01 Candra.pmd Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 11 Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya Candraningrat Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya Candraningrat@ymail.com Abstract: This study aimed to analyze the influence of external factors consisting of family support and Business capital to the students decision-making at the Business Fac- ulty of the Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya. The research was conducted from 42 students were taken by the purposive sampling method which were active stu- dents who own businesses or who are interested in entrepreneurship in the future, survey method used for data gathering with instrument questionnaire and analyzed by SPSS version 21 to examine the research hypothesis. The result of multiple regression analysis showed that the variable family role and business capital is predicted to increase the student interest in entrepreneurship therefore the stated hypothesis 1 were accepted, but as partially the role of family able to increase the interest in entrepreneurship of the student, although that business capital not necessarily increase the interest of the students to entrepreneurship so the second hypothesis was rejected.. Keywords: family’s’ role, business capital and entrepreneur interest Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dan saat ini juga masih terdapat masalah tentang kualitas sumber daya manu- sianya, salah satunya dalam ranah pendidikan, salah satu contohnya adalah kegiatan wajib belajar selama sembilan tahun yang telah dica- nangkan oleh pemerintah masih belum dite- rapkan sepenuhnya oleh masyarakat, dapat dilihat pada penyerapan tenaga kerja Agustus tahun 2014 masih didominasi oleh pendidikan rendah, yaitu SD ke bawah sekitar 53 juta orang (47,07%), dan yang ada diurutan kedua, yaitu SMA sekitar 29 juta jiwa (25.39%). Penduduk yang berpendidikan pada perguruan tinggi hanya sekitar 8,2 juta orang atau 7,21% (BPS, 2016). Demikian juga dalam hal ketenagakerjaan tercatat bahwa pengangguran terbuka sejumlah 7,147 juta pada Februari 2014, dan pada bulan Agustus 2014 meningkat menjadi 7,244 juta jiwa. Hal ini menunjukkan adanya pening- katan jumlah pengangguran terbuka. Kondisi tersebut berdampak pada tumbuhnya pereko- nomian yang masih di bawah 8%, pertum- buhan ekonomi hanya di bawah 8% belum dapat menyerap keseluruhan pengangguran yang ada. Akibat dari permasalahan di atas ialah jumlah penduduk miskin di Indonesia masih tergolong tinggi, sekitar 28,59 juta pen- duduk miskin pada tahun 2012 (BPS, 2016). BPS (Badan Pusat statistik) Indonesia pada tahun 2013 mencatat sebanyak 7,4 juta pemu- da yang termasuk pada usia produktif dan sedang mencari kerja. Apabila ditinjau dari Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 2 pendidikannya sekitar 27,09% berpendidikan sekolah dasar ke bawah, sedangkan 22,62% masih berpendidikan SLTP, lalu sebesar 25,29% berpendidikan SMA, dan 15,37% berpendidikan SMK. Selain itu dapat dilihat dari lokasinya maka penyebaran pemuda di pedesaan atau perkotaan seperti berikut, sebesar 5,24 juta pemuda atau 53% berlokasi di perko- taan sedangkan sekitar 4,2 juta orang berada di daerah pedesaan. Dilihat dari data tentang pengangguran pada pemuda masih dalam kategori tinggi, jika tidak diperhatikan secara serius dapat mengakibatkan masalah-masalah sosial. Ke- mungkinan permasalahan sosial dari dampak pengangguran yang tinggi adalah penyalah- gunaan narkoba oleh pemuda, tingkat krimi- nalitas meningkat, pergaulan bebas, preman- isme, human trafficking, dan lainnya. Kondisi tersebut dapat mengganggu kegiatan pemba- ngunan dalam segala bidang dan stabilitas na- sional. Salah satu cara dalam mengatasi pengang- guran di kalangan pemuda adalah dengan program pengembangan kewirausahaan, kare- na wirausaha mempunyai peranan yang cukup signifikan terhadap perekonomian di Indone- sia khususnya dalam mengatasi pengangguran dan mendorong terciptanya stabilitas usaha yang berkesinambungan. Menurut data BPS, sensus ekonomi (2006) pertumbuhan industri besar dan menengah sejak 2002 hingga 2006 hanya tumbuh sekitar 1.998 perusahaan atau sebesar 0.02%. Sedangkan untuk industri kecil tumbuh sekitar 455.960 atau sebesar 16%. Dari keseluruhan unit usaha manufaktur di Indonesia sebesar 1.542 juta atau sekitar 99,2% adalah industri kecil menengah (IKM) dan industri skala rumah tangga (home industry), telah memberi kesempatan kerja cukup besar yaitu 67,3% dari keseluruhan kesempatan kerja yang ada, dan sedangkan industri manufaktur hanya sebesar 17,8%. Dari data di atas telah memberikan gam- baran begitu pentingnya kontribusi usaha kecil dan menengah dalam stabilitas ekonomi mela- lui peningkatan lapangan pekerja dan pemera- taan pendapatan sehingga penciptaan wira- usaha baru sangat diperlukan, dan pemerintah selalu mendorong pemuda baik lulusan sekolah menengah serta