01 Astria Primadhani.pmd Rizkary Roslianti, Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Pasar Emiten yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia 145145 Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Pasar Emiten yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia Rizkary Roslianti Universitas Airlangga e-mail: rizkaroslianti@yahoo.com Abstract: Corporate governance is one of the important aspects for the company. The application of proper corporate governance will affect the company’s value and market performance. This study aims to analyze the effect of corporate governance that represented by institutional owner- ship, independent commissioner and managerial ownership toward market performance that repre- sented by Tobin’s Q. This study used a quantitative approach using secondary data (annual finance report)companies listed on Indeks Saham Syariah Indonesia years 2016- 2018. This study used a significance level of 5%. Based on the regression analysis results, it indicates that institutional ownership and managerial ownership do not have significant effect on Tobin’s Q. On the other hand, independent commissioner has significant effect to the Tobin’s Q. Simultaneously, institu- tional ownership, independent commissioner and managerial ownership have significant effect to Tobin’s Q. Keywords: corporate governance, market performance, Indonesia sharia stock index I. PENDAHULUAN Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memperhatikan aspek internal maupun eks- ternal perusahaan. Faktor internal perlu diper- kuat guna menyatukan visi dan misi yang akan dicapai oleh perusahaan. Salah satunya adalah penerapan corporate governance perusahaan un- tuk meningkatkan nilai perusahaan. Otoritas jasa keuangan menurut CNN Indonesia (2017) menjelaskan bahwa penerapan good corporate governance di Indonesia saat ini masih relatif tertinggal apabila dibandingkan dengan negara- negara yang ada di kawasan ASEAN. Hanya terdapat dua perusahaan Indonesia yang berhasil menembus penghargaan tersebut. Indeks Saham Syariah Indonesia merupakan indeks komposit saham syariah yang tercatat di BEI dan merupa- kan indikator kinerja pasar saham syariah yang ada di Indonesia. Emiten yang ada di indeks saham syariah ini merupakan seluruh saham syariah yang telah tercantum dalam BEI dan masuk ke dalam Daftar Efek Syariah yang diter- bitkan oleh OJK. Dalam kegiatan bisnis yang berbasis syariah sesuai dengan pedoman umum good governance bisnis syariah yang diterbitkan oleh KNKG (2011) bahwa secara operasional bisnis syariah mengacu pada dua asas. Yang pertama adalah ShiFAT (perilaku Nabi dan Rasul dalam beraktivitas) dan yang kedua adalah lima asas umum yang biasanya digunakan sebagai acuan dalam penerapan good governance (trans- paransi, akuntabilitas, responsibilitas, indepe- densi, serta kewajaran dan kesetaraan). Corporate governance membahas tentang bagaimana memberikan informasi yang sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini. Maka dari itu, pentingnya terdapat pengawasan dari inter- nal perusahaan seperti misalnya pentingnya kon- tribusi dari pihak internal maupun eksternal perusahaan. Pihak eksternal diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap kinerja per- usahaan dan dapat menyelaraskan kepentingan perusahaan serta investor luar perusahaan. Pihak Business and Finance Journal, Volume 5, No. 2, October 2020 146 dari eksternal dapat diwujudkan dengan adanya kepemilikan institusional oleh perusahaan lain dan adanya komisaris independen dalam perusahaan, sedangkan pihak internal dapat diwujudkan de- ngan adanya kepemilikan manajerial. Proses peng- awasan yang tepat akan dapat memengaruhi nilai perusahaan yang berdampak pada kinerja pasar. Penelitian sebelumnya juga melakukan pene- litian serupa. Penelitian tersebut menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan penelitian- penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, peneliti ingin melakukan penelitian tentang pe- ngaruh antara kepemilikan institusional, komi- saris independen, dan kepemilikan manajerial dengan kinerja pasar yang diproksikan dengan nilai Tobin’s Q. 1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, rumusan masa- lah yang muncul adalah apakah corporate gover- nance dengan variabel kepemilikan institusional, komisaris independen, dan kepemilikan mana- jerial berpengaruh terhadap kinerja pasar emi- ten? 