




































 

                                                       
 Volume 1,No 1,2014, 13-20                                                                                                                          http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning  

 

| 13  

 

OPEN ACCESS 
Geoplanning 

E-ISSN: 2355-6544 

KAJIAN PERUBAHAN KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI 
KECAMATAN TEMBALANG, KOTA SEMARANG, BERBASIS 
INTERPRETASI CITRA SATELIT  
 

R. Nugrahaa, S. Rahayub 

a
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: anakpakam@gmail.com 

b
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: sri.yksmg@yahoo.com 

 
Abstract: Increasing the number of population in the District Tembalang, Semarang in 1991-

2010 has implications for the increase of space for settlement and infrastructure that impact 
on the reduced number of green space. District Tembalang needs special attention, especially 
in the provision of green space because it is one of the fast developing area in the Semarang. 
Based on the above problems, the research question arises, how changes in the availability of 
green space in the District Tembalang? The purpose of this study is to assess the changes in 
availability of green space in the District Tembalang, Semarang during the period of 12 years 
i.e from 1999 till 2011. This study uses remote sensing techniques by performing image 
interpretation using ArcGIS 9.3 software and using data satellite imagery of District Tembalang 
1999 and Ikonos Satellite Imagery 2011. Based on the analysis, an area of green space in the 
District Tembalang in 1999 was 3214, 86 ha and in 2011 was 3017,73 ha. The decrease of 
green space area during the period of 1999-2011 is 197.13 Ha. One of the recommendations of 
this study is the need to control the development activity, according to the land use planning 
based on RDTRK (urban planning documents) Semarang to maintain the availability of green 
space 

 
 
 
 
Abstrak: Peningkatan jumlah penduduk di Kecamatan Tembalang Kota Semarang pada tahun 

1991-2010 berimplikasi terhadap peningkatan kebutuhan ruang untuk permukiman dan 
sarana prasarana yang berdampak pada berkurangnya jumlah RTH (ruang terbuka hijau). 
Kecamatan Tembalang perlu mendapat perhatian khusus, terutama dalam penyediaan RTH 
karena merupakan salah satu kawasan cepat berkembang di Kota Semarang. Berdasarkan 
permasalahan diatas, maka muncul pertanyaan penelitian, bagaimana perubahan 
ketersediaan RTH di Kecamatan Tembalang?“. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 
perubahan ketersediaan RTH di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang selama kurun waktu 
12 tahun yaitu dari tahun 1999 s.d tahun 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah 
metode kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik penginderaan jauh dengan cara 
melakukan interpretasi citra menggunakan software Arcgis 9.3 dengan menggunakan data 
Citra Satelit Kecamatan Tembalang tahun 1999 dan Citra Satelit Ikonos Kota Semarang tahun 
2011. Berdasarkan hasil analisis, luas area RTH di Kecamatan Tembalang pada tahun 1999 
adalah 3.214,86 ha dan pada tahun 2011 adalah 3.017,73 ha. Penurunan luas area RTH 
selama kurun waktu tahun 1999-2011 adalah 197,13 Ha. Salah satu rekomendasi dari 
penelitian ini adalah perlunya pengendalian aktivitas pembangunan yang sesuai dengan 
rencana guna lahan berdasarkan RDTRK Kota Semarang untuk menjaga ketersediaan RTH. 

 

  

1. PENDAHULUAN 
Ruang terbuka hijau  adalah  sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk 

dan  batas  geografis  tertentu  dengan  status  penguasaan  apapun,  yang  di  dalamnya terdapat  
tetumbuhan  hijau  berkayu  dan  tahunan  (perennial  woody  plants),  dengan pepohonan  sebagai  
tumbuhan  penciri  utama  dan  tumbuhan  lainnya  (perdu,  semak, rerumputan,  dan  tumbuhan  penutup  
tanah  lainnya),  sebagai  tumbuhan  pelengkap,  serta benda-benda  lain  yang  juga  sebagai  pelengkap  

Info Artikel; 
 
