




































         Geoplanning 
Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                                                                                                                             Journal of Geomatics and Planning 

                                                                                                   E-ISSN: 2355-6544 

http://ejournal.undip.ac.id/index.php/geoplanning 

 

| 38   

 

OPEN ACCESS 

PEMETAAN PERKEMBANGAN PERHOTELAN DI PUSAT 
PERDAGANGAN DAN JASA KOTA SEMARANG DENGAN SISTEM 
INFORMASI GEOGRAFIS 

 

A. Hermawana, J.A.Syahbanab 

a
 Universitas Diponegoro, Indonesia, email: andyhermawannn@gmail.com 

b
 Universitas Diponegoro, Indonesia, email: yoesrona@yahoo.com 

 
Abstract The expanded growth of the trade and services area of Peterongan - Tawang – 
Siliwangi (Petawangi) in Semarang City has resulted in a new growth of commercial center 
activity within the area. Hotels as one of the potential trade and service components in the 
center of the area have an important role in the Semarang economy. The growth of hotels is 
due to the growth of activities like meeting, incentives, conference, and exhibition (MICE) as an 
effect of business activities in Semarang City. The share of hotels in the Petawangi area is 
around 70 percent of the total hotel tax in Semarang City. The purpose of this research is to 
identify the characteristics of the growth of hotels in the Petawangi Area during the last 3 
years (2011-2014). The research has used spatio-temporal GIS and qualitative analysis, 
utilizing snowball sampling technique. The results show that the growth of hotels is excessive 
in the sense that the supply of hotel rooms exceeds the demand. The hotel growth is most 
intense in the urban villages of Sekayu and Pekunden. The emergence of the national 
government policy, which does not support the development of city hospitality through MICE, 
may result in a decrease of the hotel tax in Semarang for about 35 to 50 percent per year. To 
be able to keep the balance between supply and demand, better cooperation between the 
Semarang City government and the hotels managements is needed. It is especially for 
developing the infrastructure such as integrated inter-modal transportation for easier access to 
and from airport, improvement of urban facilities, city tourism development, and organizing 
national events to increase the declining demand of MICE. © 2015 GJGP UNDIP. All rights 
reserved. 
 

 

Abstract:  Adanya perkembangan Pusat Perdagangan dan Jasa Peterongan - Tawang - Siliwangi 
Kota Semarang yang lebih luas mengakibatkan tumbuhnya pusat-pusat kawasan komersial 
baru di dalamnya. Hotel sebagai salah satu komponen perdagangan dan jasa yang potensial di 
pusat perdagangan dan jasa Peterongan - Tawang - Siliwangi berperan penting sebagai 
penyumbang penerimaan pendapatan di Kota Semarang. Hotel berkembang akibat adanya 
perkembangan aktivitas MICE (meeting, incentives, conference, exhibition) dari efek aktivitas 
bisnis yang terjadi di Kota Semarang. Hotel di Kawasan Petawangi memiliki 70% dari total 
pendapatan yang diterima dari seluruh kawasan yang ada di Kota Semarang. Tujuan dari 
penelitian ini dimaksudkan untuk menelusuri bagaimana perkembangan yang terjadi di sektor 
perhotelan di Pusat Perdagangan dan Jasa Peterongan-Tawang-Siliwangi Kota Semarang. 
Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu dengan metode analisis spasial temporaldan 
analisis kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data snowball sampling. Hasil 
yang ditemukan bahwa saat ini pertumbuhan penyediaan perhotelan melampaui dari 
pertumbuhan permintaan kamar hotel. Persebaran perhotelan terpadat terjadi di Kelurahan 
Sekayu dan Kelurahan Pekunden. Munculnya kebijakan pemerintah pusat yang tidak 
mendukung perkembangan perhotelan pada kota MICE mengakibatkan ancaman penurunan 
pendapatan hotel maupun pajak Kota Semarang 35-50% per tahunnya. Untuk tetap dapat 
menjaga keseimbangan penyediaan dan permintaan maka diperlukan kerjasama antara 
pemerintah Kota Semarang dengan pengelola hotel untuk membangun sarana simpul 
transportasi bandara, pembenahan sarana - prasarana perkotaan, pembuatan daya tarik 
wisata dalam kota maupun penyelenggaraan event nasional untuk menyeimbangkan 
penurunan permintaan MICE. © 2015 GJGP UNDIP. All rights reserved. 

