00 Atribut.pmd Fesa Putra Kristianto & Bobby O.P. Soepangkat, Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban 8989 Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban Fesa Putra Kristianto, Bobby O.P. Soepangkat Program Pascasarjana Magister Manajemen Teknologi ITS Bidang Keahlian Manajemen Industri e-mail: pputra139@gmail.com, bops_1994@me.its.ac.id Abstract: PT X Tuban Plant has four plants (unit), namely Tuban I, Tuban II, Tuban III and Tuban IV. Each unit plant has three sub units, i.e., Crusher Operations Sub-Unit, Raw Mill, Kiln and Coal Mill (RKC) Sub-Unit and Finish Mill Sub-Unit. RKC 3 Sub-Unit in Tuban III has the highest number of equipment downtime and production loss. Therefore, it was necessary to optimize the time interval of preventive maintenance ( ) and total labor force as part of the company maintenance policy, which would also fulfill the required reliability and availability of RKC 3 Sub-Unit. There were two steps in determining T p optimum. The first step was to obtain the best distribution of the time between failures (TBF) and time to repair (TTR). The next step was to iterate the operating time (T i ) and T p to determine the minimum preventive maintenance cost rate, reliability and maintainability. This iteration was applied to sub-units of RKC 3 that possesses a series system. T p at the lowest rate of maintenance costs was the optimum T p . The optimum T p for RKC 3 Sub-Unit is 3743,28 hour. The preventive maintenance cost rate for optimum T p is Rp33.100/hour and the reliability and availability of sub unit are 96,7% and 99,86% respectively.Keywords: reliability, availability, pre- ventive maintenance cost rate, and preventive maintenance. Keywords: keandalan, ketersediaan, laju biaya pemeliharaan pencegahan PENDAHULUAN PT X adalah perusahaan pembuat semen terbesar di Indonesia. Proses produksi di PT X menggunakan proses produksi kontinu. Setiap industri yang beroperasi secara kontinu harus memelihara peralatan-peralatan produksinya secara efektif agar waktu operasi pabrik dapat mendekati bahkan mencapai kapasitas rancang- annya (Nguyen, 2008). Kapasitas produksi PT X mencapai 39.452 ton pe hari, apabila PT X kehilangan waktu produksi akan menyebabkan peningkatan oppor tunity loss sebesar Rp 821.917.808,00 per jam (Annual Report PT X, 2015). PT X Pabrik Tuban memiliki empat unit plant, yaitu Unit Tuban I, Unit Tuban II, Unit Tuban III, dan Unit Tuban IV. Semua unit plant di PT X Pabrik Tuban menggunakan proses kering untuk memproduksi semen. Skema alur proses pembuatan semen di PT X ditunjukkan oleh Gambar 1. Proses pembuatan semen me- merlukan bahan baku utama, bahan baku koreksi 1 dan bahan baku koreksi 2. Bahan baku utama yang digunakan adalah batu kapur (lime stone) dan tanah liat (clay). Bahan baku koreksi 1 yaitu copper slag dan pasir silika. Bahan baku koreksi 2 yaitu gypsum (Duda, 1985). Satu unit plant di PT X Pabrik Tuban tersusun oleh tiga sub-unit, yaitu Sub-Unit Ope- rasi Crusher, Sub-Unit Raw Mill, Kiln dan Coal Mill (RKC) dan Sub-Unit Finish Mill. Proses produksi semen di PT X Pabrik Tuban memiliki dua penyangga produksi. Penyangga produksi yang pertama adalah berada di antara Sub-Unit Operasi Crusher dan Sub-Unit RKC dan yang kedua berada di antara Sub-Unit RKC