




































 

          
Volume 1, No 2, 2014, 114-124                                                                                                                           

                                                                                                                                        http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning 

 

| 114  

 

OPEN ACCESS Geoplanning 
E-ISSN: 2355-6544 

POLA KERUANGAN PENYAKIT MENULAR (DBD) KOTA 
SEMARANG 
 

Widjonarkoa, I.Rudiartob, S.Rahayuc 

a
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: widjonarko39@gmail.com 

b
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: irudiarto@yahoo.com 

c
Universitas Diponegoro, Indonesia, email: sri.yksmg@yahoo.com 

 
Abstract: The persistently high incidence of infectious diseases in the city of Semarang and 

spatial dynamics of its development shows an indication that the urban development in the 
city of Semarang not offset efforts to increase environmental health. Despite the high incidence 
of infectious diseases is still not matched by adequate research. Most of the research related to 
the spread of infectious disease is highlighted by the number and spatial spreading. Based on 
the results of the research it is clear that the incidence of infectious diseases, particularly 
dengue fever leads to a pattern of endemic disease, where a high incidence of recurrence 
located in the same village in the time range 2006-2012. These symptoms also started to affect 
the spatial spread of disease, where the villages with high incidence is likely to provide a 
positive influence on the spread of dengue disease in the surrounding villages. Incidence of 
transmission is not independent of the physical quality of housing environment is not good, 
causing the vector easy to breed. 

 
 
 
 
 
Abstrak: Masih tingginya angka kejadian penyakit menular di Kota Semarang dan dinamika 

perkembangannya secara keruangan menunjukkan satu indikasi bahwa pembangunan 
perkotaan di Kota Semarang tidak diimbangi upaya untuk peningkatan kesehatan lingkungan. 
Meskipun kejadian penyakit menular yang tinggi masih belum diimbangi dengan penelitian 
yang memadai. Sebagian besar penelitian terkait dengan sebaran penyakit menular masih 
menyoroti jumlah dan sebarannya secara keruangan. Berdasarkan pada hasil penelitian 
terlihat jelas bahwa kejadian penyakit menular, khususnya demam berdarah mengarah pada 
pola penyakit endemik, dimana perulangan kejadian yang tinggi berlokasi pada kelurahan 
yang sama dalam rentang waktu 2006-2012. Gejala ini juga mulai mempengaruhi penyebaran 
penyakit secara keruangan, dimana kelurahan dengan kejadian tinggi cenderung memberikan 
pengaruh positif terhadap penyebaran penyakit DBD pada kelurahan di sekitarnya. Kejadian 
penularan ini tidak terlepas dari kualitas fisik lingkungan permukiman yang kurang baik 
sehingga menyebabkan vektor mudah berkembang biak 
 
 
 

  
 
 

1. PENDAHULUAN 
 

Pembangunan perkotaan yang sangat pesat dalam saat ini telah memberikan satu dampak yang 
signifikan terhadap perubahan kualitas ekosistem. Perubahan kualitas ekosistem sendiri akan berpengaruh 
terhadap kehidupan manusia, salah satunya terhadap derajat kesehatan di perkotaan. Kesehatan kota 
merupakan satu isu mutakhir yang sedang berkembang saat ini, khususnya berkaitan dengan penyakit 
menular. Permasalahan terkait penyakit menular semakin menjadi kompleks manakala dikaitkan dengan 
pola hidup, pola mobilitas dan interaksi  dan kepedulian masyarakat untuk mencegahnya serta kualitas 
lingkungan perkotaan itu sendiri. Kejadian penyakit menular yang berkembang menjadi epidemi pada satu 

Info Artikel; 
 
Diterima:  
25 September 2014 
 
Hasil Revisi : 
27 September 2014 
 
Disetujui: 
29 September 2014 
 
Publikasi On-Line: 
 1 Oktober 2014 
 

Kata kunci:  
Pola Keruangan, 
Penyakit Menular 

Article Info; 
 
Received:  
25 September 2014 
 
 in revised form:  
25 September 2014 
 
Accepted: 
25 September 2014 
 
Available Online: 
1 October 2014 
 

Keywords:  
Spatial pattern 
Infectious Disesases 
 

mailto:widjonarko39@gmail.com
mailto:irudiarto@yahoo.com
mailto:sri.yksmg@yahoo.com


 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 115  
 

kawasan sangat dipengaruhi oleh pola hidup dan kualitas kesehatan lingkungan, sebagai contoh kasus 
penyakit flu, kasus penyakit demam berdarah dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan vektor perantara 
(Mao, et al, 2010; Chaikaew,et al, 2010; dan Maio, et al, 2004). 

