01 Antariksa.pmd Friska Ayu, Ratna Ayu Ratriwardhani, Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Santri Terhadap Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana Kebakaran di Pondok Pesantren X di Kota Surabaya 2121 Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Santri Terhadap Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana Kebakaran di Pondok Pesantren X di Kota Surabaya Friska Ayu, Ratna Ayu Ratriwardhani Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya e-mail: friskayuligoy@unusa.ac.id Abstract: Preparedness is a part of the disaster management process which aims to prevent and minimize disaster risk which is pro-active before a disaster occurs. Fire disasters can occur any- where, including in the Islamic boarding schools, this is because in the Islamic boarding schools there is not only a teaching and learning process, but there are additional activities such as fulfilling their daily needs such as the students also live in the cottage during their studies. This research was conducted in July-August 2020 which aims to analyze the relationship between the level of knowl- edge and attitudes of students towards fire disaster preparedness at Islamic Boarding School Pondok Karya at Manado City. Type of this research using analytic survey with a cross sectional approach, with a total sample of 89 people was taken using accidental techniques. The results of this study showed that as many as 60 students (67.4%) have a level of preparedness that is ready to cope with fire disasters with a good level of knowledge (47.2%) on fire management procedures although only 33 students (37.1%) knew how to use fire extinguisher. Statistical test result using chi square test show that there is a relationship between the level of knowledge (0.002) and attitude (0.000) with the level of preparedness in fire disaster preparedness at Islamic Boarding School Pondok Karya at Manado City. Recommended for Islamic Boarding School Management are required to provide education on fire disaster management preparedness to students at least once a year, so that if a fire disaster occurs, the risk can be minimized. Keywords: fire disaster preparedness, Islamic boarding school, santri SIGAB PENDAHULUAN Penyelenggaraan pendidikan dan keselamat- an kerja di lembaga pendidikan masih perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif. Sebu- ah lembaga pendidikan tidak berbeda jauh de- ngan sebuah perusahaan, di dalam lembaga pen- didikan terdapat tenaga kerja, orang-orang selain pekerja, risiko bahaya, sumber bahaya, dan risiko terjadinya bahaya. Berbeda dengan lembaga pen- didikan kegiatan di sebuah perusahaan terfokus pada kegiatan produksi, namun demikian bukan berarti lembaga pendidikan tidak mempunyai risiko bahaya. Salah satu risiko bahaya yang dapat terjadi di lembaga pendidikan adalah ben- cana kebakaran. Kejadian kebakaran di lingkungan pendidik- an seperti kampus pernah terjadi di kampus STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Perbanas di ka- wasan Kuningan Jakarta dan Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok Ja- wa Barat pada tahun 2001[3]. Pada bulan Maret 2019 telah terjadi kebakaran di Ruang Kemahasis- waan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universi- tas Airlangga Surabaya, penyebab kebakaran di- duga karena adanya hubungan pendek arus listrik. Kejadian kebakaran di lingkungan pondok pesan- tren pernah terjadi di Malaysia tahun 2017 yang menewaskan 24 orang santri dan pengurus pon- dok pesantren, adapun penyebab kebakaran ada- lah hubungan arus pendek listrik. Business and Finance Journal, Volume 6, No. 1, March 2021 22 Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai risiko bahaya, karena di dalam kegiatannya selalu menggunakan alat dan bahan untuk menunjang proses belajar mengajar dan sumber energi yang mampu menimbulkan bahaya. Sumber energi seperti listrik, gas elpiji, dan bahan-bahan kimia jika tidak ditata dengan baik dapat menimbulkan risiko kebakaran. Kebakaran merupakan benca- na yang paling