lulusan perguruan tinggi di- bentuk menjadi seorang wirausahawan yang inovatif dan kreatif guna menjadi UKM yang kuat dan mandiri. Kasus baru-baru ini adalah perusahaan teknologi informasi yang cukup terkenal di seluruh dunia dirintis oleh seorang wirausahawan muda telah berkembang pesat di dunia. Menurut Kao (1999) negara maju seperti Amerika Serikat, Taiwan, Korea yang sangat peka terhadap pembentukan jiwa en- trepreneurs (Kao, 1999). Untuk mengubah cara pandang pemuda terhadap pekerjaan sebagai wirausaha tidaklah mudah karena pada kenyataannya banyak per- masalahan yang harus dihadapi ketika menjadi seorang wirausaha karena tidak semua wira- usaha bisa berjalan mulus dan selalu bisa men- datangkan uang seperti apabila mereka bekerja sebagai pegawai negeri atau bekerja di peru- sahaan swasta, karena itulah harus diketahui secara empiris faktor eksternal apa saja yang sebenarnya memengaruhi pengambilan kepu- tusan seorang pemuda untuk menjadi wira- usaha. Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya adalah salah satu pencetak generasi penerus bangsa yang saat ini berfokus pada mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha yang di mulai dari pembentukan Fakultas baru pada tahun 2014 yaitu Fakultas Ekonomi dan Bis- nis, oleh karena itu penelitian ini di laksanakan di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Sura- baya. Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 3 Selain itu, penelitian ini juga perlu dilaku- kan dipandang dari segi teoretis yaitu untuk lebih memperkaya dari model pengambilan keputusan individu dan model yang dilakukan oleh Cooper khususnya bagi pemuda untuk berwirausaha, sedangkan dari segi praktisnya dapat lebih mendorong pemuda untuk ber- wirausaha dengan berfokus pada faktor-faktor eksternal individu dan sekaligus menggeser paradigma lama bahwa lulusan sekolah atau perguruan tinggi pada era digital saat ini bukan lagi sekadar menjadi pencari kerja namun harus mampu sebagai pencipta lapangan kerja, yang dapat berguna bagi masyarakat di sekitar serta dapat memberikan andil dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Untuk itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh pengaruh faktor eksternal perguruan tinggi yang terdiri dari dukungan orang tua dan modal usaha berpengaruh terha- dap minat wirausaha mahasiswa di Stikom Surabaya. KERANGKA TEORETIS Pengambilan Keputusan untuk Berwirausaha Menurut Weihrichdan Koontz (2005) pengambilan keputusan ialah sebagai kegiatan penentuan dari sebuah pilihan langka atau tindakan dari beberapa alternatif. Sedangkan menurut George R. Terry (2003) pengambilan keputusan merupakan kegiatan memilih alter- natif keputusan dari dua atau bahkan alternatif yang tersedia. Begitu juga dalam pengambilan keputusan untuk berwirausaha, pada waktu seseorang mengambil sebuah keputusan sering dihadapkan pada beberapa alternatif pilihan yang kemungkinan akan menjadi salah satu penyelesaian pada suatu masalah antara memi- lih menjadi seorang wirausahawan atau menja- di karyawan di sebuah perusahaan swasta mau- pun pemerintahan. Pilihan Menjadi Wirausawan bagi Pemuda Dalam buku Cashflow-Quadrant terdapat gambaran dari beberapa metode seseorang dapat memperoleh penghasilan, metode-metode tersebut terbagi menjadi empat sebagai berikut. (1) Seseorang dapat menjadi seorang pegawai, yang dimaksud pegawai adalah orang yang bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi bawahan seseorang dengan tugas-tugas yang sudah terstruktur ataupun belum terstruktur dengan baik. (2) Pekerja lepas, yaitu seseorang bekerja di mana saja tetapi tidak berstatus tetap dalam sebuah kegiatan kerja dan kemung- kinan berpindah tempat kerja dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. (3) Pemilik usaha, yaitu seseorang mendapatkan penghasilan dari bisnis yang dijalankan sendiri tanpa tuntutan dari atasan dan dapat dikelola sendiri. (4) Penanam modal yaitu seseorang mendapatkan pendapatan dari beberapa modal yang dipin- jamkan dengan syarat tertentu dalam pemba- gian hasil keuntungan (Kiyosaki, 2001). Bebe- rapa model yang disajikan oleh Kiyosaki (2001) memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan, tetapi apabila seseorang ingin menikmati hidupnya lebih baik bekerja dengan waktu yang sedikit mungkin dan di lain waktu harus ada kegiatan lain yang dapat menghasil- kan penghasilan selain gaji tetap, oleh karena itu mendapatkan penghasilan dari usaha sen- diri merupakan salah satu alternatif pilihan yang patut dipertimbangkan (Drake, 2005). Konsep tentang pemuda, dalam hal ini memiliki tiga sudut pandang, yaitu tentang batasan usia pemuda, sifat atau karakteris- tiknya, dan tujuan dari aktivitas kepemudaan. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 4 Secara biologis, yang dapat dikategorikan seba- gai pemuda adalah seseorang yang berusia 15 hingga 30 tahun menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009. Sedangkan dalam segi psikologis memiliki kematangan dalam hal berpikir dimulai sejak umur 21 tahun, sedangkan batasan pemuda sebagai generasi penerus generasi terdahulu menentukan umur pemuda sekitar 18 sampai dengan 30 tahun dan bahkan mencapai umur 40 tahun. Dari beberapa sumber di atas tingkat usia pada manusia bisa disimpulkan bahwa kategori umur bagi pemuda adalah di akhir masa remaja hingga akhir dewasa awal, atau dapat diartikan bahwa usia 18 sampai dengan 40 tahun. Ber- dasarkan jenjang usia dalam kategori pemuda yang berada di antara umur remaja hingga akhir awal kedewasaan, maka pemuda terdapat beberapa ciri-ciri khusus seperti berikut. 1. Dalam hal kemampuan kognitifnya sudah dapat dikatakan siap, hal ini dapat dilihat dari kemampuan seorang pemuda dalam mengetahui dan memahami suatu permasa- lahan, serta dapat membentuk sebuah sikap terhadap sebuah permasalahan tertentu. 2. Kesiapan emosional, hal ini dapat ditinjau dari kemampuan berpikir seorang pemuda untuk mengendalikan dan menempatkan emosi dalam menyelesaikan dari sebuah permasalahan. 3. Terlalu banyaknya masalah, hal ini dikare- nakan dari rata-rata pemuda banyak memi- liki ide-ide serta ide tersebut dilandasi de- ngan nilai-nilai ideal. Tetapi keseluruhan ide maupun keinginan tersebut dapat tere- alisasi dikarenakan kondisi di dalam ling- kungannya sulit untuk mewujudkan nilai ideal yang diinginkan oleh seorang pe- muda. 4. Keterasingan sosial, pemuda memiliki ke- mampuan dalam berpikir ideal serta tidak memihak apabila mendorong pemuda pada keadaan yang tidak selaras dengan ling- kungan sosial. 5. Memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, pemuda memiliki keinginan yang tinggi guna mewujudkan segala keinginannya se- ringkali apapun yang dilakukan oleh se- orang pemuda akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. 6. Lebih kreatif dan inovatif, berhubungan dengan kemampuannya menciptakan ide- ide atau pemikiran baru guna proses penye- lesaian masalah yang sedang dihadapinya. 7. Memiliki ketergantungan kepada generasi yang lebih tua, dikarenakan keterbatasan pengalaman dari pemikiran seorang pemu- da sedangkan pengalaman tersebut dimiliki oleh generasi yang lebih tua. Pengambilan Keputusan Berwirausaha Pada pengambilan keputusan individu dipengaruhi oleh perilaku, persepsi, motivasi, dan pembelajaran individu (Robbins, SP 2001). Selain hal tersebut, pengambilan keputusan dapat dipengaruhi pula oleh nilai dan sikap yang berubah. Model dari Cooper dalam Jour- nal of Small Business Management (Birley, 1989) menjelaskan bahwa pengambilan kepu- tusan seseorang untuk menjadi wirausahawan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: ante- cedent influence, incubator organization, dan environmental factors. Fokus penelitian hanya pada variabel- variabel faktor eksternal yaitu peran keluarga dan sumber modal dengan alasan sebagai beri- kut. 1. Sumber modal dalam penelitian ini dima- sukkan karena dalam pengambilan kepu- tusan seseorang untuk menjadi wirau- Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 5 sahawan karena dalam merintis sebuah usaha baru sangat diperlukan walaupun modal tersebut tergantung pula dengan skala bisnis yang akan dijalankan, walau- pun menurut Kasali dalam pengantar buku 50 Usahawan Tahan Banting (Abe, 2000) dijelaskan bahwa modal uang merupakan sebuah pelengkap, tetapi kreativitas yang dimiliki oleh pemudalah yang diharapkan mampu menemukan sumber-sumber modal yang ada. 2. Peran dari lingkungan keluarga yang bukan seorang pebisnis ataupun yang telah memi- liki bisnis juga dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan seorang pemuda menjadi seorang wirausahawan dan perlu- nya mengetahui seberapa besar peran ke- luarga dalam aktivitas yang dilakukan oleh anaknya untuk berwirausaha. Strategi membudayakan wirausaha di kalangan muda dalam jangka panjang lebih diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat, mengurangi tingkat pengangguran, dan kemis- kinan, untuk itu dengan segala potensi yang dimiliki pemuda akan meningkatkan kreativitas dan keberaniannya untuk bertindak termasuk dalam hal ini mengambil suatu keputusan berwirausaha. Peran Keluarga Peran keluarga sangat penting dalam mem- buat minat berwirausaha bagi para pemuda. Dalam pemberian pendidikan berwirausaha dapat diberikan sejak usia dini dalam ling- kungan keluarga. Mempunyai seorang orang- tua seorang wirausahawan akan lebih membe- rikan inspirasi kepada anak untuk menjadi seorang wirausahawan pula (Hisrich, dkk., 2005). Tingkat fleksibilitas dan kemandirian dari seorang wirausahaan telah ada dalam diri anak seorang wirausahawan, anak juga terin- spirasi dari orangtuanya karena sejak dini anak sudah terbiasa dengan pekerjaan yang ringan sampai bersifat strategis. Terlatih dan terin- spirasi sehingga memengaruhi minatnya dalam berwirausaha di bidang yang sama ataupun berbeda dengan