Kejadian penyakit menular yang berkembang menjadi endemi juga terjadi di Kota Semarang, salah 
satunya adalah penyakit Demam Berdarah Dengue. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, 
terjadi peningkatan yang signifikan kejadian penyakit DBD dalam kurun waktu 2009-2010, dengan korban 
jiwa sebesar 10 orang meninggal dunia dan pada 2011 meskipun jumlah penderita mengalami penurunan 
tetap jumlah korban jiwa mengalami peningkatan (DKK Semarang, 2012 dalam Faiz, et al, 2013). Selain DBD 
kejadian penyakit menular yang mengalami pertambahan kejadian adalah jenis penyakit Filariasis dan 
Malaria (Balitbang Kesehatan, 2007). Kondisi ini mengindikasikan bahwa perkembangan penyakit menular 
secara keruangan mengalami perkembangan. 

Disatu sisi informasi mengenai pola keruangan terhadap kejadian penyakit dan pola penyebarannya 
masih minim tersedia. Beberapa penelitian terkait pola keruangan penyakit di beberapa kota masih 
terbatas pada model matematis dengan pendekatan indeks Moran dan geary serta cellular automata (Faiz, 
et all, 2013; Praja, 2013; Tyas, et al, 2010) dan masih sedikit yang mengkaitkan antara pola penyakit 
tersebut dengan ketersediaan serta akses masyarakat terhadap infrastruktur, khususnya sistem sanitasi. 
Penelitian serupa juga masih belum mengkaitkan antara pola keruangan dengan perilaku hidup masyarakat 
dalam mitigasi penularan penyakit, seperti kepedulian terhadap program 3M, kepedulian untuk 
pengolahan limbah rumah tangga dan pola kepedulian hidup sehat lainnya. 

Penelitian ini akan mencoba melihat pola keruangan kejadian penyakit menular yang terkait dengan 
vektor perantara dan kesehatan lingkungan di Kota Semarang, sebagai upaya untuk memberikan informasi 
betapa berisikonya masyarakat Kota Semarang terhadap jenis-jenis penyakit tersebut (Hansen, et al, 2010). 
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis 
(SIG) khususnya analisis keruangan dan statistik keruangan. 

Penggunaan SIG dalam penelitian ini sangat relevan mengingat penyakit menular dan penyebarannya 
sangat terkait dengan pola geografis, dan pola penyakit akan dengan mudah direpresentasikan dengan 
menggunakan teknologi SIG. Selain itu teknologi SIG telah terbukti mampu menggambarkan dengan jelas 
berbagai penyebaran penyakit yang disebabkan karena penularan melalui vektor, analisis secara keruangan 
resiko penyakit dan telah banyak digunakan dalam berbagai analisis dan perumusan kebijakan untuk 
penanganan penyakit (Queensland Health, 2005). 

 
 

2. DATA DAN METODE 
 

Demam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan oleh 
nyamuk. Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis, dan menjangkit luas di banyak negara di 
Asia Tenggara. Kota Semarang menjadi salah satu kota di Indonesia yang memiliki kasus penyakit Demam 
berdarah dengue ini. Berdasarkan data dinas kesehatan tahun 2006 hingga tahun 2012 tercatat bahwa 
kelurahan yang sering terjadi kasus penyakit demam berdarah dengan jumlah total kasus diatas 145 
kejadian adalah sebagai berikut:  

