MODEL REGRESI LOGISTIK MULTINOMIAL UNTUK MENENTUKAN PILIHAN SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS PADA SISWA SMP Puji Subekti Mahasiswa Program Magister Matematika Universitas Brawijaya Malang Telp : 085649603425; Email : ukhti_ajieb88@yahoo.com ABSTRACT In general, secondary schools in Indonesia contained three institutions namely SMA (Senior High School), SMK (vocational high school) and MA (Madrasah Aliyah). This study to determine the variables that significantly influence, so we can know the probability of students in choosing junior high school after study. The analysis tool used is the multinomial logistic regression analysis. At the 95% confidence level is obtained that out of 8 (eight) independent variables are used, there are 5 (five) variables that significantly influence. They are the father's education, mother's education, mother's income, number of siblings, and father's occupation. Keywords: multinomial logistic regression analyzes, SMA, MA, SMK, Probability selection school. ABSTRAK Secara umum, sekolah menengah di Indonesia terdapat tiga lembaga yakni SMA (SMA), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan MA (Madrasah Aliyah). Penelitian ini untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi secara signifikan, sehingga kita dapat mengetahui kemungkinan siswa dalam memilih SMP setelah alat analisis study.The digunakan adalah analisis regresi logistik multinomial. Pada tingkat kepercayaan 95% diperoleh bahwa dari 8 (delapan) variabel independen yang digunakan, ada 5 (lima) variabel yang mempengaruhi secara signifikan.Salah satu diantaranya adalah pendidikan ayah, pendidikan ibu, pendapatan ibu, jumlah saudara kandung, dan pekerjaan ayah. Keywords: multinomial logistic regression analyzes, SMA, MA, SMK, Probability selection school. PENDAHULUAN Pada umumnya, sekolah menengah di Indonesia diwadahi tiga lembaga yakni SMA, SMK dan MA. SMA bertujuan untuk menyediakan dan menyiapkan siswa/i yang hendak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, akademi atau perguruan tinggi, sedangkan SMK lebih ditujukan untuk menyediakan tenaga kerja tingkat menengah. MA, sebagaimana SMA bertujuan untuk mengantarkan siswa memasuki perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi Islam. Kenyataannya tidak semua lulusan SMA berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai alasan, begitu pula dengan lulusan SMK dan MA [1]. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi siswa dalam memilih sekolah lanjutan adalah umur siswa, jenis kelamin siswa, asal sekolah siswa, nilai rata-rata mapel siswa pada semester 1, jumlah tanggungan anak dalam keluarga yang masih bersekolah, pendidikan orangtua siswa, pekerjaan orangtua siswa, penghasilan orangtua siswa, minat, dan dukungan keluarga. Faktor-faktor tersebut akan diduga mempengaruhi siswa dalam memilih sekolah lanjutan sehingga disebut sebagai variabel independen. Sedangkan sekolah lanjutan yaitu: SMA, SMK, dan MA disebut sebagai variabel terikat. Sehubungan dengan hal