




































 

          
Volume 1, No 2, 2014, 56-64                                                                                                                           

                                                                                                                                                http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning 

 

| 56  

 

OPEN ACCESS Geoplanning 
E-ISSN: 2355-6544 

MODEL SPASIAL STATISTIK KEPEMILIKAN SEPEDA MOTOR DI 
KECAMATAN BANYUMANIK, KOTA SEMARANG 
 

S.Y.Ardiansyaha, A.R.Rakhmatullahb 

a
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: shepta_yudha@yahoo.co.id 

b
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: anita.ratnasari.r@gmail.com 

 
Abstract: Semarang is a fast forward and fast growing city viewed from its economic growth. 

However, the increased population along by increased activity gives a new difficulty, that is 
congestion. The existence of urbanization encourages people tend to prefer a suburban area 
to the center of the city. With the growing movement of transportation activity, it has pushed 
the level of ownership of private vehicles, especially motorcycles in the suburbs. Banyumanik 
Sub-district as a suburb of the Semarang City is functioned as settlements development 
direction. Banyumanik Sub-district is the highest number of motorcycle ownership in 
Semarang sub urban with the amount of 20.428 units. For understanding the motorcycle 
ownership concentration, it is required the study of distribution and spatial aspects, so that it 
can be seen spreading evenly or not. The method used in this research is quantitative 
descriptive and spatial modeling approach named Spatial Statistics Analysis. The analysis 
methods used in this study is using the method of analysis Descriptive Statistics. The analytical 
tool uses a GIS (Geographic Information System). According to the research results, it is 
revealed that the movement system of the motorcycle user community in Banyumanik Sub-
district reaches until 37% toward the center of the city, 58% Banyumanik stir around the area, 
and a 5% move toward Semarang regency. As a results of the analysis of spatial patterns, it is 
showed that the distribution of the motorcycles ownership forms a cluster pattern with a high 
concentration level (High Cluster). The highest concentrations of motorcycle ownership exist in 
the surrounding area Perumnas Banyumanik, while the lowest ownership concentration is in 
the region such as the Bukitsari Residence, and Graha Estetika Residence. 

 
Abstrak: Kota Semarang merupakan kota cepat maju dan cepat tumbuh dilihat dari 

pertumbuhan ekonominya, namun demikian peningkatan  jumlah  penduduk  yang disertai 
dengan meningkatnya aktivitas memberikan permasalahan baru yakni kemacetan. Adanya 
urbanisasi mendorong masyarakat cenderung lebih memilih kawasan pinggiran kota untuk 
tinggal. Dengan meningkatnya pergerakan aktivitas terhadap transportasi telah mendorong 
tingkat  kepemilikan  kendaraan  pribadi terutama sepeda motor di kawasan pinggiran. 
Kecamatan Banyumanik sebagai kawasan pinggiran Kota Semarang difungsikan sebagai 
arahan pengembangan kawasan permukiman. Kecamatan Banyumanik merupakan 
kecamatan yang memiliki jumlah kepemilikan kendaraan terbanyak di kawasan pinggiran 
Semarang dengan jumlah sebesar 20.428 unit. Untuk memahami konsentrasi kepemilikan 
sepeda motor diperlukan penelitian dari distribusi dan dari aspek spasialnya, agar dapat 
dilihat persebarannya merata atau tidak. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah 
deskriptif kuantiatif dan pendekatan pemodelan spasial yakni Spatial Statistic Analysis. 
Metode Analisis yang digunakan dalam  penelitian ini menggunakan metode analisis Statistik 
Deskriptif. Alat analisis yang digunakan menggunakan bantuan GIS (Geographic Information 
System). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pola pergerakan masyarakat pengguna 
sepeda motor di Kecamatan Banyumanik 37% menuju pusat Kota Semarang, 58% begerak di 
sekitar kawasan Banyumanik, dan 5% bergerak menuju ke Kabupaten Semarang. Sedangkan 
untuk hasil analisis pola spasial, didapatkan hasil bahwa distribusi atas kepemilikan sepeda 
motor membentuk sebuah pola klaster dengan tingkat konsentrasi tinggi (High Cluster). 
Konsentrasi kepemilikan sepeda motor tertinggi berada di sekitar kawasan Perumnas 
Banyumanik, sedangkan konsentrasi kepemilikan terendah berada di wilayah seperti 
Perumahan Bukitsari dan Graha Estetika. 