1. Kec. Banyumanik  :  Kelurahan Pedalangan, Padangsari, Gedawang, Pudak Payung 
2. Kec.Candisari :  Kelurahan Tegalsari, Wonotingal 
3. Kec. Gajah Mungkur :  Kelurahan Petempon,, Bendungan, Lempongsari, Gajah Mungkur 
4. Kec. Gayamsari :  Pandean lamper 
5. Kec. Genuk :  Trimulyo, Terboyo Wetan, Kudu, Penggaron Lor 
6. Kec. Gunungpati : Ngijo, Nongko Sawit, Cepoko, Mangunsari, Pakintelan 
7. Kec. Mijen :  Wonoplumbon, Pesantren, Ngadirgo, Wonolopo, Mijen, Bubakan 
8. Kec. Ngaliyan :  Wonosari, Beringin 
9. Kec. Pedurungan :  Tlogosari Kulon, Pedurungan Lor 
10. Kec. Semarang Barat : Tambakharjo, Krobokan, Cabean, Bojong Salaman, Bongsari 
11. Kec. Semarang Selatan :  Bulustalan, Barusari, Wonodri, Peterongan, Lamper Lor, Lamper Kidul 
12. Kec. Semarang Tengah : Purwodinatan, Pandansari, Kranggan, Pindrikan Kidul, Miroto, karang 

Kidul, Brumbungan 
13. Kec. Semarang Timur  :  Mlatiharjo, Bunangan 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 116  
 

14. Kec. Semarang Utara : Panggung Kidul, Dadapsari, Purwosari, Plombokan 
15. Kec. Tembalang :  Tandang, Bulusan 
16. Kec. Tugu :  Mangunharjo, Randugarut, Tugurejo 
 

Gambar 1.  Sebaran Kejadian Penyakit Demam Berdarah Kota Semarang Tahun 2006 – 2012  
(Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2013) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun jumlah kasus penyakit demam berdarah cenderung 
berfluktuasi. Dari tahun 2006 hingga 2008 jumlah kejadian penyakit demam berdarah cenderung 
meningkat. Namun setelah tahun 2010 hingga 2012 jumlah kejadian penyakit menurun dan naik lagi pada 
2013.  

 
Gambar 2.  Grafik Perkembangan Kejadian Penyakit Demam Berdarah Kota Semarang tahun 2006 – 2013  

(Dinas Kesehatan Kota Semarang) 
 

 

 
Penurunan ini disebabkan karena upaya intensif dari Pemerintah Kota Semarang untuk mencegah 

penyebaran vektor penyakit melalui kegiatan fogging dan sosialiasi serta pemantauan jentik nyamuk pada 
tiap-tiap rumah tangga di masing-masing lingkungan rukun tetangga. Upaya ini belum sepenuhnya berhasil 
meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memutus rantai penyebaran penyakit DBD, hal ini dapat dilihat 
dari kecenderungan naiknya kembali kejadian penyakit DBD pada 2013. Keberhasilan atau peningkatan 

1845 

2924 

5249 

3883 

5556 

1303 1250 

2364 

0

1000

2000

3000

4000

5000

6000

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Kejadian DBD



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 117  
 

kesadaran masyarakat untuk memutus rantai penyebaran tidak merata diseluruh wilayah Kota Semarang. 
Masih terdapatnya kelurahan-kelurahan yang tidak mampu memutus rantai penyebaran penyakit DBD di 
Kota Semarang khususnya pada wilayah pinggiran yang selama ini merupakan daerah endemik DBD.  

Secara keruangan wilayah yang tidak berhasil memutus rantai penyebaran adalah kelurahan yang 
memiliki angka kejadian DBD tertinggi yaitu di Kelurahan Wonoplumbon. Kelurahan Wonoplumbon dari 
tahun 2006-2012 merupakan wilayah endemik DBD.  

 

Gambar 3.  Kejadian Penyakit Demam Berdarah Kota Semarang Tahun 2006 – 2012 
(Dinas Kesehatan Kota Semarang) 

 

 

 

 

Dari tren perkembangan tersebut, kelurahan Wonoplumbon menjadi kelurahan yang sering 
mengalami kasus demam berdarah. Dari tahun 2006 hingga 2012 kelurahan Wonoplumbon menjadi 
kelurahan paling tinggi terjadi kasus demam berdarah. Berdasarkan data dinas kesehatan tahun 2010 
kelurahan Wonoplumbon mengalami kasus demam berdarah tertinggi di Kota Semarang dengan 342 kasus. 
Dalam perkembangannya, dari tahun 2006 ke tahun 2007 kasus demam berdarah meningkat di bagian 
tengah dan selatan Kota Semarang dimana kelurahan Wonoplumbon, Bubakan, Magunsari, gedawang dan 