sering dihadapi dan bisa digolong- kan sebagai bencana alam ataupun bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Bahaya ke- bakaran dapat terjadi setiap saat dan sewaktu- waktu, yang banyak mengakibatkan kerugian berupa materi, lingkungan, finansial, peralatan, dan manusia itu sendiri [4]. Faktor utama yang dapat mengakibatkan bencana tersebut menimbulkan korban dan keru- gian besar, yaitu kurangnya pemahaman tentang karakteristik bahaya, sikap, atau perilaku yang mengakibatkan penurunan sumber daya alam, kurangnya informasi peringatan dini yang meng- akibatkan ketidaksiapan, dan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam menghadapi ben- cana. Kesiapsiagaan dikelompokkan menjadi em- pat parameter yaitu pengetahuan dan sikap, perencanaan kedaruratan, sistem peringatan dan mobilisasi sumber daya. Oleh karena itu, kegiatan penelitian ini perlu dilaksanakan untuk melihat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren. METODE PENELITIAN Penelitian ini pada awalnya akan di lakukan di sebuah pondok pesantren yang berada di Kota Surabaya, survei awal dan perizinan telah dilakukan oleh tim, namun dikarenakan adanya pandemic Covid-19 yang melanda Indonesia ma- ka pondok pesantren tempat penelitian yang dituju belum dapat kembali ke aktivitas normal, dengan alasan tersebut maka tim peneliti memin- dahkan lokasi penelitian ke pondok pesantren yang berada di Kota Manado, alasan pemilihan tempat penelitian ini adalah lokasi domisili peneliti selama masa pandemi berada di Kota Manado, selain itu para santri masih tetap tinggal di pondok selama masa pandemic. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Pesantren Lembaga Pendidikan Islam, Pondok Karya Pembangunan Kota Manado di Jalan Arie Lasut Kelurahan Kombos Timur, Kecamatan Singkil Manado, Sulawesi Utara. Jenis penelitian yang digunakan dalam pene- litian ini adalah survei analitik dengan rancangan cross sectional study yakni suatu rancangan pene- litian yang mempelajari hubungan variabel inde- penden/variabel bebas dalam hal ini tingkat pe- ngetahuan dan sikap santri dengan variabel de- penden/variabel terikat yakni kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri yang tinggal di pondok pesantren sebanyak 164 orang. Besar sampel yang akan diambil sebanyak 89 orang yang diambil menggu- nakan teknik accidental sampling. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Data Tabel 1 menunjukkan distribusi karak- teristik santri yang menjadi responden dalam penelitian ini. Sebagian besar santri berusia 10– 15 tahun (85.4%) dengan pendidikan terakhir adalah SMP yakni sebanyak 38 orang. Tingkat pengetahuan santri akan tata cara penanggulangan bencana kebakaran termasuk dalam kategori cukup baik (52.8%), meskipun hanya 33 orang yang tahu menggunakan alat pemadam api ringan Friska Ayu, Ratna Ayu Ratriwardhani, Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Santri Terhadap Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana Kebakaran di Pondok Pesantren X di Kota Surabaya 23 (APAR), sedangkan sikap santri dalam mengha- dapi bencana kebakaran dalam kategori positif (70.8%). Tingkat kesiapsiagaan santri dalam pe- nanggulangan bencana kebakaran berada dalam kategori siap (67.4%). Data Tabel 2 menunjukkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square terhadap variabel bebas dengan variabel terikat menunjuk- kan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan (0.002) dan sikap (0.000) dengan tingkat kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran di Pesantren Lembaga Pendi- dikan Islam, Pondok Karya Pembangunan, Kota Manado. Pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk kesiapsiagaan. Pengeta- huan yang dimiliki biasanya dapat memengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap siaga dalam mengantisipasi bencana. B. Pembahasan Kejadian kebakaran di lingkungan pendidik- an seperti kampus pernah terjadi di kampus STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Perbanas di kawasan Kuningan Jakarta dan Gedung De- kanat Fakultas Teknik Universitas