01 Candra.pmd Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 2929 Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya Ratri Amelia Aisyah Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Surabaya e-mail: ratri.amelia24@gmail.com Abstract: Competition in the development of business in the era of globalization requires companies to be able to act quickly and appropriately in the face of competition in the business environment is very dynamic and full of uncertainty. The study aims to assess Brand Image of Suzuki and Family as an effort to influence Purchase Decision Making. The research conducted a survey respondents to 100 students of Muhammadiyah Univer- sity in Surabaya. Analysis techniques used to examine the relationship among the vari- ables using multiple linear regression. The results of a study showed that Brand Image has direct and significantly influence on Purchase Decision Making and the result showed that Family has direct and significantly influence on purchasing decision making on Suzuki. Keywords: brand image, family, and decision making PENDAHULUAN Perkembangan di bidang teknologi oto- motif memberikan pengaruh yang sangat positif bagi munculnya varian sepeda motor di Indonesia (Sari, 2013). Di tahun 2015 Honda berhasil menjual produknya sebesar 4.684.792 unit, Yamaha sebanyak 1.798.630 unit, Kawasaki sebanyak 115.008 unit, Suzuki sebanyak 109.882, dan TVS sebesar 2.747 unit (Sari, 2013). Apabila situasi persaingan di bidang otomotif meningkat, maka membuat merek semakin penting dan peran pemasar untuk meningkatkan citra merek dari suatu produk. Merek memberikan manfaat bagi kon- sumen di antaranya membantu konsumen da- lam mengidentifikasi manfaat yang ditawarkan (Sari, 2013). Merek berkembang menjadi sum- ber aset terbesar bagi suatu perusahaan. Suatu perusahaan untuk dapat memenangkan per- saingan dituntut melakukan strategi pemasaran yang baik bagi produk yang dihasilkan. Penca- paian Suzuki menunjukkan bahwa Suzuki memiliki citra merek yang baik. Sutisna (2003) menyatakan citra merek merupakan keselu- ruhan persepsi terhadap produk atau merek yang dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap produk atau merek itu. Citra merek dapat diciptakan dari tiga hal, yaitu kekuatan, keunikan, dan kesenangan yang bisa memengaruhi konsumen dalam me- nentukan pilihannya untuk membeli produk yang mempunyai citra yang positif (Kotler & Keller, 2012). Citra merek yang tinggi dapat menciptakan suatu nilai bagi perusahaan dan para pelanggan, karena dapat membantu pro- ses penyusunan informasi, membedakan merek yang satu dengan merek yang lain, dan meng- ambil keputusan untuk membeli suatu produk tersebut (Rangkuti, 2004). Merek yang sudah melekat di hati konsumen merupakan aset yang paling berharga bagi perusahaan (Sari, 2013). Dengan adanya citra yang baik pada Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 30 merek, Suzuki akan dapat membantu konsu- men dalam mengambil keputusan untuk mem- beli produk Suzuki. Citra merek yang baik pada Suzuki membuat pemasar merek ini harus melakukan usaha yang lebih besar tetapi belum mampu membuat banyak konsumen mau mela- kukan keputusan pembelian terhadap sepeda motor Suzuki. Selain itu, pada saat akan melakukan pem- belian, konsumen terlebih dahulu mencari in- formasi mengenai produk tertentu dari ling- kungan terdekat. Lingkungan terdekat dari konsumen yang dapat memengaruhi perilaku pembelian yaitu keluarga (Sari, 2013). Sumar- wan (2011) berpendapat bahwa keluarga ada- lah sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (anak atau cucu), dan adopsi. Sari (2013) menyatakan bahwa peran keluarga juga sangat memengaruhi keputusan pembelian konsu- men. Oleh karena pada umumnya konsumen cenderung berunding terlebih dahulu dengan anggota keluarga apabila akan membeli suatu produk yang dinilai penting. Keluarga dapat memberikan pengaruh dalam bentuk saran kepada seseorang dalam hal mempertimbang- kan sebuah keputusan untuk membeli produk, seperti pembelian produk sepeda motor. Biasa- nya mereka memberikan saran tentang apa yang mereka rasakan saat menggunakan pro- duk tersebut dan kepuasan yang mereka rasa- kan setelah mereka menggunakan produk ter- sebut (Debora, Sulistyowati, & Musfar, 2014). Menurut Annafik (2012) keputusan pem- belian didefinisikan sebagai suatu proses di mana konsumen mengenali kebutuhannya, mencari informasi mengenai produk yang se- suai dan mengambil keputusan tentang produk mana yang akan dibeli dan digunakan. Kepu- tusan pembelian dapat dilihat dari lima hal yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan pasca-pembelian (Fitriyah, 2013). Menurut Setiadi (2008) dalam Sangadji dan Sopiah (2013), bahwa inti dari pengambilan keputusan pembelian konsumen adalah proses penginte- grasian yang mengombinasikan dan memilih salah satu di antaranya. Hasil dari proses peng- integrasian ini adalah suatu pilihan yang disaji- kan secara kognitif sebagai keinginan berperi- laku (Ma’ruf, 2015). Penelitian ini untuk mengkaji pengaruh citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya. KERANGKA TEORETIS Manajemen Pemasaran Pemasaran merupakan hal yang menarik bagi semua orang, yang dapat dipasarkan yaitu barang, jasa, properti, individu, tempat, acara, informasi, ide, ataupun organisasi (Kotler & Keller, 2012). Menurut Kotler & Keller (2012), pemasaran adalah mengenai mengiden- tifikasi dan memenuhi kebutuhan sosial dan manusia itu sendiri. American Marketing As- sociation mendefinisikan pemasaran sebagai aktivitas, serangkaian proses untuk mencipta- kan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan mengubah penawaran yang dapat memiliki nilai bagi konsumen dan masyarakat luas (Kotler & Keller, 2012). Sehingga manajemen pemasaran dapat diartikan sebagai ilmu dan seni atas pemilihan target pasar dan memper- oleh, menjaga, dan menumbuhkan konsumen melalui proses penciptaan, penyampaian, dan pengomunikasian nilai yang baik kepada kon- sumen (Kotler & Keller, 2012). Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 31 Merek Merek merupakan suatu yang ditawarkan dari sebuah sumber yang dapat diketahui atau dikenal (Kotler & Keller, 2012: 241). Perusa- haan berlomba-lomba untuk membangun sua- tu citra merek dengan kuat, menyenangkan dan unik. American Marketing Association mendefinisikan suatu merek sebagai nama, istilah, simbol, atau desain atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang ditujukan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari produsen lainnya dan membedakan merek tersebut dari para pesaing (Kotler & Keller, 2012: 241). Merek dapat menjadi pengidentifikasi sumber atau pembuat dari suatu produk dan mengizin- kan konsumen untuk memberikan tanggung jawab atas kinerja dari perusahaan manufaktur dan juga distributor. Suatu merek yang teper- caya dapat memberikan sinyal atas level kualitas yang memberikan kepuasan pada konsumen sehingga mereka dapat memilih kembali atas produk dari merek tersebut. Menurut Kotler & Keller (2012:243), merek merupakan simbol yang dapat menyampaikan enam pengertian sebagai berikut. 1. Atribut: suatu merek dapat mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. 2. Manfaat: atribut-atribut harus diterjemah- kan menjadi manfaat fungsional dan emo- sional. 3. Nilai: suatu merek juga mengayakan sesua- tu tentang nilai produsennya. 4. Budaya: suatu merek mungkin juga melam- bangkan budaya tertentu. 5. Kepribadian: suatu merek dapat mencer- minkan kepribadian tertentu. 6. Pemakai: suatu merek menyiratkan jenis konsumen yang membeli atau mengguna- kan suatu produk. Penggunaan konsisten suatu merek, sim- bol, atau logo membuat merek tersebut dapat dikenali oleh konsumen sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengannya tetap diingat. De- ngan demikian, Pradipta (2012) suatu merek dapat mengandung tiga hal sebagai berikut. 1. Menjelaskan apa yang dijual perusahaan. 2. Menjelaskan apa yang dijalankan oleh per- usahaan. 3. Menjelaskan profil perusahaan itu sendiri. Perkembangan merek di dunia periklanan terbagi menjadi tiga tahapan. Tahap pertama rasional, merupakan tahap di mana pesan yang dikirim sama dengan pesan yang diterima. Pada awalnya, suatu produk dipublikasikan secara konkret dan fungsional. Kualifikasi produk se- cara nyata sesuai dengan apa yang diiklankan oleh merek tersebut. Kualifikasi yang ditawar- kan lebih terletak pada inovasi-inovasi baru yang diterapkan produk pada produk tersebut. Tahap kedua emosional, bahwa konsumen menyaring pesan tidak hanya melalui persepsi mereka terhadap produsen atau medium yang digunakan untuk menyampaikan pesan terse- but tapi juga dari persepsi masing-masing indi- vidu itu sendiri. Pada tahap ini, merek tidak lagi dianggap hanya sebagai sebuah objek saja tapi mempunyai karakteristik tertentu. Sehingga banyak dari produsen memosisikan merek mereka dengan karakteristik tertentu, misalnya, Mercedes Benz dengan prestise, ataupun meng- gunakan selebriti tertentu yang dipandang memiliki karakteristik yang dapat mewakili merek tersebut. Tahap terakhir, spiritual – merek harus mempunyai nilai-nilai tertentu atau menjun- jung suatu nilai tinggi. ada tahap ini, perkem- bangan berubah arah dengan menekankan kepada nilai-nilai yang lebih tinggi. Produsen yang mengambil langkah-langkah untuk men- Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 32 cegah pencemaran lingkungan, penghentian akan eksperimen pada hewan, mempunyai misi kemanusiaan, ataupun mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan, mendapatkan keun- tungan lebih dan promosi gratis untuk produk dan merek mereka (Pringle dan Thompson, 2001: 64-87). Citra Merek Citra merek salah satu bagian terpenting dari produk. Citra merek merupakan repre- sentasi dari keseluruhan persepsi terhadap me- rek dan dibentuk dari informasi serta penga- laman masa lalu atas merek tersebut. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. Citra merek dapat berupa nilai tambahan untuk produk apakah produk berwujud dan tidak berwujud (Kotler & Keller, 2012). Selain itu, citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang dilakukan oleh konsumen, seperti yang tecermin dalam asosiasi yang terjadi dalam memori konsumen (Kotler & Keller, 2012). Ong & Sugiharto (2013) citra merek adalah hasil persepsi dan pemahaman konsumen me- ngenai merek suatu produk yang dilihat, dipi- kirkan, atau dibayangkan. Dengan mencipta- kan citra merek dari suatu produk tertentu akan sangat berguna bagi para konsumen, karena pada intinya citra merek sangat meme- ngaruhi persepsi konsumen dan penilaian kon- sumen terhadap alternatif merek yang diha- dapinya (Ong & Sugiharto, 2013). Menurut Low dan Lamb (2000:4), indikator dari citra merek