5.1 Aisyah - Pengembangan Model Dasar EOQ dengan Integrasi Produksi Œ Distribusi untuk Produk Deteriorasi _120 PENGEMBANGAN MODEL DASAR EOQ DENGAN INTEGRASI PRODUKSI – DISTRIBUSI UNTUK PRODUK DETERIORASI DENGAN KEBIJAKAN BACKORDER (Studi Kasus Pada UD. Bagus Agrista Mandiri, Batu) Siti Aisyah1, Sobri Abusini2, Marsudi3 1,2,3Fakultas MIPA, Jurusan Matematika Universitas Brawijaya Jl. Veteran 2 Malang 65145 Email : aisyah_rasyid84@yahoo.com, sobri@ub.ac.id, marsudi61@ub.ac.id ABSTRAK Model persediaan digunakan untuk menentukan kebijakan mengawasi tingkat persediaan. Oleh sebab itu keberadaan persediaan perlu dikelola dengan baik sehingga diperoleh kinerja yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model integrasi produksi – distribusi untuk produk deteriorasi dengan kebijakan backorder. Model persediaan Economic Order Quantity (EOQ) Single Item digunakan sebagai dasar pengembangan model. Algoritma pencarian solusi model dibuat untuk mendapatkan solusi dari model. Selain itu pada bagian akhir diberikan studi kasus implementasi model di UD. Bagus Agrista Mandiri, Batu. Kata kunci : Model Persediaan EOQ, backorder, deteriorasi PENDAHULUAN Dalam melakukan pengelolaan persediaan, jenis barang atau produk juga harus menjadi perhatian dalam menentukan kebijakan yang optimal. Hal ini disebabkan tidak semua jenis produk atau barang dapat tahan lama selama dalam persediaan sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi pemasok atau pembeli. Barang yang mengalami deteriorasi tersebut antara lain produk makanan, gasoline, obat-obatan, bank darah, dan bahan makanan. Bentuk deteriorasi yang terjadi bermacam-macam, seperti damage, spoilage atau drynase. Penelitian pengendalian persediaan dengan mempertimbangkan deteriorasi juga telah banyak dilakukan. Su dan Lin (2001) mengembangkan model persediaan produksi dengan mempertimbangkan laju produksi tergantung demand dan tingkat persediaan. Wee dan Law (1999) mengembangkan model persediaan produksi dengan mempertimbangkan nilai waktu dan uang. Wu (2001) mengembangkan model persediaan dengan laju permintaan tipe ramp dan mengijinkan partial backorder. Penelitian model JELS untuk produk yang mengalami deteriorasi masih sedikit dan tidak mengijinkan shortage , yang merupakan konsekuensi ekonomi dari pesanan yang tidak terpenuhi dan akan dipenuhi kemudian. Shortage pada pembeli akan mengakibatkan dampak munculnya biaya backorder dan resiko ketidakpastian konsumen yang dapat berakibat pada kerugian jangka panjang. Namun, dalam situasi di mana biaya backorder memang ada dan dapat ditentukan, sebuah manfaat ekonomi dapat dilakukan dengan mengizinkan stockouts terjadi (Tersine, 1994). Dengan memungkinkan stockouts, kelebihan permintaan akan dilakukan dengan backorder dan dipenuhi dengan pengiriman berikutnya. Oleh karena itu penulis ingin mengembangkan model integrasi produksi- distribusi untuk produk yang mengalami deteriorasi dengan kebijakan backorder yang dipenuhi dengan pengiriman berikutnya sehingga produk di persediaan menjadi lebih sedikit dan, dan menghasilkan biaya persediaan yang lebih rendah. Pertanyaan penelitian yang aka dijawab dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana mengembangakan model dasar EOQ untuk produk yang mengalami deteriorasi (penurunan nilai setelah waktu tertentu) dengan kebijakan Backorder?, dan 2) Bagaimana implementasi dan analisis sensitivitasnya dari model yang dihasilkan? METODE PENELITIAN A. Formulasi Model 1. Notasi Notasi–notasi