




































 

          
Volume 1, No 1, 2014, 33-43                                                                                                                           

                                                                                                                                        http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning 

 

| 33   

 

OPEN ACCESS Geoplanning 
E-ISSN: 2355-6544 

PEMETAAN PENGARUH PERKEMBANGAN PASAR WAGE KOTA 
PURWOKERTO TERHADAP LINGKUNGAN PERMUKIMAN SEKITAR 
 

T. K. Pamuliha, Widjonarkob 

a
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: tantio90@yahoo.co.id   

b
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: widjonarko93@yahoo.com 

 
Abstract: Fire accident that occurred in the Pasar Wage in 2002 forced the government of 
Banyumas district doing renovations on the building as well as expand the area of Pasar Wage. 
Now, the design of the building in Pasar Wage has 2nd floors, which raises new issues, where 
traders don't want to open the stall on the 2nd floor due to “no merchandise sold as goods as 
in 1st floor”, so the traders were forced to open the stall on the pedestrian ways which can 
interfere the activity in the neighborhood market. This research uses a spatial approach. Data 
collecting has been done through mapping GIS analysis, visual observation, questionnaire 
distribution, and interview. The result shows several impacts of Pasar Wage to the housing 
area at its surroundings. Firstly, the impact of the land use with the emergence of commercial 
and mixed used buildings replacing the housing area. The second impact is the increase of 
business and job opportunity for the local residents such as on street parking, street vendors, 
and retail. The activity in Pasar Wage also induces the traffic congestion at a particular hour, 
especially near the east entrance of the building. Last, it affects the condition of the physical 
environment such as the inundation and bad scent due to the clogged drainage or sewerage 
system. Therefore, need a government and community effort to overcome and minimize the 
effects of market activity for solving those problems. 

 
 
 

Abstract:  Penelitian ini menggunakan pendekatan positivistik, dengan cara menyelidiki dan 
mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan di antara gejala-gejala tersebut 
untuk dapat meramalkan apa yang akan terjadi. Pengumpulan  data dilakukan melalui 
observasi visual, distribusi kuesioner, dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 
beberapa dampak dari perkembangan Pasar Wage terhadap lingkungan permukiman di 
sekitarnya. Di antaranya adalah dampak terhadap perubahan guna lahan dengan munculnya 
beberapa bangunan perdangan dan campuran yang sebelumnya adalah permukiman. Daya 
tarik Pasar Wage juga meningkatkan peluang usaha masyarakat sekitar, seperti munculnya 
parkir on-street, PKL di pinggir jalan, hingga peluang perdagangan retail. Dari sisi sistem 
pergerakan, dampaknya terlihat dari munculnya titik –titik rawan macet pada jam tertentu, 
khsusnya di pintu timur Pasar Wage. Lingkungan fisik binaan juga terkena dampak, seperti 
penyumbatan drainase dan saluran limbah, genangan dan bau tidak sedap yang merambah ke 
lingkungan permukiman. Pasar Wage memiliki depo sampah khusus, fasilitas ini dimanfaatkan 
oleh masyarakat sekitar sebagai lokasi pembuangan sampah. Temuan di atas perlu mendapat 
perhatian oleh pemerintah dan masyarakat, seperti adanya upaya pembatasan pertumbuhan 
perdagangan dan jasa khususnya PKL, penertiban potensi parkir di bahu jalan, pengaturan dan 
pengawasan untuk fasilitas drainase, limbah dan sampah pasar. 
 

  

 
1. PENDAHULUAN 

Seiring waktu dengan bertambahnya tuntutan (demand) terhadap pemenuhan kebutuhan hidup, 
maka pasar Wage juga mengalami perkembangan secara perlahan. Jumlah pedagang dan pembeli semakin 
banyak, tempat berdagang semakin luas serta waktu transaksi semakin lama. Sementara jika ditarik 
kembali ke teori penentuan lokasi sebuah pasar, dibutuhkan beberapa faktor yang harus dipenuhi agar 
dapat tercipta lingkungan yang baik dan tertata rapih. Menurut Miles (1999), terdapat 9 faktor yang perlu 
diperhatikan, yaitu peruntukan lahan (zoning), penampakan fisik (physical features), utilitas, transportasi, 

Info Artikel; 
 
Diterima:  
7 Maret 2014 
 
Hasil Revisi : 
17 Maret 2014 
 
Disetujui: 
29 Maret 2014 
 
Publikasi On-Line: 
1 April 2014 
 

Kata kunci:  
Dampak, Pasar 
Tradisional, 
Lingkungan 
Permukiman 

Article Info; 
 
Received:  
7 March 2014 
 
Received in revised  
form: 17  March 2014 
 
Accepted: 
29 March 2014 
 
Available Online: 
1 April 2014 
 

Keywords:  
Impact, Traditional 
Market, Housing 
Environment 

mailto:bitta.pigawati@gmail.com


Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 34   

 

parkir, dampak lingkungan (sosial dan alam), pelayanan publik, penerimaan/respon masyarakat (termasuk 
perubahan perilaku) serta permintaan dan penawaran (pertumbuhan penduduk, penyerapan tenaga kerja 
dan distribusi pendapatan). 