tersebut untuk menganalisis hubungan antara variabel terikat yang mempunyai kategori lebih dari dua, dengan beberapa variabel independen yang bersifat kontinu, kategorik, atau keduanya adalah dengan menggunakan analisis regresi logistik multinomial. KAJIAN TEORI Model Model adalah pola (contoh, acuan, ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Definisi lain dari model adalah abstraksi dari sistem sebenarnya, dalam mailto:ukhti_ajieb88@yahoo.com Puji Subekti 92 Volume 3 No. 2 Mei 2014 gambaran yang lebih sederhana serta mempunyai tingkat prosentase yang bersifat menyeluruh, atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanya memusatkan perhatian pada beberapa sifat dari kehidupan sebenarnya. Model yang akan disusun dalam penelitian ini termasuk model simbolis, yaitu model yang menggambarkan sistem yang ditinjau dengan simbol-simbol biasanya dengan simbol-simbol matematik. Dalam hal ini sistem diwakili oleh variabel-variabel dari karakteristik sistem yang ditinjau. Regresi Logistik Regresi logistik merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mencari hubungan varia-bel respon yang bersifat dichotomous (berskala nominal atau ordinal dengan dua kategori) atau polychotomous (mempunyai skala nominal atau ordinal dengan lebih dari dua kategori) dengan satu atau lebih variabel prediktor dan variabel respon bersifat kontinyu atau kategorik [2]. Regresi Logistik Multinomial Regresi logistik multinomial merupa- kan regresi logistik yang digunakan saat variabel dependen mempunyai skala yang bersifat polichotomous atau multinomial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik dengan variabel respon berskala nominal dengan tiga kategori. Model yang digunakan pada regresi logistik multinomial adalah πΏπ‘œπ‘”π‘–π‘‘ 𝑃(π‘Œ = 1) = ∝ +𝛽1𝑋1 + 𝛽2𝑋2 + … + 𝛽𝑛 𝑋𝑛 Dengan menggunakan transformasi logit didapatkan fungsi logit, 𝑃1(π‘₯) = 𝑙𝑛 [ 𝑃(π‘Œ = 1)1|π‘₯ 𝑃(π‘Œ = 1)0|π‘₯ ] = 𝛽10 + 𝛽11𝑋1 + 𝛽12𝑋2 + … + 𝛽1𝑛 𝑋𝑛 = π‘₯′𝛽1 𝑃2(π‘₯) = 𝑙𝑛 [ 𝑃(π‘Œ = 1)2|π‘₯ 𝑃(π‘Œ = 1)0|π‘₯ ] = 𝛽20 + 𝛽21𝑋1 + 𝛽22𝑋2 + … + 𝛽2𝑛 𝑋𝑛 = π‘₯′𝛽2 Berdasarkan kedua fungsi logit tersebut maka didapatkan model regresi logistik trichotomous sebagai berikut : πœ‹0(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃2(π‘₯) πœ‹1(π‘₯) = 𝑒π‘₯𝑝 𝑃1(π‘₯) 1 + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃2(π‘₯) πœ‹2(π‘₯) = 𝑒π‘₯𝑝 𝑃2(π‘₯) 1 + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃2(π‘₯) Untuk menguji signifikansi Ξ² dari model yang telah diperoleh, maka dilakukan uji parsial dan uji serentak. A. Uji parsial Pengujian signifikansi parameter menggunakan uji Wald [3] dengan hipothesis di bawah ini : 𝐻_0: 𝛽_π‘˜ = 0, dengan β„Ž = 1,2,3, … π‘˜ 𝐻_1: 𝛽_π‘˜ β‰  0, dengan β„Ž = 1,2,3, … π‘˜ Perhitungan statistik uji Wald adalah sebagai berikut : π‘€π‘Žπ‘™π‘‘ = οΏ½Μ‚οΏ½π‘˜ 𝑆𝐸(οΏ½Μ‚οΏ½π‘˜ )Μ‚ B. Uji Serentak Hipotesis untuk pengujian adalah sebagai berikut: H0 : 𝛽1 = 𝛽2 = β‹― = 𝛽𝑝 = 0 H1 : Paling tidak ada satu 𝛽𝑖 yang tidak sama dengan 0 di mana 𝑖 = 1,2, … , 𝑛 (n adalah banyaknya lokasi pengamatan) dan