01 Arieszetni.pmd Rydho Jalu Nuringtyas, Analisis 7S McKinsey PT Hasil Rotibua Abadi untuk Perbaikan Organisasi 5555 Analisis 7S McKinsey PT Hasil Rotibua Abadi untuk Perbaikan Organisasi Rydho Jalu Nuringtyas Universitas Airlangga rydhojalu@gmail.com Abstract: This study aims to identify and find solutions to delay construction work happening on the SCE project. The SCE project is a school building construction project. The background of this study is due to indications of delay with a difference of 25% between the schedule plan and the reality in the ground. The factors that cause the delay must be well identified so that a larger delay can be avoided and can provide solutions to these problems. From the results of Fishbone analysis and AHP, 11 factors were found to influence the delay in SCE project. Keywords: operational management, project, delay PENDAHULUAN Coating merupakan salah satu bidang peker- jaan dalam pemeliharaan suatu pabrik, tujuan dari coating ini sendiri merupakan pelapisan dengan menggunakan bahan kimia maupun cat untuk menghambat laju korosi suatu mesin maupun struktur baja suatu pabrik, Dalam lini usaha bidang konstruksi khususnya pelapisan anti karat (coating) pada umumnya masuk dalam kategori bidang konstruksi kecil maupun mene- ngah. Menurut Kepmenaker RI No. 91 Tahun 2016, atas arahan Dirjen IATT Kementerian Perindustrian maka Asosiasi Coating Indonesia (Ascoatindo) mengajak seluruh stakeholder Coat- ing untuk mendukung dan memberikan contrac- tor terhadap program pemerintah ini dan pada tahun 2007 SKKNI Sektor Industri Jasa Peng- olahan Sub-Sektor Industri Jasa Pelapisan Bidang Coating Sub-bidang Proteksi mengesahkan Coat- ing sebagai salah satu jasa konstruksi sub-bidang proteksi melalui Keputusan Menakertrans No. 102/MEN/II/2007. Beberapa peta persaingan pada industri Coating dalam skala nasional adalah PT Surya Pranusa, PT Nuscaco Anti-Corrosion Indone- sia, PT Indopama Karya Perkasa, dan PT Her- mon Pancakarsa Libratama. Keempat perusahaan tersebut dianggap sebagai pesaing utama karena memiliki keunggulan terkait dengan sisi harga yang lebih murah saat pelelangan dalam beberapa bidang coating. Berikut merupakan penjelasan keunggulan dan kelemahan beberapa kompetitor pada bidang coating termasuk PT Hasil Rotibua Abadi. Gambar 1.1 Keunggulan dan Kelemahan Beberapa Kompetitor Bidang Coating Beberapa pesaing ini umumnya menerapkan harga produk jasa yang lebih rendah daripada harga produk jasa kompetitornya untuk ditawar- kan kepada pihak user. Salah satu faktor yang menyebabkan harga pesaing lebih rendah adalah perusahaan pesaing, sebagai contoh PT Indopa- ma Karya Perkasa memiliki aset penunjang jasa yang akan ditawarkan seperti memiliki investasi pada perancah/scaffolding untuk pekerjaan yang khususnya berkaitan dengan ketinggian, sehingga Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 56 pada saat lelang dapat memberi penawaran harga lebih rendah. Selain itu dengan perusahaan meng- investasikan alat-alat utama penunjang proses jasa pekerjaan seperti apa yang PT Hasil Rotibua Abadi dapat menurunkan biaya rancangan suatu proyek karena biasanya banyak perusahaan ha- nya menyewa alat utama pada proses jasa terse- but, apabila ada keterlambatan pekerjaan maka biaya akan membengkak dua kali lipat meskipun produk yang digunakan berasal dari Denmark. PT Hasil Rotibua Abadi adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang operating and maintenance sub bidang pelapisan anti korosi atau biasa disebut coating service. Perusahaan tersebut memiliki lokasi kantor maupun work- shop di Gresik. Target konsumen dari PT Hasil Rotibua Abadi adalah perusahaan-perusahaan BUMN yakni PT PJB dan PT Petrokimia Gresik, di mana para konsumen tersebut membutuhkan pemeliharaan