Indonesia De- pok Jawa Barat pada tahun 2001 [3]. Pada bulan Maret 2019 telah terjadi kebakaran di Ruang Kemahasiswaan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya, penyebab keba- karan diduga karena adanya hubungan pendek arus listrik. Kejadian kebakaran di lingkungan pondok pesantren pernah terjadi di Malaysia Tahun 2017 yang menewaskan 24 orang santri dan pengurus pondok pesantren, adapun penye- bab kebakaran adalah hubungan arus pendek listrik. Faktor utama yang dapat mengakibatkan bencana tersebut menimbulkan korban dan keru- gian besar, yaitu kurangnya pemahaman tentang .DUDNWHULVWLN�5HVSRQGHQ� Q� �� Umur 10-15 Tahun 76 85,4 16-20 Tahun 12 13,5 >20 Tahun 1 1,1 Lama Tinggal di Pondok < 1 Tahun 51 57,3 1-2 Tahun 24 27,0 >2 Tahun 14 15,7 Pendidikan Terakhir Madrasah Ibtidaiyah (SD) 37 41,6 Madrasah Tsanawiyah (SMP) 38 42,7 Madrasah Aliyah (SMA) 12 13,5 PT (D4/S1) 2 2,2 Pengalaman Menghadapi Kebakaran Ya 9 10,1 Tidak 80 89,9 Tingkat Pengetahuan Cukup Baik 47 52,8 Baik 42 47,2 Sikap Sikap Negatif 26 29,2 Sikap Positif 63 70,8 Pemanfaatan Sarpra Penanggulangan Kebakaran Tersedia tetapi tidak tahu menggunakan 56 62,9 Tersedia dan tahu menggunakan 33 37,1 Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran Kurang Siap 29 32,6 Siap 60 67,4 -XPODK� 89 100,0 Tabel 1 Distribusi Karakteristik Santri di Pesantren Lembaga Pendidikan Islam, Pondok Karya Pembangunan, Kota Manado Tahun 2020 9DULDEHO�%HEDV� 9DULDEHO�7HULNDW� �.DWHJRUL�.HVLDSVLDJDDQ� %HQFDQD�.HEDNDUDQ�� 3�YDOXH�.XUDQJ� 6LDS� 6LDS� Q� �� Q� �� Tingkat Pengetahu an Cukup Baik 24 75.0 23 40.4 0.002 Baik 8 25.0 34 59.6 -XPODK� ��� ���� ��� ���� Sikap Santri Sikap Negatif 23 79.3 3 5.0 0.000 Sikap Positif 6 20.7 57 95.0 -XPODK� ��� ���� ��� ���� Tabel 2 Uji Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Santri terhadap Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana Kebakaran di Pesantren Lembaga Pendidikan Islam, Pondok Karya Pembangunan, Kota Manado Tahun 2020 Business and Finance Journal, Volume 6, No. 1, March 2021 24 karakteristik bahaya, sikap, atau perilaku yang mengakibatkan penurunan sumber daya alam, kurangnya informasi peringatan dini yang meng- akibatkan ketidaksiapan, dan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam menghadapi ben- cana. Kesiapsiagaan dikelompokkan menjadi em- pat parameter yaitu pengetahuan dan sikap, perencanaan kedaruratan, sistem peringatan, dan mobilisasi sumber daya. Dalam penelitian ini pengetahuan yang ha- rus dimiliki santri mengenai bencana kebakaran yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang pe- nyebab kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana kebakaran yang meliputi pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri yang tepat saat terjadi kebakaran serta tindakan dan per- alatan yang perlu disiapkan sebelum terjadi keba- karan, demikian juga sikap dan kepedulian ter- hadap faktor risiko kebakaran. Pengetahuan me- rupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk kesiapsiagaan. Pengetahuan yang dimiliki biasa- nya dapat memengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap siaga dalam mengantisipasi bencana. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa seba- gian besar santri di Pesantren Lembaga Pendi- dikan Islam, Pondok Karya Pembangunan, Kota Manado menunjukkan tingkat pengetahuan da- lam penanganan bencana kebakaran berada da- lam kategori cukup, hal ini berarti para santri cukup mengetahui dan memahami penyebab ben- cana kebakaran, mengetahui cara penyelamatan diri ketika terjadi bencana, dan memahami tin- dakan yang akan dilakukan ketika terjadi benca- na kebakaran. Dalam penelitian ini sikap merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan tindakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana kebakaran. Sikap santri di pondok pesantren ini menunjukkan sikap yang tanggap darurat terha- dap bencana kebakaran, beberapa santri menge- tahui jalur evakuasi dan letak alat pemadam api ringan (APAR) namun beberapa santri masih belum tahu menggunakan alat pemadam