antara lain: friendly/unfriendly: kemu- dahan dikenali oleh konsumen, modern/out- dated: memiliki model yang up to date/tidak ketinggalan zaman, useful/useless: dapat digu- nakan dengan baik/ bermanfaat, popular/un- popular: akrab di benak, konsumen, gentle/ harsh: mempunyai tekstur produk halus/tidak kasar, artificial/natural: keaslian komponen pendukung atau bentuk. Simamora (2003: 37) menyatakan bahwa merek memiliki citra dan untuk memudahkan deskripsi mengenai citra (image), maka konsu- men melakukan asosiasi merek. Asosiasi merek adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah merek. Asosiasi ini tidak hanya ada tetapi memiliki sebuah kekuatan (Susanto dan Wijanarko, 2004: 132). Merek yang kuat dapat menarik konsumen untuk menggunakannya sebagai faktor penentu dalam keputusan pembelian dan syarat yang kuat adalah dengan adanya citra merek (brand im- age). Citra merek merupakan interpretasi aku- mulasi berbagai informasi yang diterima oleh konsumen (Fristiana, 2012). Rangkuti (2002: 45), citra merek terdiri dari dua faktor utama. a. Faktor fisik merupakan karakteristik fisik dari merek tersebut, seperti desain, kemas- an, logo, nama merek, fungsi, dan kegunaan produk dari merek tersebut. b. Faktor psikologis dibentuk oleh emosi, kepercayaan, nilai, dan kepribadian yang dianggap oleh konsumen dapat menggam- barkan produk dari merek tersebut. Citra merek sangat erat kaitannya dengan apa yang orang pikirkan dan rasakan terhadap suatu merek tertentu sehingga faktor psiko- logis lebih banyak berperan dibandingkan dengan faktor fisik atas merek tertentu. Citra merek meliputi pengetahuan dan kepercayaan akan atribut merek (aspek kogni- tif), konsekuensi dari penggunaan merek terse- but, dan situasi penggunaan yang sesuai, begitu juga dengan evaluasi, perasaan dan emosi yang Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 33 diasosiasikan dengan merek tersebut (aspek afektif). Citra merek didefinisikan sebagai per- sepsi konsumen dan preferensi merek, sebagai- mana yang direfleksikan oleh berbagai macam asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsu- men. Meskipun asosiasi merek dapat terjadi da- lam berbagai macam bentuk tapi dapat dibeda- kan menjadi asosiasi performansi dan asosiasi imajeri yang berhubungan dengan atribut dan kelebihan merek (Peter dan Olson, 2002: 730). Menurut Drezner (2002: 39-41), konsu- men tidak bereaksi terhadap realitas melainkan terhadap apa yang mereka anggap sebagai realitas, sehingga citra merek dilihat sebagai serangkaian asosiasi yang dilihat dan dime- ngerti oleh konsumen, dalam jangka waktu tertentu, sebagai akibat dari pengalaman de- ngan merek tertentu secara langsung ataupun tidak langsung. Asosiasi ini bisa dengan kualitas fungsional sebuah merek ataupun dengan indi- vidu dan acara yang berhubungan dengan merek tersebut. Meskipun tidak mungkin seti- ap konsumen memiliki citra yang sama persis akan suatu merek, namun persepsi mereka secara garis besar memiliki bagian-bagian yang serupa. Citra merek adalah kesan keseluruhan terhadap posisi merek ditinjau dari persaing- annya dengan merek lain yang diketahui kon- sumen – apakah merek tersebut dipandang konsumen sebagai merek yang kuat. Sebagian alasan konsumen memilih suatu merek karena mereka ingin memahami diri sendiri dan untuk mengomunikasikan aspek diri ke orang lain. Citra merek ini bisa diukur dengan menanya- kan atribut apa dari suatu merek-merek pilihan konsumen dalam satu kategori produk – yang membedakannya dengan merek lain, mengapa atribut-atribut itu penting dan mengapa alasan itu penting bagi konsumen. Selain itu, dalam konsep pemasaran, citra merek sering direferensikan sebagai faktor psi- kologis, yaitu citra yang dibangun di dalam alam bawah sadar konsumen melalui informasi dan harapan yang dimunculkan melalui produk atau jasa (Setiawan dalam Nugroho, 2011: 9). Oleh karena itu, citra merek yang positif menja- di salah satu hal yang penting. Hal ini dikarena- kan tanpa adanya citra yang kuat dan positif, sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan pelang- gan yang sudah ada, dan pada saat yang sama meminta konsumen untuk membayar harga yang tinggi (Susanto dalam Nugroho, 2011: 9). Menurut Runyon (1980, h.17), citra me- rek terbentuk dari stimulus tertentu yang ditampilkan oleh produk tersebut, yang menim- bulkan respons tertentu pada diri konsumen. a. Stimulus yang muncul dalam citra merek tidak hanya terbatas pada stimulus yang bersifat fisik, tetapi juga mencakup stimu- lus yang bersifat psikologis. Ada tiga sifat stimulus yang dapat membentuk citra merek yaitu stimulus yang bersifat fisik, seperti atribut-atribut teknis dari produk tersebut; stimulus yang bersifat psikologis, seperti nama merek; dan stimulus yang mencakup sifat keduanya, seperti kemasan produk atau iklan produk. b. Datangnya stimulus menimbulkan respons dari konsumen. Ada dua respons yang memengaruhi pikiran seseorang, yang membentuk citra merek yaitu respons ra- sional – penilaian mengenai performa aktual dari merek yang dikaitkan dengan harga produk tersebut, dan respons emosional – kecenderungan perasaan yang timbul dari merek tersebut. Sari (2013) menyatakan bahwa citra me- rek dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 34 1. Kekuatan asosiasi merek, yaitu tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana informa- si tersebut bertahan sebagai bagian dari citra merek. 