01 Dafazal Saffan.pmd Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 6363 Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X Puspandam Katias, Achmad Affandi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya e-mail: puspandam@unusa.ac.id, achmad.affandu100@gmail.com Abstract: The increasing competition in the manufacturing industry caused increasing inconsumer demand of the quality and quantity of a good product. Therefore, manufacturing companies must have reliable services, policies and product qualities to satisfy its customers. So it needs to be supported by efficient production system and inventory system. To able to create an efficient pro- duction system then need a good raw material inventory planning. This research aims to compere how efficiently in planning raw materials inventory between Wagner-Within Algorithm with the actual concept that applied to PT X, Sidoarjo. The methodology of this research is qualitative descriptive research. The findings this research is engaged in packaging (woven bag and jumbo bag) with main raw materials such as plastic ore and supporting material in inner, thread, additive, and pigment. Based on the result of the analysis is known that the actual concept of the company gives the total inventory cost IDR 3.151.000.000 with the frequency of ordering 12 times while Wagner- Within Algorithm method provides a more efficient total inventory cost of Rp. 2.685.821.101 with 8 times the frequency of ordering and can savings of 14.8% of total raw material inventory cost. Keywords: wagner-within algorithm, lot sizing, inventory management 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan semakin berkembangnya teknologi dan dunia industri manufaktur saat ini memacu pertumbuhan industri manufaktur, yang menye- babkan meningkatkannya persaingan di antara perusahaan-perusahaan manufaktur untuk mem- perebutkan konsumen sehingga mengakibatkan meningkatnya pula tuntutan konsumen terhadap kualitas dan kuantitas yang baik dari suatu produk. Selain itu, perusahaan manufaktur juga dituntut untuk dapat memuaskan konsumen dengan cara menyelesaikan pesanan konsumen tepat pada waktu yang diharapkan oleh para konsumen Oleh karena itu, perusahaan manu- faktur haruslah mempunyai pelayanan, kebi- jakan, dan kualitas produk yang dapat diandalkan guna memuaskan konsumennya. Sehingga perlu ditunjang oleh suatu sistem produksi dan sistem persediaan yang seefisien mungkin. Untuk dapat menciptakan sistem produksi yang efisien maka diperlukan suatu perencanaan produksi yang baik. Persediaan adalah persediaan barang atau sumber yang digunakan dalam suatu organisasi. Sedangkan menurut (Yamit, 2005) persediaan merupakan kekayaan perusahaan yang memiliki peranan penting dalam operasi bisnis, sehingga perusahaan perlu melakukan manajemen perse- diaan proaktif, artinya perusahaan harus mampu mengantisipasi keadaan maupun tantangan yang ada dalam manajemen persediaan untuk men- capai sasaran akhir, yaitu untuk meminimalisasi total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusa- haan untuk penanganan persediaan. Dalam upaya meningkatkan daya saing dan profitabilitas, seperti yang dikemukakan Rangkuti (2007) bahwa keuntungan yang maksimum salah satunya dapat dicapai dengan meminimumkan Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 64 biaya yang berkaitan dengan persediaan, sangat diperlukan perencanaan persediaan yang baik, efektif, dan efisien khususnya untuk persediaan bahan mentah atau bahan baku, mengingat bah- wa bahan baku dalam perusahaan manufaktur merupakan faktor yang sangat berpengaruh ter- hadap kelancaran bisnis. Selama ini perusahaan manufaktur pada umumnya melakukan perencanaan dan pengen- dalian tidak berdasarkan metode-metode yang sudah baku, tetapi hanya berdasarkan pada peng- alaman-pengalaman sebelumnya. Hal tersebut sering menyebabkan terjadinya kelebihan atau penumpukan bahan baku maupun kekurangan- nya yang menyebabkan pembengkakan biaya, di samping terjadi kekurangan-kekurangan yang dapat mengganggu atau menghambat proses pro- duksi dalam memenuhi permintaan konsumen. Untuk mengatasi permasalahan dalam per- sediaan suatu perusahaan, terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan dalam rangka meningkatkan efisiensi manajemen persediaan. Salah satunya metode lot sizing di mana ukuran jumlah barang yang dipesan akan berhubungan dengan biaya pemesanan (set-up). Lot sizing menurut Rangkuti (2007) adalah teknik dalam meminimalkan jumlah barang yang akan dipesan, sehingga dapat meminimalkan total biaya perse- diaan. Salah satu pendekatan lot sizing yang paling tepat yang dapat meminimalkan biaya total persediaan yakni Algoritma Wagner Within (AWW). Algoritma ini dikembangkan oleh Wag- ner dan Within pada tahun 1958 untuk membe- rikan