Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 3939 Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public yang Melakukan Initial Public Offering (IPO) Dwi Sulistiani Finta Widya Oktora Maha Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang email: tiaraakbar2006@yahoo.com Abstract: This study aimed to determine whether the publicly traded company initial public offering (IPO) using the earnings management policies, as well as to see the effect of earnings management and operating performance on profitability in the company went public policy that performs an (IPO) in 2008. The results showed that the test is based on one- sample t test proved that the company indicated use of earnings manage- ment around IPOs. While based on paired samples t - test , and Wilcoxon signed rank the result that there are differences in operating performance and profitability of the com- pany went public between before and after the policy does IPO. It results that the most influential variable is the current ratio dan 62% of the level of profitability of companies doing an IPO is influenced by variables of earnings management and operating perfor- mance. Through the F test can be seen that all the independent variables simultaneously affect the dependent variable. Hypothesis testing using T test showed that of the three independent variables found to significantly affect the dependent variable. Keywords: Earnings Management, Current Ratio, Total Asset Turnover, Return on Assets, Initial Public Offering Pendahuluan Dalam rangka proses go public, sebelum saham diperdagangkan di pasar skunder (Bursa Efek), terlebih dahulu saham perusahaan yang akan go public diperdagangkan di pasar per- dana yang disebut Initial Public Offering (IPO). IPO merupakan saat yang penting bagi perusahaan karena saat itulah investor menilai kondisi dan prospek perusahaan yang ber- ujung pada penentuan besarnya dana yang dapat diakumulasi oleh perusahaan dari pasar modal. Menurut Francis (1993) salah satu informasi penting dalam prospektus adalah informasi keuangan perusahaan yang disajikan dalam neraca dan laporan laba rugi tiga tahun sebelum IPO, begitu juga menurut Jones (2000) prospektus tersebut didistribusikan untuk setiap investor potensial. Sesuai dengan peraturan Bapepam LK, yang mensyaratkan bahwa pada saat perusa- haan akan melakukan IPO, perusahaan harus menyediakan satu prospektus yang memapar- kan semua informasi baik informasi keuangan maupun non-keuangan. Prospektus berisi ten- tang perusahaan penerbit sekuritas dan seba- gian tentang laporan keuangan perusahaan selama 3 tahun sebelum IPO yang telah di audit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP). Informasi yang menjadi perhatian penting da- lam laporan keuangan adalah informasi menge- nai laba. Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 40 Agar kinerja perusahaan terlihat bagus, manajemen berusaha mencoba untuk meng- atur laba, yaitu dengan melakukan manajemen laba itu sendiri. Hal ini mengingat pentingnya peranan laba dalam berbagai proses pengam- bilan keputusan. Ada berbagai cara dalam manajemen laba, diantaranya pemilihan meto- de akuntansi atau kebijakan akrual, tetapi cara yang paling sering dilakukan adalah dengan kebijakan akrual (discretionary accrual), yaitu dengan mengendalikan transaksi akrual sehing- ga laba terlihat tinggi. Akan tetapi, transaksi tersebut tidak mempengaruhi aliran kas, misal- nya waktu dari pengakuan pendapatan sehing- ga kebijakan akrual akan dapat mempengaruhi kualitas laba perusahaan. Banyak penelitian terhadap perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) terbukti bahwa telah terjadi manajemen laba menjelang IPO. Loughran dan Ritter (1997) menemukan perbedaan antara kinerja operasi lima tahun sebelum dan sesudah penawaran, yaitu adanya penurunan kinerja dalam jangka panjang. Rodoni (2002) juga menemukan bahwa kinerja IPO untuk jangka panjang me- nunjukkan kinerja yang negatif. Sementara Denis dan Serin (1999) mencatat bahwa ren- dahnya kinerja pasca IPO diakibatkan peng- ukuran earnings yang dilakukan secara �tidak tepat� oleh manajemen. Shivakumar (2000) juga menunjukkan bahwa manajemen telah melakukan overstate terhadap earnings sebe- lum melakukan pengumuman IPO. Amin (2007) melakukan penelitian selama 6 tahun pengamatan, membuktikan bahwa perusahaan yang melaksanakan IPO terindikasi melakukan kebijakan manajemen laba (earn- ings management) tiga tahun sebelum pelaksa- naan IPO dan tiga tahun setelah pelaksanaan IPO dengan cara memainkan komponen-kom- ponen akrual. Namun pada penelitiannya, Amin (2007) tidak berhasil membuktikan bah- wasannya terdapat hubungan antara ketiga variabel yang terdiri dari earnings manage- ment, underpricing, dan kinerja perusahaan. Sedangkan Didi (2008) yang melakukan pene- litian dengan 4 tahun pengamatan memperoleh hasil bahwa perusahaan yang melaksanakan IPO terindikasi melakukan kebijakan earnings management. Selain itu juaga mendapatkan hasil bahwa kinerja operasi yang diukur de- ngan ROA tidak mengalami perbedaan rata- rata yang signifikan antara sebelum dilakukan IPO dengan setelah dilakuakan IPO. Namun hal tersebut berbeda dengan hasil yang diper- oleh oleh Meim dan Wahyu (2013) yang membuktikan bahwa berdasarkan tingkat pe- ngembalian aktiva (ROA) terdapat perbedaan kinerja perusahaan antara periode sebelum IPO dan sesudah IPO. Selain itu, Didi (2008) tidak mampu menemukan adanya pengaruh antara manajemen laba terhadap kinerja operasi sesudah IPO. Berdasarkan ketidak konsistenan hasil penelitian di atas peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian kembali terkait IPO dan fenomena yang menyertainya dengan waktu pengamatan lebih panjang yaitu 8 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji apakah manajemen laba (Earnings Manage- ment) dan kinerja operasi berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial pub- lic offering (IPO) di tahun 2008 serta apakah terdapat perbedaan kinerja operasi dan tingkat profitabilitas antara sebelum dan sesudah dilakukan Initial Public Offering (IPO), yang juga diintegrasikan dengan hukum Islam.                                                                                                                                                                           Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 42 4 Kurnia wan (2009) Analisis Pengaruh Variabel Keuangan dan Non Keuangan Terhadap Initial Return dan Return 7 hari setelah Initial Public Offerings (IPO) - Uji Simultan (Uji F) - Uji Parsial (Uji T) - Regresi Liner Berganda Uji Beda Variabel bebas - Current Ratio - Total Asset Turnover - Debt to Equity ratio - Return On Equity - Earning Per Share - Ukuran Perusahaan - Umur Perusahaan - Prosentase Penawaran Saham Variabel Terikat - Initial Return - Return 7 hari setelah IPO Berdasarkan penelitian yang dlialukan diperoleh hasil bahwa: (1) secara par- sial variabel total asset turnover, pro- sentase penawaran saham, dan return on equity berpengaruh signifikan terha- dap return awal, (2) secara parsial variabel total asset turnover dan pro- sentase penawaran saham yang berpe- ngaruh signifikan terhadap return 7 hari setelah IPO, (3) terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan pada variabel bebas terhadap variabel terikat. 