01 Candra.pmd Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono, Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) 7777 Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya e-mail: rodhismart@unusa.ac.id Abstract: The aim of the study was to analyze and determine the influence of leadership and communication, on employee motivation and performance at Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya. Branch, as many as 100 persons. Sampling technique samples (Slovin) data was analyzed with multiple linear regression with SPSS for windows program. The result of the research indicated that leadership, communication, and motivation simulta- neously have significant effect on employees’ performances with determination value of 0,424 or 4,24%. Leadership, communication and motivation partially has significant effect on performance. Communication itself has dominant effect on employee’s perfor- mance. Keywords: leadership, communication, motivation, and employee performance PENDAHULUAN Satuan Polisi Pamong Praja Sebagai Pega- wai Negeri Sipil (PNS) menurut UU No. 43/ 1999 Pasal 1 adalah keseluruhan upaya untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan derajat profesionalisme penyelenggaraan tugas, fungsi, dan kewajiban kepegawaian yang meliputi perencanaan, pengadaan, pengembangan kua- litas penempatan, promosi, penggajian, kese- jahteraan, dan pemberhentian. Satuan polisi pamong praja (satpol PP) adalah aparatur pemerintah daerah yang melaksanakan tugas kepala daerah melalui sekretaris daerah yang mempunyai tugas menegakkan peraturan dae- rah dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindung- an masyarakat. Dalam menjalankan tugas satpol PP mem- punyai dasar hukum yaitu peraturan Undang- Undang No. 32 tahun 2004 tentang Peme- rintahan Daerah, Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 40 Tahun 2011 tentang Pedoman Organi- sasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja. Undang-Undang No.32 Tahun 2004 Pasal 148 mengamanatkan bahwa untuk membantu ke- pala daerah dalam menegakkan perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan keten- teraman masyarakat dibentuk satuan polisi pamong praja. Pembentukan dan susunan or- ganisasi satuan polisi pamong praja berpe- doman pada peraturan pemerintah. Menurut Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2010 Pasal 4 bahwa Satpol PP mempunyai tugas mene- gakkan perda dan menyelenggarakan keter- tiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. Satpol PP dalam melakukan tugas sebagai- mana dimaksud dalam Pasal 3, satpol PP mempunyai fungsi menyusun program dan menjadi pelaksana penegakan Perda dan Per- Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 78 aturan Kepala Daerah, penyelenggaraan keter- tiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. Kemudian melaksanakan kebijakan penegakan perda dan peraturan kepala daerah, melaksanakan kebi- jakan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat di daerah, melaksa- nakan kebijakan perlindungan masyarakat, me- laksanakan koordinasi penegakan perda dan peraturan kepala daerah, serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masya- rakat dengan Kepolisian Negara Republik In- donesia, penyidik pegawai negeri sipil daerah, atau aparatur lainnya, melakukan pengawasan terhadap masyarakat, aparatur, atau badan hukum agar mematuhi dan menaati penegakan perda dan peraturan kepala daerah. 1. Dalam melakukan tugas sebagaimana di- maksud dalam Pasal 3, satpol PP mempu- nyai fungsi sebagai berikut. a. Penyusunan program dan pelaksana pe- negakan perda dan peraturan kepala daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. b. Pelaksanaan kebijakan penegakan perda dan peraturan kepala daerah. c. Pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman ma- syarakat di daerah. d. Pelaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat. e. Pelaksanaan koordinasi penegakan per- da dan peraturan kepala daerah serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan Kepo- lisian Negara Republik Indonesia, penyi- dik pegawai negeri sipil daerah, atau aparatur lainnya. f. Pengawasan terhadap masyarakat, apa- ratur, atau badan hukum agar mematuhi dan menaati penegakan perda dan per- aturan kepala daerah. g. Pelaksanaan tugas lainnya. 