atas aset penunjang produksi yang mereka miliki seperti contoh internal tank cor- rosion, structure conveyor. Pada tahun 2015, PT Hasil Rotibua Abadi mengalami permasalahan yang rumit yakni terjadinya kecelakaan kerja yang mengakibatkan suatu material berjalan (conveyor) pada area NPK pabrik 2 PT Petrokimia Gresik terbakar habis hingga menyisakan puing struktur dan material berjalan. Berdasarkan ilustrasi proses safety manage- ment yang dilakukan oleh PT Petrokimia terha- dap para pekerja PT Hasil Rotibua Abadi, ter- dapat salah satu kelalaian pekerja dalam proses pengendalian K3 yakni pada saat pengelasan di atas ketinggian lebih dari tujuh meter para pe- kerja tidak melindungi percikan api pengelasan dengan air maupun dengan penutup area yang kontak dengan percikan api. Karena itu, api menyambar langsung kepada atap yang terbuat dari plastik dan api langsung menyambar sangat cepat hingga membuat area conveyor PT Petro- kimia Gresik terbakar habis. Dari pemaparan di atas, PT Hasil Rotibua Abadi saat ini memang hanya menerapkan stra- Gambar 1.2 Lokasi Kecelakaan Kerja di Area PT Petrokimia Gresik Sumber: http://jatim.metrotvnews.com Rydho Jalu Nuringtyas, Analisis 7S McKinsey PT Hasil Rotibua Abadi untuk Perbaikan Organisasi 57 tegi bisnis yang belum terstruktur dan belum menerapkan strategi yang sesuai dengan keten- tuan SMK3 dan penerapan strategi internal yang berbasis pada data analisis. Dengan terjadinya kecelakaan kerja maupun hal yang mengakibatkan kerugian pada perusa- haan, PT Hasil Rotibua Abadi saat ini terkena dampak negatif yakni penurunan pada nilai ROA maupun ROE merupakan salah satu dampaknya karena akibat dari kecelakaan kerja tersebut perusahaan harus membayar denda akibat kece- lakaan maupun di-blacklist dari PT Pupuk Indo- nesia Holding Company untuk tidak diperboleh- kan bekerja di area tersebut selama 2 tahun hingga 2017. Berikut data ROA dan ROE pada data yang disajikan pada tabel berikut. Tabel 1 ROE dan ROA PT Hasil Rotibua Abadi Tiga Tahun Terakhir Untuk mengetahui bagaimana cara peningkatan performa maupun metode bisnis proses yang se- suai dengan aktivitas PT. Hasil Rotibua Abadi, peneliti ingin menggunakan framework 7S Mc- Kinsey, dengan menggunakan analisis ini diharap- kan dapat memperbaiki kondisi internal perusa- haan dan mengetahui bisnis proses yang sesuai dengan visi perusahaan agar meningkatkan per- forma maupun dalam perbaikan perusahaan. TINJAUAN PUSTAKA Strategi Menurut David (2011) Strategi adalah sarana bersama dengan tujuan jangka panjang yang hendak dicapai. Strategi bisnis mencakup ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi, pengem- bangan produk, penetrasi pasar, pengetatan, divestasi, likuidasi, dan usaha patungan atau joint venture. Strategi adalah aksi potensial yang membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan dalam jumlah besar. Jadi strategi adalah sebuah tindakan aksi atau Berdasarkan pemaparan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan ROE maupun ROA dalam tiga tahun terakhir menurun sekitar +/- 3%. ROA maupun ROE menurun ini dikarenakan pendapatan pada tiga tahun terakhir yang menurun secara signifikan, berikut merupa- kan grafik pada pendapatan PT Hasil Rotibua Abadi dalam tiga tahun terakhir. Pada pemaparan grafik pendapatan PT Hasil Rotibua Abadi tiga tahun terakhir terhitung mulai 2014 hingga 2016 ini terjadi penurunan secara beruntun. Pada 2014, PT Hasil Rotibua Abadi sedang mendapatkan pendapatan paling besar sekitar Rp 5.323.942.381 tetapi pada saat tahun 2015 berjalan pendapatan perusahaan menurun sebesar 15% dengan jumlah Rp 4.505.661.823. Gambar 1.1 Grafik Pendapatan PT Hasil Rotibua Abadi Tiga Tahun Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 58 kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan untuk mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Analisis 7S McKinsey Berdasarkan pernyataan Peters dan Water- man (2004), yang menjelaskan dua hal yang sama dengan pengembangan organisasi (organi- zation development). Pertama, mengasumsikan adanya sebuah bentuk organisasi yang ideal dan menjelaskannya secara terperinci. Kedua, nilai- nilai humanisme yang begitu penting dalam pe- ngembangan organisasi yang tersirat dalam ben- tuk organisasi yang diusulkan oleh Peters dan Waterman. Akan tetapi, alat analisis yang dikem- bangkan oleh para penulis inilah yang paling relevan untuk pembangunan organisasi karena alat itu menggambarkan sifat dasar pengembang- an organisasi. Alat analisis itu merupakan 7S McKinsey. Menurut Sikka et al. (2005) menyata- kan bahwa implementasi yang efektif pada penggunaan semua metode ini tidak tergantung pada peningkatan kesadaran akan potensi, tetapi juga tentang meningkatkan kompetensi orang yang bersangkutan. METODE PENELITIAN Pada penelitian kali ini pengumpulan data menggunakan survey untuk menghasilkan data primer. Survei adalah teknik penelitian dengan sample diwawancarai di dalam suatu cara atau perilaku responden yang diamati dan dijelaskan dalam beberapa cara (Zikmund et al., 2013). Metode analisis pada penelitian kali ini merupa- kan eksploratori kualitatif, dengan menggunakan metode tersebut maka untuk mendapatkan infor- masi yang valid berdasarkan data jenuh. HASIL Pada analisis menggunakan metode 7S Mc- Kinsey ini untuk mengidentifikasi apa yang diper- lukan organisasi agar meningkatkan kinerja dan untuk mengimplementasikan strategi yang efektif pada multi dimensi pendekatan (Kaplan, 2005). Berikut merupakan penjabaran pada hasil analisis 7S McKinsey yang telah dilakukan oleh penulis. Values Form Culture Dengan shared values ini, peneliti ingin me- ngetahui nilai-nilai yang membentuk budaya dasar perusahaan dan dengan demikian dapat meme- ngaruhi bagaimana orang berperilaku dalam orga- nisasi, terutama dengan memengaruhi pola pikir. Pernyataan ini dibenarkan oleh kutipan wawan- cara kepada Direktur Utama PT HRBA. “ […..] sejauh ini saya memahami dari tujuan perusahaan maupun nilai-nilai yang dikemukakan oleh pemegang saham, yakni menjadi perusahaan fabrikasi dan coating yang terkemuka di Pulau Jawa. Nilai-nilai yang saya akan berikan kepada para staff sampai dengan manager yakni value of teamwork dan value of innovation [……] selain itu dengan adanya nilai kerja sama tim maka kepu- tusan-keputusan yang diambil bertujuan untuk inovasi jasa yang akan kita kerjakan (Informan 3, Direktur Utama). Berdasarkan kutipan wawancara komisaris utama dan direktur utama, kesimpulannya pada penggalan wawancara di atas nilai-nilai pada perusahaan ini yakni value of teamwork dan value of innovation. Tetapi dengan nilai utama tersebut maka semua departemen dan karyawan harus setuju dengan nilai-nilai yang dibangun oleh organisasi, oleh sebab itu nilai-nilai utama tersebut harus dipahami betul karena untuk masa depan perusahaan. Menurut peneliti, shared values perusahaan telah dibentuk sedemi- kian harus didokumentasikan secara jelas agar Rydho Jalu Nuringtyas, Analisis 7S McKinsey PT Hasil Rotibua Abadi untuk Perbaikan Organisasi 59 kesadaran atas nilai yang dibentuk oleh perusa- haan dapat dijalankan sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi core perusahaan. Low-Cost Strategy Dengan strategi, kita dapat merencanakan dalam menciptakan daya saing dan mencapai tujuan perusahaan. “Sebenarnya dengan kondisi saat ini strategi yang kami gunakan adalah memang sesuai ya dengan tipe perusahaan jasa saat ini mas, karena harga murah dalam pelelangan dapat memenangkan sua- tu proyek [….] permasalahannya dalam berjalan- nya waktu pekerjaan sering