01 Arieszetni.pmd Rizki Prayudi Ramadhan, Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan pada Pembangunan Proyek “SCE” Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process 4747 Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan pada Pembangunan Proyek “SCE” Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process Rizki Prayudi Ramadhan Universitas Airlangga e-mail: rizkiprmdn@gmail.com Abstract: This study aims to identify and find solutions to delay construction work happening on the SCE project. The SCE project is a school building construction project. The background of this study is due to indications of delay with a difference of 25% between the schedule plan and the reality in the ground. The factors that cause the delay must be well identified so that a larger delay can be avoided and can provide solutions to these problems. From the results of Fishbone analysis and AHP, 11 factors were found to influence the delay in SCE project. Keywords: operational management, project, delay PENDAHULUAN Perkembangan pembangunan yang semakin meningkat melahirkan pesatnya perkembangan perusahaan jasa yang bergerak di bidang kon- struksi. Pada kenyataannya pelaksanaan proyek konstruksi selalu mengalami kendala yang meng- akibatkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan, sehingga waktu penyelesaian pekerjaan tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan pada do- kumen kontrak pekerjaan. Konstruksi merupakan bisnis yang berisiko dan risiko keuangan yang harus dihadapi sangat tinggi. Salah satu risiko terbesar adalah proyek yang dijalankan tidak selesai tepat waktu. Setiap proyek konstruksi pada umumnya mempunyai rencana pelaksanaan dan jadwal pelaksanaan tertentu, kapan pelaksanaan proyek tersebut harus dimulai, kapan harus diselesaikan, bagai- mana proyek tersebut akan dikerjakan, serta bagaimana penyediaan sumber dayanya. Pem- buatan rencana suatu proyek konstruksi selalu mengacu pada perkiraan yang ada pada saat rencana pembangunan tersebut dibuat, karena itu masalah dapat timbul apabila ada ketidakse- suaian antara rencana yang telah dibuat dengan pelaksanaannya sehingga sering terjadi keterlam- batan waktu pelaksanaan proyek yang dapat juga disertai dengan meningkatnya biaya pelak- sanaan proyek tersebut. Menurut Andi et al., (2003), secara umum faktor- faktor yang potensial untuk memengaruhi waktu pelaksanaan konstruksi terdiri dari tujuh kategori, yaitu tenaga kerja, bahan (material), peralatan (equipment), karakteristik tempat (site characteristics), manajerial (managerial), keuang- an (financial), faktor-faktor lainnya antara lain intensitas curah hujan, kondisi ekonomi, dan kece- lakaan kerja. Sedangkan menurut Proboyo (1999), secara umum keterlambatan proyek sering terjadi karena adanya perubahan perencanaan selama proses pelaksanaan, manajerial yang buruk dalam organisasi kontraktor, rencana kerja yang tidak tersusun dengan baik/terpadu, gambar dan spesifi- kasi yang tidak lengkap, ataupun kegagalan kon- traktor dalam melaksanakan pekerjaan. Proyek SCE merupakan proyek yang berlo- kasi di daerah Surabaya Barat. Desain rencana bangunan ini memiliki 8 Lantai yang terdiri dari 1 lantai semi basement dan 7 lantai ke atas. Proyek SCE nantinya akan digunakan sebagai sekolah dan beberapa fasilitas penunjang lainnya Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 48 seperti asrama serta memiliki kolam renang. Jadwal rencana awal untuk pelaksanaan peker- jaan struktur dari proyek ini dimulai pada bulan Januari tahun 2018 dan target penyelesaiannya adalah Mei 2019. Proyek ini dibagi menjadi dua tahapan, yaitu tahap awal berupa pekerjaan struktur