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis apakah terdapat pengaruh yang diberikan oleh corporate governance suatu perusahaan ter- hadap kinerja pasar perusahaan. Dalam peneli- tian ini, faktor corporate governance yang digu- nakan adalah kepemilikan institusional, komi- saris independen dan kepemilikan manajerial. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Corporate Governance Parkinson (1994) dalam Solomon (2004) menjelaskan bahwa corporate governance adalah proses pengawasan dan control yang dilakukan untuk memastikan bahwa kegiatan manajemen perusahaan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh para shareholder. Penerapan corporate gov- ernance yang sesuai dengan pedoman memerlu- kan beberapa asas yang dianut agar penerapan tersebut berlaku di setiap aspek bisnis dan juga seluruh jajaran yang ada di perusahaan. Berikut asas yang digunakan dalam penerapan corporate governance. 1. Transparansi, yaitu asas yang diterapkan un- tuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis. 2. Akuntabilitas, yaitu asas yang memastikan bahwa perusahaan harus dapat mempertang- gungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. 3. Responsibilitas, yaitu asas yang memastikan mematuhi peraturan sesuai dengan perun- dang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat serta lingkungan sehingga terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengaku- an sebagai good corporate citizen. 4. Independensi, yaitu asas yang mengharuskan perusahaan untuk dikelola secara independen sehingga masing-masing bagian perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak diinter- vensi oleh pihak lain. Kewajaran dan kesetaraan. Asas ini berkait- an dengan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan misalnya tanpa mem- bandingkan suku, agama, ras, golongan, gender, atau bahkan kondisi fisiknya. 2.2 Good Governance Bisnis Syariah Bisnis yang berbasis syariah telah berkem- bang di Indonesia. Hal ini tidak hanya memun- Rizkary Roslianti, Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Pasar Emiten yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia 147 jelaskan tentang kontrak yang paling efisien yang dapat memengaruhi hubungan antara peme- gang saham dengan direksi perusahaan. Teori ini muncul karena adanya konflik yang biasa terjadi di perusahaan, di mana keinginan dari pihak manajemen perusahaan melakukan tindak- an yang sesuai dengan kepentingannya dan dapat mengorbankan kepentingan pemegang saham dalam mendapatkan return perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa dalam teori keagenan ini memiliki suatu karakteristik hubungan keagenan yang dapat dijelaskan sebagai adanya suatu kontrak yang terjadi antara pihak principal dan mempekerja- kan pihak lain (agen) untuk melakukan beberapa pekerjaan yang diinginkan atas nama pihak prin- cipal. Pandangan teori keagenan merupakan elemen penting dari mekanisme kontrol untuk memastikan permasalahan yang muncul dari hubungan antara pihak principal dengan pihak agen dapat dikendalikan (Mailin, 2017). 2.4 Kinerja Pasar Kinerja pasar berhubungan dengan nilai perusahaan di pasar modal, salah satunya dengan pengukuran nilai Tobin’s Q. Ruan et al., (2011) menjelaskan bahwa nilai Tobin’s Q ini dapat merefleksikan nilai perusahaan dan potensi pro- fitabilitas yang dapat dicapai oleh perusahaan di masa yang akan datang. Nilai Tobin’s Q ini merupakan pencerminan antara nilai buku dan nilai pasar ekuitas. Alghi- fari et al. (2013) menjelaskan bahwa apabila nilai rasio Tobin’s Q lebih dari satu maka me- nunjukkan bahwa investasi asset menghasilkan pendapatan yang memberikan nilai lebih tinggi daripada pengeluaran investasi. Begitu pula seba- liknya. culkan aturan-aturan yang berhubungan dengan bisnis syariah saja tetapi juga pedoman yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksana- kan good corporate governance bagi bisnis sya- riah. Pedoman good corporate governance bisnis syariah ini berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Berikut asas ShiFAT tersebut. 