  

Article Info; 
 
Received:  
29 March 2015 
 
in revised form:  
9 April 2015 
 
Accepted: 
25 April 2015 
 
Available Online: 
 30 April 2015 

 
Keywords:  
Hotel’s Mapping, GIS, 
MICE 

Info Artikel; 
 
Diterima:  
29 Maret 2015 
 
Hasil Revisi : 
9 April 2015 
 
Disetujui: 
25 April 2015 
 
Publikasi On-Line: 
 30 April 2015 
 

Kata kunci:  
Pemetaan Hotel, SIG, 
MICE 

mailto:andyhermawannn@gmail.com
mailto:yoesrona@yahoo.com


Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 39   

 

1. PENDAHULUAN 

Pertumbuhan dan perkembangan kota diwujudkan sebagai bentuk penerjemahan dari visi dan misi 
kota tersebut. Visi adalah kondisi yang diinginkan pada akhir periode perencanaan yang direpresentasikan 
dalam sejumlah sasaran hasil pembangunan yang dicapai melalui program-program pembangunan dalam 
bentuk rencana kerja. Kota Semarang sebagai Ibukota Propinsi Jawa Tengah memiliki visi yang 
berlandaskan kondisi kota dan nilai historis yang dimilikinya.  Penentuan visi ini mendasarkan pada 
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP) 2005 
– 2025 dan penelusuran jejak historis Kota Semarang sebagai kota niaga di mana pada jaman dahulu 
pernah dinyatakan sebagai Kota Niaga terbesar kedua sesudah Batavia. Berdasar sejarah sebagai kota niaga 
tersebut dan didukung oleh analisis potensi, faktor-faktor strategis yang ada pada saat ini serta proyeksi 
pengembangan ke depan, maka dirumuskan visi Kota Semarang yaitu : “Terwujudnya Semarang kota 
perdagangan dan jasa, yang berbudaya menuju masyarakat sejahtera”.  Visi tersebut memiliki empat kunci 
pokok yakni Kota Perdagangan, Kota Jasa, Kota Berbudaya, dan Masyarakat yang Sejahtera.  

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatur perkembangan Kota Semarang yang sesuai dengan 
visi misi serta untuk menghadapi pertumbuhan yang pesat adalah diberlakukannya pembangunan pada 
tingkatan bagian wilayah kota (BWK). Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 
2011-2031 dikatakan bahwa BWK adalah suatu kawasan fungsional atau kawasan yang memiliki kemiripan 
fungsi ruang. Kota Semarang terbagi menjadi 10 bagian wilayah kota dengan masing-masing BWK memiliki 
fungsi kawasannya tersendiri. Sesuai dengan visi misi Kota Semarang sebagai Kota Perdagangan dan Jasa, 
BWK 1 merupakan pusat kawasan yang memiliki fungsi perkantoran, perdagangan, dan jasa dengan Kawsan 
segitiga Pandama (Pemuda, Pandaran, Gajahmada) serta Simpang Lima sebagai pusat kegiatannya atau 
CBD (Central Business District). BWK 1 ini mencakup Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Selatan, dan 
Semarang Timur dengan luasan 2.223 Ha. Saat ini kawasan CBD Pandama telah berkembang menjadi pusat 
perdagangan dan jasa yang lebih luas menjadi Kawasan Petawangi (Peterongan-Tawang-Siliwangi).  

Kawasan Petawangi sebagai pusat perdagangan dan jasa di Kota Semarang terus mengalami 
pertumbuhan yang pesat. Saat ini pemerintah Kota Semarang sedang menggalakkan investasi skala 
nasional dan Internasional dari penanaman modal dalam negeri maupun asing yang ditujukkan pada 
kawasan pusat perdagangan dan jasa Petawangi. Data yang berhasil dihimpun mencatat berbagai proyek 
besar perhotelan akan dibangun di kawsasan pusat kota tersebut. 

 
 

2. DATA DAN METODE 
Teori Perkembangan Kota diperlukan sebagai dasar teori yang mendasari perkembangan sektor 

perhotelan di Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi Kota Semarang. Untuk mendalami teori tentang 
perkembangan kota sesuai yang terjadi di pusat Kota Semarang, maka sangat diperlukan teori 
perkembangan kota sebagai dasar. Kota merupakan suatu kesatuan wilayah administratif yang memiliki 
tingkat kepadatan bangunan dan manusia yang tinggi di mana sebagian besar penduduknya bekerja bukan 
pada sektor pertanian. Secara lebih kompleks seperti yang dijelaskan oleh Yunus (2005:16-17) dalam sudut 
pandang morfologis, suatu kota dapat didefinisikan sebagai suatu daerah tertentu dengan karakteristik 
pemanfaatan lahan non pertanian, pemanfaatan lahan di mana sebagian besar tertutup oleh bangunan 
baik yang bersifat residensial maupun non residensial (secara umum tutupan bangunan / building coverage 
lebih besar dari komposisi vegetasi), kepadatan bangunan permukiman yang tinggi, memiliki pola jaringan 
jalan yang kompleks, dalam satuan permukiman yang kompak (contigous) dan relatif lebih besar dari 
satuan permukiman pedesaan di sekitarnya. 
Berikut adalah penjelasan dari kedua bentuk perkembangan kota menurut Yunus (2005:55-): 
1. Proses perkembangan spasial secara horizontal 

a. Proses perkembangan spasial sentrifugal - proses perkembangan ke luar inti perkembangan. 
b. Proses perkembangan spasial sentripetal - proses perkembangan kekotaan yang terjadi di bagian 

dalam kota (inner parts of the city) 
2. Proses perkembangan spasial secara vertikal 

Gejala perkembangan vertikal ini adalah proses penambahan ruang kota dengan menambahkan 

jumlah lantai bangunan. Perkembangan ini sering terjadi di area pusat kota (central business district) 

dikarenakan semakin minimnya lahan di pusat kota. 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 40   