2012 

2011 2010 

2009 2008 

2007 2006 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 118  
 

wonotinggal menjadi kelurahan dengan kejadian kasus tertinggi (56-82 kasus). Pada Tahun 2008 meningkat 
di bagian tengah dan barat Kota Semarang dengan angka kejadian tertinggi mencapai 231 kasus. Di tahun 
2009 kejadian demam berdarah mengalami penurunan dengan kelurahan Wonoplumbon masih menjadi 
kelurahan paling tinggi (178 kasus) di Kota Semarang. Di tahun 2010 mengalami peningkatan kembali di 
bagian tengah, utara dan barat Kota Semarang. Kelurahan Wonoplumbon mendominasi kejadian demam 
berdarah dengan 342 kasus. Tahun 2011 perkembangannya mengalami penurunan drastis namun bagian 
barat dan tengah Kota Semarang masih memiliki kasus kejadian demam berdarah yang cukup tinggi dengan 
kisaran kasus antara 20-57 kasus. Di tahun 2012 kejadian demam berdarah mengalami penurunan dengan 
kelurahan Wonoplumbon, Bulusan, Krobokan, Petompon dan Gajah mungkur menjadi kelurahan paling 
tinggi kejadian demam berdarahnya yakni mencapai kisaran 27- 39 kasus.  Secara keseluruhan kejadian 
demam berdarah di Kota Semarang tahun 2006 hingga 2012 cenderung timbul di bagian barat dan tengah 
Kota Semarang. 

Pengolahan dan analisis data dalam kegiatan ini akan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SIG, 
dengan menggunakan perangkat analisis keruangan yang tersedia dengan menggunakan format data 
raster. Penggunaan data raster dipilih karena sifat dan struktur data yang sederhana sehingga 
mempermudah proses manipulasi terhadap data (untuk reklasifikasi, interpolasi dan sebagainya). Adapun 
jenis analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini meliputi: 
1. Analisis Angka Kejadian Penyakit Menular 
 Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan antara jumlah penderita pada masing-masing 

penyakit menular terhadap jumlah penduduk pada masing-masing kelurahan dan akan disajikan dalam 
bentuk peta kejadian penyakit menular dengan unit spasial kelurahan. Analisis ini akan dilakukan 
dengan rentang waktu 5-10 tahun terakhir untuk melihat kecenderungannya secara keruangan. 

2. Analisis Jarak Terbobot Penyakit Menular 
Dilakukan untuk mengetahui pola distribusi ruang dari penyakit menular terhadap pusat-pusat 
permukiman pada masing-masing kelurahan. Output dari analisis ini akan disajikan dalam format peta 
raster dengan rentang waktu pengamatan 5-10 tahun. 

3. Analisis korelasi spasial 
Analisis ini digunakan untuk melihat keterkaitan antara angka kejadian penyakit dan kualitas fisik 
lingkungan dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir. Output dari analisis ini adalah  nilai korelasi antara 
kejadian penyakit menular dan kualitas fisik lingkungan. 

4. Analisis Pola Keruangan Penyakit dan Peluang Penyebarannya 
Dilakukan dengan pendekatan analisis kepadatan penyakit dalam kurun waktu 10 tahun dan kemudian 
dilakukan prakiraan penyebarannya berdasarkan pada data trend penyakit secara keruangan. 
 
 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 
 

3.1 Tingkat Kejadian dan Pola Keruangan Penyakit Demam Berdarah Dengue  

Kota Semarang dengan karakter morfologi berupa dataran rendah dan perbukitan memiliki angka 
kejadian penyakit DBD yang tergolong tinggi. Berdasarkan pada data Dinas Kesehatan Kota Semarang 
Tahun 2013, angka kejadian penyakit DBD di Kota Semarang selalu diatas kejadian DBD tingkat Provinsi 
Jawa Tengah dan Nasional (Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2013).  