5 Yuniarti (2010) Pendeteksian Earnings Management Underpricing Dan Pengukuran Kinerja Perusahaan Yang Melakukan Kebijakan Initial Public Offering (IPO) Di Indonesia - uji Paired Sample Test, uji One Sample Kolmogorov Smirnov - uji Wilcoxon Signed Rank Test, uji One Sample t-Test - earnings management - underpricing - return on equity - current ratio - debt to equity ratio - total asset turnover ratio - mean - cumulative abnormal return Berdasarkan pengujian yang telah dila- kukan maka terbukti bahwa (1) adanya praktek manajemen laba yang dilaku- kan oleh perusahaan pada keseluruhan periode pengamatan, (2) adanya feno- mena underpricing yang dialami oleh perusahaan pada hari pertama ketika saham diperdagangkan di pasar sekun- der, (3) adanya penurunan kinerja keuangan yang dialami oleh perusa- haan setelah melakukan IPO. 6 Afriyani (2011) Analisis Pengaruh Current Ratio, Total Asset Turnover, Debt to Equity Ratio, Sales, dan Size Terhadap ROA (Return On Asset) - Uji Simultan (Uji F) - Uji Parsial (Uji T) Regresi Liner Berganda Variabel bebas - Current Ratio - Total Asset Turnover - Debt to Equity ratio - Sales - Size Variabel Terikat - ROA (Return On Asset) - Berdasarkan penelitian yang dlialukan diperoleh hasil bahwa: (1) variabel current ratio berpengaruh negative dan signifikan terhadap ROA, (2) variabel total asset turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, (3) varia- bel Debt to Equity ratio berpenga- ruh negative dan signifikan terhadap ROA, (4) variabel sales berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA, (5) variabel size berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA, (6) variabel Current Ratio, Total Asset Turnover, Debt to Equity ratio, Sales dan Size secara simultan berpengaruh terhadap return on asset. Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 43 ngan penawaran primer ketika saham baru dijual untuk menggalang kas tambahan untuk perusahaan. IPO disebut penawaran sekunder ketika pendiri perusahaan dan pemodal ven- tura menguangkan sebagian keuntungannya dengan menjual saham. IPO bisa dan umum- nya sekaligus primer maupun sekunder. Per- usahaan menggalang kas baru pada saat yang sama ketika beberapa saham yang saat ini sudah ada dalam perusahaan dijual untuk umum. Begitu perusahaan memutuskan go pub- lic, tugas pertama mereka adalah memilih para penjamin. Penjamin atau yang disebut dengan underwriter itu merupakan perusahaan per- bankan investasi yang bertindak sebagai bidang keuangan bagi emisi (penerbitan) saham baru. Biasanya mereka memainkan tiga peran di antaranya memberi perusahaan saran prose- dural dan finansialnya, lalu membeli sahamnya, dan pada akhirnya menjualnya kembali kepada publik. Islam melarang dalam hal jual beli untuk memaksa orang lain dalam membeli barang atau jasa dengan harga tertentu atau melaku- kan praktek monopoli yang dalam masalah harga (Nawawi, 2013: 28). Oleh sebab itu, seharusnya pasar diserahkan kepada keadilan yang alami dan penguasa tidak boleh melaku- kan campur tangan dengan memaksa masyara- kat untuk membeli dengan harga mereka yang tidak mereka setujui. Nabi Muhammad SAW, menganggap campur tangan yang tidak perlu adalah suatu bentuk kedholiman, namun jika pasar telah terjadi monopoli, eksploitasi, dan mempermainkan kebutuhan orang seperti beredar di jaman sekarang, maka dibolehkan melakukan pematokan harga. Bahkan dalam kondisi seperti ini hukumnya wajib, karena hal ini merupakan tindakan mengharuskan keadilan yang diwajibkan. Sampai saat ini belum ada kesapakatan mengenai definisi dan batasan manajemen laba, karena masih ada kontroversi antara praktisi 7 Mulyono (2012) Pengaruh Manajemen Laba (Earnings Manajement) Terhadap Kinerja Keuangan uji regresi linier berganda Variabel Bebas: - Manajemen Laba Variabel Bebas: - Kinerja Keuangan dengan peng- ukuran Cash Flow Return on Asset Berdasarkan hasil penelitian yang dila- kukan diketahui bahwa pengaruh dari manajemen laba dapat menurunkan kinerja keuangan perusahaan dan ma- sih terdapat banyak faktor lain yang lebih dominan dalam manajemen laba 8 Sohidin (2013) Manajemen Laba Dan Evaluasi Kinerja Keuangan Perusahaan Di Sekitar IPO wilcoxon�s signed ranks test - discretionary accruals - return on asset - return on equity - net profit margin Berdasar penelitian tersebut dapat di- simpulkan bahwa: 1. tidak terdapat indikasi manajemen laba dalam perusahaan selama IPO 2. terdapat perbedaan kinerja keuangan di seluruh rasio kinerja keuangan yang diukur dengan menggunakan pengukuran ROA, ROE dan NPM secara simultan antara sebelum dan sesudah IPO Sumber: data diolah, 2013 Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 44 dan akademisi dalam memahami manajemen laba atau yang dikenal juga dengan earnings management. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah manjemen laba dapat dikategorikan sebagai kecurangan atau tidak. Para praktisi menilai bahwa manajemen laba tidak bisa dika- tegorikan sebagai kecurangan, sementara aka- demisi menilai manajemen laba merupakan tindakan kecurangan. Setiap pihak dapat meng- ungkapkan pendapat yang kuat dan memper- tahankan pendapatnya. Tetapi kedua belah pihak menyepakati bahwa manajemen laba merupakan upaya mengubah, menyembunyi- kan, dan menunda informasi keuangan (Sulis- tyanto, 2008: 54). Healy dan Wahlen (2000: 365) mendefi- nisikan manajemen laba terjadi ketika mana- jemen menggunakan judgment dalam pela- poran keuangan yang dapat merubah laporan keuangan sehingga menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Sulis- tyanto (2008: 54) juga mendefinisikan mana- jemen laba sebagai upaya manajer perusahaan untuk mempengaruhi informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. Menurut Scott (2003: 50) mendefinisikan manajemen laba sebagai �given that managers can choose accounting policies from a set (for example, GAAP), it is natural to expect that they choose policies so as to maximize their own utility and/or the market value of the firm�. Dari definisi tersebut dapat disimpul- kan bahwa manajemen laba merupakan tin- dakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari standar akuntansi yang ada dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan mereka dan nilai pasar perusahaan. Selain itu juga Scott (2003: 52) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimalkan kesejahteraannya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontak utang, dan political costs (opportunistic earnings management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari per- spektif efficient earnings management, yaitu manajemen laba memberi manajer suatu fleksi- bilitas untuk melindungi diri mereka dan per- usahaan dalammengantisipasi kejadian-keja- dian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempenga- ruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba. Terdapat empat alasan, yang menjadi pendorong para manajer untuk memanipulasi laba yang dilaporkan (Stise, 2002: 420�426), diantaranya: 1. Memenuhi Target Internal 2. Memenuhi Harapan Eksternal 3. Meratakan atau Memuluskan Laba (income smoothing) 4. Mendandani laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan penawaran sa- ham perdana (initial public offering-IPO) atau untuk memperoleh pinjaman dari bank Menurut Elok (2012: 30) etika bisnis dalam kaitannya dengan ajaran Islam, berarti sebuah pemikiran atau refleksi tentang morali- tas yang membatasi kerangka acuannya kepada konseptual sebuah organisasi dalam ekonomi dan bisnis yang didasarkan atas ajaran Islam. Dalam hal ini, penelitian akan berusaha melihat aspek moralitas atau normatif dari manajemen Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 45 laba (earnings management), yaitu apakah manajemen laba merupakan sebuah tindakan yang baik atau buruk, wajar atau tidak wajar, serta diperbolehkan atau tidak menurut ajaran Islam. Perilaku Rasulullah SAW yang jujur trans- paran dan pemurah dalam melakukan praktik bisnis merupakan kunci keberhasilannya me- ngelola bisnis Khodijah Ra, merupakan contoh kongkrit tentang moral dan etika dalam bisnis. Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencangkup Khusnul Khuluq. Pada derajad ini Allah akan melapangkan hati- nya, dan akan membuka pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak yang mulia tersebut. Akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran. Artinya: �Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesa- mamu dengan jalan yang batil, kecuali de- ngan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu� (Q.S. an- Nisa� ayat 29). Ayat diatas menyerukan agar kita berlaku jujur dalam menjalankan usaha, manajemen laba yang dipersepsikan secara negatif termasuk hal yang melanggar ayat tersebut diatas. Karena manajemen laba dilakukan oleh manajemen perusahaan dan tidak diberitahukan secara jujur pada pengguna laporan keuangan treat- ment manajemen laba apa yang mereka laku- kan. Kejujuran merupakan syarat fundamen- tal dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktifitas bisnis. Dalam tataran ini. selain itu juga yang tidak kalah pentingnya adalah hal menepati amanah. Menepati amanah merupakan moral yang sangat mulia, maksud amanah adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemilik- nya, tidak mengambil sesuatu yang melebihi sesuatu yang melebihi haknya dan tidak me- ngurangi hak orang lain. H1: Perusahaan go public melakukan kebi- jakan manajemen laba di sekitar pelak- sanaan Initial Public Offering (IPO). Kinerja operasi suatu perusahaan dapat dilihat dan didapat salah satunya dari laporan keuangan perusahaan. Pemegang saham mau- pun calon investor sangat berkepentingan ter- hadap laporan keuangan yang diumumkan secara periodik oleh pihak manajemen. Lapor- an keuangan ini merupakan informasi yang sangat mendasar untuk menilai kinerja keuang- an atau kinerja operasional perusahaan. Kiner- ja keuangan yang dimaksud dapat dinilai atau dianalisis dengan menggunakan pengukuran kinerja melalui rasio-rasio keuangan. Dengan adanya rasio keuangan, para pengguna lapor- an keuangan dapat menghitung dan mengin- terpretasikan ukuran-ukuran kewajiban, likuidi- tas, profitabilitas, manajemen aset, dan nilai pasar perusahaan. Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya dilakukan untuk melihat prospek dan resiko perusahaan. Pros- pek untuk mengetahui tingkat keuntungan (profitabilitas) sedangkan resiko untuk menge- tahui perusahaan tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan atau tidak. Hanafi dan Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 46 Halim (2005: 5) mengemukakan bahwa untuk menganalisis laporan keuangan, seorang analis keuangan harus melakukan beberapa hal: 1. Menentukan tujuan dari analisis keuangan 2. Memahami konsep-konsep dan prinsip- prinsip yang mendasari laporan keuangan dan rasio-rasio keuangan dari laporan keuangan tersebut. 3. Memahami kondisi ekonomi dan bisnis yang mempengaruhi usaha perusahaan tersebut. Cahyaningrum (2012: 22) menyatakan bahwa analisis laporan keuangan suatu perusa- haan tidak hanya dilakukan untuk satu periode tertentu saja, tetapi diperlukan analisis kom- paratif (perbandingan), sehingga dapat dilihat hubungan keuangan atau kecenderungan (trend) yang bersifat signifikan. Analisis lapor- an keuangan dapat dibagi menjadi tiga jenis: intracompany basis (perbandingan internal perusahaan untuk mendeteksi adanya per- ubahan-perubahan keuangan perusahaan atau trend yang signifikan), intercompany basis (perbandingan dengan perusahaan lain yang dapat memberikan gambaran posisi kompetitif perusahaan yang bersangkutan) dan industry average (perbandingan dengan rata-rata indus- tri dari industri yang sama dengan perusahaan yang akan dianalisis). Dalam menganalisis laporan keuangan perusahaan yang diteliti, penelitian ini menggunakan analisa jenis in- tracompany basis di setiap perusahaan. Menurut Hanafi dan Halim (2005: 77) pada dasarnya analisis rasio dapat dikelompok- kan ke dalam lima macam kategori, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Evaluasi laporan keuangan digunakan sebagai bahan penilaian atas kebijakan manajemen terhadap perusahaan apakah kinerja perusahaan mengalami kema- juan atau malah mengalami kemunduran serta apakah menunjukkan adanya kebijakan yang diterapkan dalam perusahaan kurang tepat. Dalam firman-Nya QS. Sr-Ra-ad: 11, Allah menyebutkan bahwa: Artinya: � bagi manusia ada malaikat- malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menja- ganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.� Berdasarkan firman tersebut dapat dilihat bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum tersebut merubah keadaanya. Sama halnya dengan aplikasi pada perusahaan. Jika perusahaan tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengoptimalkan kegiatan usahanya, maka perusahaan tersebut tidak akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Dalam hal ini semisal, perusahaan tidak akan mendapat keuntungan atau laba yang tinggi tanpa memaksimalkan dan mening- katkan penjualan serta kegiatan operasinya. Evaluasi kinerja sebagai bahan pertimbang- an dalam pengambilan keputusan yang akan datang. Dalam konsep Islam menjelaskan bah- wa setiap tindakan manusia hendaknya mem- perhatikan apa yang diperbuat pada masa lalu sebagai perencanaan masa depan. Evaluasi ki- nerja salah satunya dengan melihat laporan keuangan dengan menggunakan rasio keuang- an untuk mengetahui keadaan keuangan per- usahaan dimasa lalu, saat ini dan kemungkinan- Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 47 nya dimasa datang, dengan Kebijakan yang lama dijadikan pembelajaran untuk mengambil kebijakan yang baru yang lebih baik dan dise- suaikan dengan perusahaan. Hal ini sesuai dengan Al-Qur�an surat Al-Hasyr ayat 18 sebagai berikut: Artinya: �Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.