Jurnal 3 Gladi PERSEPSI ATLET TERHADAP SDM PPLM TENTANG PRESTASI ATLET Ramdan Pelana1 Abstrak, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji pengaruh persepsi atlet terhadap SDM PPLM tentang Prestasi Atlet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei di Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Data dikumpulkan dari 71 atlet yang diambil secara acak, melalui instrumen yang telah divalidasi berupa kuesioner berskala Likert 1-5. Teknik analisis data menggunakan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi atlet terhadap SDM berpengaruh langsung positif tentang Prestasi Atlet. Kata kunci: Persepsi Atlet, SDM, Prestasi Atlet 1 Ramdan Pelana adalah Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta 765 KPradityana Rectangle KPradityana Typewriter Available online at : http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/gjik Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan 07 (02) 2013, 765-779 Permalink/DOI: https://doi.org/10.21009/GJIK.072.03 Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 766 PENDAHULUAN Peran olahraga sebagai sebuah mesin nation and character building telah teruji, karena olahraga memiliki fungsi membangun spirit kebangsaan. Olahraga dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa, membentuk karakter individu dan kolektif, serta memiliki potensi mendinamisasikan sektor-sektor pembangunan yang lain. Kewajiban untuk memberikan kontribusi terhadap prestasi olahraga nasional selayaknya menjadi tanggung jawab kita bersama. Olahraga adalah sebagai bagian dari alat pembentuk karakter bangsa yang harus diperjuangkan. Berdasarkan data di Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga semenjak berdiri PPLM tahun 2004 sampai tahun 2010 telah tercatat sebanyak 29 PPLM yang tersebar di seluruh Indonesia dari 11 cabang olahraga dengan jumlah atlet 394, dan pelatih 118 yaitu atletik, pencak silat, panahan, gulat, dayung, karate, sepak takraw, panjat tebing, taekwondo, tinju dan renang. Hal ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif PPLM telah masuk hitungan yang cukup luas dan tersebar di seluruh provinsi serta dalam rangka memberikan warna untuk peningkatan prestasi olahraga nasional maupun internasional. Sesuai dengan visi dan misi, didirikanya Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa (selanjutnya disebut PPLM) adalah untuk membentuk atlet-atlet di tingkat perguruan tinggi agar bisa berprestasi dengan baik. Oleh karena itu, kebersamaan dalam menjalankan program di daerah harus benar- benar maksimal. Tujuan didirikan PPLM agar olahraga di Indonesia dapat mencapai keberhasilan di even internasional, bukan hanya berhasil di even nasional. Jadi, ukurannya atlet yang berasal dari PPLM minimal harus bisa berprestasi di even internasional seperti POM ASEAN. Dengan demikian, tidak salah jika PPLM merupakan salah satu pilihan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai suatu sistem pembinaan olahraga melalui jalan nasional yang dapat menopang prestasi olahraga Indonesia. GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 767 Demikian juga dari segi penjenjangan pembinaan, telah diketahui bahwa karena usia mahasiswa, termasuk dalam adalah usia emas (golden age). Dimana secara berjenjang telah dimulai pembinaan dari usia dini sampai pada tingkat mahasiswa. Apabila di usia tersebut tidak membuahkan suatu hasil prestasi secara nasional maupun Internasional, maka kemungkinan untuk berkembang lagi akan sulit terwujud. Mengingat usia mahasiswa sudah usia yang sudah matang. Secara umum, olahraga memiliki tujuan untuk lebih meningkatkan kesehatan fisik maupun mental. Tentunya untuk olahraga prestasi tujuannya menjadi lebih khusus yaitu meraih prestasi puncak. PPLM merupakan wadah pembinaan prestasi olahraga di perguruan tinggi dengan berbasis pada sumber daya seperti mahasiswa, ilmuwan, pelatih dan berbagai dukungan seperti IPTEK, laboratorium prasaran dan sarana. PPLM sebagai organisasi olahraga yang membina prestasi olahraga melalui seorang atlet tidak dapat dilakukan dalam waktu satu malam, melainkan melalui berbagai proses dan tahapan dalam satu kurun waktu tertentu. Suatu prestasi puncak tidak akan tercapai jika tidak disertai dengan adanya keseimbangan fisik dan psikis, keselarasan tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani. Prestasi olahraga adalah suatu pencapaian akhir yang memuaskan berdasarkan target awal tim atau atlet, dalam lingkup dunia olahraga. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi olahraga seorang atlet. Secara garis besar, ada beberapa faktor yang harus ada untuk meningkatkan prestasi/menciptakan prestasi di olahraga. Hambatan untuk berprestasi di Indonesia di luar diri atlet adalah terbatasnya atau sangat kurang tersedianya sarana olahraga dan peralatan olahraga. Selain itu, Tim SDI Pusat di tahun 2007 menyimpulkan hasil kajiannya bahwa Indeks Pembangunan Olahraga Indonesia atau dikenal dengan Standard Development Indeks (SDI) adalah 0,280 artinya bahwa pembangunan olahraga kita masih tergolong rendah, ditinjau dari dimensi partisipasi, ruang terbuka, SDM, dan kebugaran. Selaras dengan itu, hasil survey yang dilakukan oleh Depdiknas menunjukkan bahwa kebugaran jasmani pelajar Indonesia adalah 10,7% kurang sekali, 45,97% kategori Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 768 kurang, 37,66% kategori sedang, 5,66% kategori baik, dan 0% kategori baik sekali (Depdiknas, 2005). Sebagaimana yang telah digariskan dengan jelas, sebagai salah satu alternatif untuk melakukan pembinaan dan pengembangan atlet mahasiswa potensial berbakat dengan minat yang tinggi di bidang olahraga, maka untuk mendukung pencapaian tersebut diperlukan latihan yang berkesinambungan. Pelatih diharuskan dapat membuat suatu program latihan yang mampu menunjang potensi atlet dan dapat memberikan prestasi secara maksimal. Untuk memperoleh prestasi olahraga yang tinggi, maka seluruh aspek baik aspek fisik, teknik, taktik serta aspek mental di latih dengan program jangka panjang yang sistematis dan terencana dengan baik. Prestasi tidak akan diperoleh dengan begitu saja, tanpa perjuangan dan pengorbanan yang lebih besar yang didukung oleh sarana dan prasarana yang baik. Prestasi itu sendiri adalah merupakan hasil yang dicapai seseorang sampai pada batas kemampuannya. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Hourke dan S. Nasution (1995:35) dalam buku olahraga dan sportifitas bahwa prestasi adalah hasil yang dicapai atau yang diperoleh seseorang yang mendekati atau mencapai batas-batas kesanggupannya. Prestasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu secara kualitas dan kuantitas. Segi kualitas yaitu seperti waktu dan jarak yang ditempuh, sedangkan segi kuantitas yaitu seperti perolehan medali ataupun sejenisnya. Oleh karena itu, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi yang akan dicapai oleh atlet, seperti yang dikatakan R.N. Singer yang dikutip oleh Singgih D Gunarsa (1996:103) mengemukakan bahwa penampilan puncak seorang atlet melibatkan 3 aspek yang saling berhubungan secara harmonis, yakni mental, emosi dan fisik. Dan aspek mental yang berpengaruh terhadap penampilan atlet ialah: aspek emosi, aspek motivasi dan aspek kognisi. Menurut Harsono (1988:252–254), ada beberapa aspek yang mendorong atlet untuk berprestasi antara lain : (1) Mencari dan mengatasi stress, (2) Usaha untuk memperoleh kesempurnaan, (3) Status, (4) Kebutuhan untuk diakui menjadi anggota kelompok, (5) Hadiah-hadiah, (6) Kejantanan, (7) Membentuk watak. GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 769 Persepsi menurut Ivane Dewintaris dan Alvinana Triafebianda (2003:210) adalah tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu, Serapan, proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indra. Sedangkan menurut Manahan P. Tampubolon (2008:63), persepsi adalah gambaran seseorang tentang sesuatu objek yang menjadi fokus permasalahan yang sedang dihadapi. Persepsi sangat tergantung pada faktor-faktor, antara lain individu yang membuat persepsi, situasi yang terjadi pada saat persepsi itu dirumuskan, serta gangguan-gangguan yang mempengaruhi dalam proses pembentukan persepsi (target). Menurut Ardana Komang (2008:18) Persepsi adalah proses memberi perhatian, menyeleksi, mengorganisasikan kemudian menafsirkan stimulasi lingkungan. Sehingga dalam menafsirkannya setiap individu berbeda-beda pandangan. Mifta Toha (2003: 141) Persepsi adalah suatu proses aktif dalam menyerap, mengatur, dan menafsirkan pengalamannya secara selektif Penerimaan itu berupa informasi-informasi yang ditangkap metalui panca indera dan selanjutnya menjadi sebuah pengetahuan. Pendapat itu diperkuat oleh Basri mengatakan, persepsi (perception) adalah kemampuan individu untuk mengamati atau mengenal perangsang (stimulus) sesuatu hingga berkesan menjadi pemahaman, pengetahuan, sikap dan tanggapan-tanggapan (http://www.depdiknas. go.id/jurnal/41/Djapri_Basri. htm., diakses 17 Mei 2012). Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang ada dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas yang ada dalam organisasi tersebut. Menurut Djojo Suradisastra (1986:10) Sumber daya adalah segala sesuatu yang dipakai untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya manusia merupakan sebuah prasyarat dasar bagi proses pembangunan segata bidang. Aspek produktivitas pembangunan dapat mewujud karena ketersediaan sumber daya manusia yang bermutu dan memadai secara kuantitas. Dari sisi kuantitas, lndonesia memiliki modal man power jumlah penduduk Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 770 yang potensial, namun dari sisi mutu kiranya masih memerlukan waktu untuk memprosesnya. Dengan investasi pada modal manusiawi, terutama melalui pendidikan, maka produktivitas pembangunan dapat ditingkatkan, baik kini maupun di masa depan. Hakikat pembangunan manusia yang berkeranjutan adalah bahwa setiap orang mempunyai akses yang sama untuk berbagai kesempatan pembangunan (UU RI Nomor 3 Tahun 2005). Komponen sumber daya manusia yang dimaksudkan adalah atlet dan pelatih. Susilo Martoyo (1994:6) berpendapat sumber daya manusia merupakan hasil akal budinya disertai pengetahuan serta pengalaman yang dikumpulkan dengan sabar melalui jerih payah dan perjuangan berat. Sumber daya manusia diperoleh melalui perjuangan yang cukup berat yaitu harus mengikuti jenjang pendidiikan formal maupun non formal, pendidikan formal didapat melalui bangku sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, sedangkan pendidikan non formal didapat melalui kursus, penataran, pelatihan serta pengembangan untuk meningkatkan segala daya yang ada pada manusia. Sedangkan, T. Hani Handoko (2005:107) berpendapat bahwa latihan dan pengembangan SDM mempunyai berbagai manfaat karier jangka panjang yang membantu karyawan untuk tanggung jawab lebih besar di waktu yang akan datang. program-program latihan tidak hanya penting bagi individu, tetapi juga organisasi dan hubungan manusiawi dalam kelornpok kerja. Toho Cholik M (2005:14) mengatakan sangat perlu dilakukan berbagai rintisan yang akan menjadi dasar yang kokoh dalam pengembangan pembinaan olahraga. Rintisan harus mengacu pada berbagai komponen terkait. Salah satu syarat penting yang harus dipenuhi dalam pembinaan untuk keperluan pembangunan di bidang olahraga adalah terdapatnya sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompetensi untuk menjadi pelaku IPTEK olahraga. Dengan kualitas SDM keolahragaan yang memadai, maka diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar dalam mencapai tujuan Keolahragaan Nasional, yaitu: memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 771 manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa. Berkaitan dengan persepsi atlet terhadap sumber daya manusia, dalam hal ini pengurus, pelatih, yang berkaitan dengan bagaimana atlet memandang semua dan memberi makna terhadapnya dan selanjutnya mempengaruhi capa pandang dalam dirinya terhadap hal tersebut. Cara pandang ini akan mempengaruhui sikap mental atlet terutama dalam prestasi PPLM. Dari hasil proyek garuda emas KONI (1998:15 ) Pencapaian prestasi dalam olahraga sangat didukung oleh beberapa faktor, diantaranya adalah pembinaan prestasi. Secara garis besar ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam peningkatan prestasi maksimal secara efektif. Adapun faktor- faktor tersebut antara lain: 1) Faktor internal pemain yang meliputi bakat, minat, genetik; 2) Manajemen organisasi yang baik; 3) Program pembinaan; 4) Pemanfaatan sarana dan pra sarana pendukung Melihat begitu banyaknya faktor yang menentukan prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa (PPLM), maka penelitian ini perlu dibatasi pada faktor-faktor persepsi atlet tentang sumber daya manusia. Penelitian ini ingin mengetahui persepsi atlet terhadap sumber daya manusia Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa berpengaruh langsung positif tentang prestasi atlet. Berpijak dari konsep yang telah diuraikan tersebut dapat diduga adanya pengaruh positif secara langsung persepsi atlet terhadap sumber daya manusia Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa tentang prestasi atlet. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data penelitian ini dikumpulkan dari 71 atlet dengan teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen berupa kuesioner yang disusun menggunakan skala pengukuran likert rentang 1-5. Sebelum kuesioner tersebut Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 772 digunakan, maka dilakukan pengujian validitas dengan korelasi Product Moment, dan perhitungan reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menyajikan data berupa ukuran sentral dan ukuran penyebaran dari masing-masing variabel secara tunggal. Semua pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan: uji normalitas galat taksiran dengan menggunakan teknik Liliefors, dan uji linieritas varians dengan menggunakan persamaan regresi. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengujian normalitas galat taksiran regresi prestasi atlet dan persepsi atlet dengan liliefors menunjukkan bahwa sebaran data penelitian berasal dari populasi berdistribusi normal, dengan Lhitung = 0,062 < Ltabel = 0,0105, Ho diterima. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa distribusi galat taksiran prestasi atlet PPLM (Y) atas persepsi atlet tentang sumber daya manusia (X) berasal dari populasi berdistribusi normal. Demikian juga dengan hasil pengujian signifikansi dan linieritas menunjukkan pengaruh prestasi atlet PPLM dan persepsi atlet tentang sumber daya manusia, dapat disimpulkan bahwa hasilnya yaitu Fhitung = 26,57 lebih besar dari Ftabel= 3,99 pada α = 0,05. dengan demikian dapat dikemukakan bahwa model persamaan regresinya adalah signifikan. Selanjutnya, hasil perhitungan uji linieritas menunjukkan nilai Fhitung = 1,45 lebih kecil dari Ftabel= 1,89 pada α = 0,05. Ini berarti terdapat pengaruh positif dari persepsi atlet tentang sumber daya manusia berpengaruh langsung positif terhadap prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa. Hal ini menunjukkan semakin baik persepsi atlet tentang sumber daya manusia, maka semakin meningkat prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa. Hasil perhitungan dan pengujian uji regresi sederhana dengan SPSS pengaruh persepsi atlet terhadap sumber daya manusia Pusat Pembinaan dan Latihan GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 773 Olahraga Mahasiswa berpengaruh langsung positif tentang prestasi Atlet, sebagaimana disajikan pada tabel 1 sampai 3 berikut ini: Tabel 1. ANOVA Persepsi Atlet Terhadap Sumber Daya Manusia PPLM Berpengaruh Langsung Positif Tentang Prestasi Atlet ANOVAb Model R R Square Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression , 527a ,278 2280,223 1 2280,223 26,569 ,000a Residual 5921,664 69 85,821 Total 8201,887 70 a. Predictors: (Constant), X b. Dependent Variable: Y Tabel 2. Hasil Uji T Persepsi Atlet Terhadap Sumber Daya Manusia PPLM Berpengaruh Langsung Positif Tentang Prestasi Atlet Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -10,609 6,486 -1,636 ,106 X ,382 ,074 ,527 5,155 ,000 a. Dependent Variable: Y Sebagaimana hasil analisis tersebut, diperoleh R square (Tabel 1) sebesar 0,527, yang berarti variasi sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet (Y) dapat dijelaskan oleh persepsi atlet sebesar 52,7%. Output ANOVA (tabel 2) diperoleh Sig. 0,000. Karena nilai Sig. lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 774 bahwa sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet mampu menjelaskan perubahan pada variabel persepsi atlet atau model dikatakan cocok atau fit. Pada output coefficients (Tabel 2), diperoleh hasil pengujian dengan statistik uji – t diperoleh t hitung 5,155 > dari t tabel 1,671 pada taraf α =0,05 derajat kebebasan (db) 71 - 2 = 69, sehingga Ho ditolak, maka koefisien jalur signifikan. Dengan demikian terdapat pengaruh langsung positif persepsi atlet terhadap sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka terlihat bahwa terdapat pengaruh langsung positif persepsi atlet terhadap sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet. Dalam hal ini, semakin tinggi persepsi atlet akan meningkatkan sumber daya manusia PPLM tentang prestasi. Untuk meningkatkan prestasi PPLM maka harus diupayakan dengan meningkatkan sumber daya manusia yang ada di PPLM yang bersangkutan. Selanjutnya dapat dikatakan jika sumber daya manusia PPLM menunjukan dedikasi yang baik, maka akan berimbas pada prestasi atlet dalam membela PPLM masing-masing dalam berbagai