dan Sub- Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 90 Unit Finish Mill. Dengan adanya penyangga produksi di masing-masing unit maka produksi semen tidak sepenuhnya kontinu. Pemilihan Sub- Unit RKC sebagai objek penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa Sub-Unit RKC adalah unit di mana terdapat reaksi kimia pembuatan semen dan memiliki kerugian terbesar akibat emergency downtime. Setiap unit plant di PT X pabrik Tuban memiliki satu Sub-Unit RKC sehingga secara keseluruhan terdapat empat Sub-Unit RKC, yaitu RKC 1, RKC 2, RKC 3 dan RKC 4. Penelitian ini hanya menggunakan tiga Sub-Unit tanpa RKC 4 dikarenakan RKC 4 baru beroperasi pada tahun 2013. Ketiga Sub-Unit ini mempunyai rangkaian alat yang sama akan tetapi plant yang berbeda sehingga dilakukan pembandingan terhadap data frekuensi kegagalan, jumlah down time, biaya pemeliharaan dan kerugian produksi. Tabel 1 menunjukkan pembandingan dari ketiga Sub-Unit RKC untuk periode bulan Januari 2010 hingga bulan Juli 2016. Dari hasil pembandingan, jumlah down time dan biaya terbesar terdapat di RKC 3 sehingga RKC 3 dipilih sebagai objek penelitian. Sejauh ini, ada beberapa metode penentuan interval waktu pemeliharaan pencegahan yang sudah diketahui dan diimplementasikan. Salah satunya adalah dengan melakukan optimasi in- terval waktu pemeliharaan pencegahan (Jardine, 1970). M. Mahdavi (2008) melakukan penelitian untuk menentukan kebijakan interval penggan- tian komponen yang paling optimal dengan meng- gunakan model keputusan sederhana untuk me- maksimalkan keandalan sistem. Rakhmad (2011) melakukan iterasi T i dan T p untuk meningkatkan Gambar 1 Diagram Alir Proses Produksi Semen PT X No. Sub-Unit Frekuensi Kegagalan Jumlah Down Time (Jam) Biaya Pemeliharaan Kerugian Produksi 1 RKC 1 371 2.329 Rp 326.061.687.094 Rp 213.121.288.800 2 RKC 2 319 2.199 Rp 284.612.481.697 Rp 211.441.245.400 3 RKC 3 375 2.984 Rp 363.616.357.570 Rp 215.169.248.000 Tabel 1 Frekuensi Kegagalan, Jumlah Down Time, Biaya Pemeliharaan dan Kerugian Produksi dari Bulan Januari 2010 sampai dengan Bulan Juli 2016 di Sub-Unit RKC Sumber: Data down time, biaya produksi dan biaya pemeliharaan dari bulan Januari 2010 sampai dengan bulan Juli 2016 Fesa Putra Kristianto & Bobby O.P. Soepangkat, Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban 91 keandalan sistem minimum hingga 74% dan penghematan biaya pemeliharaan juga dapat ditingkatkan menjadi 139,9 USD/hari dari 145,7 USD/hari. Sutanto (2011) melakukan optimasi laju biaya pemeliharaan pencegahan sehingga didapatkan penghematan laju biaya pemeliharaan pencegahan pada packer PT ISM Bogasari sebe- sar 14,6%. Dengan mengacu pada hasil penelitian ter- dahulu, maka dilakukan penentuan interval wak- tu pemeliharaan pencegahan yang dapat memi- nimumkan laju biaya pemeliharaan pencegahan serta keandalan dan ketersediaan yang ditetap- kan oleh perusahaan. KAJIAN PUSTAKA Fungsi Keandalan Keandalan didefinisikan sebagai probabilitas dari suatu komponen atau sistem untuk dapat melakukan fungsi yang telah ditetapkan menurut konteks pengoperasian (Tsang dan Jardine, 2005), lingkungan dan periode waktu yang telah ditentukan. Parameter distribusi, fungsi keandal- an, mean time between failure (MTBF), dan mean time to repair (MTTR) terhadap distribusi