 

Gambar 4. Angka Kejadian Akibat DBD di Kota Semarang, Jawa Tengah dan Indonesia 2006-2013 
(Sumber: Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2013) 

 

 

  
 
 
 
 
 
 
 
 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 119  
 

Gambar 5.  Tingkat Kejadian Bencana DBD Kota Semarang 2006-2012 
(Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2013, Analisis Penulis, 2014) 

 

 

Berdasarkan pada sebaran lokasi angka kejadian penyakit DBD terlihat bahwa pola penyebaran 
cenderung random, dan tidak memiliki satu bentuk pengelompokan-pengelompokan yang tetap. Jika 
dilihat tingkat korelasi keruangan antar kejadian penyakit DBD pada tahun 2006-2012 terdapat 
beberapa bentuk korelasi spasial yang mengindikasikan bahwa kelurahan dengan angka kejadian tinggi 
cenderung mempengaruhi kelurahan sekitarnya. Pada tahun 2006, terdapat tiga pengelompokan 
kejadian penyakit DBD di Kota Semarang, yaitu: 

1. Tawangmas, Krobokan, Bulu Lor dan Panggung Kidul 
2. Petompon dan Bendungan 
3. Tegalsari, Peterongan, Lamper Lor dan Lamper Kidul 

Sedangkan pada 2012, pola pengelompokan kejadian penyakit secara keruangan hanya terjadi 
pada dua lokasi yaitu sekitar Wonoplumbon dan Ngadirgo serta pengelompokan kejadian di sekitar 
Gajahmungkur, Lempongsari, Petompon dan Wonotinggal. Potensi perkembangan kejadian 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 120  
 

diperkirakan akan merembet ke wilayah Kelurahan Bendungan yang memiliki indeks korelasi 
keruangan yang mendekati nilai indeks korelasi keruangan kelurahan Gajahmungkur. 

 
Gambar 6.  Korelasi Keruangan Kejadian Penyakit DBD Kota Semarang 2006 vs 2012  

(Analisis Penyusun, 2014) 

 

 

 

3.2 Pengaruh Kualitas Lingkungan Permukiman Terhadap Kejadian DBD 

Kualitas lingkungan permukiman secara umum memiliki kontribusi terhadap kejadian penyakit 
yang disebabkan oleh vektor pembawa. Kualitas lingkungan yang buruk memudahkan 
perkembangbiakan vektor, termasuk perkembangbiakan vektor nyamuk Aedes Aigipty yang 
merupakan vektor pembawa penyakit Demam Berdarah. 

Kualitas lingkungan permukiman di Kota Semarang, secara umum dapat dikategorikan dalam 
kondisi yang cukup baik. Berdasarkan pada data, hanya beberapa wilayah kelurahan yang berada pada 
wilayah pesisir memiliki kondisi lingkungan permukiman yang buruk. Meskipun demikian pada 
wilayah-wilayah tersebut tidak semuanya memiliki kejadian penyakit demam berdarah yang tinggi. 
Justru pada wilayah kelurahan dengan tingkat kualitas lingkungan permukiman yang relatif lebih baik 
seperti pada wilayah perbukitan dan pusat, angka kejadian penyakit justru lebih tinggi. 

Berkaca dari fenomena kejadian penyakit dan kondisi fisik lingkungan permukiman di Kota 
Semarang mengindikasikan bahwa tidak ada satu pengaruh signifikan antara kualitas lingkungan 
permukiman terhadap kejadian penyakit Demam Berdarah. Fakta ini diperkuat dengan hasil analisis 
regresi keruangan yang menghasilkan temuan bahwa meskipun ada hubungan keruangan kejadian 
penyakit demam berdarah dengan kualitas lingkungan, tetapi hubungannya tidak signifikan. Hal ini 
dapat dilihat dari pola distribusi data pengamatan yang memiliki pola linier (lihat gambar) dan residual 
data cenderung random dan tidak memiliki nilai autokorelasi secara keruangan. Nilai indeks moran 
untuk residual data adalah sebesar 0.01 dan Z Score = -0.23. 

Sedangkan jika dilakukan analisis dengan menggunakan pendekatan kuadrat terkecil juga terlihat 
bahwa koefisien determinasi fungsi regresi keruangan kualitas fisik lingkungan terhadap kejadian DBD 
hanya mampu menjelaskan 3.2% dari total pengaruh kualitas fisik terhadap kejadian DBD. 

 

Running script OrdinaryLeastSquares... 