1. Shiddiq yang artinya adalah benar. Asas ini menunjukkan bahwa bisnis syariah harus menyatakan dan melakukan kebenaran dan kejujuran dalam setiap hal yang dilakukan untuk menghindari adanya penipuan, pengge- lapan, dan segala bentuk dusta. 2. Fatanah yang artinya cerdas. Asas ini mencer- minkan bahwa sebagai pelaku bisnis Syariah harus dapat berpikir secara rasional dalam mengambil segala keputusan agar dapat mene- tapkan kegiatan yang halal, tayib, ikhsan, dan tawazun. 3. Amanah yang artinya dapat dipercaya. Asas ini menunjukkan bahwa kepercayaan merupa- kan salah satu kunci dalam menjalankan bisnis syariah. Asas ini diwujudkan dalam bentuk pertanggungjawaban dan akuntabilitas dalam segala kegiatan operasional yang dilakukan. Tabligh yang artinya menyampaikan. Asas ini menunjukkan bahwa dalam dunia bisnis, segala bentuk penyampaian yang berkaitan dengan kegiatan bisnis syariah dapat dilakukan dalam bentuk sosialisasi praktik bisnis yang baik dan bersih sepertinya yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. 2.3 Agency Theory Salah satu teori yang ada pada corporate governance ini adalah berhubungan dengan kon- trak yang telah dilakukan oleh pemegang saham kepada pihak direksi perusahaan. Teori ini men- Business and Finance Journal, Volume 5, No. 2, October 2020 148 Hal ini dikarenakan dengan adanya komisaris independen diharapkan dapat melakukan peng- awasan secara lebih intensif sehingga dapat me- ngurangi munculnya masalah keagenan dalam perusahaan. Hidayat (2015) melakukan penelitian ten- tang pengaruh komisaris independen terhadap Tobin’s Q. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa terdapat pengaruh positif antar variabel tersebut. Berdasarkan argumen tersebut maka hipotesis yang dibentuk adalah sebagai berikut. : Komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja pasar 2.7 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Kinerja Pasar Derbali et al. (2017) menjelaskan bahwa kepemilikan manajerial adalah proporsi saham yang dimiliki oleh manajemen. Kepemilikan ma- najerial dalam suatu perusahaan memiliki peran sebagai pihak yang menyatukan kepentingan manajer perusahaan dengan pemegang saham perusahaan. Cho (1998), Schmid dan Zimmermann (2007) dan Leung dan Horwitz (2007) melaku- kan penelitian tentang pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kinerja pasar. Hasil peneli- tian tersebut menunjukkan bahwa terdapat hu- bungan positif antara kepemilikan manajerial terhadap kinerja pasar. Hasil penelitian berbeda ditunjukkan oleh Jusoh, et al. (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan ma- najerial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai Tobin’s Q. Berdasarkan argumen tersebut maka hipotesis yang dibentuk adalah sebagai berikut. : Kepemilikan manajerial berpengaruh posi- tif terhadap kinerja pasar 2.5 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Pasar Chung (2009) menjelaskan bahwa kepemi- likan institusional adalah bagian dari saham perusahaan yang dipegang oleh investor institusi. Dengan adanya kepemilikan institusional ini diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap kinerja dari manajemen perusahaan. Kepemilikan institusional memberikan peran penting dalam hal pengawasan dan pemantauan yang efektif terhadap kinerja perusahaan. Thanatawee (2014) melakukan penelitian tentang pengaruh antara kepemilikan institu- sional terhadap Tobin’s Q. hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa terdapat hubungan signifikan positif antara kepemilikan institusi dengan Tobin’s Q. Hasil penelitian berbeda di- tunjukkan oleh Erkens, et al. (2012) yang mela- kukan penelitian tentang pengaruh kepemilikan institusional terhadap kinerja perusahaan. Kepe- milikan institusional tidak berpengaruh signifi- kan terhadap kinerja perusahaan. Berdasarkan argumen tersebut maka hipotesis yang dibentuk adalah sebagai berikut. : Kepemilikan institusional berpengaruh po- sitif terhadap kinerja pasar 2.6 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Kinerja Pasar Peraturan tentang Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor KEP-634/BL/2012, komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik dan memenuhi syarat yang sudah ditetapkan. Tingkat kepercayaan para investor dengan adanya komi- saris independen ini akan