terjadi kendala yakni keterlambatan pekerjaan yang berimbas pada membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan” (Informan 2, Komisaris). Berdasarkan kutipan wawancara dengan komisaris dan direktur utama, PT Hasil Rotibua Abadi ini memang menggunakan low-cost strate- gy tetapi terdapat beberapa permasalahan dalam berjalannya strategi yang digunakan. Terjadinya permasalahan tersebut dikarenakan tidak ada GBHP (Garis Besar Haluan Perusahaan) yang mengakibatkan karyawan-karyawan belum me- nyadari betul penerapan strategi yang digunakan di perusahaan. Maka rekomendasi peneliti ter- hadap permasalahan ini adalah membuat GBHP (Garis Besar Haluan Perusahaan) terkait pene- rapan low-cost strategy dalam berjalannya per- usahaan tetapi perusahaan juga harus membuat streamlined business process karena dengan adanya streamlined business process perusahaan dapat membuat metode bisnis proses yang akan dijalankan pada setiap proyek akan dikerjakan. Innovation Dengan adanya strategi pengembangan ino- vasi yang dikemukakan oleh pihak manajemen maka perusahaan menjalankan low cost strategy dengan inovasi-inovasi di setiap metode peker- jaannya. Berikut kutipan wawancara dengan direktur utama: “[….] karena saat ini pemain-pemain di bidang fabrikasi dan coating ini sudah sangat jenuh, maka kami mewajibkan teman-teman di lapangan melakukan inovasi terkait dengan metode-metode pekerjaan yang akan kita lakukan” (Informan 3, Direktur Utama). Berdasarkan wawancara dengan pihak di- rektur utama terlihat bahwa dengan adanya kombinasi low-cost strategy dengan inovasi- inovasi yang dilakukan oleh pekerja di lapangan terkait dengan inovasi pada metode-metode pe- kerjaan yang dilakukan pada setiap proyek- proyek. Peneliti berpendapat pada pemilihan kombinasi strategi ini sangat baik tetapi inovasi- inovasi yang dilakukan pada metode pekerjaan jangan sampai memengaruhi jeleknya kebijakan- kebijakan K3 yang dibuat oleh Safety Officer PT HRBA. The Coercive and Authoritative Style Dengan style, peneliti bermaksud ingin me- ngetahui gaya kepemimpinan dalam perusahaan yang menjadi kunci perusahaan, berikut kutipan wawancara dengan project manager PT HRBA: “Memang pada perusahaan ini kepemimpinan sangat perlu kepada pihak internal maupun eksternal. Internal di sini dari para direksi kepada saya maupun saya kepada para supervisor dan staff- staff terkait. […..]. Di sini memang saya kepada para staff maupun supervisor saya menggunakan intuitif atas perintah saya” (Informan 4, Project Manager). Berdasarkan kutipan wawancara yang dike- mukakan oleh Project Manager PT HRBA, me- mang gaya leadership yang digunakan oleh project manager ini cocok untuk kondisi-kondisi Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 60 di mana target harus direalisasikan sebelum due date proyek telah berakhir. Cross Learning Orientation Dengan Cross learning orientation, kepe- mimpinan manajer proyek dalam berjalannya suatu proyek dapat memberikan transfer ilmu kepada staff-nya, berikut kutipan wawancara dengan Project Manager PT HRBA. “Dalam berjalannya suatu proses pekerjaan, biasa- nya saya berikan mereka ilmu yang tidak mereka dapatkan sebelumnya seperti bagaimana membuat kurva s yang baik dan benar maupun sampai de- ngan perancangan anggaran proyek yang dikerja- kan” (Informan 4, Manajer Proyek). Berdasarkan kutipan wawancara dengan ma- najer proyek, pada berjalannya perusahaan sering kali manajer proyek ini menggunakan cara trans- fer ilmu kepada staff-staff nya untuk meningkat- kan kompetensi karyawan dimana dengan adanya transfer ilmu yang diberikan maka kerja manajer proyek akan semakin mudah dan staff-staff mu- dah dikontrol oleh manajer proyek. Cross Functional Information Dalam berjalannya suatu organisasi, sistem dapat memengaruhi