 

Sektor perhotelan erat kaitannya dengan kepariwisataan. Kota Semarang sebagai kota MICE (meeting, 
incentives, conferencing, exhibition) sangat ditunjang dengan keberadaan layanan perhotelan untuk 
mendukung aktivitas MICE tersebut. Maka dari itu diperlukan perkembangan hotel yang optimal untuk 
mendukung aktivitas terkait pariwisata MICE di Kota Semarang. 
1. Karakteristik Jasa Perhotelan  

 Kotler, dkk (2003) mengatakan bahwa pada dasarnya karakteristik pemasaran bidang jasa 
terbagi menjadi 4 hal yaitu: 
a. Intangibility (tidak dapat didefinisikan) 
b. Inseparability (tidak dapat dipisahkan) 
 Pelayanan yang tak terpisahkan berarti bahwa pengguna jasa juga merupakan bagian dari produk. 

Implikasi lainnya adalah pelanggan dan pekerja harus memahami sistem pelayanan jasa. 
c. Variability (berbagai macam bentuk) 
d. Perishability (tidak dapat disimpan) 

 
Peraturan tentang Bagian Wilayah Kota I Semarang diatur dalam Perda Nomor 6 Tahun 2004. BWK I 

terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Timur, dan Semarang Selatan. 
Fungsi kawasan ini adalah sebagai pusat kegiatan perdagangan, jasa, dan perkantoran di Kota Semarang. 
Luasan masing-masing kecamatan di BWK 1 sebagai berikut: 

1. Kecamatan Semarang Tengah : 604, 997 ha; 
2. Kecamatan Semarang Timur : 770, 255 ha; 
3. Kecamatan Semarang Selatan : 848, 046 ha. 

Sementara itu, secara administratif kawasan ini dibatasin oleh: 
1. Sebelah Utara : Kecamatan Semarang Utara. 
2. Sebelah Selatan : Kecamatan Gajah Mungkur dan Kecamatan Candisari. 
3. Sebelah Timur  : Kecamatan Gayamsari dan Kecamatan Genuk. 
4. Sebelah Barat : Kecamatan Semarang Barat. 

 
Pada kawasan BWK I Semarang ini dibagi menjadi 5 blok yang dikategorikan berdasarkan tata letak 

masing-masing kelurahan di dalamnya. Berikut adalah data pembagian blok BWK 1 Semarang: 
 

Tabel 1. Pembagian Blok BWK I Kota Semarang (Bappeda Kota Semarang, 2014) 
Kecamatan Kelurahan Blok 

Semarang Tengah Pindrikan Lor, Pindrikan Kidul, Sekayu, Pandansari 1.1 

Kembangsari, Bangunharjo, Kauman, Kranggan, Purwodinatan 1.2 

Miroto, Pekunden 1.3 

Grabahan, Brumbungan, Jagalan, Karangkidul 1.4 

Semarang Timur Kemijen, Rejomulyo 2.1 

Maltiharjo, Mlatibaru 2.2 

Kebonagung, Bugangan 2.3 

Semarang Timur Sarirejo, Rejosari, 3.1 

Karangturi, Karangtempel 3.2 

Semarang Selatan Bulustalan, Barusari 4.1 

Randusari, Mugasari 4.2 

Semarang Tengah Pleburan, Wonodri 5.1 

Peterongan, Lamper Lor 5.2 

Lamper Kidul, Lamper Tengah 5.3 
 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 41   

 

Untuk lebih jelas, di bawah ini adalah peta pembagian blok pada BWK I: 
 

Gambar 1. Pembagian Blok BWK 1 (Bappeda Kota Semarang, 2014) 

 
 

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pariwisata Kota Semarang tahun 2014, daftar hotel 
berbintang di Kawasan Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi antara lain: 

 
 

Tabel 2. Hotel Eksisting Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi dan Sekitanya di Kota Semarang 
(Dinas Pariwisata Kota Semarang, 2014) 