2. Pelaksanaan tugas lainnya sebagaimana di- maksud pada ayat (1) huruf g meliputi hal-hal sebagai berikut. a. Mengikuti proses penyusunan pera- turan perundang-undangan serta ke- giatan pembinaan dan penyebarluasan produk hukum daerah. b. Membantu pengaman dan pengawalan tamu VVIP termasuk pejabat negara dan tamu negara. c. Pelaksanaan pengaman dan penertiban asset yang belum teradministrasi sesuai dengan ketentuan perundang-undang- an. d. Membantu pengamanan dan penertiban penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan umum kepala daerah. e. Membantu pengamanan dan penertiban penyelenggaraan keramaian daerah/ke- giatan yang berskala massal. f. Pelaksanaan tugas pemerintah umum lainnya yang diberikan oleh kepala dae- rah sesuai dengan prosedur dan keten- tuan peraturan perundang-undangan. Kondisi di lapangan saat ini, satpol PP yang cenderung menegakkan peraturan daerah de- ngan cara-cara represif walaupun sudah ada upaya-upaya persuasif yang dilakukan sehing- ga kesan yang ditimbulkan seakan-akan arogan dan kurang merakyat. Akan tetapi, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya sudah mempu- nyai tim negosiator sebagai ujung tombak di dalam melaksanakan tugas, utamanya di dalam penegakan Peraturan Daerah Kota Surabaya. Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono, Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) 79 Kesan yang ingin dilihat oleh masyarakat bahwa Satpol PP harus bersikap humanis dalam melakukan kegiatan-kegiatan pembinaan pada masyarakat. Surabaya terdiri dari masyarakat yang heterogen di mana berbagai suku, kebudayaan, dan agama. Kemajemukan itu merupakan keka- yaan dan kekuatan yang sekaligus menjadi tantangan bagi Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya. Tantangan itu sangat terasa terutama ketika satuan polisi pamong praja membutuhkan kebersamaan dan persatuan dalam menghadapi dinamika kehidupan ber- masyarakat, berbangsa, dan bernegara, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Tugas-tugas yang berat tersebut diperlu- kan organisasi yang solid, kompak, dan pro- aktif untuk menyelesaikan amanat. Dalam menggerakkan Organisasi dalam arti pening- katan kinerja, dibutuhkan keterampilan teknik ekonomi, sosial, dan ketekunan serta disiplin tertentu sesuai dengan dinamika keprofesio- nalan dan derap partisipasi yang populer dari pegawai yang terlibat dalam satuan polisi pamong praja saat ini dan mendatang. Faktor kritis yang berkaitan dengan keber- hasilan jangka panjang organisasi adalah ke- mampuan untuk mengukur seberapa baik pe- gawai dapat berkarya dan menggunakan infor- masi tersebut guna memastikan bahwa pelak- sanaan memenuhi standar-standar sekarang dan meningkatkan sepanjang waktu. Penilaian kinerja adalah alat yang berfaedah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dan pegawai, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan pegawai. Efisiensi adalah seberapa baik sumber- sumber daya yang digunakan untuk menghasil- kan suatu hasil. Dapat dikatakan bahwa efisien- si sebagai penghematan penggunaan sumber- sumber daya dalam kegiatan organisasi. De- ngan efisiensi dimaksudkan pemakai sumber daya yang lebih sedikit untuk mencapai hasil yang sama. Konsep efisiensi ini lebih berorien- tasi pada masukan dari pada keluaran. Pencapaian suatu kumpulan hasil yang direncanakan menunjuk pada efektivitas. Di sini pencapaian sumber daya tidak dipersoal- kan. Efektivitas adalah suatu ukuran yang me- nyatakan seberapa baik atau seberapa jauh sasaran (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah tercapai. Nilai efektivitas dicerminkan oleh per- bandingan nilai keluaran aktual dengan keluar- an yang di rencanakan. Makin besar persentase sasaran yang dicapai, makin tinggi tingkat efek- nya konsep efektivitas berorientasi pada keluar- an (output), bukan pada masukan (input). Efektivitas yang tinggi belum tentu efisien. Jelasnya, suatu