even cabang olahraga. Secara umum, olahraga memiliki tujuan untuk lebih meningkatkan kesehatan fisik maupun mental. Tentunya untuk olahraga prestasi tujuannya menjadi lebih khusus yaitu meraih prestasi puncak. PPLM merupakan wadah pembinaan prestasi olahraga di perguruan tinggi dengan berbasis pada sumber daya seperti mahasiswa, ilmuwan, pelatih dan berbagai dukungan seperti IPTEK, laboratorium prasarana dan sarana. PPLM sebagai organisasi olahraga yang membina prestasi olahraga melalui seorang atlet tidak dapat dilakukan dalam waktu satu malam, melainkan melalui berbagai proses dan tahapan dalam satu kurun waktu tertentu. Suatu prestasi puncak tidak akan tercapai jika tidak disertai dengan adanya keseimbangan fisik dan psikis, keselarasan tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani. Untuk memperoleh prestasi olahraga yang tinggi, maka seluruh aspek baik aspek fisik, teknik, taktik serta aspek mental di latih dengan program jangka panjang GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 775 yang sistematis dan terencana dengan baik. Prestasi tidak akan diperoleh dengan begitu saja, tanpa perjuangan dan pengorbanan yang lebih besar yang didukung oleh sarana dan prasarana yang baik. Prestasi itu sendiri adalah merupakan hasil yang dicapai seseorang sampai pada batas kemampuannya. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Hourke dan S. Nasution (1995:35) dalam buku olahraga dan sportifitas bahwa prestasi adalah hasil yang dicapai atau yang diperoleh seseorang yang mendekati atau mencapai batas-batas kesanggupannya. Prestasi dapat diartikan sebagai suatu hasil yang luar biasa dahsyat yang telah dicapai. Sebuah keberhasilan berstandar tinggi yang citranya hanya di peroleh segelintir orang. Prestasi itu sendiri sebenarnya setiap orang sanggup untuk mencapai prestasi, tetapi harus melalui latihan yang sungguh-sungguh. Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang ada dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas yang ada dalam organisasi tersebut. Sumber daya adalah segala sesuatu yang dipakai untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia Sebagai kesatuan, sumber daya manusia harus dipandang sebagai suatu sistem dimana tiap-tiap pelatih alau pengurus, merupakan bagian yang saling berkaitan satu dengan lainnya dan bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan organisasi. Sumber Daya Manusia (SDM) adalah setiap individu yang mempunyai kemampuan secara kognitif, skill dan psikomotor sesuai dengan bidang keahliannya. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah pelatih dan pengurus serta peranan pemerintah yang dianggap dapat membentuk prestasi atlet. Pada sumber daya manusia tersebut, terbagi dalam dua faktor, yaitu: 1) faktor internal berhubungan dengan sifat-sifat, motif- motif, pemikiran dan perasaan; 2) faktor eksternal berhubungan dengan pengalaman, situasi sekitar, dan pengetahuan. Kedua faktor tersebut dapat membentuk sikap atlet, selanjutnya berpengaruh terhadap prestasi atlet. Pelatih dan pengurus, tidak hanya sekedar berbuat dan bertindak, akan tetapi apa yang diperbuatnya sebagian besar dilakukan dengan sadar; dan kesadaran ini Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 776 merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa. Prestasi olahraga sekarang ini menjadi tujuan utama pada olahraga prestasi dan merupakan tolak ukur keberhasilan pembinaan olahraga, yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapainya. SDM dengan potensinya dapat berpengaruh terhadap prestasi atlet bilamana ketersediaan SDM dalam hal mengelola dan dengan memanfaatkan program latihan secara langsung dalam berolahraga. Bilamana SDM tidak tersedia untuk dikelola dan/atau sesuai dengan fungsinya, maka SDM hanya dapat menunjukkan potensi dan tidak dapat memberi pengaruh terhadap prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa. Hasil penelitian ini menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh evaluasi PPLM yang diteliti oleh tim Kemenegpora (2010). Hasil dari penelitian tersebut mengatakan bahwa masih kurangnya peran atau kontribusi PPLM terhadap prestasi olahraga di tanah air. Serta penelitian James AP Tangkudung (2009) dalam kajian konstribusi PPLM terhadap prestasi olahraga nasional. Hasil dari penelitian tersebut bahwa kontribusi PPLM terhadap prestasi olahraga nasional masih relatif kecil dalam memasok atlet