




































         Geoplanning 
Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                                                                                                                                            Journal of Geomatics and Planning 

                                                                                                   E-ISSN: 2355-6544 

http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning 

 

| 10  

 

OPEN ACCESS 

IDENTIFIKASI POTENSI MULTI-BENCANA DI KABUPATEN 
LANDAK KALIMANTAN BARAT  
 

A.Wahyuningtyasa, R.A.Pratomob 

a
Mahasiswa Magister Manajemen Bencana UGM Yogyakarta, Indonesia, a.wahyuningtyas@gmail.com  

b
 Master Student of Applied Earth Science Faculty of Geo-Information Science & Earth Observation, University of 

Twente, the Netherlands, arispratomo05@gmail.com 

 
 

Abstract:  
One of the important aspects in studies on regional potentials and problems is the sectoral 
issues in a disaster. It is because disaster is an event or series of events, caused whether by 
natural or unnatural factors that inflict damages and losses to people and the environment. 
Landak Regency (Kabupaten) is categorized highly disaster-prone region by the National 
Disaster Management Agency (BNPB). The aim of this research is to identify the disaster-prone 
area of Kabupaten Landak. The identification is based on assessment variables of multi-
hazards that may occur and threat Kabupaten Landak. The analysis has used geographic 
information systems, scoring and weighting techniques. Disaster vulnerability was measured 
based on the existing physical aspects, such as land use, land slope, soil type, and others. It is 
an explorative and evaluative research with a mix of qualitative and quantitative approaches. 
The results show that there are disaster potential hazards in Landak Regency, such as flood, 
landslide, cyclone, bushfire, and forest-fire. Each potential hazard has different vulnerability 
level and different distribution area based on the risk assessment. © 2015 GJGP UNDIP. All 
rights reserved. 
 
 
 

 
Abstrak: Salah satu pengkajian potensi dan permasalahan daerah yang penting adalah 

permasalahan sektoral dalam kebencanaan. Hal ini dikarenakan bencana adalah peristiwa 
atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh faktor alam maupun non alam dan dapat 
menimbulkan kerusakan dan kerugian. Kabupaten landak termasuk dalam kategori tinggi 
dalam indeks daerah rawan bencana yang dikeluarkan oleh badan penanggulangan bencana 
nasional.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi daerah rawan bencana. 
Identifikasi tersebut didasarkan pada variabel-ariabel penilai pada beberapa multi-bahaya 
yang mungkin timbul dan mengancam di Kabupaten Landak. Teknik analisis menggunakan 
sistem informasi geografis, skoring, dan pembobotan terhadap variabel-variabel penilaian 
potensi bencana yang ada. Kerawanan bencana ini diukur berdasarkan aspek-aspek fisik yang 
ada, seperti penggunaan lahan, kelerengan, jenis tanah, dan lain-lain. Jenis penelitian ini 
tergolong penelitian eksploratif dan evaluatif dengan pendekatan secara kualitatif dan 
kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa bahaya yang dianggap 
berpotensi menjadi bencana di Kabupaten Landak, diantaranya banjir, longsor, angin puting 
beliung, dan kebakaran hutan seta kebakaran pada permukiman. Masing-masing dari bahaya 
tersebut memiliki tingkat kerawanan yang berbeda-beda dengan sebaran lokasi yang berbeda 
sesuai tingkat kerawanannya. © 2015 GJGP UNDIP. All rights reserved. 

 
 

  

1. PENDAHULUAN 

Indonesia merupakan Negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya 
berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara terus menerus, baik yang disebabkan oleh faktor 
alam (gempa bumi, tsunami, banjir, letusan gunung api, tanah longsor, angin ribut, dll), maupun oleh faktor 

Info Artikel; 
 
Diterima:  
27 Maret 2015 
 
Hasil Revisi : 
30 Maret 2015 
 
Disetujui: 
25 April 2015 
 
Publikasi On-Line: 
 30 April 2015 
 

Kata kunci:  
Multi-bahaya, 
kerawanan, 
Kabupaten Landak 

Article Info; 
 
Received:  
27 March 2015 
 
in revised form:  
30 March 2015 
 
Accepted: 
25 April 2015 
 
Available Online: 
30 April 2015 
 

Keywords:  
Multi-hazards, 
Disaster Prone, 
Landak Regency 

mailto:a.wahyuningtyas@gmail.com
mailto:arispratomo05@gmail.com


 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 11  
 

non alam seperti berbagai akibat kegagalan teknologi dan ulah manusia. Umumnya bencana yang terjadi 
tersebut mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat, baik berupa korban jiwa manusia, kerugian harta 
benda, maupun kerusakan lingkungan serta musnahnya hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai 
(Pelling, 2003). 