 
 

Info Artikel; 
 
Diterima:  
5 September 2014 
 
Hasil Revisi : 
15 September 2014 
 
Disetujui: 
17 September 2014 
 
Publikasi On-Line: 
 1 Oktober 2014 
 

 
Kata kunci:  
Kecamatan 
Banyumanik, 
Kepemilikan Sepeda 
Motor, Pola Spasial, 
GIS 

Article Info; 
 
Received:  
5 September 2014 
 
in revised form:  
15 September 2014 
 
Accepted: 
17 September 2014 
 
Available Online: 
 1 October 2014 
 

Keywords:  
Banyumanik 
Subdistrict, 
Motorcycle 
Ownership, Spatial 
Patterns, GIS 

mailto:shepta_yudha@yahoo.co.id
mailto:anita.ratnasari.r@gmail.com


 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 57  
 

1. PENDAHULUAN 
 

  Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia dan sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, 
setiap harinya terdapat 852.496 kendaraan yang melintas lalu lalang di jalan raya. Tingginya angka 
kepemilikan kendaraan pribadi membuat kota Semarang kian hari kemacetan semakin bertambah. Jumlah 
sepeda motor di tiap kecamatan berbeda-beda dan jika ditelusuri akan terdapat karaketristik yang menarik 
untuk diteliti. Dengan karakteristik yang berbeda tersebut peneliti berusaha mengidentifikasi pola spasial 
yang terbentuk dari kepemilikan kendaraan sepeda motor di kawasan pinggiran Kota Semarang. Seiring 
bertambahnya penduduk di pusat kota, penduduk akan lebih memilih tempat tinggal yang lebih tenang 
yakni di kawasan pinggiran.  
 Bertambahnya jumlah kepemilikan sepeda motor dapat menyebabkan permasalahan turunan dalam 
bidang transportasi. Fenomena yang menarik tentang  keterkaitan antara perilaku perjalanan dan pola 
spasial adalah dalam hal bangkitan perjalanan. Jika ditinjau dari segi spasialnya, maka akan membentuk 
distribusi persebaran, bangkitan dan pola tersendiri dari kepemilikan sepeda motor yang berbeda-beda di 
pusat kota ataupun di pinggiran Kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi 
distribusi dan pola spasial yang terbentuk berdasarkan kepemilikan sepeda motor di pinggiran Kota 
Semarang yakni Kecamatan Banyumanik. Dengan penggunaan pola spasial diharapkan masyarakat dapat 
lebih mengerti bagaumanakah kepemilikan kendaraan bermotor terkonsentrasi terutama di kawasan 
pinggiran kota Semarang. Pertimbangan pemilihan wilayah studi di Kecamatan Banyumanik adalah karena 
kepemilikan sepeda motor di Banyumanik merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan kecamatan 
pinggiran lain yang jauh dari pusat kota. Perkembangan kawasan Banyumanik yang pesat yakni banyaknya 
perumahan-perumahan baru juga ikut bertambahnya jumlah penduduk yang tinggal di kecamatan ini dan 
menggunakan sepeda motor. 

 
 

2. DATA DAN METODE 
 

2.1 Travel Behavior 
Terdapat indikator statistik dalam travel behavior yakni: 

- Travel Rate (Tingkat Perjalanan) 
 Merupakan frekuensi perjalanan rata-rata penduduk setiap hari utuk melakukan aktivitasnya. 
Tingkat perjalanan dipengaruhi oleh gender seseorang, untuk wanita biasanya dalam melakukan 
aktivitasnya cenderung lebih sedikit daripada pria. Selain itu faktor usia juga mempengaruhi tingkat 
perjalanan masyarakat. Masyarakat yang berumur >60 tahun cenderung relatif kecil pergerakannya 
karena dipengaruhi oleh karakteristik fisiknya. 

- Travel Time Consumption 
 Merupakan waktu perjalanan yang dihabiskan untuk menyelesaikan perjalanan mereka,  atau yang 
biasa disebut dengan waktu tempeh perjalanan. 