proses dikatakan lebih efektif bila dengan masukan yang sama di peroleh keluaran yang lebih besar, hasil yang lebih jelas, atau dalam waktu yang lebih singkat. Jika efisiensi berorientasi pada masukan yang lebih sedikit dan efektivitas berorientasi pada keluaran yang lebih baik, maka produk- tivitas berorientasi pada keduanya. Efektivitas membandingkan hasil yang dicapai, sedang efisiensi membandingkan masukan sumber daya yang digunakan. Dari keterangan di atas, efektivitas berhubungan dengan unjuk kerja, sedangkan efisiensi berhubungan dengan pe- makaian dengan sumber daya. Efisiensi ber- orientasi pada masukan dan efektivitas ber- orientasi pada keluaran. Untuk dapat meng- organisasi fungsi-fungsi efisiensi dan aktivitas dalam organisasi perlu di dukung oleh komu- nikasi yang baik dan organisator yang me- madai. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara memimpin sebuah Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 80 organisasi di satuan polisi pamong praja, serta dapat mengetahui gaya-gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam menghadapi situasi dan kondisi tertentu. Selain itu juga tujuan adanya variabel komunikasi adalah menciptakan pemahaman bersama anta- ra pegawai dan tujuan komunikasi adalah per- tukaran informasi dan penyampaian makna suatu sistem sosial atau organisasi di satuan polisi pamong praja. Di dalam penulisan ini menggunakan variabel motivasi tujuannya un- tuk menimbulkan rangsangan, dorongan, atau- pun pembangkit tenaga pada pegawai satuan polisi pamong praja untuk berbuat dan beker- jasama secara optimal di dalam melaksanakan tugas sesuai dengan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan organisasi, sehingga dapat menumbuhkan kinerja yang efektif yang diharapkan akan mampu memperbaiki sistem manajemen yang kurang baik. Dari semua itu, tujuan utamanya untuk membantu memper- baiki kinerja pegawai satuan polisi pamong praja yang mungkin kurang maksimal. Pada akhirnya memberikan rasa kepercayaan yang kuat bagi para pegawai untuk berimprovisasi dalam menjalankan semua kegiatan yang men- jadi tanggung jawabnya. Dengan demikian, penelitian ini diberi judul: Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut. 1. Apakah kepemimpinan berpengaruh ter- hadap motivasi Pegawai Satuan Polisi Pa- mong Praja Kota Surabaya? 2. Apakah Komunikasi berpengaruh terhadap motivasi Pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya? 3. Apakah kepemimpinan berpengaruh ter- hadap Kinerja Pegawai Satuan Polisi Pa- mong Praja Kota Surabaya? 4. Apakah komunikasi berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya? 5. Apakah motivasi berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya? TINJAUAN PUSTAKA Kepemimpinan Definisi Kepemimpinan merupakan peri- laku kepemimpinan yang diperlihatkan pim- pinan dalam memimpin dan mengarahkan para karyawannya (Pramudyo, 2010). Menurut Nuraini (2002: 67), kepemimpinan merupa- kan kemampuan memengaruhi suatu kelom- pok ke arah pencapaian tujuan atau suatu usaha menggunakan suatu gaya memengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam mencapai tujuan. Dalam Pramudyo (2010), menyatakan bahwa dalam kenyataan- nya pemimpin dapat memengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas hidup kerja, dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Definisi yang sederhana menyatakan bah- wa kepemimpinan adalah kemampuan mem- peroleh konsensus dan keikutsertaan pada sa- saran bersama, melampaui syarat-syarat komu- nikasi, yang dicapai dengan pengalaman sum- bangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja. Jadi, pemimpin manager berusaha melampaui harapan perusahaan. Istilah-istilah pokok tertentu perlu diterapkan (Cribbin, 1982: 12) adalah sebagai berikut. Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono, Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) 81 Kemampuan memperoleh: kepemim- pinan merupakan proses pengaruh yang me- mungkinkan manager membuat orang-orang- nya bersedia mengerjakan apa yang harus di kerjakan, mengerjakan dengan baik apa yang harus di kerjakan. Tetapi proses memengaruhi ini jarang sepihak. Jika Anda memengaruhi orang Anda, mereka sebaliknya juga memenga- ruhi Anda. Ada kalanya mereka lebih berpenga- ruh terhadap perilaku Anda daripada daya Anda memengaruhi perilaku mereka (Cribbin, 1982: 12). Konsensus dan keikatan: Lenin pernah mengatakan bahwa 100 orang yang terorgani- sasikan, yang terikat kepada suatu sasaran, akan menundukkan 1000 orang. John Han- cock menyatakan bahwa ia lebih senang kepu- tusan yang 50% benar teknis dan kelompok menerimanya dengan 90% antusiasme, dari- pada suatu keputusan yang 90% benar secara teknis dan kelompok menerimanya hanya 50% antusiasme. Inilah sebabnya mengapa pemim- pin, jikalau mungkin, berusaha mendapatkan konsensus dan keikatan daripada kesewenang- wenangan keunggulan satu suara. Pada Sasaran Bersama: ini membedakan kepemimpinan dari manipulasi. Tujuan pe- mimpin dan bawahan ini tidak usah sama, dan jarang sama. Tetapi harus ada beberapa sasaran bersama, jika hendak bekerja sama. Samuel Gompers, seorang pendiri gerakan perburuhan Amerika, menggarisbawahi hal ini lebih 60 tahun yang lalu. Kepentingan majikan dan kepentingan pekerja sama sekali lain, jangan menyama- ratakan. Mereka bukannya mempunyai persa- maan kepentingan, tetapi mereka mempunyai kerjasama kepentingan, kerjasama kepenting- an yang sama juga ada di antara seorang pembikin dan pelanggannya yang terbaik (C. Crowther, 1992, 445). Pengertian Komunikasi Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komuni- kasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya ber- orientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komuni- kasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual. Argiris (1994) mengartikan komunikasi sebagai suatu proses di mana seseorang, kelompok, atau organisasi (sender) mengirimkan informasi (massage) pada orang lain, kelompok, atau organisasi (receiver). Proses komunikasi umumnya meng- ikuti beberapa tahapan. Pengirim pesan mengi- rimkan informasi pada penerima informasi melalui satu atau beberapa sarana komunikasi. Proses berlanjut di mana penerima mengirim- kan feedback atau umpan balik pada pengirim pesan awal. Dalam proses tersebut terdapat distorsi-distorsi yang mengganggu aliran infor- masi yang dikenal dengan noise. Dengan kata lain komunikasi oleh sebagian orang diartikan sebagai proses pemberitahuan dari satu pihak ke pihak lain, yang dapat berupa rencana- rencana, instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, saran-saran, dan sebagainya. Oleh karena itu, apabila orang telah mengirimkan surat, menem- pelkan pengumuman pada papan pengumum- an, penelepon, dan sebagainya, ia menganggap bahwa dirinya telah melaksanakan komunikasi. Berkat kemajuan teknologi yang begitu cepat, alat-alat komunikasi pun bertambah maju Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 82 sehingga interlokal antara Jakarta dan Surabaya, bahkan ke Amerika dapat dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat. Kemajuan alat-alat komunikasi demikian hebatnya. Dalam hu- bungan dengan kemajuan teknologi alat-alat komunikasi ini, ada orang yang menganggap bahwa suatu perusahaan yang telah mengguna- kan alat komunikasi yang mutakhir atau mo- dern telah melaksanakan komunikasi dengan baik. Motivasi Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman 2007: 73), menyebutkan bahwa motivasi seba- gai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap ada- nya tujuan. Dari pengertian Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting yaitu: Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia (wa- laupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, motivasi ditandai de- ngan munculnya, rasa/”feeling” yang relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi, dan emosi serta dapat menentukan tingkah- laku manusia, motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan. Motivasi berasal dari kata Latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Secara konkret motivasi dapat diberi batasan sebagai “Proses pemberian motif (penggerak) bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organi- sasi