Diterima:  
3 Maret 2014 
 
Hasil Revisi : 
10 Maret 2014 
 
Disetujui: 
26 Maret 2014 
 
Publikasi On-Line: 
 1 April 2014 
 

Kata kunci:  
Sistem Informasi 
Geografis, Citra 
Satelit, RTH 

Article Info; 
 
Received:  
3 March 2014 
 
Received in revised  
form: 10 March 2014 
 
Accepted: 
26 March 2014 
 
Available Online: 
 1 April 2014 
 

Keywords:  
GIS, Satellite 
Imagery, Green 
space 

mailto:anakpakam@gmail.com
mailto:sri.yksmg@yahoo.com


Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 14  
 

dan  penunjang  fungsi  RTH  yang bersangkutan oleh Purnomohadi (2006). Pada 30 tahun terakhir luas RTH 
diperkotaan berkurang dengan sangat signifikan. Berkurangnya luas RTH di perkotaan salah satunya 
disebabkan oleh jumlah penduduk diperkotaan yang terus meningkat. Untuk lebih jelas melihat 
peningkatan jumlah penduduk di Kecamatan Tembalang dapat dilihat pada Gambar 1 berikut. 

 
Gambar 1. Grafik Peningkatan Jumlah Penduduk Tembalang (BPS, 2011) 

 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

Peningkatan jumlah penduduk yang terjadi di Kecamatan Tembalang dikarenakan terdapat 
kecendrungan pekembangan Kota Semarang ke arah selatan yang menjangkau kawasan Tembalang dan 
sekitarnya. Faktor pendorong berasal dari kawasan pusat Kota Semarang yang semakin padat dan beban 
yang ditanggungnya pun semakin berat. Sedangkan faktor penarik berasal dari Kawasan Tembalang berupa 
lahan-lahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tanpa meninggalkan aspek 
pelestarian lingkungan (RDTRK Semarang BWK VI 2000-2010). Beragamnya aktifitas dan semakin 
bertambahnya penduduk pendatang di Kecamatan Tembalang akan memberi implikasi terhadap 
meningkatnya kebutuhan ruang untuk permukiman serta sarana prasarana penunjangnya. Hal ini berarti 
bahwa dengan bertambahnya jumlah penduduk Kecamatan Tembalang akan bertambah pula ruang 
terbangun yang akan semakin menggeser RTH di Kecamatan Tembalang jika pembangunan tidak dilakukan 
dengan perencanaan yang baik. Oleh sebab itu, sebagai kecamatan yang sedang berkembang, Kecamatan 
Tembalang perlu mendapat perhatian khusus terutama dalam penyediaan RTH agar dapat terwujud 
keseimbangan dalam pembangunan, hal ini sangat beralasan karena Berdasarkan RDTRK Semarang BWK VI 
tahun 2000-2010 Kecamatan Tembalang difungsikan untuk perumahan yaitu sebagai penampung limpahan 
penduduk dari pusat Kota Semarang.  

Pengembangan permukiman kota berupa perumahan baru (real estate) di Kecamatan Tembalang  
terdapat di Kelurahan Meteseh, Kelurahan Sendangmulyo, sebagian Kelurahan Jangli, sebagian Kelurahan 
Kedungmundu, sebagian Kelurahan Sambiroto, dan sebagian Kelurahan Mangunharjo. Berdasarkan dari 
uraian permasalahan di atas, dapat diketahui bahwa RTH sangat penting bagi keberlanjutan suatu kota 
dalam hal ini khususnya di Kecamatan Tembalang Kota Semarang, maka dari itu timbul pertanyaan 
penelitian (research question) yang mendasari kegiatan penelitian ini, yaitu “Bagaimana perubahan 
ketersediaan RTH di Kecamatan Tembalang Kota Semarang selama kurun waktu 12 tahun yaitu tahun 1999 
sampai dengan tahun 2011?“. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka perlu dilakukan penelitian 
tentang ketersediaan RTH di Kecamatan Tembalang kota Semarang selama periode 12 tahun yaitu dari 
tahun 1999 sampai tahun 2011 di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Tujuan yang ingin dicapai dalam 
penelitian ini adalah untuk mengkaji perubahan ketersediaan RTH di Kecamatan Tembalang Kota Semarang 
selama periode 12 tahun yaitu dari tahun 1999 sampai  tahun 2011. 