π‘˜ = 1,2, … , 𝑝 (p adalah banyaknya variabel prediktor). statistik uji 𝐺 2 atau likelihood ratio test yang dinyatakan sebagai berikut: 𝐺 2 = βˆ’2 𝑙𝑛 ( 𝐿(οΏ½Μ‚οΏ½) 𝐿(οΏ½Μ‚οΏ½) ) Menurut Hosmer dan Lemeshow (1989), statistik uji G2 mengikuti distribusi chi-square, sehingga untuk memperoleh keputusan dilakukan perbandingan dengan titik kritis πœ’2 (𝛼,𝑑𝑏) di mana derajat bebasnya adalah p atau banyaknya variabel prediktor. Kriteria penolakan (tolak H0) jika nilai 𝐺 2 > πœ’2 (𝛼,𝑑𝑏) . C. Uji Kesesuaian Model Uji kesesuaian model dengan menggunakan statistik uji Chi-square adalah sebagai berikut 𝑋2 = βˆ‘ (π‘‚π‘˜ βˆ’ π‘›β€²π‘˜ οΏ½Μ…οΏ½π‘˜ ) 2 𝑛′ π‘˜οΏ½Μ…οΏ½π‘˜ (1 βˆ’ οΏ½Μ…οΏ½π‘˜ ) 𝑔 π‘˜βˆ’1 Model Regrei Logistik Multinomial untuk Menentukan Pilihan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas… CAUCHY – ISSN: 2086-0382 93 Statistik uji di atas untuk menguji hipotesis sebagai berikut : 𝐻0 : Model sesuai (Tidak ada perbedaan yang nyata antara hasil observasi dengan kemungkinan hasil prediksi model) 𝐻1 : Model tidak sesuai (ada perbedaan yang nyata antara hasil observasi dengan kemungkinan hasil prediksi model). Pengambilan keputusan didasarkan pada tolak 𝐻0 jika 𝑋 2 β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” β‰₯ 𝑋 2 (𝑑𝑏,∝) dengan db=g-2. Pendidikan SMA, MA dan SMK Menurut Salim (2008) Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari orientasi sekolah sekolah yang ada masih disibukkan dengan ujian, mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pertanyaan di buku pelajaran yang biasanya tidak relevan dengan kehidupan sehari hari para siswa. Setelah jenjang pendidikan menengah pertama, ada beberapa jenis tingkat sekolah diantaranya SMA, MA, SMK, SMEA dan lain- lain. Masing-masing diantara sekolah tersebut berbeda dalam penyusunan kurikulumnya menurut visi dan misi masing- masing. Sebagian diantara mereka ada yang lebih menekankan teori dan sebagian lagi lebih mengedepankan praktik. Namun tidak perlu mempermasalahkan tentang hal itu, semakin beragam pendidikan di negara kita akan semakin mudah untuk membentuk sumberdaya alam yang sangat bermutu. Diantara ciri-ciri kurikulum SMA maupun MA adalah sebagai berikut: 1. Materi pembelajaran lebih mengarah kepada teori dari pada praktik. 2. Tamatannya tidak siap kerja. 3. Tempat belajar lebih tertuju di sekolah. Ciri-ciri kurikulum SMK, diantaranya: 1. Materi pembelajaran lebih mengarah kepada praktek dari pada teori, dapat dikatan 60% paraktek dan 40% teori. 2. Tamatannya siap kerja 3. Tempat belajar di sekolah dan di dunia kerja. METODE PENELITIAN Rancangan penelitian yang pertama dilakukan pada siswa secara langsung dengan pengisian kuisioner mengenai faktor- faktor internal yang mempengaruhi siswa dalam pemilihan kelanjutan pendidikan setelah lulus dari SMP. Adapun variabel – variabel dependen dan variabel – variabel independen yang dipergunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah : 1. Y sebagai variabel dependen yang terdiri atas tiga kategori yaitu Sekolah SMA (dengan kode 0), MA (dengan kode 1), dan SMK (dengan kode 2). 