weibull 2 dan weibull 3 (Ebeling, 1997) ditun- jukkan pada Tabel 2. Pemodelan Sistem Seri Peralatan yang dimodelkan dengan sistem seri dapat menjalankan fungsinya jika semua komponen dalam sistem tersebut beroperasi. Apabila salah satu komponen dalam sistem tidak beroperasi akibat kegagalan, keseluruhan sistem akan mengalami kegagalan. Blok diagram dari tiga komponen seri pertama, kedua, dan berikut- nya ditunjukkan pada Gambar 2. Macam Distribusi Weibull 2 Weibull 3 Parameter Distribusi η = parameter skala (scale parameter), η > 0 β = parameter bentuk (shape parameter), β > 0 η = parameter skala (scale parameter), η > 0 β = parameter bentuk (shape parameter) γ = parameter lokasi (location parameter) Keandalan MTBF MTBF = )1 1 ( +Γ β η Γ = fungsi gamma Γ = fungsi gamma MTTR Γ = fungsi gamma Γ = fungsi gamma Tabel 2 Fungsi Padat Peluang, Keandalan, MTBF, dan MTTR Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 92 5. Jika T i < T p , maka sub sub sistem mengalami kerusakan atau T i = T fi , sehingga harus dilakukan perbaikan selama T cmi . 6. Pengulangan langkah 3 sampai 5 sesuai de- ngan jumlah total run yang digunakan. 7. Pengulangan langkah 2 sampai 6 dengan nilai T p yang berbeda-beda. 8. Pembuatan kurva laju biaya pemeliharaan dan T p seperti yang diilustrasikan pada Gam- bar 3. Biaya pemeliharaan didapatkan dengan per- samaan berikut. �� = � dengan Gambar 2 Model Sistem Seri Optimasi Interval Waktu Pemeliharaan Pence- gahan Keandalan dan maintainability alat atau sistem dapat diiterasi dengan menggunakan ran- dom number yang dihasilkan dari fungsi RAND () di perangkat lunak Microsoft Excel. Fitur ini dapat digunakan untuk menghasilkan bilangan acak antara 0 dan 1. Langkah iterasi T i dan T p pada sistem seri adalah sebagai berikut (Laggoune dkk., 2009): 1. Penetapan parameter-parameter keandalan yang akan digunakan. 2. Penetapan nilai pertama dari T p . 3. Penentuan dua kelompok random number, Rand 1 () untuk iterasi T i dan Rand 2 () untuk iterasi T cmi . 4. Jika T i > T p , maka sub sub sistem tidak mengalami kerusakan atau T i = T pmi , namun tetap dilakukan pemeliharaan pencegahan selama T pmi . i = Subskrip (i) untuk sub- sistem = Interval waktu pemeliharaan pencegahan sub-sistem (i) r = Subskrip (r) untuk run = Lama perbaikan sub-sistem (i) run (i) N = Total percobaan = Lama operasi sub-sistem (i) g = Superskrip (g), indikator gagal = s = Superskrip (s). indikator sukses = Keandalan sub-sistem = Biaya pemeliharaan pencegahan sub-unit (i) = Ketersediaan sub-sistem = Biaya perbaikan sub-unit (i) = Laju biaya pemeliharaan sub sistem (i) = Waktu hidup sub-sistem (i) pada run ke (r) ����� = Biaya loss oppotunity Gambar 3 Alur Iterasi dan Secara Berurutan Sesuai dengan Pola Pemeliharaan Pencegahan Multi-Komponen (Giani, 2006) Fesa Putra Kristianto & Bobby O.P. Soepangkat, Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban 93 START 1) Jumlah N =1000 2) Tentukan interval pemeliharaan pencegahan (Tp) 3) Cpm dan Ccm (komponen) 4) Jumlah tenaga kerjaParameter -parameter keandalan dan maintainability komponen. Generate bilangan Acak (Random Number) 1) F(t) = Randi() 2) TBF(i) = fTBF(Randi()) 3) Tops(F) = If (TBF < Tp, Tf, Tp); → gagal 4) Tops(S) = If (TBF > Tp, Ts, f(Randj()); → sukses 5) Tcm = fTTR (Randj()) 