No Nama Hotel Alamat Kelurahan 

1 Gumaya Tower Hotel Jl Gajah Mada No 59-61  Kelurahan Kembangsari 

2 Ciputra Simpang Lima  Kelurahan Pekunden 

3 Novotel Jalan Pemuda No 123  Kelurahan Sekayu 

4 Crowne Plaza Jalan Pemuda No. 116-118  Kelurahan Sekayu 

5 Santika Premiere Jalan Pandanaran No. 116-120  Kelurahan Pekunden 

6 Horison  Jl. KH Ahmad Dahlan No.2  Kelurahan Karang Kidul 

7 Pandanaran Jl Pandanaran  No. 58 Kelurahan Pekunden 

8 Siliwangi Jl MGR Soegijaprnoto No. 61 Kelurahan Pendrikan Kidul 

9 New Metro Jl KH Agus Salim No 2-4 Kelurahan Puwodinatan 

10 Quest  Jl Plampitan No. 37-38 Kelurahan Bangunharjo 

11 Dafam Jl Imam Bonjol Kelurahan Sekayu 

12 Semesta Heritage Jl KH Wahid Hasyim No 125-127 Kelurahan Bangunharjo 

13 MG Suites Jl Petempen Malang No 294 Kelurahan Kembangsari 

14 Ibis Jl. Gajah Mada No 172 Kelurahan Pekunden 

15 Holiday Inn Jl Ahmad Yani No 145 Kelurahan Pleburan 

16 Surya Jl Imam Bonjol 28 Kelurahan Pandan Sari  

17 Quirin Jl Gajah Mada 44-52 Kelurahan Bangunharjo 

18 Amaris Jl Pemuda No 138 Kelurahan Sekayu 

19 Whiz Jl Kap. Piere Tendean No 9 Kelurahan Sekayu 

20 Ibis Budget Jl Kap Piere Tendean Kelurahan Sekayu 

21 Citradream Jl Imam Bonjol  No 187 Kelurahan Pindrikan Kidul 

22 Gajah Mada 100 Jl Gajah Mada No 100 Kelurahan Bangunharjo 

23 @HOM Jl Pandanaran No 119 Kelurahan Mugasari 

24 Merbabu Jl Pemuda No 122-124 Kelurahan Sekayu 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 42   

 

No Nama Hotel Alamat Kelurahan 

25 Bali Jl Imam Bonjol 144-148 Kelurahan Sekayu 

26 Aston  Jl MT Haryono No 1 Kelurahan Purwodinatan 

  
Masing-masing hotel tersebut jika ditampilkan pada area spasial, maka akan didapatkan sebaran hotel 

bintang seperti di bawah ini: 
 

Gambar 2. Hotel Eksisting Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi (Bappeda Kota Semarang, 2014) 

 
 

Metode GIS yang digunakan pada penelitian ini menggunakan beberapa tools analisis spasial yaitu: 
1. Analisis Spasial Temporal : bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang 

terjadi pada area perdagangan jasa yang terjadi di Kawasan Petawangi pada RTRW Semarang 
tahun 2010 dan RTRW Kota Semarang Tahun 2011-2031. 

2. Analisis Clip   : bertujuan untuk membuat irisan dan mengetahui wilayah baru 
pengembangan dari fungsi perdagangan dan jasa di Petawangi. 

3. Analisis reclass  : bertujuan untuk membuat kelompok-kelompok tingkatan/kelas 
wilayah secara spasial dengan menggunakan data kuantitatif/sekunder yang telah diinput pada 
data masing-masing kelurahan. 

Selain itu, pendekatan non-GIS yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan 
kualitatif dan analisis spasial temporal, untuk mengkaji perkembangan perhotelan di Pusat Perdagangan 
dan Jasa Peterongan - Tawang- Siliwangi Kota Semarang. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang 
menghasilkan analisis dengan menggunakan prosedur analisis yang memanfaatkan wawancara secara 
terbuka untuk mendapatkan informasi terkait objek yang diteliti, untuk memahami isu-isu yang dianggap 
sensitif dan tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif (Moleong, 
2000:6). Jenis analisis yang digunakan menggunakan metode deskriptif kualitatif. 

 

 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 43   

 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 
Hasil temuan dan analisis diuraikan secara detail terhadap analisis - analisis yang digunakan yaitu: 
 

3.1 Peluang Perkembangan Kawasan Perdagangan dan Jasa Petawangi 
Perkembangan sektor perhotelan di kawasan Petawangi yang baru berjalan 3 tahun (2011-2014) 

masih membuka peluang yang terbuka lebar. Peluang perkembangan sektor perhotelan di kawasan 
Petawangi secara spesifik untuk saat ini masih terbuka lebar dikarenakan belum ada kajian 
pembatasan atau moratorium terhadap sektor tersebut. 

 

Gambar 3. Perluasan Kawasan Perdagangan dan Jasa Petawangi (Hasil Analisis, 2014) 
 

 
 
 

Pada peta di atas telah digambarkan bahwa terdapat perluasan yang cukup siginfikan untuk 
kawasan campuran perdagangan dan jasa di sekitaran Segitiga Gajah Mada-Pemuda-Pandanaran. 
Kawasan yang dulunya murni permukiman saat ini telah berkembang menjadi kawasan campuran 
permukiman dan perdagangan jasa.  

Perkembangan itu memunculkan kemungkinan besar perubahan fungsi lahan yang besar 
terhadap kawasan permukiman terutama pada kampung kota. Beberapa kampung kota yang beralih 
fungsi lahan menjadi kawasan komersil perhotelan antara lain: 

a. Kampung Petempen  : MG Suites Hotel dan Semarang Town Square 
b. Kampung Sekayu  : Hotel Crown dan Mall Paragon extension 
c. Kampung Jayenggaten  : Hotel Gumaya 

 
 
 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 44   

 

