01 Tri Siwi.pmd Rahmat Setiawan & Moh Maulidi Syarif, Kepemilikan Institusional, Kinerja Perusahaan, dan Efek Moderasi dari Kepemilikan Institusional Aktif 4141 Kepemilikan Institusional, Kinerja Perusahaan, dan Efek Moderasi dari Kepemilikan Institusional Aktif Rahmat Setiawan & Moh Maulidi Syarif Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga e-mail: rahmatsetiawan@feb.unair.ac.id moh.maulidi.syarif-2016@feb.unair.ac.id Abstract: This research investigate impact of institutional ownership on firm performance, and moderating effect of active institutional ownership. Using purposive sampling and the period of 2012-2016, we obtained 436 observations of 99 manufacturing firms for dependent variable mea- sured by ROA, and 415 observations of 95 manufacturing firms for dependent variable measured by Tobin’s Q. We found that institutional ownership had significant positive effect on firm perfor- mance. Active institutional ownership as a moderating variable, strengthens the positive effect of institutional ownership on firm performance. Keywords: institutional ownership, firm performance, active institutional investor A. PENDAHULUAN Pola kepemilikan saham perusahaan di ne- gara maju dan berkembang memiliki kesamaan, kepemilikan saham oleh individu saat ini banyak dikelola oleh investor institusi seperti reksa dana (Cornett et al., 2007). Menurut Pirzada et al. (2015) kepemilikan institusional adalah per- sentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh investor institusi seperti, reksa dana, perusahaan sekuritas, asuransi, dana pensiun, institusi keu- angan dan lainnya. Tren ini menimbulkan perta- nyaan menarik: apakah kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (Lin dan Fu, 2017). Terdapat tiga kemungkinan peran dari in- vestor institusi; active monitoring, passive moni- toring, dan bekerja sama dengan manajemen untuk melakukan eksploitasi pada pemegang saham minoritas. Pada skenario pertama, peng- awasan oleh investor institusi cenderung akan meningkatkan kinerja perusahaan karena sebagai pemegang saham besar dan andal, investor insti- tusi memiliki insentif dan keahlian untuk meng- awasi manajemen, mereka dapat melakukan hal tersebut dengan biaya yang lebih murah daripada investor individu, dan mampu untuk memberikan pengaruhnya terhadap struktur governance dan tindakan perusahaan. Skenario “passive moni- toring” menyatakan bahwa investor institusional hanya bertindak sebagai pengawas pasif dan tidak mengintervensi manajemen, melakukan per- dagangan saham untuk mendapatkan keuntungan spekulatif jangka pendek yang didasarkan pada keunggulan informasi yang dimiliki atau untuk memenuhi kebutuhan portofolionya (Elyasiani dan Jia, 2010). Berdasarkan skenario ketiga, investor institusi bekerja sama dengan manajemen untuk melakukan ekspropriasi pada pemegang saham minoritas. Dari ketiga skenario ini, salah satu mungkin mendominasi mengenai peran in- vestor institusional (Elsiyani dan Jia, 2010). Penelitian terdahulu mengenai dampak ke- pemilikan institusional dan kinerja perusahaan memiliki hasil yang berbeda. Wei dan Zhang (2005) pada penelitiannya menyatakan bahwa kepemilikan institusional berdampak negatif pada kinerja perusahaan (Tobin’s Q). Fernando et al Business and Finance Journal, Volume 4, No. 1, March 2019 42 (2012 pada penelitian yang dilakukan menyata- kan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif pada harga saham perusahaan. Agrawal dan Knober (1996) menunjukkan dalam peneli- tiannya bahwa kepemilikan institusional tidak berdampak signifikan pada kinerja perusahaan. Kepemilikan saham oleh institusi dapat di- miliki oleh