secara efisien” (Sarwoto, 1979: 135). “Motivasi adalah pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Pemberian motivasi dimaksudkan pemberian daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya” (Manullang, 1982: 150). Penggerakan (motivating) dapat didefi- nisikan: keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis “(Siagian, 1983: 152). Pentingnya motivasi karena motivasi ada- lah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena ma- najer/pimpinan membagikan pekerjaan kepada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan. KERANGKA KONSEPTUAL DAN METODE PENELITIAN Tugas-tugas yang diemban oleh pegawai satpol PP (satuan polisi pamong praja) dan adanya ancaman dan tekanan baik secara halus tersembunyi maupun terang-terangan dengan berbagai dalih, maka perlu adanya tindakan dan sikap pemimpin yang tangguh. Hal ini terjadi karena satpol PP adalah sebagai penegak peraturan daerah (perda) yang mencakup hu- bungan antara masyarakat. Selain itu, berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan peranan yang diemban, menem- patkan satuan polisi pamong praja untuk ber- hubungan dengan berbagai komponen masya- rakat yang beragam. Dengan demikian, diper- lukan kemampuan berkomunikasi yang baik bagi pegawainya. Kemampuan berkomunikasi mutlak diperlukan untuk menjembatani perbe- daan-perbedaan yang timbul dikarenakan ting- Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono, Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) 83 ginya tingkat heterogenitas masyarakat Indone- sia. Di sisi lain, hal ini mengindikasikan bahwa kinerja pegawai dapat dipandang dari dua faktor yaitu komunikasi dan kepemimpinan. Berdasarkan pada pertimbangan-pertim- bangan tersebut maka kerangka konseptual penelitian dapat digambarkan sebagai berikut. pribadi dengan alternatif jawaban yang tersedia. Hasil tanggapan yang diperoleh dari respon- den selanjutnya dianalisis sesuai dengan hipo- tesis yang ditetapkan dalam penelitian. ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEM- BAHASAN Hasil Penelitian Distribusi Jawaban Responden pada Variabel Kepemimpinan (X 1 ) Merupakan kemampuan memengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan atau suatu usaha menggunakan suatu gaya memengaruhi dan tidak memaksa untuk me- motivasi individu dalam mencapai tujuan. Me- nunjukkan bahwa responden menyetujui de- ngan pernyataan yang diberikan. Dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberi- kan jawaban setuju (skor 4) yaitu sebanyak 48% dan 28% menjawab sangat setuju (skor 5) bahwa pegawai satpol PP memiliki yang tinggi jika dilihat dari kecakapan dalam berko- munikasi, mempunyai pengambilan keputusan yang baik, perlakuan yang adil, dan ketela- danan yang baik. Distribusi Jawaban Responden pada Variabel Komunikasi (X 2 ) Merupakan suatu proses di mana sese- orang, kelompok, atau organisasi (sender) me- ngirimkan informasi (massage) pada orang lain, kelompok, atau organisasi (receiver). Me- nunjukkan bahwa responden menyetujui de- ngan pernyataan yang diberikan, dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberi- kan jawaban setuju (skor 4), yaitu sebanyak 46% dan 28% menjawab sangat setuju (skor Gambar 1 Bagan Kerangka Konseptual Objek Penelitian Populasi Objek penelitian ini adalah meliputi selu- ruh pegawai Satpol PP Kota Surabaya dengan jumlah populasi 500 karyawan dan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian populasi (N) atau sensus. Berdasarkan penentuan jumlah sampel ter- tentu dengan taraf kesalahan 10%, maka dari populasi sejumlah 500 diperoleh sampel 100 orang. Dengan metode ini maka jumlah sampel yang diambil adalah keseluruhan dari anggota populasi yaitu sebesar 100 orang. Metode ini digunakan karena jumlah populasinya sedikit. Selanjutnya, seluruh responden diberi angket dan diminta untuk mengisi daftar pertanyaan yang telah disediakan. Responden yang diberi kuesioner dapat memberikan tanggapan secara Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 84 5) bahwa pegawai satpol PP memiliki komuni- kasi yang baik jika dilihat dari kemudahan dalam