berdampak pada pe- ningkatan nilai perusahaan dan kinerja pasar. Rizkary Roslianti, Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Pasar Emiten yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia 149 2.8 Kerangka Pemikiran Teoretis Penelitian ini menggunakan kerangka pemi- kiran teoretis yang akan dijadikan acuan dalam melakukan penelitian sehingga penelitian ini men- jadi rinci dan terarah. Berikut kerangka pemi- kiran teoretis yang digunakan. model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Sumber: diolah penulis Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoretis 2.9 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang meliputi dua variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini. Kedua variabel tersebut adalah variabel dependen yang diproksikan de- ngan nilai Tobin’s Q dan variabel independen yang diproksikan oleh kepemilikan institusional, komisaris independen dan kepemilikan mana- jerial. Pengujian hipotesis pada penelitian ini dila- kukan dengan uji t untuk menguji apakah varia- bel independen yang digunakan dalam penelitian ini berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Tobin’s Q dan uji F untuk menguji apakah variabel independen yang digunakan dalam pene- litian ini berpengaruh secara simultan terhadap Tobin’s Q. Teknik analisis yang digunakan dalam pene- litian ini adalah menggunakan analisis regresi linear berganda (multiple linear regression analy- sis) dengan memanfaatkan data yang telah dida- patkan dari penggabungan data cross section (beberapa emiten perusahaan tertentu) dan time series (lingkup waktu tertentu). Berikut adalah Di mana: Q = Tobin’s Q KI = Kepemilikan institusional IND= Komisaris independen KM = Kepemilikan manajerial ! = koefisien masing masing variabel inde- penden e = Faktor pengganggu di luar model pene- litian 2.10 Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini merupakan seluruh saham yang terdaftar pada Indeks Saham Syariah Indonesia pada tahun 2016–2018. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik pur- posive sampling dengan kriteria sebagai berikut. 1. Saham perusahaan tersebut konsisten menjadi emiten indeks saham syariah mulai tahun 2016 hingga 2018. 2. Tidak melakukan stock split dan/atau stock reverse. 3. Emiten memiliki data yang berkaitan dengan kepemilikan institusional, komisaris indepen- den dan kepemilikan manajerial. 2.11 Definisi Operasional Variabel Tabel 2.1 Definisi Operasional Variabel Sumber: Hasil olah data Business and Finance Journal, Volume 5, No. 2, October 2020 150 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Uji Multikolinearitas Tabel 3.1 Uji Multikolnearitas Pada tabel Durbin Watson menunjukkan nilai dL sebesar 1,793 dan dU sebesar 1,821. Nilai Dur- bin Watson pada hasil penghitungan ternyata me- nunjukkan hasil yang lebih besar dari batas atas (dU) yakni 1,821 dan kurang dari (4-dU) atau se- besar 2,179. Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak terjadi autokorelasi pada varian error dalam penelitian ini. 3.4 Analisis Regresi Linear Berganda Tabel 3.4 Uji t Sumber: Hasil olah data Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa masing-masing variabel independen memiliki nilai VIF < 10 dan tolerance value > 0,1. Kesimpulan dari hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel indpenden yang digunakan dalam penelitian ini bebas dari multikolinearitas. 3.2 Uji Heteroskedastisitas Tabel 3.2 Uji Heteroskedastisitas Sumber: Hasil olah data Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa variabel kepemilikan institusional dan kepemi- likan manajerial tidak terjadi gejala heteroske- dastisitas, karena nilai signifikan > 0,05 sedang- kan variabel komisaris independen terjadi gejala heteroskedastisitas. 3.3 Uji Autokorelasi Tabel 3.3 Uji Autokorelasi Sumber: Hasil olah data Sumber: Hasil olah data a. Variabel kepemilikan institusional memiliki nilai t hitung sebesar 0,247 dengan nilai signifi- kan 0,805. Dapat disimpulkan bahwa variabel ini tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap Tobin’s Q karena nilai signifikan > 0,05. b. Variabel komisaris independen memiliki nilai t hitung sebesar 6,184 dengan nilai signifikan 0,000. Dapat disimpulkan bahwa variabel ini berpengaruh signifikan terhadap Tobin’s Q karena nilai signifikan < 0,05. c. Variabel kepemilikan manajerial memiliki nilai t hitung sebesar 0,177 dengan nilai signifikan 0,860. Dapat disimpulkan bahwa variabel ini tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap Tobin’s Q karena nilai signifikan > 0,05. 