2. X sebagai variabel independen yang terdiri atas 8 variabel yaitu pendidikan ibu (X1), pendidikan ayah(X2) ,penghasilan ibu(X3), penghasilan ayah(X4), jumlah saudara(X5), jumlah tanggungan keluarga (X6) pekerjaan ayah(X7), nilai rata-rata matapelajaran yang diikutkan dalam UAN(X8). Dalam penelitian ini dipilih siswa- siswi SMP Negeri 2 Malang kelas VIII sebagai sampel penelitian sebab sebagaimana khalayak umum ketehui bahwa SMP Negeri 2 Malang merupakan salah satu SMP yang dianggap oleh masyarakat sebagai SMP yang dapat memberikan keluaran siswa-siswi berprestasi khususnya dibidang akademik, Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Melakukan uji validitas terhadap item- item soal. 2. Melakukan uji reliabilitas terhadap item- item soal. Jika item-item soal telah memenuhi uji validitas dan reabilitas maka dapat dilakukan pada pengujian selanjutnya. 3. Melakukan analisis regresi logistik terhadap data: 4. Menaksir parameter yang diperoleh. 5. Menginterpretasikan model regresi logistik. 6. Melakukan Uji Serentak, parsial dan kesesuaian model 7. Evaluasi model Puji Subekti 94 Volume 3 No. 2 Mei 2014 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Siswa SMP Negeri 2 Malang Siswa SMP Negeri 2 Malang yang dijadikan sebagai obyek penilitian seperti dijelaskan sebelumnya berjumlah 108 siswa. Ditinjau dari segi pendidikan terakhir ibu 18,5% berpendidikan SD, 23,1% berpendidikan SMP, 44,4% berpendidikan SMA, dan 13,9% berpendidikan Sarjana. Dari segi pendidikan terakhir ayah juga terdapat 18,5% berpendidikan SD, 20,4% berpendidikan SMP, 47,2% berpendidikan SMA, dan 13,9% berpendidikan Sarjana. Jika ditinjau dari penghasilan ibu yang kurang dari 700.000 sebanyak 72%,sebanyak 19,4% antara 700.00 sampai 2.000.000 dan 8,3% diatas 2.000.000. ditinjau dari penghasilan ayah yang kurang dari 700.000 sebanyak 46,3%,sebanyak 29,6% antara 700.00 sampai 2.000.000 dan 824,1% diatas 2.000.000. keluarga siswa yang tidak mempunyai saudara sebanyak 10,2%. Sebanyak 19,4% mempunyai 1 saudara, 52,8% mempunyai 2 saudara, 7,4% mempunyai 3 saudara dan 10,2% mempunyai lebih dari 3 saudara. keluarga siswa yang tidak mempunyai tanggungan sebanyak 1,9%. Sebanyak 32,4% mempunyai 1 tanggungan, 48,1% mempunyai 2 tanggungan, 13% mempunyai 3 tanggungan dan 4,6% mempunyai lebih dari 3 tanggungan keluarga. Ditinjau dari jenis pekerjaan ayah 13,9% seorang PNS, 12,0% Wiraswasta, 59,3% karyawan swasta, dan 14,8% lain-lain. Sedangkan siswa yang mempunyai nilai diatas 75 sebanyak 65,7% dan 33,3% dibawah 75. Regresi Logistik Multinomial secara Individu Untuk mengetahui pengaruh dari faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas pada siswa SMP secara individu, dilakukan uji Wald dan p-value disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 1 Regresi Logistik Multinomial Secara Individu Logit Variabel B Wald P-value Exp (B) Pendidikan Ibu SMA / MA Konstanta 1,099 2,716 0,099 0 SD SMP SMA SARJANA -3,871 -2,351 -2,135 0 9,945 7,219 8,028 0 0,002* 0,007* 0,005* 