dan kemudian dilanjutkan dengan peker- jaan arsitektural. Dua tahap tersebut dikerjakan oleh dua kontraktor utama yang berbeda. Pelaksanaan dalam proyek di lapangan me- miliki struktur organisasi tersendiri agar kegiatan pembangunan dapat berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Pihak-pihak terkait yang ber- peran dalam proyek ini antara lain adalah pemilik bangunan yang merupakan sebuah yayasan, kon- sultan manajemen konstruksi (pengawas), kon- sultan perencana, kontraktor untuk pekerjaan struktur, dan terakhir adalah kontraktor untuk pekerjaan arsitektural. Jumlah participant yang terlibat dalam pembangunan SCE yaitu sebanyak 440 orang. Kondisi saat ini proyek mengalami keterlam- batan progress kurang lebih sebesar 25% seperti yang terlihat pada Gambar 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengiden- tifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan proyek SCE serta memberikan rekomendasi so- lusi untuk menyelesaikan masalah yang menye- babkan terlambatnya pembangunan Proyek SCE. KERANGKA BERPIKIR Kerangka berpikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Proyek Jadwal/Target Sesuai dengan jadwal yang direncanakan KEY SUCCESS FACTOR Terlambat dari jadwal yang direncanakan Faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan SOLUSI Gambar 1 Gambar 2 Rizki Prayudi Ramadhan, Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan pada Pembangunan Proyek “SCE” Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process 49 METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dilakukan dalam 10 tahapan yang terdiri dari identifikasi masalah dan tujuan penelitian, studi literatur, pengum- pulan data melalui survei awal, penentuan va- riabel penelitian, penentuan desain kuesioner, survei terhadap partisipan proyek (owner dan kontraktor), penyaringan dan pengelompokan ulang variabel, analisis data, pembahasan hasil dan kesimpulan. Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis. Yang pertama adalah data primer yang digunakan dalam penelitian ini berupa jadwal rencana awal maupun jadwal reschedule serta progress yang sedang berlang- sung. Selain itu peneliti juga melakukan survei dan observasi di lapangan dengan pihak kontrak- tor maupun konsultan manajemen proyek untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh ter- hadap keterlambatan proyek tersebut. Dan yang kedua adalah data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari penelitian dan jurnal yang sudah ada untuk mencari faktor- faktor penyebab keterlambatan proyek. Kuesioner survei didesain berdasarkan fak- tor-faktor yang teridentifikasi dari studi literatur dengan melibatkan pihak-pihak profesional se- hingga didapatkan penyebab sementara tertunda- nya penyelesaian proyek. Data hasil survei akan dianalisis menggunakan software berbasis AHP. Dalam penelitian ini, AHP dilakukan untuk me- ranking faktor-faktor yang menyebabkan keter- lambatan proyek SCE berdasarkan bobot yang sudah dihasilkan. Diagram faktor penyebab keterlambatan Proyek SCE yang didapatkan dari hasil FGD dapat dilihat pada Gambar 3. Dalam teknik bertanya lima mengapa (5 whys) hasil yang diperoleh adalah saling berhu- bungan dan keterkaitan antara satu dengan yang lain, misalkan kita asumsikan faktor manusia, maka jika diurutkan satu persatu dengan bebe- rapa pertanyaan akan bersinergi dengan faktor lain seperti faktor metode, media, machine, dan lain sebagainya. Dengan melakukan analisis dan diagnosis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan faktor keterlambatan Proyek SCE, maka dari hasil analisis dan diskusi dengan metode 5 whys dapat dipetakan hasil identifikasi masalah ke