� (QS. Al-Hasyr: 18) Rasio ini merupakan salah satu parame- ter pada rasio likuiditas. Rasio likuiditas ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio likuiditas yang penting ada- lah current ratio. Hal ini karena rasio ini menilai ketersediaan aset lancar untuk meme- nuhi kewajiban lancar. Berikut perhitungan untuk current ratio: Intepretasi untuk melihat tingkat likuiditas suatu perusahaan yang di- proksikan dengan current ratio yaitu semakin rendah nilai dari current ratio menunjukkan risiko likuiditas yang tinggi, sedangkan jika angka current ratio semakin tinggi maka menunjukkan risiko likuiditas yang semakin rendah (Hanafi dan Halim, 2005: 80). Aktiva Lancar Current Ratio = �������������� Hutang Lancar Rasio ini merupakan salah satu parame- ter pada rasio aktivitas. Rasio aktivitas ini digunakan untuk mengukur sejauh mana efek- tivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. Sedangkan untuk total assets turnover digunakan untuk mrngukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan seluruh aktivanya (Hanafi dan Halim, 2005: 83). Berikut perhitungan untuk total assets turnover: Penjualan Total Assets Turnover = ����������� Total Aktiva Intepretasi untuk melihat tingkat aktivitas suatu perusahaan dengan menggunakan para- meter total assets turnover yaitu semakin tinggi angka rasio ini berarti semakin efektif penggunaan dari seluruh aktiva yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Namun jika semakin rendah angka rasio ini maka hal tersebut berarti bahwa semakin tidak efektif pula dalam peng- gunaan seluruh aktiva yang dimiliki. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa angka rasio total assets turnover yang tinggi menun- jukkan aktivitas manajemen yang baik, sebalik- nya jika angka rasio ini rendah maka mana- jemen harus mengevaluasi stategi, pemasaran, dan pengeluaran modalnya atau investasi (Hanafi dan Halim, 2005: 83). H2: Terdapat perbedaan kinerja operasi pa- da perusahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan Initial Public Offering (IPO) Profitabilitas merupakan ukuran untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mem- peroleh keuntungan. Menurut Arifin dan Fakhruddin (1999), profitabilitas adalah ke- mampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari kegiatan bisnis yang dilakukannya. Laba ini merupakan keuntungan setelah bunga dan pajak yang merupakan laba yang akan dibagi- Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 48 kan kepada pemegang saham. Menurut Besley dan Brigham (2008: 17), profitabilitas merupa- kan kemampuan perusahaan untuk menghasil- kan laba yang merupakan hasil bersih dari kebijakan-kebijakan dan keputusan-keputusan manajemen baik dalam mengelola likuiditas, aset, maupun kewajiban perusahaan. Terdapat dua tipe rasio profitabilitas, yaitu profitabilitas sehubungan dengan penjualan dan profitabilitas sehubungan dengan investasi yang terdiri dari gross profit margin dan net profit margin. Rasio profitabilitas sehubungan dengan penjualan yang terdiri dari return on equity dan return on assets. Dalam penelitian ini untuk mengukur profitabilitas perusahaan menggunakan pengukuran return on assets (ROA). Bagus (2006: 18) menyatakan bahwa Return on Asset diukur dari laba bersih setelah pajak (earning after tax) terhadap total asset- nya yang mencerminkan kemampuan perusa- haan dalam penggunaan investasi yang diguna- kan untuk operasi perusahaan dalam rangka menghasilkan profitabilitas perusahaan. ROA juga merupakan ukuran efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan me- manfaatkan aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat kembalian investasi (return) semakin besar. Secara matematis ROA dapat dirumus- kan sebagai berikut: Laba Bersih Setelah Pajak ROA = ����������������������� Total Asset Kedua variabel yang digunakan untuk mengukur ROA tersebut (Laba bersih setelah pajak dan total aset) tercermin dalam laporan keuangan tahunan, dimana besarnya laba bersih setelah pajak diperoleh dari laporan laba rugi, sedangkan total asset yang digunakan dalam penelitian ini adalah total aktiva tetap yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan yang tercermin dalam laporan neraca (sisi aktiva/asset). H3: Terdapat perbedaan profitabilitas pada perusahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan Initial Public Offering (IPO) Kerangka konseptual merupakan gam- baran dalam proses penelitian yang dilakukan pada penelitian ini. Selain itu juga dengan melihat kerangka konseptual dapat dilihat ke- terkaitan antara variabel independen (X) de- ngan variabel dependen (Y). Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 49 TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 PERIODE O SAAT MELAKUKAN IPO PERIODE T + 1 PERIODE T + 2 PERIODE T + 3 PERIODE T + 4 PERIODE T - 1 PERIODE T - 2 PERIODE T - 3 MANAJEMEN LABA CURRENT RATIO TOTAL ASSET TURNOVER RETURN ON ASSET Skema 1. Periode Pengamatan Skema 2. Analisis Uji Beda DAT A MANAJEMEN LABA CURRENT RATIO T OT AL ASSET T URNOVER RET URN ON ASSET UJI BEDA UJI BEDA UJI BEDA UJI BEDA ONE SAMPLE T -T EST PAIRED SAMPLE T -TEST WILCOXON T EST PAIRED SAM PLE T -T EST WILCOXON T EST PAIRED SAMPLE T -T EST WILCOXON T EST INT ERPRET ASI Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 50 Berdasarkan skema di atas dapat dilihat beberapa langkah atau tahapan yang dilakukan pada penelitian ini. Pada skema 1 dapat dilihat bahwa tahun 2008 merupakan periode peng- amatan yang dijadikan sebagai patokan karena di tahun tersebut perusahaan melakukan kebijakan initial public offering (IPO). setelah mengetahui dan menentukan periode peng- amatan untuk penelitian ini maka dilanjutkan dengan analisis data sesuai dengan perumusan masalah yang telah ditentukan. Analisis data yang pertama adalah analisis uji beda. Analisis uji beda tersebut dapat terlihat dan tergambar pada skema 2. pada skema tersebut dapat Skema 3. Analisis Uji Regresi DAFTAR PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN IPO DI TAHUN 2008 MANAJEMEN LABA CURRENT RATIO TOTAL ASSET TURNOVER RETURN ON ASSET UJI NORMALITAS UJI ASUMSI KLASIK UJI MULTIKOLONIERITAS UJI AUTOKORELASI UJI HETEROSKEDASTISITAS REGRESI LINIER BERGANDA UJI SIGNIFIKANSI - UJI F - UJI T -UJI R² INTERPRETASI Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 51 dilihat bahwasannya terdapat beberapa pengujian yang digunaan untuk menguji beda tersebut. Setelah dilakukannya uji beda tersebut, terdapat satu pengujian lagi yang digunakan untuk menganalisis data, yaitu analisis regresi linier berganda. Analisis tersebut tergambar pada skema 3, dimana pada skema tersebut akan melihat pengaruh antara mana- jemen laba (Earnings Management) dan kinerja operasi yang diproksikan dengan current as- set dan total asset turnover terhadap profita- bilitas yang diukur dengan return on asset (ROA). Namun seperti yang telah digambar- kan pada skema tersebut sebelum dilakukan pengujian regresi linier berganda dilakukan terlebih dahulu pengujian asumsi klasik. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwasa- nya data yang akan diuji tidak bermasalah. Metode Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah selu- ruh perusahaan yang tercatat di BEI dan me- lakukan kebijakan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2008. Periode pengamatan adalah 3 tahun sebelum dan 4 tahun sesudah tahun t yaitu tahun 2008. Tahun 2008 digunakan sebagai peride t dikarenakan pada periode tersebut terjadi krisis keuangan global yang sedikit banyak berdampak dengan kondisi ekonomi Indonesia. Dalam penelitian ini diper- oleh 12 perusahaan yang tercatat di BEI dan melakukan kebijakan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2008 yang dapat dijadikan sampel dalam penelitian ini. Teknik yang digu- nakan dalam penentuan sampel penelitian ini adalah sampling jenuh atau sensus. Sampling jenuh atau sensus adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi diguna- kan sebagai sampel (Sugiyono, 2008: 122). Tabel 2 Perusahaan yang Diteliti Sumber: www.idx.co.id Kode Perusahaan Nama Perusahaan SIAP Sekawan Intipratama Tbk TRAM Trada Maritime Tbk BYAN Bayan Resources Tbk HOME Hotel Mandarine Regency Tbk KBRI Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk PDES Destinasi Tirta Nusantara Tbk VRNA Verena Multi Finance Tbk INDY Indika Energy Tbk BSDE Bumi Serpong Damai Tbk GZCO Gozco Plantations Tbk KOIN Kokoh Inti Arebama Tbk YPAS Yanaprima Hastapersada Tbk Definisi Operasional Variabel 1. Manajemen Laba yang diproksikan dengan discretionary accruals (X 1 ). Pengukuran discretionary accruals (DA) tersebut meng- gunakan the Modified Jones Model. 