sellers because tourists believe that shopping areas can provide a pleasant shopping experience and added value, and are more likely to return (yu and 2007). other studies have identified the importance of product selection and in-store atmosphere as influences on tourists’ emotions and behaviour related to shopping (evanschitzky et al. 2003). the provision of tourist facilities can be in the form of attractive facilities that visitors can enjoy, culinary offerings, and other products that visitors can purchase because visitors come not only to see and enjoy tourist attractions but also to shop. shopping is a behavioural impulse that makes consumers satisfy their internal needs (jin and kim 2003). often this shopping motivation is called the term hedonic shopping, which is related to the pleasure and enjoyment obtained from the experience of shopping and getting a feeling of joy (lee, noh, and kim 2013). hedonic shopping motivation is an appropriate motivation to describe shoppers because it is intrinsic. thus, hedonic shopping motivation is a human urge to shop based on emotional responses, enjoyment, desires and aesthetic considerations. the results of other studies suggest that the importance of different or varied motivations is related to the level of involvement of a shopper’s product and a parsiti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 197 that time. shopping is also defined as an activity of selecting and buying. according to kotler and keller (adi, 2015), the level of enthusiasm for shopping states that consumer buying interest is a consumer behaviour where consumers desire to choose, use, and consume or even want a product offered. the indicator of the level of shopping enthusiasm is shopping opportunity frequency of shopping time, frequency of shopping activities. 2. motivation to visit tourist village according to setiadi (2003), motivation encourages consumers to buy products because of the product’s functional benefits and objective characteristics and is also called rational motive. suryabrata (2010: 70) also argues that motive is a condition in a person’s personality that encourages individuals to carry out certain activities to achieve a goal. in other words, motivation is a state of mind and mental attitude that provides energy and encourages humans to carry out an activity. according to pitana and gayatri (2005:59), a person’s travel motivation is influenced by two factors, namely the tourist’s internal factor (intrinsic motivation) and external factors (extrinsic motivation). according to maslow’s hierarchy of needs theory, intrinsic motivation is formed from humans, namely physiological, security, social, prestige, and self-actualization. furthermore, for extrinsic needs, the motivation formed is influenced by two external factors, such as social norms. family influences, pressures, and work situations are internalised and develop into psychological needs. according to (pitana and gayatri 2005:58), motivation is primary in studying tourists and tourism because motivation triggers the travel ticular shopping situation (arnold and reynolds 2003). in this study, shopping motivation is aimed at tourists who shop in tourist villages in east java which will be associated with tourist satisfaction. this result is also shown by another study which states that experimental shopping motivation has a significant effect on customer satisfaction and loyalty (arnold and reynolds, 2003). the results showed that the level of shopping involvement was identified into three buyer segments: shopping enthusiasts, regular shoppers, and shopaholics [9]. consistent with the results of other studies on shopping involvement and motivation (evanschitzky et al., 2003). tourist visitors vary according to the level of involvement of the shopper and the particular shopping situation (evanschitzky et al. 2003). other studies have also revealed that recreational shoppers vary in their identification with shopping, and at the highest levels of intensity may use shopping as a form of self-definition. 1. shopping enthusiasm enthusiasm is strong enthusiasm for one cause or subject, a fiery passion or interest (sucipto ajisaka (2008)”. meanwhile, andrei wongso (2008) states that enthusiasm is a feeling of being thrilled to achieve something, which means when he has enthusiasm or enthusiasm in himself, he will be thrilled to achieve his dream. based on the above understanding, enthusiasm is excitement or burning enthusiasm that is interest in new things. in this case, it is shopping enthusiasm, and it can be said that if someone has shopping enthusiasm, then that person has the enthusiasm to buy something. according to wikipedia, shopping is the acquisition of goods or services from sellers to buy at business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 198 process. however, this motivation is not based on being full of tourists themselves. according to winardi (2000:137), motivation is related to the idea of movement. if we state it very simply, then a motive is something that encourages or moves us to behave in a certain way. a person’s decision to travel is influenced by the strength of the push and pull factors. the driving factors are generally socio-psychological or are person-specific motivations, while the pull factors are destination-specific attributes. internal motivation is a driving factor for a tourist, and the following motivation is external motivation which is a pull factor originating from the attributes of a destination. with the driving factor, someone wants to go on a tour, but it is unclear which area/country to visit. in this study, the motivation to visit a tourist village is aimed at tourists who visit villages in east java and will be associated with tourist satisfaction. this result is also shown by another study which states that experimental shopping motivation has a significant effect on customer satisfaction and loyalty (arnold and reynolds, 2003). indicators of motivation to visit the village are unique local experiences, holidays, entertainment, and comfort in a rural atmosphere. 3. shopping experience elements of importance of shopping experience according to (liang and huang, 1998). experience is considered necessary in shaping customer perceptions of online retailers’ expectations. it has been stated that customers who shop continuously have a high rate of continuing to shop. the shopping experience is a mixture of product perceptions, services and place. visitors in the tourism village generally enjoy the beautiful facilities provided by the tourist village manager. however, visitors do not often hope to get a shopping experience for whatever is available and sold at tourist attractions. thus, the services and merchandise retailers and vendors provide are an essential part of the destination experience (tosun 2007). an unforgettable experience while in a tourist village attracts visitors because it offers a variety of entertainment and sights to enjoy in one place ((kiran and jhamb 2011). visitors who come from various regions will get the experience of enjoying tourist attractions and shopping for souvenirs and culinary. this is like the research results, which state that the online shopping experience has a significant effect on customer satisfaction. the better the online shopping experience customers get, customer satisfaction will increase (theresia and wardana 2019). likewise, shopping in tourist villages will increase the satisfaction of tourist village visitors. the indicators of the importance shopping experience element are the store attributes, the store attributes, the existence of good shopping services, and the existence of products typical of the village. 4. tourist satisfaction according to kotler & armstrong (2012), purchasing is a decision in purchasing what to buy, when to buy, how to buy it and where to buy it. in this study, tourist satisfaction can also be referred to as customer satisfaction, which is the satisfaction of customers with the products or services they get from manufacturers. in other words, customer satisfaction is closely related to whether or not customers are happy with our products and services. according to siregar (2021), tourist satisfaction can also lead to visitor loyalty, increassiti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 199 ing economic added value for the local community and surrounding areas. increasing visitor satisfaction at tourist attractions can be developed continuously because growing visitor satisfaction can potentially increase product selling power and long-term market share. tourist satisfaction can also facilitate local msmes’ promotional products and services. customer satisfaction indicators are spending free time, comfort, attractive destinations and as expected. 5. conceptual framework and hypotheses based on the literature on shopping in tourist villages, a conceptual framework was developed to explain and understand tourist satisfaction and its relationship to shopping enthusiasm, motivation, and shopping experience in east java. the framework presented in figure 1. h3: the level of enthusiasm for shopping has a significant effect on the satisfaction of visitors to tourist villages in east java h4: motivation significantly affects tourism satisfaction in tourist villages in east java. h5: shopping experience in tourist villages significantly affects tourist satisfaction in tourist villages in east java. b. research methods the approach used in this study is a quantitative approach with data collection techniques through a survey with a questionnaire instrument given to the respondents. while the population in this study was all people of east java who had visited the tourist village, the sample was taken from as many as 240 people who had visited the village in the malang, ponorogo, banyuwangi, and gresik areas. the location of the tourist village is taken purposively by choosing an area with a tourist village. meanwhile, respondents are limited, namely, those who have visited tourist villages and those who are 20–50 years old, considering that this age range is expected to be able to answer questions or questionnaires correctly. this study uses primary data sources from a survey with a questionnaire instrument designed using a likely rating scale of 1–5 with answers from strongly agree to disagree strongly. then the data is processed using the pls-sem analysis tool because pls-sem is expected to be able to explain the effect on the types of reflective and formative indicators in a sample size that is not too large. the variables in this study can be defined conceptually and operationally as follows: 1. shopping enthusiasm level is enthusiasm level states that consumer buying interest is a figure 1 conceptual framework based on the conceptual framework above, the hypothesis in this study is formulated as follows: h1: the level of enthusiasm for shopping has a significant effect on motivation to visit tourist villages in east java h2: the level of enthusiasm for shopping has a significant effect on the shopping experience of tourist villages in east java business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 200 satisfaction in visiting tourist villages in east java, significantly whether shopping enthusiasm, shopping motivation and shopping experience can affect their satisfaction in visiting tourist villages, that way it can be considered in the development of tourist villages in the east java area. before the analysis, the characteristics of the respondents involved in this study are described. table 1 characteristics of respondents by gender consumer behaviour where consumers have a desire to choose, use, and consume or even want a product offered (kotler and keller 20150), and the indicators of enthusiasm level shopping are as follows: (1) shopping opportunity (2) frequency of shopping time (3) frequency of shopping activities 2. according to suryabrata (2010), motivation is a condition in a person’s personality that encourages individuals to carry out certain activities to achieve a goal. in other words, motivation is a state of mind and mental attitude that provides energy and encourages humans to carry out an activity. and the indicators of motivation were (1) unique local experience; (2) holiday; (3) entertainment; and (4) rural atmosphere 3. shopping experience (liang and huang, 1998). experience is considered necessary in shaping customer perceptions of online retailers’ expectations. stated that it has found customers who shop continuously have a high rate of continuing to shoppe. moreover, the indicators of these variables were (1) shope attributes, (2) shopping services, and (3) distinctive products. 4. customer satisfaction (kotler & armstrong 2012) define purchasing decision as a decision in purchasing what to buy, when to buy, by how to buy it and where to buy it. furthermore, the indicators of costumer satisfaction were (1) spending free time, (2) an interesting destination, (3) according to expectations. c. results and discussion this research was conducted at tourist village locations in east java to obtain information about what factors can affect people’s gender amount frequency man 108 45% woman 132 55% total 240 100% table 1 shows that the number of respondents in this study was 240 people who had visited tourist villages in east java, of which there were 108 (one hundred and eight) or 45% men and 55% women. this indicates that women travel more in tourist villages than men. if you look at the age of the respondents, it turns out that the most visiting tourist villages are those who are between 26–35 years old, which is around 36%, while the second most are 15–25 years old, and the least is over 51 years old. this indicates that people who like to visit tourist villages in east java are relatively young and under 50 years old. it is possible that visiting tourist villages can be used to refresh and enjoy the potential that exists in the visited villages. table 2 characteristics of respondents by age age range amount frequency 15–25 years 56 23.33% 26–35 years 87 36.25% 36–40 years 48 20.00 % 41–50 years 31 12.92% over 51 years 18 7.50% total 240 100.00% siti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 201 d. data analysis 1. validity and reliability test the validity test was used to measure the validity of an instrument or the questionnaire used in the study. the results showed that the validity test showed numbers above 0.30 and significant at the 0.05 level, so it can be said to be valid. in comparison, the instrument’s reliability can be seen in the cronbach’s alpha value which shows a number greater than 0.70, as well as the analysis results of all variables showing a number above 0.70 so that all variables are declared reliable. 2. pls (partial least square) analysis data analysis in this study was carried out using pls (partial least square) to analyse the effect of exogenous and endogenous variables. the pls process in this study went through stages. 1) evaluation of the measurement model (outer model). to measure the validity and reliability of the indicators in this study, the evaluation of the measurement model (outer model), namely convergent validity, discriminant validity, composite reliability and cronbach alpha. furthermore, the analysis of the structural model (inner model) and hypothesis testing were carried out. a. outer model analysis convergent validity. this evaluation is done by testing the outer loading coefficient of each indicator on the latent variable. an indicator is valid if the outer loading coefficient is between 0.60–0.70 (lathan and ghozali, 2012) and is significant at the alpha level of 0.05 or tstatistical 1.96. the results of the calculation of outer loading and path analysis, and bootstrap can be seen more clearly in figure 2. figure 2 outer loading and path analysis business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 202 1) convergent validity test the pls-sem validity test is obtained by testing the convergent validity of the loadings factor value, as seen in table 3. table 3 convergent validity test results 3) discriminant validity test the loadings factor test is used in this discriminant validity test. suppose the results of loadings between indicators and variables are greater than those of loadings between indicators and other variables. in that case, an indicator passes the requirements of the discriminant validity test, according to jogiyanto and riyadh (2020). the following are the results of the discriminant validity test. table 4 can be stated to meet the requirements that all indicators in the discriminant validity test are considered to have met the predetermined criteria. table 5 discriminant validity test results indicator x z1 z2 y information x1 0.837 valid x2 0.888 valid x3 0.701 valid z1.1 0.806 valid z1.2 0.875 valid z1.3 0.865 valid z1.4 0.820 valid z2.1 0.884 valid z2.2 0.875 valid z2.3 0.886 valid y1 0.735 valid y2 0.830 valid y3 0.877 valid y4 0.831 valid table 3 shows that all indicators can be declared to meet convergent validity, as seen from the combined-loadings and cross-loadings tests. because the value of each indicator shows a minimum value of 0.70, it can be said that the indicator meets the validity test. 2) average variance extracted (ave) test results table 4 shows that all indicators are declared to meet convergent validity. the analysis shows that the test results get an ave value for each variable, a value less than 0.50, and then the variable is declared valid. table 4 test results average variance extracted (ave) variable ave value provision information enthusiasm 0.660 >0.50 valid motivation 0.709 valid experience 0.777 valid satisfaction 0.672 valid variable x z1 z2 y information x1 0.837 0.551 0.503 0.551 fulfilled x2 0.888 0.539 0.488 0.412 fulfilled x3 0.701 0.409 0.340 0.291 fulfilled z1.1 0.501 0.806 0.635 0.497 fulfilled z1.2 0.548 0.875 0.725 0.605 fulfilled z1.3 0.522 0.865 0.639 0.544 fulfilled z1.4 0.521 0.820 0.653 0.720 fulfilled z2.1 0.506 0.701 0.884 0.686 fulfilled z2.2 0.446 0.696 0.875 0.608 fulfilled z2.3 0.515 0.690 0.886 0.602 fulfilled y1 0.483 0.500 0.499 0.735 fulfilled y2 0.407 0.586 0.584 0.830 fulfilled y3 0.449 0.642 0.623 0.877 fulfilled y4 0.413 0.597 0.641 0.831 fulfilled 4) composite reliability test and cronbach’s alpha the reliability of each indicator that forms the latent variable can be seen from the composite reliability test and cronbach’s alpha value. table 7 shows that indicators that make up the table 6 composite reliability test results and cronbach’s alpha variable cronbach's alpha value composite reliability value provision information enthusiasm 0.743 0.852 minimum 0.70 reliable motivation 0.863 0.907 reliable experience 0.857 0.913 reliable satisfaction 0.836 0.891 reliable siti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 203 latent variable in this study have been declared reliable because the test results show the number 0.70 and above. b. inner model analysis inner model is a measurement tool to assess the model’s accuracy level in the research, which is formed through several variables and their indicators. this measurement is carried out through the fit and path coefficient model test, r-square (r2), path analysis and hypothesis testing. 1) structural model test through r-square (r2) structural model testing through r-square (r2) shows the strength of the influence of the dependent variable on the independent variable and the strength of the research model. according to chin (lathan and ghozali, 2012), the rsquare (r2) value of 0.67 is classified as vital, while the value of 0.33 is the moderate model, and the value of 0.19 is the weak model. table 7 r2 test results result of r2 is caused by other variables, such as the level of enthusiasm for leisure shopping. 2) test model fit and path coefficient the model is said to meet the model fit criteria if the smsr value must be less than 0.05 (cangur and ercan, 2015). however, based on the explanation from the smart pls website, the limitations or criteria for the fit model include rms theta value or root mean square theta < 0.102, srmr or standardized root mean square < 0.10 or < 0.08 and nfi value > 0.9. table 8 test results of fit model and path coefficient variable r2 shopping motivation (z1) 0.387 essential elements of shopping experience (z2) 0.309 satisfaction (y) 0.578 table 7 shows that the motivational variable and the element of interest in the shopping experience can influence the satisfaction variable by 57.8%. other variables influence the remaining 42.2% of the test results. the variable of shopping motivation and elements of the importance of the shopping experience can affect satisfaction by 69.6%, and other variables can affect satisfaction by 30.1%. the small index score provision information srmr 0.073 <0.08 fit rms theta 0.206 <0.12 fit table 6 shows that the srmr value shows a numbers of 0.073 or <0.102 so that it can be said to meet the fit criteria. while the rms theta (root mean square theta) value of 0.206 indicates a number > 0.10, based on the two assessments, the model has met the model fit criteria. 3) hypothesis test hypothesis testing is carried out using plssem, which aims to test the influence between variables formulated in the hypothesis through the path coefficient value and the level of significance (p-values). the terms of the significance level in this study are 5% or 0.05 %, so if the p-value is 0.05, then the hypothesis is accepted. on the other hand, if the p-value is more significant than 0.05, the hypothesis is rejected. in addition, figure 2 shows the model business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 204 structure of the results of this study, while the results of hypothesis testing can be seen in table 9. the results of hypothesis testing, as can be seen in table 9 that shows significant value. e. discussion the level of enthusiasm for spending on tourist village visitors has a significant effect on shopping motivation in tourist villages in east java, with a p-value of 0.000 or less than 0.05, and supported by a t-statistical value of 10.531 or more significant than 1,96; this shows that the hypothesis which states that the level of enthusiasm of visitors has a significant effect on shopping motivation tourist villages in east java is accepted. the results of this study support the research by arnold and reynolds (2003), suggesting that the importance of different motivations may vary concerning the level of product involvement of the shopper and the particular shopping situation. figure 3 hypothesis testing in ls-sem table 9 p-value (bootstrapping) results original sample (o) sample mean (m) standard deviation (stdev) t statistics (|o/stdev|) p values information shopping enthusiasm level (x)!visitor motivation (z1) 0.622 0.625 0.059 10,531 0.000 significant enthusiasm level (x)!shopping experience (z2) 0.556 0.557 0.064 8.753 0.000 significant shopping enthusiasm level (x)!satisfaction (y) 0.102 0.100 0.069 1,470 0.142 not significant visitor motivation (z1)!satisfaction (y) 0.333 0.336 0.091 3,655 0.000 significant shopping experience elements (z2)!satisfaction (y) 0.399 0.396 0.092 4.342 0.000 significant siti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 205 the level of shopping enthusiasm of tourist village visitors has a significant effect on the shopping experience in tourist villages in east java, with a p-value of 0.000 or less than 0.05, and supported by a t-statistical value of 8.753 or more significant than 1,96, and this indicates that the hypothesis which states that the level of enthusiasm of visitors has a significant effect on the shopping experience in tourist villages in east java is accepted. the results of this study support the results of research by tosun et al. (2007), which states that the shopping experience is a mixture of perceptions of products, services and places. as such, the services and merchandise provided by retailers and vendors are an essential part of the destination experience. the level of enthusiasm for spending on tourist village visitors has no significant effect on the satisfaction of tourist village visitors in east java, with a p-value of 0.142 or greater than 0.05, and is supported by a t-statistical value of 1.470 or less than 1,96; this indicates that the hypothesis which states that the level of visitor enthusiasm has a significant effect on the shopping experience in east java tourist villages is rejected. this means that the results of this study do not support the research results of heung and cheng (2000), who identified four dimensions of shopping attributes; tangibles quality, staff service quality, product value and product reliability that affects tourist satisfaction in shopping in hong kong. the shopping motivation of tourist village visitors has a significant effect on the satisfaction of tourist village visitors in east java, with a p-value of 0.000 or less than 0.05 and supported by a t-statistical value of 3,655 or greater than 1.96; this shows that the hypothesis which states that the level of visitor enthusiasm has a significant effect on the shopping experience in east java tourist villages is accepted. for this reason, it can be said that the results of this study support the results of his research hülya bakýrtaþ, sevilay uslu divanoðlu (2013), which states that shopping motivation affects customer satisfaction and loyalty. the shopping experience of tourist village visitors has a significant effect on the satisfaction of tourist village visitors in east java, with a p-value of 0.000 or less than 0.05 and supported by a t-statistical value of 4,342 or greater than 1.96, and this shows that the hypothesis which states that the level of visitor enthusiasm has a significant effect on the shopping experience in east java tourist villages is accepted. the results of this study support his research ni made maya devi theresia dan i made wardana (2019) serta a. yu and ksel (2007) which state that the shopping experience can lead to consumer satisfaction. this shows that a person’s experience in shopping will cause someone to make repeat purchases and make their satisfaction in doing it again. the results of hypothesis testing in this study also show that the variable that most influences the satisfaction of tourist visitors is the shopping experience, as seen from the highest original sample (o) value of 0.399. this shows that the shopping experience element variable influences the satisfaction variable most. this means that the development of tourist villages should pay attention to attractive products that visitors can purchase. therefore the development of tourist villages is significantly accompanied by various sme products such as culinary, souvenirs, and gift shops that visitors can purchase. this is as stated by tosun et al. (2007) that the experience of shopping is a factor that shapes the feelings and attitudes of tourists towards visiting and business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 206 spending time at a destination. as an essential component of travel, the shopping experience is a mixture of perceptions of products, services and places. the services and merchandise retailers and vendors provide are essential to the destination experience. f. conclusion and implication tourists in shopping. the results of this study indicate that shopping enthusiasm significantly affects motivation and the shopping experience. however, shopping enthusiasm has no significant effect on visitor satisfaction in tourist villages in east java. in addition, shopping motivation and experience significantly affect visitor satisfaction in tourist villages in east java. the results showed that the satisfaction of tourist village visitors in east java was dominated by shopping enthusiasm. thus the implication of this research can be said that the development of tourist villages in east java can be done by motivating the community to visit by providing various products and culinary delights to be enjoyed by tourists. g. reference a. yu & ksel. (2007). “tourist shopping habitat: effects on emotions, shopping value and behaviours,” tourism management, vol. 28, pp. 58–69. ajisaka, sucipto. (2008). antusiasme, rahasia keberhasilan yang jarang dikenal. artikel. internet. b.jin & jo kim (2003). “a typology of korean discount shoppers: shopping motives, store attributes, and outcomes,” international journal of service industry management, vol. 14, no. 3–4, pp. 396–419. h. evanschitzky, o. emrich, v. sangtani, al ackfeldt, ke reynolds, & mj. arnold. (2003). “hedonic shopping motivations in collectivistic and individualistic consumer cultures.” international journal of research in marketing, vol. 31, no. 3, pp. 335–338. hülya bakýrtaþ & sevilay uslu divanoðlu. (2013). “the effect of hedonic shopping motivation on consumer satisfaction and consumer loyalty”. international journal of asian social science, vol. 3(7) pp. 1522– 1534. jansen & verbeke (2022). tourism planning and development in south asia google books. 1998. accessed: apr. 19. karimah, naisya nur & siti mujanah. (2021) “the influence of organizational culture, competence and self-awareness on performance of employees in the department of culture and tourism of east java province.” journal of applied management and business (jamb), 2.2, 67–77. kiran, ravi & jhamb, deepika. (2011). “a strategic framework for consumer preferences towards emerging retail formats.” journal of emerging knowledge on emerging markets, vol. 3, article 25. lena ellitan & anthonius richard. (2022). “the influence of online shopping experience, customer satisfaction and adjusted satisfaction on online repurchase intention to tokopedia consumers in surabaya. budapest international research and critics institute journal, 5/2. mj. arnold & ke reynolds. (2003). “hedonic shopping motivations.” journal of retailing, vol. 79, no. 2, pp. 77–95. mujanah, s. & yustini, r. (2022). pendampingan manajemen usaha dan ttg “omah kopi” dalam pengembangan wisata kampung siti mujanah, sumiati, candraningrat, annisa kaffi, chilmaniya baril haq, the effect of shopping enthusiasm, shopping motivation, and visiting experience on tourist satisfaction in east java tourism village 207 adat segunung wonosalam, jombang. jurnal abdi mas tpb, unram, 4(1), 68–74. r. govers, m. jansen-verbeke, & fm go. (2000). “virtual tourist destinations: assessing their communication effectiveness with and through foreign intermediaries.” information and communication technologies in tourism, pp. 93–103. s. mujanah & u. pristiana. (2021). “mapping of human resources to support the development of floral village tourism.” ekspektra: journal of business and management, vol. 5, no. 2, pp. 148–157, s. siregar. (2021). “the influence of promotion and customer satisfaction on customer loyalty (study at the micro unit of bank syariah mandiri medan pulo brayan).” journal of humanities: journal of social sciences, economics, and law, vol. 5, no. 1, pp. 130–141. s.-h. lee, s.-e. noh, & h.-w. kim. (2013). “a mixed methods approach to electronic word-of-mouth in the open-market context.” international journal of information management, vol. 33, pp. 687–696. siti mujanah, tri ratnawati, sri andayani, 2015. the strategy of tourism village development in the hinterland mount bromo, east java, journal of economics, business, & accountancy ventura, vol. 18/1, pp 81–90. tosun et al. (2027). experience’ shopping. vcs heung & e. cheng. (2000). “assessing tourists’ satisfaction with shopping in the hong kong special administrative region of china.” journal of travel research, vol. 38, no. 4, pp. 396–404. wongso, a. (2008). melatih antusiasme siswa terhadap prestasi. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 48 the influence of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable elma hariani1, lutfi2 1,2 universitas hayam wuruk perbanas, indonesia e-mail: 2019610857@students.perbanas.ac.id1, lutfi@perbanas.ac.id2 abstract: the study aims to identify the factors that influence agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data obtained from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial ownership and institutional ownership are inversely and significantly associated with agency costs. in introduction if an organization wants to progress or develop, it is required to have quality employees. quality employees are employees whose performance can meet the targets by the company. according to pangastuti, sukino, & efendi (2020), employee performance is one of the important elements that must be possessed to improve company performance. mondy & martocchio (2016: 187) states that performance is a process that significantly affects organizational success. in today's uncertain employment environment and global competition, where organizations are increasingly dependent on employee productivity, employee performance becomes very important for company management (piccoli et al, 2017). therefore, it is important to know what factors affect employee performance for a company.there are several factors that are predicted to affect employee performance, one of which is compensation. according to milkovich, newman, & gehart (2014: 6), compensation is all forms of financial returns, services, and benefits that workers receive as part of an employment relationship. the existence of proper and fair compensation for employees should be able to improve unfavorable attitudes and behavior and affect employee work productivity (rachmawati, 2008: 144). these changes in attitude and behavior are reflected in a sense of responsibility, loyalty to the company as well as increased motivation and work performance. grabara (2013) proves that good compensation management will affect employee performance. darma & supriyanto (2017) also prove that compensation can increase employee satisfaction and performance at pt telekomunikasi indonesia. a study on the effect of compensation on employee performance is very important to do because this topic is still rare in human resource research and gives inconclusive results (gupta & shaw, 2014). in addition, factors that are also predicted to affect employee performance are employment status or worker status. holtom, lee, & tidd, (2002) define employment status as the extent to which the company divides employees into full-time or part-time status, shifts, and number of hours. abstract: this study examines the effect of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable. research involved 64 employees of dhl express indonesia-surabaya branch. data collection used a questionnaire consisting of 37 questions which designed based on previously research and tested for the validity and reliability. the data analysis technique in this study used partial least squares (pls). the results showed that compensation had an effect on employee performance but not significantly. employment status had a direct and significant positive effect on employee performance. compensation had a direct and significant positive effect on work motivation. work motivation mediates the relationship between compentation on employee performance. keywords: compensation, employment status, work motivation, employee performance. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 49 ogunleye & osekita (2016) say that worker categorization can inspire workers to be more competitive, work harder, catch up, or even excel so that in the end it has a significant effect on work performance. al & anıl (2016) and cho & johanson (2008) prove that part-time employees perform better than full-time employees or permanent employees. meanwhile, lee & johnson (1991) did not find any difference in commitment and performance between parttime and full-time employees. in the context of service companies in indonesia, employment status can be grouped into employees with an indefinite work agreement (permanent employees) and employees with a certain time work agreement (contract employees). taking into account the number of employees with contract status in the service industry, it is very important to study the impact of employment status on employee performance. furthermore, factors that can affect employee performance can also be seen from how motivated employees are at work. according to hermina, & yosepha (2019), motivation is a condition or energy that moves an employee who is directed to achieve company goals. with high work motivation, employees will work harder in carrying out their work. on the other hand, with low work motivation, employees do not have morale, give up easily, and have difficulty in completing their work (harwiki, 2016). pancasila, haryono, & sulistyo (2020) prove that employee motivation has a positive effect on employee performance. furthermore, güngör (2011) states that employee motivation can act as a mediator between the compensation system and employee performance. candradewi & dewi (2019) and efendi et al. (2020) proves that compensation has a positive effect on work motivation and furthermore this motivation is able to improve employee performance. this study takes a sample of employees of the dhl express company. dhl express is a well-known company in the shipping services industry with operations in more than 220 countries with more than 570,000 employees making dhl one of the world's leading logistics companies. however, the delivery service industry is a very competitive industry. therefore, dhl must work harder to stay in the industry. one way that companies can survive in a competitive environment is to ensure that companies can improve service performance and processes in a structured and sustainable way. reassessing employee performance continuously is very important to do to make employee performance better, every day and everywhere. this ultimately helps create an agile company that is ready to change and can adapt quickly and attentively to changing customer needs. for this reason, dhl express indonesia especially the surabaya branch requires employee performance appraisals to improve service processes, for decision making, and achieving company goals globally. in addition to recruiting permanent workers, dhl express indonesia also recruits non-permanent workers who are bound by a pkwt (specific time work agreement) either directly with dhl or through an outsourcing agency. currently, dhl express indonesia is trying to minimize hiring contract employees. this is done by limiting the pkwt contract period to a maximum of 4 years. in the following year dhl always strives for pkwt employees to become permanent employees elma, h., lutfi. the influence of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable 50 with the assessment factor being the employee's own performance while being a pkwt employee is good. in 2020 dhl express indonesia decided to no longer cooperate with outsourcing agencies. changes in work status are expected to increase employee motivation, employee performance, and then dhl express company performance. judging from the performance of the last 3 years, dhl express indonesia surabaya branch experienced ups and downs. for incoming and outgoing shipments, it fell from 97.3% in 2019 to 91.4% in 2020, and again increased in 2021 to 94.1%. for transit time, it had deteriorated from 10.9% in 2019 to 11.4% in 2020 but was successfully lowered again in 2021 to 10.2%. items that failed to deliver increased from 1.5% in 2019 to 2.00% in 2020 but managed to reduce in 2021 to 1.7%. for shipments that finished the customs process before the goods arrived in surabaya, it decreased from 38.29% in 2019 to 33.31% in 2020 and was successfully increased to 54.43% in 2021 (dhl express surabaya kpi scorecard). the rise and fall of the company's performance is very likely to be influenced by compensation, employment status and employee motivation. based on the background described above, the researcher is interested in conducting a study entitled "the effect of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediation variable". this study took the population of employees of dhl express indonesia surabaya branch literature review and hypotheses development employee performance according to pangastuti, sukino, & efendi (2020), employee performance is one of the important elements that must be possessed to improve company performance. this is also supported by mondy & martocchio (2016: 187) which states that performance is a process that significantly affects organizational success. employee performance is the quality and quantity of work achieved by an employee in carrying out functions in accordance with the responsibilities given (hermina & yosepha, 2019). today many companies are starting to adopt an organizational culture that focuses on results and contributions made by employees. in this context, employee performance will be evaluated and the results communicated to employees on a regular basis so that performance can be improved. given that most jobs have several elements and inherent complexity it is necessary to create specific job assignments that can identify the important elements in a particular job. individual performance of their job duties should be measured and compared to appropriate standards. performance indicators according to almusadieq et al. (2018) there are four, namely quality of work, quantity of work, timeliness, and error rate. compensation according to milkovic, newman, & gerhart (2014: 6), compensation is all forms of financial returns, services, and benefits that workers receive as part of an employment relationship. according to daud (2020), compensation is a form of implementing human resource management functions related to all kinds of awards given to business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 51 individuals for the work done. one of the purposes of providing compensation is to create changes in employee attitudes and behavior (rachmawati, 2008: 144). mathis et al. (2017: 403) states that there are several strategic decisions that can guide top management and human resource executives in designing compensation, namely compliance with all applicable laws and regulations, cost effectiveness for the organization, internal and external equity for employees, optimal mix of components compensation, performance improvement for the organization, performance recognition and talent management for employees, as well as increased recruitment, engagement and retention of employees. according to mathis et al. (2017: 404), the indicators used to measure compensation are direct financial, indirect financial compensation, and non-financial compensation. employment status according to ogunleye & osekita (2016), the employment status of an employee is the actual rank in the work environment which is sometimes in the form of levels or categorizations. in the law of the republic of indonesia no. 13 of 2003 concerning employment, stipulates that the status or employment relationship is divided into two, namely permanent employees who are bound by a pkwtt (indefinite work agreement) and non-permanent employees who are bound by a pkwt (specific time work agreement). this relationship or worker status is applied at dhl express indonesia surabaya branch. according to sidanius & pratto (2001), we live in a world full of benchmarks, categorizations, rankings, and hierarchies. many managers think that categorizing workers and providing feedback on performance can inspire workers to be more competitive, work harder, catch up, or even excel (ogunleye & osekita, 2016). dessler (2020: 116) states that many contract employees enter into contractual employment in the hope of getting a long-term or permanent job offer. this motivates temporary or contract employees to work harder and improve performance. work motivation hermina & yosepha (2019) stated that motivation is a condition or energy that moves an employee who is directed to achieve company goals. mathis et al. (2017: 416) mentions that there are two theories of motivation, namely expectancy theory and equity theory. expectancy theory states that employee motivation is based on the probability that his efforts will lead to the expected level of performance associated with rewarded rewards. in particular, this theory emphasizes the importance of finding valuable rewards for employees. then, the theory of equity motivation states that individuals assess equity in compensation by comparing their inputs and outcomes to the inputs and outcomes of other people's references. according to herzberg's theory of motivation, the best way to motivate someone is to organize work so that doing it will provide challenges and recognition (dessler, 2020: 391). an employee who has good operational skills but if he does not have the motivation to work, the end result of the work will not be satisfactory (hermina & yosepha, 2019). according to ivancevich, konopaske, & matteson. (2017), indicators elma, h., lutfi. the influence of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable 52 of work motivation include psychological needs, security needs, social needs, esteem needs, and self-actualization needs. the influence of compensation on employee performance according to grabara (2013), good compensation management will affect employee performance. this argument is supported by maslow's theory of motivation (1954) which generally assumes that human needs are hierarchical from the most basic needs to self-actualization. when the level of basic needs has been achieved, a person will move up to the next level, to the level which is the highest self-actualization. compensation is assumed as the company's efforts to meet the basic needs of employees (syahreza et al., 2017). by fulfilling these basic needs, it is hoped that it will encourage employee motivation to fulfill needs at a higher level. in this context, the provision of compensation that can meet the needs at a higher level will be able to encourage employees to further improve their performance as well. based on these arguments, it can be said that the provision of compensation can positively affect employee performance. pangastuti et al. (2020) provides evidence that compensation has a significant positive effect on employee performance. darma & supriyanto (2017) also prove that compensation can increase employee satisfaction and performance at pt telekomunikasi indonesia. the influence of employment status on employee performance according to ongera & juma (2015), many employees take temporary or contract jobs as an alternative to the lack of permanent jobs in the hope of getting permanent jobs in the long term. this motivates contract employees to work harder and improve performance (ongera & juma, 2015). furthermore, ogunleye & osekita (2016) stated that categorizing workers can encourage workers to be more competitive, work harder, catch up, or even excel. but the opposite can also happen where workers become complacent, obedient, and lose motivation due to ranking and categorization. people who hold high positions and are given senior positions may think that because they are at the top they don't feel they have to try harder in terms of work performance. on the other hand, lowranking employees may become depressed about work and may come to the point of giving up. based on this description, it can be said that job status can affect employee performance. this is supported by research by nugraha, hakam, & susilo (2017) which states that job status has a significant positive effect on employee performance. al & anıl (2016) also prove that part-time employees perform better than full-time employees or permanent employees. the effect of compensation on employee performance with work motivation as a mediating variable according to dessler (2020: 391), compensation can be used to encourage and motivate employees to achieve organizational goals. then, mathis et al. (2017: 403) states that an increase in employee motivation can be achieved through compensation. furthermore, rachmawati (2008: 144) states that one of the purposes of providing compensation is to business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 53 create changes in employee attitudes and behavior. the existence of proper and fair compensation for employees should be able to correct unfavorable attitudes and behaviors and affect employee work productivity. these changes in attitude and behavior are reflected in a sense of responsibility, loyalty to the company as well as increased motivation and achievement at work. increased motivation and achievement in work will further affect employee performance. with high work motivation, employees will work harder in carrying out their work. on the other hand, with low work motivation, employees do not have morale, give up easily, and have difficulty completing work (harwiki, 2016). candradewi & dewi (2019) and efendi et al. (2020) proves that compensation has a positive effect on work motivation, and furthermore this motivation is able to improve employee performance. the proposed model builds on and extends past research and theory. the proposed model of this research is used to describe the patterns and ways of thinking in this study where in this framework it is described about compensation, employment status that affect employee performance which is mediated by work motivation. figure 1: research framework h1.compensation has a significant positive effect on employee performance. h2. employment status has a significant positive effect on employee performance. h3. work motivation mediates the influence of compensation on employee performance research methodology samples the subjects in this study were all employees of dhl express indonesia surabaya branch totaling 64 people from the operations department which was divided into four divisions, namely customs clearance, gateway operation, courier, and outlet officer. data collection in this study consisted of two parts, namely data collection for the instrument test (n=30) and for the large sample test. the data collection method used is by distributing questionnaires through online media, namely google form and filled in directly by the respondents. data was analyzed by using structural equation modeling with partial least square (pls) characteristics of respondents total amount of sample is 64 employees can be classified based on employment status, which consists of 53.1% (34 reapondents) permanent employees and 46.9% (30 respondents) non-permanent (contract) employees. characteristics of respondents based on years of work is 53.1% (34 respondents) more than 5 years, 32.8% (21 respondents) 3-5 years, and 14.1% (9 respondents) 1-2 years. result and discussion the data wa analyzed by partial least square (pls). the relationship of each variable in this study is presented in figure 2 below. elma, h., lutfi. the influence of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable 54 l iz c o m , b u k a n s e k e d a r m e n g e ti k compensation work motivation employee performance employment status 0,130 p = 0,141 0,447 p < 0,001 0,395 p < 0,001 0,306 p = 0,004 figure 2: path analysis structural equations modeling to evaluate the structure of the model used path coefficients, values of r², and f². table 1. total effect variable path of influence coefficien ts value pvalue inf compensa tion>employe e performan ce 0.130 0.141 not sig employme nt status >employe e performan ce 0.395 <0.001 sig work motivatio n >employe e performan ce 0.306 0.004 sig compensa tion >work motivatio n 0.447 <0.001 sig from table 1 it can be seen that there is a significant relationship between each variable because the p-value obtained is < 0.05 except for the influence between the compansation variable employee performance variable where the p-value is 0.141 or >0.05. the next model's feasibility test is to use r² table 2. r² r square r square adjusted employee performance 0.436 0.408 work motivation 0.200 0.187 from the table above, it can be seen that the variability of the endogenous variable employee performance can be explained by 43.6% by exogenous variables and the variability of endogenous variables of work motivation can be explained by 20% by exogenous variables. the next model's feasibility test is to use the f² value. this f² value is used to determine the effect of the exogenous latent variable or the independent variable on the endogenous latent variable or the dependent variable. according to (helen and wang, 2010) f² itself is interpreted as a value of 0.02 (weak exogenous variable influence), 0.15 (moderate exogenous latent variable influence) and 0.35 (strong exogenous variable influence). table 3. f² f2 inf employee performance 0.439 strong work motivation 0.202 moderate predictio n from the table above, it is known that the compensation, work motivation, and employee status variables in explaining changes in employee performance are included in the strong criteria. the ability to business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 55 explain changes in work motivation by compensation is included in the moderate predictive ability. the criteria for acceptance or rejection of hypotheses. h0 and h1 are determined using the criteria h0 is accepted or h1 is rejected, if p value 0.05 and h0 is rejected or h1 is accepted, if p value <0.05.. table 4. total effect variable path of influence coefficien ts value pvalue inf compensa tion>employe e performan ce 0.130 0.141 not sig employme nt status >employe e performan ce 0.395 <0.001 sig work motivatio n >employe e performan ce 0.306 0.004 sig compensa tion >work motivatio n 0.447 <0.001 sig from the table above, it is known that hypotheses h1 can’t be accepted due to the p-alue is 0.141 >0.05. h2 can be accepted due to the p-value is 0.001 <0.05. h3 can be accepted because of the p-value is 0.001 <0.05, this condition indicates that work motivation has a full mediating role on the effect of compensation on employee performance. discussion the results of data analysis show that compensation has no significant effect on employee performance so that the 1st hypothesis in this study is not proven. this finding brings the understanding that if there is an increase in compensation, then employee performance will not increase significantly. vice versa, if there is a decrease in the value of compensation, then employee performance will also not decrease significantly. the results of this study are in line with the results of research conducted by rosalia et al. (2020) who also found that compensation had no significant effect on performance. workers currently working at dhl express view it as a logical consequence of the work they do. the compensation from dhl express does not encourage the performance of the workers because the level of compensation received is only a proof of the bonds and obligations of reciprocity between the company and the workers. the company seems to only design compensation solely to meet the basic needs of the workers as argued by syarherza et al. (2017), which states that compensation is assumed to be the company's efforts to meet the basic needs of workers (syahreza et al., 2017). so far, the company has not divided and differentiated the roles and work results of the workers to be associated with the addition or reduction of the compensation received by the workers. workers who in a period have more busy workloads get relatively the same compensation as when their levels of work are loose. for example, in the field of sending orders to consumers in conditions of a busy schedule, the company only adds accommodation costs in the form of gasoline costs but does not provide extra compensation to the workers. in other companies similar to dhl express, workers will get additional income for each product they send to consumers so that it can spur elma, h., lutfi. the influence of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable 56 employees to move quickly to bring as many goods as possible. the results of data analysis show that employee status has a positive and significant effect on employee performance so that the second hypothesis in this study is proven. this finding is in line with the results of research conducted by ongera & juma (2015) which found that the status of contract workers, namely non-permanent employees employed by the company, had a positive and significant effect on employee performance. this is also supported by the results of research by ogunleye & osekita (2016) which found that junior workers and tended to have precarious status, showed a better level of performance compared to the performance of senior employees. the opposite result is shown by the research of nugraha, hakam, & susilo (2017) and picolli et al. (2017) where the results show that the performance of permanent employees shows a better level of performance than non-permanent employees. the status of a worker is the actual rank in the work environment that makes a worker a permanent status or a temporary status (ogunleye & osekita, 2016). this is in line with the regulations in law no. 13 of 2003 concerning employment which regulates the relationship between companies and workers which includes permanent employees who are bound by pkwtt (indefinite work agreements) and non-permanent employees who are bound by pkwt (specific time work agreements). the findings of the current study are in line with the opinion of dessler (2020) which states that many contract employees engage in contract work in the hope of getting a long-term or permanent job offer. this encourages temporary or contract workers to work harder and improve performance. this means that workers with non-permanent status if managed in such a way by company management, these temporary workers will show better performance. the results of data analysis show that work motivation mediates the effect of compensation on employee performance in full, so the third hypothesis in this study is proven. that is, if the effect of compensation on performance can be enlarged its effect on employee performance if the compensation can simultaneously encourage work motivation. that is, the effect of compensation that significantly affects motivation will jointly become a real driver of significantly increasing employee performance. the results of this study are in line with the results of research conducted by as'at and subyantoro (2020) which found that motivation has a mediating role in the relationship between compensation and employee performance. the mediating role shows that the direct effect of compensation on performance will be even greater if the effect of compensation can encourage employee motivation. compensation refers to all payments in the form of money, in the form of commodities which are equated with money as payments for workers (daft, 2003 in as'at and subyantoro, 2020). this is also in line with the opinion of bernadin (2007, in as'at and subyantoro, 2020) which states that compensation refers to all forms of financial benefits and other tangible benefits received by workers as part of the company. workers who have been less concerned about their personal performance while working in the company, should be motivated that the company's profits are also an advantage for the workers so that workers are motivated to carry out their duties for the benefit of the company. this motivation will cause workers to be willing to work more for the benefit of the company in developing business. in other words, compensation whose direct effect is not significant will have a significant effect on performance if this compensation is directed to high motivation during work. conclusion based on the data analysis and research results that have been described in the business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 57 previous section, the things that can be concluded in this study are: 1. compensation has no positive and significant effect on employee performance. this means that an increase or decrease in the amount of compensation given to employees does not affect the increase or decrease in employee performance at dhl express indonesia surabaya branch. 2. employment status has a positive and significant effect on employee performance. this means that an increase or decrease in the number of non-permanent employees has a positive and significant effect in encouraging or decreasing the level of employee performance at dhl express indonesia surabaya branch. 3. motivation has a full mediating role on the effect of compensation on employee performance. that is, an increase in motivation is needed to further encourage the creation of a better employee performance dhl express indonesia surabaya branch. partial direct effect of compensation is important for improving employee performance but increasing employee performance will be more pronounced when at the same time good work motivation is created for workers. rerence al, a. d., & anıl, i̇. (2016). the comparison of the individual performance levels between full-time and parttime employees: the role of job satisfaction. procedia-social and behavioral sciences, vol. 235, pp. 382-391 al-musadieq, m., nurjannah, n., raharjo, k., solimun, s., & fernandes, a. a. r. (2018). the mediating effect of work motivation on the influence of job design and organizational culture against hr performance. journal of management development, vol. 37, pp. 452-469 candradewi, i., & dewi, i. g. a. m. (2019). effect of compensation on employee performance towards motivation as mediation variabel. international research journal of management, it and social sciences, vol. 6, pp. 134-143 cho, s., & johanson, m. m. (2008). organizational citizenship behavior and employee performance: a moderating effect of work status in restaurant employees. journal of hospitality & tourism research, vol. 32, pp. 307-326 darma, p. s., & supriyanto, a. s. (2017). the effect of compensation on satisfaction and employee performance. mec-j (management and economics journal), vol. 1, pp. 66-74 daud, i. (2020). the influence of organizational culture and compensation on employee performance with work motivation as a mediating variabel. journal of management and marketing review, vol. 5, pp. 122-128 dessler, g. (2020). human resource management. 16th edition, new york: pearson education efendi, r., rifa'i, m. n., bahrun, k., milla, h., & suharmi, s. (2020). the mediation of work motivation on the effects of work discipline and compensation on performance batik msmes employees in yogyakarta city, indonesia. international journal of multicultural and multireligious understanding, vol. 7, pp. 689-703 george, j. m., jones, g. r., sharbrough, w. c. (2005). understanding and managing organizational behavior. elma, h., lutfi. the influence of compensation and employment status on employee performance with work motivation as a mediating variable 58 upper saddle river, nj: pearson prentice hall ghozali, i., dan latan, h., (2014). partial least square konsep, metode dan aplikasi menggunakan program warppls 4.0. semarang: badan penerbit universitas diponegoro grabara, j. (2013). employer’s expectations towards the employees from the marketing and management department. polish journal of management studies, vol. 7, pp 5870 güngör, p. (2011). the relationship between reward management system and employee performance with the mediating role of motivation: a quantitative study on global banks. procedia-social and behavioral sciences, vol. 24, pp. 1510-1520 gupta, n., & shaw, j. d. (2014). employee compensation: the neglected area of hrm research. human resource management review, vol. 24, pp. 1-4 hair jr, j. f., hult, g. t. m., ringle, c. m., & sarstedt, m. (2021). a primer on partial least squares structural equation modeling (pls-sem). sage publications. harwiki, w. (2016). the impact of servant leadership on organization culture, organizational commitment, organizational citizenship behaviour (ocb) and employee performance in women cooperatives. procedia social and behavioral sciences, vol. 219, pp. 283-290 hasibuan, m. s. (1996). organisasi dan motivasi & dasar-dasar peningkatan produktivitas. jakarta: bumi aksara hasibuan, m.s.p. 2009. manajemen pengembangan sumber daya manusia. yogyakarta: pustaka pelajar hermina, u. n., & yosepha, s. y. (2019). the model of employee performance. international review of management and marketing, vol. 9, pp. 69-73 holtom, b. c., lee, t. w., & tidd, s. t. (2002). the relationship between work status congruence and workrelated attitudes and behaviors. journal of applied psychology, vol. 87, pp. 903-915. ivancevich, j. m., konopaske, r., matteson, m. t. (2017). organizational behavior & management. 11th edition, new york: mcgraw-hill kuncoro, m. (2013). metode riset untuk bisnis & ekonomi. jakarta: erlangga lee, t. w. & johnson, d. r. (1991). the effects of work schedule and employment status on the organizational commitment and job satisfaction of full versus part time employees. journal of vocational behavior, vol. 38, pp. 208-224 mardiyanti, o. a., utami, h. n., & prasetya, a. (2018). the effect of financial compensation and non financial compensation on employees' performance through job satisfaction as an intervening variabel (study on permanent employees of pt citra perdana kendedes in malang, east java). jurnal administrasi bisnis, vol. 62, pp. 135-144 maslow, a. h. (1954). motivation and personality. new york: harper and row mathis, r. l. dan jackson, j. h. (2006). human resource management business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 59 mason, oh: thomson/southwestern mathis, r. l., jackson, j. h., valentine, s. r., meglich, p. a. (2017). human resource managemen. 15th edition, boston: cengage learning milkovich, g., newman, g., dan gerhart, b. (2014). compensation. 11th edition. new york: mcgraw-hill irwin mondy, r.w. dan martocchio, s.r. (2016). human resource management. 14th edition, essex: pearson education nugraha, a. b., hakam, s. m., & susilo, h. (2017). “pengaruh status pekerja dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan (studi pada karyawan auto 2000 sukun malang)”. jurnal administrasi bisnis (jab), vol. 44 no.1 ogunleye j. a., & osekita, a d. (2016). effect of job status, gender, and employees’ achievement motivation behavior on work performance: a case study of selected local government employees in ekiti state, nigeria. european scientific journal, vol. 12, no. 26 ongera, r. m. & juma, d. (2015). influence of temporary employment on employee performance: a case study of safaricom limited. international journal of business and commerce, vol. 4, pp. 1-37 pancasila, i., haryono, s., & sulistyo, b. a. (2020). effects of work motivation and leadership toward work satisfaction and employee performance: evidence from indonesia. the journal of asian finance, economics, and business, vol. 7, pp. 387-397 piccoli, b., callea. a., urbini. f., chirumbolo. a., ingusci. e., & witte. d. h. (2017). job insecurity and performance: the mediating role of organizational identification. emerald publishing limited, vol. 46 no. 8, pp. 15081522 pangastuti, p. a. d., sukirno, s., & efendi, r. (2020). the effect of work motivation and compensation on employee performance. international. journal of multicultural and multireligious understanding, vol. 7, pp 292-299 rachmawati, i.k. (2008). manajemen sumber daya manusia. yogyakarta: andi scorecard kpi dhl express surabaya sidanius, j. & pratto, f. (2001). social dominance: an intergroup theory of social hierarchy and oppression. cambridge: cambridge university press sholihin, m., & ratmono, d. (2013). analisis sem-pls dengan warppls 7.0 untuk hubungan nonlinier dalam penelitian sosial dan bisnis. yogyakarta: penerbit andi syahreza, s. d., lumbanraja. p., dalimunthe, f. r., & absah, y. (2017). compensation, employee performance, and mediating role of retention: a study of differential semantic scales. european research studies journal, vol. 20 no. 4a, pp. 151159 undang-undang republik indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan 84 enhancing student learning in tourism program through a technology-based constructive learning model: the case of universitas ciputra lexi pranata budidharmanto1, lucky cahyana subadi2, hilda yunita wono3, ellen lawrencia yahya4, karina enny agustina5 1,2,3,4,5 universitas ciputra surabaya, indonesia e-mail: lucky@ciputra.ac.id abstract: the study aims to identify factors influencing agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage, are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial and institutional ownership is inversely and significantly associated with agency costs. in introduction since the covid-19 pandemic began, technology has become widely utilized as a primary tool for learning worldwide. in indonesia, the ministry of communication and information technology (2021) reported a remarkable 442 percent increase in the usage of online implications, predominantly for studying, work, and accessing healthcare. the ministry of education, culture, research, and technology (2021) revealed that an astounding 68,729,037 students in indonesia have been engaged in remote learning through platforms like zoom and google meet. universitas ciputra has also experienced similar circumstances, conducting all classes online for the past two years, impacting students pursuing studies in hotel and tourism business. throughout this period, various challenges have arisen. additionally, transferring hospitality attitude through online learning presents its own unique set of obstacles. these challenges include the lack of handson experience, limited access to industry facilities, difficulty in teaching serviceoriented skills, the inability to observe and learn from industry professionals, limited networking and industry connections, challenges in teaching practical subjects, and adaptation to virtual guest service. in the hospitality program, students must embody a hospitable attitude as a core value. hospitality is an art and knowledge abstract: : in the wake of the covid-19 pandemic, technology has become extensively utilized in the process of teaching and learning. to enhance the learning experience, support from various aspects is crucial, with the learning model itself being particularly important. this study focuses on the implementation of a virtual face-to-face online learning model called the 4p model, which consists of four stages: opening, deepening, implication, and reflection. the model incorporates technology in teaching and learning activities. the objective of this research is to assess the effectiveness of the 4p learning model and the use of technology in enhancing students' knowledge, skills, and attitudes during the learning process. the research methodology involved limited trials conducted with 130 students, including 77 third-semester students and 53 fifth-semester students, who were enrolled in risk management and sustainable tourism management courses. data collection took place at two different time points with a three-month difference. descriptive analysis was used for data analysis. the findings of the research revealed an improvement in pre-test and post-test scores for both classes at different times, indicating that the 4p learning model successfully increased student competence and could be implemented across various courses at different times. the 4p learning model benefits students by encouraging their active participation in value creation, particularly during the implication phase. this is advantageous for the indonesian education system, which previously relied on a one-sided method of learning where educators transferred knowledge to passive students. keywords: technology, learning, online, constructive, tourism . business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 85 encompassing respect and humanistic services for guests (hermawan et al., 2018). on the other hand, attitude represents one's behavior in response to social objects, revealing a person's true nature. each individual differs based on various factors such as interests, talents, experiences, knowledge, and the environmental situations they encounter (suharyat, 2009). to effectively learn hospitality, it is essential to have experts who can transmit knowledge, attitudes, and skills (untari et al., 2018). however, transferring attitudes through online learning presents a challenge, as it requires experiencing situations in which students can respond and engage, necessitating detailed elaboration and improvement within the online learning context. in addressing these challenges, it is crucial to integrate practical elements into online learning through innovative solutions. however, equally important is the active participation of students throughout the learning process. encouraging their engagement in discussions, group projects, and problem-solving activities fosters a collaborative and interactive environment. this involvement allows students to apply theoretical knowledge to real-world scenarios, improving their understanding of hospitality concepts and developing critical thinking skills. additionally, providing opportunities for students to contribute their ideas and experiences empowers them to shape their learning journey, leading to deeper engagement and motivation and a more meaningful learning experience. real-time engagement and interaction are essential in online learning and hybrid classes, which can be enhanced with an effective learning model to improve student knowledge, skills, and especially hospitality attitude. the learning model is a pattern or plan designed in such a way and used to develop a curriculum, arrangement of learning materials, and instructions in learning (nadlir, 2016). researchers proposed an online learning model consisting of 4p: opening, deepening, implication, and reflection, which are inseparable steps of teaching and learning methods. technology would be the center of this online learning model, as the model is a proposed solution for online learning. this study explores the effectiveness of the 4p learning model in encountering the challenges faced in online learning methods to increase student's knowledge, skills, and attitudes. literature review and hypotheses development online learning is a learning process that uses learning principles from information technology and the internet (hikam, 2020). online learning is one of the tools that makes the teaching-learning process more innovative, flexible, and student-centered (dhawan, 2020). online learning is internet-based learning, which is divided into two forms of implication, namely synchronous and asynchronous learning. synchronous learning means that learning is carried out directly / live where teachers and students attend class at the same time and interact directly and end by receiving feedback in it. for example, the teacher provides material using slides andstudents provide comments and lexi, p, b., lucky, c, s., hilda, y, w, ellen, l, y., karina, e, a. enchancing student learning in tourism program through a technology-based constructive learning model: the case of universitas ciputra 86 questions via voice or the comment column (hikam, 2020). asynchronous learning is the opposite of synchronous learning, where the learning process is not carried out directly, for example, through materials, assignments, and independent learning students (dhawan, 2020; rasmitadila et al., 2020) garrison and vaughan (2008) present a comprehensive framework for blended learning in higher education. their work emphasizes the integration of face-toface and online components to create a cohesive learning experience. while the framework provides valuable guidance, it may require further adaptation to address the evolving needs and advancements in online learning. anderson and dron (2011) proposed the concept of three generations of distance education pedagogy, highlighting the evolution of online learning. their framework offers valuable insights into the design and delivery of online courses. however, the study mainly focuses on distance education and may not fully capture the complexities of contemporary online learning environments. bates (2015) offers practical guidelines for designing and delivering online courses. the book addresses the unique challenges of teaching in a digital age and emphasizes the importance of pedagogical principles. however, the guidelines may require contextual adaptation based on the specific institutional and disciplinary requirements. picture 1: online learning model subadi et al. (2022) developed an online learning model to address the limitations observed in previous studies, including the need for advancement, adaptation, and applicability to diverse educational environments, institutions, and disciplinary areas. the proposed online learning model, consists of four stages known as 4p: opening, deepening, implication, and reflection. this model integrates technology into teaching and learning activities to comprehensively support students' course material exploration. students can delve deeper into the subject matter through case studies and real-life examples by incorporating various multimedia resources such as videos, news articles, and audio from the internet. chaeruman (2018) emphasizes that the key aspect of online learning is the consistent use of technology to facilitate an optimal learning experience. in the online learning model proposed by subadi et al. (2022), each stage is linked as follows: 1. opening stage: the first phase aims to motivate and engage students in learning. the lecturer facilitates discussions, shows relevant videos, uses mini quizzes or online business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 87 games, and explains learning objectives to capture students' interest and encourage their active participation. during this stage, the lecturer can assess the existing knowledge level of each student. 2. deepening stage: in this stage, students are encouraged to delve deeper into the subject matter through research, critical thinking, collaboration, and communication using technology. the lecturer provides a guide with learning topics, problems to solve, references, and literature. students collect data through online sources and interviews and present their findings in class. 3. implication stage: the primary emphasis of this stage is on empowering students to engage in problem-solving and actively apply their newly acquired knowledge. students are encouraged to create value by effectively utilizing the information they have gained and seek feedback from their peers, lecturers, and other sources. the outcomes of their efforts are captured and documented using a variety of media formats, including videos, photos, audio recordings, and written reports. the lecturer evaluates the students' academic progress and attitudes, offering guidance and support to enhance their learning outcomes if the desired objectives are not achieved. 4. reflection stage: the final phase involves students reflecting on their learning experiences and interactions. they identify their strengths and weaknesses, consider feedback received, and set new learning targets. the lecturer provides input and opinions through direct interaction or comments via online platforms like e-learn or social media. this reflective process helps students develop self-awareness and adapt their learning strategies accordingly. these stages form a cyclical process, each building upon the previous one and informing the subsequent stage. by implementing this model, students are actively engaged in the learning process, supported by technology and guidance from the lecturer, leading to a more comprehensive and meaningful learning experience. knowledge transfer is a process of moving knowledge into groups or individuals influenced by the personal characteristics involved in the process (szulanski, 1996). online learning is transferring knowledge from lecturers to students through online media, such as zoom, google meet, instagram, etc. the influencing factor is organizational culture, where if you adhere to a family system which means you feel valued, then the maximum transfer will occur (noya et al, 2017). another factor depends on the response of the first party, if the first party participated more actively it will allow the knowledge to transfer optimally (choiro & rasyad, 2018). research methodology the research method was carried out through limited trials of class experiments in the risk management and sustainable tourism management classes by adapting the constructive online learning model by subadi et al. (2022). the research focused on implementing a virtual face-to-face online learning model and involved limited trials conducted with 130 students. the participants included 77 third-semester students and 53 fifth-semester students lexi, p, b., lucky, c, s., hilda, y, w, ellen, l, y., karina, e, a. enchancing student learning in tourism program through a technology-based constructive learning model: the case of universitas ciputra 88 enrolled in risk management and sustainable tourism management courses. data collection took place at two different time points, with a three-month difference between them. the research used a pre-test and post-test design to measure student learning outcomes. the average pretest and post-test scores were calculated for each group of students. to analyze the data, a dependent samples t-test was employed to compare the average scores before and after implementing the 4p learning model. descriptive analysis was also employed to summarize the data and examine the changes in scores from the pre-test to the post-test. result and discussion this research method adapted classroom action research (ptk) which was conducted in 2 courses; risk management and sustainable tourism management. researchers and teaching team tried to solve the obstacles during online class by using the 4p learning method and supported by the use of technology in teaching and learning activities. risk management course from the learning process of the risk management subject, students are expected to be able to compile risk analysis reports and steps to minimize risks that can be followed up by practitioners or management from real companies. at the opening stage (pembukaan) of the risk management course, the teaching team invites students to discuss (brainstorm) what kind of risks can make a business fail to perform and provide examples of risks that can occur in such a business. after the brainstorming process, the teaching team also explained a problem from the construction project of a 3-star hotel in surabaya which was affected by the covid-19 pandemic. students analyze business risks that can occur if there is a delay in the construction of the hotel project. in the deepening stage, the teaching team gives a project to students. the project is about analyzing the risks of a hotel that can happen during the construction stage. the teacher applies the role-play learning method, where students play a role in charge of the hotel construction and establishment process, including owners, consultants, contractors, and operators. by carrying out these roles, students are divided into groups of 4-5 people with their respective duties and functions. the next stage is implementation, where the students are prepared to understand the role and job description of each role play. each group was tasked with analyzing the business risks of each role played and linking the risk analysis with the learning materials that had been taught in class. the teacher provides face-toface mentoring on zoom by dividing the class into several breakout rooms. each instructor facilitates some groups and invites students to discuss. the last stage is reflection, at this stage the teaching team encourages students to think about what has been business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 89 learned during the whole process, and what can be improved. students make live presentations via instagram, at the end of the presentation session students get feedback from other groups. the feedback is used to improve the report tasks that they have done. sustainable tourism management course the sustainable tourism management course gives the student learning and overview about industrial and business operational analysis in the hospitality sector based on the sustainable development goals concept. the learning process in this course uses problem-project-based learning methods. as the output, students are expected to be able to create a comprehensive report after analyzing the operational process of the hospitality industry based on the sustainable development goals (sdg) concept. a student's learning process includes understanding sdg standards, analyzing operations of a business, developing innovative ideas, and the last one is creating comprehensive reports. another aspect that is taught from this course is the attitude of caring for others by prioritizing human values, the ability to collaborate and cooperate in a multicultural environment and being able to communicate well to present recommendations that have been made. in the opening stage (pembukaan), the teaching team introduces students about the concept of sustainable tourism, the 3p concept (people, planet, profit), and the 5s concept (reduce, reuse, recycle, repair, replace). these introductions aim to give the students basic knowledge about sustainability in the hospitality industry. the students are also invited to brainstorm on how to make a good instagram live, carousel, and reels. the next step is the deepening stage, where students are encouraged to enrich their knowledge of sustainable development goals by searching for information independently and attending guest lecture sessions. the main activity at this stage is creating a social media campaign in the form of an instagram carousel post about businesses that have implemented sustainability and identify problems to help implement the concept of sustainability in a tourist destination/tourist village. the implementation stage in this course guides the students to think critically and implement solutions to overcome problems in tourist destinations/villages. the output of this activity is the same as in the previous stage, creating an instagram carousel. the last stage is reflection, where students present their report regarding the implementation of activities that have been done, through instagram live media. during the presentation session, other group members, lecturers, and audience members can provide comments that will be used as material for reflection on improvements for their groups technology implementation technology plays an important role in facilitating assignments, such as lexi, p, b., lucky, c, s., hilda, y, w, ellen, l, y., karina, e, a. enchancing student learning in tourism program through a technology-based constructive learning model: the case of universitas ciputra 90 elearn media which is used to help the student to read the material asynchronously, the assignment process, and providing feedback from lecturers. the other technology media that also helps students is instagram, which takes part as a medium for the students to do live presentations so that they can get feedback from the audience through the chat column. trello is also used to take notes and coordinate tasks between members, as well as the miro implication to create mind maps and sop flowcharts. the use of this technology is very effective and makes it easier for students to coordinate assignments between group members and allows students to work on assignments together in a virtual context. picture 2: diagram of student pre-test and post-test results. based on the student pre-test and post-test results, it can be concluded that there is a significant increase in student understanding in both courses. in the risk management course, the average pre-test score for students is 62, while the posttest result is 96. meanwhile in the sustainable tourism management course, where the average pre-test score is 59 while the post-test results are 97. this research was done at two different times and different subjects with more or less the same results, this shows that the 4p learning model has succeeded in increasing student competence and can be applied in various courses at different times. conclusion in conclusion, this study examined the effectiveness of the 4p learning model and technology integration in enhancing students' knowledge, skills, and attitudes during the learning process. the results of the limited trials conducted with 130 students enrolled in risk management and sustainable tourism management courses demonstrated a significant improvement in pre-test and post-test scores for both the third semester and fifth-semester students. these findings indicate that the implementation of the 4p learning model effectively increased student competence across various courses and time periods. one of the key advantages of the 4p learning model is its ability to promote active student participation and value creation, particularly during the implication phase. incorporating technology in teaching and learning activities encourages students to engage in problem-solving, critical thinking, and collaboration, fostering a more interactive and dynamic learning environment. these findings have significant implications for the indonesian education system, which traditionally business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 91 relies on a one-sided learning approach. the shift towards the 4p learning model offers a more student-centered and participatory approach, empowering students to take an active role in their own learning and contribute to the creation of knowledge. in light of the ongoing covid-19 endemic, the widespread adoption of technology in education has become essential. the 4p learning model provides a valuable framework for educators and policymakers seeking to enhance the quality of online learning experiences. by leveraging the benefits of technology and promoting student engagement, the model holds promise for improving learning outcomes and preparing students for the challenges of the digital era. further research and implementation of the 4p learning model are warranted to explore its applicability across different disciplines and educational contexts. additionally, continued support and professional development for educators will be crucial to implement and optimize the use of the model effectively. overall, this study contributes to understanding effective online learning practices and underscores the importance of student-centered approaches in creating meaningful and engaging learning experiences. by embracing innovative models like the 4p learning model, educators can empower students to become active learners and equip them with the necessary skills and competencies for success in the 21st century. references abdis, f. y., hairudinor, & hidayati, n. (2015). pengaruh attitude, knowledge dan penerapan crm terhadap kinerja customer. jurnal bisnis dan pembangunan, vol 3, no. 1, januarijuni 2015, 3, 6–12. anderson, t., & dron, j. (2011). three generations of distance education pedagogy. the international review of research in open and distributed learning, 12(3), 80-97. azzahra, r. (2021). pengangguran di tengah puncak bonus demografi pada era pandemi covid-19. ijacc, 2(1), 74–81. bates, a. w. (2015). teaching in a digital age: guidelines for designing teaching and learning. tony bates associates ltd. chaeruman, u.a. (2018). pedati: model desain sistem pembelajaran blended. direktorat pembelajaran kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi. choiro, u. d., a. rasyad, & s. (2018). keaktifan belajar peserta didik pada transfer pengetahuan kerajinan pandai besi. jurnal pendidikan teori, penelitian , dan pengembangan, 3(4), 486–490. claxton, g. (2018). the learning power approach: teaching learners to teach themselves.corwin. dhawan, s. (2020). online learning: a panacea in the time of covid-19 crisis. journal of educational technology systems, 49(1), 5–22. lexi, p, b., lucky, c, s., hilda, y, w, ellen, l, y., karina, e, a. enchancing student learning in tourism program through a technology-based constructive learning model: the case of universitas ciputra 92 garrison, d. r., & vaughan, n. d. (2008). blended learning in higher education: framework, principles, and guidelines. john wiley & sons. hikam, f. f. (2020). peran keluarga dalam pembelajaran berbasis e-learning pada masa wabah covid-19. jurnal pendidikan dan dakwah, 2(2), 194– 203. kominfo, p. (2021, november 8). internet, primadona kala pandemi. website resmi kementerian komunikasi dan informatika ri. https://www.kominfo.go.id/content/de tail/36448/internet-primadona-kalapandemi/0/artikel kuo, chun min, chen, l. c., & lu, c. y. (2012). factorial validation of hospitality service attitude. international journal of hospitality management, 31(3), 944–951. kuo, chun-min mindy. (2013). service attitude is crucial element to the successful tourism and hospitality industries. journal of tourism & hospitality, 02(02), 4172. lalian, o. n., siregar, e., & winarsih, m. (2021). blended learning for vocational high school students. kwangsan: jurnal teknologi pendidikan, 9(1), 18-30. mulyasa, e. (2002). kurikulum berbasis kompetensi konsep, karakteristik, implementasi, dan evaluasi. bandung: remaja rasdakarya, 94-112 novrizaldi. (2021). hasil survei penduduk 2020 peluang indonesia maksimalkan bonus demografi. kementerian koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan.https://www.kemenkopm k.go.id/hasil-survei-penduduk-2020peluang-indonesia-maksimalkanbonus-demografi. noya, f. s., supriyono, s., & wahyuni, s. (2017). strategi pembelajaran pendidikan informal pada transfer pengetahuan kecakapan ketog magic. jurnal pendidikan: teori, penelitian, dan pengembangan, 2(9), 1244–1248. rasmitadila, aliyyah, r. r., rachmadtullah, r., samsudin, a., syaodih, e., nurtanto, m., & tambunan, a. r. s. (2020). the perceptions of primary school teachers of online learning during the covid-19 pandemic period: a case study in indonesia. journal of ethnic and cultural studies, 7(2), 90– 109. subadi, l. c., budidharmanto, l. p., wono, h. y., sidik, a., yahya, e. l., & andriyani, s. s. (2022). metode pembelajaran daring (patent no. s00202208881). direktorat jenderal kekayaan intelektual. szulanski, g. (1996). exploring internal stickiness: impediments to the transfer of best practice within the firm. strategic management journal, 17(s2), 27-43 https://www.kominfo.go.id/content/detail/36448/internet-primadona-kala-pandemi/0/artikel https://www.kominfo.go.id/content/detail/36448/internet-primadona-kala-pandemi/0/artikel https://www.kominfo.go.id/content/detail/36448/internet-primadona-kala-pandemi/0/artikel 93 community participation in developing cupak village as a tourist destination in jombang, east java, indonesia siti mujanah1, candraningrat 2, gustaf naufan febrianto3, tri ratnawati4 1,3,4 universitas 17 agustus 1945 surabaya, indonesia 2 universitas dinamika surabaya, indonesia e-mail: sitimujanah@untag-sby.ac.id abstract: the study aims to identify factors influencing agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage, are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial and institutional ownership is inversely and significantly associated with agency costs. in introduction tourism is essential for the local community of a developing tourism village, because it is essential as one of the sources that improve people's welfare. still, in its implementation, it is necessary to involve the community to play an active role by their respective capabilities. tourism is widely seen as an activity that has a multidimensional development process. this is because tourism acts as a source of regional income. tourism development has been proven to improve economic life in the local region, because it creates employment, builds msmes in tourist areas, and boosts local potential. as a result, tourism activities in the region open up many business opportunities and exploit the potential in the region. the area. tourism village is integrated between attractions, accommodations and other supporting facilities that are prepared and shown in the life of the village community and integrated with the procedures, culture and traditions that live in the community. a tourist village is a rural area presented with uniqueness and unique characteristics so that it becomes a tourist destination. for example, having a beautiful natural environment, culture and habits that coexist in the community perfected by having food specialties, agricultural land, and the family kinship system. (revi agustin aisyianita, 2022) a strategy for a tourism village to develop is needed, including (1) holding promotions and campaigns; (2) providing various attractions by developing agro-based local resources such as plantations, local cultural arts, and attractive attractions for visitors. (3) there is economic activity in the local community by preparing souvenir centers with local staple materials. (4) preparing culinary and souvenir centers, (5) developing and involving the community as abstract: this research was conducted to utilize a model of community participation in the development cupak village as a tourist destination in jombang, east java, indonesia. the approach used in this research is a qualitative approach, which describes the participation of the community in the development of a tourist village. the informants in this study were village officials, pokdarwis administrators, local youth organizations, community representatives and visitors. information was taken through structured interviews. the study results show that developing a tourism village requires participation from various parties, including the community as the major actor, the local government, and stakeholders in charge of providing guidance. likewise, the university's role took a significant place by providing assistance in managing the tourism village while the role of smes is to provide special products that can be offered to visitors. the implication oif this study. this research aims to provide an overview of village communities in developing tourism villages by involving the community to participate. keywords: qualitative, community involvement, and tourism village development. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 94 tour guides and training them in providing good service to visitors, and (6) providing home stay facilities (siti mujanah, 2016). thus, the development of tourist villages can be carried out through strategies that must be developed, namely by building msmes involved in culinary, souvenirs, souvenir centers, accommodation, homestays, and others. the existence of micro-business activities, will have an impact on economic activities that can improve people's welfare. the development of a tourist village is significant to involve the community. active participation of the local community is needed because, through community empowerment, the tourism development process can originate from the community while carrying out tourism activities (dedeh maryani, 2019). community involvement in development is related to the meaning of the community involvement concept, according to winarni (sulistiyani, 2004). the study adds to the existing body of knowledge by providing empirical evidence and insights on the role of community involvement in tourism village development. it contributes to the theoretical understanding of how community participation can positively impact various aspects, such as decisionmaking processes, management activities, and cultural preservation in the context of tourism villages. this study investigates specific aspects of community involvement in tourism village development in cupak village, jombang. the study aims to examine the role of the community in decision-making processes, management activities, cultural preservation, and socio-economic contributions related to tourism development. it seeks to understand the level of community participation, the challenges faced, and the strategies employed in fostering community engagement. additionally, the study will explore the impact of community involvement on sustainable tourism practices and the overall development of the tourism village. the development of tourism villages through community participation is critical because the people know precisely the situation and conditions, what is needed, and the culture and attitudes that exist in their area. communities in tourist villages can explore the natural and human resources they have in the village. the local community is significant in decision-making, management, and activities on the tourist sites. the development of a tourist village can be successful if efforts are made, such as building human resources, partnerships, productive activities in the village, promotions, festivals, performances, coaching community organizations, and collaboration with other institutions in its implementation (soemarno, 2010). this research aims to comprehensively understand an effective community involvement model in tourism village development. through a qualitative approach, this article will describe how community involvement plays a role in developing a tourism village. thus, the article aims to contribute to the theoretical understanding of the factors influencing the success of community involvement in tourism village development. for this reason, in research funded by the matching fund from dikti, directorate general of higher education, it is hoped that community involvement can be used in developing a tourism village in cupak village, jombang regency, east java province. siti, m., candraningrat., gustaf, n., tri, . community participation in developing cupak billage as a tourist destination in jombang, east java, indonesia 95 literature review and hypotheses development tourism village development the development of a tourist village can be designated as a tourist destination. tourism villages are developed by combining natural tourist attractions with the culture and uniqueness that coexists in the community, as well as adequate supporting public facilities, the culture, and traditions of the local community. the essential in developing a tourist village is to develop its village, focusing on involving and empowering the community in building the village independently. the development is a government program to empower people to be more independent, reduce unemployment and improve welfare, thus can be done through developing productive businesses through msmes, and boosting local potential. the development is expected to improve the local community's economy by increasing income and employment, community skills, and utilizing the surrounding environment. the government program will invite all levels of society to make this tourism village development program successful. complementing it with clear regulations and procedures regarding tourist destinations, management and development of human resources. the results are expected to serve as examples to other potential villages. so the goals can be achieved in increasing people's welfare and preserving the community's culture and environment. the development of a tourist village needs to be carefully planned in choosing the attractive tourism potential as a tourist attraction, and the willingness of local wisdom needs to be developed creatively, innovatively, and cooperatively (siti mujanah, 2015). thus it can be said that the development of a tourism village must be planned considering village potential and community participation in managing and preparing infrastructure creatively, innovatively, and collaboratively with communities. in addition, it must also consider environmental conditions and provide business opportunities and employment for the surrounding community (yoskar kadarisman et al, 2022) community involvement community participation is a process and initiative from the community which is taken and carried out by their way of thinking, using tools and processes through institutions and mechanisms where they can assert control effectively (nasdian, 2014). he further said that, participation in community development is created by the maximum participation of the community as subjects in activities by involving all active participation in every stage from planning, implementing, and evaluating until they can enjoy the results. thus, it can be said that community participation in tourism village activities consists of the planning, implementation, and monitoring stages (dewi et.al 2012). the level of community participation is the degree to which the community is engaged in the preparation program to implement an activity (oktavia and saharuddin, 2013) . according to nasdian(2006), community involvement in community development is to participate optimally in an activity at every stage, from planning, implementing, and resulting to supervision. pitana (2002), states that community participation is not only in the business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 96 form of the contribution of energy, time, and materials in supporting various activities in a building but can be actively involved in every activity. an active role starts with planning, determining design, and implementing, as well as monitoring and enjoying the results or what is known as "genuine participation" or the community as tourism actors. one of the villages with tourism potential that can be developed is cupak village, located in the ngusikan sub-district, jombang regency, which is the farthest subdistrict from the district center, 26 km from jombang. the long distance from the city center causes cupak village to be left behind in infrastructure and social development. however, cupak village has the potential for extraordinary natural attractions that can be developed. aside from the cold weather, several potentials tourism objects can be developed, such as religious tourism at the hermitage site of dewi kilisuci, sendang widodaren, sendang drajad, and mount pucangan; also agricultural potential such as porang as a flour ingredient, gadung as a chip ingredient, corn as a staple food and there is also a camping ground that can be revived. thus, this research starts from the formulated problems, namely how to utilize model community involvement in developing a tourism village in cupak village, ngusingan district, jombang regency, east java province, indonesia research methodology this research used a qualitative approach, namely analyzing community participation in developing the cupak tourism village, jombang, east java. the subjects in this study were local government officials, pokdarwis administrators, local youth committees, community representatives and visitors taken by purposive sample with the following criteria: 1. government officials were familiar with the developed tourism village program 2. pokdarwis administrators, local youth committees, and community representatives which actively participate in managing or participating on tourism villages in cupak village 3. visitors who came to the tourist area when the survey was conducted. data collection in this study was carried out through interviews, observations, and surveys of informants, while the primary data sources were the results of interviews and observations. the data was triangulated by cross-checking the communities participating in developing a tourism village in cupak village to ensure validity and reliability. observations were carried out in a non-participatory manner, namely by observing the activities carried out by the local community in the development of tourism villages, such as managers of tourist attractions, tourism counter, youth who became parking attendants, and the assistance in the formating the tourism villages, msmes and training in processing of making agricultural products and handicrafts. moreover, interviews were also conducted with visitors of tourism objects in cupak village. data analysis in this study was carried out using miles and huberman in (sugiyono, 2013), namely data collection, siti, m., candraningrat., gustaf, n., tri, . community participation in developing cupak billage as a tourist destination in jombang, east java, indonesia 97 data reduction, data presentation, and conclusion result and discussion profile of cupak village before analyzing data on community involvement in improving village tourism, it is necessary to know the profile of cupak village, tourism village administrators and existing tourist conditions. cupak village is one of the villages under ngusikan district, jombang regency. this village is very remote from the hustle and bustle of the city. this village is a division of the kudu sub-district, located in the northern part of jombang regency, bordering mojokerto and lamongan. cupak village has a land area of 71 hectares and a total of 385 households and is inhabited by 1,511 people. the road infrastructure to this village is in awful condition, often resulting in accidents for road users, especially school activities and farmers who often use the road. the success of tourism villages cannot be separated from the role of the village government as organizers, including village officials in their implementation and responsibility to serve services and management. meanwhile, the management of cupak village's tourism villages has been formed by a tourism awareness group (pokdarwis), even though its role has not been very active. tourist attractions in cupak village a professional management of a tourist village and supporting environment will undoubtedly have a positive impact on the development of a tourist destination and vice versa so that the community in its development does not only look at the economic side of the development. they also pay attention to other aspects which lead to quality and sustainable development. the novelty of this research and the aim is to analyze the benefits of developing a tourist village, especially on natural, sociocultural, spiritual, and economic aspects in the cupak tourism village district. jombang. the several tourist attractions in cupak village can be seen in table 1. table 1. list of tourist attractions in cupak tourism village no tourist attractions 1. mount pucangan 2. 7 sendang 3. tomb of dewi kili suci 4. camping ground source:https://direktoriwisatajombang.hom e. blog/gunung-kapucangan/: 1. mount pucangan mount kapucangan is a historical place. it was the territory of the first child of king airlangga, dewi kili suci who ruled in the bengawan brantas and mount kawi areas. during her lifetime, dewi kili suci lived in mount kapucang. her real name is sanggramawijaya dharmaprasada tungga dewi often meditated in this place, so the place was known as the tomb of dewi kili suci. it is located on the site of mount pucangan. many people often come to this place to pray or visit this place, sometimes, there are rituals practiced by some people who still believe it. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 98 2. sendang there are 7 (seven) sendang in this village. one famous is sendang drajat, located on mount pucangan, cupak village, jombang regency. it is believed that sendang drajat provides an advantage for those who really believe in it, the ones here are sendang drajat and sendang widodaren. visitors often perform rituals of siraman and bathing, and this is done by many locals and tourists from outside of jombang with the intention that the prayer can be achieved. sendang drajat is a sacred place and is used as a place for rituals at certain times, especially on friday nights especially in javanese calendar, jumat legi, is very crowded with people who come from various regions. 3. tomb of dewi kili suci dewi kili suci is the daughter of king airlangga who is buried on mount pucangan. this place is always crowded with pilgrimage visitors. every day many visitors come to this place, most from outside jombang and some from outside java and abroad, such as from malaysia. based on the records of visitors who came to this tomb on thursday kliwon and friday legi, visitors could reach more than 50 people from morning to evening, so that the tomb of mount pucangan was packed with visitors. pilgrims of the tomb of dewi killi suci believe that the tomb of mount pucangan is a place where ancestral remains must be respected. most of those who visit this place have religious beliefs, where they think that this place is a sacred place to fulfill the prayers. 4. camping ground the camping ground in cupak village, ngusikan district, jombang regency, currently looks unkempt, filled with growing grass and wild plants. even before covit-19, this campground was visited by many residents from outside cupak village, including for school activities, relaxing, doing activities in nature or others. visitors to tourism villages in cupak the starter considered a strategic step in arousing public awareness to develop community-based tourism villages is strengthening community awareness of local potential. community involvement in developing tourist villages is something that absolutely must be fulfilled. the existence of a tourism awareness group (pokdarwis) is important because it can help manage tourism villages. furthermore, it can also help campaign and promote tourism villages through various media. the diversity of tourist attractions with their uniqueness will be a driving and pulling factor for visitors to visit tourist villages (nurcahyo, 2015). in addition, the efforts made in developing tourist destinations are good, appropriately managed by providing supporting facilities and infrastructure visitors need, and easy accessibility that is beneficial to be promoted. the results of a survey of tourists visiting cupak tourism village, jombang, through a questionnaire showed that the majority of tourists who visited cupak tourism destination were for religious purposes as many as 47.84% and for refreshing purposes siti, m., candraningrat., gustaf, n., tri, . community participation in developing cupak billage as a tourist destination in jombang, east java, indonesia 99 covered 39.13%, showed that most visitors come to do religious or belief deeds, and some of them visit for refreshment. when the visitors were asked the original information about the tourist attractions in cupak village, most answered from friends and relatives, the obstacle they faced when visiting cupak village was the awful and poor infrastructure, especially roads that should be repaired but no further action has been taken so, tourists find it quite difficult to visit cupak tourism village. this became the major reason which covers a percentage of more than half of tourists. on the other hand, they agreed to visit the cupak tourism village back at some point in the future, as shown in table 2. table 2: purpose of visiting cupak tourism village purpose of visit frequency percentage refreshing 18 39.13 % religious 22 47.82 % so that prayers are answered 2 4.34 % visitation 4 8.69 % others 0 0 % table 2 shows that most of the tourist visitors in cupak village have religious purposes, for 47.82% of the respondents, the purpose is to meditate and get inspiration or the goal can be achieved through meditation which is carried out on mount pucangan. as for the origin of information of the tourist attraction, they get the references from other peoples, most of the references were from their friends for 47.82%, and the others from relatives which were 34,78%. this can be seen in table 3. table 3: references to visiting tourism sources frequency percentage friends 22 47.82% relatives 16 34.78% family 8 17.39 % social media 0 0% others 0 0% community participation in tourism village development community involvement in tourism village development can be involved in planning, implementing and supervising the tourist villages in cupak village. community participation can be done directly or indirectly. it can be carried out directly by representatives of the village community, from the local government, related government agencies, universities, and also community participation from the informal sector that can support the development of tourist villages such as porang farmers, gadung plant processors, charcoal wood processors and woven mats as well as on-site coffee shops. 1. community participation in planning this form of community involvement in tourism village development is carried out by involving the community or representatives from each element (village officials, pokdarwis, the youth organizations, rt, rw, community leaders and other community representatives) in preparing plans and strategies for the development. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 100 starting with calculating the budget, finding sources of funds, and activities to be carried out. the decision-making is done by holding a democratic discussion which will be used as a guideline in carrying out the development of tourist villages in the hope that it develops well by having many visitors which leads to increasing the community's economy level. the community is allowed to express opinions and provide input that can be used as material for planning activities in tourism development. however, usually the final decision is still issued by the government. the community has a role in providing suggestions and opinions and making better decisions, although this community participation is unlikely to produce changes in society (palimbunga, 2013). 2. government participation in tourism village development local governments, ministry of tourism and creative economy, and other related agencies have so far executed government involvement in the developing tourism villages. there are a number of activities that have been given as aids in development, including the following: 1. providing guidance to tourist villages in cupak village, 2. assisting in the formation of pokdarwis, 3. formulating the village mediumterm development plan (rpjm desa) and the village development work plan (rkp desa) regarding villages tourism, 4. financial assistance through the village apbd (village revenue and expenditure budget) allocated through bum des, for the development of business units. 5. as a facilitator, by facilitating a cooperation agreement (pks) between perum perhutani kph jombang and village organizations community institutions forest village (lmdh) sustainable forest partners in managing tourism objects. 6. promotion of the introduction of tourist villages through the kirap pusaka cultural festival and cupak village culture every year. 7. providing training on tourism. 8. providing assistance in the development of tourist villages. college participation college is an educational institution that must implement the tri dharma, one of them is providing community service. as a form of concern for the community, college is responsible for solving community problems, such as tourism development. the activities as follows: 1. exploring problems and finding solutions can be done with surveys or research to get concrete results to determine the solution. 2. providing assistance in managing tourist villages with siti, m., candraningrat., gustaf, n., tri, . community participation in developing cupak billage as a tourist destination in jombang, east java, indonesia 101 the right strategy to obtain optimal results. 3. providing assistance and appropriate technology for msmes that can be developed to support the development of tourist villages, such as the availability of souvenirs and processing the main agricultural products. 4. seeking funding for the development of tourist villages by submitting grant programs from college such as pkm, matching fund and other government funding programs, it can also be from the private sector such as corporate csr, as well as from college grants in community service programs and others. thus it can be said that tertiary institutions have an essential role in developing tourist villages to improve community welfare. universities are able to respond as a whole to a wider context in the form of unsustainable crisis conditions and opportunities to seek sustainability in accordance with sterling(2004). participation of msmes cupak tourism village, jombang regency is known as an agrarian village, this village has tremendous potential for natural resources, and the village is still beautiful. the livelihoods of the people in this village are farmers. therefore, the main economy in cupak tourism village is agriculture. however, another potential can be developed, namely processing existing agricultural products to provide profitable value to the community's economic activities. based on the survey at the location, several small msmes were found with various types of business fields. micro, small, and medium enterprises (msmes) in cupak tourism village are considered to have a strategic role. this is considered to be a potential proponent of the village economic development if it is adequately developed. the following is a list of smes developed in the cupak tourism village. table 4. table of the list of smes in the cupak tourism village no tourism village 1. porang 2. chips gadung 3. mats and bags from pandanus product 4. charcoal 5. traditional herbal medicine 6. coffee shops the participation of umkm in cupak village is very important. because with the existence of msmes, there are products that can be sold and enjoyed by visitors as designated souvenirs from cupak village. so far, in the village of cupak, there have been several msmes that can support the development of a tourist village. however, the existing potential still needs to be developed, for example, porang agricultural products, which are only sold raw, very cheap. to add more profitable value they need to be processed into flour then used to make various cakes and snacks. the production of mat handicrafts also needs to be diversified into bags, tissue boxes business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 102 and so on. likewise, people who have empty rooms can rent them as homestays, utilizing residents' houses to rent out their bedrooms for tourists from outside the area who want to stay overnight. moreover, transportation is also essential and very much needed by visitors. culinary in this village is another important factor to boost tourism village development by providing food specialties whose existence can be found very few for visitors. model community involvement in tourism village development model development is an attempt to discover, improve or develop something new that is adaptive and innovative by certain scientific principles and methods so as to produce the desired formulation. the development model here is a model of community involvement or participation in tourism development, so that it can be used appropriately in developing tourism villages in cupak village, jombang regency. based on the findings of the survey results above, the model that can be formed in the framework of community participation in the development of a tourist village in cupak village is as follows: figure 1: community involvement in tourism village development figure 1 shows the community involvement in developing a tourism village in cupak village, sub-district mungut, jombang regency. where in the development of a tourist village, the participation of various parties is needed, including the community itself, without the participation of the community, the tourism village cannot be created and built because the community is the major actor in the development of a tourist village, besides that the village government and related agencies also plays a very important role, namely in providing guidance and guidance assistance as well as the formation of pokdarwis legally as well as providing funding and training for human resources as main player in the development of tourist villages, apart from the government. the college has a vital role in providing community education, besides that it can provide assistance with precise solutions to any existing problems and provide assistance in managing tourist villages and smes that are developing and also as a facilitator or fund seekers from several grant programs from the government and from csr companies. in the light of important role of msmes which very helpful in the development of tourist villages in encouraging the provision of unique products that visitors can purchase as souvenirs and culinary delights that can be enjoyed by visitors to the cupak tourist village. conclusion the development of a tourist village, the participation of various parties is needed, siti, m., candraningrat., gustaf, n., tri, . community participation in developing cupak billage as a tourist destination in jombang, east java, indonesia 103 including the community itself, the village government and related agencies also play a very important role, in providing guidance and assistance for example forming pokdarwis legally and providing funding and training for human resources. other important roles were university as the formal institution, while the informal one are also important on supported such as msmes in providing unique products that visitors can purchase as souvenirs and culinary delights that can be enjoyed by visitors to the cupak tourist village. the implications of this research indicate that developing a tourist village requires the participation of various parties such as the community, government, college institutions, and also msmes, that can support productive economic activities. this research has limitations: people with relatively low education, so extra abilities are needed to get good data that is by the expected goals. recommended suggestions for tourism village managers is to always be creative, innovative, and approach the parties involved to provide the necessary facilities and proper infrastructure. suggestions for further research are the application of community involvement to the development of tourist villages. references dedeh maryani, m. r. (2019). buku pemberdayaan masyarakat. in m. dr. dedeh maryani, buku pemberdayaan masyarakat (p. 237). https://deepublishstore.com/. dewi, m. h., fandeli, c., & baiquni, d. m. (2013). pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat lokal di desa wisata jatiluwih. kawistara, 3, 131. [10 juli 2017] hutomo, m. y. (2000). pemberdayaan masayarakat dalam bidang ekonomi. seminar sehari pemberdayaan masyarakat di bappenas. yoskar kadarisman, dan rina susanti, (2022). bandar bakau tourism object: the efforts to maintain environmental sustainability and improve the socio-economic community, jurnal ideas: pendidikan, sosial dan budaya, 8/1 (8 maret, 2022) kurniawan, b. (2015). desa mandiri, desa membangun. jakarta: kementerian desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi republik indonesia. jhhp jurnal. maryani, d. n. (2019). pemberdayaan masyarakat. one search by perpunas. nurcahyo, s. k. (2015). motivasi dan persepsi pengunjung terhadap obyek wisata desa budaya pampang di samarinda. samarinda: jurnal manajemen resort dan leisure . palimbunga, ika pujiningrum. (2018). “keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata di desa wisata tabalansu, papua”. jumpa volume 05, nomor 01, juli 2018 rahlem, d. (2017). . presepsi pengunjung dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekowisata air terjun aek. riau: jom faperta . revi agustin aisyianita, d. r. (2022). implementasi model desa wisata edukatif sebagai media pembelajaran mahasiswa berbasis merdeka belajar kampus merdeka (mbkm) di desa wisata cisaat, kabupaten subang, jawa barat. jurnal abdimas pariwisata. siti mujanah, tri ratnawati and sri andayani, the strategy of tourism village development in the hinterland business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 104 mount bromo, east java. journal of economics, business, & accountancy ventura, vol 18/1 pg. 81-90. siti mujanah, t. r. (2016). strategi pengembangan desa wisata. jhp17 jurnal hasil penelitian lppm untag surabaya, 33-52. soemarno. (2010). bahan kajian mk. ekonomi sumberdaya alam. pdip pps fpub . sugiyono. (2013). metodelogi penelitian kuantitatif, kualitatif dan r&d. . alfabeta. sulistiyani, a. t. (2004). kemitraan dan model-model pemberdayaan. gava media. sumaryadi. (2005). perencanaan pembangunan daerah otonom dan pemberdayaan masyarakat. cv citra utama . ……(2010). peraturan menteri kebudayaan dan pariwisata . http://www.jdih.kemenparekraf.go.id/. …..(2021). wisata religi di desa cupak kabupaten jombang menyimpan banyak misteri dalam sejarah yang harus dibangun pemerintah. koran jokowi. https://koranjokowi.com/ 16 digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives hein ko ko htet1, indrianawati usman2, mohamad yusak anshori3 1,2 universitas airlangga, indonesia 3 universitas nahdlatul ulama surabaya, indonesia e-mail: heinkokohtet1998@gmail.com1, indrianawati-u@feb.unair.ac.id2, yusak.anshori@unusa.ac.id3 abstract: the study aims to identify the factors that influence agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data obtained from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial ownership and institutional ownership are inversely and significantly associated with agency costs. in contrast, the board size, independent directors, and foreign ownership have a direct and significant relationship with agency costs. however, the relationship between agency costs and leverage or firm size cannot be determined. besides, no statistically significant association between female directors and agency costs has been found. being the first of its kind, the research findings can assist policymakers to identify the determinants of agency costs in it firms and take the necessary steps to reduce them. keywords: agency costs, board attributes, organizational characteristics, ownership structure, corporate governance, it, bangladesh. introduction during the industrial revolution 4.0, one of the evolving technologies is digital twin technology, which assists digital conversion by creating modern business strategy and decision support systems for the business it. (delen & demirkan, 2013)similar to other digitization creative ideas concerning cloud computing, the internet of things (iot), augmented reality, artificial intelligence, and machine learning. the digital twin technology has owned a great concentration during the current period in both terms of academia and business industry due to the increment of academic articles, research paper publications, and sales and marketing. the previous sources of academic literatures illustrate the benefits of the digital twin technology which involved reducing cost, and risks 5 cultivating efficiency(delen & demirkan, 2013) [6], increasing service offerings, reliability, safety and security, and resilience (karve et al., 2020); and enhancing the decisionmaking process(macchi et al., 2018)(zhou et al., 2021a, 2021b). however, there is a lack of academic literature about the definition and presentation of digital twin technology especially in architecture, healthcare and engineering sectors. in detail, the various uses of definitions about digital twin technology lead to confusion that weakens the notion and bounds the capabilities of technology. to reduce this uncertainty, there is a demand to define the exact explanation of the digital twin technology and the description of the idea that distinguished it from several types of similar technologies. additionally, it should be highlighted that a large number of present literature on a digital twin is mostly precise on analytical abstract: digital twin is revolutionizing technology and it will convert the physical world into a virtual world in the future. digital twin technology is considered state-of-the-art, but full implementation has yet to be occurred due to technical challenges and delays. since, many researchers and employees from some industries such as architecture, health care, and engineering still have not completely understood the technologies and tools used in digital twin technology. this paper illustrates scoping reviews of digital twin technology in business it within 5 years period from 2018 to 2022. the objective of the paper is to understand specifically the characterization and implementation sectors of digital twin technology in real-world applications. preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses extension for scoping reviews (prisma-scr) model have been used to implement the scoping review of the study. the study findings indicate a broad description of digital twin technology characterization, implementation, and its applications in the fields of smart cities, health care and medicine, and engineering. this will aid in establishing the criteria for the necessary models, data, and processes for updating the data-driven models. keywords: digital twin, characterization, implementation, application, scoping review business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 17 methodologies, technical methods, and the difficulties posed by data gathering and incorporation into the digital twin technology. examples of actual implementations are required that consider deployment tactics and decision assistance to produce desired results with quantifiable advantages. a digital twin implementation strategy must also consider the present digital twins technology, which has both technical and cultural obstacles kept them from providing the benefits they promise. finally, to implement digital twins, numerous enabling technologies and their technological development and maturity must be realized. this study illustrates the current state of digital twin technology as a subset of a larger cluster of digitization initiatives meant to improve current workflows and support fresh services. the following are the contributions of this paper. first, existing definitions of the "digital twin" characterizations are examined in (section 1), and then the term's primary implementation and attributes (section 2). then, the method and factors to be considered for characteristics and implementing digital twins for real-world applications are described (section 3). finally, recent difficulties, future requirements, and benefits for proper development are illustrated (section 4). finally, (section 5) involves conclusion remarks. literature review and hypotheses development digital twin characterization based on his collaboration with john vickers, michael grieves presented the concept of digital twin technology in the product lifecycle administration in 2003, as it first appeared. the inspiration behind grieves and vicker's creation of the goal remained to get away from primarily manual and paper-based product information to a digital representation of the product that would be necessary as a base for life-cycle management. comparable ideas like cypher physical systems (cps) and internet of things (iot) all concentrate on the notion of coupling an outer structure into figures of data, computational but does so from contrasting viewpoints such as cps idea is from the iot system engineering and it networking standpoint, but the computational modeling was from the machine learning and artificial intelligence standpoint. vickers and grieves initially defined the term "digital twin," claiming that it encompassed three elements: a physical object in reality, a computer-generated model of that product in virtuality, and the links of information and data that connected the virtual and real environments. grieves' initial description, which this work aims to return to and generalize, has been diluted by the proliferation of definitions and characterizations that have resulted from the interest in digital twins over the past 20 years across a wide range of businesses. according to the broad definition offered directly above, the digital twin technology can be divided into three main parts: (1) a physical object, (2) a virtual model, and (3) links that allow the virtual and physical models to communicate with one another. these three elements are further covered in the following subsections. the physical reality the physical reality of interest has been described in the literature about digital twin technology using an extensive range of vocabulary, much of which is domain specific. this paper proposes the phrase "physical reality" as the most all-encompassing way to describe what may be tried to be modeled since physical reality comprises the known and unknown system. the whole thing can be reduced to its physical componentsthe system, the environment, and the developments. 17 hein, k,k, h., indrawati, u., mohamad yusak. digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives 18 physical system this is known as the collection of interdependent, interacting components that make up the physical system. the structure or function of this group of elements is frequently discussed, and it is distinguished from other types of technology by limits in time and space. the choice of the border often uses the natural divisions connected to the more conventional definition of the expression design. as is evident, the interest involved in the physical environment is often artificial, but as the digital twin technology spreads to other sectors like the administration of health(mohammadi et al., 2018) and agriculture(verdouw & kruize, n.d.), it may also be a part of nature, environment, and the physical body of the humans. physical setting the environment in which the setting of interest was located in a physical environment. the physical process is dominated and surrounded by the physical environment, and the two interact. according to each unique design of the digital twin application, the difference between the physical environment and the physical setting is already established. this distinction may be straightforward in some situations but challenging in others, for instance, in the additive production process. in this instance, the 3d printer is the system of interest on a physical level. at the same time, the surrounding environment includes additional elements directly bearing on the process itself, such as noise, temperature, and humidity. physical processes physical processes can be defined as the meaning of a system, its interaction with the outside world, and how its constituent parts experience state changes. for instance, casting, forging, welding, and other physical processes may be relevant in manufacturing. in the case of asset life-cycle management, the way the interest processing style may be degradation procedures, which might cause the physical setting states to change over time, or the system always setting effects on the loading process. physical methods may also be characterized in the virtual environment, much like the real system and physical environment to facilitate simulations, optimization, and forecasting. virtual representation virtual models should be definite models for physical things, reproducing their geometry, attributes, behaviors, and rules (baruffaldi et al., 2019). the three aspects of geometric models depict a real-world object regarding its size, shape, tolerance, and structural relationship. physical qualities, such as speed, wear, and force, are reflected in the entities of the physical phenomena, such as deformation, corrosion, fracture, and delamination. the behavior model has described behavior such as state transition, performance decline, and coordination, which are a few examples of actions and responses that entities use to deal with changes in the outside surroundings. the rule frameworks give dt logical skills, including reasoning, judgment, and independent making decisions, by adhering to the guidelines derived from past data or subject-matter experts. virtual system the virtual system could be assumed as the element of the virtual representation. the virtual system includes the information and models of the relevant physical system entities at a selected degree of abstraction. it is vital to remember that the virtual system could include various abstract terms of the physical system, and those kinds of models might or might not directly relate to one another. for instance, in an aeroelasticity analysis of an airfoil, the structure model may use the output way and the aerodynamics model as the input way (two-way coupling). 18 business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 19 virtual environment the virtual environment illustrates the natural environment, which looks like a virtual system. due to the fact mentioned, the virtual illustration of the actual setting can be a specific degree of generalization. virtual process the abstract level selected for the virtual illustration; virtual processes designate how the virtual system expresses. a virtual representation of the relevant physical processes is the most typical format. these computer simulations of the physical state changes aid in developing the knowledge needed to assist decision-making. the connection of input and output of a certain process that modifies system states (such as degradation processes, load application and system dynamics etc.) is utilized to build the computational models that are employed to achieve this. these processes' input-output connections are derived from well-established physical principles or data-driven models built using input-output information. the connection between physical setting and virtual setting the connection between physical objects and virtual models where data and information are transferred in both verse versa. the connection is the last element of the idea of digital twin technology. physical to the virtual connection the link between the real and virtual worlds enables the incorporation of newly acquired knowledge from the real world into the most up-to-date version of the state illustrations stored in the virtual world. there are three steps in establishing a physical-to-virtual connection concerning gathering the required data, interpreting the data, and updating the states of virtual representation. the internet of things (iot) and sensor technology are frequently mentioned when addressing data collecting for the digital twin in the first step(canedo, 2016; madni et al., n.d.; verdouw & kruize, n.d.) . even though they are not strictly necessary, technologies that allow for more frequent and extensive measurement are often credited with increasing interest in digital twin concepts. the significant fact that needs to be highlighted is that manual data and offline data collection methods, such as repair records, visual inspection and non-destructive evaluation, are also pertinent in this context. interpreting the data acquired is the second phase in the process. depending on the data, it may involve various steps, such as data processing, curation, and conversion. for example, consider how strain readings are obtained from measuring a power shift in a strain gauge. however, a more abstract depiction would require additional interpretation, such as converting strain data to load cycle counts. utilizing the data to be updated the steps of the virtual illustration is the third stage of the process. in the most straightforward scenarios, the virtual representation is updated to reflect the observed physical system step when the measured data precisely matches a state kept in it. the update of the critical unidentified step of the system and the measurement of the model design is frequently accomplished via system identification approaches. virtual-physical connection to link the virtual world to the real world is to reverse the process by which information and data from the virtual world are transmitted to the real world and its actual things. in the digital twin context, it is important to note that the insight and decisions produced from the virtual environment needs to be comprehended closely in the physical environment. either the data updates or additional information from the physical world needs to be updated time to the virtual world. hein, k,k, h., indrawati, u., mohamad yusak. digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives 20 digital twin implementation a crucial element of industry 4.0, digital transformation is seen as a catalyst for more inventive, optimized, and efficient products and processes. the use of digital twins in real life corresponds to the idea of digital transition, where developing an innovation of business model targets to represent the value of the data and how it behaves a wide range of technical components are present in digital twin components make up an implementation of a digital twin that we aim to generalize. specifying is one of the fundamental components of a digital twin implementation which desired results, specifying the scope of the solution both identifying the physical development of the virtual world, the system of interest and layers of abstraction creating necessary data linkages and representation. a quick analysis of present adoptions of digital twins could be divided into three types: commercial off-the-shelf options, hybrid solutions with customized designs, and digital twin-component solutions. many of the advertised digital twin product options were delivered by platform providers such as microsoft, or by using a computer simulation or model businesses like ansys. typically, these companies promote digital twin strategies that draw on their product offerings in part, it can be combined to provide a customized solution for digital twin implementation. the final is how the digital twin is built. digital twin products that are off the shelf are the next most popular category. typically, these are supplied by original equipment manufacturers (oems), like ge(power digital solutions, 2016), for examples of typical industrial use. the last group entirely owns hybrid strategies, in which the user creates their frequently combined commercial and personalized items, as a solution. since an organization uses a hybrid approach internally, it is difficult to estimate the extent of its industrial application. despite this, it can be the most effective outcome since the abilities of the technology can be arranged and the functions can be managed with a regular increase. according to myung-sun baek, deuk young jeong (jeong et al., 2022a) digital twin implementation process can be divided into five layers which is composed of 1. digital virtualization, 2. digital twin synchronization, 3. modeling and simulation, 4. federated digital twin and 5. intelligent digital twin services. digital virtualization digital virtualization is an essential component of digital twin technology. among this component, the object's information and data in the physical environment are gathered and transferred to the virtual environment. moreover, the digitalized data was managed to be analysed and visualized for intended objects. this layer is made up of eight different parts, including a virtual sensor, object recognition, data collection and processing, multidimensional data casual relation analysis and technology integration, and real-world data pre-processing; multidimensional data and object modelling; a processing and analysis framework; a digital object transferred storage solution; and sensor replacement optimization. digital twin synchronization in this stage, physical things are related to the digital model in the virtual world. this process involves seven technological elements: data transmission at high speeds with minimal latency, management of data transmission and space-time synchronization technologies, reduction of workload, verification of data and information efficacy, object cleaning, actuation in the real world, and updating of data in real time. (olatunji et al., 2021) modeling and simulation during the modeling and simulation process, physical object problems were solved within a digital model and several simulations 20 business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 21 are processed. in this layer, it must be considered both perceptible and impalpable objects. (wright & davidson, 2020). the elements involved in this stage are electronic physics displaying, the rule of the system technology, behavioral modeling, digital twin replication and modeling confirmation, instinctive state generation and tailoring, and certification technologies. federated digital twin this stage involves a strategy to create huge-sized digital models originating from numerous types of small digital twin models. consequently, internetworking and collaboration technologies of several digital twins could be the technical elements which is assumed for the administration of the digital twin technology, the organization for metadata formation and arrangement, intelligence federation and technologies for exchanging the data between digital twin models. (rassõlkin et al., 2021) intelligent digital twin services this stage relates to services and service management of digital twin technology which always uses the same podium. in the initial stage, high-speed visualization, managing service resources for intelligence and service information arrangement is associated with digital twin facility technologies. other correlated examples are service assessment, problem discovery, and service preservation technologies. eine architektur (ashtari talkhestani et al., 2019) described the architecture and necessary parts for an intelligent digital twin such as plug-and-play, personal learning and curative prognostic conservation. the synopsis of the intelligence of the digital twin technology in use was presented in reference.(olatunji et al., 2021) digital twin applications the applications of digital twins can be divided into three parts in this paper. the primary technology areas are smart cities, health care, medicine, and engineering-related software conducted in digital twin technology. smart cities as the number of "smart cities" grows, more digital twins will be used in the global it community. in addition to this, digital technology may be guaranteed for smart cities' sustainability, citizen welfare, and economic growth. additionally, it has applications in asset management, maintenance, and city planning for specific sectors. the quality of life, mobility, and citizen services may all be improved with the help of city-scale digital twin technologies.(wright & davidson, 2020). instead of striving for economic efficiency, the digital twin approach focuses on bettering people's quality of life. from industries and constructions to stadiums and whole towns, microsoft azure's digital twins can combine heterogeneous assets and environments and glean information from them all. meanwhile, dassault systems pushes the envelope by including vr and 3d rendering into the system. according to white g(white et al., n.d.), the authors explain how traffic, transportation, electricity generation, utility provisioning, management of water sources, and trash management are just a few examples of the many data sources that modern cities generate. in today's more developed smart cities, the application of digital twin technologies has expanded. health care and medicine recent reports18 have surfaced in the literature on the use of digital twin technology in healthcare. several possible use domains have already been identified, including fitness, (barricelli et al., 2020) simulations of viral infections, and promoting healthy lifestyles in smart cities.(laamarti et al., 2020) , healthcare administration(laaki et al., 2019) and the potential of remote surgery (laaki et al., 2019). 21 hein, k,k, h., indrawati, u., mohamad yusak. digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives 22 digital twin technology has several applications in healthcare administration, including ai and data science methods for delivering individualized patient treatment. implementing such technologies creates a digital copy of a person's physical form, complete with all their bodily data, which can then be accessed in the real world by mobile phones, online services, and wearable sensors.(shengli, 2021) engineering digital twin technology is essential for process modeling, simulation, and cyberphysical system optimization(guerra et al., 2019). it can enhance our understanding of intricate physical processes by providing their diagnosis, modeling, monitoring, optimization, prognosis, and health management services.(qi et al., 2021a). as a result, dts allow businesses to do more exact calculations, make the same choices, and make better arrangements (tao et al., 2019). to predict a physical system's future behavior and performance, dt applications in engineering aim to provide valuable industry data, allowing or self-adaptive behavior from the machinery (predictive) (bottani & murino, 2017; zhou et al., 2021a). ar and vr for simulation through the dt are safer techniques (with extra capabilities) that allow for working in risky conditions and remote access, even if a dt need not imply a spatial/visual model. (rassõlkin et al., 2021). however, only around 18% of engineering dt applications are used for design. the remaining 35% find application in the industrial sector, 38% in prognostics and health management (phm), and 9% elsewhere.(tao et al., 2019). the manufacturing creation lifetime includes steps such as plan, manufacture, distribution, consumption, and even end of life, each of which may call for different considerations.(singh et al., 2021). research methodology the scoping review of this paper us the prisma-scr (preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses protocols extension for scoping reviews) guidelines. the components of a scoping review are a review of relevant literature, curating relevant articles, extracting and analyzing relevant data, and discussing the consequences of the research questions. eligibility criteria the research question was structured according to the population, concept, and context (pcc) framework shown in table 1 . table 1. pcc (population, concept, and context) criteria and definitions pcc criteria definitions population “relevant features of participants, such as age and eligibility requirements” you may not need to add this part if your inquiry does not include a narrowly defined condition or population. concept the scope and breadth of the inquiry can be shaped by a well-defined central notion that is the focus of the scoping review. it may include information that is often included in a systematic review, such as information about the "interventions," and/or "phenomena of interest," and/or "outcomes." context " cultural considerations may involve geography and ethnic and gender-based preferences. in some circumstances, additional information regarding the physical location may also be included as part of the context." business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 23 search strategy previous literature was reviewed on 5 academic sources and databases: google scholar, sage journals, elsevier; ieee access, and springer link. the initial search began on january 1, 2022 (1/1/2018) and will end on december 31, 2022 (31/12/2022). the four databases were carefully selected to provide comprehensive coverage of the study of digital twin technology and the analysis, description, and application. finding pertinent articles from previous database searches, as well as grey literature and non-academic publications, required using the google search engine. journals published by sage were used to provide background information about digital twin technology in fields including medicine, engineering, and technology. the digital twin application's future technologies and tools were found via elsevier. springer was used to identify the engineering field investing in digital twin technology using data gathered throughout for making a product. the structure also includes a set of search phrases categorized into two broad categories: digital twin technology and characterization or implementation. article titles and abstracts are analyzed to determine which keywords should be used in the search. the keywords and search concepts used in this review are shown in table 2. table 2. the terms used in the search strategy category keywords (in title or abstract) digital twin technology digital twin characterization ‘characterization’ implementation ‘implementation of digital twin’ or ‘digital twin implementation’ or ‘ inclusion criteria inclusion criteria for the review included studies that described the usage of digital twin technology and its characterization and implementation. no restrictions were placed on the number of copies that may be purchased because of the publishing year. exclusion criteria research published in languages other than english was not considered since it focused on using digital twins in medical, technology, and engineering fields. no consideration was given to articles that did not directly address digital twin technology. hein, k,k, h., indrawati, u., mohamad yusak. digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives 24 table 3. data extraction information of articles general study information general study information • publication title • publication year characteristics of digital twin technology • digital twin model • characterization • implementation process of selecting and vetting articles the search resulted in downloading academic journals, articles and papers, nonacademic publications, and study case reports; duplicates were deleted. duplicates were weeded out, and then the paper was viewed in three stages (title, abstract, and full text) using the inclusion and exclusion assessments mentioned above. the evaluation and selection procedures were documented in a prisma flowchart for future reference. analysis and synthesis of data the heterogeneity of the available data made it impossible to do a meta-analysis or statistical analysis. a narrative synthesis was used on the extracted data to review the literature on current digital twin technologies comprehensively. a summary of the results is presented in the discussion. it also discussed defining and applying digital twin technologies to draw conclusions and conduct follow-up studies. findings included research when the elimination process is finished among in the database, 11 papers met the exclusion and inclusion assessments. the assessment involves removing duplicates and doing a preliminary screening of abstracts and full texts. the prisma scr checklist is provided in appendix a, and the prisma flow diagram (figure 1) illustrates the screening procedure. study characteristic some publications described digital twin technology and associated approaches, while others proposed a framework to facilitate cloudbased data storage that needed more testing. as a result, the publications are divided into two categories: those that provide a framework model (5/10) and those that provide a scoping assessment of the relevant literature (6/10). search strategy for the literature the literature search resulted in 1760 citations (fig. 1). after screening 782 potentially relevant full-text papers, 522 were excluded for not being a methodology paper or scoping review, 262 were excluded for not being reported sought for retrieval, and 5 were excluded for not being retrieved. subsequently, 255 papers included full citations and complete data. among them, 126 papers were excluded not enough information and 74 were extracted for specific industries and 44 were excluded from different perspectives. finally, 11 papers were included in this scoping review, 4 were framework/model papers, 4 were review papers, 1 is a literature review paper, 1 comprehensive review paper and 1 framework/case study. all the 11 different types of papers were for the 1260 scoping reviews. business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 25 figure 1. flow diagram for the search strategy: preferred reporting items for systematic reviews and meta-analysis (prisma) discussion the paper conducted a comprehensive scoping review that included 1260 papers on scoping reviews. the results highlight an explosion in the number of scoping reviews produced between 2018 to 2022. however, variability in the reporting and conduct of scoping reviews was observed, which may impact digital twin technology. most of the scoping reviews were completed with funding, often from a public organization, suggesting that decision-makers are requesting these reviews. as such, improved quality of reporting is imperative for scoping reviews. our results also suggest that the methodology used by the scoping reviews can be improved. when we compared the methods employed by the 522 scoping reviews, we identified a lack of compliance on key items recommended by the joanna briggs institute in their methods guidance for scoping reviews. indeed, many scoping reviews reported shortcuts in their methods, making them similar to those included in our recent scoping review of rapid review methods (bottani & murino, 2017; zhou et al., 2021a). however, given that the joanna briggs institute only recently published its methods guidance, this could suggest a lack of awareness of the methodological rigor required hein, k,k, h., indrawati, u., mohamad yusak. digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives 26 to conduct a scoping review, such as the use of a protocol, which was not mentioned in the previous guidance. taking the newly available guidance into account, a future update of our scoping review will help to identify any improvements in the conduct of scoping reviews. we are aware of a previous scoping review of scoping reviews. the lack of compliance with key steps outlined in the joanna briggs institute manual could also be an issue of poor reporting; perhaps the authors of scoping reviews were unaware of the items necessary to report. this is particularly problematic, as 34 % of the included scoping reviews reported some policy implications concerning their findings. scoping reviews have some limitations because the focus is to provide breadth rather than depth of information on a particular topic. as such, the conduct of a metaanalysis is generally not conducted in a scoping review. however, this method was appropriate because our objective was to map out the evidence on scoping reviews in the literature. the study results will be of interest to knowledge users, including journal editors and researchers who conduct scoping reviews. the study plans to use its results to create an online educational module for trainees, peer reviewers, and journal editors on conducting and reporting scoping reviews. the ultimate goal is to create a guideline in the form of a checklist for reporting scoping reviews and their protocols using the methods outlined by the preferred reporting items for systematic reviews and metaanalysis (prisma). the study plan is to have the scoping review reporting guideline (and checklist) specific to the characterization and implementation of the digital twin technology conclusion to categorize what is and is not a digital twin, this work has attempted to characterize digital twins broadly. it comprehensively describes digital twin technology characterization, implementation, and its applications in smart cities, health care and medicine, and engineering. the procedure in which digital twins can be utilized practically was explored after providing a description and characterization, highlighting the applications and implementation strategies. desired results should guide the advancement of a digital twin with the involvement of the specifics of its parts (s). this will aid in establishing the criteria for the necessary models, data, and process updating the models depending on the data. several distinct enabling technologies must be included in digital twin deployments. it is still difficult to combine these technologies using commercially available tools to create a digital twin, build one out of commercial parts, or adopt a hybrid technique. limitations and scope for future research the study suggests that further education is necessary for researchers conducting scoping reviews, journal editors, peer reviewers, and funding agencies on the important components of a scoping review. for example, online modules can be shared with these important stakeholders. since a reporting guideline for scoping reviews was not identified, this is another initiative that may boost reporting of scoping reviews. members of our research team are currently seeking funding to produce a reporting guideline for scoping reviews. more research and development are needed to solve some of the digital twin's technological challenges. other difficulties are cultural and necessitate changing the way things are done now and how people think. the variety of newfangled sectors and used studies point out that digital twins are being functionalized to clearly shows that the concept is continually growing. a further indication of this concept's ongoing evolution is the dearth of real-world instances that illustrate digital twins' undeniable advantages. despite the idea's widespread acceptance, there are concerns about 30 31 business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 27 the technology's capacity to improve upon current procedures. successful technological value demonstrations are necessary to provide the answers to these issues. reference a scoping review of digital twins in the context of the covid-19 pandemic _ enhanced reader. (n.d.). ashtari talkhestani, b., jung, t., lindemann, b., sahlab, n., jazdi, n., schloegl, w., & weyrich, m. (2019). an architecture of an intelligent digital twin in a cyber-physical production system. atautomatisierungstechnik, 67(9), 762–782. https://doi.org/10.1515/auto-2019-0039 barricelli, b. r., casiraghi, e., gliozzo, j., petrini, a., & valtolina, s. (2020). human digital twin for fitness management. ieee access, 8, 26637–26664. https://doi.org/10.1109/access.2020.297 1576 baruffaldi, g., accorsi, r., & manzini, r. (2019). warehouse management system customization and information availability in 3pl companies: a decision-support tool. industrial management and data systems, 119(2), 251–273. https://doi.org/10.1108/imds-01-20180033 botín-sanabria, d. m., mihaita, s., peimbertgarcía, r. e., ramírez-moreno, m. a., ramírez-mendoza, r. a., & lozoyasantos, j. de j. (2022). digital twin technology challenges and applications: a comprehensive review. in remote sensing (vol. 14, issue 6). mdpi. https://doi.org/10.3390/rs14061335 bottani, e., & murino, t. (2017). from the cyber-physical system to the digital twin: the process development for behaviour modelling of a cyber guided vehicle in m2m logic seramis-sensorenabled real-world awareness for management information systems view project wearable augmented reality for employee safety in manufacturing systems (w-artemys) view project. https://www.researchgate.net/publication/ 334113041 canedo, a. (2016, november 21). industrial iot life-cycle via digital twins. 2016 international conference on hardware/software codesign and system synthesis, codes+isss 2016. https://doi.org/10.1145/2968456.2974007 delen, d., & demirkan, h. (2013). data, information and analytics as services. decision support systems, 55(1), 359– 363. https://doi.org/10.1016/j.dss.2012.05.04 4 fuller, a., fan, z., day, c., & barlow, c. (2020). digital twin: enabling technologies, challenges and open research. ieee access, 8, 108952– 108971. https://doi.org/10.1109/access.2020.29 98358 guerra, r. h., quiza, r., villalonga, a., arenas, j., & castano, f. (2019). digital twin-based optimization for ultraprecision motion systems with backlash and friction. ieee access, 7, 93462–93472. https://doi.org/10.1109/access.2019.29 28141 jeong, d. y., baek, m. s., lim, t. b., kim, y. w., kim, s. h., lee, y. t., jung, w. s., & lee, i. b. (2022a). digital twin: technology evolution stages and implementation layers with technology elements. ieee access, 10, 52609– 52620. https://doi.org/10.1109/access.2022.31 74220 https://doi.org/10.1109/access.2019.2928141 https://doi.org/10.1109/access.2019.2928141 hein, k,k, h., indrawati, u., mohamad yusak. digital twin technology: a scoping review of characterization and implementation through business it perspectives 28 jeong, d. y., baek, m. s., lim, t. b., kim, y. w., kim, s. h., lee, y. t., jung, w. s., & lee, i. b. (2022b). digital twin: technology evolution stages and implementation layers with technology elements. ieee access, 10, 52609– 52620. https://doi.org/10.1109/access.2022.31 74220 karve, p. m., guo, y., kapusuzoglu, b., mahadevan, s., & haile, m. a. (2020). digital twin approach for damage-tolerant mission planning under uncertainty. engineering fracture mechanics, 225, 106766. https://doi.org/10.1016/j.engfracme ch.2019.106766 laaki, h., miche, y., & tammi, k. (2019). prototyping a digital twin for real time remote control over mobile networks: application of remote surgery. ieee access, 7, 20235–20336. https://doi.org/10.1109/access.2019.28 97018 laamarti, f., badawi, h. f., ding, y., arafsha, f., hafidh, b., & saddik, a. el. (2020). an iso/ieee 11073 standardized digital twin framework for health and wellbeing in smart cities. ieee access, 8, 105950–105961. https://doi.org/10.1109/access.2020.29 99871 liu, m., fang, s., dong, h., & xu, c. (2021). review of digital twin about concepts, technologies, and industrial applications. journal of manufacturing systems, 58, 346–361. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2020.06.01 7 macchi, m., roda, i., negri, e., & fumagalli, l. (2018). exploring the role of digital twin for asset life-cycle management. ifac-papersonline, 51(11), 790–795. https://doi.org/10.1016/j.ifacol.2018.0 8.415 madni, a. m., madni, c. c., & lucero, s. d. (n.d.). leveraging digital twin technology in model-based systems engineering. https://doi.org/10.3390/systems7010007 mohammadi, ), jahromi, a., khademi, m. g., alighanbari, h., khabiri, m., & jahromi, m. m. (2018). terms and conditions privacy policy understanding kid’s digital twin publication stage: final source: scopus. olatunji, o. o., adedeji, p. a., madushele, n., & jen, t. c. (2021). overview of digital twin technology in wind turbine fault diagnosis and condition monitoring. proceedings of 2021 ieee 12th international conference on mechanical and intelligent manufacturing technologies, icmimt 2021, 201–207. https://doi.org/10.1109/icmimt52186.2 021.9476186 opoku, d. g. j., perera, s., osei-kyei, r., & rashidi, m. (2021). digital twin application in the construction industry: a literature review. in journal of building engineering (vol. 40). elsevier ltd. https://doi.org/10.1016/j.jobe.2021.10272 6 power digital solutions, g. (2016). ge power digital solutions ge digital twin. qi, q., tao, f., hu, t., anwer, n., liu, a., wei, y., wang, l., & nee, a. y. c. (2021a). enabling technologies and tools for digital twin. journal of manufacturing systems, 58, 3–21. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2019.10.00 1 qi, q., tao, f., hu, t., anwer, n., liu, a., wei, y., wang, l., & nee, a. y. c. (2021b). enabling technologies and tools for digital twin. journal of manufacturing systems, 28 https://doi.org/10.1109/access.2022.3174220 https://doi.org/10.1109/access.2022.3174220 https://doi.org/10.1016/j.engfracmech.2019.106766 https://doi.org/10.1016/j.engfracmech.2019.106766 https://doi.org/10.1109/access.2019.2897018 https://doi.org/10.1109/access.2019.2897018 https://doi.org/10.1109/access.2020.2999871 https://doi.org/10.1109/access.2020.2999871 https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2020.06.017 https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2020.06.017 https://doi.org/10.1016/j.ifacol.2018.08.415 https://doi.org/10.1016/j.ifacol.2018.08.415 https://doi.org/10.3390/systems7010007 https://doi.org/10.1109/icmimt52186.2021.9476186 https://doi.org/10.1109/icmimt52186.2021.9476186 https://doi.org/10.1016/j.jobe.2021.102726 https://doi.org/10.1016/j.jobe.2021.102726 https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2019.10.001 https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2019.10.001 business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 29 58, 3–21. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2019.10.00 1 rassõlkin, a., orosz, t., demidova, g. l., kuts, v., rjabtšikov, v., vaimann, t., & kallaste, a. (2021). implementation of digital twins for electrical energy conversion systems in selected case studies. proceedings of the estonian academy of sciences, 70(1), 19–39. https://doi.org/10.3176/proc.2021.1.03 roy, r. b., mishra, d., pal, s. k., chakravarty, t., panda, s., chandra, m. g., pal, a., misra, p., chakravarty, d., & misra, s. (2020). digital twin: current scenario and a case study on a manufacturing process. international journal of advanced manufacturing technology, 107(9–10), 3691–3714. https://doi.org/10.1007/s00170-02005306-w shengli, w. (2021). is human digital twin possible? computer methods and programs in biomedicine update, 1, 100014. https://doi.org/10.1016/j.cmpbup.2021.10 0014 singh, s., weeber, m., & birke, k. p. (2021). advancing digital twin implementation: a toolbox for modelling and simulation. procedia cirp, 99, 567–572. https://doi.org/10.1016/j.procir.2021.03.0 78 tao, f., zhang, h., liu, a., & nee, a. y. c. (2019). digital twin in industry: state-ofthe-art. ieee transactions on industrial informatics, 15(4), 2405–2415. https://doi.org/10.1109/tii.2018.2873186 vanderhorn, e., & mahadevan, s. (2021). digital twin: generalization, characterization and implementation. decision support systems, 145. https://doi.org/10.1016/j.dss.2021.1135 verdouw, c. n., & kruize, j. w. (n.d.). digital twins in farm management: illustrations from the fiware accelerators smartagrifood and fractals. white, g., zink, a., codecá, l., & clarke, s. (n.d.). a digital twin smart city for citizen feedback. https://www.scss.tcd.ie/ wright, l., & davidson, s. (2020). how to tell the difference between a model and a digital twin. advanced modeling and simulation in engineering sciences, 7(1). https://doi.org/10.1186/s40323-02000147-4 zheng, y., yang, s., & cheng, h. (2019). an application framework of digital twin and its case study. journal of ambient intelligence and humanized computing, 10(3), 1141–1153. https://doi.org/10.1007/s12652-0180911-3 zhou, c., xu, j., miller-hooks, e., zhou, w., chen, c. h., lee, l. h., chew, e. p., & li, h. (2021a). analytics with digitaltwinning: a decision support system for maintaining a resilient port. decision support systems, 143, 113496. https://doi.org/10.1016/j.dss.2021.1134 96 zhou, c., xu, j., miller-hooks, e., zhou, w., chen, c. h., lee, l. h., chew, e. p., & li, h. (2021b). analytics with digitaltwinning: a decision support system for maintaining a resilient port. decision support systems, 143, 113496. https://doi.org/10.1016/j.dss.2021.1134 96 . https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2019.10.001 https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2019.10.001 https://doi.org/10.3176/proc.2021.1.03 https://doi.org/10.1007/s00170-020-05306-w https://doi.org/10.1007/s00170-020-05306-w https://doi.org/10.1016/j.cmpbup.2021.100014 https://doi.org/10.1016/j.cmpbup.2021.100014 https://doi.org/10.1016/j.procir.2021.03.078 https://doi.org/10.1016/j.procir.2021.03.078 https://doi.org/10.1109/tii.2018.2873186 https://doi.org/10.1016/j.dss.2021.1135 https://www.scss.tcd.ie/ https://doi.org/10.1186/s40323-020-00147-4 https://doi.org/10.1186/s40323-020-00147-4 https://doi.org/10.1007/s12652-018-0911-3 https://doi.org/10.1007/s12652-018-0911-3 https://doi.org/10.1016/j.dss.2021.113496 https://doi.org/10.1016/j.dss.2021.113496 01 dafazal saffan.pmd raden irwan priambodo, analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x 77 analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x raden irwan priambodo magister manajemen, unversitas airlangga e-mail: irwan.priambodo@yahoo.com abstract: one form of behavior is the wish of employees the move (turnover intentions) that led to the decision employees to left his job. with the level of turnover to companies, will increase have a potential costs, whether it is the cost of training who have invested on employees, the performance that should be sacrificed, and the costs recruitment and training back. the purpose of this research is to know the factors that affect turnover employee who happened to pt x. this study used a quantitative approach. quantitative the kind of research that is used on the thesis this is quantitative explorative. the population of this study is all former employees of pt x total of 145 employees. the sample used using formulas slovin which totaled 107 an employee with a method of purposive addition to random. data collection method that is used is questionnaire and documentation the result of this research are six factors that becomes consideration respondents to get out of companies are compensation (factor of 1), career opportunity (factor of 2), employee opportunities elsewhere (factor of 3), personal growth and development (factors of 4), uncomfortable work (factor of 5) and job dissatisfaction (factor of 6). kata kunci: turnover intention, factor analysis pendahuluan sumber daya manusia dipandang sebagai asset perusahaan yang penting, karena manusia merupakan sumber daya yang dinamis dan selalu dibutuhkan dalam tiap proses produksi barang dan jasa. di dalam perusahaan, sumber daya manusia merupakan sustainable competitive advantage. di mana produk yang dimiliki perusahaan dapat dengan mudah ditiru oleh kompetitor, sedangkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan, tidak akan pernah bisa sama. oleh karena itu perusahaan dituntut tidak hanya dapat merekrut karyawan yang berkualitas, namun juga mempertahankan karyawannya (sexton et al., 2004). kompas cyber media (2007) merilis hasil survei global strategic rewards 2007/2008 yang dilakukan watson wyatt yang menemukan bahwa turnover karyawan saat ini telah menjadi masalah perusahaan-perusahaan di indonesia, karena yang sering terjadi adalah karyawan berprestasi tinggilah yang gampang berpindah perusahaan. hal ini memberikan dampak yang buruk pada perusahaan karena karyawan berprestasi tinggi bukanlah hal yang mudah didapat. salah satu bentuk perilaku karyawan tersebut adalah keinginan berpindah (turnover intentions) yang berujung pada keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya. dengan tingginya tingkat turnover pada perusahaan, akan semakin banyak menimbulkan berbagai potensi biaya, baik itu biaya pelatihan yang sudah diinvestasikan pada karyawan, tingkat kinerja yang mesti dikorbankan, maupun biaya rekrutmen dan pelatihan kembali (suwandi dan indriantoro 1999). menurut laporan dari tower watson, menyebutkan tingkat voluntary turnover di indonesia mencapai 20,35 persen di atas dari tingkat voluntary turnover yang terjadi di negara business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 8 berkembang di asia pasifik (12,39 persen) dan tingkat voluntary turnover di dunia yang mencapai angka 8,24 persen. sedangkan untuk tingkat involuntary turnover di indonesia mencapai 0,52 persen, di bawah rata-rata negara berkembang di asia pasifik yang mencapai 2,61 persen dan rata-rata dunia yang mencapai 2,69 persen. namun, jika diukur seluruhnya tingkat employee turnover di indonesia mencapai 20,87 persen, sedangkan negara berkembang di asia pasifik rata-rata hanya 15 persen dan rata-rata dunia 11,20 persen. pt “x” merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang satu perusahaan yang sedang berkembang dan bergerak di bidang pelayanan jasa laboratorium kesehatan. pt “x” mempunyai 18 cabang yang tersebar di seluruh indonesia. turnover karyawan juga terjadi pada pt “x”, menurut data departemen sdm menunjukkan adanya tren turnover karyawan. data pada tahun 2014 hingga 2015 menunjukkan adanya peningkatan turnover karyawan dari 48,1 persen menjadi 112,1 persen. dalam grafik 1 menunjukkan adanya tren penurunan tingkat turnover pada karyawan yang berstatus karyawan tetap, pada tahun 2014 sebesar 31% hingga pada tahun 2016 sebesar 12,9%. sedangkan tingkat turnover untuk karyawan yang berstatus kontrak mengalami tren kenaikan, pada tahun 2014 sebesar 31%, tahun 2015 sebesar 52,9% dan pada tahun 2016 sebesar 58,1%. untuk karyawan dengan status training, tingkat turnover pada tahun 2014 mencapai 37,9%, mengalami penurunan menjadi 17,6% pada tahun 2015 dan kembali meningkat menjadi 29% pada tahun 2016. gambar 1 sumber: 2012-2013 global talent management and rewards study’, towers watson, 2012 grafik 1 employee turnover rate pt “x” berdasarkan status kerja periode 2014–2016 sumber: data internal departemen sdi & umum pt “x” gambar 2 sumber: www.jobstreet.co.id, 2017. raden irwan priambodo, analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x 9 berdasarkan informasi yang dihimpun dari jobstreet.co.id, review dari pt “x” yang dilakukan oleh mantan karyawan menunjukkan overall rating pada angka 3,1 dari 5. pada review ini ada lima aspek yang dinilai yaitu benefit & perks, career development, work life balance, working environment, dan management. dari penjabaran review pada gambar i.2 ada tiga aspek yang memiliki skor rendah, yaitu management dengan skor 1,8, career development dengan skor 2,0 dan benefit & perks dengan skor 2,2. sedangkan dua aspek yang mendapat penilaian tertinggi adalah work life balance dengan skor 3,2, dan working environment dengan skor 4. perumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di dalam penelitian, maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah: “analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt “x”?” tinjauan pustaka turnover keluarnya pekerja dari perusahaan atau organisasi tampaknya menimbulkan biaya yang sangat besar bagi organisasi (arthur, 2001). proses rekrutmen tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga tenaga dan biaya yang tidak sedikit. untuk itu memang diperlukan suatu usaha dari perusahaan untuk mempertahankan karyawan terutama jika mereka merupakan menempati posisi strategis dalam perusahaan. menurut noe (2000), turnover adalah salah satu bentuk dari physical job withdrawal, sedangkan yang dimaksud dengan job withdrawal adalah adanya satu set perilaku ketidakpuasan atas pekerjaan, yang membuat seseorang menghindari situasi pekerjaan. menghindari situasi pekerja bisa diekspresikan dalam bentuk penolakan secara fisik, artinya pekerja itu benar-benar keluar dari tempat kerjanya. bisa pula ekspresi itu berbentuk produktivitas kerja yang rendah, namun pekerja tersebut belum pindah dari tempat kerjanya. bentuk job withdrawal yang lain adalah berbentuk sikap protes dari pekerja, namun kelak arahnya adalah pekerja tersebut akan keluar meninggalkan organisasi atau perusahaan, ini juga merupakan salah satu definisi turnover (noe, 2000). jenis-jenis employee turnover menurut robert l. mathis dan john h. jackson (2008, p84–86), employee turnover dikelompokan dalam beberapa cara yang berbeda. setiap klasifikasi berikut dapat digunakan dan tidak terpisah satu sama lain. 1. voluntary turnover voluntary turnover merupakan turnover yang diajukan oleh perorangan adalah turnover sukarela. turnover secara sukarela dapat disebabkan oleh banyak faktor, termasuk peluang karier, gaji, pengawasan, geografi, dan alasan pribadi atau keluarga. turnover secara sukarela juga tambah meningkat seiring dengan bertambahnya ukuran organisasi, hal ini dikarenakan semakin besar ukuran perusahaan, sehingga semakin banyak kemungkinan terjadinya turnover. semakin perusahaan tersebut bersifat impersonal, begitu pula dengan birokrasi organisasi yang ada dalam perusahaan tersebut. 2. involuntary turnover involuntary turnover merupakan pergerakan keluar masuknya seorang individu dari suatu business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 10 evaluate the idea of searching of new job memberikan gambaran bahwa berikut merupakan evaluasi dari kebutuhan yang diharapkan dari proses pengunduran diri. jika karyawan merasa bahwa biaya yang dikeluarkan untuk keluar dari suatu pekerjaan adalah rendah, maka hal ini akan memperkuat keinginan karyawan untuk keluar, sebaliknya jika karyawan merasa biaya yang dikeluarkan tinggi maka karyawan akan mempertimbangkan kembali pekerjaan yang sekarang dan menekan keinginan untuk keluar. biaya yang dimaksud adalah biaya perjalanan, kehilangan waktu kerja, juga kehilangan kesenioritasan dan lainnya. jika kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan baru tersedia dan biaya yang diperlukan tidak menjadi penghalang, maka tahap selanjutnya adalah plan the search for the new job yaitu perilaku untuk mencari pekerjaan lainnya. pada tahap ini faktor yang tidak berhubungan dengan pekerjaan bisa juga mendatangkan keinginan untuk mencari pekerja lain. faktor tersebut contohnya adalah kesehatan, kepindahan suami/istri dan lain sebagainya. keinginan untuk mencari pekerjaan baru tersebut, ditunjukkan pada tahap actually do the search. langkah selanjutnya adalah evaluate the alternatives yaitu karyawan mulai melakukan berbagai evaluasi untuk alternatif yang ada dengan pekerjaan saat ini yang digambarkan pada tahap compare alternatives to current job. apabila dari hasil membandingkan tersebut didapatkan alternatif pekerjaan yang lebih baik, maka hal tersebut akan menjadi pendorong karyawan untuk keluar dari pekerjaan yang ditunjukkan pada tahap plan to quit or stay. keinginan tersebut diwujudkan dalam tahap actually quit or stay. namun jika hasil evaluasi menunjukkan sebaliknya yaitu pekerjaan saat ini lebih baik daripada alternatif pekerjaan lainnya, maka karyawan akan melanjutkan pencarian, mengorganisasi, yang dilakukan bukan atas kehendak individu. nama lain tipe ini adalah involuntary separation, yang berarti berhentinya seseorang dari organisasi atas keinginan organisasi, termasuk kematian, dan diperintahkan mengundurkan diri. involuntary turnover diajukan oleh pihak organisasi di mana karyawan bekerja. salah satu contoh situasi di mana seseorang diperintahkan untuk mengundurkan diri atau bukan atas keinginan antara lain phk (pemutusan hubungan kerja) karena perusahaan tempat bekerja mengalami kebangkrutan atau karena kinerja karyawan rendah. menurut heneman dan judge (2009, dalam iqbal, 2010), involuntary turnover dapat dibedakan menjadi dua kategori berikut. 1. discharge turnover, yaitu turnover karyawan yang disebabkan oleh tindakan indisipliner atau kinerja yang kurang memuaskan. 2. downsizing turnover, yaitu turnover karyawan yang disebabkan adanya restrukturisasi organisasi, program pengurangan karyawan dalam meningkatkan performa perusahaan dan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham. proses employee turnover evaluate standing with current job merepresentasikan proses evaluasi pekerjaan saat ini, sedangkan determine job satisfaction or dissatisfaction merepresentasikan hasil emosional dari kepuasan atau ketidakpuasan kerja. beberapa studi tentang turnover menguji hubungan langsung antara kepuasan kerja dengan turnover. think of quitting menjelaskan bahwa salah satu dari konsekuensi ketidakpuasan kerja adalah dorongan berpikir untuk keluar dari pekerjaan. bentuk lain dari pengunduran diri yaitu absenteeism (banyaknya ketidakhadiran) dan passive job behavior (tidak berkerja dengan giat). raden irwan priambodo, analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x 11 evaluasi ulang apa yang diharapkan dari pengunduran diri, evaluasi pekerjaan saat ini, menerima pekerjaan saat ini, mengurangi keinginan untuk keluar dari pekerjaan saat ini dan atau menggunakan cara pengunduran diri lainnya. dampak employee turnover berbagai sumber menyebutkan bahwa employee turnover dapat memberikan dampak negatif atau positif. menurut butali et al., 2013, employee turnover memberikan beberapa dampak negatif, di antaranya adanya penurunan atas kepuasan konsumen terhadap kinerja organisasi, menurunkan kemampuan organisasi dalam menciptakan profit, dan menurunkan moral karyawan. sedangkan menurut penelitian apomah dan cudjor (2015), employee turnover bisa memberikan dampak positif dan negatif bagi organisasi. untuk dampak positif dari employee turnover di antaranya, memberikan kesempatan promosi bagi karyawan yang bertahan, memberikan adanya ide, inovasi, dan skill yang baru ke dalam organisasi, menggantikan karyawan yang memiliki performa rendah. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. jenis penelitian kuantitatif yang digunakan pada tesis ini adalah kuantitatif eksploratif, menurut sekaran (2013), penelitian eksploratif dilakukan jika informasi dari suatu keadaan atau fenomena tidak diketahui dengan pasti, sehingga perlu digali informasi yang lebih dalam dengan bantuan literatur ataupun membentuk diskusi atau wawancara dengan objek penelitian. pendekatan ini dimulai dengan teori-teori, langkah selanjutnya adalah membuat model analisis, mengidentifikasikan variabel, membuat definisi operasional, mengumpulkan data populasi dan sampel serta melakukan analisis. penelitian ini menggunakan teknik analisis faktor. sampel dan teknik pengambilan sampel populasi dan sampel dalam penelitian ini merupakan seluruh mantan karyawan pt “x”. jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 145 orang. di dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling, sedangkan jumlah sampel yang diambil berdasarkan rumus slovin sebanyak 107 orang. lokasi penelitian penelitian ini dilakukan di pt x. teknik analisis analisis faktor adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis struktur dengan hubungan antara variabel-variabel dengan jumlah yang besar, misalnya hasil tes, bentuk tes, respons dari angket, angket dan lainnya, analisis tersebut dilakukan dengan cara menentukan variabelvariabel yang paling saling berhubungan/faktor. fungsi umum dari analisis faktor ialah untuk menemukan cara dalam merangkum informasi dalam bentuk faktor-faktor (variabel-variabel) menjadi faktor yang lebih kecil tanpa mengurangi informasi yang sudah dikumpulkan (hairs, et al, 2006:102). analisis dan pembahasan hasil penelitian uji validitas dan reliabilitas uji validitas dilakukan pada kuesioner yang dibagikan kepada responden, yaitu dengan business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 12 melihat 26 variabel yang sudah mengalami proses extraction pada tabel communalities. karena faktor loading pada tabel communalities hasilnya > 0.4 maka 26 variabel pada kuesioner tersebut dinyatakan valid. analisis faktor terdiri dari dua tahap yaitu kmo dan bartlett’s test serta extraction. uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan besaran cronbach’s alpha yang lebih besar dari 0.6 yaitu 0.921 sehingga dapat dikatakan reliabel. analisis faktor analisis faktor dilakukan untuk mencari faktor-faktor baru dari 26 variabel dilihat dari tingkat kepentingannya agar dapat dianalisis lebih lanjut. digunakan metode analisis faktor karena peneliti ingin menganalisis faktor penting yang menjadi pertimbangan karyawan terhadap keinginan keluar dari perusahaan. tahapan extraction x1 0.508 x2 0.610 x3 0.724 x4 0.637 x5 0.745 x6 0.659 x7 0.782 x8 0.664 x9 0.742 x10 0.662 x11 0.682 x12 0.649 x13 0.677 x14 0.454 x15 0.597 x16 0.496 x17 0.690 x18 0.718 x19 0.741 x20 0.583 x21 0.708 x22 0.673 x23 0.745 x24 0.780 x25 0.763 x26 0.623 kmo dan barlett kaiser-meyer-olkin measure of sampling adequacy 0.847 bartlett's test of sphericity (sig) 0.000 pengajuan kmo and bertlett’s test dilakukan guna melihat variabel dan sampel yang diambil sudah cukup untuk dilakukan analisis. dari hasil penelitian ditemukan angka 0.847 dengan tingkat signifikansi 0.000. hasil kmo and barlett’s test sudah di atas 0.5 dan tingkat signifikansi sudah di bawah 0.05, sehingga dapat dilakukan tahapan selanjutnya yaitu proses extraction (hair, 2010). adanya anti-image matrices digunakan untuk melihat kelayakan setiap variabel saat dilakukan analisis faktor. adanya huruf “a” pada beberapa angka dengan bentukan garis diagonal pada setiap variabel mengartikan besaran msa (measure of sampling adequacy) variabel dengan syarat lebih besar dari 0.5 (hair, 2006) sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variabel layak untuk dianalisis. extraction, communalities, variance explained communalities merupakan proses pertama dari extraction yang fungsinya untuk mengetahui seberapa erat hubungan pernyataan dengan faktor-faktor yang terbentuk. kolom extraction menunjukkan seberapa besar faktor yang akan terbentuk dapat menjelaskan varian dari suatu faktor, sehingga semakin besar nilai communalities maka semakin erat hubungan nya dengan faktor yang terbentuk. total variance explained berfungsi untuk mengekstrak sejumlah variabel menjadi beberapa faktor baru. dari 26 variabel diekstraksi menjadi enam faktor dengan melihat nilai eigenvalue, di mana memiliki syarat lebih dari 1 (hair, 2006). raden irwan priambodo, analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x 13 component matrix, rotated component matrix dan structure matrix component matrix memuat koefisien yang digunakan untuk menyatakan variabel standar yang disebut faktor dari delapan faktor baru yang terbentuk. koefisien faktor loading menerangkan korelasi antara variabel asal dengan faktornya. nilai korelasi yang besar menyatakan hubungan yang erat antara faktor variabel asal sehingga variabel dapat digunakan untuk membentuk faktor. untuk mempermudah interpretasi maka component matrix dirotasi dengan metode rotasi orthogonal atau rotasi oblique. metode rotasi orthogonal (varimax) hasil dari metode rotasi orthogonal dapat dilihat pada kolom rotated component matrix di bawah ini, faktor baru yang dipilih adalah faktor yang memiliki faktor loading> 0.6, dengan pertimbangan practical significance bukan statistical significance (hair, 2010:117) sehingga didapatkan 17 variabel baru. component initial eigenvalues extraction sums of squared loadings rotation sums of squared loadings total % of variance cumulative % total % of variance cumulative % total % of variance cumulative % 1 9.409 36.189 36.189 9.409 36.189 36.189 5.066 19.486 19.486 2 2.581 9.927 46.116 2.581 9.927 46.116 2.848 10.953 30.440 3 1.621 6.236 52.352 1.621 6.236 52.352 2.840 10.924 41.364 4 1.424 5.476 57.828 1.424 5.476 57.828 2.419 9.302 50.667 5 1.205 4.634 62.462 1.205 4.634 62.462 2.181 8.390 59.057 6 1.072 4.122 66.582 1.072 4.122 66.582 1.957 7.528 66.584 total variance explained component 1 2 3 4 5 6 x24 .871 x23 .816 x25 .801 x22 .781 x21 .649 x15 .603 x19 .747 x20 .725 x18 .723 x13 .725 x26 .659 x3 .792 x7 .761 x9 .821 x8 .713 x5 .824 x6 .660 business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 14 karena hasil rotasi orthogonal menciptakan variabel yang lebih banyak dan sesuai serta adanya kesinambungan yang terbentuk pada hasil analisis faktor, maka peneliti menggunakan hasil analisis dari rotasi orthogonal daripada rotasi oblique. tabel di atas merupakan penjabaran hasil analisis dan nama faktor baru yang telah dibentuk. simpulan dan saran simpulan dari hasil penelitian, dan analisis pembahasan tentang faktor-faktor yang menjadi pertimbangan responden terhadap keinginan untuk keluar dari perusahaan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat enam faktor yang menjadi pertimbangan responden terhadap keinginan untuk keluar dari perusahaan. 1. faktor i: compensation a. sedikitnya peningkatan nilai gaji yang diterima (x 24 ) b. ketidakadilan dalam sistem penggajian (x 23 ) c. sedikit kesempatan untuk mengeluarkan ide atau gagasan (x 25 ) d. sedikit peluang untuk mencapai posisi yang lebih tinggi (x 22 ) e. gaji yang diterima cukup kecil (x 21 ) f. sedikit kesempatan untuk menjadi karyawan tetap (x 15 ) 2. faktor ii: career opportunity a. tidak adanya kontrak kerja yang jelas (x 19 ) b. sistem promosi yang berjalan lambat(x 20 ) c. adanya ketidakpastian pekerjaan di masa depan (x 18 ) 3. faktor iii: employee opportunities elsewhere a. adanya tawaran pekerjaan dengan gaji yang lebih baik (x 13 ) b. adanya peluang kerja pada perusahaan lain (x 26 ) 4. faktor iv: personal growth and development a. stress kerja yang cukup tinggi (x 3 ) b. tidak adanya training yang memadai (x 7 ) 5. faktor v: uncomfortable work a. kembali ke dunia pendidikan (x 9 ) faktor baru variabel 1 compensation x.24sedikitnya peningkatan nilai gaji yang diterima x.23ketidakadilan dalam sistem penggajian x.25 sedikit kesempatan untuk mengeluarkan ide atau gagasan x.22 sedikitnya peluang untuk mencapai posisi yang lebih tinggi x.21gaji yang diterima cukup kecil x.15sedikit kesempatan untuk menjadi karyawan tetap 2 career opportunity x.19tidak adanya kontrak kerja x.20sistem promosi yang berjalan lambat x.18 adanya ketidakpastian akan pekerjaan di masa depan 3 employee opportunities elsewhere x. 13adanya tawaran pekerjaan dengan gaji yang lebih baik x.26adanya peluang kerja pada perusahaan lain 4 personal growth and development x.3stress kerja yang cukup tinggi x.7tidak adanya training yang memadai 5 uncomfortable work x.9kembali ke dunia pendidikan x.8tidak berminat dengan pekerjaan saat ini 6 job dissatisfaction x.5tidak ada komunikasi yang terbuka x.6ketidakpuasan atas kebijakan perusahaan raden irwan priambodo, analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x 15 b. tidak berminat dengan pekerjaan saat ini (x 8 ) 6. faktor vi: job dissatisfaction a. tidak ada komunikasi yang terbuka (x 5 ) b. ketidakpuasan atas kebijakan perusahaan (x 6 ) saran saran yang dihasilkan adalah sebagai berikut. 1. faktor i: compensation dalam hal ini pt “x” disarankan untuk melakukan job evaluation dan melakukan salary survey secara berkala agar tercipta sistem remunerasi mencapai internal equality dan market competitiveness. selain itu, pt “x” diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada karyawan melalui proses rekrutmen internal, sehingga dapat memberikan motivasi kerja dan menjaga kesetiaan karyawan terhadap perusahaan. 2. faktor ii: career opportunity pt “x” disarankan untuk mulai menyusun perencanaan program pengembangan karier. perencanaan program pengembangan karier, dapat dimulai dengan mengembangkan peta kompetensi yang ada dalam perusahaan untuk kemudian dilakukan proses perumusan level kompetensi yang ada. tahapan proses inilah yang kemudian ditetapkan sebagai peta kompetensi yang ada dalam perusahaan. pengembangan dan pengelompokan ini kemudian harus disesuaikan dengan karakteristik dari pekerjaan yang ada dalam jabatan tersebut. proses analisis jalur karier dengan mengikuti pola kompetensi per jabatan. dari tahapan ini, dapat dilakukan proses pemetaan konsep seleksi dan metode evaluasi yang tepat dan dilaksanakan secara objektif sebagai bentuk gambaran dari pengembangan jalur karier yang ditetapkan dalam perusahaan. 3. faktor iii: employee opportunities elsewhere melakukan pengembangan retention program untuk mengurangi terjadinya voluntary turnover pada karyawan. terutama pada karyawan yang memiliki kualifikasi tertentu dan memiliki kinerja yang baik di perusahaan. 4. faktor iv: personal growth and development melakukan kegiatan olah raga yang melibatkan seluruh karyawan, misalnya futsal dan badminton yang dapat dilakukan secara berkala dua minggu sekali sehingga menjaga kebugaran, meningkatkan keakraban antar karyawan dan dapat mengurangi stress akibat bekerja. mengadakan liburan bersama dengan melibatkan karyawan beserta anggota keluarganya. meningkatkan program siraman rohani pada karyawan, yang disesuaikan dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh karyawan. memberikan training secara berkala pada karyawan sesuai dengan skill dan kompetensi yang dibutuhkan. 5. faktor v: uncomfortable work memberikan pos jabatan sesuai dengan latar belakang pendidikan. hal ini dapat meningkatkan motivasi dan semangat karyawan dalam bekerja. namun harus ditunjang dengan lingkungan pekerjaan yang nyaman. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 16 6. faktor vi: job dissatisfaction menciptakan komunikasi yang terbuka dengan karyawan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dari karyawan sehingga karyawan dapat memberikan sumbangsih pemikiran demi kemajuan perusahaan. perusahaan diharapkan lebih terbuka terkait penerapan suatu kebijakan terhadap karyawan. daftar kepustakaan allen, d.g., bryant, p.c., & vandaman, j.m. 2010. retaining talent: replacing misconceptions with evidence-based strategies. academy of management perspectives, vol. 24(2): 48–64. ampomah, philipina dan cudjor, samuel k. 2015. the effect of employee turnover on organizations (case study of electricity company of ghana, cape coast). asian journal of social sciences and management studies, 2(1): 21–24. armstrong, michael and baron, angela. 2013. human capital management: concept and implementation. jakarta: penerbit ppm. arthur, diane. 2001. the employee recruitment and retention handbook. new york: amacon. butali, namasaka david et al. 2013. effects of staff turnover on the employee performance of work at masinde muliro university of science and technology. international journal of human resource studies, vol. 3, no. 1. booth, simon dan hamer, kristian. 2007. labour turnover in the retail industry: predicting the role of individual organizational dan environmental factors. international journal of retail & distribution management, vol. 35 (4): 289–307. branham l. 2005. how to recognize the subtle signs and act before it’s too late: the 7 hidden reasons employees leave. executive book summaries, 27 (6). compdata survey. 2017: 2016 turnover rates by industry. http://www.compensationforce.com/2017/04/2016-turnover-ratesby-industry.html. diakses pada tanggal 14 juni 2017. groh, alexander p. dan which, matthias. a composite measure to determine a host country’s attractiveness for foreign direct investment. working paper. university of navarra business school. hair, joseph f. et al. 2006 multivariate data analysis, edisi keenam. new jersey: pearson education. hair, joseph f. et al. 2010. multivariate data analysis. edisi ketujuh. new jersey: pearson prentice hall. hasibuan, malayu. 2012. manajemen sumber daya manusia, cetakan keenam belas. jakarta: bumi aksara. hollenbeck, jr., & williams, c.r. 1986. turnover functionality versus turnover frequency: a note on work attitudes and organizational effectiveness. journal of applied psychology, (71): 601–611. ibrahim, adika m. 2013. analisis penyebab terjadinya turnover pegawai pada bank x – unit kerja y. tesis s2. universitas airlangga. jewell, l.n. dan siegall, marc. 1998. psikologi industri/organisasi modern. jakarta: arcan. jobstreet company review. 2017. pt “x” rating & review. https://www.jobstreet.co.id/ en/companies/778965-pt-x/reviews diakses pada tanggal 18 april 2017. kompas cyber media. 2007: karyawan berprestasi tinggi gampang pindah. http:// raden irwan priambodo, analisis faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya turnover karyawan pada pt x 17 www2.kompas.com/ver1/perempuan/0712/ 12/201434.htm diakses pada tanggal 20 juli 2016. mathis, robert l and jackson, john h. 2008. human resource management. 12th ed. cincinnati: south-western publishing. mercer. 2015. : trends and driver of workforce turnover, the result from mercer’s 2014 turnover survey, and dealing with unwanted attrition. https://www.mercer.com/ content/dam/mercer/attachments/global/ webcasts/trends-and-drivers-of-workforceturnover-results-from-mercers-2014-turnover-survey.pdf diakses pada tanggal 20 juli 2016. mobley, william h. 1977. intermediate linkages in the relationship between job satisfaction and employee turnover. journal of applied psychology, (62): 237–240. ————————. 2000. pergantian karyawan: sebab, akibat dan pengendaliannya. terjemahan. jakarta: pt pustaka binaman press indo. newstrom, john w. 2011. organizational behavior: human behavior at work. new york: mcgraw-hill education. noe. r., hollenbck, j.r. gerhart, b. wright p.m. 2000. human resources management. edisi ketiga. new york: mcgraw hill. rahman, sahidur et al. 2008. investigating the reasons of employee turnover in bangladesh: a factor analysis. the chittagong university journal of business administration. vol. 23. rusdi, muhammad et al. 2015. a literature review of factor causing employee turnover in indonesian banking. the international journal of business & management, 3 (5): 318-323. santoso, singgih. 2012. panduan lengkap spss versi 20. jakarta: pt elex media komputindo. sekaran, uma dan bougie, roger. 2013. research methods for business, edisi kelima. new york: jhon wiley & sons ltd. sevilla, consuelo g. et al. 2007. research methods. quezon city: rex printing company. sexton, randall. s. et al. 2004. employee turnover: a neural network solution. computer & operation research, (32): 2635– 2651. shukla, santript 2013. employee turnover in banking sector: empirical evidence. iosr journal of humanities and social science, (11): 57–61. singarimbun, masri & effendi, sofian. 2009. metode penelitian survey. jakarta: lp3es. suartana, i.w. 2000. antenden dan konsekuensi job insecurity dan keinginan berpindah pada internal auditor. tesis s2. universitas gajah mada. suwandi & indriantoro, n. 1999. model turnover pasewark & strawser: studi empiris pada lingkungan akuntan publik. jurnal riset akuntansi indonesia. (2): 173–195. towers watson. 2013. 2012–2013 global talent management and rewards study. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 18 factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh muntaqim chowdhury1, imroz mahmud2, md. mehrabul hoque3 1university of portsmouth, united kingdom 2,3university of asia pacific, bangladesh e-mail: muntaqim01@gmail.com1, imroz@uap-bd.edu2, mehrabul987@gmail.com3 abstract: the study aims to identify the factors that influence agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data obtained from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial ownership and institutional ownership are inversely and significantly associated with agency costs. in contrast, the board size, independent directors, and foreign ownership have a direct and significant relationship with agency costs. however, the relationship between agency costs and leverage or firm size cannot be determined. besides, no statistically significant association between female directors and agency costs has been found. being the first of its kind, the research findings can assist policymakers to identify the determinants of agency costs in it firms and take the necessary steps to reduce them. keywords: agency costs, board attributes, organizational characteristics, ownership structure, corporate governance, it, bangladesh. introduction the company is the most advanced form of business organizations when it comes to raising capital, limiting liability, and transferring ownership interest. however, the biggest threat to a company is agency costs. agency cost refers to the costs of conflicts of interest between managers (agents) and shareholders (owners). the seminal contribution of jensen and mackling (1976) on agency costs drew attention to the social and private costs of an agent's actions when the agent's and owner's interests are not properly aligned. shareholders want the managers to run the business in a manner that maximizes the firm value or shareholder’s wealth. in contrast, managers are often more concerned with their own interests, and therefore, use corporate resources for their gain rather than maximizing shareholder’s wealth (ain et al., 2021). these misaligned goals often result in significant additional expenses or loss of good investment opportunities. managerial selfinterest, perquisite consumption, work shirking, non-optimal financial decisions, and financial fraud are all examples of agency costs (henry, 2007). the negative consequences of such costs might harm the company's financial performance as well as the wealth of its shareholders. according to florackis (2008), agency costs associated with the agency problem cannot be fully avoided when a principal hires an agent to operate organizations. since agency costs cannot be avoided totally, they can at least be reduced. a strong corporate governance 1 abstract: the study aims to identify the factors that influence agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data obtained from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial ownership and institutional ownership are inversely and significantly associated with agency costs. in contrast, the board size, independent directors, and foreign ownership have a direct and significant relationship with agency costs. however, the relationship between agency costs and leverage or firm size cannot be determined. besides, no statistically significant association between female directors and agency costs has been found. being the first of its kind, the research findings can assist policymakers to identify the determinants of agency costs in it firms and take the necessary steps to reduce them. keywords: agency costs, board attributes, organizational characteristics, ownership structure, corporate governance, it, bangladesh. mailto:mehrabul987@gmail.com3 framework can assist firms in reducing their agency costs. according to aziz et al. (2015), corporate governance defines the procedures and structures that are employed for firm management, and the purpose of these practices is to maximize shareholders’ wealth. in general, the mechanism through which firms are directed and governed is known as corporate governance. the governance of such firms is up to the boards of directors. the role of the shareholders in governance is to nominate the directors, as well as to ensure that a suitable governance framework is in place. although bangladesh is a developing country with a rapidly expanding economy, its corporations lack adequate governance. among a few crucial sectors in bangladesh, the information technology (it) sector has been booming in recent years as the government has placed greater emphasis on it. over the course of several years, remarkable progress has been made in the it sector toward the establishment of a 'digital bangladesh’. compared to other business sectors, bangladesh's it industry is relatively new. nevertheless, the it sector's limitless possibilities have piqued the interest of all parties involved. bangladesh is also witnessing the effects of the global hype in the it industry. the local it business has expanded at an enviable rate in recent years. during the 2018–2019 fiscal year, the ict and outsourcing sectors generated $1.7 billion in revenue while adding roughly 940,000 employments, in accordance with the vision for a "digital bangladesh”. by 2025, it is anticipated that the domestic market will have increased by about five times, reaching $4.6-4.8 billion (kamal et al., 2019). however, due to their poor corporate governance, the agency problem has become a significant hindrance for those enterprises. the poor institutional regulatory system, combined with the large family dominance, is bangladesh's leading corporate governance problem (rashid 2011). therefore, the primary aim of the research is to determine the factors that influence agency costs in bangladesh's publicly listed it firms. to achieve the primary objective, the following secondary objectives are set. o to determine the correlation between board characteristics and agency costs. o to find the relation between ownership structure and agency costs. o to examine the connection between organizational characteristics and agency costs. a limited number of studies have been undertaken on the relationship between board features, organizational characteristics, ownership structure, and agency costs in the context of bangladesh. although agency costs play an integral role in a company's performance, no comprehensive research has been carried out to determine the factors that impact agency costs in publicly traded it firms of bangladesh. as a result, there is a significant lacuna in the literature, which drove the authors to investigate the matter further. the rest of the paper is structured as follows. the literature review and hypotheses development are presented in section-2. the research approach is described in section-3. afterwards, the study findings are reported in section-4. section-5 concludes the study. finally, section-6 states the limitations of the study and scope for future research. literature review and hypotheses development board size pearce and zahra (1991) assert that larger boards are more dominant and functional than smaller boards. they stated that having a larger board might result in greater environmental alignment with businesses, better guidance and counseling for managerial decision-making, and an improvement in brand reputation. according to uadiale (2010), a larger board of directors business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 2 might be useful in bringing together expertise and guidance towards strategic possibilities, and the stockholders might obtain additional company performance information. nguyen et al. (2020) also observed that vietnamese listed companies with larger boards of directors had lower agency costs, and this is because the management team prefers to control and influence the smaller board of directors. larger boards are seen to be better at overseeing operations since they have more time and knowledge to dedicate to the organization. in contrast to a smaller board, beiner et al. (2006) and eisenberg et al. (1998) argued that a larger board leads to less effective communication, collaboration, and planning. according to fauzi and locke (2012), relatively large firms have greater agency costs, however larger boards can lower agency costs by providing tighter oversight, improving board independence, and counteracting management entrenchment, resulting in enhanced firm performance. furthermore, as per vijayakumaran (2019), members of larger boards of directors often choose to follow one or two dominating members since they lack the time to properly analyze critical issues. in order to protect shareholders' interests and reduce agency costs in chinese enterprises, smaller boards perform better than larger ones, which is in line with the findings of čalopa et al. (2020). finally, according to nguyen et al. (2020), the large number of studies conducted in the united kingdom and the united states indicated a negative relationship between board size and business performance, implying that larger boards entail higher agency costs. hence, the following hypotheses might be put forth: hypothesis 1 (h1): (a) there is a positive relationship between board size and agency costs. (b) there is a negative relationship between board size and agency costs. independent directors since boards dominated by external directors are more inclined to act successfully in shareholders' interests in order to safeguard their reputation in front of shareholders, boards with a substantial fraction of independent directors can decrease the exercise of management discretion (henry, 2004; mcknight & weir, 2009). liu et al. (2015) claimed that independent boards can enhance corporate performance by reducing agency problems. the performance of firms in emerging and developing nations is positively correlated with independent directors, according to empirical studies due to the fact that internal governance mechanisms, like independent directors, seem to be more crucial in corporate governance in such nations due to poor external governance practices. this enhances effective supervision, which boosts business performance. the significant number of previous studies in vietnam has also stated that board independence enhances business performance, and authors believe that with such competent independent directors, agency costs might be decreased (vo and nguyen, 2014). the research conducted by ibrahim & samad (2011) also reveals that the asset utilization ratio is positively and significantly related to independent members on the board. accordingly, the study finds that when the number of outside directors raises on the board, the asset utilization ratio likewise rises, hence reducing agency costs. on the other hand, nguyen et al. (2020) discovered a positive link between board independence and agency costs. the favorable association between board independence and agency costs is also supported by nguyen et al. (2017). independent directors may fail to complete their supervisory responsibilities in governance due to inadequate experience, resulting in a worsening agency problem and inferior corporate performance. in light of this, the following hypothesis is developed: hypothesis 2 (h2): there is a negative relationship between the proportions of business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 3 muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, independent directors in the board and agency costs. female directors according to garanina and kaikova (2016), having a higher percentage of female board members enhances asset utilization efficiency and, consequently, decreases agency costs to a limited amount. in order to increase the firm's worth; female directors might encourage innovative concepts (boyle & ji, 2013). the presence of female directors on corporate boards has been shown to minimize agency costs (ain et al., 2021). additionally, in state-owned enterprises, where agency difficulties are more common, boards with a varied gender composition function better. sobhan (2021) also found that roa is favorably correlated with the number of female directors on the board. it suggests that the inclusion of female directors on the board might improve the performance of the company since they are dedicated workers and provide coordination to the board. in contrast, wellalage & locke (2013) mentioned that gender diversity on boards of directors hinders company performance while also raising agency conflict. women board directors, according to pletzer et al. (2015), have a negative impact on corporate performance by increasing conflict, requiring more collaboration, and worsening communication quality. therefore, we propose the following hypotheses: hypothesis 3 (h3): there is a negative relationship between the proportion of female directors on the board and agency costs. managerial ownership even in the existence of certain other agency deterrent measures, management ownership considerably reduces principal-agent disputes in giant publicly listed companies. in their findings, singh & davidson (2003) support the concept that increased managerial ownership considerably and favorably enhances the efficiency of organizational asset utilization and find some scant evidence that it serves as a strong disincentive to excessive discretionary spending. in their study on the effect of corporate governance and ownership structure on agency costs in the tehran stock exchange's listed firms, kamyabi et al. (2014) found a significant negative correlation between agency costs and managerial ownership. the interests of the two groups can be linked when a considerable proportion of shares are owned by managers, as said by vijayakumaran (2019). this is because higher shareholding by management teams implies that their wealth and benefits are more associated with the interests of the business owners, which reduces moral hazard. according to the study, increased management ownership signified effective corporate governance, leading to the elimination of agency costs. but in the us and uk economies, agency costs are typically adversely associated with management ownership percentage, as per ang et al. (2000) and mcknight & weir (2009). according to nguyen et al. (2020) as well, there is a direct relationship between management ownership and agency costs in the vietnamese context. the more stocks that managers own, the more will be their authority, and hence, a greater possibility for the managers to use that power to navigate the firm in a manner that ultimately benefits them. as a result, we propose the following hypotheses: hypothesis 4 (h4): there is a negative relationship between management ownership and agency costs. institutional ownership according to parrino et al. (2003) and larcker and tayan (2011), institutional owners can oversee management at a low cost since they have considerable tools and experience than smaller shareholders. this helps to reduce agency issues related to over-investment risk. furthermore, henry (2004) revealed that the larger the institutional shareholdings, the lesser business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 4 the agency expenses. according to gul et al. (2012), too, greater institutional shareholding lessens agency costs since institutional ownership has a substantial positive impact on the asset utilization ratio. institutional investors oversee the firm's decision-making and productivity, which helps align the interests of shareholders and owners while lowering agency costs. contrarily, in conjunction with doukas et al. (2000) and singh and davidson (2003), the findings of moez (2018) imply that increasing institutional ownership has no noticeable effect on the efficient allocation of assets, operating costs, or administrative expenditure. thus, we propose the following hypotheses: hypothesis 5 (h5): there is a negative relationship between institutional ownership and agency costs. foreign ownership it is anticipated that increasing foreign ownership plays a better monitoring function that may stimulate business performance since firms are able to access superior resources like financing, technology and expertise from foreign investors (huang & shiu, 2009; romalis, 2011). nguyen (2012) and boubakri et al. (2013) too found that, in order to reduce agency costs and promote corporate risk-taking that might improve business performance, foreign investors are motivated to keep an eye on management teams or other major shareholders. a rise in foreign ownership frequently results in advantages from the importation of cutting-edge management skills or technology, further enhancing corporate performance. according to chen et al. (2013), foreign ownership is better equipped to handle opportunistic managers, resolve agency problems in various international and cultural conditions, and ensure greater financial transparency. the increasing percentage of foreign ownership and agency cost of equity are found to be inversely related, according to moez (2018). this outcome is consistent with choi and choi (2013) where they assert that a larger percentage of foreign ownership results in lower agency costs. foreign investors, according to lu & li (2019) and vijayakumaran (2019), make a significant contribution to appropriate monitoring and actively managing discretions in developing nations because of their competencies and relevant business expertise indicating that foreign ownership and agency costs have a negative association. therefore, we formulate the following hypothesis: hypothesis 6 (h6): there is a negative relationship between foreign ownership and agency costs. leverage higher leverage might lower agency costs because of the need to enhance cash inflows to pay interest (jensen, 1986). ang et al. (2000) also claimed that higher leverage could result in reduced agency expenses because of the debt holders' oversight functions. mustapha & ahmad (2011) asserted that when debt rises, supervision costs reduce as managers become more cautious as a result of banks' strict monitoring. debt, according to kayo and kimura (2011) and parrino et al. (2012), encourages managers to emphasize optimizing cash flow and prevents incompetent managers from squandering shareholder resources on unsuccessful initiatives. according to vijayakumaran (2019), organizations with more debt funding demonstrated remarkable corporate governance by lowering agency costs. however, greater debt is correlated with reduced agency costs in us enterprises, according to garanina & kaikova (2016), whereas higher debt enhances agency costs in norwegian firms. likewise, chinelo & iyiegbuniwe (2018) claimed that leverage in their findings indicates a favorable correlation with agency cost, while it is insignificant. this result is comparable to those of zhang and li muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, 5 (2008). singh & davidson (2003) also argued that leverage is negatively associated with the asset turnover ratio. therefore, we suggest the following hypotheses: hypothesis 7 (h7): there is a negative relationship between leverage and agency costs. firm size according to singh and davidson's findings in 2003, the asset turnover ratio and firm size have a positive and significant relationship which shows that larger companies utilize their assets more effectively. in addition, garanina and kaikova (2016) stated that bigger russian enterprises have relatively low agency costs since their corporate governance structures are highly developed. firm size was found to have a positive relationship with asset turnover but an inverse relationship with agency costs, according to nguyen et al. (2020). in contrast, bigger companies are more exposed to information asymmetries than smaller companies, as per doukas et al. (2005), stating that bigger firms might expect greater agency costs since they are more diversified and have more extensive organizational structures. larger companies, according to henry (2007), are more vulnerable to agency problems. so, we recommend the following hypotheses: hypothesis 8 (h8): (a) there is a positive relationship between firm size and agency costs. (b) there is a negative relationship between firm size and agency costs. research methodology sampling and data collection the effect of board attributes, organizational characteristics, and ownership structure on agency costs of publicly listed bangladeshi it firms is investigated in this study. this study has been conducted on a sample of nine it companies listed on the dhaka stock exchange (dse) from 2018 to 2021. currently, eleven it firms are listed on dse. however, due to a lack of information, two companies are excluded from the study. given the lack of one annual report, the overall sample size is reduced to nine companies over a fouryear period, yielding thirty-five firm years. all data used for this study are gathered from secondary sources such as annual reports. the list of companies included in the analysis is presented in table 1. table 1. list of sample companies name of the company 1. aamra networks limited 4. intech limited 7. bdcom online ltd 2. genex infosys limited 5. adn telecom limited 8. it consultants limited 3. aamra technologies limited 6. information services network ltd 9. egeneration limited research model the agency costs were determined by ang et al. (2000) using the ratio of operational expenses to annual sales and the ratio of annual sales to total assets. they claim that the first ratio reflects how well the firm's manager manages operating expenditures, which include agency costs. high agency costs are linked to a high ratio of operational expenditures to yearly sales. the asset utilization ratio, the second ratio, assesses how appropriately the company's manager utilizes its assets. a higher asset utilization ratio suggests that assets are being used more efficiently, and hence this ratio is negatively associated to agency costs. as agency costs are not directly measurable, two distinct approximation metrics are employed as dependent variables in this study; the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) are the proxies for business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 6 estimating agency costs. the same approximation estimates as in ibrahim & samad (2011), moez (2018), baykara & baykara (2021) and sobhan & chowdhury (2022) are employed in this study. this investigation has been carried out using a pooled cross-sectional approach. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the proposed hypotheses. based on research conducted by (ibrahim & samad 2011; nguyen 2017; tuan et al. 2019; ain et al., 2021) following are the research models used in this study: aur = α + ß1 lnbsize + ß2 indirec + ß3 fmdirec + ß4 mownship + ß5 inownship + ß6 fnownship + ß7 levg + ß8 lnfsize + ε (equation-1) exr = α + ß1 lnbsize + ß2 indirec + ß3 fmdirec + ß4 mownship + ß5 inownship + ß6 fnownship + ß7 levg + ß8 lnfsize + ε (equation-2) the assumption is that a lower asset utilization ratio implies lower agency costs, while a larger expense ratio means higher agency costs. the details of all variables utilized in the equations are provided in table 2. table 2. description of variables variable name symbol explanation expected correlation with asset utilization ratio expected correlation with expense ratio agency cost (dependent variable) asset utilization ratio aur ratio of total revenue to total assets expense ratio exr ratio of total operating expense to total revenue independent variables board size lnbsize natural logarithm of board size +/+/ independent director indirec percentage of independent directors in board + female director fmdirec percentage of female directors in board + managerial ownership mownship percentage of managerial ownership + institutional ownership inownship percentage of institutional ownership + foreign ownership fnownshi p percentage of foreign ownership + leverage levg ratio of total debt to total assets + firm size lnfsize natural logarithm of firm size + muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, 7 findings descriptive statistics table 3. descriptive statistics variable observations mean standard deviation min max asset utilization ratio 35 46 14 23 90 expense ratio 35 31 36 5 186 board size 35 6 2 4 9 independent directors (%) 35 46 10 33 75 female director (%) 35 23 13 0 40 managerial ownership (%) 35 34 16 4 74 institutional ownership (%) 35 24 10 6 47 foreign ownership (%) 35 2 5 0 16 leverage 35 29 15 2 77 firm size 35 1676 909 116 2896 table 3 presents the descriptive statistics for the research variables included in the analysis. in descriptive statistics, the average, standard deviation, lowest, and highest values of the research variables are provided. according to aur, agency costs range from 23 to 90 percent, with a 46 percent average. agency costs vary between 5-186 percent, with a mean of 31 percent, as per exr. according to the findings, the average board size is 6, with a range of 4 to 9 directors. independent directors make up about 46 percent of the board on average, with the percentage ranging from 33 to 75. on average, female directors make up 23% of all board members, ranging from 0% to 40%. the mean rate of managerial ownership is 34 percent with the range comprising 4 to 74%. the average share of institutional ownership is 24%, ranging from 6% to 47%. with a variation of 0 to 16 percent, the average proportion of foreign ownership is 2 percent and with a minimal of 2 percent and a peak of 77 percent, leverage has a mean of 29 percent. a firm's average size is bdt 1676 million, with values ranging from 116 million to 2896 million. table 4. correlation matrix aur exr lnbsize indirec fmdirec mownship inownship fnownship levg lnfsize aur 1 exr 0.3583* 1 lnbsize 0.1309 0.2551 1 indirec -0.3301 0.4966* 0.1709 1 fmdirec -0.0305 -0.2822 -0.6024* -0.3536* 1 mownship 0.1907 -0.3615* 0.6532* -0.3262 -0.4133* 1 inownship 0.0592 -0.5866* -0.2284 -0.3725* 0.6106* 0.1532 1 fnownship 0.0104 -0.1579 -0.2631 -0.2594 0.3826* 0.0783 0.0637 1 business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 8 aur exr lnbsize indirec fmdirec mownship inownship fnownship levg lnfsize levg 0.6539* 0.4045* 0.2643 0.0957 -0.1875 0.1126 0.0289 -0.2809 1 lnfsize -0.0661 -0.8639* -0.0024 -0.5734* 0.2629 0.5852* 0.6936* 0.2624 -0.1165 1 *p < 0.05 correlation matrix the correlation matrices of all variables are presented in table 4 for a sample of 35 observations. except for the number of independent directors, female directors, and company size, the matrix shows that the other five independent variables are positively associated with asset utilization ratio (aur). the correlation between leverage and aur, on the other hand, is only statistically significant. the expense ratio (exr) is positively connected with board size, the number of independent directors, and leverage, whereas the other five variables are inversely related. the proportion of independent directors, proportion of management ownership, proportion of institutional ownership, leverage, and company size exhibit a statistically significant relationship with exr within the variable table 5. variance inflation factor (vif) variable symbol vif 1/vif managerial ownership (%) mownship 8.79 0.113713 female director (%) fmdirec 6.22 0.160674 institutional ownership (%) inownship 5.34 0.187223 firm size (ln) lnfsize 5.33 0.187631 board size (ln) lnbsize 3.82 0.2618 independent directors (%) indirec 2.25 0.443651 foreign ownership (%) fnownship 2.16 0.463712 leverage levg 1.23 0.814264 mean vif 4.39 variance inflation factor the variance inflation factor (vif) for the independent variables can be seen in table 5. the vif testing is used to assess whether the factors in a regression model are multicollinear. if the average vif is greater than 10, there is a risk of multicollinearity (neter et al., 1989). the linear regression may be incorrect if the average vif is even less than 1 (bowerman & o'connell, 1990). this study's average vif is 4.39, implying that there are no problems with multicollinearity or bias. table 6. regression output with ols model variable symbol model-1 (aur) model-2 (exr) board size (ln) lnbsize -0.044 0.617* (p value) (0.593) (0.001) independent directors (%) indirec -0.812* -0.361 (p value) (0.000) (0.204) female director (%) fmdirec -0.205 -0.287 (p value) (0.388) (0.242) muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, 9 variable symbol model-1 (aur) model-2 (exr) managerial ownership (%) mownship 0.267* -0.624* (p value) (0.090) (0.089) institutional ownership (%) inownship 0.589* 0.628 (p value) (0.090) (0.149) foreign ownership (%) fnownship 0.691 2.086* (p value) (0.173) (0.000) leverage levg 0.584* 0.668* (p value) (0.000) (0.004) firm size (ln) lnfsize -0.128* -0.362* (p value) (0.002) (0.000) r squared 0.736 0.730 observations 35 35 * denotes a 10% level of significance regression analysis the results of the regression analysis are shown in table 6. the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) are employed as proxies for agency costs. a positive relation with aur suggests that there are fewer agency disputes and vice versa, whereas a positive relation with exr denotes that there are more agency disputes and vice versa. with both models, the findings reveal that there is no statistically significant correlation between female directors and agency costs. in the study, it is identified that board size has a negative and insignificant association with aur in model 1 and a positive and statistically significant association with exr in model 2. as a result, hypothesis 1 (a) can be supported. this result is consistent with the conclusions reached by eisenberg et al. (1998), beiner et al. (2004), nguyen et al. (2020) and čalopa et al. (2020). it argues that greater agency expenses are associated with larger boards due to ineffective planning, collaboration, communication, and productivity. in model-1, there is a negative and significant association between independent directors and aur, while in model-2 there is a negative and insignificant relationship with exr. hence, while hypothesis 2 cannot be accepted for model 1, it can be accepted for model 2 indicating that a higher proportion of independent directors on the board are not capable to reduce agency costs in listed it companies of bangladesh. in both models, the study demonstrated a substantial association between management ownership and aur and exr, with a positive relationship to aur and a negative relationship to exr, supporting hypothesis 4. the research of ang et al. (2000), singh & davidson (2003), mcknight & weir (2009), kamyabi et al. (2014), chinelo & iyiegbuniwe (2018), and vijayakumaran (2019) is in agreement with it. their research indicates that management ownership improves the effectiveness of organizational asset usage and corporate governance. additionally, larger ownership in the business closely correlates with shareholder interests, which substantially lowers agency expenses. the results demonstrate a substantial association between institutional ownership and aur and an insignificant relationship with exr. both aur and exr are positively correlated with it. the result is congruent with those made by parrino et al. (2003), henry (2004), larcker and tayan (2011), and gul et al. (2012), all of business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 10 which found that institutional ownership minimizes agency costs. according to their research, institutional owners can supervise management at a reasonable cost since they have more resources and expertise than smaller shareholders. the decision-making and productivity of management are effectively monitored by institutional investors, which enables them to align the interests of shareholders and owners and decrease agency costs. considering this, hypothesis 5 can be accepted for model 1. additionally, the research reveals that there is a positive and significant association between exr and foreign ownership, but not between foreign ownership and aur. therefore, model-2 cannot accept hypothesis-6 as true. this finding conflicts with those made by chen et al. (2013), choi and choi (2013), moez (2018), lu & li (2019), and vijayakumaran (2019), who concluded that foreign investors significantly contribute to enhanced monitoring and actively managing discretions because of their competencies and pertinent business expertise, that boost business performance. foreign ownership is furthermore better suited to deal with opportunistic management, solve agency issues, and guarantee better financial transparency. it is evident that leverage significantly and positively affects both aur and exr when compared to other variables. therefore, hypothesis 7 is acceptable for model 1 but not for model 2. the nature of this relationship cannot be accurately determined. it is aligned with certain previous research and suggests that agency costs decrease as a company's leverage increases (mustapha & ahmad 2011; kayo and kimura 2011; parrino et al. 2012 and vijayakumaran 2019). the management feels compelled to increase their cash flows to pay off the interest as debt increases, they become more circumspect due to intense monitoring, and they establish excellent corporate governance, which leads to lower agency costs. according to the findings, there is a negative and significant correlation between firm size and both aur and exr. in light of this, hypothesis 8 (a) is valid for model 1 while hypothesis 8 (b) is valid for model 2, for which the exact nature of this connection cannot be detected accurately. this result is in accordance with the findings of research by doukas et al. (2005) and henry (2007), which also revealed that larger organizations may anticipate higher agency expenses because they are more diverse, have more sophisticated organizational structures, and are more sensitive to agency issues. on the other hand, research by singh and davidson (2003), garanina and kaikova (2016), and nguyen et al. (2020) shown that larger organizations use their assets more efficiently and have more advanced governance mechanisms, which lowers the cost of agency. conclusion the study primarily aimed to identify the variables influencing agency cost in the publicly listed it firms of bangladesh. for this purpose, a panel data set comprising 35 firm-year observations of 9 it companies listed on dse has been utilized. both asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) are used as proxies for measuring the agency costs. the effects of eight independent variables: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage; are considered while assessing the agency costs. this research investigates the significance of each variable that either directly or inversely affects the agency costs. due to a significant direct association between board size and exr, the findings suggest that larger boards are associated with higher agency costs. a similar relation has been found between the proportion of independent directors and agency costs, implying that the greater the number of independent directors on a firm’s board, the muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, 11 greater its agency costs. meanwhile, an inverse relationship has been found with managerial ownership, meaning that the higher the proportion of managerial ownership a firm has, the lower would be its agency costs. this may be due to management’s greater focus on increasing organizational performance when their financial goals are aligned with those of other stockholders. additionally, institutional ownership has an inverse relationship with agency costs, suggesting that the greater the number of institutional owners in a firm, the fewer agency costs it will incur since institutional owners can more effectively oversee management given their capabilities and experience. the study also discovered that foreign ownership raises agency costs in the it firms of bangladesh since it has a significant positive association with exr. in most of the previous studies, however, foreign ownership had a negative association with agency costs, as all foreign owners with their expertise appeared to effectively monitor a firm. the relationship with the last two variables, leverage and firm size, cannot be precisely examined because they demonstrate contrasting results for the two models: for one, they indicate a rise in agency costs, while for the other, they show a decline. on the other hand, no statistically significant relation has been found between female directors and agency costs. limitations and scope for future research this study is subject to a few limitations. the sample size comprises only 35 firm-years, which may not be adequate to generalize the relationship among the study variables. results from a larger data set would portray a clearer picture of the determinants of agency costs. besides, the regression model only considered a few chosen variables. other independent variables like government ownership, audit committees, regularity of board meetings, etc., could be included to get a broader context. since agency costs is a latent variable, it is estimated using only two metrics, namely asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr). future studies may include other metrics such as operating ratio and tobin’s q ratio. furthermore, this study focused solely on the it firms listed on the primary bourse of bangladesh. future studies can include it firms from other countries and perform a cross-country analysis. lastly, researchers can also concentrate on the factors that affect the agency costs of debt in it firms. reference ain, q.u., yuan, x., javaid, h.m., usman, m. & haris, m., (2021). female directors and agency costs: evidence from chinese listed firms. international journal of emerging markets, vol. 16, no. 8, pp.1604-1633. ang, j. s., cole, r. a., & lin, j. w. (2000). agency costs and ownership structure. the journal of finance, vol. 55, no. 1, pp.81-106. aziz, t., majeed, s., & saleem, s. (2015). the impact of corporate governance mechanism on agency cost: empirical evidence of pakistani listed companies. business, management and economics research, vol. 1, no. 6, pp.79-91. baykara, s., & baykara, b. (2021). the impact of agency costs on firm performance: an analysis on bist sme firms. press academia procedia, vol. 14, no. 1, pp.28-32. beiner, s., drobetz, w., schmid, m. m., & zimmermann, h. (2006). an integrated framework of corporate governance and firm valuation. european financial management, vol. 12, no. 2, pp.249-283. boubakri, n., cosset, j. c., & saffar, w. (2013). the role of state and foreign owners in corporate risk-taking: evidence from privatization. journal of financial economics, vol. 108, no. 3, pp.641-658. business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 12 bowerman, b. l., & o'connell, r. t. (1990). linear statistical models: an applied approach. boston: pws-kent pub. co. boyle, g., & ji, x. (2013). new zealand corporate boards in transition: composition, activity and incentives between 1995 and 2010. pacific accounting review, vol. 25, no. 3, pp.235-258. brickley, j. a., coles, j. l., & jarrell, g. (1997). leadership structure: separating the ceo and chairman of the board. journal of corporate finance, vol. 3, no. 3, pp.189-220. čalopa, m. k., kokotec, i. ð., & kokot, k. (2020). impact of board size and ownership concentration on agency costs: evidence for croatian companies·. zbornik radova ekonomski fakultet u rijeka, vol. 38, no. 2, pp.521-535. chen, z., du, j., li, d., & ouyang, r. (2013). does foreign institutional ownership increase return volatility? evidence from china. journal of banking & finance, vol. 37, no. 2, pp.660-669. chinelo, e. o., & iyiegbuniwe, w. (2018). ownership structure, corporate governance and agency cost of manufacturing companies in nigeria. research journal of finance and accounting, vol. 9, no. 16, pp.16-26. choi, y., & choi, j. (2013). the foreign ownership and the debt maturity structure. international journal of digital content technology and its applications, vol. 7, no.13, p.491. crutchley, c. e., jensen, m. r., jahera jr, j. s., & raymond, j. e. (1999). agency problems and the simultaneity of financial decision making: the role of institutional ownership. international review of financial analysis, vol. 8, no. 2, pp.177-197. doukas, j., mcknight, p. j., & pantzalis, c. (2005). security analysis, agency costs, and uk firm characteristics. international review of financial analysis, vol 14, no. 5, pp.493-507. eisenberg, t., sundgren, s., & wells, m. t. (1998). larger board size and decreasing firm value in small firms. journal of financial economics, vol. 48, no. 1, pp.35-54. fauzi, f., & locke, s. (2012). board structure, ownership structure and firm performance: a study of new zealand listed-firms. asian academy of management journal of accounting and finance, pp.43-67. florackis, c. (2008). agency costs and corporate governance mechanisms: evidence for uk firms. international journal of managerial finance, vol. 4, no. 1, pp.37-59. garanina, t., & kaikova, e. (2016). corporate governance mechanisms and agency costs: cross-country analysis. corporate governance: the international journal of business in society, vol. 16, no. 2, pp.347-360. gul, s., sajid, m., razzaq, n., & afzal, f. (2012). agency cost, corporate governance and ownership structure: the case of pakistan. international journal of business and social science, vol. 3 no. 9, pp. 268–277 henry, d. (2004). corporate governance and ownership structure of target companies and the outcome of takeovers. pacific-basin finance journal, vol. 12, no. 4, pp.419-444. henry, d. (2007). agency costs, corporate governance and ownership structure: evidence from australia. in proceedings of the 2007 annual meeting of the financial management association, orlando, fl, october (online) (pp. 17-20). huang, r. d., & shiu, c. y. (2009). local effects of foreign ownership in an emerging financial market: evidence from qualified foreign institutional investors in taiwan. financial management, vol. 38, no. 3, pp.567602. huu nguyen, a., thuy doan, d., & ha nguyen, l. (2020). corporate governance and 13 muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, agency cost: empirical evidence from vietnam. journal of risk and financial management, vol. 13, no. 5, p.103. ibrahim, h., & samad, f. a. (2011). corporate governance mechanisms and performance of public-listed familyownership in malaysia. international journal of economics and finance, vol. 3, no. 1, pp.105-115. jensen, m. c. (1986). agency costs of free cash flow, corporate finance, and takeovers. the american economic review, vol. 76, no. 2, pp.323-329. jensen, m. c., and meckling w. h. (1976). theory of the firm: managerial behavior, agency costs and capital structure, journal of financial economics, vol. 3, pp.305-360. kamal, m., saha, n., & hossain, j. (2019). ict among 6 promising sectors in bangladesh that can help earn $60bn by 2023. http://dhakacourier.com.bd/. retrieved 4 september 2022, from https://dhakacourier.com.bd/index.ph p/news/reportage/ict-among-6promising-sectors-in-bangladesh-thatcan-help-earn-$60bn-by-2023/1858. kamyabi, y., yazdi, h. m., & ashae, a. (2014). the impact of corporate governance and ownership structure on agency cost in listed companies of tehran stock exchange. international samanm journal of finance and accounting, vol. 2, no. 2, pp.35-47. kayo, e. k., & kimura, h. (2011). hierarchical determinants of capital structure. journal of banking & finance, vol. 35, no. 2, pp.358-371. liu, y., miletkov, m. k., wei, z., & yang, t. (2015). board independence and firm performance in china. journal of corporate finance, vol. 30, pp.223244. lu, s. l., & li, y. h. (2019). effect of corporate governance on institutional investors’ preferences: an empirical investigation in taiwan. journal of risk and financial management, vol. 12, no. 1, p.32. mcknight, p. j., & weir, c. (2009). agency costs, corporate governance mechanisms and ownership structure in large uk publicly quoted companies: a panel data analysis. the quarterly review of economics and finance, vol. 49, no. 2, pp.139-158. moez, d. (2018). agency costs, corporate governance and the nature of controlling shareholders: evidence from french listed firms. international journal of accounting and financial reporting, vol. 8, no. 3, pp.256-277. mustapha, m., & ahmad, a. c. (2011). agency theory and managerial ownership: evidence from malaysia. managerial auditing journal, vol. 26, no. 5, pp.419-436. neter, j., wasserman, w., & kutner, m. h. (1989). applied linear regression models. homewood: richard d. irwin, inc nguyen, p. (2012). the impact of foreign investors on the risk-taking of japanese firms. journal of the japanese and international economies, vol. 26, no. 2, pp.233-248. nguyen, t. t. m., evans, e., & lu, m. (2017). independent directors, ownership concentration and firm performance in listed companies: evidence from vietnam. pacific accounting review, vol. 29, no. 2, pp.204-226. pearce, j. a., & zahra, s. a. (1991). the relative power of ceos and boards of directors: associations with corporate performance. strategic management journal, vol. 12, no. 2, pp.135-153. pletzer, j. l., nikolova, r., kedzior, k. k., & voelpel, s. c. (2015). does gender matter? female representation on corporate boards and firm financial performance-a meta-analysis. plos one, vol. 10, no. 6, pp.1–20. rashid, a. (2011). corporate governance in bangladesh: a quest for the accountability or legitimacy crisis?. in 14 business and finance journal, volume 8, no. 1, march 2023 14 accounting in asia (vol. 11, pp. 1-34). emerald group publishing limited. romalis, j. (2011). the value of foreign ownership. economic and business review, vol. 13, no. 1. singh, m., & davidson iii, w. n. (2003). agency costs, ownership structure and corporate governance mechanisms. journal of banking & finance, vol. 27, no. 5, pp.793-816. sobhan, r. (2021). board characteristics and firm performance: evidence from the listed non-banking financial institutions of bangladesh. international journal of management, accounting and economics, vol. 8, no. 1, pp.25-41. sobhan, r., chowdhury, m. (2022). determinants of agency costs: evidence from non-bank financial institutions of bangladesh. international journal of management, accounting and economics, vol. 9, no. 2, pp.68-84. tuan, t. m., nha, p. v. t., & phuong, t. t. (2019). impact of agency costs on firm performance: evidence from vietnam. organizations and markets in emerging economies, vol. 10, no. 2, pp.294-309. uadiale, o. m. (2010). the impact of board structure on corporate financial performance in nigeria. international journal of business and management, vol. 5, no. 10, pp.155–66. vijayakumaran, r. (2019). agency costs, ownership, and internal governance mechanisms: evidence from chinese listed companies. asian economic and financial review, vol. 9, no. 1, pp.133154. vo, d. h., & nguyen, t. m. (2014). the impact of corporate governance on firm performance: empirical study in vietnam. international journal of economics and finance, vol. 6, no. 6, pp.1-13. wellalage, n. h., & locke, s. (2013). women on board, firm financial performance and agency costs. asian journal of business ethics, vol. 2, no. 2, pp.113127. zhang, h. and li, s., (2008). the impact of capital structure on agency costs: evidence from uk public companies (doctoral dissertation, queens university of technology). 15 muntaqim.c., imroz m.,, md. mehrabul. factors influencing agency costs in the publicly listed it firms: evidence from bangladesh, hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 161 the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation hidayatul khusnah1, agus achmad faisal2, mardiyah anugraini3, firdeana fitrotul ula4, wahidatul husnaini5 1234faculty of business economics and digital technology, universitas nahdlatul ulama 5universitas mataram surabaya e-mail: hidayatul.khusnah@unusa.ac.id, agusachmad023.ac18@student.unusa.ac.id, mardiyah@unusa.ac.id, firdeanafitrotul025.ac19@student.unusa.ac.id, wahidatul.husnaini@unram.ac.id abstract: financial statements as a form of management’s responsibility to investors. financial reports are a medium of communication between management and parties outside the company. the relevance of the information communicated will be lost if there is a slight delay in submission, therefore financial statements must be presented on time. financial reports that have been pub lished on the idx are financial statements that have been audited. investors in the capital market need financial reports that are reliable, relevant, speedy and timely, easy to understand and can be used as comparisons. financial performance is used by investors as a basis for making decisions to buy or sell stock assets owned by investors. this study aims to empirically examine the moderating effect of kap size on the effect of firm size on audit delay of manufacturing companies listed on the indonesia stock exchange in 2016–2021. this study uses quantitative research and uses financial statement data for food and beverage sub-sector manufacturing companies on the indonesia stock exchange from 2016–2021. the data analysis technique in this study used partial least squares (pls). based on the results of the study, shows that (1) firm size has a significant effect on audit delay and (2) kap’s reputation can moderate company size against audit delay. keywords: company size, audit delay, reputation of kap a. introduction indonesia’s economic condition is currently in the position of the biggest crisis that has ever happened. since the pandemic that occurred in 2020, large companies have suffered enormous losses and have been forced to carry out layoffs (termination of employment) on a large scale. in the second year of the covid-19 pandemic, the indonesian economy is gradually improving, but that does not mean that large companies can escape the threat of an economic crisis. on the other hand, public companies listed on the capital market must submit financial statements as a form of management’s respon sibility to investors. financial reports are a medium of communication between manage ment and parties outside the company. the relevance of the information communicated will be lost if there is a slight delay in submission, therefore financial statements must be presented on time. investors in the capital market need financial reports that are reliable, relevant, speedy and timely, easy to understand, and can be used as comparisons. as stated in the statement of financial accounting standards (psak: 2009), regarding the basic framework for the preparation and presentation of financial statements, “financial reports must meet four quality characteristics that make financial statement information use ful for several users”. the four characteristics are understandable, relevant, reliable and com parable. attachment to the decree of the chair man of bapepam (capital market supervisory agency) no. kep-431/bl/2012 concerning sub mission of periodic financial statements of issu 161 mailto:khusnah@unusa.ac.id mailto:khusnah@unusa.ac.id mailto:ac18@student.unusa.ac.id mailto:mardiyah@unusa.ac.id mailto:mardiyah@unusa.ac.id mailto:ac19@student.unusa.ac.id business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 162 ers and public companies states that financial statemen t s mu st b e accompanied by an accountant’s report in the context of auditing financial statements, and must be reported no later than the end of the fourth month after the closing date of the company’s annual financial statements. a company that has a good reputation can be seen from the timeliness in submitting its audited financial statements to the public. if there is a delay in the submission of financial statements, it can be said that the company is experiencing an audit delay. in 2019 as many as 24 issuers or companies listed on the indonesia stock exchange (idx) will receive sanctions from the stock exchange authorities for not submitting financial reports, there are still many companies that are absent from the obligation to submit and publish financial reports so that they comply with capital market regulations (cnbc indonesia, 2019). kartika (2011) states that audit delay is the time span or length of audit completion from the closing of the company’s financial year until the company issues an audit report. delays in the publication of financial state ments can indicate problems in the financial statements, thus requiring a longer time to complete the audit. the length of time for completion of the audit by the auditor is seen from the time difference between the date of the financial statements and the date of the audit opinion in the financial statements. in this study, researchers took one of the factors that affect audit delay, namely company size. ayu et al. (2015) state that company size is the large or small volume of a company seen from the total assets of the company or its total assets. most large-scale companies tend to pub lish financial reports faster than small-scale companies because large companies usually have stronger internal controls than small-scale com panies. meanwhile, apriyana (2018) states that company size is the size of a company mea sured using the total assets of the company or the total assets of the company listed in the audited financial statements using logarithms. deangelo (1981) stated that kap (public accounting firm) is a business entity that has obtained permission from the minister of fi nance as a forum for public accountants to provide their services. the speed and accuracy of the auditor in detecting a violation depend on the technological capabilities possessed, au dit procedures, the size of the sample, and the experience of the auditor. the big kaps are kaps that have a large number of clients, in deangelo’s research (1981) kaps are divided into two groups, namely big four kaps and non-big four kaps. with the large number of clients they have, the big four kap revenue is more than the small kap. with financial strength, large kaps can have better technology and be able to recru it better human resources. deangelo (1981) concludes that kaps with good reputations are believed to have better audit quality than smaller kaps. ni made and ni luh (2016) stated that the kap reputation indicator can be seen from the use of kap services that are affiliated with the big four or not. the big four kap categories include kpmg, delloite, pwc, and ernst and young. from several previous research approaches that have been described by researchers, it can be concluded that there are various research results from one study to another. with the development of technology, time and company, it is necessary to re-research in the latest period to obtain research results that can update pre vious research. hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 163 1. theoretical foundation and hypothesis de velopment a. signalling theory brigham & ehrhardt (2005) explains that signalling is an action taken by the company to provide clues to investors about how manage ment views the company’s prospects. this sig nal is in the form of information about what management has done to realize the owner’s wishes. in wahyuningsih’s research (2016) signal ling theory explains why companies have the urge to provide financial statement information to external parties. company urges to provide information because there is information asym metry between the company and outsiders one way to reduce asymmetric information is to provide signals to outsiders and announcements of the information market participants interpret and analyze the information as a good signal or a bad signal for investors if the signal well then there is a change in the volume of stock trading. b. agency theory in hamdani’s research (2016) agency theory describes the importance of company owners handing over the management of the company to professionals or what we often call agencies, who understand better in running their daily business. in hamdani’s research (2016) quoted from ujiyantho & pramuka (2007), it is explained that the agency relationship arises when one or more principals employ agents to provide a service and then delegate decision making authority to the agent. that way, an agent is obliged to account for the mandate given by the principal to him. saragih’s research (2018) an important fac tor that needs to be considered in implementing agency theory is audit delay. audit delay has a close relationship with the timeliness of the publication of financial statements because the benefits of financial statements are reduced if they are not submitted on time. if the informa tion presented is not delivered on time, the value of the information will be reduced. the reduced value of the information conveyed causes information asymmetry. information asymmetry is one element of agency theory, in this case, the agent knows more about the company’s internal information in detail than the principal. c. audit delay financial statements are the main instru ment used by interested parties to assess the performance and financial condition of a com pany as well as for requirements in making decisions. financial reports must be accurate, reliable and trustworthy. timeliness in the issu ance of financial statements is an important element, especially for public companies that use the capital market. on the one hand, the auditor needs time to obtain all competent evidence and transactions so that the informa tion contained in the financial statements is transparent (barkah & pramono, 2016). audit delay or commonly called audit de lay is the length of time required by the inde pendent auditor to complete the audit mea sured from the closing date of the book to the date included in the independent auditor’s re port. this audit delay can affect all published information, thus affecting shareholders which can increase the uncertainty of decisions made based on published information (kartika, 2011). d. company size company size is the size of a company as measured by the total assets of the company or business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 164 the total assets of the company listed in the audited financial statements using logarithms. the bigger company mostly has a good internal control system so that it can reduce the level of financial statement errors, and then make it easier for auditors to audit financial statements. firm size can be measured using the natural logarithm of total assets(apriyana, 2018). the size of the company in the company is used to control assets, employees, income and sales so that the turnover carried out by the company can run well and be stable. e. public accounting firm reputation wulandari & wenny (2019) the public accounting firm (kap) is an organization en gaged in the service sector. the services pro vided are in the form of the compliance audit, operational audit and financial statement audit. public accounting firm (kap) is engaged in attestation and non-attestation services. attes tation services are services that consist of a general audit of the company’s financial state ments, examination of prospective financial state ments, examination of pro forma financial in formation reports, review of financial state ments, etc. meanwhile, non-attestation services are services related to accounting, finance, management, taxation, consulting and compli cations. 2. hypothesis development a. the effect of firm size on audit delay wahyuningsih (2016) states that company size is a function of speed in submitting finan cial reports. company size shows the informa tion contained in the company. if the size of the company is linked to signalling theory, then large companies that have large total assets if they have completed audited financial state ments on time will send signals to many parties such as investors, creditors, the public and the government. natalia et al (2021) stated that the size of the company is categorized into three parts, if the total assets owned by the company are less than one hundred billion, it is a category of small and medium companies. meanwhile, if the total assets owned by the company are more than one hundred billion, it is a large company category. the number of assets owned by the company is an illustration of the size of a company. where the total capital plus net profit after calculating taxes is a requirement of a company. the broader management of the company adds to the efficiency of audit delay because the company is always monitored by shareholders, the public and the government. large companies will provide high demand in wanting more accurate information than small or medium companies. the size of the company plays a role in the assets owned by the company, the higher the total assets owned by the company, the lower the level of audit delay that will occur. h1: firm size has a negative effect on audit delay. b. the moderating role of kap reputation on the effect of firm size on audit delay natalia et al (2021) the size of the com pany is categorized into three parts, if the total assets owned by the company are less than one hundred billion, it is a category of small and medium-sized companies. meanwhile, if the total assets owned by the company are more than one hundred billion, it is a large company cat egory. the number of assets owned by the company is an illustration of the size of a hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 165 company. the broader management of the com pany adds to the efficiency of audit delay, be cause the company is always monitored by shareholders, the public and the government. wulandari & wenny (2019) stated that the public accounting firm (kap) is engaged in at testation services and non-attestation services. attestation services are services that consist of a general audit of the company’s financial state ments, examination of prospective financial state ments, examination of financial performance in formation reports, reviews of financial statements, etc. meanwhile, non-attestation services are ser vices related to accounting, finance, management, taxation, consulting, and complications. in deangelo’s (1981) research, large public ac counting firms will produce excellent audit qual ity. the speed and accuracy of auditors in detect ing violations depends on the technological capa bilities they have, audit procedures, the size of the sample, and the experience of the auditors. a large kap is a kap that has a large number of clients. kaps are divided into two groups, namely big four kaps and non-big four kaps. with the large number of clients they have, the big four kap revenue is more than the small kap. with financial strength, large kaps can have better technology and be able to recruit better human resources. if linked to agency theory, it is very useful to be able to reduce large agency costs because companies that have high total assets have relatively high agency costs. the size of the company in the company gives a big role. the higher the total assets owned by the company, the lower the audit delay. because companies that have large total assets will be more easily highlighted by inves tors, creditors, the public and the government. the management will press so that the audit process can be completed immediately. from the research explanation and the hypothesis above, the existence of a kap that has a good reputation and is classified as a big four kap with a company size that has high total assets can minimize audit delays. then the hypothesis can be derived: h2: kap reputation moderates the effect of firm size on audit delay. 3. research methods a. research design the type of data used in this research is secondary data. the data needed in this study comes from the annual financial report (annual report) in the idx of manufacturing companies in the food and beverage sector for the period 2016–2021 which are listed on the indonesia stock exchange (idx). the research design applied is a quantitative descriptive design. this research is quantitative, the value of each vari able must be certain, and one or more variables are different without affecting or relating to a comparison relationship with other variables. the population used in this study are manu facturing companies listed on the indonesia stock exchange in the food and beverage sector in the 2016–2021 period. in this research, the sampling method is using purposive sampling technique with the criteria that have been de termined by the researcher. based on the crite ria determined by the researchers for sampling, of the 26 food and beverage sector manufactur ing companies listed on the idx, there are 15 food and beverage sector manufacturing com panies that are not included in the research sample. therefore, there are only 11 manufac turing companies in the food and beverage sector listed on the idx that is included in the research sample. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 166 table 1 determination of companies using purposive sampling method for the 2016–2020 periods information amount number of manufacturing companies in the food and beverage sector listed on the idx 26 manufacturing companies in the food and beverage sector that do not regularly report financial reports on the idx during the 2016–2021 period. (15) manufacturing companies in the food and beverage sector that did not report audited financials during the 2016-2021 periods. 0 sample companies 11 b. research variables and operational definitions the variables in this study are divided into several categories. 1. the independent variable (x), often called the independent variable, the independent variable is the variable that influences the dependent variable to change or appear. the independent variable in this study is the size of the company which is measured using size. 2. the dependent variable (y), the variable that is often referred to as the dependent variable is the variable that is affected or that be comes the result, because of the independent variable. the dependent variable in this study is audit delay which is measured using the difference in days between the date of sign ing the independent auditor’s report and the closing date of the annual financial state ments. annual financial reports that exceed 90 days of closing will be coded 0, while timely annual financial reports will be coded 1. 3. the moderating variable (z) is one of the variables to determine whether the variable can strengthen the others. the moderating variable in this study is the reputation of the public accounting firm (kap), the non-big four kap will be given a code of 0, while the big four kap will be given a code of 1. c. operational definition of research the detailed identification of variables and operational definitions are presented as follows: 1) independent variable (x) a) size (x1) clarisa & pangerapan (2019)company size is a scale to determine the size of a corporate entity which can be expressed through total assets, total income, total sales in one year, stock market value, and so on that describe the company’s wealth. companies with a large scale have wider activities, the volume of activity increases and the quantity of transactions within the company increases so that the complexity of transactions increases. thus, the audit pro cedures that must be carried out by the auditor are more to collect samples and audit evidence so that the risk of the company experiencing audit delay tends to be higher. this study uses firm size as an indicator of the book value of total assets. the total value of these assets is calculated in millions of rupees and converted into natural logarithmic form (ln) company size is not a percentage. the formula used to measure company size is: company size = ln total assets (natalia et al., 2021) hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 167 2) dependent variable a) audit delay angruningrum & wirakusuma (2013) stated that audit delay can be measured using the dif ference in days between the date of signing the independent auditor’s report and the closing date of the annual financial report. study gustini (2020) audit delay is the length of time from the closing date of the company’s financial year to the date the auditor’s report is made. the dead line for submission is 90 days after closing the books based on the decree of the chairman of bapepam number xk2 regarding the obligation to submit financial reports if more will be sub ject to sanctions. based on this decision, audit delay is measured using if the annual financial report exceeds 90 days from the closing date, it will be coded 0, while timely annual financial statements will be coded 1. 3) moderating variables a) kap reputation public accounting firm (kap) is an orga nization engaged in services. the services pro vided are in the form of the compliance audit, operational audit and financial statement audit. public accounting firm (kap) is engaged in attestation and non-attestation services. in deangelo’s (1981) research, large public ac counting firms will produce excellent audit qual ity. the speed and accuracy of the auditor in detecting a violation depend on the technologi cal capabilities possessed, audit procedures, the size of the sample, and the experience of the auditor. a large kap is a kap that has a large number of clients. kaps are divided into two groups, namely big four kaps and non-big four kaps. with the large number of clients they have, the big four kap revenue is more than the small kap. with financial strength, large kaps can have better technology and be able to recruit better human resources. if linked to agency theory, it is very useful to be able to reduce large agency costs because companies that have high total assets have relatively high agency costs. kap reputation measured using non-big four kaps will be coded 0, while big four kaps will be coded 1. 4. research instruments and data collection method the data collection used in this study is to use the method of documentation in the form of an annual financial report (annual report) of the company by collecting, recording and calcu lating data related to research. the data ob tained in this study are the company’s annual financial reports published by each food and beverage sector manufacturing company listed on the idx which can be accessed on the official website. www.idx.co. in the period 2016–2021. 5. data processing and data analysis methods a. data processing method the data processing method used in this study is a descriptive method using a quantita tive approach. this means that this study only wants to know how the state of the variable itself is without any influence or relationship to other variables such as experimental research or correlation. b. data analysis this research data uses quantitative data types in the annual financial report (annual report) published by the idx (indonesian stock exchange), the data analysis technique in this http://www.idx.co/ business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 168 study uses partial least square (pls). data analysis using warppls, starting from the evalu ation of the measurement model (outer model), structural model (inner model), and hypothesis testing. 1) measurement model analysis the measurement model in pls (partial least square) is a structural equation modelling (sem) method in this case (according to the research objective) it is more appropriate than other sem techniques because of the number of samples and the potential for abnormal distribution of vari ables. data processing was carried out using microsoft excel 2010 and warppls software. the data processing was carried out usin g microsoft excel 2010 software to calculate the results of size, debt to equity ratio (der), audit delay and kap reputation. while the warppls software is used to calculate the effect of size, and debt to equity ratio (der), on audit delay with kap’s reputation as a moderating variable. by covering 2 stages. 2) evaluation of the measurement model (outer model) a) composite reliability composite reliability was done by looking at the view latent variable coefficient. from this output, the criteria can be seen from two things, namely composite reliability and cronbach’s alpha. if a construct has met these two criteria, it can be said that the construct is reliable. with the provisions of composite reliability > 0.70 and cronbach’s alpha > 0.60 then each vari able is fulfilled and it can be said that the construct is reliable or has consistency in the research instrument. 3) evaluation of the structural model (inner model) sholihin & ratmono (2013) stated that the inner model is used to determine the relation ship between latent constructs and other latent constructs. evaluation of the structural model (inner model) includes a model fit test (model fit), path confidence and r2. the model fit test is used to determine whether a model has a model fit. there are 3 test indices, namely average path coefficients (apc), average r squared (ars) and average variance factor (avif). the criteria of apc and ars are ac cepted on the condition that the p-value < 0.05 and avif is less than 5. 4) hypothesis testing hypothesis testing is used to explain the direction of the relationship between the inde pendent variable and the dependent variable. this test is done by using path analysis on the model that has been made. the results of the correlation between constructs were measured by looking at the path coefficient and its level of significance which was then compared with the research hypotheses contained in the previ ous chapter 2. a hypothesis can be accepted or must be rejected statistically which can be cal culated through the level of significance. sig nificance levels are usually defined as 10%, 5% and 1%. the significance level used is 10%, and the significance level or the confidence level is 0.10 to reject the hypothesis. the following is used as a basis for decision making, namely: p – value > 0.05 then ho is accepted and ha is rejected. p – value < 0.05 then ho is rejected and ha is accepted. hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 169 table 2 no. variable composite reliability cronbach's alpha information 1 company size 1,000 1,000 very reliable 2 audit delay 1,000 1,000 very reliable 3 kap reputation 1,000 1,000 very reliable source: data processed with warppls b. results 1. data analysis a. evaluation of the measurement model (outer model) evaluation of the measurement model is used to determine the measuring instrument of a construct. there are two approaches in the measurement model, namely reflective and for mative measurements. the approach used in this study is reflective. reflective constructs are assessed based on the value of cross-loading each construct. this study did not use the validity test. 1) composite reliability reliability testing is measured using com posite reliability and cronbach alpha. the rule of thumb from composite reliability and cronbach’s alpha is 0.41–0.60 (the category is quite reliable). the results of the internal con sistency reliability test in this study are pre sented in the table 2. the results shown in the table above, indi cate that all constructs in this study have met the reliability of internal consistency. this can be proven by the value of composite reliability and cronbach’s alpha each construct has met the criteria. b. structural model evaluation (inner model) evaluation of the structural model is seen based on the value of the coefficient of determi nation (r2). the r2 test serves to explain the variance of the dependent variable. the higher the value of r2, the greater the ability of the independent variable in explaining the depen dent variable. table 3 coefficient of latent variables coefficient score r-squared 0.561 q-squared 0.674 source: data processed with warppls the coefficient of determination (r2) in table 3 above is used to show the percentage of variation in endogenous constructs that can be explained by exogenous constructs. table 3 above shows that r2 of 0.561 means that the audit delay variable can be explained by the company size variable of 56.1%, while the re maining 43.9% can be explained by other vari ables outside of this study. the next evaluation of the structural model is to see the predictive relevance, using the value of q-squared. score q-squared in this study of 0.674 which is greater than zero. this shows that the predictive rel evance of this research model is very good. evaluation of the structural model of the system using r2 and q-squared i.e. using effect sizes. effect size can be grouped into three table 4 effect size for path coefficient ad information up 0.588 big rkap*up 0.011 weak source: data processed with warppls business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 170 figure 1 results of hypothesis testing categories, namely weak (0.02), medium (0.15), and large (0.35). table 4 above shows the effect size for company size against audit delay of 0.588 (rela tively large). effect sizes show that company size has a large role from a practical perspec tive in reducing audit delay. the effect size for kap’s reputation in moderating the negative impact of firm size on audit delay is 0.011 (classified as weak). effect sizes show that the reputation of kap has a weak role from a practical perspective in mod erating against audit delay. c. hypothesis test the hypothesis test in this study is seen based on the path coefficient value and signifi cant value (p-value). the path coefficient is used to see the direction of the relationship in the research hypothesis. the positive path coef ficient value indicates that the independent vari able is positively related to the dependent vari able, while the negative path coefficient value indicates that the independent variable is nega tively related to the dependent variable. there are two hypotheses proposed in this study. the hypothesis is defined as supported if the p-value < 0.01 (significant at the 1% level), p-value <0.05 (significant at the 5% level) and p-value < 0.1 (significant at the 10% level). the following are the path coefficient value and p value from the results of hypothesis testing using sem-pls analysis. table 5 estimation results path coefficient and p-value no. hypothesis path p-values coefficients 1 up – ad -0.794 <0.001 2 kap*up ad -0.179 0.081 source: data processed by researchers with warp pls 6.0 information: *significant at the 0.05 level (2-tailed) ** significant at 0.01 level (2-tailed) *** significant at the 0.001 level (2-tailed) the following is a clearer explanation for each of the hypotheses proposed in the study: h1: firm size has a negative effect on audit delay the results of hypothesis testing in table 5 show that the size of the company with the size hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 171 indicator has a negative effect on audit delay in line with the proposed hypothesis. size to audit delay showed significant results with the value of p-value< 0.001 (less than 0.001). path coef ficient of -0.794 means that the coefficient has a negative direction indicating that the high size of a company can reduce audit delay and vice versa if the company size is low, the possibility of audit delay is greater. in line with signal theory, if the size of a company is high, the level of audit delay is low and will send a signal in the form of information or a positive signal to outsiders because a company that has a high size with adequate management will shorten the audit process. judging from the results of the hypothesis, this study is in line with pourali et al. (2013) firm size has a negative effect on audit delay. this happens because larger companies have better internal controls. companies that have better internal controls will make it easier for the auditors so this can reduce auditor errors in working on their audit reports. h2: kap reputation moderates the effect of firm size on audit delay the results of hypothesis testing in table 5 show that the reputation of kap can moderate the size of the company against audit delay proved by p-value <0.081 (more than 0.05) and path coefficient of -0.179. in addition, direct testing between company size and audit delay also showed insignificant results. this test proves that the reputation of the kap can moderate or become pure moderation. pure moderation if the relationship x to y is significant and the relationship x*z to y is not significant. kaps are divided into two groups, namely big four kaps and non-big four kaps. with the large number of clients they have, the big four kap revenue is more than the small kap. with financial strength, large kaps can have better technology and be able to recruit better human resources. it can be concluded that kaps that have a good reputation are believed to have better au dit quality than smaller kaps (deangelo, 1981). audit firms with the big four kap reputa tion tend to reduce audit delays because they have good financial resources to obtain human and material resources to complete the audit within a certain time (ilaboya & christian, 2014)). a public accounting firm with a good reputation will have competent resources to carry out audit procedures more efficiently and effectively so that they can be completed on time. the larger the size of the company, the faster the process of preparing financial state ments, which makes the auditor more time to audit. the influence of company size on audit delay will be further strengthened by a kap that has a good reputation because it has a flexible schedule which will result in a short audit delay range (murti & widhiyani, 2016). based on the results of this study indicate that the reputation of kap can moderate the size of the company to audit delay. this indi cates that large kaps that are included in the big four kaps that provide auditor services to companies can resolve audit delay problems faced by internal auditors. so it can be con cluded that the proposed hypothesis is sup ported. c. conclusion this study aims to empirically examine the moderating effect of kap size on the effect of firm size on audit delay of manufacturing com panies listed on the indonesia stock exchange in 2016–2021. this study examines the negative effect of firm size on audit delay and the influ business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 172 ence of kap reputation moderates firm size on audit delay. based on the results of the discus sion of the hypothesis above, it can be con cluded that company size has a negative effect on audit delay. the next conclusion is that kap reputation fully moderates the effect of firm size on audit delay. d. reference abdillah, w. & jogiyanto. (2015) partial least square (pls). yogyakarta: penerbit andi. badan pusat statistik (2017). realisasi penerimaan negara (milyah rupiah), 2007–2017. www.bps.go.id [online]. https//www.bps.go.id/statictable/2009/ 02/24/1286. jurnal akuntansi universitas udaya; issn, 8556. angruningrum, s. & wirakusuma, made gede. (2013). pengaruh profitabilitas, leverage, kompleksitas operasi, reputasi kap, dan komite audit pada audit delay. 2, 251– 270. apriyana, n. (2018). pengaruh profitabilitas, sol vabilitas, ukuran perusahaan, dan ukuran kap terhadap audit delay. nominal, baro meter riset akuntansi dan manajemen, vi(3). aryaningsih, n. n. d. & budiartha, i. k. (2014). pengaruh total aset, tingkat solvabilitas dan opini audit pada audit delay. jurnal akuntansi universitas udayana, 7(3), 2302–8556. ayu, i. g., sari, p., luh, n., & widhiyani, s. (2015). pengaruh ukuran perusahaan , laba operasi , solvabilitas , dan komite audit pada audit delay fakultas ekonomi dan bisnis universitas udayana (unud), bali, indonesia aktivitas di bursa efek indone sia mensyaratkan adanya laporan keuang an berdasarkan empa. 3, 481–495. barkah, g. & pramono, h. (2016). pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan solvabilitas terhadap audit delay pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bei periode 2010–2012. kompartemen, xiv(1), 75–89. brigham & ehrhardt. (2005). the impact of financial leverage to profitability study of non-financial companies listed in indonesia stock exchange. european jour nal of economics, finance, and adminis trative sciences, 32, 136–148. carslaw, c. a. p. n. & kaplan, s. e. (1991). an examination of audit delay: further evi dence from new zealand. accounting and business research, 22(85), 21–32. clarisa, s. & pangerapan, s. (2019). pengaruh ukuran perusahaan, solvabilitas, profitabi litas, dan ukuran kap terhadap audit delay pada perusahaan sektor pertambang an yang terdaftar di bursa efek indone sia. jurnal emba: jurnal riset ekonomi, manajemen, bisnis dan akuntansi, 7(3), 3069–3078. https://doi.org/10.35794/ emba.v7i3.24060. deangelo, linda elizabeth. 1981. “auditor size and audit quality”. journal of account ing and economics,vol. 3. pp 183–199. devi, n. l. l. s. & suaryana, i. g. n. a. (2016). pengaruh profitabilitas dan solva bilitas terhadap ketepatan waktu dengan reputasi kantor akuntan publik sebagai pemoderasi. e-jurnal akuntansi universi tas udayana, 17(1), 395–425. dwiastuti, w. (2020). pengaruh profitabilitas dan solvabilitas terhadap audit delay dengan reputasi kap sebagai pemoderasi. tange rang: fakultas bisnis universitas buddhi dharma. gustini, e. (2020). pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, dan jenis indus hidayatul khusnah, agus achmad faisal, mardiyah anugraini, firdeana fitrotul ula, the effect of company size on audit delay: the moderating role of kap’s reputation 173 tri terhadap audit delay pada perusahaan lq45 yang terdaftar di bursa efek indo nesia. jurnal ilmiah ekonomi global masa kini, 11(2), 71. https://doi.org/10.36982/ jiegmk.v11i2.1187. hamdani, m. (2016). good corporate gover nance (gcg) dalam perspektif agency theory. semnas fekon, 279–283. harjanto, k. (2018). pengaruh ukuran perusa haan, profitabilitas, solvabilitas, dan ukur an kantor akuntan publik terhadap audit delay. jurnal ultima accounting, 9(2), 33– 49. https://doi.org/10.31937/akuntansi. v9i2.728. kartika. 2011. faktor-faktor yang memengaruhi audit delay pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bei. dinamika keuangan dan perbankan, vol. 3, no.2 hal: 152– 171. lestari, k. a. n. m. & saitri, p. w. (2017). analisis pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, kualitas audi tor dan audit tenure terhadap audit delay pada perusahaan manufaktur di bursa efek indonesia periode 2012–2015. jurnal ilmiah manajemen & akuntansi, 23(1), 1–11. natalia, c., destiny, & putri, arie pratania. (2021). pengaruh ukuran perusahaan, sol vabilitas, profitabilitas, umur perusahaan terhadap audit delay pada sektor pariwi sata di bei. jimea | jurnal ilmiah mea (manajemen, ekonomi, dan akuntansi), 5(1), 1339–1351. ni made, dwi ari murti & ni luh, sari widhiyani. 2016. pengaruh ukuran perusa haan dan profitabilitas pada audit delay dengan reputasi kap sebagai variabel pemoderasi. e-jurnal akuntansi universi tas udayana.vol. 16, no 1, pp 275–305. pattiasina, v. (2017). analisis pengaruh kualitas auditor, ukuran perusahaan, jumlah ko mite audit, kompleksitas operasi perusa haan terhadap audit delay dan opini audit yang diinterveing oleh audit lag. future jurnal manajemen dan akuntansi, 5(september), 85–98. www.jurnal.uniyap. ac.id/index.php.future pourali, m. r., jozi, m., rostami k. h., taherpour g. r., & niazi f. (2013). “in vestigation of effective factors in audit delay: evidence from tehran stock ex change (tse)”. research journal of ap plied sciences, engineering and technol ogy, 5(2):405–410. prabandari, r. j. (2006). beberapa faktor yang berdampak pada perbedaan audit delay (studi empiris pada perusahaan-perusa haan keuangan yang terdaftar di bej). kinerja, 11(1), 135–147. prabasari, i. g. a. a. r. & merkusiwati, n. k. l. a. (2017). pengaruh profitabilitas, ukur an perusahaan, dan komite audit pada audit delay yang dimoderasi oleh repu tasi kap. jurnal akuntansi universitas udayana, vol. 20(2). issn: 2302-8556 puspitasari, k. d. & latrini, m. y. (2014). pengaruh ukuran perusahaan, anak perusa haan, leverage, dan ukuran kap terhadap audit delay, 29(2), 211–215. https:// doi.org/10.1016/0006-291x(67)90589-x putra, v. a. & wilopo, r. (2017). the effect of company size, accounting firm size, solvency, auditor switching, and audit opinion on audit delay. the indonesian accounting review, 7(1), 119. https:// doi.org/10.14414/tiar.v7i1.956. putri, arie pratania, wati, l., chriestien, j., & wijaya, c. (2021). pengaruh ukuran per usahaan, dan solvabilitas terhadap audit delay pada perusahaan customer good. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 174 jimea | jurnal ilmiah mea (manajemen, ekonomi, dan akuntansi ), 5(2), 480–497. ramadhany, f. r., suzan, l., & dilllak, v. j. (2018). pengaruh ukuran perusahaan, solvabilitas, profitabilitas, dan umur list ing perusahaan terhadap audit delay (studi empiris pada perusahaan minyak dan gas bumi yang terdaftar di bursa efek indo nesia periode 2011–2015). e-proceeding of management, 5(1), 843–851. saputra, a. d., irawan, c. r., & ginting, w. a. (2020). pengaruh ukuran perusahaan, opi ni audit, umur perusahaan, profitabilitas, dan solvabilitas terhadap audit delay. owner (riset dan jurnal akuntansi), 4(2), 286. https://doi.org/10.33395/owner. v4i2.239. saragih, m. r. (2018). pengaruh ukuran perusa haan, solvabilitas, dan komite audit terha dap audit delay. jurnal akuntansi berkelan jutan indonesia, 1(3), 352. https://doi.org/ 10. 32493/jabi.v1i3.y2018.p352-371. saragih, m. r. (2019). the effect of company size, solvency, and audit committee on delay audit. scientific journal of reflec tion: economic, accounting, management, and business, 2(2), 191–200. https:// doi.org/10.5281/zenodo.2628084. sayidah, n. (2019). pengaruh ukuran perusa haan, profitabilitas, solvabilitas, dan opini auditor terhadap audit delay. jurnal ana lisa akuntansi dan perpajakan, 2(2). https:/ /doi.org/10.25139/jaap.v2i2.1397. sholihin, m. & ratmono, d. (2013). analisis sem-pls dengan warppls 7.0: untuk hu bungan nonlinier dalam penelitian sosial dan bisnis. yogyakarta: penerbit andi. sugiyono. 2018. metode penelitian kuantitatif. bandung: alfabeta. ujiyantho, muh. arif & pramuka, b. a. 2007. mekanisme corporate governance, ma najemen laba, dan kinerja keuangan. prosiding simposium nasional akuntansi 10. makassar. wahyuningsih, s. (2016). pengaruh ukuran peru sahaan, umur perusahaan, profitabilitas, dan solvabilitas (studi pada perusahaan perbankan yang terdaftar di bei) the ef fect of company size, age of company, profitability, and solvability (study at bank companies listed in indonesian stock ex change ). e-journal ekonomi bisnis dan akuntansi, 1–12. wulandari, t. & wenny, c. d. (2019). pengaruh ukuran perusahaan, opini audit, dan solva bilitas terhadap audit delay dengan repu tasi kap sebagai variabel pemoderasi. 3(1), 28–36. http://repository.bakrie.ac.id/id/ eprint/2883. h tt ps :// w w w. c nb cindon e si a. c om/ m a rket / 20200812162111-17-179336/belum-setor lapkeu-2019-30-emiten-nakal-didenda bursa lampiran keputusan ketua bapepam (badan pengawas pasar modal) no. kep-431/bl/ 2012. pernyataan standar akuntansi keuangan (psak: 2009). peraturan penyampaian laporan keuangan telah diatur oleh bapepam dalam uu no. 8 yang telah diperbarui pada tahun 2012 tentang pasar modal. bapepam dan lk (badan pengawas pasar modal dan lembaga keuangan) peraturan nomor: x.k.6, lampiran keputusan ketua bape pam dan lk nomor: kep-431/bl/2012. keputusan ketua bapepam dan lk nomor: kep-134/pm/2006 tentang kewajiban pe nyampaian laporan keuangan dan kepu tusan ketua bapepam dan lk nomor: kep-40/bl/2007. http://repository.bakrie.ac.id/id/ 01 dafazal saffan.pmd tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 1919 pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi tugiman, bambang syairudin jurusan manajemen proyek program studi magister manajemen teknologi institut teknologi sepuluh nopember, e-mail: tgm.pjnwil1@gmail.com abstract: bridge project is a very complex work with high technology. in the project’s execution there are to many problem, such as delays of implementation, overpayment and other failures. it is necessary to develop of critical success factor (csf) to support the performance of committing officer (ppk) in the execution of it’s duties and responsibilities in the implementation of the bridge project. the purpose of this study to identify the factors that are relevant to get an idea of the perception of csf. the method used to solve complex problems in this study using analytical hierarchy process (ahp).the results of this study, the factors that affected the successful implementation of the bridge project, is the ability of the ppk in making self-estimated price (hps) with the value (0,038), the ability of consultants to assist and provide guidance to the contractor in the licensing value ratio consistency (0,002) and the ability contractor in making the first project handover (pho) value consistency ratio (0.001). the conclusion is that three factors are very affected to support the performance of committing officer (ppk) in the execution of bridge project. keywords: critical success factor, analytical hierarchy process, ppk, ketapang bridge 1. pendahuluan 1.1 latar belakang pejabat pembuat komitmen berdasarkan perpres ri nomor 4 tahun 2015 tentang perubahan keempat atas perpres nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintahan, yang disebut ppk adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan barang dan jasa. sedangkan berdasarkan peraturan pemerintah nomor 45 tahun 2013 tentang tata cara pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, ppk adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran untuk mengambil dan atau melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara. berdasarkan pengertian tersebut maka ppk adalah pejabat yang berwenang untuk mengambil keputusan dan tindakan yang berakibat pada pengeluaran anggaran dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. jika kita melihat pencairan anggaran belanja negara, maka peran ppk ada pada mekanisme uang persediaan dan mekanisme langsung. pada mekanisme uang panjar (up), peraturan menteri keuangan (pmk) berwenang untuk mengambil tindakan yang berakibat pada pengeluaran, sedangkan pada mekanisme ls (lumpsum), ppk bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan. oleh karena itu, dalam penelitian ini diharapkan akan memenuhi hasil dari analisis faktorfaktor dan sub faktor dalam keberhasilan suatu proyek. dari faktor-faktor dan sub-subfaktor sebagai bahan kuesioner untuk disebarkan kepada responden dalam hal ini adalah tim ahli dalam konstruksi jembatan yang terdiri dari ppk, konsultan dan kontraktor untuk membusiness and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 20 berikan nilai pembobotan. kemudian dilakukan proses perbandingan berpasangan antara faktorfaktor dan sub-faktor. kemudian memasukkan hasil perbandingan berpasangan tersebut ke dalam software expert choice, hasil kuesioner kemudian dianalisis dengan metode ahp guna menentukan prioritas csf. ahp dipilih karena kelebihan yang dimilikinya yaitu dapat menangani struktur yang berhierarki pada faktor yang dipilih sampai pada sub faktor yang paling dalam. hasil dari penelitian ini adalah urutan prioritas csf yang paling berpengaruh untuk menentukan faktor penunjang kinerja ppk dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi. 1.2 perumusan masalah sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan, maka dirumuskan persoalan penelitian yang akan dikaji adalah bagaimana melakukan identifikasi faktor penjamin kesuksesan kinerja ppk dalam pelaksanaan pembangunan jembatan ketapang dengan metode csf (critical success factor) dan ahp (analytical hierarchy process). 1.3 tujuan penelitian sesuai latar belakang masalah, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. mengidentifikasi faktor penjamin kesuksesan kinerja ppk dalam pelaksanaan pembangunan jembatan ketapang. 2. menentukan pembobotan masing-masing faktor penjamin kesuksesan kinerja ppk. 3. mengimplementasikan critical success factor (csf) dalam pelaksanaan proyek pembangunan jembatan ketapang. 1.4 batasan masalah adapun batasan masalah yang dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. objek amatan dalam penelitian ini adalah proyek pembangunan jembatan ketapang yang dikelola oleh ppk wilayah situbondoketapang-banyuwangi di bawah pengawasan balai besar pelaksanaan jalan nasional v provinsi jawa timur. 2. tugas dan tanggung jawab ppk yang akan dikaji dalam penelitian ini sesuai perpres 4 tahun 2015 pasal 11 ayat 1 huruf c,d,e,h dan pasal 11 ayat 2 huruf a poin 1 dan huruf b dan mengacu pada pmk pasal 13 tahun 2012 tentang pelaksanaan anggaran. 3. tidak ada perubahan kebijakan dari kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (pupr) yang terkait dengan proyek jembatan ketapang. 4. tidak ada kejadian force majeure selama pelaksanaan proyek jembatan ketapang. 5. lokasi penelitian adalah pembangunan jembatan ketapang yang terletak di banyuwangi km surabaya 280+651. 2. dasar teori 2.1 penelitian sebelumnya 1. penelitian oleh derrich j – z tan and f.e muhamad ghazali (2011), diperoleh hasil penelitian critical success factor (csf) diperoleh dengan cara interview dengan kontraktor profesional malaysia bertaraf internasional. dari review tersebut diperoleh 40 csf, kemudian dikelompokkan menjadi enam kategori sebagai berikut. faktor manajemen proyek: • faktor pengadaan • faktor owner • faktor desainer • faktor kontraktor • faktor manajemen proyek tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 21 • faktor lingkungan bisnis (lingkungan pekerjaan) 2. mohamad soqib, rizwan u., farooqui, sarosh h. lodi. hasil penelitian ini, keberhasilan proyek terdiri tujuh faktor dan subfaktor sebagai berikut. • faktor manajemen proyek • faktor yang berkaitan dengan pengadaan • faktor yang berkaitan dengan klien. • faktor yang berkaitan dengan tim desain • faktor yang berkaitan dengan kontraktor • faktor yang berkaitan dengan pimpro • faktor yang berkaitan dengan bisnis dan lingkungan kerja 3. arti j. jari, pankaj, p. bhangale. dalam penelitian ini, kriteria keberhasilan proyek terdiri dari lima kriteria antara lain: • kriteria owner • desainer • kontraktor • kriteria umum • kriteria unik faktor-faktor tersebut sangat bersesuaian dengan faktor-faktor yang diturunkan dari perpres no. 4 tahun 2015 dan pmk pasal 13 tahun 2012 di mana dalam peraturan tersebut, sangat spesifik dengan rencana penelitian yang akan penulis lakukan critical success factor (csf) pejabat pembuat komitmen (ppk). 2.2 critical success factor critical success factor adalah faktor atau variabel yang kritis bagi keberhasilan pelaksanaan proyek yang harus dikerjakan, di mana tanpa adanya faktor tersebut maka proyek tidak akan sukses atau berhasil dalam target maupun goal tertentu. pada suatu proyek atau pekerjaan critical success factor (csf) ini penting sekali untuk mengidentifikasikan sebelum proyek dimulai. dalam wikipeda disebutkan definisi critical success factors (csf) is the form for an element that necessary for an organization or project to achieve its mission. it is a critical factor or activity required for ensuring the success of a company or an organizations. the term was unitialy used in the word of data analysis and business analysis”. “critical success factors are those few things that must go will to ensure success for a manager or an organizations, and. that must be give special and continual attention to being about high performance. csfs include issues vital to an organizations cured operating activities and to its future success. konsep faktor sukses (success factors) dibangun oleh d. daniel dari mc kintey dan company pada tahun 1961. analytical hierarchy process (ahp) analytic hierarchy process (ahp) telah diterima sebagai model pengambilan keputusan yang bersifat multikriteria, oleh orang-orang akademik maupun praktisi (mauro, 2001). kriteria-kriteria dibandingkan dalam bentuk perbandingan berpasangan, untuk membentuk suatu matriks preferensi, demikian pula halnya dengan alternatif. salah satu keandalan ahp adalah dapat melakukan analisis secara simultan dan terintegrasi antara parameter yang kualitatif atau bahkan yang ’intangible’ dan yang kuantitatif (roy, b., m. paruccini, 1994). ahp menggunakan struktur hierarki, matriks, dan algebra linier dalam memformulasikan prosedur pengambilan keputusan. di samping itu, ahp juga menggunakan prinsip-prinsip eigenvector dan eigenvalue dalam proses pembobotan (saaty, 1990). menurut saaty (1993), hierarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi-level business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 22 membuat matriks kriteria berpasangan, tabel 1 skala penilaian perbandingan berpasangan membuat matriks berpasangan kriteria terhadap kriteria sebagai berikut. 1. menjumlahkan matriks kolom. 2. menghitung nilai elemen kolom kriteria dengan cara membagi setiap nilai elemen kolom dengan jumlah matriks kolom. 3. menentukan prioritas kriteria jumlah baris (n kriteria). 4. menghitung prioritas alternatif dengan membuat matriks berpasangan alternatif terhadap alternatif sebanyak jumlah kriteria. 5. hitung konsistensi. (λmaks) = ó (y / x) ..............(1.1) n keterangan: y = perkalian antara matriks perbandingan dengan bobot x = hasil matriks perbandingan normalisasi n = jumlah baris/atribut 6. konsistensi indeks (ci) ci = λmaks – n n – 1 .............(1.2) keterangan: λmaks = nilai konsistensi n = jumlah baris 7. consistency ratio (cr) merupakan pernyataan yang menyatakan seberapa besar derajat di mana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, subkriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. dengan hierarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hierarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis (saaty, 2010). tahap-tahap atau prosedur ahp (rochmasari, 2010) meliputi hal-hal sebagai berikut. 1. mendefinisikan struktur hierarki masalah. 2. penilaian kriteria dan alternatif dengan melakukan perbandingan berpasangan. gambar 2.1 dekomposisi permasalahan dalam bentuk model hierarki ahp (saaty, 1990) tabel 1 skala penilaian perbandingan pasangan tingkat kepentingan definisi keterangan 1 kedua elemen sama pentingnya kedua elemen seimbang sama besar pada sifat tersebut 3 elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen lainnya pengalaman menyatakan sedikit memihak pada satu elemen 5 elemen yang satu lebih penting daripada elemen lainnya pengalaman menunjukkan secara kuat memihak pada satu elemen 7 satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya pengalaman menunjukkan secara kuat disukai dan didominasi satu elemen yang sangat jelas lebih penting 9 satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya pengalaman menunjukkan satu elemen sangat jelas lebih penting 2,4,6,8 nilai tengah di antara dua penilaian yang berdampingan nilai ini diberikan jika diperlukan kompromi kebalikan bila elemen ke-ij pada faktor i mendapat nilai x maka elemen ke-ji pada faktor ke-j mendapat nilai 1/x tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 23 inconsistency dari penetapan nilai perbandingan antar-kriteria yang telah dibuat, yaitu: cr = ci / ri .............(1.3) keterangan: cr= consistency ratio ci = consistency index ri = index random b. wawancara dan pengisian kuesioner dengan para pakar/ahli jembatan dalam pengambilan keputusan terhadap pemilihan prioritas ketepatan proyek jembatan ketapang untuk mendapatkan kriteria dan alternatif dari tender tersebut. c. pengolahan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pendukung expert choice. adapun diagram alir penelitian dapat dilihat pada diagram berikut ini. ukuran matriks nilai ri 1,2 0,00 3 0,58 4 0,90 5 1,12 6 1,24 7 1,32 8 1,41 9 1,45 10 1,49 11 1,51 12 1,58 tabel 2.2 daftar random index (ri) apabila nilai cr ≤ 0,10 maka data konsisten/dapat ditoleransi tetapi bila cr ≥ 0,10 maka data tidak konsisten dan perlu dilakukan revisi. apabila nilai cr = 0, dapat dikatakan “perfectly consistent”. 3. metode penelitian metodologi penelitian adalah gambaran langkah-langkah yang ditempuh dalam menjalankan penelitian dijelaskan sebagai berikut. 3.1 rancangan penelitian a. studi literatur dilakukan untuk mencari bahan-bahan referensi yang akandigunakan dalam penelitian ini. dengan mengacu pada laporan justifikasi teknik, laporan rencana mutu kontrak, laporan pra-contraction meeting (pcm) mengenai pemilihan prioritas. gambar 3.1 bagan alir penelitian business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 24 3.2 perangkat lunak tools yang digunakan expert choice v.11 dipergunakan sebagai alat bantu untuk menampilkan hasil analisis dari data perbandingan antara kriteria-kriteria yaitu design, tinjauan keadaan lapangan, inventarisasi volume, mobilisasi alat, metode pembayaran, ruang lingkup pekerjaan, jadwal pekerjaan, nilai strategis proyek terhadap alternatif yang ada yaitu item-item pekerjaan dalam dokumen kontrak, survey jembatan ketapang dan kuantitas item pekerjaan. 3.3 metode pengumpulan data sumber data primer diperoleh dari dokumen-dokumen kontrak pekerjaan proyek yang terkait dan melakukan wawancara maupun pengisian kuesioner dengan pihak-pihak pengambil keputusan dalam hal ini para pakar jembatan terhadap kriteria-kriteria yang menjadi pertimbangan keberhasilan ppk dalam melaksanakan sebuah proyek untuk mendapatkan prioritas yang utama dalam menghindari faktor kegagalan dalam mengelola sebuah proyek. sumber data sekunder diperoleh dari data justifikasi teknik (justek). 3.4 proses penentuan prioritas sebuah proyek di dalam keberhasilan sebuah proyek perlu diperhatikan kriteria dan alternatif dari tiaptiap proyek melalui dokumen kontrak yang dinyatakan secara tertulis maupun informasi-informasi lainnya yang tidak tertulis. informasi-informasi yang diperoleh dari sumber tertulis disebut dengan kriteria dan laporan justifikasi teknik disebut dengan alternatif. dari kriteria dan alternatif yang diperoleh ditentukan peringkat untuk mendapatkan kriteria dan alternatif yang terpenting terhadap tujuan pengoptimalisasian terhadap proyek-proyek dengan melibatkan ppk yang bersangkutan dengan pihak kontraktor beserta konsultan supervisi dalam pengambilan keputusan terhadap suatu keberhasilan proyek dan didukung dengan perangkat lunak expert choice sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan multi-kriteria dengan menyederhanakan kompleksitas yang ada. dari hasil pengolahan data menggunakan expert choice diperoleh prioritas sebuah proyek yang akan dipilih dengan melihat dan mempertimbangkan semua kriteria dan alternatif yang ada dan disesuaikan dengan tujuan dan kepentingan perusahaan yang hendak dicapai dari pemilihan proyek tersebut. 3.5 metode analis berdasarkan hasil identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengambilan keputusan keberhasilan proyek dapat dibuat hierarki keputusan dari tingkat paling atas adalah tujuan, yaitu pengoptimalisasian waktu proyek sesuai dokumen kontrak pada proyek jembatan ketapang. 3.6 keterkaitan data dan analisis terhadap metode ahp & expert choice data dalam penelitian ini terdiri dari tujuan, kriteria, dan alternatif. adapun tujuan dari sebuah proses tender adalah pemilihan proyek dalam suatu tender. kriteria yang diperoleh meliputi harga, yaitu besarnya nilai sebuah proyek. 1. metode pembayaran, yaitu termin pembayaran terhadap proyek yang akan dilaksanakan. 2. ruang lingkup pekerjaan, yaitu lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dari ppk dan penyedia jasa. 3. jadwal pekerjaan, yaitu waktu yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan pekerjaan. tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 25 dalam hal ini, ahp merupakan proses perumusan kebijakan yang powerful dan fleksibel dalam menentukan prioritas, membandingkan kriteria, alternatif dan membuat keputusan yang terbaik ketika pengambil keputusan harus mempertimbangkan aspek kuantitatif dan kualitatif. ahp mengurangi kerumitan suatu keputusan menjadi rangkaian perbandingan satusatu, kemudian menyintesis hasil perbandingan tersebut. dengan demikian, ahp tidak hanya bermanfaat dalam pembuatan keputusan yang terbaik tetapi juga memberikan dasar yang kuat bahwa keputusan tersebut merupakan keputusan yang terbaik. estimasi dengan menggunakan metode ahp dapat dilakukan dengan mudah dengan menggunakan perangkat lunak khusus yang disebut expert choice. 4. hasil dan pembahasan 4.1 analisis input identifikasi faktor penjamin kesuksesan kinerja ppk dalam pelaksanaan pembangunan jembatan ketapang ini menggunakan metode ahp dan dimaksudkan untuk membantu dalam pengambilan keputusan untuk menentukan faktor keberhasilan ppk. dalam penentuannya ada tiga kriteria yaitu ppk, konsultan dan kontraktor. a) kriteria: ppk, konsultan dan kontraktor b) alternatif: faktor 1 (tugas pokok dan wewenang ppk), faktor 2 (tugas pokok dan wewenang konsultan), faktor 3 (tugas pokok dan wewenang kontraktor) c) sub alternatif: sub faktor 1, sub faktor 2, sub faktor 3. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 26 tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 27 gambar 4.1 struktur hierarki critical succes factor dengan metode ahp 4.2 bobot dan analisis output teknik pembobotan yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepentingan dan peranan dari tiap kpi dan perspektif adalah ahp. keluaran yang dihasilkan dalam aplikasi ini adalah perbandingan faktor keberhasilan kinerja ppk dalam pembangunan jembatan ketapang. selain itu, dengan aplikasi ini dapat mengetahui indikator (kpi) setiap sub-faktor penting yang mempunyai nilai tertinggi dan terendah sehingga memudahkan ppk untuk memperbaiki kpi yang rendah dan mengantisipasi agar tidak terjadinya kegagalan pada proyek-proyek jembatan terdahulu. 4.3 implementasi sistem a. halaman utama halaman ini berfungsi sebagai tampilan awal ketika menjalankan aplikasi expert choice versi 11. gambar 4.2 tampilan pertama kali saat user menjalankan program business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 28 gambar 4.3 tampilan saat user akan memulai input data kuesionera. b. proses pengisian kuesioner proses pengisian kuesioner sesuai data dari hasil penyebaran masing-masing koresponden dari tim ahli bbpjn v. gambar 4.4 analisis proses kriteria dengan cr 0.05 b. perhitungan bobot sub faktor ppk dari perhitungan penginputan kuesioner ahp dapat dilakukan analisis berdasarkan hasil akhir (skor terbobot) tiap kpi. di bawah ini merupakan hasil analisis subfaktor ppk. gambar 4.4 tampilan saat user memulai input data kuesioner 4.4 analisis hasil a. perhitungan bobot kriteria ppk dari perhitungan penginputan kuesioner ahp dapat dilakukan analisis berdasarkan hasil akhir (skor terbobot) tiap kpi. di bawah ini merupakan hasil analisis faktor dari tiap-tiap kriteria. gambar 4.5 analisis proses sub-faktor ppk dengan cr 0.09 c. perhitungan bobot sub-faktor konsultan dari perhitungan penginputan kuesioner ahp dapat dilakukan analisis berdasarkan hasil akhir (skor terbobot) tiap kpi. dibawah ini merupakan analisis hasil subfaktor dari konsultan. tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 29 gambar 4.6 analisis proses sub-faktor konsultan dengan cr 0,00 d. perhitungan bobot sub-faktor kontraktor dari perhitungan penginputan kuesioner ahp dapat dilakukan analisis berdasarkan hasil akhir (skor terbobot) tiap kpi. di bawah ini merupakan analisis hasil subfaktor dari kontraktor. gambar 4.8 strategi map strategi map merupakan sebuah diagram yang menunjukkan visi, misi, strategi yang diimplementasikan dalam mengukur kinerja keberhasilan dengan menggunakan kpi. dengan menggunakan strategi map dapat di dilihat dengan jelas keterkaitan antar visi, misi organisasi dengan kpi. berdasarkan strategi map di atas dapat dijelaskan bahwa (kpa, ppk, konsultan, kontraktor) yang mempunyai kedudukan paling tinggi dan paling berpengaruh. 5. kesimpulan setelah menyelesaikan rancangan perangkat lunak pengukuran penjamin kesuksesan kinerja ppk dalam pelaksanaan pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi dengan metode csf (critical success factor) dan ahp (analytical hierarchy process) dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut. perhitungan bobot lokal dan bobot grobal gambar 4.7 analisis proses sub-faktor kontraktor dengan cr 0,00. dari hasil perhitungan kuesioner dan ahp dapat dibuat strategi map. berikut strategi map yang dibangun: no. faktor bobot lokal bobot global 1 faktor 1-tugas pokok dan wewenang ppk 0,709 0,709 2 faktor 2tugas pokok dan wewenang konsultan 0,179 0,179 3 faktor 3tugas pokok dan wewenang kontraktor 0,113 0,113 total 1,00 1,00 business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 30 no. sub-faktor ppk bobot lokal bobot global 1 sub faktor 1.1-kemampuan membuat (hps) 0,053 0,038 2 sub faktor 1.2-kemampuan memilih penyedia jasa 0,058 0,041 3 sub faktor 1.3-kemampuan merancang kontrak 0,098 0,069 4 sub faktor 1.4-kemampuan dalam memahami hukum kontrak 0,093 0,066 5 sub faktor 1.5-kemampuan melaksanakan kontrak 0,078 0,055 6 sub faktor 1.6-kemampuan mengendalikan pelaksanaan 0,100 0,071 7 sub faktor 1.7-kemampuan membuat laporan program fisik kepada pa/kpa tiap periode(harian, mingguan dan bulanan) 0,098 0,069 8 sub faktor 1.8-ketelitian memeriksa sertifikat bulanan (mc) untuk tagihan kontraktor 0,086 0,061 9 sub faktor 1.9-ketelitian dalam menandatangani persetujuan pembayaran(spp) 0,077 0,055 10 sub faktor 1.10-kemampuan memeriksa, bahwa pekerjaan sudah 100% kepada pa/kpa 0,074 0,052 11 sub faktor 1.11-kemampuan membuat berita acara penyerahan pertama (pho) kepada pa/ kpa 0,104 0,074 12 sub faktor 1.12-kemampuan dan menjaga keutuhan dokumen 0,081 0,057 total 0,709 11 sub faktor 2.11-kemampuan mengidentifikasi masalah yang mendesak yang harus dirapatkan segera 0,037 0,007 12 sub faktor 2.12-kemampuan melaporkan dan teknis, administrasi kepada pa/kpa mengenai persentase dan bobot semua item yang akan dikerjakan 0,045 0,008 13 sub faktor 2.13-kemampuan melaporkan pekerjaan riil sesuai jadwal pelaksanaan 0,028 0,005 14 sub faktor 2.14-kemampuan membuat laporan bahan-bahan bangunan yang dipakai, jumlah tenaga kerja, dan alat yang dipakai 0,019 0,003 15 sub faktor 2.15-ketelitian dalam meneliti shop drawing yang diajukan oleh kontraktor 0,091 0,016 16 sub faktor 2.16-kemampuan membuat berita acara sehubungan dengan selesainya pekerjaan 0,022 0,004 17 sub faktor 2.17-kemampuan dalam menyiapkan daftar volume dan nilai pekerjaan untuk dibayarkan 0,170 0,030 18 sub faktor 2.18-kemampuan dalam membuat formulir laporan dan berita acara kemajuan pekerjaan, penyerahan pertama (pho) dan formulir lainnya yang diperlukan dalam dokumen 0,031 0,006 total 0,179 no. sub-faktor kontraktor bobot lokal bobot global 1 sub faktor 3.1-kemampuan memahami dokumen spesifikasi teknis 0,106 0,012 2 sub faktor 3.2-kemampuan dalam memahami hukum kontrak 0,066 0,007 3 sub faktor 3.3-kemampuan membuat laporan pcm 0,021 0,002 4 sub faktor 3.4-kemampuan memanfaatkan uang muka sebesar 20% dari nilai kontrak 0,104 0,012 5 sub faktor 3.5-ketelitian dalam mengoperasikan alat ukur 0,020 0,002 6 sub faktor 3.6-ketelitian dalam membuat laporan kajian teknis (field engineer) 0,074 0,008 7 sub faktor 3.7-kemampuan membuat dokumen justifikasi teknik 0,094 0,011 8 sub faktor 3.8-kemampuan membuat dokumen peneliti kontrak 0,029 0,003 9 sub faktor 3.9-kemampuan membuat rencana mutu kontrak (rmk) 0,049 0,006 10 sub faktor 3.10-kecepatan dalam melakukan test semua material ke laboratorium balai v untuk pembuatan desain 0,042 0,005 11 sub faktor 3.11-kemampuan membuat job mix formula (jmf) 0,052 0,006 12 sub faktor 3.12-kemampuan melakukan trial di lapangan 0,048 0,005 13 sub faktor 3.13-kemampuan membuat jadwal pelaksanaan pekerjaan 0,036 0,004 14 sub faktor 3.14-kemampuan membuat struktur organisasi 0,009 0,001 15 sub faktor 3.15-kemampuan membuat laporan progress fisik harian, mingguan dan bulanan 0,054 0,006 16 sub faktor 3.16-kemampuan untuk melakukan uji mutu 0,037 0,004 17 sub faktor 3.17-kemampuan membuat laporan back up data quality dan quantity sebagai pendukung pembayaran 0,041 0,005 18 sub faktor 3.18-ketelitian dalam membuat monthly certificate (mc) pembayaran atas pekerjaan yang telah dilakukan 0,066 0,007 19 sub faktor 3.19-kemampuan membuat dokumen foto kondisi 0%, 50%, dan 100% 0,006 0,001 20 sub faktor 3.20-kemampuan membuat surat permintaan pho kepada ppk 0,011 0,001 21 sub faktor 3.21-kemampuan membuat berita acara penyerahan pertama proyek (pho) 0,009 0,001 22 sub faktor 3.22-kemampuan melakukan pengarsipan dokumen pelaksanaan pekerjaan (back up) 0,024 0,003 total 0,113 no. sub-faktor konsultan bobot lokal bobot global 1 sub faktor 2.1-kemampuan menyusun program kerja pengawasan 0,020 0,004 2 sub faktor 2.2-kemampuan memeriksa jadwal pelaksanaan yang diajukan oleh kontraktor 0,025 0,004 3 sub faktor 2.3-kemampuan pengawasan kegiatan di lapangan secara teknis maupun administrasi 0,078 0,014 4 sub faktor 2.4-kemampuan pengawasan secara rinci kebenaran ukuran kualitas dan kualitas dari bahan dan peralatan 0,130 0,023 5 sub faktor 2.5-kemampuan monitoring pekerjaan dan mengambil tindakan yang tepat dan cepat 0,056 0,010 tugiman & bambang syairudin, pengembangan critical success factor (csf) untuk menunjang kinerja pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam pembangunan jembatan ketapang di banyuwangi 31 p p 6 sub faktor 2.6-kemampuan meyakinkan secara teknis tentang penambahan atau pengurangan biaya dan waktu pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan dari pa/kpa 0,097 0,017 7 sub faktor 2.7-kemampuan memerintah secara langsung kepada kontraktor sejauh tidak melanggar kontrak 0,017 0,003 8 sub faktor 2.8-kemampuan membantu memberi petunjuk kepada kontraktor dalam perizinan 0,012 0,002 9 sub faktor 2.9-kemampuan mengonsultasikan segala masalah dan alternatif solusinya kepada pa/kpa 0,103 0,018 10 sub faktor 2.10-kemampuan membuat risalah rapat yang diadakan tiap 1 bulan , 2 bulan 0,017 0,003 gambar 5.1 hasil perhitungan bobot secara global 1. berdasarkan hasil perhitungan analytic hierarchy process (ahp) menggunakan inputan kuesioner data koresponden, kinerja sub faktor 1,2 dan sub faktor 3 dalam hal ini ppk, konsultan dan kontraktor untuk mencapai keberhasilan dalam mengantisipasi agar tidak terjadinya kegagalan pada proyek jembatan ketapang di banyuwangi, ppk harus melakukan hal-hal sebagai berikut. gambar 5.2 faktor kunci keberhasilan ppk gambar 5.3 faktor kunci keberhasilan konsultan gambar 5.4 faktor kunci keberhasilan kontraktor 2. penentuan bobot dan target pada setiap indikator memengaruhi hasil pengukuran kinerja karena setiap bobot dan target menghasilkan tingkat kepentingan dan skor dari perhitungan kuesioner ahp sesuai dengan perhitungan bobot tertinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor keberhasilan dalam penelitian ini diambil bobot yang tertinggi. 3. sesuai dengan hasil penelitian ini, bahwa nilai bobot faktor yang paling tinggi adalah tugas pokok dan wewenang ppk (0.709), disebabkan karena tanggung jawab ppk dibusiness and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 32 mulai dari perencanaan, proses pengadaan barang/jasa, pelaksanaan sampai dengan penyerahan pertama proyek (pho) bahkan sampai dengan penyerahan akhir proyek (fho). sedangkan tugas pokok dan wewenang konsultan (0,179). tugas pokok dan wewenang kontraktor (0,113), karena kerja konsultan dan kontraktor hanya awal pelaksanaan sampai penyerahan pertama proyek (pho). sedangkan sub-faktor yang sangat dominan terhadap keberhasilan pelaksanaan proyek jembatan ketapang adalah kemampuan pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam membuat harga perkiraan sendiri (hps). kemampuan konsultan untuk membantu dan memberikan petunjuk kepada kontraktor dalam perizinan. kemampuan kontraktor dalam membuat berita acara penyerahan pertama proyek (pho). 6. daftar pustaka eduardo shimoda & sérgio frança. 2014. critical success factor in project management study of an energy company in brazil. usa: global journals inc. derrick j-z tan and f.e. mohamed ghazali. 2011. critical success factor for malaysian contractor project using ahp. singapore: eppm. muhammad saqib, rizwan u. farooqui. 2008. assessment of critical success factors for construction projects in pakistan. iccidc-i: ned university of engineering. david scott, albert p.c. & ada p.l.chan. 2004. factors affecting the success of a construction project. technical notes: journal. gunawan, moch. afifudi, ibnu abbas majid. 2014. critical success factor pelaksanaan proyek konstruksi jalan dan jembatan di kabupaten pidie jaya, banda aceh. jurnal teknik sipil pasca sarjana universitas syiah kuala. perpres ri nomor 4 tahun 2015 tentang: perubahan keempat atas perpres nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. perpres ri nomor 45 tahun 2013 tentang: tata cara pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara. laporan pre construction meeting (pcm), paket pembangunan jembatan ketapang tahun anggaran 20016. laporan rencana mutu kontrak (rmk), penyedia jasa pt galory jasa sarana paket pembangunan jembatan ketapang tahun anggaran 2016. laporan justifikasi teknik, paket pembangunan jembatan ketapang tahun anggaran 2016. laporan rencana mutu pelaksanaan (rmp). konsultan pengawasan pt adhiyasa desicon. a guide to the project management body of knowledge (pmbok guide). fifth edition. 105 the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana alexander amo baffour1, evans yebiah2 business administration, pentecost university, ghana business economics, mendel university in brno, czech republic e-mail: abamo@pentvars.edu.gh, xyeboah1@mendelu.cz abstract: the study aims to identify factors influencing agency costs in publicly listed it firms in bangladesh. the research is based on secondary data from nine it firms listed on the dhaka stock exchange (dse) between 2018 and 2021. the effects of eight independent factors: board size, firm size, female directors, independent directors, managerial ownership, foreign ownership, institutional ownership, and leverage, are examined in this study. for measuring the agency costs, the asset utilization ratio (aur) and expense ratio (exr) have been employed as proxies. an ordinary least square (ols) regression model has been used to test the hypothesized model. the study findings indicate that managerial and institutional ownership is inversely and significantly associated with agency costs. in introduction a crucial method of raising money for development initiatives is through foreign direct investment. it not only boosts a country's capital formation but also raises the standard of its capital stock (onyeagu, 2013). however, the fdi flow has decreased as a result of the covid-19 epidemic, according to the united nations conference on trade and development's investment report from 2020. forecasts indicate that fdi will continue to decline in 2021 by 5 to 10% before beginning to rebound in 2022 (unctad, 2020). recently, developing countries have made economic growth one of their top priorities while constructing their national economic systems. it is reasonable to infer that global fdi foreign direct investment recovered to pre-pandemic levels, reaching $1.6 trillion (unctad, 2022). in contrast to the widespread mistrust of fdi in the 1960s and early 1970s, developing country governments have recently embraced it heartily (dr john, 2005). fdi greatly accelerates the economic development of poor countries (antwi et al., 2013). however, these nations depend heavily on imports and deal with additional problems like inflation. in comparison to other regions of the world, private savings are lower in subsaharan africa and ghana (prince and victor, 2014). the host country gains many advantages from the fdi infusion, such advantages include the ability to close the gap between low domestic savings and investment (prince and victor, 2014). the need for investments, particularly fdi, is crucial since ghana hopes to achieve the millennium development goals (mdgs) goal year (justice and gloria, 2012). the ghanaian economy has witnessed one of africa's most comprehensive structural adjustment programs since the launch of the economic recovery programs in 1983 (addo, 2019). abstract: this research examines the long-term relationships between imports, inflation, and foreign direct investment (fdi) influx in ghana and their impact on productivity expansion. using world bank data from 1990 to 2019, the study applies statistical tests such as the adf unit root test, johansen cointegration test, vector error correction model, and granger causality test. the results show that ghana's economic growth is long-term dependent on imports and fdi influx. the johansen tests reveal a long-term correlation between these factors, indicating a sustained relationship. additionally, inflation negatively affects fdi, imports, and gdp. the granger causality test identifies a short-run unidirectional effect between the variables. however, the vector error correction model (vecm) does not confirm a long-term relationship between imports and gdp as established by the johansen test. the study suggests that fdi inflows are more effective than imports and inflation in the ghanaian economy. furthermore, the literature review highlights the significant impact of the covid-19 pandemic on global trade, including agricultural exports to china. china's early effective management of the pandemic and strategic actions have helped mitigate some of the negative effects on their total exports. keywords: johansen cointegration test; vector error correction model; covid impact and economic growth; fdi inflows; export and import; gross domestic product ghana. mailto:abamo@pentvars.edu.gh mailto:xyeboah1@mendelu.cz business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 106 in a developing country like ghana, the service sector attracts more investors than the other sectors. however, ghana's building and construction sectors are one of the main drivers of economic advancement since this sector can effectively utilize human and material resources to develop and maintain infrastructure, enhancing economic efficiency (kwasi and yao, 2016). fdi's increased function in developing and emerging countries has raised expectations about its potential contribution to their development (oecd, 2008). over the years, ghana has been attracting a meaningful share of fdi inflow to the african continent to boost its economy while consistently depending on imports. the contribution of this research is in two folds, firstly, by focusing on the situation in ghana, this new study offered the opportunity to analyze the country-specific context, utilize updated data and analytical techniques, provide policy implications, and contribute to the existing knowledge (hobbs et al., 2021). secondly, literature on the variables of gdp, fdi inflow, trade and their relationship with covid-19 were reviewed to gain insights into the pandemic's impact and inform decision-making processes. it provides a foundation for understanding the economic dynamics during these exceptional times and helps in formulating effective strategies for recovery and resilience. to understand the dynamic interaction of the shortand long-run, data from the world bank were used from 1990 to 2019 for the study. using econometric analysis, the adf unit root test, johansen co-integration test, vector error correction model, and granger causality test were applied. literature review and hypothesis development the review is in three phases. the first part of the review captured empirical studies on the impact of covid-19 on fdi, gdp, export, and import, whereas the second aspect considered the impact of fdi on economic growth. the last part covers the effect of exports on economic development. the separation of the literature generates a great foundation and much insight into the selected variables (gdp, import, inflation, and fdi). the impact of the covid-19 pandemic on fdi, gdp, and trade the virus that causes covid-19 has been spreading globally since the outbreak of the sars-cov-2 virus. several variants have emerged and have been identified in many countries. this has posed a serious risk and health challenge to people and the world economies, which has also affected the world's supply chain and has had great effects on countries' imports and exports, fdi, and gross domestic product. as the impact of the covid-19 pandemic in the long term remains uncertain, the short term continues to be disruptive to global economics (akyuz, 2022). however, it has been more disruptive in the north-south americas and europe than in developing economies in asia-oceania (fang et al., 2021). the fdi inflows to central, east, and southeast europe (cesee-23 economies) contracted by 58% in the second quarter of 2020, compared to the same time in 2019, but this is smaller than the contraction of 75% faced by developed economies (europe, 2020). fdi flows are expected to fall by between 30% and 40% in 2020–2022 due to increasing trade costs due to disruptions in transportation, logistics, and alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 107 supply chains, as well as trade restrictions (handoyo, 2020). aside from the rising cost of trade, the public and private sectors are faced with reduced working hours and employee layoffs, respectively, which have had a toll on production and incomes, and reduced household spending, which in effect has seen a decline in aggregate demand. consequently, the severity of the pandemic on fdi in both developed and developing economies requires compatible infrastructure to live and survive in the new scenario (mehar, 2021) as a platform for a competitive business atmosphere. according to ciobanu et al (2020), fdi serves as a source of long-term stability for an economy despite the growing concern that fdi may affect the local market. the inflows of more foreign capital support the positive performance of a local stock market and reduce the rising pressure on the exchange rate (nwosa, 2021). foreign companies help the host country develop on several levels, including adopting new technologies, managerial ideas, and capital inflow (mehar, 2021). in the face of the post-covid-19 pandemic, attention is drawn to policymakers' ability to create a competitive advantage by shifting towards formulating and implementing policies that reduce legislative burden, digitalize investment boards and economic development agencies, and create the needed infrastructure and human resource capabilities sharma (2021) to increase economic growth. given the high uncertainty created by the covid-19 pandemic havrlant et at (2021) designed three scenarios that reflected the severity of the shock, its sectoral distribution, and the time needed for recovery and applied them to the saudi economy. they reported a negative impact on headline gdp in 2020, ranging from -4.8% to 9.8% compared to the baseline level. (rakha, et al., 2021) used artificial intelligence to assess the economic impact of covid-19 in the united kingdom. their study indicated that gdp growth in 2021 will remain steady, but at around a contraction of -8.5% compared to the baseline figures before the pandemic. notwithstanding, soava et al (2021) confirmed that the shock of declining activity due to covid-19 severely impacted electricity and gdp in the first half of 2020, followed by a slight recovery. the pandemic is expected to harm economic growth and poverty alleviation (asare and barfi, 2021). the effects of the pandemic include a severe impact on exports, which are also an integral part of every economy's ability to build a positive balance of payment, earn more foreign exchange, and build a strong reserve. lin and zhang (2020) investigated the pandemic's impact on agricultural export companies in china using unique firm-level survey data. they discovered that average agricultural businesses experienced declines in exports. even though the pandemic in china has had a substantial negative effect on the country's export trade, the situation of trading partners because of the same covid-19 pandemic has significantly affected china's total exports (zhao et al., 2021). this indicates how the chinese government effectively managed the covid-19 pandemic strategically and acted earlier than the rest of the world. vidya and prabheesh (2020) also used trade networks and artificial neural networks to measure trade interconnectedness among countries and found a drastic reduction in trade interconnectedness and a visible change in the structure of trade networks after the covid-19 outbreak. interestingly, china's "center" position in the trade network is unaffected. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 108 impact of fdi on economic growth the outcomes showed that fdi inflows had influenced gpd growth (francis et al., 2013). by employing cointegration analysis, the factors influencing fdi inflows indicate that natural resources have a negative long-run relationship with fdi inflows (george et al., 2016). investigating the relationship between economic growth and fdi inflows in a dynamic framework by (baba, 2013). the elasticity of economic growth regarding fdi had a positive sign. it was also significant at the 1% level, and the effect of a three-year lag of fdi on economic growth had an adverse sign and was significant at the 5% level. the effect of fdi on economic growth and the role of human capital development in fdi inflow by onyeagu (2013) revealed that fdi significantly positively affects the economy in the long run and human capital. conversely, eldin et al (2013) used praiswinsten regression with panel-corrected standard error for the preferred estimation model. the main research outcome was that fdi positively affects economic growth. according to trang (2019) fdi helps stimulate economic growth in the long run, although it negatively impacts nations in the short run. fdi has a positive and significant effect on economic growth, and variables such as human capital, economic infrastructure, and capital formation positively impact gdp (mehdi, 2012). reevaluating the effect of fdi on economic growth, the findings prove that fdi positively impacts economic development (liming, 2014). also, identifying and measuring the differential impact of sectorwise (primary versus secondary versus tertiary sector) fdi inflow showed that the effect of fdi is indeed influenced by the sectoral composition of fdi (saswata et al., 2020). according to donny (2018), no form of fdi seems beneficial to the host economies, but some sectors provide a positive correlation to economic growth, and others produce a negative effect. assessment of the growth effect of fdi when controlling for other growth determinants obtained that past fdi inflows significantly affect growth (argiro, 2003). an outcome indicated that fdi and trade boost economic growth in developing countries shiva and agapi, (2004), and fdi and international trade are related to economic growth. fdi and export positively and statistically significantly influence economic growth (hieu, 2020). the effect of import on economic growth. importing goods and services helps countries concentrate on what they can produce best. some studies found imports to support economic growth through empirical research. for instance, uğur (2008) identified bidirectional inter-dependencies between gdp and investment goods import and raw material imports. the author’s findings further revealed a unidirectional relationship between gdp and consumption of goods imported and other goods imported. however, the findings of panta et al (2022) found no evidence that foreign trade supports economic growth. consequently, a study by kartikasari (2017) through empirical results, revealed that imports harmed the indonesian economy. furthermore, ali and li (2016), also found an optimistic impact of importation and its determinants on economic growth in pakistan. conversely, reddy (2020) provided evidence that imports increase economic advancement in india. however, an analysis by pindiriri et al (2014) discovered a long-run relationship between imports and economic growth in zimbabwe. their results further revealed that expansion of imports of capital goods alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 109 could also help the economy achieve its long-term level of economic development, whiles importation of consumable goods is detrimental to economic growth. overall, the review emphasizes the complex interactions between gdp, fdi, imports and covid-19 and their implications for economic growth and how these vary across different countries and contexts. while some studies have found a positive impact of imports on gdp and economic advancement, others have found negative effects or no significant relationship. the type of imports, such as investment goods or consumable goods, also plays a role in determining their impact on economic growth. research methodology studying the dynamic relationship between macroeconomic indicators and economic growth has sparked a lot of controversies. arabi (2014) used secondary data to assess the impact of financial development on economic growth using the johansen test and vector error correction model (vecm). the vecm model gives long-term relationships and short-term dynamics of endogenous variables (soana and olta, 2013). many studies have used secondary data to investigate the impact of micro and macroeconomics on economic development through modern econometricians' view. modern econometricians point to a nonstructural strategy for establishing a relational model among economic variables (zou, 2018). among researchers who used fdi, export, and gdp to investigate economic growth include (sunde 2017; marinko et al., 2020; manikandan and rajarathinam 2019; tanoe 2021; popovici and călin, 2016; andrei and andrei 2015; hobbs et al., 2021). consequently, in our case, we used data from the world bank from 1990-2019 to examine the effect of fdi, import, and inflation on economic growth in ghana. all the analyses were performed using gretl software. model specification in assessing the impact of fdi inflow, import, and inflation on economic growth, one must understand whether the selected variables affect economic development in the short or long run. for this reason, we employed the johansen cointegration test, vecm, and the granger causality test to achieve the objective of this study. the johansen co-integration test determines if there is a stable long-term relationship between variables. if it is detected, the variables are mutually influenced by a common set of factors. the vector autoregressive (var) model includes cointegration and allows for analyzing both short-term dynamics and long-run relationships. the granger causality test determines the direction of causality between variables, indicating if one variable causes changes in another or if the relationship is bidirectional.. the model equation estimated is written below: 1. 