berkomunikasi sehingga mudah dipa- hami, komunikasi yang lengkap (tidak diperlu- kan tambahan penjelasan/cukup memadai), komunikasi yang tepat waktu (sesuai kebutuh- an) dan keakraban (saling percaya). Distribusi Jawaban Responden pada Variabel Motivasi (Z) Merupakan terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, motivasi ditandai dengan mun- culnya, rasa/”feeling” yang relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi, dan emo- si serta dapat menentukan tingkah laku manu- sia, motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan. Menunjukkan bahwa responden menyetujui dengan pernyataan yang diberikan, dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberikan jawaban setuju (skor 4) yaitu sebanyak 42% dan 39% menjawab sangat setuju (skor 5) bahwa pegawai satpol PP me- miliki motivasi yang tinggi jika dilihat dari minat kerja pegawai, pemberian tanggung jawab, rasa kebersamaan yang tinggi, dan gaji yang diberikan. Distribusi Jawaban Responden pada Variabel Kinerja (Y) Merupakan seperangkat hasil usaha sese- orang yang dimodifikasi dengan kemampuan, sifat, atau karakteristik individu dan persepsi terhadap peran yang harus dilakukannya, atau dapat didefinisikan kinerja sebagai derajat sebe- rapa besar pencapaian atau pemenuhan tugas yang dibebankan kepada karyawan. Menun- jukkan bahwa responden menyetujui dengan pernyataan yang diberikan, dilihat dari jumlah responden yang cenderung memberikan ja- waban setuju (skor 4) yaitu sebanyak 42% dan 33% menjawab sangat setuju (skor 5) bahwa pegawai satpol PP memiliki kinerja yang tinggi jika dilihat dari satuan dari hasil kerja, kualitas hasil kerja, keterampilan dan kemampuan kerja, kreativitas kerja, dan kese- diaan untuk bekerjasama. Analisis Hasil Penelitian Uji Instrumen Validitas Dalam penelitian ini ketentuan yang digu- nakan adalah jika koefisien validitas e” 0,30 maka pertanyaan dinyatakan valid, sedangkan koefisien validitas < 0,30 maka pertanyaan dinyatakan tidak valid. 1. Uji Validitas Variabel Kepemimpinan (X 1 ) Ítem pernyataan dari variabel kepemimpinan (X 1 ) sebanyak empat butir dan hasil uji validitas pada variabel kepemimpinan (X 1 ) menunjukkan bahwa semua item pada variabel kepemimpinan adalah valid, karena nilai Corrected Item Total Cor relation (r-hitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. 2. Uji Validitas Variabel Komunikasi (X 2 ) Ítem pernyataan dari variabel komunikasi (X 2 ) sebanyak lima butir dan hasil uji validitas pada variabel komunikasi (X 2 ) menunjukkan bahwa semua item pada variabel komunikasi adalah valid, karena nilai Corrected Item Total Correlation (r- hitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. 3. Uji Validitas Variabel Motivasi (Z) Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono, Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) 85 Ítem pernyataan dari variabel motivasi (Z) sebanyak lima butir dan hasil uji validitas pada variabel motivasi (Z), menunjukkan bahwa semua item pada variabel motivasi adalah valid, karena nilai Corrected Item Total Correlation (r- hitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. 4. Uji Validitas Variabel Kinerja (Y) Ítem pernyataan dari variabel kinerja (Y) sebanyak 8 (delapan) butir dan hasil uji validitas pada variabel kinerja (Y) menunjukkan bahwa semua ítem pada variabel kinerja adalah valid, karena nilai Corrected Item Total Correlation (r- hitung) yang dihasilkan lebih dari 0,30. Uji Hipotesis Uji Hipotesis ke-1 Hipotesis ke-1 pada penelitian ini adalah “kepemimpinan diduga berpengaruh terhadap motivasi di Satpol PP Kota Surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 17 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 2,192 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,031 sehingga kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi. Uji Hipotesis ke-2 Hipotesis ke-2 pada penelitian ini adalah “komunikasi di duga berpengaruh terhadap motivasi di SATPOL PP Surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 17 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 3,585 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,001 sehingga komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap motivasi. Uji Hipotesis ke-3 Hipotesis ke-3 pada penelitian ini adalah “motivasi diduga berpengaruh terhadap kinerja di Satpol PP Surabaya.”