2. Kinerja Operasi yang diproksikan dengan current ratio (X 2 ) dan total assets turn- over (X 3 ). Aktiva Lancar Current Ratio = �������������� Hutang Lancar Penjualan Total Assets Turnover = ����������� Total Aktiva 3. Profitabilitas yang diproksikan dengan re- turn on asset (Y) Laba Bersih Setelah Pajak ROA = ����������������������� Total Asset Penelitian ini menggunakan beberapa me- tode untuk menganalisis data, diantaranya: 1. Statistik Deskriptif 2. Uji Asumsi Klasik  Uji Multikolonieritas  Uji Autokorelasi  Uji Heteroskedastisitas  Uji Normalitas 3. Uji Beda One Sample T-Test 4. Uji Beda Paired Sample T-Test 5. Uji Beda Wilcoxon Signed Rank 6. Regresi Linier Berganda 7. Uji Signifikan Simultan (Uji F) Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 52 8. Uji Signifikan Parsial (Uji T) 9. Koefisien Determinasi (R 2 ) Persamaan Penelitian sebagai berikut: Y = â0 + â1X1 + â2X2 + â3X3 + å Tabel 3 Hasil Penelitian No. Pengujian Syarat Hasil Keterangan 1 Asumsi Klasik Uji Normalitas nilai signifikansi dari hasil uji Kolmogorow-Smirnov (K-S) > 0,05 Signifikansi Kolmogorow Smirnov : 0,148 Keseluruhan variabel berdistribusi normal karena signifikansi K-S < 0,05 Uji Autokorelasi DW diantara -2 sampai dengan 2 atau dengan kata lain DW mendekati 2 DW : 1,962 tidak terjadinya autokorelasi terpenuhi karena nilai DW menunjukkan berada di antara -2 sampai +2 Uji Heteroskedas- tisitas Signifikansi < 0,05 Sig X1 : 0,106 Sig X2 : 0,056 Sig X3 : 0,298 tidak mengandung Heteroskedastisitas melainkan Homoskedastisitas karena signifikansi seluruh variabel < 0,05 Uji Non- Multikoloni- eritas Pedoman suatu model yang bebas multikolinearitas yaitu nila VIF 4 atau 5 X1 : 1,652 X2 : 2,055 X3 : 1,648 Dapat diketahui bahwa model regresi yang digunakan bebas multikolinieritas karena VIF seluruh variabel 4 2 Uji Beda Uji One Sample T-Test signifikansi < 0,05 serta nilai rata-rata manajemen laba sebelum IPO > 0,5 dan atau nilai rata-rata manajemen laba setelah IPO > 0,5 Signifikansi 2005 : 0,000 2006 : 0,000 2007 : 0,010 2008 : 0,013 2009 : 0,082 2010 : 0,086 2011 : 0,078 2012 : 0,082 Mean 2005 : 0,9167 2006 : 0,9233 2007 : 0,8544 2008 : 0,8767 2009 : 0,2500 2010 : 0,1667 2011 : 0,1556 2012 : 0,2500 Terindikasi melakukan manajemen laba pada tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008. Hal ini dikarenakan Sig- nifikansi pada tahun tersebut > 0,05 dan mean pada tahun tersebut < 0,5 Uji Paired Sampe T-Test Dan Uji Wilcoxon Sign Rank signifikansi uji < 0,05 dan nilai rata-rata sebelum IPO nilai rata-rata variabel setelah IPO Mean CRt-1: 1,5283 CR t1: 1,8000 TATt-1 : 0,67 TAT t1: 0,64 ROAt-1 : 3,55 ROAt1 : 3,15 Signifikansi Paired Sample CR : 0,036 TAT : 0,007 ROA : 0,012 Signifikansi Wilcoxon CR : 0,043 TAT : 0,005 ROA : 0,010 Terbukti terdapat perbedaan antara sebelum IPO dan setelah IPO. Berdasarkan nilai signifikansi pada uji paired sample t-test maupun uiji wil- coxon signed rank sama-sama < 0,05 Berdasarkan nilai mean diperoleh hasil bahwa Crt-1 < CR t1 TAT t-1 > TAT t1 ROA t-1 > ROA t1 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil sebagai berikut: Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 53 Selain itu juga diperoleh persamaan untuk Regresi Linier Berganda sebagai berikut: Y = 0,277 + 1,002X1 + 1,036X2 + 3,117 X3 + 0,05 Hipotesis pertama pada penelitian ini ber- tujuan untuk mengetahui apakah perusahaan go public yang melakukan Initial Public Of- fering (IPO) menggunakan kebijakan manaje- men laba (Earnings Management). Setelah dila- kukan pengujian secara statistik di atas dapat diperoleh hasil bahwasannya perusahaan yang melakukan IPO terbukti menggunakan kebi- jakan manajemen laba. Kebijakan manajemen laba tersebut dilakukan selama 3 tahun men- jelang IPO yaitu selama tahun 2005 sampai tahun 2008. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai rata-rata manajemen laba sebelum IPO > 0,5 dengan nilai signifikansi < 0,05. Sedang- kan untuk periode setelah IPO tidak terbukti perusahaan-perusahaan tersebut melakukan IPO karena secara pengujian statistic diperoleh nilai rata-rata manajemen laba setelah IPO < 0,5 dengan nilai signifikansi > 0,05. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Stice (2002: 420-426) bahwa terdapat empat alasan yang menjadi pendorong para manajer untuk memanipulasi laba yang dilaporkan atau yang lebih dikenal dengan manajemen laba, yaitu salah satunya mendandani laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan penawaran saham perdana (Initial Public Offering-IPO). Bagi perusahaan-perusahaan yang sedang memasuki masa dimana pela- poran laba harus dalam kondisi yang baik, asumsi-asumsi akuntansi dapat diperluas maka sering kali sampai ke titik yang palig jauh dari aturan yang ada. Termasuk dalam masa itu adalah saat perusahaan berusaha untuk mem- buat permohonan pinjaman atau saat sebelum memulai penjualan saham perdana untuk umum. Banyak studi yang telah menunjukkan kecenderungan para manajer untuk mengge- lembungkan laba yang dialporkan dengan cara menggunakan asumsi-asumsi akuntansi di pe- riode sebelum penjualan saham perdana (IPO). Selain itu juga berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 (H1) diterima yaitu perusahaan go public melakukan kebijakan manajemen laba Sumber: data diolah, 2013 3 Koefisien Determinasi (R 2 ) - R 2 : 0,620 Hal ini berarti 62% tingkat profitabilitas melalui return on assets dipengaruhi oleh variabel earnings management (X1), current ratio (X2), dan total asset turnover (X3), sedangkan sisanya yaitu 38% dipengaruhi oleh variabel lain. 4 Uji Simultan (Uji F) Signifikansi < 0,05 F hitung > Ftable Signifikansi 0,000 < 0,05 F hitung > Ftable 3,273 > 2,70 secara besama-sama variabel bebas earnings management (X1), current ratio (X2), dan total asset turnover (X3), berpengaruh signifikan terhadap return on asset (Y) 5 Uji Parsial (Uji T) Signifikansi < 0,05 T hitung > Ttable Signifikansi X1 : 0,000 X2 : 0,003 X3 : 0,001 T table : 1,660 T hitug X1 : 1,713 X2 : 1,878 X3 : 1,978 Secara parsial diperoleh hasil bahwa 1. Manajemen laba berpengaruh terhadap return on asset 2. Current Ratio berpengaruh terhadap return on asset 3. Total Assets turnover berpengaruh terhadap return on asset Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 54 di sekitar pelaksanaan Initial Public Offering (IPO). Hasil pengujian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gumanti (2001), Anelies (2006), Amin (2007), Didi (2008), Ratih (2010), dan Elok (2012) yang juga membuktikan bahwa terdapat indikasi adanya praktek manajemeen laba di sekitar IPO. Akan tetapi hasil yang didapat pada pene- litian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Meim dan Wahyu (2013) ka- rena pada penelitiannya, tidak ditemukan indi- kasi dilakukannya manajemen laba selama 1 tahun sebelum IPO dan 2 tahun setelah IPO. Meim mengukur manajemen laba mengguna- kan metode yang berbeda yaitu dengan Jones Models, sedangkan pada penelitian ini meng- gunakan Modified Jones Model. Hipotesis kedua pada penelitian ini ber- tujuan untuk melihat perbedaan kinerja operasi antara sebelum dan sesudah dilakukannya ke- bijakan Initial Public Offering (IPO). peneli- tian ini menggunakan dua macam pengukuran kinerja operasi yaitu rasio likuiditas yang di- proksikan dengan current ratio dan rasio ak- tivitas yang diproksikan dengan total assets turnover.  