3.2 Kebijakan Pemerintah Kota Semarang 
1. Kebijakan Perizinan 

 Perizinan merupakan pintu utama dari kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah. 
Keberpihakan dan kinerja pemerintah Kota Semarang akan dilihat dari bagaimana kinerja dari 
pengurusan perizinan. Saat ini BPPT merupakan satu-satunya badan yang mengurusi perizinan 
pembangunan dan penanaman modal di Kota Semarang. Dengan meningkatnya jumlah investasi 
maka diharapkan pertumbuhan ekonomi Kota Semarang juga meningkat dan multiplier efek 
dapat terjadi ke sektor lainnya.  
a. Penyesuaian Perda Tata Ruang  
b. Tidak ada Pembatasan Izin Perhotelan 
c. Integrasi Kegiatan UMKM dengan Perhotelan 
d. Pengembangan Pasar MICE 
e. Pelarangan Kegiatan Instansi Pemerintah di Hotel 

 

2. Dukungan Pemerintah Kota Semarang terhadap Perhotelan 
 Pemerintah Kota Semarang juga memberikan dukungan bagi sektor perhotelan yang tumnuh 
di Kota Semarang. Dukungan dari pemerintah Kota Semarang sangat membantu bagi 
keberlanjutan sektor perhotelan khususnya di Kawasan Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi. 
Penjabaran dukungan dari pemerintah terhadap sektor perhotelan antara lain Dukungan 
informasi perizinan dan Peningkatan infrastruktur 

 

Gambar 4. Pengembangan Infrastruktur Petawangi (Hasil Analisis, 2014) 

 

 
 
 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 45   

 

3.3 Analisis Perkembangan Perhotelan di Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi 
Sebagai sektor potensial dan juga berada di pusat kawasan Kota Semarang, pertumbuhan sektor 

perhotelan di Kawasan Petawangi layak mendapatkan perhatian dan kajian akademik yang mendalam 
untuk pengembangan yang lebih optimal dan antisiapasi terhadap permasalahan yang akan muncul di 
kemudian hari. Pada bahasan ini akan dijelaskan sebagai aspek yang berkaitan atas perkembangan 
perhotelan di Kawasan Petawangi Kota Semarang. 

Merujuk pada informasi dan data yang didapatkan atas perkembangan perhotelan yang marak 
terjadi di tahun 2012, data instansi juga menunjukkan adanya lonjakan pengajuan pendirian hotel yang 
tinggi mulai tahun 2012 hingga akhir 2014 yang masuk di Kota Semarang. Rekapitulasi perizinan 
perhotelan yang masuk di Kota Semarang pada tiga tahun terakhir dapat dilihat pada grafik di bawah 
ini: 

 

Gambar 5. Pertumbuhan Izin Pendirian Hotel DI Semarang (Hasil Analisis, 2014) 

 
 

 
Faktor lokasi menjadi faktor terpenting bagi penentuan sukses tidaknya usaha perhotelan. Hal 

ini dikarenakan karena sektor perhotelan sangat berkaitan dengan layanan infastruktur lainnya seperti 
transportasi, perdagangan, pusat bisnis dan perkantoran. Lokasi penetuan hotel berdekatan dengan 
area yang strategis dan mudah aksesbillitasnya bagi pengunjung. Berdasarkan prinsip usaha yang 
disampaikan oleh sekretaris PHRI tentang faktor yang berpengaruh terdiri dari 4 komponen atau 4 P 
yaitu: place, product promotion, price. Lokasi atau place merupakan faktor utama sebagai penentu 
keberhasilan usaha.  

 

Gambar 6. Persebaran Hotel Baru dan Eksisting di Petawangi (Hasil Analisis, 2014) 

 
 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 46   

 

Berdasarakan kualifikasi data per masing-masing kelurahan, dikelompokkan menjadi tiga 
kategori berdasarkan banyaknya hotel yang ada. Didapatkan tiga klasifikasi kelurahan dengan 
kepadatan hotel rendah (0-2), sedang (3-6)  dan tinggi (7-12) yaitu: 

1. Kepadatan rendah : Pindrikan Lor, Pindrikan Kidul, Pandansari, Purwodinatan, Kauman, 
Kranggan, Miroto, Gabahan, Brumbungan, Jagalan. 

2. Kepadatan sedang : Kembangsari, Bangunharjo, Pekunden, Karang Kidul. 
3. Kepadatan tinggi : Sekayu. 

 
Menelisik karakteristik kawasan MICE, maka lokasi pusat layanan akan menjadi magnet utama 

permintaan akan perhotelan MICE. Untuk melihat secara keruangan, persebaran permintaan dapat 
dilihat pada peta di bawah ini: 

 
Gambar 7. Sebaran Permintaan Hotel MICE (Hasil Analisis, 2014) 

 
 

Sesuai dengan karakteristik MICE, wilayah Koridor Jalan Pandanaran - Simpang Lima dan Pemuda 
menjadi primadona sebagai preferensi lokasi bagi pengguna perhotelan di Kota Semarang. Adanya 
kemudahan akses dan ketersediaan layanan dan sektor komersial menjadi daya tarik kedua lokasi 
tersebut menjadi lokasi favorit bagi pengguna MICE. 

 
3.4 Karakteristik Pasar MICE 

1. Pasar MICE Kota Semarang 
 Saat ini sektor perhotelan tengah berkembang untuk mendukung sektor basis Kota Semarang 
dengan pengembangan htel lama dan baru yang mendukung kegiatan MICE. Untuk saat ini fasilitas 
yang disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang belum mampu menampung segala jenis aktivitas 
bisnis dan pertemuan yang diadakan di Semarang. 