Kabupaten Landak terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Perkembangan perekonomian di Kabupaten 
Landak berjalan cukup cepat sehingga pembangunan juga berjalan dengan cepat. Perkembangan 
pembangunan yang pesat di Kabupaten Landak akan berpengaruh terhadap perubahan kondisi lahan 
secara spasial, yang secara langsung memberikan kontribusi terhadap peningkatan kerentanan bencana. 
Dalam Buku Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN-PRB) 2006-2009 disebutkan bahwa 
kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Begitu juga halnya dengan hasil indeks 
pada data Badan Nasional Penanggulangan Bencana 2011 yang menyatakan bahwa Kabupaten Landak 
memiliki tingkat kerawanan tinggi sebagai kabupaten yang berpotensi terhadap kerawanan bencana.  

Menyadari pentingnya mengetahui adanya ancaman bencana di Kabupaten Landak, maka dilakukan 
penelitian untuk mengidentifikasi mengenai potensi daerah rawan bencana di Kabupaten Landak. 
Identifikasi ini akan memuat informasi tentang lokasi-lokasi bencana yang mungkin timbul di wilayah 
Kabupaten Landak. Dengan mengetahui wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi bencana diharapkan risiko 
yang timbul ataupun kerugian akibat dampak yang terjadi dapat diminimalkan. 

 

2. DATA DAN METODE 
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dan evaluatif dengan pendekatan secara kualitatif dan 

kuantitatif. Jenis penelitian eksploratif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu 
yang baru yang dapat saja berupa pengelompokan suatu gejala, fakta, dan penyakit tertentu (Surakhmad, 
1980:131). Sementara itu, untuk penelitian evaluatif memiliki dua kegiatan utama, yaitu pengukuran atau 
pengambilan data dan membandingkan hasil pengukuran dan pengumpulan data dengan standar yang 
digunakan. 

Data yang dikumpulkan didapat secara langsung melalui survei di lapangan, dokumentasi, dan 
wawancara serta data sekunder yang diperoleh dari data-data referensi pada instansi terkait dan data 
statistik yang terkait dengan kebencanaan di Kabupaten Landak. Sedangkan analisis risiko bencana 
menggunakan pedoman yang tertera pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengkajian Risiko 
Bencana. Adapun variabel-variabel yang digunakan untuk analisis sesuai pedoman tersebut kemudian 
dispasialkan menggunakan software Arc GIS 10.2 untuk mempermudah proses pembagian tingkat kelas 
rendah, sedang, dan tinggi untuk masing-masing kerawanan bencana, kerentanan, dan risiko bencananya 
(Wisner, Blaikie, & Canon, 2005). 
 
 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 

3.1 Indeks Kerawanan Bencana Berdasarkan Histori Kejadian di Kabupaten Landak 
Secara umum penilaian ancaman bencana menggunakan beberapa informasi dasar yang bisa 

didapat dari legenda dan mitos, rekaman sejarah serta data penelitian yang pernah dilakukan di 
wilayah tersebut. Penilaian indeks kerawanan di Kabupaten Landak menggunakan dua metode, yaitu 
faktor keterkaitan (CF) dan bobot proporsi peluang (BP). Faktor keterkaitan menggunakan potensi 
keterkaitan antar bencana sesuai dengan karakteristik bahaya alam yang ada di Kabupaten Landak.  
Untuk mendapatkan keterkaitan antar bencana, digunakan tabulasi keterkaitan antar bencana di tiap 
Kabupaten Landak. Berdasarkan data tabulasi yang telah dibuat selanjutnya faktor keterkaitan 
ditentukan sebagai rerata antara bahaya paling berpengaruh dan bahaya paling sensitif. Untuk 
perhitungan risiko perkecamatan karena jumlah bahaya yang ada lebih dari satu, maka untuk 
mendapatkan nilai keterkaitan dilakukan perhitungan sebagai berikut : 

 

 x CFW 

CFW = merupakan jumlah komulatif masing-masing CFW untuk setiap Kecamatan 

 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 12  
 

Proporsi Peluang merupakan asumsi peluang terjadinya bencana. Nilai probabilitas yang didapat 
selanjutnya dibandingkan satu sama lain untuk selanjutnya dikonversi menjadi bobot proporsi  
probabilitas (BP) (North, 2006). Untuk menentukan bobot proporsi probabilitas digunakan acuan 
dokumen Rehabilitasi Rekonstruksi Pasca Bencana Kabupaten Landak yang mengaitkan antara 
Kemungkinan Kejadian (Likelihood) dengan Dampak (Consequences) (Wisner et al., 2005). 

