




































 

          
Volume 1, No 2, 2014, 93-101                                                                                                                          

                                                                                                                                        http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning 

 

| 93   

 

OPEN ACCESS Geoplanning 
E-ISSN: 2355-6544 

PEMETAAN POTENSI BENCANA LONGSOR DI KELURAHAN KEMBANG 
ARUM 
 

Widjonarkoa, H.B.Wijayab 

a
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: widjonarko39@gmail.com 

b
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: holibinawijaya@yahoo.com 

 
Abstract: Disaster is a real fact that sometimes less get the full attention by both government 

and society. This is reflected from the hustle bustle of activity that occurs after the disaster 
compared with efforts to minimize the impact of disasters. Coexist with a culture of disaster 
has not become either by the government or the public. And if you are able mendudukan 
proportionally about the disaster in everyday life, the risk of a disaster will be minimized by 
itself. One push to institutionalize a culture coexist with disaster is to drive the community to 
better identify more closely the potential disaster that is around them, one of which is to 
encourage people to be able to map out the potential disaster in the environment around 
them. 
Kembang Arum Society in general does not fully know and understand the potential and 
landslide conditions in their neighborhood. Community knew after the collapse of the of a cliff 
retaining embankments. People were not so attentive to activities pengeprasan hills that 
surround them. This situation in the long run will further add to the high risk of landslides in the 
area of the Village of Flower Arum, especially in areas with morphology hills and steep slopes. 

 
 

 
Abstrak: Kebencanaan merupakan satu fakta riil yang terkadang kurang mendapatkan 

perhatian penuh baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kondisi ini tercermin dari begitu 
hiruk pikuknya kegiatan pasca bencana terjadi dibanding dengan upaya untuk meminimasi 
dampak akibat bencana. Hidup berdampingan dengan bencana belum menjadi satu budaya 
baik oleh pemerintah ataupun masyarakat. Padahal jika mampu mendudukan secara 
proporsional tentang kebencanaan dalam kehidupan sehari-hari maka resiko bencana akan 
dapat diminimalisir secara sendirinya. Salah satu mendorong melembagakan budaya hidup 
berdampingan dengan bencana adalah mengajak masyarakat untuk lebih mengenali secara 
lebih dekat potensi kebencanaan yang ada di sekitar mereka, salah satunya adalah 
mendorong masyarakat untuk dapat memetakan potensi kebencanaan yang ada di 
lingkungan sekitar mereka. 
Masyarakat Kembang Arum secara umum tidak sepenuhnya mengetahui dan paham potensi 
dan kondisi bencana longsor yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Masyarakat tahu 
setelah ada kejadian longsor seperti runtuhnya talud penahan tebing. Masyarakat juga tidak 
begitu perhatian terhadap kegiatan-kegiatan pengeprasan bukit yang ada di sekitar mereka. 
Keadaan ini dalam jangka panjang akan semakin menambah tinggi resiko bencana longsor di 
wilayah Kelurahan Kembang Arum, khususnya pada wilayah dengan morfologi perbukitan dan 
lereng yang curam. 
 
 

  

1. PENDAHULUAN 
 

Kondisi fisik suatu wilayah akan mempengaruhi karakteristik lahan yang ada. Indonesia sebagai 
wilayah yang mempunyai topografi beragam mempunyai potensi kebencanaan yang berbeda-beda pula. 
Berdasarkan data yang terdapat pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama bulan 
Januari 2014 telah terjadi sekitar 182 kejadian bencana di berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari banjir, 
tanah longsor, angin puting beliung, hingga letusan gunung api. Hal ini membuktikan begitu besarnya 
ancaman bencana bagi kehidupan masyarakat di Indonesia terutama yang tinggal di daerah rawan 

Info Artikel; 
 
Diterima:  
22  September  2014 
 
Hasil Revisi : 
24 September 2014 
 
Disetujui: 
26 September 2014 
 
Publikasi On-Line: 
 1 October 2014 
 

Kata kunci:  
Pemetaan, Bencana 
longsor 

Article Info; 
 
Received:  
22  September  2014 
 
 in revised form:  
24  September  2014 
 
Accepted: 
26  September  2014 
 
Available Online: 
 1 Oktober 2014 
 

Keywords:  
Mapping, Landslide 
hazard 
. 

mailto:widjonarko39@gmail.com
mailto:holibinawijaya@yahoo.com


Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 94   

 

bencana. Sebanyak 95% lebih merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan 
angin puting beliung, dengan korban jiwa banyak disebabkan oleh bencana banjir dan tanah longsor.  