berbagai hal yang menyang- kut aktivitas perusahaan sehari-hari hingga pe- rencanaan, implementasi, kontrol, penyampaian informasi, evaluasi, anggaran, dan penghargaan. Berikut kutipan wawancara dengan komisaris utama terkait dengan sistematika perusahaan yang berada di PT Hasil Rotibua Abadi. “Sistematika perusahaan yang dibuat berdasarkan tujuan perusahaan yakni cross functional infor- mation, hingga mencapai produktivitas karyawan, tetapi belum terlalu efektif dan efisien dalam ber- jalannya perusahaan. […..]” (Informan 1, Komi- saris Utama). Berdasarkan kutipan wawancara dengan ko- misaris utama, sistem perusahaan yang diguna- kan memang sudah berjalan yakni tetapi belum berjalan efektif dan efisien. Cross Functional Training and Coaching Dengan adanya cross functional training and coaching pada perusahaan, maka seluruh elemen perusahaan dari direktur hingga staff dari berbagai divisi dapat merasakan berbagai pelatihan yang diadakan dari pemilik proyek yakni pihak BUMN maupun yang PT HRBA adakan. Berikut kutipan wawancara dengan pihak manajer proyek. “Untuk pelatihan-pelatihan biasanya ketika pihak PT Petrokimia Gresik mengadakan pelatihan un- tuk pengembangan dasar-dasar K3 maka perusa- haan kami mengirimkan perwakilan dari PT HR- BA untuk mengikuti pelatihan tersebut, tidak serta merta kami kirimkan dari divisi HSE (health safe- ty and environment) saja tetapi dari engineering kami sertakan untuk turut serta dalam pelatihan. Dari pelatihan yang diadakan untuk internal per- usahaan kami adakan pelatihan pengembangan K3 untuk para supervisi lapangan, maupun pelatih- an tentang pengenalan proses pekerjaan yakni coating dan fabrikasi untuk diikuti para safety officer kami” (Informan 4. Manajer Proyek). Berdasarkan kutipan wawancara dengan manajer proyek, sistem perusahaan dengan menggunakan cross functional training and coach ini membuat efisiensi perusahaan dalam biaya yang dikeluarkan lebih efektif dengan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pihak user. Dalam internal perusahaan pun, transfer ilmu yang diberikan kepada para staff terbukti efektif dan dapat meningkatkan kompetensi karyawan. Cross Functional Jobs Struktur organisasi adalah fondasi bisnis untuk membuat eksistensi yang berkelanjutan Rydho Jalu Nuringtyas, Analisis 7S McKinsey PT Hasil Rotibua Abadi untuk Perbaikan Organisasi 61 dari kompetisi suatu pasar. Berikut merupakan kutipan wawancara pada direktur utama: “Memang kita sudah buat struktur organisasi se- cara terperinci tetapi pada kenyataannya pada sua- tu pekerjaan yakni project manager yang memba- wahi seluruh supervisor maupun staff semua divisi dalam hal pelaporan-pelaporan progress peker- jaan, kontrol proyek, pembuatan rancangan biaya proyek, hingga ke material yang digunakan. Te- tapi apabila suatu proyek yang jangkauannya jauh dan hanya cukup di-handle oleh supervisi saja ma- ka pelaporan kutipan atau pelaporan pekerjaan maupun kontrol proyek menjadi tanggung jawab- nya” (Informan 3, Direktur Utama). Berdasarkan kutipan wawancara kutipan direktur utama bahwa struktur organisasi yang dibentuk memang sudah terperinci tetapi fleksi- bilitas aktivitas yang paling terpenting dikarena- kan apabila terjadi penyampaian informasi yang diberikan harus melalui manajer proyek lalu ke direktur butuh waktu maka supervisi dapat lang- sung menyampaikan permasalahan-permasalahan yang genting kepada direktur, setelah itu diko- munikasikan kepada manager agar dirapatkan bersama. Certified Skill Yang dimaksud dengan skills pada metode 7S Mckinsey merupakan kompetensi karyawan yang bekerja untuk perusahaan, merupakan un- sur yang sangat penting bagi keberhasilan organi- sasi dalam mencapai sasaran dan tujuannya de- ngan efektif dan efisien (Bingham, Eisenhardt, & Furr, 