2. Keuntungan asosiasi merek, yaitu kesuk- sesan sebuah proses pemasaran sering ter- gantung pada proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, di mana kon- sumen dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan kebu- tuhan dan keinginan konsumen. 3. Keunikan asosiasi merek, yaitu suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen untuk me- milih merek tertentu. Keunikan asosiasi me- rek berdasarkan atribut produk, fungsi pro- duk, atau citra yang dinikmati konsumen. Keluarga Keluarga merupakan konsumen terpen- ting di lingkungan sosial dan anggota-anggota keluarga meliputi kelompok yang dapat mem- berikan pengaruh yang besar (Kotler & Keller, 2012). Terdapat dua jenis keluarga di dalam kehidupan konsumen, yaitu family of orienta- tion dan family of procreation (Kotler & Keller, 2012). Family of orientation meliputi orang tua dan saudara kandung. Jika konsu- men lama tidak berinteraksi dengan orang tua mereka, pengaruh orang tua yang terdapat dalam diri konsumen menjadi sesuatu yang signifikan (Kotler & Keller, 2012). Sedangkan family of procreation meliputi pasangan dan anak-anaknya, jenis keluarga ini memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku pembe- lian konsumen (Kotler & Keller, 2012). Sumarwan (2011), keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (ke- turunan: anak, atau cucu), dan adopsi. Engel, Blackwell, & Miniard (2001), keluarga dibagi menjadi tiga, yaitu (a) keluarga (family) adalah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih orang yang berhubungan melalui darah, perka- winan, atau adopsi dan tinggal bersama, (b) keluarga Inti (nuclear family) adalah kelompok langsung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang tinggal bersama, (c) keluarga besar (ex- tended family) mencakup keluarga inti ditam- bah kerabat lain, seperti kakek-nenek, paman dan bibi, sepupu, dan kerabat karena perkawin- an (Fitriyah, 2013). Keluarga adalah lingkung- an terdekat dengan individu dan sangat meme- ngaruhi nilai-nilai serta perilaku seseorang dalam melakukan pembelian. Menurut Fitriyah (2013), keluarga dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut. 1. Pencetus (initiator), yaitu seorang anggota keluarga yang memiliki ide ataupun gagasan untuk membeli merek yang diinginkan. 2. Pemberi pengaruh (influencer), yaitu ang- gota keluarga yang memberikan pengaruh kepada keluarga untuk mengambil keputus- an pembelian merek yang diinginkan. 3. Penjaga pintu (gatekeeper), yaitu anggota keluarga yang mengontrol arus informasi mengenai merek yang diinginkan. 4. Pengambil keputusan (decider), yaitu ang- gota keluarga yang menentukan membeli atau tidak terhadap merek yang diinginkan. 5. Pembeli (buyer), yaitu anggota keluarga yang dengan nyata melakukan pembelian merek yang diinginkan. 6. Pemakai (user), yaitu anggota keluarga yang menggunakan merek yang diinginkan. Keputusan Pembelian Menurut Kotler & Keller (2012: 166) bahwa keputusan pembelian adalah seluruh Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 35 pengalaman yang dimiliki oleh konsumen di dalam pembelajaran, pemilihan, penggunaan, dan bahkan bagaimana mereka membuang sua- tu produk. Schiffman dan Kanuk (2004), keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia bebe- rapa alternatif pilihan. Keputusan pembelian menurut Schiffman, dan Kanuk (2004: 547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagai- mana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Fitriyah (2013) menjelaskan keputusan pembelian adalah proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk mela- kukan pembelian. Anggar (2012) menyebutkan bahwa keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Kotler & Keller (2012: 166) menyatakan terdapat lima tahapan dalam proses pengambilan keputusan yang terjadi oleh konsumen, yaitu mengenali masa- lah, mencari informasi, mengevaluasi alternatif- alternatif, mengambil keputusan pembelian, dan juga perilaku setelah melakukan pembelian. Tahapan proses pengambilan keputusan menu- rut Kotler & Keller (2012: 166) dapat dilihat pada Gambar 1. Dimensi untuk mengukur keputusan pem- belian yang diambil oleh konsumen antara lain (Sutisna, 2003): 1. Benefit Association Kriteria benefit association menyatakan bahwa konsumen menemukan manfaat dari produk yang akan dibeli dan menghu- bungkannya dengan karakteristik merek. 2. Frekuensi Pembelian Ketika konsumen membeli produk tertentu dan merasa puas dengan kinerja produk tersebut maka konsumen akan sering membeli kembali produk tersebut kapan pun konsumen membutuhkannya. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut. 1. Fully planned purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Plan- ned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya. 2. Partially planned purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipe- ngaruhi oleh discount harga, atau display produk. 