Bencana alam yang terjadi hampir di setiap di wilayah Indonesia adalah bencana banjir dan tanah 
longsor, dan diperkirakan ancaman banjir dan longsor masih akan terus berlanjut hingga Maret 2014. 
Bencana longsor banyak terjadi di berbagai wilayah karena sekitar 45% luas lahan di Indonesia adalah lahan 
pegunungan berlereng yang peka terhadap longsor dan erosi. Namun demikian faktor kelerengan bukanlah 
satu-satunya penyebab longsor, karena selain faktor alam yang juga dipengaruhi oleh curah hujan dan 
geologi, laju infiltrasi, dan penutup lahan, faktor manusia juga mempunyai andil dalam terjadinya longsor.  

Tanah longsor adalah suatu peristiwa geologi dimana terjadi pergerakan permukaan tanah (Crozier, 
1999) seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Peristiwa tanah longsor atau dikenal sebagai 
gerakan masa tanah, bebatuan, atau kombinasinya, sering terjadi pada lereng-lereng alam maupun buatan, 
dan sebenarnya merupakan suatu fenomena alam. Terjadinya longsor merupakan suatu kondisi dimana 
alam mencari keseimbangan baru akibat adanya gangguan atau faktor-faktor yang mempengaruhinya dan 
menyebabkan terjadinya pengurangan gaya geser serta peningkatan tegangan geser. Dengan terjadinya 
longsor tersebut tentunya dapat mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, 
dan dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, 
dan dampak psikologis.  

Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan adanya mitigasi bencana yang merupakanserangkaian 
upaya untuk mengurangi risikobencana, baik melalui pembangunan fisik maupunpenyadaran dan 
peningkatan kemampuan menghadapiancaman bencana. Untuk mendukung upaya tersebut tentunya 
diperlukan informasi mengenai daerah atau lokasi yang rawan longsor yang dapat dibangun melalui sistem 
informasi geografis dengan melibatkan peran serta masyarakat sebagai pihak yang terkena dampak dalam 
memberikan informasi terkait dengan lokasi-lokasi longsor serta sejauhmana dampak longsor mereka 
rasakan. 

Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang, merupakan daerah yang memiliki kondisi tanah dengan 
kestabilan yang bervariasi dan topografi yang beragam. Salah satu wilayah kelurahan di Kecamatan 
Semarang Barat yang mempunyai potensi cukup besar terhadap terjadinya bencana longsor adalah 
Kelurahan Kembangarum.  

Kelurahan Kembangarum memiliki kelerengan datar hingga curam. Wilayah Kelurahan Kembangarum 
yang bertopografi datar (0-8%) yaitu pada RW.II, III, IV, untuk wilayah yang bertopografi landai (2-15%) 
berada pada RW.I. V, VI, VII, IX, dan XIII, sedangkan wilayah yang bertopografi bergelombang/agak curam 
(15-25%) berada di wilayah RW.VIII, XI, dan XII, dan wilayah yang bertopografi curam (25-40%) RW X dan 
sebagian kecil RW XIII. 

Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian wilayahnya rentan terhadap bahaya longsor. Dengan 
adanya kemungkinan terjadinya bencana longsor tersebut maka perlu adanya pemetaan terhadap lokasi 
yang rawan longsor sehingga sedapat mungkin dapat meminimalkan dampak yang nantinya mungkin 
terjadi. Masyarakat sebagai pihak yang paling besar terkena dampak, dilibatkan dalam penentuan lokasi-
lokasi yang paling sering terjadi longsor. Selain itu juga penggunaan Sistem Informasi Geografis dapat 
digunakan untuk mengidentifikasi kawasan rawan bencana longsor, terutama terkait dengan kondisi fisik 
wilayah yang ada.  
 