2. Pengguna Kegiatan MICE Kota Semarang 
 Menurut cuplikan informasi wawancara menunjukkan bahwa pangsa pasar pengunjung dari 
Kota Semarang bukan berasal dari pendatang perorangan, hal ini kembali lagi terkait pada posisi 
Kota Semarang yang bukan merupakan kota yang dikunjungi untuk tujuan wisata seperti di Jogja 
maupun Bali. Hampir semua kedatangan di Kota Semarang memiliki motovasi pekerjaan dan bisnis 
yang berasal dari pemeritah pusat dan pihak swasta. Untuk melihat seberapa besar porsi untuk 
masing-masing pengguna MICE, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 
 
 
 

 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 47   

 

Tabel 3. Presentase Penggunaan MICE Petawangi (Hasil Analisis, 2014) 
 

Hotel 
Pengguna 

pemerintah swasta 

Metro 30 60 

Grasia 35 35 

Quest  55 45 

Santika Premiere 30 60 

Pandanaran 40 50 

Novotel 55 35 

Horison 40 30 

rata-rata 40,714 45 

Total 85,71428571 

 
 Data di atas menunjukkan bahwa pasar MICE merupakan pasar yang potensial untuk 
pengembangan perekonomian di Kota Semarang. Total dari hotel yang di survei menunjuukan 
bahwa pangsa pasar MICE untuk swasta lebih tinggi 4-5% dari pangsa pasar MICE Pemerintah. Hal 
ini bukan dikarenakan karena jumlah ketersediaan pasar dari pemerintah yang lebih rendah 
dibanding swasta. Beberapa hotel memang membatasi kuota untuk pemerintah dikarenakan: 
i. Pembayaran menggunakan LS: Tidak dibayar secara langsung 
ii. Antisipasi dari pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah pusat 

 
3.5 Permasalahan terkait Perkembangan Sektor Perhotelan di Pusat Perdagangan dan Jasa Petawangi 

Semarang 
1. Permasalahan Sudut Pandang Pemerintah 

 Permasalalahan atas perkembangan hotel ari sudut pemerintah lebih ditekankan kepada 
pelayanan dan kinerja dari perhotelan. Permasalahan dilihat dari seberapa besar efek yang 
dimunculkan atas aktivitas perhotelan yang muncul dan menggangu palayanan publik ataupun 
mengurangi kualitas lingkungan. Permasalahan yang diungkapkan oleh pemerintah antara lain: 

a. Kurangnya ketersediaan parkir 
b. Berkurangnya kualitas lingkungan 
c. Kurangnya ruang terbuka hijau 

2. Permasalahan Sudut Pandang Pelaku Usaha  
 Di sisi lain, pelaku usaha melihat permasalahan yang terjadi dari aspek peluang usaha yang 
kian sulit dengan persaingan yang semakin ketat. Maka menurut pelaku usaha, permasalahan yang 
muncul saat ini antara lain: 
a. Pelarangan kegiatan instansi pemerintah di hotel. 

Berdasarkan data dari PHRI Kota semarang dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan yang 
signifikan terhadap ketidakberimbangan supply dan demand karena pelarangan kegiatan 
perhotelan terhadap pegawai negeri. Penurunan terjadi dari tahun 2013 hingga awal tahun 
2015 di mana jumlah hotel justru makin meningkat. Penurunan terjadi hingga 33,6% antara 
tahun 2013 hingga 2015. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini. 

 
Tabel 4. Perhitungan Tingkat Hunian Hotel Petawangi (Sumber: PHRI Kota Semarang) 

 

Perkembangan Perhotelan Kawasan Petawangi 

Tahun Jumlah Hotel R. Available R. Sold Occp ARR Total Room Rev 

2013 15 816.473 560.942 70 496.035 285.834.617.463 

2014 17 829.159 538.429 66 376.536 207.736.713.547 

Aprrox 2015 19 953.436 515.712 55 351.997 189.610.714.008 

Jan' 2015 19 79.453 42.976 55 351.997 15.800.892.834 

Pertumbuhan 4 136.963 -45.230 -15 -144.038 -96.223.903.455 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 48   

 

Analisis Korelasi 0,90 -1,00 -0,97 -0,93 -0,94 

Korelasi terhadap Penjualan Kamar 0,97 0,93 0,94 

 
b. Keterbatasan bandara dan moda transportasi. 
c. Ketidakberimbangan supply dan demand perhotelan. 

 
3.6 Analisis Benchmark Desain Perkotaan Lokasi Pengembangan MICE 

 

Tabel 5. Benchmark Desain Perkotaan Pusat MICE (Hasil Analisis, 2014) 
Kondisi Semarang Singapura Surabaya 

 

 

 

Jalan di Kota Semarang masih di 

dominasi oleh kendaraan pribadi. 

Namun Pemerinah Kota Semarang 

telah berupaya untuk membangun 

layanan transportasi umum 

dengan Bus Rapid Transit. 