0 0,021 0,095 0,118 0 SMK Konstanta SD SMP SMA SARJANA -0,405 -2,367 -0.847 -2.335 0 0,197 2,956 0,622 3,994 0 0,657 0,086 0,430 0,046* 0 0 0,094 0,429 0,097 0 Pendidikan Ayah SMA/MA Konstanta Pend.Ayah SD SMP SMA SARJANA 1,504 -4,212 -3,701 -2,306 0 3,702 10.575 11,743 7,363 0 0,054 0,001* 0,001* 0,017* 0 0 0,015 0,025 0,100 0 SMK Konstanta Pend.Ayah SD SMP SMA SARJANA -1,386 -0,754 -0,811 -0,256 0 1,537 0,314 0,364 0,045 0 0,215 0,575 0,546 0,832 0 0 0,471 0,444 0,774 0 Penghasilan Ayah SMA Konstanta <700 7002.000 1,041 -4,037 -2,140 0 4,810 21,718 10,230 0 0,028 0,000* 0,001* 0 0 0,018 0,118 0 SMK Konstanta <700 7002.000 -1,792 -0,799 0,511 0 2,752 0,418 0,183 0 0,097 0,518 0,668 0 0 0 0,450 1,667 Model Regrei Logistik Multinomial untuk Menentukan Pilihan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas… CAUCHY – ISSN: 2086-0382 95 Penghasilan Ibu SMA Konstanta <700 7002.000 0,693 -2,266 -0,693 0 0,961 8,417 0,641 0 0,327 0,004* 0,423 0 0 0,104 0,500 0 SMK Konstanta <700 7002.000 -19,868 17,844 18,482 0 631,604 404,726 0 0 0,000* 0,000* 0,000* 0,000* 0 5,618E7 1,063E8 0 Jumlah Saudara SMA Konstanta =0 =1 =2 =3 >3 -0,981 0,288 -0,272 0,288 -19,419 0 2,099 0.086 0,095 0,148 0 0 0,147 0,769 0,758 0,700 0 0 0 1,333 0,762 1,333 3,686E-9 0 SMK Konstanta =0 =1 =2 =3 >3 -21,127 19,335 19,586 19,112 19,335 0 382,576 160,217 244,123 251,905 0 0 0,000* 0,000* 0,000* 0,000* 0,000* 0,000* 0 1,250E7 2,749E7 1,884E7 2,495E8 0 Jumlah Tanggungan SMA Konstanta =0 =1 =2 =3 >3 -1.386 1,386 0,197 0,584 0,539 0 1,537 0,591 0,027 0,250 0,168 0 0,215 0,442 0,870 0,617 0,682 0 0 4,000 1,217 1,793 1,714 0 SMK Konstanta =0 =1 =2 =3 >3 -19,239 0,324 16,797 17,481 17,986 0 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,998 0,000* 0,998 0,998 0,998 0 0 1,382 1,971E7 3,909E7 6,478E7 0 Pekerjaan Ayah SMA Konstanta Lain-lain Swasta Wiraswasta PNS 1,609 -4,094 -2,886 -2,862 0 4,317 9,959 11,785 6,591 0 0,038 0,002* 0,001* 0,010* 0,000* 0 0,017 0,056 0,057 0 SMK Konstanta Lain-lain Swasta Wiraswasta PNS 0,000 -1,386 -2,663 -1,946 0 0,000 1,357 5,226 1,767 0 1,000 0,244 0,002* 0,184 0 0 0,250 0,070 0,143 0 Nilai Konstanta <75 >75 -1,962 -0,523 0,219 22,925 0,386 0 0,000 0,534 0,000* 0 0,593 1,244 Berdasarkan pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa variabel pendidikan ibu baik SD, SMP, SMA dan Sarjana memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas yaitu SMA maupun MA. Berbeda dengan pendidikan terakhir ibu setingkat SD dan SMP tidak berpengaruh signifikan terhadap pemilihan sekolah lanjutan SMK, namun siswa yang pendidikan terakhir ibunya setingkat SMA, dan sarjana yang berpengaruh terhadap pemilihan SMK. Kesignifikanan ini ditunjukkan dengan adanya nilai p-value < 0,05. Begitu juga dengan variabel lain seperti pendidikan ayah yang meliputi SD, SMP, SMA dan sarjana juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas yaitu SMA maupun MA Puji Subekti 96 Volume 3 No. 2 Mei 2014 dan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pilihan SMK. Penghasilan ayah