solusi optimum bagi persoalan ukuran pemesanan deterministik pada suatu kurun waktu tertentu di mana kebutuhan seluruh periode harus terpenuhi. Menurut jurnal penelitian (Rajhans dan Kulkarnia, 2013:807) Algoritma Wagner Within adalah metode yang akurat untuk menentukan ukuran yang optimal untuk suatu produk dengan permintaan dinamis dengan pro- duksi satu tahap tanpa mempertimbangkan ba- tasan kapasitas. Model Algoritma Wagner-Whitin menghasilkan biaya yang optimal walaupun biaya tetap bervariasi dari satu periode ke periode lainnya. Penelitian ini dilakukan di salah satu perusa- haan yang bergerak pada bidang kemasan/pack- aging di PT X yang beroperasi sejak tahun 1981, perusahaan ini memproduksi karung plas- tik dan aksesorisnya. Produk yang dihasilkan oleh PT X adalah woven bag dan jumbo bag. Baik woven bag dan jumbo bag dihasilkan melalui proses perajutan raw material, penjahitan, dan printing. Produk woven bag biasanya digunakan sebagai pembungkus pupuk, semen, tepung, beras, dll., sedangkan produk jumbo bag biasa- nya digunakan sebagai pembungkus dalam ukur- an yang sangat besar seperti barang-barang yang dikirim dengan kontainer. Dalam proses produksinya, PT X memiliki permasalahan pada persediaan salah satu bahan bakunya yakni bijih plastik. Bahan baku bijih plastik merupakan bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan woven bag maupun jumbo bag. Bijih plastik ini langsung diimpor langsung dari negara lain, hal ini membutuhkan waktu tunggu yang lumayan lama untuk proses peme- sanan bahan baku. Berkaitan dengan lamanya waktu pemesanan bahan baku produk-produk tersebut, perusahaan ini harus mempunyai stra- tegi yang tepat dalam merencanakan persediaan bahan baku agar perusahaan dapat mengelola produksi secara efektif dan efisien. Berdasarkan pertimbangan dari latar bela- kang yang telah dijelaskan tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang persediaan bahan baku dan cara meminimalkan total biaya persediaan menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW). Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 65 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan apa saja yang telah dituliskan pada latar belakang di atas, penulis dapat meng- identifikasikan permasalahan dalam perencanaan persediaan bahan baku yang berhubungan lang- sung dengan produksi perusahaan. Apakah metode Algoritma Wagner-Within (AWW) dalam analisis persediaan bahan baku dapat berjalan secara efisien berdasarkan tolak ukur total biaya persediaan bahan baku diban- dingkan dengan kondisi existing yang diterapkan PT X, Sidoarjo? 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam rangka penelitian ini secara garis besar adalah sebagai berikut. Untuk membandingkan seberapa efisien berdasarkan tolak ukur total biaya persediaan bahan baku dalam analisis persediaan bahan baku antara metode Algoritma Wagner-Within (AWW) dengan kondisi existing yang diterapkan pada PT X, Sidoarjo. 2. LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan Sedangkan menurut Hendra (2009:131) persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan untuk dijual pada periode mendatang. Persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, komponen yang diproses, barang dalam proses pada proses manufaktur, dan barang jadi yang disimpan untuk dijual. Pada dasarnya, persediaan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perusahaan khususnya perusahaan manufaktur yang sehari- hari melakukan proses produksi, baik mempro- duksi barang maupun jasa untuk menunjang kelancaran proses produksinya. 2.2 Biaya Akibat Persediaan Menurut Tampubolon (2004:194), biaya- biaya yang sering muncul akibat persediaan adalah sebagai berikut. 1. Biaya penyimpanan Biaya penyimpanan merupakan biaya yang timbul di dalam menyimpan persediaan, di dalam usaha mengamankan persediaan dari kerusakan, keusangan dan keausan, dan kehi- langan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak atau rata-rata perse- diaan semakin tinggi (Rasjidin, dkk., 2007: 157) yang meliputi beberapa hal berikut. • Biaya fasilitas penyimpanan (penerangan, pendinginan dan pemanasan) • Biaya modal • Biaya keusangan dan keausan (amortiza- tion) • Biaya asuransi persediaan • Biaya perhitungan fisik dan konsolidasi laporan • Biaya kehilangan barang (pencurian, peru- sakan, perampokan) • Biaya penanganan Persediaan (handling cost) • Biaya pajak persediaan 2. Biaya pemesanan Biaya pemesanan pada umumnya (di luar biaya bahan dan potongan kuantitas) tidak naik apabila kuantitas pemesanan bertambah besar. Namun, apabila semakin banyak kom- ponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per periode turun, maka biaya pemesanan total akan turun. Berikut adalah biaya-biaya yang termasuk biaya pemesanan. Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 66 bahwa perusahaan haruslah dapat mempertahan- kan suatu jumlah persediaan yang optimum yang dapat menjamin kebutuhan bagi kelancaran ke- giatan perusahaan dalam jumlah dan mutu yang tepat serta dengan biaya yang serendah-rendah- nya. Berdasarkan pernyataan tersebut Baroto (2002:54) menegaskan yang dimaksud kriteria optimum adalah meminimalisasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu biaya penyim- panan dan pemesanan. Tingkat persediaan yang optimum dapat diatur dengan memenuhi kebu- tuhan bahan-bahan dalam jumlah, mutu, dan waktu yang tepat serta jumlah biaya yang rendah. 2.4 Prasyarat Manajemen Persediaan yang Efektif dan Efisien Sumayang (2003) menjelaskan dalam peng- olahan persediaan terdapat pertimbangan-pertim- bangan yang merupakan dasar pemikiran invento- ry management, di antara lain sebagai berikut. 1. Struktur biaya persediaan a. Biaya per unit (item cost) b. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost) c. Biaya pengelolaan persediaan (carrying cost) d. Biaya risiko kerusakan (cost of obsoles- cence) e. Biaya akibat kehabisan persediaan (stock out cost) 2. Penentuan seberapa besar dan kapan peme- sanan harus dilakukan. Hal ini sangat dipe- ngaruhi oleh ketergantungan permintaan ter- hadap kondisi pasar. a. Independent demand inventory Pada kondisi ini, persediaan sangat ber- gantung pada permintaan pasar. Pende- katan yang tepat adalah pengisian kembali persediaan disesuaikan dengan jumlah yang digunakan atau merupakan penggan- • Biaya angkut • Biaya upah • Biaya telepon • Biaya surat menyurat. dan • Biaya pemeriksaan penerimaan (raw ma- terial inspection) 3. Biaya persiapan Biaya persiapan merupakan biaya-biaya yang timbul di dalam menyiapkan mesin dan per- alatan untuk dipergunakan dalam proses konversi seperti: • Biaya mesin yang menganggur (idle ca- pacity) • Biaya Penyiapan tenaga kerja • Biaya Penjadwalan (scheduling) 4. Biaya kehabisan stock (stock out cost) Biaya tersebut disebut juga dengan biaya ke- kurangan atau kehabisan bahan. Biaya ini tim- bul akibat persediaan yang tidak mencukupi permintaan. Perusahaan sulit mengukur biaya kekurangan atau kehabisan pada praktiknya terutama karena biaya ini sering merupakan opportunity cost yang sulit diperkirakan seca- ra objektif. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan atau kehabisan bahan adalah: • Biaya kehilangan penjualan • Biaya kehilangan langganan • Biaya Pemesanan khusus • Biaya ekspedisi • Selisih harga • Biaya yang timbul akibat terganggunya operasi • Biaya tambahan, pengeluaran manajerial. 2.3 Manajemen Persediaan Dalam menjalankan operasional perusahaan khususnya perusahaan manufaktur maka tidak akan terlepas dari kegiatan penting dalam mela- kukan persediaan yaitu manajemen persediaan. Menurut Assauri (2004:176) mengemukakan Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 67 tian (replenishment). Pada saat persedia- an mulai berkurang, maka perusahaan dipicu untuk segera melakukan pemesan- an sebagai pengganti persediaan yang telah digunakan. b. Dependent demand inventory Pemesanan tidak dilakukan apabila perse- diaan berkurang. Pada kondisi ini, peme- sanan dilakukan bila ada permintaan ba- rang dari tahapan proses berikutnya. 2.5 Lot Sizing Lot Sizing merupakan teknik penentuan ukuran tumpuk atau jumlah barang atau bahan yang dipesan pada setiap pemesanan (Pardede, 2004: 495). Menurut Rangkuti (2007) lot sizing merupakan teknik dalam meminimalkan jumlah barang yang akan dipesan sehingga dapat memi- nimalkan total biaya persediaan. Menurut Her- janto (1999: 270) semakin rendah ukuran lot yang berarti semakin sering melakukan peme- sanan barang akan menurunkan biaya penyim- panan, tetapi menambah biaya pemesanan. Seba- liknya, semakin tinggi ukuran lot akan mengu- rangi frekuensi pemesanan yang berarti mengu- rangi biaya pemesanan, tetapi mengakibatkan meningkatnya biaya penyimpanan. Untuk itu, perlu dicari ukuran lot yang tepat yang dapat meminimalkan biaya total persediaan. Beberapa teknik lot sizing dengan tujuan meminimalkan jumlah biaya persediaan menurut Rajhans dan Kulkarnia (2013:806): 1. Lot for Lot (LFL) 2. Economic order Quantity (EOQ) 3. Period order quantity (POQ) 4. Least unit cost 5. Least total cost 6. Least period cost 7. Wagner-Whitin Algorithm/Algoritma Wagner- Within. 