6) Tpm = MTTR x 0,25 7) TS = If (TBF = Tops (S)) 8) Tf = If (TBF = Tops (F)) 9) TO pr = Tf + Ts 10) Tjam = Topr + Tpm + Tcm 11) R (Tp) = R(Tp) MTBF terkecil dari sub-sub unit 12) Ketersediaan = TO pr / Tjam Kerjakan sebanyak N setiap siklus di atas Catatan: Tops = lama waktu beroperasi , F=gagal, S=sukses Tcm = lama waktu pemeliharaan perbaikan Tpm = lama waktu pemeliharaan pencegahan Biaya pemeliharaan pada setiap Tp C(Tpi) = (Ccm x Jumlah gagal + CpM x Jumlah sukses + (Tpm + Tcm x biaya tenaga kerja /jam) + (Tcm +Tpm x loss opportunity /Jam)) Tjam Pilih Min dari semua Tp yang dilakukan Untuk Tpi berikut Tp lain 1) Plot C(Tp) dan Tp, R dan Tp dan A dan Tp 2) Tentukan Tp yang mendapatkan C(Tp) minimal STOP No Yes Gambar 4 Diagram Alir Iterasi T i dan T p untuk Sub-Unit Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 94 METODOLOGI PENELITIAN Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk menentukan interval waktu pemeliharaan pencegahan dengan laju biaya mi- nimum adalah sebagai berikut. 1. Tahap yang pertama adalah menentukan Sub- Unit penyusun Sub-Unit RKC 3, kemudian membuat diagram Pareto untuk menentukan komponen-komponen penyebab kegagalan dari Sub-Unit penyusun Sub-Unit RKC 3. 2. Tahap kedua adalah melakukan ANAVA untuk data waktu antar kegagalan atau time between failure (TBF) dan waktu perbaikan atau time to repair (TTR). Tahap ini ber- tujuan untuk memperoleh jumlah data TBF dan TTR setiap Sub-Sub-Unit masing-masing sebanyak lebih dari 20 data dan berasal dari populasi yang sama. 3. Tahap ketiga adalah tahap penilaian keandal- an. Pada tahap ini dilakukan penentuan dis- tribusi dan parameter dari data waktu antar- kegagalan dan waktu perbaikan yang telah didapatkan. Selanjutnya dapat ditentukan fungsi padat peluang waktu antar-kegagalan, fungsi keandalan, fungsi padat peluang waktu perbaikan dan fungsi maintainability. 4. Tahap keempat adalah tahap penentuan inter- val waktu pemeliharaan pencegahan dengan menggunakan iterasi T i dan T p . Gambar 4 menunjukkan diagram alir iterasi T i dan T p . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sub-Unit RKC 3 disusun oleh 15 Sub-Unit yang tersusun secara seri seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Gambar 5 Sub-Unit Peralatan Penyusun Sub-Unit RKC 3 Untuk menentukan komponen penyusun sub-unit, maka dibuat diagram Pareto dari fre- kuensi kegagalan komponen sub-unit. Dari hasil diagram Pareto tersebut diambil 20% komponen penyebab kegagalan yang mengakibatkan 80% kegagalan sub-unit. Gambar 6 menunjukkan dia- gram Pareto dari komponen sub-unit reclaimer. Gambar 6 Diagram Pareto Komponen Sub-Unit Reclaimer Dari Gambar 6 didapatkan tiga komponen yang menyebabkan 80% kegagalan sub-unit. Komponen-komponen tersebut adalah harraw dengan frekuensi kegagalan sebanyak 24 kali, roll dengan frekuensi kegagalan sebanyak 20 Fesa Putra Kristianto & Bobby O.P. Soepangkat, Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban 95 kali dan rel chain dengan frekuensi kegagalan sebanyak 7 kali. Langkah yang sama dilakukan untuk 14 sub-unit lainnya. Tabel 3 menunjukkan hasil diagram Pareto untuk menentukan kom- ponen penyusun Sub-Sub-Unit. Tabel 3 Hasil Diagram Pareto untuk Penentuan Komponen-Komponen Penyusun Sub-Sub-Unit Penggabungan data TBF dan TTR dari RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 dilakukan berdasarkan hasil ANAVA. Apabila data TBF dan TTR dari RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 dapat dianggap berasal dari populasi yang sama, maka dapat dilakukan penggabungan data sehingga jumlah data yang akan ditentukan distribusi dan para- meternya menggunakan perangkat lunak Weibull ++6 bisa lebih dari 20 data. Hipotesis dari ANAVA adalah: H o : . H 1 : Paling sedikit ada satu yang berbeda. Pada Tabel 4 ditampilkan hasil ANAVA Sub-Unit RKC dari data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan komponen sub-unit dengan tingkat signifikansi 5%. Tabel 4 Hasil ANAVA Sub-Unit RKC dari Data Waktu Antar Kegagalan dan Waktu Perbaikan Komponen Sub-Unit dengan Tingkat Signifikansi 5% Setelah didapatkan komponen-komponen penyebab kegagalan dari sub-unit, maka dapat dihitung TBF dan TTR dari masing-masing komponen sub-unit. Akan tetapi sub unit RKC 3 hanya memiliki 7 sampai 9 data untuk data TBF dan TTR komponen sub-unit. Oleh karena itu, dilakukan analisis variansi (ANAVA) untuk menggabungkan data TBF dan TTR dari RKC 1, RKC 2 dan RKC 3. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut. 1. RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 memiliki rang- kaian alat yang sama. 2. Alat dan komponen yang dimiliki oleh RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 dibeli dari pemasok yang sama. 3. RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 memiliki waktu awal operasi yang sama. 4. RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 memiliki perlakuan pemeliharaan dan operasional yang sama. No. Sub-Unit Komponen No. Sub-Unit Komponen 1 Reclaimer Harraw 9 Preheater Cyclone Roll Calciner Rel Chain 10 Timbangan 2 V-belt 2 Raw Mill Roll Kabel Blader 11 Timbangan 1 V-belt Support Scaveengine Kabel 3 Triple Gate Pipa Konektor 12 Coal Mill Roll 4 Bucket Elevator Bucket Hydrolic Boot Level 13 Clinker Cooler Balluf 5 Rotary Feeder Rantai Hydrolic 6 Fan 6 Bearing Bullnose Impeller 14 Crusher 1 Hammer 7 Fan 1 Bearing Bearing Impeller 15 Crusher 2 Hammer Kabel Kontrol Bearing 8 Kiln Motor Drive Tyre Superbolt Burner Sumber: Hasil pengolahan dengan menggunakan pe- rangkat lunak Minitab No. Sub-Unit Komponen HASIL ANAVA P-Value Kesimpulan TBF TTR 1 Reclaimer Harraw 0,77 0,92 Gagal menolak Ho Roll 0,502 0,12 Gagal menolak Ho Rel Chain 0,24 0,17 Gagal menolak Ho 2 Raw Mill Roll 0,91 0,43 Gagal menolak Ho Blader 0,74 0,36 Gagal menolak Ho Support Scaveengine 0,067 0,85 Gagal menolak Ho 3 Triple Gate Pipa Konektor 0,074 0,72 Gagal menolak Ho 4 Bucket Elevator Bucket 0,601 0,84 Gagal menolak Ho Boot Level 0,18 0,81 Gagal menolak Ho 5 Rotary Feeder Rantai 0,89 0,22 Gagal menolak Ho 6 Fan 6 Bearing 0,57 0,57 Gagal menolak Ho Impeller 0,48 0,37 Gagal menolak Ho 7 Fan 1 Bearing 0,83 0,97 Gagal menolak Ho Impeller 0,12 0,39 Gagal menolak Ho Kabel Kontrol 0,54 0,59 Gagal menolak Ho 8 Kiln Motor Drive 0,79 0,85 Gagal menolak Ho Tyre 0,37 0,5 Gagal menolak Ho Superbolt 0,91 0,78 Gagal menolak Ho Burner 0,96 0,054 Gagal menolak Ho 9 Preheater Cyclone 0,58 0,409 Gagal menolak Ho Calciner 0,43 0,69 Gagal menolak Ho 10 Timbangan 2 V-belt 0,85 0,059 Gagal menolak Ho Kabel 0,52 0,12 Gagal menolak Ho 11 Timbangan 1 V-belt 0,603 0,056 Gagal