yang digunakan dalam formulasi model matematis ini adalah sebagai berikut: a. Notasi untuk rantai pasok N = jumlah pengiriman persiklus produksi Q = ukuran produksi per batch (unit) T = total waktu siklus (waktu) q = ukuran pengiriman (unit) � = laju deteriorasi ��= biaya deteriorasi per unit (Rp) Pengembangan Model Dasar EOQ dengan Integrasi Produksi – Distribusi untuk Produk Deteriorasi… Jurnal CAUCHY – ISSN: 2086-0382 121 b. Notasi untuk pembeli � = laju permintaan (unit/waktu) A = biaya pesan (Rp/pesan) H� = biaya simpan (Rp/unit/waktu) F = biaya tetap transportasi (Rp) V = biaya variabel transportasi per unit (Rp) S���= luasan dibawah kurva persediaan pembeli J = ukuran stockout (unit) K = biaya backorder (Rp/unit/waktu) c. Notasi untuk pemasok P = Laju produksi (unit/waktu) C = biaya setup per siklus batch produksi (Rp/setup) Hs = biaya simpan persediaan (Rp/unit/waktu) Ssup= luasan dibawah kurva persediaan pemasok 2. Asumsi – asumsi a. Situasi deterministik tetap dan diketahui oleh pembeli dan pemasok. b. Laju item deteriorasi adalah konstan c. � � �. d. Biaya transportasi dan biaya handling ditanggung oleh pembeli. e. Biaya item deteriorasi adalah konstan. f. Biaya backorder adalah tetap g. Tidak terjadi lost sale, permintaan yang tidak terpenuhi akan dilakukan backorder. h. Semua parameter biaya yang terkait dengan inventori dan produksi adalah diketahui dan tetap. i. Pemenuhan untuk backorder dilakukan seketika. PEMBAHASAN A. Model Matematik Total biaya sistem �������� merupakan penjumlahan dari biaya – biaya yang dikeluarkan oleh pembeli ����� dan biaya – biaya yang dikeluarkan oleh pemasok����� . 1. Model biaya yang dikeluarkan oleh pembeli Biaya – biaya yang dikeluarkan pembeli: a. Biaya pesan pembeli per periode = A / T b. Biaya simpan pembeli per periode = ������� c. Biaya transportasi = ! " #$%� d. Biaya kekurangna pembeli = &' e. Biaya deteriorasi pembeli = ()*����� Di mana : � + ,$%,-.*% (1) ' + /0$,1 + /0,% (2) Jadi total biaya yang dikeluarkan pembeli adalah: ��� + 2� " 34546�� " ! " 7 8� "���546�� ����8, ,:� + ; -$% " *,$<�2 " ! "7 8�";%, = : " /0,%<�34 "���� " & /0,% 2. Model Biaya Yang Dikeluarkan Pemasok Biaya – biaya yang dikeluarkan pemasok: a. Biaya setup pemasok per periode = C/T b. Biaya simpan pemasok per periode = 3�5�6>/� c. Biaya deteriorasi pemasok = ()*�@�A� Di mana: 5�6> + �* + 8�;-B = C, " $, = -$,B< (3) Jadi total biaya pemasok adalah: ��� + (� " �@�@�A� " ()*�@�A� ����8, � + "�3� " ����8;-B = C, " $, = -$,B< 3. Model Integrasi Pemasok - Pembeli �������8, ,:� + ��� " ��� �������8, ,:� + C� �2 " ! " 7 8 " �� "D4�34 " ���� "&' " �3� " ����8;-B = C, " $, =-$ ,B< (4) B. Solusi Model Hitung nilai optimal dari 8, dan : dengan menurunkan �������8, ,:� terhadap 8, dan : sama dengan nol, sehingga didapat: 8E + F ,-�G.(.$H�$I���.()*�.��@.()*�J�0KL�MM .$NCO.*#N �P�QR)S�0�P�QR)SQT�U (5) :E + ���.()*�%���.()*.V� (6) E + W �,-.*%��G.(�B��@.(@*�.%0�BN-� (7) Untuk + 1 (batas bawah), 8 akan menjadi batas atas sehingga 8E Y W ,-B �G.(.$H�B���.()*�.-��@.()*�.*#BNB�0���.()*.V� Ketika meningkat, maka nilai 8 menurun sehingga dari persamaan (5) didapatkan 8E [ W ,-B �G.(.$H�\���.()*�.*#]\,-.$�BN-�]$ Ketika � 1 hal ini membuat persamaan (7) menjadi 1 Y Y 6 +���.()*�.*#��@.�)*� G.(H "W,-\���.()*�*#].*�G.(�B��@.