yang kurang dari 700.000,00 per bulan juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan SMA maupun MA namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan SMK. Demikian juga penghasilan ibu yang kurang dari 700.000,00 dan lebih dari 2.000.000,00 juga mempunyai pengaruh signifikan terhadap pemilihan SMA maupun MA dibandingkan dengan yang lain , namun disisi lain ketiganya baik pendapatan ibu yang kurang dari 700.000,00 , antara 700.000,00 sampai dengan 2.000.000,00 mapun lebih dari 2.000.000,00 memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemiliah SMK. Jumlah saudara yang dimiliki siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan SMK namun tidak pada pemilihan SMA maupun MA. Siswa yang memiliki saudara sejumlah 3 orang maupun lebih mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan SMK. Namun tidak terjadi pada variabel jumlah tanggungan pada keluarga yang tidak berpengaruh signifikan terhadap pemilihan SMA, MA maupun SMK, kecuali siswa yang mempunyai tanggungan lebih dari 3 orang. Selain itu pekerjaaan ayah juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas SMA maupun MA namun tidak pada pemilihan SMK. Hanya siswa yang pekerjaan ayahnya swasta dan PNS yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap pemilihan SMK. Nilai rata-rata matapelajaran yang diikutkan dalam UAN mulai semester 1 sampai dengan 3 siswa yang mendapatkan diatas kisaran angka 75 lebih memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan SMA maupun MA sehingga dapat ditentukan fungsi logit bagi masing-masing variabel yang berpengaruh signifikan diantaranya yaitu sebagai berikut: Fungsi logit untuk siswa yang pendidikan terakhir ayahnya adalah SD atau sekolah dasar adalah : 𝑝1(π‘₯) = 1,504 βˆ’ 4,212𝑆𝐷 𝑝2(π‘₯) = βˆ’1,386 βˆ’ 0,754𝑆𝐷 Fungsi logit untuk siswa yang pendidikan terakhir ayahnya SMP adalah : 𝑝1(π‘₯) = 1,504 βˆ’ 3,701π‘ π‘šπ‘ 𝑝2(π‘₯) = βˆ’1,386 βˆ’ 0,811π‘ π‘šπ‘ Fungsi logit untuk siswa yang pendidikan terakhir ayahnya SMA adalah : 𝑝1(π‘₯) = 1,504 βˆ’ 2,306π‘ π‘šπ‘Ž 𝑝2(π‘₯) = βˆ’1,386 βˆ’ 0,256π‘ π‘šπ‘Ž Fungsi logit untuk siswa yang pendidikan terakhir ayahnya sarjana adalah : 𝑝1(π‘₯) = 1,504 𝑝2(π‘₯) = βˆ’1,386 Dari fungsi logit yang didapatkan seperti tertera di atas sehingga didapatkan model regresi logistik trichotomous untuk mengetahui seberapa besar peluang dari masing masing siswa untuk memilih SMA, MA maupun SMK ditinjau dari masing- masing variabel yang signifikan sebagai berikut : Peluang bagi siswa yang pendidikan terakhir ayah SD memilih SMA adalah πœ‹0(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃2(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝(1,504 βˆ’ 4,212𝑆𝐷) + 𝑒π‘₯𝑝(βˆ’1,386 βˆ’ 0,754𝑆𝐷) = 0,85 Peluang bagi siswa yang pendidikan terakhir ayah SMP adalah πœ‹0(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯ 𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯ 𝑝 𝑃2(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝 (1,504 βˆ’ 3,701π‘ π‘šπ‘) +𝑒π‘₯ 𝑝(βˆ’1,386 βˆ’ 0,811π‘ π‘šπ‘) = 0.82 Peluang bagi