Pasar Wage Purwokerto dibangun kira-kira pada abad ke-19 dijaman penjajahan belanda. Pasar 
Wage lama terletak di perempatan tengah-tengah kota di jalan Jendral Soedirman. Pasar itu sendiri 
dibangun oleh belanda bertujuan untuk memperlancar aktifitas perekonomian dan pemasaran belanda 
yang saat itu masih menjajah Indonesia. 

Pada saat masih di Jalan Jendral Soedirman, Pasar Wage lama dengan kedemangannya yang saat ini 
dibangun sebuah klenteng di Utara pasar. Pasar Wage yang saat ini berdiri, dulunya hanyalah sebuah 
lapangan yang digunakan untuk kegiatan olagraga ataupun yang lain. Pasar Wage lama terdapat sekitar 
1600 pedagang yang berdagang dapat menampung kurang lebih 1200 los dan  61 kios. 

Permasalahan di dalam pasar Wage terjadi itu karena perubahan bentuk pasar yang direnovasi ulang 
dan diperluas kawasannya oleh pihak pemerintah pasca bencana kebakaran pada tahun 2008 dengan luas 
kawasan 10.305,44 m². 

Meskipun sudah direnovasi namun kenyataannya tetap saja masih banyak pedagang yang berjualan 
di jalan-jalan. Hal ini juga diperumitkan  dengan sikap pedagang yang tidak mau menaati peraturan yang 
telah ditetapkan oleh pemda. Misalnya dengan mengurangi  luas tempat untuk pembeli satu meter agar 
agar pedagang dapat tertampung, memisahkan jenis dagangannya yang kering di lantai dua dan yang basah 
di lantai satu. Tetapi pedagang beralih bahwa peraturan itu dapat merugikan pedagang sehingga barang 
dagangannya tidak laku, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kios-kios di lantai dua yang kosong serta 
tatanannya yang tidak terlalu tertib. 

Melihat permasalahan diatas, pasar wage yang sekarang ini tidak sesuai dengan apa yang 
direncanakan oleh pemerintah dengan merenovasi pasar tersebut pasca kebakaran.  Penjual yang di lantai 
dua hampir sebagian turun ke badan jalan  dan trotoar untuk membuka lapak kondisi seperti ini membuat 
kondisi pasar semrawut dan tidak tertata. Begitu juga dengan sampah yang dihasilkan oleh para pedagang 
yang berjualan di pasar ini tidak terkelola dengan baik . 

Dengan adanya pasar Wage yang lambat tahun semakin pesat perkembangannya di tengah Kota 
Purwokerto dan perubahan kondisi fisik pasar Wage yang berubah menjadi pasar modern dengan maksud 
dan tujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sebelumnya terjadi. Hal ini menjadi menarik untuk 
diteliti, bagaimanakah dampak yang terjadi atau sebab-akibat yang akan timbul pada kondisi fisik 
permukiman yang berada disekitar pasar Wage sekarang ini? 

 
 

2. Kajian Literature 
Permukiman versi Doxiadis (1971) mengatakan bahwa permukiman terdiri dari 2 (dua) unsur utama, 

yaitu isi atau content dan wadah atau container, yang kemudian diturunkan menjadi 5 (lima) unsur, yaitu: 
alam atau nature, manusia atau man, masyarakat atau society. Rumah atau shell dan jaringan atau network. 

Kemudian Doxiadis membagi kembali permukiman kedalam 4 (empat) kategori, antara lain yaitu:  
1) Homogeneous atau seragam, terdiri dari ladang-ladang atau fields;  
2) Central atau pusat, terdiri dari gedung dan rumah-rumah;  
3) Circulatory atau peredaran, terdiri atas jaringan jalan pada suatu daerah;  
4) Special atau khusus, terdiri bangunan khusus yang ada pada bagian yang homogen. 