orangtua. Dari keluarga cara berpikir anak akan sendirinya terbentuk menja- di seorang wirausahawan serta berkembang dengan baik pada seseorang yang tumbuh pada lingkungan wirausaha. Dyer (2003) juga mengamati bahwa ke- luarga dan kekerabatan sebagai variabel sangat banyak diabaikan dalam penelitian organisasi. Selanjutnya, Stewart (2003) berpendapat bah- wa literatur tentang keluarga dan kekerabatan dalam antropologi adalah sumber pengetahuan yang bisa menguntungkan bidang penelitian bisnis keluarga. Dalam literatur jaringan kewi- rausahaan, dan kewirausahaan sastra pada umumnya, pengaruh keluarga dan kekerabatan diabaikan (Aldrich dan Cliff, 2003; Greve dan Salaff, 2003). Menurut Aldrich dan Cliff (2003), bahkan lebih mengejutkan ketika sese- orang mempertimbangkan bahwa penelitian menunjukkan bahwa kewirausahaan sering terjadi dalam tim yang berisi anggota keluarga (Ruef et al., 2003; Aldrich et al., 2002). Aldrich et al. (2002) melaporkan bahwa 65% dari semua tim terdiri dari hubungan pasang- an/partner, ikatan keluarga lain, atau keduanya. Selanjutnya, Aldrich dan Cliff (2003) meng- amati bahwa memulai bisnis seringkali merupa- kan respons terhadap perubahan dalam hu- bungan keluarga daripada penemuan rasional dalam pengembangan dan eksploitasi peluang bisnis. Dalam studi Kirkwood (2007) ditemu- kan bahwa orang tua memainkan peran pen- Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 6 ting dalam penciptaan usaha baru. Pengamatan terakhir yang membuat mengabaikan keluarga bahkan lebih mengejutkan adalah penelitian yang menunjukkan bahwa anggota keluarga sering memainkan peran penting dalam men- dapatkan dan memobilisasi sumber daya keuangan (Zhang et al, 2003; Steier dan Green- wood, 2000). Bygrave et al. (2003) menemu- kan, berdasarkan analisis mereka terhadap GEM - data yang di 29 negara, bahwa 47,9% dari semua hubungan antara pengusaha dan investor informal kerabat. Oleh karena itu, Aldrich dan Cliff (2003) berpendapat untuk kebutuhan keluarga tertanam perspektif ten- tang kewirausahaan, menyiratkan bahwa pene- liti menggabungkan anggota keluarga dan ke- luarga ke dalam model konseptual. Menurut Herdiman (2008), keluarga menjadi lingkung- an pertama yang dapat menumbuhkan mental kewirausahaan anak muda. Sumber Modal Sarosa (2005) mendefinisikan modal seba- gai jumlah uang yang ditanamkan dalam suatu usaha. Uang inilah yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan usaha sampai dapat meng- hasilkan laba sendiri. Modal uang yang dapat digunakan oleh seseorang untuk memulai usaha dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut Sarosa (2005), sumber modal dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu modal sendiri, memin- jam, dan kerja sama dengan pihak lain. Sumber modal sendiri dapat berasal dari warisan, ta- bungan, dan menjual atau menggunakan aset yang kurang produktif. Meminjam dapat ber- asal dari perorangan dan lembaga keuangan. Beberapa definisi dan pendapat tersebut pada prinsipnya menunjukkan hal yang sama bahwa modal dalam bentuk uang relatif tetap diperlukan oleh seseorang pada saat akan me- mulai suatu usaha betapapun kecil jumlahnya. Demikian pula terdapat beberapa alternatif sumber modal yang dapat digunakan oleh seseorang dalam memulai berwirausaha. METODE PENELITIAN Sample dan Prosedur Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu mahasiswa aktif di Institut Bisnis dan Informa- tika Stikom Surabaya yang memiliki usaha dan mahasiswa yang berminat usaha sendiri di kemudian hari. Menurut Winarno Surach- mat (1998) dalam bukunya Metodologi Pene- litian menyatakan bahwa untuk sampel kecil 30 responden telah dianggap cukup mewakili. Pengambilan data dilakukan dengan metode survei dengan instrumen kuesioner pada bulan Agustus sampai November 2016. Dari keseluruhan responden diketahui bahwa responden berjenis kelamin pria sebesar 45,9% sedangkan responden wanita sebesar 54,1%. Sedangkan dari segi jenis usaha yang telah dilakukan atau diminati ada beberapa macam usaha yaitu kuliner sebesar 33,3%, jasa sebesar 14,3%, teknologi informasi (star- tup) sebesar 9,5%, perdagangan sebesar 26,2%, pertambangan sebesar 2,4%, dan fashion sebesar16,7%. Variabel Penelitian dan Pengukuran Variabel dalam penelitian ini mengacu pada pengukuran faktor-faktor eksternal terha- dap pengambilan keputusan pemuda untuk berwirausaha. Faktor eksternal individu dalam penelitian ini adalah variabel independen yang terdiri dari peran keluarga dan sumber modal, sedangkan variabel dependen dalam penelitian Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 7 ini ada pengambilan keputusan dalam berwira- usaha. Pengukuran variabel-variabel dalam penelitian ini diukur melalui beberapa hal sebagai berikut. 1. Peran keluarga merupakan dukungan atau bahkan dorongan dari keluarga dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemuda untuk berwirausaha. Pengu- kuran peran keluarga dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala likert. 