Iwang Suwaningsih, Analisis Gaya Kepemimpinan, Komitmen, dan Kedisiplinan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja 2929 Analisis Gaya Kepemimpinan, Komitmen, dan Kedisiplinan Terhadap Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kec. Tegalsari Surabaya Iwang Suwaningsih Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mahardhika Surabaya email: iwangsuwangsih81@gmail.com Abstract: This study aims to determine the effect of Leadership Commitment and Disci- pline significant effect partially and simultaneously to Increase Employee Work Motiva- tion Tegalsari Surabaya District Office. This study uses survey research approach Eksplanaratif by enforcing data via the primary data of the data relating to the variables collected from respondents using questionnaires. This type of research, including research koresional who want to see the relevance of independent variables with the dependent variable. The population is Tegalsari Surabaya District Office Employees. This study was conducted involving 30 respondents and using multiple linear regression analysis. The regression equation is: Y = 3.441 + 0.266 + 0.104 X1 + 0.132 X2 X3. From this research it was discovered and drawn the following conclusions: (1) Leadership, Commitment and Discipline significant effect partially to Increase Motivation Employee Work District Office Tegalsari Surabaya, (2) leadership, commitment and discipline significant effect simultaneously to Increase Motivation Employee Work Office Tegalsari District of Surabaya, (3) Leadership dominant influence significantly the Employee Work Motiva- tion Improvement District Office Tegalsari Surabaya. Keywords: leadership, commitment, discipline and work motivation. PENDAHULUAN Masyarakat adalah pelaku utama dalam pemerintahan maupun pembangunan, sedang- kan pemerintah berkewajiban untuk mengarah- kan, membimbing dan melayani serta mencipta- kan suasana yang menunjang, saling mengisi, saling melengkapi dalam satu kesatuan untuk maju sehingga terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang professional dan efisien. Penyelenggaraan pemerintah itu sendiri berarti melaksanakan secara bersama-sama kegiatan pelayanan masyarakat oleh aparatur pemerin- tah. Peningkatan masyarakat karena menentu- kan eksistensi dan legitimasi organisasi peme- rintah tersebut. Untuk menciptakan pegawai yang efisiensi, efektif, bersih dan berwibawa serta mampu melaksaakan seluruh tugas peme- rintahan, pembangunan dengan kualitas pega- wai pemerintah merupakan ujung tombak ter- hadap pelayanan sebaik baiknya harus dilan- dasi dengan semangat dan sikap pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam hubungan ini maka kemampuan pegawai pemerintahahan perlu ditingkatkan karena untuk mewujudkan system dan mekanisme pemerintah yang baik diperlukan kinerja pega- wai pemerintahan yang mampu mengubah sikap dan perilaku sehingga dapat meningkat- kan kesadaran apa yang menjadi kewajiban dari pegawai. Peningkatan sumber daya manu- sia berkaitan dengan pendayagunaan pegawai untuk menggali potensi individu melalui aktu- alisasi kerja yang harus diberikan dengan pe- Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 30 nuh kepercayaan. Penempatan pegawai yang tepat serta pemberian kesempatan untuk me- ngembangkan diri akan mendorong pegawai untuk memiliki semangat dan motivasi kerja. Tinggi rendahnya semangat dan motivasi kerja pegawai berpengaruh terhadap tingkat penca- paian tujuan organisasi. Seorang pemimpin adalah seorang yang memegang kendali untuk memimpin suatu lembaga atau organisasi tertentu karena se- orang pemimpin berperan untuk dapat mem- pengaruhi dan menggerakkan bawahannya agar tujuan yang diharapkan tercapai. Dan kepemimpinan atau yang biasa disebut dengan gaya kepemimpinan, seorang pemimpin juga menentukan keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Setiap pemimpin mempunyai gaya pemimpin yang berbeda beda antara pemimpin yang satu de- ngan yang lainnya. Gaya memimpin dapat dilihat pada ucapan, sikap, tingkah laku, dan cara mengambil keputusan. Adanya hubungan kerjasama yang baik antara pimpinan dengan pegawai serta antar pegawai dalam suatu orga- nisasi memegang peranan yang cukup penting untuk membangun suatu organisasi yang baik. Melalui