 

Pola penggunaan lahan sangat dipengaruhi oleh pola aktivitas ekonomi dan kondisi geografis kotanya, 
arah pola penggunaan lahan akan mengikuti pola aktivitas yang terjadi. Menurut Catanesse (1988), tidak 
pernah ada rencana tataguna lahan yang dilaksanakan dengan satu gebrakan. Memerlukan waktu yang 
panjang oleh pembuat keputusan dan dijabarkan dalam bagian-bagian kecil dengan perencanaan yang baik. 
Sedangkan menurut (Gallion, Athur,B and Simon Eisner, 1986:27) mengemukakan bahwa pemanfaatan 
lahan perkotaan terbagi menjadi 5 kategori, yaitu: (a) lahan pertanian, (b) perdagangan, (c) industri, (d) 
perumahan,dan (e) ruang terbuka. Winarso (1995:11) mengklasifikasikan pemanfaatan lahan menjadi; (a) 
lahan permukiman; (b) lahan perdagangan; (c) lahan pertanian; (d) lahan industri; (e) lahan jasa; (f) lahan 
rekreasi; (g) lahan ibadah dan (i) lahan lainnya. 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 35   

 

Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas (Otto, 1998). Aktivitas 
tersebut dapat bersifat alamiah, baik kimia,  fisik, ,maupun bioogi. Dalam konteks AMDAL, penelitian 
dampak dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. 

Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan oleh pembangunan 
selalu lebih luas daripada yang menjadi sasaran pembangunan yang direncanakan. Misalnya, jika petani 
menyemprot sawahnya dengan pestisida untuk memberantas hama wereng, yang mati oleh semprotan 
pestisida bukan hanya wereng saja melainkan juga lebah madu yang terbang di udara. Secara umum 
dampak pembangunan diartikan  sebagai perubahan yang tidak direncanakan yang diakibatkan oleh 
aktivitas pembangunan. 

Ginanjar (1980) menyatakan bahwa pasar adalah tempat untuk menjual dan memasarkan barang atau 
sebagai bentuk penampungan aktivitas perdagangan. Pasar pada mulanya merupakan perputaran dan 
pertemuan antara persediaan dan penawaran barang dan jasa. Sedangkan bagi Campbell (1990) 
mendefinisikan pasar sebagai institusi atau mekanisme di mana pembeli (yang membutuhkan) dan penjual 
(yang memproduksi) secara bersama-sama melakukan pertukaran barang dan jasa. Tak berbeda seperti 
yang dipaparkan oleh Stanton (1996) dimana pasar merupakan tempat pembeli bertemu dengan penjual, di 
mana terdapat barang-barang atau jasa-jasa yang ditawarkan untuk dijual dan kemudian terjadi 
pemindahan hak milik. Selain itu dinyatakan pula bahwa pasar adalah sebagai tempat orang-orang yang 
mempunyai kebutuhan untuk dipuaskan, mempunyai uang untuk dibelanjakan dan kemauan untuk 
membelanjakan uang. Berbeda dengan pendapat para ahli diatas, Phillip Kotler (1998) melihat arti pasar 
dalam beberapa sisi, yaitu: 

  

1. Pasar dalam pengertian aslinya adalah suatu tempat fisik di mana pembeli dan penjual berkumpul 
untuk mempertukarkan barang dan jasa.  

2. Pengertian pasar bagi seorang ekonom adalah semua pembeli dan penjual yang menjual dan 
melakukan transaksi atas barang/jasa tertentu. Para ekonom dalam hal ini lebih tertarik akan struktur, 
tingkah laku dan kinerja dari masing-masing pasar ini.  

3. Pengertian pasar bagi seorang pemasar pasar adalah himpunan dari semua pembeli nyata dan pembeli 
potensial dari suatu produk. 

 

3. METODOLOGI PENELITIAN 
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan positivistik, dimana 

merupakan pendekatan dengan cara menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta 
hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi. 
Metode yang dipakai studi ini adalah Metode Kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui faktor–faktor 
yang mempengaruhi munculnya permasalahan permukiman akbiat perkembangan pasar Wage. Metode ini 
menggunakan data numerik sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan analisis. 

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data di 
lapangan dilakukan dengan cara kajian dokumen, observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara. 
Wawancara dilakukan kepada pihak-pihak terkait yang ada di wilayah studi, serta kuesioner yang ditujukan 
kepada penduduk setempat secara sampling. 

 

 
4. TEMUAN STUDI 

 

4.1 Kondisi dan Peran Pasar Wage 

Berdasarkan pendapat para pedagang, desain bangunan berlantai dua tersebut merupakan 
permasalahan utama bagi mereka karena mempersulit persaingan dengan pedagang di lantai dasar.  
Hal tersebut dinyatakan oleh 80% responden dalam kuesioner mengenai kondisi Pasar Wage yang 
diberikan kepada 70 orang pedagang. Lebih lanjut diungkapkan bahwa dengan desain bangunan pasar 
berlantai dua ini mengakibatkan rasa malas pengunjung untuk naik ke lantai dua karena kebutuhan 
mereka sudah dapat terpenuhi di lantai dasar. 