siswa yang pendidikan terakhir ayah SMA adalah πœ‹0(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯ 𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯ 𝑝 𝑃2(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝(1,504 βˆ’ 2,306π‘ π‘šπ‘Ž) +𝑒π‘₯ 𝑝(βˆ’1,386 βˆ’ 0,256π‘ π‘šπ‘Ž) = 0,61 Peluang bagi siswa yang pendidikan terakhir ayah sarjana adalah πœ‹0(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃1(π‘₯) + 𝑒π‘₯𝑝 𝑃2(π‘₯) = 1 1 + 𝑒π‘₯𝑝(1,504) + 𝑒π‘₯𝑝(βˆ’1,386) = 0,17 Model Regrei Logistik Multinomial untuk Menentukan Pilihan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas… CAUCHY – ISSN: 2086-0382 97 Pengujian individu untuk variabel pendidikan ibu, penghasilan ibu, jumlah saudara dan pekerjaan ayah juga menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas. Dengan menggunakan metode perhitungan yang sama maka didapatkan nilai peluang untuk masing- masing variabel. Perhitungan peluang untuk masing-masing varaibel yang tergolong memberikan pengaruh signifikan diberikan pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2 Peluang Pemilihan Sekolah Ditinjau dari Variabel yang Signifikan Variabel dan Kategori SMA MA SMK Pendidika n Ayah SD SMP SMA SARJANA 0,85 0,82 0,61 0,17 0,062 0,09 0,27 0,78 0,09 0,09 0,1176 0,0043 Pendidika n Ibu SD SMP SMA SARJANA 0,89 0,636 0,704 0,21 0,056 0,18 0,25 0,642 0,056 0,181 0,045 0,0143 Penghasila n Ibu <700.000 700.0002.000.00 0 0,745 0,44 0,33 0,156 0,44 0,67 0,098 0,11 0,00000007 6 Jumlah Saudara Jumlah=0 Jumlah=1 Jumlah=2 Jumlah=3 Jumlah>3 0,61 0,66 0,71 0,0000 00009 1 0,72 0,306 0,193 0,198 0,000 00001 2 0,27 0,079 0,142 0,09 0,00000000 0000000002 5 0,00000000 48 Pekerjaan Ayah Lain Swasta Wiraswast a PNS 0,75 0,74 0,699 0,143 0,062 0,207 0,200 0,714 0,187 0,051 0,10 0,14 Regresi Logistik Multinomial Secara Serentak Pada model regresi logistik secara serentak ini, variabel-variabel yang tidak signifikan pada regresi logistik multinomial yang individu tidak diikutsertakan dalam model. Variabel yang diikutkan dalam model serentak ini adalah pendidikan ayah, pendidikan ibu, penghasilan ibu, jumlah saudara, dan pekerjaan ayah. Hasil regresi logistik multinomial secara serentak. Dari model regresi logistik multinomial secara serentak didapatkan fungsi logit sebagai berikut : 𝑝1(π‘₯) = 5,310 βˆ’ 1,713𝑋11 βˆ’ 1,073𝑋12 βˆ’ 0,322𝑋13 βˆ’ 2,989𝑋21 βˆ’ 1,671𝑋22 βˆ’ 2,005𝑋23 βˆ’ 2,418𝑋31 βˆ’ 0,381𝑋32 + 0,695𝑋41 + 0,137𝑋42 + 0,388𝑋43 βˆ’ 18,386𝑋44 βˆ’ 3,253𝑋51 βˆ’ 2,684 𝑋52 βˆ’ 4,420𝑋53 𝑝2(π‘₯) = βˆ’34,726 βˆ’ 1,294𝑋11 βˆ’ 1,650𝑋12 βˆ’ 0,016𝑋13 βˆ’ 0,925𝑋21 βˆ’ 0,076𝑋22 βˆ’ 1,817𝑋23 + 18,594𝑋31 + 19,930𝑋32 + 19,657𝑋41 + 18,811𝑋42 + 17,797𝑋43 + 17,149𝑋44 βˆ’ 1,168𝑋51 βˆ’ 3,095𝑋52 βˆ’ 1,850𝑋53 Keterangan : X11 = pendidikan ayah SD X12 = pendidikan ayah SMP X13 = pendidikan ayah SMA X21 = pendidikan ibu SD X22 = pendidikan ibu SMP X23 = pendidikan ibu SMA 𝑋31 = π‘π‘’π‘›π‘”β„Žπ‘Žπ‘ π‘–π‘™π‘Žπ‘› 𝑖𝑏𝑒 < 700rb 𝑋32 = π‘π‘’π‘›π‘”β„Žπ‘Žπ‘ π‘–π‘™π‘Žπ‘› 𝑖𝑏𝑒 700rb < π‘₯ < 2.000rb X41 = Jumlah saudara 0 X42 = Jumlah saudara 1 X43 = Jumlah