perusahaan, reksa dana, perusahaan sekuritas, asuransi, dana pensiun, institusi keu- angan, dan yayasan. Tipe kepemilikan institu- sional yang berbeda mungkin memiliki dampak yang berbeda pada kinerja perusahaan. Peneli- tian-penelitian sebelumnya mengategorikan in- vestor institusi berdasarkan ada tidaknya hu- bungan bisnis (aktif dan pasif), asal negara (do- mestik dan asing), dan besar kecilnya kepemi- likan saham (Lin dan Fu, 2017). Penelitian sebelumnya mengenai dampak perbedaan tipe kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan dijelaskan oleh Ferreira dan Matos (2008) yang melakukan penelitian dalam skala internasional pada 27 negara selama perio- de 2000–2005 dan menyatakan bahwa kepemi- likan institusional asing dan independen (aktif) meningkatkan Tobin’s Q dan kinerja operasi (ROA dan net profit margin), sedangkan koefi- sien dari kepemilikan institusi pasif dan domestik tidak signifikan. Elsyani dan Jia (2010) meng- investigasi perusahaan Amerika Serikat selama 1992–2004 dan menjelaskan bahwa stabilitas kepemilikan institusi berpengaruh positif pada kinerja perusahaan. Dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa investor institusional aktif dan investor yang memiliki 5% atau lebih saham memiliki pengaruh positif yang lebih besar ter- hadap kinerja perusahaan daripada investor insti- tusional pasif dan investor dengan kepemilikan saham kurang dari 5%. Lin dan Fu (2017) melakukan penelitian pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan pada perusahaan publik China dari 2004–2014. Hasil ini menunjukkan bahwa kepe- milikan oleh investor institusional berdampak positif pada kinerja perusahaan. Hal ini meng- indikasikan bahwa investor institusi aktif, asing, dan besar memiliki dampak positif yang lebih besar pada kinerja perusahaan daripada inves- tor institusi pasif, domestik, dan kecil. Indonesia merupakan salah satu, di mana kepemilikan saham dari perusahaan didominasi oleh kepemilikan institusional. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kepemilikan institu- sional memiliki kepemilikan 73,14% dari jumlah saham yang beredar pada Maret 2015. Kepemi- likan oleh investor institusional ini dimiliki oleh berbagai jenis investor institusional seperti reksa dana, perusahaan investasi, asuransi, broker, yayasan, dan lainnya. Seperti yang sudah dijelas- kan sebelumnya, tipe kepemilikan institusional yang berbeda mungkin memiliki dampak yang berbeda pada kinerja perusahaan. Penelitian- penelitian sebelumnya sebagian besar dilakukan pada negara-negara maju, sedangkan penelitian mengenai investor institusional pada kinerja per- usahaan belum banyak dilakukan pada negara berkembang seperti Indonesia. Peran kepemilikan institusional di Indonesia masih belum jelas. Tujuan dari penelitian ini untuk menginvestigasi pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan dan untuk menguji efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif. B. KAJIAN PUSTAKA DAN PENGUJIAN HIPOTESIS 1. Kepemilikan Institusional dengan Kinerja Perusahaan Terdapat tiga pandangan mengenai pengaruh kepemilikan institusional pada kinerja perusa- haan. Mengacu pada pandangan active monitor- ing, investor institusional secara aktif mengawasi Rahmat Setiawan & Moh Maulidi Syarif, Kepemilikan Institusional, Kinerja Perusahaan, dan Efek Moderasi dari Kepemilikan Institusional Aktif 43 Investor institusi lebih profesional daripada investor individu. Oleh karena itu, mereka lebih mampu untuk membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan membagikan professional knowledge, kemampuan manajerial, dan mem- berikan akses pendanaan pada perusahaan. Hipo- tesis penelitian ini mengenai pengaruh kepemi- likan institusional terhadap kinerja perusahaan adalah sebagai berikut. Hipotesis 1: Terdapat pengaruh positif kepemi- likan institusional terhadap kinerja perusahaan. 