 
 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 36   

 

Gambar 1. Bangunan Dua Lantai Pasar Wage (Survey Lapangan, 2013) 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
Dampak selanjutnya adalah banyak pedagang yang sudah menyewa kios di lantai dua kemudian 

turun dan ikut membuka lapak di bawah. Pada akhirnya, semakin banyak pedagang yang menempati 
lahan di ruang-ruang sirkulasi dan mengakibatkan terbatasnya pergerakan dan timbul kemacetan di 
beberapa titik. 

Selain permasalahan mengenai keterbatasan ruang karena penggunaan lahan yang tidak 
semestinya, ketersediaan prasarana pendukung aktivitas pasar khususnya sistem pengelolaan sampah 
dan jaringan drainase juga menimbulkan permasalahan. Kondisi tersebut teramati dari proses 
observasi primer dan juga hasil distribusi kuesioner. Sebanyak 57.14% responden menyatakan bahwa 
kondisi sistem persampahan adalah salah satu masalah yang menonjol dan perlu diperhatikan. 
Kurangnya penyediaan keranjang sampah di lokasi pasar dan tempat penampungan sampah 
sementara yang jauh dari lokasi pasar mengakibatkan sering terjadi timbunan sampah pada beberapa 
sudut pasar. 

 

Gambar 2. Kosongnya Lantai Dua Pasar Wage (Survey Lapangan, 2013) 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 

Selain itu, 38.57% responden menyatakan bahwa sistem drainase perlu ditingkatkan lagi karena 
keadaan saat ini dengan drainase tersier dengan lebar kurang dari 30 cm kerap tersumbat dan 
mengakibatkan genangan kecil. Walau genangan tersebut tidak mengakibatkan banjir namun sangat 
mengurangi kenyamanan berbelanja yang akibatnya mengurangi jumlah pengunjung yang ingin 
berbelanja terutama pada musim hujan. 

Ditinjau dari skala yang lebih luas, Pasar Wage mampu memenuhi kebutuhan penduduk hingga 
pada jarak ± 60 menit waktu tempuh. Untuk mendukung hal tersebut, lokasi Pasar Wage dilalui oleh 
sedikitnya tiga (3) rute angkutan umum yang dapat menjadi pilihan masyarakat untuk mengakses 
pasar selain dengan menggunakan kendaraan pribadi. Keberadaan rute angkutan umum tersebut 
mendukung keberadaan Pasar Wage untuk melayani kebutuhan masyarakat dari berbagai tempat di 
lingkup Kabupaten Banyumas. Namun meskipun demikian, jumlah pengunjung pasar yang 
menggunakan kendaraan pribadi relatif tinggi terlihat dari padatnya arus lalu lintas dan lahan-lahan 
parkir yang tersedia di sekitar area pasar. 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 37   

 

4.2 Fungsi Bangunan di Sekitar Pasar Wage 

Sebaran permukiman di sekitar Pasar Wage umumnya berada di laporan kedua jalan utama. 
Lapisan pertama jaringan jalan utama umumnya dialokasi untuk perdagangan dan lokasi fasilitas 
umum (terlihat pada peta fungsi bangunan).  

Masyarakat yang tinggal di permukiman tersebut pada umumnya adalah orang-orang yang telah 
tinggal cukup lama, sehingga telah terbiasa dengan kondisi yang ada. Hal tersebut tercermin pada hasil 
responden yang mayoritas menyatakan kondisi yang biasa saja pada infrastruktur yang telah tersedia. 
Namun beberapa permasalah umum yang selalu terjadi di permukiman yang berdekatan dengan pasar 
adalah pencemaran udara dan limbah yang dihasilkan dari pasar. 

 

Gambar 3. Sebaran Dan Fungsi Bangunan Di Kelurahan Purwokerto Wetan (Analisis Penyusun, 2013) 

 
 

 
Aspek penting bahwa keberadaan pasar di sebuah lokasi cenderung memicu perkembangan lokasi 

tersebut. Seringkali ditemui bahwa wilayah di sekitar pasar berkembang menjadi wilayah dengan 
beragam fungsi, baik yang berkaitan dengan fungsi perdagangan sebagai perpanjangan dari pasar 
ataupun fungsi lain. Kondisi ini ditemukan di permukiman sekitar pasar wage. Permukiman di sekitar 
pasar wage cenderung untuk berkembang, baik untuk mewadahi sumber daya manusia yang menjadi 
pedagang pasar, ataupun membuka peluang usaha baru sebagai imbas dari perkembangan pasar 
khususnya dan jenis aktivitas jasa lainnya. 

Permukiman yang berada di sekeliling  pasar Wage  merupakan pihak yang mengalami secara 
langsung perkembangan lokasi pasar tersebut, baik sebagai pelaku maupun sebagai penerima manfaat 
maupun dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas perdagangan yang berlangsung. Untuk itu perlu 
diketahui secara lebih detail mengenai  kondisi permukiman terhadap keberadaan dan perkembangan 
pasar Wage. 