𝐺𝐷𝑃𝑡 = (𝐺𝐷𝑃𝑡 , 𝐹𝐷𝐼𝑡 , 𝐼𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 , 𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡 ) 2. 𝐹𝐷𝐼𝑡 = (𝐹𝐷𝐼𝑡 , 𝐺𝐷𝑃𝑡 , 𝑙𝑛𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 , 𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡 ) 3. 𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 = (𝑙𝑛𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 , 𝐺𝐷𝑃𝑡 , 𝐹𝐷𝐼𝑡 , 𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡 ) 4. 𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡 = (𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡 , 𝐺𝐷𝑃𝑡 , 𝐹𝐷𝐼𝑡 , 𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 ) fdi also represents foreign direct investment inflows, and imports represent the cross-border trade of goods and services. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 110 in contrast, inflation indicates the changes in the prices of goods and services over time. gdp is used as a proxy for economic growth. all the variables are measured in usd billions. however, they are transformed into natural logarithms. conversely, the vecm can for equations 1-4 can be written as follows: 1. ∆𝑙𝑛𝐺𝐷𝑃𝑡 = 𝜃1 + ∑ 𝛼1𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐺𝐷𝑃𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼2𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐹𝐷𝐼𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼3𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼4𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡−𝑔 + 𝛼5𝐸𝐶𝑇𝑡−1 + 𝜀1𝑡 2. ∆𝑙𝑛𝐹𝐷𝐼𝑡 = 𝜃2 + ∑ 𝛼11𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐹𝐷𝐼𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼12𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐺𝐷𝑃𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼13𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼14𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡−𝑔 + 𝛼15𝐸𝐶𝑇𝑡−1 + 𝜀2𝑡 3. ∆𝑙𝑛𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 = 𝜃3 + ∑ 𝛼21𝑔 𝑚 𝑔=1 𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡 + ∑ 𝛼22𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐺𝐷𝑃𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼23𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐹𝐷𝐼𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼24𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡−𝑔 + 𝛼25𝐸𝐶𝑇𝑡−1 + 𝜀3𝑡 8.∆𝑙𝑛𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡 = 𝜃4 + ∑ 𝛼31𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑛𝑓𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼32𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝑖𝑚𝑝𝑜𝑟𝑡𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼33𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐺𝐷𝑃𝑡−𝑔 + ∑ 𝛼34𝑔 𝑚 𝑔=1 ∆𝑙𝑛𝐹𝐷𝐼𝑡−𝑔 + 𝛼35𝐸𝐶𝑇𝑡−1 + 𝜀4𝑡 𝜃𝑠 is the constant attached to each equation and 〖ect〗_(t-1) is one period lagged in the error correction term. however, m indicates the lag length, where α_s are the coefficients to be estimated. the ε_s is the disturbance term, and they are serially uncorrelated. the term error correction relates to the fact that the previous time deviation from the long-term equilibrium impacts the short-run variable. the coefficient of the ect is the rate of deviations and adjustment because it measures the speed at which the target variable returns to equilibrium after a change in the dependent variable. we tested for the assumption of the unit-root presence in the time series variables. this test helps to identify whether the time series data is stationary or nonstationary. the method of testing whether a time series has a unit root or equal value is that the variable follows a random walk (dickey and fuller, 1979). it is well-known that time-series analysts have a different approach to analyzing economic data (granger, 1981). the objective behind cointegration is to match the degree of nonstationary in time series so that residuals become stationary and spurious regression is avoided (vaclav, 2014) result and discussions adf unit root test the adf test was applied to determine whether the time series data used is stationary or not. stationarity is a crucial assumption in econometric analysis, and non-stationarity can lead to spurious results. the null hypothesis for every time series was as follows: there is a unit root existence; therefore, it is non-stationarity. the alternative hypothesis states that there is no unit root presence in the series; therefore, it is stationarity. the adf t-statistic must be more negative than 5% significance level. however, usually for unit root presence in a series equal to one. the test was performed using the variant with constant under the adf test. the null hypothesis at the level cannot be rejected for each variable because, as table 1 indicates, the t-statistic is greater alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 111 than the critical value of 5%. therefore, unit root(non-stationarity) exists in the variables at levels. table 1: adf unit root test at levels and first difference variables sample period adf t-stat p-value critical value (5%) adf tstat pvalue critical value (5%) gdp 1992-2019 -2.04416 0.576 -0.135 -0.962 0.003 -0.073 fdi inflow 1992-2019 -2.342 0.410 -0.3378 -4.626 0.000 -0.789 import 1992-2019 -2.107 0.540 -0.289 -4.498 0.000 -0.877 inflation 1992-2019 -1.031 0.272 -0.060 -4.305 0.000 -3.281 source: authors calculations as a result of not rejecting the null hypothesis for each time series, the selected variables were differenced to obtain stationarity at the first-order difference, as indicated in table 1. the adf t-statistic was greater and their p-values were less than 5%. hence, it means the variables are stationarity at first difference. they were integrated firstorder (1). johansen cointegration the johansen co-integration test was used to determine whether there is a long-run linkage between gdp, import, fdi inflow, and inflation variables due to all variables being integrated of the first order (1). the trace rank test and the loglikelihood maximum test are two co-integration tests. the first null hypothesis is that cointegration does not exist (r = 0). according to the alternative hypothesis, there is at least one co-integration equation. according to the second null hypothesis, only one (r = 1) exists. the adjusted sample size of all the tests conducted under the co-integration was from 1994-2019. table 2 shows a cointegration test between fdi and gdp. the tests were conducted using zan available constant. table 2: johansen co-integration test between fdi inflow and gdp rank eigenvalue trace test p-value lmax test p-value 0 0.34788 11.209 0.2020 11.116 0.1502 1 0.0035688 0.092955 0.7605 0.092955 0.7605 source: authors calculations the first null hypothesis in table 2 cannot be rejected. however, in the rank (r = 1), the trace and log likelihood maximum tests produced the same p-value, showing at most one co-integration equation between these variables. therefore, rank 1 will be used under vecm estimation. cointegration with fdi as a dependent variable can be written as fdi = 1.546(gdp)-75.6 the co-integration shows that gdp positively impacts fdi inflows, a percentage increase in gdp will lead to a percentage change in fdi inflows. table 3 tests for cointegration between fdi inflow and import. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 112 the trace rank 0 test and the log likelihood maximum test show that the null hypothesis, which states that there is no co-integration equation between fdi and import, cannot be rejected because the trace statistic is greater. its p-value is higher than 5%. table 3: johansen co-integration test between fdi inflow and import rank eigenvalue trace test p-value lmax test p-value 0 0.458 17.175 0.026 16.550 0.019 1 0.022 0.624 0.429 0.624 0.429 source: authors calculations. the second null hypothesis cannot be rejected because the log likelihood maximum and trace test generated the same probability at the same rank (r = 1). therefore, rank 1 is preferred over rank 0. it means that there is a long-term relationship between these variables. the co-integration equation between fdi and import with fdi as a dependent variable can be written as follows: fdi = 1.711 (import)82.1. the cointegration equation shows that fdi and imports have a positive relationship in the long run.the co-integration test between fdi inflows and inflation is shown in table 4. the outcome indicates that the first null hypothesis is not rejected because the trace test is greater than the critical value of 5%. table 4: johansen co-integration test between fdi inflow and inflation rank eigenvalue trace test p-value lmax test p-value 0 0.38882 12.893 0.1191 12.801 0.0831 1 0.0035044 0.091276 0.7626 0.091276 0.7626 source: authors calculations the second null hypothesis is also not rejected. the second hypothesis is preferred because the trace and likelihood maximum test outcomes have the same pvalues. the co-integration equation between fdi and inflation can be written as follows: fdi = -3.865 (inflation)40. the cointegration equation between fdi and inflation shows that inflation has a negative long-run relationship with fdi inflows. it means that a percentage change in inflation will lead to a decrease in fdi inflows. table 5 shows the johansen test between inflation and gdp. the first null hypothesis is rejected because the trace and log likelihood maximum test probabilities are below the critical value of 5%. hence, the rank (r = 0) shows no co-integration between the variables. alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 113 table 5: johansen co-integration test between inflation and gdp rank eigenvalue trace test p-value lmax test p-value 0 0.54167 20.368 0.0074 20.284 0.0039 1 0.0032008 0.083356 0.7728 0.083356 0.7728 source: authors calculations the second null hypothesis is not rejected because the trace and log likelihood tests found probabilities greater than 5%. therefore, there is a long-run relationship between inflation and gdp. the cointegration with inflation as dependent variable can be written as: inflation = 0.444 (gdp)60.4. the equation above means that gdp has a negative relationship with inflation. the johansen test between import and gdp is indicated in table 6. the first null hypothesis is not rejected because the pvalues for the trace and log likelihood tests were greater than 5%. table 6: johansen co-integration test between import and gdp rank eigenvalue trace test p-value lmax test p-value 0 0.31060 10.345 0.2597 10.042 0.2133 1 0.011161 0.30305 0.5820 0.30305 0.5820 source: authors calculations the second null hypothesis is not rejected because the trace and log likelihood found the same p-value is greater than 5%. hence, there is a long-run relationship between gdp and imports. the cointegration equation at a rank (r =1) is the most preferred. the co-integration with import as dependent variable can be written as: import = 1.7638 (gdp)171.2 the equation between imports and gdp above shows that gdp has a positive long-run relationship with imports. table 7 shows the co-integration test between import and inflation. the first null hypothesis is rejected because the traces and log likelihood test probabilities are lower than the 5% critical value. table 7: johansen co-integration test between import and inflation rank eigenvalue trace test p-value lmax test p-value 0 0.43290 16.846 0.0294 15.315 0.0319 1 0.055142 1.5315 0.9214 1.5315 0.2159 business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 114 the second null hypothesis is not rejected because the trace and loglikelihood test found the same p-values at the rank(r=1). it means that there is a long-term relationship between these variables. the cointegration equation between import and inflation with import as an explained variable can be written as follows: import = 2.229 (inflation)69.5. the co-integration equation shows that inflation harms imports. a percentage increase in inflation will lead to a decrease in imports. the overall co-integration test shows that the variables have a long-run relationship. however, inflation negatively impacts gdp, while imports and fdi have a positive impact. vector error correction model after the johansen co-integration analysis on the long-run relationship between gdp, fdi inflows, inflation, and imports, there is a need to perform a vecm in case any shock occurs. the speed of change in the variables to a long-run equilibrium following a shock is evaluated using the error correction term (ect). the ect must be negative and statistically significant to be interpretable. therefore, a positive ect value shows no causal relationship. the vecm between fdi and gdp is shown in table 8. using gdp as a dependent variable produced a positive ect coefficient therefore, a long-run interdependence was not confirmed. table 8: vector error correction model-first difference between fdi inflow and gdp error correction d_l_fdiinflow d_l_gdp ect (-1) −0.530 0.006 t-ratio −3.243 0.886 d_l_fdiinflow (-1) 0.356 2.937 t-ratio 1.875 0.561 d_l_fdiinflow (-2) 0.179 3.742 t-ratio 1.010 0.736 d_l_gdp (-1) −0.008 0.489 t-ratio −1.038 2.205 d_l_gdp (-2) 0.002 −0.116 t-ratio 0.337 −0.539 constant −5.649 0.097 t-ratio −3.110 1.267 adjusted sample size 1993-2019; source: authors calculations alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 115 however, when fdi was used the explained variable found a long-run interdependency with gdp. the ect coefficient of fdi was negative and statistically significant. the ect coefficient (−0.530) means that in the case of any deviation, the variables will converge to equilibrium by adjusting the time’s disequilibrium at over 53% in the following year. table 9 shows the vecm between fdi and inflation. with fdi inflows as a dependent variable, found no long-term inter-dependency with inflation. the ect coefficient of fdi was negative but not statistically significant at 5%. hence, a longterm relationship is confirmed. table 9: vector error correction model-first difference between fdi inflow and inflation error correction d_l_fdiinflow d_l_inflation ect (-1) −0.057 −0.381 t-ratio −0.610 −2.865 d_l_fdiinflow (-1) 0.028 0.051 t-ratio 0.147 0.156 d_l_fdiinflow (-2) 0.004 −0.431 t-ratio 0.023 −1.479 d_l_inflation (-1) 0.047 0.609 t-ratio 0.172 1.304 d_l_inflation (-2) 0.253 0.605 t-ratio 0.991 1.471 constant 0.727 3.697 t-ratio 0.740 2.667 adjusted sample size 1993-2019; source: authors calculations however, inflation as an explained variable confirmed a long-run interdependency with fdi inflows. the ect coefficient of inflation was (−0.381), which means that in terms of any shock, the variable will converge to equilibrium by 38.1% disequilibrium in the preceding year. the vecm between inflation and imports is shown in table 10. with inflation as a dependent variable detected a long-term inter-dependency with import. the ect was statistically significant and had a negative sign attached. the ect coefficient (−0.815) means that in the case of any change, the variable will meet at equilibrium by adjusting over 82% in the following period. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 116 table 10: vector error correction model-first difference between inflation and import error correction d_l_inflation d_l_import ect (-1) −0.815 0.019 t-ratio −3.987 0.466 d_l_inflation (-1) 0.837 −0.053 t-ratio 2.135 −0.047 d_l_inflation (-2) 0.656 0.411 t-ratio 1.743 0.394 d_l_import (-1) −0.070 0.128 t-ratio −0.884 0.5626 d_l_import (-2) 0.037 0.032 t-ratio 0.484 0.153 constant 6.587 −0.080 t-ratio 3.947 −0.235 adjusted sample size 1993-2019; source: authors calculations with imports as the explained variable found a positive ect coefficient (0.019), which indicates no causal relationship. table 11 shows the vecm fdi and import. using import as a dependent variable produced an ect coefficient (−0.016), which is insignificant at a 5% level. it means no long-term inter-dependency was found with fdi inflows. table 11: vector error correction model-first difference between fdi inflow and import error correction d_l_fdiinflow d_l_import ect (-1) −0.768 −0.016 t-ratio −4.037 −0.256 d_l_fdiinflow (-1) 0.340 0.102 t-ratio 1.819 0.139 d_l_fdiinflow (-2) 0.246 0.221 t-ratio 1.535 0.3086 d_l_import (-1) −0.038 0.143 t-ratio −0.622 0.587 d_l_import (-2) −0.005 0.063 t-ratio −0.093 0.265 constant −3.061 0.021 t-ratio −4.002 0.086 adjusted sample size 1993-2019; source: authors calculations however, with fdi inflows as an explained variable found, an ect coefficient (−0.768), which means in terms of any deviation, the variables will converge to equilibrium by adjusting at the time of disequilibrium of over 77% in the following period. conversely, the vecm between inflation and gdp is shown in table 12. with gdp, the dependent variable detected a negative ect coefficient (−0.004) but is non-significant at the 5% level. alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 117 table 12: vector error correction model-first difference between inflation and gdp error correction d_l_inflation d_l_gdp ect (-1) −0.753 −0.004 t-ratio −3.783 −0.070 d_l_inflation (-1) 0.760 −0.110 t-ratio 1.909 −0.144 d_l_inflation (-2) 0.628 0.239 t-ratio 1.687 0.315 d_l_gdp (-1) 0.002 0.153 t-ratio 0.021 0.692 d_l_gdp (-2) 0.055 0.015 t-ratio 0.515 0.071 constant 6.893 0.111 t-ratio 3.730 0.209 adjusted sample size 1993-2019 however, with inflation as an explained variable, the ect coefficient is statistically significant at 5%. the ect coefficient (−0.753) indicates that variables will converge at equilibrium by over 75.3% over the preceding period. furthermore, table 13 indicates the vecm between import and gdp. using import as explained variable produced a positive ect coefficient. it means there is no causal relationship with gdp. table 13: vector error correction model-first difference between import and gdp error correction d_l_import d_l_gdp ect (-1) −0.243 0.035 t-ratio −1.259 1.212 d_l_import (-1) 0.341 −0.732 t-ratio 1.284 −0.425 d_l_import (-2) 0.073 1.373 t-ratio 0.300 0.821 d_l_gdp (-1) 0.014 0.314 t-ratio 0.366 1.222 d_l_gdp (-2) 0.028 −0.035 t-ratio −0.771 −0.140 constant −0.921 0.177 t-ratio −1.122 1.441 adjusted sample size 1993-2019 however, using gdp as a dependent variable detected a positive ect coefficient which indicates no causal relationship with import in the long run. granger causality test the long-term link between ghana's fdi inflows, exports, inflation, and gdp was demonstrated using the johansen cointegration test and the vecm. the granger causality tests can be used to explore the link between the three variables further and provide evidence of short-run causality. as indicated in table 14, the first null hypothesis, which states that the gdp does not granger cause the fdi, is not rejected because its probability is significant at 5% but can be rejected at 10%. this means that there is a short-run effect from gdp to fdi inflows. business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 118 table 14: granger causality test between fdi inflow and gdp null hypothesis observations f-statistic p-value gdp does not granger cause fdi inflow 27 2.429 0.095 fdi inflow does not granger cause gdp 27 0.433 0.731 source: authors’ calculations however, the second null hypothesis, which states that fdi inflows do not influence gdp, is not rejected because the pvalue is greater than 5%. it means that in the short run, fdi does not have any impact on gdp. conversely, table 15 shows the granger causality test between fdi and import. the hypothesis, which states that import does not granger cause fdi, is rejected because its p-value is significant at 5%. it means that there is a short-run influence from export to fdi inflow. table 15: granger causality test between fdi inflow and import null hypothesis observations f-statistic p-value import does not granger cause fdi inflow 27 5.4266 0.0068 fdi inflow does not granger cause import 27 0.31176 0.8166 source: authors calculations the second null hypothesis is not rejected because the p-value of the f-test is greater than the critical value of 5%. it indicates that there is no short-term effect from fdi inflows on imports. conversely, the hypothesis of the granger causality test between fdi and inflation in table 16 is not rejected. the p-value is not significant at 5% but at 10%. it indicates that inflation has a short-term impact on fdi inflows. table 16: granger causality test between fdi inflow and inflation source: authors calculations the hypothesis, which states that the fdi inflows impacts inflation, is rejected. it means that there is short-run impact from fdi inflows on inflation. table 17 shows the causality test between import and gdp. the hypothesis is not rejected because gdp does not have a short-run impact on exports. null hypothesis observations f-statistic p-value inflation does not granger cause fdi inflow 27 2.5608 0.0837 fdi inflows does not granger cause inflation 27 3.0263 0.0535 alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 119 table 17: granger causality test between import and gdp null hypothesis observations f-statistic p-value gdp does not granger cause import 27 0.65121 0.5914 import does not granger cause gdp 27 0.57576 0.6376 source: authors calculations the hypothesis, which states that imports do not affect gdp, is not rejected. it indicates that exports do not have a shortterm influence on gdp. furthermore, table 18 shows the granger causality test between imports and inflation. the hypothesis, which states that inflation does not granger cause import, is not rejected. this shows that inflation has no short-run impact on imports. table 18: granger causality test between import and inflation null hypothesis observations f-statistic p-value inflation does not granger cause import 27 1.0543 0.3905 import does not granger cause inflation 27 4.5422 0.0139 source: authors calculations the second null hypothesis, which states that export does not influence inflation is rejected. the f-test p-value is significant at 5%. it indicates that imports have a shortterm effect on inflation. the causality test between inflation and gdp is indicated in table 19. however, the first null hypothesis is rejected at a 5% significant level. this indicated that gdp has a short-run relationship with inflation. table 19: granger causality test between inflation and gdp null hypothesis observations f-statistic p-value gdp does not granger cause inflation 27 7.6472 0.0013 inflation does not granger cause gdp 27 0.46795 0.7079 source: authors calculations the second null hypothesis, which states that inflation does not granger cause gdp, is not rejected because the probability of the f-test is greater than 5%. it means that inflation has no influence on gdp in the short run. discussions assessing whether fdi inflows, imports, and inflation support economic growth in ghana help to understand these business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 120 variables' dynamics. that is to answer if there is a short-term or long-term influence on economic growth in ghana. the johansen co-integration test indicated a long-run relationship between the variables used in this study. however, under the cointegration test, the co-integration equation between gdps, fdis, and imports with inflation shows a negative long-term relationship. on the other hand, a study by amoah et al (2015) found a positive relationship between fdi and inflation on economic growth. the granger causality test shows that inflation has a short-run effect on fdi inflows and imports at a 5% significance level. conversely, there was evidence that gdp influences inflation in ghana at 10%. the causality test further confirmed that there is a short-run influence from imports on inflation. it shows a unidirectional causality between inflation and import. conversely, the johansen test between fdi and gdp indicated a positive long-run relationship. the vecm also confirmed long-run inter-dependencies between these variables, with fdi inflows as a dependent variable. consequently, the causality test between fdi and gdp shows that gdp has a short-term impact on fdi inflow, whereas there was no trace of fdi influencing gdp in the short run. the vecm also shows that fdi inflows have a strong long-term dependency on gdp. furthermore, the cointegration test found a positive long-term relationship between imports and gdp, but the vecm did not confirm the long-run inter-reliance. on the contrary, the granger causality found no short-run impact from unidirectional and bidirectional import and gdp. finally, the study found a long-term relationship and inter-dependency between fdi and import through the co-integration test and the vecm. however, there was a short-term effect between these variables from a unidirectional. conclusion this study found a long-term dependency on exports, fdi inflows, inflation, and economic growth. adf test showed a unit root presence in the selected variables at levels. johansen tests established a long-run relationship between the three variables. vecm found fdi inflows to be more effective. the granger causality test indicated a short-run effect of inflation on economic growth. the vector error correction model established fdi inflows to stimulate economic growth than import and inflation in the ghanaian economy. sustainable fdis and imports have a huge positive impact on a country’s gdp, hence the need for a national policy in growing economies to increasingly attract sustainable fdis and invest in sustainable importing commodities. policymakers can use the findings of this study to create policies that encourage sustainable fdi and imports in the long run. this can be achieved by providing incentives for companies that invest in sustainable projects and promoting the use of sustainable materials in the importation of goods. additionally, policymakers should focus on addressing inflation in the short run, as it can have a negative impact on economic growth. references addo, e. o. (2019). an assessment of the impact of foreign direct investment on employment: the case of ghana’s economy. international journal of economics and financial research , 5(6), 143-158. alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 121 akyuz, y. (2022). global economic prospect. the financial crisis and the global south. ali, g., and li, z. (2016). analyzing the role of imports in economic growth of pakistan; evidence from ardl bound testing approach. international journal of academic research in business and social sciences, 6(9), 19-37. alice, c. m., and ebenezer, o. (2020). causality analysis on export and economic growth nexus in ghana. open journal of statistics, 10, 872888. amoah, e., nyarko, e., and asare, k. (2015). fdi, inflation, exchange rate and growth in ghana: evidence from causality and cointegrated analysis. european scientific journal, 11(31), 294-304. andrei, d. m., and andrei, c. l. (2015). vector error correction model in explaining the association of some macroeconomic variables in romania. procedia economics and finance, 22, 568-576. antwi, o. g., james, a., and peter, k. (2013, may). foreign direct investment: a journey to economic growth in ghana empirical evidence. international business &economics research journal, 12(5). arabi, m. k. (2014). the effect of financial development on economic growth in sudan: evidence from vecm model. international journal of economics and finance, 6(11). argiro, m. (2003). foreign direct investment and economic growth in the european union. journal of economic integration, 18(4), 689-707. asare, p., and barfi, r. (2021).the impact of covid-19 pandemic on the global economy: emphasis on poverty alleviation and economic growth. the economics and finance letters, 8(1), 32-43. baba, i. (2013, apirl). foreign direct investment inflows and economic growth in ghana. international journal of economic practices and theories , 3(2). ciobanu, r., sova, r.-a., and popa, a. (2020). the impact of fdi over economic growth and how covid19 crisis can impact the cee economies. ceccar business review, 4, 64-72. dickey, w., and fuller, w. (1979). distribution of the estimators for autoregressive time series with a unit root. journal of the american statistical association, 74, 427-431. donny, s. (2018). the impact of foreign direct investment on economic growth (a causal study in the united states). jurnal pendidikan bisnis dan ekonomi, 4(1). dr john, a.-a. (2005). what has been the impact of foreign direct investment in ghana? the institute of economic affairs, 1(9). dr.soana, j., and dr. olta, z. (2013). an assessment of demand for imports through the vecm model. journal of knowledge management, economics and information technology, iii(6). eldin, m., sabina, s., and vesna, b.-h. (2013). the impact of fdi on economic growth: some evidence business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 122 from southeast europe. emerging markets finance&trade, 49, 5-20. emine, k., and betul, a. t. (2012). export and economic growth in the case of the manufacturing industry: panel data analysis of developing countries. international journal of economics and financial issues, 2(2), 201-215. europe, s. (2020). fdi report foreign investment hit by covid-19 pandemic. fang, j., collins, a., and yao, s. (2021). on the global covid-19 pandemic and china's fdi. journal of asian economics, 74, 1-16. francis, g., mary, o., and jonathan, k. e. (2013). foreign direct investment and gross domestic product in ghana. international journal of academic research in accounting, finance and management sciences, 3(3), 256-265. george, o.-a., james, a., juanita, d. a., and nana, t.-p. (2016, july). evidence on the co-integration of the determinants of foreign direct investment in ghana. journal of finance and economics, 4(2), 23-45. granger, c. (1981). some properties of time series data and their use in econometric model specification. journal of econometrics, 16, 121-130. handoyo, r. (2020). editorial: impact of covid 19 on trade, fdi, real exchange rate and era of digitalization: brief review global economy during pandemic. journal of developing economies, 5(2), 86. havrlant, d., darandary, a., muhsen, a., and havrlant, d. (2021). early estimates of the impact of the covid19 pandemic on gdp : a case study of saudi arabia. applied economics, 53(12), 1317-1325. hieu, h. n. (2020). impact of foreign direct investment and international trade on economic growth: empirical study in vietnam. journal of asian finance, economics and business, 7(3), 323331. hobbs, s., dimitrios, p., and mostafa, e. a. (2021). does foreign direct investment and trade promote economic growth? evidence from albania. economies, 9(1). justice, g., and gloria, c. (2012). determinants and effects of foreign direct investment in ghana – review of literature. developing country studies , 2(11). kartikasari, d. (2017). the effect of export, import and investment to economic growth of riau islands indonesia. international journal of economics and financial issues, 7(4), 663-667. kusi, g. (2013). regulatory framework for investing in ghana. accra: the ghana investment promotion centre. kwasi, b.-g., and yao, l. (2016). the linkage between china’s foreign direct investment and ghana’s building and construction sector performance. eurasian journal of business and economics, 9(18), 8197. liming, h. (2014). does and how does fdi promote the economic growth? evidence from dynamic panel data of prefecture city in china . ieri procedia, 6, 57-62. lin, b., and zhang, y. (2020). impact of the covid-19 pandemic on agricultural alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 123 exports. journal of integrative agriculture, 19(12), 2937-2945. majeed, a. (2014). economic growth, exports and imports in pakistan:granger causality analysis. the journal of business in developing nations, 13. manikandan, b., and rajarathinam, a. (2019). vector error correction modeling for indian gdp, export and import. int j recent sci res., 10(8), 34473-34478. marc, t. (2018). the role of trade in structural transformation. journal of development economics, 130, 45-65. marinko, s., justyna, f.-d., and dajana, c. (2020). "cointegration analysis and vecm of fdi, employment, export and gdp in croatia (2002–2017) with particular reference to the global crisis and poor macroeconomic governance," equilibrium. quarterly journal of economics and economic policy, 15(4), 761-783. md, r. s., hongzhong, f., elyas, a., md, i. h., and mollah, a. i. (2019). effects of export and technology on economic growth: selected emerging asian economies. economic researcheknonoska istrazivanja, 32(1), 25152531. mehar, m. (2021). bridge financing during covid-19 pandemics: nexus of fdi, external borrowing and fiscal policy. transnational corporations review, 13(1), 109-124. mehdi, b. (2012). foreign direct investment and economic growth: evidence from southern asia. atlantic review of economics, 2. michael, j. (2017). the impact of exports on economic growth: it’s the market form. the world economy. nwosa, p. (2021). oil price, exchange rate and stock market performance during the covid-19 pandemic: implications for tncs and fdi inflow in nigeria. transnational corporations review, 13(1), 125-137. oecd. (2008). the social impact of foreign direct investment. the oecd policy brief, 8. onyeagu, a. n. (2013). an econometric analysis of the impact of foreign direct investment on economic growth in ghana: the role of human capital development. international journal of humanities and social science invention, 2(8), 12-20. panos, a., and apostolos, s. (2000). output growth and variability of export and import growth: international evidence from granger causality tests. the developing economies, 2, 141-63. panta, h., mitra, l. d., and dhruba, b. (2022). exports and imports-led growth: evidence from a small developing economy. journal of risk and financial management, 15(11), 214. pindiriri, c., makochekanwa, a., and ndudzo, s. (2014). examining the long run relationship between import stcucture and economic growth in zimbabwe. university of zimbabwe business review, 2(2), 29-42. popovici, o. c., and călin, a. c. (2016). economic growth,foreign investments andexports in romania: business and finance journal, volume 8, no. 1, maret 2023 124 avecm analysis. the romanian economic journal. prince, a., and victor, o. (2014). foreign direct investment (fdi) inflows into ghana: should the focus be on infrastructure or natural resources? shortrun and long -run analyses . international journal of financial research , 5(1). rakha, a., hettiarachchi, h., rady, d., gaber, m. m., rakha, e., and abdelsamea, m. m. (2021). predicting the economic impact of the covid19 pandemic in the united kingdom using time series mining. rati, r. (1985). exports and economic growth: some additional evidence. economic development and cultural change, 33(2), 415-425. reddy, k. k. (2020). exports, imports and economic growth in india: an empirical analysis. theoretical and applied economics, xxvii(4(625)), 323-330. rostam, m. (1984). export expansion and economic growth:further empirical evidence*. journal of development economics, 14, 241-250. ruba, a. s., thikraiat, s., and shatha, a.-k. (2014). the causal relationship between exports and economic growth in jordan. international journal of business and social science, 5(3). saswata, c., nitya, n., and bhawna, t. (2020). impact of fdi on economic growth in south asia: does nature of fdi matters?. review of market integration, 12, 51-69. sharma, b. (2021). covid-19 and recalibration of fdi regimes: convergence or divergence? transnational corporations review, 13(1), 62-73. shiva, s. m., and agapi, s. (2004). impact of foreign direct investment and trade on economic growth: evidence from developing countries. american journal of agricultural economics, 86(3), 795-801. shujin, z., and xiaolan, f. (2013). drivers of export upgrading. world development, 51, 221-233. soava, g., mehedintu, a., sterpu, m., and grecu, e. (2021). the impact of the covid-19 pandemic on electricity consumption and economic growth in romania. soo, k. g., chung, y. s., and robert, m. (2017). re-examining foreign direct investment, exports, and economic growth in asian economies using a bootstrap ardl test for cointegration. journal of asian economics, 51, 1222. sunde, t. (2017). foreign direct investment, exports and economic growth: adrl and causality analysis for south africa. research in international business and finance, 41, 434-444. tanoe, v. (2021). analysis of net trade, fdi and gdp growth using cointegration, vecm, granger causality and a regression approach: a case study of sub saharan african region. international journal of african studies, 1(2), 10-20. tee, e., larbi, f., and johnson, r. (2017). the effect of foreign direct investment (fdi) on the ghanaian economic growth. journal of alecander amo, b., evans, y. the dynamism between, import, foreign direct investment inflow, inflation and covid-19 on economic growth: evidence from ghana 125 business and economics development, 2(5), 240-246. titus, i. z., shida, r. h., and riza, r. (2020). effects of agricultural, manufacturing, and mineral exports on angola’s economic growth. energies. trang, t.-h. d., duc, h. v., anh, t. v., and thang, c. n. (2019). foreign direct investment and economic growth in the short run and long run: empirical evidence from developing countries. journal of risk and financial management. turan, s. (2002). does export promotion increase economic growth? some cross-section evidence. development policy review, 20(3), 333-349. uğur, a. (2008). import and economic growth in turkey: evidence from multivariate var analysis. eastwest journal of economics and business, 1(2), 54-75. unctad. (2022). world investment report: transnational corporations and the infrastructure challenge. new york: united nations conference on trade and development. unctad. (2020). world investment report;international production beyond the pandemic. geneva: the united nations conference on trade and development. vaclav, a. (2014). econometry ii. brno: mendel university. vidya, c., and prabheesh, k. (2020). implications of covid-19 pandemic on the global trade networks implications of covid-19 pandemic on the global trade. emerging markets finance and trade, 56(10), 2408-2421. yeboah, e. (2018). foreign direct investment in ghana: the distribution among the sectors and regions. international journal of current research, 10(01), 64292-64297. zhao, y., zhang, h., ding, y., and tang, s. (2021). implications of covid-19 pandemic on china’s exports. emerging markets finance and trade, 57(6), 1716-1726. zou, x. (2018). vecm model analysis of carbon emissions, gdp, and international crude oil prices. discrete dynamics in nature and society.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         iwang suwaningsih, analisis gaya kepemimpinan, komitmen, dan kedisiplinan terhadap peningkatan motivasi kerja 2929 analisis gaya kepemimpinan, komitmen, dan kedisiplinan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kec. tegalsari surabaya iwang suwaningsih sekolah tinggi ilmu ekonomi mahardhika surabaya email: iwangsuwangsih81@gmail.com abstract: this study aims to determine the effect of leadership commitment and discipline significant effect partially and simultaneously to increase employee work motivation tegalsari surabaya district office. this study uses survey research approach eksplanaratif by enforcing data via the primary data of the data relating to the variables collected from respondents using questionnaires. this type of research, including research koresional who want to see the relevance of independent variables with the dependent variable. the population is tegalsari surabaya district office employees. this study was conducted involving 30 respondents and using multiple linear regression analysis. the regression equation is: y = 3.441 + 0.266 + 0.104 x1 + 0.132 x2 x3. from this research it was discovered and drawn the following conclusions: (1) leadership, commitment and discipline significant effect partially to increase motivation employee work district office tegalsari surabaya, (2) leadership, commitment and discipline significant effect simultaneously to increase motivation employee work office tegalsari district of surabaya, (3) leadership dominant influence significantly the employee work motivation improvement district office tegalsari surabaya. keywords: leadership, commitment, discipline and work motivation. pendahuluan masyarakat adalah pelaku utama dalam pemerintahan maupun pembangunan, sedangkan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing dan melayani serta menciptakan suasana yang menunjang, saling mengisi, saling melengkapi dalam satu kesatuan untuk maju sehingga terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang professional dan efisien. penyelenggaraan pemerintah itu sendiri berarti melaksanakan secara bersama-sama kegiatan pelayanan masyarakat oleh aparatur pemerintah. peningkatan masyarakat karena menentukan eksistensi dan legitimasi organisasi pemerintah tersebut. untuk menciptakan pegawai yang efisiensi, efektif, bersih dan berwibawa serta mampu melaksaakan seluruh tugas pemerintahan, pembangunan dengan kualitas pegawai pemerintah merupakan ujung tombak terhadap pelayanan sebaik baiknya harus dilandasi dengan semangat dan sikap pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara. dalam hubungan ini maka kemampuan pegawai pemerintahahan perlu ditingkatkan karena untuk mewujudkan system dan mekanisme pemerintah yang baik diperlukan kinerja pegawai pemerintahan yang mampu mengubah sikap dan perilaku sehingga dapat meningkatkan kesadaran apa yang menjadi kewajiban dari pegawai. peningkatan sumber daya manusia berkaitan dengan pendayagunaan pegawai untuk menggali potensi individu melalui aktualisasi kerja yang harus diberikan dengan pebusiness and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 30 nuh kepercayaan. penempatan pegawai yang tepat serta pemberian kesempatan untuk mengembangkan diri akan mendorong pegawai untuk memiliki semangat dan motivasi kerja. tinggi rendahnya semangat dan motivasi kerja pegawai berpengaruh terhadap tingkat pencapaian tujuan organisasi. seorang pemimpin adalah seorang yang memegang kendali untuk memimpin suatu lembaga atau organisasi tertentu karena seorang pemimpin berperan untuk dapat mempengaruhi dan menggerakkan bawahannya agar tujuan yang diharapkan tercapai. dan kepemimpinan atau yang biasa disebut dengan gaya kepemimpinan, seorang pemimpin juga menentukan keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. setiap pemimpin mempunyai gaya pemimpin yang berbeda beda antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya. gaya memimpin dapat dilihat pada ucapan, sikap, tingkah laku, dan cara mengambil keputusan. adanya hubungan kerjasama yang baik antara pimpinan dengan pegawai serta antar pegawai dalam suatu organisasi memegang peranan yang cukup penting untuk membangun suatu organisasi yang baik. melalui interaksi ini akan terjadi koordinasi dan kerjasama. betapa pentingnya peranan pegawai dalam sebuah organisasi pemerintahan. oleh karena itu keberhasilan pegawai untuk menjalankan kewajibannya itu sangat tergantung pada kepentingan pribadi atau golongan sehingga diperlukan kedisiplinan supaya tujuan dari organisasi itu dapat tercapai. kedisiplinan pegawai harus ditanamkan tanpa rasa takut terhadap sanksi-sanksi dari atasannya bila ia meemang benar. kedisiplinan yang ditanamkan pimpinan pada para pegawai dapat menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya dan mengutamakan hasil kerja yang baik dan sesuai dengan standart yang telah ditetapkan. sedangkan tingkat kedisiplinan yang rendah akan berakibat pada ekonomi biaya tinggi yaitu terciptanya kerja yang tidak efisien seperti mangkir kerja, kesenjangan untuk menghambat pekerjaan dan pelanggaran peraturan kerja yang lain. dalam upaya peningkatan kinerja pegawai tidak terlepas dari adanya permasalahan yang menyangkut kebijakan pimpinan untuk menegakkan kedisiplinan dan memotivasi pegawai untuk bekerja. pemberian motivasi harus disesuaikan dengan kebutuhan berasal dari faktor internal maupun eksternal yang merupakan fenomena yang belum terjawab sesuai fakta. hal ini terlihat adanya gairah kerja pegawai yang menurun sehingga prestasi yang diraih belum menunjukkan hasil yang baik. motivasi kerja yang diberikan kepada setiap pegawai harus mampu memberikan semangat bagi para pegawai untuk melakukan pekerjaannya secara sungguh-sungguh, sehingga tingkat produktivitasnya lebih baik. berdasarkan uraian tersebut diatas maka peneliti melakukan penelitian tentang �pengaruh gaya kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan kerja terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya.� kepemimpinan kepemimpinan berasal dari kata leadership yaitu merupakan kata sifat yang dimiliki oleh seseorang pemimpin, sedangkan pemimpin adalah orang yang memimpin. kepemimpinan mempunyai hubungan yang erat dengan sekelompok orang yang mempunyai tujuan sama, sedangkan tujuan tersebut telah ditentukan sebeumnya dalam satu organisasi. kepemimpinan memiliki hubungan yang erat deiwang suwaningsih, analisis gaya kepemimpinan, komitmen, dan kedisiplinan terhadap peningkatan motivasi kerja 31 ngan sekelompok orang yang memiliki tujuan sama, sedangkan tujuan tersebut telah ditentukan sebelumnya dalam satu organisasi. ada beberapa pengertian dari kepemimpinan yang dikutip dari buku thoha (2003) yaitu kepemimpinan sebagai �managerial leadership as process of directing and influencing the task related activities of group members�, yang berarti kepemimpinan manajerial sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas hubungan tugas kelompok (stoner,2000). menurut paul hersey dan kenneth h. blanchard (2009) mengemukakan bahwa kepemimpinan sebagai �leadership is the process of influencing the activities of an individual or group in effort toward goal achievement in a given situation�, yang berarti bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha mencapai tujuan dalam situasi tertentu. kepemimpinan dalam gibson et.al (2009), kepemimpinan adalah konsep yang lebih sempit dari manajemen meski manajer sebagai pelaku manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsi seperti merencanakan, mengorganisasikan dan mengendalikan dan berperan sebagai pemimpin. pemimpin dan kepemimpinan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. pemimpin merupakan perilaku yang menunjukkan kemampuan pemimpin, sedangkan kepemimpinan adalah kualitas kemampuan dan pribadi yang dimiliki pemimpin untuk menggerakkan pengikutnya. berdasarkan pengertian-pengertian tentang kepemimpinan dapat diambil suatu kesimpulan bahwa: (1) kepemimpinan merupakan sikap yang dimiliki seorang untuk dapat mempengaruhi serta mengajak kerjasama ataupun menggerakkan sekelompok orang, sehingga semua perintahnya dapat dilaksanakan oleh sekelompok orang tersebut, (2) kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan bersama, (3) kepemimpinan akan melibatkan seseorang dengan sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya secara bersama, (4) seseorang pemimpin tersebut harus mempunyai jiwa kepemimpinan artinya seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan/daya/kekuasaan untuk mempengaruhi bawahannya supaya melakukan perintahnya. komitmen komitmen menurut wiyono (1999) mengemukakan bahwa tekad bulat untuk melakukan sesuatu dengan niat yang sungguh-sungguh. komitmen yang baik adalah komitmen yang dimulai dari pimpinan. komitmen merupakan konsep manajemen yang menempatkan sumber daya manusia sebagai figur sentral dalam organisasi tata usaha. tanpa komitmen, sukar mengharapkan partisipasi aktif dan mendalam dari sumber daya manusia. oleh sebab itu komitmen harus dipelihara agar tetap tumbuh dan eksis di sanubari sumber daya manusia. dengan cara dan tehnik yang tepat pimpinan yang baik bisa menciptakan dan menumbuhkan komitmen. arvan (1999) mengemukakan 5 (lima) prinsip kunci dalam membangun komitmen yaitu: (1) memelihara atau meningkatkan harga diri. artinya pimpinan harus pintar menjaga agar diri bawahan tidak rusak, (2) memberikan tanggapan empati, (3) meminta bantuan dan mendorong keterlibatan. artinya bawahan selain butuh dihargai juga ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan, (4) mengungkapkan pikiran, perasaan dan rasional, (5) memberikan dukungan pada bawahan. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 32 disiplin kerja pada prinsipnya disiplin kerja merupakan seperangkat merupakan seperangkat aturan yang harus ditaati dalam setiap organisasi. suatu organisasi menginginkan para pegawai untuk mematuhinya sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas, namun kenyataannya sering terjadi penyimpangan karena pegawai sebagai manusia memiliki kelemahan yaitu tidak disiplin. oleh karena itu peningkatan disiplin menjadi bagian yang penting dalam manajemen sumber daya manusia sebagai faktor penting dalam peningkatan produktifitas. ada beberapa pengertian tentang disiplin kerja yaitu antara lain: menurut nitisemito (2002) bahwa disiplin kerja diartikan sebagai suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi dalam bentuk tertulis maupun tidak. oleh karena itu, dalam prakteknya bila suatu oragnisasi telah mengupayakan sebagian besar dari peraturan-peraturan yang ditaati oleh sebagian besar pegawai, maka kedisiplinan telah dapat ditegakkan. kedisiplinan menurut hasibuan (2005) merupakan kesadaran dan kesediaan seseorang untuk mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma social yang berlaku. dua faktor utama dari kedisiplinan ini dapat membentuk sikap yang baik dan terkendali. kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya, sedangkan kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan seseroang yang sesuai dengan peraturan perusahaan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. dari definisi yang dikemukakan dapat menarik kesimpulan bahwa �disiplin adalah suatu kesadaran dari seseorang atau kelompok yang timbul dari dirinya sendiri dengan tanpa adanya suatu paksaan untuk mentaati dan mematuhi segala peraturan-peraturan yang tidak tertulis yang telah ditetapkan serta menjalankannya. motivasi kerja menurut sukanto reksohadiprojo dan t. hani handoko (2002), motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. motivasi adalah sebagai suatu reaksi yang diawasi dengan adanya kebutuhan yang menimbulkan keinginan atau upaya mencapai tujuan, selanjutnya menimbulkan ketegangan, kemudian menyebabkan timbulnya tindakan yang mengarah pada tujuan dan akhirnya dapat memuaskan (kootz et al oleh darmawan, 2013). dari berbagai pengertian dari motivasi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah sebagai kecenderungan untuk beraktivitas, mulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri. motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan sebab seseorang melakukan suatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian eksplanaratif survei dengan memberlakukan data melalui data primer tentang iwang suwaningsih, analisis gaya kepemimpinan, komitmen, dan kedisiplinan terhadap peningkatan motivasi kerja 33 data yang berhubungan dengan variabel penelitian yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan quisioner. jenis penelitian ini termasuk penelitian koresional yang hendak melihat keterkaitan variabel-variabel bebas dengan variabel terikat. populasi yang diambil adalah pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. dalam hal ini populasi yang ditetapkan adalah sebanyak 30 orang melakukan penelitian dengan teknik sensus yang menggunakan seluruh anggota populasi sebagai sampel. hasil dan pembahasan uji validitas dan reabilitas uji validitas merujuk pada sejauh mana suatu uji dapat mengukur seberapa valid instrument kuisioner yang digunakan dalam pengumpulan data. pada penelitian ini ditetapkan batas setiap item pertanyaan-pertanyaan dinyatakan valid bila nilai corrected item total correlation lebih besar dari nilai 0.3. uji validitas diketahui setiap item pertanyaan berada diatas batas 0,3. dengan demikian tidak ada item pertanyaan yang digugurkan dari format asalnya. kesimpulannya adalah setiap item pertanyaan pada kuisioner dinyatakan valid. variabel kepemimpinan (x1) tabel 1 menunjukkan hasil dari software spss untuk pengujian validitas pada variabel bebas kepemimpinan (x1). dari enam yang digunakan sebagai item-item pertanyaan menunjukkan bila semua item dapat dinyatakan valid karena berada diatas batas 0.3. tabel 1 uji validitas pada kepemimpinan (x1) indikator koefisien korelasi status x1.1 2.7279 0.7347 x1.2 2.5122 0.6461 x1.3 2.6096 0.6103 x1.4 2.9224 0.6846 x1.5 2.6385 0.5482 x1.6 2.4712 0.5522 variabel komitmen (x2) tabel 2 menunjukkan hasil olahan software spss untuk pengujian validitas pada variabel bebas komitmen (x2). dari sepuluh indikator yang digunakan sebagai item-item pertanyaan menunjukkan bila semua item dapat dinyatakan valid karena beradadi atas batas 0.3. tabel 2 uji validitas pada kepemimpinan (x2) indikator koefisien korelasi status x2.1 1.8199 0.5420 x2.2 1.7635 0.4369 x2.3 1.3821 0.5561 x2.4 1.5122 0.6469 x2.5 1.3615 0.6278 x2.6 1.3949 0.5369 tabel 3 uji validitas pada kepemimpinan (x3) indikator koefisien korelasi status x3.1 1.0872 0.5383 x3.2 1.8455 0.5553 x3.3 2.4615 0.6139 x3.4 1.3532 0.6824 x3.5 2.0199 0.5882 x3.6 2.2051 0.5732 business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 34 untuk variabel bebas pertama yaitu kepemimpinan diperoleh nilai alpha sebesar 1.4263 seperti ditunjukkan pada tabel 5. dengan demikian, item-item pertanyaan yang berhubungan dengan variabel kepemimpinan dinyatakan reliable. daftar pertayaan tentang variabel kepemimpinan dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. untuk variabel bebas kedua yaitu komitmen diperoleh nilai alpha sebesar 1.4942 seperti ditunjukkan pada tabel 5. dengan demikian, item-item pertanyaan yang berhubungan dengan variabel komitmen dinyatakan reliable. daftar pertayaan tentang variabel komitmen dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. untuk variabel bebas ketiga yaitu kedisiplinan diperoleh nilai alpha sebesar 0.9753 seperti ditunjukkan pada tabel 5. dengan demikian, item-item pertanyaan yang berhubungan dengan variabel kedisiplinan dinyatakan reliable. daftar pertayaan tentang variabel kedisiplinan dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. seperti halnya variabel bebas, variabel terikat dipenelitian ini yaitu motivasi kerja menunujukkan nilai alpha sebesar 0.6333 seperti pada tabel 5. dengan demikian, itemitem pertanyaan yang berhubungan dengan variabel motivasi kerja dinyatakan reliable. daftar pertayaan tentang variabel motivasi kerja dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. dengan demikian maka proses analisis data dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu uji asumsi klasik. uji analisis regresi linear berganda berdasarkan hasil perhitungan dengan spss diperoleh hasil seperti pada tabel 6. indikator koefisien korelasi status y.1 1.8404 0.6377 y.2 1.0769 0.5667 y.3 1.8147 0.6395 y.4 1.0154 0.6887 y.5 1.9744 0.6367 y.6 1.8917 0.4602 variables alpha kepemimpinan 1.4263 komitmen 1.4942 kedisiplinan 0.9753 mootivasi kerja 0.6333 motivasi kerja (y) tabel 4 menunjukkan hasil olahan software spss untuk pengujian validitas pada variabel terikat motivasi kerja (y). dari sepuluh indikator yang digunakan sebagai item-item pertanyaan menunjukkan bila semua item dapat dinyatakan valid karena berada diatas batas 0.3. tabel 4 uji validitas pada motivasi kerja (y) uji reliabilitas pengujian realibilitas dalam penelitian ini bertujuan untuk mengukur apakah jawaban yang diberikan responden konsisten atau keselarasan untuk merespon per item yang terdapat pada angket penelitian. dengan kata lain apakah alat pengukuran bisa dipercaya atau bisa diandalkan. tabel 5 adalah nilai alpha dari keempat variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu kepemimpinan, komitmen, kedisiplinan dan motivasi kerja. tabel 5 reliability analysis iwang suwaningsih, analisis gaya kepemimpinan, komitmen, dan kedisiplinan terhadap peningkatan motivasi kerja 35 tabel 6 uji t coeficients a model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig 1 (contants) 3.441 4.690 1.395 .408 x1 .266 .102 .525 3.737 0.20 x2 .104 .103 .547 3.196 0.47 x3 .132 .553 .335 2.179 0.42 dari hasil hitungan tabel 6 diatas, maka persamaan regresi linier dihasilkan adalah: y = 3.441 + 0.266x1 + 0.104 x2 + 0.132 x3 model persamaan linier berganda dari hasil perhitungan pada tabel 6, menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara peningkatan motivasi kerja pegawai (y) sebagai variabel terikat dari variabel bebas kepemimpinan (x1), komitmen (x2) dan kedisiplinan (x3). pengaruh tersebut menunjukkan bahwa variabel kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan sebagai variabel bebas berubah serah dengan perubahan peningkatan motivasi kerja sebagai variabel terikat. sedangkan untuk melihat pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dilakukan dengan uji t. kemudian untuk mengetahui apakah variabel kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan secara bersama-sama (serentak) mempengaruhi peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya dapat dilakukan dengan uji f. model sum of squares df mean squarea f sig 1 regression residual total 13.203 16.817 29.840 3 12 15 4.241 .702 5.509 .003 b tabel 7 annova b uji f (uji simultan atau bersama-sama) uji serentak ini (uji f) ini dilakukan dengan membandingkan f hitung dengan f tabel pada taraf nyata = 0.05. dari hasil perhitungan pada tabel 7 dapat dilihat bahwa f hitung sebesar 5.509 lebih besar dari f tabel = 0.003 dengan probabilitas sebesar 0.000000, hal ini berarti bahwa pada tarap nyata = 0.05 dapat dikatakan bahwa variabel bebas kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan mempunyai pengaruh yang berarti terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya atau dengan kata lain bahwa dengan tarap nyata 5% hipotesis kedua bisa diterima (terbukti). uji t (uji parsial) untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas x1, x2 dan x3 terhadap variabel terikat (y) dengan menggunakan uji parsial business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 36 (uji t). hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 6. untuk variabel kepemimpinan (x1) nilai t hitung yang diperoleh sebesar 3.737 dan nilai signifikasinya 0,20, nilai ini lebih kecil daripada nilai alpha = 0.05, sehingga ho ditolak dan ha diterima yang berarti bahwa variabel kepemimpinan (x1) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. untuk variabel komitmen (x2) nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar 3.196 dan nilai signifikansinya adalah 0.47, nilai ini lebih kecil daripada alpha = 0.05 sehingga ho ditolak dan ha diterima yang berarti bahwa variabel komitmen (x2) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. untuk variabel kedisiplinan (x3) nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar 2.179 dan nilai signifikasinya adalah 0.042 nilai ini lebih kecil daripada alpha = 0.05 sehingga ho ditolak dan ha diterima yang berarti bahwa variabel kedisiplinan secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. diantara nilai koefisien regresi yang dikemukakan terlihat bahwa nilai koefisien variabel bebas kepemimpinan yaitu 0.256 lebih besar dibandingkan nilai koefisien variabel bebas lainnya. koefisien variabel bebas komitmen sebesar 0.104 dan koefisien variabel bebas kedisiplinan sebesar 0.132. dengan demikian variabel bebas kepemimpina memiliki pengaruh yang paling dominan dibandingkan kedua variabel bebas lainnya terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin itu sendiri untuk melaksanakan tugas dan fungsinya. seorang pemimpin harus mau bekerja keras tanpa mengenal putus asa. dengan demikian seorang pemimpin harus memiliki kemampuan memecahkan persoalan, memiliki pandangan yang luas, keluwesan, kecerdasan, kelancaran berbicara, bersedia menerima tanggungjawab, ketrampilan social, sadar akan diri dan lingkungannya. upaya untuk meningkatkan tanggung jawab agar sumber daya manusia dapat bekerja secara efisien dan efektif, maka kepemimpinan memegang peranan penting untuk dapat mempengaruhi dan menggerakkan bawahan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. keberhasilan dan kegagalan yang dialami oleh sebagian besar organisasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin organisasi iut sendiri. setiap pemimpin memiliki gaya memimpin yang berbeda-beda. gaya memimpin dapat dilihat pada ucapan, sikap, tingkah laku, dan cara mengambil keputusan memimpin. kedisiplinan juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan motivasi kerja organisasi. kedisiplinan seperti tersedianya perlengkapan dan fasilitas yang memadai, suasana kerja yang menyenangkan akan dapat memberikan motivasi kerja yang lebih efektif dan efisien untuk menyelesaikan pekerjaannya. perlengkapan maupun sarana organisasi dapat tersedia secara terencana dan hal ini mungkin tidak terlalu merepotkan baik pihak pengelola organisasi. bila kedisiplinan dapat terbentuk secara baik, maka memungkinkan untuk mendukung motivasi kerja pegawai secara optimal. simpulan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan, komitmen dan kediiwang suwaningsih, analisis gaya kepemimpinan, komitmen, dan kedisiplinan terhadap peningkatan motivasi kerja 37 siplinan secara parsial dan simultan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. dari analisis data dan pembahasan diperoleh beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan berpengaruh sgnifikan secara parsial terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya, (2) kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan berpengaruh signifikan secara simultan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya, (3) kepemimpinan berpengaruh paling dominan secara signifikan terhadap peningkatan motivasi kerja pegawai kantor kecamatan tegalsari surabaya. daftar pustaka alex s, nitisemito, 2002, manajemen personalia. jakarta: ghalia indonesia. arvan pradiansyah. 1999. limaprinsip pembangun komitmen. manajemen. edisi no 125 hal 31.jakarta: pustaka binaman pressindo. darmawan, didit. 2013. prinsip -prinsip perilaku organisasi. pena semesta: surabaya. fx. isbagyo wiyono. 1999. menyamakan persepsi tentang komitmen. manajemen.edisi no. 126 hal. 34. jakarta: pustaka binaman pressindo. gibson, et al. 2009. organisasi. edisi ke lima. jakarta: erlangga. atau organizational behavior: human. behavior at work. 5 th edition. boston: mcgrawahill inc. hersey p. 2009. situational leaders: leadership excellence. 26, 2, 12. hasibuan, malayu.s.p. 2005. manajemen sumber daya manusia. jakarta: pt. bumi aksara. miftah thoha. 2003. perilaku organisasi. edisi pertama. cetakan keempatbelas. jakarta: pt raja grafindo persada. reksohadiprodjo. sukanto dan handoko. t. hani. 2002. organisasi perusahaan. edisi kedua, yogyakarta: bpfe. stoner. j. & freeman, r.e. 2000.management. nj: prentice hall. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 38 jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 217217 determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata faculty of business and economic, universitas ciputra surabaya e-mail: jennifer01@student.ciputra.ac.id abstract: banks are intermediary firms that have an important function in society and countries. banks’ existence drives the banking industry to increase its financial performance through market ratio growth. this research aims to analyze the influence of casa and npm on market ratio for banks listed in the idx during the period of 2010–2020. the originality of this research is that it focuses on the influence of affordable funds and profitability on market ratio pbv in the banking sector. the research type used is quantitative method with multiple linear regression approach. sampling techniques used is purposive sampling. the population is 43 banking firms listed in the idx on december 2020. the sample used is 200 sample data from 21 banks in buku ii until buku iv categories in indonesia during 11 periods, from 2010–2020. testing techniques used in this research are descriptive statistics, hypothesis test, and classic assumption test with robust standard error. the research variables consist of a dependent variable (pbv), independent variables (casa, npm), control variables (per, dpr, roe), and a dummy variable (soe and private owned). the result of this research is that casa and npm have a positive and significant effect on pbv. hopefully, this research can add consideration for banking management, financial supervisory agencies, investors, and the public about investment making decisions. keywords: pbv, casa, npm a. introduction the presence of the banking industry in indonesia has a great influence on the country’s economic growth and on people’s behavior. banks are intermediary institutions that play a role in collecting and distributing funds to the public (triyanti & susila, 2021). many people today are starting to save, invest, and conduct transactions using their funds through banks. banks are also trusted by the public as a safe place to deposit money. due to public interest and need for banks, banking industry is encouraged to always measure its financial performance in each period. one of the mechanisms to measure financial performance in banking is through assessment of market ratios. market value is a strong indicator to assess a company’s financial performance, including companies in the banking sector (alamsyah, 2019). price to book value (pbv) is a market value that shows whether or not the stock price is fair by comparing the stock price with the stock book value (sari & muslihat, 2021). good financial performance indicates that the market value of banking is high, so that if there is a decline in market value, it will certainly affect the decline in company performance. in 2020, the start of the coronavirus affected indonesia’s economic conditions, which impacted the performance of several industries. the covid-19 pandemic has resulted in positive growth of banking intermediation function (otoritas jasa keuangan, 2021). this condition shows that the pandemic does not have a negative effect on banking financial performance. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 218 financial problems in banking industry actually occurred before the covid-19 pandemic. over the past six years, there have been cases of around 3,074 bank branch offices closing due to financial failure, thus, many operational activities at branch offices had to be terminated (cnn indonesia, 2021). the main motive for financial failure tends to be human resources (hr) limited knowledge in analyzing market risk. superior and competent human resources (hr) can result in good performance for the company and minimize the potential for financial distress in the company (siahaan, et al., 2021). banks began to devise strategies by conducting financial planning and analyzing market conditions through fundamental analysis. the liquidity factor in financial ratios can show the effect of banking performance during a certain period (ningsih & sari, 2019). in order to maintain their financial performance, major banks began to develop strategies to aggressively increase the composition of low-cost funds. the acquisition of cheap funds is used by banks as an effort to realize efficiency in terms of the cost of third party funds (dpk, dana pihak ketiga) (khairunnisa, et al., 2020). increasing low-cost funds through current account savings account (casa) ratio is expected to be able to maintain stable financial performance during the pandemic and minimize the risk of financial failure. the banking statistical data by indonesian monetary authority (otoritas jasa keuangan (2020)) shows that the composition of the highest low-cost funds at commercial banks in indonesia in 2020 is at 57.92%. figure 1 shows that banks are increasing the composition of lowcost funds from year to year. it is known that in 2021, the composition of bri’s casa increased by around 11.2%, from 59.66% to 63.08%. optimization of casa is a strong prospect for the banking sector in the future regarding funding issues. the increase in casa resulted in a decrease in the cost of funds from 3.22% to 2.05% (idx, 2022). the same strategy is also used by other state owned banks, such as bni. the increase in the casa ratio at bni was around 68.4% in 2020, which resulted in a decrease in the cost of funds from 3.2% to 2.6% (cnbc indonesia, 2021). these events suggest that casa strategy led to a reduction in cost of fund. figure 1 statistical data on composition of cheap funds for indonesian commercial banks as of 31 december 2010–2020 source: indonesian monetary authority (otoritas jasa keuangan), 2020 jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 219 a maximum of five trillion rupiah (nainggolan, 2020). according to indonesia monetary authority (otoritas jasa keuangan (2016)) buku iii is a category that includes banks with core capital of at least five trillion rupiahs to a maximum of thirty trillion rupiahs (sihotang, et al., 2020). buku iv consists of banks with core capital of more than thirty trillion rupiahs (cakranegara, 2020). naturally, the quality of activities, services, and products is determined based on the size of the bank regulated by ojk based on the minimum capital structure (setiadi & suhartoko, 2021). the banking strategy for banks in buku ii to buku iv categories to increase the ratio of low-cost funds and profitability can be used as a reference for other banks to measure the effectiveness of implementing these strategies in increasing market value. signaling theory states that the basis for making investment decisions can be done through analysis of financial performance, such as liquidity, profitability, and market value in banking. based on previous research, the ratio of liquidity and profitability has an effect on earnings performance, while profit has an effect on market value. the signal theory approach is used because casa as a liquidity ratio can provide a signal to earnings performance (widiantari & iswara, 2021). the npm profitability ratio can also give a signal to the company’s profit performance (martini & siddi, 2021). the values of casa and npm ratios have an effect on decision making on financial performance. this study will examine casa and npm as signals in the form of information about the pbv market ratio. this theory helps banking management to assess the company value and in making decisions based on the information to increase casa and npm ratios. the importance of casa for banks is as a mechanism to increase the growth of third party funds (dpk) through savings and current accounts products that lead to higher interest income (cnbc indonesia, 2021). banks can earn higher income due to a decrease in cost of funds resulted by a decrease in expensive funds, such as time deposits. it is known that the growth of tpf has an effect on banking profit performance (jamhuriah & nurhayati, 2021). another purpose of casa is to maintain banking liquidity. the growth of these deposits can encourage an increase in banking liquidity (dewi & rianita, 2021). therefore, an increase in the ratio of lowcost funds has the potential to maintain the stability of banking financial performance. in measuring financial performance, banks need to pay attention to the level of profitability in a period. net profit margin (npm) is a profitability ratio used to measure net profit to total revenue in a company (fitriani, 2021). net profit margin (npm) is an important indicator in measuring profit performance in banking. it is known that in 2021, the big four banks in indonesia experienced significant profit growth. the increase in profit occurred in bca by 19.52%, bri by 75.53%, bank mandiri by 79.58%, and the fastest growth occurred in bni at 288.36% (cnbc indonesia, 2022). the higher the profit growth, the better the bank performance (widiantari & iswara, 2021). this shows that banks are also focused on profit growth during the covid-19 pandemic. many banks are currently developing strategies through increasing casa and npm to improve financial performance during the pandemic, starting from banks in the commercial banks for business activities (buku ii) category to buku iv. buku ii consists of banks with minimum core capital of one trillion rupiah to business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 220 in line with signal theory, the implementation of appropriate financial strategies by banks requires relevant information. to the best of the researcher’s knowledge, there has been no research that discusses the effect of casa on the market value of pbv. the novelty of this study is that it focuses on the effect of the low-cost fund ratio as the main independent variable on the value of pbv in the banking sector in the buku ii to buku iv categories. previous research only examined the effect of casa on banking net income within a shorter period and with a smaller number of samples. research related to the casa ratio that has been carried out is to measure its significant effect on earnings performance, roa, and market share (widiantari & iswara, 2021; daryanto, et al., 2020; setiadi & suhartoko, 2021). npm research on pbv has been conducted previously in the consumption sector (wulandari, et al., 2021). however, this research will analyze a different industrial sector. this can result in differences in research results, thus, further testing will be carried out with different periods. 1. research questions based on the background of the problem, the research questions of this study is formulated as follows: • does casa have a positive effect on market ratios for banks listed on the idx in 2010– 2020? • does npm have a positive effect on market ratios for banks listed on the idx in 2010– 2020? 2. research aim this study was conducted with the aim of analyzing the effect of casa and npm on the pbv market ratio of buku ii to buku iv banks during the 2010–2020 periods. based on the financial ratio approach, the measurement of the casa ratio reflects the financial performance of the banking sector at the level of liquidity and the npm ratio at the level of profitability. this study will examine the relationship between the two ratios that have a positive effect on the price to book value (pbv) ratio. pbv market value shows the high and low stock prices in a period. the higher the pbv value, the higher the company’s stock price (kurnia & ariyani, 2021). 3. research contribution the analysis serves to assist investors’ investment decision making, company management, and other interested parties. the benefit of this research is to provide consideration for banking management regarding effective strategy to increase the ratio of low-cost funds and profitability ratios to increase market value. this study will also measure how significant the relationship between the casa and npm ratios are with the pbv market ratio in the banking sector to strengthen the results of financial performance analysis by investors. therefore, this research can be one of the important mechanisms in conducting fundamental analysis. 4. previous studies this study shows novelty in terms of testing the independent variables that has never been studied before in similar topic, such as the effect of casa on the pbv value with three control variables (per, dpr, and roe) (wijanarko, 2022; oktavia & kalsum, 2021; wulandari, et al., 2021; sari & jufrizen, 2019; ningsih & sari, 2019). to the best of the jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 221 researcher’s knowledge and searches, there is no indications of same research regarding the relationship between casa and market ratios as the pbv value. the high levels of liquidity and profitability certainly affect the market value of the banking system. in recent years, the ratio of low-cost funds has become an interesting topic of discussion in the banking world. the development of business strategies through increasing casa is able to reduce funding problems and improve financial performance, which affects the market value of banking. npm testing of pbv conducted in this study also used a different industry from previous studies. the main difference between this research and previous research lies in testing the ratio of low-cost funds that can affect market value. if it is influential, then the development of business strategies in the banking sector through increasing the ratio of low-cost funds is considered effective and can be used as a reference by banks. the range of years used in this study is much longer; the research is carried out on buku ii to buku iv banks in indonesia during the 2010–2020 period. in addition, the sample used in this study is different from that of previous studies (jamhuriah & nurhayati, 2021; widiantari & iswara, 2021; setiadi & suhartoko, 2021; daryanto, et al., 2020; diana & huda, 2019). there are several previous studies that have discussed topics relevant to this research from different perspectives. first, research on buku iv banks in 2016–2020 shows that casa and npl have an effect on net income, while ldr has no effect (widiantari & iswara, 2021). second, research on buku iv banks during the 2016–2019 period shows that casa, npl, nim, car have an effect on roa, while ldr has no effect (daryanto, et al., 2020). third, research on buku iv banks during the 2009– 2019 period shows ldr, roa, nim, bopo, kpmm, ckpn, pdn have an effect on market share, while casa and npl have no effect (setiadi & suhartoko, 2021). fourth, research on automotive companies listed on the idx in 2012–2016 shows that roa has an effect on pbv, while cr and dar have no effect (ningsih & sari, 2019). fifth, research on pt bni tbk. during the period of 2012–2016 shows tpf has an effect on net profit (jamhuriah & nurhayati, 2021). sixth, research on islamic commercial banks in indonesia in 2012–2017 shows that tpf has an effect on profits (diana & huda, 2019). seventh, research on agricultural companies listed on the idx in 2013–2016 shows that roa has an effect and per has no effect on pbv (sari & jufrizen, 2019). eighth, research on the consumer goods sector in 2017– 2019 shows that dpr has an effect on pbv, while der, roe, sg, npm, cr have no effect (wulandari, et al., 2021). ninth, research on banks listed on the idx in 2017–2019 shows that eps, per, and pbv have an effect on stock prices (wijanarko, 2022). tenth, companies in the property sector in 2011–2015 show that per, der, dpr, and roe have an effect on pbv (oktavia & kalsum, 2021). 5. relationship between variables and hypotheses a. effect of current account saving account (casa) on price to book value (pbv) current account saving account (casa) is a liquidity ratio that measures the value of savings and current accounts or low-cost funds to the amount of third party funds (tpf). according to widiantari and iswara (2021), the business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 222 higher the level of low-cost banking funds, the lower the interest expense. usually banks only offer bank interest of around 2% to 5% each year for savings and checking accounts (indrajaya, et al., 2021). an increase in the ratio of low-cost funds results in a decrease in the cost of funds. therefore, large banks are now increasingly focused on increasing low-cost funds in order to increase liquidity and maintain the company’s economic stability. a high casa ratio indicates that the components of savings and current accounts owned by banks tend to be high. third party funds (tpf) consisting of checking accounts, savings and time deposits have a positive influence on banking operating profit (jamhuriah & nurhayati, 2021). due to the relationship between casa and profit, this study will test the effect of casa on the pbv value, which is considered a market ratio. pbv value tends to be used to indicate the high or low price of shares outstanding in the market. the higher the pbv value, the better the company value (ambarwati & vitaningrum, 2021).this study will use casa ratio as the main independent variable. thus, this study will test whether or not the higher the casa ratio, the higher the market value in banking. h 1 : casa has a positive effect on pbv for banks listed in the idx for the 2010–2020 periods. b. effect of net profit margin (npm) on price to book value (pbv) net profit margin (npm) is a profitability ratio used to measure the level of net profit obtained by banks. this ratio tends to be used to measure the level of bank net profit based on total revenue in a period. the higher the npm percentage, the better the company’s financial performance, which affects stock prices and increases investor interest (rahmani, 2020). according to hadi, et al. (2021) npm has a positive effect on stock prices. the test results are related to the pbv value in this study. it is known that pbv value is not only influenced by the book value per share, but is also influenced by the price per share (bustani, et al., 2021). this study uses npm ratio as an independent variable to test its effect on pbv value. thus, this study will examine whether higher level of net profit margin (npm) leads to higher market value in the banking sector. h 2 : npm has a positive effect on pbv for banks listed in the idx for the 2010–2020 periods. c. price to earning ratio (per) price to earning ratio (per) is a market indicator that shows whether or not the company’s stock price is fair, so it is not only based on uncertain future conditions estimates (sari & muslihat, 2021). this variable will be used as a control variable in the study. according to hasanudin (2022), research results show that per value has a positive effect on firm value as measured by the pbv market ratio. per value can be one of the benchmarks that can affect the value of the company because they are correlated in terms of assessing the whether the share value is high or low. thus, every time there is an increase in per, the pbv value in the banking sector will increase. d. dividend payout ratio (dpr) dividend payout ratio (dpr) is a ratio that shows the number of dividends distributed in cash to shareholders based on profit performance in a certain period (deitiana, et al., jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 223 2020). this variable will be used as a control variable in the study. the dpr’s ratio can be a benchmark in making investment decisions and used as a basis to determine dividend policy. based on the results of the study, it shows that dpr ratio can be an indicator that affects the value of the company (wulandari, et al., 2021). thus, every time there is an increase in the dpr, the pbv value in the banking sector will also increase. e. return on equity (roe) return on equity (roe) is a ratio that measures the level of profitability based on net income after tax on common stock (wijaya, 2019). this variable will be used as a control variable in the study. according to the results of research by saputri and giovani (2021), the higher the return on equity, the higher the firm value. this shows that roe is used to measure the company’s ability to generate net income from equity value (worotikan, et al., 2021). the higher the roe, the larger the return from a company’s stock. thus, every time there is an increase in roe, the pbv value in the banking sector will increase. b. research methodology 1. signal theory signal theory is a theory that examines the behavior of banking management in providing views related to investment decision making to external parties, such as investors. decision making can be based on analyzing the financial performance of banks. signal theory is intended as a basis for providing information to management regarding the implementation of investment plans and strategies in the future (widiantari & iswara, 2021). this theory refers to the implementation of strategies to improve banks financial performance. investment decision making by banking management can be supported by conducting fun figure 2 the influence of casa and npm on market ratios of banks listed on the idx during the 2010–2020 period source: author’s data, 2022 business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 224 damental analysis. in response to this, the lowcost funds ratio (casa) can be used to measure banking financial liquidity, which is one of the important benchmarks for financial performance. in this study, npm will be used to measure bank profitability level. the higher the level of liquidity and profitability, the better the value of the company (iman et al., 2021). this shows that casa as a liquidity ratio and npm as a profitability ratio are relevant with this theory in terms of helping investment decision making. 2. conceptual framework the analytical model in this study consists of two independent variables with three control variables to test the hypothesis of the pbv market ratio, which shows the firm value of a bank, as the dependent variable. signal theory suggests that the analysis of casa and npm ratios can affect the market value of companies engaged in the banking sector. the theory can provide a signal to banks and investors to measure stock performance. based on the theoretical basis and a collection of variables used in the study, the rationale for this research is as follows. 3. research type this research was conducted using quantitative approach with multiple linear regression. quantitative research is a technique used to analyze a problem based on data in the form of relevant numbers. quantitative research is usually used to measure the effect of the object under study, namely the independent variable (x) and the dependent variable (y) (hisbullah, 2021). multiple linear regression is a test tool used to analyze the relationship and influence of the independent variables on the dependent variable. this regression is usually used to measure more than one independent variable in a study (meiryani, 2021). 4. sample and population the population used in this study are companies engaged in the banking sector listed on the idx for the period 2010–2020. the total of population are 43 banks listed on the idx as of december 31, 2020. the sampling method in this study is purposive sampling with a nonprobability sampling technique. the sampling technique was determined based on the information obtained with certain criteria set by the researcher. the criteria for banks selected for this study are as follows. table 1 research sample selection criteria no. sample selection criteria amount 1 banks listed in the indonesia stock exchange from 2010–2020 (go public). 43 2 banks that publish clear, complete, and audited consolidated annual reports. (22) 3 banks that fall into the buku ii to buku iv categories in indonesia as of december 31, 2020. buku ii banks have core capital of idr 1–5 trillion. buku iii banks have core capital ranging from rp 5–30 trillion, while buku iv banks have core capital > rp 30 trillion 21 number of research samples 21 based on the criteria in table 1, the number of samples used in the study are 21 (twenty one) banks including 5 (five) banks in the buku ii category, 9 (nine) banks in the buku iii category, and 7 (seven) banks in the book iv category. these banks consist of 4 (four) state-owned banks and 17 (seventeen) national private category banks as of 31 december 2020. therefore, the total sample used for data processing is 231 samples from 21 (twenty one) banks that have been dejennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 225 termined for 11 (eleven) periods starting from 2010 to 2020. based on the results of data collection, the number of samples available and can be used in the study is 200 samples. the names of banks that fall into the buku ii to buku iv categories are as follows. table 2 buku ii research sample 5. data collection method the data collection technique used is secondary data with quantitative measurement. the data is obtained through the consolidated annual reports of banks that are included in the buku ii to buku iv (go public) categories, have complete information, with available annual reports starting from 2010–2020, with data accessible through the official company website, and with financial statements audited by public accounting firm (kantor akuntan publik, kap). 6. data analysis method the data analysis method used is quantitative method with the concept of multiple linear regressions. the concept of multiple linear regression is used to analyze the magnitude of the relationship between variables, and whether it is simultaneously or partial (triyanti & susila, 2021). tests were carried out using descriptive statistical analysis, hypothesis testing, and classical assumption theory. descriptive analysis statistic is used to provide a description of the data, such as the mean, standard deviation, minimum, and maximum values. then, hypothesis test is used to perform the anova-f test (significance) and the r2 test (determinant coefficient). according to ghozali (2016) classical assumption test is used to perform normality test, multicollinearity test, heteroscedasticity test, and autocorrelation test (apriliana & hendarti, 2021). in this study, data processing with regression will be carried out using a robust standard error. according to hoechle (2007) the use of robust standard error can overcome the problem of autocorrelation and heteroscedasticity tests on classical assumptions (kohardinata, et al., 2020). testing the normality of the data in this study is through the skewness/ kurtosis test. table 3 buku iii research sample tabel 4 buku iv research sample source: ojk regulation no. 37/pojk.03/2019 and 2020 annual report no. company name category 1 pt bank china construction bank indonesia tbk. private 2 pt bank woori saudara indonesia 1906 tbk. private 3 pt artha graha internasional tbk. private 4 pt qnb indonesia tbk. private 5 pt bank bumi arta tbk. private no. company name category 1 pt bank tabungan negara (persero) tbk. soe 2 pt bank tabungan pensiunan nasional tbk. private 3 pt ocbc nisp tbk. private 4 pt bank permata tbk private 5 pt maybank indonesia tbk. private 6 pt bank mega tbk. private 7 pt bank mayapada internasional tbk. private 8 pt bank bukopin tbk. private 9 pt bank sinarmas tbk. private no. company name category 1 pt bank mandiri (persero) tbk. soe 2 pt bank rakyat indonesia (persero) tbk. soe 3 pt bank central asia tbk. private 4 pt bank negara indonesia (persero) tbk. soe 5 pt bank cimb niaga tbk. private 6 pt bank danamon tbk. private 7 pt bank pan indonesia tbk. private business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 226 7. multiple linear regression model the researcher will test the hypothesis that casa and npm variables have a positive effect on the pbv value of banks listed in idx during the 2010–2020 periods. then, the researcher will also test the per variable that has a positive effect, dpr that has a positive effect, and roe that has a positive effect on the pbv value of banks listed in the idx during the 2010–2020 period. three variables will be used as control variables in this study, namely per, dpr and roe. dummy variables are artificial variables that is used to change previously qualitative variables into quantitative variables in the form of numbers. the dummy variable used in this study is denoted by “dbank”, which classifies banks into the categories of state-owned enterprises and private companies. the following is a regression equation model used in this empirical study. pbv = α + β 1 casa + β 2 npm+ β 3 per + β 4 dpr + β 5 roe + dbank + e notes: pbv = price to book value α = constant β = regression coefficient casa = current account saving account npm = net profit margin per = price to earning ratio dpr = dividend payout ratio roe = return on equity dbank = bank category dummy variable (0 = state owned bank; 1 = private banks) e = banking term error 8. operational variable definition the following is a definition of each variable used in the study. variable name equation definition dependent variable price to book value (pbv) market ratio that measures the price per share to the book value of the stock (ismayana, et al., 2021) independent variable current account saving account (casa) liquidity ratio that measures lowcost funds to the amount of thirdparty funds (widiantari & iswara, 2021). net profit margin (npm) profitability ratio that measures net profit to total revenue (rais, et al., 2021). control variable price to earning ratio (per) market ratio that measures price per share to earnings per share (handayani & arif, 2021). dividend payout ratio (dpr) ratio that measures the total dividends distributed to net profit (megamawarni & pratiwi, 2021). return on equity (roe) profitability ratio that measures net income to common stock equity (rais, et al., 2021). table 5 operational definition of research variables jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 227 c. result and discussion 1. descriptive analysis statistic based on the results of the descriptive statistics in table 6, the pbv variable as the market ratio used to measure the company value has a minimum value of 0.12 with a maximum value of 4.6. the average pbv value is 1.5638 and the standard deviation is 0.9996047. this shows that banks with pbv value above the average of 1.5638 and closer to the maximum value of 4.6 have good corporate values. the higher the pbv value, the better the value of the banks. casa as the main independent variable in the study has a minimum value of 11.13 with a maximum value of 80.3. the average value of this variable is 41.9514 and the standard deviation is 17.85018. there is no negative value for casa ratio in banks. the average value of casa in banks in indonesia as classified by buku ii to buku iv is quite high. the high maximum value of casa can be due to some banks having a higher composition of savings and current accounts than the number of time deposits in a period. this is also inversely proportional to other banks, which tend to have a low casa ratio. an increase in expensive funds can reduce the composition of savings and current accounts and vice versa. npm as an independent variable has a minimum value of 0.45 with a maximum value of 49.87. the average value of this variable is 16.9646 and the standard deviation is 9.779678. in the banking sector there are several banks with net profit levels that are too high. this is indicated by the maximum value of the npm variable, which is quite far from the banking industry average. high profit growth can also be a positive reflection of the prospects for bank financial performance in that period. in addition, there are also several banks with very low npm values that almost touch negative numbers. this is resulted by several bank that incurred losses in certain periods. per variable as a control variable is classified as a market ratio similar to pbv having a minimum value of -1.7 with a maximum value of 91.4. the mean value is 14.92635 and the standard deviation is 10.54409. in contrast to pbv, the market ratio of per in banking is negative caused by losses for the current year in a certain period. the dpr variable, which is also a control variable in the study, has a minimum value of 0 with a maximum value of 91.5. the average value is 18.67135 and the standard deviation is 19.13965. the minimum value of 0 is due to several banks not distributing dividends during a certain period. the excessive distribution of dividends occurred when the banking sector managed to record a profit for the year with dramatically increase compared to previous years. in general, the policy of not distributing dividends by banks is influenced by profit or loss in the current year. roe variable as a control variable has a minimum value of 0.4 and a maximum value of 43.83. the average value is 13.8938 and the standard deviation is 8.397265. the high values of roes in several banks indicate a high rate of return on equity. the average value can be used as a benchmark for the level of roe in similar industries. the dummy bank variable shows a minimum value of 0, which means it is classified as a state-owned bank, and a maximum value of 1, which means it is classified as a private owned bank. the average value is 0.79 and the standard deviation is 0.4083303. this shows that the average value is closer to the maximum value of 1. most of the samples used in this study are classified as private owned banks, which are categorized as buku. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 228 2. hypothesis testing a. significance test based on the criteria of the significance test in the study, a data can be considered feasible if the test value f = 0 (siregar & dani, 2019). the results of the simultaneous significance test in table 7 show that all the variables used in the study have met the prerequisites. the variables used in this study consist of pbv (dependent), casa (independent), npm (independent), per (control), dpr (control), roe (control), and dbank (dummy). the results of data processing show the value of prob > f of 0, which means that it is less than 0.05 and the anova-f test is fulfilled. therefore, the model in this study is suitable for testing the pbv variable. table 7 significance test result (anova-f test) close to 1 (one). the closer the number is to 1 (one) indicates that the data has a strong relationship, which means that the independent variable in the study is able to explain the dependent variable. the test results show that the variables casa, npm, per, dpr, and roe are able to explain 0.8604 or 86.04% of the pbv variable. the remaining value of 13.96% can be influenced by other factors not included in this study. table 8 determinant coefficient test result (r2 test) variable mean std. dev. min max pbv 1,5638 0,9996047 0,12 4,6 casa 41,9514 17,85018 11,13 80,3 npm 16,9646 9,779678 0,45 49,87 per 14,92635 10,54409 -1,7 91,64 dpr 18,67135 19,13965 0 91,5 roe 13,8938 8,397265 0,4 43,83 dbank 0,79 0,4083303 0 1 table 6 descriptive statistics source: author’s data, 2022 source: author’s data, 2022 number of obs 200 f (6, 193) 135,75 prob > f 0,00 root mse 0,37928 b. determinant coefficient test based on the results of the determinant coefficient test in table 8, the value of r2 is substantial because it is in the range that is number of obs 200 r-squared 0,8604 source: author’s data, 2022 c. normality test based on the requirements of normality test, a data can be said to be normally distributed if it is > 5% or 0.05 (fathihani, 2020). the results of the normality test of the data in table 9 show that the variables used in the study are normally distributed. the value of prob>chi2 = 0.0849 > 0.05 means that all the variables used meet the prerequisites. therefore, based on the test results of the variables studied, the normality test of this research model is fulfilled. jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 229 table 9 data normality test result variable obs pr (skewness) pr (kurtosis) adj chi2(2) prob>chi2 res 200 0.0967 0.1454 4.93 0.0849 source: author’s data, 2022 d. multicollinearity test in this research model, all the variables studied can be said to be free from the multicollinearity problem if they have a vif value < 10 (fathihani, 2020). based on the results of data processing in table 10, the vif values in all the variables studied show results of < 10. casa variable has a vif value = 2.08 < 10, npm vif value of 2.08 < 10, pervif value of 1.10 < 10, dpr vif value of 1.18 < 10, roe vif value of1.65 < 10, dbank is 1.71 < 10, and the average vif of all variables other than the dependent variable is 1.63. this shows that there is no correlation (non-collinearity) between the independent, control, and dummy variables in the study. therefore, all the variables studied did not show any symptoms of correlation between independent variables, thus, all variables passed the multicollinearity test. this shows that this research model is feasible for further testing. e. robust standard error analysis result in testing the data, robust standard error is used to overcome the problems of autocorrelation test and heteroscedasticity test in research (kohardinata, et al., 2020). a variable can be said to be influential if the p-value is <0.05 and has a positive or negative value based on â. based on the results of data processing using the robust standard error in table 11, all the variables studied met the prerequisites and are significant. casa variable has a positive effect on pbv because p-value = 0 <0.05. the npm variable has a positive effect on pbv because p-value = 0.021 <0.05. in addition to the independent variables, all control variables also have a positive effect on the dependent variable (pbv). per variable has a positive effect on pbv because its p-value = 0 <0.05. dpr variable has a positive effect on pbv because its p-value = 0.002 <0.05. roe variable has a positive effect on pbv because its p-value = 0 <0.05. then, the dummy bank variable (dbank) has a positive effect on pbv β robust std. err. t p-value [95% conf. interval] casa 0,0092698 0,0021979 4,22 0,000 0,0049348 0,0136048 npm 0,0091055 0,0039055 2,33 0,021 0,0014025 0,0168085 per 0,0607538 0,0047858 12,69 0,000 0,0513146 0,0701929 dpr 0,0044352 0,0014422 3,08 0,002 0,0015908 0,0072797 roe 0,0906514 0,0044421 20,41 0,000 0,0818902 0,0994127 dbank 0,4689855 0,0839401 5,59 0,000 0,3034278 0,6345431 _cons -1,599189 0,1536472 -10,41 0,000 -1,902232 -1,296146 variable vif 1/vif casa 2,08 0,481014 npm 2,08 0,479903 per 1,10 0,911996 dpr 1,18 0,847512 roe 1,65 0,607307 dbank 1,71 0,583887 mean vif 1,63 table 10 multicollinearity test result source: author’s data, 2022 table 11 robust standard error analysis result source: author’s data, 2022 business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 230 pbv because its p-value = 0 < 0.05. based on this regression model, all variables are feasible and meet the prerequisites for conducting research, so there are no variables that need to be eliminated. thus, both hypotheses h 1 and h 2 can be accepted. the r2 value of 86.04% in the regression results shows that the relationship between variables has a strong influence. therefore, all the variables studied have passed the test and there are no variables that need to be eliminated. based on the regression model in table 11, the regression results can be written with the following equation. f. hypotheses discussion h 1 : casa has a positive effect on pbv for banks listed in the idx for the 2010–2020 period the results of data processing show that casa has a positive effect on pbv. casa has a p-value of less than 0.05 (significance level). the first hypothesis (h 1 ) on the effect of the casa variable on the pbv variable is accepted. this study proves that every time there is an increase in casa of 0.0092698, the market value of pbv will increase. this shows that the increase in the ratio of low-cost funds such as savings and current accounts carried out by banks in the buku ii to buku iv categories is proven to be effective, if the improvement strategy is carried out consistently. this is in line with the results of research showing that casa has an effect on net profit (widiantari & iswara, 2021). based on the results of the study, it is known that net profit also has an effect on banking stock prices (fitriano & herfianti, 2021). factors that affect firm value (pbv) include stock prices and book value of equity. indirectly, the increase in low-cost funds by banks reduces interest expense, thereby increasing net profit for the year. the net profit will affect the stock prices in the capital market. thus, according to the results of the study, if the value of the stock price is higher, the value of pbv will also increase (firdaus & rohdiyarti, 2021). based on the signaling theory in the research, the relationship between casa and pbv has been shown to have a positive effect. measuring through casa ratio is considered effective in assessing the high or low value of companies in the banking sector. this concept is in accordance with the understanding of signaling theory related to investment decision making. signal theory provides information to the public that can be used to signal uncertainty about the company’s future performance (yasar, et al., 2020). the correlation between these theories is shown with the purpose of giving a signal to banking management in making decisions regarding the implementation of a strategy to increase low-cost funds to increase firm value. casa ratio can be an indicator that is able to provide a signal to shareholders in line with signal theory to invest in banks with a good casa level. h 2 : npm has a positive effect on pbv for banks listed in the idx for the 2010–2020 periods the results of data processing show that npm has a positive effect on pbv. based on the results of research using robust standard error, npm has a p-value of less than 0.05. the second hypothesis (h 2 ) in testing the effect of the npm variable on the pbv variable is accepted. this study proves that every time there is an increase in npm by 0.0091055, there will jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 231 be an increase in the market value of pbv. this shows that the increase in the percentage of net profit in the buku ii to buku iv categories of banks is proven to increase the pbv market value. the market value is a benchmark in assessing the high or low value of the company in the capital market. the results of this study are relevant to previous studies that have been conducted to test the positive effect of npm on stock prices (hadi, et al., 2021). the relationship with market value is that stock prices have a positive effect on the pbv ratio (firdaus & rohdiyarti, 2021). this shows that the higher the stock price, the higher the pbv. therefore, an increase in npm in banking can trigger an increase in firm value as measured by pbv. different research results occurred in other study that showed that npm has no effect on pbv (wulandari, et al., 2021). this can be due to the differences in the type of industry being studied. in the research, according to wulandari et al (2021), the object of research are companies engaged in food and beverage processing (consumption). this study focuses on the effect of npm on the pbv of the banking sector. differences in industrial sectors can affect the pattern of relationships and correlations between the variables studied. the relationship between npm and pbv has been shown to be positive. based on the theory studied, this shows that profit growth in the current year can be an effective strategy for banks in increasing firm value (pbv). in line with signal theory, which is often used in the business literature, npm is able to provide signals regarding the effectiveness of banking management strategies in improving financial performance (kharouf, et al., 2020). this is because npm ratio is included as a profitability ratio, which is usually used by banking management and investors in conducting fundamental analysis. npm gives a signal to investors that high profit growth can increase the value of the company, so that investors can increase the number of shares in banks with financial performance that continues to grow positively. g. control variable testing the ratio of per, dpr, and roe as control variables shows positive effect on pbv. per has a p-value of less than 0.05. the higher the per, the higher the pbv. the results of this study are in line with research by hasanudin (2022). per and pbv are ratios of the same group, namely the market ratio. the two variables influence each other because they have similarities to the measurement of market value based on stock price indicators. dpr has a p-value of less than 0.05. the higher the dpr, the higher the pbv. the results of this study are in line with research according to wulandari et al (2021). dpr variable can affect the pbv market value because dpr ratio shows the dividend distribution policy during a certain period. for the most part, banks will distribute dividends when they manage to score high net profits during a certain period and tend not to distribute dividends to public investors when they experience losses in a given year or when there are signals of financial health problems. thus, banks that are able to distribute high dividends and consistently show good financial performance will result in increase in market value. roe has a p-value of less than 0.05. the higher the roe, the higher the pbv. the results of this study are in line with research by saputri and giovanni (2021). the roe value shows the rate of return from net income to the value of business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 232 equity, while the value of equity is one of the indicators in the calculation of the pbv ratio. thus, the relationship between roe and pbv is influenced by the total equity factor in banking. the dbank variable has a p-value of less than 0.05. this shows that the dummy variable used in the study passed the multiple linear regression test because the variable has a positive effect on pbv. h. managerial implication the impact of the strategy to increase lowcost funds by banks is able to increase the book value of the company due to a decrease in the cost of funds. banks can increase casa ratio through increasing savings and current accounts by reducing the composition of time deposits in third party funds (dpk). the increase in casa has proven to be effective in increasing the value of the company. from the investor’s point of view, the increase in casa in banking is a good opportunity for investors to increase their share ownership through purchasing bank shares in the capital market. investors tend to do fundamental analysis before making investment decisions in companies with good financial performance. thus, casa can be an indicator for investors in assessing the financial health of banks. the impact of the strategy to increase profits can result in an increase in the book value of the company. this is because earnings performance has an effect on bank stock prices, while stock prices influence pbv values. in addition, a high level of npm indicates that banks have good profit growth over a period. based on the investor’s point of view, banks with good profit growth tend to have stable financial performance and are able to manage the level of profitability of their companies. therefore, an increase in npm can encourage investors to increase the amount of investment in a bank because npm affects the book value of a bank. therefore, both casa and npm can be used by banks to measure financial performance and can be used as benchmarks for investors in making investment-related decisions. i. research limitation it is a given that this research is still lacking in certain parts due to the limitations of the study. classification of banking data based on core capital can lead to quite extreme scale comparisons. in addition, the phenomenon of the covid-19 pandemic in 2020 is another factor that might result in the volatility of data for the variables. this is shown in the range of minimum and maximum values of the descriptive analysis, which has a considerable distance from the average of similar industries. therefore, a small part of these limitations can affect the results of data processing and interpretation carried out by researchers. d. conclusion the results of data processing show that the independent variable casa has a positive effect on pbv, meaning that h 1 is accepted. this shows that the higher the casa, the higher the pbv market value of banks in the buku ii to buku iv categories for the 2010–2020 periods. in order to increase market value, the strategy of increasing low-cost funds can be applied by other banks and has proven to be quite effective, as shown through empirical evidence from this study. increasing casa can be done by increasing savings and current accounts, thereby reducing the composition of time deposits, which has an impact on lowering funding costs. jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 233 the independent variable npm has a positive effect on pbv, meaning that h 2 is accepted. this shows that the higher the npm, the higher the pbv market value of banks in the buku ii to buku iv categories for the 2010–2020 periods. the strategy of increasing the percentage of net profit can be applied by other banks and has proven to be quite effective in increasing market value. the increase in net profit is also able to encourage an increase in market value. the measurement of market value using pbv ratio indirectly represents bank value. e. references alamsyah, m. f. (2019). pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan dan nilai pasar terhadap harga saham pada sub sektor pertambangan logam dan mineral di bursa efek indonesia (bei). jurnal manajemen, 11 (2), 170–178. http://dx.doi.org/10.29264/ jmmn.v11i2.5747. ambarwati, j. & vitaningrum, m. r. (2021). pengaruh likuiditas dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. competitive jurnal akuntansi dan keuangan, 5 (2), 127–130. http://dx.doi.org/10.31000/competitive. v5i2.4313 apriliana & hendarti, y. (2021). analisis pengaruh rasio keuangan terhadap kinerja keuangan perbankan yang terdaftar di bursa efek indonesia periode tahun 2015–2020. surakarta accounting review (sarev), 3 (2), 121–134. bustani, kurniaty, & widyanti, r. (2021). the effect of earning per share, price to book value, dividend payout ratio, and net profit margin on the stock price in indonesia stock exchange. jurnal maksipreneur: manajemen, koperasi, dan entrepreneurship, 11 (1), 1–18. http://dx.doi.org/ 10.30588/jmp.v11i1.810 cakranegara, p. a. (2020). konvergensi bank buku 3 dan buku 4 gap performa pada bank buku 4. management & accounting expose, 3 (1), 62–70. https://doi.org/10. 36441/mae.v3i1.137 daryanto, w. m., akbar, f., & perdana, f. a. (2020). financial performance analysis in the banking sector: before and after financial technology regulation in indonesia (case study of buku-iv in indonesia for period 2013–2019). international journal of business, economics and law, 21 (2), 1–9. deitiana, t., yap, s., & ersania. (2020). dividend payout ratio dan faktor yang memengaruhinya pada perusahaan makanan dan minuman di bursa efek di indonesia. media bisnis, 12 (2), 119–126. https://doi. org/10.34208/mb.v12i2.916 dewi, m. s., & rianita, n. (2021). analisis pertumbuhan dana pihak ketiga dan pengaruhnya terhadap likuiditas. jurnal artha satya dharma, 14 (1), 52–57. diana, n., & huda, s. (2019). dana pihak ketiga dan pendapatan pembiayaan bagi hasil terhadap laba pada bank umum syariah indonesia. jurnal akuntansi : kajian ilmiah akuntansi, 6 (1), 99–113. http:// dx.doi.org/10.30656/jak.v6i1.915 fathihani. (2020). effect of npm, eps, roe, and pbv on stock prices. dinasti international journal of management science, 1 (6), 893–902. https://doi.org/10.31933/ dijms.v1i6.397 firdaus, i. & rohdiyarti, m. p. (2021). pengaruh harga saham, debt to equity ratio, return on assets, dan sales growth terhadap price to book value (studi pada sektor business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 234 pertanian yang tercatat di bursa efek indonesia periode 2013–2018). dinasti review: jemsi, 3 (1), 35–51. https://doi. org/10.31933/jemsi.v3i1 fitriani, s. z. (2021). pengaruh net profit margin (npm) dan return on asset (roa) terhadap harga saham di perusahaan yang terdaftar di jakarta islamic indeks (jii) (studi di pt semen indonesia tbk). jurnal ekonomi dan keuangan islam, 1 (1), 51– 74. https://doi.org/10.35194/eeki.v1i1. 1137. fitriano, y. & herfianti, m. (2021). analisis pengaruh return on asset (roa), return on equity (roe) dan net profit margin (npm) terhadap harga saham (studi pada perusahaan perbankan yang listed di bursa efek indonesia periode 2015–2018). journal ekombis review, 9 (2), 193–205. https:/ /doi.org/10.37676/ekombis.v9i2.1330. hadi, m., ambarwati, r. d., & haniyah, r. (2021). pengaruh return on asset, return on equity, net interest margin, net profit margin, earning per share dan net income terhadap stock price sektor perbankan tahun 2016–2020. jmbi unsrat: jurnal ilmiah manajemen bisnis dan inovasi, 8 (3), 770–792. https://doi.org/ 10.35794/jmbi.v8i3.36743. handayani, w. & arif, e. m. (2021). pengaruh price earning ratio (per), debt to equity ratio (der),net profit margin (npm) dan total assets turnover (tato) terhadap harga saham pada pt unilever indonesia tbk. periode 2011–2018. jurnal manajemen fe-ub, 9 (2), 72–91. hasanudin. (2022). the impact of the price earnings ratio (per), the debt to equity ratio (der), and the dividend payout ratio (dpr) on the price book value (pbv) of trading companies listed on the indonesia stock exchange (idx) from 2015 to 2019. budapest international research and critics institute-journal (bircijournal), 5 (1), 4395–4404. https://doi.org/ 10.33258/birci.v5i1.4148. hisbullah, m. r. (2021). pengaruh profitabilitas terhadap harga saham perusahaan sektor industri barang dan konsumsi di bei tahun 2017–2020. jurnal ilmu manajemen, 9 (2), 794–803. https://doi.org/10.26740/ jim.v9n2.p794–803. iman, c., fitri, n. s., & pujiati, n. (2021). pengaruh likuiditas dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. perspektif: jurnal ekonomi & manajemen universitas bina sarana informatika, 19 (2), 191–198. https://doi.org/10.31294/jp.v17i2. indrajaya, d., astuti, m., maulidizen, a., & kurniawan, n. (2021). the effect of third-party funds, capital adequacy ratio, casa ratio, bi rate, and inflation towards the distribution of credit banking in indonesia. international journal of economics development research, 2 (2), 171–185. https://doi.org/10.37385/ijedr. v2i3.282. ismayana, p., astuty, w., & rambe, m. f. (2021). pengaruh current ratio, debt to equity ratio dan return on equity terhadap price earning ratio dengan price to book value sebagai variabel intervening. jurnal akmami (akutansi, manajemen, ekonomi), 2 (2), 300–313. jamhuriah, & nurhayati. (2021). pengaruh dana pihak ketiga terhadap laba bersih pada pt. bank negara indonesia (persero), tbk. jurnal disrupsi bisnis, 4 (4), 342-353. http:/ /dx.doi.org/10.32493/drb.v4i4.10949. khairunnisa, j., marpaung, m., & nasution, a. w. (2020). strategi peningkatan “casa” dalam menurunkan pricing dana di bank jennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 235 syariah. jurnal bilal (bisnis ekonomi halal), 1 (1), 25–34. kharouf, h., lund, d. j., krallman, a., & pullig, c. (2020). a signaling theory approach to relationship recovery. european journal of marketing, 54 (9), 2139– 2170. https://doi.org/10.1108/ejm-102019-0751. kohardinata, c., suhardianto, n., & tjahjadi, b. (2020). peer-to-peer lending platform: from substitution to complementary for rural banks. business: theory and practice, 21 (2), 713–722. https://doi.org/ 10.3846/btp.2020.12606. kurnia, n. w., & ariyani, v. (2021). pengaruh return on equity, dividend payout ratio dan price earning ratio terhadap nilai perusahaan pada perusahaan industri manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia periode tahun 2017–2018. jurnal riset manajemen dan akuntansi, 9 (1), 64–75. martini, r. s. & siddi, p. (2021). pengaruh return on assets, debt to equity ratio, total assets turnover, net profit margin, dan kepemilikan manajerial terhadap pertumbuhan laba. akuntabel: jurnal akuntansi dan keuangan, 18 (1), 99–109. http:/ /dx.doi.org/10.29264/jakt.v18i1.8741. megamawarni & pratiwi, a. (2021). pengaruh rasio keuangan dan pertumbuhan perusahaan terhadap dividend payout ratio (dpr) dan implikasinya pada harga saham perusahaan perbankan yang listing di bursa efek indonesia (bei). jurnal maksipreneur: manajemen, koperasi, dan entrepreneurship, 11 (1), 47–68. http://dx.doi. org/10.30588/jmp.v11i1.829. meiryani. (2021, august 12). memahami analisis regresi linear berganda. retrieved march 10, 2022, from accounting binus: https:/ / a c c o u n t i n g . b i n u s . a c . i d / 2 0 2 1 / 0 8 / 1 2 / m e m a h a m i a n a l i s i s r e g r e s i l i n e a r berganda/. nainggolan, r. (2020). efisiensi teknis bank di indonesia: kelompok buku i–iv. jurnal muara ilmu ekonomi dan bisnis, 4 (2), 274–284. https://doi.org/10.24912/ jmieb.v4i2.7988. ningsih, s. & sari, s. p. (2019). analysis of the effect of liquidity ratios, solvability ratios and profitability ratios on firm value go public companies in the automotive and component sectors. international journal of economics, business and accounting research (ijebar), 3 (4), 351– 359. otoritas jasa keuangan. (2020). statistik perbankan indonesia. jakarta: otoritas jasa keuangan ri, 19 (1), 46. oktavia, y. & kalsum, u. (2021). pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan di bei. jurnal ilmu manajemen, 11 (1), 39–52. https://doi.org/10.32502/ jimn.v11i1.3137. rahmani, n. a. (2020). pengaruh roa (return on asset), roe (return on equity), npm (net profit margin), gpm (gross profit margin) dan eps (earning per share) terhadap harga saham dan pertumbuhan laba pada bank yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2014–2018. human falah: jurnal ekonomi dan bisnis islam, 7 (1), 103–116. rais, w. p., yustika, n. f., & darmawan, a. a. (2021). kontribusi profitabilitas terhadap pertumbuhan laba pt bank rakyat indonesia (persero), tbk. jurnal ekonomi dan bisnis, 8 (2), 122–130. https://doi.org/10. 34308/eqien.v8i2.240. business and finance journal, volume 7, no. 2, october 2022 236 saputri, c. k. & giovanni, a. (2021). pengaruh profitabilitas, pertumbuhan perusahaan, dan likuiditas terhadap nilai perusahaan. journal of management studies, 15 (1), 90–108. https://doi.org/10.21107/kompetensi.v15i1.10563. sari, m. & jufrizen. (2019). pengaruh price earning ratio dan return on asset terhadap price to book value. jurnal krisna: kumpulan riset akuntansi, 10 (2), 196– 203. sari, b. p. & muslihat, a. (2021). pengaruh earning per share, ukuran perusahaan, dan net profit margin terhadap price to book value pada perusahaan pertambangan batubara yang terdaftar di bei tahun 2012–2019. jurnal krisna: kumpulan riset akuntansi, 12 (2), 218–224. setiadi, k. r. & suhartoko, y. (2021). analisis pengaruh indikator penilaian tingkat kesehatan bank berbasis risiko terhadap nilai market share pada bank buku iv di indonesia periode 2009–2019. jurnal manajemen, 18 (1), 1–92. https://doi.org/10. 25170/jm.v18i1.1689. siahaan, r., alexander, s. w., & pusung, r. j. (2021). pengaruh kepemilikan manajerial, firm size, and size of the board of directors toward the potential of financial distress in transportation companies on indonesia stock exchange. jurnal emba, 9 (3), 675–684. https://doi.org/10.35794/ emba.v9i3.34979. sihotang, e. t., puspasari, i. d., & kurnia, a. u. (2020). evaluasi rasio keuangan pada kategori buku 3. jurnal manajemen dan keuangan, 9 (2), 187–205. https://doi.org/ 10.33059/jmk.v9i2.2615. siregar, o. k. & dani, r. (2019). pengaruh deviden yield dan price earning ratio terhadap return saham di bursa efek indonesia tahun 2016 sub-sektor industri otomotif. jurnal akuntansi bisnis dan publik, 9 (2), 60–77. triyanti, n. & susila, g. p. (2021). pengaruh npm, roa dan eps terhadap harga saham pada perusahaan sub sektor perbankan di bei. jurnal ilmiah mahasiswa akuntansi, 12 (2), 635–646. http:// dx.doi.org/10.23887/jimat.v12i2.32730. widiantari, k. s. & iswara, k. a. (2021). pengaruh current account saving account (casa), loan to deposit ratio (ldr), dan net performing loan (npl) terhadap laba bersih perusahaan perbankan yang terdaftar di bei periode 2016–2020. jurnal ilmiah akuntansi dan bisnis, 6 (2), 76–89. https://doi.org/10.38043/jiab.v6i2.3236. wijanarko, g. h. (2022). pengaruh eps, per, dan pbv terhadap harga saham perbankan di bei tahun 2017–2019. jurnal ilmiah indonesia, 7 (1), 1244–1253. wijaya, r. (2019). analisis perkembangan return on assets (roa) dan return on equity (roe) untuk mengukur kinerja keuangan. jurnal ilmu manajemen, 9 (1), 40–51. https://doi.org/10.32502/jimn.v9i1. 2115. worotikan, e. r., koleangan, r. a., & sepang, j. l. (2021). pengaruh current ratio (cr), debt to equity ratio (der), return on asset (roa) dan return on equity (roe) terhadap return saham pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di bursa efek indonesia pada tahun 2014– 2018. jurnal emba: jurnal riset ekonomi, manajemen, bisnis, dan akuntansi, 9 (3), 1296–1305. https://doi.org/10.35794/ emba.v9i3.35518. wulandari, b., albert, harianto, f., & sovi. (2021). pengaruh der, roe, sg, npm, cr, dpr terhadap nilai perusahaan sekjennifer, wirawan endro dwi radianto, cliff kohardinata, determinant effect of casa and npm on market ratio of banks listed in idx 237 tor industri yang terdaftar di bei. owner: riset & jurnal akuntansi, 5 (1), 96–106. https://doi.org/10.33395/owner.v5i1.326. yasar, b., martin, t., & kiessling, t. (2020). an empirical test of signaling theory. management research review, 43 (11), 1309– 1335. http://dx.doi.org/10.1108/mrr-082019-0338. www.cnbcindonesia.com diakses pada 17 maret 2022. www.cnnindonesia.com diakses pada 09 maret 2022. www.idx.co.id diakses pada 09 maret 2022. www.ojk.go.id diakses pada 08 april 2022. 01 dafazal saffan.pmd liliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 3333 kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis liliani1, jessy wiliana2 internasional business management, universitas ciputra e-mail: 1liliani@ciputra.ac.id, 2jessy.wiliana99@gmail.com abstract: this study aims to explore the extent to which the smes are capable to develop dynamic capabilities to actively response changes of the environment. exploration is conducted to smes in surabaya engaged in food and beverage in order to capture the dynamics of the business environment and the ability of the smes relevant to dynamic capabilities. three capabilities, namely adaptive, absorptive and innovative capabilities will be used to represent the elements of dynamic capabilities. this study uses qualitative descriptive approach to illustrate the abilities of smes in facing dynamic environment. data collection uses semi-structured interview to four informants, who are chosen using purposive sampling method. the informants must meet all criteria set in this study to ensure their competence to explain smes operational activities, strategies and business environment. the results of this study shows that the smes have engaged in business activities related to adaptive, absorptive and innovative capabilities, but the activities are not managed comprehensively nor continuously. this study amplify important points of consideration to develop dynamic capabilities in smes. keywords: dynamic capabilities, adaptive, absorptive, innovative, knowledge management pendahuluan keberadaan usaha mikro, kecil dan menengah (umkm) memiliki peranan penting dalam menunjang perekonomian di indonesia. umkm merupakan salah satu sektor riil yang memiliki kontribusi signifikan dalam penyerapan tenaga kerja (hafni & rozali, 2017). sampai dengan awal tahun 2017, umkm mampu menyerap tenaga kerja sebesar 96.71% serta berkontribusi sebesar lebih dari 60% terhadap pdb indonesia (muharram, 2017). berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mendukung munculnya umkm baru maupun mengembangkan umkm yang sudah ada (purwanti, 2012), di antaranya melalui program peningkatan daya saing umkm yang diprioritaskan pada peningkatan kualitas produk, pengembangan keterampilan usaha, kewirausahaan dan pemberian fasilitas pembiayaan, kemudahan regulasi dan kemitraan (muharram, 2017). pertumbuhan umkm yang optimal bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun para pelaku umkm pun harus memiliki inisiatif untuk berkembang secara mandiri. tingginya persaingan menjadi tantangan tersendiri bagi umkm untuk berkembang. banyaknya pemain dalam suatu industri yang berusaha memberikan berbagai penawaran pada akhirnya menyebabkan sumber daya dan produk yang ditawarkan menjadi relatif sama. demikian pula perubahan lingkungan bisnis yang dinamis mengakibatkan sumber daya dan kapabilitas unggulan yang ditawarkan menjadi usang. lingkungan eksternal perusahaan yang cepat berubah telah menjadi bagian dari realitas bisnis masa kini yang tidak dapat dihindari. hal ini dipicu oleh kecepatan informasi, kurva belajar yang lebih pendek untuk menemukan inovasi atau teknologi terbaru, perubahan faktor sosial ekonomi politik yang sulit diprediksi (kristinawati, jann, & tjakraatmadja, 2017). business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 34 umkm perlu meningkatkan kemampuan untuk bersaing yang lebih mengutamakan kemandirian sebagai bisnis murni (sri, strategi, & susilo, 2010). beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan kewirausahaan pemilik umkm untuk menjalankan usaha dengan kreatif dan inovatif (rosenbusch, brinckmann, & bausch, 2011; setyanto, samodra, & pratama, 2016), serta mengembangkan kapabilitas untuk menghadapi perubahan dan ketidakpastian lingkungan bisnis. dalam hal ini, kapabilitas merupakan serangkaian perilaku dan kemampuan yang dipelajari, terpola, dijalankan secara repetitif yang memungkinkan sebuah organisasi mampu menghasilkan performa yang lebih baik dibandingkan pesaingnya (winter, 2003). kapabilitas dinamis menjadi pendekatan yang paling sesuai dengan lingkungan persaingan yang semakin dinamis (teece et al., 1997; wang dan ahmed, 2007). kapabilitas dinamis merupakan pola pikir terus mengintegrasikan, mengonfigurasi ulang, memperbarui dan menciptakan kembali kemampuan inti dalam menanggapi lingkungan yang terus berubah untuk mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif (wang & ahmed, 2007). menurut wang & ahmed (2007), kapabilitas dinamis dibangun melalui pengembangan tiga kapabilitas, yaitu: adaptif, absortif dan inovatif. banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa kapabilitas dinamis membantu umkm untuk mempertahankan dan menciptakan kembali keunggulan kompetitif agar menjadi keunggulan kompetitif berkelanjutan yang berdasarkan lingkungan yang dinamis (nedzinskas, pundzienë, buoþiûtë-rafanavièienë, & pilkienë, 2013; wilhelm, schlömer, & maurer, 2015). penelitian ini bertujuan mengeksplorasi sejauh mana potensi umkm dalam mengembangkan kapabilitas dinamis. eksplorasi secara khusus dilakukan pada umkm di surabaya yang bergerak di bidang makanan dan minuman. hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan luasnya lingkup penelitian, sehingga perlu adanya batasan ruang lingkup, selain itu, lingkungan bisnis dan kemampuan umkm yang memungkinkan peneliti dapat memperoleh data di lapangan yang relevan untuk menggambarkan kapabilitas dinamis umkm. industri makanan dan minuman di indonesia saat ini adalah salah satu sektor yang penting dalam perekonomian di indonesia. data kementerian perindustrian menyebutkan, pada triwulan i tahun 2016, industri makanan dan minuman memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (pdb) sebesar rp136,57 triliun atau memberikan kontribusi sebesar 31,4% terhadap pdb industri pengolahan non-migas (julianto, 2016). umkm makanan kelompok fast moving enterprise yaitu umkm yang mempunyai kemampuan kewirausahaan yang cakap dan telah siap bertransformasi menjadi usaha yang lebih besar (bank indonesia & lppi, 2015). surabaya sebagai kota metropolitan kedua di indonesia menyediakan peluang dan iklim usaha yang baik. berdasarkan data peringkat izin usaha pmdn kota surabaya pada tahun 2017, pemberian izin usaha sektor makanan di surabaya menduduki peringkat tertinggi dibanding sektor lain, yaitu sebesar 77,95%, dengan nilai investasi mendekati rp 1,3 miliar (dinas penanaman modal & ptsp kota surabaya, 2017). hal ini menunjukkan banyaknya pemain di bisnis makanan, termasuk masuknya pemain baru. selain itu, lingkungan bisnis yang dinamis, preferensi konsumen dan gaya hidup masyarakat yang cepat berubah menciptakan pasar yang dinamis yang mengharuskan pelaku bisnis memiliki kapabilitas dinamis untuk bertahan di situasi pasar yang selalu berubah. liliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 35 berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini difokuskan untuk menggali potensi pengembangan umkm yang bergerak di sektor makanan, di surabaya dalam merespons perubahan lingkungan bisnis, ditinjau dari perspektif kapabilitas dinamis. rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan umkm sektor makanan di surabaya dalam merespons perubahan lingkungan bisnis? hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pelaku umkm, wirausaha, lembaga pengembangan umkm dan menambah kajian terkait teori kapabilitas dinamis, manajemen usaha kecil dan inovasi. kajian literatur kapabilitas dinamis istilah kapabilitas menekankan aturan kunci dari manajemen dalam beradaptasi, mengintegrasi, dan merekonfigurasi secara tepat keterampilan-keterampilan internal dan eksternal organisasi, sumber daya, dan kompetensi fungsional untuk menyesuaikan dengan persyaratan perubahan lingkungan. istilah dinamis menunjukkan kapasitas untuk memperbarui kompetensi-kompetensi untuk mencapai kesesuaian dengan perubahan lingkungan bisnis; tanggapan tertentu diperlukan ketika laju perubahan teknologi cepat, dan kompetisi mendatang dan kondisi pasar sulit ditentukan (sriwidadi, 2014). konsep kapabilitas dinamis dikembangkan secara eksplisit dalam suatu studi oleh teece, et al. (1997), yaitu kumpulan sumber daya, mekanisme di mana perusahaan melakukan pembelajaran dan mengakumulasi keterampilan dan kemampuan untuk mengintegrasi, membangun, dan merekonfigurasi kompetensi-kompetensi internal dan eksternal untuk menghadapi perubahan lingkungan yang cepat. kapabilitas dinamis memiliki dimensi-dimensi pengindraan (sensing) kebutuhan untuk berubah, pembelajaran (learning) bagaimana menanggapi peluang dan ancaman dan pencapaian rekonfigurasi (reconfiguring) (teece, 2007). kapabilitas dinamis merupakan kebiasaan orientasi perusahaan yang secara konstan mengintegrasi, rekonfigurasi, memperbarui dan membangun kembali sumber daya dan kemampuan inti dalam merespons lingkungan yang berubah untuk mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif (wang & ahmed, 2007). menurut wang & ahmed (2007) untuk memiliki kapabilitas dinamis, perusahaan harus memiliki tiga kemampuan yaitu adaptif, absorptif, dan innovatif. a. kapabilitas adaptif kapabilitas adaptif adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengapitalisasi peluang yang muncul dari pasar dan dapat diukur dari kemampuan untuk merespons peluang, memonitor pasar, pelanggan dan pesaing, serta mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan pemasaran (hofer, niehoff, & wuehrer, 2015; sriwidadi, 2015). kapabilitas adaptif membuat perusahaan mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dan menyelaraskan sumber daya internal dengan permintaan eksternal yang penting untuk kelangsungan hidup serta evolusi perusahaan (wang & ahmed, 2007). perusahaan yang memiliki tingkat adaptif tinggi juga menunjukkan kemampuan dinamis (teece, pisano, & shuen, 1997). b. kapabilitas absorptif kapabilitas absorptif didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk mengenali nilai business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 36 pengetahuan yang baru diakuisisi atau diasimilasi (s. zahra & george, 2002). hal ini dilakukan dengan menambah atau menghapus pengetahuan atau hanya dengan menafsirkan pengetahuan yang sama dengan cara yang berbeda. eksploitasi merupakan kemampuan organisasi didasarkan pada rutinitas yang memungkinkan perusahaan untuk memperbaiki, memperluas, dan memanfaatkan kompetensi yang ada atau menciptakan yang baru dengan menggabungkan pengetahuan yang diperoleh dan ditransformasikan ke dalam operasinya (s. zahra & george, 2002). penekanan eksploitasi adalah pada rutinitas yang memungkinkan perusahaan mengeksploitasi pengetahuan, meskipun tidak tertutup kemungkinan perusahaan mungkin bisa memanfaatkan pengetahuan secara kebetulan, tanpa rutinitas yang sistematis. c. kapabilitas inovatif kapabilitas inovatif merupakan kemampuan untuk mengembangkan produk atau pasar baru, melalui penyelarasan orientasi inovatif strategis dengan perilaku inovatif dan proses (wang & ahmed, 2004). kapabilitas inovatif diukur dari jumlah inovasi produk atau jasa, inovasi proses, menemukan solusi permasalahan, pasar baru, sumber pasokan baru dan mengembangkan bentuk organisasi baru (wang & ahmed, 2007). kapabilitas inovatif dapat dijabarkan ke dalam dimensi inovasi produk atau layanan baru, metode produksi atau, pengambilan risiko oleh para eksekutif, dan mencari solusi baru yang tidak biasa (hofer, niehoff, & wuehrer, 2015). metodologi penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan dan baru, informasi eksternal, mengasimilasi, dan mengaplikasikan ke tujuan komersial. kapabilitas ini dapat dilihat dari kemampuan untuk mengevaluasi dan menggunakan pengetahuan dari luar organisasi, seperti intensitas kegiatan penelitian dan pengembangan. (wang & ahmed, 2007). perusahaan dengan kemampuan penyerapan yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan belajar yang lebih kuat dari mitra usahanya, mengintegrasikan informasi eksternal dan mengubahnya menjadi pengetahuan tertanam perusahaan. kapabilitas absorptif bersifat multidimensi dan terdiri dari empat faktor pengetahuan: akuisisi, asimilasi, transformasi, dan eksploitasi (s. zahra & george, 2002). akuisisi mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi dan memperoleh pengetahuan dari eksternal untuk mendukung kegiatan operasional (s. zahra & george, 2002). arah akuisisi dapat memengaruhi jalur yang diikuti perusahaan dalam memperoleh pengetahuan eksternal, sementara intensitas dan kecepatan usaha perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan pengetahuan dapat menentukan kualitas kemampuan akuisisi perusahaan. asimilasi mengacu pada rutinitas dan proses perusahaan yang memungkinkannya menganalisis, memproses, menafsirkan, dan memahami informasi yang diperoleh dari sumber eksternal (s. zahra & george, 2002). pengetahuan eksternal juga bersifat konteks, yang seringkali mencegah orang luar untuk tidak memahami atau mereplikasi pengetahuan. pemahaman sangat sulit bila nilai pengetahuan bergantung pada keberadaan aset pelengkap yang mungkin tidak tersedia bagi perusahaan lain. transformasi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengembangkan dan menyempurnakan rutinitas yang memfasilitasi penggabungan pengetahuan yang sudah ada dengan liliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 37 menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi pemikiran orang secara individual maupun kelompok (syaodih, metode penelitian pendidikan, 2013). dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lengkap dan menyeluruh mengenai kemampuan umkm dalam menghadapi lingkungan yang dinamis. informan yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan mempertimbangkan pengetahuan dan pemahaman informan untuk menggambarkan situasi yang sebenarnya mengenai objek penelitian (bungin, 2015). dalam penelitian kualitatif, tidak ditentukan jumlah sampel yang ideal untuk setiap penelitian, namun 4 sampai 10 dapat dikatakan jumlah yang ideal (eisenhardt, 1989). informan dalam penelitian ini terdiri pemilik dan pengelola dari 4 umkm makanan di surabaya yang dipilih dengan menggunakan sampel purposif. informan harus memahami dan mampu menjelaskan mengenai kondisi internal, lingkungan eksternal umkm dan memaparkan kemampuan umkm dalam menghadapi perubahan lingkungannya. oleh karena itu, kriteria pemilihan informan ditetapkan sebagai berikut: informan adalah pemilik atau pengelola umkm dengan pengalaman minimal 3 tahun mengelola dan mengetahui tentang umkm yang diteliti. informan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai innovative, absorptive, adaptive capability dari umkm yang diteliti. umkm yang diteliti adalah umkm yang mempunyai kemampuan kewirausahaan yang cakap dan telah siap bertransformasi menjadi usaha yang lebih besar, memiliki manajemen dan organisasi yang baik, dengan pembagian tugas yang jelas seperti bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi, memisahkan keuangan perusahaan dengan keuangan keluarga, telah memiliki persyaratan legalitas antara lain izin usaha, npwp, beroperasi lebih dari 5 tahun. umkm yang memenuhi kriteria ini diharapkan dapat menggambarkan kemampuan dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis. pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi struktur agar dapat menggali permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya (sugiyono, 2015). wawancara dilakukan menggunakan pedoman wawancara disusun sedemikian rupa sehingga memiliki alur pertanyaan yang dimulai dari hal-hal yang mudah dijawab responden lalu mengerucut pada hal yang lebih kompleks (bungin, 2015). untuk memperoleh keabsahan data dan menghindari bias, maka peneliti menggunakan member checking. metode ini memungkinkan peneliti untuk mengontrol kualitas penelitian kualitatif, memperbaiki akurasi, kredibilitas, reabilitas dan validitas data wawancara (harper & cole, 2012). penelitian ini menggunakan teknik deskriptif untuk analisis data yang dilakukan dengan tahapan reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan (sugiyono, 2015). reduksi data dilakukan dengan merangkum, memfokuskan pada hal-hal yang dianggap penting, mencari tema dan pola yang menggambarkan kapabilitas adaptif, absorptif dan inovatif. penyajian data menggunakan uraian deskriptif atas hasil wawancara yang sudah diolah dan diringkas untuk menjawab rumusan masalah. tahap terakhir dalam analisis data adalah dengan menarik kesimpulan atau melakukan verifikasi terhadap temuan yang menjawab rumusan masalah. pembahasan penelitian dilakukan pada empat umkm makanan yang berlokasi di surabaya dan telah business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 38 memenuhi kriteria yang ditetapkan, yaitu wei xiao, wisata rasa, katering & depot 88 dan gudeg putri bu har. paragraf berikut ini menjelaskan gambaran umum masing-masing umkm. wei xiao didirikan pada tahun 2012 oleh jennifer smith yang memiliki latar belakang pendidikan bisnis manajemen. wei xiao adalah restoran chinese fast food yang telah memiliki 3 cabang yaitu di loop graha family, uc walk citraland dan sekolah cita hati surabaya. wei xiao memilih target pasar anak muda dengan fokus pada masakan chinese food yang disesuaikan dengan kebutuhan dan selera anak muda sekarang dengan penyajian yang cepat. wisata rasa adalah toko oleh-oleh khas surabaya berdiri pada tahun 2004. wisata rasa merupakan toko oleh-oleh yang berkonsep modern dan nyaman dan saat ini telah memiliki 5 gerai di kota surabaya, 1 cabang di kota sidoarjo dan 1 cabang di kota malang. toko wisata rasa menjadi destinasi belanja camilan dan oleholeh khas daerah baik bagi penduduk kota surabaya maupun bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota surabaya. katering 88 berdiri pada tahun 1995 dan mulai membuka depot 2 tahun setelahnya. target konsumen katering & depot 88 adalah keluarga, khususnya masyarakat keturunan tionghoa. makanan yang dijual bercita rasa chinese food dan mengandung babi dengan porsi makanan cukup besar sehingga cocok untuk dinikmati bersama keluarga. menu andalan mereka adalah udang tauco dan ayam goreng 88. gudeg bu har berdiri dari generasi pertama pada tahun 1970 dan saat ini gudeg bu har berganti nama menjadi gudeg putri bu har karena sudah dikelola oleh putri bu har yaitu bu hardi. saat ini, gudeg putri bu har sudah menjalankan usahanya sampai generasi ketiga. target konsumen gudeg putri bu har adalah warga kota surabaya yang berpenghasilan menengah. diskusi bagian ini akan menguraikan kemampuan umkm dalam merespons perubahan lingkungan eksternalnya dengan mengacu pada tiga elemen kapabilitas dinamis, yaitu kapabilitas adaptif, absorptif dan inovatif. selanjutnya akan diuraikan bagaimana ketiga elemen tersebut membentuk kapabilitas dinamis yang memungkinkan umkm merespons perubahan lingkungan dengan baik. bagian terakhir dari pembahasan akan menjelaskan implikasi penelitian ini bagi upaya pengembangan umkm, khususnya dalam merespons perubahan lingkungan. 1. kapabilitas adaptif dari hasil pengamatan dan wawancara, umkm makanan di surabaya dapat merespons peluang, memonitor pasar, memindai konsumen serta pesaing. pemilik umkm dapat mengidentifikasi pasar agar usaha mereka dapat diterima oleh konsumen. tindakan pemilik/pengelola umkm dalam merespons peluang disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. hal ini membuat umkm dapat memasarkan produk dengan baik karena menawarkan nilai lebih. berikut ini kutipan wawancara dengan informan: “...jadi aku tau banget target pasarku siapa, aku tau banget apa nama ne eee daya beli mereka gimana.. aku mencoba dari yang paling dekat dulu yaitu lingkunganku…” (js-3). “eee kita toko oleh-oleh pertama yang membranding khas surabaya. dulu itu semuanya branding khas jawa timur.. lha yang lain pemain lain pada mulai ikutan... wisata rasa kan outlet-nya banyak jadi mempermudah visitor-visitor surabaya itu buat ndapetin oleh-oleh…” (bm-21, 37). liliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 39 kegiatan mencari peluang baru, evaluasi pasar dan pesaing, dilakukan sebatas pada saat dibutuhkan, yaitu pada saat akan membuka usaha, membuka cabang baru dan hanya berfokus membidik peluang dan pasar yang sama dari awal memulai perusahaan. sebagai contoh, gudeg putri bu har melihat peluang pasar di mana pada awal membuka usaha belum ada gudeg yang sesuai dengan lidah orang surabaya dan berbeda dengan gudeg jogja. “... usaha ibu ini spesialis masakan gudeg tapi yang sesuai dengan lidah anak suroboyo ga terlalu manis kaya gudegnya orang jogja lalu kuahnya cukup kental... (bh-2)”. umkm belum melakukan aktivitas tersebut sebagai aktivitas rutin yang menjadi budaya perusahaan dan belum membidik peluang lain yang ada di pasar. padahal kapabilitas adaptif tidak hanya dilakukan apabila dibutuhkan karena perubahan lingkungan, namun idealnya tertanam dalam proses di perusahaan (wang & ahmed, 2007). namun, ada satu umkm, yaitu depot & katering 88 yang memonitor pasar dan mulai mengalokasikan sumber daya mereka untuk menjawab peluang dari target konsumen generasi muda dengan membuka cafe yang berbeda dari target konsumen lama mereka. hal ini menunjukkan bahwa umkm mampu mengembangkan kapabilitas adaptif dengan mulai memberikan fokus pada target pasar lain, mengeksploitasi dan mengeksplorasi sumber daya lain untuk memajukan perusahaan (wang & ahmed, 2007). data yang diperoleh di lapangan menunjukkan evolusi organisasi pada umkm belum tampak perbedaan yang signifikan dibanding saat didirikan. umkm tersebut juga belum memiliki aset perusahaan seperti aset organisasi, pemasaran dan teknis yang memiliki efek positif yang kuat terhadap strategi perusahaan. strategi yang dimaksud seperti diferensiasi inovatif, pemasaran dan biaya rendah dinilai kurang sehingga sumber daya yang ada tidak menghasilkan strategi pengembangan yang lebih kompleks dan menguntungkan perusahaan amit & schoemaker, 1993; spanos & lioukas, 2001(dalam wang & ahmed, 2007). pengembangan kemampuan yang berkelanjutan juga kurang pada umkm yang diteliti dikarenakan kurangnya fokus umkm pada strategi jangka panjang perusahaan. padahal fokus pada pengembangan strategi perusahaan dapat membangun kemampuan perusahaan dalam memantau konsumen, pasar dan pengembangan knowledge based yaitu sumber daya non fisik seperti kompetensi, teknologi, pengetahuan, keterampilan, pengalaman perusahaan yang menjadi faktor krusial untuk unggul dari kompetitor dalam sumber daya (tjakaraatmadja & kristinawati, 2017). umkm yang diteliti berperan sebagai reaktor dan analisator. menurut miles & snow, 1978 (dalam wang & ahmed, 2007), reaktor adalah perusahaan yang tidak memiliki proses internal untuk mengidentifikasi dan merespons peluang pasar, sedangkan analisator adalah perusahaan yang menunjukkan beberapa kemampuan beradaptasi, walaupun mereka cenderung tetap berada di pasar produk yang relatif stabil, mereka memantau perubahan pasar dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengejar peluang baru. kapabilitas adaptif sebaiknya diarahkan kepada peran sebagai prospectors, di mana perusahaan terus mencari peluang pasar, produk baru, dan saat mereka mengembangkan, mereka mempertahankan kemampuan untuk mengejar peluang. berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, dapat dilihat bahwa umkm memang belum memiliki kapabilitas adaptif yang tinggi. dampak untuk umkm yang tidak memiliki kapabilitas adaptif yang tinggi adalah tidak ada business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 40 nya penyerapan pengetahuan dari luar perusahaan. umkm belum melakukan asimilasi dan transformasi. hal ini tampak dari data yang diperoleh, yaitu umkm belum secara rutin memproses informasi yang diperoleh dari sumber eksternal, belum optimal mengembangkan dan menyempurnakan pengetahuan menjadi aset yang sulit direplikasi oleh kompetitor (zahra, 2002). kemampuan belajar yang kurang menghambat tumbuhnya pengetahuan sebagai aset perusahaan (tseng & lee, 2014) dan pada akhirnya tidak menghasilkan peningkatan kinerja maupun pengembangan perusahaan yang berarti (zahra & george, 2002; wang & ahmed, 2007). dari hasil wawancara dapat dilihat bahwa pemilik umkm melakukan eksploitasi pengetahuan untuk memperbaiki operasional perusahaan pada batasan meniru kegiatan operasional maupun pengembangan produk kompetitor. sebagai contoh, eksploitasi untuk memperbaiki rutinitas dilakukan umkm wei xiao dengan mengajak para karyawannya untuk mengembangkan rasa memiliki melalui kegiatan outing dan melakukan evaluasi kinerja bulanan. sementara itu, depot & katering 88 melakukan transformasi memperbaiki rutinitas yang ada dengan benar-benar menjaga kebersihan produk yang mereka setelah mengakuisi pengetahuan dari pesaing yang produknya dinilai kurang memuaskan dari segi kebersihan. “...menumbuhkan rasa memiliki mereka terhadap wei xiao dengan kayak aku satu tahun sekali ada outing...” ( js-24, h c-7). “ya aku lah, tapi kalo iri-irian tengkar gitu emang kadang aku selesainya setiap bulan evaluasi bulanan...” (js-53, h c-12). “....kalo yang ikan-ikan atau ayam itu kebersihan harus diperbaiki diperhatikan jangan sampe ada bulu...” (a-40, h c-40)”. eksploitasi belum dilakukan secara optimal karena tidak dilandasi kemampuan asimilasi kemampuan untuk mengeksploitasi dan mengeksplorasi strategi lain serta sumber daya lain untuk memajukan perusahaan (wang & ahmed, 2007). 2. kapabilitas absorptif dari hasil wawancara, ditemukan bahwa umkm tidak memiliki kegiatan khusus yang dilakukan perusahaan untuk belajar pengetahuan potensial dari dalam maupun luar perusahaan. proses akuisisi pengetahuan yang terjadi di wei xiao dan wisata rasa dilakukan melalui pengamatan terhadap pesaing. “...pokoknya kalo ke resto duduk-duduk deket dapur, duduk deket tempat kasir .. jadi aku belajar dari mereka ya’apa caranya...”(js-25) “orang tuaku pernah ngamati 1 toko oleh-oleh ... nah itu tiap liburan employeenya kayak diajak pergi... jadi itu mulai kita tiru itukan bagus untuk meningkatkan loyalty-nya employee.” (bm-81, h c-26 ) dari hasil wawancara, peneliti menemukan kurangnya inisiatif umkm untuk menerapkan pengetahuan dari luar karena informan berpandangan bahwa sistem yang telah berjalan sudah mencukupi untuk menjalankan kegiatan operasional. penyerapan pengetahuan dari luar hanya dilakukan sebagai langkah korektif bila terjadi kekurangan pada sistem yang sudah berjalan, dan belum ada kegiatan yang dikhususkan untuk menambah pengetahuan untuk memajukan perusahaan. kapabilitas absorptif memiliki empat dimensi yaitu akuisisi, asimilasi, transformasi, dan eksploitasi (zahra & george, 2002). dimensidimensi ini saling membangun untuk menghasilkan kapabilitas dinamis yang koheren, yang mendorong perubahan dan evolusi organisasi. saat ini umkm yang diteliti baru memiliki dimensi akuisisi, yang ditunjukkan dengan adaliliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 41 dan transformasi pengetahuan yang memadai. hasilnya adalah setiap perusahaan memiliki persamaan dalam kemampuan namun kuncinya agar dapat lebih unggul dari perusahaan lain adalah keunggulan kompetitif perusahaan dalam identifikasi dan merespons isyarat lingkungan dengan baik sebelum hasil kinerja yang berorientasi, namun perbedaan kinerja muncul dari berbagai jalur perkembangan yang diikuti perusahaan dan waktu penerapan kemampuan (zahra & george, 2002). 3. kapabilitas inovatif inovasi memiliki 5 area utama, yaitu inovasi produk, inovasi pasar, inovasi proses, inovasi kebiasaan, dan inovasi strategis. inovasi produk dan pasar memiliki keterkaitan secara langsung yang berdampak pada eksternal perusahaan sedangkan inovasi proses, kebiasaan dan strategis berhubungan dengan internal perusahaan (wang & ahmed, 2004). dari empat umkm yang diteliti, dua umkm, yaitu wei xiao dan wisata rasa melakukan inovasi produk, proses dan layanan, sementara dua umkm lain hanya melakukan perbaikan pada kegiatan operasional. inovasi yang dilakukan wei xiao berupa variasi produk dan perbaruan produk secara rutin, sedangkan wisata rasa yang memiliki produk camilan khas mengembangkan proses produksi yang lebih efisien. “kalo inovasi ya... sekarang menuku 50 aja lebih jadi aku setiap 6 bulan sekali aku selalu mikirin mau ngasih menu apa buat apa untuk upgrade menuku” (js-34) “ada. khusus almond cheese. ada booth toko oleh-oleh pertama kita di mall yawes di atom itu...” (bm-61) “kalo mau dibilang inovasi gimana ya, ehhm dulu awal-awal produksi itu cuma sehari bisa bikin berapa jadi 1 resep tok... nah papi ku itu dulu bisa nemuin cara supaya produksi produktivitas’e meningkat kayak sekali bikin itu bisa bikin berapa resep sekaligus” (bm-86). pemilik depot & katering 88 dan gudeg putri bu har belum melakukan inovasi tetapi telah melakukan pengembangan produk, administrasi dan berusaha memberikan layanan yang lebih nyaman bagi pelanggan. hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut. “lebih baik ya kalo kaki 5 kan ya orang mau makan pun sulitlah mau parkir mau parkirnya sulit kalo imagenya kan juga beda ya kalo kita buka di ruko kalo di gwalk itu wes parkirnya bagus...” (a-43). “oh ibu beri variasi untuk menyajikan gudeg ibu, gudeg ibu variasikan dengan pecel” (bh-13). “ya sama nik masih sama tidak berubah tapi kita selalu membuat perubahan untuk pelanggan ibu nyaman kembali, seperti ini tempat makannya dulu ini belum pakai ac... dulu juga nota masih tulis tangan sekarang sudah mulai pakai mesin kasir” (bh-6). para pemilik umkm telah mencoba melakukan inovasi dan upaya pengembangan usaha, namun hal tersebut masih perlu dioptimalkan lagi. kapabilitas inovatif perusahaan bergantung pada pengetahuan yang dimilikinya, dan juga kemampuannya untuk menerapkannya (saunila, 2016). hal yang perlu dilakukan adalah lebih memperhatikan fitur penting dari inovasi, antara lain mempertimbangkan sejauh mana produk baru dipandang bermanfaat bagi konsumen, didasari hasil riset pasar, menerapkan metode produksi, manajemen dan teknologi baru, budaya keterbukaan terhadap gagasan dan inovasi baru, mengidentifikasi kesenjangan dalam posisi industri dan mengarahkan sumber daya secara kreatif untuk menangkap peluang jangka panjang (wang & ahmed, 2004). umkm makanan harus membangun kapabilitas inovatif bukan hanya untuk menciptakan pelayanan ataupun produk baru namun juga memperbaiki visi dan strategi perusahaan, mengembangkan bentuk serta kemambusiness and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 42 puan organisasi untuk berubah dan menciptakan nilai tambah yang baru kepada konsumen. dengan demikian, konsumen menjadi loyal dan umkm dapat menciptakan keunggulan kompetitif daripada sekadar membuat produk dan layanan yang dapat mudah ditiru pesaing. 4. merespons perubahan melalui kapabilitas dinamis berkenaan dengan rumusan masalah yang ditetapkan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana kemampuan umkm sektor makanan di surabaya dalam merespons perubahan lingkungan bisnis, maka dapat dilihat bahwa pendekatan kapabilitas dinamis berpotensi membantu umkm mengembangkan sejumlah kemampuan yang penting untuk memiliki keunggulan kompetitif (evers, 2011; newbert, 2005). kapabilitas dinamis penting bagi umkm untuk masuk ke dalam industri, beradaptasi untuk menciptakan pertumbuhan dan menjaga keberlangsungan usaha (shaker a. zahra, sapienza, & davidsson, 2006). kapabilitas dinamis dapat dicapai perusahaan dengan membangun tiga kapabilitas, yaitu adaptif, absorptif dan inovatif, yang berjalan secara seimbang agar perusahaan dapat beradaptasi, mengintegrasi, dan mengonfigurasi secara tepat keterampilan-keterampilan internal dan eksternal organisasi, sumber daya, dan kompetensi fungsional untuk menyesuaikan dengan persyaratan perubahan lingkungan (wang & ahmed, 2007). berdasarkan hasil analisis data, dapat dilihat bahwa umkm yang diteliti memang belum optimal dalam merespons perubahan lingkungan, namun umkm telah menunjukkan kemampuan yang potensial untuk berkembang dengan melakukan perbaikan pada manajemen dan operasional perusahaan. ditinjau dari perspektif kapabilitas adaptif, umkm hanya mengidentifikasi pasar saat membuka, memperluas usaha atau saat merasa membutuhkan. implikasi dari temuan ini adalah umkm perlu kapabilitas adaptif yang tertanam dalam proses internal perusahaan dalam bentuk/ struktur organisasi yang jeli melihat peluang dan pasar, mengontrol strategi, memajukan internal perusahaan untuk menangkap peluang eksternal (wang & ahmed, 2007). ditinjau dari perspektif kapabilitas absorptif, umkm kurang memaksimalkan kemampuan internal perusahaan, belum melakukan kegiatan khusus untuk menyerap pengetahuan dari luar perusahaan. implikasi dari temuan ini adalah umkm harus mempunyai kemauan yang kuat untuk berkembang, pemilik dan pengelola harus secara rutin melakukan kegiatan yang dikhususkan untuk belajar dalam hal apa pun dari luar perusahaan. setelah itu, umkm harus mempraktikkan pengetahuan dari luar untuk mengembangkan perusahaan secara berkelanjutan. kemampuan untuk menyerap pengetahuan dari luar akan mendorong perusahaan memperbaiki kinerja dan menghasilkan inovasi (rufaidah & sutisna, 2015; wang & ahmed, 2007). ditinjau dari perspektif kapabilitas inovatif, saat ini umkm hanya memberi variasi untuk menjawab kejenuhan pasar, cenderung sekadar mengikuti tren. implikasi dari temuan ini adalah umkm harus memiliki fokus menciptakan value jangka panjang pada produk/jasa. kapabilitas inovasi yang baik dapat dibangun dengan memiliki kapabilitas adaptif dan absorptif yang baik (zahra & george, 2002). umkm juga perlu mempunyai orang yang khusus untuk memantau dan menciptakan inovasi pada internal dan eksternal perusahaan, seperti bagian kreatif, bagian pengembangan produk. kapabilitas dinamis merupakan faktor kunci dalam mengoptimalkan arah strategis masa depan perusahaan (teece, 2010). walaupun liliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 43 perusahaan telah menyadari kebutuhan untuk berubah, namun sering kali perusahaan tidak memiliki kemampuan dan sumber daya untuk mengelola perubahan tersebut. para pemilik dan pengelola umkm perlu memperhatikan risiko karena ketidakpastian perubahan pasar dan sumber daya perusahaan (wang & ahmed, 2004; shaker a. zahra et al., 2006). umkm harus memiliki budaya belajar sebagai budaya organisasi karena proses pembelajaran yang berevolusi dapat memperkuat kapabilitas dinamis perusahaan (eisenhardt & martin, 2000; mckelvie & davidsson, 2009; shaker a. zahra et al., 2006). simpulan berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bagaimana kemampuan umkm sektor makanan di surabaya dalam merespons perubahan lingkungan bisnis dengan menggunakan pendekatan kapabilitas dinamis. dari ketiga elemen kapabilitas dinamis, yaitu kapabilitas adaptif, absorptif dan inovatif, umkm telah melakukan aktivitas bisnis yang terkait dengan kapabilitas tersebut, namun aktivitas tersebut belum dikelola dengan baik dan terus-menerus. umkm dapat melihat lalu merespons perubahan melalui imitasi dan perbaikan berorientasi pada tujuan taktis jangka pendek. dengan demikian, dapat dikatakan bahwa umkm belum memiliki kapabilitas dinamis secara menyeluruh. dari hasil penelitian ini, disarankan bagi umkm untuk membangun kapabilitas dinamis melalui kapabilitas adaptif, absorptif, dan inovatif. kemampuan kunci untuk membangun kapabilitas dinamis adalah kemampuan belajar. umkm perlu mengelola pembelajaran menjadi budaya organisasi, membangun knowledge base sebagai aset perusahaan. pada akhirnya umkm perlu mengembangkan visi dan strategi jangka panjang, kemudian menggunakan knowledge base untuk memperbaiki kinerja, menghasilkan inovasi dan menciptakan keunggulan mampu berevolusi selaras dengan perubahan. penelitian ini menggambarkan kapabilitas dinamis melalui wawancara dan pengamatan di empat umkm bidang makanan di surabaya. oleh karenanya, penelitian ini memiliki keterbatasan, di mana hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan untuk umkm lain atau pada lingkup objek penelitian yang lebih luas. bagi penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan penelitian terkait kapabilitas dinamis pada lingkup penelitian yang lebih luas. beberapa topik yang dapat diteliti antara lain implementasi kapabilitas dinamis dengan memperhatikan kapabilitas operasional perusahaan, membandingkan kapabilitas dinamis pada skala usaha atau industri yang berbeda serta mengembangkan rumusan untuk membangun kapabilitas dinamis bagi perusahaan di indonesia. referensi amit, r. & schoemaker, p.j. 1993. strategic assets and organizational rent. strategic management journal, 14(1), 33–46. bungin, b. 2015. metodologi penelitian sosial & ekonomi. jakarta: prenadamedia group. bank indonesia. 2015. profil bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (umkm). jakarta. dinas penanaman modal & ptsp kota surabaya. 2017. peringkat izin usaha pmdn berdasarkan sektor pada tahun 2017 kota surabaya. http://dpm-ptsp.surabaya.go.id/ data_ investasi/pmapmdn/hasil1.php?jns=realisasi_investasi&data=pmdn&th=2017&kat= sektor&tri=semua diakses 20 desember 2017. eisenhardt, k.m. (1989). building theories from case study research. acadbusiness and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 44 emy of management review, 14 src-(4), 532–550. eisenhardt, k.m. & martin, j.a. 2000. dynamic capabilities: what are they? strategic management journal, 21(10/11), 1105–1121. evers, n. 2011. international new ventures in “low tech” sectors: a dynamic capabilities perspective. journal of small business and enterprise development, 18(3), 502– 528. hafni, r. & rozali, a. 2017. analisis usaha mikro, kecil, dan menengah (umkm) terhadap penyerapan tenaga kerja di indonesia. ilmu ekonomi dan studi pembangunan, 15(2), 77–96. harper, m. & cole, p. 2012. member checking: can benefits be gained similar to group therapy? 1–2. hofer, k.m., niehoff, l.m., & wuehrer, g.a. 2015. the effects of dynamic capabilities on value-based pricing and export performance. entrepreneurship in international marketing. kristinawati, d., jann, d., & tjakraatmadja, h. 2017. studi konseptual eksploratif mengenai hubungan kapabilitas dinamis dengan kinerja perusahaan. jurnal manajemen indonesia, 17(1). julianto, p.a. 2016. kompas. diambil kembali dari ekonomi kompas, juli 21: http:// ekonomi.kompas.com/read/2016/07/21/ 203632226/menperin.industri.makanan. dan.minuman.strategis.bagi.perekonomian. nasional. mckelvie, a. & davidsson, p. 2009. from resource base to dynamic capabilities: an investigation of new firms. british journal of management, 20, s63–s80. muharram, a. 2017. arah kebijakan bidang koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah. denpasar. nedzinskas, ð., pundzienë, a., buoþiûtërafanavièienë, s., & pilkienë, m. 2013. the impact of dynamic capabilities on sme performance in a volatile environment as moderated by organizational inertia. baltic journal of management, 8(4), 376–396. newbert, s.l. 2005. new firm formation: a dynamic capability perspective*. journal of small business management, 43(1), 55– 77. purwanti, e. 2012. pengaruh karakteristik wirausaha, modal usaha, strategi pemasaran terhadap perkembangan umkm di desa dayaan dan kalilondo salatiga. among makarti, 5(9), 13–28. rosenbusch, n., brinckmann, j., & bausch, a. 2011. is innovation always beneficial? a meta-analysis of the relationship between innovation and performance in smes. journal of business venturing, 26, 441– 457. rufaidah, p. & sutisna. 2015. kapabilitas dinamis umkm industri kreatif jawa barat. sosiohumaniora, 17(1), 60–66. saunila, m. 2016. performance measurement approach for innovation capability in smes. international journal of productivity and performance management, 65(2), 162–176. setyanto, a.r., samodra, b.r., & pratama, y.p. 2016. kajian strategi pemberdayaan umkm dalam menghadapi perdagangan bebas kawasan asean (studi kasus kampung batik laweyan). etikonomi, 14(2). sri, y., strategi, s., & susilo, y.s. 2010. strategi meningkatkan daya saing umkm dalam liliani & jessy wiliana, kapabilitas dinamis umkm dalam merespons perubahan lingkungan bisnis 45 menghadapi implementasi cafta dan mea. buletin ekonomi agustus, 8(2), 70– 170. sriwidadi, t. 2014. pengaruh kepemimpinan dan kapabilitas dinamis terhadap manajemen pengetahuan di binus university jakarta. the winners, 15(1), 47. sugiyono. 2015. metode penelitian kuantitatif. bandung: alfabeta. syaodih, n. 2013. metode penelitian pendidikan. bandung: penerbit alfabeta. teece, d., pisano, g., & shuen, a. 1997. dynamic capabilities and strategic management. strategic management journal, 509533. teece, d.j. 2007. explicating dynamic capabilities: the nature and microfoundations of (sustainable) enterprise performance. strategic management journal strategie management journal streit. mgmt, 28(28), 1319–1350. teece, d.j. 2010. business models, business strategy and innovation. long range planning, 43(2–3), 172–194. tseng, s.m., & lee, p.s. 2014. the effect of knowledge management capability and dynamic capability on organizational performance. journal of enterprise information. wang, c.l. & ahmed, p.k. 2004. the development and validation of the organizational innovativeness construct using confirmatory factor analysis. european journal of innovation management, 7(4), 303– 313. wang, c.l. & ahmed, p.k. 2007. dynamic capabilities: a review and research agenda. international journal of management reviews international journal of management reviews ijmr international journal of management reviews, 9(1), 31–51. wilhelm, h., schlömer, m., & maurer, i. 2015. how dynamic capabilities affect the effectiveness and efficiency of operating routines under high and low levels of environmental dynamism. british journal of management, 26(2). winter, s.g. 2003. understanding dynamic capabilities. strategic management journal, 24(10 spec iss.), 991–995. zahra, s.a., sapienza, h.j., & davidsson, p. 2006. entrepreneurship and dynamic capabilities: a review, model and research agenda. journal of management studies, 43(4), 917–955. zahra, s. & george, g. 2002. absorptive capacity: a review, reconceptualization, and extension. the academy of management review, 27(2), 185–203. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 46 01 dafazal saffan.pmd mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 4747 analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya mahfud arifin, bambang syairudin, fuad achmadi program magister manajemen teknologi, program pascasarjana institut teknologi sepuluh november surabaya e-mail: mfa.arifin@gmail.com abstract: this study begins with collecting 73 samples taken with random sampling method from 266 sisub’s customer. variable questionnaire covers components and service quality components of the marketing mix. after analysis of data questioner, obtained for value an interest in the things that are desired by customers with average score 3.562. for the average perceived value obtained 3.493. furthermore, by exposing data in the cartesian diagram using importance performance analysis (ipa) is known of position the quality of service that has been provided and there are 6 (six) things to be fixed in sisub services. framing of matrix house of quality (hoq) is performed as a basic quality function deployment (qfd) which is a method of design in determining the development of quality improvement measures of performance to satisfy customers. preparation of hoq carried out through focus group discussion (fgd), the result is expected to improve performance in supporting the customer relationship management (crm). keywords: .... pendahuluan pt surveyor indonesia (persero) (disingkat ptsi) yang merupakan perusahaan atau badan usaha milik negara (bumn) yang bergerak di bidang jasa independent assurance dan konsultasi berbasis survey dan inspeksi tentunya juga harus mengimplementasikan pemasaran ini agar mendapatkan keuntungan bagi pemegang sahamnya. dengan memiliki beberapa unit bisnis (ub) dan cabang di seluruh wilayah indonesia ptsi menjadi salah satu perusahaan survey dan inspeksi yang cukup ternama di indonesia. salah satu cabang yang dimiliki oleh ptsi adalah ptsi cabang surabaya (disingkat sisub) dengan wilayah kerja meliputi jawa timur, bali dan nusa tenggara. dalam menjalankan pemasarannya sisub mengacu pada strategi umum yang diterapkan oleh ptsi yaitu salah satunya adalah meningkatkan nilai jual jasa melalui peningkatan kompetensi personel, teknologi dan inovasi, sedangkan metode penjualannya melalui cara penjualan langsung/non-tender maupun melalui kompetisi pada pelelangan umum yang diadakan oleh instansi pemerintah maupun perusahaan swasta lainnya. dalam sektor non-tender jasa yang ditawarkan oleh sisub di bidang survey teknis mengenai kuantitas dan kualitas barang, kondisi barang, inspeksi teknis peralatan industri dan konsultan mutu, yang pemasaran produk jasanya masih dilakukan secara pasif. yang dimaksud pasif di sini adalah sisub masih menunggu klien datang untuk meminta menggunakan jasa sisub dan mengandalkan word of mouth dari pelanggan yang pernah menggunakan jasa sisub. dari data table 1.1 jumlah klien pelanggan jasa nontender dari tahun 2012 sampai dengan 2015 terjadi penurunan di tahun 2013 dan tahun 2015. selain pemasaran yang pasif, juga adanya beberapa keluhan pelanggan terhadap pelayanan sisub yang terkesan sama dengan perusahaan business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 48 lain yang sejenis namun dengan harga lebih murah, hal ini menyebabkan konsumen sisub cenderung tetap bahkan menurun dari segi jumlah. walaupun pada tahun 2015 terjadi peningkatan pendapatan itu terjadi karena salah satu penambahan volume pekerjaan dari pelanggan yang loyal saja sehingga terlihat pendapatan meningkat. tabel 1.1 jumlah klien sisub hubungan kepuasan pelanggan dengan loyalitas pelanggan sangatlah kuat (firend a. rashed, 2014). diharapkan dengan adanya kepuasan pelanggan terhadap layanan yang baik sehingga bisa mendapatkan kepuasan pelanggan yang berujung pada peningkatan pendapatan. saat ini sisub memerlukan persiapan dan strategi yang matang untuk membenahi kondisi internal dalam rangka peningkatan kepuasan pelanggan dan perbaikan layanan jasa yang mungkin harus dilakukan di sisub untuk meningkatkan kepuasan ini. oleh karena itu dianggap perlu untuk melakukan penelitian terhadap beberapa faktor yang memengaruhi persepsi pelanggan pada kinerja pelayanan yang diterima dan faktor yang memengaruhi pelanggan untuk tetap menggunakan jasa sisub sehingga manajemen sisub bisa mengambil langkah yang diperlukan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan untuk kemudian diterapkan oleh komponen yang ada di dalamnya untuk mengakuisisi pasar yang belum terambil dan mempertahankan pasar yang sudah ada, termasuk melalui customer relationship management (crm) dalam penelitian ini akan digunakan gabungan dua dari metode analisis dengan service quality (servqual) dan quality function deployment (qfd) dan importance performance analysis (ipa) untuk mengetahui hubungan antara faktor kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan beserta komponen-komponen pembentuknya, termasuk gap yang terjadi antara harapan pelanggan dan kenyataan yang diterima oleh pelanggan. kajian pustaka strategi pemasaran pemasaran yang baik bukanlah sebuah kebetulan tetapi merupakan hasil dari pemikiran dan no. deskripsi 2012 2013 2014 2015 1 pendapatan 14.144 13.483 20.212 20.784 2 pertumbuhan -4,67 % 49,91 % 2,83% tabel 1.2 perbandingan jumlah pendapatan non-tender (dalam juta) sumber: data pendapatan sisub (diolah) dari data pendapatan sisub selama tahun 2012 sampai dengan 2015 angka pendapatan ditunjukkan pada tabel 1.2. dari data tersebut, untuk pendapatan non-tender memang terlihat adanya kenaikan di dua tahun terakhir, namun apabila diperhatikan lebih lanjut, kenaikan yang terjadi tidaklah konsisten. setelah penurunan pendapatan di tahun 2013 terjadi peningkatan yang signifikan di tahun 2014 namun kemudian di tahun 2015 konsistensi kenaikan tetap terjadi namun dari sisi perkembangan tampak perbedaan yang sangat mencolok dari pertumbuhan sebelumnya. mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 49 perancangan perencanaan yang cermat. kesuksesan pendapatan perusahaan sangat bergantung kepada kemampuan pemasaran. kegagalan pemasaran mengakibatkan finansial, akuntansi, operasi dan kegiatan bisnis lainnya menjadi tidak berarti dikarenakan tidak adanya permintaan produk atau jasa yang menghasilkan keuntungan dari proses pemasaran (kotler dan amstrong, 2009). menurut kotler dan keller (2009), inti dari pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial dengan cara menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain. strategi pemasaran adalah logika pemasaran dan berdasarkan itu, unit bisnis diharapkan untuk mencapai sasaran pemasarannya. strategi pemasaran didasarkan analisis manajer perusahaan akan lingkungan perusahaan baik internal maupun eksternal. dipandu oleh strategi pemasaran, perusahaan merancang bauran pemasaran terintegrasi yang terdiri dari beberapa faktor di bawah kendalinya yaitu produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion) (4p). karakteristik jasa menurut kotler dan amstrong (2008) jasa adalah bentuk produk yang terdiri dari aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual dan pada dasarnya tidak berwujud serta tidak menghasilkan kepuasan terhadap sesuatu. selain itu, kotler dan amstrong (2005), menyatakan bahwa jasa memiliki 4 (empat) karakteristik utama, yaitu: 1. intangible (tidak berwujud) tidak seperti halnya produk fisik, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli. untuk mengurangi ketidakpastian, para pembeli akan mencari atau bukti dari mutu jasa. mereka akan menarik kesimpulan mengenai mutu jasa dari tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, symbol, dan harga yang mereka lihat. 2. inseparability (tidak terpisahkan) umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. jasa tidak dapat dipisahkan dari penyedianya, tanpa memedulikan apakah penyedia itu orang atau mesin. tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan. jika seseorang memberikan pelayanan, maka penyediaannya merupakan bagian dari jasa. 3. variability (bervariasi) jasa tergantung pada siapa yang menyediakan serta kapan dan di mana jasa itu diberikan. perusahaan dapat melakukan tiga langkah dalam pengendalian mutu. pertama adalah melakukan investasi untuk menciptakan prosedur perekrutan dan pelatihan yang baik. kedua adalah menstandarisasikan proses pelaksanaan jasa di seluruh organisasi. ketiga adalah memantau kepuasan pelanggan melalui sistem saran dan keluhan, survey pelanggan dan melakukan belanja perbandingan. 4. perishability (mudah lenyap) suatu jasa tidak dapat disimpan, sifat jasa yang mudah lenyap tidak akan jadi masalah apabila permintaan tetap, masalah akan timbul apabila permintaan akan jasa fluktuatif. kualitas layanan pelayanan merupakan faktor yang sangat berpengaruh khususnya bagi perusahaan yang bergerak di bidang jasa. dengan pelayanan pelanggan yang baik akan menghasilkan kepuasan pelanggan yang tentunya dengan harapan akan ada peningkatan pendapatan. untuk itu kegiatan business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 50 kualitas layanan merupakan perbandingan antara apa yang diharapkan konsumen dengan kinerja layanan yang mereka terima. hal inilah yang dikatakan oleh taylor dan baker (1994) sebagai gap theory. pendapat yang sama dikemukakan oleh parasuraman et al. (1991) yang kemudian mengembangkan sebuah model yang merupakan dasar dari skala servqual (service quality). model ini mendasarkan pada pengertian, bahwa kualitas layanan adalah bentuk persepsi konsumen atas jasa yang diterima. perbedaan antara harapan konsumen terhadap kinerja atas layanan secara umum terhadap kinerja yang diterima akan mengerahkan persepsi konsumen terhadap kualitas jasa tertentu. parasuraman et al. (1991, p.240) mengemukakan model kualitas layanan yang menyoroti beberapa syarat utama untuk memberikan kualitas layanan yang diharapkan. menurut penelitian tersebut, ada lima kesenjangan yang mengakibatkan kegagalan penyampaian layanan. a. knowledge gap, merupakan kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, di sini manajemen tidak akurat dalam memahami hal-hal yang menjadi keinginan pelanggan b. standard gap, kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas layanan, di sini manajemen mungkin benar dalam memahami keinginan pelanggan, tetapi tidak menetapkan standar pelaksanaan yang spesifik atau standar spesifikasi tidak konsisten. c. delivery gap, kesenjangan antar spesifikasi kualitas layanan dan penyampaian layanan, di mana spesifikasi kualitas tidak terpenuhi oleh kinerja dalam proses produksi dan penyampaian layanan. d. communication gap, kesenjangan penyampaian layanan dan komunikasi eksternal bahwa janji-janji yang disampaikan melalui para pelayanan perusahaan haruslah berorientasi pada kepuasan pelanggan. kualitas jasa lebih sulit didefinisikan dan dinyatakan dalam nilai dibandingkan kualitas produk (kotler, 2008). menurut tjiptono (2000), kualitas jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan pelanggan. pada prinsipnya kualitas jasa itu berupaya memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan sehingga dapat menimbulkan suatu kepuasan terhadap konsumen. jasa bersifat intangible yang artinya tidak dapat dilihat, dirasa, dicium didengar atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. sehingga konsumen tidak dapat memberikan penilaian suatu kualitas jasa, sebelum merasakan jasa tersebut. kualitas layanan menurut parasuraman, et al. (1988) memiliki lima dimensi sebagai berikut. 1. tangibles (bukti fisik), merupakan kemampuan perusahaan untuk menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal melalui keberadaan fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi. 2. reliabilitas/keandalan yakni kemampuan memberikan pelayanan dengan segera sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan memuaskan. 3. daya tanggap/responsiveness yakni keinginan untuk membantu dan memberikan layanan dengan tanggap dan tepat kepada para pelanggan. 4. jaminan/assurance mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staff, bebas dari bahaya, risiko, atau keragu-raguan. 5. empati, memberikan perhatian yang tulus meliputi kemudahan dalam menjalin relasi, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan pemahaman atas kebutuhan individual para pelanggan. mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 51 wakil dan iklan perusahaan tidak konsisten dengan pelayanan jasa yang disampaikan kepada pelanggan. e. service gap, kesenjangan antara layanan yang diterima dan layanan yang diharapkan, hal ini terjadi bila konsumen mengukur kinerja perusahaan dengan cara yang berbeda atau memiliki persepsi yang keliru mengenai kualitas layanan yang diberikan. dari beberapa batasan tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa kualitas layanan, seperti yang diterima atau dirasakan oleh konsumen, berasal dari perbandingan terhadap hal yang ditawarkan oleh perusahaan dengan persepsi konsumen atas kinerja perusahaan. kesenjangan tersebut, akan sangat membantu pihak manajemen untuk menentukan jenis layanan yang berkualitas yang akan diberikan kepada pelanggannya. kegiatan pemasaran yang berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, akan memunculkan perasaan puas pada konsumen. importance performance analysis (ipa) importance performance analysis (ipa) pertama kali diperkenalkan oleh martilla dan james gambar 2.1 model konseptual servqual (sumber: parasuraman, 1991) business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 52 (1977). metode analisis ini digunakan untuk membandingkan antara penilaian konsumen terhadap tingkat kepentingan dari kualitas layanan (importance) dengan tingkat kinerja kualitas layanan (performance). perusahaan dapat membandingkan antara harapan konsumen dengan kinerja yang telah dilakukannya. apabila tingkat harapannya lebih tinggi daripada kinerja perusahaan berarti konsumen tersebut belum mencapai kepuasan, begitu pula sebaliknya. menurut martinez dalam ariyoso (2009) menyebutkan bahwa “ipa telah diterima secara umum dan dipergunakan pada berbagai bidang kajian karena kemudahan untuk diterapkan dan tampilan hasil analisis yang memudahkan usulan perbaikan kinerja”. strategi yang dapat dilakukan berkenaan dengan posisi masing-masing variabel pada keempat kuadran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. kuadran a (low priority) kuadran ini menunjukkan faktor-faktor yang dianggap kurang penting, pelaksanaannya dijalankan oleh manajemen secara cukup atau biasa-biasa saja. 2. kuadran b (concentrate here) kuadran b menunjukkan faktor-faktor yang dianggap sangat penting, namun pihak manajemen belum melaksanakan sesuai kepentingan. 3. kuadran c (keep up the good work) kuadran c menunjukkan faktor-faktor yang dianggap penting, telah berhasil dilaksanakan manajemen sesuai kepentingan dan sangat memuaskan sehingga wajib dipertahankan. 4. kuadran d (possible overkill) kuadran d menunjukkan faktor yang kurang penting, tetapi pelaksanaannya berlebihan/ sangat memuaskan. quality function deployment seperti dijelaskan oleh akao bahwa qfd adalah metode untuk mentransformasi kebutuhan kualitatif dari pelanggan menjadi parameterparameter kuantitatif, untuk menghasilkan fungsi pembentuk kualitas, dan untuk menurunkan metode untuk mencapai kualitas menjadi sub sistem, komponen-komponen dan elemen-elemen spesifik dalam proses menghasilkan barang atau jasa (akao, 1994). dalam proses qfd digunakan alat house of quality (hoq) yang menyerupai sebuah rumah yang memuat kebutuhan pelanggan dan dibagi-bagi seperti pada gambar 2.3, pembagian hoq sebagai berikut. gambar 2.2 matriks importance performance rata-rata hasil penilaian keseluruhan konsumen kemudian digambarkan ke dalam importance-performance matrix atau sering disebut diagram kartesius, dengan sumbu absis (x) adalah tingkat kinerja dan sumbu ordinat (y) adalah tingkat kepentingan. rata-rata tingkat kinerja dipakai sebagai cut-off atau pembatas kinerja tinggi dan kinerja rendah, sedangkan rata-rata tingkat kepentingan dipakai sebagai cut-off tingkat kepentingan tinggi dengan tingkat kepentingan rendah. matriks importance-performance atau diagram kartesius seperti disajikan pada gambar 2.2. mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 53 bagian c karakteristik teknis bagian d matriks hubungan (antara karakteristik teknis dengan kebutuhan pelanggan) bagian f matriks teknis (prioritas respons teknis, target bisnis) bagian b matriks perencanaan (riset dan rencana strategi) bagian a kebutuhan konsumen bagian e respons a. bagian a (kebutuhan pelanggan), terdiri dari sejumlah kebutuhan dan keinginan konsumen yang diperoleh dari penelitian pasar. agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, perusahaan mengatur spesifikasi kinerja tertentu yang digambarkan pada bagian c b. bagian b (matriks perencanaan), berisi tentang penilaian pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan, kepentingan relatif dan tingkat kepuasan pelanggan akan produk atau jasa pesaing. bagian ini adalah yang dijadikan pedoman dalam membuat keputusan untuk perbaikan. c. bagian c (karakteristik teknis), berisi bahasa teknis perusahaan berdasarkan tinggi rendahnya kebutuhan atas produk atau jasa yang direncanakan untuk dikembangkan. penggambaran teknik ini didapatkan dari kebutuhan pelanggan pada bagian a. d. bagian d (matriks hubungan), berisi tentang hubungan antara keinginan pelanggan dengan karakteristik teknis dan kuat rendahnya hubungan antara keduanya ke dalam simbol sebagai berikut. simbol yang digunakan untuk menggambarkan hubungannya: ++ = hubungan kuat positif + = hubungan positif = hubungan kuat negatif = hubungan negatif f. bagian f (matriks teknis) berisi informasi mengenai prioritas tanggapan teknis berdasarkan kebutuhan dan harapan pelanggan pada bagian b dan hubungannya dengan bagian d, kepentingan absolut, dan kepentingan relatif. marketing mix menurut kotler dan keller (2009), inti dari pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial dengan cara menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain. strategi pemasaran adalah logika pemasaran dan berdasarkan itu, unit bisnis diharapkan untuk mencapai sasaran pemasarannya. strategi pemasaran didasarkan analisis manajer perusahaan akan lingkungan perusahaan baik internal maupun eksternal. dipandu oleh strategi pemasaran, perusahaan merancang bauran pemasaran terintegrasi yang terdiri dari beberapa faktor di bawah kendalinya yaitu produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion) (4p). kemudian marketing mix yang baru memperkenalkan terdapat 4p yang lain yaitu process, people, physical environment, dan productivity & quality. customer relationship management (crm) customer relationship management (crm) adalah pendekatan untuk mengatur interaksi antara organisasi dengan pelanggan yang ada maupun pelanggan potensial di masa yang akan gambar 2.3 model house of quality (cohen 1995) e. bagian e (respons teknis) untuk menilai hubungan antara masing-masing respons teknik. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 54 gibles (bukti fisik), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), empathy (empati). selain itu ada faktor bauran pemasaran atau marketing mix 8p yaitu product, price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi), process, people (orang), physical environment, productivity & quality yang akan digunakan dalam penyusunan variable kuesioner. namun penggunaan variabel bauran pemasaran dipilih beberapa faktor saja untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada untuk melengkapi dimensi kualitas layanan product, price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi). analisis deskriptif pada prose analisis data akan digunakan teknik analisis deskriptif, analisis skala likert, ipa, dan qfd. skala likert adalah skala yang digunakan untuk pengukuran, yaitu skala-skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial yang selanjutnya disebut variabel penelitian. skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut digunakan dalam pengukuran menghasilkan data kuantitatif (sugiono, 2012). teknik analisis deskriptif digunakan untuk identifikasi pelayanan jasa non-tender di sisub. analisis skoring digunakan pembobotan variabel fasilitas dan pelayanan kepada responden dalam tahap selanjutnya yaitu metode ipa untuk mendapatkan faktor yang dianggap paling menentukan untuk mendapatkan kepuasan pelanggan. dari data yang ada akan dimasukkan dalam matrix performance sehingga akan terlihat sisi mana saja yang harus diperhatikan oleh sisub dalam meningkatkan kepuasan pelanggannya. datang dengan didasarkan pada data-data historis organisasi sehingga hubungan bisnis dengan pelanggan bisa ditingkatkan, pelanggan akan tetap menggunakan jasa atau produk organisasi dan juga meningkatkan penjualan (jill, 2001). tujuan selanjutnya dari crm adalah sebagai alat analisis di mana di sini dapat digunakan berbagai teknik seperti data mining, korelasi, dan pengenalan pola untuk menganalisis pelanggan. analisis ini akan membantu bagian layanan pelanggan untuk meningkatkan pelayanan dalam memecahkan berbagai permasalahan pelanggan sesuai dengan karakteristik pelanggan yang ada. misalnya ada data yang menyatakan salah satu pelanggan beberapa bulan ini tidak melakukan pemesanan ke organisasi maka organisasi dapat menentukan langkah apa yang harus diambil untuk pelanggan yang bersangkutan agar pelanggan tersebut kembali menggunakan jasa atau produk organisasi. tujuan lain dari crm ini bisa untuk digunakan kolaborasi antara organisasi dengan stakeholder eksternal seperti supplier, vendor, dan distributor untuk saling membagi data pelanggan yang perlu agar organisasi dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan. metode penelitian pengumpulan data data dikumpulkan dengan cara survey yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 73 responden pelanggan secara random di dalam area wilayah kerja sisub dari 266 pelanggan yang pernah menggunakan jasa sisub. desain kuesioner variabel yang akan dipakai adalah kualitas pelayanan yang terdiri dari dimensi-dimensi tanmahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 55 dalam mengembangkan matriks kinerja akan mengikuti proses berikut. qfd (quality function deployment) digunakan untuk mengembangkan kualitas desain yang bertujuan untuk memuaskan konsumen dan kemudian menerjemahkan permintaan konsumen sehingga target desain dan poin utama kualitas jaminan dapat digunakan di seluruh tahap produksi. penerapan metode qfd diawali dengan penyusunan matriks hoq. matriks house of quality (hoq) yang telah disusun akan digunakan untuk merumuskan perencanaan pengembangan. matriks hoq adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan struktur qfd. dengan demikian hasil analisis menjadi kuat untuk kemudian dimasukkan dalam kesimpulan dan rekomendasi. hasil dan pembahasan sesuai dengan tahapan metodologi yang sudah dipaparkan maka langkah dalam penelitian ini akan mengikuti alur yang sama yaitu pembuatan kuesioner, menguji validitas dan reliabilitas pertanyaan yang sudah dibuat, memberikan kuesioner kepada responden dan mengolah data dengan metode servqual lalu dilanjutkan melakukan mapping terhadap hasilnya diteruskan dengan melakukan focus group discussion untuk mendapatkan tanggapan dari pt surveyor indonesia cabang surabaya dan membangun matriks house of quality yang merupakan rekomendasi yang diberikan kepada pt surveyor indonesia cabang surabaya untuk dapat meningkatkan mutu layanan yang diberikan. uji validitas dan reliabilitas koefisien validitas diukur dari korelasi pearson product moment (r). nilai r hitung dicocokkan dengan r tabel product moment pada taraf signifikan 5%. jika r hitung lebih besar dari r tabel 5%, maka butir soal tersebut valid. dari tabel r, dengan jumlah responden 73 maka degree of freedom (df) = 73 2 = 71, dapat diketahui bahwa dengan taraf signifikan 5% maka r tabel adalah 0,2303. uji reliabilitas dapat dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh butir pertanyaan. jika nilai alpha > 0,70 maka data tersebut reliabel. uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan metode cronbach alpha untuk menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak. data yang diolah terdiri dari data tingkat harapan dan data kepuasan yang dirasakan oleh pengguna jasa sisub. kedua data tersebut telah diolah dengan menggunakan microsoft excel dan program spss. berdasarkan hasil pengujian validitas terhadap indikator atau pernyataan, dapat diketahui bahwa seluruh indikator memiliki nilai korelasi hitung (r hitung ) yang lebih besar daripada nilai korelasi tabel (r tabel ) sebesar 0.2303. hasil ini menunjukkan bahwa seluruh indikator yang digunakan dalam penelitian telah valid dan mampu mengukur dimensi yang sama. sehingga seluruh indikator dapat diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. nilai cronbach alpha untuk semua butir pertanyaan yang digunakan dalam kuesioner terhadap layanan jasa sisub memiliki nilai berada di atas 0,70 sehingga kuesioner sudah reliable. pengolahan data setelah semua data kuesioner dikumpulkan maka data kuesioner mulai dapat dianalisis. dari hasil yang didapat dihitung gap 5 di mana gap ini menghitung kesenjangan antara persepsi pelanggan atas layanan yang diterima dari pt. surveyor indonesia cabang surabaya dengan kepentingan pelanggan terhadap layanan yang business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 56 pertanyaan total rata-rata nilai servqual % kesesuaian harapan kenyataan harapan kenyataan x1 1 327 281 4.479 3.849 -0.630 86% 2 332 251 4.548 3.438 -1.110 76% 3 341 291 4.671 3.986 -0.685 85% 4 254 255 3.479 3.493 0.014 100% x2 1 328 310 4.493 4.247 -0.247 95% 2 321 296 4.397 4.055 -0.342 92% 3 334 303 4.575 4.151 -0.425 91% 4 335 297 4.589 4.068 -0.521 89% x3 1 331 236 4.534 3.233 -1.301 71% 2 327 281 4.479 3.849 -0.630 86% 3 334 306 4.575 4.192 -0.384 92% 4 326 319 4.466 4.370 -0.096 98% x4 1 322 292 4.411 4.000 -0.411 91% 2 331 280 4.534 3.836 -0.699 85% 3 335 295 4.589 4.041 -0.548 88% 4 328 288 4.493 3.945 -0.548 88% x5 1 325 207 4.452 2.836 -1.616 64% 2 262 182 3.589 2.493 -1.096 69% 3 324 292 4.438 4.000 -0.438 90% 4 296 294 4.055 4.027 -0.027 99% x6 1 329 309 4.507 4.233 -0.274 94% 2 338 328 4.630 4.493 -0.137 97% 3 325 321 4.452 4.397 -0.055 99% 4 333 317 4.562 4.342 -0.219 95% x7 1 265 239 3.630 3.274 -0.356 90% 2 246 270 3.370 3.699 0.329 110% 3 331 323 4.534 4.425 -0.110 98% 4 318 310 4.356 4.247 -0.110 97% x8 1 265 272 3.630 3.726 0.096 103% 2 186 215 2.548 2.945 0.397 116% 3 324 318 4.438 4.356 -0.082 98% 4 179 194 2.452 2.658 0.205 108% x9 1 268 216 3.671 2.959 -0.712 81% 2 295 280 4.041 3.836 -0.205 95% 3 329 307 4.507 4.205 -0.301 93% 4 258 263 3.534 3.603 0.068 102% tabel 4.4 gap layanan mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 57 diberikan. dengan melihat hasil ini maka bisa didapatkan gap antara kepentingan pelanggan terhadap layanan yang diberikan dengan persepsi pelanggan terhadap layanan yang sudah diberikan. apabila gap ini menunjukkan angka yang negatif maka berarti perusahaan belum dapat memenuhi kepentingan pelanggan dengan baik untuk komponen layanan yang disebutkan sedangkan apabila gap ini bernilai positif maka berarti perusahaan sudah memberikan layanan yang melebihi kepentingan pelanggan terhadap komponen layanan tersebut dan ini berarti perusahaan telah berhasil dalam memberikan layanan yang baik kepada pelanggan. untuk gap yang didapat dari hasil perhitungan kepentingan dan persepsi ini bisa dilihat pada tabel 4.4. importance performance analysis untuk pengolahan data selanjutnya digunakan gap 5 yang merupakan gap layanan yang diterima dan yang diharapkan oleh pelanggan. pengolahan data dilanjutkan dengan mapping ke diagram cartesius dengan menggunakan metode importance performance analysis untuk lebih mempertajam lagi mana hal-hal yang memang harus didahulukan untuk diperbaiki. untuk itu dilakukan mapping terhadap harapan/kepentingan dan persepsi/kenyataan dimana kepentingan akan diletakkan pada sumbu y dan kenyataan layanan diletakkan pada sumbu x. sedangkan untuk membagi diagram ini menjadi 4 kuadran didapat dari nilai terendah dan tertinggi dari nilai kepentingan maupun nilai persepsi. dari tabel servqual didapat bahwa nilai tertinggi dari kepentingan adalah 4,671 sedangkan nilai terendahnya adalah 2,452. dari sini didapat nilai tengah yang akan digunakan sebagai sumbu pembagi di axis y adalah nilai 3,562. sedangkan untuk nilai tertinggi persepsi adalah 4,493 sedang nilai terendahnya adalah 2,493 sehingga untuk membagi sumbu x digunakan angka 3,493. dari pembagian ini akan didapat titik-titik di mana pt surveyor indonesia cabang surabaya harus berkonsentrasi untuk memperbaiki kinerjanya. setelah melalui proses ini didapat diagram cartesian seperti pada gambar 4.1 k ep en tin ga n kenyataan gambar 4.1 diagram cartesius mutu pelayanan business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 58 dari mapping pada gambar 4.1 maka didapat hal-hal yang harus diperbaiki ada pada kuadran a yaitu di mana kepentingan tinggi tetapi persepsi layanan masih rendah. hal-hal yang harus diperbaiki berkaitan dengan pertanyaan x12, x31, x51, x52, x71, x91 di mana pertanyaan tersebut memiliki hubungan dengan mutu layanan sebagai berikut. a. x12 berkaitan dengan penampilan staff pelaksana b. x31 berkaitan dengan kecepatan penanganan keluhan c. x51 berkaitan dengan pengetahuan tentang pelanggan d. x52 berkaitan dengan frekuensi komunikasi dengan pelanggan e. x71 berkaitan dengan kesesuaian harga dan jasa yang diberikan f. x91 berkaitan dengan pengetahuan pelanggan tentang jasa ptsi cabang surabaya pada kuadran b para pelanggan sisub menganggap faktor ini sangat penting dan persepsi pelayanan yang diterima oleh pelanggan sangat memuaskan. oleh karena itu, faktor yang harus dipertahankan berdasarkan hasil pengolahan data tersebut sebagai berikut. a. x11 berkaitan dengan pengetahuan terhadap pekerjaan b. x13 berkaitan dengan kelengkapan peralatan c. x21 berkaitan dengan kualitas pelayanan pekerjaan secara keseluruhan d. x22 berkaitan dengan waktu delivery pekerjaan e. x23 berkaitan dengan pemenuhan persyaratan kontrak f. x24 berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pelanggan g. x31 berkaitan dengan kecepatan penanganan keluhan h. x32 berkaitan dengan after sales services secara keseluruhan i. x33 berkaitan dengan komunikasi dengan staff pelaksana j. x34 berkaitan dengan ketepatan penanganan masalah k. x41 berkaitan dengan komunikasi dengan marketing l. x42 berkaitan dengan tanggapan penanganan keluhan m. x43 berkaitan dengan penyelesaian keluhan n. x44 berkaitan dengan komunikasi dengan kantor o. x51 berkaitan dengan pengetahuan terhadap pelanggan p. x52 berkaitan dengan frekuensi komunikasi dengan pelanggan q. x53 berkaitan dengan komunikasi dengan pimpinan r. x54 berkaitan dengan komunikasi dengan staff kantor s. x61 berkaitan dengan kesesuaian dengan kebutuhan t. x62 berkaitan dengan ketersediaan jasa u. x63 berkaitan dengan kemampuan staff pelaksana v. x64 berkaitan dengan adanya service tambahan w. x71 berkaitan dengan kesesuaian dengan jasa yang diberikan x. x73 berkaitan dengan kesesuaian dengan informasi awal y. x74 berkaitan dengan kesesuaian dengan daya beli z. x81 berkaitan dengan kemudahan datang ke kantor aa. x83 berkaitan dengan adanya akses mudah ke pelaksana bb. x91 berkaitan dengan pengetahuan pelanggan tentang jasa ptsi cabang surabaya mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 59 cc. x92 berkaitan dengan ketersediaan katalog layanan dd. x93 berkaitan dengan kemudahan akses dan mendapatkan penawaran dari mapping kuadran c didapat beberapa atribut yang kurang penting dan kurang memuaskan sehingga pelanggan bersikap biasa-biasa saja. atribut-atribut yang termasuk pada kuadran c adalah sebagai berikut. a. x82 berkaitan dengan ketersediaan pos layanan b. x84 berkaitan dengan adanya perwakilan yang ditempatkan di perusahaan sedangkan pada kuadran terakhir yaitu kuadran d adalah atribut yang menunjukkan atribut yang kurang penting namun pelanggan merasakan sangat puas. atribut yang dimaksud adalah sebagai berikut. a. x14 berkaitan dengan kelengkapan pendukung b. x72 berkaitan dengan kesesuaian dengan harga pasar c. x94 berkaitan dengan kebutuhan akan informasi tentang jasa ptsi cabang surabaya house of quality untuk memperbaiki hal-hal di atas maka dilakukan focus group discussion di mana pesertanya adalah praktisi dan manajemen pt surveyor indonesia cabang surabaya untuk menentukan apa yang bisa dilakukan dalam memperbaiki hal-hal tersebut. dari enam permasalahan layanan yang sudah diturunkan maka keenam permasalahan ini dijadikan sebagai matrix what yang berarti keenam permasalahan ini merupakan apa yang diinginkan oleh pelanggan gap service-nya cukup besar bila dibandingkan dengan permasalahan yang lain. adapun langkah-langkah untuk memperbaiki layanan pt surveyor indonesia yang mungkin bisa dilakukan dan merupakan rekomendasi yang keluar setelah dilakukan focus group discussion untuk permasalahan ini adalah sebagai berikut. no. tindakan bobot nilai persentase 1 melakukan pelatihan penampilan dan kepribadian 777,2 17,8% 2 memberikan pelatihan komunikasi 552,1 12,7% 3 konsolidasi dan sosialisasi kepentingan pelanggan 582,8 13,4% 4 mengefektifkan operasional agar dapat memberikan layanan yang sesuai 536,3 8,2% 5 menggunakan software untuk mengorganisasi database pelanggan 284 6,5% 6 mengasah kemampuan komunikasi dengan simulasi bulanan 284 6,5 % 7 menambah jumlah marketing 536,8 12,3 % 8 meningkatkan frekuensi komunikasi per hari dengan pelanggan 478,1 11 % 9 menggunakan bantuan teknologi untuk mengelola komunikasi dengan pelanggan 507,8 11,6 % kesembilan hal tersebut digunakan sebagai matrix how. selanjutnya focus group discussion tidak berhenti di sini namun terus menentukan korelasi antara komponen dalam matriks how. korelasi antara komponen-komponen dalam matriks how bisa bersifat synergy atau compromise. untuk yang bersifat synergy berarti bisa dilakukan secara bersama untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. setelah itu ditentukan pula hubungan antara matriks how dan matriks what di mana dalam hubungan ini menggunakan pola 9-3-1 di mana 9 merupakan hubungan yang kuat sedang 3 merupakan hubungan sedang sedangkan 1 hubungannya rendah atau tidak ada hubungan. hasil diskusi dituangkan dalam data yang tersaji dalam tabel 4.5 berikut. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 60 tabel 4.5 house of quality mahfud arifin, bambang syairudin, & fuad achmadi, analisis kepuasan pelanggan dalam rangka strategi pemasaran non-tender pt surveyor indonesia (persero) cabang surabaya 61 kesimpulan dan saran kesimpulan dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan berkaitan dengan permasalahan yang ada di pt surveyor indonesia cabang surabaya (sisub) di mana terdapat keluhan pelanggan, penurunan jumlah pelanggan dan inkonsistensi pertumbuhan dari pendapatan non-tender. kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. rata-rata nilai kepentingan pelanggan terhadap layanan jasa sisub adalah 3,562 dengan nilai terendahnya 2,452 dan nilai tertinggi 4,671. 2. rata-rata nilai persepsi pelanggan terhadap layanan jasa sisub adalah 3,493 dengan nilai terendahnya 2,493 dan nilai tertinggi 4,493. 3. pt surveyor indonesia cabang surabaya masih harus berbenah berkaitan dengan layanan yang diberikan kepada pelanggan, terutama mengenai kemampuan untuk menunjukkan eksistensi perusahaan kepada pihak eksternal, kecepatan penanganan dalam keluhan pelanggan. 4. perlu adanya peningkatan customer relationship manajemen (crm) dalam penambahan frekuensi hubungan dengan pelanggan sehingga pelanggan dapat lebih mengenali lagi profil dari pt surveyor indonesia dan hubungan dengan pelanggan dapat dibangun dengan lebih baik dan pelanggan juga akan lebih mengenali jasa-jasa yang dapat diberikan oleh sisub. saran untuk melakukan peningkatan terhadap kualitas layanan yang diberikan oleh sisub, selain melakukan langkah-langkah yang sudah disepakati oleh management dalam forum group discussion, sisub perlu lebih memperjelas lagi langkah dalam meningkatkan hubungan dengan pelanggan. salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan letter (kirim surat), call (telepon) dan visit (kunjungan). selain itu, untuk lebih menyempurnakan penelitian ini maka bisa diperdalam lagi tentang saran penyempurnaan yaitu bagaimana cara membuat operasional bisa lebih efektif dalam memberikan layanan. daftar pustaka akao, yoji. 1994. “development history of quality function deployment”. the customer driven approach to quality planning and deployment. minato, tokyo 107 japan: asian productivity organization. p. 339. isbn 92-833-1121-3. ariyoso. 2009. metode ipa. [online]. https:// ariyoso.wordpress.com/2009/12/15/ konsep-importance-performance-analysis/ [10 oktober 2016] dyche, jill. 2001. the crm handbook: a business guide to customer relationship management. boston, usa: addison-wesley publishing company. fandy tjiptono. 2005. prinsip-prinsip total quality service. yogyakarta: penerbit andi. ferel, o.c., and mitchael d. hartline. 2010. marketing strategy: fifth edition”. mason usa: cengage learning. goetsh, david l. and stanley b. davis. 1997. a review of: “quality management (third edition)”. new jersey, usa: prentice hall. husein, umar. 1999. riset sumber daya manusia dalam organisasi. jakarta: pt gramedia pustaka utama. kotler, philip. 2000. marketing management millennium edition. tenth edition. new jersey. usa: prentice hall. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 62 kotler, philip. 2005. manajemen pemasaran, jilid 1 dan 2. jakarta: gramedia. kotler, philip and gary amstrong. 2008. prinsipprinsip pemasaran. edisi 12 jilid 1. jakarta: erlangga kotler, philip and gary armstrong. 2012. prinsipprinsip pemasaran, edisi 13. jilid 1. jakarta: erlangga. lovelock, christopher h. 1996. services marketing. new jersey, usa: prentice hall. martilla, john a and john c. james. 1977. journal of marketing, vol. 41, no. 1, american marketing association, pp. 77–79. parasuraman, berry and zeithaml. 1991. refinement and reassessment of the servqual scale. journal of retailing, pp. 420–50. parasuraman, a., zeithaml, v.a., and berry, l.l. 1985. a conceptual model of service quality and its implications for future research. journal of marketing, 49, 41–50. parasuraman, zeithaml and berry. 1988. “servqual: a multiple –item scale for measuring perception of service quality”. journal of retailing, vol. 64 (spring), pp. 12-40. singarimbun, masri dan sofyan effendi. 1995. metode penelitian survei, edisi revisi. jakarta: pt pustaka lp3es. sugiyono. 2012. memahami penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. arikunto. 2006. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik, ed revisi vi, jakarta: pt rineka cipta. sukmadinata, nana syaodih. 2009. metode penelitian pendidikan. bandung: rosdakarya. sularto et al. 2014. “user requirement analysis for restaurant pos (point of sales and accounting application using quality function deployment”. journal procedia – social and behavioral sciences, the 6th indonesia international conference on innovation, entrepreneurship and small business. tjiptono, f. 2000. prinsip-prinsip total quality service. yogyakarta: andi. taylor, s.a. & baker, t.l. 1994. an assessment of the relationship between service quality and customer satisfaction in the formation of consumers purchase intentions. j. retailing., 70(2), 163–178. zeithamal et al. 1996. “measuring the quality of relationship in customer service: an empirical study”. journal of marketing. analysis of the benefits of financial technology and financial socialization towards financial behavior in students in surabaya post pandemic with financial literacy as the intervening variable angelina suryanto 1 wirawan e.d. radianto 2* universitas ciputra surabaya *) corresponden author abstract: the purpose of this study is to investigate financial behavior among university students in surabaya and analyze the relationship between perceived usefulness of financial technology, financial socialization, and financial literacy as an intervening variable. conclusive causality research is used for this research with primary data collected from questionnaires. the sampling techniques used a combination of proportional stratified random sampling and purposive sampling towards 466 university students from 6 universities in surabaya. data analyzed using partial least squares structural equation model (pls-sem) techniques. the result shows that financial literacy and financial socialization positively impacts financial behavior while perceived usefulness of financial technology variables does not affect financial behavior. mediation results showsthat financial literacy is able to mediate perceived usefulness of financial technology and financial socialization towards financial behavior of university students in surabaya. through this research is expected to be the reference for various parties, especially for curriculum makers to consider optimization technical teaching strategies and assessment indicators in basic financial outreach. kata kunci: perceived usefulness, financial technology, financial socialization, financial literacy, financial behavior. introduction the rapid development of time has prompted a change in the direction of indonesian people's behavior towards a consumerist culture. the tendency of the reality of society to spend their income on lifestyle support goods without saving in the form of savings can eventually create problems which may lead to financial failure(jazuli & setiyani, 2021). the results of the ojk consumer survey prove that since 2020, there has been an increase in the average proportion of income used for consumption reaching above 70% in contrast to the proportion of income used for savings which is in the range of 14.9%(otoritas jasa keuangan, 2022). this situation was also worsened by the emergence of the covid-19 pandemic which was the turning point for changes in the structure of the financial order due to the emergence of innovations in financial technology. the presence of financial applications further complicates knowledge of the financial world which results in implementation errors in public financial management. the majority of society even precieves online shopping through e-commerce as a form of pleasure. based on data from the indonesian economic a report published by bank indonesia shows that there has been an increase in e-commerce transactions from year to year where in 2022, it has reached 526t or an increase of 31% from the previous years (universitas katolik parahyangan, 2022). the emergence of panic buying, the ease of making online transactions, paylater, and online loans have in fact become the mediators that have increase the consumptive activities of the indonesian people. financial literacy has become a common issue widely discussed because it is closely related to managing finances. however, this issue remains an important issue because it influences many aspects such as lifestyle and predictions of one's future prosperity. regardless of gender, age and profession, the importance of financial literacy is needed in ensuring the quality of life of individuals (radianto, kristama, & salim, 2021). financial literacy education has indeed been socialized from a young age until its inclusion in the university’s curricula. students as agents of change are expected to have a solid foundation in making financial decisions since they sit in the lecture bench(radianto, efrata, & dewi, 2020). moreover, students are at the forefront of receiving financial socialization externally from social agents (education, social media, parents, friends) who can increase literacy of technology, especially in the financial sector. the relationship between financial literacy and financial behavior has indeed been extensively researched by several researchers, including abeyrathna (2020), wasita, artaningrum & clarrissa (2022), and sugianto, radianto, efrata & dewi (2019). likewise, research by isham & anar (2021) and marpaung, purba & maesaroh (2021) examine the relationship between financial technology (fintech), financial socialization, and financial literacy. despite these studies, it is still rare to link the perceived usefulness of financial technology and financial socialization to financial behavior, as well as understanding how financial literacy mediates the relationship between these three variables, especially in post-covid-19 pandemic. this shows a very important correlation between the four variables because it refers to an individual’s socioeconomic changes. the emergence of financial technology creates an open access in making payment transactions without face-to-face interaction. the use of financial technology can be useful in introducing financial products offered to help an individual to gain insight and competence in managing their finances. this applies equally to financial socialization which is intended to introduce financial products by the closest parties, such as parents or friends, in influencing an individual’s financial behavior. the introduction of financial products channeled by the two variables not only has an impact on financial behavior, but also increases one's financial literacy in knowing the world of finance closer. the increase in financial literacy will result in an escalation of skills in sorting out the pros and cons before making a financial decision regarding investments, loans, savings, and consumption. this study focuses on students from class 2020 2021 in surabaya. students from class 2020 2021 are in their 4th and 6th semester and have been exposed to several exposure and outreach that can increase literacy in financial management using financial technology applications. the nature of curiosity and information openness encourages students to adapt to technological developments. technology adaptation can be applied in students' daily lives, which can help improve their financial management performance in terms of convenience, practicality, and efficiency in financial transactions. the above statement can be proven through this study which aims to review the role of perceived usefulness of financial technology and financial socialization on financial behavior of studens in surabaya during post-pandemic with financial literacy as an intervening variable. the research findings are expected to contribute to curriculum makers to consider the substantive aspects of teaching strategies and assessment indicators in outreach and perceived usefulness of financial technology that are more appropriate in financial literacy to improve students' financial behavior. theoretical basis the theory of planned behavior (tpb) the theory of planned behavior (tpb) is a theory that reviews the changes in behavior that are motivated by one's internal intentions and desires in determining actions, while still considering subjective norms and external perspectives as behavior controls. this theory focuses on the assumption that encouraging individual’s intentions and goals via increasing their motivation to try and plan efforts to display the behavior (ajzen, 1991). the change of behavior is also supported by the individual’s background, including the aspects of personal, social, and information (lathiifah & kautsar, 2022). these 3 factors include personal internal factors, such as intelligence, emotion, personality, as well as social and information external factors, such as education, experience, and knowledge, which encourage differences in perceptions to bring up the behavioral disimilarity of everyone. technology acceptance model (tam) technology acceptance model (tam) is a theory that evaluates the reactions of acceptance and benefit of individual users to information technology innovation systems that refer to the relationship between external aspects of the system that influence individual’s behavioral intentions (davis, 1996). the intention has an indirect impact on 2 relevant aspects of evaluating reactions to technology use, namely perceived usefulness, and perceived ease of use (mulasiwi & julialevi, 2020). perceived usefulness refers to an individual's belief in the use of technology systems that can increase their work performance. while perceived ease of use is a belief in the ease of use resulting in the use of technology that can accelerate the completion of work. financial behavior financial behavior is the ability to manage assets and distribute budgets according to individuals’ financial circumstances (harianto & isbanah, 2021). financial behavior is closely related to the responsibility and the role of financial management in managing expenses, investments, savings and pension funds, and the proportion of debt to maintain quality of life (wahyudi, tukan, & pinem, 2020). the right reflection of financial behavior describes the individual's capability in balancing the allocation of expenses and income. financial literacy financial literacy is a combination of one's awareness, skills, and intellectual competence in understanding the world of finance. financial proficiency can serve as the basis for making financial decisions to create prosperous financial quality (ishar & anam, 2021). according to oecd international network on financial education, there are 3 instruments that can measure the quality of literacy, which are financial knowledge, financial behavior, and financial attitude (dara & mariah, 2020). financial technology financial technology is a combination of financial technology system innovations and services that create business models or financial applications (mulasiwi & julialevi, 2020). the presence of financial technology can affect financial stability in a country by creating increased efficiency and security of financial transactions (wahyudi, tukan, & pinem, 2020). financial technology was created as a solution in the field of financial services in the use of technology as a modification of information technology that facilitates public access to financial products. financial socialization financial socialization includes individual interactions with their internal and external social environment in influencing the acquisition of information and knowledge in the financial sector (dewanti & asandimitra, 2021). the development of financial capabilities is influenced by family socialization process and financial socialization outcomes caused by financial social agents close to the individual's scope (sebastian, 2022). these social financial agents can be in the form of education, the media, parents, or friends. hypothesis developmet and framework financial technology has become a medium to increase the stability and security of financial transactions by maximizing the implementation of technology. the change in the structure of the financial order creates access for the public to get to know the financial products. financial technology has been widely applied in banking and investment sectors through the existence of financial application services and products, such as mobile banking, investment brokers, and p2p lending which allows people to transact online (lathiifah & kautsar, 2022). this progress is closely related to the tam theory in which developments in the financial world increase in terms of perceptions of the use of financial technology that is implemented by society in financial decisions. each of these financial decision-makers is expected to improve their performance and knowledge of financial management in terms of ease of transaction according to the proportion of savings, consumer spending, and investment product selection. this hypothesis is supported by previous research which shows that financial technology has a positive effect on individual’s financial behavior (khofifah, wahyuni, & subaida, 2022). this is in contrast with a study by wahyudi, tukan & pinem (2020) which stated that financial technology has no effect on financial behavior, indicating that there is no beneficial role from financial technology in influencing financial management abilities. h1: perceptive usefulness of financial technology affects the financial behavior of students in surabaya the influence of financial socialization on financial behavior is based on the tpb theory which states that individual behavior is influenced by external perspectives in the form of support and perceptions that creates subjective norms into a behavioral control. the creation of behavioral control affects the boundaries of behavior that encourage a person to behave in accordance with predetermined norms. the external environment also indirectly acts as a social agent that provides socialization that can hone individual capabilities. proper socialization will develop one's competence in making financial decisions and planning (dewanti & asandimitra, 2021). therefore, if a person receives a lot of financial socialization, it will affect financial behavior and vice versa(jazuli & setiyani, 2021). however, another similar study shows the opposite result where it does not find any significant relationship between financial socialization and financial behavior (harianto & isbanah, 2021). h2: financial socialization affects the financial behavior of students in surabaya one of the most important aspects of financial literacy is the responsibility one has in managing finances to avoid financial problems (radianto, efrata, & dewi, 2020). adequate literacy skills indicate the ability to estimate and determine the most effective method in balancing expenditure and income. furthermore, the skills also promote an understanding of risks and returns, which can affect how a person manage its financial management especially in the field of saving and investment (waranyasathid & htin, 2020). the influence of this literacy underlies a person's intentions and goals in determining their financial behavior. according to tpb theory, the existence of background external variables in the form of information encourages the formation of intentions and motivations to seek appropriate financial behavior. this is in line with research conducted by novitasari, juliana, asbari & purwanto (2021) and wasita, artaningrum & clarissa (2022) which stated that financial literacy has an effect on financial behavior. these results are inversely proportional to the research of muntahanah, cahyo, setiawan & rahmah (2021) which shows that financial literacy has no effect on financial behavior. h3 : financial literacy affects the financial behavior of students in surabaya the relationship between perceptive usefulness of financial technology and financial behavior through financial literacy is influenced by the underlying concept of tam, which states that the ease of transactions increases the effect of product benefits accompanied by an increase in financial literacy. free open access for the public creates an opportunity to become more familiar with financial products in circulation and how to use them. an increased understanding and skills driven by awareness of good financial management will create a positive correlation for conducting transactions and utilizing financial services, such as using investment applications, savings and having a loan properly, which can improve financial behavior performance. this is in line with the research by khofifa, wahyuni & subaida (2022) and mulasiwi & julialevi (2020) which shows that ther is a positive effect of financial technology on both financial literacy and financial behavior. h4 : financial literacy meidiates the effect of perceptive usefulness of financial technology on financial behavior of students in surabaya. the relationship of financial socialization to financial behavior through financial literacy is based on the tpb theory, which refers to encouragement from social agents as external parties in monitoring individual behavior. this leads to the development and achievement of one's financial behavior that focuses on welfare and survival. several suggestions from the social agents affect the development of awareness, knowledge, attitudes, and actions, which indicates financial literacy (ishar & anam, 2021). the higher the literacy competency increases; the skills and understanding will also increase – leading to proper financial planning and allocation. this is in line with a study by jazuli and setiyani (2021). h5 : financial literacy mediates the effect of financial socialization on financial behavior of students in surabaya. based on the description of the hypothesis presented, the framework can be seen in figure 1. figure 1. thinking framework persepsi kemanfaatan financial technology (x1) financial socialization (x2) financial literacy (m1) financial behavior (y1) h1 h2 h3 h4 h5 research method this research is classified as a conclusive causality which is useful to identify the causal relationships caused by the independent variable to the dependent variable with or without a mediating variable. the type of data used is primary data that is obtained through questionnaire data collection and quantitative approach. population and respondents this research focuses on students studying at 6 universities in surabaya, namely ciputra surabaya university, widya mandala catholic university, petra christian university, surabaya university, airlangga university and surabaya state university as a population that has received a lot of information and socialization regarding financial management and has a high level of high technology proficiency & adaptability. the population group includes 43,282 students (universitas negeri surabaya; universitas airlangga direktorat pendidikan; pddikti, 2022) . purposive sampling and proportional stratified random sampling are chosen as the sampling methods with the criteria of respondents aged 19 – 22 years old, studying in their 4th – 6th semeseter in surabaya and actifelly use financial technology, both in digital payment system (ovo, gopay, dana, qris), online investment (bareksa, ipot, bibit), or paylater and online loans. based on sample measurements using the slovin formula with a significance level of 5% and a confidence level of 95%, the number of respondents collected was 466 samples. variable measurement the variable measurements are assessed through 13 indicators, where each variable has 6-7 questions. there are 2 independent variables and 1 dependent variable with 1 intervening variable that mediates the relationship between the three variables. the indicators of the independent variable of perceived usefulness of financial technology were adapted from ananda’s (2019) and prihartini’s (2022) research relate to the believe that financial technology can assist an individual to improve their personal financial management. the indicators used for the independent variable financial socialization were adopted from a sudy by chandra (2021) which measures social agents who interact with the individuals to socialize behavior that affects financial management. the indicators of the intervening variable, financial literacy, was adapted from oecd research (2022) which are individual knowledge and capabilities in making financial decisions. the indicators of the dependent variable of financial behavior were adapted from oecd research (2022), which are needed to evaluate the correlation of capabilities and behavior in making financial decisions. the following is the operational definition of the variable between the independent variable (x), the dependent variable (y), and the intervening variable (m) with the following indicators: table 1. variable operational definitions variable indicator statements perceived usefulness of financial technology (x1) perceived usefulness (x1.1) (x1.1a) the use of financial technology is a useful payment method (x1.1b) overall, financial technology services enable the process of financial transactions to occur more quickly (x1.1c) financial technology is a practical means of transaction (x1.1d) using financial technology services provides a sense of comfort in conducting non-cash financial transactions (x1.1e) the use of financial technology services increases the variety of financial products to choose from (x1.1f) using financial technology services can increase effectiveness in conducting noncash financial transactions (x1.1g) the use of financial technology services can increase the productivity of financial performance through non-cash transactions financial socialization (x2) parents influence (x2.1) (x2.1a) my parents taught me to save some money / save (x2.1b) my parents taught me how to invest (x2.1c) my parents taught me how to manage finances media influence (x2.2) (x2.2a) i receive a lot of financial information from the internet, radio, tv, magazine bulletins, or newspapers peers influence (x2.3) (x2.3a) my friends provide information related to financial instruments to me education influence (x2.4) (x2.4a) the university gave me a lot of counseling and materials related to financial information financial behavior (y) consumption (y1) (y.1a) my spending is in accordance with the proportion of the budget that i made cash management (y2) (y.2a) i always record and save my spending transactions (y.2b) my monthly money is sufficient to cover my needs for a month saving dan investment (y3) (y.3a) i invest in financial instruments (y.3b) i save periodically / routinely from the money i earn credit management (y4) (y.4a) i avoid borrowing money unless it's an emergency financial literacy (m) basic knowledge (m1) (m.1a) i understand that budgeting is useful to control my personal expenses (m.1b) financial record keeping helps me plan priorities (m.1c) financial planning is very important for my future savings (m2) (m.2a) i save money for unforeseen needs (m.2b) i set aside some money for future welfare ivestment (m3) (m.3a) i understand that investment is a way to get future profits by investing now debt (m4) (m.4a) i will only seek assistance by borrowing money from other people if there are urgent needs to be purchased data analysis method the answers from the operators filled in by respondents were estimated through likert scale measurements with "1" reflecting strongly disagree up to "7" for the value of strongly agree , which was then totaled and averaged for each variable indicator. the average scaling results will be interpreted in the weight of the respondents’ response categories based on the three-box method, which will be analyzed using the structural equation modeling partial least square (sem pls) analysis method. through this method, it will assess the relationship between latent variables through the reflective measurement model. the data will be analysed with smartpls 3.0 and spss 26 software. data analysis and discussion of the 466 questionnaires that were distributed to students studying at 6 universities in surabaya, all questionnaires have been returned by the respondents and all questionnaires could be processed. respondent’s characteristics the distribution of respondents in this study was mostly dominated by women as much as 60.9% or 284 respondents, while 39.1% or 182 were men. 66.5% of the total respondents are students who are studyng their fourth semester, while the other 33.5% are in semester 6. the age range of the respondents in this study ranged from 19-22 years, where 72.3% of the respondents are aged 19-20 years and 27.7% of the others are students aged 21-22 years. 67.8% of respondents get income from parents' pocket money without getting other sources of income, while the remaining 32.2% get additional sources of income, receive scholarships, or work. the distribution of respondents focused on 6 major universities in surabaya. thus, most of the students had an income in the range of rp. 3,000,000,-. students who lived in boarding houses had as many as 157 respondents and those who lived with their parents had as many as 138 respondents. the choice of place to live was also based on the distance and cost factors. therefore, 48.9% of respondents chose to live in a boarding house, while 47% of other respondents chose to live with their parents, and the remaining 4.1% chose a place to live other than living with their parents or boarding house. descriptive statistical analysis descriptive statistics provide an overview of students' views on the variable perceptions of the benefits of financial technology, financial socialization, financial literacy, and financial behavior which are projected in calculating trends and distributing data. the independent variable perceived usefulness of financial technology has the lowest value of 11 and the largest value of 49 with an average of 40.1 and a data distribution level (standard deviation) of 7.01. the independent variable of financial socialization has the lowest value 13 and the largest value 42 with an average of 31.5 and a data distribution of 6.63. the financial literacy variable has the lowest value of 14 and the highest value of 49 with an average of 39.48 and a data distribution level of 7.18. the financial behavior variable has the lowest value of 8 and the highest value of 42 with an average of 30.63 and a data distribution of 7.36. the mean coefficient value that is greater than the standard deviation value in all research variables implies that the distribution is normal and heterogeneous, indicating that it does not cause bias. the results of the average data frequency distribution index are then categorized based on the three-box method, which shows the reference level of student perspectives on the variables studied through the assessment of the interpretation of each variable indicator. the coefficient range of the likert index values is 14.29 – 100, which is divided into low (14.29 42.86), medium (42.87 71.43), and high (71.44 100) categories. based on the calculation, it can be concluded that the variable perceptions of the benefits of financial technology, financial socialization, financial literacy, and financial behavior of surabaya students are in the high category. table 2. respondent answer index results variable indicator 1 indicator 2 indicator 3 indicator 4 indicator 5 indicator 6 indicator 7 avera ge category x1 80,47 82,65 83,29 82,16 80,59 82,86 81,21 81,89 high x2 87,25 70,14 81,79 76,03 68,7 68,18 75.34 high m 83,45 83,35 87,16 82,96 82,77 80,87 67,35 81,13 high y 74,77 69,44 77,16 60,91 71,86 83,48 72,94 high source: data processed spss 26 validity test the validity test assesses the validity of variable indicators through convergent validity and discriminant validity. convergent validity measures the correlation of indicators in the same dimension (chin, 1998). the outer loading value is considered sufficient if the value lies between 0.5 0.6 on the latent variabless 3 7. discriminant validity is used to ensure the heterogeneity of each latent variable model through the fornell larcker-criterion test. the test results show that the 2 indicators could not explain the latent variables (m1.4a and x2.1a). due to this reason, they were removed from the research model. table 3. validity test results variable fornell larcker-criterion average variance extraction perceived usefulness of financial technology (x1) 0.788 0.511 financial socialization (x2) 0.733 0.623 financial literacy (m) 0.715 0.537 financial behavior (y) 0.789 0.622 source: output smartpls 3.0 algorithm the standard for measuring validity is if the fornell larcker-criterion is more than r2 and average variance extraction (ave) >0.5 (wahyudi, tukan, & pinem, 2020). in this study, the r2 value is 0.544; thus, based on the coefficient value shown in table 3, the variable perceptions usefulness of financial technology, financial socialization, financial literacy, and financial behavior are declared as valid and have fulfilled the due diligence evaluation both convergently and discriminantly. reliability test the reliability test refers to calculating the level of internal consistency of the assessment indicators used in research through composition reliability (cr) and cronbach's alpha tests (huang, 2021). determining the consistency of the research instrument is measured through a comparison of cr values, while the benchmark for evaluating the level of reliability in describing the correlation of each variable scale is assessed through cronbach's alpha. a variable is said to be reliable if the cr and cronbach's alpha coefficient values for each variable are > 0.7. table 4. reability test result variable composite reliability cronbach’s alpha perceived usefulness of financial technology (x1) 0.920 0.899 financial socialization (x2) 0.853 0.786 financial literacy (m) 0.908 0.878 financial behavior (y) 0.860 0.804 source: output smartpls 3.0 algorithm based on the results of table 4, the cr and cronbach's alpha numbers for each variable, which are perceived usefulness of financial technology, financial socialization, financial literacy, and financial behavior, have a value of > 0.7. this indicates that all variables are reliable because they meet the composite reliability and cronbach's alpha requirements. uji r2 te r2 test aims to assess the ability of each independent variable to relate the variance of the effect on the dependent variable. the following is the r2 test performed using smartpls 3.0: table 5. r2 test result variable r-square r-square adjusted financial behavior (y) 0.544 0.541 financial literacy (m) 0.297 0.294 source : output smartpls 3.0 algorithm based on the results shown in table 5, the r2 of financial behavior in this study is 0.544, which means that financial behavior can be explained by 54.4% by the variable perceived usefulness of financial technology, financial socialization, and financial literacy. on the other hand, the remaining 46.6% can be explained by other external variables. the r2 of financial literacy is worth 0.297 which means that financial literacy is weak because it can only be explained by 29.7% of the perceived usefulness of financial technology and financial socialization variables. uji q2 (predictive relevance) the q2 test acts in measuring the ability of the model to produce a good estimate of the observed value. the following are the results of the q2 test using the smartpls 3.0 blindfolding method: table 6. q2 test result variable sso sse q² (=1-sse/sso) financial behavior 2796,000 2042,761 0,269 financial literacy 2796,000 2295,828 0,179 source : output smartpls 3.0 blindfolding parameter capability reflects the quality of predictive relevance, where it is better when the q2 value is greater than 0. according to the data shown on table 6, the research observation estimates are categorized as good for testing hypotheses in finding the association of latent variables because they are at 26.9% for financial behavior and 17.9% for financial behavior literacy. uji f2 the following table shows the results of the f2 test using smartpls 3.0: table 7. f2 test result variable financial behavior (y) financial literacy (m) perceived usefulness of financial technology (x1) 0.009 0.308 financial socialization (x2) 0.131 0.020 financial literacy (m) 0.676 source : output smartpls 3.0 algorithm table 7 shows the weak influence of perceived usefulness of financial technology on financial behavior of 0.009 or 0.9%, but has a strong influence on financial literacy, namely 0.308 or 30.8%. financial socialization also has a weak influence on financial behavior and financial literacy where it only reaches 0.131 or 13% for financial behavior and 0.020 or 2% for financial literacy. financial literacy has a strong influence on financial behavior of 0.676 or 67.6%. hypothesis testing table 8. t-test result original sample (o) sample mean (m) standard deviation (stdev) t statistics (|o/stdev|) p values perceived usefulness of financial technology -> financial behavior -0,076 -0,076 0,042 1,815 0,070 financial socialization -> financial behavior 0,261 0,265 0,049 5,282 0,000 financial literacy -> financial behavior 0,662 0,660 0,049 13,503 0,000 perceived usefulness of financial technology -> financial literacy -> financial behavior 0,325 0,326 0,040 8,207 0,000 financial socialization -> financial literacy -> financial behavior 0,084 0,085 0,031 2,686 0,007 source : output smartpls 3.0 bootstrapping the original sample value indicates a positive or negative relationship between the independent variables and the dependent variable. the t-statistic shows whether there is an influence resulting from the independent variable on the dependent variable with a t-table level > 1.96. p-value is useful in assessing the level of significance of the effect of the independent variables on the dependent variable with a p-value level <0.05. therefore, it can be concluded that financial literacy and financial socialization have a positive effect on financial behavior, while perceived usefulnesss of financial technology has no effect on financial behavior. financial literacy is also able to mediate the effect of financial socialization and perceived usefulnesss of financial technology on financial behavior. discussion the effect of perceived usefulness of financial technology on financial behavior based on the hypothesis testing that has been conducted, it shows that the perceived usefulness of financial technology has no effect on the financial behavior within students who live in surabaya. this could be caused by the risks and negative social stigma that are still strongly attached to financial technology. the danger of fraud, digital crime, data leakage creates fear and a lack of trust for students to use the technology as a financial management tool, especially when investing with large capital (erlangga & krisnawati, 2020). a strict privacy safeguard for telephone numbers, id cards, and other personal information are still the barrier to efficiently applies financial technology in optimizing student finances. the test results support the tam theory which indicates that there are beliefs and aspects of trust in the financial technology system that must be implemented to increase behavioral intentions and improve the performance (davis, 1996). the respondents' answers acknowledge perceived usefulness of financial technology as a practical tool that provides convenience and increases productivity. however, the main problem lies in their trust and the development of a variety of financial technology innovations. furthermore, the problem lies in the development of education and students' abilities in product introduction as well as trust in privacy guarantees which do not go hand in hand. thus, students only know its benefits without trusting and understanding the way to properly implement financial technology in managing their finances. the practice of not using financial technology optimally results in no perceived advantage in the productivity of one's financial control. this finding is in line with studies by widiastuti, jati, nawarini & setyawati (2020), wati & panggiarti (2021), and haqiqi & pertiwi (2022). however, it contradicts with previous studies by safitri (2021) and mukti, rinofah & kusumawardhani (2022) which shows the positive influence of perceived usefulness of financial technology towards financial behavior. the effect of financial socialization on financial behavior the study shows that financial socialization has a positive effect on the financial behavior in students in surabaya. the finding is relevant to the theory of planned behavior (tpb) which states that there is an influence of information and subjective norms transmitted by the surrounding environment as behavioral controls in influencing one's financial management goals (ajzen, 1991). the significant relationship that exists between financial socialization and financial behavior implies an optimization of financial socialization which is conveyed because of the maximum frequency of socialization carried out by social agents, especially those carried out by parents, as the main educators and have the closest interactions with the students. this implication is supported by the respondents' assessments showing that financial socialization is indicated as a high level. optimization of financial socialization refers to the ability of socialization to provide a better change of perspective in controlling financial decisions, especially to improve the proportion of savings and investment. the effect of financial socialization will be more substantial when the frequency of socialization carried out by the social agents is intensified in providing financial information, such as relevant means or solutions to escalate individual reliability in managing their own finances. the level of exposure experienced by the individual will have a stimulant impact on the considerations that are made before they make a financial decision. in this stage, the role of social agents is needed because a person's financial behavior is not only influenced by internal capabilities but also by external exposure. this finding is in line with studies by safitri & kartawinata (2020), ameer & khan (2020), and ameliawati & setiyani (2018), although it contradicts with studies by harianto & isbanah (2021) and dewanti & asandhimitra (2021). the effect of financial literacy on financial behavior financial literacy has a positive effect on the financial behavior of students in surabaya. thus, it indicates that the higher the financial literacy possessed by individuals will affect their financial behavior. in line with the theory of planned behavior (tpb), it indicates that personal desires and goals are build based on internal factors of intelligence and knowledge information to increase motivation in managing finances (ajzen, 1991). the awareness of the risks and returns on a financial product will create an understanding and skills in solving the financial problems they experience. the level of financial literacy will affect how a person distinguishes between needs and desires in avoiding consumptive behavior. the wrong way of managing income is very relevant to the erroneous perception of individual needs. in general, everyone will have heterogeneity of needs when faced with differences in social and economic status. an accurate understanding of their financial basis, the proportion of debt, savings, and investment will support the suitability of individual’s interpretations regarding the concepts of time, value of money, and return to form an optimal financial strategy. this strategy can be in the form of determining the means of investment diversification, the ratio of savings and emergency funds, spending priorities, and the appropriate time to invest. the accuracy of strategy determination will reflect the quality of student’s financial behavior. this findings is releavent to studies conducted by pusparani & krisnawati (2019), putri & tasman (2019), and latiifah & kautsar (2022). the effect of financial literacy mediation on the relationsip of perceived usefulness of financial technology with financial behavior financial literacy simultaneously mediates the effect of perceived usefulnesss of financial technology on the financial behavior of students in surabaya – indicating an indirect relationship between the perceived usefulness of financial technology on financial behavior through financial literacy. the existence of belief in the benefits will result in the formation of individual’s reactions and awareness to try to replace conventional financial management media with financial technology, which is recognized to increase effectiveness and performance. the existence of individual’s awareness in using financial technology supports the creation of information distribution and opportunities to introduce the financial products that can be implemented in one's financial portfolio. this will certainly distinguish literacy possessed before and after being exposed to financial technology innovations. this result is closely related to the concept of the tam theory where the benefit aspect supports an increase in behavioral intention, thereby supporting an increase in financial performance (davis, 1996). understanding the importance of managing income in precise proportions in savings, expenses, debt, and investment will be a provision for students to make financial literacy an intermediary in linking financial technology and financial behavior. recognizing the advantages of financial technology and the need created by introducing a good financial planning system places financial technology as a tool for online transactions to maximize profits. moreover, with a high level of literacy, it encourages students' knowledge of financial products so that they can smoothly learn and hone their capabilities in using the financial system, especially to assist them in making budgets, paying bills, or investing in facilities that are guaranteed and supervised by authorities, such as ojk and coftra. this guarantee can resolve a sense of wariness in the use of financial technology because students already have some insights regarding the appropriate financial institutions, products, and applications. this finding is consistent with the research conducted by khofifa, wahyuni & subaida (2022), rahmad (2020), and hijir (2022). the effect of financial literacy mediation on financial socialization with financial behavior the findings show that financial literacy partially mediates the effect of financial socialization on the financial behavior of students in surabaya. the presence of financial literacy as an intermediary variable still influences the relationship of financial socialization to the financial behavior of students in surabaya which is consistent with the tpb theory. proposals, invitations, and ideas that are channeled as subjective norms will foster another perspective on the object of individual behavior. the creation of vertical and horizontal relationships between parents, lecturers, and friends as one of the social agents will shape expectations in achieving goals and perceptions which are implicitly expressed in financial socialization. consequently, students will try to meet these expectations by imitating and implementing socialization in their financial decisions. the existence of financial information and opinions conveyed, such as financial application preferences, budget proportions, and financial plans or limitations in fulfilling a lifestyle will persuade the individuals to follow the example and the advice given. balanced financial information improves one's financial literacy and management. this is because social agents open access for students to get to know financial products that are circulating in society. interactions that exist with social agents encourage a process of exchanging ideas and knowledge. students who previously only knew one or two financial products immediately got exposure to other types of financial commodities which certainly can increase their fluency and knowledge related to financial concepts. this knowledge and fluency will later become the basis to assess and evaluate their undersatnding in improving and controlling every financial decision. the right financial decisions indicate better financial behavior as well. these findings are in sync with previous studies conducted by rachmawati & nuryana (2020), sundarasen, rahman & danaraj (2016), and jazuli & setiyani (2021) which explain the influence of financial literacy in mediating financial socialization on financial behavior. conclusions and recommendations the results of the study prove the role of financial socialization and financial literacy in influencing the financial behavior of students in surabaya. financial literacy can simultaneously mediate the relationship of perceived usefulness of financial technology and partially mediate financial socialization towards students’ financial behavior. the maximum level of financial socialization given by social agents to the students can increase their financial perceptions in the implementation and introduction of financial products. the development of an understanding about the world of finance that is conveyed directly or indirectly can have an impact on the way individual finances are managed. students, who are the generation of technology literate and the target of exposure from various media, are indeed found to be easier to be open-minded in receiving financial information related to financial features, systems, and products that can broaden their horizons. intellectual progress that is owned provides greater space in determining the balance of spending and saving. the concept of return and risk which is strongly attached to every financial product will be increasingly understood by students through financial socialization and confidence in the benefits of financial technology. it is these theories and financial schemes that students know that then become the basis for implementation in practice of managing their finances. the variable perceived usefulness of financial technology does not directly influence the financial behavior of students in surabaya. lack of trust, despite recognizing the benefits of financial technology, will create a sense of reluctance and wariness, which results in students' reluctance to use financial technology to optimize portfolio profitability and financial decisions. it will be different if there is confidence in the benefits of financial technology accompanied by an increase in the level of student financial literacy. knowledge about guaranteed institutions, financial supervisors, or quality financial applications can make students more confident in using financial technology so that it plays a role in individual’s financial management. social agents and ojk (financial services authority) should be able to provide counseling and education to students so that they can provide a stronger financial foundation that can affect the quality of students’ life in the future. students, as the next generation of the nation, must be able to manage their finances well to contribute to the progress of the country. universities, as educational institutions, must also be able to accommodate a standard curriculum of teaching and assessment so that they can provide knowledge theoretically and practically in the field of finance. learning and having the right scope of socialization will produce superior seeds. future research is expected to be able to use a model and scope of research objects that are not only focused on students to produce a more accurate research model. the addition of intervening and mediator variables in assessing the connectedness of variables can also be done to provide perspective heterogeneity from the role of other variables that can influence individual financial management. acknowledgement: thank you to the ministry of education, culture, research and technology of the republic of indonesia for providing funding for the publication of this research. bibliography abeyrathna, s. p. (2020). factors affecting to personal financial management behaviours of government employees in sri lanka. international journal of scientific and research publications, 10(5), 761767. ajzen, i. (1991). the theory of planned behavior. organizational behavior and human decision processes, 50(2), 179-211. ameer, r., & khan, r. (2020). financial socialization, financial literacy, and financial behavior of adults in new zealand. journal of financial counseling and planning, 31(2), 313-329. ameliawati, m., & setiyani, r. (2018). the influence of financial attitude, financial socialization, and financial experience to financial management behavior with financial literacy as the mediation variable. international conference on economics, business and economic education , 811. ananda, h. r. (2019). persepsi kegunaan, persepsi kemudahan menggunakan, persepsi keamanan dan persepsi kompatibilitas terhadap intensi menggunakan layanan mobile payment di indonesia. chandra, v. (2021). pengaruh control terhadap financ financial attitude , financial knowledge ial management behavior mahasiswa, dan locus of mahasiswi s1 fakultas ekonomi. chin, w. w. (1998). the partial least squares approach to structural equation modeling. advances in hospitality and leisure, 8(2), 295 336. dara, s. r., & mariah. (2020). peran fintech dalam upaya untuk meningkatkan literasi keuangan pada masyarakat di jakarta. akurasi: jurnal riset akuntansi dan keuangan, 2(3), 127-138. davis, f. (1996). a critical assessment of potential measurement biases in the technology acceptance model : three experiments. international journal of human-computer studies. 45(1), 19-45. dewanti, v. p., & asandimitra, n. (2021). pengaruh financial socialization, financial knowledge, financial experience terhadap financial management behavior dengan locus of control sebagai variabel mediasi pada pengguna paylater. jurnal ilmu manajemen, 9(3), 863 875. erlangga, m. y., & krisnawati, a. (2020). pengaruh fintech payment terhadap perilaku manajemen keuangan mahasiswa. jurnal riset manajemen dan bisnis, 15(1). haqiqi, a. f., & pertiwi, t. k. (2022). pengaruh financial technology, literasi keuangan, dan sikap keuangan terhadap perilaku keuangan generasi z di era pandemi covid-19 pada mahasiswa upn veteran jawa timur. journal of management & business, 5(2), 355-366. harianto, s., & isbanah, y. (2021). peran financial knowledge, pendapatan, locus of control, financial attitude, financial self-efficacy dan parental financial socialization terhadap financial management behavior masyarakat di kabupaten sidoarjo. jurnal ilmu manajemen, 9(1), 241-252. hijir, p. s. (2022). pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku keuangan dengan financial technology (fintech) sebagai variabel intervening pada ukm di kota jambi. jurnal manajemen terapan dan keuangan (mankeu), 11(1), 147-156. huang, c.-h. (2021). using pls-sem model to explore the influencing factors of learning satisfaction in blended learning. education sciences, 11(249). ishar, m., & anam, a. k. (2021). pengaruh pembelajaran keuangan dan sosialisasi keuangan terhadap literasi keuangan. jurnal ekonomi keuangan dan manajemen, 17(3), 605 608. jazuli, a., & setiyani, r. (2021). anteseden financial management behavior: financial literacy sebagai intervening. economic education analysis journal, 10(1). khofifah, a., wahyuni, i., & subaida, i. (2022). pengaruh financial technology terhadap perilaku keuangan dengan literasi keuangan sebagai variabel intervening pada mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis universitas abdurachman saleh situbondo. jurnal mahasiswa entrepreneurship (jme), 1(3), 523-537. lathiifah, d. r., & kautsar, a. (2022). pengaruh financial literacy, financial technology, financial selfefficacy, income, lifestyle, dan emotional intelligence terhadap financial management behavior. jurnal ilmu manajemen, 10(4), 1211-1226. marpaung, o., purba, d. m., & maesaroh, s. (2021). analisis faktor yang mempengaruhi penggunaan aplikasi fintech dan dampaknya terhadap literasi keuangan. jurnal akuntansi, 10(1), 98-106. mukti, v. w., rinofah, r., & kusumawardhani, r. (2022). pengaruh fintech payment dan literasi keuangan terhadap perilaku manajemen keuangan mahasiswa. akuntabel: jurnal akuntansi dan keuangan, 52-58. mulasiwi, c. m., & julialevi, k. o. (2020). optimalisasi financial teknologi (fintech) terhadap peningkatan literasi dan inklusi keuangan usaha menengah purwokerto. jurnal personalia, financial, operasional, marketing dan sistem informasi, 27(1), 12-20. muntahanah, s., cahyo, h., setiawan, h., & rahmah, s. (2021). literasi keuangan, pendapatan dan gaya hidup terhadap pengelolaan keuangan di masa pandemi. jurnal ilmiah universitas batanghari jambi, 21(3), 1245 1248. novitasari, d., juliana, asbari, m., & purwanto, a. (2021). the effect of financial literacy, parents' social economic and student lifestyle on students personal financial management article history. economic education analysis journal, 10(3), 522-531. oecd. (2022). oecd/infe toolkit for measuring financial literacy and financial inclusion 2022. otoritas jasa keuangan. (2022). survei konsumen. 14. pddikti. (2022). pangkalan data pendidikan tinggi. prihartini, k. v. (2022). pengaruh persepsi manfaat dan persepsi kemudahan terhadap minat penggunaan layanan transaksi q-ris di kota singaraja. pusparani, a., & krisnawati, a. (2019). analisis pengaruh financial literacy dan financial attitude terhadap financial behavior pada siswa sekolah menengah pertama di kota bandung. jurnal mitra manajemen edisi januari, 3(1). putri, i., & tasman, a. (2019). pengaruh financial literacy dan income terhadap personal financial management behavior pada generasi millennial kota padang. jurnal kajian manajemen dan wirausaha, 1(1). rachmawati, n., & nuryana, i. (2020). peran literasi keuangan dalam memediasi pengaruh sikap keuangan, dan teman sebaya terhadap perilaku pengelolaan keuangan. economic education analysis journal, 9(1), 166-181. radianto, w. e., efrata, t. c., & dewi, l. (2020). a determinants of financial behavior on accounting student. lecture papers international published articles. radianto, w. e., kristama, b. y., & salim, i. r. (2021). exploring the relationship between locus of control and financial behavior of accounting student from the social construction theory approach. lecture papers international published articles. rahmad, d. n. (2020). pengaruh literasi keuangan dan financial technology terhadap perilaku keuangan driver gojek: studi kasus komunitas gojek area barat di surabaya. safitri. (2021). kontribusi fintech payment terhadap perilaku manajemen keuangan di masa pandemi covid-19. jurnal ekonomi manajemen sumber daya, 23(2), 140 -145. safitri, a., & kartawinata, b. r. (2020). pengaruh financial socialization dan financial experience terhadap financial management behavior (studi pada wanita bekerja di kota bandung). jurnal ilmu keuangan dan perbankan (jika), 9(2), 158-170. sebastian, w. (2022). pengaruh financial knowledge dan financial socialization terhadap financial literacy pada individu yang menggunakan layanan digital perbankan. jurnal manajemen bisnis dan kewirausahaan, 6(1), 89-94. sugiyanto, t., radianto, w. e., efrata, t. c., & dewi, l. (2019). financial literacy, financial attitude, and financial behavior of young pioneering business entrepreneurs. proceedings of the 2019 international conference on organizational innovation (icoi 2019) (hal. 353-358). atlantis press. sundrasen, s. d., rahman, s. m., & danaraj, j. (2016). impact of financial literacy, financial socialization agents, and parental norms on money management. journal of business studies quarterly, 8(1), 140-156. universitas airlangga direktorat pendidikan. (2022). data statistik mahasiswa tahun baru. universitas katolik parahyangan. (2022). riset unpar: pandemi mengubah perilaku warga, belanja daring jadi pengisi kesenangan. universitas negeri surabaya. (2022). data mahasiswa s1. wahyudi, tukan, b. a., & pinem, d. b. (2020). analysis of the effect of financial literation, financial technology, income, and locus of control on lecturer financial behavior. afebi management and business review (ambr), 5(1), 37 46. waranyasathid, r., & htin, k. z. (2020). financial literacy and money management among the young. asean journal of management and innovation, 7(1), 79-89. wasita, p. a., artaningrum, r. g., & clarrissa, s. v. (2022). pengaruh literasi keuangan dan sikap keuangan terhadap perilaku keuangan dengan self-efficacy sebagai variabel medias. jimat (jurnal ilmiah mahasiswa akuntansi) undiksha, 13(1). wati, l., & panggiarti, e. k. (2021). analisis penggunaan financial technology, literasi keuangan dan perilaku keuangan mahasiswa pelaku usaha online. jurnal edukasi ekonomi, pendidikan dan akuntansi, 9(2), 121-130. widiastuti, e., jati, d. p., nawarin, a. t., & setyawati, s. m. (2020). analisis dampak inovasi layanan keuangan berbasis teknologi dan literasi keuangan terhadap perilaku keuangan. prosiding semnas lppm unsoed, 10(1), 32-39. wiyono, g., & kirana, k. c. (2020). efek impresi fintech terhadap perilaku keuangan usaha kecil menegah (ukm). jurnal ilmiah manajemen dan bisnis, 21(1), 69-81. 01 dafazal saffan.pmd puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 6363 implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x puspandam katias, achmad affandi universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: puspandam@unusa.ac.id, achmad.affandu100@gmail.com abstract: the increasing competition in the manufacturing industry caused increasing inconsumer demand of the quality and quantity of a good product. therefore, manufacturing companies must have reliable services, policies and product qualities to satisfy its customers. so it needs to be supported by efficient production system and inventory system. to able to create an efficient production system then need a good raw material inventory planning. this research aims to compere how efficiently in planning raw materials inventory between wagner-within algorithm with the actual concept that applied to pt x, sidoarjo. the methodology of this research is qualitative descriptive research. the findings this research is engaged in packaging (woven bag and jumbo bag) with main raw materials such as plastic ore and supporting material in inner, thread, additive, and pigment. based on the result of the analysis is known that the actual concept of the company gives the total inventory cost idr 3.151.000.000 with the frequency of ordering 12 times while wagnerwithin algorithm method provides a more efficient total inventory cost of rp. 2.685.821.101 with 8 times the frequency of ordering and can savings of 14.8% of total raw material inventory cost. keywords: wagner-within algorithm, lot sizing, inventory management 1. pendahuluan 1.1 latar belakang dengan semakin berkembangnya teknologi dan dunia industri manufaktur saat ini memacu pertumbuhan industri manufaktur, yang menyebabkan meningkatkannya persaingan di antara perusahaan-perusahaan manufaktur untuk memperebutkan konsumen sehingga mengakibatkan meningkatnya pula tuntutan konsumen terhadap kualitas dan kuantitas yang baik dari suatu produk. selain itu, perusahaan manufaktur juga dituntut untuk dapat memuaskan konsumen dengan cara menyelesaikan pesanan konsumen tepat pada waktu yang diharapkan oleh para konsumen oleh karena itu, perusahaan manufaktur haruslah mempunyai pelayanan, kebijakan, dan kualitas produk yang dapat diandalkan guna memuaskan konsumennya. sehingga perlu ditunjang oleh suatu sistem produksi dan sistem persediaan yang seefisien mungkin. untuk dapat menciptakan sistem produksi yang efisien maka diperlukan suatu perencanaan produksi yang baik. persediaan adalah persediaan barang atau sumber yang digunakan dalam suatu organisasi. sedangkan menurut (yamit, 2005) persediaan merupakan kekayaan perusahaan yang memiliki peranan penting dalam operasi bisnis, sehingga perusahaan perlu melakukan manajemen persediaan proaktif, artinya perusahaan harus mampu mengantisipasi keadaan maupun tantangan yang ada dalam manajemen persediaan untuk mencapai sasaran akhir, yaitu untuk meminimalisasi total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk penanganan persediaan. dalam upaya meningkatkan daya saing dan profitabilitas, seperti yang dikemukakan rangkuti (2007) bahwa keuntungan yang maksimum salah satunya dapat dicapai dengan meminimumkan business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 64 biaya yang berkaitan dengan persediaan, sangat diperlukan perencanaan persediaan yang baik, efektif, dan efisien khususnya untuk persediaan bahan mentah atau bahan baku, mengingat bahwa bahan baku dalam perusahaan manufaktur merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kelancaran bisnis. selama ini perusahaan manufaktur pada umumnya melakukan perencanaan dan pengendalian tidak berdasarkan metode-metode yang sudah baku, tetapi hanya berdasarkan pada pengalaman-pengalaman sebelumnya. hal tersebut sering menyebabkan terjadinya kelebihan atau penumpukan bahan baku maupun kekurangannya yang menyebabkan pembengkakan biaya, di samping terjadi kekurangan-kekurangan yang dapat mengganggu atau menghambat proses produksi dalam memenuhi permintaan konsumen. untuk mengatasi permasalahan dalam persediaan suatu perusahaan, terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan dalam rangka meningkatkan efisiensi manajemen persediaan. salah satunya metode lot sizing di mana ukuran jumlah barang yang dipesan akan berhubungan dengan biaya pemesanan (set-up). lot sizing menurut rangkuti (2007) adalah teknik dalam meminimalkan jumlah barang yang akan dipesan, sehingga dapat meminimalkan total biaya persediaan. salah satu pendekatan lot sizing yang paling tepat yang dapat meminimalkan biaya total persediaan yakni algoritma wagner within (aww). algoritma ini dikembangkan oleh wagner dan within pada tahun 1958 untuk memberikan solusi optimum bagi persoalan ukuran pemesanan deterministik pada suatu kurun waktu tertentu di mana kebutuhan seluruh periode harus terpenuhi. menurut jurnal penelitian (rajhans dan kulkarnia, 2013:807) algoritma wagner within adalah metode yang akurat untuk menentukan ukuran yang optimal untuk suatu produk dengan permintaan dinamis dengan produksi satu tahap tanpa mempertimbangkan batasan kapasitas. model algoritma wagner-whitin menghasilkan biaya yang optimal walaupun biaya tetap bervariasi dari satu periode ke periode lainnya. penelitian ini dilakukan di salah satu perusahaan yang bergerak pada bidang kemasan/packaging di pt x yang beroperasi sejak tahun 1981, perusahaan ini memproduksi karung plastik dan aksesorisnya. produk yang dihasilkan oleh pt x adalah woven bag dan jumbo bag. baik woven bag dan jumbo bag dihasilkan melalui proses perajutan raw material, penjahitan, dan printing. produk woven bag biasanya digunakan sebagai pembungkus pupuk, semen, tepung, beras, dll., sedangkan produk jumbo bag biasanya digunakan sebagai pembungkus dalam ukuran yang sangat besar seperti barang-barang yang dikirim dengan kontainer. dalam proses produksinya, pt x memiliki permasalahan pada persediaan salah satu bahan bakunya yakni bijih plastik. bahan baku bijih plastik merupakan bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan woven bag maupun jumbo bag. bijih plastik ini langsung diimpor langsung dari negara lain, hal ini membutuhkan waktu tunggu yang lumayan lama untuk proses pemesanan bahan baku. berkaitan dengan lamanya waktu pemesanan bahan baku produk-produk tersebut, perusahaan ini harus mempunyai strategi yang tepat dalam merencanakan persediaan bahan baku agar perusahaan dapat mengelola produksi secara efektif dan efisien. berdasarkan pertimbangan dari latar belakang yang telah dijelaskan tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang persediaan bahan baku dan cara meminimalkan total biaya persediaan menggunakan metode algoritma wagner-within (aww). puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 65 1.2 rumusan masalah berdasarkan apa saja yang telah dituliskan pada latar belakang di atas, penulis dapat mengidentifikasikan permasalahan dalam perencanaan persediaan bahan baku yang berhubungan langsung dengan produksi perusahaan. apakah metode algoritma wagner-within (aww) dalam analisis persediaan bahan baku dapat berjalan secara efisien berdasarkan tolak ukur total biaya persediaan bahan baku dibandingkan dengan kondisi existing yang diterapkan pt x, sidoarjo? 1.3 tujuan penelitian adapun tujuan yang ingin dicapai dalam rangka penelitian ini secara garis besar adalah sebagai berikut. untuk membandingkan seberapa efisien berdasarkan tolak ukur total biaya persediaan bahan baku dalam analisis persediaan bahan baku antara metode algoritma wagner-within (aww) dengan kondisi existing yang diterapkan pada pt x, sidoarjo. 2. landasan teori 2.1 persediaan sedangkan menurut hendra (2009:131) persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan untuk dijual pada periode mendatang. persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, komponen yang diproses, barang dalam proses pada proses manufaktur, dan barang jadi yang disimpan untuk dijual. pada dasarnya, persediaan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perusahaan khususnya perusahaan manufaktur yang seharihari melakukan proses produksi, baik memproduksi barang maupun jasa untuk menunjang kelancaran proses produksinya. 2.2 biaya akibat persediaan menurut tampubolon (2004:194), biayabiaya yang sering muncul akibat persediaan adalah sebagai berikut. 1. biaya penyimpanan biaya penyimpanan merupakan biaya yang timbul di dalam menyimpan persediaan, di dalam usaha mengamankan persediaan dari kerusakan, keusangan dan keausan, dan kehilangan. biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak atau rata-rata persediaan semakin tinggi (rasjidin, dkk., 2007: 157) yang meliputi beberapa hal berikut. • biaya fasilitas penyimpanan (penerangan, pendinginan dan pemanasan) • biaya modal • biaya keusangan dan keausan (amortization) • biaya asuransi persediaan • biaya perhitungan fisik dan konsolidasi laporan • biaya kehilangan barang (pencurian, perusakan, perampokan) • biaya penanganan persediaan (handling cost) • biaya pajak persediaan 2. biaya pemesanan biaya pemesanan pada umumnya (di luar biaya bahan dan potongan kuantitas) tidak naik apabila kuantitas pemesanan bertambah besar. namun, apabila semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per periode turun, maka biaya pemesanan total akan turun. berikut adalah biaya-biaya yang termasuk biaya pemesanan. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 66 bahwa perusahaan haruslah dapat mempertahankan suatu jumlah persediaan yang optimum yang dapat menjamin kebutuhan bagi kelancaran kegiatan perusahaan dalam jumlah dan mutu yang tepat serta dengan biaya yang serendah-rendahnya. berdasarkan pernyataan tersebut baroto (2002:54) menegaskan yang dimaksud kriteria optimum adalah meminimalisasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu biaya penyimpanan dan pemesanan. tingkat persediaan yang optimum dapat diatur dengan memenuhi kebutuhan bahan-bahan dalam jumlah, mutu, dan waktu yang tepat serta jumlah biaya yang rendah. 2.4 prasyarat manajemen persediaan yang efektif dan efisien sumayang (2003) menjelaskan dalam pengolahan persediaan terdapat pertimbangan-pertimbangan yang merupakan dasar pemikiran inventory management, di antara lain sebagai berikut. 1. struktur biaya persediaan a. biaya per unit (item cost) b. biaya penyiapan pemesanan (ordering cost) c. biaya pengelolaan persediaan (carrying cost) d. biaya risiko kerusakan (cost of obsolescence) e. biaya akibat kehabisan persediaan (stock out cost) 2. penentuan seberapa besar dan kapan pemesanan harus dilakukan. hal ini sangat dipengaruhi oleh ketergantungan permintaan terhadap kondisi pasar. a. independent demand inventory pada kondisi ini, persediaan sangat bergantung pada permintaan pasar. pendekatan yang tepat adalah pengisian kembali persediaan disesuaikan dengan jumlah yang digunakan atau merupakan penggan• biaya angkut • biaya upah • biaya telepon • biaya surat menyurat. dan • biaya pemeriksaan penerimaan (raw material inspection) 3. biaya persiapan biaya persiapan merupakan biaya-biaya yang timbul di dalam menyiapkan mesin dan peralatan untuk dipergunakan dalam proses konversi seperti: • biaya mesin yang menganggur (idle capacity) • biaya penyiapan tenaga kerja • biaya penjadwalan (scheduling) 4. biaya kehabisan stock (stock out cost) biaya tersebut disebut juga dengan biaya kekurangan atau kehabisan bahan. biaya ini timbul akibat persediaan yang tidak mencukupi permintaan. perusahaan sulit mengukur biaya kekurangan atau kehabisan pada praktiknya terutama karena biaya ini sering merupakan opportunity cost yang sulit diperkirakan secara objektif. biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan atau kehabisan bahan adalah: • biaya kehilangan penjualan • biaya kehilangan langganan • biaya pemesanan khusus • biaya ekspedisi • selisih harga • biaya yang timbul akibat terganggunya operasi • biaya tambahan, pengeluaran manajerial. 2.3 manajemen persediaan dalam menjalankan operasional perusahaan khususnya perusahaan manufaktur maka tidak akan terlepas dari kegiatan penting dalam melakukan persediaan yaitu manajemen persediaan. menurut assauri (2004:176) mengemukakan puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 67 tian (replenishment). pada saat persediaan mulai berkurang, maka perusahaan dipicu untuk segera melakukan pemesanan sebagai pengganti persediaan yang telah digunakan. b. dependent demand inventory pemesanan tidak dilakukan apabila persediaan berkurang. pada kondisi ini, pemesanan dilakukan bila ada permintaan barang dari tahapan proses berikutnya. 2.5 lot sizing lot sizing merupakan teknik penentuan ukuran tumpuk atau jumlah barang atau bahan yang dipesan pada setiap pemesanan (pardede, 2004: 495). menurut rangkuti (2007) lot sizing merupakan teknik dalam meminimalkan jumlah barang yang akan dipesan sehingga dapat meminimalkan total biaya persediaan. menurut herjanto (1999: 270) semakin rendah ukuran lot yang berarti semakin sering melakukan pemesanan barang akan menurunkan biaya penyimpanan, tetapi menambah biaya pemesanan. sebaliknya, semakin tinggi ukuran lot akan mengurangi frekuensi pemesanan yang berarti mengurangi biaya pemesanan, tetapi mengakibatkan meningkatnya biaya penyimpanan. untuk itu, perlu dicari ukuran lot yang tepat yang dapat meminimalkan biaya total persediaan. beberapa teknik lot sizing dengan tujuan meminimalkan jumlah biaya persediaan menurut rajhans dan kulkarnia (2013:806): 1. lot for lot (lfl) 2. economic order quantity (eoq) 3. period order quantity (poq) 4. least unit cost 5. least total cost 6. least period cost 7. wagner-whitin algorithm/algoritma wagnerwithin. 2.6 algoritma wagner-within algoritma ini dikembangkan oleh wagner dan within pada tahun 1958 untuk memberikan solusi optimum bagi persoalan ukuran pemesanan deterministik pada suatu kurun waktu tertentu dimana kebutuhan seluruh periode harus terpenuhi. algoritma wagner within adalah metode yang akurat untuk menentukan ukuran yang optimal untuk suatu produk dengan permintaan dinamis dengan produksi satu tahap tanpa mempertimbangkan batasan kapasitas (rajhans dan kulkarnia, 2013:807). metode algoritma wagnerwhitin menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang optimal walaupun biaya tetap bervariasi dari satu periode ke periode lainnya. metode ini melakukan minimasi penggabungan biaya total persediaan bahan baku dari setup cost dan holding cost tersebut dengan hasil mendekati nilai yang sama untuk jumlah pemesanan yang dilakukan. wagner dan within (2004) menjabarkan langkah-langkah aww sebagai berikut. langkah 1 hitung biaya total persediaan (biaya pesan dan biaya simpan), selanjutnya didefinisikan oen. rumusan oen tersebut dinyatakan sebagai berikut. ���=�+�σ(�� −�� )��=� untuk 1≤ e ≤ n ≤ n di mana: oen : biaya total persediaan (rp) a : biaya pesan (rp/pesan) h : biaya simpan per unit per periode (rp/ unit/periode) qet : σ = � dt : permintaan pada periode t e : batas awal periode yang dicakup pada pemesanan qet n : batas maksimum periode yang dicakup pada pemesanan qet business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 68 input 1. data permintaan pembelian bahan baku selama tahun 2016 2. data biaya pemesanan dan penyimpanan bahan baku selama tahun 2016 3. data hasil observasi dan wawancara penelitian di perusahaan tersebut proses 1. menghitung biaya penyimpanan dan biaya pemesanan serta total biaya persediaan bahan baku dengan kondisi existing perusahaan 2. menghitung biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan frekuensi pemesanan, serta total biaya persediaan bahan baku dengan metode algoritma wagner-within (aww) menggunakan software pom for windows 3 output 1. untuk membandingkan seberapa efisien berdasarkan tolak ukur total biaya persediaan bahan baku dalam analisis persediaan bahan baku antara metode algoritma wagner-within (aww) dengan kondisi existing yang diterapkan pada pt kerta rajasa raya, sidoarjo. a. mengetahui jumlah biaya penyimpanan, biaya pemesanan, frekuensi pemesanan, dan total biaya persediaan bahan baku dengan kondisi existing perusahaan. b. mengetahui jumlah biaya penyimpanan, biaya pemesanan, frekuensi pemesanan, dan total biaya persediaan bahan baku menggunakan metode algoritma wagner-within (aww). c. mengetahui perbandingan jumlah biaya penyimpanan, biaya pemesanan, frekuensi pemesanan, dan total biaya persediaan bahan baku antara kondisi existing yang selama ini diterapkan perusahaan dengan metode algoritma wagner-within (aww). langkah 2 nilai fn adalah nilai biaya total dan pemesanan optimal yang dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut. = [ + − ] untuk e = 1, 2,., n dan n = 1, 2,., n langkah 3 solusi optimal ft diperoleh dari perhitungan rekursif mundur seperti berikut: fn = oen + f e-1 pemesanan-terakhir dilakukan pada periode e untuk memenuhi permintaan dari periode e sampai periode n fe-1 = ove-1 + fv-1 pemesanan sebelum pemesanan-terakhir harus dilakukan pada periode v untuk memenuhi permintaan dari periode v sampai periode e-1. fu-1= ou-1 + f0 pemesanan yang pertama harus dilakukan pada periode 1 untuk memenuhi permintaan dari periode 1 sampai periode u-1. alasan dari penggunaan teknik ini adalah karena teknik ini menghasilkan total biaya yang paling minimum karena menggunakan program dinamis dan pendekatan matematisnya yang sangat detail. tujuan teknik ini adalah untuk mendapatkan strategi pemesanan yang optimal untuk seluruh jadwal kebutuhan bersih dengan jalan meminimalisasi total ongkos pengadaan dan ongkos simpan (maulana dan setyorini, 2012:4). 2.7 model penelitian puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 69 3. metode penelitian pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. menurut sugiyono (2010:14), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan). 3.1 prosedur pengumpulan data terdapat data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berdasarkan jenis dan sumbernya. sumber data berupa data primer dan sekunder, data primer didapat pada saat berada di lapangan melalui observasi/pengamatan secara langsung yang dilakukan dengan cara mengamati kondisi yang terjadi pada perusahaan tersebut dan mengetahui langsung tentang proses persediaan bahan baku dan interview/wawancara secara langsung di pt x, sidoarjo, sedangkan data sekunder menggunakan beberapa data sekunder sebagai literatur buku, jurnal maupun penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. di samping itu, data sekunder dalam penelitian ini adalah data persediaan bahan baku tahun 2016, meliputi jumlah persediaan, awal, jumlah pemakaian, jumlah pesanan atau pembelian bahan baku, serta komponen-komponen biaya pemesanan (holding cost) dan biaya penyimpanan (ordering cost). 3.2 teknis analisis pada teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara menghitung bagaimana jumlah dan frekuensi pembelian, serta biaya-biaya persediaan (holding cost, ordering cost dan total inventory cost) menurut konsep aktual perusahaan dan menurut perhitungan metode algoritma wagner-within (aww) dengan menggunakan software pom for windows 3, serta melakukan perbandingan biaya persediaan bahan baku menurut konsep aktual dalam perusahaan dan biaya persediaan bahan baku menggunakan metode algoritma wagner-within (aww). berikut ini merupakan teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini, yaitu: a. kondisi existing perusahaan b. algoritma wagner-within (aww) untuk menentukan biaya terkecil yang ditimbulkan dari perhitungan lot sizing yang telah dilakukan, maka terdapat 4 tahap dalam menganalisis dan membandingkan total biaya persediaan bahan baku berdasarkan perhitungan konsep aktual perusahaan dan metode algoritma wagner-within (aww) yaitu: tahap 1: menentukan biaya pemesanan dengan rumus: biaya pemesanan = σ pesanan x biaya/sekali pesan tahap 2: menentukan biaya penyimpanan dengan rumus: biaya penyimpanan = σ inventori x biaya simpan/unit/bulan tahap 3: menentukan total biaya persediaan bahan baku keseluruhan dengan rumus: total biaya persediaan bahan baku = biaya pemesanan + biaya penyimpanan tahap 4 perbandingan total biaya persediaan bahan baku konsep aktual perusahaan dengan metode algoritma wagner-within (aww) dalam melakukan perhitungan biaya persediaan tiap bahan baku dengan menggunakan business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 70 tabel 2 biaya pemesanan bahan baku tahun 2016 kondisi existing pt x metode algoritma wagner-within (aww) melalui software pom for windows 3. 4. hasil dan pembahasan 4.1 deskripsi hasil penelitian 4.1.1 perhitungan menurut kondisi existing perusahaan pencatatan jumlah persediaan bahan baku yang datang dan dipakai dilakukan setiap hari kerja di pt x. tabel 1 menyajikan informasi mengenai pembelian bahan baku perusahaan tiap bulannya pada tahun 2016. tabel 1 pembelian bahan baku tahun 2016 kondisi existing pt x bulan pembelian bahan baku (ton) bijih plastik inner benang jahit additive pigmen total jan 794 35 26 18 9 882 feb 1.071 48 36 24 12 1.190 mar 871 39 29 19 10 968 apr 852 38 28 19 9 947 mei 749 33 25 17 8 832 juni 1.011 45 34 22 11 1.124 juli 666 30 22 15 7 740 agust 876 39 29 19 10 973 sept 611 27 20 14 7 679 okt 1.532 68 51 34 17 1.703 nov 610 27 20 14 7 678 des 778 35 26 17 9 864 total 10.420 463 347 232 116 11.578 sumber: data internal perusahaan diolah untuk biaya pemesanan bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan pt x, berkenaan dengan dilakukannya pembelian bahan baku yang tidak dipengaruhi oleh kuantitas bahan baku yang dipesan. bahan baku pt x di impor langsung dari singapura, arab saudi, dan amerika serikat. biaya pemesanan bahan baku perusahaan pt x pada tahun 2016 secara rinci terdapat dalam tabel 2 sebagai berikut. bulan biaya pemesanan (rp) total biaya pemesanan (rp) bijih plastik (rp) inner (rp) benang jahit (rp) additive (rp) pigmen (rp) jan 159.300.000 7.080.000 5.310.000 3.540.000 1.770.000 177.000.000 feb 216.000.000 9.600.000 7.200.000 4.800.000 2.400.000 240.000.000 mar 223.200.000 9.920.000 7.440.000 4.960.000 2.480.000 248.000.000 apr 252.000.000 11.200.000 8.400.000 5.600.000 2.800.000 280.000.000 mei 140.400.000 6.240.000 4.680.000 3.120.000 1.560.000 156.000.000 juni 243.900.000 10.840.000 8.130.000 5.420.000 2.710.000 271.000.000 juli 146.700.000 6.520.000 4.890.000 3.260.000 1.630.000 163.000.000 agust 219.600.000 9.760.000 7.320.000 4.880.000 2.440.000 244.000.000 sept 212.400.000 9.440.000 7.080.000 4.720.000 2.360.000 236.000.000 okt 377.100.000 16.760.000 12.570.000 8.380.000 4.190.000 419.000.000 nov 241.200.000 10.720.000 8.040.000 5.360.000 2.680.000 268.000.000 des 181.800.000 8.080.000 6.060.000 4.040.000 2.020.000 202.000.000 total 2.613.600.000 116.160.000 87.120.000 58.080.000 29.040.000 2.904.000.000 sumber: data internal perusahaan diolah untuk biaya penyimpanan bahan baku pt x yang ditunjukkan dalam tabel 3 merupakan biaya penyimpanan bahan baku utama (bijih plastik) maupun bahan baku pendukung (inner, benang jahit, additive, pigmen) selama bulan januari sampai bulan desember tahun 2016. biaya tersebut terdiri dari biaya fasilitas penyimpanan (listrik, dll.), biaya asuransi persediaan, biaya penanganan persediaan, dll. biaya penyimpanan bahan baku perusahaan pt x pada tahun 2016 secara rinci terdapat dalam tabel 3. tabel 3 biaya penyimpanan bahan baku tahun 2016 kondisi existing pt x bulan biaya penyimpanan (rp) total biaya penyimpanan (rp) bijih plastik (rp) inner (rp) benang jahit (rp) additive (rp) pigmen (rp) jan 12.600.000 560.000 420.000 280.000 140.000 14.000.000 feb 14.400.000 640.000 480.000 320.000 160.000 16.000.000 mar 17.100.000 760.000 570.000 380.000 190.000 19.000.000 apr 20.700.000 920.000 690.000 460.000 230.000 23.000.000 mei 15.300.000 680.000 510.000 340.000 170.000 17.000.000 juni 25.200.000 1.120.000 840.000 560.000 280.000 28.000.000 juli 18.900.000 840.000 630.000 420.000 210.000 21.000.000 agust 18.900.000 840.000 630.000 420.000 210.000 21.000.000 sept 18.900.000 840.000 630.000 420.000 210.000 21.000.000 okt 23.400.000 1.040.000 780.000 520.000 260.000 26.000.000 nov 16.200.000 720.000 540.000 360.000 180.000 18.000.000 des 20.700.000 920.000 690.000 460.000 230.000 23.000.000 total 222.300.000 9.880.000 7.410.000 4.940.000 2.470.000 247.000.000 sumber: data internal perusahaan diolah puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 71 total biaya persediaan bahan baku per tahun dengan konsep aktual yang diterapkan perusahaan adalah penjumlahan dari total biaya pemesanan per tahun dan total biaya penyimpanan per tahun. total biaya pemesanan diperoleh dari perhitungan total biaya angkut/biaya transportasi, biaya administrasi dan biaya komunikasi. lalu, total biaya penyimpanan per tahun didapat dari total biaya fasilitas penyimpanan (listrik, dll.), biaya asuransi persediaan, biaya penanganan persediaan. berikut adalah total biaya persediaan tiap bahan baku tahun 2016 menggunakan kondisi existing yang digunakan perusahaan dapat dilihat pada tabel 4. tabel 4 total biaya persediaan tiap bahan baku tahun 2016 kondisi existing pt x 4.1.2 perhitungan menurut metode algoritma wagner-within (aww) berikut perhitungan kuantitas dan frekuensi pemesanan tiap bahan baku secara rinci pada tahun 2016 dengan metode algoritma wagnerwithin (aww) menggunakan software pom for windows 3 dapat dilihat pada tabel 6. tabel 6 perhitungan kuantitas dan frekuensi pemesanan tiap bahan baku tahun 2016 (metode algoritma wagner-within) total biaya persediaan tiap bahan baku (rp) total biaya persediaan bahan baku (rp) bijih plastik (rp) inner (rp) benang jahit (rp) additive (rp) pigmen (rp) 2.835.900.000 126.040.000 94.530.000 63.020.000 31.510.000 3.151.000.000 sumber: data internal perusahaan diolah perhitungan total biaya persediaan bahan baku per tahun terdapat pada tabel 5 berikut. tabel 5 hasil perhitungan total biaya persediaan tahun 2016 kondisi existing pt x biaya pemesanan (rp) biaya penyimpanan (rp) total biaya persediaan (rp) 2.904.000.000 247.000.000 3.151.000.000 sumber: data internal perusahaan diolah total biaya persediaan pt x dengan kondisi existing yang selama ini diterapkan perusahaan pada tahun 2016 sebesar rp 3.151.000.000, dengan biaya pemesanan sebesar rp 2.904.000.000 dan biaya penyimpanan sebesar rp 247.000.000. nama bahan baku permintaan pembelian (ton) frekuensi pemesanan biaya pemesanan/ pesan (rp) biaya penyimpanan/ ton (rp) total biaya persediaan (rp) bijih plastik 10.421 8 kali 1.742.400.000 674.813.400 2.417.213.400 inner 464 8 kali 77.440.000 29.951.880 107.391.880 benang jahit 346 8 kali 58.080.000 22.271.910 80.351.910 additive 232 8 kali 38.720.000 15.359.940 54.079.940 pigmen 116 8 kali 19.360.000 7.423.971 26.783.971 sumber: data internal perusahaan diolah hasil untuk frekuensi pemesanan menggunakan metode algoritma wagner within (aww) tiap bahan baku sama yakni 8 kali pemesanan per tahun. dari perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa frekuensi pemesanan tiap bahan baku dengan menggunakan metode algoritma wagner within (aww) lebih kecil daripada konsep aktual yang selama ini diterapkan perusahaan yakni sebesar 12 kali dalam satu tahun. tabel 7 berikut merupakan hasil dari total biaya persediaan tiap bahan baku dengan metode algoritma wagner-within menggunakan software pom for windows 3. tabel 7 total biaya persediaan tiap bahan baku tahun 2016 metode wagner-within (aww) total biaya persediaan tiap bahan baku (rp) total biaya persediaan bahan baku (rp) bijih plastik inner benang jahit additive pigmen 2.417.213.000 107.391.900 80.351.910 54.079.940 26.783.971 2.685.821.101 sumber: data internal perusahaan diolah business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 72 berikut tabel 8 adalah hasil perhitungan total biaya persediaan bahan baku tahun 2016 dengan metode algoritma wagner-within menggunakan software pom for windows 3. tabel 8 hasil perhitungan total biaya persediaan bahan baku tahun 2016 metode wagner-within (aww) berdasarkan hasil perhitungan biaya persediaan bahan baku antara kondisi existing yang selama ini diterapkan perusahaan dengan metode algoritma wagner-within (aww), terdapat selisih pada masing-masing aspek pada tabel 9. frekuensi pemesanan menurut konsep aktual yang selama ini diterapkan perusahaan adalah sebanyak 12 kali, sedangkan berdasarkan metode algoritma wagner-within (aww), frekuensi pemesanan sebanyak 6 kali pemesanan, frekuensi pemesanan ini yang seharusnya dilakukan agar dapat sebisa mungkin menekan biaya pemesanan. seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, semakin banyak frekuensi pemesanan serta diikuti dengan semakin besarnya jumlah kuantitas pesanan maka biaya pemesanan juga semakin membengkak. perbandingan lain yang didapat dari perhitungan-perhitungan di atas adalah biaya pemesanan. biaya pemesanan rendah didapat dengan menggunakan metode algoritma wagner-within (aww), sebesar rp 1.936.000.000. metode algoritma wagner-within (aww) itu masih menghasilkan biaya pemesanan lebih rendah dari biaya pemesanan menurut konsep aktual perusahaan yaitu sebesar rp 2.904.000.000. biaya pemesanan yang rendah dipengaruhi oleh faktor frekuensi pemesanan, semakin kecil frekuensi memesan bahan baku, semakin kecil pula biaya pemesanan. sedangkan untuk biaya penyimpanan, biaya penyimpanan menurut konsep aktual perusahaan masih rendah sebesar rp 247.000.000 dibandingkan dengan biaya penyimpanan metode algoritma wagner-within (aww) sebesar rp 749.821.101. hal ini dikarenakan metode algoritma wagner-within (aww) frekuensi pemesanan yang lebih sedikit, tetapi kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak sehingga biaya penyimpanan per periode akan semakin besar. biaya pemesanan (rp) biaya penyimpanan (rp) total biaya persediaan (rp) 1.936.000.000 749.821.101 2.685.821.101 sumber: data internal perusahaan diolah total biaya persediaan bahan baku dengan metode algoritma wagner-within (aww) pada tahun 2016 sebesar rp 2.685.821.101, dengan biaya pemesanan sebesar rp 1.936.000.000 dan biaya penyimpanan sebesar rp 749.821.101. 4.1.3 perbandingan biaya persediaan bahan baku hasil perhitungan total biaya persediaan bahan baku menggunakan metode algoritma wagner-within (aww) kemudian dibandingkan total biaya persediaan yang dihasilkan oleh konsep aktual yang diterapkan oleh perusahaan. perbandingan hasil dari metode algoritma wagner-within dan konsep aktual perusahaan dapat dilihat pada tabel 9 berikut. tabel 9 perbandingan biaya persediaan bahan baku tahun 2016 keterangan biaya persediaan kondisi existing perusahaan metode algoritma wagner-within (aww) frekuensi pemesanan 12 kali 8 kali biaya pemesanan rp 2.904.000.000 rp 1.936.000.000 biaya penyimpanan rp 247.000.000 rp 749.821.101 total biaya persediaan rp 3.151.000.000 rp 2.685.821.101 sumber: data internal perusahaan diolah puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 73 dengan menjumlahkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dari masing-masing metode, dapat disimpulkan bahwa metode algoritma wagner-within (aww) merupakan metode yang menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang rendah, yaitu sebesar rp 2.685.821.101, sedangkan menurut konsep aktual perusahaan, total biaya persediaan bahan baku menghasilkan biaya yang tinggi sebesar rp 3.151.000.000. dapat disimpulkan juga bahwa perhitungan metode lot sizing dengan pendekatan metode algoritma wagner-within (aww) menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang lebih rendah daripada konsep aktual yang selama ini diterapkan oleh perusahaan. 4.2 pembahasan 4.2.1 efisiensi biaya persediaan bahan baku dengan metode algoritma wagner-within (aww) dari hasil perhitungan biaya persediaan bahan baku dengan metode algoritma wagnerwithin (aww), diketahui bahwa metode lot sizing dengan pendekatan algoritma wagner-within (aww) dapat meminimalkan biaya persediaan bahan baku dibandingkan dengan konsep aktual yang selama ini diterapkan perusahaan. tabel 10 menunjukkan presentasi penghematan biaya persediaan bahan baku menggunakan metode algoritma wagner-within (aww) pada pt x. berdasarkan hasil perhitungan persentase yang telah dilakukan, maka terdapat perbedaan total biaya persediaan bahan baku antara kondisi existing perusahaan dengan metode algoritma wagner-within (aww). di mana adanya penghematan sebesar rp 465.178.899 atau sekitar 14,8% jika diterapkannya metode algoritma wagner-within (aww) dibandingkan dengan kondisi existing yang di terapkan pada pt x. pada kondisi existing perusahaan, perusahaan melakukan pemesanan setiap kali adanya produksi yang akan dilakukan atau dalam hal ini adalah 12 kali dalam 1 tahun. sedangkan dengan menggunakan metode algoritma wagnerwithin (aww), pemesanan bahan baku yang dilakukan bervariasi (frekuensi pemesanan) sesuai dengan perhitungan algoritma yang telah dilakukan yakni sebanyak 8 kali dalam 1 tahun. metode algoritma wagner-within (aww) memberikan perencanaan persediaan bahan baku menimbulkan total biaya persediaan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan perencanaan persediaan bahan baku yang hanya berdasarkan konsep aktual yang diterapkan perusahaan. sebaiknya perusahaan mulai menerapkan metode algoritma wagner-within (aww) agar dapat meminimumkan total biaya persediaan bahan baku yang sangat berpengaruh pada proses bisnis pt x. 5. kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan pada perencanaan persediaan bahan baku pt x di tropodo, sidoarjo, dengan menggunakan metode algoritma wagner-within (aww) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1. dengan menggunakan metode algoritma wagner-within (aww) menjadi lebih efisien dalam hal merencanakan persediaan bahan keterangan kondisi existing perusahaan (rp) algoritma wagnerwithin (rp) penghematan (rp) persentase penghematan (%) total biaya persediaan 3.151.000.000 2.685.821.101 465.178.899 14,8% tabel 10 persentase penghematan total biaya persediaan bahan baku menggunakan metode wagner-within (aww) tahun 2016 sumber: data internal perusahaan diolah business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 74 baku di pt x dibandingkan dengan kondisi existing yang diterapkan oleh perusahaan. berikut ini beberapa rincian kesimpulan hasil metode algoritma wagner-within (aww). a. hal ini ditunjukkan dengan frekuensi pemesanan bahan baku menurut perhitungan metode algoritma wagner-within (aww), pemesanan bahan baku yang dilakukan sebanyak 8 kali dalam 1 tahun, sedangkan menurut perhitungan kondisi existing perusahaan, pemesanan bahan baku yang dilakukan sebanyak 12 kali dalam 1 tahun. dengan frekuensi pemesanan yang lebih sedikit (8 kali/tahun) akan menghasilkan biaya pemesanan yang lebih efisien dan optimal dibandingkan frekuensi pemesanan yang lebih banyak (12 kali/tahun). b. untuk biaya pemesanan bahan baku dengan menggunakan metode algoritma wagner-within (aww), sebesar rp 1.936.000.000. metode algoritma wagner-within (aww) tersebut masih menghasilkan biaya pemesanan lebih efisien dan optimal dari biaya pemesanan menurut kondisi existing perusahaan yaitu sebesar rp 2.904.000.000. c. untuk biaya penyimpanan menurut kondisi existing perusahaan masih lebih efisien yakni sebesar rp 247.000.000 dibandingkan dengan biaya penyimpanan metode algoritma wagner-within (aww) sebesar rp 749.821.101. hal ini dikarenakan metode algoritma wagner-within (aww) menghasilkan frekuensi pemesanan yang lebih sedikit, tetapi kuantitas bahan baku yang dipesan semakin banyak sehingga biaya penyimpanan akan semakin besar. d. untuk total biaya persediaan bahan baku, metode algoritma wagner-within (aww) merupakan metode yang menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang optimal dan efisien, yaitu rp 2.685.821.101, sedangkan menurut kondisi existing perusahaan, total biaya persediaan bahan baku menghasilkan biaya yang lebih tinggi yaitu sebesar rp 3.151.000.000. daftar referensi assuari, sofjan. 2004. manajemen produksi dan operasi. jakarta: fe ui press. bahagia, nur. 2006. sistem inventori. bandung: penerbit itb. baroto, teguh. 2002. perencanaan dan pengendalian produksi. jakarta: pt ghalia indonesia. harjanto, eddy. 1999. manajemen produksi dan operasi. jakarta: pt grasindo. heizer, jay & barry render. 2009. operations management: manajemen operasi. jakarta: salemba empat. maulana & setyorini. 2012. perencanaan kebutuhan bahan baku produk windlass dengan menggunakan metode lot sizing pada pt pindad (persero). jurnal fakultas komunikasi dan bisnis. universitas telkom. pardede, pontas m. 2005. manajemen operasi dan produksi. yogyakarta: andi. rajhans & kulkarnia s. 2013. determination of optimum inventory model for minimizing total inventory cost. jurnal internasional. nirma university international conference on engineering. rangkuti, freddy. 2004. manajemen persediaan: aplikasi di bidang bisnis. jakarta: pt raja grafindo persada. rasjidin, dkk. 2007. penentuan kombinasi metode lot sizing berbagai level pada struktur produk spion 7024 untuk meminimalisasi biaya persediaan di pt cipta kreasi prima puspandam katias & achmad affandi, implementasi algoritma wagner-within pada manajemen inventori di pt x 75 muda. jurnal inovasi. teknik industri, universitas indonesia esa unggul. sugiyono. 2010. metode penelitian bisnis (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d). bandung: alfabeta. sumayang, l. 2003. dasar-dasar manajemen produksi dan operasi. jakarta: salemba empat. tampubolon, manahan p. 2004. manajemen operasional (operations management). jakarta: ghalia indonesia. wagner, harvey m. & whitin, thomson m. 2004. dynamic version of the economic lot size model. jurnal internasional. management science, vol.50(12) supplement, pp.1770–1774. yamit, zulian. 2005. manajemen persediaan. jakarta: ekonisia. business and finance journal, volume 3, no. 1, march 2018 76 01 candra.pmd shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 1515 pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori program studi magister manajemen teknologi institut teknologi sepuluh november jln. cokroaminoto 12a, surabaya, 60264, indonesia e-mail: shintyavira.24@gmail.com abstract: pt pal indonesia is one of the largest company engaged in the maritime field, the existence of competition at national and international very tight then the company should always have a good strategy in the field of technology and human resources, so in this study focused on the performance of employees in the engineering division general. the study is aim to determine the effect of environment, facilities, incentives and motivation to employees performance in pt pal indonesia general engineering division. using the technique of analysis structural equation modelling (sem) partial least square (pls). the result of this study is performance variable explained by environmental, facilities, incentives and motivation only 64,4%, while 35,6% explained by other variables, significant effect on the environment of motivation with the value of t statistic 3,412, significant effect on environment of performance variable with the value of t statistic 1,97, and significant effect on motivation of performance variable with the value of t statistic 1,82. keywords: environment, facilities, incentives, motivation, and performance pendahuluan pt pal indonesia (persero) merupakan sebuah badan usaha milik negara (bumn) yang bergerak dalam industri maritim di indonesia, memiliki peran sebagai fondasi industri maritim di tingkat nasional, dengan lingkup kegiatan perusahaan adalah memproduksi kapal perang dan kapal niaga, memberikan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal, serta rekayasa umum dengan spesifikasi tertentu berdasarkan pesanan. kemampuan rancang pt pal indonesia telah memasuki pasar internasional dengan kualitas yang telah diakui dunia. untuk terus meningkatkan kualitas dan kinerja, pt pal indonesia memiliki visi dan misi yang terus diterapkan hingga sekarang, di mana visi perusahaan tersebut adalah “menjadi perusahaan galangan kapal dan rekayasa berkelas dunia, tepercaya, dan bernilai tambah bagi para pemangku kepentingan.” sedangkan untuk meraih sebuah visi tersebut, pt pal indonesia menerapkan misi sebagai berikut. • meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mutu produk berstandar internasional dan penyerahan produk tepat waktu serta meningkatkan pengelolaan perusahaan yang akuntabel dan transparan. • meningkatkan peran dalam mendukung program pertahanan dan keamanan nasional melalui penguasaan teknologi dan rancang bangun. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 16 • memberikan kesejahteraan secara berkesinambungan bagi para pemegang saham, karyawan, pelanggan, mitra usaha, dan pengembangan usaha kecil. pada penelitian ini lebih difokuskan pada divisi general engineering (rekayasa umum) di mana pada divisi ini memiliki tugas dan keunggulan dalam merancang serta membuat komponen pendukung industri maritim dan pembangkit listrik tenaga air. dengan melihat potensi baik yang sangat besar di divisi ini, sangat disayangkan bila terjadi penurunan kualitas sumber daya manusia terhadap kinerja sehingga peneliti tertarik dalam mencari faktor yang sangat memengaruhi kinerja sumber daya manusia di divisi tersebut. adanya studi kasus ini diambil data pendukung dari kurangnya ketepatan waktu dalam menyelesaikan order pada beberapa tahun belakangan yang memiliki dampak cukup besar bagi perusahaan. berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti “pengaruh lingkungan, fasilitas, insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum”. lingkungan merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk penelitian, hal ini diangkat karena pengerjaan produk sering kali di lakukan di luar lapangan dengan cuaca dan kondisi lingkungan yang berubah-ubah sering kali menjadi salah satu hambatan dalam proses produksi, fasilitas merupakan faktor yang juga tidak kalah penting, hal ini di pertimbangkan karena pengerjaan produk di divisi rekayasa umum memerlukan peralatan yang khusus serta memadai dengan lingkungan proyek, faktor yang terakhir yaitu insentif di mana di divisi tersebut banyak dikeluhkan bahwa insentif yang diberikan tidak tertulis secara terperinci dan dirasakan tidak sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan sehingga mengakibatkan menurunnya motivasi dan kinerja terhadap sumber daya manusia di divisi tersebut. untuk variabel tetap yang akan digunakan adalah motivasi dan kinerja, motivasi merupakan aspek penting dalam terwujudnya kinerja yang baik, hal ini dikarenakan motivasi menjadikan suatu dorongan terhadap kebutuhan karyawan yang harus dipenuhi sehingga muncul rasa tanggung jawab yang besar dalam mengerjakan pekerjaan. variabel tetap kinerja juga dirasakan penting dalam melakukan pekerjaan karena kinerja merupakan suatu hasil yang dicapai oleh individu, sebagai tolok ukur apakah dalam proses pelaksanaan tugas yang telah diberikan telah tercapai dengan baik, tolak ukur tersebut meliputi kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu. berdasarkan beberapa paparan yang telah dijelaskan, peneliti menggunakan metode analisis data sem–pls, metode ini digunakan karena pada penelitian ini merupakan penelitian pengembangan teori yang dinilai sesuai tabel 1 data jadwal penyelesaian order sumber: pt pal indonesia (2015) shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 17 dengan model penelitian yang akan digunakan, selain itu metode sem-pls tidak diperlukan asumsi data distribusi normal dan pertimbangan yang terakhir adalah pada metode tersebut dapat digunakan dengan jumlah data responden kurang dari 200 responden dengan nilai n minimum 30. tinjauan pustaka kinerja karyawan kinerja merupakan sebuah hasil yang dapat dicapai seseorang dalam melakukan pekerjaan atau tugas dalam waktu tertentu. kinerja merupakan unsur penting di dalam suatu kegiatan organisasi maupun produksi dalam perusahaan, karena kinerja biasa menjadi tolak ukur apakah dalam proses pelaksanaan tugas yang telah diberikan telah tercapai dengan baik atau target tersebut tidak dapat tercapai. kinerja atau performance dapat diartikan sebagai kontribusi karyawan dalam mencapai suatu tujuan, adapun beberapa faktor yang dapat memengaruhi kinerja karyawan (bacal, 2004). 1. faktor pegawai, yang terdiri dari: attitude (sifat), keahlian, pengetahuan, kemampuan 2. faktor sistem, yang terdiri dari: peralatan kerja, sumber daya, lingkungan sosial, rekan kerja, dan sikap manajemen. dari beberapa pemaparan faktor kinerja menurut beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pemaparan menurut (mangkunegara, 2005) sesuai dengan penelitian yang dilakukan, karena kinerja dapat dipengaruhi oleh motivasi di mana pada penelitian ini motivasi menjadi variabel tergantung terhadap kinerja. tiga indikator kinerja menurut (robbins, 2006) adalah sebagai berikut. 1. kuantitas kinerja, jumlah pekerjaan dan output yang harus dicapai oleh pekerja, kuantitas pekerjaan yang dimaksudkan adalah jumlah keluaran proses yang dihasilkan. 2. kualitas kerja, yaitu mutu yang dihasilkan dari output proses kerja yang telah dilakukan oleh pegawai. 3. ketepatan waktu, yaitu mengenai penyelesaian tugas kerja sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah disepakati bersama. dari beberapa hasil pengertian kinerja dari beberapa para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan merupakan segala aspek yang merupakan tanggung jawab yang telah diberikan oleh organisasi kepada individu untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan target, baik dari segi mutu maupun waktu yang telah ditentukan, serta dapat dijadikan bahan evaluasi suatu organisasi dalam pencapaian misi suatu organisasi. motivasi kerja motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan untuk melaksanakan sesuatu tindakan atau pekerjaan, dapat dikatakan motivasi merupakan suatu unsur yang dapat mendorong individu untuk melakukan suatu pekerjaan dengan semangat dan tanpa adanya rasa paksaan dalam melakukan suatu pekerjaan. adapun beberapa pengertian motivasi menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut. 1. motivasi merupakan adanya daya pendorong dan penarik suatu individu dalam menimbulkan tingkah laku yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan (mulyasa, 2003). 2. motivasi adalah suatu aspek yang menyalurkan dan mendukung tingkah laku manubusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 18 sia agar giat bekerja dan merasa antusias dalam mencapai tujuan secara maksimal (hasibuan, 2004). motivasi adalah sikap yang ditimbulkan manusia dalam menghadapi suatu situasi di mana hal tersebut berkaitan dengan lingkup pekerjaan di perusahaan (mangkunegara, 2005). adapun beberapa konsep yang dikemukakan oleh ranupandojo dan husnan (2006) mengenai diagram hubungan beberapa komponen yang dapat terjadi sehingga motivasi dapat ditimbulkan oleh individu, dapat dilihat pada gambar 1. sementara itu, adapun beberapa teori motivasi dan unsur-unsur yang memengaruhi motivasi dalam reksohadiprojo dan handoko (1996) dapat dijelaskan pada tabel 2. tabel 2 jenis teori motivasi gambar 1 diagram hubungan komponen proses motivasi jika dilihat dari gambar 1 dapat diuraikan bahwa motivasi dapat timbul diakibatkan adanya kebutuhan yang mendasar dari tiap individu yang kemudian dapat menimbulkan suatu dorongan untuk melakukan suatu action (tindakan), biasanya di dalam penerapan komponen tersebut sering terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan yang lebih besar sehingga menimbulkan dorongan yang besar pula dalam melakukan tindakan dalam memenuhi kebutuhan sehingga setelah kebutuhan tersebut tercapai maka individu tersebut akan merasakan kepuasan. no. teori motivasi unsur-unsur yang memengaruhi 1 teori motivasi maslow kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. 2 teori motivasi prestasi mcclelland kebutuhan prestasi, afiliasi, dan kekuasaan 3 teori motivasi x dan y mc gregor anggapan dasar x yang meliputi: 1. rata-rata pekerja malas melakukan pekerjaan. 2. pekerja harus dipaksa bekerja. 3. rata-rata pekerja lebih suka dibimbing untuk menghindari tanggung jawab. anggapan dasar y yang meliputi: 1. usaha fisik dan mental. 2. rata-rata manusia bersedia untuk belajar tidak hanya menerima namun juga mencari tanggung jawab. 3. ada kemampuan besar dalam memecahkan masalah. 4. pengendalian dari luar hukuman. 4 teori motivasi herzberg dua faktor yang memengaruhi timbulnya motivasi yaitu: 1. sumber kepuasan kerja yang meliputi prestasi, promosi, penghargaan, dan tanggung jawab. 2. iklim baik yang meliputi kondisi kerja, hubungan antar-pribadi, teknik pengawasan, dan gaji. 5 teori motivasi aldefer kebutuhan ekstensi, keterkaitan, dan pertumbuhan. dari pemaparan tabel 2 jenis teori motivasi, dapat disimpulkan bahwa teori yang dapat diadopsi dalam penelitian ini adalah menggunakan teori herzberg di mana faktor yang shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 19 memengaruhi timbulnya motivasi adalah sumber kepuasan kerja yang meliputi prestasi, promosi, penghargaan dan tanggung jawab, dalam teori ini sesuai dengan variabel x yang dapat mewakili insentif. selain itu, faktor yang kedua adalah iklim baik yang meliputi kondisi kerja, hubungan antar-pribadi, teknik pengawasan dan gaji, dalam teori ini dirasakan cukup mewakili variabel x lingkungan dan fasilitas. lingkungan kerja lingkungan kerja adalah kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melaksanakan tugasnya. kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai keadaan lingkungan sekitarnya, antara manusia dan lingkungan terdapat hubungan yang sangat erat. timpe (1992) menjelaskan bahwa terdapat enam faktor eksternal yang menentukan tingkat kinerja karyawan yaitu lingkungan, perilaku manajemen, desain jabatan, penilaian kerja, umpan balik dan administrasi pengupahan. keadaan suatu lingkungan atau suasana tempat kerja juga dapat memengaruhi kinerja karyawan sehingga dapat meningkatkan produktivitas. lingkungan kerja merupakan faktor yang memengaruhi adanya semangat kerja, kenyamanan dan keamanan yang diciptakan dalam lingkungan bekerja juga menjadi salah satu pendukung individu dalam proses bekerja, sehingga prestasi dan kinerja dapat tercapai sesuai dengan tujuan. secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua sebagai berikut (sedarmayanti, 2001). 1. lingkungan kerja fisik lingkungan kerja fisik merupakan segala keadaan yang berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat memengaruhi individu baik langsung maupun secara tidak langsung, lingkungan kerja fisik dibagi atas dua kategori. • lingkungan kerja yang secara langsung berhubungan dengan pegawai di antaranya adanya adalah peralatan kerja yang digunakan sebagai pendukung seperti meja, kursi serta peralatan lainnya. • lingkungan perantara atau lingkungan umum yang dapat diartikan sebagai segala aspek kondisi yang memengaruhi manusia dalam bekerja, di antaranya pencahayaan, suhu, bau tidak sedap, dan sebagainya. 2. lingkungan kerja non-fisik lingkungan kerja non fisik adalah segala keadaan yang memengaruhi individu yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan antara pegawai maupun hubungan dengan atasan. perusahaan seharusnya dapat menimbulkan kondisi yang kondusif dan dapat menciptakan suasana kekeluargaan dengan komunikasi yang baik sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik (nitiseminto, 2000). fasilitas kerja fasilitas berasal dari bahasa belanda, faciliteit yang dapat diartikan sebagai prasarana atau wahana untuk mempermudah individu dalam melakukan pekerjaan, fasilitas dapat dianggap sebagai suatu alat bantu dalam melakukan pekerjaan. fasilitas kerja yang diberikan oleh perusahaan pada umumnya tidak hanya berupa alat bantu kerja secara teknis namun juga segala aspek yang dapat membantu pegawai dalam mencapai tujuan yang telah diberikan perusahaan. mangkunegara (2009), menegaskan bahwa salah satu faktor eksternal yang memengaruhi kinerja adalah fasilitas kerja. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 20 adapun tahapan dalam memanajemen fasilitas yaitu mengenali kebutuhan yang relevan mengenai apa saja yang diperlukan dalam mendukung suatu pekerjaan, hal tersebut meliputi aset fisik serta atribut yang diperlukan, setelah itu barulah fasilitas dapat dikomunikasikan dan diwujudkan untuk kebutuhan mempermudah pekerjaan. insentif insentif merupakan sarana dalam membentuk suatu dorongan karyawan untuk dapat bekerja secara optimal, insentif dimaksudkan untuk memberikan upah lebih di luar gaji yang telah ditentukan oleh perusahaan. di dalam penerapannya insentif diberikan dimaksudkan untuk memberikan apresiasi prestasi yang telah di berikan kepada perusahaan sebagai bentuk hubungan loyalitas antara karyawan dan pegawai. insentif merupakan alat pendukung yang adil dalam membalas kinerja karyawan tertentu atas prestasi yang telah dicapai di atas standar prestasi yang telah ditentukan, malayu (2008). insentif merupakan kompensasi yang diberikan kepada karyawan atas prestasi yang dicapai, besarnya kompensasi yang diberikan tergantung atas seberapa besar hasil yang telah dicapai oleh individu tersebut, harsono (2004). adapun jenis-jenis kompensasi yang dikemukakan oleh manthis dan jackson (2006) yang dapat dilihat pada tabel 3. tabel 3 jenis kompensasi menurut sondang (2002), ada enam jenis insentif yang dapat dijadikan sebagai faktor pertimbangan diberikannya suatu imbalan. 1. piece work, imbalan yang diberikan secara target per unit produksi. 2. bonus, pemberian imbalan dikarenakan pekerjaan baku telah terlampaui. 3. komisi, imbalan yang diberikan karena keberhasilan menjalankan tugas khusus yang telah ditentukan. 4. insentif bagi eksekutif, imbalan yang diberikan berdasarkan kedudukan atau tingkat jabatan yang telah diraih oleh karyawan. 5. kurva kematangan, imbalan yang diberikan kepada karyawan sesuai dengan pengalaman dan masa kerja yang telah dilampaui. 6. insentif kelompok, imbalan yang diberikan perusahaan kepada suatu tim karena keberhasilan suatu tim tersebut dalam mencapai target yang ditentukan oleh perusahaan. sem (structural equation modelling) sem (structural equation modelling) merupakan teknik statistik yang biasa digunakan untuk membangun dan menguji model statistik yang berbentuk model sebab akibat, sem memiliki fungsi yang mirip dengan regresi berganda namun didalam sem lebih kuat karena pada pemodelan sem menggunakan pemodelan yang terinteraksi, non-linier, variabelvariabel bebas yang saling berkorelasi (terkorelasi secara independen), gangguan error serta beberapa variabel bebas di mana masing-masing hal tersebut diukur dengan masing-masing indikator yang akan digunakan. dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sem mempunyai karakteristik dan sifat analisis yang robust (kokoh) terhadap gangguan hal ini dikarenakan dalam sem bersifat sebagai teknik analisis untuk lebih menegaskan (konfirjenis kompensasi langsung tidak langsung gaji pokok tunjangan 1. asuransi 2. tunjangan cuti 3. dana pensiun penghasilan tidak tetap 1. insentif 2. opsi saham shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 21 masi) dibandingkan dengan menerangkan, selain itu metode sem dapat menguji model secara bersamaan tidak seperti metode multivariate seperti biasanya. menurut santoso (2011), teknik oleh data sem biasa digunakan untuk menjelaskan secara keseluruhan antara hubungan tiap variabel yang ada dalam penelitian, di dalam sem biasa digunakan bukan untuk merancang suatu teori namun lebih tepatnya untuk memeriksa dan membenarkan suatu model, oleh sebab itu adapun syarat utama dalam penggunaan sem adalah perancangan suatu model hipotesis yang terdiri dari model terstruktur dan model pengukuran dalam bentuk diagram jalur dan hubungan tersebut dibangun secara independen. komponen-komponen dasar sem menurut schumaker & lomax (2010). 1. variabel laten dan manifes. 2. variabel laten eksogen dan endogen yang mengidentifikasi hubungan. kan suatu metode regresi yang diciptakan oleh herman o.a word untuk menciptakan suatu pembangunan model. beberapa hal penting menggunakan pls menurut monecke & leisch (2012) adalah sebagai berikut. 1. menggunakan pls memiliki tiga komponen yaitu model struktural, model pengukuran dan model pembobotan. 2. dalam pemodelan pls hanya diperbolehkan model recursif saja atau dapat dikatakan tidak terdapat hubungan timbal balik. 3. pada model structural hanya menggunakan dua variabel laten saja yaitu variabel laten eksogen dan laten endogen. gambar 2 hubungan antar-variabel laten eksogen dan endogen 3. pengukuran model dan struktural model, di mana pengukuran model merupakan model deskriptif dan struktural model merupakan model prediktif. 4. kesalahan error pada pengukuran. teknik analisis data sem – pls teknik analisis dalam penelitian ini digunakan alat penelitian software partial least square (pls) dengan smart pls, pls merupasumber: monecke & leisch (2012). gambar 3 model diagram jalur hubungan antar-variabel dalam sem pls pls memiliki kelebihan mampu mengestimasi variabel dan indikator dalam jumlah yang besar dan kompleks, selain itu pls sangat cocok digunakan untuk tujuan prediksi dengan ukuran sampel kurang dari 200, ghozali (2014). asumsi dalam analisis pls: 1. dalam penggunaan sem pls data tidak diharuskan mengikuti asumsi normalitas karena dalam pls tidak memperlakukan data sebagaimana dalam sem yang berbasis kovarian. 2. asumsi penggunaan data sampel tidak harus besar. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 22 metode penelitian sample dan karakteristik responden pembahasan dalam bab ini diambil berdasarkan subjek penelitian yang meliputi usia, pendidikan terakhir dan lama bekerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum. dari 116 karyawan divisi rekayasa umum dilakukan penyebaran kuesioner sebanyak 70, didapatkan kembali 55 kuesioner. adapun beberapa informasi tentang karakteristik subjek penelitian dan kecukupan data dipaparkan pada sub-sub bab berikut. dari 55 data responden didapatkan hasil karakteristik responden sebagai berikut, kelompok pria lebih dominan yaitu sebesar 80% dan wanita sebesar 20%, kelompok tingkat pendidikan strata 1 (s1) paling dominan yaitu sebesar 47%, sementara kelompok tingkat pendidikan diploma (d3) merupakan kelompok terkecil yaitu sebesar 6%, kelompok lama bekerja 11–15 tahun memiliki presentase paling besar yaitu 49,09% dan kelompok lama bekerja 6–10 tahun memiliki presentase paling kecil yaitu sebesar 7,27%, kelompok usia 41–45 tahun memiliki presentase paling tinggi yaitu sebesar 56,36% dan kelompok usia di atas 50 tahun memiliki presentase paling kecil yaitu sebesar 1,82%. model penelitian model penelitian merupakan kerangka pikiran penelitian secara garis besar dapat di jelaskan pada gambar 3.2. pada gambar dapat dijelaskan bahwa faktor lingkungan, peralatan, insentif merupakan faktor yang akan di identifikasi oleh peneliti, ketiga faktor tersebut dapat memengaruhi ada motivasi karyawan dalam bekerja sehingga dari motivasi tersebut juga dapat memengaruhi kinerja karyawan. dari 3. mengizinkan adanya variabel laten dikotomi. 4. pls hanya diperbolehkan pemodelan satu arah saja (recursive) yaitu hubungan sebab akibat dan tidak diperbolehkan adanya hubungan dua arah non recursive (hubungan timbal balik). langkah-langkah analisis pls: 1. perancangan model. 2. perancangan model indikator pengukuran. 3. konstruksi dan konversi diagram jalur. 4. pengujian kelayakan konstruk (hubungan antar variabel). 5. pengujian hipotesis. tahapan analisis dalam pls terdapat beberapa tahapan menurut ghozali (2014), di mana di setiap tahapannya sangat berpengaruh terhadap tahap selanjutnya yang dapat dilihat pada gambar 4. gambar 4 tahapan analisis dalam pls shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 23 gambar 5 juga dapat dijelaskan mengenai keterkaitan langsung antara faktor lingkungan, peralatan, dan insentif terhadap kinerja. berdasarkan gambar model penelitian 5 dapat dijabarkan beberapa hipotesis sebagai berikut. h1 a : lingkungan berpengaruh terhadap motivasi h2 a : peralatan berpengaruh terhadap motivasi h3 a : insentif berpengaruh terhadap motivasi h4 a : lingkungan berpengaruh terhadap kinerja h5 a : peralatan berpengaruh terhadap kinerja h6 a : insentif berpengaruh terhadap kinerja h7 a : motivasi berpengaruh terhadap kinerja sementara untuk model konstruk penelitian dapat dijelaskan pada gambar 6. gambar 5 model penelitian gambar 6 model konstruk penelitian business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 24 pada gambar 6 terdapat kode-kode konstruk yang dapat dijelaskan sebagai berikut. x1 : variabel lingkungan x1.1 : kenyamanan x1.2 : keamanan x1.3 : rekan kerja x1.4 : tempat kerja x2 : fasilitas x2.1 : sarana dan prasarana x2.2 : kebutuhan kerja x2.3 : prosedur x2.4 : keamanan fasilitas kerja x3 : insentif x3.1 : kecukupan insentif x3.2 : besarnya insentif y1 : motivasi y1.1 : kemampuan potensi diri y2.2 : tanggung jawab y3.3 : prestasi y4.4 : belajar hal baru y5.5 : ketertantangan pada pekerjaan y6.6 : ketertarikan pada pekerjaan y2 : kinerja y2.1 : kualitas y2.2 : kuantitas y2.3 : ketepatan waktu hasil dan pembahasan dalam sem pls langkah awal adalah pengujian outer model yang meliputi convergent validity, discriminant validity, dan composite reliability. uji convergent validity dilakukan untuk menentukan apakah setiap indikator yang diestimasi dapat mengukur dimensi dari konsep yang diujinya. dalam evaluasi convergent validity dari pemeriksaan individual item reliability, dapat dilihat melalui nilai loading factor > 0,7 meskipun demikian nilai loading factor minimal 0,5 dapat diterima (ghozali, 2014). gambar 7 output olah data smart pls shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 25 berdasarkan gambar 7 didapatkan hasil nilai loading factor minimal 0,5 maka dari model penelitian yang telah dianalisis secara keseluruhan dapat dikatakan baik karena telah memenuhi syarat convergent validity yang telah ditetapkan. discriminant validity dapat dilihat dari nilai cross loading, kriteria dalam cross loading adalah bahwa setiap indikator yang mengukur konstruk harus berkorelasi lebih tinggi dengan konstruk lainnya maka nilai cross loading dapat dikatakan valid. selain itu, metode lain untuk menilai discriminant validity adalah membandingkan nilai square root of average variance extracted (ave) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. jika nilai akar kuadrat ave setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model maka dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik. tabel 4 average variance extracted (ave) vergent validity telah terpenuhi atau telah valid. uji reliabilitas data digunakan nilai composite reliability untuk mengetahui apakah blok indikator telah reliabel atau belum. jika nilai composite reliability >0,7 maka konstruk memiliki reliabilitas yang baik (ghozali, 2014). hasil pengolahan data didapatkan hasil yang dapat dilihat pada tabel 5. tabel 5 composite reliability indikator ave √ave lingkungan 0,520 0,721 fasilitas 0,705 0,839 insentif 0,757 0,870 motivasi 0,503 0,709 kinerja 0,547 0,739 sumber: olah data primer dari data tabel 4 didapatkan nilai akar average variance extracted (ave) dari keseluruhan variabel yakni lingkungan, fasilitas, insentif, motivasi, dan kinerja memiliki nilai ave >0,5 yang artinya konstruk atau variabel laten dapat menjelaskan rata-rata lebih dari setengah varians dari indikator-indikatornya maka consumber: olah data primer dari data tabel 5 didapatkan nilai dari composite reliability dari masing-masing indikator >0,7 maka dapat dikatakan memenuhi syarat dan dikatakan reliabel. setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap konstruk (tahapan outer model), maka tahapan selanjutnya adalah melakukan pengujian inner model, untuk menguji hubungan antar-konstruk laten dapat menggunakan uji kebaikan model struktural dengan melihat koefisien determinasi (r2) didapatkan hasil pada tabel 6. tabel 6 nilai r square indikator composite reliability lingkungan 0,928 fasilitas 0,943 insentif 0,961 motivasi 0,923 kinerja 0,892 indikator r square kinerja 0,644 motivasi 0,705 business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 26 berdasarkan tabel 7 didapatkan hasil paling signifikan adalah lingkungan berpengaruh signifikan terhadap motivasi dengan nilai t statistik sebesar 3,412, yaitu motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja dengan nilai t statistik sebesar 1,82 dan lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kinerja dengan nilai t statistik sebesar 1,97. kesimpulan dan saran kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah variabel kinerja hanya mampu dijelaskan sebesar 64,4% oleh variabel lingkungan, fasilitas, insentif, dan motivasi sedangkan sebesar 35,6% dijelaskan oleh variabel lain, lingkungan berpengaruh signifikan terhadap motivasi dengan hasil t statistik 3,412, lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kinerja dengan t statistik 1,97, dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja dengan t statistik 1,82. saran bagi perusahaan adalah lebih memperhatikan faktor yang paling signifikan memengaruhi kinerja agar dapat meningkatkan segala aspek yang memengaruhi faktor linghubungan t statistik p values kesimpulan lingkungan → motivasi 3,412 0,001 diterima fasilitas → motivasi 1,768 0,078 ditolak insentif → motivasi 0,405 0,686 ditolak lingkungan → kinerja 1,97 0,043 diterima fasilitas → kinerja 0,763 0,446 ditolak insentif → kinerja 1,683 0,093 ditolak motivasi → kinerja 1,82 0,036 diterima tabel 7 hasil uji hipotesis inner model sumber: olah data primer kungan dengan menerapkan beberapa hal di antaranya adalah menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, fasilitas yang mendukung di dalam lingkungan tempat kerja, meningkatkan rasa kekeluargaan antar-rekan kerja, serta hubungan yang baik antara pimpinan dan bawahan, hal tersebut dapat menimbulkan rasa tanggung jawab dan motivasi yang tinggi dalam bekerja, sehingga tercipta kualitas kinerja yang baik. selain hal tersebut, faktor lain seperti fasilitas, insentif, dan motivasi harus tetap terjaga dengan baik untuk tetap mempertahankan visi dan misi perusahaan. bagi peneliti selanjutnya untuk mendapatkan suatu model penelitian yang baik, maka disarankan untuk lebih memperbanyak referensi penelitian lain dan melakukan banyak kajian terhadap permasalahan yang terkait agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diinginkan. untuk pengembangan penelitian selanjutnya, disarankan menggunakan indikator yang sesuai dengan keadaan pada objek penelitian serta dapat memperbanyak indikator-indikator yang diperlukan dan dapat membandingkan dengan metode lain yang akan digunakan. shintya vira istiqfari, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh lingkungan, fasilitas, dan insentif terhadap motivasi dan kinerja karyawan pt pal indonesia divisi rekayasa umum 27 daftar pustaka bacal, r. 2004. manager’s guide to performance reviews. new york: mcgrawhill. ghozali, imam. 2014. structural equation modeling-metode alternatif dengan partial least square. edisi keempat. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. hasibuan, malayu. 2004. manajemen sumber daya manusia. jakarta: pt bumi aksara. hasibuan, malayu s.p. 2008. manajemen sumber daya manusia. jakarta: pt bumi aksara. manthis robert l. dan jackson john h. 2006. human resource management. alih bahasa. jakarta: salemba empat. mangkunegara, ap. 2005. sumber daya manusia perusahaan. bandung: remaja rosda karya. mangkunegara, ap. 2009. sumber daya manusia perusahaan. bandung: remaja rosda karya. randupandojo dan suad husnan. 2006. perilaku organisasi: konsep dasar dan aplikasinya. jakarta: raja grafindo persada. reksohadiprodjo, sukanto dan handoko, hani t. 1996. organisasi perusahaan. edisi kedua yogyakarta: bpfe. robbins, stephen p. 2006. perilaku organisasi. edisi kesepuluh. jakarta: pt indeks kelompok gramedia. santoso, singgih. 2011. structural equation modeling (sem) konsep dan aplikasi dengan amos 18. jakarta: penerbit pt elex media komputindo schumaker, r.e. & lomax, r.g. 2010. a beginner’s guide to structural equation modelling. third edition. new york: taylor & francis group. sedarmayanti. 2001. sumber daya manusia dan produktivitas kerja. bandung: mandar maju. siagian, sondang p. 2002. kiat meningkatkan produktivitas kerja. jakarta: asdi mahasatya. timpe, a dale. 1992. seri manajemen sumber daya manusia kinerja, bagian 1. jakarta: pt elex media komputindo, gramedia. monecke, armin & friedrich leisch. 2012. sempls: structural equation modeling using partial least square. journal of statistical software, vol. 23, no. 2. mulyasa, e. 2003. kurikulum berbasis kompetensi. bandung: remaja rosdakarya. nitisemito, alex s. 2000. manajemen personalia: manajemen sumber daya manusia, edisi 3. jakarta: ghaila indonesia. sofyan lazuardi, analisis karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen 7777 analisis karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada stie mahardhika surabaya) sofyan lazuardi sekolah tinggi ilmu ekonomi mahardhika surabaya email: sofyanlazuardi999@gmail.com abstract: this study aimed to analyze the influence of the characteristics of the angry birds packaging (packaging size, packaging, color packaging, packaging materials) partially have a significant influence on consumer purchasing decisions (stie mahardhika case study in surabaya). the analysis model used is the t test regression analysis to see the effect of the variable characteristics of the packaging (packaging size, packaging, color packaging, packaging materials) on consumer purchasing decisions. this study was conducted in stie mahardhika surabaya. samples taken are students stie mahardhika surabaya totaling 100 people. the analysis technique used is multiple linear regression using spss. based on t test known that the size of the packaging and the packaging forms a partial no significant influence on purchase decisions mahardhika stie student. the different thing is indicated by the color variables packaging and packaging materials, both variables have a significant influence on purchasing decisions. key words: packaging, packaging characteristics, purchasing decisions pendahuluan semakin kompleks dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan pengaruh positif dalam bidang usaha, sehingga mendorong para pengusaha untuk menghasilkan produk dalam jumlah yang besar dengan jenis produk yang bervariasi serta kualitas yang memadai. peningkatan permintaan yang terus bertambah tersebut merupakan peluang yang baik bagi produsen atau pemasar untuk bisa memperoleh sebagian dari pangsa pasar yang ada. pada saat ini persaingan di dunia bisnis bukanlah hanya sekedar persaingan harga tetapi sudah berkembang menjadi persaingan kemasan, di mana perusahaan-perusahaan berlomba-lomba untuk menciptakan kemasan yang menarik dan menciptakan citra merk sedalam mungkin ke dalam benak konsumen. kemasan adalah salah satu sarana pembungkus suatu produk yang sangat penting, karena dari kemasan dapat mewakili suatu produk yang ada didalamnya, selain itu kemasan adalah sarana promosi yang efektif dengan kemasan yang bagus unik dapat menimbulkan citra suatu produk atau perusahaan yang memproduksi. kemasan juga sebagai sarana promosi yang multifungsi karena selain berfungsi menjadi kemasan produk sendiri juga sebagai saran promosi dimana pembeli akan membawa produk tersebut. indonesia merupakan negara berkembang yang menjadi target potensial dalam pemasaran produk, baik dari perusahaan lokal maupun internasional. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 78 negara indonesia yang merupakan negara agraris di mana hasil olahan dari sektor pertanian maupun perkebunan merupakan bahan baku untuk makanan dan minuman yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup masyarakat indonesia dapat menjadi suatu lahan bisnis bagi para perusahaan lokal maupun internasional. teh yang merupakan hasil pengolahan bahan minuman yang bersumber dari sektor perkebunan di mana sangat diperlukan masyarakat untuk membantu proses metabolisme tubuh, penghilang dahaga serta untuk menjaga kesehatan tubuh, diolah menjadi teh dalam kemasan. berbagai ragam bentuk kemasan yang digunakan untuk menarik minat konsumen yakni dari kemasan botol hingga cup. jumlah penduduk indonesia yang sangat besar menjadi pangsa pasar yang sangat potensial bagi perusahaan perusahaan untuk memasarkan produkproduk perusahaan tersebut. perusahaan dalam negeri maupun perusahaan asing berusaha mendirikan usaha bisnis dan menciptakan jenis-jenis produk yang nantinya akan digemari oleh calon pelanggan. kotler dan armstrong (2008:59) mengatakan bahwa perusahaan menyadari bahwa tidak semua konsumen dalam pasar tertentu dapat dilayani dengan baik. ada terlalu banyak jenis konsumen dengan terlalu banyak ragam kebutuhan dan sebagian besar perusahaan berada dalam posisi untuk melayani beberapa segmen dengan lebih baik daripada segmen lainnya. oleh karena itu, masing-masing perusahaan harus membagi keseluruhan pasar, memilih segmen terbaik, dan merancang strategi untuk melayani segmen terpilih dengan baik karena keinginan dan kebutuhan konsumen merupakan alasan yang kuat bagi inovasi kemasan. pada saat ini ada beberapa keinginan dan kebutuhan konsumen yang memacu perkembangan desain (warna, ukuran dan bahan) dan bentuk kemasan,diantaranya adalah gaya hidup masyarakat yang selalu berkembang cepat, tuntutan akan kemasan dari makanan dan minuman yang tidak mempengaruhi isi kemasan tersebut. perusahaan pun harus dapat menghasilkan produk yang bermutu, layak dikonsumsi dan kemasannya pun aman bagi kesehatan. dengan menghasilkan produk yang bermutu maka kepercayaan masyarakat akan meningkat dan perusahaan yang bersangkutan pun akan berkembang pesat, karena setiap perusahaan memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan penjualan guna mencapai laba semaksimal mungkin. berdasarkan pernyataan di atas bahwa kemasan mampu mempengaruhi keputusan konsumen, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul �pengaruh karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen (studi kasus pada mahasiswa stie mahardika surabaya)�. metode penelitian definisi operasional variabel yang akan diteliti variabel independent (bebas) yaitu variabel yang nilainya tidak tergantung pada variabel lain. adapun variabel bebas penelitian: ukuran kemasan, indikatornya adalah ukuran kemasan yang disesuaikan dengan isi dan jenis produknya. serta variasi ukuran kemasan produk. bentuk kemasan, indikatornya adalah kemasan yang praktis, kemudahan penggunaan. warna kemasan. indikatornya adalah warna kemasan yang menarik, identitas suatu sofyan lazuardi, analisis karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen 79 produk. bahan kemasan, indikatornya adalah kesesuaian harga dengan kemasan, daya tahan kemasan, komposisi bahan kemasan, perlindungan terhadap isi. variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. variabel terikat pada penelitian ini yaitu keputusan pembelian yang mana indikatornya adalah kemantapan pada sebuah produk, kebiasaan dalam membeli produk, pemberian rekomendasi pada orang lain, dan melakukan pembelian ulang. populasi dalam penelitian ini adalah 100 mahasiswa yang pernah mengkonsumsi teh angry birds. metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode convenience sampling yaitu kumpulan informasi dari anggota-anggota populasi yang mudah diperoleh dan mampu menyediakan informasi tersebut. dengan demikian siapa saja yang dapat memberikan informasi baik secara tidak sengaja maupun kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dilihat dari orang yang memberikan informasi-informasi tersebut cocok sebagai sumber data (sekaran, 2003:35). metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis linear berganda sebagai berikut: metode deskriptif, metode ini data-data yang telah diperoleh digolongkan, diklasifikasikan, diinterpretasikan dan selanjutnya dianalisis, sehingga diperoleh suatu gambaran umum tentang datadata yang diteliti. metode regresi linier berganda, analisis regresi linear berganda dalam penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi software spss. bentuk perumusannya: y= a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 dimana: y : keputusan pembelian a : konstanta b : koefisien x1 : ukuran kemasan x2 : bentuk kemasan x3 : warna kemasan x4 : bahan kemasan penelitian ini menggunakan 2 jenis data, yaitu: data primer dan data sekunder. data primer diperoleh dengan memberikan kuisioner dan wawancara. data sekunder diperoleh dari sumbersumber lain yang diolah seperti buku, dokumen, jurnal dan data internet yang mendukung penelitian ini. hasil dan pembahasan uji t untuk melihat pengaruh variabel karakteristik kemasan terhadap keputusan pembelian, maka dalam hal ini peneliti menggunakan uji t satu sisi. ho: bi = 0, memberikan arti semua faktor independent secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap faktor dependent. ha: bi �� 0, memberikan arti semua faktor independent secara parsial berpengaruh signifikan terhadap faktor dependent. uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masingmasing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya. dimana ttabel > thitung, h0 diterima dan jika ttabel < thitung, maka h1 diterima, begitupun jika sig > á (0,05), maka h0 diterima h1 ditolak dan jika sig <á (0,05), maka h0 ditolak h1 diterima. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 80 model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. collinearity statistics b std. error beta tolerance vif 1 (constant) ,673 ,728 ,924 ,358 ukes ,049 ,127 ,033 ,382 ,703 ,914 1,094 bekes -,014 ,121 -,010 -,114 ,909 ,922 1,085 wakes ,383 ,096 ,349 4,011 ,000 ,882 1,134 bakes ,397 ,092 ,387 4,304 ,000 ,826 1,211 model r r square adjusted r square std. error of the estimate durbinwatson 1 ,606 (a) ,367 ,341 ,51311 1,711 variabel ukuran kemasan (x1) memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (y), dengan tingkat probabilitas kesalahan sebesar 0,703 yang lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0,05. variabel bentuk kemasan (x2) memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (y), dengan tingkat probabilitas kesalahan sebesar 0,909 yang lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0,05. variabel warna kemasan (x3) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (y), dengan tingkat probabilitas kesalahan sebesar 0,000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0,05. variabel bahan kemasan (x4) memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (y), dengan tingkat probabilitas kesalahan sebesar 0,000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0,05. berdasarkan hasil analisis uji t dapat disimpulkan bahwa variabel ukuran kemasan dan bentuk kemasan, memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel terikat sedangkan variabel warna kemasan dan bahan kemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. hal ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis satu dan dua tidak terbukti kebenarannya sedangkan hipotesis tiga dan empat terbukti kebenarannya yang mana menyatakan bahwa warna kemasan dan bahan kemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian teh angry birds. koefisien determinasi (r2) koefisien determinan (r2) pada intinya mengukur seberapa kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. koefisien determinan berkisar antara 0 (nol) sampai 1 (satu), (0d r2d 1). jika r2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa semakin kuat pengaruh variabel harga, kemasan, daniklan terhadap keputusan pembelian. sebaliknya, jika r2 semakin kecil (mendekati nol) maka dapat dikatakan bahwa semakin kecil pengaruh variabel harga, kemasan dan iklan terhadap keputusan pembelian. nilai dari koefisien determinasi dari hasil perhitungan adalah 0,367 yang berarti keputusan pembelian teh angry birds (variabel sofyan lazuardi, analisis karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen 81 terikat) mampu dijelaskan oleh variabel bebas yang dimasukkan dalam model yaitu ukuran kemasan, bentuk kemasan, warna kemasan dan bahan kemasan, sedangkan sisanya sebesar 0,633 atau 63,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model, misal faktor eksternal dan faktor internal (dharmesta dan handoko, 1990:57). faktor eksternal tersebut antara lain adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial dan keluarga, sedangkan faktor internal yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah faktor psikologi yang berasal dari proses intern individu (motivasi, kepribadian, sikap). ukuran kemasan, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian teh angry birds. hal ini dilihat dari hasil pengujian untuk variabel ukuran kemasan yang dibuktikan dengan koefisien regresi 0,049 dan memiliki nilai statistik ujii t hitung ukuran kemasan lebih kecil dari t tabel (0,382 <1,661) dan nilai signifikansi lebih besar dari a = 0,05, pengujian ini menunjukkan bahwa ho diterima. ukuran kemasan merupakan salah satu perihal yang penting dalam merepresentasikan nilai suatu produk, dengan ukuran kemasan yang beraneka ragam tersebut bisa menonjolkan bahwa produk bisa dinikmati di mana saja, kapan saja, dan dalam ukuran wadah berapa saja. namun sayang, produsen teh angry birds di sini belum menyediakan banyaknya variasi ukuran minuman the kemasan tersebut. produsen hanya menyediakan minuman teh kemasan ini dalam ukuran 120 ml dan 220 ml saja. kondisi seperti ini yang menjadi kurang mendapat perhatian dari konsumen, karena minuman ini hanya dapat dinikmati sekali minum saja. hal inilah yang menjadikan alasan bahwa variabel ukuran kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen teh angry birds. bentuk kemasan, berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa untuk variabel bentuk kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian teh angry birds yang memiliki nilai statistik uji t hitung bentuk kemasan lebih kecil dari t tabel (0,114 < 1,661) dan nilai signifikansi lebih besar dari a = 0,05. pengujian ini menunujukkan bahwa ho diterima. dalam penelitian ini variabel bentuk kemasan yang terdiri dari instrumen pengukuran kemasan yang praktis dan kemudahan penggunaan produk, tidak dapat menunjukkan bahwa variabel ini berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian teh angry birds oleh mahasiswa stie mahardhika surabaya. hasil dari wawancara dengan mahasiswa mengungkapkan bahwa bentuk kemasan yang praktis, mudah digunakan, mudah dipegang dan mudah dibawa kemanamana, sudah banyak digunakan oleh produk teh kemasan yang lain. lebih baiknya teh kemasan angry birds ini melakukan diferensiasi produk seperti bentuk kemasan yang variatif missal dibentuk buah-buahan, dibentuk tokoh angry birds atau bahkan bentuk yang lain. hal ini kemungkinan dapat memiliki dampak juga terhadap keputusan pembelian teh angry birds oleh konsumen. warna kemasan, warna merupakan elemen penting dalam desain grafis yang memiliki pengaruh besar terhadap penglihatan audiens. pada suatu produk, warna adalah elemen penting yang dilihat pertama kali oleh audiens. warna juga merupakan hal yang menjadi pertimbangan kualitas suatu produk, seperti yang diungkapkan oleh imran (1999) bahwa pengaruh warna adalah sesuatu hal yang jelas untuk dipelajari dengan baik, karena business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 82 warna kemasan dapat menciptakan persepsi konsumen terhadap kualitas lainnya dari produk tersebut seperti rasa dan gizi. berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa untuk variabel warna kemasan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian teh angry birds oleh mahasiswa stie mahardhika surabaya. hal ini membuktikan bahwa konsumen banyak tertarik dengan warna kemasan teh yang cerah sehingga warna kemasan produk tersebut telah melekat di benak pikiran konsumen dan konsumen merasa yakin bahwa warna kemasan juga mencerminkan kualitas produk dan banyak diminati oleh konsumen. hasil pengujian ini di dukung oleh pernyataan grossman dan wisenblit (1999) dalam hassan et. al., (2012:17) bahwa warna memainkan peran penting dalam keputusan pembelian konsumen dan warna memiliki kontribusi yang paling tinggi terhadap pengalaman belanja yang positif (silayoi dan speece, 2004) dalam hassan et. al., (2012:17). warna juga bisa digunakan untuk memebedakan produk, membangun asosiasi sendiri dan membantu konsumen mengalokasikan produk pada diri konsumen sendiri grossman dan wisenblit (1999) dalam hassan et. al., (2012:17). marc gobe (2005:84-85) menyatakan bahwa secara umum warnawarna memiliki efek psikologis atau emosi sebagai berikut (1) warna yang memiliki gelombang panjang berarti memprovokasi, (2) warna-warna yang memiliki gelombang panjang antara lain warna merah dan kuning, (3) warna yang memiliki gelombang pendek berarti menenangkan,antara lain biru dan hiaju. warna biru mempunyai sifat yang menyegarkan dan memberi rasa rileks sedangkan warna hijau memberi kesan sejuk dan alami. menurut damos sihombing (2003:166), warna kemasan adalah menggambarkan suatu makna bagi konsumen serta dapat digunakan secara strategis. jika konsumen memperhatikan produk tersebut maka konsumen akan tertarik dan merasa menyenangi dan menginginkan produk tersebut, seperti yang diungkapkan oleh kotler (2007:30) bahwa kemasan yang dirancang dengan baik dapat menciptakan kenyamanan dan nilai promosi, karena kemasan merupakan hal pertama yang dihadapi pembeli menyangkut produk. oleh karena itu kemasan harus dibuat semenarik mungkin karena konsumen yang tertarik terhadap salah satu produk yang ada, akan memperhatikan produk tersebut dan mengingatnya, serta dapat pula mempengaruhi pembeli untuk melakukan keputusan jadi atau tidaknya melakukan pembelian. bahan kemasan, produk dengan satu jenis bahan pembungkus yang bersentuhan langsung dengan produk dan sekaligus juga sebagai indentitas produk, biasanya menggunakan bahan multilayered ataupun plastik. pengemasan dengan plastik menjadi populer karena sifatnya yang kuat dan tidak mudah rusak. plastik sering digunakan untuk kemasan karena harganya yang relatif terjangkau dan dapat dengan mudah didapatkan, baik dalam bentuk bijih ataupun dengan bentuk dan ukuran serta kapasitas yang dibutuhkan. keseluruhan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel bahan kemasan (x4) adalah variabel yang memiliki koefisien regresi yang paling besar. artinya, variabel bahan kemasan (x4) adalah variabel yang paling dominian dalam mempengaruhi perilaku keputusan pembelian. berdasarkan hasil pengujian uji t dapat diketahui pula bahwa untuk variabel bahan kemasan bepengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian teh angry birds oleh mahasiswa sofyan lazuardi, analisis karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen 83 stie mahardhika surabaya. hal ini menunjukkan bahwa responden merasa yakin dengan bahan kemasan yang digunakan untuk mengemas the tersebut aman bagi kesehatan dan terbuat dari bahan yang berkualitas, yang sepaham dengan pernyataan dari (kuvykaite et. al., 2009; silayoi & speece, 2004, 2007) dalam (hassan et. al., 2012:18) bahwa bahan kemasan adalah salah satu atirbut visual yang juga dipertimbangkan ketika membuat keputusan pembelian. keyakinan konsumen akan mutu bahan kemasan the angry birds, dikuatkan dengan pernyataan dari erliza dan sutedja (1987) yang berbunyi;(1) syarat bahan kemasan harus cocok dengan bahan yang dikemas, (2) harus menjamin sanitasi dan syaratsyarat kesehatan, dapat mencegah kepalsuan, (3) kemudahan membuka dan menutup, (4) kemudahan dan keamanan dalam mengeluarakan isi, (5) kemudahan pembuangan kemasan bekas, ukuran bentuk dan berat harus sesuai, (6) harus memenuhi syarat-syarat yaitu kemasan yang ditujukan untuk daerah tropis, subtropis, dingin, kelembaban tinggi maupun kelembaban kering. selain menggunakan hasil kuesioner, peneliti juga melakukan wawancara dengan konsumen dan dari hasil wawancara tersebut konsumen merasa puas akan produk tersebut dikarenakan kemasan teh tersebut tidak merubah rasa dan merubah warna dari teh itu sendiri. simpulan berdasarkan judul penelitian, pokok permasalahan, tujuan penelitian, rumusan hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian maka dapat dikemukakan simpulan yaitu variabel ukuran kemasan dan bentuk kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap variable keputusan pembelian mahasiswa stie mahardhika surabaya. disebabkan dari segi ukuran kemasan yang kurang variatif 120 ml dan 220 ml. dan dari segi bentuk yang monoton berbentuk model gelas. variabel warna kemasan berpengaruh signinfikan terhadap variabel keputusan pembelian mahasiswa stie mahardhika surabaya. disebabkan warna kemasan yang menarik dan identitas produk yang jelas. variabel bahan kemasan berpengaruh signifikan terhadap variabel keputusan pembelian mahasiswa stie mahardhika surabaya. disebabkan oleh kesesuaian harga dengan bahan kemasan, daya tahan kemasan yang baik, komposisi bahan kemasan yang jelas dan perlindungan terhadap isi yang baik. variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian mahasiswa stie mahardhika adalah variabel bahan kemasan teh angry birds. daftar pustaka angipora, marius p. 2002. dasar-dasar pemasaran. jakarta: pt. raja grafindo persada. algifari. 2000. analisis regresi (teori, kasus, dan solusi).yogyakarta: bpfe. alma, buchari. 2004. manajemen pemasaran dan pemasaranjasa. bandung: alfabeta. alma, buchari. 2005. manajemen pemasaran dan pemasaran jasa. bandung: alfabeta. arikunto, suharsimi. 2006. prosedurpenelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta. assauri, sofyan. 2004. manajemen pemasaran (dasar, konsep dan strategi). jakarta: pt. grafindo persada. asadollahi, a and givee, m. (2011). the role of graphic design in packaging business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 84 ghozali, imam. 2006. aplikasi analisis multivariate dengan programspss. semarang: badan penerbit undip. ghozali, iman. 2011. analisis multivariate dengan program ibm spss 19. metode penelitian bisnis: untuk akuntansi dan manajemen universitas diponegoro. semarang. gujarati, damodar. 1999. ekonometrika dasar. edisi pertama. terjemahan oleh sumarno zain. penrbit erlangga. jakarta. hadi, sutrisno. 2001. metodologi research untuk penulisan paper, skripsi, thesis dan disertasi, jilid tiga. yogyakarta: penerbit andi. hassan, hasnah siti, lee wai leng dan wong wai peng. 2012. the influence of food product packaging attributes in purchase decision: a study among consumers in penang, malaysia. journal of agribusiness marketing.vol.5. p14-28. indriantoro, nur dan bambang supomo. 2002. edisi pertama. bdfe.yogyakarta. julianti, elisa dan mimi nurmimah. 2006. buku ajar teknologi pengemasan. departemen teknologi pertanian fakultas pertanian usu: medan. kasmir. 2004. manajemen perbankan.jakarta: pt raja grafindo persada. kotler, philip. 1995. management pemasaran: analisis, perencanaan dan pengendalian. edisi 8:jakarta: salemba empat. kotler, philip. 2000. manajemen pemasaran. jakarta: erlangga. kotler, philip dan gary, amstrong. 2001. manajemen pemasaran di indonesia. jilid 2. (edisi bahasaindonesia. alih bahasa: ancella anitawati hermawan. jakarta: salemba empat. kotler, philip dan gary amstrong. 2003.marketing management. 11 th edition. new and sales of product in iran. contemporary. marketing review, vol. 1(5) pp. 30�34 azwar, saifuddin. 2000. reliabilitas dan validitas. yogyakarta: pustaka belajar. boyd, walker, & larrence. 2000.manajemen pemasaran: suatu pendekatan strategis dengan orientasi global. alih bahasa: imam nurmawan. jakarta: erlangga. carvens, davis.w, 2000. pemasaran strategis. jilid ii. jakarta: erlangga. cenadi, christine suharto, 2000. peranan desain kemasan dalam dunia pemasaran. jurnal nirmana vol. 2 no. 1, hal: 92�103. davis, s. m. 2000. brand asset management: driving profitable growth through your brand. california: jossey-bass, inc., publishers. dharmmesta, basu swasta dan t. hani handoko. 1997. manajemen pemasaran: analisis perilaku konsumen. yogyakarta: bpfe. dharmmesta, basu swasta dan t. hani handoko. 2000. manajemen pemasaran: analisa perilaku konsumen. edisi pertama cetakan ketiga. yogyakarta: bpfe. dharmmesta, basu swastha. 1999. asas-asas pemasaran. edisi ketiga.yogyakarta: penerbit liberty. djaslim, saladin. 1996. unsur-unsur inti pemasaran dan manajemen pemasaran. bandung: cv. mandar maju. djarwanto dan subagyo pangestu. 1996. statistik induktif. edisi ke-4. yogyakarta: bpfe. ghozali, imam. 2001. aplikasi analisis multivariate dengan program spss. penerbit badan penerbit universitas diponegoro. semarang. sofyan lazuardi, analisis karakteristik kemasan teh angry birds terhadap keputusan pembelian konsumen 85 jersey: pearson education, inc. kotler, p. 2005. manajemen pemasaran.edisi 11, jilid 1. jakarta: gramedia pustaka utama. kotler, philip., dan armstrong, gary. 2008. principles of marketing,international edition. jilid 12.prentice hall, london. kotler, philip dan gary armstrong. 2008. prinsip-prinsip pemasaran. jilid 1. edisi 12. jakarta: erlangga. kotler, philip dan kevin lane keller (2008a). manajemen pemasaran. jilid 1. edisi 12. pt. indeks. kotler, philip dan kevin lane keller (2008b). manajemen pemasaran.jilid 2. edisi 12. pt. indeks. kuncoro, mudjarad. 2009. metode riset untuk bisnis dan ekonomi. jakarta: penerbit erlangga. kuvykaite, rita et. al. (cara nulis narasumber jurnal) (jurnal utama) mutsikiwa, munyaradzi and john marumbwa. the impact of aesthetics package design elements on consumer purchase decisions: a case of locally produced dairy products in southern zimbabwe. iosr journal of bussines and management. vol.8. issue 5 (mart-aprl 2013). pp.6471. j, paul peter dan olson. 2000. perilaku konsumen dan strategi pemasaran. edisi 4, jilid 1. erlangga, jakarta. parker robert b. 1995. mature advertising: handbook of effectiveness in print . longman higher education. priyatno, duwi. 2010. teknik mudah dan cepat melakukan analisis data penelitian dengan spss dan tanya jawab ujian pendadaran. gaya media, yogyakarta. pinya, silayoi and mark speece. the importance of packaging attributes: a conjoint analysis approach. european journal of marketing. vol. 41. no. 11/12, 2007. pp. 1495-1517. riduwan. 2003. skala pengukuran variabelvariabel penelitian. bandung: cv alfabeta. riduwan dan engkos achmad kuncoro.2003. cara menggunakan dan memakai analisis jalur. bandung: alfabeta.riduwan dan engkos achmad kuncoro. 2011. cara menggunakan dan memakai analisis jalur. bandung: alfabeta. rosner, klimchuk marianne dan sandra a. krasovec. 2002. desain kemasan. jakarta: erlangga. santoso, singgih. 2001. spss versi 10: mengolah data statistik secara profesional. jakarta: pt. elexmedia komputindo. santoso, singgih. 2000. buku latihan spss statistik parametrik. pt elexmedia komputindo, jakarta santoso, s. 2003. spss mengolah data statistik secara profesional. pt.elex media komputindo. jakarta. santoso, singgih. 2004. menguasai statistik di era informasi dengan spss 14. jakarta pt. elex media komputindo. santoso, singgih dan tjiptono f. 2004. riset pemasaran: konsep dan aplikasi dengan spss. jakarta: pt.elex media komputindo. sastradipoera, komaruddin. 2003. manajemen marketing, suatu pendekatan ramuan marketing. bandung: kappsigma. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 86 stanton, j. william. 1998. prinsip pemasaran. jilid 1. edisi 7. jakarta: erlangga. sekaran, uma. 1992. research methods for business: a skill building approach. second edition. john willey & sons, inc. new york. sekaran, uma . 2003. research methods for business: a skill building approach. new york-usa: john wiley and sons, inc. sekaran, uma. 2006. metodologi penelitian untuk bisnis. edisi 4. buku 1. jakarta: salemba empat. sekaran, uma. 2006. metodologi penelitian untuk bisnis. edisi 4. buku 2. jakarta: salemba empat. sekaran, uma. 2007. research methods for business: metodologi penelitian untuk bisnis. buku 1 edisi 4.salemba empat. jakarta. sekaran, uma. 2007. research methods for business: metodologi penelitian untuk bisnis. buku 2 edisi 4.salemba empat. jakarta. schiffman, g. leon dan leslie lazar kanuk. 2004. perilaku konsumen. alihbahasa: zulkifli kasip, edisi ketujuh. jakarta: prentice hall. schiffman, g. leon dan leslie lazar kanuk. 2007. consumer behaviour 7th edition (perilaku konsumen).jakarta: pt. indeks. setiadi, nugroho j. 2005. perilaku konsumen. jakarta: kencana. soehardi, sigit. 1992. pemasaran praktis.edisi 3. yogyakarta: armurrita. solimun. 2000. structural equation modeling lisrel dan amos. malang:fakultas mipa universitas brawijaya. solimun, m. s. 2005. kisi-kisi analisis data (pemodelan statistik) danmetode penelitian. fakultas mipa universitas brawijaya, malang (tidak dipublikasikan). sudjana. 2002. metode statistika.bandung: tarsito. sugiyono. 1999. statistika untuk penelitian. bandung: cv. alfabeta. sugiyono. 2002. statistika untuk penelitian. jakarta: alfabeta. sugiyono. 2004. metode penelitian bisnis.cv. alfabeta. bandung. sugiyono. 2008. metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan r & d. bandung: penerbit alfabeta. sugiyono. 2010. metode penelitian bisnis: pendekatan kuantitatif, kualitatif,dan r&d. cv alfabeta. bandung sugiyono. 2011. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d.bandung: alfabeta sutrisno, hadi. 2001. metodologi research untuk penulisan paper, skripsi, thesis dan disertasi, jilid tiga. yogyakarta: penerbit andi. sulaiman, wahid. 2004. analisis-analisis regresi menggunakan spss.yogyakarta: andi. tang, faweett roger dan daniel manson.2004. experimental formats and packaging. tjiptono, fandy. 2000. strategi pemasaran. edisi kedua. yogyakarta: penerbit andi offset. white and white. 2006. advanced art and design. philip allan updates. wirya, iwan. 1999 .kemasan yang menjual. jakarta: pt gramedia pustaka utama. 00 atribut.pmd muis murtadho, roby kurniawan budhi, risma andrarini, studi knowledge, skill, dan efikasi diri terhadap kinerja mahasiswa dalam berwirausaha 159159 studi knowledge, skill, dan efikasi diri terhadap kinerja mahasiswa dalam berwirausaha muis murtadho, roby kurniawan budhi, risma andrarini universitas widya kartika surabaya e-mail: muis@widyakartika.ac.id abstract: the objective of this research is to examine the effect of knowledge, skills and selfefficacy on the performance of student entrepreneurship. the research method is quantitative research. the object of this research is the students of widya kartika university who already have business as many as 45 students. the results of this research is the variable of knowledge does not affect the performance of student entrepreneur significantly, but the variable of skill and self-efficacy effect on the performance of student entrepreneurship significantly. from the results of the analysis, it can be seen that knowledge cannot be relied upon to improve the performance of entrepreneurship, on the contrary, good skills and high confidence of students greatly affect the performance of student entrepreneurship. keywords: knowledge, skill, efficacy, performance pendahuluan berdasarkan data kementerian koperasi dan umkm tercatat rasio masyarakat indonesia yang berwirausaha pada tahun 2016 tercatat sebesar 7,8 juta orang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang mencapai 257 juta orang atau sebesar 3,1 persen dari jumlah penduduk indonesia. hal ini sangat kecil bila dibandingkan dengan negara yang lain seperti halnya malaysia sebesar 5 persen, singapura sebesar 7 persen, china 10 persen dan jepang sudah mencapai 11 persen, selanjutnya amerika tercatat 12 persen. tingginya rasio penduduk yang menjadi pengusaha akan sangat memengaruhi tingkat pertumbuhan serta produktivitas penduduk suatu negara. di indonesia dengan angka 3,1 persen jumlah penduduk yang menjadi pengusaha akan sangat berat memikul beban di mana setiap 100 penduduk harus dipikul perekonomiannya oleh 3 orang, inilah yang menyebabkan tidak sebandingnya jumlah angkatan kerja dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. bps mencatat tingkat pengangguran terdidik di indonesia pada tingkat diploma pada tahun 2016 tercatat sebesar 6,04 juta orang dan yang berpendidikan sarjana sebesar 4,87 juta orang, keadaan ini sangat miris sekali, di mana fungsi perguruan tinggi adalah salah satu pencetak tenaga kerja yang berkualitas namun tidak mampu bersaing di masyarakat. salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah arah dari pendidikan nasional negara kita, rata-rata perguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta lebih memfokuskan kepada anak didiknya untuk menjadi pekerja dan memiliki kedudukan jabatan di instansi pemerintah maupun swasta dan bukannya dicetak sebagai pengusaha, ini dapat tecermin dari sistem kurikulum dan metode pembelajaran yang diberikan kepada mahasiswa dalam proses belajar mengajar rata-rata persentase lebih dari 85 persen tatap muka dan 15 persen tugas dan praktikum. pendidikan kewirausahaan di tingkat perguruan tinggi sangat mempunyai peran yang sangat penting, di mana mahasiswa merupakan agen business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 160 pembaharuan, dengan ide serta gagasan yang cemerlang dapat diwujudkan menjadi kenyataan, sudah terbukti bahwa jiwa entrepreneurship akan tumbuh kembang pada usia remaja, di mana usia tersebut sangatlah produktif untuk menciptakan suatu usaha yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi bisnis yang dapat bersaing di tengah masyarakat. fakta menunjukkan banyak tercipta milyader-milyader baru di usia yang sangat muda seperti halnya mark zuckerberg pendiri facebook. ide bisnis yang mereka ciptakan berasal dari dalam kampus dan dapat dikembangkan menjadi bisnis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. pendidikan kewirausahaan sangatlah penting untuk meningkatkan rasio penduduk indonesia yang menjadi pengusaha sehingga bisa menurunkan jumlah pengangguran terdidik serta dapat meningkatkan produktivitas nasional. penelitian ardiana et al. (2010) menyatakan kompetensi sdm ukm memiliki hubungan signifikan terhadap kinerja ukm begitu pula dengan hasil penelitian andika dan madjid (2012) menyimpulkan sikap, norma subjektif serta afikasi diri mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. selanjutnya siswoyo (2009) menyatakan mahasiswa peserta program kreativitas mahasiswa lebih menghasilkan alumni yang kompetitif di dunia kerja serta menemukan tiga faktor yang mendorong kewirausahaan mahasiswa yaitu faktor kesempatan, kebebasan serta faktor kepuasan hidup yang mendorong motivasi mahasiswa untuk berwirausaha. selanjutnya indarti dan rostiani (2008) melakukan perbandingan intensi mahasiswa wirausaha di tiga negara yaitu indonesia, jepang dan norwegia dengan kesimpulan efikasi diri terbukti memengaruhi intensi kewirausahaan di tiga negara indonesia dan norwegia. kesiapan instrumen serta pengalaman kerja menjadi penentu intensi berwirausaha mahasiswa di norwegia. latar belakang pendidikan merupakan penentu intensi kewirausahaan mahasiswa indonesia. selanjutnya hasil penelitian sarwoko (2011) menemukan mahasiswa laki-laki cenderung memiliki intensi kewirausahaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan mahasiswa perempuan. serta mahasiswa yang memiliki keluarga wirausaha cenderung memiliki intensi kewirausahaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki keluarga berwirausaha. penelitian yang dilakukan sidharta dan lusyana (2014) menyatakan kemampuan atau ability mempunyai pengaruh dominan terhadap kompetensi umkm di sentra industri kaos bandung. penelitian sinarasri dan hanum (2012) menemukan pengaruh mata kuliah kewirausahaan dan pengetahuan mahasiswa serta pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk berwirausaha. selanjutnya putu darya (2012) menyatakan bahwa pengetahuan dan keterampilan berpengaruh terhadap kompetensi usaha kecil menengah. penelitian irawan (2016) melakukan penelitian pada pengusaha distro menyimpulkan keterampilan berwirausaha berpengaruh signifikan dalam menentukan keberhasilan usaha distro di kota bandung. penelitian dewi dan mulyatiningsih (2013) menyimpulkan pendidikan dan keterampilan kejuruan sangat berpengaruh terhadap motivasi berwirausaha siswa. wulandari (2013) melakukan penelitian pengaruh efikasi diri pada siswa smk di surabaya menyatakan efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap prestasi siswa untuk melakukan wirausaha. penelitian yang sama dilakukan wijaya (2009) menyatakan bahwa efikasi diri mempunyai dampak signifikan terhadap intensi berwirausaha usaha kecil menengah yang ada di diy. selanjutnya wahyuni (2013) menemukan hubungan efikasi diri dapat memengaruhi prestasi siswa di smk di samarinda. muis murtadho, roby kurniawan budhi, risma andrarini, studi knowledge, skill, dan efikasi diri terhadap kinerja mahasiswa dalam berwirausaha 161 metode penelitian definisi operasional variabel variabel bebas 1. knowledge (x1): merupakan tingkat pengetahuan seseorang tentang sebuah pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawabnya noe et al. (2000: 199). 2. skill (x2): tingkat keahlian setiap individu dalam menjalankan pekerjaan dengan baik. noe et al. (2000: 199). 3. efikasi diri (x3): merupakan keyakinan yang ada dalam diri mahasiswa wirausaha dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. variabel terikat (y) kinerja usaha mahasiswa (y) : hasil kerja wirausaha mahasiswa yang dilihat dari kualitas maupun kuantitas pekerjaan dalam menjalankan usaha digelutinya. untuk memberikan gambaran variabel penelitian maka disajikan rancangan penelitian dalam gambar sebagai berikut. kukan fgd guna untuk mendapatkan informasi secara mendalam tentang permasalahan yang dialami mahasiswa dalam menjalankan usaha. metode analisis data untuk melakukan pengujian hipotesis pengaruh variabel knowledge, skill dan efikasi diri dalam menjalankan usaha terhadap kinerja usaha mahasiswa, dalam penelitian ini digunakan analisis regresi linier berganda dengan persamaan sebagai berikut. y= a+b 1 x 1 +b 2 x 2 +b 3 x 3 y = kinerja usaha a = konstanta b = koefisien regresi x1 = knowledge x2 = skill x3 = efikasi diri hasil dan pembahasan penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang mencari hubungan antara variabel knowledge, skill, dan afikasi diri terhadap kinerja mahasiswa dalam berwirausaha. dari hasil penyebaran kuesioner maka dapat dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan sebagai berikut. y = a+b 1 x 1 +b 2 x 2 +b 3 x 3 dari hasil pengolahan data dengan menggunakan spss, dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut. tabel 1 hasil uji t variabel unstandardized coefficients stand coefficient t sig b std. error beta constant .997 .367 2,715 .010 knowledge .051 .214 .058 .240 .811 skill .569 .211 .665 2,696 .010 efikasi diri .175 .082 .209 2,122 .040 penelitian ini dilakukan pada mahasiswa universitas widya kartika surabaya yang sudah memiliki usaha yaitu sebanyak 45 mahasiswa, pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, sampel sengaja dipilih dengan menentukan kriteria tertentu. metode pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa wirausaha serta melasumber: print out spss business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 162 juga dapat dilakukan dengan simulasi atau studi kasus-kasus bisnis yang dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam berwirausaha. keterampilan yang harus dimiliki oleh mahasiswa wirausaha yaitu keterampilan dalam membuat desain produk, keterampilan melakukan promosi penjualan serta mengelola keuangan perusahaan sehingga perusahaan yang dijalankan dapat berjalan dengan baik dan mampu bersaing dengan perusahaan sejenis. hasil penelitian ini bersesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh sidharta dan lusyana (2014), ardiana et al. (2010), skill berpengaruh terhadap kompetensi umkm. variabel efikasi diri mempunyai pengaruh terhadap kinerja mahasiswa wirausaha sebesar 0,413 dan berpengaruh signifikan karena memiliki nilai sig sebesar 0,040 lebih kecil dari 0,05. koefisien regresi variabel afikasi diri sebesar 0,175 mempunyai dampak positif terhadap peningkatan kinerja mahasiswa dalam berwirausaha sebesar 0,175. untuk mendapatkan kinerja yang baik dalam melakukan wirausaha harus memiliki kepercayaan diri yang kuat dari dalam diri mahasiswa, kepercayaan merupakan dorongan atau sebuah kekuatan yang dapat memberikan keyakinan, efikasi diri sangat penting untuk mengeksploitasi kemampuan atau potensi diri menjadi sesuatu yang produktif dan bermanfaat serta mempunyai nilai jual serta menghadapi persoalan bisnis dan dapat meningkatkan mental jiwa kewirausahaan oleh mahasiswa. hasil penelitian ini didapat bahwa afikasi diri atau dorongan dari dalam diri mahasiswa untuk melakukan wirausaha sangatlah penting untuk dapat meningkatkan kinerja usaha yang dilakukan. afikasi diri saat ditumbuhkan dengan kunjungan usaha ke tempat pengusaha yang sudah sukses serta sharing pengalaman dengan pengusaha sukses sehingga dapat menggugah motivasi y = 0,997 +0,051 + 0, 569 + 0,175 dari data penelitian di atas dapat diketahui bahwa variabel pengetahuan berpengaruh terhadap kinerja wirausaha mahasiswa sebesar 0,058 dan tidak signifikan karena memiliki nilai sig di atas 0,05. koefisien regresi variabel pengetahuan sebesar 0,051 adalah setiap peningkatan pengetahuan mahasiswa sebesar 1 akan berdampak positif terhadap peningkatan kinerja wirausaha mahasiswa sebesar 0,051. hasil penelitian ini merupakan fakta bahwa pengetahuan saja tidak dapat diandalkan untuk dapat meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa, proses pembelajaran kewirausahaan yang dilakukan dengan metode ceramah atau teori saja tidaklah cukup untuk mencetak calon wirausaha sukses, mengingat wirausaha itu bukan hanya sekadar teori tetapi perlu aplikasi dalam pelaksanaannya sehingga diperlukan keuletan dan ketelatenan dalam menjalankannya. hasil penelitian ini menolak hasil penelitian ardiana et al. (2010), menyatakan knowledge sdm ukm memiliki hubungan signifikan terhadap kinerja ukm. variabel keterampilan berwirausaha mempunyai pengaruh terhadap kinerja wirausaha mahasiswa sebesar 0,388 dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja wirausaha mahasiswa karena memiliki nilai sig lebih kecil dari 0,05. koefisien regresi variabel keterampilan berwirausaha sebesar 0,659 menunjukkan setiap peningkatan keterampilan mahasiswa dalam melakukan wirausaha akan berdampak positif terhadap peningkatan kinerja wirausaha mahasiswa sebesar 0,659. dari hasil penelitian ini dapat ditemukan bahwa peningkatan keterampilan mahasiswa dalam mengelola bisnis sangatlah penting dilakukan mengingat keterampilan berbisnis bisa didapatkan melalui magang kerja serta pelatihan-pelatihan keterampilan membuat produk lebih disukai mahasiswa, selain itu keterampilan berwirausaha muis murtadho, roby kurniawan budhi, risma andrarini, studi knowledge, skill, dan efikasi diri terhadap kinerja mahasiswa dalam berwirausaha 163 mahasiswa untuk lebih giat dalam melakukan wirausaha. hasil penelitian ini bersesuaian dengan penelitian dengan penelitian wulandari (2013), wijaya (2009), wahyuni (2013) efikasi diri mempunyai pengaruh signifikan terhadap keberhasilan wirausaha. variabel pengetahuan mahasiswa, keterampilan mengelola usaha serta afikasi diri mempunyai pengaruh terhadap kinerja wirausaha mahasiswa sebesar 0,645 atau 64,5% sehingga pengaruhnya besar dan signifikan karena memiliki nilai sig sebesar 0,000, lebih kecil dari 0,005. tabel 2 hasil uji f fikan terhadap kinerja wirausaha mahasiswa karena memiliki nilai sig > 0,05. sedangkan variabel skill dan efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap kinerja wirausaha mahasiswa karena memiliki nilai sig < 0,05. 2. dari hasil penelitian ini dapat ditemukan fakta bahwa pendidikan atau pengetahuan tidak dapat diandalkan dalam meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa untuk itu haruslah disinergikan antara knowledge, skill, dan efikasi diri mahasiswa di mana skill dan efikasi sangat berperan penting dalam meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa. 3. untuk meningkatkan skill dan efikasi diri mahasiswa dapat dilakukan dengan cara melaksanakan magang kerja serta dilakukan kuliah kerja lapangan dengan demikian maka mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan dalam memecahkan persoalan bisnis yang dijalankan. rekomendasi 1. pemerintah hendaknya meningkatkan program pengembangan wirausaha mahasiswa sehingga banyak tercipta mahasiswa wirausaha yang mandiri berbasis iptek yang dapat mengatasi masalah perekonomian nasional. 2. pihak yang berkompeten hendaknya memberikan perhatian peningkatan skill mahasiswa pembelajaran entrepreneurship sehingga keberhasilan wirausaha mahasiswa dapat ditingkatkan. 3. diperlukan perubahan kurikulum pembelajaran wirausaha yang lebih menekankan keterampilan lebih dominan dari sistem tatap muka, diharapkan mahasiswa menjadi terampil dan dapat mengatasi permasalahan bisnis di masa yang akan datang. r r2 adjusted r2 f sig .803 .645 .619 24.850 .000 sumber: print out spss variabel pengetahuan mahasiswa, keterampilan mengelola usaha dan efikasi diri mempunyai pengaruh terhadap kinerja wirausaha mahasiswa sebesar 0,645 atau 64,5%, serta berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja wirausaha mahasiswa hal ini dapat dilihat dari nilai sig di bawah 0,05. dari penelitian ini untuk meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa diperlukan kombinasi antara pemberian pengetahuan mengelola bisnis serta pemberian keterampilan dalam mengelola usaha dan dorongan yang tinggi untuk bisa berhasil dapat memberi pengaruh positif terhadap kinerja wirausaha mahasiswa. simpulan penelitian ini dapat dihasilkan kesimpulan sebagai berikut. 1. dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa variabel knowledge tidak berpengaruh signibusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 164 daftar pustaka ardiana, i.d.k.r., brahmayanti, i.a., & subaedi, s. 2010. kompetensi sdm ukm dan pengaruhnya terhadap kinerja ukm di surabaya. jurnal manajemen dan kewirausahaan, 12(1), pp-42. andika & madjid. 2012. analisis pengaruh sikap, norma subjektif, dan efikasi diri terhadap intensi berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi universitas syiah kuala. prosiding eco-entrepreneurship seminar & call for paper “improving performance by improving environment.” semarang: fakultas ekonomi, universitas negeri semarang. astuti, s. & sukardi, t. 2013. faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian untuk berwirausaha pada siswa smk. jurnal pendidikan vokasi, 3(3). darya, i.g.p. 2015. pengaruh ketidakpastian lingkungan dan karakteristik kewirausahaan terhadap kompetensi usaha dan kinerja usaha mikro kecil di kota balikpapan. asian journal of innovation and entrepreneurship, 1(01), 65–78. dewi, a.v., & mulyatiningsih, e. 2013. pengaruh pengalaman pendidikan kewirausahaan pendidikan kewirausahan dan keterampilan kejuruan terhadap motivasi berwirausaha siswa. jurnal pendidikan vokasi, 3(2). indarti, n., & rostiani, r. 2008. intensi kewirausahaan mahasiswa: studi perbandingan antara indonesia, jepang dan norwegia. jurnal ekonomika dan bisnis indonesia, 23(4), 1–27. irawan, ari. 2016. pengaruh keterampilan usaha terhadap keberhasilan wirausaha. journal of business management and entrepreneurship education, (1) 1, pp.213–223 noe, raymond, a. hollenbeck, john r. gerhart, barry wright & patrick mullen. 2000. human resource management gaining in competitive advantage third edition. international edition. united state of america: mcgraw-hill companies, inc. sarwoko, e. 2011. kajian empiris entrepreneur intention mahasiswa. jurnal ekonomi bisnis, 16(2), 128–130. siswoyo, b.b. 2009. pengembangan jiwa kewirausahaan di kalangan dosen dan mahasiswa. jurnal ekonomi bisnis, 14(2), 35– 45. sidharta, i., & lusyana, d. 2014. analisis faktor penentu kompetensi berdasarkan konsep knowledge, skill, dan ability (ksa) di sentra kaos suci bandung. jurnal computech & bisnis, 8(1), 49–60. sinarasri, a., & hanum, a.n. 2012. pengaruh latar belakang pendidikan terhadap motivasi kewirausahaan mahasiswa (studi kasus pada mahasiswa unimus di semarang). prosiding seminar nasional & internasional, vol. 1, no. 1. wahyuni, s. 2013. hubungan efikasi diri dan regulasi emosi dengan motivasi berprestasi pada siswa smk negeri 1 samarinda. e-journal psikologi, 1(1), 88-95. wijaya, t. 2009. kajian model empiris perilaku berwirausaha ukm diy dan jawa tengah. jurnal manajemen dan kewirausahaan, 10(2), pp-93. wulandari, s. & unesa, k.k.s. 2013. pengaruh efikasi diri terhadap minat berwirausaha pada siswa kelas xii di smk negeri 1 surabaya. jurnal pendidikan tata niaga (jptn), 1(1). www.depkop.go.id www.bps.go.id 01 candra.pmd candraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 11 pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya candraningrat institut bisnis dan informatika stikom surabaya candraningrat@ymail.com abstract: this study aimed to analyze the influence of external factors consisting of family support and business capital to the students decision-making at the business faculty of the institut bisnis dan informatika stikom surabaya. the research was conducted from 42 students were taken by the purposive sampling method which were active students who own businesses or who are interested in entrepreneurship in the future, survey method used for data gathering with instrument questionnaire and analyzed by spss version 21 to examine the research hypothesis. the result of multiple regression analysis showed that the variable family role and business capital is predicted to increase the student interest in entrepreneurship therefore the stated hypothesis 1 were accepted, but as partially the role of family able to increase the interest in entrepreneurship of the student, although that business capital not necessarily increase the interest of the students to entrepreneurship so the second hypothesis was rejected.. keywords: family’s’ role, business capital and entrepreneur interest pendahuluan indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dan saat ini juga masih terdapat masalah tentang kualitas sumber daya manusianya, salah satunya dalam ranah pendidikan, salah satu contohnya adalah kegiatan wajib belajar selama sembilan tahun yang telah dicanangkan oleh pemerintah masih belum diterapkan sepenuhnya oleh masyarakat, dapat dilihat pada penyerapan tenaga kerja agustus tahun 2014 masih didominasi oleh pendidikan rendah, yaitu sd ke bawah sekitar 53 juta orang (47,07%), dan yang ada diurutan kedua, yaitu sma sekitar 29 juta jiwa (25.39%). penduduk yang berpendidikan pada perguruan tinggi hanya sekitar 8,2 juta orang atau 7,21% (bps, 2016). demikian juga dalam hal ketenagakerjaan tercatat bahwa pengangguran terbuka sejumlah 7,147 juta pada februari 2014, dan pada bulan agustus 2014 meningkat menjadi 7,244 juta jiwa. hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah pengangguran terbuka. kondisi tersebut berdampak pada tumbuhnya perekonomian yang masih di bawah 8%, pertumbuhan ekonomi hanya di bawah 8% belum dapat menyerap keseluruhan pengangguran yang ada. akibat dari permasalahan di atas ialah jumlah penduduk miskin di indonesia masih tergolong tinggi, sekitar 28,59 juta penduduk miskin pada tahun 2012 (bps, 2016). bps (badan pusat statistik) indonesia pada tahun 2013 mencatat sebanyak 7,4 juta pemuda yang termasuk pada usia produktif dan sedang mencari kerja. apabila ditinjau dari business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 2 pendidikannya sekitar 27,09% berpendidikan sekolah dasar ke bawah, sedangkan 22,62% masih berpendidikan sltp, lalu sebesar 25,29% berpendidikan sma, dan 15,37% berpendidikan smk. selain itu dapat dilihat dari lokasinya maka penyebaran pemuda di pedesaan atau perkotaan seperti berikut, sebesar 5,24 juta pemuda atau 53% berlokasi di perkotaan sedangkan sekitar 4,2 juta orang berada di daerah pedesaan. dilihat dari data tentang pengangguran pada pemuda masih dalam kategori tinggi, jika tidak diperhatikan secara serius dapat mengakibatkan masalah-masalah sosial. kemungkinan permasalahan sosial dari dampak pengangguran yang tinggi adalah penyalahgunaan narkoba oleh pemuda, tingkat kriminalitas meningkat, pergaulan bebas, premanisme, human trafficking, dan lainnya. kondisi tersebut dapat mengganggu kegiatan pembangunan dalam segala bidang dan stabilitas nasional. salah satu cara dalam mengatasi pengangguran di kalangan pemuda adalah dengan program pengembangan kewirausahaan, karena wirausaha mempunyai peranan yang cukup signifikan terhadap perekonomian di indonesia khususnya dalam mengatasi pengangguran dan mendorong terciptanya stabilitas usaha yang berkesinambungan. menurut data bps, sensus ekonomi (2006) pertumbuhan industri besar dan menengah sejak 2002 hingga 2006 hanya tumbuh sekitar 1.998 perusahaan atau sebesar 0.02%. sedangkan untuk industri kecil tumbuh sekitar 455.960 atau sebesar 16%. dari keseluruhan unit usaha manufaktur di indonesia sebesar 1.542 juta atau sekitar 99,2% adalah industri kecil menengah (ikm) dan industri skala rumah tangga (home industry), telah memberi kesempatan kerja cukup besar yaitu 67,3% dari keseluruhan kesempatan kerja yang ada, dan sedangkan industri manufaktur hanya sebesar 17,8%. dari data di atas telah memberikan gambaran begitu pentingnya kontribusi usaha kecil dan menengah dalam stabilitas ekonomi melalui peningkatan lapangan pekerja dan pemerataan pendapatan sehingga penciptaan wirausaha baru sangat diperlukan, dan pemerintah selalu mendorong pemuda baik lulusan sekolah menengah serta lulusan perguruan tinggi dibentuk menjadi seorang wirausahawan yang inovatif dan kreatif guna menjadi ukm yang kuat dan mandiri. kasus baru-baru ini adalah perusahaan teknologi informasi yang cukup terkenal di seluruh dunia dirintis oleh seorang wirausahawan muda telah berkembang pesat di dunia. menurut kao (1999) negara maju seperti amerika serikat, taiwan, korea yang sangat peka terhadap pembentukan jiwa entrepreneurs (kao, 1999). untuk mengubah cara pandang pemuda terhadap pekerjaan sebagai wirausaha tidaklah mudah karena pada kenyataannya banyak permasalahan yang harus dihadapi ketika menjadi seorang wirausaha karena tidak semua wirausaha bisa berjalan mulus dan selalu bisa mendatangkan uang seperti apabila mereka bekerja sebagai pegawai negeri atau bekerja di perusahaan swasta, karena itulah harus diketahui secara empiris faktor eksternal apa saja yang sebenarnya memengaruhi pengambilan keputusan seorang pemuda untuk menjadi wirausaha. institut bisnis dan informatika stikom surabaya adalah salah satu pencetak generasi penerus bangsa yang saat ini berfokus pada mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha yang di mulai dari pembentukan fakultas baru pada tahun 2014 yaitu fakultas ekonomi dan bisnis, oleh karena itu penelitian ini di laksanakan di institut bisnis dan informatika stikom surabaya. candraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 3 selain itu, penelitian ini juga perlu dilakukan dipandang dari segi teoretis yaitu untuk lebih memperkaya dari model pengambilan keputusan individu dan model yang dilakukan oleh cooper khususnya bagi pemuda untuk berwirausaha, sedangkan dari segi praktisnya dapat lebih mendorong pemuda untuk berwirausaha dengan berfokus pada faktor-faktor eksternal individu dan sekaligus menggeser paradigma lama bahwa lulusan sekolah atau perguruan tinggi pada era digital saat ini bukan lagi sekadar menjadi pencari kerja namun harus mampu sebagai pencipta lapangan kerja, yang dapat berguna bagi masyarakat di sekitar serta dapat memberikan andil dalam pembangunan ekonomi di indonesia. untuk itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh pengaruh faktor eksternal perguruan tinggi yang terdiri dari dukungan orang tua dan modal usaha berpengaruh terhadap minat wirausaha mahasiswa di stikom surabaya. kerangka teoretis pengambilan keputusan untuk berwirausaha menurut weihrichdan koontz (2005) pengambilan keputusan ialah sebagai kegiatan penentuan dari sebuah pilihan langka atau tindakan dari beberapa alternatif. sedangkan menurut george r. terry (2003) pengambilan keputusan merupakan kegiatan memilih alternatif keputusan dari dua atau bahkan alternatif yang tersedia. begitu juga dalam pengambilan keputusan untuk berwirausaha, pada waktu seseorang mengambil sebuah keputusan sering dihadapkan pada beberapa alternatif pilihan yang kemungkinan akan menjadi salah satu penyelesaian pada suatu masalah antara memilih menjadi seorang wirausahawan atau menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta maupun pemerintahan. pilihan menjadi wirausawan bagi pemuda dalam buku cashflow-quadrant terdapat gambaran dari beberapa metode seseorang dapat memperoleh penghasilan, metode-metode tersebut terbagi menjadi empat sebagai berikut. (1) seseorang dapat menjadi seorang pegawai, yang dimaksud pegawai adalah orang yang bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi bawahan seseorang dengan tugas-tugas yang sudah terstruktur ataupun belum terstruktur dengan baik. (2) pekerja lepas, yaitu seseorang bekerja di mana saja tetapi tidak berstatus tetap dalam sebuah kegiatan kerja dan kemungkinan berpindah tempat kerja dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. (3) pemilik usaha, yaitu seseorang mendapatkan penghasilan dari bisnis yang dijalankan sendiri tanpa tuntutan dari atasan dan dapat dikelola sendiri. (4) penanam modal yaitu seseorang mendapatkan pendapatan dari beberapa modal yang dipinjamkan dengan syarat tertentu dalam pembagian hasil keuntungan (kiyosaki, 2001). beberapa model yang disajikan oleh kiyosaki (2001) memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan, tetapi apabila seseorang ingin menikmati hidupnya lebih baik bekerja dengan waktu yang sedikit mungkin dan di lain waktu harus ada kegiatan lain yang dapat menghasilkan penghasilan selain gaji tetap, oleh karena itu mendapatkan penghasilan dari usaha sendiri merupakan salah satu alternatif pilihan yang patut dipertimbangkan (drake, 2005). konsep tentang pemuda, dalam hal ini memiliki tiga sudut pandang, yaitu tentang batasan usia pemuda, sifat atau karakteristiknya, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 4 secara biologis, yang dapat dikategorikan sebagai pemuda adalah seseorang yang berusia 15 hingga 30 tahun menurut undang-undang nomor 40 tahun 2009. sedangkan dalam segi psikologis memiliki kematangan dalam hal berpikir dimulai sejak umur 21 tahun, sedangkan batasan pemuda sebagai generasi penerus generasi terdahulu menentukan umur pemuda sekitar 18 sampai dengan 30 tahun dan bahkan mencapai umur 40 tahun. dari beberapa sumber di atas tingkat usia pada manusia bisa disimpulkan bahwa kategori umur bagi pemuda adalah di akhir masa remaja hingga akhir dewasa awal, atau dapat diartikan bahwa usia 18 sampai dengan 40 tahun. berdasarkan jenjang usia dalam kategori pemuda yang berada di antara umur remaja hingga akhir awal kedewasaan, maka pemuda terdapat beberapa ciri-ciri khusus seperti berikut. 1. dalam hal kemampuan kognitifnya sudah dapat dikatakan siap, hal ini dapat dilihat dari kemampuan seorang pemuda dalam mengetahui dan memahami suatu permasalahan, serta dapat membentuk sebuah sikap terhadap sebuah permasalahan tertentu. 2. kesiapan emosional, hal ini dapat ditinjau dari kemampuan berpikir seorang pemuda untuk mengendalikan dan menempatkan emosi dalam menyelesaikan dari sebuah permasalahan. 3. terlalu banyaknya masalah, hal ini dikarenakan dari rata-rata pemuda banyak memiliki ide-ide serta ide tersebut dilandasi dengan nilai-nilai ideal. tetapi keseluruhan ide maupun keinginan tersebut dapat terealisasi dikarenakan kondisi di dalam lingkungannya sulit untuk mewujudkan nilai ideal yang diinginkan oleh seorang pemuda. 4. keterasingan sosial, pemuda memiliki kemampuan dalam berpikir ideal serta tidak memihak apabila mendorong pemuda pada keadaan yang tidak selaras dengan lingkungan sosial. 5. memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, pemuda memiliki keinginan yang tinggi guna mewujudkan segala keinginannya seringkali apapun yang dilakukan oleh seorang pemuda akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. 6. lebih kreatif dan inovatif, berhubungan dengan kemampuannya menciptakan ideide atau pemikiran baru guna proses penyelesaian masalah yang sedang dihadapinya. 7. memiliki ketergantungan kepada generasi yang lebih tua, dikarenakan keterbatasan pengalaman dari pemikiran seorang pemuda sedangkan pengalaman tersebut dimiliki oleh generasi yang lebih tua. pengambilan keputusan berwirausaha pada pengambilan keputusan individu dipengaruhi oleh perilaku, persepsi, motivasi, dan pembelajaran individu (robbins, sp 2001). selain hal tersebut, pengambilan keputusan dapat dipengaruhi pula oleh nilai dan sikap yang berubah. model dari cooper dalam journal of small business management (birley, 1989) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan seseorang untuk menjadi wirausahawan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: antecedent influence, incubator organization, dan environmental factors. fokus penelitian hanya pada variabelvariabel faktor eksternal yaitu peran keluarga dan sumber modal dengan alasan sebagai berikut. 1. sumber modal dalam penelitian ini dimasukkan karena dalam pengambilan keputusan seseorang untuk menjadi wiraucandraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 5 sahawan karena dalam merintis sebuah usaha baru sangat diperlukan walaupun modal tersebut tergantung pula dengan skala bisnis yang akan dijalankan, walaupun menurut kasali dalam pengantar buku 50 usahawan tahan banting (abe, 2000) dijelaskan bahwa modal uang merupakan sebuah pelengkap, tetapi kreativitas yang dimiliki oleh pemudalah yang diharapkan mampu menemukan sumber-sumber modal yang ada. 2. peran dari lingkungan keluarga yang bukan seorang pebisnis ataupun yang telah memiliki bisnis juga dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan seorang pemuda menjadi seorang wirausahawan dan perlunya mengetahui seberapa besar peran keluarga dalam aktivitas yang dilakukan oleh anaknya untuk berwirausaha. strategi membudayakan wirausaha di kalangan muda dalam jangka panjang lebih diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat, mengurangi tingkat pengangguran, dan kemiskinan, untuk itu dengan segala potensi yang dimiliki pemuda akan meningkatkan kreativitas dan keberaniannya untuk bertindak termasuk dalam hal ini mengambil suatu keputusan berwirausaha. peran keluarga peran keluarga sangat penting dalam membuat minat berwirausaha bagi para pemuda. dalam pemberian pendidikan berwirausaha dapat diberikan sejak usia dini dalam lingkungan keluarga. mempunyai seorang orangtua seorang wirausahawan akan lebih memberikan inspirasi kepada anak untuk menjadi seorang wirausahawan pula (hisrich, dkk., 2005). tingkat fleksibilitas dan kemandirian dari seorang wirausahaan telah ada dalam diri anak seorang wirausahawan, anak juga terinspirasi dari orangtuanya karena sejak dini anak sudah terbiasa dengan pekerjaan yang ringan sampai bersifat strategis. terlatih dan terinspirasi sehingga memengaruhi minatnya dalam berwirausaha di bidang yang sama ataupun berbeda dengan orangtua. dari keluarga cara berpikir anak akan sendirinya terbentuk menjadi seorang wirausahawan serta berkembang dengan baik pada seseorang yang tumbuh pada lingkungan wirausaha. dyer (2003) juga mengamati bahwa keluarga dan kekerabatan sebagai variabel sangat banyak diabaikan dalam penelitian organisasi. selanjutnya, stewart (2003) berpendapat bahwa literatur tentang keluarga dan kekerabatan dalam antropologi adalah sumber pengetahuan yang bisa menguntungkan bidang penelitian bisnis keluarga. dalam literatur jaringan kewirausahaan, dan kewirausahaan sastra pada umumnya, pengaruh keluarga dan kekerabatan diabaikan (aldrich dan cliff, 2003; greve dan salaff, 2003). menurut aldrich dan cliff (2003), bahkan lebih mengejutkan ketika seseorang mempertimbangkan bahwa penelitian menunjukkan bahwa kewirausahaan sering terjadi dalam tim yang berisi anggota keluarga (ruef et al., 2003; aldrich et al., 2002). aldrich et al. (2002) melaporkan bahwa 65% dari semua tim terdiri dari hubungan pasangan/partner, ikatan keluarga lain, atau keduanya. selanjutnya, aldrich dan cliff (2003) mengamati bahwa memulai bisnis seringkali merupakan respons terhadap perubahan dalam hubungan keluarga daripada penemuan rasional dalam pengembangan dan eksploitasi peluang bisnis. dalam studi kirkwood (2007) ditemukan bahwa orang tua memainkan peran penbusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 6 ting dalam penciptaan usaha baru. pengamatan terakhir yang membuat mengabaikan keluarga bahkan lebih mengejutkan adalah penelitian yang menunjukkan bahwa anggota keluarga sering memainkan peran penting dalam mendapatkan dan memobilisasi sumber daya keuangan (zhang et al, 2003; steier dan greenwood, 2000). bygrave et al. (2003) menemukan, berdasarkan analisis mereka terhadap gem data yang di 29 negara, bahwa 47,9% dari semua hubungan antara pengusaha dan investor informal kerabat. oleh karena itu, aldrich dan cliff (2003) berpendapat untuk kebutuhan keluarga tertanam perspektif tentang kewirausahaan, menyiratkan bahwa peneliti menggabungkan anggota keluarga dan keluarga ke dalam model konseptual. menurut herdiman (2008), keluarga menjadi lingkungan pertama yang dapat menumbuhkan mental kewirausahaan anak muda. sumber modal sarosa (2005) mendefinisikan modal sebagai jumlah uang yang ditanamkan dalam suatu usaha. uang inilah yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan usaha sampai dapat menghasilkan laba sendiri. modal uang yang dapat digunakan oleh seseorang untuk memulai usaha dapat berasal dari berbagai sumber. menurut sarosa (2005), sumber modal dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu modal sendiri, meminjam, dan kerja sama dengan pihak lain. sumber modal sendiri dapat berasal dari warisan, tabungan, dan menjual atau menggunakan aset yang kurang produktif. meminjam dapat berasal dari perorangan dan lembaga keuangan. beberapa definisi dan pendapat tersebut pada prinsipnya menunjukkan hal yang sama bahwa modal dalam bentuk uang relatif tetap diperlukan oleh seseorang pada saat akan memulai suatu usaha betapapun kecil jumlahnya. demikian pula terdapat beberapa alternatif sumber modal yang dapat digunakan oleh seseorang dalam memulai berwirausaha. metode penelitian sample dan prosedur teknik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu mahasiswa aktif di institut bisnis dan informatika stikom surabaya yang memiliki usaha dan mahasiswa yang berminat usaha sendiri di kemudian hari. menurut winarno surachmat (1998) dalam bukunya metodologi penelitian menyatakan bahwa untuk sampel kecil 30 responden telah dianggap cukup mewakili. pengambilan data dilakukan dengan metode survei dengan instrumen kuesioner pada bulan agustus sampai november 2016. dari keseluruhan responden diketahui bahwa responden berjenis kelamin pria sebesar 45,9% sedangkan responden wanita sebesar 54,1%. sedangkan dari segi jenis usaha yang telah dilakukan atau diminati ada beberapa macam usaha yaitu kuliner sebesar 33,3%, jasa sebesar 14,3%, teknologi informasi (startup) sebesar 9,5%, perdagangan sebesar 26,2%, pertambangan sebesar 2,4%, dan fashion sebesar16,7%. variabel penelitian dan pengukuran variabel dalam penelitian ini mengacu pada pengukuran faktor-faktor eksternal terhadap pengambilan keputusan pemuda untuk berwirausaha. faktor eksternal individu dalam penelitian ini adalah variabel independen yang terdiri dari peran keluarga dan sumber modal, sedangkan variabel dependen dalam penelitian candraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 7 ini ada pengambilan keputusan dalam berwirausaha. pengukuran variabel-variabel dalam penelitian ini diukur melalui beberapa hal sebagai berikut. 1. peran keluarga merupakan dukungan atau bahkan dorongan dari keluarga dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemuda untuk berwirausaha. pengukuran peran keluarga dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala likert. 2. sumber modal dalam penelitian ini merupakan berbagai macam sumber modal yang dapat dimanfaatkan oleh responden dan digunakan sebagai modal dalam memulai suatu usahanya. pengukuran sumber modal dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala likert. 3. pengambilan keputusan berwirausaha adalah keputusan yang diambil responden untuk berniat atau menjadi berwirausaha dan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala likert. penelitian ini dilakukan secara terstruktur dan teridentifikasi yang telah dilaksanakan peneliti untuk memperoleh jawaban dari responden dari pertanyaan dalam kuesioner penelitian yang hasilnya akan dikembangkan melalui beberapa tahap pengujian sebagai pembuktian hipotesis penelitian sebelum mengambil kesimpulan penelitian. hipotesis dalam penelitian ini yaitu, h-1: faktor eksternal peran keluarga mahasiswa institut bisnis dan informatika stikom surabaya berpengaruh positif dalam mengambil keputusan untuk berwirausahah dan h-2: faktor sumber modal mahasiswa institut bisnis dan informatika stikom surabaya berpengaruh positif dalam mengambil keputusan untuk berwirausaha. dalam penelitian ini proses pengumpulan data menggunakan metode survey, di mana peneliti juga menggali data dari persepsi responden metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode survey di mana peneliti menggali data dari persepsi responden yang dilakukan dengan wawancara dibantu dengan instrument questioner dan dilengkapi dengan wawancara terhadap responden. berdasarkan jenis data, masalah, dan tujuan penelitian maka dalam penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda. dalam proses perhitungan, data yang ada distandardisasi lebih dahulu karena skala pengukurannya berbeda. hasil dan pembahasan dalam penelitian ini dilakukan pula pengujian validitas konstruk atau construct validity dari sebuah instrumen penelitian telah menggunakan indeks korelasi product moment pearson, yaitu dengan cara membandingkan angka r “product moment” dari skor setiap item dan skor total tiap variabel dengan nilai kritis r pada tingkat kepercayaan 5% dan derajat kebebasan (df = n-2), yaitu sebesar 0,3. menurut solimun (2003), jika nilai r dari product moment lebih besar dari 0,3 dapat dinyatakan valid. sedangkan uji reabilitas menurut malhorta (2010) dapat dilakukan dengan metode alpha cronbach di mana disyaratkan nilai a > 0.6. hasil uji asumsi klasik normalitas dalam penelitian ini telah dilakukan uji normalitas dengan teknik uji q-q plot dan detrended normal q-q plot. pengujian ini business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 8 kolinearitas. sebaliknya, jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 dan vif lebih besar dari 10,0 maka terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji. pada tabel 1 bisa diketahui bahwa tidak terjadi multikolinearitas karena nilai tolerance dari variabel peran keluarga dan sumber modal lebih tinggi dari standar minimal yaitu 0,10, sedangkan nilai vif masing-masing variabel lebih kecil dari 10,0, hal tersebut menunjukkan bahwa pada penelitian ini variabel yang telah diuji tidak terkena multikolineritas. tabel 1 uji multikolinearitas mengamati tentang titik penyebaran data dalam sebuah diagram atau grafik. apabila penyebaran nilai-nilai dari data yang telah didapat mendekati garis normal, maka data tersebut dapat di katakan berdistribusi normal. dapat dilihat pada gambar grafik di q-q plot bisa dilihat pada gambar 1 yang menunjukkan bahwa nilai-nilai pengamatan berada mendekati garis yang menunjukkan data terdistribusi normal. normal p-p plot of regression s dependent variable: y observed cum prob 1,0,8,5,30,0 e xp ec te d c um p ro b 1,0 ,8 ,5 ,3 0,0 gambar 1 grafik q-q plot multikolinearitas multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan terbebas dari auxiliary. uji multikolineariats dapat dilihat dari nilai tolerance dan vif. apabila nilai tolerance lebih dari 0,10 atau nilai vif lebih kecil dari 10,0 maka tidak terjadi multivariabel multikolinearitas tolerance vif peran keluarga 0,648 1,544 sumber modal 0,857 1,167 sumber: pengolahan data primer autokorelasi tabel 2 menunjukkan hasil pengujian autokorelasi dengan menggunakan teknik uji durbin-watson. pada tabel 2 dapat diketahui bahwa nilai d sebesar 1,750. sementara du dengan jumlah 42 responden dan dua variabel pada tabel dw diperoleh 1,6061. sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut. du < d < 4-du = 1,6061< 1,750<2.3939 model r r square adjusted r square std. error of the estimate change statistics durbinwatson r square change f change df1 df2 sig. f change 1 0,404a 0,163 0,120 0,49710 0,163 3,800 2 39 0,031 1,750 tabel 2 durbin-watson autokorelasi sumber: pengolahan data primer candraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 9 dengan melihat hasil nilai dari persamaan di atas maka bisa diartikan bahwa variabel dependen keputusan berwirausaha mahasiswa menunjukkan h 0 diterima karena tidak terdapat autokorelasi. sehingga bisa disimpulkan bahwa model ini memenuhi asumsi klasik bebas dari autokorelasi. analisis korelasi analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yang terdiri dari variabel peran keluarga dan modal usaha terhadap minat berwirausaha. hasil analisis korelasi seperti yang dapat dilihat pada tabel 3 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel bebas x (faktor eksternal) terhadap y (keputusan berwirausaha) adalah sebagai berikut. tabel 3 koefisien korelasi dan positif, sedangkan koefisien determinasi r2 sebesar 0.163, artinya bahwa faktor eksternal yang diwakili oleh peran keluarga dan modal mampu memberikan kontribusi pengambilan keputusan berwirausaha sebesar 16,3%, sisanya 83,7% adalah unsur lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. analisis regresi analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen yaitu variabel eksternal yang terdiri dari peran keluarga dan sumber modal terhadap variabel dependen yaitu minat berwirausaha. adapun hasil perhitungan dari analisis regresi dapat dilihat pada tabel 4. tabel 4 menunjukkan bahwa hasil analisis regresi menunjukkan persamaan sebagai berikut. y = a + bx 1 +bx 2 y = 3,234 + 0,274 + 0,091 berdasarkan persamaan regresi di atas maka dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta (a) sebesar 3,234 menunjukkan bahwa jika kedua variabel bebas yaitu peran keluarga dan modal usaha, maka diprediksi akan meningkatkan minat wirausaha sebesar 3,234 dengan tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain. nilai b 1 peran orang tua (x 1 ) sebesar 0,274 sumber: pengolahan data primer berdasarkan tabel 3 menunjukkan hasil analisis koefisien korelasi menunjukkan angka sebesar 0,404 ini, artinya bahwa faktor eksternal yang terdiri dari peran keluarga dan sumber modal menunjukkan hubungan yang cukup model r r square adjusted r square std. error of the estimate 1 0,404a 0,163 0,120 0,49710 model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. collinearity statistics b std. error beta tolerance vif 1 (constant) 3,234 0,473 6,840 0,000 keluarga 0,274 0,113 0,370 2,432 0,020 0,926 1,080 modal 0,091 0,155 0,090 0,589 0,560 0,926 1,080 tabel 4 koefisien regresi sumber: hasil pengolahan data primer business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 10 berarti menunjukkan apabila terjadi kenaikan pada variabel peran orang tua sebesar satu satuan maka minat wirausaha juga akan meningkat sebesar 0,274. demikian juga untuk variabel modal usaha (x2) yaitu jika terjadi peningkatan satu satuan maka minat berwirausaha mahasiswa akan meningkat sebesar 0,091. berdasarkan tabel uji t tersebut variabel x1 memiliki nilai signifikansi sebesar 0,20 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari nilai minimal error 0,05 sehingga bisa diartikan bahwa variabel keluarga secara parsial berpengaruh terhadap variabel keputusan untuk menjadi wirausahawan. sementara itu, variabel x2 memiliki nilai signifikan sebesar 0,589, yang berarti variabel modal secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel pengambilan keputusan untuk menjadi wirausaha yang dikarenakan nilai signifikansinya > 0,05. pengujian hipotesis pengujian hipotesis di lakukan dengan menggunakan uji f (simultan) yaitu menguji hipotesis secara bersama-sama antara variabel x1 dukungan keluarga dan variabel modal usaha x2 terhadap variabel terikat yaitu minat berwirausaha mahasiswa institut bisnis dan informatika surabaya seperti yang dapat dilihat pada tabel 5. tabel 5 anova 3,800 dan nilai signifikansi sebesar 0,031 yang menunjukkan angka di bawah nilai alfa sebesar 0,05 ini dapat artinya bahwa secara simultan variabel dukungan keluarga dan modal usaha berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha sehingga hipotesis diterima. sedangkan pengujian hipotesis secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji t parsial dalam analisis regresi berganda bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas (x) secara parsial (sendiri) berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (y). dasar pengambilan keputusan dalam penelitian ini menggunakan nilai signifikansi. jika nilai sig < 0,05 maka variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. seperti yang dapat dilihat pada tabel 4 bahwa variabel x 1 memiliki nilai signifikansi sebesar 0,20 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari nilai minimal error 0,05 sehingga bisa diartikan bahwa variabel keluarga secara parsial berpengaruh terhadap variabel keputusan untuk menjadi wirausahawan. sementara itu, variabel x2 memiliki nilai signifikan sebesar 0,589, yang berarti variabel modal secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel pengambilan keputusan untuk menjadi wirausaha yang dikarenakan nilai signifikansinya >0,05. berdasarkan hasil pengujian dari tabel di atas diperoleh sebagai berikut. h-1 faktor peran keluarga mahasiswa institut bisnis dan informatika stikom surabaya berpengaruh signifikan dalam mengambil keputusan untuk berwirausaha.h h-2 faktor sumber modal mahasiswa institut bisnis dan informatika stikom surabaya tidak berpengaruh signifikan dalam mengambil keputusan untuk berwirausaha. model sum of squares df mean square f sig. 1 regression 1,878 2 0,939 3,800 0,031b residual 9,637 39 0,247 total 11,515 41 sumber: pengolahan data primer tabel 5 menunjukkan bahwa hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai f sebesar candraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 11 pembahasan model yang dihasilkan dari analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor eksternal dalam hal ini terdiri dari peran keluarga (x 1 ) dan sumber modal (x 2 ) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa untuk berwirausaha, namun secara parsial hanya variabel dukungan keluarga yang berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan untuk menjadi seorang wirausaha. hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki keluarga yang mendukung untuk berwirausaha kemungkinan besar dapat memberikan kontribusi dalam pengambilan keputusan mahasiswa untuk berwirausaha, namun tidak begitu bagi mereka yang memiliki modal usaha belum tentu memberikan kontribusi terhadap mereka untuk mengambil keputusan berwirausaha. minat mahasiswa untuk berwirausaha dikarenakan oleh dukungan mahasiswa ini merupakan hal yang memungkinkan karena keluarga merupakan faktor yang dominan dalam membentuk pengambilan keputusan, hal ini sesuai dengan pendapat bahwa stewart (2003) bahwa keluarga dan kekerabatan dalam antropologi adalah sumber pengetahuan yang bisa menguntungkan bidang penelitian bisnis keluarga. demikian juga menurut aldrich dan cliff (2003) dalam penelitiannya bahwa seseorang berwirausaha terjadi dalam tim yang berisi anggota keluarga (ruef et al., 2003; aldrich et al., 2002). aldrich et al. (2002) melaporkan bahwa 65% dari semua tim terdiri dari hubungan pasangan/partner, ikatan keluarga lain, atau keduanya. selanjutnya, aldrich dan cliff (2003) mengamati bahwa memulai bisnis seringkali merupakan respons terhadap perubahan dalam hubungan keluarga daripada penemuan rasional dalam pengembangan dan eksploitasi peluang bisnis. hal ini juga didukung oleh kirkwood (2007), (zhang et al., 2003; steier dan greenwood, 2000). bygrave et al. (2003), aldrich dan cliff (2003), dan herdiman (2008), keluarga menjadi lingkungan pertama yang dapat menumbuhkan mental kewirausahaan anak muda. lingkungan keluarga pengusaha, pengaruh untuk mengambil keputusan berwirausaha lebih kecil dibandingkan dengan dorongan dari dalam dirinya sendiri. hal ini menunjukkan fenomena bahwa mahasiswa yang lahir dari lingkungan pengusaha mempunyai motivasi diri lebih kecil dibandingkan dengan yang bukan dari golongan keluarga pengusaha. namun demikian, peran orang tua tetap memberikan kontribusi terhadap pengambilan keputusan meskipun tidak terlalu signifikan. fenomena yang lebih menarik adalah bahwa ternyata faktor sumber modal tidak mempunyai pengaruh terhadap keputusan berwirausaha. hal ini menunjukkan bahwa sumber modal bukan lagi menjadi masalah. mahasiswa beranggapan bahwa modal berusaha bisa didapatkan dari manapun. namun berdasarkan analisis deskriptif data variabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan modal sendiri dalam memulai berwirausaha. mereka menggunakan tabungan pribadi dalam memulai usahanya, pun juga tidak tertarik untuk mengajukan kredit ke bank karena usia mereka yang masih belia. sehingga dalam kasus ini, sumber modal tidak menjadi masalah berarti juga tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap keputusan mereka berwirausaha. implikasi penelitian hasil penelitian mengenai pengaruh dukungan keluarga dan modal usaha terhadap business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 12 pengambilan keputusan mahasiswa untuk berwirausaha akan memberikan implikasi bahwa dalam memberikan pendidikan dan motivasi berwirausaha bagi mahasiswa untuk menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam mewujudkan pemerintah khususnya dirjen pendidikan tinggi dalam mengembangkan program kewirausahaan di perguruan tinggi, mengingat keterbatasan lapangan kerja dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi. dengan hasil penelitian ini maka para pendidik mendapatkan gambaran bagaimana cara memotivasi dan mendidik mahasiswa untuk berminat menekuni wirausaha setelah mereka lulus dari perguruan tinggi. penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu belum mampu menampilkan semua variabel yang mungkin terkait dengan kemajuan usaha responden yang kemungkinan juga disebabkan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. peneliti juga menyadari bahwa jumlah sampel kurang memenuhi ketentuan, sehingga harus dilakukan penggantian teknik analisis dalam mengolah data. oleh karena itu, hendaknya penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang sesuai dan memenuhi ketentuan. berdasarkan hasil temuan di atas maka dapat direkomendasikan bahwa penyusunan kurikulum pendidikan wirausaha bagi mahasiswa di perguruan tinggi hendaknya melibatkan pengusaha dalam pembelajarannya, tidak hanya dilakukan secara teori namun juga praktik dengan memperhatikan minat bidang usaha yang di inginkan mahasiswa terlebih bagi mereka yang keluarganya sudah memiliki usaha akan sangat berpengaruh terhadap minat mereka berwirausaha sebagaimana hasil penelitian ini bahwa dukungan keluarga sangat berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan mereka. daftar pustaka abe, george. 2000. residential broadband, second edition. cisco press, indianapolis. aldrich, h.e., carter, 0n.m., and ruef, m. 2002. “with very little help from their friends: gender and relational composition of nascent entrepreneurs’ startup teams”, in bygrave, w.d., brush, c.g., davidsson, p.et al. (eds), frontiers of entrepreneurship research 2002, center for entrepreneurship research, babson college, wellesley, ma, pp. 15669. aldrich, h.e. and cliff, j.e. 2003. “the pervasive effects of family on entrepreneurship: toward a family embeddedness perspective”. journal of business venturing, vol. 18, pp. 573-96. birley, s. 1989. ’the start-up, in p. burns and j. dewhurst (eds). small business and entrepreneurship. london: macmillan, pp. 9-27. bygrave, w.d., hay, m. and reynolds, p.d. 2003. “executive forum: a study of informal investing in 29 nations composing the global entrepreneurship monitor”. venture capital, vol. 5 no. 2, pp. 101-16. drake r.l, wayne v., mitchell a.w.m. 2005. gray’s anatomy for students. philadelphia: churcill livingstone. dyer, g. 2003. “the family: the missing variable in organizational research”, entrepreneurship theory and practice, vol. 27 no. 4, pp. 401-16. candraningrat, pengambilan keputusan sebagai wirausaha muda dan faktor eksternal yang memengaruhinya di institut bisnis dan informatika stikom surabaya 13 george r. terry. 2003. prinsip-prinsip manajemen. pt bumi aksara. greve, a. and salaff, j.w. 2003, “social networks and entrepreneurship”. entrepreneurship theory and practice, vol. 28 no. 1, pp. 1-22. herdiman, f.s. 2008. wirausahawan muda mulai dari lingkungan keluarga, (http:/ /jurnal nasional.com/media, diakses 12 april 2016) . hisrich, r.d. et al. 2005. entrepreneurship, 6th ed. mcgraw-hillirwin, new york. kao, j.j. 1989. entrepreneurship creativity, and organization. brasil: editora prentice-hall. kirkwood, jodyanne. 2007. “igniting the entrepreneurial spirit: is the role parents play gendered?” international journal of entrepreneurial behavior & research, vol. 13 iss: 1, pp.39–59. kiyosaki robert t. dan lechter sharon l. 2001. business school. jakarta: gramedia pustaka utama. malhotra, n.k. 2010. marketing research – an applied orientation. 6th edition. new jersey: pearson education inc. robbins, stephen p. 2001. perilaku organisasi, edisi 8. prentice hall, jakarta. sarosa, p. 2005. kiat praktis membuka usaha. becoming young entrepreneur: dream big start small, act now! panduan praktis & motivasional bagi kaum muda dan mahasiswa. jakarta: pt elex media komputindo. solesvik, z, marina. 2013. entrepreneurial motivations and intentions: investigating the role of education major. education and training, vol. 55 no. 3, 2013 pp. 253-271. solimun. 2002. multivariate analysis structural equation modelling (sem) lisrel dan amos. fakultas mipa, universitas brawijaya. steier, l. and greenwood, r. 2000, “entrepreneurship and the evolution of angel financial networks”. organization studies, vol. 21 no. 1, pp. 163-92. stewart, a. 2003, “help one another, use one another: toward an anthropology of family business”. entrepreneurship theory & practice, vol. 27 no. 4, pp. 383– 96. weihrich dan koontz. 2005. management: a global perspective. mcgraw-hill education. wu, s. & wu, l. 2008. the impact of higher education on entrepreneurial intentions of university students in china. journal of small business and enterprise development, 15(4):752–774. zhang, j., wong, p.-k. and soh, p.-h. 2003. “network ties, prior knowledge and resource acquisition by high-tech entrepreneurs”. paper presented at the academy of management conference, seattle, wa, august 1-6. ...........bps pusat. 2006. sensus ekonomi ...........bps pusat, 2013 ...........bps pusat, 2016 ……...bps kota surabaya. 2010. rpjmd kota surabaya 2010–2015, ii – 39 ……..uu no. 40 tahun 2009 tentang kepemudaan. abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 6161 analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan economic value added (eva) dan market value added (mva) (studi kasus pada pt astra international, tbk. periode tahun 2008�2012) abdul hamid sekolah tinggi ilmu ekonomi mahardhika surabaya email: hamid.rayanwisata@gmail.com abstract: this study is a qualitative study using a case study approach to the pt. astra international, tbk. the object of this research is pt. astra international, tbk. pt. astra international, tbk is a company engaged in six business sectors, namely: automotive, financial services, heavy equipment, mining and energy, agribusiness, information technology, infrastructure and logistics. researchers chose pt. astra international, tbk as research objects due in the year 2012, pt. astra international, tbk managed to rank first in the list of 100 best companies to go public by the 2011 financial performance of fortune magazine�s indonesia. the data used in this research is secondary data, the financial statements. astra international, tbk 2008�2012. other secondary data used is the interest rate of bank indonesia certificates (sbi), the jakarta composite index (jci), and the company�s stock price began the year 2008�2012. this study aims to determine the company�s financial performance by the use of eva and mva approach, therefore the data analysis technique used is the eva and mva. based on the value eva of the year 2008�2012, pt. astra international, tbk has good financial performance that managed to meet the expectations of the company and the investors. based on the value of mva during the years 2008�2012, pt. astra international, tbk managed to create wealth and prosperity for companies and investors. it concluded that financial performance. astra international, tbk for five years was satisfactory. keywords: financial performance, value added (eva), market value added (mva) pendahuluan dewasa ini pertumbuhan ekonomi di era globalisasi tumbuh semakin pesat, hal ini membuat perusahaan-perusahaan yang ada kian bersaing ketat untuk memperoleh profit yang sebesar-besarnya. selain itu, perusahaan juga berlomba-lomba dalam menarik perhatian para investor untuk menanamkan modal mereka. kinerja keuangan perusahaan adalah salah satu informasi yang sangat dibutuhkan oleh manajemen, kreditor, dan investor. informasi mengenai kinerja keuangan bisa membantu pihak manajemen untuk mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan perusahaan dalam periode tertentu, sehingga bisa dijadikan bahan pertimbangan pihak manajemen untuk mengambil sebuah keputusan. selain itu, kinerja keuangan juga bisa menjadi tolak ukur keberhasilan pihak manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan dalam peningkatan laba. sedangkan bagi para investor, kinerja keuangan bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan mereka dalam berinvestasi. begitupun juga bagi kreditor, kinerja keuangan juga dijadikan sebabusiness and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 62 gai bahan pertimbangan apakah akan memberikan kredit pinjaman kepada perusahaan itu atau tidak. pengukuran terhadap kinerja keuangan perusahaan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kesehatan perusahaan. selama ini, dalam pengukuran kinerja keuangan sering digunakan analisis rasio terhadap laporan keuangan perusahaan seperti perhitungan rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio pasar. tapi seiring berjalannya waktu, analisis rasio sudah dianggap kurang efektif dalam pengukuran kinerja keuangan, hal ini dikarenakan analisis rasio sangat bergantung pada metode atau perlakuan akuntansi yang digunakan. sehingga seringkali kinerja perusahaan terlihat baik dan meningkat, yang mana sebenarnya kinerja tidak mengalami peningkatan dan bahkan menurun. salah satu kelemahan analisis rasio adalah mengabaikan adanya biaya modal, sehingga sulit untuk mengetahui apakah perusahaan sudah menciptakan nilai tambah atau tidak. untuk mengatasi keterbatasan tersebut maka muncul pendekatan baru untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan yaitu eva (economic value added). eva adalah metode yang pertama kali diperkenalkan oleh stewart & stern seorang ahli keuangan dari perusahaan stern stewart & co pada tahun 1993. menurut young & o�byrne (2001:5) eva adalah tolak ukur kinerja keuangan dengan mengukur perbedaan antara pengembalian atas modal perusahaan dengan biaya modal. eva juga diartikan sebagai laba operasional setelah pajak dikurangi dengan total biaya modal. jika eva positif, perusahaan telah menciptakan kekayaan. jika negatif maka perusahaan telah menyia-nyiakan modal (hansen mowen, 2005:126). hal ini menunjukkan bahwa nilai eva yang positif menggambarkan keberhasilan pihak manajemen dalam melakukan pengembalian yang melebihi tingkat biaya modal, sebaliknya nilai eva yang negatif menunjukkan ketidakmampuan pihak manajemen dalam menghasilkan tingkat pengembalian modal yang sepadan untuk menutupi resiko dan biaya investasi yang ditanamkan oleh para pemilik modal. selain eva, terdapat juga pendekatan mva (market value added) yang digunakan sebagai alat ukur kinerja keuangan perusahaan. young & o�byrne (2001:26) menyatakan bahwa mva adalah perbedaan antara nilai pasar perusahaan (termasuk ekuitas dan hutang) dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam perusahaan. mva merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kekayaan yang telah diciptakan perusahaan untuk para investornya dengan kata lain mva digunakan untuk mengukur berapa besar kemakmuran yang telah dicapai perusahaan. pt. astra international, tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam enam bidang usaha yaitu: otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan dan energi, agribisnis, teknologi informasi, infrastruktur dan logistik. sejak tahun 1990 pt. astra international, tbk menjadi perusahaan publik yang tercatat di bursa efek indonesia, dengan kapitalisasi pasar per 31 desember 2011 sebesar rp 229,58 triliun. pada tahun 2012 lalu, pt. astra international, tbk berhasil menduduki peringkat pertama dalam daftar 100 perusahaan go public terbaik berdasarkan kinerja keuangan 2011 versi majalah fortune indonesia (http:/ /keuanganinvestasi.blogspot.com). pt. astra international, tbk berhasil meraih pendapatan abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 63 sebesar rp 162,564 triliun di tahun 2011. terjadi peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan pendapatan di tahun 2010 yang hanya sebesar rp 129,038 triliun. berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini yaitu menganalisis kinerja perusahaan dengan menggunakan pendekatan economic value added (eva) dan market value added (mva). laporan keuangan laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut (http://id.wikipedia.org). menurut myer dalam munawir (2010:5) laporan keuangan adalah: �dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba. pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tidak dibagikan (laba yang ditahan)�. menurut fahmi (2012:2) dalam syahlina (2013) laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut. laporan keuangan pada dasarnyaa adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut (munawir, 2010:2). melalui laporan keuangan akan dapat dinilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, struktur pemodalan perusahaan, distribusi daripada aktivanya, keefektifan penggunaan aktiva, hasil usaha/pendapatan yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar, serta nilai-nilai buku tiap lembar saham perusahaan yang bersangkutan (munawir, 2010:5). kinerja keuangan perusahaan kinerja keuangan perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alatalat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan. penilaian kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya terhadap para penyandang dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. menurut helfert (1997:67) dalam wahyudi (2009) kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen. dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa kinerja merupakan indikator dari baik buruknya keputusan manajemen dalam pengambilan keputusan. manajemen dapat berinteraksi dengan lingkungan intern maupun ekstern melalui informasi. informasi tersebut lebih lanjut dituangkan atau dirangkum dalam laporan keuangan perusahaan. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 64 konsep economic value added (eva) eva adalah suatu estimasi dari laba ekonomis yang sebenarnya dari bisnis untuk tahun yang bersangkutan, dan sangat jauh berbeda dari laba akuntansi. eva mencerminkan laba residu yang tersisa setelah biaya dari seluruh modal, termasuk modal ekuitas, telah dikurangkan, sedangkan laba akuntansi ditentukan tanpa mengenakan beban untuk modal ekuitas (brigham & houston, 2006: 69). menurut husnan dan pudjiastuti (2012:68) dalam syahlina (2013) eva menunjukkan ukuran yang baik sajauh mana perusahaan telah menambah nilai terhadap para pemilik perusahaan. eva merupakan tujuan perusahaan untuk meningkatkan nilai atau value added dari modal yang telah ditanamkan pemegang saham dalam operasi perusahaan. oleh karenanya eva merupakan selisih laba operasi setelah pajak (net operating after tax atau nopat) dengan biaya modal (cost of capital). dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian eva adalah jumlah uang yang diciptakan oleh perusahaan dengan mengurangkan beban modal dari net operating after tax (nopat) yang menggambarkan pengembalian atas modal yang dikeluarkan untuk investasi oleh perusahaan. menurut young & o�byrne (2001:31), eva merupakan indikator mengenai adanya penciptaan nilai dari suatu investasi. berikut penilaian perusahaan berdasarkan nilai eva: (a) nilai eva > 0, menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan dan berhasil menciptakan nilai bagi penyedia dana. tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih besar daripada tingkat biaya modal atau tingkat biaya yang diharapkan investor atas investasi yang dilakukannya; (b) nilai eva = 0, menunjukkan posisi impas perusahaan karena semua laba digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyedia dana baik kreditor maupun pemegang saham; (c) nilai eva < 0, menunjukkan tidak terjadinya proses nilai tambah karena laba yang tersedia tidak dapat memenuhi harapan para investor. nilai perusahaan berkurang akibat tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih rendah dari tingkat pengembalian yang diharapkan penyandang dana (investor). perhitungan economic value added (eva) ada beberapa alternatif dalam melakukan perhitungan eva. menurut young & o�byrne (2001:32) pengukuran kinerja dengan metode eva dapat dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut: penjualan bersih xxx biaya operasi xxx laba operasi sebelum bunga & pajak (ebit) xxx pajak xxx laba operasi bersih sesudah pajak (nopat) xxx biaya modal (modal yang diinvestasikan x biaya modal) xxx eva xxx zaky dan ary (2002) dalam wahyudi (2009:25) melakukan perhitungan eva dengan cara sebagai berikut: 1. menghitung eva: eva = nopat (wacc x capital) nopat (net operating profit after tax) adalah laba bersih ditambah beban bunga setelah pajak.                                                                                                                                                                     business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 66 3. menentukan struktur permodalan perhitungan struktur permodalan terdiri dari: jumlah modal = hutang jangka panjang + ekuitas komposisi hutang = hutang jangka panjang: jumlah modal komposisi modal saham = ekuitas: jumlah modal 4. menentukan nopat nopat dapat dihitung sebagai berikut: nopat = ebit-tax 5. menentukan wacc secara matematik perhitungan wacc dapat dituliskan sebagai berikut: = + 6. menghitung nilai eva nilai eva dapat dihitung dengan menggunakan rumus: eva = nopat (wacc x invested capital) konsep market value added (mva) sasaran utama dari kebanyakan perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. sasaran ini sudah pasti akan menguntungkan pemegang saham, tetapi juga akan membantu untuk memastikan bahwa sumber daya yang terbatas telah dialokasikan secara efisien, yang akan memberikan keuntungan pada ekonomi. kekayaan pemegang saham akan dimaksimalkan dengan meminimalkan perbedaan antara nilai pasar dari saham perusahaan dan jumlah modal ekuitas yang telah diberikan oleh pemegang saham. perbedaan ini disebut sebagai nilai tambah pasar (mva) (brigham & houston, 2006:68). adapun indikator yang digunakan untuk mengukur mva menurut young & o�byrne (2001:27) adalah: (a) mva > 0, bernilai positif, perusahaan berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana; (b) mva < 0, bernilai negatif, perusahaan tidak berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana. perhitungan market value added (mva) menurut brigham & houston (2006:68) mva dapat dirumuskan sebagai berikut: mva = nilai pasar dari saham ekuitas modal yang diberikan oleh pemegang saham = (saham beredar) (harga saham) total ekuitas saham biasa sedangkan menurut young & o�byrne (2001:26) mva dapat dihitung melalui rumus: mva = nilai pasar-modal yang diinvestasikan hubungan eva dengan mva eva dan mva memiliki hubungan tetapi hubungan antara eva dan mva merupakan hubungan yang tidak langsung. jika pada perusahaan memiliki sejarah eva yang bagus maka secara tidak langsung juga memiliki mva abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 67 yang bagus juga. harga saham yang merupakan unsur utama mva, lebih bergantung kepada ekspektasi kinerja di masa mendatang daripada suatu kinerja historis, oleh sebab itu sebuah perusahaan dengan sajarah nilai eva negatif dapat saja memiliki mva yang positif, asalkan para investornya mengharapkan terjadinya suatu perubahan arah di masa mendatang. menurut brigham & houston (2006:70) ketika eva atau mva digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial sebagai bagian dari program kompensasi intensif, eva adalah ukuran yang umum digunakan. alasan pertama, eva menunjukkan nilai tambah yang terjadi selama suatu tahun tertentu, sedangkan mva mencerminkan kinerja perusahaan sepanjang hidupnya, bahkan mungkin termasuk masa-masa sebelum manajer yang ada sekarang dilahirkan. kedua, eva dapat diterapkan pada masing-masing divisi atau unit-unit yang lain dari sebuah perusahaan besar, sedangkan mva harus diterapkan untuk perusahaan secara keseluruhan. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus pada pt. astra international, tbk. obyek dari penelitian ini adalah pt. astra international, tbk. pt. astra international, tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam enam bidang usaha yaitu: otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan dan energi, agribisnis, teknologi informasi, infrastruktur dan logistik. peneliti memilih pt. astra international, tbk sebagai obyek penelitian dikarenakan pada tahun 2012 lalu, pt. astra international, tbk berhasil menduduki peringkat pertama dalam daftar 100 perusahaan go public terbaik berdasarkan kinerja keuangan 2011 versi majalah fortune indonesia. data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu laporan keuangan pt. astra international, tbk tahun 2008-2012. data sekunder lainnya yang digunakan adalah data tingkat suku bunga sertifikat bank indonesia (sbi), indeks harga saham gabungan (ihsg), dan harga saham perusahaan mulai tahun 2008-2012. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan dengan menggunaan pendekatan eva dan mva, maka dari itu teknik analisis data yang digunakan adalah metode eva dan mva. hasil dan pembahasan pembahasan kinerja keuangan pt. astra international, tbk periode tahun 2008�2012 metode economic value added (eva) perhitungan biaya modal hutang (k d ) biaya modal hutang dapat dihitung dengan menggunakan rumus: = ket: k d = biaya hutang setelah pajak k d * = biaya hutang sebelum pajak t = tarif pajak business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 68 tabel 1. biaya modal hutang sebelum pajak (k d *) pt. astra international, tbk (2008�2012) sumber: data diolah keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 beban bunga 513 485 484 710 1,021 hutang jangka panjang 13,280 13,271 17,044 29,312 38,282 kd* 0.0386 0.0365 0.0284 0.0242 0.0267 perhitungan tarif pajak menggunakan rumus sebagai berikut: tarif pajak = tabel 2. tarif pajak pt. astra international, tbk (2008�2012) keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 beban pajak 4,065 3,958 4,027 4,695 5,156 laba sebelum pajak 15,363 16,402 21,031 25,772 27,898 t 0.265 0.241 0.191 0.182 0.185 sumber: data diolah tabel 3. biaya modal hutang ( pt. astra international, tbk (2008�2012) sumber: www.bi.go.id tabel 5. suku bunga sbi tahun 2008�2012 (lanjutan) sumber: www.bi.go.id tingkat pengembalian pasar (r m ) perhitungan tingkat pengembalian pasar dapat diperoleh dari perhitungan indeks harga saham gabungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ket: rm = tingkat pengembalian pasar periode ke-t ihsg t = indeks harga saham gabungan pada periode ke-t keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 kd* 0.0386 0.0365 0.0284 0.0242 0.0267 t 0.265 0.241 0.191 0.182 0.185 (1-t) 0.735 0.759 0.809 0.818 0.815 kd 0.028 0.028 0.023 0.020 0.022 bulan 2008 2009 2010 2011 2012 januari 8.00% 8.75% 6.50% 6.50% 6.00% februari 8.00% 8.25% 6.50% 6.75% 5.75% maret 8.00% 7.75% 6.50% 6.75% 5.75% april 8.00% 7.50% 6.50% 6.75% 5.75% bulan 2008 2009 2010 2011 2012 mei 8.25% 7.25% 6.50% 6.75% 5.75% juni 8.50% 7.00% 6.50% 6.75% 5.75% juli 8.75% 6.75% 6.50% 6.75% 5.75% agustus 9.00% 6.50% 6.50% 6.75% 5.75% september 9.25% 6.50% 6.50% 6.75% 5.75% oktober 9.50% 6.50% 6.50% 6.50% 5.75% nopember 9.50% 6.50% 6.50% 6.00% 5.75% desember 9.25% 6.50% 6.50% 6.00% 5.75% jumlah 104.00% 85.75% 78.00% 79.00% 69.25% rata-rata 8.67% 7.15% 6.50% 6.58% 5.77% sumber: data diolah dari perhitungan tabel di atas dapat diketahui bahwa biaya modal hutang astra cenderung mengalami penurunan. di tahun 2008 dan 2009 biaya modal hutang menunjukkan nilai yang sama, dari tahun 2009 sampai 2011 terus menunjukkan penurunan, akan tetapi pada tahun 2012, biaya modal hutang astra meningkat sekitar 10 % yaitu dari 0.020 di tahun 2011 meningkat menjadi 0.022 di tahun 2012. suku bunga bebas resiko (r f ) tingkat suku bunga bebas resiko didapat dari suku bunga sertifikat bank indonesia (sbi) selama 5 tahun perbulan. tabel 4. suku bunga sbi tahun 2008�2012 abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 69 ihsg 1-t = indeks harga saham gabungan pada periode ke (t-1) tabel 6. daftar ihsg tahun 2008�2012 bulan 2008 2009 2010 2011 2012 januari 2,627.25 1,332.67 2,610.80 3,409.17 3,941.69 februari 2,721.94 1,285.48 2,549.03 3,470.35 3,985.21 maret 2,447.30 1,434.07 2,777.30 3,678.67 4,121.55 april 2,304.52 1,722.77 2,971.25 3,819.62 4,180.73 mei 2,444.35 1,916.83 2,796.96 3,836.97 3,832.82 juni 2,349.10 2,026.78 2,913.68 3,888.57 3,955.58 juli 2,304.51 2,323.24 3,069.28 4,130.80 4,142.34 agustus 2,165.94 2,341.54 3,081.88 3,841.73 4,060.33 september 1,832.51 2,467.59 3,501.30 3,549.03 4,262.56 oktober 1,256.70 2,367.70 3,635.32 3,790.85 4,350.29 nopember 1,241.54 2,415.84 3,531.21 3,715.08 4,276.14 desember 1,355.41 2,534.36 3,703.51 3,821.99 4,316.69 jumlah 25,051.07 24,168.87 37,141.52 44,952.83 49,425.93 rata-rata 2,087.59 2,014.07 3,095.13 3,746.07 4,118.83 sumber: http://finance.yahoo.com tabel 7. tingkat pengembalian pasar (r m ) pt. astra international, tbk (2008�2012) bulan 2008 2009 2010 2011 2012 januari -0.043 -0.017 0.03 -0.079 0.031 februari 0.036 -0.035 -0.024 0.018 0.011 maret -0.101 0.116 0.090 0.060 0.034 april -0.058 0.201 0.07 0.038 0.014 mei 0.061 0.113 -0.059 0.005 -0.083 juni -0.039 0.057 0.042 0.013 0.032 sumber: data diolah tabel 8. tingkat pengembalian pasar (r m ) pt. astra international, tbk (2008�2012) (lanjutan) bulan 2008 2009 2010 2011 2012 juli -0.019 0.146 0.053 0.062 0.047 agustus -0.06 0.008 0.004 -0.07 -0.020 september -0.154 0.054 0.136 -0.076 0.050 oktober -0.314 -0.04 0.038 0.068 0.021 nopember -0.012 0.02 -0.029 -0.020 -0.017 desember 0.092 0.049 0.049 0.029 0.009 jumlah -0.611 0.672 0.400 0.048 0.129 rata-rata -0.051 0.056 0.033 0.004 0.011 astra dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ket: r i = tingkat pengembalian saham pada periode ke-t p t = harga penutup saham pada periode ke-t p t-1 = harga penutup saham pada periode sebelumnya (t-1) tabel 9. harga saham pt. astra international, tbk (2008-2012) bulan 2008 2009 2010 2011 2012 p p p p p januari 2,725 1,300 3,595 4,890 7,890 februari 2,785 1,130 3,625 5,205 7,085 maret 2,425 1,425 4,190 5,700 7,395 april 2,000 1,800 4,715 5,615 7,100 mei 2,100 2,080 4,315 5,875 6,430 juni 1,925 2,380 4,830 6,355 6,850 juli 2,255 2,930 5,070 7,050 7,000 agustus 2,080 3,015 4,760 6,615 6,750 september 1,710 3,335 5,670 6,365 7,400 oktober 935 3,130 5,700 6,900 8,050 nopember 1,020 3,235 5,190 7,090 7,250 desember 1,055 3,470 5,455 7,400 7,550 jumlah 23,015 29,230 57,115 75,060 86,750 rata-rata 1,917.92 2,435.83 4,759.58 6,255.00 7,229.17 sumber: http://finance.yahoo.com tabel 10.tingkat pengembalian saham (r i ) pt. astra international, tbk (2008�2012) sumber: data diolah tingkat pengembalian saham (r i ) tingkat pengembalian saham diperoleh dari perhitungan data harga saham individu bulan 2008 2009 2010 2011 2012 januari -0.002 0.232 0.036 -0.104 0.066 februari 0.022 -0.131 0.008 0.064 -0.102 maret -0.129 0.261 0.156 0.095 0.044 april -0.175 0.263 0.125 -0.015 -0.040 mei 0.050 0.156 -0.085 0.046 -0.094 juni -0.083 0.144 0.119 0.082 0.065 juli 0.171 0.231 0.05 0.109 0.022 sumber: data diolah business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 70 tabel 11.tingkat pengembalian saham (r i ) pt. astra international, tbk (2008�2012) (lanjutan) tabel 11. koefisien beta pt. astra international, tbk (2008) sumber: data diolah perhitungan koefisien beta saham beta adalah faktor resiko dari perusahaan yang merupakan suatu parameter di mana pengukur perubahan yang diharapkan pada return suatu saham, jika terjadi perubahan pada return pasar. koefisien beta saham dapat dihitung dengan menggunakan rumus: di mana komponen x adalah tingkat pengembalian pasar (r m ) dan komponen y adalah tingkat pengembalian saham (r i ). berikut tabel hasil perhitungan koefisien beta saham pt. astra international dari tahun 2008 sampai tahun 2012: bulan 2008 2009 2010 2011 2012 agustus -0.078 0.029 -0.061 -0.062 -0.036 september -0.178 0.106 0.191 -0.038 0.096 oktober -0.453 -0.061 0.005 0.084 0.088 nopember 0.091 0.034 -0.089 0.028 -0.099 desember 0.034 0.073 0.051 0.044 0.041 jumlah -0.730 1.337 0.506 0.333 0.051 rata-rata -0.061 0.111 0.042 0.028 0.004 sumber: data diolah tabel 12. koefisien beta pt. astra international tahun 2009 bulan 2008 rm ( ) ri ( ) januari -0.043 -0.002 0.000086 0.001849 februari 0.036 0.022 0.000792 0.001296 maret -0.101 -0.129 0.013029 0.010201 april -0.058 -0.175 0.010150 0.003364 mei 0.061 0.050 0.003050 0.003721 juni -0.039 -0.083 0.003237 0.001521 juli -0.019 0.171 -0.003249 0.000361 agustus -0.060 -0.078 0.004680 0.003600 september -0.154 -0.178 0.027412 0.023716 oktober -0.314 -0.453 0.142242 0.098596 nopember -0.012 0.091 -0.001092 0.000144 desember 0.092 0.034 0.003128 0.008464 jumlah -0.611 -0.730 0.203465 0.156833 beta 1.322 bulan 2009 rm ( ) ri ( ) januari -0.017 0.232 -0.003944 0.000289 februari -0.035 -0.131 0.004585 0.001225 maret 0.116 0.261 0.030276 0.013456 april 0.201 0.263 0.052863 0.040401 sumber: data diolah tabel 13. koefisien beta pt. astra international tahun 2009 (lanjutan) bulan 2009 rm ( ) ri ( ) mei 0.113 0.156 0.017628 0.012769 juni 0.057 0.144 0.008208 0.003249 juli 0.146 0.231 0.033726 0.021316 agustus 0.008 0.029 0.000232 0.000064 september 0.054 0.106 0.005724 0.002916 oktober -0.040 -0.061 0.002440 0.001600 nopember 0.020 0.034 0.000680 0.000400 desember 0.049 0.073 0.003577 0.002401 jumlah 0.672 1.337 0.155995 0.100086 beta 1.299 sumber: data diolah abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 71 tabel 14. koefisien beta pt. astra international tahun 2010 tabel 17. koefisien beta pt. astra international, tbk tahun 2012 bulan 2010 rm ( ) ri ( ) januari 0.030 0.036 0.001080 0.000900 februari -0.024 0.008 -0.000192 0.000576 maret 0.090 0.156 0.014040 0.008100 april 0.070 0.125 0.008750 0.004900 mei -0.059 -0.085 0.005015 0.003481 juni 0.042 0.119 0.004998 0.001764 juli 0.053 0.050 0.002650 0.002809 agustus 0.004 -0.061 -0.000244 0.000016 september 0.136 0.191 0.025976 0.018496 oktober 0.038 0.005 0.000190 0.001444 sumber: data diolah tabel 15. koefisien beta pt. astra international tahun 2010 (lanjutan) bulan 2010 rm ( ) ri ( ) nopember -0.029 -0.089 0.002581 0.000841 desember 0.049 0.051 0.002499 0.002401 jumlah 0.400 0.506 0.067343 0.045728 beta 1.558 sumber: data diolah tabel 16. koefisien beta pt. astra international, tbk tahun 2011 sumber: data diolah bulan 2011 rm ( ) ri ( ) januari -0.079 -0.104 0.008216 0.006241 februari 0.018 0.064 0.001152 0.000324 maret 0.060 0.095 0.005700 0.003600 april 0.038 -0.015 -0.000570 0.001444 mei 0.005 0.046 0.000230 0.000025 juni 0.013 0.082 0.001066 0.000169 juli 0.062 0.109 0.006758 0.003844 agustus -0.070 -0.062 0.004340 0.004900 september -0.076 -0.038 0.002888 0.005776 oktober 0.068 0.084 0.005712 0.004624 nopember -0.020 0.028 -0.000560 0.000400 desember 0.029 0.044 0.001276 0.000841 jumlah 0.048 0.333 0.036208 0.032188 beta 1.090 sumber: data diolah adapun rincian perhitungan beta adalah sebagai berikut: ta un 2008 1.322 ta un 2009 1.299 ta un 2010 1.558 ta un 2011 1.090 ta un 2012 1.455 dari perhitungan beta di atas menunjukkan bahwa nilai beta astra cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun. hal ini dipengaruhi oleh besarnya nilai rm dan ri, semakin tinggi nilai rm dan ri maka akan tinggi pula nilai betanya, begitupun sebaliknya jika nilai rm dan ri kecil maka nilai beta yang dihasilkan juga kecil. bulan 2012 rm ( ) ri ( ) januari 0.031 0.066 0.002046 0.000961 februari 0.011 -0.102 -0.001122 0.000121 maret 0.034 0.044 0.001496 0.001156 april 0.014 -0.040 -0.000560 0.000196 mei -0.083 -0.094 0.007802 0.006889 juni 0.032 0.065 0.002080 0.001024 juli 0.047 0.022 0.001034 0.002209 agustus -0.020 -0.036 0.000720 0.000400 september 0.050 0.096 0.004800 0.002500 oktober 0.021 0.088 0.001848 0.000441 nopember -0.017 -0.099 0.001683 0.000289 desember 0.009 0.041 0.000369 0.000081 jumlah 0.129 0.051 0.022196 0.016267 beta 1.455                                                                                                                                                                                                  abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 73 ket: k d = biaya hutang setelah pajak w d = komposisi hutang k e = biaya modal saham w e = komposisi modal saham atau ekuitas tabel 20. biaya modal rata-rata tertimbang pt. astra international, tbk (2008�2012) perhitungan invested capital invested capital merupakan modal yang diinvestasikan perusahaan yang didapat dari penjumlahan total hutang dengan ekuitas dan dikurangkan dengan hutang jangka pendek perusahaan. tabel 22. invested capital pt. astra international, tbk (2008�2012) sumber: data diolah perhitungan nopat perhitungan nopat menggunakan rumus sebagai berikut: nopat = ebit tax ket: nopat= laba operasi bersih setelah pajak ebit = laba sebelum bunga dan pajak tax = tarif pajak tabel 21. nopat pt. astra international, tbk (2008�2012) keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 wd 0.286 0.250 0.257 0.279 0.299 we 0.714 0.750 0.743 0.721 0.701 kd 0.028 0.028 0.023 0.020 0.022 ke -0.095 0.051 0.015 -0.002 -0.010 wacc -0.0598 0.0453 0.0171 0.0041 -0.0004 keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 ebit 11,876 12,756 14,725 17,832 19,870 tax 4,065 3,958 4,027 4,695 5,156 nopat 7,811 8,798 10,698 13,137 14,714 sumber: data diolah dari perhitungan nopat di atas dapat diketahui bahwa nopat dari tahun 2008 sampai 2012 terus mengalami peningkatan. peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2011 dengan kenaikan mencapai 22.8% dari tahun sebelumnya, hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan yang cukup tinggi pada nilai ebit di tahun 2011. sumber: data diolah perhitungan economic value added (eva) eva dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: eva = nopat capital charge eva = nopat (wacc x invested capital) ket: nopat = laba bersih setelah pajak capital charge = biaya modal wacc = biaya modal rata-rata tertimbang invested capital = modal yang diinvestasikan tabel 23. economic value added (eva) pt. astra international, tbk (2008�2012) keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 total hutang 40,163 40,006 54,168 77,683 92,460 ekuitas 33,080 39,894 49,310 75,838 89,814 hutang jangka pendek 26,883 26,735 37,124 48,371 54,178 invested capital 46,360 53,165 66,354 105,150 128,096 sumber: data diolah keterangan 2008 2009 2010 2011 2012 nopat 7,811 8,798 10,698 13,137 14,714 wacc -0.0598 0.0453 0.0171 0.0041 -0.0004 invested capital 46,360 53,165 66,354 105,150 128,096 capital charges -2,772.328 2,408.375 1,134.653 431.115 -51.238 eva 10,583.33 6,389.63 9,563.35 12,705.89 14,765.24                                                                                                                                                                                         abdul hamid, analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan eva dan mva 75 yang beredar dari tahun 2008 sampai 2011 yang hanya sebesar 4,048,355,314 di tahun 2012 meningkat menjadi 40,483,553,140. hal ini disebabkan karena adanya pemecahan nilai nominal saham dari rp 500,menjadi rp 50,sehingga menyebabkan jumlah saham yang beredar juga mengalami perubahan menjadi 40,483,553,140. dari hasil mva yang didapat, dapat diketahui bahwa nilai mva dari tahun 2008� 2012 menunjukkan nilai yang positif, hal ini menunjukkan bahwa astra mampu menambah nilai modal yang telah diinvestasikan oleh para investor dengan memaksimumkan selisih antara nilai pasar perusahaan dengan modal yang telah diinvestasikan di perusahaan. dengan demikian astra telah berhasil menciptakan kekayaan dan kemakmuran bagi perusahaan dan para investor. simpulan berdasarkan hasil penelitian mengenai kinerja keuangan pt. astra international, tbk dengan menggunakan pendekatan economic valu added (eva) dan market value added (mva), dapat disimpulkan bahwa: (a) dari pengukuran kinerja keuangan pt. astra international, tbk dengan menggunakan pendekatan economic value added (eva), didapaan nilai eva yaitu pada tahun 2008 nilai eva sebesar rp 10.583.330.000.000,tahun 2009 nilai eva sebesar rp 6.389.630.000.000,tahun 2010 nilai eva sebesar rp 9.563.350.000.000,tahun 2011 nilai eva sebesar rp 12.705.890.000.000,tahun 2012 nilai eva sebesar rp 14.765.240.000.000,dari hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa selama tahun 2008�2012, pt. astra international, tbk mempunyai nilai eva > 0, hal ini berarti pt. astra international, tbk mampu menunjukkan nilai eva yang positif. dengan menghasilkan nilai eva yang positif, pt. astra international, tbk telah berhasil menciptakan nilai tambah bagi perusahaan dan memberikan tingkat pengembalian yang maksimum bagi perusahaan dan para investor. dengan demikian, berdasarkan nilai eva dari tahun 2008� 2012, pt. astra international, tbk memiliki kinerja keuangan yang baik sehingga berhasil memenuhi harapan perusahaan dan para investor; (b) dari pengukuran kinerja keuangan pt. astra international, tbk dengan menggunakan pendekatan market value added (mva), didapatkan nilai mva yaitu pada tahun 2008 nilai mva sebesar rp 2.246.837.199.270,tahun 2009 nilai mva sebesar r p 12.023.615.282.580,tahun 2010 nilai mva sebesar rp 20.059.600.580.870,tahun 2011 nilai mva sebesar rp 27.933.651.666.600,tahun 2012 nilai mva sebesar r p 303.626.648.550.000,dari hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa selama tahun 2008�2012, pt. astra international, tbk mempunyai nilai mva > 0, yang berarti bahwa pt. astra international, tbk mampu menunjukkan nilai mva yang positif. denga nilai mva yang positif, pt. astra international, tbk mampu menambah nilai modal yang telah diinvestasikan oleh para investor. dengan demikian, berdasarkan nilai mva selama tahun 2008�2012, pt. astra international, tbk berhasil menciptakan kekayaan dan kemakmuran bagi perusahaan dan para investor. sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan pt. astra international, tbk selama lima tahun cukup memuaskan. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 76 daftar pustaka brigham dan houston.2006. financial statement analysis. second edition. new jersey: prentice hall inc. dr. wahyudi. 2009. kepemimpinan kepala sekolah dalam organisasi pembelajaran (learning organization). pontianak. alfabeta. hal. 28-29 fahmi, irham. 2012. analisis laporan keuangan.cetakan ke-2. bandung: alfabeta hansen dan mowen. 2005. akuntansi manajemen. edisi 7, buku 2. jakarta: salemba empat. husnan & pudji astuti. 2012. dasar-dasar manajemen keuangan. yogyakarta: uppamp ykpn munawir. 2010. analisis laporan keuangan. edisi 4. yogyakarta: liberty young. s. david & o�byrne stephen. 2001. eva dan management berdasarkan ulas panduan praktis untuk implementasi, salemba empat, jakarta. 00 atribut.pmd muis murtadho, robby kurniawan budhi, risma andarini, model pengembangan kewirausahaan di universitas widya kartika surabaya 105105 model pengembangan kewirausahaan di universitas widya kartika surabaya muis murtadho, robby kurniawan budhi, risma andarini universitas widya kartika surabaya e-mail: muis@widyakartika.ac.id abstract: the large number of unemployed college graduates had become a big problem for the education world. moreover, the imbalance that happened between the number of job vacancies and the work demands, made many university graduates work in the field which was not in accordance to the knowledge they had learned. in order to overcome these conditions, an entrepreneurial learning needed to be improved in the college. this improvement is hoped to create independent entrepreneurial students based on the acience and technology which later would be able to provide the job opportunities and develop the value of products and services. to achieve this situation, a model of entrepreneurial development which consisted of these three activities: the entrepreneurial education, the internship experience in the association companies, and the entrepreneurial practices was proven in increasing the students’ success of students in starting a business based on science and technology. keywords: development, entrepreneurship, science-technology latar belakang angka pengangguran terdidik atau lulusan perguruan tinggi tahun 2017 tercatat sebesar 630.000 orang atau sekitar 8,85% dari jumlah pengangguran di indonesia yang mencapai 7 juta jiwa. banyaknya pengangguran terdidik menjadi problem pendidikan tinggi di indonesia. tahun 2017, perguruan tinggi di indonesia meluluskan sebanyak 1.046.141 mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja. banyaknya lulusan tersebut tak sebanding dengan jumlah angkatan kerja di indonesia sehingga memicu naiknya supply tenaga kerja terdidik yang tidak sebanding dengan permintaan jumlah tenaga kerja di indonesia. hal tersebut mendorong terjadinya pengangguran terdidik serta banyaknya ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan atau keilmuan dengan pekerjaan yang digelutinya serta pengupahan yang murah. situasi seperti ini adalah suatu dampak dari sistem pendidikan yang banyak lebih memfokuskan mahasiswa untuk menjadi pekerja, pejabat yang dipandang mempunyai kedudukan atau status sosial di masyarakat. di negara maju misalnya jerman, sudah terjalin link and match antara pendidikan tinggi dan industri. negara tersebut menerapkan dual system pada kurikulum pendidikan yang berkualitas di mana sistem pembelajaran 30% dilakukan di kampus dan 70% dilakukan pemagangan dan praktik kerja di industri sehingga tak heran kompetensi sdm di negara tersebut 75% berasal dari industri atau swasta sedangkan 15% berasal dari pemerintah. berbeda halnya dengan kampus yang mempunyai tujuan pendidikan entrepreneur yang menitikberatkan mahasiswa diciptakan untuk berusaha atau mencetak pekerjaan. mahasiswa diajarkan untuk mandiri serta mengambil peluang dari meningkatkan kebutuhan masyarakat atas barang dan jasa menjadi kesempatan bisnis yang menguntungkan. untuk menciptakan seorang pebisnis harus dimulai dari bangku kuliah, mengingat masa kuliah merupakan masa untuk mengbusiness and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 106 aktualisasikan kemampuan mahasiswa atas ilmu dan bakat yang ada di dalamnya. masa kuliah merupakan salah satu momen dalam pencarian jati diri mahasiswa sehingga harus dituntut untuk kreatif dalam memecahkan masalah ekonomi dan mampu untuk menciptakan ide atau produk baru yang mempunyai keunggulan dan dapat mempunyai nilai tambah bagi mahasiswa maupun masyarakat sekitar. untuk menciptakan ide-ide mahasiswa yang kreatif maka lembaga pendidikan harus mampu memfasilitasi mahasiswa mengekspresikan bakat dan minat dalam menciptakan peluang menjadi sesuatu yang bermanfaat baik segi ekonomi maupun keilmuan. pendidikan entrepreneurship sangat penting di dunia kampus di mana entrepreneurship mampu mengubah sikap mahasiswa menjadi mandiri serta berani mengambil risiko seta mampu untuk membuat terobosan atau rekayasa ilmiah yang dapat bermanfaat bagi masyarakat secara ekonomi. pendidikan entrepreneurship dapat dilakukan dengan pola pendidikan formal maupun non-formal berupa kegiatan magang usaha di perusahaan atau jasa sehingga mahasiswa dapat belajar nyata secara langsung di dunia bisnis serta pelaksanaan praktik wirausaha melalui pameran atau pemasaran untuk dapat melakukan riset pasar sebagai inspirasi untuk menciptakan peluang pasar. universitas widya kartika surabaya merupakan kampus entrepreneurship yang berkomitmen untuk menciptakan entrepreneurship muda yang berwawasan iptek, di mana sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lebih memfokuskan pada pendidikan dan keterampilan berbisnis dan menciptakan produk unggulan yang dapat dijual ke pasar. iptek bagi kewirausahaan salah satu inkubasi bisnis di yang dikembangkan yaitu dengan konsep atau model pengembangan kewirausahaan melalui tiga strategi yaitu pendidikan kewirausahaan, magang kerja dan pameran. dengan tiga strategi tersebut diharapkan pengetahuan mahasiswa wirausaha serta dapat mengambil peluang untuk menjadi kesempatan bisnis yang menguntungkan dapat dibaca dan diambil oleh mahasiswa sedangkan magang diperlukan untuk mempelajari secara langsung pengelolaan usaha serta memberikan inspirasi bisnis. pameran merupakan suatu media untuk mengimplementasikan ilmu entrepreneurship yang telah diajarkan. pameran memberikan pengetahuan mahasiswa untuk bisa mengekspresikan serta menjual produk yang dihasilkan dan memperkenalkan strategi bisnis yang dirintis untuk menjadi produk yang unggul dan bersaing di pasar bebas. suharti dan sirine (2011) menemukan fakta bahwa dukungan akademik atau keikutsertaan mahasiswa dalam pelatihan dapat mendorong mahasiswa untuk menjadi pengusaha. riset yang sama temukan oleh rahmania dan efendi (2014) yang meneliti pengetahuan mahasiswa dan praktik kerja terhadap kemauan untuk berwirausaha, menemukan bukti pengetahuan mahasiswa mampu menciptakan kemauan nyata untuk berwirausaha dan kegiatan praktik kerja berdampak nyata membentuk mahasiswa wirausaha. sedangkan johana rumawow dalam publikasinya menyatakan praktik wirausaha dapat meningkatkan ekonomi mahasiswa. sedangkan shane (2004) dalam sudarsih, pendidikan tinggi merupakan tempat sumber pengembangan teknologi yang sangat bermanfaat untuk menciptakan mahasiswa wirausaha. murtini (2011) pendidikan kewirausahaan berpengaruh nyata dalam meningkatkan kecenderungan mahasiswa untuk menjadi pengusaha. kusuma arum dan indriayu (2017) yang meneliti magang mahasiswa di fakultas ekonomi muis murtadho, robby kurniawan budhi, risma andarini, model pengembangan kewirausahaan di universitas widya kartika surabaya 107 variabel bebas (x) 1. pendidikan kewirausahaan (x 1 ) pendidikan dan pelatihan wirausaha yang diberikan kepada peserta program mahasiswa wirausaha yang meliputi motivasi berusaha, strategi pemasaran, pembuatan produk, mengelola modal, dan merek dagang serta marketing on line. 2. magang kerja (x 2 ) adalah suatu kegiatan latihan kerja di tempat usaha yang sudah sukses, di mana mahasiswa dilatih untuk magang kerja sesuai dengan jenis usaha maupun jasa yang dirintisnya. 3. praktik wirausaha (x 3 ) suatu kegiatan praktik wirausaha dengan membuat produk atau menjual produk yang dihasilkan. variabel terikatnya (y) kinerja usaha: hasil usaha yang dicerminkan dari kualitas usaha maupun banyaknya omset penjualan serta penggunaan teknologi praktik bisnis. metode pengumpulan data penelitian ini dilakukan pada mahasiswa peserta program pengembangan kewirausahaan (ppk) di universitas widya kartika tahun 2018 sebanyak 31 mahasiswa wirausaha yang semua digunakan sebagai objek penelitian atau sensus. metode pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner untuk mengukur efektivitas model pengembangan kewirausahaan yang meliputi pelatihan kewirausahaan, magang kerja dan pameran yang telah diberikan selama 8 bulan serta untuk menggali informasi lebih mendalam faktor yang mendukung dan menghambat kegiatan pengembangan kewirausahaan dilakukan juga focus group discussion. uns menyatakan pengalaman mahasiswa magang mampu memengaruhi mahasiswa berniat melakukan wirausaha. magang dapat membentuk cara berpikir dan mengubah sikap dalam membentuk wirausaha. riset yang dilakukan backes dan moog (2008) dalam kusuma arum (2017), magang dapat menciptakan pengalaman berwirausaha siswa. siswoyo (2009) menyatakan bahwa pendidikan wirausaha sangat penting untuk memotivasi mahasiswa menjadi pengusaha, dan alumni program co-op atau magang mahasiswa terbukti lebih kompetitif di dunia kerja. metode penelitian metode penelitian ini merupakan penelitian kausalitas yang mencari hubungan antar-variabel yang digunakan yaitu pendidikan kewirausahaan, magang kerja dan pameran terhadap kinerja wirausaha mahasiswa sehingga dapat diketahui hubungan antar-variabel tersebut. gambar 1.1 model pengembangan kewirausahaan definisi operasional variabel penelitian ini melakukan kajian strategi pengembangan mahasiswa kewirausahaan dengan tiga metode yang telah diberikan dapat digambarkan dalam variabel penelitian sebagai berikut. pendidikan kewirausahaan magang usaha praktik wirausaha kinerja usaha business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 108 dari hasil pengujian statistik persamaan sebagaimana dalam tabel berikut. tabel 1 hasil output spss metode analsisis data untuk mengetahui keberhasilan dari model pengembangan mahasiswa kewirausahaan di universitas widya kartika surabaya yang terdiri dari pelatihan kewirausahaan, magang kerja di tempat usaha serta pameran maka digunakan statistik regresi linier berganda, adapun persamaannya adalah sebagai berikut. y = a = b1x 1 +b 2 x 2 +b 3 x 3 di mana y = kinerja usaha x 1 = pendidikan kewirausahaan x 2 = magang kerja x 3 = praktek kewirausahaan b = koefisien regresi hasil dan pembahasan penelitian ini dilakukan pada mahasiswa peserta program pengembangan kewirausahaan (ppk) di universitas widya kartika surabaya sebanyak 31 mahasiswa. model pengembangan kewirausahaan dilakukan dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu pendidikan dan pelatihan bisnis berupa pelatihan kewirausahaan, motivasi berusaha, pembuatan produk, pengelolaan modal usaha dan pemasaran produk. sedangkan yang kedua model pengembangan kewirausahaan dilakukan dengan cara magang wirausaha pada pengusaha yang sudah sukses, sedangkan yang ketiga dilakukan dengan metode praktik wirausaha yang meliputi praktik pembuatan produk, pemasaran, dan pameran. untuk mengukur efektivitas keberhasilan model pengembangan kewirausahaan yang telah dilaksanakan maka diuji dengan menggunakan statistik dengan persamaan sebagai berikut. y = 0.316 + 0.018 + 0,713 + 0,214 r r square ajusted r square sig 0,856 0,733 0,703 0,000 tabel di atas menunjukkan program ppk yang terdiri dari pelatihan, magang dan praktik wirausaha mempunyai kontribusi positif terhadap keberhasilan wirausaha mahasiswa sebesar 0,733 atau 73,35 dan sisanya 26,7 dipengaruhi faktor lain. melihat kenyataan ini bahwa model pengembangan kewirausahaan di uwika harus dijalankan secara simultan sehingga berdampak signifikan pada keberhasilan mahasiswa dalam merintis usaha. tabel 2 uji korelasi parsial pelatihan wirausaha berpengaruh 0,019 dan tidak signifikan terhadap keberhasilan wirausaha mahasiswa atau sig>0,05 menunjukkan bahwa pendidikan pelatihan kewirausahaan mempunyai konstruksi yang kecil terhadap keberhasilan mahasiswa dalam berwirausaha. keadaan ini terjadi karena pelatihan bisnis secara teori yang meliputi teori kewirausahaan, badan hukum usaha, desain produk dan sebagainya memberikan dampak kecil terhadap kemampuan mahasiswa untuk menerapkan berbagai strategi bisnis yang dijalankan. hasil penelitian ini mendukung penelitian siswoyo (2009), murtini (2011), suharti dan variabel unsetandarized coefficients stand coefficient t sig b std. error beta costant .316 .597 .528 .602 pendidikan .018 .096 .019 .186 .854 magang .713 .095 .772 7,467 .000 praktik .214 .103 .220 2,082 .047 muis murtadho, robby kurniawan budhi, risma andarini, model pengembangan kewirausahaan di universitas widya kartika surabaya 109 sirine (2011) menyatakan pendidikan wirausaha sangat penting untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. magang mahasiswa adalah belajar secara nyata langsung di tempat mitra selama dua bulan, penempatan magang dilihat berdasarkan jenis usaha yang dirintis mahasiswa yaitu di rumah makan atau restoran, konveksi, pertokoan, dan usaha jasa dari pengujian statistik magang wirausaha berpengaruh 0,772 dan berdampak signifikan terhadap wirausaha mahasiswa atau sig<0,05 hal ini disebabkan karena pelaksanaan magang di tempat usaha dapat memberikan pengalaman nyata menjalankan usaha sesuai dengan bisnis yang digelutinya serta melihat secara langsung proses bisnis di tempat mitra dan dapat memberikan motivasi yang kuat dalam mengelola bisnis. magang dipandang sangat tepat untuk menumbuhkan keterampilan mahasiswa dalam mengelola usaha yang meliputi penataan barang dagangan, merchandising, melayani pelanggan serta dapat membuat strategi pemasaran seperti halnya penetapan harga maupun kualitas produk. dokumentasi pemberkasan, mengelola persediaan, mengolah bahan baku dan produksi, dan menangani komplain. hasil penelitian ini mendukung temuan siswoyo (2009) mahasiswa magang usaha lebih kompetitif di dunia kerja. praktik wirausaha berpengaruh 0,220 dan berdampak signifikan terhadap wirausaha mahasiswa sig <0,05. praktik wirausaha yang meliputi pembuatan produk atau jasa, praktik berjualan dan pameran yang dilaksanakan dapat mengetahui kemampuan mahasiswa untuk mewujudkan pemikiran atau ide bisnisnya menjadi sebuah produk atau proses bisnis yang dapat dijual dan bernilai ekonomi tinggi. praktik kewirausahaan ini juga meliputi kegiatan pemasaran produk baik pameran maupun dilakukan secara daring di media sosial. model pengembangan kewirausahaan ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh rahmania dan efendi (2014) praktik wirausaha menciptakan kemauan nyata untuk berusaha. simpulan dan daran simpulan 1. model pengembangan kewirausahaan di universitas widyakartika dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu pendidikan kewirausahaan, magang kewirausahaan di industri mitra dan praktik wirausaha terbukti dapat meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa karena memiliki nilai sig<0,05. 2. dari ketiga model pengembangan wirausaha mahasiswa yang meliputi pendidikan wirausaha, magang usaha di tempat mitra dan praktik wirausaha menyatakan bahwa variabel magang usaha di tempat mitra mempunyai kontribusi terhadap keberhasilan wirausaha peserta program ppk di universitas widya kartika. saran 1. model pengembangan kewirausahaan yang terdiri dari pendidikan wirausaha, magang di tempat usaha dan praktik kewirausahaan merupakan model yang tepat dapat meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa, untuk itu bagai pihak yang berkompeten, ristek dikti dan penyelenggara perguruan tinggi dapat menjadi pedoman dalam meningkatkan kinerja wirausaha mahasiswa. 2. magang kerja usaha sangat berkontribusi terhadap keberhasilan wirausaha mahasiswa, untuk itu perlu peningkatan jumlah jam business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 110 magang usaha mahasiswa sehingga kinerja wirausaha mahasiswa dapat meningkat. daftar pustaka arum, a.e.k. & indriayu, m. 2017. pengaruh pengalaman magang terhadap niat berwirausaha mahasiswa (studi pada magang mahasiswa program studi pendidikan ekonomi di mini market tania fkip uns). jurnal pendidikan bisnis dan ekonomi, 2(2). hermawan, sigit & sigit. 2016. metode penelitian bisnis. malang: mnc publishing. murtini, w. 2012. pendidikan kewirausahaan dengan pemodelan wirausaha. jurnal ilmu pendidikan, 17(5). rahmania, m., & effendi, z.m. 2014. pengaruh pengetahuan kewirausahaan, praktik kerja industri dan motivasi berprestasi terhadap minat berwirausaha siswa kelas xii kompetensi keahlian pemasaran smk negeri bisnis dan manajemen kota padang. jurnal kajian pendidikan ekonomi, 1(2). shane, s.a. 2004. academic entrepreneurship: university spinoffs and wealth creation. edward elgar publishing. siswoyo, b.b. 2009. pengembangan jiwa kewirausahaan di kalangan dosen dan mahasisw a . jurnal ekonomi bisnis, 14(2), 35–45. suharti, l. & sirine, h. 2012. faktor-faktor yang berpengaruh terhadap niat kewirausahaan (entrepreneurial intention). jurnal manajemen dan kewirausahaan, 13(2), 124–134. www.tribunnews.com/nasional/2017/11/08/ pengangguran-di-indonesia-tinggi-karenalulusan-perguruan-tinggi-terlalu-milihpekerjaan. www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/ 630000-orang-sarjana-masih-menganggur421873. 01 candra.pmd moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 4545 pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori program studi magister manajemen teknologi institut teknologi sepuluh nopember jl. cokroaminoto 12a, surabaya, 60264, indonesia e-mail: mghofur@gmail.com abstract: there are five telecommunications operators in indonesia, including telkomsel, indosat ooredoo, xl axiata, tri (3), and smart telecom compete to bring the latest 4g technologies as part of corporate strategy into the forefront of mobile communications services. pt xyz is a multinational company engaged in the field of telecommunications services. the management of pt xyz surabaya targeting employee reporting can be increased up to 100%. this study aims to determine how much influence the intrinsic and extrinsic motivation on employee performance pt xyz surabaya with sem-pls method. the results of this study are extrinsic motivation variable that is most dominant supervision directly affects the performance of employees. besides the variable performance of employees able to be explained by 0.655 or 65.5% by variable intrinsic motivation and extrinsic motivation, while 34.5% is explained by other variables. keywords: daily work reports, intrinsic motivation, extrinsic motivation, employee performance pendahuluan laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya (keraf, 2001:284). laporan berisi informasi yang didukung oleh data yang lengkap sesuai dengan fakta yang ditemukan. data disusun sedemikian rupa sehingga akurasi informasi yang kita berikan dapat dipercaya dan mudah dipahami (soegito, 2008). manajemen pt xyz menargetkan pelaporan kerja karyawan dapat meningkat sampai dengan 100%. berdasarkan data tahun 2014, tingkat keaktifan karyawan dalam pelaporan kerja harian sebesar 8,97%, tahun 2015 sebesar 15,86% dan kuartal 1 tahun 2016 januari sampai maret sebesar 60,12%. fenomena kinerja karyawan berdasarkan data dari pt xyz surabaya menurun. hal ini ditunjukkan dengan kurangnya disiplin karyawan dalam menyelesaikan laporan kerja harian yang sudah ditetapkan. fenomena tersebut dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1 fenomena pelaporan kerja harian karyawan divisi network operations pt xyz sumber: pt xyz faktor-faktor yang memengaruhi pencapaian kinerja menurut keith davis adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor kemauan jenis pekerjaan target kerja sesuai sop realisasi laporan kerja harian sebelum jam 12 siang besok h tidak tercapai business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 46 (motivation) (mangkunegara, 2014). motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan perusahaan (mangkunegara, 2005). untuk memastikan faktor kompetensi dan motivasi yang memengaruhi secara dominan terhadap kinerja pelaporan pekerjaan. maka peneliti melakukan survey pendahuluan. hasil survey pendahuluan dapat dilihat pada tabel 2 di mana motivasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap menurunnya kinerja karyawan pt xyz surabaya. tabel 2 hasil survey pendahuluan kompetensi dan motivasi karyawan divisi network operations pt xyz manusia yang baik. manajemen sumber daya manusia merupakan proses menangani berbagai masalah dalam ruang lingkup karyawan, buruh, manajer, dan tenaga kerja lainnya. dengan pengaturan manajemen sdm secara professional, diharapkan pegawai bekerja secara produktif. pengelolaan pegawai secara profesional sejak perekrutan pegawai, penyeleksian, pengklasifikasian, penempatan pegawai sesuai kemampuan, pelatihan, dan pengembangan karier (mangkunegara, 2008). proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi agar potensi fisik dan psikis yang dimiliki berfungsi maksimal bagi tercapainya tujuan perusahaan (hadari nawawi, 2003:42). motivasi berasal dari bahasa latin movere berarti “to move” atau menggerakkan. “motivation is the set of process that arouse, direct and maintain human behavior toward attain some goal” (greenberg & baron, 2003). seperangkat proses yang mengarahkan, membangkitkan dan memelihara perilaku manusia ke arah pencapaian suatu tujuan. terdapat tiga komponen dasar dalam motivasi yaitu pembangkit (arousal), arah tujuan (direction) dan pemeliharaan perilaku ke arah pencapaian tujuan (maintenance of behavior toward a goal). motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan perusahaan (mangkunegara, 2005). george and jones (2002) berpendapat teori motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi proses (process theory) dan motivasi kepuasan (content theory). motivasi proses berdasar pada bagaimana suatu organisasi menesumber: pt xyz berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya”. tinjauan pustaka dalam menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan manajemen sumber daya faktor hasil prasurvey keterangan ya tidak kompetensi 50 0 karyawan mempunyai kemampuan yang baik dalam melaporkan pekerjaan. motivasi 30 20 karyawan kurang mempunyai motivasi yang memadai untuk bersedia melaporkan pekerjaan yang dilakukan. moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 47 mukan daya penggerak motivasi agar karyawan bekerja sepenuh hati, rajin, dan ke arah pencapaian tujuan organisasi. motivasi kepuasan berdasar pada kebutuhan-kebutuhan manusia dan kepuasan yang didapatkan dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. karyawan dengan sukarela melakukan pekerjaan secara lebih produktif dan saling bekerja sama dengan tim adalah didorong oleh motivasi kerja yang berasal dari individu karyawan maupun faktor di luar karyawan. motivasi kerja mengandung tiga hal yang amat penting (sutrisno, 2009). 1. motivasi berkaitan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasional. artinya, di dalam tujuan dan sasaran organisasi telah tercakup tujuan dan sasaran pribadi para anggota organisasi. secara popular, motivasi hanya akan efektif apabila dalam diri para bawahan yang digerakkan itu terdapat keyakinan bahwa dengan tercapai tujuan organisasi akan tercapai pula tujuan pribadi. 2. motivasi merupakan proses keterkaitan antara usaha dan pemuasan kebutuhan tertentu. motivasi merupakan kesediaan mengerahkan usaha tingkat tinggi untuk mencapai tujuan perusahaan. 3. dalam usaha memahami motivasi, yang dimaksud dengan kebutuhan ialah internal seseorang yang menyebabkan hasil usaha tertentu menjadi menarik. terdapat dua sumber motivasi menurut devoe dan iyengar (2004) dalam riniwati (2011) sebagai berikut. 1. motivasi intrinsik motivasi intrinsik adalah perilaku yang dibentuk untuk kepentingannya sendiri misalnya memberi rasa berprestasi (george & jones, 2002). motivasi intrinsik jika dihubungkan dengan hierarki kebutuhan manusia maka akan menyangkut kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi. berikut ini ada beberapa indikator motivasi intrinsik. a. ketertarikan pada pekerjaan ketertarikan pada pekerjaan yang sedang dilakukan pada bidang pekerjaan merupakan salah satu faktor penting yang memotivasi seseorang dalam bekerja. b. ketertantangan pada pekerjaan dorongan kebutuhan adalah proses yang tanpa henti-hentinya mencari dan mencoba mengatasi ketertantangan yang optimal. rasa tertantang untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna dapat memotivasi seseorang dalam bekerja. c. belajar hal baru seseorang dapat selalu belajar hal baru baik melalui pekerjaan itu sendiri maupun melalui pengalaman orang lain merupakan alasan untuk bekerja. d. pengembangan diri pengembangan di mana seseorang dapat mengembangkan diri melalui workshop dan training yang diberikan oleh perusahaan. e. menciptakan kontribusi penting keinginan untuk dapat menciptakan kontribusi penting bagi tim kerja, perusahaan dan kehidupan bermasyarakat. f. memanfaatkan potensi sepenuhnya perasaan senang bahwa kemampuan dan keterampilan diri dapat bermanfaat bagi orang lain dapat memotivasi seseorang dalam bekerja. g. tanggung jawab tanggung jawab adalah kewajiban bawahan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin yang diberikan atasan. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 48 h. otonomi karyawan dapat termotivasi oleh pekerjaan yang memberikan kekuasaan tertentu bagi karyawan. contohnya dalam membuat tindakan-tindakan, rencana, jadwal, dan lainnya. i. kreatif karyawan dapat termotivasi oleh pekerjaan yang memberikan kebebasan bagi karyawan untuk menciptakan ide, cara, inovasi, dan terobosan baru yang berhubungan dengan pekerjaan. 2. motivasi ekstrinsik motivasi ekstrinsik adalah perilaku yang dibentuk untuk kebutuhan berkaitan dengan materi dan penghargaan sosial (george & jones, 2002). motivasi ekstrinsik menyangkut kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah. indikator motivasi ekstrinsik adalah sebagai berikut. a. gaji gaji adalah upah yang dibayarkan dalam waktu tetap dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu sebagai balasan atas pelaksanaan pekerjaan. gaji dapat memotivasi karyawan untuk bekerja. b. insentif dan bonus insentif dan bonus merupakan tambahan penghasilan selain gaji yang dapat berupa uang, barang, dan sebagainya. seorang individu bekerja untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier sehingga insentif dan bonus sebagai sarana pemenuh kebutuhan dan dapat memotivasi karyawan untuk bekerja. c. keamanan kerja keamanan kerja merupakan persepsi individu tentang keyakinan terhadap kontinuitas jabatan yang diduduki dalam perusahaan tempat bekerja serta keyakinan terhadap kontinuitas pekerjaan tersebut. d. fasilitas kerja fasilitas kerja adalah sarana dan prasarana yang mendukung aktivitas pekerjaan. perusahaan menyediakan fasilitas kerja yang lengkap dan menunjang kegiatan operasional yang memotivasi karyawan dalam bekerja lebih baik. e. kontak sosial kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing. keinginan terhadap kontak sosial dengan karyawan lain dapat memotivasi seseorang dalam bekerja. f. penghargaan penghargaan dapat memotivasi karyawan bekerja dengan lebih semangat dan baik. menurut kravetz (2004), kompetensi adalah sesuatu yang seseorang tunjukkan dalam kerja setiap hari. fokusnya adalah perilaku di tempat kerja, bukan sifat-sifat kepribadian atau keterampilan dasar yang ada di luar tempat kerja ataupun di dalam tempat kerja. definisi kompetensi menurut moulton (2003) terbagi dua yaitu bagi organisasi, kompetensi bisa didefinisikan sebagai kemampuan teknikal yang membedakan perusahaan dengan pesaing. sementara bagi individu, kompetensi bisa didefinisikan sebagai kombinasi pengetahuan, keahlian dan kebiasaan yang memengaruhi kinerja kerjanya. sedangkan laksmono (2004:1) menjelaskan bahwa secara umum pengertian kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang untuk berkinerja tinggi dalam pekerjaannya. karakteristik itu muncul dalam bentuk pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 49 dan kemampuan (abilities) lain atau kepribadian (personality). kinerja atau performance sdm adalah kontribusi karyawan dalam pencapaian tujuan dari perusahaan dan unit kerja. dan faktorfaktor yang memengaruhinya adalah (bacal, 2004): 1. faktor pegawai yang terdiri dari: a. attitudes (sikap) b. skills (keahlian) c. knowledge (pengetahuan) d. abilities (kemampuan) 2. faktor sistem yang terdiri dari: a. tools (alat kerja) b. resources (sumber daya) c. social system (lingkungan sosial) d. coworkers (rekan kerja) e. managerial behavior (sikap manajemen) konsep kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi kerja yang padanannya dalam bahasa inggris adalah performance. kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsifungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu. pekerjaan adalah aktivitas menyelesaikan sesuatu atau membuat sesuatu yang hanya memerlukan tenaga dan keterampilan tertentu (wirawan, 2009). kinerja sumber daya manusia (sdm) adalah prestasi kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai sdm persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (mangkunegara, 2014). menurut henry simamora, kinerja (performance) dipengaruhi oleh tiga faktor (mangkunegara, 2014). 1. faktor individual yang terdiri dari: kemampuan dan keahlian, latar belakang, dan demografi. 2. faktor psikologis yang terdiri dari: persepsi, attitude, personality, pembelajaran, dan motivasi. 3. faktor organisasi yang terdiri dari: sumber daya, kepemimpinan, penghargaan, struktur, dan job design. menurut a. dale timple, faktor-faktor kinerja terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. faktor internal yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. faktor eksternal yaitu faktor yang dihubungkan dengan lingkungannya, seperti rekan kerja, bawahan, pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi (mangkunegara, 2014). dari beberapa pendapat yang ada mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja sumber daya manusia (sdm), motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja sdm. karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik organisasi berpengaruh pada motivasi kerja dan memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja sdm (mursalim umar gani, 2006). faktor-faktor yang memengaruhi pencapaian kinerja menurut keith davis adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor kemauan (motivation) (mangkunegara, 2014). rumusannya adalah sebagai berikut: human performance= ability x motivation ability = knowledge x skill motivation = attitude x situation penjelasan dari rumusan di atas adalah sebagai berikut: faktor kemampuan (ability) secara psikologis terdiri dari kemampuan potensi (iq) dan kemampuan reality (knowbusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 50 ledge+skill). artinya, tenaga kerja yang memiliki iq di atas rata-rata dengan pendidikan yang memadai, akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal. faktor motivasi (motivation), adalah sikap (attitude) tenaga kerja terhadap situasi kerja di lingkungan organisasinya. mereka yang bersikap positif akan situasi kerjanya, akan menunjukkan motivasi kerja tinggi. sebaliknya yang bersikap negatif akan situasi kerjanya, akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. situasi kerja yang dimaksud mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja, dan kondisi kerja. pendapat atau teori lain terkait dengan faktor-faktor yang memengaruhi kinerja sdm adalah faktor individu dan faktor lingkungan (gibson dkk., 2011). dari beberapa pendapat yang ada mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja sumber daya manusia (sdm), ada pengelompokan yang hampir sama, yaitu faktor intern dan ekstern. pengertian dari faktor intern adalah faktor dari dalam individu sdm, sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar individu sdm. atau oleh (mangkunegara, 2014) disimpulkan sebagai faktor individu dan faktor lingkungan organisasi. istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (mangkunegara a.p., 2005). sementara itu, hasibuan mengemukakan bahwa kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu (hasibuan, 2005). lalu menurut veitzal rivai, kinerja merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan (rivai, 2004). pekerjaan adalah aktivitas menyelesaikan sesuatu atau membuat sesuatu yang hanya memerlukan tenaga dan keterampilan tertentu. (wirawan, 2009). kinerja sumber daya manusia (sdm) adalah prestasi kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai sdm persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (mangkunegara, 2014). menurut robbins, indikator dari variabel kinerja ada tiha (robbins, 2006) sebagai berikut. 1. kuantitas kerja kuantitas kerja adalah jumlah yang harus diselesaikan dan dicapai dalam pekerjaan, serta keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. kuantitas terkait jumlah keluaran yang dihasilkan. 2. kualitas kerja kualitas kerja adalah mutu yang harus dihasilkan dalam pekerjaan. kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). kualitas mencerminkan bentuk keluaran. 3. ketepatan waktu ketepatan waktu adalah ketepatan kerja dengan waktu yang telah ditetapkan, yaitu penyelesaian tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan atau disepakati sebelumnya. berdasarkan pengertian laporan oleh keraf dan kinerja oleh mangkunegara bahwa ada keterkaitan antara laporan dengan kinerja. laporan pekerjaan merupakan cara komunimoh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 51 kasi karyawan kepada atasan dengan menyampaikan informasi tugas kerja yang sudah dilaksanakan karyawan. tugas kerja tersebut sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan atasan kepada karyawan. konsep pls diperkenalkan dan dipopulerkan oleh herman wold di mana teori ini dikembangkan oleh herman wold sejak tahun 1966 hingga 1980 (ghozali, 2012). menurut herman wold (ghozali, 2012), partial least square (pls) merupakan metode analisis yang sangat kuat yang sering juga disebut dengan soft modeling karena meniadakan asumsiasumsi ols (ordinary least square) regresi, seperti data harus terdistribusi normal secara multi-variety dan tidak adanya problem multikolonieritas antar-variabel eksogen. pada dasarnya, pls digunakan untuk menguji teori yang lemah dan data yang lemah seperti jumlah sampel yang kecil atau adanya masalah normalitas data. walaupun pls digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antarvariabel laten, namun pls juga dapat digunakan untuk mengonfirmasi teori. pls mengasumsikan bahwa semua ukuran varian adalah varian yang berguna untuk dijelaskan sehingga pendekatan estimasi variabel laten dianggap sebagai kombinasi liner dari indikator dan menghindarkan masalah indeterminacy (ghozali, 2012). analisis pls terdiri dari dua sub-model yaitu model pengukuran (measurement model/outer model) dan model struktural (structural model/inner model). model pengukuran menunjukkan bagaimana variabel manifest merepresentasikan variabel laten untuk diukur. sedangkan model struktural menunjukkan kekuatan estimasi antar-variabel laten atau konstruk (ghozali, 2012). evaluasi model pada pls-sem dilakukan dengan menilai (ghozali, 2012). 1. outer model (evaluasi model pengukuran) penilaian dilakukan untuk menilai validitas dan reliabilitas model. outer model dengan indikator reflektif dievaluasi melalui validitas convergent dan discriminant dari indikator pembentuk konstruk laten dan composite reliability karena penggunaan cronbach alpha akan memberikan nilai yang lebih rendah (under estimate) dibandingkan composite reliability. menurut chin (ghozali, 2012), outer model dengan indikator formatif dievaluasi melalui substantive content yaitu dengan membandingkan besarnya relative weight sehingga uji validitas dan reliabilitas konstruk tidak diperlukan dan melihat signifikansi dari indikator konstruk tersebut yaitu dengan cara resampling yaitu dengan metode jackknifing atau bootstrapping (ghozali, 2012). hal ini diringkas pada tabel 3. tabel 3 rule of thumb outer model konstruk reflektif validitas dan reliabilitas parameter rule of thumb validitas convergent loading factor • > 0,70 untuk confirmatory research • > 0,60 untuk explanatory research average variance extracted (ave) • > 0,50 untuk confirmatory research maupun explanatory research communality • > 0,50 untuk confirmatory research maupun explanatory research validitas discriminant cross loading • > 0,70 untuk setiap variabel reliabilitas composite reliability • > 0,70 untuk confirmatory research • 0,60 – 0,70 masih dapat diterima untuk explanatory research business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 52 2. inner model (evaluasi model struktural) penilaian dilakukan dengan tujuan untuk memprediksi hubungan antar-variabel laten. inner model dievaluasi dengan melihat besarnya percentage variance seperti pada tabel 4. tabel 4 rule of thumb evaluasi model struktural kriteria rule of thumb r-square • 0,60 – 0,75 menunjukkan model kuat • 0,33 – 0,50 menunjukkan model moderate • 0,19 – 0,25 menunjukkan model lemah effect size 2f • 0,02 variabel laten menunjukkan pengaruh kecil pada level structural • 0,15 variabel laten menunjukkan pengaruh menengah pada level struktural • 0,35 variabel laten menunjukkan pengaruh besar pada level struktural 2q predictive relevance • 2q > 0 menunjukkan model mempunyai predictive relevance • 2q < 0 menunjukkan model kurang mempunyai predictive relevance 2q predictive relevance • 0,02 menunjukkan model lemah • 0,15 menunjukkan model moderate • 0,35 menunjukkan model kuat signifikansi (two-tailed) (uji hipotesis) • t-value 1,65 (significance level 10%) • t-value 1,96 (significance level 5%) • t-value 2,58 (significance level 1%) analisis uji pengaruh pada penelitian ini dilakukan dengan evaluasi model pengukuran dan evaluasi model struktural. tahapannya adalah tahap konseptualisasi model, menentukan analisis algorithm, menentukan metode resampling, dan membuat diagram jalur yang dilakukan pada awal penelitian. metode metode penelitian menggunakan model statistik sem-pls (structural equation modeling partial least square) dengan bantuan aplikasi smartpls 3.0. di mana data yang diproses oleh sem pls diperoleh dari hasil survey kuesioner kepada 52 responden semua karyawan divisi network operations surabaya. variabel motivasi yang diteliti dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. faktor internal yang dimaksud adalah faktor internal dari tenaga kerja (sdm), sedangkan faktor eksternal yang dimaksud adalah faktor di luar dari diri tenaga kerja. semua faktor, baik internal dan eksternal akan dianalisis mana saja yang paling berpengaruh ke dalam kinerja sdm dengan analisis statistik sem. metode sem yang digunakan dalam penelitian ini adalah sem-pls (partial least squares). dalam analisis sem-pls dilakukan dua analisis, yaitu analisis model pengukuran atau outer model, dan analisis model struktural atau inner model. analisis model pengukuran atau outer model dilakukan untuk menilai validitas dan reliabilitas model. analisis model struktural atau inner model bertujuan untuk memprediksi hubungan antar-variabel laten (ghozali & latan, 2015). semua identifikasi variabel atau faktor yang sudah didapatkan, baik dari hasil literatur review penelitian-penelitian terdahulu maupun berasal dari teori devoe dan iyengar (2004) dalam riniwati (2011) akan digabungkan dengan hasil survey sehingga menjadi variabel dan indikator yang akan digunakan dalam penelitian. model penelitian ada pada gambar 1. moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 53 hasil dan pembahasan dalam analisis model pengukuran sempls (outer model), dilakukan uji validitas dan reabilitas. dalam pengujian validitas, maka indikator variabel laten akan dilihat nilai loading-nya, jika nilai loading dari indikator variabel laten lebih besar 0.6 maka variabel dikatakan valid. jika nilai loading-nya kurang dari 0,6 maka indikator variabel latennya dihilangkan. dalam uji validitas dilakukan juga pengamatan nilai ave (average variance extracted). dalam pengujian didapat nilai ave dari variabel eksogen internal dan eksternal gambar 1 model penelitian business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 54 kurang dari 0,5 menunjukkan bahwa kedua variabel laten tidak dapat menjelaskan lebih dari 50% varians indikator-indikatornya. sementara nilai ave dari variabel endogen kinerja memiliki lebih dari 0,5 menunjukkan bahwa variabel laten kinerja telah dapat menjelaskan lebih dari 50% varians indikator-indikatornya. dalam uji reabilitas, dilihat nilai composite reliability-nya harus di atas 0,7. dari pengamatan hasil, didapat nilai composite reliability variabel eksogen motivasi dan variabel endogen kinerja yang nilainya lebih dari 0.7 menunjukkan bahwa kedua variabel reabilitasnya sudah baik. sedangkan gambar 2 diagram jalur sem pls tahap 1 moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 55 untuk variabel eksogen eksternal, nilainya di bawah 0.7 sehingga reabilitasnya kurang baik. dari hasil pengujian outer model awal, didapati beberapa indikator dari variabel laten memiliki nilai loading yang kurang dari 0.6 sehingga perlu dilakukan bootstrapping dengan menghilangkan indikator-indikator yang kurang signifikan yaitu x1.4, x1.5, x1.6, x1.7, x2.2, x2.3, x2.4, x2.5, x2.9, x2.10. setelah pengurangan indikator variabel x1.4, x1.5, x1.6, x1.7, x2.2, x2.3, x2.4, x2.5, x2.9, x2.10 di mana indikator-indikator tersebut tidak lagi diikutkan dalam model, maka dilakukan analisis tahap 2 outer model. dalam analisis lanjutan outer model, di pengujian validitas, semua indikator dari variabel laten nilai loading-nya lebih besar atau sama dengan 0.6, maka indikator x1.1, x1.2, x1.3, x1.8, x1.9, x1.10, x2.1, x2.6, x2.7, x2.8, y1.1, y1.2 dan y1.3 dinyatakan valid. begitu juga dengan nilai ave nya, pada table 5 didapat nilai ave dari semua variabel eksogen maupun endogen memiliki nilai lebih dari 0.5, ini menunjukkan bahwa semua variabel laten eksogen dan endogen valid. variabel laten telah dapat dijelaskan lebih dari 50% oleh varians indikator-indikatornya. gambar 3 diagram jalur sem pls tahap 2 business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 56 tabel 5 ave (average variance extracted) untuk membuat model pengukurannya dapat dilihat dari output outer model pada pengukuran dengan hipotesis sebagai berikut: h 0 : indikator tidak berpengaruh signifikan terhadap konstruk secara langsung h 1 : indikator berpengaruh signifikan terhadap konstruk secara langsung berdasarkan tabel 7 menunjukkan nilai loading factor, standard error, dan nilai |t-statistik| yang akan digunakan untuk membuat outer model (model pengukuran). hasil uji signifikansi dengan metode bootstraps semua indikator signifikan, hal tersebut dapat dilihat dari nilai |t-statistik| >t-tabel (1,96) dan p value <0,05 maka uji hipotesis tolak h 0 , artinya indikator berpengaruh signifikan secara langsung. berdasarkan hasil tersebut maka dapat dibentuk persamaan outer model di mana nilai tersebut terbentuk dari loading factor sebagai lambda λ untuk setiap indikator pada variabel ave kinerja 0,698 motivasi ekstrinsik 0,625 motivasi intrinsik 0,535 sedangkan pengujian reabilitas dilihat berdasarkan composite reliability-nya, semua variabel eksogen dan endogen nilainya lebih dari 0.7 menunjukkan bahwa kedua variabel reabilitasnya sudah baik (lihat tabel 6). tabel 6 composite reliability variabel composite reliability kinerja 0,874 motivasi ekstrinsik 0,869 motivasi intrinsik 0,873 tabel 7 hasil outer model (model pengukuran) moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 57 variabel eksogen dan endogen serta standard error (δ) masing-masing indikator.. berikut persamaan outer model motivasi intrinsik: 1.11.11.11.1 δξλ += xx 058,0755,0 1.11.1 += ξx 2.12.12.12.1 δξλ += xx 094,0710,0 2.12.1 += ξx 3.13.13.13.1 δξλ += xx 093,0708,0 3.13.1 += ξx 8.18.18.18.1 δξλ += xx 088,0740,0 8.18.1 += ξx 9.19.19.19.1 δξλ += xx 106,0701,0 9.19.1 += ξx 10.110.110.110.1 δξλ += xx 046,0772,0 10.110.1 += ξx berikut persamaan outer model motivasi ekstrinsik: 1.21.21.21.2 δξλ += xx 068,0776,0 1.21.2 += ξx 6.26.26.26.2 δξλ += xx 076,0837,0 6.26.2 += ξx 7.27.27.27.2 δξλ += xx 047,0857,0 6.27.2 += ξx 8.28.28.28.2 δξλ += xx 117,0680,0 8.28.2 += ξx berikut persamaan outer model kinerja karyawan: 1.11.11.11.1 εηλ += yy 052,0833,0 1.11.1 += ηy 2.12.12.12.1 εηλ += yy 030,0880,0 2.12.1 += ηy 3.13.13.13.1 εηλ += yy 067,0791,0 3.13.1 += ηy berdasarkan persamaan outer di atas diperoleh nilai loading factor tertinggi 0,857 terdapat pada indikator supervisi pada variabel motivasi ekstrinsik dengan nilai measurement error terendah 0,047. indikator supervisi (pengawasan) memberikan kontribusi paling besar terhadap kinerja karyawan terutama untuk indikator kualitas laporan dengan loading factor sebesar 0,880 dan nilai measurement error terendah sebesar 0,030. setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas, lalu menganalisis pengaruh antar-variabel laten serta membentuk persamaan outer modelnya, maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi model struktural (inner model). beberapa tahap yang dilakukan untuk mengevaluasi model struktural (inner model). pertama melihat signifikansi hubungan antar konstruk yang dilihat dari nilai path coefficient yang menggambarkan kekuatan hubungan antara konstruk. hipotesis yang digunakan untuk uji signifikansi hubungan antar konstruk adalah sebagai berikut. h 0 : antar-konstruk tidak berpengaruh signifikan secara langsung h 1 : antar-konstruk berpengaruh signifikan secara langsung h 0 ditolak jika nilai |t-statistik| lebih besar dari t-tabel. berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan hasil seperti terlihat pada tabel 8. berdasarkan tabel 8 menunjukkan hasil output menggunakan metode bootstraps dan didapatkan nilai signifikansi hubungan jalur dari path coefficient tersebut. berdasarkan path coefficient didapatkan nilai |t-statistik| yang dibandingkan dengan t-tabel, hasil tabel 4.9 dapat dilihat bahwa terdapat hubungan jalur yang signifikan pada motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik terhadap kinerja, nilai |t-statistik| (4,141 dan 3.153) lebih besar dari t-tabel (1,96) p value (0,002 dan 0,000) < 0,05 maka uji hipotesis tolak h 0 , artinya antar-konstruk berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja karyawan. tabel 8 path coefficient business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 58 model persamaan strukturalnya sebagai berikut. kinerja karyawan = 0,493 motivasi intrinsik + 0,424 motivasi ekstrinsik dari analisis model struktural sem (inner model), menunjukkan bahwa kebaikan model yang kuat (r-square = 0,655), di mana masih terdapat 0,35% faktor luar yang perlu ditambahkan dalam pemodelan. nilai f-square dari variabel motivasi intrinsik sebesar 0,487 dan motivasi ekstrinsik sebesar 0,360 menunjukkan variabel motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik memiliki efek besar dalam memengaruhi variabel kinerja. berdasarkan analisis sem-pls diketahui bahwa indikator supervisi (pengawasan) mempunyai pengaruh paling besar terhadap kinerja karyawan. sehingga dalam pelaporan kerja harian karyawan diperlukan penugasan pengawas divisi network operations pt xyz surabaya yang ditunjuk oleh manager dalam pengawasan karyawan secara intensif. kesimpulan dan saran kesimpulan dari hasil analisis sem-pls, diketahui bahwa diperoleh nilai loading factor tertinggi 0,857 terdapat pada indikator supervisi pada variabel motivasi ekstrinsik dengan nilai measurement error terendah 0,047. indikator supervisi (pengawasan) memberikan kontribusi paling besar terhadap kinerja karyawan terutama untuk indikator kualitas laporan dengan loading factor sebesar 0,880 dan nilai measurement error terendah sebesar 0,030. gambar 4 r-square gambar 5 f-square moh. abdul ghofur, bambang syairudin, m. yusak anshori, pengaruh motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja karyawan divisi network operations pt xyz surabaya 59 saran kepada pihak manajemen pt xyz surabaya diperlukan penugasan pengawas divisi network operation pt xyz surabaya yang ditunjuk oleh manager dalam pengawasan karyawan secara intensif. saran untuk penelitian lanjutan selanjutnya lebih memperbanyak referensi yang lebih kuat di bidang sdm telekomunikasi pada banyak bidang dengan referensi jurnal internasional yang terdaftar. selain itu juga meningkatkan komunikasi internal perusahaan dan sumber eksternal secara berkala agar dapat memperoleh informasi lebih update tentang permasalahan kinerja karyawan pada lingkungan kerja yang diteliti. untuk memperoleh variabel lain dalam meningkatkan kinerja karyawan dapat ditambahkan variabel kepuasan kerja karyawan. daftar pustaka akbar, f.n. 2004. pengaruh motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik terhadap kinerja karyawan pada pt perkebunan nusantara xii surabaya. malang: universitas brawijaya. bacal, r. 2004. manager’s guide to performance reviews. new york: mcgrawhill. david, f.r. 2011. strategic management concepts and cases. florence: prentice hall. ghozali, i., & latan, h. 2015. partial least squares. konsep, teknik dan aplikasi menggunakan program smartpls3.0. semarang: universitas diponegoro. gibson, j.l., ivancevich, j.m., donelly, j.h., & konopaske, r. 2011. organizations: behavior, structure, processes. new york: mcgraw-hill. hair jr, j.f., black, w.c., babin, b.j., & anderson, r.e. 2010. multivariate data analysis. upper saddle river, new jersey: prentice hall. hair, j.f., ringle, c.m., & sarstedt, m. 2011. pls-sem: indeed a silver bullet. journal of marketing theory and practice, vol. 19 no. 2, 139–151. hameed, a. & waheed, a. 2011. employee development and its affect on employee performance a conceptual framework. international journal of business and social science, 224–229. mangkunegara, a. p. 2014. evaluasi kinerja sdm. bandung: refika aditama. muda, i., rafiki, a., & harahap, m.r. 2014. factors influencing employees’ performance: a study on the islamic banks in indonesia. international journal of business and social science, 73–80. naqvi, i. h., bokhari, s. h., aziz, s., & kashif-ur-rehman. 2011. the impact of human resource (hr) performance management on project outcome. african journal of business management, 8491– 8499. nguyen, l.d., ogunlana, s.o., & lan, d.t. 2004. a study on project success factors in large construction projects in vietnam. engineering, construction and architectural management, 404–413. nixon, p., harrington, m., & parker, d. 2004. leadership performance is significant to project success or failure: a critical analysis. international journal of productivity and performance management, 204–216. ofori, d.f. 2013. project management practices and critical success factors – a developing country perspective. interbusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 60 national journal of business and management, 14–31. ringle, c.m., & sarstedt, m. 2010. management of multi-purpose stadiums: importance and performance measurement of service interfaces. international journal of services technology and management, vol. 14, nos. 2/3, 188–207. riniwati, h. 2011. mendongkrak motivasi dan kinerja pendekatan pemberdayaan sdm. malang: ub press. rizwan, m., tariq, m., hassan, r., & sultan, a. 2014. a comparative analysis of the factors effecting the employee motivation and employee performance in pakistan. international journal of human resource studies, 35–49. sanyal, m.k., & biswas, s.b. 2012. employee motivation from performance appraisal implications: test of a theory in the software industry in west bengal india. procedia economics and finance, 182– 196. sholihin, m., & ratmono, d. 2013. analisis se mpls dengan war ppls 3 .0 . yogyakarta: penerbit andi. sleimi, m.t., & davud, s. 2015. intrinsic and extrinsic motivation: pivotal role in bank tellers satisfaction and performance: case study of palestinian local banks. international journal of business and social science, 127–136. sugiyono. 2014. statistika untuk penelitian. bandung: alfabeta. susan, w.m., gakur, r.w., & kiraithe, e.k. 2012. influence of motivation on performance in the public security sector with a focusto the police force in nairobi, kenya. international journal of business and social science, 195204. wirawan. 2009. evaluasi kinerja sumber daya manusia: teori, aplikasi dan penelitian. jakarta: salemba empat. 00 atribut.pmd fesa putra kristianto & bobby o.p. soepangkat, penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan pada peralatan sub-unit rkc 3 di ptx pabrik tuban 8989 penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan pada peralatan sub-unit rkc 3 di ptx pabrik tuban fesa putra kristianto, bobby o.p. soepangkat program pascasarjana magister manajemen teknologi its bidang keahlian manajemen industri e-mail: pputra139@gmail.com, bops_1994@me.its.ac.id abstract: pt x tuban plant has four plants (unit), namely tuban i, tuban ii, tuban iii and tuban iv. each unit plant has three sub units, i.e., crusher operations sub-unit, raw mill, kiln and coal mill (rkc) sub-unit and finish mill sub-unit. rkc 3 sub-unit in tuban iii has the highest number of equipment downtime and production loss. therefore, it was necessary to optimize the time interval of preventive maintenance ( ) and total labor force as part of the company maintenance policy, which would also fulfill the required reliability and availability of rkc 3 sub-unit. there were two steps in determining t p optimum. the first step was to obtain the best distribution of the time between failures (tbf) and time to repair (ttr). the next step was to iterate the operating time (t i ) and t p to determine the minimum preventive maintenance cost rate, reliability and maintainability. this iteration was applied to sub-units of rkc 3 that possesses a series system. t p at the lowest rate of maintenance costs was the optimum t p . the optimum t p for rkc 3 sub-unit is 3743,28 hour. the preventive maintenance cost rate for optimum t p is rp33.100/hour and the reliability and availability of sub unit are 96,7% and 99,86% respectively.keywords: reliability, availability, preventive maintenance cost rate, and preventive maintenance. keywords: keandalan, ketersediaan, laju biaya pemeliharaan pencegahan pendahuluan pt x adalah perusahaan pembuat semen terbesar di indonesia. proses produksi di pt x menggunakan proses produksi kontinu. setiap industri yang beroperasi secara kontinu harus memelihara peralatan-peralatan produksinya secara efektif agar waktu operasi pabrik dapat mendekati bahkan mencapai kapasitas rancangannya (nguyen, 2008). kapasitas produksi pt x mencapai 39.452 ton pe hari, apabila pt x kehilangan waktu produksi akan menyebabkan peningkatan oppor tunity loss sebesar rp 821.917.808,00 per jam (annual report pt x, 2015). pt x pabrik tuban memiliki empat unit plant, yaitu unit tuban i, unit tuban ii, unit tuban iii, dan unit tuban iv. semua unit plant di pt x pabrik tuban menggunakan proses kering untuk memproduksi semen. skema alur proses pembuatan semen di pt x ditunjukkan oleh gambar 1. proses pembuatan semen memerlukan bahan baku utama, bahan baku koreksi 1 dan bahan baku koreksi 2. bahan baku utama yang digunakan adalah batu kapur (lime stone) dan tanah liat (clay). bahan baku koreksi 1 yaitu copper slag dan pasir silika. bahan baku koreksi 2 yaitu gypsum (duda, 1985). satu unit plant di pt x pabrik tuban tersusun oleh tiga sub-unit, yaitu sub-unit operasi crusher, sub-unit raw mill, kiln dan coal mill (rkc) dan sub-unit finish mill. proses produksi semen di pt x pabrik tuban memiliki dua penyangga produksi. penyangga produksi yang pertama adalah berada di antara sub-unit operasi crusher dan sub-unit rkc dan yang kedua berada di antara sub-unit rkc dan subbusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 90 unit finish mill. dengan adanya penyangga produksi di masing-masing unit maka produksi semen tidak sepenuhnya kontinu. pemilihan subunit rkc sebagai objek penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa sub-unit rkc adalah unit di mana terdapat reaksi kimia pembuatan semen dan memiliki kerugian terbesar akibat emergency downtime. setiap unit plant di pt x pabrik tuban memiliki satu sub-unit rkc sehingga secara keseluruhan terdapat empat sub-unit rkc, yaitu rkc 1, rkc 2, rkc 3 dan rkc 4. penelitian ini hanya menggunakan tiga sub-unit tanpa rkc 4 dikarenakan rkc 4 baru beroperasi pada tahun 2013. ketiga sub-unit ini mempunyai rangkaian alat yang sama akan tetapi plant yang berbeda sehingga dilakukan pembandingan terhadap data frekuensi kegagalan, jumlah down time, biaya pemeliharaan dan kerugian produksi. tabel 1 menunjukkan pembandingan dari ketiga sub-unit rkc untuk periode bulan januari 2010 hingga bulan juli 2016. dari hasil pembandingan, jumlah down time dan biaya terbesar terdapat di rkc 3 sehingga rkc 3 dipilih sebagai objek penelitian. sejauh ini, ada beberapa metode penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan yang sudah diketahui dan diimplementasikan. salah satunya adalah dengan melakukan optimasi interval waktu pemeliharaan pencegahan (jardine, 1970). m. mahdavi (2008) melakukan penelitian untuk menentukan kebijakan interval penggantian komponen yang paling optimal dengan menggunakan model keputusan sederhana untuk memaksimalkan keandalan sistem. rakhmad (2011) melakukan iterasi t i dan t p untuk meningkatkan gambar 1 diagram alir proses produksi semen pt x no. sub-unit frekuensi kegagalan jumlah down time (jam) biaya pemeliharaan kerugian produksi 1 rkc 1 371 2.329 rp 326.061.687.094 rp 213.121.288.800 2 rkc 2 319 2.199 rp 284.612.481.697 rp 211.441.245.400 3 rkc 3 375 2.984 rp 363.616.357.570 rp 215.169.248.000 tabel 1 frekuensi kegagalan, jumlah down time, biaya pemeliharaan dan kerugian produksi dari bulan januari 2010 sampai dengan bulan juli 2016 di sub-unit rkc sumber: data down time, biaya produksi dan biaya pemeliharaan dari bulan januari 2010 sampai dengan bulan juli 2016 fesa putra kristianto & bobby o.p. soepangkat, penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan pada peralatan sub-unit rkc 3 di ptx pabrik tuban 91 keandalan sistem minimum hingga 74% dan penghematan biaya pemeliharaan juga dapat ditingkatkan menjadi 139,9 usd/hari dari 145,7 usd/hari. sutanto (2011) melakukan optimasi laju biaya pemeliharaan pencegahan sehingga didapatkan penghematan laju biaya pemeliharaan pencegahan pada packer pt ism bogasari sebesar 14,6%. dengan mengacu pada hasil penelitian terdahulu, maka dilakukan penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan yang dapat meminimumkan laju biaya pemeliharaan pencegahan serta keandalan dan ketersediaan yang ditetapkan oleh perusahaan. kajian pustaka fungsi keandalan keandalan didefinisikan sebagai probabilitas dari suatu komponen atau sistem untuk dapat melakukan fungsi yang telah ditetapkan menurut konteks pengoperasian (tsang dan jardine, 2005), lingkungan dan periode waktu yang telah ditentukan. parameter distribusi, fungsi keandalan, mean time between failure (mtbf), dan mean time to repair (mttr) terhadap distribusi weibull 2 dan weibull 3 (ebeling, 1997) ditunjukkan pada tabel 2. pemodelan sistem seri peralatan yang dimodelkan dengan sistem seri dapat menjalankan fungsinya jika semua komponen dalam sistem tersebut beroperasi. apabila salah satu komponen dalam sistem tidak beroperasi akibat kegagalan, keseluruhan sistem akan mengalami kegagalan. blok diagram dari tiga komponen seri pertama, kedua, dan berikutnya ditunjukkan pada gambar 2. macam distribusi weibull 2 weibull 3 parameter distribusi η = parameter skala (scale parameter), η > 0 β = parameter bentuk (shape parameter), β > 0 η = parameter skala (scale parameter), η > 0 β = parameter bentuk (shape parameter) γ = parameter lokasi (location parameter) keandalan mtbf mtbf = )1 1 ( +γ β η γ = fungsi gamma γ = fungsi gamma mttr γ = fungsi gamma γ = fungsi gamma tabel 2 fungsi padat peluang, keandalan, mtbf, dan mttr business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 92 5. jika t i < t p , maka sub sub sistem mengalami kerusakan atau t i = t fi , sehingga harus dilakukan perbaikan selama t cmi . 6. pengulangan langkah 3 sampai 5 sesuai dengan jumlah total run yang digunakan. 7. pengulangan langkah 2 sampai 6 dengan nilai t p yang berbeda-beda. 8. pembuatan kurva laju biaya pemeliharaan dan t p seperti yang diilustrasikan pada gambar 3. biaya pemeliharaan didapatkan dengan persamaan berikut. �� = � dengan gambar 2 model sistem seri optimasi interval waktu pemeliharaan pencegahan keandalan dan maintainability alat atau sistem dapat diiterasi dengan menggunakan random number yang dihasilkan dari fungsi rand () di perangkat lunak microsoft excel. fitur ini dapat digunakan untuk menghasilkan bilangan acak antara 0 dan 1. langkah iterasi t i dan t p pada sistem seri adalah sebagai berikut (laggoune dkk., 2009): 1. penetapan parameter-parameter keandalan yang akan digunakan. 2. penetapan nilai pertama dari t p . 3. penentuan dua kelompok random number, rand 1 () untuk iterasi t i dan rand 2 () untuk iterasi t cmi . 4. jika t i > t p , maka sub sub sistem tidak mengalami kerusakan atau t i = t pmi , namun tetap dilakukan pemeliharaan pencegahan selama t pmi . i = subskrip (i) untuk subsistem = interval waktu pemeliharaan pencegahan sub-sistem (i) r = subskrip (r) untuk run = lama perbaikan sub-sistem (i) run (i) n = total percobaan = lama operasi sub-sistem (i) g = superskrip (g), indikator gagal = s = superskrip (s). indikator sukses = keandalan sub-sistem = biaya pemeliharaan pencegahan sub-unit (i) = ketersediaan sub-sistem = biaya perbaikan sub-unit (i) = laju biaya pemeliharaan sub sistem (i) = waktu hidup sub-sistem (i) pada run ke (r) ����� = biaya loss oppotunity gambar 3 alur iterasi dan secara berurutan sesuai dengan pola pemeliharaan pencegahan multi-komponen (giani, 2006) fesa putra kristianto & bobby o.p. soepangkat, penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan pada peralatan sub-unit rkc 3 di ptx pabrik tuban 93 start 1) jumlah n =1000 2) tentukan interval pemeliharaan pencegahan (tp) 3) cpm dan ccm (komponen) 4) jumlah tenaga kerjaparameter -parameter keandalan dan maintainability komponen. generate bilangan acak (random number) 1) f(t) = randi() 2) tbf(i) = ftbf(randi()) 3) tops(f) = if (tbf < tp, tf, tp); → gagal 4) tops(s) = if (tbf > tp, ts, f(randj()); → sukses 5) tcm = fttr (randj()) 6) tpm = mttr x 0,25 7) ts = if (tbf = tops (s)) 8) tf = if (tbf = tops (f)) 9) to pr = tf + ts 10) tjam = topr + tpm + tcm 11) r (tp) = r(tp) mtbf terkecil dari sub-sub unit 12) ketersediaan = to pr / tjam kerjakan sebanyak n setiap siklus di atas catatan: tops = lama waktu beroperasi , f=gagal, s=sukses tcm = lama waktu pemeliharaan perbaikan tpm = lama waktu pemeliharaan pencegahan biaya pemeliharaan pada setiap tp c(tpi) = (ccm x jumlah gagal + cpm x jumlah sukses + (tpm + tcm x biaya tenaga kerja /jam) + (tcm +tpm x loss opportunity /jam)) tjam pilih min dari semua tp yang dilakukan untuk tpi berikut tp lain 1) plot c(tp) dan tp, r dan tp dan a dan tp 2) tentukan tp yang mendapatkan c(tp) minimal stop no yes gambar 4 diagram alir iterasi t i dan t p untuk sub-unit business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 94 metodologi penelitian berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk menentukan interval waktu pemeliharaan pencegahan dengan laju biaya minimum adalah sebagai berikut. 