Kabupaten Landak memiliki empat (4) potensi bencana. Keempat bencana tersebut adalah tanah 
longsor, banjir, angin puting beliung, dan kebakaran termasuk kebakaran hutan dan kebakaran 
permukiman. Adapun penilaian indeks kerawanan berdasarkan metode di atas dapat dilihat pada 
Tabel 1. 

 

Tabel 1. Potensi Multi-bahaya Berdasarkan Histori Kejadian di Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

No Kecamatan 

Kejadian Bencana 

Jumlah 
Faktor 

Keterkaitan 
Bobot Proporsi 

Peluang Banjir 
Tanah 

Longsor 

Angin 
Puting 
Beliung 

Kebakaran 
Hutan 

Kebakaran 
Permukiman 

1 Sebangki 0 0 0 0 0 0 0 0 
2 Ngabang 2 0 1 0 0 3 2 12,50 
3 Jelimpo 1 0 0 0 0 1 1 6,25 
4 Sengah 

Temila 
2 0 0 0 0 2 1 6,25 

5 Mandor 0 0 1 0 0 1 1 6,25 
6 Menjalin 0 0 1 0 0 1 1 6,25 
7 Mempawah 

Hulu 
0 0 1 0 0 1 1 6,25 

8 Sompak 1 1 0 0 0 2 2 12,50 
9 Menyuke 3 2 2 0 0 7 3 18,75 

10 Banyuke Hulu 0 0 0 0 0 0 0 0 
11 Meranti 0 0 0 0 0 0 0 0 
12 Kuala Behe 3 0 1 0 0 4 2 12,50 
13 Air Besar 2 0 1 0 0 3 2 12,50 

 Jumlah 14 3 8 0 0 25 16 100 

 

Berdasarkan perhitungan faktor keterkaitan dan bobot proporsi peluang di atas, maka untuk 
mendapatkan indeks kerawanan terhadap bencana pada masing-masing kecamatan di Kabupaten 
Landak dilakukan perankingan guna memperoleh klasifikasi kelas kerawanan. Kelas kerawanan 
tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu: 

a. Kelas kerawanan rendah untuk wilayah yang memiliki nilai rentang antara 0 - 6,75 dengan nilai 
skor 1; 

b. Kelas kerawanan sedang untuk wilayah yang memiliki nilai rentang antara 6,75 - 12,50 dengan 
nilai skor 2, dan; 

c. Kelas kerawanan tinggi untuk wilayah yang memiliki nilai rentang antara 12,50 – 18,75 dengan 
nilai skor 3.  

 

Hasil dari klasifikasi tingkat kerawanan terhadap bencana di Kabupaten Landak dapat dilihat pada 
Tabel 2. 

 
Tabel 2. Indeks Kerawanan Bencana di Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

No. Kecamatan Bobot Proporsi Peluang Skor Indeks Kerawanan 

1 Sebangki 0 1 Rendah 
2 Ngabang 12,50 2 Sedang 
3 Jelimpo 6,25 1 Rendah 
4 Sengah Temila 6,25 1 Rendah 
5 Mandor 6,25 1 Rendah 
6 Menjalin 6,25 1 Rendah 
7 Mempawah Hulu 6,25 1 Rendah 
8 Sompak 12,50 2 Sedang 
9 Menyuke 18,75 3 Tinggi 

10 Banyuke Hulu 0 1 Rendah 
11 Meranti 0 1 Rendah 
12 Kuala Behe 12,50 2 Sedang 
13 Air Besar 12,50 2 Sedang 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 13  
 

Berdasarkan klasifikasi di atas, didapatkan bahwa wilayah dengan tingkat kerawanan bencana 
tinggi berada pada kecamatan Menyuke. Sementara wilayah dengan tingkat kerawanan sedang berada 
di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Ngabang, Kecamatan Sompak, Kecamatan Kuala Behe, dan 
Kecamatan Air Besar. Sedangkan sisanya sejumlah 8 kecamatan merupakan wilayah dengan tingkat 
kerawanan rendah, yaitu Kecamatan Sebangki, Kecamatan Jelimpo, Kecamatan Sengah Temila, 
Kecamatan Mandor, Kecamatan Menjalin, Kecamatan Mempawah Hulu, Kecamatan Banyuke Hulu, 
dan Kecamatan Air Besar. Untuk melihat indeks kerawanan bencana berdasarkan histori kejadian di 
Kabupaten Landak secara detail dapat dilihat pada Gambar 1. 