3.5 Pembahasan 3.5.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional terha- dap Kinerja Pasar Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepe- milikan institusional tidak memiliki pengaruh Rizkary Roslianti, Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Pasar Emiten yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia 151 signifikan terhadap kinerja pasar. Hal ini sesuai dengan penelitian Erkens, et al. (2012) yang menjelaskan bahwa dengan adannya nilai kepe- milikan institusional yang tinggi justru akan memiliki risiko yang tinggi pula dan berimbas pada tingginya tingkat kerugian pemegang sa- ham. Koladkiewicz (2002) menemukan bahwa kepemilikan institusional dapat mengurangi pe- ngelolaan laba yang didapatkan oleh perusahaan. Ketika perusahaan tidak dapat mengelola laba dengan efisien, tingkat kepemilikan institusional yang tinggi justru akan mengurangi earning management. Tingkat kepemilikan saham institusional yang tinggi tidak menjamin bahwa proses peng- awasan dan monitoring akan berjalan dengan baik. Saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan standar operasional perusahaan de- ngan baik. Hal ini dapat menjadi suatu perbaikan dalam meminimalisasi adanya tindak penyim- pangan yang muncul. 3.5.2 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Kinerja Pasar Hasil penelitian menjelaskan bahwa kompo- sisi komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja pasar. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Abbasi, et al. (2012) bahwa komisaris independen memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pasar. Semakin besar proporsi komisaris independen maka semakin objektif keputusan yang diambil perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan yang ber- dampak pada kinerja pasar. Dengan adanya ko- misaris independen dalam perusahaan maka di- harapkan dapat membantu untuk melakukan pengawasan kinerja manajemen agar tidak terjadi adanya penyimpangan atau kecurangan dalam manajemen. Hal ini akan berdampak baik pada kinerja pasar. Komisaris independen ini merupakan pihak eksternal yang bertugas untuk melakukan peng- awasan dalam kinerja manajemen perusahaan. Terkadang komisaris independen ini juga menjadi investor bagi perusahaan. Dengan adanya komi- saris independen ini diharapkan dapat menyatu- kan kepentingan pemegang saham minoritas de- ngan kepentingan manajemen. Kinerja komisaris independen yang efisien dan sesuai dengan tugas serta wewenangnya dapat memberikan tingkat kepercayaan dan rasa aman bagi investor lain yang menanamkan modal saham pada perusahaan. 3.5.3 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Pasar Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan manajerial dan ki- nerja pasar. Tingkat kepemilikan manajerial pada perusahaan di Indonesia masih sangat sedikit. Hal ini akan berdampak pada pengambilan keputusan dan kewenangan manajemen sangat rendah. Fama & Jensen (1983) menjelaskan bahwa dalam ke- adaan tertentu, kepemilikan manajemen (insider) yang tinggi tidak selalu dapat berpengaruh terha- dap nilai perusahaan yang berdampak pada kinerja pasar. Kepemilikan manajerial tidak dapat sepe- nuhnya dapat melakukan pengawasan seratus per- sen dalam kegiatan perusahaan. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Shleifer dan Vishny (1997) bahwa menurut teori ke- agenan, kepemilikan manajemen bagaikan pe- dang bermata dua yang dapat memengaruhi biaya keagenen. Kepemilikan manajemen dapat mengurangi biaya keagenen karena dengan ada- nya kepemilikan manajemen dalam perusahaan akan memberikan motivasi bagi manajemen untuk bertindak seperti pemegang saham. Akan tetapi di sisi lain, tingkat kepemilikan manajemen yang tinggi dapat menyebabkan salah pelaporan keuangan dan pengambilalihan saham minoritas. Business and Finance Journal, Volume 5, No. 2, October 2020 152 Berdasarkan hasil analisis tersebut, kepemi- likan manajemen tidak terlalu berpengaruh bagi investor dalam menentukan perusahaan mana yang akan diinvestasikan. Investor lebih memilih untuk mempertimbangkan faktor lain dalam pemilihan investasi seperti misalnya kinerja ke- uangan perusahaan. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa: Variabel kepemilikan insti- tusional tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia tahun 2016 hingga 2018. Hal ini dikarenakan dengan tingginya tingkat kepemilikan institusional tidak menjamin bahwa proses pengawasan akan berjalan dengan efektif. Variabel komisaris independen berpenga- ruh signifikan positif terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia tahun 2016 hingga 2018. Hal ini dikarenakan semakin besar proporsi komisaris independen dalam perusahaan akan menyebab- kan pemilihan keputusan menjadi semakin objek- tif untuk meningkatkan nilai perusahaan dan berdampak pada kinerja pasar. Variabel kepemi- likan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia tahun 2016 hingga 2018. Hal ini disebabkan karena kepemi- likan manajerial pada perusahaan di Indonesia memiliki jumlah yang sangat kecil sehingga tidak terlalu berdampak pada keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan. Variabel kepemi- likan institusional, komisaris independen, dan kepemilikan manajerial secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pasar emiten yang terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia tahun 2016 hingga 2018. V. DAFTAR RUJUKAN Abbasi, Majid, et al. 2012. Impact of Corporate Governance Mechanisms on Firm Value Evidence from the Food Industry of Iran. Journal of Basic and Applied Scientific Research, Vol 2(5), Hal. 4712–4721. Alghifari, et al. 2013. Effect of Return on Assets (ROA) Against Tobin’s Q: Studies in Food and Beverage Company in Indonesia Stock Exchange Years 2007–2011. International Journal of Science and Research (IJSR), Vol. 2 (1), Hal. 722–725. Cho, M.H. 1998. Ownership Structure, Invest- ment and the Corporate Value: An Em- pirical Analysis. Journal of Financial Eco- nomics, Vol. 47, Hal. 103–121. Chung, K.H., J. Elder, & J. Kim. 2009. Corpo- rate Governance and Liquidity. Journal of Financial and Quantitative Analysis, forth- coming. CNN Indonesia. 2017. OJK: Praktik GCG Perusahaan Indonesia Masih Tertinggal. Diunduh tanggal 21 Agustus 2019. Debali, A. et al. 2017. Do Ownership Structure and Quality of Financial Information Af- fect The Cost of Debt of Tunisian Listing Firms? International Journal of Critical Accounting. Hidayat, Athalia Ariati & Sidharta Utama. 2015. Board Characteristics and Firm Perfor- mance: Evidence from Indonesia. Interna- tional Research Journal of Business Stud- ies. Vol. 8, No. 3. Hal. 137–154. Jensen, M. & Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Fi- nancial Economics, Hal. 305–360. Jusoh, et al. 2014. Managerial Ownership and Market-Based Performance Indicators: Extended Agency Theory. Journal of Con- Rizkary Roslianti, Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Pasar Emiten yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia 153 temporary Issues and Thought, Vol. 14, Hal. 8–19. Koladkiewicz, Izabella. 2002. The Institutional Shareholders-Best Practice: The National Funds Experience. Journal Compilation, Vol. 10, Ha.l 187–192. Blackwell Publish- ing. Komite Nasional Kebijakan Governance. 2011. Pedoman Umum Good Governance Bisnis Syariah. Leung, S. dan B. Horwitz. 2007. Is Concen- trated Management Ownership Value In- creasing or Decreasing? Evidence in Hong- kong, China during the Asian Financial Crisis. SSRN Working Paper Series, No. 984403. Ruan, W. et al. 2011. Managerial Ownership, Capital Structure and Firm Value: Evi- dence from China’s Civilian-run Firms. Australasian Accounting, Bussiness and Fi- nance Journal, Vol. 5(3), Hal. 73–92. Scjmid, M.M. & Zimmermann H. 2007. Mana- gerial Incentives and Firm Valuation Evi- dence from Switzerland. SSRN Working Paper Series, No. 78418. Shleifer, A. & R.W., Vishny. 1997. A Survey of Corporate Governance. A Journal of Fi- nance, Vol. 52, Hal. 737–783. Solomon, Jill & Aris Solomon. 2004. Corporate Governance and Accountability. England: John Wiley & Sons, Ltd. Thanatawee, Yordying. 2014. Institutional Own- ership and Firm Value in Thailand. Asian Journal of Business and Accounting, 7(2), Hal. 1–22.