 

2. DATA DAN METODE 
 

Dalam penelitian ini digunakan data yang sifatnya kuantitatif yaitu berupa informasi mengenai 
karakteristik fisik kawasan yang diperkirakan akan memberikan kontribusi terhadap kejadian longsor di 
Kelurahan Kembang Arum. Selain itu dibutuhkan juga data yang bersifat kualitatif yang merupakan hasil 
pemetaan terhadap pemahaman dan pengetahuan masyarakat Kembang Arum terkait bencana longsor di 
Kelurahan Kembang Arum. Gambaran lebih jelas mengenai kondisi fisik Kelurahan Kembang Arum dapat 
diikuti pada uraian berikut. 

Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang memiliki luas lahan 17.464,25 Ha, berbatasan 
dengan Kelurahan Kalipancur, Purwoyoso, Krapyak (Ngaliyan) dan Kelurahan Kalibanteng Kidul, Kalibanteng 
Kulon, Manyaran Semarang Barat (lihat gambar). Sebagian besar lahan pada wilayah Kelurahan Kembang 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 95   

 

Arum merupakan kawasan permukiman, baik kawasan perumahan, aktivitas perdagangan dan jasa skala 
lingkungan. Aktivitas yang terjadi di Kelurahan Kembangarum sudah cukup maju, hal tersebut terlihat dari 
adanya perkantoran, pendidikan, dan aktivitas perindustrian. Jenis penggunaan lahan di Kelurahan 
Kembang Arum terdiri dari permukiman, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, industri, perkantoran, 
kawasan militer dan campuran. Dari luas lahan total kelurahan ini, tata guna lahan yang mendominasi 
adalah permukiman. Adapun jenis penggunaan lahan di Kelurahan Kemban Arum selengkapnya dapat 
diikuti pada tabel berikut. 

 
Tabel 1. Jenis Penggunaan Lahan Kelurahan Kembang Arum (Peta Citra Kota Semarang, 2012) 

 
No Jenis Guna Lahan Luas (ha) Persentase (%) 

1 Permukiman 16055,38 91,93283 

2 Fasilitas Kesehatan 36,70 0,210144 

3 Fasilitas Pendidikan 159,06 0,910775 

4 Industri 43,70 0,250225 

5 Perkantoran 24,47 0,140115 

6 Markas Satbrimob 952,66 5,454915 

7 Campuran 192,28 1,100992 

Jumlah 17464,25 100 

 
 
Morfologi kawasan merupakan kombinasi antara perbukitan dan dataran dengan ketinggian antara 

0-200mdpl. Dari hasil observasi terhadap bentuk muka bumi, Kelurahan Kembangarum terdiri atas dataran 
dengan klasifikasi relief berdasarkan beda elevasinya yang bervariasi mulai dari ketinggian 0-50 m (hampir 
datar) berada di RW. RW.II, III, IV, ketinggian 5-50 m (Bergelompang lemah/landai) berada di RW.I. V, VI, 
VII, IX, dan XIII. ketingian 25-75 m ( bergelombang kuat/miring) RW.VIII, XI, dan XII, ketinggian 50-200m 
(Berbukit bergelombang) berada di RW X dan sebagian kecil RW XIII. Pola morfologi berupa perbukitan dan 
dataran berimplikasi pada pola kelerengan di wilayah Kelurahan Kembang Arum. Sebagian besar wilayah  
Kelurahan Kembang Arum memiliki kelerengan landai.  Tipe lereng curam pada wilayah Kelurahan Kembang 
Arum terdapat pada sebagian kecil wilayah Kelurahan Kembang Arum. 