 
Gambar 1. Indeks Kerawanan Bencana Berdasarkan Histori Kejadian di Kabupaten Landak  

(Hasil Analisis, 2013) 

 
 

3.2 Potensi Kerawanan Bencana Kabupaten Landak 
Setelah dilakukan identifikasi kerawanan bencana di Kabupaten Landak dengan Sistem Informasi 

Geografis, selanjutnya dilakukan skoring dan pembobotan terhadap variabel yang dibutuhkan oleh 
masing-masing potensi bencana. Kerawanan bencana ini diukur berdasarkan aspek-aspek fisik yang 
ada, seperti penggunaan lahan, kelerengan, jenis tanah, dan lain-lain. Berdasarkan pengamatan 
kejadian bencana, yang dianggap berpotensi menjadi bencana di Kabupaten Landak diantaranya, 
banjir, longsor, angin puting beliung, dan kebarakan hutan serta kebakaran pada permukiman. 
a. Banjir 

Banjir dapat terjadi akibat faktor alam seperti curah hujan yang tinggi dan lama, lokasi banjir 
berada pada topografi yang relatif datar dengan pola sungai yang berbelok-belok (meandering) dan 
dataran banjir yang luas, keadaan struktur tanah atau batuan yang lambat meresapkan air, dan 
kapasitas sungai yang tidak dapat menampung dan mengalirkan air ke laut . Di samping itu, faktor 
manusia juga berperan menyebabkan banjir, diantaranya bertambahnya penduduk sehingga 
menempati daerah bantaran sungai dan dataran banjir alamiah sehingga mengurangi kantong-
kantong air dan daerah parkir banjir, dan hilang atau berkurangnya daerah resapan akibat 
perubahan fungsi lahan untuk berbagai keperluan. 

Identifikasi sebaran kawasan rawan banjir dan daerah pengaruh, ditetapkan berdasarkan 
tingkat atau daya rusak air yang membahayakan jiwa maupun harta benda (material). Identifikasi 
kawasan rawan banjir tersebut menggunakan teknik overlay dari data-data kondisi fisik wilayah 
Kabupaten Landak serta kejadian-kejadian banjir yang terjadi sebelumnya secara periodik. Adapun 
overlay tersebut dilakukan dengan data berupa: 

1) peta topografi 
2) peta geologi  



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 14  
 

3) hidrologi (hidrogeologi dan hidrometeorologi) 
4) wilayah rawan bencana banjir yang pernah terjadi 

 
Tabel 3. Variabel Skoring Potensi Bencana Banjir  

(Modifikasi Pedoman Aspek Final Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT /M/2007) 

Variabel 

Bobot 

Indikator 

(%) 

Sensivitas 

Tingkat 

Kerawanan 

Verifer 
Bobot 

Penilaian 

Nilai Bobot 

Tertimang Nilai 

Kerawanan Banjir 

Intensitas 

curah hujan 

35 Tinggi >3.000 mm/tahun 3 1,05 

 Sedang 2.000-3000 mm/tahun 2 0,70 

 Rendah <2.000 mm/tahun 1 0,35 

Kelerengan 25 Tinggi 0-25% 3 0,75 

 Sedang 25-40% 2 0,50 

 Rendah >40% 1 0,25 

Penutup 

lahan 

30 Tinggi Permukiman, lokasi kejadian 

banjir terdahulu 

3 0,90 

 Sedang Sawah  2 0,60 

 Rendah Semak, kebun, hutan 1 0,30 

Bentuk 

lahan 

10 Tinggi Daratan aluvial pantai, 

dataran banjir, sempadan 

sungai 

3 0,30 

 Sedang Daratan aluvial  2 0,20 

 Rendah Bukit sisa, lembah perbukitan 

karst, perbukitan 

1 0,10 

Tingkat 

Kerawanan 

Banjir 

100 Tinggi 210-300 3 3,00 

 Sedang 101-200 2 2,00 

 Rendah <100 1 1,00 

 
Berdasarkan hasil skoring di atas, Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan banjir yang 

terbagi menjadi tiga, yaitu kerawanan tinggi, sedang, dan rendah. Sebanyak 40,11% wilayah di 
Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan banjir yang tinggi. Kerawanan tinggi terhadap banjir 
ini tersebar di semua kecamatan, kecuali Kecamatan Menjalin yang tidak memiliki potensi 
kerawanan tinggi. Sedangkan sebanyak 57,85% merupakan Wilayah terluas yang memiliki tingkat 
kerawanan sedang terhadap bencana banjir. Sisanya, sebanyak 2,02% merupakan wilayah dengan 
sebaran kerawanan rendah yang berada di Kecamatan Banyuke Hulu, Mempawah Hulu, Menjalin, 
Mandor, dan Kecamatan Sompak. Untuk lebih jelasnya mengenai lokasi wilayah dengan masing-
masing tingkat kerawanan terhadap banjir pada Gambar 2. 