- Travel Purpose 
 Tujuan perjalanan tidak hanya berbasis kepada permintaan perjalanan, tetapi menunjukkan 
tentang kegiatan yang akan dilakukan setelah sampai tujuan. Aktivitas yang dilakukan dapat berupa 
bekerja, belanja, sekolah, dll. 

- Travel Mode 
 Moda perjalanan merupakan alat transportasi yang digunakan untuk melakukan aktivitasnya. Moda 
dapat berupa kendaraan bermotor seperti bus, sepeda motor dan mobil atau juga bersepeda atau 
berjalan kaki. 
 

2.2 Pola Guna Lahan  
Pola guna lahan dalam bangkitan perjalanan dan awal pergerakan masyarakat berasal dari 

perumahan. Menurut (Suparno & Marlina, 2006) dalam perumahan, jenis rumah dikategorikan 
berdasarkan tipe rumah. Jenis rumah tersebut terdiri atas: 
a. Rumah Sederhana 

 Rumah Sederhana merupakan rumah bertipe kecil, yang mempunyai keterbatasan dalam 
perencanaan ruangnya. Rumah tipe ini sangat cocok untuk keluarga kecil dan masyarakat yang 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 58  
 

berdaya beli rendah. Rumah sederhana merupakan bagian dari program subsidi pemerintah untuk 
menyediakan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pada 
umumnya rumah sederhana mempunyai luas rumah 22 m2 s/d 36 m2, dengan luas tanah 60 m2 s/d 
75 m2. 

b. Rumah Menengah 
 Rumah Menengah merupakan rumah bertipe sedang. Pada tipe ini, cukup banyak kebutuhan ruang 
yang dapat direncanakan dan perencanaan ruangnya lebih leluasa dibandingkan pada rumah 
sederhana. Pada umumnya rumah menengah ini mempunyai luas rumah 45 m2 s/d 120 m2, dengan 
luas tanah 80 m2 s/d 200 m2. 

c. Rumah Mewah  
 Rumah Mewah merupakan rumah bertipe besar. Biasanya dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan 
dan berdaya beli tinggi. Perencanaan ruang pada tipe ini lebih kompleks karena kebutuhan yang 
dapat direncanakan dalam rumah ini banyak disesuaikan dengan kebutuhan pemiliknya. Rumah 
tipe besar pada umumnya tidak hanya digunakan sebagai simbol status, simbol kepribadian, dan 
karakter pemilik rumah, ataupun simbol kebanggaan. Pada umumnya rumah mewah memiliki luas 
lebih dari 120 m2 dengan luasan tanah lebih dari 200 m2. 
 

2.3 Spasial Statistik & Hot-Spot 
 

Spasial Statistik adalah alat analisis dalam Sistem Informasi Geografis yang berfungsi untuk 
menganalisis distribusi spasial, pola spasial, proses, dan hubungan spasial. Meskipun mungkin terdapat 
kesamaan antara spasial dan non-spasial (tradisional) statistik dalam hal konsep dan tujuan, spasial 
statistik lebih unik dikembangkan khususnya digunakan untuk data yang menyangkut geografis spasial. 
Spasial Statistik menggabungkan ruang  yakni jarak, area, konektivitas dan hubungan spasial langsung 
menggunakan matematika (ESRI). 

Analisis statistik juga digunakan untuk mengidentifikasi dan mengkonfirmasi bentuk pola spasial, 
seperti pemusatan kelompok, mengetahui tren arah, atau apakah terbentuk suatu klaster. Fungsi 
statistik yakni menganalisis data yang mendasari dan memberikan ukuran yang dapat digunakan untuk 
mengetahui keberadaan dan kekuatan pola. Dalam spasial statistic terdapat analisis klaster yang 
memperhitungkan tentang pola klaster yang terbentuk. 

Hot Spot (Titik Panas) merupakan konsenstrasi dari kejadian dengan batas area geografis yang 
muncul dari waktu ke waktu. Hot Spot dapat digunakan pula untuk menilai konsentrasi spesifik dari 
guna lahan atau antara aktifitas dan guna lahan (Block & C.R, 1995). Hot Spot mungkin tidak ada dalam 
kehidupan nyata, tetapi Hot Spot merepresentasikan dimana ada konsentrasi dari kegiatan atau kasus 
tertentu sehingga daerah tersebut dapat dicap sebagai daerah konsentrasi tinggi. 