dalam diagram fishbone seperti pada Gambar 4. Gambar 3 Diagram Faktor Penyebab Keterlambatan Proyek Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 50 HASIL Pada pengolahan data dilakukan pengujian konsistensi penilaian. Suatu penilaian perban- dingan berpasangan dikatakan konsisten apabila consistency ratio tidak lebih dari 0,1. Berdasar- kan pengolahan penilaian perbandingan berpa- sangan maka didapatkan bahwa rasio konsistensi penilaian yang telah dilakukan para responden sebesar 0,097. Hal ini menunjukkan bahwa peni- laian yang dilakukan pada penelitian ini sudah cukup konsisten. Selanjutnya akan dijelaskan pada pembahasan hasil analisis terhadap nilai bobot faktor penyebab keterlambatan Proyek SCE yang dihasilkan melalui AHP dengan ban- tuan software AHP Decision for Mac. Dari hasil olah data menggunakan AHP Decision tersebut didapatkan urutan faktor yang menyebabkan keterlambatan antara lain karena peralatan yang tersedia tidak berfungsi dengan baik dengan nilai bobot (0,190); terlambat dalam menyetujui shop drawing dengan nilai bobot (0,156); pengambilan keputusan yang lambat oleh pemilik dengan nilai bobot (0, 115); produktivitas tenaga kerja yang rendah dengan nilai bobot (0,110); dan desain proyek yang tidak lengkap dengan nilai bobot (0,104). PEMBAHASAN Dari hasil pengolahan data tersebut diambil 5 faktor utama yang menyebabkan terlambatnya Proyek SCE. Yang pertama adalah pada hasil olah data menggunakan AHP didapatkan kriteria item “C2 - Peralatan yang tersedia yang tidak berfungsi dengan baik” sebesar 0,190. Nilai ini merupakan bobot yang paling tinggi di antara faktor lain penyebab keterlambatan Proyek SCE. Hal ini menunjukkan bahwa item C2 merupakan PENYEBAB KETERLAMBATA N PROYEK SCE MATERIALS METHOD ENVIRONMENT Pengambilan keputusan yang lambat oleh pemilikProduktifitas tenaga kerja yang rendah Terlambat dalam menyetujui shop drawing & IPL Peralatan yang tersedia tidak berfungsi dengan Keinginan pemilik yang kurang masuk akal/perubahan pada saat MACHINE MAN MAN Metode konstruksi yang kurang sesuai Keterlambatan Material Konflik/miskomunikasi dengan konsultan perencana Kondisi tanah yang Kondisi cuaca yang Desain proyek yang Gambar 4 Fishbone Diagram Gambar 5 Hasil Pengolahan Data Menggunakan AHP Decision Rizki Prayudi Ramadhan, Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan pada Pembangunan Proyek “SCE” Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process 51 faktor yang paling berpengaruh terhadap keter- lambatan Proyek SCE. Responden sepakat memi- lih kriteria ini dikarenakan operasional proyek terhambat diakibatkan oleh rusaknya “tower crane” sebanyak kurang lebih 4x dalam kurun waktu 2 bulan saat progress proyek berjalan sebesar 15%. Akibat rusaknya tower crane terse- but, perpindahan material menjadi terhambat sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja yang sudah dikerahkan. Yang kedua, pada hasil pengolahan AHP pada item “terlambat dalam menyetujui shop drawing dan izin pelaksanaan” memiliki nilai bobot sebesar 0,158 dan merupakan faktor yang menyebabkan keterlambatan proyek pada urutan kedua. Responden memilih kriteria ini sebagai salah satu faktor penting yang menyebabkan keterlambatan dikarenakan seringnya pihak konsultan pengawas di lapangan terlambat dan lama dalam menyetujui shop drawing maupun izin pelaksanaan yang diajukan oleh pihak kon- traktor. Lambatnya konsultan pengawas dalam memberikan persetujuan dan izin dikarenakan kurangnya kehadiran pimpinan konsultan peng- awas di lapangan sehingga kurangnya pengeta- huan yang dimiliki oleh pimpinan atas kendala yang terjadi di lapangan. Kurangnya kepercayaan pimpinan konsultan