 

Gambar 2. Peta Potensi Bencana Banjir Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 15  
 

 
b. Longsor 

Penilaian potensi longsor ditinjau dari kondisi kemiringan lereng, kondisi tanah, curah hujan, 
dan penggunaan lahan (Dragicevic, Terence, & Shivanand, 2015). Keempat variabel tersebut di 
overlay sebagaimana yang dilakukan untuk menentukan potensi banjir. Untuk lebih jelasnya dapat 
dilihat pada Tabel 4. 

 
Tabel 4. Variabel Skoring Potensi Bencana Longsor  

(Modifikasi Pedoman Aspek Final Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT /M/2007) 

No. Indikator 

Bobot 

Indikator 

(%) 

Sensivitas 

Tingkat 

Kerawanan 

Verifer 
Bobot 

Penilaian 

Nilai Bobot 

Tertimbang Nilai 

Kerawanan 

Longsor 

1. Kemiringan 

Lereng 

35 % Tinggi Lereng relatif cembung dengan kemiringan lebih 

curam dari (di atas) 40% 

3 1,05 

   Sedang Lereng relatif landai dengan kemiringan antara 25%  

s/d 40% 

2 0,70 

   Rendah Lereng dengan kemiringan <25 1 0,35 

2. Kondisi 

Tanah 

25 % Tinggi Lahan kritis, lereng tersusun dari tanah penutup tebal 

(>2m), bersifat gembur dan mudah lolos air, misalnya 

tanah-tanah residual, yang umumnya menumpang di 

atas batuan dasarnya (misal andesit, breksi andesit, 

tuf, napal, dan batu lempung) yang lebih kompak 

(padat) dan kedap 

Lereng tersusun oleh tanah penutup tebal (>2m), 

bersifat gembur dan mudah lolos air, misalnya tanah-

tanah residual atau tanah koluvial, yang di dalamnya 

terdapat bidang kontras antara tanah dengan 

kepadatan lebih rendah dan permeabilitas lebih tinggi 

yang menumpang di atas tanah dengan kepadatan 

lebih tinggi dan permeabilitas lebih rendah 

3 0,75 

   Sedang Lereng tersusun oleh tanah penutup tebal (<2m), 

bersifat gembur dan mudah lolos air, serta terdapat 

bidang kontras di lapisan bawahnya 

2 0,50 

   Rendah Lereng tersusun dari tanah penutup tebal (2m), 

bersifat padat dan tidak mudah lolos air, tetapi 

terdapat bidang kontras di lapisan bawahnya 

1 0,25 

3. Curah 

Hujan 

25% Tinggi Curah hujan yang tinggi (dapat mencapai 100 

mm/hari atau 70 mm/jam) dengan curah hujan 

tahunan lebih dari 2500 mm. 

Curah hujan kurang dari 70 mm/jam, tetapi 

berlangsung terus-menerus selama lebih dari dua jam 

hingga beberapa hari 

3 0,75 

   Sedang Curah hujan sedang (berkisar 30 – 70 mm/jam), 

berlangsung tidak lebih dari 2 jam dan hujan tidak 

setiap hari (100-2500 mm) 

2 0,50 

   Rendah Curah hujan rendah (kurang dari 30 mm/jam), 

berlangsung tidak lebih dari 1 jam dan hujan tidak 

setiap hari (kurang dari 1000 mm) 

1 0,25 

4. Penggunaan 

lahan 

15% Tinggi Alang-alang, rumput-rumputan, tumbuhan semak, 

tumbuhan perdu 

3 0,45 

   Sedang Tumbuhan berdaun jarum seperti cemara, pinus 2 0,30 

   Rendah Tumbuhan berakar tunjang yang perakarannya 

menyebar seperti jati, kemiri, kosambi, laban, 

dlingsem, mindi, renghas, sonokeling, trengguli, 

tayuman, asam jawa dan pilang 

1 0,15 

Tingkat 

Kerawanan 

Longsor 

100 Tinggi 210-300 3 3,00 

 Sedang 101-200 2 2,00 

 Rendah <100 1 1,00 

 
Berdasarkan hasil skoring di atas, Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan longsor yang 

terbagi menjadi tiga, yaitu kerawanan tinggi, sedang, dan rendah. Sebanyak 56,54% wilayah di 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 16  
 

Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Kerawanan tinggi terhadap 
longsor ini tersebar di semua kecamatan, kecuali Kecamatan Menjalin yang tidak memiliki potensi 
kerawanan tinggi. Sedangkan sebanyak 43,03% merupakan wilayah terluas yang memiliki tingkat 
kerawanan sedang terhadap bahaya longsor. Sisanya, sebanyak 0,41% merupakan wilayah dengan 
sebaran kerawanan rendah yang berada di Kecamatan Banyuke Hulu, Mempawah Hulu,  Sebangki, 
Air Besar, Meranti, Kuala Behe, dan Kecamatan Sompak. Untuk melihat lebih jelas mengenai 
sebaran lokasi wilayah dengan masing-masing tingkat kerawanan terhadap longsor pada Gambar 3. 