Terdapat puluhan teknik statistik analisis untuk mengidentifikasi Hot Spot (Everiit, 1974). Sebagian 
besar teknik analisis statistik digunakan yang biasa disebut dengan analisis klaster. Ini adalah teknik 
mengelompokkan kasus bersama-sama dalam kelompok yang relatif  koheren. Semua tetap 
bergantung kepada bagaimana cara mengoptimalkan kriteria yang dipakai untuk diidentifikasi. Karena 
Hot Spot  adalah sebuah konstruksi persepsi, teknik yang digunakan harus mendekati bagaimana 
seseorang memahami wilayah studi. Berikut adalah beberapa tipe metode Hot Spot/Cluster Anaysis 
(Everitt, 1974 dan Megbolougbe, 1996) : 

1. Point Location 
2. Hierarchical Techniques 
3. Partitioning Techniques 
4. Density Techniques  
5. Clumping Techniques 
6. Risk-based Techniques 
7. Miscellanous Techniques 

 

2.4 Klaster dan Pola Spasial 
 

Menurut Tobler dalam bukunya “Hukum Pertama Geografi” mengungkapkan bahwa semua hal 
selalu berkaitan dengan semua hal lain, tetapi sesuatu yang lebih dekat lebih memiliki pengaruh 
daripada sesuatu yang jauh (Tobler, 1970). Distribusi spasial dengan nilai-nilai yang ada di lokasi 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 59  
 

tertentu menunjukan hubungan dengan lokasi lain disebut dengan autokorelasi spasial. Klaster spasial 
adalah autokorelasi spasial positif ketika ada nilai yang mirip mengelompok jadi satu, sedangkan 
kebalikannya jika terdapat nilai yang terpisah-pisah disebut dengan autokorelasi spasial negative 
(Boots et al., 1988). Dengan adanya klaster spasial dapat membantu pemahaman proses geografis 
yang mendasari hubungan dengan fenomena yang diteliti. 

Berdasarkan klaster spasial yang telah ada maka akan terbentuk sebuah Pola Spasial (Spatial 
Pattern) yang berbeda-beda. Spatial Pattern atau Pola Spasial adalah sesuatu yang menunjukkan 
penempatan atau susunan benda-benda di permukaan bumi (Lee & Wong, 2001). Pola spasial akan 
menjelaskan bagaimana fenomena geografis terdistribusi dan bagaimana perbandingannya dengan 
fenomena-fenomena lain. Pola spasial dapat berupa titik (Point) maupun luasan (Polygon), dan mereka 
dapat membentu pola yang bergerombol, tersebar, serta acak. 

 
 

3. METODOLOGI PENELITIAN 
 

 Metode Analisis yang digunakan dalam  penelitian ini menggunakan metode analisis Statistik 
Deskriptif. Dengan menggunakan  metode statistic deskriptif, penyajian data dan analisis akan lebih mudah 
dipahami. Terdapat tiga tahap yang dilalui dalam penelitian ini yakni: 

1. Tahap 1 
a. Identifikasi karakteristik travel behavior masyarakat 
b. Identifikasi karakteristik kepemilikan sepeda motor  

2. Tahap 2 
a.  Analisis Hot Spot kepemilikan sepeda motor 
b.  Analisis Klaster dan Pola Spasial kepemilikan sepeda motor 

3. Tahap 3 
 Identifikasi karakteristik distribusi spasial untuk mengetahui persebaran dan hubungan antara 

kepemilikan sepeda motor dan penggunaanya terhadap ruang yang ada. 
 
 

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 

4.1 Analisis Perilaku Perjalanan 

Pola pergerakan masyarakat pengguna sepeda motor di Kecamatan Banyumanik didasarkan 
terhadap perilaku perjalanan masyarakat. Setiap kelurahan di Kecamatan Banyumanik memiliki pola 
pergerakan yang berbeda-beda dan menunjukkan adanya hubungan antara pergerakan dengan guna 
lahan yang ada. Selain itu juga ditemukan kelurahan yang paling banyak terdapat komuter yang tinggal 
di Kecamatan Banyumanik. Berikut adalah gambar hasil pola pergerakan tiap kelurahan di Kecamatan 
Banyumanik. 