 

2. DATA DAN METODE 
Ruang terbuka hijau merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat 

pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka. Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh 
masyarakat baik secara langsung dalam kurun waktu terbatas maupun secara tidak langsung dalam kurun 
waktu tidak tertentu. Ruang terbuka itu sendiri bisa berbentuk jalan, trotoar, ruang terbuka hijau seperti 
taman kota,  hutan  dan  sebagainya oleh Hakim dan Utomo (2004). Manfaat RTH diantaranya adalah untuk 
identitas kota, nilai estetika, penyerap karbondioksida, pelestarian air tanah, penahan angin, ameliorasi 
iklim, habitat dan kehidupan liar. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang No.7 tahun 2010 Tentang 
Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) jenis penataan RTH di Kota Semarang  terdiri atas RTH Kawasan Hutan 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 15  
 

Lindung, RTH Kawasan Taman Hutan Raya, RTH Kawasan Rawan Bencana, RTH Kawasan Pantai Berhutan 
Bakau, RTH Kawasan Sempadan Pantai,  RTH Kawasan Sempadan Sungai, RTH Kawasan Sempadan Mata Air, 
RTH Kawasan Sempadan Waduk, RTH Kawasan Pertanian Lahan Basah, RTH Kawasan Pertanian Lahan 
Kering, RTH Kawasan Perikanan/ Tambak, RTH Kawasan Hutan Produksi,  RTH Kawasan Permukiman, RTH 
Kawasan Perkantoran dan Fasilitas Umum, RTH Kawasan Perdagangan dan Jasa Komersial,  RTH Kawasan 
Pendidikan, RTH Kawasan Industri, RTH Kawasan Wisata, Rekreasi dan Olah Raga, RTH Kawasan 
Pemakaman, RTH Pertamanan dan Lapangan, RTH Kawasan Khusus Militer, RTH Kawasan Terminal, RTH 
Kawasan Stasiun Kereta Api, RTH Kawasan Pelabuhan Laut, RTH Kawasan Bandar Udara,  RTH Jalur Jalan, 
RTH Jalur Sempadan Rel Kereta Api, RTH Jalur Sambungan Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Sambungan 
Udara  Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET); dan RTH Taman Atap (Roof Garden).   

Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan penginderaan 
jauh. Metode ini sebagai metode ilmiah yang konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. 
Metode ini menggunakan data-data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik 
(Sugiyono, 2008). Penginderaan jauh disingkat inderaja, berasal dari bahasa Inggris yaitu remote sensing. 
Pada awal perkembangannya, inderaja hanya merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh 
data di permukaan bumi. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan iptek, ternyata inderaja seringkali 
berfungsi sebagai suatu ilmu karena sangat besar kemanfaatannya. Menurut Lillesand dan Kiefer (1998), 
Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala 
dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap 
obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Penginderaan jauh akan bergantung pada panjang energi gelombang 
elektromagnetik sedangkan Gelombang elektromagnetik bervariasi membentuk panjang gelombangnya. 
Cahaya matahari berperan dalam penggunaan sensor padapengideraan jauh. Sebagian sensor dapat 
mendeteksi energi yang diemisikan bumi oleh Janssen dan Huurneman (2001). 