 
 

4.3 Kondisi Fisik dan Kualitas Lingkungan Permukiman 

Kondisi fisik dan lingkungan permukiman di sekitar pasar Wage menggunakan beberapa indikator 
umum, yaitu aspek ruang tinggal, kualitas ruang, Ruang Terbuka Hijau, ketersedian air bersih, serta 
saluran drainanse dan limbah. 

 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 38   

 

Tabel 1.  Kualitas Lingkungan Permukiman di Sekitar Pasar Wage (Hasil Analisis 2013) 
 

Aspek Lingkungan Indikator Kondisi Lapangan 

Ruang bertinggal Luas Rumah Sebagian besar rumah sudah memenuhi standar luas rumah, 
55% memiliki luas lebih dari 30m

2
 untuk keluarga ideal. Hanya 

sebesar 25% rumah tidak yang memliki luas kurang dari 30 m
2
.  

Jumlah Ruang Jumlah ruang yang ada di rumah  sebanyak 1-3 ruang (30%) 
atau sebanyak 4-6 ruang (53%). Khusus untuk rumah dengan 
jumlah ruang 1-3, umumnya menggunakan ruangan secara 
campuran, seperti ruang keluarga yang tergabung dengan 
ruang makan atau ruang tamu 

Kualitas Ruang Pengudaraan Alami Rata-rata persentase ruang di dalam rumah yang memiliki 
akses terhadap pengudaraan alami secara langsung adalah 
sebesar 68%. Sebanyak rata-rata 10% memperoleh 
pengudaraan alami secara tidak langsung. Masih terdapat 
rata-rata 22% dari ruang yang ada dalam rumah yang tidak 
mendapat pengudaraan alami. 

Pencahayaan Alami Rata-rata persentase ruang di dalam rumah yang memiliki 
akses terhadap cahaya alami adalah sebesar 73%. Masih 
terdapat rata-rata 25% dari ruang yang ada dalam rumah yang 
tidak mendapat cahaya alami. Di antara ruang yang tidak 
memperoleh pencahayaan alami sama sekali, 62% adalah 
kamar tidur, 12% adalah kamar mandi dan 7% adalah dapur. 

Ruang Hijau Ketersediaan 
halaman rumah 

Sebanyak 53% rumah tidak memiliki halaman sama sekali, 27% 
hanya memiliki teras. Hanya 10% yang memiliki halaman yang 
dapat menyerap air, dan 10% memiliki halaman yang terdiri 
dari tanah dan teras. 

Ketersediaan 
tanaman 

Sebanyak 50% rumah tidak memiliki tanaman sama sekali. 
40% rumah hanya memiliki sedikit tanaman (umumnya berupa 
pot tanaman) dan hanya 10% rumah yang memiliki tanaman 
yang cukup banyak. 

Air Bersih Sumber air bersih 
untuk keperluan 
sehari-hari 

Sumber air utama untuk minum adalah air tanah (55%) dan 
PDAM (15%). Untuk memasak, mandi dan mencuci, hampir 
semua rumah menggunakan air tanah. Tidak ada yang 
menggunakan sumber air bersih dari PAM. 

Fasilitas kamar mandi Pada sebagian rumah tidak terdapat kamar mandi sendiri 
sehingga harus menggunakan kamar mandi umum.  

Drainanse dan 
Pembuangan 
Limbah 

Drainase Sebagian besar drainase di kawasan permukiman tidak 
berfungsi, tersumbat ataupun tidak terdapat saluran drainase 
yang baik.  

Sistem Limbah Sistem pengolahan limbah belum ada, sehingga umumnya 
masyarakat langsung mengalirkan limbah ke sungai.  

 

 
4.4 Kondisi Fisik dan Kualitas Lingkungan Permukiman 

Penilaian dampak Pasar Wage terhadap permukiman sekitar dalam penelitian ini ditinjau dari 5 
aspek, perubahan guna lahan, sistem pergerakan, drainase dan limbah dan persampahan di 
permukiman sekitar Pasar Wage. 
a. Perubahan Guna Lahan 

Bagi permukiman yang berada di sekitar  Pasar Wage  terdapat beberapa permasalahan yang 
terlihat menonjol, khususnya pada perubahan guna lahan. Pasar Wage merupakan salah satu 
spot/titik pusat perdagangan di Purwokerto. Sejak kejadian kebakaran Pasar Wage tahn 2008, 
perubahan fisik bangunan Pasar Wage sangat signifikan.  

Daya tarik Pasar Wage sebagai pusat ekonomi tradisional menjadi potensi khusus wilayah ini. 
Sebagai pasar tradisional terbesar di Kabupaten Banyumas, Pasar Wage menjadi potensi 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 39   

 

perputaran uang dan potensi daya tarik pertukaran barang. Potensi ini juga ditangkap oleh jenis 
jenis aktivitas perdagangan dasa lain, seperti perbankan, pertokoan retail dan mini market.  

