00 Atribut.pmd Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 115115 Pemilihan Excavator Kelas 50 Ton untuk Usaha Pertambangan Sirtu Galian C Melalui Penerapan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Dany Irawan, Fuad Achmadi Magister Manajemen Teknologi, Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya e-mail: danyirawan81@yahoo.com Abstract: The selection process of excavator in mine workings of sand & gravel mine type C is one of important process, because in this process, mining industrialist wants an exact and suitable investment with necessary with applying the method and appropriate criteria. The enterprise hope can get the good profit with appropriate method in Excavator selection. The problem of this re- search is the plan of enterprise for add the capacity of production with buy the excavator 50 ton class as the main loading equipment 20 ton class, so need the study for measure the criteria in selection of excavator. The aim of this research is for help the company for having the appropriate take system and be able to use for the company in investment selection and make more easier to find out the most optimal aspect between the aspects in decision of excavator selection. The method that used as the analysis tool in this study is using AHP (analytical hierarchy process) method with using the comparing of criteria that fixed. From the result of the analysis and alternative decision of excavator about multi attribute, the first position is K excavator (34,4%), the second position is C excavator (33,4%), and the last position is D excavator (32,2%). Keywords: excavator, sand & gravel mining, AHP (analytical hierarchy process) PENDAHULUAN Pertambangan pasir batu (sand & gravel) atau yang lebih biasa disebut sirtu adalah salah satu jenis pertambangan yang masuk dalam go- longan C banyak dan tersebar di wilayah provinsi Jawa Timur. Peluang usaha pertambangan sirtu di wilayah provinsi Jawa Timur berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Hal ini selaras dengan berkembangnya pembangunan di provinsi ini yang meliputi pembangunan perumahan dan permukiman, infrastruktur jalan dan jembatan, pembangunan kantor, sarana pergudangan, serta berbagai macam infrastruktur lainnya sehingga kebutuhan akan komoditi sirtu meningkat dan bisnis di bidang ini mempunyai prospek yang cukup menjanjikan. PT XYZ adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan sirtu golongan C yang berdiri sejak tahun 1984 di Surabaya. PT XYZ memiliki konsesi lahan dan izin usaha pertambangan sirtu yang terletak di Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan Jawa Timur seluas 315,71 hektar. Sejak tahun 2011 dimulailah kegiatan pertambangan sirtu di daerah Pasuruan tersebut. Prospek dari usaha pertambangan sirtu yang terlihat bagus membuat perusahaan me- ngembangkan usahanya dengan menambah kapa- sitas produksi sirtu. Dalam 4 tahun terakhir, permintaan terhadap komoditi sirtu pada PT XYZ selalu meningkat, bahkan dalam 2 tahun terakhir volume produksi dan permintaan pasar tidak seimbang, yaitu lebih banyak permintaan dibanding dengan produksi sehingga PT XYZ banyak kehilangan pembeli dan potensi calon pembeli yang berpindah ke tempat lain. Apabila hal tersebut dibiarkan akan menimbulkan po- tensi kehilangan yang lebih besar dan kemung- kinan kehilangan pelanggan yang akan membeli Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 116 di tempat lain juga cukup besar. Pasar dari komoditi sirtu dalam 2 tahun terakhir lebih banyak digunakan dalam bidang properti, persiapan lahan untuk pembangunan infra- struktur dan jalan. PT XYZ berada di daerah kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan, yang terletak di lereng gunung Penanggungan adalah salah satu dari perusahaan yang sudah memiliki izin kuasa pertambangan (IUP) dan sudah me- ngantongi sertifikat Clear and Clean (CNC) dari Dirjen Pertambangan sehingga aman secara legalitas. Selain itu, secara geografis kawasan kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan tersebut memiliki letak yang sangat strategis, yaitu dekat dengan akses jalan tol yang menuju ke kota- kota besar dan berkembang seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan se- hingga memudahkan transportasinya. Untuk mendapatkan produksi seperti yang diharapkan dan memberikan pelayanan demi kepuasan pe- langgan maka peningkatan performance dari unit excavator sangat di perlukan. Dengan rata- rata umur unit yang sudah mencapai 14.000 jam kerja maka perlu dilakukan peremajaan unit alat berat terutama excavator. Di tahun 2015 produksi sirtu PT XYZ mencapai 2.728.047 bcm dan di tahun 2016 perusahaan mempunyai tar- get meningkatkan kapasitas produksi sampai dengan 5.000.000 bcm, hal ini dilakukan dengan melihat potensi market yang ada dan untuk bisa menyerap permintaan terhadap komoditi sirtu dan juga untuk mempertahankan pelanggan atau costumer yang sudah ada selama ini tidak ber- pindah ke tempat lain. Untuk menambah kapa- sitas produksi dan meningkatkan pelayanan ke- pada pelanggan, PT XYZ berencana melakukan investasi berupa penggantian alat berat excava- tor dari sebelumnya kelas 20 