Data yang digunakan adalah data Citra Ikonos dan foto udara. Sejak diluncurkan pada September 1999, 
citra satelit bumi, Space Imaging Ikonos menyediakan data citra yang akurat, dimana menjadi standar 
untuk produk-produk data satelit komersil yang beresolusi tinggi. Ikonos memproduksi citra 1-meter hitam 
dan putih (pankromatik) dan citra 4-meter multispektral (red, blue, green dan near-infrared) yang dapat 
dikombinasikan dengan berbagai cara untuk mengakomodasikan secara luas aplikasi citra beresolusi tinggi 
oleh Space Imaging (2004). Disamping mempunyai kemampuan merekam citra multispetral pada resolusi 4 
meter, Ikonos dapat juga merekam obyek-obyek sekecil satu meter pada hitam dan putih.  sebagai salah 
satu data penginderaan jauh Citra Foto Udara mampu menyajikan gambaran mirip wujud dan letak  
sebenarnya  di  lapangan  dan  dapat  dilihat  pola  keruangannya  (Sutanto, 1987). Segala hasil perekaman 
foto udara ini berpuluh hingga beribu pasang foto udara tergantung dari tujuan pemetaan dan perekaman 
selalu disimpan dalarn media penyimpanan. Hal ini selalu dilakukan karena pemotretan obyek, daerah atau 
fenomena yang dikaji itu selalu dilakukan berkala dan tidak saal itu juga. Menurut Estes dan Simonett 
(1975) interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara atau citra dengan maksud untuk 
mengidentifikasi objek dan menilal arti pentingnya objek tersebut. Untuk melakukan interpretasi citra 
maupun foto udara digunakan kreteria interpretasi, yaitu terdiri atas rona atau warna, ukuran, bentuk, 
tekstur, pola, bayangan, situs, dan asosiasi.  

Selain dengan penginderaan jauh, interpretasi juga dibantu dengan perangkat lunak SIG. Aronoff 
menjelaskan dalam  Prahasta (2009: 116) sistem informasi geografis (Geographic Information System) 
adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi data 
mengenai informasi geografis. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-
objek dan fenomena di suatu lokasi geografis merupakan kerakteristik yang penting untuk dianalisis. 
Dengan demikian, SIG merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan dalam menangani 
data yang bereferensi geografis seperti masukan, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data), 
analisis, dan manipulasi serta keluaran. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan 
tinjauan dan pengumpulan data secara langsung dari kondisi yang ada di lapangan. Perolehan data primer 
dalam penelitian ini adalah berupa observasi di lapangan. Pelaksanaan teknik pengumpulan data dengan 
melalui observasi ini yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap obyek wilayah studi 
yaitu RTH Kecamatan Tembalang. 

 
 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 16  
 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 
Berdasarkan hasil interpretasi citra menggunakan Citra Foto Udara Kecamatan Tembalang tahun 1999, 

RTH Kecamatan Tembalang memilki luas 3.214,86 Ha, RTH mendominasi luas persentase penggunaan lahan 
di Kecamatan Tembalang, yaitu sebesar 80,55%. Kemudian dari sisa penggunaan lahan selain RTH yaitu 
seluas 264,43 Ha atau 6,63% digunakan untuk penggunaan lahan bangunan dan 511,73 atau 12,82% 
digunakan untuk penggunaan lahan lainnya (tanah longsor, tanah kosong, fasilitas umum, perkantoran, 
pabrik, dan jalan raya). Untuk lebih jelas luas tata guna lahan Kecamatan Tembalang tahun 1999 (ha) dapat 
di lihat pada Gambar 2 dan hasil interpretasi citra satelit di Gambar 3 dan Tabel 1.  

Gambar 2.Diagram Luasan RTH di Kecamatan Tembalang Tahun 1999 (Analisis, 2013) 
 

 
 

 

 
 

 

 

 

 

Gambar 3. Hasil Interpretasi dan Jenis RTH tahun 1999, ( Analisis, 2013) 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(tanah kosong, fasilitas umum, perkantoran, dan  
pabrik dan jalan raya) 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 17  
 

Tabel 1. Luas RTH Hasil Interpretasi dan Jenis RTH tahun 1999  (Analisis, 2013) 

 

Dari hasil tersebut diperoleh RTH terluas adalah RTH kawasan pertanian lahan kering seluas 1.510,8 ha, 
kemudian terluas kedua adalah RTH kawasan permukiman seluas 1.033,21 ha, terluas ketiga adalah RTH 
kawasan pertanian lahan basah seluas 378,05 ha, terluas keempat adalah RTH kawasan pendidikan seluas 
112,67 Ha, terluas kelima adalah RTH kawasan rekerasi dan olah raga seluas 90,10 ha, dan terluas keenam 
atau terluas terkecil adalah RTH kawasan pemakaman seluas 90,03 ha. Sementara itu, untuk RTH kawasan 
hutan lindung pada tahun 1999 di Kecamatan Tembalang tidak ditemukan karena penggunaan lahan pada 
kawasan lindung telah beralih fungsi menjadi penggunaan lahan non RTH kawasan hutan lindung seperti 
pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah.  