()*��BN-� (8) C. Implementasi Model Sebagai implementasi model, digunakan data yang diambil dari UD. Bagus Agrista Mandiri Siti Aisyah, Sobri Abusini, dan Marsudi 122 Volume 2 No. 3 November 2012 Batu dimana perhitungan dilakukan dengan bantuan software matlab dengan � + 0 = 0.2. Tabel 1. Nilai Parameter Keterangan Nilai Biaya Deteriorasi ���� Rp 1.500.000 Laju Produksi ��� 486 unit Biaya Setup ��� 972.000 / batch Biaya Simpan Pemasok �3�� Rp 800 / unit Biaya kekurangan �&� Rp 1.500.000 Jumlah permintaan ��� 443 unit Biaya pesan pembeli �2� Rp 15.000/pesan Biaya simpan pembeli �34� Rp 900 / unit Biaya transportasi �!� Rp 1.500.000 Biaya variabel �7� Rp 100 / unit Hasil perhitungan pada Tabel 2 integrasi pemasok pembeli dengan backorder untuk � + 0.1 diperoleh: a. Ukuran lot pengiriman �8E� = 82 b. Jumlah pengiriman � E� = 3 c. Ukuran stock out �:E� = 41 d. Ukuran batch produksi �a� = 248 e. Waktu siklus pemesanan ��� = 201 hari f. Total biaya sistem �������� =Rp19.831.284 Perbandingan Hasil Perhitungan Model Integrasi dengan dan Tanpa Backorder Dari Tabel (3) dan (4) di bawah ini diperoleh bahwa ketika laju deteriorasi meningkat, ukuran produksi optimal �a� dan waktu siklus ��� menurun. Hal ini tentu tidak diharapkan karena ketika laju deteriorasi meningkat akan mengakibatkan turunnya ukuran produksi yang berhubungan dengan waktu siklus dapat mengurangi keuntungan dalam sistem suplaychain Tabel 2. Perhitungan Integrasi Pemasok Pembeli � E 8E :E � a ������ 0.1 1 102 51 83 103 21.817.356 2 88 44 144 178 20.124.975 3 82 41 201 248 19.831.284 4 78 39 255 315 19.908.353 5 75 38 306 379 20.132.754 6 73 37 358 443 20.427.088 Tabel 3. Hasil perhitungan model integrasi dengan backorder untuk � berbeda-beda � 0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.150 0.175 0.2 Ukuran batch produksi �a� 3672 575 332 281 248 228 210 198 189 Waktu siklus ���) 3025 469 270 228 201 183 169 159 151 Jum.pengiriman � � 4 4 3 3 3 3 3 3 3 B. pengiriman �8� 918 143 110 93 82 75 69 65 62 Ukuran stockout �:� 5 29 37 40 41 42 41 41 41 (������) 1730063 10886607 14765958 17563065 19831284 21780169 23514598 25091298 26549758 Tabel 4. Hasil Perhitungan Model Integrasi Tanpa Backorder untuk � Berbeda � 0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.150 0.175 0.2 Ukuran produksi �a� 3668 546 390 318 279 246 226 210 199 Total waktu siklus ���) 3022 447 318 259 226 199 183 170 160 Jumlah pengiriman � � 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Ukuran pengiriman �8� 917 136 97 79 69 61 56 52 49 (������) 1732507 11432717 16073868 19652046 22676243 25345276 27760565 29984614 32057737 D. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan dengan merubah nilai parameter pada model. Besar perubahan parameter adalah sebesar 10%, 25%, dan 50% dari nilai parameter pada implementasi model, sedang laju deteriorasi yang digunakan adalah � + 0.1. 1. Perubahan Biaya Deteriorasi Dari hasil perhitungan pada Tabel (5) di bawah ini dapat disimpulkan bahwa perubahan Pengembangan Model Dasar EOQ dengan Integrasi Produksi – Distribusi untuk Produk Deteriorasi… Jurnal CAUCHY – ISSN: 2086-0382 123 biaya deteriorasi pada sistem supplay chain mengakibatkan perubahan yang signifikan pada ukuran lot dan biaya total sistem. Tabel 5. Perubahan Biaya Deteriorasi Pemasok % Nilai �� a � 8 : ������ %������ -50 750000 334 269 3 110 37 14811958 -25.3101 -25 1125000 282 227 3 93 40 17586043 -11.3217 -10 1350000 261 211 3 86 41 18979685 -4.2942 0 1500000 248 201 3 82 41 19831284 0 10 1650000 239 194 3 79 41 20633069 4.0430 25 1875000 227 184 3 75 42 21757213 9.7116 50 2250000 209 169 3 69 41 23468701 18.3418 2. Perubahan Kekurangan Dari hasil perhitungan yang