ton menjadi exca- vator baru kelas 50 ton agar mendapatkan hasil volume produksi dan performance yang diha- rapkan. Dengan adanya rencana penggantian unit tersebut, untuk unit kelas 20 ton sendiri apabila sudah tidak terpakai kemungkinan besar akan dijual. Izin kuasa pertambangan (IUP) berlaku 10 tahun dari sejak di terbitkan pada tahun 2011. Dengan rencana cadangan sirtu sekitar 75 juta bcm, dan dalam 5 tahun terakhir baru sekitar 15 juta bcm atau sekitar 20% yang terambil dari total cadangan sirtu, maka dengan adanya batasan waktu tersebut sehingga penting bagi perusahaan untuk lebih mengoptimalkan produksi. Salah satu cara untuk mengoptimalkan produksi adalah menambah kapasitas produksi dengan melakukan pergantian excavator dari kelas 20 ton menjadi 50 ton. Rencana penggantian alat berat ini mengan- dung risiko, salah satunya adalah munculnya biaya investasi dan operasional yang lebih tinggi. Biaya investasi peralatan pertambangan merupa- kan biaya yang mempunyai persentase cukup besar dari seluruh biaya operasional pertambang- an. Alat yang diperlukan adalah alat loading, yaitu alat penggaruk sirtu dan menaikkan ke dalam truck atau yang sering disebut excavator. Alat ini sangat vital dalam bisnis ini, karena sangat menentukan kecepatan dan produktivitas pertambangan, sehingga pemilihan unit yang se- suai baik dari sisi teknis seperti ketahanan, kualitas produk, cycle time, pemakaian fuel dan dari sisi nilai investasi sangat memengaruhi pro- ses pertambangan dan hasilnya. PT XYZ yang merupakan perusahaan perseorangan, selama ini dalam berinvestasi seperti memilih jenis dan merek alat berat lebih banyak mengandalkan insting dan pilihan dari direktur utama, bukan berdasarkan hasil diskusi dari berbagai pihak yang berkepentingan sehingga lebih bersifat subjektif. Hal ini berpotensi menimbulkan ma- salah di kemudian hari karena yang sudah dipu- tuskan untuk dipilih kadang tidak sesuai dengan kebutuhan atau spesifikasi. Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 117 Dalam penelitian ini akan dibahas bagai- mana memilih excavator agar investasi yang ditanamkan dapat berjalan tepat. Di dalam menentukan excavator diperlukan suatu metode yang dapat membantu perusahaan dalam meng- analisis dan mengevaluasi semua alternatif dari excavator yang akan dipilih. Untuk memper- mudah mencari titik optimal antara aspek-aspek yang terkandung pada keputusan pada pemilihan unit excavator sesuai dengan bobot prioritas yang ada, maka proses pemilihan lebih tepat menggunakan pendekatan analytical hierarchy process (AHP). Pemilihan menggunakan metode AHP ini dalam menentukan excavator di PT XYZ adalah karena metode AHP ini mudah dilakukan oleh perusahaan yang sedang berkem- bang. Kurangnya data kuantitatif yang mendu- kung proses pemilihan investasi di PT XYZ ini menjadi pertimbangan dalam memilih metode AHP tersebut karena metode ini lebih menon- jolkan data kualitatif dengan melihat pendapat dan sintesis dari berbagai sudut pandang respon- den yang berkompeten. Seperti di jelaskan sebe- lumnya bahwa PT XYZ belum memiliki penga- laman untuk melakukan investasi dan juga dalam operasional excavator kelas 50 ton sehingga data-data kuantitatif tidak lengkap. Selain itu, pertimbangan dalam melakukan investasi alat berat khususnya excavator PT XYZ melihat dari berbagai sisi dan sudut pandang, yaitu dari sisi biaya investasi, sisi operasional di lapangan serta perawatan dan pemeliharaan unit itu sen- diri juga menjadi pertimbangan yang diambil. Untuk unit excavator, setiap pabrikan hanya mengeluarkan 1 jenis produk di masing-masing kelas, yang berubah hanya seri keluarannya dari tahun ke tahun sehingga pemilihan excavator 50 ton tidak banyak pilihan dan harus dilakukan dengan cermat. KERANGKA TEORETIS Definisi Pertambangan Pertambangan adalah kegiatan untuk meng- optimalkan pemanfaatan sumber daya alam tam- bang (bahan galian) yang terdapat dalam bumi (Salim, 2009). Industri pertambangan adalah suatu industri di mana bahan galian mineral diproses dan dipisahkan dari material pengikut yang tidak diperlukan. Dalam industri mineral, proses untuk mendapatkan mineral-mineral yang ekonomis biasanya menggunakan metode eks- traksi, yaitu proses pemisahan mineral-mineral dari batuan terhadap mineral pengikut yang tidak diperlukan. Mineral-mineral yang tidak diperlukan akan menjadi limbah industri pertam- bangan dan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan pada pencemaran dan degradasi ling- kungan. Industri pertambangan sebagai industri hulu yang menghasilkan sumber daya mineral dan merupakan sumber bahan baku bagi industri hilir yang diperlukan oleh umat manusia di seluruh dunia (Salim, 2009). Sementara sumber daya mineral itu sendiri dapat diartikan sebagai sumber daya yang diperoleh dari hasil ekstraksi batuan-batuan yang ada di bumi. Pengelolaan Alat Gali Pertambangan Untuk melakukan pertambangan diperlukan alat-alat yang sesuai dan tepat untuk berbagai macam batuan. Pemilihan alat-alat yang akan dipakai tergantung dari faktor-faktor teknik (misalnya jenis dan lokasi batuan) dan ekonomis (misalnya, harga alat, biaya pembongkaran per- satuan volume, serta biaya pemeliharaan alat). Hal ini sangat penting, karena kesalahan dalam memilih alat terutama jenis dan kemampuannya dapat mengakibatkan kesalahan-kesalahan lain dan bahkan kerugian materi yang tidak sedikit. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 118 kukan peninjauan terhadap nilai-nilai tersebut pada tahap informasional untuk menentukan nilai ekonomisnya pada variabel-variabel yang cukup berpengaruh sehingga didapatkan suatu keputusan. Pengambilan Keputusan dengan Multiple At- tribute Decision Making (MADM) Pada umumnya, problem yang timbul dari multiple attribute decision making (MADM) yaitu membandingkan sebuah bilangan terbatas dari beberapa rencana alternatif dan beberapa performa atribut (Sen, 1998) Gambar 2.3 mem- perlihatkan permasalahan MADM dengan n al- ternatif (ai,i = 1,…,n) dan k atribut (yj,j= 1,…,k). Untuk setiap pasang alternatif (ai, a1,I=1, …,n ;i‘“ 1) dibandingkan dengan setiap atribut (yj ,=1, … k). jika mil mewakili tingkat kepen- tingan ai dari a1 dibandingkan dengan atribut yj dapat dirumuskan seperti pada persamaan di bawah ini. Permasalahan MADM diwakili oleh k matriks perbandingan berpasangan untuk k atribut. Di mana: m1h= 1/m1h untuk semua 1,h= 1,…,n;, berupa perbandingan simetri. Gambar 2.5 memperlihatkan permasalahan hierarki MA- DM yang lebih umum dengan struktur atribut banyak lapisan, banyak pengambilan keputusan dan pembandingan berpasangan yang tidak lengkap yang mengimplikasikan bahwa tidak semua dari tingkat beberapa atribut paling bawah (atau beberapa alternatif) berhubungan dengan beberapa atribut yang berada di atasnya. Metode Delphi Metode Delphi adalah suatu metode di mana dalam proses pengambilan keputusan melibatkan beberapa pakar. Adapun para pakar Excavator atau sering disebut dengan back- hoe termasuk dalam alat penggali hidrolis memi- liki bucket yang dipasangkan di depannya. Alat penggeraknya traktor dengan roda ban atau crawler. Backhoe bekerja dengan cara mengge- rakkan bucket ke arah bawah dan kemudian menariknya menuju badan alat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa backhoe menggali mate- rial yang berada di bawah permukaan di mana alat tersebut berada. Pengoperasian backhoe umumnya untuk penggalian saluran, terowongan, atau basement. Backhoe beroda ban biasanya tidak digunakan untuk penggalian, tetapi lebih sering digunakan untuk pekerjaan umum lain- nya. Backhoe digunakan pada pekerjaan pengga- lian di bawah permukaan serta untuk penggalian material keras. Dengan menggunakan backhoe maka akan didapatkan hasil galian yang rata. Pemilihan kapasitas bucket backhoe harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Pengambilan Keputusan Dalam kehidupan sehari-hari pengambilan keputusan sering menggunakan intuisi, padahal kita mengetahui bahwa dengan intuisi banyak sekali kekurangan sehingga dikembangkan sis- tematika baru yang disebut dengan analisis ke- putusan. Ada tiga aspek yang memiliki peranan dalam analisis keputusan yaitu, kecerdasan, per- sepsi, dan falsafah. Dari informasi awal yang dikumpulkan, dilakukan pendefinisian dan peng- hubungan variabel-variabel yang memengaruhi keputusan pada tahap deterministik. Setelah itu, dilakukan penetapan nilai untuk mengukur tingkat kepentingan variabel-variabel tersebut tanpa memperhatikan unsur ketidakpastian. Pada tahap probalistik, dilakukan penetapan nilai keti- dakpastian secara kuantitatif yang meliputi vari- able-variabel yang sangat berpengaruh. Setelah didapatkan nilai-nilai variabel, selanjutnya diba- Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 119 tersebut tidak dipertemukan secara langsung (tatap muka), dan identitas dari masing-masing pakar disembunyikan sehingga setiap pakar tidak mengetahui identitas pakar yang lain. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dominasi pakar lain dan dapat meminimalkan pendapat yang bias. Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process-AHP) Dalam proses penilaian excavator di PT XYZ maka metode yang dapat digunakan dalam menerapkan alternative berdasarkan beberapa kriteria yang ada adalah metode AHP (analyti- cal hierarchy process). Pada penilaian excavator maka proses yang bisa diringkas sebagai berikut. 1. Menentukan kriteria-kriteria pemilihan 2. Menentukan bobot masing-masing kriteria 3. Mengidentifikasi alternatif yang telah diiden- tifikasi 4. Mengevaluasi masing-masing alternatif de- ngan kriteria-kriteria yang ditentukan pada langkah pertama 5. Menilai bobot masing-masing kriteria 6. Mengurutkan kriteria berdasar tingkat bobot Proses hierarki analitik (analytical hierar- chy process) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton School of Business pada tahun 1970. AHP digunakan untuk mengorgani- sasikan informasi dan penilaian dalam memilih alternatif yang paling disukai. Dengan mengguna- kan AHP suatu persoalan yang akan dipecahkan dalam suatu kerangka berpikir yang terorganisasi dapat diekspresikan sehingga memungkinkan untuk mengambil keputusan yang efektif atas persoalan tersebut. Persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya. Prinsip kerja AHP adalah menyederhanakan suatu persoalan kom- pleks