pengawas terhadap staff di lapangan juga merupakan salah satu penyebab lamanya persetujuan dokumen yang diajukan oleh pihak kontraktor. Keterlambatan persetu- juan shop drawing juga diakibatkan karena pu- tusnya komunikasi dengan konsultan perencana. Shop drawing tidak dapat langsung disetujui karena banyak perubahan gambar yang diajukan oleh kontraktor akibat adanya perbedaan perhi- tungan kekuatan struktur yang dibangun dengan gambar rencana yang dibuat oleh konsultan perencana. Yang ketiga, pada item “pengambilan kepu- ktusan yang lambat” setelah dilakukan pengolahan dengan AHP didapatkan bobot sebesar 0,115. Bobot tersebut menempati urutan ketiga setelah “peralatan yang tidak berfungsi Gambar 6 Hasil Pengolahan Data dengan Software “AHP Decision for Mac” Berdasarkan Peringkat Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 52 dengan baik”. Hal ini berarti responden menem- patkan kriteria kedua tersebut sebagai penyebab yang cukup penting berpengaruh terhadap ter- lambatnya Proyek SCE. Pengambilan keputusan yang lambat pada proyek SCE sering kali dilaku- kan oleh pemilik dan pimpinan dari konsultan pengawas yang ada di lapangan. Hal ini dikarena- kan beberapa alasan seperti putusnya komuni- kasi dengan konsultan perencana. Hal ini berpe- ngaruh terhadap pengambilan keputusan di la- pangan yang berakibat pada mundurnya pelaksa- naan pekerjaan yang akan dilakukan oleh kon- traktor karena pengajuan gambar yang dibuat oleh kontraktor harus menunggu persetujuan dari pimpinan dari konsultan pengawas. Yang keempat, pada item “produktivitas tenaga kerja yang rendah”, setelah diolah dengan AHP didapatkan bobot dengan nilai 0,110. Nilai ini terletak pada urutan keempat dari seluruh item yang menyebabkan keterlambatan Proyek SCE. Responden sepakat untuk memilih item ini sebagai salah satu yang cukup berpengaruh terhadap keterlambatan Proyek SCE dikarenakan hasil perilaku tenaga kerja kasar di lapangan yang kurang disiplin dan kurang menghasilkan pekerjaan yang sesuai dengan kemauan pemilik. Akibat dari hal ini, serah terima pekerjaan menja- di lebih lama dikarenakan adanya perbaikan item-item pekerjaan yang telah selesai dikerjakan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya inspeksi dan arahan di lapangan yang seharusnya dilaku- kan oleh konsultan pengawas maupun pengawas dari kontraktor terkait pekerjaan yang akan dilakukan. Pada urutan kelima faktor yang paling ber- pengaruh terhadap terlambatnya Proyek SCE adalah item “desain proyek yang tidak lengkap” dengan nilai bobot 0,104. Responden sepakat untuk memilih item tersebut sebagai hal yang cukup berpengaruh terhadap keterlambatan pro- yek SCE. Pada Proyek SCE seringkali pengajuan shop drawing di lapangan cukup sering terhambat pembuatannya karena terkendala dengan ku- rangnya gambar detail proyek yang sudah dibuat oleh konsultan perencana. Hal ini menyebabkan pelaksanaan pekerjaan menjadi mundur juga. Pembuatan shop drawing tidak dapat dila- kukan dengan cepat karena respons yang dibe- rikan oleh konsultan pengawas cukup. Hal ini dikarenakan pertanyaan terkait gambar detail yang diajukan oleh konsultan pengawas kepada konsultan perencana kurang dapat direspons dengan baik dan cepat juga. Berikut adalah gambaran dari alur pengajuan detail shop draw- ing apabila gambar rencana masih memiliki kurang cukup detail. Gambar 7 Alur Pengajuan Shop Drawing kepada Konsultan Perencana. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpul- an bahwa penyebab keterlambatan pada Proyek SCE adalah rusaknya peralatan utama yang ber- pengaruh terhadap keseluruhan aktivitas kon- struksi. Kemudian diikuti oleh sikap konsultan pengawas yang cenderung lambat dalam membe- rikan informasi dan keputusan di lapangan yang sangat memengaruhi kinerja dari kontraktor di lapangan. Sehingga dalam hal ini kedua belah pihak baik kontraktor maupun pemilik memiliki andil dalam keterlambatan Proyek SCE. Solusi dari permasalahan tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Kontraktor harus mencari dan menyediakan motor cadangan untuk tower crane yang masih dapat berfungsi dengan baik untuk mencegah keterlambatan aktivitas yang ada Pengajuan Shop Drawing Oleh Kontraktor Pembuatan Request for Information oleh Konsultan Pengawas Respons oleh Konsultan Perencana Rizki Prayudi Ramadhan, Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan pada Pembangunan Proyek “SCE” Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process 53 di lapangan. Hal ini merupakan salah satu alternatif solusi yang dapat dilakukan dika- renakan untuk mencari bengkel reparasi dan spare-part motor tower crane yang digunakan saat itu tidak mudah. 2. Konsultan pengawas sebaiknya mengubah cara bekerja dengan lebih cepat dalam meres- pons pengajuan shop drawing dan tidak me- nunda pemeriksaan pengajuan shop drawing maupun izin pelaksanaan yang diajukan oleh Kontraktor. Sehingga apabila ada kesalahan yang terjadi, kontraktor dapat dengan segera memperbaiki dan mengajukan kembali. 3. Pemilik menunjuk konsultan pengawas untuk merangkap fungsi sebagai konsultan peren- cana. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi, menjawab dengan cepat, dan bertanggung jawab terhadap pertanyaan yang diajukan oleh kontraktor terkait dengan pengajuan perubahan shop drawing yang tidak sesuai dengan rencana serta perhitungan di lapang- an. 4. Konsultan pengawas harus lebih sering me- lakukan inspeksi dan koordinasi dengan pe- laksana maupun mandor dari pihak kontrak- tor untuk mengedukasi standar pekerjaan yang dilakukan pekerja di lapangan. DAFTAR RUJUKAN Andi, Winata, S., & Hendarlim, Y. 2005. Faktor- Faktor Penyebab Rework pada Pekerjaan Konstruksi. Civil Engineering Dimension. 7(1):22–29. Ladjao, J., Yurianto, E., Limanto, S., & Wicak- sono, E. 2016. Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan pada Bangunan Tinggi di Surabaya. Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil, Vol. 5, No. 1. Lastiyanti, Siwi D.D. 2015. Kajian Manajemen Risiko sebagai Upaya untuk Mencapai Ke- berhasilan pada Proyek Konstruksi Baja dan Sipil di PT Supra Surya Indonesia. Surabaya: Universitas Airlangga. Le-Hoai, L., Lee, Y.D., & Lee, J. Y. 2008. Delay and Cost Overruns in Vietnam Large Construction Projects: A Comparison With Other Selected Countries. KSC Journal of Civil Engineering. Lo, T.Y., Fung, I.W.H., Tung, K.C.F. (2006). Construction delays in Hong Kong civil engineering projects. Journal of Construc- tion Engineering and Management. 132. pp.636-649. Marzouk, M.M & El Rasas, T. 2013. Analyzing Delay Causes in Egyptian Construction Projects. Journal of Advanced Research. Structural Engineering Department. Cairo University. Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya. Mubarak, S. 2005. Construction Project Sched- uling and Control. Pearson Prentice Hall. Pujiyono, B. 2014. Konsep Manajemen Proyek, pp. 1–42. Jakarta: Universitas Terbuka. Rahman, H. Abdul, Berawi, M.A., Berawi, A.R., Mohamed, O., Othman, M., & Yahya, I.A. 2006. Delay Mitigation in the Malay- sian Construction Industry. Journal of Construction Engineering and Manage- ment, Vol.132, Issue 2. Teguh, R. & Sudiadi. 2015. Manajemen Proyek. Available from http://eprints.mdp.ac.id. Theodore J. Trauner, Mark F. Nagata, William A. Manginelli, and Scott Lowe. 2018. Construction Delays (Third Edition).