Sejauh ini pertumbuhan bangunan dan aktivitas di kawasan ini sangat cepat, terlihat dari 
perkembangan guna lahan terbangun yang cenderung lebih kepada pertumbuhan sifat perkotaan. 
Selain itu pertumbuhan bangunan fungsi perdagangan dan jasa juga sangat signifikan. 
Pertumbuhan aktivitas perdagangan ini umumnya berawal dari alih fungsi lahan atau bangunan 
fungsi permukiman dan ruang terbuka.  

Selain itu, pertumbuhan fungsi bangunan tempat tinggal dengan sistem sewa juga sangat 
tinggi. Muncul beberapa rumah kos/rumah sewa di sekitar Pasar Wage. Hal ini dikarenakan tingkat 
kebutuhan rumah tinggal di sekitar pasar Wage cukup tinggi, umunya di huni oleh pendatang atau 
warga di luar kawasan yang bekerja di Pasar Wage. Berdasarkan penilaian dari masyarakat 75% 
masyarakat yang bertempat tinggal di rumah kos/rumah sewa memiliki alasan karena dekat dengan 
pasar (tempat bekerja), sisanya menjawab karena lokasi yang dekat dengan fasilitas lain. 

b. Kondisi Sistem Pergerakan 

Pertumbuhan dan perkembangan pasar wage hingga saat ini berimplikasi pada pertumbuhan 
arus pergerakan di sekitar pasar, khususnya jalan jalan utama dari atau menuju pasar Wage. 
Kondisi ini memunculkan beberapa spot/titik kemacetan. Beberapa penyebab kemacetan di sekitar 
Pasar Wage dipengaruhi uleh beberapa hal, antara lain adalah: 

 

 PKL 
Sebagian besar jalan utama di sekitar pasar wage menjadi bagian dari lapak pedagang. Hal ini 
disebabkan tidak semua pedagangan menggunakan fasilitas pasar, terlihat dari kondisi lantai 2 
Pasar Wage cenderung kosong. Keberadaan PKL ini berada di bahu jalan, selain menganggu 
keindahan, sebagian besar berdampak pada hambatan samping untuk arus kendaraan 
bermotor.  

 Arus Keluar Masuk Pengunjung 
Sebagian besar pengunjung melakukan perhentian/pergantian moda di pinggir jalan. Kondisi ini 
menimbulkan antrian kendaraan yang melaju dengan kendaraan yang sedang menurunkan/ 
menaikan penumpang. Tidak hanya pengguna angkutan umum, tetapi juga angkutan pribadi.  

 Parkir on-street 
Salah satu aktivitas yang timbul karena tarikan Pasar Wage adalah parkir. Kebanyakan 
pengunjung parkir menggunakan fasilitas parkir on-street. Keberadaan parkir ini sebagian besar 
adalah parkir liar yang dikelola oleh penduduk sekitar.  

 

Mayoritas responden memberi konfirmasi bahwa keberadaan Pasar Wage kerap menimbulkan 
kemacetan terutama pada jam-jam sibuk di pagi, siang dan sore hari. Dengan rincian 5.25% 
menjawab sangat setuju, 62.5% menjawab setuju dan 32.25% menjawab biasa saja. Kemacetan 
yang terjadi disebabkan karena bahu jalan kerap digunakan sebagai tempat beraktivitas untuk 
berdagang, padahal jalan tersebut adalah jalan utama bagi permukiman yang berada disekitarnya. 

 

Gambar 4. Sebaran Spot Kemacetan di Sekitar Pasar Wage (Analisis Penyusun, 2013) 
 

 

 

 

 

 

 
 
 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 40   

 

Gambar 5. Peta Sebaran Spot Kemacetan di Sekitar Pasar Wage (Analisis Penyusun, 2013) 
 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 

 

 

 

 
 

  
 

c. Drainase dan Limbah 

Drainase dan pengolahan limbah merupakan salah satu prasarana dasar lingkungan 
permukiman dan lingkungan perdagangan dan jasa. Senada dengan kebutuhan tersebut, kondisi 
drainase dan limbah di sekitar Pasar Wage akan berdampak pada kualitas lingkungan permukiman, 
khususnya drainase dan limbah, yang merupakan saluran/ jaringan perkotaan.  