2. Sumber modal dalam penelitian ini meru- pakan berbagai macam sumber modal yang dapat dimanfaatkan oleh responden dan digunakan sebagai modal dalam memulai suatu usahanya. Pengukuran sumber modal dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala likert. 3. Pengambilan keputusan berwirausaha ada- lah keputusan yang diambil responden un- tuk berniat atau menjadi berwirausaha dan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala likert. Penelitian ini dilakukan secara terstruktur dan teridentifikasi yang telah dilaksanakan peneliti untuk memperoleh jawaban dari res- ponden dari pertanyaan dalam kuesioner pene- litian yang hasilnya akan dikembangkan melalui beberapa tahap pengujian sebagai pembuktian hipotesis penelitian sebelum mengambil kesim- pulan penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu, H-1: faktor eksternal peran keluarga mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Sti- kom Surabaya berpengaruh positif dalam mengambil keputusan untuk berwirausahaH dan H-2: faktor sumber modal mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya berpengaruh positif dalam mengambil keputus- an untuk berwirausaha. Dalam penelitian ini proses pengumpulan data menggunakan metode survey, di mana peneliti juga menggali data dari persepsi res- ponden metode pengumpulan data dalam pe- nelitian ini adalah dengan metode survey di mana peneliti menggali data dari persepsi res- ponden yang dilakukan dengan wawancara dibantu dengan instrument questioner dan dilengkapi dengan wawancara terhadap res- ponden. Berdasarkan jenis data, masalah, dan tujuan penelitian maka dalam penelitian ini menggunakan alat Analisis Regresi Berganda. Dalam proses perhitungan, data yang ada di- standardisasi lebih dahulu karena skala peng- ukurannya berbeda. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini dilakukan pula peng- ujian validitas konstruk atau construct valid- ity dari sebuah instrumen penelitian telah menggunakan indeks korelasi product mo- ment Pearson, yaitu dengan cara membanding- kan angka r “product moment” dari skor setiap item dan skor total tiap variabel dengan nilai kritis r pada tingkat kepercayaan 5% dan derajat kebebasan (df = n-2), yaitu sebesar 0,3. Menurut Solimun (2003), jika nilai r dari product moment lebih besar dari 0,3 dapat dinyatakan valid. Sedangkan uji reabilitas me- nurut Malhorta (2010) dapat dilakukan de- ngan metode alpha cronbach di mana disya- ratkan nilai a > 0.6. Hasil Uji Asumsi Klasik Normalitas Dalam penelitian ini telah dilakukan uji normalitas dengan teknik uji Q-Q Plot dan Detrended Normal Q-Q Plot. Pengujian ini Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 8 kolinearitas. Sebaliknya, jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 dan VIF lebih besar dari 10,0 maka terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji. Pada tabel 1 bisa diketahui bahwa tidak terjadi multikolinearitas karena nilai tolerance dari variabel peran keluarga dan sumber modal lebih tinggi dari standar minimal yaitu 0,10, sedangkan nilai VIF ma- sing-masing variabel lebih kecil dari 10,0, hal tersebut menunjukkan bahwa pada penelitian ini variabel yang telah diuji tidak terkena multi- kolineritas. Tabel 1 Uji Multikolinearitas mengamati tentang titik penyebaran data dalam sebuah diagram atau grafik. Apabila penyebaran nilai-nilai dari data yang telah didapat mende- kati garis normal, maka data tersebut dapat di katakan berdistribusi normal. Dapat dilihat pada gambar grafik di Q-Q Plot bisa dilihat pada Gambar 1 yang menunjukkan bahwa nilai-nilai pengamatan berada mendekati garis yang me- nunjukkan data terdistribusi normal. Normal P-P Plot of Regression S Dependent Variable: Y Observed Cum Prob 1,0,8,5,30,0 E xp ec te d C um P ro b 1,0 ,8 ,5 ,3 0,0 Gambar 1 Grafik Q-Q Plot Multikolinearitas Multikolinearitas digunakan untuk me- ngetahui apakah data yang digunakan terbebas dari auxiliary. Uji Multikolineariats dapat dilihat dari nilai tolerance dan VIF. Apabila nilai tolerance lebih dari 0,10 atau nilai VIF lebih kecil dari 10,0 maka tidak terjadi multi- VARIABEL MULTIKOLINEARITAS TOLERANCE VIF Peran keluarga 0,648 1,544 Sumber modal 0,857 1,167 Sumber: Pengolahan data primer Autokorelasi Tabel 2 menunjukkan hasil pengujian autokorelasi dengan menggunakan teknik uji Durbin-Watson. Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa nilai d sebesar 1,750. Sementara dU dengan jumlah 42 responden dan dua variabel pada tabel DW diperoleh 1,6061. sehingga diperoleh per- samaan sebagai berikut. dU < d < 4-dU = 1,6061< 1,750<2.3939 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Change Statistics Durbin- Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 1 0,404a 0,163 0,120 0,49710 0,163 3,800 2 39 0,031 1,750 Tabel 2 Durbin-Watson Autokorelasi Sumber: Pengolahan data primer Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 9 Dengan melihat hasil nilai dari persamaan di atas maka bisa diartikan bahwa variabel dependen keputusan berwirausaha mahasiswa menunjukkan H 0 diterima karena tidak terda- pat autokorelasi. Sehingga bisa disimpulkan bahwa model ini memenuhi asumsi klasik bebas dari autokorelasi. Analisis Korelasi Analisis korelasi digunakan untuk menge- tahui hubungan antara variabel bebas yang terdiri dari variabel peran keluarga dan modal usaha terhadap minat berwirausaha. Hasil ana- lisis korelasi seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel bebas X (faktor eksternal) terhadap Y (keputusan berwirausaha) adalah sebagai beri- kut. Tabel 3 Koefisien Korelasi dan positif, sedangkan koefisien determinasi R2 sebesar 0.163, artinya bahwa faktor ekster- nal yang diwakili oleh peran keluarga dan modal mampu memberikan kontribusi peng- ambilan keputusan berwirausaha sebesar 16,3%, sisanya 83,7% adalah unsur lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Analisis Regresi Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel indepen- den yaitu variabel eksternal yang terdiri dari peran keluarga dan sumber modal terhadap variabel dependen yaitu minat berwirausaha. Adapun hasil perhitungan dari analisis regresi dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil analisis regresi menunjukkan persamaan sebagai beri- kut. Y = a + bx 1 +bx 2 Y = 3,234 + 0,274 + 0,091 Berdasarkan persamaan regresi di atas maka dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta (a) sebesar 3,234 menunjukkan bahwa jika kedua variabel bebas yaitu peran keluarga dan modal usaha, maka diprediksi akan meningkatkan minat wirausaha sebesar 3,234 dengan tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain. Nilai b 1 peran orang tua (X 1 ) sebesar 0,274 Sumber: Pengolahan data primer Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan hasil analisis koefisien korelasi menunjukkan angka sebesar 0,404 ini, artinya bahwa faktor ekster- nal yang terdiri dari peran keluarga dan sumber modal menunjukkan hubungan yang cukup Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 0,404a 0,163 0,120 0,49710 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) 3,234 0,473 6,840 0,000 Keluarga 0,274 0,113 0,370 2,432 0,020 0,926 1,080 Modal 0,091 0,155 0,090 0,589 0,560 0,926 1,080 Tabel 4 Koefisien Regresi Sumber: Hasil Pengolahan data primer Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 10 berarti menunjukkan apabila terjadi kenaikan pada variabel peran orang tua sebesar satu sa- tuan maka minat wirausaha juga akan mening- kat sebesar 0,274. Demikian juga untuk variabel modal usaha (X2) yaitu jika terjadi peningkatan satu satuan maka minat berwirausaha maha- siswa akan meningkat sebesar 0,091. Berdasarkan tabel Uji T tersebut variabel X1 memiliki nilai signifikansi sebesar 0,20 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari nilai minimal error 0,05 sehingga bisa diartikan bahwa variabel keluarga secara parsial berpenga- ruh terhadap variabel keputusan untuk menja- di wirausahawan. Sementara itu, variabel X2 memiliki nilai signifikan sebesar 0,589, yang berarti variabel modal secara parsial tidak ber- pengaruh signifikan terhadap variabel pengam- bilan keputusan untuk menjadi wirausaha yang dikarenakan nilai signifikansinya > 0,05. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis di lakukan dengan menggunakan Uji F (simultan) yaitu menguji hipotesis secara bersama-sama antara variabel X1 dukungan keluarga dan variabel modal usaha X2 terhadap variabel terikat yaitu minat berwirausaha mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Surabaya seperti yang dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Anova 3,800 dan nilai signifikansi sebesar 0,031 yang menunjukkan angka di bawah nilai alfa sebesar 0,05 ini dapat artinya bahwa secara simultan variabel dukungan keluarga dan modal usaha berpengaruh signifikan terhadap minat wira- usaha sehingga hipotesis diterima. Sedangkan pengujian hipotesis secara par- sial dilakukan dengan menggunakan Uji t parsial dalam analisis regresi berganda bertu- juan untuk mengetahui apakah variabel bebas (X) secara parsial (sendiri) berpengaruh signi- fikan terhadap variabel terikat (Y). Dasar peng- ambilan keputusan dalam penelitian ini meng- gunakan nilai signifikansi. Jika nilai Sig < 0,05 maka variabel bebas berpengaruh terha- dap variabel terikat. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4 bahwa variabel X 1 memiliki nilai signifikansi sebesar 0,20 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari nilai minimal error 0,05 sehingga bisa diartikan bahwa variabel keluarga secara parsial berpengaruh terhadap variabel kepu- tusan untuk menjadi wirausahawan. Sementara itu, variabel X2 memiliki nilai signifikan sebesar 0,589, yang berarti variabel modal secara par- sial berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel pengambilan keputusan untuk menjadi wirausaha yang dikarenakan nilai Signifikan- sinya >0,05. Berdasarkan hasil pengujian dari tabel di atas diperoleh sebagai berikut. H-1 Faktor peran keluarga mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya berpengaruh signifikan dalam mengambil keputusan untuk berwirausaha.H H-2 Faktor sumber modal mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya tidak berpengaruh signifikan dalam meng- ambil keputusan untuk berwirausaha. Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 1,878 2 0,939 3,800 0,031b Residual 9,637 39 0,247 Total 11,515 41 Sumber: Pengolahan data primer Tabel 5 menunjukkan bahwa hasil perhi- tungan menunjukkan bahwa nilai F sebesar Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 11 Pembahasan Model yang dihasilkan dari analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor eks- ternal dalam hal ini terdiri dari peran keluarga (X 1 ) dan sumber modal (X 2 ) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap minat maha- siswa untuk berwirausaha, namun secara par- sial hanya variabel dukungan keluarga yang berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan untuk menjadi seorang wirausaha. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki keluarga yang mendukung untuk ber- wirausaha kemungkinan besar dapat membe- rikan kontribusi dalam pengambilan keputusan mahasiswa untuk berwirausaha, namun tidak begitu bagi mereka yang memiliki modal usaha belum tentu memberikan kontribusi terhadap mereka untuk mengambil keputusan berwira- usaha. Minat mahasiswa untuk berwirausaha dikarenakan oleh dukungan mahasiswa ini merupakan hal yang memungkinkan karena keluarga merupakan faktor yang dominan da- lam membentuk pengambilan keputusan, hal ini sesuai dengan pendapat bahwa Stewart (2003) bahwa keluarga dan kekerabatan dalam antropologi adalah sumber pengetahuan yang bisa menguntungkan bidang penelitian bisnis keluarga. Demikian juga menurut Aldrich dan Cliff (2003) dalam penelitiannya bahwa sese- orang berwirausaha terjadi dalam tim yang berisi anggota keluarga (Ruef et al., 2003; Aldrich et al., 2002). Aldrich et al. (2002) melaporkan bahwa 65% dari semua tim terdiri dari hubungan pasangan/partner, ikatan keluar- ga lain, atau keduanya. Selanjutnya, Aldrich dan Cliff (2003) mengamati bahwa memulai bisnis seringkali merupakan respons terhadap perubahan dalam hubungan keluarga daripada penemuan rasional dalam pengembangan dan eksploitasi peluang bisnis. Hal ini juga didu- kung oleh Kirkwood (2007), (Zhang et al., 2003; Steier dan Greenwood, 2000). Bygrave et al. (2003), Aldrich dan Cliff (2003), dan Herdiman (2008), keluarga menjadi lingkung- an pertama yang dapat menumbuhkan mental kewirausahaan anak muda. Lingkungan keluarga pengusaha, penga- ruh untuk mengambil keputusan berwirausaha lebih kecil dibandingkan dengan dorongan dari dalam dirinya sendiri. Hal ini menunjuk- kan fenomena bahwa mahasiswa yang lahir dari lingkungan pengusaha mempunyai moti- vasi diri lebih kecil dibandingkan dengan yang bukan dari golongan keluarga pengusaha. Na- mun demikian, peran orang tua tetap membe- rikan kontribusi terhadap pengambilan kepu- tusan meskipun tidak terlalu signifikan. Feno- mena yang lebih menarik adalah bahwa ternya- ta faktor sumber modal tidak mempunyai pengaruh terhadap keputusan berwirausaha. Hal ini menunjukkan bahwa sumber modal bukan lagi menjadi masalah. Mahasiswa ber- anggapan bahwa modal berusaha bisa didapat- kan dari manapun. Namun berdasarkan analisis deskriptif data variabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan modal sendiri dalam memulai berwirausaha. Mereka menggunakan tabungan pribadi dalam memulai usahanya, pun juga tidak tertarik untuk mengajukan kredit ke bank karena usia mereka yang masih belia. Sehingga dalam kasus ini, sumber modal tidak menjadi masalah ber- arti juga tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap keputusan mereka berwirausaha. Implikasi Penelitian Hasil penelitian mengenai pengaruh du- kungan keluarga dan modal usaha terhadap Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 12 pengambilan keputusan mahasiswa untuk ber- wirausaha akan memberikan implikasi bahwa dalam memberikan pendidikan dan motivasi berwirausaha bagi mahasiswa untuk menekan- kan pentingnya dukungan keluarga dalam mewujudkan pemerintah khususnya Dirjen Pendidikan Tinggi dalam mengembangkan pro- gram kewirausahaan di perguruan tinggi, mengingat keterbatasan lapangan kerja dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi. Dengan hasil penelitian ini maka para pendidik mendapatkan gambaran bagaimana cara memotivasi dan mendidik mahasiswa untuk berminat menekuni wirau- saha setelah mereka lulus dari perguruan ting- gi. Penelitian ini memiliki beberapa keterba- tasan yaitu belum mampu menampilkan semua variabel yang mungkin terkait dengan kema- juan usaha responden yang kemungkinan juga