 
Gambar 1. Kenampakan Permukaan Bumi (Morfologi) Kelurahan Kembang Arum 

(Interpolasi Peta Kontur Kota Semarang dengan menggunakan global mapper, 2014) 

 

 

Purwoyoso 
Kembang 

Arum 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 96   

 

Kelurahan Kembangarum terletak pada kelerengan yang bervariasi diantaranya lereng datar (2-15%), 
landai (15-25%), dan lereng curam (25-40%). Kelerengan curam (25-40%) menyebabkan wilayah Kelurahan 
Kembang Arum temasuk kedalam wilayah yang rawan dengan bahaya longsoran.Berdasarkan kondisi 
kelerengan Kelurahan Kembangarum tersebut maka Kelurahan ini termasuk dalam wilayah yang rawan 
bencana alam berupa gerakan tanah menengah dan gerakan tanah rendah. Selain itu Kelurahan ini juga 
memiliki curah hujan yang cukup tinggi yaitu 27,7-34,8mm/hari yang menjadi salah satu faktor terjadinya 
bahaya geologi. Sedangkan jenis tanah yang untuk kelurahan Kembangarum sendiri terdiri dari jenis tanah 
Asosiasi Aluvial Kelabu, dan Mediteran Coklat Tua. 

Gambar 2.  Jenis Tanah dan Kelerengan di Kelurahan Kembang Arum 
(Bappeda Kota Semarang dan Interpolasi Kontur 2m) 

 
 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 
 

3.1 Lokasi Rawan Longsor dan Faktor Penyebabnya 

Berdasarkan pada hasil survai lapang dan penggalian informasi melalui penduduk yang tinggal di 
Kelurahan Kembang Arum didapat satu fakta bahwa pada beberapa lokasi di Kelurahan Kembang 
Arum memiliki satu kerawanan yang cukup tinggi akan bahaya tanah longsor. Berdasarkan pada hasil 
verifikasi lapang, terdapat beberapa daerah di Kelurahan Kembang Arum yang mengalami longsor 
diantaranya adalah RW I, IX, XI dan XII (lihat gambar 3).  

Dari ke empat lokasi yang rawan longsor di Kelurahan Kembang Arum ke empatnya memiliki 
karakteristik longsor yang berbeda-beda. Seperti contoh di RW IX, bencana longsor lebih diakibatkan 
kepada jenis konstruksi dan pondasi bangunan yang kurang kuat, sehingga frekuensi kejadian 
longsornya pun tidak dapat diperkirakan dalam rentang waktu tertentu. Sedangkan dibeberapa 
tempat lebih dikarenakan oleh curah hujan yang terlalu tinggi sehingga frekuensi longsor pun dapat 
diprediksikan terjadi dalam waktu-waktu tertentu (musim penghujan).Dampak yang diakibatkan juga 
berbeda-beda dari setiap RW yang diidentifikasi rawan akan longsor. Dampak longsor di RW IX tidak 
begitu parah apalagi sampai menimbulkan korban jiwa, kebanyakan dampak dari longsor yang berada 
di RW IX sifatnya lebih ke personal yaitu, dampak hanya dirasakan kepada pemilik rumah yang 
mengalami longsor tersebut. 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 97   

 

Bencana longsor di Kelurahan Kembang Arum merupakan  peristiwa geologi yang terjadi karena 
pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan  atau 
gumpalan besar tanah. Longsor yang ada di Kelurahan Kembang Arum memiliki 2 faktor penyebab, 
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Yang merupakan faktor internal meliputi kondisi fisik alam 
seperti topografi yang curam yaitu 25-45% atau > 45%, kondisi tanah yang peka terhadap erosi dan 
rawan longsor yaitu jenis tanah alluvium dan mediteran (lihat gambar 2), beserta curah hujan yang 
tinggi yaitu rata rata 37mm/jam. 

Faktor eksternal terjadinya longsor di Kelurahan Kembang Arum meliputi kontruksi bangunan 
yang buruk dan juga cara pengaliran air hujan atau jaringan drainase yang kurang memadai. Seperti 
yang diketahui daerah dengan topografi tinggi yaitu 25-45% dan > 45% tidak diperkenankan sebagai 
lahan terbangun. Adapun yang tetap digunakan sebagai lahan terbangun seharusnya menggunakan 
konstruksi dan pondasi yang menyesuaikan ketinggian tanah,  akan tetapi di Kelurahan Kembang Arum 
masih banyak dijumpai bangunan yang berada pada lokasi tersebut yang belum menggunakan 
konstruksi dan pondasi yang sesuai, sehingga tidak mampu menopang bangunan secara kuat. 