3. Unplanned purchase, baik produk dan me- rek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk Pengenalan Masalah Pencarian Informasi Pengevaluasian Alternatif Keputusan Pembelian Perilaku Pasca Pembelian Sumber: Kotler dan Keller (2012:166) Gambar 1 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 36 pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan seseorang akan kebutuhan dan memicu pembelian (Engel, Blackwell, & Miniard, 2001). Ketika konsumen telah menggunakan sebuah produk, mereka mengevaluasi kinerja didasarkan pada harapan mereka. Ada tiga kemungkinan: pertama jika kinerja sebenarnya sama dengan yang diharapkan maka terjadi neutral feelings, kedua ketika kinerja melebihi harapan menyebabkan kepuasan dan ketika kinerja di bawah harapan terjadi ketidakpuasan (Schiffman dan Kanuk, 2004:570). Perasaan- perasaan itu akan membedakan apakah konsumen akan membeli kembali produk tersebut dan membicarakan hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan tentang produk tersebut kepada orang lain (Kotler, 2003:208). Menurut Kotler dan Armstrong (2001:193), proses membeli konsumen dimulai lebih awal sebelum pembelian sesungguhnya dan berlanjut setelah itu sehingga pemasar harus fokus pada seluruh proses daripada hanya keputusan membeli saja. Tahap-tahap keputusan di atas tidak semuanya harus dilewati, terutama atas pembelian dengan tingkat keterlibatan yang rendah (low involve- ment) dan pembelian rutin (routine purchase) di mana konsumen hanya menggunakan usaha yang sedikit untuk mendapatkannya sehingga bisa melewati beberapa tahap, misalnya dari pengenalan kebutuhan langsung memutuskan untuk membeli (Kotler dan Armstrong, 2001:193 dan Kotler & Keller, 2012). Kotler (2003:204), menjelaskan bahwa pada umumnya tahap-tahap pengambilan keputusan terdiri dari hal-hal sebagai berikut. 1. Problem Recognition (pengenalan kebu- tuhan). Pengenalan kebutuhan atau penge- nalan masalah adalah hasil dari ketidakse- suaian antara keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang sebenarnya (Hawkins et.al, 1998:501). Masalah atau kebutuhan tersebut menurut Kotler (2003:204) dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. 2. Information search or search alternative solutions (pencarian informasi atau men- cari alternatif solusi). Konsumen yang telah menyadari kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Keuntungan dari mencari informasi ini akan mendapatkan berbagai macam pilihan yang disesuaikan dengan kriteria yang di- cari konsumen. 3. Evaluation of alternatives (mengevaluasi beberapa alternatif). Jumlah kriteria yang dievaluasi oleh konsumen tergantung pada jenis produk, konsumen, dan situasi. Jenis kriteria yang digunakan untuk evaluasi bervariasi mulai dari yang berwujud seperti biaya yang dikeluarkan, fitur, sampai faktor- faktor yang tidak berwujud seperti gaya, prestise, dan citra merek. 4. Purchase decision (keputusan pembelian). Dalam melaksanakan niat pembelian, kon- sumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian (Kotler, 2003: 208), yaitu kepu- tusan merek, keputusan pemasok, keputus- an kuantitas, keputusan waktu, dan kepu- tusan metode pembayaran. 5. Post-purchase processes/post-purchase be- havior (proses pasca-pembelian atau perila- ku pasca-pembelian). Fitriyah (2013) menjelaskan keputusan pembelian dapat diukur dari faktor-faktor sebagai berikut. Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 37 1. Pengenalan masalah, yaitu tahap pertama di mana konsumen mengenali masalah atau kebutuhan akan merek yang akan dibeli. 2. Pencarian informasi, yaitu aktivitas untuk mendapatkan informasi mengenai merek yang akan dibeli. 3. Evaluasi alternatif, yaitu mengevaluasi pilih- an alternatif dari merek yang akan ditawar- kan oleh penjual. 4. Keputusan pembelian, yaitu kegiatan mem- beli suatu merek secara nyata. 5. Pasca-pembelian, yaitu perilaku yang ditun- jukkan konsumen untuk membeli ulang atau menghentikan pembelian setelah menggunakan merek yang dibeli. METODE PENELITIAN Sampel dan Prosedur Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner/angket dan menyebarkan 100 kuesioner pada maha- siswa Universitas Muhammadiyah Surabaya. Pengambilan sampel penelitian ini mengguna- kan convenience sampling. Kriteria sampel atau responden yang dipilih untuk mengisi kuesioner adalah sebagai berikut: kepemilikan sepeda motor merek Suzuki >1 tahun. Kue- sioner ini diolah menggunakan Regresi Linier Berganda. Dari total 100 responden, hasil penelitian diketahui bahwa 70% responden (laki-laki) dan 30% responden perempuan. Ditinjau dari segi usia responden, 39% dari jumlah sampel didominasi oleh responden dengan usia 18– 22 tahun, responden dengan umur 28–32 tahun adalah 25%, responden dengan umur 23–27 tahun 20%, dan responden yang ber- usia >33 tahun adalah 16%. Sedangkan ditin- jau dari segi lama penggunaan, diketahui bahwa dari 100 responden lama penggunaan Suzuki 1–3 tahun yang paling mendominasi yaitu sebesar 40%, lama penggunaan antara 6–8 tahun sebesar 30%, lama penggunaan antara 4–6 tahun sebesar 30% dan lama penggunaan kurang dari satu tahun 0%. Variabel Penelitian dan Pengukuran Variabel citra merek mengacu pada Sari (2013) dan berdasarkan dari peneliti terdahu- lu. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur citra merek adalah sebagai berikut. 1) Kualitas sepeda motor Suzuki tidak perlu diragukan lagi. 2) Sepeda motor Suzuki mempunyai keung- gulan bila dibandingkan dengan merek lain. 3) Sepeda motor Suzuki mempunyai desain yang menarik dibandingkan dengan merek lainnya. 4) Sepeda motor Suzuki mempunyai banyak variansi produk. 5) Sepeda motor Suzuki mudah untuk di- ucapkan. 6) Sepeda motor Suzuki mudah untuk di- ingat. Variabel keluarga mengacu pada Fitriyah (2013) dan berdasarkan dari peneliti terdahu- lu. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur keluarga adalah sebagai berikut. 1) Keluarga memberikan pendapat tentang keunggulan sepeda motor Suzuki diban- dingkan merek lain. 2) Anggota keluarga memiliki ide/gagasan untuk membeli sepeda motor Suzuki. 3) Keluarga memberikan pengaruh mengenai kualitas sepeda motor Suzuki, sehingga tertarik untuk membeli sepeda motor Su- zuki. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 38 4) Semua anggota keluarga memakai sepeda motor Suzuki, maka keluarga menyarankan untuk membeli sepeda motor Suzuki. 5) Selalu berunding dengan anggota keluarga mengenai informasi kualitas dan fitur Sepeda motor Suzuki sebelum melakukan pembelian sepeda motor Suzuki. 6) Keluarga lebih mengetahui kualitas sepeda motor Suzuki dibandingkan dengan kua- litas sepeda motor merek lainnya. 7) Sepeda motor Suzuki mempunyai spesifi- kasi yang sesuai dengan kebutuhan keluar- ga, maka keluarga akan mengambil kepu- tusan untuk membeli sepeda motor Suzuki. 8) Keluarga menentukan untuk membeli se- peda motor Suzuki. 9) Anggota keluarga dengan nyata melakukan pembelian sepeda motor Suzuki. 10) Anggota keluarga menggunakan sepeda motor Suzuki. Variabel keputusan pembelian mengacu pada Fitriyah (2013) dan berdasarkan dari peneliti terdahulu. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur keputusan pembe- lian adalah sebagai berikut. 1) Konsumen membeli merek X karena me- rasa membutuhkan kendaraan alternatif untuk pergi bekerja. 2) Konsumen membeli merek X karena me- rasa membutuhkan kendaraan untuk beper- gian. 3) Konsumen mengunjungi dealer resmi me- rek X untuk mendapatkan informasi pro- duk merek X. 4) Konsumen mengunjungi situs resmi merek X untuk mendapatkan informasi produk merek X. 5) Konsumen merasa merek X menjadi pilihan alternatif dari pada motor merek yang lain. 6) Konsumen merasa merek X lebih baik dari pada merek produk lain. 7) Konsumen merasa merek X cocok dengan dirinya. 8) Konsumen memutuskan untuk membeli merek X karena sesuai dengan yang diha- rapkan. 9) Konsumen merasa puas dengan fitur yang dimiliki merek X. 10) Konsumen akan melakukan pembelian ulang kembali atas merek X. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan analisis citra merek dan keluarga terhadap keputusan pembelian maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas pengukuran. Pengukuran validitas digunakan korelasi pearson product moment. Jika korelasi pearson product moment antara masing-ma- sing pernyataan dengan skor total menghasil- kan nilai korelasi (r hitung) > 0,3 maka item pernyataan dinyatakan valid. Untuk mengukur reliabilitas alat ukur (kuesioner) digunakan nilai cronbach alpha. Jika cronbach alpha (α) lebih besar dari 0.6, maka kuesioner dinyatakan reliabel. Dari hasil olah data didapat bahwa semua indikator valid dan reliabel. Tabel 1 Hasil Analisis Regresi Pengaruh X1, dan X2 terhadap Y Model Koefisien Regresi t Sig. 1 (Constant) 0,305 6,599 0,000 X1 0,148 6,615 0,000 X2 0,486 6,734 0,025 R = 0,693 R Square = 0,481 Std. error = 0,81493 Sumber: Data diolah, 2016 Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 39 Dari tabel 1, maka dapat diperoleh model persamaan regresi yang tersusun adalah sebagai berikut. Y = β 0 + β 1 X 1 + β 2 X 2 + e Y = 0,305 + 0,148X 1 + 0,486X 2 + e Di mana: X1 = Citra Merek X2 = Keluarga Y = Keputusan Pembelian Persamaan di Tabel 1 jika dijabarkan me- nurut koefisien regresi maka artinya sebagai berikut. a. βo = 0, 305 Nilai konstanta sebesar 0,305 menunjukkan bahwa jika diasumsikan nilai variabel bebas yang terdiri dari citra merek, dan keluarga sedangkan variabel terikatnya adalah varia- bel keputusan pembelian. b. β 1 = 0, 148 Nilai koefisien regresi variabel citra merek adalah sebesar 0,148 nilai ini menunjukkan bahwa variabel independen citra merek (X1) berpengaruh positif terhadap kepu- tusan pembelian (Y) dengan nilai koefisien sebesar 0,148. c. β 2 = 0,486 Nilai koefisien regresi variabel keluarga adalah sebesar 0,486 nilai ini menunjukkan bahwa variabel independen keluarga (X3) berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian (Y) dengan nilai koefisien sebesar 0,486. Berdasarkan Tabel 1 nilai signifikan dari hasil regresi berganda citra merek sebesar 0,000, dan keluarga sebesar 0,083. Nilai signifikan tiap variabel <0,05 sehingga variabel citra merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, Harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, dan keluarga berpengaruh signifikan terhadap ke- putusan pembelian. Dari Tabel 1, angka R square (r2) pada adjusted R square adalah 0,481 yang berarti bahwa variabel X1, X2 mampu menjelaskan model sebesar 48,1%. Selain itu, Uji simultan (uji F) dinyatakan valid jika nilai signifikansi dari semua variabel bebas, yaitu <0,05 (Ghozali, 2005) untuk mengeta- hui pengaruh secara bersamaan atau simultan antara X1, danX2 terhadap Y. Berdasarkan Tabel 2, diperoleh hasil uji F, yaitu pengujian bersama-sama atau simultan pengaruh antara citra merek (X1) dan keluarga (X2) terhadap keputusan pembelian (Y). Hasil pengujian ini menyatakan bahwa besarnya nilai F hitung > F tabel yaitu 44,910 > 2,70, dan angka nilai signifikansi <0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Jika H0 ditolak dan H1 diterima berarti secara simultan variabel- variabel bebas berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat. Kesimpulannya hipo- tesis penelitian dapat diterima maka variabel citra merek (X1), dan keluarga (X2) berpenga- ruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian (Y) sepeda motor merek Suzuki. Tabel 2 Uji F Sumber: Data diolah, SPSS, 20,00 Selain Uji F, penelitian ini juga melakukan uji T. Uji Parsial (uji t) dinyatakan valid jika nilai signifikansi tiap variabel bebas yaitu <0,05 (Ghozali, 2005). Pengujian pengaruh secara parsial dilambangkan dengan besar koefisien Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 673,382 2 336,691 44, 910 ,000b Residual 727,208 97 7,497 Total 1400,59 0 99 Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 40 uji t untuk masing-masing variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Uji t Variabel keluarga (X2) mempunyai t hitung < t tabel yaitu 6,452 < 1,985. Nilai koefisien β pada penelitian ini yakni 0,327 dan tingkat signifikansi = 0,025 (< 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa keluarga (X2) berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian sebesar 0,025 sehingga jika variabel keluarga (X2) naik sebesar satu satuan maka variabel keputusan pembelian (Y) naik sebesar 0,025. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diketa- hui bahwa Suzuki dipandang masih memiliki citra merek yang positif bagi konsumen se- hingga membuat konsumen melakukan pembe- lian terhadap sepeda motor Suzuki. Citra merek dengan keputusan pembelian sangatlah erat kaitannya, karena konsumen sebelum melakukan pembelian menempatkan citra me- rek sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan pembelian (Sari, 2013). Kotler & Keller (2012) menyatakan bahwa citra merek yang dikelola dengan baik akan menghasilkan konsekuensi yang positif, meliputi: (1) meningkatkan pemahaman terha- dap aspek-aspek perilaku konsumen dalam mengambil keputusan pembelian; (2) memper- kaya orientasi konsumsi terhadap hal-hal yang bersifat simbolis lebih dari fungsi-fungsi pro- duk; (3) meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk; (4) meningkatkan keunggul- an bersaing berkelanjutan, mengingat inovasi teknologi sangat mudah untuk ditiru oleh pesaing. Penciptaan citra yang baik pada suatu merek menjadi salah satu karakteristik dasar dalam orientasi pemasaran modern, yaitu lewat pemberian perhatian lebih serta penciptaan Sumber: diolah, SPSS, 20,00 Pengaruh citra merek dan keluarga secara parsial terhadap keputusan pembelian dapat dijelaskan sebagai berikut. a. Pengaruh citra merek (X1) terhadap kepu- tusan pembelian. Hipotesis: H0: Tidak ada pengaruh signifikan secara parsial antara X1 terhadap Y H1: Ada pengaruh signifikan secara parsial antara X1 terhadap Y Variabel citra merek (X1) mempunyai t hitung > t tabel yaitu 6,734 > 1,985. Nilai koefisien β pada penelitian ini yakni 0,591 dan tingkat signifikansi = 0, 000 (< 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa citra merek (X1) berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian sebesar 0,000 sehingga jika variabel citra merek (X1) naik sebesar satu satuan maka variabel keputusan pembelian (Y) naik sebesar 0,000. b. Pengaruh keluarga (X2) terhadap keputus- an pembelian. Hipotesis: H0: Tidak ada pengaruh signifikan secara parsial antara X2 terhadap Y. H1: Ada pengaruh signifikan secara parsial antara X2 terhadap Y. Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 0,305 2,486 6,599 ,000 X1 ,148 ,110 ,591 6,615 ,000 X2 ,486 ,077 ,327 6,734 ,025 Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 41 merek yang kuat (Wicaksana, 2007). Pelanggan cenderung memilih merek yang sudah dikenal karena merasa aman dengan sesuatu yang dike- nal dan beranggapan merek tersebut kemung- kinan bisa diandalkan dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan (Tambunan, 2012). Dengan demikian, merek diduga memengaruhi keputusan pembelian. Semakin baik citra merek bagi konsumen, semakin besar keputusan pem- belian produk makanan dengan merek tersebut (Tambunan, 2012). Implikasi dari hal tersebut menjadikan merek suatu produk menciptakan image dari produk itu sendiri di benak pikiran konsumen dan menjadikan motivasi dasar bagi konsumen dalam memilih suatu produk (Vra- nesevic, 2003). Konsumen memandang bahwa Suzuki memiliki citra yang baik di kalangan produk sepeda motor di Surabaya sehingga membuat konsumen melakukan pembelian terhadap sepeda motor merek Suzuki. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketa- hui bahwa keluarga memiliki pengaruh bagi konsumen ketika mereka melakukan pengam- bilan keputusan dalam pembelian sepeda mo- tor Suzuki. Dalam penelitian ini, keluarga di- ukur dari enam faktor yaitu pencetus, pemberi pengaruh, penjaga pintu, pengambilan kepu- tusan, pembeli, dan pemakai. Kotler & Keller (2012) menyatakan bahwa suatu keluarga da- pat memberikan pengaruh terhadap seorang anggota keluarganya dalam pengambilan kepu- tusan, terutama pembelian barang mewah, se- perti sepeda motor. Dalam suatu keluarga ada- nya suatu keterlibatan dan dominasi peran yang terjadi antar individu dalam keluarga (Sari, 2013). Pada umumnya, konsumen cenderung be- runding terlebih dahulu dengan anggota ke- luarga apabila akan membeli suatu produk yang dinilai penting. Keluarga dapat membe- rikan pengaruh dalam bentuk saran kepada seseorang dalam hal mempertimbangkan se- buah keputusan untuk membeli