 

Gambar 3. Peta Potensi Bencana Longsor Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

 

 

c. Angin Puting Beliung 
Penilaian potensi terhadap angin puting beliung ditinjau dari kondisi curah hujan, penggunaan 

lahan, dan topografi. Ketiga variabel tersebut di overlay sebagaimana yang dilakukan untuk 
menentukan potensi banjir dan longsor. Adapun variabel yang digunakan sebagai indikator faktor 
penentu penilaian rawan angin puting beliung dapat dilihat pada Tabel 5. 

 
 

Tabel 5. Variabel Skoring Potensi Bencana Angin Puting Beliung  
(Modifikasi Pedoman Aspek Final Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT /M/2007) 

 
No. Indikator Bobot 

Indikator 

(%) 

Sensivitas 

Tingkat 

Kerawanan 

Verifer Bobot 

Penilaian 

Nilai Bobot Tertimbang 

Nilai Kerawanan Angin 

Puting Beliung 

1. Curah Hujan 40 % Tinggi Curah hujan yang tinggi (dapat mencapai 100 

mm/hari atau 70 mm/jam) dengan curah hujan 

tahunan lebih dari 2500 mm. 

3 1,20 

   Sedang Curah hujan sedang (berkisar 30 – 70 mm/jam), 

berlangsung tidak lebih dari 2 jam dan hujan 

tidak setiap hari (1000-2500 mm) 

2 0,80 

   Rendah Curah hujan rendah (kurang dari 30 mm/jam), 

berlangsung tidak lebih dari 1 jam dan hujan 

tidak setiap hari (kurang dari 1000 mm) 

1 0,40 

2. Penggunaan 

Lahan 

25% Tinggi Lahan resapan air, lahan terbuka,  3 0,75 

   Sedang Perkebunan, pertambangan, permukiman, 

wisata 

2 0,50 

   Rendah Hutan  1 0,25 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 17  
 

3. Topografi  35% Tinggi >3000 m dpl 3 1,05 

   Sedang  1500-3000 m dpl 2 0,70 

   rendah <1500 m dpl  1 0,35 

Tingkat Kerawanan 

Angin Puting 

Beliung 

100 Tinggi 210-300 3 3,00 

 Sedang 101-200 2 2,00 

 Rendah <100 1 1,00 

 
Berdasarkan hasil skoring di atas, Kabupaten Landak hanya memiliki dua tingkat kerawanan 

terhadap angin puting beliung, yaitu kerawanan sedang dan kerawanan rendah.  Sebanyak 93,57% 
wilayah di Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan angin puting beliung yang rendah. 
Kerawanan sedang terhadap angin puting beliung ini tersebar di semua kecamatan. Sisanya, 
sebanyak 6,42% merupakan wilayah memiliki kerawanan rendah terhadap bahaya angin puting 
beliung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4. 

 
Gambar 4. Peta Potensi Bencana Angin Puting Beliung Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

 
 

d. Kebakaran Hutan 
Identifikasi sebaran kawasan rawan terhadap kebakaran hutan dan daerah pengaruh, 

ditetapkan berdasarkan tingkat atau daya rusak yang membahayakan jiwa maupun harta benda 
(material). Identifikasi kawasan rawan kebakaran hutan tersebut menggunakan teknik overlay dari 
data-data kondisi fisik wilayah Kabupaten Landak serta kejadian-kejadian kebakaran hutan yang 
terjadi sebelumnya secara periodik. Adapun overlay tersebut dilakukan dengan data berupa kondisi 
vegetasi, penutup lahan, bentuk lahan, dan curah hujan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada 
Tabel 6. 

 
Tabel 6. Variabel Skoring Potensi Bencana Kebakaran Hutan  

(Modifikasi Pedoman Aspek Final Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT /M/2007) 

No. Indikator 

Bobot 

Indikator 

(%) 