yang tidak terstruktur menjadi unsur- unsurnya serta menata dalam hierarki (Marimin, 2004). Kemudian tingkat kepentingan setiap variabel diberi nilai numerik tentang arti penting variabel tersebut secara efektif dibandingkan dengan variabel yang lain. Dari berbagai pertim- bangan tersebut kemudian dilakukan sintesis untuk menetapkan variabel yang memiliki prio- ritas tertinggi dan berperan untuk memengaruhi hasil pada system tersebut. Secara grafis, per- soalan keputusan AHP dapat dikonstruksikan sebagai diagram bertingkat yang dimulai dengan Level 1 Goal/ Tujuan Level---------------------------------------------2 ---------------------- Kriteria ke-1 Kriteria ke-2 Kriteria ke-i ------------------------------------------------------------------------------------------------- Level 3 Alternatif ke-1 Alternatif ke-2 Alternatif ke-n Gambar 1 Penyusunan Hierarki AHP Level 1: Goal/Tujuan Level 2: Atribut Level 3: Alternatif-alternatif Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 120 goal/tujuan, atribut, sub-atribut dan yang ter- akhir alternatif. Melalui AHP memungkinkan pengguna untuk memberikan nilai bobot relatif dari suatu faktor atribut, sub-atribut, maupun alternatif berdasarkan persepsi pengguna terha- dap faktor atribut, sub-tribut maupun alternatif lainnya dengan cara melakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Dengan cara yang konsisten perbandingan berpasangan tersebut diubah menjadi suatu himpunan bilangan yang mempresentasikan prioritas relatif dari se- tiap atribut, sub-atribut, dan alternatif. Bila ter- jadi penyimpangan yang terlalu jauh dari konsis- tensi maka penilaian tersebut perlu diperbaiki atau hierarki harus disusun ulang. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Pada penelitian ini dilakukan dengan cara menyusun model pengambilan keputusan untuk memilih merek excavator kelas 50 ton sebagai alat loading pada proses pertambangan. Untuk menyelesaikan persoalan pengambilan keputusan dalam kasus ini melibatkan pendekatan secara kuantitatif maka dalam menganalisisnya menggu- nakan metode delphi dan analytical hierarchy process (AHP). Pengumpulan Data Penelitian Penelitian dilakukan pada lokasi pertam- bangan PT XZY di Kecamatan Gempol Kabu- paten Pasuruan Jawa Timur. Data penelitian merupakan informasi yang berupa data kasar (mentah) yang masih memerlukan pengolahan sehingga menghasilkan keterangan, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (Riduwan, 2004). Data yang akan dianalisis pada penelitian ini yaitu berupa data primer maupun data sekunder. Kuesioner Instrumen yang digunakan pada penelitian berupa kuesioner yang penyebarannya dilakukan dengan cara menyampaikan langsung kepada responden. Responden adalah orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, antara lain: Wa- kil Direktur Utama, Direktur Business & De- velopment, Direktur Finance & Support, Ke- pala Divisi Finance, Kepala Divisi Asset, Kepala Divisi Operation, Kepala Department Plant Ope- ration dan Kepala Department Supply Chain. Kuesioner yang disebar ada dua jenis, yaitu: kuesioner untuk menentukan multi atribut dan kuesioner penilaian perbandingan berpasangan. Gambar 2 Bagan Alir Tahapan Rancangan Penelitian Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 121 Proses Menggunakan Metode AHP Berikut ini merupakan penjelasan mengenai alur Metode AHP. 1. Penyusunan model hierarki keputusan Model hierarki keputusan yang dikembang- kan dalam penelitian ini terdiri dari empat tingkat. Pada tingkat pertama merupakan representasi dari tujuan utama, yaitu memilih excavator kelas 50 ton. Tingkat kedua meru- pakan serangkaian atribut yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Tingkat ketiga berisikan sub-atribut, dan tingkat keempat merupakan alternatif pilihan yaitu berbagai excavator kelas 50 ton. 2. Penyusunan kuesioner perbandingan berpa- sangan Penyusunan kuesioner perbandingan berpa- sangan disusun berdasarkan elemen-elemen yang ada dalam model hierarki keputusan. Sesuai dengan hierarki yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka kuesioner matriks perbandingan berpasangan terdiri dari: a. Kuesioner matriks perbandingan berpa- sangan antar-atribut terhadap tujuan b. Kuesioner matriks perbandingan berpa- sangan antar-sub-atribut terhadap atribut c. Kuesioner matriks perbandingan berpa- sangan antar-alternatif terhadap sub-atri- but. Pengambilan Nilai Kuesioner Perbandingan Ber- pasangan Pengambilan nilai kuesioner perbandingan berpasangan pada atribut dalam penelitian ini melibatkan wakil direktur utama, sedangkan untuk sub-atribut dari atribut maintenance & repair dan atribut biaya melibatkan direktur finance & support, yang atribut operasional melibatkan direktur business & development. Penyusunan Matriks Nilai Responden Hasil penilaian kuesioner perbandingan ber- pasangan disusun dalam suatu matriks perban- dingan berpasangan, sehingga didapatkan matriks nilai responden. Normalisasi Matriks Nilai Responden Masing-masing nilai responden dalam setiap tingkat hierarki dinormalisasi dengan cara se- bagai berikut. a. Menjumlahkan nilai-nilai setiap kolom dalam matriks. b. Membagi setiap entri dalam setiap kolom dengan jumlah pada kolom tersebut. Uji Konsistensi Pada analisis metode AHP dilakukan uji konsistensi penilaian, adapun langkah-langkah uji konsistensi adalah sebagai berikut. a. Menghitung nilai eigen b. Menghitung indeks konsistensi c. Menghitung rasio konsistensi Bila nilai indeks konsistensi (CI) dan atau rasio konsistensi (CR) lebih besar dari 0,1 maka pertimbangan tersebut mungkin acak sehingga perbandingan berpasangan perlu diperbaiki/di- ulang. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 122 Pengambilan Keputusan Hasil analisis metode AHP dijadikan dasar oleh pengambil keputusan dalam menentukan excavator kelas 50 ton yang sesuai untuk per- tambangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini untuk mendapatkan alternatif excavator yang akan dipilih berdasarkan beberapa kondisi dan aspek yaitu kondisi perusa- haan, baik secara finansial, operasional dan ke- siapan perawatan, kondisi medan dan material, serta pengalaman terdahulu dan masukan dari pihak luar maka ada tiga alternatif yaitu excava- tor kelas 50 Ton yaitu C, K, dan D. triks perbandingan berpasangan. Adapun hasil pembobotan dari masing-masing atribut maupun sub-atribut berdasarkan pertimbangan pengambil keputusan sebagai berikut. Perbandingan Berpasangan antar-Atribut Pada perbandingan berpasangan antar-atri- but pertimbangan pemberian skala penilaian dila- kukan oleh Wakil Direktur Utama “PT XYZ” dengan hasil sebagai berikut. Matriks Penilaian Perbandingan Antar-Atribut O Atribut dan Sub-Atribut R1 R2 R3 R4 R5 1. Biaya 1a. Kemudahan Cara Pembelian √ √ √ √ √ 1b. Harga Beli √ √ √ √ √ 2. Maintenance & Repair 2a. Kemudahan Spare Part √ √ √ √ √ 2b. Layanan Purna-Jual √ √ √ √ √ 2c. Keandalan √ √ √ √ √ 2d. Kemudahan Service, Repair & Modifikasi √ √ √ √ √ 2e. Harga Jual Kembali √ √ √ √ √ 3. Operasional 3a. Daya √ √ √ √ √ 3b. Fuel Consumption √ √ √ √ √ 3c. Productivity √ √ √ √ √ 3d. Kemudahan Pengoperasian √ √ √ √ √ 3e. Keamanan dan Kenyamanan √ √ √ √ √ Nilai 100% 100% 100% 100% 100% Penentuan Bobot Normal (Relatif) Multi-Atribut Analytical hierarchy process (AHP) merupa- kan metode dalam mengambil keputusan, pada kasus ini keputusan yang harus diambil yaitu menentukan excavator yang mana paling sesuai untuk pertambangan. Berdasarkan tahapan yang harus dilakukan pada metode AHP maka perlu dilakukan pembobotan terlebih dahulu pada atribut maupun sub-atribut yang telah ditetap- kan. Nilai pembobotan tersebut merupakan hasil dari analisis pemberian nilai bobot pada masing- masing atribut maupun sub-atribut melalui ma- No. Kode Skala Penilaian Kode 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 BY √ MR 2 BY √ OP 3 MR √ OP Keterangan kode atribut: BY = Biaya MR = Maintenance & Repair OP = Operasional Matriks Perbandingan Berpasangan Antar-Atribut Atribut BY OP MR BY 1 0,5 0,33 OP 2 1 1 MR 3 1 1 Σ= 6 2,5 2,33 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan Antar-Atribut Atribut BY OP MR Jumlah Bobot Normal BY 0,17 0,20 0,14 0,51 0,17 OP 0,33 0,40 0,43 1,16 0,39 MR 0,50 0,40 0,43 1,33 0,44 Σ= 3,00 1,00 Sesuai hasil perhitungan nilai bobot nor- mal atribut dan pengecekan nilai konsistensinya di atas, maka didapat: No. Atribut Bobot 1 Biaya 0,17 2 Maintenance & Repair 0,44 3 Operasional 0,39 Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 123 Perbandingan Berpasangan antar-Sub-Atribut terhadap Atribut Dalam kasus ini perbandingan berpasangan antar-sub-atribut terhadap atribut terdapat pada atribut biaya, maintenance & repair, dan opera- sional. Hasil kuesioner sub-atribut pada atribut biaya dan maintenance & repair yang penentuan skala penilaiannya dilakukan oleh Direktur Fi- nance & Support “PT XYZ”, dan setelah dihi- tung maka didapatkan bobot sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair adalah sebagai berikut. Bobot Sub-Atribut dari Atribut Biaya No. Sub-Atribut Bobot 1 Kemudahan Cara Pembelian 0,5 2 Harga Beli 0,5 Bobot Sub-Atribut dari Atribut Maintenance & Repair Untuk selanjutnya yaitu penentuan nilai bobot sub-atribut dari atribut operasional yang skala penilaiannya dilakukan oleh Direktur Busi- ness & Development dan dengan prosedur perhi- tungan untuk mendapatkan masing-masing nilai bobot normalnya (relatif) masih sama dengan prosedur perhitungan nilai bobot atribut terha- dap tujuan di atas maka untuk hasil akhir perhi- tungan bobot sub-atribut dari atribut operasional didapat sebagai berikut. No. Sub-Atribut Bobot 1 Kemudahan Spare Part 0,22 2 Layanan Purna-Jual 0,22 3 Kemudahan Service, Repair & Modifikasi 0,22 4 Keandalan 0,27 5 Harga Jual Kembali 0,06 Perbandingan Berpasangan antar-Alternatif ter- hadap Sub-Atribut Untuk mendapatkan nilai bobot perban- dingan antar-alternatif terhadap sub-alternatif, maka dalam menyelesaikannya dibagi tiga sesuai jumlah atribut sebagai berikut. 