Selanjutnya, berdasarkan hasil interpretasi citra menggunakan Citra Ikonos Kecamatan Tembalang   
tahun  2011,  RTH  Kecamatan Tembalang memiliki luas 3.017,73 ha dari total luas Kecamatan Tembalang 
yaitu 3.991,02 ha, RTH mendominasi luas persentase penggunaan lahan di Kecamatan Tembalang pada 
tahun 2011 yaitu sebesar 75,62%. Kemudian dari sisa penggunaan lahan selain RTH yaitu seluas 419,81 ha 
atau 10,52% digunakan untuk penggunaan lahan bangunan dan 553,48 ha atau 13,86% digunakan untuk 
penggunaan lahan lainnya (tanah longsor, tanah kosong, fasilitas umum, perkantoran, dan pabrik, dan jalan 
raya). Untuk lebih jelas luas tata guna lahan Kecamatan Tembalang tahun 2011 dapat di lihat pada Gambar 
4 dan hasil interpretasi pada Gambar 5 dan Tabel 2. 

 

Gambar 4. Diagram Luas RTH di Kecamatan Tembalang Tahun 2011  (Analisis, 2013) 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

No. Jenis RTH Tahun 1999 

Luas RTH Persentase (%) 

1 RTH kawasan pertanian lahan basah 378.05 9,47% 

2 RTH kawasan pertanian lahan kering 1.510,8 37,84% 

3 RTH kawasan permukiman 1.033,21 25,91% 

4 RTH kawasan pendidikan 112,67 2,82% 

5 RTH kawasan rekreasi dan olah raga 90.1 2,26% 

6 RTH kawasan pemakaman 90.03 2,25% 

Jumlah 3.214,86 80,55% 

(tanah kosong,  
fasilitas umum, perkantoran, 
dan pabrikdan jalan raya) 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 18  
 

Gambar 5 . Hasil Interpretasi Citra Satelit  tahun 2011 (Analisis, 2013) 
 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Luas RTH Hasil Interpretasi dan Jenis RTH tahun 2011 (Analisis, 2013) 

 

No. 

 

Jenis RTH 

Tahun 2011 

Luas RTH Persentase 

1 RTH kawasan pertanian lahan basah 265,35 6,65% 

2 RTH kawasan pertanian lahan kering 1.271,08 31,86% 

3 RTH kawasan permukiman 1.187,08 29,74% 

4 RTH kawasan pendidikan 107,24 2,69% 

5 RTH kawasan rekreasi dan olah raga 96,38 2,41% 

6 RTH kawasan pemakaman 90,6 2,27% 

Jumlah 3.017,73 75,62% 

 
Berdasarkan hasil tersebut, RTH terluas adalah RTH kawasan pertanian lahan kering seluas 1.271,08 Ha, 

kemudian terluas kedua adalah RTH kawasan permukiman seluas 1.187,08 Ha, terluas ketiga adalah RTH 
kawasan pertanian lahan basah seluas 265,35 Ha, terluas keempat adalah RTH kawasan pendidikan seluas 
107,24 Ha, terluas kelima adalah RTH kawasan permukiman seluas 90,6 Ha, dan terluas keenam atau 
terluas terkecil adalah RTH kawasan rekreasi dan olah raga seluas 90,38 Ha. Sementara itu, untuk RTH 
kawasan hutan lindung pada tahun 2011 di Kecamatan Tembalang tidak ditemukan karena penggunaan 
pada kawasan lindung telah beralih fungsi menjadi penggunaan lahan non RTH kawasan hutan lindung 
seperti pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah.  