 

Gambar 1. Pola pergerakan penggunaan sepeda motor di Kecamatan Banyumanik 
(Hasil Analisis Peneliti, 2014) 

 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 60  
 

 
Gambar 2. Prosentase pergerakan masyarakat Kecamatan Banyumanik ke dalam dan luar Kota Semarang 

(Hasil Analisis Peneliti, 2014) 

 
 

Gambar 3. Prosentase pergerakan masyarakat Kecamatan Banyumanik ke pinggiran, pusat dan luar kota 
(Hasil Analisis Peneliti, 2014) 

 
Berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa anak panah menggambarkan tentang arah tujuan 

bekerja masyarakat Banyumanik, dan sumber panah digambarkan berada pada pusat Kecamatan 
Banyumanik. Ketebalan panah menunjukkan banyaknya arus pergerakan tujuan ke lokasi bekerja, 
semakin tebal panahnya maka akan semakin banyak masyarakat yang menuju lokasi tersebut. 

Berdasarkan gambar 2 terlihat bahwa prosentasi masyarakat yang bekerja di Kecamatan 
Banyumanik yang bekerja di dalam Kota Semarang terbesar yakni mencapai 94% sedangkan 6% 
bekerja di wilayah Kabupaten Semarang yakni di Ungaran. Jika pembagian wilayah dalam dan luar Kota 
Semarang terbagi lagi menjadi tipologi kawasan maka akan terbentuk 3 kawasan baru yakni kawasan 
yang menuju ke pusat kota (27%), kawasan pinggiran kota (67%) dan kawasan yang berada di luar Kota 
Semarang (6%). 

 
4.2 Analisis Kepemilikan Sepeda Motor 

Berdasarkan hasil survey maka didapatkan prosentasi hasil jumlah kepemilikan sepeda motor 
dalam rumah tangga sebagai berikut:  

 
Gambar 4. Prosentase jumlah kepemilikan sepeda motor dalam rumah tangga 

(Hasil Analisis Peneliti, 2014) 

 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 61  
 

Dari grafik diatas menunjukkan bahwa jumlah terbesar kepemilikan sepeda motor dalam 1 rumah 
tangga adalah sebanyak 2 buah sepeda motor dengan prosentase 51%. Selanjutnya mencapai prosentase 
19% untuk kepemilikan 3 motor dan 17% untuk kepemilikan berjumlah 1 motor. Namun terdapat 
masyarakat yang tidak memiliki sepeda motor dengan kemungkinan pertama bahwa masyarakat tidak 
mampu membeli sepeda motor dan lebih memilih jalan kaki atau masyarakat mampu membeli sepeda 
motor namun tidak membelinya. Dalam fakta dilapangan ditemukan bahwa sejumlah 2% masyarakat yang 
tidak memiliki sepeda motor adalah masyarakat yang bergolongan mampu namun tidak membeli sepeda 
motor. Hal ini dikarenakan sepeda motor dirasa kurang aman dalam berkendara dan kurang nyaman. 
Masyarakat yang tidak memiliki sepeda motor lebih cenderung berlokasi di kawasan perumahan atau 
perumahan mewah di Kecamatan Banyumanik seperti di Graha Estetika, Taman Setiabudi, Villa Aster dll. 

 
4.3 Analisis Hot Spot 

Analisis Hot Spot pada kepemilikan sepeda motor atribut yang digunakan adalah rasio antara 
jumlah sepeda motor yang dimiliki dengan jumlah anggota tiap keluarga dalam rumah tangga. Untuk 
menganalisis hot spot menggunakan tools analisis dalam Arc Map yang bernama “Hot Spot Analisys 
(Getis-Ord-Gi’)”. Selain atribut diatas dibutuhkan jarak maksimal tiap rumah tangga dalam 1 
kecamatan, berdasarkan analisis sebelumnya hasilnya adalah 1.450 meter. Berdasarkan data yang 
telah diinput pada aplikasi Arc Map didapatkan hasil Hot Spot sebagai berikut. 