disebabkan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Peneliti juga menyadari bahwa jumlah sampel kurang me- menuhi ketentuan, sehingga harus dilakukan penggantian teknik analisis dalam mengolah data. Oleh karena itu, hendaknya penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang sesuai dan memenuhi ketentuan. Berdasarkan hasil temuan di atas maka dapat direkomendasikan bahwa penyusunan kurikulum pendidikan wirausaha bagi maha- siswa di perguruan tinggi hendaknya melibat- kan pengusaha dalam pembelajarannya, tidak hanya dilakukan secara teori namun juga prak- tik dengan memperhatikan minat bidang usaha yang di inginkan mahasiswa terlebih bagi mereka yang keluarganya sudah memiliki usaha akan sangat berpengaruh terhadap minat me- reka berwirausaha sebagaimana hasil penelitian ini bahwa dukungan keluarga sangat berpenga- ruh signifikan terhadap pengambilan keputusan mereka. DAFTAR PUSTAKA Abe, George. 2000. Residential Broadband, second edition. Cisco Press, Indianapo- lis. Aldrich, H.E., Carter, 0N.M., and Ruef, M. 2002. “With very little help from their friends: gender and relational composi- tion of nascent entrepreneurs’ startup teams”, in Bygrave, W.D., Brush, C.G., Davidsson, P.et al. (Eds), Frontiers of Entrepreneurship Research 2002, Cen- ter for Entrepreneurship Research, Babson College, Wellesley, MA, pp. 156- 69. Aldrich, H.E. and Cliff, J.E. 2003. “The per- vasive effects of family on entrepreneur- ship: toward a family embeddedness perspective”. Journal of Business Ven- turing, Vol. 18, pp. 573-96. Birley, S. 1989. ’The Start-up, in P. Burns and J. Dewhurst (eds). Small Business and Entrepreneurship. London: Macmillan, pp. 9-27. Bygrave, W.D., Hay, M. and Reynolds, P.D. 2003. “Executive forum: a study of informal investing in 29 nations com- posing the Global Entrepreneurship Monitor”. Venture Capital, Vol. 5 No. 2, pp. 101-16. Drake R.L, Wayne V., Mitchell A.W.M. 2005. Gray’s anatomy for students. Philadel- phia: Churcill Livingstone. Dyer, G. 2003. “The family: the missing vari- able in organizational research”, Entre- preneurship Theory and Practice, Vol. 27 No. 4, pp. 401-16. Candraningrat, Pengambilan Keputusan sebagai Wirausaha Muda dan Faktor Eksternal yang Memengaruhinya di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 13 George R. Terry. 2003. Prinsip-Prinsip Mana- jemen. PT Bumi Aksara. Greve, A. and Salaff, J.W. 2003, “Social net- works and entrepreneurship”. Entrepre- neurship Theory and Practice, Vol. 28 No. 1, pp. 1-22. Herdiman, F.S. 2008. Wirausahawan Muda Mulai dari Lingkungan Keluarga, (http:/ /jurnal nasional.com/media, diakses 12 april 2016) . Hisrich, R.D. et al. 2005. Entrepreneurship, 6th ed. McGraw-HillIrwin, New York. Kao, J.J. 1989. Entrepreneurship Creativity, and Organization. Brasil: Editora Pren- tice-Hall. Kirkwood, Jodyanne. 2007. “Igniting the entrepreneurial spirit: is the role parents play gendered?” International Journal of Entrepreneurial Behavior & Re- search, Vol. 13 Iss: 1, pp.39–59. Kiyosaki Robert T. dan Lechter Sharon L. 2001. Business School. Jakarta: Grame- dia Pustaka Utama. Malhotra, N.K. 2010. Marketing research – an applied orientation. 6th edition. New Jersey: Pearson Education Inc. Robbins, Stephen P. 2001. Perilaku Organisasi, Edisi 8. Prentice Hall, Jakarta. Sarosa, P. 2005. Kiat praktis membuka usaha. Becoming young entrepreneur: Dream big start small, act now! Panduan prak- tis & motivasional bagi kaum muda dan mahasiswa. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Solesvik, Z, Marina. 2013. Entrepreneurial motivations and intentions: investigat- ing the role of education major. Educa- tion and Training, Vol. 55 No. 3, 2013 pp. 253-271. Solimun. 2002. Multivariate Analysis Struc- tural Equation Modelling (SEM) Lisrel dan Amos. Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya. Steier, L. and Greenwood, R. 2000, “Entre- preneurship and the evolution of angel financial networks”. Organization Stud- ies, Vol. 21 No. 1, pp. 163-92. Stewart, A. 2003, “Help one another, use one another: toward an anthropology of fa- mily business”. Entrepreneurship Theo- ry & Practice, Vol. 27 No. 4, pp. 383– 96. Weihrich dan Koontz. 2005. Management: A Global Perspective. McGraw-Hill Edu- cation. Wu, S. & Wu, L. 2008. The Impact of Higher Education on Entrepreneurial Intentions of University Students in China. Jour- nal of Small Business and Enterprise Development, 15(4):752–774. Zhang, J., Wong, P.-K. and Soh, P.-H. 2003. “Network ties, prior knowledge and resource acquisition by high-tech entre- preneurs”. Paper presented at the Acad- emy of Management Conference, Se- attle, WA, August 1-6. ...........BPS Pusat. 2006. Sensus Ekonomi ...........BPS Pusat, 2013 ...........BPS Pusat, 2016 ……...BPS Kota Surabaya. 2010. Rpjmd Kota Surabaya 2010–2015, II – 39 ……..UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepe- mudaan.