Kondisi saluran drainase dan pengolahan limbah di pasar wage secara langsung tidak tersedia 
dengan baik. Umumnya terjadi penyempitan atau macet karena pengaruh timbunan sampah di 
lingkungan pasar. Implikasi dari sampah tersebut adalah sering terganggunya saluran drainase yang 
berada di permukiman sekitarnya, seperti yang diungkapkan 60% responden. Genangan kerap 
terjadi akibat tersumbatnya saluran drainase karena sampah, dan diperparah dengan saluran 
drainase yang kecil dan kerap ditutup untuk menambah ruang aktivitas. Selain itu, bau yang 
menyengat yang datang dari sampah dan saluran drainase, juga kerap mengganggu aktivitas 32.5% 
responden sehingga kualitas lingkungan dan tingkat kenyamanan untuk tinggal menjadi menurun. 

Khususnya di sebagian besar saluran drainase di sekitar pasar wage dilakukan “penutupan” 
sepihak oleh pedagang kaki lima, sebagai tapak dagangan. Hal ini menjadi bahaya untuk potensi 
penyumbatan saluran drainase. Seperti yang dikeluhkan oleh sebagian besar masarakat di sekitar 
pasar, muncul beberapa lokasi genangan pada musim hujan. Potensi limbah hasil aktivitas pasar 
sangat tinggi, baik limbah padat ataupun limbah cair. Masyarakat juga mengelukan kondisi ini, 
karena kerap tercium aroma bau busuk hingga ke permukiman, khususnya pada radius 25-50 meter 
dari pasar Wage. 

d. Persampahan 

Sebagai pusat aktivitas perdagangan dengan beragam komoditas yang ramai pengunjung, 
pengelolaan sampah penting untuk diperhatikan. Berdasarkan pendapat sebagian responden yang 
ditemui menyatakan bahwa mereka merasa kesulitan untuk membuang sampah karena kurangnya 
penyediaan tempat sampah di area pasar. Kondisi tersebut juga dirasakan oleh pedagang 
khususnya untuk komoditas makanan basah seperti sayuran dan daging yang sangat membutuhkan 
ketersediaan kerangjang sampah. Kurangnya penempatan keranjang sampah pada akhirnya 

A 

C 

B 

 

a. Kemacetan diakitbakan 
oleh parkir on-street 
dan naik turun 
pengunjung 

b. Kemacaten yang di 
akibatkan pedagang 
kaki lima 

c. Jalan yang menerima 
efek domino dari 
kemacetan di jalan 
sekitar pasar.  



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 41   

 

mengakibatkan para pengunjung dan juga pedagang membuang atau bahkan menumpuk sampah 
secara sembarangan yang menimbulkan bau dan mengganggu kenyamanan pengunjung. 

Gambar 6. Salah Satu Timbunan Sampah Ilegal di Sekitar Pasar Wage (Survey Lapangan, 2013) 
 

 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 

Selain itu, ketersediaan depo sampah dari UPT Pasar Wage yang terletak relatif jauh dari pasar 
tampak kurang dimanfaatkan dengan optimal sebagai tempat penampungan. Sejauh ini belum ada 
sistem yang jelas dan terintegrasi untuk pengelolaan sampah dari kios-kios di area pasar hingga ke 
depo. Kondisi depo pembuangan sampah pun perlu ditingkatkan karena seringkali tampak 
tumpukan sampah karena kurangnya frekuensi pengambilan sampah dari depo ke tempat 
pengelolaan sampah selanjutnya. 

Namun di sisi, keberadaan depo sampah tersebut sejauh ini dapat dimanfaatkan oleh 
penduduk yang tinggal di permukiman sekitar sebagai tempat pembuangan sampah sementara. Hal 
tersebut mengindikasikan bahwa ketersediaan fasilitas pendukung pasar dapat memberikan 
manfaat positif bagi kondisi lingkungan permukiman. Namun perlu digarisbawahi bahwa jika hal 
tersebut dibiarkan tanpa adanya upaya pengintegrasian sistem pengelolaan sampah permukiman 
dan pasar dengan jaringan sampah perkotaan secara keseluruhan dapat menimbulkan 
permasalahan di kemudian hari. 

 
Gambar 7. Upaya Buang Sampah Masyarakat Setelah Perbaikan Pasar Wage (Survey Lapangan, 2013) 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

5. TEMUAN STUDI 
Secara langsung keberadaan Pasar Wage dinilai mempengaruhi keberadaan permukiman di sekitarnya. 

Baik dari kondisi lingkungan, perkembangan permukiman dan kondisi lingkungan binaan. Dampak 
keberadaan Pasar Wage terhadap permukiman sekitarnya di Kelurahan Purwokerto Wetan antara lain 
adalah: 

 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 42   

 

a. Dampak perubahan Guna Lahan 
Terdapat beberapa perubahan guna lahan dan alih fungsi bangunan dari lahan kosong atau fungsi 

rumah menjadi bangunan perdagangan dan jasa terjadi khusunya di pinggir jalan utama timur dan 
utara Pasar Wage. Bentuk perubahan ini, pada bangunan rumah dilakukan alih fungsi menjadi 
pertokoan. Selain itu pertumbuhan bangunan fungsi tempat tinggal juga mulai berkembang, seperti 
bangunan rumah tinggal sewa yang umumnya dihuni oleh masyarakat yang bekerja di Pasar Wage. 