1. tahap yang pertama adalah menentukan subunit penyusun sub-unit rkc 3, kemudian membuat diagram pareto untuk menentukan komponen-komponen penyebab kegagalan dari sub-unit penyusun sub-unit rkc 3. 2. tahap kedua adalah melakukan anava untuk data waktu antar kegagalan atau time between failure (tbf) dan waktu perbaikan atau time to repair (ttr). tahap ini bertujuan untuk memperoleh jumlah data tbf dan ttr setiap sub-sub-unit masing-masing sebanyak lebih dari 20 data dan berasal dari populasi yang sama. 3. tahap ketiga adalah tahap penilaian keandalan. pada tahap ini dilakukan penentuan distribusi dan parameter dari data waktu antarkegagalan dan waktu perbaikan yang telah didapatkan. selanjutnya dapat ditentukan fungsi padat peluang waktu antar-kegagalan, fungsi keandalan, fungsi padat peluang waktu perbaikan dan fungsi maintainability. 4. tahap keempat adalah tahap penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan dengan menggunakan iterasi t i dan t p . gambar 4 menunjukkan diagram alir iterasi t i dan t p . hasil penelitian dan pembahasan sub-unit rkc 3 disusun oleh 15 sub-unit yang tersusun secara seri seperti ditunjukkan pada gambar 5. gambar 5 sub-unit peralatan penyusun sub-unit rkc 3 untuk menentukan komponen penyusun sub-unit, maka dibuat diagram pareto dari frekuensi kegagalan komponen sub-unit. dari hasil diagram pareto tersebut diambil 20% komponen penyebab kegagalan yang mengakibatkan 80% kegagalan sub-unit. gambar 6 menunjukkan diagram pareto dari komponen sub-unit reclaimer. gambar 6 diagram pareto komponen sub-unit reclaimer dari gambar 6 didapatkan tiga komponen yang menyebabkan 80% kegagalan sub-unit. komponen-komponen tersebut adalah harraw dengan frekuensi kegagalan sebanyak 24 kali, roll dengan frekuensi kegagalan sebanyak 20 fesa putra kristianto & bobby o.p. soepangkat, penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan pada peralatan sub-unit rkc 3 di ptx pabrik tuban 95 kali dan rel chain dengan frekuensi kegagalan sebanyak 7 kali. langkah yang sama dilakukan untuk 14 sub-unit lainnya. tabel 3 menunjukkan hasil diagram pareto untuk menentukan komponen penyusun sub-sub-unit. tabel 3 hasil diagram pareto untuk penentuan komponen-komponen penyusun sub-sub-unit penggabungan data tbf dan ttr dari rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 dilakukan berdasarkan hasil anava. apabila data tbf dan ttr dari rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 dapat dianggap berasal dari populasi yang sama, maka dapat dilakukan penggabungan data sehingga jumlah data yang akan ditentukan distribusi dan parameternya menggunakan perangkat lunak weibull ++6 bisa lebih dari 20 data. hipotesis dari anava adalah: h o : . h 1 : paling sedikit ada satu yang berbeda. pada tabel 4 ditampilkan hasil anava sub-unit rkc dari data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan komponen sub-unit dengan tingkat signifikansi 5%. tabel 4 hasil anava sub-unit rkc dari data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan komponen sub-unit dengan tingkat signifikansi 5% setelah didapatkan komponen-komponen penyebab kegagalan dari sub-unit, maka dapat dihitung tbf dan ttr dari masing-masing komponen sub-unit. akan tetapi sub unit rkc 3 hanya memiliki 7 sampai 9 data untuk data tbf dan ttr komponen sub-unit. oleh karena itu, dilakukan analisis variansi (anava) untuk menggabungkan data tbf dan ttr dari rkc 1, rkc 2 dan rkc 3. asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut. 1. rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 memiliki rangkaian alat yang sama. 2. alat dan komponen yang dimiliki oleh rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 dibeli dari pemasok yang sama. 3. rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 memiliki waktu awal operasi yang sama. 4. rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 memiliki perlakuan pemeliharaan dan operasional yang sama. no. sub-unit komponen no. sub-unit komponen 1 reclaimer harraw 9 preheater cyclone roll calciner rel chain 10 timbangan 2 v-belt 2 raw mill roll kabel blader 11 timbangan 1 v-belt support scaveengine kabel 3 triple gate pipa konektor 12 coal mill roll 4 bucket elevator bucket hydrolic boot level 13 clinker cooler balluf 5 rotary feeder rantai hydrolic 6 fan 6 bearing bullnose impeller 14 crusher 1 hammer 7 fan 1 bearing bearing impeller 15 crusher 2 hammer kabel kontrol bearing 8 kiln motor drive tyre superbolt burner sumber: hasil pengolahan dengan menggunakan perangkat lunak minitab no. sub-unit komponen hasil anava p-value kesimpulan tbf ttr 1 reclaimer harraw 0,77 0,92 gagal menolak ho roll 0,502 0,12 gagal menolak ho rel chain 0,24 0,17 gagal menolak ho 2 raw mill roll 0,91 0,43 gagal menolak ho blader 0,74 0,36 gagal menolak ho support scaveengine 0,067 0,85 gagal menolak ho 3 triple gate pipa konektor 0,074 0,72 gagal menolak ho 4 bucket elevator bucket 0,601 0,84 gagal menolak ho boot level 0,18 0,81 gagal menolak ho 5 rotary feeder rantai 0,89 0,22 gagal menolak ho 6 fan 6 bearing 0,57 0,57 gagal menolak ho impeller 0,48 0,37 gagal menolak ho 7 fan 1 bearing 0,83 0,97 gagal menolak ho impeller 0,12 0,39 gagal menolak ho kabel kontrol 0,54 0,59 gagal menolak ho 8 kiln motor drive 0,79 0,85 gagal menolak ho tyre 0,37 0,5 gagal menolak ho superbolt 0,91 0,78 gagal menolak ho burner 0,96 0,054 gagal menolak ho 9 preheater cyclone 0,58 0,409 gagal menolak ho calciner 0,43 0,69 gagal menolak ho 10 timbangan 2 v-belt 0,85 0,059 gagal menolak ho kabel 0,52 0,12 gagal menolak ho 11 timbangan 1 v-belt 0,603 0,056 gagal menolak ho kabel 0,71 0,055 gagal menolak ho 12 coal mill roll 0,56 0,46 gagal menolak ho hydrolic 0,44 0,34 gagal menolak ho 13 clinker cooler balluf 0,24 0,053 gagal menolak ho hydrolic 0,98 0,57 gagal menolak ho bullnose 0,14 0,76 gagal menolak ho 14 crusher 1 hammer 0,055 0,14 gagal menolak ho bearing 0,15 0,87 gagal menolak ho 15 crusher 2 hammer 0,12 0,84 gagal menolak ho bearing 0,93 0,96 gagal menolak ho business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 96 hasil anava dari sub-unit rkc yang ditunjukkan pada tabel 4 disimpulkan bahwa dengan tingkat signifikansi 5% sub-unit rkc 1, rkc 2 dan rkc 3 dapat dianggap berasal dari populasi yang sama. setelah ditambahkan data dari rkc 1, rkc 2 dan rkc 3, jumlah data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan komponen sub-unit menjadi sebanyak 7–24 data. karena jumlah data masih ada yang kurang dari 20 data, maka dilakukan lagi anava untuk komponen-komponen dari sub-unit. jika komponen-komponen penyusun sub unit dianggap berasal dari populasi yang sama, maka data dari komponen-komponen subunit dapat digabungkan, sehingga jumlah data menjadi lebih dari 20 data untuk satu sub-unit. hipotesis dari anava adalah: h o : semua rata-rata dari komponen-komponen penyusun sub-unit adalah sama. h 1 : paling sedikit ada satu rata-rata dari komponen-komponen penyusun sub-unit yang berbeda. pada tabel 5 ditampilkan hasil anava dari data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan dari komponen-komponen sub-unit dengan tingkat signifikansi 5%. hasil anava dari komponen-komponen sub-unit yang ditunjukkan pada tabel 5 disimpulkan bahwa dengan tingkat signifikansi 5% komponen-komponen penyusun sub-unit dapat dianggap berasal dari populasi yang sama. data tbf dan ttr dari sub-unit masingmasing berjumlah lebih dari 20 data, sehingga dapat ditentukan distribusi kegagalan dan maintainability serta parameter keandalan dan maintainability. penentuan ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak weibull++6. tabel 6 menampilkan parameter keandalan untuk subunit. tabel 6 parameter keandalan sub-unit no. sub-unit anava p-value kesimpulan tbf ttr 1 raw mill 0,95 0,73 gagal menolak ho 2 reclaimer 0,68 0,73 gagal menolak ho 3 triple gate penyebab kegagalannya hanya satu komponen 4 bucket elevator 0,67 0,88 gagal menolak ho 5 rotary feeder penyebab kegagalannya hanya satu komponen 6 fan 6 0,49 0,34 gagal menolak ho 7 fan 1 0,97 0,73 gagal menolak ho 8 kiln 0,63 0,81 gagal menolak ho 9 preheater 0,95 0,83 gagal menolak ho 10 timbangan 2 0,83 0,95 gagal menolak ho 11 timbangan 1 0,88 0,11 gagal menolak ho 12 coal mill 0,73 0,75 gagal menolak ho 13 clinker cooler 0,98 0,45 gagal menolak ho 14 crusher 1 0,5 0,406 gagal menolak ho 15 crusher 2 0,96 0,91 gagal menolak ho tabel 5 anava dari data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan komponen-komponen subsub-unit dengan tingkat signifikansi 5% sumber: hasil pengolahan dengan menggunakan perangkat lunak minitab sub-unit mtbf distribusi beta (β) eta (η) gamma (ϒ) reclaimer 6587,03 weibull 3 1,7085 1782,9106 4996,77 raw mill 11378,8 weibull 3 2,1387 4332,05 7542,28 triple gate 6352,4 weibull 3 1,6809 764,512 5669,725 bucket elevator 10784,6 weibull 3 1,633 2793,24 8284,715 rotary feeder 11085,4 weibull 3 1,9704 1341,33 9896,325 fan 6 11005 weibull 3 1,5981 3529,49 7840,2 fan 1 10598,3 weibull 3 1,8346 4644,16 6471,9 kiln 6205,92 weibull 3 1,5701 2300,86 4139,29 preheater 6106,9 weibull 3 2,1872 3550,97 2962,12 timbangan 2 10263,9 weibull 3 2,035 4936,15 5890,6 coal mill 10656,7 weibull 3 1,4438 1986,48 8854,42 timbangan 1 11879,5 weibull 3 1,137 3025,13 8990,72 clinker cooler 10245,74 weibull 3 2,2016 3995,46 6707,25 crusher 1 10056,17 weibull 3 2,014 2726,15 7640,48 crusher 2 10141,26 weibull 3 1,9078 3034,34 7449,04 sumber: hasil pengolahan data dengan perangkat lunak weibull++6 iterasi t i dan t p menghasilkan t p optimum yang memiliki laju biaya pemeliharaan minimum, serta keandalan dan ketersediaan yang memenuhi persyaratan perusahaan untuk sub unit rkc 3. gambar 7 sampai gambar 8 menunjukkan pengaruh t p terhadap laju biaya pemeliharaan dan keandalan untuk sub unit rkc 3. fesa putra kristianto & bobby o.p. soepangkat, penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan pada peralatan sub-unit rkc 3 di ptx pabrik tuban 97 gambar 7 pengaruh t p terhadap laju biaya pemeliharaan gambar 7 menunjukkan bahwa t p optimum adalah sebesar 3743,28 jam dengan laju biaya pemeliharaan pencegahan sebesar rp 33.100 per jam. rata-rata laju biaya pemeliharaan sebelum dioptimasi adalah sebesar rp 57.074 per jam, sehingga terjadi penurunan laju biaya pemeliharaan adalah sebesar 42%. dalan sub-unit meningkat sebesar 1,7% dari keandalan sub unit yang dipersyaratkan. kesimpulan dari hasil iterasi t i dan t p , didapatkan t p optimum pada sub-unit rkc 3 adalah sebesar 3743,28 jam (155,97 hari), dengan laju biaya pemeliharaan pencegahan sebesar rp33.100 per jam. keandalan dan ketersediaan dari sub-unit rkc 3 adalah sebesar 96,7% dan 99,86%. referensi annual report pt semen indonesia tbk-gresik, tahun 2015. duda, w.h., 1985. cement data book. bouverlag gmbh. wiesbadenund. berlin. ebeling, c.e. 1997. reliability and maintainability engineering, international edition. new york: mcgraw-hill. giani, m. 2006. a cost-based optimization of fiberboard pressing plant using monte carlo simulation (a reliability program), queensland university of technology, australia, diunduh 1 oktober 2010. jardine, a.k.s. 1970. operational research in maintenance. manchester university press nd. laggoune, r., chateauneuf, a., and aissani, d. 2009. “opportunistic policy for optimal preventive maintenance of multi-component system in continues operating units.” computer and chemical engineering, vol. 33, hal. 1499–1510. nguyen, d.q., brammer, c., and bagajewicz, m. 2008. “new tool for the evaluation of the scheduling of preventive maintenance for chemical process plants,” ind. gambar 8 pengaruh t p terhadap keandalan gambar 8 menunjukkan bahwa keandalan sub unit rkc 3 pada t p optimum (3743,28 jam) sebesar 0,967 (96,7%). hasil ini lebih besar daripada nilai dipersyaratkan, yaitu 95%. kean business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 98 eng. chem. res., vol. 49, hal. 1910– 1924. sutanto e. 2011. optimalisasi interval waktu penggantian komponen mesin packer tepung terigu kemasan 25 kg di pt x, tesis tidak dipublikasikan. surabaya: program studi magister manajemen teknologi its. tsang, h.c. dan jardine, a.k. 2005. maintenance, replacement and reliability. new york: crc press, corp. 01 candra.pmd muhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono, analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) 7777 analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) muhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono fakultas ekonomi dan bisnis, universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: rodhismart@unusa.ac.id abstract: the aim of the study was to analyze and determine the influence of leadership and communication, on employee motivation and performance at satuan polisi pamong praja kota surabaya. branch, as many as 100 persons. sampling technique samples (slovin) data was analyzed with multiple linear regression with spss for windows program. the result of the research indicated that leadership, communication, and motivation simultaneously have significant effect on employees’ performances with determination value of 0,424 or 4,24%. leadership, communication and motivation partially has significant effect on performance. communication itself has dominant effect on employee’s performance. keywords: leadership, communication, motivation, and employee performance pendahuluan satuan polisi pamong praja sebagai pegawai negeri sipil (pns) menurut uu no. 43/ 1999 pasal 1 adalah keseluruhan upaya untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan derajat profesionalisme penyelenggaraan tugas, fungsi, dan kewajiban kepegawaian yang meliputi perencanaan, pengadaan, pengembangan kualitas penempatan, promosi, penggajian, kesejahteraan, dan pemberhentian. satuan polisi pamong praja (satpol pp) adalah aparatur pemerintah daerah yang melaksanakan tugas kepala daerah melalui sekretaris daerah yang mempunyai tugas menegakkan peraturan daerah dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. dalam menjalankan tugas satpol pp mempunyai dasar hukum yaitu peraturan undangundang no. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, peraturan pemerintah no. 6 tahun 2010 tentang satuan polisi pamong praja dan peraturan menteri dalam negeri no. 40 tahun 2011 tentang pedoman organisasi dan tata kerja satuan polisi pamong praja. undang-undang no.32 tahun 2004 pasal 148 mengamanatkan bahwa untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dibentuk satuan polisi pamong praja. pembentukan dan susunan organisasi satuan polisi pamong praja berpedoman pada peraturan pemerintah. menurut peraturan pemerintah no. 6 tahun 2010 pasal 4 bahwa satpol pp mempunyai tugas menegakkan perda dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. satpol pp dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, satpol pp mempunyai fungsi menyusun program dan menjadi pelaksana penegakan perda dan perbusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 78 aturan kepala daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. kemudian melaksanakan kebijakan penegakan perda dan peraturan kepala daerah, melaksanakan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat di daerah, melaksanakan kebijakan perlindungan masyarakat, melaksanakan koordinasi penegakan perda dan peraturan kepala daerah, serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan kepolisian negara republik indonesia, penyidik pegawai negeri sipil daerah, atau aparatur lainnya, melakukan pengawasan terhadap masyarakat, aparatur, atau badan hukum agar mematuhi dan menaati penegakan perda dan peraturan kepala daerah. 1. dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, satpol pp mempunyai fungsi sebagai berikut. a. penyusunan program dan pelaksana penegakan perda dan peraturan kepala daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. b. pelaksanaan kebijakan penegakan perda dan peraturan kepala daerah. c. pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat di daerah. d. pelaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat. e. pelaksanaan koordinasi penegakan perda dan peraturan kepala daerah serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan kepolisian negara republik indonesia, penyidik pegawai negeri sipil daerah, atau aparatur lainnya. f. pengawasan terhadap masyarakat, aparatur, atau badan hukum agar mematuhi dan menaati penegakan perda dan peraturan kepala daerah. g. pelaksanaan tugas lainnya. 2. pelaksanaan tugas lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g meliputi hal-hal sebagai berikut. a. mengikuti proses penyusunan peraturan perundang-undangan serta kegiatan pembinaan dan penyebarluasan produk hukum daerah. b. membantu pengaman dan pengawalan tamu vvip termasuk pejabat negara dan tamu negara. c. pelaksanaan pengaman dan penertiban asset yang belum teradministrasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. d. membantu pengamanan dan penertiban penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan umum kepala daerah. e. membantu pengamanan dan penertiban penyelenggaraan keramaian daerah/kegiatan yang berskala massal. f. pelaksanaan tugas pemerintah umum lainnya yang diberikan oleh kepala daerah sesuai dengan prosedur dan ketentuan peraturan perundang-undangan. kondisi di lapangan saat ini, satpol pp yang cenderung menegakkan peraturan daerah dengan cara-cara represif walaupun sudah ada upaya-upaya persuasif yang dilakukan sehingga kesan yang ditimbulkan seakan-akan arogan dan kurang merakyat. akan tetapi, satuan polisi pamong praja kota surabaya sudah mempunyai tim negosiator sebagai ujung tombak di dalam melaksanakan tugas, utamanya di dalam penegakan peraturan daerah kota surabaya. muhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono, analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) 79 kesan yang ingin dilihat oleh masyarakat bahwa satpol pp harus bersikap humanis dalam melakukan kegiatan-kegiatan pembinaan pada masyarakat. surabaya terdiri dari masyarakat yang heterogen di mana berbagai suku, kebudayaan, dan agama. kemajemukan itu merupakan kekayaan dan kekuatan yang sekaligus menjadi tantangan bagi satuan polisi pamong praja kota surabaya. tantangan itu sangat terasa terutama ketika satuan polisi pamong praja membutuhkan kebersamaan dan persatuan dalam menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. tugas-tugas yang berat tersebut diperlukan organisasi yang solid, kompak, dan proaktif untuk menyelesaikan amanat. dalam menggerakkan organisasi dalam arti peningkatan kinerja, dibutuhkan keterampilan teknik ekonomi, sosial, dan ketekunan serta disiplin tertentu sesuai dengan dinamika keprofesionalan dan derap partisipasi yang populer dari pegawai yang terlibat dalam satuan polisi pamong praja saat ini dan mendatang. faktor kritis yang berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang organisasi adalah kemampuan untuk mengukur seberapa baik pegawai dapat berkarya dan menggunakan informasi tersebut guna memastikan bahwa pelaksanaan memenuhi standar-standar sekarang dan meningkatkan sepanjang waktu. penilaian kinerja adalah alat yang berfaedah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dan pegawai, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan pegawai. efisiensi adalah seberapa baik sumbersumber daya yang digunakan untuk menghasilkan suatu hasil. dapat dikatakan bahwa efisiensi sebagai penghematan penggunaan sumbersumber daya dalam kegiatan organisasi. dengan efisiensi dimaksudkan pemakai sumber daya yang lebih sedikit untuk mencapai hasil yang sama. konsep efisiensi ini lebih berorientasi pada masukan dari pada keluaran. pencapaian suatu kumpulan hasil yang direncanakan menunjuk pada efektivitas. di sini pencapaian sumber daya tidak dipersoalkan. efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa baik atau seberapa jauh sasaran (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah tercapai. nilai efektivitas dicerminkan oleh perbandingan nilai keluaran aktual dengan keluaran yang di rencanakan. makin besar persentase sasaran yang dicapai, makin tinggi tingkat efeknya konsep efektivitas berorientasi pada keluaran (output), bukan pada masukan (input). efektivitas yang tinggi belum tentu efisien. jelasnya, suatu proses dikatakan lebih efektif bila dengan masukan yang sama di peroleh keluaran yang lebih besar, hasil yang lebih jelas, atau dalam waktu yang lebih singkat. jika efisiensi berorientasi pada masukan yang lebih sedikit dan efektivitas berorientasi pada keluaran yang lebih baik, maka produktivitas berorientasi pada keduanya. efektivitas membandingkan hasil yang dicapai, sedang efisiensi membandingkan masukan sumber daya yang digunakan. dari keterangan di atas, efektivitas berhubungan dengan unjuk kerja, sedangkan efisiensi berhubungan dengan pemakaian dengan sumber daya. efisiensi berorientasi pada masukan dan efektivitas berorientasi pada keluaran. untuk dapat mengorganisasi fungsi-fungsi efisiensi dan aktivitas dalam organisasi perlu di dukung oleh komunikasi yang baik dan organisator yang memadai. tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara memimpin sebuah business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 80 organisasi di satuan polisi pamong praja, serta dapat mengetahui gaya-gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam menghadapi situasi dan kondisi tertentu. selain itu juga tujuan adanya variabel komunikasi adalah menciptakan pemahaman bersama antara pegawai dan tujuan komunikasi adalah pertukaran informasi dan penyampaian makna suatu sistem sosial atau organisasi di satuan polisi pamong praja. di dalam penulisan ini menggunakan variabel motivasi tujuannya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan, ataupun pembangkit tenaga pada pegawai satuan polisi pamong praja untuk berbuat dan bekerjasama secara optimal di dalam melaksanakan tugas sesuai dengan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan organisasi, sehingga dapat menumbuhkan kinerja yang efektif yang diharapkan akan mampu memperbaiki sistem manajemen yang kurang baik. dari semua itu, tujuan utamanya untuk membantu memperbaiki kinerja pegawai satuan polisi pamong praja yang mungkin kurang maksimal. pada akhirnya memberikan rasa kepercayaan yang kuat bagi para pegawai untuk berimprovisasi dalam menjalankan semua kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. dengan demikian, penelitian ini diberi judul: analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai satuan polisi pamong praja kota surabaya. rumusan masalah berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut. 1. apakah kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi pegawai satuan polisi pamong praja kota surabaya? 2. apakah komunikasi berpengaruh terhadap motivasi pegawai satuan polisi pamong praja kota surabaya? 3. apakah kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja pegawai satuan polisi pamong praja kota surabaya? 4. apakah komunikasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai satuan polisi pamong praja kota surabaya? 5. apakah motivasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai satuan polisi pamong praja kota surabaya? tinjauan pustaka kepemimpinan definisi kepemimpinan merupakan perilaku kepemimpinan yang diperlihatkan pimpinan dalam memimpin dan mengarahkan para karyawannya (pramudyo, 2010). menurut nuraini (2002: 67), kepemimpinan merupakan kemampuan memengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan atau suatu usaha menggunakan suatu gaya memengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam mencapai tujuan. dalam pramudyo (2010), menyatakan bahwa dalam kenyataannya pemimpin dapat memengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas hidup kerja, dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. definisi yang sederhana menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh konsensus dan keikutsertaan pada sasaran bersama, melampaui syarat-syarat komunikasi, yang dicapai dengan pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja. jadi, pemimpin manager berusaha melampaui harapan perusahaan. istilah-istilah pokok tertentu perlu diterapkan (cribbin, 1982: 12) adalah sebagai berikut. muhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono, analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) 81 kemampuan memperoleh: kepemimpinan merupakan proses pengaruh yang memungkinkan manager membuat orang-orangnya bersedia mengerjakan apa yang harus di kerjakan, mengerjakan dengan baik apa yang harus di kerjakan. tetapi proses memengaruhi ini jarang sepihak. jika anda memengaruhi orang anda, mereka sebaliknya juga memengaruhi anda. ada kalanya mereka lebih berpengaruh terhadap perilaku anda daripada daya anda memengaruhi perilaku mereka (cribbin, 1982: 12). konsensus dan keikatan: lenin pernah mengatakan bahwa 100 orang yang terorganisasikan, yang terikat kepada suatu sasaran, akan menundukkan 1000 orang. john hancock menyatakan bahwa ia lebih senang keputusan yang 50% benar teknis dan kelompok menerimanya dengan 90% antusiasme, daripada suatu keputusan yang 90% benar secara teknis dan kelompok menerimanya hanya 50% antusiasme. inilah sebabnya mengapa pemimpin, jikalau mungkin, berusaha mendapatkan konsensus dan keikatan daripada kesewenangwenangan keunggulan satu suara. pada sasaran bersama: ini membedakan kepemimpinan dari manipulasi. tujuan pemimpin dan bawahan ini tidak usah sama, dan jarang sama. tetapi harus ada beberapa sasaran bersama, jika hendak bekerja sama. samuel gompers, seorang pendiri gerakan perburuhan amerika, menggarisbawahi hal ini lebih 60 tahun yang lalu. kepentingan majikan dan kepentingan pekerja sama sekali lain, jangan menyamaratakan. mereka bukannya mempunyai persamaan kepentingan, tetapi mereka mempunyai kerjasama kepentingan, kerjasama kepentingan yang sama juga ada di antara seorang pembikin dan pelanggannya yang terbaik (c. crowther, 1992, 445). pengertian komunikasi komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (wiryanto, 2005). komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual. argiris (1994) mengartikan komunikasi sebagai suatu proses di mana seseorang, kelompok, atau organisasi (sender) mengirimkan informasi (massage) pada orang lain, kelompok, atau organisasi (receiver). proses komunikasi umumnya mengikuti beberapa tahapan. pengirim pesan mengirimkan informasi pada penerima informasi melalui satu atau beberapa sarana komunikasi. proses berlanjut di mana penerima mengirimkan feedback atau umpan balik pada pengirim pesan awal. dalam proses tersebut terdapat distorsi-distorsi yang mengganggu aliran informasi yang dikenal dengan noise. dengan kata lain komunikasi oleh sebagian orang diartikan sebagai proses pemberitahuan dari satu pihak ke pihak lain, yang dapat berupa rencanarencana, instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, saran-saran, dan sebagainya. oleh karena itu, apabila orang telah mengirimkan surat, menempelkan pengumuman pada papan pengumuman, penelepon, dan sebagainya, ia menganggap bahwa dirinya telah melaksanakan komunikasi. berkat kemajuan teknologi yang begitu cepat, alat-alat komunikasi pun bertambah maju business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 82 sehingga interlokal antara jakarta dan surabaya, bahkan ke amerika dapat dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat. kemajuan alat-alat komunikasi demikian hebatnya. dalam hubungan dengan kemajuan teknologi alat-alat komunikasi ini, ada orang yang menganggap bahwa suatu perusahaan yang telah menggunakan alat komunikasi yang mutakhir atau modern telah melaksanakan komunikasi dengan baik. motivasi menurut mc. donald (dalam sardiman 2007: 73), menyebutkan bahwa motivasi sebagai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. dari pengertian mc. donald ini mengandung tiga elemen penting yaitu: bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/”feeling” yang relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi, dan emosi serta dapat menentukan tingkahlaku manusia, motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan. motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. secara konkret motivasi dapat diberi batasan sebagai “proses pemberian motif (penggerak) bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi secara efisien” (sarwoto, 1979: 135). “motivasi adalah pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. pemberian motivasi dimaksudkan pemberian daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya” (manullang, 1982: 150). penggerakan (motivating) dapat didefinisikan: keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis “(siagian, 1983: 152). pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. motivasi semakin penting karena manajer/pimpinan membagikan pekerjaan kepada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan. kerangka konseptual dan metode penelitian tugas-tugas yang diemban oleh pegawai satpol pp (satuan polisi pamong praja) dan adanya ancaman dan tekanan baik secara halus tersembunyi maupun terang-terangan dengan berbagai dalih, maka perlu adanya tindakan dan sikap pemimpin yang tangguh. hal ini terjadi karena satpol pp adalah sebagai penegak peraturan daerah (perda) yang mencakup hubungan antara masyarakat. selain itu, berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan peranan yang diemban, menempatkan satuan polisi pamong praja untuk berhubungan dengan berbagai komponen masyarakat yang beragam. dengan demikian, diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik bagi pegawainya. kemampuan berkomunikasi mutlak diperlukan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang timbul dikarenakan tingmuhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono, analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) 83 ginya tingkat heterogenitas masyarakat indonesia. di sisi lain, hal ini mengindikasikan bahwa kinerja pegawai dapat dipandang dari dua faktor yaitu komunikasi dan kepemimpinan. berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tersebut maka kerangka konseptual penelitian dapat digambarkan sebagai berikut. pribadi dengan alternatif jawaban yang tersedia. hasil tanggapan yang diperoleh dari responden selanjutnya dianalisis sesuai dengan hipotesis yang ditetapkan dalam penelitian. analisis hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian distribusi jawaban responden pada variabel kepemimpinan (x 1 ) merupakan kemampuan memengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan atau suatu usaha menggunakan suatu gaya memengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam mencapai tujuan. menunjukkan bahwa responden menyetujui dengan pernyataan yang diberikan. dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberikan jawaban setuju (skor 4) yaitu sebanyak 48% dan 28% menjawab sangat setuju (skor 5) bahwa pegawai satpol pp memiliki yang tinggi jika dilihat dari kecakapan dalam berkomunikasi, mempunyai pengambilan keputusan yang baik, perlakuan yang adil, dan keteladanan yang baik. distribusi jawaban responden pada variabel komunikasi (x 2 ) merupakan suatu proses di mana seseorang, kelompok, atau organisasi (sender) mengirimkan informasi (massage) pada orang lain, kelompok, atau organisasi (receiver). menunjukkan bahwa responden menyetujui dengan pernyataan yang diberikan, dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberikan jawaban setuju (skor 4), yaitu sebanyak 46% dan 28% menjawab sangat setuju (skor gambar 1 bagan kerangka konseptual objek penelitian populasi objek penelitian ini adalah meliputi seluruh pegawai satpol pp kota surabaya dengan jumlah populasi 500 karyawan dan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian populasi (n) atau sensus. berdasarkan penentuan jumlah sampel tertentu dengan taraf kesalahan 10%, maka dari populasi sejumlah 500 diperoleh sampel 100 orang. dengan metode ini maka jumlah sampel yang diambil adalah keseluruhan dari anggota populasi yaitu sebesar 100 orang. metode ini digunakan karena jumlah populasinya sedikit. selanjutnya, seluruh responden diberi angket dan diminta untuk mengisi daftar pertanyaan yang telah disediakan. responden yang diberi kuesioner dapat memberikan tanggapan secara business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 84 5) bahwa pegawai satpol pp memiliki komunikasi yang baik jika dilihat dari kemudahan dalam berkomunikasi sehingga mudah dipahami, komunikasi yang lengkap (tidak diperlukan tambahan penjelasan/cukup memadai), komunikasi yang tepat waktu (sesuai kebutuhan) dan keakraban (saling percaya). distribusi jawaban responden pada variabel motivasi (z) merupakan terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/”feeling” yang relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi, dan emosi serta dapat menentukan tingkah laku manusia, motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan. menunjukkan bahwa responden menyetujui dengan pernyataan yang diberikan, dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberikan jawaban setuju (skor 4) yaitu sebanyak 42% dan 39% menjawab sangat setuju (skor 5) bahwa pegawai satpol pp memiliki motivasi yang tinggi jika dilihat dari minat kerja pegawai, pemberian tanggung jawab, rasa kebersamaan yang tinggi, dan gaji yang diberikan. distribusi jawaban responden pada variabel kinerja (y) merupakan seperangkat hasil usaha seseorang yang dimodifikasi dengan kemampuan, sifat, atau karakteristik individu dan persepsi terhadap peran yang harus dilakukannya, atau dapat didefinisikan kinerja sebagai derajat seberapa besar pencapaian atau pemenuhan tugas yang dibebankan kepada karyawan. menunjukkan bahwa responden menyetujui dengan pernyataan yang diberikan, dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberikan jawaban setuju (skor 4) yaitu sebanyak 42% dan 33% menjawab sangat setuju (skor 5) bahwa pegawai satpol pp memiliki kinerja yang tinggi jika dilihat dari satuan dari hasil kerja, kualitas hasil kerja, keterampilan dan kemampuan kerja, kreativitas kerja, dan kesediaan untuk bekerjasama. analisis hasil penelitian uji instrumen validitas dalam penelitian ini ketentuan yang digunakan adalah jika koefisien validitas e” 0,30 maka pertanyaan dinyatakan valid, sedangkan koefisien validitas < 0,30 maka pertanyaan dinyatakan tidak valid. 1. uji validitas variabel kepemimpinan (x 1 ) ítem pernyataan dari variabel kepemimpinan (x 1 ) sebanyak empat butir dan hasil uji validitas pada variabel kepemimpinan (x 1 ) menunjukkan bahwa semua item pada variabel kepemimpinan adalah valid, karena nilai corrected item total cor relation (r-hitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. 2. uji validitas variabel komunikasi (x 2 ) ítem pernyataan dari variabel komunikasi (x 2 ) sebanyak lima butir dan hasil uji validitas pada variabel komunikasi (x 2 ) menunjukkan bahwa semua item pada variabel komunikasi adalah valid, karena nilai corrected item total correlation (rhitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. 3. uji validitas variabel motivasi (z) muhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono, analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) 85 ítem pernyataan dari variabel motivasi (z) sebanyak lima butir dan hasil uji validitas pada variabel motivasi (z), menunjukkan bahwa semua item pada variabel motivasi adalah valid, karena nilai corrected item total correlation (rhitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. 4. uji validitas variabel kinerja (y) ítem pernyataan dari variabel kinerja (y) sebanyak 8 (delapan) butir dan hasil uji validitas pada variabel kinerja (y) menunjukkan bahwa semua ítem pada variabel kinerja adalah valid, karena nilai corrected item total correlation (rhitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. uji hipotesis uji hipotesis ke-1 hipotesis ke-1 pada penelitian ini adalah “kepemimpinan diduga berpengaruh terhadap motivasi di satpol pp kota surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 17 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 2,192 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,031 sehingga kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi. uji hipotesis ke-2 hipotesis ke-2 pada penelitian ini adalah “komunikasi di duga berpengaruh terhadap motivasi di satpol pp surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 17 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 3,585 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,001 sehingga komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi. uji hipotesis ke-3 hipotesis ke-3 pada penelitian ini adalah “motivasi diduga berpengaruh terhadap kinerja di satpol pp surabaya.”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 22 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 1,996 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,049 sehingga motivasi berpengaruh terhadap kinerja. uji hipotesis ke-4 hipotesis ke-4 pada penelitian ini adalah “kepemimpinan diduga berpengaruh terhadap kinerja di satpol pp surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 22 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 3,054 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003, sehingga kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja. uji hipotesis ke-5 hipotesis ke-5 pada penelitian ini adalah “komunikasi diduga berpengaruh terhadap kinerja di satpol pp kota surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 22 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 4,332 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003 sehingga komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 86 pembahasan pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi dan kinerja di satpol pp kota surabaya tugas-tugas yang diemban oleh pegawai satpol pp (satuan polisi pamong praja) kota surabaya dan adanya ancaman dan tekanan baik secara halus tersembunyi maupun terangterangan dengan berbagai dalih, maka perlu adanya tindakan dan sikap pemimpin yang tangguh. hal ini terjadi karena satpol pp adalah sebagai penegak peraturan daerah (perda) yang mencakup hubungan antara masyarakat. semakin baik kepemimpinan maka semakin tinggi motivasi kerja pegawai dan kinerjanya. sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa kepemimpinan memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap motivasi dan kinerja, terbukti dari hasil uji t sebagai berikut. 1. nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 2,192 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,031 maka kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi, sehingga hipotesis ke-1 “kepemimpinan diduga berpengaruh terhadap motivasi di satpol pp surabaya”, terbukti kebenarannya. 2. nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 3,054 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003, maka kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja, sehingga hipotesis ke-4 “kepemimpinan diduga berpengaruh terhadap kinerja di satpol pp surabaya”, terbukti kebenarannya. pengaruh komunikasi terhadap motivasi dan kinerja di satpol pp surabaya berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan peranan yang diemban, menempatkan satuan polisi pamong praja untuk berhubungan dengan berbagai komponen masyarakat yang beragam. dengan demikian diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik bagi pegawainya. kemampuan berkomunikasi mutlak diperlukan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang timbul dikarenakan tingginya tingkat heterogenitas masyarakat indonesia. semakin baik kualitas komunikasi maka semakin tinggi motivasi kerja pegawai dan kinerjanya. sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa komunikasi memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap motivasi dan kinerja, terbukti dari hasil uji t sebagai berikut. 1. nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 3,585 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,001, maka komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi, sehingga hipotesis ke-2 “komunikasi berpengaruh terhadap motivasi di satpol pp surabaya”, terbukti kebenarannya. 2. nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 4,332 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003 maka komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja, sehingga hipotesis ke-5 pada penelitian ini adalah “komunikasi berpengaruh terhadap kinerja di satpol pp surabaya”, terbukti kebenarannya. pengaruh motivasi terhadap kinerja di satpol pp surabaya motivasi pada penelitian ini dipengaruhi oleh kepemimpinan dan komunikasi, semakin baik kepemimpinan atasan dan komunikasi yang berkualitas, akan berdampak pada peningkatan motivasi pegawai satpol pp surabaya, dan tingginya motivasi kerja ini akan muhammad rodhiyallah, amiartuti kusmaningtyas, hendro tjahjono, analisis pengaruh kepemimpinan dan komunikasi terhadap motivasi dan kinerja pegawai (satuan polisi pamong praja kota surabaya) 87 berdampak nyata pada kinerjanya. hal ini terbukti dari nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 1,996 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,049 maka motivasi berpengaruh terhadap kinerja, sehingga hipotesis ke-3 “motivasi diduga berpengaruh terhadap kinerja di satpol pp surabaya.”, terbukti kebenarannya. simpulan berdasarkan hasil penelitian ini maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut. 1. kepemimpinan atasan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan motivasi di satpol pp kota surabaya. 2. komunikasi yang berkualitas atasan dapat memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan motivasi di satpol pp kota surabaya. 3. motivasi pegawai yang tinggi dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan kinerja di satpol pp kota surabaya. 4. kepemimpinan atasan dapat memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja di satpol pp surabaya. 5. komunikasi yang berkualitas atasan dapat memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja di satpol pp surabaya. saran berdasarkan kesimpulan dan pembahasan pada penelitian ini maka beberapa saran yang dapat diambil adalah sebagai berikut. 1. bagi satpol pp kota surabaya, senantiasa tetap mempertahankan kepemimpinan dan komunikasi yang sudah berjalan dengan baik sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai. 2. bagi satpol pp kota surabaya, senantiasa tetap mempertahankan dan meningkatkan motivasi dan kinerja yang sudah ada, karena tugas yang diemban cukup berat. 3. bagi penelitian yang akan datang, hendaknya memperluas jangkauan populasi tidak hanya di satpol pp kota surabaya saja. daftar pustaka azwar, saifuddin. 1997. reliabilitas dan validitas, edisi ketiga, yogyakarta: pustaka pelajar. ghozali, imam. 2002. aplikasi analisis multivariate dengan program spss, edisi ii. gaspersz, vincent. 1991. ekonometrika terapan. bandung: penerbit tarsito. penerbit badan penerbit universitas diponegoro, semarang. http://adiprakosa.blogspot.com/2007/12/teorikomunikasi-organisasi.html http://kata-edu.blogspot.com/2013/01/pengertian-motivasi-menurut-para ahli.html hair, j.f.et al. 1998. multivariable data analysis, fifth edition, prentice hall, internasional, inc., new jersey. http://amirlahjeni.wordpress.com/2012/03/30/ tujuan-komunikasi/ sarwono. 2007. analisis jalur untuk riset bisnis dengan spss. yogyakarta: penerbit andi. sumarsono. 2004. metode penelitian akuntansi. surabaya: penerbit upn “veteran”. sugiyono. 2002. metodologi penelitian bisnis. cetakan 4. penerbit alfabeta. bandung. sekaran, uma. 1992. research methods for business: a skill building approach, business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 88 second edition. new york: john willey & sons, inc. singarimbun, masri and sofyan efendi. 1995. metode penelitian survey. ppsk. yogyakarta: ugm. solimun. 2002. multivariate analysis structural equation modelling (sem) lisrel and amos. malang: fakultas mipa universitas brawijaya. steel, r.g.d. dan j.h. torrie. 2000. prinsip dan prosedur statistika. penterjemah bambang sumantri. jakarta: gramedia pustaka. sugiyono. 2002. statistik untuk penelitian. bandung: alfabeta. suryono, agus. 2011. manajemen sumber daya manusia etika dan standar profesional sektor publik. malang: universitas brawijaya press. wirawan, i.b. 2012. teori-teori sosial dalam tiga paradigma. jakarta: kencana prenada media group. wulansari, dewi. 2009. sosiologi konsep dan teori. bandung: refika aditama. 01 candra.pmd ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 2929 pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya ratri amelia aisyah fakultas ekonomi dan bisnis, universitas airlangga surabaya e-mail: ratri.amelia24@gmail.com abstract: competition in the development of business in the era of globalization requires companies to be able to act quickly and appropriately in the face of competition in the business environment is very dynamic and full of uncertainty. the study aims to assess brand image of suzuki and family as an effort to influence purchase decision making. the research conducted a survey respondents to 100 students of muhammadiyah university in surabaya. analysis techniques used to examine the relationship among the variables using multiple linear regression. the results of a study showed that brand image has direct and significantly influence on purchase decision making and the result showed that family has direct and significantly influence on purchasing decision making on suzuki. keywords: brand image, family, and decision making pendahuluan perkembangan di bidang teknologi otomotif memberikan pengaruh yang sangat positif bagi munculnya varian sepeda motor di indonesia (sari, 2013). di tahun 2015 honda berhasil menjual produknya sebesar 4.684.792 unit, yamaha sebanyak 1.798.630 unit, kawasaki sebanyak 115.008 unit, suzuki sebanyak 109.882, dan tvs sebesar 2.747 unit (sari, 2013). apabila situasi persaingan di bidang otomotif meningkat, maka membuat merek semakin penting dan peran pemasar untuk meningkatkan citra merek dari suatu produk. merek memberikan manfaat bagi konsumen di antaranya membantu konsumen dalam mengidentifikasi manfaat yang ditawarkan (sari, 2013). merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi suatu perusahaan. suatu perusahaan untuk dapat memenangkan persaingan dituntut melakukan strategi pemasaran yang baik bagi produk yang dihasilkan. pencapaian suzuki menunjukkan bahwa suzuki memiliki citra merek yang baik. sutisna (2003) menyatakan citra merek merupakan keseluruhan persepsi terhadap produk atau merek yang dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap produk atau merek itu. citra merek dapat diciptakan dari tiga hal, yaitu kekuatan, keunikan, dan kesenangan yang bisa memengaruhi konsumen dalam menentukan pilihannya untuk membeli produk yang mempunyai citra yang positif (kotler & keller, 2012). citra merek yang tinggi dapat menciptakan suatu nilai bagi perusahaan dan para pelanggan, karena dapat membantu proses penyusunan informasi, membedakan merek yang satu dengan merek yang lain, dan mengambil keputusan untuk membeli suatu produk tersebut (rangkuti, 2004). merek yang sudah melekat di hati konsumen merupakan aset yang paling berharga bagi perusahaan (sari, 2013). dengan adanya citra yang baik pada business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 30 merek, suzuki akan dapat membantu konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli produk suzuki. citra merek yang baik pada suzuki membuat pemasar merek ini harus melakukan usaha yang lebih besar tetapi belum mampu membuat banyak konsumen mau melakukan keputusan pembelian terhadap sepeda motor suzuki. selain itu, pada saat akan melakukan pembelian, konsumen terlebih dahulu mencari informasi mengenai produk tertentu dari lingkungan terdekat. lingkungan terdekat dari konsumen yang dapat memengaruhi perilaku pembelian yaitu keluarga (sari, 2013). sumarwan (2011) berpendapat bahwa keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (anak atau cucu), dan adopsi. sari (2013) menyatakan bahwa peran keluarga juga sangat memengaruhi keputusan pembelian konsumen. oleh karena pada umumnya konsumen cenderung berunding terlebih dahulu dengan anggota keluarga apabila akan membeli suatu produk yang dinilai penting. keluarga dapat memberikan pengaruh dalam bentuk saran kepada seseorang dalam hal mempertimbangkan sebuah keputusan untuk membeli produk, seperti pembelian produk sepeda motor. biasanya mereka memberikan saran tentang apa yang mereka rasakan saat menggunakan produk tersebut dan kepuasan yang mereka rasakan setelah mereka menggunakan produk tersebut (debora, sulistyowati, & musfar, 2014). menurut annafik (2012) keputusan pembelian didefinisikan sebagai suatu proses di mana konsumen mengenali kebutuhannya, mencari informasi mengenai produk yang sesuai dan mengambil keputusan tentang produk mana yang akan dibeli dan digunakan. keputusan pembelian dapat dilihat dari lima hal yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan pasca-pembelian (fitriyah, 2013). menurut setiadi (2008) dalam sangadji dan sopiah (2013), bahwa inti dari pengambilan keputusan pembelian konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan dan memilih salah satu di antaranya. hasil dari proses pengintegrasian ini adalah suatu pilihan yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku (ma’ruf, 2015). penelitian ini untuk mengkaji pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya. kerangka teoretis manajemen pemasaran pemasaran merupakan hal yang menarik bagi semua orang, yang dapat dipasarkan yaitu barang, jasa, properti, individu, tempat, acara, informasi, ide, ataupun organisasi (kotler & keller, 2012). menurut kotler & keller (2012), pemasaran adalah mengenai mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan sosial dan manusia itu sendiri. american marketing association mendefinisikan pemasaran sebagai aktivitas, serangkaian proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan mengubah penawaran yang dapat memiliki nilai bagi konsumen dan masyarakat luas (kotler & keller, 2012). sehingga manajemen pemasaran dapat diartikan sebagai ilmu dan seni atas pemilihan target pasar dan memperoleh, menjaga, dan menumbuhkan konsumen melalui proses penciptaan, penyampaian, dan pengomunikasian nilai yang baik kepada konsumen (kotler & keller, 2012). ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 31 merek merek merupakan suatu yang ditawarkan dari sebuah sumber yang dapat diketahui atau dikenal (kotler & keller, 2012: 241). perusahaan berlomba-lomba untuk membangun suatu citra merek dengan kuat, menyenangkan dan unik. american marketing association mendefinisikan suatu merek sebagai nama, istilah, simbol, atau desain atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang ditujukan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari produsen lainnya dan membedakan merek tersebut dari para pesaing (kotler & keller, 2012: 241). merek dapat menjadi pengidentifikasi sumber atau pembuat dari suatu produk dan mengizinkan konsumen untuk memberikan tanggung jawab atas kinerja dari perusahaan manufaktur dan juga distributor. suatu merek yang tepercaya dapat memberikan sinyal atas level kualitas yang memberikan kepuasan pada konsumen sehingga mereka dapat memilih kembali atas produk dari merek tersebut. menurut kotler & keller (2012:243), merek merupakan simbol yang dapat menyampaikan enam pengertian sebagai berikut. 1. atribut: suatu merek dapat mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. 2. manfaat: atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional. 3. nilai: suatu merek juga mengayakan sesuatu tentang nilai produsennya. 4. budaya: suatu merek mungkin juga melambangkan budaya tertentu. 5. kepribadian: suatu merek dapat mencerminkan kepribadian tertentu. 6. pemakai: suatu merek menyiratkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan suatu produk. penggunaan konsisten suatu merek, simbol, atau logo membuat merek tersebut dapat dikenali oleh konsumen sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengannya tetap diingat. dengan demikian, pradipta (2012) suatu merek dapat mengandung tiga hal sebagai berikut. 1. menjelaskan apa yang dijual perusahaan. 2. menjelaskan apa yang dijalankan oleh perusahaan. 3. menjelaskan profil perusahaan itu sendiri. perkembangan merek di dunia periklanan terbagi menjadi tiga tahapan. tahap pertama rasional, merupakan tahap di mana pesan yang dikirim sama dengan pesan yang diterima. pada awalnya, suatu produk dipublikasikan secara konkret dan fungsional. kualifikasi produk secara nyata sesuai dengan apa yang diiklankan oleh merek tersebut. kualifikasi yang ditawarkan lebih terletak pada inovasi-inovasi baru yang diterapkan produk pada produk tersebut. tahap kedua emosional, bahwa konsumen menyaring pesan tidak hanya melalui persepsi mereka terhadap produsen atau medium yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut tapi juga dari persepsi masing-masing individu itu sendiri. pada tahap ini, merek tidak lagi dianggap hanya sebagai sebuah objek saja tapi mempunyai karakteristik tertentu. sehingga banyak dari produsen memosisikan merek mereka dengan karakteristik tertentu, misalnya, mercedes benz dengan prestise, ataupun menggunakan selebriti tertentu yang dipandang memiliki karakteristik yang dapat mewakili merek tersebut. tahap terakhir, spiritual – merek harus mempunyai nilai-nilai tertentu atau menjunjung suatu nilai tinggi. ada tahap ini, perkembangan berubah arah dengan menekankan kepada nilai-nilai yang lebih tinggi. produsen yang mengambil langkah-langkah untuk menbusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 32 cegah pencemaran lingkungan, penghentian akan eksperimen pada hewan, mempunyai misi kemanusiaan, ataupun mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan, mendapatkan keuntungan lebih dan promosi gratis untuk produk dan merek mereka (pringle dan thompson, 2001: 64-87). citra merek citra merek salah satu bagian terpenting dari produk. citra merek merupakan representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi serta pengalaman masa lalu atas merek tersebut. citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. citra merek dapat berupa nilai tambahan untuk produk apakah produk berwujud dan tidak berwujud (kotler & keller, 2012). selain itu, citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang dilakukan oleh konsumen, seperti yang tecermin dalam asosiasi yang terjadi dalam memori konsumen (kotler & keller, 2012). ong & sugiharto (2013) citra merek adalah hasil persepsi dan pemahaman konsumen mengenai merek suatu produk yang dilihat, dipikirkan, atau dibayangkan. dengan menciptakan citra merek dari suatu produk tertentu akan sangat berguna bagi para konsumen, karena pada intinya citra merek sangat memengaruhi persepsi konsumen dan penilaian konsumen terhadap alternatif merek yang dihadapinya (ong & sugiharto, 2013). menurut low dan lamb (2000:4), indikator dari citra merek antara lain: friendly/unfriendly: kemudahan dikenali oleh konsumen, modern/outdated: memiliki model yang up to date/tidak ketinggalan zaman, useful/useless: dapat digunakan dengan baik/ bermanfaat, popular/unpopular: akrab di benak, konsumen, gentle/ harsh: mempunyai tekstur produk halus/tidak kasar, artificial/natural: keaslian komponen pendukung atau bentuk. simamora (2003: 37) menyatakan bahwa merek memiliki citra dan untuk memudahkan deskripsi mengenai citra (image), maka konsumen melakukan asosiasi merek. asosiasi merek adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah merek. asosiasi ini tidak hanya ada tetapi memiliki sebuah kekuatan (susanto dan wijanarko, 2004: 132). merek yang kuat dapat menarik konsumen untuk menggunakannya sebagai faktor penentu dalam keputusan pembelian dan syarat yang kuat adalah dengan adanya citra merek (brand image). citra merek merupakan interpretasi akumulasi berbagai informasi yang diterima oleh konsumen (fristiana, 2012). rangkuti (2002: 45), citra merek terdiri dari dua faktor utama. a. faktor fisik merupakan karakteristik fisik dari merek tersebut, seperti desain, kemasan, logo, nama merek, fungsi, dan kegunaan produk dari merek tersebut. b. faktor psikologis dibentuk oleh emosi, kepercayaan, nilai, dan kepribadian yang dianggap oleh konsumen dapat menggambarkan produk dari merek tersebut. citra merek sangat erat kaitannya dengan apa yang orang pikirkan dan rasakan terhadap suatu merek tertentu sehingga faktor psikologis lebih banyak berperan dibandingkan dengan faktor fisik atas merek tertentu. citra merek meliputi pengetahuan dan kepercayaan akan atribut merek (aspek kognitif), konsekuensi dari penggunaan merek tersebut, dan situasi penggunaan yang sesuai, begitu juga dengan evaluasi, perasaan dan emosi yang ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 33 diasosiasikan dengan merek tersebut (aspek afektif). citra merek didefinisikan sebagai persepsi konsumen dan preferensi merek, sebagaimana yang direfleksikan oleh berbagai macam asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen. meskipun asosiasi merek dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk tapi dapat dibedakan menjadi asosiasi performansi dan asosiasi imajeri yang berhubungan dengan atribut dan kelebihan merek (peter dan olson, 2002: 730). menurut drezner (2002: 39-41), konsumen tidak bereaksi terhadap realitas melainkan terhadap apa yang mereka anggap sebagai realitas, sehingga citra merek dilihat sebagai serangkaian asosiasi yang dilihat dan dimengerti oleh konsumen, dalam jangka waktu tertentu, sebagai akibat dari pengalaman dengan merek tertentu secara langsung ataupun tidak langsung. asosiasi ini bisa dengan kualitas fungsional sebuah merek ataupun dengan individu dan acara yang berhubungan dengan merek tersebut. meskipun tidak mungkin setiap konsumen memiliki citra yang sama persis akan suatu merek, namun persepsi mereka secara garis besar memiliki bagian-bagian yang serupa. citra merek adalah kesan keseluruhan terhadap posisi merek ditinjau dari persaingannya dengan merek lain yang diketahui konsumen – apakah merek tersebut dipandang konsumen sebagai merek yang kuat. sebagian alasan konsumen memilih suatu merek karena mereka ingin memahami diri sendiri dan untuk mengomunikasikan aspek diri ke orang lain. citra merek ini bisa diukur dengan menanyakan atribut apa dari suatu merek-merek pilihan konsumen dalam satu kategori produk – yang membedakannya dengan merek lain, mengapa atribut-atribut itu penting dan mengapa alasan itu penting bagi konsumen. selain itu, dalam konsep pemasaran, citra merek sering direferensikan sebagai faktor psikologis, yaitu citra yang dibangun di dalam alam bawah sadar konsumen melalui informasi dan harapan yang dimunculkan melalui produk atau jasa (setiawan dalam nugroho, 2011: 9). oleh karena itu, citra merek yang positif menjadi salah satu hal yang penting. hal ini dikarenakan tanpa adanya citra yang kuat dan positif, sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan yang sudah ada, dan pada saat yang sama meminta konsumen untuk membayar harga yang tinggi (susanto dalam nugroho, 2011: 9). menurut runyon (1980, h.17), citra merek terbentuk dari stimulus tertentu yang ditampilkan oleh produk tersebut, yang menimbulkan respons tertentu pada diri konsumen. a. stimulus yang muncul dalam citra merek tidak hanya terbatas pada stimulus yang bersifat fisik, tetapi juga mencakup stimulus yang bersifat psikologis. ada tiga sifat stimulus yang dapat membentuk citra merek yaitu stimulus yang bersifat fisik, seperti atribut-atribut teknis dari produk tersebut; stimulus yang bersifat psikologis, seperti nama merek; dan stimulus yang mencakup sifat keduanya, seperti kemasan produk atau iklan produk. b. datangnya stimulus menimbulkan respons dari konsumen. ada dua respons yang memengaruhi pikiran seseorang, yang membentuk citra merek yaitu respons rasional – penilaian mengenai performa aktual dari merek yang dikaitkan dengan harga produk tersebut, dan respons emosional – kecenderungan perasaan yang timbul dari merek tersebut. sari (2013) menyatakan bahwa citra merek dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 34 1. kekuatan asosiasi merek, yaitu tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari citra merek. 2. keuntungan asosiasi merek, yaitu kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, di mana konsumen dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. 3. keunikan asosiasi merek, yaitu suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. keunikan asosiasi merek berdasarkan atribut produk, fungsi produk, atau citra yang dinikmati konsumen. keluarga keluarga merupakan konsumen terpenting di lingkungan sosial dan anggota-anggota keluarga meliputi kelompok yang dapat memberikan pengaruh yang besar (kotler & keller, 2012). terdapat dua jenis keluarga di dalam kehidupan konsumen, yaitu family of orientation dan family of procreation (kotler & keller, 2012). family of orientation meliputi orang tua dan saudara kandung. jika konsumen lama tidak berinteraksi dengan orang tua mereka, pengaruh orang tua yang terdapat dalam diri konsumen menjadi sesuatu yang signifikan (kotler & keller, 2012). sedangkan family of procreation meliputi pasangan dan anak-anaknya, jenis keluarga ini memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku pembelian konsumen (kotler & keller, 2012). sumarwan (2011), keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (keturunan: anak, atau cucu), dan adopsi. engel, blackwell, & miniard (2001), keluarga dibagi menjadi tiga, yaitu (a) keluarga (family) adalah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih orang yang berhubungan melalui darah, perkawinan, atau adopsi dan tinggal bersama, (b) keluarga inti (nuclear family) adalah kelompok langsung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang tinggal bersama, (c) keluarga besar (extended family) mencakup keluarga inti ditambah kerabat lain, seperti kakek-nenek, paman dan bibi, sepupu, dan kerabat karena perkawinan (fitriyah, 2013). keluarga adalah lingkungan terdekat dengan individu dan sangat memengaruhi nilai-nilai serta perilaku seseorang dalam melakukan pembelian. menurut fitriyah (2013), keluarga dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut. 1. pencetus (initiator), yaitu seorang anggota keluarga yang memiliki ide ataupun gagasan untuk membeli merek yang diinginkan. 2. pemberi pengaruh (influencer), yaitu anggota keluarga yang memberikan pengaruh kepada keluarga untuk mengambil keputusan pembelian merek yang diinginkan. 3. penjaga pintu (gatekeeper), yaitu anggota keluarga yang mengontrol arus informasi mengenai merek yang diinginkan. 4. pengambil keputusan (decider), yaitu anggota keluarga yang menentukan membeli atau tidak terhadap merek yang diinginkan. 5. pembeli (buyer), yaitu anggota keluarga yang dengan nyata melakukan pembelian merek yang diinginkan. 6. pemakai (user), yaitu anggota keluarga yang menggunakan merek yang diinginkan. keputusan pembelian menurut kotler & keller (2012: 166) bahwa keputusan pembelian adalah seluruh ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 35 pengalaman yang dimiliki oleh konsumen di dalam pembelajaran, pemilihan, penggunaan, dan bahkan bagaimana mereka membuang suatu produk. schiffman dan kanuk (2004), keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. keputusan pembelian menurut schiffman, dan kanuk (2004: 547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. fitriyah (2013) menjelaskan keputusan pembelian adalah proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian. anggar (2012) menyebutkan bahwa keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. kotler & keller (2012: 166) menyatakan terdapat lima tahapan dalam proses pengambilan keputusan yang terjadi oleh konsumen, yaitu mengenali masalah, mencari informasi, mengevaluasi alternatifalternatif, mengambil keputusan pembelian, dan juga perilaku setelah melakukan pembelian. tahapan proses pengambilan keputusan menurut kotler & keller (2012: 166) dapat dilihat pada gambar 1. dimensi untuk mengukur keputusan pembelian yang diambil oleh konsumen antara lain (sutisna, 2003): 1. benefit association kriteria benefit association menyatakan bahwa konsumen menemukan manfaat dari produk yang akan dibeli dan menghubungkannya dengan karakteristik merek. 2. frekuensi pembelian ketika konsumen membeli produk tertentu dan merasa puas dengan kinerja produk tersebut maka konsumen akan sering membeli kembali produk tersebut kapan pun konsumen membutuhkannya. bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut. 1. fully planned purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya. 2. partially planned purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk. 3. unplanned purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pengenalan masalah pencarian informasi pengevaluasian alternatif keputusan pembelian perilaku pasca pembelian sumber: kotler dan keller (2012:166) gambar 1 proses pengambilan keputusan pembelian business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 36 pajangan sebagai pengganti daftar belanja. dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan seseorang akan kebutuhan dan memicu pembelian (engel, blackwell, & miniard, 2001). ketika konsumen telah menggunakan sebuah produk, mereka mengevaluasi kinerja didasarkan pada harapan mereka. ada tiga kemungkinan: pertama jika kinerja sebenarnya sama dengan yang diharapkan maka terjadi neutral feelings, kedua ketika kinerja melebihi harapan menyebabkan kepuasan dan ketika kinerja di bawah harapan terjadi ketidakpuasan (schiffman dan kanuk, 2004:570). perasaanperasaan itu akan membedakan apakah konsumen akan membeli kembali produk tersebut dan membicarakan hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan tentang produk tersebut kepada orang lain (kotler, 2003:208). menurut kotler dan armstrong (2001:193), proses membeli konsumen dimulai lebih awal sebelum pembelian sesungguhnya dan berlanjut setelah itu sehingga pemasar harus fokus pada seluruh proses daripada hanya keputusan membeli saja. tahap-tahap keputusan di atas tidak semuanya harus dilewati, terutama atas pembelian dengan tingkat keterlibatan yang rendah (low involvement) dan pembelian rutin (routine purchase) di mana konsumen hanya menggunakan usaha yang sedikit untuk mendapatkannya sehingga bisa melewati beberapa tahap, misalnya dari pengenalan kebutuhan langsung memutuskan untuk membeli (kotler dan armstrong, 2001:193 dan kotler & keller, 2012). kotler (2003:204), menjelaskan bahwa pada umumnya tahap-tahap pengambilan keputusan terdiri dari hal-hal sebagai berikut. 1. problem recognition (pengenalan kebutuhan). pengenalan kebutuhan atau pengenalan masalah adalah hasil dari ketidaksesuaian antara keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang sebenarnya (hawkins et.al, 1998:501). masalah atau kebutuhan tersebut menurut kotler (2003:204) dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. 2. information search or search alternative solutions (pencarian informasi atau mencari alternatif solusi). konsumen yang telah menyadari kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. keuntungan dari mencari informasi ini akan mendapatkan berbagai macam pilihan yang disesuaikan dengan kriteria yang dicari konsumen. 3. evaluation of alternatives (mengevaluasi beberapa alternatif). jumlah kriteria yang dievaluasi oleh konsumen tergantung pada jenis produk, konsumen, dan situasi. jenis kriteria yang digunakan untuk evaluasi bervariasi mulai dari yang berwujud seperti biaya yang dikeluarkan, fitur, sampai faktorfaktor yang tidak berwujud seperti gaya, prestise, dan citra merek. 4. purchase decision (keputusan pembelian). dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian (kotler, 2003: 208), yaitu keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu, dan keputusan metode pembayaran. 5. post-purchase processes/post-purchase behavior (proses pasca-pembelian atau perilaku pasca-pembelian). fitriyah (2013) menjelaskan keputusan pembelian dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut. ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 37 1. pengenalan masalah, yaitu tahap pertama di mana konsumen mengenali masalah atau kebutuhan akan merek yang akan dibeli. 2. pencarian informasi, yaitu aktivitas untuk mendapatkan informasi mengenai merek yang akan dibeli. 3. evaluasi alternatif, yaitu mengevaluasi pilihan alternatif dari merek yang akan ditawarkan oleh penjual. 4. keputusan pembelian, yaitu kegiatan membeli suatu merek secara nyata. 5. pasca-pembelian, yaitu perilaku yang ditunjukkan konsumen untuk membeli ulang atau menghentikan pembelian setelah menggunakan merek yang dibeli. metode penelitian sampel dan prosedur teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner/angket dan menyebarkan 100 kuesioner pada mahasiswa universitas muhammadiyah surabaya. pengambilan sampel penelitian ini menggunakan convenience sampling. kriteria sampel atau responden yang dipilih untuk mengisi kuesioner adalah sebagai berikut: kepemilikan sepeda motor merek suzuki >1 tahun. kuesioner ini diolah menggunakan regresi linier berganda. dari total 100 responden, hasil penelitian diketahui bahwa 70% responden (laki-laki) dan 30% responden perempuan. ditinjau dari segi usia responden, 39% dari jumlah sampel didominasi oleh responden dengan usia 18– 22 tahun, responden dengan umur 28–32 tahun adalah 25%, responden dengan umur 23–27 tahun 20%, dan responden yang berusia >33 tahun adalah 16%. sedangkan ditinjau dari segi lama penggunaan, diketahui bahwa dari 100 responden lama penggunaan suzuki 1–3 tahun yang paling mendominasi yaitu sebesar 40%, lama penggunaan antara 6–8 tahun sebesar 30%, lama penggunaan antara 4–6 tahun sebesar 30% dan lama penggunaan kurang dari satu tahun 0%. variabel penelitian dan pengukuran variabel citra merek mengacu pada sari (2013) dan berdasarkan dari peneliti terdahulu. indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur citra merek adalah sebagai berikut. 1) kualitas sepeda motor suzuki tidak perlu diragukan lagi. 2) sepeda motor suzuki mempunyai keunggulan bila dibandingkan dengan merek lain. 3) sepeda motor suzuki mempunyai desain yang menarik dibandingkan dengan merek lainnya. 4) sepeda motor suzuki mempunyai banyak variansi produk. 5) sepeda motor suzuki mudah untuk diucapkan. 6) sepeda motor suzuki mudah untuk diingat. variabel keluarga mengacu pada fitriyah (2013) dan berdasarkan dari peneliti terdahulu. indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur keluarga adalah sebagai berikut. 1) keluarga memberikan pendapat tentang keunggulan sepeda motor suzuki dibandingkan merek lain. 2) anggota keluarga memiliki ide/gagasan untuk membeli sepeda motor suzuki. 3) keluarga memberikan pengaruh mengenai kualitas sepeda motor suzuki, sehingga tertarik untuk membeli sepeda motor suzuki. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 38 4) semua anggota keluarga memakai sepeda motor suzuki, maka keluarga menyarankan untuk membeli sepeda motor suzuki. 5) selalu berunding dengan anggota keluarga mengenai informasi kualitas dan fitur sepeda motor suzuki sebelum melakukan pembelian sepeda motor suzuki. 6) keluarga lebih mengetahui kualitas sepeda motor suzuki dibandingkan dengan kualitas sepeda motor merek lainnya. 7) sepeda motor suzuki mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga, maka keluarga akan mengambil keputusan untuk membeli sepeda motor suzuki. 8) keluarga menentukan untuk membeli sepeda motor suzuki. 9) anggota keluarga dengan nyata melakukan pembelian sepeda motor suzuki. 10) anggota keluarga menggunakan sepeda motor suzuki. variabel keputusan pembelian mengacu pada fitriyah (2013) dan berdasarkan dari peneliti terdahulu. indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur keputusan pembelian adalah sebagai berikut. 1) konsumen membeli merek x karena merasa membutuhkan kendaraan alternatif untuk pergi bekerja. 2) konsumen membeli merek x karena merasa membutuhkan kendaraan untuk bepergian. 3) konsumen mengunjungi dealer resmi merek x untuk mendapatkan informasi produk merek x. 4) konsumen mengunjungi situs resmi merek x untuk mendapatkan informasi produk merek x. 5) konsumen merasa merek x menjadi pilihan alternatif dari pada motor merek yang lain. 6) konsumen merasa merek x lebih baik dari pada merek produk lain. 7) konsumen merasa merek x cocok dengan dirinya. 8) konsumen memutuskan untuk membeli merek x karena sesuai dengan yang diharapkan. 9) konsumen merasa puas dengan fitur yang dimiliki merek x. 10) konsumen akan melakukan pembelian ulang kembali atas merek x. hasil dan pembahasan sebelum melakukan analisis citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas pengukuran. pengukuran validitas digunakan korelasi pearson product moment. jika korelasi pearson product moment antara masing-masing pernyataan dengan skor total menghasilkan nilai korelasi (r hitung) > 0,3 maka item pernyataan dinyatakan valid. untuk mengukur reliabilitas alat ukur (kuesioner) digunakan nilai cronbach alpha. jika cronbach alpha (α) lebih besar dari 0.6, maka kuesioner dinyatakan reliabel. dari hasil olah data didapat bahwa semua indikator valid dan reliabel. tabel 1 hasil analisis regresi pengaruh x1, dan x2 terhadap y model koefisien regresi t sig. 1 (constant) 0,305 6,599 0,000 x1 0,148 6,615 0,000 x2 0,486 6,734 0,025 r = 0,693 r square = 0,481 std. error = 0,81493 sumber: data diolah, 2016 ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 39 dari tabel 1, maka dapat diperoleh model persamaan regresi yang tersusun adalah sebagai berikut. y = β 0 + β 1 x 1 + β 2 x 2 + e y = 0,305 + 0,148x 1 + 0,486x 2 + e di mana: x1 = citra merek x2 = keluarga y = keputusan pembelian persamaan di tabel 1 jika dijabarkan menurut koefisien regresi maka artinya sebagai berikut. a. βo = 0, 305 nilai konstanta sebesar 0,305 menunjukkan bahwa jika diasumsikan nilai variabel bebas yang terdiri dari citra merek, dan keluarga sedangkan variabel terikatnya adalah variabel keputusan pembelian. b. β 1 = 0, 148 nilai koefisien regresi variabel citra merek adalah sebesar 0,148 nilai ini menunjukkan bahwa variabel independen citra merek (x1) berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian (y) dengan nilai koefisien sebesar 0,148. c. β 2 = 0,486 nilai koefisien regresi variabel keluarga adalah sebesar 0,486 nilai ini menunjukkan bahwa variabel independen keluarga (x3) berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian (y) dengan nilai koefisien sebesar 0,486. berdasarkan tabel 1 nilai signifikan dari hasil regresi berganda citra merek sebesar 0,000, dan keluarga sebesar 0,083. nilai signifikan tiap variabel <0,05 sehingga variabel citra merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, dan keluarga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. dari tabel 1, angka r square (r2) pada adjusted r square adalah 0,481 yang berarti bahwa variabel x1, x2 mampu menjelaskan model sebesar 48,1%. selain itu, uji simultan (uji f) dinyatakan valid jika nilai signifikansi dari semua variabel bebas, yaitu <0,05 (ghozali, 2005) untuk mengetahui pengaruh secara bersamaan atau simultan antara x1, danx2 terhadap y. berdasarkan tabel 2, diperoleh hasil uji f, yaitu pengujian bersama-sama atau simultan pengaruh antara citra merek (x1) dan keluarga (x2) terhadap keputusan pembelian (y). hasil pengujian ini menyatakan bahwa besarnya nilai f hitung > f tabel yaitu 44,910 > 2,70, dan angka nilai signifikansi <0,05 sehingga h0 ditolak dan h1 diterima. jika h0 ditolak dan h1 diterima berarti secara simultan variabelvariabel bebas berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat. kesimpulannya hipotesis penelitian dapat diterima maka variabel citra merek (x1), dan keluarga (x2) berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian (y) sepeda motor merek suzuki. tabel 2 uji f sumber: data diolah, spss, 20,00 selain uji f, penelitian ini juga melakukan uji t. uji parsial (uji t) dinyatakan valid jika nilai signifikansi tiap variabel bebas yaitu <0,05 (ghozali, 2005). pengujian pengaruh secara parsial dilambangkan dengan besar koefisien model sum of squares df mean square f sig. 1 regression 673,382 2 336,691 44, 910 ,000b residual 727,208 97 7,497 total 1400,59 0 99 business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 40 uji t untuk masing-masing variabel bebas dapat dilihat pada tabel 3. tabel 3 uji t variabel keluarga (x2) mempunyai t hitung < t tabel yaitu 6,452 < 1,985. nilai koefisien β pada penelitian ini yakni 0,327 dan tingkat signifikansi = 0,025 (< 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa keluarga (x2) berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian sebesar 0,025 sehingga jika variabel keluarga (x2) naik sebesar satu satuan maka variabel keputusan pembelian (y) naik sebesar 0,025. pembahasan berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa suzuki dipandang masih memiliki citra merek yang positif bagi konsumen sehingga membuat konsumen melakukan pembelian terhadap sepeda motor suzuki. citra merek dengan keputusan pembelian sangatlah erat kaitannya, karena konsumen sebelum melakukan pembelian menempatkan citra merek sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan pembelian (sari, 2013). kotler & keller (2012) menyatakan bahwa citra merek yang dikelola dengan baik akan menghasilkan konsekuensi yang positif, meliputi: (1) meningkatkan pemahaman terhadap aspek-aspek perilaku konsumen dalam mengambil keputusan pembelian; (2) memperkaya orientasi konsumsi terhadap hal-hal yang bersifat simbolis lebih dari fungsi-fungsi produk; (3) meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk; (4) meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan, mengingat inovasi teknologi sangat mudah untuk ditiru oleh pesaing. penciptaan citra yang baik pada suatu merek menjadi salah satu karakteristik dasar dalam orientasi pemasaran modern, yaitu lewat pemberian perhatian lebih serta penciptaan sumber: diolah, spss, 20,00 pengaruh citra merek dan keluarga secara parsial terhadap keputusan pembelian dapat dijelaskan sebagai berikut. a. pengaruh citra merek (x1) terhadap keputusan pembelian. hipotesis: h0: tidak ada pengaruh signifikan secara parsial antara x1 terhadap y h1: ada pengaruh signifikan secara parsial antara x1 terhadap y variabel citra merek (x1) mempunyai t hitung > t tabel yaitu 6,734 > 1,985. nilai koefisien β pada penelitian ini yakni 0,591 dan tingkat signifikansi = 0, 000 (< 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa citra merek (x1) berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian sebesar 0,000 sehingga jika variabel citra merek (x1) naik sebesar satu satuan maka variabel keputusan pembelian (y) naik sebesar 0,000. b. pengaruh keluarga (x2) terhadap keputusan pembelian. hipotesis: h0: tidak ada pengaruh signifikan secara parsial antara x2 terhadap y. h1: ada pengaruh signifikan secara parsial antara x2 terhadap y. model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. b std. error beta 1 (constant) 0,305 2,486 6,599 ,000 x1 ,148 ,110 ,591 6,615 ,000 x2 ,486 ,077 ,327 6,734 ,025 ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 41 merek yang kuat (wicaksana, 2007). pelanggan cenderung memilih merek yang sudah dikenal karena merasa aman dengan sesuatu yang dikenal dan beranggapan merek tersebut kemungkinan bisa diandalkan dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan (tambunan, 2012). dengan demikian, merek diduga memengaruhi keputusan pembelian. semakin baik citra merek bagi konsumen, semakin besar keputusan pembelian produk makanan dengan merek tersebut (tambunan, 2012). implikasi dari hal tersebut menjadikan merek suatu produk menciptakan image dari produk itu sendiri di benak pikiran konsumen dan menjadikan motivasi dasar bagi konsumen dalam memilih suatu produk (vranesevic, 2003). konsumen memandang bahwa suzuki memiliki citra yang baik di kalangan produk sepeda motor di surabaya sehingga membuat konsumen melakukan pembelian terhadap sepeda motor merek suzuki. berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa keluarga memiliki pengaruh bagi konsumen ketika mereka melakukan pengambilan keputusan dalam pembelian sepeda motor suzuki. dalam penelitian ini, keluarga diukur dari enam faktor yaitu pencetus, pemberi pengaruh, penjaga pintu, pengambilan keputusan, pembeli, dan pemakai. kotler & keller (2012) menyatakan bahwa suatu keluarga dapat memberikan pengaruh terhadap seorang anggota keluarganya dalam pengambilan keputusan, terutama pembelian barang mewah, seperti sepeda motor. dalam suatu keluarga adanya suatu keterlibatan dan dominasi peran yang terjadi antar individu dalam keluarga (sari, 2013). pada umumnya, konsumen cenderung berunding terlebih dahulu dengan anggota keluarga apabila akan membeli suatu produk yang dinilai penting. keluarga dapat memberikan pengaruh dalam bentuk saran kepada seseorang dalam hal mempertimbangkan sebuah keputusan untuk membeli produk, seperti pembelian produk sepeda motor. biasanya mereka memberikan saran tentang apa yang mereka rasakan saat menggunakan produk tersebut dan kepuasan yang mereka rasakan setelah mereka menggunakan produk tersebut (debora, sulistyowati, & musfar, 2014). dari hasil penelitian, di lapangan membuktikan bahwa keluarga di mata responden mempunyai peran terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek suzuki, yaitu memberikan informasi mengenai keunggulan/kelebihan merek suzuki, memberi pendapat, memberi pengaruh, mengontrol arus informasi, mengambil keputusan, melakukan pembelian, dan menggunakan sepeda motor merek suzuki. implikasi penelitian hasil penelitian menyatakan bahwa konsumen memandang suzuki memiliki citra merek yang baik. pelanggan cenderung memilih merek yang sudah dikenal karena merasa aman dengan sesuatu yang dikenal dan beranggapan merek tersebut kemungkinan bisa diandalkan dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan citra merek ini dapat lebih ditingkatkan dan lebih mudah diingat maka perusahaan lebih meningkatkan promosi produk dari sepeda motor suzuki, seperti melakukan periklanan, baik di media elektronik maupun media cetak, dan mengadakan pameran otomotif sehingga merek suzuki dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas. selain itu, suzuki dapat meningkatkan teknologinya, seperti lebih hemat bahan bakar, cc untuk sepeda motor lebih besar dan penambahan aksesoris yang lebih menarik bila dibandingkan dengan merek pesaing. dengan business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 42 memperhatikan teknologi, produk-produk dari sepeda motor suzuki akan lebih berkualitas sehingga konsumen akan banyak melakukan pembelian dan suzuki akan memenangkan persaingan di bidang otomotif. selain itu, suzuki juga dapat merangkul keluarga untuk terlibat langsung dan mengalami pengalaman yang menarik selama berkendara menggunakan sepeda motor suzuki. daftar pustaka anggar, k. 2012. analisis pengaruh harga, kualitas produk, dan promosi terhadap keputusan pembelian sepeda motor honda. skripsi dipublikasikan. semarang: fakultas ekonomi dan bisnis, universitas diponegoro. annafik, a. 2012. analisis pengaruh kualitas produk, harga, dan daya tarik iklan terhadap minat beli sepeda motor yamaha. skripsi dipublikasikan. semarang: fakultas ekonomi dan bisnis, universitas diponegoro. bagaskara, m. 2014. pengaruh kualitas produk, harga dan citra merek terhadap keputusan pembelian sepeda motor honda vario di semarang. skripsi dipublikasikan. semarang: fakultas ekonomi dan bisnis, universitas diponegoro. debora, r., sulistyowati, & musfar, t. 2014. pengaruh keluarga dan kelompok referensi terhadap keputusan konsumen membeli kosmetika khusus pria merek garnier men. jom fekon, 1(2), 1-11. engel, j., blackwell, r. d., & miniard, p. w. 2001. consumer behavior (9 ed.). orlando: harcourt. fitriyah, n. 2013. pengaruh kelompok acuan dan keluarga terhadap keputusan pembelian batik tulis jetis pada toko amri jaya sidoarjo. fristiana, d. a. 2012. pengaruh citra merek dan harga terhadap keputusan pembelian pada ramai swalayan peterongan semarang. jurnal ilmu administrasi bisnis. kotler, p., & keller, k. l. 2012. marketing management (14 ed.). new jersey: prentice hall. ma’ruf, h. 2015. pengaruh kualitas produk, harga, citra merek, dan iklan terhadap keputusan pembelian motor yamaha matic di purwodadi. surakarta: fakultas ekonomi dan bisnis, universitas muhammadiyah surakarta. nugroho, f. y. 2011. pengaruh citra merek dan kepuasan pelanggan terhadap loyalitas konsumen. yogyakarta: fakultas pertanian upn “veteran”. ong, i., & sugiharto, s. (2013). analisa pengaruh strategi diferensiasi, citra merek, kualitas produk, dan harga terhadap keputusan pembelian pelanggan di cincau station surabaya. jurnal manajemen pemasaran. pradipta, d.a. 2012. pengaruh citra merek terhadap loyalitas konsumen produk oli pelumas pt pertamina (persero) enduro 4t di makassar. skripsi. makasar: universitas hasanuddin. pringle, h., & thompson, m. 2001. brand spirit. new jersey: john wiley and sons, ltd. rangkuti, f. 2004. the power of brands, teknik mengelola brand equity dan strategi pengembangan merek. jakarta: pt gramedia pustaka utama. runyon, k. 2001. consumer behavior and the practice of marketing. toronto: merill publishing, co. ratri amelia aisyah, pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor suzuki di universitas muhammadiyah surabaya 43 sangadji, e., & sopiah. 2013. perilaku konsumen dan pendekatan praktis disertai himpunan jurnal penelitian. yogyakarta: andi. sari, k.s. 2013. pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian honda beat. jurnal ilmu manajemen. simamora, b. 2003. aura merek. jakarta: pt ikrar mandiri abadi. sumarwan, u. 2011. perilaku konsumen: teori dan penerapan dalam pemasaran. bogor: ghalia indonesia. susanto, a. & widjanarko, h. 2004. power branding. jakarta: quantum bisnis dan manajemen. sutisna. 2003. perilaku konsumen dan komunikasi pemasaran. bandung: pt remaja rosdakarya. vranesevic, t. 2003. the effect of the brand on perceived quality of food products. british food journal, 105(11), 811– 825. 01 arief.pmd rahmat setiawan & valiant mahdi syihaby nur hasyim, determinan metode pembayaran akuisisi di indonesia: bukti empiris di indonesia 141141 determinan metode pembayaran akuisisi di indonesia: bukti empiris di indonesia rahmat setiawan & valiant mahdi syihaby nur hasyim fakultas ekonomi dan bisnis, universitas airlangga e-mail: rahmatsetiawan@feb.unair.ac.id & valiant.mahdi.syihaby-2016@feb.unair.ac.id abstract: this research purpose to examine what factor that determine method of payment acquisition in indonesia. the period of sample during 2000-2017 and using multinomial logistic regression. there are 85 samples of transactions (57 using cash payment, 18 using mix payment, and 10 using stock payment). independent variables are market to book ratio, market capitalization, tobin’s q, cash flow, and standard deviations of return. acquirer correlation as a control variable. this study find that market to book ratio has positive effect on stock and mix payment method than cash payment method at 10%. tobin’s q has positive effect on mix payment method than cash payment method at 10%. keywords: acquisition, method of payment acquisitions, market to book ratio, market capitalization, tobin’s q, cash flow, standard deviations of return, acquirer correlation a. pendahuluan akuisisi merupakan langkah yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh pertumbuhan perusahaan secara anorganik. motif utama dilakukannya akuisisi adalah sinergi. sinergi tersebut diperoleh dari peningkatan pendapatan, cost reduction, tax gains, dan tereduksinya biaya modal. ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan akuisisi, perusahaan harus memikirkan metode pembayaran apa yang akan dipilih karena terkait apakah transaksi yang dilakukan undervalue ataukah overvalue. transaksi akuisisi dapat dilakukan dengan tiga metode pembayaran, yaitu kas, saham, dan campuran (kombinasi antara kas dengan saham). market to book ratio, kapitalisasi pasar, tobin’s q, cash flow, dan standard deviasi return saham dapat memengaruhi metode pembayaran akuisisi. bouwman, et al (2006) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa akuisitor akan memilih metode pembayaran akuisitor dengan saham apabila market to book ratio tinggi karena memiliki intangible asset dan peluang pertumbuhan yang lebih besar. ismail dan krause (2010), dan boone, et al (2014), mengungkapkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar akuisitor yang tinggi akan menggunakan metode pembayaran akuisisi dengan kas. alshwer et al. (2011) dan yang et al. (2017) mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa akuisitor yang memiliki nilai tobin’s q tinggi cenderung untuk tidak memilih metode pembayaran akuisisi dengan kas dan lebih memilih untuk melakukan penghematan kas demi menghindari opportunity cost proyek yang memiliki net present value (npv) positif di masa datang. cash flow positif dan signifikan terhadap pilihan metode pembayaran akuisisi dengan kas pada hasil penelitian yang dilakukan oleh yang et al. (2017). penelitian yang dilakukan oleh boone et al. (2014) dan hasyim (2015) menunjukkan bahwa semakin tinggi standard deviasi return saham, maka akusitor akan memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham atau sebagian dengan saham ketika ada ketidakpastian value akuisitor lebih tinggi dan sebaliknya akuibusiness and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 142 sitor yang memiliki standard deviasi rendah akan memilih metode pembayaran akuisisi kas. korelasi bisnis akuisitor merupakan variabel kontrol pada penelitian ini. mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi metode pembayaran akuisisi di indonesia periode 2000–2017 sebagai fokus pada penelitian ini. b. studi pustaka dan uji hipotesis 1. market to book ratio market to book ratio adalah rasio antara market value saham perusahaan dengan book value ekuitas perusahaan. perusahaan yang dikelola dengan baik dan beroperasi secara efisien dapat memiliki nilai pasar yang lebih tinggi daripada nilai buku asetnya (sudana, 2011:24). apabila akuisitor yang memiliki market to book ratio tinggi, maka akan membayarkan biaya akuisisi yang lebih rendah dengan menggunakan saham daripada menggunakan kas. menghitung market to book ratio dengan persamaan berikut. nilai buku ekuitas = market to book ratio = keterangan: total ekuitas = total ekuitas akuisitor jumlah saham yang beredar = jumlah saham akuisitor yang beredar closed price = harga pasar per lembar saham akuisitor hipotesis dirumuskan sebagai berikut. h1.1: semakin tinggi market to book ratio, maka akan semakin tinggi pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. h1.2: semakin tinggi market to book ratio, maka akan semakin tinggi pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. 2. kapitalisasi pasar kapitalisasi pasar merupakan hasil perkalian antara harga per lembar saham dengan jumlah saham yang beredar. apabila akuisitor memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar daripada perusahaan target, maka akan memilih metode pembayaran kas demi keuntungan bersih yang lebih besar dibandingkan menggunakan metode pembayaran saham apabila sinergi tercapai. menghitung kapitalisasi pasar dengan persamaan berikut. kapitalisasi pasar = closed price i x outshare i keterangan: closed price i = harga pasar per lembar saham akuisitor i outshare i = jumlah saham beredar akuisitor i hipotesis dirumuskan sebagai berikut. h2.1: semakin tinggi kapitalisasi pasar, maka akan semakin tinggi pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. h2.2: semakin tinggi kapitalisasi pasar, maka akan semakin tinggi pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. 3. tobin’s q kinerja perusahaan dapat di-proxy-kan dengan menggunakan tobin’s q untuk menilai bagaimana prospek pertumbuhan perusahaan di masa mendatang. hasil dari penelitian yang dilakukan oleh alshwer et al. (2011), nini et al. (2009), dan yang et al. (2017) menunjukkan rahmat setiawan & valiant mahdi syihaby nur hasyim, determinan metode pembayaran akuisisi di indonesia: bukti empiris di indonesia 143 cash flow = keterangan: netprofit i = laba bersih akuisitor i depreciation i = depresiasi akuisitor i ta i = total aset akuisitor i hipotesis dirumuskan sebagai berikut. h4.1: semakin tinggi cash flow, maka akan semakin rendah pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. h4.2: semakin tinggi cash flow, maka akan semakin rendah pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. 5. standar deviasi return saham risiko tidak sampainya suatu informasi ke pasar dan tingkat asimetri informasi diukur menggunakan standard deviasi return saham. boone et al. (2014) dan hasyim (2015) mengungkapkan hasil penelitian bahwa akuisitor yang memiliki standard deviasi return saham tinggi akan memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham atau campuran. menghitung standar deviasi return saham dengan persamaan berikut. sd = keterangan: r i = return saham akuisitor i = return saham rata-rata n-1 = jumlah sampel-1 hipotesis dirumuskan sebagai berikut. h5.1: semakin tinggi standar deviasi return saham maka semakin rendah pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. bahwa akuisitor yang memiliki nilai tobin’s q tinggi cenderung untuk memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dan campuran. hal ini ditengarai adanya keinginan akuisitor untuk melakukan penghematan kas guna proyek yang menghasilkan net present value di masa mendatang. menghitung tobin’s q dengan persamaan berikut. tobin’s q i = keterangan: emv i = equity market value akuisitor i td i = total debt akuisitor i bvta i = book value total aset akuisitor i hipotesis dirumuskan sebagai berikut: h3.1: semakin tinggi tobin’s q, maka akan semakin tinggi pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. h3.2: semakin tinggi tobin’s q, maka akan semakin tinggi pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. 4. cash flow kesehatan keuangan suatu perusahaan dapat dilihat bagaimana arus kasnya (cash flow). akuisitor dengan cash flow yang besar cenderung untuk memilih metode pembayaran akuisisi dengan kas (yang et al., 2017). besarnya cash flow ini cenderung menguntungkan perusahaan untuk menggunakan metode pembayaran akuisisi dengan kas dibandingkan dengan metode pembayaran lainnya walaupun pada metode pembayaran kas terdapat pajak yang harus dibayarkan. menghitung cash flow dengan persamaan berikut. business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 144 b. variabel independen variabel independen yang digunakan adalah market to book ratio, kapitalisasi pasar, tobin’s q, cash flow, dan standard deviasi return saham akuisitor. c. variabel kontrol variabel kontrol pada penelitian ini adalah korelasi akuisitor. 3. model penelitian model analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah multinomial logit. berikut model yang digunakan dalam penelitian: market capitalization, tobin’s q, cash flow, standard deviations of return, acquirer correlation. a) metode pembayaran akuisisi dengan saham: saham i = ln (p (saham)/p (kas)) = β0 + β1.mtb i + β2.marcap i + β3.q i + β4.cashflow i + β5. sdreturns i + β6. korac i b) metode pembayaran akuisisi dengan campuran: campuran i = ln (p (campuran)/p (kas)) = β0 + β1.mtb i + β2.marcap i + β3.q i + β4.cashflow i + β5. sdreturns i + β6. korac i keterangan: saham i : variabel dependen metode pembayaran akuisisi dengan saham akuisitor i campuran i : variabel dependen metode pembayaran akuisisi dengan campuran akuisitor i β n : koefisien regresi mtb i : market to book ratio akuisitor i marcap i : kapitalisasi pasar akuisitor i q i : tobin’s q akuisitor i cashflowi : cashflow akuisitor i sdreturns i : risiko return saham akuisitor i korac i : korelasi bisnis akuisitor i h5.2: semakin tinggi standard deviasi return saham, maka akan semakin rendah pula probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. 6. korelasi akuisitor keputusan perusahaan dalam mengakuisisi perusahaan target apakah berada dalam korelasi bisnis yang sama dengan akuisitor ataukah tidak memiliki korelasi bisnis dengan akuisitor. akuisitor apabila melakukan akuisisi dengan perusahaan target di industri yang sama dengan tujuan memperoleh economies of scale (fluck dan lynch, 1999) dan apabila mengakuisisi perusahaan target yang bukan berada di industri yang sama dengan tujuan memperoleh economies of scope. c. metodologi dan data 1. sampel akuisitor yang sahamnya tercatat di bursa efek indonesia (bei) dan melakukan akuisisi dengan persentase � 50% pada periode 2000– 2017 adalah sampel dari penelitian ini dengan jumlah 85 transaksi akuisisi. data transaksi diambil dari thomson reuters eikon. 2. variabel a. variabel dependen variabel dependen pada penelitian ini adalah metode pembayaran akuisisi. apabila akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham diberi kode 0, akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran diberi kode 1, dan akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan kas diberi kode 2. rahmat setiawan & valiant mahdi syihaby nur hasyim, determinan metode pembayaran akuisisi di indonesia: bukti empiris di indonesia 145 d. hasil penelitian 1. deskriptif statistik berdasarkan tabel 1, market to book ratio memiliki nilai minimum 0,059568, maksimum 69,1689, dan nilai rata-rata 3,8299. hal ini mengindikasikan bahwa akuisitor memiliki saham yang overvalue. kapitalisasi pasar memiliki nilai minimum 10,6808, nilai maksimum 14,0974, dan nilai rata-rata 12,6294. akuisitor di indonesia memiliki kapitalisasi pasar yang cukup tinggi. tobin’s q memiliki nilai minimum 0,0934, nilai maksimum 9,3198, dan nilai ratarata 1,4576. perusahaan yang melakukan akuisisi di indonesia di indikasikan memiliki growth opportunity prospect yang rendah. variabel cash flow memiliki nilai minimum -0,0474, nilai maksimum 1,4976, dan nilai ratarata 0,2164. hal ini mengindikasikan bahwa akuisitor di indonesia memiliki nilai arus kas yang cukup rendah. standard deviasi return saham akuisitor memiliki nilai minimum 0, nilai maksimum 1,6162, dan nilai rata-rata 0,0407. return saham akuisitor memiliki nilai deviasi yang rendah. tabel 1 deskriptif statistik variabel penelitian hasil ini juga sama dengan metode pembayaran akuisisi dengan campuran terkait market to book ratio yang tinggi akan membuat probabilitas akuisitor untuk pilihan metode pembayaran dengan nilai odds ratio sebesar 1,801. probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran lebih tinggi dengan nilai odds ratio yang lebih tinggi daripada metode pembayaran akuisisi dengan saham. semakin tinggi nilai tobin’s q akuisitor, maka akan semakin rendah probabilitas akuisitor untuk memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. nilai odds ratio sebesar 0,226. hasil ini menandakan bahwa akuisitor yang memiliki prospek pertumbuhan yang lebih baik di masa mendatang cenderung untuk memilih metode pembayaran akuisisi dengan kas. hal ini dimungkinkan karena biaya akuisisi yang lebih murah daripada menggunakan metode pembayaran akuisisi dengan campuran ataupun saham. tabel 2 analisis regresi n min max mean std dev mtb marcap q cashflow sdreturn 85 85 85 85 85 0,0596 10,6808 0,0934 -0,0474 0 69,1689 14,0974 9,3198 1,4976 1,6162 3,8299 12,6294 1,4576 0,2164 0,0407 10,0083 0,8338 1,4702 0,2202 0,1758 2. determinan metode pembayaran akuisisi hasil analisis regresi menyatakan bahwa semakin tinggi nilai market to book ratio, maka akan semakin tinggi probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas dan nilai odds ratio sebesar 1,727. metode pembayaran variabel b sig. exp (b) saham mtb marcap q cashflow sdreturn korac 0,546 0,254 -1,274 -1,440 -1,318 -0,684 0,075* 0,643 0,145 0,512 0,651 0,476 1,727 1,289 0,280 0,237 0,268 0,504 campuran mtb marcap q cashflow sdreturn korac 0,588 0,569 -1,486 -0,979 -10,417 -1,248 0,054* 0,234 0,085* 0,570 0,490 0,105 1,801 1,766 0,226 0,376 2,992e-005 0,287 pseudo r2 0,211 chi2 0,263 *, **, *** tingkat signifikan pada 10%, 5%, dan 1% e. kesimpulan hasil penelitian ini mengonfirmasi hasil penelitian yang telah dilakukan oleh bouwman et al. (2006) dan yang et al. (2017). di mana business and finance journal, volume 4, no. 2, october 2019 146 semakin tinggi market to book ratio, maka akan semakin tinggi probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham atau campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. semakin tinggi tobin’s q, maka semakin tinggi probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. pada penelitian hasyim (2015) menyatakan bahwa semakin tinggi standard deviasi return saham akuisitor, maka semakin rendah probabilitas akuisitor memilih metode pembayaran akuisisi dengan saham atau campuran dibandingkan metode pembayaran akuisisi dengan kas. pada penelitian terbaru ini, standar deviasi return saham akuisitor tidak memengaruhi metode pembayaran akuisisi. f. daftar rujukan alshwer, a.a., et al. 2011. financial constraints and the method of payment in mergers and acquisitions. ssrn. boone, audra l., et al. 2014. time trend and determinant of the method of payment in m&as. journal of corporate finance, 27, 296-304. bouwman, christa h.s., et al. 2006. market valuation and acquisition quality: empirical evidence. review of financial studies, forthcoming. fluck, z. & a. lynch. 1999. why firms merge and then divest: a theory of financial synergy. journal of business, 72, 319–346 hasyim, valiant m.s. nur. 2015. determinan metode pembayaran akuisisi di indonesia: periode 2000–2014. skripsi. fakultas ekonomi dan bisnis. universitas airlangga. ismail, ahmad dan krause, andre. 2010. determinants of the method of payment in mergers and acquisitions. the quarterly review of economics and finance, 50, 471–484 yang, junhong, et al. 2017. to what extent does corporate liquidity affect m&a decisions, method of payment and performance? evidence from china. journal of corporate finance, xx, xxx-xxx. 00 atribut.pmd erna ferrinadewi, martinus rukismono, faktor yang dipertimbangkan buyer dalam keputusan pembelian hasil laut olahan produksi indonesia 7777 faktor yang dipertimbangkan buyer dalam keputusan pembelian hasil laut olahan produksi indonesia erna ferrinadewi, martinus rukismono universitas widya kartika surabaya e-mail: ferrinadewi@gmail.com abstract: considering indonesia’s marine goods has big potential and world’s fish consumption per capita which is 20kgs per year, we should be able to utilize it maximally. it will become biggest contribution to indonesia’ economy as maritime country. however, in reality indonesia marine goods export tends to decrease 3.25% since 2014 and marine export contribution to pdb so far is no more than 30%. ukm face problem in expanding market area and competition in international marine goods processed where thailand and vietnam has more competitive price. this objective of this research is identifying what consideration factors of international buyer in their decision to buy indonesia marine goods. it involves 10 buyers of gulama bubbles, snapper bubbles, manyung bubbles and kurau bubbles. data gathered through depth interview with respondent personally and later on describes and analyses deeper. the result of analysis is researcher able to identify a number of consideration factors used by buyer in their decision to buy fish bubbles and sea cucumber which are colour, freshness, fish type, moistures, hygiene factors and sales service speed. keywords: purchase decision, consumer behaviour, product of the sea pendahuluan indonesia adalah negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua setelah kanada yaitu 55.000 km dan di antara dua samudra, yaitu samudra hindia dan samudra pasifik serta merupakan negara kepulauan 1.904.000 m2 tentunya memiliki potensi perairan yang tidak sedikit. jumlah tangkapan ikan di indonesia mencapai 5.4 juta per tahun. menurut indonesia maritime institute (imi) potensi laut indonesia mencapai enam kali lipat dari anggaran pendapatan dan belanja negara (apbn). namun, meskipun indonesia merupakan negara yang kaya laut, tapi potensi kelautannya belum dimanfaatkan secara maksimal (https://www.hrcindonesia.org/ potensi-laut-indonesia-senilai-7200-tri). berdasarkan data badan pusat statistik (bps), pada januari-oktober 2017 ekspor produk perikanan indonesia hanya 862,1 ribu ton, jumlah lebih kecil dari periode yang sama tahun sebelumnya. pencapaian ekspor tahun 2015 yang mencapai 1,1 juta ton dan 2014 yang menyentuh angka 1,3 juta ton. tahun 2024 mendatang, food agriculture organization (fao) menyebut potensi pasar produk perikanan global mencapai 240 juta ton per tahun dan indonesia berpotensi menguasai 25 persen dari potensi global. potensi laut indonesia belum maksimal dimanfaatkan bahkan cenderung menurun nilai ekspor hasil laut indonesia dari tahun ke tahun (https://www.aa.com.tr/ id/ekonomi/kadin-pemanfaatan-potensi-laut-indonesia-belum-maksimal/1027120). sementara kebutuhan konsumsi ikan per kapita di dunia rata-rata mencapai 9,9 kg per tahun. angka konsumsi rata-rata perkapita ini menurut organisasi food and agriculture (fao) meningkat menjadi 14,4 kg per tahun pada tahun 1990-an dan tahun 2009 rata-rata konsumsi perkapita meningkat menjadi 18,1kg. tahun 2014 konsumsi hasil laut rata-rata perkapita telah mencapai 20kg per tahun. angka ini menunjukkan tingginya kebutuhan akan konsumsi business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 78 ikan laut sebagai sumber protein, asam lemak omega 3, vitamin, kalsium, dan zat besi. namun data menyebutkan penurunan angka ekspor produk hasil laut sejak tahun 2014. berdasarkan data dirjen penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan (kkp) terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 3.25% namun demikian nilai ekspor mengalami kenaikan tren yang signifikan untuk negara tujuan cina, asean, dan uni eropa. peningkatan tertinggi ekspor adalah negara cina mencapai 10.25% berdasarkan data dirjen kkp. negara cina merupakan negara dengan permintaan impor makanan laut yang terus meningkat signifikan dari tahun 2009 dan diperkirakan hingga tahun 2020, permintaan impor makanan laut di negara cina akan meningkat lebih dari us$ 20 juta dari seluruh negara di dunia (a report by caplog group, with the support of edf mexico, 2014). hal ini merupakan kesempatan emas bagi industri makanan laut khususnya gelembung perut ikan, namun sangat disayangkan ketika potensi kelautan indonesia ini belum dimanfaatkan secara maksimal. hasil laut dapat berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian indonesia. letak geografis indonesia dan panjangnya garis pantai serta kenyataan bahwa indonesia adalah negara kepulauan dengan 2/3 wilayahnya berupa laut seharusnya potensi ekonomi indonesia sektor kelautan melebihi negara thailand bahkan jepang dan diperkirakan mampu menyerap 40 juta tenaga kerja. kenyataannya kontribusi ekonomi sektor kelautan indonesia masih di bawah 30% terhadap pdb nasional. maka langkah yang tepat ketika pemerintah era jokowi ini memiliki kebijakan kelautan yang bercita-cita indonesia sebagai poros maritim dunia, dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat yang dijabarkan dalam tujuh komponen kebijakan yaitu menumbuhkan budaya maritim, memanfaatkan sebesar-besarnya hasil laut untuk kesejahteraan rakyat, membangun tata ruang dan lingkungan laut yang lebih baik, membangun infrastruktur dan konektivitas antar-pulau, membangun pendidikan dan teknologi tentang kemaritiman, menggalakkan diplomasi maritim, dan keamanan maritim. volume ekspor impor perikanan indonesia tahun 2012–2017 erna ferrinadewi, martinus rukismono, faktor yang dipertimbangkan buyer dalam keputusan pembelian hasil laut olahan produksi indonesia 79 diselesaikan dan melakukan keputusan pembelian menjadi alternatif penyelesaiannya. keputusan pembelian merupakan sebuah proses yang berjalan alami namun selaku diawali dengan adanya kesenjangan antara kenyataan dan kondisi yang diharapkan. dimulai dari identifikasi masalah kemudian dilanjutkan dengan pencarian informasi untuk selanjutnya informasi tersebut dievaluasi untuk mendapatkan alternatif terbaik sebagai pilihan dalam melakukan pembelian. sehingga dapat dikatakan bahwa keputusan pembelian merupakan proses yang secara sadar ataupun tidak sadar terjadi dalam benak konsumen (ferrinadewi, 2008). keputusan pembelian menjadi gambaran utama yang mampu menjelaskan perbedaan perilaku konsumen yang satu dengan lain, banyak ahli lain berpendapat bahwa keputusan pembelian meliputi paling sedikit lima aktivitas tersebut termasuk dalam keputusan pembelian produk makanan. dalam konteks produk makanan, konsumen menjadi sangat banyak pertimbangan dan hal ini wajar karena produk ini memiliki risiko kesehatan baik jangka panjang maupun jangka pendek. kandungan makanan seringkali menjadi faktor pertimbangan akan keamanan produk makanan dan kualitas yang diterima konsumen (chang, tseng, chu, 2013). regulasi uni eropa bahkan dengan jelas mengatur komponen traceability sebagai kemampuan produk makanan tersebut untuk ditelusuri dan diikuti kandungan makanan mulai dari proses produksi hingga distribusinya. dalam produk olahan hasil laut dalam hal ini ikan, seringkali frekuensi dan preferensi konsumen dipengaruhi oleh karakteristik geografi, sosial, dan budaya yang spesifik (verbeke dan vackler, 2005). bahkan pilihan konsumsi ikan konsumen dipengaruhi juga oleh kriteria-kriteria sensorik seperti aroma, tekstur, pt mega mandiri merupakan ukm yang bergerak di bidang pengolahan hasil laut berupa gelembung perut ikan seperti ikan gulama, ikan kakap, ikan kurau, ikan hipyo, dan teripang. hingga saat ini buyer ukm ini berasal dari negara hongkong, singapore, dan sedikit dari negara cina. produk ukm ini bersaing dengan negara vietnam dan thailand. hasil ekspor ukm ini menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun namun ukm ini mengalami kesulitan untuk menambah area pemasaran yang lebih luas di cina, hal ini sangat disayangkan mengingat negara cina merupakan negara dengan tren permintaan yang meningkat dan kesempatan ini diambil oleh eksportir asal negara thailand dan vietnam. ukm ini bukannya tidak berupaya untuk meningkatkan jumlah permintaan dari negara cina salah satunya dengan pemanfaatan website sebagai sarana promosi dan pemasaran online, mengikuti bursa perdagangan ikan di hongkong untuk mendapatkan buyer baru, promosi, dan mengirimkan sampel secara door to door ke berbagai restauran, berupaya mendapatkan sertifikasi haccp namun demikian belum ada peningkatan signifikan terhadap jumlah permintaan dari negara cina. jika ukm tidak berupaya mengatasi masalah ini maka tidak menutup kemungkinan bisnis ini akan merugi. apakah terdapat sejumlah faktor yang dipertimbangkan pembeli dalam keputusan pembelian produk hasil olahan laut asal indonesia. tinjauan pustaka pembeli akan selalu berusaha memenuhi kebutuhannya dan melakukan pembelian merupakan salah satu jalan keluar yang dipilih memenuhi kebutuhan. pada dasarnya, kebutuhan konsumen merupakan masalah realitas yang harus business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 80 otot pada daging ikan tuna dan kesegaran warna daging ikan. process-oriented quality merupakan penilaian konsumen berdasarkan persepsi mereka melihat proses produksi menyeluruh produk makanan misalkan produk susu sapi apakah susu tersebut dihasilkan dari sapi yang diberi makan mengandung pestisida atau telur yang dihasilkan dari ayam yang disuntik hormon tertentu. konsumen membutuhkan deskripsi prosedur produksi yang dipakai walaupun prosedur tersebut tidak memberikan efek pada perubahan bentuk produk. quality control, konsumen dengan sudut pandang ini akan mencari standar produk yang harus dipenuhi untuk mendapatkan standardisasi tertentu misalkan standar kesehatan didasarkan pada kriteria ukuran produk, variasi produk, kandungan produk klasifikasi produk, dan lainnya. user-oriented quality, persepsi kualitas yang benar-benar hanya didasarkan pada sudut pandang konsumen saja tanpa pertimbangan rasional lainnya yang umum digunakan. keempat tipe kualitas produk makanan tersebut akan berkaitan satu sama lain di mana product-oriented quality bersama-sama dengan process-oriented quality dan quality control berinteraksi menjadi objective quality yang akan menciptakan user-oriented quality namun tentu saja ada variabel lain di luar objective quality yang turut memengaruhi user oriented quality seperti masalah harga, merek, dan aspek penjual (brunso et al., 2002). metodologi penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berupaya untuk mencari sejumlah faktor yang dipertimbangkan pembeli dalam dan rasa juga dipengaruhi oleh kriteria nonsensorik seperti perilaku masyarakat, keyakinan setempat, risiko makanan, dan karakter personal pembeli (honkanen et al. 2005). seperti masyarakat jepang dan turki yang menyukai konsumsi ikan segar bahkan mentah namun tidak demikian halnya di indonesia dan cina. produk ikan laut banyak diminati karena tingginya asam amino yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. demikian juga dengan gelembung ikan laut yang merupakan selaput tipis di antara daging dan perut ikan yang berfungsi membuat ikan mengapung di air. gelembung ikan laut memiliki kandungan asam amino sebesar 66.2% inilah sebabnya mengapa gelembung ikan laut banyak digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional dan makanan di asia (wen, 2016). perilaku konsumen merupakan disiplin ilmu yang berasumsi bahwa perusahaan yang ingin sukses dalam berbisnis harus mampu mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan keinginan secara spesifik dan berupaya memenuhinya dengan cara yang lebih baik daripada pesaing (schiffman dan kanuk, 2005). perilaku pembeli menjadi lebih kompleks karena dalam keputusan pembelian seringkali konsumen tidak mendasarkan keputusannya pada pertimbangan rasional namun juga dengan pertimbangan emosional psikologisnya. menurut grunert et al. (1995) dalam bruns (2002) berdasarkan persepsinya konsumen menilai kualitas produk makanan dapat dibedakan menjadi empat tipe kualitas makanan sebagai berikut. product-oriented quality merupakan persepsi konsumen yang menilai kualitas produk makanan berdasarkan tampilan fisik yang mampu memberikan deskripsi spesifik tentang produk tersebut seperti misalkan tampilan lemak dan erna ferrinadewi, martinus rukismono, faktor yang dipertimbangkan buyer dalam keputusan pembelian hasil laut olahan produksi indonesia 81 keputusan pembelian produk gelembung perut ikan produksi ukm pt mega mandiri. interview mendalam dilakukan dengan 10 pembeli aktif ukm yang telah melakukan pembelian lebih dari sekali. pembeli berasal dari hongkong, singapura, thailand, dan cina. tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sejumlah faktor yang dipertimbangkan pembeli dalam keputusan pembelian produk gelembung perut ikan. buyer atau responden adalah buyer yang membeli dalam jumlah grosir untuk dijual retail di negara masing-masing. hasil studi ini akan membantu pelaku ukm yang bergerak di bidang ekspor produksi olahan hasil laut untuk memahami dan mempersiapkan proses produksi yang mampu menghasilkan produk sesuai dengan standar preferensi pembeli internasional. hasil dan pembahasan gelembung perut ikan adalah salah satu bahan tradisional di cina yang memiliki nilai tinggi karena gelembung perut ikan kaya akan protein dan nutrisi seperti fosfor dan kalsium. sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan ginjal dan menjaga stamina, efektif untuk membantu mengatasi masalah paru-paru, anemia dan lainnya. termasuk makanan yang cocok dikonsumsi untuk segala usia dan merupakan jenis makanan yang sifatnya therapeutic. dalam dunia kecantikan, gelembung perut ikan juga sering digunakan karena mengandung bahan yang mampu menjaga kelembaban kulit. gelembung perut ikan tidak mengandung kolesterol sehingga aman dikonsumsi jangka panjang. kualitas gelembung perut ikan ditentukan dari warna, aroma, dan pola kulitnya. warna gelembung ikan yang berkualitas cenderung kuning dengan tampilan transparan dan kering. seain itu, kelembabannya kurang dari 10%. kualitas yang tidak stabil menjadi pertimbangan pertama pembeli luar negeri. standar kualitas dalam produk gelembung ikan memang belum dinyatakan secara resmi dalam ukuran yang dapat diterima semua pembeli. namun demikian dari hasil wawancara mendalam berhasil diidentifikasi kriteria kualitas terbaik gelembung perut ikan. gelembung perut ikan yang disukai di bangkok tentunya yang noda putihnya sedikit, meskipun warnanya lebih gelap tidak cerah asalkan noda putih tidak banyak ok lah... gelembung ikan dari indonesia bagus, tidak banyak noda putihnya. (buyer 1) kami tidak menyukai produk gelembung perut ikan yang ada noda putihnya, itu pasti kita tolak karena tidak ada yang mau membeli produk yang tidak segarkan, dan rasa juga berbeda.... (buyer 3) noda putih pada gelembung perut ikan merupakan tanda tingkat kesegaran produk, semakin banyak warna putih di dalam gelembung menunjukkan produk tersebut telah berkurang kesegarannya. namun bagi pembeli lain, kesegaran ini merupakan hal mutlak yang dipertimbangkan dalam arti tidak ada noda putih sama sekali. hal ini dapat dipahami karena gelembung perut ikan merupakan produk dengan banyak manfaat selain untuk dimakan dapat juga digunakan sebagai obat karena itu faktor kesegaran menjadi penting. kualitas produk makanan laut dinilai berdasarkan tingkat kesegarannya. kesegaran produk makanan laut merupakan hasil penilaian meliputi tampilan fisik perubahan warna dan tanda-tanda ikan yang cedera atau terluka, meskipun pada umumnya eksportir menilai kesegaran produk makanan laut berdasarkan pengalamannya saja (karlesen et al., 2015). “... pelanggan kami banyak yang tidak suka jika warna tidak cerah atau cenderung gelap, seperti business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 82 buah yang segar pasti warnanya juga cerah dan cantik kan....” (buyer 4). “.....warna harus cantik dan cerah. gelap tidak cantik... tidak segar... dimasak pun tidak enak rasanya... kita terima harus warna bagus, kurang bagus ya susah ditawarkan kembali di sini (hongkong)”. (buyer 2). tampilan produk merupakan hal pertama yang dilihat oleh calon pembeli terutama untuk produk makanan yang tidak saja dinilai dari soal rasa namun juga dinilai dari presentasi di hadapan pembeli. warna yang kurang menarik akan menimbulkan persepsi di benak konsumen akan rasa yang tidak enak karena warna merupakan salah satu stimuli yang mampu menciptakan persepsi yang berbeda antar-satu konsumen dengan lainnya (schiffman dan kanuk, 2012). tampilan warna juga sering digunakan oleh pembeli sebagai indikator kesegaran produk dan kualitas rasa (barrett et al., 2010). pembeli grosir gelembung perut ikan lebih menyukai warna yang kuning cerah atau pucat daripada warna yang lebih gelap. namun bagi pembeli retail warna yang gelap lebih menarik karena semakin gelap warnanya, gelembung ikan tersebut makin elastis ketika diproses menjadi makanan. dikaitkan dengan masalah harga, kelembaban produk menjadi pertimbangan utama beberapa buyer. kelembaban akan menentukan besaran berat yang akan dijadikan dasar dalam penentuan harga jual. jika terlalu kering, produk akan ditimbang semakin ringan dan pada akhirnya harga pun menjadi terlalu murah bagi penjual. sebaliknya jika terlalu lembab tentu timbangan menjadi lebih berat dan bagi pembeli akan merugi jika hendak dijual kembali. pemberi berkesimpulan bahwa dalam produk makanan seperti gelembung ikan ini faktor kelembaban menggambarkan kualitas yang diterima dengan harga yang dibayar. “... harus menguntungkanlah. terlalu lembab, kami rugi jika dijual kembali karena gelembung akan menyusut terus. kita harus cepat deal urusan harga....” (buyer 7). “ini produk makanan yang tak tahan lama... jadi gampang susut dan kami rugilah jika membeli kondisi terlalu lembab... di perjalanan ekspedisi gimana itu...?” (buyer 6). “... susah kami kalau produk terlalu lembab, rugi jika kita jual kembali ke restoran di sini karena di jalan sudah susut juga...” (buyer 8). karakter utama gelembung perut ikan adalah mudah menyusut karena kandungan airnya menguap mengering seiring waktu. semakin panas suhu udara, gelembung perut ikan akan cenderung cepat menyusut beratnya karena kandungan airnya berkurang. ukm menyimpan gelembung ikan gulama dan kace lemari pendingin dengan tujuan menjaga berat yang memberikan keuntungan kedua belah pihak. penyimpanan di lemari pendingin memang tidak dianjurkan karena menyimpan produk hasil laut di penyimpanan dingin cenderung merusak tekstur produk. penyimpanan di ruang atau lemari pendingin lebih dari tujuh hari menyebabkan perubahan pada dan size produk yang penyusutan pada berat produk (sharifian s., et al., 2011). oleh karena itu, ukm hanya menyimpan gelembung perut ikan di lemari pendingin maksimal dua hari dengan tujuan mempertahankan berat produk sebelum melakukan pengiriman produk. tawar menawar harga menjadi makin penting ketika dalam ekspedisi suhu udara tidak dapat dikendalikan untuk menjaga kelembaban pada produk. tahapan yang seringkali lalai diperhatikan adalah kondisi antara sebelum dan sesuerna ferrinadewi, martinus rukismono, faktor yang dipertimbangkan buyer dalam keputusan pembelian hasil laut olahan produksi indonesia 83 dah produk dimuat di ekspedisi udara padahal temperatur yang tidak dapat dikendalikan akan memengaruhi temperatur produk dan kualitas (lauzon et al., 2010) sehingga pemilihan moda transportasi utama adalah jalur udara meskipun suhu temperatur sulit dikendalikan namun durasi pengangkutannya yang relatif singkat dibandingkan moda transportasi laut. menjaga kelembaban dan mencegah perubahan tekstur yang tujuan utamanya adalah menjaga berat produk saat dikirim dan diterima menjadi tujuan utama dalam proses pengepakan produk olahan hasil laut. semua pembeli ukm ini sepakat bahwa pengepakan harus dilakukan untuk memastikan produk mereka terima dalam kondisi baik sesuai dengan permintaan sebelumnya. ukm ini melakukan pengepakan dengan beberapa tahap yang dimulai dengan pengepakan dalam karung dilanjutkan dengan pembungkusan karung dengan plastik tebal tertutup kedap udara dan selanjutnya dimasukkan ke dalam kardus tebal sebelum dikirim melalui kargo pesawat. cara packing ini terbukti mampu menjaga produk sesuai dengan permintaan pembeli. metode pengepakan memang memengaruhi tekstur produk dan beratnya. fuentes (2012) membuktikan bahwa pengepakan kedap udara secara nyata mampu mengurangi perubahan tekstur selama proses pengiriman karena kondisi kedap udara mencegah terjadinya efek kelembaban akibat perubahan suhu udara selama pengiriman. unsur saling percaya (trust) menjadi faktor lain yang muncul dalam proses negosiasi harga karena produk dikirim ke negara tujuan memerlukan waktu 3–4 hari kerja dengan pesawat udara sudah dapat dipastikan akan terjadi penyusutan. unsur percaya bahwa penjual akan memberikan yang terbaik kepada konsumen menjadi titik kritis sukses tidaknya kesepakatan soal harga per kilogram. pencatatan dokumen tentang kondisi produk saat dikirim harus sepengetahuan pembeli sebagai penerima. bahwa pembeli percaya akan iktikad baik penjual, bahwa penjual akan memberikan informasi akurat tentang berat produk saat dikirim sudah sesuai dengan kesepakatan harga. unsur kepercayaan menjadi hal penting kesuksesan transaksi penjualan karena adanya jaminan bahwa penjual akan membantu kesulitan pembeli dan penjual memiliki iktikad baik dalam melayani pembeli (ferrinadewi, 2008). “... saling percaya... informasi berat produk kan bisa lewat wa berupa foto... ya itu saja sudah cukup buat kita ... kita dagang kan ga boleh rugi, jadi ya haruslah saling percaya”. (buyer 5). dari segi aroma produk, semua buyer sepakat merupakan hal yang penting karena sering beredar produk gelembung ikan palsu. buyer sepakat aroma gelembung ikan laut yang baik adalah beraroma kuat air asin atau air laut sesuai asal ikan gulama dan ikan kakap yang hidup di perairan laut dalam. seluruh buyer sepakat bahwa aroma gelembung perut ikan akan merujuk pada rasa produk itu ketika dimasak. secara empiris hal ini dapat dijelaskan di mana interaksi antara taste dan aroma akan menciptakan cita rasa makanan karena ada asosiasi antara rasa dan aroma (costell et al. 2010). kesimpulan dapat disimpulkan dalam penawaran produk hasil laut, ukm harus memperhatikan kesegaran produk yang ditandai dengan warna, aroma, dan pola kulit yang cerah, segar, dan berpola tanpa noda. masalah kebersihan proses produksi juga diutamakan oleh semua pembeli terutama karena beberapa negara tujuan ekspor telah menetapkan standar dasar produk hasil laut yang dapat diterima. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 84 hal baru yang mengemuka adalah faktor kepercayaan antara pembeli dan penjual selama proses transaksi karena karakteristik produk hasil laut dalam konteks ini adalah gelembung perut ikan yang mudah mengalami perubahan berat akibat kondisi lingkungan selama proses pengiriman. ini membutuhkan relasi penjual dan pembeli yang dilandasi oleh keyakinan bahwa masing-masing pihak bertindak jujur. daftar rujukan barrett, diane m., beaulieu, john c., dan shewfelt, rob. 2010. color, flavor, texture, and nutritional quality of freshcut fruits and vegetables: desirable levels instrumental and sensory measurement, and the effects of processing. critical reviews in food and nutrition (50) p. 369–389. brunso, karen fjord, thomas ale, grunert, klaus g. 2002. working paper, no. 77. the aarhus school of business. costell, e. tarrega, a. & bayyari, s. 2010. food acceptance: the role of consumer perception an attitudes. chemonsensory perception, 3(1), pp. 42–50. chang a., tseng, c. and chu, m. 2013 value creation from food traceability system based on hierarchical model of consumer personality traits. british food journal, vol. 115 pp. 1361–1380. cheng, jun-hum sun, da-wen, zhong han, zeng, xin0an. 2014. texture and structure measurements and analyses for evad fillet freshness quality: a review. comprehensive reviews in food science and food safety, vol,13, pp. 52–62. fuentes a., fernandez-segovia i. serra j. barat j. 2012. effect of partial sodium replacement on physicochemical parameters of smoked sea bass during storage. food sci techno international, vol. 18, pp. 207– 217. karlsen, junita d., krag, ludvig ahm., albertseb, christoffer moesgaard dan frandsen, rikke petri. 2015. from fishing to fish processing: separation of fish from crustaceans in the norway lobster-directed multispecies trawl fishery improves seafood quality. journal of plos one, (10), hlm. 1–20. lauzon, helena, margeirsson, bjorn, svenisdodttir, sveninsdottir, kolburn and gudjonsdottir, maria, martinsdottir, emilia. 2010. overview on fish quality research. impact of fish handling, processing, storage and logistic on fish quality deterioration. skyrsla matis, page (1–73). honkanen p., olsen, s.o., dan verplaken, b. 2005. intention to consume seafood – the important of habit. appetite, no. 45, volume 2, hlm. 161–168. http://dx.doi. org/10.1016/j.appet.2005.04.005. pmid: 16011859. schiffman l.g. dan kanuk l.l. 2005. consumer behavior, 8th edition, prentice-hall, usa. verbeke, w. dan vackier, i. 2005. individual determinants of fish consumption: application of the theory of planned behavior. appetite, no. 44, volume 1, halaman 67–82. http://dx.doi.org/10.1016/j.appet. 2004.08.006.pmid:15604034. wen, jin. 2016. comparison of nutritional quality in fish maw product of croaker protonibea diacanthus and perch lates niloticus. journal of ocean university of china, 15(4):726–730, august 2016. 00 atribut.pmd heni agustina, djoko soelistya, analisis struktur kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei 8585 analisis struktur kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei heni agustina, djoko soelistya universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: heni@unusa.ac.id, djoko_soelistya@unusa.ac.id abstract: the presence of food and beverage companies currently have an active role in the world economy, where the existence of such companies did not escape from the large number of funding. the funds obtained from some shareholders. shareholding itself consists of managerial ownership, institutional ownership, and public ownership. this research is quantitative research using observation because it describes the relationships between variables through testing hypothesis. samples taken from a population with specific criteria. the population in this study i.e. finance report food and beverage companies as much as 70 financial report of the food and beverage companies that are registered in bei. the results in this study indicates that the managerial ownership variables have no effect on profitability, but institutional ownership and public ownership has an influence on profitability. keyword: production management, ownership, institutional ownership, public ownership, profitability pendahuluan keberadaan perusahaan makanan dan minuman di indonesia sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup masyarakatnya. hal ini menyebabkan persaingan di dunia usaha makanan dan minuman semakin ketat dan banyak atau sedikit hal tersebut berdampak pada nilai profitabilitas perusahaan. keberhasilan para pelaku usaha ini dapat tecermin bagaimana peranan kepemilikan perusahaan tersebut. jika perusahaan mengalami perkembangan maka tidak luput dari banyaknya struktur kepemilikan perusahaan yang terdapat dalam perusahaan. kepemilikan ini dapat meningkatkan profitabilitas yang dimiliki perusahaan. namun beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa faktor kepemilikan managerial tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. hal ini berbanding terbalik akan kasus sevel di atas yang menunjukkan adanya peranan kepemilikan dalam kebangkrutan perusahaan. hal tersebut diungkapkan oleh peneliti wismandana (2015), yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial terlalu rendah yang menyebabkan pengelolaan kinerja manajer menjadi kurang optimal dan sebagai pemegang saham minoritas, manajer belum dapat berpartisipasi dalam menentukan suatu keputusan dalam suatu perusahaan sehingga tidak memengaruhi profitabilitas. rumusan masalah 1. apakah kepemilikan manajerial perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas? 2. apakah kepemilikan institusional perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas? 3. apakah kepemilikan publik perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas? tujuan penelitian 1. untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial perusahaan terhadap profitabilitas. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 86 2. untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional perusahaan terhadap profitabilitas. 3. untuk menguji pengaruh kepemilikan publik perusahaan terhadap profitabilitas. manfaat penelitian penelitian ini diharapkan mampu untuk mengetahui pengaruh dari kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei. tinjauan teoretis dan hipotesis penelitian terdahulu tamba (2011) yang berjudul “pengaruh struktur kepemilikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (studi empiris pada manufacturing secondary sectors yang listing di bei tahun 2009)”. penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda yang menunjukkan hasil bahwa variabel kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap csr, sedangkan kepemilikan institusional dan kepemilikan manajemen tidak berpengaruh terhadap csr. penelitian dewi (2008) yang berjudul “pengaruh kepemilikan managerial, kepemilikan institusional, kebijakan hutang, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan dividen”. penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda yang menunjukkan hasil bahwa perusahaan kepemilikan saham oleh manajerial, kepemilikan saham institusional, kebijakan utang, dan profitabilitas yang semakin tinggi akan menurunkan kebijakan dividen. struktur kepemilikan menurut sugiarto (2009: 59) “struktur kepemilikan adalah struktur kepemilikan saham yaitu perbandingan jumlah saham yang dimiliki oleh orang dalam (insider) dengan jumlah saham yang dimiliki investor”. pendapat lain juga mengungkapkan bahwa struktur kepemilikan merupakan pemisahan antara pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. pemilik atau pemegang saham adalah pihak yang menyertakan modal ke dalam perusahaan, sedangkan manajer adalah pihak yang ditunjuk pemilik dan diberi kewenangan mengambil keputusan dalam mengelola perusahaan, dengan harapan manajer dapat bertindak sesuai dengan kepentingan pemilik perusahaan (sudana, 2011: 11). jenis-jenis struktur kepemilikan struktur kepemilikan dapat dibedakan dengan beberapa jenis (jensen, 1976) sebagai berikut. 1. kepemilikan manajerial, yaitu merupakan kepemilikan saham oleh pihak manajemen perusahaan. kepemilikan manajerial ini manajer dapat langsung merasakan manfaat dari keputusan yang diambil dan manajer yang menanggung risiko apabila ada kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. 2. kepemilikan institusional, yaitu merupakan kepemilikan saham oleh perusahaan lain atau lembaga lain. kepemilikan institusi adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengurangi agency conflict. dengan tingkat kepemilikan institusional yang tinggi maka akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku oportunistis yang dilakukan oleh pihak manajer serta mengurangi tingkat penyelewengan yang dilakukan oleh manajemen yang dapat menurunkan nilai dari perusahaan. heni agustina, djoko soelistya, analisis struktur kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei 87 hipotesis kepemilikan manajerial terhadap profitabilitas menurut brochet (2004), manajemen yang memiliki saham perusahaan dapat memberikan informasi lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan pemegang saham non-institusi lainnya, dengan demikian memiliki kesempatan untuk melakukan kontrol dari profitabilitas perusahaan. pendapat listyani (2003) bahwa kepemilikan saham manajerial akan mendorong manajer untuk dapat berhati-hati dalam mengambil keputusan karena mereka ikut merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan turut serta merasakan konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. berdasarkan teori di atas menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial pada suatu perusahaan memiliki peranan penting dalam menentukan profitabilitas. h1: kepemilikan manajerial memiliki pengaruh terhadap profitabilitas. kepemilikan institusional terhadap profitabilitas pada penelitian di negara kenya menunjukkan hasil bahwa struktur kepemilikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan (gitundu, 2016). di dalam penelitian disebutkan bahwa kepemilikan individu memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja keuangan (roa). tamba (2011) berpendapat bahwa peningkatan kepemilikan institusional menjadikan pengawasan yang ketat terhadap kinerja manajemen sehingga manajemen akan menghindari perilaku yang merugikan prinsipal. menurut jensen (1976) berpendapat bahwa kepemilikan institusional mempunyai peran penting dalam meminimalkan konflik keagenan yang terjadi antara pemegang saham dengan manajer. 3. kepemilikan publik, merupakan persentase kepemilikan saham yang memiliki oleh pihak luar (outsider ownership). pendapat lain mengungkapkan bahwa kepemilikan saham perusahaan oleh masyarakat umum atau oleh pihak luar (febriana, 2010). profitabilitas menurut gitman (2009:56) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan hubungan antara pendapatan dan biaya yang dihasilkan dengan menggunakan aset perusahaan, baik lancar maupun tetap dalam aktivitas produksi. hal yang sama juga dikemukakan oleh muslich (2003) yang menyatakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari kegiatan bisnis yang dilakukan. dengan kata lain, profitabilitas merupakan alat pengukur tingkat keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan. ukuran profitabilitas ukuran rasio profitabilitas yang lazim digunakan yaitu return on investment (roi) dan return on equity (roe) (muslich, 2003). 1. return on investment menunjukkan suatu ukuran dari produktivitas aktiva dalam memberikan pengembalian atas investasi pemegang saham dan kreditor. rasio ini dapat dikatakan sama dengan rasio return on asset (roa) rasio yang mengukur laba bersih setelah pajak dengan penjualan. 2. return on equity menunjukkan suatu efektivitas perusahaan dalam mengelola modal sendiri dan mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang dilakukan oleh pemilik modal sendiri maupun pemegang saham. salah satu rasio return on asset (roa) dapat menggambarkan bagaimana perkembangan profitabilitas perusahaan. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 88 responden berdasarkan ciri-ciri atau sifat khusus yang dimiliki oleh sampel dan sampel tersebut yang merupakan representatif dari populasi (sumarsono, 2004:52). berdasarkan beberapa kriteria, maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 perusahaan sehingga sampel yang digunakan adalah 70 data laporan keuangan. jenis sumber data data yang digunakan adalah data sekunder yaitu dengan menyeleksi laporan keuangan perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2010 sampai 2016. definisi dan pengukuran variabel variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. variabel terikat (y) profitabilitas profitabilitas yang dimaksud diproyeksikan dengan return on asset (roa) yang diperoleh perusahaan yaitu rasio pendapatan setelah bunga dan pajak (eat) atau net pendapatan dibagi dengan nilai buku aset di awal tahun fiskal (brigham, 2005). berikut ini merupakan perhitungan roa: roa = laba setelah pajak total aset variabel bebas (x) a. kepemilikan manajerial kepemilikan manajerial dapat diukur dengan menggunakan rasio antara jumlah saham yang dimiliki manajer atau direksi dan dewan h2: kepemilikan institusional berpengaruh terhadap profitabilitas. kepemilikan publik terhadap profitabilitas jensen (1976) berpendapat bahwa konflik kepentingan yang sangat potensial ini menyebabkan pentingnya suatu mekanisme yang diterapkan yang dapat berguna untuk melindungi kepentingan pemegang saham. menurut arifulsyah (2016) bahwa semakin tinggi pertanggungjawaban sosial perusahaan, dapat membuat semakin tinggi pula kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan, dan hal tersebut pula dapat secara otomatis dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan tersebut. selain itu, csr adalah variabel yang dapat memperkuat pengaruh antara besaran kepemilikan publik terhadap kinerja keuangan perusahaan. dengan adanya csr perusahaan dapat membuat masyarakat publik semakin mudah untuk mempercayakan investasi mereka ke perusahaan yang dapat membuat kinerja keuangan perusahaan ikut meningkat pula. h3: kepemilikan publik berpengaruh terhadap profitabilitas metode penelitian populasi dan sampel penelitian populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2010 sampai dengan tahun 2016, tercatat sebanyak 18 perusahaan sehingga populasi yang digunakan adalah 126 data laporan keuangan. teknik yang digunakan untuk menentukan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu teknik penarikan sampel non probabilitas yang menyeleksi respondenheni agustina, djoko soelistya, analisis struktur kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei 89 descriptive statistics mean std. deviation n roa 2.2901 .78068 63 kepemilikan manajerial 2.7505 6.10920 63 kepemilikan institusional 4.1713 .33989 63 kepemilikan publik 3.0621 .86381 63 komisaris terhadap total saham yang beredar (rustendi, 2008). kepemilikan manajerial = jumlah saham pihakmanajerialtotal saham beredar x 100 b. kepemilikan institusional menurut ujiyantho (2007) kepemilikan institusional memiliki proporsi kepemilikan saham oleh institusi lain. kepemilikan institusional dapat diukur dengan rasio antara jumlah lembar saham yang dimiliki oleh institusi terhadap jumlah lembar saham yang beredar secara keseluruhan. kepemilikan manajerial = jumlah saham pihakinstitusionaltotal saham beredar x 100 c. kepemilikan publik kepemilikan publik merupakan saham yang telah dimiliki oleh publik, kepemilikannya bisa oleh sebuah grup yang besar yang tidak ada hubungannya antara individu dan atau lembaga investasi (sundjaja, 2003). kepemilikan publik dapat diukur dengan rasio antara jumlah lembar saham yang dimiliki oleh publik terhadap jumlah lembar saham yang beredar secara keseluruhan. kepemilikan manajerial = jumlah saham pihakpubliktotal saham beredar x 100 metode analisis data analisis data yang digunakan menggunakan metode analisis regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan spss.18. model regresi yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut. y = ββ0 + β1x1 + β2x2 + β3x3 + e di mana: y = return on asset x1 = kepemilikan manajerial x2 = kepemilikan institusional x3 = kepemilikan publik β0 = konstanta β1, β2, β3 = koefisien regresi x1, x2, x3 e = faktor pengganggu/variabel error pembahasan analisis statistik deskriptif statistik deskriptif digunakan untuk memberikan informasi, menyajikan dan menganalisis mengenai data yang dimiliki. alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rata-rata (mean) dan standard deviation. deskripsi dari masing-masing variabel dijelaskan sebagai berikut. tabel 4.2 statistik deskriptif sumber: data sekunder yang diolah spss berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui jumlah pengamatan yang diteliti sebanyak 70 pengamatan, berdasarkan 10 perusahaan selama tujuh tahun yaitu 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016. dalam tabel 4.2 terlihat bahwa roa memiliki mean sebesar 2,22901 dengan standard deviation sebesar 0,78069. dalam tabel 4.2 terlihat bahwa kepemilikan manajerial memiliki mean sebesar 2,7505 dengan standard deviation sebesar 6,10920. dalam tabel 4.2 terlihat bahwa kepemilikan institusional memiliki mean sebesar 4,1713 dengan standard deviation sebesar 0,33989. dalam tabel 4.2 terlihat bahwa kepemilikan publik memiliki mean sebesar 3,0621 dengan standard deviation sebesar 0,86381. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 90 coefficientsa model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. collinearity statistics b std. error beta tolerance vif 1 (constant) -11.966 2.888 -4.144 .000 kepemilikan manajerial .019 .015 .152 1.262 .212 .817 1.224 kepemilikan institusional 2.668 .552 1.162 4.835 .000 .206 4.860 kepemilikan publik 1.004 .207 1.110 4.855 .000 .227 4.404 a. dependent variable: roa uji normalitas uji normalitas diperlukan untuk memastikan bahwa sebaran data yang digunakan bersifat normal. untuk mengetahui apakah data tersebut mengikuti sebaran normal dapat diuji dengan metode kolmogorov smirnov (sumarsono, 2004: 43). data terdistribusi normal apabila hasil kolmogorov-smirnov menunjukkan nilai signifikan di atas 0,05. tabel 4.3 kolmogorov-smirnov test tabel 4.4 hasil uji multikolonieritas one-sample kolmogorov-smirnov test unstandardized residual n 63 normal parametersa,b mean 0e-7 std. deviation .65350955 most extreme differences absolute .121 positive .121 negative -.065 kolmogorov-smirnov z .964 asymp. sig. (2-tailed) .311 a. test distribution is normal. b. calculated from data. sumber: data sekunder yang diolah spss berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,970 yang lebih besar dari 0,05 maka data dalam penelitian ini berdistribusi normal setelah melakukan transform data. uji asumsi klasik uji multikolinieritas multikorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar-variabel bebas (independen). cara untuk mengetahui apakah terjadi multikolonieritas atau tidak yaitu dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (vif). sumber: data sekunder yang diolah spss dari hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai tolerance dari variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan publik memiliki nilai tolerance yang lebih besar dari 0,10 dan memiliki nilai vif yang lebih kecil dari 10. hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya gejala multikolinieritas. uji heterokedastisitas pengujian ini dilakukan dengan menggunakan scatter plot. dinyatakan tidak terjadi heteroskedastisitas yaitu apabila tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y. gambar 4.1 hasil uji heterokedastisitas sumber: data sekunder yang diolah spss hasil pengujian pada gambar tersebut menunjukkan bahwa pola scatter plot dari regresi heni agustina, djoko soelistya, analisis struktur kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei 91 menyebar. hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya gejala heteroskedastisitas. uji autokorelasi uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model linier ada korelasi antara korelasi pengganggu periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji durbin-watson. tabel 4.5 hasil uji durbin-watson berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai uji f sebesar 8.399 dengan probabilitas 0,000. berdasarkan nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari 0,05 maka berarti variabel independen yang terdiri dari kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan publik secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap roa. uji t uji t ini dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh secara parsial kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan publik terhadap roa perusahaan food and beverage yang terdaftar di bursa efek indonesia. tabel 4.7 hasil uji t sumber: data sekunder yang diolah spss berdasarkan hasil pengujian tersebut nilai durbin-watson sebesar 0,628 yang artinya nilai dw berada di antara -2 sampai +2 maka dapat disimpulkan tidak ada masalah autokorelasi. uji f uji f ini dilakukan untuk menguji sesuai tidaknya model regresi yang dihasilkan guna menyesuaikan variabel x1 (kepemilikan manajerial), x2 (kepemilikan institusional), x3 (kepemilikan publik) terhadap y (roa) pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di bursa efek indonesia. tabel 4.6 hasil uji f model summaryb model r r square adjusted r square std. error of the estimate durbinwatson 1 .547a .299 .264 .66992 .628 a. predictors: (constant), kepemilikan publik, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional b. dependent variable: roa sumber: data sekunder yang diolah spss anovaa model sum of squares df mean square f sig. 1 regression 11.308 3 3.769 8.399 .000b residual 26.479 59 .449 total 37.786 62 a. dependent variable: roa b. predictors: (constant), kepemilikan publik, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional sumber: data sekunder yang diolah spss persamaan regresi model 1 dapat ditulis sebagai berikut: roa = -11.966 + 0,019 kepemilikan manajerial + 2,668 kepemilikan institusional + 2,004 kepemilikan publik + ε pengujian hipotesis 1 mengenai pengaruh kepemilikan manajerial terhadap roa menunjukkan nilai t hitung sebesar 1,262 dengan signifikansi sebesar 0,212 (p > 0,05). hal ini berarti bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap roa. hipotesis 1 ditolak. pengujian hipotesis 2 mengenai pengaruh kepemilikan institusional terhadap roa menuncoefficientsa model unstandardized coefficients standardized coefficients t sig. collinearity statistics b std. error beta tolerance vif 1 (constant) -11.966 2.888 -4.144 .000 kepemilikan manajerial .019 .015 .152 1.262 .212 .817 1.224 kepemilikan institusional 2.668 .552 1.162 4.835 .000 .206 4.860 kepemilikan publik 1.004 .207 1.110 4.855 .000 .227 4.404 a. dependent variable: roa business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 92 jukkan t hitung sebesar 4,835 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). hal ini berarti bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap roa. hipotesis 2 diterima. pengujian hipotesis 3 mengenai pengaruh kepemilikan publik terhadap roa menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 4,855 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). hal ini berarti bahwa kepemilikan publik berpengaruh positif terhadap roa. hipotesis 3 diterima. koefisien determinasi koefisien determinasi (r2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. tabel 4.8 hasil koefisien determinasi (r2) 1. kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap roa. hipotesis 1 ditolak. hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan saham oleh pihak manajerial masih belum dapat menyatukan kepentingan manajer dengan shareholder yang lain, sehingga kepemilikan manajerial tidak begitu berpengaruh terhadap return on asset (roa). hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh wiranata dan nugrahanti (2013) namun, menurut aji (2016) berpendapat bahwa, keputusan manajerial dipandu oleh kepentingan mereka sendiri dari pada kepentingan pemilik perusahaan. 2. kepemilikan institusional berpengaruh terhadap roa. hipotesis 2 diterima. hal ini menunjukkan bahwa proporsi kepemilikan institusional yang besar dapat meningkatkan usaha pengawasan oleh pihak institusi sehingga dapat menghalangi perilaku oportunistis manajer dan dapat membantu pengambilan keputusan perusahaan, sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan roa. penelitian ini didukung oleh kumai et al. (2014), sekaredi (2011) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kepemilikan institusional dan roa. 3. kepemilikan publik berpengaruh positif terhadap roa. hipotesis 3 diterima. hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya kepemilikan publik disebabkan adanya perlindungan hukum terhadap pemegang perusahaan dan keterbukaan informasi kepada publik. meningkatnya kepemilikan publik menunjukkan adanya sistem corporate governance yang baik. oleh karena itu, kepemilikan publik diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. penelitian ini sejalan dengan wati (2017) yang menyatakan bahwa terdapat model summaryb model r r square adjusted r square std. error of the estimate durbinwatson 1 .547a .299 .264 .66992 .628 a. predictors: (constant), kepemilikan publik, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional b. dependent variable: roa sumber: data sekunder yang diolah spss dari hasil pengujian tersebut diperoleh nilai adjusted r2 sebesar 0,264. hal ini menunjukkan bahwa sebesar 26,4% variasi kinerja roa dapat dijelaskan oleh struktur kepemilikan yang terdiri dari kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan publik sedangkan 73,6% lainnya dapat dijelaskan oleh variabel-variabel lainnya di luar model ini. kesimpulan berdasarkan uraian dan analisis data yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. heni agustina, djoko soelistya, analisis struktur kepemilikan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei 93 pengaruh yang positif dan signifikan antara kepemilikan publik dan roa. saran berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan yang telah diperoleh, peneliti menyarankan sebagai berikut. 1. pihak perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bei sebaiknya meningkatkan peranan dalam kepemilikan sahamnya. karena dapat meningkatkan profitabilitas yang diukur dengan nilai roa perusahaan. 2. untuk peneliti selanjutnya hendaknya dapat menambahkan beberapa faktor lain yang dapat mendukung profitabilitas perusahaan. daftar rujukan aji, dhamar yudho dan aria farah mita. 2010. pengaruh profitabilitas, risiko keuangan, nilai perusahaan, dan struktur kepemilikan terhadap praktik perataan laba: studi empiris perusahaan manufaktur yang terdaftar di bei. simposium nasional akuntansi xiii, purwokerto. arifulsyah, hamdani. 2016. “pengaruh proporsi kepemilikan publik terhadap kinerja keuangan perusahaan, dengan csr disclosure sebagai variabel moderating”. jurnal akuntansi keuangan dan bisnis, vol. 9. jurnal politeknik caltex riau. brigham, e.f., ehrhardt, m.c. 2005. financial management theory and practice, eleventh edition, ohio: south western cengage learning. brochet, franchois dan zhan gildao. 2004. “managerial entrachment and earnings smoothing”. working paper. dewi, sisca chirstianty. 2008. “pengaruh kepemilikan managerial, kepemilikan institusional, kebijakan hutang, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan dividen”. jurnal bisnis dan akuntansi, vol.10, no.1. febriana, louw. 2010. kajian corporate governance dan likuiditas terhadap kinerja keuangan pada sektor property & real estate. pontianak: stie widya dharma. gitman, lawrence. 2009. principles of manajerial finance. united states: pearson addison wesley. jensen, m.c. and meckling, w.h. 1976. “theory of the firm: managerial behavior, agency costs and ownership structure”. journal of financial economics. listyani, theresia tyas. 2003. kepemilikan manajerial, kebijakan hutang, dan pengaruhnya terhadap kepemilikan saham institusional (studi pada perusahaan manufaktur di bursa efek di jakarta). jurnal ekonomi dan bisnis indonesia, vol.15, no.4, 2000. muslich, mohamad. 2003. manajemen keuangan modern. jakarta: bumi aksara. rustendi, tedi dan farid jimmi. 2008. pengaruh hutang dan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur (survei pada perusahaan manufaktur yang tercatat di bursa efek jakarta). jurnal akuntansi fe unsil. sudana, i. 2011. manajemen keuangan perusahaan teori dan praktik. jakarta: erlangga. sugiarto. 2009. struktur modal, struktur kepemilikan perusahaan, permasalahan keagenan, dan informasi asimetri. yogyakarta: graha ilmu. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 94 sumarsono, h.m. sonny. 2004. metode riset sumber daya manusia. jember: graha ilmu. sundjaja ridwan s. dan inge barlian. 2003. manajemen keuangan 1, edisi kelima. jakarta: literata lintas media. tamba, erida gabriella handayani. 2011. pengaruh struktur kepemilikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (studi empiris pada perusahaan manufacturing secondary sectors yang listed di bei tahun 2009). semarang: feb universitas diponegoro. wiranata, yulius ardy dan yeterina widi nugrahanti. 2013. pengaruh struktur kepemilikan terhadap profitabilitas perusahaan manufaktur di indonesia. jurnal akuntansi dan keuangan, vo. 15, no. 1, issn 14110288 print/issn 2338-8137. wismandana, nicho budi. 2015. “pengaruh corporate social responsibility, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional terhadap profitabilitas perusahaan”. stiesia. jurnal ilmu & riset akuntansi, vol. 4, no. 12. 00 atribut.pmd irfan aulia hoesaini, perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik 9595 perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik irfan aulia hoesaini universitas airlangga surabaya e-mail: irfan.aulia.sby@gmail.com abstract: the growth of the business of gas industry in indonesia make firm that deals with this industry will develop. increase in the number of a company that produces gas trigger intense competition to gain customers that there is to consume gas. pt bahtera abadi gas is one of the company that moves in the field of gas industry national scale. on the way various customers than any other company have been handled by pt bag that majority exists in the region of east java. an intense competition in gain customers of the company between a gas that with each other to cause to compete with companies in providing a bargain price that low and improved service quality to win over the competition. with a bargain price that is very competitive, companies should do the efficiency and effectiveness of its production in the process so as to achieve the level of its optimum profit. in order to continue to compete, required managerial instrument that can help to formulate a strategy company in accordance with the vision, mission and objectives of the company that can be translated into the act of operational in clear and measurable accomplishment. in addition a strategy company in the level of implementation can be functioned as instrument of the measurement of performance management in addition to the goal is to investigate the effectiveness of the application of the strategy itself, also to control the performance management and minimize the potential there is the deception. the result of research shows that pt bag having strategic objectives in map competition that is reflected in four perspective balanced scorecard. strategic objectives financial perspective is utilization assets, cost efficiency, increase revenue. the purpose of from the perspective of a customer is customer satisfaction, customer retention, customer acquisition. the purpose of internal from the perspective of a business process is of quality, delivery, healthy and safety work, develop sustainable relationship with supplier. from the perspective of the purpose of learning and growth is increase employee competency, increase productivity employee, recruit quality employee, improved teamwork, employee feedback systems, availability of information technology. keywords: vision, mission, strategy map, balanced scorecard pendahuluan indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi. beberapa sumber daya energi yang besar adalah minyak dan gas bumi yang vital dan strategis. dalam program pembangunan nasional, minyak dan gas bumi memiliki peranan yang sangat penting sebagai sumber devisa dan bahan baku industri nasional. sesuai dengan pasal 33 undang-undang dasar 1945 bahwa minyak dan gas bumi merupakan sumber daya yang strategis, tidak terbaharukan yang dikuasai oleh negara serta komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional sehingga pengelolaannya harus dapat maksimal memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. untuk jangka panjang, permintaan akan energi cenderung akan meningkat di mana 90% dari peningkatan permintaan tersebut akan berasal dari kawasan negara berkembang dengan china, india, dan timur tengah sebagai penggerak. khusus untuk gas alam, dalam jangka panjang permintaan diperkirakan akan meningkat secara global hingga tahun 2020. mengingat business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 96 perkembangan ekonomi dan teknologi yang akan mendorong banyak pembangkit listrik berbasis bbm (bahan bakar minyak) dan batu bara untuk beralih memakai gas alam yang dipandang lebih ramah lingkungan. hal tersebut juga harus didukung usaha pemerintah, bumn maupun perusahaan yang bergerak di sektor migas agar dapat mengelola gas secara optimal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat luas. pt bahtera abadi gas adalah perusahaan yang bergerak dalam sektor tengah yang melibatkan transportasi, penyimpanan, dan pemasaran gas (midstream) dan sektor hilir yang melibatkan pemrosesan dan pengolahan gas (downstream) industri gas indonesia. perusahaan ini baru berjalan selama tiga tahun. sesuai dengan tujuan di tahun awal berdiri, pt bahtera abadi gas berusaha menjadi perusahaan gas nasional berkelas dunia. tentunya hal ini haruslah diseimbangkan dengan usaha-usaha signifikan yang dapat mendorong pertumbuhan perusahaan agar dapat mencapai targetnya. pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi organisasi. di dalam sistem pengendalian manajemen, pengukuran kinerja merupakan usaha yang dilakukan pihak manajemen untuk mengevaluasi hasil-hasil kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing bidang (rumintjap, 2013). menjadi perusahaan yang berkembang membuat pt bahtera abadi gas harus membenahi diri. pembenahan secara internal ini dilakukan supaya perusahaan bisa terus eksis di bisnis minyak dan gas. contoh pembenahan yang telah dilakukan misalnya dengan penyusunan struktur organisasi dan pembuatan sop (standard operating procedures) untuk masingmasing bagian. selain itu, dalam menghadapi persaingan, pt bahtera abadi gas juga tidak bisa mengabaikan desakan dari faktor eksternal. inflasi dan fluktuasi suku bunga, perubahan peraturan perpajakan, terjadinya krisis global menjadi faktor-faktor eksternal yang memaksa banyak perusahaan minyak dan gas untuk melakukan penyesuaian dalam kondisi internalnya. pt bahtera abadi gas telah bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. visi dan misi sebenarnya sudah ada secara implisit, hanya saja penyesuaian yang dilakukan belum pernah dievaluasi keselarasannya terhadap strategi perusahaan. adanya balance scorecard akan membuat visi, misi, dan strategi perusahaan tersampaikan secara eksplisit yang selanjutnya akan menjadi fondasi bagi sistem manajemen perusahaan. untuk menjaga agar tindakan-tindakan yang dilakukan tetap berada dalam koridor yang benar (sesuai visi, misi, dan strategi perusahaan) maka balanced scorecard dipandang sebagai alat manajerial yang dibutuhkan oleh pt bahtera abadi gas. penyusunan strategy maps dan balanced scorecard ke depannya sekaligus dapat berfungsi sebagai sistem kontrol dan pengendalian, karena di dalamnya juga tercakup pengukuran-pengukuran yang akan dipakai sebagai dasar penilaian performa. serangkaian pengukuran yang dipilih merupakan key informance indicators (kpi) atas aspek-aspek tangible dan intangible yang sifatnya penting dalam perusahaan. dengan fungsi sebagai pembelajaran dan pengendalian, balanced scorecard menjadi sistem manajerial yang tidak hanya berfokus pada masa sekarang, tetapi juga lebih mempertimbangkan kondisi jangka panjang perusahaan. sehubungan dengan hal tersebut, bahtera abadi gas membutuhkan rancangan strategy maps dan balanced scorecard untuk membantu setiap orang di perusahaan agar lebih mudah memahami alur strategi dan membantu mengukur keefektifan strategi yang diterapkan bahtera abadi gas. hal itu diharapkan agar irfan aulia hoesaini, perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik 97 b. mengomunikasikan strategi ke seluruh organisasi. c. menyelaraskan tujuan yang bersifat departemental dan personal pada strategi. d. menghubungkan tujuan-tujuan strategi pada target-target jangka panjang dan anggaran tahunan. e. mengidentifikasi dan menyelaraskan inisiatif strategis. f. mendapatkan feedback untuk belajar tentang dan mengembangkan strategi. financial perspective bsc memakai tolak ukur kinerja keuangan seperti laba bersih dan roi, karena tolak ukur tersebut secara umum digunakan dalam perusahaan untuk mengetahui laba. tolak ukur keuangan saja tidak dapat menggambarkan penyebab yang menjadikan perubahan kekayaan yang diciptakan perusahaan atau organisasi (mulyadi dan johny setyawan, 2000). balanced scorecard adalah suatu metode pengukuran kinerja yang di dalamnya ada keseimbangan antara keuangan dan non-keuangan untuk mengarahkan kinerja perusahaan terhadap keberhasilan. bsc dapat menjelaskan lebih lanjut tentang pencapaian visi yang berperan di dalam mewujudkan pertambahan kekayaan tersebut (mulyadi dan johny setyawan, 2000) sebagai berikut. a. peningkatan customer yang puas sehingga meningkatkan laba (melalui peningkatan revenue). b. peningkatan produktivitas dan komitmen karyawan sehingga meningkatkan laba (melalui peningkatan cost effectiveness). c. peningkatan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan financial returns dengan mengurangi modal yang digunakan atau melakukan investasi dalam proyek yang menghasilkan return yang tinggi. bahtera abadi gas dapat mencapai tujuan dan kesuksesan jangka panjang. oleh karena itu, judul penelitian adalah perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik. perumusan masalah berdasarkan uraian pada latar belakang maka disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut: “bagaimana rancangan strategy maps dan balance scorecard pada pt bahtera abadi gas?” tinjauan pustaka balanced scorecard balanced scorecard lebih dari sistem pengukuran operasional yang taktis. perusahaan yang inovatif menggunakan scorecard sebagai sistem manajemen strategis yang menjadi pedoman dan tolak ukur pencapaian suatu target bagi perusahaan dalam kinerja sehari-hari, dan untuk mengatur strategi mereka dalam jangka waktu yang panjang. menurut kaplan dan norton (1996), perusahaan menggunakan fokus pengukuran atau kerangka dari scorecard untuk menyelesaikan proses manajemen yang kritis sebagai berikut. a. memperjelas dan menerjemahkan visi, misi, dan strategi. b. mengomunikasikan dan menghubungkan objektif dari strategi dan pengukuran. c. perencanaan, penyusunan target-target, dan menyelaraskan inisiatif dari strategi. d. meningkatkan feedback dan learning strategi. menurut kaplan dan norton (1996), balanced scorecard digunakan oleh perusahaan untuk hal-hal sebagai berikut. a. memperjelas dan mendapatkan kesepakatan mengenai strategi perusahaan. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 98 luar proses produksi. di dalam proses inovasi itu sendiri terdiri dari dua komponen yaitu identifikasi keinginan pelanggan dan melakukan proses perancangan produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan. bila hasil inovasi dari perusahaan tidak sesuai dengan keinginan pelanggan maka produk tidak akan mendapat tanggapan positif dari pelanggan, sehingga tidak memberi tambahan pendapatan bagi perusahaan bahkan perusahaan harus mengelurkan biaya investasi pada proses penelitian dan pengembangan. b. proses operasi proses operasi adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan, mulai dari saat penerimaan order dari pelanggan sampai produk dikirim ke pelanggan. proses operasi menekankan kepada penyampaian produk kepada pelanggan secara efisien dan tepat waktu. proses ini berdasarkan fakta menjadi fokus utama dari sistem pengukuran kinerja sebagian besar organisasi. c. pelayanan purna-jual adapun pelayanan purna-jual yang dimaksud di sini, dapat berupa garansi, penggantian untuk produk yang rusak, dan lain-lain. learning and growth perspective sudut pandang keempat dari balanced scorecard yaitu learning & growth, sudut pandang ini mengenal infrastruktur yang perusahaan harus bangun untuk menciptakan perkembangan dan pertumbuhan dalam jangka panjang. pada sudut pandang ini perusahaan harus secara terus-menerus mengembangkan kemampuan untuk mengirimkan value, dengan kata lain introspeksi, perbaikan, dan pembelajaran agar perusahaan dapat terus bersaing pada persaingan global. learning & growth organisasi/perusahaan datang dari tiga customer perspective dalam perspektif pelanggan, perusahaan perlu terlebih dahulu menentukan segmen pasar dan pelanggan yang menjadi target bagi organisasi atau badan usaha. selanjutnya, manajer harus menentukan alat ukur yang terbaik untuk mengukur kinerja dari tiap unit operasi dalam upaya mencapai target finansialnya. selanjutnya, apabila suatu unit bisnis ingin mencapai kinerja keuangan yang superior dalam jangka panjang, mereka harus menciptakan dan menyajikan suatu produk baru/jasa yang bernilai lebih baik kepada pelanggan mereka (kaplan dan norton, 1996). produk dikatakan bernilai apabila manfaat yang diterima produk lebih tinggi daripada biaya perolehan (bila kinerja produk semakin mendekati atau bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan dipersepsikan pelanggan). perusahaan terbatas untuk memuaskan potential customer sehingga perlu melakukan segmentasi pasar untuk melayani dengan cara terbaik berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang ada. internal business process perspective perspektif proses bisnis internal menampilkan proses kritis yang memungkinkan unit bisnis untuk memberi value proposition yang mampu menarik dan mempertahankan pelanggannya di segmen pasar yang diinginkan dan memuaskan harapan para pemegang saham melalui financial returns (simon, 1999). tiap-tiap perusahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai yang unik bagi pelanggannya. secara umum, kaplan dan norton (1996) membaginya dalam tiga prinsip dasar. a. proses inovasi proses inovasi adalah bagian terpenting dalam keseluruhan proses produksi, tetapi ada juga perusahaan yang menempatkan inovasi di irfan aulia hoesaini, perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik 99 sumber, yaitu sumber daya manusia, sumber daya informasi, dan budaya organisasi. ketiga sumber ini pada balanced scorecard akan memiliki tujuan masing-masing. sudut pandang learning & growth menjadi fondasi bagi perusahaan untuk mendukung financial perspective, customer perspective, dan internal business process perspective. secara bersama, balanced scorecard akan menerjemahkan visi dan strategi pada tujuan dan ukuran ke seluruh sudut pandang dari balanced scorecard. keempat sudut pandang dari balanced scorecard tersebut akan berhubungan satu dengan lainnya pada hubungan sebab dan akibat yang terkait satu sama lainnya dan tidak berdiri sendiri. visi, misi, dan strategi ada tiga pertanyaan yang harus dijawab perusahaan dalam beraktivitas sehari harinya, menurut gamble dan thompson (2009), yaitu di mana saat ini perusahaan berada? ke mana tujuan yang ingin dicapai? dan bagaimana cara untuk pergi ke tujuan tersebut?, ketiga pertanyaan inilah menjadi dasar dalam bagaimana memahami visi, misi, dan strategi yang telah ditetapkan semenjak awal dibentuknya perusahaan tersebut. “bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut?” suatu pertanyaan yang sesuai dengan istilah strategi. strategi terdiri dari gerakan-gerakan dan pendekatan-pendekatan bisnis yang dikembangkan oleh manajemen untuk menarik dan menyenangkan pelanggan, melakukan operasi, menumbuhkan bisnis, dan mencapai tujuan dari kinerja. ada banyak macam strategi dari perusahaan yang diterapkan pada saat ini, contohnya: cost-based advantage strategy, differentiation based advantage strategy, narrow niche market strategy, dan banyak strategi lainnya. strategy map menurut kaplan dan norton (2004), saat ini aset berbasis pada knowledge semakin berkembang dan digunakan di seluruh industri dan bisnis. ditambah pula dengan perkembangan dari pendekatan sistem manajemen strategis balanced scorecard. pada saat ini tanggapan positif dari top manajemen sangat baik pada pendekatan sistem manajemen terbaru tersebut. tetapi para top manajemen ingin menggunakan sistem terbaru tersebut supaya bisa diaplikasikan lebih kuat dari apa yang sebelumnya, dan mereka menginginkan agar sistem tersebut dapat memecahkan masalah lebih penting yang mereka hadapi yaitu bagaimana untuk mengimplementasikan strategi yang baru. jadi top manajemen di seluruh dunia pada saat ini menghadapi dua tantangan yaitu bagaimana untuk menggerakkan sumber daya human capital dan information, dan bagaimana untuk mengubah organisasi mereka ke strategi terbaru, didorong oleh pelanggan yang terinformasi dan cerdas yang menginginkan kinerja perusahaan yang sangat baik. kerangka konsep penelitian identifikasi masalah evaluasi visi dan misi perusahaan perancangan balanced scorecard perancangan strategy maps studi pustaka business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 100 metode penelitian pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. secara spesifik penelitian ini adalah penelitian yang bersifat eksploratoris. penelitian eksploratoris yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan studi mendalam serta mempertimbangkan kedalaman data. dengan kata lain bahwa penelitian eksploratoris ini bertujuan untuk mengeksplor dan memudahkan untuk mendeskripsikan objek dan subjek penelitian secara sistematis, faktual, dan akurat dalam mengidentifikasi visi, misi, dan strategi perusahaan yang masih bersifat implisit. lokasi penelitian dan unit analisis lokasi penelitian ini dilakukan di pt bahtera abadi gas yang bertempat di tuban. pemilihan tempat penelitian ini dengan pertimbangan mempermudah jangkauan informasi dan pengumpulan data saat melakukan wawancara. unit analisis yang akan digunakan sebagai objek penelitian adalah penyusunan strategy maps dan balanced scorecard. jenis dan sumber data jenis penelitian ini adalah eksploratoris yakni dengan melakukan peninjauan atau observasi keadaan internal dan eksternal pt bahtera abadi gas. kegiatan ini berguna untuk mendapatkan gambaran secara sistematis mengenai fakta pada objek penelitian sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti, kemudian membuat perbandingan dan analisis dengan teori yang digunakan. teknik analisis sejalan dengan permasalahan dalam penelitian ini, kerangka konseptual sebagai gambaran proses penelitian yang akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang disusun oleh rohm and habach (2006). analisis dan pembahasan hasil penelitian analisis visi dan misi pt bag visi merupakan pernyataan yang berisi gambaran keadaan organisasi yang ingin dicapai di masa yang akan datang. visi menjawab pertanyaan “kita ingin menjadi apa di masa depan?” visi adalah tentang pandangan yang jauh, merupakan petunjuk atau arahan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. menjadi perusahaan terkemuka sebagaimana disebutkan pt bag dalam visinya mengandung arti bahwa pt bag ingin menjadi yang paling unggul dan dikenal di antara para pelaku industri gas lainresponden pertanyaan wawancara direktur 1. apa harapan anda ketika awal mendirikan perusahaan? 