disajikan pada Tabel (6) di bawah ini terlihat perubahan biaya kekurangan memberi pengaruh cukup besar terhadap ukuran lot pesan maupun terhadap total biaya. Perubahan biaya kekurangan sebesar -50% dari biaya semula mengakibatkan turunnya biaya sebesar 5.4%. Tabel 6. Perubahan Biaya Kekurangan �&� Pada Pembeli % & Nilai & a � 8 : ������ %������ -50 75000 264 213 3 87 58 18768913 -5.3570 -25 112500 255 206 3 84 48 19382891 -2.2610 -10 135000 252 203 3 83 44 19667188 -0.8275 0 150000 248 201 3 82 41 19831284 0 10 165000 248 201 3 82 39 19978639 0.7430 25 187500 245 198 3 81 36 20173221 1.7242 50 225000 242 196 3 80 32 20442893 3.0841 3. Perubahan Biaya Transportasi Dari hasil perhitungan Tabel (7) di bawah ini dapat dilihat bahwa perubahan biaya transportasi memberi pengaruh cukup besar terhadap total biaya. Perubahan biaya sebesar 50 % dari biaya transportasi awal menyebabkan perubahan total biaya sebesar 18.8% Tabel 7. Perubahan Biaya Transportasi (F) Pengiriman % ! Nilai ! a � 8 : ������ %������ -50 750000 238 193 4 59 30 15033855 -24.1912 -25 1125000 279 226 4 69 35 17639072 -11.0543 -10 1350000 239 194 3 79 40 18999060 -4.1965 0 1500000 248 201 3 82 41 19831284 0 10 1650000 261 211 3 86 43 20630629 4.0307 25 1875000 273 220 3 90 45 21775060 9.8016 50 2250000 298 240 3 98 49 23560875 18.8066 PENUTUP Hasil penelitian menunjukan ketika laju deteriorasi meningkat maka ukuran produksi menurun sebesar 15.72 % dari produksi semula, tetapi menyebabkan kenaikan total biaya sistem sebesar 18.3%. Sedang untuk peningkatan biaya transportasi perpengiriman mengakibatkan kenaikan total biaya sistem sebesar 18.8% dan menyebabkan ukuran produksi meningkat sebesar 20.16%. Begitu pula perubahan pada biaya setup memberikan pengaruh yang signifikan terhadap ukuran lot produksi yaitu meningkat sebesar 32% tetapi pada biaya sistem hanya meningkat sebesar 3.8%. Untuk penelitian lanjutan model dapat dikembangkan untuk multi produk, multi pembeli, atau multi pemasok. Dan dapat juga dikembangkan dalam manajemen rantai pasok produksi dan distribusi, aspek persediaan dan distribusi. Siti Aisyah, Sobri Abusini, dan Marsudi 124 Volume 2 No. 3 November 2012 DAFTAR PUSTAKA [1] Bhunia, A.K. & Maiti, M. 1998. Deterministic Inventory Model for Deteriorating items with Finite Rate of Replenishment Dependent on Inventory Level. Computers & Operations Research. 25 (11), 997. [2] Gaither, N. 1992. Production and Operations Management, Sixth Edition. New York: Fort Worth Philadelphia Sandiego. [3] Goyal, S.K & Giri, B.C. 2001. Recent Trends in Modelling of Deteriorating Inventory. European Journal of Operational Research. 134, 1-16. [4] Mulyono, S. 1991. Operation Reseach. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI [5] Rangkuti, F. 2004. Manajemen Persediaan (Aplikasi di Bidang Bisnis). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. [6] Simchi-Levi, D., Kaminsky, P., & Simchi- Levi, E. 2000. Designing and Managing the Supply Chain. McGraw-Hill Int. Ed. [7] Siswanto. 2007. Operation Research. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. [8] Sukmana, A., & I. Lokman. Model Matematika Sistem Persediaan Dengan Pengadaan Darurat. Integral. Vol 10: No 1. [9] Tersine, R. J. 1994. Principle of Inventory and Materials Management. New Jersey: Prentice Hall. [10] Yan, C., Banerjee, A., & Yang L. 2010. An Integrated Production – Distribution Model for A Deteriorating Inventory Item. International Journal of Production Economics. Article In Press.