Setelah interpretasi data citra dilakukan, selanjutnya dilakukan analisis overlay raster untuk mengetahui 
perubahan luasan RTH. Dari hasil analisis tersebut, RTH di Kecamatan Tembalang pada analisis tahun 1999 
adalah 80 % (3.214,86) ha dari luas Kecamatan Tembalang dan RTH Kecamatan Tembalang pada tahun 
2011 memiliki luas 75 % (3.017,73 ha) dari luas Kecamatan  Tembalang. Hal   ini  menunjukkan selama 
kurun waktu 1999-2011 RTH di Kecamatan Tembalang mengalami penurunan seluas 197,13 Ha atau 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 19  
 

berkurang 4,93% dari luas RTH tahun 1999. Untuk lebih jelasnya mengenai perubahan ketersediaan setiap 
RTH di Kecamatan Tembalang selama kurun waktu tahun 1999-2011 dapat di lihat pada Tabel 3 berikut. 

 Tabel 3. Perubahan Luas RTH dari 1999-2011 (Analisis, 2013) 
 

No.  
Jenis RTH 

Hasil overlay 

Luas Perubahan RTH Persentase 
(%) 

1 RTH kawasan pertanian lahan 
basah 

 
-112,7 

 
-2,82% 

2 RTH kawasan pertanian lahan 
kering 

 
-239,72 

 
-5,98% 

3 RTH kawasan permukiman 153,87 3,83% 
4 RTH kawasan pendidikan -5,43 -0,13% 
5 RTH kawasan rekreasi dan olah 

raga 
 

6,28 
 

0,15% 
6 RTH kawasan pemakaman 0,57 0,02% 

Jumlah -197,13 -4,93% 

  
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa secara keseluruhan RTH di Kecamatan Tembalang selama 

kurun waktu tahun 1999-2011 mengalami penurunan luas 197,13 Ha dengan  RTH yang  mengalami 
penurunan luas adalah RTH kawasan pertanian lahan basah, dan RTH yang mengalami peningkatan luas 
adalah RTH kawasan permukiman. Untuk RTH yang mengalami penurunan paling luas adalah RTH kawasan 
pertanian lahan kering yaitu seluas 239,72 Ha, sedangkan untuk RTH yang mengalami peningkatan paling 
luas adalah   RTH   kawasan   permukiman  yaitu seluas 153,87 Ha.  

Berkurangnya luas RTH tersebut dikarenakan alih fungsi RTH lebih luas dibandingkan dengan luas 
pertambahan RTHnya, sedangkan meningkatnya luas RTH tersebut dikarenakan sebaliknya yaitu alih fungsi 
RTH yang lebih kecil dibandingkan dengan luas pertambahan RTH. Untuk lebih jelas, hasil analisis alih fungsi 
RTH di Kecamatan Tembalang tahun 1999-2011dapat dilihat pada Gambar 6. 

 
Gambar 6 . Hasil analisis alih fungsi RTH tahun 2011 (Analisis, 2013) 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 13-20                                                                                                           Nugraha dan Rahayu 

| 20  
 

4. KESIMPULAN 
Selama kurun waktu tahun 1999-2011 RTH di Kecamatan Tembalang didominasi oleh RTH kawasan 

pertanian lahan kering dengan luas 1.510,80 ha pada tahun 1999 dan seluas 1271,08 ha pada tahun 2011 
yang sebagian besar terdapat di Kelurahan Rowosari. Terjadi penurunan luas RTH selama kurun waktu 
tahun 1999-2011 di Kecamatan Tembalang seluas 197,13 ha yang sebagian besar terdapat di Kelurahan 
Meteseh dengan luas 59 ha. Sementara itu, pertambahan RTH paling luas adalah RTH kawasan permukiman 
yang  mengalami pertambahan seluas 262,86 ha yang sebagian besar terdapat di Kelurahan Sendangmulyo 
dengan luas 69,46 ha. RTH di Kecamatan Tembalang yang tidak mengalami perubahan selama kurun waktu 
tahun 1999-2011 adalah seluas 2.607,63 ha yang sebagian besar terdapat di Kelurahan Rowosari dengan 
luas 375,69 ha.  