2009). Hal ini juga dikemukakan ber- beda oleh manajer proyek PT Hasil Rotibua Abadi, berikut kutipan wawancaranya. “Untuk kompetensi skill karyawan di perusahaan saya rasa cukup dengan adanya coating inspec- tor, welding inspector, maupun safety officer, dikarenakan berjalannya perusahaan berdasarkan proyek dan biasanya dalam suatu proses admi- nistrasi pelelangan harus disertakan sertifikat ke- ahlian-keahlian tersebut. Untuk kompetensi yang lain seperti drawing, project controlling dengan kurva s, maupun estimasi pekerjaan didapatkan dari transfer ilmu yang diberikan langsung oleh saya maupun direktur utama.” Berdasarkan kutipan wawancara dengan manajer proyek, dapat disimpulkan bahwa untuk kompetensi dari skill karyawan PT Hasil Rotibua Abadi saat ini sudah cukup baik, kompetensi karyawan dalam perhitungan anggaran proyek, kontrol proyek, maupun menggambar teknik sendiri memang saat ini hanya berdasarkan trans- fer ilmu yang diberikan langsung oleh direktur utama. Namun ada beberapa kompetensi yang harus disertakan dalam dokumen administrasi pelelangan yakni coating inspector, welding in- spector, maupun safety officer. Hal ini yang menyebabkan perusahaan harus memperbarui kompetensi skill dari karyawannya. Certified Staff Berdasarkan tujuan perusahaan yang sudah dikemukakan, maka suatu organisasi harus mem- punyai personel staff yang sesuai dengan proses bisnis perusahaan. Berikut kutipan wawancara kepada direktur utama terkait staff yang ada di perusahaan. “Staff yang berada di perusahaan kami memang saat ini sudah cukup dengan berjalannya proses bisnis perusahaan dengan adanya kompetensi- kompetensi yang dimiliki oleh karyawan perusa- haan, […..] tetapi apabila dalam suatu tender mengharuskan adanya staff safety officer dan staff coating inspector, otomatis kami harus merekrut karyawan-karyawan yang memiliki sertifikasi ter- sebut. Biasanya kami merekrut karyawan yang bersertifikasi berdasarkan rekomendasi-rekomen- dasi dari asosiasi member seperti contoh Ascoatin- do (Asosiasi Coating Indonesia). [….] Pengem- bangan staff perusahaan biasanya pasti kita laku- kan pelatihan-pelatihan bersertifikasi BNSP, tetapi sebelum itu biasanya kita lakukan seleksi inter- Business and Finance Journal, Volume 5, No. 1, March 2020 62 nal berupa uji kompetensi di lapangan terkait de- ngan spesifikasi pekerjaan” (Informan 3, Direktur Utama). Berdasarkan kutipan wawancara terhadap direktur utama bahwa saat ini perusahaan sudah memiliki staff yang cukup tetapi tidak menutup kemungkinan apabila user mengharuskan adanya safety officer maupun coating inspector yang menetap di suatu lokasi proyek maka perusahaan tetap merekrut karyawan baru yang sesuai de- ngan kompetensi sertifikasi tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa strategi PT HRBA dalam berjalannya proses bisnisnya memang menggunakan low-cost lead- ership dan innovation, dengan strategi funda- mental PT HRBA sudah sangat baik tetapi pema- paran strategi pada aktivitas perusahaan tersebut belum dipahami oleh pihak karyawan-karyawan. Shared values PT HRBA pada budaya yang dite- rapkan di perusahaan berasal dari dibentuknya nilai-nilai perusahaan, pada hakikatnya nilai yang membentuk budaya yakni values of teamwork dan values of innovation. Pada values of team- work ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia perusahaan maupun efektivitas operasional perusahaan, untuk values of innova- tion ini perusahaan harus mendorong terobosan- terobosan yang diperlukan untuk meningkatkan kapabilitas dan kompetitif perusahaan dari para karyawan hingga level direksi. Style atau gaya kepemimpinan perusahaan dalam berjalan aktivi- tas bisnisnya masih kurang efektif dikarenakan kepemimpinan yang diterapkan oleh perusahaan lebih intuitif daripada