Sensivitas 

Tingkat 

Kerawanan 

Verifer 
Bobot 

Penilaian 

Nilai Bobot 

Tertimbang Nilai 

Kerawanan 

Kebakaran Hutan 

1. Vegetasi 30 Tinggi Alang-alang, rumput-rumputan, tumbuhan 

semak, tumbuhan perdu 

3 0,90 

   Sedang Tumbuhan berdaun jarum seperti cemara, 

pinus 

2 0,70 

   Rendah Tumbuhan berakar tunjang yang 

perakarannya menyebar seperti jati, kemiri, 

kosambi, laban, dlingsem, mindi, renghas, 

1 0,35 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 18  
 

sonokeling, trengguli, tayuman, asam jawa 

dan pilang 

2. Penutup 

lahan 

15 Tinggi Semak, kebun, hutan  3 0,75 

   Sedang Sawah  2 0,50 

   Rendah Permukiman 1 0,25 

3 Bentuk 

lahan 

35 Tinggi  Tanah yang mengandung gambut (organosol) 3 1,20 

   Sedang latosol dan podsolid 2 0,80 

   Rendah Batuan  1 0,40 

4. Curah 

hujan 

20 Tinggi  <1000 mm per tahun 3 0,60 

   Sedang  1000-2500 mm per tahun 2 0,40 

   Rendah  >2500 mm per tahun 1 0,20 

Tingkat 

Kerawanan 

Kebakaran 

Hutan 

100 Tinggi 210-300 3 3,00 

 Sedang 101-200 2 2,00 

 Rendah <100 1 1,00 

 
 
Berdasarkan hasil skoring di atas, Kabupaten Landak memiliki tiga tingkat kerawanan terhadap 

kebakaran hutan, yaitu kerawanan rendah, sedang, dan kerawanan tinggi.  Sebanyak 18,98% 
wilayah di Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan terhadap bahaya kebakaran hutan yang 
rendah. Sementara sebanyak 76,67% merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan sedang. 
Daerah yang memiliki tingkat kerawanan rendah dan sedang terhadap kebakaran hutan ini tersebar 
di semua kecamatan. Sisanya, sebanyak 4,34% merupakan wilayah yang memiliki kerawanan tinggi 
terhadap bahaya kebakaran hutan. Wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi ini hanya tersebar di 
Kecamatan Sebangki, Sengah Temila, Banyuke Hulu, Mempawah Hulu, Mandor, dan Kecamatan 
Sompak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5. 

 
Gambar 5. Peta Potensi Bencana Kebakaran Hutan Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

 
 

e. Kebakaran Permukiman 
Penilaian potensi terhadap kebakaran pada permukiman ditinjau dari kondisi curah hujan, 

penggunaan lahan, dan topografi. Ketiga variabel tersebut di overlay sebagaimana yang dilakukan 
untuk menentukan potensi banjir, longsor, angin puting beliung, dan kebakaran hutan. Adapun 
variabel yang digunakan sebagai indikator faktor penentu penilaian rawan kebakaran pada 
permukiman dapat dilihat pada Tabel 7. 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 19  
 

 
Tabel 7. Variabel Skoring Potensi Bencana Kebakaran Permukiman  

(Modifikasi Pedoman Aspek Final Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT /M/2007) 

No. Indikator 

Bobot 

Indikator 

(%) 

Sensivitas 

Tingkat 

Kerawanan 

Verifer 
Bobot 

Penilaian 

Nilai Bobot Tertimbang Nilai 

Kerawanan Kebakaran pada 

Permukiman 

1. Bentuk lahan 15 Tinggi Tanah yang mengandung 

gambut (organosol) 

3 1,20 

   Sedang latosol dan podsolid 2 0,80 

   Rendah Batuan  1 0,40 

2. Penutup lahan 50 Tinggi Permukiman kepadatan 

tinggi  

3 0,75 

   Sedang Permukiman kepadatan 

rendah 

2 0,50 

   Rendah Non permukiman (hutan, 

semak,  

1 0,25 

3. Curah hujan 35 Tinggi <1000 mm per tahun 3 1,05 

   Sedang  1.000-2.500 mm per 

tahun 

2 0,70 

   Rendah  >2.500 mm per tahun 1 0,35 

Tingkat Kerawanan 

Kebakaran pada 

Permukiman 

100 Tinggi 210-300 3 3,00 

 Sedang 101-200 2 2,00 

 Rendah <100 1 1,00 

 
 
Berdasarkan hasil skoring di atas, Kabupaten Landak memiliki tiga tingkat kerawanan terhadap 

kebakaran pada permukiman, yaitu kerawanan rendah, sedang, dan kerawanan tinggi.  Sebanyak 
95,92% wilayah di Kabupaten Landak memiliki tingkat kerawanan terhadap bahaya kebakaran pada 
permukiman yang rendah. Sementara 3,84% merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan 
sedang. Daerah yang memiliki tingkat kerawanan rendah dan sedang terhadap kebakaran pada 
permukiman ini tersebar di semua kecamatan. Sisanya, sebanyak 0,22% merupakan wilayah yang 
memiliki kerawanan tinggi terhadap bahaya kebakaran pada permukiman. Wilayah dengan tingkat 
kerawanan tinggi ini hanya tersebar di Kecamatan Banyuke Hulu, Mempawah Hulu, dan 
Kecamatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 6. 