produk, seperti pembelian produk sepeda motor. Biasanya me- reka memberikan saran tentang apa yang mere- ka rasakan saat menggunakan produk tersebut dan kepuasan yang mereka rasakan setelah mereka menggunakan produk tersebut (Debo- ra, Sulistyowati, & Musfar, 2014). Dari hasil penelitian, di lapangan membuktikan bahwa keluarga di mata responden mempunyai peran terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki, yaitu memberikan informasi mengenai keunggulan/kelebihan merek Suzuki, memberi pendapat, memberi pengaruh, me- ngontrol arus informasi, mengambil keputusan, melakukan pembelian, dan menggunakan se- peda motor merek Suzuki. IMPLIKASI PENELITIAN Hasil penelitian menyatakan bahwa kon- sumen memandang Suzuki memiliki citra me- rek yang baik. Pelanggan cenderung memilih merek yang sudah dikenal karena merasa aman dengan sesuatu yang dikenal dan beranggapan merek tersebut kemungkinan bisa diandalkan dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan Citra merek ini dapat lebih ditingkatkan dan lebih mudah diingat maka perusahaan lebih meningkatkan promosi produk dari sepeda motor Suzuki, seperti melakukan periklanan, baik di media elektronik maupun media cetak, dan mengadakan pameran otomotif sehingga merek Suzuki dapat lebih dikenal oleh masya- rakat luas. Selain itu, Suzuki dapat meningkat- kan teknologinya, seperti lebih hemat bahan bakar, cc untuk sepeda motor lebih besar dan penambahan aksesoris yang lebih menarik bila dibandingkan dengan merek pesaing. Dengan Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 42 memperhatikan teknologi, produk-produk dari sepeda motor Suzuki akan lebih berkualitas sehingga konsumen akan banyak melakukan pembelian dan Suzuki akan memenangkan persaingan di bidang otomotif. Selain itu, Suzu- ki juga dapat merangkul keluarga untuk terlibat langsung dan mengalami pengalaman yang menarik selama berkendara menggunakan sepeda motor Suzuki. DAFTAR PUSTAKA Anggar, K. 2012. Analisis Pengaruh Harga, Kualitas Produk, dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Honda. Skripsi Dipublikasikan. Sema- rang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Uni- versitas Diponegoro. Annafik, A. 2012. Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Harga, dan Daya Tarik Iklan Terhadap Minat Beli Sepeda Motor Ya- maha. Skripsi Dipublikasikan. Semarang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universi- tas Diponegoro. Bagaskara, M. 2014. Pengaruh Kualitas Pro- duk, Harga dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Honda Vario di Semarang. Skripsi Dipu- blikasikan. Semarang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro. Debora, R., Sulistyowati, & Musfar, T. 2014. Pengaruh Keluarga dan Kelompok Refe- rensi Terhadap Keputusan Konsumen Membeli Kosmetika Khusus Pria Merek Garnier Men. JOM Fekon, 1(2), 1-11. Engel, J., Blackwell, R. D., & Miniard, P. W. 2001. Consumer Behavior (9 ed.). Or- lando: Harcourt. Fitriyah, N. 2013. Pengaruh Kelompok Acuan dan Keluarga Terhadap Keputusan Pem- belian Batik Tulis Jetis pada Toko Amri Jaya Sidoarjo. Fristiana, D. A. 2012. Pengaruh Citra Merek dan Harga Terhadap Keputusan Pembe- lian pada Ramai Swalayan Peterongan Semarang. Jurnal Ilmu Administrasi Bis- nis. Kotler, P., & Keller, K. L. 2012. Marketing Management (14 ed.). New Jersey: Prentice Hall. Ma’ruf, H. 2015. Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Citra Merek, dan Iklan Terhadap Keputusan Pembelian Motor Yamaha Matic di Purwodadi. Surakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muham- madiyah Surakarta. Nugroho, F. Y. 2011. Pengaruh Citra Merek dan Kepuasan Pelanggan Terhadap Lo- yalitas Konsumen. Yogyakarta: Fakultas Pertanian UPN “Veteran”. Ong, I., & Sugiharto, S. (2013). Analisa Penga- ruh Strategi Diferensiasi, Citra Merek, Kualitas Produk, dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Pelanggan di Cin- cau Station Surabaya. Jurnal Manajemen Pemasaran. Pradipta, D.A. 2012. Pengaruh Citra Merek Terhadap Loyalitas Konsumen Produk Oli Pelumas PT Pertamina (Persero) En- duro 4T di Makassar. Skripsi. Makasar: Universitas Hasanuddin. Pringle, H., & Thompson, M. 2001. Brand Spirit. New Jersey: John Wiley and Sons, Ltd. Rangkuti, F. 2004. The Power of Brands, Teknik Mengelola Brand Equity dan Strategi Pengembangan Merek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Runyon, K. 2001. Consumer Behavior and the Practice of Marketing. Toronto: Me- rill Publishing, co. Ratri Amelia Aisyah, Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki di Universitas Muhammadiyah Surabaya 43 Sangadji, E., & Sopiah. 2013. Perilaku Kon- sumen dan Pendekatan Praktis disertai Himpunan Jurnal Penelitian. Yogya- karta: ANDI. Sari, K.S. 2013. Pengaruh Citra Merek dan Keluarga Terhadap Keputusan Pembelian Honda Beat. Jurnal Ilmu Manajemen. Simamora, B. 2003. Aura Merek. Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi. Sumarwan, U. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapan dalam Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Susanto, A. & Widjanarko, H. 2004. Power Branding. Jakarta: Quantum Bisnis dan Manajemen. Sutisna. 2003. Perilaku Konsumen dan Komu- nikasi Pemasaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Vranesevic, T. 2003. The Effect of the Brand on Perceived Quality of Food Products. British Food Journal, 105(11), 811– 825.