menolak Ho Kabel 0,71 0,055 Gagal menolak Ho 12 Coal Mill Roll 0,56 0,46 Gagal menolak Ho Hydrolic 0,44 0,34 Gagal menolak Ho 13 Clinker Cooler Balluf 0,24 0,053 Gagal menolak Ho Hydrolic 0,98 0,57 Gagal menolak Ho Bullnose 0,14 0,76 Gagal menolak Ho 14 Crusher 1 Hammer 0,055 0,14 Gagal menolak Ho Bearing 0,15 0,87 Gagal menolak Ho 15 Crusher 2 Hammer 0,12 0,84 Gagal menolak Ho Bearing 0,93 0,96 Gagal menolak Ho Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 96 Hasil ANAVA dari Sub-Unit RKC yang ditunjukkan pada Tabel 4 disimpulkan bahwa dengan tingkat signifikansi 5% Sub-Unit RKC 1, RKC 2 dan RKC 3 dapat dianggap berasal dari populasi yang sama. Setelah ditambahkan data dari RKC 1, RKC 2 dan RKC 3, jumlah data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan komponen sub-unit menjadi sebanyak 7–24 data. Karena jumlah data masih ada yang kurang dari 20 data, maka dilakukan lagi ANAVA untuk komponen-komponen dari sub-unit. Jika komponen-komponen penyusun sub unit dianggap berasal dari populasi yang sama, maka data dari komponen-komponen sub- unit dapat digabungkan, sehingga jumlah data menjadi lebih dari 20 data untuk satu sub-unit. Hipotesis dari ANAVA adalah: H o : Semua rata-rata dari komponen-komponen penyusun sub-unit adalah sama. H 1 : Paling sedikit ada satu rata-rata dari kompo- nen-komponen penyusun sub-unit yang ber- beda. Pada Tabel 5 ditampilkan hasil ANAVA dari data waktu antar kegagalan dan waktu perbaikan dari komponen-komponen sub-unit dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil ANAVA dari komponen-komponen Sub-Unit yang ditunjukkan pada Tabel 5 disimpul- kan bahwa dengan tingkat signifikansi 5% komponen-komponen penyusun sub-unit dapat dianggap berasal dari populasi yang sama. Data TBF dan TTR dari sub-unit masing- masing berjumlah lebih dari 20 data, sehingga dapat ditentukan distribusi kegagalan dan main- tainability serta parameter keandalan dan main- tainability. Penentuan ini dilakukan dengan meng- gunakan perangkat lunak Weibull++6. Tabel 6 menampilkan parameter keandalan untuk sub- unit. Tabel 6 Parameter Keandalan Sub-Unit No. Sub-Unit ANAVA P-Value Kesimpulan TBF TTR 1 Raw Mill 0,95 0,73 Gagal menolak Ho 2 Reclaimer 0,68 0,73 Gagal menolak Ho 3 Triple Gate - - Penyebab kegagalannya hanya satu komponen 4 Bucket elevator 0,67 0,88 Gagal menolak Ho 5 Rotary Feeder - - Penyebab kegagalannya hanya satu komponen 6 Fan 6 0,49 0,34 Gagal menolak Ho 7 Fan 1 0,97 0,73 Gagal menolak Ho 8 Kiln 0,63 0,81 Gagal menolak Ho 9 Preheater 0,95 0,83 Gagal menolak Ho 10 Timbangan 2 0,83 0,95 Gagal menolak Ho 11 Timbangan 1 0,88 0,11 Gagal menolak Ho 12 Coal Mill 0,73 0,75 Gagal menolak Ho 13 Clinker Cooler 0,98 0,45 Gagal menolak Ho 14 Crusher 1 0,5 0,406 Gagal menolak Ho 15 Crusher 2 0,96 0,91 Gagal menolak Ho Tabel 5 ANAVA dari Data Waktu Antar Kegagalan dan Waktu Perbaikan Komponen-komponen Sub- Sub-Unit dengan Tingkat Signifikansi 5% Sumber: Hasil pengolahan dengan menggunakan perang- kat lunak Minitab Sub-Unit MTBF Distribusi Beta (β) Eta (η) Gamma (ϒ) Reclaimer 6587,03 Weibull 3 1,7085 1782,9106 4996,77 Raw Mill 11378,8 Weibull 3 2,1387 4332,05 7542,28 Triple Gate 6352,4 Weibull 3 1,6809 764,512 5669,725 Bucket Elevator 10784,6 Weibull 3 1,633 2793,24 8284,715 Rotary Feeder 11085,4 Weibull 