 

 

 

Orchard Road Singapura memberikan 

desain yang nyaman dan memberikan 

keseimbangan antara mobilisasi, 

pejalan kali dan angkutan umum. 

Pembangunan desain yang moderen 

dan bersih memberikan kenyamanan 

bagi pengguna jalan untuk beralih 

menggunakan angkutan umum atau 

berjalan kaki. 

 

 

 

Meskipun belum memilik layanan 

angkutan massal yang baik, Kota 

Surabaya merupakan kota yang 

bersih dan memiliki konsistensi 

yang baik terhadap penghijauan. 

Pada jalan utama kota tersebut 

selalu dilengkapi dengan jalur hijau. 

 

Jalan utama Kota Semarang 

berisikan berbagai aktivitas dari 

skala kecil, menengah, dan 

menengah ke atas. Kota Semarang 

masih memungkinkan adanya 

perpaduan antara komersial kecil 

hingga atas. 

 

Penggunaan lahan di Singapura terbagi 

menjadi sektor-sektor permukiman, 

perkantoran, dan pergadangan jasa. 

Pada jalan Orchard Road memiliki 

fungsi komersial kelas dunia yang 

seragam 

 

Persebaran sektor komersial dan 

perhotelan di Surabaya tersebar di 

pusat Kota Surabaya dan terdapat 

di kawasan superblok yang 

tersebar di hampir seluruh 

kawasan Kota Surabaya. 

 
 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 49   

 

4. KESIMPULAN 
 

Perhotelan perkotaan berbasis dagang dan bisnis memiliki perbedaan pada pengembangan perhotelan 
pada kawasan objek wisata konvensional. Perhotelan pada kawasan perkotaan didorong oleh aktivitas 
ekonomi bisnis, perdagangan, dan jasa pada kota tersebut atau yang bisa disebut sebagai kegiatan MICE 
(Meeting, Incentives, Conference, and Exhibition) yang tumbuh dan mengelompok pada pusat-pusat 
fasilitas dan layanan lainnya di pusat kota atau pusat kawasan. Pasar MICE Kota Semarang merupakan 
aspek potensial penyumbang pajak perhotelan hingga 70% dari total pendapatan pajak perhotelan Kota 
Semarang hingga tahun 2014. Perkembangan hotel pada kota bisnis membentuk pola pengembangan kota 
secara vertikal dan intensif ke dalam bagian perkotaan. Persebaran demand muncul pada pusat-pusat 
pelayanan kota seperti di sekitar Simpang Lima dan Kawasan Jalan Pemuda sebagai bentuk kegiatan MICE 
yang menginginkan mudahnya akses terhadap fasilitas penunjang lainnya. Berkembangnya kegiatan bisnis 
memicu tumbuhnya perhotelan sebagai sektor akomodasi dalam menampung kegiatan rapat dan meeting 
yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta.  

 Adanya pelarangan kegiatan pegawai negeri untuk mengadakan kegiatan di hotel mengakibatkan 
adanya penurunan pendapatan pengguna hotel. Berkurangnya demand atas hotel ini jutru bersamaan 
dengan meningkatnya jumlah penyediaan hotel baru yang mengancam eksistensi hotel-hotel yang akan 
beroperasi di Kota Semarang maupun Kota MICE lainnya. Diperlukan kajian terhadap peningkatan kuota 
dalam kebijakan pro-invetasi yang baik untuk menjaga stabilitas kegiatan ekonomi yang telah berjalan 
sebelumnya agar peningkatan supply tidak mengganggu dinamika pasar yang terjadi saat ini. Penurunan 
penggunaan atas kamar hotel mengakibatkan adanya penurunan pendapatan dan penurunan pendapatan 
pajak hotel. Jika tidak segera dibenahi dengan meperlebar jalur demand maka prospek pengembangan 
perhotelan tidak akan berkembang dikemudian hari. 

 Upaya dalam mengembangkan dan menjaga eksistensi sektor MICE dalam perkotaan, pemerintah 
dan pelaku usaha perlu meningkatkan variasi layanan pada atraksi/daya tarik dan peningkatan layanan 
fasilitas dan infrastruktur. Diperlukan revitalisasi objek wisata kota baik secara alamiah, buatan, maupun 
wisata sejarah yang dikembangkan sebagai daya tarik kunjungan wisata dalam kota. Selain itu 
perkembangan perhotelan MICE pada kota bisnis juga sangat bergantung pada simpul transportasi nasional 
dan internasional sebagai pintu utama bisnis, perdagangan, dan jasa di kota tersebut. Di sisi lain, pelaku 
usaha perhotelan juga perlu memperhatikan permasalahan perhotelan pada aspek penyediaan parkir, 
penyediaan ruang terbuka hijau, dan pengolahan air limbah untuk menjaga kualitas lingkungan perkotaan. 

 Rekomendasi diberikan untuk peningkatan kualitas kawasan Petawangi dan sektor perhotelan di 
dalamnya. Rekomendasi dibagi menjadi dua bentuk yaitu rekomendasi kebijakan dan rekomendasi 
perencanaan. 
 