interaksi ini akan terjadi koordinasi dan kerjasama. Betapa pentingnya peranan pegawai dalam sebuah organisasi pemerin- tahan. Oleh karena itu keberhasilan pegawai untuk menjalankan kewajibannya itu sangat tergantung pada kepentingan pribadi atau go- longan sehingga diperlukan kedisiplinan su- paya tujuan dari organisasi itu dapat tercapai. Kedisiplinan pegawai harus ditanamkan tanpa rasa takut terhadap sanksi-sanksi dari atasannya bila ia meemang benar. Kedisiplinan yang dita- namkan pimpinan pada para pegawai dapat menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya dan mengutamakan hasil kerja yang baik dan sesuai dengan standart yang telah ditetapkan. Sedangkan tingkat kedisi- plinan yang rendah akan berakibat pada eko- nomi biaya tinggi yaitu terciptanya kerja yang tidak efisien seperti mangkir kerja, kesenjangan untuk menghambat pekerjaan dan pelanggaran peraturan kerja yang lain. Dalam upaya peningkatan kinerja pegawai tidak terlepas dari adanya permasalahan yang menyangkut kebijakan pimpinan untuk mene- gakkan kedisiplinan dan memotivasi pegawai untuk bekerja. Pemberian motivasi harus dise- suaikan dengan kebutuhan berasal dari faktor internal maupun eksternal yang merupakan fenomena yang belum terjawab sesuai fakta. Hal ini terlihat adanya gairah kerja pegawai yang menurun sehingga prestasi yang diraih belum menunjukkan hasil yang baik. Motivasi kerja yang diberikan kepada setiap pegawai harus mampu memberikan semangat bagi para pegawai untuk melakukan pekerjaannya secara sungguh-sungguh, sehingga tingkat produkti- vitasnya lebih baik. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peneliti melakukan penelitian ten- tang �Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Komit- men dan Kedisiplinan Kerja Terhadap Pening- katan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Keca- matan Tegalsari Surabaya.� KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari kata Leader- ship yaitu merupakan kata sifat yang dimiliki oleh seseorang pemimpin, sedangkan pemim- pin adalah orang yang memimpin. Kepemim- pinan mempunyai hubungan yang erat dengan sekelompok orang yang mempunyai tujuan sama, sedangkan tujuan tersebut telah diten- tukan sebeumnya dalam satu organisasi. Kepe- mimpinan memiliki hubungan yang erat de- Iwang Suwaningsih, Analisis Gaya Kepemimpinan, Komitmen, dan Kedisiplinan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja 31 ngan sekelompok orang yang memiliki tujuan sama, sedangkan tujuan tersebut telah ditentu- kan sebelumnya dalam satu organisasi. Ada beberapa pengertian dari kepemimpinan yang dikutip dari buku Thoha (2003) yaitu kepe- mimpinan sebagai �managerial leadership as process of directing and influencing the task related activities of group members�, yang berarti kepemimpinan manajerial sebagai pro- ses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas hubungan tugas kelompok (Stoner,2000). Menurut Paul Hersey dan Kenneth H. Blan- chard (2009) mengemukakan bahwa kepe- mimpinan sebagai �Leadership is the process of influencing the activities of an individual or group in effort toward goal achievement in a given situation�, yang berarti bahwa kepe- mimpinan adalah proses mempengaruhi ke- giatan individu atau kelompok dalam usaha mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Kepe- mimpinan dalam Gibson et.al (2009), kepe- mimpinan adalah konsep yang lebih sempit dari manajemen meski manajer sebagai pelaku manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsi seperti merencanakan, mengorganisasikan dan mengendalikan dan berperan sebagai pemim- pin. Pemimpin dan kepemimpinan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pemimpin merupakan perilaku yang menunjukkan ke- mampuan pemimpin, sedangkan kepemim- pinan adalah kualitas kemampuan dan pribadi yang dimiliki pemimpin untuk menggerakkan pengikutnya. Berdasarkan pengertian-pengertian ten- tang kepemimpinan dapat diambil suatu kesim- pulan bahwa: (1) kepemimpinan merupakan sikap yang dimiliki seorang untuk dapat mem- pengaruhi serta mengajak kerjasama ataupun menggerakkan sekelompok orang, sehingga semua perintahnya dapat dilaksanakan oleh sekelompok orang tersebut, (2) kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetap- kan bersama, (3) kepemimpinan