                                Summary of OLS Results                                

Variable  Coefficient StdError t-Statistic Probability Robust_SE Robust_t  Robust_Pr VIF [1]  

Intercept 15.826410   5.561361 2.845780    0.004970*   5.634856  2.808663  0.005551* -------- 

PADAT     0.002621    0.035853 0.073108    0.941794    0.040067  0.065419  0.947906  1.034036 

KUMUH     0.061448    0.038362 1.601806    0.111044    0.035517  1.730113  0.085411  1.164728 

BANJIR1   -0.066006   0.042970 -1.536080   0.126367    0.065051  -1.014684 0.311673  1.211071 

SANITAS   -0.051087   0.057730 -0.884937   0.377416    0.065423  -0.780878 0.435939  1.288240 

 

                                        OLS Diagnostics                                         

Number of Observations:      177          Number of Variables:                         5           

Degrees of Freedom:          172          Akaike's Information Criterion (AIC) [2]:    1342.917191 

Multiple R-Squared [2]:      0.032044     Adjusted R-Squared [2]:                      0.009533    

Joint F-Statistic [3]:       1.423488     Prob(>F), (4,172) degrees of freedom:        0.228189    

Joint Wald Statistic [4]:    4.895396     Prob(>chi-squared), (4) degrees of freedom:  0.298200    

Koenker (BP) Statistic [5]:  12.297945    Prob(>chi-squared), (4) degrees of freedom:  0.015268*   



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 121  
 

Jarque-Bera Statistic [6]:   339.971828   Prob(>chi-squared), (2) degrees of freedom:  0.000000*   

Berdasarkan pada parameter tersebut diatas dapat dibuat sebuah simpulan bahwa kejadian DBD 
di Kota Semarang tidak begitu dipengaruhi pula oleh faktor kualitas lingkungan fisik kawasan 
permukiman. Faktor lain yang dimungkinkan mempengaruhi kejadian bencana yang tidak teramati 
dalam penelitian ini adalah faktor iklim. Pengaruh faktor iklim cukup signifikan mengingat hampir 
sebagian besar kejadian penyakit DBD terjadi pada musim hujan. Hanya saja faktor keterbatasan data 
kejadian penyakit bulanan yang tidak tersedia pada tiap puskesmas dan kantor dinas kesehatan kota 
semarang, maka dalam penelitian ini hanya digunakan rekap tahunan. Dan dari hasil analisis ternyata 
data tahunan ini tidak mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang pengaruh kualitas fisik 
lingkungan permukiman terhadap kejadian penyakit demam berdarah. 

 
Gambar 7.  Sebaran Distribusi Data, Nilai Autokorelasi Keruangan dan Normal QQ Plot Kejadian Penyakit DBD di 

Kota Semarang 2012 (Analisis Penyusun, 2014) 

 

 

 

 

3.3 Peluang Penyebaran Penyakit DBD Secara Keruangan 

Berdasarkan pada hasil kajian sebelumnya berkaitan dengan pola keruangan penyakit DBD yang 
menunjukan gejala yang sifatnya endemik. Dengan menggunakan hasil kajian pada bagian 5.2 dapat 
dilihat peluang-peluang penyebaran penyakit DBD dengan mendasarkan pada kejadian penyakit dan 
faktor jarak antar pusat-pusat kejadian memiliki pola yang acak.  

Peluang penyebaran penyakit DBD antarkelurahan akan memiliki nilai yang tinggi pada lokasi 
dengan tingkat kejadian tinggi dengan luasan wilayah yang tidak terlalu besar. Peluang ini secara 

Scatter Plot Matrix

Observed x Residual
6040200

60

40

20

0

Observed

R
e
s
id

u
a
l

Predicted

P
re

d
ic

te
d



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 122  
 

empirik sangat bersesuaian mengingat kemampuan vektor untuk terbang juga terbatas juga pengaruh 
penularan yang disebabkan karena terbawanya penyakit oleh carrier yaitu anak-anak dan orang lanjut 
yang cenderung memiliki pola pergerakan yang terbatas. 

Fenomena ini dapat digambarkan secara jelas dengan menggunakan pendekatan analisis cluster 
secara keruangan. Peluang penyebaran penyakit secara keruangan ternyata pada wilayah-wilayah 
kelurahan di pusat kota dengan luas wilayah yang tidak besar. Pada wilayah yang berpotensi terkena 
pengaruh kejadian penyakit DBD dari wilayah sekitarnya ternyata memiliki permukiman dengan radius 
yang relatif pendek yaitu berkisar antara 10m-350m (lihat gambar 5.8). Pada radius ini ternyata 
pergerakan nyamuk DBD betina dewasa masih cukup efektif. Sehingga dengan demikian terlihat 
bahwa model kluster keruangan cukup dapat menggambarkan fenomena dan peluang penyebaran 
penyakit DBD di Kota Semarang. 