2.6 Algoritma Wagner-Within Algoritma ini dikembangkan oleh Wagner dan Within pada tahun 1958 untuk memberikan solusi optimum bagi persoalan ukuran pemesan- an deterministik pada suatu kurun waktu tertentu dimana kebutuhan seluruh periode harus terpe- nuhi. Algoritma Wagner Within adalah metode yang akurat untuk menentukan ukuran yang opti- mal untuk suatu produk dengan permintaan dina- mis dengan produksi satu tahap tanpa memper- timbangkan batasan kapasitas (Rajhans dan Kulkarnia, 2013:807). Metode Algoritma Wagner- Whitin menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang optimal walaupun biaya tetap berva- riasi dari satu periode ke periode lainnya. Metode ini melakukan minimasi penggabungan biaya to- tal persediaan bahan baku dari setup cost dan holding cost tersebut dengan hasil mendekati nilai yang sama untuk jumlah pemesanan yang dilaku- kan. Wagner dan Within (2004) menjabarkan langkah-langkah AWW sebagai berikut. Langkah 1 Hitung biaya total persediaan (biaya pesan dan biaya simpan), selanjutnya didefinisikan Oen. Rumusan Oen tersebut dinyatakan sebagai beri- kut. ���=�+�Σ(�� −�� )��=� untuk 1≤ e ≤ n ≤ N Di mana: Oen : Biaya total persediaan (Rp) A : Biaya pesan (Rp/pesan) h : Biaya simpan per unit per periode (Rp/ unit/periode) qet : Σ = � Dt : Permintaan pada periode t e : Batas awal periode yang dicakup pada pemesanan qet n : Batas maksimum periode yang dicakup pada pemesanan qet Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 68 Input 1. Data permintaan pembelian bahan baku selama tahun 2016 2. Data biaya pemesanan dan penyimpanan bahan baku selama tahun 2016 3. Data hasil observasi dan wawancara penelitian di perusahaan tersebut Proses 1. Menghitung biaya penyimpanan dan biaya pemesanan serta total biaya persediaan bahan baku dengan kondisi existing perusahaan 2. Menghitung biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan frekuensi pemesanan, serta total biaya persediaan bahan baku dengan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) menggunakan software POM for Windows 3 Output 1. Untuk membandingkan seberapa efisien berdasarkan tolak ukur total biaya per- sediaan bahan baku dalam analisis persediaan bahan baku antara metode Algoritma Wagner-Within (AWW) dengan kondisi existing yang diterapkan pada PT Kerta Rajasa Raya, Sidoarjo. a. Mengetahui jumlah biaya penyimpanan, biaya pemesanan, frekuensi peme- sanan, dan total biaya persediaan bahan baku dengan kondisi existing perusahaan. b. Mengetahui jumlah biaya penyimpanan, biaya pemesanan, frekuensi peme- sanan, dan total biaya persediaan bahan baku menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW). c. Mengetahui perbandingan jumlah biaya penyimpanan, biaya pemesanan, frekuensi pemesanan, dan total biaya persediaan bahan baku antara kondisi existing yang selama ini diterapkan perusahaan dengan metode Algoritma Wagner-Within (AWW). Langkah 2 Nilai fn adalah nilai Biaya total dan pemesanan optimal yang dihitung dengan menggunakan for- mula sebagai berikut. = [ + − ] untuk e = 1, 2,., n dan n = 1, 2,., N Langkah 3 Solusi optimal ft diperoleh dari perhitungan rekursif mundur seperti berikut: - fN = Oen + f e-1 Pemesanan-terakhir dilakukan pada periode e untuk memenuhi permintaan dari periode e sampai periode N - fe-1 = Ove-1 + fv-1 Pemesanan sebelum pemesanan-terakhir harus dilakukan pada periode v untuk memenuhi per- mintaan dari periode v sampai periode e-1. - fu-1= Ou-1 + f0 Pemesanan yang pertama harus dilakukan pada periode 1 untuk memenuhi permintaan dari periode 1 sampai periode u-1. Alasan dari penggunaan teknik ini adalah karena teknik ini menghasilkan total biaya yang paling minimum karena menggunakan program dinamis dan pendekatan matematisnya yang sa- ngat detail. Tujuan teknik ini adalah untuk menda- patkan strategi pemesanan yang optimal untuk se- luruh jadwal kebutuhan bersih dengan jalan me- minimalisasi total ongkos pengadaan dan ongkos simpan (Maulana dan Setyorini, 2012:4). 2.7 Model Penelitian Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 69 3. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan di dalam peneli- tian ini adalah pendekatan Kualitatif dengan metode Studi Kasus Deskriptif. Menurut Sugi- yono (2010:14), metode penelitian kualitatif ada- lah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabung- an). 3.1 Prosedur Pengumpulan Data Terdapat data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berdasarkan jenis dan sumbernya. Sumber data berupa data primer dan sekunder, data primer didapat pada saat berada di lapangan melalui observasi/pengamatan secara langsung yang dilakukan dengan cara mengamati kondisi yang terjadi pada perusahaan tersebut dan menge- tahui langsung tentang proses persediaan bahan baku dan interview/wawancara secara langsung di PT X, Sidoarjo, sedangkan data sekunder meng- gunakan beberapa data sekunder sebagai literatur buku, jurnal maupun penelitian yang telah dilaku- kan sebelumnya. Di samping itu, data sekunder dalam penelitian ini adalah data persediaan bahan baku tahun 2016, meliputi jumlah persediaan, awal, jumlah pemakaian, jumlah pesanan atau pembelian bahan baku, serta komponen-kompo- nen biaya pemesanan (holding cost) dan biaya penyimpanan (ordering cost). 