akan melibat- kan seseorang dengan sekelompok orang un- tuk mencapai tujuan bersama yang telah dite- tapkan sebelumnya secara bersama, (4) sese- orang pemimpin tersebut harus mempunyai jiwa kepemimpinan artinya seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan/daya/kekuasaan untuk mempengaruhi bawahannya supaya melakukan perintahnya. KOMITMEN Komitmen menurut Wiyono (1999) me- ngemukakan bahwa tekad bulat untuk melaku- kan sesuatu dengan niat yang sungguh-sung- guh. Komitmen yang baik adalah komitmen yang dimulai dari pimpinan. Komitmen meru- pakan konsep manajemen yang menempatkan sumber daya manusia sebagai figur sentral dalam organisasi tata usaha. Tanpa komitmen, sukar mengharapkan partisipasi aktif dan men- dalam dari sumber daya manusia. Oleh sebab itu komitmen harus dipelihara agar tetap tum- buh dan eksis di sanubari sumber daya manu- sia. Dengan cara dan tehnik yang tepat pim- pinan yang baik bisa menciptakan dan menum- buhkan komitmen. Arvan (1999) mengemu- kakan 5 (lima) prinsip kunci dalam memba- ngun komitmen yaitu: (1) memelihara atau meningkatkan harga diri. Artinya pimpinan harus pintar menjaga agar diri bawahan tidak rusak, (2) memberikan tanggapan empati, (3) meminta bantuan dan mendorong keterlibatan. Artinya bawahan selain butuh dihargai juga ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan, (4) mengungkapkan pikiran, perasaan dan rasional, (5) memberikan dukungan pada ba- wahan. Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 32 DISIPLIN KERJA Pada prinsipnya disiplin kerja merupakan seperangkat merupakan seperangkat aturan yang harus ditaati dalam setiap organisasi. Suatu organisasi menginginkan para pegawai untuk mematuhinya sebagai upaya untuk me- ningkatkan produktifitas, namun kenyataannya sering terjadi penyimpangan karena pegawai sebagai manusia memiliki kelemahan yaitu tidak disiplin. Oleh karena itu peningkatan disiplin menjadi bagian yang penting dalam manajemen sumber daya manusia sebagai fak- tor penting dalam peningkatan produktifitas. Ada beberapa pengertian tentang disiplin kerja yaitu antara lain: menurut Nitisemito (2002) bahwa disiplin kerja diartikan sebagai suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi dalam bentuk tertulis maupun tidak. Oleh karena itu, dalam prakteknya bila suatu oragnisasi telah mengupayakan sebagian besar dari pera- turan-peraturan yang ditaati oleh sebagian be- sar pegawai, maka kedisiplinan telah dapat ditegakkan. Kedisiplinan menurut Hasibuan (2005) merupakan kesadaran dan kesediaan seseorang untuk mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma social yang berlaku. Dua faktor utama dari kedisiplinan ini dapat membentuk sikap yang baik dan terkendali. Kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya, sedangkan kesediaan adalah suatu sikap, ting- kah laku dan perbuatan seseroang yang sesuai dengan peraturan perusahaan, baik yang ter- tulis maupun tidak tertulis. Dari definisi yang dikemukakan dapat menarik kesimpulan bahwa �disiplin adalah suatu kesadaran dari seseorang atau kelompok yang timbul dari dirinya sendiri dengan tanpa adanya suatu paksaan untuk mentaati dan mematuhi segala peraturan-peraturan yang tidak tertulis yang telah ditetapkan serta men- jalankannya. MOTIVASI KERJA Menurut Sukanto Reksohadiprojo dan T. Hani Handoko (2002), motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendo- rong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai sua- tu tujuan. Motivasi adalah sebagai suatu reaksi yang diawasi dengan adanya kebutuhan yang menimbulkan keinginan atau upaya mencapai tujuan, selanjutnya menimbulkan ketegangan, kemudian menyebabkan timbulnya tindakan yang mengarah pada tujuan dan akhirnya dapat memuaskan (Kootz et al oleh Darmawan, 2013). Dari berbagai pengertian dari motivasi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa moti- vasi adalah sebagai kecenderungan untuk ber- aktivitas, mulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri. Motivasi merupakan kondisi yang menggerak- kan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Dengan demi- kian motivasi berarti suatu kondisi yang men- dorong atau menjadikan sebab seseorang me- lakukan suatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian Eksplanaratif