api ringan tersebut. Hasil penelitian ini didukung oleh Lenawida (2011) yang mengatakan bahwa variabel sikap merupakan faktor yang paling dominan meme- ngaruhi kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi bencana gempa bumi. Penelitian LIPI-UNESCO/ISDR (2006) tentang kesiapsia- gaan masyarakat pedesaan Aceh menghadapi bencana, menunjukkan bahwa pengetahuan mem- punyai pengaruh terhadap tingkat kesiapsiagaan menghadapi bencana pada masyarakat pedesaan Aceh. LIPI-UNESCO/ISDR (2006) juga menjelas- kan bahwa pengetahuan merupakan faktor utama kunci kesiapsiagaan. Upaya meningkatkan penge- tahuan melalui pendidikan kebencanaan diharap- kan dapat meningkatkan perilaku kesiapsiagaan seseorang. Hal ini dapat dilihat dari hasil pene- litian di mana pengetahuan yang semakin baik dapat meningkatkan perilaku kesiapsiagaan sese- orang. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari kegiatan penelitian ini bah- wa terdapat hubungan antara tingkat pengeta- huan dan sikap santri terhadap kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran di pondok pesantren. Terdapat empat parameter yang dapat diukur untuk melihat kesiapsiagaan seseorang terhadap bencana yakni pengetahuan akan po- tensi bahaya tersebut, sikap, perencanaan keda- ruratan, sistem peringatan, dan mobilisasi sum- ber daya saat terjadi bencana. Oleh karena itu, disarankan bagi pengurus pesantren dapat mem- berikan edukasi kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran kepada santri minimal seta- Friska Ayu, Ratna Ayu Ratriwardhani, Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Santri Terhadap Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana Kebakaran di Pondok Pesantren X di Kota Surabaya 25 hun sekali sehingga jika terjadi bencana keba- karan maka risiko dapat diminimalisasi. REFERENSI Bakornas PB. 2007. Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indo- nesia. Jakarta: Badan Nasional Penanggu- langan Bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2012. Data Kebencanaan (diakses melalui www. bnpb.go.id diakses pada tanggal 27 Sep- tember 2017). Depnakertrans. Materi Evaluasi dan Penunjukan Calon Ahli K3:Pengawasan K3 Penanggu- langan Kebakaran. Jakarta. Fitriana, L., Suroto, & Kurniawan, B. 2017. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Upaya Kesiapsiagaan Karyawan Bagian Produksi dalam Menghadapi Bahaya Keba- karan di PT Sandang Asia Maju Abadi. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 5(3), 295–307. International Fire Service Training Association (IFSTA). 2007. Dasar-Dasar Penanggu- langan Kebakaran (Essential of Fire Fight- ing). Dinas Kebakaran. DKI Jakarta. Kementerian Dalam Negeri. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyiapan Sarana dan Prasarana dalam Penanggulangan ben- cana. Jakarta. Kodoatie, J.R. 2006. Pengelolaan Bencana Ter- padu. Jakarta: Yarsif Watampone. Miranti, R.S. & Mardiana. 2018. Penerapan Sistem Proteksi Aktif dan Sarana Penyela- matan Jiwa sebagai Upaya Pencegahan Kebakaran. Journal of Public Healts, 2(1), 23–32. Pangesti, Asih Dwi Hayu. 2012. Gambaran Ting- kat Pengetahuan dan Aplikasi Kesiapan Bencana pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Tahun 2012. Tidak diterbitkan. Skripsi. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Patuju, A. 2018. Hubungan Sikap terhadap Resiko Bencana Kebakaran dengan Kesiapsiagaan Menghadapi Kebakaran di Pemukiman Kelurahan Air Putih Kecamatan Samarinda Ulu Kalimantan Timur. Peraturan Daerah (Perda) Daerah Khusus Ibu- kota (DKI) Jakarta No. 3 Tahun 1992 tentang Penanggulangan Bahaya Kebakar- an dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pusdiklatkar. 2006. Modul Pelatihan: Perilaku Api. Jakarta. Ramli S. 2010. Pedoman Praktis Manajemen Bencana. Jakarta: Dian Rakyat. Tarwaka, dkk. 2012. Ergonomi untuk Keselamat- an Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Su- rakarta: Uniba Press. Triyono, Agus. 2001. Teknik Penanggulangan Bahaya Kebakaran di Perusahaan. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Vol. XXXIV (3), Hal. 34–53.