2. segmen kepuasan yang mana yang dibidik oleh pt bahtera abadi gas? 3. bagaimana dengan harga jual produk dan atau jasa pt bahtera abadi gas bila dibandingkan dengan pesaingnya? 4. strategic issue yang ada dalam perusahaan terdiri dari apa saja? 5. apa saja hal-hal penting yang menjadi faktor sukses perusahaan? internal departemen 1. berapa lama anda bekerja di pt bahtera abadi gas? 2. sejak awal berdiri hingga sekarang, apakah pergantian karyawan cukup tinggi? 3. pekerjaan apa saja yang sudah ditangani perusahaan hingga saat ini? 4. segmen pasar mana yang dibidik oleh perusahaan? 5. nilai tambah apa yang diberikan perusahaan kepada konsumen? kisi-kisi pertanyaan penelitian irfan aulia hoesaini, perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik 101 nya. peneliti menilai pernyataan visi pt bag tersebut terlalu optimis dan berambisi, apabila ditinjau dari capaian perusahaan yang telah diraih masih butuh perbaikan dalam kinerja manajemennya. adapun dari pernyataan visi pt bag disebutkan kata komersial yang mengandung arti hanya berorientasi pada keuntungan saja dan tidak menjaga kualitas layanan dari pt bag kepada pelanggannya. akan tetapi, berdasarkan wawancara dengan top management kata profitability productivity startegy growth strategy asset utilizatiion cost efficiency increase revenue partnership develop sustainable relationship with suppliers service quality quality delivery healthy & safety work market share customer acquisition customer loyalty customer retention service excellence customer satisfaction information capital availability of information technology organizational capital improve teamwork employee feedback human capital increasing employee competency increasing productivity employee recruit quality employee fin anc ial per spe ctiv e cu sto me r per spe ctiv inter nal busin ess proce ss persp ti learn ing & grow th persp ective f in a n c ia l p e r s p e c t iv e c u s t o m e r p e r s p e c t iv e i n t e r n a l b u s in e s s p r o c e s s p e r s p e c t iv e l e a r n in g & g r o w t h p e r s p e c t iv e profitability asset utilization cost efficiency increase revenue growth strategyproductivity strategy service excellence l customer l satisfaction customer loyalty l customer l retention market share l customer l acquisition service quality l quality l delivery l healthy & safety work partnership l develop sustainable relationship with suppliers human capital l increasing employee competency l increasing productivity employee l recruit quality employee organizational capital l improve teamwork l employee feedback information capital l available of information technology business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 102 komersial tersebut sebenarnya merupakan pangsa pasar dari pt bag yang mencakup hotel, mall, dan usaha lain non-industri besar, hal ini terlihat bahwa adanya penggunaan kata yang bersifat ambigu. di sisi lain, pada kenyataannya selama hampir tiga tahun sejak berdiri pt bag hanya melayani pangsa pasar industri saja mulai dari industri besar, menengah, sampai kecil. oleh karena itu, peneliti dalam hal ini menyarankan agar visi yang tertulis lebih spesifik kepada pangsa pasar industri saja. analisis tujuan perusahaan tujuan pt bag tersebut menitikberatkan pada tercapainya kepuasan pelanggan yang dihasilkan melalui akurasi proses produksi tertinggi sehingga proyeksi keuntungan dapat tercapai secara optimal. dapat kita cermati bahwa tujuan pt bag menggambarkan adanya hubungan sebab akibat antara perspektif bisnis internal yaitu proses produksi yang menghasilkan kepuasan pelanggan dan selanjutnya akan mengarah pada tercapainya sasaran perspektif finansial. secara eksplisit tujuan tersebut menggambarkan suatu pola bagaimana tujuan tertinggi perusahaan yaitu dari segi finansial dapat tercapai. analisis strategi pt bag dalam rangka memenangkan persaingan dan meningkatkan keuntungan perusahaan, strategi yang dijalankan pt bag dapat dikategorikan ke dalam strategi cost leadership (kepemimpinan biaya), salah satu konsep strategi persaingan yang sangat populer yang dikemukakan oleh salah seorang pakar ekonomi michael e. porter. cost leadership adalah suatu strategi bersaing di mana perusahaan berhasil memproduksi barang atau jasa pada biaya yang paling rendah di dalam industrinya. dengan biaya yang sangat efisien maka perusahaan dapat menetapkan harga penawaran yang kompetitif sehingga memiliki peluang lebih besar dalam memenangkan persaingan. keunggulan biaya biasanya dihasilkan dari produktivitas proses produksi, distribusi, atau keseluruhan operasi perusahaan. simpulan dan saran simpulan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian mengenai “penyusunan strategy map dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas” maka dapat diambil kesimpulan berdasarkan rumusan masalah penelitian sebagai berikut. 1. strategi yang digunakan pt bahtera abadi gas yaitu memberikan kualitas pelayanan terhadap pelanggan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan. 2. berdasarkan visi, misi, dan strategi, disusunlah strategy map dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas dengan strategy objective (sasaran strategis) pada masingmasing perspektif sebagai berikut. a. pada perspektif keuangan sasaran strategisnya adalah asset utilization, cost efficiency, dan increase revenue. b. pada perspektif pelanggan sasaran strategisnya adalah customer satisfaction, customer retention dan customer acquisition. c. pada perspektif proses bisnis internal sasaran strategisnya adalah quality, delivery, healthy and safety work dan develop sustainable relationship with supplier. d. pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan sasaran strategisnya adalah increasing employee competency, increasing productivity employee, recruit quality employee, improve teamwork, employee feedback, availability of information technology. irfan aulia hoesaini, perancangan strategy maps dan balanced scorecard pada pt bahtera abadi gas gresik 103 saran berdasarkan hasil analisis dan pembahasan serta hasil wawancara, disarankan untuk segera mengomunikasikan visi, misi, dan strategi perusahaan serta mengimplementasikan rancangan strategy map dan balanced scorecard untuk meningkatkan kinerja dan mengadakan perbaikan secara internal untuk dapat mencapai tujuan perusahaan. pt bag perlu membentuk tim yang bertugas untuk hal-hal sebagai berikut. 1. memeriksa kembali visi, misi, dan strategi perusahaan yang ada. 2. mereview strategy map dan balanced scorecard dalam penelitian ini untuk diimplementasikan. 3. menetapkan inisiatif dan menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan inisiatif yang sudah ditetapkan. 4. mengevaluasi keberhasilan strategi bisnis yang dipilih dan merevisinya bila diperlukan, evaluasi sebaiknya dilakukan secara berkala setiap semester sekali. daftar rujukan david, fred r. 1995. strategic management, six edition. prentice hall. gamble, john e and thompson, arthur a. jr. 2009. essentials of strategic management: the quest for competitive advantage, second edition. new york: mcgraw-hill. grant r.m. 2002. contemporary strategy analysis, fourth edition. oxford, uk: blackwell publishers. kaplan, r.s., dan norton, d.p. 1996. balanced scorecard: translating strategy into action. boston: harvard business school press. kaplan, r.s., dan norton, d.p. 2004. strategy maps: converting intangible assets into tangible outcomes. boston: harvard school press. marzuki. 2002. metodologi riset. yogyakarta: bpfe uii. madcoms. 2002. yogyakarta: andi. moleong, lexy j. 2002. metodologi penelitian kualitatif. bandung: remaja rosdakarya. mulyadi. 2001. balanced scorecard. edisi ke-2. jakarta: penerbit salemba empat. mulyadi dan johny setyawan. 2001. sistem perencanaan & pengendalian manajemen. edisi ke-2. cetakan ke-1, hlm. 424. jakarta: salemba empat. pandey, i.m. 2005. financial management. nine edition. new delhi: vikas publishing house pvt, ltd. pearce, j.a. & robinson, r.b. 1998. strategic management: strategy formulation and implementation, third edition. usa: richard d. irwin, inc. rhom, howard, halbach, larry. 2006. a balancing act: sustaining new direction. in: perform, volume 3, issue 2, 2006, pp. 1– 8. rumintjap, l. marisa. 1993. penerapan balanced scorecard sebagai tolak ukur pengukuran kinerja di rsud noongan. jurnal emba. fakultas ekonomi dan bisnis, jurusan akuntansi, universitas sam ratulangi manado. thompson, a.a. & stricklan, a.j. 2001. strategic management: concept and cases. 12 edition. new york: mcgraw-hill irwin. wheelen, l., thomas & hunger, david. j. 2002. the study of strategic management. in strategic management and business policy. eight edition. new jersey: prentice hall. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 104 wibisono, dermawan. 2006. manajemen kinerja: konsep, desain, dan tehnik meningkatkan daya saing perusahaan. jakarta: penerbit erlangga. yin, robert k. 2012. studi kasus-desain & metode. jakarta: pt raja grafindo persada. 00 atribut.pmd raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 131131 implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori mmt – its, magister manajemen teknologi institut teknologi sepuluh november surabaya e-mail: denny.herwindo@gmail.com abstract: means of rail transport in developing countries became major commodities integrated transportation solutions, rail transport is efficient for the number of mass transit. it opens the market potential procurement of railway facilities by pt inka, both in the domestic market or abroad. as a make to order-based manufacturing started in 2008 with a lot of project exports to developing countries, such as bangladesh, malaysia and singapore. pt inka export market opportunities potentially enough ahead to 2020, but delays in delivery schedule of the train is the main problem is always the case in recent years. methods of lean manufacturing focuses on identifying and eliminating activities that do not have added value, the first step was the elaboration of a method vsm (value stream mapping) as tools to determine mapping the entire process of production, then weighted 7 waste via a questionnaire and the results of the ranking of waste are translated through the method of rca (root cause analysis) and then do an analysis matrix mapping tools with value stream analysis tools (valsat) and there is a value added value ratio of 60.17% of the 84 activities of production and the total cycle time 29,905 minutes. as a tool to mitigate the improvement of waste carried out the translation of failure mode and effect analysis (fmea) and of design improvements value stream mapping future state map can raise the value added ratio to 67.16% consists of 74 processes and production activities 26 795 minutes total cycle time. so this research can increase the productivity and know the activities that do not add value (non value added) in line car body processes and eliminating waste (waste) as one of the causes of train delays in delivery. keywords: lean manufacturing, vsm, rca, root cause analysis, value stream mapping, waste, valsat, fmea, pt inka pendahuluan sarana transportasi kereta api di negara berkembang dan beberapa negara telah menjadi komoditas utama solusi transportasi terpadu, kereta api merupakan angkutan yang efisien untuk jumlah penumpang yang tinggi sehingga sangat cocok untuk angkutan massal kereta api perkotaan pada koridor yang padat, beberapa negara berusaha memanfaatkannya secara maksimal sebagai alat transportasi utama angkutan darat baik di dalam kota, antarkota, maupun antarnegara, hal tersebut membuka potensi pasar terhadap banyaknya pengadaan sarana kereta api, baik di pasar dalam negeri ataupun luar negeri. dari segi persaingan bisnis pengadaan proyek kereta api dari beberapa negara sangatlah ketat, baik dari segi kualitas produk yang dihasilkan dan ketepatan jadwal waktu pengiriman. pt inka adalah perusahaan pembuatan kereta api di indonesia, yang bergerak di bidang manufaktur, didominasi pekerjaan seperti: fabrikasi, desain, engineering, konsultan dan assembly. 70% lead time kegiatan dipusatkan pada work in process pada fabrikasi dan assy. selain didominasi permintaan proyek dari pemerintah, seperti: pt kai dan dephub (departemen perhubungan), pada tahun 2008 mulai banyak pengerjaan proyek kereta untuk pasar ekspor ke business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 132 negara berkembang, seperti: bangladesh, malaysia dan singapura. peluang pasar ekspor dari negara berkembang cukup berpotensi hingga 2020. permasalahan dari internal pt inka yaitu kesenjangan alih teknologi, kualifikasi potensi sdm dan kapasitas produksi harus ditingkatkan guna menjawab potensi pasar yang besar. namun sebaliknya, data internal divisi ppc (product planning and control) menunjukkan sebagian besar proyek mengalami keterlambatan dalam delivery produknya. beberapa data interval progres proyek pt inka yang mengalami keterlambatan dalam delivery proyek. pekerjaan proyek kereta tmc – 1 unit car tambah (non-value adding activities), baik dalam desain, produksi, supply chain, atau operasional yang terkait langsung dengan pelanggan (gaspersz, 2007). lean merupakan pendekatan sistemik yang menghilangkan pemborosan atau aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value adding activities) baik hingga output yang didasarkan pada premis bahwa di mana pun pekerjaan dilakukan selalu ada pemborosan. sebagai perusahaan berbasis manufaktur mto (make to order), dimulainya aktivitas proses produksi berdasarkan order konsumen, selain itu beragamnya jenis produk kereta api juga merupakan salah satu pemicu potensi pemborosan yang relatif tinggi. lean manufacturing sebagai suatu filosofi berlandaskan pada konsep untuk meminimalisasi pemborosan (waste) yang dianggap dapat mengatasi permasalahan dalam penumpukan barang setengah jadi di antara stasiun kerja dan produk cacat untuk meningkatkan kapasitas produksi. digunakan pendekatan lean manufacturing guna meminimalisasi waktu proses produksi yang panjang dengan cara mengurangi pemborosan (waste). adanya keterlambatan due date ini disebabkan adanya beberapa kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah pada produk atau yang biasa disebut dengan waste (pemborosan). di antaranya, keterlambatan kedatangan material dari supplier di mana akan memengaruhi waktu proses dari jadwal induk yang telah direncanakan. hal ini menyebabkan, keterlambatan waktu dimulainya proses produksi, keterlambatan pengadaan bahan consumable menyebabkan proses produksi (fabrikasi) dan finishing terhenti, menunggu bahan consumable. hal ini menyebabkan proses menunggu dalam fabrikasi, adanya proses pengerjaan ulang akibat dari ketidaksesuaian ukuran ataupun ketepatan fit-up hal ini akan memengaruhi terjadinya bulan rencana produksi realisasi sept '15 8,48% 9,37% okt '15 20,86% 21,39% nov '15 58,02% 55,29% des '15 100% 89,03% pekerjaan kereta bangladesh type bg – 50 unit bulan rencana produksi realisasi des '15 52,05% 21,38% jan '16 65,10% 22,78% feb '16 76,46% 27,87% mar '16 81,83% 29,33% dalam hal peningkatan daya saing industri harus meningkatkan produktivitas dan menurunkan lead time produksi agar memenuhi keinginan customer tepat waktu (ratnaningtyas, 2009). dalam meningkatkan produktivitas perusahaan hendaknya mengetahui aktivitas atau kegiatan yang dapat meningkatkan nilai tambah (value added) dan menghilangkan pemborosan (waste), hal tersebut maka memakai pendekatan metode lean, berfokus pada identifikasi dan mengeliminasi kegiatan yang dianggap tidak memiliki nilai raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 133 penambahan waktu proses akibat adanya pengulangan proses kerja. banyaknya bagian produk yang menunggu untuk proses berikutnya (abdul wahid nuruddin, et al., 2013). permasalahan yang dihadapi oleh pt inka adalah tidak tercapainya target produksi sehingga pengiriman pesanan kepada konsumen sering terlambat. hal tersebut disebabkan waktu produksi yang panjang serta banyaknya pemborosan (waste) yang terjadi pada proses produksi. kajian pustaka lean manufacturing lean membantu dalam penghematan, karena lean menghilangkan aktivitas-aktivitas yang tidak memberikan pertambahan nilai. general motors (gm), yang sedang menghadapi ancaman kebangkrutan dan berusaha memperoleh bailout dari pemerintah sebenarnya merupakan salah satu perusahaan yang menerapkan lean, namun sepertinya gm belum cukup efektif jika dibandingkan dengan pesaing utamanya asal jepang, yakni toyota (nurhayati, 2011). lean manufacturing adalah suatu filosofi manufaktur yang memperpendek waktu antara pesanan pelanggan dan pengiriman barang dengan menghilangkan sumber waste. dengan menghilangkan waste, maka waktu akan semakin pendek (liker, 2006). menurut gasperz (2007) mendefinisikan lean sebagai suatu filosofi bisnis berlandaskan pada minimalisasi penggunaan sumber-sumber daya termasuk waktu dalam berbagai aktivitas perusahaan. lean berfokus pada identifikasi dan eliminasi aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value adding activities) dalam desain, produksi (untuk manufaktur) atau operasional (untuk bidang jasa) dan supply chain management yang berkaitan langsung dengan pelanggan. di mana lean make to order ini lebih terfokus pada basis proses, uptime mesin, quick changeover, dan respons yang cepat untuk memenuhi due date yang telah ditetapkan sebagai value pelanggan (nuruddin et al., 2013). lean manufacturing merupakan strategi operasi dalam sistem produksi yang menitikberatkan pada usaha untuk meminimalkan waste pada aktivitas produksi baik secara internal perusahaan maupun pada rantai kegiatan terkait tujuan utama mendapatkan biaya produksi rendah, meningkatkan output dan lead time lebih pendek untuk kepuasan pelanggan dan meningkatkan produktivitas berarti merampingkan proses produksi, di mana lean sendiri mempunyai arti sebagai perampingan (ratnaningtyas, 2009). menurut chang et al. (2008) konsep lean manufacturing erat keterkaitan dengan konsep lean production, bermula dari analisis praktik toyota production system (tps) untuk pertama kalinya. lean production pada dasarnya adalah cara manajerial organisasi perusahaan dalam mengadopsi pull management melalui manajemen rekayasa sehingga dapat secara efektif mengalokasikan sumber daya yang langka dan mengoptimalkan organisasi dan mencapai tujuan pengurangan biaya, peningkatan pendapatan, peningkatan nilai pelanggan, dan perusahaan. sebagai jenis inovasi manajemen modern, lean production sangat sesuai jika diterapkan pada bidang industri manufaktur. seperti yang dikemukakan (gaspersz, 2007 dan linker, 2005). konsep dari the toyota way terdapat tujuh tipe waste dalam suatu proses sebagai berikut. 1. waiting waiting terjadi ketika ada barang yang sedang tidak bergerak/diproses. banyak sekali lead time produk yang habis ketika menunggu untuk operasi selanjutnya, hal ini biasanya dikarenakan material flow yang buruk, business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 134 memproduksi barang yang dibutuhkan oleh konsumen, kapan saatnya diperlukan dan dalam jumlah yang sesuai dengan order. dalam penerapan lean manufacturing harus dibuat korelasi langsung antara visi kondisi kerja dengan tool pendukung (zélio, 2015). vsm (value stream mapping) menurut penelitian rahani (2013) vsm adalah salah satu tool di mana digunakan untuk mengidentifikasi peluang untuk berbagai teknik lean. metode vsm disebut sebagai salah satu metode yang menerapkan suatu gambaran visualisasi yang paling efisien dalam menggambarkan keadaan suatu sistem saat ini, dan mampu mengidentifikasi visi jangka panjang dan mampu mengembangkan rencana perusahaan untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan (marksberry, 2011). value stream mapping adalah sebuah metode visual untuk memetakan jalur produksi yang di dalamnya termasuk material dan informasi dari masing-masing stasiun kerja (firmansyah, 2015). value stream mapping adalah tool yang efektif pada lean manufacturing, mencakup seluruh aliran proses dalam metode tiga langkah (rahani, 2012). 1. mengolah diagram yang menunjukkan keadaan current map mengenai informasi tentang proses yang sebenarnya telah beroperasi. 2. future map untuk mengidentifikasi akar penyebab limbah dan melalui perbaikan proses yang bisa memberikan dampak besar dalam proses. 3. perbaikan ini kemudian dilakukan implementasi rencana sebagai bagian dan rincian parsial dan tindakan yang diperlukan untuk tujuan proses kaizen. produksi yang terlalu lama, dan jarak antara work center terlalu besar. 2. transportasi atau transfer transportasi produk antara proses menimbulkan biaya namun, pergerakan yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan dan bisa mencederai kualitas. 3. overproduction overproduction adalah membuat suatu item yang belum tentu dibutuhkan. 4. motion waste ini terkait dengan ergonomis dan gerakan-gerakan yang berlebihan dan sebenarnya kurang penting juga termasuk kategori waste. 5. overprocessing banyak perusahaan yang menggunakan peralatan canggih, namun yang sederhana pun sudah cukup. mengakibatkan layout pabrik yang buruk. 6. inventory inventory merupakan akibat langsung dari overproduction dan waiting. 7. defects cacat dalam hal kualitas menghasilkan rework dan scrap yang merupakan biaya yang luar biasa untuk perusahaan. menurut ririyani (2015) dalam dunia industri banyak persaingan yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. persaingan tersebut meliputi produk, proses produksi, maupun kinerja dari industri. produk yang dimaksud adalah hasil dari produksi di mana ada atau tidaknya cacat. untuk proses produksi dapat dilihat dari peralatan yang digunakan, waste yang dihasilkan, serta waktu tunggu antar proses. kinerja industri dilihat dari jam kerja, kedisiplinan pekerja, serta keahlian pekerja. menurut hines (2002), dalam konteks manufaktur, aplikasi konsep lean cenderung untuk raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 135 menurut hynes (2000), sebelum memulai pemetaan secara rinci dari setiap proses hal ini berguna untuk mengembangkan gambaran dari fitur kunci dari yang seluruh proses. ini akan: 1. membantu memvisualisasikan alur proses 2. membantu di mana terjadi waste 3. mengetahui prinsip-prinsip lean thinking 4. membantu memutuskan siapa yang harus di tim implementasi 5. mengetahui hubungan antara arus informasi dan arus fisik 6. menciptakan tim senior melakukan pemetaan big picture mapping valsat (value stream mapping analysis tool) menurut goldie (2012), valsat dapat memetakan situasi dan kondisi yang terjadi pada pelaksanaan proyek mulai dari perencanaan proyek dari pengadaan hingga barang siap dikirim untuk pemesan. tujuan lainnya untuk mengevaluasi valsat pada proyek dengan tipe job order karena umumnya digunakan untuk mengidentifikasi waste product series. menurut intifada (2012) merupakan alat yang dapat digunakan untuk meminimalisasi waste (pemborosan) dalam proses produksi dan menganalisis waste yang paling banyak terjadi serta memberikan rekomendasi perbaikan. dalam valsat ini terdapat tujuh tool yang nantinya akan digunakan untuk menganalisis pemborosan-pemborosan tersebut. value stream mapping dengan total skor terbesar menurut hasil valsat akan dijadikan mapping terpilih untuk dapat mengidentifikasi waste secara detail. pemilihan ini didasarkan bahwa value stream mapping dengan nilai terbesar tersebut paling sesuai untuk mengidentifikasi waste pada value stream (goldie, 2012). menurut moses (2008) valsat merupakan tools yang tepat untuk memetakan secara detail waste pada aliran nilai yang fokus pada value adding process. terdapat tujuh detail mapping tools yang mempunyai manfaat untuk memetakan waste. masing-masing tools mempunyai bobot low, medium, dan high sekaligus menunjukkan skor yang dapat mengindikasikan sedikit atau besarnya pengaruh pemborosan pada mapping yang dipilih, kemudian dari pembobotan tersebut dilakukan untuk mengetahui korelasi antara tujuh waste pengaruhnya terhadap tujuh detail mapping tools. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 136 fmea (failure mode and effect analysis) fmea adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasikan dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan (failure mode). fmea digunakan untuk mengidentifikasi sumber-sumber dan akar penyebab dari suatu masalah kualitas. suatu mode kegagalan adalah apa saja yang termasuk dalam kecacatan atau kegagalan dalam desain, kondisi di luar batas spesifikasi yang telah ditetapkan, atau perubahan dalam produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk itu. para ahli memiliki beberapa definisi mengenai failure modes and effect analysis, definisi tersebut memiliki arti yang cukup luas dan apabila dievaluasi lebih dalam memiliki arti yang serupa. analisis, dokumentasi, dan memperbaiki fmea merupakan dokumen yang harus dianalisis dan diurus secara terus-menerus. fmea tidak dapat menyelesaikan masalah sehingga harus dikombinasikan dengan metode-metode ’problem solving’. fmea memberi gambaran tentang tingkat risiko suatu kegagalan. problem solving: brainstorming, fishbone diagram, design of experiment, etc. metode penelitian dalam penelitian diperlukan metode yang terstruktur, yang di dalamnya terdapat langkahlangkah dan aturan-aturan tertentu untuk mendapatkan suatu hasil penelitian secara benar. mulai identifikasi awal 0 perumusan masalah 0 tujuan penelitian studi literatur studi lapangan • konsep lean manufacturing • kondisi perusahaan, sistem produksi • value stream mapping • aliran proses produksi • valsat • penyebaran kuesioner pembobotan • fmea waste • jurnal dan tesis data 0 aliran proses produksi 0 kuesioner 7 waste pengolahan data 0 pemetaan value stream mapping 0 pengolahan kuesioner dengan valsat (value stream mapping tools) analisis data 0 analisis pemetaan dengan value stream mapping 0 analisis valsat (value stream mapping tools) 0 improvement rekomendasi dengan fmea kesimpulan dan saran raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 137 pembahasan analisis value stream mapping – current state map value stream mapping adalah tool yang digunakan untuk menggambarkan suatu sistem secara keseluruhan beserta aliran nilai (value stream) yang terdapat pada perusahaan, sehingga diketahui aliran informasi dan fisik pada sistem, lead-time yang dibutuhkan dari masing-masing proses yang terjadi. total process cycle time untuk produksi kereta mencapai 29.905 menit (498,5 jam), upaya mereduksi total process cycle time ini menjadi perhatian utama penelitian ini. selain mengetahui proses juga mengetahui potensi waste dalam keseluruhan proses. 1. waiting (menunggu) dengan score sebesar 7,8 (22,3%). 2. over processing (proses yang tidak tepat) sebesar 6,3 (18,1%). 3. motion (pergerakan yang tidak perlu) sebesar 5,6 (15,9%). skor rata-rata pemborosan (waste pada produksi car body) analisis identifikasi seven waste kuesioner pemborosan diberikan kepada pelaku produksi yang terkait dalam produksi car body kereta api. kuesioner diisi oleh kepala divisi, manager, supervisor, dan karyawan pelaksana yang terkait pada produksi car body kereta. dari hasil pembobotan tujuh waste dapat diketahui terdapat tiga jenis pemborosan yang paling dominan dan memiliki skor rata-rata paling besar sebagai berikut. no. jenis pemborosan score persentase ranking 1 overproduction 3.8 10,9% 5 2 defect 3.7 10,5% 6 3 inventory 3.6 10,4% 7 4 over processing 6.3 18,1% 2 5 transportation 4.2 11,9% 4 6 waiting 7.8 22,3% 1 7 motion 5.6 15,9% 3 root cause analysis – fishbone diagram salah satu tool dalam mencari akar penyebab masalah adalah root cause analysis, digunakan untuk mengidentifikasi detail semua kemungkinan penyebab permasalahan yang digambarkan melalui unsur: material, man, machine, dan metode. dalam solusi penyelesaian dan masukan dari fishbone diagram digali dari interview dengan pihak manajerial pt inka, meliputi: general manajer divisi fabrikasi, general manager divisi ppc, dan senior manajer divisi finishing yang keterkaitannya dengan hal teknis aktivitas faktor keterlambatan proses produksi car body. dari analisis fishbone diagram dapat ditarik rekomendasi perbaikan untuk menghilangkan waste di workshop produksi, antara lain: business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 138 hasil penjabaran fishbone diagram dan rekomendasi perbaikan pemborosan poin penyebab rekomendasi perbaikan menunggu material keterlambatan kedatangan material diperlukan adanya server system dalam penerapan pengadaan memerlukan alat bantu unloading inovasi penggunaan rel existing untuk sarana loading-unloading machine jumlah mesin terbatas invest mesin baru atau sub kontrak pekerjaan pihak lain menunggu setup mesin pembuatan baku cara setup mesin perbaikan mesin rusak penggantian komponen utama untuk menjaga kepresisian man keterbatasan sdm ahli rekrut sdm untuk supervisi kesalahan proses perlunya peran aktif supervisi memantau sop proses method perlakuan material memberikan informasi cara perlakuan material/ komponen menunggu proses lama kedisiplinan waktu baku dalam proses belum ada baku sop method mengacu baku standar internasional, seperti: jis, en over process material salah material perlunya trial, perlukan pihak expert mengenai material machine kesalahan set up perlunya peran supervisi memantau dalam set up usia mesin invest mesin baru atau kalibrasi untuk kepresisian man tenaga ahli terbatas adanya pelatihan atau sertifikasi untuk kompetensi tenaga muda alih teknologi kurang perlunya peningkatan kompetensi method salah penyimpanan penataan inventory sesuai standar kebutuhan material salah proses perlunya sop baku proses motion material proses terlalu banyak movement perlu jig membantu mempermudah seting letak antar-proses jauh perlunya flow yang memudahkan proses machine terlalu lama waktu setup mesin perlunya sop dalam setup tool kurang memadai invest mesin baru atau kalibrasi untuk tujuan kepresisian letak antar mesin jauh penambahan rel untuk alur proses man kurangnya tenaga ahli perlu supervisi tenaga expert produktivitas sdm belum maximal perlu pembekalan productivity method belum ada sop baku proses pembuatan sop proses, mengacu standar en (eropa), jis (jepang) area kerja kurang ergonomi perlunya penataan work area agar ergonomi environment jarak antar site proses jauh penambahan rel untuk alur proses banyak aktivitas loading unloading perlunya flow yang memudahkan proses raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 139 1. operasi (operation) 2. transportasi (transportation) 3. inspeksi (inspection) 4. penyimpanan (storage) 5. delay (menunggu) data process activity mapping – current state didapat melalui pengamatan proses secara langsung dan record data waktu di lapangan dan didapat data sebagai berikut. pembobotan pam – current state no. detail mapping tools total bobot rank 1. process activity mapping 267,6 1 2. supply chain response matrix 119,6 2 3. product variety funnel 37,5 6 4. quality filter mapping 43,4 5 5. demand amplification mapping 67,2 3 6. decision point analysis 51,9 4 7. physical structure 16,2 7 valsat (value stream analysis tools) setelah diketahui pembobotan waste yang dominan maka dilakukan pemetaan secara tepat dengan menggunakan valsat (value stream analysis tools). metode tersebut menghitung ratarata skor waste dikalikan dengan besarnya pembobotan yang terdapat pada tabel valsat diketahui pemetaan pam (process activity mapping) mempunyai total bobot tertinggi dan hasil perhitungan tersebut dapat mengevaluasi pemborosan pada seven waste dengan memetakan detail setiap proses produksi pt inka. tabel hasil pembobotan berdasarkan mapping valsat pam (process activity mapping) process activity mapping akan memberikan gambaran aliran fisik dan informasi serta waktu yang diperlukan untuk setiap aktivitas, jarak yang ditempuh dan waktu operasional. identifikasi aktivitas terjadi karena tool tersebut menggolongkan aktivitas menjadi lima jenis, antara lain: aktivitas jumlah waktu (menit) persentase operation 30 15.555 52,67 transportation 15 1.315 4,84 inspection 13 2.440 8,26 storage 2 1.920 6,50 delay 24 8.675 28,12 total 84 29.905 100% hasil pembobotan berdasarkan jenis aktivitas – current map aktivitas jumlah waktu (menit) persentase va 43 17.995 60,17 nnva 17 1.795 6,00 nva 24 10.115 33,82 total 84 29.905 100% dapat diketahui bahwa proses produksi car body kereta memiliki proporsi va (value added) waktu paling banyak yaitu 17.995 menit dan persentase 60,17% dari konsumsi waktu keseluruhan proses, kemudian dari data tersebut diketahui value added ratio dengan perbandingan antara value added time dengan total process cycle time. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 140 penjabaran tabel analisis fmea di atas berdasarkan pendekatan pada process cycle time aktivitas dengan lead time terbanyak. didapat dari 3 aktivitas tertinggi va (value added) pada value stream mapping antara lain pada workshop sub-assy dengan cycle time 2.730 menit (45,5 jam), car body assy dengan cycle time 1.755 menit (29 jam) dan interior fitting 1.380 menit (23 jam). dari aktivitas va (value added) tersebut juga berpotensi terhadap adanya waste, sehingga aktivitas proses tersebut dinilai kurang efektif dan dapat digali potensi kesalahan prosedurnya melalui fmea. perancangan value stream mapping future state map melalui hasil identifikasi waste pada awal kondisi current map maka dibutuhkan rancangan mapping baru, yaitu mengeliminasi sebagai berikut. process function/ require ment s e v potential cause(s)/ mechanism of failure o cc u r current process controls (prevention) current process controls (detection) d e te c t r p n corrective action(s) sub assy 9 usia mesin tua 8 dilakukan kalibrasi pengukuran 5 360 invest mesin baru 7 tidak ada sop baku 8 mengacu konsep sebelumnya pengamatan 5 280 dibakukan sop proses 8 rework karena kerusakan 9 perlu pengawasan ahli inspeksi 6 432 adanya sop setiap proses car body assy 8 proses sebelumnya kurang optimal 8 pendampingan tenaga ahli saat proses pengukuran 6 384 qc perlu ditingkatkan 8 kesalahan desain 8 trail atau simulasi awal pengukuran 6 384 perlu metode desain yang baku 7 terjadi waiting line proses 7 memprioritaskan proyek pengukuran 7 343 membuat alur yang memudahkan waiting interior equipment 8 rework karena kerusakan 8 ada alat bantu pengukuran 7 448 perlunya pendampingan staff ahli 9 perlu finish touch 6 pendampingan tenaga ahli inspeksi 7 378 perlu qc in charge lebih awal tenaga terampil 8 salah konsep desain 9 r n d internal perlu dikembangkan pengukuran 7 504 perlunya tenaga ahli konseptor desain fmea (failure mode and effect analysis) tabel hasil penjabaran fmea dan rekomendasi perbaikan raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 141 1. menghilangkan inventory setelah aktivitas unloading sebanyak (1440 menit), melalui pendekatan pull system diharapkan mampu mengurangi inventory, sehingga menciptakan aktivitas proses sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas workshop. pada kegiatan proses tersebut dapat dilakukan kerjasama dengan supplier untuk melakukan pengiriman material atau komponen sesuai dengan kebutuhan proses saat itu di workshop. 2. menghilangkan waktu menunggu terlalu lama setelah proses pengeringan unitex floor agar disesuaikan dengan waktu yang dibutuhkan pengeringan saja yaitu 540 menit, sedangkan waktu yang ada terlalu over mencapai 1380 menit, sisanya 840 menit adalah aktivitas tanpa keterangan. hal tersebut berdasar informasi identifikasi teknis dengan pihak teknologi proses pt inka. 3. menghilangkan aktivitas menunggu (waiting) yang tidak ada kaitannya dengan aktivitas proses, seperti menunggu setup, menunggu proses selanjutnya tanpa keterangan yang jelas. berdasar bagan value stream mapping terdapat 8 aktivitas tanpa keterangan dengan total waktu 830 menit. ketiga aktivitas tersebut selain berpotensi waste secara waktu, material dan komponen car body karena tidak segera dilakukan proses selanjutnya, juga berpotensi terjadi kerusakan material yang menyebabkan kerugian perusahaan. future state map akan menerapkan flow process maksimal dengan mengurangi inventory dan waiting. berikut tabel total pembobotan dari hasil future state mapping aktivitas pam (process activity mapping) dan tabel total hasil pembobotan berdasar jenis aktivitas. untuk detail perincian pam (process activity mapping) future state map dapat dilihat sebagai berikut. tabel hasil pembobotan pam – future state map gambar perancangan value stream mapping – future state aktivitas jumlah waktu (menit) persentase operation 30 15.555 58,05 transportation 15 1.315 4,84 inspection 13 2.440 9,11 storage 1 480 1,79 delay 15 7.005 26,14 total 74 26.795 100% tabel hasil pembobotan berdasarkan jenis aktivitas future map aktivitas jumlah waktu (menit) persentase va 43 17.995 67,16 nnva 16 1.795 6,70 nva 15 7.005 26,14 total 74 26.795 100% business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 142 maka dari future state map didapat value added ratio baru setelah menerapkan analisis data terkait waste dan dikemukakan melalui perbaikan proses pembuatan car body serta pengurangan waktu process cycle time. analisis future state map 1. perhitungan valsat pada current state map didapat bahwa nilai var (value added ratio) sebesar 60,17%, dibandingkan dengan var sesudah perbaikan didapat kenaikan sebesar 67,16%, dengan prinsip menghilangkan waste terhadap inventory dan aktivitas delay di mana kedua aktivitas tersebut termasuk dalam kategori non-value added. inventory sesudah unloading kedatangan material, delay pada lini produksi adalah aktivitas tanpa keterangan. 2. dari perhitungan pam (process activity mapping) didapat waktu dari current map adalah 29.905 menit dalam memproduksi car body kereta, tereduksi menjadi 26.795 menit di mana pengurangan waste sebesar 3.110 menit. jumlah aktivitas pada pam (process activity mapping) juga tereduksi dari semula 84 menjadi 74 aktivitas produksi. dalam upaya menghilangkan waste dilakukan peningkatan dalam semua proses organisasi tidak hanya dalam lini produksi. 3. meningkatkan var (value added ratio) tentunya dapat dilakukan tanpa mengurangi kualitas, perbaikan var (value added ratio) tersebut membutuhkan kepemimpinan top management dan partisipasi karyawan sehingga pencapaian lean manufacture proses dapat tercapai. implementasi manajerial top management adalah pihak yang memberikan keputusan-keputusan dalam kaitannya identifikasi permasalahan waste di lini produksi car body di pt inka, pada penelitian ini solusi feedback didapat dari sisi manajerial meliputi: general manajer pp (perencanaan perusahaan), senior manajer teknologi produksi, dan senior manajer proses fabrikasi. berdasar data 3 ranking waste tertinggi (waiting, over process, motion) dan analisis fmea di atas dapat teridentifikasi untuk analisis dan rekomendasi perbaikan untuk rujukan management dalam menentukan antisipasi terhadap potensi waste. 1. dibakukan prosedur standar di setiap preparing prosesnya, terkait dengan usia mesin yang tua sehingga sop tersebut dibuat sebagai set up mesin yang benar. 2. kaitannya over processing adalah hal yang krusial dikarenakan potensi waste tersebut berdampak terjadinya scrap material dan lamanya waktu pengadaan kembali raw material. untuk menghindari hal tersebut dilakukan antisipasi pengawasan tenaga ahli yang memantau pada awal proses. 3. perlunya peningkatan kinerja qc sebelum masuk proses car body assy sehingga meminimalkan kesalahan yang terlewatkan. selain itu potensi failure pada aktivitas kesalahan desain, dalam hal ini pihak desain perlu bekerjasama dengan pihak lain yang berpengalaman terhadap desain konstruksi car body, kemudian simulasi pengujian melalui software perlu ditingkatkan referensinya sehingga melalui simulasi yang valid desain dilakukan dengan baik dan benar. 4. aktivitas interior equipment yang berpotensi failure kesalahan desain, hal tersebut berpotensi waste terhadap waktu dan material. mengingat bahwa pt inka adalah industri manufaktur yang menerapkan concept, engineering, dan manufacture dalam satu kesatuan waktu sehingga kegiatan trial error dan raden denny herwindo, udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, implementasi lean manufacturing car body studi kasus di pt inka (persero) 143 kesalahan desain kerap terjadi. usulan dari top management adalah melatih atau melakukan perekrutan tenaga kerja profesional akan bidang interior dan fitting equipment. daftar pustaka a.r., rahani, al-ashraf m. 2012. production flow analysis through value stream mapping: a lean manufacturing process case study, international symposium on robotics and intelligent sensors 2012 (iris 2012). malaysia. elean, a.y.w, singgih. m.l. 2015. perbaikan proses produksi gula aren dengan pendekatan lean manufacturing di pabrik gula aren masarang tomohon. firmansyah, f. singgih, m.l. 2015. pendekatan cost integrated value stream mapping pada divisi kapal niaga studi kasus pt pal indonesia. gaspersz, v. 2007. lean six sigma for manufacturing and service industries: strategi dramatik reduksi cacat/ kesalahan, biaya, inventori dan lead time dalam waktu kurang dari 6 bulan. jakarta: pt gramedia pustaka utama. hines, p. taylor, d. 2000. going lean, lean enterprise research centre cardiff business school aberconway building colum drive cardiff, uk, hlm. 21. intifada, g.s. 2012. minimasi waste (pemborosan) menggunakan value stream analysis tool untuk meningkatkan efisiensi waktu produksi, studi kasus pt barata indonesia. keputusan menteri perhubungan dan telekomunikasi no. km 81 tahun 2000, pengertian dan jenis kereta. liker, j.k. 2006. the toyota way: 14 prinsip manajemen. jakarta: erlangga. li hong c, et al. 2008. applicability and methods of lean production in railway transportation organization: a case study of urumqi railway bureau in china, (school of economics and management, beijing jiaotong university, beijing, p.r. china, 100044). marksberry, p dan hughes, s. 2011. the role of the executive in lean: a qualitative thesis based on the toyota production system. international journal of lean thinking volume 2, issue 2. morlock, f. & meier, h. 2015. service value stream mapping in industrial productservice system performance management. procedia cirp, 30 (2015) 457–461 7th. industrial product-service systems conference pss, industry transformation for sustainability and business. ruhruniversität bochum, chair of production systems, 44801 bochum, germany. nuruddin w.a. et al. 2013. implementasi konsep lean manufacturing untuk meminimalkan waktu keterlambatan penyelesaian produk “a” sebagai value pelanggan (studi kasus pt. tsw) (tuban steel work). jurnal rekayasa mesin, vol. 4, no. 2, tahun 2013: 147–156. indonesia. nurhayati, e. 2011. lean manufacturing. dinamika teknik, vol. v, no. 1, januari 2011 hal 21–31. indonesia. octavia, l. 2010. aplikasi metode failure mode and effects analysis (fmea) untuk pengendalian kualitas pada proses heat treatment pt mitsuba indonesia. ratnaningtyas. 2009. implementasi lean manufacturing untuk mengurangi lead time shoulder, studi kasus pt barata indonesia business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 144 (persero). surabaya: magister manajemen teknologi, institut teknologi sepuluh november. ririyani, v. & singgih, m.l. 2015. peningkatan efisiensi di pt varia usaha beton dengan menerapkan lean manufacturing. rizky, m. dan rochman, f. 2013. penerapan lean manufacturing menggunakan wrm, waq dan valsat untuk mengurangi waste pada proses finishing. seher, a. 2015. maintenance management and lean manufacturing practices in a firm which produces dairy products, hatice atay. procedia social and behavioral sciences 207, pp. 214–224. 11th international strategic management conference 2015. sakarya, 54187, turkey: sakarya university, engineering faculty, industrial engineering department. zélio g, et al. 2015. lean manufacturing and ergonomic working conditions in the automotive industry, procedia manufacturing 3, pp. 5947–5954. 6th international conference on applied human factors and ergonomics (ahfe 2015) and the affiliated conferences. brazil: ahfe. 01 candra.pmd hidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 6161 pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya hidayatul khusnah fakultas ekonomi dan bisnis, universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: hidayatul.khusnah1989@gmail.com abstract: organizational support to employees is an important because can mitigate the negative effects of role stress. the negative effects of the role stress among which reduce job satisfaction, job performance and high turnover intention. employees who feel themselves noticed by the company will be comfortable in the work so that the performance becomes better. the aim of this study is to investigate the effect of perceived organizational support (pos) to the role stress (role ambiguity, role conflict and role overload) and job outcomes (job satisfaction, job performance and turnover intention). in addition, this study also want investigates the influence of role stress (role ambiguity, role conflict and role overload) to job outcomes (job satisfaction, job performance and turnover intention). this study used a sample of management accountants and staff management accountants at companies in the surabaya. the number of samples in this study were 111 respondents. testing the hypothesis in this study using structural equation modeling (sem) with an alternative method of partial least square (pls) using software warppls 3.0. results of this study found the negative influence of perceived organizational support (pos) to the role ambiguity and role conflict but did not find the effect of pos on role overload. other findings in this study is the role ambiguity and role conflict negative effect on job satisfaction, job performance and a positive effect on turnover intention. but different things found on role overload to job satisfaction, job performance, and turnover intention which did not reveal any influence. keywords: perceived organizational support, role ambiguity, role conflict, role overload, job satisfaction, job performance, turnover intention pendahuluan dukungan perusahaan terhadap karyawan merupakan hal penting yang harus dilakukan seperti yang telah dikatakan oleh armeli et al. (1998) bahwa dukungan perusahaan terhadap karyawan dapat membantu meminimalisasi terjadinya stres pada karyawan yang disebabkan oleh role stress serta dapat meminimalisasi dampaknya. penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh dari perceived organizational support (pos) terhadap role stress (role ambiguity, role conflict dan role overload) dan job satisfaction (job satisfaction, job performance dan turnover intention). selain itu, penelitian ini juga ingin menginvestigasi pengaruh dari role stress (role ambiguity, role conflict, dan role overload) terhadap job satisfaction (job satisfaction, job performance, dan turnover intention). penelitian ini fokus pada role ambiguity, role conflict, dan role overload sebagai faktor penentu utama dari role stress seperti yang business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 62 digunakan dalam penelitian fogarty et al. (2000). stress akibat role stress pada karyawan dapat diminimalisasi dengan adanya dukungan dari perusahaan (armeli et al., 1998). dukungan dari perusahaan dapat berupa pemahaman yang simpatik, perhatian kepada karyawan dalam bentuk mendengarkan keluhan, mengapresiasi kinerja, serta memperhatikan kesejahteraan kehidupan karyawan, ataupun berupa bantuan material (armeli et al., 1998). bentuk dukungan perusahaan di atas dapat meningkatkan perceived organizational support (pos) pada karyawan (armeli et al., 1998). khan dan byosiere (1992) seperti yang dikutip oleh stamper dan johlke (2003) dalam ringkasan penelitian mereka mengatakan bahwa teori organisasi dan penelitian terkait role stress yang ada masih sedikit yang fokus pada faktor organisasi dan interpersonal yang mungkin berfungsi sebagai pemoderasi atau mungkin sebagai penangkal terjadinya stres serta akibatnya. stamper dan johlke (2003) juga memaparkan dalam penelitiannya bahwa beberapa peneliti selanjutnya kemudian fokus meneliti pada peran moderasi dari faktor personal seperti brief et al. (1988); burke et al. (1993), dukungan interpersonal (keluarga, teman) terhadap role stress (fisher, 1985). penelitian terkait faktor organisasi terhadap role stress belum banyak diteliti oleh peneliti sebelumnya (stamper dan johlke, 2003). pos adalah salah satu dari faktor organisasi tersebut. beberapa penelitian terdahulu terkait pengaruh pos terhadap role stress (role ambiguity dan role conflict) di antaranya, yaitu hutchinson (1997) meneliti pengaruh pos terhadap role stress (role ambiguity dan role conflict) pada pengajar dan staf pengajar, luxmi dan yadav (2001) meneliti pada dokter dan stamper dan johlke (2003) meneliti pada salespeople. menurut sepengetahuan terbaik peneliti, penelitian terkait pengaruh pos terhadap role stress pada akuntan manajemen masih belum banyak diteliti, sehingga memotivasi peneliti untuk menelitinya lebih lanjut. akuntan manajemen selalu dianggap profesi yang penuh dengan tekanan (tipgos dan trebby, 1987). stres yang berhubungan dengan pekerjaan di kalangan akuntan manajemen disebabkan dari beberapa faktor seperti, jumlah pekerjaan, beban kerja yang tidak masuk akal terutama ketika “busy season”, kecemasan atas konsekuensi karena kesalahan pekerjaan, dan komputerisasi catatan (tipgos dan trebby, 1987). akuntan manajemen juga merupakan karyawan yang memiliki jadwal kerja yang tidak fleksibel, yakni harus sesuai dengan jam kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan. karyawan yang berada pada posisi jadwal kerja yang tidak fleksibel akan mengalami konflik yang lebih tinggi yang memicu terjadinya stres (greenhaus et al., 2000). kondisi jadwal kerja yang tidak fleksibel yang dibarengi dengan tekanan pekerjaan yang tinggi seperti tuntutan untuk melakukan dua pekerjaan atau lebih yang saling bertentangan akan memicu stres pada karyawan. penelitian ini juga ingin mengetahui pengaruh dari role stress (role ambiguity, role conflict, dan role overload) terhadap job outcomes (job satisfaction, job performance, dan turnover intention) akuntan manajemen. menurut sepengetahuan terbaik peneliti, penelitian tentang pengaruh role stress terhadap job outcomes banyak dilakukan pada auditor dengan asumsi bahwa profesi auditor merupakan profesi yang rentan akan kondisi tekanan (stress) yang disebabkan banyaknya tuntutan dalam pekerjaannya (hambali, 2014). penelihidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 63 tian ini mencoba meneliti pada profesi lain yaitu akuntan manajemen dengan alasan bahwa akuntan manajemen adalah profesi yang penuh dengan tekanan yang rentan terjadi stres (tipgos dan trebby, 1987). penelitian ini memilih sampel yang berbeda dari penelitian sebelumnya yaitu akuntan manajemen karena dianggap memiliki kompleksitas serta karakteristik tugas yang tidak jauh berbeda. tujuan penelitian adalah untuk menguji validitas eksternal dari hasil penelitian terdahulu dengan menggunakan sampel berbeda. penelitian ini menggunakan sampel akuntan manajemen dan staf akuntan manajemen pada perusahaan-perusahaan di kota surabaya. jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 111 responden. pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan structural equation modeling (sem) dengan metode alternatif partial least square (pls) dengan menggunakan software warppls 3.0 dengan alasan sem-pls dapat digunakan secara efisien dengan ukuran sampel kecil dan model yang kompleks (sholihin dan ratmono, 2013). hasil penelitian ini menemukan pengaruh negatif dari perceived organizational support (pos) terhadap role ambiguity dan role conflict akan tetapi tidak menemukan pengaruh dari pos terhadap role overload. temuan lain dalam penelitian ini adalah role ambiguity dan role conflict berpengaruh negatif terhadap job satisfaction, job performance, dan berpengaruh positif terhadap turnover intention. namun hal yang berbeda ditemukan pada role overload terhadap job satisfaction, job performance, dan turnover intention yaitu tidak ditemukan adanya pengaruh. temuan terakhir dalam penelitian ini yaitu temuan yang terakhir dalam penelitian ini yaitu adanya pengaruh positif dari perceived organizational support terhadap job satisfaction, job performance, dan turnover intention. tinjauan literatur dan pengembangan hipotesis perceived organizational support dan role stress (role ambiguity, role conflict, dan role overload) ada beberapa dukungan teoretis dan empiris terkait dengan gagasan bahwa pos berhubungan negatif dengan role stress serta mengurangi efek negatif dari role stress terhadap job outcomes (stamper dan johlke, 2003). eisenberger et al. (1986) mendefinisikan pos sebagai persepsi individu (karyawan) mengenai sejauh mana perusahaan menghargai kontribusi, memperhatikan kesejahteraan, mendengarkan apa yang dikeluhkan, memedulikan kesejahteraan kehidupan mempertimbangkan tujuan dan nilai-nilai karyawan. stamper dan johlke (2003) menambahkan semakin tinggi tingkat pos akan berhubungan negatif dengan role stress baik itu role ambiguity maupun role conflict. penelitian terdahulu yang dilakukan jones et al. (1995) dan stamper dan johlke (2003) yang menunjukkan bahwa pos berhubungan negatif dengan role stress. perusahaan yang peduli dengan kesejahteraan karyawan akan lebih mungkin dapat mengurangi tingkat kompleksitas pekerjaan yang tidak perlu untuk dikerjakan oleh karyawan (stamper dan johlke, 2003). karyawan yang merasa diperhatikan dan dipedulikan oleh perusahaan akan merasa nyaman dalam melakukan pekerjaan, sehingga akan mengurangi potensi terjadinya role stress. berdasarkan teori, penelitian terdahulu serta argumen di atas, maka hipotesis yang peneliti ajukan sebagai berikut. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 64 h1a: perceived organizational support (pos) berpengaruh negatif terhadap role ambiguity h1b: perceived organizational support (pos) berpengaruh negatif terhadap role conflict h1c: perceived organizational support (pos) berpengaruh negatif terhadap role overload role stress (role ambiguity, role conflict, dan role overload) dan job outcomes (job satisfaction, job performance, dan turnover intention) semua karyawan, mulai dari staff accounting, accounting, manajer junior sampai dengan manajer senior dapat mengalami stres dalam pekerjaan (ross, 1997). salah satu sumber stres yang dialami dalam lingkungan kerja adalah role stres (ningrum, 2012). ngo et al. (2005) menyatakan bahwa role stress ditandai dengan adanya role ambiguity, role conflict, dan role overload. role stress dapat menyebabkan karyawan mengalami kelelahan emosional, job satisfaction yang rendah serta tingginya tingkat turnover intention menjadi tinggi (yang, 2010). profesi akuntan manajemen merupakan salah satu profesi yang rentan terjadi stres. stres pada akuntan manajemen dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu jumlah pekerjaan, beban pekerjaan yang tidak masuk akal terutama ketika “busy season”, kecemasan atas konsekuensi karena kesalahan pekerjaan, serta komputerisasi catatan (tipgos dan trebby, 1987). akuntan manajemen adalah salah satu profesi yang memiliki jadwal kerja yang tidak fleksibel. greenhaus et al. (2000) menyatakan karyawan yang berada pada posisi jadwal kerja yang tidak fleksibel akan mengalami konflik yang lebih tinggi sehingga memicu terjadinya stres. sebagaimana dinyatakan dalam role theory, kemungkinan seorang individu atau karyawan tidak hanya mengalami satu bentuk stres saja dalam pekerjaannya. profesi akuntan manajemen juga berpotensi terjadi role ambiguity role conflict, dan role overload. role ambiguity di dalam profesi akuntan manajemen dapat terjadi ketika ekspektasi dari suatu peran tidak bisa dipahami dengan jelas kemudian dibarengi dengan ketidakyakinan dari karyawan tentang apa yang harus ia kerjakan (robin dan judge, 2007). informasi yang kurang memadai terkait peran karyawan sering kali membuat kondisi karyawan merasa kebingungan dalam menjalankan perannya sehingga dapat menyebabkan terjadinya penurunan job satisfaction, job performance, dan komitmen kepada organisasi yang menyebabkan tingginya tingkat turnover intention. karyawan yang bekerja dalam kondisi stres yang dipicu oleh role ambiguity akan memberikan dampak yang buruk terhadap karyawan dan perusahaan, seperti job satisfaction menjadi rendah, job performance menurun, serta tingginya tingkat turnover intention (montgomery et al., 1996). penelitian yang dilakukan oleh stawser et al. (1969) menemukan pengaruh tingginya role ambiguity terhadap rendahnya job satisfaction serta tingginya tingkat turnover intention. fisher (2001) dan stamper dan johlke (2003) juga menemukan pengaruh negatif dari role ambiguity terhadap job satisfaction dan job performance. role ambiguity berdampak buruk terhadap dalam pekerjaan karyawan, hal tersebut dapat berupa job satisfaction dan job performance yang rendah serta turnover intention yang tinggi. berdasarkan teori, argumen, dan penelitian terdahulu maka hipotesis yang peneliti ajukan sebagai berikut. hidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 65 h2a: role ambiguity berpengaruh negatif terhadap job satisfaction h2b: role ambiguity berpengaruh negatif terhadap job performance h2c: role ambiguity berpengaruh positif terhadap turnover intention profesi akuntan manajemen juga berpotensi terjadi role conflict. rizzo et al. (1970) mendefinisikan role conflict sebagai situasi atau kondisi peran yang diharapkan bertentangan antara satu dengan yang lainnya. role conflict terjadi ketika seorang karyawan diharapkan untuk mengerjakan lebih dari satu tugas yang saling bertentangan satu sama lain sehingga menimbulkan konflik dengan tugas lain atau konflik dengan tuntutan lain (beehr dan mcgrath, 1992). role conflict pada akuntan manajemen bisa terjadi ketika ekspektasi yang berhubungan dengan suatu peran bertentangan dengan moral individu, kepercayaankepercayaan etis atau konsep diri (hambali, 2014). tuntutan peran yang bertentangan dengan moral individu dalam profesi akuntan manajemen misalnya ketika manajer meminta untuk melakukan earnings management, kondisi tersebut sangat bertentangan dengan moral karyawan, karena karyawan harus merekayasa kondisi yang tidak sebagaimana mestinya. kondisi yang seharusnya mendapatkan laba rendah harus dicatat menjadi tinggi ataupun sebaliknya demi kepentingan tertentu sehingga hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya role conflict dalam pekerjaan karyawan. kondisi role conflict akan muncul ketika individu atau karyawan patuh pada persyaratan satu peran yang kemudian akan menyebabkan kesulitan untuk mematuhi persyaratan dari peran lain (ningrum, 2012). kondisi tersebut juga bisa dialami oleh akuntan manajemen, yaitu ketika ada dua keinginan yang bertentangan dalam waktu yang bersamaan. kepatuhan terhadap salah satu keinginan tersebut akan menyulitkan kepatuhan pada keinginan lainnya, sehingga dapat menimbulkan kondisi role conflict. penelitian terkait role conflict terhadap job satisfaction, job performance, dan turnover intention telah banyak dilakukan, seperti stawser et al. (1969) yang menemukan adanya pengaruh tingginya role conflict terhadap rendahnya job satisfaction serta tingginya tingkat turnover intention. brown dan peterson, (1993); almer dan kaplan (2002); perrewe et al. (2002); karatepe dan sokmen (2006) yang menemukan terkait dengan pengaruh dari role conflict terhadap job satisfaction yang lebih rendah, peningkatan dari turnover intention, serta job performance yang buruk. fisher (2001) juga menemukan pengaruh negatif dari role conflict terhadap job satisfaction dan job performance. role conflict secara konsisten berhubungan dengan tekanan pekerjaan yang tinggi sehingga dapat menurunkan job satisfaction dan job performance serta dapat meningkatkan turnover intention. berdasarkan teori, argumen dan penelitian terdahulu maka hipotesis yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut. h2d: role conflict berpengaruh negatif terhadap job satisfaction h2e: role conflict berpengaruh negatif terhadap job performance h2f: role conflict berpengaruh positif terhadap turnover intention profesi akuntan manajemen selain mempunyai kemungkinan terjadi role ambiguity dan role conflict, juga berpotensi untuk terjadi role overload. beehr et al. (1976) seperti business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 66 yang dikutip oleh morter (2010) mendefinisikan role overload sebagai individu atau karyawan yang memiliki beban pekerjaan yang terlalu banyak dan harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. schick et al. (1990) mengatakan bahwa role overload terjadi ketika individu atau karyawan memiliki beban pekerjaan sangat berat dan tidak sesuai dengan waktu dan kemampuan yang dimiliki. freisen (1988) menemukan bahwa tekanan dalam pekerjaan yang dirasakan oleh karyawan seperti (role overload) sering menjadi penyebab meningkatnya turnover intention. individu yang merasa menghadapi beban tugas yang melebihi kemampuannya maka ia akan mengalami emosi negatif, ketegangan serta gejala gangguan mental lainnya (morter, 2010). sebagaimana yang telah diungkapkan oleh tipgos dan trebby (1987) bahwa salah satu faktor yang dapat menyebabkan stres di kalangan akuntan manajemen adalah terkait dengan jumlah dan beban pekerjaan yang tidak masuk akal ketika “busy season”. beban pekerjaan yang terlalu banyak ketika “busy season” akan menurunkan tingkat konsentrasi karyawan sehingga job performance karyawan juga akan rendah, menurunkan job satisfaction, serta meningkatkan turnover intention karyawan. kondisi karyawan yang memiliki beban tugas yang berlebihan dan harus dikerjakan secara bersamaan dalam jangka waktu yang relatif pendek akan menyebabkan karyawan tidak dapat mencapai apa yang diharapkan dari tugasnya tersebut sehingga akan berdampak pada penurunan job satisfaction dan job performance yang rendah serta turnover intention yang tinggi. berdasarkan teori dan argumen di atas maka hipotesis yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut. h2g: role overload berpengaruh negatif terhadap job satisfaction h2h: role overload berpengaruh negatif terhadap job performance h2i: role overload berpengaruh positif terhadap turnover intention perceived organizational support (pos) dan job outcomes (job satisfaction, job performance, dan turnover intention). metode penelitian sampel dan data sampel dalam penelitian ini adalah akuntan manajemen dan staf akuntan manajemen yang minimal bekerja selama satu tahun pada perusahaan di kota surabaya. pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan survei secara langsung dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner hard copy langsung kepada responden dengan kriteria yang telah ditentukan. jumlah kuesioner yang disebar 150 dan kuesioner yang kembali 142. berdasarkan data yang telah dikumpulkan terdapat 9 kuesioner yang tidak di isi dengan lengkap, sehingga kuesioner yang dapat digunakan hanya 133. persentase tingkat respons dalam penelitian ini sebesar 87% yang menunjukkan bahwa tingkat respons yang ditunjukkan oleh responden sangat tinggi, yang mengindikasikan bahwa akuntan manajemen dan staf akuntan manajemen tertarik untuk berpartisipasi dalam penelitian. pengukuran variabel role stress role ambiguity dan role conflict dalam penelitian ini diukur dengan enam dan delapan butir pertanyaan yang dikembangkan oleh rizzo et al. (1970) yang telah digunakan di hidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 67 indonesia oleh yuniarsi (2009) dengan sedikit modifikasi dari penulis. role overload dalam penelitian ini diukur dengan tiga butir pertanyaan yang dikembangkan oleh beehr et al. (1976) yang telah digunakan oleh fogarty et al. (2000) dan juga telah digunakan di indonesia oleh yuiarsi (2009) dengan sedikit modifikasi dari penulis. pertanyaan-pertanyaan tersebut telah banyak digunakan dalam penelitian di bidang akuntansi manajemen seperti (senatra, 1980; bamber et al., 1989; rebele dan michaels, 1990; gregson et al., 1994; viator, 2001). perceived organizational support perceived organizational support (pos) dalam penelitian ini diukur menggunakan delapan pertanyaan yang dikembangkan oleh eisenberger et al., (1986) yang sebelumnya telah digunakan di indonesia oleh yuniarsi (2009). delapan butir pertanyaan tersebut diukur dengan menggunakan skala likert lima poin. job outcomes variabel job satisfaction diukur dengan minnesota satisfaction questionnaire (msq) yang dikembangkan oleh weiss et al. (1967) yang terdiri dari dua puluh satu butir pertanyaan. instrumen job satisfaction telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dalam penelitian sholihin dan pike (2009), pertanyaan-pertanyaan tersebut telah digunakan pada beberapa penelitian di bidang akuntansi, misalnya akuntansi manajemen (lau dan sholihin, 2005; sholohin dan pike, 2009) dan auditor (fisher, 2001). dua puluh satu butir pertanyaan ini diukur dengan menggunakan skala likert lima point. variabel job performance diukur dengan self-rating instrument yang dikembangkan oleh mahoney et al. (1965) yang terdiri dari sembilan pertanyaan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dalam penelitian sholihin et al. (2000). delapan pertanyaan merupakan subdimensi dari kinerja yang ingin diteliti, yang meliputi: perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, pengawasan, kepegawaian, negosiasi, dan representasi. pertanyaan kesembilan merupakan ukuran kinerja secara keseluruhan (lau dan roopnarain, 2014). variabel turnover intention diukur dengan empat butir pertanyaan yang dikembangkan oleh mobley (1977) yang telah digunakan di indonesia oleh winarti (2012) dengan sedikit modifikasi dari peneliti. hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan structural equation modeling (sem) dengan metode alternatif partial least square (pls) dengan menggunakan software warppls 3.0. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ada lima belas. hipotesis dalam penelitian ini dikatakan terdukung dengan p koefisien jalur p-value pos  ra -0,30 0,002** pos  rc -0,42 <0,001*** pos  ro -0,20 0,12 ra  js -0,26 <0,001*** ra  jp -0,24 0,004** ra  ti 0,23 <0,001*** rc  js -0,29 <0,001*** rc  jp -0,33 <0,001*** rc  ti 0,40 <0,001*** ro  js -0,08 0,298 ro  jp -0,05 0,389 ro  ti 0,04 0,345 tabel 1 koefisien jalur dan p-value business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 68 value < 0,01 (signifikan pada tingkat 1%), pvalue < 0,05 (signifikan pada tingkat 5%), serta p-value < 0,1 (signifikan pada tingkat 10%). berikut nilai koefisien jalur, p-value dari hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis sem-pls. hasil pengujian h1a-h1c: perceived organizational support berpengaruh negatif terhadap role ambiguity, role conflict, dan role overload. hasil pengujian hipotesis yang ditunjukkan pada tabel 4.9 di atas menunjukkan bahwa perceived organizational support (pos) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap role ambiguity (ra) dan role conflict (rc) akan tetapi tidak untuk pengaruh pos terhadap role overload. hal tersebut dibuktikan dengan nilai koefisien jalur pos  ra sebesar -0,30, p-value 0,002 (lebih kecil dari 0,01) serta koefisien jalur pos  rc sebesar -0,42, pvalue sebesar <0,001 (lebih kecil dari 0,001). berdasarkan hasil pengujian hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa ketika karyawan akuntan manajemen dan staf akuntan manajemen merasa mendapatkan perhatian dari perusahaan, merasa dihargai perusahaan, merasa didengarkan semua pendapatnya oleh perusahaan, maka akan mengurangi ambiguitas serta konflik dalam pekerjaan sehingga mendukung h1a dan h1b yang diajukan. hasil yang berbeda ditemukan pada h1c, yaitu pengaruh pos terhadap role overload (ro). hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pos tidak berpengaruh terhadap ro yang dibuktikan dengan nilai koefisien jalur pos  ro sebesar -0,20 p-value sebesar 0,12 (lebih besar dari 0,05). nilai koefisien jalur dari pos  ro sudah sesuai yang dihipotesiskan, namun p-value-nya yang tidak signifikan. berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perceived organizational support tidak berpengaruh negatif terhadap role overload sehingga tidak mendukung hipotesis 1c yang diajukan. hasil pengujian h2a-h2c: role ambiguity berpengaruh negatif terhadap job satisfaction, job performance, dan berpengaruh negatif terhadap turnover intention. hasil pengujian hipotesis yang disajikan dalam tabel 4.9 di atas menunjukkan nilai koefisien jalur ra  js sebesar -0,26, p-value <0,001 (lebih kecil dari 0,001) serta nilai koefisien jalur ra  jp -0,24, p-value 0,004 (lebih kecil dari 0,01) dan juga nilai koefisien jalur ra  ti sebesar 0,23, p-value <0,001 (lebih kecil dari 0,001). hasil pengujian hipotesis di atas menunjukkan keterdukungan dari ketiga hipotesis yang diajukan. berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa karyawan yang bekerja dalam kondisi stres yang dipicu oleh role ambiguity akan memberikan dampak yang buruk terhadap karyawan dan perusahaan, seperti job satisfaction menjadi rendah, job performance menurun serta tingginya tingkat turnover intention (montgomery et al., 1996). hasil pengujian h2d-h2f: role conflict berpengaruh negatif terhadap job satisfaction, job performance, dan berpengaruh negatif terhadap turnover intention. hasil pengujian h2d, h2e, dan h2f ini senada dengan hasil pengujian dari h2a, h2b, dan h2c. hasil pengujian hipotesis yang ditampilkan dalam tabel 4.9 di atas menunjukkan keterdukungan dari hipotesis yang diajukan. hal tersebut dibuktikan dengan nilai koefisien jalur dari rc  js sebesar -0,29, phidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 69 value <0,001 (lebih kecil dari 0,001), rc  jp sebesar -0,33, p-value <0,001 (lebih kecil dari 0,001) serta nilai koefisien jalur rc  ti sebesar 0,40, p-value <0,001 (lebih besar dari 0,001). berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen yang mengalami kondisi role conflict memiliki job satisfaction dan job performance yang rendah serta turnover intention yang tinggi. hasil pengujian h2g-h2i: role overload berpengaruh negatif terhadap job satisfaction, job performance dan berpengaruh negatif terhadap turnover intention. hasil pengujian h2g, h2h, dan h2i ini berbeda dari hasil pengujian hipotesis sebelumnya. berdasarkan hasil pengujian hipotesis h2g yang disajikan dalam tabel 4.9 di atas yang menunjukkan nilai koefisien ro  js sebesar -0,08, p-value 0,298 (lebih besar dari 0,05). berdasarkan hasil tersebut di atas, pengaruh ro terhadap js memiliki koefisien jalur negatif seperti yang dihipotesiskan, akan tetapi memiliki p-value di atas 0,05 sehingga tidak signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa ro tidak berpengaruh terhadap js, sehingga hipotesis 2g tidak terdukung. hasil pengujian h2h yaitu pengaruh ro terhadap jp memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,05, p-value 0,389 (lebih besar dari 0,05). berdasarkan hasil tersebut di atas, ro tidak memiliki pengaruh terhadap jp, koefisien jalur ro  jp juga tidak sesuai dengan yang dihipotesiskan, dan juga memiliki p-value di atas 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ro tidak berpengaruh terhadap jp sehingga hipotesis 2h tidak dapat didukung. sebesar 0,04, pvalue 0,345 (lebih besar dari 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa ro tidak berpengaruh terhadap ti sehingga hipotesis 2i tidak dapat didukung. tipgos dan trebby (1987) mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang dapat menyebabkan stres di kalangan akuntan manajemen adalah terkait dengan jumlah dan beban pekerjaan yang tidak masuk akal ketika “busy season”. pernyataan tipgos dan trebby (1987) ini berbeda dari hasil pengujian hipotesis 2g pada penelitian ini. hasil pengujian hipotesis 2g ini mengindikasikan bahwa akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen yang berada pada posisi role overload atau pada posisi sebaliknya ternyata tidak memengaruhi kenyamanan dalam bekerja sehingga tidak berpengaruh juga terhadap job satisfaction, job performance, dan turnover intention. kesimpulan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari perceived organizational support terhadap role stress (role ambiguity, role conflict, dan role overload) serta job outcomes (job satisfaction, job performance, dan turnover intention). penelitian ini juga ingin mengetahui pengaruh langsung role stress (role ambiguity, role conflict, dan role overload) pada akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen perusahaan yang berada di kota surabaya. hasil penelitian ini menemukan pengaruh negatif dari perceived organizational support terhadap role ambiguity dan role conflict. persepsi karyawan akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen akan adanya dukungan organisasi atau perusahaan kepada dirinya dapat mengurangi terjadinya kondisi role ambiguity dan role conflict pada mereka. di sisi lain, penelitian ini tidak menemukan business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 70 bukti terkait pengaruh perceived organizational support terhadap role overload. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun ketika karyawan akuntan manajemen dan staf akuntan manajemen merasa mendapatkan perhatian, merasa dihargai, serta merasa didengarkan semua pendapatnya oleh perusahaan ataupun ketika kondisi sebaliknya ternyata tidak berpengaruh terhadap kondisi role overload. penelitian ini juga menemukan bukti yang kuat dari pengaruh role ambiguity dan role conflict terhadap job satisfaction, job performance, dan turnover intention. role ambiguity dan role conflict berpengaruh negatif terhadap job satisfaction dan job performance, serta berpengaruh positif terhadap turnover intention. hal tersebut menunjukkan bahwa akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen yang berada pada posisi role ambiguity dan role conflict akan berpengaruh terhadap hasil kinerjanya, yaitu menurunnya job satisfaction, job performance, serta meningkatkan turnover intention. hal penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu perusahaan harus mampu mengelola perusahaan dengan baik agar dapat meminimalisasi terjadinya role ambiguity dan role conflict. namun hasil penelitian ini tidak menemukan bukti yang mendukung pengaruh role overload terhadap job satisfaction, job performance, dan turnover intention. ketidakterdukungan ini dapat disimpulkan bahwa busy season pada akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen ada dalam kondisi nyata, misalnya seperti waktu pembuatan laporan rutinan, baik itu mingguan, bulanan, ataupun tahunan. bagi akuntan manajemen atau staf akuntan manajemen membuat laporan rutinan sudah terbiasa atau sudah menjadi rutinitas sehingga tidak berpengaruh terhadap hasil kinerjanya baik itu job satisfaction, job performance, dan turnover intention. dari hasil keseluruhan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dukungan dari organisasi atau perusahaan itu sangat penting bagi karyawan. karyawan yang merasa dirinya diperhatikan kesejahteraannya, didengarkan pendapatnya, serta dihargai kinerjanya cenderung akan merasa nyaman dalam bekerja dan akan meningkatkan hasil kinerjanya. hal penting lain yang dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini yaitu perusahaan juga harus memperhatikan situasi dan kondisi bagaimana karyawan bekerja, dengan cara memberikan informasi yang jelas dan instruksi yang jelas agar dapat meminimalisasi terjadinya role ambiguity dan role conflict daftar pustaka allen, t.d., herst, d.e.l., bruck, c.s., and sutton, m. 2000. consequences associated with work-family conflict: a review and agenda for future research. journal of occupational health psychology. 5 (2):278–308. almer, e.d., and kaplan, s.e., 2002. the effects of flexible work arrangements on stressors, burnout, and behavioral job outcomes in public accounting. behavioral research in accounting. 14:3–34. alzalabani, a., and modi, r.s. 2014. impact of human resources management practice and perceived organizational support on job satisfaction: evidence from yanbu industrial city, ksa. the iup journal of organizational behavior 13. no. 3. hidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 71 armeli, s., eisenberger, r., faloso, p., and lynch, p. 1998. perceived organizational support and police performance: the moderating influence of socioemotional needs. journal of applied psychology 83. no. 2: 288–297. babakus, e., cravens, d.w., johnson, m., and moncrief, w.c. 1996. examining the role of organizational variables in the salesperson job satisfaction model. journal of personal selling and sales management. 16(3): 33–46. bamber, e.m., snowball, d., and tubbs, r.m. 1989. audit structure and its relation to role con¯ict and role ambiguity: an empirical investigation. the accounting review, 64: 285–299. beehr, t. a., j.t. walsh, and t.d. taber .1976. relationship of stress to individually and organizationally valued states: higher order needs as a moderator. jurnal of applied psychology. 61(1):41–47. beehr, t.a. and mcgrath, j.e. 1992. social support, occupational stress, and anxiety. anxiety, stress and copyng. 5:7–19. brown, s.p. and peterson, r.a., 1993. antecedents and consequences of salesperson job satisfaction:meta-analysis and assessment of causal effects. journal of marketing research. 30: 63–77. brownell, p. 1982. the role of accounting data in performance evaluation, budgetary participation and organizational effectiveness. journal of accounting research. 20(1): 12–27. carlson, d.s. and perrewe, p.l. 1999. the role of social support in the stressorstrain relationship: an examination of work-family conflict. journal of management. 25: 513–540. churchill, g.a., ford, n.m., and walker, o.c. 1974. measuring the job satisfaction of industrial salespeople. journal of marketing research, 11: 254–260. eisenberger, r., huntington, r., hutcison, s., and sowa, d. 1986. perceived organizational support. journal of applied psychology. 71 (3): 500–507. eisenberger, r., fasolo, p., and davis-lamastro, v. 1990. perceived organizational support and employee diligence, commitment and innovation. journal of applied psychology. 75: 51–59. farooqui, s. and nagendra, a. 2014. the impact of person organization fit on job satisfaction and performance of the employees. procedia economics and finance. 11: 122–129. firth, l., mellor, d.j., moore, k.a., and loquet, c. 2004. how can managers reduce employee intention to quit. journal of managerial psychology. 19 (1): 170–187. fisher, r.t. 2001. role stress, the type a behaviour pattern, and external auditor job satisfaction and performance. behavioral research in accounting 13: 143–170. fogarty, t.j., j. singh, g.k. rhoads, and r.k. moore. 2000. antecedents and consequences of burnout in accounting: beyond the role stress model. behavioral research in accounting. 12: 31–67 fried, y. and tiegs, r.b. 1993. the main effect model versus buffering model of shop steward social support: a study of rank-in-file auto workers in the usa. journal of organizational behavior. 14: 483–488. business and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 72 friesen, d., prokop, c.m., and sarros, j.c. 1988. why teachers burnout. educational research quarterly. 12: 9–19. frone, m.r., russell, m., and cooper, m.l. 1995. relationship of work and family stressors to psychological distress: the independent moderating influence of social support, mastery, active coping, and self-focused attention. in r. crandall and p. l. perrewe´ (eds.), occupational stress: a handbook. washington dc: taylor and francis. greenhaus, j. and parasuraman, s. 1986. a work-nonwork interactive perspective of stress and its consequences. in j. m. ivancevich and d. c. ganster (eds.), job stress: from theory to suggestion. new york: haworth press. gregson, t., wendell, j., and aono, j. 1994. role ambiguity, role conflict, and perceived environmental uncertainty: are the scales measuring separate constructs for accountants. behavioral research in accounting. 6: 144–159. guzzo, r.a., noonan, k.a., and elron, e. 1994. expatriate managers and the psychological contract. journal of applied psychology. 79(4): 617–626. hall, m. 2008. the effect of comprehensive performance measurement systems on role clarity, psychological empowerment and managerial performance. accounting, organizations and society. 33: 141–163. hair, j.f., g.t.m. hult, c.m. ringle, and m. sarsted. 2014. a primer on partial least squares structural equation modeling (pls-sem). united states of america: sage publications, inc. hambali, a.j.h. 2014. dampak role conflict, role ambiguity, role overlad, and tingkat toleransi ambiguitas terhadap judgement auditor. disertasi strata tiga. tidak dipublikasikan. yogyakarta: universitas gadjah mada. hartline, m.d., and ferrell, o.c. 1996. the management of customer-contact service employees: an empirical investigation. journal of marketing. 60: 52–70. hartono, j. and abdillah, w. 2014. konsep and aplikasi pls (partial least square) untuk penelitian empiris. edisi pertama. yogyakarta: bpfe. hutchison, s. 1997. a path model of perceived organizational support. journal of social behavior and personality. 12(1): 159–174. jackson, s.e., and schuler, r.s. 1985. a metaanalysis and conceptual critique of research on role ambiguity and role conflict in work settings. organizational behavior and human decision processes. 36: 16–78. jones, b., flynn, d.m., and kelloway, e.k. 1995. perception of support from the organization in relation to work stress, satisfaction, and commitment. in s.l. sauter and l.r. murphy (eds.). organizational risk factors for job stress: 41– 52. washington, d.c.: american psychological association. karatepe, o.m., uludag, o., menecis, i., hadzimehmedagic, l., and baddar, l. 2006. the effects of selected individual characteristics on frontline employee performance and job satisfaction. tourism management 27 (4): 547–560. karatepe, o.m., yavas, u., babakus, and e., avci, t. 2006. does gender moderate hidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 73 the effects of role stress in frontline service jobs. journal of business research. 59 (10–11), 1087–1093. kelley, c.l. 2010. perceived organizational support as a predictor of stigma ad treatment seeking for psychological problems. clemson university. la rocco, j.m., house, j.s., and french, j.r.p., jr. 1980. social support, occupational stress and health. journal of health and social behavior. 21: 202– 216. lau, c.m. and tan, j. 1998. the impact of budget emphasis, participation and task difficulty on managerial performance. a cross-cultural study of the financial services sector. management accounting research. 9: 163–183. lau, c.m. and roopnarain, k. 2014. the effects of nonfinancial and financial measures on employee motivation to participate in target setting. the british accounting review. 46:228–247. leigh, j. h., lucas, g.h. jr., and woodman richard w. 1998. effects of perceived organizational factors on role stressjob attitude relationships, journal of management. 14 (1): 41–58. lingard, h. 2003. the impact of individual and job characteristics on burnout among civil engineers in australia and the implications for employee turnover. construction management and economics. 21 (1): 69–80. luthans, f. 2005. perilaku organisasi. edisi kesepuluh. yogyakarta: andi offset. mcnichols, c.w., m.j. stahl, and t.r. manley. 1978. a validation of happock’s job satisfaction measure. academy of management journal, 737–742. miles, r. and perreault, w. 1976. organizational role conflict: its antecedents and consequences. organizational behavior and human performance. 17(1):19–44. mobley, w.h. 1977. intermediate linkages in the relationship between job satisfaction and employee turnover. journal of applied psychology 62, 237–240. montgomery, d.c., blodgett, j.g. and barnes, j.h. 1996. a model of financial securities sales person’s job stress. the journal of services marketing 10. no. 3: 21–34. morter, j.r. 2010. relationship of role overload to job satisfaction and intent to leave among a cute care nurses. dissertations. university of phoenix. ningrum, r. 2012. perbedaan gender and antecedent-konsekuensi burnout auditor interal pemerintah. tesis strata 2 tidak dipublikasikan. yogyakarta: universitas gadjah mada. ngo, h.y., foley, s., and loi, r. 2005. work role stressors and turnover intentions: a study of professional clergy in hong kong. the international journal of human resource management, 16 (11): 2133–2146. ohme, m. and zacher, h. 2015. job performance ratings: the relative importance of mental ability, conscientiousness, and career adaptability. journal of vocational behavior. 87:161–170. parasuraman, s., greenhaus, j.h., and granrose, c.s. 1992. role stressors, social support, and well-being among two-career couples. journal of organizational behavior. 13: 339–356. perrewe, p.l., hochwarter, w.a., and rossi, a.m. 2002. are work stress relationbusiness and finance journal, volume 2, no. 1, march 2017 74 ships universal? a nine-region examination of role stressors, general self-efficacy, and burnout. journal of international management. 8 (1): 163–187. phelan, j., schwartz, j. bromet, e., dew, m., parkinson, d., schulberg, h., dunn, l., blane, h., and curtis, c. 1991. work stress, family stress, and depression in professional and managerial employees. psychological medicine. 21: 999–1012. preffer, j. 1982. organizations and organization theory. marshfield. massachusetts: pitman publishing inc. rahayu, d.s. 2000. anteseden dan konsekuensi tekanan peran (role stress) pada auditor independen. tesis strata 2 tidak dipublikaskan uneversitas gadjah mada. yogyakarta. ray, e.b. and miller, k.i. 1994. social support, homework stress, and burnout: who can help. journal of applied behavioral science. 30: 357–373. rebele, j.e. and r.e., michaels. 1990. independent auditors’ role stress: antecedent, outcomes, and moderating variables. behavioral research in accounting. 2:145-153. reynolds, d. and tabacchi, m. 1993. burnout in full-service chain restaurants. the cornell hotel and administration quarterly. 34 (2): 62–68. rizzo, j.r., house, r.j., and lirtzman, s.i. 1970. role conflict and ambiguity in complex organizations. administrative quarterly. 15: 150–163. robin, s.p. and judge. 2007. perilaku perusahaan. jakarta: salemba empat. ross, g.f. 1997. career stress responses among hospitality employees. analysis of tourism research. 24 (1): 41–51. sager, j.k. 1991. a longitudinal assessment of change in salesforce turnover. journal of academy of marketing science. 19:25–36. schick, a.l. gordon and s. haka. 1990. information overload: a temporal approach. accounting, organizations, and society 15: 199–220. sebastianelli, rose,sumrall, and delia a. 1999. the moderating effect of managerial sales orientations on salespersons’ role stress-job satisfaction relationships. journal of marketing theory and practice. 7(1): 72–79. senatra, p.t. 1980. role conflict, role ambiguity, and organizational climate in a public accounting firm. the accounting review. 55 (4): 594–603. sholihin, m. dan pike, r. 2009. fairnes in performance evaluation and its behavioural consecuences. accounting and business research. vol. 39, no. 4, pp. 397–413. sholihin, m., pike, r., dan mangena, m. 2010. reliance on multiple performance measures and manager performnce. journal of accounting research. vol.11 (1): 24–42. sholihin, m. and ratmono, d. 2013. analisis sem-pls dengan warppls 3.0. yogyakarta: cv andi offset. siu, o.l., spector, p.e., cooper, g.l., lu, l., yu, s. 2002. managerial stress in greater china: the direct and moderator effects of coping strategies and work locus of control. applied psychology: an international review. 51 (3): 608–632. stamper, cristina, l., and johlke, mark c. 2003. the impact of perceived organizational support on the relationship hidayatul khusnah, pengaruh perceived organizational support (pos) dan role stress terhadap job outcome pada akuntan manajemen di perusahaan-perusahaan di kota surabaya 75 between boundary spanner role stress and work outcomes. journal of management. 29(4): 569–588. stawser, r.h., j.m. ivanicevich, and h.l.lyon. 1969. a note on the job satisfaction of accountants in large and small cpa firms. journal of accounting research. 339-345. tett, r. and meyer, j. 1993. job satisfaction, organizational commitment, turnover intention and turnover: path analyses based on meta-analyticfindings. personnel psychology. 46: 259-293. tipgos, a. and trebby, p. 1987. job-related stresses and strains in management accounting. the journal of applied business research. tubre, t.c. and collins, j.m. 2000. jackson and schuler (1985) revisited: a metaanalysis of the relationships between role ambiguity, role conflict, and job performance. journal of management. 26(1): 155–169. vazifehdust, h. and asadollahi, a. 2014. the examination of role conflict and role ambiguity on job satisfaction. middleeast journal of scientific research. 20 (3): 284–291. viator, r.e. 2001. the association of formal and informal public accounting mentoring with role stress and related job outcomes. accounting, organizations and society 26: 73–93. wayne, s.j., shore, l.m., and liden, r.c. 1997. perceived organizational support and leader-member exchange: a social exchange perspective. academy of management journal. 40: 82–111. weatherly, k.a. and tansik, d.a. 1993. tactics used by customer-contact workers: effects of role stress, boundary spanning, and control. international journal of service industry management. 4(3): 4–17. winarti, i.y.p. 2012. pengaruh kepuasan pada gaji, beban kerja, trust kepada pimpinan terhadap turnover intention dari course consultant di english first eduka group. tesis strata 2 tidak dipublikasikan universitas gadjah mada. yogyakarta. yang, jen-te. 2010. antecedents and consequences of job satisfaction in the hotel industry. international journal of hospitality management. 29:609–619. yuniarsi, s. 2009. analisis peran dukungan perusahaan persepsian sebagai variabel moderasi pada hubungan antara stressor kerja dengan konflik pekerjaan-keluarga. tesis strata 2 tidak dipublikasikan. yogyakarta: universitas gadjah mada. zeffane, r. 1994. understanding employee turnover: the need for a contingency approach. international journal of manpower. 15(9): 1–14. 00 atribut.pmd udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 115115 pemilihan excavator kelas 50 ton untuk usaha pertambangan sirtu galian c melalui penerapan metode analytical hierarchy process (ahp) dany irawan, fuad achmadi magister manajemen teknologi, program pascasarjana institut teknologi sepuluh november surabaya e-mail: danyirawan81@yahoo.com abstract: the selection process of excavator in mine workings of sand & gravel mine type c is one of important process, because in this process, mining industrialist wants an exact and suitable investment with necessary with applying the method and appropriate criteria. the enterprise hope can get the good profit with appropriate method in excavator selection. the problem of this research is the plan of enterprise for add the capacity of production with buy the excavator 50 ton class as the main loading equipment 20 ton class, so need the study for measure the criteria in selection of excavator. the aim of this research is for help the company for having the appropriate take system and be able to use for the company in investment selection and make more easier to find out the most optimal aspect between the aspects in decision of excavator selection. the method that used as the analysis tool in this study is using ahp (analytical hierarchy process) method with using the comparing of criteria that fixed. from the result of the analysis and alternative decision of excavator about multi attribute, the first position is k excavator (34,4%), the second position is c excavator (33,4%), and the last position is d excavator (32,2%). keywords: excavator, sand & gravel mining, ahp (analytical hierarchy process) pendahuluan pertambangan pasir batu (sand & gravel) atau yang lebih biasa disebut sirtu adalah salah satu jenis pertambangan yang masuk dalam golongan c banyak dan tersebar di wilayah provinsi jawa timur. peluang usaha pertambangan sirtu di wilayah provinsi jawa timur berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. hal ini selaras dengan berkembangnya pembangunan di provinsi ini yang meliputi pembangunan perumahan dan permukiman, infrastruktur jalan dan jembatan, pembangunan kantor, sarana pergudangan, serta berbagai macam infrastruktur lainnya sehingga kebutuhan akan komoditi sirtu meningkat dan bisnis di bidang ini mempunyai prospek yang cukup menjanjikan. pt xyz adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan sirtu golongan c yang berdiri sejak tahun 1984 di surabaya. pt xyz memiliki konsesi lahan dan izin usaha pertambangan sirtu yang terletak di kecamatan gempol kabupaten pasuruan jawa timur seluas 315,71 hektar. sejak tahun 2011 dimulailah kegiatan pertambangan sirtu di daerah pasuruan tersebut. prospek dari usaha pertambangan sirtu yang terlihat bagus membuat perusahaan mengembangkan usahanya dengan menambah kapasitas produksi sirtu. dalam 4 tahun terakhir, permintaan terhadap komoditi sirtu pada pt xyz selalu meningkat, bahkan dalam 2 tahun terakhir volume produksi dan permintaan pasar tidak seimbang, yaitu lebih banyak permintaan dibanding dengan produksi sehingga pt xyz banyak kehilangan pembeli dan potensi calon pembeli yang berpindah ke tempat lain. apabila hal tersebut dibiarkan akan menimbulkan potensi kehilangan yang lebih besar dan kemungkinan kehilangan pelanggan yang akan membeli business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 116 di tempat lain juga cukup besar. pasar dari komoditi sirtu dalam 2 tahun terakhir lebih banyak digunakan dalam bidang properti, persiapan lahan untuk pembangunan infrastruktur dan jalan. pt xyz berada di daerah kecamatan gempol kabupaten pasuruan, yang terletak di lereng gunung penanggungan adalah salah satu dari perusahaan yang sudah memiliki izin kuasa pertambangan (iup) dan sudah mengantongi sertifikat clear and clean (cnc) dari dirjen pertambangan sehingga aman secara legalitas. selain itu, secara geografis kawasan kecamatan gempol kabupaten pasuruan tersebut memiliki letak yang sangat strategis, yaitu dekat dengan akses jalan tol yang menuju ke kotakota besar dan berkembang seperti surabaya, sidoarjo, gresik, mojokerto, dan pasuruan sehingga memudahkan transportasinya. untuk mendapatkan produksi seperti yang diharapkan dan memberikan pelayanan demi kepuasan pelanggan maka peningkatan performance dari unit excavator sangat di perlukan. dengan ratarata umur unit yang sudah mencapai 14.000 jam kerja maka perlu dilakukan peremajaan unit alat berat terutama excavator. di tahun 2015 produksi sirtu pt xyz mencapai 2.728.047 bcm dan di tahun 2016 perusahaan mempunyai target meningkatkan kapasitas produksi sampai dengan 5.000.000 bcm, hal ini dilakukan dengan melihat potensi market yang ada dan untuk bisa menyerap permintaan terhadap komoditi sirtu dan juga untuk mempertahankan pelanggan atau costumer yang sudah ada selama ini tidak berpindah ke tempat lain. untuk menambah kapasitas produksi dan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, pt xyz berencana melakukan investasi berupa penggantian alat berat excavator dari sebelumnya kelas 20 ton menjadi excavator baru kelas 50 ton agar mendapatkan hasil volume produksi dan performance yang diharapkan. dengan adanya rencana penggantian unit tersebut, untuk unit kelas 20 ton sendiri apabila sudah tidak terpakai kemungkinan besar akan dijual. izin kuasa pertambangan (iup) berlaku 10 tahun dari sejak di terbitkan pada tahun 2011. dengan rencana cadangan sirtu sekitar 75 juta bcm, dan dalam 5 tahun terakhir baru sekitar 15 juta bcm atau sekitar 20% yang terambil dari total cadangan sirtu, maka dengan adanya batasan waktu tersebut sehingga penting bagi perusahaan untuk lebih mengoptimalkan produksi. salah satu cara untuk mengoptimalkan produksi adalah menambah kapasitas produksi dengan melakukan pergantian excavator dari kelas 20 ton menjadi 50 ton. rencana penggantian alat berat ini mengandung risiko, salah satunya adalah munculnya biaya investasi dan operasional yang lebih tinggi. biaya investasi peralatan pertambangan merupakan biaya yang mempunyai persentase cukup besar dari seluruh biaya operasional pertambangan. alat yang diperlukan adalah alat loading, yaitu alat penggaruk sirtu dan menaikkan ke dalam truck atau yang sering disebut excavator. alat ini sangat vital dalam bisnis ini, karena sangat menentukan kecepatan dan produktivitas pertambangan, sehingga pemilihan unit yang sesuai baik dari sisi teknis seperti ketahanan, kualitas produk, cycle time, pemakaian fuel dan dari sisi nilai investasi sangat memengaruhi proses pertambangan dan hasilnya. pt xyz yang merupakan perusahaan perseorangan, selama ini dalam berinvestasi seperti memilih jenis dan merek alat berat lebih banyak mengandalkan insting dan pilihan dari direktur utama, bukan berdasarkan hasil diskusi dari berbagai pihak yang berkepentingan sehingga lebih bersifat subjektif. hal ini berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari karena yang sudah diputuskan untuk dipilih kadang tidak sesuai dengan kebutuhan atau spesifikasi. udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 117 dalam penelitian ini akan dibahas bagaimana memilih excavator agar investasi yang ditanamkan dapat berjalan tepat. di dalam menentukan excavator diperlukan suatu metode yang dapat membantu perusahaan dalam menganalisis dan mengevaluasi semua alternatif dari excavator yang akan dipilih. untuk mempermudah mencari titik optimal antara aspek-aspek yang terkandung pada keputusan pada pemilihan unit excavator sesuai dengan bobot prioritas yang ada, maka proses pemilihan lebih tepat menggunakan pendekatan analytical hierarchy process (ahp). pemilihan menggunakan metode ahp ini dalam menentukan excavator di pt xyz adalah karena metode ahp ini mudah dilakukan oleh perusahaan yang sedang berkembang. kurangnya data kuantitatif yang mendukung proses pemilihan investasi di pt xyz ini menjadi pertimbangan dalam memilih metode ahp tersebut karena metode ini lebih menonjolkan data kualitatif dengan melihat pendapat dan sintesis dari berbagai sudut pandang responden yang berkompeten. seperti di jelaskan sebelumnya bahwa pt xyz belum memiliki pengalaman untuk melakukan investasi dan juga dalam operasional excavator kelas 50 ton sehingga data-data kuantitatif tidak lengkap. selain itu, pertimbangan dalam melakukan investasi alat berat khususnya excavator pt xyz melihat dari berbagai sisi dan sudut pandang, yaitu dari sisi biaya investasi, sisi operasional di lapangan serta perawatan dan pemeliharaan unit itu sendiri juga menjadi pertimbangan yang diambil. untuk unit excavator, setiap pabrikan hanya mengeluarkan 1 jenis produk di masing-masing kelas, yang berubah hanya seri keluarannya dari tahun ke tahun sehingga pemilihan excavator 50 ton tidak banyak pilihan dan harus dilakukan dengan cermat. kerangka teoretis definisi pertambangan pertambangan adalah kegiatan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam tambang (bahan galian) yang terdapat dalam bumi (salim, 2009). industri pertambangan adalah suatu industri di mana bahan galian mineral diproses dan dipisahkan dari material pengikut yang tidak diperlukan. dalam industri mineral, proses untuk mendapatkan mineral-mineral yang ekonomis biasanya menggunakan metode ekstraksi, yaitu proses pemisahan mineral-mineral dari batuan terhadap mineral pengikut yang tidak diperlukan. mineral-mineral yang tidak diperlukan akan menjadi limbah industri pertambangan dan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan pada pencemaran dan degradasi lingkungan. industri pertambangan sebagai industri hulu yang menghasilkan sumber daya mineral dan merupakan sumber bahan baku bagi industri hilir yang diperlukan oleh umat manusia di seluruh dunia (salim, 2009). sementara sumber daya mineral itu sendiri dapat diartikan sebagai sumber daya yang diperoleh dari hasil ekstraksi batuan-batuan yang ada di bumi. pengelolaan alat gali pertambangan untuk melakukan pertambangan diperlukan alat-alat yang sesuai dan tepat untuk berbagai macam batuan. pemilihan alat-alat yang akan dipakai tergantung dari faktor-faktor teknik (misalnya jenis dan lokasi batuan) dan ekonomis (misalnya, harga alat, biaya pembongkaran persatuan volume, serta biaya pemeliharaan alat). hal ini sangat penting, karena kesalahan dalam memilih alat terutama jenis dan kemampuannya dapat mengakibatkan kesalahan-kesalahan lain dan bahkan kerugian materi yang tidak sedikit. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 118 kukan peninjauan terhadap nilai-nilai tersebut pada tahap informasional untuk menentukan nilai ekonomisnya pada variabel-variabel yang cukup berpengaruh sehingga didapatkan suatu keputusan. pengambilan keputusan dengan multiple attribute decision making (madm) pada umumnya, problem yang timbul dari multiple attribute decision making (madm) yaitu membandingkan sebuah bilangan terbatas dari beberapa rencana alternatif dan beberapa performa atribut (sen, 1998) gambar 2.3 memperlihatkan permasalahan madm dengan n alternatif (ai,i = 1,…,n) dan k atribut (yj,j= 1,…,k). untuk setiap pasang alternatif (ai, a1,i=1, …,n ;i‘“ 1) dibandingkan dengan setiap atribut (yj ,=1, … k). jika mil mewakili tingkat kepentingan ai dari a1 dibandingkan dengan atribut yj dapat dirumuskan seperti pada persamaan di bawah ini. permasalahan madm diwakili oleh k matriks perbandingan berpasangan untuk k atribut. di mana: m1h= 1/m1h untuk semua 1,h= 1,…,n;, berupa perbandingan simetri. gambar 2.5 memperlihatkan permasalahan hierarki madm yang lebih umum dengan struktur atribut banyak lapisan, banyak pengambilan keputusan dan pembandingan berpasangan yang tidak lengkap yang mengimplikasikan bahwa tidak semua dari tingkat beberapa atribut paling bawah (atau beberapa alternatif) berhubungan dengan beberapa atribut yang berada di atasnya. metode delphi metode delphi adalah suatu metode di mana dalam proses pengambilan keputusan melibatkan beberapa pakar. adapun para pakar excavator atau sering disebut dengan backhoe termasuk dalam alat penggali hidrolis memiliki bucket yang dipasangkan di depannya. alat penggeraknya traktor dengan roda ban atau crawler. backhoe bekerja dengan cara menggerakkan bucket ke arah bawah dan kemudian menariknya menuju badan alat. dengan demikian dapat dikatakan bahwa backhoe menggali material yang berada di bawah permukaan di mana alat tersebut berada. pengoperasian backhoe umumnya untuk penggalian saluran, terowongan, atau basement. backhoe beroda ban biasanya tidak digunakan untuk penggalian, tetapi lebih sering digunakan untuk pekerjaan umum lainnya. backhoe digunakan pada pekerjaan penggalian di bawah permukaan serta untuk penggalian material keras. dengan menggunakan backhoe maka akan didapatkan hasil galian yang rata. pemilihan kapasitas bucket backhoe harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari pengambilan keputusan sering menggunakan intuisi, padahal kita mengetahui bahwa dengan intuisi banyak sekali kekurangan sehingga dikembangkan sistematika baru yang disebut dengan analisis keputusan. ada tiga aspek yang memiliki peranan dalam analisis keputusan yaitu, kecerdasan, persepsi, dan falsafah. dari informasi awal yang dikumpulkan, dilakukan pendefinisian dan penghubungan variabel-variabel yang memengaruhi keputusan pada tahap deterministik. setelah itu, dilakukan penetapan nilai untuk mengukur tingkat kepentingan variabel-variabel tersebut tanpa memperhatikan unsur ketidakpastian. pada tahap probalistik, dilakukan penetapan nilai ketidakpastian secara kuantitatif yang meliputi variable-variabel yang sangat berpengaruh. setelah didapatkan nilai-nilai variabel, selanjutnya dibaudisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 119 tersebut tidak dipertemukan secara langsung (tatap muka), dan identitas dari masing-masing pakar disembunyikan sehingga setiap pakar tidak mengetahui identitas pakar yang lain. hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dominasi pakar lain dan dapat meminimalkan pendapat yang bias. proses hierarki analitik (analytical hierarchy process-ahp) dalam proses penilaian excavator di pt xyz maka metode yang dapat digunakan dalam menerapkan alternative berdasarkan beberapa kriteria yang ada adalah metode ahp (analytical hierarchy process). pada penilaian excavator maka proses yang bisa diringkas sebagai berikut. 1. menentukan kriteria-kriteria pemilihan 2. menentukan bobot masing-masing kriteria 3. mengidentifikasi alternatif yang telah diidentifikasi 4. mengevaluasi masing-masing alternatif dengan kriteria-kriteria yang ditentukan pada langkah pertama 5. menilai bobot masing-masing kriteria 6. mengurutkan kriteria berdasar tingkat bobot proses hierarki analitik (analytical hierarchy process) dikembangkan oleh dr. thomas l. saaty dari wharton school of business pada tahun 1970. ahp digunakan untuk mengorganisasikan informasi dan penilaian dalam memilih alternatif yang paling disukai. dengan menggunakan ahp suatu persoalan yang akan dipecahkan dalam suatu kerangka berpikir yang terorganisasi dapat diekspresikan sehingga memungkinkan untuk mengambil keputusan yang efektif atas persoalan tersebut. persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya. prinsip kerja ahp adalah menyederhanakan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur menjadi unsurunsurnya serta menata dalam hierarki (marimin, 2004). kemudian tingkat kepentingan setiap variabel diberi nilai numerik tentang arti penting variabel tersebut secara efektif dibandingkan dengan variabel yang lain. dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesis untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tertinggi dan berperan untuk memengaruhi hasil pada system tersebut. secara grafis, persoalan keputusan ahp dapat dikonstruksikan sebagai diagram bertingkat yang dimulai dengan level 1 goal/ tujuan level---------------------------------------------2 --------------------- kriteria ke-1 kriteria ke-2 kriteria ke-i ------------------------------------------------------------------------------------------------ level 3 alternatif ke-1 alternatif ke-2 alternatif ke-n gambar 1 penyusunan hierarki ahp level 1: goal/tujuan level 2: atribut level 3: alternatif-alternatif business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 120 goal/tujuan, atribut, sub-atribut dan yang terakhir alternatif. melalui ahp memungkinkan pengguna untuk memberikan nilai bobot relatif dari suatu faktor atribut, sub-atribut, maupun alternatif berdasarkan persepsi pengguna terhadap faktor atribut, sub-tribut maupun alternatif lainnya dengan cara melakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). dengan cara yang konsisten perbandingan berpasangan tersebut diubah menjadi suatu himpunan bilangan yang mempresentasikan prioritas relatif dari setiap atribut, sub-atribut, dan alternatif. bila terjadi penyimpangan yang terlalu jauh dari konsistensi maka penilaian tersebut perlu diperbaiki atau hierarki harus disusun ulang. metode penelitian rancangan penelitian pada penelitian ini dilakukan dengan cara menyusun model pengambilan keputusan untuk memilih merek excavator kelas 50 ton sebagai alat loading pada proses pertambangan. untuk menyelesaikan persoalan pengambilan keputusan dalam kasus ini melibatkan pendekatan secara kuantitatif maka dalam menganalisisnya menggunakan metode delphi dan analytical hierarchy process (ahp). pengumpulan data penelitian penelitian dilakukan pada lokasi pertambangan pt xzy di kecamatan gempol kabupaten pasuruan jawa timur. data penelitian merupakan informasi yang berupa data kasar (mentah) yang masih memerlukan pengolahan sehingga menghasilkan keterangan, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (riduwan, 2004). data yang akan dianalisis pada penelitian ini yaitu berupa data primer maupun data sekunder. kuesioner instrumen yang digunakan pada penelitian berupa kuesioner yang penyebarannya dilakukan dengan cara menyampaikan langsung kepada responden. responden adalah orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, antara lain: wakil direktur utama, direktur business & development, direktur finance & support, kepala divisi finance, kepala divisi asset, kepala divisi operation, kepala department plant operation dan kepala department supply chain. kuesioner yang disebar ada dua jenis, yaitu: kuesioner untuk menentukan multi atribut dan kuesioner penilaian perbandingan berpasangan. gambar 2 bagan alir tahapan rancangan penelitian udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 121 proses menggunakan metode ahp berikut ini merupakan penjelasan mengenai alur metode ahp. 1. penyusunan model hierarki keputusan model hierarki keputusan yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari empat tingkat. pada tingkat pertama merupakan representasi dari tujuan utama, yaitu memilih excavator kelas 50 ton. tingkat kedua merupakan serangkaian atribut yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan. tingkat ketiga berisikan sub-atribut, dan tingkat keempat merupakan alternatif pilihan yaitu berbagai excavator kelas 50 ton. 2. penyusunan kuesioner perbandingan berpasangan penyusunan kuesioner perbandingan berpasangan disusun berdasarkan elemen-elemen yang ada dalam model hierarki keputusan. sesuai dengan hierarki yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka kuesioner matriks perbandingan berpasangan terdiri dari: a. kuesioner matriks perbandingan berpasangan antar-atribut terhadap tujuan b. kuesioner matriks perbandingan berpasangan antar-sub-atribut terhadap atribut c. kuesioner matriks perbandingan berpasangan antar-alternatif terhadap sub-atribut. pengambilan nilai kuesioner perbandingan berpasangan pengambilan nilai kuesioner perbandingan berpasangan pada atribut dalam penelitian ini melibatkan wakil direktur utama, sedangkan untuk sub-atribut dari atribut maintenance & repair dan atribut biaya melibatkan direktur finance & support, yang atribut operasional melibatkan direktur business & development. penyusunan matriks nilai responden hasil penilaian kuesioner perbandingan berpasangan disusun dalam suatu matriks perbandingan berpasangan, sehingga didapatkan matriks nilai responden. normalisasi matriks nilai responden masing-masing nilai responden dalam setiap tingkat hierarki dinormalisasi dengan cara sebagai berikut. a. menjumlahkan nilai-nilai setiap kolom dalam matriks. b. membagi setiap entri dalam setiap kolom dengan jumlah pada kolom tersebut. uji konsistensi pada analisis metode ahp dilakukan uji konsistensi penilaian, adapun langkah-langkah uji konsistensi adalah sebagai berikut. a. menghitung nilai eigen b. menghitung indeks konsistensi c. menghitung rasio konsistensi bila nilai indeks konsistensi (ci) dan atau rasio konsistensi (cr) lebih besar dari 0,1 maka pertimbangan tersebut mungkin acak sehingga perbandingan berpasangan perlu diperbaiki/diulang. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 122 pengambilan keputusan hasil analisis metode ahp dijadikan dasar oleh pengambil keputusan dalam menentukan excavator kelas 50 ton yang sesuai untuk pertambangan. hasil dan pembahasan dalam penelitian ini untuk mendapatkan alternatif excavator yang akan dipilih berdasarkan beberapa kondisi dan aspek yaitu kondisi perusahaan, baik secara finansial, operasional dan kesiapan perawatan, kondisi medan dan material, serta pengalaman terdahulu dan masukan dari pihak luar maka ada tiga alternatif yaitu excavator kelas 50 ton yaitu c, k, dan d. triks perbandingan berpasangan. adapun hasil pembobotan dari masing-masing atribut maupun sub-atribut berdasarkan pertimbangan pengambil keputusan sebagai berikut. perbandingan berpasangan antar-atribut pada perbandingan berpasangan antar-atribut pertimbangan pemberian skala penilaian dilakukan oleh wakil direktur utama “pt xyz” dengan hasil sebagai berikut. matriks penilaian perbandingan antar-atribut o atribut dan sub-atribut r1 r2 r3 r4 r5 1. biaya 1a. kemudahan cara pembelian √ √ √ √ √ 1b. harga beli √ √ √ √ √ 2. maintenance & repair 2a. kemudahan spare part √ √ √ √ √ 2b. layanan purna-jual √ √ √ √ √ 2c. keandalan √ √ √ √ √ 2d. kemudahan service, repair & modifikasi √ √ √ √ √ 2e. harga jual kembali √ √ √ √ √ 3. operasional 3a. daya √ √ √ √ √ 3b. fuel consumption √ √ √ √ √ 3c. productivity √ √ √ √ √ 3d. kemudahan pengoperasian √ √ √ √ √ 3e. keamanan dan kenyamanan √ √ √ √ √ nilai 100% 100% 100% 100% 100% penentuan bobot normal (relatif) multi-atribut analytical hierarchy process (ahp) merupakan metode dalam mengambil keputusan, pada kasus ini keputusan yang harus diambil yaitu menentukan excavator yang mana paling sesuai untuk pertambangan. berdasarkan tahapan yang harus dilakukan pada metode ahp maka perlu dilakukan pembobotan terlebih dahulu pada atribut maupun sub-atribut yang telah ditetapkan. nilai pembobotan tersebut merupakan hasil dari analisis pemberian nilai bobot pada masingmasing atribut maupun sub-atribut melalui mano. kode skala penilaian kode 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 by √ mr 2 by √ op 3 mr √ op keterangan kode atribut: by = biaya mr = maintenance & repair op = operasional matriks perbandingan berpasangan antar-atribut atribut by op mr by 1 0,5 0,33 op 2 1 1 mr 3 1 1 σ= 6 2,5 2,33 normalisasi matriks perbandingan berpasangan antar-atribut atribut by op mr jumlah bobot normal by 0,17 0,20 0,14 0,51 0,17 op 0,33 0,40 0,43 1,16 0,39 mr 0,50 0,40 0,43 1,33 0,44 σ= 3,00 1,00 sesuai hasil perhitungan nilai bobot normal atribut dan pengecekan nilai konsistensinya di atas, maka didapat: no. atribut bobot 1 biaya 0,17 2 maintenance & repair 0,44 3 operasional 0,39 udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 123 perbandingan berpasangan antar-sub-atribut terhadap atribut dalam kasus ini perbandingan berpasangan antar-sub-atribut terhadap atribut terdapat pada atribut biaya, maintenance & repair, dan operasional. hasil kuesioner sub-atribut pada atribut biaya dan maintenance & repair yang penentuan skala penilaiannya dilakukan oleh direktur finance & support “pt xyz”, dan setelah dihitung maka didapatkan bobot sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair adalah sebagai berikut. bobot sub-atribut dari atribut biaya no. sub-atribut bobot 1 kemudahan cara pembelian 0,5 2 harga beli 0,5 bobot sub-atribut dari atribut maintenance & repair untuk selanjutnya yaitu penentuan nilai bobot sub-atribut dari atribut operasional yang skala penilaiannya dilakukan oleh direktur business & development dan dengan prosedur perhitungan untuk mendapatkan masing-masing nilai bobot normalnya (relatif) masih sama dengan prosedur perhitungan nilai bobot atribut terhadap tujuan di atas maka untuk hasil akhir perhitungan bobot sub-atribut dari atribut operasional didapat sebagai berikut. no. sub-atribut bobot 1 kemudahan spare part 0,22 2 layanan purna-jual 0,22 3 kemudahan service, repair & modifikasi 0,22 4 keandalan 0,27 5 harga jual kembali 0,06 perbandingan berpasangan antar-alternatif terhadap sub-atribut untuk mendapatkan nilai bobot perbandingan antar-alternatif terhadap sub-alternatif, maka dalam menyelesaikannya dibagi tiga sesuai jumlah atribut sebagai berikut. 1) perbandingan antar-alternatif terhadap subatribut dari atribut biaya dan maintenance & repair berdasarkan hasil kuesioner dilakukan perbandingan antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut biaya dan atribut maintenance & repair yang dalam penilaiannya oleh direktur finance & support. melalui prosedur yang sama seperti di atas maka dari beberapa hasil kuesioner perbandingan berpasangan antaralternatif terhadap sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair dapat disusun nilai bobot normal (relatif) antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair sebagai berikut. nilai bobot alternatif terhadap sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair no. sub-atribut bobot 1 kemudahan pengoperasian 0,08 2 daya 0,13 3 productivity 0,38 4 fuel consumption 0,36 5 keamanan dan kenyamanan 0,05 bobot sub-atribut dari atribut operasional atribut sub-atribut bobot relatif alternatif k c d biaya kcp 0,60 0,20 0,20 hbc 0,18 0,11 0,70 maintenance & repair ksp 0,54 0,35 0,11 lpj 0,47 0,47 0,07 srm 0,43 0,43 0,14 khd 0,45 0,45 0,09 hjk 0,47 0,47 0,07 business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 124 2) perbandingan antar-alternatif terhadap subatribut dari atribut operasional pada kuesioner perbandingan antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut operasional yang penilaiannya dilakukan oleh direktur business & development. dengan prosedur yang sama seperti di atas maka dari hasil kuesioner perbandingan berpasangan antaralternatif terhadap sub-atribut operasional, dapat disusun nilai bobot normal (relatif) antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut operasional sebagai berikut. nilai bobot alternatif terhadap sub-atribut dari atribut operasional bobot relatif multi-atributketerangan kode sub-atribut: hbc : harga beli khd : keandalan kcp : kemudahan cara pembelian hjk : harga jual kembali ksp : kemudahan spare part k : excavator k lpj : layanan purna-jual d : excavator d srm : kemudahan service & repair c : excavator c atribut sub-atribut bobot relatif alternatif k c d operasional kpo 0,30 0,33 0,37 dya 0,26 0,63 0,11 pro 0,14 0,29 0,57 fco 0,15 0,21 0,64 kdk 0,33 0,33 0,33 penentuan nilai bobot absolut multi-atribut bobot absolut sub-atribut terhadap atribut didapatkan dengan cara mengalikan bobot relatif atribut dengan bobot relatif sub-atribut sebagai contoh: bobot absolut sub-atribut harga beli (hbc) = 0,170 x 0,500 = 0,085. bobot absolut sub-atribut kemudahan spare part (ksp) = 0,443 x 0.222 = 0,098 dan seterusnya. keterangan kode sub-atribut: kpo : kemudahan pengoperasian kdk : keamanan dan kenyamanan dya : daya k : excavator k pro : productivity d : excavator d fco : fuel consumption c : excavator c atribut bobot sub atribut bobot relatif sub-atribut bobot relatif alternatif k c d by 0,170 kcp 0,500 0,60 0,20 0,20 hbc 0,500 0,18 0,11 0,70 mr 0,443 ksp 0,222 0,54 0,35 0,11 lpj 0,222 0,47 0,47 0,07 srm 0,222 0,43 0,43 0,14 khd 0,269 0,45 0,45 0,09 hjk 0,065 0,47 0,47 0,07 op 0,387 kpo 0,080 0,30 0,33 0,37 dya 0,133 0,26 0,63 0,11 pro 0,375 0,14 0,29 0,57 fco 0,358 0,15 0,21 0,64 kdk 0,053 0,33 0,33 0,33 begitu juga untuk bobot absolut alternatif terhadap sub-atribut yaitu dengan cara mengalikan bobot relatif alternatif dengan bobot absolut sub-atribut, sebagai contoh: bobot absolut k terhadap sub-atribut harga beli (hbc) = 0,600 x 0,085= 0,051. bobot atribut dan sub-atribut terhadap excavator didapat sebagai berikut. keterangan kode sub-atribut kpo : kemudahan pengoperasian lpj : layanan purna-jual dya : daya srm : kemudahan service, repair, pro : productivity & modifikasi fco : fuel consumption khd : keandalan kdk : keamanan dan kenyamanan hjk : harga jual kembali hbc : harga beli k : excavator k kcp : kemudahan cara pembelian d : excavator d ksp : kemudahan spare part c : excavator c atribut bobot sub atribut bobot absolut sub atribut bobot absolut alternatif k c d by 0,170 kcp 0,085 0,051 0,017 0,017 hbc 0,085 0,015 0,010 0,060 mr 0,443 ksp 0,098 0,053 0,034 0,011 lpj 0,098 0,046 0,046 0,007 srm 0,098 0,042 0,042 0,014 khd 0,119 0,054 0,054 0,011 hjk 0,029 0,013 0,013 0,002 op 0,387 kpo 0,031 0,009 0,010 0,012 dya 0,052 0,013 0,033 0,005 pro 0,145 0,020 0,042 0,083 fco 0,139 0,021 0,029 0,089 kdk 0,021 0,007 0,007 0,007 jumlah 34,67% 33,64% 31,69% untuk lebih mudah menganalisis maka dibentuk dalam beberapa gambar grafis di bawah ini. udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 125 business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 126 excavator terhadap multi-atribut bangan sirtu menggunakan metode ahp maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. pengambil keputusan 1 (wakil direktur utama) menentukan nilai pembobotan untuk atribut biaya sebesar 0,170. maintenance & repair sebesar 0,443 dan atribut operasional sebesar 0,387. dalam hal ini pengambil keputusan 1 (wakil direktur utama) secara berurutan menempatkan posisi maintenance & repair teratas selanjutnya diikuti operasional dan posisi terendah ditempati oleh atribut biaya. 2. berdasarkan nilai pembobotan sub-atribut dari atribut maintenance & repair menunjukkan bahwa sub-atribut keandalan menempati posisi teratas dengan nilai bobot 0,269, hal ini bisa dikatakan keandalan unit excavator atribut k c d biaya 6,64 % 2,67 % 7,67 % maintenance & repair 20,91 % 18,96 % 4,42 % operasional 7,12 % 12,00 % 19,61 % jumlah 34,67 % 33,64 % 31,69 % grafik pemilihan alternatif excavator terhadap keseluruhan atribut merujuk pada grafik di atas yang menampilkan alternatif excavator terhadap keseluruhan atribut, maka akan tampak bahwa excavator k menempati posisi teratas (34,67%). ini karena didukung oleh nilai bobot atribut maintenance & repair (20,91%) yang besarnya cukup signifikan bila dibandingkan dengan d (4,42%) dan c (18,96%). pada peringkat selanjutnya disusul excavator c (33,64%) urutan kedua dan yang terakhir d (31,69%) pada urutan ketiga. pembahasan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pemilihan excavator untuk pertamudisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 127 terhadap pemeliharaan dan perbaikan excavator merupakan hal yang paling penting. berikutnya disusul sub-atribut kemudahan spare part yang menempati posisi yang sama pentingnya dengan sub-atribut layanan purna-jual, kemudahan service, repair, & modifikasi dengan nilai bobot 0,222 dengan tersedianya spare part excavator dan kemudahan modifikasi merupakan sarana yang mendukung dalam mengoptimalkan pemeliharaan dan perbaikan excavator. selanjutnya yang terakhir sub-atribut harga jual kembali nilai bobot 0,065. 3. pada sub-atribut dari atribut operasional menunjukkan bahwa sub-atribut productivity menempati posisi tertinggi dengan nilai bobot 0,375 hal ini menunjukkan pada atribut operasional adalah sangat dominan dalam menentukan kemampuan operasional khususnya excavator untuk pertambangan. berikutnya disusul sub-atribut fuel consumption dengan nilai bobot 0,358, sub-atribut daya dengan nilai bobot 0,133, sub-atribut kemudahan pengoperasian dengan nilai bobot 0.080. keamanan dan kenyamanan kurang dipentingkan bila dibandingkan dengan sub-atribut yang lain dalam hal ini menempati posisi terendah yakni 0.053. 4. pada atribut biaya excavator d (7,67%) menempati bobot penilaian tertinggi. hal ini dikarenakan memang harga beli excavator d paling murah bila dibandingkan dengan kedua excavator yang lain. secara berurutan yang menempati posisi berikutnya yaitu excavator k (6,64%) dan excavator c (2,67%). 5. pada atribut maintenance & repair, excavator k menempati posisi pertama (20,91%), hal ini dikarenakan berbagai fasilitas yang diberikan menempati ranking pertama antara lain keandalan, kemudahan spare part, layanan purna-jual, dan harga jual kembali. salah satu yang paling mendukung keadaan ini disebabkan oleh jumlah populasinya yang paling banyak di pasaran atau digunakan oleh konsumen. selanjutnya c (18,96%) dan terakhir d (4,42%). 6. untuk atribut operasional, posisi excavator d menempati posisi tertinggi (19,61%) hal tersebut didukung oleh bobot sub-atribut productivity 14,53%. sedangkan excavator c menempati posisi kedua (12%) dan terakhir k (7,12%). 7. susunan keputusan alternatif excavator terhadap keseluruhan atribut posisi teratas ditempati excavator k (34,67%). ini karena didukung oleh nilai bobot atribut maintenance dan repair (20,91%) yang besarnya cukup signifikan bila dibandingkan dengan d (4,42%) dan c (18,96%) pada peringkat selanjutnya disusul excavator c (33,64%) urutan kedua dan yang terakhir excavator d (31,69%) pada urutan ketiga. 8. pada analisis sensitivitas untuk tingkat perubahan atribut biaya terhadap perubahan susunan alternatif keputusan. terlihat bahwa dengan bertambahnya bobot atribut biaya secara bertingkat 10% dan diikuti atribut yang lain berkurang secara bertahap 3,6 % pada atribut maintenance & repair (mr), begitu pula atribut operasional berkurang 6,4% secara bertahap. hal ini memengaruhi posisi susunan prioritas pengambilan keputusan excavator c yang awalnya pada posisi kedua kini turun peringkat menjadi posisi ketiga (27,78%), sedangkan posisinya digantikan oleh excavator d yang nilainya mencapai (34,44%) ini terjadi pada saat bobot atribut biaya telah mencapai 46,98%. untuk excavator k tidak berubah posisi tetap posisi pertama dengan bobot (37,77%). business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 128 9. pada perubahan nilai bobot yang dilakukan terhadap atribut maintenance & repair (mr) menunjukkan perubahan nilai bobot mr bertambah secara bertahap sebesar 10% sedangkan pada atribut biaya berkurang 3,6% serta diikuti atribut operasional sebesar 6,4%. perubahan ini ternyata tidak mengubah susunan tingkat alternatif keputusan yaitu posisi excavator k posisi pertama tidak mengubah posisi (41,08%). urutan dua ditempati oleh excavator c (38,83%). keadaan ini terjadi saat bobot atribut mr pada posisi 74,29%. untuk posisi excavator d tetap pada posisi ketiga (20,10%) tidak terpengaruh pada perubahan atribut maintenance & repair. 10. perubahan yang dilakukan pada bobot atribut operasional, saat bobot atribut operasional baru naik 10% yaitu 48,73%, posisi bobot excavator d melompat menempati posisi pertama 34,49% menggantikan posisi excavator k yang peringkatnya turun ke posisi ketiga dengan bobot 32,08%. sedangkan excavator c masih menempati posisi kedua dengan bobot 33,43%. pada perubahan nilai bobot multi-atribut ini maka bisa disusun bahwa atribut biaya dan operasional mempunyai tingkat yang sama dalam memengaruhi susunan prioritas keputusan. hal ini terjadi karena tingkat susunan prioritas keputusan mengalami perubahan pada saat bobot atributnya mengalami kenaikan atau penurunan pada tingkat yang sama. sedangkan perubahan bobot atribut maintenance & repair tidak berpengaruh pada susunan prioritas keputusan, khususnya posisi excavator k masih tetap menempati tingkat pertama. kesimpulan berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan mengenai pemilihan excavator untuk pertambangan sirtu menggunakan ahp maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. berdasarkan hasil wawancara kepada 5 responden didapatkan multi atribut sebagai berikut. a. atribut biaya terdiri dari sub-atribut harga beli dan kemudahan cara pembelian. b. atribut maintenance & repair terdiri dari sub-atribut kemudahan spare part, layanan purna-jual, kemudahan service, repair, & modifikasi, harga jual kembali, dan keandalan. c. atribut operasional terdiri dari sub-atribut kemudahan pengoperasian, daya, productivity, fuel consumption, dan keamanan dan kenyamanan. 2. sesuai hasil susunan keputusan alternatif excavator terhadap keseluruhan atribut, posisi teratas ditempati excavator k (34,67%). ini karena didukung oleh nilai bobot atribut maintenance & repair (20,91%) yang besarnya cukup signifikan bila dibandingkan excavator c (18,96%) dan excavator d (4,42%). 3. pada analisis sensitivitas, atribut yang memengaruhi perubahan prioritas susunan keputusan sebagai berikut, atribut biaya dan operasional mempunyai tingkat yang sama dalam memengaruhi susunan prioritas keputusan. hal ini terjadi karena tingkat susunan prioritas keputusan mengalami perubahan pada saat bobot atributnya mengalami kenaikan atau penurunan pada tingkat yang sama, sedangkan perubahan bobot atribut maintenance & repair tidak berpengaruh pada susunan prioritas keputusan, khususnya posisi excavator k masih menempati posisi pertama. udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 129 daftar pustaka brodjonegoro, b. & utama, b. 2005. analytic hierarchy process. jakarta: penerbit pauekui. boujelbene, y. and derbel, a. 2015. the performance analysis of public transport operators in tunisia using ahp method. the international conference and advance wireless, information and communication technologies (awict 2015). procedia computer science 73 (2015) 498– 508. tunisia. chang, s. tsujimura. m. gen, t. tozawa. 1993. project planning problem solving using fuzzy activity times and fuzzy delphi method. proc. fifth ifsa world congress. seoul, south korea, pp. 624–626. gates, m. and scarpa, a. 1980. journal of the construction division. criteria for the selection of construction equipment, asce. vol 106, c02, new york, usa. kirk, l.j. 2000. owner versus contract mining. 9th international symposium on mine planning and equipment selection, athens, greece, 6–9 november 2000. panagiotou, g.n. and michalakopoulos, t.n. (eds). balkema, amsterdam. pp. 437–442. kotler, philips. 1997. manajemen pemasaran (terjemahan) jilid i. jakarta: pt prehallindo. lawrence jr., et al. 2002 applied management science; modelling spreadsheet analysis and communication for decision making, first edition. ug/ggs information services, inc., united states. marimin. 2004. teknik dan aplikasi pengambilan keputusan kriteria majemuk. jakarta: pt grasindo. mangkusubroto k., dan trisnadi, l. 1987. analisis keputusan; pendekatan sistem dalam manajemen usaha dan proyek. bandung: ganeca exact. martin. j. et al. 1982. surface mining equipment. colorado, usa: martin consultants inc. pemerintah republik indonesia. 2009. undangundang pertambangan mineral dan batubara no. 4. jakarta: republik indonesia. phogat, v.s. and singh, a.p. 2013. selection of equipment for construction of a hilly road using multi-criteria approach. 2nd conference of transportation research group of india (2nd ctrg). social and behavioral sciences 104 (2013) 282-291. india. saaty, t.l. 1983. decision making for leaders: the analytical hierarchy process for decision in complex world. pittsburgh: rws publication. salim, h.s. 2009. hukum pertambangan di indonesia. jakarta: pt raja grafindo persada. sayareh, jafar.and alizmini, h.r. 2014. a hybrid decision making model for selecting container seaport in the persian gulf, volume 30, pp. 075–095. the korean association of shipping and logistic. sen., et al. 1998. multiple criteria decision support in engineering design. london: springer-verlag. sugiyono. 2005. metode penelitian kualitatif, edisi pertama. bandung: cv alfabeta. sukenda. 2012. sistem pendukung keputusan untuk memilih kendaraan bekas dengan menggunakan metode analytical hierarchy process (ahp). tesis teknik informatika universitas widyatama bandung. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 130 suryadi, k. dan ramdani, a. 2002. sistem pendukung keputusan: suatu wacana struktural idealisasi dan implementasi konsep pengambilan keputusan. bandung: pt remaja rosdakarya. dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 3939 analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan initial public offering (ipo) dwi sulistiani finta widya oktora maha universitas islam negeri maulana malik ibrahim malang email: tiaraakbar2006@yahoo.com abstract: this study aimed to determine whether the publicly traded company initial public offering (ipo) using the earnings management policies, as well as to see the effect of earnings management and operating performance on profitability in the company went public policy that performs an (ipo) in 2008. the results showed that the test is based on onesample t test proved that the company indicated use of earnings management around ipos. while based on paired samples t test , and wilcoxon signed rank the result that there are differences in operating performance and profitability of the company went public between before and after the policy does ipo. it results that the most influential variable is the current ratio dan 62% of the level of profitability of companies doing an ipo is influenced by variables of earnings management and operating performance. through the f test can be seen that all the independent variables simultaneously affect the dependent variable. hypothesis testing using t test showed that of the three independent variables found to significantly affect the dependent variable. keywords: earnings management, current ratio, total asset turnover, return on assets, initial public offering pendahuluan dalam rangka proses go public, sebelum saham diperdagangkan di pasar skunder (bursa efek), terlebih dahulu saham perusahaan yang akan go public diperdagangkan di pasar perdana yang disebut initial public offering (ipo). ipo merupakan saat yang penting bagi perusahaan karena saat itulah investor menilai kondisi dan prospek perusahaan yang berujung pada penentuan besarnya dana yang dapat diakumulasi oleh perusahaan dari pasar modal. menurut francis (1993) salah satu informasi penting dalam prospektus adalah informasi keuangan perusahaan yang disajikan dalam neraca dan laporan laba rugi tiga tahun sebelum ipo, begitu juga menurut jones (2000) prospektus tersebut didistribusikan untuk setiap investor potensial. sesuai dengan peraturan bapepam lk, yang mensyaratkan bahwa pada saat perusahaan akan melakukan ipo, perusahaan harus menyediakan satu prospektus yang memaparkan semua informasi baik informasi keuangan maupun non-keuangan. prospektus berisi tentang perusahaan penerbit sekuritas dan sebagian tentang laporan keuangan perusahaan selama 3 tahun sebelum ipo yang telah di audit oleh kantor akuntan publik (kap). informasi yang menjadi perhatian penting dalam laporan keuangan adalah informasi mengenai laba. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 40 agar kinerja perusahaan terlihat bagus, manajemen berusaha mencoba untuk mengatur laba, yaitu dengan melakukan manajemen laba itu sendiri. hal ini mengingat pentingnya peranan laba dalam berbagai proses pengambilan keputusan. ada berbagai cara dalam manajemen laba, diantaranya pemilihan metode akuntansi atau kebijakan akrual, tetapi cara yang paling sering dilakukan adalah dengan kebijakan akrual (discretionary accrual), yaitu dengan mengendalikan transaksi akrual sehingga laba terlihat tinggi. akan tetapi, transaksi tersebut tidak mempengaruhi aliran kas, misalnya waktu dari pengakuan pendapatan sehingga kebijakan akrual akan dapat mempengaruhi kualitas laba perusahaan. banyak penelitian terhadap perusahaan yang terdaftar di bursa efek jakarta (bej) terbukti bahwa telah terjadi manajemen laba menjelang ipo. loughran dan ritter (1997) menemukan perbedaan antara kinerja operasi lima tahun sebelum dan sesudah penawaran, yaitu adanya penurunan kinerja dalam jangka panjang. rodoni (2002) juga menemukan bahwa kinerja ipo untuk jangka panjang menunjukkan kinerja yang negatif. sementara denis dan serin (1999) mencatat bahwa rendahnya kinerja pasca ipo diakibatkan pengukuran earnings yang dilakukan secara �tidak tepat� oleh manajemen. shivakumar (2000) juga menunjukkan bahwa manajemen telah melakukan overstate terhadap earnings sebelum melakukan pengumuman ipo. amin (2007) melakukan penelitian selama 6 tahun pengamatan, membuktikan bahwa perusahaan yang melaksanakan ipo terindikasi melakukan kebijakan manajemen laba (earnings management) tiga tahun sebelum pelaksanaan ipo dan tiga tahun setelah pelaksanaan ipo dengan cara memainkan komponen-komponen akrual. namun pada penelitiannya, amin (2007) tidak berhasil membuktikan bahwasannya terdapat hubungan antara ketiga variabel yang terdiri dari earnings management, underpricing, dan kinerja perusahaan. sedangkan didi (2008) yang melakukan penelitian dengan 4 tahun pengamatan memperoleh hasil bahwa perusahaan yang melaksanakan ipo terindikasi melakukan kebijakan earnings management. selain itu juaga mendapatkan hasil bahwa kinerja operasi yang diukur dengan roa tidak mengalami perbedaan ratarata yang signifikan antara sebelum dilakukan ipo dengan setelah dilakuakan ipo. namun hal tersebut berbeda dengan hasil yang diperoleh oleh meim dan wahyu (2013) yang membuktikan bahwa berdasarkan tingkat pengembalian aktiva (roa) terdapat perbedaan kinerja perusahaan antara periode sebelum ipo dan sesudah ipo. selain itu, didi (2008) tidak mampu menemukan adanya pengaruh antara manajemen laba terhadap kinerja operasi sesudah ipo. berdasarkan ketidak konsistenan hasil penelitian di atas peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian kembali terkait ipo dan fenomena yang menyertainya dengan waktu pengamatan lebih panjang yaitu 8 tahun. tujuan penelitian ini adalah untuk menguji apakah manajemen laba (earnings management) dan kinerja operasi berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial public offering (ipo) di tahun 2008 serta apakah terdapat perbedaan kinerja operasi dan tingkat profitabilitas antara sebelum dan sesudah dilakukan initial public offering (ipo), yang juga diintegrasikan dengan hukum islam.                                                                                                                                                                           business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 42 4 kurnia wan (2009) analisis pengaruh variabel keuangan dan non keuangan terhadap initial return dan return 7 hari setelah initial public offerings (ipo) uji simultan (uji f) uji parsial (uji t) regresi liner berganda uji beda variabel bebas current ratio total asset turnover debt to equity ratio return on equity earning per share ukuran perusahaan umur perusahaan prosentase penawaran saham variabel terikat initial return return 7 hari setelah ipo berdasarkan penelitian yang dlialukan diperoleh hasil bahwa: (1) secara parsial variabel total asset turnover, prosentase penawaran saham, dan return on equity berpengaruh signifikan terhadap return awal, (2) secara parsial variabel total asset turnover dan prosentase penawaran saham yang berpengaruh signifikan terhadap return 7 hari setelah ipo, (3) terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan pada variabel bebas terhadap variabel terikat. 5 yuniarti (2010) pendeteksian earnings management underpricing dan pengukuran kinerja perusahaan yang melakukan kebijakan initial public offering (ipo) di indonesia uji paired sample test, uji one sample kolmogorov smirnov uji wilcoxon signed rank test, uji one sample t-test earnings management underpricing return on equity current ratio debt to equity ratio total asset turnover ratio mean cumulative abnormal return berdasarkan pengujian yang telah dilakukan maka terbukti bahwa (1) adanya praktek manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan pada keseluruhan periode pengamatan, (2) adanya fenomena underpricing yang dialami oleh perusahaan pada hari pertama ketika saham diperdagangkan di pasar sekunder, (3) adanya penurunan kinerja keuangan yang dialami oleh perusahaan setelah melakukan ipo. 6 afriyani (2011) analisis pengaruh current ratio, total asset turnover, debt to equity ratio, sales, dan size terhadap roa (return on asset) uji simultan (uji f) uji parsial (uji t) regresi liner berganda variabel bebas current ratio total asset turnover debt to equity ratio sales size variabel terikat roa (return on asset) berdasarkan penelitian yang dlialukan diperoleh hasil bahwa: (1) variabel current ratio berpengaruh negative dan signifikan terhadap roa, (2) variabel total asset turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap roa, (3) variabel debt to equity ratio berpengaruh negative dan signifikan terhadap roa, (4) variabel sales berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap roa, (5) variabel size berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap roa, (6) variabel current ratio, total asset turnover, debt to equity ratio, sales dan size secara simultan berpengaruh terhadap return on asset. dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 43 ngan penawaran primer ketika saham baru dijual untuk menggalang kas tambahan untuk perusahaan. ipo disebut penawaran sekunder ketika pendiri perusahaan dan pemodal ventura menguangkan sebagian keuntungannya dengan menjual saham. ipo bisa dan umumnya sekaligus primer maupun sekunder. perusahaan menggalang kas baru pada saat yang sama ketika beberapa saham yang saat ini sudah ada dalam perusahaan dijual untuk umum. begitu perusahaan memutuskan go public, tugas pertama mereka adalah memilih para penjamin. penjamin atau yang disebut dengan underwriter itu merupakan perusahaan perbankan investasi yang bertindak sebagai bidang keuangan bagi emisi (penerbitan) saham baru. biasanya mereka memainkan tiga peran di antaranya memberi perusahaan saran prosedural dan finansialnya, lalu membeli sahamnya, dan pada akhirnya menjualnya kembali kepada publik. islam melarang dalam hal jual beli untuk memaksa orang lain dalam membeli barang atau jasa dengan harga tertentu atau melakukan praktek monopoli yang dalam masalah harga (nawawi, 2013: 28). oleh sebab itu, seharusnya pasar diserahkan kepada keadilan yang alami dan penguasa tidak boleh melakukan campur tangan dengan memaksa masyarakat untuk membeli dengan harga mereka yang tidak mereka setujui. nabi muhammad saw, menganggap campur tangan yang tidak perlu adalah suatu bentuk kedholiman, namun jika pasar telah terjadi monopoli, eksploitasi, dan mempermainkan kebutuhan orang seperti beredar di jaman sekarang, maka dibolehkan melakukan pematokan harga. bahkan dalam kondisi seperti ini hukumnya wajib, karena hal ini merupakan tindakan mengharuskan keadilan yang diwajibkan. sampai saat ini belum ada kesapakatan mengenai definisi dan batasan manajemen laba, karena masih ada kontroversi antara praktisi 7 mulyono (2012) pengaruh manajemen laba (earnings manajement) terhadap kinerja keuangan uji regresi linier berganda variabel bebas: manajemen laba variabel bebas: kinerja keuangan dengan pengukuran cash flow return on asset berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa pengaruh dari manajemen laba dapat menurunkan kinerja keuangan perusahaan dan masih terdapat banyak faktor lain yang lebih dominan dalam manajemen laba 8 sohidin (2013) manajemen laba dan evaluasi kinerja keuangan perusahaan di sekitar ipo wilcoxon�s signed ranks test discretionary accruals return on asset return on equity net profit margin berdasar penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: 1. tidak terdapat indikasi manajemen laba dalam perusahaan selama ipo 2. terdapat perbedaan kinerja keuangan di seluruh rasio kinerja keuangan yang diukur dengan menggunakan pengukuran roa, roe dan npm secara simultan antara sebelum dan sesudah ipo sumber: data diolah, 2013 business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 44 dan akademisi dalam memahami manajemen laba atau yang dikenal juga dengan earnings management. pertanyaan selanjutnya adalah apakah manjemen laba dapat dikategorikan sebagai kecurangan atau tidak. para praktisi menilai bahwa manajemen laba tidak bisa dikategorikan sebagai kecurangan, sementara akademisi menilai manajemen laba merupakan tindakan kecurangan. setiap pihak dapat mengungkapkan pendapat yang kuat dan mempertahankan pendapatnya. tetapi kedua belah pihak menyepakati bahwa manajemen laba merupakan upaya mengubah, menyembunyikan, dan menunda informasi keuangan (sulistyanto, 2008: 54). healy dan wahlen (2000: 365) mendefinisikan manajemen laba terjadi ketika manajemen menggunakan judgment dalam pelaporan keuangan yang dapat merubah laporan keuangan sehingga menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. sulistyanto (2008: 54) juga mendefinisikan manajemen laba sebagai upaya manajer perusahaan untuk mempengaruhi informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. menurut scott (2003: 50) mendefinisikan manajemen laba sebagai �given that managers can choose accounting policies from a set (for example, gaap), it is natural to expect that they choose policies so as to maximize their own utility and/or the market value of the firm�. dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan tindakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari standar akuntansi yang ada dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan mereka dan nilai pasar perusahaan. selain itu juga scott (2003: 52) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimalkan kesejahteraannya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontak utang, dan political costs (opportunistic earnings management). kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient earnings management, yaitu manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalammengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba. terdapat empat alasan, yang menjadi pendorong para manajer untuk memanipulasi laba yang dilaporkan (stise, 2002: 420�426), diantaranya: 1. memenuhi target internal 2. memenuhi harapan eksternal 3. meratakan atau memuluskan laba (income smoothing) 4. mendandani laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan penawaran saham perdana (initial public offering-ipo) atau untuk memperoleh pinjaman dari bank menurut elok (2012: 30) etika bisnis dalam kaitannya dengan ajaran islam, berarti sebuah pemikiran atau refleksi tentang moralitas yang membatasi kerangka acuannya kepada konseptual sebuah organisasi dalam ekonomi dan bisnis yang didasarkan atas ajaran islam. dalam hal ini, penelitian akan berusaha melihat aspek moralitas atau normatif dari manajemen dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 45 laba (earnings management), yaitu apakah manajemen laba merupakan sebuah tindakan yang baik atau buruk, wajar atau tidak wajar, serta diperbolehkan atau tidak menurut ajaran islam. perilaku rasulullah saw yang jujur transparan dan pemurah dalam melakukan praktik bisnis merupakan kunci keberhasilannya mengelola bisnis khodijah ra, merupakan contoh kongkrit tentang moral dan etika dalam bisnis. kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis islami yang mencangkup khusnul khuluq. pada derajad ini allah akan melapangkan hatinya, dan akan membuka pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak yang mulia tersebut. akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis. salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis islam adalah kejujuran. artinya: �hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu� (q.s. annisa� ayat 29). ayat diatas menyerukan agar kita berlaku jujur dalam menjalankan usaha, manajemen laba yang dipersepsikan secara negatif termasuk hal yang melanggar ayat tersebut diatas. karena manajemen laba dilakukan oleh manajemen perusahaan dan tidak diberitahukan secara jujur pada pengguna laporan keuangan treatment manajemen laba apa yang mereka lakukan. kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktifitas bisnis. dalam tataran ini. selain itu juga yang tidak kalah pentingnya adalah hal menepati amanah. menepati amanah merupakan moral yang sangat mulia, maksud amanah adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu yang melebihi sesuatu yang melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain. h1: perusahaan go public melakukan kebijakan manajemen laba di sekitar pelaksanaan initial public offering (ipo). kinerja operasi suatu perusahaan dapat dilihat dan didapat salah satunya dari laporan keuangan perusahaan. pemegang saham maupun calon investor sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan yang diumumkan secara periodik oleh pihak manajemen. laporan keuangan ini merupakan informasi yang sangat mendasar untuk menilai kinerja keuangan atau kinerja operasional perusahaan. kinerja keuangan yang dimaksud dapat dinilai atau dianalisis dengan menggunakan pengukuran kinerja melalui rasio-rasio keuangan. dengan adanya rasio keuangan, para pengguna laporan keuangan dapat menghitung dan menginterpretasikan ukuran-ukuran kewajiban, likuiditas, profitabilitas, manajemen aset, dan nilai pasar perusahaan. analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya dilakukan untuk melihat prospek dan resiko perusahaan. prospek untuk mengetahui tingkat keuntungan (profitabilitas) sedangkan resiko untuk mengetahui perusahaan tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan atau tidak. hanafi dan business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 46 halim (2005: 5) mengemukakan bahwa untuk menganalisis laporan keuangan, seorang analis keuangan harus melakukan beberapa hal: 1. menentukan tujuan dari analisis keuangan 2. memahami konsep-konsep dan prinsipprinsip yang mendasari laporan keuangan dan rasio-rasio keuangan dari laporan keuangan tersebut. 3. memahami kondisi ekonomi dan bisnis yang mempengaruhi usaha perusahaan tersebut. cahyaningrum (2012: 22) menyatakan bahwa analisis laporan keuangan suatu perusahaan tidak hanya dilakukan untuk satu periode tertentu saja, tetapi diperlukan analisis komparatif (perbandingan), sehingga dapat dilihat hubungan keuangan atau kecenderungan (trend) yang bersifat signifikan. analisis laporan keuangan dapat dibagi menjadi tiga jenis: intracompany basis (perbandingan internal perusahaan untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan keuangan perusahaan atau trend yang signifikan), intercompany basis (perbandingan dengan perusahaan lain yang dapat memberikan gambaran posisi kompetitif perusahaan yang bersangkutan) dan industry average (perbandingan dengan rata-rata industri dari industri yang sama dengan perusahaan yang akan dianalisis). dalam menganalisis laporan keuangan perusahaan yang diteliti, penelitian ini menggunakan analisa jenis intracompany basis di setiap perusahaan. menurut hanafi dan halim (2005: 77) pada dasarnya analisis rasio dapat dikelompokkan ke dalam lima macam kategori, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan rasio pasar. evaluasi laporan keuangan digunakan sebagai bahan penilaian atas kebijakan manajemen terhadap perusahaan apakah kinerja perusahaan mengalami kemajuan atau malah mengalami kemunduran serta apakah menunjukkan adanya kebijakan yang diterapkan dalam perusahaan kurang tepat. dalam firman-nya qs. sr-ra-ad: 11, allah menyebutkan bahwa: artinya: � bagi manusia ada malaikatmalaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah allah. sesungguhnya allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia.� berdasarkan firman tersebut dapat dilihat bahwa allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum tersebut merubah keadaanya. sama halnya dengan aplikasi pada perusahaan. jika perusahaan tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengoptimalkan kegiatan usahanya, maka perusahaan tersebut tidak akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. dalam hal ini semisal, perusahaan tidak akan mendapat keuntungan atau laba yang tinggi tanpa memaksimalkan dan meningkatkan penjualan serta kegiatan operasinya. evaluasi kinerja sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang akan datang. dalam konsep islam menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia hendaknya memperhatikan apa yang diperbuat pada masa lalu sebagai perencanaan masa depan. evaluasi kinerja salah satunya dengan melihat laporan keuangan dengan menggunakan rasio keuangan untuk mengetahui keadaan keuangan perusahaan dimasa lalu, saat ini dan kemungkinandwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 47 nya dimasa datang, dengan kebijakan yang lama dijadikan pembelajaran untuk mengambil kebijakan yang baru yang lebih baik dan disesuaikan dengan perusahaan. hal ini sesuai dengan al-qur�an surat al-hasyr ayat 18 sebagai berikut: artinya: �hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada allah, sesungguhnya allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.� (qs. al-hasyr: 18) rasio ini merupakan salah satu parameter pada rasio likuiditas. rasio likuiditas ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. rasio likuiditas yang penting adalah current ratio. hal ini karena rasio ini menilai ketersediaan aset lancar untuk memenuhi kewajiban lancar. berikut perhitungan untuk current ratio: intepretasi untuk melihat tingkat likuiditas suatu perusahaan yang diproksikan dengan current ratio yaitu semakin rendah nilai dari current ratio menunjukkan risiko likuiditas yang tinggi, sedangkan jika angka current ratio semakin tinggi maka menunjukkan risiko likuiditas yang semakin rendah (hanafi dan halim, 2005: 80). aktiva lancar current ratio = �������������� hutang lancar rasio ini merupakan salah satu parameter pada rasio aktivitas. rasio aktivitas ini digunakan untuk mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. sedangkan untuk total assets turnover digunakan untuk mrngukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva yang dimiliki perusahaan. rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan seluruh aktivanya (hanafi dan halim, 2005: 83). berikut perhitungan untuk total assets turnover: penjualan total assets turnover = ����������� total aktiva intepretasi untuk melihat tingkat aktivitas suatu perusahaan dengan menggunakan parameter total assets turnover yaitu semakin tinggi angka rasio ini berarti semakin efektif penggunaan dari seluruh aktiva yang dimiliki oleh suatu perusahaan. namun jika semakin rendah angka rasio ini maka hal tersebut berarti bahwa semakin tidak efektif pula dalam penggunaan seluruh aktiva yang dimiliki. oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa angka rasio total assets turnover yang tinggi menunjukkan aktivitas manajemen yang baik, sebaliknya jika angka rasio ini rendah maka manajemen harus mengevaluasi stategi, pemasaran, dan pengeluaran modalnya atau investasi (hanafi dan halim, 2005: 83). h2: terdapat perbedaan kinerja operasi pada perusahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo) profitabilitas merupakan ukuran untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan. menurut arifin dan fakhruddin (1999), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari kegiatan bisnis yang dilakukannya. laba ini merupakan keuntungan setelah bunga dan pajak yang merupakan laba yang akan dibagibusiness and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 48 kan kepada pemegang saham. menurut besley dan brigham (2008: 17), profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang merupakan hasil bersih dari kebijakan-kebijakan dan keputusan-keputusan manajemen baik dalam mengelola likuiditas, aset, maupun kewajiban perusahaan. terdapat dua tipe rasio profitabilitas, yaitu profitabilitas sehubungan dengan penjualan dan profitabilitas sehubungan dengan investasi yang terdiri dari gross profit margin dan net profit margin. rasio profitabilitas sehubungan dengan penjualan yang terdiri dari return on equity dan return on assets. dalam penelitian ini untuk mengukur profitabilitas perusahaan menggunakan pengukuran return on assets (roa). bagus (2006: 18) menyatakan bahwa return on asset diukur dari laba bersih setelah pajak (earning after tax) terhadap total assetnya yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam penggunaan investasi yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam rangka menghasilkan profitabilitas perusahaan. roa juga merupakan ukuran efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. semakin besar roa menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat kembalian investasi (return) semakin besar. secara matematis roa dapat dirumuskan sebagai berikut: laba bersih setelah pajak roa = ����������������������� total asset kedua variabel yang digunakan untuk mengukur roa tersebut (laba bersih setelah pajak dan total aset) tercermin dalam laporan keuangan tahunan, dimana besarnya laba bersih setelah pajak diperoleh dari laporan laba rugi, sedangkan total asset yang digunakan dalam penelitian ini adalah total aktiva tetap yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan yang tercermin dalam laporan neraca (sisi aktiva/asset). h3: terdapat perbedaan profitabilitas pada perusahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo) kerangka konseptual merupakan gambaran dalam proses penelitian yang dilakukan pada penelitian ini. selain itu juga dengan melihat kerangka konseptual dapat dilihat keterkaitan antara variabel independen (x) dengan variabel dependen (y). dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 49 tahun 2008 tahun 2009 tahun 2010 tahun 2011 tahun 2012tahun 2005 tahun 2006 tahun 2007 periode o saat melakukan ipo periode t + 1 periode t + 2 periode t + 3 periode t + 4 periode t 1 periode t 2 periode t 3 manajemen laba current ratio total asset turnover return on asset skema 1. periode pengamatan skema 2. analisis uji beda dat a manajemen laba current ratio t ot al asset t urnover ret urn on asset uji beda uji beda uji beda uji beda one sample t -t est paired sample t -test wilcoxon t est paired sam ple t -t est wilcoxon t est paired sample t -t est wilcoxon t est int erpret asi business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 50 berdasarkan skema di atas dapat dilihat beberapa langkah atau tahapan yang dilakukan pada penelitian ini. pada skema 1 dapat dilihat bahwa tahun 2008 merupakan periode pengamatan yang dijadikan sebagai patokan karena di tahun tersebut perusahaan melakukan kebijakan initial public offering (ipo). setelah mengetahui dan menentukan periode pengamatan untuk penelitian ini maka dilanjutkan dengan analisis data sesuai dengan perumusan masalah yang telah ditentukan. analisis data yang pertama adalah analisis uji beda. analisis uji beda tersebut dapat terlihat dan tergambar pada skema 2. pada skema tersebut dapat skema 3. analisis uji regresi daftar perusahaan yang melakukan ipo di tahun 2008 manajemen laba current ratio total asset turnover return on asset uji normalitas uji asumsi klasik uji multikolonieritas uji autokorelasi uji heteroskedastisitas regresi linier berganda uji signifikansi uji f uji t -uji r² interpretasi dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 51 dilihat bahwasannya terdapat beberapa pengujian yang digunaan untuk menguji beda tersebut. setelah dilakukannya uji beda tersebut, terdapat satu pengujian lagi yang digunakan untuk menganalisis data, yaitu analisis regresi linier berganda. analisis tersebut tergambar pada skema 3, dimana pada skema tersebut akan melihat pengaruh antara manajemen laba (earnings management) dan kinerja operasi yang diproksikan dengan current asset dan total asset turnover terhadap profitabilitas yang diukur dengan return on asset (roa). namun seperti yang telah digambarkan pada skema tersebut sebelum dilakukan pengujian regresi linier berganda dilakukan terlebih dahulu pengujian asumsi klasik. hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwasanya data yang akan diuji tidak bermasalah. metode penelitian populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang tercatat di bei dan melakukan kebijakan initial public offering (ipo) pada tahun 2008. periode pengamatan adalah 3 tahun sebelum dan 4 tahun sesudah tahun t yaitu tahun 2008. tahun 2008 digunakan sebagai peride t dikarenakan pada periode tersebut terjadi krisis keuangan global yang sedikit banyak berdampak dengan kondisi ekonomi indonesia. dalam penelitian ini diperoleh 12 perusahaan yang tercatat di bei dan melakukan kebijakan initial public offering (ipo) pada tahun 2008 yang dapat dijadikan sampel dalam penelitian ini. teknik yang digunakan dalam penentuan sampel penelitian ini adalah sampling jenuh atau sensus. sampling jenuh atau sensus adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (sugiyono, 2008: 122). tabel 2 perusahaan yang diteliti sumber: www.idx.co.id kode perusahaan nama perusahaan siap sekawan intipratama tbk tram trada maritime tbk byan bayan resources tbk home hotel mandarine regency tbk kbri kertas basuki rachmat indonesia tbk pdes destinasi tirta nusantara tbk vrna verena multi finance tbk indy indika energy tbk bsde bumi serpong damai tbk gzco gozco plantations tbk koin kokoh inti arebama tbk ypas yanaprima hastapersada tbk definisi operasional variabel 1. manajemen laba yang diproksikan dengan discretionary accruals (x 1 ). pengukuran discretionary accruals (da) tersebut menggunakan the modified jones model. 2. kinerja operasi yang diproksikan dengan current ratio (x 2 ) dan total assets turnover (x 3 ). aktiva lancar current ratio = �������������� hutang lancar penjualan total assets turnover = ����������� total aktiva 3. profitabilitas yang diproksikan dengan return on asset (y) laba bersih setelah pajak roa = ����������������������� total asset penelitian ini menggunakan beberapa metode untuk menganalisis data, diantaranya: 1. statistik deskriptif 2. uji asumsi klasik  uji multikolonieritas  uji autokorelasi  uji heteroskedastisitas  uji normalitas 3. uji beda one sample t-test 4. uji beda paired sample t-test 5. uji beda wilcoxon signed rank 6. regresi linier berganda 7. uji signifikan simultan (uji f) business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 52 8. uji signifikan parsial (uji t) 9. koefisien determinasi (r 2 ) persamaan penelitian sebagai berikut: y = â0 + â1x1 + â2x2 + â3x3 + å tabel 3 hasil penelitian no. pengujian syarat hasil keterangan 1 asumsi klasik uji normalitas nilai signifikansi dari hasil uji kolmogorow-smirnov (k-s) > 0,05 signifikansi kolmogorow smirnov : 0,148 keseluruhan variabel berdistribusi normal karena signifikansi k-s < 0,05 uji autokorelasi dw diantara -2 sampai dengan 2 atau dengan kata lain dw mendekati 2 dw : 1,962 tidak terjadinya autokorelasi terpenuhi karena nilai dw menunjukkan berada di antara -2 sampai +2 uji heteroskedastisitas signifikansi < 0,05 sig x1 : 0,106 sig x2 : 0,056 sig x3 : 0,298 tidak mengandung heteroskedastisitas melainkan homoskedastisitas karena signifikansi seluruh variabel < 0,05 uji nonmultikolonieritas pedoman suatu model yang bebas multikolinearitas yaitu nila vif 4 atau 5 x1 : 1,652 x2 : 2,055 x3 : 1,648 dapat diketahui bahwa model regresi yang digunakan bebas multikolinieritas karena vif seluruh variabel 4 2 uji beda uji one sample t-test signifikansi < 0,05 serta nilai rata-rata manajemen laba sebelum ipo > 0,5 dan atau nilai rata-rata manajemen laba setelah ipo > 0,5 signifikansi 2005 : 0,000 2006 : 0,000 2007 : 0,010 2008 : 0,013 2009 : 0,082 2010 : 0,086 2011 : 0,078 2012 : 0,082 mean 2005 : 0,9167 2006 : 0,9233 2007 : 0,8544 2008 : 0,8767 2009 : 0,2500 2010 : 0,1667 2011 : 0,1556 2012 : 0,2500 terindikasi melakukan manajemen laba pada tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008. hal ini dikarenakan signifikansi pada tahun tersebut > 0,05 dan mean pada tahun tersebut < 0,5 uji paired sampe t-test dan uji wilcoxon sign rank signifikansi uji < 0,05 dan nilai rata-rata sebelum ipo nilai rata-rata variabel setelah ipo mean crt-1: 1,5283 cr t1: 1,8000 tatt-1 : 0,67 tat t1: 0,64 roat-1 : 3,55 roat1 : 3,15 signifikansi paired sample cr : 0,036 tat : 0,007 roa : 0,012 signifikansi wilcoxon cr : 0,043 tat : 0,005 roa : 0,010 terbukti terdapat perbedaan antara sebelum ipo dan setelah ipo. berdasarkan nilai signifikansi pada uji paired sample t-test maupun uiji wilcoxon signed rank sama-sama < 0,05 berdasarkan nilai mean diperoleh hasil bahwa crt-1 < cr t1 tat t-1 > tat t1 roa t-1 > roa t1 hasil dan pembahasan berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil sebagai berikut: dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 53 selain itu juga diperoleh persamaan untuk regresi linier berganda sebagai berikut: y = 0,277 + 1,002x1 + 1,036x2 + 3,117 x3 + 0,05 hipotesis pertama pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perusahaan go public yang melakukan initial public offering (ipo) menggunakan kebijakan manajemen laba (earnings management). setelah dilakukan pengujian secara statistik di atas dapat diperoleh hasil bahwasannya perusahaan yang melakukan ipo terbukti menggunakan kebijakan manajemen laba. kebijakan manajemen laba tersebut dilakukan selama 3 tahun menjelang ipo yaitu selama tahun 2005 sampai tahun 2008. hal tersebut dibuktikan dengan nilai rata-rata manajemen laba sebelum ipo > 0,5 dengan nilai signifikansi < 0,05. sedangkan untuk periode setelah ipo tidak terbukti perusahaan-perusahaan tersebut melakukan ipo karena secara pengujian statistic diperoleh nilai rata-rata manajemen laba setelah ipo < 0,5 dengan nilai signifikansi > 0,05. sesuai dengan yang dikemukakan oleh stice (2002: 420-426) bahwa terdapat empat alasan yang menjadi pendorong para manajer untuk memanipulasi laba yang dilaporkan atau yang lebih dikenal dengan manajemen laba, yaitu salah satunya mendandani laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan penawaran saham perdana (initial public offering-ipo). bagi perusahaan-perusahaan yang sedang memasuki masa dimana pelaporan laba harus dalam kondisi yang baik, asumsi-asumsi akuntansi dapat diperluas maka sering kali sampai ke titik yang palig jauh dari aturan yang ada. termasuk dalam masa itu adalah saat perusahaan berusaha untuk membuat permohonan pinjaman atau saat sebelum memulai penjualan saham perdana untuk umum. banyak studi yang telah menunjukkan kecenderungan para manajer untuk menggelembungkan laba yang dialporkan dengan cara menggunakan asumsi-asumsi akuntansi di periode sebelum penjualan saham perdana (ipo). selain itu juga berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 (h1) diterima yaitu perusahaan go public melakukan kebijakan manajemen laba sumber: data diolah, 2013 3 koefisien determinasi (r 2 ) r 2 : 0,620 hal ini berarti 62% tingkat profitabilitas melalui return on assets dipengaruhi oleh variabel earnings management (x1), current ratio (x2), dan total asset turnover (x3), sedangkan sisanya yaitu 38% dipengaruhi oleh variabel lain. 4 uji simultan (uji f) signifikansi < 0,05 f hitung > ftable signifikansi 0,000 < 0,05 f hitung > ftable 3,273 > 2,70 secara besama-sama variabel bebas earnings management (x1), current ratio (x2), dan total asset turnover (x3), berpengaruh signifikan terhadap return on asset (y) 5 uji parsial (uji t) signifikansi < 0,05 t hitung > ttable signifikansi x1 : 0,000 x2 : 0,003 x3 : 0,001 t table : 1,660 t hitug x1 : 1,713 x2 : 1,878 x3 : 1,978 secara parsial diperoleh hasil bahwa 1. manajemen laba berpengaruh terhadap return on asset 2. current ratio berpengaruh terhadap return on asset 3. total assets turnover berpengaruh terhadap return on asset business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 54 di sekitar pelaksanaan initial public offering (ipo). hasil pengujian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh gumanti (2001), anelies (2006), amin (2007), didi (2008), ratih (2010), dan elok (2012) yang juga membuktikan bahwa terdapat indikasi adanya praktek manajemeen laba di sekitar ipo. akan tetapi hasil yang didapat pada penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh meim dan wahyu (2013) karena pada penelitiannya, tidak ditemukan indikasi dilakukannya manajemen laba selama 1 tahun sebelum ipo dan 2 tahun setelah ipo. meim mengukur manajemen laba menggunakan metode yang berbeda yaitu dengan jones models, sedangkan pada penelitian ini menggunakan modified jones model. hipotesis kedua pada penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kinerja operasi antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo). penelitian ini menggunakan dua macam pengukuran kinerja operasi yaitu rasio likuiditas yang diproksikan dengan current ratio dan rasio aktivitas yang diproksikan dengan total assets turnover.  current ratio current ratio merupakan salah satu parameter pada rasio likuiditas. rasio likuiditas ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa rata-rata current ratio sebelum ipo (crt-1) sebesar 1.5283 dan rata-rata current ratio setelah ipo (crt1) sebesar 1.8000. hal tersebut menandakan telah terjadi peningkatan antara sebelum ipo dengan setelah ipo. walaupun tidak mengalami perbedaan yang cukup tinggi, namun secara signifikansi baik menurut uji paired sample t test maupun uji wilcoxon signed rank test diperoleh perbedaan yang signifikan. hal ini ditandai dengan nilai signifikan keduanya yang <0,05 yaitu signifikansi untuk paired sample t test sebesar 0.036 < 0,05 dan signifikansi untuk wilcoxon signed rank test sebesar 0,043 < 0,05.  total asset turnover total assets turnover merupakan salah satu parameter pada rasio aktivitas. rasio aktivitas ini digunakan untuk mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa rata-rata total assets turnover sebelum ipo (tatt-1) sebesar 0,6758 dan rata-rata total assets turnover setelah ipo (tatt1) sebesar 0,6408. hal tersebut menandakan telah terjadi penurunan antara sebelum ipo dengan setelah ipo. walaupun tidak mengalami perbedaan yang cukup tinggi, namun secara signifikansi baik menurut uji paired sample t test maupun uji wilcoxon signed rank test diperoleh perbedaan yang signifikan. hal ini ditandai dengan nilai signifikan keduanya yang <0,05 yaitu signifikansi untuk paired sample t test sebesar 0.007 < 0,05 dan signifikansi untuk wilcoxon signed rank test sebesar 0,005 < 0,05. berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 (h2) diterima yaitu terdapat perbedaan kinerja operasi pada perusahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo). hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh amin (2007). dalam penelitiannya dikatakan bahwa secara umum tidak ada perbedaan signifikan kinerja keuangan sebelum dan sesudah ipo, dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 55 hanya dua rasio keuangan yang berbeda yaitu current ratio dan total assets turnover. serta terjadi tren penurunan kinerja keuangan. hal tersebut juga sesuai dengan grafik yang ada pada bagian sebelumnya yang menggambarkan bahwa dalam jangka panjang yaitu 3 tahun setelah ipo akan terjadi penurunan kinerja perusahaan baik current ratio maupun total assets turnover. amin (2007) mengungkapkan bahwa pada intinya penurunan kinerja pasca ipo sebenarnya merupakan hal logis, mengingat sikap oportunistik manajemen, karena kesuperiorannya dalam penguasaan informasi dibanding pasar, dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. manipulasi ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan informasi kinerja yang �lebih baik� agar pasar merespon kebijakan ipo secara positif. namun upaya manipulasi ini biasanya tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang, sehingga perusahaan akan mengalami penurunan kinerja. hipotesis ketiga pada penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat profitabilitas antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo). profitabilitas pada penelitian ini diproksikan dengan return on asset (roa). dari pengujian yang telah dilakukan, diperoleh hasil nilai ratarata return on asset sebelum ipo (roat-1) sebesar 3,5508 dan nilai rata-rata return on asset setelah ipo (roat1) sebesar 3,1508. walaupun tidak mengalami perbedaan yang cukup tinggi, namun secara signifikansi baik menurut uji paired sample t test maupun uji wilcoxon signed rank test diperoleh perbedaan yang signifikan. hal ini ditandai dengan nilai signifikan keduanya yang < 0,05 yaitu signifikansi untuk paired sample t test sebesar 0.012 < 0,05 dan signifikansi untuk wilcoxon signed rank test sebesar 0,010 < 0,05. berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hipotesis 3 (h3) diterima yaitu terdapat perbedaan profitabilitas pada perusahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo). hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh meim (2013). dalam penelitiannya diperoleh hasil bahwasannya berdasarkan tingkar pengembalian aktiva (roa) terdapat perbedaan kinerja perusahaan antara periode satu tahun sebelum ipo dan satu tahun setelah ipo. akan tetapi penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh anelies (2006) dan didi (2008). anelies (2006) menyebutkan bahwa perubahan nilai roa pada periode sebelum dan sesudah ipo yang dilakukan perusahaan secara umum memang terjadi penurunan pada periode setelah ipo. walaupun terjadi penurunan nilai akan tetapi secara signifikansi tidak terbukti signifikan terdapat perubahan roa antara sebelum dan sesudah ipo. demikian pula pada penelitian didi (2008) yang menyebutkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata kinerja operasi yang diproksikan dengan roa antara sebelum dan setelah ipo. seperti yang dikemukakan oleh menurut besley dan brigham (2008: 17), profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang merupakan hasil bersih dari kebijakan-kebijakan dan keputusankeputusan manajemen baik dalam mengelola likuiditas, aset, maupun kewajiban perusahaan. sesuai uraian tersebut, dapat dilihat bahwa berdasarkan pengamatan nilai rasio roa menunjukkan fluktuasi yang tinggi pada periode setelah ipo. hal tersebut diikuti pula oleh rasio lain yaitu current ratio dan total assets turnover yang juga pada jangka panjang setelah ipo mengalami tred menurun. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 56 berdasarkan uji f, peneliti berhasil membuktikan bahwasannya terdapat pengaruh secara bersama-sama antara manajemen laba (earnings management) dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial public offering (ipo) di tahun 2008. selain itu juga dapat dilihat bahwa berdasarkan nilai r 2 manajemen laba dan kinerja operasi berpengaruh sebesar 62% terhadap profitabilitas perusahaan yang melakukan ipo. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh meilinda (2011). pada penelitiannya tersebut, meilinda (2011) mendapatkan hasil bahwasannya variabel current ratio, total asset turnover, debt to equity ratio, sales, dan size secara simultan atau secara bersama-sama berpengarug terhadap return on asset. namun dalam melihat pengaruh terhadap return on asset, terdapat perbedaan variabel yang digunakan antara penelitian ini dengan penelitian meilinda (2011). pada penelitian ini menggunakan variabel manajemen laba, current ratio, dan total assets turnover. sedangkan pada penelitian meilinda (2011) menggunakan variabel current ratio, total asset turnover, debt to equity ratio, sales, dan size. berdasarkan uji t, peneliti berhasil membuktikan bahwasannya terdapat hubungan disetiap variabel bebas yang terdiri dari current ratio dan total assets turnover terhadap variabel terikat yaitu return on asset. pengaruh manajemen laba terhadap return on asset hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel manajemen laba secara parsial berpengatuh terhadap return on asset. kontribusi manajmen laba mempengaruhi naik turunnya nilai return on asset sebesar 37,09%. hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukab oleh anelies (2006) dan didi (2008). pada penelitian yang dilakukan oleh anelies (2006) dan didi (2008), keduanya tidak mendapatkan hasil bahwa manajemen laba berpengaruh terhadap return on asset. bahahkan dalam penelitiannya, anelies (2006) menyebutkan bahwa tinggi rendahnya nilai return on asset perusahaan setelah ipo tidak dipengaruhi oleh adanya manajemen laba di sekitar ipo. pengaruh current ratio terhadap return on asset hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel current ratio secara parsial berpengatuh terhadap return on asset. kontribusi current ratio mempengaruhi naik turunnya nilai return on asset sebesar 39,69%. variabel ini memiliki kontribusi tertinggi dalam mempengaruhi return on asset. hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh meilinda (2011). pada penelitiannya tersebut, didapatkan hasil bahwa variabel current ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on asset. hal tersebut artinya adalah setiap terjadi peningkatan pada nilai current ratio akan menyebabkan penurunan pada nilai return on asset. pengaruh total assets turnover terhadap return on asset hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel total assets turnover secara parsial berpengatuh terhadap return on asset. kontribusi total assets turnover mempengaruhi naik turunnya nilai return on asset sebesar 38,19%. dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 57 hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh meilinda (2011). pada penelitiannya tersebut, didapatkan hasil bahwa variabel total asset turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset. hal tersebut artinya adalah setiap terjadi peningkatan pada nilai total asset turnover akan menyebabkan peningkatan pula pada nilai return on asset. dengan demikian maka dari itu dapat disimpulkan bahwa hipotesis 5 (h5) diterima yaitu manajemen laba dan kinerja operasi berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial public offering (ipo) di tahun 2008 secara parsial. pada initinya, sesuai dengan pernyataan septian (2011: 79) yang menyatakan bahwa rasio-rasio keuangan berbanding lurus dengan laba bersih. jadi ketika laba meningkat maka rasio-rasio tersebut juga akan meningkat., namun sebaliknya jika laba menurun maka rasio-rasio tersebut juga akan menurun. selain itu juga berdasarkan konsep profitabilitas yang dikemukakan oleh besley dan brigham (2008: 17) bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang merupakan hasil bersih dari kebijakan-kebijakan dan keputusan-keputusan manajemen baik dalam mengelola likuiditas, aset, maupun kewajiban perusahaan. menurut hanafi (2005) dalam sebuah bukunya menyebutkan bahwa semakin besar tingkat profitabilitas maka semakin baik bagi perusahaan itu sendiri. semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu perusahaan maka semakin besar tingkat kemakmuran yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham. semakin besar tingkat kemakmuran yang diberikan oleh perusahaan akan menarik minat investor untuk memiliki perusahaan tersebut dan akan memberikan pengaruh positif terhadap harga saham di pasar. ini berarti akan menaikkan nilai perusahaan. berdasarkan hasil secara parsial dan berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa saat kondisi perusahaan tersebut baik atau saat manajemen dapat mengelolah kegiatan operasi dengan baik maka akan mempengaruhi peningkatan profit yang akan diperoleh oleh perusahaan. dan sebaliknya, jika kondisi perusahaan tersebut tidak baik atau saat manajemen tidak dapat mengelolah kegiatan operasi dengan baik maka akan mempengaruhi penurunan profit yang akan diperoleh perusahaan. demikian pula islam telah mengatur masalah-masalah ekonomi. betapa banyaknya ayatayat al-qur�an maupun hadits nabi yang mengucapkan tentang masalah tersebut. di antaranya islam juga membicarakan masalah etika sebagai konsekuensinya dalam setiap kegiatan ekonomi, yang dilakukan seseorang harus sesuai dengan aturan-aturan telah ditentukan dalam islam agar mendapat ridha dari allah swt (djakfar, 2007: 81). aturan-aturan tersebut kemudian diberlakukan dalam bentuk etika kerena risalah yang diturunkan al-qur�an melalui rasul-nya adalah untuk membenahi akhlak manusia. sebagaimana sabda nabi muhammad saw: �sesungguhnya aku utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. menurut guanara dan sudibyo (2007: 78) dalam hadist yang dikatakan bahwa kalau ingin meilhat ahklak al-quran, lihatlah muhammad. hal ini menandakan bahwa personal branding telah dikenal dalam islam, yaitu melalui muhammad. sisi lain dari muhammad saw yaitu muhammad sebagai seorang pedagang. muhammad memberikan contoh yang sangat baik dalam setiap transaksi bisnisnya. beliau melakukan transaksi-transaksi secara business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 58 jujur, adil, dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh, apalagi kecewa. beliau selalu menempati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standard kualitas sesuai barang permintaaan pelanggan. diakui keterbatasan penulis, dalam uraian ini belum disajikan mendalam tentang perspektif islam terkait manajemen laba, kinerja operasi, dan profitabilitas untuk menciptakan suatu strategi untuk pencapaian tujuan perusahaan. namun dengan demikian menurut djakfar (2007:84), secara umum islam telah sangat jelas memberikan dan membahas persoalan etika ekonomi bisa dijadikan landasan, dapat dikemukakan bahwa: 1. berbisnis bukan hanya mencari keuntungan, tetapi itu harus diniatkan sebagai ibadah kita kepada allah swt. 2. sikap jujur (objektif), gunara dan sudibyo (2007:91) inti dari nilai tambah dan pengalaman lebih yang akan ditawarkan. sebaik apa pun value yang kita coba tawarkan pada konsumen apabila kita tidak bersikap jujur akan menjadi sia-sia, juga kunci utama dari kepercayaan pelanggan. kepercayaan bukanlah sesuatu yang menciptakan, tetapi kepercayaan adalah sesuatu yang dilahirkan. 3. sikap toleransi antar penjual dan pembeli 4. tekun (istiqomah) dalam menjalankan usaha 5. berlaku adil dan melakukan persaingan sesama pebisnis dengan baik dan sehat kesimpulan kesimpulan dari hasil pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. berdasarkan pendeteksian manajemen laba terbukti bahwasannya perusahaan go public yang melakukan initial public offering (ipo) menggunakan kebijakan manajemen laba (earnings management). dalam penelitian ini dibuktikan bahwa perusahaanperusahaan tersebut melakukan kebijakan manajemen laba pada periode menjelang ipo, yaitu 3 tahun sebelum ipo. 2. berdasarkan pengamatan dan uji beda yang dilakukan terhadap kinerja operasi yang terdiri dari current ratio dan total assest turnover terbukti bahwa terdapat perbedaan kinerja operasi antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo). secara umum kinerja operasi mengalami penurunan dalam jangka panjang setelah ipo. 3. berdasarkan pengamatan dan uji beda yang dilakukan terhadap profitabilitas yang diproksikan oleh return on asset terbukti bahwa terdapat perbedaan return on asset antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan initial public offering (ipo). secara umum return on asset mengalami penurunan mulai tahun pertama setelah ipo. 4. berdasarkan uji simultan dan parsial, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa terdapat pengaruh antara manajemen laba (earnings management) dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial public offering (ipo) di tahun 2008. secara simultan manajemen laba (earnings management) dan kinerja operasi mempengaruhi profitabilitas sebesar 62%. selain itu juga didapatkan hasil bahwa variabel current ratio memiliki kontribusi terbesar dalam mempengarihu tingkat profitabilitas perusahaan. keterbatasan penelitian dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan penelitian, diantaranya: dwi sulistiani, analisis manajemen laba dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public 59 1. penelitian ini menggunkan data laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit dan data laporan keuangan yang tidak diaudit. hal tersebut menyebabkan terjadi range yang terlampau jauh antara hasil perhitungan antara data lapotan yang telah diaudit dengan hasil perhitungan data laporan keuangan yang tidak diaudit. 2. penelitian ini hanya melakukan pengamatan selama 6 tahun, yaitu 3 tahun sebelum 2008 (2005-2007) dan 3 tahun setelah tahun 2008 (2009-2011). serta penelitian ini hanya menggunakan sampel 12 perusahaan. 3. penelitian ini hanya menggunakan 4 variabel yang berhubungan dengan ipo, yaitu variabel manajemen laba, current ratio, total assets turnover dan return on asset. saran berdasarkan keterbatasan penelitian tersebut, maka: 1. penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan data laporan keuangan yang telah diaudit semua. hal tersebut agar tidak terjadi range yang terlampau jauh serta mendapat hasil yang lebih signifikan pada penelitian-penelitian selanjutnya. 2. penelitian selanjutnya sebaiknya melakukan pengamatan dengan rentang waktu yang lebih lama dengan jumlah sampel perusahaan yang lebih banyak serta beragam. hal tersebut agar pada penelitian-penelitian selanjutnya dapat mendapat hasil interpretasi yang lebih baik. 3. penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan variabel-variabel lain yang mempengaruhi ipo, manajemen laba, dan profitabilitas. daftar pustaka al-qur�an dan terjemahan amin, aminul. 2007. �pendeteksian earnings management, underpricing dan pengukuran kinerja perusahaan yang melakukan kebijakan initial public offerings (ipo) di indonesia.� simposium nasional akuntansi x unhas � makassar. arikunto, suharsimi. 2006. prosedur penelitian (suatu pendekatan praktik). jakarta: pt: rineka cipta. asnawi, nur dan masyhuri. 2011. metodologi riset manajemen pemasaran. uin � maliki press. malang belkaouli, ahmed riahi. 2000. accounting theory. edisi kelima. jakarta: salemba empat brigham, eugene dan joel f houston, 2001. manajemen keuangan ii. jakarta: salemba empat dechow, p.m., sloan, r.g., dan sweeney, a.p., 1995. detecting earnings management. the accounting review. vol 70. no 2. hal.193-225 fakultas ekonomi. 2009. pedoman penulisan karya ilmiah universitas islam negeri (uin) maulana malik ibrahim malang. ghozali, imam. 2009. teori, konsep dan aplikasi spss 17. badan penerbit universitas diponegoro, semarang. gumanti, tatang ari, 2002. earnings management dalam penawaran saham perdana di bursa efek jakarta. kumpulan makalah sna v. hal.124-148 ________. 2001. �earnings management dalam penawaran saham perdana saham perdana di bej�. jurnal riset akuntansi indonesia. vol 4, hal 165-185. hanafi, mahmud. 2004. manajemen keungan. edisi 2004/2005.yogyakarta: bpfe. business and finance journal, volume 1, no. 1, march 2016 60 husein umar.2007. metode penelitian untuk skripsi dan tesis bisnis. jakarta: pt gramedia pustaka. irawan dan gumanti. 2010. �indikasi earnings management pada initial public offering. journal from jipptumg, diakses 10 september 2013. koyuimirsa, 2011. dampak manajemen laba akrual dan manajemen laba riil terhadap kinerja pasar. tesis s1 universitas diponegoro semarang. listia dan wahyu. 2013. �manajemen laba dan evaluasi kinerja keuangan perusahaan di sekitar ipo�. jurnal penelitian uns, vol. 1, no. 2, hal. 1-10. ma�ruf, muhammad. 2006. analisis faktor � faktor yang mempengaruhi manajemen laba pada perusahaan go publik di bursa efek jakarta. skripsi s1. universitas islam indonesia, yogyakarta. mayangsari, sekar dan wilopo, 2002, �konservatisme akuntansi, value relevance dan discretionary accruals. implikasi empiris model feltham ohlson (1996)�, simposium nasional akuntansi iv: 685708 mulyono, elok dwi. 2012. pengaruh manajemen laba (earnings manajement) terhadap kinerja keuangan. skripsi s1. uin maulana malik ibrahim malang. nur indriantoro, bambang supomo. 2007. metode penelitian bisinis. cv. alfabeta: rineka cipta. rivard, richard. j., eugene b dan gay b.h. morris. 2003. income smoothing behaviour of v.s banks under revised international rodoni, ahmad dan indoyama. 2003. �prestasi awal dan prestasi setelah dipasarkan pada penawaran saham perdana �. jurnal ekonomi uin syarif hidayatullah jakarta.vol 1. no 2, hal 60-84. saiful. 2004. �hubungan management laba (earning management) dengan kinerja operasi dan retur saham di sekitar ipo�. jurnal riset akuntansi indonesia,vol 7. no 3, hal 316-332. scott, william r. 2003. financial accounting theory. new jersey: prentice hall inc setiawan, nanang. 2006. manajemen laba (earnings management) dalam tinjauan etika islam. universitas brawijaya. malang yang dapat diakses pada www. jurnalskripsi.com soemarso s.r. 2005. akuntansi suatu pengantar. salemba empat. jakarta stice, stice & skousen. 2004. intermadiate accounting buku satu edisi 15. salemba empat, jakarta sugiono. 2008. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: cv alfabeta sulistyanto, h. sri. 2008. �manajemen laba, teori dan model empiris�. jakarta: grasindo. suprianto, didi. 2008. �analisis pengaruh manajemen laba dengan kinerja operasi dan return saham di sekitar ipo. sripsi. uin syarif hidayatullah. jakarta suwardjono, 2010, teori akuntansi perekayasaan laporan keuangan, yogyakarta: bpfe �yogyakarta. yustisia, anelies dan andayani, wuryan, 2006. �pengaruh manajemen laba (earnings management) terhadap kinerja operasi dan return saham di sekitar ipo: studi terhadap perusahaan yang listing di bursa efek jakarta�. jurnal tema, volume 7, nomor 1. www.idx.co.id 00 atribut.pmd puspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 145145 analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya puspandam katias, iyori kharisma muhammad e-mail: puspandam@unusa.ac.id & mail@iyorikharisma.com abstract: this study aims to analyze berth time performance of ship cargo carrying dry bulk at jamrud terminal port of tanjung perak surabaya, particularly performance which related to effectively and efficiency. berth time performance was analyzed using productivity (ton/gank/hour) and effective time: berth time (et:bt). this study also identify factors affecting berth time performance using interview and observation with informants whom understand and involved in berth time process of dry bulk ship cargo, and the factors grouped into 5 category: man, machine & facility, process, environment, and material, and will be explained further using cause and effect diagram. the analysis shows that the average of productivity performance (t/g/h) is 165, far above the given standard which is 125, though some activities are still below. while the average performance of et:bt only reach 54%, still below standard given which is 70%, and none of them even reach 90% of standard given. from the interview and discussion with the informants shows that the main cause of this unachieved berth time performance standards is the long shift that labors been through. improvements are given using organizational approach by making alternative work schedule to organize schedule better. this alternative schedule involve in -group rotation, that will be supervised by port’s operational staff. keywords: ports, stevedoring, berth time, effectively and efficiency, cause and effect diagram (fishbone), extended workday pendahuluan transportasi jalur laut sangat berperan dalam perekonomian dunia hingga saat ini. pada tahun 2015 lalu (detikfinance, 2015), menko kemaritiman indroyono soesilo menyatakan bahwa sekitar 90% perdagangan internasional masih melalui jalur laut. arus perdagangan internasional dengan menggunakan petikemas utamanya dipicu oleh arus perdagangan dari amerika serikat dan eropa dan oleh permintaan impor berkelanjutan untuk bahan mentah di negara berkembang besar lainnya, terutama cina dan india (rencana strategis kementerian perhubungan tahun 2015–2019, 2015). kontribusi negara-negara berkembang terhadap perdagangan lewat laut dunia juga meningkat. seperti pada tahun 2011, total 60 persen dari volume perdagangan lewat laut dunia berasal dari negara-negara berkembang, dan diperkirakan akan terus naik hingga tahun 2016 ini (bumn.go. id). negara-negara berkembang sekarang pemain utama dunia baik sebagai eksportir dan importir, suatu pergeseran yang luar biasa dari pola sebelumnya. transportasi indonesia, khususnya pelabuhan dan akses transportasi darat ke pelabuhan, harus mengantisipasi berkembangnya perdagangan internasional ini. pelayanan yang efektif dan efisien terhadap pengguna pelabuhan (kapal, barang dan penumpang) adalah modal dasar bagi perkembangan suatu pelabuhan (triatmodjo, 2009). pelabuhan tanjung perak merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk nomor dua di indobusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 146 nesia setelah tanjung priok jakarta. kegiatan distribusi barang domestik ataupun internasional di tanjung perak pun terus meningkat dari tahun ke tahun. tercatat dalam periode tiga tahun, yaitu tahun 2010 hingga 2012 peningkatan arus petikemas yang melalui pelabuhan tanjung perak mencapai lebih dari 200,000 box setiap tahunnya. pada 2010 arus petikemas mencapai angka 2.407.487 box. pada 2011 arus petikemas mengalami peningkatan 236.031 box menjadi 2.643. 518 atau meningkat sebesar 9.8%. peningkatan juga terjadi pada tahun 2012, tercatat arus petikemas sepanjang tahun 2012 sebesar 2.849.138 box. peningkatan terjadi sebanyak 205.602 box dari tahun 2011 atau meningkat sebesar 7.7% (www.tempo.com). kegiatan saat di mana kapal mulai mengikatkan tali di dermaga, melakukan kegiatan bongkar/muat hingga kapal melepas tali tambat dan meninggalkan dermaga disebut dengan berth time. dalam berth time ada 2 standar yang dapat diukur, yaitu produktivitas (t/g/j) dan juga et:bt. kedua standar kinerja ini mewakili efektivitas dan juga efisiensi. produktivitas mengacu kepada berapa banyak ton muatan yang dapat dibongkar dalam tiap jamnya oleh tiap gang kerja (ton/gang/jam), sedangkan et: bt berhubungan dengan waktu efektif kerja, persentase banyaknya waktu yang benar-benar digunakan untuk bekerja dibandingkan dengan total waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muat. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja berth time kapal kargo bermuatan curah kering, terutama yang berhubungan dengan efektivitas dan efisiensi, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kinerja berth time kapal kargo bermuatan curah kering di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya. untuk mengidentifikasi permasalahan, penelitian ini menggunakan diagram cause and effect. dengan menggunakan cause and effect, diharapkan dapat diketahui faktor-faktor yang memengaruhi kinerja berth time terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya. berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dapat diringkas dalam judul “analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di termi nal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya” landasan teori pengertian pelabuhan menurut keputusan direksi pt (persero) pelabuhan indonesia iii nomor: kep.15/pj.5.03/ p.iii-2000 tanggal 31 mei 2000, pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sehingga tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar-moda transportasi. kepelabuhanan meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pelabuhan dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan berlayar, tempat perpindahan intra dan/atau antar-moda serta mendorong perekonomian nasional dan daerah. tipe dari pelabuhan harus sesuai dengan kapal-kapal yang sandar sehingga pelabuhan memiliki berbagai tempat terpisah untuk barang, hewan, ikan, dan sebagainya. daerah pelabuhan harus cukup luas untuk menyediakan fasilitas layanan bongkar/muat barang. puspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 147 definisi kapal barang/kapal kargo kapal barang khusus dibuat untuk mengangkut barang. pada umumnya kapal barang mempunyai ukuran yang lebih besar daripada kapal penumpang. bongkar muat barang bisa dilakukan dengan dua cara yaitu secara vertikal atau horizontal. bongkar muat secara vertikal disebut lift on/lift off dilakukan dengan crane kapal, mobile crane dan crane tetap yang ada di dermaga. pada bongkar muat secara horizontal yang disebut roll on/roll off barang-barang diangkut dengan menggunakan truk. muatan pada kapal dapat terdiri dari bermacam-macam barang yang dibungkus dalam peti, karung dan sebagainya yang dikapalkan oleh banyak pengirim untuk banyak penerima di beberapa pelabuhan tujuan. kapal barang memiliki beberapa palkah dan geladak. dengan adanya palkah dan geladak ini, pembagian muatan dalam kapal dapat tertata rapi dan memudahkan dalam pembongkarannya di pelabuhan tujuan masing-masing, juga dapat menjaga agar barangbarang tidak berbenturan dengan muatan lainnya sehingga kondisi muatan tetap baik. kinerja pelabuhan kinerja pelabuhan adalah tinggi rendahnya tingkat pelayanan pelabuhan kepada pengguna pelabuhan (kapal dan barang), yang tergantung pada waktu pelayanan kapal selama di pelabuhan. kinerja pelabuhan yang tinggi menunjukkan bahwa pelabuhan dapat memberikan pelayanan yang baik (triatmodjo, 2009). berdasarkan keputusan dirjen perhubungan laut nomor: um.002/38/18/djpl-2011 telah ditetapkan indikator kinerja pelayanan yang terkait dengan pelabuhan pada 9 poin, namun yang dipakai padapenelitian ini hanya 2 poin, yaitu waktu efektif (et:bt) dan juga produktivitas kerja (t/g/j), karena hanya keduanya yang sangat berpengaruh dalam bongkar muat pada saat berth time. waktu efektif (et:bt) adalah rasio antara effective time dan berth time yang merupakan indikator pelayanan yang terkait dengan jasa tambat. et adalah jumlah jam bagi suatu kapal yang benar-benar digunakan untuk bongkar muat selama kapal di tambatan/dermaga dalam satuan jam. bt adalah jumlah waktu siap operasi tambatan untuk melayani kapal dalam satuan jam. et/bt dinyatakan dalam satuan %. bt terdiri dari bwt + not. berth working time (bwt) adalah waktu untuk kegiatan bongkar muat selama kapal berada di dermaga, yang terdiri dari effective time (et) dan idle time (it). not operation time (not) adalah waktu jeda, waktu berhenti yang direncanakan selama kapal di pelabuhan (persiapan b/m dan istirahat kerja). idle time (it) adalah waktu tidak efektif atau tidak produktif atau terbuang selama kapal berada di tambatan disebabkan pengaruh cuaca dan peralatan bongkar muat yang rusak. analisis kinerja di pelabuhan, secara produktivitas, dapat dengan mudah dinilai dengan t/g/j yang mewakili ton/gang/jam. angka t/ g/j menandakan jumlah ton yang dapat dibongkar per gang dalam tiap 1 jam. 1 gang sendiri terdiri dari pihak pbm (1 operator crane, foreman) dan juga terdiri dari buruh yang bekerja di atas dan di bawah kapal. indikator et, bt, kinerja bongkar muat dan kesiapan operasi peralatan digolongkan baik jika capaiannya di atas standar, cukup baik jika capaian 90–100%, dan kurang baik jika capaian kurang dari 90%. dua standar kinerja di atas masing-masing mewakili efektivitas dan efisiensi bongkar muat. t/g/j mewakili efektivitas, semakin tinggi nilai t/g/j maka semakin efektif bongkar muatnya, karena dapat melakukan bongkar muat sesuai business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 148 masalahan. konsep dasar dari diagram fishbone ini adalah permasalahan mendasar diletakkan pada bagian kanan dari diagram atau pada bagian kepala dari kerangka tulang ikannya. penyebab permasalahan digambarkan pada sirip dan durinya. terdapat dua jenis diagram sebab akibat (k. ishikawa, 1968), yaitu analisis penyebab dan klasifikasi proses. pendekatan analisis penyebab menggunakan penyebab individu yang dikelompokkan ke dalam beberapa kategori penyebab utama. semakin kecil kategori pada tulang ikan ke dalam sub-sub penyebab, semakin jelas mengapa potensi penyebab terus terjadi. sedangkan pendekatan klasifikasi proses, diagram mungkin digambarkan dalam bentuk fishbone atau peta proses dengan potensi penyebab yang terkait dengan langkah proses yang sesuai. dalam menggunakan pendekatan proses, tidak ada kategori atau tema yang sesuai. kategori tersebut harus diubah agar sesuai dengan situasi atau masalah yang terjadi. lynne hambelton (2007) mengemukakan bahwa diagram fishbone dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan baik pada level individu, tim, maupun organisasi. terdapat banyak kegunaan atau manfaat dari pemakaian diagram fishbone ini dalam analisis masalah, contohnya yaitu: memfokuskan individu, tim, atau organisasi pada permasalahan utama; memudahkan dalam mengilustrasikan gambaran singkat permasalahan tim/organisasi; menentukan kesepakatan mengenai penyebab suatu masalah; membangun dukungan anggota tim untuk menghasilkan solusi; memfokuskan tim pada penyebab masalah; memudahkan visualisasi hubungan antara penyebab dengan masalah; memudahkan tim beserta anggota tim untuk melakukan diskusi dan menjadi diskusi lebih terarah pada masalah dan penyebabnya. dengan target yang telah ditentukan. untuk curah kering memiliki standar kinerja 125 ton/ gang/jam. standar kinerja et:bt mewakili efisiensi, karena semakin tinggi nilai et:bt, berarti persentase waktu yang digunakan untuk kerja semakin tinggi pula. sehingga dapat mengurangi total jumlah waktu yang dibutuhkan untuk membongkar/memuat seluruh muatan kapal. efektivitas dan efisiensi peneliti mengacu kepada pendapat arens and lorlbecke yang diterjemahkan oleh amir abadi jusuf (1999:765), yang mendefinisikan efektivitas dan efisiensi sebagai berikut: “efektivitas mengacu kepada pencapaian suatu tujuan, sedangkan efisiensi mengacu kepada sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan itu”. dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan efektivitas adalah pengukuran apakah suatu perusahaan dapat mencapai target/standar yang telah ditentukan, dan efisiensi adalah bagaimana suatu perusahaan dalam mencapai target/standar yang telah ditentukan mengelola dan menggunakan sumber daya yang dibutuhkan sebaik mungkin, dan seminimal mungkin. diagram cause and effect (fishbone) diagram fishbone (diagram sebab akibat) dikembangkan oleh dr. kaoru ishikawa, seorang professor dari universitas tokyo pada tahun 1943. diagram ini dibuat dengan tujuan untuk memilah dan menggambarkan hubungan antara beberapa faktor yang berdampak pada pengendalian kualitas. menurut scarvada, et al (2004), diagram fishbone merupakan suatu alat visual untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, dan secara grafik menggambarkan secara detail semua penyebab yang berhubungan dengan suatu perpuspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 149 metode penelitian prosedur pengumpulan data teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut. 1. studi pendahuluan studi pendahuluan dilakukan untuk memperoleh gambaran umum mengenai perusahaan dan untuk mengetahui dengan jelas masalah yang diangkat oleh peneliti. 2. studi pustaka (library research) mengumpulkan data dan informasi melalui buku, artikel, dokumentasi perusahaan, literatur lain, dan penelitian sebelumnya yang terkait dengan penggunaan diagram fishbone, serta pengukuran kinerja pada pelabuhan. 3. studi lapangan (field research) studi lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari objek penelitian, yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung dan pencatatan secara sistematis terhadap objek yang diteliti. studi lapangan dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. wawancara teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya jawab kepada pihak perusahaan yang berhubungan dengan penelitian. peneliti melakukan wawancara langsung untuk mengetahui segala informasi mengenai perusahaan dan masalah yang diangkat. dalam penelitian ini, digunakan wawancara tidak terstruktur. beberapa wawancara dilakukan tanpa adanya perekaman, agar dapat menggali informasi secara lebih dalam. b. observasi observasi adalah pengambilan data dengan melakukan pengamatan langsung pada dermaga kapal kargo terminal jamrud. 4. triangulasi triangulasi adalah teknik yang dilakukan untuk memeriksa keabsahan data yang telah diperoleh. denzin et al. (2011) mendefinisikan triangulasi digunakan sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda. penelitian ini menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber data. teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, di mana penentuan orang yang menjadi informasi dilakukan dengan pertimbangan tertentu. metode snowball sampling juga digunakan saat observasi di lapangan dengan tujuan mendapatkan data yang lebih lengkap sehingga dapat menggali hasil penelitian yang lebih mendalam sesuai dengan rumusan masalah. struktur interview berdasarkan rumusan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya tidak tercapainya standar kinerja berth time, jawaban dari pertanyaan yang diajukan memerlukan kejujuran dan keterbukaan dari informan maka dari itu pada penelitian ini digunakan completely open-ended interview sehingga dapat mengambil informasi dalam jumlah yang banyak (teddlie & tassakhori, 2009). demi menjaga agar proses interview sesuai dengan tujuan penelitian, maka digunakan tema interview sebagai panduan yang didasarkan pada lima faktor dalam teori diagram cause and effect. 1. tema: penyebab tidak efektifnya kinerja bongkar muat pada saat berth time kapal kargo curah kering business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 150 a. sub tema: manusia/man b. sub tema: mesin/machine c. sub tema: metode (prosedur)/methods d. sub tema: material/materials e. sub tema: lingkungan/environment tahapan penelitian penelitian yang baik memerlukan tahapantahapan yang sistematis dalam pelaksanaannya sehingga dapat memberikan kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang diangkat. penelitian ini dibagi menjadi lima bagian besar. 1. tahap awal penelitian pada tahap ini dilakukan survei pendahuluan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran umum mengenai perusahaan dan untuk mengetahui dengan jelas masalah yang diangkat pada penelitian ini. 2. tahap pengumpulan data tahap pengumpulan data dilakukan dalam bentuk wawancara dan observasi. studi kepustakaan dilakukan untuk mendukung studi lapangan, dilakukan dengan mencari literatur dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan topik yang diteliti. selain dengan melakukan wawancara dan observasi langsung, data yang terkumpul diperoleh dari data yang tersedia di perusahaan. 3. tahap pengolahan data pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan diagram cause and effect untuk memberi visualisasi terhadap semua faktor yang menyebabkan tidak tercapainya kinerja berth time kapal kargo. 4. tahap analisis dan pembahasan dalam tahap ini akan dilakukan analisis dan pembahasan terhadap hasil dari data yang telah diolah dan pemberian usul perbaikan. 5. tahap penarikan kesimpulan dan saranpada tahap ini akan ditarik kesimpulan dan saran dari keseluruhan hasil yang telah diperoleh dari semua tahapan penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat menjawab pertanyaan dari rumusan masalah yang telah dibuat. pada tahap ini juga akan diberikan saran sebagai bahan pertimbangan untuk perusahaan. tahapan analisis dalam penelitian ini diperlukan tahapan analisis yang sesuai dalam menyelesaikan permasalahan. tahap analisis tersebut adalah sebagai berikut. 1. survei pendahuluan untuk memahami proses pelayanan kapal mulai kedatangan kapal hingga keberangkatan kapal, terutama saat proses bongkar muat kapal kargo curah kering. 2. melakukan analisis kinerja dan juga penyebab tidak tercapainya standar kinerja berth time kapal kargo berdasarkan hasil wawancara kepada asisten manajer pelayanan terminal dan beberapa supervisor serta karyawan yang berhubungan. 3. melakukan observasi langsung dan wawancara dengan para buruh di dermaga kapal kargo pada terminal jamrud untuk memperoleh data yang diperlukan. 4. menganalisis hasil observasi dan wawancara yang telah diperoleh dengan diagram cause and effect dan melakukan diskusi dengan pihak perusahaan untuk mencari penyebab utama terjadinya masalah. 5. memberikan usulan perbaikan, kesimpulan, dan saran dari penelitian yang telah dilakukan. puspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 151 hasil dan pembahasan deskripsi hasil penelitian dalam menganalisis kinerja terminal jamrud, peneliti menggunakan data kinerja yang didapatkan dari pihak terminal jamrud. dalam penelitian ini, kinerja yang dianalisis hanya 2 poin saja, yaitu dari produktivitas kerja (t/g/j) dan juga tinggi rendahnya waktu efektif (et:bt), karena 2 hal ini yang paling berhubungan dengan proses bongkar muat pada kapal di saat berth time. analisis kinerja terminal jamrud berdasarkan produktivitas (t/g/j) pada data kinerja bulan oktober 2016, dapat dilihat bahwa standar t/g/j yang disepakati adalah 125. standar ini merupakan keputusan dari dirjen perhubungan laut yang paling baru, setelah sebelumnya hanya 60. kenaikan ini terjadi dikarenakan semakin tingginya aktivitas bongkar muat, sehingga pelabuhan dituntut untuk semakin cepat. realitanya, pada terminal jamrud sudah sangat baik kinerjanya karena rata -rata t/g/j keseluruhan di angka 165, yang mana sudah berada di atas t/g/j yang disepakati. ini menandakan bahwa bongkar muat di terminal jamrud sudah efektif. meski nilai rata-rata berada di angka 165, masih ada 2 kapal yang belum mencapai standar tersebut. 2 kapal tersebut yaitu kapal thai binh 01 yang mempunyai nilai t/g/j 37 dan juga world winner dengan nilai t/g/j 71. jika dilihat, kapal thai binh bermuatan tepung tapioka 7.001 ton bersandar dan dikerjakan bersamaan dengan kapal fukuyama bermuatan soyabean meal (sbm) 43.000 ton, yaitu pada tanggal 27 september 2016 pada pukul 08.00 (start work). namun fukuyama selesai lebih cepat yaitu pada tanggal 1 oktober, sedangkan thai binh 01 selesai pada tanggal 3 oktober. perbedaan waktu penyelesaian ini bisa jadi disebabkan karena adanya perbedaan kecepatan bongkar antara satu kapal dengan kapal yang lain, sehingga perlu diteliti lebih lanjut apa saja faktor-faktor yang dapat memengaruhi hal tersebut. analisis kinerja terminal jamrud berdasarkan waktu efektif (et:bt) seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa berth time terdiri dari effective time (et), idle gambar 1 data kinerja terminal jamrud 2016 business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 152 time (it), dan juga not operation time (not). effective time adalah jumlah jam bagi suatu kapal yang benar-benar digunakan bongkar muat selama kapal di tambatan/dermaga dalam satuan jam. not operation time adalah waktu jeda, waktu berhenti yang direncanakan selama kapal di pelabuhan (persiapan b/m dan istirahat kerja). idle time adalah waktu tidak efektif atau tidak produktif atau terbuang selama kapal berada di tambatan disebabkan pengaruh cuaca dan peralatan bongkar muat yang rusak. indikator et, bt, kinerja bongkar muat dan kesiapan operasi peralatan digolongkan baik jika capaiannya di atas standar, cukup baik jika capaian 90–100%, dan kurang baik jika capaian kurang dari 90%. dapat dilihat dari data kinerja curah kering terminal jamrud oktober 2016, bahwa dari semua kegiatan bongkar muat tidak ada satu pun yang mencapai standar kinerja et:bt yang disepakati, yaitu 70%. rata-rata et:bt dari semua kegiatan bongkar muat yaitu 54%, dengan nilai terendah yaitu kapal kmarin melbourne dengan muatan raw sugar (38.000 ton) dengan et:bt 45% dan nilai tertinggi yaitu kapal fukuyama bermuatan soyabean meal (43.000 ton) dan cape kennedy bermuatan raw sugar (29.000 ton) dengan et:bt 59%. inimenandakan bahwa et:bt di terminal jamrud masih kurang baik, karena belum mencapai 90% dari kesepakatan, yaitu 63% (0.9 x 70%). tidak tercapainya standar kinerja yang telah ditentukan ini dapat terjadi karena rendahnya tingkat effective time, yang disebabkan oleh tingginya tingkat idle time dan/atau not. ini menandakan bongkar muat di terminal jamrud belum efisien, karena banyak waktu yang tidak digunakan untuk bekerja (idle time dan/atau not tinggi) sehingga membutuhkan waktu bongkar/muat yang lebih lama dari yang telah diproyeksikan. gambar 2 cause and effect diagram tidak tercapainya standar kinerja produktivitas & et:bt puspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 153 hong ta dengan muatan soyabean meal 19.000 ton dan menggunakan 3 gang (3 kelompok kerja), yang berarti terdapat 3 crane dengan tipe hmc (harbour mobile crane) yang sedang melakukan proses bongkar yaitu 1 hmc italgru, dengan operator dari pihak pelindo 3, 2 hmc gottwald (1 milik bjti dan 1 milik emitraco), dengan operator dari masing-masing pemilik hmc. 3 hmc tersebut dibagi menjadi hmcpelindo, hmcbjti dan hmcemitraco. dihitung berapa banyak hook cycle yang dapat dilakukan oleh masing-masing hmc dalam waktu 30 menit. ø hmcpelindo melakukan hook cycle sebanyak 12 kali, dengan rata-rata cycle time selama 150 detik dan perkiraan total muatan yang berhasil dibongkar sekitar 180 ton. ø hmcbjti melakukan hook cycle sebanyak 14 kali, dengan rata-rata cycle time selama 128.57 detik dan perkiraan total muatan yang berhasil dibongkar sekitar 210 ton. ø hmcemitraco melakukan hook cycle sebanyak 15 kali, dengan rata-rata cycle time selama 120 detik dan perkiraan total muatan yang berhasil dibongkar sekitar 225 ton. dari hasil observasi, tampak bahwa operator hmcpelindo memiliki kinerja yang paling rendah. setelah observasi hmc dilakukan, peneliti pun melakukan wawancara singkat mengenai hasil observasi terhadap beberapa orang yang ada di lapangan yaitu supervisor bongkar muat dan juga foreman yang bertugas. supervisor bongkar muat mengatakan bahwa operator hmcpelindo yang merupakan operator dari pelindo 3 memang terlihat kurang terampil. beliau menyatakan begitu karena melihat pergerakan hmc yang kurang efisien, seperti mengangkat grab terlalu tinggi pada saat melakukan pergerakan. pada bagian selanjutnya, akan dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai faktorfaktor apa saja yang memengaruhi tingginya idle time dan not operation time (not). pembahasan identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kinerja berth time, produktivitas dan et:bt, di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan asisten manager pelayanan terminal, supervisor bongkar muat, supervisor perencanaan dan administrasi terminal, supervisor pelayanan terminal, pengendali operasi, staff ppsa, foreman, dan juga operator hmc, ditemukan beberapa faktor yang memengaruhi kinerja berth time di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak yang dikategorikan dalam lima kategori besar. a. manusia/man ●●●●● adanya perbedaan keterampilan keterampilan seorang operator crane sangat menentukan produktivitas dari kegiatan bongkar muat, semakin terampil maka semakin produktif. pergerakan crane pada saat bongkar muat biasa disebut dengan hook cycle, yaitu proses mengangkat barang dari palka, menurunkan ke truk dan kembali ke palka lagi. dari hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa keterampilan operator dipengaruhi oleh pengalaman/jam terbang yang dimiliki. semakin tinggi jam terbang, maka semakin terampil. untuk mengonfirmasi hal tersebut, dilakukan observasi pada tanggal 21 november 2016 di terminal jamrud utara pada pukul 08.15– 11.30 wib. pada tanggal tersebut terdapat kapal business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 154 jika dibandingkan dengan hasil wawancara, dapat dikonfirmasi bahwa keterampilan operator tergantung dari jam terbangnya. dari ketiga operator hmc tersebut, memang operator hmcpelindo lah yang memiliki jam terbang paling rendah, karena memang pelindo 3 baru saja memiliki hmc bulan juli lalu. yang berarti, operatornya baru saja mengoperasikan crane tersebut selama 3 bulan. berbeda dengan operator hmc lain yang sudah mempunyai jam terbang hitungan tahun. terutama operator hmcemitraco yang memang dikenal memiliki kinerja yang paling baik. ● shift tkbm terlalu panjang pada saat wawancara, ditemukan bahwa pergantian shift (shift 1 –> shift 2 –> shift 3) hanya berlaku untuk operator crane, operator excavator dan juga foreman. namun, untuk tkbm sendiri baru berganti 1x24 jam sehingga mereka kerja dari pukul 08.00 hingga pukul 08.00 besok harinya. ini berbeda dengan praktik yang ada di pelabuhan tanjung emas semarang, di mana saat pergantian shift yang berganti adalah secara keseluruhan termasuk tkbm. terlalu panjangnya shift bagi tkbm ini menyebabkan mereka sering sekali kelelahan sehingga harus mengambil waktu istirahat lebih lama ataupun lebih cepat dari waktu yang ditentukan, seperti mereka mengakhiri pekerjaan lebih cepat pada pukul 05.30–06.00 pagi pada saat menjalankan shift 3 (seharusnya berhenti pukul 07.00), dan juga mengambil waktu istirahat yang cukup lama pada shift 2. ● waktu pergantian shift terlalu lama dari hasil wawancara yang dilakukan, pergantian shift sering sekali lebih lama dan lebih cepat dari yang direncanakan. dari hasil observasi, pergantian dari shift 1 ke shift 2 memang tidak terlalu lama, namun dari hasil wawancara banyak yang menyatakan bahwa yang terburuk adalah di pergantian shift 3 ke shift 1 serta dari shift 2 ke shift 3. pergantian yang lama ini terjadi karena pihak tkbm sengaja mengambil waktu istirahat lebih lama dari yang telah dijadwalkan. contohnya, shift 3 sering kali baru dimulai pada 01.00 (telat 1 jam). b. mesin/machine ● hook cycle time hmc baru lambat dari hasil wawancara yang dilakukan, masalah yang terjadi dalam pengoperasian mesin baru ini dikarenakan karena operator yang belum terbiasa menjalankannya. ini menyebabkan pergerakan alatnya menjadi kurang efisien, seperti yang telah dijelaskan pada kategori manusia/man. ● adanya kerusakan alat kerusakan yang terjadi meliputi kerusakan kecil dan juga kerusakan besar. contoh kerusakan kecil adalah karena mesin panas. untuk mesin panas sudah biasa terjadi akibat crane bekerja tanpa henti, dikarenakan muatan curah kering selalu memakan waktu bongkar muat berhari-hari per kapal dan rutin setiap bulan. untuk kerusakan besar contohnya dari palka kapal yang susah dibuka karena sudah tua. selain itu kerusakan juga terjadi karena prosedur kerja yang salah. kerusakan juga terkadang terjadi karena ada beberapa modul yang tidak bisa dijalankan, karena perlu beberapa penyesuaian terlebih dahulu. hal ini pun sudah dipersiapkan oleh pihak pemasok crane italgru dengan menempatpuspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 155 kan beberapa tim ahlinya di kantor pelindo 3 tanjung perak surabaya. ● adanya waktu tunggu angkutan darat/truk kegiatan bongkar muat di terminal jamrud tanjung perak surabaya ini dilakukan dengan teknik truck losing, di mana kegiatan bongkar muat dilakukan secara langsung dari kapal –> truk –> gudang consigne, tanpa melalui gudang penyimpanan di terminal. kurangnya angkutan darat/truk dapat memengaruhi idle time, karena jika tidak ada truk yang tersedia, maka crane akan berhenti (idle), terutama apabila mesin hopper dalam posisi penuh sehingga terjadi waktu tunggu angkutan darat. adanya kekurangan angkutan darat/truk ini dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti: pihak consignee/pbm tidak menyediakan truk dengan jumlah sesuai yang telah diproyeksikan, jauhnya lokasi gudang consignee, kondisi di sekitar lokasi gudang consignee seperti macet dan banjir. c. lingkungan/environment ●●●●● aktivitas terhenti karena cuaca buruk dalam aktivitas bongkar muat curah kering di terminal jamrud, cuaca yang paling tidak dapat dihindari adalah hujan, karena tipe muatan curah kering yang mudah rusak jika terkena air hujan. biasanya aktivitas sudah berhenti apabila langit sudah mulai mendung, jadi tidak menunggu turunnya rintik hujan, karena proses tutup palka kapal yang cukup membutuhkan waktu. yang berhak menentukan aktivitas bongkar muat berhenti atau tidak serta apakah harus tutup palka atau tidak adalah kapten kapal, yang memiliki tanggung jawab penuh atas muatan yang dibawanya, bukan dari pihak pelindo 3. ● kondisi sekitar gudang yang tidak terduga (banjir, macet, lokasi gudang jauh) kondisi lingkungan sekitar gudang berpengaruh, terutama jika menggunakan metode bongkar muat truck losing. truk biasanya lama kembali ke terminal karena terhambat kondisi seperti macet, atau banjir yang biasa terjadi pada musim hujan. d. muatan/material ● hook cycle time tiap jenis packing muatan berbedaberdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, ternyata terdapat perbedaan kecepatan proses bongkar muat yang dipengaruhi oleh jenis packing muatan. untuk curah kering, biasanya bisa berupa curah atau sudah dikemas dalam bag. muatan berjenis soyabean meal dan jagung cenderung lebih cepat apabila tanpa packing sama sekali atau yang biasa disebut curah. bila dalam kemasan bag, akan lebih lama karena kapasitas angkut dari crane menjadi lebih sedikit daripada dalam bentuk curah. ●●●●● hook cycle time tiap jenis muatan berbeda untuk curah kering, cycle time cenderung lebih lama karena pada proses hook dan crane diangkat ke atas, crane berhenti sejenak sebelum swing karena menunggu jatuhan dari muatan berkurang/berhenti. ini menghindari adanya waste yang berlebihan. e. metode/methods ●●●●● ada prosedur kerja yang salah dari data kinerja bongkar muat terminal jamrud bulan oktober 2016, ditemukan ketidakefektifan pada produktivitas (t/g/j) di kebusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 156 giatan muat kapal world winner. peneliti kemudian melakukan wawancara dengan pihak pengendali operasi yang berfokus di muatan curah kering. dari hasil wawancara, ditemukan bahwa ketidakefektifan ini terjadi akibat salahnya prosedur kerja yang dilakukan sehingga alat yang digunakan untuk memuat rusak. salahnya prosedur ini memang masih dinilai wajar oleh pihak terminal jamrud karena ini merupakan kali pertama terminal jamrud melakukan proses bongkar ataupun muat untuk muatan yang dimuat ke kapal world winner, yaitu bungkil kopra. ●●●●● pbm tidak menggunakan hmc untuk proses bongkar/muat menurut hasil olah data dan wawancara, 2 kapal yang tidak memenuhi standar produktivitas (t/g/j) yaitu world winner dan thai binh 01, tidak menggunakan hmc yang disediakan oleh terminal jamrud tetapi menggunakan crane kapal. perbedaan kapasitas yang dimiliki oleh hmc dan ship crane tentu sangat jauh berbeda, di mana hmc memiliki kapasitas 2x lebih besar daripada ship crane. untuk standar t/g/j, dari data yang ada dapat ditunjukkan bahwa seluruh kapal yang memakai hmc selalu memenuhi standar yang diberikan, bahkan jauh di atas standar (1.5x lipat). pihak pbm tidak bisa selalu menggunakan menyewa hmc karena biayanya yang cukup mahal, sedangkan pbm merencanakan bongkar muat sesuai dengan budget yang diberikan oleh pemilik barang. usulan perbaikan untuk membuat suatu usulan perbaikan yang tepat, maka peneliti memutuskan untuk diskusi singkat dengan pihak pengendali operasi dan supervisor bongkar muat. 2 pihak ini dipilih karena berdasarkan hasil diskusi, kedua pihak ini yang paling mengerti mengenai keadaan bongkar muat di lapangan. dari hasil diskusi singkat, ditemukan akar dari permasalahan lamanya pergantian shift dan juga berhentinya pekerjaan sebelum waktu yang ditentukan yaitu jam kerja/shift dari tkbm yang terlalu panjang. terlalu panjangnya shift memunculkan masalah yang cukup banyak terhadap kinerja bongkar muat. beberapa di antaranya adalah waktu istirahat menjadi lebih lama dari yang ditentukan dan juga pekerjaan berhenti sebelum waktu yang ditentukan sehingga menyebabkan berkurangnya waktu kerja efektif. kondisi fisik tkbm yang terlalu lelah adalah penyebabnya. pada bongkar muat di terminal jamrud dipakai tiga shift tiap hari dengan masing-masing delapan jam kerja untuk pbm, dan pergantian shift tiap 1x24 jam oleh tkbm. pergantian shift yang lebih dari 8–12 jam seringkali disebut dengan istilah extended workday. menurut canadian centre for occupational health and safety (ccohs), extended workday adalah jadwal kerja yang lebih lama dari jadwal kerja pada umumnya, yaitu jika shift kerja lebih dari 12 jam sehari. menurut ccohs, untuk mengatasi kelelahan berlebihan pada tkbm karena extended workday ini, dengan menerapkan pendekatan organisasional berupa membuat jadwal kerja alternatif untuk mengorganisasi jadwal kerja yang sudah ada. jadwal kerja alternatif ini berupa rotasi dalam regu, yang akan diawasi oleh pihak operasional pelabuhan. simpulan dan saran simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut. puspandam katias, iyori kharisma muhammad, analisis kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering dan usulan perbaikannya di terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya 157 1. kinerja berth time kapal kargo muatan curah kering di terminal jamrud dianalisis menggunakan 2 standar kinerja pelabuhan, yaitu standar produktivitas (t/g/j) yang mewakili efektivitas dan standar et:bt yang mewakili efisiensi. berikut ini hasil analisisnya. a. analisis kinerja berdasarkan produktivitas (t/g/j) sudah cukup baik, karena sudah mencapai standar yang ditentukan. b. analisis kinerja berdasarkan et:bt belum cukup baik, karena belum mencapai standar yang ditentukan. 2. analisis diagram cause and effect faktor-faktor yang memengaruhi kinerja terminal jamrud dilakukan dengan dibagi menjadi 5 kelompok faktor permasalahan, yaitu faktor manusia, fasilitas/mesin, lingkungan, material dan metode/methods. ditemukan 13 faktor permasalahan yang dapat memengaruhi kinerja terminal jamrud. 3. dari hasil wawancara dan diskusi singkat yang dilakukan oleh peneliti dengan beberapa pihak, ditemukan masalah paling dominan yang memengaruhi kinerja produktivitas dan et:bt adalah pergantian shift dan istirahat tkbm terlalu lama. yang dimaksud dengan permasalahan dominan adalah permasalahan yang merupakan akar dari seluruh permasalahan, dan juga mempunyai banyak pengaruh atau kontribusi terhadap hasil kinerja terminal jamrud pelabuhan tanjung perak surabaya. permasalahan yang jarang terjadi dan juga permasalahan yang dianggap wajar dan tidak perlu ada penyelesaian oleh pihak perusahaan tidak dimasukkan ke pertimbangan permasalahan dominan. usulan perbaikan yang diberikan yaitu dengan menggunakan pendekatan organisasional, dengan mengorganisasi jadwal kerja yang sudah ada dan melakukan in-group rotation yang diawasi oleh operasional pelabuhan. saran 1. pemberian pelatihan khusus berupa cara pengoperasian mesin yang efektif, serta berbagai keterampilan lainnya yang dirasa perlu kepada para tenaga kerja bongkar muat (tkbm). 2. penambahan fasilitas pelabuhan untuk bongkar/muat, terutama untuk menyiapkan hmc pad agar seluruh kade meter dapat/wajib menggunakan hmc. 3. menerapkan sistem absensi untuk tkbm, agar tkbm termotivasi untuk datang sesuai jumlah yang telah dipesan di koperasi. 4. menerapkan sistem rotasi dalam regu. dengan dijalankannya sistem absensi, kelebihan tkbm dapat digunakan untuk rotasi menggantikan tkbm yang kelelahan, terutama bagi tkbm yang berada di posisi penting seperti operator hopper, operator crane ataupun posisi lainnya. daftar pustaka arens, alvin a. and loebbecke, j. k. 1999. auditing pendekatan terpadu: buku dua. jakarta: salemba empat. bogdan, r.c. and biklen, s.k. 1982. qualitative research for education: an introduction to theory and methods. boston: allyn and bacon inc. canadian centre for occupational health and safety (ccohs). 2010. extended workday: health & safety issues. (online) https:// www.ccohs.ca/oshanswers/ergonomics/ workday.html (diakses 22 desember 2016). denzin, n.k. and s. lincoln, y. 2011. the sage handbook of qualitative research 4th edition. california: sage publications, inc. desai, m.s. and johnson, r.a. 2013. using a fishbone diagram to develop change managebusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 158 ment strategies to achieve first-year student persistence. s.a.m. advanced management journal, 78, 51–63. detikfinance. 2015. menko indroyono: 90% perdagangan internasional masih melalui laut. (online). http://finance.detik.com/ berita-ekonomi-bisnis/d-2893513/menkoindroyono-90-perdagangan-internasionalmasih-melalui-laut. (diakses 1 oktober 2016). detikfinance. 2016. menhub budi karya akan serahkan pengelolaan pelabuhan upt ke pelindo. (online). http://finance.detik.com/ berita-ekonomi-bisnis/d-3272732/menhubbudi-karya-akan-serahkan-pengelolaanpelabuhan-upt-ke-pelindo. (diakses 1 oktober 2016) ishikawa, k. 1968. guide to quality control (japanese): gemba no qc . shuho. tokyo: juse press, ltd. kakiay, t.j. 2004. dasar teori antrean untuk kehidupan nyata. yogyakarta: andi. kementerian bumn republik indonesia. 2014. sistem transportasi laut yang andal, modal utama poros maritim dunia. (online). http://www.bumn.go.id/pelindo1/berita/0sistem-transportasi-laut-yang-andalmodal-utama-poros-maritim-dunia. (diakses 1 oktober 2016). kementerian perhubungan republik indonesia. 2015. rencana strategis kementerian perhubungan tahun 2015–2019. (online). (diakses 1 oktober 2016). kruger, d., de wit, p., ramdass, k., and ramphal, r. 2005. operations management. southern africa: oxford university press southern africa. hambleton, l. 2007. treasure chest of six sigma growth methods, tools, and best practices. united states of america: pearson education, inc. munday, e.d. 1983. steps to effective equipment maintenance. monographs on port management. illinois: united nations. natsir, m. 1988. metode penelitian. jakarta: ghalia indonesia. prihartanto, wahyu agung. 2014. operasi terminal pelabuhan. surabaya: pelabuhan indonesia iii. pt pelabuhan indonesia 4 (persero). 2015. laporan tahunan (annual repor t) pt pelabuhan indonesia 4 2015. (online). http://inaport4.co.id/?p=7084 (diakses 1 oktober 2016) ray, d. 2008. indonesian port sector reform and the 2008 shipping law. washington: united states agency for international development. scarvada, a.j., bouzdine-chameeva, t., goldstein, s.m., m. hays, j., v. hill, a. 2004. a review of the causal mapping practice and research literature. second world conference on pom and 15th annual pom conference, cancun, mexico. soegiri, h. 2008. peranan ekspor – impor terhadap perekonomian jawa timur dengan pembenahan fungsi pelabuhan di jawa timur. die jurnal ilmu ekonomi dan manajemen, 1. teddie, c. and tashakori, a. 2009. foundations of mixed methods research: integrating quantitative and qualitative approaches in the social and behavioral sciences. north carolina: sage publications, inc. tempo.co. 2013. arus peti kemas terus mendominasi. (online). https://m.tempo.co/read/ news/2013/05/27/090483429/arus-petikemas-domestik-terus-mendominasi (diakses 1 oktober 2016). triatmodjo, bambang. 2009. perencanaan pelabuhan. yogyakarta: beta offset. 00 atribut.pmd resti p. ari widjaja, perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map 127127 perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map (studi kasus rumah sakit bersalin x di pacitan) resti p. ari widjaja universitas airlangga surabaya e-mail: resti.pawidjaja@gmail.com abstract: the business of health services is a business that is closely related to social responsibility because the object is human so that it cannot be equated with other businesses. hospital as one of the health service facilities, has a role in increasing public awareness of the importance of health. a hospital is a unique and complex organization because it is a labor-intensive institution, has characteristics and functions and functions that are specific to the process of producing medical services and have various professional groups in the service of sufferers. this study aims to design a performance management system in order to analyze internal and external factors, facilitate the monitoring and evaluation process to improve the performance and competitive advantage of rumah sakit bersalin x pacitan as a whole and improve purchase division performance in particular. the research method used in this study is qualitative with purposive sampling for sampling techniques. the results of this study, that management of rumah sakit bersalin x execute high contacts business strategy by means of recruiting workers who have the competence, knowledge, skills and abilities as a core employee business company that cannot be excluded, because this workforce is an executor in the company and is very much needed to be maintained. it can be seen from learning and growth perspective, the companies prefer ‘people expertise’, by choosing workers who have expertise that is tailored to each division within the company. people expertise is prepared as the executor of the company’s strategies and plans that are seen in the internal process. the dominance of these people expertise that drives ‘operational excellence’ which is expected to increase customer equity and thus will affect the company’s overall income and profitability. keywords: key performance indikator, strategy map, balanced scorecard pendahuluan keberhasilan sebuah organisasi ataupun perusahaan dalam mencapai visi dan misi sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. kualitas sumber daya manusia tersebut dapat ditunjukkan oleh kompetensi, skills, dan kemampuan karyawan dalam menciptakan kualitas kerja yang professional dalam membangun sebuah teamwork dalam organisasi. untuk mengetahui bagaimana keefektifan sumber daya manusia dalam organisasi maka perlu dilakukan suatu evaluasi yang dapat digunakan sebagai dasar penilaian kinerja karyawan dan pimpinan dalam usaha mencapai visi dan misi organisasi (ambarwati, 2002). rumah sakit di indonesia pada awalnya dibangun oleh dua institusi. pertama adalah pemerintah dengan maksud untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum terutama yang tidak mampu. kedua adalah institusi keagamaan yang membangun rumah sakit nirlaba untuk melayani masyarakat miskin dalam rangka penyebaran agamanya (muluk, 2007). hal yang menarik saat ini adalah mulai bermunculan rumah sakit swasta yang bersaing dengan rumah sakit pemerintah di mana rumah sakit tersebut juga mengutamakan profit sebagai tujuan dari organisasi. dengan demikian, kini rumah sakit mulai memainkan peran ganda, yaitu tetap melakukan pelayanan publik sekaligus membusiness and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 128 peroleh penghasilan (laba) atas operasionalisasi pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat (jufrizen dan radiman, 2010). melihat perkembangan dan persaingan global diperlukan perubahan dalam pola pengelolaan manajemen yang berorientasi pada pengguna jasa. rumah sakit sebagai perusahaan harus berpikir profit tanpa meninggalkan fungsi sosialnya, untuk mencapai sasaran yang dikehendaki dalam usaha mencapai profit, usaha perumahsakitan harus meningkatkan kualitas pelayanannya. demi peningkatan kualitas pelayanan, harus ada upaya untuk mengetahui harapan dan kebutuhan pelanggan yang beragam (tjiptono, 2000 dalam laksono, 2008). hal ini tidak terkecuali, klinik bersalin x di pacitan yang sudah berubah dan berkembang menjadi sebuah rumah sakit bersalin x pada tahun 2010 di mana investasi, operasional rumah sakit dan gaji pegawai masih menjadi tanggung jawab pemilik perusahaan. salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan merencanakan performance management system (manajemen kinerja). di mana sistem ini diharapkan akan mendukung eksistensi rumah sakit bersalin x melalui monitoring, evaluasi dan management action secara berkelanjutan. performance management (manajemen kinerja) merupakan model pendekatan yang bertujuan menumbuhkan budaya prestasi dalam setiap entitas ekonomi dengan menghubungkan atau menyelaraskan tujuan utama dengan yang sekunder (mwita, 2000). selama ini hampir mayoritas perusahaan dan rumah sakit bersalin x di pacitan khususnya melakukan evaluasi kinerja hanya berdasar pada aspek finansial yang diukur dalam setiap semester dan tahunan. penilaian baik buruknya kinerja perusahaan, sering kali didasarkan atas terpenuhi atau tidaknya target yang direncanakan. jika target tersebut tidak terpenuhi (di bawah forecast) maka akan diadakan evaluasi aspek finansial/budget yang dihadiri oleh pihak-pihak yang bersangkutan. kondisi ini memperlihatkan bahwa pengukuran terhadap kinerjanya hanya dari sisi aspek finansial saja (vanany et al., 2004). adanya perubahan lingkungan bisnis yang dinamis dengan kondisi persaingan yang semakin ketat diperlukan tidak hanya aspek finansial tetapi juga aspek non finansial. oleh karena itu, kebutuhan akan sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi (aspek finansial dan non-finansial) menjadi sebuah keharusan bagi perusahaan (vanany et al., 2004). mengingat bahwa harapan konsumen dalam bidang kesehatan adalah memperoleh pelayanan kesehatan yang rasional, bermutu, efektif, manusiawi, dan terjangkau maka konsumen akan sangat selektif dalam hal pemilihan jasa rumah sakit. untuk itu, sebuah rumah sakit dalam menjalankan misinya harus mampu menjalankan usahanya secara efektif dan efisien sehingga misi yang telah ditetapkan tersebut dapat terpenuhi secara seimbang. manajemen rumah sakit bersalin x menyadari bahwa salah satu langkah pengelolaan unit usaha yang profesional adalah dengan penetapan strategi perusahaan yang didukung dan diaplikasikan oleh semua jenjang dalam perusahaan serta dapat diukur agar dapat berfungsi secara efektif untuk mencapai visi perusahaan. untuk itu, diperlukan suatu alat yang dapat mengukur sistem manajemen dan kinerja perusahaan dengan menggunakan framework balance score card dan strategy maps. balance scorecard memiliki kemampuan melakukan hal tersebut dengan membagi ukuranukuran ke dalam empat perspektif berbeda yang saling terkait yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. penerapan ukuran-ukuran pada keempat perspektif ini memindahkan evaluasi dari elemen kontrol menjadi suatu alat yang menempatkan strategi menjadi tindakan (kaplan dan norton, 2001). resti p. ari widjaja, perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map 129 agement system sebagai tools pengelolaan manajemen secara profesional divisi purchase rumah sakit bersalin x? tinjauan pustaka kinerja bernardin dan rusel dalam rucky (2002) memberikan definisi tentang performance sebagai berikut. “performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during a specified time period” yang berarti prestasi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu. performance management adalah proses yang digunakan untuk identify, encourage, measure, evaluate, improve, dan reward kinerja karyawan (aguinis, 2006). pendapat lain mengatakan bahwa performance management adalah sebuah tatanan pengukuran berdasarkan aturan dan prosedur tertentu untuk mencakup, mengompilasi, mempresentasikan, dan mengomunikasikan data dalam sebuah kombinasi yang mencerminkan kunci kinerja dan karakteristik proses terpilih yang cukup efektif yang memungkinkan analisis intelektual sebagai panduan untuk mengambil tindakan yang diperlukan (ljungberg, 1994). visi, misi, dan strategi setiap organisasi mempunyai tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. dalam menentukan tujuan, setiap organisasi terkait dengan visi, misi, dan strategi yang telah ditetapkan untuk tetap bertahan di pasar dan memenangkan persaingan. visi adalah suatu pandangan jauh ke depan tentang organisasi atau impian yang ingin dicapai strategi map menggambarkan bagaimana memanfaatkan intangible assets dalam proses penciptaan nilai sejalan dengan strategi yang ada. dengan kata lain, apabila suatu perusahaan menginginkan balanced scorecard yang baik (measuring and actioning), maka perusahaan harus mempunyai strategy map yang baik pula (describing). strategy map adalah gambaran yang menghubungkan antara faktor-faktor yang ada pada critical success factor suatu organisasi, juga menggambarkan strategi, tujuan, dan pengukuran (kaplan and norton, 2004). penerapan strategy map dan balanced scorecard diharapkan dapat membantu manajemen rumah sakit bersalin x dalam menghadapi persaingan bisnis pelayanan kesehatan pada masa mendatang melalui penerjemahan visi, misi, dan strategi ke dalam aksi dan tindakan operasional dengan memanfaatkan indikator finansial dan non-finansial perusahaan, khususnya pada divisi purchase. di mana pada divisi ini yang merupakan bagian dari tata usaha dalam struktur organisasi perusahaan bertanggung jawab terhadap segala bentuk pembelian, perencanaan dan pelaporan perlengkapan, peralatan, dan obat-obatan yang menunjang operasional perusahaan dan sangat erat kaitannya dengan operational expense yang sering kali tidak sesuai dengan perencanaan. perumusan masalah rumah sakit bersalin x saat ini sedang melakukan pengembangan usaha yang bertujuan agar paradigma family company tidak terus melekat pada perusahaan sehingga diperlukan performance management system sebagai tools pengelolaan manajemen secara profesional. berdasarkan uraian pada latar belakang maka disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut: bagaimana rancangan performance manbusiness and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 130 1996, yang membahas kerangka berpikir komprehensif mengenai ukuran kinerja untuk mengimplementasikan strategi. balanced scorecard merupakan model yang populer di dunia maupun di indonesia baik di kalangan akademisi dan praktisi. balanced scorecard memiliki kerangka kerja yang jelas bagaimana strategi dapat mendistribusikan secara terperinci sampai kpi (key performance indicator) (prasetiyatno, hidayat dan utami, 2011 dalam vanany, 2009). balanced scorecard merupakan seperangkat instrumen yang diperlukan organisasi untuk mengelola organisasi menuju keberhasilan persaingan di masa depan. di mana tujuan strategi dan indikator kinerja diturunkan dari visi, misi, dan strategi, tujuan dan indikator tersebut merupakan cara pandang kinerja organisasi berdasarkan empat perspektif yaitu: financial, customer, internal business process, dan learning & growth. balanced scorecard, lebih ditekankan pada semua indikator baik finansial dan non-finansial, di mana keduanya berfungsi sebagai bagian sistem informasi bagi karyawan (vanany, 2009). (luis, 2009). visi harus sederhana, praktis, realistis, memberikan tantangan dan diharapkan memotivasi karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. misi adalah tujuan dan alasan keberadaan suatu organisasi. misi menyatakan apa yang harus dilakukan dan mengapa organisasi itu ada (luis, 2009). pernyataan misi adalah suatu usaha formal untuk memperjelas apa yang dikehendaki oleh pemilik perusahaan ketika mendirikan perusahaan dan menjadi pegangan untuk mengendalikan selanjutnya. strategi didefinisikan sebagai teori dari suatu perusahaan mengenai bagaimana untuk bisa sukses berkompetisi di pasar (barney, 2002). setiap strategi bisnis memiliki competitive strategy. menurut porter (1996), competitive strategy is performing different activities from rivals, or performing similar activities in different ways: cost leadership, differentiation, and focus, dengan penjelasan sebagai berikut. 1. cost leadership strategi yang mengarah pada biaya yang murah sehingga mendapatkan harga jual yang murah, orientasi pasar terhadap harga. 2. differentiation strategi yang mengarah pada keunikan produk/jasa tanpa memperhatikan faktor harga yang dapat dicapai melalui kualitas, pelayanan, fitur, dan lain-lain, orientasi pasar terhadap premium produk/jasa. 3. focus strategi ini dilakukan oleh perusahaan dengan cara memfokuskan produknya kepada kelompok pembeli, segmen lini produk atau pasar geografis tertentu. balanced scorecard balanced scorecard pertama kali diperkenalkan oleh kaplan dan norton pada harvard business review, edisi januari-februari tahun gambar 1 balance scorecard diadaptasi dari robert s. kaplan dan david p. norton, menggunakan balanced scorecard sebagai sistem manajemen strategis, harvard business review (januari-februari 1996) resti p. ari widjaja, perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map 131 perspektif pembelajaran & pertumbuhan (learning & growth perspective) mengembangkan pengukuran yang bertujuan untuk mendorong organisasi agar berjalan dan tumbuh dengan menyediakan infrastruktur yang mendukung pencapaian ketiga perspektif lainnya, dengan memperhatikan faktor sebagai berikut. 1. kepuasan karyawan: keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pengakuan, akses untuk memperoleh informasi, dorongan untuk melakukan kreativitas dan inisiatif, serta dukungan dari atasan, kesempatan untuk meningkatkan knowledge dan skill. 2. kemampuan sistem informasi: informasi yang dibutuhkan mudah didapatkan, tepat, dan tidak memerlukan waktu lama untuk mendapat informasi tersebut (vanany, 2009). perspektif proses bisnis (internal business process perspective) perspektif ini mengacu pada proses bisnis internal. proses bisnis internal mempunyai nilainilai yang diinginkan konsumen dan dapat memberikan pengembalian yang diharapkan oleh para pemegang saham yang meliputi inovasi, proses operasi, dan proses penyampaian produk atau jasa pelanggan (vanany, 2009). perspektif pelanggan masa lalu seringkali perusahaan mengonsentrasikan diri pada kemampuan internal dan kurang memperhatikan kebutuhan konsumen. sekarang strategi perusahaan telah bergeser fokusnya dari internal ke eksternal. jika suatu unit bisnis ingin mencapai kinerja keuangan yang superior dalam jangka panjang, mereka harus menciptakan dan menyajikan suatu produk atau jasa yang bernilai dari biaya perolehannya. suatu produk akan semakin bernilai apabila kinerjanya semakin mendekati atau bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan dipersepsikan konsumen (sundari, 2012). tolok ukur kinerja pelanggan dibagi menjadi dua kelompok berikut. 1. kelompok inti: pangsa pasar, tingkat perolehan para pelanggan baru, kemampuan mempertahankan para pelanggan lama, tingkat kepuasan pelanggan, dan tingkat profitabilitas pelanggan. 2. kelompok penunjang: atribut produk (fungsi, harga, dan mutu), hubungan dengan pelanggan, dan citra serta reputasi perusahaan/ organisasi beserta produk-produknya (vanany, 2009). perspektif keuangan perspektif keuangan menjadi perhatian dalam balance scorecard karena ukuran keuangan merupakan konsekuensi ekonomi yang terjadi akibat keputusan dan kebijakan. tujuan pencapaian kinerja keuangan yang baik merupakan fokus dari tujuan yang ada dalam tiga perspektif lainnya (customer, internal business process, dan learning & growth). sasaran perspektif keuangan dibedakan pada masing-masing tahap dalam siklus bisnis sebagai berikut. 1. growth (tumbuh berkembang ~ pertumbuhan) pada tahapan ini pertumbuhan terfokus pada produk yang meningkat secara signifikan, dengan demikian strategi dan peningkatan perspektif finansial dapat difokuskan pada pertumbuhan penerimaan penghasilan dan atau keuntungan yang positif yang didukung peningkatan pangsa pasar dan peningkatan penjualan. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 132 2. sustain (bertahan ~ keberlanjutan) pada tahapan ini mengidentifikasikan bahwa produk yang ada, memiliki produk yang tumbuh stabil sehingga strategi dan pengukuran dalam perspektif finansial dapat difokuskan pada pertumbuhan pendapatan operasional, pengembalian tingkat investasi, dan peningkatan keuntungan kotor. 3. harvest (panen ~ kematangan). pada tahapan ini, produksi produk sudah tidak seperti saat awal berkembang atau saat posisi growth, dengan demikian fokus strategi dan pengukuran keuangan dapat difokuskan pada pengelolaan arus kas, nilai tambah kas (vanany, 2009). metode penelitian pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. penelitian deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. jadi, penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa yang terjadi pada saat sekarang atau masalah aktual. lokasi penelitian dan unit analisis lokasi penelitian ini dilakukan di rumah sakit bersalin x yang bertempat di pacitan. gambar 2 corporate outcomes dan strategy objectives rumah sakit bersalin x di pacitan resti p. ari widjaja, perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map 133 pemilihan tempat penelitian ini dengan pertimbangan mempermudah jangkauan informasi dan pengumpulan data saat melakukan wawancara. unit analisis yang akan digunakan sebagai objek penelitian adalah penyusunan strategy maps dan balanced scorecard. jenis dan sumber data jenis penelitian ini adalah eksploratoris yakni dengan melakukan peninjauan atau observasi keadaan internal dan eksternal rumah sakit bersalin x di pacitan. kegiatan ini berguna untuk mendapatkan gambaran secara sistematis mengenai fakta pada objek penelitian sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti, kemudian membuat perbandingan dan analisis dengan teori yang digunakan. analisis dan pembahasan hasil penelitian balance scorecard dan strategi map manajemen rumah sakit bersalin x menyadari bahwa salah satu langkah pengelolaan unit usaha yang profesional adalah dengan penetapan strategi perusahaan yang didukung dan diaplikasikan oleh semua jenjang dalam perusahaan dan dapat diukur agar dapat berfungsi secara efektif untuk mencapai visi perusahaan. untuk itu diperlukan suatu alat yang dapat mengukur sistem manajemen dan kinerja perusahaan yaitu dengan gambar 3 strategi map rsb x pacitan business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 134 menentukan key performance indicator untuk memudahkan pengukuran melalui bsc framework dan strategi maps. pada gambar strategy maps di atas, untuk memaksimalkan operasional perusahaan dalam rangka mencapai visi perusahaan, manajemen rumah sakit bersalin x pacitan menjalankan high contacts business strategy yaitu dengan merekrut tenaga kerja yang memiliki kompetensi, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan sebagai core employee business perusahaan yang tidak dapat di kesampingkan, karena tenaga kerja ini sebagai eksekutor dalam perusahaan dan sangat perlu dipertahankan. oleh karena itu, terlihat pada perspektif learning and growth, perusahaan lebih memilih ‘people expertise’, yaitu dengan memilih tenaga kerja yang memiliki keahlian yang disesuaikan setiap divisi dalam perusahaan. people expertise disiapkan sebagai eksekutor strategi dan rencana perusahaan yang terlihat dalam internal process. dominasi pada people expertise ini yang menggerakkan ‘operational excellence’ yang diharapkan dapat meningkatkan customer equity dan dengan begitu akan memengaruhi pendapatan dan profitabilitas perusahaan secara keseluruhan. dengan investasi tenaga kerja yang ahli dalam bidangnya dan meningkatkan pengembangan human capital jangka panjang, maka secara tidak langsung akan memaksimalkan proses operasional perusahaan secara keseluruhan. tata usaha merupakan salah satu divisi yang menjalankan proses operasional perusahaan, yang memiliki peran dalam kegiatan perencagambar 4 strategi objektif yang berhubungan dengan divisi purchase resti p. ari widjaja, perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map 135 naan, pembelian serta pelaporan yang berkaitan dengan perlengkapan, peralatan, dan obat-obatan rumah sakit bersalin gili putri yang menunjang internal proses, berikut ini merupakan gambar penurunan strategi objektif perusahaan yang berhubungan dengan divisi purchase. berdasarkan gambar 4, strategi objective perusahaan yang berkaitan dengan purchase (tata usaha) adalah sebagai berikut. 1. internal process a. choose the right supplier – maintain the relation b. manage a good communication (friendly & attractive) c. manage quality healthcare service 2. people expertise a. leadership & develop intellectual capital b. management think tang (brainstorming) berdasarkan penurunan strategi map di atas maka diturunkan kembali kemudian direncanakan tahapan inisiatif setiap strategi agar tercapai strategi objektif setiap perspektif. berdasarkan gambar 5 dapat dikelompokkan key performance indicator berdasarkan strategi objektif perusahaan setelah diturunkan. berikut ini merupakan tabel key performance indicator divisi purchase rsb x pacitan. gambar 5 strategi map penurunan strategi objektif ke divisi purchase business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 136 tabel 1 key performance indicator divisi purchase rsb pacitan perspective outcomes objectives kpi financial perspective increase profitability increase profitability • cost efficiency • revenue from new customer • plan vs. actual operating expenses (cost saving %) • service’s new customer profitability (%) customer perspective growth customer equity manage quality healthcare service • optimized quality service • provide excellence facilities manage communication • friendly & knowledgeable • customer satisfaction index • number customer complaint • number customer know our product/service knowledge internal process operational excellence choose the right supplier – maintain the relation • develop supplier network • partnering management management think tang (brainstorming) • product development meeting • provide innovative cost effective service employee productivity • perfect order (%) / percent of defect • number of suppliers providing services directly • gain sharing agreement ($) • number of innovation services • activity based costing • absenteeism • number of best project implemented people expertise employee competencies and loyalty leadership & develop intellectual capital • develop leadership management • develop knowledge management • develop communication and strategic skill • management support • percent recruitment employee (appropriate with core business) • percent using knowledge-sharing channel • employee survey index • percent of employee who obtain immediate feedback after having training • 360’ performance management index simpulan dan saran melihat perkembangan dan persaingan global diperlukan perubahan dalam pola pengelolaan manajemennya yang berorientasi pada pengguna jasa. rumah sakit sebagai perusahaan harus berpikir profit tanpa meninggalkan fungsi sosialnya, dan untuk mencapai sasaran yang dikehendaki dalam usaha mencapai profit, usaha perumahsakitan harus meningkatkan kualitas pelayanannya. rumah sakit bersalin x adalah rumah sakit swasta yang berdiri tanpa visi dan misi tertulis dari pendirinya. rumah sakit ini merupakan perusahaan keluarga yang berdiri sebagai klinik bersalin dan pada tahun 2010 berubah badan usaha menjadi rumah sakit bersalin. dengan adanya perkembangan globalisasi yang cukup pesat dari tahun ke tahun menyebabkan pihak manajemen rumah sakit harus mulai merencanakan strategi yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. untuk itu, pihak manajemen muresti p. ari widjaja, perancangan performance management system divisi purchase dengan balance score card framework dan strategy map 137 lai menuliskan kembali apa yang menjadi harapan perusahaan secara tertulis dan mengomunikasikan secara menyeluruh ke semua divisi yang ada di dalam rumah sakit tersebut. balance scorecard dan strategy map digunakan sebagai media dalam memudahkan komunikasi top-down management, sebagaimana yang diketahui bahwa dengan menerapkan strategi ini apa yang diharapkan manajemen dapat goal setting, mudah dalam proses monitoring dan evaluasi sehingga continuously improvement tercipta. menerapkan performance management system diharapkan akan memudahkan dalam mengukur kinerja perusahaan secara keseluruhan dan menentukan action plan tiap divisi sehingga memudahkan manajemen bertindak cepat untuk menangani permasalahan yang sedang terjadi. seperti yang sering kali terjadi pada divisi purchase dalam hal pembelian perlengkapan, peralatan dan obat-obatan sering kali tidak sesuai dengan perencanaan, mengingat peralatan dan obat-obatan tidak memiliki standard cost yang pasti (harga fluktuatif). dengan framework balance scorecard, strategy maps dan performance review akan memberikan kemudahan manajemen untuk memonitor dan mengevaluasi serta menciptakan hubungan kerja yang bersinergi. daftar rujukan aguinis, herman. 2006. performance management, second edition. pearson international. ambarwati, sri d.a. 2002. managing productive performance appraisal: sebuah upaya menjawab kebutuhan penilaian kinerja karyawan yang bebas kkn. jurnal siasat bisnis, no. 7, vol. 1, hal. 93–111. fakultas ekonomi universitas pembangunan nasional “veteran”. aprilia, rora. 2016. pengaruh good corporate governance, budaya organisasi dan pengendalian intern terhadap kinerja organisasi dengan akuntabilitas publik sebagai variabel intervening (survey terhadap rumah sakit di kota padang). jom fekon, vol. 3, no. 1, hal. 564–579. barney, j. b. 2002. gaining and sustaining competitive advantage (second ed.). prentice hall. beals, reginald m. 2000. competing effectively: environmental scanning, competitive strategy and organizational performance in small manufacturing firms. journal of small business management, hal. 27–45. http://www.pacitankab.go.id jufrizen dan radiman. 2010. efektivitas budaya organisasi pelayanan publik (studi kasus di beberapa rumah sakit pemerintah di kota medan). jurnal riset akuntansi dan bisnis, vol. 10, no. 1, hal. 44–67. kaplan, r.s. and d.p. norton, 1996. translating strategic into action the balanced scorecard. boston, massachusetts: harvard business school press. kaplan, r.s., dan norton, david p. 2004. strategy maps, converting intangible assets into tangible outcomes. boston, massachusetts: harvard business school press. kaplan, robert s. and david p. norton. 2001. balanced scorecard menerapkan strategi menjadi aksi. jakarta: penerbit erlangga. laksono, ismawan nur. 2008. analisis kepuasan dan hubungannya dengan loyalitas pasien rawat inap di rumah sakit dedi jaya kabupaten brebes. semarang: program pascasarjana universitas diponegoro. ljungberg, a. 1994. a measurement of service and quality in the order process. unpublished theses lund university belgium. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 138 luis, suwardi. 2009. step by step in developing vision, mission, and value statements. jakarta: gramedia pustaka utama. muluk, khairul. 2007. budaya organisasi pelayanan publik (kasus pada rumah sakit x di malang). jurnal akuntansi. mwita, john i. 2000. performance management model a systems-based approach to public service quality. the international journal of public sector management, vol. 13, no. 1, hal. 19–37. sundari, sri. hubungan balance scorecard sebagai pengukuran kinerja pada critical success factors perusahaan. diunduh melalui http://repository.unhas.ac.id/bitstream/ handle. s. ruky. a. 2002. sistem manajemen kinerja: performance management system, panduan praktis untuk merancang dan meraih kinerja prima. jakarta: pt gramedia pustaka utama. vanany, iwan dan dian tanukhidah. 2004. perancangan dan implementasi sistem pengukuran kinerja dengan metode performance prism. jurnal teknik industri, vol. 6, no. 2, hal. 148–145. vanany, iwan. 2009. performance measurement: model dan aplikasi, cetakan ke-2 revisi. surabaya: its press. 00 atribut.pmd udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 9999 pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur udisubakti ciptomulyono, m. yusak anshori, aldo fodyansa mmt–its, magister manajemen teknologi institut teknologi sepuluh nopember surabaya e-mail: aldofodyansa89@gmail.com abstract: this research conducted by background of “x” agency east java province as one of the biggest agencies with the highest number of employees in east java and has a very broad work scope because it is a merged from some sub agencies before. various social issues of east java governance in 2015 became the main task of “x” agency east java province to be completed. in order to fulfill their roles, responsibilities, and functions as the government agencies that serve people, all employees in “x” agency east java province are required to be able to have optimal performance. this study aimed to analyze factors that can affect the performance of employees so can provide feedback to “x” agency east java province in terms of corrective measures to be taken in the future in order to always have optimal performance. this study used partial least squares analysis through smartpls 3.0 program. independent variables analyzed in this study were competence, motivation, leadership, and work environment towards dependent variable thus stress management and employee performance. random sampling taken at 160 employees of “x” agency east java province. data collection process conducted by questionnaires distribution. the result showed that only competence and work environment has a significant effects on stress management, while stress management itself and competence also have a significant effects on employee performance. other variables that is motivation and leadership does not have a significant effects on the dependent variable stress management and employee performance. suggestion for improvement are given to the “x” agency east java province at the end of the study in order to further improve their performance. keywords: competence, motivation, leadership, work environment, stress management, employee performance pendahuluan institusi pemerintah adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan suatu kebutuhan yang karena tugasnya berdasarkan pada suatu peraturan perundang-undangan melakukan kegiatan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat dan meningkatkan taraf kehidupan kebahagiaan kesejahteraan masyarakat (alwi, 2008). di sisi lain, pengukuran keberhasilan maupun kegagalan institusi pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit dilakukan secara objektif, karena belum diterapkannya sistem pengukuran kinerja yang dapat menginformasikan tingkat keberhasilan secara objektif dan terukur dari pelaksanaan programprogram di suatu institusi pemerintahan (harianta, 2012). semua organisasi dituntut untuk dapat bersaing dalam memberikan pelayanan yang maksimal tidak terkecuali pada institusi pemerintahan. aparat pemerintah sebagai abdi masyarakat dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat karena hal tersebut sudah merupakan salah satu fungsi yang harus dijalankan oleh pemerintah yang mempunyai tugas menyelenggarakan seluruh proses pelaksabusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 100 naan pembangunan dalam berbagai sektor kehidupan mulai dari tingkat pusat hingga tingkat daerah (uu no 5 tahun 2014). pentingnya pengukuran kinerja aparatur pemerintahan hendaknya dapat diterjemahkan menjadi suatu kegiatan evaluasi untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan tugas dan fungsi yang dibebankan kepadanya. seperti tertuang dalam peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara no 9 tahun 2007 pasal 12 ayat 1 dan 2 mengatakan bahwa (1) institusi pemerintah melaksanakan analisis dan evaluasi kinerja dengan memperhatikan capaian indikator kinerja untuk melengkapi informasi yang dihasilkan dalam pengukuran kinerja dan digunakan untuk perbaikan kinerja dan peningkatan akuntabilitas kinerja. (2) analisis dan evaluasi kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan secara berkala dan sederhana dengan meneliti fakta-fakta yang ada baik berupa kendala, hambatan, maupun informasi lainnya. jawa timur sebagai salah satu provinsi dengan tingkat produk domestik regional bruto (pdrb) terbesar kedua di indonesia setelah provinsi dki jakarta (bps jatim, 2015) memiliki berbagai macam instansi pemerintahan yang dibentuk oleh gubernur dengan tujuan untuk membantu melaksanakan program-program pemerintahan. instansi-instansi pemerintahan tersebut bekerja untuk menangani permasalahan di masyarakat seperti sosial, ekonomi, hukum, dan juga kebudayaan. provinsi jawa timur sendiri pada saat ini memiliki beberapa permasalahan utama yang penting di antaranya adalah sebagai berikut. (1) laju pertumbuhan penduduk yang paling rendah jika dibandingkan dengan provinsi lainnya yang ada di indonesia. (2) jumlah penyebaran tenaga kerja transmigrasi ke luar daerah jawa timur yang masih belum merata. (3) meningkatnya jumlah tingkat pengangguran terbuka dari tahun ke tahun hingga menyentuh angka 4,47% pada akhir agustus 2015 (bps jatim, 2015). untuk menjalankan tugas pemerintahan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut maka dibentuklah dinas x. dalam usahanya untuk meningkatkan kinerja, sebuah organisasi diwajibkan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memengaruhi kinerja itu sendiri. saat ini semakin banyak organisasi yang mulai mencoba memahami dan meningkatkan perhatian untuk memperoleh manfaat dari pengelolaan sumber daya manusia secara komprehensif (camelia dan marius, 2011). dalam pandangan manajemen modern, sebuah organisasi selalu berusaha untuk memaksimalkan kinerja karyawan selama berada dalam organisasi, tidak lagi hanya untuk memuaskan keinginan suatu individual saja tetapi juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berkontribusi dalam menemukan citra diri yang diinginkannya (camelia dan marius, 2011). beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memengaruhi kinerja karyawan baik dari dalam diri sendiri maupun luar diri karyawan. stres kerja adalah salah satu faktor yang sering ditemukan dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja karyawan dalam organisasi (olusegun et al., 2014; dwamena, 2012; ali et al., 2014). beban kerja yang terlalu berat, konflik dengan atasan, dan tugas kerja yang tidak jelas dapat menyebabkan stres kerja dalam diri karyawan yang berlebihan sehingga hal ini berdampak pada efektivitas dan efisiensi dalam bekerja (ali, et al. 2014). stres kerja yang dialami karyawan tidak selamanya berdampak negatif terhadap kinerja. stres kerja yang positif justru dapat membantu karyawan untuk mencapai titik optimum dalam kinerjanya (leyden, 2013). dorongan positif udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 101 tersebut dapat berupa target, deadline, ambisi, motivasi, dan juga rasa kebanggaan dari dalam diri. menurut selye (2013) sebenarnya bukan stres yang akan memberikan dampak negatif bagi karyawan, tetapi bagaimana karyawan bereaksi terhadap stres itu sendiri. kemampuan seorang karyawan bereaksi dan mengelola stres yang dimiliki sehingga dapat mendorong untuk mencapai titik optimum dalam kinerja disebut dengan manajemen stres. perbedaan kemampuan manajemen stres yang dimiliki karyawan dapat disebabkan karena faktor dari lingkungan maupun kondisi psikologis karyawan. semakin baik manajemen stres yang dimiliki maka seorang karyawan tersebut akan semakin tahan terhadap sumber stres (stressor) dan tekanan dalam pekerjaan yang dialami (leyden, 2013). untuk mencapai sasaran kinerja dari instansi pemerintahan maka setiap karyawan dituntut memiliki kompetensi diri yang baik. kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pns berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam melaksanakan tugas dan jabatannya (pp no 101 tahun 2000). karyawan yang memiliki kompetensi baik artinya mampu memiliki keterampilan dalam mengelola segala permasalahan pekerjaan yang dialami seperti stres, konflik dengan atasan, dan lingkungan pekerjaan. kompetensi memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja karyawan, semakin baik kompetensi yang dimiliki oleh karyawan maka akan semakin meningkat kinerja karyawan tersebut (ismail dan abidin, 2010; setyaningdyah, et al., 2013). motivasi adalah salah satu faktor pendukung yang berasal dari dalam diri karyawan. tingkat motivasi kerja yang tinggi akan membantu mengurangi kemungkinan terjadinya stres dalam bekerja. karyawan yang memiliki motivasi kerja lebih tinggi juga akan cenderung memiliki kinerja yang lebih baik pula jika dibandingkan dengan karyawan lain yang tidak punya motivasi (sanali, et al., 2013; wani, 2013). hal yang sama juga terjadi jika manajemen stres dilihat dari kemampuan kepemimpinan seorang karyawan. karyawan yang memiliki kepemimpinan lebih baik dari lainnya akan cenderung memiliki kinerja karyawan yang lebih baik pula (imran, et al., 2012). kepemimpinan dari seorang karyawan akan menentukan sampai seberapa jauh karyawan tersebut merasa puas dengan pekerjaannya (shahab dan nisa, 2014). semakin tinggi kemampuan kepemimpinan dari seorang karyawan maka karyawan tersebut akan memiliki komitmen terhadap organisasi yang semakin tinggi pula (organ, et al., 2006). begitu juga kepemimpinan jika dikaitkan dengan stres kerja, maka semakin tinggi kepemimpinan akan semakin rendah tingkat stres kerjanya (safaria, et al., 2011). lingkungan kerja adalah salah satu faktor yang ruang lingkupnya sangat luas dan juga dapat memengaruhi kinerja dari seorang karyawan. pengaruh dari lingkungan kerja dapat berasal tidak hanya dari teman sekerja, tetapi juga kondisi kenyamanan ruang kerja, kebersihan, dan juga budaya yang ada di tempat kerja. ketika lingkungan kerja dapat mendukung sehingga karyawan bekerja menjadi nyaman dan tenang maka hal ini akan mendorong meningkatnya kinerja karyawan (hayes, et al., 2015). karyawan yang memiliki lingkungan kerja baik akan membantu meningkatkan motivasi dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang optimal pula (rahardjo, 2014). dalam konteks manajemen stres maka lingkungan kerja yang nyaman akan membuat karyawan tidak merasa stres dalam bekerja sehingga hal ini akan membantu meningkatkan kinerja karyawan. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 102 menyangkut kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu. manajemen stres secara psikologis manajemen stres menurut selye (2013) adalah kemampuan seorang karyawan untuk bereaksi dan mengelola stres yang dimiliki sehingga dapat mendorong untuk mencapai titik optimum dalam kinerja. perbedaan kemampuan manajemen stres yang dimiliki karyawan dapat disebabkan karena faktor dari lingkungan maupun kondisi psikologis karyawan. semakin baik manajemen stres yang dimiliki maka karyawan tersebut akan semakin tahan terhadap sumber stres (stressor) dan tekanan dalam pekerjaan yang dialami (leyden, 2013). beberapa stres ada yang bersifat positif dan membantu karyawan untuk tetap fokus dalam mencapai tugas-tugas penting, tetapi terdapat juga stres yang bersifat negatif yang membuat karyawan dapat mengalami problem fisik dan mental secara serius (www.mc.edu/rotc, 2015). stres sendiri dapat dipandang dalam dua cara yakni sebagai stres positif (eustress) dan stres negatif (distress) (looker dan gregson, 2004:41). eustress adalah suatu situasi atau kondisi apa pun yang dapat memotivasi atau memberikan inspirasi. eustress dapat dialami ketika kemampuan untuk mengatasi masalah melebihi tuntutan-tuntutan yang dirasakan. sementara stres negatif (distress) adalah yang membuat kita menjadi marah, tegang, bingung, cemas, merasa bersalah, dan kewalahan. distress dapat dialami ketika karyawan menghadapi jumlah tuntutan yang semakin meningkat atau memandang tuntutan-tuntutan yang menghadang sebagai sesuatu yang sulit dan mengancam. hal ini sejalan dengan hubungan u terbalik, hubungan ini menjelaskan bahwa jika kinerja karyawan meningkat maka juga akan berpengaruh pada tingkat stres yang berdasarkan penelitian terdahulu oleh rahardjo (2014) variabel-variabel seperti kompetensi, kepemimpinan, lingkungan kerja, dan motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan. penelitian ini merupakan modifikasi dari penelitian serupa yang pernah dilakukan oleh rahardjo (2014) di mana memiliki kesamaan latar belakang dalam subjek penelitian samasama pelayan masyarakat yaitu guru dan pegawai negeri sipil. kerangka teoretis kinerja karyawan kinerja berasal dari kata job performance atau performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang (mangkunegara, 2011:67). biasanya orang yang kinerjanya tinggi disebut orang yang produktif dan sebaliknya orang yang tingkat kinerjanya tidak mencapai standar dikatakan sebagai orang yang tidak produktif atau berkinerja rendah. hasibuan (2014:6) mengemukakan bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. dengan kata lain bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. selanjutnya brahmasari dan suprayetno (2008) dalam jurnal penelitiannya mengemukakan bahwa kinerja seseorang merupakan ukuran sejauh mana keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas pekerjaannya. berdasarkan pengertian kinerja dari beberapa pernyataan di atas dapat ditafsirkan bahwa kinerja karyawan erat kaitannya dengan hasil pekerjaan seseorang dalam suatu organisasi atau perusahaan. hasil dari pekerjaan tersebut dapat udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 103 semakin bertambah sampai batas tertentu, bila stres terus meningkat hingga melampaui batas maka kinerja akan menurun. kompetensi berdasarkan peraturan pemerintah nomor 101 tahun 2000 tentang pendidikan dan pelatihan jabatan pegawai negeri sipil maka kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pns berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam melaksanakan tugas jabatannya. dessler (2006:78) mendefinisikan kompetensi sebagai karakteristik dari seseorang yang dapat diperlihatkan, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dapat menghasilkan kinerja dan prestasi. motivasi robbins (2012:71) mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan untuk melakukan sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual. menurut mangkunegara (dalam brahmasari dan suprayetno, 2008) mengemukakan bahwa terdapat dua teknik memotivasi kerja pegawai sebagai berikut. (1) teknik pemenuhan kebutuhan pegawai, artinya bahwa pemenuhan kebutuhan pegawai merupakan fundamental yang mendasari perilaku kerja. (2) teknik komunikasi persuasif, adalah merupakan salah satu teknik memotivasi kerja pegawai yang dilakukan dengan cara memengaruhi secara ekstra logis. teknik ini dirumuskan dengan istilah “aiddas” yaitu attention (perhatian), interest (minat), desire (hasrat), decision (keputusan), action (aksi atau tindakan), dan satisfaction (kepuasan). selanjutnya untuk mengukur motivasi kerja yang diuji dalam penelitian ini digunakan indikator-indikator yang dikembangkan oleh herzberg (dalam robbins, 2012), meliputi motivasi intrinsik terdiri dari: (1) kemajuan, (2) pengakuan, dan (3) tanggung jawab, sedangkan motivasi ekstrinsik terdiri dari: (1) pengawasan, (2) gaji, (3) kebijakan perusahaan, dan (4) kondisi pekerjaan. perubahan motivasi kerja ke arah yang semakin tinggi sangat penting. motivasi ini akan berhubungan dengan: (a) arah perilaku karyawan, (b) kekuatan respons setelah karyawan memilih mengikuti tindakan tertentu, (c) ketahanan perilaku atau berapa lama orang itu terus-menerus berperilaku menurut cara tertentu. kepemimpinan robbins (2012:95) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses memberi inspirasi kepada semua karyawan agar bekerja sebaikbaiknya untuk mencapai hasil yang diharapkan. kepemimpinan adalah cara mengajak karyawan agar bertindak benar, mencapai komitmen dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama (mangkunegara, 2011:133). kepemimpinan menurut handoko (2012: 73) diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat memengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin itu. berdasarkan pengertian kepemimpinan dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan erat kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk dapat memengaruhi orang lain agar bekerja sesuai dengan tujuan yang diharapkan. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 104 lingkungan kerja menurut munandar (2012:251) menyatakan bahwa secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu lingkungan kerja fisik dan non-fisik. lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat memengaruhi karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. lingkungan kerja fisik adalah keseluruhan atau setiap aspek dari gejala fisik dan sosial-kultural yang mengelilingi atau memengaruhi individu. lingkungan kerja non-fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan dengan bawahan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan. hubungan antara kompetensi dan manajemen stres kompetensi berhubungan dengan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas dan jabatannya (pp no. 101, th. 2000). berbagai keterampilan diri yang dimiliki oleh karyawan di antaranya adalah kemampuan untuk mengelola kondisi emosional dalam diri yaitu kondisi stres. karyawan yang memiliki kompetensi baik akan dengan mudah mengelola stres yang dialami dalam pekerjaannya sehingga tetap dapat menghasilkan kinerja yang optimum. dengan kata lain kompetensi memiliki hubungan yang positif dengan manajemen stres. hubungan antara motivasi dan manajemen stres dalam konteks manajemen stres maka manajemen stres akan membantu seorang karyawan untuk mampu meningkatkan kinerjanya sampai pada titik optimum, sehingga karyawan yang pada dasarnya sudah memiliki motivasi tinggi dalam bekerja akan semakin meningkat kinerjanya jika memiliki manajemen stres yang baik (selye, 2013). dengan kata lain motivasi karyawan memiliki hubungan yang positif dengan manajemen stres, semakin tinggi tingkat motivasi dari seorang karyawan maka akan semakin tinggi kemampuan karyawan tersebut untuk melakukan manajemen stres. hubungan antara kepemimpinan dan manajemen stres dalam konteks manajemen stres maka manajemen stres akan membantu seorang karyawan yang memiliki jiwa kepemimpinan untuk tau apa yang harus dilakukan. salah satu ciri-ciri karyawan yang stres dalam bekerja adalah tidak tau apa yg harus dilakukan (mangkunegara, 2011:283) sehingga karyawan yang pada dasarnya sudah memiliki jiwa kepemimpinan tinggi jika mereka mampu mengelola stresnya dengan baik maka akan membawa karyawan tersebut pada kinerja yang optimal (selye, 2013). dengan kata lain kepemimpinan memiliki hubungan yang positif dengan manajemen stres, semakin tinggi jiwa kepemimpinan dari seorang karyawan maka akan semakin tinggi kemampuan karyawan tersebut untuk melakukan manajemen stres. hubungan antara lingkungan kerja dan manajemen stres dalam konteks manajemen stres maka lingkungan kerja yang nyaman akan membuat karyawan merasa betah dan tidak stres dalam bekerja sehingga hal ini akan membantu meningkatkan kinerja karyawan (hayes, et al., 2015). faktor lingkungan kerja yang berasal dari luar diri karyawan akan membantu mendorong untuk udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 105 meningkatkan kinerja karyawan. dengan kata lain, lingkungan kerja memiliki hubungan yang positif dengan manajemen stres, seorang karyawan yang lingkungan kerjanya menyenangkan akan semakin mempermudah untuk melakukan manajemen stres sehingga dapat tercapai kinerja yang optimum. hubungan antara kompetensi dan kinerja karyawan berbagai macam institusi pemerintahan telah menerapkan standar penilaian kinerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan. pp no. 46 tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja pegawai negeri sipil melibatkan unsur penilaian ke dalam dua aspek yaitu sasaran kinerja pegawai (skp) dan perilaku kerja. kompetensi kerja merupakan komponen yang berada di dalam perilaku kerja. penelitian ismail dan abidin (2010) menemukan hasil bahwa kompetensi memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, sedangkan setyaningdyah, et al. (2013) menghasilkan temuan hubungan yang positif tetapi tidak signifikan antara kompetensi dan kinerja karyawan. sehingga dapat dikatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. hubungan antara motivasi dan kinerja karyawan motivasi adalah salah satu faktor pendukung yang berasal dari dalam diri karyawan. tingkat motivasi bekerja yang tinggi akan membantu mengurangi kemungkinan terjadinya stres dalam bekerja. karyawan yang memiliki motivasi kerja lebih tinggi cenderung memiliki kinerja yang lebih baik pula jika dibandingkan dengan karyawan lain yang tidak punya motivasi (sanali, et al. 2013; wani, 2013). hal ini disebabkan karena motivasi adalah faktor pendorong dari karyawan untuk mencapai suatu tujuan organisasi (robbins, 2012). sehingga motivasi memiliki hubungan yang positif dengan kinerja karyawan, semakin tinggi motivasi karyawan maka akan cenderung memiliki kinerja yang positif pula. hubungan antara kepemimpinan dan kinerja karyawan karyawan yang memiliki kepemimpinan lebih baik dari lainnya akan cenderung memiliki kinerja karyawan yang lebih baik pula (imran, et al. 2012). kepemimpinan dari seorang karyawan akan menentukan sampai seberapa jauh karyawan tersebut merasa puas dengan pekerjaannya (shahab dan nisa, 2014). semakin tinggi kemampuan kepemimpinan dari seorang karyawan maka karyawan tersebut akan memiliki komitmen terhadap organisasi yang semakin tinggi pula (organ, et al. 2006). begitu juga kepemimpinan jika dikaitkan dengan stres kerja, maka semakin tinggi kepemimpinan akan semakin rendah tingkat stres kerjanya (safaria, et al. 2011). kepemimpinan memiliki hubungan yang positif dengan kinerja karyawan. karyawan yang memiliki jiwa kepemimpinan lebih baik jika dibandingkan dengan karyawan lainnya maka akan cenderung memiliki kinerja yang lebih baik pula. hubungan antara lingkungan kerja dan kinerja karyawan lingkungan kerja adalah salah satu faktor yang ruang lingkupnya sangat luas dan juga dapat memengaruhi kinerja dari seorang karyawan. pengaruh dari lingkungan kerja dapat berasal tidak hanya dari teman sekerja, tetapi juga business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 106 kondisi kenyamanan ruang kerja, kebersihan, dan juga budaya yang ada di tempat kerja. ketika lingkungan kerja dapat mendukung sehingga karyawan bekerja menjadi nyaman dan tenang maka hal ini akan mendorong meningkatnya kinerja karyawan (hayes, et al. 2015). karyawan yang memiliki lingkungan kerja baik akan membantu meningkatkan motivasi dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang optimal pula (rahardjo, 2014). dengan kata lain, lingkungan kerja memiliki hubungan yang positif dengan kinerja karyawan. hubungan antara manajemen stres dan kinerja karyawan kemampuan seorang karyawan bereaksi dan mengelola stres yang dimiliki sehingga dapat mendorong untuk mencapai titik optimum dalam kinerja disebut dengan manajemen stres. perbedaan kemampuan manajemen stres yang dimiliki karyawan dapat disebabkan karena faktor dari lingkungan maupun kondisi psikologis karyawan. semakin baik manajemen stres yang dimiliki maka seorang karyawan tersebut akan semakin tahan terhadap sumber stres (stressor) dan tekanan dalam pekerjaan yang dialami (leyden, 2013). dapat disimpulkan bahwa semakin baik kemampuan manajemen stres dari seorang karyawan maka akan mencapai titik optimum dalam kinerjanya yang berarti kinerja dapat meningkat, sehingga manajemen stres memiliki hubungan yang positif dengan kinerja karyawan. metode penelitian sampel dan prosedur populasi dari penelitian ini adalah seluruh karyawan dinas x provinsi jawa timur yang berjumlah 925 karyawan. oleh karena itu sampel yang diambil dari populasi harus mewakili (representative) keseluruhan populasi. sampel penelitian ini adalah karyawan dinas x provinsi jawa timur yang berkantor di kantor pusat surabaya yang berjumlah 265 orang. sehingga jika jumlah karyawan dari disnakertranduk provinsi jawa timur kota surabaya sebanyak 265 orang maka jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 160 orang responden (sesuai rumus slovin). teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk memperoleh responden adalah systematic random sampling yang berarti bahwa peneliti memberikan batasan-batasan ruang lingkup pengambilan sampel kemudian peneliti mengambil responden berdasarkan prinsip kemudahan dalam mengambil atau memilih sampel hingga terpenuhi jumlah responden yang telah ditentukan (sugiyono, 2013:215). variabel penelitian dan pengukuran a. kompetensi (kom) kompetensi kerja adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut (wibowo, 2007). untuk mengukur variabel ini digunakan enam pertanyaan indikator melalui adopsi dari penelitian ismail dan abidin (2010) dan setyaningdyah, et al. (2013). 1. saya dapat mengalokasikan waktu secara tepat di setiap pekerjaan. 2. saya dapat menggunakan seluruh peralatan it yang ada di kantor untuk menunjang pekerjaan. 3. saya dapat menjalin kerjasama yang baik dengan rekan kerja. 4. jabatan saya saat ini sesuai dengan kompetensi latar belakang pendidikan. udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 107 5. pengalaman yang saya miliki membantu dalam meningkatkan kinerja. 6. saya selalu bekerja berorientasi pada hasil. b. motivasi (mot) motivasi kerja adalah dorongan upaya dan keinginan yang di dalam diri manusia yang mengaktifkan, memberi daya, serta mengarahkan perilakunya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam lingkup pekerjaannya (robbins, 2012). untuk mengukur variabel ini digunakan enam pertanyaan indikator melalui kuesioner. indikator pertanyaan yang digunakan adalah adopsi dari penelitian saleem, et al. (2010) dan wani, s.k. (2013). 1. saya selalu datang di kantor tepat waktu. 2. pekerjaan yang saya lakukan sangat menarik. 3. saya percaya diri atas kemampuan yang dimiliki. 4. saya selalu bertanggung jawab terhadap semua kesalahan yang saya lakukan. 5. saya sering berpikir atau khawatir tentang hal-hal pekerjaan ketika saya di rumah. 6. saya suka mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keahlian diri saya. c. kepemimpinan (kep) kepemimpinan adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam memengaruhi tingkah laku orang lain atau kelompok agar bekerja sama di dalam situasi tertentu dalam pencapaian tujuan (mangkunegara, 2011:133). untuk mengukur variabel ini digunakan enam pertanyaan indikator melalui kuesioner. indikator pertanyaan yang digunakan adalah adopsi dari penelitian shahab dan nisa (2014) dan safaria, et al. (2011) tentang indikator-indikator kepemimpinan yaitu sebagai berikut. 1. saya selalu bersikap adil dalam setiap mengambil keputusan. 2. saya dapat memberikan dorongan semangat kerja kepada teman sekantor. 3. saya selalu berusaha untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. 4. saya terbiasa memberikan pujian terhadap prestasi orang lain. 5. saya memiliki inisiatif yang tinggi dalam memberikan ide untuk meningkatkan kinerja karyawan. 6. saya selalu berusaha menciptakan rasa aman di lingkungan kantor. d. lingkungan kerja (lk) lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat memengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan (mangkunegara, 2011:88). untuk mengukur variabel ini digunakan enam pertanyaan indikator melalui kuesioner. indikator pertanyaan yang digunakan adalah adopsi dari penelitian hayes, et al. (2015) dan imran, et al. (2012) tentang faktor-faktor lingkungan kerja fisik sebagai berikut. 1. pewarnaan ruang kantor saya menarik sehingga membuat semangat bekerja. 2. ruangan kerja saya memiliki penerangan yang cukup. 3. di ruangan kerja saya udaranya sejuk. 4. tidak ada suara bising di lingkungan pekerjaan saya sehingga bisa bekerja dengan nyaman. 5. saya memiliki ruang gerak yang cukup dalam bekerja di kantor 6. lingkungan kerja saya bersih sehingga keadaan sekitar menjadi sehat. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 108 e. manajemen stres (ms) manajemen stres adalah kemampuan seseorang karyawan untuk bereaksi dan mengelola stres yang dimiliki sehingga dapat mendorong untuk mencapai titik optimum dalam kinerja (selye, 2013). untuk mengukur variabel ini digunakan lima pertanyaan indikator melalui kuesioner. indikator pertanyaan yang digunakan adalah adopsi dari tahapan-tahapan manajemen stres oleh moran dan hughes (2006) dan leyden (2013) sebagai berikut. 1. saya bisa menyadari kapan berada dalam kondisi stres. 2. saya dapat mengetahui penyebab kenapa menjadi stres. 3. saya dapat menjelaskan alasan kenapa stres tersebut terjadi. 4. saat menghadapi stres saya tahu apa yang harus dilakukan. 5. saya sering melakukan evaluasi diri tentang cara terbaik untuk menghadapi stres yang di alami. f. kinerja karyawan (kk) kinerja karyawan adalah prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang (mangkunegara, 2011:67). untuk mengukur variabel ini digunakan empat pertanyaan indikator melalui kuesioner. indikator pertanyaan yang digunakan adalah adopsi dari indikator ukuran kinerja menurut mathis, et al. (2013:378) dan rahardjo (2014) sebagai berikut. 1. saya selalu mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. 2. saya mampu menciptakan inovasi dalam setiap penyelesaian pekerjaan. 3. jumlah terjadinya kesalahan dalam pekerjaan saya hampir tidak ada. 4. saya mampu bekerja lebih baik jika dibandingkan dengan rekan yang lain. analisa data gambaran deskriptif dari responden penelitian ini adalah sebagai berikut. usia (tahun) jumlah persentase jenis kelamin jumlah persentase 21–30 41 25,6% laki-laki 93 58,1% 31–40 37 23,1% perempuan 67 41,9% 41–50 31 19,4% lama bekerja (tahun) jumlah persentase >51 51 31,9% 0–5 41 25,6% pendidikan jumlah persentase 6–10 37 23,1% d3 28 17,5% 11–15 12 7,5% s1 121 75,6% >15 70 43,8% s2 10 6,3% golongan jumlah persentase s3 1 0,6% 2 27 16,9% 3 125 78,1% 4 8 5% tabel 1 data deskriptif responden penelitian sumber: output spss udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 109 berdasarkan gambar 1 keseluruhan indikator pernyataan telah valid karena memiliki nilai loading indikator tersebut 0,7 (ghozali, 2014:43). hal ini menjelaskan bahwa syarat convergent validity telah terpenuhi. pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan cara melihat nilai t statistik dari inner model yang telah dibentuk. apabila nilai t statistik >1,96 maka hubungan antar-variabel laten dapat dikatakan signifikan pada α = 5%. terdapat tiga hipotesis yang akan coba dijawab gambar 1 convergent validity model hub t hasil hub t hasil statistik statistik h1. kom�ms 4.058918 diterima h6. mot�kk 0.610590 ditolak h2. mot�ms 0.781644 ditolak h7. kep�kk 1.280124 ditolak h3. kep�ms 1.100638 ditolak h8. lk�kk 0.922449 ditolak h4. lk�ms 9.610917 diterima h9. ms�kk 4.971589 diterima h5. kom� kk 2.537970 diterima dalam penelitian ini dan hasil dari pengujian hipotesis adalah seperti pada tabel 2. pembahasan kompetensi yang dimiliki oleh pegawai terkait dengan keterampilan yang tidak hanya di dalam pekerjaan tetapi juga kemampuan untuk mengelola dirinya sendiri. keterampilan dan pengalaman pekerjaan yang telah dimiliki selama bertahun-tahun dapat membantu pegawai dalam menemukan solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi. karyawan yang memiliki kompetensi baik cenderung untuk dapat mengelola kondisi emosional dalam diri pada saat mengalami kondisi stres. kompetensi karyawan disebabkan karena rata-rata pegawai dari dinas x adalah pegawai yang sudah memiliki masa kerja di atas 5 tahun sebagai pegawai negeri, sehingga walaupun menghadapi stres di dalam pekerjaannya tabel 2 pengujian hipotesis sumber: output smartpls 2.0 business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 110 pegawai tersebut tetap dapat menghasilkan kinerja yang optimal. dalam pekerjaan yang dilakukan pada dinas x banyak pegawai yang bekerja terlihat kurang termotivasi, hal ini disebabkan karena budaya kerja pada lingkungan instansi pemerintahan itu sendiri yang memiliki kedisiplinan rendah, pengawasan yang minim dan juga sistem penghargaan kerja (reward and punishment) yang tidak diterapkan. hal ini dapat ditunjukkan dengan masih tingginya angka pegawai yang terlambat masuk kerja, pegawai yang sering tidak masuk tanpa alasan, dan juga pegawai yang sering absen dalam kegiatan rapat. sebagian besar pegawai juga berpendapat bahwa bekerja tidak perlu terlalu semangat karena dengan kinerja yang ada saja sudah cukup untuk mencapai sasaran kerja dari dinas x. di samping itu hal ini juga didukung oleh sebagian besar dari usia pegawai dinas x yang berada pada kisaran 40 tahun ke atas dan menginjak masa menjelang pensiun sehingga dalam bekerja mereka relatif kurang termotivasi. karena motivasi kerja rendah dan tidak memiliki ambisi untuk bisa mencapai kedudukan yang lebih tinggi membuat pegawai jarang mengalami stres. kepemimpinan dapat membantu seorang pegawai untuk tau apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi stres. sistem kerja dan uraian sasaran kerja dari dinas x yang sudah dideskripsikan secara jelas dalam undang-undang pembentukan dinas x membuat setiap pegawai terbiasa bisa bekerja sendiri tanpa harus mendapatkan perintah dari atasan. walaupun banyak pegawai yang tidak menguasai kompetensi tentang manajemen stres namun mereka mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dalam bekerja, sehingga pekerjaan dapat tetap berjalan dengan lancar. semakin tinggi kepemimpinan dari seorang pegawai bukan berarti akan mendorong untuk meningkatkan kemampuan manajemen stres, dibuktikan dengan pegawai yang tidak menguasai manajemen stres tetapi mereka tetap dapat memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. pada dinas x lingkungan kerja fisik didesain secara layak sehingga tidak menimbulkan kebisingan, kebersihan ruangan, kesejukan udara, dan juga ruang kerja yang lebar. manajemen stres hanya dapat dilakukan ketika situasi dan kondisi dari lingkungan kerja sekitar dapat mendukung yaitu harus tenang dan membuat pegawai merasa nyaman. selama ini banyak pegawai dari dinas x yang merasa puas atas lingkungan kerja di kantornya, kecuali terhadap pewarnaan cat tembok kantor yang memang perlu didesain ulang. dukungan dari lingkungan kerja dinas x yang tenang dan nyaman membuat pegawai mudah untuk melakukan manajemen stres ketika menghadapi persoalan yang rumit. untuk mencapai kinerja karyawan yang optimal diperlukan pegawai yang cakap pengetahuan, memiliki pengalaman kerja, serta keterampilan diri yang baik. dapat dikatakan bahwa semakin pegawai memiliki kompetensi maka akan mendorong peningkatan kinerja dari pegawai itu sendiri, dengan kata lain kompetensi memiliki hubungan yang signifikan terhadap kinerja karyawan. motivasi yang dimiliki oleh sebagian besar pegawai pada dinas x cukup rendah karena budaya dari institusi pemerintahan itu sendiri yang terbiasa santai, kurang diawasi, dan memiliki kedisiplinan rendah. namun walaupun kurang termotivasi setiap pegawai tetap memiliki komitmen kerja yang baik untuk dapat melaksanakan seluruh tugasnya sesuai sasaran kinerja dinas secara tepat waktu. hal ini disebabkan karena bobot kerja dari dinas x itu sendiri yang tidak terlalu berat, walaupun ruang lingkup kerja sangat luas tetapi didukung dengan jumlah pegawai yang sangat banyak sehingga setiap satu pegawai beban kerjanya menjadi ringan. udisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 111 pada dinas x masing-masing pegawai terbiasa bekerja tidak perlu mendapatkan perintah dari atasan karena mereka telah memiliki deskripsi kerja masing-masing dan sasaran kinerja yang harus dipenuhi. penilaian akhir dari kinerja setiap pegawai dilihat berdasarkan seberapa besar sasaran kinerja dapat dipenuhi bukan seberapa besar kemampuan kepemimpinan yang dimiliki oleh setiap pegawai. masing-masing pegawai diwajibkan untuk memiliki tanggung jawab dan komitmen yang tinggi dalam pekerjaannya, sehingga walaupun pegawai tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi tetapi sasaran kinerja dari dinas x tetap dapat tercapai dengan baik. lingkungan kerja yang kurang mendukung bisa saja membuat pegawai kurang konsentrasi bekerja, kurang cepat karena terbatasnya saranaprasarana, serta tidak nyaman karena kondisi sekitar yang kotor. namun hal tersebut tidak terjadi pada dinas x karena masing-masing pegawai memiliki komitmen untuk bersama menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. pegawai pada dinas x dibiasakan untuk bekerja berorientasi pada hasil yaitu tercapainya visi dan misi dari dinas x sehingga lingkungan kerja bukanlah faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya kinerja dari pegawai. manajemen stres adalah kemampuan seseorang untuk mengelola stres yang dimilikinya sehingga dapat mencapai titik kinerja yang optimal. antara stres dan kinerja memiliki hubungan yang sangat erat seperti kurva terbalik, stres yang optimum tidak terlalu sedikit ataupun terlalu berlebihan menciptakan kinerja paling maksimal dari seorang pegawai. harapannya dengan meningkatnya pengetahuan pegawai tentang manajemen stres maka hal ini akan mendorong pegawai untuk dapat lebih meningkatkan kinerjanya. semakin baik manajemen stres yang dimiliki maka seorang karyawan tersebut akan semakin tahan terhadap sumber stres (stressor) dan tekanan dalam pekerjaan yang dialami. seorang pegawai yang tidak dapat mengelola dirinya ketika mengalami keadaan stres memiliki kecenderungan untuk kinerjanya semakin menurun, sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen stres berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. dalam kasus pada dinas x maka terbukti bahwa tingkat stres kerja yang rendah dapat memacu pegawai untuk dapat selalu memiliki kinerja yang optimal. implikasi manajerial langkah manajerial yang dapat diambil dari kesimpulan hasil penelitian di atas bahwa aspek kompetensi memegang peranan yang sangat penting dalam penerapan manajemen stres dan peningkatan kinerja karyawan di lingkungan instansi pemerintahan. kompetensi merupakan kemampuan dasar seorang karyawan untuk dapat menguasai bidang pekerjaan yang dilakukan. karyawan yang memiliki kompetensi kerja yang tinggi dapat diciptakan dengan cara pendidikan dan pelatihan secara terstruktur serta pengawasan yang ketat dari setiap unsur pimpinan yang ada sehingga setiap sasaran kinerja dari dinas x dapat dipastikan bisa tercapai dengan baik. untuk menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif sehingga dapat mendorong meningkatnya kinerja maka dibutuhkan sistem penilaian kinerja yang terbuka dan transparan. masing-masing karyawan harus bersedia menerima kritik dan penilaian terhadap kinerja yang selama ini telah dilakukan termasuk konsekuensi yang akan diterima dari penilaian kinerjanya selama ini. penilaian dilakukan secara adil dan objektif berdasarkan sasaran kinerja dari setiap bagian. karyawan yang memiliki kinerja baik harus mendapatkan kompensasi sehingga dapat terus termotivasi dalam bekerja sedangkan karbusiness and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 112 yawan yang memiliki kinerja rendah harus rela menerima teguran ataupun mutasi ke bagian lain yang lebih sesuai dengan kompetensinya. saran 1. agar kinerja dari seluruh pegawai dapat lebih meningkat lagi maka diperlukan suatu sosialisasi atau pelatihan khusus terhadap seluruh pegawai tentang manajemen stres. pelatihan ini mencakup seluruh bagian dan seluruh level jabatan, karena stres dapat dialami oleh siapa saja dan manajemen stres diperlukan agar kinerja tidak menjadi terhambat saat mengalami stres. 2. agar kinerja dari dinas x dapat lebih meningkat lagi maka perlu ditempatkan pegawai di dinas x yang kompeten dalam menangani permasalahan sosial yaitu mereka yang memiliki latar belakang pendidikan relevan dengan bidang yang ditangani oleh dinas x dan juga pengalaman kerja yang cukup. 3. pendidikan dan pelatihan secara terjadwal perlu dilakukan pada pegawai dinas x agar mereka memiliki kompetensi yang baik dalam bekerja terutama terhadap perkembangan isu-isu terbaru tentang dunia yang berkaitan dengan dinas x. 4. kedisiplinan dan motivasi dari pegawai pada dinas x perlu ditingkatkan lagi agar kinerja yang sudah baik dapat lebih meningkat lagi. hal ini dapat dilakukan dengan cara sistem reward and punishment, di mana bagi pegawai yang berkinerja rendah diberikan surat peringatan, mutasi, ataupun penurunan golongan jabatan sedangkan bagi pegawai yang berprestasi dapat diberikan penghargaan seperti tunjangan prestasi dan promosi agar lebih termotivasi lagi dalam bekerja ke depannya. daftar pustaka ali, w.u. raheem, a.r. nawas, a. dan imamuddin, k. 2014. “impact of stress on job performance: an empirical study of the employees of private sector universities of karachi, pakistan”. research journal of management sciences, vol. 3, no. 7, pp 14–17. alwi, h, dkk. 2008. kamus besar bahasa indonesia, edisi keempat. jakarta: balai pustaka. brahmasari, i.a. dan suprayetno, a. 2008. “pengaruh motivasi kerja, kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan serta dampaknya pada kinerja perusahaan (studi kasus pada pt. pei hai international wiratama indonesia)”. jurnal manajemen dan kewirausahaan, vol.10, no.2, pp 124–135. bps jatim. 2015. jawa timur dalam angka, surabaya: badan pusat statistik jawa timur. camelia, b.m. dan marius, b. 2011. “stress management and work performance – a case study”, journal of engineering studies and research, vol. 17, no. 3, pp 11–17. centre for good governance. 2006. handbook on stress management skills, telangana, india. http://www.cgg.gov.in/publicationdownloads2a/stress%20management%20 skill.pdf dessler, g. 2006. manajemen sumber daya manusia, jilid ii, pt. indeks, jakarta. disnakertransduk jatim. 014. buku informasi dan profil ketenagakerjaan, ketransmigrasian, dan kependudukan provinsi jawa timur 2014. surabaya: dinas tenaga kerja, transmigrasi, dan kependudukan jawa timur. dwamena, m. 2012. stress and its effects on employees productivity – a case study of ghana ports and harbours authority, takoradi, thesis master of business adminisudisubakti c., m. yusak anshori, aldo f., pengaruh kompetensi, motivasi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja terhadap manajemen stres dan kinerja karyawan pada dinas x provinsi jawa timur 113 tration, kwame nkrumah university of science and technology, kumasi, ghana. ghozali, i. 2014. structural equation modelingmetode alternatif dengan partial least square, edisi keempat. semarang: badan penerbit universitas diponegoro. handoko, h. 2012. manajemen personalia dan sumber daya manusia. yogyakarta: bpfe. harianta, j. 2012. pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai di kantor kecamatan teras kabupaten boyolali, jurnal transformasi, vol. xiv, no. 22, pp 1–6. hasibuan, m.s.p. 2014. organisasi dan motivasi. jakarta: bumi aksara. hayes, b. douglas, c. dan bonner, a. 2015. “work environment, job satisfaction, stress and burnout among haemodialysis nurses”, journal of nursing management, vol. 23, no. 5, pp 588–598. imran, r. fatima, a. zaheer, a. yousaf, i. dan batool, i. 2012. “how to boost employee performance: investigating the influence of transformational leadership and work environment in a pakistani perspective”. middle-east journal of scientific research, vol. 11, no. 10, pp 1455–1462. ismail, r. dan abidin, s.z. 2010. “impact of worker’s competence on their performance in the malaysian private service sector”. business and economic horizons, vol. 2, issue. 2, pp. 25–36. leyden, l. 2013. the stress management handbook-strategies for health and inner peace. united state: createspace, united states. looker, t. dan gregson, o. 2004. managing stress. baca. yogyakarta. mangkunegara, a.p. 2011. manajemen sumber daya manusia perusahaan, bandung: pt remaja rosdakarya. mathis, r.l. jackson, j. dan valentine, s. (2013), human resource management, fourteenth edition. stanford, usa: cengage learning. moran, c.c. dan hughes, l.p. 2006. “coping with stress: social work students and humour”. social work education. vol. 25, no. 5, pp. 501–517. munandar, a.s. 2012. psikologi industri dan organisasi. jakarta: penerbit universitas indonesia. oladinrin, t.o. adeniyi, o. dan udi, m.o. 2014. “analysis of stress management among professionals in the nigerian construction industry”, international journal of multidisciplinary and current research, vol. 2, pp. 22-33. olusegun, a.j. oluwasayo, a.j. dan olawoyim, o. 2014. “an overview of the effects of job stress on employee performance in nigeria tertiary hospitals”, scientific review article, vol. 60, no. 4, pp 139– 153. organ, d.w. podsakoff, p.m. dan mackenzie, s.b. 2006. organizational citizenship behavior: its nature, antecedents, and consequences, sage publications, beverly hills, california. paranthaman, t. 2015. “stress management competencies among banking sector managerial employees in the batticaloa district”, 5th international symposium 2015, pp 44-51, south eastern university of sri langka. peraturan daerah provinsi jawa timur nomor 9 tahun 2008 tentang organisasi dan tata kerja dinas daerah provinsi jawa timur. peraturan gubernur jawa timur nomor 84 tahun 2008 tentang uraian tugas sekretariat, bidang, sub bagian, dan seksi dinas tenaga kerja, transmigrasi, dan kependudukan provinsi jawa timur. business and finance journal, volume 2, no. 2, october 2017 114 peraturan menteri negara pendayagunaan aparatur negara nomor per/9/m.pan/5/ 2007 tentang pedoman umum penetapan indikator kinerja utama di lingkungan instansi pemerintah. peraturan pemerintah republik indonesia nomor 46 tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja pegawai negeri sipil. peraturan pemerintah republik indonesia nomor 101 tahun 2000 tentang pendidikan dan pelatihan jabatan pegawai negeri sipil. permatasari, a.i. dan dwityanto, a. 2016. hubungan antara prokrastinasi kerja dengan stres kerja pada pns. naskah publikasi ilmiah. surakarta: fakultas psikologi – universitas muhammadiyah surakarta. rahardjo, s. (2014), “the effect of competence, leadership, and work environment towards motivation and its impact on the performance of teacher of elementary school in surakarta city, central java, indonesia”, international journal of advanced research in management and social sciences. vol. 3, no. 6, pp 59–74. robbins, s. 2012. prinsip-prinsip perilaku organisasi. jakarta: penerbit erlangga. rotc program. 2009. stress management. missisipi college, united states. http:// www.mc.edu/rotc/files/3813/1471/7348/ msl_201_l12a_stress_man agement.pdf safaria, t. othman, a.b. dan wahab, m.n.a. 2011. “the role of leadership practices on job stress among malay academic staff: a structural equation modeling analysis”, international education studies, vol.4, no.1, pp 90–100. saleem, r. mahmood, a. dan mahmood, a. 2010. “effect of work motivation on job satisfaction in mobile telecomunication service organizations of pakistan”, international journal of business and management, vol.5, no.11, pp 213–222. sanali, s. bahron, a. dan dousin, o. 2013. “job rotation practices, stress, and motivation: an empirical study among administrative and diplomatic officers (ado) in sabah, malaysia”, international journal of research in management & technology, vol. 3, no. 6, pp 160–166. selye, h. 2013. stress without distress, 8th edition, mcgraw-hill, united states. setyaningdyah, e. nimran, u.k. dan thoyib, a. 2013. “the effects of human resource competence, organisational commitment and transactional leadership on work discipline, job satisfaction, and employee’s performance”, interdisciplinary journal of contemporary research in business, vol. 5, no. 4, pp. 140– 153. shahab, m.a, dan nisa, i, (2014), “the influence of leadership and work attitudes toward job satisfaction and performance of employee”, international journal of managerial studies and research, vol. 2, no. 5, pp 69–77. sugiyono. 2013. metode penelitian manajemen. undang-undang no. 5 tahun 2014 tentang aparatur sipil negara. bandung: cv alfabeta. wani, s.k. 2013. “job stress and its impact on employee motivation: a study of a select commercial bank”, international journal of business and management invention, vol. 2, no. 3, pp 13–18. wibowo. 2007. manajemen kinerja. jakarta: pt raja grafindo persada. 00 atribut.pmd puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 111111 analisis service quality di puskesmas x surabaya dengan quality function deployment puspandam katias, fuji rahayu universitas nahdlatul ulama surabaya e-mail: puspandam@unusa.ac.id abstract: as a health service provider under the management of the surabaya city government, the puskesmas (community health center) which is the unit of analysis is committed to improving and maintaining the services provided to its customers. in this study, the integration of service quality methods is used by measuring the perception gap and expectations of servqual measurement results which then design customer satisfaction performance through quality function deployment, the application of the combination of the two methods is expected to contribute to the improvement of puskesmas performance. the results of the study are expected to be able to objectively find the gap of each dimension of servqual and provide recommendations from the analysis of quality function deployment. keywords: quality management, service quality, quality function deployment pendahuluan latar belakang pembangunan dan peningkatan pelayanan dasar terhadap publik merupakan amanah yang harus terus dilakukan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. salah satu bentuk pelayanan publik adalah pelayanan di bidang kesehatan. peningkatan pelayanan di bidang kesehatan sangat penting karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang keberadaannya sangat diperlukan oleh masyarakat. kesehatan juga merupakan aspek yang sangat vital dalam mencapai millennium development goals (mdg’s) karena kesehatan merupakan indikator perkembangan suatu bangsa. memperoleh kesehatan merupakan hak setiap individu atau kelompok. dalam uud 1945 pasal 28h ayat 1, secara eksplisit dikatakan bahwa kesehatan merupakan hak setiap warga. bahkan kesehatan juga menjadi indikator hdi (human development index). menurut undangundang nomor 36 tahun 2009 tentang pelayanan kesehatan, disebutkan bahwa pelayanan kesehatan adalah hak asasi manusia yang harus diselenggarakan oleh pemerintah, karena kebijakan ini merupakan prinsip keadilan, responsivitas, dan efisiensi pelayanan. puskesmas sebagai unit terkecil penyedia layanan kesehatan diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat. oleh sebab itu, pemerintah berupaya mendukung atau memotivasi pihak puskesmaspuskesmas yang ada dengan harapan meningkatkan kualitas pelayanan di setiap puskesmas. puskesmas semakin ditinggalkan oleh masyarakat dan tidak menjadi pilihan utama mereka mendapatkan pelayanan kesehatan. masyarakat menganggap pelayanan puskesmas di wilayahnya kurang bermutu. kondisi ini juga terkait dengan jam kerja unit pelayanan puskesmas yang terbatas, peralatan dan jenis pelayanan puskesmas yang kurang memadai, dan kinerja staf yang kurang profesional. minimnya stok obat-obatan di puskesmas juga menjadi keluhan masyarakat. padahal beberapa warga menuturkan hanya menerima obat yang sama meski keluhan sakitnya business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 112 berbeda, karena stok obat dan variasi obat yang minim (sumber: data internal). penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kualitas pelayanan jasa yang diharapkan oleh konsumen puskesmas, mengetahui kesenjangan kualitas pelayanan jasa yang diterima dengan yang diharapkan oleh konsumen puskesmas dan mengusulkan action plan untuk peningkatan kualitas pelayanan jasa. metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quality function deployment dengan integrasi metode service quality. berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan, maka skripsi ini mengambil judul: analisis kualitas pelayanan di puskesmas x surabaya dengan integrasi metode service quality dan quality function deployment (qfd). rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengidentifikasi permasalahan yang terjadi adalah sebagai berikut. 1. apakah sistem manajemen kualitas dengan menggunakan integrasi service quality dan quality function deployment memiliki pengaruh terhadap kinerja pelayanan di puskesmas x surabaya? 2. bagaimana analisis kualitas layanan di puskesmas x surabaya berdasarkan integrasi service quality dan quality function deployment? tujuan penelitian adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. untuk mengetahui kualitas layanan di puskesmas x surabaya dengan menggunakan integrasi service quality dan quality function deployment. 2. menganalisis kualitas layanan di puskesmas x surabaya. studi literatur total quality management menyajikan pilihan yang strategis dan filosofi manajemen terpadu untuk organisasi, yang memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (golderg dan cole dalam kotturshettar et al., 2012). dalam perspektif tqm (total quality management) kualitas dipandang secara luas, yaitu tidak hanya aspek hasil yang ditekankan tetapi juga meliputi proses, lingkungan, dan manusia. hal ini jelas tampak dalam definisi yang dirumuskan oleh goeth dan davis yang dikutip tjiptono (2012:51) bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. pelayanan memiliki pengertian yaitu terdapatnya dua unsur atau kelompok orang di mana masing-masing saling membutuhkan dan memiliki keterkaitan, oleh karena itu peranan dan fungsi yang melekat pada masing-masing unsur tersebut berbeda. hal-hal yang menyangkut tentang pelayanan yaitu faktor manusia yang melayani, alat atau fasilitas yang digunakan untuk memberikan pelayanan, mekanisme kerja yang digunakan dan bahkan sikap masing-masing orang yang memberi pelayanan dan yang dilayani. terdapat lima dimensi pokok yang dikenal dengan servqual (service quality) yang terdiri dari hal-hal sebagai berikut. 1. bukti fisik (tangibles) yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 113 liki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan. kualitas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan, yaitu kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalani ikatan hubungan yang kuat dengan organisasi pemberi layanan. organisasi pemberi layanan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada organisasi pemberi layanan yang memberikan kualitas memuaskan. dimensi kualitas jasa yang dilakukan oleh zeithaml, parasuraman, dan berry dikembangkan dengan menentukan sebuah model dari kualitas jasa yang biasanya dikenal dengan gap kesenjangan (gap model). model pada kualitas jasa ini didasarkan pada ekspektasi pelanggan dengan persepsi yang mereka terima. jika terjadi perbedaan maka terjadi sebuah gap. terdapat lima kesenjangan yang diungkapkan oleh zeithaml, et al., dalam hak sever (2000:333). 1. gap 1. not knowing what customers expect gap ini terjadi karena adanya perbedaan antara apa yang pelanggan harapkan dengan persepsi manajemen. 2. gap 2. the wrong service quality standards gap ini terjadi karena persepsi manajemen mengenai harapan pengguna jasa dengan spesifikasi kualitas jasa aktual yang diberikan. 3. gap 3. the service performance gap ketidaksesuaian antara spesifikasi kualitas jasa dengan jasa yang diberikan menyebabkan terjadinya gap ini. 4. gap 4. when promises don’t match delivery adanya kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. karena terjadi perbedaan dari apa yang dijanjikan oleh perusahaan dengan apa yang diterima oleh pelanggan. kepada pihak eksternal. di antaranya meliputi fasilitas fisik (gedung, buku, rak buku, meja, kursi, dan sebagainya), teknologi (peralatan dan perlengkapan yang dipergunakan), serta penampilan pegawai. 2. keandalan (reliability) adalah kemampuan perusahaan memberikan pelayanan sesuai dengan apa yang dijanjikan secara akurat dan tepercaya. kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang tecermin dari ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap simpatik dan akurasi yang tinggi. 3. daya tanggap (responsiveness) adalah kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat dan tepat dengan penyampaian informasi yang jelas. mengabaikan dan membiarkan pelanggan menunggu tanpa alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan. 4. jaminan (assurance) adalah pengetahuan, kesopan-santunan dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. hal ini meliputi beberapa komponen, antara lain: a. komunikasi (communication) b. kredibilitas (credibility) c. keamanan (security) d. kompetensi (competence) e. sopan santun (courtesy) 5. empati (empathy) yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen di mana suatu perusahaan diharapkan memiliki suatu pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memibusiness and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 114 3. orientasi kerjasama (cooperation oriented), quality function deployment menggunakan pendekatan yang berorientasi pada kelompok. 4. orientasi pada dokumentasi (documentation oriented), quality function deployment menggunakan data dan dokumentasi yang berisi proses mendapatkan seluruh kebutuhan dan harapan pelanggan. metode qfd merupakan salah satu metode yang digunakan untuk merancang suatu produk sesuai interpretasi & keinginan pengguna layanan yang dilihat dari aspek kualitas. output yang dihasilkan dari qfd adalah house of quality (hoq). house of quality digunakan oleh tim di berbagai bidang untuk menerjemahkan persyaratan konsumen (customer requirement), hasil riset pasar dan benchmarking data ke dalam sejumlah target teknis prioritas. hipotesis hipotesis yang diajukan dan akan dibuktikan kebenarannya dalam penelitian ini adalah kualitas pelayanan yang terdiri dari keandalan, jaminan, bukti fisik, empati, dan daya tanggap dapat berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan. metode penelitian pada penelitian eksplanatif kuantitatif, metode yang digunakan untuk menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. menurut kriyanto (2006:69) penulis perlu melakukan kegiatan berteori untuk menghasilkan dugaan awal (hipotesis) antara variabel yang satu dengan yang lainnya. sama halnya dengan penjelasan bungin (2001:51) bahwa kuantitatif eksplanatif adalah penelitian yang 5. gap 5. expected service – preconceived service perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dengan yang diharapkan. gap ini terjadi karena rangkaian dari gap 1 sampai dengan gap 4, sehingga apa yang diharapkan pelanggan dari jasa ini berbeda dengan apa yang pelanggan rasakan. jika keduanya terbukti sama, maka perusahaan akan memperoleh citra dan dampak positif. namun, bila yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan, maka kesenjangan ini akan menimbulkan permasalahan bagi perusahaan. kepuasan pelanggan adalah hasil (outcome) yang dirasakan atas penggunanya produk atau jasa. sama atau melebihi harapan yang diinginkan (yamit, 2002:78). kepuasan pelanggan mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan (tjiptono, 2001:25). quality function deployment digunakan untuk memperbaiki pemahaman tentang pelanggan dan untuk mengembangkan produk, jasa, serta proses dengan cara yang lebih berorientasi kepada pelanggan (rampersad, 2006). ada tiga manfaat utama yang diperoleh perusahaan bila menggunakan metode qfd, yaitu: (1) mengurangi biaya, (2) meningkatkan pendapatan, dan (3) mengurangi waktu produksi. manfaat lain yang diperoleh dari penerapan quality function deployment ini juga meliputi hal-hal sebagai berikut. 1. fokus pada pelanggan (customer focused) yaitu mendapatkan input dan umpan balik dari pelanggan mengenai kebutuhan dan harapan pelanggan. 2. efisien waktu (time efficient), dengan menerapkan quality function deployment maka program pengembangan akan memfokuskan pada harapan dan kebutuhan pelanggan. puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 115 bertujuan untuk menjelaskan hubungan suatu variabel dengan variabel yang lain untuk menguji suatu hipotesis. penelitian eksplanatif dilakukan terhadap sampel dan hasil penelitian tersebut dapat digeneralisasikan terhadap populasinya. ruang lingkup penelitian • penelitian dilakukan di puskesmas x surabaya. • responden merupakan pasien yang berobat ke puskesmas x surabaya. • objek penelitian dilakukan pada pasien yang berobat di puskesmas x surabaya pada bulan maret 2017. operasionalisasi variabel penelitian ini membahas dua variabel yaitu kualitas pelayanan sebagai variabel bebas (variabel x) dan kepuasan pelanggan sebagai variable terikat (variabel y). secara lebih rinci, operasionalisasi variabel untuk menjawab identifikasi masalah terlihat pada definisi operasionalisasi variabel adalah sebagai berikut. • unsur-unsur kualitas pelayanan yang disediakan puskesmas menentukan keberhasilan pelayanan merupakan skor yang diperoleh dari kuesioner. • tanggapan pasien terhadap unsur-unsur kualitas pelayanan yang menentukan keberhasilan pelayanan merupakan skor yang diperoleh dari kuesioner. metode penarikan sampel dalam penelitian ini, sampel yang dipergunakan untuk memperoleh data tentang kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien di puskesmas surabaya adalah sebagai berikut. 1. populasi pada penelitian ini, peneliti mengambil populasi yaitu pasien puskesmas di surabaya dalam kurun waktu 1 bulan yaitu bulan maret 2017. jumlah populasinya adalah 5.117 orang (sumber: data internal puskesmas x surabaya). 2. sampel teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling, yakni pengambilan sampel anggota dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. dalam penelitian ini penulis mengambil jumlah sampel menggunakan teknik slovin yaitu dengan rumus: n = 1/1 + n(e)^2 keterangan: n = anggota/unit sampel n = jumlah populasi e = error yang ditoleransi karena menggunakan sampel sebagai pengganti anggota populasi, biasanya diambil 10% berdasarkan teknik tersebut, maka jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 orang (pembulatan dari 99.08). metode pengumpulan data teknik dan alat pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) kuesioner, (2) observasi, (3) wawancara, dan (4) studi kepustakaan. uji validitas dan reliabilitas suatu instrumen dikatakan memiliki validitas yang tinggi bila mampu mengukur apa yang diinginkan dan juga dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. instrumen yang sudah dapat dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya. setelah perhitungan business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 116 diperoleh, lalu dibandingkan dengan nilai r kritis. suatu item dikatakan valid apabila memiliki koefisien korelasi positif dan besarnya adalah 0.6 ke atas. dalam hal ini pernyataan yang memiliki koefisien korelasi yang lebih kecil dari 0.6 berarti tidak lulus uji validitas dan pernyataan harus dibuang. reliabel artinya dapat dipercaya dan dapat diandalkan sehingga pada uji reliabilitas ini instrumen yang digunakan tentunya merupakan instrumen yang sudah dapat dipercaya sehingga akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. dalam hal ini, pengukurannya menggunakan teknik cronbach’s alpha (koefisien alfa), di mana dapat dikatakan reliabel apabila mempunyai nilai koefisien alfa lebih dari 0,60. artinya apabila koefisien alfa yang dihasilkan lebih dari 0,60 maka data tersebut dapat dikatakan reliabel. teknik analisis data alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. untuk menganalisis dan menginterpretasikan data secara kuantitatif, digunakan alat statistik sehingga memudahkan penafsiran data mentah yang diperoleh yaitu dengan menggunakan spss. jenis data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data interval. untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien di puskesmas x surabaya, maka teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis service quality menggunakan 5 gap dan quality function deployment dengan house of quality. hasil dan pembahasan deskripsi hasil penelitian kuesioner disebar kepada 100 pasien puskesmas x surabaya. jumlah tersebut layak untuk diteliti karena masih di atas batas minimal sampel yang dibutuhkan. hasil pengolahan data menunjukkan bahwa jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan responden laki-laki. jumlah responden perempuan sebanyak 66% dan responden pria sebanyak 34%. sedangkan jumlah responden berdasarkan usia 17–25 tahun sebanyak 40.00%, usia 2635 tahun sebanyak 20.00%, usia 36–45 tahun 14.00%, usia 46–55 tahun sebanyak 15.00% dan sisanya di atas 56 tahun sebanyak 11.00%. untuk hasil pengolahan pendidikan terakhir responden diperoleh sma sebanyak 63.00%, diploma sebanyak 11.00%, sarjana sebanyak 18.00% dan sisanya lainnya (seperti sd, smp) sebanyak 8.00%. pekerjaan dari mayoritas responden adalah ibu rumah tangga dengan jumlah 38%, pelajar/mahasiswa sebanyak 21%, pegawai swasta 16%, wiraswasta sebanyak 16%, pegawai negeri sebanyak 10%, dan sisanya sebanyak 4% merupakan lain-lain (pengangguran, pensiunan). persentase berkunjung responden dalam satu tahun terakhir didominasi 56% sebanyak kurang dari 3 kali berkunjung, 4–6 kali sebanyak 25%, 7–10 kali sebanyak 9% dan sisanya lebih dari 10 kali sebanyak 10%. biasanya responden yang datang lebih dari 10 kali berkunjung mereka adalah lansia yang melakukan check-up rutin setiap bulannya. puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 117 kesenjangan (gap) antara kenyataan dan harapan atribut kualitas jasa no. pertanyaan x x gap kenyataan harapan bukti fisik (tangible) 1 kondisi puskesmas dalam keadaan baik (nyaman dan bersih) 2.83 3.81 -0.98 2 peralatan (sarana dan prasarana) puskesmas sangat lengkap 2.64 3.79 -1.15 3 informasi dan petunjuk di puskesmas jelas 2.62 3.82 -1.2 4 penampilan petugas 2.81 3.77 -0.96 5 tersedianya tempat parkir untuk pasien yang memadai 2.53 3.75 -1.22 6 kenyamanan meja registrasi 2.52 3.73 -1.21 7 kelengkapan fasilitas pendukung ruang tunggu (tempat sampah, mesin antrean, tempat brosur, kotak saran, dll.) 2.51 3.78 -1.27 empati (empathy) 1 petugas peduli akan keinginan pasien 2.58 3.75 -1.17 2 petugas cepat menanggapi keluhan pasien 2.63 3.73 -1.1 3 menjaga hubungan baik kepada konsumen pasien 2.69 3.75 -1.06 4 pengertian petugas terhadap kebutuhan yang penting bagi pasien 2.7 3.75 -1.05 5 jam pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien 2.68 3.75 -1.07 6 kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani pasien. 2.46 3.72 -1.26 daya tanggap (responsiveness) 1 cepat tanggap dalam mengatasi masalah pada keluhan pasien 2.51 3.74 -1.23 2 kemampuan memberikan pelayanan dengan cepat dan benar (inovatif dalam komunikasi) 2.53 3.78 -1.25 3 petugas dapat bekerjasama dengan pasien 2.73 3.75 -1.02 4 kesediaan petugas dalam membantu pasien menanggapi keluhan 2.6 3.77 -1.17 5 petugas menyediakan waktunya untuk menjawab pertanyaan pasien 2.64 3.78 -1.14 keandalan (reliability) 1 kemampuan pelayanan petugas dapat dipercaya 2.8 3.76 -0.96 2 keramahan pelayanan dalam melayani pasien 2.62 3.75 -1.13 3 konsistensi waktu pelayanan (ketepatan waktu buka dan tutup puskesmas) 2.68 3.75 -1.07 4 pemenuhan pelayanan yang dijanjikan 2.58 3.74 -1.16 5 keakuratan pencatatan atau dokumentasi keluhan pasien 2.73 3.79 -1.06 6 ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean yang sangat panjang. 2.39 3.8 -1.41 business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 118 tabel tersebut menunjukkan bahwa terdapat semua atribut kualitas jasa yang berjumlah 27 atribut, memiliki nilai gap negatif. dari ke27 atribut diketahui bahwa atribut ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean memiliki nilai gap terbesar yaitu -1.41, setelah itu atribut kelengkapan fasilitas pendukung ruang tunggu (tempat sampah, mesin antrean, tempat brosur, kotak saran, dll.) yang memiliki nilai gap -1.27, dan kesediaan petugas mengucapkan salam jaminan (assurance) 1 keyakinan pasien terhadap kemampuan petugas 2.79 3.77 -0.98 2 keyakinan pasien pada solusi yang diberikan petugas 2.74 3.77 -1.03 3 keamanan area puskesmas 2.74 3.82 -1.08 sebelum dan sesudah melayani pasien yang memiliki nilai gap -1.26. hal ini berarti kinerja dari 27 atribut kualitas jasa tersebut masih di bawah harapan pasien puskesmas x surabaya. penyusunan house of quality jenis matriks house of quality bentuknya bermacam-macam. bentuk umum dan matriks ini terdiri dari enam komponen utama. 1. bagian a customer requirement (whats) customer requirements bukti fisik (tangible) 1 kondisi puskesmas dalam keadaan baik (nyaman dan bersih) 2 peralatan (sarana dan prasarana) puskesmas sangat lengkap 3 informasi dan petunjuk di puskesmas jelas 4 penampilan petugas 5 tersedianya tempat parkir untuk pasien yang memadai 6 kenyamanan meja registrasi 7 kelengkapan fasilitas pendukung ruang tunggu (tempat sampah, mesin antrean, tempat brosur, kotak saran, dll.) empati (empathy) 1 petugas peduli akan keinginan pasien 2 petugas cepat menanggapi keluhan pasien 3 menjaga hubungan baik kepada konsumen pasien 4 pengertian petugas terhadap kebutuhan yang penting bagi pasien 5 jam pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien 6 kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani pasien daya tanggap (responsiveness) 1 cepat tanggap dalam mengatasi masalah pada keluhan pasien 2 kemampuan memberikan pelayanan dengan cepat dan benar (inovatif dalam komunikasi) 3 petugas dapat bekerjasama dengan pasien 4 kesediaan karyawan dalam membantu pasien menanggapi keluhan 5 petugas menyediakan waktunya untuk menjawab pertanyaan pasien puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 119 2. bagian b technical requirement (hows) keandalan (reliability) 1 kemampuan pelayanan petugas dapat dipercaya 2 keramahan pelayanan dalam melayani pasien 3 konsistensi waktu pelayanan (ketepatan waktu buka dan tutup puskesmas) 4 pemenuhan pelayanan yang dijanjikan 5 keakuratan pencatatan atau dokumentasi keluhan pasien 6 ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean yang sangat panjang jaminan (assurance) 1 keyakinan pasien terhadap kemampuan petugas 2 keyakinan pasien pada solusi yang diberikan petugas 3 keamanan area puskesmas whats hows kondisi puskesmas dalam keadaan baik (nyaman dan bersih) melakukan pembersihan setiap hari peralatan (sarana dan prasarana) puskesmas sangat lengkap 1. menambah peralatan medis 2. menyediakan dokter spesialis (spesialis gigi) 3. melengkapi perlengkapan puskesmas lainnya (kursi ruang tunggu, toilet, tempat parkir, kipas angin, dll.) informasi dan petunjuk di puskesmas jelas disediakannya petunjuk arah (misalnya: ruang tunggu, registrasi, room poli di masing-masing poli) penampilan petugas berpenampilan rapi, bersih, dan sopan tersedianya tempat parkir untuk pasien yang memadai 1. adanya penjagaan pada area tempat parkir 2. perbaikan pada area tempat parkir kenyamanan meja registrasi diterapkannya 4s senyum, sapa, salam, dan santun) kelengkapan fasilitas pendukung ruang tunggu (tempat sampah, mesin antrean, tempat brosur, kotak saran, dll.) 1. disediakan tempat sampah di setiap sudut 2. tersedianya kotak kritik dan saran untuk keluhan pasien 3. mulai menyediakan mesin antrean supaya pasien tidak perlu mengantre manual lagi petugas peduli akan keinginan pasien disediakannya kotak kritik dan saran petugas cepat menanggapi keluhan pasien adanya petugas yang standby menjaga hubungan baik kepada pasien dibentuknya database pasien business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 120 1. hubungan whats dan hows pada tahap ini ditentukan hubungan antara kebutuhan pasien terhadap kualitas jasa puskesmas x surabaya (whats) dengan respons teknis (hows) yang telah dibuat. penentuan hubungan tersebut didasarkan pada hasil diskusi dengan pengertian petugas terhadap kebutuhan yang penting bagi pasien disediakannya kotak kritik dan saran jam pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien buka sesuai dengan peraturan dinas kesehatan kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani pasien. diterapkannya 4s (senyum, sapa, salam, dan santun) cepat tanggap dalam mengatasi masalah pada keluhan pasien adanya petugas yang standby kemampuan memberikan pelayanan dengan cepat dan benar (inovatif dalam komunikasi) sesuai dengan budaya kerja yaitu kerja sama, ramah, disiplin, ikhlas, komitmen, jujur, loyalitas, adil, profesional, transparan petugas dapat bekerjasama dengan pasien sesuai dengan budaya kerja yaitu kerja sama, ramah, disiplin, ikhlas, komitmen, jujur, loyalitas, adil, profesional, transparan kesediaan petugas dalam membantu pasien menanggapi keluhan disediakannya kotak kritik dan saran petugas menyediakan waktunya untuk menjawab pertanyaan pasien disediakannya petugas yang standby kemampuan pelayanan petugas dapat dipercaya petugas yang bekerja adalah para professional di bidangnya keramahan pelayanan dalam melayani pasien diterapkannya 4s (senyum, sapa, salam, dan santun) konsistensi waktu pelayanan (ketepatan waktu buka dan tutup puskesmas) buka sesuai dengan peraturan dinas kesehatan pemenuhan pelayanan yang dijanjikan sesuai dengan standar pelayanan dinas kesehatan keakuratan pencatatan atau dokumentasi keluhan pasien sesuai dengan budaya kerja yaitu kerjasama, ramah, disiplin, ikhlas, komitmen, jujur, loyalitas, adil, profesional, transparan ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean yang sangat panjang. 1. adanya petugas yang standby 2. disediakannya pendaftaran online keyakinan pasien terhadap kemampuan petugas petugas yang bekerja adalah para profesional di bidangnya keyakinan pasien pada solusi yang diberikan petugas petugas yang bekerja adalah para profesional di bidangnya keamanan area puskesmas disediakannya petugas keamanan (satpam) untuk menjaga lingkungan area sekitar puskesmas puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 121 petugas puskesmas x surabaya. penggambaran hubungan antara whats dan hows dilakukan dengan simbol sebagai berikut. simbol □ : 1 hampir tidak ada hubungan antara respons teknikal dan atribut pelayanan. simbol ∆ : 3 hubungan lemah antara respons teknikal dan atribut pelayanan. simbol ○: 5 hubungan sedang antara respons teknikal dan atribut pelayanan. simbol ●: 9 hubungan kuat antara respons teknikal dan atribut pelayanan. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 122 k o n d is i p u s k e s m a s d a la m k e a d a a n b a ik (n y a m a n d a n b e rs ih ) 1 ∆ ○ 3 .8 1 1 .3 5 2 1 0 .3 4 0 .0 4 7 8 1 4 √ √ p e r a la ta n (s a r a n a d a n p ra s a r a n a ) p u s k e s m a s s a n g a t le n g k a p . 1 ○ ∆ 3 .7 9 1 .4 4 2 1 1 .0 3 0 .0 5 0 9 5 ─ √ in fo rm a s i d a n p e tu n ju k d i p u s k e s m a s je la s . 1 ○ 3 .8 2 1 .4 6 1 5 .5 9 0 .0 2 5 8 1 9 √ √ p e n a m p ila n k a ry a w a n 1 ∆ 3 .7 7 1 .3 4 1 5 .1 3 0 .0 2 3 7 2 5 √ √ t e rs e d ia n y a te m p a t p a rk ir u n tu k p a s ie n y a n g m e m a d a i 1 ○ ∆ 3 .7 5 1 .4 8 1 5 .6 7 0 .0 2 6 2 1 7 ─ ─ k e n y a m a n a n m e ja r e g is tr a s i 1 ● ○ 3 .7 3 1 .4 8 2 1 1 .3 4 0 .0 5 2 4 2 ─ √ k e le n g k a p a n fa s ilita s p e n d u k u n g ru a n g tu n g g u (te m p a t s a m p a h , m e s in a n tria n , te m p a t b r o s u r, k o ta k s a ra n , d ll) 1 ○ 3 .7 8 1 .5 1 1 5 .7 8 0 .0 2 6 7 1 6 √ √ p e tu g a s p e d u li a k a n k e in g in a n p a s ie n 5 ∆ 3 .7 5 1 .4 5 2 1 0 .8 2 0 .0 5 0 1 8 ─ √ p e tu g a s c e p a t m e n a n g g a p i k e lu h a n p a s ie n 5 ● 3 .7 3 1 .4 2 2 1 0 .5 9 0 .0 4 8 9 1 0 ─ ─ m e n ja g a h u b u n g a n b a ik k e p a d a p a s ie n 5 ○ 3 .7 5 1 .3 9 2 1 0 .3 7 0 .0 4 7 9 1 2 √ √ p e n g e r tia n p e tu g a s te r h a d a p k e b u tu h a n y a n g p e n tin g b a g i p a s ie n 5 ● 3 .7 5 1 .3 9 2 1 0 .3 7 0 .0 4 7 9 1 3 ─ ─ j a m p e la y a n a n y a n g s e s u a i d e n g a n k e b u tu h a n p a s ie n 5 ∆ 3 .7 5 1 .4 1 5 .2 2 0 .0 2 4 1 2 2 √ √ k e s e d ia a n p e tu g a s m e n g u c a p k a n s a la m s e b e lu m d a n s e s u d a h m e la y a n i p a s ie n . 5 ● ○ 3 .7 2 1 .5 1 2 1 1 .2 6 0 .0 5 2 1 3 ─ √ c e p a t ta n g g a p d a la m m e n g a ta s i m a s a la h p a d a k e lu h a n p a s ie n 4 ○ 3 .7 4 1 .4 9 2 1 1 .1 8 0 .0 5 1 7 4 ─ √ k e m a m p u a n m e m b e r ik a n p e la y a n a n d e n g a n c e p a t d a n b e n a r (in o fa tif d a la m k o m u n ik a s i) 4 ○ 3 .7 8 1 .4 9 1 5 .5 9 0 .0 2 5 8 1 8 ─ √ p e tu g a s d a p a t b e k e rja s a m a d e n g a n p a s ie n 4 ∆ 3 .7 5 1 .3 7 1 5 .1 4 0 .0 2 3 8 2 4 √ √ k e s e d ia a n p e tu g a s d a la m m e m b a n tu p a s ie n m e n a n g g a p i k e lu h a n 4 ● ○ 3 .7 7 1 .4 5 2 1 0 .8 8 0 .0 5 0 3 7 ─ ─ p e tu g a s m e n y e d ia k a n w a k tu n y a u n tu k m e n ja w a b p e rta n y a a n p a s ie n 4 ○ ● 3 .7 8 1 .4 3 1 5 .3 6 0 .0 2 4 8 2 0 √ √ k e m a m p u a n p e la y a n a n p e tu g a s d a p a t d ip e rc a y a 2 □ 3 .7 6 1 .3 4 1 5 .0 5 0 .0 2 3 3 2 7 √ √ k e r a m a h a n p e la y a n a n d a la m m e la y a n i p a s ie n 2 ○ ● 3 .7 5 1 .4 3 2 1 0 .7 8 0 .0 4 9 8 9 ─ √ k o n s is te n s i w a k tu p e la y a n a n (k e te p a ta n w a k tu b u k a d a n tu tu p p u s k e s m a s ) 2 ∆ 3 .7 5 1 .3 9 1 5 .2 4 0 .0 2 4 2 2 1 √ √ p e m e n u h a n p e la y a n a n y a n g d ija n jik a n 2 ○ 3 .7 4 1 .4 5 2 1 0 .9 3 0 .0 5 0 5 6 ─ √ k e a k u ra ta n p e n c a ta ta n a ta u d o k u m e n ta s i k e lu h a n p a s ie n 2 □ 3 .7 9 1 .3 9 2 1 0 .4 8 0 .0 4 8 4 1 1 √ √ k e te r s e d ia a n p e tu g a s ta m b a h a n p a d a s a a t te r ja d i a n tria n y a n g s a n g a t p a n ja n g . 2 ● ○ 3 .8 1 .5 9 2 1 1 .9 9 0 .0 5 5 4 1 ─ ─ k e y a k in a n p a s ie n te rh a d a p k e m a m p u a n p e tu g a s 3 ○ □ 3 .7 7 1 .3 5 1 5 .0 8 0 .0 2 3 5 2 6 √ √ k e y a k in a n p a s ie n p a d a s o lu s i y a n g d ib e rik a n p e tu g a s 3 ○ □ 3 .7 7 1 .3 8 1 5 .1 8 9 0 .0 2 3 9 2 3 √ √ k e a m a n a n a re a p u s k e s m a s 3 □ 3 .8 2 1 .3 5 1 1 0 .3 4 0 .0 4 7 8 1 5 √ √ 3 5 3 0 3 5 3 5 3 6 4 6 1 0 4 5 1 3 9 1 0 2 5 2 1 5 8 3 6 6 3 0 .5 6 % 0 .9 4 % 5 .6 2 % 0 .5 6 % 0 .9 4 % 0 .5 6 % 0 .9 4 % 0 .5 6 % 1 1 .9 9 % 1 .1 2 % 1 9 .4 8 % 0 .9 4 % 2 6 .0 3 % 1 .8 7 % 4 .6 8 % 3 .9 3 % # # # # # # 6 .7 4 % 1 .1 2 % 0 .5 6 % im p ro v e m e n t d ire c tio n r a n k in g tersedianya kotak kritik dan saran untuk keluhan pasien g o a l im p r o v e m e n t r a t io s a l e s p o in t r a w w e ig h t n o r m a l iz e d r a w w e ig h t sesuai dengan budaya kerja perbaikan pada area tempat parkir diterapkannya 4s (senyum, sapa, salam, santun) mulai menyediakan mesin antrian disediakan tempat sampah di setiap sudut menyediakan dokter spesialis melengkapi perlengkapan puskesmas lainnya disediakannya petunjuk arah custom er requirem ents (w hats) berpenampilan rapi, bersih dan sopan adanya penjagaan pada area tempat parkir melakukan pembersihan setiap hari menambah peralatan medis c o m p e t it o r puskesmas gayungan puskesmas dukuh kupang importance adanya petugas yang standby disediakannya pendaftaran online dibentuknya database pasien buka sesuai dengan peraturan dinas kesehatan sesuai dengan standar pelayanan dinas kesehatan disediakannya petugas keamanan (satpam) tingkat kepentingan relatif tingkat kepentingan absolut petugas yang bekerja adalah para professional dibidangnya zxcvbn technical requirem ents (how s) puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 123 2. gambar house of quality pembuatan matriks qfd (house of quality) identifikasi suara pelanggan atribut-atribut kualitas pelayanan yang telah dikelompokkan dengan menggunakan analisis faktor dijadikan masukkan utama dalam analisis qfd sebagai suara pelanggan dalam perencanaan kualitas pelayanan laboratorium matematika. atribut-atribut yang menjadi suara pelanggan tersebut dapat dilihat pada tabel customer requirement (whats). pembentukan matriks perencanaan (planning matrix) dan matriks perencanaan (planning matrix) merupakan analisis terhadap voice of customer yang meliputi tingkat kepentingan mahasiswa, performansi pelayanan, goal dan improvement difference, sales point, row weight, dan normalized row weight. kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 1. dari hasil penelitian dengan menggunakan service quality dan quality function deployment dapat diketahui bahwa pelayanan puskesmas x surabaya yang selama ini dilakukan masih belum memuaskan pelanggan. walaupun terdapat beberapa atribut yang sudah dirasakan kepuasannya tetapi masih banyak atribut pelayanan yang belum sesuai dengan harapan pelanggan. hal ini dapat dilihat dari nilai antara tingkat kepuasan pelanggan dengan harapan pelanggan yang terdapat 27 atribut pelayanan. 2. atribut-atribut pelayanan yang sangat membutuhkan perhatian dari pihak puskesmas untuk segera diperbaiki menurut sales point, tingkat kepentingan, dan nilai raw weightnya antara lain: ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean yang sangat panjang, kenyamanan meja registrasi, kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani pasien, cepat tanggap dalam mengatasi masalah pada keluhan pasien, dan peralatan (sarana dan prasarana) puskesmas sangat lengkap. untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan berdasarkan atribut-atribut pelayanan yang sangat dibutuhkan oleh pelanggan, maka tindakan atau respons teknis yang dapat dilakukan antara lain: disediakannya petugas tambahan ketika terjadi antrean yang sangat panjang, petugas lebih ramah lagi dalam melakukan pelayanan terutama petugas bagian resepsionis, dan penerangan di ruang tunggu. peningkatan kualitas pelayanan di puskesmas x surabaya yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pelanggan yaitu pelayanan dengan mengutamakan peningkatan kualitas pelayanan atribut-atribut yang sangat dibutuhkan oleh para pelanggan tersebut. saran dari kesimpulan yang telah diambil, maka penulis memberikan saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi puskesmas x surabaya untuk lebih meningkatkan kualitas jasa pelayanannya. saran-saran tersebut adalah sebagai berikut. 1. dari hasil analisis nilai kesenjangan (gap) bahwa atribut ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean memiliki nilai gap terbesar yaitu -1.41, setelah itu atribut kelengkapan fasilitas pendukung ruang tunggu (tempat sampah, mesin antrean, tempat brosur, kotak saran, dll.) yang memiliki nilai gap -1.27, dan kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 124 pasien yang memiliki nilai gap -1.26. hal ini berarti pihak puskesmas harus menyediakan petugas tambahan ketika terjadi antrean yang sangat panjang. selain itu, fasilitas pendukung ruang tunggu, pasien merasa penerangan di ruang tunggu kurang sehingga untuk penerangan di ruang tunggu bisa ditambah lagi dan petugas harus lebih ramah lagi dan mampu menerapkan 4s (senyum, sapa, salam, dan santun). oleh karena menurut pasien petugas jarang mengucapkan salam ketika melayani pasien. 2. dari hasil analisis house of quality diketahui bahwa atribut ketersediaan petugas tambahan pada saat terjadi antrean yang sangat panjang, kenyamanan meja registrasi, kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani pasien, merupakan atribut yang menempati posisi tiga teratas yang sering dikeluhkan pasien. sedangkan urutan selanjutnya yaitu cepat tanggap dalam mengatasi masalah pada keluhan pasien, peralatan (sarana dan prasarana) puskesmas sangat lengkap, pemenuhan pelayanan yang dijanjikan, kesediaan karyawan dalam membantu pasien menanggapi keluhan, petugas peduli akan keinginan pasien, keramahan pelayanan dalam melayani pasien, memiliki peringkat tertinggi sehingga pihak puskesmas harus bersedia menambah petugas tambahan ketika antrean panjang, meja registrasi lebih dimaksimalkan lagi dan kesediaan petugas mengucapkan salam sebelum dan sesudah melayani pasien sesuai dengan prosedur pelayanan yaitu 4s (senyum, sapa, salam, dan santun). daftar rujukan akao, y. 2000. an introduction to quality function deployment. in: yoji akao (ed.). quality function deployment: integrating customer requirement into product design, 1–24. new york: productivity press. andik sanjaya. 2009. perencanaan peningkatan kualitas layanan rawat inap menggunakan integrasi metode servqual dan qfd. arif isfandri ersam dan h. hari supriyanto. 2012. integrasi servqual dan qfd untuk meningkatkan kualitas layanan gelanggang olahraga. aritonang, r. 2005. kepuasan pelanggan: pengukuran dan penganalisisan dengan spss. jakarta: penerbit pt gramedia. cohen, l. 2005. quality function deployment: how to make qfd work for you. massachusetts: addison wesley publishing. dwi septa nirwanasari, moses laksono singgih, putu dana karningsih. 2013. integrasi metode servqual, qfd, dan topsis untuk peningkatan kualitas layanan. eriyanto. 2007. teknik sampling analisis opini publik. yogyakarta: lkis. gaspersz, vincent. 2005. total quality management. jakarta: gramedia pustaka utama. gazperz, vincent. 2013. 150 key performance indicators and balanced scorecard, malcolm baldrige, lean six sigma supply chain management. jakarta: gramedia pustaka utama. hartono, markus. 2012. kerangka konseptual integrasi servqual, model kano dan kansei engineering dengan qfd pada industri jasa. irawan, handi. 2002. 10 prinsip kepuasan pelanggan. jakarta: penerbit elex media komputindo. kotler, philiph. 2002. marketing management, millennium edition, copyright 2002 by prentice-hall, inc. new jersey: a pearson education company upper saddle river. puspandam katias, fuji rahayu, analisis service quality di puskesmas x surabay dengan quality function deployment 125 mehrjerdi, y.z. 2010. quality function deployment and its extensions. international journal of quality & reliability management, 27 (6): 616–640. musyarofah. 2009. perancangan model pengukuran kualitas jasa pelayanan teknis (jpt) berbasis servqual dan qfd. parasuraman a., zeithmanl, valarie, & berry, leonard l. 1988. servqual: a multipleitem scale for measuring consumer perceptions of service quality. journal of retailing, vol. 64, no. 1 spring. silistiyowati. 2006. perancangan sistem terintegrasi servqual, laene & six sigma untuk mengembangkan metode peningkatan kualitas layanan (studi kasus: pt pln distribusi jawa timur, apj surabaya selatan, upj ngagel). sonya marliana, rini dharmasiti. 2008. integrasi servqual dan qfd untuk meningkatkan kualitas layanan angkutan massa trans jogja. sudikan. 2010. studi tentang kualitas pelayanan pada pt pln (persero) upj semarang barat. sugiyono. 2008. metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan r & d. bandung: alfabeta. tjiptono, fandy dan anastasia diana. 2003. total quality management. yogyakarta: andi tjiptono, fandy dan chandra, gregorius. 2005. service, quality, & satisfaction. yogyakarta: andi. tjiptono, fandy. 2000. manajemen jasa. yogyakarta: andi. tony bimantoro, puspandam katias. 2017. analisis pengaruh elemen-elemen keberhasilan total quality management terhadap keterlibatan kerja untuk meningkatkan keberhasilan penerapan tqm pada cv mitra jaya collection. surabaya: airlangga. umar, husein. 2004. metode penelitian untuk skripsi & thesis bisnis, cetakan 6, jakarta: pt raja grafindo persada. wiyogo surahman, rudy soenoko, dan nasir widha setyanto. 2013. integrasi servqual dan quality function deployment untuk pengukuran kualitas layanan. business and finance journal, volume 3, no. 2, october 2018 126