Survei dengan mem- berlakukan data melalui data primer tentang Iwang Suwaningsih, Analisis Gaya Kepemimpinan, Komitmen, dan Kedisiplinan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja 33 data yang berhubungan dengan variabel peneli- tian yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan quisioner. Jenis penelitian ini termasuk penelitian koresional yang hendak melihat keterkaitan variabel-variabel bebas de- ngan variabel terikat. Populasi yang diambil adalah Pegawai Kan- tor Kecamatan Tegalsari Surabaya. Dalam hal ini Populasi yang ditetapkan adalah sebanyak 30 orang melakukan penelitian dengan teknik sensus yang menggunakan seluruh anggota populasi sebagai sampel. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas dan Reabilitas Uji Validitas merujuk pada sejauh mana suatu uji dapat mengukur seberapa valid instru- ment kuisioner yang digunakan dalam pe- ngumpulan data. Pada penelitian ini ditetapkan batas setiap item pertanyaan-pertanyaan dinya- takan valid bila nilai corrected item total cor- relation lebih besar dari nilai 0.3. Uji validitas diketahui setiap item pertanyaan berada diatas batas 0,3. Dengan demikian tidak ada item pertanyaan yang digugurkan dari format asal- nya. Kesimpulannya adalah setiap item perta- nyaan pada kuisioner dinyatakan valid. Variabel Kepemimpinan (X1) Tabel 1 menunjukkan hasil dari software SPSS untuk pengujian validitas pada variabel bebas kepemimpinan (X1). Dari enam yang digunakan sebagai item-item pertanyaan me- nunjukkan bila semua item dapat dinyatakan valid karena berada diatas batas 0.3. Tabel 1 Uji Validitas pada Kepemimpinan (X1) INDIKATOR KOEFISIEN KORELASI STATUS X1.1 2.7279 0.7347 X1.2 2.5122 0.6461 X1.3 2.6096 0.6103 X1.4 2.9224 0.6846 X1.5 2.6385 0.5482 X1.6 2.4712 0.5522 Variabel Komitmen (X2) Tabel 2 menunjukkan hasil olahan soft- ware SPSS untuk pengujian validitas pada variabel bebas Komitmen (X2). Dari sepuluh indikator yang digunakan sebagai item-item pertanyaan menunjukkan bila semua item dapat dinyatakan valid karena beradadi atas batas 0.3. Tabel 2 Uji Validitas pada Kepemimpinan (X2) INDIKATOR KOEFISIEN KORELASI STATUS X2.1 1.8199 0.5420 X2.2 1.7635 0.4369 X2.3 1.3821 0.5561 X2.4 1.5122 0.6469 X2.5 1.3615 0.6278 X2.6 1.3949 0.5369 Tabel 3 Uji Validitas pada Kepemimpinan (X3) INDIKATOR KOEFISIEN KORELASI STATUS X3.1 1.0872 0.5383 X3.2 1.8455 0.5553 X3.3 2.4615 0.6139 X3.4 1.3532 0.6824 X3.5 2.0199 0.5882 X3.6 2.2051 0.5732 Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 34 Untuk variabel bebas pertama yaitu kepe- mimpinan diperoleh nilai alpha sebesar 1.4263 seperti ditunjukkan pada tabel 5. Dengan demi- kian, item-item pertanyaan yang berhubungan dengan variabel kepemimpinan dinyatakan reli- able. Daftar pertayaan tentang variabel kepe- mimpinan dapat dipercaya atau dapat dihan- dalkan untuk menganalisa data selanjutnya. Untuk variabel bebas kedua yaitu komitmen diperoleh nilai alpha sebesar 1.4942 seperti ditunjukkan pada tabel 5. Dengan demikian, item-item pertanyaan yang berhubungan de- ngan variabel komitmen dinyatakan reliable. Daftar pertayaan tentang variabel komitmen dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. Untuk variabel bebas ketiga yaitu kedisiplinan diperoleh nilai alpha sebesar 0.9753 seperti ditunjukkan pada tabel 5. Dengan demikian, item-item perta- nyaan yang berhubungan dengan variabel kedi- siplinan dinyatakan reliable. Daftar pertayaan tentang variabel kedisiplinan dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. Seperti halnya variabel bebas, variabel terikat dipenelitian ini yaitu Motivasi Kerja menunujukkan nilai alpha sebesar 0.6333 seperti pada tabel 5. Dengan demikian, item- item pertanyaan yang berhubungan dengan variabel motivasi kerja dinyatakan reliable. Daf- tar pertayaan tentang variabel motivasi kerja dapat dipercaya atau dapat dihandalkan untuk menganalisa data selanjutnya. Dengan demi- kian maka proses analisis data dapat dilanjut- kan ke tahap selanjutnya yaitu uji asumsi klasik. Uji Analisis Regresi Linear Berganda Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS diperoleh hasil seperti pada tabel 6. INDIKATOR KOEFISIEN KORELASI STATUS Y.1 1.8404 0.6377 Y.2 1.0769 0.5667 Y.3 1.8147 0.6395 Y.4 1.0154 0.6887 Y.5 1.9744 0.6367 Y.6 