3 1,9704 1341,33 9896,325 Fan 6 11005 Weibull 3 1,5981 3529,49 7840,2 Fan 1 10598,3 Weibull 3 1,8346 4644,16 6471,9 Kiln 6205,92 Weibull 3 1,5701 2300,86 4139,29 Preheater 6106,9 Weibull 3 2,1872 3550,97 2962,12 Timbangan 2 10263,9 Weibull 3 2,035 4936,15 5890,6 Coal Mill 10656,7 Weibull 3 1,4438 1986,48 8854,42 Timbangan 1 11879,5 Weibull 3 1,137 3025,13 8990,72 Clinker Cooler 10245,74 Weibull 3 2,2016 3995,46 6707,25 Crusher 1 10056,17 Weibull 3 2,014 2726,15 7640,48 Crusher 2 10141,26 Weibull 3 1,9078 3034,34 7449,04 Sumber: Hasil pengolahan data dengan perangkat lunak Weibull++6 Iterasi T i dan T p menghasilkan T p optimum yang memiliki laju biaya pemeliharaan mini- mum, serta keandalan dan ketersediaan yang memenuhi persyaratan perusahaan untuk sub unit RKC 3. Gambar 7 sampai Gambar 8 menunjukkan pengaruh T p terhadap laju biaya pemeliharaan dan keandalan untuk sub unit RKC 3. Fesa Putra Kristianto & Bobby O.P. Soepangkat, Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban 97 Gambar 7 Pengaruh T p terhadap Laju Biaya Pemeliharaan Gambar 7 menunjukkan bahwa T p opti- mum adalah sebesar 3743,28 jam dengan laju biaya pemeliharaan pencegahan sebesar Rp 33.100 per jam. Rata-rata laju biaya pemeliha- raan sebelum dioptimasi adalah sebesar Rp 57.074 per jam, sehingga terjadi penurunan laju biaya pemeliharaan adalah sebesar 42%. dalan sub-unit meningkat sebesar 1,7% dari keandalan sub unit yang dipersyaratkan. KESIMPULAN Dari hasil iterasi T i dan T p , didapatkan T p optimum pada Sub-Unit RKC 3 adalah sebesar 3743,28 jam (155,97 hari), dengan laju biaya pemeliharaan pencegahan sebesar Rp33.100 per jam. Keandalan dan ketersediaan dari Sub-Unit RKC 3 adalah sebesar 96,7% dan 99,86%. REFERENSI Annual Report PT Semen Indonesia Tbk-Gresik, Tahun 2015. Duda, W.H., 1985. Cement Data Book. Bou- verlag GMBH. Wiesbadenund. Berlin. Ebeling, C.E. 1997. Reliability and Maintain- ability Engineering, International Edition. New York: McGraw-Hill. Giani, M. 2006. A Cost-based Optimization of Fiberboard Pressing Plant Using Monte Carlo Simulation (a reliability program), Queensland University of Technology, Australia, diunduh 1 Oktober 2010. Jardine, A.K.S. 1970. Operational Research in Maintenance. Manchester University Press ND. Laggoune, R., Chateauneuf, A., and Aissani, D. 2009. “Opportunistic Policy for Optimal Preventive Maintenance of Multi-Com- ponent System in Continues Operating Units.” Computer and Chemical Engineer- ing, Vol. 33, hal. 1499–1510. Nguyen, D.Q., Brammer, C., and Bagajewicz, M. 2008. “New Tool for the Evaluation of the Scheduling of Preventive Mainte- nance for Chemical Process Plants,” Ind. Gambar 8 Pengaruh T p terhadap Keandalan Gambar 8 menunjukkan bahwa keandalan sub unit RKC 3 pada T p optimum (3743,28 jam) sebesar 0,967 (96,7%). Hasil ini lebih besar daripada nilai dipersyaratkan, yaitu 95%. Kean- Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 98 Eng. Chem. Res., Vol. 49, hal. 1910– 1924. Sutanto E. 2011. Optimalisasi Interval Waktu Penggantian Komponen mesin Packer Tepung Terigu Kemasan 25 kg di PT X, Tesis tidak dipublikasikan. Surabaya: Pro- gram Studi Magister Manajemen Tekno- logi ITS. Tsang, H.C. dan Jardine, A.K. 2005. Mainte- nance, Replacement and Reliability. New York: CRC Press, CoRp.