 
Gambar 8.  Peluang Penyebaran Penyakit DBD di Kota Semarang (Analisis Penulis, 2014) 

 

 
Jika dihubungkan dengan hasil pembahasan, meskipun hasilnya tidak begitu signifikan, peluang 

penyebaran penyakit pada kelurahan-kelurahan di pusat kota Semarang sedikit banyak mampu 
menjelaskan pula bahwa sebenarnya ada pengaruh kualitas lingkungan permukiman terhadap kejadian 
penyakit DBD. Beberapa kelurahan seperti Sekayu, Miroto, Jagalan, Rejosari dan Kaligawe adalah 
kelurahan-kelurahan dengan kualitas fisik lingkungan yang kurang baik. 

 
 
4. KESIMPULAN 

 

Berdasarkan pada hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit menular DBD di Kota 
Semarang memiliki pola keruangan yang acak. Pola keacakan penyakit DBD dapat dilihat dari nilai indeks 
moran sebesar 0.03 dan standar deviasi 0.63. Indeks Moran yang kecil ini menunjukan ada pola 
kerandoman dalam sebaran keruangan kejadian penyakit. Pola ini pun dapat tergambar dengan jelas 
dengan melihat pada peta sebaran keruangan kejadian penyakit DBD di Kota Semarang dari tahun 2006-
2012. 



 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 123  
 

Pengaruh kualitas fisik lingkungan permukiman terhadap kejadian penyakit DBD di Kota Semarang 
tidak cukup signifikan. Berdasarkan pada hasil permodelan regresi keruangan, model hanya mampu 
menjelaskan 3,2% pengaruh kualitas lingkungan permukiman terhadap kejadian penyakit. Rendahnya nilai 
pengaruh kualitas fisik lingkungan terhadap kejadian DBD dipengaruhi oleh faktor informasi kualitas 
lingkungan yang sifatnya kualitatif (baik-sedang-buruk) yang kemudian direpresentasikan secara ordinal 
sehingga kurang dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Faktor kualitas fisik akan memberikan 
hasil yang berbeda apabila direpresentasikan dari nilai sebenarnya, misal luas genangan, jarak antara 
permukiman dengan lokasi genangan, jarak antara lokasi permukiman dengan saluran drainase dan 
sebagainya. 

Peluang penyebaran penyakit menular DBD sangat dipengaruhi oleh faktor jarak antar permukiman. 
Semakin dekat faktor jarak antar permukiman peluang penyebaran akan semakin besar. Keadaan ini 
disebabkan karena kemampuan terbang efektif nyamuk DBD betina adalah pada radius 40-100 meter. 
Sehingga permukiman dengan kejadian penyakit DBD tinggi dengan luas wilayah tidak terlalu besar dan 
tingkat kepadatan permukiman tinggi memiliki peluang untuk memberikan pengaruh penyebaran penyakit 
DBD pada permukiman di wilayah kelurahan sekitarnya. 

Berkaca dari hasil analisis statistik keruangan khususnya model regresi yang kurang signifikan, maka 
perlu kiranya dilakukan pendalaman kajian dengan menggunakan variabel yang lebih rinci, khususnya 
berkaitan dengan data kejadian penyakit. Akan lebih baik jika dalam penelitian lanjutan menggunakan data 
kejadian penyakit yang dirinci dalam dua mingguan. Selain itu perlu juga menambahkan variabel iklim 
sebagai salah satu variabel dalam pengembangan model keruangan penyakit DBD di Kota Semarang. 

Diharapkan dengan menggunakan data yang lebih rinci dan variabel tambahan maka akan dapat 
dijelaskan secara lebih jelas bagaimana pengaruh dari kualitas fisik lingkungan terhadap kejadian penyakit 
DBD di Kota Semarang. 
 
 

5. DAFTAR PUSTAKA 
 

Balitbang Kesehatan, 2007, Riset Kesehatan Dasar Provinsi Jawa Tengah, Departemen Kesehatan Republik 
Indonesia. 

Chaikaew, Nakarin, and Nitin K Tripathi and Marc Souris, 2010, Exploring spatial patterns and hotspots of 
diarrhea in Chiang Mai, Thailand, International Journal of Public Health Volume 8. 