 
Gambar 6 Peta Potensi Bencana Kebakaran Permukiman Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

 
 

 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 20  
 

Berdasarkan overlay pada keseluruhan ancaman bencana yang mungkin terjadi di Kabupaten 
Landak, bahwa Kabupaten Landak memiliki tiga kelas kerawanan terhadap semua bencana, yaitu 
daerah dengan tingkat kerawanan rendah, sedang, dan tinggi. Secara statistik, dominasi kerawanan 
multi-bencana adalah tingkat kerawanan sedang, yang tersebar di seluruh kecamatan dan memiliki 
jumlah persentase luasan keseluruhan sebesar 82,96%. Sedangkan sisanya secara berurutan adalah 
daerah dengan tingkat kerawanan rendah sebanyak 10,15% dan tingkat kerawanan tinggi sebanyak 
6,88%. Hanya saja, berdasarkan karakteristik wilayahnya, daerah untuk tingkat kerawanan tinggi 
tidak termasuk untuk Kecamatan Mempawah Hulu dan Menjalin. Untuk melihat jelas mengenai 
sebaran lokasi wilayah dengan masing-masing tingkat kerawanan terhadap multibahaya di 
Kabupaten Landak dapat dilihat pada Gambar 7. 

 
Gambar 7. Peta Potensi Multi-Bencana Kabupaten Landak (Hasil Analisis, 2013) 

 
 

 

4. KESIMPULAN 

Berdasarkan kajian analisis potensi bencana yang didasarkan pada kejadian dan analisis kerawanan 
fisik diketahui bahwa Kabupaten Landak memiliki beberapa ancaman bencana (multi-bencana), diantaranya 
adalah ancaman terhadap banjir, longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan, dan kebakaran pada 
permukiman. Setiap wilayah tidak akan memiliki jenis maupun tingkat bencana yang sama antara yang satu 
dengan yang lainnya. Ada beberapa faktor yang menjadi penentu hal ini, yaitu Perbedaan karakteristik 
kondisi fisik, geografis, dan alam atau lingkungan yang ada di setiap wilayah. Berdasarkan overlay pada 
keseluruhan ancaman bahaya yang mungkin terjadi, Kabupaten Landak memiliki tiga kelas kerawanan 
terhadap semua bencana, yaitu daerah dengan tingkat kerawanan rendah, sedang, dan tinggi. Secara 
statistik, dominasi kerawanan multi-bencana adalah tingkat kerawanan sedang, yang tersebar di seluruh 
kecamatan dengan persentase luas keseluruhan sebesar 82,96%. Sedangkan sisanya secara berurutan 
adalah daerah dengan tingkat kerawanan rendah sebanyak 10,15% dan tingkat kerawanan tinggi sebanyak 
6,88%. 

 
 

5. DAFTAR PUSTAKA 
Dokumen Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Kabupaten Landak Tahun 2012. 
Dragicevic, S., Terence, L., & Shivanand, B. (2015). GIS-based multicriteria evaluation with multiscale 

analysis to characterize urban landslide susceptibility in data-scarce environments. Habitat 
International, 45(2), 114–125. doi:10.1016/j.habitatint.2014.06.031 



 

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 10-21                                          Wahyuningtyas dan Pratomo 

| 21  
 

BPS Landak. (2012). Kabupaten Landak Dalam Angka Tahun 2012. 
North, P. (2006). The Use of GIS and Remote Sensing to Identify Areas at Risk from Erosion in Indonesian 

Forests : A Case Study in Central Java. 
Pelling, M. (2003). The Vulnerability of Cities: Natural Disaster and Social Resilience. London: Earthscan ltd. 
Peraturan Bupati Landak Nomor Tahun 2012 tentang Prosedur Tetap Penanganan Tanggap Darurat 

Bencana Kabupaten Landak. 
Permen Kementerian Pekerjaan Umum. (2012). Modifikasi Pedoman Aspek Final Peraturan Menteri 

Pekerjaan Umum No.20/PRT /M/2007. Kementerian Pekerjaan Umum. 
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Landak Tahun 2012-2032. 
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta : Bandung. 
Surakhmad, Winarno. (1980). Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode, Teknik. Bandung: Tarsito. 
UU BNPB. (2007). Undang-undang Penanggulangan Bencana No.24 Tahun 2007. Badan Nasional 

Penanggulangan Bencana. 
Wisner, B., Blaikie, P., & Canon, T. (2005). At Risk, Natural Hazard, People’s Vulnerability, and Disaster. 

London: Routledge. 
 