Current Ratio Current Ratio merupakan salah satu para- meter pada rasio likuiditas. Rasio likuiditas ini digunakan untuk mengukur kemampuan per- usahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa rata-rata cur- rent ratio sebelum IPO (CRt-1) sebesar 1.5283 dan rata-rata current ratio setelah IPO (CRt1) sebesar 1.8000. hal tersebut menandakan telah terjadi peningkatan antara sebelum IPO dengan setelah IPO. Walaupun tidak mengalami per- bedaan yang cukup tinggi, namun secara signi- fikansi baik menurut uji paired sample t test maupun uji wilcoxon signed rank test diper- oleh perbedaan yang signifikan. Hal ini ditan- dai dengan nilai signifikan keduanya yang <0,05 yaitu signifikansi untuk paired sample t test sebesar 0.036 < 0,05 dan signifikansi untuk wilcoxon signed rank test sebesar 0,043 < 0,05.  Total Asset Turnover Total Assets Turnover merupakan salah satu parameter pada rasio aktivitas. Rasio ak- tivitas ini digunakan untuk mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa rata-rata total assets turnover sebelum IPO (TATt-1) sebesar 0,6758 dan rata-rata total assets turnover setelah IPO (TATt1) sebesar 0,6408. Hal tersebut menandakan telah terjadi penurunan antara sebelum IPO dengan setelah IPO. Walaupun tidak mengalami perbe- daan yang cukup tinggi, namun secara signifi- kansi baik menurut uji paired sample t test maupun uji wilcoxon signed rank test diper- oleh perbedaan yang signifikan. Hal ini ditan- dai dengan nilai signifikan keduanya yang <0,05 yaitu signifikansi untuk paired sample t test sebesar 0.007 < 0,05 dan signifikansi untuk wilcoxon signed rank test sebesar 0,005 < 0,05. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpul- kan bahwa hipotesis 2 (H2) diterima yaitu terdapat perbedaan kinerja operasi pada per- usahaan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan Initial Public Offer- ing (IPO). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Amin (2007). Dalam penelitiannya dikatakan bahwa secara umum tidak ada perbedaan signifikan kinerja keuangan sebelum dan sesudah IPO, Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 55 hanya dua rasio keuangan yang berbeda yaitu Current ratio dan Total Assets Turnover. Serta terjadi tren penurunan kinerja keuangan. Hal tersebut juga sesuai dengan grafik yang ada pada bagian sebelumnya yang menggambarkan bahwa dalam jangka panjang yaitu 3 tahun setelah IPO akan terjadi penurunan kinerja perusahaan baik current ratio maupun total assets turnover. Amin (2007) mengungkapkan bahwa pada intinya penurunan kinerja pasca IPO sebenarnya merupakan hal logis, mengingat sikap oportunistik manajemen, karena kesu- periorannya dalam penguasaan informasi di- banding pasar, dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Manipulasi ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan informasi kinerja yang �lebih baik� agar pasar merespon kebijakan IPO secara positif. Namun upaya manipulasi ini biasanya tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang, sehingga perusahaan akan mengalami penurunan kinerja. Hipotesis ketiga pada penelitian ini bertu- juan untuk melihat perbedaan tingkat profita- bilitas antara sebelum dan sesudah dilakukan- nya kebijakan Initial Public Offering (IPO). Profitabilitas pada penelitian ini diproksikan dengan return on asset (ROA). Dari pengujian yang telah dilakukan, diperoleh hasil nilai rata- rata return on asset sebelum IPO (ROAt-1) sebesar 3,5508 dan nilai rata-rata return on asset setelah IPO (ROAt1) sebesar 3,1508. Walaupun tidak mengalami perbedaan yang cukup tinggi, namun secara signifikansi baik menurut uji paired sample t test maupun uji wilcoxon signed rank test diperoleh perbedaan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan nilai signifikan keduanya yang < 0,05 yaitu signifi- kansi untuk paired sample t test sebesar 0.012 < 0,05 dan signifikansi untuk wilcoxon signed rank test sebesar 0,010 < 0,05. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpul- kan bahwa hipotesis 3 (H3) diterima yaitu Terdapat perbedaan profitabilitas pada perusa- haan go public antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan Initial Public Offer- ing (IPO). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meim (2013). Dalam penelitiannya diperoleh hasil bahwasannya berdasarkan tingkar pengemba- lian aktiva (ROA) terdapat perbedaan kinerja perusahaan antara periode satu tahun sebelum IPO dan satu tahun setelah IPO. Akan tetapi penelitian ini tidak sesuai dengan hasil peneli- tian yang dilakukan oleh Anelies (2006) dan Didi (2008). Anelies (2006) menyebutkan bah- wa perubahan nilai ROA pada periode sebe- lum dan sesudah IPO yang dilakukan perusa- haan secara umum memang terjadi penurunan pada periode setelah IPO. Walaupun terjadi penurunan nilai akan tetapi secara signifikansi tidak terbukti signifikan terdapat perubahan ROA antara sebelum dan sesudah IPO. Demi- kian pula pada penelitian Didi (2008) yang menyebutkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata kinerja operasi yang diproksikan de- ngan ROA antara sebelum dan setelah IPO. Seperti yang dikemukakan oleh Menurut Besley dan Brigham (2008: 17), profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang merupakan hasil bersih dari kebijakan-kebijakan dan keputusan- keputusan manajemen baik dalam mengelola likuiditas, aset, maupun kewajiban perusahaan. Sesuai uraian tersebut, dapat dilihat bahwa berdasarkan pengamatan nilai rasio ROA me- nunjukkan fluktuasi yang tinggi pada periode setelah IPO. Hal tersebut diikuti pula oleh rasio lain yaitu current ratio dan total assets turnover yang juga pada jangka panjang sete- lah IPO mengalami tred menurun. Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 56 Berdasarkan uji F, peneliti berhasil mem- buktikan bahwasannya terdapat pengaruh se- cara bersama-sama antara manajemen laba (Earnings Management) dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial pub- lic offering (IPO) di tahun 2008. Selain itu juga dapat dilihat bahwa berdasarkan nilai R 2 manajemen laba dan kinerja operasi berpe- ngaruh sebesar 62% terhadap profitabilitas perusahaan yang melakukan IPO. Hasil penelitian ini sejalan dengan pene- litian yang dilakukan oleh Meilinda (2011). Pada penelitiannya tersebut, Meilinda (2011) mendapatkan hasil bahwasannya variabel cur- rent ratio, total asset turnover, debt to equi- ty ratio, sales, dan size secara simultan atau secara bersama-sama berpengarug terhadap return on asset. Namun dalam melihat penga- ruh terhadap return on asset, terdapat perbe- daan variabel yang digunakan antara penelitian ini dengan penelitian Meilinda (2011). Pada penelitian ini menggunakan variabel manaje- men laba, current ratio, dan total assets turn- over. Sedangkan pada penelitian Meilinda (2011) menggunakan variabel current ratio, total asset turnover, debt to equity ratio, sales, dan size. Berdasarkan uji T, peneliti berhasil mem- buktikan bahwasannya terdapat hubungan disetiap variabel bebas yang terdiri dari cur- rent ratio dan total assets turnover terhadap variabel terikat yaitu return on asset. Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Re- turn On Asset Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel manajemen laba secara parsial berpengatuh terhadap return on asset. Kontri- busi manajmen laba mempengaruhi naik turun- nya nilai return on asset sebesar 37,09%. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukab oleh Anelies (2006) dan Didi (2008). Pada penelitian yang dilakukan oleh Anelies (2006) dan Didi (2008), keduanya tidak mendapatkan hasil bahwa manajemen laba berpengaruh terhadap return on asset. Bahahkan dalam penelitiannya, Anelies (2006) menyebutkan bahwa tinggi rendahnya nilai return on asset perusahaan setelah IPO tidak dipengaruhi oleh adanya manajemen laba di sekitar IPO. Pengaruh Current Ratio Terhadap Return On Asset Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel current ratio secara parsial berpengatuh terhadap return on asset. Kontri- busi current ratio mempengaruhi naik turun- nya nilai return on asset sebesar 39,69%. Variabel ini memiliki kontribusi tertinggi dalam mempengaruhi return on asset. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meilinda (2011). Pada penelitiannya tersebut, didapat- kan hasil bahwa variabel current ratio berpe- ngaruh negatif dan signifikan terhadap return on asset. hal tersebut artinya adalah setiap terjadi peningkatan pada nilai current ratio akan menyebabkan penurunan pada nilai re- turn on asset. Pengaruh Total Assets Turnover Terhadap Return On Asset Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel total assets turnover secara parsial berpengatuh terhadap return on asset. Kontribusi total assets turnover mempenga- ruhi naik turunnya nilai return on asset sebesar 38,19%. Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 57 Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meilinda (2011). Pada penelitiannya tersebut, didapatkan hasil bahwa variabel total asset turnover berpe- ngaruh positif dan signifikan terhadap return on asset. hal tersebut artinya adalah setiap terjadi peningkatan pada nilai total asset turn- over akan menyebabkan peningkatan pula pada nilai return on asset. Dengan demikian maka dari itu dapat di- simpulkan bahwa hipotesis 5 (H5) diterima yaitu manajemen laba dan kinerja operasi ber- pengaruh terhadap profitabilitas pada perusa- haan go public yang melakukan kebijakan Ini- tial Public Offering (IPO) di tahun 2008 secara parsial. Pada initinya, sesuai dengan pernyataan Septian (2011: 79) yang menyatakan bahwa rasio-rasio keuangan berbanding lurus dengan laba bersih. Jadi ketika laba meningkat maka rasio-rasio tersebut juga akan meningkat., namun sebaliknya jika laba menurun maka rasio-rasio tersebut juga akan menurun. Selain itu juga berdasarkan konsep profitabilitas yang dikemukakan oleh Besley dan Brigham (2008: 17) bahwa profitabilitas merupakan kemam- puan perusahaan untuk menghasilkan laba yang merupakan hasil bersih dari kebijakan-kebijakan dan keputusan-keputusan manajemen baik da- lam mengelola likuiditas, aset, maupun kewajib- an perusahaan. Menurut Hanafi (2005) dalam sebuah bukunya menyebutkan bahwa semakin besar tingkat profitabilitas maka semakin baik bagi perusahaan itu sendiri. Semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu perusahaan maka semakin besar tingkat kemakmuran yang diberikan per- usahaan kepada pemegang saham. Semakin besar tingkat kemakmuran yang diberikan oleh perusahaan akan menarik minat investor untuk memiliki perusahaan tersebut dan akan mem- berikan pengaruh positif terhadap harga saham di pasar. Ini berarti akan menaikkan nilai per- usahaan. Berdasarkan hasil secara parsial dan ber- dasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpul- kan bahwa saat kondisi perusahaan tersebut baik atau saat manajemen dapat mengelolah kegiatan operasi dengan baik maka akan mempengaruhi peningkatan profit yang akan diperoleh oleh perusahaan. Dan sebaliknya, jika kondisi per- usahaan tersebut tidak baik atau saat manaje- men tidak dapat mengelolah kegiatan operasi dengan baik maka akan mempengaruhi penu- runan profit yang akan diperoleh perusahaan. Demikian pula Islam telah mengatur masa- lah-masalah ekonomi. Betapa banyaknya ayat- ayat Al-Qur�an maupun hadits nabi yang meng- ucapkan tentang masalah tersebut. Di antara- nya Islam juga membicarakan masalah etika sebagai konsekuensinya dalam setiap kegiatan ekonomi, yang dilakukan seseorang harus sesuai dengan aturan-aturan telah ditentukan dalam islam agar mendapat ridha dari Allah Swt (Djakfar, 2007: 81). Aturan-aturan tersebut kemudian diberla- kukan dalam bentuk etika kerena risalah yang diturunkan Al-Qur�an melalui Rasul-Nya ada- lah untuk membenahi akhlak manusia. Sebagai- mana sabda Nabi Muhammad Saw: �Sesung- guhnya aku utus untuk menyempurnakan akh- lak yang mulia. Menurut Guanara dan Sudibyo (2007: 78) dalam hadist yang dikatakan bahwa kalau ingin meilhat ahklak Al-Quran, lihatlah Mu- hammad. Hal ini menandakan bahwa personal branding telah dikenal dalam Islam, yaitu melalui Muhammad. Sisi lain dari Muhammad Saw yaitu Muhammad sebagai seorang peda- gang. Muhammad memberikan contoh yang sangat baik dalam setiap transaksi bisnisnya. Beliau melakukan transaksi-transaksi secara Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 58 jujur, adil, dan tidak pernah membuat pelang- gannya mengeluh, apalagi kecewa. Beliau selalu menempati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standard kualitas sesuai barang permintaaan pelanggan. Diakui keterbatasan penulis, dalam uraian ini belum disajikan mendalam tentang perspektif Islam terkait manajemen laba, kinerja operasi, dan profitabilitas untuk menciptakan suatu strategi untuk pencapaian tujuan perusahaan. Namun dengan demikian menurut Djakfar (2007:84), secara umum Islam telah sangat jelas memberikan dan membahas persoalan etika ekonomi bisa dijadikan landasan, dapat dike- mukakan bahwa: 1. Berbisnis bukan hanya mencari keuntung- an, tetapi itu harus diniatkan sebagai ibadah kita kepada Allah SWT. 2. Sikap jujur (objektif), Gunara dan Sudibyo (2007:91) inti dari nilai tambah dan penga- laman lebih yang akan ditawarkan. Sebaik apa pun value yang kita coba tawarkan pada konsumen apabila kita tidak bersikap jujur akan menjadi sia-sia, juga kunci utama dari kepercayaan pelanggan. Kepercayaan bu- kanlah sesuatu yang menciptakan, tetapi kepercayaan adalah sesuatu yang dilahirkan. 3. Sikap toleransi antar penjual dan pembeli 4. Tekun (Istiqomah) dalam menjalankan usaha 5. Berlaku adil dan melakukan persaingan sesama pebisnis dengan baik dan sehat Kesimpulan Kesimpulan dari hasil pembahasan peneli- tian ini adalah sebagai berikut. 