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 22 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 1,996 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,049 sehingga motivasi berpengaruh terhadap kinerja. Uji Hipotesis ke-4 Hipotesis ke-4 pada penelitian ini adalah “kepemimpinan diduga berpengaruh terhadap kinerja di SATPOL PP Surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 22 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 3,054 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003, sehingga kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Uji Hipotesis ke-5 Hipotesis ke-5 pada penelitian ini adalah “komunikasi diduga berpengaruh terhadap kinerja di SATPOL PP Kota Surabaya”, terbukti kebenarannya, karena hasil uji t pada tabel 22 menunjukkan bahwa nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 4,332 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003 sehingga komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 86 PEMBAHASAN Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Motivasi dan Kinerja di SATPOL PP Kota Surabaya Tugas-tugas yang diemban oleh pegawai Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) Kota Surabaya dan adanya ancaman dan tekanan baik secara halus tersembunyi maupun terang- terangan dengan berbagai dalih, maka perlu adanya tindakan dan sikap pemimpin yang tangguh. Hal ini terjadi karena satpol PP adalah sebagai penegak peraturan daerah (perda) yang mencakup hubungan antara masyarakat. Sema- kin baik kepemimpinan maka semakin tinggi motivasi kerja pegawai dan kinerjanya. Sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa kepemim- pinan memiliki pengaruh langsung yang signi- fikan terhadap motivasi dan kinerja, terbukti dari hasil uji t sebagai berikut. 1. Nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 2,192 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,031 maka kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan ter- hadap motivasi, sehingga hipotesis ke-1 “kepemimpinan diduga berpengaruh terha- dap motivasi di Satpol PP Surabaya”, ter- bukti kebenarannya. 2. Nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 3,054 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003, maka kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terha- dap kinerja, sehingga hipotesis ke-4 “kepe- mimpinan diduga berpengaruh terhadap kinerja di Satpol PP Surabaya”, terbukti kebenarannya. Pengaruh Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja di SATPOL PP Surabaya Berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan peranan yang diemban, menempatkan satuan polisi pamong praja untuk berhubungan de- ngan berbagai komponen masyarakat yang beragam. Dengan demikian diperlukan kemam- puan berkomunikasi yang baik bagi pegawai- nya. Kemampuan berkomunikasi mutlak diper- lukan untuk menjembatani perbedaan-perbe- daan yang timbul dikarenakan tingginya tingkat heterogenitas masyarakat Indonesia. Semakin baik kualitas komunikasi maka semakin tinggi motivasi kerja pegawai dan kinerjanya. Sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa komunikasi memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap motivasi dan kinerja, terbukti dari hasil uji t sebagai berikut. 1. Nilai t hitung yang dihasilkan sebesar 3,585 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,001, maka komunikasi se- cara parsial berpengaruh signifikan terha- dap motivasi, sehingga hipotesis ke-2 “ko- munikasi berpengaruh terhadap motivasi di Satpol PP Surabaya”, terbukti kebenar- annya. 2. Nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 4,332 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,003 maka komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap ki- nerja, sehingga hipotesis ke-5 pada peneli- tian ini adalah “komunikasi berpengaruh terhadap kinerja di Satpol PP Surabaya”, terbukti kebenarannya. Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja di Satpol PP Surabaya Motivasi pada penelitian ini dipengaruhi oleh kepemimpinan dan komunikasi, semakin baik kepemimpinan atasan dan komunikasi yang berkualitas, akan berdampak pada pe- ningkatan motivasi pegawai Satpol PP Sura- baya, dan tingginya motivasi kerja ini akan Muhammad Rodhiyallah, Amiartuti Kusmaningtyas, Hendro Tjahjono, Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai (Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya) 87 berdampak nyata pada kinerjanya. Hal ini terbukti dari nilai t-hitung yang dihasilkan sebesar 1,996 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,049 maka motivasi berpengaruh terhadap kinerja, sehingga hipote- sis ke-3 “Motivasi diduga berpengaruh terha- dap kinerja di Satpol PP Surabaya.”, terbukti kebenarannya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut. 1. Kepemimpinan atasan dapat berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan motivasi di Satpol PP Kota Surabaya. 2. Komunikasi yang berkualitas atasan dapat memberikan pengaruh secara signifikan ter- hadap peningkatan motivasi di Satpol PP Kota Surabaya. 3. Motivasi pegawai yang tinggi dapat membe- rikan pengaruh terhadap peningkatan kinerja di Satpol PP Kota Surabaya. 4. Kepemimpinan atasan dapat memberikan pengaruh secara signifikan terhadap pe- ningkatan kinerja di Satpol PP Surabaya. 5. Komunikasi yang berkualitas atasan dapat memberikan pengaruh secara signifikan ter- hadap peningkatan kinerja di Satpol PP Surabaya. SARAN Berdasarkan kesimpulan dan pembahasan pada penelitian ini maka beberapa saran yang dapat diambil adalah sebagai berikut. 1. Bagi Satpol PP Kota Surabaya, senantiasa tetap mempertahankan kepemimpinan dan komunikasi yang sudah berjalan dengan baik sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai. 2. Bagi Satpol PP Kota Surabaya, senantiasa tetap mempertahankan dan meningkatkan motivasi dan kinerja yang sudah ada, kare- na tugas yang diemban cukup berat. 3. Bagi penelitian yang akan datang, hendak- nya memperluas jangkauan populasi tidak hanya di Satpol PP Kota Surabaya saja. DAFTAR PUSTAKA Azwar, Saifuddin. 1997. Reliabilitas dan Va- liditas, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Pusta- ka Pelajar. Ghozali, Imam. 2002. Aplikasi Analisis Multi- variate dengan Program SPSS, Edisi II. Gaspersz, Vincent. 1991. Ekonometrika Te- rapan. Bandung: Penerbit Tarsito. Penerbit Badan Penerbit Universitas Dipone- goro, Semarang. http://adiprakosa.blogspot.com/2007/12/teori- komunikasi-organisasi.html http://kata-edu.blogspot.com/2013/01/penger- tian-motivasi-menurut-para ahli.html Hair, J.F.et al. 1998. Multivariable Data Ana- lysis, fifth Edition, Prentice Hall, Interna- sional, Inc., New Jersey. http://amirlahjeni.wordpress.com/2012/03/30/ tujuan-komunikasi/ Sarwono. 2007. Analisis Jalur untuk Riset Bisnis dengan SPSS. Yogyakarta: Penerbit Andi. Sumarsono. 2004. Metode Penelitian Akun- tansi. Surabaya: Penerbit UPN “Veteran”. Sugiyono. 2002. Metodologi Penelitian Bis- nis. Cetakan 4. Penerbit Alfabeta. Ban- dung. Sekaran, Uma. 1992. Research Methods for Business: A Skill Building Approach, Business and Finance Journal, Volume 2, No. 1, March 2017 88 Second Edition. New York: John Willey & Sons, Inc. Singarimbun, Masri and Sofyan Efendi. 1995. Metode Penelitian Survey. PPSK. Yogya- karta: UGM. Solimun. 2002. Multivariate Analysis Struc- tural Equation Modelling (SEM) Lisrel and Amos. Malang: Fakultas MIPA Uni- versitas Brawijaya. Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 2000. Prinsip dan Prosedur Statistika. Penterjemah Bambang Sumantri. Jakarta: Gramedia Pustaka. Sugiyono. 2002. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Suryono, Agus. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Etika dan Standar Profe- sional Sektor Publik. Malang: Universi- tas Brawijaya Press. Wirawan, I.B. 2012. Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kencana Prena- da Media Group. Wulansari, Dewi. 2009. Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung: Refika Aditama.