 
Gambar 3. Lokasi Rawan Longsor Kelurahan Kembang Arum 

( Hasil Wawancara dan Observasi Lapang, 2014) 

 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 98   

 

3.2 Pengetahuan Masyarakat Tentang Bencana Longsor 

Pengetahuan masyarakat terhadap karakteristik lingkungan yang dijadikan tempat tinggal erat 
kaitannya dengan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Seperti yang 
diungkapkan Yunus (2010), bahwa perilaku manusia (behavior) dipengaruhi yang melekat pada dirinya 
atau factor internal seperti pengetahuan, pengalaman, dan pendidikan.   

 Dari definisi pengetahuan terhadap lingkungan di atas dapat dijadikan dasar untuk 
mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat Kembang Arum akan bencana longsor.  Tingkat 
pengetahuan masyarakat akan bencana longsor, terutama bagi masyarakat yang tinggal dilokasi rawan 
longsor masih tergolong rendah. Hal tersebut dapat diketahui dari sebagian besar masyarakat yang 
tidak mengetahui akan bencana longsor yang ada di daerah yang mereka tinggali. Rata-rata 
masyarakat belum begitu menyadari bahwa daerah yang mereka tempati  sebenarnya  rawan akan 
longsor karena mayoritas dari mereka meyakini bahwa daerah yang mereka tempati tidak rawan 
longsor. Hal yang melatar belakangi keyakinan masyarakat sekitar bahwa daerah yang mereka jadikan 
tempat tinggal tidak rawan longsor adalah  melihat kondisi jenis tanah padas yang memiliki struktur 
kuat, sehingga warga berkeyakinan bahwa daerah yang mereka tempati aman dan bebas dari longsor. 

 
Gambar 4.  Pengeprasan Bukit Pada Wilayah Kembang Arum 

(Hasil Wawancara dan Observasi Lapang, 2014) 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun ada pula masyarakat yang belum mengetahui apa definisi longsor. Masyarakat tidak 
mengetahui bahwa daerah yang mereka tempati rawan akan longsor. Masyarakat hanya mengetahui 
bahwa ada waktu-waktu tertentu dimana sebagian tanah turun ke permukaan yang lebih rendah yang 
merupakan dampak dari air hujan. 

Meskipun demikian terdapat pula beberapa masyarakat yang sebenarnya mengetahui bahwa 
daerah yang mereka tempati merupakan rawan longsor, akan tetapi mereka lebih memilih tinggal di 
daerah tersebut lebih dikarenakan tidak ada pilihan lain.  Hal ini merupakan salah satu dampak dari 
keterbatasan lahan sehingga membuat harga lahan yang semakin tinggi. Sehingga masyarakat tetap 
bertahan untuk tinggal, walaupun dengan resiko keselamatan yang membahayakan. 

Secara umum persepsi merupakan pandangan sesorang terhadap suatu hal. Terdapat  dua cara 
pendekatan untuk memahami suatu presepsi. Pertama adalah pandangan konvensional. Pandangan 
konvensional menganggap presepsi sebagai kumpulan penginderaan, aktivitas kognisi, member 
penilaian dan pemaknaan. Pendekatan kedua adalah pandangan holistic. Pandangan kedua 
berpendapat bahwa presepsi muncul secara spontan dan langsung. Hal ini dikarenakan orgsanisme 
selalu mengeksplorasi linbgkungan dan melibatkan setiap objek yang ada di lingkungannya (Fisher dkk, 
1984; Sarwono, 1992). 