1. Berdasarkan pendeteksian manajemen laba terbukti bahwasannya perusahaan go pub- lic yang melakukan Initial Public Offer- ing (IPO) menggunakan kebijakan manaje- men laba (Earnings Management). Dalam penelitian ini dibuktikan bahwa perusahaan- perusahaan tersebut melakukan kebijakan manajemen laba pada periode menjelang IPO, yaitu 3 tahun sebelum IPO. 2. Berdasarkan pengamatan dan uji beda yang dilakukan terhadap kinerja operasi yang terdiri dari current ratio dan total assest turnover terbukti bahwa terdapat perbe- daan kinerja operasi antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan Initial Public Offering (IPO). Secara umum kiner- ja operasi mengalami penurunan dalam jangka panjang setelah IPO. 3. Berdasarkan pengamatan dan uji beda yang dilakukan terhadap profitabilitas yang diproksikan oleh return on asset terbukti bahwa terdapat perbedaan return on asset antara sebelum dan sesudah dilakukannya kebijakan Initial Public Offering (IPO). Secara umum return on asset mengalami penurunan mulai tahun pertama setelah IPO. 4. Berdasarkan uji simultan dan parsial, pene- litian ini berhasil membuktikan bahwa ter- dapat pengaruh antara manajemen laba (Earnings Management) dan kinerja operasi terhadap profitabilitas pada perusahaan go public yang melakukan kebijakan initial public offering (IPO) di tahun 2008. Secara simultan manajemen laba (Earnings Man- agement) dan kinerja operasi mempenga- ruhi profitabilitas sebesar 62%. Selain itu juga didapatkan hasil bahwa variabel cur- rent ratio memiliki kontribusi terbesar dalam mempengarihu tingkat profitabilitas perusahaan. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan penelitian, diantaranya: Dwi Sulistiani, Analisis Manajemen Laba dan Kinerja Operasi Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Go Public 59 1. Penelitian ini menggunkan data laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit dan data laporan keuangan yang tidak diaudit. Hal tersebut menyebabkan terjadi range yang terlampau jauh antara hasil perhitungan antara data lapotan yang telah diaudit dengan hasil perhitungan data laporan keuangan yang tidak diaudit. 2. Penelitian ini hanya melakukan pengamatan selama 6 tahun, yaitu 3 tahun sebelum 2008 (2005-2007) dan 3 tahun setelah tahun 2008 (2009-2011). Serta penelitian ini hanya menggunakan sampel 12 perusa- haan. 3. Penelitian ini hanya menggunakan 4 varia- bel yang berhubungan dengan IPO, yaitu variabel manajemen laba, current ratio, total assets turnover dan return on asset. Saran Berdasarkan keterbatasan penelitian terse- but, maka: 1. Penelitian selanjutnya sebaiknya mengguna- kan data laporan keuangan yang telah diaudit semua. Hal tersebut agar tidak ter- jadi range yang terlampau jauh serta men- dapat hasil yang lebih signifikan pada pene- litian-penelitian selanjutnya. 2. Penelitian selanjutnya sebaiknya melakukan pengamatan dengan rentang waktu yang lebih lama dengan jumlah sampel perusa- haan yang lebih banyak serta beragam. Hal tersebut agar pada penelitian-penelitian se- lanjutnya dapat mendapat hasil interpretasi yang lebih baik. 3. Penelitian selanjutnya sebaiknya mengguna- kan variabel-variabel lain yang mempenga- ruhi IPO, manajemen laba, dan profita- bilitas. DAFTAR PUSTAKA Al-Qur�an dan Terjemahan Amin, Aminul. 2007. �Pendeteksian Earnings Management, Underpricing dan Peng- ukuran Kinerja Perusahaan yang Melaku- kan Kebijakan Initial Public Offerings (IPO) di Indonesia.� Simposium Nasional Akuntansi X UNHAS � Makassar. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta: PT: Rineka Cipta. Asnawi, Nur dan Masyhuri. 2011. Metodologi Riset Manajemen Pemasaran. UIN � MALIKI PRESS. Malang Belkaouli, Ahmed Riahi. 2000. Accounting Theory. Edisi Kelima. Jakarta: Salemba Empat Brigham, Eugene dan Joel F Houston, 2001. Manajemen Keuangan II. Jakarta: Salem- ba Empat Dechow, P.M., Sloan, R.G., dan Sweeney, A.P., 1995. Detecting Earnings Management. The Accounting Review. Vol 70. No 2. hal.193-225 Fakultas Ekonomi. 2009. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Ghozali, Imam. 2009. Teori, konsep dan apli- kasi spss 17. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Gumanti, Tatang Ari, 2002. Earnings Manage- ment dalam Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Jakarta. Kumpulan Makalah SNA V. hal.124-148 ________. 2001. �Earnings Management dalam Penawaran Saham Perdana Saham Perdana di BEJ�. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol 4, hal 165-185. Hanafi, Mahmud. 2004. Manajemen Keung- an. Edisi 2004/2005.Yogyakarta: BPFE. Business and Finance Journal, Volume 1, No. 1, March 2016 60 Husein Umar.2007. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT Gra- media Pustaka. Irawan dan Gumanti. 2010. �Indikasi Earnings Management Pada Initial Public Offering. Journal from JIPPTUMG, Diakses 10 September 2013. Koyuimirsa, 2011. Dampak Manajemen Laba Akrual dan Manajemen Laba Riil Ter- hadap Kinerja Pasar. Tesis S1 Universitas Diponegoro Semarang. Listia dan Wahyu. 2013. �Manajemen Laba dan Evaluasi Kinerja Keuangan Perusahaan di Sekitar IPO�. Jurnal Penelitian UNS, Vol. 1, No. 2, Hal. 1-10. Ma�ruf, Muhammad. 2006. Analisis Faktor � faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba pada Perusahaan Go Publik di Bursa Efek Jakarta. Skripsi S1. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Mayangsari, Sekar dan Wilopo, 2002, �Kon- servatisme Akuntansi, Value Relevance dan Discretionary Accruals. Implikasi Empiris Model Feltham Ohlson (1996)�, Simposium Nasional Akuntansi IV: 685- 708 Mulyono, Elok Dwi. 2012. Pengaruh Mana- jemen Laba (Earnings Manajement) terhadap Kinerja Keuangan. Skripsi S1. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Nur Indriantoro, Bambang Supomo. 2007. Metode Penelitian Bisinis. CV. ALFABE- TA: Rineka Cipta. Rivard, Richard. J., Eugene B dan Gay B.H. Morris. 2003. Income Smoothing Beha- viour of V.S Banks Under Revised Inter- national Rodoni, Ahmad dan Indoyama. 2003. �Pres- tasi Awal dan Prestasi Setelah Dipasarkan Pada Penawaran Saham Perdana �. Jurnal Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakar- ta.Vol 1. No 2, hal 60-84. Saiful. 2004. �Hubungan Management Laba (Earning Management) Dengan Kinerja Operasi dan retur Saham di Sekitar IPO�. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia,Vol 7. No 3, hal 316-332. Scott, William R. 2003. Financial Accounting Theory. New Jersey: Prentice Hall Inc Setiawan, Nanang. 2006. Manajemen Laba (Earnings management) Dalam Tinjauan Etika Islam. Universitas Brawijaya. Malang yang dapat diakses pada www. jurnalskripsi.com Soemarso S.R. 2005. Akuntansi suatu Peng- antar. Salemba Empat. Jakarta Stice, Stice & Skousen. 2004. Intermadiate Accounting Buku Satu - Edisi 15. Salem- ba Empat, Jakarta Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: CV AL- FABETA Sulistyanto, H. Sri. 2008. �Manajemen Laba, Teori dan Model Empiris�. Jakarta: Grasindo. Suprianto, Didi. 2008. �Analisis Pengaruh Manajemen Laba dengan Kinerja Operasi dan Return Saham di Sekitar IPO. Sripsi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta Suwardjono, 2010, Teori Akuntansi Perekaya- saan Laporan Keuangan, Yogyakarta: BPFE �YOGYAKARTA. Yustisia, Anelies dan Andayani, Wuryan, 2006. �Pengaruh Manajemen Laba (earnings management) terhadap Kinerja Operasi dan Return Saham Di Sekitar IPO: Studi terhadap Perusahaan yang Listing di Bur- sa Efek Jakarta�. Jurnal TEMA, Volume 7, Nomor 1. www.idx.co.id