3.2 Teknis Analisis Pada teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara menghitung bagaimana jumlah dan frekuensi pembelian, serta biaya-biaya persediaan (Holding Cost, Ordering Cost dan Total Inventory Cost) menurut konsep aktual perusahaan dan menurut perhitungan me- tode Algoritma Wagner-Within (AWW) dengan menggunakan software POM for Windows 3, serta melakukan perbandingan biaya persediaan bahan baku menurut konsep aktual dalam per- usahaan dan biaya persediaan bahan baku meng- gunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW). Berikut ini merupakan teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini, yaitu: a. Kondisi existing perusahaan b. Algoritma Wagner-Within (AWW) Untuk menentukan biaya terkecil yang ditimbulkan dari perhitungan lot sizing yang telah dilakukan, maka terdapat 4 tahap dalam menganalisis dan membandingkan total biaya persediaan bahan baku berdasarkan perhitungan konsep aktual perusahaan dan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) yaitu: Tahap 1: Menentukan biaya pemesanan dengan rumus: Biaya Pemesanan = Σ pesanan x biaya/sekali pesan Tahap 2: Menentukan biaya penyimpanan de- ngan rumus: Biaya Penyimpanan = Σ inventori x biaya sim- pan/unit/bulan Tahap 3: Menentukan total biaya persediaan bahan baku keseluruhan dengan rumus: Total Biaya persediaan bahan baku = Biaya Pemesanan + Biaya Penyimpanan Tahap 4 Perbandingan total biaya persediaan bahan baku konsep aktual perusahaan dengan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) Dalam melakukan perhitungan biaya perse- diaan tiap bahan baku dengan menggunakan Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 70 Tabel 2 Biaya Pemesanan Bahan Baku Tahun 2016 Kondisi Existing PT X metode Algoritma Wagner-Within (AWW) mela- lui software POM for Windows 3. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian 4.1.1 Perhitungan Menurut Kondisi Existing Perusahaan Pencatatan jumlah persediaan bahan baku yang datang dan dipakai dilakukan setiap hari kerja di PT X. Tabel 1 menyajikan informasi mengenai pembelian bahan baku perusahaan tiap bulannya pada tahun 2016. Tabel 1 Pembelian Bahan Baku Tahun 2016 Kondisi Existing PT X Bulan Pembelian Bahan Baku (Ton) Bijih Plastik Inner Benang Jahit Additive Pigmen Total Jan 794 35 26 18 9 882 Feb 1.071 48 36 24 12 1.190 Mar 871 39 29 19 10 968 Apr 852 38 28 19 9 947 Mei 749 33 25 17 8 832 Juni 1.011 45 34 22 11 1.124 Juli 666 30 22 15 7 740 Agust 876 39 29 19 10 973 Sept 611 27 20 14 7 679 Okt 1.532 68 51 34 17 1.703 Nov 610 27 20 14 7 678 Des 778 35 26 17 9 864 Total 10.420 463 347 232 116 11.578 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Untuk Biaya pemesanan bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan PT X, berkenaan dengan dilakukannya pembelian bahan baku yang tidak dipengaruhi oleh kuantitas bahan baku yang dipesan. Bahan baku PT X di impor langsung dari Singapura, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Biaya pemesanan bahan baku perusahaan PT X pada tahun 2016 secara rinci terdapat dalam Tabel 2 sebagai berikut. Bulan Biaya Pemesanan (Rp) Total Biaya Pemesanan (Rp) Bijih Plastik (Rp) Inner (Rp) Benang Jahit (Rp) Additive (Rp) Pigmen (Rp) Jan 159.300.000 7.080.000 5.310.000 3.540.000 1.770.000 177.000.000 Feb 216.000.000 9.600.000 7.200.000 4.800.000 2.400.000 240.000.000 Mar 223.200.000 9.920.000 7.440.000 4.960.000 2.480.000 248.000.000 Apr 252.000.000 11.200.000 8.400.000 5.600.000 2.800.000 280.000.000 Mei 140.400.000 6.240.000 4.680.000 3.120.000 1.560.000 156.000.000 Juni 243.900.000 10.840.000 8.130.000 5.420.000 2.710.000 271.000.000 Juli 146.700.000 6.520.000 4.890.000 3.260.000 1.630.000 163.000.000 Agust 219.600.000 9.760.000 7.320.000 4.880.000 2.440.000 244.000.000 Sept 212.400.000 9.440.000 7.080.000 4.720.000 2.360.000 236.000.000 Okt 377.100.000 16.760.000 12.570.000 8.380.000 4.190.000 419.000.000 Nov 241.200.000 10.720.000 8.040.000 5.360.000 2.680.000 268.000.000 Des 181.800.000 8.080.000 6.060.000 4.040.000 2.020.000 202.000.000 Total 2.613.600.000 116.160.000 87.120.000 58.080.000 29.040.000 2.904.000.000 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Untuk Biaya penyimpanan bahan baku PT X yang ditunjukkan dalam Tabel 3 merupakan biaya penyimpanan bahan baku utama (bijih plastik) maupun bahan baku pendukung (inner, benang jahit, additive, pigmen) selama bulan Januari sampai bulan Desember tahun 2016. Biaya tersebut terdiri dari biaya fasilitas penyim- panan (listrik, dll.), biaya asuransi persediaan, biaya penanganan persediaan, dll. Biaya penyim- panan bahan baku perusahaan PT X pada tahun 2016 secara rinci terdapat dalam Tabel 3. Tabel 3 Biaya Penyimpanan Bahan Baku Tahun 2016 Kondisi Existing PT X Bulan Biaya Penyimpanan (Rp) Total Biaya Penyimpanan (Rp) Bijih Plastik (Rp) Inner (Rp) Benang Jahit (Rp) Additive (Rp) Pigmen (Rp) Jan 12.600.000 560.000 420.000 280.000 140.000 14.000.000 Feb 14.400.000 640.000 480.000 320.000 160.000 16.000.000 Mar 17.100.000 760.000 570.000 380.000 190.000 19.000.000 Apr 20.700.000 920.000 690.000 460.000 230.000 23.000.000 Mei 15.300.000 680.000 510.000 340.000 170.000 17.000.000 Juni 25.200.000 1.120.000 840.000 560.000 280.000 28.000.000 Juli 18.900.000 840.000 630.000 420.000 210.000 21.000.000 Agust 18.900.000 840.000 630.000 420.000 210.000 21.000.000 Sept 18.900.000 840.000 630.000 420.000 210.000 21.000.000 Okt 23.400.000 1.040.000 780.000 520.000 260.000 26.000.000 Nov 16.200.000 720.000 540.000 360.000 180.000 18.000.000 Des 20.700.000 920.000 690.000 460.000 230.000 23.000.000 Total 222.300.000 9.880.000 7.410.000 4.940.000 2.470.000 247.000.000 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 71 Total biaya persediaan bahan baku per tahun dengan konsep aktual yang diterapkan perusahaan adalah penjumlahan dari total biaya pemesanan per tahun dan total biaya penyim- panan per tahun. Total biaya pemesanan diper- oleh dari perhitungan total biaya angkut/biaya transportasi, biaya administrasi dan biaya komu- nikasi. Lalu, total biaya penyimpanan per tahun didapat dari total biaya fasilitas penyimpanan (listrik, dll.), biaya asuransi persediaan, biaya penanganan persediaan. Berikut adalah total biaya persediaan tiap bahan baku tahun 2016 menggunakan kondisi existing yang digunakan perusahaan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Total Biaya Persediaan Tiap Bahan Baku Tahun 2016 Kondisi Existing PT X 4.1.2 Perhitungan menurut Metode Algoritma Wagner-Within (AWW) Berikut Perhitungan kuantitas dan frekuensi pemesanan tiap bahan baku secara rinci pada tahun 2016 dengan metode Algoritma Wagner- Within (AWW) menggunakan software POM for Windows 3 dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Perhitungan Kuantitas dan Frekuensi Pemesanan Tiap Bahan Baku Tahun 2016 (Metode Algoritma Wagner-Within) Total Biaya Persediaan Tiap Bahan Baku (Rp) Total Biaya Persediaan Bahan Baku (Rp) Bijih Plastik (Rp) Inner (Rp) Benang Jahit (Rp) Additive (Rp) Pigmen (Rp) 2.835.900.000 126.040.000 94.530.000 63.020.000 31.510.000 3.151.000.000 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Perhitungan total biaya persediaan bahan baku per tahun terdapat pada Tabel 5 berikut. Tabel 5 Hasil Perhitungan Total Biaya Persediaan Tahun 2016 Kondisi Existing PT X Biaya Pemesanan (Rp) Biaya Penyimpanan (Rp) Total Biaya Persediaan (Rp) 2.904.000.000 247.000.000 3.151.000.000 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Total biaya persediaan PT X dengan kondisi existing yang selama ini diterapkan perusahaan pada tahun 2016 sebesar Rp 3.151.000.000, de- ngan biaya pemesanan sebesar Rp 2.904.000.000 dan biaya penyimpanan sebesar Rp 247.000.000. Nama Bahan Baku Permintaan Pembelian (Ton) Frekuensi Pemesanan Biaya Pemesanan/ Pesan (Rp) Biaya Penyimpanan/ Ton (Rp) Total Biaya Persediaan (Rp) Bijih Plastik 10.421 8 kali 1.742.400.000 674.813.400 2.417.213.400 Inner 464 8 kali 77.440.000 29.951.880 107.391.880 Benang Jahit 346 8 kali 58.080.000 22.271.910 80.351.910 Additive 232 8 kali 38.720.000 15.359.940 54.079.940 Pigmen 116 8 kali 19.360.000 7.423.971 26.783.971 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Hasil untuk frekuensi pemesanan menggu- nakan metode Algoritma Wagner Within (AWW) tiap bahan baku sama yakni 8 kali pemesanan per tahun. Dari perhitungan tersebut, dapat disimpul- kan bahwa frekuensi pemesanan tiap bahan baku dengan menggunakan metode Algoritma Wagner Within (AWW) lebih kecil daripada konsep aktual yang selama ini diterapkan perusahaan yakni sebe- sar 12 kali dalam satu tahun. Tabel 7 berikut merupakan hasil dari Total biaya persediaan tiap bahan baku dengan metode Algoritma Wagner-Within menggunakan software POM for Windows 3. Tabel 7 Total Biaya Persediaan Tiap Bahan Baku Tahun 2016 Metode Wagner-Within (AWW) Total Biaya Persediaan Tiap Bahan Baku (Rp) Total Biaya Persediaan Bahan Baku (Rp) Bijih Plastik Inner Benang Jahit Additive Pigmen 2.417.213.000 107.391.900 80.351.910 54.079.940 26.783.971 2.685.821.101 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 72 Berikut Tabel 8 adalah hasil perhitungan total biaya persediaan bahan baku tahun 2016 dengan metode Algoritma Wagner-Within meng- gunakan software POM for Windows 3. Tabel 8 Hasil Perhitungan Total Biaya Persediaan Bahan Baku Tahun 2016 Metode Wagner-Within (AWW) Berdasarkan hasil perhitungan biaya perse- diaan bahan baku antara kondisi existing yang selama ini diterapkan perusahaan dengan metode Algoritma Wagner-Within (AWW), terdapat seli- sih pada masing-masing aspek pada Tabel 9. Frekuensi pemesanan menurut konsep aktual yang selama ini diterapkan