Berdasarkan hasil wawancara kepada masyarakat di sekitar rawan longsor, diketahui masyarakat 
sekitar rawan longsor sebagian besar tidak berkenan untuk berpindah dari tempat yang telah mereka 
tempati. Hal ini seperti yang disampaikan salah seorang informan yang berada di sekitar rawan 
longsor: 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 99   

 

 

“tidak ada rencana mau pindah kecuali anak-anak. Kalaupun ada longsor ya biarkan saja itu kan 
kehendak Tuhan” 

 
Lebih lanjut, persepsi yang muncul mengenai longsor oleh seorang warga yang bertempat tinggal 

disekitar daerah rawan longsor seperti yang diungkapkan pada kalimat di bawah ini : 
 

“di sini masalah longsor itu gak ada ya mbak adapun terjadi longsor itu kesalahan manusianya 
yang kurang tepat mengatur airnya, seperti rumah atas itu sebenarnya kalu menata airnya 
lewat jalur sebenarnya  gak longsor itu air dari genteng atas langsung ke bawah dan 
dipondasinya itu kan gak diplester. Belum ada longsor kalau dari alam ya itu tadi terjadi longsor 
karena kesalahan manusia sendiri.” 
 
 

Dari beberapa argumentasi yang disampaikan masyarakat dan korban longsor, mereka 
beranggapan bahwa mereka tidak mengetahui jika wilayah yang mereka tempati adalah daerah rawan 
longsor. Yang mereka ketahui adalah ketika terjadi longsoran tanah itu merupakan akibat dari pondasi 
rumah yang kurang kuat dan gerusan air hujan. 

Berdasarkan pengetahuan dan persepsi masyarakat pada kawasan rawan longsor dapat pula 
diidentifikasi pola-pola adaptasi masyarakat Kelurahan Kembang Arum dalam mengantisipasi kejadian 
longsor. Bentuk-bentuk adaptasi masyarakat adalah dalam bentuk adaptasi secara fisik, yaitu 
melakukan perbaikan konstruksi bangunan dan juga melakukan perkuatan tebing pada wilayah 
perbukitan yang rentan longsor. Kemampuan adaptasi masyarakat Kembang Arum sangat dipengaruhi 
oleh kemampuan finansial masyarakat. Secara kebetulah pada kawasan-kawasan yang sering 
mengalami kejadian longsor kemampuan finansial masyarakat cenderung rendah, sehingga bentuk 
adaptasi untuk meminimalkan resiko longsor dapat dikatakan rendah. 

 
 

3.3 Analisis Resiko Bencana Longsor Pada Kelurahan Kembang Arum 

Secara fisik, Kelurahan Kembang Arum memiliki potensi yang cukup tinggi terhadap bencana 
longsor. Perilaku masyarakat yang mengubah bentang alam dengan melakukan pengeprasan bukit dan 
bermukim pada daerah dengan kelerengan curam menambah tinggi potensi bencana longsor di 
Kelurahan Kembang Arum. 

Beberapa kawasan yang memiliki potensi longsor yang tinggi antara lain wilayah RW VIII, IX, X, XII 
dan XIII (Warna Merah). Sedangkan lokasi yang memiliki potensi longsor sedang adalah wilayah RW I, 
IV, V, VII, VIII, IX, X, XII dan XIII. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode pembobotan ini tidak 
jauh berbeda dengan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada masyarakat di Kelurahan 
Kembang Arum. Hasil simulasi ini mengkonfirmasikan bahwa informasi yang disaring dari masyarakat 
berkaitan dengan longsor benar adanya. 

 

Gambar 5.  Potensi Longsor Akibat Kondisi Fisik Kawasan 
(Data diperoleh dari Bappeda Kota Semarang diolah dan dianalisis Tim Penyusun, 2014) 

 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 100   

 

Potensi longsor akan semakin tinggi pada lokasi-lokasi tersebut seiring dengan lemahya 
kemampuan adaptasi masyarakat Kembang Arum terhadap bencana longsor. Lokasi-lokasi yang 
berada pada tingkat kerawanan sedang akan menjadi memiliki resiko tinggi karena kemampuan 
adaptasi masyarakat untuk membuat bangunan pengaman berupa talud tebing adalah rendah. 
Keadaan ini tentu tidak dapat didiamkan begitu saja oleh Pemerintah Kota Semarang. Sosialisasi dan 
peningkatan pemahaman masyarakat akan bencana longsor perlu dilakukan secara intensif untuk 
meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selain itu perlu ada upaya bantuan pemerintah untuk 
melakukan kegiatan perkuatan tebing sesuai dengan kaidah konstruksi agar masyarakat Kembang 
Arum tidak semakin tentan terhadap resiko bencana. 