Dari hasil tersebut, penataan ruang Kecamatan Tembalang pada masa mendatang harus lebih 
memprioritaskan atau memperketat aturan terhadap kawasan lindung di Kecamatan Tembalang agar 
kawasan lindung di Kecamatan Tembalang dapat terwujud, karena dengan adanya kawasan lindung maka 
akan ada vegetasi yang mampu menjaga kepentinngan hidrologi, yaitu tata air dan dapat menghilangkan  
pengaruh  topografi  terhadap  erosi dapat mencegah terjadinya  banjir  besar. Kegiatan pembangunan di 
Kecamatan Tembalang harus lebih mengarah pada usaha menjaga kelestarian RTH agar dapat terwujud 
keseimbangan dalam pembangunan, hal ini sangat  beralasan karena Berdasarkan RDTRK Semarang BWK VI 
Kecamatan Tembalang difungsikan untuk perumahan yaitu sebagai penampung limpahan penduduk dari 
pusat Kota Semarang.  

 

5. DAFTAR PUSTAKA 
Estes,  JE,  Simonett,  DS.  1975.  Chapter  14:  Fundamentals  of  image interpretation,  in R.G. Reeves  (Ed.), 

Manual  of Remote  Sensing, Vol.  II, Falls Church: American Society of Photogrammetry, pp. 869–

1076. 

Janssen,  L.F.L  and  Huurneman  C.G.  2001. Principles  of  Remote  Sensing.  ITC Educational Texbooks 

Series. ITC, Enshede, Netherlands. 

Lillesand dan Kiefer. 1998. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh, Yogyakarta: 

Gadjah mada University, Terjemahan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 2007 Tentang 

Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. 

Perda Kota Semarang No.7 Tahun 2010 Tentang  Ruang Terbuka Hijau. 
Prahasta, Eddy. 2009. Sistem Informasi Geografis Konsep-Konsep Dasar (Perspektif Geodesi & 

Geomatika),Informatika: Bandung. 

Purnomohadi, Ning. 2006. Ruang Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota,  Jakarta,  

Direktorat Jendral Penataan Ruang 

Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota  semarang Tahun  2000-2010.  Badan  Perencanaan Pembangunan 

daerah Kota Semarang.  

Space Imaging. 2004. http://www.spaceimaging.com/products/ikonos/index.htm [22 Mei 2013] 

Sugiyono. 2008. Statistika untuk penelitian, Alfabeta, Bandung. 
Sutanto. 1987. Metode Penelitian Penginderaan Jauh Untuk Geografi. Makalah Ceramah Untuk Staf 

Pengajar UMS Surakarta. 


	KAJIAN PERUBAHAN KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KECAMATAN TEMBALANG, KOTA SEMARANG, BERBASIS INTERPRETASI CITRA SATELIT
	Abstract: Increasing the number of population in the District Tembalang, Semarang in 1991-2010 has implications for the increase of space for settlement and infrastructure that impact on the reduced number of green space. District Tembalang needs spec...
	Abstrak: Peningkatan jumlah penduduk di Kecamatan Tembalang Kota Semarang pada tahun 1991-2010 berimplikasi terhadap peningkatan kebutuhan ruang untuk permukiman dan sarana prasarana yang berdampak pada berkurangnya jumlah RTH (ruang terbuka hijau). K...
	1. PENDAHULUAN
	Keywords:
	GIS, Satellite Imagery, Green space
	Gambar 1. Grafik Peningkatan Jumlah Penduduk Tembalang (BPS, 2011)
	2. DATA DAN METODE
	Selain dengan penginderaan jauh, interpretasi juga dibantu dengan perangkat lunak SIG. Aronoff menjelaskan dalam  Prahasta (2009: 116) sistem informasi geografis (Geographic Information System) adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk...
	3. HASIL DAN PEMBAHASAN
	Gambar 2.Diagram Luasan RTH di Kecamatan Tembalang Tahun 1999 (Analisis, 2013)
	Gambar 3. Hasil Interpretasi dan Jenis RTH tahun 1999, ( Analisis, 2013)
	Gambar 4. Diagram Luas RTH di Kecamatan Tembalang Tahun 2011  (Analisis, 2013)
	Gambar 5 . Hasil Interpretasi Citra Satelit  tahun 2011 (Analisis, 2013)
	Gambar 6 . Hasil analisis alih fungsi RTH tahun 2011 (Analisis, 2013)
	4. KESIMPULAN
	5. DAFTAR PUSTAKA