saudara 2 X44 = Jumlah saudara 3 X51 = Pekerjaan ayah lain βˆ’ lain X52 = Pekerjaan ayah swasta X53 = Pekerjaan ayah wiraswasta Puji Subekti 98 Volume 3 No. 2 Mei 2014 Uji Kesesuaian Model Berdasarkan pada hasil perhitungan untuk melihat apakah data empiris cocok atau tidak, diharapkan tidak ada perbedaan antara data empiris dengan model. Berdasar pada pustaka bahwa model akan dinyatakan sesuai jika signifikansi di atas 0,05 atau nilai - 2 Log Likelihood kurang dari Chi Square tabel. Keterangan selanjutnya dapat dilihat dari Tabel 3 Tabel 3 Uji Kesesuaian Model Model -2 Log Likelihood ( 𝑋(𝑑𝑏,∝) 2 ) Chi-Square (𝑋2 β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” ) Intercept Only 160,278 Final 11,091 149,187 Tampak bahwa X2hitung β‰₯ X 2 (v,∝) dengan 𝑣 = 𝑔 βˆ’ 2. Pengambilan keputusan didasarkan pada tolak 𝐻0 Berarti model adalah fit dan model dinyatakan sesuai dan boleh diinterpretasikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Dari hasil dan pembahasan 8 variabel bebas yang mempengaruhi dalam pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas menggunakan regresi logistik multinomial didapatkan 5 variabel bebas yang berpengaruh secara signifikan yaitu pendidikan ayah , pendidikan ibu, penghasilan ibu, jumlah saudara, dan pekerjaan ayah. 1. Hasil taksiran peluang pemilihan sekolah lanjutan ditinjau dari variabel yang signifikan siswa SMP 2, semakin rendah pendidikan terakhir yang ditempuh ayah maka semakin besar peluang siswa memilih SMA yaitu sebesar 70%-80%. Demikan juga dengan pendidikan terakhir ibu. Sedangkan siswa dengan penghasilan ibu yang kurang dari Rp 700.000 lebih besar peluangnya memilih SMA dibandingkan MA dan SMK. Siswa dengan jumlah saudara lebih dari 3 dan jenis pekerjaan ayah yang tidak menentu penghasilanya juga memiliki peluang paling besar untuk memilih SMA dibandingkan MA dan SMK. Selanjutnya saran yang dapat diberikan sehubungan dengan penelitian di atas perlu banyak dilakukan penilitian lagi terhadap variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap pemilihan sekolah lanjutan tingkat atas sehingga dapat dioleh hasil yang lebih baik.Para siswa diharapkan mampu mengambil keputusan terbaik dalam memilih sekolah yang dituju dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh. Pemerintah dianjurkan untuk menambah kuantitas dan kualitas sekolah baik SMA, MA maupun MA untuk melayani pendidikan lanjutan bagi siswa sesuai dengan pilihanya masing-masing. BIBLIOGRAPHY [1] Awliya, β€œMinat Pilihan Melanjutkan Sekolah Menengah Tingkat Atas,” KOMPAS, Jakarta, 2007. [2] A. Agresti, Categorical data analysis. John Wiley & Sons, 2014. [3] D. W. Hosmer Jr and S. Lemeshow, Applied logistic regression. John Wiley & Sons, 2004. Pendahuluan Kajian Teori Model Regresi Logistik Regresi Logistik Multinomial Pendidikan SMA, MA dan SMK Metode Penelitian Hasil dan Pembahasan Karakteristik Siswa SMP Negeri 2 Malang Regresi Logistik Multinomial secara Individu Regresi Logistik Multinomial Secara Serentak Uji Kesesuaian Model Kesimpulan Bibliography