perusahaan adalah sebanyak 12 kali, sedangkan berdasarkan metode algoritma Wagner-Within (AWW), frekuensi pemesanan sebanyak 6 kali pemesanan, frekuensi pemesanan ini yang seharusnya dilakukan agar dapat sebisa mungkin menekan biaya pemesanan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sema- kin banyak frekuensi pemesanan serta diikuti dengan semakin besarnya jumlah kuantitas pe- sanan maka biaya pemesanan juga semakin mem- bengkak. Perbandingan lain yang didapat dari perhi- tungan-perhitungan di atas adalah biaya peme- sanan. Biaya pemesanan rendah didapat dengan menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW), sebesar Rp 1.936.000.000. Metode Algoritma Wagner-Within (AWW) itu masih menghasilkan biaya pemesanan lebih rendah dari biaya pemesanan menurut konsep aktual perusa- haan yaitu sebesar Rp 2.904.000.000. Biaya pemesanan yang rendah dipengaruhi oleh faktor frekuensi pemesanan, semakin kecil frekuensi memesan bahan baku, semakin kecil pula biaya pemesanan. Sedangkan untuk biaya penyimpanan, biaya penyimpanan menurut konsep aktual perusahaan masih rendah sebesar Rp 247.000.000 diban- dingkan dengan biaya penyimpanan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) sebesar Rp 749.821.101. Hal ini dikarenakan metode Algo- ritma Wagner-Within (AWW) frekuensi peme- sanan yang lebih sedikit, tetapi kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak sehingga biaya penyimpanan per periode akan semakin besar. Biaya Pemesanan (Rp) Biaya Penyimpanan (Rp) Total Biaya Persediaan (Rp) 1.936.000.000 749.821.101 2.685.821.101 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Total biaya persediaan bahan baku dengan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) pada tahun 2016 sebesar Rp 2.685.821.101, dengan biaya pemesanan sebesar Rp 1.936.000.000 dan biaya penyimpanan sebesar Rp 749.821.101. 4.1.3 Perbandingan Biaya Persediaan Bahan Baku Hasil perhitungan total biaya persediaan bahan baku menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) kemudian dibandingkan total biaya persediaan yang dihasilkan oleh kon- sep aktual yang diterapkan oleh perusahaan. Perbandingan hasil dari metode Algoritma Wag- ner-Within dan konsep aktual perusahaan dapat dilihat pada Tabel 9 berikut. Tabel 9 Perbandingan Biaya Persediaan Bahan Baku Tahun 2016 Keterangan Biaya Persediaan Kondisi Existing Perusahaan Metode Algoritma Wagner-Within (AWW) Frekuensi Pemesanan 12 kali 8 kali Biaya Pemesanan Rp 2.904.000.000 Rp 1.936.000.000 Biaya Penyimpanan Rp 247.000.000 Rp 749.821.101 Total Biaya Persediaan Rp 3.151.000.000 Rp 2.685.821.101 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 73 Dengan menjumlahkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dari masing-masing metode, dapat disimpulkan bahwa metode Algoritma Wagner-Within (AWW) merupakan metode yang menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang rendah, yaitu sebesar Rp 2.685.821.101, sedangkan menurut konsep aktual perusahaan, total biaya persediaan bahan baku menghasilkan biaya yang tinggi sebesar Rp 3.151.000.000. Dapat disimpulkan juga bahwa perhitungan metode lot sizing dengan pendekatan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang lebih rendah daripada konsep aktual yang selama ini diterapkan oleh perusahaan. 4.2 Pembahasan 4.2.1 Efisiensi Biaya Persediaan Bahan Baku dengan Metode Algoritma Wagner-Within (AWW) Dari hasil perhitungan biaya persediaan ba- han baku dengan metode Algoritma Wagner- Within (AWW), diketahui bahwa metode lot siz- ing dengan pendekatan Algoritma Wagner-Within (AWW) dapat meminimalkan biaya persediaan bahan baku dibandingkan dengan konsep aktual yang selama ini diterapkan perusahaan. Tabel 10 menunjukkan presentasi penghematan biaya per- sediaan bahan baku menggunakan metode Algo- ritma Wagner-Within (AWW) pada PT X. Berdasarkan hasil perhitungan persentase yang telah dilakukan, maka terdapat perbedaan total biaya persediaan bahan baku antara kondisi existing perusahaan dengan metode Algoritma Wagner-Within (AWW). Di mana adanya penghe- matan sebesar Rp 465.178.899 atau sekitar 14,8% jika diterapkannya metode Algoritma Wagner-Within (AWW) dibandingkan dengan kondisi existing yang di terapkan pada PT X. Pada kondisi existing perusahaan, perusa- haan melakukan pemesanan setiap kali adanya produksi yang akan dilakukan atau dalam hal ini adalah 12 kali dalam 1 tahun. Sedangkan dengan menggunakan metode Algoritma Wagner- Within (AWW), pemesanan bahan baku yang dilakukan bervariasi (frekuensi pemesanan) se- suai dengan perhitungan algoritma yang telah dilakukan yakni sebanyak 8 kali dalam 1 tahun. Metode Algoritma Wagner-Within (AWW) memberikan perencanaan persediaan bahan baku menimbulkan total biaya persediaan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan perencanaan