Tingkat kerentanan ini akan semakin tinggi apabila dilihat dari sudut pandang kepadatan 
penduduk. Secara kebetulan kawasan yang memiliki potensi longsor tinggi adalah kawasan dengan 
tingkat hunian yang padat dan sebagian besar adalah bangunan yang tidak/belum memiliki bangunan 
pengaman talud tebing. 

 
Gambar 6.  Kerentanan Longsor Akibat Faktor Kepadatan (Analisis Tim Penyusun, 2012) 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 
Tingkat kerentanan tinggi ini diakibatkan potensi dampak yang akan semakin besar apabila 

kejadian longsor terjadi pada kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Potensi korban akan 
semakin banyak seiring dengan kepadatan yang tinggi serta pengetahuan serta kemampuan adapatasi 
yang rendah. 

 

 
4. KESIMPULAN 

 

Berdasarkan pada hasil dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kelurahan Kembang Arum belum 
memiliki pengetahuan yang memadai terhadap potensi bencana longsor di sekitar lingkungan permukiman 
mereka. Pengetahuan tentang longsor muncul saat ada kejadian bencana longsor di sekitar lingkungan 
permukiman mereka. Kondisi ini tercipta karena minimnya informasi kebencanaan yang dipublikasikan oleh 
Pemerintah Kota Semarang. Pengetahuan yang kurang memadai ini harus dihadapkan pada fakta bahwa 
mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menghindarinya, dikarenakan faktor ekonomi 
masyarakat. Sebagian besar masyarakat karena kondisi ekonominya pasrah terhadap keadaan. Keinginan 
untuk terhindar dari bencana dihadapkan pada ketidakmampuan untuk membiayai upaya mitigasi terhadap 
bencana. Keadaan ini tergambar jelas dari konstruksi rumah pada daerah dengan lereng yang cukup curam 
yang tidak dilengkapi dengan talud penahan tebih yang memadai.  

Keadaan ini akan semakin buruk di masa mendatang apabila upaya untuk mengurangi resiko baik 
secara individual maupun secara kolektif tidak pernah dapat diwujudkan. Untuk itu Pemerintah Kota 
Semarang perlu pro aktif untuk mengurangi resiko bencana, melalui upaya sosialisasi dan peningkatan 
pengetahuan masyarakat terhadap bencana longsor di Kelurahan Kembang Arum. Selain itu Pemerintah 



Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 93-101                                                                                                    Widjonarko dan Wijaya 

| 101   

 

Kota Semarang juga dibutuhkan untuk memberikan fasilitasi peningkatan kapasitas adaptasi masyarakat 
Kelurahan Kembang Arum terhadap bencana longsor melalui bantuan teknis dan dana untuk pembangunan 
pengaman tebing. 

Upaya ini penting mengingat banyak kejadian longsor di Kota Semarang yang terjadi sebagai akibat 
faktor kelalaian para pihak terkait, sebagai contoh longsor di Lempong Sari. Kawasan ini secara 
geomorfologi dan fisik mirip dengan Kelurahan Kembang Arum. Faktor pembeda adalah pada wilayah 
tersebut cukup banyak masyarakat yang memiliki kemampuan finansial yang memadai. Meskipun demikian 
tingkat resiko yang dihadapi masyarakat relatif sama, terutama saat hujan deras yang mengakibatkan 
longsornya talud tebing yang diatasnya berdiri bangunan milik orang-orang kaya. 
 

5. DAFTAR PUSTAKA 
 

Amri, A. 2001. Sistem Informasi Geografis. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja SIG Nasional VI, Bandung 
Arnstein, S.R. 1969. A Ladder of Citizen Participation, Journal of American Institute of Planners, 35(4), 216-

24. 
Asdak, Chay. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University 

Press.  
Bakornas PB. 2007 Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Jakarta: 

Direktorat Mitigasi 
Brahmantyo, B dan Puradimaja, DJ. 2005. Mengenal dan Mengantisipasi Bencana Alam Geologis. Artikel 

dimuat di JAS edisi DisasterManagement Tahun II No.3/April-Mei-Juni 2005  
Brodie, E. and Cowling. 2010. Using participatory mapping to explore participation in three communities. 