1) Perbandingan antar-alternatif terhadap sub- atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair Berdasarkan hasil kuesioner dilakukan per- bandingan antar-alternatif terhadap sub-atri- but dari atribut biaya dan atribut maintenance & repair yang dalam penilaiannya oleh Direk- tur Finance & Support. Melalui prosedur yang sama seperti di atas maka dari beberapa hasil kuesioner perbandingan berpasangan antar- alternatif terhadap sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair dapat disusun nilai bobot normal (relatif) antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut biaya dan maintenance & repair sebagai berikut. Nilai Bobot Alternatif Terhadap Sub-atribut dari Atribut Biaya dan Maintenance & Repair No. Sub-Atribut Bobot 1 Kemudahan Pengoperasian 0,08 2 Daya 0,13 3 Productivity 0,38 4 Fuel Consumption 0,36 5 Keamanan dan Kenyamanan 0,05 Bobot Sub-Atribut dari Atribut Operasional Atribut Sub-Atribut Bobot Relatif Alternatif K C D Biaya KCP 0,60 0,20 0,20 HBC 0,18 0,11 0,70 Maintenance & Repair KSP 0,54 0,35 0,11 LPJ 0,47 0,47 0,07 SRM 0,43 0,43 0,14 KHD 0,45 0,45 0,09 HJK 0,47 0,47 0,07 Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 124 2) Perbandingan antar-alternatif terhadap sub- atribut dari atribut operasional Pada kuesioner perbandingan antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut operasional yang penilaiannya dilakukan oleh Direktur Business & Development. Dengan prosedur yang sama seperti di atas maka dari hasil kuesioner perbandingan berpasangan antar- alternatif terhadap sub-atribut operasional, dapat disusun nilai bobot normal (relatif) antar-alternatif terhadap sub-atribut dari atribut operasional sebagai berikut. Nilai Bobot Alternatif terhadap Sub-Atribut dari Atribut Operasional Bobot Relatif Multi-AtributKeterangan kode sub-atribut: HBC : Harga beli KHD : Keandalan KCP : Kemudahan cara pembelian HJK : Harga Jual Kembali KSP : Kemudahan spare part K : Excavator K LPJ : Layanan purna-jual D : Excavator D SRM : Kemudahan service & repair C : Excavator C Atribut Sub-Atribut Bobot Relatif Alternatif K C D Operasional KPO 0,30 0,33 0,37 DYA 0,26 0,63 0,11 PRO 0,14 0,29 0,57 FCO 0,15 0,21 0,64 KDK 0,33 0,33 0,33 Penentuan Nilai Bobot Absolut Multi-Atribut Bobot absolut sub-atribut terhadap atribut didapatkan dengan cara mengalikan bobot relatif atribut dengan bobot relatif sub-atribut sebagai contoh: Bobot absolut sub-atribut harga beli (HBC) = 0,170 X 0,500 = 0,085. Bobot absolut sub-atribut kemudahan spare part (KSP) = 0,443 X 0.222 = 0,098 dan seterusnya. Keterangan kode sub-atribut: KPO : Kemudahan Pengoperasian KDK : Keamanan dan Kenyamanan DYA : Daya K : Excavator K PRO : Productivity D : Excavator D FCO : Fuel Consumption C : Excavator C Atribut Bobot Sub Atribut Bobot Relatif Sub-Atribut Bobot Relatif Alternatif K C D BY 0,170 KCP 0,500 0,60 0,20 0,20 HBC 0,500 0,18 0,11 0,70 MR 0,443 KSP 0,222 0,54 0,35 0,11 LPJ 0,222 0,47 0,47 0,07 SRM 0,222 0,43 0,43 0,14 KHD 0,269 0,45 0,45 0,09 HJK 0,065 0,47 0,47 0,07 OP 0,387 KPO 0,080 0,30 0,33 0,37 DYA 0,133 0,26 0,63 0,11 PRO 0,375 0,14 0,29 0,57 FCO 0,358 0,15 0,21 0,64 KDK 0,053 0,33 0,33 0,33 Begitu juga untuk bobot absolut alternatif terhadap sub-atribut yaitu dengan cara mengali- kan bobot relatif alternatif dengan bobot absolut sub-atribut, sebagai contoh: bobot absolut K terhadap sub-atribut harga beli (HBC) = 0,600 x 0,085= 0,051. Bobot atribut dan sub-atribut terhadap excavator didapat sebagai berikut. Keterangan kode sub-atribut KPO : Kemudahan pengoperasian LPJ : Layanan purna-jual DYA : Daya SRM : Kemudahan service, repair, PRO : Productivity & modifikasi FCO : Fuel consumption KHD : Keandalan KDK : Keamanan dan kenyamanan HJK : Harga jual kembali HBC : Harga beli K : Excavator K KCP : Kemudahan cara pembelian D : Excavator D KSP : Kemudahan spare part C : Excavator C Atribut Bobot Sub Atribut Bobot Absolut Sub Atribut Bobot Absolut Alternatif K C D BY 0,170 KCP 0,085 0,051 0,017 0,017 HBC 0,085 0,015 0,010 0,060 MR 0,443 KSP 0,098 0,053 0,034 0,011 LPJ 0,098 0,046 0,046 0,007 SRM 0,098 0,042 0,042 0,014 KHD 0,119 0,054 0,054 0,011 HJK 0,029 0,013 0,013 0,002 OP 0,387 KPO 0,031 0,009 0,010 0,012 DYA 0,052 0,013 0,033 0,005 PRO 0,145 0,020 0,042 0,083 FCO 0,139 0,021 0,029 0,089 KDK 0,021 0,007 0,007 0,007 Jumlah 34,67% 33,64% 31,69% Untuk lebih mudah menganalisis maka dibentuk dalam beberapa gambar grafis di bawah ini. Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 125 Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 126 Excavator terhadap Multi-Atribut bangan sirtu menggunakan metode AHP maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Pengambil keputusan 1 (wakil direktur uta- ma) menentukan nilai pembobotan untuk atribut biaya sebesar 0,170. Maintenance & repair sebesar 0,443 dan atribut operasional sebesar 0,387. Dalam hal ini pengambil kepu- tusan 1 (wakil direktur utama) secara ber- urutan menempatkan posisi maintenance & repair teratas selanjutnya diikuti operasional dan posisi terendah ditempati oleh atribut biaya. 