nasional. Hasil penelitian ini juga sejalan yang dilakukan oleh Ewendi Mangolo tahun 2009 yang meneliti pengaruh regulasi, sumber daya manusia, dan fasilitas terhadap pembentukan sikap dan perilaku atlet PON Papua (studi kausal pada atlet Pelatda PON Papua tahun 2008). Hasil penelitian tersebut dilaporkan bahwa; regulasi, sumber daya manusia, dan fasilitas berpengaruh langsung terhadap pembentukan sikap dan perilaku atlet PON Papua. KESIMPULAN Persepsi atlet berpengaruh langsung positif terhadap SDM PPLM tentang prestasi atlet. Hal ini berarti apabila persepsi atlet baik, maka SDM PPLM tentang prestasi atlet juga akan meningkat, namun sebaliknya apabila persepsi atlet tidak baik maka SDM PPLM tentang prestasi atlet juga akan mengalami penurunan. GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 777 Sumber Daya Manusia (SDM) adalah setiap individu yang mempunyai kemampuan secara kognitif, skill dan psikomotor sesuai dengan bidang keahliannya. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah pelatih dan pengurus serta peranan pemerintah. Pelatih dan pengurus, tidak hanya sekedar berbuat dan bertindak, akan tetapi apa yang diperbuatnya sebagian besar dilakukan dengan sadar; dan kesadaran ini merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa Persepsi atlet terhadap sumber daya manusia PPLM merupakan cara pandang atlet dalam melihat manajemen yang ada di PPLM baik dari segi pembinaan maupun pengelolaan yang mempunyai peran positif dan signifikan terhadap peningkatan prestasi PPLM. DAFTAR PUSTAKA Andini, Nirmala T. Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya:Prima Media, 2003. Bompa, Tudor M, 1994. Theory and Methodology of Training; The Key to Athletics Performance. Iowa: Human Kenetcs. Deputi Peningkatan Prestasi Kemenpora, 2010. Laporan Eksekutif Revitalisasi PPLM. Jakarta: Kemenpora. Dewintaris, Ivane dan Alvinana Triafebianda, 2003. Kamus IstiIah Penting Modern. Jakarta: Aprindo. Gunarsa, Singgih D, 1996. Psikologi Olahraga. PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta. Handoko, T. Hani, 2005. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE. Harsono, 1988. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta: Dirjen Depdikbud. Harsono, 2004. Perencanaan Program Latihan, Bandung. Ramdan Pelana, Prestasi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi.................. 778 Harsuki, 2003, Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Hourke dan S. Nasution, 1995. Olahraga dan Sportifitas. Jakarta: J.B. Wolter. Kasep, Dhimas.2008. Persepsi http://dhimaskasepfiles.wordpress.com/ 200803/ 02.persepsi.pdf (diakses 8 Juni 2012). Kemenegpora Republik Indonesia, 2005. Undang-Undang Republik Indonesia No.3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta: Kemenegpora. KONI, 1998. Induk Pengembangan Prestasi di Indonesia 1997-2007. Garuda Emas. Laporan Nasional Sport Development Index, 2006, Merekontruksi Budaya Prestasi. Jakarta: KEMENEGPORA. Martoyo, 1994. Manaiemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE. Ngalim, M. Purwanto, 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sajoto, M., 1983. Kekuatan Kondisi Fisik. Jakarta: Dhalia Indonesia. Sambas A.M dan Maman A., 2007. Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian. Bandung : Pustaka Setia. Siagian, P. Sondang, 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya Ed.3. Jakarta: Renika Cipta. Singer, R.N., 1996. Peak Performance and more., N.Y., Mouvement Publisching, Inc.; Singgih D. Gunarsa, Psikologi Olahraga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Sugiono, 2010. Statisitka untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. Tangkudung, Jemes AP., 2009. Kajian Kontribusi PPLM terhadap Prestasi Olahraga Nasional. Jakarta, Staff Ahli Bidang Sumber Daya Olahraga, KEMENPORA RI. Tim Monev. 2010. Laporan Executive Revitalisasi PPLM. Jakarta: Deputi Peningkatan Prestasi-Kemenpora RI. GLADI JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN, Vol 7, No. 2 Oktober 2013 779 Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 Tahun 2005. UNESCO dan Kebudayaan, 2001. Perdamaian Memajukan Suatu Gerakan Global Jakarta: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Wicrozeck, Edward, 1978. Problem of Sport Medicine and of Sport Training and Coaching, terjemahan Moch. Soebroto. Jakarta: Dirjen Dikluseyara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.