menemani karyawan yang bersangkutan dalam rangka ikut serta dalam pengambilan keputusan. Sistem yang diterapkan perusahaan saat ini mencoba dengan penerapan cross-functional information, di mana informasi- informasi terkait dengan satu divisi dengan divisi lain sangat dibutuhkan untuk mengetahui infor- masi-informasi terkini terkait dengan proses bis- nis perusahaan. Structure pada penggunaan cross- functional jobs ini PT HRBA memang saat ini belum berjalan efektif dikarenakan kurangnya sumber daya manusia yang melingkupi proses bisnis perusahaan. Skill kompetensi yang berbasis pada sertifikasi-sertifikasi yang dimiliki oleh kar- yawan PT HRBA, dapat mendukung proses bis- nis perusahaan tetapi saat ini yang memiliki kompetensi berdasarkan sertifikasi dari pemerin- tah saat ini hanya ada 4 staff dari total 50 karyawan perusahaan. Staff yang dimiliki oleh PT HRBA saat ini 60% berada pada usia 50–60 tahun dan semua nya tidak memiliki kompetensi yang tersertifikasi oleh asosiasi bidang pekerjaan yang PT HRBA geluti saat ini, maka diperlukan nya regenerasi staff dengan pengalaman yang cukup dan memiliki sertifikasi dari asosiasi bi- dang pekerjaan yang dijalani oleh PT HRBA. Meskipun cost yang timbul sangat besar tetapi dampak positif dalam berjalannya organisasi akan sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan. REFERENSI Babin, B.J. & Zikmund, W.G. 2013. Essentials of Marketing Research. Nelson Education. Brent, D. Ruben & Lea P. Stewart. 2013. Komu- nikasi dan Perilaku Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Bengtsso, T. & O. Saito. 2004. Population and Economy: From Hunger to Modern Eco- nomic Growth. Oxford University Press. David, Fred R. 2011. Manajemen Strategis: Kon- sep-Konsep, Edisi Dua Belas. Jakarta: Sa- lemba Empat. Rydho Jalu Nuringtyas, Analisis 7S McKinsey PT Hasil Rotibua Abadi untuk Perbaikan Organisasi 63 Ebeling, Charles E. 2010. An Introduction to Reliability and Maintainability Engineer- ing. Long Grove, Il, Waveland Press INC. Guenzi, P. & Storbacka, K. 2015. The Organi- zational Implications of Implementing Key Account Management: A Case-Based Examination. Industrial Marketing Mana- gement, 45, 84–97. Hadiansyah, H., Purwandari, B., Satria, R., & Yudhoatmojo, S.B. 2018 Social Media Strategies for Public Diplomacy: A Case Study in the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. In Infor- matics and Computing (ICIC), 2017 Sec- ond International Conference on (pp. 1– 5). IEEE. Kotler, Philip & Keller. 2012. Marketing Mana- gement, Global Edition. Pearson Prestice Hall. Mintzberg, H. 2001. The Strategy Concept I: Five Ps for strategy. California Manage- ment Review, 30(1), 11–24. Patton Jr, J.D., Business, M.I.B., & Best, N.N.I. 2006. Maintenance, Long-Term Support and System Management. A Guide to the Automation Body of Knowledge, 421. Porter, M.E. & Kramer, M.R. 2006. The Link between Competitive Advantage and Cor- porate Social Responsibility. Harvard Busi- ness Review, 84(12), 78–92. Porter, M.E. & Kramer, M.R. 2006. The Link between Competitive Advantage and Cor- porate Social Responsibility. Harvard Busi- ness Review, 84(12), 78–92. Porter, M.E. 2008. The Five Competitive Forces that Shape Strategy. Harvard Business Review, 86(1), 78–93. Scheffer, C. & Girdhar, P. 2004. Practical Ma- chinery Vibration Analysis and Predictive Maintenance. Elsevier. Singh, A. 2013. A Study of Role of McKinsey’s 7S framework in Achieving Organizational Excellence. Organization Development Journal, 31(3), 39. Tampubolon, M.P. 2004. Manajemen Operasio- nal, 98. Jakarta: Ghalia Indonesia. Wheelen, T.L. & Hunger, J. 2006. David-Stra- tegic Management and Business Policy: Concepts and Cases. Zikmund. 2013. Business Research Methods, Ninth Edition. South Western.