2. Berdasarkan nilai pembobotan sub-atribut dari atribut maintenance & repair menunjuk- kan bahwa sub-atribut keandalan menempati posisi teratas dengan nilai bobot 0,269, hal ini bisa dikatakan keandalan unit excavator Atribut K C D Biaya 6,64 % 2,67 % 7,67 % Maintenance & Repair 20,91 % 18,96 % 4,42 % Operasional 7,12 % 12,00 % 19,61 % Jumlah 34,67 % 33,64 % 31,69 % Grafik Pemilihan Alternatif Excavator terhadap Keseluruhan Atribut Merujuk pada grafik di atas yang menam- pilkan alternatif excavator terhadap keseluruhan atribut, maka akan tampak bahwa excavator K menempati posisi teratas (34,67%). Ini karena didukung oleh nilai bobot atribut maintenance & repair (20,91%) yang besarnya cukup signi- fikan bila dibandingkan dengan D (4,42%) dan C (18,96%). Pada peringkat selanjutnya disusul excavator C (33,64%) urutan kedua dan yang terakhir D (31,69%) pada urutan ketiga. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pemilihan excavator untuk pertam- Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 127 terhadap pemeliharaan dan perbaikan exca- vator merupakan hal yang paling penting. Berikutnya disusul sub-atribut kemudahan spare part yang menempati posisi yang sama pentingnya dengan sub-atribut layanan pur- na-jual, kemudahan service, repair, & modifi- kasi dengan nilai bobot 0,222 dengan terse- dianya spare part excavator dan kemudahan modifikasi merupakan sarana yang mendu- kung dalam mengoptimalkan pemeliharaan dan perbaikan excavator. Selanjutnya yang terakhir sub-atribut harga jual kembali nilai bobot 0,065. 3. Pada sub-atribut dari atribut operasional me- nunjukkan bahwa sub-atribut productivity menempati posisi tertinggi dengan nilai bobot 0,375 hal ini menunjukkan pada atribut ope- rasional adalah sangat dominan dalam me- nentukan kemampuan operasional khususnya excavator untuk pertambangan. Berikutnya disusul sub-atribut fuel consumption dengan nilai bobot 0,358, sub-atribut daya dengan nilai bobot 0,133, sub-atribut kemudahan pengoperasian dengan nilai bobot 0.080. Ke- amanan dan kenyamanan kurang dipenting- kan bila dibandingkan dengan sub-atribut yang lain dalam hal ini menempati posisi terendah yakni 0.053. 4. Pada atribut biaya excavator D (7,67%) me- nempati bobot penilaian tertinggi. Hal ini dikarenakan memang harga beli excavator D paling murah bila dibandingkan dengan kedua excavator yang lain. Secara berurutan yang menempati posisi berikutnya yaitu ex- cavator K (6,64%) dan excavator C (2,67%). 5. Pada atribut maintenance & repair, excava- tor K menempati posisi pertama (20,91%), hal ini dikarenakan berbagai fasilitas yang diberikan menempati ranking pertama antara lain keandalan, kemudahan spare part, layan- an purna-jual, dan harga jual kembali. salah satu yang paling mendukung keadaan ini disebabkan oleh jumlah populasinya yang paling banyak di pasaran atau digunakan oleh konsumen. Selanjutnya C (18,96%) dan terakhir D (4,42%). 6. Untuk atribut operasional, posisi excavator D menempati posisi tertinggi (19,61%) hal tersebut didukung oleh bobot sub-atribut productivity 14,53%. Sedangkan excavator C menempati posisi kedua (12%) dan ter- akhir K (7,12%). 7. Susunan keputusan alternatif excavator ter- hadap keseluruhan atribut posisi teratas di- tempati excavator K (34,67%). Ini karena didukung oleh nilai bobot atribut mainte- nance dan repair (20,91%) yang besarnya cukup signifikan bila dibandingkan dengan D (4,42%) dan C (18,96%) pada peringkat selanjutnya disusul excavator C (33,64%) urutan kedua dan yang terakhir excavator D (31,69%) pada urutan ketiga. 8. Pada analisis sensitivitas untuk tingkat per- ubahan atribut biaya terhadap perubahan susunan alternatif keputusan. terlihat bahwa dengan bertambahnya bobot atribut biaya secara bertingkat 10% dan diikuti atribut yang lain berkurang secara bertahap 3,6 % pada atribut maintenance & repair (MR), begitu pula atribut operasional berkurang 6,4% secara bertahap. Hal ini memengaruhi posisi susunan prioritas pengambilan kepu- tusan excavator C yang awalnya pada posisi kedua kini turun peringkat menjadi posisi ketiga (27,78%), sedangkan posisinya diganti- kan oleh excavator D yang nilainya mencapai (34,44%) ini terjadi pada saat bobot atribut biaya telah mencapai 46,98%. untuk exca- vator K tidak berubah posisi tetap posisi pertama dengan bobot (37,77%). Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 128 9. Pada perubahan nilai bobot yang dilakukan terhadap atribut maintenance & repair (MR) menunjukkan perubahan nilai bobot MR bertambah secara bertahap sebesar 10% sedangkan pada atribut biaya berkurang 3,6% serta diikuti atribut operasional sebesar 6,4%. Perubahan ini ternyata tidak mengubah su- sunan tingkat alternatif keputusan yaitu posisi excavator K posisi pertama tidak mengubah posisi (41,08%). Urutan dua ditempati oleh excavator C (38,83%). Keadaan ini terjadi saat bobot atribut MR pada posisi 74,29%. Untuk posisi excavator D tetap pada posisi ketiga (20,10%) tidak terpengaruh pada per- ubahan atribut maintenance & repair. 10. Perubahan yang dilakukan pada bobot atribut operasional, saat bobot atribut operasional baru naik 10% yaitu 48,73%, posisi bobot excavator D melompat menempati posisi pertama 34,49% menggantikan posisi exca- vator K yang peringkatnya turun ke posisi ketiga dengan bobot 32,08%. Sedangkan Excavator C masih menempati posisi kedua dengan bobot 33,43%. Pada perubahan nilai bobot multi-atribut ini maka bisa disusun bahwa atribut biaya dan operasional mempunyai tingkat yang sama dalam memengaruhi susunan prioritas keputusan. Hal ini terjadi karena tingkat susunan prioritas kepu- tusan mengalami perubahan pada saat bobot atributnya mengalami kenaikan atau penurunan pada tingkat yang sama. Sedangkan perubahan bobot atribut maintenance & repair tidak ber- pengaruh pada susunan prioritas keputusan, khu- susnya posisi excavator K masih tetap menempati tingkat pertama. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pemba- hasan mengenai pemilihan excavator untuk per- tambangan sirtu menggunakan AHP maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Berdasarkan hasil wawancara kepada 5 res- ponden didapatkan multi atribut sebagai beri- kut. a. Atribut biaya terdiri dari sub-atribut har- ga beli dan kemudahan cara pembelian. b. Atribut maintenance & repair terdiri dari sub-atribut kemudahan spare part, layan- an purna-jual, kemudahan service, repair, & modifikasi, harga jual kembali, dan keandalan. c. Atribut operasional terdiri dari sub-atri- but kemudahan pengoperasian, daya, pro- ductivity, fuel consumption, dan keaman- an dan kenyamanan. 2. Sesuai hasil susunan keputusan alternatif excavator terhadap keseluruhan atribut, posi- si teratas ditempati excavator K (34,67%). Ini karena didukung oleh nilai bobot atribut maintenance & repair (20,91%) yang besar- nya cukup signifikan bila dibandingkan exca- vator C (18,96%) dan excavator D (4,42%). 3. Pada analisis sensitivitas, atribut yang meme- ngaruhi perubahan prioritas susunan kepu- tusan sebagai berikut, atribut biaya dan ope- rasional mempunyai tingkat yang sama dalam memengaruhi susunan prioritas keputusan. Hal ini terjadi karena tingkat susunan prio- ritas keputusan mengalami perubahan pada saat bobot atributnya mengalami kenaikan atau penurunan pada tingkat yang sama, sedangkan perubahan bobot atribut mainte- nance & repair tidak berpengaruh pada su- sunan prioritas keputusan, khususnya posisi excavator K masih menempati posisi pertama. Udisubakti C., M. Yusak Anshori, Aldo F., Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja Terhadap Manajemen Stres dan Kinerja Karyawan pada Dinas X Provinsi Jawa Timur 129 DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro, B. & Utama, B. 2005. Analytic Hierarchy Process. Jakarta: Penerbit PAU- EKUI. Boujelbene, Y. and Derbel, A. 2015. The Perfor- mance Analysis of public Transport Op- erators in Tunisia Using AHP Method. The International Conference and Advance Wireless, Information and Communica- tion Technologies (AWICT 2015). Proce- dia Computer Science 73 (2015) 498– 508. Tunisia. Chang, S. Tsujimura. M. Gen, T. Tozawa. 1993. Project Planning Problem Solving Using Fuzzy Activity Times and Fuzzy Delphi Method. Proc. Fifth IFSA World Con- gress. Seoul, South Korea, pp. 624–626. Gates, M. and Scarpa, A. 1980. Journal of the Construction Division. Criteria for the Selection of Construction Equipment, ASCE. Vol 106, C02, New York, USA. Kirk, L.J. 2000. Owner versus Contract Mining. 9th International Symposium on Mine Planning and Equipment Selection, Ath- ens, Greece, 6–9 November 2000. Pana- giotou, G.N. and Michalakopoulos, T.N. (eds). Balkema, Amsterdam. pp. 437–442. Kotler, Philips. 1997. Manajemen Pemasaran (Terjemahan) Jilid I. Jakarta: PT Prehal- lindo. Lawrence Jr., et al. 2002 Applied Management Science; Modelling Spreadsheet Analysis and Communication for Decision Mak- ing, First Edition. Ug/GGS Information Services, Inc., United States. Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta: PT Grasindo. Mangkusubroto K., dan Trisnadi, L. 1987. Ana- lisis Keputusan; Pendekatan Sistem dalam Manajemen Usaha dan Proyek. Bandung: Ganeca Exact. Martin. J. et al. 1982. Surface Mining Equip- ment. Colorado, USA: Martin Consul- tants Inc. Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Undang- Undang Pertambangan Mineral dan Batu- bara No. 4. Jakarta: Republik Indonesia. Phogat, V.S. and Singh, A.P. 2013. Selection of Equipment for Construction of a Hilly Road Using Multi-Criteria Approach. 2nd Conference of Transportation Research Group of India (2nd CTRG). Social and Behavioral Sciences 104 (2013) 282-291. India. Saaty, T.L. 1983. Decision Making for Leaders: The Analytical Hierarchy Process for De- cision in Complex World. Pittsburgh: RWS Publication. Salim, H.S. 2009. Hukum Pertambangan di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Per- sada. Sayareh, Jafar.and Alizmini, H.R. 2014. A Hy- brid Decision Making Model for Selecting Container Seaport in the Persian Gulf, Volume 30, pp. 075–095. The Korean Association of Shipping and Logistic. Sen., et al. 1998. Multiple Criteria Decision Support in Engineering Design. London: Springer-Verlag. Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Pertama. Bandung: CV Alfabeta. Sukenda. 2012. Sistem Pendukung Keputusan untuk Memilih Kendaraan Bekas dengan Menggunakan Metode Analytical Hierar- chy Process (AHP). Tesis Teknik Informa- tika Universitas Widyatama Bandung. Business and Finance Journal, Volume 2, No. 2, October 2017 130 Suryadi, K. dan Ramdani, A. 2002. Sistem Pendukung Keputusan: Suatu Wacana Struktural Idealisasi dan Implementasi Konsep Pengambilan Keputusan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.