1.8917 0.4602 VARIABLES ALPHA KEPEMIMPINAN 1.4263 KOMITMEN 1.4942 KEDISIPLINAN 0.9753 MOOTIVASI KERJA 0.6333 Motivasi Kerja (Y) Tabel 4 menunjukkan hasil olahan soft- ware SPSS untuk pengujian validitas pada variabel terikat Motivasi Kerja (Y). Dari sepuluh indikator yang digunakan sebagai item-item pertanyaan menunjukkan bila semua item dapat dinyatakan valid karena berada diatas batas 0.3. Tabel 4 Uji Validitas pada Motivasi Kerja (Y) Uji Reliabilitas Pengujian realibilitas dalam penelitian ini bertujuan untuk mengukur apakah jawaban yang diberikan responden konsisten atau kese- larasan untuk merespon per item yang terdapat pada angket penelitian. Dengan kata lain apa- kah alat pengukuran bisa dipercaya atau bisa diandalkan. Tabel 5 adalah nilai alpha dari keempat variabel yang digunakan dalam pene- litian ini, yaitu Kepemimpinan, Komitmen, Kedisiplinan dan Motivasi Kerja. Tabel 5 Reliability Analysis Iwang Suwaningsih, Analisis Gaya Kepemimpinan, Komitmen, dan Kedisiplinan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja 35 Tabel 6 Uji t Coeficients a Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig 1 (Contants) 3.441 4.690 1.395 .408 X1 .266 .102 .525 3.737 0.20 X2 .104 .103 .547 3.196 0.47 X3 .132 .553 .335 2.179 0.42 Dari hasil hitungan tabel 6 diatas, maka persamaan regresi linier dihasilkan adalah: Y = 3.441 + 0.266X1 + 0.104 X2 + 0.132 X3 Model persamaan linier berganda dari hasil perhitungan pada tabel 6, menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai (Y) sebagai variabel terikat dari variabel bebas Kepemimpinan (X1), Komitmen (X2) dan Kedisiplinan (X3). Penga- ruh tersebut menunjukkan bahwa variabel Kepemimpinan, Komitmen dan Kedisiplinan sebagai variabel bebas berubah serah dengan perubahan peningkatan motivasi kerja sebagai variabel terikat. Sedangkan untuk melihat pengaruh masing-masing variabel bebas terha- dap variabel terikat dilakukan dengan uji t. Kemudian untuk mengetahui apakah variabel kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan secara bersama-sama (serentak) mempengaruhi peningkatan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegalsari Surabaya dapat dilakukan dengan uji F. Model Sum of Squares df Mean Squarea F Sig 1 Regression Residual Total 13.203 16.817 29.840 3 12 15 4.241 .702 5.509 .003 b Tabel 7 Annova b Uji F (Uji Simultan atau bersama-sama) Uji serentak ini (Uji F) ini dilakukan de- ngan membandingkan F hitung dengan F tabel pada taraf nyata = 0.05. Dari hasil perhitungan pada tabel 7 dapat dilihat bahwa F hitung sebesar 5.509 lebih besar dari F tabel = 0.003 dengan probabilitas sebesar 0.000000, hal ini berarti bahwa pada tarap nyata = 0.05 dapat dikatakan bahwa variabel bebas kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan mempunyai penga- ruh yang berarti terhadap Peningkatan Moti- vasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegalsari Surabaya atau dengan kata lain bahwa dengan tarap nyata 5% hipotesis kedua bisa diterima (terbukti). Uji t (Uji Parsial) Untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas X1, X2 dan X3 terhadap variabel terikat (Y) dengan menggunakan Uji Parsial Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 36 (Uji t). Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 6. Untuk variabel Kepemimpinan (X1) nilai t hitung yang diperoleh sebesar 3.737 dan nilai signifikasinya 0,20, nilai ini lebih kecil daripada nilai alpha = 0.05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel Kepemimpinan (X1) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap Pening- katan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Keca- matan Tegalsari Surabaya. Untuk variabel Ko- mitmen (X2) nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar 3.196 dan nilai signifikansinya adalah 0.47, nilai ini lebih kecil daripada alpha = 0.05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel Komitmen (X2) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegalsari Surabaya. Untuk variabel Kedisiplinan (X3) nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar 2.179 dan nilai signifikasinya adalah 0.042 nilai ini lebih kecil daripada alpha = 0.05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel Kedisiplinan secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap Peningkatan Mo- tivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegal- sari Surabaya. Diantara nilai koefisien regresi yang dikemukakan terlihat bahwa nilai koefi- sien variabel bebas Kepemimpinan yaitu 0.256 lebih besar dibandingkan nilai koefisien variabel bebas lainnya. Koefisien variabel bebas Komitmen sebesar 0.104 dan koefisien variabel bebas Kedisiplinan sebesar 0.132. Dengan de- mikian variabel bebas Kepemimpina memiliki pengaruh yang paling dominan dibandingkan kedua variabel bebas lainnya terhadap Pening- katan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamat- an Tegalsari Surabaya. Keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin itu sendiri untuk melaksanakan tugas dan fungsi- nya. Seorang pemimpin harus mau bekerja keras tanpa mengenal putus asa. Dengan demi- kian seorang pemimpin harus memiliki ke- mampuan memecahkan persoalan, memiliki pandangan yang luas, keluwesan, kecerdasan, kelancaran berbicara, bersedia menerima tang- gungjawab, ketrampilan social, sadar akan diri dan lingkungannya. Upaya untuk meningkat- kan tanggung jawab agar sumber daya manusia dapat bekerja secara efisien dan efektif, maka kepemimpinan memegang peranan penting untuk dapat mempengaruhi dan menggerak- kan bawahan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Keberhasilan dan kegagalan yang dialami oleh sebagian besar organisasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin organisasi iut sendiri. Setiap pemimpin memiliki gaya me- mimpin yang berbeda-beda. Gaya memimpin dapat dilihat pada ucapan, sikap, tingkah laku, dan cara mengambil keputusan memimpin. Kedisiplinan juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan motivasi kerja organisasi. Kedisiplinan seperti tersedianya per- lengkapan dan fasilitas yang memadai, suasana kerja yang menyenangkan akan dapat membe- rikan motivasi kerja yang lebih efektif dan efisien untuk menyelesaikan pekerjaannya. Per- lengkapan maupun sarana organisasi dapat tersedia secara terencana dan hal ini mungkin tidak terlalu merepotkan baik pihak pengelola organisasi. Bila kedisiplinan dapat terbentuk secara baik, maka memungkinkan untuk men- dukung motivasi kerja pegawai secara opti- mal. SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan, komitmen dan kedi- Iwang Suwaningsih, Analisis Gaya Kepemimpinan, Komitmen, dan Kedisiplinan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja 37 siplinan secara parsial dan simultan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegalsari Surabaya. Dari analisis data dan pembahasan diperoleh beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) kepemimpinan, komitmen dan kedisiplinan berpengaruh sgnifikan secara parsial terhadap Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegalsari Surabaya, (2) kepemim- pinan, komitmen dan kedisiplinan berpenga- ruh signifikan secara simultan terhadap Pening- katan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Keca- matan Tegalsari Surabaya, (3) kepemimpinan berpengaruh paling dominan secara signifikan terhadap Peningkatan Motivasi Kerja Pegawai Kantor Kecamatan Tegalsari Surabaya. DAFTAR PUSTAKA Alex S, Nitisemito, 2002, Manajemen Perso- nalia. Jakarta: Ghalia Indonesia. Arvan Pradiansyah. 1999. LimaPrinsip Pemba- ngun Komitmen. Manajemen. Edisi No 125 hal 31.Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Darmawan, Didit. 2013. Prinsip -Prinsip Peri- laku Organisasi. Pena Semesta: Surabaya. FX. Isbagyo Wiyono. 1999. Menyamakan Persepsi tentang Komitmen. Mana- jemen.Edisi No. 126 hal. 34. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Gibson, et al. 2009. Organisasi. Edisi ke lima. Jakarta: Erlangga. atau Organiza- tional Behavior: Human. Behavior at Work. 5 th edition. Boston: McGrawa- Hill Inc. Hersey P. 2009. Situational leaders: Leader- ship Excellence. 26, 2, 12. Hasibuan, Malayu.S.P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Miftah Thoha. 2003. Perilaku Organisasi. Edisi Pertama. Cetakan Keempatbelas. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Reksohadiprodjo. Sukanto dan Handoko. T. Hani. 2002. Organisasi Perusahaan. Edisi Kedua, Yogyakarta: BPFE. Stoner. J. & Freeman, R.E. 2000.Manage- ment. NJ: Prentice Hall. Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 38