Landscapes of participation: findings and lessons from Community mapping. E. NCVO/VSSN 
Research Conference 

Chambers, R. 2006. ‘Participatory mapping and geographic information systems: Whose map? Who is 
empowered and who disempowered? Who gains and wholoses?’. The Electronic Journal on 
Information Systems in Developing Countries. EJISDC. 25 (2): 1-11. 

Cohen, J. M., and Uphoff, N. 1997. Rural Development Participation: Concepts Measures for Project Design 
Implementation and Evaluation Inthado, NewYork, Cornell University. 

Craig, William.J, Trevor M.Harris,Daniel Weiner. 2002. Community Participation and Geographic 
Information System. London and New York. CRC Press 

Crozier, MJ.1999. Landslides: causes, consequences, and environment. London. Croom Helm.  
Dunn, Christine E. 2007. Participatory GIS – a people’s GIS?. Journal ofProgress in Human Geography 31(5) . 

616–637 
Khadiyanto, Parfi. 2007. Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Unit Sekolah Baru. Semarang: Badan 

Penerbit Universitas Diponegoro 
Mapedza, F., J. Wright, et al. 2003. An Investigation of Land Cover Change in Mafungautsi Forest, 

Zimbabwe, Using GIS and Participatory Mapping. Applied Geography 12: 1-21. 
Moleong, Lexi, J. 1993. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya 
Prahasta, Eddy. 2004. Sistem Informasi Geografis. Bandung: Informatika.  
Priyono, Kuswaji Dwi, dkk. 2006. Analisis Tingkat Bahaya Longsor Tanah di Kecamatan Banjarmangu 

Kabupaten Banjarnegara. Forum Geografi, Vol. 20, No. 2, Desember 2006 
Puntodewo, A. dkk. 2003. Sistem Informasi Geografis Untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam. Jakarta : Cifor. 
Rahim, Supli Effendi. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. 

Bandung: Bumi Aksara.  
Sunarto Goenadi, dkk., 2003, Konservasi Lahan Terpadu Daerah Rawan Bencana Longsoran di Kabupaten 

Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta, Laporan Penelitian,Yogyakarta: Lembaga Penelitian UGM.  
Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta: Penerbit Andi 
Vajjhala, Shalini P. 2005. Integrating GIS and Participatory Mapping in Community Development Planning. 

Paper for the ESRI International User Conference, Sustainable Development andHumanitarian 
Affairs Track, San Diego, CA.  

--------, 2007, Undang-undang Negara Republik Indonesia No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana 
--------, 2007, Undang-undang Negara Republik Indonesia No 26/2007 tentang Penataan Ruang. 


	PEMETAAN POTENSI BENCANA LONGSOR DI KELURAHAN KEMBANG ARUM
	Abstract: Disaster is a real fact that sometimes less get the full attention by both government and society. This is reflected from the hustle bustle of activity that occurs after the disaster compared with efforts to minimize the impact of disasters....
	Abstrak: Kebencanaan merupakan satu fakta riil yang terkadang kurang mendapatkan perhatian penuh baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kondisi ini tercermin dari begitu hiruk pikuknya kegiatan pasca bencana terjadi dibanding dengan upaya untuk memin...
	Masyarakat Kembang Arum secara umum tidak sepenuhnya mengetahui dan paham potensi dan kondisi bencana longsor yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Masyarakat tahu setelah ada kejadian longsor seperti runtuhnya talud penahan tebing. Masyarakat ju...
	1. PENDAHULUAN
	Keywords:
	Mapping, Landslide hazard
	2. DATA DAN METODE
	3. HASIL DAN PEMBAHASAN
	3.1 Lokasi Rawan Longsor dan Faktor Penyebabnya
	3.2 Pengetahuan Masyarakat Tentang Bencana Longsor
	3.3 Analisis Resiko Bencana Longsor Pada Kelurahan Kembang Arum

	4. KESIMPULAN
	5. DAFTAR PUSTAKA