2. Efek Moderasi Kepemilikan Institusional Aktif pada Kinerja Perusahaan Penelitian terdahulu seperti, Lin dan Fu (2017), secara umum mengategorikan investor institusi berdasarkan ada tidaknya hubungan bisnis, negara asal dan besar kecilnya kepemi- likan saham. Hasil penelitian mereka mengindi- kasikan bahwa tipe kepemilikan institusi yang berbeda memiliki dampak yang berbeda pada kinerja perusahaan. Kepemilikan saham oleh investor institusi aktif diharapkan berhubungan positif dengan kinerja perusahaan karena mereka cenderung tidak memiliki hubungan bisnis dan konflik ke- pentingan dengan perusahaan tempat berinves- tasi, dan cenderung untuk lebih aktif mengawasi perusahaan dan menekan manajer untuk memak- simalkan nilai perusahaan. Investor institusi aktif (reksa dana) memiliki kewajiban untuk membe- rikan return yang baik bagi para nasabahnya, karena management fees bergantung pada kinerja investasi dan besarnya dana yang dikelola. Oleh karena itu, kepemilikan institusi aktif harusnya memiliki insentif kuat untuk mengawasi kinerja portfolio perusahaan dan mengambil tindakan untuk menghindari penurunan nilai investasi yang dilakukan. Sebaliknya, kepemilikan institu- kegiatan operasional perusahaan, meminimalisasi adanya ketidakseimbangan (asimetri) informasi dan mengurangi masalah keagenan, serta mening- katkan kinerja perusahaan dengan dua cara (Lin dan Fu, 2017). Yang pertama, investor institusi menerapkan kemampuan manajerial yang bagus, professional knowledge, dan hak voting untuk memengaruhi manajemen guna meningkatkan efisiensi perusahaan dan corporate governance sebagai tambahan untuk membantu perusahaan membuat keputusan bisnis. Selain itu, ketika perusahaan akan melakukan ekspansi dan mem- butuhkan dana, investor institusional dapat mem- berikan akses dengan menggunakan koneksinya guna membantu perusahaan dalam mencari pen- danaan. Yuan et al. (2008) mendukung pandang- an ini, menggunakan sampel dari perusahaan publik China periode 2001–2005, kepemilikan ekuitas oleh reksa dana berpengaruh positif pada kinerja perusahaan. Pandangan passive monitoring menyatakan bahwa investor institusi merupakan short term traders yang tertarik untuk mendapatkan keun- tungan jangka pendek berdasarkan keunggulan informasi yang dimiliki untuk memenuhi kebu- tuhan portofolio (Elysiani dan Jia, 2010) daripada mengawasi untuk meningkatkan corporate govern- ance dan kinerja perusahaan. Berdasarkan pan- dangan exploitation, institutional investor mung- kin akan bekerja sama dengan manajemen untuk mengeksploitasi pemegang saham minoritas dan menurunkan kinerja perusahaan. Wei dan Zhang (2005) mendukung pandangan ini, hasil penelitian mereka menyatakan bahwa kepemilikan institu- sional berpengaruh negatif terhadap Tobin’s Q. ketiga pandangan tersebut tidak mutually exclu- sive melainkan mungkin salah satu memainkan peran dominan dalam menjelaskan hubungan an- tara kinerja perusahaan dan kepemilikan institu- sional (Elyasiani dan Jia, 2010). Business and Finance Journal, Volume 4, No. 1, March 2019 44 Tobin’s Q = + b. Variabel Independen Variabel independen yang digunakan adalah kepemilikan institusional. Kepemilikan institu- sional merupakan persentase jumlah saham ber- edar yang dimiliki oleh investor institusional pada akhir tahun (Pirzada, 2015). c. Variabel Moderasi Kepemilikan institusional dapat dibagi ber- dasarkan ada tidaknya hubungan bisnis, negara asal, dan besar