1. Rekomendasi Kebijakan 
Rekomendasi yang dapat diberikan kepada stakeholder terkait yang terkiat dalam pengembangan 
kawasan Petawangi dan sektor perhotelan di dalam kawasan tersebut antara lain: 

a. Rekomendasi Pemerintah 
 Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah: 

i. Pengembangan transportasi bandar udara Kota Semarang 
ii. Pembangunan objek wisata atau atraksi wisata baru di Kota Semarang 
iii. Peningkatan kualitas infrastruktur perkotaan 
iv. Penjagaan keamanan dan stabilitas politik di Kota Semarang 
v. Pengkajian batas kuota pembangunan ijin perhotelan untuk menjaga dinamika pasar yang 

sehat 

b. Rekomendasi Pelaku Usaha Perhotelan 
Diperlukan strategi yang perlu dilakukan oleh pelaku usaha dalam menciptakan sektor perhotelan 
yang nyaman, aman dan ideal. Beberapa diantaranya berupa kebijakan dan pembenahan layanan 
dasar yang perlu ditingkatkan guna meningkatkan daya guna dan mengantisipasi permasalahan 
yang mungkin muncul akibat kegaiatn MICE di hotel antara lain: 

i. Pembangunan ruang parkir yang memadahi. Ruang parkir dapat dilakukan secara masing-
masing pengusaha hotel atau dengan gedung parkir komunal. 



Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning  Vol 2, No 1, 2015, 38-50                                                     Hermawan dan Syahbana 

| 50   

 

ii. Penambahan fasilitas pengolahan limbah untuk menjaga kualitas lingkungan yang tidak 
semakin memburuk 

iii. Penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) sesuai dengan amanat UU Penataan Ruang yaitu 10% 
dari total luasan lahan. RTH konvensional dapat dialihkan dengan menggunakan roof 
garden 

iv. Antisipasi sasaran MICE untuk menanggulangi dampak kerugian yang mungkin timbul 
v. Komunikasi aktif dengan Pemerintah Kota Semarang melaui wadah PHRI untuk penanganan 

permasalahan yang mungkin timbul dikemudian hari. 
 
2. Rekomendasi Perencanaan 

Sebagai kawasan padat dengan penggunaan lahan dengan tingkat diferensiasi yang tinggi, diperlukan 
metode perencaan yang komprehensif dan menyeluruh untuk menjaga kerbelanjutan pembangunan 
melalui konsep pembangunan berkelanjutan pada konsep kota kompak atau compact city. Elkin (dalam 
Zhou, 2011) mengtakan bahwa kota kompak adalah kota yang terkonsetrasi, memiliki kepadatan yang 
tinggi dan memiliki penggunaan lahan campuran yang intensif dan berdiri secara mandiri. Hal ini sama 
yang terjadi dengan kawasan Petawangi yang memiliki kepadatan yang tinggi dan campuran 
penggunaan lahan. Untuk kondisi Petawangi, perencanaan yang dapat dikembangkan antara lain: 

a. Manajemen transportasi yang terintegrasi dan melayani semua ruang jalan di dalam kawasan 
Petawangi.  

b. Penyediaan layanan transportasi langsung dari Petawangi ke simpul transportasi seperti 
bandara, stasiun dan terminal 

c. Pembangunan bangunan permukiman baru secara vertikal pada segmen kelas menengah dan 
kebawah. 

d. Pembenahan sistem saluran dan penyediaan IPAL untuk menanggulangi degradasi lingkungan 
e. Peningkatan kapasitas dan peran sosial terutama pada kampung-kampung kota yang 

eksistensinya terancam akibat perluasan lahan perdagangan dan jasa melalui regenarsi 
kawasan atau program KIP 

Pembangunan gedung parkir terpadu di kelurahan dengan kepadatan aktivitas hotel dan komersial tinggi, 
terutama Sekayu, Pekunden, dan Karang Kidul. 
 
 

5. DAFTAR PUSTAKA 
 

BAPPEDA. (2004). Perda Kota Semarang Nomor 6 Tahun 2004. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 

Kota Sematang. 

BPS. 2013 Kota Semarang dalam Angka 2013. Badan Pusat Statistik Kota Semarang. 

Catanese, Anthony. J dan J. James. C. Snynder. (1986). Teori Perencanaan Kota. Jakarta. Penerbit :Erlangga. 

Drucker, Peter F. (2002). Management Challenges for the 21th Century. US: Perfect Bound. 

Kotler, Philip, dkk. (2003). Marketing for Hospitality and Tourism. New Jersey: Prentice Hall. 

Kotler, Philip, dkk. (1993). Marketing Places. New York: The Free Press. 

Moleng, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda. 

Porter,Michael E. (1990). The Competitive Advantage of Nation. New York: The Free Press. 

Wardiyanta. (2006). Metode Penelitian Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 

Yunus, Hadi Sabari. (1982). Pengarahan Pemahaman Pengertian Kota. Yogyakarta: Fakultas Geografi,UGM . 

Yunus, Hadi Sabari. (2005). Manajemen Kota: Perspektif Spasial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Yunus, Hadi Sabari. (2006). Megapolitan: Konsep, Problematika, dan Prospek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 