 
Gambar 5. Peta Hot Spot (Titik Panas) Kepemilikan Sepeda Motor 

(Hasil Analisis Peneliti, 2014) 

 
 

Berdasarkan gambar diatas titik panas menunjukkan bahwa dimana konsentrasi kepemilikan 
sepeda motor tiap rumah tangga terjadi. Terdapat 2 warna utama yakni merah dan biru, dimana 
warna merah menunjukkan konsentrasi kepemilikan sepeda motor per rumah tangga tinggi untuk 
warna biru sebaliknya semakin rendah.  

 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 62  
 

4.4 Analisis Klaster dan Pola Spasial 

Pola Spasial kepemilikan sepeda motor ditunjukkan dengan peta konsentrasi jumlah kepemilikan 
sepeda motor di kawasan tertentu. Pola spasial yang terbentuk adalah berupa klaster. Berdasarkan 
hasil analisis didapatkan bahwa Perumnas Banyumanik memiliki kepemilikan sepeda motor yang 
paling besar, hal ini dikarenakan Perumnas Banyumanik merupakan kawasan permukiman padat dan 
bertipe rumah menengah. Untuk kepemilikan sepeda motor yang paling rendah berada pada kawasan 
perumahan mewah seperti Perumahan Graha Estetika dan Perumahan Bukitsari. Hal ini dikarenakan 
masyarakatnya yang cenderung lebih memilih menggunakan mobil daripada sepeda motor. 
Kemungkinan memiliki sepeda motor di kawasan ini ada, namun sangatlah kecil dengan rasio 0,2. 

 
Gambar 6. Peta Klasifikasi Pola Spasial Kepemilikan Sepeda Motor 

(Hasil Analisis Peneliti, 2014) 

 
 
 
4.5 Analisis Karakteristik Spasial 

Untuk mengidentikasi karakteristik spasial tentang kepemilikan sepeda motor dilakukan 
pembandingan tiap kelas klaster kepemilikan sepeda motor terhadap lokasi permukiman tempat 
masyarakat tinggal. Dengan melakukan pembandingan dan verifikasi kelas terhadap citra, maka akan 
didapatkan gambaran tentang bagaimana hubungan karakteristik spasialnya. Berikut adalah tabel 
identifikasi karakteristik spasial. 

 
 
 
 
 
 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 63  
 

Tabel 1. Identifikasi Karakteristik Spasial (Hasil Analisis Peneliti, 2014) 
 

 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan tentang lokasi dan status kelas kepemilikan sepeda motor 

di Kecamatan Banyumanik. Didapatkan hasil bahwa kepemilikan sepeda motor tertinggi terdapat pada 
kawasan Perumnas Banyumanik dan sekitarnya yang merupakan perumnas terbesar di Kecamatan 
Banyumanik. Kepemilikan sepeda motor cukup tinggi berada pada kawasan komplek Rumpun 
Diponegoro dan kampong Temugiring yang berada di sekitar komplek militer. Kepemilikan sepeda 
motor sedang terdapat di Kelurahan Srondolo Kulon yang berada di daerah belakang ADA Swalayan 
dan sekitarnya. Selain itu kepemilikan sepeda motor sedang juga terdapat di Pudak Payung Asri yang 
merupakan kawasan perumahan menengah. Untuk kepemilikan sepeda motor cukup rendah berada 
pada komplek Villa Pudak Payung dan Komplek Pertamina Pudak Payung yang juga merupakan 
perumahan menengah berada di pinggir jalan raya.  

 
Sedangkan untuk status kepemilikan sepeda motor rendah berada pada kawasan perumahan 

Bukit Sari Ngesrep dan perumahan Graha Estetika yang mana merupakan kawasan perumahan 
mewah. 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 56-64                                                                                                   Ardiansyah dan Ratnasari 