Danudoro, Projo, 2003, Fenomena Keruangan Penyakit Menular, 
http://kesehatanlingkungan.wordpress.com/penyakit-menular/fenomena-keruangan-penyakit-
menular/ diakses 16 Juni 2013. 

Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2012, Profil Kesehatan Kota Semarang 2011, Dinas Kesehatan Kota 
Semarang. 

Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2013, Profil Kesehatan Kota Semarang 2012, Dinas Kesehatan Kota 
Semarang 

ESRI, 2008, Geostatistical Analyst, 
http://webhelp.esri.com/arcgiSDEsktop/9.3/index.cfm?TopicName=How_Inverse_Distance_Weight
ed_%28IDW%29_interpolation_works diakses 16 Juni 2013. 

Faiz, Nuril dan Rita Rahmawati dan Dian Safitri, 2013, Analisis Spasial Penyebaran Penyakit Demam 
Berdarah Dengue Dengan Indeks Moran Dan Geary’s C (Studi Kasus Di Kota Semarang Tahun 2011)  
JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 1, Halaman 69-78. 

Fobil, Juliah Najah, 2010, Spatial Urban Environmental Change and Malaria/Diarrhoea Mortality in Accra, 
Ghana, University of Bielefeld. 

Hansen, Kate and Nicole Van Osdel, 2010, GIS Application In Health: An Introduction to GIS, College of 
Public Health, University of Nebraska. 

Liu, Desheng, Maggi Kelly and Peng Gong, 2006, A spatial–temporal approach to monitoring forest disease 
spread using multi-temporal high spatial resolution imagery, Journal Remote Sensing of 
Environment, Elsevier. 

Maio, Sara, et al, 2004, GIS for Epidemiological Studies, CNR Institute of Clinical Physiology, Unit of 
Environmental Pulmonary Epidemiology, Pisa, Italy. 

http://kesehatanlingkungan.wordpress.com/penyakit-menular/fenomena-keruangan-penyakit-menular/
http://kesehatanlingkungan.wordpress.com/penyakit-menular/fenomena-keruangan-penyakit-menular/
http://webhelp.esri.com/arcgiSDEsktop/9.3/index.cfm?TopicName=How_Inverse_Distance_Weighted_%28IDW%29_interpolation_works
http://webhelp.esri.com/arcgiSDEsktop/9.3/index.cfm?TopicName=How_Inverse_Distance_Weighted_%28IDW%29_interpolation_works


 

Geoplanning 2014,Vol: 1, No: 2, 114-124                  Widjonarko, Rudiarto, dan Rahayu 

 

| 124  
 

Mao, Liang and Ling Bian, 2010, Spatial–temporal transmission of influenza and its health risks in an 
urbanized area, Journal Of Computers, Environment and Urban System, Volume 34, Issue 3, May 
2010, Pages 204–215. 

Praja, Wisnu Pranata, 2013, Analisis Pola Spasial Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue (Studi 
Kasus Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Bogor Tahun 2007-2011), IPB. 

Queensland Health, 2005, Report on GIS and Public Health Spatial Application, Queenland Government. 
Tyas, Ayu Nawang Retno Ning, Fariza, Arna dan Wahjoe Tjatur Sesulihatien, 2010,  Analisa Penyebaran 

Penyakit Demam Berdarah Di Surabaya Dengan Menggunakan Cellular Automata, Politeknik 
Elektronika Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 

 

http://www.sciencedirect.com/science/journal/01989715/34/3

	POLA KERUANGAN PENYAKIT MENULAR (DBD) KOTA SEMARANG
	Abstract: The persistently high incidence of infectious diseases in the city of Semarang and spatial dynamics of its development shows an indication that the urban development in the city of Semarang not offset efforts to increase environmental health...
	Abstrak: Masih tingginya angka kejadian penyakit menular di Kota Semarang dan dinamika perkembangannya secara keruangan menunjukkan satu indikasi bahwa pembangunan perkotaan di Kota Semarang tidak diimbangi upaya untuk peningkatan kesehatan lingkungan...
	1. PENDAHULUAN
	Keywords:
	Spatial pattern
	Infectious Disesases
	2. DATA DAN METODE
	3. HASIL DAN PEMBAHASAN
	4. KESIMPULAN
	5. DAFTAR PUSTAKA