per- sediaan bahan baku yang hanya berdasarkan konsep aktual yang diterapkan perusahaan. Sebaiknya perusahaan mulai menerapkan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) agar dapat meminimumkan total biaya persediaan bahan baku yang sangat berpengaruh pada proses bisnis PT X. 5. KESIMPULAN Dari Penelitian yang telah dilakukan pada perencanaan persediaan bahan baku PT X di Tropodo, Sidoarjo, dengan menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1. Dengan menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) menjadi lebih efisien dalam hal merencanakan persediaan bahan Keterangan Kondisi Existing Perusahaan (Rp) Algoritma Wagner- Within (Rp) Penghematan (Rp) Persentase Penghematan (%) Total Biaya Persediaan 3.151.000.000 2.685.821.101 465.178.899 14,8% Tabel 10 Persentase Penghematan Total Biaya Persediaan Bahan Baku Menggunakan Metode Wagner-Within (AWW) Tahun 2016 Sumber: Data Internal Perusahaan Diolah Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 74 baku di PT X dibandingkan dengan kondisi existing yang diterapkan oleh perusahaan. Berikut ini beberapa rincian kesimpulan hasil metode Algoritma Wagner-Within (AWW). a. Hal ini ditunjukkan dengan frekuensi pe- mesanan bahan baku menurut perhitungan metode Algoritma Wagner-Within (AWW), pemesanan bahan baku yang dilakukan sebanyak 8 kali dalam 1 tahun, sedangkan menurut perhitungan kondisi existing perusahaan, pemesanan bahan baku yang dilakukan sebanyak 12 kali dalam 1 tahun. Dengan frekuensi pemesanan yang lebih sedikit (8 kali/tahun) akan menghasilkan biaya pemesanan yang lebih efisien dan op- timal dibandingkan frekuensi pemesanan yang lebih banyak (12 kali/tahun). b. Untuk biaya pemesanan bahan baku de- ngan menggunakan metode Algoritma Wagner-Within (AWW), sebesar Rp 1.936.000.000. Metode Algoritma Wag- ner-Within (AWW) tersebut masih meng- hasilkan biaya pemesanan lebih efisien dan optimal dari biaya pemesanan menu- rut kondisi existing perusahaan yaitu sebesar Rp 2.904.000.000. c. Untuk biaya penyimpanan menurut kon- disi existing perusahaan masih lebih efisien yakni sebesar Rp 247.000.000 dibanding- kan dengan biaya penyimpanan metode Algoritma Wagner-Within (AWW) sebesar Rp 749.821.101. Hal ini dikarenakan me- tode Algoritma Wagner-Within (AWW) menghasilkan frekuensi pemesanan yang lebih sedikit, tetapi kuantitas bahan baku yang dipesan semakin banyak sehingga biaya penyimpanan akan semakin besar. d. Untuk total biaya persediaan bahan baku, metode Algoritma Wagner-Within (AWW) merupakan metode yang menghasilkan total biaya persediaan bahan baku yang op- timal dan efisien, yaitu Rp 2.685.821.101, sedangkan menurut kondisi existing per- usahaan, total biaya persediaan bahan baku menghasilkan biaya yang lebih tinggi yaitu sebesar Rp 3.151.000.000. DAFTAR REFERENSI Assuari, Sofjan. 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: FE UI Press. Bahagia, Nur. 2006. Sistem Inventori. Bandung: Penerbit ITB. Baroto, Teguh. 2002. Perencanaan dan Pengen- dalian Produksi. Jakarta: PT Ghalia Indo- nesia. Harjanto, Eddy. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: PT Grasindo. Heizer, Jay & Barry Render. 2009. Operations Management: Manajemen Operasi. Jakar- ta: Salemba Empat. Maulana & Setyorini. 2012. Perencanaan Kebu- tuhan Bahan Baku Produk Windlass dengan Menggunakan Metode Lot Sizing pada PT Pindad (Persero). Jurnal Fakultas Komuni- kasi dan Bisnis. Universitas Telkom. Pardede, Pontas M. 2005. Manajemen Operasi dan Produksi. Yogyakarta: ANDI. Rajhans & Kulkarnia S. 2013. Determination of Optimum Inventory Model for Minimizing Total Inventory Cost. Jurnal Internasional. Nirma University International Conference on Engineering. Rangkuti, Freddy. 2004. Manajemen Persediaan: Aplikasi di Bidang Bisnis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Rasjidin, dkk. 2007. Penentuan Kombinasi Meto- de Lot Sizing berbagai Level pada Struktur Produk Spion 7024 untuk Meminimalisasi Biaya Persediaan di PT Cipta Kreasi Prima Puspandam Katias & Achmad Affandi, Implementasi Algoritma Wagner-Within pada Manajemen Inventori di PT X 75 Muda. Jurnal Inovasi. Teknik Industri, Uni- versitas Indonesia Esa Unggul. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis (Pende- katan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. Sumayang, L. 2003. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: Salemba Empat. Tampubolon, Manahan P. 2004. Manajemen Ope- rasional (Operations Management). Jakarta: Ghalia Indonesia. Wagner, Harvey M. & Whitin, Thomson M. 2004. Dynamic Version of the Economic Lot Size Model. Jurnal Internasional. Ma- nagement Science, Vol.50(12) Supplement, pp.1770–1774. Yamit, Zulian. 2005. Manajemen Persediaan. Jakarta: Ekonisia. Business and Finance Journal, Volume 3, No. 1, March 2018 76