kecilnya kepemilikan saham. Mengacu pada, Cornett et al. (2007), Ferreira dan Matos (2008), serta Lin dan Fu (2017), investor institusi diklasifikasikan apakah mereka aktif atau pasif. Kepemilikan institusional aktif adalah persentase total jumlah saham yang ber- edar yang dimiliki oleh reksa dana, perusahaan investasi, dan investment advisory firm. Sedang- kan kepemilikan institusional pasif, merupakan persentase total jumlah saham beredar yang dimiliki perusahaan asuransi, dana jaminan sosial, broker, bank, dan lainnya. Pada penelitian ini, kita menggunakan variabel dummy untuk mengukur apakah kepemilikan institusional ter- sebut termasuk aktif atau pasif. Satu, jika perusa- haan setidaknya dimiliki oleh reksa dana, perusa- haan investasi dan investment advisory firm dengan minimal kepemilikan sebesar 5% dan nol jika sebaliknya. d. Variabel Kontrol Variabel kontrol pada penelitian ini meng- ikuti penelitian Lin dan Fu (2017), yaitu ukuran perusahaan (SIZE) dan leverage (LEV). SIZE sional pasif mungkin akan melakukan tindakan guna melindungi hubungan bisnis dengan perusahaan tempat berinvestasi dan bertindak sebagai pasif investor (Cornett et al., 2007; Ferreira dan Matos, 2008). Hipotesis 2: Kepemilikan institusi aktif memper- kuat pengaruh positif kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan. B. METODOLOGI DAN DATA 1. Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012–2016, setiap perusahaan harus menerbitkan laporan keuangan dalam bentuk Rupiah. Sampel akhir dari penelitian ini sebesar 436 observasi dari 99 perusahaan manufaktur untuk variabel kinerja perusahaan yang diukur menggunakan ROA, dan 415 observasi dari 95 perusahaan manufak- tur untuk variabel dependen Tobin’s Q. Perbe- daan observasi pada kedua pengukuran variabel dependen dikarenakan adanya perbedaan data outliers. 2. Variabel a. Variabel Dependen Variabel dependen pada yang digunakan adalah kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan diproksikan dengan ROA dan Tobin’s Q. ROA mewakili kinerja akuntansi dan fokus pada profitabilitas periode tertentu, sedangkan To- bin’s Q mewakili kinerja pasar dan mencermin- kan harapan masa depan. ROA adalah rasio dari laba bersih dibagi terhadap total aset (Lin dan Fu, 2017). Sedangkan Tobin’s Q dihitung sebagai berikut: Rahmat Setiawan & Moh Maulidi Syarif, Kepemilikan Institusional, Kinerja Perusahaan, dan Efek Moderasi dari Kepemilikan Institusional Aktif 45 diukur dengan logaritma dari total aset, yang mungkin berpengaruh negatif pada kinerja perusahaan karena perusahaan besar memiliki masalah birokrasi (Xu dan Wang, 1999) dan agency cost yang lebih besar (Sun dan Tong, 2003) serta cenderung lambat dalam merespons perubahan kondisi pasar. Akan tetapi, perusa- haan besar mungkin juga akan mendapatkan keuntungan dari skala ekonomi, yang mana dapat meningkatkan kinerja. Sedangkan leverage (LEV) diukur sebagai rasio dari total kewajiban terha- dap total aset perusahaan. 3. Model Penelitian Untuk menguji pengaruh kepemilikan insti- tusional pada kinerja perusahaan dan efek mo- derasi dari kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan, penelitian ini menggunakan ordi- nary least square (OLS). Model penelitiannya adalah sebagai berikut: a. Model 1 Performance i,t = α + β 1 INST it + β 2 Size it + β 3 Leverage it + ε it b. Model 2 Performance i,t = α+β 1 INST it +β 2 DActive it + β 3 IO*DActive it +β 4 Size it + β 5 Leverage it + ε i,t Di mana: Performance = diukur menggunakan ROA dan Tobin’s Q IO = kepemilikan institusional Dactive = dummy variabel, 1 jika kepemi- likan institusional aktif dan nol jika sebaliknya Size = ukuran