| 64  
 

5. KESIMPULAN 

 Jika dilihat secara keseluruhan Kecamatan Banyumanik, akan terdapat 37% masyarakatnya yang 
bergerak menuju ke pusat Kota Semarang, 58% masyarakatnya bergerak dan melakukan aktifitasnya di 
sekitar Kecamatan Banyumanik dan 5% masyarakatnya bergerak keluar kota yakni ke Kabupaten Semarang.  
Pada tingkat kelurahan akan terdapat karakteristik pergerakan yang berbeda-beda pula.  
 Berdasarkan analisis pola spasial yang tebentuk dari kepemilikan sepeda motor, di dapatkan hasil 
bahwa terbentuk pola klaster. Jenis klaster yang terbentuk merupakan High Cluster (klaster tinggi), yang 
berarti distribusi dan konsentrasi kepemilikan sepeda motor tidak acak dan cenderung memusat. Klaster 
kepemilikan sepeda motor dikategorikan menjadi 5 kelas yakni kepemilikan tinggi, kepemilikan cukup 
tinggi, kepemilikan sedang, kepemilikan cukup rendah dan kepemilikan rendah.  Berdasarkan hasil analisis 
dan pemetaan didapatkan hasil bahwa kepemilikan sepeda motor tertinggi berada pada kawasan Perumnas 
Banyumanik, hal ini dikarenakan Perumnas Banyumanik merupakan kawasan permukiman padat terbesar 
dan termasuk perumahan menengah. Untuk kepemilikan sepeda motor yang paling rendah berada pada 
kawasan perumahan mewah seperti Perumahan Graha Estetika dan Perumahan Bukitsari. Hal ini 
dikarenakan masyarakatnya yang cenderung lebih memilih menggunakan mobil daripada sepeda motor. 
Kemungkinan memiliki sepeda motor di kawasan ini ada, namun sangatlah kecil dengan rasio 0,2.  
 Untuk studi persebaran distribusi dan pola spasial kepemilikan sepeda motor di Kecamatan 
Banyumanik adalah membentuk sebuah klaster kepemilikan. Namun untuk berbagai kasus yang berada di 
kecamatan lain, perlu studi lebih lanjut untuk kaitan antara pola spasial dan pola distribusi atau pergerakan. 
 
 

6. DAFTAR PUSTAKA 

Block, R.L., and C.R. Block (1995). Space, place, and crime: Hot spot areas and hot places of liquor-related 
crime. In: J.E. Eck and D. Weisburd, eds., Crime and Place. Monsey, NY: Criminal Justice Press; and 
Washington, DC: Police Executive Research Forum, pp. 145-184.  

BPS, 2013. Kota Semarang dalam Angka Tahun 2012. Kantor BPS Kota Semarang. 
Boots, B.N., and Getis, A., (1988), Point Pattern Analysis. Newbury Park, CA: Sage Publications.  
Everitt, B., (1974). Cluster Analysis. London: Heinemann Education Books. 
Everitt & Megbolugbe, I. (1996). The Geography of  Underserved Mortgage Markets. Paper presented at the 

American Real Estate and Urban Economics Association meeting. 
Lee,  J.  and Wong, D.W.S.,  (2001).  Statistical Analysis with ArcView GIS. New York: John Wiley & Sons Inc. 
Suparno, M., & Marlina, E. (2006). Perencanaan dan Pengembangan Perumahan. Yogyakarta: Andi. 
Tobler W., (1970) "A Computer Movie Simulating Urban Growth in the Detroit Region". Economic 

Geography, 46(2): 234-240. 
Yudohusodo, S. 1991. Tumbuhnya Pemukim-Pemukim Liar di Kawasan Perkotaan. Jakarta : Yayasan 

Padamu Negeri. 
 


	MODEL SPASIAL STATISTIK KEPEMILIKAN SEPEDA MOTOR DI KECAMATAN BANYUMANIK, KOTA SEMARANG
	Abstrak: Kota Semarang merupakan kota cepat maju dan cepat tumbuh dilihat dari pertumbuhan ekonominya, namun demikian peningkatan  jumlah  penduduk  yang disertai dengan meningkatnya aktivitas memberikan permasalahan baru yakni kemacetan. Adanya urban...
	Keywords:
	Banyumanik Subdistrict, Motorcycle Ownership, Spatial Patterns, GIS
	1. PENDAHULUAN
	2. DATA DAN METODE
	Berdasarkan klaster spasial yang telah ada maka akan terbentuk sebuah Pola Spasial (Spatial Pattern) yang berbeda-beda. Spatial Pattern atau Pola Spasial adalah sesuatu yang menunjukkan penempatan atau susunan benda-benda di permukaan bumi (Lee & Wong...
	3. METODOLOGI PENELITIAN
	4. HASIL DAN PEMBAHASAN
	5. KESIMPULAN
	6. DAFTAR PUSTAKA