b. Dampak pada Sistem Pergerakan 
Perkembangan pasar wage meningkatkan aktivitas pergerakan masyarakat. Sebagai tempat 

pemenuhan kebutuhan, Pasar Wage manjadi salah satu pusat perdaganagan. Kondisi ini memunculkan 
kemacetan pada jalan jalan di sekitar Pasar Wage. Beberapa faktor penyebab kemacetan adalah 
penyedian lahan parkir on-street, PKL di bahu jalan, dan aktivitas naik-turun penumpang (pengunjung). 

c. Dampak pada kualitas lingkungan drainase dan limbah 
Sistem drainase dan pengolahan limbah tidak berfungsi dengan baik, diperparah dengan 

beberapa saluran drainase dijadikan tapak pedagangan kaki lima. Sehingga sebagian besar terjadi 
penyempitan saluran. Untuk beberapa kondisi sering terjadi genangan dan bau busuk di sekitar Pasar 
Wage, hal ini menggagu kualitas lingkungan permukiman di sekitar Pasar Wage. 

d. Dampak pada persampahan 
Sistem pengelolaan sampah sebagai infrastruktur pendukung kegiatan perdagangan belum 

disediakan secara optimal. Kurangnya penyediaan keranjang sampah dan belum terinteg rasinya 
pengelolaan buangan dari aktivitas pasar menjadi permasalahan yang menimbulkan bau karena 
tumpukan sampah yang dibuang secara sembarangan. Depo sampah sebagai fasilitas pasar saat ini 
juga digunakan oleh penduduk sekitar. Namun sejauh ini, permasalahan berkaitan dengan pengelolaan 
sampah hanya dirasakan di area di sekitar pasar dan tidak berdampak secara langsung pada aktivitas 
permukiman. 

 
 

6. REKOMENDASI 
Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan beberapa rekomendasi terkait dampak keberadaan Pasar 

Wage terhadap permukiman di sekitarnya. Rekomendasi ditujukan pada semua stakeholder, pemerintah, 
masyarakat, swasta serta rekomendasi untuk penelitian lanjutan sebagai bentuk penyempurnaan 
penelitian ini.  

a. Pemerintah 
Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan pengelola Pasar Wage melalui UPT Pasar Wage harus 
mempertimbangkan beberapa hal di antaranya adalah: 

 Pengelolaan alokasi pedagang di sekitar pasar, khususnya PKL yang berada di pinggir jalan agara di 
arahkan kembali kedalam pasar. PKL ini dapet menempati lantai 2 pasar yang saat ini cenderung 
kosong. 

 Pengelolaan sistem jaringan perkotaan, seperti persampahan, drainase dan limbah. 3 jaringan ini 
dinilai masih berdampak negatif untuk permukiman sekitar.  

 Sebagai pendegah kemacetan, pemerintah harus mampu meyediakan lahan parkir off-street serta 
pengawasan untuk parkir liar di bahu jalan.  

 Pengendalian pertumbuhan dan alih fungsi lahan, khususnya di dalam kawasan permukiman, untuk 
menghindari kepadatan bangunan yang berlebihan.  
 

b. Masyarakat dan Swasta 
Masyarakat dan swasta sebagai pengguna pasar dan penerima dampak dan manfaat dari pasar harus 
mampu menggunakan fasilitas perdagnagan ini dengan baik. Potensi pasar sebagai arus pertukaran 
kebutuhan dapat menjadi potensi ekonomi yang memadai untuk peningkatan kualitas hidup. 
 
  



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 1, 33-43                                                                                                    Pamulih dan Widjonarko 

| 43   

 

7. DAFTAR PUSTAKA 
Campbell, R MC Conned and Stanley L Brue. 1990. Economic, Problem and Policie. MC Graw Publishing 

Company. 

Catanese, Antoni J, 1988, Pengantar Perencanaan Kota, Erlangga Surabaya. 

Doxiadis C.A. 1971. Ekistics: An Introduction to the Science of Human Settlement. London: Hutchinson.  

Gallion, A.B dan Simon Eisner, 1996, Pengantar Perancangan Kota, Jilid I, Terjemahan Susongko dan Januar 

Hakim. Jakarta : Galia Indonesia. 

Ginanjar, Nugraha Jiwapraja. 1980. Masalah Ekonomi Mikro. Jakarta: Acro. 

Soemarwoto, Otto. (2007). Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY 

PRESS. 

Stanton,William J. 1996. Prinsip Pemasaran. Jakarta: Penerbit Erlangga. 

 