perusahaan mengguna- kan logaritma dari total aset Leverage = rasio total utang terhadap total aset å = error D. HASIL PENELITIAN 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif variabel-variabel peneli- tian ini ditunjukkan pada Tabel 1 dan Tabel 2 Tabel 1 Statistik Deskriptif untuk Variabel Dependen ROA N Min Max Mean Std. Dev ROA 436 -0,55 0,42 0,0506 0,09381 INST 436 0,14 0,97 0,7334 0,18628 Active 436 0,00 1,00 0,0573 0,23276 INSTxActive 436 0,00 0,97 0,0395 0,16447 Size 436 0,04 14,42 11,9220 1,82478 Leverage 436 0,20 0,82 0,4989 0,37382 Valid N (listwise) 436 Berdasarkan pada tabel 1, selama periode 2012–2016, nilai mean ROA untuk perusahaan manufaktur di Indonesia (0,0593). Nilai maksi- mum ROA adalah (0,42) dan nilai minimumnya sebesar (-0,55). Sedangkan nilai mean kepemi- likan institusional (INST) adalah (0,7334) atau 73,34% dari jumlah saham yang beredar dengan nilai maksimal (0,97) dan nilai minimal (0,14) hal ini mengindikasikan perusahaan manufaktur di Indonesia didominasi oleh investor institusi. Tabel 2 Statistik Deskriptif untuk Variabel Dependen Tobin’s Q N Min Max Mean Std. Dev TobinsQ 416 0,14 12,70 1,5781 1,39059 INST 416 0,14 0,97 0,7237 0,18782 Active 416 0,00 1,00 0,0433 0,20371 INSTxActive 416 0,00 0,97 0,0279 0,13519 Size 416 0,04 14,42 11,8927 1,93683 Leverage 416 0,20 0,82 0,4809 0,31054 Valid N (listwise) 416 Berdasarkan Tabel 2, selama periode 2012– 2016, nilai mean dari Tobin’s Q untuk perusa- haan manufaktur Indonesia adalah (2, 0782). Nilai maksimal dan minimal dari Tobin’s Q adalah (12,70) dan (0,14). Sedangkan nilai kepemilikan institusional (INST) adalah (0,7237) atau 72,37%, nilai maksimum adalah (0,98) dan nilai minimum adalah (0,14). Business and Finance Journal, Volume 4, No. 1, March 2019 46 Tabel 3 Korelasi Variabel puan manajerial dan jaringan pendanaan mereka pada perusahaan daripada investor individu (Lin dan Fu, 2017). Ukuran perusahaan dan leverage sebagai variabel kontrol, berpengaruh signifikan terhadap ROA dan Tobin’s Q. Ukuran perusa- haan (SIZE) berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, mengindikasikan bahwa perusahaan besar mungkin akan mendapatkan keuntungan melalui skala ekonomi, yang mana dapat mening- katkan kinerja perusahaan (Lin dan Fu, 2017). Leverage berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan, hal ini mengindikasikan bahwa se- makin besar beban bunga utang akan mengurangi pendapatan perusahaan. Ukuran perusahaan (SIZE) dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap Tobin’s Q. Table 4 Hasil Regresi INST Active INSTxActive Size Leverage INST Active INSTxActive Size Leverage 1 -0.053 -0.008 -0.010 0.044 1 0.975** 0.041 0.077 1 0.043 0.117* 1 0.025 1 Tabel 3 menjelaskan koefisien Pearson cor- relations antar-variabel independen dan moderasi. Dapat dilihat bahwa INSTxActive memiliki kore- lasi positif signifikan dengan kepemilikan institu- sional aktif, leverage memiliki korelasi positif signifikan dengan INSTxActive. Sedangkan kore- lasi antar-variabel lainnya cenderung rendah. 2. Hubungan antara Kepemilikan Institusional dan Kinerja Perusahaan Berdasarkan Tabel 4 kepemilikan institu- sional (INST) berpengaruh positif signifikan pada kinerja perusahaan (ROA dan Tobin’s Q), yang berarti hipotesis 1 diterima. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi ROA dan Tobin’s Q yang bernilai positif yaitu 0,069 dan 1.241, dengan tingkat signifikansi 0,034 < 0,05 dan 0,001 < 0,05. Hal ini berarti perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi akan me- ningkatkan kinerja operasi (ROA) dan kinerja pasar perusahaan (Tobin’s Q). Perusahaan de- ngan kinerja akuntansi yang baik akan menda- patkan keuntungan besar yang akan meningkat- kan nilai perusahaan. Hal ini merupakan sinyal positif yang ditandai dengan meningkatnya per- mintaan dan harga saham perusahaan. Investor institusi lebih profesional dari investor individu, investor institusi secara aktif mengawasi bisnis perusahaan, meminimalisasi simetri informasi dan masalah keagenan. Oleh karena itu, inves- tor institusi lebih mampu dalam meningkatkan kinerja perusahaan dengan menerapkan kemam- Variabel ROA Tobin’s Q Model 1 Model 2 Model 1 Model 2 INST Active INSTxActive Size Leverage 0,069* (0,034) - - 0,006* (0,023) -0,110* (0,000) 0.059* (0.007) -0.182* (0.023) 0.006* (0.011) -0.115* 0.000 1.241* (0,001) - - 0,052 (0,127) -0,316 (0,145) 1.093* (0,003) -3,212* (0,034) 0,053 (0,129) -0,463* 0,044 Observations R R Square 436 0,463 0,214 436 0,473 0,224 416 0,194 0,037 416 0,220 0,048 3. Efek Moderasi Kepemilikan Institusional Aktif (INSTxActive) pada Kinerja Perusahaan Berdasarkan Tabel 3 hasil interaksi dari INSTxActive berpengaruh signifikan pada kinerja perusahaan (ROA dan Tobin’s Q), yang berarti hipotesis kedua (H2) diterima. Hal ini dibukti- kan, nilai positif koefisien regresi dari ROA dan Tobin’s Q yang masing-masing 0,054 dan 0,545 dengan tingkat signifikansi 0,025 < 0,05 dan Rahmat Setiawan & Moh Maulidi Syarif, Kepemilikan Institusional, Kinerja Perusahaan, dan Efek Moderasi dari Kepemilikan Institusional Aktif 47 institusi cenderung akan meningkatkan kinerja perusahaan, karena sebagai investor besar dan andal, investor institusi memiliki insentif dan keahlian untuk mengawasi manajemen, dan dapat melakukannya dengan biaya yang lebih murah daripada investor individu serta mampu untuk memberikan pengaruh pada struktur governance dan tindakan perusahaan. Sampel yang digunakan penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan manufaktur di Indo- nesia yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Masih banyak industri lain di Indonesia yang masih bisa digali mengenai dampak kepe- milikan institusional terhadap kinerja perusa- haan. Hasil penelitian ini juga di harapkan untuk menjadi referensi bagi para pemangku kepen- tingan dalam membuat keputusan. F. DAFTAR RUJUKAN Agrawal, A. dan Knoeber, C.R. 1996. Firm Performance and Mechanisms to Control Agency Problems between Managers and Shareholders. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 31, 377–397. Brickley, J., Lease, R., dan Smith, C. 1988. Ownership Structure and Voting on Antita- keover Amendments. Journal of Financial Economics, 20, 267–292. Chen, Z., Du J., Li, D., dan Ouyang, R. 2013. Does Foreign Institusional Ownership In- crease Return Volatility? Evidence from China. Journal of Banking and Finance, 37, 660–669. Core, John E., R.W. dan D. Flacker. 1999. Corporate Governance, CEO Compensa- tion, and Firm Performance. Journal of Financial Economics, 51, 371–406. Cornett, M.M., Marcus A.J., Saunders, A., dan Tehranian, H. 2007. The Impact of Institu- 0,006 < 0,05. Hasil ini mengonfirmasi bahwa kepemilikan institusional aktif memperkuat pe- ngaruh positif kepemilikan institusional pada kinerja perusahaan. Kepemilikan institusional aktif cenderung tidak memiliki hubungan bisnis dan konflik kepentingan dengan perusahaan dan cenderung untuk lebih aktif mengawasi perusa- haan dan menekan manajemen untuk memaksi- malkan kesejahteraan pemegang saham (Cornett et al., 2007; Ferreira dan Matos, 2008; Lin dan Fu, 2017). Reksa dana, perusahaan investasi, investment advisory firm, memiliki kewajiban untuk memberikan return yang bagus bagi para nasabahnya, karena management fees bergantung pada kinerja investasi dan jumlah dana yang dikelola (Yuan et al., 2008). E. KESIMPULAN Investor institusi sebagai investor besar, andal, dan profesional mampu untuk membantu perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusa- haan dengan menerapkan kemampuan mana- jerial, dan jaringan pendanaan dengan perusa- haan (Lin dan Fu, 2017). Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi memiliki kinerja yang baik, hal ini dibuktikan pada pene- litian ini di mana kepemilikan institusional berpe- ngaruh positif terhadap kinerja perusahaan (ROA dan Tobin’s Q). Penelitian ini juga menguji efek moderasi dari kepemilikan institusional aktif. Kepemilikan institusional aktif merupakan per- sentase total jumlah saham beredar yang dimiliki oleh institusi reksa dana, perusahaan investasi, investment advisory firm. Hasil penelitian me- nyatakan bahwa kepemilikan institusional aktif memperkuat pengaruh positif kepemilikan insti- tusional terhadap kinerja perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung pandangan active monitoring, pengawasan oleh investor Business and Finance Journal, Volume 4, No. 1, March 2019 48 sional Ownership on Corporate Operat- ing Performance. Journal of Banking and Finance, 31, 1771–1794. David, P., dan Kochhar, R. 1996. Barriers to Effective Corporate Ownership, and the Role of Institusional Investor: Implica- tions for Theory and Practice. European Management Journal, 14, 457–466. Gillan, S. dan Starks, L. 2003. Corporate Go- vernance, Corporate Ownership, and the Role of Institusional Investor: a Global Perspective. Journal of Applied Finance, 13, 4–22. Elyasiani, E. dan Jia, J. 2010. Distribution of Institutional Ownership and Corporate Firm Performance. Journal of Banking and Finance, 34, 499–533. Fernando, C.S., Gatchev, V.A., and Spindt, P.A. 2012. Institutional Ownership, Analyst Following, and Share Prices. Journal of Banking and Finance, 36, 2175–2189. Ferreira, M. dan Matos, P. 2008. The Colors of Investors Money: the Role of Institutional Investor around the World. Journal of Financial Economics, 88, 499–533. Li, D., Nguyen, Q.N., Pham, P.K., and Wei, S.X. 2011. Large Foreign Ownership and Firm Level Stock Return Volatility in Emerging Markets. Journal of Financial and Quanti- tative Analysis, 46, 1127–1155. Lin, Y.R. dan Fu, X.M. 2017. Does Institutional Ownership Influence Firm Performance? Evidence from China. International Re- view of Economics and Finance, 49, 17– 57. Mc Connel, J.J. dan Servaes, H. 1990. Addi- tional Evidence on Equity Ownership and Corporate Value. Journal of Financial Eco- nomics, 27, 595–612. Pirzada, K., Mustapha, M.Z.B., and Wickrama- singhe, D. 2015. Firm Performance, Insti- tusional Ownership and Capital Struc- ture: a Case of Malaysia. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 211, 170–176. Shleifer, A. dan Vishny, R.W. 1986. Large Share- holders and Corporate Control. Journal of Political Economy, 94, 461–488. Shleifer, A. and Vishny, R. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of Fi- nance, 52, 737–775. Stiglitz, J. 2000. Capital Market Liberalization, Economic Growth, and Stability. World Development, 28, 1075–1086. Wei, Z., Xie, F., dan Zhang, S. 2005. Owner- ship Structure and Firm Value in China’s Privatized Firms: 1991–2001. Journal of Financial and Quantitative Analysis, 40, 87–108. Xu, X. dan Wang, Y. 1999. Ownership Struc- ture and Corporate Governance in Chi- nese Stock Companies. China Economic Review, 10(1), 75-98. Yuan, R., Xiao, J.Z., & Zou, H. 2008. Mutual Funds’ Ownership and Firm Performance: Evidence from China. Journal of Banking & Finance, 32(8), 1552–1565.